To Liong To – Tamat

Sementara itu sambil bertempur Boe Kie memikiri hafalan ayah angkatnya dan sedikit banyak ia dapat menangkap arti Kim kong keng. Karena maksudnya pengaruh pelajaran Buddha perlahan-lahan pengaruh iblis dalam alam pikirannya jadi kurang. Dengan kekurangan pengaruh iblis itu, kelancaran silat Seng hwee-leng juga turut berkurang. Tiba-tiba pundaknya tersabet tambang. Tanpa terasa BoeKie mengerahkan Kian lioen Tay lo ie Sin kang dan Kioe yang Sin kang untuk memunahkan pukulan itu. “Hm! …. sesudah aku tidak berhasil dengan ilmu Seng hwee leng, mengapa aku tidak mau mencoba Kian koen dan Kioe yang?” pikirnya. Ia melirik dan mendapat kenyataan bahwa Cie Jiak memperlihatkan gejala kalah. “Sudahlah!” ia mengambil keputusan. Kalau sekarang aku tidak mengeluarkan semua tenaga, begitu lekas Cie Jiak kalah, Giehoe tidak akan dapat ditolong.

Memikir begitu sambil membentak keras, ia segera menyerang dengan Kian koen Tay lo ie. Namun Cia Soen masih terus menghafal Kim kong keng, tapi ia tidak bisa memperhatikan lagi sebab seluruh semangatnya di tumplek kepada Kian koen Tay lo ie. Dengan gerakan2 kilat ia menyambut dan menerima pukulan-pukulan ketiga lawan, supaya Cie Jiak mendapat kesempatan untuk menerobos masuk ke dalam lingkaran.
Karena adanya serangan yang hebat itu yang disertai Lweekang yang dahyat. ketiga ketua Siauw lim juga lantas menambah Lweekang mereka untuk melawannya.

Semua orang lihat perubahan itu, makin lama pertempuran jadi makin hebat. Perlahan-lahan diatas kepala ketiga pendeta muncul uap putih, satu tanda mereka sudah mengerahkan tenaga dalam yang sebesar-besarnya. Diatas kepala Boe Kie juga terlihat uap air, tapi uap itu halus dan tidak buyar, seolah-olah selembar benang. Inilah bukti bahwa Lweekang Boe Kie lebih tinggi dari pada tenaga dalam ketiga lawannya.

Para enghiong menyaksikan kejadian itu dengan perasaan kagum. Kemaren Boe Kie terluka berat. Siapa nyana, dalam waktu semalaman saja, ia sudah sembuh seluruhnya! Lweekang pemuda itu sungguh-sungguh sudah tiba di tingkat yang tak dapat diukur lagi. Sekarang semua orang tahu bahwa tadi ia hanya berlagak payah.

Selama pertempuran itu, Cie Jiak belum pernah benar2 mengadu tenaga. Ia hanya berkelahi dari luar lingkaran tambang. Ia baru menerjang kalau terdapat lowongan dan baru ia buru-buru melompat mundur jika mendapat serangan balasan. Cara berkelahi itu segara memperlihatkan perbedaan antara kepandaiannya dan kepandaian Boe Kie. Para hadirin lantas saja saling mengutarakan pendapat.

“Kata orang ilmu silat kauwcoe dari Beng kauw tiada tandingannya di dunia ini! Sekarang aku mengakui, bahwa nama besar itu bukan nama kosong!”

Kemarin ia sengaja mengalah terhadap Song Hoe jin. Inilah yang dinamakan laki-laki sejati sungkan berkelahi melawan wanita.”

“Bukan begitu! Dahulu Song Hoe jin tunangan Thio Kauwcoe! Apa kau tak tahu? Ini yang dinamakan golok tua masih ingat kecintaan lama.”

Dan banyak lagi pendapat lainnya.

Sesudah bertempur kira-kira setengah jam lagi, paras muka ketiga pendeta Siauw lim berubah merah dan jubah pertapaan mereka jadi melembung, seperti di tiup angin dari sebelah dalam. Dilain pihak pakaian Boe Kie masih tetap seperti biasa.

Pada waktu itu, Kioe yang Cin khie dalam tubuh Boe Kie sudah banyak lebih kuat dari pada beberapa waktu berselang. Kekuatan itu di tambah lagi dengan latihan pernapasan Thay kek koen yang diturunkan oleh Thio Sam Hong. Dengan demikian, Boe Kie mempunyai keuletan luar biasa. Ia masih bisa bertanding satu atau dua jam lagi tanpa merasa lelah. Inilah keuntungan yang mau digunakan olehnya. Ia mengambil keputusan untuk bertempur dalam jangka panjang sampai ketiga lawannya kecapaian.

Ketiga pendeta itu juga tahu kenyataan tersebut. Mereka mengerti bahwa kelelahan yang lama akan merugikan pihaknya. Maka itu beberapa saat kemudian, seraya membentak keras mereka memperhebat serangan! Ketiga tambang berkelebat seperti kilat dalam macam-macam serangan dan tenaga.

Boe Kie kaget. Ia mengempos semangat dan menyambut setiap serangan. “Biarpun ilmu silat Cie Jiak luar biasa, ia belum berlatih cukup sehingga kerja sama dengan dia tidak bisa menyamai kerja sama dengan Gwa-kong dan Yo Co soe,” pikirnya. Dengan sendirian aku tak akan bisa mempertahankan diri. Rasanya aku bakal kalah lagi dan hari ini tidak akan bisa menolong Gie hoe. Hai ! … Bagaimana baiknya?”

Sebab pikirannya bingung tenaganya lantas saja berkurang. Ketiga pendeta sungkan menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka menyerang dengan hebatnya. Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam otaknya Boe Kie. Ia ingat kecintaan ayah angkatnya di Pheng hwee to. Ia ingat bahwa demi kepentingan dirinya orang tua itu rela menceburkan diri kedalam dunia Kang ouw dan menghadapi rupa-rupa bahaya. Didetik itu juga ia mengambil keputusan bahwa apabila sang Giehoe tidak dapat ditolong, ia sendiri sungkan hidup sendirian didunia ini.

Selagi otaknya bekerja tahu-tahu tambang Touw lan menyambar punggungnya. Mendadak saja ia mengeluarkan pukulan aneh. Ia mengangkat tangan kiri, membiarkan tambang memukul lengan dan memunahkan tenaga pukulannya itu dengan Kian koen Tay lo ie, berbareng dengan itu ia menangkis tambang Touw ok dan Touw-ciat dengan Seng hwee leng yang dicekal dalam tangan kanannya. Tiba-tiba, bagaikan seekor burung, tubuhnya melesat keatas dan dengan sekali memutar ditengah udara ia sudah melibat tambang Touw lan dipohon siong yang diduduki itu.

Itulah perbuatan yang tidak pernah diduga orang. Sesudah melibat, Boe Kie menarik
tambang itu erat-erat. Tak kepalang kagetnya Touw lan yang lantas saja menarik tambangnya dengan sekuat tenaga. Sebagaimana diketahui, batang pohon siong itu telah dilubangkan oleh ketiga pendeta untuk digunakan sebagai berduduk. Oleh karena itu biarpun besar, kekuatannya kurang. Maka itulah begitu ditarik oleh Boe-Kie dan Touw lan dengan satu suara “krekek,” batang itu patah dan pohonnya roboh.

Boe Kie menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Selagi Touw ok dan Touw ciat tertegun, kedua tangannya mendorong pohon yang diduduki Touw ok, dengan seluruh tenaganya. Pohon itu kalah kuat dan lantas patah. Dengan suara ribut kedua pohon itu jatuh menimpa pohon yang diduduki Touwciat, dan menendang pohon ketiga itu yang sudah bergoyang-goyang lantas turut roboh.

Keadaan berubah gempar suara dengan robohnya pohon dicampur teriakan-teriakan para hadirin.

Secepat kilat Boe Kie menimpuk Touw ok dan Touw ciat dengan kedua Seng hwee leng.

Biarpun kepandaian tinggi, kedua pendeta itu jadi bingung karena harus menyelamatkan diri dari tindihan batang pohon dan dari sambaran Seng hwee leng. Dilain detik Boe Kie menggulingkan diri dan masuk kedalam lingkaran Kim kong Hok mo coan. Dengan lewat dikolong batang pohon yang sedang roboh. Dengan sekali mendorong, ia sudah mengisarkan batu yang menutup lobang penjara.

“Giehoe lekas keluar!” teriaknya. Sebab kuatir ayah angkatnya menolak, tanpa menunggu jawaban, tangannya mencengkeram baju orang tua itu dan mengangkatnya keatas.

Pada detik itu, tambang Touw ok dan Touw ciat sudah menyambar. Buru-buru Boe Kie melepaskan ayah angkatnya, mengambil dua Seng hwee leng dari sakunya dan menimpuk. Begitu menimpuk, kedua tangannya menangkap ujung tambang yang menyambar. Baru saja kedua pendeta itu mau mengerahkan Lweekang untuk membetot tambang mereka, kedua Seng hwee leng sudah hampir menyentuh muka. Karena terpaksa, mereka melepaskan tambang dan melonpat mundur untuk menyelamatkan jiwa dari timpukan itu.Hampir berbareng dengan mundurnya Touw ok dan Touw ciat, Touw lan sudah menerjang dan tangan kirinya menghantam dada Boe Kie.

“Cie Jiak, tahan dia!” teriak Boe kie sambil melompat kesamping dengan mendukung Cia Soen.

Kalau ia bisa membawa keluar ayah angkatnya dari kalangan ketiga pohon siong, ia sudah berhasil dalam usahanya. Cie Jiak kelihatan bersangsi.

“Anakku Boe Kie,” kata Cia Soen, “dosaku sangat besar dan ditempat ini dengan mempelajari kitab suci, hatiku tenang. Guna apa kau menolong aku?” Sehabis berkata ia coba memberontak.

Boe Kie tahu ayah angkatnya berkepandaian tinggi dan kalau orang tua itu tak mau pergi ia sukar membantah. Maka itu ia lantas saja berkata. “Giehoe, anak mohon.maaf!” Hampir berbareng jari tangannya menotok beberapa “hiat” hingga Kim mo Say ong tak bisa bergerak lagi.

Karena kelambatan sedetik dua itu, ketiga pendeta sudah keburu datang dan menyerang. “Lepaskan dia!” bentak Touw ok.

Pukulan ketiga pendeta itu hebat bukan main. Sebelum pukulannya sampai, tekanan angin sudah menindih dari empat penjuru. Boe Kie terpaksa melepaskan lagi ayah angkatnya dan menangkis pukulan itu, “Cie Jiak, lekas bawa Gi hoe!” serunya. Dengan meng-gerak2kan kedua tangannya kian kemari, Boe Kie menahan pukulan ketiga lawannya. Itulah ilmu Kian koen Tay lo ie yang paling tinggi. Lweekang pemuda itu bergerak-gerak kian kemari dengan berbareng menahan dan menyedot tenaga pukulan ketiga pendeta. Dalam menggunakan ilmu itu, Boe Kie harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, karena aduan tenaga ini banyak lebih berat dari pada adu Lweekang satu lawan satu. Sebab tangkisan itu ketiga pendeta “terikat” dan tak bisa memperhatikan Cia Soen lagi.

Boe Kie tahu bahwa ia tak bisa mempertahankan diri dalam waktu lama. Tapi ia pun tak memerlukan waktu yang lama. Begitu lekas Cie Jiak sudah membawa ayah angkatnya ketempat yang selamat ia bisa berusaha untuk meloloskan diri.

Sekarang Cie Jiak tak bersangsi lagi. Ia melompat mendekati Cia Soen.

“Fui… perempuan hina!…” bentak Kim-mo Say ong. Ia tak bisa melanjutkan perkataan sebab keburu ditotok “hiat” dagunya.

“Manusia she Cia!” Cie Jiak balas membentak. “Aku mau menolong, mengapa kau mencaci aku. Dosamu sangat besar dan jiwamu sekarang berada di tanganku. Apa kau rasa aku tak bisa ambil jiwamu?” Sehabis berkata begitu ia mengangkat tangan kanannya, mementang lima jari dan bergerak untuk menepuk batok kepala Cia Soen.

“Cie Jiak! Jangan…!” teriak Boe Kie dengan suara parau.

Ketiga pendeta Siauw lim sedikitpun tak punya niatan untuk mencelakai Boe Kie. Tapi pertandingan itu adalah aduan tenaga mati atau hidup. Kedua belah pihak menggunakan koat (teori) “menempel” dan sebelum ada yang kalah, masing-masing sukar melepaskan “tempelan” itu. Begitu lekas Boe Kie berteriak dengan hati mencelos, hawa tulennya lantas saja berkurang dan ia lantas saja merasakan tindihan tenaga lawan yang menyerang bagaikan gelombang. Cepat-cepat ia mengempos serangan untuk mempertahankan diri.

Tapi Cie Jiak tidak lantas turunkan tangan. Sambil melirik Boe Kie ia tertawa dingin. “Thio Boe Kie,” katanya. “Hari itu waktu di kota Hauw coe kau telah meninggalkan aku dari upacara pernikahan, apakah kau pernah memikir, bahwa kau akan menemui kejadian di hari ini ?”

Boe Kie bingung dan karena kebingungan itu, ia menghadapi bencana. Keringat mengucur dari tubuhnya.

Melihat keadaan Boe Kie, To Siauw, Hoan Yauw, Wie It Siauw, Hwee Poet Tek, Jie Lian Cioe, In Lie Hong dan yang lain2 kaget tak kepalang. Mereka adalah orang2 yg memiliki “gie khie” (rasa persahabatan) yang sangat tinggi. Untuk menolong Boe Kie mereka rela mengorbankan jiwa. Tapi mereka tahu, bahwa lweekang mereka kalah jauh dari orang2 yg sedang bertanding itu. Kalau mereka menyerang, dengan mudah ketiga pendeta itu menyerang, dengan mudah ketiga pendeta itu bisa mengalihkan tenaga serangan ketubuh Boe Kie, sehingga sebaliknya dari membantu mereka berbalik menekan pemuda itu.

Tong Boen Lian, Cong Wie Hiap dan Siang Keng Cie dari Khong tong Ngoolo yang pernah ditolong Boe Kie juga turut bingung.

Sekonyong2 diantara kesunyian yang penuh ketegangan, terdengar seruan Kong tie, “Son-wie Susiok, Thio Kauwcoe, pernah melepas budi kepada partai kita. Melukai dia adalah poet-gie melupakan persahabatan. Mohon Sam-wie Susiok menaruh belas kasihan.”

Mendengar seruan itu, orang2 Beng Kauw merasa sangat berterima kasih. Pada hakekatnya seruan kong tie tidak berguna dan tidak perlu karena kedua belah pihak tidak bisa menangkapnya dan karena kedua belah pihat memang berniat saling mencelakai. Tapi dalam aduan tenaga itu, mereka seolah2 menunggang harimau dan suka untuk turun lagi.

Tiba2 Wie It Siauw melompat dan tahu2 ia sudah berhadapan dengan Cioe Cie Jiak. Tapi dalam jarak setombak ia berdiri terpaku. Jari2 tangan Cie Jiak sudah hampir menyentuh balok kepala Cia Soen, sehingga kalau ia bergerak, jari2 tangan itu tentu akan menobloskan batok kepala. Dan apabila Cia Soen binasa, Boe Kie juga akan menemui ajalnya.

Pada detik itu, seluruh lapangan sunyi senyap bagaikan kuburan dan semua manusia seperti juga patung batu.

Tiba2 kesunyian dipecahkan oleh suara tertawanya Cioe Tan yang sambil tertawa berjalan mendekati gelanggang pertandingan.

Yo Siauw terkejut. “Cioe-heng, jangan sembrono!” teriaknya. Tapi si sembrono tidak meladeni dan berjalan terus.

“Sam-wie Taysoe,” katanya seraya tertawa ha ha hi hi sesudah berhadapan dengan ketiga pendeta itu. “Apa kau sudah makan daging anjing?” Ia merogoh saku, mengeluarkan sepotong lutut anjing yang memang sudah dimasak dan menggoyang2kannya didepan muka Touw Ok, Cioe Tian adalah seorang yang sangat doyan arak dan daging. Selama berdiam beberapa lama di Siauw Lim, ia terpaksa makan makanan cia cay (tidak berjiwa). Kemarin diam2 ia menangkap seekor anjing dan memasak dagingnya. Sepotong lutut anjing yang tidak habis, masih disimpan dalam sakunya. Karena terpaksa ia sekarang menggunakan lutut anjing untuk memecahkan pemusatan semangat tiga pendeta itu. Kalau pendeta itu bergusar, Boe Kie akan mendapat kemenangan. Melihat begitu Yo Siauw dan kawan2nya jadi girang sekali.

Tapi ketiga tetua Siauw Lim itu tidak menggubris.

Cioe Tian segera memasukkan lutut itu kedalam mulutnya. “Aduh wangi betul!” katanya. “Samwie Touwee shio apa kalian tidak mau turut mencoba?” Ia mencabut lutut itu dari mulutnya dan lalu menyodorkannya kemulut Touw Ok.

Beberapa orang lantas berteriak2, “Hei! Gila! Mundur kau…!”

Tapi baru saja lutut anjing menyentuh bibir Tauw Ok, lengan Cioe Tian, begemetar separuh tubuhnya kesemutan dan makanan itu jatuh ke tanah. Ternyata seluruh badan Touw Ok diliputi lweekang yg bisa memukul balik setiap tenaga yang dtg dari luar.

“Aduh! Aduh! Sungguh hebat!” teriak Cioe Tian, “Kalau kau tak mau makan daging anjing yah sudah saja! Perlu apa kau melontarkannya sehingga menjadi kotor! Ganti! Hayo aku minta ganti!” Ia berteriak2 sambil mementang2 tangan.

Tapi ketiga pendeta itu benar2 tinggi ilmunya. Mereka tetap tak dapat diganggu.

Mendadak si sembrono menghunus golok pendek, “Hei! Kau dengarlah!” teriaknya. “Apabila kau tetap tak mau makan daging anjing akan mengadu jiwa denganmu.” Seraya berkata begitu ia menggores mukanya sendiri lantas saja mengucur darah.

Semua orang terkesiap tapi ketiga pendeta itu seperti juga berada di dunia lain.

“Sudahlah,” teriak pula Cioe Tian dengan suara parau “Toa hweeshio, jika kau tidak mau ganti daging anjingku biarlah aku binasa dihadapanmu.” Ia mengangkat tangan dan mengacungkan golok di ulu hatinya.

Itulah Cioe Tian! Seorang gila2an yang berjiwa “tiong gie” (Setia kepada raja dan sahabat). Untuk menolong Kauwcoenya, ia reala membunuh diri guna mengacaukan pemusatan pikiran ketiga pendeta itu.

Pada detik terakhir satu bayangan kuning, bayangan manusia yang menyambar bagaikan kilat berkelebat dan merampas golok Cioe Tian. Sehabis menolong si sembrono tubuh orang itu melesat lagi, mementang lima jari tangan kanan yang lalu ditancapkan kekepala Cie Jiak. Dalam serangan itu ia menggunakan gerakan yang menyerupai gerakan Song Ceng Soe, pada waktu pemuda itu membinasakan tetua kaypang. Waktu diserang jari2 tangan Cie Jiak hanya terpisah kira2 satu kaki dari batik kepala Cia Soen. Tapi sebab serangan itu ia datang dengan kecepatan luar biasa, ia tidak keburu lagi turun tangan jahat terhadap Cia Soen dna untuk menolong jiwa sendiri, ia terpaksa lantas saja menangkis.

Kekuatan lweekang Boe Kie tidak kalah dari ketiga lawannya. Ia hanya kalah dalam ilmu, “melupakan segala apa”. Ia belum bisa menulikan kuping dan membutakan mata terhadap segala sesuatu. Maka itu, ancaman Cie Jiak terhadap Cia Soen dan gangguan Cioe Tian terhadap ketiga pendeta telah memecahkan pemusatan pikirannya. Ia sudah pusing dan beberapa detik lagi ia akan muntah darah. Syukur beribu syukur pada saat yang sangat berbahaya, bayangan kuning itu bukan lain daripada nona baju kuning menolong Cioe Tian dan Cia Soen.

Begitu lekas hatinya mantap, lweekang Boe Kie lantas saja bertambah, sehingga pertandingan sekali lagi jadi berimbang. Bertambahnya lweekang Boe Kie tapi sesudah lweekangnya bertambah, Boe Kie tidak balas menyerang dan hanya mempertahankan diri. Itulah kesempatan yang paling baik untuk menyudahi keadaan, “menunggang harimau” dari kedua belah pihak. Dengan perkataan lain, perubahan tenaga dalam itu merupakan kesempatan untuk masing2 menarik pulang lweekang dan menghentikan pertandingan. Ketiga pendeta itu yang perasaannya dapat dihubungkan satu sama lain tanpa bicara (secara telepati) lantas saja menarik pulang sebagian tenaga2 mereka. Boe Kie girang dan segera menarik pulang sebagian lweekangnya. Demikianlah, sebagian demi sebagian kedua belah pihak memperkurang tenaga dalam mereka dan kira2 seminuman teh, pertandingan sudah dapat dihentikan. Keempat jago itu tertawa terbahak2. Boe Kie menyoja sampai kedua tangannya menyentuh bumi dan ketiga pendeta itu membalas hormat dengan merangkap kedua tangan mereka.

Ketika itu si baju kuning sudah bertempur hebat dengan Cioe Cie Jiak. Meskipun Cie Jiak menggunakan dua senjata dan lawannya bertangan kosong, ia kelihatan keteter. Ilmu silat si baju kuning menyerupai ilmunya Cie Jia. Perbedaannya hanya terletak pada cara bergeraknya si baju kuning lurus bersih, sedang Cie Jiak “sesat bernada iblis”. Kalau mau diperumpamakan, yang satu bagaikan dewi, yang lain bagaikan memedi. Dengan sekali lirik saja Boe Kie sudah tahu bahwa si baju kuning lebih unggul dan ayah angkatanya berada dalam keselamatan. Dalam pertempuran itu, si baju kuning tidak lantas turunkan pukulan yang memutuskan dan ia seoalh2 mau mengunjuk kepada lawannya, bahwa kepandaian lawan itu masih terlalu cetek. Kalau mau, dalam beberapa gebrakan saja, ia sudah bisa merobohkan Cie Jiak.

“Thio Kauwcoe,” kata Touw Ok. “Meskipun kau tidak bisa mengkan kami bertiga, kami juga tidak bisa menangkan kau. Cia Kiesoe sekarang kau boleh pergi kemana suka!” sehabis berkata begitu, ia membuka jalan darah Cia Soen yang tertotok. “Cia Kie Soe,” katanya pula. “Letakkanlah golokmu dan jadilah manusia yang baik. Pintu agama Budha terbuka lebar. Didalam dunia tidak ada manusia yang tidak bisa disebrangkan. Banyak hari kau dan aku berdiam bersama2 dipuncak bukit ini. Hal ini juga merupakan suatu jodoh.”

Cia Soen bangun berdiri, “Sang Budha welas asih,” katanya. “Cia Soen sangat berterima kasih kepada sam wie taysoe yang sudah memberi petunjuk kejalan terang.”

Sekonyong2 terdengar bentakan nyaring dan tahu2 si baju kuning sudah merampas cambuk Cie Jiak. Sesudah itu ia menyikut dada lawan yang lanta saja tidak bisa bergerak lagi. Sambil mementang jari tangan kanannya diatas kepala Cie Jiak ia membentak, “Aoakah kau ingin rasakan enaknya Kioe Im Pek Koet Jiauw?”

Cie Jiak meram dan menunggu kebinasaan.

Biarpun kedua matanya buta, Cia Soen tahu apa yang telah terjadi. Ia maju beberapa tindak dan berkata sambil menyoja, “Nona sudah menolong jiwa kami ayah dan anak dan kami merasa berhutang budi. Apabila Cioe Kouw nio tidak mendusin dan terus melakukan perbuatan2 yg tidak pantas, ia tentu akan mendapat pembalasan yang setimpal. Tapi sekarang aku mohon nona suka mengampuninya.”

“Kim mo Say ong bisa berubah cepat sekali,” kata si baju kuning sambil melompat mundur.

Boe Kie menghampiri dan mencekal tangan ayah angkatnya. Baru saja ia mengajak orang tua itu berlalu, mendadak Cia Soen berkata, “Tahan dulu!” Sehabis berkata begitu ia menudin salah soerang pendeta tua dari rombongan Siauw Lim Pay, “Hoek Goen pek lek chioe Seng Koen, keluar kau!” bentaknya. “Biarlah dihadapan enghiong kita membuat satu perhitungan!”

Semua orang terkejut dan menengok kearah yang di tuding Cia Soen. Pendeta itu yang mukanya jelek dan bongkok punggungnya menggenakan jubah compang camping dan sedikitpun tidak menyerupai Seng Koen. Baru saja Boe Kie mau memberitahukan hal itu kepada ayah angkatnya, Cia Soen sudah berkata: “Seng Koen, kau bisa mengubah muka, tapi kau tak bisa mengubah suara. Begitu mendengar batukmu, aku lantas tahu kau siapa?”

Si tua menyeringai, “Manusia buta, kau jangan bicara sembarangan!” katanya.

Begitu mendengar suaranya, Boe Kie lantas saja mengenali bahwa dia itu memang benar Seng Koen. Waktu berada didalam karung diatas Kong Beng Teng, ia pernah mendengar pembicaraan manusia jahat itu. Ia lantas saja melompat dan mencegat jalan mundur musuh besar itu, “Goan tin Tay soe, Seng Koen Cianpwee,” katanya. “Seorang laki2 harus berani berterus terang. Mengapa kau menyembunyikan mukamu dri orang banyak?”

Dengan menyamar, banyak tahun Seng Koen bersembunyi di Siauw Lim Sie. Banyak tahun ia mengatur siasat dan mengumpulkan kaki tangan untuk merebut kekuasaan. Menurut rencananya, hari ini ia akan mengadu domba para orang gagah, mencari tahu dimana adanya To Liong To, membinasakan Cia Soen dan akhirnya merampas kedudukan Hong thio Siauw Lim Sie, sesudah membunuh Kong beon dan Kong tie Seng ceng. Tapi diluar semua perhitungannya, muncullah si baju kuning. Waktu nona she Yo itu merobohkan Cie Jiak, hatinya mencelos dan tanpa merasa, ia batuk2 sewajarnya. Apa mau suara batuk itu didengar dan dikenali Cia Soen.

Melihat Cia Soen memotong jalanan mundurnya, ia tahu semua rencananya telah hancur. “Para pendeta Siauw Lim dengarlah!” teriaknya. “Mo Kauw mengacau tempat yang suci ini dan menghina partai kita. Hajar mereka! Bunuh mereka!” Kaki tangan Seng Koen lantas saja menghunus senjata dan bergerak untuk menyerang.

Selama beberapa hari Kong tie menahan sabar dan berduka sangat, sambil memikiri keselamatan suhengnya yang sudah jatuh kedalam tangan kaum pemberontak. Sekarang begitu mendengar perintah Seng Koen ia tahu, bahwa banyak orang akan mengorbankan jiwa. Ia menganggap, bahwa keselamatan Kong Boen seorang adalah soal kecil, jika dibandingkan dengan keselamatan ribuan manusia. Maka itu ia lantas saja berteriak, “Tahan! Murid2 Siauw lim tidak boleh bergerak. Dengarlah! Kong boen Hong thio sudah jatuh kedalam tangan pengkhianat Coan tin. Bekuk dia! Sesudah itu barulah kita menolong Hong Thio.”

Dalam sekejap keadaan berubah kalut.

Kaki tangan Seng Koen ciut nyalinya.

Diantara kekalutan, Boe Kie lihat Cie Jiak tetap berduduk di tanah sambil menundukkan kepala. Ia merasa tak tega dan lalu menghampiri, akan kemudian coba membangunkannya. Tapi Cie Jiak mengibaskan tangannya dan buru2 kembali ke rombongan Go bie pay.

Sementar itu Cia Soen sudah bicara dengan nyaring, “Segala kejadian yang terjadi di hari ini adalah gara2 Seng Koen dan aku. Segala urusan, segala hutang piutang haruslah dibereskan oleh kami berdua, suhu, semua kepandaianku diberikan suhu, Seng Koen, seluruh keluargaku dibinasakan olehmu. Kau adalah guruku dan musuhku. Hari ini kita perhitungan.”

Melihat usahanya untuk menjadi Hong thio Siauw Lim sie sudah gagal, didalam hati Seng Koen lantas saja muncul lain tipu daya. “Cia Soen banyak dosanya, sehingga jita tidak bisa mengalahkannya, aku bisa menumplek semua kedosaan diatas kepadalnya,” pikirnya. “Semua kepandaiannya didapat dari aku dan kedua matanya buta. Mustahil aku tidak bisa merobohkannya.” Memikir begitu ia segera membentak, “Cia Soen banyak orang gagah binasa dalam tanganmu. Hari ini, bersama iblis2 Mo Kauw dan coba mengacau tempat suci ini. Biar bagaimanapun juga aku berkewajiban membersihkan rumah tangga itu sendiri dan menghukum murid durjana,” dengan tindakan lebar, ia lalu menghampiri Cia Soen.

“Para enghiong, dengarlah perkataanku!” teriak Cia Soen. “Ilmu silat Cia Soen memang didapat dari Seng Koen. Tapi sebab maksudnya untuk memperkosa istriku tidak ada kesempatan, Seng Koen sudah membunuh ayah, ibu, istri dan anakku. Sekarang aku mau tanya, apakah pantas atau tidak pantas, jika aku mencari dia untuk membalas sakit hati?”

Pertanyaan itu disambut dengan teriakan bergemuruh, “Pantas! Pantas!”

Diantara teriakan2 itu Seng Koen, mengirim pukulan kekepala Cia Soen, Cia Soen mengengos dan “plak!” pukulan itu jatuh dipundaknya. “Seng Koen,” katanya dahulu, waktu kau mengajar pukulan Tiang Hong Keng thian (Bianglala membentang langit), kau menggunakan Hoen Goan It khie kang untuk melukai musuh. Mengapa kau tidak mengerahkan lweekang itu. Apakah lantaran kau sudah terlalu tua dan tidak bisa mengeluarkan tenaga itu lagi?”

Memang Seng Koen tidak mengeluarkan Hoan Goan It khie kang dan sebabnya begini, dia tahu Cia Soen memiliki kepandaian tinggi, sehingga pukulan pertama itu lebih banyak pukulan gertakan untuk menjajal2. Diluar dugaan Cia Soen tidak berkelit. Sebab ia tidak menggunakan lweekang Cia Soen tidak terluka.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata Seng Koen mengirim pukulan kedua. Cia Soen hanya mengengos, ia masih belum membalas. Begitu lekas tangannya memukul angin, Seng Koen mengirim tendangan berantai yang mampir tepat dibawah iga.

Tendangan itu disertai tenaga dalam yang hebat, sehingga tubuh Cia Soen bergoyan2 dan muntah darah.

“Gie Hoe, balaslah! Mengapa Gie Hoe tidak mau membalas?” teriak Boe Kie.

Cia Soen tertawa getir, “Dia guruku,” jawabnya. “Sebagai murid aku pantas menerima satu pukulan dan dua tendangan.” Tiba2 ia mengirim pukulan geledek.

Mereka lantas saja bertempur mati2an. Cia Soen tidak bisa melihat, tapi bertempur melawan Seng Koen, ia tak usah menggunakan matanya. Sebagai murid ia paham semua ilmu silat gurunya. Sesudah pukulan ini, ia tahu persis pukulan apa yang bakal menyusul. Perbedaan diantara mereka banyak terletak di tenaga dalam. Cia Soen lebih muda belasan tahun sehingga dalam tenaga ia lebih kuat dan lebih ulet. Diamping itu ia pernah melatih diri di pulau Peng hwee to yang sangat dingin. Latihan dihawa yang dingin itu banyak manfaatnya. Maka itulah, sesudah bertanding kira2 seratus jurus, ia belum jatuh dibawah angin.

Sesudah pertempuran mencapai dua ratus jurus lebih, sekonyong2 Cia Soen berteriak keras dan mengirim tinjunya.

“Cia siong koen!” seru Siang Cie, tetua Khong tong pay.

Melihat pukulan2 Cia Soen, semua tetua Khong tong pay kaget tercampur heran. Cit siang dicuri dari Khong tong pay. Tapi sekarang pukulan2 yang dikeluarkan Cia Soen banyak lebih dahsyat dari apa yang dapat dikeluarkan oleh para tetua Kong Thong pay sendiri. Begitu lekas Cia Soen menggunakan Cit siang koen, Seng Koen mundur berulang2 sehingga saban2 terdengar sorak sorai gegap gempita. Permusuhan antara guru dan murid itu dan perbuatan Seng Koen banyak diketahui orang. Maka itu biarpun Cia Soen banyak dosa nya dan sering membunuh orang simpati para hadirin masih tetap diberikan kepada dirinya dan semua mengharap ia bisa mendapat kemenangan.

Sedang orang lain bergirang, Boe Koe kaget dan berkuatir. “Celaka,” ia mengeluh. “Seng Koen menggunakan Siauw Lim Kioe yang kang yang didapatinya sesudah berguru dengan Kong kian Seng ceng. Gie Hoe belum mengenal ilmu itu.”

Dalam melatih Cit Siang koen tergesa2 Cia Soen memang sudah mendapat luka didalam. Hal ini diketahui oleh Seng Koen. Ia berlagak keteter dengan saban2 mengeluarkan Siauw Liom Kioe yang kang. Acap kali Cia Soen memukul, ia segera menangkis.

Dengan Kioe yang kang, ia memunahkan tujuh bagian tenaga pukulan itu dan memulangkan yang tiga bagian ketubuh Cia Soen. Demikianlah, diluar Cia Soen kelihatannya berada diatas angin, tapi sebenarnya makin lama lukanya jadi makin hebat.

Bukan main bingungnya Boe Kie. Kesempatan membalas sakit hati sudah dicari2 ayah angkatnya selama puluhan tahun. Tapi sekarang sesudah mendapat kesempatan itu, sang Giehoe berbalik menghadapi maut. Ia tahu bahwa dalam puluhan gebrakan lagi, sang ayah angkat akan muntah darah dan binasa.

“Goan tin,” kata Kong tie denga suara dingin. “Apakah suhengku mengajar Kioe yang kang kepadamu supaya kau menggunakannya untuk mencelakai manusia?”

Seng Koen tertawa dingin. “In soe binasa dibawah pukulan Cit sing koen,” jawabnya. “Hari ini aku akan membalas sakit hati In soe!”

“Binatang Seng Koen!” mendadak Tio Beng berteriak. “Kioe yang kang Kong kian Seng ceng banyak lebih kuat dari yang dimiliki oleh mu. Mengapa dia tidak bisa tertahan terhadap cit siang koen? Kong kian Tay soe sudah dicelakai olehmu. Kaulah yang menipu ia membujuk supaya ia suka mendamaikan permusuhanmu dengan Cia Tayhiap. Kau sudah menipu ia, supaya ia suka menerima pukulan2 tanpa lantas. Huh huh… Lihat! Lihat! Siapa yang berdiri dibelakangmu dengan muka berlumuran darah. Kong kian Seng ceng! Ya memang Kong kian Seng ceng yg berdiri dibelakangmu.”

Seng Koen tahu bahwa Tio Beng berdusta. Tapi sebab ia memang berdosa, perkataan2 itu sudah membangunkan bulu romanya. Tiba2 pukulan menyambar ia menangkis dan membalas. Tubuhnya bergoyang dan sekali ini ia tidak mundur. Ternyata dalam rasa seramnya karena mendengar perkataan nona Tio, ia tidak bisa menggunakan Siauw Lim Kioe yang kang. Ia merasa darah didadanya bergolak2 buru2 ia menggunakan taktik berlari2 diseputar Cia Soen sambil menentramkan jalannya pernapasannya.

“Kong kian sengceng, jangan lepaskan dia,” teriak pula nona Tio. “Tiup belakang lehernya. Benar! Kau mati ditagnan murid, dia juga harus mampus ditangan muridnya. Ini hal yang dinamakan membayar hutang. Langit ada matanya.”

Jantung Seng Koen berdenyut lebih keras. Tiba2 ia merasa lehernya ditiup angin. Dipuncak itu memang banyak angin tapi bagi Seng Koen usapan angin itu menyeramkan hatinya.

Melihat perubahan pada sikap Seng Koen, Tio Beng lantas saja berteriak, “Ha,ha…! Seng Koen, coba kau menengok dan liaht siapa dibelakangmu! Kau tidak berani? Lihatlah bayangan hitam diatas bumi. Mengapa diatas bumi terdapat tiga bayangan manusia sedang yang berkelahi hanya dua orang.”

Mendadak tinju Cia Soen menyambar. Seng Koen tidak keburu mengerahkan Kioe yankang ia menangkis dengan lweekang biasa. Begitu kedua tangan kebentrok, tubuh ketua lawan bergoyang2 dan masing2 terhuyung beberapa tindak. Sekarang Seng Koen baru mendapat lihat bahwa, “bayangan manusia” yang ketiga sebenarnya bayangan batang pohon siong yang patah.

Melihat lihainya si murid, makin lama Seng Koen jadi makin bingung. Menurut pendapatnya jika ia mau meloloskan diri, jalan satu2nya ialah menjatuhkan Cia Soen. Tiba2 bayangan batang pohon memberi ilham kepadanya. Dengan tindakan tidak bersuara, ia mundur dua tindak ke arah batang pohon itu. Cia Soen merangsek, dia mundur lagi. Ia ingin memancing lawan ke pohon itu.

“Giehoe, hati2 dibawah kaki!” teriak Boe Kie.

Cia Soen terkejut buru2 ia melompat kesamping. Tapi karena keterlambatan itu Seng Koen, mendapat kesempatan baik. Ia segera mengirim pukulan yang tak bersuara kedada dan begitu lekas telapak tangannya menyentuh dada, ia mengeluarkan lweekang yang sehebat2nya hingga tanpa ampun lagi Cia Soen robih terjengkang!

Dengan girang Seng Koen melompat dan menendang kepala muridnya. Pada detik terakhir Cia Soen menggulingkan diri dan kemudian melompat bangun. Mulutnya mengeluarkan darah dan mukanya menakutkan. Sambil berdiri tegak perlahan2 Seng Koen mengirim pukulannya. Sebagaimana diketahui, Cia Soen menangkis setiap pukulan dengan menggunakan kupingnya, dengan mendengari sambaran angin dari pukulan musuh. Serangan Seng Koen mengirim pukulan yang tak bersuara dan ia tak berdaya. Sekali lagi ia kena dipukul pundaknya. Ia menghadapi bencana. Banyak berteriak terian mencaci. Seng Koen yang licik, tapi manusia itu tidak meladeni.

Pakaian Boe Kie basah dengan keringat. Ia mencekal tangan Tio Beng dan berkata dengan suara gemetar. “Beng moay, tolong lekas jalan apa?”

“Asal kau setuju menggunakan senjata rahasia untuk membutakan kedua mata manusia itu?” tanya nona Tio.

Boe Kie menggelengkan kepala. “Biarpun mesti mati, Giehoe pasti tak suak aku melakukan perbuatan itu,” jawabnya.

Sementara itu, perlahan2 cuaca berubah gelap.

Tiba2 terdengar teriakan, “Thian kauw makan matahari. Thian kauw makan matahari.”

Boe Kie menengadah. Ia lihat matahari sompelak separoh. Itulah gerhana matahari. Keadaan berubah kalut sebagian orang mendongak keatas, sebagian terus menonton pertempuran dan sebagian pula berlutut kearah matahari sambil manggut2 kepala.

“Bangsat! Seng Koen!” caci Tio Beng. “Kau terlalu jahat, sehingga Lou hian ya (langit) esndiri tidak bisa mengampuni kau lagi. Lihatlah! Langit mengunjuk keangkerannya untuk menumpas kau. Hari ini kau harus mampus, rohmu akan dilemparkan kegunung golok dan digodok dalam kuali minyak mendidih dan sepanjang masa kau tidak akan bisa dilahirkan lagi didalam dunia!”

Melihat perubahan dilangint itu dan makin lama cuaca makin gelap Seng Koen yang memang sudah goncang hatinya jadi ketakutan. Ia menyerang mati2an dengan maksud mencari lowongan untuk kabur kebawah gunung. Tapi Cia Soen yang bertekad untuk membalas sakit hatinya, tidak memperdulikan apapun juga dan terus mendesak sehebat2nya, sehingga ia tak mendapat kesempatan untuk meloloskan diri.

Sekonyong2 terdengar berkokoknya ayam jago dibukit dan beberapa saat kemudian, seluruh permukaan matahari sudah ditutup oleh bayangan rembulan. Keadaan berubah jadi gelap gulita. Ditempat jauh terdengar geram pekik dan jeritan macam2 binatang buas, di campur dengan menyalaknya kawanan anjing. Keadaan benar2 menyeramkan. Orang2 yang berada disitu adalah jago2 rimba persilatan, tapi tak urung bulu roma mereka bangun semua. Gerhana matahari sekali ini memang luar biasa, langit gelap gulita seperti malam.

Dengan adanya perubahan alam ini Seng Koen yang matanya terang jadi gelap seperti buta. Dengan hati keder ia menggunakan siasat mundur, tapi Cia Soen tidka memberi hati kepadanya. Beberapa saat kemudian ia berteriak “Aduh!”, sebab dadanya kena pukulan Cit siang koen yang hebat. Tapi memang dia bukan manusia bodoh. Sesudah kena pukulan hebat, ia mundur dengan mengubah cara berkelahi. Ia sekarang mengugnakan Siauw kin hanchioe yaitu ilmu mencengkram, memiting, membanting dan sebagainya dalam perkelahian rapat. Dengan ilmu itu ia tak perlu menggunakan mata.

Sambil menggeram Cia Soen pun melawan ilmu yang serupa. Dalam kegelapan para hadirin hanya mendengar suara bentrokan2 tanyan nyaring dahsyat.

Boe Kie mendengari dengan hati berdebar2. ia tidak bisa membantu dan juga tidak bisa melihat jalan perkelahian.

Dengan mendengar teriakan “Thian kauw makan matahari” Cia Soen tahu apa yang sudah terjadi. Ia sendiri sudah buta selama dua puluh tahun lebih. Ia sudah biasa dengan kebutaan itu dan kupingnya sedikit banyak sudah bisa menggantikan peranan mata. Dilain pihak, Seng Koen tidak pernah bertempur dengna kegelapan total, dalam keadaan diaman kedua matanya tidak bisa digunakan. Cia Soen tahu bahwa selama kegelapan total ia memang diatas angin.

Ia tidak boleh membuang wkatu dan ia segera menyerang denga sehebatnya, dengan seantero kepandaian dan tenaganya. Waktu Seng Koen menyerang dengan Siauw na-chioe iapun segera menggunakan ilmu tersebut.

Sesudah beberapa gebrakan, mendadak, mendadak Cia Soen mementangkan kedua tangannya dan mencoba mengacip iga musuhnya. Seng Koen girang “Kena!” ia berteriak sambil menusuk kedua mata Cia Soen denga dua jari tangannya.

Itulah pukulan Siang Liong Chioe Coe.
Pukulan ini tidak luar biasa, tapi kalai digunakan dalam Siauw kin na chioe, bahayanya sangat besar. Jika musuh mengegos, si penyerang bisa mengirim pukulan susulan dengan tangan kirinya dan kedua pukulan itu pasti akan menghantam kepala. (Siang liong Chioe coe Sepasang naga berebut mutiara).

Tapi diluar dugaan Ciao Soen tidak berkelit. Ia pun membentak “Kena!” dan menusuk mata Seng Koen dengan pukulan Siang liong chioe coe juga. Pada detik kedua jarinya amblas dimata Cia Soen, hati Seng Koen mencelos karena tanpa tercegah lagi, kedua matanya pun kena tusukan jari.

Ketika itu matahari mulai mengintip dan diantara cuaca remang2, pada hadirin bisa melihat kedua lawan itu sekarang berdiri seperti patung dengan mata mengucurkan darah. Seng Koen sudha jadi orang buta, sedang Cia Soen yang memang sudah buta, hanya mendapat luka biasa.

“Enak jadi orang buta?” tanya Cia Soen dengan suara dingin dan hampir berbareng, ia menghantam dengan tinjunya. Pukulan Cit siang koen kena tepat di dada Seng Koen. Dengan tinju kiri ia mengirim tonjokkan kedua. Seng Koen terhuyung, tubuhnya membentur batang siong dna mulutnya memuntahkan darah.

“Segala apa ada pembalasannya! Siancai! Siancai!” seru Touw Ok.

Cia Soen terkejut. Tinjunya yang sudah terangkat diturunkan lagi, “Sebenarnya aku ingin menghadiahkan kau dengan tiga belas pukulan Cit Siang Koen,” katanya. “Tapi sebab sekarang kau sudah musnah dan kau sudah menjadi orang bercacat, maka aku tak bisa turunkan sebelas pukulan lagi.”

Melihat Cia Soen mendapat kemenangan para hadirin bersorak sorai.

Mendadak Cia Soen bersila ditanah dan tulang2nya mengeluarkan suara peratak perotok.

Boe Kie terkesiap. Ia tahu ayah angkatnya sedang membalik aliran hawanya untuk memusatkan (Red: ‘memusnahkan’ mungkin harusnya?) kepandaiannya sendiri.

“Gie hoe, jangan!” teriaknya. Ia memburu tapi baru saja ia menempelkan telapak tangannya dipunggun sang ayah angkat untuk mengirim Kioe yang cin khie, Cia Soen sudah melompat bangun dan memukul dadanya sendiri, sehingga ia lantas saja muntah darah. Buru2 Boe Kie mencekal tangan orang tua itu. Dengan hati mencelos, ia mendapat kenyataan, bahwa sang Gie hoe tidak bertenaga lagi. Semua ilmu silatnya sudah musnah dan sukar dipulihkan lagi.

“Seng Koen,” kata Cia Soen. “Kau sudah membinasakan semua keluargaku. Hari ini aku membalas sakit hati dengan membutakan kedua matamu dan membinasakan ilmu silat suhu, ilmu silatku diberikan olehmu. Hari ini aku memusnahkannya dan memulangkannya kepadamu. Mulai saat ini, antara kita berdua sudah tidak ada sangkutan lagi. Semua budi dan semua sakit hati sudah dibayar lunas. Kau selamanya tak akan bisa melihat aku, sedang akupun tak akan bisa melihat mukamu lagi.”

Seng Koen menutup mata dengan kedua tangan dan tidak mengeluarkan sepatah kata.

Para orang gagah saling mengawasi. Mereka tak nyana, bahwa permusuhan antara guru dan murid itu akan berakhir secara begitu.

Sementar itu Cia Soen sudah bicara dengan suara nyaring! “Aku Cia Soen berdosa besar dan aku sama sekali tidak duga, bahwa aku bisa hidup sampai hari ini. Sekarang, jika diantara para enghiong ada yang sanak keluarganya dibinasakan olehku, maka ia boleh lantas saja maju untuk ambil jiwaku. Boe Kie, kau jangan merintangi dan juga tidak boleh membalas sakit hati, supaya kau tidak menambah kedosaanku.”

Dengan air mata berlinang, si anak mengangguk.

Untuk beberapa saat seluruh lapangan sunyi senyap. Sesudah melihat apa yang terjadi, banyak orang yang menganggap, bahwa turun tangan terhadap Cia Soen diwaktu itu bukan perbuatan seorang ksatria.

Tiba2 seorang pria maju dan berkata: “Cia Soen, ayahku, itu Cie Tin Cin Lam Khoe Loo Hiong binasa dalam tanganmu. Aku ingin membalas sakit hatinya.”

“Benar, Koe Heng boleh lantas turun tangan,” jawabnya.

Orang she Khoe itu segera menghunus golok.

Bukan main bingungnya Boe Kie. Ia serba salah. Tubuhnya gemetaran dan tanpa merasa ia maju beberapa tindak.

“Anak Boe Kie!” bentak sang Gie Hoe, “Kalau kau merintangi, artinya kau anak tidak berbakti. Sesudah aku mati, kau boleh periksa penjara diddalam tanah dan kau akan tahu segala apa.”

Orang she Khoe itu mengangkat goloknya sampai dibatas dada. Tiba2 air matanya mengucur. Ia meludahi muka Cia Soen dan berkata dengan suara parau, “Diwaktu hidup, Sian hoe (mendiang ayah) seorang gagah. Jika tokhnya angker, ia tentu tidak setuju jika aku membinasakan seorang buta yang tidak bisa melawan lagi…” Goloknya jatuh dan sambil menekap muka dengan kedua tangannya, ia lari balik ke orang banyak.

Seorang wanita setengah tua maju dan berkata: “Cia Soen, aku ingin membalas sakit hati kakakku. Im Yang Pan Koan Cin Peng Hoei.” Ia mendekati, meludahi dan berlalu sambil menangis.

Melihat ayah angkatnya dihinakan tanpa bergerak, hati Boe Kie seperti disayat pisau.

Dalam Rimba Persilatan hidup atau mati di pedang kecil. Yang dianggap sebagai urusan besar ialah hinaan. Kata orang.

“Orang gagah boleh dibunuh, tak boleh dihina.” Meludahi muka adalah salah satu hinaan terhebat, tapi Cia Soen menelannya dengan segala kerelaan. Ini merupakan bukti, bahwa ia sungguh2 merasa menyesal akan perbuatannya yang dulu2.

Demikianlah seorang demi seorang maju menghampiri untuk membalas sakit hati sanak keluarganya. Ada yang meludahi, ada yang menggelepok, ada pula yang mencaci. Cia soen menerima itu semua dengan kepala menunduk dan mulut membungkam.

Sesudah tigapuluh orang lebih melampiaskan ganjelannya, majulah seorang imam yang jenggotnya panjang. “Pinto membuktikan bahwa Cia thay sebenarnya seorang mulia. Pintu sendiri pernah membinasakan banyak orang baik, orang2 jalanan putih maupun orang2 jalanan hitam. Apabila Pinto membalas sakit hati terhadap Cia thay hiap, lain2 orang juga tentu akan mencari pinto untuk membalas dendam sakit hati mereka.” Sesudah berkata begitu, ia menghunus pedang, mementil badan pedang yang lantas patah dua dan melemparkan gagang senjata itu ditanah. Sesudah memberi hormat dengan membungkuk, ia berlalu sambil menundukkan kepala.

Para hadirin lantas saja mengutarakan pendapat mereka dengan bisik2. nama Thay hie coe tidak banyak kenal orang. Tak dinyana, ia mempunyai kepandaian tinggi. Apa yang sangat mempengaruhi orang adalah sikapnya dan dada yang lapang. Sesudah mendengar teguran Thayhie coe, rasanya tak ada orang lagi yang menghina Cia Soen.

Tapi diluar dugaan, dari rombongan Co bie pay keluarlah seorang pendeta tua. Ia menghampiri Cia Soen dan berkata, “Kau sudah membunuh suamiku, tapi cukuplah jika aku meludahi mukamu,” ia lantas saja menyemburkan ludahnya kemuka Cia Soen. Orang yang berkuping tajam lantas bisa mendengar bahwa dalam semburan ludah itu mengandung sesuatu. Cia Soen bahwa sebatang paku sedang menyambar. Ia tidak berkilat dan hanya berkata didalam hati, “ Kalau aku mati sekarang, aku mati agak terlambat.”

Pada saat yang sangat penting mendadak tubuh si baju kuning melesat dan tangan bajunya menggulung senjata rahasia itu. “Soe thay siapa namanu!” bentaknya.

Niekouw it terkesiap, “Aku Ceng ciauw” jawabnya.

“Hm.. Ceng Ciauw.. Ceng Ciauw! Sebelum kau menjadi pendeta siapa suamimu? Cara bagaimana Cia Thayhiap membinasakan dia?”

“Perlu apa kau bertanya begitu melit?”

“Cia Thayhiap menyesal akan perbuatannya yang dulu2. Kalau yang maju adalah orang yg benar2 mau membalas sakit hati ayah atau sanak lain biarpun di cincang, Cia Thayhiap akan menerima dengan rela dan orang luar tidak boleh mencampuri. Tapi mana kala yang turun tangan merupakan manusia yang mau memancing ikan di air keruh yang mau membunuh untuk mulut orang, maka siapapun juga, boleh mencampuri.”

“Dengan Cia Thayhiap aku tak punya permusuhan. Perlu apa aku membunuh orang untuk menutup…” Ceng Ciauw tidak meneruskan perkataan! Ia tahu bahwa dalam kaget dan takutnya, ia sudah kesalahan omong. Paras mukanya pucat pasi dan ia melirik Cioe Cie Jiak.

“Benar!” kata si baju kuning. “Dengan Cia tayhiap kau tidak mempunyai permusuhan apa kau membunuh orang untuk menutup mulutnya? Hm.. dua belas pendeta wanita Go Bie Pay dari tingkatan Ceng hiaom, Ceng hie, ceng ciauw semuanya menjadi pendeta sedari masih gadis. Dari mana datangnya suami?”

Tanpa menjawab Ceng Ciauw balik kerombongannya.

“Mana boleh kau berlaku begitu saja?” bentak si baju kuning sambil melompat. Dengan beberapa lompatan ia sudah mencegah nikouw it. Ia menotong pinggang dan menendang sehingga Ceng Ciauw lantas saja roboh.

Si baju kuning tertawa dingin. “Ciauw Kauw nio, susah membunuh orang untuk menutup mulutnya!” katanya.

“Jangan omong kosong kau!” kata Cie Jiak dengan suara dingin. “Ceng ciauw suci memang mau membalas sakit hatinya.”

Ia mengibaskan tangannya dan berkata pula. “Banyak murid partai lurus bersih tak membedakan lagi mana yang lurus mana pula yang sesat dan sudah rela bersatu padu dengan kawanan siluman. Go Bie Pay tak boleh turut masuk diair kotor. Hayo kita pulang!” Semua murid Go Bie lantas saja bersiap untuk berangkat. Beberapa anara mengawasi Ceng Ciauw yang rebah ditanah. Mereka tak tahu apa Ciang beon jin mereka akan menolong atau akan membiarkan saja saudara seperguruannya yang roboh itu.

Sementara itu terdengar bentakan Kong tie, “Goantin! Lekas perintahkan kaki tanganmu melepaskan Hong thio! Jika terjadi sesuatu yang tak diharapkan, kedosaanmu akan lebih besar lagi.”

Seng Koen terawa getir. “Sesudah urusan sampai disini biar kita mati bersama2,” katanya.

“Andaikata mau sekarang akupun tak bisa menolong lagi si hweesio tua Kong boen. Apa kau buta? Apa kau tak lihat sinar api?”

Kong tie tekrjut. Ia mengawasi kebawah bukit dan benar saja dikuil Siauw Lim sie terlihat berkobar api. “Celaka! Ta mo tong terbakar,” serunya. “Lekas padamkan api!”

Semua pendeta Siauw Lim yang berada disitu lantas bergerak untuk turun bukit guna memadamkan api. Tiba2 terlihat semburan2 air yang panjang seperti naga putih dan tak lama kemudian api sudah dapat dikuasai.

Kong tie merangkap kedua tangannya, “Kuil kami terbebas dari kemusnahan.”

Beberapa saat kemudian dua pendeta mendaki bukit dengan berlari2. “Melaporkan kepada Soesiok couw,” kata yang satu kepada Kong tie “Kaki tangan Goan tin telah membakar Tot mo tong. Syukur beribu syukur, para enghiong dari Ang soei kie keburu menolong dan sekarang sudah dipadamkan.”

Kong tie menghampiri Boe Kie dan merangkap kedua tangannya. “Bahwa kuil siauw lim sie terbebas dari kemusnahan adalah karena pertolongan Thio Kauwcoe yang sangat besar,” katanya. “Semua anggota Siauw Lim tak akan melupakan budi yang sangat besar itu.”

Boe Kie membalas hormat. “Hal ini hanya sepantasnya saja dan Taysoe tak usah berkata begitu,” jawabnya.

“Kong beon suheng dikurung di tat mo ih oleh murid2 itu,” kata pula Kong tie. “Walaupun kebakaran sudah dipadamkan, aku masih belum tahu nasib suheng. Thio Kauwcoe dan yang lain2 tunggulah sebenaran disini, loolap ingin pergi menyelidiki.”

Seng koen tertawa terbahak2. “Tubuh Kong boen dilabur minyak kerbau dan minyak babi,” katanya. “Begitu api berkobar, begitu ia tamat riwayatnya. Ang soei kie bisa menolong Tat mo ih, tapi tak akan mampu menolong situa.”

“Kalau Angsioe kie tak bisa, masih ada Houw Touw kie!” kata seorang yang sedang mendaki puncak bukit. Orang itu adalah Hoan Yauw. Ia muncul bersama Gan Hoan (Ciang kie see Aouw touw kie) dan seorang pendeta tua yang dipapah mereka. Orang2 tahu, bahwa pendeta yang dipapah itu bukan lain dari pada Hong thio seng ceng. Mereka mendapat luka dan pakaian mereka terbakar disana sini.

Kong tie membuta dan memeluk suhengnya, “Suheng!…” katanya dengan suara parau.”Sutemu tak punya kebecusan dan berdosa besar.”

Kong boen tersenyum. “Kalau Hoan Siecoe dan Gan Siecoe tidak keburu muncul dari terowongan, aku tak akan bisa bertemu lagi dengan kau masih bernapas,” katanya.

“Kepandaian Hauw towu kie dalam membuat terowongan tiada bandingannya didalam dunia,” kata Kong tie dengan suara kagum dan berterima kasih. Ia berpaling kepada kedua penolong itu dan membungkuk. “Hoan Siecoe,” katanya pula, “loocang pernah berlaku tak pantas terhadapmu dan aku harap kau sudi memaafkan. Looceng sekarang membatalkan perjanjian bertemu di Ban hoat sie. Looceng tidak berani pergi kesitu.”

Dalam Rimba Persilatan, tak menempati janji dipandang sebagai hal yang lebih memalukan daripada kalah berkelahi. Bahwa Kong tie rela menarik pulang janjinya dan menyerah kalah. Merupakan bukti, bahwa ia merasa sangat berhutang budi kepada Hoan Yauw. Kedua tokoh itu memang saling menghargai. Mulai dari waktu itu mereka menjadi sahabat karib.

***

Dalam usaha busuknya. Seng Koen sudah membuat rencana yang diperhitungkan masak2.

Sebelum pembukaan Enghiong Tay hwee ia berhasil membokong Kong boen dengan totokan dna kemudia mempenjarakan pemimpin itu di ruangan Tay moin, yang diisi dengan rumput, kayu kering, tahan2 api. Ruang itu lalu kemudian dijaga oleh kaki tangannya yg setia. Dengan Kong boen sebgai tanggungan, ia berhasil menundukkan Kong tie. Ia mengancam bahwa jiwa Kong tie membantah perintahnya, Kong boen akan segera dibakar.

Sesudah usahanya gagal, ia memberi isyarat supaya kaki tangannya segera membakar Tat mo ih. Ia mengharap selagi para enghiong dan para pendeta berusaha memadamkan api, kawan2nya akan bisa ditolong dirinya.

Tapi dalam pada itu telah terjadi sesuatu yang tak pernah diduga olehnya. Begitu tiba dikaki gunung Sauw sit san, pada sebelum bertemu dengan Boe Kie, Yo Siauw memerintahkan Houw tauw kie membuat terowongan kekuil Siauw Lim sie. Tujuannya ialah untuk menolong Cia Soen. Tapi belakangan ternyata bahwa Cia Soen bukan dipenjarakan didalam kuil. Penukaran patung Tat mo Couw soe dalam Tat mo ih dilakukan oleh orang2 Houw Touw kie.

Waktu Seng koen terlocot topengnya. Tio Beng dan Yo Siauw lantas bisa menduga apa yang akan terjadi. Sesudah berdamai, mereka minta Hoan Yauw memimpin Ang soei dan Houw tauw kie untuk memadamkan kan kebakaran dan menolong Kong boen di Tat mo ih. Tapi karena rapihnya persiapan, maksud menolong tercapai, Houw touw kie menderita kerusakan dan ketiga anggotanya mengorbankan jiwa. Kalau Hoan Yauw dan Gian Hoan tidak menggunakan terowongan waktu kabur dengan membawa Kong hoen maka mereka bertiga pun akan binasa. Kebakaran itu hanya merusak Tat mo ih dan beberapa bangunan lain.

Tay hiong po thian ceng keng dok loohan hion dan lain2 gedung dapat diselamatkan.

***

Sesudah berdamai dengan Kong tie, Kong Boen segera mengeluarkan perintah supaya semua kaki tangan Seng Koen dipenjarakan dibelakang kuil menunggu keputusan, Seng Koen sudah berdiam lama di Siauw lim sie dan konco2nya berjumlah tidak sedikit. Tapi melihat kepala mereka sudah dirobohkan Hong thio ketolongan, orang2 itu tidak berani melawan dibawah pimpinan Sioe co lo han tong mereka digiring turun bukit.

Sesudah itu Boe Kie mendapat kenyataan bahwa dalam kekalutan, Cie Jiak dan rombongannya sudah berlalu, dengan meninggalkan Ceng Ciauw yang masih rebah ditanah.

Boe Kie menghampiri si baju kuning dan sambil menyoja, ia berkata: “Dua kali Thio Boe Kie menerima pertolongan cie cie. Untuk itu aku hanya menghaturkan banyak2 terima kasih. Disamping itu, aku mohon tanya she dan nama cici yang mulia, supaya siang malam aku bisa mengingatkannya.”

Si nona tersenyum. Ia menjawab dengan kata yg merupakan sajak: “Dibelakang gunung Ciong lam san, terdapat kuburan Mayat Hidup, Burung Rajawali sakti dan pasangan pendekar tak muncul lagi dalam dunia Kangouw.” Seraya berkata begitu, ia membalas hormat dan kemudian, ia mengulapkan tangan kearah delapan pengiringnya. Sesaat kemudian, bersama delapan wanita baju putih dan hitam itu, ia turun bukit.

Boe Kie memburu, “Cici tahan dulu!” serunya.

Si nona tidak meladeni dan berjalan terus. “Yo Cici! Yo Cici!” panggil Soe Heng Sek.

“Segala urusan kay pang kumohon bantuan kauwcoe,” kata si baju kuning sambil berjalan terus.

“Boe Kie menerima perintah.”

“Terima Kasih!” Perkataan “terima kasih” itu terdengar jauh sekali karena si nona sudah menggunakan ilmu mengentengkan tubuh.

Sesudah itu, Boe Kie mendekati Cia Soen. “Gie Hoe,” panggilnya. Air matanya mengucur.

“Anak edan,” kata sang Gie hoe sambil tertawa. “Atas petunjuk Sam wie ko ceng aku sekarang baru mendusin. Segala hutang2ku telah dibereskan. Kau sebenarnya harus merasa girang. Mengapa kau berduka? Sebab ilmu silatku musnah? Apakah kau ingin aku menggunakan lagi ilmu iut untuk melakukan perbuatan2 berdosa?”

“Giehoe benar,” kata si anak dengan suara perlahan.

Cia Soen lalu menghampiri Kong boen dan berlutut. “Tee coe berdosa besar dan memohon Hong thio sudi menerima teecu sebagai murid,” katanya.

Sebelum Kong boen menjawab, Touw Ok mendahului: “Mari! Biar looceng saja yang mengambil kau sebagai murid.”

“Teecu tidak berani mengharap begitu besar,” kata Cia Soen.

Cia Soen berkata begitu sebab jika ia mengangkat Kong Boen sebagai guru, ia berada ditingkatan “goan” sedang jika ia mengambil kedudukan tingkatan “Kong” yang bersamaan tinggi denga Kong boen dan Kongtie.

“Fui!” bentak Touw Ok. “Kong kosong. “Goan” juga sama kosongnya. Kau sungguh tolol!”

Cia Soen tertegun, tapi ia lantas mendusin. “Guru kosong, murid kosong, tak ada dosa, tak ada mulia, tak ada jasa,” katanya.

Touw Ok tertawa terbahak2. “Sekarang kau sudah menjadi anak murid kami,” katanya. “Kamu tak usah mengubah nama. Kau mengerti maksudku?”

“Mengerti,” jawabnya. “Segala apa hanya merupakan bayangan kosong. Jangankan nama sedangkan tubuhpun pada hakekatnya sesuatu yang tak ada.”

Cia Soen seorang yang “boen-boe-coan-cay” (paham surat dan silat). Sesudah mendapat petunjuk Touw Ok, ia segera dapat menangkan intisari dari pada pelajaran sang Budha. Belakangan ia menjadi salah seorang pendeta suci.

Boe Kie menyaksikan dan mendengar itu semua dengan rasa girang tercampur duka.

“Mari!” kata Touw Ok akhirnya sambil menuntun tangan Cia Soen dan bersama kedua saudara seperguruannya, ia turun bukti. Kong-boen, Kong-tie, Boe Kie dan yang lain2 memberi hormat dengan membungkuk. Tigapuluh tahun yang lalu Kim mo say ong melakukan perbuatan2 yang menggemparkan dunia Kang Ouw. Sekarang ia masuk di “pintu kosong”. Mengingat itu semua, banyak orang menghela napas dengan rasa terharu.

Sesudah ketiga pendeta dan Cia Soen berlalu sambil merangkap kedua tangannya, Kong Boen berkata. “Kami merasa malu, bahwa berhubung dengan terjdinya pengkhianatan kami tak bisa melayani para enghiongnya secara pantas. Sekarang kita berkumpul. Entah kapan kita bisa berkumpul pula. Mengingat itu kami memberanikan diri untuk mengundang kalian guna mengaso sehari dua hari dikuil kami.”

Bersama tuan rumah, para tamu lantas saja kembali ke kuil siauw lim sie, dimana sudah disediakan makanan cia cay. Sesudah itu diadakan sembahyang untuk rohnya orang2 gagah yang membuang jiwa dalam pertempuran.

Untuk Boe Kie, selesainya Enghiong Tayhwee belum berarti hilangnya banyak tanda2 didalam hatinya. Masih banyak hal yang belum terang baginya. Cia Soen sudah berlalu sebelum memberi keterangan. Boe Kie merasa bahwa banyak pertanyaan yang belum terjawab, mempunyai sangkut paut dengan Cie Jiak. Ia seorang mulia dan ia masih belum melupakan kecintaan dahulu. Maka itu ia menghibur diri sendiri dengan memikir, bahwa soal2 itu sebaiknya jangan diselidiki terlalu mendalam supaya nama Cie Jiak jangan jadi lebih rusak.

Sesduah bersantap, ia pergi ketempat Kaypang untuk membicarakan soal2 partai pengemis denga Soe Hong Sek dan nama Tingloo. Selagi beruntun, mendengar swee poet. Tak menerobos masuk dan berkata. “Kaucoe, Boe tong siehiap datang berkunjung. Ia mengatakan, ada urusan penting yang mau dibicrakan.”

Boe Kie terkejut. “Apa ada sesuatu yg terjadi atas diri Thay suhu?” tanyanya didalam hati. Buru2 ia keluar menyambut. Sesudah memberi hormat dengan berlutut, hatinya baru agak lega sebab lihat paras muka thio Siauw Koe tenang2 saja. “Apa Thay suhu baik?” tanyanya.

“Tak kurang suatu apa,” jawabnya. “Di Butong san aku mendapat warta bahwa dua laksa tentara Goan sedang menuju ke Siauw Lim sie dengan maksud yang tidak baik terhadap eng hiong tayhwee. Maka itu, baru2 aku datang disini.”

“Mari kita beritahukan Hong thio,” kata Boe Kie.

Mereka segera pergi keruangan bealkang dan menemui Kong boen.

Sesudah berpikir sejenak, Kong Beng berkata, “Soal ini sangat besar. Kita harus berdamai dengan para orang gagah.” Ia segera memerintahkan dibunyikannya lonceng dan mengumpulkannya semua orang di Tay hiong Pothan dan mendengar laporan Thio Siong Kee semua orang terkejut dan beberapa antaranya lantas saja mengutarakan pikiran Yang berdarah panas mengusulkan supaya mereka turun gunung dan melabrak tentara musuh. Yang lebih tenang mengenakan, bahwa gerakan tentara Goan itu belun tentu ditujukan kepada Siauw Lim Sie.

“Aku mengerti bahwa Mongol,” kata Thio Siong Kee. “Aku dengar dengan kuping sendiri bahwa pasukan itu benar2 mau menyerang Siauw Lim sie.”

“Menurut pendapatku, tentara kerajaan menyerang karena mereka menduga bahwa berkumpulnya kita disini mempunyai tujuan untuk merusakan mereka,” kata Kong Boen.

“Kita paham ilmu silat dan kita tak takut kawanan Tai coe, musuh datang harus disambut. Air datang harus dibendung. Kita tak usah takut…” Belum habis Kong boen bicara beberapa orang sudah menepuk2 tangan untuk menyatakan persetujuannya.

Sesudah sambutan mereda,Kong ben selanjutnya! “Akan tetapi kita orang2 Rimba Persilatan, biasa bertempur satu melawan satu. Kita berkelahi dengan tangan kosong atau dengan senjata rahasia! Berkelahi dengan menunggang senjata panjang seperti tombak dan sebagainya, kita belum punya pengalaman. Maka itu menurut pikiran loolap, sebaiknya para neghiong bubar dan pulang kemasing2 tempatnya.”

Mendengar saran itu untuk beberapa saat semua orang membungkam.

“Aku sendiri tidak setuju,” kata Boe Kie. “Pertama kalau kita bubar Tat coe akan mengatakan bahwa kita tkut terhadap mereka. Kedua bagaimana dengan para suhu yang berdia dikuil ini?”

Kong boen tersenyum. “Kalau tentara Goan lihat bahwa yang berada disini hanya para pendeta2 dan bukan orang2 kangouw, mereka tentu tak akan berbuat apa2,” katanya.

Semua orang mengerti bahwa Kong boen berkata begitu karena tidak mau merembet orang. Para tamu datang atas undangan Siauw Lim Sie. Kong Boen tak mau mereka mengorbankan jiwa karea gara2 orang Siauw Lim Sie. Tapi orang2 yg berada disitu adalah laki2 sejati. Mana bisa mereka mundur dalam menghadapi musuh?

“Dihadapan Hong thio dan para enghiong aku yang rendah sebenarnya tidak boleh banyak mulut,” kata Yo Siauw. Pada hakekatnya setiap orang yang berada disini mempunyai kewajiban untuk melawan musuh menurut pikiranku kita sebaiknya mencari daya untuk memancing Tat coe dimana bisa menggempur mereka. Sedapat mungkin janganlah kuil yang bersejarah ini dijadikan medang perang.”

Semua orang lantas saja menyetujui usul itu.

Tiba2 diluar terdengar suara kaki kuda yang dikaburkan secepat2nya dan kemudian berhenti didepan kuil. Beberapa saat kemudian masuk dua partai dengan diantara oleh seorang Tie Kek Ceng. Dari pakaiannya mereka ternyata anggota Beng Kauw.

Sesudah memberi hormat, salah seorang berkata, “Melaporkan kepada Kauw coe, bahwa pasukan depan Tat coe yang berjumlah lima ribu orang sedang menerjang ke Siauw Lim Sie. Mereka mengatakan bahwa para suhu mengumpulkan orang untuk melakukan pemberontakan. Mereka sesumbar mau injak Siauw Lim sie sampai jadi bumi rata dan mereka mau membinasakan setiap kepala.” Ia berhenti ditengah jalan.

Kong Boen tersenyum. “Kau mau mengatakan kepada gundul bukan?” tanyanya. “Tak usah ragu2. Katakanlah segala perkataan yang harus dikatakan.”

Orang itu mengangguk. “Disepanjang jalan kami mendapat kenyataan bahwa sudah banyak pendeta yang dibinasakan Tat coe,” katanya pula. “Tat coe mengatakan begini, ‘kepala gundul bukan orang baik.’ Siapa yang membawa senjata harus dibunuh. Itulah pendirian pasukan latcoe.”

Semua orang meluap darahnya. Banyak yang lantas berteriak2 dan mengusulkan turun gunung untuk menggempur musuh. Semenjak orang Mongol berkuasa di Tiongkok pencinta2 negeri diseluruh Rimba persilatan memang menganggap penjajah sebagai musuh dan dalam cara2nya sendiri berusaha untuk mengusir penjajah. Gerakan Beng Kauw merupakan sebuah usaha mereka.

Melihat besi sedang panas, Boe Kie segera berkata dengan suara lantang. “Saudara saudara! Hari ini merupakan kesempatan yang paling baik untuk memperlihatkan bahwa laki2 sejati yang bisa berkurban demi kepentingan negara. Nama Siauw Lim Eng hiong tay hwee akan tercatat dalam buku sejarah dan akan diingat orang untuk selama2nya.”

Pidato bersemangat itu disambut dengan sorak sorai gegap gempita.

“Sekarang biarlah kita minta Kong boen Hong thio memegang pemimpin,” kata pula Boe Kie. “Kami dari Beng Kauw akan mentaati semua perintah.”

“Mana bisa begitu?” kata Kong boen seraya merangkap kedua tangnnya. “Walaupun benar kami pernah belajar dan mengerti sedikit ilmu sialt, kami sama sekali tidak mengenal ilmu perang. Semenjak beberapa tahun lalu Beng Kauw sudah memulai suatu usaha besar diketahui oleh semua orang. Menurut pendeta loolap, hanya tentara Beng Kauw yang akan dapat melawan tnetara Tat coe. Maka itu loolap mengusulkan untuk mengangkat Thio Kauwcoe sebagai Boe lim beng coe (kepala perserikatan dari Rimba Persilatan) guna memimpin kita dalam peperangan melawan Tat coe.”

Sebelum Boe Kie keburu membuka mulut, para hadirin sudah menyambut usul itu dengan tepuk tangan dan sorakan.

Biarpun Boe Kie masih muda dan sepang terjangnya dalam Rimba Persilatan belum cukup untuk menakluki hati orang, ilmu silatnya yang sangat tinggi sudah disaksikan segenap orang gagah. Disamping itu, panglima2 tentara Beng Kauw, seperti Han San Tong. Cie Sioe Hwee, Coe Coan Ciang dan lain lalu, telah mendapat kemenangan2 dalam peperangan disepanjang sungai Hway ho di Holam, Ouwpak dan sebagainya. Oleh karena itu para orang gagah yakin, bahwa selain Beng Kauw, tak ada parti yang lebih cocok untuk memimpin pertempuran dan memegang komando sebagai Beng coe.

“Tanggung jawab Beng coe berat luar biasa,” kata Boe Kie dengan suara merendah. “Aku tidak punya kemampuan dan kuminta kalian suka memilih lain orang yg lebih pandai.”

Sekonyong2 terdengar suara ribut yang bergemuruh dan dilain saat dua anggota Swie kim kie menerobos masuk keruangan musyawarah. “Tentara Mongol sudah menerjang kegunung ini!” teriak salah seorang.

Sampai disitu Boe Kie tidak bisa berlaku sungkan lagi. “Swie kim kie, Ang Soe kie maju dimuka untuk menyambut musuh!” katanya dengan suara angker. “Cioe Tian Sianseng, Tiat koan To tiang, kalian berdua bantu mereka dengan masing2 membawa saut bendera.”

Cioe Tian dan Tiat koen Toojin membungkuk dan segera berlalu untuk menjalankan tugas.

“Swee Poet Tek suhu,” kata pula Boe Kie. “Kuminta kau pergi ke berbagai tempat yang berdekatan untuk meminta bala bantuan dengan membawa Seng hwee leng sebagai tanda kepercayaan.” Tanpa menyia2kan waktu Swee Poet Tek segera berangkat.

Para enghiong yg berada disitu rata2 berkepandaian tinggi, tapi mereka merupakan tenaga yang belum terlatih dalam peperangan. Sesudah Boe Kie mengeluarkan beberapa perintah, mereka segera menghunus senjata dan bergerak untuk menyambut musuh.

“Kauwcoe,” bisik Yo Siauw, “Jika mereka tidak dipimpin, sekali gebrak saja mereka bakal dipukul hancur.”

Boe Kie mengangguk. Ia segera keluar lebih dulu dan pergi ke pendopo di depan kuil untuk mengamat-amati musuh. Ia menyadari bahwa pasukan Mongol yang di depan, yang terdiri dari seribu jiwa lebih sudah tiba dilereng gunung. Tetapi mereka sudah dipukul mundur oleh Swie kim ie yang menggunakan senjata gendewa dan anak panah serta tombak di sebelah bawah gunung yang lebih jauh, ia lihat pasukan demi pasukan merayap naik dengan teratur. Jaman itu keangkeran tentara Mongol sudah tidak bisa manyamai jaman Genghis khan. Tapi biar bagaimanapun juga tentara pilihan Mongol masih merupaka tentara yang tiada tandingan.

Selagi Boe Kie mengasah otak untuk memundurkan tentara musuh di sebelah kiri mendadak terdengar teriakan-teriakan yang dibarengi dengan munculnya sejumlah pendeta wanita dan laki-laki muda yang berlari-lari ke atas gunung. Mereka adalah rombongan Go bie pay. Tak salah lagi dalam perjalanan pulang mereka bertemu dengan tentara Mongol yang memukul mereka balik ke atas gunung. Dilain saat Boe Kie dan kawan-kawannya melihat Cioe Cie Jiak, Ceng-hoei Ceng Ciauw dan beberapa pendeta lain berkelahi sambil mundur dengan tubuh berlumuran darah, tak jauh dari situ belasan pria yang memikul sebuah tandu sedang dikepung oleh sejumlah serdadu Mongol. Berulang kali Cie Jiak dan kawan-kawannya menerjang dan berhasil membinasakan puluhan serdadu musuh tapi mereka belum juga berhasil menolong kawan-kawan yang terkepung itu.

“Celaka!” seru Boe Kie. “Yang berada dalam tandu pasti Song soeko!” Ia berpaling dan berseru pula. “Liat hwee kie melindungi dari kedua samping, Wie heng Hoan Yo Jiesoe ikut aku.” Seraya memberi perintah ia berlari-lari dan menerjang musuh. Dua serdadu memapaki, dengan tombak rampasan ia menerjang pasukan musuh diikuti oleh Yo Siauw, Hoan Yauw dan Pheng Eng Giok.

Sesudah mengamuk beberapa lama, Hoan Yauw bertemu dengan seorang Siehoe thio (pangkat perwira Mongol). Dengan sekali pukul ia menghancurkan perwira itu dan kemudian sesudah merobohkan beberapa musuh ia berhasil merampas seorang yang terluka parah dan rebah di dalam sebuah tandu. Ia lalu menggendongnya, dan kabur ke tempat yang lebih aman.

Sementara itu dengan muka penuh darah Cie Jiak menerjang pula ke arah rombongan musuh.

“Cie Jiak balik! Song Toako sudah tertolong!” teriak Boe Kie.

Cie Jiak tidak meladeni, ia terus menyerang dengan cambuknya. Tapi, karena jalanan gunung yang sangat sempit dan penuh dengan manusia, terjangannya tidak berhasil.

Beberapa saat kemudian Boe Kie lihat kedua anggota Go bie pay, yang memikul sebuah tandu yang lain dikepung musuh.

“Apa Song Soeko berada dalam tandu itu?” tanya Boe Kie dalam hati. Ia segera menghampiri dengan berlari. Tapi saat masih terpisah setombak lebih dari tandu itu, kedua murid Go bie itu sudah kena bacokan golok dan anak panah bersama-sama tandu yang dipikulnya, mereka menggelinding ke bawah gunung.

Boe Kie terkejut. Ia melompat dan menggunakan tombak yang dipegang oleh tangan kirinya untuk menahan tergelincirnya tandu. Ia menyadari bahwa orang yang berada di dalam tandu itu dibungkus dengan kain putih dan hanya kelihatan mukanya. Orang itu memang tidak lain adalah Song Ceng Soe.

Ia segera melemparkan senjatanya dan mendukung Ceng Soe. Ia merasa heran karenga tubuhnya berat luar biasa dan sesudah mendukungnya ia menyentuh sesuatu yang keras. Rupa-rupanya di dalam kain putih yang membungkus tubuh Ceng Soe terdapat suatu benda yang berat dan keras. Tapi saat itu ia tidak sempat berpikir panjang lagi. Karena kuatir menggetarkan tulang-tulang kepala Ceng Soe yang belum lama disambung, ia tidak berani bertempur dengan serdadu-serdadu yang mencegatnya dan hanya berkelit sana sini, sambil berlari-lari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Untung juga tak lama kemudian ia bertemu dengan Thio Siong Kee dan In Lie Heng yang lalu melindungi dari serangan musuh.

Sementara itu pasukan Mongol yang lain dengan kekuatan beberapa ratus orang sudah mulai merangsek ke atas.

“Liat hwee kie turun tangan,” teriak Pheng Eng Giok.

Tentara Liat hwee kie segera menyemprotkan minyak tanah dan panah api sehingga dua ratus lebih serdadu Mongol yang berada di depan segera saja terbakar dan yang lainnya terpaksa mundur.

Dilain pihak, Ang soe kie yang menyemburkan air beracun juga sudah berhasil membinasakan serangan musuh. Dengan menggunakan kesempatan yang baik itu, para orang gagah turut menerjang dan membasmi musuh sepuas hati.

Melihat gelagat tidak baik, Ban hon thio yang memimpin tentara Mongol buru-buru memerintahkan dibunyikannya gendering untuk menarik mundur pasukan. Dilain saat, pasukan depan Mongol berubah menjadi pasukan belakang dibawah perlindungan tentara yang bersenjata anak panah mereka mundur ke bawah gunung dengan teratur.

Melihat begitu Pheng Giok menghela napas dna berkata, “Tentara Mongol benar-benar bukan tentara sembarangan. Mereka kalah tapi tak jadi kalut.”

Setibanya di kaki gunung tentara Mongol diatur seperti kipas dan membuat persiapan untuk beristirahat.

Sesudah musuh menghentikan serangan, Boe Kie segera mengeluarkan perintah.

“Swie Kim, Ang Soei dan Liat hwee, tiga bendera, menjaga di tempat-tempat yang penting Kie bok dan Hong touw kie harus menebang pohon dan membuat benteng-benteng untuk menahan terjangan musuh yang selanjutnya.”

Kelima bendera itu segera berpencar untuk melakukan tugas mereka.

Pertempuran itu memberi pelajaran dan membuka mata para orang-orang gagah dari Rimba Persilatan. Sekarang mereka mengerti bahwa perang lain dari pertandingan satu lawan satu atau pertempuran antara beberapa orang yang biasa terjadi dalam kalangan Kang ouw. Sekarang mereka mengakui bahwa Lweekang, Gwakan, senjata rahasia dan ilmu silat tinggi dari seseorang tidak banyak artinya dalam peperangan, di mana beribu atau puluhan ribu manusia bertempur secara besar-besaran. Sekarang mereka yakin bahwa tanpa bantuan Nio heng kie, hari itu mereka semua terhitung kuil Siauw lim tentu sudah musnah. Tanpa Ngo heng mereka tak akan bisa melawan dua laksa serdadu Mongol yang terlatih baik.

Sesudah musuh mundur semua, Boe Kie meletakan Song Ceng soe di tanah dan meraba dadanya. Pemuda she Song itu ternyata masih bernapas. Ia menengok untuk memanggil Cie Jiak, tapi nyonya itu tak kelihatan batang hidungnya. “Mana Song Heng jie?” tanyanya kepada beberapa murid Go bie pay yang berada di situ.

Mereka semua menggeleng-gelengkan kepala. Dengan repotnya melawan musuh, para enghiong pun tidak memperhatikan nyonya muda itu.

Karena kuatir Song Ceng soe terluka, Boe Kie segera membuka kain putih yang membungkus tubuh pemuda itu.

Bungkusan itu tak kurang dari tiga lapis. Begitu lapisan ketiga terbuka, terdengar suara kerontangan dan empat potong senjata jatuh di tanah. Boe Kie terkesiap, “To liong to! Ie thian kiam!” teriaknya. Mendengar teriakan itu semua orang memburu.

Di atas tanah menggeletak dua potong Ie thian kiam dan dua potong To liong to.

Boe Kie mengambil salah sepotong To liong to. Ia berdiri terpaku dan kedua matanya mengeluarkan sinar kedukaan. Ia ingat bahwa ayah dan ibunya meninggal karena golok mustika itu. Ia ingat bahwa selama dua puluh tahun lebih banyak orang bermusuhan, berkelahi dan hilang jiwa gara-gara golok itu. Ia ingat pula bahwa perkumpulan para enghiong di kuil Siauw lim sie juga disebabkan oleh To liong to. Sekarang golok tersebut muncul dalam keadaan patah dua dan tidak ada gunanya lagi.

Ia angkat potongan itu dan menyadari bahwa di tengahnya berlubang. Ie thian kiam pun demikian. Mungkin sekali di dalam lubang itu telah disembunyikan sesuatu, tapi isinya sudah diambil orang.

Yo Siauw menghela napas, “Kauw coe!” katanya. “Sudah lama sekali aku coba memecahkan teka teki sumber ilmu silat Cioe Kauwnio sekarang aku bisa mengatakan bahwa ilmu Cioe Kauwnio didapat dari pedang dan golok itu.”

Boe Kie bukan orang tolol. Iapun sudah bisa meraba-raba kejadian yang sebenarnya. Ia sekarang dapat membayangkan bahwa malam itu waktu berada di sebuah pulau kecil. Cie Jiaklah yang sudah mencuri Thian kiam dan To liong to. Entah dengan jalan bagaimana ia menyingkirkan Tio Beng, membinasakan In Lee dan lalu saling membacok kedua senjata itu sehingga Ie thian kiam dan To liong to yang tersohor patah dua-duanya. Sesudah itu ia ambil pit kip (kitab ilmu) yang disembunyikan dalam kedua senjata itu dan melatih diri secara diam-diam.

Makin lama Boe Kie berpikir makin jelas duduk persoalan. “Benar,” katanya di dalam hati. “Di pulau itu waktu aku mencoba mengusir racun dari tubuhnya dengan menggunakan Kioe yang Sing kang aku merasakan munculnya semacam tenaga luar biasa yang melawan Sin kang. Belakangan tenaga itu jadi lebih kuat. Hai…karena tergesa-gesa ia tak pelajari dasar-dasar Lweekang yang sejati tapi melatih diri dalam ilmu luar yang beracun, yang bisa memberi hasil dalam waktu singkat. Sungguh sayang….”

Selagi ia termenung, Gouw Kia Co Ciang kie soe, Swi kim kie mendekati dan berkata seraya membungkuk. “Kauwcoe, aku jadi pandai besi (tukang besi). Aku bisa membuat macam-macam senjata. Mungkin sekali pedang dan golok mustika itu masih dapat disambung. Apakah Kauwcoe setuju kalau aku mencobanya?”

Yo Siauw girang, “Ilmu membuat pedang dari Gouw Sioe soe tiada tandingannya dikolong langit,” katanya. “Kauwcoe boleh mengijinkannya.”

Boe Kie mengangguk. “Baiklah,” katanya. “Memang sangat sayang jika kedua senjata ini tidak bisa digunakan lagi. Gouw Kioe soe, kau cobalah.”

“Heesheng,” kata Gouw Kin Co kepada Hee Yam, Ciang kie soe, “Liat hwee kie, membuat pedang golok mempunyai kaitan yang erat dengan api. Dalam hal ini, aku memerlukan bantuanmu. Untuk sementara waktu Tat coe mungkin tidak berani segera menyerang lagi. Bagaimana kita mencoba sekarang juga.”

Hee Yam tertawa. “Mupakat,” jawabnya. “Soal api memang bidangku.”

Kedua pemimpin bendera itu segera membuat persiapan. Mereka membuat sebuah dapur yang sangat tinggi dan pada dapur itu hanya terbuka sebuah lubang yang panjangnya belum cukup satu kaki. Dalam Liat hwee kie selalu tersedia macam-macam bahan bakar, sehingga dalam waktu singkat api sudah berkobar-kobar di dapur itu.

Dengan penuh perhatian Gouw Kin Co mengawasi api. Di atas tanah berjejer belasan golok. Sesudah api berubah warnanya ia mengambil beberapa batang golok dan memasukkannya ke dalam dapur untuk menilai “sifat” dari api yang tengah berkobar-kobar itu. Beberapa lama kemudian, api yang tadi berwarna hijau berubah menjadi putih. Ia segera mengambil jepitan baja menjepit dua potongan To liong to menyambungnya satu degan yang lain dan kemudian memasakkannya ke dalam dapur.

Dengan rasa kagum semua orang menyaksikan cara kerja pandai besi itu. Ia tidak memakai baju dan keringat mengucur terus dari tubuhnya yang berotot. Hawa panas dari dapur itu hebat luar biasa dan bunga api yang selalu muncrat keluar jatuh di tubuhnya. Tapi ia seolah-olah tidak merasakan semua itu. Dengan menumpahkan seluruh perhatian, ia berdiri bagaikan patung dengan kedua tangan memegang jepitan baja yang menjepit dua potong To liong to.

Mendadak dua anggota Liat hwee kie yang memompa hong shia roboh pingsan. Hee Yam dan Ciang kie Hoe soe (wakil pemimpin) Liat hwee kie melompat menyeret kedua orang korban itu dan kemudian mereka sendirilah yang menggantikannya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki Lweekang yang kuat. Begitu lekas hong shia ditarik mereka, api berkobar makin besar. (Hong shi – Alat berbentuk kotak untuk memompa angin ke dalam dapur).

Selang beberapa lama tiba-tiba Gouw Kin Co berseru, “Gagal!” ia melompat mundur dengan paras muka pucat. Kedua jepitan baja yang dicekalnya sudah mulai melumer tapi To liong to masih tidak bergeming. “Kauwcoe, anak buahmu tak punya kebecusan,” katanya dengan suara memohon maaf. “Nama besar To liong to benar-benar bukan nama kosong.”

Hee Yam dan Ciang ki Hoe soe Liat hwe kie juga turut mundur. Pakaian mereka sudah basah dengan keringat.

“Boe Kie koko,” kata Tio Beng dengan tiba-tiba, “Bukankah Seng hwee leng juga logam mustika dan bahkan tidak dapat diputuskan oleh To liong to?”

“Benar!” kata Boe Kie. “Hampir kulupa.” Ia mempunyai enam Seng hwee leng, tapi yang satu sudah diberikan kepada Swee Poet Tek untuk memanggil bala bantuan.

Ia segera merogoh saku dan mengeluarkan kelima batang “leng” yang lalu diserahkan kepada Gouw Kin Co. “Kalau golok dan pedang itu sukar disambung, Gouw heng tak usah memaksakan diri,” katanya. “Swee heng leng adalah mustika dari agama kita. Sebisa mungkin jangan sampai rusak.”

Gouw Kin Co menyambut dan menelitinya sambil mengerutkan alis.

“Apabila Gouw heng tak punya pegangan sebaiknya jangan menempuh bahaya,” kata Boe Kie.

“Swee heng leng ini terbuat dari emas putih, besi Hian tiat, pasir Kim Kong dan bahan istimewa lain,” terang Gouw Kin Co. “Benda luar biasa ini tak akan bisa dilumerkan dengan api. Apa yang aku tak dapat pikirkan adalah bagaimana Seng hwee leng dulu dibuat.”

“Sudahlah, untuk apa Gouw heng memikirkan hal itu,” kata Hee Yam. “Paling baik kita segera mencoba.”

Gouw Kin Co mengangguk, “Kauwcoe tidak usah kuatir,” katanya. “Meskipun api yang dibuat Hee heng cukup hebat, kulit Seng hwee leng tidak akan rusak.” Sehabis berkata begitu ia menjepit sepotong To liong to dengan dua “leng” dan potongan yang lain dengan dua “leng” pula. Kemudian dengan dua jepitan baja yang baru ia menjepit keempat “leng” itu yang lalu dimasukkan ke dalam dapur. Seperti tadi, gas memompa angin dilakukan Hee Yam dan Ciang kie Hoesoe dari Liat hwee kie.

Makin lama api berkobar makin tinggi, selang setengah jam Gouw Kin Co, Hee Yam dan Ciang kie Hoe soe sudah kelihatan payah sekali dan hampir tidak bisa mempertahankan diri lagi dari serangan hawa panas.

Melihat itu, Hoan Yauw memberi isyarat kepada Cioe Tian dengan lirikan mata dan gerakan tangan. Dengan bersamaan mereka melompat dan menggantikan pekerjaan Hee Yam dan kawannya. Begitu angin dalam hong shia dipompa oleh dua tenaga baru yang memeiliki Lweekang sangat tinggi, api yang berwarna putih segera menghembus ke atas.

Mendadak Gouw Kin Co berteriak, “Kouw heng, sekarang kau boleh turun tangan!”

Kouw Beng Louw, Ciang kie Hoe soe dari Swie kim kie lari mendekati dapur dan…, ia menggores dada Gouw Kin Co dengan goloknya.

Semua orang terkesiap dan menggeluarkan seruan tertahan.

Darah segera mengucur dari dada Gouw Kin Co yang telanjang dan jatuh di atas To liong to. Jatuhnya darah itu mengeluarkan suara ces…ces…dibarengi dengan naiknya uap putih dari badan golok.

“Selesai!” teriak Gouw Kin Co pula. Ia mundur beberapa langkah dan jatuh duduk di atas tanah.

Semua mata ditujukan ke arah To liong to, dua potongan golok itu sudah tersambung.

Sekarang semua orang baru sadar bahwa dalam tekadnya untuk menyambung golok mustika itu, Gouw Kin Co sudah lebih dulu mengadakan persetujuan dengan Kouw Beng Louw untuk menggunakan darahnya sendiri, apabila cara yang biasa mendapat kegagalan. Menggunakan darah manusia dikenal sebagai suatu cara di jaman purba untuk melumerkan logam yang tidak bisa dilumerkan dengan api biasa. Sepanjang cerita, dalam usaha membuat sepasang pedang mustika, dahulu sepasang suami istri Kan Ciang dan Bok Yo telah mengorbankan jiwa dengan melompat ke dalam dapur.

Dengan rasa haru Boe Kie menubruk bawahannya itu dan memeriksa lukanya. Luka itu tidak berbahaya, ia segera mengeluarkan obat dan menaburnya di dada Gouw Kin Co. “Gouw heng, mengapa kau berbuat begitu?” katanya dengan suara parau. “Golok itu bisa disambung atau tidak, sama sekali tak menjadi soal. Untuk apa kau menyakiti diri sendiri?”

Melihat sang pemimpin tidak memperdulikan Seng hwee leng atau To liong to dan lebih dulu memeriksa lukanya, Gouw Kin Co merasa berterima kasih. “Luka ini hanya dikulit,” katanya. “Kauwcoe tak usah kuatir.” Ia bangun berdiri dan mengambil To liong to. Ternyata dua potong golok itu tersambung dengan sempurna dan pada sambungannya hanya terlihat sehelai tanda bekas darah. Dengan rasa bangga ia menyerahkan kepada Boe Kie yang baru saja mengambil kembali keempat “leng” yang tadi digunakan untuk menjepit potongan golok. Keempat “leng” itu tidak kurang apapun.

Sesudah mengawasi golok mustika itu beberapa saat, Boe Kie menyabetkannya ke arah sepasang tombak Mongol. “Tak!” dua tombak itu putus menjadi empat potong.

Para hadirin bersorak sorai. Sementara itu, Gouw Kin Co memegang dua potong Ie thian kiam dengan mata merenung. Di depan matanya terbayang mendiang Cung ceng Ciang Kie soe Swee kim-kie dan puluhan saudara lain yang dibinasakan dengan pedang itu.

Perlahan-lahan air matanya mengalir turun, “Kauwcoe,” katanya dengan suara perlahan. “Pedang ini telah mengambil jiwa Chung To do dan banyak saudara lain. Gouw Kin Co membencinya sampai ke tulang-tulang. Dengan sangat menyesal, aku tak sanggup menyambungnya kembali. Aku bersedia menerima segala hukuman.” Sehabis berkata begitu ia menangis tersenguk-senguk.

“Gouw heng sama sekali tidak berdosa,” kata Boe Kie dengan suara lemah lembut.

“Itu hanya menunjuk “gie hie” Gouw heng yang sangat tebal.” Ia mengambil dua potong pedang itu dari tangan Gouw Kin Co dan menghampirinya. “Ceng hoei! Pedang ini adalah milik Go bie pay,” katanya. “Kuminta Soe thay sudi mengambilnya untuk kemudian diserahkan kepada Cioe…kepada Song Hoe jin.” Ceng hoei mengambilnya tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Untuk beberapa lama Boe Kie mencekal To liong to sambil mengerutkan alis. Akhirnya ia berpaling kepada Kong boen dan berkata, “Hong thio, golok ini didapatkan oleh Giehoeku. Sekarang Giehoe sudah menjadi seorang pendeta dan murid Siauw lim. Sudah sepantasnya kalau To liong to disimpan oleh Siauw lim pay.”

Kong boen menggoyang-goyangkan tangannya. “Golok itu telah menemukan majikannya,” katanya. “Dari berlaksa tentara, Thio Kauwcoe telah merebut kembali To liong to. Hal ini disaksikan oleh semua orang. Belakangan Gouw Toako menyambungnya kembali dengan mengucurkan darah sendiri. Disamping itu, segenap anggota Rimba Persilatan telah mengangkat Thio Kauwcoe sebagai Boe lim Beng coe, baik dilihat dari sudut kepandaian dan kebijaksanaan, maupun dari sudut kebajikan dan kedudukan yang tinggi, To liong to harus berada dalam tangan Thio Kauwcoe. Menurut pendapat loolap hal ini adalah yang paling adil.”

Semua orang menyetujui pendapat Kong boen dan beramai-ramai mendesak supaya Boe Kie sudi menerimanya.

Karena tidak bisa menolak lagi, mau tak mau Boe Kie lalu menggantungkan To liong to dipinggangnya. “Apabila dengan golok ini aku bisa menguasai enghiong Timba Persilatan untuk mengusir Tat coe, aku akan merasa girang sekali,” pikirnya.

Semua orang merasa girang. Banayk yang lalu menghafal kata-kata yang dikenal sejak seratus tahun yang lalu. “Boe lim cie coen, po to to liong, hauw leng, thiat hoe, boh kam poet ciong!” atau Yang mulia dalam Rimba Persilatan adalah golok mustika To liong. Memerintah di kolong langit, tak ada yang berani tidak menurut. Disebelah bawah masih ada perkataan, “le jian poet coet, swee ie kiam ceng hiong?” apabila Ie thian kiam tidak keluar, siapakah yang berani mengadu ketajaman dengan dengannya? Melihat Ie thian kiam sudah tidak dapat disambung lagi, orang-orang yang menghafal tidak menyebutkan lagi delapan perkataan yang terakhir itu. Pihak yang merasa paling puas karena rusaknya Ie thian kiam adalah anggota-anggota Swie kim kie, sebagaimana diketahui banyak orang, bendera itu telah dibinasakan dengan pedang menggunakan pedang mustika tersebut.

Sesudah penyambungan golok selesai, sejumlah anggota Ang soe kie menggotong keluar sebuah kuali besar dari dalam kuil dan sesudah mengisi minyak dalam kuali itu segera menarihnya di atas dapur. Minyak panas itu akan digunakan untuk menyemprot tentara Mongol jika mereka menyerang pula.

Sore itu, kecuali tentara Ngo beng kie dan sejumlah pendeta Siauw lim yang menjaga di luar, semua orang bersantap di dalam kuali itu. Sehabis makan Boe Kie memanjat satu pohon besar dan mengamat-amati gerakan musuh di kaki gunung. Ia lihat tentara Mongol terpencar di sana sini di seputar gunung dan asap putih mengepul di berbagai tempat yang merupakan satu tanda bahwa serdadu-serdadu itu sedang menanak nasi.

Boe Kie melompat turun dari pohon. “Wie heng,” katanya kepada Wie It siauw. “Saat malam menjelang kau selidiki keadaan musuh kalau-kalau mereka ingin menyerang di waktu malam.”

Wie it Siauw mengiyakan dan segera berlalu.

“Kauwcoe,” kata Yo Siauw, “Menurut pendapatku, sesudah dihajar di depan gunung hari ini, Tatcoe tidak akan menyerang lagi. Yang kita harus jaga adalah bokongan dari gunung.”

“Benar,” kata Boe Kie. “Mari kita mengamati dari atas bukit.” Bersama Yo Siauw, Hoan Yauw dan Gan Hoan, ia segera berangkat ke bukit di belakang gunung di mana Cia Soen pernah dipenjarakan.

“Aku ikut!” kata Tio Beng.

Dari puncak bukit, mereka mengawasi ke bawah, keadaan tenang-tenang saja. Sama sekali tak ada petunjuk dari gerakan tentara. Sambil mengusap-usap tiga batang siong yang dirubuhkannya, Boe Kie ingat pengalamannya yang sangat hebat. Tiba-tiba dalam otaknya teringat peringatan, “Ah, hampir kulupa,” katanya di dalam hati. “Gie hoe telah berpesan agar kuperiksa keadaan di dalam lubang.”

Batu penutup lubang masih belum dikembalikan ke tempat asalnya. Ia segera melompat turun. Ternyata dasar lubang itu merupakan sebuah kamar dengan garis tengah kira-kira setombak. Cuaca sudah mulai gelap dan keadaan di lubang itu lebih gelap lagi. Ia mengeluarkan bibit api untuk menerangi keadaan lubang. Dengan bantuan sinar api, ia lihat empat gambar di empat penjuru dinding batu. Gambar-gambar itu dilukis engan menggunakan potongan batu tajam, sederhana tapi cukup terang.

Gambar di sebelah timur memperlihatkan dua wanita – yang satu tidur di tanah, yang lain menotok wanita yang tidur dengan jari tangan kirinya, sedang tangan kanannya merogoh saku yang sedang tidur itu. Di sisi gambar terdapat tulisan yang berbunyi “mengambil obat”.

Gambar di sebelah selatan menunjuk sebuah gambar kapal dan seorang wanita yang melemparkan seorang wanita lain ke kapal itu. Pada gambar itu terdapat tulisan “mengusir”

Boe Kie mengeluarkan keringat dingin. “Benar-benar begitu kejadiannya!” pikirnya. “Cie Jiak menotok jalan darah Beng moay dan mencuri Sip hiong Joan kin san untuk meracuni Giehoe dan aku. Sesudah itu ia melemparkan Beng moay ke kapal Persia. Tapi mengapa ia tidak membunuhnya? Hmm…ya! Kalau dibunuh, ia tidak bisa menimpakan dosa diatas pundak Beng moay. Kalau begitu piauw moay pun dicelakai olehnya.”

Di bawah gambar itu dilukiskan dua orang lelaki. Yang satu sedang tidur pulas, yang lain yang rambutnya panjang tengah memasang kuping. Boe Kie kaget. Ia sekarang menyadari bahwa semua perbuatan Cie Jiak diketahui oleh ayah angkatnya. “Giehoe sungguh bisa menahan sabar dan di pulau itu ia sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia sudah tahu pengkhianatan Cie Jiak,” katanya dalam hati.

“Ia memang harus berlaku begitu. Ketika itu ia dan aku sudah menelan Sip hiang Joan kin-san dan jiwa kami berada dalam tangan Cie Jiak. Tak heran kalau Giehoe menuduh Beng moay dengan sungguh-sungguh. Ia tahu aku seorang jujur, apabila aku ragu, rahasia bisa bocor.”

Pada gambar ketiga, di sebelah barat terlihat Cia Soen yang sedang duduk dan dibokong dari belakang oleh Cie Jiak, sedang dari luar menerobos masuk sejumlah anggota Kay pang. Gambar ini sama dengan apa yang terlihat dalam arak-arakan di kota raja.

Baru saja Boe Kie mau memeriksa gambar keempat, api padam. “Beng moay, kemari,” serunya. “Kupinjam api.”

Tio Beng melompat turun.

Gambar keempat memperlihatkan dibawanya Cia Soen oleh belasan pria, sedang di kejauhan dari belakang pohon mengintip seorang wanita muda. Lukisan keempat gambar itu sangat baik muka orangnya kecuali muka Cia Soen yang tidak menyerupai orang-orang itu. Boe Kie mengerti bahwa hal itu sudah terjadi karena Cia Soen buta sejak puluhan tahun berselang dan belum pernah melihat muka orang-orang yang dilukisnya.

Sambil menuding wanita muda yang bersembunyi di balik pohon, Boe Kie bertanya, “Siapa wanita itu? Kau atau Cie Jiak?”

“Aku,” jawabnya. “Seng Koen merampas Cia Tayhiap dari tangan Kay pang dan kemudian mengirimnya ke Siauw lim sie. Tapi ia sendiri membuat tanda-tanda Beng kauw sehingga kau mengubar-ubar tanda-tanda itu dalam sebuah lingkaran besar. Sering aku ingin merebut Cia Tayhiap tapi selalu tidak kesampaian. Belakangan aku mencoba juga tapi gagal dan aku hanya bisa mengambil segenggam rambut Cia Tayhiap untuk dijadikan barang bukti guna mencegah pernikahanmu dengna Cie Jiak. Saat melakukan itu aku merasa tak enak hati dan merasa bersalah terhadapmu.”

Boe Kie mengawasi si nona dengan mata merenung. Selama beberapa bulan, nona yang ayu itu kurus banyak, pipinya menjadi agak pucat dan ia merasa sangat kasihan. Tiba-tiba ia memeluk erat-erat. “Beng moay…aku yang bersalah.” Karena pelukan itu api segera padam dan gua itu gelap gulita. “Beng moay,” kata Boe Kie pula. “Jika kau kurang pintar, mungkin sekali aku sudah membunuhmu. Kalau sampai terjadi begitu….”

Si nona tertawa. “Apa kau tega mengambil jiwaku?” tanyanya. “Waktu kau bertemu dengan aku di kota raja, mengapa kau tidak segera membunuh aku?”

Boe Kie menghela napas. “Beng moay, rasa cintaku terhadapmu telah membuat aku tidak berdaya,” katanya. “Jika piauw moay benar-benar dibinasakan olehmu, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Sekarang semuanya sudah menjadi jelas. Disamping rasa menyesal untuk Cie Jiak, aku harus mengakui bahwa diam-diam aku merasa girang.”

Mendengar pengakuan yang setulus hati itu, si nona girang bukan main hatinya. Dia segera menyusupkan kepalanya di dada yang lebar. Lama mereka berada dalam keadaan begitu, tanpa mengucapkan sepatah kata! Akhirnya Tio Beng menengadah. Ia lihat bulan seperti sisir tergantung di sebelah timur sedang keadaan di sekitar sunyi bagaikan kuburan. Ia tahu Yo Siauw, Hoan Yauw dan Gan Hoan sudah menyingkir ke tempat lain supaya tidak mengganggu mereka.

“Boe Kie Koko,” kata si nona, “Apa kau masih ingat pertemuan kita di Lek boe San chung? Kita bersama-sama jatuh ke dalam penjara di bawah tanah. Bukankah kejadian itu menyerupai kejadian sekarang ini?”

Boe Kie tertawa. Ia mencekal kaki kiri Tio Beng dan sepatunya.

Tio Beng tertawa geli! “Kau tak tahu malu!” bentaknya, “Lelaki menghina perempuan!”

“Kau bukan perempuan biasa. Akal bulusmu sangat banyak. Sepuluh lelaki belum tentu bisa menandingi kau seorang.”

“Aku yang rendah tak sanggup menerima pujian begitu tinggi dari Thio Kauwcoe yang mulia.”

Sampai di situ mereka terbahak-bahak. Kata-kata itu telah diucapkan mereka waktu berada dalam lubang jebakan di Lek hoe chung. Kalau dulu mereka berhadapan sebagai musuh sekarang sebagai kekasih.

Mendadak sayup-sayup terdengar bentakan-bentakan, satu tanda dari terjadinya pertempuran. Mereka memasang kuping.

“Mari kita lihat!” kata Boe Kie sambil memegang tangan Tio Beng dan dengan sekali menggenjot tubuh, mereka sudah berada di muka bumi. Di tempat yang jauh mereka lihat tiga bayangan manusia berlari-lari ke jurusan timur dengan kecepatan luar biasa. Dari gerakan-gerakannya dan cara berlarinya, ketiga orang itu adalah ahli-ahli silat kelas satu.

Yo Siauw muncul, ia mendekati Boe Kie dan berkata, “Mereka bukan orang kita.”

“Yo Cosoe,” kata Boe Kie. “Bersama Yoesoe kau berdiam di sini. Aku kuatir musuh menggunakan tipu, memancing harimau keluar dari gunungnya. Aku mau mencoba selidiki mereka.”

Yo Siauw menerima perintah itu dengan membungkuk.

Boe Kie segera memeluk pinggang Tio Beng dengan sebelah tangannya dan sambil menjejak bumi ia mengeluarkan ilmu meringankan tubuh. Tiga bayangan di depan itu ternyata sedang kejar-kejaran, satu kabur dua mengudak. Boe Kie menambah tenaga, kakainya bekerja makin cepat sehingga Tio Beng merasa seperti dibawa terbang dengan menunggang awan. Sesudah mengejar satu li lebih dengan bantuan sinar bulan yang reman-remang, mereka segera mengenali bahwa kedua orang yang mengejar itu tak lain adalah Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong.

Mendadak Pit Ong menimpuk dengan poan kaon pitnya yang berujung patok burung. Orang yang dikejar melompat ke samping dan menangkis senjata musuh dengan pedangnya. Dengan sedikit kelambatan itu, Lok Thung sudah menyandak dan menikam dengan tongkatnya yang bercagak seperti tanduk menjangan.

Orang itu menghindar dan membalas dengan pukulan telapak tangan, Boe Kie dan Tio Beng mengeluarkan seruan tertahan. Ia adalah Cioe Cie Jiak, mukanya pucat seperti kertas dan rambutnya terurai. Segera Boe Kie menarik tangan Tio Beng dan bersembunyi di belakang pohon.

Sesudah menyambut pit-nya yang jatuh, Ho Pit Ong segera merangsek dan mengepung Cie Jiak bersama kakak seperguruannya.

“Setan tua!” bentak Cie Jiak. “Untuk apa kau mengejar aku?”

“Hari ini Thio Boe Kie merebut To liong to dan In thian kiam,” kata Lok Thung Kek. “Dengan mata sendiri kami lihat bahwa ilmu pit kip, ilmu silat yang terdapat dalam kedua senjata itu sudah tidak ada lagi. Pit kip itu pasti berada di tangan Song Hoejin.”

Boe Kie terkejut.

“Pit kip memang ada,” jawab Cie Jiak. “Tapi sesudah selesai dan berhasil latihanku, aku segera membakarnya.”

Lok Thung Kek mengeluarkan suara di hidung. “Enak saja menggoyangkan lidah!” katanya. “To liong to dan Ie thian kiam dikenal sebagai yang termula dalam Rimba Persilatan. Semua ahli silat di kolong langit ingin sekali mendapatkannya. Mana bisa pit kip dalam kedua senjata itu dapat dipelajari dalam waktu singkat? Biarpun tinggi, ilmu Song Hoejin belum mencapai puncak tertinggi. Kalau Song Hoejin sudah selesai dalam latihan semua pelajaran yang tertera dalam pit kip itu, maka dalam sekejap mata kau bisa mengambil jiwa kami berdua. Mengapa kau main kejar-kejaran?”

“Kalau kau tak percaya, terserah,” kata Cie Jiak. “Aku tak punya waktu untuk bicara lama-lama.” Seraya berkata begitu, ia melompat untuk lari.

“Tahan!” bentak Lok Thung Kek. Dengan bersamaan kedua kakek itu menyerang dari kiri kanan.

Cie Jiak memutar pedangnya bagaikan titiran dan menyambut serangan-serangan Hian beng Jieloo. Di siang hari Boe Kie telah menyaksikan Cie Jiak telah menggunakan cambuk dan kin dengan rasa kagum ia menonton silat pedang indah. Sesudah belasan jurus, biarpun dikerebuti Lweekang yang lebih kuat mungkin sekali mereka sudah dijatuhkan. “Sungguh sayang,” kata Boe Kie dalam hati. “Jika Cie Jiak bersenjata Ie thian kiam, Hian beng Jieloo tidak akan bisa berbuat banyak, dengan pedang biasa ia kalah Lweekang dan kalah ulet. Paling banyak ia bisa pertahankan diri dalam dua ratus jurus.”

Sesudah lewat dalam beberapa jurus lagi Cie Jiak mengeluarkan pukulan-pukulan aneh. Boe Kie tahu bahwa itulah usaha untuk melarikan diri. Dengan serangan nekat-nekatan itu kalau untung bagus, memang Cie Jiak bisa berhasil. Tapi salah sedikit saja ia bisa celaka. Perlahan-lahan Boe Kie keluar dari tempat sembunyinya dan mendekati gelanggang pertempuran. Kalau perlu, ia mau menolong.

Mendadak seraya membentak keras Cie Jiak mengirim tiga tikaman berantai kepada Lok Thung Kek. Karena sedikit terlambat, tikaman ketiga merobek baju dan pundak si kakek turut tergores pedang, pada waktu itu Ho Pit Ong mendadak menimpuk punggung Cie Jiak dengan kedua pitnya. Dalam menghadapi musuh, kalau tidak terpaksa, Ho Pit Ong belum pernah menggunakan timpukan itu. Tapi sekarang, karena kuatir datangnya bala bantuan musuh yang bisa menggagalkan usaha merebut pit kip, ia menggunakan pukulan yang diberi nama Siang ho Lee kong (sepasang burung ho berbunyi di angkasa). Begitu kedua poan-koan pit yang ditimpuk beradu di tengah udara dengan mengeluarkan suara nyaring dan satu di atas dan satu di bawah, menyambar kepala dan pinggang Cie Jiak.

Dilain pihak, begitu merasakan sambaran angin di punggung, Cie Jiak berkelit. Tapi diluar dugaan, sesudah terbentrok di tengah udara dengan pit itu mengubah arah serangan. Ketika itu dapat menolong diri dari pit yang menyerang kepala, tak keburu mengelak pit yang menyambar pinggang.

Pada detik yang sangat berbahaya Boe Kie melompat dan menjambret pit itu sambil menangkis timpukan Ho Pit Ong dengan sebelah tangan yang lain.

Cie Jiak yang menduga bahwa ia bakal mati sudah pejamkan kedua matanya. Selagi Boe Kie menangkis serangan Ho Pit Ong, tangan Lok Thung Kek menyambar dan menjambret di kempungannya. Itulah Hian beng Sin ciang yang menggetarkan Rimba Persilatan. Begitu kena, napas Cie Jiak sesak dan ia roboh.

Semua kejadian itu terjadi dalam sekejap mata. Dengan kagetnya Boe Kie melemparkan poan koan pit Ho Pit Ong, mendukung pinggang Cie Jiak dan melompat setombak lebih jauhnya. “Hian beng Jieloo,” bentaknya. “Kau sungguh tak tahu malu!”

Lok Thung Kek tertawa terbahak-bahak.

“Kukira siapa, tak tahunya Thio Toakouw coe,” katanya dengan suara mengejek. “Di mana Koen coe ku? Ke mana kau bawa Koen coe?”

Tio Beng menghampiri dan mengambil Cie Jiak dari tangan Boe Kie. Ia tertawa dan berkata,” Lok Sianseng, siang malam kau tak bisa melupakan aku. Apa kau tak takut ayahku marah?”

“Perempuan siluman!” bentak si kakek dengan gusar. “Huh huh…kau mencoba merenggangkan aku dengan soeteeku. Dengan ayahmu kami sudah putuskan semua hubungan. Jie lam ong marah atau tidak, tak ada sangkut pautnya dengan kami lagi.”

Boe Kie menatap wajah kedua kakek itu dengan darah meluap. Mendengar cacian terhadap Tio Beng dan melihat pukulan terhadap Cie Jiak, ia segera ingat perbuatan mereka terhadap dirinya di waktu ia masih kecil, “Beng moay,” katanya. “Kau mundurlah. Hari ini aku akan beri pelajaran kepada mereka.”

Melihat Boe Kie bertangan kosong, Lok Thung Kek segera menyimpan senjatanya.

Boe Kie maju selangkah dan sesudah membentak “sambutlah!” ia memukul dengan Lok ciak hwee dengan mendorong kedua telapak tangannya. Pukulan yang dikirim dengan gerakan perlahan adalah Thay kek Koen hoat, tapi pada kedua tangannya tersembunyi tenaga Kioe yang Sin kang. Ia telah mengambil keputusan untuk menggunakan tenaga Soen yang (panas) yang paling murni untuk menghadapi tenaga Soen im (dingin) dari Hian beng Sin ciang.

Di jaman sekarang Thay kek koen sudah jadi ilmu silat yang biasa saja. Tapi pada akhir kerajaan Goan, waktu baru dirubah oleh Thio Sam Hong di dalam Rimba Persilatan jarang sekali terlihat ilmu tersebut. Karena kuatir Boe Kie menyembunyikan sesuatu di balik pukulan yang enteng lemas itu, Thung Kek tak berani menyambut dan lalu melompat ke samping. Boe Kie memutar tubuh sambil mengirim pukulan kedua pada Ho Pit Ong.

Beberapa kali Boe Kie pernah bertempur dengan Hian beng Jieloo dan ia tahu bahwa kepandaiannya melebihi kedua kakek itu. Tapi kedua lawan itu bukan orang sembarangan.

Ia tak boleh begitu sembrono atau memandang enteng. Kesalahan kecil bisa berakibat hebat. Dengan menggunakan Thay kek Koen hoat, yang mengirimkan pukulan dalam bentuk lingkaran, ia berada dalam kedudukan tegak dengan garis pembelaan yang hampir tak bisa ditembus. Pada hakikatnya Thay kek Koen hoat adalah ilmu silat yang mengerahkan tenaga. Pada lingkaran-lingkaran Thay kek itu ia menyelipkan tenaga Kioe yang Sin kang sehingga hawa panas yang murni menekan hawa dingin dari Hian beng Sin ciang.

Makin lama gerakan-gerakan Boe Kie jadi makin lancar. Ia mengerti bahwa kedua kakek itu adalah jago-jago yang jarang tandingannya dalam dunia. Sesudah merobohkan mereka, tak mudah ia bisa bertemu lagi dengan lawan yang setimpal, yang bisa digunakan sebagai kawan berlatih silat. Maka itu ia tidak tergesa-gesa.

Sesudah bertempur seratus jurus lebih, secara kebetulan waktu menengok ia melihat tubuh Tio Beng gemetaran dan hampir tak kuat menyangga tubuh Cie Jiak lagi. “Celaka!” ia mengeluh. “Cie Jiak kena pukulan Hian beng Sin ciang, yang ia latih adalah tenaga dingin. Tenaga dingin ditambah lagi dengan tenaga dingin yang sangat beracun, Beng moay juga kena akibatnya dan tak tahan lagi.”

Buru-buru ia menambah tenaga dengan pukulan-pukulan hebat, ia mencoba menindih Lok Thung Kek. Si kakek dapat menangkap maksudnya, sambil berkelit ia berseru, “Soetee! Berkelahi dengan siasat gerilya. Perempuan she Cioe itu sudah hampir mampus, jangan biarkan dia menolong.”

“Baik,” jawab Ho Pit Ong sambil melompat keluar dari gelanggang menjemput kedua pitnya dan kemudian menyerang dengan kedua senjata itu. Boe Kie mendongkol. Ia merangsek dan mengirim pukulan geledek yang disertai dengan sepuluh bagian tenaga Kie yang Sin kang sehingga napas Ho Pit Ong sesak. Tanpa memperdulikan keselamatan soeteenya, Lok Thung Kek mengeluarkan toyanya dan menikam pinggang Boe Kie dengan senjata itu.

Biarpun menggunakan senjata, Hian beng Jieloo tak bisa merobohkan Boe Kie tetapi dengan senjata, sedikitnya untuk sementara waktu mereka dapat mempertahankan diri.

Dilain pihak, dalam menghadapi senjata, Boe Kie menukar ilmu silat. Ia sekarang menggunakan Liong jiauw Kin nan chioe yang diturunkan oleh Kong seng Seng ceng (Liong jiauw Kin nan chioe, Silat cakar naga).

“Sungguh bagus Liong jiauwmu!” seru Lok Thung Kek. “Sebentar lagi dapat digunakan untuk menggali.”

“Menggali lubang?” tanya Ho Pit Ong.

Lok Thung Kek tertawa nyaring, “Ya, menggali lubang untuk mengubur Cioe Kauwnio,” jawabnya. Karena bicara, pemusatan tenaga si kakek terpecah. Mendadak Boe Kie menendang lutut kirinya, dia gusar dan lalu menyerang bagaikan angin dan hujan.

Sambil bertempur, Boe Kie menengok beberapa kali. Gemetar tubuh Cie Jiak dan Tio Beng makin hebat. “Beng moay, bagaimana?” tanyanya.

“Dingin luar biasa!” jawabnya.

Boe Kie terkesiap. Sesudah berpikir sejenak, ia mengerti sebabnya. Tak salah lagi, karena baik hati Tio Beng mengerahkan Lweekang dan coba membantu Cie Jiak untuk melawan hawa dingin. Tapi lantaran tenaga dalamnya masih rendah, sebaliknya dari berhasil ia sendiri diserang hawa dingin. Boe Kie segera menyerang sehebat-hebatnya untuk menjatuhkan lawannya secepat mungkin. Tapi Hian beng Jieloo menukar siasat. Mereka terus mundur dengan berpencaran dan menyerang balik kalo Boe Kie mencoba mendekati Cie Jiak dan Tio beng.

Boe Kie bingung. “Beng moay!” teriaknya. “Lepaskan Cioe Kauwnio!”

“Aku…aku…tak bisa!”

“Mengapa?”

“Punggungnya menempel keras di telapak tanganku,” ia bicara dengan gigi gemeretukan dan tubuh bergoyang-goyang.

Boe Kie jadi lebih bingung.

“Thio Kauwcoe,” kata Lok Thung Kek. “Cioe Kauwnio berhati kejam, ia mengirim hawa dingin ke tubuh Cocoe Nio nio. Cocoe Nio nio menghadapi bahaya, apa tak baik kita berdamai saja?”

“Berdamai bagaimana?”

“Kita hentikan dulu pertempuran ini. Kami akan mengambil dua jilid kitab yang berada pada Cioe Kauwnio sedang kau bebas untuk menolong Koencoe.”

Boe Kie mengeluarkan suara di hidung, ia tak dapat menyetujui usul itu. Ilmu silat Hian beng Jieloo sudah sangat tinggi. Jika memperoleh kedua kitab itu kepandaian mereka akan mencapai tingkat yang tak akan bisa ditaklukkan oleh siapapun juga. Ia menengok dan lihat muka Tio Beng yang putih berubah menjadi hijau, sedang parasnya menunjukkan penderitaan hebat. Ia mengerti bahwa ia tak boleh berpikir lebih lama lagi, tiba-tiba ia melompat mundur, mencekal telapak kanan si nona dengan tangan kirinya dan mengirim Kioe yang Cin khie.

“Serang!” teriak Lok Thung Kek. Sebatang tongkat dan dua poan-koan pit segera menghantam bagaikan hujan dan angin.

Begitu mendapat aliran Kioe yang Cin khie, Tio Beng yang darahnya sudah hampir membeku segera merasakan kehangatan yang sangat nyaman. Boe Kie mengerahkan seluruh tenaganya dan melawan dengan nekat. Tapi dengan cepat ia merasa tak tahan sebab ia harus menggunakan sebagian besar tenaga dalamnya untuk menekan hawa dingin Hian beng Sin ciang dari kedua kakek dan Kioe im dari Cioe Cie Jiak dan bersamaan itu ia harus menggunakan Lweekang untuk melayani dua jagao kelas utama. Sesudah bertempur beberapa lama, kaki celana di bagian lututnya dirobek dengan poan koan pit dan darah mulai mengucur. Ia terdesak dan menghadapi bencana. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh Lweekang dan berteriak memanggil Yo Siauw dan kawan-kawannya. Tapi di lain saat ia mendengar bentakan-bentakan Yo Siauw dan Hoan Yauw serta suara beradunya senjata. Ia tahu bahwa mereka pun dikepung musuh.

Karena kuatir datangnya bala bantuan, Hian beng Jieloo memperhebat serangan mereka. Sambil menggeram Lok Thung Kek mengirim tiga serangan berantai ke arah mata Boe Kie. Dengan telapak tangan Boe Kie berhasil menangkis serangan lawan, mendadak Ho Pit Ong menggulingkan diri di tanah dan menotok pinggangnya dengan poan koan pit kiri. Boe Kie tak keburu berkelit lagi, karena itu ia terpaksa mengerahkan Kian koen Tay lo ie utnuk memindahkan totokan itu, tapi karena si kakek menggunakan Lweekang yang sangat dahsyat, ia tidak bisa memastikan bahwa ia akan berhasil. “Tak!” pinggangnya tergetar tapi…heran!…ia tidak merasa sakit. Dilain detik ia mengerti bahwa totokan itu jatuh pada To liong to yang tergantung di pinggangnya. Dalam pertempuran, Boe Kie biasanya tidak menggunakan senjata. Paling banter ia menggunakan Seng hwee leng. Ia tak pernah membawa senjata sehingga ia sama sekali tak ingat bahwa sebatang golok mustika tergantung di pinggangnya.

Sekarang ia sadar dan girang, sambil membentak keras ia menendang dan Ho Pit Ong buru-buru mundur bagaikan kilat. Ia menghunus To liong to dan membabat tongkat Lok Thung Kek yang menyambar dada “Sret!” kepala menjangan tongkat itu putus dan jatuh di tanah.

“Celaka!” seru si tua.

Dua pit Ho Pit Ong menikam bersamaan dan sekali lagi Boe Kie membabat dengan To liong to. Hampir bersamaan dengan dua poan koan pit berubah menjadi empat potong. Semangat Boe Kie terbangun dan memutar golok mustika itu seperti titiran sehingga Hian beng Jieloo tidak berani mendekati lagi.

Dibawah perlindungan To liong to, sekarang Boe Kie bisa menggunakan seluruh Kioe yang Cin khie untuk menekan hawa dingin. Dalam beberapa saat saja hawa dingin beracun dari Hian beng Sin ciang yang mengeram dalam tubuh Tio Beng dan Cioe Cie Jiak sudah terusir semuanya menjadi bersih. Sesudah racun Hian beng Sin ciang musnah, tanpa diketahui Boe Kie, terjadi satu perkembangan baru. Apabila dua hawa “im” (dingin) dan “yang” (panas) bertempur dalam tubuh manusia, maka yang lebih kuat selallu memusnahkan yang lebih lemah. Demikianlah sesudah hawa Hian beng Sin ciang terusir, Kioe yang Cin khie lalu menekan tenaga Kioe im yang dimiliki Cie Jiak.

Sesudah mendapatkan Kioe im Cin keng yang disembunyikan dalam Ie thian kiam, Cie Jiak berlatih diam-diam secara tergesa-gesa. Karena kuatir diketahui Cia Soen dan Boe Kie, ia hanya berani berlatih di waktu malam dan karena waktu sudah mendesak, ia tak sempat mempelajari dasar-dasar kitab ilmu silat itu dan terpaksa memilih ilmu rendah yang lebih mudah dilatih diantaranya Kioe im Pek koet jiauw. Dulu jilid kedua Kioe im Cin keng dicuri oleh Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong (keduanya muruid Oey Yok Soe dari tangan Tong sia Oey Yok Soe). Apa yang dipelajari oleh kedua murid murtad itu juga Kioe im Pek koet jiauw. Dapat dimengerti bahwa ilmu yang dilatih tergesa-gesa tak bisa mempunyai dasar Lweekang yang kuat, begitu bertemu dengan lawan tangguh tenaga dalamnya akan segera tertindih. Setelah kena racun Hian beng Sin ciang, Cie Jiak lalu memasukkan hawa beracun ke dalam usaha mengusirnya dari tubuhnya. Sesudah Boe Kie menolong barulah ia merasa nyaman. Tapi baru saja ia mau melepaskan diri dari telapak tangan Tio Beng, semacam tenaga yang sangat kuat telah menyedot dan ia tak bisa melepaskan dirinya lagi. Tadi Tio Beng yang tak bisa melepaskan diri dari punggungnya tapi sekarang ia sendiri yang tak bisa memberontak diri telapak tangan Tio Beng. Ini sudah terjadi karena adanya perbedaan kekuatan tenaga.

Boe Kie terus mengirim Kioe yang Cin khie karena ia masih merasakan perlawanan hawa dingin yang keluar dari telapak tangan Tio Beng. Ia hanya menduga bahwa racun Hian beng Sin ciang belum terusir semuanya. Ia tak tahu bahwa hawa dingin itu adalah Kioe im Cin khie dari Cie Jiak. Makin lama Kioe im Cin khie yang didapatkan Cie Jiak dengan susah payah makin berkurang. Cie Jiak mengeluh tapi ia tak berani buka suara sebab sekali bicara, ia akan muntah darah.

Untung juga, sesudah keadaan badannya pulih kembali, Tio Beng tertawa dan berkata, “Boe Kie Koko, aku sudah sembuh. Sekarang boleh kau layani kedua tua bangka itu!”

“Baiklah!” kata Boe Kie sambil menarik kembali tenaga dalamnya.

Cie Jiak seperti orang yang baru mendapat pengampunan. Sesudah tenaga menyedot hilang, ia merasa bahwa hawa racun Hian beng Sin ciang sudah terusir dari tubuhnya tapi tenaga dalamnya sendiri berkurang banyak. Satu dua detik ia mengawasi Boe Kie yang sedang memutar golok dan menyerang Hian beng Jieloo dengan hebatnya. Mendadak ia mementang lima jari tangannya yang lalu ditancapkan ke batik kepala Tio Beng.

“Aduh!” teriak nona Tio.

Totokan dan teriakan itu disertai dengan suara “krek” dari patahnya tulang. Yang patah adalah tulang-tulang jari tangan Cie Jiak yang segera kabur secepatnya.

Boe Kie terkesiap. Ia menengok dan berseru, “Beng moay….”

Si nona meraba-raba kepalanya dengan tangan gemetaran.

Boe Kie melompat mundur dan dengan tangan kanan memutar golok, ia meraba kepala Tio Beng dengan tangan kirinya. Ia merasa lega karena biarpun tangannya menyentuh darah yang basah lengket, tapi batok kepala nona Tio tidak mendapat kerusakan. “Beng moay, jangan takut!” katanya. “Hanya luka di kulit.”

Gagalnya serangan Cioe Cie Jiak dan patahnya jari-jari tangannya adalah karena di dalam tubuh Tio Beng masih terdapat Kioe yang Cin khie dan tenaga dalam Cie Jiak sudah berkurang banyak.

Sambil bertempur, Boe Kie merasa bahwa dengan menggunakan golok mustika itu biarpun menang, kemenangan itu bukan kemenangan gemilang. “Yo Cosoe! Hoan Yoe soe! Bagaimana keadaan kalian?” teriaknya.

“Tiga sudah roboh, masih ada tujuh,” jawab Hoan Yauw. “Kauwcoe tak usah kuatir!”

Mendengar jawaban yang disertai dengan Lweekang yang kuat. Boe Kie tahu bahwa keadaan mereka memang tak usah dikuatirkan, ia segera menyerahkan To liong to kepada Tio Beng dan kemudian memindahkan pukulan Ho Pit Ong ke arah lain dengan Kian koen Tay lo ie tingkat ketujuh. Kian koen Tay lo ie tingkat ketujuh adalah ilmu yang sangat sulit dan tak boleh digunakan secara sembarangan. Salah sedikit saja ilmu itu bisa membakar diri yang menggunakannya. Maka itulah, pada waktu mesti menolong Tio Beng dan Cie Jiak dari hawa dingin, biarpun keadaannya berbahaya ia tak berani menggunakan ilmu tersebut. Hian beng Jieloo adalah tokoh-tokoh kelas utama, Kian koen Tay lo ie tingkat rendah takkan berhasil terhadap mereka.

Sekarang sudah selesai menolong Tio Beng dan Cie Jiak, barulah ia berani menggunakan ilmu tersebut.

“Plak!” pukulan Ho Pit Ong pindah arah dan menghantam pundah Lok Thung Kek.

Lok Thung Kek terkejut. “Soetee, mengapa kau begitu?” tanyanya dengan gusar.

Ho Pit Ong orang yang otaknya tumpul dan dalam setiap urusan ia harus berpikir lama sebelum bisa menangkap artinya. Dalam kejadian ini ia merasa heran dan bingung biarpun di dalam hati ia tahu bahwa Boe Kie yang melakukannya. Ia berpendapat bahwa jalan satu-satunya untuk minta maaf dari soehengnya adalah menyerang musuh sehebat-hebatnya. Demikianlah ia segera menendang dengan seluruh tenaganya. Boe Kie mengibaskan tangan kirinya dan tendangan itu menyambar tan tian (di bawah pusar) Lok Thung Kek. Tan tian adalah pusat penting dalam tubuh manusia untuk mengerahkan hawa. Lok Thung Kek terkesiap. Secepat kilat ia berkelit dan membentak, “Soetee, apa kau gila?”

“Benar Ho Sianseng!” seru Tio Beng. “Bekuk soehengmu yang berdosa dan cabul! Ayahku akan memberi hadiah besar kepadamu.”

Boe Kie geli di dalam hati. Semula ia ingin menggunakan Kian koen Tay lo ie untuk menuntun serangan Ho Pit Ong ke arah Lok Thung Kek dan Lok Thung Kek ke arah Ho Pit Ong. Tapi sesudah mendengar perkataan Tio Beng, ia hanya menuntun pukulan-pukulan Ho Pit Ong ke arah Lok Thung Kek dan terhadapa Lok Thung Kek ia tetap melayani dengan Thay kek koen. “Ho Sianseng, kau tak usah kuatir,” katanya. “Kita berdua pasti bisa menumpas manusia she Lok ini. Jie lam ong akan mengangkat kau sebagai…sebagai…”

“Ho Sianseng!” Tio Beng menolong. “Pangkatmu sudah ada di sini. Ia merogoh saku, mengeluarkan segulung kertas dan mengibas-ngibaskannya. “Dengarlah!” teriaknya pula. “Kau akan dianugerahkan pangkat Thay goan Hoe kok Yang Wie Tay ciang koen.”

Saat itu pukulan Boe Kie menolak Lok Thung Kek ke samping kiri. Secara kebetulan selagi terhuyung si tua dipapaki oleh pukulan Ho Pit Ong yang arahnya dialirkan dengan Kian koen Tay lo ie sehingga kakek she Lok itu tergencet di antara dua pukulan yang menyambar dari kiri dan kanan.

Selama puluhan tahun Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong tak pernah berpisah dan mencintai seperti saudara kandung sendiri. Lok Thung Kek tak percaya bahwa adik seperguruannya akan menjual dia tapi sesudah lima kali beruntun diserang dengan pukulan yang membinasakan ia jadi kalap. “Binatang,” teriaknya. “Aku tak sangka karena pangka kau melupakan giekhie.”

Ho Pit Ong kebingungan. “Aku…aku…,” katanya dengan suara terputus-putus.

“Benar,” sambung Tio Beng. “Kau berbuat begitu sebab terpaksa, karena kau akan menjadi Hoe kok Yang Wie Tay ciang koen.”

Selagi si nona bicara, Boe Kie mengerahkan sepuluh bagian tenaganya. Begitu pukulan Ho Pit Ong menyambar, ia mengalihkan dengan Kian koen Tay lo ie dan “plak” pukulan itu jatuh tepat di pundak Lok Thung Kek. Lok Thung Kek balas memukul dan beberapa gigi Ho Pit Ong yang masih tinggal rontok semua. Sebagai seorang tua, Ho Pit Ong sangat menyayangi beberapa gigi itu sehingga dapatlah dimengerti kalau darahnya segera meluap. “Soeko! Kau keterlaluan,” bentaknya. “Aku memukul kau tanpa senjata.”

“Omong kosong!” teriak Lok Thung Kek.

Biarpun berkepandaian tinggi, Hian beng Jieloo tak mengenal Kian koen Tay lo ie tingkat ketujuh. Dalam silat Tionggoan memang terdapat ilmu “meminjam tenaga dan empat tahil memukul ribuan kati” tapi orang yang berkepandaian seperti mereka tak gampang-gampang bisa diserang ilmu begitu. Maka itu, Lok Thung Kek sama sekali tak pernah menduga bahwa serangan-serangan adik seperguruannya adalah karena perbuatan Boe Kie.

Di dalam hati Ho Pit Ong tahu bahwa Boe Kie lah yang main gila. “Setan! Kurang ajar kau!” cacinya.

“Benar, tak usah panggil dia soeko lagi!” menyambung Tio Beng. “Memang dia setan!”

Sesaat itu Boe Kie menarik pukulan Ho Pit Ong ke pipi Lok Thung Kek, yang begitu kena lantas saja bengkak.

“Boe Kie Koko, mari kita bantu Yo Co Soe,” kata Tio Beng.

Melihat kalapnya Lok Thung Kek, Boe Kie tahu bahwa siasatnya sudah berhasil. “Ho Sian seng, aku serahkaan penjahat cabul itu kepadamu,” katanya seraya melompat keluar dari gelanggang pertempuran.

“Ho Sianseng,” kata Tio Beng, “sesudah kau membekuk soeko mu, kau boleh pinjam pit kip To Liong To selama sebulan.”

Sesudah Boe Kie dan Tio Beng berlalu, kedua kakek itu bertempur terus sampai kedua-duanya terluka. Ho Pit ong coba membersihkan diri, tapi Lok Thung Kek tak bisa percaya sehingga akhirnya mereka menjadi musuh.

Dengan mengikuti suara beradunya senjata, Boe Kie dan Tio Beng pergi ke tempat pertempuran Yo Siauw dan kawan-kawannya. Di atas tanah menggeletak lima mayat, Yo Siauw melayani tiga orang, Hoan Yauw dan Gan Hoan dia bertanding dengan seorang lawan. Antara lima musuh itu yang paling berat adalah lawannya Hoan Yauw. Meskipun berkepandaian tinggi, Hoan Yauw tidak bisa berbuat banyak dan hanya lebih unggul sedikit di dalam pukulan-pukulan. Boe Kie tidak turun tangan, ia hanya menonton. Beberapa saat kemudian Yo Siauw merobohkan seorang, melihat bahaya dua lawan Yo Siauw lantas kabur, diturut oleh lawannya Gan Hoan. Selagi musuhnya lari, Gan Hoan melepaskan pasir beracun dan orang itu sambil berteriak kesakitan lantas saja roboh binasa. Di lain saat hanyalah lawan Hoan Yauw yang masih berkelahi dengan mati-matian.

“Saudara, kulihat kau seorang gagah,” kata Hoan Yauw. “Lebih baik kau menyerah saja.”

“Apakah manusia yang menyerah kepada musuh masih bisa dinamakan orang gagah!” tanya orang itu dengan gusar.

“Benar,” kata Boe Kie seraya maju ke depan dan menyabet beberapa kali dengan To Liong To. Berbareng dengan sabetan-sabetan itu, di tengah udara berterbangan rambut manusia. “Hoan heng, lepaskan dia!” kata Boe Kie sambil tersenyum.

Sebab merasa dingin, orang itu mengusap kepala dan mukanya. Mendadak saja ia berdiri terpaku dengan mulut ternganga. Ternyata sebagian rambut dan jenggotnya telah terpapas habis. Ia menyoja kepada Boe Kie dan berkata, “Aku takluk dan rela menerima segala hukuman.”

Boe Kie tertawa. “Saudara boleh berlalu,” katanya.

Orang itu menghela nafas, memutar tubuh dan meninggalkan tempat itu.

“Apa mereka semua boesoe gedung Jie lam ong?” tanya Boe Kie kepada Tio Beng. “Siapa dia?”

“Dia pemimpin wie soe (pengawal) dari kakakku,” jawabnya. “Namanya, Kioejian koen Louw Sian Kek. Waktu ini dialah jago utama dalam gedung ayahku.” (Kioejian koen – silat si jenggot).

“Si jenggot jadi janggut licin,” kata Yo siauw sambil tertawa. “Rasanya, dia tidak bisa berdiam lebih lama lagi di gedung Ong hoe.”

Selagi mereka bicara, sejumlah pendeta Siauw lim dan anggota Beng kauw memburu ke tempat pertempuran Hian beng Jieloo. Melihat datangnya banyak orang, kedua kakek itu lantas berlalu sambil terus bertempur di sepanjang jalan.

Setibanya di kuil Siauw lim sie, Boe Kie memeriksa luka Tio Beng yang sama sekali tidak berbahaya. Mendadak Boe Kie ingat dan ia berkata, “Beng moay, secara kebetulan kau membawa kertas, sehingga Lok Tung Kek tidak bisa tidak percaya.”

Si nona tertawa manis. Ia merogoh saku, mengeluarkan segabung kertas tipis dan mengulap ulapkannya di muka Boe Kie. “Coba kau tebak kertas apa ini?” katanya.

Boe Kie tertawa. “Kalau kau yang suruh, seumur hidup aku takkan bisa menebak,” jawabnya.

Kertas itu terdiri dari dua gabung dan si nona lalu memecahnya dan menaruh dua gabung itu di kedua telapak tangannya.

Boe Kie mengawasi. Yang dilihat seperti kertas itu ternyata bukan kertas, tapi sutera setipis sayap tonggeret. Di atas lembaran lembaran sutera itu terdapat huruf huruf yang sangat halus.

Ia menjemput gabungan yang satu. Pada halaman muka terdapat tulisan “Boe Bok Ie soe” (kitab peninggalan Gak Hoei). Dalam kitab itu – lembaran lembaran kitab itu – lembaran lembaran sutera itu memang bukan lain daripada kitab – terdapat ilmu perang yang serba lengkap. Ia mengambil kitab yang lain, yang di atasnya tertulis “Kioe im cin keng” (kitab ilmu silat Kioe im). Kitab itu berisi macam-macam ilmu silat yang aneh-aneh dan pada halaman halaman terakhir terdapat pelajaran Kioe im pek koei jiauw, Coei sim ciang, dan sebagainya.

Boe Kie meneliti itu semua dengan jantung memukul keras. “Dari… dari mana… kau dapatkan ini?” tanyanya dengan suara terputus-putus.

“Selagi dia tidak bisa bergerak, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik,” jawabnya. Aku tak sudi belajar ilmu-ilmu beracun, sebaiknya kitab ini dibakar saja. Perlu apa ditinggalkan di dalam dunia untuk mencelakai manusia?” (dengan “dia” Tio Beng maksudkan Cioe Cie Jiak).

Boe Kie membalik-balik beberapa lembaran cinkeng. Ia mendapat kenyataan bahwa isinya sangat dalam dan tak bisa lantas dipecahkan olehnya. Di samping itu ia mendapat bukti bahwa bagian depan bukan terdiri dari ilmu silat keleas rendah. “Beng moay, kau salah,” katanya. “Kioe im cin keng berisi ilmu ilmu yang sangat tinggi. Kalau dipelajari dan dilatih menurut aturan, dalam sepuluh atau dua puluh tahun, orang akan memperoleh hasil menakjubkan. Memang juga, kalau orang tergesa-gesa dan mempelajari kulit-kulitnya saja yang memberi hasil cepat, ia akan memperoleh ilmu ilmu yang sifatnya beracun.” Ia terdiam sejenak dan kemudian berkata lagi. “Cie cie yang mengenakan baju kuning itu mempunyai ilmu silat yang sejalan dengan Cioe kauwnio. Tapi pukulan dan gerakannya memperlihatkan suatu ilmu yang lurus bersih. Tak bisa salah lagi, iapun mendapatkan ilmunya dari Kioe im cin keng.”

“Boe Kie koko,” kata Tio Beng. “Cie cie itu mengatakan di belakang gunung Ciong lim san terdapat kuburan mayat hidup, burung rajawali sakti dan pasangan pendekar tak muncul lagi dalam dunia Kangouw. Apa artinya ini?”

Boe Kie menggelengkan kepala. “Tak tahu,” jawabnya. “Nanti kita boleh tanya Thay soehoe.”

Sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, karena musuh tidak membuat gerakan apa apa lagi, semua orang lantas pergi tidur.

Pada keesokan paginya, Boe Kie memanjat satu pohon besar untuk menyelidiki keadaan musuh. Ia mendapat kenyataan, bahwa jumlah musuh bertambah dengan kira-kira selaksa orang dan dilihat dari gerakannya, mereka sedang mempersiapkan gerakan baru. Di antara gerakan gerakan bendera dan serdadu, sayup sayup terdengar bunyi terompet yang tak berhenti hentinya. Persiapan tentara Goan itu telah membuat hati orang gagah jadi merasa keder.

“Beng moay…” kata Boe Kie sesudah turun dari pohon.

“Hem… ada apa?” tanya si nona.

“Tak apa apa… aku hanya ingin memanggil namamu.” Boe Kie sebenarnya ingin meminta pikiran gadis yang pintar itu dalam usaha mengundurkan musuh. Tapi di dalam saat itu ia ingat, bahwa Tio Beng tersebut adalah seorang puteri Mongol, yang karena cinta sudah mengkhianati orang tuanya sendiri. Kalau sekarang ia minta si nona menelurkan siasat untuk membasmi bangsanya sendiri, ia anggap permintaan itu agak keterlaluan.

Tapi dengan melihat paras muka Boe Kie dan nada suaranya, Tio Beng sudah bisa membaca isi hati pemuda itu. “Boe Kie koko, aku merasa terima kasih, bahwa kau mengerti kesukaranku,” katanya. “Dalam hal ini sebaiknya aku tidak bicara banyak.”

Dengan merasa masgul Boe Kie masuk ke kamarnya. Ia mengasah otak, tapi sesudah beberapa lama, belum juga ia mendapatkan jalan yang baik. Dalam pekatnya ia membalik lembaran kedua kitab yang diberikan Tio Beng. Sesudah Kioe im cin keng, tanpa sengaja ia membaca kalimat “terkepung di gunung Goe tauw san” dalam Boe bok lesoe. Ia kaget dan membaca terus.

Ternyata di bagian itu Gak Hoei menceritakan pengalamannya pada waktu ia dan tentaranya dikepung oleh tentara Kim yang berjumlah besar di gunung Goe tauw san, cara bagaimana ia menjalankan siasat menggeret musuh dari dalam dan luar sehingga mereka memperoleh kemenangan besar.

Tiba-tiba Boe Kie menepuk meja. “Langit membantu aku,” serunya. Biarpun keadaan Siauw sit san sekarang berbeda dari keadaan Goe tauw sasn dahulu, ia merasa ia masih bisa jalan untuk mendapatkan kemenangan.

Makin lama ia kelihatan makin gembira. “Gak Boe bok sungguh sungguh manusia luar biasa,” katanya seorang diri. “Dalam keadaan begitu berbahaya, seorang manusia tak akan berdaya lagi… Memang… memang ilmu perang seperti ilmu silat. Kita harus ada petunjuk dari orang pandai…” Ia mencelup telunjuknya di air teh dan membuat peta bumi di atas meja. Ia tahu, bahwa keadaan sangat berbahaya, tapi ia yakin bahwa dengan bantuan Tuhan, Siauw Lim sie masih dapat ditolong. Dalam perang, yang berjumlah kecil sukar melawan musuh yang berjumlah besar dan di dalam peperangan ini, ia tidak boleh mengadu kekuatan, tak boleh mengadakan pertempuran berhadap-hadapan.

Tak lama kemudian ia sudah mempunyai gambaran tegas tentang apa yang harus dilakukananya. Tanpa menyia nyiakan waktu, ia segera pergi ke Tay hiong Po thian dan minta Kong boen Hong Thio mengumpulkan para orang gagah.

Sesudah semua enghiong berkumpul, Boe Kie berkata dengan suara nyaring. “Sekarang ini tentara Tat coe berkumpul di kaki gunung dan mungkin sekali mereka akan segera menyerang pula. Walaupun kemarin kita mendapat kemenangan kecil dan sudah menurunkan semangat musuh, tapi kalau menyerang lagi dengan mati-matian, kita yang berjumlah lebih kecil sukar melawan mereka yang berjumlah sangat besar.” Ia berdiam sejenak, kedua matanya yang sangat tajam menyapu seluruh ruangan. “Aku ini adalah seorang yang tidak punya kemampuan, tapi atas kecintaan kalian sudah mengangkat aku sebagai Boe lim Beng boe dan untuk sementara waktu, aku terpaksa menerima keangkatan itu,” katanya pula. “Hari ini kita harus bersama-sama membasmi musuh. Demi kepentingan kita beramai-ramai, kuminta kalian suka mentaati segala perintah.”

Pidato pendek itu disambut dengan sorak sorai gegap gempita. Semua orang berjanji akan turut segala perintah Beng coe.

Boe Kie girang. “Terima kasih!” katanya. “Nah, marilah kita mula. Gouw Kin Co!”

Begitu namanya dipanggil, pemimpin Swie kim kie itu maju dan memberi hormat dengan membungkuk.

“Aku menugaskan kau dan saudara saudara dari benderamu untuk mempertahankan undang undang ketentaraan,” kata Boe Kie. “Siapapun juga yang tak mentaati perintah harus dapat hukuman mati dengan timpukan tombak dan kapak Swie kim kie. Peraturan ini berlaku untuk semua orang. Tertua dari agama kita, tetua rimba persilatan tidak terkecuali.”

“Baik!” kata Gouw Kin Co seraya merogoh saku dan mengeluarkan bendera putih kecil.

Dalam rimba persilatan, nama Gouw Kin Co belum begitu dikenal. Tapi pada waktu diadakan pameran kekuatan Nio beng kie, semua orang tahu bahwa bendera putih itu tak dibuat permainan. Orang yang ditimpuk dengan bendera itu berarti diserang dengan lima ratus anak panah dan lima ratus kapak pendek. Biarpun mempunyai kemampuan tinggi, dia tak usah harap bisa terlolos dari serangan itu.

Boe Kie mengeluarkan perintah tersebut sebab pada halaman pertama dari Boe Ie soe, ia membaca nasehat seperti berikut. “Dalam memimpin tentara yang terpenting adalah peraturan yang keras.” Ia tahu bawa para Enghiong dalam rimba persilatan biasanya sangat bangga dengan kepandaian sendiri dan tak sudi menunduk di bawah perintah orang. Manakala kebiasaan itu dipraktekkan dalam menghadap tentara Goan, mereka semua akan termusnah.

Sehabis mengeluarkan titah pertama, sambil menuding tembok di luar ruangan musyawarah, Boe Kie berkata pula, “Para enghiong siapa yang mempunyai ilmu ringan tubuh tinggi dan bisa melompat tembok itu, kuminta supaya perlihatkan kepandaian.”

Banyak orang lantas saja kurang puas, bahkan di antara para cianpwee ada yang mendongkol karena merasaa bahwa dengaan mengajukan pertanyaan itu, Boe Kie menghina mereka.

Selagi orang saling mengawasi, Thio Siong Kee maju dan berkata, “Aku bisa!” Dengan sekali menjejak bumi, ia sudah melompati tembok yang tinggi itu. Tee in ciong dari Boe tong pay tersohor di kolong langit. Bagi Thio Siong Kee, melompati tembok itu sama mudahnya seperti membalik tangan sendiri.

Sesudah Thio Siong Kee, dengan beruntun Jie Lian Cioe, In Lie Heng, Yo Siauw, Wie It Siauw, In Ya Ong dan lain-lain memperlihatkan kepandaiannya. Contoh itu segera diturut oleh orang-orang gagah dari lain partai. Dalam sekejap empat ratus orang lebih sudah berhasil melompati tembok itu. Yang lain sebab rupa rupanya tidak ungkulan, tidak mencoba.

Para enghiong yang menghadiri pertemuan itu rata-rata memiliki kepandaian istimewa. Ilmu mengentengkan tubuh hanya merupakan salah satu cabang dari ilmu silat yang banyak coraknya. Sering kejadian, bahwa seorang yang mempunyai ilmu luar biasa tidak tinggi ilmu ringan tubuhnya. Dalam dunia persilatan, ada kalanya seorang tokoh menggunakan seluruh hidupnya untuk melatih jari tangannya.

Maka itulah, tinggi rendah dalam ilmu mengentengkan tubuh tidak menjadi ukuran dari tinggi rendah kepandaian orang yang tersangkut, hal ini diketahui oleh semua ahli silat. Dengan demikian orang orang yang tidak bisa melompati tembok itu sama sekali tidak merasa malu.

Boe Kie mendapat kenyataan, bahwa di antara empat ratus orang itu, pendeta Siauw Lim sie berjumlah kurang lebih sembilan puluh orang. “Nama besar Siauw Lim sie memang bukan nama kosong,” katanya di dalam hati. “Dalam ilmu ringan tubuh saja, tokoh-tokoh Siauw Lim sie berjumlah lebih besar dari lain partai.”

“Jie jiepeh, Thio Siepeh, In liok siok, kuminta kalian bertiga memimpin para enghiong yang sudah melompati tembok,” kata Boe Kie. “Kalian harus memancing musuh dengan berlagak seperti orang yang melarikan diri dari kuil ini. Apabila musuh berhasil dipancing dan mereka menguber kalian, maka hasil itu merupakan pahala nomor pertama. Sesudah kalian lari, sampai di belakang gunung kalian harus…”

Petunjuk selanjutnya diberikan dengan bisik bisik saja dan tidak dapat didengar oleh orang lain.

“Koe koe,” kata Boe Kie selanjutnya. “Kau bersama Yo cosoe, Hoan Yauw soe dan Wie Hok ong, empat orang kuminta suka membantu aku. Kita mengambil kedudukan di tengah tengah guna mengawasi jalan pertempuran dan memberi bantuan kepada pihak yang memerlukannya.”

Dengan ringkas dan tegas Boe Kie mengeluarkan berbagai perintah – siapa yang harus bersembunyi untuk memotong jalan musuh, siapa yang harus melindungi bagian belakang pasukan sendiri, bagaimana harus menyerang dari depan, bagaimana harus menyerang dari samping dan sebagainya.

Melihat kepandaian pemimpinnya, Yo Siauw takluk dan kagum. Ia tak tahu bahwa semua pengaturan itu berdasarkan siasat dalam Boe bok ie soe.

Akhirnya Boe Kie berkata. “Kong boen Hong thio, Kong tie Seng ceng, aku minta kalian berdua memimpin para enghiong dari Go bie pay untuk menolong orang-orang yang terluka dan mengubur yang mengorbankan jiwa.”

Sebagaimana diketahui rombongan Go bie tidak punya pemimpin sebab Cie Jiak tidak berada di situ. Lantaran ada ganjalan, Boe Kie merasa tidak enak untuk memerintah mereka. Sebab itu ia meminta bantuan Kong boen dan Kong tie, dua orang tua yang mempunyai nama besar dan kedudukan tinggi. Ia merasa bahwa tindakannya itu akan tidak ditentang oleh murid murid Go bie, benar saja semua anggota Go bie pay menerimanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun juga.

Di luar dugaan Kong boen dan Kong tie saling mengawasi dan kemudian saling mengangguk. “Lo ceng sangat takluk akan kepandaian Beng coe,” kata Kong boen sambil membungkuk. “Sebenarnya looceng tidak boleh mengeluarkan bantahan terhadap pengaturan Beng coe. Tapi lantaran terpaksa kami berdua ingin memohon sesuatu.”

“Hong thio tak usah berlaku sungkan,” kata Boe Kie. “Katakanlah apa yang dipikirkan Hong thio.”

“Kami berdua hanya memohon supaya kami diperbolehkan untuk menjaga kuil ini,” kata Kong boen.

Boe Kie mengerutkan alis. Sesudah memikir sejenak, ia dapat menangkap latar belakang permintaan itu. Tipu yang sedang dijalankan adalah tipu meninggalkan Siauw Lim sie, berlagak kabur ke belakang gunung untuk memancing musuh dan kemudian membasminya. Tapi ini didasarkan siasat Gak Hoe waktu jenderal itu terkepung di Goe tauw san. Tapi keadaan Goe tauw san berbeda dengan Siauw sit san. Goe tauw san adalah sebuah gunung yang gundul, tidak ada sesuatu yang berharga. Dilain pihak, di atas Siauw sit san berdiri kuil Siauw Lim sie yang berusia ribuan tahun, sebuah pusat agama Buddha yang suci. Ada kemungkinan bahwa apabila kuil itu ditinggalkan tanpa terjaga, tentara musuh akan merusaknya bahkan mungkin juga akan membakarnya. Lantaran itulah Kong boen dan Kong tie minta permisi untuk menjaganya. Mereka bertekad untuk mati hidup bersama sama di kuil Siauw Lim sie.

“Baiklah,” kata Boe kie sambil mengangguk. “Aku merasa sangat kagum akan tekad Jie wie taysoe, kalian boleh menjaga kuil ini.”

Para enghiong merasa heran. Semula mereka menduga bahwa Boe Kie akan menolak permintaan itu. Melihat pemimpin mereka diperbolehkan menjaga kuil, sejumlah murid Siauw Lim lantas saja ingin mengikuti jejak itu.

“Undang-undang ketentaraan keras dan harus dipatuhi!” teriak Kong boen dengan suara keras. “Murid partai kami yang berani membantah akan segera dicoret namanya sebagai murid Siauw lim pay.”

“Hari ini dengan bersatu padu saudara saudara wilayah Tionggoan melayani Tat coe,” kata Boe Kie. “Kuminta para Soehoe yang mengurus tambur dan lonceng yang membangunkan semangat menggetarkan seluruh kuil.” Dengan darah bergolak para enghiong mengusap usap senjata mereka.

Sebagai tindakan pertama, hampir berbareng dengan komando Hee Yam, para anggota Liat hwee kie mengeluarkan kayu bakar dan rumput yang lalu ditumpuk di samping kuil kemudian di bakar. Dalam sekejap api sudah berkobar kobar.

Mendengar suara tambur dan melihat berkobarnya api, tentara Goan yang berada di kaki gunung lantas saja menduga bahwa orang-orang di Siauw Lim sie sudah membakar kuil dan akan segera kabur.

Dengan sekali mengibaskan tangan Jie lian cioe memimpin seratus lima puluh orang lebih yang berlari lari ke bawah mencari sebelah kiri Siauw sit san. Sebelum mereka tiba di lereng, tentara musuh mulai menyerang ke atas sambil bersorak sorai. Para orang gagah segera lari berpencaran supaya tentara Goan tidak dapat membasmi mereka dengan anak panah.

Rombongan kedua yang dipimpin oleh Thio Siong Kee dan rombongan ketiga di bawah pimpinan In Lie Heng, dengan beruntun muncul dan lari ke bawah, setiap orang menggendong sebuah bungkusan besar yang berisi papan atau seprei, selimut tebal. Dimana serdadu Goan mengira mereka adalah orang orang yang kabur dengan penuh ketakutan, dengan membawa sedikit bekal yang masih keburu dibawa. Padahal bungkusan bungkusan itu adalah tameng untuk melindungi diri dari anak panah Mongol yang sangat lihay.

Sesudah mengawasi beberapa lama, pemimpin tentara Goan segera memerintahkan selaksa serdadu untuk mengejar dan selaksa lainnya tetap menjaga kedudukan mereka.

“Yo Cosoe, pemimpin tentara Tat coe seorang pandai,” kata Boe Kie. ”Dia tidak mengerahkan seluruh tentara.”

“Benar,” jawab Yo Siauw. “Kewaspadaan itu bisa membahayakan kita.”

Tiba-tiba di kaki gunung terdengar suara terompet yang berulang ulang dan dua ribu tentara berkuda Goan mulai menerjang ke atas dari kiri dan kanan. Dengan mata tidak berkedip, Boe Kie mengawasi kemajuan musuh. Jalanan gunung penuh bahaya dan berliku-liku, tapi kuda-kuda Mongol yang terlatih bisa maju terus tanpa menemui banyak kesukaran. Begitu lekas rombongan musuh yang terdepan mendekati pendopo kuil. Boe Kie memberi isyarat dengan mengibaskan tangannya. Hampir berbareng pasukan Liat hwee kie bergerak dan bersembunyi di rumput rumput tinggi. Pada saat musuh berada dalam jarak kurang lebih seratus tombak, Hie Yam memberi komando. Minyak segera menyembur, anak panah api menyambar. Kuda kuda berjingkrak keras, tentara Goan berteriak teriak seluruh pasukan berubah kalut, banyak kuda dan manusia roboh tergelincir ke bawah gunung dengan badan berkobar kobar.

Tapi tentara Goan memang tentara jempolan. Pasukan depan terpukul, pasukan belakangnya tidak bergeming. Dengan rapih mereka turun dari tunggangan mereka dan menerjang ke atas dengan berjalan kaki. Liat hwee kie terus menyemprotkan minyak dan api. Beberapa ratus musuh binasa, tapi yang lainnya merangsek terus.

Melihat begitu lain lain bendera dari Beng kauw segera membantu. Ang soei kioe menyemburkan air beracun dan Houw tauw kiee melepaskan pasir beracun. Tangannya kedua bendera menghancurkan pasukan Goan. Dengan dekat beberapa ratus orang menyerang terus tapi dengan tidak berapa sukar mereka dibasmi oleh pasukan Swe kim kie dan Kie bok kie.

Sekonyong konyong di kaki gunung terdengar suara tambur yang sangat hebat. Dalam saat lima ribu tentara musuh seperti kipas dengan membawa tameng tameng besar. Dengan adanya tameng tameng itu, air dan pasir beracun tidak bisa berbuat banyak.

Kie bok kie turun tangan dengan melontarkan balok balok besar. Tapi usaha itupun hanya membuat beberapa lubang pada barisan musuh yang lekas dapat menutupnya kembali.

Melihat keadaan itu, Kong boen segera berkata, “Thio Kauwcoe, harap kau dan yang lain-lain lekas mundur untuk melindungi tenaga inti dari rimba persilatan kita. Biarpun hari ini kita menderita kekalahan, di kemudian hari kita akan bisa bergerak lagi.”

Boe Kie tidak menyahut. Dengan rasa kuatir ia mengawasi pasukan tengah dari pasukan musuh. Tiba-tiba ia lihat di bawah sehelai bendera terdapat seorang panglima yang menunggang seekor kuda tinggi besar dan mengenakan pakaian perang kuning berkilauan, seperti emas. Panglima ini kelihatannya sangat angker, tapi sebab teraling topi, mukanya tak kelihatan tegas. Boe Kie menengok kepada Gouw Kin Co dan berkata, “Gouw Kinsoe, kau serang panglima itu.”

“Baik!” jawabnya sambil mengibaskan bendera putih dan menerjang ke bawah. Seratus batang tombak menyambar, seratus anggota Swie kie mengikuti ke arah perwira dan dan serdadu yang berada di seputar jenderal itu.

“Wie Hok Ong,” kata pula Boe Kie. “Mari kita bekuk panglima itu. Yo Cosoe dan Hoan Yosoe, kalian berdua harus melindungi kami.”

Ketiga pemimpin Beng kauw itu girang, mereka kagum akan tindakan sang Kauwcoe yang berani dan tepat itu.

Boe Kie dan Wie It siauw adalah jago ilmu ringan tubuh yang sukar dicari tandingannya pada jaman itu. Dengan berbareng mereka dan bagaikan berkrecepnya dua sinar kilat, tahu-tahu mereka sudah berada di barisan tameng. Dengan mudah ia memukul jatuh semua anak panah dan kemudian dengan sekali menotol tameng musuh dengan ujung kaki mereka tameng tameng yang membentang seolah olah sebuah dinding besi. Tentara Goan kaget dan gusar. Sambil berteriak teriak ia coba mengepung ketua penyerang itu. Tapi Boe Kie dan Wie It Siauw bukan jago biasa. Dengan gerakan luar biasa dan ketabahan luar biasa pula, mereka melewati rimba golok dan tombak. Dalam sekejap mereka sudah menghampiri panglima itu. jenderal itu menikam dengan tombaknya. Boe Kie berkelit menangkap gagang tombak dan menarik sehingga panglima perang itu terhuyung ke depan. Wie It Siauw melompat dan mencengkeram batang lehernya. Panglima itu juga bukan sembarang orang. Dengan tangan kiri ia menghunus pedang dan membabat. Boe Kie mengegos menangkap pergelangan tangan musuh yang memegang pedang dan kemudian menariknya dari atas kuda. Pasukan pengawal mengeluarkan teriakan tertahan dan mati-matian mereka coba menolong, tapi mereka ditahan oleh Yo Siauw dan Hoan Yauw.

“Berangkat!” kata Boe Kie dengan suara girang.

Wie It Siauw segera menotok jalan darah tawanannya, menggendongnya dan lalu kabur ke atas gunung, ke tempat yang sepi. Melihat jenderal mereka tertawan, sambil berteriak teriak tentara Goan menguber. Tapi mereka tentu saja bukan tandingan Wie Hok ong yang berlari lari seperti kera di antara batu batu cadas dan di tempat yang tak mungkin dilewati oleh manusia biasa. Melihat kawan itu sudah berhasil, Boe Kie segera mengajak Yo Siauw dan Hoan Yauw kembali ke atas gunung.

Sesudah berada di tempat aman, Wie It Siauw sengaja memperlihatkan kepandaiannya. Sambil lari ia melemparkan tubuh panglima itu. Tentara Goan berteriak karena menduga pemimpin mereka bakal jatuh dengan tubuh hancur luluh. Tapi selagi tubuh itu melayang ke bawah, Wie Hok ong sudah menyusul menyangganya dengan kedua tangan. Setelah mengulangi permainan berbahaya itu beberapa kali, ia tiba di puncak. “Yo Cosoe!” teriaknya. “Jual beli datang!” seraya berteriak begitu, ia melontarkan tubuh si panglima ke arah Yo Siauw yang lalu menyambuti dalam satu gerakan yang sangat indah.l

Yo Siauw membuka topi tawanannya. Panglima yang berparas tampan mengawasi dengan mata mendelik dan alis berdiri.

Mendadak Tio Beng berteriak. “Koko!”

Ia menubruk dan memeluk jenderal itu yang ternyata bukan lain daripada Ong Po po, kakak si nona.

Itulah kejadian yang tidak disangka-sangka.

Alis Boe Kie berkerut. Ia menghampiri dan ia mendukung Ong Po po yang berkata, “Maaf.” Sesudah itu lalu diserahkan kepada Kong boen dan Kong tie. “Taysoe, dengan menggunakan dia sebagai tanggungan, Siauw Lim sie bisa diselamatkan,” bisiknya. “Tapi dia mempunyai hubungan dengan aku dan kuharap Jiewie Taysoe jangan mencelakakannya.”

Kedua pendeta itu girang dan lalu mengambil dua batang golok yang kemudian ditandalkan di leher Ong Po po.

“Tentara Mongol, dengarlah!” teriak Yo Siauw. “Siauw ong ya kamu sudah jatuh ke dalam tangan kami. Mundurlah, supaya kamu tidak mencelakai jiwanya.”

Ban hon thio yang memimpin selaksa tentara itu kaget bercampur bingung. Kalau panglima itu benar benar binasa, Jie lam ong akan marah besar dan mungkin sekali seluruh pasukan akan mendapat hukuman mati. Maka itu sesudah memikir beberapa saat, ia segera mengeluarkan titah untuk menarik pulang semua tentara.

Selagi para enghiong bersorak sorai dengan penuh kegirangan, di kaki gunung sekonyong-konyong terdengar suara tambur yang bergemuruh dan sejumlah anak panah api menyambar ke tengah udara. Hampir berbareng di empat penjuru terdengar teriakan teriakan yang seolah olah menggetarkan seluruh Siauw sit san.

“Kauwcoe, bala bantuan datang!” kata Yo Siauw dengan girang.

Boe Kie mengangguk. “Bala bantuan datang,” teriaknya. “Terjang musuh!”

Perintah itu disambut dengan tempik sorak. “Para enghiong, dengarlah!” teriak pula Boe Kie. “Lebih dahulu binasakan perwira kemudian baru serdadu.”

Karena tahu datangnya bala bantuan Siauw Lim sie, tentara Goan yang baru dapat perintah mundur, lantas saja merosot semangatnya. Maka itu begitu diterjang oleh para enghiong, mereka lantas menjadi kalut dan lari ke bawah gunung dengan kalang kabut.

Setibanya di lereng Boe Kie lihat bendera bendera Beng kauw. Di sebelah selatan terdapat sehelai bendera besar dengan huruf “Cie” sedang di sebelah utara lain bendera dengan huruf “Siang”. Ia tahu bahwa yang datang menolong adalah Cie Tat dan Siang Gie Coen. Kedua panglima itu yang semula berada di daerah Hwayho secara kebetulan datang di Holam selatan. Begitu mendapat warta dari Po tay hweeshio, mereka segera menggerakkan seluruh tentara dan menyusul siang malam, sehingga dalam waktu dua hari saja mereka sudah tiba di Siauw sit san. Pasukan Cie tat dan Siang Gie Cioe terdiri dari orang orang yang berpengalaman dan gagah berani. Sebab jumlah mereka banyak lebih besar, maka sesudah bertempur beberapa gebrakan mereka berhasil memberi pukulan hebat kepada selaksa tentara Goan yang menjaga di kaki gunung dan lantas saja lari lintang pukang ke jurusan barat.

Sebagaimana diketahui Boe Kie sendiri sudah menetapkan satu siasat. Dengan menggunakan orang-orang yang mahir dalam ilmu ringan tubuh, ia ingin memancing tentara musuh ke dalam selat gunung yang terletak di sebelah barat Siauw sit san. Tiga penjuru selat itu tertutup pada lereng gunung yang seperti dinding terjal. Jie Lian Coe dan kawan kawaannya berhasil memancing musuh ke selat itu, Ban hoe Tio yang memimpin selaksa tentara itu juga tahu berbahayanya saat tersebut. Tapi sebab musuh berjumlah sangat kecil hanya beberapa ratus orang, maka menurut pendapatnya biarpun diserang pasukan yang sembunyi ia bisa melayani. Maka itu tanpa bersangsi ia segera memerintahkan tentaranya mengejar terus.

Setibanya di lereng, Jie Lian Coe dan kawan-kawannya segera memanjat ke atas dengan menggunakan tambang-tambang yang sudah disediakan dan tergantung di lereng itu. Tapi mereka adalah ahli-ahli silat jempolan, sehingga tanpa menemui banyak kesukaran mereka bisa merayap terus ke atas. Dalam pihak tentara Goan yang mengenakan pakaian perang yang sangat berat tentu saja tidak bisa berbuat begitu.

Begitu masuk di selat dan lihat gerakan musuh, Ban hoe thio dan tentara Goan lantas insyaf bahwa ia sudah terjebak. Cepat-cepat ia memerintakan tentaranya supaya mundur. Tapi sudah kasep! Api, pasir beracun dan anak panah lantas saja menyambar-nyambar. Hampir berbareng pasukan Kie bok kie melontarkan balok-balok besar ke mulut selat yang lantas saja tertutup rapat.

Tak lama kemudian barisan Goan kedua yang juga terdiri dari selaksa orang dan dikejar oleh pasukan Cie Tat serta Siang Gie Coen tiba di situ. Sebab mulut selat sudah tertutup mereka kabur ke empat penjuru.

“Sungguh sayang!” kata Boe Kie kepada Cie Tat. Kalau sudah diatur terlebih dahulu barisan Goan yang kedua itu tentu bisa dipancing masuk ke dalam selat dan seantero barisan yang terdiri dari dua laksa jiwa akan dapat dimusnahkan sekaligus. Tapi Boe Kie sudah boleh merasa puas dengan hasil yang diperoleh. Ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa bala bantuan bisa datang begitu cepat. Waktu mengatur siasat tujuannya hanyalah menyelamatkan kuil Siauw Lim sie.

Sementara itu Cie Tat segera memerintahkan tentara memperkuat tutupan selat dengan batu2 besar dan menitahkan sepasukan anak panah memanjat ke atas lereng untuk memanah musuh dari atas ke bawah. Tentara Goan yang sudah tak bisa membela diri lagi jadi makin kalang kabut. Sambil sesambat dan berteriak teriak, mereka lari seperti gila, mencari cari perlindungan di antara batu batu dan pohon pohon.

Tak lama kemudian Siang Gie Cen dan tentaranya tiba. Pertemuannya dengan Boe Kie menimbulkan kegirangan besar. Ia seorang yang beradat berangasan. Begitu tahu musuh terkepung di dalam selat ia berteriak. “Singkirkan semua balok dan batu! Biar kuhajar semua Tat Coe!”

“Perlu apa kau menggunakan tenaga?” kata Cie Tat sambil tertawa. “Di dalam selat tiada air dan tiada makanan. Dalam tiga empat hari mereka akan mati sendiri.”

Siang Gie Coen tersenyum dan tak berkata apa apa lagi.

Apa yang dapat dilakukan Cie Tat dan Siang Gie Coen ialah memerintahkan tentaranya membasmi bagian musuh yang kedua, yang lari berpencaran ke bawah gunung.

Sesudah musuh kabur semua, atas permintaan Tio Beng, Boe Kie melepaskan Ong Po po dan memerintahkan Gouw Kin Co serta sejumlah anggota Swie kim kie mengantarnya sampai lima puluh lie. Sesudah lima puluh lie, Tio Beng sendiri mengantar lagi sepuluh lie dan berulang ulang mohon maaf. Tapi Ong Po po tak meladeni adiknya itu, sehingga si nona kembali ke Siauw sit san dengan rada berduka dan masgul. Malam itu di kaki Siauw sit san diadakan pesta besar sebagai tanda girang berhubung dengan kemenangan besar. Para enghiong yang sudah berhari hari hanya makan makanan ciacay malam itu makan minum sepuas hati.

Selagi bersantap Cie Tat menuang secawan arak dan mempersembahkannya kepada Boe Kie. “Kauwcoe, aku memberi selamat dengan secawan arak ini!” katanya.

Boe Kie menyambuti dan menceguk isinya.

“Kauwcoe, semula aku hanya merasa takluk akan pribudi dan ilmu silatmu yang sangat tinggi,” kata pula Cie Tat. “Di luar dugaan, Kauwcoe pun mahir dalam ilmu perang dan dapat menggunakan siasat perang seperti malaikat. Inilah rejeki agama kita dan keberuntungan untuk segenap rakyat.”

Boe Kie tertawa terbahak bahak. “Cie Toako,” katanya, “Jangan kau memuji aku. Kemenangan hari ini didapat berkat kedatangan jiewie Toako yang sangat cepat dan juga peninggalan Gak Boe bok. Dalam peperangan ini, siauwtee tak punya pahala suatu apa.”

“Peninggalan Gak Boe bok?” menegas Cie Tat. “Bolehkah Kauwcoe memberi penjelasan?”

Boe Kie merogoh saku dan mengeluarkan Boe Bok Ie soe. Ia membalik lembarannya sampai pada bagian terkepung di Goe tauw san, dan lalu menyerahkannya kepada Cie Tat.

Sesudah membaca, Cie Tat kaget tercampur girang. Ia menghela nafas dan berkata, “Perhitungan Boe Bok takkan dapat ditandingi oleh manusia manapun juga di jaman ini. Apabila sekarang Gak Boe Bok masih hidup dan memimpin kita, Tat coe pasti akan bisa diusir balik ke padang pasir.” Sehabis berkata begitu, dengan sikap hormat ia mengembalikan kitab itu kepada sang kauwcoe.

Tapi Boe Kie tidak menyambuti. “Hari ini baru aku tahu apa artinya ‘bo lim cie coen, po to liong, hauw leng thian hee, bo kam poet ciong,’” katanya. “Apa yang dikatakan ‘bo lim cie coen (yang termulia dalam Rimba Persilatan) bukan To liong to. Yang termulia dalam Rimba Persilatan adalah kitab perang Gak Boe bok yang disembunyikan dalam golok itu. Dengan kitab itu seseorang yang bisa mengalahkan musuh, sehingga akhirnya ia bisa ‘hauw leng thian hee, boh kam poet ciong’. Cie toako, aku telah mengambil keputusan untuk menghadiahkan kitab ini kepadamu dengan pengharapan supaya kau bisa mewujudkan cita cita ‘hoan ngo ho san’ dari Gak Boe Bok.” (Hoan ngo ho san adalah cita-cita yang termasyur dari Gak Hoei, hoan ngo ho san berarti kembalikan sungai dan gunungku).

Cie Tat terkejut. “Orang sebawahanmu sama sekali tak punya kebajikan dan kepandaian, sehingga mana berani menerima hadiah Kauwcoe yang begitu besar?” katanya sambil membungkuk.

“Cie Toako jangan menolak. Demi kepentingan umat manusia di kolong langit, aku menyerahkan kitab ini kepadamu.”

Cie Tat tak bisa mengucapkan sepatah kata. Kedua tangannya yang memegang Boe Bok Ie soe kelihatan gemetar.

“Dalam kata kata yang terkenal itu masih terdapat dua baris terakhir yang berbunyi, ‘Ie thian poet coet, swee ie ceng hiong’,” kata pula Boe Kie. “Sekarang Ie thian kiam patah dua, tapi kupercaya di kemudian hari pedang itu akan tersambung pula. Di dalam pedang tersebut disembunyikan sejilid kitab ilmu silat yang sangat lihay. Aku mengerti maksudnya. Kitab perang Gak Boe Bok adalah untuk mengusir Tat coe dari negara kita. Sesudah Tat Coe diusir pergi, seorang lain akan berkuasa di negara kita. Apabila Kaisar itu ternyata seorang penjahat yang sewenang wenang sehingga rakyat menderita, maka seorang enghiong akan tampil ke muka dan membinasakan kaisar durjana itu dengan Ie Thian Po Kiam. Biarpun dia berkuasa, belum tentu dia bisa menangkis tekanan Ie Thian kiam. Cie Toako, kuharap kau ingat perkataanku ini.”

Bulu roma Cie Tat bangun semua dan keringat membasahi pakaiannya. Ia tidak berani menolak lagi dan berkata sambil menjura, “Orang sebawahanmu tidak bisa berbuat lain daripada menerima perintah Kauwcoe.” Ia menaruh kitab itu di meja, berlutut empat kali dan kemudian berlutut di hadapan Boe Kie sebagai pernyataan terima kasih. Mulai waktu itu, Boe bok Ie Soe menjadi milik Cie Tat. Di kemudian hari benar saja dialah yang bisa mengalahkan tentara Goan dan mengusirnya sampai di daerah Tiongkok, sehingga nama besarnya menggetarkan di seluruh wilayah di sebelah utara padang pasir.

* * * * *

Semenjak perang Siauw sit san, segenap orang gagah di daerah Tiong goan mempersatukan diri dengan Beng kauw. Setiap perintah Boe Kie ditaati oleh semua orang. Selama ratusan tahun, Beng kauw dianggap sebagai agama iblis. Di luar dugaan sekarang Beng kauw menjadi pemimpin dari para orang gagah di seluruh Tiongkok dalam usaha merebut pulang negara dari tangan bangsa lain. Di belakang hari Coe Goan Ciang bercabang hatinya dan dengan tipu muslihat ia naik ke atas tahta kaisar. Tapi adalah sebuah kenyataan, bahwa yang membantu dia merebut Tiongkok adalah orang orang Beng kauw dan mungkin itulah sebabnya mengapa ia menggunakan perkataan dan ”Beng” (terang) untuk nama kerajaannya. Duaratus tujuh puluh tahun kerajaan Beng berkuasa di Tiongkok dan asal mula berdirinya dari kerajaan tersebut adalah usaha Beng kauw.

* * * * *

Malam itu semua orang makan minum sepuas hati. Pada keesokan harinya, mereka meminta diri dari Kong Boen dan Kong tie.

Melihat keadaan Go bie pay yang rusak dan tak punya pemimpin dan mengingat pula keadaan Song Ceng Soe yang terus di dalam tandu, Boe Kie tak sampai hati. Ia menghampiri rombongan partai dan berkata kepada Ceng Hoe, “Bolehkah aku menengok keadaan Song Toako?”

“Kau tak usah berlagak baik hati!” jawabnya dengan ketus.

Si sembrono Cioe Tian naik darahnya. “Kurang ajar!” cacinya. “Dengan mengingat kecintaan dulu Kauwcoe kami sudah mengobati lukanya. Sebenarnya manusia yang mengkhianati orang tua yang gagah itu boleh dibinasakan oleh siapapun juga.”

Ceng Hoe menjebikan bibir. Ia ingin balas mencaci, tapi sebab kuatir dihajar, sebisa bisa ia menahan nafsu amarahnya. “Semenjak dulu Ciangboenjin Go bie pay adalah gadis yang putih bersih seperti es dan batu Giok,” katanya dengan suara dingin. “Kalau Cioe Ciang boen bukan seorang gadis, cara bagaimana ia rasa menjadi pemimpin partai kami? Hmm!… beradanya manusia seperti Song Ceng Soe dan partai kami benar-benar sudah menodai nama baiknya Cioe Ciang boen. Lie soetit, Liong soetit, pulangkan saja manusia itu kepada Boe tong pay!”

Dua pemikul tandu lantas saja mengiakan, memikul tandu yang berisi Song Ceng Soe, menaruhnya di hadapan Jie Lian Cioe dan lalu menyingkir.

Semua orang kaget. “Apa…?” tanya Jie Jiehiap. “Bukankah ia suami Ciangboenjin mu?”

“Hi!” bentak Ceng Hoei dengan nada mendongkol. “Manusia semacam dia mana dipandang mata oleh pemimpin kami? Sebab perbuatan si bocah Thio Boe Kie, barulah Cioe ciangboen memancing bocah she Song itu yang rela menyamar sebagai suami. Siapa duga… siapa duga… huuh huh…! Kalau tahu bakal terjadi kejadian ini, perlu apa Cioe ciangboen menodai namanya sendiri…?”

Boe Kie tak bisa bersabar lagi. “Kalau begitu dia bukan Song Hoejin?” tanyanya.

Ceng Hoei menengok dan membentak. “Aku tidak bicara denganmu!”

Sesaat itu Song Ceng Soe yang rebah di tandu bergerak dan berkata dengan suara di tenggorokan. “Apa Thio Boe Kie sudah… dibunuh…?”

“Jangan mimpi!” ejek Ceng Hoei. “Maut sudah berada di atas kepalamu dan kau masih membayang bayangkan paras cantik.”

Melihat Ceng Hoei sukar diajak bicara, In Lie Heng segera menanya seorang murid Go bie pay lain. “Lie Soemoay, bagaimanakah kejadian yang sebenarnya?”

Yang ditanya seorang setengah tua, Lie Beng Hee namanya, sahabat mendiang Kioe Siauw Hoe. Mendengar pertanyaan itu, ia lalu berkata, “Ceng Hoei Sioecie, In Liok Hiap bukan orang luar, bolehkah Siauwmoay menceritakan apa yang terjadi?”

“Hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan orang luar atau bukan orang luar dan lebih lebih harus menjelaskannya kepada orang luar. Cioe Ciang boen wanita suci, putih bersih yang tak punya hubungan apapun juga dengan pengkhianat she Song itu. Bukankah dengan mata sendiri kita semua sudah lihat Sioe kiong sie di lengan Cioe Ciang boen? Kenyataan ini harus diumumkan kepada kawan kawan Rimba Persilatan demi nama baik Cioe Ciang boen, demi Go bie pay…”

Mendengar perkataan Ceng Hoei yang bicara tanpa juntrungan itu, In Lie heng segera berkata kepada Lie Beng Hee, “Lie Soemoay, kalau begitu kuharap kau suka lantas bicara bagaimana Song soetit masuk ke dalam partai kalian dan hubungan apa terdapat antara dia dan Cioe ciangboen? Hal ini aku akan melaporkan kepada guruku. Hal ini kuanggap penting untuk kedua partai kita. Kita harus menjaga dan memelihara keakuran antara Go bie dan Boe tong pay!”

Lie Beng Hee menghela nafas. “Orang seperti Song siauwhiap memang sukar dicari,” katanya dengan suara perlahan. “Hanya sayang karena gara-gara mabuk cinta, dia terjerumus ke dalam jurang kehinaan. Mungkin sekali Cioe ciang boen telah menjanjikan bahwa sesudah Thio Boe Kie dibunuh mati, yaitu sesudah membalas dendam sebab si bocah she Thio kabur dalam upacara pernikahan, ia akan suka menikah dengan Song siauwhiap. Itulah sebabnya mengapa Song siauwhiap rela masuk ke dalam partai kami dan meminta ilmu silat istimewa dari pemimpin kami. Dalam enghiong Tayhwee tiba-tiba Cioe Ciang boen mengakui dirinya sebagai Song hoejin, sebagai isteri Song siauwhiap.

Ketika itu semua murid Go bie kaget dan heran. Sebagaimana kalian tahu, hari itu Cioe ciang boen berhasil merobohkan semua orang gagah…”

“Jangan sembarangan!” menggerutu Cioe Tian. “Dia menang sebab Thio Kauwcoe mengalah.”

Lie Beng hee tidak meladeni dan bicara terus. “Kemenangan itu menggirangkan sangat kami semua, tapi di dalam hati kami merasa kurang puas, sebab perkataan “Song hoejin” itu! Malamnya kami menanyakan Cioe ciangboen maksud dari sikapnya. Cioe ciangboen menggulung lengan baju kirinya dan memperlihatkan lengannya. “Semua kemari,” katanya dengan suara menyeramkan. Kami semua menghampiri dan dengan mata sendiri kami lihat sebutir Sioe kioe see pada lengannya masih tetap merah seperti sedia kala. Itulah bukti, bahwa ia masih seorang gadis suci dan bersih. “Aku mengakui diri sebagai Song Hoejin untuk menjalankan tipuku,” katanya. Aku ingin membangkitkan kedongkolan si bocah she Thio, supaya dia tidak bisa memusatkan seantero semangatnya dan aku bisa menjatuhkan dia dalam Pieboe. Bocah itu kepandaiannya tinggi dan aku sebenarnya tak akan bisa menang. Demi kepentingan partai kita, namaku tidak ada artinya. Itulah perkataan yang diucapkan oleh Cioe ciangboen.” Dalam memberi penjelasan Lie Beng Hee bicara keras keras supaya bisa didengar oleh banyak orang.

Sesudah berdiam sejenak, ia berkata pula, “Murid-murid partai kami, baik wanita maupun pria kecuali yang menjadi pendeta sebenarnya tidak dilarang untuk menikah, untuk berumah tangga.

Tapi semenjak jaman Kwee Couw, ilmu silat yang tertinggi hanya diturunkan kepada seorang gadis yang masih suci. Pada waktu mengangkat guru, lengan murid wanita dimasukkan Sioe kiong see oleh mendiang soehoe periksa lengan semua murid wanita yang dimasukkan Sioe kiong see. Tahun itu, lengan Kie soe Cie juga diperiksa…!” Ia tidak bisa meneruskan perkataannya dan mukanya bersemu dadu. Ia berusia lanjut, tapi ia masih merasa jengah untuk menyebutkan perhubungan antara Yo Siauw dan Kie Hoe mengakibatkan terhapusnya Sioe Kiong See. Sebagaimana diketahui, In Lie heng sudah menikah dengan Yo Poet Hwie (putri Yo Siauw dan Kie Siauw Hoe) dan pernikahan itu sangat beruntung. Tapi mendengar penutuuran Lie Beng Hee, In Liok hiap lantas saja ingat nasib mendiang tunangannya itu dan tanpa merasa, dengan air mata berlinang-linang ia menengok ke arah Yo Siauw. Begitu menengok, begitu ia melegos, sebab ia lihat air mata yang turun dengan perlahan di kedua pipi mertua itu. Sioe kiong see, semacam papir yang dimasukkan ke lengan seorang gadis merupakan tanda dari kesucian gadis itu. Begitu menikah, titik Sioe kiong yang berwarna merah terang lantas hilang.

“In Liok hiap,” Lie Beng Hee berkata lagi, “demikianlah, sebab Ciang boen jin kami ingin membangkitkan kedongkolan Thio Kauwcoe dan Siong siauwhiap mabuk cinta, maka terjadilah peristiwa yang kita sangat inginkan. Aku hanya mengharap agar Song siauwhiap bisa sembuh kembali. Kumohon In Liok hiap suka bicara baik di hadapannya Thio Cinjin dan Song tayhiap agar kerukunan antara kita tidak dirugikan.

“Aku memang harus berbuat begitu,” kata In Lie Heng. Tapi soetitku itu seorang berdosa yang pantas dihukum mati. Perbuatannya memalukan partai kami. Aku harap dia mati sendiri terlebih cepat.” Pada hakekatnya In Lie Heng seorang mulia yang berhati lemas. Tapi mengingat perbuatan Song Ceng Soe di dalam mencelakakan Boh Seng Kok darahnya meluap.

Selagi beromong omong di sebelah kejauhan mendadak teriakan ketakutan yang nyaring dan tajam. Itulah teriakan Cie Jiak. Bahaya apa yang ditemuinya, teriakannya itu sangat menyeramkan dan membangunkan bulu roma.

Semua orang terkesiap hampir berbareng mereka berpaling ke arah teriakan itu. Boe Kie, Ceng Hoe, Lie Beng Hee dan sejumlah orang lantas saja berlari lari ke jurusan teriakan itu. Sebab kuatir Cie Jiak bertemu musuh tangguh atau binatang buas, Boe Kie mengempos semangatnya dan dalam sekejap ia sudah melewati hutan. Satu bayangan hijau mendatangi dan bayangan itu adalah Cie Jiak. Boe Kie menyambuti dan bertanya, “Cie Jiak, ada apa?”

“Setan… setan uber aku!” jawabnya sambil menubruk dan memeluk Boe Kie. Ia menggigil dan giginya berbicara.

Sebab kasihan, Boe Kie membiarkan dirinya dipeluk. Ia menepuk nepuk pundak Cie Jiak dan menenteramkannya. “Jangan takut, mana ada setan? Apa yang dilihat olehmu?”

Muka dan kedua lengan Cie Jiak belepotan darah sebab tergores duri, sedang pakaiannya robek di sana sini. Separuh tangan kirinya terobek putus sehingga lengannya yang putih terbukan dan pada lengan itu terlihat satu titik merah yang terang bagaikan giok. Itulah titik Sioe kiong sie, tanda dari seorang gadis yang masih suci. Boe Kie sekarang mendapat kepastian apa yang dikatakan Lie Beng Hee adalah sebuah kebenaran. Sesaat itu dalam otaknya berkelebat macam macam pikiran. Dia pernah mengatakan kepadaku bahwa waktu di penjara oleh Kaypang kesuciannya telah dinodai oleh Song Ceng Soe dan dia sudah hamil, pikirnya. Waktu aku periksa nadinya, aku tak dapat tanda tanda kehamilannya. Ketika itu aku sangsikan ketepatan pemeriksaanku, ternyata ia menipu aku. Semua pengakuannya dusta belaka. Di lain saat ia berkata pada dirinya sendiri, “Thio Boe Kie oh Thio Boe Kie! Cioe kauwnio adalah musuh yang sudah membinasakan piauwmoay mu. Dia masih gadis atau sudah menikah, ada hubungannya dengan dirimu?”

Ia menggigit bibir dan mengeraskan hati. Tapi sebab si nona menggigil, ia tak tega untuk menolaknya.

Sementara itu sesudah bersandar di dada Boe Kie beberapa lama, Cie Jiak jadi lebih tenang. “Boe Kie koko, apa benar kau?” tanyanya dengan suara parau.

“Benar aku, apa yang dilihat olehmu? Mengapa kau begitu ketakutan?”

Mendengar pertanyaan Boe Kie, nona Cioe bergemetaran lagi dan “uah…!” ia menangis keras.

Beberapa saat kemudian Yo Siauw, Wie It Siauw, Ceng Hoei, In Lie Heng dan yang lain lain tiba disitu. Melihat Cie Jiak sedang menangis dan memeluk Boe Kie, mereka saling memberi isyarat lalu menyingkir. Orang orang Beng Kauw, Boe tong dan Go bie pay sangat mengharap Cie Jiak dan Boe Kie bisa akur kembali dan terangkap menjadi suami isteri. Mereka mengharap begitu sebab Tio Beng pernah menyakiti hati mereka dan juga sebab nona itu adalah puteri seorang Mongol. Mereka kuatir pernikahan antara Boe Kie dan Tio Beng akan merugikan usaha besar.

Sesudah menangis beberapa lama, Cie Jiak bertanya, “Boe Kie koko, apa ada yang mengubar?”

“Tak ada! Siapa yang mengejar kau? Hian beng Jie loo kah?”

“Bukan… bukan… lihatlah yang terang. Apa benar tak ada manusia. Bukan… bukan manusia… apa tak ada sesuatu yang mengudak kemari…”

Boe Kie tertawa, “Di siang hari bolong kalau ada yang mengubar masakan tak kulihat?” katanya dengan suara lemah lembut. “Cie Jiak, selama beberapa hari kau terlalu letih. Mungkin sekali matamu kabur dan kau salah lihat!”

“Tak mungkin, tiga kali kulihat dia,” jawabnya.

“Apa yang kau lihat sampai tiga kali?” tanya Boe Kie.

Sambil memegang kedua lengan Boe Kie erat erat dan sesudah mengumpulkan seantero keberaniannya, Cie Jiak menengok ke belakang akan kemudian baru-baru memutar kepalanya lagi ke arah Boe Kie. Melihat muka pemuda itu yang penuh kekuatiran, tiba-tiba rasa terharu yang tiada taranya bergelombang dalam hati si nona. Tenaganya habis dan ia roboh ke tanah. “Boe Kie koko…” katanya dengan nada sesambat yang diliputi penyesalan hebat. “Aku… aku telah menipu kau habis habisan. Akulah yang curi Ie thian kiam dan To Liong to. In… In Kouwnio dibunuh olehku. Jalan darahnya Cia tayhiap ditotok olehku. Aku tak pernah menikah dengan Song Ceng Soe. Dalam hatiku hanya… hanya terdapat… kau seorang…”

“Aku sudah tahu itu semua. Tapi mengapa kau berbuat begitu?”

“Kau tidak tahu apa yang dikatakan oleh mendiang guruku di atas menara di Ban hoat sie. Ia memberitahukan rahasia Ie thian kiam dan To liong to kepadaku. Ia paksa aku bersumpah, bahwa sesudah berhasil mencuri pedang dan golok mustika itu, aku harus angkat derajat Go bie pay. Ia paksa aku bersumpah, bahwa aku akan berlagak baik terhadapmu, tapi tidak boleh mencintai kau dengan sesungguhnya…”

Dengan rasa kasihan Boe Kie mengusap usap tangan si nona. Di depan matanya lantas saja terbayang cara bagaimana Biat Coet Soethay membinasakan Kie Siauw Hoe dengan tangannya sendiri. Cara bagaimana di padang pasir niekouw tua itu bersumpah untuk memusnahkan Beng kauw, cara bagaimana dia membunuh anggota anggota Swie kiem kie dengan Ie thian kiam dan cara bagaimana di Bin hoat sie, nenek itu lebih suka binasa daripada menerima pertolongannya. Peristiwa peristiwa itu membuktikan bahwa kebencian Biat coat Soe thay terhadap Beng kauw adalah kebencian yang sangat mendalam.

Cioe Cie Jiak adalah ahli waris si nenek dan telah menerima pesan terakhir. Maka itu ia percaya, bahwa perbuatan Cioe Cie Jiak yang berdosa telah dilakukan atas anjuran Biat coat.

Boe Kie adalah seorang yang mudah memaafkan dan tidak bisa menaruh dendam. Ia ingat pula, bahwa dalam pertempuran di Kong beng teng melawan suami isteri Ho Thay Ciong dan dua tetua Hwa san pay kalau tidak dapat pertolongan si nona, mungkin sekali ia sudah binasa. Sebagai seorang yang berhati mulia, pertolongan itu menonjol ke depan dan segala kedosaan nona Cioe jadi terlebih kecil. Rasa kasihannya lantas saja bertambah besar. “Cie Jiak,” katanya dengan suara halus, “bilanglah apa yang dilihat olehmu? Mengapa kau begitu ketakutan?”

Tiba-tiba si nona melompat bangun. “Tidak! Aku tak akan beritahukan kepadamu,” katanya dengan nafas memburu. “Aku dikejar setan penasaran… aku berdosa dan pantas mendapat pembalasan. Hari ini aku sudah mengakui semua di hadapanmu. Aku… aku tak akan bisa hidup lama di dalam dunia…” Sehabis berkata begitu, ia lari ke bawah gunung.

Boe Kie mengawasi dengan mulut ternganga. “Setan penasaran?” tanyanya di dalam hati. “Apa perbuatan orang Kay pang yang coba membalas sakit hati dengan menyamar sebagai setan?”

Nona Cioe lari ke rombongan Go bie pay. Lie Beng Hee buru buru mengambil baju dan menyerahkannya kepada sang pemimpin. Sesudah memakai baju itu diluar baju yang rombeng, Cie Jiak segera bicara kepada murid Go bie dengan suara perlahan dan mereka menjawab dengan manggut-manggutkan kepala.

“Kita berangkat sekarang,” kata Boe Kie. Mendadak ia lihat Cie Jiak menghampiri Kong boen dan bicara bisik-bisik. Paras muka pendeta itu tiba-tiba berubah, ia kelihatannya kaget dan menggeleng-gelengkan kepala seperti orang tidak percaya akan sesuatu. Sesudah bicara lagi beberapa patah, se-konyong2 nona Cioe berlutut dan merangkap kedua tangannya, sedang bibirnya bergerak-gerak seperti orang berdosa atau meminta sesuatu. Dilain pihak dengan paras muka angker Kong boen pun mengucap sesuatu.

“Heran! …” kata Cioe Tian. “Kauwcoe kau harus mencegah.”

“Mencegah apa?” tanya Boe Kie.

“Cioe Kauwnio kelihatannya mau jadi hweeshio,” jawabnya, “Kalau kau masuk dipintu kosong runyamlah untuk Kauwcoe.” (Masuk dipintu kosong berarti pendeta ).

Yo Siauw tertawa geli. “Andaikata benar Cioe Kauwnio, jadi niekouw,” katanya “Mana bisa ia mengangkat hweeshio Siauw lim sebagai guru?” (Hweeshio pendeta lelaki. Niekouw pendeta perempuan).

Si sembrono menabok mulutnya sendiri. “Benar ! Kau benar! Aku yang tolol,” katanya. “Tapi apa yang diminta Cioe Kauwnio dari Kong-boen? Yang satu Ciangboen Siauw lim pay, yang lain Ciangboen Go bie pay. Mereka sederajat dan setingkat, Cioe Kauwnio tak perlu berlutut.”

Dilain saat Cie Jiak sudah bangun berdiri. Paras mukanya kelihatan tenang seperti orang yang baru dihibur hatinya.

“Sudahlah,” kata Boe Kie. “Jangan urus urusan orang lain.” Ia menengok kebelakang dan berkata pula. “Beng moay, mari kita berangkat.” Tiba-tiba saja ia terkejut sebab Tio beng tak berada di sampingnya, sedang biasanya nona Tio tak pernah berada jauh dari dirinya,

“Mana Tio Kauwnio?” tanyanya. Mendadak keringat dingin keluar dari dahinya. “Celaka!” ia mengeluh. “Mungkin Beng-moay kabur sebab lihat Cie Jiak memeluk aku.” Tergesa-gesa ia memerintahkan sejumlah orang pergi mecari Tio Beng.

Selagi orang repot, Hee Yam, Cangkie soe Liat hwee kie datang dan berkata. “Melaporkan kepada Kauwcoe, aku lihat Tio Kauwnio turun gunung!”
Boe Kie sangat berduka. “Tanpa memperdulikan segala apa Beng-moay telah mengikuti aku,“ katanya. “Dalam mengikuti aku ia telah merasakan banyak penderitaan. Mana bisa aku menyia-nyiakan dia?“ Ia berpaling pada Yo Siauw dan berkata pula, “Yo-heng segala urusan aku serahkan kepadamu. Aku mau meninggalkan kalian untuk sementara waktu.“

Sesudah meminta diri dari Kong Boen dan lain-lain ia berkata kepada Cie Jiak. “Cie Jiak, baik-baik menjaga diri. Di hari kemudian kita akan bertemu pula.” Si nona tak menjawab. Ia menunduk dan manggut-maaggutkan kepalanya, sedang air matanya jatuh menetes di tanah.

Dengan ilmu mengentengkan tubuh Boe Kie turun gunung, Disepanjang jalan ia melewati para enghiong yang mau pulang.

Diantara mereka tak terdapat Tio beng. Sesudah mengejar tiga puluh li lebih, siang mulai berganti malam dan jalan mulai sepi. Tiba-tiba ia berkata pada dirinya sendiri, “Beng-moay seorang cerdik. Tak mungkin ia mengambil jalan besar. Apabila ia menggunakan jalanan ini, aku tentu sudah menyandak. Apa dia masih bersembunyi di gunung?”

Memikir begitu ia segera kembali ke atas dan lari berputar-putar, dengan kadang-kadang naik ke pohon tinggi. Tapi yang terlihat hanyalah gunung, lorong dan kawanan gagak yang pulang ke sarang.

Ia pergi ke belakang gunung, tapi yang dicari tetap tak kelihatan bayangannya. “Beng-moay,” katanya didalam hati, “biarpun aku harus mengitari bumi dan menjelajahi samudera, aku akan mencari kau.” Sesudah mengambil keputusan begitu, hatinya jadi lebih tenang. Ia memanjat pohon dan merebahkan diri di salah satu cabang yang melintang. Sesudah bercapai lelah sehari suntuk, tak lama kemudian ia tertidur.

Kira-kira tengah malam kupingnya yang tajam tiba-tiba menangkap suara tindakan yang sangat enteng. Ia lantas saja tersadar dan membuka matanya. Bulan sisir sudah menyondong ke barat dan memancarkan sinarnya yang remang-remang. Ia lihat seorang yang sedang berjalan ditanjakan ke jurusan selatan. Dilihat pakaiannya, dia seorang wanita yang bertubuh kurus kecil dan langsing. Boe Kie girang, hampir-hampir ia berteriak, “Beng moay!” Tapi belum memanggil ia sudah lihat perbedaan antara wanita itu dan Tio beng. Dia bertubuh lebih jangkung dari nona Tio dan ilmu pengenteng badannya juga berbeda. Boe Kie heran dan menanya diri sendiri. “Siapa dia? Perlu apa ia malam-malam jalan sendirian?” Sebenarnya ia tak ingin mencampuri urusan orang lain. Tapi dilain saat ia ingat bahwa mungkin sekali dari wanita itu ia bisa mencari keterangan mengenai nona Tio.

“Apabila ia ternyata tidak mempunyai sangkut paut dengan Beng moay, akupun bisa menyingkir tanpa diketahui,” pikirnya. Memikir begitu ia segera turun dari pohon. Dengan hati-hati ia menguntit dari jauh.

Memang kurang pantas menguntit wanita yang tidak dikenal ditengah malam buta. Ia menjaga jangan sampai diketahui. Wanita itu yang mengenakan baju hitam ternyata menuju kearah Siauw lim sie.

“Apa maunya dia?” tanya Boe Kie didalam hati. “Aku telah diangkat sebagai Boe lim Bengcoe.
Kalau ia meugandung maksud kurang baik terhadap Siauw lim, aku tak bisa tidak mencampuri.” Ia berhenti sejenak dan memasang kuping. Keadaan diseputarnya sunyi senyap. Wanita itu tak punya kawan dan ia merasa lega.

Selama kurang lebih satu jam, si baju hitam tak pernah menengok kebelakang. Dengan melihat punggungnya dan gerak-geriknya, Boe Kie merasa bahwa ia pernah bertemu dengan wanita itu. “Apa Boe Beng Eng Kouwnio ? Apa Teng Bin Koen ?” ia menduga-duga.
Tak lama kemudian kuil Siauw lim sie sudah berada didepan mata. Sesudah mendaki kuil dengan tindakan lebih perlahan. Ia berlaku sangat hati-hati.
Sekonyong-konyong dari dalam terdengar suara yang bergemuruh yang keluar dari tenggorokan ratusan manusia. “Eh…“ kata Boe Kie didalam hati. “Mengapa di tengah malam buta begitu banyak pendeta membaca kitab suci? Ada apa ?”

Mendengar suara berdoa itu, wanita tersebut berjalan makin perlahan. Sesudah maju beberapa tombak lagi, ia tiba disamping Tayhiong Po thian. Mendadak terdengar suara tindakan yang sangat enteng dan ia mendekam diantara rumput-rumput tinggi. Beberapa saat kemudian empat pendeta bersenjata golok dan sianthung keluar meronda. Siauw lim sie ternyata tetap waspada.

Sesudah keempat pendeta itu lewat, wanita itu melompat keluar dari tempat sembunyinya dan menghampiri jendela, Lompatan dan gerakannya mengunjuk bahwa dia memiliki ilmu ringan badan kelas satu,
“Ia tidak membekal senjata, mungkin ia tidak mengandung maksud jelek,” pikir Boe Kie. Sebab ingin melihat muka wanita itu, kalau-kalau benar ia mengenalinya, Boe Kie lalu mengambil jalan memutar dan kemudian menempatkan diri di sudut barat laut Tay hiong Po thian. Ia mengerti bahwa kedudukannya sangat tak enak. Kalau hanya diketahui oleh pendeta Siauw lim ia akan hilang muka sebab seorang yang berkedudukan tinggi seperti dirinya memang tak pantas mengintip-ngintip ditengah malam buta. Maka itulah ia bergerak dengan sangat hati-hati.
Dari sela jendela ia mengawasi kedalam. Diruangan itu terdapat ratusan pendeta yang sebaris demi sebaris bersila diatas tikar. Diantara mereka ada yang memegang alat sembahyang, ada pula yang berdoa sambil merangkap kedua tangan. Mereka rupa-rupanya sedang mengadakan sembahyang untuk roh dari orang2 yang baru meninggal dunia.

“Benar,” kata Boe Kie didalam hati. “Dalam Eng hiong Tay hwee banyak orang binasa, sedang dalam peperangan melawan tentara Goan juga banyak yang mengorbankan jiwa. Berdasarkan welas asih mereka mengadakan sembahyang besar untuk menuntun roh-roh ke sorga”.

Sembahyang itu dipimpin oleh Kong boen Taysoe sendiri, Disamping Kongboen terdapat seorang wanita muda. Begitu melihat wajahnya, Boe Kie terkejut sebab dia bukan lain daripada Cioe Cie Jiak.

Boe Kie menghela napas. “Sembahyang ini tentu diadakan atas permintaan Cie Jiak pada tadi siang,” pikirnya. “Ia merasa berdosa dan menyesal, banyak orang yang tidak berdosa binasa dalam tangannya.” Dengan matanya yang tajam, ia mengawasi leng pay (papan dengan tulisan nama orang yang disembahyangi ) di atas meja. Tiba-tiba saja air matanya mengucur sebab di lengpay itu tertulis huruf-huruf ini: “Tempat yang suci dari pendekar wanita In Lee“.

Diantara ketukan bok hie Cie Jiak berlutut di depan meja sembahyang dan berkata dengan suara perlahan. Sayup-sayup Boe Kie menangkap perkataan begini, “In Kouwnio … kau yang sudah berada dilangit …. mengasolah dengan tenang … jangan ganggu aku ….”

Jantung Boe Kie mengetuk lebih keras.

Piauw moay yang telah dibinasakan Cie Jiak bernasib malang,” katanya didalam hati. “Tapi penderitaan Cie Jiak mungkin lebih hebat dari pada piauw moay sendiri.” Tiba-tiba ia ingat doa yang diucapkan oleh para anggauta Beng-kauw waktu mereka menghadapi bencana di Kong beng teng.
“Hidup apa senangnya, mati apa susahnya? Kasian manusia dalam dunia banyak yang menderita. Kasian manusia di dunia banyak yang menderita!”

Perlahan-lahan Cie Jiak bangun berdiri, tubuhnya agak miring dan mukanya menghadap ke arah timur. Mendadak paras mukanya berubah dan ia menjerit. “Kau … kau lagi!” Jeritan itu nyaring dan tajam menindih suara lonceng diruangan sembahyang.

Boe Kie terkesiap dan menengok ke jurusan itu. Ia lihat kertas jendela berlubang dan pada lubang itu terdapat muka seorang wanita yang penuh dengan tanda bekas luka, goresan-goresan senjata yang panjang. Ia menggigil dan mengeluarkan teriakan tertahan. Muka itu bukan lain daripada In Lee yang sudah mati!

Boe Kie ingin menghampiri tapi kedua lututnya lemas dan ia berdiri terpaku. Dilain saat muka itu menghilang dan Cie Jiak roboh terjengkang.
Sekarang Boe Kie tidak perduli lagi segala apa. “Coe Jie Coe Jie! Apa benar kau?” teriaknya. Teriakan itu menggetarkan seluruh lembah tapi tak ada yang menjawab. Sesudah menenteramkan hatinya ia menguber dengan menggunakan jalanan yang tadi dilewati wanita itu Tapi apa yang dilihatnya hanya bulan sisir dan bayangan pohon. Ia tidak percaya setan. Tapi dalam keadaan begitu, keringat dingin mengucur dan bulu romanya bangun semua. “Benar, benar dia,” katanya didalam hati. “Tak heran, waktu kulihat punggung dan gerak geriknya, aku merasa seperti sudah mengenalnya. Apa benar, sebab mati penasaran rohnya tidak berpulang kealam baka? Apa benar rohnya tahu, bahwa di Siauw lim sie sedang diadakan sembahyang? dan dia datang untuk menerima doa-doa?”

Sementara itu sejumlah pendeta sudah keluar untuk menyelidiki. Melihat Boe Kie mereka kaget tercampur heran. Seorang pendeta tua memberi hormat dan berkata. “Sebab tak tahu Kauwcoe datang berkunjung, kami tidak keburu menyambut. Mohon Kauwcoe sudi maafkan”.

Boe Kie membalas hormat dan lalu masuk kedalam ruangan sembahyang. Cie Jiak belum tersadar dari pingsannya. Ia memburu dan memijit bibir dan mengurut punggung si nona. Beberapa saat kemudian Cie Jiak mendusin. Ia melompat dan memeluk Boe kie seraya berteriak. “Setan! …”

“Aku pun heran,” kata Boe Kie. “Tapi kau tak usah takut. Disini terdapat banyak pendeta suci dan mereka pasti bisa menyingkirkan segala setan penasaran”.

Atas dorongan rasa takut yang luar biasa nona Cioe jadi kalap dan memeluk Boe Kie di hadapan orang banyak. Sesudah Boe Kie bicara ia tersadar dan mukanya lantas bersemu merah. Ia melepaskan pelukannya tapi tubuhnya masih terus bergemetaran dan mencekal kedua tangan Boe Kie sekeras-kerasnya.
Sesudah memberi hormat kepada Kong boen Boe Kie memberitahukan adanya muka yang penuh tanda di jendela timur. Kong boen dan yang lain tidak melihatnya.

“Boe Kie …. Thio Kauwcoe,” kata Cie Jiak, “yang kulihat adalah dia.”

Boe Kie lantas menyahut. “Aku – – – – akupun melihat dia,” katanya akhirnya.

Si nona menggigil. “Kau …. kau juga lihat?” ia menegas.

Boe Kie mengangguk.

“Siapa yang dilihat olehmu?”

“In Kouwnio, Coe Jie, Piauw moayku.”

Nona Cioe mengeluarkan seruan, tubuhnya bergoyang-goyang, kedua matanya meram dan ia pingsan lagi.

Boe Kie segera mencekal tangannya, sehingga ia tidak sampai roboh. Sesaat kemudian ia tersadar pula, “Yang kulihat adalah Coe Jie,” kata Boe Kie. Tapi dia bukan setan …. dia manusia biasa.”
“Bukan setan ? Apa benar?”

“Aku telah menguntit dia sampai disini. Tindakannya tindakan manusia biasa, bukan setan,” Boe Kie berkata begitu terutama untuk menghibur Cie Jiak. Didalam hati, ia sendiri tidak percaya apa yang dikatakannya.

“Apa sungguh-sungguh dia bukan setan?” si nona menanya lagi.

Boe Kie menengok kearah Kong boen dan berkata, “Hong-thio, ada sesuatu yang aku kurang mengerti. Aku mohon petunjuk Hong thio. Sesudah manusia mati, apa benar ada roh atau setannya?”

Sesudah berpikir beberapa saat, Kong boen menjawab, “Soal yang mengenai alam baka sangat sukar dijelaskan. Segala apa dalam dunia ini merupakan kekosongan. Apalagi roh atau setan?”

“Tapi mengapa Taysoe mengadakan sembahyang besar ini? Bukankah untuk menyembahyangi roh?”
“Siancay! Roh sebenarnya tak usah diseberangi. Sembahyang dilakukan kami bertujuan menenteramkan hati manusia. Yang harus diseberangi adalah manusia hidup.

Boe Kie tersadar. Ia menyoja dan berkata sambil membungkuk, “Terima kasih atas petunjuk Taysoe. Ditengah malam buta aku mengganggu kalian. Kumohon Taysoe suka memaafkan.”

“Kauwcoe adalah Toa in jin (penolong besar) kami. Beberapa kali kauwcoe sudah membebaskan Siauw lim sie dari bencana. Kauwcoe tak usah berlaku sungkan.”

Sesudah berpamitan dengan Kong boen dan para pendeta, Boe Kie berkata kepada Cie Jiak. Mari kita jalan.”

Si-nona kelihatan bersangsi!

“Kalau begitu kita berpisahan disini saja, ” kata pula Boe Kie yang lalu bertindak keluar.
Cie Jiak mengawasi tindakan pemuda itu. Ia tahu, bahwa kalau sekarang mereka berpisahan, belum tentu mereka akan bisa bertemu lagi. Mendadak ia berseru, “Boe Kie Koko …. aku ikut.” Ia mengudak dan meninggalkan kuil Siauwlimsie berendeng pundak dengan Boe Kie.

Sesudah terpisah dari kuil beberapa puluh tombak, si nona memegang tangan Boe Kie. Pemuda itu tahu bahwa dia masih ketakutan. Tapi sebagai manusia biasa, memegang tangan seorang wanita cantik dia mengendus bau harum menimbulkan perasaan yang sukar dilukiskan. Mereka berjalan tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Sesudah melalui beberapa li, si nona menghela napas. “Boe Kie Koko,” katanya, “hari itu waktu kita pertama bertemu di sungai Han soei, jiwaku ditolong oleh Thio Cinjin. Kalau tahu aku harus mengalami begini banyak penderitaan, alangkah baiknya jika aku mati dihari itu.”
Boe Kie tidak menyahut. Tiba-tiba ia ingat pula doa Beng kauw. Tanpa merasa ia berkata dengan suara perlahan. “Hidup apa senangnya mati apa susahnya? Kasihan manusia dalam dunia, banyak yang menderita. Kasihan manusia dalam dunia, banyak yang menderita!”
Tangan Cie Jiak bergemetaran. “Kutahu, dalam mengirim aku ke Go bie, Thio Cin jin bermaksud baik,” katanya. “Tapi andaikata ia menerima aku sebagai murid Boe tong, keadaan sekarang tentu lain sekali Hai–! Insoe (guruku yang besar budinya) pun sangat baik terhadapku. Tapi . . . ia paksa aku bersumpah berat, ia paksa aku membenci Beng kauw, membenci kau tapi didalam hatiku . . . “

Boe Kie merasa sangat terharu. Ia mengerti bahwa segala penderitaan si nona dan segala perbuatannya yang berdosa sebagian besar karena gara-gara Biat coat Soethay. Mengingat itu, rasa kasihannya bertambah pula.”

Angin malam yang bersilir dengan perlahan mengirim harumnya bunga ke hidung dua orang muda itu. Waktu itu adalah permulaan musim panas. Langit bertabur bintang dan diantara keindahan dan keharuman sang malam, Boe Kie mendengar pengakuan rasa cinta dari seorang wanita cantik. Jantungnya mengetuk lebih keras.

“Boe Kie Koko,” kata pula Cie Jiak. “Pada waktu kita mau menjalankan upacara pernikahan di Hauwcoe, begitu lihat Tio Kauwcoe kau lantas kabur. Apa sungguh kau sangat mencintai dia?”

“Inilah justru keterangan yang sudah lama ku mau berikan kepadamu,” jawabnya. Sesaat itu mereka sudah tiba didekat tenda-tenda Bengkauw, Boe Kie menuntun Cie Jiak kesebuah batu besar dipinggir jalan dan mereka lalu berduduk dengan berendeng pundak.
Boe Kie lantas saja menceritakan sebab musabab dari kaburnya itu. Ia kabur bukan semata-mata sebab kecantikan Tio beng, tapi sebab lihat rambut Cia Soen yang dipegang nona Tio.

Sesudah Boe Kie selesai menutur, Cie Jiak tidak mengatakan apa-apa juga.

“Cie Jiak apa kau marah terhadapku?” tanya Boe Kie.

Si nona menangis. “Aku banyak lakukan perbuatan berdosa, aku hanya boleh mempersalahkan diriku sendiri,” jawabnya. “Mana boleh aku marah terhadapmu ?”

Tiba-tiba ia mendongak. “Boe Kie Koko,” katanya. “Aku ingin ajukan satu pertanyaan dan kuharap kau akan menjawabnya dengan setulus hati.”

“Katakanlah!“

“Kutahu dalam dunia terdapat wanita yang mencintai kau dengan segenap jiwa dan raganya. Yang satu Siauw Ciauw. Dia sudah ke Persia. Yang satu lagi Tio Kouwnio. Yang ketiga
dia – – – – ” Ia tak menyatakan In Kouwnio tapi perkataanmu tidak bisa keluar dari mulutnya. Sesudah berdiam sejenak ia berkata pula. “Kecuali Siauw Ciauw. kami bertiga pernah berbuat sesuatu yang tidak baik terhadapmu. Tapi andaikata kami berempat berada disini siapa yang benar-benar dicinta olehmu?”

Boe Kie tertegun, beberapa saat kemudian barulah ia bisa membuka mulut. “Aku… aku…:”
Waktu mengarungi lautan bersama-sama Cie Jiak, Tio Beng, In Lee, dan Siauw Ciauw, pertanyaan itu sudah sering muncul dalam hatinya.

Ia sendiri tidak bisa menjawabnya. Untuk mengelakkan soal itu, ia sering berkata pada dirinya sendiri, bahwa sebelum orang Mongol di usir dari tahta kerajaan, tidaklah pantas ia memikir soal kawin. Tapi ada juga katanya, didalam hati kecilnya ia membayangkan bahwa alangkah beruntungnya apabila ia bisa menikah dengan keempat gadis itu sekaligus. Jaman itu adalah akhir kerajaan Goan. Pada jaman itu tiga empat isteri atau gundik dipandang lumrah.

Tapi Bengkauw berasal dari Persia menurut ajaran Beng kauw seorang harus hemat, sehingga oleh karenanya, diantara penganut agama jarang sekali yang punya lebih dari satu isteri. Boe Kie pun anggap, bahwa ia sudah boleh merasa beruntung kalau bisa menikah dengan salah seorang dari keempat gadis itu. Ia merasa bahwa jika sesudah menikah dengan salah seorang ia masih mengambil gundik, ia berbuat tak pantas terhadap isteri yang seperti dewi itu.

Demikianlah pada waktu yang lalu persoalan itu bsering memusingkan kepala.

Belakangan Siauw Ciauw pergi ke Persia dan In Lee dibunuh orang.

Semua orang menduga bahwa pembunuh nona In adalah Tio beng maka dari itu, menurut kepantasan maka pilihannya harus jatuh kepada Cie Jiak. Diluar dugaan, timbulah gelombang yang akhimya berakibat kaburnya Tio Beng dan diajukan partanyaan sulit oleh nona Cioe.

Melihat Boe Kie tidak menjawab, Cie Jiak berkata pula. “Pertanyaanku hanya andai2. Sekarang ini kau tak usah memilih lagi. Siauw Ciauw sudah menjadi Kauwcoe di Persia sedang aku—aku telah mencelakai In Kouwnio. Diantara kami berempat, secara wajar pilihanmu harus jatuh kepada Tio Kouwnio. Aku hanya ingin bertanya. “Andaikata kami berempat, bebas dari kedosaan atau ganjelan, sekarang berada disini siapakah diantara kami yang akan kau pilih?”

“Cie Jiak, pertanyaan itu sebenarnya sudah lama mengganggu pikiranku. Hari ini baru kutahu siapa yaug dicintai olehku.”

“Siapa? Tio Kauwnio?”
“Hari ini aku tak berhasil mencari dia. Di dalam hati, aku kepingin mati. Manakala aku tidak bisa bertemu lagi dengan dia kurasa akupun tidak akan bisa hidup lama di dunia. Waktu Siauw Ciauw pergi, aku berduka. Perbuatanmu juga sangat mendukakan aku. Tapi Cie Jiak, aku tak boleh mendustai kau. Apabila aku tidak bisa bertemu dengan Beng moay, aku lebih suka mati, Cie Jiak rasa hatiku ini belum pernah kuuraikan kepada orang lain.”

“Hari itu dikota raja, waktu kulihat kau menemui dia dirumah makan, aku sudah tahu kepada siapa kau berikan cintamu. Tapi aku masih terus mimpi. Kuduga bahwa sesudah aku – -aku – – – menikah denganmu kau bisa berubah pikiran. Tapi – – – aku hanya mendustai diriku sendiri !”

“Cie Jiak, terhadap kau, aku selalu menghargai dan menghormati. Terhadap In Piauw moay, aku merasa berterima kasih. Terhadap Siauw Ciauw, aku menyayang- Hanyalah terhadap Tio Kouwnio aku menaruh cintaku. Cintaku terhadap dia adalah cinta yang tercetak di jantung dan terukir di tulang.”

“Ya – – – cinta yang tercetak di jantung dan terukir di tulang – – Cinta yang tercetak dijantung dan terukir di tulang – – ” Cie Jiak mengulang dengan suara perlahan. Ia berdiam sejenak dan kemudian menambahkan, “Boe Kie Koko, cintaku terhadapmu juga cinta yang tercetak di jantung dan terukir ditulang, apa kau tahu?”

Boe Kie merasa sangat terharu. Sambil mencekal tangan si nona ia berkata, “Cie Jiak aku tak dapat merasai perasaan hatimu. Aku tak tahu cara bagaimana aku harus membalas kecintaanmu. Aku – – – aku berlaku sangat tidak pantas terhadapmu.”

“Tidak! Kau selalu berbuat kebaikan terhadapku. Apa kau tak tahu? Sekarang kutanya- Apabila kau tak bisa mencari Tio Kouwnio, jika ia dibunuh orang, atau andaikata ia berubah pikiran, kau … bagaimana kau berbuat?”

“Entahlah! Tapi biar bagaimanapun juga diatas ada langit dibawah ada bumi, aku akan mencari dia deogan segala tenaga yang dipunyai olehku.

Si.nona menghela napas. “Dia tak akan berubah pikiran,” katanya. “Kalau benar kau ingin menemui dia, hal itu bisa terjadi dengan mudah sekali.”

Boe Kie kaget bercampur girang. Ia melompat bangun. “Dimana dia?” tanyanya. “Cie Jiak lekas bilang.”

Nona Cioe mengawasi wajah Boe Kie penuh kegirangan. “Terhadap aku kau tidak akan perlihatkan kecintaan yang begitu besar,” katanya. “Jika kau ingin tahu dimana adanya Tio Kauwnio, kau lebih dulu harus mengatakan satu permintaanku. Tanpa meluluskan permintaanku itu, tak usah harap kau bisa bertemu lagi dengan dia!”
“Permintaan apa?”

“Permintaan itu sekarang belum dapat dipikir olehku. Namun, setelah kudapat, aku akan beritahukan kau. Tapi kau tak usah kuatir. Permintaanku itu tidak akau melanggar “Hiap gie” (kesatrian) tidak akan menodai nama baik Bengkauw, maupun namamu sendiri dan permintaan itu akan bermanfaat bagi usahamu yang besar. Tapi mungkin sekali tugas yang terdapat dalam permintaan itu tak mudah dikerjakan.”

Boe Kie tercengang. Si nona ternyata telah menuruti contoh Tio beng waktu nona Tio mengajukan tiga permintaan kepadanya. Ia tidak bisa lantas menjawab dan untuk beberapa saat, ia menatap muka Cie Jiak dengan mulut ternganga.

“Kalau kau tak suka meluluskan, terserah kepadamu,” kata pula si nona. “Tapi seorang laki-laki harus menjaga kepercayaan. Apabila kau sudah mengatakan, dibelakang hari kau tidak boleh mangkir janji.”
“Kau kata parmintaan itu tidak melanggar “hiap gie” tidak menodai nama Beng kauw dan namaku sendiri dan bahkan bermanfaat bagi usaha besar. Bukankah begitu?”

“Benar.”

“Baiklah. Kalau benar tidak melanggar “hiap gee” dan kalau tidak merugikan usaha besar, aku meluluskan.” (Usaha besar ialah usaha untuk merobohkan kerajaan Goan).

“Mari kita bersumpah dengan saling menepuk tangan.” kata Cie Jiak seraya mengeluarkan tangan kanannya.

Boe Kie tahu, bahwa begitu lekas ia menepuk telapak tangan Cie Jiak ia seperti juga diikat dengan rantai besar. Nona Cioe sungguh hebat. Ia halus dan lemah lembut tapi cara-caranya lebih keras dari Tio Beng. Perlahan-lahan ia angkat tangannya, tapi tidak lantas menepuk.

Si nona tersenyum, “Begitu kau menepuk, begitu kau akan bisa bertemu dengan kecintaanmu,”
katanya.

Darah Boe Kie bergolak. Tanpa berpikir lagi ia menepuk tangan Cie Jiak tiga kali.

Nona Cioe tertawa. “Coba kau lihat siapa di dalamnya?” tanyanya sambil menyingkap ranting-ranting pohon berdaun rindang yang berada dibelakangnya.

“Bengmoay!” teriak Boe Kie.

Tiba-tiba ditempat yang jauhnya beberapa tombak terdengar suara “ih” dari seorang perempuan. Biarpun perlahan, suara itu didengar Boe Kie. Ia terkesiap dan rupa-rupa ingatan berkelebat diotaknya. Tapi ia tak sempat memikir yang lain dan lalu menarik tangan Tio-beng. Sekali lagi ia terkejut, sebab tangan si nona kaku. Ia mendusin bahwa Tio beng telah ditangkap dan ditotok jalan darahnya oleh Cie Jiak yang lalu menyembunyikannya ditempat itu. Ia mulai mengurut punggung nona Tio supaya darah bisa mengalir lagi sebagaimana biasa. Si nona mengawasi Boe Kie dengan sorot mata penuh kecintaan dan rasa bahagia. Ia sudah dengar pembicaraan antara Boe Kie dan Cie Jiak. Ia sudab tahu bahwa pemuda itu mencintainya dengin cinta yang tercetak dijantung dan terukir ditulang.

Mendadak Cie Jiak membungkuk dan bicara bisik-bisik di kuping Boe Kie yang lalu menjawab dengan bisik-bisik pula. Diluar dugaan, tiba-tiba saja nona Cioe marah besar. “Thio Boe Kie!” bentaknya. Kau sama sekali tak pandang mata padaku! Kau lihatlah! Sesudah kena racun, apa perempuan she Tio itu masih bisa hidup terus?”

Boe Kie mencelos hatinya. “Dia – – – dia, kena racun? Kau yang meracuni?” tanyanya kemudian, Ia membungkuk dan membuka kelopak mata kiri Tio Beng. Sesaat itu mendadak ia merasa punggungnya kesemutan. Ia ditotok Cie Jiak.
“Celaka!” ia mengeluh dan tubuhnya bergoyang-goyang. Sebab memiliki Lwekang yang sangat kuat, biarpun tertotok, ia tidak lantas roboh. Cepat-cepat ia mengerahkan tenaga dalam untuk melancarkan jalan darahnya. Tapi Cie Jiak tak tinggal diam, bagaikan kilat ia mengirim lima totokan lain di lima “hiat” besar, yaitu dipundak dan di punggung.

Meskipun lihay, Boe Kie tak kuat melawan enam totokan itu. Ia roboh terjengkang, tiba-tiba sinar hijau berkelebat dan Cie Jiak menuding dadanya dengan pedang.

“Thio Boe Kie, hari ini kuambil jiwamu!” bentaknya. “Aku tak perduli setannya. In Lee terus saja mengganggu aku. Aku tidak. bisa hidup lebih lama lagi, Mari kita mati bersama!” Seraya berkata begitu, ia mengayun pedang untuk menikam Boe Kie.

“Tahan!” mendadak terdengar teriakan seorang wanita. “Cie Jiak, aku belum mati.”
Cie Jiak menengok. Seorang wanita baju hitam melompat keluar dari alang-alang dan menotok punggungnya. Cie Jiak berkelit dan wanita itu memutar tubuh sehingga mukanya kena sinar rembulan. Muka itu sangat cantik tapi di muka yang ayu itu terdapat goresan-goresan bekas luka. Boe Kie lantas saja mengenali bahwa dia itu bukan lain dari pada In Lee. Bengkak-bengkak di muka nona In sudah hilang dan biarpun terdapat tanda bekas luka, kecantikan si nona tidak berkurang. Boe Kie lantas saja ingat si gadis cilik yang mengikut Kim hoa Popo dan yang pertama kali ditemuinya di Ouw tiap kok.

Sesudah berkelit, Cie Jiak menuding dada Boe Kie dengan pedangnya. “Kalau kau maju setindak lagi, aku ambil jiwanya,” ia mengancam.

In Lee benar saja tak berani bergerak! “Apa belum cukup kau melakukan perbuatan jahat?” katanya dengan suara bingung.
“Apa kau manusia atau setan?” tanya nona Cioe.
“Tentu saja manusia,” jawabnya.

Mendadak Boe Kie berteriak, “Coe Jie!” Ia melompat dan memeluknya. “Oh, Coe Jie! Kau membuat aku sangat menderita!” katanya dengan suara parau. Dipeluk begitu, In Lee tak bisa berkutik lagi.

Cie Jiak tertawa geli. Sesudah memasukkan pedang ke sarung, ia berkata. “Huh-huh Menyamar menjadi setan untuk menakut-nakuti aku. Jika aku tidak menggunakan tipu, kau tentu masih belum mau keluar.” Sehabis berkata begitu ia menghampiri Tio Beng dan membuka jalan darah nona Tio!

Tio Beng menghela napas. Sesudah menjadi tawanan Cie Jiak, ia bergirang sebab dengar pengakuan Boe Kie! Tapi baru bergirang ia sudah berkuatir lagi sebab munculnya nona In.

“Lepaskan aku!“ kata In Lee. “Tio Kouwnio dan Cioe Kouwnio berada djsini. Apa kau tak malu!”

Boe Kie tersenyum.” Melihat kau hidup kembali, aku kegirangan,“ katanya “Tapi .. tapi bagaimana bisa jadi begitu?“

In Lee menarik tangan pemuda itu sehingga muka Boe Kie menghadapi rembulan. Ia mengawasi dan mendadak menjewer kuping orang.

“Aduh! Mengapa kau jewer kupingku?” teriak Boe Kie.

“Tioe-pat koay,” kata si nona, kau memang pantas dicincang dengan laksaan golok! Kau menggunakan nama Can A Goe untuk menipu aku, menyuruh aku membuka rahasia hatiku. Kau mau bikin aku malu dihadapan banyak orang. Kau… kau mengubur aku hidup-hidup. Celaka sungguh! Karena kau, aku sangat menderita.“ Sehabis berkata begitu ia pukul tiga kali dada Boe Kie.
Boe Kie tidak mengerahkan Kioe yang Sinkang. Ia rela menerima pukulan itu. “Piawmoay,” katanya sambil tertawa. “Sungguh mati, kukira kau sudah meninggal dunia. Aku sudah mencucurkan banyak air mata. Bagaimana kau bisa hidup lagi? Loo thian ya (Langit) benar-benar mempunyai mata.”

“Loo thian ya punya mata, tapi kau, Tioe-pai koay, tak punya mata. Kau murid Tiap kok-Ie sian, Masakah orang sudah mati atau belum mati tak diketahui olehmu? Aku tak percaya. Kau tentu mencela mukaku yang bengkak-bengkak, sehingga sebelum aku putus jiwa, kau sudah mengubur aku. Kau tak lebih tak kurang daripada setan umur pendek yang tak punya perasaan hati!”

Boe Kie menyeringai. “Kau boleh caci aku sepuas hati,” katanya. “Waktu itu aku memang gila. Melihat mukamu berlepotan darah, napasmu berhenti dan jantungmu tidak mengetuk lagi, aku lantas menarik kesimpulan, bahwa kau sudah tidak dapat ditolong lagi…”
In Lee melompat coba menjewer kuping kanannya.

Boe Kie berkelit dan sambil menyoja ia berkata. “Piauw moay yang baik, ampunilah aku!”

“Tidak! Aku takkau ampuni kau! Hari itu entah bagaimana aku tersadar. Diseputarku dingin
semua potongan-potongan batu. Kalau kau mau mengubur aku hidup-hidup, perlu apa kau membuat lubang tertutup batu? Bukankah lebih baik kau menguruk aku dengan tanah, supaya aku
tak bisa bernapas, supaya aku mati sungguhan?“

“Terima kasih kepada langit dan bumi !” kata Boe Kie. “Sungguh mujur hari itu aku menutup lubang dengan batu-batu.” Seraya berkata begitu, tanpa merasa ia melirik Cie Jiak.

“Aku larang kau lihat dia !” bentak In Lee dengan gusar.
“Mengapa?” tanya Boe Kie.

“Sebab dia pembunuh yang membunuhku” jawabnya.

“Kau masih hidup, sehingga tak dapas kau mengatakan Cioe Kauwnio sebagai pembunuh,” sela Tio beng.

“Aku sudah mati satu kali. Dia tetap pembunuh!”

Sambil berkata begitu In Lee telah menatap Cie Jiak dengan sorot mata yang dingin seakan juga menembus ke ulu hati Cie Jiak membuat tubuh Cie Jiak jadi gemetar karenanya.

“Piauw moay yang baik!“ kata Boe Kie untuk melenyapkan kekakuan suasana disaat itu. “Kau telah pulang dari pulau karang itu dengan selamat, kami benar2 merasa bersyukur dan girang melebihi perasaan girang jika memperoleh hadiah yang tak ternilai harganya, maka sekarang aku ingin mohon kepadamu, maukah engkau duduk dengan tenang, untuk saling menceritakan pengalaman selama itu?”

Muka In Lee jadi berobah waktu mendengar perkataan Boe Kie, dia telah tertawa dingin sekali dengan wajah yang memancarkan perasaan tidak senangnya.

“Engkau mempergunakan perkataan kami” kata In Lee kemudian. “Ingin kutanya dulu, dengan perkataan kami, “KAMI” yang engkau maksud itu meliputi siapa-siapa saja?”

“Disini hanya terdapat empat orang, dengan sendirinya meliputi aku bersama nona Cioe dan Tio, entah merekapun senang untuk mendengarkan pengalaman yang menarik di pulau karang yang pernah engkau alami itu. . .”

“In Kouwnio,” tiba2 Cie Jiak te1ah memotong perkataan Boe Kie. “Waktu itu memang timbul maksud jahatku, hingga telah mencelakaimu, setelah itu siang dan malam aku telah tersiksa oleh penyesalan-penyesalan yang tidak berkesudahan, dalam mimpiku, selalu pula aku tidak merasa aman dan dikejar oleh perasaan menyesal dan takut. Jika tidak, tentu akupun tidak akan ketakutan setengah mati waktu hari itu mendadak melihat engkau ditengah rimba itu ….! Tetapi kini melihat engkau masih sehat dan selamat tidak kurang suatu apapun juga, maka terhindarlah segala dosa-dosaku. Thian yang maha pengasih menjadi saksi, aku merasa bersyukur melihat engkau dalam keadaan selamat dan sehat seperti sekarang ….!”

In Lee tidak menyahuti perkataan Cie Jiak, tampakoya dia berpikir sejenak, dan kemudian
menganggukkan kepalanya perlahan-lahan beberapa kali.

“Ya, memang dapat diterima oleh akal sehat. Sesungguhnya peristiwa itu terjadi karena dikuasai oleb nafsu jahat saja dan engkau melakukannya diluar kesadaranmu. Sesungguhnya aku ingin mencarimu untuk membuat perhitungan tetapi kini biarlah. Anggap saja sudah selesai dan diantara kita sudah tidak terdapat sakit hati dan dendam.”

Mendengar perkataan In Lee itu, tiba-tiba Cie Jiak telah berdiri dan berlutut di hadapan In Lie dengan air mata yang bercucuran berlinang membasahi pipinya. Dia telah meratap dengan suara yang menyayatkan, mengandung perasaan syukur dan terharu bercampur juga dengan perasaan dukanya. “Nona In … ooh nona In … aku benar-benar terlalu jahat, aku terlalu jahat memperlakukan dirimu beberapa saat yang lalu, akulah manusia yang terkutuk …” ratapnya dan dia berkata begitu sambil berlutut, sehingga menimbulkan kesan yang mengharukan, terlebih lagi dia telah menangis terisak isak.
Suara In Lee terdengar begitu ramah dan lembut, dia berkata-kata dengan penuh perasaan persahabatan, menambah Cie Jiak terharu bukan main. Dia menangis sampai tubuhnya gemetaran.
Biasanya In Lee mempunyai watak yang keras dan kukuh, tidak mudah pendirian dan hatinya berobah, tetapi waktu melihat Cie Jiak rela berlutut demikian sambil menangis, dan mengakui kesalahan yang pernah dilakukannya, hati In Lee jadi lemas dan kemarahan dihatinya jadi mencair.

Segera ia membangunkan Cie Jiak dan disertai oleh perkataannya, “Cioe Ciecie, semuanya sudah lewat dan berlalu, janganlah menyinggung-nyinggungnya pula, karena tidak perlu kita mempercakapkan persoalan yang tidak ada artinya lagi itu, akupun memang tidak mengalami kecelakaan apa-apa, dan juga tidak jadi mati …
In Lee membimbing Cie Jiak untuk duduk berendeng disampingnya, kemudian dia membenarkan rambutnya yang agak kusut, disusul oleh kata-katanya, “Semula mukaku bengkak dan mengerikan sekali, tapi karena dahsyat pedangmu, darah yang mengandung racun telah mengalir keluar, bengkak mukaku lantas saja berangsur-angsur menjadi kempis dan lenyaplah bengkak dimukaku.” Sambil berkata begitu In Lee telah tersenyum ramah sekali, tidak memancarkan sikap permusuhan pula dengan Cie Jiak.

Hati Cie Jiak jadi terharu dan menyesal sekali, sehingga dia tidak mengetahui harus mengucapkan kata-kata apa untuk menyahuti perkataan In Lee, dan akhirnya Cie Jiak hanya berdiam diri saja.

“Aku bersama Cicu dan Cie Jiak waktu itu masih tinggal cukup lama diatas pulau karang itu,” kata Boe Kie memecahkan suasana hening itu. Setelah engkau keluar dari kubur, apakah engkau tidak melihat kami?”

Muka In Lee jadi berobah lagi, memancarkan kegusaran yang sangat, dan dia telah mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin.

“Hmmm, tidak melihat kalian?” tanyanya dengan suara yang sinis dan mengejek. “Justru aku yang tidak sudi menemui kau! Huh! Huh! Betapa mesranya, betapa sangat hangatnya dan penuh kasih sayang, bisik-bisikmu yang ditujukan kepada nona Cioe, tentu saja tidak dapat aku menyaksikan dengan hati yang dingin, dimana perasaanku terbakar oleh kemarahan dan
mendongkol. Hmm, bukankah disaat itu engkau berkata, “Selanjutnya aku akan lebih mencintaimu, lebih sayang dan memanjakanmu, mana bisa kubiarkan engkau menderita lagi … ! Huh, bukankah begitu kata-kata yang kauucapkan?” Dan sengaja In Lee meniru suara palsu Boe Kie waktu mengucapkan isi hatinya waktu dibuai cinta-kasih dengan Cie Jiak waktu berada di pulau karang dulu, lalu In Lee menyusul pula dengan meniru suara Cie Jiak, “’Apabila aku berbuat sesuatu yang salah, apakah engkau akan menghajar memaki dan membunuh?’ Dan disaat itu engkau pernah berkata lagi. ‘Sejak kecil aku telah kehilangan bimbingan orang tua, siapa berani menjamin pada suatu waktu aku tidak akan melakukan sesuatu yang khilap? Cie Jiak, engkau adalah isteriku yang sangat kucintai, melebihi dari diriku sendiri. Andaikata benar kau melakukan suatu kesalahan, betapapun aku takkan tega untuk menghukum dirimu dan biarlah sekarang ini Sang Rembulan menjadi saksi, alasan apapun juga aku tentu takkan tega untuk menghukummu.’ Bukankah begitu? Alangkah mesranya! Alangkah mesranya!”

Ternyata, semua percakapan yang begitu mesra antara Boe Kie dengan Cie Jiak waktu di pulau karang dulu itu telah didengar seluruhnya oleh In Lee, tentu saja muka Cie Jiak seketika berubah menjadi merah padam dan dia malu sekali, sehingga dia menundukkan kepala dalam-dalam.
Sedangkan Boe Kie juga sangat malu dan merasa kikuk sendirinya. Boe Kie berusaha untuk menguasai goncangan hatinya dan dia melirik kepada Tio beng, dimana dia melihat wajah gadis itu pucat pasi diliputi kegusaran yang sangat, maka dia mengeluarkan tangannya memegang tangan si gadis.

Diluar dugaan mendadak Tio beng membalikkan tangannya, dengan sengit kedua kuku jarinya panjang dan tajam itu telah menusuk ke punggung tangan Boe Kie.

Kaget dan kesakitan Boe Kie menarik pulang tangannya, dia hanya meringis dan tak berani bergerak atau menjerit.

Disaat itu In Lee telah mengeluarkan sepotong papan kayu dan diangsurkan kehadapan Boe Kie, disusuli dengan perkataannya yang dingin. “Lihatlah yang jelas, benda apakah ini ?”

Mata Boe Kie terpentang lebar-lebar mengawasi benda itu, hatinya kembali tergoncang keras karena ternyata diatas papan kayu itu terukir tulisan yang cukup dikenalinya. “Kuburan isteri ternyata In Lee alias Coe Jie, suami Tio Boe Kie.”
Itulah papan kuburan yang dibuat oleh Boe Kie didepan kuburan In Lee tempo hari waktu
berada dipulau karang.

Dengan sikap yang ganas dan bercampur perasaan mendongkol, In Lee telah berkata lagi, “Aku waktu itu telah merangkak keluar liang kubur dan melihat tulisan papan ini, aku jadi bingung karenanya. Aneh, jadi setan cilik Thio Boe Kie yang membuatnya . . . Sungguh membuatnya aku jadi tidak mengerti. Baru kemudian setelah mendengar percakapan kalian, aku baru mengerti duduknya persoalan … Rupanya Can A Goe itu sama dengan Thio Boe Kie dan Thio Boe Kie itu tidak lain dari pada Can A-Goe, setan cilik, selama itu engkau telah menipuku mentah2, memperdayakan diriku …” Setelah berkata begitu, dengan sengit In Lee menggebrakkan papan kayu itu, yang dikeprukkan diatas kepala Boe Kie.
“Pletak !” Papan itu pecah menjadi beberapa potong.

“Mengapa sedikit2 kau main pukul?” tegur Tio Beng gusar dan muka memancarkan perasaan tidak senang. “Mengapa tidak hujan tidak angin selalu main pukul seenakmu ?”

“Hahahaha,” tertawa In Lee dengan suara suara keras, mengandung ejekan dan sering sekali dia memperhatikan Tio beng telah berubah merah ketika dia berkata-kata, “Yang kupukul adalah dia, tapi kau yang merasa sakit, bukan?”

“Dia hanya mengalah. kepadamu, jangan engkau tidak kenal gelagat …” bentak Tio-beng tidak mau kalah dengan perasaan mendongkol dan suara yang sengit.

“Aku tak tahu gelagat ? Ya, ya sekarang aku tahu, tapi percayalah, engkau tidak perlu kuatir bahwa aku kelak akan saling rebut dengan kau memperebutkan Ciu Pat Koay ini,” kata In Lee sambil diiringi suara tertawanya yang keras. Di dalam batinku hanya terukir seorang yang pernah kukenal, yang sangat kucintai, yaitu Thio Boe Kie cilik yang pernah menggigit tanganku di Ouw Tiap Kok. Mengenai Ciu Pat Koay yang berada disini, baik ia bernama Can A Goe maupun dia menamakan dirinya Thio Boe Kie, aku tidak mau perduli. Sedikitpun aku tidak merasa senang ataupun mencintainya — lalu dia berpaling dan berkata dengan suara yang lemah lembut kepada Boe Kie. “Engko A Goe, selamanya kau sangat baik kepadaku, engkau memperlakukan aku selamanya dengan baik dan aku benar-benar sangat berterima kasih sekali …, namun sayang sekali hatiku sudah kuserahkan bulat-bulat kepada Boe Kie cilik yang kejam dan bengis itu, sedangkan engkau …. bu …. bukan dia. Engkau bukan Boe Kie cilik yang kucintai itu. . . !”

Tentu saja Boe Kie jadi heran. Sudah jelas dia adalah Thio Boe Kie, mengapa sekarang In Lee mengatakannya bahwa dia bukan Thio Boe Kie? Bukankah dia yang pernah menggigit tangan In Lee waktu di Ouw Tiap Kok dulu?

Dengan sorot mata yang ramah dan lembut sekali, In Lee menatapi Boe Kie dengan sikap termangu dan tertegun. Tiba-tiba saja sinar matanya dalam sekejap telah berobah bersinar sangat aneh, diiringi oleh kepalanya yang digeleng-gelengkannya.

“Engko A Goe, engkau tidak mengerti ketika digurun pasir didaerah barat dulu, engkau pernah sehidup semati dengan aku dan di pulau karang itupun engkau sangat setia dan berbakti, memperlakukan aku dengan sangat baik– – – – Yaa.. . kau adalah seorang anak yang baik! Hanya saja ingin kukatakan padamu bahwa hatiku sudah lama kuserahkan kepada si-Boe Kie cilik itu, maka aku ingin pergi mencarinya . . . aku ingin mencarinya . . .” Dan mata In Lee telah memandangi Boe Kie sejenak, lalu dia memutar tubuhnya dan melangkah perlahan-lahan dengan sikap yang lesu.

Mendadak saja Boe Kie tersadar. Rupanya yang benar2 dicintai Piauw moay nya itu adalah Thio Boe Kie dalam khayalan belaka, yaitu Boe Kie yang terukir dalam sanubarinya, didasar hatinya yang suci yang pernah dikenalnya di Ouw Tiap Kok dulu itu, tapi bukan Thio Boe Kie yang sebenarnya, yang kini berada dihadapannya. Ya, bukan Boe Kie yang berbudi pekerti baik dan bijaksana ini, tetapi adalah Boe Kie cilik, yang licik, yang bengis dan jahat itu.
Bermacam-macam perasaan yang saat itu muncul dihati Boe Kie dan dia hanya duduk tertegun saja memandangi bayangan Piauw moay yang pergi dengan langkah-langkah kaki yang lesu, yang lambat laun akhirnya lenyap dari pandangan matanya, tertelan oleh kegelapan sang malam.

Boe Kie juga yakin dan merasa kasihan kepada Piauw moaynya karena In Lee tentu akan tetap teringat kepada pemuda tanggung yang pernah dikenalinya di Ouw Tiap Kok itu dan pasti akan mencari Boe Kie ‘khayalan’ itu, sekalipun seumur hidupnya tidak akan berhasil dicapainya, tetapi itu bayang2 dari Boe Kie khayalan itu telah terukir dalam meresap didasar kalbu dan hatinya yang suci.

Cie Jiak menghela napas menyesal, dan dia jadi berpikir bahwa semua itu karena kesalahannya, sehingga dia membuat pikiran In Lee tidak waras ….
Tetapi Boe Kie malah berpikir lain.

“Dia memang memiliki pikiran yang kurang waras, itu adalah dosa dan kesalahanku yang tidak berampun! Kini dia merupakan gadis yang tidak normal alam pikirannya…!” Namun kalau dibandingkan dengan orang yang berotak waras, dia mungkin lebih bahagia dan senang.

Dan yang dipikirkan Tio beng berbeda lagi. In Lee telah muncul secara tiba-tiba dan telah pergi lagi begitu saja, hal ini telah membuat hatinya merasa lega. Tetapi bagaimana dengao Cioe Cie Jiak? In Lee tidak jadi mati. Cia Soen juga selamat tidak kurang suatu apa, kitab militer dalam To Liong To dan kitab silat dalam It Thian kiam sudah diberikan semua kepada Boe Kie, kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Cie Jiak beberapa saat yang lalu, kalau dinilai sekarang boleh dibilang sudah tidak memiliki arti apa-apa lagi. Sudah tentu Song Ceng Soe membinasakan Bok Seng Kok akibat jatuh cinta kepadanya namun itu adalah perbuatan Song Ceng Soe sendiri. Sebelumnya Cie Jiak sama sekali tidak tahu menahu akan peristiwa itu, juga tidak pernah meminta kepada Song Ceng Soe untuk melakukan perbuatan itu, terlebih lagi diantara dia dengan Boe Kie memang pernah ada ikatan tali perkawinan, diluar dari hubungan yang lainnya.

Setelab semuanya berdiam diri tenggelam dalam alam pikiran masing-masing, tiba-tiba Cie Jiak telah bangkit berdiri, sambil katanya. “Mari kita segera berangkat!”

“Berangkat kemana?” tanya Tio beng heran.

“Ke Siauw Lim Sie,” sahut Cie Jiak. “Tadi aku melihat Pheng Hweesio tergesa-gesa datang hendak mencari Kauwcoenya, rupanya di dalam Bengkauw terjadi sesuatu persoalan yang gawat sekali . . . “

Boe Kie jadi terkejut mendengar berita itu.
“Celaka, jangan aku terlalu melalaikan urusan besar agama, akibat tenggelam dalam persoalan pribadi,” berpikir Boe Kie dengan hati diliputi penyesalan. Maka segera dia mengajak Tio Beng dan Cie Jiak untuk berangkat.

Tidak berselang lama, merekapun tibalah di tempat tinggal rombongan Beng Kauw.

Memang Yo Cie Soe (Hoan Yauw). Pheng Eng Giok dan Yo Siauw serta yang lainnya tengah sibuk mencari-cari kemana perginya sang kauwcoe. Mereka jadi gembira dan bersyukur melihat Boe Kie telah kembali dalam keadaan sehat dan selamat.

Tetapi merekapun jadi heran waktu melihat Cie Jiak dan Tio Beng ikut dengan bersama Kauwcoe mereka.
Meiihat sikap rekan-rekannya itu memperlihatkannya sikap yang lesu dan tidak bersemangat, segera Boe Kie dapat menduganya bahwa talah terjadi sesuatu hal yang tidak baik.

Cepat-cepat dia bertanya. “Pheng Taisu, ada urusan apakah engkau mencariku?”

Sebelum Pheng Eng Gie menjawab, Cie Jiak segera menarik tangan Tio Beng, diajak menyingkir.
Tio Beng mengetahui maksud Cie Jiak, yang tidak mau mendengar rahasia dalam Beng kauw, dia mengikuti saja tanpa mengucapkan suatu apapun juga.
Yo Siauw dan Hoan Yauw menjadi terheran-heran melihat kelakuan kedua gadis itu. Dulu
waktu di Ho Cin, waktu sang Kauwcoe hendak menikah, keduanya itu saling cakar2an dan saling pukul2an, aneh sekali …. mengapa kini mereka tampaknya demikian rukun, bagaikan saudara kandung saja ! Entah dengan mempergunakan cara apa sang Kauwcoe telah berhasil merujukkan kedua gadis itu?

Setelah Cie Jiak dan Tio Beng pergi, Pheng Eng Giok lalu berkata, “Lapor kepada Kauw-coe, kita telah mengalami kekalahan besar di Ho Cioe, kita telah menderita kerugian yang sangat besar dan Han Sian Tong telah gugur.”

“Hah ?” berseru Boe Kie kaget dan berduka.
Kini pimpinan sementara didaerah dipegang oleh Coe Goan Ciang, kedua saudara Cie Tat dan Siang Gie It dan Co Cun juga telah pergi membantu, begitu pula Han lim jie”. Pheng Eng Giok melanjutkan laporannya. “Situasi agak penting, mohon Kauwcoe mengatur seperlunya”.

Segera Boe Kie menanyakan lebih jauh peristiwa yang terjadi di medan pertempuran akhir-akhir ini.

Waktu mereka tengah berunding tiba-tiba In Ya Ong telah datang dan berkata: “Lapor kepada Kauwcoe, Kay pang mengirimkan orang membawa berita bahwa si jahanam Ta Yoe Liang itu sudah diketahui jejaknya”.

“Di mana dia ?” tanya Boe Kie.
“Keparat itu ternyata telah berhasil menyelusup kedalam pasukan yang dipimpin saudara Cie Siu Hwe, kabarnya saudara Cie sangat percaya dan sayang kepadanya,” sahut In Ya Ong.

“Jika demikian, tentu kita yakin sulit untuk mengambil tindakan . . .” ujar Boe Kie. “Harap Koko mengirimkan orang untuk memberikan bisikan kepada saudara Cie, bahwa keparat Tan Yoe Liang itu sangat licik dan kejam, jangan-jangan akan timbul bibit bencana bila terlalu mempercayai dia maka paling baik jika bisa menjauhi dia …”

“Yang terbaik adalah sekali tabas membinasakan she Tan itu, urusan menjadi beres!” ujar In Ya Ong.
“Baiklah, urusan itu biar kuselesaikan,” kata In Ya Ong waktu melihat Boe Kie dan yang lainnya berdiam diri dalam keadaan bimbang.

Disaat itu tiba-tiba sekali datang kurir yang membawa surat kilat dari Cie Siu Hwee.

“Celaka, kita kena didahului dia – – – ” kata Yo Siauw mengerutkan alisnya.

Waktu Boe Kie membaca surat itu, ternyata merupakan sepucuk surat yang bunyinya sangat panjang lebar, dimana Cie Siu Hwee melaporkan bahwa Tao Yoe Liang telab mengakui berbuat dosa dan salah kepada sang Kauwcoe. Ia menyadarinya jika dosanya terlampau besar maka dia rela untuk masuk menjadi anggauta Beng kauw dan ia berjanji pula untuk merobah kesalahannya yang lalu dengan berjuang membantu Beng kauw, asalkan sang Kauwcoe memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbaikinya.

Boe Kie menyerahkan surat itu kepada Yo Siauw dan kemudian kepada semua rekan-rekannya untuk dibaca bergilir.

Kata Ya Ong kemudian, “Tjie Hiati terlalu pertjaja pada orang ini, kelak pasti akan merasakan akibatnja.”

“Ja, keparat Tan Yoe Liang ini benar-benar sangat litjin,” udjar Yo Siauw. “Tetapi kita mendjadi tidak enak membunuhnja sekarang, kuatir kalau-kalau menimbulkan salah paham pahlawan-pahlawan seluruh negeri.”

“Kata Yo Tjo-soe memang benar,” sahut Boe Kie. “Peng Taysoe, kau sangat akrab dengan Tjie Hiati. Sediakah kau mentjari kesempatan untuk menasihatinja agar waspada terhadap muslihatnja Tan Yoe Liang, dan djangan sekali-kali menjerahkan kekuasaan padanja.” Peng Eng Giok menerima tugas itu.

Namun Tjie Sioe Hwee kelak ternjata tidak memperhatikan nasihat itu, malah ia makin pertjaja pada Tan Yoe Liang hingga achir djiwanja melajang di tangan Yoe Liang. Setelah mendjalankan kudeta, Yoe Liang memimpin tentaranja ke pergerakan Beng-kauw di wilajah Barat dan bertempur sendiri dengan pasukan Beng-kauw di daerah Timur dan mengangkat dirinja sebagai Han Ong. Walaupun achirnja ia dikalahkan di Hoa-yang-ouw dan terbinasa, namun banjak pahlawan Beng-kauw telah mendjadi korban djuga.

Malamnja Boe Kie berunding lebih mendalam dengan Yo Siauw dan gembong-gembong Beng-kauw jang lain untuk membagikan tugas-tugas membantu pasukan-pasukan Beng-kauw di berbagai daerah. Ia sendiri sudah terlalu lama berpisah dengan Thio Sam Hong, maka sangat rindu kepada orang tua itu.

Besok harinja ia lantas mendahului berangkat ke Boe-tong-san bersama Tio Beng, Djie Lian Tjoe, Thio Siong Kee, dan Song Tjeng Soe. Djuga Tjioe Tjie Djiak ikut serta karena merasa berdosa berhubung pendurhakaannja Song Tjeng Soe itu, maka ingin pergi menerima hukuman dari Thio Sam Hong dan anak muridnja Goe-bie-pay lantas mengiringnja ke Boe-tong-san djuga. Djarak Siauw-lim-sie dengan Boe-tong-san tidak terlalu djauh, dan tidak beberapa hari sampailah mereka di perguruan indah itu. Boe Kie ikut Djie Lian Tjoe, In Lie Heng, dan Siong Kee ke dalam untuk menemui Thio Sam Hong, lalu memberi hormat djuga kepada Song Wan Kiauw dan Djie Thay Giam. Mendengar puteranja dibawa pulang, dengan geram Song Wan Kiauw meloloskan pedang dan memburu keluar. Boe Kie dan lainnja mendjadi serba salah, mentjegah salah, tidak salah, tidak mentjegah pun tidak benar. Segera mereka ikut keluar.

“Di mana binatang jang durhaka itu?” bentak Wan Kiauw setelah sampai di ruang depan. Ketika melihat sang puteranja merebah di atas usungan dengan kepala penuh dibalut kain putih, tanpa bitjara lagi pedangnja terus ditusukkan. Sesaat itu teringatlah dia dan mendadak tangannja terasa lemas, tusukan itu tidak tega diteruskan. Saat itulah dia teringat tjinta kasih antara ajah dan anak, hubungan baik sesama saudara seperguruan jaitu Boh Seng Kok almarhum. Sungguh ruwet dan katjau pikirannja.

Mendadak ia baliki pedangnja dan menusuk ke arah perutnja sendiri. Tapi sekali djambret Boe Kie dapat merampas pedang sang Soepek dengan Kian-koen Tay-lo-ie. Katanja, “Toasoepek, djangan begitu. Urusan ini biarlah diputuskan oleh Thay-soe-hoe sadja.”

Thio Sam Hong menghela napas, katanja, “Sungguh tidak beruntung, Boe-tong-pay kita terdapat murid durhaka seperti ini. Lebih baik tidak ada!” Terus tangannja bergerak, plak, dada Song Tjeng Soe telah dipukul sekali. Betapa hebatnja tenaga pukulan itu, tjikal-bakal Boe-tong-pay itu, seketika djuga isi perut Song Tjeng Soe hantjur lebur dan putus napasnja.

“Soehoe,” dengan menangis Song Wan Kiauw berlutut di hadapan sang guru, “Teetjoe tidak bisa mengadjar anak sehingga mengakibatkan kematian Tjit-tee. Sungguh Teetjoe merasa berdosa.”

Thio Sam Hong membangunkan murid tertua itu, sahutnja, “Ja, peristiwa ini memang ada kesalahanmu, maka Tjiangbun teetjoe Boe-tong-pay kita mulai hari ini kuserahkan pada Lian Tjoe. Kau boleh mentjurahkan pikiranmu untuk mejakinkan Thay-kek-koan-hoat. Tentang urusan umum perguruan kau tidak usah urus lagi.” Song Wan Kiauw menerima keputusan itu sambil mengutjapkan terima kasih. Menjaksikan betapa kerasnja Thio Sam Hong mengatur rumah tangganja, membinasakan Song Tjeng Soe dan memetjat Song Wan Kiauw sebagi achliwaris, semua orang mendjadi kesima.

Ketika Thio Sam Hong mengetahui hasil Eng-hiong-tay-hwee serta pergerakan Beng-kauw melawan tentara Mongol, ia sangat memberikan pudjian terhadap Boe Kie. Sedjak semula Tjie Djiak berdiri di samping, namun sekedjap pun Thio Sam Hong tidak memandangnja.

Sesudah majat Song Tjeng Soe dibawa pergi oleh petugas kuil, mendadak Thio Sam Hong meloloskan pedangnja Song Wan Kiauw, ia tuding Tjie Djiak dan berkata, “Nona Tjioe, sebagai ketua Go-bi-pay, sudah berapa banjak ilmu pedang Biat-tjoat Soe-thay jang jakinkan?”

“Apa jang dipahami Wanpwee tidak lebih banjak daripada tiga bahagian kepandaian Insoe,” sahut Tjie Djiak.

“Mendiang Kwee Lie-hiap mendirikan Go-bie-pay di Kang-ouw serta mendjadi orang baik-baik, tetapi kau hanja memiliki tiga bahagian daripada ilmu silat kepandaian Biat-tjoat Soe-thay, lalu berdasarkan apa kau mampu mengembangkan Go-bie-pay?” tanja Thio Sam Hong pula. “Kau telah memperoleh sedikit ilmu silat kedji dan malang-melintang mendjagoi Eng-hiong-tay-hwee, apakah selandjutnja anak murid Go-bie-pay akan beladjar djuga kepandaianmu jang kedji itu? Kwee Lie-hiap pernah menanam budi padaku. Biarpun aku sudah tua bangka, tidak rela djuga menjaksikan Go-bie-pay jang didirikannja itu hantjur begitu sadja.”

“Tegoran Thio Tjin Djin memang benar,” sahut Tjie Djiak. “Wanpwee sudah lama mengatur rentjana.”

“Rentjana apa?” tanja Sam Hong.

Tjie Djiak tidak mendjawab pertanjaan Thio Sam Hong, tetapi mendjadi berpaling ke arah Boe Kie, katanja, “Thio Kauw-tjoe, dahulu ketika kau menempur djago Lak-toa-pay di Kong-beng-teng, kalau tidak salah pernah kudengar kau mengatakan bahwa kau bukan anak murid Boe-tong-pay, betul tidak?”

Boe Kie tidak tahu hendak ke mana pertanjaan itu, namun sahutnja, “Mendiang ajahku adalah murid Boe-tong-pay, dan Thaysoehoe pernah mengadjarkan Thay-kek-koen-hoat padanja. Kalau tidak mengaku murid Boe-tong-pay, rasanja boleh djuga.”

“Pernah kudengar lagi, katanja gurumu jang pertama adalah Tjia Tayhiap. Dia adalah muridnja Koan-goan Pek-ek-djioe Seng Koen. Sedang Kioe-yang-sin-kang-mu adalah diperoleh dari kitab peninggalkan Tat-mo-tjow-soe. Kian-koen Tay-lo-ie Sim-hoat dipeladjari dari kitab wasiat Kauw-tjoe Beng-kauw jang lalu. Padahal orang persilatan kita paling mengutamakan perbedaan aliran mana jang kau anut.”

“Apa jang kupeladjari terlalu banjak dan ruwet kalau dibitjarakan. Ja, jang benar aku tidak termasuk anak murid sesuatu golongan,” sahut Boe Kie.

Segera Tjie Djiak tanja Thio Sam Hong, “Thio Tjin-djin, apa jang dikatakan ini betul tidak?”

Sam Hong mengangguk, sahutnja, “Ja, sesungguhnja memang sedemikian. Keadaan dia sangat djarang terdjadi di kalangan Boe-lim. Itu adalah karena banjak penemuan-penemuan aneh jang diperolehnja.”

Mendadak Tjie Djiak meloloskan potongan Ie-thian-kiam dari pinggangnja, tangan lain menarik rambutnja jang pandjang ke depan. Sekali tabas, putuslah rambut itu, ja rambut sebagai mahkota wanita. Para hadirin semuanja terperandjat dan bingung. Lalu berkatalah Tjie Djiak, “Dosaku terlalu besar. Sudah lama aku ada niatan memotong rambutku ini dan kembali kepada Buddha. Thio Kauw-tjoe, bukankah kau berdjandji padaku bahwa ada sesuatu permintaanku jang harus kaulaksanakan, betul tidak?”

“Betul,” sahut Boe Kie. “Tjuma …”

“Tjuma soal ini harus tidak mengingkari perbuatan kaum Hiapgie, menguntungkan pergerakan nasional, dan tidak merusak nama baik Beng-kauw dan pribadimu, bukan?” sela Tjie Djiak.

“Ja,” sahut Boe Kie. “Djika demikian halnja, permintaanmu pasti akan kulakukan.”

“Seorang lelaki sedjati, sekali berkata harus ditepati,” kata Tjie Djiak. “Apalagi di hadapan Thaysoehoe dan para paman guru, djanganlah nanti kaudjilat ludah sendiri.”

Melihat si gadis berbitjara dengan sungguh-sungguh serta memotong rambutnja sendiri, Boe Kie mendjadi terharu. Tanpa pikir lagi ia berkata, “Ja … si … silakan kau bitjaralah!”

“Thio Tjin-djin,” kata Tjie Djiak kemudian, “mohon pindjam pakai ruangan pendopomu sebentar.” Segera ia membuka rangselnja dan mengeluarkan dua potong Leng-pay (papan sembahjang). Jang sepotong tertulis “Tempat abu Tjikalbakal Go-bie-pay, Kwee Siang Lie-hiap” dan jang lainnja tertulis, “Tempat abu ketua Go-bie-pay angkatan ketiga, Biat-tjoat Soe-thay.” Dengan hormat Tjie Djiak meletakkan Leng-pay tersebut di atas medja sembahjang. Melihat itu, Thio Sam Hong bersama-sama Song Wan Kiauw, Thio Boe Kie dan lain-lainnja ikut memberi hormat, begitu pula seluruh anak murid Go-bie-pay. Kemudian Tjie Djiak meloloskan Tiat-tjie-goan atau tjintjin besi jang dipakainja dan berpaling kepada Boe Kie. “Thio Kauw-Tjoe, selaku Tjiang-bun-djin dari Go-bie-pay angkatan keempat, Tjioe Tjie Djiak, dengan ini menjerahkan djabatan ketua kepadamu.” Mendengar itu semua orang ternganga kaget. Maka terdengar Tjie Djiak menjambung lagi, “Tapi kau masih tetap merangkap mendjadi Beng-kauw Kauw-tjoe, dengan ini harapan, kau dapat mengembangkan golongan kita dan membangun Beng-kauw, memimpin para patriot untuk mengusir pendjadjah. Sedjak kini anak murid Go-bie-pay tunduk di bawah perintahmu semua.”

“He … ma … mana boleh djadi?” tjepat Boe Kie menjahut sambil gojang-gojangkan tangannja.

“Kenapa? Go-bie-pay adalah Kwee Lie-hiap jang mendirikan, dan djikalau kau diangkat mendjadi Tjiangbundjin, rasanja tidak merendahkan kau,” udjar Tjie Djiak.

Boe Kie mendjadi serba salah. Ia memandang Thio Sam Hong dengan sorot mata mohon pertolongan. Tak tersangka, Thio Sam Hong malah tertawa terbahak-bahak, katanja, “Nona Tjioe, kau benar-benar hebat. Melulu berdasarkan tindakanmu ini, tidaklah sia-sia Biat-tjoat Soe-thay menjerahkan di bawah tugasmu. Kalau Go-bie-pay diserahkan di bawah pimpinan Boe Kie, soal perkembangannja tak perlu diragukan lagi.”

Walaupun itu kedjadian di luar dugaan orang, tapi Boe Kie memang tidak termasuk salah satu golongan atau aliran. Kalau sekiranja ia menerima djabatan ketua Go-bie-pay, tidaklah melanggar peraturan Kang-ouw. Sebaliknja, hal itu memang besar manfaatnja bagi pergerakan nasional, jaitu persatuan. Begitu pula tidak merugikan nama baik Beng-kauw dan pribadinja sendiri.

Maka terdengar Thio Sam Hong berkata pula, “Anakku Boe Kie, djika kau sudah pernah berdjandji pada Nona Tjioe, apa jang telah kaudjandjikan djanganlah kauingkari.”

Lalu Tjie Djiak mengeluarkan sedjilid kitab tipis bersama potongan Ie-thian-kiam lalu diserahkan kepada Boe Kie, lalu katanja, “Ini adalah kitab inti ilmu silat Go-bie-pay kita jang ditulis sendiri oleh Kwee Lie-hiap. Harap kau terimakan dengan baik.”

Terpaksa Boe Kie menurut. Ia terima kitab adjaran silat Go-bie-pay dan kedua potongan Ie-thian-kiam dan tjintjin besi tanda Tjiangbundjin dari tangan Tjioe Tjie Djiak, lalu memberi hormat di hadapan Leng-pay. Menjusul Tjie Djiak memimpin anak murdinja Go-bie-pay memberi hormat pada Tjiangboendjin angkatan kelima jang baru. Begitu pula Thio Sam Hong dan jang lain-lainnja berturut-turut mengutjapkan selamat.

Sedjak itu Tjioe Tjie Djiak memotong rambut mendjadi nikoh (pendeta wanita) tidak mengurus soal-soal keduniawian lagi. Boe Kie lantas memperingatkan Tjeng Hoei memimpin anak murid Go-bie-pay kembali dulu ke Go-bie-san. Ia sendiri mohon diri dari Thio Sam Hong dan lain-lain menudju ke Ho-tjioe bersama Tio Beng untuk melakukan inspeksi atas pasukan-pasukan pergerakan Beng-kauw.

Sepandjang djalan beruntun-untun ia menerima berita-berita kemenangan serta mendengar di perbagai daerah lain banjak terdjadi pergolakan-pergolakan dari kaum patriot-patriot lain. Di daerah Keng Soh ada Thio Soe Seng, di daerah Tay Tjoe ada Poei Kok Tin jang meskipun tidak termasuk di bawah pandji Beng-kauw, tapi adalah pasukan kawan jang sama-sama melawan tentara Mongol. Dengan senang Boe Kie melandjutkan inspeksi bersama Tio Beng.

Melihat usaha pergerakan nasional banjak mendapat kemadjuan, rasanja pembesar tanah air sudah dekat pada tarap terachir. Ia pikir sebabnja usaha pergerakan itu bisa berhasil, sjarat utama ialah adanja persatuan nasional setjara terpimpin. Harap sadja selandjutnja seluruh negeri akan aman abadi, rakjat djelata hidup sedjahtera. Dengan begitu, barulah tidak pertjuma perdjoangan selama beberapa tahun ini. Karena tidak ingin bikin geger, maka sepandjang djalan ia tidak menemui pemimpin pasukan Beng-kauw, hanja dengan diam-diam menjelidiki dan melihat disiplin laskar-laskar Beng-kauw itu sangat baik dan tidak mengganggu rakjat. Di mana-mana terdengar suara pudjian atas kebidjaksanaan Djenderal Tjoe Goan Tjiang dan Panglima Tjie Tat dan Panglima Siang Gie Tjoen.

Suatu hari, sampailah ia di Ho-tjioe. Djauh-djauh Tjoe Goan Tjiang sudah kirim wakilnja, Theng Ho dan Teng Djie, untuk menjambut kedatangan sang Kauw-tjoe, karena dia sendiri lagi sibuk berunding dengan Tjie Tat dan Siang Gie Tjoen mengenai perkembangan di garis depan.

Malamnja, Theng Ho mengadakan resepsi meriah untuk menghormati kedatangan putjuk pimpinan itu dan sedjenak kemudian barulah Tjoe Goan Tjiang datang tergesa-gesa bersama beberapa perwira tinggi jang lain, terus memberikan sembah di hadapan sang Kauw-tjoe, meminta maaf atas keteledoran menjambut. Boe Kie tjepat membangunkan dan memudji kemenangan-kemenangan jang ditjapai di Ho-tjioe dan sekitarnja berkat gagah-beraninja Tjoe Goan Tjiang. Dengan sangat hormat, Tjoe Goan Tjiang menuang tiga tjawan arak berturut-turut untuk menuguh sang Kauw-tjoe, lalu menuguh pula kepada Tio Beng, kemudian mereka asjik membitjarakan perkembangan Beng-kauw dalam situasi medan perang jang sangat menguntungkan Beng-kauw itu.

Tiba-tiba tampak masuk Panglima Liauw Eng Tong tergesa-gesa, lebih dulu memberi hormat pada sang Kauw-tjoe, lalu membisiki Tjoe Goan Tjiang. “Sudah dapat menawannja? Bagus,” sahut Tjoe Goan Tjiang.

Saat itulah tiba-tiba terdengar suara teriakan penasaran orang di luar. Mendengar suaranja, segera Boe Kie mengenalinja sebagai Han Lim Djie. Ia mendjadi heran dan menanja, “Ada apakah atas dirinja Han Hiati?”

“Lapor, Kauw-tjoe,” sahut Tjoe Goan Tjiang. “Han Lim Djie telah bersekongkol dengan musuh, bermaksud memberontak, maka ia telah diringkus.”

“Hah … selamanja Han Hiati djudjur dan setia, mana bisa terdjadi begitu?” udjar Boe Kie kaget. “Lekas bawa dia ke sini. Biar kutanja sendiri padanja …” Belum selesai utjapannja, mendadak kepalanja terasa pusing, mata berkunang-kunang, menjusul gelap dan tak sadarkan dirinja lagi.

Waktu Boe Kie siuman kembali, terasa tangan dan kakinja telah diborgol orang dengan alat-alat belenggu jang sangat kuat. Keadaan sekitarnja gelap pekak. Sungguh terkedjut Boe Kie tak terkatakan. Untung terasa dadanja tersandar pada suatu badan jang lunak halus. Ternjata Tio Beng djuga diringkus bersama di situ, tjuma gadis itu belum lagi siuman. Memikir sedjenak, segera tahulah Boe Kie bahwa diam-diam Tjoe Goan Tjiang telah memberikan minuman jang ditjampur obat pulas pada mereka. Njatalah bahwa Djenderal kepertjajaannja itu telah menjeleweng. Sedikit menggerakkan tenaga, Boe Kie merasa kondisi badannja sedikit pun tidak berkurang, kekuatannja belum punah.

Tiba-tiba terdengar di kamar sebelah ada suara orang sedang berbitjara. “Tjoe Toako, babat rumput harus sampai ke akar-akarnja. Djangan kita tinggalkan bibit bentjana di kemudian hari.” Itulah suara Tjie Tat.

“Tapi bangsat ketjil ini adalah atasan kita. Djanganlah kita lupa budi dan ingkar kawan,” terdengar suara Tjoe Goan Tjiang menjahut.

Tiba-tiba terdengar suara Siang Gie Tjoen ikut berbitjara. “Djika Toako kuatir terdjadi apa-apa dalam pasukannja, ada lebih baik turun tangan setjara diam-diam agar tidak merugikan nama baik Toako.”

“Djika begitu pendapat saudara-saudara Tjie dan Siang, baiklah aku menurut,” sahut Tjoe Goan Tjiang. “Tjuma bangsat tjilik ini rada berdjasa bagi agama kita. Harap rahasia ini djangan sampai diketahui orang lain.”

Habis bitjara, ketiga orang itu lalu keluar kamar. Boe Kie menarik napas dingin. Ketika meraba pinggangnja, sjukur potongan Ie-thian-kiam masih ada. Segera ia gunakan ilmu Kian-koen Tay-lo-ie-hoat dan melolos pedang patah itu untuk memotong belenggu besi, lalu menjadarkan Tio Beng dan melarikan diri.

Sambil berdjalan, aneka matjam pikiran dan perasaan bergolak dalam benak Boe Kie. Pikirnja, “Kalau keparat Tjoe Goan Tjiang itu lupa budi dan mengkhianati, biarlah sudah. Tapi Tjie Tat dan Siang Gie Tjoen betapa erat hubungannja dengan aku. Mereka kini demi kedudukan dan kedjajaan sendiri djua rela mengkhianati aku. Mereka bertiga mempunjai tugas memimpin pasukan dalam menghadapi musuh pendjadjah. Kalau aku pergi membunuh mereka, mungkin pasukan pergerakan akan berantakan tak keruan. Memangnja aku Thio Boe Kie tidak pikirkan keuntungan pribadi. Wahai Tjie Toako dan Siang Toako, kalian terlalu memandang rendah padaku.”

Sampai di luar kota ia menulis surat setjara pandjang lebar. Ia serahkan djabatan Beng-kauw kepada Yo Siauw, tapi tentang apa jang sudah dialaminja di Ho-tjioe itu sehuruf pun tidak disinggung-singgung.

Sudah tentu ia tidak menjangka bahwa bangsat ketjil jang dimaksud oleh Tjie Tat dan Siang Gie Tjoen itu sebenarnja adalah Han Lim Djie. Adapun kedatangan Boe Kie di Ho-tjioe hakikatnja mereka berdua sama sekali tidak tahu-menahu. Semuanja itu hanja tipu-muslihatnja Tjoe Goan Tjiang belaka, soalnja karena Tjoe Goan Tjiang ingin mendjadi radja. Sebab bila pergerakan Beng-kauw itu berhasil, dengan sendirinja Boe Kie sebagai Kauw-tjoe akan diangkat mendjadi Kaisar. Maka sengadja ia minumkan obat tidur pada Boe Kie berdua, lalu mengatur sedemikian rupa agar pertjakapannja dengan Tjie Tat dan Siang Gie Tjoen dapat didengar oleh Boe Kie hingga dapat menimbulkan salah paham, putus asa, dan menjesal, lalu Boe Kie mengasingkan dirinja. Tjoe Goan Tjiang tjukup kenal kelihaian Boe Kie dalam hal ilmu silat. Untuk membunuhnja ia tidak berani. Kalau botjor muslihatnja, mungkin malah tjelaka bagi dirinja sendiri. Tapi berbitjara tentang ketjerdasan, soal tipu daja … ia kalah dengan ilmu silat tapi menang siasat atas Boe Kie. Ia kenal djiwa Boe Kie jang sangat patriotik, mengutamakan kepentingan negara atas segalanja. Hubungannja dengan Tjie Tat dan Siang Gie Tjoen bagaikan saudara kandung. Asal pertjakapan mereka itu kedengaran Boe Kie, pasti akan tinggal pergi oleh Boe Kie dengan diam-diam.

Ternjata apa jang direntjanakan oleh Tjoe Goan Tjiang itu berdjalan dengan lantjar. Boe Kie tertipu oleh muslihat Tjoe Goan Tjiang itu. Sedang soal Han Lim Djie bersekongkol dengan musuh, bermaksud memberontak, terang sadja hanja fitnahan belaka. Soalnja sedjak gugurnja Han San Tong, anak buahnja telah mengangkat Han Lim Djie sebagai pengganti ajahnja dan Tjoe Goan Tjian, Tjie Tat, dan Siang Gie Tjoen malah djadi bawahannja. Lalu Tjoe Goan Tjiang memalsukan surat bukti Han Lim Djie bersekongkol dengan musuh. Ia berhasil membeli pula orang kepertjajaan Han Lim Djie, pura-pura melaporkan hal itu kepada Tjie Tat dan Siang Gie Tjoen. Karena pertjaja Tjie Tat dan Siang Gie Tjoen berkeras akan membasmi Han Lim Djie, sebaliknja Tjoe Goan Tjiang malah berpura-pura mentjegahnja. Sesudah didesak berulang-ulang, barulah kemudian ia mengirimkan. Ia sengadja mengurung Boe Kie dan Tio Beng di kamar sebelah dan sengadja tidak merampas sendjata jang dibawa Boe Kie untuk memudahkan meloloskan diri baginja. Dan begitu Boe Kie sudah pergi, Tjoe Goan Tjian lalu perintahkan perwiranja Liauw Eng Tong menenggelamkan Han Lim Djie di dasar sungai.

Sekali tepuk dua laler. Muslihat Tjoe Goan Tjiang jang sangat kedji itu dan sedikit pun tidak diketahui orang lain. Kemudian walaupun muslihatnja itu diketahui djuga oleh Yo Siauw sebagai Kauw-tjoe, namun Tjoe Goan Tjiang sudah tumbuh sajap, kekuatannja sudah terpupuk. Lagipula Yo Siauw sudah tua, djelas tidak bisa merebut kedudukan Kaisar dengan dia. Achirnja tertjapailah tjita-tjita Tjoe Goan Tjiang mendjadi Kaisar, jaitu terkenal dengan gelar Beng-tay-tjauw, tjikal bakal Dinasti Beng dan bertachta dalam tahun 1368 berkuasa selama 31 tahun. Sedari berkuasanja Beng Tjauw sedjak bertachtanja Beng-tay-tjauw sampai runtuhnja mengalami berkuasanja 16 radja dan memakan waktu 276 tahun.

Ketika Beng-tay-tjauw naik di atas tachta, Radja Soe Tee dari Keradjaan Goan masih berdiam di sebelah utara. Dengan maksud memperkuat kedudukan dan mengedjar Radja Soen Tee, maka ditugaskannja Tjie Tat dan Siang Gie Tjoen memimpin pasukan ke sebelah utara ke Keradjaan Beng Kauw. Setelah seketika Radja Soen Tee wafat, maka Keradjaan Goan djadi terpetjah belah, sehingga keseluruh daerah termasuk dalam peta Beng-tiauw. Beng-tay-tjauw membagi-bagikan tanah-tanah daerah dan mengangkat anak-anaknja jang berdjumlah 20 orang lebih itu mendjadikan radja muda. Setelah binasanja Dinasti Beng, maka timbullah Dinasti Tjeng. Ini sekedar hikajat keradjaan Beng.

Kita kembali pada Boe Kie jang sudah menulis surat jang pandjang lebar untuk Yo Siauw itu. Tio Beng melihat mopit (pensil Tionghoa) di tangan Boe Kie jang masih basah dan belum diletakkan, sikapnja rada muram, maka katanja, “Koko Boe Kie, kau pernah berdjandji akan meluluskan tiga permintaanku. Soal pertama memindjamkan To-liong-to padaku, itu sudah tertjapai. Kedua, dilarang menikah dengan Nona Tjioe pun sudah kaulaksanakan. Dan kini tinggal jang ketiga, djangan kaulanggar djandji ja …?”

“Hah,” sahut Boe Kie terkesiap. “Aaaah … lagi-lagi … kau … akan mengeluarkan pikiranmu jang aneh-aneh lagi,” sahut Boe Kie penuh keheranan.

“Hi … hi … lutju … sekali ini tidak aneh lagi,” sahut Tio Beng ketawa geli melihat muka Boe Kie sedemikian. “Alisku ini terlalu tipis. Harap kau melukiskan tambahan dengan pensilmu itu jang masih kaupegang. Kau hal ini tidak melanggar peraturan Hiap-gie dan kaum Boe-lim bukan …?”

Boe Kie dari muram djadi tertawa geli, sahutnja, “Ada-ada sadja manisku, kau membuat aku kaget dan gembira. Baiklah, sedjak kini setiap hari aku … aku akan melukis alismu agar kelihatannja semakin tjantik … sajangku.”

Kedua muda-mudi itu tertawa penuh nada gembira dan bahagia.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: