To Liong To – 7

Sementara itu, orang orang itu yang berjumlah berlima sudah datang dekat. Nyata mereka itn mengenakan pakaian yang bagus bagus, mereka mirip dengan saudagar saudagar besar, melainkan muka mereka semua pucat pasi, bagaikan kertas putih polos, sedikit juga tidak ada sinar darahnya. Ditubuh mereka tidak tampak tanda tanda bekas luka, dari itu teranglah sudah bahwa mereka mendapat luka-luka hebat didalam.

Orang yang berjalan dimuka, yang tubuhnya jangkung dan gemuk, mengangguk terhadap Kan Ciat serta si pria kurus dan kecil, atas mana, mereka itu saling menyeringai.

Jadinya, tiga rombongan orang itu, semua kenal satu dengan lain.

Boe kie heran, tertarik rasa ingin tahunya.

“Apakah kamu semua terlukanya si pemilik bungga emas?” ia tanya.

“Benar.” menjawab si gemuk, yang terus berpaling kepada Kan Ciat, untuk menanya: “Saudara Kan, apakah kau telah bertemu sama Ouw Sinshe?”

Kan Ciat nuenggeleng kepala, “Saudara Nio, mukamu lebih terang. Mungkin kau dapat mengundang Ouw Sinsbe,” katanya

“Siapakah itu si pemilik bunga emas?” tanya Boe Kie menyelak. “Kenapa dia demikian galak?”

“Saudara kecil,” berkata orang yang dipanggii saudara Nio oleh Kan Ciat tanpa dia menjawab pertanyaan si anak tanggung, “tolong kau menyampaikan kepada Ouw Sinshe bahwa aku si orang she Nio dari Toko Emas Goan Sang di Boe hoe telah datang dari tempat yang jauh memohon berobat”

Si orang yang muntah darah hidup, yang tiba paling dulu, menduga Boe Kio muda sekali tetapi bukannya sembarangan orang, maka dia bertanya: “Saudara kecil, kau she apa? Apakah hubungan sama Ouw Sinshe?”

“Aku juga pasien dari Ouw Sinshe.” Boe Kie menyahut. “Sudah dua tahun lebih Ouw Sinshe mengobati aku. Aku masih belum sembuh betul, Ouw Sinshe telah membilang, dia tidak dapat mengobati. Maka itu, sudah pasti dia tidak bakal mengobatinya. Karenanya, tidak ada gunanya untuk kamu berdiam lama-lama disini.”

Selagi mereka berbicara, dengan beruntun kembali datang empat orang. Ada yang naik kereta, ada yang menunggang kuda, dan mereka ini juga datang untuk minta ditolong diobati, mereka memintanya dengan sangat.

Boe Kie menjadi heran sekali hingga ia berpikir. “Lembah Ouw tiap kok ini sepi luar biasa. Kecuali orang-orang partai agama sesat, orang Kang-ouw juga sedikit yang sekali mengetahuinya. Maka itu mereka ini yalah orang-orang Khong Tong pay dan lainnya, yang bukan kaum sesat. Kenapa mereka berbareng pada datang kemari untuk berobat? Pula, kenapa mereka juga terluka berbareng? Dan itu pemilik bunga emas, dia lihay sekali! Untuknya jikalau dia mau mengambil jiwa mereka ini, itulah bukan pekerjaan sulit. Kenapa dia justeru melukai orang orang ini hebat begini macam?”

Di antara semua orang itu, yang berjumlah empat belas, ada yang pandai bicara, ada yang diam saja, tetapi mereka semua bersatu hati tak mau mengangkat kaki walaupun mereka sudah ditolak. Ketika itu sudah magrib, mereka seperti memenuhi sebuah ruang.

Kacung tukang masak nasi sudah lantas menyajikan barang makanannya Boe Kie, dan Boe Kie tanpa sungkan lagi lantas berdahar seorang diri. Kemudian ia duduk menghadapi meja dan dengan terangnya pelita, ia membaca buku tentang ilmu ketabiban. Semua orang itu ia tidak ambil peduli. Ia telah berpikir. “Aku telah dapat mempelajari ilmu tabib dari Ouw Sinshe, maka itu akupun boleh mempelajari ilmunya, melihat kematian tidak menolong.”

Malam telah tiba. Malam itu sunyi sekali. Didalam rumah gubuk itu tidak terdengar suara apa apa lagi kecuali suara Boe Me membalik balik halaman bukunya serta suara bernapas keras dari mereka yang terluka. Justeru suasana sedang sunyi sunyinya itu, dari luar gubuk terdengar tindakan kaki dari dua orang.

Boe Kie heran. Ia lantas_mengangkat kepalanya. Ia memasang kuping. Tindakan tadi perlahan, selagi mendekati, semakin perlahan terdengarnya. Terang orang lagi menghampirkan kerumah gubuk.

Tak lama, atau lantas terdengar suara yang halus tetapi terang. “Ibu, disana ada sinar api di dalam rumah. Kita sudah sampai!”

Didengar dari suaranya itu, orang itu mestinya seorang anak kecil.

“Anak, kau capai atau tidak?” lalu terdengar suara lain, lebih keras tetapi toh dari seorang wanita juga.

“Aku tidak capai.” sahut si anak barusan. “Ibu jikalau tabib sudah mengobati kau, kau tentunya tidak sakit lagi.”

Si wanita terdengar menjawab. “Ya… Tapi entahlah dia suka menolong atau tidak!”

Hati Boe Kie tergerak.

“Ah, rasanya aku kenal baik suara ini …” pikirnya. “Rupanya dia Nona Kie Siauw Hoe.”

“Pasti tabib akan mengobati ibu,” kata pula si anak perempuan. “Jangan kuatir. Apakah nyeri ibu sudah mendingan?”

“Sedikit mendingan?” menyahut si nyonya yang dipanggil ibu itu. “Ah, anak yang bersengsara……”

Mendengar pula suara orang itu, Boe Kie tak sangsi lagi. Ia lantas lompat keambang pintu.

“Toh Kie Kouwkouw disana”, ia menanya “Apakah kaupun terluka?”

Lalu dibawah terangnya sang Puteri Malam ia melihat seorang wanita yang sebelah tangannya menuntun seorang nona kecil, seorang anak perempuan juga. Wanita itu yang dipanggil Kouwkouw, atau bibi, benarlah Kie Siauw Hoe adanya. Akan tetapi Siauw Hoe tidak mengenalinya sebab ketika diatas gunung Boe tong san mereka bertemu, Boe Kie baru berumur sepuluh tahun, dan sekarang, sang waktu sudah lewat lima tahun.

“Kau… kau… ” tanyanya heran.

“Kouwkouw, kau telah tidak mengenali aku, bukan?” kata Boe Kie, “Aku Thio Boe Kie. Ketika dulu hari di Boe tong san ayah dan ibuku membunuh diri, aku melihat kau.”

Siauw Hoe berseru saking herannya. Inilah ia sama sekali tidak menyangka. Berbareng dengan itu, ia menjadi kaget sendirinya dan likat. Ia seorang nona yang belum menikah, membawa-bawa seorang anak perempuan…. Sekarang ia berhadapan dengan Boe Kie, keponakan dari In Lie Heng bakal suaminya itu. Sebagai bocah tanggung, Boe Kie tentulah sulit untuk diberi penjeasan tentang keganjilan itu. Maka mukanya menjadi merah. Karena ia lagi terluka serta lukanya bukan enteng, kagetnya itu membuat tubuhnya terhuyung.

Anak perempuan itu, yang umurnya baru enam atau tujuh tahun, melihat ibunya mau jatuh, ia lantas menjambret tangannya, akan tetapi ia bertenaga lemah, ia dapat berbuat apa?

Boe Kie melihat Siauw Hoe mau jatuh, karena mana si nona cilikpun bakal roboh juga, ia lantas menahan pundaknya bibi itu.

“Kouwkouw, silahkan masuk kedalam untuk beristirahat,” ia mengundang. Ia berkata begitu ia toh memimpin orang masuk kedalam ruang. Karena ini, dengan pertolongan cahaya api, ia lantas melihat luka si bibi, luka dipundak kiri dan dibahu kanan, bekas golok atau pedang. Melihat darah yang menembus dari balutan, luka itu mestinya parah. Pula si nona merintih beberapa kali, tandanya hebat menahan rasa nyerinya.

Mendengar rintihan atau batuk-batuk si nona, Boe Kie mengerti hebatnya luka si bibi. Didalam halnya ilmu ketabiban, sekarang ini Boe Kie telah dapat melawan sembarang “tabib kenamaan”. Suara batuk itu menadakan si nona telah mendapat goncangan pada pinggiran peparunya yang kiri.

“Kouwkouw,” katanya, “tangan kananmu telah bentrok sama tangan orang dan karena itu kau terluka pada bagian peparumu they im hie.” Ia berkata begitu, tetapi tanpa menanti jawaban, ia lantas mengeluarkan tujuh batang jarum emas. Dengan itu, tanpa membukai baju si nona, ia menusuk ditujuh jalan darah in-boen dipundak, hoa kay di dada cie-tek dan lain-lain.

Kepandaian dari Boe Kie ini sekarang beda jauh dari waktu dulu hari ia mengobati Siang Gie Coen. Selama dua tahun ia belajar dibawah pimpinan Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe, ia sudah mendapat kemajuan pesat. Penghalang satu satunya yalah usianya yang masih terlalu muda. Jadi kalau dibandingkan dengan gurunya, ia masih ketinggalan jauh sekali. Hanya didalam ilmu menusuk jalanan darah dengan jarum emas saja, ia sudah mendapatkan tujuh atau delapan bagiannya.

Kie Siauw Hoe melihat anak tanggung itu mengambil jarum, ia tidak tahu apa perlunya itu, maka ia heran dan kagum ketika tahu-tahu dia telah ditusuk berulang-ulang secara demikian hebat dan tepat. Begitu lekas sudah ditusuk, ia merasakan dadanya tidak terlalu sesak lagi.

“Anak yang baik!” Ia berseru dalam girangnya “Aku tidak sangka kau berada disini dan juga telah dapat mempelajari ilmu tabib begini sempurna!”

Siauw Hoe lantas ingat kejadian di Boe tong san itu hari, ketika ia menghadapi Thio Coei San dan In So So, suami isteri itu, saling beegantian membunuh diri, hingga mayat mereka dipeluki Boe Kie. Ia merasa terharu sekali, ia berkasihan terhadap anak itu, maka ia telah membujuk dan menghiburinya seraya memberikan juga kalungnya yang terbuat daripada emas. Hanya ketika itu Boe Kie sudah menampik pemberian itu sebab dia lagi sangat berduka dan gusar, hingga dia memandang semua tetamu yang hadir disitu adalah musuh-musuh yang mendesak kebinasaan ayah dan ibunya. Atas penampikan itu, Siauw Hoe jadi malu sekali, tetapi ia tidak dapat berbuat apa apa. Kemudian pikiran Boe Kie berubah. Inilah disebabkan ketika dia terlukakan serangam ilmu Hian beng Sin ciang, dia sudah ditolong mati matian oleh In Lie Heng, yang sudah mengorbankan banyak tenaga dalamnya. Perto1ongan itu dia ingat betul. Dia merasa berhutang budi, Maka juga, karena mengingat budinya In Lie Heng dia menjadi ingat juga kebaikan Ki Siauw Hoe dan untuk membalas budinya si paman guru, pantas dia memberikan kesan baik terhadap si tunangan si paman. Semakin usianya bertambah semakin dia dapat berpikir, membedakan yang benar dan yang salah. Dia juga ingat tempo dulu kala ,sekalian paman gurunya telah membicarkan persoalan minta Go bie pay bekerja sama menentang musuh. Jadi Go bie pay bukanlah musuh utama bahkan sama sekali bukanlah musuh Boe tong pay.

Pada dua tahun dulu, ketika Boe Kie bertemu sama Siang Gie Coen di diluar rimba, disana is menyaksikan Kie Siauw Hoe menolongi Pheng Hweeshio. Perbuatan mulia nona itu membikin ia beranggapan si nona ialah orang baik. Hanya sekarang ini ia belum dapat memikir kenapa Siauw Hoe, si bibi yang belum menikah, telah mempunyai anak perempuan umur lebih daripada lima tahun itu . . . .

Cuma Siauw Hoe yang lihat sendirinya.

Selama ini Boe Kie dapat melihat jelas anaknya bibi itu. Nona cilik itu berdiri diam disisi ibunya. Dia masih kecil tetapi nyata dia cantik sekali. Sepasang alisnya bagaikan dilukis, sepasang matanya hitam dan celi, dan dengan mata tajam mengawasi padanya.

“Ibu, apakah anak ini sitabib?” kemudian anak itu berbisik dikuping ibunya. “Apakah rasa nyeri ibu sudah baik?”

Mendengar panggilan “Ibu” mukanya Siauw Hoe menjadi merah pula, tak dapat ia mencegah jengahnya.

“Inilah kakakmu, kakak Boe Kie,” ia menyahuti. “Ayah kakakmu ini ialah sahabat ibumu. Kemudian ia meneruskan pada Boe Kie, perlahan “Dia… dia bernama Poet Hwie….” Ia berhenti pula sejenak. “Dia she Yo…. Yo Poet Hwie…”

Boe Kie girang, dia tertawa.

“Bagus!” dia berseru. “Aku Thio Boe Kie dan kau Yo Poet Hwie!”

Senang Siauw Hoe melihat sikap wajar dari Boe Kie, tak sedikit juga sikap si anak yang hendak menegur kepadanya. Hatinya menjadi lega.

“Anak, kepandaian kakakmu hebat,” ia kata pada anaknya. “Sekarang ini rasa nyeriku sudah berkurang”

Poet Hwie memainkan matanya yang celi itu. Ia mengawasi ibunya, terus ia mengawasi Boe Kie. Sekonyong-konyong ia maju kepada bocah didepannya, untuk merangkul, untuk mencium pipinya.

Bukan main terkejutnya Boe Kie.

Nona Poet Hwie ini adatnya sangat polos dan wajar. Sedari masih kecil sekali, kecuali ibu dan pengasuhnya, ia tidak pernah bertemu sama lain orang. Sekarang ibunya terluka parah, mereka pun dalam kesukaran besar, sekarang ia menyaksikan Boe Kie menolongi ibunya itu yang nyerinya menjadi ringan sekali. Ia bersyukur bukan main. Adalah kebiasaannya, kalau ia mengutarakan kegirangan dan rasa syukurnya, suka ia berlompat kepada mereka, untuk memeluk atau merangkul, untuk mencium pipi mereka. Kebiasaan ini sekarang ia melakukannya terhadap Boe Kie tanpa malu.

“Hus!” Siauw Hoe berseru. “Jangan begitu Hwie-jie Kakak Boe Kie tidak senang nanti!”

Poet Hwie mementang kedua matanya, ia heran.

“Apakah kau tidak senang padaku?” ia tanya Boe Kie. “Kenapa aku tidak boleh berlaku baik kepadamu?”

Boe Kie tertawa.

“Aku girang!” sambutnya. “Aku suka berbuat baik terhadapmu!” Dan ia membalas mencium pipi yang halus dari nona cilik itu.

Poet Hwie girang bukan main, ia menepuk nepuk tangan.

“Hai, tabib kecil, lekas kau obati ibu, supaya ibu sembuh seluruhnya!” ia berseru. “Nanti aku cium pula padamu!”

Tidak kepalang girangnya Boe Kie mendapatkan orang demikian manja dan lincah. Selama belasan tahun hidupnya, ia telah bergaul sama banyak orang, tetapi mereka itu adalah paman pamannya dan Siang Gie Coen juga masih lebih tua delapan tahun daripadanya. Didalam perahu ia pernah bertemu sama Coe Tit Jiak, akan tetapi pertemuan itu sangat pendek, belum ada satu hari mereka sudah mesti berpisah pula. Jadi belum pernah ia bergaul sama sahabat-sahabat cilik sebayanya. Maka itu, mendapati nona ini, ia berpikir. “Jikalau aku mempunyai adik benar sekecil ini, yang begini menarik hati, pastilah aku sering mengajak dia pergi bermain-main….”

Dalam usia empat belas tahun, anak yatim piatu ini masih kekanak-kanakan. Ia kehilangan ketikanya untuk bermain-main seperti anak-anak yang kebanyakan.

Sementara itu Kie Siauw Hoe telah menyaksikan semua hadirin yang pada terluka. Ia merasa malu untuk mendahului mereka.

“Tuan-tuan ini datang terlebih dulu daripada aku, pergi kau periksa mereka lebih dulu,” ia kata pada Boe Kie. Ia tidak ketahui duduknya hal. “Sekarang ini sakitpun berkurang banyak.”

“Mereka datang untuk berobat kepada Ouw Sin she,” Boe Kie mengasi tahu. “Cuma sekarang ini Ouw Sinshe sendiri lagi sakit. Mana dia bisa mengobati orang? Mereka tidak mau berlalu, maka itu biarlah mereka terus menunggu. Kouwkouw, kau bukannya mencari Sinshe, jikalau kau percaya keponakanmu ini, mari sini, biar aku periksa lebih jauh lukamu. Sudah lama juga aku berdiam di sini, tentang luka-luka aku mengetahui sedikit.”

Sebenarnya Kie Siauw Hoe yang mendapat suatu petunjuk, datang ke lembah ini untuk mencari Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe. Ia datang dengan serapa maksud dengan Kan Ciat beramai itu.

Maka itu, melihat keadaannya Kan Ciat semua, ia heran siapa tahu duduknya hal sederhana saja. Ia lantas mengerti bahwa Ouw Ceng Goe tidak berniat menolongi mereka itu. Tapi mengenai Boe Kie, kepercayaannya lantas muncul. Bukankah ia telah ditusuk berulang-ulang dan sekarang rasa nyerinya telah berkurang banyak? Ia jadi tidak boleh memandang enteng kepada usia bocah ini.

“Baiklah.” katanya kemudian. “Aku terima kasih padamu ! Tidak apa tabib besar tidak mau mengobati aku, asal ada kau si tabib kecil…”

Boe Kie lantas minta bibi itu masuk ke kamar samping dimana ia lantas bekerja. Lebih dulu ia guntingi bajunya si bibi dibagian tubuhnya yang terluka. Ia mendapatkan tiga luka bacokan golok dibahu, sambungan pundaknya telah menggeser dari tempatnya. Di lengan juga ada tulang yang remuk. Di matanya tabib yang kebanyakan, luka luka itu ialah luka luka yang sukar untuk di obati, tetapi dimata muridnya Ouw Ceng Goe, itulah luka luka biasa. Maka Boe Kie lebih dulu menyambung rapi dulu, tulang yang berkisar itu, habis mana ia memborehkan obat. Kemudian lagi, ia membuat surat obat, yang obatnya ia suruh kacung memasaknya matang. Ia belum biasa membalut luka tapi toh, walaupun rada lambat, dapat menyelesaikan juga tugas ketabibannya itu.

“Kouwkouw, sekarang silahkan kau beristirahat dulu,” katanya akhirnya. “Sebentar, setelah habis kekuatan baal dari obat ini, kau akan merasa sakit luar biasa.”

“Terima kasih!” menyahut bibi itu.

Boe Kie pergi ke kamar obat untuk mencari buah ongoo dan buah heng. Ia bawa itu untuk dikasihkan pada Poet Hwie. Ketika ia kembali, si nona sudah tidur menyender kepada ibunya sebab dia telah tidak tidur satu malaman. Dari itu ia masuki saja buah buahan itu ke dalam saku sinona. Lantas ia kembali ke depan.

Pria yang muntah darah itu, orang Hoa san pay, lantas berbangkit. Ia menjura dalam terhadap si anak tanggung.
“Siauw Sinshe.” katanya. Ia memanggil “Siauw Sinshe” atau tabib kecil. “Oleh karena Ouw Sin she lagi sakit, kau saja yang menolong mengobati kami. Pasti kami akan sangat bersyukur terhadap mu…”

Boe Kie mengawasi orang itu dan kawan kawannya. Sebenarnya semenjak ia belajar ilmu kecuali mengobati Siang Gie Coen dan Kie Siauw Hoe ini, belum pernah ia mencoba terlebih jauh kepandaiannya itu. Akan tetapi ia ingat kata katanya Ouw Sinshe, ia menguasai dirinya.

“Rumah ini rumah Ouw Sinshe,” ia berkata. “Dan aku sendiri, adalah orang yang menderita sakit yang berada dibawah rawatannya, mana berani aku melancangi tuan rumah ?”

Orang Hoa San Pay itu mengawasi si bocah, ia seperti dapat membade hati orang.

“Memang umumnya, seorang tabib kenamaan mesti telah berusia lima atau enam puluh tahun.” ia berkata untuk mengumpak, “Maka itu luar biasa Siauw Sinshe, yang usianya masih muda sekali tetapi kepandaiannya kau sangat langka. Maka itu. Sinshe, aku mohon sukalah kau menolongi kami?”

Si orang terokmok she Nio yang romannya seperti hartawan turut bicara.

“Kami empat belas orang, didalam kalangan kang ouw, kami mempunyai juga sedikit nama,” katanya, “Maka itu, jikalau kami dapat ditolong oleh Siauw Sinshe, setelah kami pulang nanti, pasti kami akan menguwarkan kepandaian Sinshe ini supaya namanya menjadi kesohor hingga di dalam satu malam, kau akan jadi terkenal diseluruh negeri!”

Dasar masih terlalu muda, dan tidak punya pengalaman, Boe Kie tertarik kata-kata yang mengumpak-umpak itu, hatinya menjadi girang.

“Apakah bagusnya nama kesohor diseluruh negeri ?” katanya. “Ouw Sinshe sendiri tidak dapat menolong kalian, apalagi aku ? Apakah yang aku bisa bikin ? Agaknya luka kamu bukannya enteng, maka begini saja, aku akan membantu meringankan rasa nyerimu”

Lantas ia mengambil obat obatan guna memberi pertolongannya. Ketika ia sudah melihat luka orang orang itu, ia menjadi heran. Nyata, setiap luka itu beda satu dari lain, semuanya luka luka biasa.

Belum pernah Ouw Ceng Goe mengajari ia tentang bermacam macam luka semacam ini. Ada seorang yang rupanya telah dipaksa menelan beberapa puluh batang jarum, ada orang perutnya tengoncang, tergempur tenaga dalam, ada yang beberapa jalan darahnya telah terlukakan racikan pisau. Semua itu menandakan, si pembuat luka juga mengerti itu tabib baik sekali. Semua itu ialah luka luka yang sangat sukar diobatinya. Ada lagi orang yang pinggiran peparunya terpaku hingga tak hentinya dia batuk batuk dan mengeluarkan darah, ada pula orang yang tulang tulang iganya pada patah tetapi luka itu tidak mengganggu peparu atau jantungnya. Seorang lagi terkutungkan kedua ujung tangannya lalu tangan tangan yang buntung itu, yang kiri ditaruh kebahu kanan, yang kanan ditaruh dibahu kiri. Masih ada pula yang bengkak selurub tubuhnya seperti bekas dipagut kelabang atau binatang berbisa lainnya.

“Semua luka mereka luar biasa. Tidak satu juga yang aku bisa obati,” pikirnya. “Orang yang membuatnya luka itu hebat sekali, dia liehay. Kenapa dia menyiksa orang sampai begini?”

Karena memikir begini, ia menjadi ingat luka nya Kie Siauw Hoe.
“Luka bibi terlihat biasa saja, apakah bibipun mendapat luka di dalam ?” pikirnya pula kaget. “Kalau tidak, mengapa bibi seorang yang dikecualikan?”

Lekas lekas ia meninggalkan Kan Ciat semua. Ia lari kedalam. Segera ia memeriksa nadinya Siauw Hoe. Ia menjadi kaget. Ia mendapatkan nadi si bibi bergerak gerak, sebentar keras, sebentar kendor, atau sebentar lagi jalannya lurus dan serat bergantian. Pasti itu disebabkan sesuatu dari dalam tubuh. Ia kaget sebab ia tidak mengerti akan perubahan itu.

Keempat belas orang itu aneh lukanya, ia tidak memikirkannya. Diantara mereka itu ada orang Khong tong pay, yang ada sangkut pautnya dengan kebinasaan ayah dan ibunya, jikalau mereka tersiksa, pantaslah juga. Akan tetapi Kie Siauw Hoe, bibinya ini, tidak dapat ia tidak menolongnya. Maka lekas-lekas ia pergi ke kamarnya Ouw Ceng Goe,
“Sinshe! Apa sinshe sudah tidur ?” ia tanya perlahan.

“Ada apa?” ia mendapat jawaban. “Tidak peduli siapa, aku tidak akan mengobatinya!”

“Ya, sinshe. Hanya luka mereka itu, semuanya luka yang aneh-aneh ….”

Boe Kie lantas saja menurunkan tentang semua luka itu.

Ouw Ceng Goa, yang teraling dengan sekosol mendengari. Kalau ada yang ia tidak mengerti ia menanya tegas, untuk itu. Boa Kie mesti pergi keluar kepada orang-orang yang luka itu, untuk memeriksa pula selanjutnya untuk ia memberikan jawabannya yang terang kepada Tiap kok Ie sian. Oleh karena ini, setengah jam tempo dibutuhkan untuk mendapat tahu jelas lukanya semua limabelas orang itu berikut Siauw Hoe.

Beberapa kali Ouw Sinshe mengasih dengar suara tidak terang, agaknya ia terang berpikir, banyak kemudian, ia kata “Hm semua luka itu tidak akan dapat menyulitkan aku ! “

Belum lagi Boe Kie sempat menanya, tiba-tiba ada orang yang bersuara di belakangnya katanya: “Ouw Sinshe, pemilik bunga emas itu telah membilangi aku, untuk aku menyampaikan kepada kau. Dia bilang. “Kecewa kau dipanggil Tiap kok Ie sian, sebab limabelas macam luka ini, aku menduga tidak satu yang kau sanggup sembuhkan.” Haha ! Benar-benar sekarang kau menyembunyikan diri, kau berpura-pura sakit!”

Boe Kie berpaling. Ia mengenali si orang tua berkepala lanang Seng Cioe Ka lam Kan Ciat dari Khong tong pay. Tadinya ia menyangka rambut orang rontok wajar, kemudian ia mendapat tahu, rambut itu rontok sebab kepalanya si gundul pernah dilabur obat yang sifatnya keras oleh sipemilik bunga emas atau Kim hoa hingga rambutnya habis. Bahkan sisa obat beracun menempel dan menembusi kulit, hingga selanjutnya kepala menjadi gatal terus-terusan, hingga ada kekuatiran, selewatnya beberapa hari, racun yang jahat itu nanti menyerang polo atau otak, hingga orang bisa menjadi gila. Sekarangpun kedua tangannya dirantai oleh kawan-kawannya, supaya tidak dapat menggaruk, kalau tidak, tidak nanti dia dapat melawan rasa gatalnya itu.

Atas kata-kata jago Khong tong pay itu, Ouw Ceng Goe kata dengan tawar: “Untukku, aku dapat menyembuhkan syukur, tidak dapatpun tidak apa. Ringkasnya, aku tidak mau mengobati kau! Aku lihat kau masih dapat hidup sampai tujuh atau delapan hari lagi, karena itu baiklah kau lekas pulang untuk menemui isteri dan anak anakmu, orang sedalam rumah tangga ! Apa perlunya kau banyak omong di sini? Apakah faedah nya itu ?”

Kan Ciat menggoyang goyangkan kepalanya. Selagi mendongkol, berduka dan berkuatir, rasa gatalnya menyerang hebat sekali. Karena ia tidak bisa menggaruk, ia membenturkan kepalanya berulang ulang kepada tembok, sedang kedua tangannya, yang digerak-gerakkan, mendatangkan suara berkelontrangan yang berisik. Dan terdengar jelas napasnya yang memburu.

“Ouw Sinshe, orang yang menggunakan bunga emas itu, siang atau malam, bakal datang kemari!” Ia berkata dengan sengit. “Aku juga telah melihat bahwa kaupun tidak bakalan mati secara baik, maka itu, aku pikir baiklah kita bergabung bekerja sama melawan dia. Bukankah ada terlebih baik begitu dari pada kau nantikan kematianmu dengan tidak berdaya?”

“Jikalau kamu semua masih dapat melawan dia, siang siang kamu telah membunuh mampus padanya,” kata Ouw Ceng Goe “Apakah perlunya aku mendapatkan lima belas kantong nasi yang tidak mempunyai guna?”

Kan Ciat menjadi putus asa. Dari omong keras, ia menjadi merendah, memohon pertolongan tabib pandai itu. Tetapi Ouw Ceng Goe sudah bertekad dengan keputusannya, bahwa ia tidak mau ambil perduli.

Akhirnya Kan Ciat menjadi gusar, hingga ia berjingkrakan.

“Baiklah!” serunya saking nekad “Ke kiri dan ke kanan toh bakal mampus, maka kalau benar benar musti mampus, baiklah, aku akan menggunakan api membakar kandang anjingmu ini. Kami yang biasa memasuki golok putih bersih dan mengeluarkan golok berdarah merah, biar kami membikin terjungkal kau. pendeta bangsat! Biarlah kita sama sama mengantarkan jiwa kita di tempat ini!”

Saat itu, dari luar masuk lagi seorang lain, yaitu orang yang ditolong Boe Kie waktu mau muntahkan darah. Melihat kekalapan Kan Ciat ia meraba pinggang dan mengeluarkan sebatang Go bie Kong-cek (senjata semacam pusut). Sambil monotol dada Kan Ciat dengan pusutnya, ia berkata : “Kau berdosa terhadap Ouw Cianpwee, dan aku si-orang she Sie, merasa sangat tidak enak. Kau ingin yang masuk pisau putih, yang keluar pisau merah? Baiklah! Aku akan mengiringi keinginanmu.”

Ilmu silat Kan Ciat sebenarnya tebih tingga daripada si orang she Sie. Tapi karena kedua tangannya diikat dengan rantai besi, maka ia tak melawan dan hanya mengawasi dengan mata membelalak.

“Ouw Cianpwee,” kata si orang she Sie dengan suara nyaring, “boanpwee Sie Kong Wan murid Sian ia Sianseng dari Hoan san memberi hormat.” Seraya berkata begitu, ia menekuk lutut dan manggutkan kepala empat kali.

Melihat begitu, dalam hati Kan Ciat lantas saja timbul sedikit harapan. Ouw Ceng Goe yang tidak dapat dipaksa dengan kekerasan, mungkin dapat ditataki dengan kelembekan.

Sesudahnya menjalankan peradatan besar, Sie Kong Wan berkata pula: “Kami sungguh bernasib sial, karena justeru pada waktu kami memerlukan pertolongan, Ouw Siashe sakit. Tapi kami tahu, bahwa disini terdapat seorang saudara kecil yang mempunyai kepandaian tinggi dalam ilmu pengobatan. Maka itu, kami memohon Ouw Cianpwee suka memberi permisi supaya saudara kecil itu mengobati luka kami yang sangat luar biasa. Dikolong langit, kecuali murid Tiap kok le Sian tiada orang lain yang dapat menyembuh kan luka kami.”

“Anak itu bernama Thio Boe Kie,” kata si tabib malaikat dengan suara tawar. “Dia putera Thio Sam Hong. Aku Ouw Ceng Goe manusia jahat dari agama siluman tak ada sangkut pautnya dengan murid dari partai yang lurus bersih. Dia sendiri kena racun dingin dan meminta pertolonganku, Tapi aku sudah bersumpah, bahwa kecuali anggota Beng kauw, anak she thio itu tak sudi menjadi anggauta agama kami, mana biasa aku menolongnya?”

Hati Sie Kong Wan mencelos. Semula ia menduga, Boe Kie murid Tiap kok Ie sian.

Sesudah berdiam sejenak, si tabib berkata pala. “Mengapa kamu tidak mau lantas berlalu dari situ? Huh-huh! Apa kamu kira aku akan merasa kasihan? Tanyakanlah anak itu. Tanya dia berapa lama dia sudah berdiam dirumahku.”

Sie Kong Wan dan Kan Ciat lantas saja mengawasi Boe Kie yang lalu mengacungkan dua jari tangannya.

“Duapuluh hari?” tanya Sie Kong Wan.

“Dua tahun dua bulan tepat” jawabnya.

Kan Ciat dan Sie Kong Wan merasa kepala mereka seperti disiram air es. Mereka saling mengawasi dengan mulut ternganga.

“Biarpun dia berdiam disini sepuluh tahun, aku tetap tidak menolongnya,” kata Ceng Goa, “Hanya sayang didalam tempo satu tahun, racun dingin yang mengeram dalam isi perutnya akan mengamuk, sehingga biar bagaimanapun jua, dia tak bisa hidup setahun lagi. Aku pernah bersumpah dihadapan leluhur agama kami, bahwa biarpun ayah sendiri, biarpun anak kandungku sendiri, aku tetap tak akan menolong, jika ia bukan murid Beng keuw.”

Dengan putus harapan Kan Cat dan Sie Kong Wan menghela napes berulang-ulang. Tapi baru saja mereka mau berjalan keluar, tiba-tiba Ouw Ceng Goe berkata “Bocah Boe tong pay itu mengerti juga sedikit ilmu pengobatan. Meskipun ilmu pengobatan Boe tong tidak dapat menandingi ilmu ketabiban Beng kauw, kurasa dia tidak akan membinasakan kamu dengan pengobatan yang keliru. Apa dia suka monolong atau tidak, bukan urusanku”

Sie Kong Wan agak terkelut. Didengar dari pada suaranya, si tabib malaikat seperti juga memberi isyarat supaya Boe Kie memberikan pertolongan. Maka itu, ia lantas saja berkata: “Jika Thio Siauw hiap sudi menolong, kami mempunyai haranan lagi untuk bisa hidup terus.”

“Bukan urusanku!” bentak Ceng Goa. “Boe Kie kau dengarlah. Aku melarang kau mengobati mereka dalam rumahku. Kalau kamu tidak berada dalam rumah ini, aku tidak perduli.”

Kan Ciat dan Sie Kong Wan kaget dan heran. Mereka sungguh tak mengerti apa maksudnya si tabib malaikat yang beradat aneh.

Tapi Boe Kie yang sangat pintar lantas saja tahu apa maunya Ceng Goe. “Kalian jangan mengganggu Ouw Sinshe yang sedang sakit,” katanya. “Ikutlah aku.”

Mereka lalu mengikutt Boe Kie keruang depan.

“Pengetahuanku tentang ilmu ketabiban sebenarnya sangat cetek dan luka kalian sangat luar biasa,” kata si bocah. “Maka itu.. aku tidak mempunyai pegangan, apa aku akan berhasil atau tidak. Jika kalian percaya dan rela diobati olehku, bolehlah aku mencoba-coba. Tapi aku tidak bertanggung jawab akan keselamatan jiwa kalian.”

Waktu itu, mereka sedang menderita hebat. Rasa sakit gatal, meluang dan kesemutan tercampur menjadi satu. Mereka mau mati tidak bisa mau hidup pun tidak dapat. Maka itu, begitu mendengar perkataan Boe Kie, mereka segera menyetujui untuk menerima pertolongan bocah itu dengan rela hati.

Sesudah mendapat jawaban, Boe Kie lalu berkata pula: “Sebagaimana kalian tahu, Ouw Sinshe tidak mengijinkan aku mengobati kalian didalam rumahnya. Ia merasa kuatir, bahwa kalian mati disini, nama harumnya sebagai Ie Sian (tabib malaikat) akan ternoda. Maka itu, marilah kita keluar.”

Mendengar perkataan Boe Kie, mereka bersangsi. Apakah kepandaiannya seorang anak-anak yang baru berusia belasan tahun? Kalau dia salah mengobati, tentu penderitaan akan ditambah dengan penderitaan lain. Tapi Kan Ciat sudah lantas berteriak. “Kulit kepalaku gatal bukan main. Saudara kecil, kau boleh mengobati aku lebih dulu.”

Sehabis berkata begitu, ia segera bertindak keluar.

Boe Kie memikir sejenak dan lalu masuk kekamar obat, dimana dia mengambil Lam seng, Hong-hong, Pek tit, Thiam ma, Kiang ho, Pek hoe coe, Cie souw dan lain-lain, semuanya belasan macam bahan obat. Sesudah itu, ia memerintahkan seorang kacung mengilingnya dan mencampurnya dengan sedikit arak untuk membuat koyo yang lalu ditempelkan dikepala Kan Ciat yang gundul.

Begitu kena, dia mengeluarkan teriakan kesakitan dan melompat-lompat. “Aduh! Aduh!” teriaknya. “Sakit sungguh… tapi… tapi… mendingan daripada gatal.” Sambil mengertak gigi, ia berlari lari dan berteriak-teriak seperti seorang edan. Beberapa lama kemudian, kecepatan larinya jadi terlebih perlahan dan teriakannya mereda. “Enakan… mendingan,..” katanya dengan napas tersengal sengal. “Bocah itu memiliki kepandaian lumayan…. eh, salah! Thio Siauw hiap, kau memiliki ilmu yang sangat tinggi dan aku merasa sangat berterima kasih sekali kepadamu!”

Melihat hasil itu, semua orang segera memohon pertolongan Boe Kie. Diantara mereka yang paling menderita adalah seorang yang terus bergulingan ditanah sambil mencekal perut. Dia ternyata telah dipaksa untuk menelan tiga puluh lebih lintah hidup yang sekarang menghisap darahnya didalam perut. Untung juga Boe Kie segera ingat, bahwa dalam salah sebuah kitab, ia pernah membaca lintah dalam harus ditaklukkan dengan madu.

Buru-buru ia memerintankan seorang kacung mengambil semangkok madu yang lalu di berikan kepada orang itu. Dan sekali lagi ia berhasil. Dengan demikian, ia terus bekerja keras sehingga fajar menyingsing.

Tak lama kemudian, Kie Sianw Hoe dan putrinya keluar dari kamar. Melihat Boe Kie masih repot mengobati orang, Siauw Hoe segera memberi bantuan apa yang ia bisa.

Delasan orang ini sebenarnya jago-jago yang pernah malang-melintang dalam dunia Kangouw, tapi sekarang mereka jadi jinak sekali. Dengan sabar mereka menunggu giliran dan tak berani membantah apa yang dikatakan oleh si bocah.

Antara mereka hanya Yo Poet Hwie yang bebas dari rasa jengkel atau bingung. Sambil mengunyah buah angco ia berlari lari kian kemari untuk menangkap kupu-kupu yang berterbangan didalam kebun.

Sesudah lewat tengah hari barulah Boe Kie mulai mengobati luka diluar. Dengan dibantu Siauw Hoe ia menghentikan keluarnya darah, memberi obat untuk meredakan rasa sakit, membalut luka dan sebagainya. Sesudah selesai, ia segera pergi mengasoh dalam kamarnya.

Baru saja pulas beberapa jam, ia disadarkan oleh suara ribut ribut. Buru-buru ia bangun dan pergi keluar untuk menengok para penderita. Ternyata keadaan sebagian penderita itu cukup memuaskan tapi keadaan yang sebagian lagi berbalik menghebat. Boe Kie jadi bingung, ia tak tahu apa yang harus diperbuat.

Akhirnya, karena tidak berdaya, ia terpaksa menemui Ouw Ceng Goe dan menceritakan keadaan mereka.

“Mereka bukan anggauta Bang kauw, perduli apa mereka mampus,” kata Tiap kok Ie sian dengan suara tawar.
Mendadak Boe Me mendapat serupa ingatan dan ia lantas saja berkata: “Andaikata ada seorang murid Beng kauw yang sedangkan diluar badannya tidak terdapat luka, perutnya kembung bengkak, warna kulitnya hitam biru dan terus menerus berada dalam keadaan pingsan, cara bagaimana Sinshe akan mengobatinya?”

“Kalau benar dia murid Beng kauw, aku akan mengobatinya dengan menggunakan San ka, Liong bwee, Ang hoa, Seng tee, Leng sian, To Ouw ” kata Ceng Goe. “Obat-obatan itu aku masak dengan arak encer dan kemudian menambahkannya dengan sedikit To pian. Sesudah minum godokan tersebut si sakit akan buang buang air dan mengeluarkan darah beracun dari kotorannya.”

“Ouw Sinshe bagaimana aku akan berbuat jika kuping kiri seorang muiid Beng kauw dituangi timah cair, kuping kanan dituangi dengan air perak dan kedua matanya dilabur dengan cat, sehingga ia menderita kesakitan hebat dan matanya tak bisa melihat lagi”‘ tanya pula si bocah. (Air perak = Air raksa)

Ouw Ceng Goe naik darah. “Siapa berani berlaku begitu kejam terhadap murid Beng kauw?” bentaknya.

“Musuhnya itu memang kejam luar biasa,” kata Boe Kie. “Tapi menurut pendapatku, yang paling perlu yalah mengobati lebih dulu dan kemudian barulah kita menanyakan siapa adanya musuh itu.”

Sesudah memikir sejenak, Tiap kok Ie sian ber kata: “Kalau dia memang murid Beng kauw, aku akan menuang air perak kedalam kuping kiri nya. Timah akan lumer dan bercampur dengan air perak, sehingga cairan itu akan mengalir ke luar dari kupingnya. Kemudian, aku akan memasukkan jarum emas kedalam kuping kanannya. Air perak akan menempel pada jarum itu yang dengan perlahan bisa ditarik keluar. Mengenai cat yang masuk dikedua matanya, kurasa akan dapat dipunahkan dengan kepiting yang ditumbuk hancur dan kemudian dibalut pada matanya itu.”

Demikianlah, untuk setiap luka yang aneh, Boe Kie meminta pertolongan Ouw Ceng Goe dengan menggunakan nama “murid Beng kauw” dan sang tabibpun memberikan bantuannya dengan segala senang hati. Jika lukanya terlampau aneh dan si penderita tidak jadi mendingan dengan pertolongan pertama, Boe Kie segera menanyakan lagi pendapat Tiap-kok Ie-sian yang lalu mengasah otak dan mencoba pula dengan lain cara pengobatan. Sesudah berselang lima enam hari, semua orang dapat dikatakan sudah mulai sembuh seluruhnya.

Luka yang diderita Kie Siauw Hoe adalah luka di dalam, tercampur dengan racun. Tenaga pukulan musuh sudah melukakan perutnya, sedang racunpun sudah masuk kedalam tubuhnya. Sesudah memeriksa dengan teliti, Boe Kie segera memberi obat pemunah racun kepadanya dan selang beberapa hari, keadaannya sudah banyak baik.

Sementara itu, para penderita telah mendirikan sebuah gubuk di depan rumah Ouw Ceng Goe dan mereka tidur menggeletak di tanah dengan hanya dialaskan dengan rumput kering. Beberapa tombak dari gubuk itu, Kie Siauw Hoe juga membuat sebuah gubuk yang lebih kecil untuk ia dan puterinya.

Boe Me capai dan lelah. Tapi ia sangat bergembira dan bersemangat, karena ia bukan saja bisa menolong sesama manusia, tapi juga sudah memperoleh resep-resep mujijat dan cara-cara pengobatan yang biasa dari Tiap kok Ie sian.

Tapi pagi itu ia kaget bukan main, sebab waktu bertemu dengan Kie Siauw Hoe, ia melihat sinar hitam pada alis nona Kie. Apa penyakitnya kumat lagi? Apa racun mengamuk pula? Cepat-cepat ia memeriksa nadi Siauw Hoe. Sesudah itu, ia mencampur ludah Siauw Hoe dengan bubuk obat Pek hap san dan begitu lekas melihat campuran itu, ia bisa lantas memberi kepastian bahwa benar racun mengamuk lagi.

Ia mengasah otak mati matian, tapi tidak bisa memecahkan sebab musabab dari perubahan itu. Maka itu, ia selalu meminta pertolongan Ouw Ceng Goe yang segera memberitahukan lain cara pengobatan kepadanya. Benar saja, sesudah diobati menurut petunjuk baru itu, keadaan Siauw Hoe jadi terlebih baik.

Tapi, sungguh heran, sehabis Siauw Hoe, perubahan luar biasa mendadak datang kepada dirinya Kan Ciat. Kepala gundulnya yang sudah mulai sembuh mendadak borokan lagi dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Perubahan itu terjadi silih berganti atas dirinya kelimabelas orang itu: yang satu mendingan, yang lain menghebat lagi penyakitnya.!

Boe Kie bingung bukan main. Ia pergi menemui Tiap kok Ia sian dan menuturkad kejadian yang luar biasa itu. “Sebab musabab dari perubahan itu yalah karena luka mereka sangat aneh, berbeda dengan luka biasa,” menerangkan sang tabib malaikat. “Kalau mereka dapat disembuhkan oleb tabib biasa, tak perlu mereka datang kemari.”

Malam itu Boa Kie tak bisa pules. Ia berduka dan coba memecahkan teka-teki yang rumit “Perubahan penyakit itu adalah kejadian biasa,” pikirnya. “Tapi walaupun begitu tak bisa jadi semua penderita itu mengalami perubahan sampai berkali-kali, sebentar baik, sebentar hebat,” Ia gelisah dan bergolak gulik diatas pembaringan.

Kira-kira tengah maiam, tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki yang sangat enteng dan lewat didepan kamarnya. Ia melompat bangun dam mengintip dari cela-cela jendela. Ia melihat berkelebatnya bayangan manusia yang segera menghilang dibelakang pohon kuil. Dilihat dari pakaian dan gerak-geriknya orang itu bulan lain dari pada Ouw Ceng Goe.

“Eh-eh! .. Mengapa Ouw Sinahe berkeliaran ditengah malam buta?” tanyanya didalam hati. “Apa cacarnya sudah sembuh?” Sesaat kemudian, ia melihat masuknya Tiap kok Ie sian kedalam gubuk Kie Siauw Hoe. Jantungnya berdebar keras dan jiwa kesatrianya tampil kemuka. “Apa dia mau menganiaya atau menghina Kie Kouw kouw?” tanyanya pada diri sendiri. “Meskipun aku bukan tandingannya, tak dapat aku mengawasi dengan berpeluk tangan. Ia melompat keluar jendela dan indap indap, ia mendekatii gubuk Kie Siauw hoe.

Gubuk tersebut yang terbuat dari alang-alang hanya untuk menedeng angin dan embun, didalamnya kosong melompong, tiada sekosol, tiada aling aling apapun jua. Dengan hati bergoncang, Boe Kie mengintip dari belakang gubuk. Ia melihat sang bibi bersama puterinya sedang pulas nyenyak diatas setumpuk rumput rumput kering.

Sekonyong Ouw Ceng Goe merogo saku dan mengeluarkan sebutir pel, yang lalu dicemplungkan kedalam mangkok obat Siauw Hoe. Sesudah itu ia memutar badan dan terus berjalan keluar. Sekelebatan Boe Kie melihat, bahwa muka orang tua itu masih ditutup dengan topeng kain hijau.

Boe Kie mengeluarkan keringat dingin. Baru sekarang ia tahu, bahwa Ouw Ceng Goe lah yang sudah menaruh racun, sehingga para penderita tak bisa menjadi sembuh.

Sesudah keluar dari gubuk Siauw Hoe, Ceng Goe masuk kegubuk yang lain, dimana dia berdiam agak lama. Boe Kie mengerti, bahwa untuk meracuni keempatbelas orang dengan racun yang berbeda-beda, si tua memerlukan tempo yang lebih banyak. Dilain saat si bocah sudah masuk kedalam gubuk dan mencium mangkok obat Siauw Hoe. Di dalam mangkok terisi godokan Pat sian thung dan ia telah memesan supaya begitu bangun tidur, Kouw-kouw segera minum obat itu. Tapi sekarang godokan itu mengeluarkan bau-bauan yang masuk hidung. Sekonyong-konyong terdengar pula suara tindakan kaki. Buru buru Boe Kie merebahkan diri diatas tanah. Ia tahu, bahwa Ouw Ceng Goe sudah kembali kekamar tidurnya.

Sesudah menunggu beberapa lama, ia segera menaruh mangkuk obat keluar dari gubuk itu. “Kie Kouw-kouw! Kie Kouw-kouw!” ia memanggil manggil dengan suara perlahan.

Sebagai seorang ahli silat, menurut pantas Siauw Hoe mudah tersadar, tapi sesudah si bocah memanggil berulang-ulang, ia masih pulas terus. Karena terpaksa, Boe Kie lalu masuk pula dan menggoyang-goyangkan badan bibinya berulang kali. Dengan kaget Siauw Hoe tersadar. “Siapa?” tanyanya.

“Kouw-kouw, aku…. ” bisiknya. “Mari kita keluar.”

Siauw Hoe mengerti, bahwa kedatangan Boe Kie ditengah malam tentulah disebabkan oleh kejadian penting. Perlahan-lahan ia menarik lengannya yang ditandalkan dibawah kepala puterinya dan kemudian keluar dari gubuknya bersama sama si bocah.

“Kie Kouw-kouw,” bisik Boe Kie, “orang telah menaruh racun dimangkok obatmu. Buanglah obat itu, tapi jagalah, jangan sampai diketahui orang. Besok aku akan memberi penjelasan kepadamu”

Siauw Hoe manggutkan kepalanya dan Boe Kie segera kembali kekamarnya. Karena kuatir ketahuan, ia masuk dengan melompati jendela.

Pada esokan paginya, sesudah sarapan. Boe Kie mengajak Yo Poet Hwie pergi menangkap kupu kupu. Mereka berlari lari, makin lama makin jauh dari rumah Ouw Ceng Goe. Siauw Hoe yang mengerti maksud si bocah, lantas saja mengikuti dari belakang. Selama beberapa bari, Boe Kie sering bermain-main dengan sinona ciiik, sehingga perginya ketiga orang itu sama sekali tak menimbulkan kecurigaan.

Sesudah melalui kira kira satu li mereka tiba disatu tanjakan gunung. Boe Kie menghentikan tindakannya dan segera duduk diatas rumput, sedang Siauw Hoe segera berkata kepada puterinya: “Poet-jie sekarang jangan mengubar kupu kupu lagi. Pergi petik bunga-bunga dan buatlah tiga buah topi bunga untuk kita bertiga. Si nona kecil jadi girang sekali dan sambil tertawa nyaring, ia berlari-lari untuk mencari bunga.

“Kouw kouw,” Boe Kie mulai, “apakah kau mempunyai permusuhan dengan Ouw Ceng Goe? Dialah yang sudah menaruh racun kedalam mangkok obatmu.”

Siauw Hoe terkejut. “Aku belum pernah mengenal Ouw Ceng Goe dan sehingga hari ini aku belum pernah bertemu muka dengannya,” jawabnya. Ia berdiam sejenak seperti orang sedang berpikir dan kemudian berkata pu1a. “Saban kali bicara mengenai Ouw Sinshe, Thia thia (ayah) dan Soehoe selalu mengatakan, bahwa dia adalah seorang tabib nomor satu didalam dunia pada jaman ini. Merekapun tidak mengenal Ouw Sinshe. Aku sungguh tidak mengerti, mengapa Ouw Sinshe coba mencelakakan aku.”

Sibocah lalu menuturkan kejadian semalam dan menambahkan. “Dalam godokan Pat sian thung itu, aku mengendus bau rumput Pat sian co dan Touw koet koen yang sangat tajam. Kedua daun obat itu memang dapat mengobati luka, tapi racun nya sangat hebat dan tidak boleh digunakan terlalu banyak.”

“Selain begitu, sifat kedua daun obat tersebut juga bertentangan dengan delapan macam obat yang terdapat dalam Pat sian thung. Maka itu biarpun tidak membahayakan jiwa, luka Kouw kouw jadi makin sukar disembuhkannya.”

Siauw Hoe bersenyum. “Kau mengatakan bahwa Ouw Sinshe juga meracuni empat belas penderita yang lain,” katanya. “Hal ini lebih mengherankan lagi. Terhadap aku, kita dapat mengandalkan saja, bahwa secara tidak disengaja, ayah atau Go bie pay pernah menyinggung Ouw Sinshe. Tapi bagaimana terhadap yang lainnya? Apa mungkin keempat belas orang itu semuanya berdosa terhadap Ouw Sinshe?”

Boe Kie mengangouk. “Memang! Memang sangat mengherankan,” katanya sambil menghela napas. “Kie Kouwkouw, selat Ouw tiap kok adalah sebuah tempat yang mencil dan tidak banyak diketahui orang. Cara bagaimana kau dan yang lain-lain bisa datang kemari? Siapa adanya Kim hoa Coe jin (Majikan Bunga emas) yang telah melukakan kau? Urusan ini sebenarnya tiada sangkut pautnya dengan aku dan menurut pantas, aku sebenarnya tidak boleh menanya melit-melit. Akan tetapi, karena persoalan berbelit-belit, maka aku harap kau tidak menjadi kecil hatinya”

Paras mukanya Siauw Hoe lantas saja berubah merah. Ia mengerti maksud si bocah yang rupa rupanya kuatir, bahwa pertanyaan itu akan menyentuh persoalan puterinya. Persoalan mengapa sebelum menikah ia sudah mempunyai anak. Sesudah memikir sejenak, ia berkata dengan suara parau. “Kau sudah menolong jiwaku, tak dapat aku menyembunyikan sesuatu terhadapmu. Disamping itu, meskipun masih kanak-kanak, kau memperlakukan aku dan Poet jie luar biasa baik. Baiklah, aku akan menceritakan segala penderitaanku kepadamu, orang satu-satunya didalam dunia yang boleh mendengar rahasiaku.”

Sehabis berkata begitu, air matanya mengucur. Ia mengambil saputangan dan sesudah menyusut air mata, ia berkata pula, “Sedari aku kebentrok dengan seorang kakak seperguruan pada dua tahun lebih yang lalu, aku tidak berani menemui Soe hoe lagi… aku tidak berani pulang…”

“Hmm! Teng Bin Koen! …… Kouwkouw kau tidak usah takut,” kata Boe Kie.

“Bagaimana kau tau?” tanya Siauw Hoe dengan rasa terkejut dan heran.

Boe Me segera memberitahukan, bahwa pada malam itu, bersama Siang Gie Coen ia telah menyaksikan peristiwa menolong Pheng Hweeshio.

Siauw Hoe menghela napas. “Memang…. rahasia memang tak mungkin ditutup,” katanya.

“Kouwkouw, kau tak usah terlalu berduka.” kata Boe Kie, “In Lioksiok adalah seorang baik. Kalau kau tidak suka menikah dengannya, urusan itu bukan urusan yang terlalu besar. Begini saja, kalau bertemu dengan Lioksiok, aku akan memberitahukannya, bahwa kau tidak suka menikah dan dia merdeka untuk mencari lain isteri!”

Mendengar perkataan yang polos-jujur itu, yang keluar dari otak sederhana, Siauw Hoe tertawa getir. “Anak,” katanya dengan suara bergemetar. “Percayalah, bahwa aku bukan sengaja berbuat kedosaan terhadap pamanmu. Waktu itu aku…aku…. tidak ada lain jalan…. dan akupun sudah merasa menyesal sekali….” Ia tidak meneruskan perkataannya dan air matanya kembali mengucur.

Ia mengawasi si bocah dan berkata dalam hatinya “Anak ini masih suci bersih, bagaikan selembar kertas putih. Ah Lebih baik aku tidak menceriterakan segala hal percintaan kepadanya. Apa pula urusan pribadi ini tiada sangkut pautnya dengan dia.” Memikir begitu, ia lantas saja berkata : “Sesudah bercekcok dengan Teng Soecie, dengan membawa Poet jie aku bertani dan hidup mengasingkan diri disuatu tempat yang terpisah kira-kira tiga ratus lie disebelah barat Ouw tiap kok ini. Selama dua tahun lebih aku hanya bergaul dengan kaum petani dan aku dapat melewati hari dengan tidak banyak pikiran. Setengah bulan yang lalu, aku mengajak Poet jie kekota untuk membeli kain guna pakaian anakku itu. Di luar dugaan, di atas sebuah tembok, secara kebetulan aku melihat gambar sebuah lingkaran Hoed kong (lingkaran sinar Buddha yang suci) dan sebatang pedang.”

“Itulah tanda rahasia memanggil kawan dari partai Go bie pay. Aku binguog dan sangat bersangsi. Sesudah menimbang-nimbang aku menganggap, bahwa meskipun aku telah kebentrok dengan Teng Soecie, tapi aku belum pernah me lakukan perbuatan yang menghina guru atau menghianati partai. Disamping itu, bentrokan tersebut juga tak ada sangkut pautnya dengan Soehoe dan lain-lain saudara seperguruan. Tanda itu mungkim diberikan oleh salah seorang saudara seperguruanku yang tengah menghadapi bahaya besar dan jika benar begitu, aku merasa tidak pantas untuk berpeluk tangan. Demikianlah, dengan menuruti petunjuk dari tanda rahasia itu, aku pergi ke Hong yang.”

“Di kota Hong yang aku kembali melihat tanda itu yang memberi petunjuk, supaya kawan-kawan datang di rumah makan Lim hway kok. Sudah ketelanjuran datang, aku segera menyusul kesitu. Ternyata dalam rumah makan sudah berkumpul tujuh delapan orang, antaranya terdapat Seng cioe Ka lam Kan ciat dari Khong tong pay, Sie Kong Wan dari Hwa san pay dan lain-lain. Anggauta Goe bie pay hanya aku seorang. Aku mengenal Kan Ciat dan Sie Kong Wan dan lalu menanyakan sebab musabab dari berkumpulnya mereka dirumah makan itu. Mereka memberitahukan, bahwa mereka datang karena melihat tanda rahasia partainya, tapi seperti juga aku mereka tak tahu sebab musabab dari panggilan itu. Sehari suntuk kami menunggu tapi tak ada yang datang lagi. Pada esokan harinya, dengan beruntun datang pula beberapa orang lain, ada orang Sin koen boen, ada orang Siauw lim pay bagian selatan dan lain lain. Mereka juga mengatakan bahwa kedatangan mereka adalah karena melihat tanda rahasia. Tak satupun diantara mereka yang mendapat urusan secara langsung. Semua orang heran dan bercuriga. Apa tidak bisa jadi kami semua tengah dipermainkan oleh seorang musuh?”

“Ketika itu, diloteng rumah makan berkumpul lima belas orang dari sembilan buah partai. Tanda rahasia setiap partai bukan saja berbeda satu sama lain, tapi juga sangat dirahasiakan, sehingga kalau bukan murid partai yang tersangkut, seorang luar tentu tak mengerti artinya tanda itu. Jika seseorang ingin main gila, apakah ia bisa tahu tanda rahasia dari sembilan partai? Mengingat bahwa aku membawa Poet jie dan kalau bisa, aku tak mau anak itu menghadapi bahaya dan mengingat puta bahwa panggilan itu bukan tantaran saudara seperguruanku ada yang tengah menghadapi bencana besar, maka aku segera mengambil keputusan untuk pulang saja. Tapi baru saja aku mau turun tangan, tiba-tiba ditangga loteng terdengar suara keras, seperti juga undakan tangga dipukul orang dengan menggunakan toya. Suara itu disusul denggn suara batuk-batuk dan seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua, mendaki undakan tangga. Ia naik setindak demi setindak sambil batuk-batuk dan kelihatannya lelah sekali. Disampingnya terdapat seorang nona kecil yang berusia kira kira dua belas tahun dan yang memapah si nenek.”

“Melihat nenek yang sudah bagitu tigggi usianya dan juga kelihatannya sedang sakit, aku segera minggir, supaya ia bisa naik lebih dulu. Nona kecil itu ternyata cantik sekali, meskipun usianya masih sangat muda, belum pernah aku melihat wanita yang seayu dia, sehingga tanpa merasa aku mengawasinya beberapa kali. Tangan kanan si nenek mencekal sebatang tongkat dari kayu Pek bok dan dari pakaiannya, ia seperti juga seorang wanita miskin. Tangan kirinya memegang serenceng biji tasbih yang mengeluarkan sinar kuning berkilauan. Ketika aku memperhatikan, rencengan itu ternyata bukan biji biji tasbih, tapi bunga bunga bwee yang terbuat dari pada emas tulen…”

“Aha!” memutus Boe Kie. “Perempuan tuaa itu tidak bisa lain dari pada majikan Kim hoa.”

“Benar. Tapi pada waktu itu, siapakah yang bisa menduga jelek kepadanya?” kata Siauw Hoe. Sehabis berkata begitu, ia merogoh saku dan mengeluarkan sekuntum bunga bwee emas yang menyerupai Kim Hoa yang pernah diserahkan kepada Ceng Goe oleh Boa Kie.

Si bocah tertegun. Tadinya ia menduga, bahwa Kim hoa Coe jie adalah saorang lelaki yang bertubuh tinggi besar dan bermuka menakutkan. Tak dinyana, majikan bunga emas itu hanyalah seorang nenek tua.

“Sesudah berada di atas loteng, nenek itu kembali batuk batuk. Siauw Hoe melanjutkan penuturannya, “Sinona cilik berbisik: “Popo makan obat ya?” Sinenek mengangguk dan nona kecil itu selanjutnya sudah mengeluarkan sebutir yo-wan dari dalam sebuah peles kristal.

Sambil mengunyah yo-wan, nenek itu berkata. “O mie to hoed….. O mie to hoed …” Dengan mata separuh tertutup, ia mengawasi kami dan berkata pula dengan suara perlahan: “Hm … hanya lima belas orang. Coba tanya, apakah orang Koen loen pay dan Boe tong pay sudah pada datang semuanya?”

“Kedatangan kedua wanita itu tidak diperhatikan oleh kami. Tapi, begitu sinenek mengucapkan perkataan itu, beberapa orang yang kupingnya lebih tajam segera menengok dan mengawasinya. Melihat nenek itu, hati mereka lega dan menganggap mereka salah dengar.

“Tiba-tiba si nona cilik berkata dengan suara nyaring: “Hai! Popoku menanya kepada kalian. Apakah orang-orang Koen loen pay dan Boe tong pay sudah pada datang semuanya?”

Semua orang terkejut, untuk sejenak mereka tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Sesaat kemudian, barulah Kan Ciat berkata: “Adik kecil, apa katamu?” Jawab nona itu: “Popoku menanya: Mengapa ia tidak melihat murid Boe tong dan Koen loen?” Alis Kan Ciat berkerut dan lalu menanya pula “Siapa kalian ?”

“Nenek itu kembali batuk-batuk sambil membungkuk-bungkuk. Mendadak…. mendadak saja, aku merasa semacam angin menyambar dadaku, entah dari mana. Sambaran itu hebat luar biasa dan buru buru aku mengibaskan tangan untuk menangkis. Tiba tiba aku merasa dadaku menyesak, darahku bergolak golak, kedua lututku lemas dan aku jatuh duduk sambil muntahkan darah.”

“Dalam keadaan setengah pingsan, aku melihat badan si nenek bergrrak gerak, ia menggaplok atau meninju seraya batuk batuk tak hentinya. Dalam sekejap, empat belas orang sudah rebah di atas loteng Kecepatan bergeraknya dan hebatnya tenaganya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Seumur hidup, belum pernah kulihat manusia yang bisa bergerak begitu cepat dan mempunyai tenaga Lweekang yang sedemikian hebat. Di antara kami, sejurus pun tak ada yang mampu melawan. Kalau bukan tertotok jalan darah, isi perut mereka terluka karena pukulan Lweekang.”

“Tiba-tiba si nenek mengayun tangan kirinya dan lima belas bunga emas menyambar kebahu atau tangan kelimabelas orang. Kali ini dia tidak mencelakakan orang, sebab meskipun limabelas bunga emas itu mengenai tepat pada sasarannya, tak seorangpun yang mendapat luka. Sesudah itu, dia memutar tubuh dan dengan dipapah oleh si nona kecil, ia berkata “O mie to hoed! O mie to hoed !” Tanpa menengok lagi mereka turun kebawah loteng. Beberapa saat kemudian, kami men dengar suara totokan tongkat ditanah, diseling seling dengan suara batuk-batuk”

Bicara sampai disitu, Yo Poet Hwie mendatangi dengan tangan mencekal sebuah karangan bunga yang merupakan topi. Sambil tertawa ha ha hi hi, ia berkata. “bu, kau pakailah topi ini,” dengan sikap aleman, ia lalu menaruh topi bunga itu dikepala sang ibu.

Siauw Hoe tertawa sambil manggut manggutkan kepalanya dan kemudian melanjutkan penuturannya. “Kami semua rebah diatas papan loteng tanpa berkutik, sebagian pingsan, sebagian bernapas sengal-sengal dan sebagian pula merintih dengan perlahan….”

“Ibu,” memutus Poet Hwie. “Apakah kau sedang menceritakan perempuan jahat itu ? Jangan! Aku takut.”

“Nak,” kata sang ibu sambil bersenyum, “Pergilah kau memetik bunga lagi dan buatlah sebuah topi untuk kakak Boe Kie”

Poet Hwie mengawasi Boe Kie. “Waena apa yang kau suka ?” tanyanya.

“Merah dan campur sedikit dengan warna putih, lebih besar topinya lebih baik lagi,” jawabnya.

“Sebesar ini?” tanyanya pula si nona sambil membuat sebuah lingkaran dengan kedua tangannyaa.

“Ya, sebesar itu,” jawabnya.

Poet Hwie segera berlari-lari dengan menepuk nepuk tangan sambil tertawa-tawa. “Kalau sudah jadi kau harus memakainya !” teriaknya.

“Beberapa lama kemudian, dalam keadaan lupa ingat, aku melihat belasan orang naik keloteng,”‘ Siauw Hoe melanjutkan penuturannya. “Mereke itu adalah pelayan, tukang masak dan pengurus rumah makan. Mereka menggotong kami kedapur. Tak usah dikatakan lagi, Poet jie ketakutan setengah mati dan sambil menangis keras, ia mengikuti orang-orang yang menggotong aku. Setibanya didapur, si pengurus rumah makan membaca tulisan diselembar kertas. Seraya menuding Kan Ciat, ia memerintah: Labur koyo dikepalanya. Seorang pelayan segera membuka sebuah kotak koyo dan melebur isinya dikepala Kan Ciat. Sesudah itu, sambil membaca pula tulisan itu, dia menuding seorang lain dan berkata: Putuskan tangan kanannya dan tempelkan lengan itu dikaki kirinya! Siksaan itu lantas saja dijalankan oleh dua orang pelayan. Waktu giliranku tiba, untung juga aku tidak mendapat hukuman aneh. Aku hanya diperintah minum semangkoh air yang rasanya manis. Aku mengerti, bahwa air itu tentu mengandung racun, tapi aku tidak berdaya.”

“Sesudah kami semua mendapat hukuman yang luar biasa, si pengurus rumah makan berkata. “Kamu semua sudah mendapat luka yang tak mungkin disembuhkan lagi. Tak seorangpun diantara kamu yang bisa hidup sepuluh hari atau setengah bulan lagi. Tapi pemilik bunga emas mengatakan, bahwa ia sama sekali tidak bermusuhan dengan kamu. Maka itu, ia menaruh rasa belas kasihan dan membuka suatu jalan hidup untuk kamu. Sekarang pergilah kamu lekas-lekas ke Ouw tiap kok yang terletak ditepi telaga Lie san Ouw dan mintalah pertolongan dari Ouw Ceng Goe yang bergelar Tiap kok Ie sian. Kalau dia sudi menotong, maka kamu semua ada harapan hidup, tapi manakala dia menolak, dalam dunia tak ada orang yang bisa menolong kamu lagi. Tapi Ouw Ceng Goe mempunyai lain julukan, yaitu Kian sie Poet kioe. Kalau kamu tidak berusaha mati matian, dia pasti tak akan mengulurkan tangan. Jika kamu bertemu dengan Ouw Ceng Goe katakanlah bahwa tak lama lagi Kim hoa Coejin aku akan mencari dia dan dia harus siang siang mempersiapkan penguburan mayatnya sendiri. Sesudah berkata begitu dia segera menyediakan kerata dan kudakuda, memberi petunjuk mengenai jalanan yang harus diambil, dan kemudian mengusir kami.”

Boe Kie mendengari cerita itu dengan mata tidak berkedip. “Kie Kouwkouw,” katanya, “Didengar dari penuturanmu, pengurus Lim hway kok, tukang masak dan pelayan-pelayannya semua kaki tangan perempuan jahat itu,”

“Akupun menduga begitu,” kata Siauw Hoe. “Si pengurus rumah makan memerintahkan dijalankannya siksaan itu menurut surat catatan yang rasanya ditinggalkan oleh perempuan kejam itu. Tapi dalam peristiwa terdapat beberapa teka teki yang sehingga sekarang masih belum dapat dipecahkan olehku. Mengapa nenek itu melakukan perbuatan yang begitu kejam? Kalau dia mendendam sakit hati dan mau mengambil jiwa kami, dia dapat melakukannya dengan mudah sekali. Jika dia hanya ingin menyiksa orang orang dengan rupa-rupa jalan yang kejam mengapa dia mengirim kami kepada Ouw Sinshe ? Dia mengatakan bahwa tak lama lagi dia akan mencari Ouw Sinshe untuk membalas sakit hati, Apakah penyiksaannya terhadap kami hanya untuk menjajal kepandaiannya Ouw Sinshe?”

Boe Kie menundukkan kepala, memikir sejenak, ia berkata. “Menurut katanya Siang Gie Coen Toako, Ouw Sinshe mempunyai seorang musuh yang akan datang untuk membalas sakit hati. Musuh itulah Kim hoa Coejie. Menurut pantas Ouw Sinshe seharusnya mengobati kalian dengan sungguh hati, supaya kalian bisa membantu dia dalam menghadapi musuh berat itu. Sesuai dengan julukan Kian sie Poet kioe, ia menolak untuk mengobati. Tapi mengapa, sesudah menolak, ia memberi berbagai resep kepadaku dan mengajarkan aku macam macam cara pengobatan untuk menolong kalian? Resep obat itu manjur sekali. Tapi mengapa ditengah malam buta ia menggerayang dan memberi racun kepada kalian? Ah! Sikap Ouw Sinshe sungguh aneh? Dalam peristiwa ini muncul banyak cangkriman yang tak akan bisa ditembus olehku.”

Lama sekali mereka berunding, tapi mereka tak juga dapat menebak artinya banyak teka teki itu.

Tak lama kemudian, Poet Hwie kembali dengan sebuah topi bunga yang lalu ditaruhnya diatas kepala Boe Kie dan kemudian pergi lagi untuk membuat topinya sendiri.

“Kie kouwkouw,” kata pula Boe Kie. “Mulai dari sekarang kau tidak boleh minum apapun juga kecuali jika obat itu diberikan olehku sendiri. Diwaktu malam sebaiknya kau siap sedia dengan senjata untuk menjaga sesuatu yang tidak
diinginkan. Sekarang kau masih belum boleh pulang karena aku masih perlu memberi obat untuk menyembuhkan luka didalam badanmu. Begitu lekas lukamu tidak berbahaya lagi, kau harus buru buru pulang dengan membawa Poet Hwie.”

Siauw Hoe mengangguk dengan rasa sangat ber terima kasih. “Manusia she Ouw itu sungguh aneh dan hatinya sukar ditebak,” katanya, “Boe Kie, akupun merasa kuatir akan keselamatanmu jika kau berdiam lama-lama disini. Lebih baik kita menyingkir bersama sama.”

Boe Kie yang dikuatirkan keselamatannya jika berada lama-lama di lembah Ouw-tiap-kok sudah menyatakan kesediaannya untuk ikut menyingkir dari lembah itu bersama-sama Kie Siauw Hoe dan puterinya.

“Boe kie,” kata Kin Siauw Hoe, “bila kau mau ikut dengan aku, kita boleh jalan bersama sama. Aku sendiri akan segera pergi menemui soehoe ke Go bie san. Kalau nasib baik dan beliau tidak mendengar hasutan Soecieku, maka untukmu masih ada sedikit harapan hidup karena beliau memang mempunyai niatan untuk menurunkan semua kepandaiannya kepadaku, bahkan akan mengambil aku sebagai ahil warisnya. Manakala niatan itu dilaksanakan, beliau terutama tentu akan menurunkan Go bie Kioe yang kang kepadaku. Selanjutnya aku bisa ajarkan ilmu itu kepadamu. Dengan memiliki Go bie Kioe yang kang, kau bisa menggabungkannya dsngan Siauwlim dan Boe tong Kioe yang kang sehingga rasanya racun dingin Hian beng Sin ciang bisa dengan gampang terusir keluar dari badanmu. Tapi, aih…, sesudah aku melakukan perbuatan yang tidak panta, mana aku ada muka untuk bertemu lagi dengan Soehoe? Mana bisa belia mengangkat aku menjadi ahli warisnya lagi?”

Semula sang bibi bicara dengan semangat berapi-api karena memikiri penyakit yang diderita Boe Kie. Tapi, manakala teringat olehnya akan dirinya yang telah ternoda, ia jadi tampak bermuram durja.

Melihat paras sang bibi yang sangat berduka, Boe Kie segera menghibur: “Kie Kouw kouw, kau tak usah bersedih. Ouw Sinshe mengatakan bahwa paling lama aku hanya bisa hidup setahun lagi. Akupun sering memeriksa keadaan badanku dan aku yakin, bahwa apa yang dikatakan Ouw Sinshe bukan omong kosong. Andaikata gurumu mengajar Go bie Kioe yang kang kepadamu, kurasa kaupun tak akan keburu menolong aku. Memang benar juga, jalan yang paling baik adalah kita menyingkir sekarang juga. Tapi dalam cara mengobati lukamu, masih ada beberapa bagian yang belum begitu terang bagiku. Untuk itu, aku masih perlu minta petunjuk Ouw Sinshe,”

SiauwHoe tertawa dan menanya: “Apa tak bisa jadi ia akan sengaja memberi petunjuk yang salah. Kau tidak boleh lupa, bahwa ia sudah berusaha untuk meracuni aku.”

“Tidak, kurasa ia tak akan berbuat sedemikian,” membantah Boe Kie. “Sebegitu jauh, obat-obat atau cara mengobati yang diberikan oleh Ouw Sinshe, sangat mustajab dan tepat. Disamping itu, akupun dapat membedakan jika ia sengaja memberikan obat yang salah. Dan…. inilah justeru yang aku tidak mengerti!”

Sesaat itu, Poet Hwie sudah kembali dengan kepala memakai topi rangkaian bunga. Mereka bertiga sudah mempunyai topi, perundinganpun sudah selesai dan mereka lalu kembali kerumah Ouw Ceng Goe.

Malam itu, Boe Kie tak bisa pulas lagi. Kira kira tengah malam Ouw Ceng Goe menggerayang lagi kegubuk Siauw Hoe, gubuk Kan Ciat dan kawan-kawannya untuk menaruh racun.

Tiga hari telah lewat tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Karena tidak pernah kena racun lagi, kesehatan Siauw Hoe pulih dengan cepat. Keadaan Sie Kong Wan dan yang lain-lain masih tetap seperti biasa, sebentar mendingan, sebentar hebat. Beberapa orang sudah mulai mengeluh dan mengatakan, bahwa kepandaian Boe Kie masih terlalu rendah, tapi si bocah tidak menggubris.

Malam itu, sambil berbaring dipembaringan, Boe Kie berkata dalam hatinya: “Sesudah lewat malam ini, aku sudah mengikut Kie Kouw-kouw menyingkirkan diri. Karena racun dalam tubuhku tak bisa dipunahkan, lebih baik aku tidak pulang ke Boe tong, supaya Thay soe-hoe dan paman paman jangan berubah hati. Aku akan pergi ketempat yang sepi dan mati dengan diam-diam.”

Mengingat bahwa ia akan segera meninggalkan Ouw tiap kok, hatinya terharu. Walaupun Ceng Goe beradat aneh, ia telah memperlakukannya baik sekali dan selama kurang lebih dua tahun, orang tua itu menurunkan banyak ilmu ketabiban kepadanya. Sesudah berkumpul begitu lama, di dalami hatinya sudah bersemi rasa cinta terhadap orang tua itu.

Maka itu, perlahan-lahan ia bangun, dan pergi kekamar si tabib malaikat dan menanyakan kesehatan orang tua itu dari luar kamar. Tiba-tiba ia ingat bahwa Kim Hoa Coe jin akan segera menyateroni. Apa Ouw Sinshe mampu melawan perempuan jahat itu? Ia merasa kasihan dan segara berkata “Ouw Sinshe, kau sudah berdiam di Ouw tiap kok begini lama, apa kau tidak merasa sebal? Mengapa kau tidak mau pergi pelesir ketempat lain?”

Ceng Goe terkejut. “Aku sedang sakit, mana bisa aku pergi ketempat lain?” jawabnya.

“Tapi Sinshe dapat mengunakan kereta,” kata pula Boe Kie. “Dengan menutup jendela kereta dengan tirai supaya tidak masuk angin, kau bisa pergi kemanapun juga”

Tiap kok Ie sian menghela napas. “Anak hatimu mulia sekali,” ia memuji. “Dunia sedemikin lebar, dimanapun sama saja. Bagaimana keadaanmu selama beberapa hari ini? Bagaimana dadamu? Apakah hawa dingin masih bergolak di tantianmu?”

“Makin lama hawa itu makin bertambah”, jawabnya. “Sudahlah! Biarkan saja. Aka toh sudah tak bisa ditolong lagi.”

Untuk beberapa saat Ceng Goe tidak mengatakan suatu apa. “Anak, sekarang aku ingin memberi obat yang akan bisa menolong jiwamu,” katanya. “Gunakanlah Tong kwie, Wan cie, Seng tee, Tok ho dan Hong hong, lima macam. Ditengah malam, minumlah obat itu cepat-cepat, dengan menggunakan Coan san ka sebagai penuntun.”

Boe Kie kaget. Lima macam bahan obat itu sama sekali tiada sangkut pautnya dengan penyakit yang dideritanya. Bukan saja begitu, sifat kelima macam bahan obat itu malah berbahaya untuk dirinya. Ditambah dengan Coan san ka, bahaya itu jadi makin besar.

“Sinshe, berapa timbangannya?” tanyanya dengan rasa heran.

“Jangan rewel!” bentak Ceng Goe dengan suara gusar. “Aku sudah memberitahukan kau. Sudah cukup. Pergi!”

Si bocah gusar. Semenjak berdiam di Ouw tiap kok, orang tua itu memperlakukannya secara sopan-santun dan mereka sering kali merundingkan soal ketabiban sebagai sahabat. Tak dinyana, hari ini Ceng Goe berlaku begitu kasar terhadapnya. Dengan rasa mendongkol, ia kembali kekamarnya.

Sambil bergulik-gulik dipembaringan ia berkata di dalam hati, “Dengan baik hati aku menasehati supaya kau menyingkir, tapi aku berbalik di hina olehmu. Hm ! … Kau juga coba memberi obat yang tidak-tidak kepadaku. Apa kau kira aku akan kena diakali?”.

Makin lama hatinya jadi makin panas. Ia tak mengerti mengapa si tua begitu berani mati dan memberikannya resep obat yang begitu gila-gilaan. Beberapa lama kemudian, ia merasa lelah dan maramkan kedua matanya. Mendadak, dalam keadaan layap layap, serupa ingatan berkelebat dalam otaknya. Ah! Tong kwie, Wan cie, resep tanpa diberi timbangan obatnya… Dalam dunia tak ada resep yang sedemikian. Aha! Apa tak bisa jadi Tong kwie dimaksudkan kay tong kwie kie? Mungkin! (Tong kwie adalah namanya serupa obat. Tapi “Tong kwie” atau “kay tong kwie kie” juga berarti “harus pulang” )

Sesudah memikir beberapa saat, tiba-tiba ia melompat bangun dan berkata dalam hatinya. “Benar! Resep itu mengandung maksud lain. Dengan Wan cie, ia rupanya ingin menyuruh aku ‘cie cay wan hang’ (ingatan berada ditempat jauh) atau dengan lain perkataan, ia ingin aku ‘ko hoei wan coew’ (pergi ketempat yang jauh). Ia menyebutnya Seng tee (tanah hidup) dan Tok ho (hidup sendirian). Mungkin sekali, Seng tee berarti ‘Seng louw’ (jalanan hidup) dan sesudah mengambil jalanan hidup barulah aku bisa ‘hidup sendirian’. Apa arti Hong hang (menjawab angin)? Ouw Sin she maksudkan supaya aku menutup rahasja, jangan sampai ‘membocorkan angin’.”

“Obat itu harus diminum cepat-cepat diwaktu tengah malam buta dengan menggunakan Coan san ka sebagai penuntun. ‘Cepat cepat’, ‘tengah malam buta’, ‘Coan san ka’ …. Apakah Ouw Sinshd maksudkan, bahwa aku harus cepat-cepat kabur ditengah malam buta dengan menembus jalanan gunung dan tidak boleh mengambil jalanan raya? Tak salah! Itulah tentu maksud yang sebenarnya.” (Coan san ka berarti tenggiling. Arti huruf`-huruf itu sendiri ialah ‘menembus gunung’).

Berpikir begitu, ia segera menghampiri pintu. Sebelumnya membukanya, ia merendek. “Sekarangi musuh belum tiba, tapi mengapa Ouw Sinshe tidak memberitahukan aku secara teang-terangan?” tanyanya didalam hati. “Mengapa ia mengeluarkan cangkeriman itu? Kalau aku tidak dapat menebaknya, bukankah aku bisa celaka? Ah! Sekarang sudah lewat tengah malam, aku mesti menyingkir secepat mungkin.”

Walaupun baru berusia belasan tahun, Boe Kie sudah mempunyai jiwa ksatria. Ia ingin segera menyingkir, tapi ia memikiri nasib Ouw Sinshe. Di lain saat ia ingat, bahwa si tabib malaikat tentu lah juga sudah mempunyai pegangan untuk melawan musuh karena sesudah tahu bakal datangnya musuh itu, ia tetap tidak mau menyingkir. Tapi biar bagaimanapun juga, meskipun Ceng Goe sudah memesan supaya ia menutup rahasia, ia tak bisa tidak menolong Siauw Hoe dan puterinya.

Perlahan-lahan ia keluar dari kamarnya dan pergi ke gubuk Siauw Hoe. Ia menepuk-nepuk tangan seraya memanggil manggil dengan suara perlahan. “Kie Kouwkouw …. Kie Kouwkouw ….. bangun!”

Siauw Hoe tersadar “Siapa? Boe Kie ?” tanyanya.

Sesaat itu, sekonyong konyong si bocah merasa sambaran angin yang sangat halus dipunggungnya dan baru saja ia memutar badan, pundak dan pinggangnya sudah kesemutan dan ia roboh tanpa berkutik lagi. Gerakan penyerang itu cepat luar biasa. Di lain saat, iapun sudah merobohkan Siauw Hoe dengan totokan. Dengan bantuan sinar bulan sisir, Boe Kie melihat, bahwa orang itu mengenakan topeng kain hijau.

Ouw Ceng Goe!

Sedang berbagai pertanyaan berkelebat-kelebat dalam otak Boe Kie, tangan kiri si tabib malaikat sudah mencengkeram pipi Siauw Hoe untuk memaksanya membuka mulut, sedang tangan kanannya coba memasukkan sebutir yo wan.

Sebelum pel itu masuk kedalam mulutnya, Siauw Hoe sudah mengendus bebauan yang sangat tak enak. Ia mengerti, bahwa pel itu adalah racun yang sangat hebat, tapi ia tidak berdaya, kaki tangannya tidak bisa bergerak lagi.

Dengan sorot mata putus harapan, ia mengawasi puterinya. “Poet jie !” ia mengeluh di dalam hati. “Ibumu bernasib celaka, kaupun jelek peruntungan. Mulai dari sekarang, ibumu tak bisa merawatmu lagi.”

Tiba tiba pada detik yang sangat berbahaya, Boe Kie melompat bangun. Orang itu kaget dan menengok, tapi punggungnya sudah dihantam Boe Kie dengan sekuat tenaga.

Ternyata, sesudah ditotok jalanan darah pada pundak dan pinggangnya, untuk sementara Boe Kie rebah dengan tidak berdaya. Tapi, sebagai ahli waris Cia Soen, selang beberapa saat, ia berhasil membuka jalan darahnya dengan menggunakan Lweekang. Ia melompat bangun dan pada detik yang sangat genting, ia menghantam jalanan darah Kin soe hiat dipunggung Ouw Ceng Goe dengan pukulan Sin liong Pa bwee, yaitu salah satu jurus dari Hang liong Sip pat ciang. Meskipun ia hanya mengenal bagian kulit dari pukulan itu, tapi karena jurus tersebut adalah jurus yang sangat luar biasa dan juga sebab Ouw Ceng Goe sama sekali tidak menduga bakal dibokong cara begitu, maka, begitu lekas pukulan Boe Kie mengenai Kin soe hiat, ia roboh tanpa mengeluarkan suara.

Berbareng dengan robohnya, topeng kain tersingkap separuh dan begitu melihat, Boe Kie mengeluarkan teriakan tertahan. “Ah !”

Mengapa?

Karena muka itu bukan muka Ouw Ceng Goe, tapi muka seorang wanita setengah tua yang berparas cantik.

“Siapa kau?” bentak Boe Kie.

Sesudah terpukul, wanita itu merasakan kesakitan hebat, mukanya pucat pasi, sehingga ia tidak dapat menjawab pertanyaan si bocah.

Buru-buru Boe Kie membuka jalanan darah Kie Siauw Hoe dan berkata. “Kie Kouwkouw, tempelkan ujung pedangmu didadanya, supaya dia tidak bisa berkutik. Aku mau menengok Ouw Sinshe.” Ia berkuatir akan keselamatannya Ouw Ceng Goe. Ia menduga bahwa wanita itu adalah konco Kim hoa Coe jin. Jika perempuan jahat itu keburu datang, maka dia dan Siauw Hce serta puterinya pasti akan celaka.

Dengan lari seperti terbang ia pergi ke kamar Ceng Goa dan tanpa banyak rewal, ia memukul pintu yang lantas saja terpentang.

“Ouw Sinshe!” teriaknya, tapi tak ada jawaban. Ia segera mengeluarkan bahan api dan menyulut lilin. Kasur terbuka, tapi orang tua itu tak kelihatan bayang – bayangannya. Melihat kamar itu kosong, hatinya agak lega, karena ia semula menduga bahwa Ouw Ceng Goe sudah dibinasakan. “Ouw Sinshe rupanya diculik musuh,” pikirnya.

Baru saja ia mau keluar, di bawah ranjang tiba tiba terdengar suara helaan napas. Ia segera mengangkat ciak-tak (tempat tancapan lilin) dan menyuluhi kolong ranjang. Ia girang bukan main, karena melihat Ouw Ceng Goe rebah disitu dengan kaki tangan terikat. “Ouw Sinshe, jangan khawatir!” katanya dan lalu merangkak ke kolong ranjang untuk menyeretnya keluar.

Ternyata, orang tua itu tidak bisa bicara sebab mulutnya disumbat dengan buah toh dan Boe Kie segera mengorek keluar buah itu. Waktu mau membuka ikatan, ia mendapat kenyataan, kaki tangan Ceng Goe diikat dengan tambang urat kerbau, sehingga ia tidak dapat memutuskannya dan lalu mecari pisau.

“Mana perempuan itu?” Tanya Ceng Goe selagi Boe Kie mau memotong tambang.

“Jangan kuatir, ia sudah ditakluki dan tak akan bisa lari,” jawabnya.

“Jangan putuskan dulu tambang ini!” Kata Ceng Goe tergesa. “Lekas bawa dia kemari. Lekas kalau terlambat, aku kuatir tak keburu lagi.”

Boe Kie heran. “Mengapa begitu?” tanyanya

“Lekas bawa dia kemari!” bentak orang tua “Tidak!…. Begini saja. Lebih dulu, berikan padanya tiga butir Goe hong Hiat ciat tan. Ambillah dari laci ketiga. Lekas…! Lekas ..” Ia berkata begitu dengan paras muka bingung dan pucat.

Boe Kie tahu, bahWa Goe hong Hiat ciat tan adalah pel untuk memunahkan racun dan dibuat dengan menggunakan macam-macam bahan yang sangat mahal harganya. Untuk memunahkan racun yarg sangat hebat, sebutir saja sudah lebih dari cukup. Tapi Ouw Ceng Goe menyuruhnya untuk memberikan tiga butir. Siapa wanita itu?

Ia heran tak kepalang, tapi melihat sikap orang tua itu, ia tidak berani menanya melit-melit. Buru buru ia mengambil pel itu dan berlari-lari ke gubuk Siauw Hoe.

“Lekas telan!” bentaknya sambil menyodorkan tiga butir Goe hong Hiat ciat tan kepada tawanannya.

“Pergi! Aku tak perlu dengan pertolonganmu!” teriak wanita itu. Begitu mengendus bau Goe hong Hiat ciat tan, ia lantas saja mengetahui, bahwa Boe Kie datang dengan membawa obat.

“Ouw Sinshe yang menyuruh aku membawa obat ini,” kata Boe Kie dengan mendongkol.

“Pergi!… pergi!..pergi….!” teriak pula wanita itu. Sesudah kena pukulan Boe Kie, teriakannya lemah sekali.

Si bocah bingung dan hanya bisa menebak-nebak. Ia menduga, bahwa waktu mengikat Ceng Goe wanita itu kena senjata racun. Untuk korek keterangan mengenal musuhnya, Tiap kok Ie sian rupanya sengaja memberi obat pemunah kepadanya. Memikir begitu, ia lantas saja menotok jalanan darah Kian tin hiat, sehingga wanita itu tak bisa melawan dan kemudian memasukkan tiga butir pel itu kedalam mulutnya.

Karena suara ribut-ribut, Poet Hwie mendusin dan mengawasi wanita itu dengan perasaan heran.

“Kouw-kouw mari kita membawa dia kepada Ouw Sinshe,” kata Boe Kie. Mereka lantas saja mencekal tangan wanita itu yang lalu diseret ke kamar Tiap kok Ie sian.

Begitu mereka masuk, Ouw Ceng Goe menanya “Sudah makan obat?”

“Sudah,” jawab Boe Kie.

Paras muka Ceng Goe jadi lebih tenang dan Boe Kie segera memotong tambang yang mengikat kaki tangannya. Sesudah kaki tangannya merdeka, Tian kok Ie sian segera menghampiri wanita itu, membuka kelopak matanya dam memegang nadinya.

“Eh…eh!” katanya dengan suara kaget, “Mengapa kau mendapat luka? Siapa yang sudah melukakan kau?”

Wanita itu menjebi. “Tanya muridmu!” bentaknya.

Ouw Ceng Goe memutar badannya dan menanya Boe Kie : “Apa kau yang memukul?”

“Benar,” jawabnya, “waktu dia mau…..”

Plok! Plok!

Orang tua itu menggaplok Boe Kie keras keras, sehingga mata si bocah berkunang kunang.

Siauw Hoe menghunus pedang dan membentak: “Kurang ajar!” Tapi, tanpa menghiraukannya, Ceng Goe lalu menanya wanita itu: “Bagaimana rasanya dadamu? Aku pasti akan menyembuhkan kau.” Sikap dan perkataannya berbeda jauh, bagaikan langit dan bumi dengan kebiasaan Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe. Tapi si wanita tetap tidak mengubris dan terus bersikap tawar.

Dengan rasa heran yang sangat besar, Boe Kie mengawasi kejadian itu sambil mengusap-usap pipinya yang bengkak.

Dengan sikap menyayang Tiap kok Ie sian lalu membuka jalanan darah si wanita, mengurut-urutnya, mengambil beberapa macam daun obat yang lalu dimasukkan kedalam mulut wanita itu, memondongnya dan menaruhnya diatas pembaringan, akan kemudian menyelimutinya dengan selimut tebal. Semua itu dilakukan si-tua secara lemah lembut dan penuh kecintaan.

Boe Kie menggeleng-gelengkan kepala. Benar benar otaknya pusing.

Sesudah berdiri beberapa saat didepan pembaringan, Ceng Goe berkata dengan suara halus: “Sekarang selain racun, kaupun mendapat luka. Jika aku dapat menyembuhkan, kita jangan menjajal-jalal kepandaian lagi.”

Wanita itu tertaWa. “Apa artinya luka ini?” katanya. “Tapi apakah kau tahu, racun apa yang ditelan olehku? Jika kau bisa menyembuhkan aku, aku akan mengaku kalah. Hm! …. Tetapi belum tentu kepandaian Ie sian (tabib malaikat atau tabib dewa) bisa menandingi kepandaian Tok sian (si dewi racun).” Sehabis berkata begitu, ia bersenyum dan senyumnya itu menggairahkan.

Dalam usia belasan tahun, Boe Kie belum mengerti soal percintaan. Tapi biarpun begitu, ia bisa merasakan, bahwa diantara kedua orang tua itu terdapat kasih sayang yang tiada batasnya.

“Semenjak sepuluh tahun berselarg, aku sudah mengatakan, bahwa Ie Sian tak akan bisa menandingi Tok sian.” kata Ceng Goe. “Tapi kau tak percaya. Kau terlalu suka menjajal ilmu. Aku sungglth tidak mengerti, mengapa kau begitu gila sehingga kau meracuni diri sendiri. Sekarang aku mengharap, bahwa Ia sian akan menang dari Tok Sian. Jika aku gagal, akupun tak sudi hidup sendirian didalam dunia.”

Wanita itu bersenyum pula. “Jika aku meracuni orang lain, kau bisa berlagak kalah.” katanya. “Ha ha!… Dengan meracuni diri sendiri, kau tentu akan mengeluarkan seantero kepandaianmu.”

Ceng Goe mengusap-ngusap rambut wanita itu dan berkata deagan suara nyaring: “Hatiku sangat berkuatir. Sudahlah ! Jangan kau bicara banyak banyak. Meramkan matamu dan mengaso. Tapi ingatlah. kalau dengan diam-diam kau mengerahkan Lweekang untuk mencelakakan diri sendiri, kau berbuat curang dalam pertandingan ilmu ini.”

“Aku tidak begitu rendah,” kata wanita itu sambil tertawa. Ia segera memeramkan kedua matanya dan pada bibirnya tersungging senyuman.

Untuk beberapa saat, kamar itu sunyi-senyap. Siauw Hoe dan Boe Kie menyaksikan itu semua dengan mata membelalak. Tiba-tiba Tiap kok Ie sian memutar badan dan menyoja kepada Boe Kie. “Saudara kecil,” katanya, “dalam kebingungan aku telah berbuat kesalahan terhadapmu. Aku harap kau sudi memaafkan.”

“Sedikitpun aku tidak mengerti, apa artinya ini semua,” kata Si bocah dengan mendongkol.

Sekonyong-konyong si tua mengangkat tangan kanannya dan menggapelok dua kali pipi seniri keras-keras. “Saudara, kecil,” katanya Pula. “Kau adalah tuan penolongku. Hanya karena aku sangat memikiri keselamnatan isteriku, maka aku sudah berbuat kedosaan terhadapmu.”

“Dia….. dia isterimu?” menegas si bocah dengan suara heran.

Ceng Goe mengangguk, “Benar, dia isteriku!” jawabnya.

Melihat sikap orang tua itu dan mendengar bahwa wanita itu adalah isterinya, semua kedongkolan Boe Kie lantas menghilang.

Ceng Goe mengambil kursi dan lalu mempersilakan Siauw Hoe dan Boe Kie duduk, “Kalian tentu merasa heran melihat kejadian dihari ini.” katanya, “Baiklah! Aku akan menceritakan latar belakangnya tanpa tedeng tedeng. Isteriku seorang she Ong namanya Lan Kouw. Kami berdua adalah saudara seperguruan. Pada waktu kami masih berada dalam rumah perguruan, disamping belajar ilmu silat, aku mempelajari ilmu ketabiban, sedang dia mempelajari Tok soet (ilmu menggunakan racun). Menurut pendapatnya, tujuan belajar ilmu silat adalah untuk membunuh orang dan tujuan Tok soet juga untuk membunuh orang. Boe soet (Ilmu silat) dan Tok soet merupakan dua macam ilmu yang berdiri berendeng. Maka itu, jika seorang mahir dalam Boe soet dan Tok soet, maka kepandaiannya bertambah dengan satu kali lipat. Ilmu ketabiban adalah untuk menolong manusia, sehingga pada hakekatnya, ilmu ketabiban dan ilmu silat bertentangan satu sama lain. Itulah jalan pikiran isteriku. Tapi karena bakatku terletak dalam ilmu ketabiban, aku tak dapat mengubah kesukaan itu.”

“Meskipun apa yang dipelajari kami berdua, perhubungan kami sangat erat dan diantara kami telah timbul perasaan cinta. Belakangan, Soehoe telah menikahkan kami berdua. Perlahan-lahan nama kami mulai terkenal dalam dunia kangouw, sehingga banyak orang memberi gelaran Ie Sian kepadaku dan julukan Tok Sian kepada isteriku. Kepandaiannya dalam soal racun sungguh-sungguh lihay. Ia sudah melebihi kepandaian Soehoe sendiri dan mungkin sekali didalam dunia sukar dicari tandingannya. Bahwa dia telah medapat gelaran Sian atau Dewi, merupakan bukti nyata dari kepandaiannya.

“Dasar aku yang tolol, yang bertindak tanpa dipikir lagi. Berapa kali isteriku telah meracuni orang, dan orang itu telah datang kepadaku untuk meminta pertolongan. Tanpa memikir panjang aku segera menolong mereka. Pada waktu itu hatiku malah merasa senang. Sedikitpun aku tidak merasa bahwa tindakanku itu sangat menyinggung perasaan isteriku. Aku sama sekali tak ingat, bahwa jika menyembuhkan orang yang diracuni olehnya, maka itu berarti bahwa kepandaian Ie sian adalah lebih unggul dari pada Tok sian”

Siauw Hoe menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas. Sepasang suami isteri itu benar benar manusia aneh.

Sementara itu Ceng Goe melanjutkan penuturannya. “Isteriku sangat mencintai aku. Di dalam dunia sukar dicari tandingannya. Tapi aku sendiri? Dengan di dorong oleh napsu mau menang, berulang kali aku menyinggung perasaannya. Cobalah kalian pikir. Meskipun dia patung, satu waktu dia bisa habis kesabarannya. Akhirnya aku tersadar. Aku bersumpah, bahwa aku tak akan menolong lagi orang yang telah diracuni olehnya. Lantaran begitu, lama-lama orang memberi gelaran Kian sie Poet kioe atau melihat kebinasaan tak sudi menolong padaku. Melihat aku berubah, isterikupun merasa senang. Tapi baru saja beberapa tahun aku mengambil jalan yang benar, muncullah peristiwa adik perempuanku.”

“Kehormatan adikku telah dilanggar oleh bangsat Sian Ie Thong dari Hwa san pay dan akhirnya binasa dalam tangannya. Tapi, samoai pada detik mau menghembuskan napasnya yang penghabisan, adikku masih mencintai bangsat itu. Pesannya yang terakhir supaya aku berjanji, bahwa selama hidup aku akan menolongnya, jika ia memerlukan pertolongan. Karena melihat adikku tidak akan mati dengan mata meram jika aku tidak meluluskan permintaannya, maka mau tidak mau, dengan hati penasaran, aku terpaksa memberikan janjiku itu.”

“Diluar tahuku, isteriku telah menaruh racun yang sangat hebat dibadan Sian Ie Thong. Racun itu yang jalannya sangat perlahan, akan merusak seluruh tubuh bangsat yang sesudah menderita hebat selama tiga tahun, akan mampus dengan dagingnya membusuk. Sian Ie Tong mengetahui janjiku yang diberikan kepada adikku. Begitu melihat keadaannya berbahaya, ia segera meminta pertolongan kepadaku. Hai!.. Otakku benar-benar pusing. Kalau aku menolong, aku menyinggung isteri sendiri. Kalau tidak menolong aku melanggar janji.”

“Sian Ie Tong adalah Ciangboenjin Hwa san pay. Ilmu silatnya tinggi dan dalam kalangan kangouw, ia dikenal sebagai seorang pendekar,” kata Siauw Hoe. “Sungguh tak dinyana dia sebenarnya manusia rendah. Ouw Sinshe sesudah adikmu binasa dalam tangannya, kaupun tak perlu menolong dia. Apa pula adikmu yang sudah meninggal dunia tidak tahu lagi urusan itu.”

“Tidak!” membantah Boe Kie. “Kie Kouwkouw, kau salah. Roh seorang yang sudah meninggal dunia masih bisa mengetahui apa yang terjadi didalam dunia,” Waktu mengatakan begitu ia ingat kedua orang tuanya. Ia mengharap supaya roh ayah dan ibunya masih tetap berada dilam baka dan nanti kalau ia sendiri menginggal dunia, ia akan bisa berkumpul lagi dengan kedua orang itu.

Tiap kok ie sian menghela napas. “Apa yang terjadi dialam baka tidak diketahui oleh manusia,” katanya.

“Pada waktu itu, jalan pikiranku adalah begini: jika aku berdosa terhadap isteriku, dialam kemudian aku masih dapat memperbaikinya. Tapi jika aku melanggar janji … hai!… Selama hidupnya, adikku selalu menderita… Bagaimana aka tega untuk menyakiti rohnya?”

“Demikianlah, dengan menggunakan seluruh kepandaian, aku akhirnya berhasil menyembubkan sibangsat Sian Ie thong. Isteriku tidak ribut-tibut lagi, ia hanya berkata dengan suara dingin: Bagus. Kepandaian Tiap kok ie sian Ouw Ceng Goe benar-benar tinggi. Tapi Tok Sian Ong Lan Kauw tak sudi menakluk. Sekarang marilah kita menjajal ilmu, untuk mendapat keputusan, Ie Sian atau Tok sian yang lebih tingggi! Mati matian aku memohon maaf, tapi ia tidak meladeni.”

“Beberapa tahun isteriku memperdalami ilmunya dan telah maracuni beberapa orang Kangouw yang ternama.Sesudah meracuni, ia memberi petunjuk supaya orang-orang itu datang kepadaku. Tok soet isteriku ternyata sudah banyak lebih lihay, sehingga tempo-tempo aku tidak mendapat jalan untuk mengobati orang yang kena racunnya. Ditambah lagi dengan rasa sungkan untuk membangkitkan amarah isteriku, maka dalam menghadapi keracunan yang hebat, sudah gagal satu dua kali, aku menghentikan usahaku dan mengatakan saja bahwa aku tak mampu menolong lagi.”

“Tapi diluar dugaan, sikapku bahkan menambah kegusarannya. Ia menuduh bahwa aku sudah memandang rendah kepadanya dan bahwa aku sudah sengaja tidak mau mengeluarkan seantero kepandaianku. Dengan gusar ia meninggalkan Ouw tiap kok dan mengatakan bahwa biar apapun yang terjadi, ia takkan kembali kepadaku.”

“Selama berada diluar, berulang kali ia meracuni orang dan menyuruh orang-orang itu datang kepadaku. Kependaiannya makin tinggi, sehingga tempo-tempo aku tak tahu, siapa yang sudah meracuni penderita yang meminta pertolonganku. Dalam menghadapi penderita yang seperti itu, dengan menganggap, bahwa dia bukan diracuni oleh isteriku, kadang-kadang aku memberi pertolongan dan menyembuhkannya. Belakangan baru kutahu, bahwa orang itu sebenarnya telah diracuni oleh isteriku. Demikianlah perhubungan kita jadi makin renggang.”

“Namaku Ceng Coe, atau Kerbau Hijau, sebenarnya lebih tepat jika nama itu diganti dengan ‘Kerbau Tolol’. Entah kebaikan apa yang sudah kuperbuat, sehingga aku dicintai oleh seorang wanita begitu mulia seperti isteriku itu dan hanyalah karena ketololanku, maka ia telah meninggalkan rumah dan hidup terlunta-lunta di luaran. Mengingat bahayanya dunia Kangouw, setiap saat, setiap detik, hatiku selalu memikiri keselamatannya”

Berkata sampai disitu, paras muka Tiap kok Ie sian kelihatan berduka sekali.

Siauw Hoe melirik Ong Lan Houw yang rebah dipembaringan. “Didalam dunia, siapa yang berani melanggar Ouw Hoejin?” katanya dalam hati. “Sudah bagus kalau orang lain tidak dilanggar olehnya. Sungguh lucu! Ouw Sinshe kelihatannya sangat takut pada isterinya.”

Sesudah berdiam sejenak, Ceng Goe berkata pula: “Pada tujuh tahun berselang, sepasang suami isteri yang sudah berusia lanjut kena racun hebat dan mereka datang disini untuk meminta pertolongan. Mereka adalah majikan pulau Leng coa to, di laut Tong hay. Mereka memiliki ilmu silat yang luar biasa dan tingkatan merekapun tinggi sekali. Puluhan tahun berselang, nama Kim Hoa Popo dan Gin yap Sianseng menggetarkan Rimba Persilatan.”

“Aku tidak berani lantas menolak secara tegas. Tapi cobalah kalian pikir, cara bagaimana aku berani membuat kesalahan lagi? Aku lalu memeriksa nadi mereka dan mengatakan, bahwa Gin-yap Sianseng sudah tak dapat diobati lagi, sedang kim-hoa Popo hanya kena racun enteng dan ia akan bisa menyembuhkan dirinya dengan menggunakan Lweekang sendiri. Aku diberitahukan, bahwa yang meracuni mereka adalah seorang Pek to pay (Partai Unta putih) yang sangat lihay di wilayah See hek (Wilayah barat) dan tiada sangkut pautnya dengan isteriku. Tapi sesudah sesumbar bahwa selain anggauta Beng kauw, aku tak akan menolong orang lagi, maka aku tak bisa menjilat ludah sendiri hanya karena yang minta tolong orang jempolan. Nyonya tua itu memohon mohon supaya aku suka menolong seorang saja, yaitu suaminya, dan untuk itu, ia menjanjikan hadiah yang sangat besar. Kalian harus mengetahui
bahwa di dalam Rimba persilatan, Gin yap sian seng dan Kim hoa Popo sangat cemerlang dan bahwa mereka sudah mau membuka mulut untuk meminta pertolonganku, bagiku sudah merupakan muka yang sangat besar (kehormatan besar). Tapi demi kepentingan kami berdua suami isteri aku tetap tidak mau menolong.”

“Untung juga mereka tidak menggunakan kekerasan. Sesudah yakin tak ada harapan, mereka pergi dengan perasaan duka. Aku mengerti bahwa karena penolakan-penolakanku untuk mengobati orang, aku sudah menanam banyak bibit permu suhan. Tapi kecintaan dan kerukunan antara aku dan isteriku masih lebih panting daripada kepentingan orang lain. Bagaimana pendapat kalian? Bukankah pendirian itu pendirian benar?”

Siauw Hoe dan Boe Kie membungkam, tapi didalam hati mereka tentu saja sangat tidak menyetujui pendirian yang gila itu.

Sementara itu, Ouw Ceng Goe sudah berkata pula: “Waktu Gie Coen datang kesini paling belakang ia mengatakan bahwa di tengah jalan dia bertemu dengan seorang nenek yang memberitahukan bahwa, sesuai dengan dugaanku, Gin Yap Sian seng sudah meninggal dunia karena racun itu. Sesudah Gie Coen berlalu, isteriku mendadak pulang. Melihat Boe Kie, ia segera menggunakan bie-yo (obat tidur), sehingga saudara kecil pules nyenyak semalam suntuk.”

“Ah! Kalau begitu kerjaan Ong Lan Kouw,” kata si bocah didalam hati. “Hari itu aku menduga, bahwa aku sakit.”

Sesudah melirik isterinya, Ceng Goe melanjutkan penuturannya: “Pulangnya isteriku tentu saja sangat menggirangkan. Iapun sudah mendengar bahwa Kim-Hoa Popo telah datang lagi di Tiong goan, sehingga biarpun masih mendongkol terhadapku, buru-buru ia pulang untuk memberitahukan hal itu kepadaku. Atas kemauannya, aku berpura-pura sakit cacar dan menolak untuk menemui orang. Kami mengunci diri di dalam kamar dan memikiri siasat untuk menghadapi Kim Hoa Popo. Ilmu silat nyonya tua itu terlalu lihay, sehingga tak mungkin kami melarikan diri. Tapi ia mempunyai adat yang aneh. Jika ia ingin membunuh seseorang, serangannya dibatasi dalam tiga kali. Kalau orang itu bisa menyelamatkan diri dari ke tiga tiga kali serangannya, maka ia akan mengampuninya.”

“Selang beberapa hari kemudian datanglah Sie Kong Wan, Kan Ciat, kau sendiri, Kie Kouwnio dan yang lain-lainnya sampai limabelas orang.”

“Begitu mendengar luka kalian, aku segera mengetahui, bahwa Kim Hoa Popo sengaja mau mencoba-coba aku, apakah aku masih tetap pada pendirianku, yaitu tidak mau menolong siapapun jua, kecuali murid Beng kauw. Luka kelima belas orang itu rata-rata luka yang sangat aneh. Aku adalah seorang yang keranjingan ilmu ketabiban. Begitu melihat luka atau penyakit aneh, tanganku lantas saja gatal dan ingin menjajal kepandaianku. Sekarang Kim Hoa Popo mengirim bukan satu, tapi Limabelas orang. Kalian dapatlah membayangkan perasaanku. Tapi akupun mengerti maksud nenek itu, jika ada seseorang saja yang diobati olehku, celakalah aku. Ia pasti akan menyiksa aku ratusan kali lipat lebih hebat daripada orang yang diobati itu. Lantaran begitu, sambil menahan keinginan hati, aku tetap berpeluk tangan. Belakangan sesudah Boe Kie menanyakan pendapatku andaikata orang yang terluka adalah seorang murid Beng kauw, barulah aku memberi petunjuk. Tapi aku sangat berhati-hati dan sengaja menerangkan, bahwa Boe Kie adalah murid Boe tong pay dan tidak bersangkut paut dengan diriku.”

“Melihat bahwa dengan pertolongan Boe Kie, urang-orang itu mulai sembuh dengan cepat, Lan Houw kembali merasa tidak senang. Setiap maim, diam-diam ia menaruh racun dipiring mangkok mereka. Dengan demikian, lagi-lagi ia bermaksud untuk mengadu kepandaian denganku. Kelimabelas orang itu rata rata adalah jago-jago Rimba Persilatan. Bagaimana ia bisa menyateroni tanpa diketahui? Sebelum menyebar racun, lebih dulu ia menggunakan Obat tidur.”

Siauw Hoe dan Boe Kie saling mengawasi. Sekarang baru mereka mengerti, mengapa pada malam itu, Siauw Hoe begitu sukar disadarkan, sehingga Boe Kie sampai perlu menggoyang-goyangkan badannya.

“Selama beberapa hari ini, kesehatan Kie Kouw nio pulih dengan cepat, seperti juga racun isteriku tidak mempan lagi,” kata pula Ceng Goa. “Sesudah menyelidiki, ia mengerti bahwa rahasianya sudah diketahui Boe Kie, maka ia segera mengambil keputusan untuk mengambil jiwa Boe Kie. Hai!… Kata orang sungai dan gunung lebih mudah diubah daripada adat manusia. Aku harus mengakui, bahwa aku, Ouw Ceng Goe tidak cukup setia kepada isteriku. Sebenarnya aku sudah mengambil keputusan uatuk berpeluk tangan, tapi karena Boe Kie telah menasehati aku supaya aku menyingkir ketempat lain, maka hatiku lantas saja menjadi lemah. Aku segera memberi resep istimewa padanya dengan menyebutkan Tong wie, Wan sie, Tok ho dan beberapa macam obat lain. Aku tidak dapat bicara terus terang, karena Tan Kouw berada ddampingku.”

“Tapi isteriku adalah seorang yang sangat cerdas dan juga mengenal ilmu ketabiban. Mendengar resep yang gila itu, sesudah mengasah otak beberapa lama, ia segera dapat menangkap maksudku yang sebenarnya. Ia lalu mengikat kaki tanganku dan mengambil beberapa macam racun yang lalu ditelannya. “Soeko,” katanya. “Aku dan kau sudah menjadi suami isteri selama dua puluh tahun lebih. Lautan bisa kering, batu bisa haneur, tapi kecintaan kita tak akan bisa berubah. Tapi kau selamanya memandang rendah kepada Tok toetku. Setiap orang yang diracuni olehku, selalu dapat di tolong olehmu. Sekarang aku sendiri menelan racun. Jika kau dapat menolong jiwaku aku takluk terhadapmu. Bukan main rasa kagetku, berulang ulang aku minta ampun dan mengaku kalah. Tapi ia lalu menyumbat mulutku dengan buah tho, sehingga aku tidak dapat bicara lagi. Kejadian selanjutnya sudah diketahui kalian. Hai! …. Boe Kie, kau berdosa terhadapku. Kau membalas kebaikan dengan kejahatan. Aku menasehati kau untuk menyingkirkan tapi kau berbalik melukakan isteriku yang tercinta.” seraya berkata begitu ia menggeleng-gelengkan kepala.

Siauw Hoe dan Boe Kie saling mengawasi tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata. Mereka mendongkol tercampur geli. Sedang suami isteri itu benar benar aneh dan sukar dicari tandingannya didalam dunia selebar ini. Karena rasa cinta yang besar Ouw Ceng Goe takut terhadap isterinya. Dilain pihak, Ong Lan Kouw terus menindih suaminya dan akhirnya ia bahkan meracuni diri sendri.

Sesudah menggelengkan kepala, Tiap kok ie sian berkata pula: “Cobalah kalian pikir: Apa yang harus diperbuat olehku? Kalau sekarang aku berhasil menyembuhkannya, itu akan berarti, bahwa kepandaianku lebih unggul dari pada kepandaiannya dan Lan Kouw tentu akan tetap merasa kurang senang. Jika aku gagal, jiwanya melayang. Hai! Aku mengharap Kim hoa Popo cepat-cepat datang supaya aku lekas-lekas mampus agar jangan merasakan penderitaan ini lebih lama lagi.”

Tiba tiba serupa ingatan berkelebat dalam otak Boe Kie. “Racun apa yang ditelan Soebo?” to nyanya. “Bagaimana mengobatinya?” (Soebo-Isteri dari seorang guru). Sambil berkata begitu, ia menggoyang-goyangkan tangan, sebagai isyarat supaya Ceng Goe tidak menjawab dengan sebenarnya.

Ceng Goe melirik isterinya yang sedang tidur menghadap kedalam. Sebagai seorang yang sangat pintar, ia segera mengerti maksud bocah itu.

“Selama beberapa tahun kepandaian isteriku sudah maju jauh, sehingga aku tidak dapat menebak racun apa yang ditelannya,” jawabnya. “Dan sebelum mengetahui racunnya, aka tentu tak dapat mengobatinya.”

Selagi orang tua itu menjawab pertanyaannya, dengan jari tangan Boe Kie menulis huruf-huruf yang berbunyi begini diatas meja: “Beritahukanlah aku dengan tulisan”. Selagi menulis, mulutny berkata. “Kalau begitu Soebo tak bisa diobati lagi”

“Isteriku sendiri pasti tahu cara mempunahkan racun itu,” kata Ceng Goa. “Tapi aku mengenal adatnya. Biarpun mati, ia tak nanti memberitahukan kepada kita.” Waktu berkata begitu, dengan telunjuknya ia menulis diatas meja. Racun Sam ciong Sam co. Sam ciong ialah kelabang, ular tanah dan laba-lain beracun, Sam co terdiri dari Cin po co, Toan chung co dan Siauw houw koen. Sesudah itu ia menulis juga resep obat. (Sam ciong Tiga macam binatang. Sam-co Tiga macam rumput).

Boe Kie mengangguk dan lalu menulis pula diatas meja: “Kau telanlah Sam ciong Sam co. Sesudah kau meracuni diri sendiri, aku yang akan menolong”

Tiap kok Ie sian terkejut, tapi ia segera dapat menangkap maksud Boe Kir. “Jalan ini sangat berbahaya,” pikirnya. “Tapi karena tak ada lain jalan biarlah aku mencoba secara untung untungan.”

Sementata itu Boe Kie sudah berkata pula. “Ouw Sinshe, dengan memiliki kepandaian yang begitu tinggi, apakah bisa jadi kau tak tahu racun apa yang sudah ditelan Soebo?”

“Menurut dugaanku, ia telah menelan racun Sam ciong Sam-co,” jawabnya. “Sam ciong bersifat “im” (dingin), sedang Sam-co besifat “yang” (panas). Jangankan sampai enam macam, satu macam saja sudah sukar untuk diobati. Jika aku menggunakan obat yang sangatnya panas untuk mempunahkan racun binatang yang bersifat dingin, maka racun rumput yang panas akan menjadi jadi. Dan begitu juga sebaliknya. Tubuh manusia yang terdiri dari darah daging, tak akan bisa bertahan terhadap enam rupa racun yang hebat itu.” Ia mengibas tangannya dan berkata pula: “Kalian pergilah! Manakala Lan Kouw binasa, akupun tak bisa hidup sendirian didalam dunia.”

“Kami harap Sinshe bisa menyayang diri dan coba membujuk Soebo,” kata Boe Kie.

Ceng Goe menghela napas. “Kalau dia bisa di bujuk, kejadian hari ini boleh tak usah terjadi,” Jawabnya dengan suara putus harapan.

Siauw Hoe dan Boe Kie lantas saja meninggalkan kamar itu.

Sesudah mereka berlalu, Tiap kok Ie sian segera menotok jalanan darah, dipinggangnya dan pinggang isterinya. “Soe-moay,” katanya dengan suara parau, “suamimu tak mempunyai kemampuan dan tak dapat memunahkan racun Sam ciong Sam co. Jalan satu-satunya yalah mengikuti kau kedunia baka untuk menyambung perjodohan kita,” ia merogoh saku isterinya dan mengeluarkan beberapa bungkus obat, yang sesuai dengan dugaannya, berisi Sam ciong Sam co.

Karena ditotok, tubuh Lan Kouw tidak bisa berkutik, tapi mulutnya masih bisa bicara. “Soeko, tak boleh kau makan racun!” teriaknya dengan kaget.

Sang suami tidak meladeni. Ia membuka bungkusan bubuk racun yang lalu dimasukkan kedalam mulutnya dan ditelan dengan bantuan air.

Paras muka Lan Kouw pucat pasti. “Soeko?” jeritnya. “Kau gila! Mengapa begitu banyak? Racun sebanyak itu dapat membinasakan tiga manusia.”

Tiap kok Ie skin tertawa dingin. Ia duduk menyender dikursi disamping kepala ranjang. Sesaat kemudian, perutnya seperti disayat ratusan pisau dan ia mengerti, bahwa Toan-chung co (Rumput memutuskan usus) sudah mulai bekerja. Tak lama lagi, lima racun yang lain juga turut mengamuk dan penderitaan Ceng Goe tak mungkin dilukiskan dengan perkataan.

“Soeko! Racun itu ada pemunahnya!” teriak Lan Kouw.

Sang suami menggigil, giginya bercatrukan dan ia berkata sambil menggelengkan kepala : “Aku… tak….percaya….”

“Lekas makan Giok liong Souw hap san!” teriak si isteri. “Gunakan jarum untuk membuyarkan racun!”

“Apa gunanya?” kata Ceng Goe.

Sekarang nyonya itu menangis, “Racun yang ditelan olehku sangat sedikit,” katanya: “Kau makan terlalu banyak. Oh Soeko!… Lekaslah tolong jiwamu…. Kalau terlambat…. tak keburu lagi….”

“Aku mencintai kau dengan segenap jiwa,” kata sang suami. “Tapi kau sendiri tak hentinya mengajak aku mengadu ilmu. Aku merasa, hidup lebih lama tiada artinya …. aduh!: … aduh!! Ia bukan berpura-pura, ketika itu racun ular dan lawa lawa sudah mulai menyerang jantung. Badannya bergoyang-goyang dan dilain detik, ia sudah tak ingat orang.

Semua kejadian itu didengar jelas oleh Siauw Hoe dan Boe Kie yang menunggu diluar pintu. “Soeko! Soeko!” Lan Kouw sesambat. “Akulah yang bersalah… Kau tidak boleh mati….aku tak akan mengajak kau mengadu ilmu lagi”

Sekarang Boe Kie menganggap bahwa sudah tiba waktunya untuk ia turun tangan. Ia menerobos masuk dan bertanya: “Soebo… lekas! Lekas! beritahukan cara menolong Soehoe!”

Lan Kouw girang tak kepalang. “Lekas berikan Giok liong Souw hap san kepadanya!” teriaknya. “Lekas! Ambil jarum emas dan tusuklah jalan darah Yong coan hiat dan kioe bwee hiat dan cepat!”

Pada detik itu, diluar kamar sekonyong-konyong terdengar suara batuk-batuk. Ditengah malam buta, suara itu membangunkan bulu roma. Kie Siauw Hoe melompat masuk, paras mukanya pucat bagaikan kettas. Sambil melompat, ia berkata dengan suara heran :”Kim Hoa Popo….”

Hampir berbareng dengan perkataan popo tirai bergoyang dan diambang pintu berdiri seorang nenek yang tangannya mencekal satu nona cilik yang berparas sangat cantik.

Nenek itu memang bukan lain daripada Majikan Pulau Leng coa to, Kim Hoa Popo. Melihat Ceng Goe mencekal perut dengan paras muka bersemu hitam dan berada dalam keadaan pingsan, ia terkejut dan bertanya: “Ada apa?”

Lan Kouw menangis keras, “Soeko! Soeko!” jeritnya. “Mengapa kau meracuni diri sendiri?”

Kedatangan Kim Hoa Popo di wilayah Tiong goan mengandung dua maksud. Pertama untuk mencari musuh yang telah meracuni suaminya dan kedua untuk memberi hukuman kepada Ouw Ceng Goe.. Tak dinyana, ia bertemu Tiap kok Ie sian yang sudah hampir mati. Sebagai seorang ahli dalam ilmu menggunakan racun, begitu melihat paras muka Ceng Goe dan Lan Kouw, ia mengetahui, bahwa jiwa mereka sukar untuk di tolong lagi. Ia menduga, bahwa Ceng Goa sudah menelan racun karena takut hukuman yang mungkin dijatuhkan olehnya dan dengan adanya dugaan itu, rasa sakit hatinya lagtas saja menghilang. Ia menghela napas dan sambil menarik tangan si nona cilik, ia berjalan keluar. Dilain saat, suara batuk batuk terdengar diluar rumah, dalam jarak puluhan tombak. Kecepatan bergeraknya nenek sungguh sukar dicari tandingannya.

Sesudah Kim hoa Popo berlalu, Boe Kie meraba dada Ceng Goe yang jantungnya masih mengetuk dengan perlahan.

Buru-buru ia mengambil Giok long Souw hap san yang lalu dicekukkan kemulut orang tua itu dan kemudian mengambil jarum emas untuk menusuk Yong coan hiat dan Kioe bwee hiat, supaya hawa beracun bisa keluar dari lubang tusukan. Sesudah menolong sang Soehoe, barulah ia menolong Soebo.

Setengah jam kemudian, perlahan-lahan Tiap kok ie sian tersadar. Rasa syukur dilukiskan, ia menaagis dan berkata “Saudara kecil! kau adalah tuan penolong kami yang sudah menolong jiwa kami berdua.”

“Sekarang kalian boleh tak usah berkuatir lagi.” kata Boe Kie. “Kim hoa Popo yang menduga kalian pasti akan binasa, sudah berlalu tanpa mengatakan sepatah kata”

“Tapi aku masih tetap berkuatir,” kata sang Soebo. “Kim hoa Popo adaiah seorang yang sangat berhati-hati. Biarpun hari ini ia sudah pergi, dilain hari ia pasti akan datang pula untuk menyelidiki. Kami berdua harus menyingkirkan diri. Saudara kecil, aku ingin meminta pertolonganmu. Buatlah dua buah kuburan kosong dan tulisilah nama kami diatas batu nisan.” Si bocah mengangguk sebagai tanda ia akan melakuknn permintaan itu.

Ceng One dan Lan Kouw segera berkemas dan malam itu juga, dengan menumpang sebuah kereta keledai, mereka berangkat meninggalkan Ouw tiap kok. Boe Kie mengantar mereka sampai di mulut selat. Sesudah berkumpul dua tahun lebih dan sekarang meski berpisahan secara mendadak, Ceng Goe dan Boe Kie merasa sangat terharu. Sambil mengangsutkan sejilid buku tulisan tangan kepada si bocah, orang tua itu berkata. “Boe Kie, semua pelajaranku sudah tercatat dalam buku ini. Aku menghadiahkannya kepadamu. Aku merasa sangat menyesal bahwa racun Hian beng Sin ciang dalam tubuhmu masih belum dapat disingkirkan. Aku mengharap, bahwa sesudah mempelajari buku ini, kau sendiri akan mendapat jalan untuk mempunah racun itu. Dengan berkah Tuhan, dihari kemudian kita masih bisa bertemu lagi”

Sambil menghaturkan banyak terima kasih, Boe Kie menerima hadiah itu.

“Boe Kie,” kata Lan Kouw, “kau bukan saja sudah menolong jiwa kami, tapi juga sudah mengakurkan kami berdua suami isteri. Menurut pantas, akupun harus memberikan semua pelajaran kepadamu.. Hanya sayang apa yang dipelajari olehku ada ilmu ilmu meracuni manusia yang tiada faedahnya. Aku hanya dapat memohon pada Tuhan Yang Maha Esa, supaya kau sembuh dalam tempo agar dihari kemudian aku masih bisa membalas sedikit budimu.”

Demikianlah, dengun rasa duka, mereka berpisahan.

Sesudah kereta itu tak kelihatan bayangan-bayanganya lagi, barulah Boe Kie kembali kerumah Ceng Goe yang sudah kosong. Pada esokan paginya, ia segera membuat dua buah kuburan disamping rumah dan kemudian memanggil tukang batu untuk mendirikan bong pay (batu nisan). Diatas sebuah bong pay tertulis. “Kuburan Tiap kok Ie sian, Ouw Sinshe, Ceng Goe”, sedang dilain bong pay tertulis. “Kuburan Nyonya Ouw, Ong sie”

Kan Ciat, Sie Kong Wan dan yang lain-lain percaya, bahwa kedua suami isteri itu telah meninggal dunia karena sakit cacar.

Sesudah pengacaunya berlalu, dengan diobati Boe Kie, semua orang sembuh dengan cepat sekali. Dalam sepuluh hari, mereka semua sudah berlalu dengan menghaturkan banyak terima kasih.

Selama beberapa hari, Boe Kie memusatkan seluruh perhatiannya kepada buku yang diberikan oleh Tiap kok ie sian. Ia mendapat kenyataan bahwa isi buku itu benar-benar hebat, berisi resep-resep luar biasa dan macam-macam cara untuk mengobati berbagai penyakit yang aneh-aneh. Sungguh tak malu Ouw Ceng Goe mendapat gelaran Ie sian. Tapi sesudah mempelajari delapan sembilan hari, ia masih juga belum dapat membaca Keterangan tentang cara mengusir racun Hian beng Sin ciang. Ia memikir bulak-balik, mengasah otak Siang malam, tapi tetap tidak berhasil. Ia jadi putus harapan.

Hari itu, dengan perasaan tertindih ia jalan jalan diluar rumah. Sambil mengawasi keduaku kuburan kosong itu, ia berkata dalam hatinya: “Setahun lagi, siapakah yang akan mengubur mayat ku?” Mengingat begitu, hatinya sedih dan air mata nya mengucur.

Sekonyong-konyong dibelakangnya terdengar suara batuk-batuk. Ia kaget, dan memutar badannya. Orang yang berdiri dibelakangnya ternyata bukan lain daripada Kim hoa Popo yang sedang mencekal tangan sigadis kecil

“Anak kecil, pernah apakah kau dengan Ouw Ceng Goe?” tanya si nenek. “Mengapa kau menangis didepan kuburannya ?”

Jawab Boe Kie. “Aku kena racun Hian beng Sin ciang . . . .”

Si nenek mengangsurkan tangannya dan memegang nadi Boe Kie. “Siapa yang memukul kau?” tanyanya dengan suara heran.

Boe Kie menggelengkan kepala. “Entahlah,” Jawabnya. “Orang itu menyamar seperti seorang perwira Mongol. Aku tak tahu siapa adanya dia. Aku datang kemari untuk meminta pertolongan Ouw Sinshe, tapi ia tak sudi menolong. Sekarang ia meninggal dunia dan penyakitku tentu tak dapat diobati lagi. Itulah sebabnya mengapa aku menangis.”

Melihat paras muka si bocah yang sangat tampan dan gerak geriknya yang menarik. Kim hoa Popo merasa kasihan sehingga ia menghela napas panjang dan berkata.” Sayang, sungguh sayang!”

Dua tahun yang lalu, waktu baru diberitahukan bahwa racun Hian beng Sin ciang sukat diobati, Boe Kie ketakutan. Belakangan, sesudah berbagai usaha gagal, ia putus harapan dan jadi nekad. Ia sudah tidak memikiri lagi soal mati dan hidupnya. Maka itu, mendengar perkataan si nenak, ia tertawa dingin dan berkata. “Mati atau hidup tak bisa diminta secara paksa. Apakah seseorang yang serakah yang ingin hidup terus menerus bukan seorang yang sedang mabuk ? Entahlah. Apakah seseorang yang takut mati bukan seperti seorang kanak-kanak yang kesasar dan tidak mengenal jalan pulang? Entahlah. Apakah seseorang yang sudah meninggal dunia tidak merasa menyesal bahwa ia dahulu ingin sekali dilahirkan didalam dunia? Inipun tak diketahui olehku,”

Si nenek terkesiap. Untuk sementara ia tidak mengeluarkan sepatah kata dan coba memecahkan maksud perkatan si bocah.

Kata-kata itu adalah petikan dari kitab Lam hoa keng gubahan Cong coe -Chuang tse-. Sebagai mana diketahui Thio Sam Hong menganut agama Too kauw tapi ketujuh muridnya tidak turut memeluk agama tersebut. Meskipun begitu, mereka terus mempelajari Lam Hoa keng semasak-masak nya.

Waktu berada di pulau Peng bwee to, karena tak ada buku dan perabot tulis, Thio Coei San mengajar ilmu surat kepada puteranya dengan menulis huruf diatas tanah. Antara lain, ia telah menyuruh anaknya menghafal kitab Lam-hoa-keng. Kata-kata yang dikutip Boe Kie mengandung makna yang seperti berikut: Hidup belum tentu senang dan mati belum tentu menderita, sehingga pada hakekatnya hidup atau mati tidak banyak perbedaannya. Seseorang yang hidup di dunia seperti sedang mimpi dan kalau ia mati, ia seperti tersadar dari mimpinya. Mungkin sekali, sesudah mati, rohnya menyesal mengapa dahulu dia hidup di dalam dunia dan mengapa dia tidak mati terlebih siang. Demikianlah kira-kira arti perkataan itu.

Sebagai seorang bocah, Boe Kie sebenarnya belum mengerti soal mati atau hidup. Tapi karena selama kurang lebih empat tahun setiap hari ia berada antara mati dan hidup, maka sedikit banyak ia dapat menyelami juga arti perkataan Cong coe. Tanpa merasa, ia mengharap supaya sesudah mati, ia akan berada ditempat yang bahagia, supaya ia bisa berkumpul lagi dengan roh kedua orang tuanya, sehingga kematiannya banyak lebih menyenangkan dari pada hidup sebatangkara didalam dunia yang lebar ini.

Bagi Kim Hoa Popn, perkata itu telah mengingatkannya kepada sang suami yang sudah almarhum. Puluhan tahun, dengan penuh kecintaan mereka bersuami isteri. Tiba-tiba pada suatu hari, sang suami yang tercinta telah berpulang kealam baka, seperti seorang pelancong yang pulang ke negeri sendiri. Mengingat begitu, didalam hatinya segera muncul satu pertanyaan: “Apakah kebinasaan suami itu bukan kejadian yang tidak terlalu jelek?”

Dengan perasaan heran si nona cilik yang berdiri disamping Kim Hoa Popo mengawasi muka si nenek dan kemudian melirik Boe Kie. Ia tidak mengerti perkataan Boe Kie dan juga tidak mengerti mengapa neneknya bengong terlongong longong.

Beberapa saat kemudian, Kim Hoa Popo menghela napas dan berkata: “Soal mati atau hidup tak bisa diketahui manusia. Biarpun kematian belum tentu merupakan suatu kejadian yang menakuti, tapi pada umumnya manusia takut mati. Benar! Manusia tidak bisa meminta secara paksa. Pada akhirnya, satu hari semua manusia akan mati. Akan tetapi, jika bisa hidup satu hari lebih lama, orang lebih suka hidup satu hari lebih lama!”

Melihat sikap dan perkataan si nenek yang lemah-lembut, hati si bocah jadi tenang tenteram. Sesudah menyaksikan lukanya kelima belas orang dan rasa takutnya Ouw Ceng Goa, Boe Kie menganggap nenek itu sebagai memedi kejam. Tapi sekarang, melihat paras Kim hoa Popo yang penuh kecintaan dan sikapnya yang ramah tamah, ia merasa, bahwa si nenek menyayangnya dengan setulus hati, sehingga dengan demikian rasa takutnya banyak berkurang.

“Nak,” kata pula nenek itu, “Siapakah ayahmu dan dimana ia sekarang?”

Tanpa tedeng-tedeng, secara ringkas Boe Kie segera memberi jawaban dan menuturkan sebab musabab sehingga dia berada di Ouw tiap kok.

“Kalau begitu kau adalab putera Boe tong Thio Ngohiap,” kata Kim hoa Popo dengan suara heran. “Menurut pendapatku orang itu melukakan kau dengan Hian beng Sin ciang karena dia ingin memaksa kau memberitahukan tempat sembunyinya Cia Soen. Bukankah begitu ?”

“Benar” Jawab Boe Kie. “Dia telah menyiksa aku dengan berbagai cara, tapi aku tetap membungkam.”

“Tapi apa kau tahu dimana adanya Cia Soen ?” tanya pula si nenek.

“Kim mo Say ong adalah ayah angkatku.” jawabnya “Tapi biar bagaimanapun jua, aku tak akan memberitahukan kepada siapapun jua.”

Mendadak si nenek membalik tangannya dan mencekal kedua tangan Boe Kie yang lalu dipijit keras-keras. Si bocah berteriak keras, matanya berkurang kunang. Pijitan itu bukan saja hebat, tapi dari tangan si nenek juga keluar semacam hawa dingin yang menyerang dadanya. Hawa dingin itu berbeda dengea hawa Hian beng Sin ciang, tapi sama hebatnya.

“Anak baik,” kata Kim Hoa Popo, “Beritahukanlah dimana adanya Cia Soen? Sesudah kau memberitahukan, aku akan mengusir racun dari tubuhmu dan juga akan memberikan semacam ilmu silat yang tiada keduanya kepadamu.”

Sambil menahan sakit, Boe Kie menjawab dengan suara tetap. “Kedua orang tuaku telah mengorbankan jiwa karena tidak mau menjual sahabat. Kim Hoa Popo, apakah kau memandang aku sebagai manusia yang bisa menjual ayah ibunya?”

Si nenek bersenyum, “Bagus ! Bagus!”, katanya: “Kau sungguh seorang anak yang baik?”

“Popo, mengapa kau tidak menuang air perak kedalam kupingku?” tanya si bocah dengan berani: “Mengapa kau tidak memaksa aku menelan jarum? Huh huh ! Dulu, waktu masih kecil, aku sudah tak takut segala siksaan. Apalagi sekarang?”

Kim hoa Popo tertawa terbahak-bahak. “Kau sudah besar anak, memang kau sudah besar,” katanya. “Ha ha ha…ho ho ho …”Sehabis tertawa, ia batuk-batuk, banyak lebih hebat dari biasanya, sehingga si nona cilik menumbuk-numbuk punggungnya dan memberikan sebutir yowan kepada nya.

Sesudah berhenti batuk-batuk, perlahan-lahan si nenek meletakan cekalannya, pada pergelangan tangan Boe Kie yang bekas dicekal terpeta tapak jari tangan yang berwarna ungu-hitam.

Si nona cilik melirik Boe Kin seraya berkata “Lekas menghatur terima kasih kepada Popo yang sudah mengampuni jiwamu.”

Boe Kie mengeluarkan suara dihidung. “Kalau segera dibunuh, mungkin sekali aku lebih senang,” katanya. “Perlu apa menghaturkan terima kasih?”

Alis si nona berkerut. “Kau terlalu kepala batu.” katanya. “Sudahlah! Aku tak akan memperdulikan kau lagi.” Ia memutar badan, tapi diam-diam ia melirik Boe Kie lagi.

Si nenek bersenyum. “A lee,” katanya, “dipulau kita, kau seorang diri, tak punya kawan. Apa tidak baik kalau kita bawa dia kesana, supaya dia bisa menemani kau? Hanya adatnya tidak begitu bagus.”

Si nona yang dipanggil “A-lee” menepuk-nepuk tangan dan berkata dengan girang. “Bagus kita bawa dia kesana. Kalau dia membandel, bukankah Popo bisa mencari jalan untuk menaklukinya?”

Mendengar pembicaraan itu, Boe Kie jadi bingung.

Si nenek manggut-manggutkan kepalanya seraya berkata. “Kau ikut aku. Lebih dulu kita cari seorang dan aku ingin melakukan suatu pekerjaan. Sesudah itu, kita pulang ke pulau Leng coa to.”

“Tidak! Kamu bukan orang baik-baik.” kata Boe Kie dengan gusar.

Si nenek bersenyum. “Kau sungguh goblok,” katanya, “Di pulau kami, kau bisa mendapatkan apapun jua. Makanan yang lezat, tempat bermain, pemandangan indah yang belum pernah dilihat oleh mu. Anak baik, sudahlah, kau jangan rewel dan ikutlah Popo.”

Tiba-tiba Boe hie memutar badan dan terus lari. Tapi baru dua tiga tindak, si nenek sudah menghadang didepannya. “Nak, kau tak akan bisa melarikan diri.” katanya dengan suara lemah lembut. “Ikutilah aku baik-baik, jangan sampai di paksa.”

Boe Kie melompat dan kabur kejurusan lain tapi seperti juga tadi, baru setindak dua, Kim Hoa Popo sudah mencegat pula. Dengan gusar Boe Kie meninju. Si nenek mengegos sambil meniup tinja yang menyambar. Di tiup begitu, Boe Kie merasa tangannya seperti disayat pisau.

Sekonyong-konyong terdengar teriakan nyaring. “Boe Kie Koko !” Suara itu ialah suara Yo Poet Hwie yang muncul dari dalam hutan sambil berlari-lari, diikuti oleh ibunya dari belakang.

Melihat Kim Hoa Popo, paras muka Siauw Hoe lantas raja berubah pucat. Tapi dengan memberanikan hati, ia berkata dengan suara gemetar: “Popo, kau tidak akan mencelakakan anak-anak kecil bukan ?”

Si nenek mendelik. “Kau masih belum mati?” tanyanya dengan suara dingin, “Jangan campur campur urusanku. Mari… Mari… Aku mau lihat, mengapa kau belum mati.”

Siauw Hoe sebenarnya berhati tabah. Tapi dalam menghadapi lawan berat dan karena memikirkan keselamatan puterinya, ia sungkan menerjang bahaya.

Maka itu, seraya menarik tangan puterinya, ia mundur setindak. “Boe Kie kemari,” katanya dengan suara perlahan.

Baru saja Boe Kie mau bergerak, si nona cilik sudah menjambret lengannya dan menyengkeram jalan darah Sam yang hiat, sehingga separoh badannya tidak dapat berkutik lagi, “Diam!” bentak gadis kecil itu.

Boe Kie kaget, gusar dan heran,” Celaka” ia mengeluh. “Ilmu apa yang digunakan perempuan kecil ini ?”

Sekonyong-konyong terdengar suara yang nyaring dan tajam. “Siauw Hoe, mengapa nyalimu begitu kecil ? Mau mendekati, dekatilah!”

Siauw Hoe kaget bercampur girang, “Soehoe!” teriaknya, tapi tidak mendapat jawaban. Sesaat kemudian, disebelah kejauhan muncul seorang nio kouw (pendeta perempuan) yang mengenakan jubah pertapaan warna abu-abu dan mendatangi dengan tindakan perlahan. Pendeta itu bukan lain dari pada Ciang boenjin Go bie pay, dan di belakang mengikuti dua orang murid.

Bahwa dari tempat yang begitu jauh, ia bisa melihat begitu tegas dan bisa mengirim suara yang begitu nyaring merupakan bukti dari kelihayan pendata tersebut. Biat coat Soethay, yang namanya dikenal oleh semua jago Rimba Persilatan, bukan saja jarang turun gunung, tapi juga jarang menemui manusia. Kalau ia masih menolak untuk menemui seorang berilmu seperti Thio Sam Hong lain tak usah dibicarakan lagi.

Sesudah datang dekat, in ternyata berusia setengah tua, kurang lebih empat puluh lima tahun sedang paras mukanya dapat dikatakan elok hanya sayang kedua alisnya terlalu turun kebawah sehingga muka yang cantik itu agak menyerupai muka setan Tiauw sie kwi (setan penggantungan) diatas panggung wayang.

Siauw Hoe menyambut dengan berlutut seraya berkata. “Soehoe, apa kau baik ?”

“Belum mampus dirongrong olehmu,” jawabnya.

Siauw Hoe tidak berani bangun. Mendengar suara tertawa dingin dari Teng Bin Koen yang berdiri dibelakang gurunya, ia segera mengetahui, bahwa kakak seperguruannya itu sudah bicara banyak tentang dirinya dihadapan sang guru. Jantungnya memukul keras dan keringat dingin keluar dari dahinya.

“Nenek itu telah memanggil kau untuk melihat mengapa kau belum mati,” kata Biat coat Soe thay. “Pergilah, dekati dia!”

“Baik.. ” kata si murid yang lalu bangun berdiri dan menghampiri si nenek. “Kim Hoa Popo,” katanya. “Guruku sudah datang. Jangan kau berlaku galak lagi.”

Kim hoa Popo batuk-batuk. Ia melirik Biat coat Soethay dan manggut-manggukkan kepalanya. “Hm! Kau Ciang boenjin Go bie pay,” katanya. “Benar, aku sudah memukul muridmu. Habis, mau apa kau ?”

“Bagus,” jawabnya. “Mau pukul, boleh pukul lagi. Biarpun dia mati, tak ada sangkut pautnya denganku.”

Hati Siauw Hoe seperti disayat pisau, “Soehoe!” teriaknya dengan suara parau, sedang air matanya mulai mengucur.
Biat coat Soethay biasanya dikenal sebagai seorang yang selalu mengeloni muridnya, meskipun murid itu berbuat kesalahan. Sekarang, dengan mengeluarkan perkataan itu terang-terangan ia mengunjuk, bahwa ia sudah tidak menganggap Siauw Hoe sebagai muridnya lagi.

“Dengan Go bie pay aku tidak mempunyai permusuhan.” kata Kim hoa Popo. “Sesudah memukul sekali, cukuplah. A-lee, mari kita pergi !”

Sehabis betkata begitu, perlahan-lahan ia memutar badan.

Melihat cara-cara si nenek yang dianggapnya kurang ajar, Teng Bin Koen yang belum mengenal kelihayan Kim hoa Popo, lantas saja naik darah.

Dengan sekali melompat, ia sudah menghadang dihadapan nenek itu, “Tak tahu adat!” bentaknya. “Apa kau mau pergi dengan begitu saja, tanpa mengeluarkan sepatah perkataan sopan?” Seraya barkata begitu, ia mencekal gagang pedang dan sikapnya galak sekali.

Tangan si nenek bergerak dan dengan dua jeriji, dia memijit sarung pedang Teng Bin Koen. “Kau mengancam orang dengan besi rongsokkan!” Katanya sambil tertawa.

Teng Bin Kaoen jadi lebih gusar dan lalu menarik pedangnya, tapi heran sungguh, pedang itu tak dapat dihunus.

A lee tertawa geli. “Besi rosokan sudah berkarat,” katanya.

Teng Bin koen coba mencabut lagi dangan menambah tenaga, tapi pedang itu tetap melekat pada sarungnya. Ia tak tahu, bahwa karena dipijit, sarung pedang pecah dan melesak kedatam, sehingga badan pedang tergencet keras.

Paras muka Teng Bin koen lantas saja berubah merah. Ia merasa jengah dan tak tahu harus berbuat apa. Biat coat Soethay maju setindak dengan tiga jari tangan, ia menjepit gagang pedang dan sekali menyentak, sarung itu pecah dan pedangnya terhunus keluar. “Pedang ini memang bukan senjata mustika, tapi juga bukan besi rongsokan,” katanya dengan suara mendongkol. “Kim hoa Popo, mengapa kau tidak berdiam di pulau Leng coa to dan menyateroni wilayah Tiong goan?”

Melihat kepandaian nie kouw, si nenek terkejut. “Pendeta itu besar namanya dan ternyata ia memang memiliki kepandaian tinggi,” katanya didalam hati. “Baiklah aku coba menjajal ilmunya.”

Ia lantas saja berkata sambil tertawa: “Suami ku sudah meninggal dunia dan di pulau kami, aku merasa sangat kesepian. Maka itu, aku pergi pesiar, kalau-kalau ada seorang hweeshio atau toesoe yang cocok untuk dijadikan kawan” dengan berkata begitu menyebut hweeshio dan toesoe, ia mengejek Biat coat. Ia seolah-olah mau mengatakan, bahwa sebagai seorang pendeta perempuan, Biat coat Soethay tidak pantas berkelana diluaran.

Paras muka nie kouw itu, yang beradat keras dan tidak pernah guyon-guyog, lantas saja berubah. Kedua alisnya makin turun kebawah. Sambil mengibas pedang, ia membentak : “Keluarkan senjatamu!”

Semenjak berguru, murid-murid Goe bie belum pernah melihat guru mereka bertempur. Antara ketiga murid itu, adalah Kie Siauw Hoe yang sangat berkuatir akan keselamatan sang guru, karena ia sudah menyaksikan kelihayan Kim hoa Popo.

Sementara itu, Boe Kie, yang lengannya dicekal A-lee, sudah coba meronta seraya membentak: “Lepaskan! Perlu apa kau pegang aku?” A lee melirik Kie Siauw Hoe yang kelihatannya ingin bergerak untuk memberi pertolongan. Ia melepas cekalannya dan berkata: “Diam disini. Aku mau lihat apa kau bisa lari.”

Mendengar tantangan, Kim Hoa Popo tertawa: “Dulu, ilmu pedang Kwee Siang, Kwee Liehiap, leluhur Goe bie pay, memang telah menggetarkan dunia persilatan,” katanya. “Tapi sesudah turun kepada murid dan cucu muridnya, berapa bagian yang masih ketinggalan?”

“Biarpun hanya ketinggalan sebagian, tapi sudah cukup untuk menyapu bersih segala kawanan siluman,” jawab Biat coat dengan mendongkol.

Untuk sejenak si nenek mengawasi ujung pedang dan mendadak ia menotol badan pedang lawan dengan tongkatnya. Tentu saja Biat coat tidak mempermisikan pedangnya ditotol begitu rupa. Sekali bergerak, ia sudah menikam pundak si nenek, yang sambil batuk-batut, lantas saja menyapu dengan tongkatnya. Seraya menarik pulang senjatanya, Biat coat melompat dan bagaikan kilat, ia sudah berada dibelakang Kim Hoa Popo. Sebelum kakinya hinggap ditanah, pedangnya sudah menyambar, tapi si-nenek sendiri, tanpa memutar badan, sudah berhasil menangkis dengan tongkatnya.

Kedua wanita itu adalah jago jago kelas utama dalam Rimba Persilatan. Baru saja bergebrak tiga empat jurus, mereka mengetahui, bahwa hari itu mereka mendapat lawan setanding. Sekonyong-konyong terdengat suara “trang!” dan pedang Biat coat patah dua. Semua orang, kecuali A-lee, terkesiap. Mereka memandang rendah tongkat si nenek, sehingga mereka menduga, bahwa patahnya pedang adalah akibat Lweekang Kim hoa Popo yang sangat tinggi. Tapi si-nenek dan si-pendeta sama-sama tahu bahwa patahnya pedang itu bukan lantaran keunggulan Lweekang, tapi sebab luar biasanya tongkat itu yang terbuat daripada San ouw kim, hasil laut diperairan pulau Leng coa to.

San-ouw-kim adalah semacam logam istimewa yang merupakan campuran dari beberapa macam logam dan batu karang, sesudah berada didalam air berlaksa tahun lamanya, logam itu keras dan berat luar biasa, sehingga bisa memutuskan baja dan menghancur leburkan batu.

Karena mengetahui, bahwa patahnya pedang bukan sebab lawannya kalah, maka sebagai seorang yang berkedudukan tinggi, Kim Hoa Popo tidak mendesak. Sambil batuk-batuk, ia menuggu. Di lain pihak, sebab kuatir guru mereka terluka. Kie Siauw Hoe dan kedua saudari seperguruannya buru-buru mendekati Biat coat Soethay.

Sementara itu, Ah lee dan Boe Kie sudah bertengkar lagi. Si nona cilik yang sangat nakal tiba tiba mencekal pula peegelangan tangan Boe Kie. “Lihatlah, kau tidak akan bisa terlepas dari tanganku.” katanya.

Begitu pergelangan tangannya tercekal. Boe Kie kembali merasa separuh badannya lemas. Ia bingung dan gusar dan lalu coba menendang. A lee mencekal lebih keras sambil mengerahkan Lwee kang, sehingga kaki Boe Kie tidak bisa diangkat tinggi. “Lepas! Mau lepas tidak?” teriaknya.

“Tidak! Mau apa kau?” jawab si nona. Mendadak Boe Kie menunduk dan lalu menggigit tangan A lee.

“Aduh!” teriak si nona yang terpaksa melepaskan cengkeramannya, tapi tangan kirinya lalu menyambar muka si bocah. Boe Kie coba melompat mundur, tapi tidak keburu lagi dan mukanya sudah tercakar. Dilain pihak, tangan A lee mengeluarkan darah akibat gigitan.

Kim Hoa Popo tidak menghiraukan kedua anak yang sedang bertengkar itu. Dalam menghadapi lawan berat, ia tak dapat memecah perhatiannya. Dilain saat, sambil melemparkan potongan pedang, Biat coat Soethay berkata “Pedang itu pedang muridku dan ternyata tidak cukup kuat untuk menahan seranganmu.” Seraya berkata begitu, ia membuka sebuah kantong yang tergantung dipudaknya dan mengeluarkan sebatang pedang tua yang panjangnya empat kaki. Sebelum dihunus, dari sarung pedang sudah terlihat sehelai sinar hijau sehingga dapat diduga, bahwa senjata itu senjata luar biasa.

Kim Hoa Popo melirik dan melihat, bahwa pada sarung pedang itu terdapat dua huruf emas huruf kuno yang berbunyi: “Ie thian”. Ia terkesiap dan berseru tanpa merasa: “Ie thian kiam!”

Biat coat mengangguk. “Benar, inilah Ie thian kiam!” katanya.

Sesaat itu, dalam otak si nenek berkelebat kata-kata yang sudah lama tersiar didalam Rimba Persilatan: “Boe lim cie coen, po-to-to-liong, hauw leng thia hee, boh kam poet ciong ie thian poet coet, swee-ie-ceng hong.” (Yang termulia dalam Rimba Persilatan, golok mustika Membunuh naga, perintahnya dikolong langit, tiada manusia yang berani tidak menurut, Ie thian tidak keluar, siapa lagi yang berani melawan ketajamannya.) Ia mengawasi senjata mustika itu dan berkata dengan suara yang hampir tidak kedengaran: “Kalau begitu, Ie thian kiam, jatuh kedalam tangan Go bie pay.”

“Sambutlah!” bentak Biat coat seraya menotol dada si nenek dengan sarung pedang. Ia menyerang tanpa menghunus ie thian kiam. Kim ho Popo menangkis dengan tongkatnya. Begitu kedua senjata kebentrok, terdengarlah suara “brt!” dan.. loh! tongkat San ouw kiam putus jadi dua potong!

Si nenek kaget tidak kepalang. Sebelum dihunus, Ie thian kiam sudah begitu hebat! Ia mengawasi senjata lawan dan berkata dengan suara perlahan: “Biat coat Soethay, bolehkah aku melihat mata pedang itu?”

“Tidak bisa!” jawabnya dengan suara yang menyeramkan. “Begitu terhunus, pedang tidak boleh dimasukkan kedalam sarungnya lagi sebelum minum darah!”

Untuk beberapa saat, tanpa mengeluarkan sepatah kata, kedua jago betina itu saling mengawasi. Dalam beberapa jurus tadi, mereka sudah mengadu Lweekang yang telah dilatih sela puluhan tahun. Si nenek tahu bahwa tenaga dalam Biat coat masih kalah setingkat dari Lweekangnya, tapi cetek dalamnya ilmu pedang pendeta itu masih belum dapat diukur olehnya. Tapivsebagal pemimpin Go bie pay, ia tentu memiliki kepandaian luar biasa dan ditambah dengan Ie thian kiam, ia sungguh bukan lawan yang enteng. Memikir begitu, sambil batuk-batuk ia memutar badan dan lalu berjalan pergi seraya menuntun tangan si nona cilik.

Ketiga murid Go bie pay tak tahu, bahwa pedang guru mereka adalah Ie thian kiam yang sudah lama menghilang dari Rimba Persilatan. Mereka hanya merasa girang, bahwa guru mereka sudah memperoleh kemenangan. “Soehoe,” kata Teng Bin Koen, “Nenek itu tidak bisa melihat gunung Thaysan dan sudah berani bertempur melawan Soehoe. Sekarang dia baru tahu kelihayan Soehoe.”

Biat coat mengawasi murid itu yang coba mengumpaknya. “Di kemudian hari, begitu lekas mendengar suara batuk-batuknya, kamu mesti lekas lekas menyingkir.” katanya dengan suara sungguh. Ia mengatakan begitu sebab meskipun berhasil memutuskan senjata lawan, ia tahu bahwa Lweekang nenek itu lebih unggul dari pada tenaga dalamnya. Tadi, waktu ia menotol dengan sarung pedsang, ia menyertai juga dengan tenaga Go bie kioe yang kang yang sudah dilatihnya selama tiga puluh tahun. Tapi tenaga yang hebat itu seperti amblas di dalam lautan dan tubuh si nenek sedikit run tidak bergeming.

Sesaat kemudian, dengan paras muka yang sangat menyeramkan Biat coat berkata. “Siauw Hoe kemari!” Ia berjalan kegubuk Ouw Ceng Goe dengan diikuti oleh ketiga muridnya.

“Ibu!” teriak Yo Poet Hwie sambil mengudak ibunya.

Siauw Hoe mengerti, bahwa kedatangan gutunya adalah untuk “membersihkan” rumah perguruan dan meskipun ia sangat disayang, kali ini ia tidak bisa terlolos dari hukuman. Maka itu, dengan suara membujuk ia segera berkata kepada puterinya “Tidak boleh, kau tidak boleh masuk. Kau pergilah bermain.”

Boe Kie mengawasi masuknya Biat coat kedalam rumah Ceng Gor sambil berkata didalam hati: “Perempuan she Teng itu sangat jahat dan dia pasti akan coba mencelakakan Kie Kouwkouw. Peristiwa dimalam itu telah disaksikan olehku dan pihak yang bersalah adalah siperempuan she Teng. Biarlah, kalau dia bicara yang tidak-tidak aku akan maju untuk membela Kie Kouwkouw.” Memikir begitu ia lantas saja bersembunyi dibelakang rumah.

Untuk beberapa saat keadaan sunyi-sunyi saja. Akhirnya terdengar suara Biat coat. “Siauw Hoe, kau ceritakanlah.”

“Soehoo… aku… aku… “

“Bin Koen, coba kau ajukan pertanyaan,” memerintah sang guru.

“Soe moay, dalam partai kita, apakah bunyinya larangan ketiga ?” tanya Bin Koen.

“Dilarang berjina,” jawabnya.

“Benar.. Larangan keenam?”

“Dilarang berpihak kepada orang luar dan mengkhianati rumah perguruan sendiri.”

“Apa hukumannya jika orang melanggar larangan itu?”

Siauw Hoe tidak menjawab. Ia menengok kepada gurunya dan berkata. “Soehoe, dalam hal ini ada sesuatu yang sukar dikatakan olehku.”

“Disini tak ada orang luar, kau bicaralah terus terang,” kata Biat coat.

Siauw Hoe mengerti, bahwa ia sedang menghadapi kebinasaan den sekarang ia tak dapat menyembunyikan apapun jua. Maka itu, ia lantas saja berkata. “Soehoe, pada enam tahun berselang, Soe Hoe telah memerintahkan kami, delapan orang saudara seperguruan turun tangan untuk menyelidiki tempat bersembunyinya Cia Soen. Pada suatu hari, teecoe (murid) tiba di Tay soe po. Ditengah jalan, teecoe bertemu dengan seorang pria setengah tua, usianya kira-kira empat puluh tahun yang mengenakan baju putih. Dia selalu menguntit toecoe. Teecoe menginap dirumah penginapan, dia turut menginap disitu, teecoe makan dia makan, teecoe jalan, ia turut jalan. Semula teecoe tidak menghiraukannya, tapi belakangan, karena merasa tak tahan, teecoe lalu menegurnya. Tapi dia menjawab seperti orang otak miring. Sebab gusar, teecoe menghunus pedang lalu menikamnya. Dia tidak membawa senjata, tetapi diluar dugaanku, ilmu silatnya amat tinggi dan dalam dua tiga jurus, dia sudah merampas senjata teecoe.”

“Dengan bingung, teecoe kabur dan diapun tidak mengejar. Pada keesokan paginya, waktu mendusin dari tidur dalam sebuah kamar penginapan, dengan kaget dan heran, teecoe mendapat kenyataan bahwa pedang teecoe menggeletak disamping bantal kepala. Ketika teecoe meninggalkan rumah penginapan itu, orang itu mengikuti lagi. Teecoe mengerti, bahwa teecoe tidak dapat menggunakan kekerasan dan lalu menegurnya dengam kata-kata yang tajam. Teecoe mengatakan, bahwa dia harus mengenal kesopanan dan bahwa partai Go bie pay bukan partai yang boleh dibuat permainan.

Biat coat manggut-manggutkan kepalanya, seperti juga ia menyetujui perkataan murid itu.

Sesudah berdiam sejenak, Siauw Hoe melanjut kan penuturannya. “Orang-orang itu tertawa tawa dan berkata: “Ilmu silat seorang yang sudah terpecah menjadi partai ini dan partai itu, dengan sendirinya sudah merosot. Kalau nona suka mengikuti aku, aku akan memperlihatkan bahwa dalam ilmu silat masih terdapat lain dunia yang berbeda dengan dunia mu.”

Biat coat Soethay adalah seorang yang sempit pandangannya. Seumur hidup ia mempelajari ilmu silat dengan mengasingkan diri sehingga pengetahuannya mengenai dunia luar sangat terbatas. Mendengar keterangan Siauw Hoe, ia lantas saja merasa ketarik dan berkata. “Kalau begitu kau boleh coba mengikuti dia dan coba menyelidiki ilmu apa yang dimilikinya.”

Paras muka si murid berubah merah. “Soehoe, dia seorang yang belum dikenal, bagaimana teecoe bisa mengikutinya ?”

“Aha! Kau benar!” kata sang guru, “Kau segera usir dia bukan?”

“Dengan rupa-rupa jalan teecoe coba menyingkirkan diri, tapi selalu tidak berhasil,” jawabnya “Akhirnya teecoe tertawan….. Teecoe bernasib sial sehingga bertemu dengan musuh penitisan yang lampau ….. ” Berkata sampai disitu, suaranya makin perlahan.

“Habis bagaimana?” mendesak Biat coat.

“Teecoe tidak bisa melawan dan kehormatan teecoe telah dirusak olehnya,” Jawabnya dengan suara hampir tidak kedengaran. “Ia menilik tee coe dengan sangat keras, sehingga percobaan teecoe untuk bunuh diri selalu gagal. Beberapa bulan kemudian, seorang musuhnya menyatroni dan dengan menggunakan kesempatan itu, teecoe baru
bisa kabur. Teecoe hamil, tapi tidak berani memberitahukan Soehoe dan belakangan teecoe melahirkan seorang anak perempuan dengan diam diam.”

“Apa kautidak berjusta?” tanya sang guru dengan bengis.

“Biarpun mesti mati berlaksa kali, teecoe tak akan berani berjusta ” jawabnya.

Untuk beberapa lama Biat coat menundukkan kepala. Akhirnya ia berkata. “Kasihan! Siauw Hoe, kau sangat tidak beruntung. Dalam hal ini, bukan kau yang bersalah.”

Mendengar perkataan sang guru, Teng Koen sangat mendongkol. Ia mendapat lain bukti, bahwa sang guru sangat menyayang adik seperguruan itu. Dengan sorot mata membenci ia melirik Siauw Hoe.

Sesudah menghela napas Biat coat bertanya. “Sekarang bagaimana pikiranmu? Apa yang mau dilakukan olehmu ?”

Air mata Siauw Hoe mengucur deras. “Atas kemauan ayah, teecoe telah ditunangkan dengan In Liok ya dari Boe tong pay,” jawahnya dengan suara parau. “Sesudah kejadian itu, pernikahan tak akan dapat dilangsungkan lagi. Teecoe hanya ingin memohon permisi Soehoe supaya teecoe boleh mencukur rambut untuk menjadi pendeta.”

Sang guru menggelengkan kepala. “Itupun bukan jalan yang sempurna,” jawabnya. “Siapa namanya lelaki itu ?”

Siauw Hoe menunduk dan menjawab dengan suara perlahan. “Dia she Yo, namanya Siauw”

Mendadak, mendadak saja, Biat coat mencelat dari kursinya, dengan jubahnya dikibarkan, sehingga meja terlempar.

Boe Kie terkesiap, sedang ketiga murid Go bie pay itupun tak kurang kaget nya.

“Yo Siauw!” teriak Biat coat Soethay, “Apakah dia Yo Siauw, si raja siluman dari agama Beng Kauw, yang menamakan diri sebagai Kong beng Soe cia ?” (Kong beng Soe cia – Utusan Terang benderang)

“Dia… dia memang orang Beng kauw,” jawab Siauw Hoe dengan suara gemetar. “Dia….. dia kelihatannya ……. mempunyai…. mempunyai kedudukan tinggi dalam agama itu.”

Muka Biat coat merah padam. “Dimana dia?” bentaknya pula, “Aku mau cari dia!”

“Menurut keterangannya, dia bertempat tinggai dipuncak Co bong hong dipegunungan Koen loen san,” jawabnya, “Tempat tinggalnya itu hanya di beritahukan kepada teecoe seorang. Tiada orang lain yang mengetahuinya. Soehoe, apa dia musuh partai kita?”

“HMm!” Biat coat mengeluarkan suara dihidung, “Bukan hanya musuh besar dari partai kita, Toa soepehmu, Kouw hung Coen cia dan pentolan Koen loen pay, Yoe liong coe, mati karena memedi Yo Siauw.”

Siauw Hoe ketakutan, tapi dalam rasa, takut itu berecampur dengan rasa bangga. Kouw bong Coe cia dan Yoe liong coe adalah jago-jago Bu lim yang namanya tersohor, Tapi mereka mati karena “dia”.

Murid murid Go bie mengetahui, bahwa guru mereka dan Toasoepeh Kouw bong Coen cia adalah dua murid terutama dari sang Soe Couw, tapi mereka tak tahu, bahwa diwaktu muda, kedua orang itu saling mencinta dan sesudah Kouw bong Coe cia meninggal dunia, barulah Biat coat mencukur rambut.

Biat coat mendongak mengawasi langit dan mulutnya mencaci. “Bangsat Yo Siauw…… sekarang kau jatuh juga kedalam tanganku!” Tiba-tiba ia putar tubuh seraya berkata. “Baiklah! Kau mempunyai banyak kedosaan: menyerahkan diri kepadanya dan melindungi Pheng Hweeshio, berdosa terhadap kakak seperguruan, menjustai guru, diam-diam memelihara anak. Itu semua bisa diampuni olehku. Sekarang aku ingin memerintahkan kau melakukan sesuatu tugas. Sesudah berhasil, kau boleh kembali ke Go bie san dan aku akan mengangkat kau sebagai ahli waris, mewariskan Ie thian kiam kepadamu dan kemudian hari kau akan menjadi Ciang boenjin dari partai kita!”

Semua orang kaget, lebih lebih Teng Bin Koen Yang lantas saja timbul rasa jelusnya dan menganggap bahwa sang guru sangat memilih kasih.

“Biarpun mesti masuk kedalam lautan api, teecoe tak akan menolak perintah Soehoe,” kata Siauw Hoe. “Tapi karena sudah bercacad, teecoe tidak berani memikir untuk menjadi seorang ahli waris.”

“Ikut aku!” kata sang guru seraya menarik tangan Siauw Hoe dan bertindak keluar. Mereka mendaki sebuah tanjakan dan berhenti diatas sebidang tanah rumput.
Boe Kie tidak mengerti apa maunya pendeta itu. Dengan berdiri ditempat tinggi sesudah mengawasi keempat panjuru, barulah Biat coat menarik tangan Siauw Hoe dan bicara dikuping muridnya ini. Apa yang dikatakannya tentu saja rahasia besar, sehingga kedua orang muridnya yang lain tidak diperbolehkan turut mendengar.

Dengan mata tidak berkesip, Boe Kie terus mengawasi mereka. Sesudah menundukkan kepala beberapa lama, Siauw Hoe kelihatan menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan sikap yang pasti. Boe Kie mengerti bahwa sang bibi telah menolak perintah Biat coat. Sesaat kemudian, si pendeta mengangkat tangan kirinya, tapi tangan itu berhenti diudara dan ia bicara lagi rupanya sedang coba membujuk pula. Jantung Boe Kie memukul keras. Siauw Hoe kelihatan berlutut dan kepalanya tetap digeleng-gelengkan. Tiba-tiba tangan Biat coat turun menghantam batok kepala muridnya, yang lantas saja roboh terguling. Hati Boe Kie mencelos… bukan main rasa dukanya.

Sekonyong-konyong terdengar suara tertawa nyaring, suara Yo Poet Hwie yang menubruk punggung Boe Kie. “Aha! Sekarang aku berhasil menangkap kau!” teriak si cilik.

Dengan cepat Boe Kie mencekal tangan si nona dan menutup mulutnya. “Sst! Jangan ribut,” bisiknya. Melihat muka sang kakak yang pucat pasi, si nona jadi kaget dan ketakutan.

Biat coat kembali kerumah Ceng Goe dengan cepat sekali. “Bin Koen, binasakan anak haram itu,” ia memerintah. “Jangan tinggalkan bibit penyakit.”

Sesudah adik seperguruannya dihukum, biarpun hatinya senang, Bin Koen merasa agak takut. Mendengar perintah itu, ia segera berjalan pergi untuk mencari Poet Hwie.

Sambil memeluk si none, Boe Kie menyembunyikan diri diantara rumput alang-alang yang tinggi. Dengan berbisik ia minta supaya Poet Hwi jangan bersuara dan menyerahkan segala apa kepada putusan Tuhan. Untung juga, sesudah mencari cari beberapa lama, Bin Koen tidak ingat kepada rumput tinggi yang bisa digunakan sebagai tempat bersembunyi. Baru saja ia mau menyelidiki terlebih teliti, gurunya sudah mencaci: “Manusia goblok! Anak kecil saja kau tak mampu cari.”

Murid Biat coat yang satunya lagi, Pwee Kim Gie namanya, mempunyai hubungan baik dengan Siauw Hoe. Melihat kekejaman sang guru ia merasa sangat tak tega. Maka itu, ia lantas saja berkata: “Soehoe, tadi kulihat anak itu lari keluar selat.” Ia tahu, bahwa jika diberitahukan begitu, sang guru, yang beradat sabaran, tentu tidak mau berabe untuk mencari terlebih jauh. Ia merasa, bahwa sebagai anak yatim piatu yang baru berusia lima enam tahun, Poet Hwie belum tentu bisa hidup terus. Tapi biar bagaimana jua, mati lapar atau mati diterkam binatang buas ada lebih baik daripada mati ditikam Teng Bin Koen.

“Mangapa kau tidak beritahukan sedari tadi?” tanya Biat coat dengan mendongkol. Dengan menggunakan ilmu ringan badan, ia segera berlari-lari keluar selat, dengan diikuti oleh kedua muridnya. Poet Hwie yang tak tahu, bahwa ia baru saja terlolos dari lubang jarum, mengawasi Boe Kie dengan mata penuh pertanyaan.

Sesudah tindakan ketiga orang itu tidak terdengar lagi, sambil menuntun Poet Hwie, Boe Kie berlari-lari mendaki tanjakan. “Boe Kie Koko, orang jahat sudah pergi semua bukan?” tanyanya sambil tertawa. “Kau mau mengajak aku bermain-main diatas gunung, bukan?”

Boe Kie tidak menjawab. Melihat Poet Hwie sudah lelah, tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia mendukungnya dan terus lari secepat mungkin kearah Kie Siauw Hoe yang menggeletak diatas tanah. Sesudah dekat, barulah Poet Hwie melihat ibunya. Ia meronta turun dari dukungan Boe Kie dan kemudian menubruk ibunya. “Ibu! Ibu!..,.” teriaknya.

Boe Kie buru-buru berlutut dan memeriksa ke adaan sang bibi. Napas Siauw Hoe tinggal sekali kali dan batok kepalanya remuk, sehingga biarpun ditolong dewa, ia tak akan bisa hidup terus.

Perlahan-lahan Siauw Hoe membuka kedua matanya. Melihat puterinya dan Boe Kie, matanya berlinang air dan bibirnya bergerak. Ia mau bicara, tapi tak sepatah perkataan bisa keluar dari mulut nya. Boe Kie segera mengeluarkan jarum emas dan menusuk jalan darah Sinteng, Gin tong dan Sin wie. Semangat Siauw Hoe terbangun dan ia berkata dengan suara lemah: “Aku memohon…. memohon….supaya kau mengantarkan Poet Hwie kepada ayahnya…”. Lengan kirinya meraba dada, seperti mau mengeluarkan sesuatu, tapi mendadak ia berkelejat dan menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Sambil menangis keras Poet Hwie memeluk jenazah ibunya. “Ibu!…ibu!…. Mengapa kau?…. sakit?….” ia sesambat.

Hati Boe Kie seperti disayat ratusan pisau. Ia ingat, bahwa ia sendiri pernah menangis begitu sambil memeluk jenazah kedua orang tuanya. Tanpa merasa, air mata mengalir turun dikedua pipinya.

Sesudah kenyang memeras air mata Boe Kie ingat pesan sang bibi dan segera mengambil keputusan untuk menunaikan tugas itu. Ia hanya tahu bahwa orang itu bertempat tinggal dipuncak Co bong hong, dipegunungan Koen loan san. Ia tak tahu dimana adanya gunung itu yang sebenarnya berada dalam jarak berlaksa li. Dilain saat, ia juga ingat, bahwa sebelum meninggal dunia, sang bibi meraba dada, seperti mau mengeluarkan sesuatu. Ia lantas saja meraba leher Siauw Hoe dan mengeluarkan sepotong Kiat (??) pay (lembaran besi) yang atasnya diukir gambar setan yang menyeringai dan mengangkat cakarnya. Pay tersebut digantung dileher Siauw Hoe dengan selembar tali.

Boe Kie tak tahu apa adanya benda itu, tapi ia lalu membukanya dan kemudian menggantungnya dileher Poet Hwie. Sesudah itu, ia mengambil cangkul menggali sebuah lubang dan lalu menguburkan jenazah Siauw Hoe. Ketika itu karena lelah, Poet Hwie sudah pulas. Waktu si nona cilik tersadar, dengan berbagai akal ia coba membujuknya, antara lain ia mengatakan, bahwa sang ibu telah terbang kelangit dan nanti, sesudah sekian lama akan kembali didunia. Dasar anak kecil, si nona akhirnya dapat juga dilabui.

Malam itu, sesudah masak nasi dan makan secara sembarangan, Boe Kie yang sudah terlalu capai, tidur pulas dengan nyenyak sekali. Pada kepaginya, setelah membuntal pakalan dalam dua buntalan kecil, ia mengajak Poet Hwie untuk memberi selamat tinggal dan memohon keberkahan. Sesudah itu, kedua yatim piatu berjalan keluar dari Oaw tiap kok….

Boe Kie sama sekali tidak bersenjata. Semula ia ingin membawa potongan tongkat San ouw kim, tapi dicari-cari, tidak ketemu dan ia menduga, bahwa potongan senjata itu telah dibawa oleh Teng Bin koen. Mengenai bekal, ia hanya mempunyai tujuh delapan tahil perak yang diambilnya dari buntalan Kie Siauw Hoe. Ia tak tahu di mana adanya Koen loen san. Ia hanya menduga, bahwa gunung itu jauh sekali dan uang sebegitu tentulah sangat tidak mencukupi. Tapi apakah yang dapat diperbuat olehnya?

Sesudah berjalan setengah hari, barulah mereka keluar dari selat Ouw tiap kok. Karena Poet Hwi masih sangat kecil, mereka maju dengan lambat sekali. Sebentar mengaso, sebentar jalan lagi. Pada malam,itu mereka berada di delam hutan dan diantara kegelapan malam, mereka mendengar macam-macam binatang burung hantu. Poet Hwie ketakutan dan mulai menangis keras. Boe Kie juga takut, tapi dalam keadaan, begitu mau tidak mau ia terpaksa harus membesarkan hati. Tiba tiba ia malihat sebuah guha. Hatinya jadi girang benar, dan sambil menuntun Poet Hwie, ia masuk ke dalam guha itu. Dengan kedua tangan ia menekap kuping si nona supaya dia tidak mendengar suara-suara yang menakutkan.

Dengan menahan rasa lapar, haus dan takut, kedua anak itu melewati sang malam. Pada keesokan paginya, Boe Kie mencari bebuahan hutan untuk menangsal perut dan kemudian mereka meneruskan perjalanan. Di waktu magrib, selagi enak-enak berjalan, sekonyong-konyong poet Hwie berteriak dan tangannya menuding sebuah pohon. Boe Kie menengok. Ia terkasiap dan sambil menarik tangan Poet Hwie, ia segera lari. Yang dilihat mereka adalah dua mayat yang menggelantung di pohon itu. Baru saja belasan tombak, kaki Boe Kie tersandung batu dan roboh terguling. Waktu merangkak bangun, dengan memberanikan hati, ia menengok kepohon dan tanpa merasa ia berteriak. “Ouw Sinshe!” Waktu ia menengok, secara kebetulan angin meniup dan mayat itu terputar, sehingga mukanya menghadapi Boe Kie yang segera mengenali bahwa muka itu adalah muka Ouw Ceng Goe. Yang satunya lagi adalah mayat wanita dan dilihat dari pakainnya, dia pasti bukan lain dari pada Ong Lan Kouw. Dalam cuaca yang sudah hampir gelap, pemandangan itu sungguh menyeramkan dan bulu roma Boe Kie bangun semua.

Sesudah bangun berdiri, si bocah berkata didalam hatinya: “Tidak boleb, aku tidak boleh menjadi seorang pengecut.”

Setindak demi setindak, ia maju dan mendekati. Dari sebelah kejauhan ada dilihatnya sinar keemas emasan dipipi kedua mayat itu. Sesudah didekati, sinar itu ternyata keluar dari bunga emas. “Ah! Ouw Sinhe dan Soe bo tidak terlolos dari tangan Kim-Hoa popo”, ia mengeluh. Kereta yang ditumpangi mereka berada dalam sebuah selokan dalam keadaan hancur, sedang bangkai keledaipun terdapat dalam selokan itu.

Malam itu Boe Kie dan poet Hwie tidur dibawah pohon. Kira-kira tengah malam mereka disadarkan oleh bunyi binatang. Dibawah sinar rembulan, mereka melihat lima enam ekor anjing hutan sedang menggerogoti bangkai keledai. Dengan hati berdebar-debar, buru-buru Boe Kie mendukung Poet Hwie dan memanjat sebuah pohon. Anjing-anjing itu coba mengudak dan kemudian jalan berputar putar dibawah pohon. Sedang beberapa lama beberapa lama, barulah mereka meninggalkan pohon itu dan berpesta pora lagi dengan daging keledai. Pada esokan paginya, barulah kawanan binatang itu berlalu.

Sesudah anjing-anjing itu pergi jauh, Boe Kie baru berani turun. Ia segera membuka tambang dan menurunkan jenazah suami isteri Ouw Ceng Goe. Tiba-tiba terdengar suara “plak” dan dari atas jatuh sejilid buku. Boe Kie segera menyambutnya dan diatas buku itu, buku tulisan tangan, tertulis seperti berikut: “Tok soet Tay coan” (Kitab lengkap mengenai racun).

Boe Kie membalik-balikkan lembaran yang penuh dengan huruf-huruf kecil. Buku itu menjelaskan sifatnya macam-macam binatang beracun, burung beracun, kutu beracun, rumput beracun, dari yang biasa sampai yang aneh aneh. Cara mengganakannya dan cara mempunahkannya. Sesudah memasukkannya ke dalam saku, dia kemudian mengubur jenazah suami-istri Ouw Ceng Goe dengan menumpuk batu-batu tanah dan rumput diatasnya. Sesudah selesai dan memberi hormat dengan berlutut beberapa kali, sambil menuntun tangan Poet Hwie, ia segera meneruskan perjalanannya.

Diwaktu lohor mereka bertemu dengan jalan raya dan tak lama kemudian, mereka tiba disebuah kota kecil. Mereka lalu mencari rumah makan, atau warung untuk menangsal perut. Tapi sungguh heran, semua rumah tiada penghuninya dan kota kecil itu sunyi senyap bagaikan kuburan. Dengan apa boleh buat, mereka berjalan terus.

Waktu itu adalah musim rontok, yaitu musim panen, tapi apa yang tertampak disawah sawah yang tanahnya kering melela hanyalah rumput alang alang. Boe Kie bingung karena ia tidak mengerti apa artinya itu semua. Kawan yang satu-satunya, tidak bisa diajak berdamai. Bahwa dengan menahan lapar si noni cilik masih bisa berjalan terus, sudah dapat dikatakan mujur.

Berjalan sampai sore, mereka tiba disebuah hutan. Tiba-tiba Boe Kie melihat mengepulnya asap. Ia merasa girang sekali, sebab sedari keluar dari selat Ouw tiap kok, baru sekarang ia melihat asap yang berarti adanya mauusia. Buru-buru mereka menuju kearah asap itu.

Waktu sudah berdekatan, mereka melihat lima orang lelaki yang pakaiannya compang-camping badannya kurus kering dan mukanya pucat pasi, sedang berduduk disekitar sebuab perapian dan diatas api terdapat sebuah kuali yang apinya bergolak-golak seperti sedang memasak sesuatu.

Begitu melihat Boe Kie dan Poet Hwie, paras muka mereka berubah terang. Dengan serentak mereka berbangkit. “Bagus! Bocah, mari sini!”, kata salah seorang sambil menggapai.

“Kami sangat lapar sekali dan ingin meminta sedikit makanan,” kata Boe Kie, “Sebagai tanda terima kasih, kami akan memberi sedikit uang perak.”

“Kau mempunyai uang? Coba keluarkan,” kata yang seorang.

Boe Kie merogoh saku dan mengeluarkan sepotong perak.

Sambil membetot potongan perak itu, dia bertanya. “Mana orang tuamu?”

“Kami hanya berdua, tak mempunyai lain kawan,” Jawab Boe Kie.

Kelima lelaki itu tertawa terbahak-bahak dan saling mengawasi satu sama lain.

Karena didorong rasa lapar, Boe Kie melongok kedalam kuali. Begitu melihat, hatinya mencelos karena apa yang dimasak mereka hanyalah daun-daun akar, dan sedikit ubi-ubian.

Sambil menyeringai, salah seorang mencekal tangan Poet Hwie dan berkata “Kambing ini gemuk sekali. Malam ini kita bisa makan kenyang!”

“Ya! Yang lelaki bisa ditunda sampai besok.” menyambungi kawannya.

Tak kepalang kagetnya Boe Kie. “Kau…. kau….. mau…. makan daging manusia?” tanyanya terputus-putus.

Seorang yang bertuhub jangkung menyeringai dan berkata dengan suara dalam: “Sudah tiga bulan aku tak permih makan nasi. Daripada mampus ada lebih baik makan, daging manusia.” seraya berkata begitu, ia menjambret leher Boe Kie.

Boe Kie mengegos, tangan kirinya menangkis, tangan kanannya menepuk pinggang orang itu. Semejak kecil, ia telah belajar silat di bawah pimpinan Kim-mo Say-ong Cia Soen dan kemudiau dia juga mempelajari ilmu silat dari Boe-tong pay. Meskipun selama dua tahun lebih ia tidak berlatih silat karena repot mempelajari ilmu ketabiban, tetapi apa yang sudah dipelajarinya adalah ilmu-ilmu silat kelas satu di dalam Rimba Persilatan. Maka itu, tepukan tersebut, yang cukup hebat untuk merobohkan ahli silat biasa, tentu saja tak dapat ditahan oleh lelaki itu. Tanpa mengeluarkan suara, dia terpelanting tanpa betkutik lagi.

Seorang kawannya menubruk dan coba menancapkan pisaunya kedada Boe Kie. Bagaikan kilat Boe Kie menendang dengan kaki kanannya, dan pisau itu terbang ke tengah udara. Ia menendang dengan tendangan Wan yo Lian hoan toei yang saling susul dan sesudah kaki kirinya mampir dijanggut orang itu yang lantas saja jatuh terjengkang. Sesudah merobohkan dua orang, buru-buru ia menghampiri Poet Hwie yang sudah mulai menangis.

Tiba-tiba ia meresakan angin dibelakangnya dan dua orang menubruk punggungnya. Dengan sekali berkelit, kedua penyerang itu menubruk tempat kosong. Dengan cepat la menjambret leher baju mereka dan lalu menggentuskan kepala mereka. Waktu dilepaskan, mereka roboh dalam keadaan pingsan.

Sekarang hanya ketinggalan seorang saja. Biarpun empat kawannya sudah dijatuhkan, ia kelihatannya tidak merasa jerih dan sambil menghunus golok, io menerjang. Melihat senjata tajam, sedang ia sendiri bertangan kosong Boe Kie jadi keder, tapi dengan mengepos kesana kesini ia berhasil menyelamatkan diri dari tiga bacokan. Dalam bacokan keempat, orang itu menggunakan seantero tenaganya. Dengan cepat Boe Kie berkelit dan ia membacok angin. Apa celaka, karena terlalu bernapsu dan menyerang dengan seluruh tenaga, ia terhuyung dan jatuh terguling. Tanpa menyia nyiakan kesempatan baik, Boe Kie menendang dengan menggunakan ilmu meminjam tenaga sehingga tubuh orang itu terpental dan jatuh kedalam kuali yang airnya bergolak-golak.

Jika Boe Kie diperintah untuk bertempur melawan lima orang itu, ia pasti tak akan berani. Biarpun sedari kecil ia sudah belajar silat, ia masih belum tahu kepandaiannya sendiri. Kalau bukan sedang menghadapi bahaya besar, ia tentu tak akan berlaku nekat. Sesudah merobohkan lima orang itu, ia tercengang dan setelah semangatnya berkumpul kembali, ia merasa sangat girang.

Baru saja hatinya tenteram, tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki dan beberapa orang masuk kedalam hutan. Mendengar suara manusia, Poet Hwie yang belum hilang takutnya lantas saja menubruk dan memeluk Boe Kie erat-erat. Begitu melihat orang orang yang mendatangi, Boe Kie jadi girang. “Kan Toaya! Sie Toaya!” serunya.

Ternyata, antara mereka itu yang terdiri dari lima orang, yang satu adalah Kan Ciat dan yang situ lagi Sie Kong Wan bersama dua saudara seperguruannya. Mereka berempat telah disembuhkan Bor Kie waktu terlika akibat pukulan Kim-Hoa Popo. Orang yang kelima adalah seorang pemuda yang barusan kira-kira duapuluh tahun dan berparas angker. Dengan pemuda itu, Boe Kie belum, pernah bertemu muka.

Kan Ciat mengawasi dan berkata. “Saudara Thio, kau juga berada disini? mengapa orang itu?” Seraya menanya, dia menuding kelima orang yang rebah ditanah.

Dengan suara mendongkol, Boe Kie lalu menceriterakan apa yang sudah terjadi. Sebagai penutup ia berkata: “Celaka sungguh! Mereka mau coba makan kami berdua. Untung juga aku berhasil merobohkannya.”

Selagi Boo Kie bicara,Kan Ciat mengawasi Poet Hwie dengan sorot mata luar biasa dan berkata dengan suara perlahan: “Lima hari lima malam tak pernah menelan sebutir nasi… hanya gegares kulit pohon dan rumput…. Hmmm! Dagingnya begitu montok ….. ” Melihat sinar mata kelaparan, seolah-olah sinar mata anjing hutan yang sangat menakuti, Boe Kie terkejut dan buru-buru ia memeluk Poet Hwie.

“Mana ibunya?” tanya Sie Kong Wan.

“Kie Lie hiap pergi membeli beras,” jawab Boe Kie.

Apa mau Poet Hwie menyelak: “Bukan! Ibu telah terbang kelangit!”

Kan Ciat dan Sie Kong Wan menyeringai.

Mereka tahu, bahwa itu berarti Kie Siauw Hoe sudah meninggal dunia.

Sie Kong Wan tertawa dingin. “Beli beras?” tanyanya dengan nada mengejek, “jikalau bisa mendapatkan sebutir beras dalam jarak lima ratus li di sekitar tempat ini, kau betul-betul pintar”

Dengan lirikan mata, Kan Ciat memberi isyarat kepada Sie Kong Wan. Tiba-tiba mereka melompat dengan berbareng, Kan Ciat mencekal kedua tangan Boe Kie, sedang Sie Kong Wan memeluk Poet Hwie.

Boe Kie terkesiap. “E-eh Mau apa kamu?”, tanyanya.

“Di seluruh Hong yang hoe semua manusia kelaparan,” jawab Kan Ciat. “Dalam menghadapi kebinasaan, kami harus menolong diri sendiri. Nona itu bukan sanak familimu. Dia dapat menyambung jiwa kami….”

“Manusis celaka!” caci Boe Ka dengan kegusaran yang meluap-luap. “Kamu, manusia-manusia yang menamakan diri sendiri sebagai orang orang Rimba Persilatan, tapi mau melakukan perbuatan terkutuk itu? Sungguh memalukan! Apa kamu tidak merasa malu, menjadi manusia sehina itu?”

Dalam laparnya memang Kan Ciat sudah tidak mengenal malu. Mendengar cacian pedas ia jadi gusar dan lalu menggaplok muka Boe Kie keras. “Binatang! Kaupun akan mengalami nasib seperti dia!” bentaknya.

Bagaikan kalap Boe Kie meronta-ronta, tapi Seng cioe Ka lam adalah seorang ahli sitat dan cekalannya keras bagaikan besi. Kedua soeteenya Sie Kong Wan segera mengambil tambang yang lalu digunakan untuk mengikat kedua anak itu.

Sesudah dibelenggu, Boe Kie menghela napas. Ia merasa bahwa hari ini ia akan menyusul kedua orang tuanya di alam baka. Dalam gusarnya, ia merasa menyesal, bahwa ia sudah menolong jiwanya keempat manusia itu.

“Binatang kecil” caci Kan Ciat. “Kau sudah mengobati lukaku dan didalam hatimu kau sekarang pasti sedang mengutuk aku.”

“Manusia hina-dina!” teriak Boe Kie, “Kamu membalas kebaikan dengan kejahatan. Kalau tidak ditolong aku, sekarang kamu sudah berada dilobang kubur.”

“Saudard Thio.” kata Sie Kong Wan sambil bersenyum senyum, “kau sudah menolong kami dan untuk itu kami merasa berhutang budi. Tapi sekaranq kami sedang menghadapi kebinasaan karena lapar. Kalau mau menolong, kau harus menolong sampai diakhirnya. Dan kamu sekarang sekali lagi kami memerlukan pertolonganmu.

Keganasan Kan Ciat sudah menyeramkan, tapi kekejatnan Sie Kong Wan yang mengunjuk ketelengasannya sambil tertawa-tawa lebih menyeramkan lagi. Boe Kie jadi nekat dan berteriak: “Aku adalah murid Boe tong, sedang adikku muid Go-bie-pay. Kebinasaan kami berdua tidak menjadi soal. Tapi apakah kamu kira lima pendekar Boe-tong dan Biat-coat Soetbay akan menyudahi perbuatanmu dengan begitu saja?”

Kan Ciat terkejut. Ia merasa bahwa ancaman bocah itu bukan ancaman kosong, sebab Boetong pay dan Gobie pay memang tidak boleh dibuat permainan.

Tetapi Sie Kong Wan tertawa terbahak bahak. “Kejadian di hari ini diketahui oleh Langit, oleh Bumi, oleh kau dan oleh aku. Bocah! Sesudah kau berada dalam perut kami kau boleh mengatakan kepada Thio Sam Hong.”

Kan Ciat turut tertawa dengan sinting. “Kau benar, kau benar,” katanya. “Saudara Thio, untuk menolong jiwa, kami sesungguhnya tak dapat berbuat lain.” Sehabis berkata begitu, ia berpaling kepada kedua soetenya Sie Kong Wan dan membentak: “Mengapa kamu berdiri seperti patung? Pergi ambil air dan cari kayu bakar!”

Kedua orang itu mengangguk dan lalu berjalan pergi.

“Sie Toaya,” kata Boe Kie dengan suara memohon, “jikalau kalian mau juga makan daging manusia, makanlah dagingku saja seorang. Aku memohon supaya kamu suka membebaskan adik kecil itu. Kalau permintaanku dilulusi, biarpun mati aku tak akan merasa menyesal.”

“Mengapa begitu?” tanya si manusia she Sie.

“Karena pada waktu mau menutup mata, ibunya telah meminta pertolonganku supaya aku mengantarkan dia kepada ayahnya,” jawab Boe Kie. “Kan Toaya, dengan makan aku seorang kurasa kamu sudah cukup kenyang dan besok kamu bisa membeli kerbau atau kambing untuk dijadikan barang santapan selaajutnya. Kan Toaya, Sie Toaya, ampunilah adikku itu.”

Melihat kesatriaan bocah itu, mau tak mau hati Kan Ciat tergerak juga, ia mengawasi Sie Kong Wan dan bertanya: “Bagaimana pikiranmu?”

“Ini soal kecil,” jawabnya. “Tapi kalau rahasia ini bocor, dikemudian hari kite berabe sekali. Song Wan Kiauw, Jie Lian Coe dan yang lain-lain tentu akan cari kita. Wan Toako, jika kau mempunyai jalan untuk menghadapi mereka, aku tidak berkeberatan.”

“Tak salah”, kata Kan Ciat sambil mengangguk. “Aku sungguh tolol. Aku tidak memikir apa yang mungkin terjadi dihari kemudian.”

Sesaat itu, seorang Hwa san pay sudah kembali dengan membawa air dikuali. Boe Kie mengerti, bahwa bahaya sudah sangat dekat. “Poet Hwie moay-moay,” katanya. “kau bersumpahlah, bahwa kau tak akan menceritakan kejadian dihari ini kepada siapapun jua.”

Tapi anak itu yang belum mengerti apapun jua lantas saja menangis keras. Ia sama sekali tidak tahu bahwa kakak itu sedang menawarkan jiwa sendiri untuk menolongnya.

Pemuda yang tidak dikenal Boe Kie, yang parasnya angker, terus duduk ditanah tanpa mengeluarkan sepatah kata. Sekarang Kan Ciat mengawasinya dan berkata: “Cie Siauw Sie, kalau mau turut makan daging kambing, kau harus bekerja.”

“Baik,” kata pemuda itu sambil mencabut sebilah golok pendek dari pinggangnya. Sesudah menggigit goloknya, ia mengangkat Boe Kie dan Poet Hwie dan lalu berjalan kearah satu sungai kecil, Boe Kie meronta-ronta dan mencaci kalang kabutan, tapi dia tidak meladeni.

Tapi baru saja ia ber jalan belasan tindak, Sie Kong Wan mendadak berteriak: “Cie Siauw Sie! Disini saja!”

Siauw Sie berjalan terus, “Disungai lebih baik,” jawabnya dengan suara tidak terang, sebab giginya sedang menggigit golok.

“Disini! Aku kata disini, disini!” teriak pula Sie Kong Wan. Ternyata manusia she Sie itu lihay juga otaknya. Melihat sianar mata dan sikap pemuda itu yang agak luar biasa, ia bercuriga.

Sekonyong konyong Siauw Sia berteriak. “Lekas lari” Ia melepaskan kedua anak itu ditanah dan memotong tambang yang mengikat tangan mereka.

“Terima kasih untuk budimu yang sangat besar,” kata Boe Kie seraya menarik tangan Poet Hwie dan lalu lari sekeras-kerasnys.

Sambil berteriak, Kan Ciat dan Sie Kong Wan mengubar. “Tahan!” bentak Siauw Sia sambil menghadang ditengah jalan.

Melibat pemuda itu berdiri dengan sikap angker sambil melintangkan goloknya, kedua manusia itu agak jeri. “Minggir kau!” bentak Kan Ciat.

“kita adalah orang-orang Kangouw yang harus mempunyai rasa kesatriaan,” kata Siauw Sia. “Apa kamu tidak merasa malu kalau kamu mencelakakan anak kecil itu?”

“Jangan rewel!” teriak Kong Wan dengan gusar. “Dalam kelaparan, aku akan gegares siapa pun jua.” Ia menggapai kedua soeteenya dan berteriak pula: “Ubar mereka!”

Sementara itu, melihat Poet Hwie tidak bisa lari cepat. Boe Kie lalu mendukungnya dan kabur sekuat tenaga. Tapi apa mau dikata, sebagai seorang anak tanggung, ditambah dengan beban yang berat, ia tidak dapat secepat orang dewasa. Sebelum keluar dari hutan itu, mereka sudah dicandak oleh kedua murid Hwa san pay. Buru-buru Boe Kie menurunkan si nona dari dukungan dan dengan nekat ia menyerang kedua pengejarnya. Pukulannya yang pertama ditangkis oleh salah seorang. “Plak!” badannya terhuyung beberapa tindak.

“Bangsat cilik! Lihay juga kau!” bentak orang itu yang merasakan beratnya pukulan si bocah. Dengan berbareng mereka menghunus golok dan berlangsunglah pertempuran ganjil. Dua orang dewasa yang bersenjata mengerubuti seorang anak yang bertangan kosong. Ketika itu, Boe Kie sudah tidak memikiri jiwanya lagi, sambil mengegos dan melompat kian kemari, ia berteriak-teriak menyuruh Poet Hwie lekas-lekas melarikan diri.

Dilain pihak, Siauw Sia pun sudah dikepung oleh Kan Ciat dan Sie Kong Wan. Baru bergebrak beberapa jurus, ia sudah keteter. Selang beberapa jurus lagi golok Ken Ciat mampir dilututnya yang lantas saja mengucurkan darah. Ia mengerti, bahwa dilanjutkannya pertempuran akan berarti kebinasaannya. Maka itu, sesudah menimpuk Sie Kong Wan dengan goloknya, ia melompat dan terus kabur. Sie Kong Wan berkelit dan golok itu jatuh ditanah.

Sambil berlari, Siauw Sia berteriak: “Saudara Thio, jangan takut. Aku pergi untuk mengambil bala bantuan.”

Kan Ciat dan Sie Kong Wan lantas saja menyusul kedua kawannya dan dengan mudah mereka menawan pula kedua anak itu, yang lalu diikat lagi kedua tangannya.

Kan Ciat mengawasi Sie Kong Wan dengan mata mendelik. “Orang she Cie itu bukan manusia baik,” katanya dengan mendongkol. “Bagaimana dia berjalan bersama-sama kamu?”

“Kami kertemu ditengah jalan,” jawab Sie Kong Wan. “Siapa tahu dia orang baik atau orang jahat? Menurut katanya, dia she Cie bernama Tat. Kau jangan percaya omongannya. Sekarang sudah hampir malam. Dari mana dia mau mengambil bala bantuan?”

“Kalau didengar dari suaranya, dia penduduk Hong-yang,” menyelak seorang Soetee Sie Kong Wan, “Biarpun dia membawa semua penduduk kampung, kita tidak usah takut.”

“Penduduk Hong-yang?” menegasi Kan Ciat sambil menyeringai. “Ha ha! Jangankan berkelahi berjalanpun mereka sudah tak mampu. Hayolah Aku sudah kuat menahan rasa lapar.” Mereka segera kembali keperapian.

Sesudah tertangkap lagi, Boe Kie dihajar babak belur, pakaiannya robek dan isi sakunya terserak ditanah. Tiba-tiba matanya tertumbuk dengan sejilid buku yang kertasnya kuning dan karena di tiup agin, lembaran buku itu terbuka. Buku itu ialah Tok Soei Tay coan milik Ong Lan Kouw. Ia sekarang sudah tidak memikir untuk hidup dan memperdulikan apapun jua.

Sesudah mikir begini setengah mati, begitutupun tiada jalan hidup, Boe Kie malah jadi tenang. Pada saat pikirannya bersih itulah, secara tidak disengaja matanya melirik pula ke lembaran buku itu, dan secara kebetulan pula halaman yang terbuka adalah bagian rumput2 beracun. Hatinya tertarik juga dan ia lalu membacanya. Pada bagian itu secara jelas diterangkan bentuk, bau warna, sifat dan cara memunahkannya macam rumput2 beracun.

Sesudah membaca beberapa saat, ia menghela napas. Ia ingat, bahwa beberapa detik lagi, ia akan berkumpul dengan roh orang tuanya.

Sekonyong2, waktu melirik kesebelah kiri, matanya tertumbuk pula dengan segundukan rumput yg berwarna sangat menyolok indah, segar dan mengkilap. Mendadak saja, dalam otak nya berkelebat serupa ingatan.

“Apa tak bisa jadi rumput beracun? Menurut buku ini, rumput yg mengandung racun indah warnanya. Kalauy benar rumput itu rumput beracun, jiwa Poet Hwie moay moay masih bisa ditolong.” Pada saat itu ia sudah tidk memikir untuk menyelamatkan jiwa sendiri. Dengan masih mengeramnya racun dingin didalam tubunya, anmdaikata hari ini ia selamat, paling banyak ia hanya bisa hidup beberapa bulan lagi., Apa yg dipikirnya ialah usahan menolong Poet Hwie, guna memenuhi permintaan mendiang Kie Siauw Hoe.

Dengan perlahan ia menggulingkan badan kearah rumput itu. Karena kedua tangannya terikat kebelakang, ia lalu membelakangi rumput itu dan kemudian mencabutnya. Sungguh untung, gerak geriknya itu tidak diperhatikan oelh musuh2nya yg sedang diserang dengan rasa lapar dan tengah memusatkan perhatiannya keapda air yg hamper mendidih. Sekonyong konyong ia melompat bangun dan sambil mengawasi kejurusan larinya Cie Tang ia berseru, “Cie Taoko, banyak sungguh temanmyu! Tolong! Tolong!”

Dengan terkejut, Kan Ciat dan tiga kawannya segera menghunus senjata. Mereka mengawasi kea rah yg diawasi Boe Kie. Dengan menggunakan kesempatan itu, Boe Kie mundur dua tindak dan melepaskan segabung rumput yang dicekalnya kedalam kuali.

Melihat tidak ada manusia, Kan Ciat mencaci” Bangsat! Kau boleh berteriak sekali lagi, sekuatmu! Tak ada manusia yang akan menolong kau.”

“Hayolah, perlu apa banyak2 bicara,” kata Sie Long Wan yg sudah merasa tidak sabaran.

“Sie Tonya, aku haus,” kata Boe Kie dengan suara memohon. “Tolong berikan semangkok air panas untukku. Sesudah mati, setanku tak akan mengganggu kau.”

“Baiklah,” jawabnya sambil menyeringai. Ia lalu menyendok semangkuk dari dalam kuali dan mengangsurkannya ke mulut si bocah.

Sebelum mangkok menempel pada bibirnya Boe Kie sudah berseru, “Aduh! Wangi sungguh apa yg dimasak?”

Boe Kie tidak berdusta. Rumput yg tadi di cemplungkannya kedalam kuali tanpa diketahui orang, memang mengeluarkan bebauan sangat harum yg diendus juga oleh Kan Ciat dan kawan2nya. Sesudah kelaparan beberapa hari, bau harum itu membangkitkan napsu makan memperhebat rasa lapar mereka. Oleh karena begitu, sebaliknya dari memberikan kepada si bocah, KongWan lalu menceguk sendiri “kuwah” rumput itu. Astaga, benar2 sedap!, katanya ia segera menyendok semangkok lagi dan menghirupnya dengan bernapsu.

Kan CIat mendongkol bukan main. Ia melompat dan merebut mangkok itu lalu digunakan untuk menyendok “kuah” harum dan segera meminumnya. Dengan beruntung ia menghabiskan 3 mangkok penuh. Kedua soeteenya Sie Kong Wan pun masing2 minum 2 mangkot. Sesudah menderita kelaparan berhari hari “kuah” yang hangat itu mendatangkan perasaan nyaman dan mereka mengusap usap perut sambil menyeringai. Kan Ciat yang masih merasa tidak puas lalu mengambil rumputnya dari dalam kuali dan sesudah mengunyah cepat2 segara menelannya. Diantara mereka tak seorangpun yg menanya dari mana datangnya rumput itu.

“Nah! Sekarang kita boleh bekerja dengan semangat,” kata Kan Ciat sambil ketawa lebar. Sinar matanya lanta saja mengeluarkan sorot kepuasan dan dengan mencekal golok, ia menghampiri Poet Hwie.

Melihat rumput itu belum mengeluarkan akibat suatu apa, Boe Kie menarik kesimpulan bahwa rumput tersebut bukan rumput beracun.

“Habislah jiwaku!” ia mengeluh.

Tapi, baru saja Kan Ciat mengkah dua tindak mendadak ia berteriak “aduh!” sambil memegang perut. Di lain detik, badannya bergoyang goyang dan ia roboh berguling ditanah.

“Kan heng, mengapa kau?” tanya Sie Kong Wan sambil menghampiri dan coba membangunkannya. Tapi sekali membungkuk, ia tak dapat melempangkan pinggannya lagi! Ia terjungkal kesamping si orang she Kan tanpa berkutik lagi. Dua orang murid Hwa San Pay yang lain bahkan tanpa mengeluarkan suara.

“Oh Langit! Oh Bumi! Terima kasih atas pertolonganmu!” teriak Boe Kie dengna suara parau sedang air mata mengalir turun di pipinya.

Dengan bergulingan ia mendekati dan menjemput golok yg jatuh dari tanan Kan Ciat dan kemudia menggunakannya untuk memutuskan tambang yg mengikat tangan Poet Hwe. Sesudah tangannya bebas si nona lalu coba menolong kakaknya dan ia baru berhasil sesudah melukakan tangan Boe Kie di dua tempat.

Tak usah menceritakan lagi kegirangan kedua anak itu, sesudah berpeluk2an beberapa lama barulah Boe Kie nengok mayak Kan Ciat dan kawan2nya. Ternyata muka mereka berwarna hitam dan otot2 pada menonjol keluar, sehingga kelihatannya menakuti sekali. “Racun bisa mencelakakan manusia, tp jg bisa menolong manusa baik,” kata Boe Kie dalam hati. Ia lalu mengambil pulang Tok beot Tay coan dan memasukkannya kedalam saku, dengan niatan untuk mempelajarinya di hari kemudian.

Dengan saling menggandeng tangan, kedua anak itu berjalan keluar dari hutan yg menyeramkan. Baru saja mereka mau mencari jalanan se-konyong2 disebelah timur terlihat obor2 dan tujuh delapan orang yg membawa rupa2 senjata kelihatan mendatangi. Merek ketakutan dan buru2 menyembunyikan diri di rumput2 tinggi.

Tak lama kemudian reroton itu sudah tiba didekat tempat persembunyian kedua anak itu. Yang berjalan didepat Cie Tat yg membawa tombak panjang. Sambil mengangkat obor tinggi2. Ia berteriak, “Hei manusia2 binatang! Lekas keluar untuk terima binasa!” Mereka masuk kedalam hutan dan begitu melihat mayat2 itu, mereka kaget bukan main.

“Saudara Thio! Saudara Thio!” teriak Cie Tat, “Dimana kau? Kamu datang untuk menolong kalian.”

Sekarang Boe Kie tahu, bahwa kedatangan mereka adalah untuk memberi pertolongan. Hatinya terharu dan dengan air mata berlinang2, ia melompat keluar dari rumput alang2. Dengan menuntun tangan Poet Hwie, ia berlari2 menghampiri rombongan penolong itu.

“Cie Tako! Aku berada disini,” serunya.

Cie Tat girang tak kepalang, sambil memeluk si bocah. Ia berkata, “Saudara Thio, jangan diantara anak2, sedangakan diantara orang2 dewasapun jarang terdapat manusia yang mempunyai jiwa kesatria seluhur kau. Aku sungguh berkuatir. Aku kuatir kau sudah menjadi kurbannya manusia2 itu. Tapi orang baik selalu mendapat pembalasan baik.” Ia menanyakan cara bagaimana Kan Ciat dan kawan2nya binasa dan Boe Kie lalu memberikan keterangna sejelas2nya. Mendengar it, semua orang merasa kagum dan memuji kepintaran si bocah.

“Berapa saudara ini adalah sahabat2ku sedari kecil,” kata Cie Tat. “Hari ini kai menyembelih seekor kerbau dan mereka sedang memasaknya di kelenteng Hong kan-sie. Begitu aku meminta pertolongan, mereka segera mengikut aku. Tapi kami datang terlambat dan sungguh syukur kau sudah bisa menolong diri sendiri.” Sehabis berkata begitu, ia segara memperkenalkan sahabat2nya itu. Seorang yg mukanya persegi dan kupingnya lebar she-Thong bernama Ho yang paras mukanya angker, she-Tong bernama Jie yang bermuka hita dan bertubung jangkung, she-Hoa bernama In, dan orang kulitnya bersih adalah kakak beradik sang kaka she gouw bernama Liang, si-adik Gouw Tin dan akhirnya seorang pendeta yg mukanya jelek dan matanya dalam, tp bersinar sangat tajam. “Yang ini adalah Coe Taoke,” katanya. “Ia bernama Goan Coang dan sekrang menjadi pendeta di kelenteng Hong kak sie.”

Dia “jadi pendeta bebas” menyambungi Hoa In seraya tertawa. “Dia tidak membaca kitab suci, pekerjaannya hanyalah minum arak dan daging”.

Melihat paras muka Coe Goan Ciang, Poet Hwie ketakukan dan lalu bersembunyi dibelakang Boe Kie.

“Adik kecil, jangan takut,” kata si pendeta.
“Aku makan daging, tapi tidak makan daging manusia”.

“Hayolah masakan kita rasanya sudah matang,” mengajak Thong Ho.

“Siauw moay-moay, mari aku gendong kau,” kata Hoa In seraya berjongkok dan sesudah menggendong Peot Hwie, ia seraya berjalan lebih dulu dengan tindakan lebar. Melihat cara2 mereka yg polos dan bebas, Boe Kie merasa girang.

Sesudah berjalan empat lima li, tibalah mereka di sebuah kelenteng. Begitu masuk diruangan sembahyang, hidung mereka segera mengendus bebahuan sedap dari masakan daging kerbau (xp)

“Sudah matang!” seru Gauw Liang

“Saudara Thio, kau tunggu disini,” kata Cie Tat. “Kami akan membawa masakan itu kemari.

Boe Kie dan Poet Hwie segera duduk diatas tikar, sedang Coe Goan Ciang dan kawan2 nya masuk kedalam. Beberapa saat kemudian, mereka kembali dengan membawa piring yang penuh daging dan sepoci arak putih. Tanpa menyia2kan tempo, mereka segera makan minum dengan gembira didepan patung Posat.

“Kie Tako,” kata Hoa In sambil mengunyah daging, “peraturan agama kita semuanya bagus. Hanya sayang ada larangan makan daging dan ini aku tidak begitu setuju.

Boe Kie terkejut. “Ah! Kalau begitu mereka orang2 Bengkauw,” katanya di dalam hati.

“Tujuan dari agama kita adalah berbuat kebaikan dan membasmi kejahatan,” kata Cie Tat. “Larangan makan daging hanya merupakan larang yg terakhir. Sekarang ini tak ada beras dan ak ada sayur, apa kita lebih baik mati kelaparan?”

“Cie Taoko benar!” kata Teng Jie sambil menepuk lutut. “Hayo makanlah sepuas hatimu jangan terlalu rewel.”

Selagi enak makan tiba2 terdengar tindakan kaki dan pintu depan digedor, Thong Ho melompat bangun, “Celaka! Orang uta Wang gwee datang mencari kerbau,” bisiknya.

Pindtu didorong keras2 dan disusul dengan masuknya yang berbadan keras dan muka bengis “Aha! Benar saja kerbau Wang gwee digegares kamu!” Teriak seseorang melompat dan menyekel tangan Coe Goan Ciang.

“Pendeta bangsat!” cacai yg satunya lagi “Kami akan menyerahkan kamu kepada tiekoan supaya dihajar mampus.”

Coe Goan Ciang tertawa. “Kalian jangan menuduh sembarangan,” katanya. “Mana bisa jadi aku mencuri kerbau? Sebagai seorang pertapaan aku tak boleh makan daging.”

“Apa itu bukan daging kerbau?” bentak seorang sambil menuding sisa makanan.

Sambil memberi isyarat kepada kawan2nya dengan lirikan mata, Coe Goan Ciang tertawa pula seraya berkata. “Siapa kata itu daging kerbau.” Selagi si pendeta memberi jawaban Gouw Liang dan Gouw Tin berjalan kebelakang kedua tukang pacul itu dan dengan sekali membentak, mereka melompat mencekal tangan kedua orang itu, yg tidak dapat berkutik lagi.

Sambil mencabut pisau panjang dari pinggangnya, si pendeta berkata, “Untuk bicara sebenar2nya, yg dimakan kami bukan daging kerbau, tapi daging manusia. Sekarang rahasia sudah diketahui kamu. Maka itu, untuk menutup mulut kamu, jalan satu2nya ialah makan jg dagingmu,” sehabis berkata begitu, ia membuka baju salah seorang dan menggorehkan pisaunya didada orang.

Kedua tukang pukul itu ketakutan setengah mati dan lalu me-mohon2 ampun. Si pendeta bersenyum. Ia menjemput dua potong daging dan lalu memasukkan kedalam mulut mereka. “Telan!” bentaknya. Tanpa mengunyah lagi, mereka segera menelannya.

Sesudah itu Coe Goan Ciang pergi ke dapur dan mengambil secekel bulu kerbau yg juga lalu dimasukkan kedalam mulut kedua tukan pukul itu “Telan!” bentaknya pula. Karena takut mati, sambil berjengit2 mereka terpaksa menurut perintah.

Goan Ciang tertawa terbahak2. “Nah sekarang kamu boleh mengadu kepada majikanmu.” Katanya. “Kamu boleh melaporkan, bahwa yg gegaras kerbanya yalah kamu. Huh huh!… dihadapan pembesar negeri, aku akan balas menuduh kau. Aku akan menuntut supaya perutmu dibelek. Semua orang akan lihat, bahwa kamu bukan saja sudah gegares dagingnya, tp jg sudah menelan bulu kerbau!” Seraya berkata begitu, ia menggoreskan pula pisaunya dipunggung orang itu yg menggigil karena ketakutan.

Kedua saudara Gouw tertawa berkakakan. Dengan berbareng mereka menendang pantat, kedua tukang pukul itu yang lantas saja terpental keluar dari ruangan sembahyang.

Setelah kaki tangan Thio Wan-gwe diusir, mereka melanjutkan makan minum. Sambil menangsal perut, mereka membicarakan kekejamanan hartwan itu yang sering sekali berbuat sewenang2 terhadap penduduk kampung. Kali ini kedua tukang pukul itu membentur tembok dan mereka pasti tidak berani memberi laporan kepada majikannya. Boe Kie merasa geli dan kagum. “Biarpun mukanya jelek, pendeta she Coe itu lihay sekali,” pikirnya.

Dalam makan minum itu, kawan2 Cie Tat memperlakukan Bie Kie bukan seperti anak2 biasa. Setelah mendengar kesatriaan si-bocah yang rela mengorbankan jiwanya sendiri untuk menolong sesama manusia, mereka menghormati anak itu yg dianggapnya sebagai seorang sahabat yg berharga.

Sesudah makan kenyang, tiba2 Teng Ji menghela napas. Hai! Sudah lama sekali bangsa Han ditindas oleh penjajah asing,” katanya.

“Sampai kapan bencana kelaparan ini baru bisa lewat?”

“Hampir separuh penduduk Hong yang sudah mati kelaparan,” kata Hoa In. “Kurasa dilain tempat pun keadaan tidak lebih baik. Daripada mati konyol, lebih baik kita mengadu jiwa dengan Pat-coe,” (Pat coe – Orang Mongol yang pada waktu itu berkuasa di Tiongkok).

“Benar!” teriak Cie Tat. “Sungguh kecewa jika sebagai laki2 sejati tidak bisa menolong sesama manusia yg memerlukan pertolongan.”

“Tak salah,” menyambungi Tong Ho. “Kita pun tengah menghadapi kebinasaan. Hari ini kita bisa makan kenyang karena berhasil mencuri kerbau. Apa besok kita bisa mencuri lagi?”

Makin bicara mereka makin sengit dan makin hebat mencaci penjajah.

“Sudahlah!” kata Coe Cian Ciang. “Kita mencaci Tat Coe disini, tapi selembar rambut Tat Coe tidan bergeming. Jika kau benar-benar lelaki tulen, mari kita membunuh Tat Coe!”

Dengan serentak Thong Ho dan yang lain2 melompat bangun. “Bagus! Mari… ,mari…………..”teriak mereka.

“Coe Taoko,” Cie Tat ”Kau berusia paling tua dan semua bersedia untuk mendenar segala perintahmu.”

Coa Cian Ciang tidak menolak, “Mulai hari ini kita sama2 hidup dan sama2 mati,” katanya. “Ada rejiki sama2 makan ada bahaya sama2 tanggung.” Mereka mengangkat cawan lalu meneguk kering isinya. Sesudah itu, mereka menghunus golok membacok ujung meja sebagai sumpah setia kawan.

Poei Hwei yg tak tahu apa artinya itu semua, jadi ketakutan dan memeluk Boe Kie.

“Thay soehoe memesan supaya aku tidak bergaul dengan orang2 Beng Kauw,” kata Boe Kie dalam hati. “Tetapi perbuatan beberapa orang Beng Kauw seperti Siang Goe Goen Taoko, Cie Taoko dan kawan2nya, banyak lebih mulia daripada sepak terjang manusi2 seperti Kan Ciat dan Sie Kong Wan yang menjadi anggota dari partai2 jurus bersih”. Thio Sam Hong adalah orang yang paling dihormatinya. Tapi sekarang sesudah mendapat pengalaman pahit getir, didalam hati kecilnya ia merasa, bahwa pandangan orang tua itu tidak tepat seluruhnya. “Tapi biar bagaimana jua, aku tidak dapat melanggar pesanan Thay soehoe,” pikirnya.

“Seseorang gagah tidak menjilat ludah sendiri.” Kata Coe Coan Ciang. “Sekarang sesudah makan kenyang, kita boleh lantas bertindak. Hari ini Thio Wan gwee mengadakan pesta dalam gedungnya untuk menjamu Tat-coe. Mari kita binasakan mereka!”

“Bagus!” teriak kawan2nya

“Tahan dulu!” kata Cie Tat yang lalu menggambil keranjang kecil dan mengisinya dengan daging kerbau. Kemudian sambil mengangsurkan keranjang itu kepada Boe Kie, ia berkata

“Saudara Thio, kau masih terlalu kecil dan tidak bisa mengikuti kami. Kami tak punya apapun jua dan hanya memberikan daging ini kepada kalian. Kalau masih hidup, dibelakangan hari kita masih bisa bertemu pula dan bisa makan minum lagi bersama sama seperti hari ini.”

Boe Kie menyambuti keranjang itu dan berkata dengan suara terharu.

“Aku mengharapkan kalian bisa segera berhasil membinasakan dan mengusir semua Tat Coe, supaya rakyat dikolong dunia bisa hidup senang.”

Mendengar perkataan itu, Coe Goan Ciang dan kawan2nya merasa terkejut.

“Saudara Thio apa yang dikatakan olehmu benar sekali,” kata pendeta itu.

“Sampai bertemu lagi,” sehabis berkata begitu, dengan menenteng senjata bersama lawan2nya, ia segera meninggalkan Hong-kak-sie.

“Kalau tidak membwa anak kecil, akupun akan turut mereka,” kata Boe Kie didalam hati.

“Mereka hanya bertujuh orang dan mereka pasti tak kan bisa melawan kaki tangan Thio Wan Geew Tat Coe yang berjumlah besar. Mungkin sekali orang2 Thio wan Geew akan menyerang kesini. Kelenteng ini akan berbahaya, memikir begitu dengan membawa keranjang daging dan menuntun tangan Poet Hwie, ia segera meninggalkan kelenteng Hong Kak Sie.

Sesudah jalan lima enam lie, disebelah utara mereka melihat sinar api yang berkobar kobar Boe Kie mengerti bahwa kebakaran itu akibat serangan Coe Gian Ciang dan kawan2nya dan ia merasa girang.

Penderita kedua anak itu suka ditutukan satu persatu. Untung juga mungkin karena kedua orangtuanya adalah ahli2 silat, Poet Hwie mempunya benda yang kuat sehingga ia dapat bertahan dalam perjalanan yang penuh kesengsaraan itu. Kadang2 ia “masuk angin” tapi begitu diberi obat, yaitu rambut2 yg dipetik Boe Kie, ia sudah sembuh kembali.

Dengan berjalan sambil sebentar2 berhenti untuk mengaso, didalam suatu hari paling banyak mereka bisa melalu duapuluh li. Kira2 setengah bulan barulah mereka tiba di wilayah propinsi Ho Lam, yang keadaannya tidak lebih baik dari propinsi Anhoei. Diamna mana mereka bertemu dnegan rakyat yg kelaparan.

Untuk menyambung jiwa Boe Kie membuat busur dan anak panah guna memanah burung2 dan binatang2 kecil. Dengan mengandalkan ilmu silatnyam, ia berhasil dalam usaanya itu. Demikianlah, biarpun sengsara mereka masih bisa maju teus sehari kenyang,s ehari lapar. Syukur juga, disepanjang jalan mereka tidak pernah bertemu dengan tentara Mongol atau penjahat2 yg berkepandaian tinggi. Bangsat2 kecil yang mau coba menggangu dengan mudah dapat dirobohkan oleh Boe Kie.

Pada suatu hari mereka bertemu dengan seorang kakek dan dalam omong2 Boe Kie menanyakan dimana letaknya puncah Co Bong Hong, gunung Koen Lun San.

Kakek itu kelihatannya kaget sekali. Dengan mata membelah ia mengawasi Boe Kie dan beberapa saat kemudia, barulah ia berkata, “Saudara kecil, dair sini ke Koen Loen San orang harus melewati perjalanan lebih dari sepuluh laksa li. Menurut katanya orang, hanya Tong Ceng (Tong taycie) yang pernah melewati gunung itu. Saudara kecil jangan kau memikir yang tidak2. Dimana rumahmu? Lekas pulang!”

Boe Kie terkejut. “Kalau begitu jauh, aku terpaksa membatalkan perjalanan kesitu dan paling baik aku pergi ke Boe-Tong san untuk berdiam2 dengan Thay soehoe,” katanya didalam hati. Tapi di lain saat, ia mendapat pikiran lain. “Sesudah menerima baik permintaan orang, biarpun sukar, tak bisa aku mundur ditengah jalan. Apapula waktu hidupku sudah tidak berapa lama lagi. Jika aku berayal dan kuburu mati, sehingga aku tak dapat memenuhi janji di alam baka, tak ada muka untuk menemu Kie KouwKouw.” Memikir begitu, tanpa bicara lagi dengan si kakek, ia menarik tangan Poet Hwie dan lalu meneruskan perjalanan.

Sesudah berjalan kurang lebih dua puluh haru lagi, pakaian mereka sudah rombeng semua. Sebab kurang makan, muka mereka makin pucal dan badan makin kuru. Penderitaan Boe Kie bahkan ditambah dengan rewelnya si adik yang sering2 menangis dan memanggil2 ibunya. Dengan rupa2 akal, ia membujuk anak itu yg dicintainya seperti saudara kandung sendiri.

Sesudah menyeberang sungai Coe ma ho, bahwa udara jadi semakin dingin, karena pada wkatuitu sudah masuk permulaan musim dingin. Dengah hanya menggenakan pakaian tipis, terutama diwaktu malam, mereka serin gmenggigil kedinginan. Satu ketuika, sebab melihat Poet Hwie bergemetaran hebat, Boe Kie membuka bajunya dna memberikannya kepada si adik.

“Boe Kie koko, apa kau sendiri tidak dingin?” tanya Poet Hwie.

“Tidak aku malah kepanasan.” Jawabnya sambil melompat2 supaya darah mengalir lebih cepat dan badannya jadi lebih hangat.

“Kau sungguh baik!” kata si adik dengan suara perlahan. “Kau sendiri kedinginan, tapi kau menyerahkan bajumu kepadaku”. Mendengar perkataan itu, gerakan dari seorang dewasa, Boe Kie tercengang.

Sesaat itu, tiba2 terdengar suara bentrokan senjata, dengan suara tindakan kaki. “Bangsat!” teriak seorang wanita “Kau kena paku Seng-boen-teng yang beracun, makin kau lari, makin cepat bekerjanya racun”.

Buru2 Boe Kie menarik tangan Poet Hwie dan melompat kedalam rumput alang2 yang tumbuh di pinggir jalan. Hampir berbareng, seorang lelaki yg berusia tiga puluh tahun lewat bagaikan terbang, sedang beberapa tombak di belakangnya mengikut seorang wanita ygn tangannya mencekal sepasang golok., Walaupun larinya cepat, tindakan lelaki itu limbung dan mendadak ia roboh terjengkang.

Wanita itu menghampiri dan berkata sambil tertawa. “Bangsat! Akhirnya kau jatuh jg kedalam tanganku.”
Sekonyong2 diluar dugaan, lelaku itu melompat bangun dan menghantan dengan dua tangannya. “Plak!” pukulannya mengenai tepat di dada si wanita. Pukulan yg dikirim dengan nekat hebat luar biasa, sehingga wanita itu lantas saja terguling, sedang sepasang goloknya terlempar ditanah.

Dengan napas tersengal sengal, lelaki itu mencabut sebatang paku dari pundaknya. “Keluarkan obat pemunah!” bentaknya.

“Kau bunuh saja aku!” kata si wanita. “Ku tak punya obat pemunah”

Sambil menempelkan ujung golok, yg dicekal di tangan kiri, dileher wanita itu, lelaki itu lalu menggeledah saku orang dengan tangan kanannya. Benar saja ia tak mendapatkan apa yg dicarinya.

Wanita itu tertawa dingin, “Waktu Soehoe memerintahkan kami untuk menangkap kau, ia telah memberi senjata rahasia beracun, tapi tidak membekali obat pemunah”, katanya. “Sesudah jatuh kedalam tanganmu, aku tak memikir untuk hidup. Tapi kaupun jangan harap bisa ketolongan.”

Lelaki itu gusang tak kepalang. Dengan geregetan ia menancapkan Song-boen-teng beracun di pundak orang dan membentak, “Kau juga harus turut merasakan enaknya paku ini! Kamu, orang2 Koen-loen-pay…” Ia tak dapat meneruskan perkataannya dan roboh ditanah.

Wanita itu mencoba merangkak bangun, tapi lukanya terlalu hebat dan “uah!” ia memuntahkan darah.

Demikianlah kedua musuh itu, yang sama2 terluka berat, rebah dengan napas memburu.

Sesusah mendapat pengalaman pahit dair manusia2 seperti Kan Ciat dan kawan2nya, Boe Kie sekarang sangat hati2 terhadap orang2 Kang-ouw. Ia terus menyembunyikan diri dan tak berani keluar.

Sesaat kemudian, lelaki itu menghela napas dan berkata, “Hari ini aku Souw Hie Cie binasa di Coe-ma-tiam tanpa tahu apa kesalahan terhadap Koe Leon Pay. Celaka sungguh. Benar2 aku mati penasaran. Ciam Kouw Nio, bolehkah aku memohon keteranganmu?”

Wanita itu adalah seorang she Ciam bernama Coen. Ia tahu, bahwa paku Song-boen-teng dari gurunya mengandung racun yang amat hebat dan mereka berdua akan binasa bersama sama. Mengingat itu ia terduka sangat dan berkata dengan suara perlahan. “Siapa suruh kau mengintip waktu guruku sedang berlatih ilmu pedang. It pit kiam sangan dirahasiakan oleh Soe Hoe. Jangankan orang luar sedangkan muridnya sendiri bisa dikorek kedua biji matanya, kalau murid itu berani melihat latihannya tanpa permisi.”

“Ah!” Souw Hie Cie mengeluarkan suara tertahan dan kemudian mencaci. “Bangsat! Tua bangka sudah mau mampus!”

“Kurang ajar kau!” bentak Ciam Coen, “Sedang ajalmu sudah hampir tiba, kau masih berani mencaci guruku”.

“Kalau aku mau mencaci, mau apa kau?” kata Hie Cie dengan gusar. “Apakah aku tidak mempunyai alasan untuk merasa penasaran? Waktu lewat di Pek-goe-san, secara tidak sengaja, kulihat gurumu sedang bersilat dengan menggunakan pedang. Sebab merasa ketarik, aku berhenti dan menonton. Apakah aku mempunyai kepintaran yang luar biasa, sehingga sekali melihat aku sudah bisa memahami Leong heng It pit kiam? Andaikata aku memiliki kecerdasan yang begitu tinggi, kamu semua beberapa murid Koen leon pay, sudah pasti takkan bisa mengalahkan aku. Ciam Kow nio, aku ingin memberitahukan kau secara terang2an, bahwa menurut pendapatku, gurumu, Thie kim Sian seng adalah manusia yang pandangannya terlalu sempit dan jiwanya terlampau kecil. Andaikata … ciam Kouwnio, andaikata benar aku sudah berhasil mencuri satu dua jurus dari Liong heng It pit kiam, kedosaanku tidaklah begitu besar, sehingga aku mesti menerima hukuman mati”.

Ciam Coen tak bisa mengeluarkan sepatah kata. Dalam hati kecilnya, ia pun merasa, bahwa sang guru terlalu kecil jiwanya. Begitu lekas mengetahui, bahwa pemuda itu telah mencuri lihat latihannya, ia segera memerintahan enam muridnya, untuk mengubui dan membinasakan “pencuri” itu, sehingga sebagai akibatnya mereka berdua menghadapi kebinasaan bersama sama. Cian coen yakin, bahwa pengakuan pemuda itu yang diberikan pada saat hampir menghembuskan napas yang penghabisan, sudah pasti bukan keterangan justa.

Suaw Hie Cie menghela napas dan berkata lagi. “Dia telah memberikan senjata rahasia beracun kepadamu, tapi tidak membekali obat pemunahnya. Dalam rimba persilatan, mana ada orang begitu gila? Bangsat…”

“Souw Toako,” kata Ciam Coen dengan suara halus, “Siaow moay merasa menyesal, bahwa siauw moay telah mencelakakan kau. Bagus juga sebagai hukuman siaw moay akan mengantar kau pulang ke alam baqa. Inilah yang dinamakan nasib. Apakah yang siauw moay merasa lebih menyesal ialah dalam peristiwa ini, siauw moay menyeret toaso dan putra putrimu”.

“Istriku sudah menutup mata pada dua tahun berselang dengan meninggalkan dua anak, satu laku dan satu perempuan,” kata Souw Hie Cie. “Besok mereka akan jadi anak yatim piatu”

“Apakah dirumahmu masih ada orang lain yang bisa merawat anak2 itu?” tanya nona Ciam.

“Mereka dirawat oleh nsoku (nsoku – istri kakak lelaki).” Jawabnya. “Nao hebat adanya dan licik sifatnya., Sebegitu lama aku masih hidup, ia masih takuti aku. Hai! Mulai besok kedua anakku itu akan sangat menderita.”

Ciam Coen yang berhati lembek lantas saja mengucurkan airmata. “Ini semua adalah karea gara2ku” katanya dengan suara parau.

“Tapi kau tidak boleh disalahkan,” kata Hie Cie. “Kau telah menerima perintah gurumu dan kau tidak dapat menolak perintah itu. Kaupun tidka mempunyai permusuhan apapun jg denganku. Sebenar2nya, sesudah kena senjata beracun, aku harus menerima nasib. Perlu apa aku memukul kau dan juga melukakan kau dengan senjata beracun? Andai kata aku tidak berbuat begitu, sebagai seorang yang berhati mulia kau tentu tidak nolong melihat2 kedua anakku yang bernasib buruk itu.”

Nona Ciam tertawa getir. “Aku adalah penjahat yang membinasakan kau,” katanya. “Bagaimana kau bisa menamakan aku sebagai seorang yang berhati mulia?”

“Aku tidak menyalahkan kau, benar2 akut tidak menyalahkan kau,” kata Hie Cie.

Demikianlah kedua orang yang tadi bertempur matian dan saling berusaha untuk mengambil jiwa pihak lawan, sekarang saling menghibur!

Sesudah mendengar pembicaraan itu, Boe Kie merasa bahwa mereka bukan manusia jahat. Dalam hatiny lantas saja timbul rasa kasihan, lebih lagi terhadap Souw Hie Cie yang mampunyai dua anak yang masih mengeluarkan rawatan. Mengingat penderitaannya sendiri sebagai yatim piatu rasa kasihannya jadi lebih besar dan sambil menarik tangan Poet Hie ia segera bertidak keluar dari alang2.

Andai aku bisa memutar kembali
Waktu yang t’lah berjalan
‘Tuk kembali bersama didirimu slamanya

Bukan maksud hati membawa dirimu
Masuk terlalu jauh
Ke dalam kisah cinta yang tak mungkin terjadi

Dan aku tak punya hati untuk menyakiti dirimu
Dan aku tak punya hati ‘tuk mencintai
Dirimu yang s’lalu mencintai diriku
Walau kau tahu diriku masih bersamanya

Apakah yang Siauw Moay merasa lebih menyesal ialah dalam peristiwa ini, Siauw Moay menyeret toaso dan putra putrimu”.

“Isteriku sudha menutup mata pada dua tahun berselang dengan meninggalkan dua anak, satu lelaki dan stu perempuan,” kata Souw Hie Cie. “Besok, mereka akan jadi anak yatim piatu”.
“Apakah di rumahmu masih ada orang lain yang bisa merawat anak-anak itu?” tanya nona Ciam.

“Mereka dirawat oleh nsoku (nsoku – isteri kakak lelaki),” jawabnya. “Nso hebat adatnya dan licik sifatnya. Sebegitu lama aku masih hidup, ia masih takuti aku. Hai! Mulai besok kedua anakku itu akan sangat menderita”.

Ciam Coen yang berhati lembek lantas saja mengucurkan air mata. “Ini semua adalah karena gara-garaku” katanya dengan suara parau.
“Tapi kau tidak boleh disalahkan,” kata Hie Cie. Kau telah menerima perintah gurumu dan kau tidak dapat menolak perintah itu. Kaupun tidak mempunyai permusuhan apapun juga denganku. Sebenar-benarnya, sesudah kena senjata beracun, aku harus menerima nasib. Perlu apa aku memukul kau dan juga melakukan kau dengan senjata beracun? Andai kata aku tidak berbuat begitu, sebagai seorang yang berhati mulia kau tentu bisa nolong melihat-lihat kedua anakku yang bernasib buruk itu”.

Nona Ciam tertawa getir. “Aku adalah penjahat yang membinasakan kau,” katanya. “Bagaimana kau bisa menamakan aku sebagai seorang yang berhati mulia?”
“Aku tidak menyalahkan kau, benar-benar aku tidak menyalahkan kau,” kata Hie Cie.

Demikianlah kedua orang yang tadi bertempur matian dan saling berusaha untuk mengambil jiwa pihak lawan, sekarang saling menghibur!
Sesudah mendengar pembicaraan itu, Boe Kie merasa bahwa mereka bukan manusia jahat. Dalam hatinya lantas saja timbul rasa kasihan, lebih lagi terhadap Souw Hie Cie yang mempunyai dua orang anak yang masih mengeluarkan rawatan. Mengingat penderitaannya sendiri sebagai anak yatim piatu rasa kasihannya jadi lebih besar dan sambil menarik tangan Poet Hie ia segera bertindak keluar dari alang-alang.
“Cian Kouwhio, racun apa yang digunakan pada senjata rahasia itu?” tanyanya.
Melihat munculnya kedua anak itu, Hie Cie dan Ciam Coen merasa heran. Dan mendengar pertanyaan Boe Kie, mereka jadi lebih heran lagi. “Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan dan luka kalian mungkin sekali bukan tidak dapat diobati,” kata pula Boe Kie.
“Akupun tak tahu racun apa yang digunakan,” jawab nona Ciam. “Lukanya tidak sakit, tapi gatal bukan main. Menurut katanya Soehoe, orang yang kena Soeng-boen teng hanya bisa hidup dalam tempo empat jam.”

“Bolehkah aku periksa luka kalian?” tanya Boe Kie.
Tapi manakah mereka percaya bocah itu bisa mengobati luka beracun? Dengan pakaian robek, badan kurus kering dan muka pucat Boe Kie dan Poet Hwie kelihatannya seperti pengemis kecil. “Sudahlah, kau jangan rewel. Pergilah! Jangan mengganggu kami.”

Boe Kie tidka meladeni. Ia menjemput paku Soen-boen teng dari atas tanah dan mengendus bau harum dari serupa bunga anggrek.

Dalam hari-hari yang belakangan setiap mempunyai tempo yang luang, Boe Kie selalu membaca dan mempelajari Tok-boet Tay coan peninggalan Ong Lan Kouw. Dalam kitab itu berisi keterangan lengkap mengenai ribuan macam racun itu yang aneh-aneh dan cara mengobatinya. Maka itulah begitu mengendus bau racun itu, ia segera mengetahui bahwa yang melekat pada paku Song-boen teng adalah racun bunga To-lo hijau. Bau bunga itu sebenarnya berbau amis sehingga orang dapat memakannya sebanyak mungkin tanpa bahaya apapun jua. Tapi begitu lekas bercampur darah, peti bunga itu lantas saja berubah menjadi racun yang sangat hebat, sedang baunya yang amis juga berubah menjadi harum. “Inilah racun bunga To-lo hijau,” kata Boe Kie.

Ciam Coen memang tidak tahu racun apa yang digunakan pada paku itu, tapi ia tahu, bahwa dalam taman bunga gurunya ditanam banyak sekali pohon bunga To-lo hijau.

“Eh, bagaimana kau tahu?” tanyanya dengan heran. Bunga To-lo hijau adalah tumbuh-tuimbuhan yang langka dan hanya terdapat di wilayah Barat (See-hek). Di daerah Tionggoan sebegitu jauh belum pernah terdapat pohon bunga tersebut.

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Aku tahu” katanya sambil menarik tangan Poet Hwie dan berkata pula. “Hayolah, kita pergi.”

“Saudara kecil,” kata nona Ciam cepat. “Jika kau bisa mengobati, tolonglah jiwa kami berdua.”

Boe Kie memang ingin menolong, tapi mendadak ia ingat perbuatan Kan Ciat dan Sie Kong Wan, sehingga ia mengambil keputusan untuk membatalkan niatnya itu.

“Tuan kecil,” kata Souw Hie Cie, “Mataku tidak berbiji dan aku tidak bisa mengenali seorang pandai. Kuharap kau sudi memaafkan.”

“Baiklah!” kata Boe Kie. “Aku akan mencoba-coba.” Seraya berkata begitu ia menotok jalan darah Tan-tiong-hiat di iga kiri dan kanan untuk meringankan rasa sakitnya Ciam Coen dibagian dada akibat pukulan Souw Hie CIe. “Bunga To-lo hijau baru menjadi racun kalau bercampur dengan darah,” menerangkan Boe Kie. “Sekarang aku minta kalian saling menghisap luka itu untuk membuang racun yang sudah bercampur dengan darah.”

Hie Cie dan Ciam Coen merasa jengah. Tapi untuk menolong jiwa, mereka segera menyampingkan perasaan malu dan lalu melakukan apa yang dikatakan si bocah.

Sementara itu, Boe Kie sendiri lalu mencari tiga macam daun obat yang lalu dihancurkan dan diborehi diluka itu. “Tiga macam rumput ini dapat menahan bekerjanya racun,” ia menerangkan. “Sekarang mari kita pergi ke kota untuk mencari rumah obat. Aku akan menulis surat obat guna menyembuhkan luka kalian.”

Souw Hie Cie dan Ciam Coen girang tak kepalang. Begitu diborehi daun obat, luka mereka yang semula gatal bukan main, lantas saja adem rasanya dan kaki tangan mereka pun tidak begitu kaku lagi dan dapat digerakkan. Tak henti-hentinya mereka menghaturkan terima kasih. Mereka segera mematahkan ranting pohon dan dengan menggunakannya sebagai tongkat, mereka berjalan kejurusan barat dengan mengajak Boe Kie dan Poet Hwie.

Sambil berjalan Ciam Coen menanya siapa guru Boe Kie, tetapi si bocah sungkan memberitahukan dan mengatakan saja, bahwa sedari kecil ia memang sudah mengerti ilmu pengobatan. Sesudah berjalan satu jam lebih, mereka tiba di kota See-ho-tiam dan sesudah mendapat kamar di rumah penginapan, Boe Kie lalu menulis surat obat dan menyuruh seorang pelayan untuk membelinya.

Tahun itu daerah Holam barat tidak kena bencana kelaparan dan keadaan kota See-ho-tiam masih seperti biasa. Sesudah obat dibeli, Boe Kie lalu memasaknya dan memberikannya kepada Souw Hie Cie dan Ciam Coen. Tiga hari menginap dalam penginapan itu dan setiap hari si bocah menukar obat. Obat makan dan obat pakai. Pada hari keempat semua racun yang mengeram dalam tubuh Hie Cie dan Ciam Coen sudah dapat diusir.

Tentu saja mereka merasa sangat berterima kasih. Mereka menanyakan ke mana kedua anak itu mau pergi dan Boe Kie lalu memberitahukann bahwa tujuan mereka adalah puncak Coe-bong heng di pegunungan Koen-loen-san.

“Souw Toako,” kata si nona. “Jiwa kita ditolong oleh saudara kecil ini. Ta[o urusanmu masih belum dapat diselesaikan. Kelima kakak seperguruanku masih terus mencari-cari kau dan kalau bertemu dengan mereka, kau bisa celaka. Apakah kau suka mengikut aku pergi ke Koen-loen-san?”

Hie Cie kaget. “Ke Koen-loen-san?” ia menegas.

“Benar,” jawabnya. “Kita berdua menemui guruku dan memberitahukan, bahwa kau tidak mencuri ilmu pdang Liung heng It-pit-kiam, sejuruspun kau tidka mampu. Dalam urusan ini sebegitu lama guruku belum menyudahi, jiwamu selalu masih berada dalam bahaya.”

Hie Cie merasa sangat mendongkol. “Koen-loen-pay terlalu menghina orang,” katanya. “Secara kebetulan aku hanya melihat gurumu bersilat untuk sekejap mata, tapi untuk kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahan hampir-hampir jiwaku melayang. Ah! Benar-benar keterlaluan.”

“Souw Toako,” kata nona Ciam dnegan suara lemah lembut. “Cobalah kau piker kesukaran Siauw Moay dalam hal ini. Kalau kau saja yang memberitahukan Soehoe pasti tak percaya dan Siauw Moay akan mendapat hukuman. SIauw Moay dihukum tak menjadi soal. Tapi jika kelima saudara seperguruanku sampai salah tangan dan mencelakakanmu8, Siauw Moay tentu akan merasa tidak enak sekali.”

Sesudah menghadapi kematian bersama-sama dan setelah bergaul beberapa hari, dalam hati kedua orang muda itu sudah timbul perasaan yang wajar, yaitu perasaan cinta. Mendengar bujukan si nona yang sangat beralasan, kegusaran Hie Cie lantas saja mereda. Di dalam hati iapun mengakui kebenaran perkataan Ciam Coen. Sebegitu lama persoalan ini belum dapat diselesaikan langsung dengan Thie Khim Sianseng, sebegitu lama jiwanya terancam bahaya.

Melihat Hie Cie masih membungkam, nona Ciam berkata pula. “Begini saja. Sekarang kau ikut aku ke Kun lun san. Sesudah itu, jika kau mempunyai urusan penting yang harus diselesaikan, Siauw Moay akan menemani kau untuk membereskannya. Bagaimana pikiranmu?”

Hie Cie jadi girang. “Baiklah,” katanya. “Tapi apakah gurumu akan percaya keteranganku?”

“Soehoe sangat menyayang aku,” jawab si nona. “Kalau aku memohon, ia pasti takkan mencelakakan kau.”

Mendengar perkataan-perkataan nona Ciam, Hie Cie segera mengetahui, bahwa gadis itu sudha jatuh cinta kepadanya. Diam-diam ia bergirang dan merasa sangat beruntung. Ia berpaling kepada Boe Kie seraya berkata, “Saudara kecil, mari kita ke Koen loen san beramai-ramai. Di jalan kita takkan merasa kesepian.”

“Koen loen san ribuan mil panjangnya dengan puncak-puncak yang tak terhitung beberapa banyaknya,” kata Ciam Coen. “Aku sendiri tak tahu di mana letak Coe-bong-heng. Tapi kita bisa menyelidiki perlahan-lahan dan aku merasa pasti, kita akan dapat menemukannya.”

Pada keesokan harinya, Hie Cie menyewa sebuah kereta untuk Boe Kie dan Poet Hwie sedang ia sendiri bersama nona Ciam mengikuti dengan menunggang kuda. Setibanya di sebuah kota besar, Ciam Coen membeli pakaian baru untuk kedua anak itu. Sesudah menukar pakaian yang pantas, Boe Kie berubah menjadi seorang anak tanggung yang berparas tampan dan angker, Poet Hwie seorang gadis cilik yang ayu dan jelita. Sesudah dapat makan dan ngaso cukup, perlahan-lahan badan mereka menjadi lebih gemuk.

Makin hari hawa udara makin dingin. Dengan melindungi Hie Cie dan Ciam Coen, perjalanan berlangsung dengan licin, tanpa menemui halangan apapun jua. Sesudah tiba di Seek hek Koen-loen yang besar dan angker itu berada di depan mata. Mereka berjalan terus dengna banyak derita, karena harus melalui gurun pasir dalam hawa udara yang sangat dingin.

Pada suatu hari, mereka tiba di Sam seng youw (Lembah tiga malaikat) dari Koen loen san. Begitu masuk di dalam lembah, mereka melihat pohon-pohon luar biasa dan mengendus bau harum yang tak kurang anehnya. Souw Hie Cie, Boe Kie dan Poet Hwie merasa kagum bukan main. Mereka tak pernah menduga, bahwa di lembah itu terdapat pemandangan yang sedemikian indah seolah-olah di dalam surga. Di samping itu, hawanyapun tak begitu dingin, karena gunung-gunung yang mengitarinya menahan masuknya hawa dingin.

Dahulu, pendiri Koe-loen pay yaitu Ciok Too yang bergelar Koen-loen Sam-seng telah menggunakan tempo bertahun-tahun untuk memperindah lembah itu yang belakangan dikenal sebagai Sam-seng youw. Ia memerintahkan murid-muridnya pergi ke berbagai tempat di sebelah barat sampai di India untuk mencari pohon-pohon dan pohon-pohon bunga yang aneh-aneh untuk ditanam di lembah tersebut.

Sesudah melewati lembah tersebut Ciam Coen lalu mengajak mereka ke Thia khimkie tempat tinggalnya Thiem khim Sianseng Ho Thay Ciong. Begitu masuk, ia bertemu dengan beberapa saudara seperguruan yang paras mukanya mengunuk rasa bingung dan ketakutan. Mereka mengunjuk dan tak mengeluarkan sepatah kata Ciam Coen kaget. “Ada apa?” tanyanya dalam hati.

Sambil menarik tangannya seorang adik seperguruan ia bertanya. “Apa Soehoe ada?”

Sebelum Soemoay itu menjawab, ia sudah mendengar cacian gurunya yang memaki sambil menepuk-nepuk meja. “Semua tong nasi,” teriaknya. “Belum pernah ada pekerjaan yang diurus beres oleh kamu?”

“Soehoe lagi keluar adatnya,” bisik nona Ciam kepada Souw Hie Cie. “Kita jangan nubruk paku. Besok saja kita menjumpai beliau”.

Tapi sebelum mereka keburu mengundurkan diri, tiba-tiba Ho Thay Ciong berseru. “Apa Coen-jie? Mengapa kau tidak lantas menghadap kepadaku? Ada apa kau kasak kusuk? Apa kau sudah mengambil kepalanya bangsat Souw itu?”

Paras muka Ciam Coen lantas saja berubah pucat. Buru-buru ia masuk dan berlutut di hadapan gurunya.

“Coen Jie, apakah kau sudha menunaikan tugasmu?” tanya sang guru.

“Orang she Souw itu sekarang berada di luar,” jawabnya dengan suara gemetar. “Dia sengaja datang kemari untuk meminta ampun. Dia mengatakan bahwa dia seorang tolol dan secara tidak sengaja dia sudah menonton waktu Soehoe berlatih. Tapi dia kata, kiamhoat kita sangat tinggi, sehingga meskipun sudah melihatnya, dia tidak mendapat keuntungan jua dan setengah juruspun tak dapat menirunya.”

Sebagai seorang murid yang sudah lama berguru, Ciam Coen mengenal adapt sang Soehoe yang merasa sangat bangga karena kepandaiannya sendiri. Oleh karena begitu, ia sengaja mengemukakan rasa kagum Souw Hie Cie terhadap kiamhoat Koen-loen-pay. Si nona mengharap supaya dalam girangnya dan sang guru akan mengampuni pemuda ini.

Dalam keadaan biasa, mungkin sekali Hou Thay Ciong akan menerima “topi tinggi” itu dengan segala senang hati. Tapi hari itu ia sedang murung tak dapat digembirakan dengan pujian belaka. Sambil mengeluarkan suara dihidung, ia berkata. “Bagus! Kau telah bekerja baik sekali. Penjarakan orang she Souw itu dalam kamar batu di gunung belakang. Aku akan menjatuhkan hukuman belakangan.”

Melihat gurunya sedang marah-marah, nona Ciam tidak berani banyak bicara. “Baiklah,” katanya sesudah berdiam sejenak, ia bertanya. “Apa para Soebo baik? Aku ingin pergi ke belakang untuk memberi hormat.” (Soebo-istrinya guru)

Ciam Coen sudah menggunakan istilah “para Soebo” karena Ho Thay Ciang mempunyai tak kurang dari lima istri-gundik dan yang paling disayang olehnya adalah gundik yang kelima. Untuk menolong jiwa Souw Hie Cie, si nona berniat pergi menemui Soebo kelima itu untuk meminta pertolongan.

Di luar dugaan, begitu mendengar pertanyaan muridnya, paras Ho Thay Ciong lantas saja berubah sedih dan sesudah menghela napas panjang ia berkata. “Memang ada baiknya jika kau pergi menemui Ngo-kouw. Dia sakit berat. Untung kau pulang siang-siang sehingga masih keburu bertemu muka dengannya.”

Nona Ciam terkejut. “Ngo-kouw sakit? Sakit apa?” tanyanya.

Sekali lagi sang guru menghela napas. “Sungguh bagus kalau kutahu sakit apa,” katanya.
“Sudah tujuh tabib yang terkenal pandai di undang olehku, tapi tak satupun yang tahu dia sakit apa. Sekujur badannya bengkak…hai!….” Ia menggelengkan kepala dan berkata lagi dengan suara mendongkol. “Aku mempunyai begitu banyak murid, tapi tak satupun yang berguna. Aku memerintah mereka pergi ke gunung Tiang-pekpsan untuk mencari Loo-san Jie-som, tetapi sesudah pergi dua bulan, seorangpun belum pulang. Aku menyuruh mereka pergi mencari Soat-lian. Sie ouw dan lain-lain obat penolong jiwa semua kembali dengan tangan kosong.”

Ciam Coen mengerti bahwa sang guru mengeluarkan kata-kata itu hanya untuk melampiaskan kedongkolannya. Untuk pergi ke Tiang pek san, orang harus melalui perjalanan berlaksa li.

Mana bisa mereka pulang cepat-cepat? Andaikata mereka sudah tiba di gunung itu, belum tentu mereka berhasil mencari Loo san – Jie som. Mengenai Soat-lian, Sie-ouw dan lain-lain obat mujijat, sekalipun dicari selama seratus tahun, belum tentu orang bisa berhasil. Memikir begitu, ia rasa bingung dan berkuatir akan keselamatan Souw Hie Cie, Ho Thay Ciong menyayangi gundiknya yang kelima seperti menyayangi jiwa sendiri. Kalau nyonya itu tidak dapat disembuhkan, dia tentu akan menumplek kedongkolannya di atas kepala orang lain. Tapi si nona tidak berani mengeluarkan sepatah kata.

Untuk sekian kalinya, Ho Thay Ciong menghela napas. “Dengan menggunakan Lweekang aku telah memeriksa pembuluh darahnya, tapi sedikitpun aku tidak menemui sesuatu yang luar biasa katanya. “Huh, huh! Kalau jiwa Ngo kouw tidak tertolong, aku akan memampuskan semua tabib goblok dalam dunia ini!”
“Coba kutengok padanya,” kata Ciam Coen.
“Baiklah mari sama-sama,” jawab sang guru.

Mereka lalu pergi ke kamar nyonya muda itu. Begitu masuk, si nona mengendus bau obat-obatan yang sangat keras. Ia menyingkap kelambu dan melihat Soebo rebah di ranjang dengan muka seperti Tie Pat Kay (Siluman babi), matanya kecil dalam seolah tidak bisa dibuka lagi. Napasnya tersengal-sengal bagaikan alat penutup api.

Ngo kouw adalah seorang wanita yang sangat cantik. Kalau tak cantik manakah Ho Thay Ciong menyayanginya? Tapi sekarang mukanya seperti mukanya memedi yang menakuti. Melihat begitu Ciam Coen juga menghela napas.

“Panggil tabib-tabib goblok itu!” bentak Ho Thay Ciong.

Seorang nenek yang menjadi pelayan dalam kamar si sakit, lantas saja keluar dan beberapa saat kemudian, ia kembali bersama tujuh orang tabib yang masuk dengan diiringi suara berkerincingnya rantai besi. Ternyata, mereka diikuti satu sama lain dengan rantai besi dan dilihat dari muka mereka yang pucat pasi, mereka pasti sudah banyak menderita. Mereka adalah tabib-tabib ternama di propinsi Soe-coan, In lam dan Kam siok, yang telah diundang, dengan baik atau dengan paksa, oleh murid-muridnya Ho Thay Ciong. Tapi tak satupun dapat menyembuhkan, gundik yang disayang itu. Bukan saja tak dapat menyembuhkan, bahkan pendapat mereka mengenai sebab musebab penyakit itu pun berbeda. Ho Thay Ciong telah mengancam bahwa jika Ngo kouw mati, ketujuh “tabib-tabib goblok” itu akan dikubur hidup-hidup. Mereka sudah memeras otak dan memberi macam-macam obat, tapi penyakit Ngo kouw tidak jadi mendingan. Setiap kali memeriksa penyakit nyonya itu, mereka tidak habis-habisnya dan saling menyalahkan. Yang satu menuduh yang lain sebagai manusia goblok. Kali ini tidak berbeda. Sesudah memeriksa nyonya itu, mereka segera tarik urat.

Ho Thay Ciong jadi gusar dan ia mencaci sambil berteriak-teriak.

Mendadak, serupa ingatan berkelabat dalam otak Ciam Coen. “Soehoe,” katanya, “Dari Holam teecoe membawa seorang tabib, yang biarpun usianya masih muda, kepandaiannya banyak lebih tinggi daripada tabib-tabib itu.”

Sang guru girang. “Mengapa kau tidak memberitahukan terlebih siang,” katanya tergesa-gesa. “Lekas…lekas undang padanya.”

Nona Ciam segera keluar dari kamar dan tak lama kemudian, ia kembali bersama Boe Kie. Begitu melihat wajah Ho Thay Ciong, Boe Kie segera ingat bahwa orang tua itu adalah salah seorang yang sudah turut merekan, sehingga kedua orang tuanya membunuh diri. Mengingat peristiwa hebat itu, darahnya lantas saja naik.

Tapi Thie Kim Sianseng sendiri tentu saja tidak mengenalinya. Sesudah berselang beberapa tahun, muka si bocah sudah banyak berubah. Dengan perasaan ia mengawasi Boe Kie yang baru berusia kira-kira lima belas tahun. Rasa sangat itu bercampur juga dengna rasa mndongkol karena si bocah bukan saja tidka menjalankan peradatan dengan berlutut, bahkan sikapnya tawar dan agung-agungan. Tapi ia tidak menghiraukan semua itu. “Apa dia tabib yang dipujikan olehmu?” tanyanya sambil mengawasi muridnya.

“Benar,” jawab si nona. “Saudara kecil in mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.”

Ho Thay Ciong mengeluarkan suara di hidung. Ia tak percaya.

“Waktu teecoe kena racun bunga To-lo hijau saudara kecil inilah yang mengobati teecoe,” menerangkan Ciam Coen. Sekali ini sang guru terkesiap. Racun bunga To lo hijau adalah racun yang sangat lihai menurut anggapannya, tanpa obat pemunah yang diberikan olehnya sendiri, siapa yang kena pasti akan mati. Kalu benar bocah itu bisa memunahkan racun tersebut ia benar-benar lihay. Maka dari itu, sambil menatap wajah Boe Kie, ia bertanya dengan suara manis. “Anak muda, benarkah kau bisa mengobati penyakit?”

Mengingat nasib kedua orang tuanya, Boe Kie membenci si tua itu. Tapi pada hakekatnya ia memiliki sifat-sifat mulia dan ia seorang yang mudah melupakan segala sakit hati. Kalau tidak memiliki sifat yang baik itu, mana mau ia mengobati orang-orang seperti Kan Ciat dan Sie Kong Wan? Ia merasa, bahwa Koen loen pay mempunyai andil sebagai partai yang turut menjadi gara-gara dari kebinasaan orang tuanya. Tapi ia adalah seorang yang tidak bisa menonton kebinasaan tanpa mengulurkan tangan. Maka itulah, ia sudah menolong Ciam Coen, seorang murid Koen loen pay, dan Souw Hie Cie. Sekarang mendengar pertanyaan si tua, meskipun hatinya gusar, ia manggutkan kepalanya.

Begitu masuk, ia mengendus bau luar biasa. Sesaat kemudian, ia merasa bau itu berubah-ubah sebentar keras, sebentar hilang. Ia mendekati mengawasi muka si sakit dan memegang nadinya. Mendadak ia mengeluarkan sebatang jarum emas yang lain ditusukkan di muka Ngo kouw yang bengkak seperti labu.

Ho Thay Ciong terkejut. “Bikin apa kau?” bentaknya serta mengangsurkan tangan untuk menjambret Boe Kie, tapi bocah itu sudah mencabut jarumnya. Ternyata bekas tusukan jarum sama sekali tidak mengeluarkan darah atau cair. Boe Kie lalu mencium-cium jarum itu dan manggut-manggutkan kepalanya. Sehingga dalam hati Thie Kim Sianseng timbul harapan baru. “Saudara…saudara kecil,” katanya. Apakah ada harapan?” Bahwa sebagai seorang pemimpin sebuah partai persilatan, ia sudah menggunakan istilah “saudara kecil” merupakan bukti, bahwa ia berlaku hormat terhadap si bocah.

Tapi Boe Kie tidak menyahut. Sekonyong-konyong ia merangkak ke kolong ranjang dan sesudah memeriksa kolong ranjang itu beberapa saat, barulah ia keluar lagi. Kemudian ia membuka jendela dan mengawasi pohon-pohon bunga yang ditanam di dalam taman. Mendadak ia melompat dan keluar dari jendela lalu berdiri tegak sambil memandang pohon-pohon di sekitarnya, seolah-olah ia sedang menikmati bunga-bunga yang beraneka warna dan harum baunya.

Ho Thay Ciong mendongkol. Karena sangat mencintai gundiknya itu, maka ia sudah memerintahkan muridnya untuk menanam pohon-pohon bunga yang luar biasa dan mahal harganya di luar jendela kamar Ngo kouw. Sekarang, ia sedang mengharap-harap pertolongan selekas mungkin, sebaliknya dari menolong, si tabib cilik membuang-buang waktu dengan mengawasi pohon-pohon bunga itu. Bagaimana ia tak jadi mengeluh?

Sesudah berdiri beberapa lama, Boe Kie kembali manggut-manggutkan kepalanya, ia balik ke kamar.

“Penyakit itu masih dapat diobati, tapi aku tak sudi mengobatinya,” katanya dengan suara kaku. “Ciam Kouwnio, aku mau pergi”.

“Saudara Thio, kumohon pertolonganmu,” kata nona Ciam. “Kalau kau bisa menolong Ngo kouw, segenap anggota Koen loen pay, dari atas sampai di bawah, akan merasa sangat berterima kasih. Saudara Thio, tolonglah”.

Boe Kie menggelengkan kepalanya sambil menuding Ho Thay Ciong, ia berkata, “Dia, Thie Kim Sianseng, turut mengambil pada bagian waktu sejumlah manusia kejam memaksa kedua orang tuaku membunuh diri. Perlu apa aku menolong jiwa gundiknya?”

Ho Thay Ciong terkesiap. “Saudara kecil, kau she apa?” tanyanya. “Siapa ayah dan ibumu?”

“Aku she Thio,” jawabnya dengan suara tawar.

“Mendiang ayahku adalah murid kelima dari Boe tong pay”.

Si tua jadi lebih kaget lagi. Baru sekarang ia tahu, bahwa anak tanggung itu puteranya Thio Coei San. Buru-buru ia mencoba dan berkata.

“Saudara Thio, pada waktu ayahmu masih hidup, aku bersahabat baik dengannya. Bahwa ia telah membunuh diri sudah sangat mendukakan hatiku…”

“Setelah kedua orang tuamu meninggal dunia, beberapa kali Soehoe menangis”. Ciam Coen menambah dusta gurunya. Beliau sering mengatakan bahwa mendiang ayahmu adalah sahabatnya yang paling akrab”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: