To Liong To – 8

Boe Kie bersangsi, ia setengah percaya, setengah tidak. Tapi, sebagaimana telah dikatakan, ia adalah seorang yang mudah melupakan sakit hati lama. Maka itu, lantas saja berkata, “Hoe jin (nyonya) bukan mendapat penyakit aneh. Ia kena racun dari Kim gin Hiat”.

“Ular Kim gin Hiat?” tegas guru dan murid itu hampir berbarengan. Mereka kaget dan heran, karena nama ular itu belum pernah didengar mereka.

“Benar,” jawabnya. “Akupun belum pernah melihat ular itu. Aku menarik kesimpulan itu karena muka Hoejin, lihatlah apa di situ terdapat luka gigitan yang sangat kecil”.

Ho Thay Ciong buru-buru menyingkap selimut yang menutupi tubuh Ngo kouw dan menarik jari kakinya. Benar saja di setiap ujung jari kaki terdapat luka besar yang berwarna hitam. Karena terlalu kecil, jika tidak diperhatikan, luka itu tidak kelihatan.

Melihat begitu, si tua tidak menyangsikan lagi kepandaian Boe Kie. “Benar, benar,” katanya, “Setiap ujung jari kakinya benar terluka. Saudara kecil kau sungguh pandai. Sesudah mengetahui sebab musebab penyakit itu, saudara kecil pasti dapat menyembuhkannya. Sesudah dia sembuh aku akan memberi hadiah yang besar”. Ia berpaling kepada tujuh tabib tolol itu dan membentak, “Kamu semua manusia tolol! Tabib goblok!”

“Penyakit Hoejin memang luar biasa dan kita tak dapat menyalahkan mereka,” kata Boe Kie, “Ho Sianseng biarkanlah mereka pulang saja!”

“Baik, baik,” kata si tua. “Sesudah saudara kecil berada di sini, memang perlu apa tabib-tabib goblok itu berdiam lebih lama lagi? Coen jin, berikan seratus tail perak kepada setiap orang dan suruh mereka pergi segera”.

Ketujuh tabib itu girang bukan main dan sesudah menerima hadiah, cepat-cepat mereka berlalu.

“Coba suruh beberapa bujang menggeser ranjang Hoe jin,” kata Boe Kie. “Di bawah kaki ranjang terdapat dua lubang kecil dan lubang itu adalah tempat keluar masuknya ular Kim gin Hiat”.

Tanpa meminta bantuan lagi, Ho Thay Ciong segera mencekal kaki ranjang yang lalu digesernya. Sesuai seperti yang dikatakan Boe Kie, di bawahnya terdapat lubang kecil.

Si tua girang bercampur gusar. “Lekas ambil belirang dan api!” teriaknya, “Begitu dia keluar aku akan cincang!”

Boe Kie menggoyangkan tangannya. “Tak boleh, tak boleh begitu,” katanya. “Racun yang mengeram di dalam badan Hoejin harus dipunahkan oelh ular itu juga. Kalau kau bunuh Hoejin tak dapat disembuhkan lagi!”

“Oh begitu?” kata si tua dengan rasa heran.
“Mengapa begitu?”
“Ho Sianseng,” terang si bocah sambil menunjuk taman bunga yang berada di luar jendela. “Penyakit Hoejin karena gara-gara delapan pot bunga anggrek Leng cie lan itu”.
“Leng cie lan?” tegas Ho Thay Ciong.

Baru sekarang ia tahu, anggrek itu Leng cie lan namanya. “Karna tahu aku suka menanam bunga, seorang sahabat yang datang dari wilayah Barat, See hek, dan yang membawa delapan pot bunga itu, sudah menghadiahkannya kepada aku. Bunga itu sangat indah dan harum. Hm!…Aku tak tahu dia bibit penyakit”.

“Menurut katanya kitab ilmu ketabiban, Leng cie lan berubi, yang bentuknya bundar seperti bola, warnanya merah api dan di dalam ubi itu terdapat racun yang sangat hebat,” Boe Kie melanjutkan keterangannya, “Cobalah gali”.

Ketika itu, semua Koen loen pay sudah tahu bahwa Boe Kie sedang coba mengobati penyakit Ngo kouw yang luar biasa.

Murid-murid lelaki tidak berani masuk, tapi keenam murid perempuan sudah berada dalam kamar itu. Begitu mendengar keterangan Boe Kie dua antaranya lantas saja mengambil cangkul dan menggali sebuah pot. Benar saja ubi pohon anggrek itu bundar dan warnanya merah. Karena tahu beracun, mereka tidak berani menyentuhnya.

“Sekarang aku minta kalian menggali semua pohon anggrek itu dan taruh ubinya dalam sebuah mangkok kayu,” kata si bocah pula. “Tambahkan delapan biji telur ayam dan semangkok darah ayam. Pukul campuran itu sampai menjadi hancur. Tapi yang mengerjakannya harus berhati-hati, harus menjaga sampai campuran itu tidak mengenai kulit.”

Ciam Coen bersama dua orang saudara seperguruannya lantas saja bertindak keluar untuk melakukan apa yang diminta. Sesudah itu, Boe Kie minta juga dua buah bumbung bambu dan sebatang tongkat bambu.

Tak lama kemudian, ubi Leng cie land an campurannya sudah dipukul menjadi cairan kental. Boe Kie segera menuang cairan itu di lantai dan membuat sebuah lingkaran. Pada lingkaran itu ditinggalkan sebuah lubang yang lebarnya kira-kira dua dim. Sambil mengawasi semua orang, ia berkata, “Kalau sebentar terjadi kejadian luar biasa, kuharap kalian jangan bersuara supaya ular itu tidak menjadi kaget dan menggigit kalian. Harap kalian menutup hidung dengan kapas.” Semua orang lantas saja menuntut, sedang racun lalu menutup hidungnya dengan sedikit kapas.

Sesudah itu, ia mengambil api dan membakar daun-daun Ling cie lan di samping lubang. Kira-kira minuman teh, dari lubang sebelah kiri keluar seekor ular yang badannya merah dan di kepalanya terdapat semacam topi daging yang berwarna emas. Ular itu ternyata mempunyai empat kaki dan panjang badannya kira-kira delapan dim. Baru saja Kim koan Hiat coa (ular darah topi emas) keluar, dari lubang sebelah kanan kembali muncul seekor ular lain yang badannya lebih pendek dan topi dagingnya berwarna perak. Ular yang belakangan dinamakan Gin koan Hiat coa, ular darah topi perak. Sepasang ular itu dinamakan Kim gin Hiat coa yaitu ular darah emas perak.

Sambil menahan napas, Ho Thay Ciong dan murid-muridnya mengawasi kedua binatang itu. Mereka tahu, bahwa kalau ular-ular itu sampai lari, penyakit Nog kouw sukar disembuhkan lagi.

Kedua ular itu saling mendekati dan mengeluarkan lidah mereka, yang bertopi emas menjilat punggung ular yang bertopi perak, sedang yang bertopi perakpun menjilat punggung yang bertopi emas. Sambil menunjukkan sikap saling mencintai itu. Perlahan-lahan mereka saling mendekati lingkaran.Buru2 Boe Kie memasang kedua bumbung bambu dilubang lingkaran dan dengan tongkat bambu, ia menggebrak buntut Gin-koan Hiat-coa. Sekali berkelebat ular itu sudah masuk kedalam bumbung. Kim-koan Hiat-coa masuk ikut masuk, tapi karena bumbung itu kecil, dan hanya memuat seekor ular dia tidak berhasil. Tiba2 ia mengeluarkan suara nyaring luar biasa. Boe Kie segera mencekal bumbung yang lain dan menggebrak pula buntut si topi emas yang sekali lompat, sudah masuk ke dalam bumbung. Si bocah lalu mengambil sumbat kayu dan menyumbat lubang bumbung.

Sedari Kim-gin Hiat-coa keluar, semua orang mengamati dengan menahan nafas dan jantung berdebar. Sesudah Boe Kie menutup bumbung, barulah barulah mereka bernafas lega.

“Coba masak air dan cuci lantai sampai bersih, supaya racun Leng cie lan tidak ketinggalan” kata si bocah. Enam murid perempuan lantas mengiakan dan tak lama kemudian lantai sudah di cuci dengan air panas.

Sesudah itu, Boe Kie minta supaya semua jendela dan pintu ditutup rapat dan ia minta pula Toet hong, Beng pan, Thay Hong, Kam co dan beberapa bahan obat lain yang harus digiling halus dan dicampur kapur.

Campuran ini lalu dimasukkan kedalam bumbung Gin-koan Hiat-coa. Ular itu lantas saja mengeluarkan suara nyaring, disambut oleh si topi emas. Boe Kie lalu mencabut sumbat bumbung Kim-koa Hiat-coa yang lantas saja keluar dan jalan memutari bumbung si topi perak. Dari gerak-geriknya, ia kelihatan dalam kebingungan. Tiba2 ia naik ke atas ranjang dan menyelinap ke dalam selimut Ngo kouw.

Ho Thay Ciong terkesinap, hampir saja berteriak, tapi Boe Kie keburu mengoyang2kan tangannya.Sambil tersenyum si bocah menyingkap selimut dan ternyata ular itu sudah menggigit ujung jeriji kaki Ngo kouw. “Dia akan menghisap racun dalam tubuh Hoejin,” katanya dengan paras muka girang.

Makin lama ular itu makin besar dan kira2 semakanan nasi, dia sudah lebih besar berlipat ganda, sedang topinya bersinar terang. Tak lama kemudian dia turun dari ranjang, dan Boe Kie lalu mencabut sumbat bumbung Gin-koan Hiat-coa. Si topi emas lantas saja memuntahkan darah beracun kedalam topi perak.

“Cukuplah !” kata si bocah. “Setiap hari mereka menghisap dua kali. Sesudah itu akan menulis surat obat untuk menghilangkan bengkak dan menguatkan badan. Dalam sepuluh hari Hoejin akan sembuh seanteronya.”

Tak kepalang girangnya Hoe Thay Ciong yang lalu mengajak Boe Kie ke kamar buku. “Saudara kecil kau mempunyai kepandaian seperti malaikat.” Katanya. “ Tapi apakah aku boleh tahu latar belakang dari kejadian ini?”.

“Menurut Kitab Tok Boet Tay Coan, dalam urutan racun, Kim-gin Hiat-coa jatuh nomor tiga puluh tujuh,” menerangkan si bocah. “Biarpun mereka bukan termasuk binatang beracun terlihay, tapi mereka mempunyai satu keistimewaan, iyalah mereka suka sekali makan racun. Leng cie lan yang ditanam di luar jendela kamar Hoejin, yang mengandung racun sangat hebat, dan sudah mengundang kedua ular itu.”

Ho Thay Ciong manggutkan kepalanya.

“Kim-gin Hiat-coa adalah sepasang, yang satu lelaki, yang satu perempuan.” Kata si bocah.

“Tapi dengan menggunakan Tay Hong, Kam Coe dan lain2, aku membakar Gin-koan Hiat-coa. Untuk menolong kawan hidupnya, Kim-koan Hiat-coa mesti menghisap racun dalam tubuh Hoejin. Sebentar, sesudah berselang tiga jam, aku akan membakar ular lelaki, yaitu Kim-koan Hiat-coa, dan ular perempuan pasti akan menghisap darah beracun dalam tubuh Hoejin untuk menolong yang lelaki. Dan begitu seterusnya sehingga darah beracun habis dihisap.”

Malam itu, dengan penuh kegembiraan Ho Thay Ciong menjamu Boe Kie dan Poet Hwie.

Selang beberapa hari, bengkak dimuka Ngo kouw mulai kempes. Semangatnya pulih dan sedikit sedikit ia sudah bisa makan dan minum. Sesudah lewat sepuluh hari, ia sembuh seluruhnya.

Hari itu Ngo kouw menjamu Boe Kie untuk menghaturkan rasa terima kasih dan mengundang juga Ciam Coen. Mukanya masih pucat, tapi kecantikkannya tidak berkurang. Ho Thay Ciong menemui dengan hati berbunga. Dengan menggunakan kesempatan itu, nona Ciam suka memohon kepada gurunya menerima Souw Hie Cie sebagai muridnya.

Si tua tertawa terbahak2. “Coen jie” katanya, “siasat menyentak kayu bakar dari bawah kuali sungguh bagus. Kalau aku menerima bocah she Souw itu sebagai murid, dibelakang hari kubakal turunkanilmu pedang Liong Heng It Pit Kiam kepadanya. Dengan demikian kedosaannya mencari Kim-hoat tiada artinya lagi”.

Nona Ciam tertawa lalu berkata, “Soehoe kalau bocah she Souw itu tidak mencuri kiam-hoat, teecoe tentu diperintah mencari dia dan tak akan bertemu dengan Thio Sieheng. Soehoe dan Ngo kouw mempunyai rejeki yang sangat besar. Tapi kalo dihitung2, bocah she Souw itu juga turut berjasa”.

“Kau mempunyai begitu banyak murid. Tapi diwaktu perlu, hampir semua tak ada gunanya” menyambuti Ngo kouw. “Kalau Cim Kouwnio penuju bocah itu.Terimalah. dibelakang harimungkin sekali akan menjadi muridmu yang paling boleh diandalkan”.

Ho Thay Ciong yang belum pernah membantah kemauan gundik itu, lantas mengangguk dan berkata. “Baiklah aku terima, tapi ada syaratnya”.

“Syaratnya apa?” tanya gundik.

“Sesudah menjadi muridku dia harus belajar sunguh2,” kata si tua. “Syaratnya yaitu, dia tidak boleh memikir yang gila2 menikah dengan Coen Jie”.

Paras nona Ciam lantas saja berubah merah dan ia lalu menunduk. Ngo Kouw tertawa cekikikan. “Aduh sebenarnya kau harus mengaca,” katanya. “kau sendiri mempunyai beberapa istri dan gundik, tapi kau melarang muridmu menikah”.

Si tua yang hanya ingin mengoda Ciam Coen lantas saja tertawa terbahak-bahak. “Minum, minumlah!” katanya.

Selagi bermakan minum sambil beromong2. Seorang pelayan kecil datang membawa sebuah nampan yang diatasnya terdapat sebuah poci arak. Ia segera menuangkan arak itu ke semua cawan. “Saudara Thio” kata si tua, “arak ini keluaran istimewa dari Koen Loen San, dibuat dari bit lay (buah lay muda) dan dinamakan Houw-pek Bit lay cioe. Hayolah kau harus minum beberapa cangkir”. Arak itu berwarna kuning emas dan harum baunya.

Boe Kie sebenarnya tidak suka minum arak tapi karena mengendus bau yang sangat harum. Ia jadi tertarik lalu mencekal cawan. Tapi, sebelum menceguknya, Kim-gin Hiat-coa yang berada dalam sakunya tiba2 bersuara dan meronta-ronta didalam bumbung. “Tahan! Jangan minum arak itu!” kata Boe Kie.

Semua orang kaget dan serentak menaruh cawan dimeja. Si bocah segera mengeluarkan bumbung Kim-koan Hiat-coa dan mencabut sumbatnya. Ular itu lalu berjalan mengitari cawan arak dan kemudian minum isinya. Dengan beruntun ia minum tiga cangkir.

Setelah mengembalikan si topi emas kedalam bumbung. Boe Kie lalu mengeluarkan si topi perak yang minum tiga cawan. Kedua ular itu saling mencintai, sehingga kalau hanya satu yang dilepaskan, yang satu takkan lari. Selain itu ia sangat menurut kemauan majikan. Tapi bila dilepas kedua2nya, dia bukan saja akan kabur, tapi malah mungkin menyerang manusia.

“Saudara Kecil,” kata Ngo kouw sambil tertawa, “ular itu suka minum arak sungguh menarik”.

“Coba suruh orang tangkap anjing atau kucing lalu suruh bawa kemari.” Kata Boe Kie.

“Baiklah” kata si pelayan.

“Ciecie berdiam saja disini,” cegah si bocah. “Biar orang lain saja yang menangkapnya”.

Tak lama kemudian seorang pelayan lain datang dengan membawa anjing. Boe Kie lalu mengambil arak dan menuangkannya ke mulut anjing itu. Berapa saat kemudian sesudah menyalak beberapa kalibinatang itu seketika roboh mati dengan mengeluarkan darah dari mulut, kuping dan hidungnya.

Ngo kouw menggigil. “Arak……arak itu beracun…..” katanya terputus putus. “Siapa yang coba membinasakan kita? Saudara Thio bagaimana kau tahu?”

“Kim-gin Hoat-coa suka makan racun dan begitu mengendus bau racun, mereka bersuara dan meronta ronta,” menerangkan Boe Kie.

Paras muka Ho Thay Ciong pucat bagaikan kertas. Sambil mencekal pelayan kecil itu, ia bertanya dengan suara perlahan “Siapa yang menyuruh kau membawa arak itu?”

Si pelayan ketakutan setengah mati.dengan suara gemetar dia menjawab “Aku……aku tak tahu….arak itu beracun. Aku………mengambil dari dapur.”

“Waktu kau datang kemari dari dapur, apa kau bertemu dengan orang lain?” tanya pula si tua.

“Ya, di lorong aku bertemu dengan Heng Hong.”jawabnya. “Ia menarik tanganku dan mengajakku omong2. Sesudah itu ia membuka tutup poci dan mencium2 arak itu.”

Ho Thay Ciong. Ngo kouw dan Ciam Coen saling mengawasi.Heng Hong adalah seorang pelayan kepercayaan istri pertama dari si tua.

“Ho sianseng,” kata Boe Kie, “dalam hal penyakitnya Hoejin ada sesuatu yang sangat mengherankan dan tak dapat dipecahkan olehku. Baru sekarang aku melihat latar belakangnya.coba pikir, mengapa kedua ular itu menggigit kaki Hoejin? Sekarang aku mendapatkan jawabannya. Sebabnya ialah dalam tubuh Hoejin memang sudah ada racun, dan racun itu mengundang Kim-gin Hiat-coa. Menurut pendapatku, orang yang meracuni Hoejin adalah orang yang menaruh racun didalam poci arak.”

Sebelum si tua menjawab, sekonyong-konyong tirai pintu tersingkap dan satu bayangan manusia berkelebat. Hampir berbareng Boe Kie merasa bahwa teteknya sakit bukan main. Jalan darahnya sudah ditotok orang.

“Benar! Aku meracuni!” demikian terdengar suara yang sangat nyaring. Orang yang berkata, badannya jangkung, matanya berpengaruh dan pada paras mukanya terlihat sinar pembunuhan. Sambil menengok pada Hong Thay Ciong ia berkata “Akulah yang sudah menaruh ular kelabang ke dalam arak. Mau apa kau?”.

Dengan mata membelalak Ngo kouw mengawasi wanita itu. Perlahan-lahan ia bangkit dan berkata sambil membungkuk. “Tai tai!” (tai tai, nyonya besar).

Wanita itu adalah istri pertama dari Hong Thay Ciong, namanya Pan Siok Ham. Ia memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, lebih tinggi dari suaminya yang sangat takut terhadapnya. Takut memang takut, tapi si tua tetap mengambil gundik dan setiap kali mengambil gundik baru, rasa takutnya setiap kali bertambah.

Melihat kedatangan si harimau betina, si tua tak berani mengeluarkan suara.

“Eh aku bertanya, aku yang menaruh racun, mau apa kau?” bentak sang istri.

“Biarpun kau membenci pemuda itu, sepak terjangmu keterlaluan,” kata Hong Thay Ciong.

“Kalau aku tidak keburu mengetahuinya, bukankah sekarang sudah mati?”

“Semua bukan manusia baik2, aku memang ingin kamu mampus semua,” kata nyonya galak itu. Ia menggoyang-goyang poci arak yang ternyata masih banyak isinya.

Ia segera menuang secawan penuh dan menaruh didepan si tua.” Sebenarnya aku ingin mamouskan kamu berlima,” katanya. “tapi setan kecil itu keburu mengendus rahasia. Sekarang aku bersedia mengampuni emapt orang. Tapi arak itu harus diminum oleh salah seorang. Aku tak peduli siapa yang mau meminumnya. Terserah pada kau setan tua!” seraya berkata itu, ia menghunus pedang.

Pan Siok Ham adalah seorang murid terlihay dari Koen Loen Pay. Ia berusia lebih tua daripada Ho Thay Ciong dan lebih dulu belajar di Koen Loen San. Diwaktu muda, Ho Thay Ciong berparas tampan dan sangat dicintai oleh soecienya. Karena kebentrok dengan seorang cianpwee dari Beng Kauw, guru mereka mati mendadak, sebelum keburu memberi pesanan kepada murid2nya. Oleh karena begitu murid itu segera berebut kedudukan Ciang boejin. Masing2 sungkan mengalah. Pan Siok Ham tampil kemuka dan membela Ho Thay Ciong, sehingga pada akhirnya, si tua berhasil merebut tampuk pimpinan. Sebab merasa berhutang budi, ia segera menikah dengan soecienya itu. Diwaktu muda segala apa masih berjalan licin. Tapi sesudah sang istri berusia lanjut, dengan menggunakan alasan tidak mempunyai keturunan, ia mengambil gundik. Satu demi satu. Tapi makin banyak gundiknya, makin takut terhadap istrinya yang galak itu.

Melihat arak racun itu, sedikitpun ia tak dapat ingatan untuk membantah. “Aku sendiri tentu tidak boleh meminumnya.” Katanya didalam hati. “Ngo kouw dan Coen jie juga tak boleh. Boe Kie tidak boleh. Boe Kie seorang tuan penolong. Hanya perempuan kecil saja yang tiada sangkut pautnya denganku,” Memikir begitu, ia segera bangkit dan menaruh cawan arak didepan Yo Poet Hoei. “Anak kau minumlah,” katanya.

Si nona cilik ketakutan. Ia sudah menyaksikan dengan mata sendiri kebinasaannya seekor anjing. Ia menangis dan berkata. “Tak mau! Arak itu ada racunnya”.

Si tua segera mencengkram dada Poet Hoei tapi sebelum ia bisa menuang arak itu kedalam mulut si nona, Boe Kie sudah berkata dengan suara dingin. “Biar aku yang minum”.

Si tua bersangsi, biarpun tak tahu malu ia merasa tak tega.

Pan Siok Ham yang sangat membenci Boe Kie lantas saja berkata. “Seta cilik itu sangat licik, mungkin sekali ia sudah menyediakan obat pemunah. Kalau ia yang minum, secawan tak cukup. Dia harus minum kering sisa arak yang ada dalam poci.”

Si bocah mengawasi Ho Thay Ciong dengan harapan ia akan coba membujuk istrinya. Tapi dia menutup mulut. Ciam Coen dan Ngo kouw tidak berani mengeluarkan sepatah kata. Mereka khawatir, kalau banyak bicara, harimau betina itu akan menjadi gusar dan menumplak hawa amarah diatas kepala mereka.

Hati Boe Kie dingin bagaikan es. “Jiwa beberapa orang itu ditolong olehku.” Pikirnya. “Tapi waktu jiwaku sendiri terancam, mereka berpeluk tangan. Jangankan menolong, bicara saja mereka tak berani.” Memikir begitu ia menghela nafas. “Ciam Kouw nio,” katanya. “Sesudah aku mati aku minta pertolonganmu untuk mengantar adik kecil ini kepada ayahnya di puncak Co Bo Hong. Apakah kau sudi melakukan itu?”.

Ciam Coen melirik gurunya yang lalu manggut-manggutkan kepala. “Baiklah,” kata nona Ciam.

Boe Kie tahu bahwa wanita itu tidak bersungguh2. tapi ia mengerti, terhadap manusia yang tidak berbudi, tak guna ia bicara banyak2. ia tertawa dingin dan berkata dengan suara yang dingin pula. “Koen Loen Pay dikenal sebagai partai yang lurus bersih. Aku tak nyana Koen Loen Pay dalam sedemikian. Ho sianseng mari poci itu”.

Mendengar ejekan yang sangat menusuk, si tua merasa sangat gusar. “Lebih cepat ia mampus, lebih baik lagi,” pikirnya. Ia segera mengangkat poci arak dan menuang semua isinya kedalam mulut Boe Kie. Sambil menangis, Poet Hoei memeluk kakaknya.

“Biarpun ilmu ketabibanmu sangat tinggi, aku bisa mencegahmu menolong jiwamu,” kata Pan Siok Ham yang lalu mengirim beberapa totokan ke jalan darah Boe Kie. Sesudah itu, dengan menggunakan gagang pedang, ia juga menotok jalan darah Ho Thay Ciong, Ngo kouw, dan Ciam Coen. “Sesudah dua jam barulah aku melepaskan kamu,” katanya. Waktu ditotok, Ho Thay Ciong bertiga sama sekali tidak berani bergerak.

“Semua keluar,” bentak si harimau betina. Dan semua pelayan buru2 keluar. Pan Siok Ham keluar paling belakang dan mengunci pintu.

Beberapa saat kemudian Boe Kie merasa perutnya sakit bukan main. Melihat nyonya itu sudah berlalu dan mengunci pintu, hatinya jadi lebih lega. Sambil menahan sakit, ia mengerahkan Lweekang dan dengan ilmu yang didapat dari Cia Soen ia membuka semua jalan darah yang ditotok.sesudah kaki tangannya merdeka, ia segera mencabut beberapa lembar rambut yang lalu digunakan untuk menggilik tenggorokannya. Ia muntah2 dan sebagian besar arak beracun itu sudah dimuntahkannya.

Melihat si bocah bisa membuka jalan darahnya sendiri, Ho Thay Ciong bertiga merasa sangat kagum. Si tua sebenarnya ingin menghalangi Boe Kie, tapi ia tidak bisa bergerak. Racun dalam perut Boe Kie belum keluar semua tapi ia tidak bisa muntah lagi. “Paling dulu aku harus menyingkir,” pikirnya. Ia menghampiri Poet Hoei dan mencoba membuka jalan darah si nona, tapi tidak berhasil, karena totokan Pan Siok Ham lain daripada ilmu yang lain. Maka ia segera membuka jendela dan setelah melihat tidak ada orang, ia lalu mendukung Poet Hoei dan menurunkannya dikuar jendela.

Jika menggunakan Lweekang, dalam tempo kira2 setengah jam Ho Thay Ciong akan bisa membuka jalan darahnya sendiri. Tapi Boe Kie sudah siap untuk melarikan diri, dan jika istrinya menanyakan, satu gelombang hebat akan terjadi pula. Disamping itu, jika seorang bocah Boe Tong Pay bisa kabur dengan tangan kosong dari Sam Seng Tong dan kemudian menguar2kan kebusukannya sebagai manusia yang tak mengenal budi, sebagai seorang pemimpin partai besar, dimana ia harus menaruh muka? Maka itu, biar bagaimanapun juga, kaburnya bocah itu harus dicegah.

Memikir begitu ia lantas saja menarik nafas dalam2 untuk berteriak memanggil istrinya. Tapi Boe Kie sudah lantas bisa menebak niatnya. Ia mengeluarkan sebuah pil berwarna hitam yang lalu dimasukan ke dalam mulut Ngo kouw. “Pil ini racun Kioe Pie Wan,” katanya. “Berselang dua belas jam, orang yang memakannya akan mati dengan usus putus dan jantung hancur. Aku akan menaruh obat pemunah disatu pohon yang jauhnya tiga puluh li dari sini. Pohon itu akan diberi tanda dan tiga jam kemudian Ho sianseng boleh menyuruh orang untuk mengambilnya. Bilamana aku tertangkap dan mati, aku bukan mati sendirian.”

Kejadian itu tidak disangka2 oleh Ho Thay Ciong. Sesudah memikir sejenak, ia berkata denga suara perlahan. “Biarpun Sang Seng Tong bukan kobokan naga atau sarang harimau, kurasa seorang yang sepertimu takkan bisa keluar dari tempat ini.”

Boe Kie tahu bahwa dengan berkata begitu, si tua buka omong besar. Tapi ia bersikap acuh tak acuh dan berkata dengan suara tawar.

“Menurut pendapatku, kecuali dengan obatku sendiri, racun Kioe Pie Wan tak akan bisa dipunahkan dengan apapun juga.”

Ho Thay Ciong mengerutkan alis, “Baiklah”’ katanya “Bukalah jalan darahku, aku akan mengantarmu keluar dari tempat ini.”

Jalan darah si tua yang tertotok adalah Hong Tie dan Keng Boen. Boe segera mengurut jalan darah Thian Coe, Hoan Siauw, Toa Wie, dan Siang Kie. Tapi sudah berusaha beberapa lama ia masih juga belum berhasil.

Hal itu sudah mengejutkan mereka berdua. Boe Kie kaget, karena sudah menggunakan tujuh macam cara untuk membuka jalan darah, yang didapat oleh Ouw Ceng Goe, ia masih belum berhasil. Si tua terkejut, sebab ia mendapat kenyataan, bahwa si bocah memiliki rupa-rupa ilmu membuka jalan darah dan tenaga dalamnyapun sudah cukup tinggi. “Anak ini benar lihay,” katanya dalam hati, “Siok Ham menotok tujuh delapan jalan darahnya, tapi ia tidak bergeming. Boe Tong Pay sungguh tidak boleh di buat gegabah. Untung juga, waktu itu berada di Boe Tong san aku tidak turun tangan, kalau tanganku iseng, bisa jadi aku celaka. Murid Boe Tong yang begitu kecil sudah begitu lihay. Apalagi yang sudah dewasa,” ia tak tahu bahwa “kekebalan” Boe Kie terhadap Tiam Poat didapatkan dari Cia Soen, sedang rupa2 ilmu membuka jalan darah didapat dari Ouw Ceng Goe, sehingga tidak ada sangkut paut dengan Boe Tong Pay.

Mendadak Ho Thay Ciong mendapat serupa ingatan dan ia lantas saja berkata. “Bawa kemari poci teh dan tuang tehnya ke mulutku”.

Boe Kie merasa curiga, tapi mengingat, demi keselamatan gundiknya, si tua pasti tidak berani main gila terhadapnya, maka ia lantas saja mengangkat poci teh itu dan menuangkan isinya kedalam mulut Ho Thay Ciong.

Si tua tidak menelan air teh itu. Tiba2 sambil menggerakan Lweekang, ia menyembur dan bagaikan sebatang anak panah, air itu menyambar tekukan sikutnya di bagian Ceng Leng Yao. Hampir berbareng, lengannya dapat digerakkan pula.

Sedari datang ke Sam seng tong, Boe Kie memandang rendah Ho Thay Ciong karena lagal lagunya seperti takut bini menyayang gundik, licik dan sebagainya tidak mendatangkan keindahan. Tapi sekarang, ia kaget melihat kepandaian si tua. Ia lantas bisa mati seketika.

Sesudah lengan kanannya merdeka, ia segera membuka jalan darah di betisnya. “sesudah kau menyerahkan obat pemunah, aku akan mengantar kau keluar dari selat ini.” katanya.

Si bocah tidak menyahut, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Si tua bingung, “Aku adalah Ci boen jin dari Koen Loen Pay,” katanya. “Tak bisa jadi aku mendustai anak kecil seperti kau bukan? Kalau terlambat dan racun itu keburu mengamuk, jiwanya tidak bisa tertolong.”

“Racun itu tidak akan menggamuk sebegitu cepat,” kata si bocah.

Thie-khim Sianseng menyerah kalah. Sambil menghela nafas ia berkata. “Baiklah mari aku antar kamu.”

Sesudah melompat dari jendela, Ho Thay Ciong segera menyentuh punggung Poet Hoei dengan jerijinya dan jalan darah si nona yang tertotok lantas saja terbuka. Gerakan tangannya indah dan sangat cepat, bagaikan mengalirnya air, sehingga Boe Kie merasa sangat kagum dan sinar matanya mengeluarkan sinar memuja. Sedari bertemu dengan si tua, belum pernah ia memperlihatkan sikap begitu. Ho Thay Ciong mengerti perasaan si bocah dan ia tersenyum simpul.

Sambil menuntun tangan kedua anak itu, ia lalu mengajak pergi ke taman bunga dan keluar dari pintu samping. Dari depan sampai belakang, Sam Seng Tong terdiri dari delapan bangunan dan setelah keluar dari pintu samping, mereka berjalan di suatu jalan kecil yang berliku2. Sesudah itu mereka masuk pula ke beberapa bangunan dan melewati lagi banyak ruangan. Tanpa pengantar, andaikata mereka tidak didengar murid Koen Loen, belum tentu mereka bisa keluar dari Sam Seng Tong. Dengan demikian rasa hormat dalam hati Boe Kie jadi bertambah besar.

Sekeluarnya dari Sam Seng Tong, dengan lengan kanan mendukung Poet Hoei dan tangan kiri menuntun Boe Kie, Ho Thay Ciong segera berlari2 ke jurusan barat laut dengan ilmu ringan badan. Dengan badannya separoh diangkat, Boe Kie merasa seperti terbang melayang2 di tengah udara. Setiap lompatan si tua berjarak kira2 setombak begitu lekas ujung kakinya menotol tanah, badannya sudah mengapung dan melesat lagi kedepan. Dalam sekejap mereka sudah dua puluh li lebih. Selagi enak melayang2 di sebelang belakang sekonyong2 terdengar teriakan. “Ho Thay Ciong!… Ho Thay Ciong….tahan.” Suara itu bukan lain suara Pan Siok Ham.

Ho Thay Ciong segera menghentikan tindakannya.

Sambil menghela nafas ia berkata. “Saudara kecil, kamu larilah. Istriku mengubar, aku tidak bisa mengantarmu lebih jauh”.

“Perlakuannya terhadapku tidak bisa dikatakan terlalu jelek” pikir Boe Kie yang lantas saja berkata, “ Ho Sianseng, kau pulanglah. Pil yang ditelan oleh Hoejin bukannya racun. Pil itu hanya San pwee wan, obat untuk melicinkan tenggorokan dan menghentikan batuk. Beberapa hari berselang Poet Hoei moay batuk2 dan aku membuat pil itu untuk mengobatinya. Sisanya masih ada beberapa butir dan aku merasa menyesal bahwa aku telah mengangetkanmu”.

Si tua kaget dan gusar, “Apa benar bukan racun?” bentaknya.

“jiwa Ngo Hoejin telah ditolong olehku,” jawabnya “Mana tega aku mencelakakannya lagi?”

sementara itu suara teriakan Pan Siok Ham sudah semakin dekat.

Bahwa Ho Thay Ciong sudah membawa lari kedua anak itu adalah karena rasa cintanya terhadap Ngo kouw. Mendengar keterangan Boe Kie darahnya lantas saja meluap. “Plak!…….Plak….”, ia menggaplok empat kali beruntun, sehingga kedua pipi si bocah merah bengkak dan mulutnya mengeluarkan darah. Waktu si tua mengangkat tangan pula untuk mengirim gaplokan kelima, buru2 Boe Kie menangkis dengan jurus Kang Liong Yoe Hwie, satu jurus dari Hang Liong Sip Pat Cang. Kalau sudah mahir dan ditambah dengan Lweekang tinggi jurus itu dahsyat bukan main. Tapi sibocah baru kenal kulit2nya saja, sedang tenaga dalamnyapun sangat cetek. Mana bisa melawan Ciang boenjin dari Koen Loen Pay?

Melihat gerakan yang luar biasa, Ho Thay Ciong mengerti bahwa ia tengah menghadapi ilmu yang sangat tinggi. Sambil mengeluarkan seruan “Ih” ia menggegosdan menghantam mata kanan Boe Kie, yang lantas saja biru bengkak.

Sesudah gagal dalam perlawanannya, Boe Kie mengerti bahwa kepandaiannya masih kalah terlalu jauh. Maka itu ia lantas saja berdiri tegak dan membiarkan dirinya dihajar kalang kabutan. Dalam memberi hajaran, si tua tidak menggunakan Lweekang, yang jika digunakan, bocah itu tentu sudah tewas jiwanya. Tapi walaupun begitu, setiap kali digapelok, mata Boe Kie berkunang2 san rasa sakit sampai ke tulang2.

Selagi enak menganiaya. Pan Siok Ham bersama dua orang muridnya sudah tiba disitu. Ia menonton, tapi melihat yang dipukul tidak melawan, kegembiraannya jadi berkurang. “Coba kau hajar anak perempuan itu,” katanya.

Ho Thay Ciong memutar tubuh dan menggampar kuping Poet Hoei yang lantas saja menangis keras.

“tua Bangka,” teriak Boe Kie dengan gusar “Apa belum cukup kau menghajar aku seorang? Perlu apa kau menghina seorang anak masih begitu kecil?”

Tapi si tua tidak menggubris, tangannya melayang lagi. Boe Kie jadi kalap, sambil melompat bagaikan kerbau edan, ia menyeruduk perut Ho Thay Ciong.

Pan Siok Ham tertawa dingin. “Lihatlah, anak begitu kecil masih punya kecintaan dan pribudi.” Katanya. “Bukan seperti manusia yang semacam kau yang sedikitpun tak mengenal rasa cinta.”

Diejek begitu, selebar muka situa jadi merah. Dalam matanya, ia jadi gusar dan kegusaran itu ditumplekan diatas kepala Boe Kie. Ia menjambret leher baju si bocah dan melemparkannya sambil membentak, “Binatang kecil! Lebih baik ikut ayah dan ibumu!” kali ini, karena melemparkannya dengan menggunakan Lweekang, badan bocah itu terlempar jatuh dan kepalanya menyambar ke arah satu batu gunung yang besar. Begitu terbentur, batok kepalanya pasti akan remuk!…………….

Pada detik yang sangat berbahaya, semacam tenaga tiba2 mendorong Boe Kie, sehingga arahnya berubah dan ia jatuh di samping batu. Sebelum semangatnya pulih, dengan matanyayang bengkak, ia melihat seorang sastrawan setengah tua yang mengenakan jubah panjang warna putih, berdiri dalam jarak kira2 lima kaki dari dirinya.

Dengan rasa kaget dan heran. Si tua dengan istrinya saling mengawasi. Lagi kapan? Dan darimana orang itu datang? Andaikata ia lebih dulu bersembunyi dibelakang batu, orang2 yang berkepandaian tinggi seperti mereka berdua sudah pasti akan mengetahuinya, selain itu tenaga yang digunakan Ho Thay Ciong untuk melemparkan Boe Kie, paling tidak ada lima ratus kati. Tapi sastrawan itu, dengan kibasan tangan baju sudah berhasil menolak tenaga tersebut dan melemparkan si bocah di samping batu. Itu semua membuktikan, bahwa ia memiliki kepandaian yang sukar diukur berapa tingginya.

Orang itu berusia kira2 empat puluh tahun, mukanya tampan hanya alisnya agak turun kebawah dan mulutnya terdapat beberapa garis yang dalam sehingga ia kelihatannya banyak lebih tua dan seperti seorang yang sudah mengalami banyak kedukaan. Tanpa mengeluarkan sepata kata, ia berdiri bengong, seolah2 tengah memikiri kejadian2 di masa lampau.

Sesudah batuk beberapa kali, Ho Thay Ciong bertanya. “Siapa tuan? Mengapa tuan mencampuri urusan Koen Loen Pay?”.

Sastrawan itu menyoja dan menjawab. “Ah! Kalau begitu Cianpwee adalah Thie Khim Sianseng Ho Cianpwee. Sudah lama kudengar namanya yang besar. Dan akupun sedang berhadapan dengan Ho Hoejin, bukan? Boanpwee bernama Yo Siauw.”

Perkataan “Yo Siauw” disambut dengan seruan kaget oleh Ho Thay Ciong, Pan Siok Ham dan Boe Kie. Seruan si bocah bercampur dengan nada girang, sedang seruan kedua suami istri bercampur dengan nada gusar. “Srt…………srt……..” kedua murid Koen Loen menghunus pedang yang lalu dibalik dan gagangnya diangsurkan kepada soehoe mereka. Ho Thay Ciong melintangkan senjatanya di depan dada dan bersiap sedia dengan pukulan Soat-yong kiauw (Salju menutupi jempatan biru), sedang Pan Siok Ham menudingkan pedangnya ke tanah dalam gerakan Bok-yap siauw (Daun daun berkeresekan). Kedua pukulan itu adalah pukulan pukulan yang paling lihay dari Koen Loen Kiam Hoat. Kuda kudanya kelihatan sangat sederhana, tapi didalamnya bersembunyi tujuh-delapan gerakan susulan yang luar biasa. Asal tangan mereka, kedua pedang itu lantas menyambar tujuh-delapan bagian tubuh lawan yang berbahaya.

Tapi Yo Siauw tenang2 saja. Ia mengawasi Boe Kie dengan perasaan heran karena dalam teriakan itu terdapat nada kegirangan.

Muka Boe Kie matanya biru, bengkak2 dan berlepotan darah, tapi sinarnya menunjuk rasa syukur dan bahagia. “Kau……kau……” katanya terputus2, “apakah kau Kong Beng Soe Cie dari Beng kauw, Yo siauw, Yo Pehpeh?”.

Yo Siauw manggut2kan kepalanya. “Bagaimana kau tahu she dan namaku, anak?” tanyanya.

Sambil menunjuk Poet Hoei, Boe Kie berkata “Adik ini adalah putrimu!” Ia memnuntun tangan si gadis cilik dan berkata pula “Poet Hoei moay moay, inilah ayahmu. Ah! Akhirnya kita berhasil mencarinya.”

Poet Hoei mengawasi Yo Siauw dengan matanya yang bundar cilik. “Apa kau ayahku?” tanyanya. “mana ibu? Aku lagi mencari ibu.” Ia berkata begitu, karena untuk membujuknya, disepanjang jalan boekie selalu mengatakan, bahwa mereka melakoni perjalanan jauh itu untuk mencari Kie Siauw Hoe.

Jantung Yo Siauw memukul keras dan sambil mencekal pundak si bocah, ia berkata “Anak bicara lebih terang. Putri siapa dia? Siapa ibunya?” ia mencengkeram keras, sehingga Boe Kie menggeluarkan teriakan “aduh!”

“Dia putrimu,” jawab si bocah. “ibunya iyalah Liehiang Kie Siauw Hoe dario Go Bie Pay.”

Muka Yo Siauw yang memang sudah pucat menjadi pucat lagi. “Dia…….dia mendapat anak?” tanyanya dengan gemetar. “Dimana………dimana dia sekarang?” Seraya berkata begitu ia memeluk dan mengangkat Poet Hoei. Kedua pipi anak itu bengkak sebab pukulan Ho Thay Ciong, tapi pada paras mukanya masih bisa dilihat sesuatu yang sangat mirip dengan kecantikan Kie Siauw Hoe. Tiba2 ia mengeluarkan selembar tali yang tergantung di leher Poet Hoei dan ia lalu menariknya, ternyata pada tali itu dilekatkan selembar Tiat-pay dengan ukiran memedi yang sedang menyeringai dan mementang cakar. Sekarang ia tidak bersangsi lagi. Tiat-pay itu adalah “Tiat-pay-leng” dari Beng Kauw yang sudah diberikan kepada Kie Siauw Hoe. Sambil memeluk putrinya erat2, ia bertanya berulang2 “Mana ibumu? Mana ibumu…..”

“Ibu hilang. Aku sedang mencarinya. Apa kau bertemu dengannya?” jawab anak itu.

Yo Siauw mengawasi Boe Kie dan lalu menanyakan dimana adanya Kie Siauw Hoe.

Si bocah menghela nafas dan berkata “Yo Pehpeh. Jika aku beritahukan, kau jangan terlalu berduka. Kie Kouw kouw telah dipukul mati oleh gurunya…..dan waktu meningggal dia….”

“Dusta! dusta!” Teriak Yo Siauw, sambil memijit pundak Boe Kie. “Kreek !” tulang pundak itu remuk dan ….”Bruk!” Yo Siauw dan Boe Kie terguling ditanah dengan berbareng, dengan tangan Yo Siauw masih memeluk putrinya.

Yo Siauw pingsan karena mendengar terbinasanya Kie Siauw Hoe, sedang Boe Kie roboh sebab tulang pundaknya remuk. Ho Thay Ciong dan istrinya saling melirik dan segera menghunus pedang, yang satu ditudingkan ke dahi antara dua alis, yang lain ditujukan ke tenggorokan Yo Siauw.

Sebagai salah seorang tokoh penting dalam Beng Kauw, Yo Siauw mempunyai permusuhan hebat dengan Koen Loen Pay. Karena kalah pie boe(adu silat), Yoe Liong Coe, seorang cianpwee partai tersebut, telah mati sebab kejengkelan. Pek Loe Coe, gurunya Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham, juga binasa dalam tangannya seorang anggota Beng Kauw. Siapa yang membinasakan tidak diketahui jelas. Tapi mungkin sekali Yo Siauw juga. Suami istri Ho tahu, bahwa orang itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi, sehingga bila kebetulan berpapasan di tengah jalan, belum tentu mereka berani menyerang. Tak dinyana, orang yang ditakuti itu tiba2 pingsan dan tentu saja mereka sungkan menyia2kan kesempatan yang sangat baik.

“Putuskan dulu lengannya” kata Pan Siok Ham.

“Baiklah,” kata sang suami sambil mengangguk.

Sesaat itu Yo Siauw belum tersadar, tapi Boe Kie walaupun merasakan kesakitan hebat, tidak sampai pingsan. Melihat bahaya yang mengancam, sebagai seorang yang sangat mudah memaafkan, tanpa mngingat lagi rasa sakitnya, dengan kaki buru2 ia menyentuh jalan darah Pek Hwee hiat, di ubun2 Yo Siauw.

Begitu tersentuh Pek Hwee Hiat-nya yang mempunyai hubungan dengan otak, Yo Siauw tersadar. Tiba2 ia merasakan hawa dingin dan begitu membuka mata, ia melihat ujung pedang yang menempel pada alisnya dan hampir berbareng, ia merasakan sambaran senjata ke arah lengannya.

Dengan pedang menempel pada bagian kematiannya dan satu pedang lagi membabat, ia tak bisa berkelit atau berkutik lagi. Tapi, pada detik yang sangat berbahaya, ia masih mengerahkan Lweekang ke lengan kirinya. Waktu Ho Thay Ciong membabat lengan itu, ia merasa seperti membacok semacam benda yang a lot licin, sehingga mata pedangnya terpeleset. Tapi biarpun begitu Yo Siauw terluka juga dan tangan bajunya basah dengan darah.

Pada detik itulah, mendadak saja dengan terus menempel di tanah, tubuh Yo Siauw menyeluruk ke depan setombak lebih, seolah2 lehernya diikat dengan tambang dan ditarik dengan kecepatan luar biasa. Dengan melorotnya tubuh itu, maka ujung pedang Pan Siok Ham yang menempel di antara kedua alis mengores alis, hidung, mulut dan dada Yo Siauw kira2 setengah dim dalamnya. Kalau ujung pedang masuk lebih dalam setengah dim lagi, ia tentu binasa dengan dada dan perut terbelek. Sehabis menyelusur, tanpa menekuk lutut atau membongkokan pinggang, tubuh Yo Siauw mendadak berdiri tegak, seperti juga diangkat berdirinya sesosok mayat yang sudah kaku. Dan begitu lekas berdiri tegak, kedua kakinya menjejak, “Krek!”’ pedang suami istri Ho patah dengan berbareng.

Semua kejadian itu yang harus dilukiskan panjang lebar, terjadi dalam tempo sekejapan saja.

Dengan memiliki Kiam Hoat yang sangat tinggi, pedang Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham sebenarnya tak akan dipatahkan, secara begitu mudah. Mereka mendapat kekalahan memalukan karena lengah, sebagai akibat dari kekangetan dalam melihat cara si orang she Yo yang sangat luar biasa.

Apa yang lebih aneh lagi, dua potongan pedang itu dengan berbareng menyambar Ho Thay Ciong dan istrinya. Buru2 mereka menangkis dengan pedang buntung dan meskipun berhasil, telapak tangan mereka sakit sekali dan separuh badan mereka panas. Dengan cepat mereka melompat, yang satu lalu berdiri di sebelah barat laut yang lain di tenggara, dengan Yang Kiam (pedang lelaki) menuding ke langit, Im Kiam (pedang perempuan) ditunjukkan ke bumi. Itulah kuda2 dari ilmu pedang Liang Gie Kiam Hoat yang sangat tersohor dari Koen Loen Pay. Walaupun pedang mereka sudah buntung, sikap mereka angker dan anggun sesuai dengan sikap ahli2 silat kelas utama dalam rimba persilatan.

Liang Gie Kiam Hoat yang sudah mendapat nama selama ratusan tahun adalah salah satu ilmu pedang terlihay di kolong langiot. Disamping itu, suami istri Ho telah berlatih bersama2, sehingga mereka sudah paham betul dan dapat bekerja sama seerat2nya. Dengan demikian pengaruh Kiam Hoat jadi bertambah berlipat ganda. Sebagai seorang yang sudah sering bertempur dengan jago jago Koen Loen, Yo Siauw mengenal dengan baik kelihayan Liang Gie Kiamhoat. Meskipun tak takut, ia tahu bahwa untuk menjatuhkan suami istri itu, paling sedikit ia harus bertempur lima ratus jurus. Tapi sekarang ia tidak mempunyai kegembiraan untuk berkelahi, sebab musabab dari kebinasaan Kie Siauw Hoe. Disamping itu, sesudah lengan dan badannya terluka, ia tidak boleh melakukan pertempuran lama. Kalau darah keluar terlalu banyak, ia bisa celaka. Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara dingin. “Makin lama orang2 Koen Loen Pay jadi makin tolol. Hari ini biarlah kita menunda perkelahian. Di lain hari aku akan mencari kamu berdua untuk membuat perhitungan.” Sehabis berkata begitu dengan lengan mendukung Poet Hoei dan satu tangan menuntun Boe Kie, tiba2 tubuhnya meleset ke belakang setombak lebih dan sesudah memutar badan, ia meninggalkan temapt itu dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham mengawasi dengan rasa gusar dan kagum dan tentu saj, iapun tidak berani mengubar.

Sesudah melalui beberapa li, Yo Siauw tiba2 menghentikan tindakannya dan menanya Boe Kie “Apakah yang sebenarnya telah terjadi pada diri Kie Siauw Hoe?”.

“Kie Kouw-Kouw sudah meninggal dunia,” jawabnya “Terserah padamu apakah kau percaya atau tidak. Perlu apa kau mematahkan tulangku?”.

Pada paras muka Yo Siauw terlihat perasaan menyesal “Cara bagaimana ia meninggal?”
Tanyanya pula.

Sesudah minum arak racunnya Pan Siok Ham, biarpun sudah muntah dan makan obat pemunah, racun itu belum hilang semuanya. Ketika itu ia merasa perutnya sangat sakit. A lalu mengeluarka ular Kim Koan Hiat Coa dan membiarkan binatang itu menggigit telunjuk jari tangan kirinyasupaya sisa racun dihisap. Perlahan2 ia mengurutkan segala kejadian yang bersangkut paut dengan Kie Siauw Hoe, bagaimana ia telah mengobati luka sang bibi, bagaimana bibi itu bertemu dengan Biat Coat soethay yang kemudian membinasakannya. Sehabis racun yang masih ketinggalan dalam tubuhnya.

Yo Siauw juga menanyakan apa yang dikatakan Kie Siauw Hoe waktu ia mau melepaskan nafas yang penghabisan dan kemudian, dengan air mata bercucuran, ia berkata “Biat Coat soethay memaksa supaya ia mencelakakan aku. Kalau ia meluluskan, ia membuat jasa besar kepada Go Bie Pay dan akan diangkat menjadi Ciang Boenjin. Hay! Kau lebih suka mati daripada berjanji untuk menurut perintah itu. Sebenarnya kalau kau tak usah mati dalam tangan Biat Coat dan kitapun bisa bertemu pula”.

“Kie Kouw kouw adalah seorang mulia yang jujur” kata Boe Kie. “Ia sungkan mencelakakan kau, tapi iapun tak mau mendustai guru sendiri”.

Yo Siauw tertawa getir. “Ya” katanya, “kau mengenal Siauw Hoe..”

“pada waktu Kie Kouw kouw melepas nafas yang penghabisan, aku telah berjanji untuk menghantar Poet Hoei Moay moay kepadamu”. Kata Boe Kie.

Yo Siauw menggigil. “Poet Hoei Moay Moay?” Ia menegaskan. Ia berpaling pada putrinya dan bertanya. “Kau She apa, nak? Siapa namamu?”

“Aku she Yo” jawabnyta. “Namaku Poet Hoei”.

Tiba2 Yo siauw mendongak dan keluarkan teriakan nyaring panjang, sehingga pohon2 bergoyang goyang dan daun2 jatuh rontok.

“Kau….” Katanya, “Poet Hoei….Poet Hoei….bagus! Siauw Hoe, meskipun aku menodai kehormatanmu, kau tidak menyesal……..”. (Poet Hoei berarti tidak menyesal).

Sesudah bertemu Boe Kie mendapat kenyataan, bahwa meskipun usianya tidak muda lagi, Yo Siauw bukan saja berparas tampan, tapi juga mempunyai cara2 untuk menarik hati. Sehingga ia merasa, jika dibandingkan dengan In Lie Heng yang masih kekanakan2, memang Yo Siauw masih banyak lebih menarik bagi seorang wanita daripada pamannya itu. Maka tidak dapat melupakan Yo Siauw meskipun kehormatannya dinodai tidak boleh disalahkan.

Makin lama tulang pundak Boe Kie yang patah makin sakit. Disekitar itu tidak ada rumput obat yang bisa menyambung tulang dan menredakan rasa sakit. Ia hanya dapat mencari daun yang bisa menghilangkan bengkak, sesudah memetiknya dan mematahkan dua ranting pohon, ia lalu membereskan tulang pundaknya, menjepit tulang itu dengan dua ranting pohon, menaruh daun obat dan lalu mengikatnya dengan tali yang dibuat daripada kulit pohon. Itu semua dikerjakannya secara ahli dan cepat sekali, sehingga Yo Siauwmerasa sangat kagum.

Sesudah beres membalut tulang, Boe Kie Berkata, “Yo Peh-peh, aku sudah memenuhi janji dan sekarang Poet Hoei Moay-moay sudah berada dalam tanganmu. Disini saja kita berpisah.”

“Tidak!”, kata Yo Siauw, “Dari tempat yang jauhnya berlaksa li kau datang kemari untuk mengantarkan anakku, tak dapat aku membiarkan kau pergi, tanpa memberikan sesuatu padamu. Apa yang dikehendaki olehmu? Katakan saja. Dalam dunia ini, tidak banyak yang tidak bisa disapatkan olehku.”

Boe Kie tertawa terbahak2. “Yo Peh-peh” katanya “Kau memandang Kie Kouw-kouw terlalu rendah. Sungguh percuma Kie Kouw-kouw mengorbankan jiwa untukmu”

Paras muka Yo Siauw lantas saja berubah, “Apa?” ia menegas.

“Mereka Kie Kouw-kouw tidak memandang rendah kepadaku, baru ia meminta pertolonganku untuk mengantarkan putrinya kepadamu” jawabnya. “Jika aku memenuhi permintaan itu dengan niat mendapatkan sesuatu, apakah aku berharga untuk menerima pesanan Kie Kouw0kouw?” Waktu berkata begitu ia ingat pengalaman pengalamannya yang hebat2. beberapa kali ia hampir mengorbankan jiwa guna melindungi Poet Hoei. Tapi karena ia bukan orang yang menonjolkan jasa dan mengagulkan diri, maka tanpa berkata suatu apa lagi, ia menyoja, memutar tubuh lalu berjalan pergi.

“Tahan!” kata Yo Siauw “Kau sudah membuang budi yang sangat besar kepadaku, Yo Siauw adalah manusia yang selalu membalas budi dan sakit hati. Ikutlah aku. Dalam tempo setahun, aku akan turunkan kepadamu beberapa ilmu yang jarang tandingannya didunia ini”.

Sesudah menyaksikan kepandaian Yo Siauw, Boe Kie mengerti, bahwa jika ia menurut, ia akan memperoleh banyak keuntungan. Tapi ia tidak bisa melupakan pesanan Thio Sam Hong yang melarang ia bergaul dengan orang2 dari agama sesat. Apapula ia hanya bisa hidup setengah tahun lagi. Sehingga ilmu silat yang tinggi tidak banyak artinya. Memikir begitu ia lantas berkata, “Terima kasih atas kecintaan Yo Peh-peh, tapi aku adalah murid Boe Tong dan aku tidak berani menerima pelajaran dari orang lain”.

“Oh!” Yo Siauw mengeluarkan seruan kaget, “Kalau begitu, kau murid Boe Tong…. Dan In Lie Heng In Liok Hiap…..”

“Ia pamanku,” kata Boe Kie.” Semenjak ayah meninggal dunia. In Lioksiok selalu memperlakukan aku seperti keponakan sendiri. Bahwa aku telah melakukan permintaan Kie Kouw untuk mengantarkan Poet Hoei Moay-moay kepadamu, di dalam hati……..aku merasa…….merasa malu terhadap In Lioksiok”.

Ketika itu sinar mata Yo Siauw kebentrok dengan sinar mata Boe Kie dan ia kelihatannya merasa jengah. Sambil mengibas tangan, ia kemudian berkata, “Kalu begitu, sampai bertemu lagi”, badannya berkelebat dan melesat beberapa tombak jauhnya.

“Boe Kie koko! Boe Kie koko!” teriak Poet Hoei.

Tapi ilmu ringan badan Yo Siauw tak kepalang cepatnya. Suara “Boe Kie koko” makin jauh kedengarannya dan kemudian menghilang dari pendengaran.

Boe Kie berdiri terpaku. “Sesudah melakukan perjalanan berlaksa li bersama sama dan sekarang secara mendadak ia harus berpisahan dengan adik kecil itu, di dalam hatinya tentu muncul perasaan duka.

Sementara itu, luka dipundaknya jadi makin sakit. Ia segera menuju ke sebuah lereng gunung yang sepi dengan niatan mencari daun obat. Tapi pohon2 dan rumput2 yang tumbuh di Koen Loen San berbeda dengan yang tumbuh di wilayah Tionggoan. Sehingga daun2 obat yang tertulis dalam buku Ouw Cong Gie tidak terdapat disekitar tempat itu. Sesudah berjalan dua puluh li lebih, rasa sakit makin menghebat dan ia lalu duduk diatas satu batu besar untuk mengaso. Tiba2 terdengar menyalaknya anjing, makin lama makin dekat, seperti juga ada sesuatu yang sedang diburu.

Beberapa saat kemudian, dri sebelah kejauhan kelihatan mendatangi seekor kera kecil yang pantatnya tertancap sebatang anak panah pendek. Waktu berada kira2 sepuluh tombak dari Boe Kie, binatang itu tiba2 bergulingan dan tidak bisa bangun lagi. Boe Kie mendekati dan melihat sinar mata kera yang penuh rasa sakit. Rasa kasihan lantas saja timbul dari hatinya. Ia ingat nasibnya sendiri waktu diubar2 oleh orang Koen Loen Pay dan ia ingat pula kera piaraannya di pulau Peng Hwee To. Ia segera mengangkat binatang itu, mencabut anak panah dan menaruh obat luka di lukanya. Sementara itu suara menyalaknya anjing sudah semakin dekat. Buru buru ia menyingkap bajunya dan menyembunyikan kera itu. Sesat kemudian belasan ekor anjing sudah tiba disitu dan karena mengendus bau kera, mereka lantas saja mengurung Boe Kie sambil menyalak hebat dan memperlihatkan sikap menakuti. Melihat galaknya kawanan anjing itu, Boe Kie agak keder. Ia mengert, bahwa begitu lekas ia melemparkan si kera, ia akan terbebas dari ancaman.

Tapi berkat didikan mendingan ayahnya, sedari kecil ia sudah mempunyai jiwa ksatria. Sehingga biarpun terhadap seekor binatang, ia sungkan memperlihatkan jiwa yang kecil. Sesudah menarik nafas dalam2, ia melompat dan terus kabur, dengan diubar oleh kawanan anjing itu.

Kawanan binatang itu anjing2 pemburu. Lari dengan kecepatan luar biasa dan baru saja kabur belasan tombak, ia sudah di candak. Tiba2 ia merasa betisnya sakit digigit keras oleh seekor anjing. Ia memutar dan menghantam kepala binatang itu yang lalu lantas saja robaoh tanpa berkutik lagi. Tapi yang lainnya tidak menjadi keder dan dengan serentak mereka menubruk. Ia melawan dengan nekat, tapi karena tulang pundaknya patah dan lengan kirinya tidak daoat digerakan, tangan kirinya segera kena digigit. Hampir berbaring, kawanan anjing itu menubruk dan menggigit kaki, tangan, kepala, punggung,….sekujur badannya. Dalam keadaan setengah pingsan, sayup2 ia mendengar suara bentakan yang nyaring dari seorang wanita dan sekejap kemudian matanya gelap.

Entah berapa lama ia berada dalam mimpi. Ia mimipi dikerubuti anjing2 galak, ia membuka mulut untuk berteriak, tapi suaranya tidak bisa keluar…..dalam keadaan lupa ingat, ia merasa anjing2 itu mundur teratur…..

Tiba2 ia mendengar suara manusia. “Panasnya mulai teduh. Mungkin ia ketolongan”.

Perlahan2 ia membuka kedua matanya dan melihat, bahwa ia sedang rebah di atas ranjang dalam sebuah kamar yang diterangi lampu kecil dan didepan ranjang berdiri seoranglelaki setengah tua.

Dengan rasa heran ia berkata “Toa…siok….mengapa….aku….”ia tak dapat meneruskan perkataannya karena sekujur badannya sakit bukan main dan badannya panas membara. Sekarang ia ingat, bahwa ia telah diserang kawanan anjing.

“Anak, umurmu panjang” kata orang itu, “Apa kau lapar?”

“Dimana…..aku….”katanya. sekali lagi ia tak dapat meneruskan perkataannya, karena kedua matanya keburu gelap.

Waktu ia sadar pula, orang itu sudah pergi, “Sedang aku tak akan hidup lebih lama lagi, mengapa aku mesti mengalami begitu banyak penderitaan?” katanya dalam hati. Ia mendapat kenyataan, bahwa leher, kepala, bahu, tangan, paha, betis, dan dadanya semua dibalut dengan kain dan bau daun obatmenusuk hidung.

Dari bau obat ia tahu, bahwa orang yang mengobatinya tidak begitu paham ilmu pengobatan. Ia mengendus bau Heng Jin, Ma-cia-coe, Hong ho, Lum Chee dan kain2 obat yang biasa digunakan untuk mengobati luka bekas gigitan anjing gila. Tapi ia bukan digigit anjing gila. Yang perlu disembuhkan adalah daging dan otot2nya yang rusak. Dengan diberikannya obat yang tidak cocok, lukanya jadi makin sakit. Tapi ia tak berdaya. Ia tak bisa bangun waktu fajar menyingsing, lelaki setengah tua itu datang menengok lagi.

“Toa siok, terima kasih banyak untuk segala pertolonganmu,” kata Boe Kie.

“Terima kasih apa?” kata orang itu “Bukan aku yang menolong kau”.

“Dimana aku berada? Siapa yang sudah menolong aku?” tanya pula Boe Kie.

“Kau berada di Bwee-hoa San-Chung (gedung bunga Bwee),” jawabnya “Yang menolong kau adalah siocia (nona) kami. Apa kau lapar? Sebaiknya kau makan bubur panas.” Sambil berkata begitu, ia bertindak keluar dan balik dengan membawa semangkok bubur daging. Baru saja Boe Kie makan beberapa sendok, ia merasa nek dan tidak bisa makan lebih banyak.

Sesudah rebah delapan hari, barulah Boe Kie bisa bangun perlahan2. ia tak bertenaga dan kalau berdiri, kedua kakinya gemetaran. Ia tahu kelemahan itu adalah akibat terlalu banyak mengeluarkan darah dan kekuatannya tidak bisa pulih dalam tempo cepat. Lelaki setengah tua setiap hari merawatnya dan membawa bubur, sehingga walaupun sikapnya agak kurang enak, Boe Kie merasa sangat berterima kasih. Orang tua itu tidak suka banyak omong dan biarpun Boe Kie ingin sekali mengajukan banyak pertanyaan ia “tidak berani” membuka mulut.

Hari itu, lelaki setengah tua itu kembali membawa obat2an yang sama, campuran Hong hong, Lam-chee dan lain2. tanpa merasa Boe Kie berkata “Toasiaok, obat itu tidak begitu cocok untuk mengobati lukaku ini. Bolehkah memohon pertolongan supaya toasioak suka menukarnya?”

Dia kelihatan mendongkol dan mengawasi Boe Kie dari kepala sampai ke kaki “Surat obat Looya mana bisa salah?” katanya. “Kau kata tak cocok. Tapi dengan obat itu, kau teloah dihidupkan kembali. Bocah, jangan kau ngaco belo. Looya seorang mulia, sehingga meskipun ia dengar perkataanmu, ia tentu tak menjadi gusar. Tapi kau sendiri harus mengenal kira2 jangan asal menggoyangkan lidah” sehabis berkata ia segera menempelkan obat itu si luka Boe Kie dan lalu membalutnya.

Sesudah selesai ia berkata. “saudara kecil, kulihat kau sudah mulai sembuh. Adalah pantas jika sekarang kau menghaturkan terima kasih kepada Looya, Tai tai dan Siocia yang sudah menolong jiwamu”

“Tentu saja” kata Boe Kie “Toasiok, kalau dapat, sekarang saja aku mohon kau mengantarkan aku pada mereka”.

Dengan ditemani orang itu sebagai penunjuk jalan, Boe Kie melalui lorong yang sangat panjang dan sudah melewati dua ruangan. Mereka masuk ke sebuah ruangan yang sangat indah. Waktu sudah musim dingin dan dan hawa di seluruh daerah gunung Koen Loen dingin bukan main, tapi ruangan itu hangat bagaikan di musim semi dan anehnya Boe Kie sama sekali tidak melihat perapian. Dengan rasa kagum ia mengawasi sebuah vas indah di atas meja dengan beberapa batang bunga bwee merah, didepan dialaskan dengan seprei sulam dan kursi2 dengan bantal sulam yang terbuat dari sutra. Seumur hidupnya, ia belum melihat ruangan yang seindah itu. Tiba2 ia ingat pakaiannya yang compang camping, sehingga ia merasa mukanya panas.

Disitu tidak terdapat manusia. Dengan sikap hormat dan sambil membungkuk pengantarnya berkata “Bocah yang digigit anjing sudah sembuh dan ia datang untuk menghaturkan terima kasih kepada Looya dan Tai tai”.

Beberapa saat kemudian, dari belakang sekosol muncul seorang gadis kecil yang baru berumur kira2 lima belas tahun. Sesudah melirik Boe Kie, ia berkata “Kiauw Hok, terlalu kau! Mengapa kau bawa ia kemari? Kutu busuk dipakaiannya bisa berlompatan disini”

“Ya….ya” kata Kiauw Hok

mwndengar perkataan itu Boe Kie memang sudah merasa jengah, jadi lebih malu lagi, sehingga selebar mukanya lantas saja berubah merah. Memang benar, sebab tak punya tukaran, pakaian yang comang camping sudah banyak tumanya. Diam2 ia melirik da melihat bahwa gadis itu berparas cantik dengan muka potongan telor dan mengenakan pakaian semacam sutra yang berkilauan, sedang pergelangannya sangat halus “Waktu diserang anjing, kudengar suara bentakan seorang wanita” katanya dalam hati. “Kiauw Toasioak juga mengatakan bahwa orang yang menolong aku adalah siocianya. Kalau begitu dialah siocia yang dimaksudkan. Aku harus menghaturka terima kasih dengan berlutut”. Memikir begitu ia lantas saja menekuk kedua lututnya seraya berkata. “Terima kasih atas pertolongan siocia. Selama hidup Thio Boe Kie takkan melupan budi yang sangat besar”

gadis itu kelihatan kaget dan sejenak kemudian, ia tertawa cekikikan. “Aduh! Kiauw Hok mengapa kau mempermainkan bocah tolol itu?” katanya.

Kiauw Hok turut tertawa geli. “Siauw Hong Ciecie” katanya “apa salahnya jika bocah tolol itu berlutut dihadapanmu? Dia belum pernah melihat luasnya dunia dan meihat kau, dia menduga kau adalah siocia”.

Boe Kie bersikap buru2 ia bangun berdiri. Celaka! Seorang budak dianggapnya seorang majikan! Sungguh hebat rasa malunya, mukanya sebentar merah, sebentar pucat.

Sambil menahan tawanya Siauw Hong mengawasi Boe Kie, dari kepala sampai di kaki. Noda darah di muka dan di badan si bocah masih belum hilang. Disana sini masih terdapat perban pada luka yang belum sembuh. Muka Boe Kie sebentar pucat sebentar merah, kalau bisa siang2 ia sudah selulup di tanah.

“Looya dan Tai tai ada urusan, kau tak usah menemui beliau” kata Siauw Hong “Mari menemui Siocia saja.” Sehabis berkata begitu, ia memutar badan dan berjalan dulu cepat cepat, seperti juga ia takut terkena tuma dari baju si bocah.

Boe Kie mengikuti di belakang Siauw Hong dan Kiauw Hok, bujang2 perempuan dan lelaki yang ditemui mereka semua berpakaian mewah, sedang ruangan2 yang dilewati semua indah dengan perabotan lengkap. Semenjak dilahirkan sampai berusia sepuluh tahun Boe Kie berdiam di pulau Peng Hwee To dan sesudah itu beberapa tahun ia berdiam di Boe Tong San dan beberapa tahun lagi di Ouw Tiap Kok. Selama belasan tahun, ia selalu hidup sederhana dan ia tak pernah mimpi, bahwa di dalam dunia terdapat kemewahan yang begitu rupa.

Sesudah berjalan beberapa lama, mereka tiba di depan sebuah toa tia(ruangan besar)yang diatasnya tergantung selembar pian dengan tulisan “Han Kong Kie” (rumah anjing).
Siauw Hong masuk dan beberapa saat kemudian, ia keluar dan menanggapi, Kiauw Hok segera mengajak Boe Kie masuk ke dalam.

Begitu masuk si bocah terkesiap, karena dalam ruangan itu terdapat kurang lebih tiga puluh ekor anjing yang bertubuh besar dan galak kelihatannya. Semua mendekam di lantai dalam tiga baris. Di atas sebuah kursi yang dialaskan kulit harimau berduduk seorang wanita muda yang mengenakan baju bulu2 rase putih dan memegang pecut.

“Tenggorokan!” tiba2 nona itu membentak.

Hampir berbarengan, seekor anjing melompat dan menyambar ke arah leher seorang yang berdiri di pinggir tembok.

“Celaka!….” Boe Kie mengeluarkan teriakan tertahan.

Dilain saat, ia melihat anjing itu sudah menggigit sepotong daging yang lalu dimakannya sambil mendekam. Sekarang ia baru tahu, bahwa “manusia” yang barusan disambar hanyalah orang-orangan yang terbuat dari kulit dan pada bagian2 badannya yang berbahaya dicantelkan potongan2 daging.

“kepungan!” bentak pula si nona.

Anjing kedua melompat dan menggigit kepungan orang-orangan itu. Serangan kedua anjing itu cepat dan tepat. Sekarang Boe Kie ingat, bahwa yang menyerangnya pada hari itu adalah anjing2 tersebut dan lapat2 ia juga teringat bahwa suara bentakan wanita yang didengarnya sebelum ia pingsam adalah wanita yang sekarang ada di hadapannya.

Kedatngan Boe Kie sebenarnya untuk menghaturkan terima kasih pada penolongnya. Tapi sekarang ia tahu, bahwa anjing2 yang sudah menggigitnya adalah binatang piaraan nona itu. Tiba2 saja darahnya meluap, “Sudilah!” pikirnya “Dengan dilindungi oleh binatang2 itu, aku tidak bisa berbuat apa2 terhadapnya. Kalau aku tahu bahwa semua penderitaanku adalah karena gara2nya, aku lebih suka mampus daripada menerima pertolongannya”. Memikir begitu dengan gregetan ia membuka semua perban yang masih menempel pada dirinya dan melemparkannya ke atas lantai. Sesudah itu ia memutar badan dan berjalan pergi.

Kiauw Hok kaget “Hei!” teriaknya “Mengapa kau pergi? Inilah siocia kami. Lekas berlutut!”.

“Berlutut?” mengulangi Boe Kie dengan suara gusar. “Bukankah anjing2 yang menggigit aku miliknya sendiri?”.

Melihat kegusaran si bocah, nona itu tersenyum. “saudara kecil” ia menanggapi. “Mari sini”.

Boe Kie memutar badan dan segera berhadapan dengan nona rumah. Entah mengapa, mendadak jantungnya memukul keras, nona itu yang berusia tujuh belas tahun atatu delapan belas tahun, ternyata cantik luar biasa. Sudah sering ia melihat wanita cantik, tapi seumur hidup belum pernah melihat yang secantik si nona. Mukanya yang mula2 pucat berubah menjadi merah.

“Kemari!” panggil nona itu.

Boe Kie mengangkat kepala dan matanya kebentrok dengan sepasang mata yang bersorot halus, tapi berpengaruh, sehingga tanpa merasa, ia bertindak maju. Nona itu bangkit dan mencekal kedua tangan Boe Kie yang badannya jadi bergemetaran. Tangan itu halus dan empuk. Si bocah malu dan bingung, ia ingin menarik tangannya, tapi tak rela ia berbuat begitu.

“Saudara kecil apa kau gusar terhadapku?” tanya si nona.

Sesudah menderita begitu hebat dari kawanan anjing itu, bagaimana ia tak gusar? Tapi sekarang dengan tangan dicekal dan dengan berdiri dalam jarak yang begitu dekat dengan si cantik, sehingga ia dapat menggendus bau yang sangat harum, mana bisa ia mengaku “gusar”. Ia menggelengkan kepala dan menjawab “Tidak”.

“Aku she Coe, namaku Kioe Tin.” Si nona memperkenalkan dirinya. “Dan kau?”

“Namaku Thio Boe Kie,” jawabnya.

“Hm… Bagus sekali namamu. Saudara kecil kurasa kau putra dari keluarga sastrawan. Duduklah di sini.” Seraya berkata begitu, ia menunjuk sebuah kursi di sampingnya.
Semenjak dilahirkan, inilah untuk pertama kali Boe Kie merasakan pengarah seorang wanita. Kalau waktu itu Kioe Tin memerintahkan ia melompat ke dalam api, ia pasti akan melompat. Dengan hati berdebar-debar ia lalu duduk di kursi yang ditunjuk.

Melihat perlakuan nona mereka yang begitu ramah tamah terhadap bocah kotor dan bau itu, bukan main rasa herannya Siauw Hong dan Kiauw Hok.

Tiba-tiba Kioe Tin membentak. “Jantung!”

Seekor anjing lantas saja melompat dan menerjang. Tapi daging yang tergantung di bagian jantung dari orang yang sudah tidak ada lagi—sudah dimakan oleh anjing lain dan anjing itu lantas menggigit potongan daging yang digantung di bawah ketiak.

“Binatang!” bentak si nona. “Kau berani melawan!”

“Terrrr!….Terrr.,” ia menyabet dua kali. Pada pecut itu dipasang duri-duri halus, sehingga di badan anjing yang dihajar lantas saja terlihat dua garis yang bersemu darah. Tapi anjing itu, yang rupanya sudah lapar, masih tidak melepaskan daging yang digigitnya. Bukan saja begitu, dia bahkan menggeram.

Nona Coe mengkin jadi gusar. “E..eh! Benar-Benar kau melawan!” bentaknya dan pecutnya lantas saja menyambar-nyambar bagaikan kilat. Ia memukul dengan gerakan lincah dan meskipun anjing itu bergulingan di lantai, setiap sabetannya selalu mengenai sasaran, sehingga akhirnya, binatang itu tidak berani bergerak lagi dan mendekam sambil mengeluarkan suara minta diampuni. Tapi Kioe Tin masih memukul dan baru berhenti setelah binatang itu tidak bias berkutik lagi dan napasnya tinggal sekali-sekali. “Kiauw Hok, bawa dia keluar dan obati lukanya.”

“Baiklah,” jawabnya dan ia lalu memondong anjing itu.

Melihat contoh yang hebat itu, anjing-anjing lain mendekam tak berani berkutik.

Sesudah itu, dengan beruntun-runtun Kioe Tin mengeluarkan perintah. “Betis kiri! Bahu kanan! Mata!”

Tiga ekor anjing dengan beruntun melompat dan menggigit menurut perintah.

“Saudara kecil, lihatlah!” kata si nona sambil tersenyum. “Kalau tidak dijambak, mana mereka mau dengar kata?”

Walaupun telah menderita karena serangan kawanan anjing, tapi melihat hajaran hebat yang diberikan oleh nona Coe, Boe Kie merasa kasihan dan tidak dapat membenarkan tindakan nona yang dianggap kejam olehnya.

Melihat Boe Kie membungkam, si nona tertawa dan berkata pula. “Tadi kau mengatakan tak gusar. Tapi mengapa kau tak mau bicara? Bagaimana kau bias berada di wilayah See Hek, di wilayah barat ini. Dimana ayah dan ibumu?”

Sebelum menjawab, si bocah memikirkan sejenak. Ia merasa, bahwa dalam keadaan yang seperti ini, jika menyebutkan nama Tay Soehoe atau kedua orang tuanya merendahkan derajat orang tua itu. Maka ia lantas saja berkata ayah dan ibunya sudah meninggal dunia karena di Tionggoan sukar mencari makan, maka aku terlunta-lunta sampai di sini.

“Mengapa kau menyembunyikan kera yang telah kupanah?” Tanya pula nona Coe. “Apa kau kelaparan? Mau makan daging kera, bukan? Hmm… Hampir-hampir kau dirobek oleh anjing-anjingku.”

Muka si bocah lantas saja berubah merah. Sambil menggeleng-gelengkan kepala ia berkata. “Bukan, aku bukan mau makan daging kera.”

Kioe Tin menepuk pundak Boe Kie dan berkata seraya tersenyum. “Lebih baik kau jangan berdusta.” Ia berdiam sejenak dan berkata pula. “Ilmu silat apa yang pernah kau pelajari?” Dengan sekali memukul kau telah meremukkan batok kepalan Co Ciangkoen. Tenagamu boleh juga.” (Ciangkoen – Jenderal)

“Co Ciangkoen?” Boe Kie menegas dengan heran.

Si nona tak menjawab, ia hanya tersenyum. Tiba-Tiba ia membentak, “Cian Ciangkoen!”

Seekor anjing lantas saja keluar dari barisannya lalu mendekam di tengah ruanga.

“Ki-Ki Ciangkoen!” si nona membentak pula dan hampir berbareng, seekor anjing lain keluar dari barisan. Ternyata setiap anjing diberi nama “Jenderal” dan Coe Kioe Tin sendiri berlaku sebagai panglima besar.

“Karena bingung, mungkin sekali aku sudah mengeluarkan tenaga habis-habisan,” jawab Boe Kie. “diwaktu kecil, dua tiga tahun aku belajar sejurus dua jurus Dari mendiang ayahku. Tak dapat dikatakan, bahwa aku tahu ilmu silat.”

Kioe Tin mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat kemudian, ia menengok kea rah Siauw Hong dan berkata “Antar dia ke kamar mandi dan berikan pakaian baru.”

“Baik,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Boe Kie merasa berat untuk meninggalkan ruangan itu. Waktu tiba di ambang pintu, tanpa sadar ia merasa menengok ke belakang dan melirik Kioe Tin. Apa mau, pada detik itu, si nona pun sedang mengawasi dia, sehingga tanpa tercegah lagi, dua pasang mata segera beradu. Si nona tertawa dan rasa jengahnya Boe Kie tak dapat dilukiskan lagi. Semangatnya terbang, kakinya tersandung balok yang melintang di tengah pintu dan roboh terguling. Karena lukanya belum sembuh, bukan main sakitnya. Tapi, tanpa mengeluarkan suara, buru-buru ia bangun dan berdiri, Siauw Hong tertawa geli. “Hm, siapapun yang melihat Siocia, dia pasti roboh,” katanya. Tapi, kau…kecil-kecil matamu sudah seperti mata culik.

Boe Kie jadi makin malu. Ia berjalan secepat mungkin. Sesudah berjalan beberapa lama, sekonyong-konyong Siauw Hong berkata.

“Eh, mau kemana kau? Apakah kau mau pergi ke kamar Tai Tai?”

Si bocah menghentikan tindakannya. Di sebelah depan ia melihat sebuah kamar dengan tirai jendela sulam. Sekarang ia mengerti, bahwa karena bingung dan terburu-buru, ia sudah mengambil jalanan yang salah. Siauw Hong sangat jahil, sesudah si bocah berada di depan kamar buku nyonya majikan, barulah ia mengejek.

Boe Kie menunduk tanpa mengeluarka sepatah kata. Ia malu dan mendongkol.

“Aku akan mengantarkan kau jika kau berkata “Siauw Hong cici, tolonglah aku,” kata si jahil.

Mau tak mau Boe Kie berkata, “Siauw Hong cici…..”

“Ada apa?” Tanya Siauw Hong.

“Tolonglah aku, antarlah aku keluar dari jalanan yang salah ini.” Jawabnya.

“Nah! Benar begitu!” kata si jahil sambil tertawa.

Tak lama kemudian, mereka tiba di depan kamar si bocah.

“Siocia memberi perintah, supaya bocah ini mandi, kau berikan pakaian baru kepadanya,” kata Siauw Hong kepada Kiauw Hok.

“Baik, Baik!” jawabnya dengan sikap hormat.

Melihat sikap Kiauw Hok, Boe Kie menduga bahwa Siauw Hong bukan dayang biasa, sedikitnya ia mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pelayan atau dayang biasa. Disaat lain, lima enam pelayan lelaki menghampiri dan merebut mengajak omong dengan menggunakan penggilan “Siauw Hong cici.” Tapi dia tidak meladeni.

Tiba-tiba Siauw Hong merangkap kedua tangannya dan menjura kepada Boe Kie.

Si bocah kaget. “E-eh, mengapa?….” tanyanya.
“Tadi kau berlutut dihadapanku dan sekarang membalas hormat,” jawabnya sambil memutar badan dan terus berjalan pergi.

Kepada kawan-kawannya Kiauw Hok segera menceritakan bagaimana Boe Kie berlutut di hadapan Siauw Hong yang dianggapnya Coe Kioe Tin. Cerita itu ditambah bumbu sedap, sehingga semua orang tertawa terpingkal-pingkal. Tapi Boe Kie tak jadi gusar. Di dalam hatinya, ia telah mengingat wajah nona Coe, gerak-geriknya, dan perkataan-perkataannya.

Sesudah mandi, Kiauw Hok menyerahkan satu stel pakaian kain hijau padanya, yaitu pakaian pelayan. Sambil bengong, ia mengawasi pakaian itu. “Sungguh celaka!” katanya di dalam hati. “Aku belum jadi pelayan, bagaimana aku bisa pakai pakaian begitu?” jika menuruti adat ia tentu sudah menolak. Tapi di lain saat ia mendapat lain pikiran “kalau Siocia memanggil aku dan melihat aku masih mengenakan pakaian rombeng. Ia tentu akan jadi gusar.” Pikirnya, “Apa salahnya andai kata aku benar jadi pelayannya?” Memikir begitu, jadi tenang dan tanpa berkata suatu apa, ia segera memakai pakaian itu.

Tapi panggilan si nona yang ditunggu-tunggu tak kunjung datan. Jangankan Kioe Tin, Siauw Hong pun tak kelihatan mata hidungnya. Boe Kie hanya dapat membayang-bayangkan wajah nona Coe. Ia merasa, bahwa di dalam dunia yang lebar ini, tak ada wanita yang secantik dia. Ia ingin sekali pergi ke bagian gedung itu untuk melihat si nona atau mendengar suaranya yang merdu dari kejauhan. Tapi ia tidak berani, karena sudah beberapa kali Kiauw Hok memesan, supaya, kalau tidak dipanggil, tidak boleh masuk ke ruang belakang, karena bisa diserang kawanan anjing.

Dengan cepat satu bulan sudah berlalu. Luka-luka Boe Kie sudah sembuh seluruhnya. Hanya pada muka dan tangannya terdapat bekas-bekas gigitan yang tak bisa hilang. Tapi ia tak jadi jengkel. Sebaliknya daripada jengkel setiap kali melihatnya, ia ingat bahwa luka itu adalah akibat gigitan anjing si nona. Hatinya merasa senang.

Sementara itu, racun dingin yang masih mengeram dalam badannya mengamuk dalam setiap waktu tertentu, yaitu sekali setiap tujuh hari, yang satu lebih hebat dari yang lain. Hari itu, racun dingin menyerang pula. Ia rebah di ranjang dengan selimut, badannya menggigil, giginya gemetaran. Waktu Kiauw Hok masuk dan melihat si bocah berada dalam keadaan begitu, ia tidak jadi heran. “Sebentar, kalau sudah mendingan, kau bangun dan makan semangkok bubur panas.” Katanya. “Nih, ini pakaian baru hadiah dari Tai Tai untuk melewati tahun baru. Sesudah berkata begitu, ia menaruh satu bungkusan di atas meja.

Kira-kira tengah malam barulah serangan racun mulai mereda. Ia bangun dan membuka bungkusan itu yang berisi baju kulit kambing baru. Ia girang, tapi iapun tahu, bahwa baju itu adalah baju untuk pelayan, sehingga, dengan demikian ia sudah dianggap sebagai pelayan dari keluarga Coe.

Pada hakikatnya Boe Kie beradat kasar dan kenyataan itu tidak dianggap sebagai hinaan olehnya. “ Tak dinyana aku berdiam di sini sampai sebulan lebih dan sekarang tahun baru kembali berada di depan mata,” katanya di dalam hati. “Ouw Shinshe mengatakan bahwa aku tak bisa hidup lebih daripada satu tahun lagi. Inilah tahun baru penghabisan yang dapat dilewati olehku.

Seperti umumnya terjadi pada setiap keluarga hartawan. Dalam menghadapi tahun baru, Keluarga Coe pun repot bukan main. Pelayan-pelayan membersihkan dan mencat rumah dan perabotan. Beberapa hari sebelum tiba tanggal satu, mereka sudah memotong babi, kembing, dan ayam untuk merayakan tahun yang baru. Boe Kie membantu apa yang bisa dibantunya. Ia mengharap harian tahun baru lekas-lekas dating. Pada hari itu, semua orang akan menghaturkan selamat tahun baru kepada Laoya dan Tai Tai dan ia merasa pasti, ia akan bisa bertemu lagi dengan nona Coe. Ia mengambil keputusan, bahwa melihat lagi wajah Coe Kioe Tin, ia akan berlalu dengan diam-diam dan menyembunyikan diri di gunung yang sepi supaya ia bisa mati tanpa diketahui manusia.

Dengan sambutan petasan, tibalah harian Go Antan (tanggal 1 bulan 1 menurut penanggalan imlek). Dengan dipimpin CongKoan (pengurus Rumah Tangga) semua pelayan lelaki, berikut Boe Kie, pergi ke Toa Thia untuk memberi selamat tahun bau kepada tuan dan nyonya rumah. Di tengah-tengah ruangan itu duduk sepasang suami isteri setengah tua dan kira-kira 80 pelayan serentak berlutut di hadapan mereka. Suami isteri itu tertawa girang. “Bangunlah, kamu sudah banyak capai.” kata mereka yang lalu memerintahkan dua pembantu pengurus rumah memberi hadiah. Boe Kie juga mendapat bagiannya, satu bungkusan merah yang bersih empat tail perak. Tapi bukan itu yang diharap-harapkan. Ia merasa menyesal bukan main, karena nona Coe tidak kelihatan mata hidungnya. Sambil mencekal bungkusan uang, ia berdiri bengong.

Tiba-tiba di luar terdengar suara yang nyaring dan merdu. “Piauw Ko, tahun ini siang-siang ini kau sudah datang.” Suara itu adalah suara Coe Kioe Tin (Piauw Ko Kakak sepupu)

“Untuk memberi selamat tahun baru kepada Koe Koe dan Koe Bo, bagaimana aku berani datang terlambat?” Kata seorang lelaki sambil tertawa. (Koe Koe Paman, saudara lelaki dari ibu, Koe Bo bibi isteri Koe Koe)

Boe Kie merasa mukanya panas. Jantungnya melonjak-lonjak, tangannya mengeluarkan keringat. Sesudah mengharap-harap selama dua bulan, baru sekarang ia mendengar suara si nona. Semangatnya terbang dan ia berdiri terpaku.

Dilain saat terdengar suara seorang wanita lain. “Memang suko terburu datang kemari, aku tak tahu entah ia datang untuk memberi selamat kepada kedua orang itu, entah untuk memberi selamat kepada Piauw Moay.” Sehabis berkata begitu, wanita itu tertawa geli. (Soeko kakak seperguruan. Piauw Moay adik perempuan sepupu)

Hampir berbareng, tiga orang muda berjalan masuk dan semua pelayan-pelayan buru-buru menyingkir untuk membuka jalan. Hanya Boe Kie yang masih terus berdiri seperti orang hilang ingatan dan kakinya baru bergerak sesudah tangannya diseret Kiauw Hok.

Dari ketiga orang muda itu, yang berjalan di tengah adalah seorang pemuda. Sedang Coe Kioe Tin berjalan di sebelah kiri. Ia mengenakan baju bulu yang berwarna merah sehingga kecantikannya jadi lebih mencolok. Di sebelah kanan pemuda itu berjalan seorang wanita lain. Usia mereka kira-kira sebaya, semuanya belum mencapai dua puluh tahun.

Begitu mereka masuk, mata Boe Kie terus mengincar Nona Coe. Tidak memperdulikan yang lain. Ia seperti juga tidak melihat dua orang muda yang lain, tidak melihat cara bagaimana memberi selamat tahun baru dan tak mendengar apa yang dikatakan mereka. Dimatanya hanya kelihatan seorang, yaitu Nona Coe Kioe Tin.

Dalam usia yang masih muda, masih kekanak-kanakan Boe Kie sebenarnya masih belum tentu apa artinya cinta antara lelaki dan perempuan. Iapun bukan manusia yang kemaruk akan paras cantik. Tapi dalam hidupnya seorang manusia tertarik yang pertama kali terhadap kecantikan seorang wanita selalu memberi akibat yang hebat. Sebagai manusia, Boe Kie pun tidak kecuali. Disampint itu pada hakekatnya, Boe Kie mempunyai perasaan halus dan mempunyai rasa cinta yang sangat besar terhadap sesama manusia, tak perduli lelaki atau perempuan, tua atau muda. Maka itu dapatlah dimengerti begitu bertemu dengan Coe Kioe Tin yang sangat cantik dan mempunyai pengaruh luar biasa atas dirinya, Boe Kie jadi seperti hilang ingatan. Di dalam hatinya sama sekali tidak terdapat pikiran yang tidak-tidak. Tidak! Sedikitpun tidak! Ia hanya merasa beruntung jika bisa melihat wajah si nona, mendengar suara si nona yang sangat merdu.

Sesudah mendapat hadiah, pelayan-pelayan yang lain lantas saja bubar.

Sesudah berbincang-bincang beberapa lama Coe Kioe Tin berkata, ”ayah, ibu, aku ingin jalan-jalan bersama Piauw Ko dan Ceng Moay.”

Kedua orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan ketiga orang muda tersebut lantas saja bertindak ke luar dan pergi ke halaman belakang.

Tanpa merasa Boe Kie mengikuti dari jauh. Pada hari raya yang penting itu, tak ada orang yang memperhatikannya. Semua pelayan bersuka ria, berjudi, dan sebagainya. Sekarang baru Boe Kie melihat nyata, bahwa pemuda itu berparas sangat tampan dan dalam hawa udara yang sangat dingin, ia hanya mengenakan jubah panjang warna kuning dari sutra tipis. Sehingga dapatlah diketahui bahwa ia memiliki Lweekang yang tinggi. Wanita yang satunya mengenakan baju bulu warna hitam, badannya langsing, gerak-geriknya memikat, suaranya lemah lembut dan cara-caranya halus. Mengenai kecantikan, ia tak kalah dari Coe Kioe Tin. Tapi di mata Boe Kie, tiada manusia yang dapat menandingi nona Coe yang dipandangnya seakan-akan seorang Dewi.

Mereka berjalan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa. “Tin Ci,” kata wanita itu, “kau pasti sudah memperolah banyak ilmu It Yang Ci. Bolehkah kau memperlihatkan kepada adikmu?” (It Yang Ci semacam ilmu menotok dengan jari tangan dari It Teng Taysu)

“Ah! Jangan kau menggoda aku,” kata Kioe Tin. Biar aku berlatih sepuluh tahun lagi, mana bisa aku menandingi Lan Hoea Hoed Hiat Chioe dari keluarga Boe.” (Lan Hoea Hoed Hiat Chioe ilmu menotok jalan darah dengan lima jari tangan yang dipentang seperti Lan Hoa atau bunga anggrek)

Pemuda itu tertawa,”Sudahlah! Kalian tak usah saling merendahkan diri,” katanya. “siapakah yang tidak mengenal Soat Leng Siang Moay yang sangat lihai?” (Soat Leng Siang Moay Sepasang saudara perempuan dari bukit salju)

“Aku belajar dan berlatih sendirian saja.” Kata Kioe Tin. “ Mana bisa aku menyusul kemajuan kalian dua saudara seperguruan yang setiap detik bisa saling berdamai dan berlatih bersama-sama.”

Wanita muda itu tidak menjawab, ia hanya bisa tersenyum sambil monyongkan mulutnya, seperti juga ia mengakui kebenarannya nona Coe.

Sebab kuatir Kioe Tin jadi gusar, pemuda itu buru-buru berkata, “ah, sebenarnya tidak begitu. Kau mempunyai dua orang guru Koe Koe dan Koe Bo. Di bawah pimpinan kedua orang tua, itu keaadaanmu banyak lebih baik daripada kami berdua.”

“Kami!….kami!…..” nona Coe menggerutu. “Kecintaan antara saudara seperguruan memang lebih hebat daripada kecintaan antara saudara sepupu. Baru saja aku bergurau dengan Ceng Moay, kau sudah membantunya dengan mati-matian.” Sehabis berkata begitu ia memutar badan.

Pemuda itu tertawa, “Piauw Moay disayang, Soe Moay juga disayang,” katanya. “aku tidak memilih kasih.”

Nona Coe memutar pula badannya dan berkata, “Piauw Ko kudengar gurumu menerima lagi seorang murid perempuan. Apa benar?”

“Benar,” jawabnya.

Wanita yang dipanggil “Ceng Moay” rupanya masih ingin menggoda nona Coe. Ia tersenyum seraya berkata. “Tin Ci, Soemoay kecil itu sangat cantik parasnya. Bukan saja cantik, dia pandai bicara dan sangat menarik hati. Setiap hari dia mengikat Soe Ko dengan macam-macam permintaan. Minta diajar ini, diajar itu, kalau nanti kau bertemu dengannya, kau sendiri tentu akan mencintai dia..”

“Apa?” menegas Kioe Tin dengan suara dingin. “Apa dia lebih cantik dari Ceng Moay?”

“Mana bisa aku menandingi Siauw Soe Moay itu,” jawabnya. “Hanya Tin Ci yang dapat ditandingi dengannya.”

“Aku bukan lelaki tampan yang kemaruk akan paras cantik,” kata nona Coe. “Bagaimana kau bisa mengatakan aku akan mencintai Siauw Soe Moay itu?”

Mendengar perkataan yang menghantam dirinya, pemuda itu lantas saja tertawa dan berkata, “Piauw Moay, bolehkan kau mengajak kami melihat jenderal penjaga pintu? Makin lama mereka pasti makin lihai.”

Coe Kioe Tin lantas jadi girang. “Baiklah!” jawabnya. Ia segera berjalan ke arah Han Kong Ki, Boe Kie tetap mengikuti dari kejauhan.

Begitu tiba, nona Coe segera memerintahkan pelayan perawat anjing untuk melepaskan semua binatang itu. Melihat kawanan anjing yang galak angker, pemuda tersebut memuji tak henti-hentinya sehingga Kioe Tin jadi lebih bunga hatinya.

“Ceng Moay” tertawa geli sambil menutup mulutnya dengan tangan. “Soe Ko” katanya “pangkat apa yang dikehendaki olehmu, Koan Koen atau Piauw Ki?”

Pemuda itu terkejut. “Apa katamu?” tanyannya.

“Kau begitu memperhatikan kata Tin Ci,” jawabnya. “Apakah tak layak jika Tin Ci memberi pangkat Koan Kun, Ciang Koen atau Piauw Ki Ciangkoen kepadamu? Hanya kau harus berhati-hati jangan sampai dicambuk.

Sebagaimana diketahui, Kioe Tin memberi nama-nama pangkat jenderal kepada anjing-anjingnya. Sehingga dengan begitu si nona mengejek Soe Ko-nya dan mempersamakannya dengan seekor anjing.

Paras muka pemuda itu lantas saja berubah merah. “Jangan ngaco belo!” bentaknya dengan suara mendongkol. “Kau mencaci aku sebagai anjing, bukan?”

“Ceng Moay” tersenyum. “Jenderal-jenderal itu selalu berdampingan dengan wanita cantik, mereka menggoyang-goyang buntutnya, mengambil hati dan mereka merasa beruntung,” katanya. “Apa tak enak hidup begitu?”

Paras muka Kioe Tin lantas saja berubah.

“Ceng Moay, kurasa aku tak berdosa terhadapmu,” katanya dengan suara dongkol, “mengapa pada hari tahun baru ini, kau menghinaku?”

Ceng Moay memperlihatkan paras muka heran “E-eh!” katanya. “Aku datang kemari untuk memberi selamat tahun baru. Mngapa kau mengatakan aku menghina kau?”

Nona Coe mengeluarkan suara di hidung. Mengingat persahabatan yang sangat erat antara leluhur kedua keluarga, biarpun darahnya meluap, ia sebisa-bisanya menahan saabr. Ia menengok kepada pemuda itu dan berkata, “Piauw Ko, Kuminta kau suka jadi juru penimbang. Apakah aku yang berbuat kesalahan terhadap Boe Sio Cia, atau Boe Sio Cia yang sengaja cari-caru urusan, cari-cari ribut denganku.”

Pemuda itu jadi serba salah. Ia tahu, ia tak boleh membantu piauw Moay dan juga tak boleh menyokong Coe Moay. Mereka berdua adalah anak-anak yang biasa dimanja-manjakan. Gadis-gadis yang sempit pemandangannya. Tak perduli pihak manapun yang dibenarkan olehnya, ia bakal jadi berabe sekali. Maka itu, jalan yang paling selamat adalah berkelit, ia ketawa dan berkata, “Piauw Moay, sudah lama kita tak ketemu. Perlua apa tarik urat? Eh, ilmu silat apa yang kau paling belakang dapat dari Koe Koe. Bolehkah kau memperlihatkan kepada Kami?”

“Berapa hari yang lalu Thia-thia telah mengajariku semacam Pit Hoat,” katanya. “Aku masih belum paham dan kuharap Ceng Moay dan Piauw Ko suka memberi petunjuk. (Pit Hoat semacam gaya menulis huruf Tiongkok)

“Ceng Moay? Dan pemuda itu menepuk-nepuk tangan. “Bagus!” kata “Ceng Moay” “Tin Ci jangan kau terlalu merendahkan diri. Ayolah supaya kami bisa menambah pengalaman.”

Nona menggapai dan pelayan perawat anjing segera mengambil sepasang Poan Koan Pit yang tergantung di tembok.

Boe Kie melihat bahwa di tembok itu tergantung rupa-rupa senjata, tapi yang paling banyak adalah Poan Koan Pit. Seperti juga sebuah petunjuk bahwa Coe Sio Cia biasa menggunakan senjata itu. Ayah Boe Kie, Thio Coei San, bergelar Gin Kauw Tiat Hoa dan ia seorang ahli dalam menggunakan Poan Koan Pit. Dulu, kalau membicarakan ilmu silat dengan puteranya, ia banyak sekali merundingkan hal-hal yang mengenai gaetan (kauw) dan Poan Koan Pit. Oleh karena itu, Boe Kie mempunyai pengetahuan yang agak mendalam tentang kedua senjata itu. “Ayah pernah mengatakan bahwa dalam Rimba Persilatan, jarang sekali ada wanita yang mampu menggunakan Poan Koan Pit,” pikirnya. “Dilihat begini, ilmu silat Coe Sio Cia sudah sampai tingkatan tinggi,” kalau tadi ia kesengsem karena kecantikan si nona, sekarang ia kagum dan takluk karena Kioe Tin dapat menggunakan senjata istimewa yang biasa digunakan oleh mendiang ayahnya.

Sambil mengibas Poan Koan Pit yang dicekal dalam tangan kirinya, Kioe Tin berkata, “Ceng Moay mari temani aku. Pit Hoat ini tidak dapat dilatih oleh seorang saja.”

“Ceng Moay” tahu bahwa nona Coe mempunyai maksud tidak baik. Ia menggelengkan kepala seraya berkata, “Kepandaianku masih terlalu rendah. Mana biasa aku melayani Tin Ci?”

Nona Coe mendesak berulang-ulang, tapi dia tetap menolak.

Melihat begitu, si pemuda perlahan-lahan menghampiri dan sambil mengangkat kedua tangannya ia berkata, “Piauw Moay, biar aku saja yang menemani kau. Aku hanya mengharap kau menaruh belas kasihan. Kalau ujung Pit nyasar ke jalan darah Tian Tiong atau Pak Hwee. Tahun ini Wie Pek tak bisa minum arak tahun baru. (Tian Tiong dan Pak Hwee adalah jalan-jalan darah yang sangat penting. Sekali tertotok, orang bisa binasa)

Mendengar perkataan yang mengandung pujian itu, hati nona Coe jadi senang sekali. Sambil tertawa ia membentak, “Jangan rewel! Jagalah!” Pit kiri menyambar ke bawah, pit kanan ke atas. Benar-benar ia menghantam Pak Hwee Hiat di embun-embunan dan Tian Tiong Hiat di dada pemuda itu.

Wie Pek tidak bergerak, seolah-olah ia tahu, bahwa si nona tidak bakal menotok sungguhan. Tapi kedua senjata it uterus menyambar bagaikan kilat dan dilain detik ujung senjata hanya terpisah satu dim dari dua jalan darah tersebut.

Pada detik yang sangat berbahaya, mendadak terdengar suara “trang!” dan kedua pit terpental balik. Kecepatan bergeraknya Wie Pek sungguh luar biasa bagaimana ia menghunus pedang dan bagaimana ia menangkis tak bisa dilihatnya.

“Bagus!” teriak nona Coe sambil melintangkan kedua senjatanya yang segera menyambar bagaikan dua helai sinar putih.

Boe Kie menonton dengan penuh perhatian. Ia ingat, bahwa mendiang ayahnya pernah mengatakan Poan Koan Pit adalah senjata untuk menotok jalan darah. Tapi karena bentuknya menyerupai Pit, maka dalam senjata itu mengandung sifat-sifat Boen. (ilmu surat) Keunggulannya ialah mudah digunakan dan indah gerakannya. Tapi di dalam pertempuran mati-matian, manfaatnya masih kalah setingkat dengan senjata lain, misalnya golok atau tombak. Sesudah memperhatikan beberapa lama, ia mendapat kenyataan bahwa nona Coe benar-benar mahir dalam menggunakan Poan Koan Pit yang menyambar-nyambar ke delapan penjuru dalam gerakan-gerakan yang sangat indah. Tiba-tiba hatinya berdebar-debar. “Ah! Pit Hoat itu menyerupai dengan In Thian To Liong Kang dari ayahku,”katanya dalam hati. “Ilmu silat nona Coe juga berdasarkan Soe Hoat (Soe Hoat – seni menulis huruf-huruf bagus)

Dilain pihak, ilmu pedang Wie Pek tidak juga cukup lihai. Tapi karena Boe Kie tidak mengerti Kiam Hoat, maka dia tak dapat melihat kebagusannya ilmu pedang itu. Ia hanya tahu bahwa makin lama pemuda itu jadi makin terdesak.

Sesudah bertempur sekian jurus, pit kiri Nona Coe tiba-tiba menyambar dari kanan ke kiri, sedangkan pit kanan menyabet dari atas ke bawah.

“Celaka!” seru Wie Pek sambil melompat mundur. Kioe Tin sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik. Ia melompat pit kanan menyambar mata. Itulah pukulan yang lihai dan sukar dielakkan.

“Tahan!..” teriak Wie Pek, “Aku menyerah kalah! Harap Sio Cia sudi mengampuni jiwaku…”

Bukan main girangnya si nona. Ia tertawa seraya berkata, “Piauw Ko kau bukan kalah sungguhan. Kau hanya mengalah..,” sehabis berkata begitu, ia mengangkat kedua senjatanya yang lalu dilemparkan ke tembok. “Blas!” kedua Pit itu amblas di tembok, hanya beberapa dim yang berada di luar tembok.
Boe Kie terkesiap. Ia tak nyana, bahwa wanita yang kelihatannya lemah memiliki Lweekang yang begitu tinggi dan tenaga yang begitu besar. “Bagus!” Ia berteriak tanpa merasa.

Sudah lama ia berdiri di situ, tapi ketiga orang muda itu tidak memperhatikannya. Sekarang, begitu bersorak, mereka menengok dan mengawasinya. Melihat, bahwa yan sorak hanya seorang pelayan, Kioe Tin tidak memperdulikan. Ia rupanya sudah melupakan Boe Kie. Sambil menengok kepada Wie Pek, ia berkata, “Piauw Ko, pit hoat tadi banyak sekali kekurangannya. Kumohon Siauw Ko sudi memberi petunjuk.”

Wie Pek tertawa, “Piauw Moay, ilmu silatmu bukan saja hebat, tapi juga sangat indah gerakannya, apa namanya?”

“Coba Kau tebak,” kata nona sambil tolak pinggang.

Wie Pek menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gata. “Koe Koe adalah turunan asli Soe Hoat,” katanya. “Menurut pendapatku ilmu silat itu berdasarkan Soe Hoat.”

“Benar!” seru Nona Coe sambil menepuk-nepuk tangan. “Pintar juga kau Piauw Ko. Tapi Soe Hoat apakah itu?”

“Piauw Moay yang baik, jangan kau coba-coba menguji aku,” kata Wie Pek. “Tidak,…aku tak tahu.”

Melihat sikap si nona terhadap Wie Pek, Boe Kie merasa sangat berduka. Ia merasa dirinya kecil. Ia merasa bersaing dengan pemuda tampan itu. Sungguh beruntung jika ia bisa mendapatkan kesempatan untuk menindih saingan itu. Maka itulah, begitu mendengar pengakuan Wie Pek darahnya lantas saja bergolak dan tanpa merasa ia berteriak, “Tay Kang Tong Ki Hoat!”

Coe Kioe Tin adalah turunan Coe Coe Liu. Nona si Boe itu, yang dipanggil “Ceng Moay” oleh nona Coe, adalah turunan Boe Sam Tong, namanya Boe Ceng Eng. Ia adalah turunan Boe Siu Boen, salah seorang putra Boe Sam Tong. Boe Sam Tong dan Coe Coe Liu ialah menteri merangkap murid It Teng Taysoe, sehingga ilmu silat mereka berasal dari satu sumber. Akan tetapi, sesudah lewat seratus tahun lebih, ilmu silat antara kedua keluarga itu agak berbeda. Misalnya Boe Toen Ji dan Boe Sioe Boen telah mengangkat Kwee Ceng, Kwee Tayhiap sebagai guru. Maka itu, biarpun mereka juga paham akan ilmu totok It Yang Ci, tapi ilmu totok itu agak menyerupai cara-cara yang keras untuk dari ilmu silat Kioe Ci Sin Kay Ang Cit Kong.

Wie Pek ialah saudara sepupu Coe Kioe Tin. Pemuda itu berguru kepada ayah Boe Ceng Eng. Ia seorang pemuda yang berparas tampan, beradat baik dalam lemah lembut cara-caranya, sehingga ia dicintai oleh kedua gadis cantik itu.

Usia nona Coe dan nona Boe kira-kira sebaya, sama-sama cantik, sama-sama pintar dan ilmu silat merekapun kira-kira standing. Maka itu, orang Rimba Persilatan di sekitar Koen Loen San memberi gelar Soat Leng Siang Moay (Sepasang Saudara perempuan dari Bukit Salju) kepada mereka.

Dalam mencintai Wie Pek, Coe Kioe Tin lebih berani mengutarakan rasa cintanya. Tapi Boe Ceng Eng yang pemalu bisa menarik keuntungan, yaitu karena belajar bersama-sama, makanya bisa lebih banyak bergaul dengan pemuda itu daripada nona Coe.

Mendengar seruan “Tay Kang Tong Ki Hoat,” ketiga orang muda itu terkejut. Sebagai orang-orang yang Boen Boe Song Coan (mengerti ilmu surat dan ilmu silat) Wie Pek dan Ceng Eng bukan tak tahu, bahwa ilmu silat nona Coe berdasarkan Tay Kang Tong Ki Hoat. Mereka hanya tidak mau menyebutkannya, supaya nona itu jadi lebih senang hatinya.

Pada waktu itu, Boe Kie baru berusia kira-kira lima belas tahun. Tanpa sesuatu yang luar biasa, baik dari muka, maupun dari potongan badannya. Maka itu, Wie Pek dan Boe Ceng Eng segera menduga, bahwa ia adalah pelayan di lapangan berlatih silan dan sudah mendengar nama ilmu pukulan itu.

Tapi Coe Kioe Tin sendiri tahu, bahwa hal tiu tak akan bisa kejadian. Oleh karena, setiap kali mengajar ilmu silat, ayahnya tak pernah mengijinkan hadirnya siapapun jua dalam lapangan berlatih. “Apakah ia mencuri belajar?”tanyanya di dalam hati. Memikir begitu, ia lantas saja membentak, “Hei! Siapa namamu? Bagaimana kau tahu ilmu silatku dinamakan Tay Kant Tong Ki Hoat?”

Mendengar si nona menanyakan namanya, Boe Kie merasa sangat berduka.

“Bukankah aku sudah memberitahukan Kau?” pikirnya. “Kalau begitu, kau sedikitpun tak memperhatikan aku,” ia lantas menjawab “Namaku Thio Boe Kie, aku hanya bicara secara sembarangan.”

“Oh,…..sekarang aku ingat,” kata Kioe Tin.

“Kau adalah bocah yang pernah digigit oleh anjing-anjingku,” ia lebih jadi bercuriga, sebab ia lantas saja ingat bahwa dengan sekali pukulan saja, anak itu telah menghancurkan kepala “Co Ciangkun” sehingga dia pasti memiliki ilmu silat yang tidak boleh dipandang enteng. “Apakah dia seorang mata-mata yang dikirim oleh musuh ayahku?” tanyanya di dalam hati. “Tanpa mencuri, anak yang begitu kecil tak mungkin mengenal ilmu silat yang paling diandalkan oleh ayahku.”

Tapi, baru saja ia berniat untuk menyelidiki lebih lanjut, tiba-tiba ia melihat Wie Pek dan Boe Ceng Eng sedang bicara bisik-bisik sambil duduk berendeng. Rasa cemburu lantas saja timbul dalam hatinya dan ia tidak memperdulikan Boe Kie lagi. “Ceng Moay!” teriaknya. “aku dan Piauw Ko sudah memperlihatkan keburukan kami. Kuharap kaupun suka mempertunjukkan ilmu silatmu yang tinggi.”

Entah disengaja, entah tidak, Wie Pek dan Boe Ceng Eng tidak meladeni teriakan itu.

Kioe Tin naik darah, “Biarpun Pit Hoatku sangat sederhana, tapi belum tentu ilmu silat keluarga Boe bisa melawannya,” katanya dengan suara dingin.

Nona Boe mengangkat kepalanya dan membalas dengan suara yang sama dinginnya. “Soe Ko-koe tahu, bahwa kau seorang yang mau menang sendiri sehingga ia sengaja mengalah terhadapmu, Hm!….Tapi kau tergirang-girang.”

“Siapa mau dia mengalah?” bentak Kioe Tin dengan keras. “Dapatkah dia memecahkan pukulan Siang Koat Kwi Goan?” (Siang Koat Kwi Goan – Dua Ranggon terangkap menjadi satu. Jurus terakhir Kioe Tin yang menyebabkan menyerahnya Wie Pek)

“Kau kira kami berdua manusia-manusia tolol yang tidak mengenal syair?” Syair-syair Tay Kang Tong Ki dari Souw Pong To?” Tanya Ceng Eng. “Kalau Soe Ko tidak mengenal ilmu silatmu, mengapa ia justru menyerah kalah pada akhiran sebaris syair? Ia menyerah pada detik kau mengakhiri huruf “goat” (rembulan) dari baris syair yang berbunyi “It Coen Hoan Cioe Kang Goat” mengertikah kau sekarang? (It Coen Hoan Cioe Kang Goat – mempersembahkan secawan arak kepada rembulan_

Coe Kioe Tin tertegun. Pertanyaan Boe Ceng Eng tak dapat dibantah. Memang Wie Pek menyerah waktu mengakhiri tulisan huruf “goat” dengan jurus Siang Koat Kwi Goan. Kalau benar begitu, ia sendiri yang jadi manusia tolol!

Ia merasa malu bukan main dan dari malu ia menjadi gusar. “Kenal memang mungkin kau kenal, tapi apa kau bisa memecahkannya?” tanyanya dengan suara keras. “Bisa jadi Piauw Ko sengaja mengalah terhadapku. Hm!..memang tak sukar menggoyangkan lidah. Lihatlah! Pelayan dalam rumahku pun mengenal pukulan itu.”

Muka Boe Ceng Eng merah padam, bahwa gusarnya. “Soe Ko aku pulang saja!” katanya dengan suara gemetar. “Orang sudah mempersamakan aku dengan pelayan. Perlu apa kau berdiam lama di rumah ini?”

Wie Pek tertawa dan berkata, “Soe Moay, Piauw Moay hanya berguyon, jangan kau menganggap bersungguh-sungguh. Di rumahmu pelayan kotor seperti dia tak terhitung berapa banyaknya.”

Mendengar perkataan yang menghina itu, Boe Kie panas hatinya.

“Bagus! Kau menghina pelayanku?” kata Kioe Tin. “Ceng Moay, biarpun kau berkepandaian tinggi, belum tentu kau bisa menjatuhkan dia dalam tiga jurus.”

“Hm! Apa kau kira pelayan baumu mempunyai harga untuk melayaniku?” nona Boe menjawab. “Tin Ci kau terlalu menghinaku.”

Sampai disitu Boe Kie tak dapat menahan sabar lagi. “Boe Kouwnio!” teriaknya. “Apa kau bukan manusia? Boe Kouwnio, janganlah kau menganggap dirimu sebagai manusia yang terlalu mahal!”

Walaupun darahnya meluap, untuk menghina si bocah, Ceng Eng melirikpun tidak. Ia berpaling kepada Wie Pek dan berkata, “Soe Ko, kau lihatlah kurang ajarnya pelayan bau itu. Apa kau masih tetap berpeluk angina?”

Melihat sikap mohon dikasihani dari si nona, hati pemuda itu lantas saja lemas. Antara kedua gadis itu, ia sebenarnya tidak memilih kasih. Akan tetapi, di dalam hati kecilnya, ia mempunyai perhitungan sendiri. Gurunya, yaitu ayah Boe Ceng Eng, mempunyai kepandaian yang tinggi. Ia merasa, bahwa apa yang akan didapatkannya, takkan lebih daripada sebagian atau dua bagian kepandaian sang guru. Maka itu, apabila ia ingin memiliki kepandaian istimewa, tidak bisa ia harus mengambil hati nona Boe. Maka itulah, dia seraya tersenyum lantas saja berkata.

“Piauw Moay, apa benar pelayanmu mempunyai kepandaian tinggi? Bolehkah aku mengujinya?”

Kioe Tin mengerti, bahwa kakak itu coba membela Ceng Eng. Ia mau menolak tapi dalam otaknya mendadak berkelabat serupa ingatan.

“Aku memang ingin tahu asal usul bocah itu,” pikirnya. “Biarlah Piauw Ko yang paksa dia membuka rahasianya,” berpikir begitu, ia lantas berkata

“Baiklah, sebenarnya aku sendiri tak tahu murid siapa dan dari partai mana.”

“Apakah pelajaran bocah itu bukan didapat dari sini?” Tanya Wie Pek dengan perasaan heran.

Kioe Tin menengok ke arah Boe Kie dan berkata, ”Eh, coba beritahukan Siauw Ya, nama guru dan partaimu.”

Mendengar perkataan si nona, Boe Kie lantas saja berpikir. “Kamu begitu menghina aku, mana bisa aku memberitahukan nama kedua orang tuaku dan Thay Soehoe? Selain begitu, akupun belum pernah mempelajari ilmu silat Boe Kie Pay secara sungguh-sungguh.” Dengan adanya itu, ia menjawab, “Semenjak kecil, kedua orang tuaku sudah meninggal dunia dan aku bergelandangan dalam dunia Kang Ouw. Aku belum pernah belajar ilmu silat, hanya ayah angkatku yang pernah memberi satu dua petunjuk kepadaku. Mata Gi Hoe buta, sehingga iapun tak tahu, apa latihanku benar atau salah.”

“Siapa nama ayah angkatmu? Dari partai mana dia?” Tanya Kioe Tin.

Boe Kie menggelengkan kepala. “Aku tak bisa memberitahukan,” jawabnya.

Wie Pek tertawa nyaring. “Masakah kita bertiga tidak bisa mengorek rahasianya?” katanya sambil menghampiri Boe Kie dan berkata pula.

“Bocah coba kau sambut tiga pukulan,” seraya berkata begitu, ia melirik nona Boe sambil tersenyum, seolah-olah ia mau mengatakan bahwa ia akan memberi pelajaran keras kepada bocah itu untuk melampiaskan rasa dongkolnya si nona.

Dalam soal cinta, seseorang yang sedang mabuk cinta selalu memperhatikan gerak-gerik dari orang yang dicintai. Lirikan dan senyuman Wie Pek tidak terlepas dari mata Coe Kioe Tin yang lantas timbul rasa cemburunya. Melihat Boe Kie bersangsi untuk menyambut tantangan itu. Ia menggapai dan setelah anak itu mendekati, ia berkata dengan suara perlahan, “Sebagaimana kau sudah melihat Piauw Ko memiliki kepandaian tinggi, kau tentu tak bisa menang. Tapi, asal kau bisa menyambut tiga pukulannya, kau membikin mukaku jadi terang,” sehabis berkata begitu, ia menepuk-nepuk pundak si bocah untuk memberi semangat.

Boe Kie juga tahu, bahwa ia bukan tandingan pemuda itu. Ia mengerti bahwa jika ia turun ke gelanggang, ia hanya akan menjadi korban. Jadi semacam lelucon untuk menggembirakan hati. Tapi begitu lekas ia berdiri dihadapan si cantik, pikirannya kalut. Sesudah diajak bicara dengan suara lemah lembut dan ditepuk-tepuk apa pula sesudah mengendus bau yang sangat harum, otaknya butak dan ia tak dapat berpikir lagi. “Sio Cia memerintahkan supaya aku membikin terang mukanya dan aku tak toleh mengecewakannya,” katanya di dalam hati dan seperti orang linglung, ia segera mendekati Wie Pek.

“Bocah, sambutlah!” kata pemuda itu sambil menampar. Pukulan itu cepat luar biasa dan muka Boe Kie lantas saja terpeta lima jari tangan yang berwarna merah. Sesudah tahu, bahwa anak itu bukan mendapat pelajaran dari keluarga Coe, sehingga ia tidak bisa dianggap menghina pamannya sendiri. Ia sudah turun tangan tanpa sungkan-sungkan. Meskipun tidak mengerahkan Lweekang ia menampar dengan sepenuh tenaga.

“Boe Kie, lawan!” teriak Nona Coe.

Semangat si bocah terbangun, dengan cepat ia meninju Wie Pek mengegos sambil berseru. “Bagus! Masih ada dua jurus,” dengan sekali melompat, ia sudah berada di belakang Boe Kied an sebelum si bocah keburu memutar badan, leher bajunya sudah kena dicengkeram. Sambil mengangkat badan Boe Kie tinggi-tinggi Wie Pek tertawa terbahak-bahak dan kemudian membantingnya keras-keras di lantai. Kasihan Boe Kie! Janggut dan hidungnya lantas saja mengucurkan darah.

Seraya menepuk-nepuk tangan, Boe Ceng Eng tertawa cekikikan. “Tin Ci,” katanya, “Bagaimana? Apakah ilmu silat keluarga Boe masih boleh dilihat?”

Paras muka Kioe Tin merah padam. Ia malu bercampur gusar. Ia tak bisa membantah pertanyaan saingannya, sebab jika ia mencela ilmu silat keluarga Boe, ia sudah menyinggung perasaan Wie Pek.

Sementara itu, Boe Kie sudah merangkak bangun dan dengan jantung berdebar-debar, ia melirik Kioe Tin. Melihat paras muka si cantik, ia lantas saja berkata dalam hatinya. “Sudahlah! Biarpun hilang jiwa, aku mesti menolong Sio Cia.”

“Piauw Moay,” kata Wie Pek sambil tertawa. “Silat kucing pincang bocah itu masih tak punya, mana bisa kau bicara tentang partainya?”

Tiba-tiba Boe Kie menerjang dan menendang kempungannya.

“Aduh! Gagah benar Kau?” ejek Wie Pek sambil mengelak dan menangkap kaki kanan Boe Kie yang lalu dilontarkan dengan menggunakan tiga bagian Lweekang. Bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, badan si bocah melesat kea rah tembok. Untung juga, selagi masih berada di tengah udara, dengan menggunakan seluruh tenaganya ia masih keburu memutar tubuh sehingga hanya punggungnya yang terbentur tembok. Tapi biarpun begitu, ia merasa sakit bukan main dan roboh di kaki tembok tanpa bisa lantas bangun.

Dalam kesakitan hebat, hatinya masih memikirkan muka Coe Kioe Tin yang harus ditolong. Tiba-tiba ia mendengar suara si nona, “Sudahlah! Ayo kita pergi ke taman bunga!” di kuping Boe Kie suara itu penuh rasa malu dan jengkel.

Entah darimana datangnya, mendadak Boe Kie merasa tenaganya pulih. Ia melompat bangu dan bagaikan kalap, ia menubruk dan menghantam Wie Pek dengan telapak tangannya.

Kali ini ia memukul dengan jurus Kang Liong Yu Hwi (Penyesalan Sang Naga) dari Hang Liong Sip Pat Ciang (delapan belas jurus ilmu silat menaklukkan naga), semacam Ciang Hoat (ilmu silat dengan menggunakan telapaka tangan) yang paling lihai di seluruh rimba persilatan. Dahulu dengan mengandalkan ilmu tersebut, Ang Cit Kong dan Kwee Ceng telah menjagoi di kolong langit. Hanya saying apa yang didapat Cia Soen hanya kulitnya saja, sedang yang diperoleh Boe Kie lebih-lebih tak karuan macam pengaruh pukulan itu belum ada sepersepuluh dari Kang Liong Yu Hwi yang asli. Tapi walaupun begitu pukulan itu mengeluarkan sambaran angin yang luar biasa dan begitu tangan Wie Pek terbentur tangan Boe Kie, badannya bergoyang-goyang dan ia terpaksa mundur setindak. Ia kaget, sedangkan Boe Ceng Eng mengeluarkan seruan tertahan.

Pada seratus tahun lebih lalu, leluhur Boe Ceng Eng, yaitu Boe Sioe Boen, telah berguru kepada Kwee Ceng, tapi sesudah belajar banyak tahun, ia masih belum juga dapat menyelami intisari dari pada Hang Liong Sip Pat Ciang. Boe Liat, ayah Boe Ceng Eng, masih dapat menjalankan jurus-jurus dari ilmu silat itu, tapi seperti anak cucu Boe Sioe Boen yang lainnya, iapun tidak berhasil mengeluarkan pengaruh dahsyat Hang Liong Sip Pat Ciang. Selama belasan tahun, nona Boe sering melihat ayahnya berlatih sendirian sambil mengasah otak. Tapi sebegitu jauh, orang tua itu masih juga belum berhasil. Dari zaman Boe Sioe Boen sampai Boe Ceng Eng sudah ada lima turunan. Pada setiap turunan, anggota-anggota keluarga Boe berusaha keras untuk menyelami intisari ilmu itu, tapi semua usaha mengalami kegagalan.

Kegagalan itu bukan karena tumpulnya otak keluarga Boe. Apa seorang dapat menyelami Hang Liong Sip Pat Ciang atau tidak, tiada sangkut paut dengan kecerdasan otak. Bukan saja begitu, bahkan ada petunjuk, bahwa makin cerdas otak seseorang, makin sukar ia memiliki ilmu itu. Contohnya, Kwee Ceng tumpul dan Oey Yong pintar luar biasa. Tapi yang berhasil adalah Kwee Ceng, sedang Oey Yong tetap gagal. Dalam mengajar orang-orang muda, Kwee Ceng tidak menyembunyikan apapun jua. Tapi kaitannya adalah, diantara orang-orang tingkatannya lebih muda seperti Yo Ko, Yeh Loe Ci, Kwee Hoe, Kwee Siang, Kwee Loh Po, Boe Sioe Boen dan Boe Toen Jie, tak satupun yang bisa berhasil dengan sempurna. Bahwa pada zaman belakang Hang Liong Sip Pat Ciang sudah tidak dikenal lagi dalam rimba persilatan, mungkin adalah karena sebab-sebab itu.

Wie Pek yang tak kenal jurus itu sudah menangkis dengan tangannya dan begitu lekas tangannya beradu dengan tangan Boe Kie, ia merasakan lengannya kesemutan dan dadanya menyesak. Cepat-cepat ia mundur setindak kemudian ia melompat maju sambil menghantam punggung Boe Kie dengan tinjunya. Tanpa memutar tubuh, si bocah mengibaskan tangannya ke belakang dengan menggunakan jurus Sin Liong Pa Bwee (Naga Malaikat menyabetkan ekor) Melihat sambaran tangan yang luar biasa, Wie Pek berkelit, tapi tak urung pundaknya kena disapujuga dengan tiga jari tangan. Meskipun pukulan itu tidak hebat, tapi Coe Kioe Tin dan Boe Ceng Eng sudah melihat, bahwa dalam jurus itu, Wie Pek sekali lagi kena dikalahkan.

Mana dia rela menerima hinaan itu dihadapan wanita-wanita cantik? Waktu menantang Boe Kie, seorang anak tanggung yang sama sekali bukan tandingannya, pemuda itu hanya ingin mempermainkan si bocah untuk menyenangkan hati Boe Ceng Eng. Maka itu, ia hanya menggunakan dua atau tiga bagian. Tapi diluar dugaan, dua kali beruntun ia jatuh dibawah angin, Darahnya lantas saja naik dan ia membentak. “Setan kecil! Apa kau tidak takut mati?” seraya membentak, ia meninju dengan jurus Tiang Kang Sam Tiap Long (tiga gelombang sungai TiangKang) sesuai dengan namanya, jurus itu mengandung tiga gelombang tenaga. Apabila lawan menangkis gelombang pertama dengan sepenuh tenaga, maka ia akan binasa, atau sedikitnya terluka berat dengan gelombang tenaga kedua dan ketiga akan menyerang tanpa diduga-duga.

Waktu memukul, Wie Pek telah menggunakan seluruh tenaga Lweekangnya. Tapi, karena pada hakikatnya ia memang bukan seorang jahat yang berhati kejam. Maka biarpun sedang gusar, ia menahan gelombang tenaga yang ketiga.

Dilain pihak, begitu melihat serangan dahsyat, Boe Kie segera menghempas semangat dan menangkis dengan pukulan terhebat yang dimilikinya yaitu Kiam Liong Boet Yong (naga yang bersembunyi jangan digunakan) Sambil miringkan tangan kirinya, ia menyambut dengan Lweekang yang aneh, yaitu setengah berkumpul, setengah buyar, separuh bersembunyi, separuh keluar. Wie Pek terkesiap, gelombang pukulannya yang pertama amblas seperti batu amblas di dalam laut. Hampir berbareng dengan suara “Krek!” Tulang lengan kanannya patah. Untung juga karena menaruh belas kasihan ia menahan tenaga gelombang ketiga. Jika tidak, mereka berdua sama-sama terluka berat.

Coe Kioe Tin dan Ceng Eng mengeluarkan teriakan kaget dan serentak mengeluarkan teriakan kaget dan serentak lagi menghampiri Wie Pek. “Taka pa-apa,” katanya sambil meringis.

Dengan berbaring, kedua nona itu menumpahkan kegusaran di atas kepala Boe Kie. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, mereka memukul badan dan menghantam dada si bocah. Boe Kie yang belum hilang kagetnya sebab melihat akibat pukulannya, tidak bergerak dan tinju kedua gadis itu tepat mengenai dadanya, ”Uh!” dengan badan bergoyang-goyang ia muntahkan darah!

Dada si bocah sakit, tapi hatinya lebih sakit. “Dengan mati-matian aku berkelahi untuk membuat mukamu terang,” katanya didalam hati. “Tapi waktu aku menang, kau berbalik memukul aku.”

“Tahan!” teriak Wie Pek.

Kedua gadis itu tidak memukul lagi.

Dengan paras muka pucat. Wie Pek mengayun tangan kirinya dan menghantam Boe Kie. Boe Kie yang dengan melompat jauh berhasil menyelamatkan dirinya.

“Piauw Ko,” kata nona Coe, “kau sudah terluka, perlu apa kau meladeni anak yang kurang ajar itu? Aku yang salah. Sebenarnya tak boleh aku mengadu kau dengannya.” Dia seorang gadis yang beradat tinggi. Kalau bukan melihat akibat dari perbuatannya, tak gampang-gampang ia mau mengaku bersalah.

Tapi diluar dugaan, Wie Pek jadi makin gusar. Ia tertawa dingin seraya berkata, “Piauw Moay, pelayanmu benar-benar lihai. Kau sendiri mana bersalah? Tapi aku masih merasa penasaran.” Ia mendorong Kioe Tin dan lalu menerjang Boe Kie.

Si bocah mau melompat mundur, tapi Boe Ceng Eng yang berdiri di belakangnya segera mendorong punggungnya sehingga tinju Wie Pek mampir tepat di hidungnya yang lantas saja bocor.

Dalam sekejab Boe Kie sudah dikepung oleh tiga orang dan tujuh delapan pukulan dengan beruntun jatuh di badannya. Beberapa kali ia muntah darah, tapi sebagai manusia kepala batu, dengan nekat ia melawan terus. Ia menggunakan segala macam ilmu silat yang dimilikinya. Silat Cia Soen, ilmu kedua orang tuanya, pukulan-pukulan Boe Tong Pay dan berkelahi bagaikan harimau edan. Walaupun Lweekangnya masih sangat cetek, tapi karena kenekatannya ditambah dengan pukulan-pukulan dari ilmu-ilmu silat yang sangat tinggi, seperti Hang Liong Sip Pat Ciang, maka untuk sementara waktu ia masih dapat mempertahankan diri.

“Bocah Bau!” caci Coe Kioe Tin. Binatang dari mana kau? Sungguh berani kau mengacau di tempat ini. Apa kau sudah bosan hidup?”

Sementara Wie Pek yang tangannya makin lama makin sakit sungkan berkelahi lebih lama lagi. Sambil mengerahkan seluruh Lweekang di tangan kiri, ia menghantam bagaikan kilat. Melihat pukulan yang dahsyat itu, Boe Kie yang terlalu lelah jadi putus harapan. Ia mengeluh dan memejamkan kedua matanya untuk menunggu kebinasaan.

Tapi sebelum tangan Wie Pek turun di badannya, tiba-tiba terdengar bentakan menggeledek.

“Tahan!” satu bayangan kuning berkelabat dan menangkis tangan pemuda itu yang sedang menyambar. Begitu tangannya tertangkis, Wie Pek terhuyung beberapa tindak dan kemudian terjengkang. Tapi gerakan orang itu yang mengenakan jubah kuning cepat luar biasa. Dengan sekali meloncat, ia menjaga punggung pemuda itu yang lantas saja bisa berdiri tegak.

“Ayah!” teriak Kioe Tin.

“Coe PehPeh!” seru nona Boe.

“Koe Koe!” kata Wie Pek dengan napas tersengal-sengal.

Orang yang menolong Boe Kie bukan lain Coe Tiang Leng, ayah Coe Kioe Tin. Begitu lekas tulang lengan Wie Pek patah, seorang perawat anjing buru-buru melaporkan kepada sang majikan yang lantas saja datang ke tempat pertempuran. Untuk beberapa saat, Coe Tiang Leng menyaksikan “kegagahan” putrinya dan dua orang muda itu dan pada detik yang berbahaya ia memberi pertolongan.

Melihat keberanian dan kegigihan Boe Kie, orang tua itu merasa kagum.

Dengan paras muka merah padam dan mata mendelik, ia mengawasi putrinya, Wie Pek, dan Boe Ceng Eng. Mendadak tangannya melayang, menampat muka putrinya. “Bagus!” katanya dengan suara menyeramkan. “Makin lama anak cucu keluarga Coe jadi makin tak karuan macam! Dengan mempunyai anak semacam kau, bagaimana aku ada muka untuk bertemu dengan leluhurku di dunia baka?”

Coe Kioe Tin adalah anak biasa dimanja. Jangankan digebuk, dicacipun belum pernah. Tapi sekarang ia ditampar di depan banyak orang, bahkan di depan kecintaannya. Tamparan itu cukup keras untuk membuat kepalanya pusing. Sesudah pusing hilan, “Uh!” ia menangis keras.

“Diam!” bentak sang ayah. Bentakan itu disertai Lweekang sudah menggetarkan seluruh ruangan, sehingga debu pada jatuh dari atas balok. Si nona takut bukan main dan ia tak berani menangis terus.

“Semenjak dahulu, keluarga Coe hidup bagaikan kesatria,” kata sang ayah. Leluhurmu, Coe Lioe Kong, mengabdi kepada It Teng Taysoe dan jadi perdana menteri dari negeri Tayli Kok. Belakangan beliauw Bantu melindungi kota Siang Yang dan namanya menggetarkan seluruh dunia. Lihatlah! Betapa gagahnya leluhurmu itu! Tak nyana anak cucunya tidak karuan macam. Sampai kepada aku, Coe Tiang Leng, aku punya anak seperti cecongormu! Tiga orang dewasa mengerubuti seorang anak kecil! Bukan saja begitu, kamu bahkan coba mengambil juga jiwa anak itu! Malu tidak kau?” ia bicara dengan suara berapi-api dengan nada menyeramkan. Walaupun cacian ditunjukkan kepada Kioe Tin, Wie Pek dan Ceng Eng pun kena terseret, sehingga dengan muka kemerah-merahan, mereka tak berani mengangkat kepala.

Mendengar dan melihat semua itu, Boe Kie merasa takluk dan kagum terhadap orang tua itu.

Coe Tiang Leng benar-benar marah besar. Dari pucat mukanya berubah merah, dari merah berubah kuning, sedang badannya gemetara. Tak satupun antara ketiga orang pemuda itu yang berani bersuara atau berkisar. Sambil menundukkan kepala, mereka berdiri bagaikan patung.

Melihat bengkaknya pipi nona Coe Kioe Tin dan sikapnya yang penuh ketakutan, Boe Kie merasa sangat tak tega dan ia segera berkata

“Looya, dalam hal ini Sio Cia sama sekali tak bersalah,” Tiba-tiba ia terkejut karena suaranya hampir tak kedengaran, akibat dari pukulan Wie Pek pada tenggorokannya.

“Saudara kecil, kau mengenal Hang Liong Sip Pat Ciang,” kata Coe Tiang Leng. “Apakah kau murid Kay Pang?” (Kay Pang Partai pengemis)

Boe Kie yang sungkan memberitahukan asal-usulnya lantas saja mengangguk.

Sambil mengawasi puterinya dengan sorot mata gusar. Orang tua itu berkata pula, “ilmu pukulan itu diturunkan oleh Kioe Ci Sin Kay Ang Cit Kong yang pada zaman itu telah menggetarkan seluruh rimba persilatan di sebelah selatan dan utara sungai besar. Dengan keluarga kita, keluarga Coe dan Boe, beliauw mempunyai hubungan yang sangat erat,” ia menengok kepada Boe Ceng Eng dan berkata pula, Kwee Ceng, Kwee Tayhiap, adalah guru leluhurmu, Sioe Boe Kong. Sesudah mengenali bahwa pukulan yang dikeluarkan oleh saudara kecil itu ialah Hang Liong Sip Pat Ciang, mengapa kau masih juga turun tangan!” ia bicara dengan suara keras dan tidak sungkan-sungkan lagi sehingga Boe Kie sendiri jadi merasa sangat tidak enak.

Sesudah menyuruh seorang pelayan mengambil obat luka, orang itu menanyakan hal ihwal kedatangan Boe Kie dan cara bagaimana ia sampai mendapat kedudukan seorang pelayan di dalam gedungnya. Coe Kioe Tin tak berani berdusta dan lalu menceritakan cara bagaimana Boe Kie digigit anjing sebab coba menyembunyikan seekor kera kecil dan cara bagaimana ia sudah menolongnya.

Darah sang ayah meluap lagi. Begitu lekas si nona selesai menutur, ia membentak dengan suara menggeledek. “Bagus! Saudara kecil itu adalah sahabat dari Kay Pang dan kau sudah berani mati untuk memberi kedudukan pelayan kepadanya. Huh-Huh! Kalau hal ini sampai terdengar diluaran, apa yang akan dikatakan oleh orang-orang gagah dalam kalangan Kang Ouw? Mereka pasti akan mengatakan bahwa Kian Koen It Pit Coe Tiang Leng adalah manusia yang tidak mengenal pribadi. Aku membiarkan kau memelihara anjing-anjing itu dengan anggapan, bahwa kau memeliharanya hanya untuk main-main. Tapi siapa nyana, kau sudah mengumbar binatang-binatan itu untuk mencelakakan orang. Budak kecil! Jika untuk mengambil jiwa kecilmu, mana aku ada muka untuk bertemu pula dengan orang-orang gagah dalam rimba persilatan?” Ia mencaci dengan mata berapi-api dan nona Coe mengerti, bahwa sang ayah dapat membuktikan ancamannya. Dengan muka pucat dan badan gemetaran, buru-buru ia menekuk lutut seraya berkata dengan suara parau. “Thia-thia, anak….. anak tidak berani berbuat itu lagi…….”

Melihat bahaya, Wie Pek dan Ceng Eng pun segera berlutut dan memohon supaya orang tua itu sudi mengampuni puterinya.

Boe Kie segera maju mendekati seraya berkata, “Looya…..”

“Saudara kecil, jangan kau memanggil Looya kepadaku,” kata Tiang Leng dengan suara lebih sabar. “Aku hanya lebih tua sekian tahun daripadamu dan paling banyak kau boleh memanggil Cianpwee kepadaku.” (Looya Tuan Besar, panggilan untuk majikan atau orang berpangkat. Cianpwee orang yang tingkatannya, atau usianya lebih tinggi)

“Baiklah,” kata si bocah. “Coe Cianpwee, dalam hal ini tak dapat kita menyalahkan Sio Cia. Dengan sebenar-benarnya, Sio Cia tak tahu menahu waktu aku digigit anjing.”

“Kau lihatlah,” kata Coe Tiang Leng. “Dia masih begitu kecil, tapi sudah begitu lapang dada. Kalian bertiga masih tak dapat menandingi seorang bocah seperti dia. Pada Hari Tahun baru, lebih pula karena Boe Kouwnio tamu kami, menurut adat aku tak boleh mengunjuk kegusaran. Akan tetapi, aku tidak bisa berpeluk tangan, sebab perbuatanmu terlalu gila dan tiada berbeda dengan perbuatan manusia hina. Sekarang, sesudah saudara kecil ini memintakan ampun, kamu bangunlah.”

Dengan kemalu-maluan, Wie Pek bertiga lantas bangkit.

“Lepaskan semua anjing jahat itu!” bentak Coe Tiang Leng sambil menengok kepada tiga perawat anjing yang berdiri di satu sudut. Mereka mengiyakan dan buru-buru menjalankan perintah.

Melihat paras muka ayahnya yang menyeramkan dank arena tak tahu apa yang akan diperbuat oleh orang tua itu, nona Coe jadi lebih ketakutan. “Thia!” serunya dengan suara parau.

Sang ayah tertawa dingin. “Kau memelihara anjing-anjing jahat untuk mencelakai manusia,” katanya. “Baiklah, sekarang perintahkan anjing-anjingmu untuk menggigit aku.”

Si nona menangis, “Thia, anak sudah tahu kesalahan sendiri,” ratapnya.

Orang tua itu hanya mengeluarkan suara di hidung. Mendadak ia melompat ke gerombolan anjing itu sambil mengayunkan kedua tangannya. “Plaak…Plaak… Plaak…Plaak…” empat ekor anjing roboh dengan kepala remuk.

Semua orang terkesiap, mereka mengawasi dengan mulut ternganga.

Kaki tangan Coe Tiang Leng menyambar-nyambar dan badannya bergerak bagaikan kilat. Dalam sekejab mata, tiga puluh ekor anjing sudah rebah di lantai tanpa bernyawa lagi. Jangankan melawan, laripun mereka tak keburu lagi.

Wie Pek dan Boe Ceng Eng kaget bercampur kagum. Walaupun tahu, bahwa orang tua itu berkepandaian tinggi, mereka tak nyana kepandaiannya setinggi itu.

Sesudah melampiaskan kegusarannya, Coe Tiang Leng lalu mendukung Boe Kie yang dibawa ke kamarnya sendiri. Tak lama kemudian Coe Hujin (nyonya Coe) dan Kioe Tin datang menengok dengan membawa semangkok obat.

Sebagai akibat gigitan anjing karena mengeluarkan terlalu banyak darah. Biarpun lukanya sudah sembuh, badan Boe Kie sebenarnya masih sangat lemah. Maka itu, luka-luka hebat yang dideritanya sekarang sudah membuat ia pingsan berulang-ulang dan selama beberapa hari ia berada dalam keadaan pingsan. Berkat rawatan yang teliti, akhirnya ia tersadar. Begitu lekas sebagian tenaganya pulih, ia sendiri segera menulis surat obat dan menyerahkannya pada pelayan dan meminta supaya ia diberi obat menurut resep itu. Obat itu ternyata sangat mujarab dan kesehatannya kembali denga cepat sekali. Melihat kepandaian si bocah dalam ilmu pengobatan, penghargaan Coe Tiang Leng jadi lebih besar.

Sementara itu, Coe Kioe Tin kelihatannya sudah sadar akan kesalahannya dan untuk menebus dosa ia merawat Boe Kie seperti kakak merawat adik kandung sendiri. Selama dua puluh hari lebih, seringkali ia menemani si bocah di samping pembaringan sambil bercakap-cakap, meniup seruling, atau menyanyi.

Sesudah Boe Kie bisa berjalan, pergaulannya dengan si nona jadi makin akrab.

Menurut peraturan keluarga Coe, pagi2 belajar silat, sore belajar surat. Ilmu silat keluarga tersebut mempunyai sangkut paut yang sangan erat denga Soe hoat (seni menulis surat indah). Mungkin tinggal seorang memiliki Soe Hoat, makin tinggi pula ilmu silatnya.

Untuk mempelajari ilmu surat, Coe Kioe Tin mempunyai sebuat kamar tulis yang kecil, dengan hiasan idah. Ditembok sebelah timur tergantung selembar tulisan sajak, buah kalam penyair Touw Bok, sedang tembok sebelah utara diantara dua lukisan san soei (pemandangan alam) terdapat tulisan Si Hie tiap, karya Hway-so Hweeshio.

Setiap kali berlatih menulis huruf2 indah Kiao Tin selalu mengajak Boe Kie dan memberi petunjuk2. Dengan duduk berhadapan mereka belajar bersama sama. Kalau cape mereka berhenti menulis dan beromong omong sambil tertawa tawa.

Dalama latihan ilmu silatpun; keluarga Coe memperlakukan bocah itu sebagai seorang anggota keluarga. Coe Tiang Leng memperbolehkan Boe Kie turut serta dalam ruangan latihan dan tempo2 menyuruh anak itu berlatih bersama sama putrinya. Ilmu silat keluarga Coe dan silat yg dikenal Boe Kie agak berbeda. Akan tetapi, pada hakekatnya ilmu silat diseluruh dunia bersuber satu, maka sesudah memperhatikan beberapa kali, Boe Kie dapat mengikuti latihan tanpa banyak kesukaran. Toang Leng dan putrinya tidak berlaku pelit mereka mengajar si bocah dengan sungguh hati.

Semenjak meninggalkan pulau Peng Hwee To, Boe Kie selalu hidup dalam penderitaan. Baru sekarang ia dapat mencicipi penghidupan tenteram yang bahagia.

Tanpa merasa satu bulan setengah sudah lewat. Hati iut pada pertengahan Jie-gwee selagi Kioe Tin dan Boe Kie berlatih menulis huruf 2 indah tiba2 Siauw Hong masuk seraya berkata.

“Siocia, Yauw Jie-ya sudah kembali dari Tiong goan.” (Jie-ya Tuan kedua)

Si nona kegirangan. Sambil melempar pit, ia berteriak. “Bagus! Aku sudah menunggu setengah tahun lebih.” Ia menarik tangan Boe Kie mari kita menemui Yauw Jie-siok, aku tak tahu, apa ia membeli barang2 yang kupesan.” (Jie-siok Paman kedua).

Dengan berlari mereka pergi ke kota thia (ruangan tengah).

“Siapa Yauw Jie-siok?” tanya si bocah.

“Ia adalah saudara thia thia,” jawabnya “Namanya Yauw Ceng Coen, berglear Cian Lie Toei hong (Dalam seribu li mengejar angin). Tahun yang lalu ayah telah meminta padanya pergi ke Tiong goan untuk mengantarkan beberapa rupa barang. Aku memesan supaya ia membeli yan cie dan puput dari Hang cie, jarum sulam, benang dan gambar2 lukisa dari Souw cioe, pit bak, contoh2 huruf dan buku2. Aku tak tahu, apa ia perhatikan pesanku itu.”

Coe-kee-choeng (Perkumpulan keluarga Coe) terletak di See hek (Wilayah barat) dalam lingkungan gunung Koe Loen san. Alat2 kecantikan, buku2, perabot tulis dan sebagainya yang diperlukan oleh nona Coe tak bisa didapat dalam jarak ribuan lie. Tempat itu terpisah berlaksa lie dari daerah Tiong-goan sedang sekali pulang perlu memerlukan tempo dua tiga tahun. Maka itulah, saban ada orang yang mau pergi ke Tiong-goan, Coe Kioe Tin selalu memesan ini atau itu dalam jumlah yang besar.

Tapi begitu tiba diambang pintu, mereka terkejut karena mendengar suara tangisan. Dengan hati berdebar debar mereka bertindak masuk. Hati mereka mencelos sebab melihat Coe Tiang Leng sekang berlutut dilantai sambil berpelukan dan menangis dengan seorang lelaki kurus jangkung yang mengenakan pakai berkabung.

“Yauw Jie-siok!” teriak Kioe Tin seraya menubruk.

Sang ayah menyapu air matanya dan berkata dengan suara parau. “Ah Tin jie! Toa in jien (tuan penolong besar) kita Nyonya… Thio Ngo… ya… telah meninggal dunia!”

“Tapi… tapi bagaimana bisa begitu?” tanya si nona dnegan mata membalak. “Bukanlah, sesudah menghilang sepuluh tahun In kong (paduka penolong) sudah kembali?”

Lelaki setengah tua yang mengenakan pakaian berkabung itu Coan-lie Toei hong Yauw Ceng Coan menengok seraya berkata dengan suara terputus putus. “Kita yang berdiam ditempat jauh… sukar mendapat warta. Sesudah ku tiab di Tiong-goan baru kutahu, bahwa… bahwa Tio Iajin bersama Thio Hoejin sudah meninggal dunia pada kita2 empat tahun berselang dengan…. Dengan membunuh diri sendiri! Aku mendapat warta itu sebelum mendaki Boe tong san. Atku tidak percaya. Belakangan sudah tiba di boe tong san dan bertemu dengan Song Toa hiap Jie hiap barulah kutahu bahwa warta itu bukan cerita kosong… Hai!”

Betapa besar rasa kaget Boe Kie dapatlah dibayangkan. Sesudah mendengar keterangan itu ia tidak bersangsi lagi, bahwa yang dinamakan sebagai “Toa-injin Thio Ngoya” adalah ayahandanya sendiri, melihat kesedihan Coe Tiang Leng, Yau Ceng Coan dan Coe Kioe Tie, yang jg turut mengucurkan air mata hampir2 ia melompat menubruk dan memperkenalkan diri sendiri. Tapi ia segera mengurungkan niatannya sebab kuatir tidak dipercaya dan orang bahkan bisa menduga jelek atas dirinya.

Beberapa saat kemudian Coe Hoejin muncul dengan di papah oleh seorang budak dan sambil menangis ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yauw Ceng Coan. Karena sedang ditindih dengan kedukaan, Yauw Ceng Coen sampai lupa untuk menjalankan peradatan kepada gie-so nya (istri dari saudara angkat). Ia segera menuturkan cara bagimana Thio Coei San bersama istrinya telah binasa dengan membunuh diri.

Sambil seraya menggigit gigi, sebisa bisa Boe Kie menahan rasa sedihnya. Tapi biarpun begitu, ia tidak dapat mencegah mengucurnya air mata. Hanya karena semua orang bersedih hati mereka tidak memperhatikan tangisan si bocah.

Sekonyong-konyong tangan Coe Tiang Leng berkelebat dan …. “prak!”…. sebuah meja delapan persegi somplak. “Jie-tee!” katanya dengan suara keras. “Dengan tegas dan dengan jelas, aku minta kau memberitahukan namanya oran2 yg telah naik ke Boe tong dan endesak begitu rupa sehingga In Kong terpaksa membunuh diri.”

“Sesudah mendapat tahu tentang kebinasaan In Kong, sebenarnya aku harus buru2 pulang untuk memberi laporan kepada Taoko,” kata Yauw Ceng Coan”Tapi sebab ingin mengetahui nama musuh2 itu, maka aku lalu menyelidiki. Belakangan kudengar, bahwa disamping tiga pendeta suci dari Siauw Lim Pay, jumlah musuh bukan sedikit. Perlahan lahan aku mengumpulkan keterangan sehingga oleh karenanya aku pulang sangat terlambat.” Sesudah itu ia segera menyebutkan nama2 semua orang yg turut hadir dalam peristiwa berdarah di Boe tong san.

“Jie-tee,” kata Coe Tiang Leng dengan sudar duka, “Mereka itu adalah jago2 terutama dalam Rimba persilatan dan satupun tak akan dapat ditandingi oleh kita. Tapi budi Thio Ngoya berat seperti gunung, sehingga biarpun badan kita menjadi tepung, kita mesti jg coba membalas sakit hati Nyonya”.

“Tak salah apa yg dikatakan Taoko,” kata Yauw Ceng Coan. “Jiwa kita telah dihidupkan pula oleh Thio Ngoya dan sesudah itu kita bisa menyambung umur selama belasan tahun, adalah sepantasnya saja kalau sekaang kita membuang jiwa demi kepentingan Ngoya. Siauw-tee hanya merasa menyesal, bahwa siaw-tee tidak dapat mencari putera Ngoya. Alangkah baiknya jika kita berhasl mencarinya dan mengajak ia kesini supaya kita dapat merawatnya seumur hidup.”

Mendengar itu, Coe Hoejin segera minta penjelasan lebih lanjut mengenai putranya Coei San. Yauw Ceng Coan menyatakan, bahwa sebegitu jau diketahuinya, putera tuan penolong itu, telah mendapat luka berat dan pergi kesuatu tempat untuk berobat. Bahwa sepanjang keterangan anak itu batu berusia kira2 sembilan tahun dan bahwa Thio Sam Hong berniat untuk mengangkat dia sebagai Ciang boenjin Boe tong pay dibelakagn hari.

Coe Tiang Leng dan istrinya merasa sangat girang dan mereka segera berlutut untuk menghaturkan terima kaish kepada Langit dan bumi, atas belas kasihan yang sudah dilimpahkan kepada suami istri Thio Coei San, yang biar bagaimanapun jg, ternyata sudah mempunyai turunan.

“Taoko jinson yang usianya ribuan tahun benar, soat-lian dari gunung Thian san, emas hitam pisau dan lain2 barang yg di titipkan Toako sudah aku serahkan kepada Thio Kongcu,” kata pula Yauw Ceng Coan.

Sang kakak mengangguk dan berkata. “Kau benar, aku setuju dengan tindakanmu itu.”

“Tin jie,” kata Coe Tiang Leng berpaling kepada puterinya, “kau boleh menceritakan kepada saudara Thio, cara bagaimana keluarga kita telah ditolong oleh Thio Ngoya”.

Kioe Tin segera menuntun tangan Boe Kie dan mengajaknya pergi ke kamar ayahnya. “itlah dia!” kata si nona sambil menunjuk sebuah lukisan yang di gantung di tengah2 tembok. Di samping gambar itu terdapat tulisan yang berbunyi seperti berikut. “Gambar peringatan mengenai pertolongan yang diberikan oleh Tuan penolong Thio Coei San.”

Membaca nama mendiang ayahnya, air mata Boe Kie lantas saja berlinang linang.

Lukisan itu memperlihatkan sebidang lapangan rumput di pedusunan, dimana terdapat seorang pemuda gagah dnegan tangan kiri memegang gaetan perak dan tangan kanan bersenjata Poan koan-pit yang sedang pertempuran melawan lima musuh. Boe Kie lantas saja mengenali, bahwa pemuda itu adalah mendiang ayahnya sendiri. Diatas tanah tergeletak dua orang yang terluka berat, satu Coe Tiang Leng Mansatu lagi Yauw Ceng Coan. Didekat mereka terdapat dua orang lain yang sudah binasa. Disudut sebelah kiri kelihatan berdiir seorang wanit muda yg dengan paras muka ketakutan, sedang memeluk satu bayi perempuan. Wanita muda itu adalah Coe Heojin. Boe Kie mengawasi si bayi yang pada pojok mulutnya terdapat setitik tahi lalat dan lantas tahu, bahwa bayi itu bukan lain daripada Coe Kioe Tin sendiri. Kertas dari lukisan itu sudah kuning dan sudah usia sedikit belasan tahun.

Kioe Tin lantas saja menceritakan sejarah lukisan itu. Tak lama sesudah ia terlahir, ayahnya melarikan diri kedaerah sebelah barat untuk menyingkir dari seorang musuh yang sangat lihai. Tapi ditengah jalan, mereka dicandak oleh rombongan musuh. Dua orang adik seperguruan ayanya binasa dalam pertempuran, sedang orang tua itu sendiri dan Yauw Ceng Coan sudah roboh dengan luka berat. Pada detik2 yang sangat berbahaya, secara kebetulan Thio Coei San lewat disitu dan segera memberi pertolongan dengan memukul mundur musuh2 itu. Menurut perhitungan, kejadian itu telah terjadi pada waktu sebelum Coei San menghilang selama sepuluh tahun.

Sesudah selesai menutur, si nona berkata pula dengan paras muka berduka. “Karena berada di tempat jauh, warta tentang kembalinya Thio In Kong baru didapat kami pada tahun2 yang lalu. Sebab sudah bersumpah untuk tidak menginjak lagi wilayah Tionggoan, ayah terpaksa meminta san dengan membawa beberapa rupa barang antaran. Siapa nyana…” Bicara sampai disitu seorang kacung masuk dan memberitahukan; bahwa si nona harus segera pergi ke ruang sembahyang. Cepat cepat Kioe Tin menukar pakai putih dan bersama Boe Kie ia segera pergi ke ruang belakang, dimana sudah diatur sebuah meja sembahyang dengan lengpay yang tertulis seperti berikut. “Kedudukan roh yang angker dari Tuan Penolong Thio Thayhiap Coei San dan Thio Hoejin.” Begitu mereka masuk, Coe Tiang Leng bersama istrinya dan Yauw Ceng Coan sudah berlulut didepan meja sembahyang sambil menangis sedih dan merekapun lantas saja berlutut di belakang ketiga orang tua itu.

Sambil mengusap-usap kepala Boe Kie, Coe Tiang Leng berkata dengan suara terharu. “Saudara kecil, bagus… Thio Thayhiap adalah seorang kesatria, seorang laki2 jarang tandingan dalam dunia yg lebar ini. Walupun kau tidak mengenalnya, bukan sanak dan bukan kadang, tapi memang pantas sekali jika kau mengunjuk hormat kepadanya.”

Boe Kie menunduk, supaya orang tua itu tidak melihat matanya yang mengembang air. Ia merasa, bahwa sekarang ia lebih2 tidak dapat mengakui, bahwa ia adalah putera Thio Coei San, Yauw Ceng Coan mendapat keterangan yang tidak begitu tepat dan mengatakan bahwa ia baru berusia kira2 sembilan tahun. Jika ia membuka rahasianya sebagai putera Thio Coei San, merekapun belum tentu akan percaya.

“Toako,” kata Yauw Ceng Coan denga suara perlahan, “bagaimana dengan Cia-ya…?”

Coe Tiang Leng batuk2 dan meliriknya. Yauw Ceng Coan mengerti maksud kakaknya, ia mengangguk sedikit dan berkata pula, “Bagaimana dengan cia-gie? Apa Toako mau mengumumkan perkabungannya?”

“Kau putuskan saja sendiri.” Jawabnya.

Boe Kie jadi heran, “Tadi terang2 kudengar Cia-ya,” katanya dalam hati. “Mengapa sekarang jadi cia-gie? Apa Cia-ya dimaksudkan sebagai ayah angkatku?” (Cia ya bearti tuan Cia sedang cia-gie yalah pemberitahuan tentang perkabungan).

Malam itu Boe Kie tak bisa tidur. Di depan matanya kembali terbayang kejadian2 dimasa silam, pada waktu ia masih berada di pulau Peng hwee-to bersama kedua orangtuanya dan ayah angkatnya. Keesokan paginya, berbareng dengan suara tindakan, hidungnya mengendus bebauan harum dan sesaat kemudian, Coe Kioe Tin masuk dengan membawa paso air cuci muka.

Boe Kie terkejut. Ia melompat bangun seraya berkata. “Tin cie… mengapa… mengapa kau…”

“Semua pelayan dan budak sudah pergi,” jawabnya “Apa halangannya jika aku melayani kau sekali dua kali?”

Bukan main rasa herannya si bocah. “Tapi, mengapa…?” tanyanya.

“Sudah lama Thia-thia menyuruh mereka pergi,” kata si nona. “Setiap orang diberikan uang dan disuruh pulang, karena … karena rumah ini sangat berbahaya.” Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pua, ” Sesudah kau cuci muka ayang ingin bertemu dengamu.”

Dengan hati tak enak, buru2 Boe Kie mencuci muka dan sesudah itu, ia menyisir rambut dengan dibantu oleh si nona, yang kemudian mengajaknya pergi ke kamar buku Coe Tiang Leng. Dalam gedung itu terdapat seratus lebih pelayan dan budak, tapi sekarang, satupun tak kelihatan mata hidungnya.

Begitu lekas mereka masuk ke dalam kamar buku, Coe Tiang Leng segera berkata. “Saudara Thio aku menghargai kau sebagai seorang laki2 sejati dan sebenarnya aku ingin menahan engkau berdiam disini sampai sembilan atau sepuluh tahun. Tapi karena terjadinya satu perubahan luar biasa, maka kita terpaksa harus segera berpisah. Saudara Thio, kumohon kau tidak menjadi kecil hati.” Sambil mengangkat dulang yang berisi duabelas potong emas, duabelas potong perak dan sebliah pedang pendek, ia berkata pula, “Inilah sedikit tanda mata dari kamu bertiga suami-oistir dan anakku. Kamu harap saudara Thio suka menerimanya. Kalau loohoe masih bisa hidup terus, dibelakang hari kita akan bisa bertemu pula…” Karena terharu, ia tidak dapat meneruskan perkataannya.

Boe Kie mundur setindak dan seraya membungkuk, ia berkata dengan suara nyaring. “Coe pehpeh, biarpun masih kecil dan tak punya guna, siauwtit bukan manusia yang takut mati. Pada saat keluarga Coe Pehpeh menghadapi marabahaya; biar bagaimanapun jug siauwtit tak akan menyingkir seorang diri. Walaupun siauwtit tak bisa membantu Pehpeh dan Ciecie, tapi siauwtit ingin hidup atau mati bersama-sama kaliah.” Coe Tiang Leng coba membujuk berulang2, tapi si bocah tetap pada pendiriannya.

Akhirnya sesudah kewalahan, orang tua itu menghela napas seraya berkata. “Hai! Anak kecil memang tidak tahu bahaya. Sekarang aku terpaksa menceritakan persoalannya kepadamu. Tetapi kalu lebih dahulu harus bersumpah, bahwa kau tak akan membocorkan rahasia ini dan jg katu tidak akan mengajukan pertanyaan apapun jua.”

Boe Kie segera berlutu dan mengucapkan sumpahnya. “Langit menjadi saksi, bahwa aku tidak akan membocorkan atau mengajukan pertanyaan mengenai keterangan yang akan diberikan oleh Pehpeh. Jika aku melanggar janji ini biarlah aku binasa dengan badan dicincang laksaan golok, badanku hancur dan namaku busuk.”

Dengan terharu Coe Tiang Leng membangunkan Boe Kie. Ia melongok keluar jendela dan kemudian melompat ke atas genting untuk menyelidiki kalau2 ada musuh yang bersembunyi. Sesudah itu, barulah ia kembali ke kamar buku dan bicara bisik2. “Kau hanya boleh mendengar apa yang dikatakan olehku, tapi tidak boleh mengajukan pertanyaan, sebab tembok ada kupingnya.”

Boe Kie mengangguk.

“Kemarin Yauw Jie-tee pulang dengan membawa seorang lain,” bisik orangtua itu. “Orang itu she Cia bernama Soen, bergelar Kim-mo Say ong…”

Boe Kie terkesiap, badannya bergemetaran.

“Cia tayhiap intu adalah saudara angkat Thio In-kong,” Coe Tiang Leng melanjutkan penuturannya. “Ia bermusuhan hebat dengan banyak partai dan tokoh rimba persilatan. Bahwa Tho Inkong suami-istri sampai membunuh diri adalah karena tidak mau memberitahukan dimana tempat bersembunyinya saudara angkat itu. Aku sendiri tak tahu, cara bagaimana Cia thayhiap akhirnya bisa pulang ke Tionggoan dan begitu kembali, ia segera mengamuk dan membinasakan banyak orang untuk membalas sakit hatinya Thio Inkong. Tapi biar bagaimanapun gagah pun jua; satu orang tak akan bisa melawan musuh yang berjumlah besar, sehingga akhirnya ia mendapat luka berat.”

“Yauw Jie-tee adalah seorang yang pintar dan berhati2. Ia berhasil menolong Cia Thayhiap dan membawanya kemari. Rombongan musuh terus mengejar dan menurut dugaan, tak lama lagi mereka akan datang kesini. Kami sudah pasti tak akan bisa melawan mereka. Tapi aku sudah mengambil keputusan untuk membalas budi dan bersedia untuk binasa dalam melindungi Cia Tayhiap. Tapi kau sendiri tak punya sangkut paut dengan urusan ini. Maka dari itu, perlu apa kau turut membuang jiwa? Saudara Thio hanya ini saja yang dapat kukatakan. Sekarang masih ada tempo, kau pergilah lekas2! Begitu lekas rombongan musuh tiba, batu giok akan hancur dan kau tak akan keburu menyingkir lagi.”

Boe Kie mendengar itu dengan jantung memukul keras. Ia kaget bercampur girang. Mimpi pun ia tak pernah mimpi, bahwa ayah angkatnya bisa datang disitu. Tanpa merasa ia berkata. ‘Dimana…”

Coe Tiang Leng memekap mulutnya seraya berbisik. “Sit! Musuh lihay luar biasa. Sedikit saja tidak hati2, jiwa Cia Tayhiap bisa melayang. Apa kau lupa sumpahmu?”

Si bocah manggutkan kepalanya.

“Saudara Thio,” kata pula orang tua itu, “aku sudah bicara seterang2nya. Aku menganggap kau sebagai sahabat dan aku telah membuka rahasia hatiku. Sekarang, kau berangkatlah.”

“Sesudah mendengar penuturan Coe pehpeh aku lebih2 tak akan menyingkirkan diri,” kata si bocah dengan suara tetap.

Coe Tiang Leng menghela napas,” Ayolah! Kita harus bertindak sekarang jg,” katanya Ia segera bertindak keluar pintu dengan di ikuti oleh Kioe Tin dan Boe Kie.

Coe Hoejin dan Yauw nCeng Coan sudah diluar pintu dan disamping mereka terdapat beberapa bulatan besar, seperti orang mau merantau ke tempat jauh. Boe Kie menengok kesana sini tapi ita tak melihat ayah angkatnya.

Coe Tiang Leng segera mengeluarkan bahan api dan menyalakan obor yang lalu digunakan untuk menyulut pintu tengah. Dalam sekejap, api merembet keatas. Ternyata gedung yang besar itu sudah di siram dengan minyak tanah.

Semenjak dahulu diwilayah See-hek, di daerah pegunungan Thuansan dan Koen Loen, terdapat sumber sumber minyak tanah yang sering mengalir keluar bagian air mancur. Perkampungan Coe kee chung hampir satu li panjangnya yang terdiri dari rumah rumah besar. Tapi denga n menggunakan minyak, dalam sekejap mata, seluruh perkampungan sudah berubah menjadi lautan api. Boe Kie mengawasi berkobarnya api dengan perasaan terharu. “Harta yang dikumpulkan Coe Pehpeh dengan susah payah selama bertahun-tahun dalam sekejap menjadi tumpukan puing,” katanya didalam hati. “Dan itu semua demi kepentingan ayah angkat. Laki laki gagah seperti Coe pehpeh sungguh sukar dicari tandingannya didalam dunia.”

Malam itu Coe Tiang Leng dan istrinya, Koe Tin dan Boe Kie mengindap didalam sebuah gua. Dengan senjata terhunus, lima orang murid yang dipercaya menjaga diluar gua, dbawah pimpinan Yauw Ceng Coan, pada hari ketiga, api kebakaran baru menjadi padam. Untung juga musuh belum tiba. Malam itu, Coe Tiang Leng mengajak semua orang meninggalkan gua dan masuk kedalam sebuah terowongan dibawah tanah yang sangat panjang. Sesudah berjalan beberapa lama, mereka bertemu dengan beberapa kamar batu dimana terdapat makanan, air dan sebaginya. Tapi hawa disitu sangat panas.

Melihat Boe Kie menyusut keringat tak henti hentinya, Kioe Tin tertawa dan bertanya. “Adik Boe Kie, adalah kau tahu, mengapa hawa disini terlalu panas? Dapatkah kau menebak, di mana berada kita sekarang?”

Tiba2 bocah mengendus bau asap dan ia lantas saja tersadar, “ Ah!” katanya. “Kita berada dibawah Coe-kee-chung”.

“Kau sungguh pintar,” memuji si nona sambil tertawa.

Boe Kie merasa sangat kagum. Dengan siasat bumi hangus, musuh pasti tidak akan menduga bahwa Cia Soen sebenaranya bersembunyi dibawah tempat kebakaran dan mereka tentu akan mengubar ketempat lain.
Diantara kamar2 batu itu ada sebuah yang pintunya – pintu besi – ditutup rapat. Boe Kie menduga, bahwa ayah angkatnya berada dalam kamar tersebut, tapi, biarpun sangat ingin bertemu dengan orang tua itu, ia tidak berani menanyakan atau bertindak sembarangan. Ia mengerti, bahwa setiap tindakan yang ceroboh dapat berakibat hebat.

Setelah berdiam disitu kira kira setengah hari, hawa panas perlahan lahan mulai mereda. Baru saja Coe Tiang Leng dan yang lain2 menggelar selimut untuk mengaso, sekonyong konyong terdengar suara tindakan kuda mendatangi dari sebelah kejauhan. Tak lama kemudian, kuda kuda itu sudah berada diatas tempat persembunyian mereka.

“Api sudah padam lama, bangsat Coe Tiang Leng pasti sudah kabur ketempat lain dengan membawa Cia Soen,” demikian terdengar suara seorang. “Ayolah, ubar!” Sesaat kemudian, terdengar suara kaki kuda yang makin lama jadi makin jauh. Ternyata, terowongan tersebut dan Coe kee-ching dihubungkan dengan sebatang pipa besi, sehingga setiap suara dimuka bumi bisa didengar jelas dalam lorong dibawah tanah.

Pada malam itu, lima rombongan musuh lewat diataas – rombongan Koen loen-pay, kie-keng pang dan dua rombongan terdiri dari tujuh delapan sampai belasan orang dan mereka semua mencari Cia Soen dengan menggunakan perkataan perkataan yang hebat2.

“Kalau Giehoe belum buta dan tidak terluka bangsat cecurut itu tidak dipandang sebelah mata olehnya,” kata Boe-Kie didalam hati.

Sesudah kelima rombongan itu lewat, Yauw Ceng Coau segara menyumbat lubang pipa dengan sepotong kayu, supaya suara dalam terowongan tidak sampai terdengar diatas. Sesudah itu, ia berkata dengan suara perlahan. “Aku ingin menengok Cia Tay-hiap.”

Coe Tiang Leng mengangguk dan Yauw Ceng Coan segera memutar alat rahasia dipinggir pintu besi yang perlahan lahan lantas terbuka. Dengan membawa lampu minyak tanah, Ia masuk kedalam kamar itu.

Sesaat itu, Boe Kie tidak dapat menahan sabar lagi, ia berbangkit, menghampiri pintu dan mengawasi ke dalam. Ia melihat seorang laki2 yang bertubuh tinggi besar sedang tidur meringkuk dan muka menghadap kedalam. Air mata si bocah lantas saja berlinang linang.

“Cia Tayhiap,” bisik Yauw Ceng Coan, apa kau merasa enakan? Mau minum?”

Mendadak angin menyambar dan lampu padam. Hampir berbareng terdengar suara “buk!” tubuh Yauw Ceng Coan terpental keluar dan jatuh dilantai.

“Manusia2 dari Siauw Lim pay, Koen loen pay, Khong tong pay!” demikian terdengar Cia Soan. “Mari! Mari! Apa kamu kira Kim-mo Say-eng Cie Soen takut kepadamu?”

“Celaka!” seru Coe Tiang Leng. “Cit Tayhiap kapal” Ia mendekati seraya berakata. “Cia Tay hiap, kami adalah sahabat2, bukan musuh”.

Cia Soen tertawa terbahak bahak, “Sahabat2?” ia menegas. “Apa kau mau menipu aku dnegan omongan manis2?” Ia berjalan keluar dengan tindakan lebar dan sekonyong2 menghantam dada Coe Tiang Leng telapak tangannya. Pukulan itu disertai lweekang hebat luar biasa, sehingga lampu minyak tanah yang ditaruh ditengah2 terowongan berkedip2.

Coe Tiang Leng tidak menangkis ia mengegoa dan melompat mundur. Setelah pukulannya melesat, Cia Soen melompat dan meninju Coe Hoejiu. Nyonya itu tidak mengerti ilmu silat, hingga, kalau kena, jiwa pasti melayang. Pada saat yang sangat berbahaya, Coe Tiang Leng dan putrinya melompat dan menangkis pukulan itu.

Melihat kejadian yang tidak diduga duga, Boe Kie berdiri terpaku dan mengawasi denagn mata membelalak.

Sementara itu, sambil menggeram bagaikan binatang terluka, Cia Soen menyerang dengan kedua tanganya, tapi Coe Tiang Leng tidak berani balas menyerang dan hanya berusaha untuk menyelamatkan diri dengan berkelit kesana sini. Satu waktu, karena egosan Coe Tiang Leng, pukulan Kim-mo Say ong, menghantam dinding terowongan yang dibuat daripada batu. Begitu kena, batu besar itu hancur dan muncrat berhamburan. Semua orang terkesiap mereka tak duga Cia Soen memiliki lweekang yg begitu dahsyat. Kalau pukulan itu mampir di tubuh manusia, biarpun tidak mati, orang itu pasti terluka berat.

Dengan rambut terurai, sinar mata berkilat kilat dan muka berlepotan darah, Cia Soen terus menyerang seperti harimau edan dan mulutnya mengeluarkan suara ha-ha ho-ho yang membangunkan bulu roma. Makin lama ia mengamuk makin hebat, sehingga semua orang merasa sangat berkuatir, sedang Coe Hoejin sendiri berdiri di satu sudut dengan dilindungin oleh putrinya.

Satu ketika, karena terdesak, Coe Tiang Leng mendorong sebuah meja untuk menahan terjangan si kalap. Bagaikan kilat Cia Soen menghantam dengan kedua tinjunya. “Prak!” meja itu hancur luluh.

Boe Kie bingung bukan main. Ia berdiri dipinggir dinding dan mengawasi kejadian itu dengan mulut ternganga. Ia kaget tercampur heran karena orang itu ternyata bukan ayah angkatnya, Kim-mo San-ong Cia Soen. Kedua mata ayah angkatnya buta, tapi orang itu tidak kurang suatu apa.

Sekonyong-konyong, ketika Coe Tiang Leng berdiri membelakangi dinding, si kalab menghanta. Ia tidak bisa berkelit lagi, tapi ia tetap tidak mau menangkis. “Cia Tayhiap!” teriaknya. “Aku bukan musuh, aku tak akan membalas seranganmu.”

Orang itu tidak menghiraukan telapak tangannya terus menyambar ke dada Coe Tiang Leng “Buk!”, badan Coe Tiang Leng bergoyang2 dan paras mukanya berubah pucat. “Cia Tayhiap apa sekarang kau sudah percaya?” tanyanya.

“Anjing! Sambut pukulanku!” caci si kalap.

Ia meninju, “Uah!” Coe Tiang Leng muntahan darah. “Kau adalah gie heng (saudara angkat) dari Thio Inkong,” katanya dengan suara parau. “Biarpun mati, aku tak akan balas menyerang.”

Orang itu tertawa terbahak2, “Bagus!… bagus!” teriaknya bagaikan orang gila. “Kau tidak membalas artinya ajalmu sudah sampai.” Suaranya berkata begitu kedua tangannya menyambar2 dan mengenakan dada serta perut Coe Tiang Leng. Sesaat kemudian, sambil mengeluarkan teriakan menyayat hati Coe Tiang Leng roboh terkulai. Tapi si kalap masih belum puas. Ia menubruk sambil mengayun tinjunya.

Pada detik yang sangat berbahaya, Boe Kie melompat dan dengan mati2 an menangkis pukulan itu. Begitu lengannya kebentrok dengan tinju si kalap, ia merasa dadanya menyesak. Tapi, tanpa mempedulikan bencana, ia menudin dan berteriak. “Kau! … kau bukan Cia Soen! … kau bukan…”

Orang itu gusar. “Tahu apa kau, setan kecil?” bentaknya sambil menendang. Boe Kie mengegos dan berteriak pula. “Kau bukan Cia Soen! … kau menyamar sebagai Cia Soen.”

Mendengar teriakan Boe Kie, perlahan2 Cie Tiang Leng merangkak bagus. “Kau… kau bukan Cia Soen?” serunya dengan suara parau. “Kau menipu aku?. Tiba2 badannya bergoyang2 “Uah!” mulutnya menyemburkan darah yang secara kebetulan menyambar tepat pada muka orang itu. Hampir berbaring, tubuhnya jatuh ngusruk kedepan dan dengan menggunakan kesempatan itu, dialah dan tangannya bergerak dan jerijinya menotolk Sin hong hi at, dibawah tetek si kalap.

Sesudah terluka berat. Coe Tiang Leng bukan tandingannya orang itu. Tapi ia berhasil menolohg jalan darah si kalap karena totokan it yang cie itu dikirim secara diluar dugaan.

Dalam bidang ilmu totok, It yang cie tiada keduanya. Biarpun berkepandaian tinggi, orang itu tidak berdaya lagi. Sambil menggeram, ia terguling Coe Tiang Leng segera mengirim dua totokan susulan, tapi sesudah itu, ia sendiri roboh tanpa ingat orang lagi. Coe Kioe Tin dan Boe Kie buru2 mendekati dan mengangkat tubuh orang tua itu.

Selang beberapa saat, perlahan-lahan Coe Tiang Leng tersadar. Ia mengawasi Boe Kie dan berkata dengan suara terputus-putus. “Apa… apa benar… dia… dia bukan Cia Soan?”

“Coe Pehpeh, sekarang aku mesti berterus terang,” kata si bocah. “Orang yang dinamakan Inkong olehmu adalah ayahku sendiri, sedang Kim-mo Say-ong Cia Soen adalah ayah angkatku. Tidak! Aku tidak bisa salah mengenali.”

Coe Tiang Leng menggeleng-geleng kepalanya.

“Kedua mata Giehoe buta, tapi mata orang itu melek,” menerangkan Boe Kie. “Mata Gie hoe buta sebelum mendarat Peng hwee to jadi kejadian itu tidak diketahui oleh siapapun dua. Orang itu menyamar sebagai Giehu, tapi ia tak tahu kenyataan tersebut.”

Cie Kie Tin menarik tangannya. “Adik Boe Kie apa benar kau puteranya tuan penolong kami?” tanyanya dengan suara terharu. “Bagus! Sungguh bagus!”

Tapi orang tua itu masih tetap tidak percaya.

Karena terpaksa, Boe Kie segera menceritakan mengapa ia sampai datang digunung Koen Loen. Yauw Ceng Coan menanyakan hal ilhwal kejadian di Boe tong yang berbuntut dengan kebinasaan kedua orang tuanya dan pertanyaan2 itu telah dijawab dengan ringkas dan terang oleh Boe Kie.

Semua orang, kecuali Coe Tiang Leng, tidak bersangsi lagi. Hanya orang tua itu yang masih menggoyang-goyangkan kepalanya dan mengawasi muka si bocah dengan sorot mata pertanyaan. “Kalau dia berdusta, kita akan berdosa terhadap Cia tayhiap,” katanya dengan suara perlahan.

Tiba2 Yauw Ceng Coan mencabut pisau belatinya dan sambil menuding mata kanan orang itu, ia membentak, “Sahabat! Kim mo Say ong Cia Soan buta kedua matanya. Kalu kau mau menyamar sebagai dia, penyamaran itu harus mirip betul. Biarlah hari ini aku tolong membutakan kedua matamu. Sahabat! Aku, si orang she Yauw, telah ditipu olehmu. Kalau saudara kecil itu tidak berada disini, bukankah secara tolol Coe Taoko akan mengantarkan jiwa?” sehabis berkata begitu, ia menggerakkan tangannya, sehingga ujung pisau hampir menempel dengan mata si penipu.

Orang itu tertawa terbahak2. “Jika kau mempunyai nyali, bunuhlah aku,” tantangnya. “Apa kau kira Kay pay-chioe Ouw Pa manusia pengecut?” (Kay pay chioe si tangan yg bisa membelah tugu butu.

“Oh!” kata Coe Tiang Leng dengan suara kaget. “Kay-pay chiu Ouw Pa! Hm!…Kalau begitu kau anggota Khong tong-pay.”

“Benar!” teriak Ouw Pa. “Semua partai dalam dunia persilatan sudah tahu, bahwa Coe Tiang Leng mau membalas sakit hatinya Thio Coei San. Siapa yang turun tangan lebih dulu, dia yang menang.”

“Kau sungguh jahat!” bentak Yauw Ceng Coan. Ia mengangkat pisaunya dan lalu menikam ulu hati orang itu.

“Jie-tee, tahan!” cegah Coe Tiang Leng seraya mencekal tangan adiknya. “Kalau dia benar Cia Tayhiap, biarpun mati kita berdua masih tidak dapat menebus dosa.”

“Bukankah saudara kecil ini sudah memberi keterangan yang cukup jelas?” kata Yauw Ceng Coan, “Toako, jika kau terus ragu, kita tak akan bisa menghindar lagi dari bencana besar.”

Tapi sang kakak menggelengkan kepalanya. “Aku lebih suka mati dicincang ribuan golok daripada mengganggu selembar rambut saudara angkatnya Thio In Kong,” katanya.

“Coe Pehpeh, orang itu sudah pasti bukan ayah angkatku,” kata Boe Kie. “Sebagai seorang yang bergelar Kim-mo Say-ong (Raja singa bulu emas), rambut Giehoe berwarna kuning. Tapi orang itu berambut hitam.”

Sesudah berpikir beberapa saat, Coe Tiang Leng manggutkan kepalanya. Ia menuntun tangan Boe Kie seraya berkata, “Saudara kecil, ikut aku.” Mereka keluar dari kamar batu, keluar dari terowongan dan kemudian pergi ke bawah sebuah tebing, di belakang tanjakan. Dengan duduk di samping Boe Kie di atas sebuah batu besar, Coe Tiang Leng berkata, “Saudara kecil, kalau orang itu bukan Cia Tayhiap, kita mesti segera membinasakan dia. Tapi sebelum turun tangan, perasaan raguku harus dihilangkan lebih dulu. Bagaimana pendapatmu? Apakah pendirianku benar atau salah.”

“Sikap itu adalah karena Coe Pehpeh menghormati ayah dan Giehoe,” kata Boe Kie. “Tapi orang itu sudah pasti bukan Giehoe. Coe Pehpeh, kau boleh tidak ragu lagi.”

Orang tua itu menghela napas. “Naik,” katanya, “Di waktu masih muda, aku seringkali diperdayai orang. Hari ini aku tidak mau balas menyerang sehingga aku mendapat luka berat. Hal itu terjadi sebab aku salah menilai orang. Salah boleh sekali, tetapi tidak boleh sampai dua kali. Urusan ini adalah urusan besar. Soal mati atau hidupku tak menjadi soal. Biar bagaimanapun juga, aku harus melindungi keselamatanmu dan keselamatan Cia Tayhiap, supaya hatiku lega. Akan tetapi, aku tak berani membuka mulut.”

Bukan main terharunya Boe Kie. “Coe Pehpeh, demi kepentingan ayah dan Giehoe, kau sudah membakar rumah dan harta benda sendiri,” katanya. “Bukan saja begitu, tapi Coe Pehpeh sendiripun sampai mendapat luka berat. Apakah aku masih harus meragukan kejujuranmu. Mengenai keadaan Giehoe, biarpun Pehpeh tak menanyakan aku sendiri memang ingin memberitahukan bagaimana kedua orang tuaku bersama Cia Soen telah diombang-ambingkan ombak sehingga mendarat di pulau Peng hwee-to, bagaimana mereka berdiam di pulau itu selama sepuluh tahun dan bagaimana kedua orang tuaku dan Cia Soen mengangkat saudara. Tentu saja sebagian kejadian itu tidak dialami olehku sendiri dan aku mendengarnya dari kedua orang tuaku.”

Coe Tiang Leng adalah seorang yang berpengalaman dan berhati-hati. Ia tidak mudah percaya cerita orang. Tapi sesudah mendengar penuturan Boe Kie, ia tidak ragu lagi. Sesudah membuang napas lega, ia mendongak dan berkata dengan suara bersyukur, “Inkong! Inkong! Sebagai roh yang angker, kau tentu mengetahui semua perasaanku. Selama aku, Coe Tiang Leng, masih hidup, aku pasti akan memelihara dan mendidik saudara Boe Kie sampai menjadi orang. Tapi musuh terlalu banyak. Maka itu, aku mohon Inkong melindungi.” Setelah berkata begitu, ia berlutut dan manggutkan kepala berulang-ulang. Bukan main sedihnya Boe Kie, ia bersedih dan berterima kasih dan segera berlutut di samping orang tua itu.

Sesudah bangkit, Coe Tiang Leng berkata,” Sekarang aku tak ragu lagi. Hai! Koen loen pay!…Siauw lim pay!…semua berjumlah besar. Saudara kecil, sebenarnya aku ingin mempertaruhkan jiwaku untuk memberikan perlawanan guna membinasakan musuh-musuh itu untuk membalas budinya Inkong. Tapi sekarang keadaan berubah. Menurut pendapatku, tugas untuk memelihara anak yatim piatu adalah lebih penting daripada membalas sakit hati. Hal yang sekarang dipikirkan olehku adalah mencari tempat untuk menyembunyikan diri. Tempat ini sudah cukup jauh dari dunia pergaulan tapi musuh-musuh kita masih bisa datang sampai ke sini. Di mana…di manakah kita bisa mencari tempat yang lebih aman?” Ia diam sejenak dan kemudian berkata pula, “Cia Tayhiap berdiam seorang diri di pulau Peng hwee-to. Selama beberapa tahun ia tentu merasa sangat kesepian. Hai! Cia Tayhiap begitu menyintai Inkong. Aku hanya berharap, bahwa suatu waktu aku akan bisa bertemu muka dengan dia. Kalau harapan ini bisa terwujud biarpun mati, aku akan mati dengan rela.”

Boe Kie, jadi lebih berduka. Tiba-tiba dalam otaknya terlintas ingatan dan ia segera berkata, “Coe Pehpeh, apakah tidak baik kita beramai-ramai pergi ke Peng hwee-to? Selama di pulau itu, aku hidup bahagia. Tapi begitu pulang ke Tiong-goan, semua lantas saja berubah. Apa yang disaksikan dan dialami olehku adalah pembunuhan-pembunuhan dan peristiwa-peristiwa berdarah.”

Coe Tiang Leng menatap wajah si bocah. “Saudara kecil, apa benar kau ingin kembali ke Peng hwee-to?” tanyanya.

Ditanya begitu Boe Kie tidak segera menjawab, karena tiba-tiba saja ia ragu. Ia ingat bahwa ia bakal mati dalam waktu yang tak terlalu lama. Ia ingat pula, bahwa perjalanan ke Peng hwee-to penuh bahaya sehingga belum tentu mereka bisa mencapai jarak tersebut. “Tidak pantas aku menyeret-nyeret seluruh keluarga Coe Pehpeh ke jalanan yang penuh bahaya,” pikirnya.

Melihat keraguan itu, Coe Tiang Leng segera saja berkata seraya mengusap-usap kepala Boe Kie, “Saudara kecil, kau dan aku bukan orang luar. Kau harus memberitahukan apa yang dipikir olehmu sejujur-jujurnya. Apakah kau berniat kembali ke Peng hwee-to?” Ia berkata begitu dengan suara sungguh-sungguh, dengan nada memohon.

Karena pengalaman pahit getir, di dalam hatinya, Boe Kie sudah merasa sangat sebal untuk berkelana lebih lama dalam dunia Kang-ouw yang kejam dan berbahaya. Kalau sebelum mati ia bisa bertemu muka lagi dengan ayah angkatnya, kalau ia bisa mati dalam pelukan Giehoe itu, ia sungguh merasa sangat beruntung. Berpikir begitu, perlahan-lahan ia manggutkan kepalanya.

Coe Tiang Leng tidak bicara lagi dan dengan menuntun tangan si bocah, ia kembali ke kamar batu. Begitu bertemu dengan Yauw Ceng Coan, ia berkata, “Sekarang tidak usah diragukan lagi bahwa orang itu manusia jahat.”

Yauw Ceng Coan mengangguk dan dengan memegang pisau, ia segera masuk ke dalam kamar rahasia.

Sesaat kemudian, dalam kamar terdengar teriakan yang menyayat hati dan waktu Yauw Ceng Coan keluar lagi, pisau yang dipegangnya berlumuran darah.

“Tempat persembunyian kita ini sudah diketahui musuh dan kita tak dapat tinggal lebih lama lagi,” kata Coe Tiang Leng. Semua orang segera meninggalkan terowongan dan sesudah berjalan duapuluh li lebih, sesudah melewati dua puncak gunung, tibalah mereka di sebuah lembah. Sesudah berjalan lagi beberapa lama, mereka bertemu sebuah pohon kwi yang sangat besar dan di bawah pohon berdiri empat lima rumah kecil.

Waktu itu fajar sudah mulai menyingsing. Semua orang lantas saja masuk ke dalam sebuah rumah di mana terdapat cangkul, luku golok dan alat-alat pertanian lain. Di samping itu, di dalam rumah tersebut juga terdapat dapur dengan perabot masak yang serba lengkap serta bahan makanan yang tidak sedikit. Boe Kie segera mengerti, bahwa untuk menjaga kedatangan musuh-musuhnya Coe Tiang Leng sudah membuat dan melengkapi rumah itu, sebagai persiapan kalau-kalau ia perlu menyingkirkan diri.

Begitu tiba, orang tua itu yang mendapat luka berat segera rebah di ranjang untuk mengaso, sedang Coe Hoe Jin mengeluarkan pakaian sepatu dan ikat kepala petani dari dalam peti pakaian lalu membagikannya kepada semua orang. Dalam sekejap anggota-anggota keluarga yang kaya raya itu sudah mengenakan pakaian petani yang kasar.

Setelah berdiam beberapa hari berkat obat turunan yang sangat mujarab, kesehatan Coe Tiang Leng mendapat kemajuan yang sangat pesat. Untung musuh tidak mengejar sampai di situ, sehingga mereka bisa hidup dengan tenteram. Mereka mempersiapkan barang-barang untuk melakukan perjalanan jauh. Boe Kie mengerti bahwa persiapan itu adalah untuk pergi ke pulau Peng hwee-to guna membalas budi.

Malam itu ia tak bisa tidur, pikirannya melamun, membayangkan hal-hal yang akan terjadi di pulau itu nanti. Ia akan bisa berkumpul dengan Coe Kiu Tin, Coe Pehpeh, Yauw Jie Siok dan ayah angkatnya dengan kehidupan yang bahagia, tanpa penindasan dari penjajah Goan.

Mengingat itu semua, hatinya jadi gembira. Sampai tengah malam, ia masih bolak-balik di atas pembaringan. Tiba-tiba ia mencium bau wangi dan satu bayangan manusia kelihatan berkelabat, ternyata bayangan itu adalah Coe Kiu Tin, mendadak wajah Boe Kie berubah merah.

Perlahan-lahan si nona mendekati pembaringan dan berbisik, “Adik Boe Kie, apa kau sudah tidur?”

Sesaat kemudian ia merasa mukanya diraba-raba oleh si nona yang rupanya mau menyelidiki apa ia benar-benar sudah tidur.

Boe Kie kaget bercampur girang, malu bercampur takut, tapi ia tetap pejamkan mata dan berpura-pura tidur, dan mengharap supaya Kiu Tin buru-buru keluar. Semenjak baru bertemu, ia memuja si nona bagaikan seorang Dewi, ia sudah merasa beruntung kalau setiap hari bisa bertemu dengan gadis cantik itu. Dalam jiwanya yang masih bersih, pemujaan itu bebas dari segala pikiran yang bukan-bukan. Ia bahkan tidak pernah membayangkan atau memikirkan untuk mengambil nona Coe sebagai istrinya. Maka itulah, kedatangan Kiu Tin ditengah malam buta sangat membingungkan hatinya.

“Apakah Tin-jie ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting denganku?” tanyanya dalam hati. Baru saja berpikir begitu, mendadak ia merasa dadanya kesemutan karena di bagian Tiat tiong hiat telah ditotok. Hampir berbarengan, jalan darah yang lain pada Kian tin, Sin cong, Kie tie serta Hoan tiauw hiat juga tertotok.

Itu kejadian yang sungguh diluar dugaan! Siapa sangka si nona menyatroni untuk menotok jalan darahnya? Tapi dilain saat, ia mendapat satu ingatan lain. “Aha! Tin-jie tentu ingin menjajal kewaspadaan diwaktu tidur,” pikirnya. “Besok, waktu akan membuka jalan darahku, ia tentu mentertawai aku. Hmm, kalau aku tahu begitu, tentu melompat bangun untuk mengagetkannya.”

Dilain pihak, sesudah menotok jalan darah Boe Kie, perlahan-lahan Kiu Tin membuka jendela dan melompat ke atas genteng.

“Paling baik aku membuka jalan darahku dan menakut-nakuti dnegan menyamar sebagai setan,” pikir Boe Kie. Seraya tertawa geli, ia segera mengerahkan Lweekang dan coba membuka jalan darah yang tertotok dengan menggunakan ilmunya Cia Soen. Tapi totokan si nona adalah totokan It-yang-cie yang sangat hebat dan sesudah berdeging kira-kira setengah jam, barulah ia berhasil membuka jalan darahnya.

Berhasilnya Boe Kie adalah karena pertama Lweekang nona Coe masih sangat rendah dan kedua, Kiu Tin memang hanya ingin menotok perlahan sebab sungkan melukai si bocah. Kalau totokan It-yang-cie diberikan seorang ahli berkepandaian tinggi, biarpun Boe Kie sepuluh kali lipat lebih hebat, ia tak akan dapat membuka jalan darahnya.

Begitu terbebas, cepat-cepat Boe Kie memakai pakaian luar dan melompat ke atas genting dari jendela. Sambil berlari-lari ia menyusul ke arah jalanan yang tadi diambil oleh si nona. Tapi apa yang ditemukan hanya gunung kosong yang sunyi senyap, dengan pohon-pohon yang kadang-kadang mengeluarkan suara kresekan karena ditiup angin.

Sesudah mengejar beberapa lama dengan rasa kecewa, ia menghentikan langkahnya. Tapi dilain saat ia berpikir lain, “Perlu apa aku membalas. Sekarang Tin-jie sangat menyayangi aku, tapi kalau malam ini aku membalasnya, mungkin sekali ia akan berbalik membenci aku.” Berpikir begitu, hatinya jadi tenang kembali.

Waktu itu adalah permulaan musim semi. Bunga di lembah itu sudah mulai mekar dan menyiarkan bebauan yang sangat harum. Kesunyian malam dan pemandangan di sekitar gunung itu mendatangkan banyak kenangan dari masa lampau. Karena memang tak bisa tidur, Boe Kie tidak segera kembali, perlahan-lahan ia berjalan di sepanjang pinggiran sebuah selokan. Salju di tanjakan sudah mulai melumut dan air yang mengalir di selokan bercampur kepingan-kepingan es.

Sesudah berjalan beberapa lama, sekonyong-konyong di dalam hutan sebelah kiri terdengar suara tawa seorang wanita. Boe Kie terkesiap sebab suara itu adalah suara Kiu Tin.

“Apakah Tin-jie sudah melihat aku?” tanyanya dalam hati.

Tiba-tiba terdengar bentakan si nona. “Piauw ko, jangan rewel kau! Apa kau minta dihajar?” bentakan itu disusul dengan tawa seorang lelaki yang bukan lain adalah Wie Pek.

Boe Kie terkejut, jantungnya memukul keras dan kepalanya seperti diguyur dengan air es. Sekarang ia mengerti. Ia mengerti, bahwa Kiu Tin menotok jalan darahnya bukan untuk bercanda, tapi untuk mencegah terbukanya rahasia pertemuan itu. Ia menghela napas dan berkata dalam hatinya. “Ya! Aku mesti tahu diri. Aku tak lebih dan tak kurang daripada seorang bocah miskin yang tak punya tempat berteduh. Baik dalam ilmu silat, aku berada jauh di bawah Wie Siang Kong. Di samping itu mereka adalah saudara sepupu dan merupakan pasangan yang cocok, yang satu cantik yang satu tampan.” Mengingat begitu, hatinya menjadi lebih tenteram dan sambil menghela napas, ia segera bertindak untuk berlalu.

Mendadak, di sebelah belakang terdengar suara langkah kaki. Hampir berbarengan dengan bergandengan tangan, Wie Pek dan Kiu Tin muncul dari dalam hutan. Karena sungkan bertemu dengan dia, buru-buru Boe Kie bersembunyi di belakang satu pohon besar. Pada saat itu, langkah kaki yang mendatangi dari sebelah belakang sudah mendekati.

“Thia…,” seru Kiu Tin, suaranya gemetar seperti orang ketakutan.

Orang itu ternyata Coe Tiang Leng. Ia rupanya gusar dan sambil mengeluarkan suara di hidung ia membentak, “Bikin apa kau di sini?”

Kiu Tin mencoba menekan rasa takutnya dan dengan tawa yang dipaksakan ia menjawab.

“Sudah lama kami tidak pernah bertemu dan malam ini, kebetulan Piauw ko datang, anak datang menyusul kemari untuk mengobrol.”
“Kau terlalu berani mati,” kata sang ayah dengan suara yang mendongkol. “Kalau Boe Kie tahu.”
“Anak sudah menotok lima jalan darahnya dan sekarang ia sedang tidur nyenyak,” kata si nona.
“Coe Pehpeh juga sudah tahu, bahwa aku menyayangi Tin-cie,” kata Boe Kie dalam hati, “…kuatir aku berduka. Ia tak tahu, bahwa biarpun sayang, aku tak punya maksud yang lain. Hai!…Coe Pehpeh kau sungguh baik terhadapku.”
Tapi perkataan Coe Tiang Leng yang selanjutnya menerbitkan rasa heran dalam hati Boe Kie.
“Meskipun begitu, kita harus berhati-hati supaya ia tak lihat sesuatu yang mencurigakan,” kata orang itu.
Kiu Tin tertawa. “Ah! Anak kecil tahu apa,” katanya.
“Tin-moay,” kata Wie Pek, “Aku mau pulang, aku kuatir suhu menunggu-nunggu aku.”
Si nona kelihatannya merasa berat untuk segera berpisah. “Biar ku antar pulang,” katanya.
“Mari kita pergi bersama-sama,” kata sang ayah. “Aku ingin bicara dengan gurumu untuk pergi ke Peng hwee-to, kita harus membuat persiapan yang seksama.” Sehabis Coe Tiang Leng berkata begitu, dia segera menuju ke arah barat.

Boe Kie jadi makin heran. Ia tahu, bahwa guru Wie Pek adalah Boe Liat, ayahnya Boe Ceng Eng. Didengar dari perkataan Coe Tiang Leng, sepertinya Boe Liat bersama putrinya dan Wie Pek bakal turut pergi ke Peng hwee-to. Mengapa hal itu belum pernah didengar olehnya? Ia kuatir, sebab bila soal Cia Soen diketahui terlalu banyak orang kemungkinan bocornya rahasia akan menjadi sangat besar. Sesudah berpikir sejenak, tiba-tiba ia ingat perkataan Coe Tiang Leng yang mengatakan “kita harus berhati-hati supaya ia tak lihat sesuatu yang mencurigakan”. Ia curiga dan dilain saat, ia ingat pula hal lain yang lebih mencurigakan. Ia ingat, bahwa gambar mendiang ayahnya yang digantung di rumah keluarga Coe. Ayahnya dilukiskan sebagai seorang yang bermuka panjang, sedangkan muka ayah sebenarnya bundar telur.

Paras muka Boe Kie mirip dengan Coei San, tapi potongan muka mereka sangat berlainan. Muka si anak persegi panjang, muka sang ayah bundar telur, dengan lancip di bagian janggutnya. Coe Tiang Leng mengatakan bahwa gambar itu telah dilukis olehnya sendiri pada belasan tahun yang lalu. Walaupun begitu dan andaikata orang tua itu tidak pandai melukis, tidak mungkin ia membuat kesalahan dalam melukis potongan muka tuan penolongnya. Apa yang dilukis Coe Tiang Leng pada hakekatnya Boe Kie dalam usia dewasa.

“Aha! Ada lagi yang mengherankan,” kata si bocah dalam hatinya. “Bentuk Poan koan-pit yang bisa digunakan Tia tia mirip dengan pit dan gagangnya, sangat pendek. Tapi Poan koan-pit dalam lukisan itu adalah Poan koan-pit biasa. Sebagai seorang ahli Poan koan-pit, bagaimana Coe Pehpeh bisa melukis salah?”

Mengingat itu semua, Boe Kie menjadi bingung dan ketakutan. Di dalam hati kecilnya sudah menduga-duga sebab musebab keanehan-keanehan itu. Akan tetapi, dugaan itu terlalu hebat, sehingga ia tidak bisa meneruskan taksirannya itu. “Ah! Tak boleh aku berpikir yang gila-gila,” ia menghibur dirinya sendiri. “Coe Pehpeh begitu sayang aku dan aku tak pantas menduga yang tidak-tidak. Paling baik aku pulang dan tidur. Kalau dia tahu bahwa aku menguntit dia, bisa-bisa jiwaku melayang.”

Mengingat jiwa melayang, tiba-tiba ia menggigil. Ia sendiri tak tahu, mengapa ia menjadi begitu ketakutan.

Sesudah berdiri terpaku beberapa lama tanpa terasa ia melangkah ke arah jalanan yang dilalui oleh Coe Tiang Leng bertiga. Sekonyong-konyong di sebuah hutan yang agak jauh ia melihat sinar api yang berkelap-kelip, sebagai tanda, bahwa di dalam hutan itu terdapat sebuah rumah orang. Dengan jantung berdebar keras, ia menuju ke arah sinar api dengan langkah ringan.

Setibanya di belakang rumah itu, sesudah menentramkan hati, ia mengendap-endap menghampiri jendela dan melongok ke dalam. Ternyata memang benar Coe Tiang Leng bertiga berada dalam ruangan itu. Mereka duduk menghadap jendela dan sedang bicara dengan dua orang yang duduk membelakangi jendela sehingga muka mereka tak dapat dilihat oleh Boe Kie. Tapi yang satu seorang wanita, mungkin sekali Boe Ceng Eng, sedang yang satunya lagi adalah seorang pria bertubuh tinggi besar. Dengan penuh perhatian, sambil manggut-manggut lelaki itu tengah mendengar penuturan Coe Tiang Leng tentang bagaimana mereka harus menyamar sebagai pedagang kemudian berlayar dari pantai Shoatang.

“Aku benar tolol,” kata Boe Kie dalam hatinya, “Orang itu mungkin sekali Boe Chung Coe. Sebagai seorang sahabat Coe Pehpeh, ini adalah kejadian lumrah diantara sahabat karib. Mengapa aku jadi begitu ketakutan?”

“Thia, bagaimana kalau kita tidak bisa cari pulau itu dan juga tidak bisa pulang kembali?” tanya wanita itu yang ternyata memang Boe Ceng Eng.

Sekarang Boe Kie mendapat kepastian, bahwa lelaki itu adalah Boe Liat.

“Kalau takut, kau boleh tak usah ikut,” jawab sang ayah. “Di dalam dunia ini, tanpa berani menempuh kesukaran, manusia takkan bisa memperoleh sesuatu yang berharga.”

“Ayahku sering pergi ke Tiong-goan dan ia pasti tahu racun yang baik,” kata pemuda itu. “Kita bisa minta bantuan ayah.”

Sesaat Boe Liat bangkit seraya menepuk pundak Kiu Tin, ia berkata, “Tin-jie.” Tiba-tiba ia menengok dan Boe Kie melihat tegas mukanya. Ia terkesiap, karena orang itu adalah manusia yang sudah menyamar sebagai ayah angkatnya.

Sekarang semua menjadi jelas. Dipukulnya Coe Tiang Leng hingga muntah darah, teriaknya yang menyayat hati dan sebagainya hanyalah sandiwara belaka. Agar sandiwara itu kelihatan sungguh-sungguh, mereka harus menggunakan Boe Liat yang memiliki kepandaian tinggi.

“Tin-jie, kau sendiri harus menjalankan perananmu baik-baik,” kata Boe Liat sambil tertawa, “Selama dalam perjalanan, kau harus baik terhadap setan kecil itu. Kau harus menjaga supaya ia tidak tersadar.”

“Thia, kau harus meluluskan satu permintaanku,” kata Kiu Tin.
“Permintaan apa?” tanya sang ayah.
“Kau menyuruhku melayani setan kecil itu dan kau tak tahu, betapa besar penderitaanku,” jawabnya. “Dari sini ke Peng hwee-to masih jauh sekali. Selama itu, entah berapa besar kedongkolan yang harus ditelan olehku. Maka itu aku minta supaya sesudah kau dapat merebut To liong-to kau ijinkan aku untuk membacok mampus setan kecil itu!”

Mendengar kata-kata yang sekejam itu, mata Boe Kie gelap hampir ia roboh. Lapat-lapat ia mendengar suara Coe Tiang Leng, “Sebenar-benarnya kita tak pantas menjalankan tipuan ini terhadap dia. Di samping itu dia juga bukan orang jahat. Kurasa membinasakan Cia Soen dan merampas To liong-to, cukuplah kalau kita membutakan kedua matanya dan meninggalkan dia di pulau itu.”

“Coe Toako adalah seorang yang welas asih dan perkataanmu itu membuktikan bahwa kau memang seorang ksatria,” puji Boe Liat.

Coe Tiang Leng menghela napas. “Kita terpaksa menjalankan tipuan ini karena tak ada lagi jalan yang lebih baik,” katanya. “Boe Jie tee, sesudah berlayar, perahumu harus berada agak jauh dari perahuku. Kalau terlalu dekat, anak itu bisa curiga. Tapi kalau terlalu jauh, hubungan kita bisa terputus. Maka itu kau harus memilih anak buah dan pengemudi yang pandai.”
Boe Kie merasa kepalanya pusing. Ia mengasah otak untuk memecahkan banyak pertanyaan. “Aku belum pernah memperkenalkan diri, tapi bagaimana mereka bisa menebak asal-usulku?” tanyanya dalam hati. “Hm…mungkin sekali karena aku sudah menggunakan ilmu Boe tong-pay dan Hang lion Sip pat ciang waktu melawan Wie Pek dan kedua perempuan itu. Coe Pehpeh seorang cerdas dan berpengalaman luas. Rupanya, begitu melihat ilmu silatku, ia sudah bisa menebak asal-usulku.”

Beberapa saat kemudian, ia berkata pula dalam hatinya. “Ia tahu, bahwa kedua orang tuaku lebih suka mati daripada membuka rahasia. Ia menaksir bahwa jika menggunakan kekerasan, ia tak akan bisa mengorek dari mulutku. Maka itu, ia menggunakan siasat membakar rumah sendiri dan menjalankan tipu Kouw-jiok-kee (menyakiti diri sendiri), sehingga tanpa meminta, aku sudah membuka rahasia Peng hwee-to. Ah!…Coe Tiang Leng! Coe Tiang Leng! Tipumu sungguh beracun!”

Sementara itu, Coe Tiang dan Boe Liat sudah mulai membicarakan rencana pelayaran, Boe Kie tak berani mendengar lebih jauh dan dengan sangat hati-hati, ia lalu meninggalkan rumah itu. Sambil memasang kuping, ia berjalan selangkah demi selangkah. Ia tahu, bahwa kedua orang tua itu memiliki kepandaian yang sanggat tinggi, sehingga sedikit saja ia bertindak salah, mereka segera bisa mendengarnya. Sesudah terpisah belasan tombak, barulah ia berani berjalan lebih cepat. Dalam ketakutan ia tak memilih jalanan. Ia terus mendaki tanjakan dan menuju ke sebuah hutan lebat. Selama kurang lebih satu jam ia berlari-lari seperti orang kalap, tanpa berani mengaso.

Waktu fajar menyingsing, ia berada di dalam hutan dari sebuah puncak yang tertutup salju. Dengan napas tersengal-sengal ia menhentikan langkah dan menengok untuk melihat kalau-kalau ada yang mengejar.

Tiba-tiba ia mengeluh karena di jalanan yang barusan dilewatinya, yang tertutup dengan salju, terdapat tapak-tapak kakinya sendiri. Daerah barat (See hek) adalah daerah yang hawanya sangat dingin dan biarpun waktu itu sudah masuk musim semi, salju di gunung-gunung masih belum lumer. Semalam, dalam ketakutannya, ia tak berani jalan di tanah datar dan sudah mendaki puncak itu. Tapi dengan berbuat begitu, ia malah sudah membuka rahasia sendiri.

Pada saat itu, dari sebelah kejauhan sekonyong-konyong terdengar geram kawanan serigala yang menakutkan. Boe Kie berdiri di atas batu karang yang sangat curam. Mendengar suara itu, ia mengawasi ke bawah. Ternyata, di dasar lembah terdapat tujuh-delapan serigala yang sedang meronyang-ronyang kearahnya dan menyalak tak henti-hentinya. Kawanan binatang itu kelihatannya kelaparan dan ingin menubruk dirinya untuk mengganjal perut. Tapi ia berdiri di tempat aman yang terpisah jauh dari mereka.

Ia memutar kepala dan mengawasi keberapa jurusan. Mendadak sekali ia terkesiap. Matanya yang jeli melihat bergeraknya lima bayangan manusia di sebuah tanjakan. Ia tahu, bahwa mereka rombongan Coe Tiang Leng yang sedang mengejar dirinya. Dari jauh mereka kelihatannya berjalan sangat perlahan, tapi ia mengerti, bahwa dalam tempo satu jam, mereka akan tiba di tempat dimana ia sekarang berdiri.

Sesudah menentramkan hatinya, Boe Kie segera mengambil satu keputusan, “lebih baik aku mati dimakan serigala daripada jatuh ke dalam tangan mereka,” katanya dalam hati.

Untuk sejenak ia berdiri bengong. Ia ingat bahwa dengan setulus hati ia mencintai Kioe Tin sebagai seorang adik mencintai kakak sendiri. Sungguh tak dinyana wanita yang begitu cantik mempunyai hati yang begitu kejam. Ingat begitu, ia malu campur duka. Cepat-cepat ia melompat dan masuk ke dalam hutan dengan berlari. Karena hutan terdapat rumput-rumput tinggi,
maka meskipun masih ada salju, tapak-tapak kakinya sukar terlihat. Sesudah lari beberapa lama, mendadak racun dingin dalam tubuhnya mengamuk lagi. Ia tidak kuat berjalan terus. Rasa lelah dicampur dengan kesakitan hebat. Apa boleh buat, ia merangkak masuk ke dalam gerombolan alang-alang dan menjumput sebutir batu tajam dari atas tanah. Ia sudah mengambil keputusan bahwa Coe Tiang Leng mengejar sampai di situ dan cepat menemukan tempat persembunyiannya, ia akan membunuh diri dengan menghantam Tay Yang Hiatnya
dengan batu itu.

Sesudah mengambil keputusan itu, hatinya jadi lebih tenteram. Didepan matanya lantas saja terbayang kehidupan bahagia selama 2 bulan lebih dalam rumah Tiang Leng dan peringatan yang sedap itu telah mendatangkan kedukaan terlebih besar dalam hatinya. “Pendeta Siau Lim Sie mencelakakan aku, tapi hal itu tidak usah dibuat heran.” Pikirnya. Orang-orang Kong Tong Pay, Hwa San Pay dan Kun Lun Pay telah membalas budi dengan kejahatan, tapi itupun tak perlu dihiraukan. Tapi Tin Cie… aku mencintainya dengan sepenuh hati!… ah! Bukankah ibu pernah memesan aku pada waktu ia mau menghembuskan napas yang penghabisan? Mengapa aku melupakan pesan itu.

Sebagaimana diketahui, sebelum mati In So So telah memesan Boe Kie supaya anak itu berhati-hati terhadap perempuan. Menurut So So, makin cantik wanita, makin pandai menipu orang.

Dengan air mata berlinang-linang, anak itu berkata dalam hatinya. “Waktu mengucapkan pesan itu, pisau sudah menancap di dada ibu. Dengan menahan sakit, ibu sudah memesan aku, tapi aku sendiri sedikitpun tidak memperdulikan pesan itu. Kalau aku tidak mengerti ilmu membuka jalan darah, tipu busuk Coe Tiang Leng dan kawan-kawannya sudah pasti tidak akan
diketahui olehku dan aku menuntun mereka ke Peng Hwee To untuk mencelakakan Gie Hu.”

Sesudah hatinya lebih tenteram, ia bisa memikir secara lebih terang. Ia segera dapat melihat latar belakang dari tindakan-tindakan Coe Tiang Leng. Sesudah menduga, bahwa ia adalah putera Thio Coei San, si orang she Coe lalu membinasakan kawanan anjing, sebagai tindakan pertama untuk mendapat kepercayaan.

Sesudah itu, dia berlaku manis-manis sampai akhirnya membakar gedung sendiri. Biarpun termusnahnya rumah-rumah itu harus disayangkan, akan tetapi harta benda tersebut tidak berarti banyak jika disbanding dengan To Liong To, senjata mustika yang dapat membuat pemiliknya menjadi seorang termulia dalam rimba persilatan.

Waktu masih berada di pulau, aku sering melihat Gie Hu duduk bengong sambil memeluk golok itu,” kata Boe Kie dalam hati. “Tapi selama sepuluh tahun, ia masih juga belum bisa menembus rahasia golok itu. Coe Tiang Leng adalah seorang yang pintar luar biasa dan kecerdasan otaknya lebih lihai daripada Gie Hu. Jika To Liong To sampai jatuh ke tangannya, apa yang tak dapat ditembus Gie Hu, mungkin sekali dapat dipecahkan olehnya.”

Sesaat itu, suara tindakan kaki sudah terdengar tegas, sebagai tanda bahwa rombongan pengejar sudah masuk ke dalam hutan.

“Bocah itu pasti bersembunyi di hutan ini,” bisik Boe Liat. “Tak mungkin dia kabur ke tempat lain…”

“Ssst!” Tiang Leng memutuskan perkataannya. Sesaat kemudian ia berkata pula dengan suara keras. “Hai! Entah apa kesalahan Tin Jie…. Aku sungguh sangat kuatir. Ia masih begitu kecil dan kalau sampai terjadis sesuatu atas dirinya, biarpun badanku hancur luluh, aku masih belum bisa menebus dosa.” Suara itu dikeluarkan dengan nada parau, seperti juga benar-benar
ia bersusah hati. Akan tetapi, bagi Boe Kie perkataan-perkataan itu membangunkan bulu roma.

Dilain saat, Boe Kie mendengar suara beberapa orang memukul alang-alang dengan tongkat. Ia rebah sambil menahan nafas dan tidak berani berkutik. Untung juga, hutan sangat luas dan mereka tidak dapat ke tempat persembunyian si bocah.

Sesudah berusaha beberapa lama tanpa berhasil, tiba-tiba Coe Tiang Leng membentak keras-keras, “Tin Ji, apakah yang sudah dperbuat olehmu sehingga saudara kecil kabur ditengah malam buta?”

Kioe Tin kaget, tapi ayahnya segera memberi isyarat dengan kedipan mata. Dari tempat sembunyinya, Boe Kie melihat kedipan itu.

“Aku hanya berguyon dan sudah menotok jalan darahnya,” jawab si nona.

“Tidak dinyana, adik Boe Kie menganggap salah.” Sehabis berkata begitu, ia berteriak, “Adik Boe Kie! Dimana kau? Lekas keluar! Tin Cie ingin menghaturkan maaf kepadamu.”

Tapi tentu saja teriakan itu tidak mendapatkan jawaban. Tiba-tiba terdengar suara tangisannya, “Thia, jangan! Jangan pukul aku…” ratapnya.

“Aku tidak sengaja… tidak sengaja…”

Coe Tiang Leng mencaci-caci sedang puterinya menangis keras sambil meratap, seperti juga sedang dihajar keras. Melihat sandiwara itu Boe Kie menghela nafas panjang. “Jika aku belum mendapat bukti dari kepalsuannya, sudah pasti aku akan melompat ke luar,” pikirnya.

Karena yakin bahwa Boe Kie bersembunyi dalam hutan itu, mereka bersandiwara terus, yang satu memaki dengan kata-kata hebat, yang lain mengeluarkan teriakan-teriakan menyayat hati.

Dengan kedua tangan, Boe Kie menutup kupingnya, tapi suara sesambat si nona masih tetap terdengar. Sebisa mungkin ia coba mengeraskan hati, tapi akhirnya ia tak dapat bertahan lagi. Sesudah mengambil keputusan nekat, tiba-tiba ia melompat keluar dan berteriak. “Tak usah kamu melangsungkan permainan gila itu! Apa kamu kira aku tak tahu segala tipu busukmu?”

Melihat munculnya Boe Kie, Coe Tiang Leng beramai jadi girang, “Aha! Ini dia!” seru mereka.

Dilain pihak sesudah mencaci, Boe Kie segera berlari bagaikan kalap. Coe Tiang Liat lantas saja mengejar. Sebelum melompat keluar, si bocah sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan dunia yang kejam ini. Seperti seekor kijang, ia kabur ke arah tebing dengan melompat ke jurang yang dalam. Tapi Coe Tiang Leng memiliki ilmu ringan badan yang banyak lebih tinggi daripadanya. Maka itu, baru saja ia tiba di atas tebing, si orang she Coe sudah menyandaknya lalu menjambret belakang bajunya.

Pada detik itu, kaki kanannya sudah menginjak tempat kosong dan separuh badannya sudah berada di atas jurang. Begitu Coe Tiang Leng menjambret punggungnya, kaki kirinya melompat dan badannya menubruk ke depan. Coe Tiang Leng tak pernah menduga bahwa bocah itu sedemikian nekat. Karena Boe Kie melompat dengan sepenuh tenaga, ia turut terbetot. Sebagai seorang yang berkepandaian tinggi. Jika pada saat itu ia melepaskan cekalannya, dengan mudah ia akan dapat menolong diri. Akan tetapi ia mengerti, bahwa
melepaskan anak itu berarti sama dengan melepaskan To Liong To. Selama kurang lebih dua bulan dengan susah payah ia sudah menjalankan tipunya, bahkan ia sampai mengorbankan gedung dan harta bendanya. Apakah ia harus melepaskan golok mustika yang sudah berada di depan mata?

Seluruh tubuh Boe Kie sekarang berada di atas jurang, di tengah udara!….

“Celaka!” Coe Tiang Leng mengeluh dengan hati mencelos. Tangan kirinya menyambar ke belakang dengan harapan bisa mencekal tangan Boe Liat yang turut mengejar tapi pada detik itu tangan Boe Liat masih terpisah kira-kira satu kaki.

Ternyata tenaga penarik To Liong To lebih dahsyat daripada ancaman bencana. Coe Tiang Leng tetap mencekal baju si bocah itu dan…. Mereka berdua tergelincir ke dalam jurang yang di dalamnya berlaksa tombak!

Sayup-sayup terdengar teriakan Kioe Tin dan Boe Liat. Sesaat kemudian segala apa tidak terdengar lagi, kecuali menderunya angin….

Coe Tiang Leng mengerti bahwa kalau jatuh di dasar, badan akan hancur lebur. Ia adalah seorang yang sudah kenyang mengalami topan dan gelombang. Maka dalam menghadapi kebinasaan ia tak jadi bingung.

Badan mereka melayang ke bawah dengan cepatnya…

Jarak antara kedua dinding jurang tidak begitu lebar dan selagi melayang jatuh beberapa kali, Coe Tiang Leng melihat pohon-pohon yang tumbuh di dinding dan cabang-cabang melonjor ke luar. Beberapa kali ia menjambret tapi selalu gaga. Paling belakang, jambretannya kena, tapi sebab tenaga jatuhnya mereka terlampau hebat maka, dengan mengeluarkan suara “krekek,” cabang siong itu yang sebesar lengan patah dari pohonnya.

Walaupun begitu, kejadian ini merupakan pertolongan. Biarpun cabang itu patah, jatuhnya mereka jadi tertahan dan Coe Tiang Leng tentu saja sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Dengan meminjam tenaga, ia mengangkat kedua kakinya dengan gerakan Ouw Liong Jiauw Cu (Naga Hitam Melibat Tiang), ia memeluk dahan dengan kedua betisnya. Dilain saat ia sudah mengangkat tubuh Boe Kie dan mendudukkannya di atas sebuah cabang, tapi tangannya tetap mencekal baju si bocah, sebab ia kuatir anak itu akan melompat lagi.

Melihat ia bakal mati dan tetap tak bisa terlolos dari tangan si orang she Coe. Boe Kie berduka bukan main dan berkata dengan suara membenci, “Coe PehPeh, biar bagaimana hebat kau menyiksa aku, jangan harap aku akan menuntun kau ke tampat persembunyian Gie Hu.”

Ketika itu Coe Tiang Leng sendiri sudah duduk di atas satu cabang. Ia mendongak ke atas. Mereka ternyata sudah jatuh terlalu dalam. Apa yang dilihatnya hanyalah langit. Sedang Boe Liat dan yang lain sudah tak kelihatan bayangannya. Walaupun bernyali besar, ia menggigil dan dahinya mengeluarkan keringat dingin.

Sesudah menentramkan hatinya, ia tertawa dan berkata, “Saudara kecil, apa katamu? Aku tidak mengerti, janganlah kau memikir yang tidak-tidak.”

“Segala tipu busukmu sudah kuketahui.” Jawabnya mendongkol. “Sekarang segala tipumu sudah tidak berguna lagi. Andaikata kau memaksa aku untuk mengantar kau ke Peng Hwee To, aku bisa menunjuk jalan dengan sembarangan supaya kita sama-sama mampus dimakan lautan. Apa kau kira aku takut berbuat begitu?”

Coe Tiang Leng mengerti, bahwa ancaman itu bukan omong kosong. Ia tahu, bahwa terhadap Boe Kie yang nekat, ia tidak bisa menggunakan kekerasan.
Orang satu-satunya yang bisa menaklukkan si bocah adalah puterinya sendiri. Mamikir begitu, ia lantas saja mengerahkan Lweekang dan berteriak, “Kami selamat! Jangan khawatir!”

Teriakan itu menggetarkan seluruh lembah.

“Kami selamat!… Kami selamat!… Jangan khawatir!…”

Tiba-tiba Coe Tiang Leng ingat sesuatu, “Celaka!” ia mengeluh, “Aku tidak boleh berteriak begini di gunung salju.”

Hampir berbareng, gumpalan-gumpalan salju putih meluruk turun dari dinding jurang. Untung juga salju tidak begitu tebal. Sehingga tidak membahayakan. Tapi Coe Tiang Leng tidak berani berteriak lagi. Ia menghela nafas dan sambil mengawasi keempat penjuru, ia mengasah otak untuk mencari jalan keluar. Ke bawah, jurang itu belum kelihatan dasarnya dan andaikata mereka bisa turun sampai ke dasar jurang, disitu belum tentu ada jalan keluar. Untuk memanjat ke atas dari dinding yang satu, sukar dapat dilakukan, karena dinding batu itu bukan saja sangat curam tapi juga ditutup salju licin. Maka itu, jalan satu-satunya adalah coba memanjat ke atas dari tebing-tebing yang lain, yang tidak begitu terjal.

Memikir begitu, ia lantas saja berkata dengan suara membujuk, “Saudara kecil, jangan kau mencurigai aku secara membuta tuli, Biar bagaimanapun jua, aku tidak akan memaksa kau untuk mencari Cia Sun. Kalau aku menggunakan kekerasan, biarlah aku mati terpanah laksaan anak panah dan mati tanpa mempunyai kuburan.”

Sumpah yang begitu berat itu bukan sumpah kosong. Ia tahu, bahwa ia memang tidak bisa memaksa anak yang kepala batu itu. Kemungkinan satu-satunya hanyalah membujuk atau menipu supaya si bocah mau membantunya dengan suka rela.

Dilain pihak, mendengar sumpah itu, hati Boe Kie jadi lebih lega.

“Sekarang kita harus berusaha untuk menyelamatkan diri dengan memanjat tebing.” Kata Coe Tiang Leng pula. “Tapi kau tidak boleh melompat ke bawah lagi. Kau mengerti?”

“Kalau tidak memaksa aku, akupun tak perlu mencari mati.” Jawabnya.

Coe Tiang Leng mengangguk dan mengeluarkan pisau yang lalu digunakan untuk mengeset kulit pohon. Dengan kulit pohon itu, ia membuat tambang yang kedua ujungnya lalu diikatkan ke pinggang sendiri dan ke pinggang Boe Kie. Sesudah itu, perlahan-lahan dan hati-hati mereka memanjat ke atas, ke arah sinar matahari.

Usaha mereka itu diliputi dengan tanda tanya. Bagaimana kesudahannya? Apakah mereka akan menemui keselamatan atau kecelakaan? Entahlah, apa yabg dapat diperbuat hanyalah maju selama masih bisa maju.

Tebing itu sendiri sukar dipanjat. Ditambah dengan salju yang sudah membeku menjadi es, licinnya luar biasa, sehingga setiap tindakan diliputi dengan bahaya besar. Dua kali Boe Kie terpeleset dan ia tentu sudah tergelincir ke bawah, kalau tidak ditolong Coe Tiang Leng. Sebaliknya daripada berterima kasih, ia jadi mendongkok dan mengejek dalam hatinya.

“Tua bangka! Kalau kau tidak mengiler pada To Liong To, tak nanti kau baik hati.”

Sesudah memanjat setengah hari, mereka bukan saja lelah, tapi capai. Tapi sikut, lutut, dan kaki merekapun berlumuran darah, akibat goresan es yang tajam. Perlahan-lahan curamnya tanjakan berkurang. Mereka tidak perlu merangkak lagi. Setindak demi setindak, mereka maju dengan nafas tersengal-sengal. Tak lama kemudian, mereka sudah berada di atas tanjakan
yang berdiri bagaikan sebuah sekosol besar.

Tiba-tiba Coe Tiang Leng mengeluh! Dengan mata membelalak dan mulut ternganga, ia mengawasi ke depan, ke lautan awan. Ternyata, mereka berdiri di atas tanah datar yang seperti panggung dan tiga penjuru panggung itu berbatasan dengan kekosongan. Luasnya tanah datar itu ratusan ombak persegi, tapi ke atas tak ada jalan, ke bawahpun begitu juga. Mereka
terjebak di kotak buntu. Apa yang lebih celaka lagi, di tanah datar itu hanya terdapat salju, salju yang putih bagaikan kapas tanpa pepohonan. Tanpa makhluk hidup yang dapat digunakan untuk menangsal perut.

Tapi Boe Kie sendiri berbalik girang. Ia tertawa dan berkata. “Coe PehPeh, kau sudah mengeluarkan banyak tenaga, tapi hasilnya kita tiba di tempat ini. Kalau sekarang orang memberikan To Liong To kepadamu, apakah golok itu dapat menolong Kau?”

“Jangan rewel!” Bentak Coe Tiang Leng dengan gusar.

Ia segera menjumput salju yang lalu ditelannya untuk menghilangkan rasa haus dan kemudian bersila untuk mengaso. “Biarpun letih, sekarang tenagaku masih cukup,” pikirnya. “Kalau menunggu sampai besok, mungkin aku tak bisa keluar lagi dari kurungan ini.” Berpikir begitu, ia lantas saja bangkit dan berkat, “Tidak guna kita berdiam lama-lama di sini. Kita harus kembali ke jalanan tadi dan coba mencari jalan keluar lain.

“Tapi aku sendiri merasa senang untuk berdiam terus di sini.” Kata si bocah sambil menyeringai.

“Kau gila,” bentak Coe Tiang Leng. “Di sini tak ada makanan apapun jua. Apa kau mau mati kelaparan?”

Si bocah tertawa geli. “Bukankah bagus sekali jika kita tak makan makanan manusia?” katanya.

“Dengan begitu, kita bisa mensucikan diri dan mungkin sekali bisa menjadi dewa yang suci!”

Bukan main gusarnya Coe Tiang Leng, tapi sebisa mungkin ia menahan nafsu amarahnya, sebab ia khawatir anak kepala batu itu akan jatuh ke bawah.

“Baiklah,” katanya, “Kau mengaso di sini dan aku akan coba mencari jalan keluar. Tapi ingat! Kau tak boleh mendekati tebing. Sekali jatuh, kau mampus.”

“Tak perlu kau memikirkan soal mati hidupku,” kata Boe Kie sraya tertawa. “Hm!… sampai sekarang kau masih mimpi, bahwa aku sudi mengantar kau ke pulau Peng Hwee To. Terang-terangan aku menasihati kau, jangan kau mimpi terlalu muluk.”

Coe Tiang Leng merasa dadanya seolah-olah mau meledak, tapi ia tak mau menjawab ejekan itu.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, segera turun ke bawah lagi dan setibanya di pohon siong yang tadi, ia lalu merambat ke dinding jurang di seberang. Dinding itu lebih curam dan lebih berbahaya, tapi tanpa Boe Kie, ia malah bisa memanjat lebih cepat. Kurang lebih setengah jam kemudian, ia mencapai di puncak dan ia mengeluh karena puncak itu merupakan puncak yang buntu.

Sekali lagi ia berdiri di atas tebing yang berbatasan denan kekosongan. Lama ia berdiri di situ sambil menghela nafas berulang-ulang dan kemudan dengan putus harapan ia balik ke tanah datar yang seperti panggung dimana Boe Kie sedang menunggu.

Begitu melihat paras mukanya, tanpa bertanya Boe Kie tahu, bahwa orang tua itu gagal dalam usahanya. “Sesudah kena Hian Beng Sin Ciang, aku sendiri akan segera mati,” katanya dalam hati. “Mati di sini atau di tempat lain tak banyak bedanya. Tapi Coe PehPeh sebenarnya seorang kaya raya yang hidup beruntung. Hanya karena ia temaba akan To Liong To, sekarang ia harus menemani aku mati di sini. Sungguh kasihan.”

Semula ia sangat membenci orang tua itu yang telah menjalankan tipu busuk terhadap dirinya. Dalam menghadapi kebinasaan, ia malah sudah mengejeknya dengan perkataan-perkataan menusuk. Tapi sekarang, sesudah mendapat kepastian bahwa di sekitar jurang itu tidak terdapat jalan keluar dan setelah melihat kedukaan Coe Tiang Leng, ia berbalik merasa kasihan. “Coe PehPeh,” katanya dengan suara halus. “Kau sudah berusia lanjut dan kau sudah mencicipi kebahagiaan hidup. Andaikata kau mati sekarang, kau tidak pantas merasa menyesal. Sudahlah, tak guna kau menyesal.”

Mendengar bujukan itu, dengan sorot mata berapi orang tua itu melirik si bocah. Ia berlaku sangat manis terhadap Boe Kie hanya karena mempunyai harapan, bahwa anak itu akan mengantarkannya ke pulau Peng Hwee To. Tapi sekarang, sesudah ternyata bahwa ia tidak akan bisa meloloskan diri lagi dan yang menjadi gara-gara adalah si bocah sendiri, darahnya lantas saja meluap. Dengan sorot mata bersinar pembunuhan, ia menatap wajah Boe Kie dengan sikap seperti binatang buas.

Melihat begitu, si bocah jadi ketakutan. Sambil berteriak, ia bangkit dan terus kabur.

“Biantang! Mau lari kemana kau?” bentak Coe Tiang Leng sambil menubruk. Ia bertekat untuk membekuk Boe Kie dan sesudah menyiksanya sepuas hati, barulah mau membinasakannya.

Tanpa menghiraukan bahaya Boe Kie menyerosot ke bawah. Tiba-tiba ia melihat lubang besar yang gelap, seperti gua atau terowongan. Tanpa memikir panjang, ia segera masuk ke dalam lubang itu. “Breeet!” kaki celananya kena dijambret Coe Tiang Leng dan robek sebagian. Dengan cekat ia terus berlari. Saban Coe Tiang Leng mendekati, ia berbalik dan menghantam dengan pukulan Sin-Leng, ilmu silat si bocah itu masih kacek terlalu jauh.

Tapi Sin Liong Pa Bwee bukan pukulan biasa, sehingga walaupun berkepandaian tinggi, Coe Tiang Leng tidak berani terlalu mendesak secara ceroboh. Sambil membungkuk, ia terus mengejar dengan hati-hati.

Dengan tindakan limbung dan tersandung berulang-ulang, Boe Kie terus kabur di terowongan yang gelap itu. Tiba-tiba kepalanya membentur dinding batu, sehingga matanya berkunang-kunang. Ia mengerti, bahwa sesudah tidak mengharapkan apa-apa lagi dari dirinya, orang tua itu, yang sudah kalap, bisa melakukan perbuatan sangat kejam. Ia bukan takut disiksa mati, tapi ia tidak mau mati disiksa. Maka itu ia terus lari. Untung juga terowongan tersebut makin jauh makin sempit, sehingga sesudah merangkak puluhan
tombak, lubang itu hanya sebesar tubuhnya yang kecil dan Coe Tiang Leng tidak bisa masuk sampai di situ.

Sesudah merangkak lagi beberapa tombak, sekonyong-konyong Boe Kie melihat sinar terang, ia girang bukan main dan sambil menempos semangat, ia maju dengan sekuat tenaga.

Coe Tiang Leng bingung bercampur gusar. “Saudara kecil, sudahlah! Aku tak akan mencelakakan kau,” serunya.

Tapi si bocah tentu saja tidak menghiraukannya. Dalam gusarnya, Coe Tiang Leng mengerahkan Lweekang dan menghantam dinding dengan kedua tangannya. Tapi batu itu keras luar biasa sehingga bukan saja kedua tangannya sakit, tapi nafsunya pun agak menyesak. Ia mencabut pisau dan coba mencakil batu, tapi baru beberapa goresan, pisau itu patah.
Bagaikan kalap, ia mengerahkan tenaga dalam ke kedua pundaknya dan lalu memasukkan tubuhnya ke dalam lubang. Tapi inipun tidak menolong, bahkan dadanya sakit bukan main.

Dengan nafas tersengal-sengal, ia coba menggeser mundur tubuhnya.Diluar dugaan, badannya terjepit keras. Maju tak dapat, mundurpun tak bisa. Semangat Coe Tiang Leng terbang. Dengan mengerahkan seantero tenaganya, ia menggeser tubuh dan kali ini berhasil. Tapi dadanya sakit bukan main dan ternyata salah sebuah tulang rusuknya patah.

Sementara itu, Boe Kie terus merangkak maju. Makin jauh, sinar di depan kedua matanya silau karena tertumbuk sinar matahari. Ia meramkan kedua matanya dan menenteramkan jantungnya yang memukul keras. Perlahan-lahan ia membuka lagi kedua matanya dan ia melihat sebuah lembah yang indah luar biasa, dengan pohon-pohon bunga yang beraneka warna.

Boe Kie bersorak karena girangnya. Dengan cepat ia merangkak keluar dari terowongan itu. Lubang terowonga terpisah kira-kira setombak dari bumi dan dengan sekali melompat, kakinya sudah hinggap di atas rumput yang empuk. Hampir berbareng, hidungnya mengendus harumnya bunga-bunga, matanya melihat buah-buah masak yang tergantung di pohon-pohon, sedang kupingnya mendengar kicaunya sejumlah burung.

Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa di ujung terowongan itu terdapat dunia yang bagaikan surga. Tanpa memperdulikan luka-lukanya, ia berlari-lari untuk menyelidiki keadaan lembah itu. Sesudah melalui dua li lebih, ia berhadapan dengan puncak gunung yang menghadang di tengah jalan. Ternyata lembah itu dikitari dengan lereng-lereng gunung yang sangat curam dan
rupanya tempat seindah itu belum pernah diinjak manusia lain. Dengan hati berdebar-debar, Boe Kie memandang ke seputarnya. Ternyata lereng-lereng yang curam itu tak mungkin dipanjat manusia. Sekali lagi ia berada dalam kurungan.

Tapi si bocah tidak menghiraukan itu semua. Ia merasa beruntung kalau ia bisa mati di tempat yang seindah itu. Ia mengawasi tujuh-delapan kambing hutan yang tidak takut manusia sedang makan rumput dengan sikap tenang. Diatas pohon-pohon terdapat sejumlah kera kecil yang bermain dengan penuh kegembiraan. Ia mendapat kenyataan, bahwa di tempat itu tidka terdapat binatang buas. Mungkin sekali binatang-binatang seperti harimau yang badannya berat tidak bisa melewati puncak-puncak yang terjal.

“Langit menaruh belas kasihan atas diriku,” kata Boe Kie dalam hati. “Langit sudah menyediakan tempat yang seperti surga ini untuk dijadikan kuburanku,” perlahan-lahan ia kembali ke mulut terowongan.

“Saudara kecil… saudara kecil…“ demikian terdengar seruan Coe Tiang Leng. “Keluar! Keluarlah! Kau bisa mati di dalam lubang.”

Boe Kie tertawa terbahak-bahak. “Coe PehPeh, kau salah!” teriaknya. “Tempat ini seperti surga indahnya.” Ia lalu memanjat pohon dan memetik beberapa buah yang tidak dikenal. Ia mencium-cium buah itu yang harum baunya, kemudian menggigitnya. Aduh, luar biasa! Garingnya melebihi buah Tho, wanginya melebihi buah apel, sedang manisnya lebih menang dari bauh Leci. Sambil melontarkan salah sebuah ke dalam lubang, Ia berteriak, “Coe PehPeh, sambut! Makanan enak datang!”

Karena terbentur-bentur batu, waktu tiba di depan Coe Tiang Leng, buah itu sudah bonyok. Ia menjemputnya dan lalu memasukkannya ke dalam mulut. Benar-benar enak! Tapi ia lebih menderita, buah itu malah membangunkan nafsu makannya. “Saudara kecil, tolong berikan beberapa biji lagi,” ia memohon.

Si bocah tertawa besar. “Kau harus menerima nasib,” ejeknya. “Tapi manusia yang sejahatmu memang pantas mati kelaparan. Kalau kau mau makan lebih banyak, ambillah sendiri.”

“Badanku terlalu besar, tak bisa masuk,” kata Coe Tiang Leng.

“Belah badannya menjadi dua potong!” ejek pula si bocah.

Coe Tiang Leng menghela nafas. Ia tak nyana bahwa bukan saja rencana hancur, tapi ia sendiri mesti mati di tempat itu. Ia tak mau memohon lagi dan dengan darah yang meluap-luap, ia mencaci, “Binatang! Meskipun dalam gua itu terdapat buah, tapi apa buah-buahan itu bisa mencukupi keperluan untuk seumur hidupmu? Aku mati di sini, tapi kau juga akan mampus dalam
beberapa hari. Hm!… Aku mati kaupun mampus.”

Boe Kie tak menghiraukannya. Sesudah makan belasan buah, perutnya kenyang dan ia lalu merebahkan diri di atas rumput untuk mengaso.

Selang beberapa lama, tiba-tiba si bocah melihat keluarnya asap dari lubang terowongan. Ia mengerti, bahwa itulah perbuatan Coe Tiang Leng yang coba mencelakakannya dengan membakar ranting-ranting pohon siong. Ia ketawa geli dan berlagak batuk-batuk.

“Saudara kecil!” teriak Coe Tiang Leng. “Keluarlah! Aku bersumpah tak akan mengganggu kau.”

Si bocah pura-pura teriak keras, seperti orang mau pingsan. Sesudah itu, ia pergi ke tempat lain tanpa memperdulikan lagi si orang she Coe.

Dengan hati riang, ia berjalan ke jurusan barat. Sesudah melalui dua li lebih, ia melihat sebuah air tumpah yang turun ke bawah dari dinding batu ke sebuah kolam. Air itu adalah salju yang melumer dan di bawah sorotan matahari kelihatannya indah sekali seolah-olah seekor naga giok. Dengan rasa kagum, ia mengawasi kolam itu, yang biarpun terus menerima air dari
atas, tidak menjadi luber. Ia tahu, bahwa di bawah kolam itu terdapat selokan yang mengalirkan air ke tempat lain.

Sesudah menikmati pemandangan itu beberapa lama, ia menunduk dan melihat kaki tangannya yang kotor lantaran kena Lumpur di terowongan.

Ia segera pergi ke pinggir kolam, membukakan sepatu dan kaos kaki dan lalu memasukkan kedua kakinya ke dalam air. Mendadak seraya berteriak “Aduh,” ia melompat bangun. Mengapa? Karena air itu dingin luar biasa. Begitu menyentuh air, kakinya sakit, dan lebih sakit daripada disiram air mendidih. Ketika diperiksa, kedua kakinya ternyata sudah merah bengkak. Ia
mengawasi sambil meleletkan lidah. “Heran! Sungguh mengherankan!” katanya di dalam hati. Diwaktu kecil selama beberapa tauhun di pulau Peng Hwee To dan sudah biasa dengan hawa dingin tapi belum pernah bertemu dengan air yang sedingin itu. Yang lebih luar biasa adalah, walaupun dingin, air itu tetap tidak membeku.

Ia mengerti, bahwa di dalam air itu mengandung sesuatu yang aneh. Ia mundur beberapa tindak dan mengawasinya sambil mengasah otak. Sekonyong-konyong terdengar suara “Krok-krok!” dan dari dalam kolam melompat keluar tiga kodok warna merah. Kodok itu kodok raksasa, badannya kira-kira empat kali lipat lebih besar dari kodok biasa. Begitu berada di
daratan, dari badan mereka mengepul uap putih, seperti uap yang keluar dari es.

Melihat keanehan binatang itu. Sifat kekanak-kanakan Boe Kie lantas saja timbul. Ia ingin menangkap salah seekor untuk dibuat main. Perlahan-lahan ia mendekati, menubruk, dan menekap yang satu dengan tangannya, tiba-tiba ia terkejut. Begitu telapak tangannya menyentuh kulit yang licin, ia merasa semacam hawa hangat menembus kulit dan terus naik ke lengannya.

Diluar dugaan, binatang itu galak dan bertenaga besar. Dia memberontak dan begitu melepaskan diri dari cekalan, dia menggigit lengan kanan Boe Kie sekeras-kerasnya.

Si bocah terkesiap. Cepat-cepat ia menyekal badan kodok itu dengan tangan kirinya dan membetotnya. Tapi tak dinyana, binatang itu mempunyai gigi yang sangat tajam, sehingga kalau dibetot terus, bagian daging lengannya akan turut copot.

Sesaat itu, kedua kodok yang lain menyambar bagaikan kilat dan menggigit kedua kaku Boe Kie. Seumur hidup, ia belum pernah bertemu dengan kodok yang seganas itu. Dalam kagetnya, ia mengerahkan Lweekang dan menepuk kodok yang menggigit lengannya. Perut binatang itu pecah dan tangannya belepotan darah yang berhawa panas.

Ia membungkuk dan lalu membinasakan kedua kodok yang menggigit kakinya. Perlahan-lahan ia membuka mulut binatang itu dan melemparkannya di tanah. Tapi kaki dan lengannya sudah lukan dan memperlihatkan tapak-tapak gigi. Dengan hati mendongkol, ia mengawasi ketiga kodok itu. “Binatang!” cacinya. Semua makhluk anjing menggigit aku dan sekarang kamu. Kebetulan perutku lapar, biarlah aku gegares dagingmu. Aku mau lihat, apa sesudah berdiam di dalam perutku, kamu masih bisa menghina aku.”

Sehabis mengomel, ia segera mencari cabang-cabang kayu kering dan lalu menyalakan api. Ketiga kodok itu lalu dikeset kulitnya dan dipanggang di atas perapian. Tak lama kemudian hidungnya mendengus daging yang sangat wangi. Tanpa memperdulikan segala apa, ia segera memasukkan sepotong betis kodok ke dalam mulutnya. Ia tersenyum sambil menarik nafas
panjang-panjang. Daging itu ternyata sangat lezat, lebih lezat daripada daging apapun juga. Dalam sekejab, ketiga kodok itu sudah ketinggalan tulangnya saja.

Berselang kira-kira samakanan nasi, semacam hawa panas mendadak naik ke atas dari dalam perut si bocah. Ia merasa nyaman bukan main, seolah-olah badannya di dalam kolam air hangat.

Ia tak tahu, bahwa kodok itu adalah semacam binatang aneh di dalam dunia.

Dia hidup ditempat yang sangat dingin, tapi sifatnya adalah panas. Tanpa sifat yang aneh itu, tak mungkin ia hidup didalam kolam dingin. Kalau dagingnya dimakan orang biasa, orang itu akan segera mati dengan mengeluarkan darah dari hidung, mulut dan kupingnya. Tapi Boe Kie bukan orang biasa karena didalam tubuhnya mengeram racun dingin dari Hian Beng Sin Ciang. Racun dingin itu kebentrok dengan racun panas dari sang kodok dan racun panas buyar, racun dinginpun ikut mereda.

Tapi Boe kie sendiri tak tahu terjadinya kejadian yang sangat kebetulan itu. Ia merasa sekujur tubuhnya lelah dan letih, rasa mengantuk menguasai dirinya. Tapi ia tidak berani tidur disitu sebab kuatir diserang kodok lain. Maka itu sambil menguatkan badan dan hati ia meninggalkan tempat itu. Baru berjalan kira-kira satu li, ia tidak dapat mempertahankan diri lagi dan lalu rebah pulas diatas tanah.

Ketika ia sadar, rembulan sudah berada ditengah tengah angkasa. Ia merasa bahwa didalam perutnya terdapat semacam bola hangat yang bergerak-gerak dan menggelinding kian kemari. Ia mengerti, bahwa daging kodok itu mempunyai zat-zat luar biasa untuk menambah tenaga. Ia merasa semangatnya bertambah dan tenaga dalamnya jadi lebih besar. Ia segera duduk bersila dan mengerahkan Lweekang, dengan niatan mendorong hawa hangat itu ke dalam pembuluh pembuluh darahnya. Tapi sesudah berusaha beberapa kali, ia tidak berhasil bahkan kepalanya puyeng dan ulu hatinya enek.

Ia menghela nafas dan berkata dalam hatinya. “Tak mungkin aku bernasib begitu baik. Kalau hawa hangat itu bisa menembus masuk berbagaipembuluh darah, bukankah itu berarti bahwa racun Hian Beng sin ciang sudah dapat dipunahkan”.

Baik juga, sebab ia tidak terlalu berharap hidup, ia tidak merasa kecewa. Pada keesokan tengah hari, ia merasa perutnya lapar. Ia lalu mengambil sebatang ranting pohon yang kemudian digunakan untuk mengaduk air di kolam dingin. Beberapa saat kemudian, ranting itu sudah digigit tiga empat kodok. Perlahan-lahan ia mengangkatnya keatas dan lalu membinasakan binatang-binatang itu dengan menggunakan batu. Sekali lagi ia membuat perapian dan membakar daging kodok yang lalu digunakan untuk menangsal perut.

Karena merasa bahwa ia akan bisa hidup beberapa lama lagi, maka ia lalu membuat semacam dapur dan menaruh cabang cabang kering di dalamnya, supaya ia tidak saban-saban harus membuat api.

Sebagai seorang yang pernah hidup di pulau Peng Hwee To, Boe Kie sudah bisa menolong diri sendiri. Maka itu, hidup sebatang kara ditempat tersebut tidak menjadi susah baginya. Ia mengambil tanah liat dan membuat paso tanah, kemudian menganyam rumput untuk membuat tkar. Ia bekerja sampai kira-kira magrib dan tiba-tiba ia ingat Coe Tiang Leng yang sekarang mestinya sudah kelaparan setengah mati. Maka itu, ia memetik satu buah dan melemparkannya ke dalam lobang terowongan.

Ia tidak memberi daging kodok panggang sebab kuatir Coe Tiang Leng bertambah tenaga dan bisa menggempur dinding terowongan. Kekuatiran si bocah ternyata sudah menyelamatkan jiwa orang she Coe. Kalau Boe Kie memberikan kodok itu, ia sudah pasti sudah melayang jiwanya.

Beberapa hari sudah lewat tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Hari itu, selagi Boe Kie membuat sebuah dapur tanah, tiba-tiba ia mendengar pekik seekor kera yang menggenaskan hati. Cepat-cepat ia memburu kearah suara itu. Ternyata seekor kera kecil sedang melompat-lompat sambil memekik-mekik dengan tiga ekor kodok merah mengigit punggungnya, sedang dua ekor yang lain sudah melompat keluar dari dalam air. Si kera bergulingan di tanah dan membanting-banting dirinya, tapi kodok-kodok itu terus menggigit erat-erat dan menghisap darah yang menjadi makanannya. Boe Kie melompat dan mencekal lengan kiri kera itu yang lalu dibawa ke tempat lain yang jauh dari kolam dingin itu. Sesudah berada ditempat yang lebih aman, batulah ia membinasakan ketiga kodok itu. Jiwa kera itu tertolong,tapi tulang lengan kanannya patah.

“Aku sangat kesepian, ada baiknya jika bisa mendapat kawan seekor kera”, katanya didalam hati. Memikir begitu, ia segera mengambil dua potong ranting pohon dan sesudah menyambung tulang yang patah, ia segera menjepitnya dengan kedua ranting itu. Kemudian ia memetik beberapa macam daun obat yang lalu ditumbuk dan ditorehkan pada tulang yang patah itu. Biarpun ia tidak mendapat daun-daun obat yang mujarab, tapi berkat kepandaiannya dalam ilmu menyambung tulang, maka dalam tempo kira-kira seminggu, tulang itu sudah menyambung pula.

Kera kecil itu mengenal budi. Pada keesokan harinya, ia membawa banyak bebuahan dan memberikannya pada Boe Kie. Belum cukup sepuluh hari, lengan yang patah itu sudah sembuh seanteronya.

Kejadian itu telah mengubah cara hidup Boe Kie. Sesudah disembuhkan, si kera rupanya memberitahukan kepada kawan kawannya dan tak lama kemudian, Boe Kie sudah menjadi tabib dari kawanan binatang di lembah tersebut. macam binatang datang minta pertolongannya tapi yang paling banyak adalah sebangsa kera.

Si bocah melakukan tugas baru itu dengan segala senang hati. Sesudah mendapat pengalaman pahit getir, ia mendapat kenyataan bahwa diantara binatang ada yang lebih mengenal budi daripada manusia.

Satu bulan telah berlalu. Setiap hari ia makan daging kodok dan ia merasa sangat girang bahwa serangan-serangan racun dingin yang datang pada waktu-waktu tertentu, makin lama jadi semakin enteng.

Pada suatu pagi, ia tersadar karena mukanya diraba oleh tangan berbulu. Dengan kaget ia melompat bangun. Ternyata, tangan itu tangan seekor kera putih besar yang mendukung seekor kera kecil dan tengah berlutut disampingnya. Kera kecil itu adalah kera yang tulangnya pernah disambung olehnya. Kera kecil berbunyi “cit-cit cat-cat” sambil menunjuk-nunjuk perut kera putih itu yang mengeluarkan bau tak sedap.

Ia mengawasi dan ternyata, bahwa di perut kera itu terdapat borok yang bernanah. Ia tertawa dan manggut2kan kepala. “Baik, baik!” katanya. “Aku akan menolong”.

Si kera putih mengangsurkan tangan kirinya yang mencekal buah tho dan dengan hormat memberikannya kepada Boe Kie. Buah itu besar luar biasa. Kira-kira sebesar tinju.

Boe Kie merasa kagum, karena belum pernah ia melihat buah tho sebesar itu. “Ibu pernah bercerita bahwa di gunung Koen Loen terdapat dewa See Ong Bo yang sering mengadakan pesta buah tho dengan mengundang para dewa dan dewi,” pikirnya. “Cerita tentang See Ong Bo mungkin cerita bohong, tapi bahwa Koen Loen san memiliki Siantho (buah tho dewa) adalah suatu kenyataan.”

Seraya tersenyum ia menerima hadiah itu. “Aku biasanya tidak menerima bayaran, “ katanya. “Biarpun kau tidak membawa siantho, aku pasti akan menolong.” Sehabis berkata begitu,ia mengangsurkan tangannya dan menyentuh borok itu. Tiba-tiba ia terkejut.

Mangapa?

Borok itu sendiri yang berbentuk bundar, hanya bergaris kira-kira setengah cun. Apa yang hebat ialah daging di sekitarnya keras bagaikan batu dan bagian yang keras puluhan kali lipat lebih besar daripada boroknya sendiri.

Dari kitab-kitab ketabiban, Boe Kie belum pernah membaca borok yang seperti itu. Ia merasa, bahwa jika bagian yang keras menjadi busuk dan bernanah, binatang itu tak akan dapat disembuhkan lagi. Tapi waktu memegang nadi si kera, ia menjadi lebih heran lagi, karena denyutan nadi tidak menunjukan adanya bahaya. Ia segera menyingkap bulu yang panjang di perut binatang itu untuk diperiksa lebih teliti. Begitu melihat ia terkesinap, sebab bagian yang keras itu berbentuk empat persegi dan dipinggirannya terlihat bekas jaitan benang.

Tak dapat disangkal lagi bahwa jahitan itu adalah perbuatan manusia. Walaupun pintar, binatang kera tak bisa menjahit.

Sesudah memeriksa, Boe Kie mengerti, bahwa borok itu disebabkan oleh benda keras itu. Benda itu menonjol keluar dan menggencet pembuluh darah. Sehingga darah tak bisa mengalir leluasa, otot-otot menjadi rusak dan mengakibatkan borok yang tidak bisa sembuh. Maka itu, untuk menyembuhkannya, ia harus mengeluarkan benda itu dari perut si kera.

Soal membedah tidak jadi soal, sebab berkat ajaran Ouw Ceng Goe, ia sudah mahir dalam ilmu itu. Yang menjadi soal ialah tak punya pisau dan obat obatan. Sesudah mengasah otak beberapa lama, ia mencari sepotong batu tipis dan lalu menggosoknya sampai tajam. Sesudah itu, dengan menggunakan pisau tersebut, perlahan ia memotong perut si kera, di bagian bekas jahitan.

Kera itu yang sudah berusia sangat tua, ternyata mengerti maksud pembedahan itu. Meski merasakan kesakitan hebat, ia tidak bergerak sedikitpun jua dan menahan sakit sambil mengeluarkan rintihan tak lama kemudian, Boe Kie sudah memotong bagian atas dan bawah bekas jahitan itu. Dengan hati hati ia lalu membuka kulit perut yang sudah dipotong dan…….loh! Di dalamnya terdapat bungkusan kain minyak.

Dengan rasa heran yang sangat besar, ia mencabut dan menaruh bungkusan itu ke tanah dan buru buru menutup lagi kulit yang terbuka untuk dijahit. Baru sekarang ia ingat bahwa ia tak punya jarum dan benang. Tapi si bocah tidak kekurangan akal. Ia segera mengambil gigi kodok merah yang tajam dan membuat lubang-lubang di pinggiran kulit. Sesudah itu dengan menggunakan serat kulit kayu ia membuat benang dan dengan demikian, biarpun tidak sempurna ia berhasil menjahit perut si kera, yang rubuh pingsan karena mengeluarkan terlalu banyak darah.

Selesai membedah, Boe Kie segera mencuci bungkusan kain minyak yang berlepotan darah dan membukanya. Ternyata didalam bungkusan terdapat empat jilid kitap yang sangat tipis. Karena terbungkus rapat, maka biarpun sudah beberapa lama di dalam perut kera, kitap-kitap itu masih utuh. Diatas kertas terdapat huruf2 yang tidak dikenal Boe Kie. Ia lalu membalik-balik lembaran dan ternyata, bahwa diantara barisan2 huruf yang tidak dikenal terdapat juga huruf2 Tionghoa.

Dengan hati berdebar2, Boe Kie lalu membacanya. Ia mendapat kenyataan, bahwa isi kitab adalah pelajaran untuk melatih pernafasan dan tenaga dalam. Tiba2 jantungnya melonjak.

Ia membaca tiga baris huruf yang sudah dikenalnya. Ia segera ingat bahwa huruf-huruf itu terdapat dalam pelajaran Siauw-lim Kioe yang kang, yang pernah dipelajarinya dalam kuil Siauw Liem Sie. Tapi waktu ia membaca terus, lanjutannya berbeda dengan pelajaran itu. Ia membuka lagi dan membaca beberapa halaman secara sepintas lalu. Sekali ia terkesinap, sebab, ia kembali menemukan tiga baris huruf yang sudah dihafalnya, yaitu pelajaran Boe Tong Lweekang Sim hoat yang diturunkan oleh mendiang ayahnya sendiri.

Jantung Boe Kie memukul keras. “Kitab apa ini?” tanyanya dalam hati. “Mengapa ada Siauw lim Kioe yang kang dan ada juga Boe Tong Lweekang Sim hoat?” Tiba-tiba ia ingat cerita yang diturunkan oleh Taysoehoe (Thio Sam Hong) pada waktu orang tua itu mau mengajaknya pergi ke Siauw lim sie. Cara bagaimana pada sebelum meninggal dunia. Kak Wan taysoe telah menghafal Kioe Yang cin keng dengan didengari oleh Thaysoehoe, Kwee siang Kwee Liehiap dan Boe Sek taysoe yang masing2 mendapat sebagian dari pada kitab itu, sehingga di kemudian hari Boe Tong, Goe Bie dan Siauw Lim pay bisa menjagoi dalam rimba persilatan.

“Apakah kitab ini Kioe Yang Cin Keng yang dahulu di curi orang?” pikirnya. “Benar! Tak salah taysoehoe pernah mengatakan bahwa Kioe Yang Cin Keng ditulis diantara barisan barisan huruf dari kitap Leng Keh Keng, huruf2 yang lugat legot itu tentulah juga sansekerta.

Tapi…..tapi mengapa kitab itu berada dalam perut kera????

X X X

Kitab itu memang juga Kioe yang Cin keng, tapi pada zaman itu, tak seorangpun tahu cara bagaimana bisa menyasar kedalam perut seekor kera.

Pada sembilan puluh tahun lebih yang lalu. Siauw Siang Coe dan In Kek See telah mencuri kitab itu dari Cong Kek Sek di kuil Siauw Lim Si. Mereka diubar oleh Kak Wan taysoe, seorang pendeta yang bertugas menjaga kamar perpustakaan itu dan waktu kabur sampai di gunung Hwa San mereka tidak dapat meloloskan diri lagi. Secara kebetulan, mereka mempunyai seekor kera dan dalam keadaan terdesak, mereka mendapat akal. Mereka membedah perut binatang itu dan menyembunyikan keempat jilid Leng Keh Keng didalam perut si kera. Belakangan Kak Wan, Yo Ko dan yang lain lain menggeledah badan mereka tapi kitab itu saja tidak bisa didapatkan. Akhirnya mereka dilepaskan dan diperbolehkan berlalu bersama2 kera itu. (Mengenai hal ini, bacalah Sin Tiauw Hiap Lu).

Demikianlah selama hampir satu abad, tak seorangpun tahu dimana adanya Kioe Yang Cin Keng. Hal ini sudah merupakan sebuah teka-teki besar dalam rimba persilatan.

Dari Hwa San, bersama-sama kera itu Siauw Siang Coe dan In Kek See kabur ke wilayah See hek. Karena saling mencurigai sebab masing2 kuatir dirinya akan dibinasakan kalau yang lain sudah lebih dahulu memahamkan isi kitab itu, maka baik Siauw Siang Coe, maupun In Kek See tidak berani bertindak lebih dahulu untuk mengambil kitab itu dari perut kera. Waktu tiba di puncak Keng Sin Hong, gunung Koen Loen, mereka “saling makan” dan akhirnya kedua2nya binasa. Mulai dari waktu itu, rahasia Kioe Yang Cin Keng tidak diketahui lagi oleh manusia manapun jua.

Ilmu silat Siauw Siang Coe sebenarnya lebih tinggi setingkat dari In Kek See. Tapi sesudah terluka di puncak Hwa San, tenaganya banyak berkurang dan waktu bertempur dengan In Kek See, ia mati lebih dulu.

Waktu mau melepaskan napasnya yang penghabisan In Kek See telah bertemu dengan Koen Loen Sam seng Ho Ciok Too. Pada saat itu ia merasa agak menyesal akan perbuatannya dan ia meminta supaya Ho Ciok Too pergi ke Siauw Lim Sie dan memberitahukan Kak Wan bahwa kitab Leng Keh Keng berada di dalam perut seekor kera. Tapi dalam keadaan lupa ingat karena terluka berat suaranya tidak terang sehingga perkataan “keng cay kauw tiong” (kitab berada dalam kera) didengar Ho Ciok Too sebagai “kim cay yoe tiong” (emas berada dalam minyak).

Untuk menepati janji. Ho Ciok Too pergi ke Tionggoan untuk menyampaikan perkataan In Kek See kepada Kak Wan, yang tentu saja tidak mengerti apa maksudnya. Kunjungan Ho Ciok To ke Siauw Lim Si itu telah menimbulkan gelombang hebat, yang akhirnya mengakibatkan berdirinya Boe Tong Pay dan Go Bie Pay.

Kera itu ternyata bernasib baik, dengan memakan buah siantho yang luar biasa dan mendapat hawa murni dari langit dan bumi, biarpun sudah berumur hampir seabad kecuali bulunya yang berubah jadi putih, dia masih tetap kuat dan sehat. Hanya karena ada ganjelan besar perutnya kadang-kadang sakit pada tempat menyimpan kitab. Borok yang tak bisa hilang akhirnya, secara luar biasa, dia bertemu dengan Boe Kie. Bagi si kera pertemuan itu berarti hilangnya penyakit diperut, bagi Boe Kie suatu berkah.

X X X

Latar belakang peristiwa itu tentu saja tak bisa di tembus Boe Kie. Sesudah mengasah otak beberapa lama tanpa berhasil, ia segera menjemput buah tho hadiah si kera dan memasukkannya ke dalam mulut. Buah itu harum dan manis luar biasa, melebihi buah apapun jua yang pernah dimakannya dilembah itu.

Setelah perutnya kenyang, didalam hati si bocah berpikir. “Thaysoehoe pernah mengatakan, bahwa jika aku dapat memiliki Kioe Yang Sin Kang dari Siauw Lim, Boe Tong dan Goe Bie, racun dingin dalam tubuhku mungkin bisa diusir keluar. Akan tetapi, Sin Kang dalam ketiga partai itu hanya dapatkan dari kitab Kioe Yang Cin Keng. Manakala benar kitab ini kitab Kioe Yang Cin Keng dan aku mempelajari seluruhnya, maka sin kang yang dimiliki olehku akan melebihi sin kang dari ketiga partai itu. Tapi sudahlah! Perlu apa kita memikir panjang panjang. Disini aku tak punya pekerjaan, biarlah aku mempelajarinya. Andaikata kitab itu tak berguna, atau berbahaya, paling banyak aku mati”. Memikir begitu, ia lantas saja memasukkan jilid pertama dalam sakunya dan menaruh ketiga jilid lainnya di tanah yang kering dan kemudian menindihnya dengan batu yang besar. Ia berbuat begitu, sebab kuatir kitab2 itu dicuri dan di robek si kera yang nakal.

Paling dahulu, ia menghafal isi kitab dan kemudian setindak demi setindak ia berlatih menurut pelajaran itu. Selama belajar ia masih ingat, bahwa andaikata pelajaran itu bisa menghilangkan racun dalam tubuhnya, ia akan tetap terkurung di dalam lembah seumur hidup. Maka itu, ia belajar dan berlatih dengan pikiran tenang dan tak tergesa-gesa…berhasil hari ini baik, berhasil besokpun baik juga. Tapi, justru karena ketenangan itulah, ia mendapat kemajuan yang sangat pesat. Belum cukup empat bulan, ia sudah dapat melayani ilmu-ilmu yang tertulis dalam jilid pertama.

Dahulu pada waktu Tat Mo Couw See mengubah Kioe Im dan Kiu Yang Cin Keng, ia sengaja mengubahnya sedemikian rupa, sehingga nilai kedua kitab itu sama tinggi dan yang satu menutup dari kekurangan dari yang lain. Kiu Yang mengutamakan melatih ilmu pernafasan dan cara-cara memperpanjang umur, sedang Kiu Im mementingkan Ilmu-ilmu silat yang merobohkan lawan. Mengenai Lweekang, Kioe Yang lebih unggul, tapi dalam jurus-jurus silat yang aneh dan luar biasa, Kioe Im-lah yang lebih lihai! Dahulu, waktu Tau Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong mencuri jilid kedua dari Kioe Im Cin Keng, mereka telah berhasil mempelajari ilmu-ilmu silat yang luar biasa, yang tak terdapat pada Kioe Yang Cin Keng. Akan tetapi seseorang yang menyelami Kioe Yang Cin Keng dan sudah melatih diri menurut pelajaran itu sampai puncak yang tinggi, maka orang itu takkan dapat ditaklukkan dengan pukulan atau ilmu silat yang manapun jua.

Sementara itu, setelah menyelesaikan latihan jilid yang pertama. Boe Kie mendapat kenyataan, bahwa ia sudah dapat hidup lebih lama daripada batas waktu yang disebut oleh Ouw Ceng Goe. Sebaliknya daripada binasa, bukan saja ia tetap sehat, tapi jangka waktu antara serangan racun dingin juga makin panjang dan penderitaannya selama serangan makin lama makin berkurang. Ia mendapat kenyataan, bahwa hawa dalam tubuhnya dapat mengalir dengan leluasa. Sekarang ia hampir tak bersangsi lagi, bahwa kitab itu benar Kioe Yang Cin Keng adanya. Jikalau bukan, tapi tetap tidak dapat disangkal, bahwa pelajaran kitab itu mempunyai khasiat yang besar untuk kesehatan badan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: