To Liong To – 9

Sesudah jilid pertama, ia mulai mempelajari jilid kedua.

Karena saban-saban makan daging kodok merah dan buah tho luar biasa yang dibawa oleh si kera putih, maka baru saja ia mempelajari sebagian kecil dari jilid kedua, racun dingin didalam tubuhnya sudah terusir seanteronya. Menurut pantas, sesudah racun dingin menghilang, dimakannya terus daging kodok merah akan mengakibatkan lain keracunan. Tapi syukur berkat latihan Kioe Yang Cin Keng yang sudah agak maju, dan berkat buah tho yang mempunyai khasiat menolak racun, maka racun “panas” dari daging kodok bukan saja tidak membahayakan, tapi malah membantunya dalam mempercepat dimilikinya Sin kang.

Setiap hari, disamping belajar dan berlatih serta bermain2 dengan kawanan kera, Boe Kie memetik buah2an untuk menangsal perut dan saban kali mau makan, ia selalu membagi separuhnya kepada Coe Tiang Leng yang berdiam diluar terowongan. Ia hidup bebas dan riang gembira dan penuh kepuasan, tapi Coe Tiang Leng sendiri mengalami kesengsaraan yang tidak enteng. Dengan hidup atas belas kasihan Boe Kie, siang malam orang tua itu berdiam diatas “panggung” yang tertutup salju dan saban bertemu dengan musim dingin, hebatnya penderitaan sukar dilukiskan dengan kalam.

Sesudah berlatih dengan pelajaran jilid ketiga Boe Kie sudah tak takut lagi dengan hawa dingin. Kalau lagi gembira ia menerjun dan mandi didalam kolam dingin. Dengan mengalirnya hawa “tulen” diseluruh tubuh, begitu lekas kulitnya tersentuh air dingin, secara wajar tubuhnya lalu mengeluarkan tenaga menolak. Gigi kodok merah memang sangat tajam, tapi pada waktu itu, tajamnya gigi tak bisa melukai lagi badannya.

Tapi makin tinggi pelajaran Kioe Yang Cin Keng jadi makin sulit dan kemajuannyapun jadi makin perlahan. Untuk menyelami jilid ketiga, ia harus menggunakan tempo kurang lebih setahun. Sedang jilid yang terakhir, yaitu jilid keempat, memerlukan waktu dua tahun lebih.

Pada suatu malam Boe Kie membuka halaman terakhir dari jilid terakhir. Ia girang bercampur terharu. Sudah empat tahun lebih ia berdiam di lembah itu, dari bocah, ia sudah menjadi pemuda yang bertubuh jangkung. Selama itu, mungkin sekali di dalam dunia sudah terjadi perubahan perubahan besar yang tidak diketahui olehnya.

Dengan banyaknya memperoleh pengalaman pahit getir selama yang dirasakannya, maka penghidupan di lembah lebih nyaman bagi Boe Kie. Tidak ada hasrat untuk terjun ke dalam pergaulan, dimana Boe Kie mengganggap banyak manusia yang pandai berpura-pura dan ia lebih senang bergaul dengan kera kera yang umumnya mempunyai sifat yang polos, yang menyenangkan dan dapat diajak bermain sebagai kawan sejati.

Dengan Lweekang yang sangat dalam, Boe kie telah hidup dalam dunianya sendiri. Banyak masalah dan persoalan yang sesungguhnya mengganggu hatinya, sering Boe Kie terangsang oleh keinginan2 untuk terjun dalam dunia persilatan lagi, dalam dunia pergaulan, namun perasaan2 seperti itu ditindasnya. Dan banyak pula orang2 yang berkenan di hatinya yang memiliki budi kebaikan terhadap dirinya, tapi sayang sekali perasaan takut terhadap lingkungan pergaulan diantara manusia2 yang pandai berpura2 itulah yang menyebabkan Boe Kie akhirnya memutuskan untuk berdiam selamanya didalam lembah itu.

Demikian kisah Boe Kie kami tutup sampai disini untuk bagian kesatu. Untuk mengikuti perkembangan yang terjadi selanjutnya terhadap diri Boe Kie, pengalaman2 yang aneh dan luar biasa, dapat anda mengikutinya pada bagian kedua dari kisah Boe Kie, yang merupakan kelanjutannya.

Manusia memang sering mengalami peristiwa2 yang berlawanan dengan kehendak hatinya, berlawanan dengan keinginannya, bertentangan dengan kemauannya. Dan peristiwa2 yang terjadi itu memang sering kali terjadi diluar jangkauan dan kehendak manusia, sebab akhirnya harus diakui yang menentukan adalah Thian (Tuhan) yang maha kuasa.

Demikian juga yang terjadi di diri Boe Kie. Walaupun dia sesungguhnya bermaksud untuk hidup tenang tentram di lembah itu, hidup dengan penug bahagia, jauh dari sifat2 buruk dan berpura2 dari manusia2 yang pandai sekali bersandiwara dalam hidup ini, tetapi rupanya Thian menghendaki lain, sehingga akhirnya Boe Kie akan terlibat dalam beberapa peristiwa yang hebat, yang akhirnya memaksa Boe Kie harus menyerah terhadap keadaan, yang akhirnya akan memaksa Boe Kie harus mengakui bahwa manusia hidup di dunia ini memang harus bermasyarakat.

Seperti di ketahui oleh pembaca didalam kisah Boe Kie bagian kesatu, Boe Kie berada dilembah yang menyenangkan bagi hatinya, ditemani oleh kawanan kera2. kawanan kera itu merupakan sahabat yang menyenangkan, disamping itu merupakan kawan2 yang memiliki sifat2 yang masih murni dan polos, bebeda dengan manusia2 yang pernah dikenal oleh Boe Kie, yang pandai sekali berpura pura.

Dalam setengah tahun ini, kalau hatinya senang, Boe Kie sering mengikuti kawanan kera memanjat lereng gunung yang curam dan bermain2 disitu sambil memandang lembah2 yang berada jauh dibawah. Dengan memiliki kepandaian yang sekarang dimiliki, kalau mau dengan mudah ia akan dapat keluar dari kurungan itu. Ia dapat memanjat tebing2 yang tidak dapat dipanjat oleh lain manusia. Tapi ia justru tidak mau. Sesudah mendapat banyak pengalaman pahit getir dan bertemu dengan banyak manusia yang pandai berpura2, hatinya jadi dingin. “Perlu apa aku masuk lagi ke dalam dunia pergaulan untuk mencari kepusingan?” pikirnya. “Aku sudah merasa puas dengan hidup disini sampai hari tua.”

Hari itu dengan Lweekangnya yang sangat dalam, ia mengorek sebuah lubang yang dalamnya kurang lebih 3 kali di batu karang. Disamping mulut terowongan. Sesudah itu, ia membungkus keempat jilid Kioe Yang Sin Kang, In Keng dari Ouw Ceng Goe dan Tok Keng dari Ong Lan Kouw dengan menggunakan kain minyak yang dikeluarkan dari perut kera putih. Ia masukkan bungkusan kitab2 itu dalam lubang yang lalu ditutupnya dengan batu2 dan tanah. “Karena jodoh yang sangat luar biasa, aku mendapatkan kitab itu dari perut seekor kera, “ katanya dalam hati. “entah kapan dan entah siapa yang akan datang disini lagi dan menggali keluar kitab2 yang ditanam olehku.” Sambil mengerahkan Lweekang, ia segera menulis enam huruf diatas batu dengan jerijinya. “Tempat Thio Boe Kie menyimpan kitab.”

Selama belajar dan berlatih, karena repotnya. Ia sama sekali tidak merasa kesepian. Tapi pada malam itu, sesudah menyelesaikan pelajaran dengan hasil yang gilang gemilang, ia merasa suatu kekosongan dalam hatinya dan ingin sekali bertemu dengan seorang manusia lain untuk beromong2. “disini waktu aku boleh tak usah takuti Coe Peh peh,” pikirnya. “biar sekarang aku coba menemui dia.” Memikir begitu, ia lantas saja melompat naik ke lubang terowongan dan berlutut untuk mencoba merangkak masuk. Tapi lubang itu ternyata terlalu kecil untuk badannya. Pada empat tahun yang lalu, ia baru berusia lima belas tahun dan tubuhnya masih kurus kecil. Tapi sekarang dalam usia 19 tahun, ia telah menjadi seorang dewasa dan badannya sudah berubah banyak. Tapi Boe Kie, sesudah mendalami Kioe Yang Cin Keng, dapat diatasi olehnya. Ia segera menarik nafas dalam2 dan mengeluarkan ilmu Siok Koet Kang (ilmu mengerutkan tulang2). Dengan ilmu itu, daging dan otot2 antara tulang2 mengerut, sehingga tulang2nya dapat dikatakan berkumpul menjadi satu. Dengan demikian dia dapat masuk kedalam terowongan.

Waktu ia tiba dimulut terowongan, Coe Tiang Leng sedang tidur pulas sambil bersandar di sebuah batu besar. Ia menepuk pundak orang tua itu lantas saj tersadar. Bukan main kagetnya Coe Tiang Leng. Ia melompat bangun dan sambil mengawasi Boe Kie dengan mata membelalak, ia berkata dengan suara terputus putus. “Kau…kau”.

“Coe Peh Peh,” kata Boe Kie seraya tersenyum. “Benar, aku Boe Kie”.

Coe Taing Leng kaget tercampur girang, mendongkol tercampur benci. Sesudah mengawasinya beberapa lama, barulah ia berkata pula, “kau sudah besar sekali. Hm….Mengapa selama bertahun2, kau tak pernah keluar biarpun aku memohon berulang2?”

Sebab takut dipukul olehmu,” jawabnya. Mendadak Coe Tiang Leng menyambar pundak Boe Kie dengan gerakan Kin na cioe. “Sekarang kau tak takut lagi?” bentaknya. Tiba2 ia merasa telapak tangannya panas, lengannya bergemetar dan ia terpaksa melepaskan cengkramannya. Tapi walaupun begitu, dadanya sakit dan menyesak. Ia mundur beberapa tindak dan berkata dengan suara parau. “Kau.. ilmu apa itu?”

Sesudah memiliki Kioe yang sin kang, inilah untuk pertama kalinya Boe Kie menjajalnya. Ia sendiri baru tahu hebatnya ilmu tersebut. Dengan hanya menggunakan dua bagian tenaga, Coe Tiang Leng seorang ahli silat kelas satu sudah dapat dijatuhkan. Kalau ia mengerahkan seluruh tenaga mungkin sekali lengan orang tua itu sudah menjadi patah. Ia girang bukan main dan sambil mengawasi muka si tua, bertanya seraya tersenyum, “Coe Pehpeh, bagaimana pendapatmu? Apa ilmuku cukup lihay?”

“Ilmu apa itu?” Coe Tiang Leng mengulangi pertanyaannya.

“Akupun tak tahu, mungkin Kioe yang Sin kang,” jawabnya.

Coe Tiang Leng terkesiap. “Bagaimana kau bisa mendapat ilmu itu?” tanyanya pula.

Boe Kie berterus terang. Ia segera menceritakan cara bagaimana ia mendapat kitab luar biasa itu dari perut seekor kera dan cara bagaimana ia kemudian mempelajarinya dan melatih diri.
Penuturan itu sudah membangkitkan rasa jelus dan gusar dalam hati si tua. “Empat tahun lebih aku menderita hebat di puncak ini, tapi setan kecil itu sudah dapat mempelajari sinkang yang tiada tandingannya di dunia,” pikirnya. Dia sama sekali tak ingat bahwa segala penderitaannya itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Tapi sebagai manusia palsu ia bukan saja dapat menindih amarahnya, tapi juga bisa melihatkan muka berseri-seri. Dimana adanya kitab itutanyanya sambil bersenyum. “Apa boleh kulihat?”

“Boleh,” jawabnya. Ia menganggap, bahwa biarpun bisa melihat, si tua takkan bisa menghafalisi kitab dalam tempo cepat. “Tapi aku sudah memendamnya di dalam lubang, besok saja aku membawanya kemari.”

“Kau sudah begini besar, bagaimana kau bisa keluar dari lubang yang sempit itu?” tanya pula Coe Tiang Leng.

“Lubang itu sebenarnya tak terlalu sempit,” kata Boe Kie. “Dengan mengerutkan badan dan menggunakan sedikit tenaga aku bisa lewat.”

“Apa akupun dapat lewat disitu?” tanya si tua dengan mata menyala. “Bagaimana pendapatmu? Apa bisa?

Boe Kie manggut2 kan kepalanya. “Kurasa dapat” jawabnya. “Besok boleh mencoba. Sesudah melewati terowongan terdapat sebuah lembah yang besar dan indah dengan bebuahan yang dapat menangsal perut”. Ia tahu bahwa dengan tenaga sendiri, Coe Tiang Leng tak akan bisa lewat di terowongan itu. Tapi melihat sikap si tua yang sangat manis dan penuh dengan rasa menyesal ia jadi kasihan lantas saja ambil keputusan untuk memberi bantuan. Ia merasa, bahwa dengan menggunakan sinkang akan dapat menggencet tulang pundak dada dan pinggul si tua supaya bisa lewat di terowongan yang sempit.

“Saudara kecil, kau sungguh baik,” kata si tua. “Seorang koencoe memang tidak menaruh dendam. Aku pernah melakukan perbuatan yang sangat tidak pantas terhadapmu dan kuharap kau suka memaafkan”. Seraya berkata begitu, ia menyoja seraya membungkuk.

Buru-buru Boe Kie membalas hormat. “Coe pehpeh jangan kau memakai terlalu banyak peradatan,” katanya. “Besok kita bersama-sama mencari daya upaya untuk keluar dari kurungan ini.”

Coe Tiang Leng jadi sangat girang. “Apakah masih ada jalan untuk keluar dari sini?” tanyanya.

“Kawanan kera bisa keluar masuk dan kitapun pasti bisa” jawabnya.

Untuk beberapa saat Coe Tiang Leng mengawasi Boe Kie. “Tapi… tapi mengapa kau tidak coba meloloskan diri terlebih siang dan menunggu sampai sekarang?” tanyanya.

Boe Kie bersenyum, “Sebegitu jauh aku tidak berani coba keluar dari sini karena kuatir dihina orang lagi,” jawabnya. “Tapi sekarang mungkin aku tak perlu berkuatir lagi. Di samping itu akupun ingin menengok Thaysoehoe, para Soepeh dan Soesiok.

Si tua berkakakan dan sambil menepuk-nepuk tangannya. “Bagus! Bagus!” Sambil menunjuk kegirangannya ia mundur satu dua tindak. Mendadak kakinya menginjak tempat kosong. Tubuhnya limbung dan.. jatuh ke bawah!

Boe Kie mencelos hatinya. Ia melompat ke pinggir tebing dan berteriak, “Coe pehpeh! Coe pehpeh..!”

Dari bawah terdengar suara rintihan perlahan. Boe Kie girang. Ia mendapat kenyataan bahwa Coe Tiang Leng jatuh di atas sebuah pohon Siong yang terpisah hanya beberapa tombak dari atas tebing. Si tua rupanya mendapat luka yang agak berat, karena badannya rebah di cabang tanpa bergerak. Dengan kepandaian yang sekarang dimilikinya, ia dapat menolong orang tua itu. Dengan mudah ia bisa melompat turun dan kemudian melompat naik dengan mendukung tubuh si tua. Demikianlah, sambil menyedot napas panjang-panjang, ia melompat turun ke arah cabang yang sebesar lengan.

Tak dinyana, pada waktu telapak kakinya hanya terpisah kira-kira setengah kaki, cabang itu mendadak jatuh ke bawah! Meskipun memiliki Sin-kang yang luar biasa, Boe Kie adalah seorang manusia biasa dan bukan seekor burung yang bisa terbang kian kemari di tengah udara. Ia terkesiap dan badannya terus meluncur ke bawah..!

Di lain detik, selagi tubuhnya melayang jatuh, ia tersadar. “Celaka sungguh! Sekali lagi aku diakali oleh bangsat tua Coe Tiang Leng! Cabang itu dipegang olehnya dan pada saat aku hampir hinggap di atasnya, ia lalu melepaskannya”. Tapi sadarnya sudah terlambat.

Memang benar jatuhnya Boe Kie adalah akibat permainan gila dari si tua. Sesudah berdiam empat tahun lebih di atas “panggung” itu, dia mengenal setiap pohon, setiap rumput dan setiap batu di sekitar tempat itu. Dengan berlagak jatuh dan berlagak terluka, ia sudah menghitung pasti bahwa Boe Kie yang hatinya lemah akan coba menolong dan benar saja akal busuknya telah berhasil.

Ia tertawa terbahak-bahak dengan girangnya dan kemudian lalu naik ke atas dengan memanjat sebatang oyot yang terdapat pada siong itu. “Dahulu aku gagal untuk menembus terowongan itu,” katanya dalam hati. “Mungkin tulangku patah karena aku terburu nafsu dan menggunakan tenaga terlalu besar. Badan setan kecil itu banyak lebih besar daripada tubuhku, tapi ia bisa keluar masuk. Kalau dia besar akupun bisa. Sesudah mengambil Kioe-yang Cin keng aku bisa mencari jalan pulang dari lembah itu. Perlahan lahan aku akan mempelajari isi kitab dan melatih diri, sehingga aku menjadi seorang ahli silat yang tiada tandingannya dalam dunia ini. Ha..ha..! Ha ha ha…!

Makin dipikir, ia jadi makin girang dan dengan bibir tersungging senyuman, ia masuk di terowongan itu. Sesudah merangkak beberapa lama, ia tiba di bagian terowongan di mana pada empat tahun berselang, tulangnya patah. Dalam usahanya untuk menerobos terowongan itu, dalam pikiran Coe Tiang Leng hanya dikuasai oleh suatu pendapat yaitu; Boe Kie bertubuh lebih besar daripadanya, sehingga kalau Boe Kie bisa, iapun bisa. Pendapat itu pada hakekatnya tidak salah. Tapi ada sesuatu yang tidak diketahui olehnya. Ia tak tahu bahwa sesudah menyelami Kioe yang Cin keng, Boe Kie mempunyai serupa ilmu luar biasa, yaitu Siok koet kang, yang dapat mengkerutkan tulang-tulang.

Sambil mengerahkan jalan pernafasannya, sejengkal demi sejengkal ia merangkak maju. Dengan tidak banyak susah, ia bisa maju kira2 setombak lebih jauh daripada tempat terdahulu. Tapi sampai di situ, ia mandek. Sesudah mengeluarkan banyak tenaga, ia tetap tidak bisa maju.

Ia mengerti, bahwa jika menggunakan tenaga Lweekang, hasilnya akan bersamaan dengan kejadian pada empat tahun berselang dan tulangnya bakalan patah lagi. Maka itu, sesudah mengasah otak, ia segera melepaskan sisa hawa yang terdapat di dalam dadanya. Benar saja badannya lebih kecil dua dim dan ia bisa maju kira kira tiga kaki. Sampai di situ, ia mandek lagi karena lubang yang terbuka masih terlalu kecil untuk tubuhnya yang sudah sangat diperkecil. Lebih celaka lagi, karena di dalam dada sudah ada hawa udara, ia merasa sesak nafas dan jantungnya berdebar keras. Di lain saat, kedua matanya berkunang-kunang.

Ia mengenal bahaya. Ia segera mengambil keputusan untuk mundur.

Tapi… ia ternyata tak bisa mundur lagi!

Waktu maju ia bisa menggunakan tenaga dengan bantuan kedua kakinya yang menendang dinding batu yang tidak rata. Tapi dalam usahanya untuk mundur kembali, ia tak punya pegangan yang dapat digunakan untuk meminjam tenaga. Kedua tangannya yang diluncurkan ke depan hampir tergencet di antara dinding terowongan sehingga tidak bisa memberi bantuan apa jua.

Sekarang, barulah si tua ketakutan. Ia tahu bahwa ia akan mati konyol. Keringat dingin membasahi pakaiannya. Ia bingung bercampur heran bercampur takut. “Mana bisa begini?” tanyanya di dalam hati. “Badan bocah itu lebih besar daripada badanku. Mengapa dia bisa aku tidak bisa? Mana bisa begitu?”

Ya! Dalam dunia ini memang banyak hal yang aneh-aneh.

Demikianlah, Coe Tiang Leng yang pintar dan Boen boe song coan (pandai ilmu surat dan ilmu silat) tergencet di lubang, maju tak dapat, mundurpun tak bisa.

Di lain pihak, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, Boe Kie terus melayang ke bawah. “Boe Kie…! Boe Kie…!” ia mengeluh. “Kau sungguh tolol. Kau sudah tahu Coe Tiang Leng manusia licik, tapi toh kau masih juga kena diperdayai. Boe Kie..! kau memang pantas mampus diakali orang!”

Sambil menyesali diri sendiri, ia berusaha untuk menolong jiwanya. Ia menggerakkan tenaga dan melompat ke atas untk memperlambat kecepatan jatuhnya. Tapi mana ia bisa berhasil. Dengan tubuh di tengah udara, tanpa sesuatu yang dapat digunakan untuk landasan, badannya terus meluncur ke bawah dengan dahsyatnya. Di lain saat ia merasa matanya sakit karena tertumbuk dengan sinar salju di atas bumi.

Bagi Boe Kie detik itu adalah detik yang memutuskan detik antara mati dan hidup. Pada detik itu ia melihat gundukan salju. Tanpa memikir panjang panjang lagi, tanpa menghiraukan benda apa yang diliputi salju itu, ia segera mengerahkan Lweekang dan menjungkir balik ke arah tumpukan salju. “Blus!” kedua kakinya menjeblos dan dengan berbareng ia mengerahkan Kioe yang Sin kang untuk melompat ke atas dengan meminjam tenaga berbalik dari tumpukan salju itu. Tapi tenaga jatuhnya dari tempat yang begitu tinggi dahsyat bukan main, lebih dahsyat dari tenaga yang dikerahkannya. Ia merasakan kesakitan hebat karena kedua tulang betisnya telah patah dengan berbareng.

Walaupun terluka hebat, otaknya masih terang. Ia mendapat kenyataan bahwa ia jatuh di tumpukan rumput dan kayu bakar. “Sungguh berbahaya!” pikirnya. “Kalau lapisan salju terdapat batu-batu besar, jiwaku tidak bisa tertolong lagi.

Dengan menggunakan kedua tangan, perlahan-lahan ia merangkak keluar dari tumpukan rumput itu dan merebahkan diri di atas tanah yang tertutup salju. Sesudah memeriksa lukanya, ia menarik nafas panjang2 dan lalu menyambung tulangnya yang patah. “Tanpa bergerak, paling sedikit aku memerlukan tempo sebulan untuk bisa berjalan lagi, katanya dalam hati. “Tapi selama itu, dari mana aku bisa mendapat makanan untuk menangsal perut?” Ia tahu, bahwa tumpukan rumput itu adalah miliknya seorang petani sehingga tempat itu mesti terdapat rumah orang. Semula ia ingin berteriak untuk meminta pertolongan. Tapi ia mengurungkan niatnya karena mengingat, bahwa di dalam dunia terdapat banyak manusia jahat, sehingga jika teriakannya memancing kedatangan seorang jahat ia bisa jadi lebih celaka lagi. Memikir begitu, ia segera mengambil keputusan untuk rebah terus di situ sambil menunggu tersembuhnya pula tulang-tulang yang patah.

Tiga hari telah lewat. Makin lama rasa lapar menerjang kian hebat. Tapi ia tetap tidak berani bergerak, sebab sekali bergerak ia bisa jadi seorang pincang seumur hidupnya. Maka itulah, ia terpaksa menelan salju untuk menangsal perutnya yang keroncongan. Selama tiga hari itu, berulang-ulang ia berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati, supaya tidak sampai kena diakali oleh orang jahat.

Pada hari keempat, diwaktu malam selagi ia melatih diri dengan mengerahkan Kioe yang sin kang, kupingnya tiba2 menangkap suara menyalaknya anjing. Makin lama suara itu jadi makin dekat dan didengar dari suaranya, mungkin sekali beberapa ekor anjing tengah menguber binatang buas. “Apakah anjing2 itu miliknya Kioe Tien cie?” tanyanya dalam hati. “Semua anjing Tin cie sudah dibinasakan oleh Coe pehpeh, tapi sesudah berselang beberapa tahun, ia bisa mendidik anjing-anjing baru.”

Ia memasang kuping dan mengawasi ke arah suara itu. Tak lama kemudian ia lihat bayangan seorang yang lari bagaikan terbang dengan diuber oleh tiga ekor anjing. Orang itu kelihatannya sudah lelah sekali, tindakannya limbung, tapi dalam ketakutan, ia lari terus dengan mati-matian. Boe Kie bergidik karena ia ingat pengalamannya pada beberapa tahun yang lalu.

Ia ingin sekali memberi pertolongan, tetapi tak dapat sebab tulang betisnya belum tersambung. Di lain saat, ia mendengar teriakan menyayat hati dari orang itu yang roboh di tanah dan diterkam oleh pengejar-pengejarnya.

“Anjing bangsat! Kemari kamu!” teriak Boe Kie dengan gusar.

Anjing2 itu ternyata mengerti omongan manusia. Dengan serentak mereka tinggalkan si korban dan menghampiri Boe Kie. Begitu mengetahui bahwa pemuda itu adalah seorang yang tidak dikenal, mereka segera menyalak dan menubruk. Buru buru Boe Kie mengerahkan Sin kang yang memang ingin dijajalnya. Dengan telunjuk, bagaikan kilat ia menotok hidung ketiga binatang itu, yang tanpa bersuara lagi roboh binasa. Boe Kie kaget sebab baru sekarang ia menginsyafi lihaynya Kioe-yang Sin kang. Mendengar rintihan perlahan dari orang yang barusan digigit anjing, Boe Kie segera bertanya, “Saudara, apa kau terluka berat?”

“Aku… aku… tak bisa ditolong lagi…” jawabnya.

“Tulang betisku patah, aku tak dapat mendekati kau,” kata Boe Kie. “Coba kau kemari, aku mau periksa lukamu.”

Dengan nafas tersengal-sengal orang itu merangkak ke arah Boe Kie. Tapi baru maju beberapa langkah, ia roboh dan tak bisa bergerak lagi.

“Toako, di bagian mana kau terluka?” tanya Boe Kie.

“Di dada… di perut…” jawabnya dengan suara lemah.

Boe Kie kaget, sebab didengar dari suaranya orang itu tidak akan bisa mempertahankan diri lagi. “Mengapa Toako diserang kawanan anjing bangsat itu?” tanyanya pula.

“Malam ini… aku… aku keluar untuk memburu babi hutan yang sering mengganggu tanamanku,” ia menerangkan. “Secara kebetulan aku bertemu dengan seorang wanita dan seorang pria yang sedang beromong-omong di bawah pohon…Hai…” ia tidak bisa meneruskan perkataannya lagi, tubuhnya tidak berkutik lagi.

Boe Kie lantas saja menduga, bahwa wanita dan pria itu adalah Coe Kioe Tin dan Wie Pek yang mengadakan pertemuan rahasia di tengah malam buta. Mengingat kekejaman wanita itu, darahnya lantas saja meluap.

Kesunyian malam kembali meliputi lembah yang dingin itu.

Sekonyong-konyong di sebelah kejauhan terdengar suara tindakan kuda, disusul dengan teriakan memanggil-manggil dari seorang wanita. Jantung Boe Kie memukul keras, karena ia segera mengenali suara Kioe Tin yang sedang memanggil2 anjing-anjingnya. Boe Kie segera bersiap sedia sebab suara tindakan kuda itu mendatangi ke arahnya. Tak lama kemudian, dua penunggang kuda, satu wanita dan satu pria, sudah tiba di situ. Dugaan Boe Kie ternyata tepat, mereka itu adalah Coe Kioe Tin dan Wie Pek.

“Ih! Mengapa ketiga Peng see Ciangkoen binasa semua?” kata si nona dengan suara heran.

Wie Pek melompat turun dari tunggangannya. “Ada dua orang mati di sini!” katanya heran.

Boe Kie siap sedia. “Kalau dia bergerak, aku turun tangan lebih dahulu,” pikirnya.

Melihat korban itu yang mendapat luka-luka berat dan Boe Kie yang pakaiannya compang camping dan rebah tanpa berkutik, Kioe Tin segera menarik kesimpulan bahwa mereka kedua-duanya sudah binasa digigit anjing. Ia mengadakan pertemuan itu untuk bersuka-sukaan dengan Wie Pek dan ia tak mau berdiam lama-lama di tempat yang dapat merusak suasana. Maka itu, ia lantas saja berkata, “Piawko, hayolah! Sebelum mati, mereka melawan mati-matian dan sudah membinasakan ketiga anjing itu.” Seraya berkata begitu, ia mengedut les kuda yang dikaburkan ke jurusan barat. Wie Pek sebenarnya merasa sangat heran dan menyelidiki lebih jauh. Tapi karena kecintaannya sudah berlalu, maka buru-buru ia melompat ke atas punggung tunggangannya untuk menyusul si cantik.

Sayup2 Boe Kie mendengar suara tertawanya Kioe Tin. Tiba2 ia dihinggapi perasaan muak dan gusar terhadap nona itu. Ia sendiri merasa heran. Empat tahun yang lalu, ia memuja Coe Kioe Tin seperti memuja seorang dewi. Andaikata ia diperintah memanjat gunung golok atau masuk ke dalam kuali minyak mendidih, ia pasti akan menurut tanpa bersangsi. Tapi sekarang, entah mengapa pengaruh si nona atas dirinya tiada bekas2nya lagi. Di dalam hati kecilnya ia menduga-duga bahwa perubahan itu sudah terjadi berkat latihan Kioe yang kang. Ia tak tahu, bahwa hal itu adalah kejadian lumrah bagi seorang lelaki yang baru berangkat besar. Pada masa akil balig, rasa cinta dari seorang lelaki terhadap orang perempuan cepat panasnya dan cepat pula dinginnya. Sesudah lewat beberapa lama pikirannya berubah sering2 mentertawai dirinya sendiri, mengapa dulu ia begitu gila. Kejadiannya ini sedikit banyak sudah dialami oleh setiap orang lelaki.

Pada keesokan harinya, seekor elang yang melihat mayat manusia dan bangkai binatang, terbang berputaran di angkasa. Beberapa saat kemudian, dia menyambar ke bawah untuk mematok makanannya. Tapi elang itu bernasib sial. Bukan mayat yang disambar, tapi Boe Kie yang dikira mayat. Dengan sekali menggerakkan tangan Boe Kie sudah mencekal leher elang itu yang lalu dibinasakan. Langit menaruh belas kasihan dan sudah mengantarkan sarapan pagi, pikirnya dengan rasa girang. Ia lalu mencabut bulu burung itu dan makan dagingnya. Biarpun mentah, ia memakannya dengan bernafsu, karena sudah berhari-hari perutnya menahan lapar.

Belum habis daging elang yang pertama, elang kedua sudah menyatroni. Dengan begitu, ia tidak kekurangan makanan untuk menangsal perut. Hari lewat hari ia rebah disitu sambil menunggu bersambungnya tulang. Untung juga karena hawa yang sangat dingin, mayat dan bangkai manusia yang mengawaninya tak menjadi rusak. Karena sudah biasa hidup menyendiri maka hari2 itu telah dilewatkannya tanpa terlalu penderitaan.

Pada suatu lohor, sesudah melatih Lweekang ia melihat dua ekor elang yang terbang berputaran terus menerus di angkasa tanpa berani turun. Tiba2 salah seekor menyambar ke bawah menyambar ke arahnya. Tapi dia tak menyambar terus. Waktu terpisah kira-kira tiga kaki dengan Boe Kie, elang itu mendadak berbelok dan terbang ke atas lagi dengan suatu gerakan yang lincah dan indah sekali.

“Aha, gerakan itu dapat dipergunakan dalam ilmu silat,” kata Boe Kie dalam hatinya. “Serangan cepat sehingga lawan sukar dapat menangkisnya dan kalau serangan itu gagal, gerakan mundurnya pun tak kurang cepatnya sehingga musuh takkan bisa mengundak.”

Sebagaimana diketahui, Kioe yang cin keng adalah kitab yang mengutamakan pelajaran latihan tenaga dalam. Dalam kitab itu tidak terdapat pelajaran jurus-jurus dan tipu-tipu silat. Maka itulah, biarpun sudah berlatih Kioe yang Cin keng, waktu diserang Kak wan tak tahu cara membela diri. Perlawanan Thio Koen Po (belakangan dikenal sebagai Thio Sam Hong) terhadap In Kek See juga berkat empat jurus silat yang didapatnya dari Sin Tiauw Tayhiap Yo Ko. Tapi Boe Kie agak berlainan daripada Kak wan dan Thio Sam Hong. Sedari kecil, ia sudah belajar ilmu silat. Akan tetapi jika ia ingin melebur Lweekang tertinggi yang telah dimilikinya dalam ilmu-ilmu silat, ia tak akan bisa melakukannya di dalam waktu yang pendek. Maka setiap kali melihat jatuhnya bunga, menjulangnya cabang pohon ke angkasa, gerak-gerik binatang atau burung, ataupun perubahan angin, ia lantas ingat jurus-jurus silat yang dapat digubah daripada contoh-contoh itu.

Ia terus mengawasi kedua elang itu dan mengharap-harap agar mereka menyambar lagi seperti tadi.

Tiba2 kupingnya menangkap suara tindakan manusia di atas salju. Tindakan itu enteng dan lincah, seperti tindakan wanita. Ia memutar kepala dan mengawasi ke arah suara itu. Benar saja yang sedang mendatangi adalah seorang wanita yang tangannya menenteng sebuah keranjang kecil.

Melihat mayat dan bangkai binantang, wanita itu merandek dan mulutnya mengeluarkan seruan kaget. Ia seorang wanita muda yang kira2 tujuh belas atau delapan belas tahun. Dilihat pakaiannya yang terbuat dari pada kain kasar, ia seorang gadis dusun yang miskin. Ia pun bukan gadis cantik, bahkan dapat dikatakan beroman jelek karena rambutnya kering, kulitnya hitam, otot otot pada mukanya banyak melesak atau menonjol keluar, sedangkan kedua ujung mulutnya agak turun ke bawah. Bagian yang menyedapkan dari wanita itu adalah kedua matanya yang jeli dan bersinar tajam serta tubuhnya yang ramping dan gemulai.

Ia mendekati dan waktu kedua matanya kebentrok dengan sorot mata Boe Kie, ia kaget dan bertanay dengan suara terputus putus. “Kau… kau… tidak mati?”

“Tidak,“ jawabnya.

Pertanyaan yang pendek itu dijawab dengan pendek pula.

Di lain saat, mereka tertawa bersama. “Kalau kau belum mati, perlu apa kau rebah di situ?” tanya pula si nona.

“Aku jatuh dari atas gunung, tulang betisku patah.” Boe Kie menerangkan.

“Apa dia kawanmu?” tanya wanita itu seraya menunjuk mayat. “Mengapa tiga anjing itu mati?”

“Tiga binatang itu telah menggigit dan membinasakan saudara itu,” jawabnya.

“Bagaimana keadaanmu? Apa kau tidak lapar?”

“Tentu saja lapar. Tapi aku tidak dapat bergerak dan menyerahkan segala apa pada nasib.”

Wanita itu tersenyum. Ia merogoh keranjangnya dan mengeluarkan dua potong kue phia lalu diberikan kepada Boe Kie.

“Terima kasih,” kata Boe Kie seraya menyambutinya, tapi ia tidak lantas memakannya.

“Mengapa kau tidak makan? Apa kau takut ada racunnya?” tanya si nona.

Sudah 4 tahun lebih, kecuali dengan Coe Tiang Leng, Boe Kie tidak pernah bicara dengan lain manusia. Maka itu, pertemuannya dengan gadis itu menggirangkan hatinya, karena biarpun si nona berparas jelek, omongan2 nya sangat menarik. Ia tertawa dan menjawab, “Bukan, bukan begitu. Sebabnya adalah karena phia ini diberikan oleh nona, maka aku merasa sayang untuk segera memakannya.”

Jawaban itu, yang sebenarnya hanya guyon guyon dapat diartikan sebagai ejekan. Boe Kie adalah seorang yang sifatnya sungguh2 dan ia jarang sekali bicara main-main. Tapi sekarang, dalam berhadapan dengan gadis jelek itu, hatinya bebas tanpa merasa ia sudah mengeluarkan kata-kata itu.

Di luar dugaan, paras muka si nona lantas saja berubah gusar dan ia mengeluarkan suara di hidung sehingga Boe Kie merasa sangat menyesal dan buru-buru ia memasukkan kue ke dalam mulutnya. Karena terburu-buru, kue itu menyangkut di tenggorokannya dan ia batuk-batuk.

Muka si nona berubah lagi, dari marah menjadi girang. “Terima kasih Langit, terima kasih Bumi. Tioe Pat Koay (si muka jelek) bukan manusia baik, katanya. “Bapak Langit menjatuhkan hukuman kepadamu. Mengapa orang lain tidak dipatahkan tulangnya, hanya kau seorang yang dipatahkan tulang betismu?”

“Sesudah empat tahun tak pernah mencukur rambut dan muka, tentu saja mukaku kelihatannya jelek,” kata Boe Kie dalam hati. “Tapi kaupun tidak cantik. Kita berdua setali tiga uang.” Tapi tentu saja ia tak berani mengutarakan berterus terang apa yang dipikir dalam hatinya. Ia tersenyum dan berkata, “Sudah 9 hari aku menggeletak di sini. Sungguh untung, nona kebetulan lewat disini dan nona sudah memberikan kue kepadaku. Terima kasih banyak untuk kebaikanmu itu.”

Si nona tertawa. “Jangan kau bicara menyimpang,” katanya. “Aku tanya mengapa hanya seorang yang patah tulang? Kalau kau tidak menjawab, aku akan mengambil pulang kueku itu.”

Jantung Boe Kie memukul keras sebab selagi bicara sambil tertawa di mata gadis itu terdapat sinar kenakalan yang menyerupai sinar mata yang dimiliki oleh ibunya sendiri. “Mengapa sinar matanya mirip dengan sinar mata ibu?” tanyanya di dalam hati. “Sebelum meninggal dunia, waktu ibu memperdayai pendeta Siauw lim sie, pada kedua matanya terlihat sinar yang seperti itu.” Mengingat ibunya, hatinya merasa pilu dan air matanya lantas saja mengucur.

“Fui!” kata si nona sambil tertawa nyaring. “Tidak, aku tidak akan merampas kue itu. Sudah! Jangan nangis. Hai…! Kalau begitu, kau hanya satu manusia dungu.”

“Huh! Kau kira kuemu terlalu enak?” kata Boe Kie. “Aku menangis karena ingat sesuatu bukan sebab kuemu.”

“Ingat apa?” tanya si nona.

Boe Kie menghela nafas. “Aku ingat ibu. Ibuku yang sudah meninggal dunia,” jawabnya.

Si nona tertawa nyaring. “Ibumu sering memberi phia kepadamu, bukan?” tanyanya.

“Benar, ibuku memang sering memberi kue kepadaku,” jawabnya. “Tap aku ingat kepadanya bukan sebab itu. Aku ingat ibu sebab tertawamu sangat mirip dengan tertawa ibu.”

“Setan!” bentak si nona dengan suara gusar, “Aku sudah tua ya? Sama seperti ibumu, ya?” Ia mengambil cabang kering dan menyabet Boe Kie dua kali.

Kalau mau, dengan mudah Boe Kie bisa merampas cabang kering itu. Tapi ia berkata dalam hatinya, “Ia tidak tahu bagaimana cantiknya ibuku. Ia rupanya menganggap roman ibu sejelek romanku dan ia merasa tersinggung. Dilihat dari sudut ini, ia memang pantas bergusar.” Sesudah disabet, ia berkata, “Ibuku sangat cantik!”

Muka si nona tetap muram. “Kau mentertawai aku karena romanku jelek?” bentaknya pula. “Benar-benar kau sudah bosan hidup, biar aku tarik kakimu.” Seraya mengancam, ia membungkuk dan bergerak untuk menarik kaki pemuda itu.

Boe Kie kaget. Tulang betisnya baru menyambung, sehingga kalau ditari ia bakal menderita lebih berat. Buru-buru ia meraup salju, begitu kakinya tersentuh ia akan menimpuk Bie sim hiat si nona supaya ia pingsan. Untung juga ancaman itu tidak dibuktikan.

Melihat perubahan pada paras muka Boe Kie nona itu berkata, “Mengapa kau begitu ketakutan? Nyalimu seperti nyali tikus, siapa suruh kau mentertawai aku?”

“Sedikitpun aku tak punya niat untuk menggoda nona,” kata Boe Kie dengan suara sungguh-sungguh. “Jika di dalam hati aku berniat mentertawai nona, biarlah sesudah sembuh, aku jatuh lagi tiga kali dan seumur hidup aku menjadi seorang pincang.”

Mendengar sumpah itu, ia tertawa geli dan lalu duduk di samping. “Kalau ibumu seorang wanita cantik, mengapa kau membandingkan aku dengan dia?” tanyanya dengan suara perlahan.

“Apa akupun cantik?”

Boe Kie tergugu. Sesaat kemudian barulah ia bisa menjawab. “Entahlah, aku pun tak tahu sebabnya. Aku hanya merasa, bahwa kau mirip dengan ibuku. Biarpun kau tidak secantik ibu, tapi aku merasa sayang jika memandang parasmu.”

Si nona tersenyum, ia mencolek pipi Boe Kie dengan jarinya dan berkata sambil tertawa, “Anak baik, nah kalau begitu kau panggil saja ibu kepadaku…” Ia tidak meneruskan perkataannya dan dengan sikap kemalu-maluan, dia memutar kepala ke jurusan lain, karena ia merasa bahaw perkataannya itu tidak pantas dikeluarkan. Tapi sesudah memutar kepala, ia ta dapat menahan rasa gelinya dan lalu tertawa pula.

Melihat begitu, Boe Kie lantas saja ingat kejadian-kejadian di pulau Peng hwee to, yaitu pada saat kedua orang tuanya bersenda gurau. Ia ingat bahwa dalam guyon2, sikap mendiang ibunya sangat menyerupai sikap si wanita jelek saat ini. Tiba-tiba ia merasa bahwa nona itu tidak jelek. Dia cantik, dia ayu… ia mengawasi seperti orang kesengsem.

Tiba2 si nona memutar lagi kepalanya dan melihat Boe Kie mengawasinya seperti orang linglung. Ia tertawa dan bertanya, ”Mengapa kau senang melihat aku? Coba beritahukan kepadaku sebab musababnya.”

Boe Kie tidak lantas menjawab. Sesudah geleng-gelengkan kepalanya ia baru berkata, “Aku tak dapat mengatakan secara tepat. Aku hanya merasa bahwa kalau memandang wajahmu, hatiku tenang dan aman. Aku merasa bahwa kau akan hanya berbuat baik terhadapku, bahwa kau tidak akan mencelakai aku.”

Si nona tertawa nyaring, “Haa..ha..! Kau salah! Aku adalah manusia yang paling suka mencelakai orang,” katanya.

Sekonyong2 ia mengangkat cabang kayu yang dipegangnya dan menyabet betis Boe Kie dua kali. Sesudah itu ia berjalan pergi. Sabetan itu yang dijatuhkan secara diluar dugaan, kena tepat pada tulang yang patah, sehingga Boe Kie kesakitan dan berteriak, “Aduh!” Teriakan Boe Kie disambut dengan tertawa geli.

Dengan mendongkol Boe Kie mengawasi bayangan wanita itu yang makin lama jadi makin jauh. “Kurang ajar!” ia mengomel. “Yang cantik suka melukai orang, yang jelekpun begitu juga”.

Malam itu Boe Kie banyak bermimpi. Ia bermimpi bertemu dengan wanita itu, bertemu pula dengan mendiang ibunya dan bertemu pula dengan seorang wanita yang tidak terang wujudnya. Mungkin ibunya dan mungkin juga wanita jelek itu. Ia bermimpi sang ibu mempermainkannya menjatuhkannya dan sesudah ia menangis barulah ibunya memeluknya, menciumnya dan berkata, “Anak baik jangan menangis, sayang…sayang… ibu menyayang kau.”

Waktu terdengar dalam otaknya mendadak berkelebat serupa ingatan yang baru pernah diingatnya sekarang. “Mengapa ibu begitu suka mencelakakan manusia?” tanyanya di dalam hati. “Kedua mata Giehoe dibutakan oleh ibu. Jie Sam soepeh bercacat karena ibu. Seluruh keluarga Liong boen Piauw kiok binasa dalam tangan ibu. Apa ia orang baik?” Sambil bertanya begitu, ia mengawasi bintang-bintang di langit dan menghela nafas berulang-ulang. “Tak peduli baik atau jahat, ia tetap ibuku,” pikirnya. “Kalau ibu masih hidup, aku pasti akan menyintanya dengan segenap jiwa dan raga.”

“Di lain saat ia ingat gadis dusun itu. Mengapa si jelek memukul kakinya? Aku tidak bersalah mengapa dia memukul aku?” tanyanya di dalam hati. “Sesudah aku berteriak kesakitan, ia tertawa kegirangan. Apakah ia manusia yang senang mencelakakan sesama manusia?”

Ia mengharapkan nona itu datang lagi, tapi iapun kuatir akan dipukul lagi. Otaknya bekerja terus, sebentar ia ingat mendiang ibunya, sebentar ia ingat gadis dusun itu dan sebentar ia ingat lain-lain hal.

Dua hari telah lewat dan nona itu tidak pernah muncul. Boe Kie menganggap dia tak akan

Datang lagi untuk selama-lamanya. Diluar dugaan, pada hari ketiga, kira2 lohor, gadis dusun itu menyatroni lagi sambil menenteng keranjangnya. “Tio pat koay,” tegurnya seraya tertawa. “Kau belum mati kelaparan ?”.

“Sudah hampir,” jawabnya. “Sebagian besar mampus, sebagian kecil masih hidup”.

Nona itu tertawa, lalu duduk disamping Boe Kie. Mendadak memandang betis pemuda itu. “Apa bagian itu masih hidup?” tanyanya.

“Aduh!” teriak Boe Kie. “Kau sungguh manusia yang tak punya liangsim!” (Liangsim—perasaan hati).

“Tak punya liangsim?” menegas si nona. “Kebaikan apa yang sudah ditunjuk olehmu terhadap diriku?”

Boe Kie terkejut. “Kemarin dulu kau telah memukul aku, tapi aku tidak menaruh dendam,” katanya. “Selama dua hari, aku selalu mengingat kau”.

Paras muka si nona lantas saja berubah merah, seperti orang bergusar, tapi ia menekan nafsu amarahnya. “Apa yang dipikir olehmu kebanyakan bukan hal yang baik,” katanya. “Aku berani memastikan, didalam hati kau mencaciku sebagai perempuan jelek perempuan jahat”.

“Romanmu tidak jelek,” kata Boe Kie. “Tapi mengapa kau baru merasa senang bila sudah mencelakai manusia?”

Si nona tertawa geli. “Bagaimana kudapat memperlihatkan rasa senangku, jika aku tak bisa menyaksikan penderitaan orang?” katanya dengan suara adem.

Sehabis berkata begitu, ia mengawasi Boe Kie yang pasa mukanya menunjuk perasaan tidak puas dan tidak setuju. Melihat pemuda itu masih mencekal sepotong kue yang belum dimakan tiga hari, ia tersenyum lalu berkata.

“Phia itu sudah tiga hari, apa masih enak dimakan?”

“Aku merasa sayang untuk makan kue ini yang dihadiahkan olehmu,” jawabnya. Bila pada tiga hari berselang ia mengatakan begitu untuk berguyon, kini suaranya bernada sungguh2. Nona itu juga merasa, bahwa kali ini Boe Kie tidak bicara main2 dan paras mukanya lantas saja bersemu merah. “Aku membawa kue-kue yang baru,” katanya sambil merogoh keranjang dan mengeluarkan beberapa macam makanan, disamping kue, terdapat juga ayam panggang dan kaki kambing panggang yang baunya wangi.

Boe Kie girang bukan main. Selama tiga tahun lebih, ia hanya mengenal daging kodok dan bebuahan dan baru sekarang, ia dapat mencicipi lagi makanan enak. Tanpa sungkan sungkan, di lalu memasukkan sepotong daging ayam ke dalam mulutnya.

Sambil memeluk lutut dan mengawasi cara makannya Boe Kie yang sangat bernafsu, si nona duduk disamping pemuda itu. “Siluman muka jelek (Tioe pat koay), kau makan enak sekali,” katanya. “Kusenang melihat cara makanmu. Kau agak berlainan dengan lain manusia. Tanpa mencelakai kau, aku sudah merasa senang.”

“Rasa senang yang sejati adalah rasa senang yang didapat karena melihat orang lain merasa senang.” Kata Boe Kie.

Nona itu tertawa dingin. “Huh!” ia mengeluarkan suara di hidung. “Biarlah aku berterus terang terhadapmu. Hari ini hatiku senang dan aku tidak mencelakai kau. Tapi dilain hari, bila aku tak senang, mungin sekali aku akan menghajar kau, sehingga kau hidup tidak, matipun tidak. Kalau terjadi kejadian itu, jangan kau menyalahkan aku”.

Boe Kie menggeleng kepalanya. “Kau takkan mampu menghajar aku, “ katanya.

“Mengapa begitu?” tanya si nona.

“Sedari kecil aku sudah biasa dihajar oleh manusia jahat,” jawabnya. “Aku dihajar hingga besar. Makin dihajar, aku maikn a lot”.

“Lihat saja buktinya nanti,” kata nona itu.

Boe Kie tersenyum dan berkata pula. “Sesudah lukaku sembuh, aku akan menyingkir jauh jauh. Kau takkan bisa menganiaya aku lagi”.

“Kalau begitu, lebih dahulu aku akan putuskan betismu sehingga kau seumur hidup takkan bisa berpisahan lagi denganku,” kata si nona.

Mendengar suara dingin bagaikan es, Boe Kie bergidik. Ia mersa, bahwa perkataan itu bukan diucapkan seenaknya saja dan bahwa apa yang dikatakannya dapat dilakukan oleh wanita itu.

Sementara itu, setelah mengawasi Boe Kie beberapa saat, si nona menghela nafas. Sekonyong-konyong paras mukanya berubah. “Tioe pat koay” bentaknya. “Apakah betis anjingmu tak pantas dibacok putus olehku?” Mendadak ia berbangkit, merampas potongan daging ayam, kaki kambing dan kue phia yang belum dimakan dan melemparkannya jauh-jauh. Sesudah itu dengan penuh amarah, ia meludahi muka Boe Kie.

Boe Kie menatap wajah si nona. Ia merasa, bahwa gadis itu bukan sengaja benar2 bergusar dan juga tak sengaja mau menghina dirinya, karena pada paras mukanya terlihat sinar kedukaan yang sangat besar. Boe Kie adalah seorang yang mempunyai perasaan halus dan bisa turut merasakan penderitaan orang lain. Ia ingin sekali menghibur, tapi untuk sementara ia tak tahu apa yang harus dikatakannya.

Melihat sikap Boe Kie, nona itu berhenti meludah. “Tioe pat koay!” bentaknya. “Apa yang sedang dipikir olehmu?”

“Nona, mengapa kau kelihatannya begitu menderita?” Boe Kie balas menanya. “Beritahukanlah kepadaku”.

Karena ditanya dengan perkatann lemah lembut, gadis itu tak dapat jalan untuk mengumbar nafsunya lagi. Sekonyong2 ia duduk pula disamping Boe Kie dan menangis sedu sedang sambil memeluk kepalanya.

Boe Kie mengawasinya dengan belas kasihan.

“Nona,” katanya dengan suara perlahan. “Siapa yang sudah menghina kau? Tunggulah, sesudah kakiku sembuh aku akan membalas sakit hatimu.

Nona itu terus menangis. Selang beberapa lama, barulah ia berkata. “Tidak ada orang yang menghinaku. Penderitaanku karena nasibku yang buruk, karena salahku sendiri. Aku memikiri orang yang tak dapat melupakannya”.

Boe Kie mangut2kan kepala. “Orang laki2 bukan?” tanyanya pula. “Dia jahat terhadapmu bukan ?”

“Benar!” jawabnya. “Dia sangat tampan, tapi sombong luar biasa. Aku ingin dia mengikuti aku seumur hidup, tapi dia tak mau. Itu masih tidak apa. Celakanya, dia bukan saja mencaci tapi juga sudah menganiaya aku, sehingga darah berlumuran.”

“Kurang ajar sungguh dia !” teriak Boe Kie dengan gusar. “Nona kau jangan perdulikan dia lagi.”

Air mata si nona kembali mengucur “Tapi…..aku tak dapat melupakannya”, katanya. “Dia pergi jauh2 untuk menyingkirkan diri dan aku sudah mencarinya kesana kemari!”

Mendengar begitu, walaupun merasa, bahwa nona itu beradat aneh, rasa kasihan Boe Kie jadi makin besar. “Didunia terdapat banyak sekali lelaki yang baik. Perlu apa kau memikiri manusia yang tak berbudi itu ?”

Si nona menghela nafas panjang, matanya mengawasi ketempat jauh. Boe Kie tahu, bahwa ia tak dapat menghilangkan bayangan lelaki itu dari alam pikirannya. Untuk mencoba lagi ia berkata pula, “Lelaki itu hanya memukulmu satu kali. Tapi penderitaanku sepuluh kali lebih hebat daripada kau”.

“Apa? Kau ditipu wanita cantik ?” tanya nona itu.

“Dia bukan sengaja ingin menipu aku”, jawabnya. “Aku sendirilah yang salah. Melihat kecantikkannya aku jadi seperti orang edan. Tentu saja aku bukan pasangannya dan akupun tidak mengharapkan yang tidak2. belakangan ayahnya wanita itu telah menjalankan siasat busuk terhadap diriku sehingga aku sangat menderita”. Seraya berkata begitu, ia menggulung tangan bajunya dan sambil menunjuk tanda2 bekas luka, ia berkata pula. “Lihatlah! Ini tanda bekas gigitan anjing2nya yang jahat”.

Paras muka nona itu lantas berubah gusar. “Apa kau maksudkan Coe Kioe tia ?” tanyanya.

“Bagaima kau tahu?” Boe Kie balas menanya dengan suara heran.

“Budak hina itu suka sekali memelihara anjing yang sering untk mencelakakan manusia”, jawabnya. “Dalam jarak ratusan li disekitar tempat ini, tak seorangpun yang tidak tahu”.

Boe Kie mengangguk “Benar”, katanya. “Lukaku sudah sembuh dan akupun masih hidup, akupun tak mau mebenci dia lagi”.

Mereka saling memandang tanpa mengeluarkan sepatah kata. Selang beberapa saat nona itu bertanya. “Siapa namamu? Mengapa kau berada disini?”

Mendengar pertanyaan itu Boe Kie segera ingat bahwa waktu berada di tionggoan banyak sekali orang coba mengorek keterangan tentang ayah angkatnya dan karena urusan itu, ia telah mendapat banyak kesengsaraan. “Mulai dari sekarang Thio Boe Kie sudah meninggal dunia dan didalam dunia tak ada manusia lagi yang tahu tempat bersembunyinya Kim Mo Say Ang Cia Soen”, katanya didalam hati. “Dikemudian hari biarpun aku bertemu dengan manusia yang sepuluh kali lihay daripada Coe Tiang Leng, aku tak bisa diakui lagi”. Memikiri begitu, ia lantas menjawab. “Namaku Ah Goe”.

“Shemu?” tanya pula si nona.

“Aku…..aku si Ca”, jawabnya. “Dan Kau?”

“Aku tak punya She”, jawabnya. Sesaat kemudian ia berkata lagi dengan suara perlahan. “Ayah kandungku membenci aku. Kalau ia bertemu denganku ia pasti akan membunuhku. Bagaimana aku bisa menggunakan shenya? Ibuku sendiri meninggal dunia sebab gara2ku. Akupun tidak bisa menggunakan she ibu. Romanku sangat jelek (toe), maka itu biarlah, kau memanggil aku dengan panggilan Tioe Kouwnia (nona muka jelek saja)”.

Boe Kie terkejut. “Kau……..kau telah mencelakakan ibumu sendiri?” tanyanya dengan suara terputus2. “Bagaimana bisa begitu?”

Gadis itu menghela nafas. “Kalau mau dituturkan panjang sekali”, jawabnya. “Aku mempunyai dua orang ibu. Ibu kandungku adalah istri pertama dari ayahku. Karena lama tidak punya anak ayah mengambil istri kedua. Ibu tiriku (Jienio) telah melahirkan dua kakak laki laki dan seorang kakak perempuan, sehingga ayah sangat menyayangnya. Belakangan ibu melahirkan aku. Sebab disayang dan juga sebab keluarganya berpengaruh, Jienio sangat sewenang-wenang terhadap ibuku yang hanya bisa menangis, ketiga kakak juga sangat jahat dan mereka membantu ibu mereka untuk menindas ibuku. Tioe Pat Koay, coba kau pikir, apakah yang harus diperbuat olehku?”

“Dalam hal ini ayahmu harus berlaku adil”, kata Boe Kie.

“Tapi ayah sangat memilih kasih dan ia selalu membenarkan Jienio” kata si nona. “Karena tak dapat menahan sabar akhirnya aku bacok mampus ibu tiriku itu”.

“Ah”, tanpa merasa Boe Kie mengeluarkan suara kaget. Ia adalah seorang dari rimba persilatan yang sudah biasa melihat pertempuran dan pembunuhan. Tapi gadis itu yang kelihatannya lemah bisa membunuh orang adalah kejadian yang sangat diluar dugaannya. Tapi nona itu sebaliknya tenang2 saja dan dengan suara perlahan ia melanjutkan penuturannya. “Ibu jadi ketakutan dan menyuruh aku melarikan diri. Ketika kakakku mau mengubar untuk menangkap aku, ibu mencoba mencegah mereka, tapi tidak berhasil. Untuk menolong jiwaku, ibu segera menggantung diri sehingga mati. Coba kau pikir. Bukankah aku yang sudah mencelakai ibuku sendiri? Kalau ayah bertemu denganku bukankah ia bisa membunuh aku?”

Boe Kie mendengarkan cerita itu dengan jantung memukul keras. “Walaupun kedua orang tuaku sudah meninggal dunia secara menggenaskan, mereka sedikitnya mencintai satu sama lain”, katanya didalam hati. “Ayah dan ibu juga sangat mencintai aku. Ya! Kalau dibanding2kan, penderitaan nona itu memang ribuan kali lebih hebat daripada pengalamanku”. Mengingat begitu, rasa kasihannya jadi terlebih besar. “Apa sudah lama kau meninggalkan rumah?” tanyanya “Apa mulai dari waktu itu kau terus terlunta2 sebatang kara?”

Si nona manggut-manggutkan kepalanya.

“Sekarang, kemana kau mau pergi?” tanya pula Boe Kie.

“Entahlah”, jawabnya. “Dunia sangat lebar dan aku bisa pergi kemanapun juga. Asal tidak berpapasan dengan ayah dan kakakku, aku boleh tak usah berkuatir”.

Darah Boe Kie bergolak dalam dadanya. Disamping rasa kasihan, ia merasa senasib dengan gadis dusun itu, sebab iapun sebatang kara dan hidup bergelandang di dunia yang lebar ini. “Biarlah kau tunggu sampai lukaku sembuh”, katanya kemudian. “sesudah sembuh, kita akan cari toako….pemuda itu. Aku mau tanya, bagaimana sikapnya yang sebenarnya terhadapmu?”

“Bagaimana kalau ia memukul aku?” tanya si nona.

“Hm!” Boe Kie mengeluarkan suara dihidung. “Kalau dia berani menyentuh selembar rambutmu saja, aku pasti tak akan mengampuninya”.

“Tapi bagaimana jika ia hanya mengambil sikap tidak memperdulikan?” mendesak si nona.

Boe Kie membungkam. Ia mengerti, bahwa ia tak dapat memaksakan cinta. Sesudah termenung beberapa saat, ia berkata. “Aku akan berusaha sedapat mungkin”.

Sekonyong2 nona itu tertawa terbahak2, tertawa geli, seolah2 didalam dunia tak ada lain hal yang lebih menggelikan daripada pernyataan Boe Kie.

“Mengapa kau tertawa?” tanya Boe Kie dengan heran.

“Tioe pat koey”, jawabnya. “Manusia apa kau? Apa kau kira orang akan mengindahkan segala kemauanmu? Aku sudah mencari2 dia ke segala pelosok, tapi tak bisa menemukannya. Apakah dia masih hidup? Apakah sudah mati? Entahlah kau mau berusaha sedapat mungkin? Apa kemampuanmu? Ha ha ha!……ha ha….”.

Boe Kie sebenarnya mau mengatakan sesuatu akan tetapi, mendengar perkataan itu, mulutnya yang sudah terbuka tertutup kembali. Dengan paras muka merah dan mulut ternganga, ia mengawasi gadis dusun itu.

“Kau mau bicara apa?” tanya si nona.

“Sesudah kau mentertawai aku, tak perlu aku bicara lagi”.

“Hm!……Paling banyak aku tertawa lagi. Dengan ditertawai olehku, kau toh tak akan mati”.

“Nona, aku bicara dengan setulus hati. Tak pantas kau mentertawai aku”.

“Sudahlah. Sekarang jawablah pertanyaanku. Apa yang mau dikatakan olehmu?”

“Baiklah”, kata Boe Kie. “Karena melihat kau sebatang kara dan nasibmu agak bersamaan dengan nasibku sendiri, yang sudah tak punya orang tua atau saudara, maka tadi aku ingin mengatakan. Jika pemuda itu tetap tak mau memperdulikan kau, biarlah aku saja yang mengawani kau. Biar bagaimanapun jua, aku bisa menjadi kawan beromong2, guna menghibur kau. Tapi jika kau menganggap, bahwa diriku tidak sesuai untuk berbuar begitu, terserahlah kepadamu”.

“Tidak sesuai!…….Memang tidak sesuai”, kata si nona. “Orang jahat itu seratus kali lipat lebih tampan daripada mukamu. Celaka sungguh! Aku membung2 tempo disini dengan pembicaraan yang tidak ada faedahnya”. Sesudah menendang daging ayam dan kaki kambingyang dilontarkannya ke tanah, ia segera berlalu dengan cepat.

Boe Kie menghela nafas. “Nona itu sungguh harus dikasihani”. Pikirnya dengan perasaan duka. Ia sangat menderita dan segala sepak terjangnya yang sangat aneh harus dimaafkan”.

Sekonyong2 terdengar suara tindakan dan gadis dusun itu kembali lagi. “Tioe pat koey!”, bentaknya dengan garang. “Kau tentu merasa sabngat penasaran didalam hati, kau pasti merasa sangat mendongkol, bahwa seorang wanita yang sejelek aku masih berani menghina dirimu. Benarkah begitu?”.

Boe Kie meggelengkan kepala. “Tidak, tidak begitu”, katanya. “Karena kau tidak begitu cantik, maka begitu bertemu, aku lantas saja merasa cocok denganmu. Kalau mukamu tidak berubah jelek dan masih seperti pada waktu pertemuan pertama kali…..”

“Apa?” memutus si nona. “Bagaimana kau tahu bahwa dahulu aku tidak seperti sekarang?”

“Dalam pertemuan ini, bengkak matamu lebih hebat dan warna kulitmu lebih hitam daripada dalam pertemuan pertama kali”, kata Boe Kie.

“Roman muka yang didapat semenjak dilahirkan tidak bisa berubah2.”

“Nona itu kelihatan kaget sekali. “Aku……. Aku dalam beberapa hari ini, aku tidak berani berkaca”, katanya “Apakah romanku makin lama jadi makin jelek?”

“Aku memandang manusia bukan melihat romannya”, kata Boe Kie menghibur.

“Dlam manusia, yang terutama adalah hati harus baik, rupa adalah soal kedua. Ibuku pernah mengatakan bahwa makin cantik seorang wanita mungkin makin busuk hatinya, makin suka menipu orang dan ibu menasehati aku supaya aku berwaspada terhadap wanita cantik”.

Tapi gadis itu tentu saja tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh ibunya Boe Kie. Yang penting baginya adalah soal dirinya sendiri. Cepat2 ia berkata “Kau jawablah pertanyaanku. Dalam pertemuan kita pertama kali, apa romanku belum sejelek sekarang ?”

Boe Kie mengerti, bahwa jika ia menjawab “Ya”, gadis itu tentu akan tersinggung. Maka itu, ia tidak menjawab dan hanya mengawasi si nona dengan hati sangsi.

Tapi nona itu ternyata cukup cerdas otaknya. Melihat kesangsian orang, ia bisa menebak apa yang dipikir oleh pemuda itu. Tiba2 ia menangis “Tioe pat koey! Aku benci kau!……benci kau….” Teriaknya. Ia segera berlalu dan kali ini tidak kembali lagi.

Dua hari telah lewat.

Malam itu, seekor srigala berkeliaran mencari makanan. Sambil mengendus2 dia mendekati Boe Kie. Dengan sekali meninju, Boe Kie berhasil membinasakannya, sehingga binatang itu yang mau cari makan, malah kena dimakan.

Beberapa hari lewat lagi tanpa terjadi sesuatu yang penting. Kedua tulang betis Boe Kie yang patah sudah menyambung pula dan tujuh delapan hari lagi, ia akan bisa jalan seperti sedia kala. Selama beberapa hari itu, ia selalu memikirkan si gadis dusun. Ia merasa menyesal, bahwa ia masih belum tahu nama si nona. Disamping itu, iapun merasa heran mengapa muka nona itu bisa berubah menjadi lebih jelek. Ia mengasah otak untuk memecahkan teka teki itu, tapi sampai kepalanya puyeng, ia masih belum juga berhasil. Karena capai, tak lama kemudian ia pulas nyenyak.

Kira kira tengah malam ia tersadar karena suara tindakan beberapa orang di tempat jauh. Sesudah melatih Kioe Yang Sin Kang didalam dirinya telah mendapat semacam kewaspadaan yang wajar. Biarpun sedang pulas, setiap suara dalam puluhan tombak tidak terlepas dari pendengarannya.

Waktu itu biarpun kakinya masih belum bisa digunakan, ia sudah bisa duduk. Dengan cepat ia duduk dan mengawasi ke arah suara itu. Dengan bantuan sinar bulan sisir yang remang2, ia melihat tujuh orang sedang mendatangi. Yang berjalan paling dulu adalah seorang wanita bertubuh langsing dan gerak geriknya gemulai. Sesaat kemudian ia terkejut sebab wanita itu bukan lain daripada si wanita dusun yang aneh. Dibelakangnya mengikuti enam orang yang berjalan dengan berbareng dam bentuk kipas, seolah olah mau menjaga supaya nona itu jangan sampai melarikan diri. “Apakah ia sudah ditangkap oleh ayah dan kakak2nya?” tanyanya di dalam hati. “Mengapa mereka datang kesini?”

Makin lama mereka makin mendekati.

Tiba tiba Boe Kie terkesinap. Keenam orang itu sudah dikenal olehnya. Yang berjalan di sebelah kiri adalah Boe Ceng Eng bersama ayahnya, Boe Liat, dan Wie Pek. Sedang yang disebelah kanan adalah Ciang Boen Jin Koen Loen Pay Ho Thay Ciong bersama istrinya, Pan Siok Ham, dan yang satunya lagi, seorang wanita berusia pertengahan, juga seorang kenalan lama, yaitu Teng Bin Koen, Murid Goe Bi Pay.

Itulah kejadian yang sungguh diluar dugaan!

“Bagaimana ia bisa mengenal orang2 itu?” tanya Boe Kie didalam hati. “Apakah ia juga seorang rimba persilatan yang sudah mengenali siapa adanya aku dan kemudian memberitahukan kawan-kawannya untuk memaksa aku buka rahasia Gioehoe?”. Dengan adanya dugaan itu darahnya lantas meluap. “Perempuan jelek!” cacinya “Aku dan kau tidak mempunyai permusuhan. Mengapa kau mencelakai aku?”

Denga cepat ia memikir daya upaya untuk menolong diri. “Kedua kakiku belum bisa bergerak dan keenam orang itu lihay semuanya,” katanya didalam hati. “Mungkin sekali si perempuan dusunpun mempunyai kepandaian tinggi. Biarlah untuk sementara aku berlagal menunduk dan pura2 meluluskan kemauan mereka dalam hal mencari GieHoe. Sesudah sembuh, aku bisa membuat perhitungan dengan mereka”.

Jika kejadian itu terjadi pada empat rahun berselang, Boe Kie tentu akan berlaku nekat, karena baginya, tiada jalan lain daripada mati. Ia tentu akan menolak segala paksaan dan menutup mulutnya rapat2. tapi sekarang, sesudah memiliki Kioe yang Sin kang, ia jadi mantep dan percaya dirinya sendiri. Maka itu, sesudah hilang kagetnya, ia tertawa dalam hatinya dan sedikitpun ia tidak merasa takut. Ia hanya merasa mendongkol dan menyesal, karena tak pernah menduga, bahwa gadis dusun itu akan mengkhianati dirinya.

Beberapa saat kemudia, nona itu sudah berdiri didekat Boe Kie. Untuk beberapa lama, ia mengawasi pemuda itu dan kemudian perlahan lahan memutar badan.

Waktu ia memutar badan, Boe Kie mendengar hela nafas perlahan yang penuh dengan perasaan sedih. “Kau boleh turun tangan sesuka hati”, kata pemuda itu didalam hati. “Perlu apa berlagak sedih?”

Tiba tiba Wie Pek mengibas pedangnya dan berkata dengan suara dingin. “Kau mengatakan bahwa sebelum mati, kau ingin bertemu lagi dengan dia untuk penghabisan kali. Semula kukira ia tampan laksana Phoa An, tak tahunya manusia beroman memedi. Ha…ha…ha……Sungguh menggelikan. Kau dan dia sungguh pasangan setimpal”.

Gadis itu sama sekali tidak menjadi gusar. “Benar”, jawabnya dengan tawar. “Sebelum mati, aku ingin bertemu lagi dengan dia, sebab aku mau mengajukan sebuah pertanyaan. Sesudah mendengar jawabannya, barulah aku bisa mati dengan mata meram”.

Boe Kie heran tak kepalang. Didengar dari omongan kedua orang itu, mereka berenam kelihatannya mau membinasakan si gadis dusun dan nona tersebut sudah mengajukan sebuah permintaan terakhir, yaitu minta menemui dirinya sendiri untuk menanyakan sesuatu. Memikir begitu, ia lantas saja bertanya, “Nona ada urusan apakah kau datang kemari bersama orang orang itu?”

“Aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu dan kau harus menjawabnya dengan setulus hati”, katanya.

“Kalau pertanyaanmu mengenai diriku pribadi aku tentu menjawab dengan seterang terangnya dan setulus tulusnya”, kata Boe Kie. “Tapi jika kau mengajukan pertanyaan yang mengenai dirinya orang lain. Maaf, biarpun aku dibunuh mati, aku tak akan membuka mulut”. Ia menjawab begitu sebab menduga, bahwa pertanyaan yang akan diajukan adalah halnya Cia Soen.

“Perlu apa kau mencampuri urusan orang lain”, kata si nona dengan suara dingin. “Pertanyaan yang kuinginkan adalah ini. pada hari itu kau mengatakan kepadaku, bahwa kita berdua adalah orang2 yang hidup sebatang kara dan tak punya tempat meneduh. Oleh karena itu, kau bersedia untuk mengawani aku. Sekarang aku mau tanya. Apakah pernyataanmu itu keluar dari hati yang tulus bersih?”

Boe Kie segera berduduk. Melihat sinar mata nona itu yang penuh kedukaan, ia lantas saja menjawab. “Aku bicara sesungguhnya.”

“Kalu begitu, bukankah kau tak mencela romanku yang jelek dan bersedia untuk hidup bersama-sama aku seumur hidup?” tanya pula si nona.

Boe Kie terkesiap. Sedikitpun tak menduga bahwa ia bakal dihadapi pertanyaan begitu. Tapi karena sungkan melukai hati orang, ia segera menjawab, “Soal jelek atau cantik tak pernah dihiraukan olehku. Manakala kau ingin aku mengawaninmu untuk beromong2 tentu saja aku merasa senang untuk mengiring keinginanmu itu”.

“Kalau….begitu….kau……kau bersedia untuk mengambil aku sebagai istrimu, bukan ?” tanya nona itu dengan suara gemetar dan terputus2.

Boe Kie kaget tak kepalang, hingga badannya mengigil dan untuk beberapa saat ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Sesudah dapat menentramkan hatinya yang berdebar-debar. Ia menjawab juga dengan suara terputus2. Aku….. aku tak pernah…..tak pernah memikir untuk menikah….”

“Lihatlah!” kata Wie Pek dengan suara mengejek. “Lelaki dusun yang tua dan jelek seperti dia masih tak mau menikah denganmu. Andai kata kami tak mengambil jiwamu, kau hidup teruspun tak ada artinya. Sebelum kami turun tangan, lebih baik kau membenturkan kepalamu sendiri dibatu besar itu.”

Dengan penuh rasa kasihan, Boe Kie mengawasi nona itu mengucurkan air mata sambil menundukkan kepalanya. Ia tak tahu, apa si nona menangis karena takut mati, apa karena memikir romannya yang jelek atau karena perkataan Wie Pek yang tajam bagai pisau.

Melihat begitu, darah Boe Kie bergolak. Ia lantas saja ingat, bahwa sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia, ia telah menerima macam2 hinaan. Gadis itu, yang berusia lebih muda daripadanya, mempunyai riwayat hidup yang lebih tak beruntung daripada riwayat hidupnya sendiri. Maka itu bagaimana ia tega untuk menambah penderitaan si nona yang sudah cukup hebat. Disamping itu, pertanyaan yang diajukan merupakan suatu pengabdian dari seorang wanita yang bersedia untuk menjadi istrinya.

“Selama hidupku, selain ayah, ibu, ayah angkat, Thay soehoe dan para paman, siapa lagi yang pernah mencintai aku dengan setulus hati?” katanya dalam hati. “Jika di kemudian hari dia bisa memperlakukan aku secara pantas, aku dan dia masih bisa hidup beruntung.”

Sesaat itu dengan badan gemetaran, si nona sudah bergerak untuk berlalu. Dengan cepat Boe Kie mengangsurkan tangan kirinya dan mencekal lengan kanan nona itu. “Nona” katanya dengan suara nyaring. “Dengan setulus hati, aku bersedia untuk menikah dengan kau. Aku hanya mengharap kau tak mengatakan, bahwa aku tak setimpal dengan dirimu.”

Demi mendengar perkataan Boe Kie dari kedua mata gadis itu mengeluarkan sinar terang sinar kemenangan. “Ah Goe Koko,” katanya dengan suara perlahan. “Apakah tak mendustaiku?”

“Tidak! Aku tak mendustai kau,” jawabnya. “Mulai dari detik ini, aku akan mencintai, akan melindungi kau dengan segenap jiwa dan raga. Tak peduli ada berapa banyak orang yang akan mencelakaimu, tak peduli ada berapa banyak jago yang mau menghina kau, aku pasti melindungimu. Aku bersedia untuk mengorbankan jiwa demi kepentinganmu. Aku ingin kau bahagia dan melupakan segala penderitaanmu yang dulu2.”

Si nona lantas saja berduduk di tanah dan menyandarkan tubuhnya di badan Boe Kie. Sambil mencekal tangan pemuda itu yang satunya lagi, ia berkata dengan suara lemah lembut. “Aku sungguh merasa sangat berterima kasih.” Ia meramkan kedua matanya dan berbisik, “Ah Goe Koko, cobalah katakan lagi apa yang tadi, dikatakan olehmu, supaya setiap perkataan bisa diingat didalam lubuk hatiku, cobalah!”

Mwlihat kebahagiaan nona itu, Boe Kie pun merasa bahagia. Sambil memegang keras2 kedua tangan si gadis yang empuk bagaikan kapas, ia mengulani perkataannya. “Aku ingin berusaha supaya kau bisa hidup beruntung, supaya kau melupakan segala penderitaanmu yang dulu2. tak peduli ada berapa banyak orang yang mau menghina kau, yang mau mencelakakan kau. Aku berseida untuk mengorbankan jiwa demi keselamatanmu”

Si nona bersenyum senium yang penuh dengan rasa beruntung. Sambil bersandar pada dada pemuda it, ia berkata, “Dulu, waktu aku minta kau mengikut aku, kau bukan saja sudah menolak, tapi jg memukul aku, mencaci… Aku merasa sangat beruntung, bahwa sekarang kau bisa mengatakan begitu.”

Perkataan si nona seolah-olah air dingin yg menyiram kepala pemuda itu. Ia mendapat kenyataan, bahwa dengan mendengar perkataannya sambil memeramkan mata, nona itu membayang bayangkan, bahwa perkataan itu dikeluarkan oleh pemuda yang di pujanya, tapi yang sudah menyakiti hatinya.

Tiba tiba gadis itu menggigil dan ia membuka kedua matanya. Pada paras mukanya terlihat sinar kegusaran, tercampur dengan perasaan kecewa, tapi dalam sinar kekecewaan itu terbayang juga sedikit rasa bahagis. Selang beberapa saat ia berkata, “Ah Goe Koko, aku merasa sangat berterima kasih, bahwa engkau bersedia untuk mengambil aku sebagai istrimu. Kau tidak mencela aku, seorang wanita yg beroman jelek. Hanya sayang, semenjak bebeapa tahun berselang aku sudah memberikan hatiku kepada seorang lain. Dahulu saja, ia sudha tidak memperdulikan aku. Kalau dia melihat keadaaku yang sekarang lebih2 dia tak akan menghiraukan aku… Ah! Setan kecil yg berhati kejam… waktu mengatakan ‘setan kecil berhaiti kejam’ ” nadanya masih menunjuk perasaan cinta.

“Apa sekarang kau sudah boleh berbangkit?” tanya Boe Ceng Eng sambil mengawasi gadis dusun itu, “Dia sudah menyatakan bersedia untuk menikah denganmu dan kamu berdua sudah cukup lama membicarakan soal cinta?”

Perlahan lahan nona itu bangkit, katanya, “Ah Goe Koko,” katanya sambil mengawasi Boe Kie “Aku akan segera menemui ajalku. Andaikata tidak mati, akupun tidak bisa menikah denganmu. Tapi biar bagaimana kata2mu yang diucapkan taid, asesudah aku mati janganlah kau membenci aku. Kalau ada tempo luang, boleh jg kau mengingat aku.” Ia bicara dengan suara meminta, sehingga Boe Kie merasa sangat terharu.

“Sudahlah! Jangan terlalu rewel!” bentak Pan Siok Ham, “Kami sudah meluluskan permintaanmu dan kau sudah bertemu dengan dia. SEkarang kau harus menepati janji dan memberitahukan dimana adanya orang itu.”

“Baiklah,” kata si nona. “Sepanjang pengetahuanku, orang itu pernah berdia dirumahnya” ia berkata begitu sambil menuding Boe Liat.

Paras muka Boe Liat berubah. Sambil mengeluarkan suara di hidung, ia membentak. “Jangan omong yang gila2!”

“Jawab pertanyaanku!” Wie Pek turut membentak, “Siapa yang menyuruh kau membunuh Coe Kioe Tin Piauwmoay?”

Kagetnya Boe Kie bagaikan disambar halilinta. “Membunuh… membunuh Coe Kioe Tin Kauwnio?” ia menegas.

Dengan mata mendelik Wie Pek menatap wajah Boe Kie, “Kau kenal Coe Kioe Tin Kauwnio?” tanyanya dengan suara gusar.

“Siapa yang tidak pernah mendengar nama Soet-leng Siang moay yg tersohor?” kata Boe Kie.

Bibir Boe Ceng Eng bergerak, seperti orang bersenyum. “Hei, jawablah! Siapa yang meyuruh kau?” teriaknya.

“Kalau kau mau tahu juga, baiklah, aku akam memberitahukan terang2an,” kata si gadis dusun. “Yang menyuruh aku membunuh Coe Kioe Tin adalah Ho Thay Ciong dari Koen Loen pay dan Biat coat Soethay dari Go bie pay.”
“Gila!” teriak Boe Liat. “Binatang! Jangan kau harap bisa menyebar racun dan merenggangkan persahabatan kami.” Seraya mencaci ia menghantam dengan telapak tangannya, tapi dengan gerakan yg sangat gesit, nona itu berhasil menyelamatkan diri.

Boe Kie jadi bingung bukan main. “Kalau begitu dia benar2 seorang dari Rimba Persilatan,” pikirnya. “Tak bisa salah lagi, dia membunuh Coe Kauwnio untuk membalas sakit hatiku, sebab aku memberitahukanm bahwa aku sudah ditipu oleh nona Coe dan digigit oleh anjing2nya nona itu, celaka sungguh! Aku sama sekali tidak menyuruh ia membinasakan Coe Kioe Tin. Aku semula hanya mengganggap dia manusia aneh karena romannya jelek dan nasibnya buruk. Tak tahunya ia bisa membunuh manusia secara serampangan.”

Sementar itu, dengan bersenjata pedang Wie Pek dan Hoe Ceng Eng sudah bantu menyerang dari kiri dan kanan. Dengan penuh kewaspadaan Boe Kie memperhatikan jalan pertempuran. Dengan menggunakan kegesitan, dengan melompat kian kemari, gadis dusun itu mengelakkan serangan Boe Liat yang bertubi2. Dari gerak geriknya, ia kelihatannya tidak memandang sebelah mata keapda Wie Pek dan Boe Ceng Eng. Sesudah bertempur belasan jurus, bagaikan kilat ia melompat kesamping Boe Ceng Eng dan “plok!” ia menggaplok pipi nona boe. Berbareng dengan gaplokan itu, tangan kirinya turut menyambar dan dilain saat pedang Boe Ceng Eng sudah berpindah kedalam tangannya. Boe Liat dan Wie Pek terkejut. Degan berbareng mereka menerjang untuk menolong nona Boe yang berada dalam bahaya.

“Kena!” gadis dusun itu berteriak dan pedang nya menggores muka Boe Ceng Eng! Ternyata dalam gusarnya sebab nona Boe sudah mengejek romannya yang jelek. Tanpa memperdulikan bahaya yang datang dari Boe Liat dan Wie Pek ia melompakt dan menggoreskan ujung pedang di muka nona Boe.

Seraya mengeluarkan teriak keras, Boe Ceng Eng jatuh terjengkang. Sebenarnya, lukanya sendiri sangat enteng. Ia jatuh lantaran kaget, sebab ia tahu bahwa mukannya yang cantik manis sudah digores pedang.

Dengan mata merah Boe Liat menerjang dan si gadis dusun melompat kesamping. Mendadak terdengar “trang!” suara bentrokan antara pedang si nona dan pedang Wie Pek yg terbang ke tengah angkasa.

Hampir pada detik yg bersamaan, telunjuk tangan kanan Boe Liat berhasil menotok Hok touw hiat dan Hong Sau Hiat, dibetis si nona. Totokan ini adalah It Yang Cie yg sangat lihai.

Sambil mengeluarkan rintihan perlahan, gadis itu roboh terguling, jatuh diatas Boe Kie. Ia merasa sekujur badannya nyaman dan hangat tapi tidak bertenaga sedikitpun jua, bahkan tak kuat menggeraklkan jari tangannya. Ia merasa di ikat dengan semacam tenaga yg kekuatannya ribuan kati tapi badannya bebas dari perasaan sakit. Biarpun Boe Liat sendiri bukan seorang yang sepak terjangnya boleh di puji, tapi ilmu It Yang Cie adalah warisan dari seorang ksatria. Maka itu meskipun dapat menjatuhkan lawan, ilmu tersebut tidak mengakibatkan penderitaan.

Boe Ceng Eng menjemput pedang Wie Pek dan bekata dengan suara yg membenci “Perempuan bau! Sekarang tamatlah riwayatmu. Tapi aku tak mau menghadiahkan kebiasaan yg enaka kepadamu. Aku hanya mau memutuskan kedua tangan dan kedua betisnya, supaya hidup2 kau di gegares kawanan serigala.” Seraya mencaci, ia mengayun pedang untuk membabat lengan kanan si gadis dusun.

“Tahan!” mencegah Beo Liat sambil mencekal pergelangan tangan putrinya. Ia mengawasi gadis dusun itu dngan berkata pula. “Jika kau memberitahukan siapa yang menyuruh, aku akan membinasakan kau tanpa siksaan. Tapi jika kau membandel… huh-huh… aku akan memutuskan kaki tanganmu.”

Nona itu ternyata mempunya nyali yg sangat besar. Mendengar ancaman yang hebat itu, ia tersenym dan berkata dengan suara tenag. “Kalau kau kepingin tahu juga aku terpaksa bicara terus terang. Nona Coe Kie Tin mencintai seorang pemuda dan seorang nona lain jg mencintai pemuda itu. Yang menyuruh aku membinasakan nona Coe Kieo tin adalah nona yang lalu itu. Aku sebenarnya sungkan membuka rahasi.” Belum habis ia bicara Boe Ceng Eng sudah jadi kalap dan menikam dan menggunakan seantero tenaganya.

Ternyata, si gadis dusun sudah dapat menduga adanya percintaan antara Wie Pek coe Kioe tin dan Boe Ceng Eng. Ia sudah sengaja mengatakan begitu untuk membangkitkan amarahnya nona Boe, supaya ia bisa mati tapi disiksa.

Sinar pedang Boe Ceng Eng berkelebat bagaikan kilat. Pada detik ujung pedang hamper menyentuh ulu hati mendadak serupa benda, yang tak bersuara menyambar dan membentur pedang itu. Tiba tiba saja Boe Ceng Eng merasakan telapak tangannya seperti di beset dan tanpa apapun lagi, senjatanya tebang ke atas. Tenaga benturan itu hebat luar biasa dan pedang nona Boe jatuh ditempat yang jauhnya lebih dari dua puluh kaki.

Di tengah malam yang gelap, tak seorangpun lihat mengapa pedang itu terpental dari tangan Boe Ceng Eng. Apa yang mereka tahu hanyalah bahwa tenang yang membenturnya sangat menakjubkan, sehingga menduga si gadis dusun mendapat bantuan dari seorang yang bersembunyi. Dengan kaget keenam orang itu mundur beberapa tindak dan mengawasi kesekitarnya. Tempat itu adalah tanah lapang yg luas tanpa pohon yang dapat digunakan untuk menyembunyikan diri. Sesudah mengawasi kesana sini beberapa lama mereka tak melihat bayangan siapapun jua. Dengan rasa heran dan bercuriga, mereka saling memandang tanpa mengeluarkan suara.

Beberapa saat kemudian, Boe Liat berkata dengan suara perlahan. “Ceng Jie, apa yg sudah terjadi?”

“Pedangku seperti dipukul dengan semacam senjata rahasia yg sangat lihai,” jawabnya.

Boe Liat mengawasi kesekitarnya, tapi ia tetap tidak melihat lain manusia. Ia heran bukan main dan berkata dalam hatinya. “Terus terang dia sudah kena ditotok olehku dengan It Yang Cie. Bagaimana ia masih mempunyai tenaga yang begitu besar? Apa perempuan ini mempunyai ilmu siluman?” Ia maju mendekati dan menepuk pundak nona itu. Dengan tepukan yang disertai Lweekang dahsyat, ia bermaksud menghancurkan tulang pundak si nona supaya kepandaiannya musnah dan dapat dipermainkan oleh puterinya.

Pada saat telapak tangan Boe Liat hampir menyentuh pundak, tiba2 gadis dusun itu mengangkat tangan kirinya dan menangkis. Begitu kedua tangan kebentrok, Boe Liat merasa daatnya panas, seolah2 didorang dengan tenaga taufan atau gelombang laut yang maha dahsyat. Sambil mengeluarkan teriakan “ah!” tubuhnya mengapung ke atas dan jatuh ke tempat yang jauhnya melebihi tiga tombak. Untung jg, ia memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, sehingga begitu lekas punggungnya ambruk ditanah, begitu lekas pula ia dapat melompat bangung. Tapi biarpun begitu ia masih merasakan sakit didadanya dan darahnya bergolak, sehingga kepalanya pusing. Baru saja ia berdiri tegak dan mau mengatur pernapasannya, tiba2 matanya berkunang2, badannya bergoyang2 dan sekali lagi ia jatuh terguling.

Boe Ceng Eng mencelos hatinya, buru2 ia menubruk dan membangunkan ayahnya.

“Biarkan ia rebah lebih lama!” tiba2 Ho Thay Ciong berkata.

Nona Boe menengok dan membentak dengan gusar. “Apa kau kata!” Ia menganggap bahwa dengan berkata begitu, Ho Thay Ciong mengejek ayahnya.

“Darahnya bergolak dan ia harus mengaso dengan merebahkan diri,” jawabnya.

Wie Pek lantas saja tersadar. “Benar,” katanya. Ia segera memeluk tubuh gurunya dan merebahkan kembali diatas tanah.

Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham saling mengawasi dengan perasaan sangat heran. Mereka sudah pernah bertempur dengan gadis dusun itu dan mereka tahu bahwa meskipun begitu ilmu silat si nona cukup tinggi. Lweekangnya belum mencapai tingkatan atas. Tapi tenaga yang barusan merobohkan Boe Liat adalah lweekang yang sungguh2 jarang terdapat dalam dunia ini.

Kalau mereka heran. Si gadis dusun pun lebih heran lagi. Sesudah kena ditotok ia roboh dalam pangkuan Boe Kie tanpa bisa bergerak. Waktu pedang Boe Ceng Eng hampir mampir di ulu hatinya, tiba2 menyambar serupa benda yang membentur senjata itu, sehingga terlepas dari tangan nona Boe. Ia sendiri tidak tahu apa adanya benda itu. Sesaat kemudian, tiba2 ia merasakan masuknya hawa panas di Ciok sam lie dan Yang leng coan, yaitu dua hiat di betisnya.

Hawa panas itu terus menerjang ke How touw hiat dan Hong hiat sehingga jalan darah yang ditotok lantas saja terbuka kembali.

Begitu terbuka jalan darahnya, ia bergidik. Ia mengawasi kakeknya dan melihat kedua tangan Boe Kie sedang mencekal kedua tumit kakinya dan semacam hawa hangat masuk kedalam badannya dari kedua kakinya itu.

Sesaat itu Boe Liat telah menghantam dengan telapak tangannya. Dengan nekad ia mengangkat tangannya dan menangkis. Ia merasa, bahwa hancurnya tulang lengan lebih baik dari pada hancurnya tulang pundak. Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwas tangkisannya itu sudah membuat terpentalnya tubuh Boe Liat sampai beberapa tombak. Ia terkesiap dan berkota dalam hatinya.

“Apakah aku mendapat bantuan dari Tioe pat-koay? Apakah Tioe-pat koay seorang tokoh rimba persilatan ini berkepandaian luar biasa tinggi?”

Sesudah menyaksikan lihainya nona itu, Ho Thay Ciong tak berani mengadu tenaga. Sambil menghunus pedang itu berkata, “Aku ingin meminta pelajaran kiamhoat dari nona.”

“Aku tak punya pedang,” kata si nona sambil tertawa.

Dengan kakinya Ho Tay Ciong menyontek pedang Boe Ceng Eng yang lantas terbang kearah si nona yang lalu menyubitnya. Sebagai seorang Ciang Boen Jin dari sebuah partai besar, dalam menghadapi seorang yang tingkatnya lebih muda, Ho Thay Ciong sungkan bergerah lebih dahulu.

“Kau mulailah,” ia mengundang. “Kau boleh menyerang lebih dulu dalam tiga jurus dan sesudah itu, barulah aku membalas.”

Tanpa sungkan2 lagi si nona lalu menikam dan Ho Thay Ciong menangkis. “Trang!” kedua pedang itu patah bersama sama.

Paras muka Ho Thay Ciong pucat pias. Ia melompat mundur beberapa tindak. “Sayang! Sungguh saying!” kata si nona. Ia mengerti, bahwa Boe Kie sudah memasukkan semacam tenaga luar biasa (yaitu tenaga Kioe yang Sin kang) ke dalam tubuhnya, tapi karena ia masih belum bisa menggunakannya, maka pedangnya sendiripun turut menjadi patah. Bila ia telah dapat menggunakan Kioe yang Sin kang, senjatanya pasti akan tinggal utuh.

Pan Siok Ham heran tak kepalang. “Bagaimana bisa begitu?” tanyanya dengan suara perlahan.

“Ilmu silatmu!” jawabnya sang suami.

Dengan rasa penasaran nyonya itu lalu menghunus pedang. “Akupun ingin meminta pelajaran,” katanya dengan suara menyeramkan.

Si nona mengangkat kedua tangannya untuk mengunjuk, bahwa ia tak punya senjata lagi.

“Kau boleh menggunakan pedaang itu,” kata Pan Siok Ham sambil menuding pedang Wie Pek yang menggeletak ditempat yg agak jauh.

Nona itu tahu, bahwa jika berpisahan dengan Boe Kie, ia takkan mempunya lweekang yang begitu tinggi lagi. Maka itu, seraya bersenyum ia berkata. “Biarlah aku menggunakan pedang buntung itu saja.”

Pan Siok Ham melupa daranya. Jawabnya nona itu dianggap sebagai penghinaan baginya. Dalam gusarnya, ia tak berbuat seperti suaminya dan tak menghiraukan lagi kedudukannya sebgai seorang cianpwee (org yg tingkatnya lebih tinggi). Dengan mendadak ia menikam leher si nona, yang lantas saja menangkis. Nyonya itu mempunyai kegesitan luar biasa. Baru saja tikamannya yang pertama ditangkis, tikaman kedua, yang menyambar kearah pundak sudah menyusul. Si nona baru2 mengebas pedang buntunnya untuk melindungi pundak kiri, tapi hampir berbareng, pedang musuh sudah menyambar pundak kanan. Dalam sekejap, Pan Siok Ham sudah mengirim delapan tinju kilat yang susul2an dalam serangan2nya itu, ia selalu menjaga supaya senjatanya tak terbentuk dengan senjata si nona. Sebelum menyerang dia telah mengambil keputusan untuk menggunakan kegesitan guna mengimbangi Lwee kang si nona.

Benar saja, makin lama si nona makin repot. Dalam hal ilmu pedang, biarpun dia tidak bisa menandingi Pan Siok Ham, gadis dusun itu sebenarnya masih bisa bertahan dalam sedikitnya seratus jurus. Apa mau, ia bukan saja menggunakan pedang bunting, ia juga tidak berani berpisahan sama Boe Kie, sehingga dalam pertempuran itu, ia hanya membela diri dan tidak bisa balas menyerang. Mendadak pedang Pan Siok Ham berkelebat bagaikan kilat dan “sret!” lengan kirinaya sudah kena di gores. Nyonya itu jadi girang dan terus mengirim serangan2 berantai. Sesaat kemudian si nona mengeluarkan teriakan “aduh!” dan sekali ini, pundaknya tertikam pendang.

“Hai! Apa kau tidak mau membantu aku lagi?” teriak si nona.

Dengan kaget Pang Sik Ham melompat mundur dan lalu mengawasi kesekitarnya. Tapi diseputar itu tidak terdapat bayangan manusia lain.

Sambil tersenyum, ia segera menyerang lagi dengan hebatnya.

Walaupun sudah terluka, gadis dusun itu terus melawan dengan nekad. Satu kali dengan kecepatan luar biasa, ia bisa mengelakkan serangan Pan Siok Ham. “Perempuan bangsat, tanganmy cepat jg,” memuji nyonya itu.

“Nenek bangsat! Tanganmu pun tidak terlalu lambat,” jawab si nona yang tidak mau kalah.

Diluar dugaan, jawabnya itu membawa akibat buruk. Sebagai seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi, biarpun mulutnya berbicara tangan Pan Siok Ham bekerja terus seperti biasa. Dilain pihak begitu ia bicara pemusatan, perhatian si nona segera jadi terpecah dan gerakannya berubah lambat. Pan Siok Ham tentu saja sungkan menyia nyiakan kesempatan baik itu. Dengan sekali menikam, pedangnya tempat menancap di pergelangan tangannya nona itu, sehingga pedang yg sedang di cekalnya lantas saja terbang.

“Celaka!” si nona mengeluarkan seruan kaget dan hampir berbareng ujung pedang Pan Siok Ham sudah meluncur ke bawah ketiaknya.

Sesudah orang hampir roboh, tentang Bin Koe yg sedari tadi terus menonton tanpa bergerak, sekarang turun tangan. Tanpa menghunus pedang, dengan jurus Toe Chung bong Goat (mendorong jendela melihat rembulan), neduu telapak tangannya menghantam punggung gadis dusun. Boe Ceng Eng jg tidak mau ketinggalan. Ia melompat dan menendang pinggang musuhnya.

Hati si gadis dusun mencelos. Ia merasa ajalnya sudah tiba.

Mendadak mendadak saja, ia merasa sekujur badannya panas luar biasa, seolah2 dibakar. Waktu pedang Pan Siok Ham menyambar tanpa merasa ia mengangkat tangannya dan menyentil badan pedang dengan jarinya. Pada detik yg bersamaan punggungnya kena pulukan Teng Bin Koen dan pinggangnya kena tendangan Boe Ceng Eng.

“Tring…..” “Aduh!…..” “Aduh….”

Tiga suara itu terdengar dengan berbareng. Apa yg sudah terjadi? Pedang Pan Siok Ham patah, tubuh Teng Bin Koen dan Boe Ceng Eng jatuh terpelanting.

Ternyata pada detik yg sangat berbahaya, Boe Kie telah mengempos (^0^) semangatnya dan memasukkan seantero “hawa murni” ke dalam tubuh si nona. Pada waktu itu, ia sudah berhasil mendapatkan dua bagian dari tenaga Kioe yang Sing kang dan bagian ini sudah hebat bukan main. Sebagai akibatnya, pedang Pan Siok Ham patah, kedua tulang lengan Teng Bin Koen hancur dan tulang kaki Boe Ceng Eng pun remuk.

Ho Thay Ciong, Boe Liat dan Wie Pek mengawasi dengan mata membelak dan mulut ternganga.

Pan Siok Ham melemparkan pedang buntungnya di tanah “Hayo kita pergi!” katanya pada sang suami, “Apa kau belum cukup mendapat malu?”

“Baiklah,” jawabnya. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, mereka belalu tanpa berpamitan lagi. Sambil menuntun tangan guru dan memapah adik seperguruannya, Wie Pek pun segera meninggalkan tempat itu. Karena tulang kaki Boe Ceng Eng hancur, mereka terpaksa jalan perlahan lahan. Hati mereka berdebar debar dan saban2 menengok kebelakang karena kuatir dikejar oleh gadis dusun itu. Teng Bin Koen juga tidak dapat berbuat lain daripada menyingkir dengan rasa gusar dan sakit hati yang sangat besar.

Sesudah semua berlalu, si nona tertawa terbahak bahak. “Tioe Pat Koay!” teriaknya. “Kalau begitu kau…” Ia tidak dapat meneruskan perkataannya sebab kedua matanya mendadak berkunang2 dan ia segera roboh dalam keadaan pingsan.

Ternyata sesudah musuh kabur, Boe Kie segera melepaskan kedua kaki si nona dari cekalannya dan dengan berbareng, semua hawa Kioe yang keluar dari tubuhnya. Dengan demikian tubuh itu menjadi “kosong” secara mendadak tenaganya habis dan ia tak dapat mempertahankan diri lagi.

Boe Kie lantas saja mengerti sebab musabah pingsannya si nona. Buru2 menekan Sie Tiok Kong di ujung alis nona itu dan mengerahkan sin kang. Selang beberapa saat, si nona tersadar dan perlahan2 ia membuka matanya.

Melihat dirinya sedang rebah dipangkuan Boe Kie, paras mukanya lantas saja berubah merah dan cepat2 melompat bangun.

Sekonyong2 ia membetot kumis Boe Kie dan berteriak, “Tioe pat koay! Kau menipu aku! Kau mempunyai kepandaian yg sangat lihai, tapi kau sengaja tidak mau memberitahukan kepadaku.”

“Aduh… aduh… lepas!” teriak Boe Kie.

“Siapa suruh kau mendustai aku?” kata si nona seraya tertawa.

“Lagi kapan aku mendustai kau?” Boe Kie balas menanya. “Kau tidak pernah memberitahukan kepadaku, bahwa kau mengerti ilmu silat. Akupun begitu jg.”

“Baiklah, sekali aku suka mengampuni kau,” kata si nona. “Biar bagaimanapun jua, tadi kau sudah bisa jalan?”

“Belum bisa,” jawabnya.

Si nona menghela napas, “Benar jg kata orang siapa yg berbuat baik akan mendapat pemabalasan baik,” katanya. Jika aku tidak memikiri kau dan tidak datang lagi kesini, kau tentu tidak bisa menolong jiwaku.” Ia berdia sejenak dan kemudian berkata pula, “Kalau aku tahu bahwa kau berkepandaian lebih tinggi dari aku, aku tentu tidak merasa perlu untuk membinasakan perempuan she-Coe itu.”

Paras muka Boe Kie lantas saja berubah gusar. “Aku sama sekali belum pernah meminta kan untuk membunuh nona Coe,” katanya dengan suara mendongkol.

“Aduh! Kau ternyata belum dapat melupakan nona manis itu!” kata si nona dengan suara mengejek. “Akulah yg bersalah. Aku sudah mencelakakan kecintaanmu.”

“Nona Coe bukan kecintaanku,” kata Boe Kie. “Dia dan aku tidak ada sangkut pautnya.”

“Ah, heran sekali!” kata si nona. “Dia sudah mencelakakan kau dan aku membinasakannya untuk membalas sakit hatimu. Apa dengan bertidak begitu aku bersalah?”

“Orang yang mencelakai aku banyak jumlahnya,” kata Boe Kie tawar. “Jikalau mereka satu demi satu harus dihukum mati, mereka tidak bakal terbunuh habis. Pula ada orang2 yg berniat mencelakai aku, tetapi di pandangan mataku, mereka itu harus di kasihani. Seperti nona Coe, dia setiap hari dirundung kekuatiran, hati nya terus berdenyutan, dia kuatir kakak misannya tidak mau baik dengannya, dia kuatir kaka misan itu menikahi nona Boe. Orang semacam dia, ada apakah senangnya?”

Mendengar itu si gadis desa murah wajahnya.

“Apakah kau menyindir aku?” tanyanya gusar.

Boe Kie melengak. Ia tidak menyangka lantaran menyebut2 Coe Kioe Tin, ia membangkitkan cemburunya nona dihadapannay ini.

“Bukan, bukan…,” katanya cepat. Aku mau bilang sesuatu orang ada nasibnya masing2. Umpama kata ada orang berbuat tidak benar terhadapmu lantas kau bunuh dia, itulah tidak baik.”

Gadis desa itu tertawa dingin.

“Jikalau kau mempelajari ilmu silat bukan untuk membunuh orang, habis untuk apakah?” dia tanya.

“Jikalau kita telah mempelajari ilmu silat,” sahut Boe Kie, dalam suaranya, “Jikalau ada orang jahat terhadap kita, kita lawan dia.”

“Kagum aku, kagum terhadapmu,” berkata si nona. “Kiranya kau seorang, kuncu sejati, seorangyg sangat baik hatinya!”

Boe Kie tunduk, ia mengawasi nona itu. Ia merasa si nona aneh sekali, ia merasakan sikap orang yg sangat erat hubungannya dengan ia, agaknya ia mengenalnya dengan baik.

“Kau mengawasi apa?” tanya si nona matanya memain.

“Aku ingat ibuku,” menyahut Boe Kie. “Ibu sering menertawakan ayahku, yg dikatakan sebagai orang yg sangat baik hatinya, yang menjadi seorang pelajar yg harus dikasihani sebab hatinya sangat lemah. Selagi itu bicara itu, gerak gerimnya lagu suaranya, mirip dengan mu.”

Mukanya si nona menjadi merah.

“Haik au menggoda aku!” tegurnya. “Kau bilang aku mirip ibumu, jadi kau mirip ayahmu”

Meski ia menegur, toh sinar matanya, sinar mata yang manis!!…

“Oh, oh….” Kata Boe Kie cepat. “Langit ada diatas jikalau aku menggoda kau, biarlah langit membunuhnya dan bumi memusnahkannya!”

Nona itu mendadak tertawa.

“Kau bicara gampang saja!” katanya. “Kenapa mesti main sumpah2?”

Tepat si nona baru habis mengatakan demikian, dari arah timur utara terdengar siutan yg nyaring dan panjang. Itulah suaranya seorang wanita. Lantas jawaban serupa, yang dtgnya dari kejauhan. Itulah jawabannya Teng Bin Koen, yang belum pergi jauh.

Air mukanya si nona lantas saja berubah.

“Kembali ada dating orang dari Go Bie Pay,” katanya perlahan.

Gadis desa ini dan Boe Kie merasakan suarakan, jawaban itu membuktikan orang lebih lihai tenaga dalamnya drpd Teng Bin Koen sebab suara itu terang dan jernih sekali. Toh orang berada lebih jauh daripada sinona Teng.

Ketika ia mendengar jawaban itu Teng Bin Koe menghentikan tindakannya.

Boe Kie dan si gadis dusun memandang kearah timur utara itu.

Cuaca sudah mulai terang, maka disana terlihat bayangan seorang dengan pakaian hijaunya. Berjalan diatas salju, orang itu bagaikan melayang laying. Dia mendekati Teng Bin Koen, untuk terus bicara satu pada lain, kemudian dia menendang kepada Boe Kie dan si nona terus dia menghampiri. Dia bertindak dengan tindakan ringan dan jarak tindakannya itupun tidak lebar. Ketika ia sudah mendatangi kira2 empat atau lima tomabk, terlihat tegas wajahnya ygn cantik sekali dan bersih, dan usianya belum lewat tujuh atau delapan belas tahun.

Dalam herannya Boe Kie berpikir, mendengar suara siulannya tadi dan menyaksikan ringannya tubuhini, dia sebenarnya lebih tua dari Teng Bia Keon, tidak tahunya dia justru lebih muda bahkan rupanya lebih muda dari ia sendiri.

Nona itu membawa pedang di pinggangnya, senjata itu, tapi tidak dihunus. Dia bertindak mendekati dengan tangan kosong.

“Cioe Soe moay, hati hati!” Teng Bie Koen berkata memperingati. “Badak setan itu bekepandaian rada sesat!”

Nona itu mengangguk.

“Jiwi, kamu she apa dan nama siapa?” ia menanya halus. Ia memanggil jiwi berdua nona atau tuan, kepada Boe Kie dan gadis desa. “Kenapa jiwi melukai siecoeku itu?”

Selagi orang mendekat Boek Kie mengawasi terus. Ia lantas merasa bahwa ia pernah kenal nona itu. Ketika ia mendengar suara si nona, lantas ia ingat, maka katanya didalam hati, “Ah kiranya dia Coe Cie Jiak yang aku pernah ketemukan disungai Han Soei! Tay soehoe membawa dia ke Boe Tong san, kenapa dia sekarang masuk dalam partai Gio Bie Pay!”

Karena memikir begini Boe lantas ingat juga Thio Sam Hong. Ia lantas merasakan dadanya panas. Hanya sejenak ia lantas berpikir pula, “Thio Boe Kie telah mati!” srkarang ini akulah seorang dusun, si Can A Goe yang sangat jelek rupanya! Asal aku tidak bisa menyambarkan diri mungkin aku bakal menghadapkan malapetaka yg tak ada habisnya! Tidak, di depan siapa pun, tdk dapat aku memperlihatkan diriku yg asli, supaya ayah dan ibuku jangan berpenasaranterus didunia baka!”

Sekejap ia menjadi ingat pula ayah angkatnya berdiam diri dipulau mencil yg tak dikenal dan tentang ayah dan ibunya yang sudah binasa penasaran.

Selagi Boe Kie berpikir itu, si gadis desa menyahuti dengan suara dingin. Sembari berkata itu dia tertawa.

“Soecie kau itu sudah menghajar punggungku dengan kedua tangannya dengan pukulan Toe Chung Bong Hoa,” ia kata. “Dia memukul aku, lantas tangannya patah sendirinya. Apakah waktu itu aku pasti disesalkan dan dipersalahkan? Coba kau tanya soecie mu apakah pernah aku membalas memukul dia sekalipun satu kali saja?”

Cio Cie Jiak berpaling kepada kakak seperguruannya itu, romannya menanya.

Teng Bin Koen tidka memberi jawaban, hanya dengan gusar dia kata: “Kau bawalah dia berdua kepada suhu, supaya suhu yang memberi hukuman kepadanya!”

Mendengar itu Cie Jiak berkata, “Jika mereka ini bertindak keliru bukan dengan sengaja, menurut pandanganku baiklah urusan dihabiskan saja. Lebih baik kita menjadi sahabat2”.

Teng Bin Koen gusar.

“Apa?” dia berteriak. “Apakah kau berbalik untuk membantui orang luar?”

Melihat romannya Teng Bin Koen itu, Boe Kie ingat peristiwa itu malam ketika Pheng Eng Giok Hweeshio kena dikeroyok didalam rimba, karena mana Kie Siauw
Hoe menjadi bentrok sama Teng Bin Koen ini. Sekarang rupanya peristiwa ini mengulangi diri, Teng Bin Koen kembali mendesak, memaksa adik seperguruannya ini, untuk bertindak sewenang2 dan kejam. Karena ini, ia menjadi berkuatir untuk Cie Jiak.

Agaknya nona Cioe sangant menurut kepada sucinya itu, ia sangat menghormati. Sembari menjura ia berkata, “Baiklah siaomoi menurut kata suci, tidka bernai siaomoi membantah nya.”
“Bagus!” kata Bin Koen. “Sekarang kau boleh bekuk budak itu, kau patahkan kedua tangannya!”

“Baik!” menyahut adik seperguruan itu. “Tolong suci berjaga2” Ia lantas berpaling kepada gadis dusun, untuk berkata, “Maaf, siaomoi berlaku kurang aja, ingin ku menerima beberapa jurus.”

Gadis desa itu tertawa dingin. “Tak usah banyak pernik!” katanya. Dengan sebat sekali, ia lantas menyerang, beruntun 3 kali. Sebab serangannya yang pertama dan kedua tidak memberikan hasil.

Cie Jiak main mundur, tangan kanannya menangkis, tangan kirinya mencoba menangkap. Itulah pembelaan diri sambil menyerang. Dia bergerak lincah sekali.

Boe Kie menonton, ia menjadi kagum. Didalam ilmu dalam, ia sudha mencapai puncak kemahiran, tetapi di dalam hal ilmu silat, ia masih ketinggalan. Sekarang ia melihat kedua nona itu bertempur cepat dan hebat. Lihati tangan Bian Ciang dari Cie Jiak, tetapi aneh gerak gerik si gadis desa. Ia kagum berbareng berkuatir. Sebenarnya ia tidak mengharap siapa jg yang menang, ia hanya ingin dua2nya tidak sampai terluka…

Dengan lekas orang sudah bertarung lebih dari duapuluh jurus, sekarang mereka itu sama sama memasuki babak yg berbahaya. Mendadak si gadis desa berseru. “Kena!” benar saja ia dapat menghajar pundak Cie Jiak. Sebaliknya si nona Cioe dapat menjambret baju orang hingga robek. Setelah itu, keduanya sama-sama melompat mundur, muka merekapun sama-sama merah.

“Sungguh suatu ilmu menangkap yang hebat!” si gadis desa berseru. Sebenarnya ia hendak maju pula, tapi ia lantas melihat lawannya mengerutkan alis, tangannya meraba dadanya, tubuhnyapun terhuyung dua kali, hampir roboh.

Boe Kie kaget hingga ia berteriak, “Kau…kau….” Nyata sekali besar perhatiannya terhadap nona marga Cioe itu.

Cie Jiak heran melihat pria itu, yang rambut dan kumisnya panjang, menaruh perhatian sedemikian rupa terhadapnya.

“Soe-moay, kau kenapa?” Bin Koen bertanya heran.

Dengan tangan kirinya, Cie Jiak memegang pundak sang Soe-cie, kepalanya digeleng.

Bin Koen heran kemudian ia menjadi kaget. Tadi ia dikalahkan si gadis desa, ia penasaran ingin menuntut balas, maka senang hatinya sang Soe-moay itu, adik seperguruan, sudah datang kepadanya. Ia percaya Soe-moay ini bakal berhasil melampiaskan sakit hatinya itu. Ia pernah mendengar guru mereka memuji sang Soe-moay sebagai murid yang cerdas, yang majunya pesat, sehingga –Cioe Cie Jiak- diharap nanti dapat mengangkat pamor rumah perguruan mereka, maka itu sekarang, ia memaksa sang Soe-moay menempur si gadis desa. Ia berlega hati melihat Cie Jiak dapat berkelahi hingga dua puluh jurus lebih. Itu tanda Soe-moay itu sudah lebih menang darinya, maka ia heran melihat akhir pertandingan itu, bahkan ia terkejut waktu ia merasa cekalan tangan Soe-moay di pundaknya. Tangan itu seperti tidak ada tenaganya. Itulah tanda bahwa sang Soe-moay telah terluka. Dari kaget ia menjadi takut, takut si gadis desa nanti merangsak untuk menyerang pula.

“Mari kita pergi!” katanya cepat. Ia membawa Soe-moay itu, untuk berlalu dengan cepat ke arah timur laut tadi.

Si gadis desa mengawasi kepergian lawannya lantas ia menoleh kepada Boe Kie. Ia tertawa dingin. “Hai, si muka jelek tidak keruan!” katanya mengejek, “Melihat nona cantik, semangatmu terbang hingga keluar langit!”

Boe Kie berniat membantah ketika ia lantas berpikir. “Jikalau aku tidak memperlihatkan jati diriku, urusan sukar dibuat jelas. Tapi baiklah aku tetap jangan bicara!” Maka ia menjawab, “Perduli apa dia cantik atau tidak? Apa kaitannya dengan aku? Aku justru menguatirkan kau, aku takut kau nanti terluka….”

Mendengar itu, si nona menjadi girang. Perubahan sikapnya cepat.

“Omonganmu ini benar-benar atau dusta?” dia bertanya.

“Sebenarnya aku menguatirkan kalian berdua,” piker Boe Kie, tapi ia menjawab, “Untuk apa aku mendustai kau? Aku hanya tidak menyangka dalam Go Bie-pay ada nona demikian muda tapi ilmu silatnya sudah mahir sekali.”

“Hebat, ya hebat!” kata si gadis desa.

Boe Kie mengawasi ke arah Cie Jiak. Tadi nona itu datang dengan lincah, tapi sekarang pergi dengan langkah terseok-seok. Ia lantas ingat bagaimana dulu, di dalam perahu di sungai Han Soet, si nona menyuapi ia, meminumkan air, bagaimana ia diberikan sapu tangan untuk menyusut air matanya…Itulah budi si nona. Maka mengingat begitu, ia berdoa agar luka si nona tidak berbahaya…

Tiba-tiba gadis desa tertawa dingin.

“Tak usah kau menguatirkan dia!” katanya nyaring. “Dia tidak terluka sama sekali! Bahkan aku bilang dia hebat! Bukan ilmunya yang aku maksud, tapi kecerdikannya, selagi ia masih berusia demikian muda!”

Boe Kie heran.

“Apakah dia tidak terluka?” ia tanya.

“Memang tidak! Ketika tanganku mengenai pundaknya, dari pundak itu menolak keluar aliran tenaga dalam yang membuat tanganku mental kembali. Jelaslah dia telah mempelajari ilmu Kioe Yang Kang dari Go Bie-pay. Dan membuat tanganku gemetaran dan kesemutan! Dia mana terluka?”

Boe Kie menjadi girang. Ia berkata dalam hatinya, “Kalau begitu, Biat Ciat Soe-thay menghargai nona itu. Dia rela menurunkan ilmu Kioe Yang Kang dari Go Bie-pay, sedangkan ilmu itu adalah ilmu pelindung untuk partainya.

Tengah ia berpikir, Boe Kie merasa kupingnya sakit. Tanpa setahunya, telinganya itu telah ditampar si nona, pipinya juga kena, sehingga kuping dan pipinya menjadi merah dan bengap.

“Kau…kau bikin apa?” tegurnya gusar.

Nona itu mendongkol, katanya sengit. “Melihat orang demikian cantik semangatmu terbang naik keluar langit! Aku bilang dia tidak terluka, lantas kau jadi kegirangan! Kenapa?”

“Jika benar aku girang untuknya, apa kaitannya dengamu?” Boe Kie balik bertanya.

Tangan si nona melayang pula, tapi Boe Kie dapat berkelit mundur.

Nona itu menjadi gusar dan berseru.

“Kau telah bilang bahwa kau telah bakal menikahi aku! Belum setengah hari lewat, pikiranmu sudah berubah! Kau sudah kepincut nona lain!”

“Toh kau sendiri yang bilang aku tidak cocok untukmu?” balas Boe Kie. “Kau pun bilang bahwa di dalam hatimu ada seorang kekasih lainnya, kau tak dapat menikah denganku!”

“Itu benar! Tapi kau telah berjanji padaku bahwa seumur hidupmu kau akan setia padaku,” kata si nona pula.
“Tentu sekali, apa yang telah aku bilang akan kupegang,” kata Boe Kie pula.
“Kalau begitu?” kata si nona gusar, “Kenapa setelah melihat nona cantik kau tak ada semangat seperti ini? Melihat lagakmu ini bagaimana orang tidak mendongkol?”

Mau tidak mau, Boe Kie tertawa.
“Semangatku tidak hilang!” katanya.
Si nona masih berkata sengit, “Aku larang kau menyukai dia! Aku larang kau memikirkan dia!”

“Aku tidak bilang bahwa aku menyukai dia,” kata Boe Kie. “Tapi kau, di dalam hatimu mengapa kau senantiasa mengingat seseorang lain. Kau mengingatnya hingga kau tidak melupakannya?”

“Sebab aku kenal orang itu lebih dulu daripada aku kenal kau. Coba aku mengenal kau terlebih dahulu, pasti seumur hidupku, aku selalu baik terhadap kau seorang, tidak akan mencintai orang lain lagi. Ini dia yang dibilang, ikut satu orang hingga akhir hayatnya. Jikalau satu orang mempunyai dua atau tiga pikiran, Tuhan juga tidak dapat menerimanya?”

“Aku kenal nona Cioe jauh lebih lama daripada aku kenal kau,” kata Boe Kie di dalam hati. Ia tidak dapat mengatakan itu, maka ia bilang, “Jikalau kau baik denganku seorang, aku juga akan baik dengan kau seorang, tetapi jikalau di dalam hatimu memikirkan orang lain, aku pun dapat memikirkan orang lain!”

Nona itu terdiam, beberapa kali ia hendak membuka mulutnya, tiba-tiba batal. Mendadak kedua matanya mengalirkan air, lantas ia berpaling ke arah lain. Tanpa sepengetahuan Boe Kie, ia menghapus air matanya itu.

Boe Kie menjadi kasihan. Ia mencekal tangannya.

“Kita bicara tidak keru-keruan begini, untuk apa?” ia bilang. “Beberapa hari lagi kakiku sembuh, kita berdua boleh pergi pesiar memandangi keindahan sang alam. Tidak baguskah itu?”

Nona itu menoleh, wajahnya berduka.

“Goe koko, aku mau minta sesuatu,” katanya sabar. “Aku minta kau jangan gusar.”

“Apakah itu?” balik tanya Boe Kie. “Asal yang aku sanggup, tentu aku akan melakukannya untuk kau.”

“Jikalau kau berjanji tidak akan gusari aku, baru aku mau bicara.”

“Baik, aku tidak akan gusar.”

Nona itu ragu-ragu. Katanya sesaat kemudian. “Kau bilang di hatimu tidak gusar, kalau di mulut bilang tak gusar…”

“Baiklah, di dalam hatiku juga aku tidak gusar.”

Nona itu lantas menggenggam keras.

“Goe koko!” Ia berkata sungguh-sungguh. “Aku datang dari Tionggoan yang berlaksa li sampai di wilayah Barat ini, maksudku ialah untuk mencari dia. Mulanya aku masih dapat mendengar sedikit kabar tentangnya, lalu setibanya di sini ia bagaikan sebuah batu yang tenggelam dalam lautan besar, sedikitpun tak kudengar lagi kabarnya. Maka itu, kalau nanti kakimu sudah sembuh aku minta kau membantuku mencari dia, sesudah itu baru aku menemani kau pesiar ke gunung dan sungai! Tidakkah ini bagus?”

Boe Kie tidak dapat menahan rasa tidak senangnya, hingga ia mengeluarkan suara di hidung. “Hmm….”

“Kau sudah menerima baik, kau sudah berjanji tidak akan gusar,” kata si nona. “Apakah ini bukan tandanya gusar?”

“Baiklah, aku nanti membantu kau mencari dia!” kata Boe Kie.

Kembali si nona girang secara mendadak.

“Goe koko, kau baik sekali,” dia berseru. Lantas ia memandang jauh ke depan, ke arah di mana langit dan bumi bertemu, hatinya bergetar. Dengan perlahan dia berkata, “Jikalau nanti kita dapat menemukan dia, dia akan berpikir bahwa aku telah mencari dia lama sekali, dia tidak akan mengusir aku. Apa yang dia bilang, aku akan melakukannya. Pendek kata, aku akan turut segala perkataannya!”

“Sebenarnya kekasihmu itu ada kebaikkan apa?” tanya Boe Kie. “Kenapa kau sampai selalu memikirkannya saja?”
Ditanya begitu, si nona tertawa.

“Apa kebaikkannya?” katanya. “Mana dapat aku menerangkan? Goe koko, aku tanya apakah kita dapat mencari dia? Umpama kata kita dapat mencari, apakah dia bakal mencaci dan memukulku?”
Tidak senang Boe Kie melihat orang demikian tergila-gila, akan tetapi ia pun tidak mau membuatnya tidak bergembira, maka ia berkata perlahan, seperti bersenandung. “Asal hati manusia keras bagaikan emas, di atas langit atau di dalam dunia pasti orang dapat saling bertemu!”

Mulut mungil si nona bergerak perlahan, air matanya berlinang. Ia mengulangi dengan perlahan. “Asal hati manusia keras bagaikan emas, di atas langit atau di dalam dunia pasti orang dapat saling bertemu….”

Boe Kie mendengar suara si nona, katanya di dalam hati. “Nona ini demikian tergila-gila terhadap kekasihnya, jikalau di dalam dunia ini ada seorang yang demikian memikirkan aku, biar dalam hidupku lebih menderita lagi aku rela….”

Ia memandang ke arah timur laut, di atas salju ia melihat tapk kakinya Cie Jiak dan Bin Koen, ia melamun pula. “Jikalau tapak kakinya Bin Koen itu tapak kakiku, dapat berjalan bersama nona Cioe….”

Ia terbangun dari lamunannya dengan kaget. Mendadak ia mendengar suara keras dari si nona. “Hayo! Lekas! Mari kita pergi. Kalau terlambat, nanti tak keburu!”

“Apa?” tanya Boe Kie masih gelagapan.

“Nona muda dari Go Bie-pay itu tidak mau bertempur sama aku,” kata si nona. “Ia berpura-pura terluka, tetapi lain dengan Teng Bin Koen, dia bilang dia mau menangkap kita untuk dibawa kepada gurunya. Itu berbahaya. Mestinya Biat Coat Soe-thay berada di dekat sini. Pendeta wanita bangsat yang tua itu paling mau menang sendiri, mana bisa dia tidak datang kemari?”

Boe Kie terkejut, ia pun kuatir. Ia ingat kekejamannya Biat Coat Soe-thay ketika ia menghajar mati Kie Siauw Hoe dengan sebelah tangannya.
“Memang dia sangat hebat, kita tidak dapat melawannya,” katanya.

“Apakah kau pernah bertemu dengan dia?”
“Bertemu, itulah belum, tapi dia ketua Go Bie-pay, dia bukan sembarangan orang.”

Nona itu mengerutkan alis. Hanya sebentar, ia lantas bekerja. Ia mengumpuli beberapa kayu yang kuat, ia ikat itu dengan tali babakan pohon. Segera setelah selesai, membuat semacam kursi bagaikan kereta. Tanpa bilang apa-apa ia lantas menggendong Boe Kie, untuk duduk di dalam kursi itu, yang ujungnya diikatkan tali panjang, sesudah itu ia terus tarik bawa pergi berlari-lari! Kencang larinya….

Sambil duduk di kereta salju, Boe Kie mengawasi gadis desa yang tabiatnya aneh itu. Dia lari dengan lincah. Dia lari terus menerus, tak hentinya sampai kira-kira empat puluh li. Sama sekali tidak terdengar nafasnya menghela. Ia kagum akan kemahiran ilmu ringan tubuh si nona itu. Tapi ia merasa tidak enak hati.

“Eh, berhenti dulu!” katanya, “Kau beristirahatlah!”

Nona itu tertawa, ia menyahuti, “Siapa eh, eh? Apakah aku tidak punya nama?”

“Kau tidak mau memberitahukan namamu, apa yang aku bisa? Kau menghendaki memanggilmu si nona jelek, tapi aku merasa kau bagus dilihat….”

Nona itu tertawa, lalu berhenti berlari. Dia menyingkap rambutnya.

“Baiklah, sekarang aku memberitahukan kepadamu!” katanya. “Taka pa aku bilang padamu. Aku dipanggil Coe Jie.”

“Coe Jie! Coe Jie!” kata Boe Kie. “Sungguh benar satu anak mustika!”
“Fui!” nona itu meludah. “Namaku bukannya Coe dari Tin Coe yang berarti mutiara, hanya Coe dari Tin-coe, yaitu laba-laba!”
Boe Kie tercengang.

“Mana ada orang yang pakai huruf Coe untuk namanya?” katanya. Ia heran nona itu memakai nama Coe itu, hingga ia menjadi Coe Jie (anak Coe atau si Coe).

“Itu justru namaku!” kata si nona. “Umpama kata kau takut, nah, tak usahlah kau memanggilnya!”

“Apakah itu nama pemberian ayahmu?” Boe Kie bertanya.

“Jikalau ayahku yang memberikannya, kau piker, apakah kau kira aku suka menerimanya?” si nona membalas, “Ibuku yang memberikannya. Ibu mengajarkan ilmu silat Cian Coe Cit-hoe choe, maka ia bilang, aku baiknya memakai nama ini.”

Terkesiap Boe Kie mendengar disebutnya ilmu silat Cian Coe Ciat-hoe choe itu.

“Aku mempelajari itu dari kecil,” si nona menjelaskan tanpa diminta, “Sampai sekarang aku belum dapat menyempurnakan. Jikalau aku sudah mahir maka tak usahlah kita takut pula pada Coat Soe-thay si pendeta wanita bangsat itu. Maukah kau melihatnya?”

Sembari berkata begitu, Coe Jie merogoh ke dalam sakunya, untuk menarik keluar sebuah kotak dari emas, yang ia terus buka tutupnya dan di dalam itu lantas terlihat dua ekor laba-laba, yang tubuhnya berkotak-kotak. Punggung laba-laba itu bertitik-titik belang, bertotolan seperti bunga sulaman. Yang aneh pula kalau biasanya berkaki delapan, kedua binatang ini berkaki masing-masing dua belas.

Boe Kie terkejut. Mendadak ia ingat Tok Kang, Kitab Racun karangannya Ong Lan Kouw. Di dalam kitab itu antaranya ada ditulis. “Laba-laba itu ada yang belang. Itulah yang beracun sekali. Laba-laba dengan sepuluh kaki ialah yang paling beracun tak ada bandingan, siapa kena digigit dia tak akan ketolongan lagi.” Kali ini laba-laba berkaki dua belas pasti mereka lebih beracun daripada yang kakinya sepuluh. Sebab di dalam kitab tersebut tidak ada disebut-sebut.

Si nona ketawa melihat kawannya ketakutan.

“Kau ahli, kau tahu kegunaannya laba-laba mustika ini!” ia berkata, “Kau tunggu sebentar!”

Ia simpan kotaknya itu lantas ia lari menghampiri sebuah pohon besar, untuk lompat naik ke atasnya. Di situ ia berdiam lama di cabang yang tertinggi, untuk memandang sekitarnya. Ia seperti melihat atau mencari sesuatu. Setelah itu ia lompat turun lagi.

“Mari kita pergi pula barang selintasan,” ia berkata. “Perlahan-lahan saja kita bicara tentang laba-laba. “Ia lantas menarik pula kereta saljunya bermuatan manusia. dia berlari-lari kira-kira tujuh atau delapan li, hingga mereka tiba di sebuah lembah. Di sini ia turunkan Boe Kie dari kereta istimewanya itu, sebagai gantinya, dia memuat beberapa buah batu besar. Lantas ia menarik pula, berlari-lari. Akhirnya ia lari ke tepi jurang, di situ ia berhenti dengan tiba-tiba, keretanya dilepaskan, maka kereta itu bersama batunya terjun ke dalam jurang yang dalam, terdengar suara berisik dari jatuhnya kereta.

Boe Kie heran, ia mengawasi kelakuan nona itu. Ketika ia melihat ke salju, tempat yang tadi menjadi jalanan mereka, ia mendapatkan dua baris tapak kereta salju itu. Ia cerdas dan ia lantas mengerti. Maka di dalam hatinya ia berkata.
“Nona ini sangat cerdik. Jikalau Biat Coat Soe-thay menyusul kita, setibanya di sini, tentu dia bakal menyangka bahwa kita jatuh mati ke dalam jurang itu.”
Coe Jie lantas kembali.
“Mari naik ke atas punggungku!” ia berkata kepada kawannya, di depannya ia berjongkok.

“Kau hendak menggendong aku?” tanya Boe Kie, “Tubuhku berat, kau bakal sangat letih.”

Nona itu mengawasi, matanya melotot.

“Kalau aku letih aku pasti bisa tahu?” ujarnya.

Boe Kie terdiam, ia naik ke punggung nona itu, kedua tangannya merangkul leher si nona perlahan-lahan tanpa bertenaga.
“Apa kau takut merangkul aku keras-keras hingga mati tercekik?” kata nona itu tertawa. “Kau merangkul begini pelan dan kakimu menjepit orang enteng sekali, kau membuat leherku geli saja!”

Boe Kie yang polos, melihat kepolosan si nona ia menjadi girang. Ia lantas merangkul erat-erat dan kedua kakinya menjepit keras.
Mendadak saja si nona bergerak, untuk melompat naik ke atas pohon.
Pohon itu mengarah ke arah barat, di sana terdapat barisan pohon lainnya. Bagaikan kera gesit, dengan cepat nona itu berlompatan dari pohon yang satu ke pohon yang lain, untuk jauh meninggalkan tempat di mana barusan singgah.

Boe Kie kagum bukan main. Nona itu bertubuh kecil, tapi nyata dia kuat sekali. Tubuhnya dapat dibawa berlompatan dan berlari-lari dengan ringan. Setelah melewati kira-kira delapan puluh pohon, hingga mereka sudah pergi jauh. Baru nona itu melompat turun, hingga sekarang mereka berada di pinggiran sebuah gunung. Di situ Boe Kie diturunkan dengan hati-hati.
“Di sini kita membangun gubuk kerbau!” kata nona itu tertawa, “Tempat ini baik!”
“Gubuk kerbau?” Boe Kie heran, “Untuk apakah gubuk kerbau?”
Si nona tertawa.
“Memang gubuk kerbau!” katanya. “Gubuk untuk menempatkan seekor kerbau yang besar! Bukankah kau bernama A Goe, si kerbau?”

Boe Kie tersentak, lantas ia pun tertawa. Nona itu sedang bergurau. Memang namanya A Goe, berarti kerbau.

“Bila begitu, tak usahlah,” ia berkata. “Empat atau lima hari lagi, kakiku tentu sudah sembuh banyak, aku dapat berjalan meskipun dipaksakan….”

“Hm, dipaksakan!” kata si nona, tersenyum. “Kau sudah jadi si jelek tidak karuan, kalau nanti kaki kerbaumu pincang, apa itu bagus dilihat?”
Habis berkata, si nona kembali bekerja. Dengan cabang pohon yang berdaun, ia menyapu salju di batu gunung.

Mengertilah Boe Kie bahwa si nona sangat memperhatikannya. Itulah bukti dari kata-katanya: “…kalau nanti kaki kerbaumu pincang, apa itu bagus dilihat?” Tanpa terasa hatinya jadi tergerak. Iapun lantas mendengar nona itu berjanji perlahan, berjanji sambil bekerja. Dia tidak usah membuang waktu lama akan dapat membangun gubuk yang beratap alang-alang. Gubuk itu cukup besar untuk mereka berdua bernaung di dalamnya.

Tapi Coe Jie masih bekerja terus. Sekarang ia mengangkut salju tak hentinya. Ia menutup gubuk dari atas atap, lalu ke bawah di sekitarnya. Di lain saat, dari tempat jauh gubuk itu tidak kelihatan lagi, kecuali sebagai gundukan salju.

Kembali Boe Kie menjadi kagum.
Habis bekerja, Coe Jie mengeluarkan sapu tangan untuk menyusut keringatnya. Setelah bekerja begitu berat, tubuhnya kepanasan hingga ia mengeluarkan peluh. Namun ia tidak duduk beristirahat.

“Kau tunggu di sini!” katanya. “Aku hendak pergi mencari makanan!”

“Kau beristirahat dulu,” Boe Kie berkata. “Aku belum lapar, kau boleh menunggu sebentar lagi. Kau terlalu letih.”

Nona itu mengawasi.
“Jikalau kau hendak memperlakukanku dengan baik kau harus sungguh-sungguh baik,” dia berkata. “Manis di mulut saja buat apa?” Lantas ia pergi berlari memasuki hutan. Boe Kie terpaksa berdiam. Ia merebahkan dirinya di batu gunung, yang terkurung gubuknya itu. Ia sekarang mempunyai kesempatan untuk memikirkan kelakuan si nona yang polos itu, yang suaranya halus, yang gerak-geriknya genit. Saking polosnya nona itu gampang gusar. Mestinya gerak-gerik itu dipunyai seorang nona cantik, tetapi dia berwajah jelek sekali. Tapi ia lantas ingat kata-kata ibunya di saat hendak menghembuskan nafas terakhir. Kata ibu, “Wanita itu, makin cantik makin pandai dia menipu orang maka terhadap wanita cantik kau harus semakin berhati-hati menjaga diri!”

Coe Jie jelek, tapi dia baik sekali,” pikirnya.
“Aku mempunyai niat mengambil dia sebagai kawan hidupku, tapi dia mempunyai pacar sendiri jadi tidak menaruh hati padaku….”

Tanpa terasa, lama juga Boe Kie berpikir, lantas ia melihat si nona kembali dengan tangannya menenteng dua ekor ayam hutan. Tanpa bicara nona itu bekerja menyalakan api, membakar ayam itu, hingga mereka mencium bau yang wangi, yang membangkitkan selera makan.

“Mari makan!” kata si nona akhirnya. Ia memberikan seekor pada kawannya.
Tanpa sungkan Boe Kie makan ayam itu. Ia pun makan dengan cepat.
“Ini masih ada,” kata si nona sambil tertawa. Ia melemparkan sisa dua potong kaki ayam.
Boe Kie malu hati, hendak ia menolak. Tapi si nona gusar.

“Kalau mau makan, makanlah!” katanya ketus. “Siapa berpura-pura baik terhadapku, mulutnya lain hatinya lain, nanti kita tikam tubuhnya hingga berlubang!”
Tanpa banyak bicara Boe Kie makan ayam itu. Kemudian, untuk mencuci mulutnya, ia pakai salju tebal sebagai air. Lengan tangan bajunya menyusut kering mulutnya berikut mukanya.
Kebetulan Coe Jie berpaling ketika ia melihat muka orang, dia tersentak kemudian mengawasi, Boe Kie heran, ia menjadi curiga.
“Kenapa?” ia bertanya.
“Usiamu berapa?” tanya si nona tanpa menjawab.

“Baru dua puluh tahun tepat.”
“Ah, kau lebih tua dua tahun daripada aku. Mengapa kumismu sudah tumbuh begitu panjang?”
Boe Kie tertawa.

“Dari kecil aku hidup sendirian di gunung,” sahutnya, “Belum pernah aku ketemu orang, maka itu aku tidak berpikir untuk cukur.”
Coe Jie merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebilah pisau kecil yang bergagang emas.

“Mari!” katanya. Lantas dengan memegangi muka orang, ia mulai mencukur.
Boe Kie diam saja. Ia merasa pisau yang tajam itu mencukur kumisnya. Ia merasakan juga tangan yagn halus dan lemas dari si nona. Tanpa terasa, hatinya dag dig dug…
Habis mencukur kumis dan janggut, Coe Jie mencukur terus tenggorokan. Tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Asal aku menggunakan sedikit saja tenaga, aku bisa memotong lehermu ini, maka terbanglah jiwamu! Kau takut tidak?”
“Mati atau hidup, aku terserah pada kau, nona,” sahut Boe Kie. “Mati di tanganmu, menjadi setanpun aku senang!”
Coe Jie membalik pisaunya, dan menekan keras ke leher. Mendadak ia membentak, “Nih, jadilah kau setan yang senang!”
Boe Kie kaget, tak sempat ia melawan. Tapi ia tak merasakan sakit, maka ia tersenyum.

“Senangkah kau?” tanya si nona tertawa.

Pemuda itu tertawa, ia mengangguk. Baru ia tahu bahwa ia dipermainkan.

Habis mencukuri muka orang, Coe Jie mengawasi. Ia bengong saja. Beberapa lama, lalu terdengar helaan nafasnya.

“Eh, kau kenapa?” tanya Boe Kie heran.
Nona itu tak menyahuti, ia lantas memotong rambut orang, untuk dibikin sedikit pendek, setelah itu ia membuat konde. Sebagai tusuk kondenya, ia meraut cabang pohon.
Diriasi begitu, walaupun pakaiannya butut, Boe Kie tampak cakap dan gagah.

Lagi-lagi si nona menghela nafas.

“Goe koko,” katanya perlahan, kagum. “Aku tidak sangka, kau sebenarnya berwajah begini tampan….”

Boe Kie cepat menyahut, nona itu tentu menyesali wajahnya sendiri, maka ia berkata, “Di dalam dunia ini, apa yang bagus, di dalamnya suka mengeram apa yang jelek. Burung merak begitu indah bulunya tapi nyalinya beracun. Jengger burung boo yan merahpun bagus sekali tapi racunnya bukan main. Demikian binatang lainnya, seperti ular, bagus dilihatnya tapi jahatnya berlebihan. Wajah tampan apa faedahnya? Yang penting hatinya baik.”

Mendengar itu si nona tertawa dingin.
“Hati baik apa faedahnya?” ia tanya. “Coba kau jelaskan!”
Ditanya begitu, Thio Boe Kie tidak segera dapat menjawab. Dia tersentak sejenak.
“Siapa berhati baik, dia tak dapat melukai orang,” katanya kemudian.
“Tidak mencelakai orang apakah kebaikannya?” tanya Coe Jie.
“Jikalau kau tidak membunuh orang maka hatimu menjadi tenang,” Boe Kie menjelaskan.
“Jika aku tidak mencelakai orang, hatiku justru tidak tenang,” kata si nona. “Kalau aku mencelakai orang hingga hebatnya bukan kepalang hatiku barulah tenang dan girang.”
Boe Kie menggelengkan kepala. “Itu artinya kau merampas peri keadilan!” katanya.

Si nona ketawa dingin.
“Kalau bukan mencelakai orang, apa gunanya aku belajar ilmu Cian Coe Ciat-hoe coe?” katanya. “Kenapa aku mesti menyiksa diri, hingga menderita tak habisnya? Apa itu untuk main-main saja!”

Habis berkata ia mengeluarkan kotak kemalanya, membuka tutupnya dan memasukkan kedua telunjuknya ke dalam kotak tersebut.

Sepasang laba-laba belang dalam kotak bergerak perlahan-lahan, lantas mereka menggigit kedua telunjuk itu. Si nona menarik nafas dalam-dalam, kedua lengannya gemetaran, tandanya ia mengerahkan tenaga dalamnya melawan isapan laba-laba itu. Kalau si laba-laba mengisap darah si nona, maka si nona menyedot masuk racun kedua binatang itu ke dalam darahnya.

Boe Kie mengawasi saja. Ia melihat wajah si nona bersungguh-sungguh, di kedua pelipisnya muncul warna hitam, lantas nona itu mengertak gigi, tandanya ia menahan sakit. Selama sejenak, dari hidungnya keluar keringat menetes.

Sekian lama Coe Jie melatih ilmu itu. Sesudah kedua laba-laba mengisap puas darahnya, keduanya lantas melepaskan gigitannya, merebahkan dirinya untuk terus tidur pulas.

Cahaya hitam di pelipis Coe Jie lenyap dengan cepat, kulitnya menjadi segar kembali. Dia menghela nafas, Boe Kie merasakan hawa nafas itu berbau harum, hanya berbeda, ia merasa kepalanya pusing mau pingsan. Itulah tandanya hawa itu beracun hebat.

Coe Jie yang meram sejak mula, membuka kedua matanya. Ia tersenyum.

“Sampai bagaimana latihan itu baru sempurna?” tanya Boe Kie.

“Setiap laba laba ini,” menyahut si nona, “mestinya tubuhnya dari belang menjadi hitam, dari hitam menjadi putih. Dengan begitu habislah racunnya dan mati dengan sendirinya. Racunnya masuk dalam telunjukku. Untuk menjadi sempurna, aku mesti menghabiskan seribu laba laba. Untuk mencapai puncak kesempurnaan, aku harus menghabiskan lima ribu sampai selaksa ekor masih belum cukup.”

Boe Kie heran, hatinya jeri.

“Dari mana didapatkan begitu banyak laba laba belang?” tanyanya.

“Di satu pihak dia mesti dipelihara, supaya dia dapat beternak,” menyahut Coe Jie, “Dilain pihak dia mesti dicari di temapt kehidupannya.”

Boe Kie menghela nafas.

“Dikolong langit terdapat banyak sekali ilmu kepandaian, mengapa mesti menyakinkan yang begitu beracun?” katanya.

Si nona tertawa dingin, “Memang amat banyak ilmu kepandaian di kolong langit ini, tetapi tidak ada satu yang dapat melawan Ciat hoe cioe ini.” katanya. “Kau jangan anggap tenaga dalammu sudah mahir, jikalau nanti aku telah berhasil melatih, tidak nanti kau dapat bertahan, untuk satu tusukan saja telunjukku ini!”

Sambil berkata, si nona menusuk batang pohon didekatnya. Sebab dia belum mahir dengan ilmunya itu, jarinya hanya masuk setengah dim.

“Kenapa ibumu mengajar ilmu ini?” Boe Kie tanya pula. Ia heran, “Apakah ibumupun mempelajarinya juga?”

Mendengar disebut ibunya, mata Coe Jie tiba2 bersorot tajam dan bengis, bagaikan seekor raja hutan hendak menerkam manusia, ia lantas berkata nyaring. “Siapa mempelajari Cian coe Ciat hoe cioe ini, setelah ia menghabiskan delapan ratus ekor, hingga tubuhnya sudah penuh dengan racun, romannya berubah, dan setelah seribu ekor, romannya akan bertambah jelek. Ibuku telah menghabiskan hampir lima ratus ekor ketika ia bertemu ayahku. Ia kuatir ayah tak menyukainya karena romannya sangat jelek, ia terpaksa menghentikan latihannya. Kesudahannya ia menjadi wanita tanpa tenaga, tenaganya lenyap, umpama kata, ia tak sanggup menyembelih seekor ayam. Benar ia menjadi cantik tapi iapun lantas dihinakan madunya serta kakakku. Ia tak dapat melawan, hingga akhirnya ia membuang jiwanya. Maka hm! Apa gunanya paras elok? Ibuku seorang wanita sangat cantik dan halus, tapi sebab tak mendapat anak laki laki, ayahku menikah pula….”

Sinar mata Boe Kie menyapu wajah nona itu. “Jadinya kau……kau mempelajari ilmu….” Katanya perlahan.

“Benar!” si nona menyahut cepat. “Karena belajar ilmu ini, romanku jadi jelek begini, hingga laki laki tak berbudi itu tidak memperdulikan lagi padaku. Jikalau nanti pelajaranku selesai, akan kucari padanya. Bila disisinya tidak ada lain wanita, ya sudah saja….”

“Kau toh belum menikah dengannya?” tanya Boe Kie. “Bukankah diantara kamupun tidak ada janji ikatan jodoh? Hanya….hanya…”

“Omonglah terus terang!” kata si nona. “Takut apa? Bukankah kau hendak membilang bahwa aku menyintai dia sepihak saja, ialah hanya pihakku sendiri? Apa salahnya? Aku telah menyintai dia, maka aku larang dia mempunyai lain pacar! Dia tak berbudi, biarlah dia nanti merasai telunjukku ini, telunjuk Cian Coe Ciat-hoe cioe!”

Boe Kie tersenyum. Ia tidak mau mengadu omong pula. Di dalam hatinya, ia merasa, bahwa Coe Jie bertabiat luar biasa sekali. Baik, ia sangat baik, tapi selagi gusar ia sangat galak dan tidak mengenal aturan lagi. Ia menjadi ingat pula kata2 guru besarnya, paman gurunya yang kesatu dan kedua, bahwa di dalam Rimba Persilatan ada perbedaan antara yang sesat dan yang lurus, maka ia percaya Cian Coe Ciat hoe cioe ini ialah pelajaran sesat, bahwa ibunya Coe Jie mungkin seorang sebangsa siluman. Karena ini, tanpa berasa, ia menjadi rada jeri terhadap si nona……

Coe Jie tak mendapat tahu apa yang orang pikir, ia berlari lari keluar dan kedalam, mondar mandir, memetik berbagai macam bunga, maka dilain saat gubuk mereka telah terpajang rapih, menarik hati untuk dipandang.

“Coe Jie” kata Boe Kie, “Setelah sakit kakiku sembuh, aku nanti pergi mencari daun obat obatan untuk mengobati bengkak mukamu yang beracun itu…..”

Mendengar itu, si nona nampaknya ketakutan.

“Tidak, tidak!” katanya “Aku telah menyiksa diri sekian lama, baru kuperoleh kepandaian seperti ini! apakah kau hendak memusnahkan kepandaianku?”

“Bukan!” katanya cepat. “Mungkin kita dapat memikir semacam obat. Memakai mana kepandaianmu boleh tak usah lenyap, asal keracunan di muka saja yang hilang tak berbekas”.

“Tidak dapat!” si nona berkata pula. “Bila ada semacam obat atau cara, mustahil ibuku tak mendapat tahu? Kepandaian ini adalah kepandaian turunan. Kupikir, yang bisa berbuat itu mungkin Cuma Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe yang lihay ilmu pengobatannya, hanya sayang banyak tahun dia telah meninggal dunia”.

“Kau kenal Ouw Ceng Goe?” tanya Boe Kie.

Coe Jie mementang matanya, ia kelihatannya heran.

“Apa?” katanya. “Adakah aneh untuk mengetahui dia? Nama Tiap Kok Ie Sian toh memenuhi seluruh negara! Siapakah yang tidak tahu?” ia menghela nafas, dan ia berkata pula. “Taruh kata dia masih hidup, apakah gunanya itu? Dialah yang dijuluki ‘Melihat kematian tak menolong’!”

Boe Kie tidak membilang apa apa, akan tetapi didalam hatinya, ia berkata “Nona ini sangat baik terhadapku, mesti aku balas kebaikkannya ini. dia tidak tahu semua kepandaiannya Tiap kok iIe sian telah diwariskan kepadaku. Baiklah, sekarang aku jangan membilang apa2 padanya, hanya dibelakang hari nanti, aku dayakan untuk mengobati mukanya ini, supaya dia kaget dan girang!”.

Selama itu, langit sudah gelap, maka keduanya lantas rebah bersandar di batu gunung untuk tidur. Boe Kie dapat pulas, hanya tengah malam, ia mendusin dengan tiba tiba, telinganya mendengar tagisan isak2 tertahan. Ketika ia membuka matanya, kawannya lagi menangis sedih. Ia mengulur tangannya meraba pundak nona itu, menepuk dua kali.

“Jangan nangis, Coe Jie” ia menghibur. “Jangan bersusah hati….”

Tapi justru karena ditegur, Coe Jie tidak dapat menahan lagi kedukaannya. Dengan menyenderkan kepalanya dipundak orang ia menangis mengerung2.

“Kau kenapa Coe Jie?” Boe Kie tanya perlahan. “Ada apa? Apakah kau ingat ibumu? Benarkah?”

Coe Jie menggangguk perlahan.

“Ibu telah menutup mata.” Katanya. “Aku jadi sebatang kara. Siapa juga tidak menyukai aku….., siapa juga tidak mau baik denganku…”

Boe Kie menggunakan tangan bajunya untuk mengelap air mata nona itu.

“Aku menyukai kau, aku dapat berlaku baik terhadapmu,” sahut Coe Jie. “Orang yang kucintai tidak perdulikan aku, ia memukul aku, iapun mau menggigit aku…..”

“Lupakan laki2 tidak berbudi itu,” kata Boe Kie “Aku akan menikah dengan kau, seumurku nanti akan perlakukan kau dengan baik.”

“Tidak! Tidak!” Coe Jie berseru. “Tidak dapat aku melupakan dia! Jikalau lagi sekali kau menganjurkan aku melupakan dia, untuk selamanya aku tidak akan peduli padamu!”.

Boe Kie heran, malu dan jengah. Syukur cuaca gelap, jika tidak, akan terlihat mukanya yang merah.

Keduanya berdiam.

“A Goe koko, apakah kau gusar padaku?” kemudian nona itu bertanya.

“Aku tidak gusar, aku hanya menyesalkan diriku sendiri.” Jawabnya. “Tidak selayaknya aku bicara seperti barusan padamu”.

“Tidak, tidak demikian. Kau bilang kau suka menikah denganku, bahwa seumurmu kau hendak perlakukan baik padaku. Senang aku mendengar kata2mu itu. Coba kau mengulangi sekali lagi.”

Tapi Boe Kie menjadi tidak senang.

“Kau tidak dapat melupakan orangmu itu perlu apa aku bicara lagi?” katanya.

Coe Jie mencekal tangannya Boe Kie dan berkata dengan suara lemah lembut. “A goe koko, jangan kau gusar. Aku mengku bersalah. Kalau kau benar2 menikah denganku, kubisa membutakan kedua matamu dan mungkin juga, aku akan mengambil jiwamu”.

Boe Kie kaget. “Apa kau kata?” ia menegas. “Sesudah kedua matamu buta, kau tak akan bisa melihat lagi romanku yang jelek” katanya perlahan “Kau tak akan bisa lagi memandang lagi wajah nona Cioe dari Goe Bie pay yang cantik manis. Andaikata, sesudah buta, kau masih juga belum dapat melupakan dia. Aku akan membinasakan kau dan kemudian mengambil jiwa sendiri.” Ia memberi jawaban yang hebat itu dengan suara tenang2 saja, seolah2 apa yang dikatakannya adalah hal yang wajar. Waktu mendengar “nona Cioe dari Goe Bie pay” jantung Boe Kie memukul terlebih keras.

Mendadak, baru saja Coe Jie selesai bicara di kejauhan terdengar suara seorang tua.

“Nona Cioe dari Goe Bie pay mempunyai hubungan apakah dengan kamu berdua?”

Coe Jie melompat bangun. “Biat Coat Soe thay!” bisiknya.

Tapi, biarpun ia hanya berbisik, perkataannya sudah didengar oleh orang itu yang lantas saja menjawab. “Benar, Biat Coat Soe thay” Waktu orang itu berbicara pertama kali, ia masih berada jauh tapi waktu bicara kedua kali, ia sudah berada disamping gubuk.

Coe Jie mengenal bahaya. Ia sebenarnya ingin kabur dengan mendukung Boe Kie, tapi sudah tidak keburu lagi.

Sesaat kemudian, orang itu membentak dengan suara dingin. “Keluar! Apa kamu mau bersembunyi seumur hidup?”

Sambil memapah dan menyekel tangan Boe Kie, Coe Jie menyingkap tirai rumput dari gubuknya dan bertindak keluar. Dalam jarak kira2 setombak dari gubuknya, berdiri seorang pendeta tua yang rambutnya putih dan ia itu memang bukan lain daripada Ciang boen jin Goe bie pay Biat coat Soethay. Dari sebelah kejauhan mendatangi dua belas orang yang kemudian berdiri berjejer di kedua samping pendeta wanita itu. Mereka itu adalah murid2 Goe bie pay empat nie kouw (pendeta wanita) empat orang wanita biasa dan empat laki2 yang berdiri di barisan belakang dan diantaranya mereka terdapat Teng Bin Koen dan Cioe Cie Jiak.

Dalam kalangan Goe bie pay selama beberapa turunan, yang memegang tampuk pimpinan selalu wanita dan murid lelaki tidak pernah diberikan pelajaran ilmu silat yang paling tinggi, sehingga oleh karenanya, kedudukan murid lelaki lebih rendah daripada murid wanita.

Dengan sorot mata dingin, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Biat Coat Soethay mengawasi Coe Jie.

Mengingat kebinasaan Kie Siauw Hoe, Boe Kie sangat berkuatir. Sambil menyandarkan diri di punggung Coe Jie, diam2 dia mengambil keputusan, bahwa jika si pendeta wanita menyerang, mestipun mesti binasa, ia akan mengadu jiwa.

Beberapa saat kemudian, seraya mengeluarkan suara di hidung, Biat Coat mengenok ke arah Tian Bin Koen dan bertanya “Apa budak kecil itu?”

“Benar!” jawabnya.

Tiba2, “Krak!….krak!….” Coe Jie mengeluarkan suara kesakitan, tulang kedua pergelangan tangannya patah, dan ia rebah dalam keadaan pingsan.

Boe Kie sendiri terpaku dan ternganga. Ia hanya melihat berkelebatnya bayangan warna abu2 dan Coe Jie sudah terguling. Dengan kecepatan luar biasa ia menyerang, dan dengan kecepatan luar biasa pula, ia balik ke tempatnya yang semula, dimana ia kembali berdiri tegak bagaikan satu pohon tua di tengah malam yang sunyi itu. Gerakan yang secepat itu sudah mrengaburkan mata Boe Kie yang jadi terkesima dan hanya bisa mengawasi tanpa berdaya.

Sesudah memperlihatkan kepandaiannya, denga sorot mata bengis Biat Coat mengawasi Boe Kie. “Pergi!” bentaknya.

Cioe Ci Jiak maju setindak dan berkata seraya membungkuk. “Soehoe ia tidak dapat berjalan, mungkin kedua tulang betisnya patah.”

“Buatlah dua buah soat kio untuk membawa mereka”, memerintah sang guru (Soat kio semacam kereta salju tidak beroda).

Murid2 itu mengiakan dan kecuali Teng Bin Koen yang belum sembuh dari lukanya, mereka segera melakukan apa yang diperintah. Sesudah selesai, dua orang murid wanita lalu mengangkat Coe Jie dan lalu menaruhnya di kereta yang satu, sedang dua orang murid pria menaruh Boe Kie di kereta yang lain. Sambil menyeret kedua kereta itu, mereka mengikuti Biat Coat ke arah barat.

Dengan penuh kekuatiran, Boe Kie memasang kuping untuk mendengari gerak gerik Coe Jie. Sesudah melalui belasan li, barulah ia mendengar rintihan si nona. “Coe Jie bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan suara nyaring. “Apakah kau mendapat luka didalam?”.

“Dia mematahkan pergelangan tanganku. Tapi aku tidak mendapat luka di dalam” jawabnya.

“Bagus” kata Boe Kie, “Gunakanlah sikut kiri untuk membentur lengan kananmu, tiga coen lima hoen dibawah tekukan lengan. Sesudah itu, gunakanlah skut kananmu untuk membentur lengan kiri, tiga coen lima hoen dibawah tekukan lengan. Dengan berbuat begitu, rasa sakit akan berkurang”.

“Sebelum Coe Jie menjawab, Biat Coat sudah mengeluarkan suara “Ih!” dan mengawasi Boe Kie dengan mata mendelik “Bocah! Kau mengerti ilmu ketabiban.” Katanya “Siapa namamu?”

“Aku she Can, namaku A Goe” jawabnya.

“Siapa gurumu?” tanya pula si nenek.

“Guruku adalah tabib kampungan” menerangkan si Boe Kie. “Biarpun kuberitahukan namanya, Soethay pasti takkan mengenal namanya”.

Biat Coat mengeluarkan suara di hidung dan tidak mendesak lagi.

Sampai fajar menyingsing barulah rombongan itu mengaso dan makan makanan kering, Cioe Jiak membawa beberapa bakpauw dan memberikannya kepada Boe Kie serta Coe Jie. Melihat Boe Kie yang sesudah di cukur, barulah menjadi pemuda tampan, diam2 ia merasa heran dan kagum.

Sesudah mengaso kurang lebih dua jam, mereka meneruskan perjalanan ke arah barat. Sesudah berjalan tiga hari, Boe Kie menarik kesimpulan, bahwa dalam perjalanan itu, rombongan Goe Bie Pay mempnyai tugas yang sangat penting. Baik waktu berjalan, maupun waktu mengaso, kecuali sangat perlu semua orang menutup mulut rapat2. seolah2 mereka manusia gagu. Tapi tugas apakah yang mau ditunaikan mereka? Boe Kie tak dapat menjawab.

Selama beberapa hari itu tulang betis Boe Kie yang patah sudah bersambung pula seperti sedia kala dan ia sebenarnya sudah dapat berjalan lagi.

Tapi ia saja tidak memperlihatkan kesembuhannya itu, malah ia sering merintih untuk mengelabui Biat Coat. Ia ingin menunggu kesempatan baik untuk kabur bersama2 Coe Jie. Kesempatan itu belum datang, sebab mereka masih berjalan di tanah datar. Sehingga kalau kabur belum jauh ia tentu sudah dibekuk lagi. Maka itu, ia bersabar terus. Pada waktu mengaso ia mengobati luka Coe Jie dan Biat Coatpun tidak menghalang-halanginya.

Sesudah selang dua hari lagipada suatu lohor, rombong Biat Coat tiba di gurun pasir. Selagi enak berjalan, sekonyong2 terdengar suara tindakan kuda yang mendatangi dari sebelah barat. Biat Coat segera memberi perintah dengan gerakan tangan dan semua murid lalu menyembunyikan diri di belakang bukit pasir. Dua diantaranya menghunus pedang pendek dan mengarahkan ujungnya ke arah punggung Boe Kie dan Coe Jie . sudah terang mereka mau menyerang musuh dan kalau dua tawanan berani berteriak, kedua pedang pendek itu pasti digunakan.

Tak lama kemudian, kuda2 itu sudah mendekati. Melihat tapak2 kaki, para penunggang kuda menahan tunggangannya.

Tiba2 Ceng she Soethay mengangkat hud im (kebutan yang dapat digunakan sebagai senjata) dan dengan serentak sebelas murid Goe Bie pay melompat keluar dari belakang bukit pasir.

Boe Kie mengawasi dan melihat empat penunggang kuda yang semuanya mengenakan jubah warna putih. Sambil membentak keras; keempat orang itu lalu mencabut senjata dan pertempuran lantas saja terjadi.

“Semua siluman dari Mo Kauw! Satupun tak boleh di kasih lolos!” teriak Ceng she.

Walaupun dikepung musuh yang berjumlah lebih besar, keempat orang itu melawan dengan gagahnya. Tapi kedua belas murid Goe Bie pay yang kali ini mengikut Biat Coat ke See hek adalah murid2 pilihan. Baru bertempur tujuh delapan jurus, tiga anggota Mo kouw sudah roboh dari tunggangannya, sedang yang keempat, sesudah melukai seorang murid Goe Bie, coba melarikan diri. Tapi baru saja kabur beberapa tombak, ia telah kena dicandak Ceng hian. “Turun kau!” bentak si nie kouw seraya mengebut betis kiri orang itudengan hudtimnya. Dia coba menangkis dengan goloknya. Bagaikan kilat Ceng hian mengubah pukulannya dan mengebut kepala musuh. Pukulan yang hebat itu hampir tepat pada sasarannya dan orang itu terguling dari kudanya.

Tapi orang itu a lot dan nekat. Dalam keadaan terluka berat, ia masih bisa balas menyerang dengan tujuan untuk mati bersama2 musuhnya. Sambil mementang kedua tangannya ia menubruk. Untung saja Ceng hian keburu berkelit dan mengebut dadanya.

Pada saat itulah, tiga ekor merpati putih terbang dari sangkarnya yang tergantung di leher kuda.

“Jangan main gila!” bentak Ceng Hian seraya mengibas lengan jubahnya dan tiga butir thie lian coe (biji teratai besi) menyambar kearah tiga burung itu. Dua diantaranya jatuh, tapi yang satu dapat terbang terus sebab si jubah putih berhasil memukul sebutir thie lian coe dengan busur besinya. Semua murid Goe bie menimpuk dengan senjata rahasia mereka, tapi burung itu sudah terbang jauh.

Ceng Hie mengibas tangan kirinya dan empat murid lelaki lalu menyeret keempat musuh yang roboh itu, tapi kemudian berdiri tegak di hadapan kakak seperguruannya.

Selama pertempuran, Biat Coat hanya mengawasi sebagai penonton, iapun tak bergerak waktu murid2nya menimpuk burung dengan senjata rahasia. “Terhadap Coe jie dia turun tangan sendiri, suatu tanda bahwa ia memandang tinggi terhadap Coe Jie”, kata Boe Kie didalam hati.

Mungkin sekali karena patahnya tulang pergelangan tangan Teng Bin Koen. Kalau mau, dengan mudah ia akan bisa membinasakan merpati yang ketiga, mengapa dia diam saja?”.

Mana waktu itu Ceng hie, Ceng Hian dan murid2 utama lainnya sudah mendapat nama besar dalam rimba persilatan. Satu saja sudah cukup untuk menghadapi gelombang besar. Maka itulah dalam menghadapi beberapa murid Mo kouw, Biat Coat tidak perlu turun tangan sendiri. Bahwa Ceng hie dan Ceng hien sudah turun ke dalam gelanggang, pada hakekatnya berarti memandang tinggi kepada beberapa musuh itu.

Sementara itu, seorang murid wanita sudah menjemput kedua bangkai merpati itu dan mencopot sebuah bumbung kecil yang melekat pada kaki seekor burung. Ia mengeluarkan segulung kertas dari bumbung dan menyerahkannya kepada Ceng hie yang lalu membuka dan membacanya. “Soehoe”, kata Ceng hie. “Mo kauw sudah tahu rencana untuk mengepung dan membasmi Kong ben teng, surat ini adalah untuk meminta bantuan dari Peh bie kauw.”

Sebahis berkata begitu, ia membaca lagi surat yang satunya. “Isinya sama jua” katanya. “Sungguh sayang yang seekor dapat mloloskan diri.”

“Sayang apa?” kata sang guru dengan suara dingin. “Makin banyak mereka berkumpul, makin baik lagi. Tak usah berabe mencari cari mereka di berbagai tempat”.

Mendengar disebutkannya nama “Peh bie kauw” Boe Kie terkejut. “Kouw coe Peh bie kauw adalah kakek luarku.” Pikirnya. “Hm!….Sombong sungguh nenek bangkotan itu belum tentu ia dapat melawan gwakong.”

Semula ia menunggu2 kesempatan untuk kabur bersama2 Coe Jie. Tapi sekarang ia membatalkan niatnya itu sebab ingin menyaksikan keramaian yang bakal terjadi.

“Siapa lagi yang diundang kamu?” Ceng hie bertanya kepada keempat tawanannya dengan suara bengis.

“Mengapa kamu tahu, bahwa enam partai akan membasmi Mo Kauw?”

sekonyong2 keempat orang itu tertawa terbahak2 dengan muka menyeramkan. Sehabis tertawa, dia roboh serentak dan tidak berkutik lagi. Semua murid Goe bie terkejut, dua diantaranya membungkuk untuk menyelidiki, “Soe cie!” teriak mereka. “Semua mati!”.

Sambil mengawasi muka keempat mayat itu, Ceng hian berkata dengan nada gusar. “Mereka makan racun. Racun itu sangat hebat”.

“Geledah badannya!” memerintah Ceng hie.

Empat murid lelaki segera membungkuk dan menggerakkan tangan untuk merogoh saku mayat.

“Hati hati!” kata Coe Cie Jiak. “Didalam saku mungkin tersembunyi benda beracun”.

Keempat lelaki itu terkejut. Mereka segera merobek saku mayat2 dengan menggunakan golok dan benar saja, dalam setiap saku terdapat seekor ular kecil yang sangat beracun. Tanpa peringatan nona Cioe, mereka tentu sudah binasa.

“Hari ini untuk pertama kali kamu berurusan dengan orang2 agama siluman” kata Biat Coat dengan suara dingin. “Mereka berempat hanyalah orang2 yang tidak ternama tapi sudah begitu beracun. Kalau bertemu dengan jago2 Mo kauw apakah kamu masih bisa pulang ke Go bie dengan masih bernafas?” ia mengeluarkan suara di hidung dan berkata pula “Ceng hie kau sudah cukup tua, tapi kau masih tetap sembrono. Kau masih kalah dari Cioe Jiak”.

Paras muka murid itu berubah merah dan ia membungkuk untuk menerima teguran sang guru.

Malam itu mereka bermalam di gurun pasir dengan menyalakan sebuah perapian yang cukup besar. Dengan bergilir mereka membuat penjagaan karena mereka tahu, bahwa daerah itu adalah tempat keluar masuknya orang2 Mo kauw. Kira2 tengah malam dari kejauhan tiba2 terdengar keleneng unta yang mendatangi ke arah mereka. semua orang tersadar dan bersiap sedia. Suara keleneng itu semula mendatangi dari arah barat daya, tapi sesaat kemudian suaranya berpindah ke barat laut. Beberapa saat kemudian, sura itu muncul di sebelah timur laut. Semua murid Goe bie heran tak kepalang. Bagaimana bisa begitu? Biar bagaimanapun jua, seekor unta takkan bisa lari secepat itu, sebentar ke barat, sebentar ke timur dan sebagainya.

Suara keleneng makin nyaring, suatu tanda unta itu sudah mendekati. Mendadak suara itu terdengar gencar sekali, seperti juga binatang itu kabur dengan kecepatan luar biasa.

Orang2 Goe bie yang baru pernah menjelajah lautan pasir, jadi bingung dan berkuatir. “Sahabat! Perlihatkan dirimu!” teriak Biat Coat. “Permainan gilamu bukan perbuatan seorang berilmu.” Suara yang disertai Lweekang itu menempuh jarak beberapa li dan benar saja, sesudah si nenek berteriak suara keleneng tidak terdengar lagi.

Sampai pagi tidak terjadi sesuatu yang luar biasa. Malamnya kira2 tengah malam, suara keleneng terdengar pula, sebentar jauh sebentar dekat, sebentar disana, sebentar di sini. Biat coat berteriak lagi. Tapi kali ini teriakannya tidak mempan lagi. Suara keleneng tidak menghiraukannya. Selang beberapa lama, sesudah puas mengganggu, suara itu menghilang dengan tiba2.

Boe Kie dan Coe Jie saling mengawasi sambil tersenyum. Biarpun tak dapat memecahkan keanehan suara itu, mereka tahu, bahwa itu semua adalah perbuatan orang pentolan Mo kauw. Bahwa orang2 Goe bie jadi kebingungan sangat menyenangkan hati mereka.

Dengan rasa mendongkol Biat Coat mengibaskan diri untuk mengaso. Tak lama kemudian suara keleneng terdengar lagi, tapi orang2 Goe bie tidak memperdulikannya. Selang beberapa lama suara itu menuju ke utara dan lalu menghilang. Si unta rupanya tahu, bahwa gangguannya tidak digubris lagi.

Pada keesokan paginya semua orang berkemas untuk berangkat. Sekonyong2 Boe Kie dan Coe Jie mengeluarkan suara tertahan sebab didekat mereka kelihatan berbaring seorang tak dikenal yang sedang menggeras. Tubuh orang itu, dari kepala sampai di kaki, tertutup dengan selimut seolah2 sesosok mayat. Semua murid Goe bie terkesinap. Guru mereka memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Setiap desiran angin, bahkan jatuhnya selembar daun, tak akan lolos dari pendengarannya. Mana bisa seorang manusia menyatroni tanpa diketahui?

Dilain saat, dua murid Goe bie sudah menghunus pedang dan mendekati orang itu.

“Siapa kau?” bentaknya.

Tapi orang itu terus mendekur. Dengan ujung pedang, salah seorang menyontek selimut dan yang sedang tidur pulas ternyata seorang pria yang menggenakan jubah panjang.

Ceng hie mengerti, bahwa seorang yang mempunyai nyali begitu besar tentulah bukan sembarangan orang. Ia maju setindak dan bertanya “Siapa tuan? Perlu apa tuan datang kesini?”

Tapi ia tetap tak memperdulikan suara menggarosnya semakin keras.

Melihat lagak orang itu yang dianggap sangat kurang ajar, Ceng hian naik darahnya. Dengan gusar ia mengangkat hudtim dan menghantam pinggangnya.

“Hurrrrr……”

semua orang terkesinap dan mendongak ke atas.

Apa yang sudah terjadi?

Entah bagaimana, hudtim Ceng hian suthay terbang keatas, terbang lurus sampai tingginya belasan tombak.

Tiba2 terdengar teriakan Biat Coat. “Ceng hian, awas!”

Hampir berbareng dengan teriakan itu, tubuh si jubah panjang sudah melesat beberapa tombak jauhnya dan apa yang hebat, Ceng hian telah tertawan! Sambil mendukung tawanannya, lelaki itu lari bagaikan terbang.

Ceng hie dan seorang saudari seperguruannya yang bernama Souw Bong Ceng, segera menghunus senjata dan terus mengubar. Tapi gerakan orang itu cepat luar biasa dan dalam sekejap, dia sudah lari jauh. Seraya mengeluarkan siulan nyaring, Biat coat turut mengubar sambil mencekal Ie Thian Kiam.

Kepandaian Ciang boenjin dari Goe bie pay tentu saja lain dari pada yang lain. Dalam beberapa saat saja, Biat coat sudah melewati kedua muridnya dan dilain detik, sinar hijau dari Ie hian kiam menyambar punggung si jubah panjang. Tapi orang itu mempunyai kegesitan yang menakjubkan. Bagaikan kilat, ia berhasil menyelamatkan diri dari tikaman yang dahsyat itu.

Biarpun sedang mendukung Ceng hian, kecepatan lari si jubah panjang ternyata tidak kalah dari pengejarnya. Bukan saja begitu, ia bahkan juga seakan2 seperti mau memperlihatkan kepandaiannya, karena sebaliknya daripada kabur terus, ia lari berputaran, memutari murid2 Go bie pay yang menonton dengan mulut ternganga. Beberpa kali Biat coat menikam, tetapi tikamannya selalu jatuh di temapt kosong.
Sesudah main udak2an, barulah hudtim Ceng hian jatuh ke tanah.

Sesaat itu, Ceng hie dan Souw Bong Ceng sudah berhenti mengubar dan bersama saudari saudara seperguruannya, mereka mengawasi ubar2an itu sambil menahan nafas.

Kedua tokoh itu berlari2 bagaikan terbang dengan menggunakan ilmu ringan badan. Betapa tinggi ilmu mereka dapat membayangkan dengan melihat kenyataan, bahwa debu dan pasir tidak beterbangan akibat injakan kaki mereka. dengan hati berdebar2 murid2 Go bie mengawasi Ceng hian yang dibawa lari tanpa berkutik.

Semua orang tahu, bahwa kakak seperguruan itu berkepandaian tinggi dan sudah mewarisi sebagian besar ilmu guru mereka. Cara bagaimana ia bisa dibekuk secara begitu mudah dan sudah ditawan, sedikitpun tidak berdaya lagi? Sebenarnya mereka ingin sekali mencegat musuh yang tengah diubar itu. Tapi mereka tidak berani berbuat begitu, karena kuatir digusari sang guru, sebab bantuan tersebut berarti merosotnya nama besar Biat coat suthay. Maka itulah mereka hanya menonton dengan mata terbelalak.

Dalam sekejap si jubah panjang dan Biat coat sudah membuat tiga putaran.

Meskipun si nenek sudah mengeluarkan seantero kepandaiannya, ia tetap tidak dapat menyusul musuh. Jarak antara mereka tidak berubah. Biat Coat masih ketinggalan beberapa kaki di belakang si jubah panjang. Dengan mengingat, bahwa orang itu berlari2 sambil mendukung Ceng hian yang beratnya kira2 seratus kati, maka dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa dalam ilmu ringan badan, ia lebih unggul setingkat daripada si nenek kouw tua.

Sesudah menonton beberapa lama, Boe Kie menarik ujung baju Cio Jie seraya berbisik “Mari kita kabur”.

“Tidak, keramaian ini tidak bisa tidak ditonton sampai habis” jawab si nona.

Pada waktu mereka lari pada putaran keempat, orang itu tiba2 memutar badan dan melemparkan Ceng hian kearah gurunya. Karena merasa sambaran angin yang sangat dahsyat, buru2 Biat coat menghentikan tindakannya dan mengarahkan tenaga Cian kin (Tenaga seribu kati). Akan kemudian, sambil mengarahkan Lweekang, ia menyambuti tubuh muridnya.

Orang itu tertawa terbahak2, “Enam partai besar mau mengepung dan membasmi Kong beng teng!” katanya “Ha..ha…ha…Mungkin tak begitu gampang!” Sehabis berkata begitu, lari ke jurusan utara. Waktu ubar2an debu dan pasir sama sekali tak bergerak. Tapi sekarang, di jalanan yang dilaluinya pasir kuning mengepul ke atas, seolah2 seekor naga kuning yang menutupi bayangnya.

Semua murid Goe bie segera menghampiri dan berdiri di sekitar guru mereka. Paras muka Biat Coat merah padam. Ia berdiri tegak sambil mendukung Ceng hian tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Ceng hian Soecie!….” mendadak Souw Bong Ceng berseru.

Ternyata Ceng hian sudah tak bernyawa lagi, mukanya kuning dan pada tenggorokannya terdapat luka.

Semua murid wanita lantas saja menangis keras.

“Nangis apa?” bentak sang guru. “Kubur dia!”
Semua orang segera berhenti menangis dan lalu mengubur jenasah Ceng Hian. Sesudah penguburan selesai, sambil membungkuk Ceng Hie berkata, “Soehoe, siapa manusia siluman itu? Kami harus mengenal dia untuk membalas sakit hatinya Ceng Hian Soemoay.”
“Kalau tak salah, dia adalah Ceng Ek Hok Ong, yaitu salah seorang raja (Ong) dari Mo Kauw,” Jawabnya dengan suara dingin. “Sudah lama kudengar, bahwa ilmu ringan badan orang itu tiada bandingannya di dunia. Nama besarnya ternyata bukan omong kosong. Kepandaiannya banyak lebih tinggi daripada aku.” (Ceng Ek Hok Ong raja kelelawar bersayap hijau)
Semenjak menyaksikan kekejaman Hiat Coat Soethay, Boe Kie membenci nikouw tua itu. Tapi sekarang ia merasa kagum dan mengakui, bahwa ia masih kalah jauh dari si nenek. Dalam menghadapi kecelakaan, nenek itu masih bisa berlaku begitu tenang dan masih bisa memuji kepandaian musuhnya. Sikap itu adalah sesuai dengan kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi dari sebuah partai persilatan yang besar.
“Hm!… dia sama sekali tak berani beradu tangan dengan Soehoe dan terus lari ngiprit,” kata Tang Bin Kun dengan suara marah yang dibuat-buat. “Enghiong apa dia?” (Enghiong orang gagah)
Sang guru mengeluarkan suara di hidung. Mendadak tangannya melayang dan menggaplok mulut si perempuan she Teng.
“Aku tak dapat menyusul dia dan tak dapat menolong jiwa Ceng Hian,” kata Biat Coat. “Dialah yang menang. Siapa menang siapa kalah semuanya orang tahu. Nama enghiong diberikan oleh orang lain. Apakah kita bisa memberi julukan Enghiong pada diri sendiri?”
Selembar muka Teng Bun kemerah-merahan, bahana malunya. Ia membungkuk seraya berkata, “Murid salah, murid tahu kesalahan sendiri.”
“Soehoe, siapa itu Ceng Ek Hok Ong?” Tanya Ceng Hie. “Bolehkah Soehoe memberi penjelasan kepada kami?”
Biat coat tak menjawab. Ia mengibaskan tangannya sebagai perintah supaya rombongannya meneruskan perjalanan. Sesudah toasuci mereka membentur tembok, murid-murid yang lain tentu saja tak berani banyak bicara. Mereka segera berjalan dengan hati duka.
Malam itu mereka menginap di samping sebuah bukit pasir dan membuat sebuah perapian yang besar. Bagaikan patung, Biat Coat mengawasi tumpukan api yang berkobar-kobar. Boe Kie mengerti bahwa nenek itu bersusah hati. Go Bie Pay adalah sebuah partai persilatan yang namanya tersohor di kolong langit. Kali ini dengan membawa jago-jago partai tersebut Biat coat menjelajahi wilayah barat (See Ek). Tapi sebelum bertempur, salah seorang muridnya yang berkepandaian tinggi sudah mesti mengorbankan jiwa. Bukankah kejadian itu menyedihkan dan memalukan?
Melihat guru mereka belum tidur, semua murid juga tidak berani tidur. Kurang lebih mereka satu jam tanpa mengeluarkan sepatah kata. Tiba-tiba Biat Coat mendorong dengan kedua tangannya dan … “Bttt…… “ api yang berkobar-kobar itu menjadi padam. Boe Kie terkejut. “Tenaga dalam Loo Nie itu sungguh hebat,” pikirnya.
Mereka sekarang berada dalam kegelapan, tapi tak satupun berani bergerak.
Gurun pasir itu sunyi bagaikan kuburan, sedang sinar rembulan yang remang-remang memberikan pemandangan yang mendukakan hati. Melihat keadaan begitu, dalam hati Boe Kie muncul rasa kasihan. “Apakah Go Bie Pay akan hancur namanya di wilayah barat?” tanyanya dalam hati.
“Apakah rombongan jago-jago ini akan terbasmi musnah seanteronya?”
Mendadak Biat coat membentak, “Padamlah api siluman! Musnahlah api iblis!” sesudah berdiam sejenak, ia berkata pula dengan suara perlahan. “Mo Kauw (agama iblis) memandang api sebagai nabi dan memuja api sebagai malaikat sesudah Yo Po Thian, Beng Coen Kauwcoe atau pemimpin agama meninggal dunia. Mo Kauw tak mempunyai lagi Kauw Coe. Kedua Kong Beng Soe Cia, keempat Hoe Kauw Hoat Ong dan kelima Ciang Kie Soe yaitu Kin Bok Soei Hwee dan Touw semua ingin merebut kedudukan pemimpin dan mereka jadi bermusuhan saling membunuh. Oleh karena adanya kejadian itu, Mo Kauw jadi lemah. Mungkin memang sudah ditakdirkan, bahwa partai yang lurus bersih akan menjadi makmur sedang kaum siluman dan kaum sesat akan musnah. Kalau di dalam Mo Kauw tidak terjadi perpecahan tak gampang orang bisa menggempurnya.
(Beng Coen Kauwcoe pemimpin agama, Kong Beng Soe Cia utusan terang benderang, Hoa Kauw Hoat Ong Raja Pelindung Agama, Ciang Kie Soe utusan yang memegang bendera, bendera itu berjumlah lima, yaitu Kim, Bok, Soei, Hwe, dan Touw. Nama-nama itu adalah pangkat-pangkat dalam Beng Kauw atau agama terang. Orang-orang luar …..
Semenjak Boe Kie …. Maka setiap kali ia menanyakan kedua orang tuanya selalu mengaget dan memperlihatkan rasa tidak senang. Ayah angkatnya pun tidak memberi keterangan. Maka itu sampai sekarang ia masih belum tahu apa sebenarnya Mo Kauw.
Waktu ia mengikuti Thay Soehoe Thio Sam Hong, orang itu juga sangat membenci Mo Kauw. Saban-saban nama “agama” itu disebutkannya si kakek selalu memberi nasihat dan peringatan keras bahwa ia tidak boleh dekat-dekat dengan orang Mo Kauw. Belakang ia bertemu dengan Ouw Ceng Goe, Ong Lan Kouw, Siang Gie Coen, Cie Tat, Coe Goan Ciang dan yang lain dan mereka itu adalah anggota-anggota Mo Kauw. Ia mendapat kenyataan, bahwa mereka oleh karenanya mau tidak mau ia harus menarik kesimpulan, bahwa lagak lagu orang-orang itu agak aneh dan sukar dimengerti oleh orang luar. Sekarang, demi mendengar peraturan Biat Coat semangatnya lantas saja terbangun dan dia segera memasang kuping dengan sepenuh perhatian.
Biat Coat meneruskan penuturannya. “Dari satu ke lain keturunan, seorang Beng Coen Kauwcoe memegang serupa benda yang merupakan semacam tanda kekuasaan. Benda itu dinamakan Seng Hwee Leng (tanda kekuasaan Api Nabi). Tapi pada waktu Kauw Coe turun ke tigapuluh satu memegang pimpinan, entah bagaimana Seng Hwee Leng itu hilang. Maka itu Kauw Coe-Kauw Coe yang belakangan sudah tak punya tanda kekuasaan , walaupun ia memiliki kekuasaan sebagai pimpinan tertinggi. Yo Po Thian mati mendadak, entah diracuni, entah dibunuh orang. Tak seorangpun yang tahu jelas. Dalam kalangan Mo kauw lantas saja terjadi kekalutan. Sebab mati mendadak, Yo Po Thian tidak menunjuk ahli warisnya. Dalam Mo Kauw terdapat banyak sekali orang pandai, sehingga yang pantas menjadi Kauw Coe, sedikitnya ada lima atau…., namanya Wi It Siauw bergelar Ceng Ek Hong Ong.”
Murid-murid Go Bie saling mengawasi. Nama Ceng Ek Hok Ong Wi It Siauw belum pernah didengar mereka.
Sesudah berdiam sejenak, Biat Coat berkata pula orang itu belum pernah datang ke Tionggoan. Sepak terjang orang-orang Mo Kauw aneh dan sembunyi-sembunyi sehingga walaupun kepandaiannya sangat tinggi, namanya tidak dikenal di daerah Tionggoan. Tapi Peh Bie Eng Ong In Tian Ceng dan Kim Mo Say Ong Cia Soen sudah dikenal kamu, bukan?”
Boe Kie terkejut sedang Cu Ji mengeluarkan seruan tertahan. Biat Coat melirik mereka dengan sorot mata tajam.
“Soehoe apakah kedua orang itu anggota Mo Kauw?” Tanya Ceng Hie dengan suara heran.
“Keempat raja (ong) dari Mo Kauw adalah Cie, Peh, Kim dan Ceng (Ungu, putih, kuning emas, dan hijau) menerangkan sang guru. Peh Bie seorang raja dan Ceng Ek pun seorang raja. Ceng Ek berkedudukan paling rendah, tapi kepandaiannya sudah disaksikan. Maka itu betapa tinggi kepandaian Peh Bie dan Kim Mo dapatlah ditaksir-taksir.
Karena sakit hati, Kim Mo Say Ong jadi seperti orang gila dan melakukan perbuatan-perbuatan durhaka. Pada dua puluh tahun berselang, dengan mendadak ia membunuh orang tidak berdosa. Sekarang orang tidak tahu kemana dia pergi dan menjadi sebuah teka-teki dalam rimba persilatan. Mengenai In Thian Ceng, sesudah gagal dalam merebut pimpinan dalam Mo Kauw, dalam gusarnya ia mendirikan Peh Bie Kauw. Dia sakit penyakit ingin menjadi pemimpin agama. Semula kita menduga bahwa sesudah meninggalkan Mo Kauw, In Thian Ceng sudah putus hubungan dengan Kong Beng Teng. Tak dinyana, waktu menghadapi bahaya, Kong Beng Teng masih sudi meminta pertolongan Peh Bie Kauw.”
Mendengar itu, Boe Kie jadi bingung dan berduka. Ia tahu, bahwa sepak terjang ayah angkatnya dan kakek luarnya aneh-aneh dan sesat sehingga mereka dibenci oleh orang-orang dari partai lurus bersih. Tapi ia sama sekali belum pernah menduga bahwa kedua orang tua itu adalah Hoe Kauw Hoat Ongdari Mo Kauw.
Sementara itu Biat Coat Soethay sudah melanjutkan penuturannya. “Menurut perhitungan, usaha enam partai untuk membasmi Kong Beng Teng pasti akan berhasil. Biarpun semua siluman bersatu padu, kita tak usah merasa khawatir. Tapi dalam pertempuran, pihak kita tentu akan menderita juga kerusakan besar. Maka itu aku berharap supaya kamu semua mempunyai tekad yang teguh untuk berkelahi mati-matian. Sedikitpun kamu tidak boleh mempunyai rasa takut, sehingga waktu menghadapi musuh, kamu menurunkan keangkeran Go Bie Pay.
Semua murid Go Bie lantas saja bangun berdiri dan membungkuk, sebagai tanda bahwa mereka berjanji akan mamenuhi harapan sang guru.
“Tinggi rendahnya ilmu silat seseorang tergantung kepada bakatnya dan segala apa tidak dapat dipaksakan,” kata Biat Coat. “Bahwa sebelum bertempur Ceng Hian sudah binasa dalam tangannya siluman itu, tidak boleh ditertawai oleh kamu. Apakah tujuannya belajar ilmu silat? Tujuannya adalah untuk membasmi yang jahat dan menolong yang lemah. Bukankah begitu? Sekarang enam buah partai besar, yaitu Siauw Lim, Bu Tong, Go Bie, Kun Lun, Khong Tong, dan Hwa San, berusaha untuk memupus Mo Kauw. Apa kita akan hidup atau mati, sudah tidak dihiraukan lagi oleh Go Bie Pay. Ceng Hian berangkat paling dulu. Mungkin sekali korban kedua adalah gurumu sendiri…..”
Semua murid Go Bie membungkuk. Di bawah sorotan sinar rembulan yang remang-remang muka setiap orang kelihatan pucat pasi.
Biat Coat menghela napas dan kemudian berkata lagi dalam dunia ini siapakah bisa hidup abadi? Manusia mana yang bisa hidup terus menerus? Apa yang diharapkan ialah biarlah sesudah mati, kita masih mempunyai turunan, anak cucu kita masih hidup terus. Maka itu, kekuatiran kamu semua mati dan hanya aku si tua yang hidup terus, hidup sebatang kara, hidup kesepian dalam dunia ini “Huh-huh!… Tapi kalau sampai terjadi begitu akupun harus menerimanya dengan rela. Bukankah pada seratus tahun yang lalu, di dalam dunia tidak terdapat partai yang dinamakan Go Bie Pay? Asal saja kita berkelahi secara gagah, biarpun mesti terbasmi seanteronya, kita tidak usah merasa menyesal.”
Mendengar perkataan sang guru, darah semua murid Go Bie bergolak-golak. Dengan serentak mereka menghunus senjata dan berteriak, “Kami bersumpah akan berkelahi mati-matian!”
Biat Coat tertawa tawar, “Bagus! Kamu mengasolah,” katanya.
Mendengar itu semua Boe Kie merasa kagum. Sebagian besar murid Go Bie Pay adalah wanita, tapi dalam menghadapi bahaya, mereka tidak menunjukkan rasa keder sedikitpun jua. Didengar dari pembicaraan Biat Coat Soethay, kekuatan Mo Kauw bukan main besarnya. Perkataan itu sebenarnya sudah harus diucapkan si Ni Kouw tua pada waktu mereka mau berangkat ke See Hek. Akan tetapi, pada waktu itu, mungkin ia tidak menduga, bahwa sesudah terbit perpecahan, dalam menghadapi musuh dari luar, Mo Kauw masih bisa bersatu padu. Munculnya Ceng Ek Hok Ong telah membuktikan adanya kerja sama dalam kalangan Mo Kauw.
Sesudah berdiam beberapa saat, Biat Coat berkata pula: “kalau Ceng Ek Hok Ong datang, Peh Bie Eng Ong, dan Kim Mo Say Ong dan mungkin akan datang juga. Cie San Liong Ong dan kelima Ciang Kie Soe pun bisa turut datang. Menurut rencana semula, paling dulu keenam partai besar akan membinasakan Kong Beng Soe Cia Yo Siauw dan susudah itu, barulah kita membasmi siluman-siluman lainnya. Tak dinyana, hitung-hitungan Sin Kie Sianseng dari Hwa San Pay kali ini melesat jauh. Haha!… Semua salah.” (Cie San Liong Ong Rajawali baju ungu)
“Apakah Cie San Liong Ong siluman jahat?” Tanya Ceng Hie.
Sang guru menggelengkan kepala. “Entahlah, akupun hanya mengenal nama,” jawabnya. “Sepanjang keterangan, sesudah gagal menduduki kursi Kauw Coe, dia pergi ke luar lautan dan memetuskannya hubungan dengan Mo Kauw. Alangkah baiknya bagi pihak kita, bila dia masih mempertahankan sikapnya itu. Diantara keempat raja dalam kalangan Mo Kauw, ia menduduki tempat yang paling tinggi, sehingga dengan sendirinya, dia merupakan musuh yang berat. Dalam Mo Kauw terdapat dua orang Kong Beng Soe Cia, disamping Yo Siauw masih ada seorang Su Cia lainnya. Semenjak dahulu, ada Kong Beng Soe Cia kiri dan Kong Beng Soe Cia kanan dan kedudukan kedua orang lebih tinggi daripada keempat Hu Kauw Hoat Ong. Yo Siauw adalah Kong Beng Coe Soe (Kong Beng Soe Cia kiri) tapi she dan nama Kong Beng Yo Soe (Kong Beng Soe Cia kanan) tak pernah dilihat siapa jua. Kong Bun dari Siauw Lim Pay dan Song Wan Kiauw Song Tayhiap adalah orang-orang yang berpengelaman sangat luas. Tapi merekapun tak tahu siapa adanya Kong Beng Yo Soe itu. Sekarang tujuan kita adalah menyerang Yo Siauw. Dalam pertempuran berhadapan, sepala apa akan diputuskan oleh kepandaian ilmu silat dari kedua belah pihak. Yang sangat dikuatirkan olehku ialah waktu kita menghajar Yo Siauw, diam-diam Kong Beng Yo Soe melepaskan anak panah gelap.
Murid-murid Go Bie mendengar penjelasan itu dengan hati berdebar-debar, bahkan beberapa diantaranya menengok ke belakang, seolah-olah mereka kuatir Cie San Liong Ong dan Kong Beng Yo Soe menyerang dengan mendadak.
“Yo Siauw telah mencelakakan Ki Siauw Hu, Wi It Siauw telah membinasakan Ceng Hian,” kata pula Biat Coat dengan suara menyeramkan.
“Permusuhan antara Go Bie Pay dan Mo Kauw adalah permusuhan yang sangat mendalam. Go Bie dan Mo Kauw tidak dapat berdiri bersama-sama dalam dunia ini. Murid mana yang akan menjadi ahli waris Go Bie Pay akan diputuskan dalam pertempuran yang akan datang. Andaikata ada seorang murid lelaki yang tanpa menghiraukan keselamatan jiwa sendiri, secara kebetulan bisa membinasakan salah satu Hu Kauw Hoat Ong, maka aku… aku bersedia untuk melanggar kebiasaan kita yang sudah berjalan hampir seratus tahun lamanya… “
Kedua mata Biat Coat mengawasi ke tempat jauh. “Semenjak Kwee Couwsu yang mendirikan partai kita. Ciang Boin dari Go Bie Pay selalu dipegang oleh seorang wanita.” Katanya pula dengan suara perlahan. “Jangankan laki-laki, sedang wanita yang sudah menikahpun tidak dapat menjadi Ciang Cun Jin. Akan tetapi, pada waktu partai menghadapi bahaya besar, aku tidak dapat mengkukuhi lagi kebiasaan lama. Sekarang siapa saja, tak perduli lelaki atau perempuan, yang berjalan besar akan menjadi ahli waris partai kita.”
Semua murid Go Bie menundukkan kepala. Tak seorangpun membuka mulut. Di dalam hati mereka merasa sangat tidak enak, karena sang guru memberi pesan untuk di hari kemudian sehingga seolah-olah guru itu mendapat firasat, bahwa ia takkan kembali ke Tionggoan dengan bernyawa.
Tiba-tiba Biat Coat tertawa terbahak-bahak, suaranya yang nyaring menempuh jarak jauh di gurun pasir yang sunyi itu. Semua murid Go Bie bangun bulu romanya, mereka kaget bercampur heran.
“Tidurlah!” bentak Biat Coat seraya mengibas tangan jubahnya.
Seperti biasa, Ceng Hie segera mengatur penjaga malam.
“Tak usah,” kata sang guru.
Ceng Hie terkejut, tapi ia tidak berani membantah. Mentang-mentang, juga jaga malam tiada gunanya. Kalau Ceng Ek Hok Ong atau orang yang sepantasnya datang menyatroni, jaga malam atau tidak jaga malam tidak berdaya.
Malam itu lewat tanpa sesuatu yang luar biasa dan pada keesokan paginya, rombongan Go Bie meneruskan perjalanan. Kira-kira tengah hari mereka sudah melalui seratus li lebih. Langit cerah dan matahari memancarkan sinarnya yang gilang gemilang sehingga biarpun waktu itu sudah musim dingin, orang-orang Go Bie merasakan hawa yang hangat.
Selagi enak berjalan, di jalan barat laut tiba-tiba terdengar suara bentrokan senjata. Tanpa menunggu perintah Ceng Hie, semua orang segera mempercepat tindakan, menuju ke arah suara itu. Tak lama kemudian, lapat-lapat mereka melihat bayangan beberapa orang yang sedang bertempur. Sesudah datang lebih dekat, mereka mendapat kenyataan, bahwa tiga orang Toojin (imam) yang memegang senjata-senjata aneh tengah mengepung seorang lelaki setengah tua.
Ketiga Toojin itu mengenakan jubah panjang warna putih dan pada tangan jubah sebelah kiri terdapat sulaman obor yang berwarna merah sehingga dengan demikian, dia adalah orang Mo Kauw. Lelaki sedang dikepung bersenjatakan pedang panjang dan meskipun satu melawan tiga, dia tak jatuh di bawah angina.
Waktu itu Boe Kie sudah sembuh, tapi dia tetap berlagak belum bisa jalan dan terus duduk di kereta salju. Dengan rasa kagum, ia mengawasi. Sambil membentak keras, orang itu memutar badan dan pedangnya menyambar tepat di dada salah seorang Toojin. Para murid Go Bie bersorak sorai. Diantara sorakan, Boe Kie pun mengeluarkan seruan tertahan, sebab ia mengenali, bahwa tikaman itu adalah Sun Siu Tiu Couw (dengan menuruti aliran sungai mendorong perahu), suatu pukulan dahsyat dari Bu Tong Kiam Hoat, dan bahwa lelaki setengah tua itu bukan lain daripada Bu Tong Liok Hiap In Lie Heng.
Rombongan Boe Kie terus menonton tanpa memberi bantuan. Melihat datangnya bantuan dan sesudah seorang kawannya roboh, kedua Toojin yang masih mengepung jadi ciut nyalinya.
Sesudah bertempur beberapa jurus lagi, sambil berteriak keras mereka lari berpencaran. Satu ke selatan dan satu ke utara. In Lie Heng menguber musuh yang lari ke selatan dan sebab ia larinya lebih cepat, dalam sekejab ia sudah bisa menyusul dan menghantam punggung Toojin itu dengan telapak tangannya. Si Toojin memutar badan dan melawan dengan nekat. Dilihat cara berkelahinya yang tak memperdulikan keselamatan diri sendiri, ia nampaknya bertujuan binasa bersama-sama.
Sementara itu, toojin yang kabur ke jurusan utara makin lama jadi makin jauh. Untuk merobohkan musuhnya yang berkelahi bagaikan harimau edan, In Lie Heng masih memerlukan waktu, sehingga biar bagaimanapun jua, ia takkan bisa menyusul toojin yang lari ke utara itu.
Murid-murid Go Bie yang sangat membenci orang-orang Mo Kauw, mengawasi Ceng Hie dengan harapan kakak seperguruan itu akan memberi perintgah supaya mereka memberi bantuan. Beberapa murid wanita yang bersahabat dengan Ki Siauw Hu mengetahui, bahwa In Lie Heng bekas tunangan Nona Ki. Setelah Ki Siauw Hu binasa karena gara-gara perebutan Kong Beng Soe Cia Yo Siauw, mereka lebih bersimpati kepada Bu Tong Liok Hiap.
Tapi Ceng Hie bersangsi. Dalam rimba persilatan Bu Tong Liok Hiap mempunyai kedudukan tinggi. Setiap bantuan yang diberikan kepadanya tanpa diminta, berarti melanggar tata kehormatan. Maka itu, setelah memikir sejenak, ia mengambil keputusan untuk tidak membantu. Ia lebih suka siluman itu meloloskan diri daripada melakukan perbuatan tidak pantas terhadap In Liok Hiap.
Sesaat itu, sekonyong-konyong diangkasa berkelabat sehelai sinar hijau, sinar pedang yang terbang dari tangan In Lie Heng. Dengan kecepatan yang tak mungkin dilukiskan, senjata itu menyambar punggung Toojin yang sedang kabur. Si toojin sendiri bukan tidak tahu, bahwa punggungnya tengah disambar pedang, tapi sebab cepatnya senjata itu, ia tidak keburu berkelit, sehingga dilain detik, ulu hatinya sudah menjadi toblos. Tapi dia masih lari terus dan sesudah lari lagi sejauh dua tombak, barulah ia roboh binasa. Dan pedang itu sendiri, sesudah menembus ulu hati si Toojin, masih terbang kurang lebih tiga tombak, kemudian menancap di pasir!
Demikian lihainya Bu Tong Liok Hiap In Lie Heng.
Semua murid Go Bie mengawasi kejadian itu dengan mata membelalak dan mulut ternganga. Mereka tak dapat mengeluarkan suara.
Waktu semua mata ditujukan lagi ke galanggang pertempuran, Toojin yang barusan berkelahi nekat-nekatan sekarang bergoyang-goyang badannya, seperti orang mabuk. In Lie Heng tidak memperdulikannya lagi dan dengan tenang berjalan ke arah rombongan Go Bie. Baru ia berjalan beberapa tindak, Toojin bekas lawannya sudah roboh binasa. Sekarang barulah murid-murid Go Bie bersorak-sorai, bahkan BIAT COAT SOETHAY sendiri manggut-manggutkan kepalanya sebagai tanda memberi pujian. Dilain saat paras muka si nenek kelihatan berduka dan ia menghela nafas. Ia mengiri bahwa Bu Tong mempunyai murid-murid yang berkepandaian tinggi, sedang dalam Go Bie Pay, tak satupun yang memuaskan hati. Sesaat itu, ia ingat Ki Siauw Hu yang bernasib malang dan tidak bisa menikah dengan pria yang segagah Lie Heng. Mengingat murid itu, ia jadi lebih sakit hati terhadap Mo Kauw yang sudah mencelakai Noan Ki. (dalam alam pikir Biat Coat, Ki Siauw Hu dibinasakan oleh Yo Siauw dan bukan olehnya sendiri)
Bibir Boe Kie sudah bergerak untuk memanggil “Liok Susiok”, tapi bibir itu rapat kembali. Diantara paman-pamannya, In Lie Heng-lah yang paling erat hubungannya dengan mendiang ayahnya dan selama ia berada di Bu Tong San, paman keenam itu selalu memperlakuinya dengan penuh kecintaan. Dengan hati berdebar-debar, ia mengawasi paman itu yang tak pernah dilihatnya selama delapan tahun. Ia mendapat kenyataan, bahwa Lie Heng sudah kelihatan banyak lebih tua, sedang rambut di kedua pelipisnya sudah dauk. Mungkin sekali kebinasaan Ki Siauw Hu sudah memberi pukulan hebat kepadanya. Di dalam hati, Boe Kie ingin sekali melompat dan memeluk orang yang dicintainya itu. Akan tetapi sebisa-bisa ia menahan hati, karena ia merasa bahwa jika ia berbuat begitu, ia bakal menghadapi banyak kejadian yang tidak enak.
Sementara itu In Lie Heng sudah menghampiri BIAT COAT SOETHAY dan seraya memberi hormat, ia berkata, “Dengan memimpin saudara-saudara seperguruan dan murid-murid turunan ketiga, yang semuanya berjumlah tiga puluh dua orang, Toa Suheng boanpwee sudah tiba di tepi It Sian Hiap. Atas titah Toasuheng Boanpwee datang kemari untuk menyambut kalian.”
“Bagus!” kata Biat Coat. “Ternyata rombongan Bu Tong Pay yang datang lebih dulu. Apakah kalian sudah bertempur dengan pihak siluman?”
“Sudah tiga kali kami kebentrok dengan rombongan dua bendera. Bendera Bok dan Bendera Hwee,” jawabnya. “Kami berhasil membinasakan beberapa siluman, tapi Citsutee Boh Seng Kok juga terluka.”
Biat Coat mengangguk, ia mengerti, bahwa meskipun Lie Heng menjawab dengan tenang, ketiga pertempuran itu tentulah pertempuran sangat hebat. Ia pun mendapat kenyataan, bahwa pihak musuh lihai sekali. Lima pendekar Bu Tong yang berkepandaian tinggi ternyata masih belum bisa mengambil jiwanya Ciang Kie Soe dan malah Cit Hiap Boh Seng Kok mendapat luka.
“Apakah kalian pernah menyelidiki kekuatan Kong Beng Teng?” Tanya pula Biat Coat.”
“Sepanjang pendengara, Peh Bie Kauw, Kiu Tok Hwee dan lain-lain cabang Mo Kauw datang membantu,” jawabnya. “Kata orang, Cie San Liong Ong dan Ceng Ek Hok Ong juga datang kemari.”
Biat Coat terkejut, “Cie San Liong Ong juga datang?” ia menegas. Sambil bicara, mereka berjalan dengan perlahan, diikuti dari kejauhan oleh murid-murid Go Bie.
Sesudah beromong-omong kira-kira setengah jam, Lie Heng mengangkat kedua tangannya untuk berpamitan dengan mengatakan bahwa ia harus berhubungan dengan Hwa San Pay.
“In Liok Hiap,” kata Ceng Hie, “Sesudah berjalan jauh, kau mestinya sudah lapar. Lebih baik makan dulu.”
In Lie Heng tidak berlaku sungkan. “Terima kasih, baiklah.” Katanya sambil mengangguk.
Murid-murid wanita Go Bie lantas saja mengeluarkan makanan kering. Beberapa diantaranya membuat dapur, menyalakan api, dan memasak air. Makanan mereka sendiri sangat sederhana, tetapi kepada In Lie Heng, mereka ingin menyediakan santapan yang sebaik-baiknya. Semua kecintaan itu telah diunjuk sebab mereka ingat Ki Siauw Hu yang telah tiada lagi di alam dunia. In Lie Heng pun mengerti apa yang dipikir oleh mereka. Dengan mata merah dan suara terharu, ia berkata, “Terima kasih atas kebaikan Suci dan Soemoay.”
Sekonyong-konyong Coe Jie berkata, “In Liok Hiap, aku ingin mencari keterangan mengenai seseorang. Apa boleh?”
Dengan tangan memegang semangkok mie kuah, In Lie Heng menengok ke arah si nona dan berkata dengan suara manis. “Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama yang mulia dari Siauw Soemoay? Hal apa yang mau ditanyakannya? Asal saja aku tahu, aku tentu akan memberitahukan.”
“Aku bukan orang Go Bie Pay,” Jawabnya. “Aku malah lawan mereka dan telah ditangkap oleh mereka. Sekarang aku menjadi tawanan Nikouw tua itu.”
Mendengar jawaban itu, In Lie Heng yang semula menduga bahwa si nona adalah murid Go Bie Pay, jadi tercengang. Tapi karena nona itu sangat polos dan berterus terang, ia jadi merasa suka kepadanya. “Apa kau anggota Mo Kauw?” tanyanya.
“Juga bukan!” jawab Coe Jie. “Aku malah musuh Mo Kauw.”
In Lie Heng jadi bingung, tapi ia tak punya tempo untuk bicara panjang-panjang. Sebagai penghargaan terhadap pihak tuan rumah, ia mengawasi Ceng Hie dengan sorot mata menanya.
“keterangan apa yang kau ingin dapat dari In Liok Hiap?” kata Ceng Hie.
“Pertanyaanku adalah ini: Apakah suhengmu Thio Cui San Thio NgoHiap juga datang di It Sian Hiap?” kata Coe Jie.
“Perlu apa kau menanya begitu?” menegas In Lie Heng.
Paras muka Coe Jie bersemu merah. “Aku ingin mencari tahu, apakah putera Thio Ngohiap yang bernama Boe Kie juga datang kemari,” katanya dengan suara perlahan.
Boe Kie terkejut, “Apa Coe Jie sudah tahu siapa adanya aku?” tanyanya didalam hati.
“Apa kau bicara sungguh-sungguh?” Tanya pula In Lie Heng.
“Sungguh-sungguh,” jawabnya. “Aku tidak berani main-main terhadap In Liok Hiap.”
“Sudah sepuluh tahun NgoKo meninggal dunia,” kata Lie Heng dengan suara perlahan. “Apa benar nona tak tahu?”
Coe Jie melompat bangun. “Ah!” serunya. “Thio Ngohiap sudah meninggal dunia…! Kalau begitu, dia…dia… sudah yatim piatu.”
“Apakah nona mengenal keponakanku Boe Kie?” Tanya In Lie Heng.”
“Lima tahun berselang, di rumah Tiap Kok Ie Sian Ouw Ceng Goe, aku pernah bertemu dengannya,” jawab si nona. “Tapi sekarang aku tak tahu dimana ia berada.”
“Atas titah Soehoe, akupun pernah datang di Ouw Tiap Kok untuk menemui Boe Kie.” Kata pula In Lie Heng.” Akan tetapi, suami isteri Ouw Ceng Goe telah dibinasakan orang dan Boe Kie tak ketahuan kemana perginya. Lama juga aku menyelidiki tanpa berhasil. Belakangan… hai! Tak dinyana… tak dinyana.. Ia tak dapat meneruskan perkataannya, sedang paras mukanya berubah sedih.
“Ada apa?” Tanya si nona tergesa-gesa. “Apa yang didengar olehmu?”
Dengan rasa heran, In Liok Hiap menatap wajah Coe Jie. “Nona,” katanya. “Mengapa kau menaruh perhatian begitu besar?’ Apakah keponakanmu sahabat atau musuhmu?”
Coe Jie mengawasi ke tempat jauh. Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata dengan suara perlahan. “Aku telah mengajak dia pergi ke pulau Leng Coa To..”
“Leng Coa To?” memutus Lie Heng. “Pernah apa nona kepada Gin Yap Sianseng dan Kim Hoa Popo?”
Si nona tidak menjawab. Ia terus melamu dan bagaikan seorang linglun, ia berkata pula pada dirinya sendiri. “Dia bukan saja menolak, tapi juga memukul, mencaci dan bahkan menggigit tanganku, hingga darahku mengucur…” Seraya berkata begitu, telapak tangan kirinya mengusap-usap belakang tangan kanannya… tapi… tapi.. kutetap tak dapat melupakannya. Aku bukan mau mencelakai dia, aku ingin bisa mengajak dia ke Leng Coa To supaya dia bisa menerima pelajaran ilmu silat yang tinggi dari Popo. Aku ingin berusaha untuk mengusir racun dingin Hian Beng Sin Ciang yang mengeram dalam tubuhnya. Tapi dia garang luar biasa. Dia menganggap maksudku yang begini baik sebagai niatan jahat.

Boe Kie kaget tak kepalang. Baru sekarang ia tahu, bahwa Coe Jie adalah A-Iee yang pernah mencekal lengannya dalam pertemuan di Ouwtiap kok. Baru sekarang ia tahu bahwa kecintaan yang tidak dapat dilupakan oleh si nona adalah dirinya sendiri. Ia mengawasi muka Coe Jie. Pada roman yang jelek itu sudah tak ada bekas-bekas dari kecantikan yang dulu. Tapi waktu melihat sinar mata si nona, lapat-lapat ia ingat sinar mata A-Iee.

“Kalau begitu dia murid Kim hoa Popo”, kata Biat coat Soethay dengan suara dingin. “Kim hoa Popo pun bukan seorang dari partai lurus bersih. Tapi sekarang kita tak boleh menanam terlalu banyak permusuhan dan untuk sementara waktu, kita tahan saja padanya.

“Nona,” kata Lie Heng. “Terhadap keponakanku, kau ternyata mempunyai maksud baik. Hanya sayang dia tipis rejeki. Beberapa hari berselang, aku telah bertemu dengan Sianseng Ho Thay Ciong, Ciang boen jin dari Koen loen pay. Dari orang tua itu, aku mendapat tahu, bahwa pada empat tahun berselang, karena terpeleset Boe Kie telah jatuh ke jurang yang dalamnya berlaksa tombak. Hai…! Kecintaan antara aku dan mendiang ayahnya bagaikan kecintaan antara tangan dan kaki. Di luar dugaan, langit tidak melindungi orang yang baik…”

“Bruk!” Coe Jie jatuh terjengkang.

Buru-buru Coe Cie Jiak membangunkannya dan sesudah mengurut dadanya beberapa saat, barulah si nona tersadar.

Bukan main sedihnya Boe Kie. In Lie Heng dan Cioe Jie sudah begitu berduka karena mencintainya, tapi ia sendiri harus berlaku begitu tega dan tidak mau memperkenalkan dirinya. Pada saat itu, tiba-tiba beberapa tetes air mata jatuh di belakang tangannya. Ia mengangkat kepala dan mendapat kenyataan, bahwa orang yang menangis adalah Cioe Cie Jiak. Dengan hati tersayat, ia ingat kejadian di tengah sungai Han-soei. “Dia rupanya belum melupakan pertemuan di sungai itu,” katanya di dalam hati.

Sementara itu sambil menggertak gigi Cioe Jie bertanya, “In Liok-hiap, apakah Boe Kie dicelakai oleh Ho Thay Ciong?”

“Bukan,” jawabnya. “Sepanjang keterangan Boe Liat dari Coe-boe Lian hoan-chung telah menyaksikan dengan mata sendiri terpelesetnya dan jatuhnya keponakanku. Coe Tiang Leng, seorang ternama dalam rimba persilatan, juga turut mati bersama-sama.”

Si nona menghela napas lalu berduduk.

“Nona, bolehkan aku mendapat tahu she dan namamu yang mulia?” tanya Boe-tong Liok Hiap.

Coe Jie menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba ia membanting diri di pasir dan menangis menggerung-gerung.

“Nona, tak usah kau begitu bersedih,” membujuk Lie Heng. “Andaikata keponakanku tidak mati di dalam jurang, ia juga tidak bisa terlolos dari kebinasaan karena racun dingin itu. Hai… mati jatuh dengan badan remuk memang lebih baik daripada mati disiksa racun.”

“Lebih cepat anak itu mati memang lebih baik,” celah Biat-coat. “Kalau dia hidup terus, ia tak bisa menjadi lain daripada bibit penyakit.”

“Bangsat tua! Jangan kau bicara sembarangan!” bentak Coe Jie.

Mendengar guru mereka dicaci, murid-murid Go-bie tentu saja merasa gusar dan empat lima orang sudah segera menghunus pedang. Tapi tanpa menghiraukan ancaman itu, Coe Jie terus mencaci. “Bangsat tua! Ayah Boe Kie adalah soeheng dari In Liok hiap. Apakah ayahnya tidak cukup baik?”

Biat coat tidak menjawab, ia hanya tersenyum dingin.

“Ayahnya memang juga seorang dari partai yang lurus bersih,” kata Ceng hie. “Tapi bagaimana dengan ibunya? Turunan perempuan siluman dari Mo kauw memang tidak bisa menjadi lain daripada bibit penyakit.”

“Perempuan siluman dari Mo kauw?” menegas Coe Jie. “Siapa ibunya Boe Kie?”

Murid-murid Go bie tertawa geli.

Boe Kie merasa dadanya mau meledak. Kalau tekadnya untuk menyembunyikan diri kurang kuat, ia tentu sudah melompat dan mencaci orang-orang itu yang menghina mendiang ibunya. Selebar mukanya merah padam, air matanya berlinang-linang, tapi dengan sekuat tenaga ia mempertahankan diri.

Sebagai manusia yang tidak kejam, mendengar pertanyaan Coe Jie, dengan suara perlahan Ceng hie menjawab, “Isteri Thio Ngohiap adalah anaknya In Thian Ceng dari Peh bie kauw. Dia bernama In So So…”

“Ah!” teriak Coe Jie. Wajahnya lantas saja berubah pucat.

“Sebab menikah dengan perempuan siluman itu, nama Thio Ngohiap menjadi hancur, hingga pada akhirnya ia membunuh diri di Boe tong san, menerangkan Ceng hie. “Kejadian itu diketahui oleh orang sedunia. Apakah nona tak tahu?”

“Tidak…” jawabnya dengan mata membelalak. “Aku berdiam di Leng coa to, kutak tahu kejadian dalam rimba persilatan di wilayah Tionggoan. Tapi, di manakah adanya In So So sekarang?”

“Dia membunuh diri bersama-sama Thio Ngohiap.” jawabnya.

Coe Jie melompat bagaikan dipagut ular. “Jadi dia… dia sudah mati?” teriaknya.

“Kau mengenal In So So?” tanya Ceng hie dengan suara heran.

Sesaat itu, disebelah timur laut sekonyong-konyong terlihat sinar api yang berwarna biru.

“Celaka!” seru In Lie Heng. “Keponakan Ceng Soe dikepung musuh.” Ia memutar badan dan memberi hormat kepada Biat coat dan yang lain lain, dan kemudian dengan tergesa-gesa lari ke jurusan sinar api itu.

Dengan sekali mengibas tangan, murid-murid Go bie segera mengikuti dari belakang In Liok hiap.

Waktu sudah datang dekat, mereka mendapat kenyataan bahwa seorang pemuda yang mengenakan pakaian sastrawan sedang dikepung oleh tiga orang. Ketiga orang itu, yang bersenjata golok, memakai tudung dan mengenakan pakaian kacung atau pesuruh. Sesudah menyaksikan beberapa gerakan, murid-murid Go bie merasa heran, sebab biarpun seperti pesuruh, mereka ternyata berkepandaian tinggi, lebih tinggi daripada toojin-toojin yang dirobohkan oleh In Lie Heng. Pemuda itu, yang bersenjata pedang panjang, sudah jatuh dibawah angin, tapi pembelaannya sangat kuat, sehingga sedikitnya untuk sementara ia masih dapat mempertahankan diri.

Tak jauh dari gelanggang pertempuran berdiri 6 orang yang mengenakan jubah panjang warna kuning dengan sulaman obor merah di tangan jubah. Itulah tanda, bahwa mereka anggota Mo kauw.

Melihat kedatangan In Lie Heng dan rombongan Go bie, seorang kate gemuk dari antara keenam penonton itu berteriak, “In Lie Heng tee (persaudaraan), kalian gagal! Larilah! Kami akan melindungi dari belakang.”

“Hau-touw kie (Bendera tarah tebal) memang paling sombong!” teriak salah seorang dari ketiga pesuruh itu. “Orang she Gan! Kau saja yang kabur lebih dulu.”

Ceng hie mengeluarkan suara di hidung. “Kebinasaan sudah berada di atas kepalamu, tapi kau masih bertengkar dengan kawan sendiri,” katanya.

“Soecie, siapa mereka?” tanya Coe Cie Jiak.

“Yang mengenakan pakaian pesuruh adalah budak-budaknya In Thian Ceng,” jawabnya. “Mereka bernama In Boe Hok, In Boe Lok dan In Boe Sioe.”

“Budak?” menegas nona Cioe dengan suara heran. Tapi mengapa… mengapa… “

“Mereka bukan orang biasa, dulunya mereka perampok-perampok besar”, menerangkan sang kakak. “Keenam orang yang mengenakan jubah kuning adalah anggota-anggota Houw touw kie dari Mo kauw. Siluman kate gemuk itu mungkin sekali Gan Hoan, Ciang kie soe dari Houw touw kie. Menurut katanya Soehoe, kelima Ciang kie soe telah kebentrok dengan Kauwcoe Peh bie kauw sebab berebut kedudukan…”

Tiba-tiba terdengar suara “brett!” dan tangan baju pemuda yang terkepung robek karena bacokan In Boe Sioe.

Sambil bersiul nyaring In Lie Heng melompat pedangnya membabat golok In Boe Lok. “Trang!” golok itu melengkung. Dengan kaget In Boe Lok melompat mundur.

Mendadak, bagaikan kilat Coe Jie melompat dan dengan menunjuk tangan kanan, ia menotok punggung In Boe Lok. Hampir berbareng bagaikan kilat pula, ia melompat balik ke tempat semula.

In Boe Lok berkepandaian tinggi. Tapi sebab ia sedang kaget dan juga sebab gerakan si nona cepat luar biasa, maka totokan itu mampir tepat pada sasarannya. Di lain saat, badannya kaku dan mukanya semu hitam.
In Boe Hok dan In Boe Sioe terkesiap. Dengan serentak mereka mendekati Boe Lok. Sekonyong-konyong mereka mengawasi Coe Jie dengan mata membelalak. “Lee siocia!… teriaknya dengan suara tergugu.

“Hm! Kamu masih mengenali aku?” kata si nona.

Semua orang yang menyaksikan itu dengan hati yang berdebar-debar. Mereka menduga bahwa kedua orang itu akan segera menyerang Coe Jie. Tapi diluar sangkaan, tanpa mengeluarkan sepatah kata, mereka segera memondong mayat kawannya dan lari ke jurusan utara. Itulah perubahannya yang sungguh tak dinyana-nyana.

Dengan sekali mengibas, dalam tangan si kate gemuk sudah mencekal sehelai bendera besar yang berwarna kuning. Perbuatan itu diturut oleh kelima kawannya sambil memutar-mutar bendera-bendera itu, perlahan-lahan mereka mundur ke arah utara.

Semua murid Go bie mengawasi dengan perasaan heran. Mendadak dua murid lelaki melompat dan menguber dengan senjata terhunus. Tubuh In Lie Heng berkelebat dan dalam sekejap, ia sudah melewati kedua murid Go bie itu. Dengan sekali mendorong, kedua orang itu terhuyung ke belakang beberapa tindak dan muka mereka lantas saja berubah merah.

“Jiewie soetee, balik!” bentak Ceng hie. “In Liok hiap bermaksud baik, Houw touw kie tidak boleh dikejar.”

“Beberapa hari berselang, bersama Boh Cit tee aku menguber Liat-hwee-kie (Bendera api hebat),” menerangkan Lie Heng. “Hampir-hampir kami celaka. Sebagian rambut dan alis Boh Cit tee terbakar.” Seraya berkata begitu, ia menggulung tangan baju kiri dan pada lengannya terlihat bekas-bekas terbakar. Kedua murid Go-bie itu manggut-manggutkan kepala dengan perasaan jengah.

Sementara itu, sambil menatap wajah Coe Jie dengan sorot mata dingin, Biat coat Soethay bertanya, “Cian-cee Ciat-hoe-cioe, bukan?”

“Belum sempurna,” jawab si nona.

“Mengapa kau membunuh dia?” tanya pula si nenek.

“Bukan urusanmu,” kata si gadis dengan sikap acuh tak acuh. “Aku ingin membunuh, aku lantas membunuh.”

Biat coat menggerakkan tangannya dan hampir berbareng ia sudah menyambut pedang Ceng hie, “Cring!”, Coe Jie melompat ke belakang dengan paras muka pucat. Mengapa? Karena dengan kecepatan luar biasa, dengan Ceng hie, Biat coat membabat telunjuk kanan si nona, gerakannya adalah sedemikian cepat, sehingga tak dapat dilihat nyata oleh siapapun jua.

Di luar dugaan telunjuk si nona tertutup bida jari yang terbuat daripada baja murni dan karena pedang yang digunakan Biat coat bukan Lethian kam, maka senjata itu tidak dapat memutuskannya. Dengan mendongkol si nenek melontarkan senjata itu kepada Keng hie dan sambil mengeluarkan suara di hidung ia berkata, “Kali ini kau masih mujur, di lain kali janganlah kau jatuh lagi ke dalam tanganku.” Sikap itu adalah sesuai dengan kedudukannya sebagai ciangboenjin dari sebuah partai. Sesudah gagal dalam serangannya terhadap seorang yang tingkatannya lebih rendah, ia sungkan menyerang untuk kedua kalinya.

Mengingat bantuan Coe Jie kepada pihaknya dan kecintaan nona itu kepada Boe Kie, In Lie Heng jadi merasa kasihan dan segera berkata, “Sosiok, dengan tak disengaja anak itu telah mempelajari ilmu yang sesat. Kita harus memberi kesempatan supaya dia belajar pada guru yang lurus bersih. Hmm…, kurasa ada baiknya jika dia berguru kepada Thie-khim sianseng”. Ia menarik tangan pemuda yang tadi dikepung dan berkata pula, “Ceng Soe, lekaslah memberi hormat kepada Soethay dan para paman.”

Pemuda itu segera maju mendekati dan berlutut di hadapan Biat-coat, tapi pada waktu ia mau menjalankan peradatan besar di hadapan Ceng hie dan yang lain-lain, para murid Go bie itu menolak dan membalas hormat.

Pada waktu itu Thio Sam Hong sudah berusia lebih dari seratus tahun dan jika dihitung hitung tingkatannya lebih tinggi beberapa tingkat daripada Biat-coat. Karena pernah bertunangan dengan Kie Siauw Hoe, maka kedudukan In Lie Heng jadi lebih rendah setingkat daripada Biat caot. Jika sebagai pendiri Boe-tong-pay, Thio Sam Hong direndengi dengan pendiri Go bie pay, Kwee Siang, maka menurut pantas Biat coat lah yang harus memanggil “Soesiok” kepada In Lie Heng. Tapi sebegitu jauh Boe Tong dan Go bie tidak berani menerima panggilan dengan melihat saja usia masing-masing. Tapi meskipun begitu, murid-murid Go bie tidak berani menerima panggilan “paman” dari sasterawan muda itu.

Sesudah menyaksikan kegagahan pemuda itu sekarang dengan perasaan kagum semua orang mengawasi paras mukanya yang tampan dan angker.

“Ceng Soe adalah putera tunggal dari Toasoeko,” In Liok-hiap memperkenalkan keponakannya.

“Aha!” seru Ceng hie. “Sejak beberapa lama aku memang sudah mendengar nama besarnya Giok bin Beng siang. Dalam kalangan Kangouw semua orang memuji Song Siauw-hiap sebagai seorang ksatria yang mulia hatinya. Aku merasa beruntung, bahwa di hari ini aku bisa bertemu dengannya”. (Giok bin – muka yang putih seperti batu pualam. Beng siang koen, seorang ksatria yang pandai pada jaman Liat kok).

Semua orang mengawasi pemuda tampan itu, dengan perasaan terlebih kagum. Memang sudah lama mereka mendengar nama cemerlang dari Giok bin Beng Siang Ceng Soe.

Coe Jie yang berdiri di samping Boe Kie tiba-tiba berbisik, “A Goe dia lebih banyak tampan daripada kau”.

“Tentu saja perlu apa dikatakan lagi?” kata Boe Kie.

“A Goe”, kata pula si nona. “Coba kau lihat. Nona Cioe mu sedang memandang kau tak sudah-sudahnya”. Perkataan itu diucapkan sangat perlahan, tapi Cioe Cie Jiak rupanya sudah mendengar, karena ia sudah melengos.

Sementara itu sesudah beromong omong beberapa saat, In Lie Heng berkata, “Soe jie mari kita berangkat.”
“Menurut rencana hari ini, kira-kira tengah hari rombongan Khong tong-pay akan tiba di sekitar tempat ini,” kata Ceng-soe. “Tapi sampai sekarang mereka belum muncul. Aku kuatir terjadi sesuatu yang tidak enak.”

“Ya, akupun merasa kuatir,’ kata sang paman. “Kita sekarang sudah berada di daerah musuh.”

“Menurut pendapatku, paling baik kita menuju ke barat bersama-sama rombongan Go bie-pay”, kata pula pemuda itu. Mungkin sekali dalam jarak kira-kira lima belas li kita akan menemui musuh.”

“Mengapa Song Siauw hiap bisa mengatakan begitu?” tanya Ceng hie dengan suara heran.

“Aku hanya menebak-nebak,” jawabnya.

Ceng hie mengetahui, bahwa ayah pemuda itu Song Wan Kiauw, bukan saja tinggi ilmu silatnya, tapi juga paham ilmu Kie boen dan ilmu perang, sehingga sebagai putra seorang berilmu pemuda itupun tentu bukan sembarangan orang. Memikir begitu, ia tidak menanya lagi.

“Baiklah,” kata In Lie Heng. “Memang paling baik jika kita jalan bersama-sama para cianpwee dari Go bie pay.”

Mendengar perkataan In Lie Heng, Biat coat Soethay berkata dalam hatinya. “Sudah kira-kira tigapuluh tahun Thio Sam Hong tidak menghiraukan lagi segala urusan dunia dan pada hakekatnya tugas Ciangboenjin Boe tong pay sudah dipikul seanteronya oleh Song Wan Kiauw. Lihat-lihat gelagatnya, kedudukan Ciangboenjin ketika dari Boe tong pay akan diduduki oleh Song Siauw hiap. Sekarang saja sang paman sudah menuruti kemauan si keponakan!”

Tapi sebenar-benarnya hal itu sudah menjadi sebab In Lie Heng bertabiat halus dan sedapat mungkin sungkan membantah kemauan orang lain.

Demikian kedua murid Boe tong lalu berjalan bersama-sama rombongan Go bie. Sesudah melalui kurang lebih lima belas li, di depan mereka memandang sebuah bukit pasir. Melihat Ceng Soe berlari-lari mendaki bukit itu, Ceng hie segera mengibas tangannya dan dua murid Go bie lantas saja menguber dari belakang, sehingga ketiga orang tiba di atas bukit hampir berbareng. Dan hampir berbareng dia mengeluarkan teriakan kaget, karena di sebelah barat itu kelihatan menggeletak belasan mayat.

Mendengar teriakan mereka, semua orang segera memburu ke atas. Mereka mendapat kenyataan, bahwa semua korban binasa sebab pukulan hebat, ada yang hancur batok kepalanya, ada yang melesak badannya dan sebagainya.

In Lie Heng yang mempunyai paling banyak pengalaman dalam dunia Kang-ouw lantas saja berkata, “Rombongan Po yang-pang dari propinsi Kang-say termusnah seanteronya. Mereka dihancurkan oleh Kie bok kie (Bendera balok besar) dari Mo kauw”.

Biat coat mengerutkan alis, “Mengapa Po yang-pang datang kesini?” tanyanya dengan suara kurang senang. “Apakah diundang oleh partaimu?” Si nenek mendongkol sebab partai lurus bersih biasanya memandang rendah kepada berbagai golongan/perkumpulan (pang hwee) dalam dunia Kang ouw dan ia segan untuk bercampur dengan “pang pang” itu.

“Tidak, kami tak mengundangnya”, jawab Lie Heng. “Tapi Lauw Pang coe dari Po yang-pang telah diakui sebagai murid Khong tong pay. Mereka rupanya ingin membantu rumah perguruan.”

Biat coat mengeluarkan suara di hidung dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

Sesudah mayat-mayat dikuburkan, seorang murid lelaki Go bie pay, she Wie, yang merasa kagum akan jitunya tebakan Song Ceng Soe, bertanya, “Saudara Song, apakah kita bakal bertemu dengan musuh?”

Pemuda itu tidak lantas menjawab, sambil mengawasi kuburan-kuburan yang berderet-deret, ia mengasah otak. Sekonyong-konyong, kuburan yang paling barat membuka dan seorang lelaki melompat keluar. Bagaikan kilat dia menawan murid Go bie she Wie itu dan lalu kabur.

Semua orang terkesiap, beberapa murid wanita mengeluarkan teriakan kaget. Di lain detik, Biat coat dan Lie Heng, Song Ceng Soe dan Ceng hie sudah menguber dengan senjata terhunus. Selang beberapa saat, sesudah dapat menetapkan hatinya, barulah murid-murid Go bie mendusin, bahwa orang itu ialah Ceng ek Hok ong. Dengan mengenakan pakaian anggota Po yang-pang dia menambah napas dan berlagak mati. Murid-murid Go bie yang mengubur mayat, yang tidak memeriksa dengan teliti sudah kena dikubur. Setelah menahan korbannya, si Raja kelelawar kabur, tapi dia tak kabur terus seperti orang mengejek dia lari berputaran, membuat sebuah lingkaran.

Waktu baru mengundak, Biat Coat berempat lari dengan berendeng; tapi sesudah melalui terlihatlah tinggi rendah kepandaian mereka, dengan dua orang lebih dulu dan dua orang lebih belakang. Biat Coat dan In Lie Heng di sebelah depan. Ceng Hie dan Ceng Soe mengikuti dari belakang. Tapi sesudah dua putaran, Ceng Soe makin mendekati Biat Coat dan In Lie Heng, sedangkan Ceng hie ketinggalan makin jauh. Dari sini dapatlah dilihat, bahwa pemuda itu benar-benar lihay dan meskipun usianya masih muda, ia sudah memiliki lweekang yang tinggi. Tapi ilmu ringan Ceng ek Hok ong tiada bandingannya dalam rimba persilatan. biarpun mendukung manusia, ia tetap belum dapat disusul.

Sesudah dua putara, tiba-tiba Ceng Soe berhenti mengundak dan berteriak, “Tio Leng Coe Soe siok, Oey Kio Boe Soe siok, pergilah kedudukan Lee-wie dan memotong larinya musuh! Soen Liang Tin Soesiok, Lie Beng Hee Soesiok, cegatlah musuh dari kedudukan Cina wie!…”

Bagaikan seorang panglima, ia berteriak-teriak memberi perintah kepada belasan murid Go bie untuk mencegat musuh dengan mengambil kedudukan Pat-kwa. Orang2 Go bie yang kehilangan pimpinan, sudah menuruti semua perintah itu, yang dikeluarkan dengan suara angker.

Karena adanya pencegatan yang sangat rapat itu, Ceng ek Hok ong tidak bisa lari putaran lagi dengan leluasa. Seraya tertawa nyaring ia melemparkan tawanannya ke tengah udara dan kemudian kabur ke tempat lain. Biat coat melompat dan kedua tangannya menyangga tubuh muridnya yang melayang jatuh.
Di lain saat, sayup-sayup terdengar suara si Raja kelelawar, “Hah..hah!… Di antara orang muda banyak yang lihay, dengan mempunyai murid yang lihay itu, Biat coat Loohie sungguh tidak boleh dibuat permainan.” Dengan berkata begitu, ia memuji kepandaian Song Ceng Soe.

Sementara itu Biat coat berdiri terpaku dengan muka pucat pasi. Sebab murid yang dipeluknya ternyata sudah binasa, dengan luka bekas gigitan di lehernya.

Dengan hati berduka, tanpa mengeluarkan sepatah kata semua orang berdiri di sekitar Biat coat. Sesudah lewat beberapa lama, In Lie Heng berkata dengan suara perlahan. Menurut katanya orang, Ceng ek Hok ong selalu menghisap darah manusia. Cerita itu ternyata bukan omongan kosong.”

Biat coat Soethay malu, marah dan sakit hatinya. Semenjak menjadi Ciangboenjin Go bie pay baru kali ini ia mendapat pukulan yang begitu hebat. Dua orang muridnya dengan beruntun telah dibinasakan musuh, tanpa bisa berbuat apapun jua. Sesudah berdiri bengong beberapa lama, ia mengawasi Ceng Soe dan bertanya, “Bagaimana kau tahu nama murid-muridku itu?”

“Tadi Ceng hie Soesiok telah memperkenalkan mereka kepada teecoe,” jawabnya.

“Hm.. mendengar dan tak lupa lagi!” kata si nenek dengan suara perlahan. “Go bie pay mana punya orang sepandai itu?”

Malam itu, waktu mengaso dengan sikap hormat Ceng Soe menghampiri Biat coat dan berkata sambil membungkuk, “Cianpwee, bolehkan boanpwee memohon sesuatu yang tidak pantas?”

“Kalau kau tahu tidak pantas, tak perlu kau membuka mulut,” kata si nenek dengan tawar.

“Ya,” kata pemuda itu sambil bertindak mundur dan kemudian duduk di samping In Lie Heng.

Murid-murid Go bie merasa sangat heran. Mereka tak tahu apa yang mau diminta pemuda itu. Sebagai seorang yang berwatak sangat tidak sabaran, Teng Bin Koen segera mendekati dan bertanya, “Saudara Song, apakah yang mau diminta olehmu?”

“Waktu mengajar ilmu pedang, ayahku pernah mengatakan bahwa pada jaman ini orang palilng lihay kiam hoatnya di dalam dunia adalah Soecouw kami, sedang yang kedua ialah Biat coat Cianpwee. Kiamhoat Boe-tong dan Go bie masing-masing mempunyai keunggulan dan kekurangan. Misalnya saja, pukulan Chioe hwie Ngo hian (Tangan menyapu lima kali tetabuhan) dari Boe tong hampir bersamaan dengan Ceng lo Siauw-san (Kudung tipis dan kipas kecil) dari Go bie pay. Tapi jika Chioe hwie Ngo hian dikirim dengan menggunakan tenaga yang besar maka kelincahannnya jadi berkurang dan tidak dapat menyamai Ceng lo Siauw san yang tetap bisa mempertahankan kecepatannya.” Seraya berkata begitu, ia menghunus pedang dan menjalankan kedua jurus itu. Tapi waktu menjalankan Ceng lo Siauw san, gerakannya sangat tidak sempurna.

“Salah,” kata Teng Bin Koen sambil bersenyum dan mengambil pedang yang dicekal pemuda itu. “Pergelangan tanganmu masih sakit dan tidak bisa mengeluarkan banyak tenaga,” katanya. “Tapi kau lihatlah aku memberi contoh.”

Pemuda itu mengawasi dengan penuh perhatian. Sesudah Teng Bin Koen selesai dengan jurus itu, sambil menghela napas ia berkata, ”Ayahku sering mengatakan bahwa ia merasa menyesal belum bisa menyaksikan ilmu pedang gurumu. Hari ini boanpwee merasa sangat beruntung bisa mendapat kesempatan untuk menyaksikan pukulan Ceng lo Siauw san dari Teng Soesiok. Sebenarnya boanpwee ingin memohon petunjuk-petunjuk Soethay mengenai beberapa hal dalam kiamhoat. Tapi karena boanpwee bukan murid Go bie, maka tak dapat boanpwee membuka mulut.

Biarpun berada di tempat yang agak jauh, Biat coat sudah mendengar pembicaraan itu. Bahwa ia dianggap sebagai jago pedang nomor dua dalam dunia, sudah menggirangkan hatinya. Pada jaman itu, Thio Sam Hong dipandang sebagai gunung Thay-san atau bintang Pak tauw dalam dunia persilatan dan ia dikagumi oleh semua orang. Biat coat sendiri belum pernah mengandung maksud untuk menandingi guru besar itu, sehingga pendapat kalangan Boe-tong bahwa ia adalah ahli pedang nomor dua sudah sangat memuaskan hatinya. Melihat jurus Ceng lo Siauw san yang barusan dijalankan oleh Teng Bin Koen ia merasa mendongkol sebab jurus itu masih jauh dari sempurna. Masakah Go bie kiam hoat hanya sebegitu?

Maka itu, ia segera menghampiri dan tanpa mengeluarkan sepatah kata ia mengambil pedang yang tengah dicekal Teng Bin Koen. Sesudah mengangkat pedang itu sampai merata dengan hidungnya, tangannya menggetar dan ujung pedang segera mengeluarkan suara “ung ung…” Dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan, sembilan kali ia membulang balingkan senjata itu dengan kecepatan luar biasa. Tapi biarpun cepat,gerakan pedang dilihat dengan nyata sekali.

Para murid Go bie mengawasi dengan mata membelalak.

“Sungguh indah”, teriak In Lie Heng.

Song Ceng Soe sendiri memperhatikan setiap gerakan sambil menahan napas. Ia kagum bercampur kaget. Tadi dengan memberi pujian, ia sebenarnya hanya ingin menyenangkan hati si nenek. Tapi dilluar dugaannya, niekouw tua itu benar-benar lihay dan ia merasa takluk. Maka itu dengan setulus hati ia segera memohon beberapa petunjuk lain.

Sekarang Biat coat berlaku loyal. Semua pertanyaan dijawab dan dijelaskan seterang-terangnya, sedang dimana perlu nenek itu bersilat untuk memberi contoh-contoh. Semua murid Go bie memperhatikan itu tanpa bersikap. Banyak diantaranya, bahkan ada yagn sudah mengikutu sang guru selama belasan tahun belum pernah melihat kiam hoat yang lihay itu dari gurunya.

Coe Jie dan Boe Kie berdiri diluar lingkaran penonton. Tiba-tiba si nona berkata, “A Goe Koko, kalau aku bisa mempunyai ilmu ringan badan setinggi Ceng-ek Hok ong biarpun mati aku merasa rela.”

“Guna apa memiliki ilmu yang sesat?” kata Boe Kie. “menurut katanya In Liok-hiap, saban kali menggunakan ilmunya, Wie It Siauw harus membunuh manusia. Perlu apa mempunyai ilmu siluman?”
“Dalam pertempuran, manusia saling membunuh, kalau tidak membunuh tentu dibunuh,” kata Coe Jie. “Wie It Siauw lihay dan dia berhasil membunuh murid Go bie. Kalau dia kurang lihay, bukankan dia sendiri yang bakal dibunuh oleh si niekow tua? Dimataku, tak ada perbedaan antara partai lurus bersih dan golongan yang dikatakan sesat.”

Boe Kie tidak mengatakan suatu apa lagi.

Sekonyong-konyong sebatang pedang berkeredepan di angkasa. Pedang itu adalah senjata Song Ceng yang kena dilontarkan oleh Biat coat dengan pukulan Kiauw jiak yoe liong (Gesit bagaikan naga). Semua orang mendongak dan mengawasi senjata itu. Tiba-tiba mata mereka melihat sinar api yang berwarna kuning di sudut timur laut yang jauhnya kira-kira belasan li.

Dalam usaha untuk membasmi Mo-kauw keenam buah partai telah bersepakat untuk menggunakan anak panah api dari enam macam warna sebagai tanda mereka. Anak panah yang bersinar kuning itu adalah tanda Khong tong pay.

“Khong tong pay bertemu dengan musuh,” kata In Lie Heng. “Mari kita membantu.”

Mereka segera memburu ke jurusan itu. Tapi sesudah melalui belasan li, apa yang ditemukan hanyalah pasir kuning.

“Apa Oen Loocianpwee dari Khong tong pay?” teriak In Lie Heng. “Apa Kouw Loocianpwee?” Teriakan itu menempuh jarak yang jauh, tapi tak mendapat jawaban.

Sekonyong-konyong di sebelah barat muncul sinar kuning.

“Ah! Mereka pindah ke barat,” kata Ceng hie. Dengan tergesa-gesa mereka memburu ke jurusan barat.

Tapi sesudah berlari-lari beberapa lama, mereka tetap tidak menemui manusia. Di tempat itu mereka hanya mendapatkan potongan bambu dan kertas yang hancur terbakar, sehingga dapat diambil kesimpulan, bahwa anak panah api itu telah dilepaskan dari tempat tersebut.

Semua orang jadi bingung dan mencoba memecahkan teka-teki itu.

“Cian pwee, kita kena diakali,” tiba-tiba Song Ceng Soe berkata, “Lihatlah! Di atas pasir hanya terdapat tapak kaki seorang manusia. Kalau benar kawan-kawan Khong Tong-pay menemui musuh, yang kita lihat sedikitnya tapak empat atau lima orang.”

Mendadak Song Ceng Soe ingat sesuatu. “Celaka!” ia mengeluh, “Kong tong-pay benar diserang musuh. Ikutilah aku.” Sehabis berkata begitu ia segera berlari-lari ke arah barat daya.

“Bagaimana kau tahu bahwa Khong Tong-pay telah bertemu dengan musuh?” tanya In Lie Heng yang lari bersama dengan keponakannya.

“Anak panah api itu bukan palsu,” jawabnya.
“Anak panah api yang digunakan oleh keenam partai hanya dapat dibuat oleh tukang-tukang yang pandai dari Tiong-goan. Anak panah begitu tak bisa dibuat oleh tukang-tukang daerah See hek.”

“Apakah kau ingin mengatakan bahwa seorang murid Kong tong kena tangkap dan anak panah api itu dirampas dari tangannya?” tanya sang paman pula.
“Benar,” jawabnya. “Sementara itu, pihak siluman telah memancing kita ke timur laut dan kemudian ke barat untuk membuat kita lelah. Menurut pendapatku, mereka berkumpul di sebelah barat daya.”

Biat Coat yang berada dalam jarak kita-kira dua langkah dari mereka, dapat menangkap pembicaraan mereka. Ia mengangguk seraya berkata, “Kurasa tebakanmu tidak meleset.”

Kecuali Biat Coat, In Sie Heng, Song Ceng Soe dan beberapa murid yang berkepandaian tinggi, murid-murid Go Bie yang lainnya sudah sangat letih. Setelah melalui sekian li, di atas sebuah bukit pasir yang menghadang di depan tiba-tiba kelihatan seorang yang sedang berdiri dan seorang yang rebah di pasir. Biat Coat mempercepat langkahnya dan setelah dekat, ia mendapati kenyataan bahwa kedua orang itu tidak lain dari Boe Kie dan Coe Jie.

Ternyata dalam keadaan sibuk, orang-orang Go Bie sudah tidak memperhatikan kedua tawanan itu lagi, yang entah bagaimana bisa berada di sebelah depan.

“Mengapa kau berada di sini?” tanya Biat Coat. Di dalam hati ia merasa sangat heran. Apakah kedua setan kecil itu bisa berjalan lebih cepat?

Coe Jie menyengir. “Anak panah api itu terang-terang telah digunakan memancing musuh,” jawabnya. “Kukira, bahwa biarpun orang-orang Go Bie tak sadar, bocah she Song itu pasti akan menebak juga. Aku menduga pada akhirnya kalian semua tentu akan ke sini. A Goe Koko, bukankah benar begitu?”

Boe Kie mengangguk. “Kami sudah berada di sini lama sekali,” katanya sambil tersenyum. “Kalian sangat capai bukan?”

“Setan kecil!” bentak Biat Coat. “Kalau kau sudah menduga begitu mengapa tidak cepat-cepat memberitahukan kepada kami?”
“E eh, mengapa kau marah?” kata si nona.

“Mengapa kau tak minta pendapatku? Andaikata aku memberitahukan kepada kau, kau tentu tak akan percaya. Kau tentu lebih suka berlari-lari ke sana-sini.”

Biat Coat gusar, tapi ia tak bisa mengatakan apapun jua dan iapun tak bisa menghajar nona itu tanpa alasan.

Pada saat itulah, di sebelah barat daya seolah-olah terdengar suara bentrokan senjata yang sangat banyak. “Perlu apa kau bergusar terhadapku?” kata Coe Jie. “Kawan-kawanmu sedang menghadapi bahaya.”
Biat Coat dan yang lain tidak lagi memperdulikan Coe Jie yang berlidah tajam dan dengan tergesa-gesa mereka menuju ke arah barat daya.

Makin dekat suara pertempuran jadi makin hebat. Di antara bentrokan senjata terdengar juga teriak dari orang-orang yang terluka. Beberapa saat kemudian mereka terkesiap karena dari jauh mereka melihat suatu pertempuran besar-besaran. Masing-masing pihak mempunyai kekuatan beberapa ratus orang dan mereka sedang bertempur mati-matian.

“Pihak musuh terdiri dari bendera-bendera Swie Kim (Emas murni), Ang Soei (Air besar) dan Lian Hwee,” kata In Lie Heng. “Khong Tong-pay sudah berada di sini. Hwa San-pay dan Koen Loen-pay juga sudah tiba. Tiga bendera melawan tiga partai, Soe Jie mari kita turut menyerbu.” Sambil berkata begitu, ia mengibaskan pedangnya yang mengeluarkan suara mengaung.

“Tunggu dulu,” kata Ceng Soe. “Kita tunggu sampati datangnya para paman dari Go Bie-pay.”

Seumur hidup Boe Kie belum pernah menyaksikan pertempuran yang begitu besar dan begitu hebat. Dengan hati sedih ia mengawasi manusia yang saling membunuh itu. Di dalam hati kecilnya, ia tidak mengharapkan kemenangan pihak manapun juga, karena pihak yang satu adalah partai mendiang ayahnya sedang pihak yang lain adalah golongan mendiang ibunya.

Selagi menunggu murid-murid Go Bie yang ketinggalan di belakang, tiba-tiba Ceng Soe menuding ke arah timur. “Liok siok lihat!” katanya. “Di sebelah sana terdapat sejumlah besar musuh yang sedang menunggu untuk menerjang sewaktu-waktu.”

Boe Kie mengawasi ke arah yang ditunjuk Ceng Soe. Benar saja, pada jarak beberapa puluh tombak dari gelanggang pertempuran, terdapat tiga pasukan berkuda, setiap pasukan terdiri dari seratus orang lebih. Mereka semua berbaris dengan rapi, siap sedia untuk segera menerjang.

Pada saat itu kedua belah pihak tengah berperang dengan kekuatan yang hampir imbang. Kalau ketiga pasukan berkuda itu menyerbu, orang-orang Khong Tong, Hwa San dan Koen Loen pasti akan kewalahan. Tapi mengapa mereka tidak lantas menyerang?

Biat Coat dan Lie Heng heran bercampur kuatir. “Mengapa mereka belum juga bergerak?” tanya si nenek kepada Ceng Soe.

Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Entahlah,” jawabnya. “Aku tak dapat menebak.”
Mendadak Coe Jie tertawa geli. “Mengapa kau tak dapat menebak?” tanyanya, “Bukankah hal itu terang bagaikan siang?”

Paras muka Ceng Soe berubah merah tapi ia membungkam. Biat Coat sebenarnya ingin sekali meminta pendapat Coe Jie tapi ia merasa tak enak untuk membuka mulut.
Tapi In Lie Heng yang sabar dan luas pengalamannya berkata, “Aku mohon petunjuk nona.”

“Ketiga pasukan itu mestinya pasukan Peh Bie-kauw,” terang si nona. “Biarpun Peh Bie-kauw merupakan cabang dari Mo kauw, tapi pihak Peh Bie telah bentrok dengan Ciang Kie Soe dari lima bendera Mo kauw. Maka itu, andaikata kalian dapat membasmi musuh, diam-diam In Thian Ceng pasti akan merasa girang, sebab dengan demikian, ia mempunyai kesempatan untuk menduduki kursi Kauwcoe dari Mo kauw.”

Biat Coat dan Ceng Soe lantas saja tersadar.

“Terima kasih atas petunjuk nona,” kata Boe tong Liok hiap.

Ketika murid-murid Go Bie sudah menyusul dan mereka berdiri di belakang Biat Coat.

“Song Siauw hiap,” kata Ceng hie, “Dalam mengatur barisan, kami tidak menandingi kau. Sekarang kau harus memimpin kami dan kami akan menaati semua perintah. Demi kepentingan bersama, jangan kau berlaku sungkan.”

“Liok siok,” kata pemuda itu tergugu, “Mana siauwtit sanggup menerima kedudukan itu….”

“Sudahlah!” kata Biat Coat. “Jangan rewel dengan segala adat istiadat kosong.”

Ceng Soe mengangguk dan dengan mata tajam ia memperhatikan jalannya pertempuran. Ketika itu Koen Loen-pay berada di atas angin. Pertempuran antara Hwa San-pay dan Ang Soei-kie kira-kira berimbang, sedang Khong Tong-pay makin lama jadi makin terdesak. Rombongan partai itu sudah terkurung oleh orang-orang Liat Hwee-kie yang mulai membasmi sepuas hati.

“Mari kita terjang Swie kim kie dari tiga arah,” kata Ceng Soe. “Dengan mengepalai beberapa paman, Soethay menyerang dari tenggara. Liok siok menyerbu dari barat, sedangkan Ceng hie Soe siok dan boanpwee sendiri akan menerjang dari barat daya….”

“Tapi keadaan Koen Loen pay tidak perlu ditolong,” kata Ceng hie heran. “Yang sedang menghadapi bencana adalah Khong Tong-pay.”

“Koen loen-pay sudah berada di atas angin dan jika kita membantu, dalam sekejap kita akan dapat membasmi seluruh Swie Kim-kie,” terang Ceng Soe. “Sesudah Swie kim-kie dikalahkan kedua bendera yang lain pasti akan mundur sendirinya. Sebaliknya, kalau kita menolong Khong Tong, kita harus melakukan pertempuran yang hebat dan lama. Bagaimana kalau dengan kesempatan itu, Peh Bie-kauw menyerbu dan mengurung dari berbagai jurusan?”

“Song siauw hiap benar,” kata Ceng hie yang lantas saja membagi murid-murid Go Bie menjadi tiga rombongan.
Sambil menarik kereta salju Boe Kie, Coe Jie berkata, “Mari kita berangkat sekarang.”

Keberangkatan mereka diliaht Song Ceng Soe yang lantas saja mengejar. Sambil menghadang di tengah jalan dengan melintangkan pedangnya, ia membentak, “Nona, jangan pergi dulu!”

“Mengapa kau mencegat kami?” tanya si nona.

“Asal usulmu sangat mengherankan, kau tak bisa pergi begitu saja,” jawabnya.

“Ada sangkut pautkah asal usulku dengan pribadimu?” tanya Coe Jie dengan suara tawar.

Biat Coat yang ingin menerjang musuh selekas mungkin jadi sangat tidak sabaran dan dengan sekali sekelebat, ia sudah berhadapan dengan Coe Jie. Hampir berbareng ia menotok jalan darah si nona di bagian punggung, pinggang dan betis. Tanpa bisa melawan Coe Jie roboh di pasir.

Sesudah itu, seraya mengibas pedangnya si nenek berteriak, “Hari ini kita membuka larangan membunuh untuk membasmi bersih kawanan siluman!” Bersama In Lie Heng dan Ceng hie yang masing-masing memimpin rombongan murid Go Bie, ia dalam pertempuran melawan Swie Kim-ke dibawah pimpinan Ho Thay Cong dan Pan Siok Ham, rombongan Koen Loen-pay sudah berada di atas angin. Maka itu penyerbuan Go Bie dan Boe Tong sudah segera menghancurkan garis pembelaan Swie Kim-kie.

Dengan kepandaiannya yang sangat tinggi, Biat Coat mengamuk bagaikan harimau gila. Tak seorangpun dapat melawan dalam tiga jurus. Ia menerjang berputar-putar, pedangnya berkelabat kian kemari dan dalam sekejap, tujuh anggota Mo kauw sudah binasa dibawah pedangnya.

Melihat kehebatan si nenek, Ciang Kie Soe dari Swie Kim-kie Chung Ceng namanya, segera menghampiri sambil memutar toya Long gee pang (toya bergigi serigala). Sekarang barulah Biat Coat tertahan. Sesudah bertanding belasan jurus seraya menggertak gigi, nenek itu segera mencecar musuhnya dengna jurus-jurus Go Bie Kiam hoat yang makin lama jadi makin gencar. Tapi Chung Ceng bukan orang sembarangan. Sedikitnya sementara waktu, ia masih dapat melayani pemimpin Go Bie-pay itu.

Banyak jago yang berkepandaian tinggi, tapi dalam menghadapi In Lie Heng, Ceng Hie, Song Ceng Soe, Ho Thay Ciong dan Pan Siok Hem yang ahli-ahli silat kelas utama, mereka tidak bisa berbuat banyak. Dalam beberapa saat saja, banyak anggota Mo kauw roboh tanpa bernafas.

Melihat kerusakan pada pihaknya bagaikan orang kalap, Chung Ceng mengirim tiga pukulan berantai sehingga mau tak mau Biat Coat terpaksa mundur selangkah. Chung Ceng mendesak dan mengirim pukulan ke-empat ke arah batok kepala si nenek Biat Coat seraya menotok toya musuh dengan jurus Soen-soei Toei couw (dengan mengikuti aliran air, mendorong perahu). Diluar dugaan, pemimpin Swie Kim-kie itu memiliki Lweekang dan Gwakang yang sangat tinggi. Melihat sambaran pedang musuh, sambil membentak keras ia melawan dengan toyanya.

“Prak!” pedang Biat Coat patah jadi tiga potong.

Meskipun kaget, selangkahpun si nenek tidak mundur. Tangan kanannya meraba ke belakang dan menghunus Ie Thian Kiam dan bukan saja membabat putus Long nge pang, tapi juga membabat somplak sebagian batok kepala Chung Ceng, yang segera roboh tanpa bersuara lagi.

Bukan main kagetnya para anggota Swie Kim-kie. Tapi dilain saat, segera bertindak keras, dia mengamuk. Biat Coat dan Ceng Soe semula menduga, bahwa begitu Chung Ceng dapat dirobohkan, pasukan Swie Kim-kie akan lari lintang pukang dan pasukan Ang Soei serta Liat Hwee pun akan mengundurkan diri. Tak disangka, sebaliknya daripada kabur, mereka sekarang berkelahi dengan nekat. Dalam sekejap murid-murid Koen Loen dan Go Bie sudah menjadi korban.

Tiba-tiba terdengar teriakan pasukan Ang Soei-kie, “Chung Kie soe telah berpulang ke alam baka. Swie Kim dan Liat Hwee mundur! Ang Soei-kie melindungi diri dari belakang!”

Hampir berbarengan dengan teriakan itu, pasukan Liat Hwee-kie mulai bergerak mundur ke arah barat, tapi orang-orang Swie Kim-kie masih terus bertempur.

Orang itu berteriak pula, “Ini adalah perintah dari Ang Soei-kie. Para anggota Swie Kim-kie mundurlah! Usaha membalas sakit hati Chung Kie soe dapat dilaksanakan di hari nanti.”

“Saudara-saudara Ang Soei-kie mundurlah!” seorang Swie Kim-kie balas berteriak. “Tolong balas sakit hati kami. Tapi kami ingin hidup dan mati bersama-sama Chung Kie soe.”

Mendadak dari pasukan Ang Soei-kie muncul sehelai bendera hitam dan seseorang berteriak dengan suara lantang, “Saudara-saudara Swie Kim-kie, Ang Soei-kie pasti akan membalas sakit hatimu.”

Waktu itu, sisa pasukan Swie Kim-kie hanya tinggal kira-kira tujuh puluh orang saja. Dengan serentak ia berteriak, “Thung Kie soe terima kasih!”

Bendera-bendera Ang Soei-kie segera bergerak dan pasukan itu mulai mundur ke arah barat, dengan dilindungi oleh kira-kira dua puluh orang yang memegang bumbung yang mengeluarkan cahaya keemasan. Melihat gerakan yang mundur rapi itu, orang-orang Hwa San dan Khong Tong tak berani mengubar dan mereka lalu bantu mengepung sisa Swie Kim-kie.

Dengan dikurung oleh rombongan lima partai Koen Loen, Go Bie, Boe Tong, Hwa San dan Khong Tong, sisa pasukan itu tinggal menunggu ajalnya saja. Tapi demi persaudaraan, sedikitpun mereka tak gentar. Mereka terus melawan dengan tekad untuk binasa bersama-sama pemimpinnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: