To Liong To – 6

Guna menyenangkan orang-orang yang mencintainya, Boe Kie selalu memaksakan diri untuk bergembira. Tapi sang kakek guru dan paman-paman itu merasa, bahwa turunan tunggal dari Thio Coei San sudah tak dapat ditolong lagi.

Selagi repot mengobati lukanya, tokoh-tokoh Boe tong pay tak punya tempo lagi untuk mencari musuh-musuh yang telah mencelakakan Jie Thay Giam dan Boe Kie. Selama dua tahun itu, Kauw coe Peh bie kauw, In Thian Ceng, berulang kali mengirim utusan untuk menengok cucu luarnya dan menghadiahkan banyak barang-barang berharga. Tapi mengingat bahwa secara tidak langsung Jie Thay Giam dan Thio Coei San celaka dalam tangan Peh bie kauw, pendekar-pendekar Boe tong selalu mengirim pulang barang-barang itu. Bahkan satu kali Boh Seng Kok menghajar juga utusan In Thian Ceng. Mulai waktu itu, In Thian Ceng tidak pernah mengirim orang lagi.

Tanpa terasa hari perayaan Tiong cioe tiba kembali. Menurut kebiasaan, Thio Sam Hong dan murid muridnya merayakan hari itu. Tapi pada kali sebelum mereka duduk dimeja perjamuan, penyakit Boe Kie mendadak kambuh lagi. Selebar mukanya bersinar hijau dan tubuhnya menggigil. Sebab kuatir merusak kegembiraan kakek guru dan paman-pamannya, sambil mengertak gigi, ia coba mempertahankan diri. Tapi gejala kumatnya penyakit sudah tentu tidak dapat disembunyikan. Dengan penuh rasa cinta, In Lie Heng mendukung keponakan itu kekamarnya, menyelimutinya dan membuat satu perapian.

Tiba tiba Thio Sam Hong berkata: “Besok bersama Boe Kie, aku akan pergi ke Siauw lim sie di Siongsan”

Semua murid Thio Sam Hong tertegun. Mereka mengerti, bahwa dalam keadaan mendesak dan karena cintanya terhadap si cucu murid, guru itu rela menundukkan kepala dihadapan Siaum Lim sie untuk meminta pertolongan.

Mereka mengerti bahwa sang guru mengharap, dengan Kioe yang Cin keng yang lengkap, jiwa Boe Kie akan bisa ditolong. Sebagaimana diketahui, kioe yang Cin keng yang dimiliki Thio Sam Hong masih ada kekurangannya.

Dua tahun berselang, waktu Thio Sam Hong merayakan hari ulang tahunnya yang keseratus, perhubungan antara Siauw lim dan Boe tong telah menjadi retak. Dengan kedudukannya sebagai seorang guru besar dari sebuah partai ternama, kepergian Thio Sam Hong ke Siauw lim sie untuk meminta pertolongan, sungguh akan menurunkan derajat Boe tong pay. Akan tetapi, demi cinta yang tidak mengenal batas, guru besar itu telah menyampingkan segala nama kosong. Sesudah tertegun, semua muridnya menghela napas dengan rasa kagum akan kebesaran jiwa sang guru.

Sebenarnya, Go bie paypun mengenal sebagian Kioe yang Cin-keng. Akin tetapi, Biat coat Soe thay sungkan menemui orang luar. Beberapa kali, Sam Hong telah memerintahkan in Lie Heng membawa suratnya ke gunung Go bie san. Tapi pendeta wanita itu tidak menggubris dan memulangkan surat surat itu, tanpa dibuka. Maka itulah jalan satu-satunya yang masih terbuka yalah minta pertolongan Siauw Lim sie.

Sam Hong mengerti, bahwa jika ia cuma mengutus murid-muridnya ke Siauw lim sie, Kong-boen Taysoe beramai pasti tidak akan meladeni. Dari sebab itu, ia telah mengambil keputusan untuk pergi sendiri.

Demikianlah, perjamuan itu diliputi dengan kemasgulan dan sesudah meneguk beberapa cawan arak, mereka lalu bubar.

Pada keesokan barinya, pagi-pagi benar guru itu berangkat dengan mengajak Boe Kie, diantar oleh muridnya sampai dikaki gunung. Song Wan Kiauw dan saudara saudaranya sebenarnya ingin turut serta, tetapi dilarang karena Sam Hong kuatir datangnya banyak orang akan menimbulkan kecurigaan bagi pihak Siauw lim.

Dengan masing-masing menunggang keledai, si kakek dan si bocah menuju ke arah utara. Jarak antara Siauw Lim dan Boe-tong, dua pusat persilatan pada jaman itu, tidak terlalu jauh. Dari Boe-tong-san Ouw-pak utara, ke Siong-san di Ho lam barat, hanya memerlukan pelayaran beberapa hari. Sesudah menyeberangi sungai Han soe di Loo ho kow, mereka tiba di Lam yang. Terus menuju ke utara sampai di Nie-coo dan sesudah membelok kearah barat, tibalah mereka digunung Siong san.

Sesudah mendaki Siauw sit san, mereka menambat keledai didahan pohon dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Sambil berjalan, Sam Hong ingat kejadian pada delapanpuluh tahun lebih yang lalu, kapan dengan memikul dua tahang
mendiang gurunya, Kak wan Taysoe mengajak ia dan Kwee Siang melarikan diri dari Siauw Lim sie. Kejadian itu sudah hampir seabad, tapi seolah olah baru terjadi kemarin. Ia menghela napas dan hatinya terharu bukan main, karena diluar semua perhitungan, hari ini ia kembali ketempat dulu. Ia mengawasi puncak-puncak gunung dan kuil Siauw lim sie yang tiada berbeda seperti ada delapanpuluh tahun berselang. Tapi orang orang yang dicintainya yaitu Kak wan dan Kwee Siang, sudah tidak ada lagi didalam dunia.

Tak lama kemudian, mereka tiba di pendopo Lip soat teng. Kebetulan, dua pendeta kelihatan mendatangi. Sam Hong menghampiri dan sesudah memberi hormat, ia berkata: “Aku minta pertolongan soehoe (tuan pendeta) untuk melaporkan kepada Hong thio Taysoe (kepala kuil), bahwa Thio Sam Hong minta bertemu.”

Mendengar nama “Thio Sam Hong,” kedua pendeta itu terkejut. Dengan mata membelalak, mereka mengawasi kakek itu yang bertubuh tinggi besar, berambut dan berjenggot putih, sedang mukanya yang bersemu merah selalu bersenyum-senyum. Dilain saat, mereka tercengang karena orang yang mengaku bernama Thio Sam Hong itu, mengenakan jubah imam yang mesum.

Mereka tak tahu, bahwa guru besar itu memang seorang sembarangan, sembarangan cara-caranya dan sembarangan pula dalam berpakaiannya. Maka itulah, dibelakangnya sejumlah orang Kangouw menyulukinya sebagai “Tah-tah Toojin” (si imam mesum) dan ada juga orang yang menamakadnya “Thio Tah-tah”

Melihat begitu, kedua pendeta itu agak kurang percaya. “Apa kau Thio ….Thio Cinjin dari Boe tong pay?” tanya salah seorang.

Sam Hong tertawa. “Apa ada Thio Sam Hong palsu?” tanyanya.

Mendengar jawaban itu yang bernada guyon-guyon dan sama sekali bebas dari keangkeran seorang guru besar dari sebuah partai persilatan yang besar, sipendeta makin tidak percaya.

“Apa kau tidak main main ?” tanyanya pula.

Sam Hong kembali tertawa. “Apakah Thio Sam Hong berharga sedemikian besar, sehingga ia mesti dipalsukan?” tanyanya pula.

Dengan penuh kesangsian, kedua pendeta itu berlari-lari kearah kuil untuk melaporkan. Sesudah lewat sekian lama, pintu ditengah kuil terbuka dan Hong thio Kong boen Taysoe muncul bersama-sama Kong tie dan Kong seng. Dibelakang mereka mengikuti lima orang pendeta tua yang mengenakan jubah pertapaan warna kuning muda. Sam Hong tahu, bahwa mereka, adalah anggauta angqauta dari Tat mo ih dan tingkatan mereka mungkin lebih tinggi daripada Kong boen dan saudara saudara sepenguruannya. Mereka itu biasanya menyembunyikan diri didalam kuil untuk mempelajari dan merenungkan ilmu silat Siauw lim sie. Sebegitu jauh, anggauta-anggauta tat mo ih tidak pernah mencampuri urusan lain. Tapi sekarang, rupanya karena mendengar kedatangan orang orang Boe tong pay, Kong boen sudah merasa perlu untuk mengajak kelima tetua itu.

Sam Hong segera bertindak keluar dari pendopo Lip soat teng dan sambil memberi hormat, ia berkata: “Siauwtoo merasa berat untuk menerima sambutan dari para Taysoe.” (Siauwtoo – Aku si imam kecil)

Kong boen dan yang lain-lain segera merangkap tangan.

“Kedatangan Thio Cinjin diluar dugaan siauwceng (aku sipendeta kecil),” kata Kong boen. “‘Apakah maksud kedatangan Cinjin?”

“Ingin minta pertolongan.” jawabnya.

“Duduklah, duduklah,” mengundang Kong boen. Sesudah duduk dipendopo itu dan disuguhkan teh, didalam hati, Sam Hong merasa mendongkol, “Biar bagaimanapun juga, aku adalah guru besar dari sebuah partai,” pikirnya. “Tingkatanku lebih tinggi daripada kamu. Mengapa kamu tidak mengundang aku masuk dikuil?” Tapi sebagai manusia yang sembarangan dan terbuka, perlakuan yang kurang pantas itu tidak dibuat pikiran olehnya.

Tapi Kong boen sendiri rupanya sudah merasakan adanya ketidak pantasan. Katanya: “Menurut adat istiadat, kami harus mengundang Thio Cin jin masuk kedalam kuil. Tapi hal itu tidak dapat dilakukan, karena dulu, diwaktu muda, Thio cin jin pernah meninggalkan Siauw lim sie tanpa pamitan. Peraturan kuil kami, yang sudah dipertahankan selama ratusan tahun, tentulah juga diketahui Thio Cinjin. Setiap murid yang melarikan diri atau murid yang berkhianat, seumur hidupnya tidak dipermisikan menginjak lagi kuil kami. Menurut peraturan itu, siapa yang melanggarnya harus di kutungkan kakinya.”

Thio Sam Hong tertawa terbahak bahak. “Oh, begitu ” katanya. “Memang benar, waktu masih kecil, Siauwtoo pernah berdiam di Siauw lim sie dan merawat Kak wan Taysoe. Akan tetapi, apa yang dilakukan Siauwtoo hanyalah menyapu lantai dan masak air. Siauwtoo belum pernah mencukur rambut dan juga belum pernah mengangkat guru. Maka itu, pada hakekatnya orang tidak dapat mengatakan, bahwa Siauwtoo adalah murid Siauw lim sie.”

Kong tie tertawa dingin. “Tapi tidak dapat disangkal bahwa ilmu silat Thio Cinjin adalah curian dari Siauw Lim sie,” katanya.

Darah guru besar itu lantas saja naik, tapi di lain saat, ia dapat memulihkan ketenangannya. Pikirnya: “Biarpun ilmu silat Boe tong adalah hasil jerih payahku selama empat puluh tahun, tapi jika mau diusut sumbernya, memang juga bersumber dari Siauw lim sie. Jika Kak wan Taysoe tidak menghadiahkan aku dengan sepasang Loohan besi, mungkin sekali aku tak akan bisa menjadi seorang ahli silat. Maka itu kalau dikatakan ilmu silatku bersumber dari Siauw lim sie, pernyataan itu tidak terlalu salah.”

Memikir begitu, ia lantas saja berkata: “Kedatangan Siauwtoo justeru untuk persoalan itu.”

Kong boen dan Kong tie saling mengawasi. “Aku mohon Thio Cinjin suka menjelaskannya.” Kata Kong boen.

“Barusan Kong tie Taysoe mengatakan, bahwa ilmu silat Siauwtoo didapat dari Siauw lim sie,” menerangkan Sam Hong. “Pernyataan itu adalah benar. Dulu, Siauwtoo telah merawat Kak wan Taysoe dan beliau telah menurunkan ilmu dari kitab Kioe yang Cin keng yang ditulis sendiri oleh Tat mn Loocauw kepadaku. Akan tetapi, karena pada waktu itu Siauwtoo masih kecil, maka apa yang didapatkan masih banyak kekurangannya dan hal itu merupakan penyesalan besar dalam hatiku. Waktu Kak wan Taysoe menghafal Cin keng, ada tiga orang yang mendengarnya. Yang satu adalah pendiri Go bie pay, Kwee Siang Liehiap, yang lain Boe Sek Siansoe dan yang ketiga yalah Siauwtoo sendiri. Karena berusia paling muda, berotak paling timpul dan waktu itu Siauwtoo belum pernah belajar silat, maka ape yang didapatkan Siauwtoo paling sedikit.”

“Wungkin sekali tidak sedemikian,” kata Kong tie dengan suara dingin. “Sedari kecil Thio Cin jin merawat Kak wan. Selama beberapa tahun itu, apa tidak bisa jadi diam-diam Kak wan telah menurunkan banyak ilmu silat kepada Thio Cinjin? Sekarang, nama Boe tong pay menggetarkan seluruh jagat dan menurut pendapatku, semua itu yalah hadiah dari Kak wan.”

Tingkatan Kak wan Taysoe Iebih tinggi tiga tingkat daripada Kong tie. Menutut pantas, ia harus menggunakan istilah “Toa soesiok couw.” Akan tetapi, lantaran Kak wan meninggalkan Siauw lim sie di tengah jalan dan namanya sudah dicoret, maka dalam pembicaraan, Kong tie sudah tidak menggunakan istilah yang menghormat. Tapi Thio Sam Hong sendiri buru-buru bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk “Budi Siansoe (mendiang guru) yang sangat besar, selalu tak dapat dilupakan Siauwtoo.” Sikapnya itu yalah untuk menghormat mendiang gurunya.

Diantara empat Seng ceng (pendeta suci) dari Siauw lim sie, yang berhati paling mulia yalah Kong kian Taysoe. Hanya sayang siang-siang ia sudah meninggal dunia. Kong boen seorang pintar dan bijaksana, rasa girang dan gusarnya jarang diutarakan pada paras mukanya. Kong seng seorang sembrono dan polos sering sering bertindak atau berbicara seenaknya saja. Antara mereka itu Kong tie lah yang berpemandangan paling sempit.

Sering-sering Kong tie merasa mendongkol, karena didalam Rimba Persilatan, nama Boe tong sudah berendeng dengan Siauw Lim, sedang menurut anggapannya, ilmu silat Boe tong adalah “curian” dari Siauw lim sie.

Kunjungan Sam Hong pada hari itu dianggapnya bertujuan untuk membalas sakit hati Thio Coei San. Disamping itu, masih ada lain hal yang dibuat ganjalan olehnya. Sebagaimana diketahui sebelum membunuh diri, In So So telah berlagak membisiki sembunyinya Cia Soen dikuping Kong boen. Siasat itu siasat sangat beracun. Selama dua tahun, tiada henti hentinya jago-jago Rimba Persilatan mengunjungi Siauw Lim sie untuk menanyakan dimana adanya Cia Soen. Kong boen bersumpah keras keras bahwa ia tidak tahu. Tapi pada hari itu, diruang besar “Giok hie koan”, semua mata juga telah melihat, bahwa So So telah membisikkan sesuatu dikupingnya. Siapa yang mau percaya keterangan Kong boen?

Selama dua tahun, sebab gara-gara itu, banyak pertempuran telah terjadi. Tamu-tamu banyak yang binasa atau terluka, tapi pihak Siauw lim pun tidak bebas dari kerusakan. Dan kalau di hitung hitung, menurut pendapat Kong tie yang menanam bibit penyakit yalah Boe tong pay.

Sekarang, diluar dugaan Thio Sam Hong datang sendiri. Dapat dimengerti, jika Kong tie sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik itu untuk melampiaskan rasa mendongkolnya. “Thio Cinjin sudah mengaku, bahwa ilmu silat Boe tong adalah titian dari Siauw lim sir,” katanya pula. “Hanya sayang pengakuan itu tidak didengar oleh lain orang.”

Tapi, walaupun diejek, Sam Hong tenang luar biasa. “Ilmu-ilmu silat dikolong langit sebenarnya bersumber satu,” katanya dengan suara sabar. “Selama ratusan, selama ribuan tahun, tokoh-tokoh Rimba Persilatan memperkembangkan, memperbaiki dan menambal kekurangan-kekurangan yang terdapat dalm ilmu-ilmu silat. Maka itu, diwaktu sekarang, sukarlah dikatakan ilmu silat mana yang benar-benar merupakan sumber dari semua ilmu silat. Tapi, bahwa Siauw lim pay merupakan pemimpin dari Rimba Persilatan, adalah kenyataan yang diakui oleli semua orang. Hari ini, kedatangan Siauwtoo justeru karena mengagumi ilmu silat dari partai kalian. Siauwtoo mengakui kekurangan sendiri, makanya ingin minta pelajaran dari para Taysoe..”

Kong boen dan yang lain-lain terkejut. Mereka menafsirkan, bahwa kata-kata “meminta pelajaran” sebagai suatu tantangan. Paras muka mereka lantas saja berubah dan untuk beberapa saat, keadaan sunyi. Akhirnya, yang bicara paling dulu adalah Kong seng, sisembrono. “Baiklah, toosoe tua,” katanya “Jika kau mau menjajal kepandaian kami, akupun tidak takut.”

“Kalian hendaknya jangan salah mengerti ” kata Sam Hong cepat-cepat, “Siauwtoo mengatakan mau minta pelajaran, dan pernyataan itu adalah hal yang sesungguhnya. Dalam mempelajari Kioe yang Cin keng yang diturunkan oleh Siansoe, ada banyak bagian yang belum siauwtoo ketahui. Jika kalian sudi mengajar bagian bagian yang kurang itu, siauwtoo akan merasa berterima kasih tidak habisnya.” Sesudah berkata begitu, ia bangun berdiri dan membungkuk.

Pernyataan Thio Sam Hong mengejutkan semua orang. Thio Sam Hong adalah pendiri partai yang ilmu silatnya tersohor di seluruh jagat. Sesudah mencapai usia seratus tahun lebih, baik nama dan kepandaian maupun tingkatan, pada jaman itu tiada orang yang bisa merendenginya. Maka itu, adalah suatu keanehan, bahwa guru besar itu meminta pelajaran dari pendeta-pendeta Siauw lim sie.

Kong boen buru-buru bangun berdiri dan membalas hormat. “Thio Cinjin, janganlah Cinjin ber guyon guyon,” katanya. “Kami adalah orang-oiang yang tingkatannya rendah dan pelajarannya cetek. Bagaimana kami bisa memberi pelajaran?”

Sam Hong mengerti, bahwa pernyataannya terlalu aneh. Maka itu ia lantas saja menceriterakan sejelas-jelasnya duduknya persoalan. Ia menandaskan, bahwa kedatangannya itu yalah untuk menolong jiwa Boe Kie. la mengatakan bahwa ia bersedia memberitahukan pihak Siauw lim segala pelajaran yang telah diperolehnya dari Kioe yang Cin keng dengan harapan, bahwa pihak Siauw lim sudi memberitahukannya bagian bagian Kioe yang Cin keng yang belum dimengerti olehnya.

Sesudah berpikir agak Iama, Kong boen berkata: “Semenjak ribuan tahun, diantara tujuhpuluh dua macam ilmu silat Siauw lim sie, belum pernah ada seorang murid yang berhasil mempelajari lebih daripada duabelas macam.”

“Ilmu yang dimiliki Thio Cinjin memang ilmu yang sangat luar biasa. Akan tetapi, ilmu silat yang diwariskan oleh leluhur partai kami dengan sesungguhnya sudah terlalu banyak, sehingga, untuk mempelajari sepersepuluhnya saja, sudah tidak gampang. Thio Cinjin menyatakan bersedia untuk menukar ilmu dengan partai kami dan untuk kesudian itu, kami merasa berterima kasih. Tapi jika dipandang dari sudut kami, kami sebenarnya tak perlu menambah ilmu, sebab kami sendiri sudah memiliki terlampau banyak.”

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula: “Ilmu silat Boe tong bersumber dari Siauw lim. Jika hari ini kedua belah pihak tukar menukar ilmu, maka dikemudian hari, orang orang yang tidak tahu duduknya persoalan, akan mengatakan, bahwa meskipun ilmu silat Boe tong bersumber dari Siauw lim, Siauw lim pay pun pernah memperoleh pelajaran dari Thio Cinjin. Sebagai Ciang boenjin dari Siauw lim pay, desas desus yang semacam itu benar-benar tidak bisa di pertanggung jawabkan oleh Siauw ceng.”

Diam-diam Sam Hong menghela napas. Ia merasa menyesal, bahwa Kong boen Taysoe, salah seorang dari empat pendeta suci, bisa mempunyai pemandangan yang sedemikian sempit. Akan tetapi karena kedatangannya adalah untuk meminta bantuan orang, maka sebisa-bisanya ia menahan sabar dan tidak menegur. “Sam wie adalah Seng Ceng (Pendeta suci), selalu menaruh belas kasihan terhadap segenap umat manusia” Katanya dengan suara memohon: ” Jiwa anak ini tergantung atas selembar rambut. Maka itu, dengan mengingat welas asihnya Sang Buddha, siauwtoo memohon pertolongan dan untuk itu, siauwtoo berterima kasih tidak habisnya.”

Kong tie tertawa dingin. “Benar, memang benar seorang beribadat harus menaruh belas kasihan kepada, ummat manusia,” katanya dengan tawar. “Tapi berapa banyak murid Siauw lim telah binasa didalam tangan Thio Coei San Thio Ngo hiap dan isterinya? Karena mereka berdua sudah membunuh diri sendiri, kamipun tidak mau menarik panjang urusan ini. Kalau mau ditarik panjang, kalau kami mau bersendirian, bahwa satu jiwa harus dibayar dengan satu jiwa pula, maka anak inipun harus diserahkan untuk membayar hutang.”

Semenjak tadi, Boe Kie yang berdiri disamping kakek gurunya sudah naik darah. Sebegitu jauh, sedapat dapatnya ia menekan hawa amarahtnya. Sekarang begitu mendengar disebutkanaya ayah ibunya, ia tak bisa menahan sabar lagi.

“Thay soecouw,” katanya dengan suara nyaring, “hweeshio hweeshio ini telah melaksanakan kematiannya ayah dan ibuku. Aku lebih suka lantas mati sekarang daripada memohon pertolongan mereka!”

“Diam!” bentak Sam Hong. “Dihadapan orang orang tua, tak boleh kau ngaco-belo. Kematian ayah dan ibumu tiada sangkut pautnya dengan pendeta pendeta suci itu.”

Boe Kie tidak berani membuka mulut lagi. Tapi sebagai seorang yang beradaat angkuh, diam-diam ia mengambil keputusan untuk menolak pertolongan para pendeta itu, andaikata pertolongan itu mau diberikan.

Selagi Sam Hong menohon dan memohon lagi, tiba-tiba terdengar suara tindakan kuda dan lima orang penunggang kuda kelihatan mendatangi. Orang yang berjalan paling depan bertubuh tinggi besar dan beroman garang, macamnya seperti satu pagoda besi. Begitu tiba didepan Lip soat teng, ia menahan les dan berseru: “Bagus!”

Teriakan “bagus!” itu bagaikan suara halilintar, sehingga semua orang terkejut.

Sambil mengawasi Kong boen, orang itu berkata: “Bwee Ciok Kian dari Boe san pang ingin bertemu dengan Hong thio Siauw lim Sie. Harap kalian sudi melaporkannya.”

Kata kata itu yang diucapkan secara biasa, kedengaran sangat keras dan menusuk telinga. Rupanya, sebab memiliki suara keras yang wajar, ditambah dengan daya Lweekang, maka suaranya begitu hebat.

Mendengar nama Bwee Ciok Kian, Boe Kie lantas saja ingat peristiwa yang dialaminya pada dua tahun berselang, yaitu waktu ia menghajar Ho Losam yang telah mengancamnya dengan ulat berbisa. Melihat kegarangan orang itu, ia lalu bersembunyi dibelakang sang kakek guru, karena kuatir dikenali.

Kong boen mengerutkan alis. Ia yakin, bahwa tujuan Bwee Ciok Kian adaiah untuk menyelidiki tempat sembunyinya Cia Soen. Mengingat begitu, ia jadi lebih mendongkol terhadap Coei San dan isterinya yang dianggapnya sudah menyebar bibit penyakit. “Ada urusan apa tuan mencari Hong thio kuil kami?”

Bwee Ciok Kian segera melompat turun dari tunggangannya, dan menjawab seraya merangkap kedua tangannya: “Aku ingin menyelidiki kediamannya seorang.”

“Seorang, pendeta tidak mencampuri urusan luar, ia hanya membaca kitab dan bersembahyang,” kata Kong tie. “Jika Bwee Pangcoe ingin menyelidiki kediaman seseorang, Siauw lim sie bukan tempatnya.”

“Bolehkah aku mendapat tahu, siapa adanya Taysoe ?” tanya Ciok Kian.

“She dan nama adalah sesuatu yang berada di luar badan dan seseorang boleh menggunakan ilmu apapun jua,” jawab Kong tie secara menyimpang.

“Hai! Nama saja Taysoe sungkan memberitahukan,” kata Bwee Ciok Kian dengan suara keras. “Kalau begitu, perjalananku ke Siong san percuma saja.”

Mendadak Kong tie mendapat serupa pikiran “Belum tentu percuma.” katanya. “Bukankah Pangcoe ingin menyelidiki tempat kediaman Kim mo Say ong Cia Soen ?”

“Benar, puteraku yang sulung telah dibinasakan oleh Cia Soen” jawabnya, “Jika Taysoe dapat memberi petunjuk, segenap anggauta Boe san pang akan berterima kasih tidak habisnya.”

“Kedatangan Pangcoe dihari ini dan diwaktu ini adalah kebetulan sekali,” kata Kong tie. “Jika datang kemarin atau datang besok, kedatangan Pangcoe akan percuma saja”

Mendengar itu, bukan main girangnya Bwee Ciok Kian. “Terima kasih atas petunjuk Tay-soe.” katanya.

“Dalam dunia hanya seorang yang tahu tempat bersembunyinya Kim mo Say ong Cia Soen,” kata Kong tie dengan suara perlahan “Orang itu yalah saudara kecil yang berdiri disitu. Dia adalah putera dari Thio Coei San, Thio Ngohiap, dari Boe tong pay.” Seraya berkata begitu, ia menuding Boe Kie.

Waktu Bwee Ciok Kian baru datang, Boe Kie ketakutan dan bersembunyi dibelakang Thio Sam Hong. Tapi sekarang, melihat bahaya sudah tidak dapat dielakkan lagi dan juga mendengar disebutkannya nama ayahnya, ia jadi nekat. Ia merasa, bahwa sikap pengecut sangat menurunkan keangkeran mendiang ayahnya. Ia segera maju ke depan seraya berkata: “Bwee Pangcoe, kau sungguh tidak mengenal malu !”

Semua orang terkesiap. Siapapun juga tak pernah menduga, bahwa bocah kurus kering itu mempunyai nyali yang begitu besar.

“Bocah ! Apa kau mau mampus!” bentak Bwee Ciok Kian.

Boe Kie keder, tapi sambil mengempos semangat, ia berkata: “Dua tahun lebih yang lalu kau telah menyuruh seorang yang barnama Ho Loosam menyamar sebagai murid Kay pang dan Ho Loosam itu telah coba menawan aku. Benarkah begitu? Mengapa kau menggunakan nama Kay pang ? Benar-benar kau tidak mengenal malu!”

Paras muka Bwee Ciok Kian merah padam. Ia mengangkat tangannya, dan lalu menggaplok Boe Kie. Sebab kuatir membinasakan si bocah, ia hanya menggunakan sebagian tenaganya, tapi biarpun begitu, tenaganya yang memang besar sudah pasti tak akan dapat disambut oleh anak itu.

Boe Kie ingin melompat mundur, tapi sudah tidak keburu lagi sebab tenaga telapak tangan Bwee Ciok Kian sudah “menutup” seluruh tubuhnya dan napasnya lantas saja menyesak. Karena tiada jalan, ia terpaksa mengangkat tangannya untuk menangkis.

Mendadak, ia merasa dari punggungnya masuk semacam hawa yang halus dan hangat. Sesaat itu tangannya sudah kebentrok dengan tangan Bwee Pangcoe. “Plak!” tubuh Bwee Ciok Kian terhuyung tiga tindak dan sesudah mengerahkan tenaga Ciang kin toei, barulah ia bisa berdiri tetap.

Bukan main rasa gusar dan malunya Bwee Pangcoe. Mukanya yang merah padam berubah seperti warna hati babi. Dengan mata seolah-olah mengeluarkan api, ia menacap wajah Boe Kie.

Waktu Ho Loosam melaporkan kecelakaan yang menimpa atas dirinya, ia tidak mau percaya. Sekarangpun, bahkan sesudah mengalaminya sendiri, Ia masih tidak percaya, bahwa bocah seperti Boe Kie mempunyai tenaga yang begitu hebat. Tafsiran satu-satunya yalah anak itu memiliki ilmu siluman.

Tapi para pendeta suci dari Siauw lim sie mengerti sebab musabab dari kejadian yang aneh itu. Mereka tahu, bahwa Thio Sam Hong telah membantu cucu muridnya dengan ilmu Kat tee Coan kang (ilmu mengoperkan tenaga). Dengan menggunakan ilmu tersebut, tangan Boe Kie menyerupai sebatang tongkat yang, digunakan oleh Thio Sam Hong untuk menangkis serangan lawan. Kat tee Coan kang bukan ilmu yang terlalu sukar dipelajari. Tapi penggunaan yang begitu bagus, sehingga tidak dapat dilihat lawan, sungguh-sungguh luar biasa. Diam-diam ketiga pendeta suci mengakui, bahwa mereka tidak mampu melakuan apa yang dilakukan oleh Thio Sam Hong.

Dilain saat, Bwee Ciok Kian sudab membentak pula: “Setan kecil! Sambut lagi pukulanku !” Ia mengempos semangat dan menghantam dada Boe Kie dengan sepenuh tenaga. Sambaran tenaga itu sedemikian hebat, sehingga pakaian semua orang jadi bergoyang-goyang. Para pendeta yang kena disambar angin pukulan, merasa dada mereka menyesak dan buru-buru mengarahkan Lwee kang untuk memunahkan tenaga itu.

Selama beberapa tahun Thio Sam Hong menutup diri untuk merenungkan ilmu silat dan Ilmu Thay kek kang, yang digubahnya sendiri sangat berbeda dengan Lweekang dari partai mana pun jua. Ia menggunakan kelemahan untuk melawan kekerasan, yang diam untuk menindas yang bergerak, yang sedikit untuk merebohkan yang banyak, yang kecil untuk menjatuhkan yang besar dan apa yang paling diutamakan yalah ilmu “meminjam tenaga, memukul tenaga.”

Melihat pukulan Bwee Ciok Kian yang sehebat itu, Sam Hong jadi mendongkol. “Kau sungguh kejam,” katanya didalam hati. “Terhadap anak yang masih begitu kecil, kau turunkan tangan yang begitu berat. Jika aku tidak berada disini, bukan kah Boe Kie akan bancur luluh?” Buru-buru ia menempelkan telapak tangannya dipunggung Boe Kie dan suatu daya Lweekang yang mahal dahsyat, yang dipatahkan dari latihan hampir seratus tahun, lantas saja menerobos masuk kedalam tubuh si bocah.

Sementara itu, Boe Kie sudah menyambut pukulan si raksasa dengan mengangkat tangan kanan nya mendorong dengan tangan kirinya, yaitu dengan menggunakan jurus Kian liong Cay tian

“Plak!”. kedua lengan tangan kebentrok, disusul dengan, “aaah!”, teriakan Bwee Ciok Kian yang tubuhnya terpental keluar bagaikan layangan putus. Sebelum orang tahu apa yang terjadi, badan si raksasa sudah jatuh diatas cabang pohon siong tua yang tingginya kira-kira lima tombak dari muka bumi. Begitu jatuh, si raksasa melupakan malu dan berteriak-teriak dengan ketakutan.

Meskipun hebat tenaga Sam Hom adalah tenaga “lembek”, sehingga Bwee Ciok Kian tak terluka sedikitpun jua. Tapi ia tidak berani melompat turun, karena tidak mengerti ilmunya mengentengkan badan. Maka itu dengan jantung berdebar keras, ia memeluk cabang pohon itu erat-erat.

Semua orang menyaksikan kejadian itu dengan rasa heran bercampur geli. Dua orang sebawahan Bwee Pangcoe yang mahir dalam ilmu ringan badan, lantas saja bergerak untuk menolong pemimpinnya.

Sementara itu, Sam Hong kelihatan bicara bisik bisik dikuping Boe Kie yang manggut-manggutkan kepalanya. Si bocah lantas saja menjemput sebutir batu kecil dan lalu menyentilnya kearah cabang pohon yang sedang dipeluk Bwee Pangcoe. Batu itu terbang dengan mengeluarkan bunyi mengaung, “Tak”…. cabang yang dipeluk si raksasa patah dan tubuhnya yang seperti pagoda besi segera ambruk kebawah! Boe Kie melompat dan menepuk punggung si korban.

Waktu melayang jatuh, Ciok Kian merasa pasti, bahwa ia akan terluka berat. Tapi diluar dugaan, ia dipapaki dengan tepukan dan badannya lantas ngapung lagi keatas. Selagi melayang kebawah untuk kedua kalinya, ia berniat menggunakan gerakan Lee hie hoan sin (Ikan gabus membalik badan) agar ia bisa hinggap ditanah diatas kedua kakinya. Tapi heran sungguh, tepukan Boe Kie membuat kaki tangannya lemas semua, sedikitpun tak dapat digerakkan. Demikianlah, ia jatuh ambruk dan sesudah itu, barulah ia dapat merangkak bangun.

Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa itu semua adalah perbuatan Thio Sam Hong. Begitu bangun terdiri, ia mengangkat kedua tangannya seraya berkata: “Enghiong kecil, aku merasa takluk terhadapmu.” Sehabis berkata begitu, buruburu ia menyemplak kudanya dan mengajak orang orangnya turun gunung secepat-cepatnya.

Kong boen dan yang lain-lain kaget tak kepalang. Sudah lama mendengar kelihayan Thio Sam Hong, tapi baru sekarang mereka menyaksikannya dan apa yang barusan dipertunjukkan oleh pendiri Boe tong pay itu adalah lebih hebat dari pada dugaan maka. Kong boen sebenarnya tak sudi saling menukar ilmu, tapi sesudah melihat kelihayan Sam Hong, ia berkata dalam hatinya: “Biar pun aku berlatih lima puluh tahun lagi, aku tak akan dapat menandinginya. Ia ternyata memiliki ilmu yang luar biasa, ia berkepandaian jauh Iebih tinggi dari pada aku, sehingga kalau toh aku tukar-menukar dengannya, aku tak rugi.”

Memikir begitu, in lantas saja bertanya: “Thio Cinjin, apakah ilmu Kat te Coan kang itu didapat dari Kioe yang Cin keng?”

“Bukan,” jawabnya. llmu ini dinamakan Thay kek kang, adalah ciptaan Siauwtoo. Aku yang telah menggubahnya dengan semacam ilmu pukulan yang diberi nama Thay kek loan Sip sam sit (Tigabelas jurus ilmu pukulan Thay kek) dan ilmu pukulan itu tiada sangkut pautnya dengan Kioe yang Cin keng. Manakala Thaysoe sudah menolong cucu muridku, aku tidak akan berlaku pelit dan bersedia untuk merundingkan ilmu pukulan itu bersama-sama kalian.”

Kong boen melirik Kong tie yang lantas saja mengangguk. “Kalau begitu, baiklah,” katanya, “Kami akan membuka rahasia Kioe yang Cin keng kepada Thio Kongcoe. Akan tetapi, kami hanya menurunkan ilmu itu kepada Thio Kongcoe seorang dan Thio Kongcoe tidak dapat mengajarkannya lagi kepada siapapun jua. Disamping itu, Thio Kongcoe juga tidak boleh menggunakan ilmu tersebut untuk bertempur dengan murid-muridnya Siauw Iim sie. Dalam kedua perjanjian ini, kamimenuntut sumpah yang berat dari Thio Kong coe”

Thio Sam Hong jadi girang sekali. “Boe Kie, kedua syarat itu boleh diterima baik,” katanya, “Ayolah, kau boleh bersumpah !”

Tapi anak itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak mau bersumpah dan akupun tak sudi belajar ilmu mereka,” katanya.

Sang kakek guru terkejut, tapi ia lantas saja mengerti perasaan anak itu. Ia tahu, bahwa Boe Kie beradat keras dan lebih suka mati daripada memohon-mohon di hadapan musuhnya. Maka itu, ia lantas saja menuntun anak itu dan mengajaknya keluar Lip soat teng.

Sesudah terpisah agak jauh dari pendeta-pendeta Siauw lim tie, ia berkata: “Anak, waktu mau berangkat, kau sudah berjanji akan menerima pelajaran dari Siauw lim pay. Mengapa sekarang ini kau justeru melanggar janji?”

“Mereka ingin aku bersumpah untuk tidak menggunakan ilmu Kioe yang Cin keng terhadap murid-murid Siauw lim sie,” jawabnya. “dengan adanya sumpah itu, cara bagaimana dibelakang hari aku bisa membalas dendam sakit hatinya kedua orang tuaku”

“Kalau sekarang ini kau menolak pelajaran Kioe yang Cin keng, dalam tempo setahun, kau akan meninggal dunia,” kata sang kakek guru. “Sesudah mati, bagaimana kau bisa menuntut balas? Didalam dunia terdapat banyak sekali ilmu silat yang sangat lihay. Jika nanti kau sudah berhasil, kau bisa membales sakit hati dengan menggunakan ilmu silat yang lain. Tak perlu kau menggunakan ilmu Kioe yang Cin keng. Kalau sudah mencapai puncak ke sempurnaan, ilmu manapun jua cukup untuk membalas sakit hatimu.”

Sesudah memikir sejenak, Boe Kie berkata “Baiklah, aku turut perintah Thay soehoe.” Mereka segera kembali ke Lip soat teng. Boe Kie lantas saja menekuk lutut dan berkata dengan suara nyaring: “Hari ini teecoe Thio Boe Kie menerima pelajaran Kioe yang Cin keng dari pendeta suci Siauw lim pay, dengan tujuan untuk mengobati luka. Teecoe berjanji tidak akan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain dan juga tidak akan menggunakan ilmu itu untuk bertempur dengan murid-murid Siauw lim sie. Kalau teecoe melanggar janji, biarlah teecoe mati membunuh diri sendiri, seperti apa yang dilakukan oleh ayah dan ibuku.”

Sebagaimana diketahui, pada waktu baru terlahir, Boe Kie telah diberikan kepada Cia Soen dan ia menggunakan she Cia. Coei San dan isteri nya ingin menunggu putera yang kedua guna menyambung turunan koluanga Thio. Sesudah kedua suami isteri itu binasa dan mereka tak punya anak yang lain, maka atas anjuran Lian Cioe, Lie Heng dan lain-lain paman, Boe Kie menggunakan lagi she Thio.

Sesudah bersumpah, Boe Kie bangun berdiri.

“Dibelakang hari aku akan menggunakan lain ilmu untuk membasmi hweeshio-hweeshio itu,” pikirnya dengan mendongkol.

Kong boen Thaysoe lantas saja merangkap kedua tangannya dan memuji: “Siancay, siancay Siauw siecoe (tuan kecil) telah bersumpah terlampau berat!” Ia berpaling kearah Thio Sam Hong dan berkata pula: “Kami akan mengajak Siauw sie coe kedalam kuil untuk memberikan pelajaran Sin kang. Tapi bagaimana dengan Thay kek Sip sam sit?”

“Aku minta kertas dan perabot tulis, dan di sini serta sekarang juga aku akan menulis Thay kek sip sam sit serta bagian-bagian Kioe yang Cinkeng yang dikenal olehku,” jawabnya.

“Kalau begitu, baiklah,” kata Kong boen yang lalu memberi hormat dan kemudian bersama yang lainnya, kembali kekuil dengan mengajak Boe kie.

Sambil berjalan, bukan main rasa mendongkolnya Boe Kie. “Kioe yang kang Boe tong belum tentu kalah dari Kioe yang kang Siauw lim” Pikirnya. “Kalau Thay Soehoe hanya menukar Kioe yang kang dengan Kioe yang kang, itu baru namanya adil. Tapi kamu mau ditambahkan juga dengan Thay kek koen Sip sam sit. Di samping itu, sesudah mempelajari Kioe yang kang Boe tong, kamu boleh turunkan ilmu itu kepada orang lain dan juga boleh menggunakannya terhadap murid murid Boe tong. Tapi pihak Boe tong tidak boleh. Inilah sangat tidak adil. Karena gara garaku seorang, Song Soepeh, Jie Soepeh dan yang lain-lain tidak akan bisa mengangkat kepala lagi. Hai! Bagaimana baiknya ?” la sangat berduka, tapi ia tidak berani membantah perintah sang kakek guru.

Setibanya di dalam kuil, Kong boen mengantar kan Boe Kie kesebuah kamar kecil. “Siauw Siecoo mengasolah disini,” katanya. “Aku akan segera mengirim orang untuk mengajar ilmu kepadamu.” Sehabis berkata begitu, ia mengebas dangan tangan jubahnya dan jalanan darah Sweehiat (jalanan darah yang jika tertotok menyebabkan tidur pulas) Boe Kie lantas saja tertotok.

Kong boen Taysoe adalab salah seorang dari empat pendeta suci dari Siauw lim sie. Tak usah dikatakan lagi, ia memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Begitu tertotok jalan darahnya, Boe Kie segera pulas dan menurut perhitungan, ia baru akan tersadar empat jam kemudian. Tapi Kong boen tak tahu, bahwa anak itu memiliki Lweekang luar biasa yang diturunkan oleh Cia Soen. Dan karena adanya Lweekang itu kedudukan jalan darahnya bisa berpindah-pindah. Dua tahun berselang, pada waktu ia dibawa oleb penculik yang menyamar sebagai serdadu Goan, jalan darah Ah hiatnya (jalan darah gagu) telah ditotok. Tapi toh, ia masih dapat berteriak “ayah!” Sekarangpun demikian. Baru pulas beberapa saat, ia sudah tersadar kemball.

Sesudah ingatannya pulih, ia mendengar suara Kong tie yang berkata: “Thio Tah tah adalah guru besar dari sebuah partai sehingga kalau dia sudah menyanggupi, ilmu yang ditulisnya pasti tidak palsu. Andaikata dia sengaja tidak menulis terang, sesudah mempelajarinya, aku merasa pasti kita akan mengerti.”

Kecurigaan Boe Kie lantas saja timbul. Ia kuatir kalau-kalau pendeta-pendeta itu mau berlaku licik. Maka itu, ia lantas saja memeramkan kedua matanya dan pura-pura pulas.

Tapi kecurigaan itu sebenarnya tidaklah perlu. Biarpun perhubungan antara Siauw lim dan Boe tong sudah agak renggang, tapi Kong boen, Kong tie dan Kong seng adalah pendeta suci yang tak akan merusak nama baik Siauw lim sie dengan akal bulus.

“Thay kek Sip sam sit dan Boe tong Kioe yang kang yang ditulis Thio Sam Hong sudah pasti tak palsu,” kata Kong boen. “Akan tetapi, kita sendiri belum pernah mempelajari Siauw lim Kioe yang kang. Apakah untuk kepentingan orang luar, kita harus memohon-mohon dihadapan Goan tin?”

Boe Kie kaget. la tidak pernah menduga bahwa pendeta pendeta suci itu belum pernah mempelajari Siauw lim Kioe yang kang. Kekuatirannya lantas saja timbul. Ia kuatir mereka turunkan ilmu palsu.

Sementara itu, Kong tie sudah berkata pula: “Soeheng, kau adalah Ciang boen Hong thio (pemimpin partai dan pemimpin kuil). Maka itu, menurut pendapatku, perintahmu tak dibantah oleh Goan tin, tindakanmu ini adalah untuk memperkaya Siauw lim pay dan bukan guna kepentingan sendiri.”

Kong Soen menghela napas. “Kalau Kong Kian Soeheng masih hidup, kita boleh tak usah menhadapi kesukaran ini,” katanya dengan suara meyesal. Sesudah berhenti sejenak, ia berkata pula “Sam soetee, pergilah kau membawa Sek thungku (tongkat timah) dan memberi perintah kepada Goan tin, supaya ia turunkan ilmu Kioe yang kang kepada pemuda she Thio itu.”

“Baiklah,” kata Kong tie.

Sebagaimana diketahui, waktu dulu Kak wan menghafal Kioe yang Cin keng ada tiga orang yang mendengarnya, yaitu Thio Sam Hong, Kwee Siang dan Boe sek Siansoe. Belakangan Kioe yang kang yang diperkembangkan oleh Thio Sam Hong dinamakan Boe tong Kioe yang kang, yang diperkembangkan Kwee Siang dikenal sebegai Go bie Kioe yang kang, sedang yang diperkembangkan oleh Boe sek Siansoe yalah Siauw lim Kioe yang kang.

Karena sangat sulit, maka dalam tiap partai hanya beberapa orang saja yang mewarisi ilmu itu. Dalam kalangan Siauw lim sie, tak pernah ada seorang pun yang memiliki tujuh puluh dua macam ilmu silat. Jumlah yang mempelajari Siauw lim Kioe yang kang lebih sedikit lagi. Dari jaman Boe sek sampai pada Kong kian, dalam setiap turunan hanyalah seorang saja yang belajar dalam ilmu tersebut. Mengapa? Karena, di samping memiliki banyak sekali ilmu, murid-murid Siauw Lim sie selalu menganggap Kak wan Taysoe sebagai murid pemburon, sehingga biarpun Kioe yang kang sangat tinggi mutunya, sedikit sekali yang suka mempelajarinya.

Hanya untuk menjaga supaya ilmu itu tidak menjadi hilang, maka pada setiap turunan selalu ada seorang murid yang mempelajarinya.

Pada jaman itu didalam kalangan Siauw lim sie hanya murid penutup (murid yang diterima paling belakang) dari Kong kian Taysoe yang mengerti Siauw Lim Kioe yang kang. Tapi murid itu, yang bernama Goan tin, aneh sekali adatnya. Ia tidak persudi keluar dari kamarnya dan kecuali tiga pendeta suci, tak seorangpun dalam kuil yang di ladeni olehnya.

Menurut kebiasaan, setiap tahun murid-murid Siauw lim sie dijajal kepandaiannya oleh ketiga pendeta suci. Semua murid mengambil bagian. Hanya Goan tin seorang yang saban-saban mengatakan sakit, entah benar, entah bohong, sehingga oleh karenanya, tak seorangpun yang tahu cetek dalamnya kepandaiannya. Dan sekarang, karena Kioe yang kang hanya dimiliki Goan tin seorang dan harus diturunkan olehnya kepada Boe Kie, tidaklah heran kalau Kong boen bertiga merasa sangsi.

Beberapa saat kemudian Kong tie kembali dan berKata Goan tin sungguh aneh. Dia mengatakan, bahwa sesudah mengabdi pada Sang Buddha, ia juga tidak mau bertemu dangan orang luar, tapi karena Hong thio sudah mengeluarkan perintah, maka ia bersedia untuk mengajar ilmu dengan cara Kay tiang Coan tang (Mengajar ilmu dengan teraling tirai).

“Sesukanyalah,” kata Kong boen. “Soetee, bawalah pemuda ini kepada Goan tin. Sesudah itu, perintah pengurus dapur mengantarkan sebuah meja perjamuan ke Lip soat teng. Biar bagaimanapun jua, Thio Sam Hong adalah pemimpin dari sebuah partai besar dan kita tidak boleh tidak berlaku hormat.”

Sementara itu, Boe Kie terus berlagak pulas. Sesudah lewat sekian lama, barulah datang seorang pendeta kecil yang membawa makanan dan sesudah ia selesai bersantap, pendeta itu lantas saja berkata: “Siauwsiecoe, ikutlah aku.”

“Kemana?” tanyanya.

“Hong thio memerintahkan aku membawamu kepada seseorang.”

“Kepada siapa ?” tanya lagi Boe Kie.

“Hong thio memesan supaya aku jangan banyak bicara.” jawabnya.

Boe Kie mengeluarkan suara dihidung. Diam diam ia mentertawai Kong boen bertiga, sebab ia sendiri sudah tahu, bahwa ia bakal dibawa kepada Goan tin Hweshio.

Tanpa menanya lagi, ia lalu mengikuti pendeta kecil itu. Sesudah melewati belasan gedung dan banyak pekarangan, sehingga Boe Kie merasa sangat kagum akan luas dan megahnya Siauw lim sie, barulah mereka tiba disebuah bangunan kecil yang dikurung dengan pohon pohon siong dan pek. Sambil berdiri didepan tirai pintu, pendeta kecil
itu berseru: “Siauwsiecoe sudah tiba!”

“Masuk,” demikian terdengar suara seseorang.

Boe Kie lantas saja mendorong pintu dan bertindak masuk, sedang si pendeta kecil lalu mengunci pintu.

Si bocah mengawasi kesekitarnya. Kamar itu ternyata sebuah kamar kosong. Kecuali selembar tikar ditengah tengah, tidak terdapat apapun jua.

Sesudah mendengar bahwa Goan tin akan memberi pelajaran dengan cara “Kay tiang Coan kang”, ia menduga bahwa dalam kamar itu dipasang semacam tirai. Di luar dugaan, kamar itu bukan saja kosong melompong, tapi juga tidak mempunyai lain pintu sehingga tak dapat ditebak dari mana datangnya suara manusia yang barusan. Selagi ia terheran-heran tiba-tiba terdengar pula suara itu: “Duduk! Dengarlah aku segera menghafal Siauw lim Kioe yang kang. Aku hanya akan menghafal satu kali. Terserah kepadamu, berapa banyak yang bisa diingat olehmu. Hong thio telah memerintahkan aku memberi pelajaran itu kepadamu. Aku menurut perintah. Tapi apa kau mengerti atau tidak adalah urusanmu sendiri.”

Boe Kie memasang kuping. Sekarang barulah ia tahu bahwa suara itu datang dari tembok sebelah dan Goan tin hweeshio berdiam dikamar sebelah. Pada hakekatnya, mengirim dari alingan tembok bukan kepandaian luar biasa. Siapapun jua dapat melakukannya. Apa yang luar biasa yalah suara Goan tin kedengarannya tegas sekali, seperti juga ia bicara berhadap hadapan. “Lweekang pendeta itu sungguh hebat,” kata Boe Kie didalam hati.

Sesaat kemudian, oraag itu berkata perlahan lahan: “Tubuh berdiri tegak, kedua tangan yang dirangkapkan ditaruh didada, hawa tenang, semangat dipusatkan, hati tenteram, paras muka mengunjuk sikap menghormat. Inilah jurus pertama yang dinamakan Wie hok Yan couw (Wie Hok mempersembahkan gada). Ingatlah!”

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula : “Kedua tumit kaki ditancapkan diatas bumi. Kedua tangan dipentang keluar dengan rata. Hati tenang hawa tentaram mata membelalak mengawasi kedepan mulut ternganga. Ini jurus kedua, Hoen tan Hang mo couw ( Memikul gada untuk menakluki siluman ). Kau ingatlah.”

Seterusnya ia menghafal jurus ketiga, keempat kelima sampai pada jurus keduabelas. Mengenai jurus keduabelas, ia berkata: “Jurus ini dinamakan Tiauw wie Yauw tauw (Mengibas buntut, menggoyang kepala), dengan Kouwkoat seperti berikut: Lutut lurut, lengan dilonjorkan, mendorong dengan tangan sehingga mengenakan bumi. Mata membelalak, menggoyangkan kepala, semangat dipusatkan sehingga menjadi satu. Sesudah itu melempangkan tubuh dan menjejak tanah dengan kaki, mengendurkan bahu, memanjangkan lengan, menyabet tujuh kali kekiri kanan dan sekarang sudah selesai Ilmu Kioe yang Ie kin, dikolong langit tiada tandingan.”

Hampir berbareng dengan perkataan “dikolong langit tiada tandingan”, ia membentak: “Siapa mencuri mendengar diluar? Masuk!”

“Brak!” pintu terpental dan sesosok tubuh manusia jatuh ngusruk. Orang itu bukan lain daripada si pendeta kecil yang tadi mengantar Boe Kie kekamar itu. Dia jatuh meringkuk, kedua matanya meram dan pada mukanya terlihat rasa sakit yang hebat. Boe Kie terkejut buru-buru ia menghampiri untuk membangunkannya.

“Kau urus saja urusanmu sendiri,” kata orang dikamar sebelah, “Sekarang kau memerlukan semua kekuatan otakmu untuk mengingat-ingat Kouw koat yang barusan dihafal olehlu. Tidak dapat kau memecah perhatianmu.”

“Dua belas jurus itu sudah diingat olehku seanteronya,” kata si bocah.

“Apa benar? Coba kau hafal,” kata Goan tin. Di dengar dari nada suaranya, ia merasa heran bukan main.

Boe Kie lantas saja menghafal Kouw koat yang barusan diturunkan kepadanya, dari jurus pertama Wie hok Hian couw sampai Tiauw wie Yauw tauw, jurus kedua belas. Benar saja, dalam hafalan itu, tak satu perkataanpun yang salah.

Untuk sejenak Goan tin tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Waktu menerima perintah Kong boen untuk mengajarkan Kioe yang kang kepada orang luar, ia mendongkol dan jika mungkin, ia tentu sudah menolak. Akan tetapi, peraturan dalam kuil Siauw lim sie selalu dipegang keras dan perintah seorang Hong thio, merangkap Ciangboenjin, tidak boleh dilanggar. Di samping itu, perintah Kong boen hanya berbunyi “mengajar anak itu” dan bukan “mengajar anak itu sampai dia paham”. Maka itu, menurut anggapannya, jika ia menghafal Kouw koat cepat-cepat, paling banyak si bocah
akan ingat satu dua perkataan. Tapi diluar semua perhitungannya, Boe Kie sudah berhasil memasukkan Kouw koat selengkapnya kedalam otaknya. Ia merasa kagum bukan main, karena kecerdasan dan bakat yang begitu luar biasa sungguh jarang terdapat dalam dunia ini.

Melihat si pendeta kecil terus meringkuk dilantai, Boe Kie merasa sangat tidak tega dan segera bertanya: “Siansoe, apakah kedosaannya Siauw soehoe ini ?”

“Dia mencuri dengar pelajaran tadi dari luar pintu,” jawabnya, tawar. “Aku telah menggunakan Kim kong Sian ciang untuk mengajar adat kepada nya. Jangan kuatir. Dalam beberapa saat, ia akan sembuh kembali.” Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi. “Aku tak tahu, mengapa Hong thio memerintahkan aku memberi pelajaran Kioe yang Sin kang kepadamu. Aku tidak tahu siapa namamu dan kaupun tak usah tanya namaku. Aku tidak tahu ilmu apa yang sudah pernah dipelajari olehmu. Akan tetapi, aku merasa kagum akan kepintaranmu. kemudian hari, kau mempunyai harapan yang tidak terbatas. Maka itu, aku berniat untuk membantu kau, untuk membuka Kie king Pat meh (pembuluh darah) diseluruh tubuhmu, supaya kalau nanti kau berlatih dengan Kioe yang Sin kang, kau tidak usah mengalami banyak kesukaran.”

Sebelum Boe Kie sempat menjawab, mendadak tembok berlubang dan dua lengan muncul dari lubang itu! Boe Kie kaget tak kepalang, ia mencelat dari tempat duduknya dan berseru dengan suara tertahan: “Kau …kau!…” Itulah kenyataan yang terlalu mustahil ! Tapi, dengan matanya sendiri, ia menyaksikan, bahwa tembok yang tebal itu sudah berlubang karena sodokan tangan Goan tin, seolah-olah tembok tidak lebih daripada tahu yang empuk.

“Tempelkan kedua telapak tanganmu dengan telapak tanganku.” memerintah Goan tin. “Aku tidak tahu she dan namamu, akupun tidak tahu kau murid siapa. Hari ini kita bertemu dan jodoh kita habis sampai disini.”

Tahu maksud orang yang sangat baik. Pandangan Boe Kie terhadap Goan tin lantas berubah. “Terima kasih atas bantuan Siansoe,” katanya seraya melonjorkan tangannya dan menempelkan telapak tangannya ketangan si orang aneh.

“Kendurkan tulang tulang dan otot-otot dalam tubuhmu dan bebaskan pikiranmu dari segala ingatan,” kata pula Goan tin.

“Baiklah,” kata Boe Kie. Sesaat kemudian, dari kedua telapak tangan Goan tin keluar semacam hawa hangat yang terus menembus ketelapak tangannya, terus naik kelengan dan bahu. Hawa itu halus bagaikan selembar benang, tapi ia dapat merasakan nyata sekali dan perlahan-lahan hawa tersebut masuk kepembuluh darah.

Jika menemui rintangan dan tidak dapat segera menembus, bawa itu berubah lemas dan menerjang berulang-ulang sehingga rintangan ditembuskan. Sesudah lewat delapan pembunuh darah besar hawa itu makin cepat jalannya hingga Boe Kie merasa matanya berkunang-kunang, kepalanya terputar-putar dan berapa kali, ia seperti mau jatuh tenguling.
Akan tetapi dari telapak tangan si orang aneh keluar semacam tenaga menyedot, sehingga telapak tangan Boe Kie melekat keras pada telapak tangan Goan tin dan ia tak sampai tenguling. Dilain saat, ia merasakan seluruh badannya seperti dibakar. Kalau mungkin, ia tentu sudah kabur dan membuka baju untuk menerjun kedalam lautan es disekitar Pang hweeto.

Sesudah lewat sekian lama, bawa panas itu meninggalkan tubuhnya dan kembali ketelapak tangan Goan tin. Sesudah menarik pulang kedua lengannya dari lubang itu, Goan tin berkata dengan suara dingin : “Kau pergilah!”

Boe Kie melongok melalui lubang itu, tapi yang dilihatnya hanya kegelapan. Mengingat budi si orang aneh, ia lantas saja berkata: “Terimakasih banyak atas budi Siansoe yang sangat besar.”

Sehabis berkata begitu, ia menekuk kedua lututnya. Mendadak lengan Goan tin muncul lagi di lubang itu dan mengibasnya. Hampir berbareng, tubuh Boe Kie terpentaI dan jatuh diluar pintu. Orang itu ternyata sungkan menerima kehormatan si bocah.

“Pergi kau beritahukan Hong thio, bahwa pelajaran Kioe yang Sin kang telah diturunkan semua kepada Siauw siecoe, juga bahwa Siauwsiecoe mempunyai peringatan yang sangat kuat dan semua pelajaran itu sudah diingat olehnya.”

“Baiklah,” kata si pendeta kecil yang sudah tersadar dan dengan muka pucat lalu berjalan keluar dari kamar itu.

Boe Kie mengikuti dan mereka berdua lantas saja meninggalkan kuil. Diberbagai ruangan mereka bertemu dengan banyak pendeta yang semua berjalan dengan menundukkan kepala dan tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Didalam kuil terdapat ribuan orang, tapi suasana tetap tenang dan sunyi. Boe Kie merasa kagum dan berkata dalam hatinya: “Memang pantas sekali jika Siauw lim sie dikenal sebagai pemimpin dari Rimba Persilatan.” Jika dibandingkan dengan keadaan di kuil Siauw lim sie, Giok hie koan seolah-olah sebuah pasar, dimana semua orang bergerak dan berbicara secara bebas dan merdeka. Hal ini sudah terjadi karena, pertama, agama Tookauw memang menganjurkan hidup bebas, dan kedua, sebab Thio Sam Hong sendiri seorang yang beradat sederhana dan sembarangan.

Setibanya mereka di Lip soat teng, Thio Sam Hong sudah menulis tigapuluh lembar lebih tapi masih menulis terus.
Melihat kerelaan dan pengorbanan guru besar itu Boe Kie merasa terharu, dan dengan air mata berlinang linang, ia berseru: “Thay soehoe!”

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata: “Kioe yang kang Cap jie sit sudah seluruhnya diturunkan kepada anak oleh Siansoe,”

Sang kakek guru girang. “Bagus,” katanya sambil tertawa.
Sesudah menulis lagi beberapa lama, Thio Sam Hong sudah menyelesaikan apa yang mau ditulisnya. Pendeta yang melayani segera balik kekuil untuk memberi laporan dan tidak lama kemudian, Kong boen, Kong tie dan Kong seng datang di Lip soat teng, diikuti oleh seorang pemuda yang berusia kira-kira duapuluh lima tahun. Pemuda itu mengenakan thungsha (jubah panjang) dan ia ternyata seorang murid Siauw lim sie yang tidak menyukur rambut.

Thio Sam Hong merasa heran. Ia tahu bahwa menurut peraturan Siauw Lim sie, sebelum lulus seorang murid bukan pendeta tidak boleh keluar dari pintu kuil. Bagi seorang biasa masuk di Siauw lim sie bukan gampang, tapi keluar dari kuil itu lebih sukar lagi. Apa maksudnya Kong boen mengajak seorang murid bukan pendeta? Tanpa merasa, ia mengawasi pemuda itu yang jangkung kurus, panjang lengannya dan pendek kakinya, sedang kedua matanya bersinar terang, sehingga tidak dapat ditebak, bahwa ia memiliki kecerdasan otak yang luar biasa.

“Kami telah membuat Thio Cinjin banyak capai,” kata Kong boen sambil merangkap kedua tangannya.

Sam Hong bersenyum. “Terima kasih atas belas kasihan Hong thio Soe heng, sehingga jiwa anak ini bisa ditolong,” jawabnya sambil membungkuk. Sehabis berkata begitu, ia menyodorkan tiga puluh lembar tulisan itu dan lalu berkata pula: “Thay kek boen dan Sip sam sit dan Boe tong Kioe yang kang semua sudah ditulis disini. Aku harap Sam wie Soeheng suka memberi petunjuk petunjuk dan bahwa aku sudah berani memperlihatkan kebodohanku dihadapan kalian, kuharap kalian jangan mentertawai.”

Kong boen menyambuti dan tanpa melihat lagi, ia segera menyerahkan tulisan itu kepada pemuda yang berdiri dibelakangnya. Si pemuda segera membacanya dengan teliti, selembar demi selembar.

Sambil mencekal tangan Boe Kie, Sam Hong segera meminta diri.

“Dalam kedatangan kalian, loolap sebenarnya harus mengundang kalian berdiam disini beberapa hari, dan bahwa loolap tidak dapat berbuat begini hatiku merasa sangat tidak enak.” kata Kong boen. “Maka sebagai gantinya loolap hanya bisa mengundang Thio Cinjin meneguk tiga cawan arak untuk mengunjuk hormat kami.” Pendeta arak dan kedua orang berilmu itu lantas saja ber sama-sama mengeringkan tiga cawan dengan beruntun.

Sesudah itu Kong been, Kong tie dan Kong seng pun turut memberi selamat jalan dengan tiga cawan arak.

Sesudah selesai, Sam Hong dan Boe Kie segera memberi hormat dan memutar badan untuk berlalu. Sebelum bertindak, sekonyong-konyong pemuda jangkung kurus itu berkata: “Soepeh, ilmu silat yang ditulis Thio Cinjin tidak berbeda dengan pelajaran kita. Semua yang telah dibaca olehku, aku sudah belajar dari Soehoe.”

Sam Hong terkejut.

“Omong kosong !” bentak Kong been, “Thay kek Sip sam sit adalah mustika Boe tong pay yang digubah oleh Thio Cinjin sendiri. Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa kau sudah pernah belajar ilmu itu?”

Si pemuda segera menyerahkan tulisan Thio Sam Hong itu kepada Kong boen dan berkata: “Soepeh lihat saja sendiri.”
Kong boen menyambuti dan lalu membalik-balik beberapa lembar dan kemudian menyerahkannya kepada Kong tie dan Kong seng. Kedua pendeta itu juga membalik-balik beberapa lembar. “Soeheng, benar saja ilmu ini masih termasuk dalam lingkungan ilmu Siauw lim sie,” katanya dengan suara perlahan.

Sam Hong kaget bercampur gusar. Thay kek Sip sam sit adalah hasil jerih payahnya selama tigapuluh tahun dan baru pada tahun yang lalu, ilmu itu menjadi sempurna. Intisari daripada ilmu itu ialah dengan kelemahan melawan kekerasan, dengan bergerak lebih dulu. Azas-azas tersebut justeru sebaliknya daripada azas azas ilmu silat Siauw lim sie. Disamping itu, walaupun bersumber dari Kioe yang Cin keng gubahan Tat mo Loo couw, Boe tong Kioe yang kang sudah ditambah dengan banyak perobahan yang keluar dari otaknya Sam Hong. Maka itulah, mendengar kata-kata si pemuda dan Kong tie, guru besar itu jadi sangat mendongkol. Tapi dilain saat, ia sudah dapat menebak sebab musabab dari sikap Siauw lim. Ia mengerti, bahwa ia kuatir dikatakan menerima pelajaran dari Bee tong pay maka pendeta-pendeta suci itu sudah mengeluarkan siasat tersebut.

Sementara itu, sambil mengangsurkan tulisan tulisan itu kepada Sam Hong, Kong boen berkata: “limu silat Boe tong bersumber dari Siauw Lim. Benar saja, apa yang ditulis Thio Cinjin tidak banyak bedanya dari ilmu silat kami.”

Sam Hong tertawa. “Apa yang telah ditulis oleh si orang she Thio, sedikitpun aku tidak merasa menyesal,” katanya. “Aku mengerti bahwa ilmuku itu sangat cetek dan tidak berharga. Jika Samwie tidak memerlukannya, sebaiknya dibuang saja.” Ia tidak menyambuti gabungan kertas itu yang diangsurkan kepadanya.

“Dari kata-katamu, Thio Cinjin, rupanya kau tidak percaya akan pengutaraan kami itu,” kata Kong tie. Ia berpaling kepada si pemuda seraya berkata pula: “Yoe Liang, coba kau halal Thay kek Sip sam sit dan Kioe yang kang yang diturunkan olehku kepadamu “

“Baiklah,” jawab pemuda itu yang lantas saja menghafal tulisan Sam Hong selengkapnya, sehuruf pun tidak ada yang ketinggalan.

“Thay soehoe, orang itu menghafal dengan membaca tulisanmu,” Boe Kie menyelak. “Dan sekarang mereka mengatakan, ilmu Thay soehoe tiada berbeda dengan ilmu mereka. Sungguh tak mengenal malu”

Sam Hongpun tahu. Ia tertawa besar dan sambil mengawasi pemuda itu, ia berkata: “Selagi ketiga pendeta suci mengajak aku minum arak, tuan sudah menghafalkan dua macam ilmu silatku. Kepintaran dan kecerdasan itu tidak dimiliki Sam Hong. Boleh aku mendapat tahu she dan nama tuan yang besar?”

“Cianpwee jangan memuji begitu tinggi,” jawabnya. “Boanpwee she Tan, bernama Yoe Liang.”

“Saudara Tan,” kata pula guru besar itu dengan suara sungguh-sungguh. “Dengan kecerdasanmu, apapun jua yang dipelajari olehmu pasti akan berhasil. Aku hanya mengharap, kau jangan mengambil jalan yang salah. Dengan menggunakan kesempatan ini, aku ingin mempersembahkan kata-kata seperti berikut: Dengan kejujuran kita memperlakukan orang lain, dengan kerendahan hati, kita membatasi diri.”

Melihat sinar mata orang tua itu yang tajam bagaikan pisau, Yoe Liang bergidik. Tapi dilain saat ia menjadi mendongkol dan berkata dengan suara kaku: “Terima kasih atas petunjuk Thio Cinjin. Tapi Boanpwee adalah murid Siauw lim dan boan pwee mempunyai Soepeh, Soehoe dan Soesiok untuk mengajar boanpwe.”

“Benar,” kata Sam Hong sambil tertawa. “Memang aku si tua yang terlalu rewel.”

Sesaat itu, Kong tie mengangsurkan gabungan kertas itu. Hampir berbareng dengan itu si pendeta terhuyung dan Yoe Liang yang berdiri didampingnya segera coba memeluknya. Tapi tenaga Kong tie besar luar biasa dan pemuda itu yang kena didorong, lantas saja terpental keluar pendopo dan jatuh ditanah.

Dalam mengirim Lweekang itu, Sam Hong hanya menggunakan sebagian tenaganya dan ia memang tidak berniat jahat. Maka itu, begitu mengerahkan Lweekang kebagian kakinya, Kong tie sudah bisa berdiri tegah. Sam Hong bersenyum seraya berkata: “Itulah ilmu dari Thay kek Sip sam sit. Sekarang terbukti, bahwa walaupun kalian berdua paham akan ilmu itu, tapi kalian belum mempunyai tempo untuk berlatih. Selamat tinggal !” Dengan sekali mengibas tangan, diudara beterbanganlah kepingan-kepingan kertas yang sangat halus, yaitu kertas yang berisi ilmu Thai kek dan Boe tong Kioe yang kang. Sambil menuntun tangan Boe Kie, tanpa menengok lagi ia meninggalkan Siauw sit sat.

Kong boen bertiga saling mengawasi dengatl mulut ternganga. Mereka merasa kagum dan takluk akan kepandaian orang tua itu. Disamping itu, merekapun merasa agak menyesal. “Ilmu itu begitu lihay,” kata Kong boen didalam hati.”Apa Yoe Liang sudah menghafakan seanteronya? Jika satu huruf saja yang kelupaan, Siauw lim akan menderita kerugian besar.”

Malam itu didalam rumah penginapan Sam Hong menyuruh Boe Kie berlatih menurut Kouw koat yang diturunkan oleh Goan tin. Karena tidak ingin mendengar dan melihat cara berlatihnya si bocah, ia sendiri tidur disebuah kamar lain. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, jika ia melihat cara bersemedhi dan gerak-gerakannya serta mendengar jalan pernapasan cucu muridnya itu, ia sudah bisa mengetahui rahasia Siauw lim Kioe yang-kang.

Selama berada dalam perjalanan pulang, iapun belum pernah menanyakan kemajuan Boe Kie. Meskipun ketiga pendeta suci Siauw lim pay berpemandangan agak sempit, akan tetapi mereka adalah orang-orang ternama dalam kalangan Rimba persilatan sehingga ia percaya, mereka tidak akan memberi pelajaran palsu.

Berselang beberapa hari, paras muka Boe kita sudah berubah agak merah sehingga sang kakek guru jadi merasa girang sekali. Sam Hong tahu, bahwa Boe Kie sudah memiliki Kioe yang kang dari Boe tong dan Siauw lim yang saling menambah kekurangan masing-masing. Ia percaya penuh, bahwa kedua macam Kioe yang kang itu akan cukup kuat untuk mengusir racun dingin Hianbeng Sin ciang yang mengeram dalam tubuh si bocah.

Hari itu, mereka tiba ditepi sungai Han soei dan lalu menyewa perahu untuk menyeberang.

Dengan rasa terharu, Sam Hong ingat pengalamannya yang lampau. Ia ingat kesengsaraan dulu, pada waktu ia kabur dari Siauw lim sie dan mau menyeberang sungai itu. Waktu usianya tidak banyak berbeda dengan usia Boe Kie sekarang.

Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa pada akhirnya ia bisa menjadi pendiri Boe tong pay yang sekarang berdiri berendeng dengan Siauw lim pay. Keadaan Boe Kie dihari ini lebih bagus dan lebih unggul daripada diwaktu dulu. Ia percaya, bahwa dikemudian hari, kedudukan bocah itu akan lebih tinggi daripadanya. Mengingat begitu, tanpa ia merasa ia bersenyum dan hatinya bunga.

Mendadak, lamunannya disadarkan oleh teriakan Boe Kie: “Thay soehoe!…. Aku….aku..:.” Suaranya bergemetaran dan mukanya pucat pasi. Sam Hong terkesiap. Muka anak itu merah dan pada warna kemerah-merahan itu terdapat sinar hijau. “Thay soehoe!” teriak Boe kie. “Aku….aku tak tahan!” Badannya bergoyang-goyang.

Dengan cepat tangan kiri sang kakek guru mencekal pengelangan tangan Boe Kie sedang telapak tangan kanannya ditempekan dijalan darah Leng-tay hiat dipunggung si bocah. Tapi begitu lekas ia mengirim tenaga dalam untuk membantu Boe Kie melawan racun dingin itu, sekali lagi ia terkesiap karena Lweekangnya lantas saja menerobos masuk ke Kie keng Pat meh. Boe Kie mengeluarkan teriakan menyayat hati dan lalu pingsan.

Kaget orang tua itu bagaikan disambar halilintar. Buru-buru ia menotok untuk menutup dua belas Thay hiat dibadan Boe Kie.

“Mengapa Kie keng Pat meh terbuka?” tanyanya didalam hati. “Dengan terbukanya pembuluh darah, racun bisa lantas masuk kedalam isi perut dan kalau sudah masuk disitu maka sudah tentu tak akan bisa dibuyarkan lagi.”

Sesudah berusia lebih dari satu abad dan sesudah ilmunya menecapai puncak kesempurnaan, guru besar itu tenang luar biasa. Tapi kali ini, ia tak dapat mempertahankan ketenangannya. Jantungnya berdebar keras dan keringat dingin mengucur dari dahinya “Apa bisa jadi, Siauw lim Kioe yang kang sedemikian hebat, sehingga dalam beberapa hari saja ilmu itu sudah dapat membuka pembuluh darah ?” Ia tanya lagi dirinya sendiri. “Tidak mungkin! Pasti tidak mungkin ! Lie Heng dan Seng Kok sudah berlatih belasan tahun, tapi latihan itu masih belum cukup untuk membuka pembuluh darah.”

Dengan Lweekangnya yang sangat tinggi, jikamau, Sam Hong bisa membantu kedua muridnya untuk membuka Kie-keng pat-meh. Akan tetapi, dalam memberi pelajaran, ia selalu berpendirian bahwa sesuatu yang didapat dengan latihan sendiri adalah lebih berhanga daripada yang diperoleh atas bantuan orang. Dalam mengajar semua muridnya dia tak mau tergesa-gesa. Ia membiarkan murid murid itu berlatih sendiri dan maju dengan per lahan tapi tentu.

Waktu itu, perahu yang ditumpangi mereka tiba ditengah tengah sungai dan karena terdampar ombak, kendaraan air yang kecil itu terombang ambing kian kemari tiada bedanya seperti hati Thio Sam Hong yang bergoncang keras.

Beberapa saat kemudian, Boe Kie tersadar. Sesudah keduabelas Tayhiatnya ditotok, racun dingin tidak bisa masuk kedalam isi perutnya, akan tetapi, karena itu, ia tak dapat menggerakkan badan.

Sekarang Sam Hong tidak menggubris lagi soal pantas atau tidak pantas.

“Nak, bagaimana isi Siauw lim Kioe yang kang yang diturunkan kepadamu?” tanyanya. “Mengapa semua pembuluh darahmu jadi terbuka?”

“Yang membuka yalah Goan tin Siansoe,” jawabnya. “Ia mengatakan bahwa ia membantu supaya aku bisa berhasil terlebih siang dalam latihan Kioe yang Sin kang.”

“Tapi bagaimana ia jadi membantu kau?” tanya Sam Hong, tergesa-gesa.

Boe Kie segera menceriterakan cara bagaimana ia mendengar pembicaraan antara Kong boen dan Kong tie, cara bagaimana Goan tin memberi pelajaran dengan teraling tembok dan cara bagaimana pendeta aneh itu sudah membantunya dalam membuka Kie keng Pat mah.

Untuk beberapa lama sang kakek guru tidak mengeluarkan sepatah kata. “Kalau pembuluh darahmu perlu dibuka dengan segera, apakah aku tidak dapat melakukan itu?” katanya dengan suara perlahan. “Apa maksud baik atau sengaja dia bermaksud jahat?”

“Goan tin Siansoe telah mengatakan berulang ulang bahwa ia tak tahu she dan namaku, ia tak tahu rumah perguruanku dan akupun tidak perlu tahu she dan namanya,” menerangkan Boe Kie.

“Goan tin …. Goan tin ….” Sam Hong berkata, seperti pada dirinya sendiri, “Belum … belum pernah aku mendengar nama begitu diantara jago-jago Siauw lim sie. Hm … Ia tak tahu namamu, tak mengenal partaimu. Kalau begitu, ia tak tahu perhubungan antara aku dan kau. Kalau begitu, bantuannya itu, keluar dari hati yang baik.”

Sesudah berkata itu, Sam Hong lalu menanyakan Kouw koat Siauw Lim Kioe yang kang. Boe Kie lantas saja menghafal, mulai dari jurus Wie hok Hian couw. Baru saja ia menghafal sampai jurus ketiga. Ciang to Thian boen (Dengan telapak tangan menyangga pintu langit), sang kakek guru sudah berkata: “Cukup! Tak usah kau menghafal terus. Tujuanku hanyalah untuk mengetahui tulen palsunya ilmu yang diturunkan kepadamu. Mulai dari sekarang, kau tidak boleh memberitahukan Siauw lim Kioe yang Sin kang kepada siapapun jua. Kau mesti ingat, bahwa kau tidak boleh melanggar sumpahmu yang sangat berat

“Baik,” jawabnya sambil mengawasi muka sang kakek guru, karena Sam Hong telah mengucapkau kata-kata itu dengan suara gemetar. Ia melihat bahwa dalam kedua mata orang tua itu mengembang air. Sebagai seorang yang sangat pintar, ia mengerti, bahwa sang kakek guru sudah tak punya harapan untuk menolong jiwanya lagi.

Mendadak, serupa ingatan berkelebat dalam otaknya. “Thay Soehoe,” katanya: “Apakah aku masih bisa bertahan dan bisa pulang ke Boe tong san dengan masih bernyawa?”

“Jangan kau berkata begitu,” jawab guru besar itu sambil menahan mengucurnya air mata. “Biar bagaimanapun jua, Thay soehoe akan berdaya untuk menolong jiwamu “

“Kalau aku masih bisa bertemu muka dengan Jie Shapeh, aku sudah merasa puas,” kata pula Boe Kie.

“Mengapa begitu?” tanya sang kakek guru.

“Sebab sesudah tidak bisa hidup, anak ingin membuka rahasia Siauw lim Kioe yang kang ke pada Jie Shapeh” jawabnya.
“Anak mengharap supaya dengan menggunakan Kioe yang kang dari Boe tong dan Siauw lim, Shapeh akan dapat menyembuhkan kaki tangannya yang bercacad. Sesuai dengan sumpah anak akan menggorok leher sendiri seperti yang telah dilakukan ayah, supaya dengan begitu, anak dapat menebus sebaglan kecil dari ke dosaan ibu.”

Bukan main rasa kaget dan terharunya Sam Hong. Tak pernah ia menduga, bahwa bocah sekecil Boe Kie bisa mempunyai pikiran begitu: “Ah ! … Jangan kau …. bicara …. yang tidak-tidak.” katanya dengan suara parau.

“Hari itu, aku sudah mengerti duduknya persoalan,” kata Boe Kie. “Dengan menggunakan jarum beracun, ibu telah melukakan Jie Shapeh sehingga Shapeh bercacad untuk seumur hidupnya. Itulah sebabnya, mengapa ayah telah. . ..”

Sam Hong tak dapat mempertahankan diri lagi. Air matanya lantas saja mengucur deras, sehingga membasahi jubah pertapaannya. “Kau. …. kau tak boleh….memikir yang tidak-tidak.” katanya sambil menangis sedu-sedan. Sesaat kemudian, sesudah menenteramkan hatinya, ia berkata pula dengan suara angker: “Seorang laki laki harus berjalan dijalanan lurus. Kau sudah berjanji, dengan disertai sumpah berat, untuk tidak memberitahukan pelajaran Siauw lim Kioe yang kang kepada siapapun jua. Janji itu harus dipegang sampai pada akhirnya. Andaikata benar kau bakal mati, aku juga tidak boleh berlaku licik.”

Boe Kie terkejut. Ia mengawasi sang kakek guru dengan mulut ternganga, akan kemudian manggut kan kepalanya.

Semenjak kecil sehingga pulang ke Tionggoan, Boe Kie hidup bersama-sama kedua orang tua dan ayah angkatnya, So So dan Cia Soen, memang bukan manusia yang bersih, tapi bahkan Coei San sendiri belum pernah memberi pelajaran bathin kepadanya. Maka itulah, ia belum mengerti soal kehormatan dalam Rimba Persilatan. Sekarang untuk pertama kali, ia menerima nasehat dari kakek gurunya.

Dilain saat, Sam Hong berkata pula dalam hatinya: “Sesudah tahu, bahwa jiwanya tidak bakal tertolong lagi, anak itu rela membunuh diri guna menolong Thay Giam. Jiwa yang sedemikian adalah sesuai dengan jiwa seorang pendekar Rimba Persilatan.”

Memikir begitu, ia lantas berniat memberi sedikit pujian kepada Boe Kie, tapi, belum sampai ia membuka mulut, sudah terdengar teriakan seseorang: “Hentikan perahu! Serahkan anak itu! Kalau kau tidak menurut, jangan katakan aku kejam.” suara itu nyaring luar biasa, suatu pertanda bahwa orang yang berteriak memiliki Lweekang yang sangat tinggi.

Sam Hong bersenyum lebar. “Siapa yang bernyali begitu besar. berani memerintahkan aku menyerahkau cucu muridku ?” katanya didalam hati.

Ia mendongak dan melihat sebuah perahu kecil yang didayung oleh seorang lelaki brewokan dan dengan badannya, orang itu melindungi dua orang anak kecil, satu lelaki dan satu perempuan. Dibelakang perahu kecil itu mengejar sebuah perahu yang lebih besar, yang ditumpangi oleh empat orang-orang Hoan ceng (Pendeta bukan golongan Han) dan tujuh delapan perwira Mongol yang mendayung perahu.

Lelaki brewokan itu bertenaga sangat besar dan perahunya laju pesat sekali. Tapi perahu yang mengejar didayung oleh orang yang jumlahnya jauh terlebih banyak, sehingga makin lama jarak antara kedua perahu itu jadi semakin pendek.

Beberapa saat kemudian, tampak ke empat Hoan ceng dan perwira-perwira Mongol itu mulai melepaskan anak panah.
Sekarang Sam Hong tahu, bahwa yang dimaui oleh orang-orang itu adalah kedua anak kecil yang dilindungi oleh si orang brewokan. Selama hidup, ia paling benci serdadu-serdadu Mongol yang berbuat sewenang-wenang terhadap orang Han dan seketika itu juga, didalam hatinya timbut niatan untuk menolong. Tapi ia segera mengurung kan niatannya itu, karena ia sendiri harus melindungi Boe Kie yang sedang menderita penyakit berat. Disamping itu, jarak antara perabunya dan kedua perahu yang sedang ubar-ubaran itu masih terlalu jauh, sehingga biarpun ingin, ia tak akan keburu menolong mereka.

Tapi dilain saat terjadi perkembangan yang di luar dugaan. Dengan tangan kiri tetap mendayung perahu, tangan kanan si brewok mengibas anak anak panah yang menyambar dengan penggayuh yang satunya lagi. Tanpa merasa, Sam Hong bersorak dan berkata dalam hatinya: “Orang itu memiliki kepandaian luar biasa. Cara bagaimana aku bisa mengawasi kecelakaan yang menimpa dirinya seorang gagah dengan berpeluk tangan?” Ia lantas saja berpaling kepada situkang perahu seraya berkata: “Coan kee (tukang perahu), dayunglah perahumu kearah kedua perahu itu!”

Si tukang perahu kaget tak kepalang. Sambil mengawasi si kakek dengan mata membelalak ia berkata : “Loo too ya… kau … kau … jangan guyon-guyon!”

Melihat keadaan sudah mendesak, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Sam Hong menyentak dayung dan dengan sekali menggayuh, kepala perahu sudah terputar.

Sekonyong-konyong terdengar teriakan menyayat hati. Teriakan itu keluar dari mulutnya salah seorang anak yang lelaki yang punggungnya tertancap sebatang anak panah.

Dalam kagetnya, si brewok membungkuk untuk memeriksa luka anak laki-laki tersebut itu, dan selagi ia membungkuk, dua batang anak panah mengenakan pundak dan punggungnya. Ia mengeluar kan teriakan tertahan. Badannya bengoyang-goyang dan dayung yang dicekalnya jatuh ke air, sehingga perahunya lantas saja berhenti. Sesaat kemudian perahu yang mengejar sudah menyandak dan semua pengejar Ialu melompat keperahu si brewok. Tapi dia laki-laki sejati. Biarpun dikurung oleh begitu banyak. musuh, secara nekat-nekatan in melawan dengan tangan kosong,

“Orang gagah, jangan takut !” teriak Thio Sam Hong. “Aku akan datang menolong kau!” Sambil menggenjot tubuhnya, ia melontarkan dua lembar papan ke air, kaki kirinya menotol papan pertama, kaki kanannya papan kedua dan bagaikan seekor burung raksasa, ia hinggap diatas perahu. Selagi ia melompat, dua orang perwira dengan berbareng melepaskan anak panah, tapi kedua anak panah itu terpental dengan kibasan tangan. Begitu lekas kedua kakinya menginjak geladak perahu, ia menghantam dengan telapak tangan kirinya dan dua Hoan ceng, terpental setombak lebih, akan kemudian tercebur didalam air. Melihat kelihayan si kakek, semua orang kaget bukan main; “Bangsat tua! Mau apa kau?” bentak perwira yang memimpin rombongan.

“Anjing Tat coe !” Sam Hong balas mencaci. “Lagi – lagi kamu mencelakakan rakyat baik baik. Pergi!’

“Kau tahu siapa mereka?” tanya si perwira. “Mereka adalah anak-anaknya penghianat dari Mokauw (agama siluman). Hong siang telah mengeluarkan firman untuk membekuk mereka!”

Mendengar “penghianat dari Mokauw”, Thio Sam Hong rupanya terkejut juga. “Apakah mereka orang-orangnya Tincoe Cioe Coe Ong?” Tanyanya didalam hati. Ia menengok kepada sibrewok dan bertanya: “Apa benar?”

Dengan tubuh berlumpuran darah dan sambil memeluk mayat anak lelaki itu, ia menangis dan berkata: “Siauwcoekong (majikan kecil)… Siauw coekong binasa dipanah oleh meraka.. ”
Si kakek jadi makin kaget. “Apakah anak itu puteranya Cioe Coe Ong?” tanyanya pula.

“Benar,” jawabnya “Aku sudah gagal menunaikan tugasku. Biarlah aku mati bersama sama”.

Perlahan-lahan ia menaruh mayat di atas geladak perahu dan kemudian menubruk perwira Mongol itu. Tapi, sebab lukanya terlalu berat dan kedua anak panah itu belum dicabut dari pundak dan punggungnya, maka begitu melompat, ia roboh kembali. Nona kecil itu, yang lengannya tertancap sebatang anak panah, menangis dan sesambat: “Koko! Koko !… “

Didalam hati, Sam Hong merasa menyesal bahwa ia sudah mencampuri urusannya Cioe Coe Ong. Akan tetapi, karena sudah terlanjur, ia tak bisa mundur ditengah jalan. Maka itu, ia menengok kepada siperwira dan berkata: “Anak itu sudah binasa dan mereka berdua telah mendapat luka berat, sehingga tak lama lagi merekapun akan turut binasa. Kalian sudah berpahala besar. Pergilah!”

“Tidak bisa!” kata perwira itu. “Kami mesti memenggal kepala ketiga orang itu.”

“Perlu apa kalian berlaku begitu kejam ?” kata pula Sam Hong.

“Siapa kau? Mengapa kau berani campur campur arusan kami ?” tanya siperwira dengan aseran.

Sam Hong tertawa. “Siapa yang bisa menolong sesama manusia, haruslah dia menolong,” jawabnya. “Segala urusan dikolong langit boleh dicampuri oleh manusia di kolong langit.”

Perwira itu melirik kawan-kawannya. “Siapa adanya Tootiang dan di mana letak kuil mu?” tanyanya.

Mendadak, dua perwira lain mengangkat golok dan menyabet pundak Sam Hong. Kedua senjata itu menyambar bagaikan kilat dan di atas perahu yang sempit, sungguh sukar untuk mengelakkannya. Tapi dengan hanya sekali miringkan badan, guru besar itu sudah kelit senjata musuh. Hampir berbareng, Sam Hong mengeluarkan kedua tangannya yang lalu ditempelkan di punggung kedua penyerang itu. “Pergilah !” Bentaknya seraya mendorong dan tubuh kedua perwira itu lantas saja “terbang”, akan kemudian jatuh di atas perahu mereka sendiri.

Sesudah puluhan tahun Sam Hong belum pernah bertempur dan hari ini ia sebenarnya menghadapi jago-jago pilihan dari kaizar Mongol. Semua jago itu kaget tak kepalang, sebab pihak mereka sedikitpun tak dapat berkutik.

Mendadak, seperti orang ingat sesuatu, pemimpin rombongan menatap wajah Sam Hong dengan mulut ternganga dan kemudian berkata dengan suara putus-putus: “Kau … kau .. apa kau bukan …”

“Aku adalah seorang yang biasa membunuh Tat coe,” kata sikakek seraya mengibas dengan lengan jubahnya.

Hampir berbarengan semua orang itu merasakan satu sambaran angin dan dada mereka menyesak, sehingga mereka tidak dapat mengetuarkan sepatah katapun. Dilain saat, dengan muka pucat mereka berdulu dulu meninggalkan perahu itu dan sesudah menolong kedua Hoan ceng yang tercebur diair, mereka kabur secepat mungkin dengan ramai-ramai mendayung perahu.

Melihat sibrewok dan nona cilik itu dilukakan dengan anak panah beracun, Sam Hong segera mengeluarkan obat pemunah racun. Sesudah itu ia mendayung perahu kecil Itu, mendekati perahunya sendiri. Baru saja ia mau memapah sibrewok untuk berpindah keperahunya, orang itu sudah melompat dengan memeluk mayat dan tangan lain menyekel tangan si nona kecil.

Sam Hong manggut-manggutkan kepala. “Benar-benar laki-laki sejati,” pujinya. “Meskipun sudah menderita luka berat, ia tetap menunjuk kesetiaan kepada majikan kecilnya. Aku tak merasa menyesal sudah menolongnya.”

Ia sendiri lalu melompat balik keperahunya, dimana ia segera mencabut anak panah yang menancap ditubuh si brewok dan si gadis cilik. Sesudah menaruh obat luka dan membalut luka itu,
Sam Hong tidak lantas mendarat, karena ia menghadapi keadaan yang agak sukar. Boe Kie yang kedua belas Thay hiatnya ditotok, tidak bisa berjalan sendiri, sedang si brewok dan sinona kecil itu adalah pemburonan yang sedang dicari oleh kaki tangan kaizar Mongol. Jika mereka menginap di Loa ho kouw, Sam Hong merasa agak berat untuk melindungi tiga orang itu. Sesudah mengasah otak beberapa saat, ia merogoh saku bajunya, dan ia mengeluarkan beberara tahil perak yang lalu diserahkan kepada si tukang perahu.

“Saudara” katanya sambil bersenyum. “Aku ingin meminta pertolonganmu untuk membawa mereka ke Thay peng tiam supaya mereka bisa menginap disitu.”

Si tukang perahu sebenarnya sangat ketakutan tapi melihat jumlah uang yang begitu besar, ia lantas saja manggut-manggut kepala.

Si brewok buru-buru berlutut diatas geladak perahu dan berkata: “Budi Loo tooya yang sangat besar tak akan dapat dibelas oleh Siang Gie Coen.”

Sam Hong membangunkan orang itu seraya berkata “Siang Enghiong, tak usah, tak usah kau jalankan peradatan besar.”

Tiba-tiba ia terkejut, sebab waktu tangannya menyentuh tangan Siang Gie Coen, ia merasa tangan itu dingin luar biasa. “Siang Enghiong apakah kau mendapat luka di dalam badan ?” tanyanya.

“Benar”, jawabnya sambil mengangguk. “Dengan membawa kedua majikan kecil ini, Siauw jin (aku yang rendah) berangkat dari Sin yang untuk pergi ke Selatan. Di sepanjang jalan empat kali siauwjin bertempur dengan kuku garuda (kaki tangan kaizar) yang dikirim oleh Tatcoe. Dada dan punggungku telah terkena pukulan seorang Hoan ceng.”

Sam Hong segera memeriksa nadi Siang Gie Coen dan mendapat kenyataan, bahwa denyutan nadi sudah lemah sekali. Kemudian ia membuka baju si brewok dan begitu melihat lukanya, ia terkejut, karena luka itu sudah bengkak dan sangat berat. Ia mengerti, bahwa tanpa memiliki kekuatan badan yang luar biasa, Siang Gie Coen tentu sudah tidak dapat bertahan lagi. Ia segera mempersilahkan Gie Coen mengaso digubuk perahu dan melarangnya banyak bicara.

Mereka tiba di Thay pang kiam diwaktu malam. Sam Hong lantas saja pergi ke kota untuk membeli obat-obatan yang kemudian segera dimasak dan diberikan kepada Siang Gie Coen dan sinona kecil.

Gadis itu, yang baru berusia kira-kira sepuluh tahun dan yang paras mukanya mengunjuk, bahwa sesudah besar ia bakal jadi seorang wanita yang luar biasa cantik, duduk terpaku disamping mayat kakaknya. Melihat begitu, Sam Hong merasa kasihan dan menanya dengan suara lemah lembut: “Nona, siapa namamu?”

“Aku, Cioe Tit Jiak”, jawabnya. “Bolehkah aku mendapat tahu nama Too tiang?”

Rasa simpathi guru besar itu jadi makin besar karena dalam kedukaannya, anak itu masih tetap agung dan sopan. “Aku, Thio Sam Hong.” jawabnya.

“Ah!” demikian terdengar teriakan Siang Gie Coen yang lantas bangun duduk. “Kalau begitu Tootiang adalah Thio Cinjin dari Boe tong san! Tak heran jika Tootiang memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Aku merasa sangat beruntung, bahwa hari ini aku bisa bertemu muka dengan Sian tiang (dewa)”

“Jangan gunakan istilah dewa”, kata si kakek seraya bersenyum. “Aku hanya berumur lebih panjang dari manusia kebanyakan Siang Enghiong, tidurlah. Jangan banyak bergerak supaya lukamu tidak terbuka lagi.”

Melihat kegagahan Siang Gie Coen dan sopan santunnya Cioe Tit Jiak, Sam Hong merasa senang sekali. Tapi begitu mengingat bahwa mereka itu adalah orang-orang dari golongan sesat, hatinya lantas saja berubah dingin. “Jie wie mendapat luka berat dan tidak boleh banyak bicara.” katanya dengan suara tawar.

Dulu, Thio Sam Hong sebenarnya tidak begitu menghiraukan perbedaan antara golongan sesat dan lurus. lapun pernah mengatakan kepada Coei San, bahwa “ceng” (lurus besar) dan “sia” (sesat kotor) sukar dibedakan. Kalau berhati tidak baik, murid murid dari partai lurus bersih bisa melakukan perbuatan jahat, sedang murid-murid dari partai yang katanya sesat kotor dapat melakukan perbuatan mulia, jika hati mereka bersih. Ia juga pernah mengatakan, biarpun angkuh dan beradat aneh, In Thian Ceng dari Peh bie kauw adalah laki laki yang bertanggung jawab atas segala perbuatan nya.

Akan tetapi, semenjak Coei San membunuh diri ia membenci Peh bie Kauw. Ia menganggap, bahwa kebinasaan Coei San dan kecelakaan Jie Thay Giam adalah gara-gara Peh bie kauw. Walaupun ia masih dapat menahan sabar dan tidak menuntut balas terhadap In Thian Ceng, tapi didalam hatinya sudah terdapat kebencian yang sangat terhadap partai golongan “sesat”.

Cioe Coe Ong adalah murid terutama golongan Bie lek cong dari “agama” sesat. Beberapa tahun yang lalu. Cioe Coe Ong telah memberontak di Wan cioe dan mengangkat dirinya sendiri menjadi “kaizar”, dengan kerajaan yang dinamakan “Cioe”. Tapi bala tentaranya telah dibasmi habis oleh tentara Goan, dan ia sendiri ditangkap dan di hukum mati.

Bie lek cong dan Peh bie kauw mempunyai hubungan erat. Waktu Cioe Coe Ong memberontak, In Thian Ceng telah memberi banyak bantuan dari Ciat kang timur.

Bahwa Thio Sam Hong sudah menolong Siang Gie Coen dan Cioe Tit Jiak, adalah karena didorong oleh rasa kesatriaan dan juga sebab pada waktu turun tangan, ia masih belum tahu siapa adanya mereka itu.

Sekarang, mengingat nasib dua orang muridnya, tanpa merasa ia menghela napas panjang. Tak lama kemudian, si tukang perahu sudah selasai masak dan menaruh empat macam makanan dengan daging ayam, daging babi, ikan dan sayur, bersama sebakul nasi dan diatas sebuah meja kecil.

Sam Hong segera menyilakan kedua tamunya makan lebih dulu, sebab ia sendiri ingin manyuapkan Boe Kie yang tidak bisa bergerak. Atas pertanyaan Siang Gie Coen, ia menerangkan sebab musababnya.

Karena hatinya berduka, Boe Kie tidak bisa makan banyak. Baru saja menelan satu dua suap, ia sudah menggeleng-gelengkan kepala.

Tiba tiba Tit Jiak mengambil mangkok nasi dan sumpit dari tangan Sam Hong. “Too tiang, kau makan lebih dulu. Biar aku saja yang menyuapkan Toako,” katanya.

“Aku sudah kenyang,” kata Boe Kie.

“Toako, jika kau tak mau makan, Too tiang jadi kesal dan iapun tidak akan mau makan,” kata si nona dengan halus. “Apa kau tega membiarkan orang tua itu kelaparan?”

Boe Kie merasa perkataan gadis itu ada benarnya juga. Maka, waktu Tit Jiak mengangsurkan sendok nasi kemulutnya, ia lalu membuka mulut data memakannya. Dengan hati-hati, si nona kecil mencabut tulang-tulang ikan dan ayam dan pada setiap sendok nasi, ia menambahkan kuah daging, sehingga menimbulkan napsu makan dan tidak lama kemudian, Boe Kie sudah menghabiskan semangkok nasi.

Melihat begitu, Sam Hong merasa terhibur, Diam-diam ia merasa bahwa dalam sakitnya yang begitu berat, Boe Kie memang harus dirawat oleh seorang wanita yang halus budi pekertinya. Semeatara itu, Siang Gie Coen makan dengan bernapsu. Ia telah menghabiskan semangkok sayur dan empat mangkok nasi, tapi daging dan ikan tidak disentuh olehnya.

Dilain pihak, meskipun ia seorang toosoe, Sam Hong sendiri makan makanan berjiwa. Melihat nafsu makan Siang Gie Coen, ia segera menawarkan daging dan ikan kepada tamunya itu.

“Thio Cinjin,” kata si brewok, “Sebagai orang yang memuja Po sat, aku tidak makan makanan berjiwa.”

“Ah ! Aku lupa,” kata Sam Hong.

Dalam kalangan “agama siluman”, peraturan paling dipegang keras sekali. Anggauta “agama” itu setiap hari hanya diperbolehkan makan satu kali dan dilarang makan makanan berjiwa. Peraturan itu sudah berjalan sedari jaman kerajaan Tong. Oleh sebab sepanjang masa pemerintah selalu berusaha untuk membasminya, sedang orang-orang Rimba persilatan juga memandangnya rendah, maka anggauta-anggauta “agama” sesat sangat berhati hati dalam segala sepak terjangnya. Mereka tidak makan makanan berjiwa karena dilarang “agama” nya tapi terhadap dunia luar, mereka selalu mengatakan, bahwa mereka ciacay (hanya makan sayur sayur) sebab menyembah Po sat atau Sang Buddha. Mereka tidak berani mengakui siapa sebenarnya mereka.

“Thio Cinjin, kau adalah penolong jiwaku,” kata Siang Gie Coen sesudah selesai bersantap. “Sesudah kau tahu siapa adanya aku, akupun tak perlu menggunakan tedeng-tedeng lagi. Aku adalah seorang anggauta Beng kauw yang mengabdi kepada Beng coen. Agama kami dibenci oleb kerajaan, dipandang rendah oleh partai-partai persilatan yang lurus dan bahkan diejek oleh orang-orang “sejalan hitam” (kawanan perampok). Tapi Thio Cinjia sendiri, malah sesudah mengetahui asal usul kami, masih rela menyodorkan tangan untuk menolong kami. Budi yang sangat besar itu tak akan dapat dibalas.”

Pemimpin besar dari “agama” sesat itu dinamakan “Mo-ni”, sedang para penganut memanggitnya dengan panggilan “Beng coen”. Mereka menamakan “agama” mereka sebagai “Beng kauw.” (Agama terang), sedang orang luar memberi nama “Mo kauw” atau Agama siluman.

Sam Hong mengawasi Gie Coen dengan mata tajam dan berkata: “Siang Enghiong….”

“Lo too ya,” memutus Gie Coen, “janganlah kau menggunakan kata-kata enghiong. Panggil saja namaku, Gie Coen.”

“Baiklah,” kata guru besar itu sambil mengangguk. “Gie Coen, berapa usiamu sekarang?”

“Baru masuk duapuluh tahun,” jawabnya.

Sam Hong mengawasi pemuda itu. Ia kelihatannya banyak lebih tua lantaran berewoknya yang tebal. Dari suara dan gerak-geriknya, ia memang masih muda sekali.

Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya. “Kau baru saja masuk usia dewasa, masih muda sekali,” katanya. “Biarpun kau sudah masuk kedalam agama sesat, masih belum terlalu dalam. Jika kau mau memutar kepala, masih belum terlambat. Aku ingin mempersembahkankan dengan beberapa perkataan dan aku harap kau tidak menjadi gusar.”

“Ajaran Tootiang tentulah juga berharga seperti emas dan batu kumala,” kata pemuda itu sambil membungkuk. “Mana bisa aku merasa gusar?”

“Baiklah”, kata guru besar itu. “Aku ingin menasehati supaya kau cepat-cepat mencuci hari dan mengubah muka supaya kau segera meninggalkan agama yang sesat itu. Manakala kau tidak mencela Boe tong pay yang ilmunya cetek, aku akan memerintahkan supaya muridku yang kepala, yaitu Song Wan Kiauw, menerima kau sebegai murid. Dihari kamudian kau akan bisa mengangkat muka dan tidak seorangpun berani memandang rendah lagi kepadamu.”

Song Wan Kiauw adalah kepala dari Boe tong cit hiap dan namanya telah menggetarkan seluruh Rimba Persilatan. Bagi ahli silat yang biasa untuk menemuinya saja, sudah bukan gampang. Dalam beberapa tahun yang belakangan, baru Boe tong Cit hiap mulai menerima murid. Tapi dalam penerimaan murid itu selalu dilakukan pemilihan dan penyaringan yang sangat keras. Hanyalah orang orang yang berbakat dan beradat baik barulah di terima menjadi anggauta Boe tong pay. Siang Gie Coen adalah seorang anggauta “agama” sesat. yang dipandang jijik oleh masyarakat seumumnya. Maka itu tawaran Thio Sam Hong merupakan juga rezeki luar biasa pemuda itu.

Tapi, diluar dugaan, Gie Coen menjawab dengan sikap hormat: “Bahwa aku, Siang Gie Coen telah mendapat penghargaan yang begitu tinggi dari Thio Cinjin, bukan main rasa terima kasihku. Akan tetapi, sesudah menjadi anggauta Beng kauw seumur hidup aku tak berani membelakangi agamaku itu”

Sam Hong coba membujuk lagi, tetapi pemuda itu tetap menolak dengan hormat dan tegas. beberapa saat kemudian, dengan rasa menyesal, ia lalu mendukung Boe Kie seraya berkata: “Kalau begitu, biarlah kita berpisahan disini saja,” Dalam kata-kata perpisahan itu, ia malah tidak mengucapkan perkataan, “sampai bertemu lagi,” yang lazimnya digunakan.

Sebelum tuan penolong itu meninggalkan perahu, sekali lagi Siang Gie Coen menghaturkan terima kasih dengan berlutut.

“Thio Toako,” kata si nona cilik kepada Boe Kie, “setiap hari kau harus makan kenyang kenyang, supaya Loo too-ya jangan jengkel.”

Air mata Boe Kie lantas saja mengembang dan dengan suara putus-putus ia menjawab: “Terima kasih untuk kebaikanmu…. Tapi aku hanya bisa makan nasi beberapa hari saja.”

Bukan main rasa dukanya kakek guru itu. Ia mengangkat lengannya dan menggunakan tangan jubah untuk menyusut air mata cucu muridnya.

“Apa?” menegas Tit Jiak dengan suara kaget “Kau…kau…”

“Nona kecil, hatimu sangat mulia,” kata Sam Hong, “Aku mendoakan supaya dibelakang hari kau jalan dijalanan yang lurus”

“Terima kasih atas nasehat Loo too-ya,” jawab Cioe Tit Jiak.
“Thio Cinjin,” tiba-tiba Gie Coen berkata, “kau memiliki Lweekang dan kepandaian yang sangat tinggi. Biarpun luka saudara kecil itu sangat berat, aku percaya kau akan dapat menyembuhkannya.”

“Benar,” kata Sam Hong yang tanpa dilihat Boe Kie, sudah menggoyangkan tangan kirinya sebagai keterangan kepada Gie Coen, bahwa lukanya bocah itu tidak dapat diobati lagi.

Gie Coen terkejut. “Thio Cinjin,” katanya pula, “aku sendiri telah mendapat luka yang sangat berat dan sekarang aku justeru ingin meminta pertolongan dari seorang tabib malaikat. Mengapa Thio Cinjin tidak mau mencoba-coba?”

Thio Sam Hong menundukkan kepala. “Semua pembuluh darahnya telah terbuka, sehingga racun dingin bisa membuyar dan masuk kedalam perutnya,” katanya dengan suara perlahan. “ia tidak akan dapat disembuhkan dengan memakai obat biasa dan didalam dunia, tak seorangpun bisa mengobatinya.”

“Tapi,” kata Siang Gie Coan, “tabib malaikat yang dimaksudkan olehku memiliki kepandaian luar biasa tinggi, sehingga kata orang ia malah mampu menghidupkan mayat.”

Sam Hong terkejut dan mendadak saja, ia ingat satu orang. “Apakah yang dimaksudkan olehmu bukan Tiap-kok Ie sian?” tanyanya.

“Benar,” jawabnya. “Kalau begitu, Tootiang pun mengenal Ouw Soepehku.”

Guru besar itu kelihatan agak bersangsi. Memang sudah lama ia mendengar nama Tiap kok le Sian Ouw Ceng Goe yang dipandang rendah oleh orang Rimba Persilatan. Ia mempunyai adat yang sangat aneh. Kalau orang yang sakit atau terluka anggauta “agama”nya, ia segera menolongnya dengan sepenuh tenaga tanpa mau menerima bayaran apapun jua. Tapi, kalau yang memohon pertolongan bukan pengikut “agama”, biarpun dibayar dengan laksaan tail emas, ia tak akan meladeni.

“Aku lebih suka Boe Kie mati dari pada menyerahkan nya kepada orang dari agama sesat itu,” katanya didalam hati.

Melihat kesangsian Sam Hong, pemuda itu dapat menebak apa yang dipikirnya dan ia lantas saja berkata: “Thio Cinjin, meskipun Ouw Soepeh biasanya menolak untuk mengobati orang luar, tapi karena Thio Cinjin telah menolong jiwa Cioe Kouw nio, ia pasti akan membuat kecualian. Andaikata ia menolak, Gie Coen pasti tak mau mengerti.”

Sam Hong menghela napas dan berkata dengan suara duka: “Mengenai kepandaian Ouw Sinshe, sudah lama aku mendengarnya. Hanya sayangnya, racun dingin yang mengeram didalam tubuh Boe Kie sekarang ini tidak akan dapat disembuhkan dengan obat biasa….”

“Thio Cinjin!” teriak Gie Coen. “Mengapa kau begitu bersangsi? Kalau diobati oleh Soepehku, paling banyak saudara kecil itu tidak sembuh. Kalau kekiri mati, kekananpun mati, perlu apa Tootiang memikir panjang?”

Sebagai orang yang beradat polos, ia bicara segala apa yang berkelebat diotaknya.

Mendengar “kekiri mati, kekananpun mati”, hati guru besar itu bergoncang keras. “Apa yang dikatakan olehnya memang tidak salah,” pikirnya. “Menurut penglihatanku, paling banyak Boe Kie bisa bertahan dalam tempo sebulan lagi.” Mengingat begitu, ia lantas saja berkata: “Gie Coen, baiklah, aku minta pertolonganmu. Akan tetapi, sebelum pertolongan diberikan, aku ingin menjelaskan terlebih dulu, bahwa Sinshe tidak boleh membujuk atau memaksa Boe Kie masuk kedalam agama kalian. Disamping itu, jika Boe Kie benar menjadi sembuh, Boe tong pay tidak menanggung budi agama kalian.”

“Thio Cinjin,” kata Gie Coen, “dengan berkata begitu, kau jadi memandang terlalu rendah kepada orang-orang kami.” Ia berpaling kepada Cioe Tit Jiak dan berkata puta: “Cioe Kauwnio, aku ingin kau mengikut Thio Cinjin untuk sementara waktu. Apa kau suka?”

Sebelum si nona menjawab, Sam Hong sudah mendahului: “Apa?”

“Aku tahu bahwa Thio Cinjin tidak suka pergi kepada Ouw Soepehku,” kata Gie Coen. “Dapat dimengerti, bahwa lurus dan sesat tidak bisa berdiri berendeng. Thio Cinjin adalah seorang guru besar pada jaman ini. Cara bagaimana Thio
Cinjin bisa meminta pertolongan dari seorang anggauta agama sesat? Disamping itu, adat Ouw Soepeh juga aneh sekali. Jika ia bertemu dengan Thio Cinjin, mungkin sekali Ia tidak berlaku sopan santun, sehingga pertemuan itu bisa berakibat sebaliknya daripada apa yang diharap. Maka itu, menurut pendapatku, sebaiknya saudara Thio dibawa olehku sendiri. Tapi, akupun mengerti, bahwa Thio Cinjin merasa sangsi untuk menyerahkan saudara Thio kepadaku. Maka itulah, aku minta Cioe Kouwnio berdiam di Boe tong san untuk sementara waktu. Nanti, sesudah saudara Thio sembuh, aku akan mengantarkannya ke Boe tong san dan sekalian mengambil pulang Cioe Kouwnio. Dengan perkataan yang lebih tegas, aku ingin minta Cioe Kauwnio mengikut Thio Cinjin untuk dijadikan semacam tanggungan.”

Dalam pergaulannya selama puluhan tahun, Thio Sam Hong selalu berterus terang dan menaruh kepercayaan kepada orang-orang Rimba Persilatan. Akan tetapi, Thio Boe Kie adalah turunan tunggal dari muridnya yang tercinta, sehingga memang benar ia sangat bersangsi untuk menyerahkannya kepada seorang dari kalangan “agama” sesat.

Sebelumnya guru besar itu sempat menjawab, Siang Gie Coen sudah berkata pula “Cioe Cie Ong, Cioe Toako, adalah seorang yang bener-benar luhur pribudinya. Sesudah gagal dalam gerakannya di Sin yan, duapuluh tiga anggauta keluanganya telah dibinasakan oleh Tat-coe. Bahkan ibu Toako yang sudah berusia tujuhpuluh delapan tahun, tidak luput dari kebinasaan. Sesudah bertempur mati-matian, barulah aku dapat menolong seorang putera dan seorang putrinya. Tak dinyana, Siauw kongcoe telah binasa terpanah musuh sehingga Kauwnio merupakan turunan yang satu-satunya dari Ciao Toako. Sebagai salah seorang pemimpin Beng kauw, Cioe Toako mempunyai banyak musuh. Bukan saja Tat coe, tapi musuh musuh lainnya pun akan menyukarkan Thio Cinjin jika mereka tahu, bahwa Cioe Kauwnio berada di Boe tong…”

Tanpa merasa Sam Hong tertawa. Sebelum ia menyanggupi untuk menerima Cioe Tit Jiak, pemuda yang polos itu sudah memperingatkannya. Ia berdiri bengong beberapa saat. Memang juga, lain jalan tidak ada, kekiri mati, kekananpun mati, jalan satu-satunya yalah mencoba coba kepandaian Tiap-kok Ie sian. Mengingat begitu, ia lantas saja berkata: “Gie Coen baiklah. Aku akan merawat Cioe Kauwnio baik baik dan kaupun harus merawat Boe Kie sebaik baiknya. Sesudah anak itu sembuh, kuharap kau lekas-lekas datang di Boe tong san.”

“Thio Cinjin tak usah kuatir,” jawabnya dengan suara lantang. “Aku pasti akan menunaikan tugas dengan sepenuh tenaga”

Sehabis berkata begitu, ia melompat kedarat dan membuat sebuah lubang ditanah dengan ujung golok, kemudian, sesudah membuka semua pakaian yang menempel dimayat majikan kecilnya, ia lalu menguburnya dalam keadaan telanjang.

Sesudah itu, bersama Cioe Tit Jiak, ia memberi hormat didepan kuburan. Nona Cioe menangis sedih, sedang ia sendiri berdiri tegak sambil menahan mengucurnya air mata.

Mayat bocah itu dikubur dalam keadaan telanjang adalah sesuai dengan kebiasaan Bang kauw. Menurut “agama” itu, seorang manusia yang dilahirkan kedalam dunia dengan tidak memakai pakaian, haruslah berpulang ke alam baka dalam keadaan begitu juga. Sam Hong yang tidak tahu sebab musabab penguburan yang aneh itu, hanya menhela napas dengan perasaan, bahwa sepak terjang orang-orang “agama” sesat benar-benar sesat.

Pada keesokan paginya, sambil menuntun Tit Jiak, guru besar itu berpisahan dengan Gie Coen dan Boe Kie. Semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia, Boe Kie menganggap sang kakek guru seperti kakeknya sendiri. Sekarang secara mendadak kakek guru itu meninggalkannya, sehingga tanpa tertahan lagi, air matanya mengucur deras.

“Boe Kie,” kata Sam Hong sambil mengusap usap kepala anak itu. “Sesudah kau sembuh Siang Toako akan membawa kau pulang ke Boe tong. Kita hanya berpisahan untuk beberapa bulan dan kau tak perlu bersusah hati.”

Anak itu yang kaki tangannya sudah tidak bisa bergerak akibat totokan sang kakek guru, hanya manggut-manggutkan kepala, sedang air matanya mengucur.

Melihat begitu, nona Cioe segera kembali keperahu. Ia mengeluarkan sehelai sapu tangan kecil dari sakunya dan lalu menyusut air mata Boo Kie. Ia bersenyum dan sesudah memasukkan sapu tangan itu ditangan baju Boe Kie, barulah ia melompat balik kedarat.

Hati Sam Hong bergoncang. “Nona kecil itu, sangat cantik dan dihari kemudian, ia pasti akan menjadi seorang wanita yang ayu luar biasa,” pikirnya. “Sesudah Boe Kie sembuh, aku tidak boleh membiarkan mereka bertemu muka lagi. Jika mereka sampai saling menyinta, hikayat Coei San mungkin akan terulang lagi.”

Dengan hati duka, Boe Kie mengawasi bayangan sang kakek guru yang menuju ke arah barat sambil menuntun tangan nona Cioe, yang tidak berhentinya mengulap-ulapkan tangan, sehingga bayangannya menghilang diautara pohon-pohon.

Sesaat itu, hati si bocah mencelos, benar-benar ia merasa hidup sebatang kara dalam dunia yang lebar ini dan air matanya kembali mengucur.

Gie Coen mengerutkan alis. “Saudara Thio, berapa usiamu?” tanyanya.

“Dua belas tahun,” jawabnya.

“Hm… ” Gie Coen mengeluarkan suara di hidung. “Usia dua belas tahun bukan anak anak lagi. Apa kau tak malu, menangis? Waktu aku berusia duabelas tahun, aku sudah menerima pukulan ratusan kali, tapi tidak setetes air mata keluar dari mataku. Seorang laki-laki sejati hanya boleh mengucurkan darah, tak boleh mengucurkan air mata. Kalau kau terus menangis seperti bayi, aku akan hajar kau.”

Melihat kegarangan si brewok, Boe Kie jadi agak keder. “Baru saja Thay soehoe pergi, kau sudah begitu galak.” pikirnya. “Entah berapa besar kesengsaraan yang bakal diderita olehku.” Mengingat begitu, ia lantas saja berkata dengan suara nyaring. “Aku menangis karena merasa sedih harus berpisahan dengan Thay soehoe. Aku belum pernah menangis sebab pukulan. Mau pukul boleh kau pukul. Kalau hari ini kau memukul aku satu kali, dihari kemudian nanti aku akan membalas sepuluh kali.”

Gie Coen tertawa terbahak-bahak, “Bagus! Bagus !” katanya. “Itulah perkataan seorang laki laki. Kau begitu liehay, tak berani aku memukul kau.”

“Mengapa ? Aku sedikitpun tidak bisa bergerak,” kata si bocah.
“Kalau hari ini aku memukul kau, dikemudian hari, sesudah kau memiliki kepandaian tinggi, bagaimana aku kuat menerima sepuluh kali pukulanmu ?” jawabnya.

Boe Kie tertawa. Ia merasa bahwa meskipun garang, Siang Toako bukan seorang jahat.

Dengan mengunakan perahu, mereka menuju ke Han kouw dan sesudah tiba di Han kouw, Gie Coen menyewa lain perahu dan berlayar kealiran sebelah bawah dari Tiangkang timur.

Tiap kok, atau selat kupu kupu, tempat tinggal Tiap kok Ie sian terletak di pinggir telaga Lie san ouw, sebelah utara propinsi An hoei. Sebagaimana diketahui, dari Han kouw sampai di Kioe kang, sungai Tiang kang mengalir kejurusan tenggara. Sesudah melewati Kioe kang, sungai itu membelok kearah timur laut dan masuk ke propinsi An hoei.

Boe Kie berlayar dengan perasaan duka. Ia ingat bahwa pada dua tahun berselang, ia pernah berlayar di sungai Tiangkang bersama sama kedua orangtuanya dan pa man Jie Lian Cioe. Selama dalam pelayaran, ia gembira bukan main, tetapi sekarang, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia secara mengenaskan, kaki tangannya tidak bisa bergerak dan ia sendiri berada dalam rawatan seorang sahabat baru dalam perjalanan untuk memohon pertolongan kepada seorang aneh. Antara kedua pelayaran itu terdapat perbedaan seperti langit dan bumi. Ia bersedih, tapi sebisa bisa ia menahan mengucurnya air mata, karena kuatir ditertawai olen Siang Toakoo.

Setiap hari, pada Coe sie (antara jam 11 malam dan jam 1 lewat tengah malam) dan Ngo sie (antara jam 1 siang sampai jam 1 lohor), racun dingin mengamuk dalam tubuhnya. Sambil mengertak gigi dan menggigit bibir, ia menahan sakit, sehingga bibirnya sampai tertuka akibat gigitan. Di samping itu, makin hari serangan racun makin hebat.

Pada suatu hari mereka tiba di Kwa po, sebelah bawah Cip keng (sekarang Nan king). Dengan mendukung Boe Kie, Gie Coen mendarat dan lalu menyewa kereta untuk meneruskan perjalanan ke utara. Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Beng Kong, di sebelah timur Hong yang.

Gie Coen tahu bahwa Soepehnya yang beradat aneh itu paling tidak senang tempat tinggalnya di ketahui orang. Maka itu, pada waktu kereta berada dalam jarak kira-kira dua puluh li dari Lie san ouw, ia segera turun dari kereta dan sambil menggendong Boe Kie, lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Tapi diluar dugaannya, baru saja ia berjalan kurang lebih satu li badannya lemas dan napasnya tersengal-sengal. Ia terkejut dan mengerti, bahwa itulah akibat dari luka yang dideritanya karena pukulan im ciang dari dua pendeta asing.

Boe Kie merasa sangat tidak tega. “Siang Toa ko.” katanya. “Jalan saja perlahan-lahan. Jangau kau merusak badan.”

“Celaka sungguh!” kata Gie Coan dengan gusar. “Menurut kebiasaan, sekali lari aku bisa melalui seratus li. Apakah pukulan kedua pendeta bangsat itu sedemikian hebat, sehingga aku tidak dapat berjalan lagi?” Dengan amarah yang meluap-luap ia berjalan terus. Baru jalan puluhan tombak, ia merasa tulang-tulangnya seperti mau copot. Tapi Siang Gie Coen seorang keras kepala dan keras hati. Sambil mengertak gigi, ia maju terus, setindak demi setindak.

Dengan kemajuan yang sangat lambat itu, sampai malam barulah mereka melalui separuh perjalanan. Jalanan gunung yang berbelit belit dan turun naik menambah penderitaan pemuda itu.

Akhirnya, waktu tiba disebuah hutan ia tak dapat bertahan lagi. Perlahan-lahan ia menaruh Boe Kie diatas tanah dan kemudian, ia merebahkan diri untuk mengaso. Ia mengeluarkan kue phia dari sakunya dan membagi kue itu kepada Boe Kie untuk menangsal perut.

Sesudah mengaso kira-kira setengah jam, Gie Coen bangun berdiri untuk meneruskan perjalanan, tapi Boe yang merasa kasihan terhadapnya, berkeras untuk mengaso semalaman dihutan itu. Sesudah berpikir sejenak, ia merasa pendirian si bocah ada benarnya juga. Andaikata, mereka bisa tiba dirumah Ouw Ceng Goe pada malam itu, sang Soepeh yang beradat aneh mungkin bergusar karena diganggu tidurnya dan kalau dia bergusar, mungkin sekali dia akan menolak untuk mengobati. Memikir begitu, ia lantas saja menyetujui usul Boe Kie.

Mereka tidur dengan menyender dikaki sebuah pohon besar. Kira-kira tengah malain, racun dingin mengamuk lagi dan Boe Kie memanggil keras. Karena sungkan mengganggu Gie Coen yang sudah capai lelah, ia menahan sakit sambil menggigit bibir.

Selagi ia bergulat melawan racun dingin itu, sekonyong-konyong terdengar suara beradunya senjata, disusul dengan suara bentakan seorang: “Mau lari kemana kau?”

Bentakan, disusul pula dengan teriakan beberapa orang lain.

“Cegat ditimur ! Cepat ! Supaya dia masuk kehutan!”

“Bangsat gundul itu tidak boleh dilepaskan ! Cegat!”

Hampir berbareng terdengar tindakan sejumlah orang yang menuju kearah hutan.

Dengan kaget Siang Gie Coen tersadar. Satu tangannya segera menghunus golok, lain tangan mendukung Boe Kie, siap sedia untuk melarikan diri sambil bertempur.

“Siang Toako, kurasa mereka bukan maui kita,” bisik Boe Kie.

Gie Coen mengangguk. Di dalam hati ia sudah mengambil keputusan, bahwa meskipun mesti membuang jiwa, ia akan coba melindungi keselamatan bocah itu. Hanya ia merasa menyesal, bahwa sesudahb mendapat luka, ilmu silatnya sekarang sudah musnah seanteronya.

Mereka mengintip dari belakang sebuah pohon besar. Mereka melihat berkelebat-kelebatnya bayangan orang tujuh delapan orang sedang mengurung dan mengerubuti satu orang. Karena gelap, mereka tak tahu siapa adanya orang-orang itu. Mereka hanya tahu, bahwa orang yang dikepungnya melawan dengan tangan kosong dan bahwa orang itu lihay luar biasa, sehingga biarpun dikerubuti, ia masih dapat membela diri secara bagus sekali.

Sesudah bertempur beberapa lama, setindak demi setindak, orang-orang itu mendekati tempat bersembunyinya Gie Coen berdua. Pada waktu sang rembulan muncul dari alingan awan hitam mereka melihat, bahwa orang yang dikepung yalah seorang pendeta yang berusia kira-kita lima puluh tahun, tubuhnya kurus jangkung data mengenakan jubah pertapaan serba putih. Dipihak pengepung terdapat pendeta, imam, seorang lelaki yang memakai pakaian koan kee (pengurus rumah tangga) dan dua orang perempuan. Makin lama Gie Coen makin merasa heran. Delepan pengurung itu masing masing memiliki kepandaian tinggi. Dua orang pendeta yang satu bersenjata Sian thung dan yang lain memegang golok menyerang dengan pukulan-pukulan yang disertai sambaran angin dahsyat, sehingga daun-daun pohon meluruk jatuh kebawah.

Si imam, toosoe yang bersenjatakan pedang panjang, aneh gerak-gerakannya. Sebentar ia melompat kekiri, sebentar kekanan. Sedang pedangnya yang menggetar tak henti-hentinya mengeluarkan sinar berkeredepan.

Lelaki yang berpakaian seperti koan kee, kate kecil tubuhnya. berguling-guling ditanah dan menyerang bagian bawah sipendeta jubah putih dengan menggunakan ilmu golok Tee tong To hoat. Kedua goloknya terputar putar bagaikan sebuah bola yang menggelinding di tanah.

Kedua wanita itu, yang bertubuh langsing dan masing masing mencekal sebatang pedang, juga menyerang dengan pukulan pukulan yang sangat lihay.

Selagi bertempur hebat, salah seorang wanita mendadak memutar badan, sehingga separuh mukanya disoroti sinar rembulan.

“Kie Kouwnio!” seru Boe Kie dengan suara tertahan. Wanita itu bukan lain daripada Kie Siauw Hoe, tunangan In Lie Heng. Tadi melihat pendeta si jubah putih dikerubuti oleh begitu banyak orang, Boe kie merasa mendongkol terhadap pihak pengepung. Tapi sekarang sesudah melihat Kie Siauw Hoe, pandangannya berubah dan ia menganggap, bahwa pendeta itu manusia jahat.

“Delapan orang mengerubuti satu orang, terlalu tak mengenal malu.” Gie Coen berkata seorang diri. “Siapa mereka?”

“Yang wanita dari Go bie pay,” bisik Boe Kie, “Hm… dua pendeta itu orang Siauw Lim sie.” Sesudah mengawasi pertempuran beberapa saat, dia berkata pula “Si toosoe orang Koen loan pay. Lihatlah! Pukulan Tay mo Hoei soe (Tay mo Hoe see artinya Pasir beterbangan di gurun pasir) itu sungguh amat hebat. Itulah pukulan simpanan dari Koen loen pay. Tapi siapakah lelaki yang menggunakan ilmu silat Tee tong To hoat?”

“Apa bukan dari Khong tong pay ?” tanya si brewok.

“Bukan,” jawabnya. “Dalam Tee tong to hoat Khong thong pay, orang halus menggunakan sebatang golok yang dicekal di tangan karan, dan sebatang toya ditangan kiri. Orang itu menggunakan sepasang golok.”

Mendengar keterangan si bocah, Siang Gie Coen merasa kagum. “Setiap murid Boe tong benar-benar berpengetahuan luas,” pikirnya. Tapi ia tak tahu bahwa pengetahuan itu didapat Boe Kie bukan dari Boe tong tapi dari ayah angkatnya.

Sebagaimana diketahui, di dalam tekad untuk membalas sakit hatinya, Cia Soen telah mempelajari hampir semua ilmu-ilmu silat yapg dikenal didalam Rimba Persilatan.

Pertempuran berlangsung terus dengan hebatnya, akan tetapi pendeta jubah putih itu masih tetap dapat mempertahankan diri. Tubuhnya berkelebat kelebat bagaikan kilat, tenaganya dahsyat luar biasa, sedang gerakan tangannya hampir tak bisa dilihat tegas, karena terlampau cepat.

Tiba-tiba terdengar bentakan salah seorang: “Gunakan senjata rahasia !”

Si kate kecil dan si imam lantas saja melompat keluar dari gelanggang pertempuran, disusul dengan menyambarnya nyambrnya peluru serta Hoei to (golok terbang) ke arah si pendeta. Diserang secara begitu, dia mulai keteter.

“Pheng Hweeshio !” bentak si imam. “Kami bukan maui jiwamu, perlu apa kau nekad-nekadan? Serahkan Pek Kwie Sioe dan kita akan berpisahan sebagai sahabat.”

Siang Gie Coen terkesiap, “Pheng Hweeshio” bisiknya.

Boe Kie pun tidak kurang kagetnya. Waktu berada dalam perjalanan pulaing ke Boe tong bersama kedua orang tuanya dan Jie Lian Cioe ia pernah mendengar, bahwa Pek Kwie Sioe adalah orang Peh bie kauw satu satunya yang bisa pulang dengan selamat dari pulau Ong poan San. Dan murid murid Koen loan juga terlolos dari kebinasaan, tapi mereka hilang ingatan karena teriakan Cia Soen. Maka itu, selama belasan tahun, dalam pertempuran dangan Peh bie kauw tujuan jago-jago berbagai partai adalah untuk mendesak supaya Pek Kwie Sioe memberitahukan dimana adanya Cia Soen

“Apakah Pheng Hweeshio segolongan dengan ibuku?” tanya Boe Kie didalam hati.

Sementara itu, Pheng Hweeshio sudah menjawab dengan suara Iantang: “Pak Tancoe sudah dilukakan berat oleh kamu. Jangankan aku dan dia-masih sama-sama orang-orang segolongan, terhadap orang luar sekalipun, aku tak bisa mengawasi kebinasaan dengan berpeluk tangan.”

“Omong apa kau!” bentak si imam. “Mengawasi kebinasaan dengan berpeluk tangan? Kau tahu, tujuan kami bukan mengnendaki jiwanya. Kami hanya menyelidiki tempat bersembunyinya seorang.”

“Kalau kamu mau menyelidiki dimana adanya Cia Soen, mengapa kamu tidak mau pergi kepada Hong thio Siauw lim sie?” tanya si pendeta.

“Tutup bacotmu!” bentak si pendeta Siauw lim. “Apa kau tidak tahu, bahwa itu hanya tipu busuk dari perempuan siluman In So So?”

Mendengar disebutkannya nama mendiang ibunya, Boe Kie merasa bangga agak bercampur duka.”Hm …. sesudah meninggal dunia, ibu masih bisa membuat kalian semua pusing kepala,” katanya di dalam hati

Sambil bicara, pertempuran berlangsung terus dengan dahsyatnya. Si toosoe mengajak, bicara dengan tujuan untuk memecah pemusatan pikiran Pheng Hweeshio. Tapi pendeta itu yang cerdas otaknya dan tinggi ilmu silatnya, tidak kena diakali. Biarpun mulutnya bicara, kewaspadaannya sedikitpun tidak jadi berkurang. Tapi, karena jumlah musuh terlalu besar dan musuh-musuh itu pun bukan sembarang orang, maka ia tetap tidak berhasil dalam usahanya untuk menerjang keluar dari kepungan.

Sekonyong-konyong, si imam yang melepaskan senjata rahasia dengan berdiri diluar gelanggang, berteriak: “Celaka! Senjata rahasia habis!” berbareng dengan teriakan itu, semua kawannya menggulingkan diri ditanah dan lima batang golok terbang menyambar bagaikan kilat. Ternyata kata kata “senjata rahasia habis” adalah semacaan isyarat supaya semua orang bergulingan untuk menyingkirkan diri dari sambaran lima batang Hoeito yang menyambar dalam bentuk bunga bwee.

Dalam keadaan biasa, dengan menundukkan kepala, membungkuk, melompat kedepan atau menjengkangkan diri, Pheng Hweeshio akan dapat mengelakkan lima golok itu yang menyambar dadanya. Tapi sekarang, sebab sambil bergulingan, keenam musuhnya juga menyerang dengan senjata mereka, maka bagian bawah badannya tertutup semua.

Boe Kie mencelos hatinya.

Mendadak tubuh Pheng Hweeshio meleset keatas kira-kira setombak tingginya, dan lima buah golok terbang lewat di bawah kakinya. Tapi, meskipun senjata rahasia sudah dielakkan, Sianthung dan golok kedua pendeta Siauw lim serta pedang dari toesoe Koen loan pay sudah manyambar lututnya dengan berbareng. Sesaat itu tubuh Pheng Hwee shio masih di tengah udara, sehingga, mau tidak mau, ia terpaksa menggunakan pukulan yang berbahaya dan membinasakan.

“Ptak!”, telapak tangan kirinya menghantam kepala seorang pendeta Siauw lim dan dengan sekali menjambret, tangan kanannya sudah merampas golok pendeta itu, yang lalu digunakan untuk menangkis Sianthung. Dengan meminjam tenaga dari bentrokan kedua senjata itu, badannya “terbang” beberapa tombak jauhnya. Pendeta Siauw lim yang ditepuk kepalanya, sudah binasa seketika itu juga. Sambil berteriak-teriak, tujuh kawannya mengubar Pheng Hweeshio.

Di lain saat, badan Pheng Hweeshio kelihataan bergoyang-goyang, hampir-hampir jatuh terguling, dan ketujuh musuhnya lantas saja mengurung.

Sambil memutar Sianthung, si pendeta Siauw lim menerjang dan berteriak “Pheng Hweeshio! Kau membinasakan Soeteeku. Mari kita mengadu jiwa !”

“Lututnya sudah kena Sia wie kauw (Gaetan buntut kalajengking. semacam senjata rahasia) !” teriak si toosoe Koen loen. “Tak lama lagi, dia akan mampus keracunan!”

Benar saja, tindakan Pheng Hweeshio kelihatan limbung dan perlawanannya terhadap si pendenta Siauw lim, sudah kalut.

“Celaka!” bisik Siang Gie Coen. “Ia adalah guru Cioe Toako. Bagaimana aku harus menolongnya?”

Boe Kie tahu, bahwa si brewok adalah manusia yang tidak bisa menonton kecelakaan kawan sambil berpeluk tangan. Biarpun dirinya sendiri terluka berat, ia masih mau menolong orang. Andai kata ia sampai menerjang keluar, ia hanya akan mengantarkan jiwa dengan cuma-cuma. Tiba-tiba Boe Kie mendapatkan serupa ingatan dan ia lantas saja berkata: “Siang Toako, kau ingin menolong Pheng Hweeshio bukan?”

“Tidak bisa tidak ditolong!” jawabnya. “Ia kena senjata beracun, Tapi, aku sendiri …. aku sendiri ….”

“Aku mempunyai serupa daya untuk memulihkan tenagamu,” memutus si bocah. “Kau akan bisa bertahan selama setengah jam, tapi dengan demikian, kau akan merusak tenaga dalammu.”

Sesudah mendengar keterangan si bocah mengenai limu silat berbagai partai, Gie Coen percaya, bahwa anak yang sangat pintar itu adalah murid istimewa dari Thio Sam Hong, sehingga ia tidak menyangsikan omongan itu.

“Untuk menolong jiwa manusia, aku rela merusak tenaga dalamku sendiri.”

“Ambillah dua butir batu yang tajam,” bisik Boe Kie.

Gie Coen segera melakukan apa yang diminta. “Apa ini boleh?” tanyanya sambil mengangsurkan kedua batu itu.

“Boleh,” jawab si bocah sambil mengangguk. “Dengan tajamnya batu, totoklah samping pahamu, dibawah pinggang.”

“Disini?” tanya Gie Coen sambil menunjuk samping pahanya.

“Lebih bawah sedikit,” kata si bocah. “Ya! benar disitu. Kesebelah dikit, setengah coan. Bagus! Nah, sekarang totoklah.”

Si berewok lantas saja menotok paha kanannya dengan batu itu dan hampir berbareng, ia merasa pahanya kesemutan.

“Inilah ilmu yang dinamakan Tie sin Tah hiat hoat (ilmu menotok jalan darah untuk mempertinggi semangat),” menerangkan Boe Kie. “Totoklah paha kirimu.”

Si berewok agak bersangsi. Walaupun belum pernah belajar, ia tahu bahwa dalam Rimba Persilatan terdapat ilmu Tiam hiat yang dapat melumpuhkan anggauta badan manusia. Akan tetapi, meskipun mengingat itu, ia tetap percaya omongan Boe Kie, karena menurut anggapannya, sebagai sebuah partai persilatan yang namanya menggetarkan dunia, Boe tong pay tentunya juga mempunyai cara-cara yang lain dari pada yang lain. Demikianlah, ia segera menotok lagi pada paha kirinya.

Tapi, di luar dugaan, begitu paha kirinya tertotok, separuh badannya, mulai dari pinggang ke bawah, tidak dapat digerakkan pula.

Sementara itu, sesudah melompat beberapa tombak jauhnya, Pheng Hweeshio lalu roboh di tanah.

“Saudara Thio!” kata si brewok dengan bingung. “Mengapa…. badanku seperti mati separoh ?”

Boe Kie tertawa geli di dalam hati, karena Siang Gie Coen sudah tertipu, tapi ia pura pura kaget dan mengeluarkan seruan tertahan: “Celaka! Kau tidak mengerti Tiam hiat, mungkin sekali kau salah dalam menggunakan tenaga. Tunggulah sebentar.”

Siang Gie Coen bukan seorang tolol. Di lain saat ia sudah mengerti, bahwa ia terjebak oleh muslihat si bocah nakal. Tapi iapun tahu, bahwa dengan berbuat begitu, Boe Kie bermaksud baik sekali. Ia tidak dapat berbuat lain daripada menghela napas dengan perasaan mendongkol tercampur geli.

Pheng Hweeshio menggeletak di tanah tanpa bengerak, seolah olah ia sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan. Akan tetapi biarpun begitu, musuh musuhnya masih belum berani mendekati.

“Kouw Soetee, cobalah kau menimpuk lagi dengan dua buah golok terbangmu, untuk mencoba-coba,” kata si toosoe Koen loen pay.

Too jin yang dipanggil “Kouw Soetee,” segera mengayun tangan kanannya dan dua Hoeito menyambar, yang satu menancap di pundak kanan Pheng Hweeshio, sedang yang lain mengenakan paha kirinya. Tapi pendeta jubah putih itu tetap tidak bergerak, suatu bukti, bahwa dia benar benar sudah binasa.

“Sayang ! Sayang dia sudah mati,” kata si too soe Koen loen. “Sekarang sukar diselidiki, dimana dia menyembunyikan Pek Kwie Sioe.”

Semua lalu mendekati “mayat” Pheng Hweesio.

Mendadak, mendadakan saja, terdengar Suara “plak… plak…. plak ….” lima kali beruntun, dan lima orang roboh terguling! Hampir berbareng, dengan semangat bergelora, Pheng Hweeshio bangun berdiri, dengan pundak dan paha masih tertancap golok.

Ternyata, sesudah kena senjata beracun dan yakin, bahwa jiwanya tidak akan dapat ditolong lagi, Pheng Hweesio lalu pura-pura mati. Begitu lawannya mendekati, ia segera menghantam lima orang musuh lelaki dengan pukulan Ngoheng ciang. Ia sengaja mengampuni dua orang lawan wanita, yaitu Kie Siauw Hoe dan Soecienya yang bernamar Teng Bin Koen.

Dalam kagetnya, kedua murid Go bie pay itu melompat mundur. Mereka melihat, bahwa kelima kawannya muntahkan darah dan dua antaranya yang Lweekangnya agak lemah, sudah jatuh berlutut. Sesudah mengeluarkan banyak tenaga, tubuh Pheng Hweeshio pun bergoyang-goyang.

“Teng Kouwnio, Kie Kouwnio!” teriak si too soe Koen loen. “Tikamlah bangsat gundul itu!”

Antara sembilan orang yang tadi bertempur, seorang pendeta Siauw lim sudah binasa, sedang Pheng Hweeshio dan lima lawannya mendapat luka berat, sehingga hanya Teng Bin Koen dan Kie Siauw Hoe yang tidak kurang suatu apa.

Mendengar teriakan si toosoe Koen loen, Teng Bin Koen segera mengangkat pedang dan menyabet kaki si pendeta.
Pheng Hweeshio mengeluh. “Karena merasa kasihan terhadap orang perempuan, aku tidak berlalu kejam terhadap kamu, tapi tidak dinyana, rasa kasihanku berbalik mencelakakan diriku sendiri” katanya didalam hati. Ia meramkan kedua matanya untuk menunggu kebinasaan.

Tiba-tiba terdengar suara “trang!” suara benturan senjata. Pheng Hweeshio membuka mata dan mendapat kenyataan, bahwa yang menolongnya ialah Kie Siauw Hoe.

“Eh, mengapa kau begitu?” tanya Teng Bin Koen dengan kaget.

Nona Kie tertawa. “Soecie,” katanya. “Pheng Hweeshio tidak berlaku kejam terhadap kita dan kitapun tidak boleh membunuh dia.”

“Aku juga bukan mau mengambil jiwanya,” kata Teng Bin Koen. “Aku hanya ingin memaksa supaya dia memberitahukan tempat sembunyinya Pek Kwie Sioe.”

“Dia telah keracunan hebat, paling dulu kita harus memunahkan racun itu,” kata Kie Siauw Hoe seraya mendekati si toosoe Koen loen dan berkata: “Saudara See leng, berikanlah obat pemunah Sie wie kauw kepadaku.”

Too ho (nama sebagai orang pertapaan) dari toojin itu ialah See leng coe, sedang toojin yang melepaskan golok terbang bernama See ciat coe dan mereka kedua duanya adik sepenguruan See hoa coe.

“Belenggu dulu padanya,” kata See leng coe. “Hweeshio ltu banyak akal bulusnya….” Ia bicara dengan napas tersengal-sengal karena pukulan Ngo beng ciang telah membuatnya terluka berat.

Kie Siauw Hoe mengangguk dan sesudah mengambil seutas tambang, ia menghampiri Pheng Hweeshio. “Pheng Taysoe” katanya dengan suara lemah lembut, “aku mohon maaf untuk kekurangan ajarku.”

Karena tak ada jalan lain, mau tak mau si pendeta membiarkan kaki tangarnya dibelenggu.

Sesudah itu barulah See leng coe mengeluarkan obat yang lalu diserahkan kepada nona Kie dengan memberitahukan juga cara-cara menggunakannya. Siauw Hoe lalu mencabut dua Hoeito yang menancap dipundak dan paha Pheng Hweeshio dan kemudian menaruh obat dilubang-lubang.

“Pheng Hweeshio!” bentak Teng Bin Koen. “Soe moyku berhati murah dan sudah menotong jiwamu. Sekarang beritahukanlah dimana adanya Pek Kwie Sioe.”

Peng Hweeshio tertawa terbahak-bahak. “Teng Kouwnio,” katanya, “dengan berkata begitu, kau memandang aku terlalu rendah. Thio Ngohiap dari Boe tong pay lebih suka bunuh diri daripada memberitahukan tempat tinggal saudara angkatnya. Pribudi Thio Ngohiap yang luhur itu dikagumi sungguh oleh Pheng Eng Giok. Maka itu biarpun aku bukan seorang ternama, aku ingin mengikut perbuatan Thio Ngohiap.”

Mendengar itu, bukan main rasa bangganya Boe Kie. Kematian Coei San sangat disayangkan oleh orang-orang Rimba Persilatan dan mereka menganggap, bahwa kebinasaan Thio Ngohiap adalah karena menikah dengan seorang wanita “siluman” dari partai yang sesat. Sebagai anak yang cerdas, Boe Kie tahu, bahwa dalam omong omong antara kakek guru dan para pamannya, mereka sangat berduka akan kematian ayahnya, tetapi mendongkol terhadap mendiang ibunya. Tapi dari semua pembicaraan yang pernah didengarnya, belum pernah ada seorang yang mengutarakan rasa hormat begitu besar terbadap ayahnya seperti pengutaraan Pheng Hweeshio.

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Dengan menikah dengan perempuan siluman, Thio Coei San seperti juga sudah buta matanya,” katanya. “Dia sendiri juga yang rela menjadi seorang hina dina. Apa orang begitu pantas dibuat contoh? Boe tong pay….”

“Soecie!” memutus Kie Siauw Hoe.

“Jangan kuatir,” kata sang kakak sepenguruan “Aku tak akan menyeret nama In Liok hiap,” Ia mengibas pedangnya yang lalu ditudingkan kemata kanan si pendeta. “Kalau kau tidak bicara, lebih dulu kutusuk mata kananmu.” Ia mengancam dengan suara bengis. “Kemudian kutikam mata kirimu. Sesudah itu, kusodok kuping kanan dan kuping kirimu dan akhirnya kupapas hidungmu. Tapi kau tak usah kuatir. Biar bagaimanapun juga, aku tak akan mengambil jiwamu.” Ujung pedang yang berkilauan dan menggetar tak hentinya itu hanya terpisah setengah dim dari mata kanan Pheng Hweeshio.

Tetapi Pheng Hweeshio sedikitpun tidak menjadi gentar. Dengan mata tak berkedip, ia berkata: “Sudah lama kudengar, bahwa Biat coat Soethay dari Go bie pay seorang kejam. Sekarang aku mendapat kenyataan, bahwa si murid tidak banyak berbeda dengan sang guru. Hari ini Pheng Eng Giok sudah jatuh kedalam tanganmu dan kau boleh berbuat sesukamu.”

“Bangsat gundul!” teriak Teng Bin Koen. “Kau berani menghina guruku?” Dengan sekali mendorong pedangnya, mata kanan Pheng Hweeshio sudah menjadi buta dan kemudian ia menempelkan ujung pedang dikelopak mata kiri si pendeta.

Tapi pendeta itu tertawa terbabak-babak sedang mata kirinya yang terbuka lebar menatap muka musuhnya. Ditatap begitu, dengan sinar mata yang berkeredepan, jantung Teng Bin Koen memukul keras. “Kepala gundul !” bentaknya pula. “Aku sungguh tak mengerti akan sikapmu. Kau bukan anggauta Peh bie kauw, tapi mengapa kau rela membuang jiwamu untuk manusia seperti Pek Kwie Sioe ?”

“Biarpun aku menerangkan kepadamu tentang cara-caranya seorang kesatria, kau tentu tak akan mengerti.” jawabnya dengan suara duka.

Melihat paras muka si pendeta yang seolah-olah memandang rendah kepadanya, Teng Bin Koen meluap darahnya dan sekali lagi ia menggerakkan pedang untuk menusuk mata kiri Pheng Hweeshio.

Dengan cepat Kie Siauw Hoe menangkis dengan senjatanya. “Soecie. Dia keras kepala dan biar bagaimanapun jua, ia pasti tidak akan membuka mulut,” katanya. “Meskipun dibinasakan tiada guna nya.”

“Dia mencaci Soehoe sebagai seorang kejam, maka biarlah dia menyaksikan kekejamanku.” kata Teng Bin Koen. “Siluman Mo kauw semacam dia hanya bisa mencelakakan manusia baik-baik. Maka itu, jikalau kita menyingkirkannya dari muka bumi ini berarti kita terbuat baik terhadap sesama manusia,”

“Tapi tidak bisa disangkal, bahwa dia seorang gagah yang tidak takut mati,” Siauw Hoe coba membujuk lagi. “Soecie, menurut pendapatku, sebaiknya kita memberi ampun kepadanja.”

“Tidak bisa !” bentak sang kakak sepenguruan “Dua Soeheng dari Siauw lim pay yang satu binasa, satu terluka. Sedang dua Tootiang dari Koen loen Pay mendapat luka barat, sedang dua saudara dari Hay see pay terluka lebih hebat juga. Apa tangannya tidak cukup kejam ? Sekarang biarlah aku menusuk mata kirinya. Sesudah itu, baru kita menanyakan lagi tempat sembunyinya Pek Kwie Sioe.”

Sehabis berkata begitu, bagaikan kilat pedangnya lantas menyambar mata kiri Pheng Hweeshio.

Sekali lagi Kie Siauw Hoe menangkis pedang Soecienya. “Soecie,” katanya dengan suara memohon. “Dia sudah tidak bisa melawan lagi dan jika kita menganiaya dia, aku kuatir partai kita akin mendapat nama jelek dalam Rimba Persilatan.”

Teng Bin Koen mendelik. “Minggir! Jangan perdulikan aku,” bentaknya.

Kie Siauw Hoe kelihatan bingung dan berkata pula: “Soecie…. “

“Jangan rewel!” Memutus Bin Koen. “Kalau kau menganggap aku sebagai kakak seperguruan, kau harus mendengar omonganku.”‘

“Baiklah,” kata nona Kie.

Sekali lagi pedang Teng Bin Koen menyambar mata kiri Pheng Hweeshio. Kali ini ia menggunakan tiga bagian tenaga Lweekang. Iapun mengerakkan tenaga dalam. “Trang!” kedua senjata kebentrok dan kedua saudari sepenguruan terhuyung beberapa tindak.

Teng Bin Koen marah besar, “Soemoay !” bentaknya. “beberapa kali dengan mati-matian kau melindungi pendeta siluman itu. Apa sebenarnya maksudmu ?”

Kie Siauw Hoe tertawa, “Aku hanya ingin meminta supaya Soecie jangan menganiayanya.” jawabnya dengan sabar, “Jikalau kita ingin menyelidiki dimana tempat sembunyinya Pek Kwie Sioe, kita hanya bisa menanyakan nanti secara perlahan lahan.”

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Huh ! Apakah kau kira aku tak tahu jalan pikiranmu ?” tanyanya dengan nada mengejek. “Berapa kali In Liokhiap dari Boe tong pay mendesak supaya kau menikah dengannya. Mengapa kau selalu menolak dengan memberikan rupa-rupa alasan? Waktu ayahmu turut mendesak, mengapa kau kabur dari rumahmu ?”

“Soecie itu adalah urusan soemoay pribadi,” kata nona Kie “Mengapa Soecie jadi menyebut nyebut hal itu ?”

Sang kakak mengeluarkan suara dihidung. “kita sama tahu.” katanya. “Di hadapan orang luar, memang kurang baik jika aku membuka topengmu. Huh! Badanmu berada di Go bie, tapi hatimu di pihak Mo kauw !”

Mendengar perkataan itu, Siauw Hoe gusar tak kepalang, sehingga paras mukanya berubah pucat. “Aku selalu menghormati kau sebagai seorang kakak dan belum pernah aku berbuat kesalahan terhadapmu,” katanya dengan suara gemetar “Tapi mengapa hari ini kau menghina aku sedemikian hebat?”

“Kalau benar-benar hatimu tidak condong, kepada Mo kauw, coba tusaklah mata kiri pendeta siluman itu.” kata Teng Bin Koen.

“Soecie,” kata nona Kie dengan suara duka. “Sebagaimana kau tahu, semenjak jaman Siauw ong-sia Kwee Soecouw (Kwee Siang), di dalam partai kita terdapat banyak sekali wanita yang tidak mau menikah seumur hidupnya. Oleh karena mengagumi kemuliaan mendiang guru besar kita, siauwmoaypun telah mengambil keputusan untuk tidak menikah. Siauwmoay menganggap, hal itu hal yang lumrah saja. Mengapa Soecie mendesak begitu hebat ?”

“Sudah! Aku tak suka dengar segala omonganmu!” bentak Bien Koen. “Jika kau tidak mau menikam mata pendeta siluman itu, aku akan mencopoti topengmu.”

Mendengar ancaman itu, Siauw Hoe kelihatannya tak berani berkeras lagi. “Soecie,” katanya dengan suara halus, “aku memohon kepadamu, soecie, dengan mengingat kecintaan antara sesama saudara sepenguruan, janganlah kau mendesak aku terlalu hebat.”

Wanita she Teng itu tertawa. “Aku bukan memaksa kau mengerjakan pekerjaan yang sulit,” katanya, “Sebagaimana kau tahu, Soehoe telah memerintahkan kita untuk menyelidiki tempat bersembunyinya Kim mo Say ong Cie Soen. Sekarang, pendeta itu adalah orang satu-satunya yang bisa memberi penerangan kepada kita, tapi dia bukan saja sungkan membantu kita, malah sudah melukakan juga kawan-kawan kita. Kalau aku menikam mata kanannya dan kau menikam mata kirinya, bukankah merupakan suatu hal yang sangat wajar ? Mengapa kau merasa segan tidak mau turun tangan ?”

“Hati siauw moay lembek, tidak bisa turun tangan,” jawabnya.

“Apa? Hatimu lembek ?” menyindir Teng Bin Koen.

“Soehoe sering memuji kau sebagai murid yang ilmu pedangnya hebat dan adatnya keras. Sangat menyerupai adat soehoe sehingga beliau mempunyai niatan untuk mengangkat kau sebagai akhliwarisnya. Mana boleh hatimu lembek ?”

Apabila dua saudara bertengkar, maka hal itu akan sangat membingungkan orang-orang yang mendengarkannya, karena mereka tak mengetahui sebab musabab yang sebenarnya dari percekcokan antara keduanya. Sesudah mendengar perkataan Teng Bin Koen yang paling belakangan, barulah mereka bisa meraba-raba. Rupanya, Ciang boen jin Go Bie pay Biat coat Soethay sangat menyayang Kie Siauw Hoe dan berniat untuk mengangkat murid itu menjadi ahli warisnya. Hal ini kelihatannya sudah menimbulkan rasa jelus dalam hati Teng Bin Koen yang entah sudah memegang rahasia apa dari adik sepenguruannya sekarang ingin menghilangkan muka nona Kie di hadapan orang banyak.

Boe Kie yang menyaksikan kejadian itu dari tempat bersembunyinya, merasa gusar sekali. Ia ingat perlakuan nona Kie yang sangat baik terhadapnya pada hari itu, pada harian kedua orang tuanya membunuh diri. Ia bergusar dan berduka. Kalau dapat, ia ingin sekali menerjang keluar dan menggaplok muka si wanita she Teng yang tidak mengenal kasihan.

“Kie Soemoay, aku ingin mengajukan Iagi satu pertanyaan,” kata Teng Bin Koen. “Pada tiga tahun berselang, Soehoe telah mengumpulkan semua murid dipuncak Kim teng, dipuncak gunung Go bie san dengan maksud untuk mengajar ilmu pedang Bit kiam dan Coat kiam kepada semua saudara sepenguruan kita. Coba jawab. Kenapa kau tidak hadir dalam pertemuan besar itu? Mengapa beliau jadi begitu gusar sehingga beliau mematahkan pedangnya sendiri dan mengatakan bahwa dunia tidak akan mengenal lagi kedua ilmu pedang itu?”

“Ketika itu, siauwmoay tiba-tiba mendapat sakit berat di Kam cioe, sehingga tak bisa bangun,” jawabnya. “Hal ini siauwmoay sudah memberitahukan kepada Soehoe. Mengapa Soecie menanyakan pedang itu?”

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Hmm!” ia mengeluarkan suara dihidung. “Kau bisa memperdayai Soehoe, tapi tak dapat mengabui aku. Aku masih ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Tapi jika kau menikam mata si kepala gundul, pertanyaan itu tidak diajukan olehku.”

Kie Siauw Hoe menundukkan kepala. Ia berduka bukan main. “Soecie,” katanya dengan suara perlahan, “apakah kau tidak ingat Iagi kecintaan antara sesama saudara sepenguruan?”

“Kau mau tikam atau tidak?” tanya sang kakak dengan bengis

“Soecie, kau tak usah kuatir,” kata nona Kie dangan suara memohon. “Andaikata aku mau di jadikan ahliwaris oleh Soehoe, aku tentu akan menolak.”

“Bagus” bentak Tang Bin Koen dengan gusar. “Dengan berkata begitu, kau seperti juga mau mengatakan, bahwa aku menerima budimu yang besar. Cobalah kau unjuk. Dibagian mana yang aku kalah dari kau? Aku tidak perlu menerima budimu ! Tidak perlu kau mengalah! Eh! Katakan sekarang. Kau mau tikam atau tidak?”

“Jika Siauwmoay bersalah, Soecie boleh menegur atau menjatuhkan hukuman dan Siauwmoay akan menerimanya dengan segala senang hati,” kata Siauw Hoe. “Disini terdapat sahabat-sahabat dari lain partai, sehingga kumohon Soecie jangan mendesak terlalu….” berkata sampai disitu, ia tidak dapat meneruskan perkataannya, karena air matanya sudah mulai mengucur.

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Huh! Jangan kau berlagak sedih, sedang didalam hati kau mencaci aku,” ejeknya. “Pada tiga tahun yang lalu, apa benar-benar kau mendapat sakit di Lam cioe? Perkataan dapat memang tak salah, tapi bukan mendapat sakit, hanya mendapat anak !”

Mendengar kata-kata yang sehebat itu, Kie Siauw Hoe mengeluarkan teriakan menyayat hati. Ia memutar badan dan terus kabur sekeras-kerasnya. Tapi Teng Bin Koen juga sudah menduga lebih dulu, lantas saja mengubar dan mencegatnya

“Soemoay, lebih baik kau tikam mata kiri pendeta siluman itu,” katanya sambil mengibas pedang. “Jika kau tetap membantah, aku akan menanya siapa adanya ayah anak itu dan aku akan menanya, mengapa sebagai murid dari sebuah partai yang lurus bersih, kau melindungi seorang pendeta siluman dari agama Mokauw secara begitu mati-matian”

“Kau …. kau …. minggir!” bentak nona Kie dengan napas tersengal-sengal.

Sambil menudingkan pedang didada adik seperguruan itu, Teng Bin Koen membentak: “Jawab pertanyaanku: Dimana kau titip bayimu ? Kau adalah tunangan In Lie heng, In Liokhiap, tapi mengapa kau melahirkan anak ?”

Kata kata itu, mengejutkan semua orang. Bahkan Boe Kie yang masih kecil juga merasa, bahwat Kie Siauw Hoe telah dituduh melakukan perbuatan hebat yang menyinggung kehormatan In Lie Heng.

Paras muka nona Kie berubah pucat bagaikan kertas dan ia menerjang untuk coba meloloskan diri. Diluar dugaannya, Teng Bin Koen membuktikan ancamannya. Dengan sekali menyodok, pedangnya amblas di lengan Siauw Hoe, sehingga ujung pedang mengenakan tulang. Sambil menahan sakit, nona Kie terpaksa menghunus senjatanya dengan tangan kiri.

“Soecie,” katanya dengan suara parau, “jikalau kau mendesak terus, aku terpaksa akan berlaku kurang ajar.”

Teng Bin Koen merasa, bahwa sesudah ia membuka rahasia si adik sepenguruan, tentu akan berusaha untuk membinasakannya guna menutup mulutnya. Maka itu, dengan mengetahui, bahwa bekal ilmu silatnya masih kalah dari Siauw Hoe, dia segera mengambil suatu keputusan untuk turun tangan lebih dulu. Sesudah menikam lengan si adik dalam serangan susulan, ia menusuk kempungan Siauw Hoe.

Melihat Soecienya menyerang pula dengan pukulan yang membinasakan, sambil menahan sakit, nona Kie menangkis dengan pedang yang dicekal dalam tangan kirinya. Di lain saat mereka sudah bertempur seru dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepat.

Semua orang yang ada di situ adalah ahli-ahli silat yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi, karena semua sudah mendapat luka berat, mereka tak berdaya untuk memisahkannya. Diam-diam mereka merasa kagum akan lihaynya ilmu pedang Go bie pay, yang dikenal sebagai salah satu dari empat partai besar dalam Rimba Persilatan.

Kie Siauw Hoe bertempur dengan lengan kanan terus mengucurkan darah.

Beberapa kali Kie Siauw Hoe menerjang dengan pukulan hebat, dalam usaha untuk mundurkan Soecienya supaya ia bisa melarikan diri, tapi usahanya selalu gagal. Ia gagal karena tidak biasa menggunakan pedang dengan tangan kiri dan juga karena, sesudah mengeluarkan banyak darah, tenaganya berkurang. Untung juga, Teng Bin Koen selamanya merasa jerih terhadap adik seperguruannya, sehingga ia tidak berani terlalu mendesak. Ia berkelahi dengan hati-hati sekali sambil menunggu lelahnya Siauw Hoe. Memang juga, makin lama tindakan nona Kie jadi makin limbung dan gerakan-gerakannya makin lambat. Sesudah lewat beberapa jurus lagi, lengan kanan Siauw Hoe kembali tertikam dan darah mengucur makin deras.

“Kie Koauwnio!” tiba-tiba Pheng Eng Giok berteriak. “Tikamlah mataku! Kie Kouwnio, budimu yang sangat besar tak akan dapat dibalas oleb Pheng Eng Giok !”

Memang juga, rasa terima kasihnya Pheng Hweeshio tidak dapat dilukiskan lagi. Bahwa, dengan menempuh bahaya Siauw Hoe melindungi seorang musuh, sudah merupakan suatu perbuatan yang sukar dilakukan.

Dan dalam usaha untuk melindungi musuh, ia telah dicaci dengan kata-kata yang menodakan nama baik seorang wanita, nama baik yang dipandang lebih penting daripada jiwa.

Tapi kalau sekarang Siauw Hoe menurut perintah dan menusuk mata Pheng Hweesbio, Teng Bin Koen juga tak akan memberi ampun kepadanya. Kakak seperguruan itu mengerti bahwa kalau sekarang dia tidak membinasakan si adik seperguruan ia seperti juga menanam bibit penyakit untuk dikemudikan hari.

Teng Bin Koen menyerang Siauw Hoe. Pheng Hweeshio yang melihat itu segera berteriak “Teng Bin Koen. kau sungguh manusia tak kenai malu! Tak heran jika orang Kang ouw memberi gelaran Tok chioe Boe yam kepadamu. Sekarang aku menyaksikan dengan mata sendiri, bahwa hatimu benar jahat seperti ular dan kalajengking. Huh ! Mukamu jelek seperti muka Boe yam! Jika semua wanita separti kau, semua lelaki dunia tentu buru-buru mencukur rambut !”

Sebenarnya, biarpun tidak bias disebut cantik, Teng Bin Koen bukan seorang wanita yang jelek. Pheng Hweeshio sudah sengaja mencaci begitu dan memberi gelaran “Tok chioe Boe yam” kepadanya untuk menolong Kie Siauw Hoe. Ia tahu bahwa seorang wanita bisa mata gelap, jika disinggung kejelekan mukanya. Ia mengharap supaya dalam gusarnya, Teng Bin Koen membunuh ia sendiri dan Kie Siauw Hoe bisa mendapat kesempatan untuk melarikan diri.

Tapi wanita she Teng itu ternyata bukan manusia tolol. Ia berpendapat, bahwa sesudah membinasakan adik seperguruannya, ia masih mempunyai banyak tempo untuk mengambil jiwa pendeta itu. Maka itulah, tanpa meladeni cacian orang, ia terus menyerang dengan hebat.

“Dalam dunia Kang ouw, siapakah yang tak tahu kesucian Kie Liehiap,” teriak pula Pheng Hweeshio. “Teng Bin Koen, sekarang aku mau membuka rahasiamu. Kaulah, manusia muka jelek, yang sebenarnya maui In Lie Heng ! Karena In Liokhiap tidak meladeni, kau memfitnah Kie Liehiap. Ha ha ha! Tulang pipimu begitu tinggi ! Mulutmu sebesar panci! Kulitmu kering dan kuning, sedang badanmu kurus jangkung seperti gala jemuran! Ha ha ha ! In Liokhiap yang begitu tampan mana mau mengambil kau sebagai isterinya? Kau sebenarnya harus lebih sering berkaca ….”

Meskipun pintar, Teng Bin Koen kalap juga. Mendengar sampai disitu, ia tidak dapat mempertahankan ketenangannya lagi. Ia melompat sambil mengayun pedang yang diturunkan kemulut Pheng Hweeshio.

Memang benar tulang pipi nona Teng agak tinggi, mulutnya agak besar, kulitnya agak hitam sedang badannya agak jangkung. Tapi kekurangan-kekurangan itu, yang tidak banyak, tidak terlihat nyata, jika tidak diperhatikan.

Tapi Pheng Hweeshio yang bermata tajam sudah bisa melihat itu semua dan ia lalu mengejek secara berlebih-lebihan. Apa yang membuat Teng Bin Koen kalap ialah disebut-sebutnya nama In Lie Heng, yang belum pernah dikenal olehnya.

Mendadak dari dalam hutan berkelebat satu bayangan manusia yang sambil membentak keras, mengadang didepan Pheng Hweeshio, sehingga pedang Teng Bin Koen yang tengah menyambar menancap tepat dilehernya. Hampir berbareng tangan orang itu menghantam dan “buk!” mengenakan dada Teng Bin Koen yang lantas saja terhuyung beberapa tindak dan mulutnya memuntahkan darah. Pedang yang dilepaskan oleh nona Teng tetap menancap dileher orang itu yang rupanya sudah tak bisa hidup lebih lama lagi.

See Leng coo maju dua tindak dan mengawasi orang itu. “Pek Kwie Sioe” teriaknya.

Orang itu memang Pek Kwie Sioe, Tancoe dari Hian boe tan.

Sesudah terluka berat, ia mendapat tahu, bahwa untuk melindungi dirinya, Pheng Hweeshio telah dikepung oleh orang-orang Siauw lim, Koen loan, Go bie dan Hay see pay. Maka itu, dengan sekuat tenaga ia datang ketempat pertempuran dan menggantikan Hweeshio itu untuk menerima tikaman Teng Bin Koen. Tapi pukulannya yang terakhir masih hebat luar biasa, sehingga beberapa tulang rusuk Teng Bin Koen menjadi patah.

Sesudah menenteramkar hatinya. Kie Siauw Hoe lalu merobek tangan bajunya untuk membalut luka dilengannya dan kemudian, dengan pedangnya, ia memutuskan tambang yang membelenggu kaki tangan Pheng Hweeshio. Sesudah itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia memutar badan dan berjalan pergi.

“Kie Kouwnio, tahan!” seru si pendeta, “Terimalah hormatnya Pheng Hweeshio.”

Buru-buru Kie Slauw Hoe melompat kesamping untuk menolak pemberian hormat pendeta itu yang berlutut ditanah.

Begitu bangun berdiri si pendeta segera menjemput pedang See long coe dan berkata: “Manusia yang sudah merusak nama baik Kie Kouw nio tidak boleh dibiarkan hidup terus.”

Seraya berkata begitu, ia mengayun pedang dan menikam tenggorokan Teng Bin Koen.

Bagaikan kilat nona Kie menangkis pedang itu. “Dia adalah kakak seperguruanku,” katanya “Biarpun dia tidak menyintai aku, aku sendiri tak bisa tidak mengenal pribudi.”

“Kalau sekarang tidak dibunuh, dibelakang hari dia bisa menyebabkan munculnya banyak kesukaran bagi Kie Kouwnio,” kata si pendeta.

Air mata Siauw Hoe lantas saja mengucur. “Aku seorang wanita yang bernasib paling buruk dalam dunia ini,” katanya dengan suara sedih: “Biarlah, biarlah aku menyerahkan saja segala apa kepada nasib. Pheng Soehoe, jangan kau melukakan Soe cieku!”

“Perintah Kie Lihiap sudah tentu tidak akan dilanggar olehku,” kata Pheng Hweeshio sambil membungkuk.

“Soecie, kuharap kau bisa menjaga diri baik baik” kata Kie Siauw Hoe dengan suara perlahan-lahan kemudian, sesudah memasukkan pedangnya kedalam sarung, ia segera berlalu tanpa menengok lagi.

Sesudah nona Kie pergi jauh, Pheng Hweeshio segera berkata kepada See leng coe dan yang lain lain : “Aku siorang she Pheng sebenarnya tidak mempunyai permusuhan apapun jua dengan kamu sekalian. Akan tetapi, fitnah hebat yang dilontar kan oleh si perempuan she Teng telah didengar oleh kamu semua. Kalau cerita ini sampai tersiar diluaran, bagaimana Kie Kouwnio bisa berdiri terus diatas bumi ini? Maka itu, tak bisa aku membiarkan kamu hidup terus. Hal ini sudah terjadi lantaran terpaksa dan aku harap kamu jangan menyalahkan aku.”

Sehabis berkata begitu, dengan beruntun ia menikam See leng coe, See ciat coe, seorang pendeta Siauw lim dan dua jago Hay see pay. Kemudian barulah ia menggores muka Teng Bin Koen dengan pedangnya, sehingga wanita she Teng itu menjadi kalap, tapi tidak bisa berbuat banyak, karena ia sudah terluka hebat. “Bangsat gundut !” teriaknya. “Jangan kau menyiksa aku ! Bunuhlah !”

Pheng Hweeshio tertawa nyaring: “Aku tidak berani membunuh perempuan jelek yang kulitnya kering dan mulutnya lebar,” ejeknya. “Kalau kau mampus aku kuatir begitu lekas rohmu masuk di akhirat, berlaksa laksa setan akan kabur kedunia sebab ketakutan. Akupun kuatir Giam Loo Ong berak-berak bahna kagetnya !”

Sehabis berkata begitu, ia tertawa nyaring dan melemparkan pedang ditanah dan sesudah menanggul mayat Pek Kwie Sioe, ia menangis keras akan kemudian berlalu dengan tindakan cepat.

Untuk beberapa lama Teng Bin Koen mengaso dengan napas tersengal-sengal. Kemudian deegan menggunakan sarung pedang sebagai tongkat, iapun berlalu dengan tindakan limbung.

Peristiwa yang hebat itu telah disaksikan semua oleh Siang Gie Coen dan Boe Kie. Sesudah Teng Bin Koen berlalu, barulah mereka menarik napas lega.

“Siang Toako,” kata Boe Kie. “Kie Kouwnio adalah tunangan In Lioksiok. Perempuan she Teng itu mengatakan, mendapat anak. Siang Toako, bagaimana pendapatmu, apa benar atau tidak’?”

“Dia omong kosong, jangan dipercaya!” jawabnya.

“Benar!” kata Boe Kie. “Kalau bertemu In Liok siok, aku akan memberitahukan kekurang ajaran perempuan she Teng itu, supaya Lioksiok bisa menghajarnya.”

“Jangan! Jangan !” cegah Gie Coen tergesa gesa. “Hal itu kau sekali-kali tidak boleh memberitahukan In Lioksiok. Kau mengerti!”

“mengapa?” tanya si bocah.

“Omongan-omongan yang tidak sedap itu tidak boleh diberitahukan kepada siapapun juga,” jawabnya. “Ingatlah. Kau tidak boleh bicara dengan siapapun juga.”

Boe Kie mengangguk sambil mengawasi muka Gie Coen. Beberapa saat kemudian, ia berkata pula: “Siang Toako, apa kau kuatir tuduhan Teng Bin Koen suatu kenyataan ?”

Gie Coen menghela napas. “Tak tahu,” jawabnya.

Pada keesokan paginyaq jalanan darah Gie Coen yang tertotok terbuka sendirinya dan ia lalu mendukung Boe Kie, siap sedia untuk meneruskan perjalanan. Sambil mengawasi mayat mayat yang menggeletak ditanah, ia berkata didalam hati: “Sesudah belasan tahun, Cia Soen menghilang, tapi karena gara-garanya, orang-orang Rimba Persilatan masih terus mengorbankan jiwa. Hai! Sampai kapan urusan ini baru menjadi beres ?”

Sesudah banyak mengasoh, sebagian tenaga Gie Coen pulih kembali. Rasa sakit dalam badannya banyak berkurang dan ia bisa berjalan terlebih cepat. Sesudah melalui beberapa li mereka bertemu jalanan raya. Gie Coen agak terkejut. “Ouw Soe peh berdiam di tempat yang sepi. tapi mengapa aku bertemu dengan jalanan raya?” tanyanya di dalam hati. “Apa nyasar?”

Baru saja ia mau mencari penduduk dusun untuk menanyakan, tiba tiba terdengar suara tindakan kuda dan empat orang serdadu Mongol mengubar dari belakang. “Lekas jalan! Lekas jalan!” teriak mereka sambil mengacung acungkan senjata seolah olah menggebah binatang.

“Tak dinyana aku mesti mati ditempat ini,” mengeluh Gie Coen. Karena lukanya, ilmu silatnya sudah musnah semua. Sekarang ia malah tidak dapat melawan seorang serdadu Mongol biasa.

Maka itu sambil menahan amarah, ia terpaksa berjalan terus.
Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan sejumlah penduduk yang juga digiring oleh serdadu serdadu Mongol. Dalam hati mereka lantas saja muncul sedikit harapan. Sekarang ternyata, bahwa serdadu-serdadu itu sedang memperlihatkan kekejamannya terhadap rakyat jelata dan bukan mereka yang dijadikan bulan-bulanan.

Melihat bahaya, Boe Kie segera berbisik: “Siang Toako, lekas kau berlagak jatuh dan buang golokmu.”

Gie Coen tersadar. Sesudah berjalan beberapa tindak lagi, ia pura-pura terpeleset dan menggulingkan diri dirumput sambil melepaskan golok yang disisipkan dipinggangnya. Sesudah itu, ia merangkak bangun dan berjalan lagi dengan napas tersengal sengal. Selagi ia lewat didepan seorang perwira Mongol, seorang Han yang jadi juru bahasa berteriak: “Bangsat! Kau sungguh tidak tahu adat. Lekas berlutut dihadapan Tayjin!”

Mengingat Cioe Coe Ong serumah tangga telah dibinasakan oleh tentara Mongol, darah Siang Gie Coen lantas saja naik tinggi dan biarpun mesti mati, ia tak sudi menekuk lutut. Ia jalan terus dengan berlagak tuli. Seorang serdadu Mongol mengudak dan menyapu kakinya sehingga ia jatuh terguling.

“She apa kau?” bentak si juru bahasa.

Sebelum Gie Coen sempat memberi jawaban, Boe Kie sudah mendahului berkata: “She Cia, dia kakakku”

Serdadu itu lalu menendang punggung Boe Kie seraya membentak: “Pergi!”

Bukan main gusarnya Gie Coen. Sambil merangkak bangun, ia bersumpah didalam hati, bahwa sebegitu lama ia masih hidup, ia akan berusaha dengan seantero tenaganya untuk mengusir bangsa Mongol dari daerah Tionggoan. Dalam keadaan tidak berdaya, buru-buru ia mendukung pula Boe Kie dan berlalu cepat-cepat. Baru berjalan beberapa puluh tombak, tiba tiba mereka mendengar teriakan teriakan menyayat hati. Mereka menengok dan melihat puluhan rakyat sedang dibunuh oleh tentara Mongol.

Sepanjang sejarah, selama penjajahan kerajaan Goan (Mongol), rakyat banyak memberontak. Belakangan, seorang pembesar tinggi Mongol telah mengeluarkan perintah untuk membunuh orang orang Han, yang she Thio, Ong, Lauw, Lie dan Tio. Semuanya lima she. Pada jaman itu, orang she Thio, Ong, Lauw dan Lie yang paling banyak terdapat di Tionggoan, sedang she Tio adalah she dari kaizar-kaizar Song. Maka itu, menurut jalan pikiran si pembesar Mongol, bangsa Han akan runtuh semangatnya jika orang-orang dari kelima she itu dibunuh. Untung juga, perintah yang sangat kejam itu cepat diketahui oleh kaizar Mongol yang segera mengeluarkan larangannya. Tapi sementara itu, banyak juga orang Han yang dibunuh mati.

Gie Coen tidak berani berdiam lama lama lagi dan lalu berjalan secepat cepatnya. Sesudah melalui beberapa mereka bertemu dengan seorang penjual kayu bakar dan mereka lalu menanyakan dimana letaknya Ouw tiap kok. Orang itu meng gelengkan kepala. Tapi Gie Coen segera mengetahui, bahwa Soepehnya mesti berdiam disekitar tempat itu.

Dengan sabar ia lantas saja mencari-cari. Di sepanjang jalan mereka melihat ratusan macam bunga yang menghiasi daerah pegunungan itu. Tapi sesudah menyaksikan peristiwa yang menyedihkan itu, mereka tak punya kegembiraan Iagi untuk menikmati pemandangan alam yang sangat indah.

Sesudah membelok dibeberapa tikungan, disebelah depan menghadang sebuah tembok gunung dan jalanan putus disitu. Selagi mereka kebingungan, mendadak muncul beberapa ekor kupu-kupu yang terbang masuk kesebuah gerombolan pohon-pohon kembang.

“Tempat ini dinamakan Ouw tiap kok, atau Selat Kupu-kupu,” kata Boe Kie. “Apa tidak baik kita mengikuti kupu-kupu itu?”

“Baiklah,” kata Gie Coen yang lalu turut masuk kegerombolan pohon itu.

Sesudah melewati gerombolan pohon bunga, mereka bertemu dengan sebuah jalanan kecil yang tertutup rumput hijau. Setelah berjalan beberapa jauh, jumlah kupu kupu yang beterbangan disekitar situ jadi makin banyak. Hidung mereka mengendus harumnya bunga-bunga. Kembang-kembang yang tumbuh disekitar situ sangat berbeda dengan apa yang terlihat ditempat lain. Makin jauh mereka maju kupu-kupu makin tidak takut manusia. Mereka terbang mendekati seolah olah menyambut kedatangan tamu-tamu dan hinggap dikepala, dipundak, dilengan Gie Coen dan Boe Kie.

Gie Coen dan Boe Kie jadi bersemangat, karena mereka tahu, bahwa mereka sudah berada dalam selat Ouw tiap kok.

Lewat tengah hari, mereka melihat tujuh-delapan rumah gubuk dipinggir sebuah solokan yang airnya`jernih. Didepan, dibelakang dan dikiri kanan setiap gubuk ada dikurung dengan kebun kembang yang terawat baik.

Gie Coen berlari-lari kedepan gubuk-gubuk itu dan berkata dengan suara menghormat: “Teecoe Siang Gie Coen ingin berjumpa dengan Ouw Soepeh.”

Selang beberapa saat, dari sebuah gubuk keluar seorang kacung yang berkata: “Masuklah.”

Sambil mendukung Boe Kie, Gie Coen segera bertindak masuk. Disatu sudut dari ruangan tengah kelihatan berdiri seorang lelaki setengah tua yang berparas agung. Ia ternyata sedang menilik seorang kacung yang lagi memasak obat. Seluruh ruangan itu penuh dengan macam-macam daun obat yang aneh aneh. Buru-buru Gie Coen menaruh Boe Kie diatas kursi dan lalu berlutut di hadapan orang itu,

“Ouw Soepeh, Gie Coen memberi hormat,” katanya.

Boe Kie mengawasi orang itu yang tentulah juga bukan lain daripada Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe.

Tabib malaikat itu manggut-manggutkan kepalanya dan berkata : “Urusan Cioe Coe Ong, aku sudah tahu. Itulah nasib. Mungkin sekali, rejeki Tatcoe masih belum habis dan agama kita belum sampai waktunya untuk bisa memperoleh kemakmuran”

Sehabis berkata begitu, ia memegang nadi Gie Coen dan membuka baju pemuda itu. Sambil mengawasi dada si berewok, ia berkata: “Kau kena pukulan Ciat sim ciang dari Hoan ceng. Pada hakekatnya, pukulan itu tidak sukar di obati. Tapi sesudah terpukul, kau menggunakan terlalu banyak tenaga, sehingga hawa dingin menyerang jantungmu dan sebagai akibatnya, aku memerlukan agak lebih banyak tempo untuk menyembuhkannya.” Sesudah memberi penjelasan, ia meraba-raba sekujur badan Gie Coen.

“Dengan siapa kau bertempur tadi malam?” tanya Ceng Goe secara tiba-tiba. “Dengan murid Boe tong pay?”

“Tidak,” jawabnya.

Sang paman segera meraba-raba kedua paha Si brewok. Sekonyong-konyong paras mukanya berubah dan membentak: “Gie Coen! Tujuh delapan tahun kita tidak pernah bertemu muka. Sekali bertemu, kau coba memperdayai Soepehmu. Sudahlah! Aku tidak bisa mengobati lukamu. Pergi!”

Gie Coen jadi bingung. “Ouw Soepeh,” katanya, “mana berani aku mendustai kau? Dengan sesungguhnya, sepanjang malam aku tidak pernah bertempur dengan siapapun jua. Tenagaku sudah habis semua. Andaikata aku ingin, akupun tidak bisa berkelahi!”

“Omong kosong!” bentak sang paman guru “Terang-terang, Hoan tiauw hiat dikedua pahamu telah ditotok orang. Dan totokan itu dilakukan dengan ilmu menotok dari Boe tong pay. Tempo nya yalah antara Coe sie dan Tio sie,” (Coe sie antara jam 11 malam dan jam 1. Tio sie Antara jam 1 dan jam 3 pagi).

Mendadak si brewok tertawa. “Ah ! Kalau begitu, yang dimaksudkan Soepeh yalah jalanan darah yang ditotok olehku sendiri,” katanya. Dengan ringkas ia lalu menceritakan kejadian semalam.

Waktu Gie Coen menuturkan cara bagaimana ia sudah diabui Boe Kie, Ceng Goe melirik bocah itu dan waktu ia menceritakan cara bagaimana mata kanan Pheng Hweeshio telah ditusuk oleh Teng Bin Koen, sang paman guru menghela napas berulang ulang dan berkata: “Pheng Eng Giok Hweeshio adalah seorang gagah sejati dari agama kita. Biarpun kita tidak segolongan dengan dia, tapi kita harus mengaku, bahwa dia itu seorang manusia yang jarang terdapat dalam dunia ini. Kalau begitu ditusuk, ia bisa segera datang kepadaku, mungkin sekali mata kanannya tidak sampai menjadi buta. Tapi sekarang sudah tidak dapat diobati lagi.”

Ia menengok kepada Boe Kie dan berkata pula: “Dari mana kau belajar ilmu Tiam Toat Boe tong pay?”

“Soepeh.” kata Gie Coen, “saudara kecil itu adalah putera Thio Ngohiap dari Boe tong pay.”

Ouw Ceng Goe kaget dan paras makanya lantas saja berubah gusar. “Murid Boe tong pay?” la menegas, “Perlu apa kau membawa dia kemari?”

Gie Coen lantas saja menuturkan cara bagaimans Thio Sam Hong telah menolong dia dan puteri Cioe Coe Ong waktu mereka diubar-ubar oleh kaki tangannya kaizar Goan disungai Han soei. Sesudah selesai bercerita, ia akhirnya berkata: “Sesudah menanggung budi yang begitu besar teecoe memohon supaya Soepeh suka membuat kecualian dan sudilah Soepeh menolong jiwa saudara kecil ini.”

Sang paman guru mengeluarkan suara dihidung, “Gie Coen, kau sungguh seorang yang royal dengan janji-janjimu,” ejeknya. “Hem…. yang ditolong Thio Sam Hong adalah kau, bukan aku. Lagi kapan aku pernah membuat kecualian dalam kebiasaanku?”

Gie Coen segera berlutut dan manggutkan kepalanya berulang-ulang. “Soepeh.” katanya, “ayah saudara kecil itu adalah seorang laki-laki sejati yang lebih suka menggorok leher dari pada menjual sahabat. Dia sendiri, meskipun masih kecil, mempunyai jiwa seorang kesatria. Teeeoe menjamin, bahwa dia seorang baik.”

“Apa? Orang baik?” Ceng Goe mengejek pula. “Ada berapa banyak orang baik dalam dunia? Kalau dia bukan murid Boe tong pay, masih tidak apa. Dia murid sebuah partai yang lurus bersih, mengapa dia harus meminta pertolongan dari agama sesat ?”

“Ibu saudara Thio adalah puteri Peh bie Eng ong In Kauwcoe,” kata Gie Coen. “Dengan demikian, dapatlah dikatakan, separuh badannya adalah dari agama kita.”

Mendengar keterangan itu, hati Ouw Ceng Goe tergerak juga: “Oh, begitu. Kau bangunlah.” kataanya, “Dia putera In So So dari Peh bie kauw. Kalau begitu lain urusan.” Ia lalu mendekati Boe Kie dan berkata dengan suara hangat. “Anak, aku selamanya mentaati peraturan bahwa aku tidak akan menolong orang orang dari partai lurus bersih. Ibumu adalah anggauta dari agama kita. Tapi sebelum mengobati, aku ingin kau berjanji, bahwa sesudah sembih, kau harus pulang ketempat kakekmu, yaitu Peh bie Eng ong ln Kauwcoe, dan kau harus masuk kedalam agama Peh bie kauw. Dengan lain perkataan, kau harus meninggalkan partai Boe tong pay”

Sebelum Boe Kie menjawab, Gie Coen sudah mendahului. “Soepeh, hal itu tidak bisa kejadian. Sebelum menyerahkan saudara Thio kepada Teecoe, Thio Sam Hong Thio Cinjin sudah mengatakan terang terangan, bahwa kita tidak boleh memaksa dia masuk kedalam agama kita dan juga andaikata dia sembuh, Boe tong pay tidak menanggung budi dari agama kita”

Kedua mata Ouw Ceng Goe lantas saja mendelik dan darahnya naik, “Huh ! Manusia apa Thio Sam Hong !” bentaknya. “Dia begitu memandang rendah kepada kita, perlu apa kau membantu dia. Anak, bagaimana keputusanmu sendiri ?”

Boe Kie mengerti bahwa ia sedang menghadapi soal mati atau hidap. Sesudah kakek gurunya tidak berdaya untuk menolong harapan satu-satu nya ialah Ouw Ceng Goe. la tahu, kalau ia tidak dapat meluluskan apa yang diminta oleh Tiap kok Ie Sian, jiwanya pasti tak akan bisa ditolong lagi. Ia sendiri sebenarnya masih tak tahu apa kejelekan atau kebusukan “agama” sesat yang begitu di benci oleh sang kakek guru dan semua paman pamannya. Tapi karena ia sangat mencintai dan menghormati kakek gurunya, maka ia lantas saja mengambil keputusan, bahwa ia lebih baik mati dari pada melanggar pesanan orang tua itu.

Tanpa bersangsi lagi, dengan suara lantang ia menjawab. “Ouw Sinshe, ibuku ialah Hio coe dari Peh bie kauw dan aku pribadi menganggap bahwa Peb bie kauw adalah agama baik. Akan tetapi, sebab Thay soehoe melarang aku masuk kedalam Mo kauw dan aku sendiri sudah menyanggupi, maka sebagai laki laki, tak dapat aku menarik pulang janjiku itu. Jika kau tak sudi mengobati aku, akupun tidak bisa berbuat apa apa. Kalau lantaran takut mati, aku menurut apa yang diminta olehmu, maka aku akan menjadi seorang manusia yang tidak mempunyai kepercayaan, dan dari pada jadi manusia semacam itu, lebih baik aku berpulang ke alam baka.”

Ouw Ceng Goe mendongkol bukan main. “Gie Coen,” katanya. “Bawa, dia pergi! Didalam rumah Ouw Ceng Goe tidak boleh ada orang mati lantaran sakit.”

Gie Coen jadi bingung. Ia mengenal benar adat Soepehnya Jika ia telah berkata “tidak”, perkataannya tidak bisa diubah lagi.

“Saudara kecil,” katanya dengan suara membujuk. “Biarpun Mo kauw agak berbeda dengan partai-partai yang lurus bersih, akan tetapi, semenjak jaman kerajaan Tong sampai sekarang, dalam kalangan kami setiap turunan selalu muncul orang gagah sejati. Apa pula kakek luarmu adalah Kauwcoe dari Peh bie kauw sedang ibumu sendiri Hio coe dari agama tersebut. Saudara kecil, luluskanlah permintaan Ouw Soepeh. Di hari kemudian aku akan bertanggung jawab dihadapan Thio Cinjin.”

“Baiklah,” kata Boe Kie. “Siang Toako, ketuklah tulang punggungku yang kedelapan dan ketiga belas dengan kuku jarimu, ketuklah beberapa kali”

Gie Coen menjadi girang dan lalu melakukan apa yang diminta. Di luar dugaannya begitu kedua tulang punggungnya diketuk, si bocah lantas saja menggerakkan kedua kakinya. Ia bangun berdiri seraya berkata kepadanya “Siang Toako. Kau telah berbuat apa yang kau bisa. Dibelakang hari Thay Soehoe tak bisa menyesalkan kau.” Ia memutar badan dan berjalan keluar dengan tindakan lebar.

Si brewok kaget. “Mau kemana kau?” teriaknya.

“Kalau aku mati di Ouw tiap kok, bukankah nama Tiap kok Ie sian akan menjadi rusak?” jawabnya. Sambil berkata begitu, ia kabur dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.

Ouw Ceng Goe tertawa dingin. “Nama Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe sudah kesohor di kolong langit.” katanya. “Bukan baru satu orang yang roboh binasa diluar rumahnya.” (Kian sie Poet kioe artinya Melihat kebinasaan tetap tidak menolong).

Tanpa menghiraukan perkataan Soepehnya, Gie Coen segera mengubar. Mereka kedua duanya sama sama mendapat luka, tapi luka Cie Goan banyak lebih enteng dan tenaganya pun banyak lebih besar. Maka itu, dalam beberapa saat saja ia sudah bisa menyandak Boe Kie yang lalu dipeluknya dan dibawa balik kerumah paman guruya.

Dengan kedua tangan belum bisa bergerak, si bocah tidak berdaya lagi.

“Ouw Soepeh apa benar benar kau tidak mau menolong?” tanya Gie Coen dengan napas tersengal sengal.

“Apa kau tidak tahu, bahwa aku bergelar Kian sie Poet kioe?” Sang paman balas menanya. “Perlu apa kau melit melit?”

“Tapi apakah Soepeh bersedia untuk mengobati luka didalam tubuhku?” tanya pula Siang Gie Coen.

“Tentu.” jawabnya.

“Bagus!” kata si brewok girang. “‘Teecoe telah berjanji kepada Thio Cinjin nntuk menolong saudara kecil ini. Sesudah memberi janji itu, tee coe tak mau orang-orang partai sana mengatakan bahwa murid-murid Mo kauw tidak boleh dipercaya. Maka itu, begini saja, Teecoe tak usah di obati oleh Soepeh, tapi teecoe memohon supaya Soepeh sudi mengobati saudara kecil dengan demikian, satu ditukar dengan satu dan Soepeh tidak jadi rugi.”

“Kau tahu bagaimana hebatnya Ciat sim ciang ?” tanya sang paman guru dengan paras sunguh-sungguh. “Sesudah kena pukulan itu, jika didalam tempo tujuh hari, kau mendapat pertolongan seorang tabib kelas satu, maka lukamu akan menjadi sembuh. Sesudah lewat tujuh hari, hanya jiwamu yang dapat ditolong, sedang ilmu silatmu akan musna seanteronya. Sesudah lewat empat belas hari, tak satu tabibpun yang akan bisa menolong jiwamu.”

“Ya, itulah karena meskipun melihat kebinasaan, Soepeh tidak sudi menolong,” jawabnya, “Teecoe rela mati dan takkan merasa menyesal.”

“Aku tak sudi ditolong olehmu!” teriak Boe Kie. “Tak sudi! Kau mengerti?” la menengok kearah siberewok dan berkata: “Siang Toako, apa kah kau rasa Boe Kie manusia rendah? Kau menukar jiwamu dengan jiwaku. Andaikan aku hidup, aku akan hidup menderita. Tak bisa ada kejadian begitu !”

Gie Coen adalah laki-laki tulen. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia membuka tali pinggangnya yang lalu digunakan untuk membelenggu kaki tangan Boe Kie dan kemudian mengikatkan kesebuah kursi.

“Lepas ! Lepas !” teriak bocah itu. “Kalau kau tidak lepas, aku akan mencaci.”

Si berewok tidak menggubris.

“Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe!” teriak Boe Kie. “Kau sungguh seperti kerbau tolol! Kau lebih rendah daripada binatang. Aku sedih, bahwa didalam Mo kauw terdapat manusia yang tidak bersifat manusia. Dan kau masih begitu tak mengenal malu, kau masih ada muka untuk membujuk aku masuk kedalam agamamu. Entah dosa apa yang ditumpuk oleh delapan belas leluhurmu, sehingga pada akhirnya, mereka mendapat turunan seperti kau, manusia yang lebih rendah dari pada anjing dan babi !”

Sesudah selesai mengikat Boe Kie, Gie Coen segera berkata : “Ouw Soepeh, saudara Thio, selamat tinggal! Aku sekarang ingin mencari tabib.”

“Di seluruh propinsi An hoei tidak terdapat tabib yang pandai,” kata Ceng Goa. “Dan didalam tujuh hari, belum tentu kau bisa keluar dari propinsi ini.”

Si brewok tertawa terbahak-bahak. “Aku mempunyai Soepeh melihat kebinasaan, tak sudi menolong,” katanya. “Dan kau mempunyai Soetit (keponakan murid) yang tidak mengenal mampus.” Seraya berkata begitu, dengar tindakan lebar ia berjalan keluar.

“Ouw Ceng Goe !” bentak Boe Kie. “Kalau kau tidak mengobati Siang Toako, satu hari kau pasti akan binasa didalam tanganku ! Aku…aku..”

Ia tidak dapat meneruskan perkataannya, karena ia sudah pingsan.

Ceng Goe mengeluarkan suara dihidung. “Tak perlu kau mampus diluar rumahku,” katanya seraya mengambil sebatang daun obat yang lain di timpukkan kearah Gie Coen. Batang daun obat itu menyambar bagaikan kilat dan mengenakan tepat dilutut si berewok, yang tanpa mengeluarkan suara, segera roboh terguling dan tidak bisa bangun lagi.

Memang aneh sungguh adat Ouw Ceng Coe. Kalau dia kata “tidak” tetap tidak, kalau dia “mau”, dia tetap mau. Perkataan Boe Kie yang paling belakang, yakni aneaman “kalau kau tidak mengobati Siang Toako, satu hari kau pasti akan binasa didalam tanganku”, agak mengejutkan hatinya. Melihat kegagahan Boe Kie dan mengingat bahwa anak itu murid Thio Sam Hong, ia merasa bahwa ancaman itu bukan ancaman kosong. Ia seorang yang sangat berhati-hati. Sesudah memikir sejenak berkata dalam hatinya: “Biarlah, kedua-duanya tidak ditolong olehku. Perduli apa jika di Ouw tiap kok bertambah dengan dua setan penasaran”

Sesudah menimpuk Gie Coen, ia segera membuka ikatan Boe Kie dan mencekal kedua pergelangan tangan anak itu untuk dilontarkan sejauh jauhnya keluar.

Mendadak Ceng Goe terkejut, karena denyutan nadi si bocah sangat luar biasa. Ia segera memeriksa lebih teliti dan rasa kagetnya bertambah tambah.

“Apakah bocah sekecil dia sudah bisa membuka Kie keng Pat meh” tanyanya dalam hati. “Puluhan tahun aku berlatih, tapi belum dapat aku membuka pembuluh darahku. Oh, aku tahu! Tak salah lagi, inilah akibat bantuan Thio Sam Hong. Dia rupanya sangat sayang bocah itu dan rela mengorbankan sebagian Lweekangnya.”

Ia lalu membuka pakaian Boe Kie dan memeriksa seluruh badannya. Sesudah itu, ia menekan tantian, dada, embun-embunan dan hati si bocah. Akhirnya ia tertawa dingin seraya berkata : “Thio Sam Hong berlagak pintar, tapi dia jadi bodoh. Lantaran menyayang, dia mencelakakan cucu muridnya. Jikalau Kie keng Pat meh anak ini belum terbuka, jiwanya masih dapat ditolong. Tapi sekarang, racun dingin sudah buyar dan masuk ke dalam isi perutnya. Kecuali dewa, manusia biasa tak berdaya lagi. Huh huh! Kata orang, Boe tong Thio Sam Hong berkepandaian luar biasa tinggi. Tapi menurut penglihatanku, dia goblok berlapis dungu.”

Beberaga saat kemudian, Boe Kie tersadar, dan melihat Ouw Ceng Goe sedang mengawasi api dapur obat dengan mata membelalak, sedangkan Siang Gie Coen masih juga menggeletak di jalanan berumput, diluar rumah. Keadaan begitu sunyi senyap untuk beberapa lama, tak seorangpun membuka mulut.

Ouw Ceng Goe adalah seorang tabib yang telah mencurahkan seluruh penghidupannya untuk mempelajari ilmu ketabiban. Kalau dia senang dengan mudah dia dapat menyembuhkan penyakit yang aneh-aneh. Oleh karena itu, ia mendapat gelaran “Ie sian,” atau “Tabib Dewa.”

Tapi, ia sekarang menghadapi racun yang sangat langka, yaitu racun dingin dari pukulan Hian beng Sin ciang. Apa yang lebih luar biasa lagi, yalah pembuluh darah dari orang yang terkena racun itu, terbuka semuanya, sehingga racun tersebut sudah masuk kedalam perutnya.

Sebagaimana diketahui, dalam dunia ini, orang orang sangat sukar mendapat lawan yang setimpal. Seorang ahli catur jempoan sukar mendapat lawan yang seimbang. Jika menemui lawan begitu, ia bisa lupa makan dan lupa tidur. Seorang ahli hitung juga pasti tak akan menyerah kalah sebelum dapat memecahkan teka teki hitungan yang sulit. Hal yang sama sekarang dihadapi oleh Ouw Ceng Coe. Penyakit Boe Kie merupakan tantangan baginya. Ia sungkan mengobati Boe Kie tapi tantangan itu terlalu hebat untuk bisa dielakkan dengan begitu saja.

Tanpa merasa, ia mengasah otak, Beberapa lama, ia mengasah otak, tanpa berbasil. Akhirnya dengan geregetan, ia berkata didalam hatinya: “Baiklah. Lebih dulu aku akan menyembuhkan penyakitnya. Aku pasti bisa menyembuhkannya. Sesudah dia sembuh, masih banyak tempo untuk membinasakannya.”

Sesudah memeras pikiran sejam lebih, ia mengeluarkan dua belas kepingan kecil tembaga dari sakunya. Sambil mengerahkan Lweekang, ia menancapkan kepingan-kepingan logam tembaga itu di Tiongkie hiat (sebelah bawah tantian), di Thian touw hiat (sebelah bawah leher), di Cian keng hiat (dipundak) dan dilain lain jalan darah disekujur badan Boe Kie. Sesudah kepingan tembaga itu ditancapkan, maka duabelas Keng siang meh terputus hubungannya dengan Kie keng Pat meh. Keng siang meh ialah hati, paru paru, nyali ginjal, usus besar, usus kecil dan lain lain, ialah dua belas macam isi perut dalam tubuh manusia.

Sesudah Keng siang meh terputus hubungannya dengan Kie keng Pat meh, maka racun dingin yang sudah masuk kedalam isi perut Boe Kie tidak bisa naik lagi kepembuluh darah dan untuk sementara, tidak berbahaya lagi.

Sesudah membuka semua jalanan darah yang tertotok di kaki tangan Boe Kie, dengan menggunakan batang rumput Tin ngay, Ouw Ceng Goe lalu membakar In boen hiat dan Tiang hoe hiat dipundak sibocah. Kemudian, ia lalu membakar berbagai jalanan darah dari lengan sampai dijempol tangan, seperti Thian hoe hiat, Hiap pek hiat, Cek tek hiat dan sebagainya. Setiap pembakaran disaban jalanan darah mengurangi racun dingin yang mengeram dalam isi perut Boe Kie. Tapi cara itu, yaitu menggunakan hawa panas untuk melawan hawa dingin, menimbulkan kesakitan luar biasa dan penderitaan Boe Kie lebih hebat dari pada waktu mengamuknya racun dingin itu.

Tanpa mengenal kasihan, si tabib malaikat membakar terus dengan batang Tin ngay yang menyala nyala. Sesudah selang beberapa lama, tubuh si bocah penuh dengan totol totolan hitam akibat pembakaran itu.

Boe Kie yang keras kepala sedikitpun sungkan memperlihatkan kelemahannya. Jangankan berterlak kesakitan, merintihpun tidak. Sebaliknya dari itu, ia masih bisa bicara dengan sang tabib sambil bersenyum senyum.

Meskipun tidak mengerti ilmu ketabiban, tetapi sesudah belajar ilmu Tiam hiat dari Cia soen, ia paham akan letaknya berbagai jalanan darah disekujur badan manusia. Maka itu, waktu Ouw Ceng Goe bicara tentang soal ketabiban sambil membakar jalanan darahnya, sedikit-sedikit ia masih bisa melayaninya, Kadang kadang berdasarkan pengetahuannya akan ilmu Tiam hiat, ia malah memberi tafsiran atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat. Hal ini menggembirakan sangat hati Tiap kok Ie sian. Sebagaimana diketahui, ia hidup menyendiri disebuah selat yang terpencil dari dunia luar. Manusia yang mengawaninya hanya kacung kacung yang membantunya mencari daun obat atau memasak obat. Maka dapatlah dimengerti kalau sekarang kegembiraannya timbul sebab ia bisa bicara dengan seorang yang kelihatannya mengerti akan apa yang dibentangkan olehnya.

Setelah beberapa ratus jalanan darah yang bersangkut paut dengan Keng sian meh selesai di bakar, siang sudah berganti dengan malam. Tak lama kemudian, seorang kacung membawa nasi dan sayur yang lalu ditaruh diatas meja dan kemudian ia membawa juga barang santapan keluar rumah untuk diberikan kepada Siang Gie Coen yang masih terus menggeletak diatas rumput.

Malam itu si berewok tidur diudara terbuka. Waktu tiba temponya untuk mengaso, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Boe Kie berjalan keluar rumah dan membaringkan dirinya diatas rumput, disamping Toako, sebagai tanda bahwa ia bersamaan nasib dengan si berewok.

Ouw Ceng Goe tidak memperdulikan, ia malah berlagak tidak melihat perbuatan Boe Kie. Tapi didalam hati, diam-diam ia merasa heran dam kagum akan cara-caranya bocah cilik Itu.

Pada keesokan harinya, si tabib malaikat menggunakan tempo setengah hari untuk membakar “hiat” dari Kie keng Pat meh. Keng siang meh adalah seperti sungai yang terus mengalir tak henti-hentinya, sedang Kie keng Pat meh seolah-olah telaga atau lautan yang menerima semua aliran itu. Maka itu, usaha untuk mengusir racun dingin yang berkumpul di Kie keng Pat meh banyak sukar daripada usaha mengusir racun itu dari Keng Pat meh.

Sesudah selesai membakar berbagal “hiat” dari Kie keng pat meh, Ceng Goe segera memerintahkan kacungnya memasak semacam ramuan obat yang kemudian lalu diberikan kepada Boe Kie. Obat itu dingin sifatnya dan dalam usaha babak kedua itu ia menggunakan dingin membasmi dingin. Sehabis makan obat itu, Boe Kie mengigil hebat, tapi sesudah serangan itu mereda, ia merasakan badannya banyak lebih baik, lebih nyaman dan lebih segar.

Di waktu lohor si tabib malaikat meneruskan usahanya dengan menusuk berbagai jalanan darah Boe Kie dengan mengunakan jarum emas. Selagi diobati dengan rupa rupa daya Boe Kie coba membujuk Ceng Goe, supaya dia suka mengobati Gie Coen, tapi orang aneh itu tidak meladeni dan hanya berkata: “Gelar Tiap kok ie sian untukku sebenarnya kurang tepat dan aku tidak menyuka julukan itu. Gelar Kian sie Poet kioe barulah menyenangkan hatiku.”

Sambil berkata begitu, ia menusuk Ngo kit hiat, diantara pinggang dan paha dengan jarum emas nya. Jalanan darah itu adalah tempat bertemunya Siauw yang dan Tay yang.

“Tay meh dalam tubuh manusia merupakan pembuluh darah yang paling aneh,” kata Boe Kie. “Ouw Sinshe, apa kau tahu bahwa ada beberapa orang yang tidak mempunyai Tay meh ?”

Ceng Goe kaget. “Omong kosong ! Tak bisa jadi!” bentaknya.

Memang benar, Boe Kie hanya bicara sembarangan. Tapi ia berkata pula. “Ouw Sinshe, dunia ini luas sekali dan didalam dunia terdapat banyak yang aneh aneh. Apalagi menurut katanya orang, Tay meh sebenarnya tidak memegang peranan penting dalam tubuh manusia.”

“Aku mengakui, bahwa Tay meh adalah pembuluh darah yang agak aneh,” kata sitabib. “Tapi jutsa besar, jika orang mengatakan, babwa Tay meh tidak berguna besar. Dalam dunia terdapat banyak tabib tolol yang tidak mengerti kegunaan dan pentingnya Tay meh. Aku mempunyai sejilid Kitab Tay meh. Kau bacalah sendiri,”

Ia segera masuk kedalam dan keluar lagi dengan membawa sejilid Buku tipis yang ditulis dengan tulisan tangannya sendiri, dan lalu menyerabkan kepada si bocah.

Boe Kie membuka halaman yang pertama, dimana tertulis seperti berikut: “Dua belas Keng siang meh dan Kie keng cit meh semua mengalir dari atas kebawah. Hanya Tay meh yang terletak di samping kempungan, mengalir dengan memutari pinggang, seperti juga sehelai ikatan pinggang. Dalam beberapa kitab pengobatan terdapat keterangan, bahwa Tay meh mempunyai empat hiat atau enam hiat. Itu semua salah. Tay meh sebenarnya mempunyai sepuluh hiat, dua di antaranya kadang kadang muncul, kadang kadang menghilang, sehingga sukar sekali dapat diraba”

Boe Kie membaca terus dengan teliti dan diam diam mengingat-ingat semua apa yang dibacanya.

Tiba-tiba ia teringat peristiwa Tan Yoe Liang yang coba mengabui kakek gurunya. Kitab Tay meh itu tidak seberapa banyak isinya dan apa yang tertulis didalamnya ternyata sangat mudah dimengerti, sehingga jika dibandingkan dengan Kouw koat ilmu silat, kitab tersebut sepuluh kali lebih mudah dihafal.

Sesudah selesai membaca, si bocah lalu mengembalikan kitab itu kepada Ouw Ceng Gee. “Kitab itu sudah pernah dibaca olehku,” katanya dengan suara tawar. Pada waktu berusia tigapuluh tahun, Thay soehoe pernah menulis Coe hak Tay meh Jip boen Cian swee, yang bersamaan isinya dengan hubungan itu. Entah Thay soehoe yang menelad (peep: what is menelad?” keteranganmu atau kau yang menyontoh gubahan Thay soehoe,”

Ouw Ceng Goe tercengang, akan kemudian marah besar. “Tahun ini aku baru berusia lima puluh satu tahun,” katanya didalam hati. “Kau mengatakan, bahwa Thio Sam Hong menulis buku itu waktu ia berusia tiga puluh tahun dan karena ia sekarang sudah berumur seratus tahun lebih, maka ia menulis itu pada tujuhpuluh tahun berselang. Dengan lain perkataan lagi, akulah yang sudah mencuri buah kalamnya Thio Sam Hong. Kurang ajar! Kitab Tay-meh itu adalah hasil jerih-pajahku dan belum pernah didapat oleh siapapun jua dalam dunia ini. Kurang ajar ! Kau mengatakan Coe hak Tay meh Jip boen Cian swee, sudah ‘Coe hak’, ‘Jip boen’, sudah ‘Jip boen’, ‘Cian swee’ lagi! Kunyuk kecil ini benar-benar kurang ajar!” (Coe hak, artinya pelajaran permulaan, Jip boen adalah pendahuluan, Cian swee berarti perundingan yang cetek, tidak mendalam).

Dalam gusarnya, ia menancapkan jarum emas dalam-dalam di pinggir jalanan darah, sehingga darah lantas saja keluar berketel ketel. Boe Kie kesakitan, hampir-hampir ia berteriak, tapi sambil menggigit bibir, ia menahan rasa sakit itu. “Kalau kau tidak percaya, biarlah aku menghafal Coe hak Tay meh Jip boen Cian swee itu, yang digubah oleh Thay Soehoe,” katanya dengan tenang.

“Baiklah !” bentak Ceng Goe. “Kalau salah sehuruf saja, tahu sendiri, aku akan segera mengambil jiwamu “

Selama di Pheng hwee to, semenjak berusia tima tahun, Boe Kie telah dipaksa menghafal Kouw koat ilmu silat oleh ayah angkatnya. Salah sedikit saja, ia digaplok oleh ayah angkat yang galak itu. Maka itulah, sesudah berlatih selama lima tahun, ia boleh dikatakan sudah menjadi ahli dalam ilmu menghafal. Akan tetapi, mendengar ancaman Ouw Ceng Goe in keder juga. Ia yakin, bahwa orang aneh itu dapat membuktikan ancamannya. Diam diam ia merasa menyesal, bahwa ia berguyon guyon secara melampaui batas. Tapi sekarang ia sudah tidak bisa mundur lagi. Sambil mengempos semangat untuk mengumpulkan semua tenaga otak nya, ia mulai menghafal dengan suara nyaring :

“Duabelas Keng siang meh dan Kie keng Cit meh semua mengalir dari atas kebawah. Hanya Tay meh, yang terletak disamping kempungan, mengalir memutari pinggang, seperti sehelai ikatan pinggang…”

Makin lama, ia makin bersemangat dam akhirnya ia mendapat menyelesaikan hafalan itu dengan sempurna.

Bukan main kagetnya Ceng Goa. Untuk beberapa saat, ia mengawasi si bocah dengan mata membelalak. “Sungguh luar biasa” pikirnya. “Anak itu mempunyai bakat Kwee bak poet bong, Manusia yang seperti dia sukar dicari keduanya didalam dunia,” Kwee bak poet bong artinya begitu melihat tidak bisa lupa Iagi.). Ia tak tahu, bahwa dalam kuil Siauw lim sie terdapat Tan Yoe Liang yang kecerdasannya tidak berada di sebelah bawah Boe Kie.

Sesudah hilang kagetnya, tanpa merasa ia memuji: “Pintar! Kau sungguh pintar !” Sehabis berkata begitu, ia segera menusuk sepuluh “hiat” dari Tay meh Boe Kie dengan jarum emasnya.

Sehabis mengaso sebentar, Ceng Goe mendapat ingatan untuk mencoba lagi. “Disamping kitab Tay meh, aku memiliki kitab Coe ngo Ciam cie keng,” katanya. “Coba kau lihat. Apakah Thio Sim Hong juga sudah pernah menggubah kitab yang seperti itu ?”

Ia segera masuk kedalam dan keluar lagi dengan membawa 12 jilid kitab tulisan tangan.

Boe Kie segera membalik-balik lembarannya. Setiap halamannya penuh huruf-huruf kecil yang menerangkan kedudukan jalanan darah, beratnya timbangan obat, waktu dan cetek dalamnya tusukan jarum emas. Semua diterangkan dengan jelas sekali, “Untuk membaca dua belas jilid sedikitnya memerlukan tempo tiga atau empat hari,” pikirnya.

“Bagaimana aku dapat menghafal dalam tempo cepat? Biarlah aku coba saja mencari ilmu untuk mengobati luka Siang Toako.” Dengan cepat ia membalik-balik lembaran kitab-kitab itu dengan hanya memperhatikan judulnya. Waktu memeriksa jilid kesembilan, dibagian Ciang siang Cie hoat (Cara mengobati luka pukulan telapak tangan), ia melihat petunjuk-petunjuk untuk mengobati luka Tiat see ciang, Tok ciang, Kay san ciang dan sebagainya. Waktu ia meneliti lagi sampai di halaman seratus delapanpuluh, barulah ia bertemu dengan cara pengobatan luka terkena pukulan Ciat sim ciang.

Ia jadi sangat girang. Ia lalu membaca dan mempelajari apa yang tertulis disitu. Ia mendapat kenyataan bahwa keterangan mengenai pukulan itu diberikan jelas sekali, tapi cara mengobatinya sangat sederhana dan ringkas. Mengenai itu hanya ditulis seperti berikut “Turun tangan mulai dari Cie kiong hiat, Tiong tseg hiat. Koan goan hiat dan Thian tie hiat. Sesudah itu, memberi obat dengan melihat perubahan Im yang dan Ngoheng, meninjau lima hawa udara yaitu: dingin, panas, kering, basah dan angin dan memperlihatkan lima perasaan girang, gusar, jengkel, banyak pikiran dan bersemangat dari si sakit.”

Dalam ilmu pengobatan Tionghoa terdapat banyak perubahan dan tidak ada peraturan yang tentu. Untuk mengobati serupa penyakit si tabib biasa memberi obat dengan memperhatikan hawa udara, siang atau malam, lelaki atau perempuan, besar atau keci dan sebagainya.

Sementara itu, sesudah membaca beberapa kali, Boe Kie berkata dalam hatinya: “Yang paling penting yalah coba menolong Siang Toako. Aku tidak boleh mengejek tabib malaikat ini.”

Di bagian terakhir Ciang siang Cie hoat, ada tertulis Hian beng Sin ciang. Kehebatan pukulan itu diterangkan jelas, tapi dibagian cara pengobatan tertulis: “Tidak ada.”

Ia lalu menutup kitab itu dan dengan sikap hormat menaruhnya diatas meja. “Dalam ilmu silat, Ouw Sinshe tidak dapat menandingi Tay soehoe, tetapi di dalam ilmu ketabiban, Tay Soe hoe tidak bisa melawan Ouw Sinshe,” katanya, “Coe ngo ciam cie keng luas dan dalam, Tay Soehoe tak akan dapat menggubah kitab seperti itu. Akan tetapi, mengenai pengobatan pukulan telapak tangan, apa yang dipelajari Ouw Sinshe belum dapat melampaui pelajaran Tay Soehoe.”

Sehabis berkata begitu, ia segera menghafal Ciang Siang Cie hiat yang terdiri dari mengobati seratus lebih macam pukulan telapak tangan, dan dalam menghafal itu, tidak sehuruf pun yang salah atau ketinggalan. Akhirnya ia berkata: “Luka boanpwee akibat pukulan Hian beng Sin ciang tak dapat diobati oleh Tay soehoe. Mungkin sekali Ouw Sinshepun tidak berdaya”

Ouw Ceng Goe tertawa dingin. “Tak usah kau memanaskan hatiku,” katanya. “Kau saksikan saja sendiri apa benar aku tidak berdaya. Tapi sesudah aku menyembuhkan kau, belum tentu kau bisa hidup lama.”

Walaupun Boe Kie pintar luar biasa, ia tidak mengerti maksud sebenarnya dari perkataan si tabib yang ingin membinasakannya sesudah menyembuhkannya, supaya sesuai dengan kebiasaannya, bahwa ia tidak pernah menolong orang yang diluar lingkungan “agama” sesat.

Dengan tujuan satu-satunya untuk menolong Siang Gie Coen. sibocah lantas saja berkata: “Ouw Sinshe, jika boanpwee tidak bisa hidup lama, boanpwee ingin sekali bisa membaca lagi kitab Coe ngo Ciam cie keng yang sangat luar biasa itu.”

Ouw Ceng Goe tidak lantas menjawab. Sesudah menimbang sejenak, ia menganggap tidak halangan jika ia meluluskan permintaan itu, sebab biar bagaimana juapun, bocah itu tidak akan bisa keluar dari Ouw tiap kok dengan masih bernyawa.

Ia mengangguk seraya berkata “Boleh, kau boleh membaca sesukamu.”

Biarpun adatnya aneh, tidak dapat disangkat lagi bahwa Ouw Ceng Goe adalah salah seorang manusia luar biasa yang berkepandaian tinggi dan berpengetahuan luas. Hanya sesudah masuk kedalam “agama” sesat, ia membenci manusia biasa dan lebih membenci lagi orang orang Rimba Persilatan yang menjadi anggauta dari partai-partai lurus bersih. Makin lama, adatnya jadi makin aneh dan ia hidup menyendiri ditempat yang terpencil. Tapi, sebagai manusia biasa kadang-kadang ia merasa manyesal, bahwa ia tidak mempunyai kawan untuk bersama-sama merundingkan atau mempelajari ilmu ketabiban dan iapun merasa sangat kesepian. Oleh sabab itu, maka kedatangan Boe Kie, yang sangat pintar dan yang kagum akan kepandaiannya, pada hakekatnya menyenangkan hatinya yang kosong sunyi.

Sesudah mendapat perkenan, siang malam Boe Kie mempelajari isi kitab-kitab Ceng Goe. Sering sering ia lupa makan dan lupa tidur. Ia bukan saja membaca belasan macam kitab yang ditulis oleh Ouw Ceng Goe sendiri, tapi juga banyak kitab lain, sepetti Oay Tee Lweekang, Hoa To, Lwee ciauw touw, Cian kim ek dan sebagainya. Tujuan si bocah yang sesungguhnya, tidak dapat ditebak oleh Ouw Ceng Gee yang menganggap, bahwa karena tidak mengerti kitab gubahannya sendiri, maka Boe Kie yang sungkan menanya secara langsung, sudah membongkar kitab-kitab ketabiban kuno untuk mencari penjelasannya.

Beberapa hari telah lewat. Selama beberapa hari itu, Boe Kie telah bisa menghafal banyak kitab, akan tetapi, ilmu pengobatan yang dalam dan luas mana bisa dipahamkannya dalam beberapa hari saja? Ia menghitung hitung dan ternyata ia sudah berdiam di Ouw tiap kok enam hari lamanya.

Ia jadi bingung. Menurut katanya Ouw Ceng Goe, jika didalam tempo tujuh hari, Cie Coen bisa mendapat pertolongan tabib yang pandai, maka lukanya akan sembuh seanteronya. Jika lewat tujuh hari, andaikata bisa sembuh, ilmu silat Gie Coen akan musnah semuanya. Dan sekarang, si berewok sudah menggeletak diluar rumah enam hari enam malam lamanya. Apakah ia akan bisa menolong jiwa Siang Toako?

Hari itu turun hujan besar dan Gie Coen separuh terendam diair, tapi sang paman guru tak menghiraukannya. Melihat begitu, Boe Kie mendongkol bukan main dan didalam hati, ia mencaci si tabib malaikat yang berhati kejam.

Malamnya hujan turun makin besar. Kilat menyambar nyambar, diiringi guntur dan petir yang menggetarkan bumi. Boe Kie tak bisa mempertahankan diri lagi. Sambil mengertak gigi, ia berkata dalam hatinya. “Biarpun aku mesti membunuh Siang Toako, tak dapat aku mengawasi penderitaannya dengan berpeluk tangan.” Dari laci obat Ouw Ceng Goe, ia segera mengambil delapan batang jarum emas dan lalu menghampiri Gie Coen.

“Siang Toako,” katanya dengan suara parau, “Selama beberapa hari siauwtee telah mempelajari kitab-kitab Ouw Sinshe dan biarpun belum mengerti benar, tapi karena keadaan memaksa, siauwtee ingin coba menggunakan jarum untuk mengobati Toako. Andaikata terjadi kejadian yang tidak di harapkan, siauwteepun tidak bisa hidup sendirian dalam dunia ini.”

Gie Coen tertawa terbabak bahak. “Saudara kecil jangan kau mengatakan begitu,” katanya. “Lekas gunakan jarum itu. Kalau kau berhasil, Soe peh akan merasa malu sekali. Andaikata aku mati, aku memang lebih suka mati daripada berendam dikobakan ini.”

Dengan tangan gemetar Boe Kie mencari jalan darah Gie Coen dan kemudian menancapkan sebatang jarum emas di Koan goan hiat. Tapi, begitu ditacapkan, jarum itu bengkok dan tidak bisa masuk terus ke dalam daging.

Hal ini bisa dimengerti, karena bukan saja si bocah belum pemah menggunakan jarum tersebut, tapi jarum itupun lemas luar biasa, sehingga untuk memasukkannya ke dalam daging, orang harus menggunakan Lweekang yang tinggi. Boe Kie terpaksa mencabutnya lagi. Menurut biasa, jika jarum masuk tepat di jalanan darah, darah tidak keluar. Tapi sekarang, sebab si bocah menusuk salah, maka begitu jarum tercabut, darah Gio Coen lantas saja keluar berketel-ketel. Koan goan hiat yang terletak dikempungan manusia, merupakan salah satu “hiat” yang paling berbahaya. Melihat darah merembas keluar tak hentinya, Boe Kie jadi bingung.

Sekonyong-konyong di belakangnya terdengar suara orang tertawa berkakakan. Ia menengok dan melihat Ouw Ceng Goe yang berdiri sambil menggendong tangan, dengan paras muka berseri seri.

“Ouw Sinshe,” kata Boe Kie dengan suara bingung. “Koan goan hiat Siang Toako mengeluarkan darah. Bagaimana baiknya ?”

“Tentu saja aku tahu bagaimana baiknya,” jawabnya. “Tapi perlu apa aku memberitahukan kau ?”

“Ouw Sinshe, mengapa kau begitu kejam?” kata Boe Kie dengan suara keras: “Begini saja. Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa. Tolonglah Siang Toako. Sesudah kau menolong, aku akan segera binasa dihadapanmu.”

“Kalau aku kata tidak, tetap tidak,” kata Ceng Goe dengan suara tawar. “Aku hanya Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe. Aku bukan Boe siang (setan yang biasa membetot jiwa orang). Kalau kau mampus, sedikitpun tiada sangkut pautnya dengan aku. Andaikata sepuluh Boe Kie mati, akupun tidak akan menolong satu Siang Gie Coen.”

Boe Kie mengerti, tiada gunanya ia memohon mohon lagi. Ia tahu, bahwa ia tak akan bisa menggunakan jarum emas itu yang terlampau lemas. Mencari jarum baja atau jarum besi sudah tidak keburu lagi.

Sesudah memikir sejenak, buru buru ia mematahkan sebatang bambu. Dengan menggunakan pisau, ia membuat beberapa biting bambu dan kemudian, tanpa memikir lagi ia menancapkannya di Cie kiong, Siong tong, Koen goan dan Tian tie hiat.

Sesaat kemudian Gie Coen muntahkan darah hitam beberapa kali.

Boe Kie jadi bingung. Sesudah menusuk jalanan darah orang, ia tak tahu apa penyakitnya jadi lebih enteng atau lebih berat. Ia mengawasi muka Ouw Ceng Goe dan melihat, bahwa, meskipun sikapnya acuh tak acuh, paras muka sitabib malaikat menunjuk rasa kagum. Ia sekarang tabu, bahwa usahanya yang pertama telah berhasil dan hatinya girang.

Buru-buru ia masuk kedalam rumah dan sambil membaca beberapa kitab, ia mengasah otak untuk coba menulis surat obat. Ia tahu obat apa bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit apa, tapi ia belum pemah melihat macamnya obat itu dan juga tidak mengerti, berapa banyak si sakit barus diberikan. Sesudah berpikir beberapa lama dengan nekat ia lalu menulis surat obat yang lalu diserahkan kepada sikacung tukang masak obat dengan berkata: “Masaklah obat ini”

Si kacung membawa surat obat itu kepada majikannya dan menanya, apakah ia boleh turut perintah Boe Kie. Ceng Goe mengeluarkan suara dihidung dan berkata pada dirinya sendiri: “Hmm ! Benar benar gila !” Ia berpaling kepada kacungnya dan berkata: “Boleh. Masaklah obat menurut timbangannya. Kalau dia tidak mati, benar-benar rejekinya besar.”

Boe Kie mongerti apa maksudnya perkataan itu.

Cepat-cepat ia merebut pulang surat obat itu, mengurangkan timbangannya dan kemudian baru menyerahkannya kembali kepada si kacung.

Sesudah dimasak, Boe Kie membawa obat itu kepada Gie Coen dan berkata dengau air mata berlinang-linang: “Siang Toako, minumlah obat ini. Apa untung, apa celaka, siauwtee sendiri tak tahu”

“Bagus! Bagus!” kata siberewok sambil tertawa “Inilah yang dikatakan, tabib buta mengobati kuda picek.” Sambil meramkan mata ia segera minum habis semangkok obat itu.

Malam itu Gie Coen menggelisah. Ia merasa perutnya seperti disayat pisau dan dari mulutnya terus mengeluarkan darah. Tanpa menghiraukan hujan dan hawa dingin, semalaman suntuk Boe Kie menemani sisakit. Pada esokan paginya, hujan berhenti dan darah yang dimuntahkan Gie Coen makin lama jadi makin sedikit. Warna darah juga berubah, dari hitam menjadi ungu, dari ungu berubah merah.

“Saudara kecil,” kata Siang Gie Coen dengan girang. “Obatmu teryata tidak membinasakan manusia. Aku merasa badanku banyak lebih enak, lebih nyaman.”

“Bagaimana? Obat siauwtee boleh juga bukan?” kata sibocah sambil menyengir.

“Lebih dari boleh juga!” memuji Gie Coen. “Hanya obatmu mungkin terlalu keras, perutku seperti diiris-iris pisau.”

“Ya, mungkin terlalu keras,” kata Boe Kie dengan rasa jengah.

Sebenarnya, obat yang diberikan oleh Boe Kie kepada Gie Coen bukan hanya terlalu keras, tapi beberapa lipat kali terlalu keras. Kalau Gie Coen tidak mempunyai badan yang sangat kuat, siang siang ia sudah binasa.

Sesudah membersihkan badan, Ouw Ceng Goe berjalan keluar. Melihat paras muka Siang Gie Coen ia terkesiap. Ia tak nyana, bahwa Boe Kie benar-benar sudah berhasil menyembuhkan luka si borewok.

Sementara itu, sibocah sudah menulis surat obat untuk menguatkan badan dan lain menyerahkannya kepada sikacung untuk dimasak.

Ia memasukkan segala macam obat kuat, seperti Jinsom, Lok jiong, Souw ouw dan sebagainya. Dalam rumah Ouw Ceng Goe terdapat rupa rupa obat, dari yang paling murah sampai yang paling mahal harganya. Sesudah minum obat kuat enam tujuh hari beruntun, bukan saja kesehatannya, tapi kepandaian silat Gie Coen juga sudah pulih kembali.

Beberapa hari kemudian, ia berkata begini kepada Boe Kie: “Saudara kecil, lukaku sudah sembuh Sekarang saja kita berpisahan “

Selama kurang lebih sebulan Boe Kie telah berkawan dengan pemuda itu dan mereka berdua sama-sama merasakan banyak penderitaan. Mereka telah menjadi seperti saudara kandung dan dapatlah dimengerti, jika sibocah merasa sedih waktu mendengar perkataan sang kakak. Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Ia hanya mengangguk dengan air mata berlinang-linang.

“Saudara kecil, jangan kau bersusah hati,” membujuk Gie Coen. “TIga bulan kemudian, aku akan kembali untuk menengokmu. Kalau racun dingin sudah diusir bersih dari badanmu, aku akan segera mengantarkan kau pulang ke Boe tong.”

Ia masuk kedalam rumah dan berlutut dihadapan Ouw Ceng Goe. “Ouw Soepeh,” katanya, “sekarang teecoe sudah sembuh sama sekali. Biarpun benar saudara Thio yang mengobati, akan tetapi, pengobatan itu diberikan berdasarkan petunjuk kitab kitab Ouw Soepeh. Disamping itu, teecoe juga telah menghabiskan banyak sekali obat-obatan Soepeh yang berhanga mahal. Untuk itu semua, teecoe hanya bisa menghaturkan banyak-banyak terima kasih.”

Sang paman guru manggut manggutkan kepalanya. “Tak apa,” katanya. “Lukamu memang sudah sembuh, hanya sayang, usiamu berkurang dengan tigapuluh tahun.”

Gie Coen tidak mengerti. “Apa yang dimaksudkan Soepeh ?” tanyanya,

“Dilihat dari kekuatan badanmu, paling sedikit kau bisa hidup sampai usia delapanpuluh tahun,” menerangkan sang paman guru. “Tapi karena bocah itu membuat kesalahan dalam memberi obat dan membuat kesalahan pula waktu menusuk jalanan darahmu, maka, setiap kali bertemu delapan musim hujan angin, sekujur badanmu akan dirasakan sakit. Menurut taksiranku, kau hanya bisa berusia sampai lima puluh tahun.”

Si berewok tertawa terbabak-bahak. “Ouw Soe peh,” katanya dengan suara lantang, “jika seorang laki-laki bisa menolong sesama manusia dan mengabdi kepada negara, berusia sampai empat puluh tahun saja kurasa sudah cukup. Jika seorang hidup tanpa tujuan, maka biarpun ia bisa berumur seratus tahun, hidupnya percuma saja.”

Ceng Goe tidak mengatakan suatu apa, ia hanya mengangguk beberapa kali.

Boe Kie mengantar Gie Coen sampai dimulut selat Ouw tiap kok den kemudian mereka berpisahan sesudah memeras banyak air mata. Sambil mengawasi bayangan si barewok yang makin lama jadi makin jauh, Boe Kie bertekad untuk mempelajari ilmu pengobatan, supaya dibelakang hari ia dapat memulihkan usia Gie Coen, yang menurut katanya Ouw Ceng Goa, akan berkurang tigapuluh tahun.

Setiap hari dengan telaten, Ceng Goe menggunakan jarum emas dan memberi obat untuk mengusir semua racun dingin yang masih mengeram dalam tubuh sibocah. Sementara itu, diwaktu luang, Boe Kie tidak menyia-nyiakan tempo. Tanpa kenal capai, ia membaca dan mempelajari kitab kitab ketabiban. Jika ada bagian yang tidak dimengerti, ia memohon petunjuk dari Ouw Ceng Goe yang memberinya dengan segala senang hati. Perlahan-lahan tabib malaikat itu mulai merasa suka terhadap sibocah pintar itu. sekali hatinya terbuka, tanpa sangsi-sangsi, ia memberi segala pelajaran yang dimilikinya.

Kadang-kadang bocah itu mengajukan pertanyaan mengenai hal-hal yang belum pemah dipikir olehnya sendiri. Rasa kagum orang tua itu terhadap Boe Kie jadi makin besar.

Semula, ia berminat membinasakan Boe Kie begitu lekas lukanya sembuh. Tapi sekarang ia merasa, bahwa jika sibocah binasa, ia akan hidup kesepian. Maka itulah, waktu memberi obat, ia sengaja mengurangkan timbangannya untuk menunda penyembuhan dan penunda pula kebinasaan anak itu.

Sesudah lewat satu dua bulan, dengan rasa heran Ceng Goe mendapat kenyataan, bahwa sesudah menggunakan rupa-rupa cara, ia masih belum juga bisa mengusir racun dingin yang berkumpul di Sam cauw. Belasan hari ia memeras pikiran dan bekerja keras, tapi hasilnya nihil sehingga rambutnya bertambah uban. ( Samcouw -Hormon).

Pada suatu hari, sambil menghela napas ia berkata: “Ilmu silat Thay soehoemu sangat tinggi, tapi dalam ilmu ketabiban, ia mencelakakan kau. Sesudah kau kena pukulan Hian beng Sin ciang, ia membuka Kie keng Pat mehmu. Betul-betul gila!”

“Bukan, bukan Thay soehoe yang membuka pembuluh darahku,”membantah Boe Kie. Sesudah berkumpul dengan Ouw Ceng Goe beberapa bulan, ia merasa bahwa meskipun beradat aneh, tabib melaikat itu bukan manusia jahat. Maka itu, tanpa diminta, ia lantas saja meneceritakan riwayat hidupnya. Ia juga menuturkan pengalamannya dikuil Siauw lim sie, ketika ia datang untuk belajar Siauw lim Kioe yang kang.

Sesudah menunduk beberapa saat, tiba-tiba saja Ceng Goe menepuk paha dan berkata: “Boe Kie, pendeta Siauw lim itu pasti dengan sengaja mencelakakan kau !”

Si bocah terkejut. “Aku belum pernah mengenalnya, ada perlu apa dia harus mencelakakan aku?” tanyanya.

“Hal…….. hal ini sungguh aneh,” kata pula Ceng Goa. “Coba kau ceritakan terlebih jelas semua pengalamanmu di Siauw sit san.”

Boe Kie menurut dan lantas saja mengulang penuturannya secara lebib jelas.

Tiap kok Ie sian tampak berjalan mundar mandir sambil menggendong kedua tangannya. Sekonyong konyong ia berteriak: “Tidak bisa salah lagi. Pendeta itu memang sengaja mencelakakan kau. Thay soehoemu tidak mengerti ilmu ketabiban dan juga ia adalah seorang yang sangat percaya segala manusia. Maka itu, ia tidak bercuriga. Coba kau pikir, Goan tin adalah seorang yang mahir dalam ilmu Siauw lim Kioe yang kang dan ia juga bisa membantu kau dalam membuka Kie keng Pat mehmu. Dengan lain perkataan, ia sudah memiliki Lweekang sangat tinggi. Maka itu, begitu lekas kedua telapak tangannya menempel dengan telapak tanganmu, ia pasti tahu, bahwa dalam tubuhmu mengeram racun dingin. Tapi, ia malah sengaja membuka pembuluh darahmu. Apakah, dengan begitu, ia bukan sengaja mencelakakan kau?”

“Tapi, dari sebelum menobloskan tembok, ia memang sudah berniat untuk bantu membuka Kie keng pat mehku,” kata Boe Kie. “Waktu ia belum tahu, bahwa aku kena pukulan Hian beng Sin ciang.”

Ceng Goe geleng gelengkan kepalanya. “Sebab apa Goan tin mau mencelakakan kau, aku masih belum tahu,” katanya. “Kau mengatakan, bahwa sebab belum pernah kenal satu sama lain, maka tak mungkin ia mencelakakan kau. Akan tetapi, kau harus ingat, bahwa kau sudah belajar Siauw Lim Kioe yang kang, yang mungkin dianggap olehnya sebagai miliknya sendiri. Hal ini sudah cukup untuk menimbulkan niatan membunuh kau di dalam hatinya”

“Menurut katanya Thay Soehoe Siauw lim sie dan Boe tong adalah pemimpin dari partai partai yang lurus bersih” kata Boe Kie. “Menurut pendapatku biarpun dalam kuil Siauw lim sie terdapat orang orang yang berpemandangan sempit, akan tetapi, mereka pasti tidak akan bertindak secara begitu hina dina. Apa pula Thay soehoe sendiri telah menyerahkan Thay kek Sip sam sit dan Boe tong kioe yang kang kepada mereka sebagai penukaran. Dalam hal ini pada hakekatnya pihak Siauw lim yang lebih untung.”

Ouw Ceng Goe tertawa dingin. “Lurus bersih!”, menegasnya. “Apakah ayah dan ibumu bukan didesak sehingga binasa oleh orang orang dari partai lurus bersih? Dengan menganggap, bahwa mereka putih bersih, mereka berlaku sangat kejam terhadap orang orang dari partai yang dianggapnya sesat. Padahal, orang orang partai lurus bersih belum tentu baik semuanya, sedang orang dari partai sesat belum tentu jahat seanteronya.”

Kata kata itu menyentuh hati Boe Kie. Ia ingat, bahwa yang mendesak hebat sehingga mengakibatkan binasanya kedua orang tuanya, sebagian besar terdiri dari orang orang partai lurus bersih, seperti Siauw lim, Koen loan dan Khong tong pay. Bahkan paman pamannya dari Boe tong pay telah menyaksikan pembunuhan diri kedua orang tuanya dengan berpeluk tangan. Memang benar mereka berduka, akan tetapi, didalam hati menganggap bahwa binasanya kedua orang tuanya adalah kebinasaan yang sepantasnya. Pendapat itu sudah lama sekali terkandung dalam lubuk hatinya, tapi sebegitu jauh, ia belum pernah berani mengatakan secara terang terangan. Sekarang, begitu mendengar perkataan Ouw Ceng Goe, ia menggigil dan menangis keras.

“Ya, dunia memang begitu,” kata Ceng Goe dengan suara tawar. “Baru menemui satu soal saja, kau sudah menangis. Jika kau tidak mati hari ini, dihari kemudian kau bakal mengalami banyak sekali kejadian kejadian yang dapat mengucurkan air matamu.

Boe Kie buru buru menyusut air matanya: “Kau mengatakan, bahwa kau belum pernah melihat muka Goan tin,” kata pula si tabib malaikat “Tapi bagimana kau tahu, bahwa dia tidak mengenal kau? Suara orang dapat diubah bahkan muka masih bisa diubah. Dia tidak mau menemui kau. Hal ini saja sudah menerbitkan kecurigaan. Kau mengatakan, bahwa tanpa sebab, seseorang pasti takkan mencelakakan kau. Apa kau tahu pasti, bahwa aku tidak ingin membunuh kau? Biarlah aku berterus terang. Karena melihat penyakitmu sangat aneh, maka aku sudah mau berusaha untuk mengobati kau. Tapi berbareng dengan itu, akupun telah mengambil keputusan, bahwa begitu lekas kau sembuh, aku akan segera mengambil jiwamu!”

Boe Kie bergidik. Ia mengerti, bahwa apa yang dikatakan oleh si orang aneh tidak mudah dapat dirubah lagi. Ia menghela napas seraya berkata. “Racun dingin dalam tubuhku tak dapat diusir keluar lagi seanteronya. Tanpa kau turun tangan, aku akau mati sendiri. Hai! Manusia di dunia agaknya merasa senang jika melihat orang lain celaka atau mati. Bukankah orang yang belajar silat bertujuan untuk membunuh sesama manusia?”

Ouw Ceng Goe mendongak dan dengan mata membelakak ia mengawasi langit. Sesudah lewat kian lama, ia berkata dengan suara parau: “Di waktu masih muda aku mempelajari ilmu ketabiban dengan tekad untuk menolong sesama manusia. Akan tetapi, orang-orang yang ditolong berbalik mencelakakan aku. Aku pernah menolong jiwa seorang yang mendapat tujuhbelas lubang luka bacokan. Dia sebenarnya sudah mesti mati. Tiga hari tiga malam aku tidak tidur dan dengan seantero kepandaian, aku berhasil menyembuhkannya. Belakangan aku mengangkat saudara dengannya. Tak dinyana, ia akhimya membinasakan adik perempuanku, adik kandungku. Siapa dia? Dia sekarang seorang tokoh besar yang namanya besar pula dari sebuah partai lurus bersih.”

Dengan rasa kasihan, Boe Kie mengawasi muka Ceng Goe yang diliputi dengan sinar kedukaan. “Kalau begitu ia mendapat gelaran Kian sie poet kioe karena ia telah mengalami kejadian hebat,” katanya didalam hati. Darahnya lantas saja meluap dan ia menanya: “Siapa adanya manusia binatang itu? Mengapa kau tidak cari padanya untuk membalas sakit hati?”

“Pada waktu mau meninggal dunia, “adikku telah memaksa aku bersumpah, bahwa aku tak akan coba membalas sakit hati,” jawabnya, “Lebih gila lagi, ia minta aku berjanji bahwa kalau manusia itu berada dalam bahaya, aku mesti menolong. Dapat dimengerti jika aku menolak tuntutan itu. Tapi, sebelum aku meluluskan adikku tidak akan mati dengan mata meram. Hati Adikku….hatinya terlalu mulia. Akhirnya aku tak dapat tidak meluluskan permintaannya yang paling penghabisan itu.” Sehabis berkata begitu air matanya berlinang-linang.

Baru sekarang Boe Kie insyaf, bahwa Ouw Ceng Goe bukan manusia yang tak punya perasaan. Tak bisa salah, antara saudara angkatnya dan adik perempuannya mempunyai hubungan yang sangat erat, kalau bukan suami isteri, tentulah juga sepasang kecintaan.

Tiba-tiba Ceng Goe berkata dengan suara keras “Ingatlah apa yang dikatakan olehku, tak boleh kau menyebut-nyebut lagi dihadapanku. Jika kau membocorkan pembicaraan ini kepada orang lain, aku akan membuat kau hidup tidak, matipun tidak.”

Boe Kie sebenarnya ingin menjawab dengan beberapa perkataan tajam, tapi ia segera mengurungkan niatnya, karena ia merasa bahwa pada hakekatnya Ouw Ceng Goe adalah seorang yang harus dikasihani. “Baiklah, aku berjanji tak akan bicara lagi mengenai hal itu.” katanya.

Tabib malaikat itu kemudian mengusap-ngusap rambut si bocah dan berkata sesudah menghela napas berulang-ulang: “Kasihan! Kasihan!” Sehabis berkata begitu, ia masuk keruang dalam.

Sesudah terjadi pembicaraan diatas, berulang kali Ceng Goe memeriksa tubuh Boe Kie dan siang malam is mengasah otak, tapi ia tidak mendapat jalan untuk membasmi racun dingin yang sudah masuk kedalam Sam ciauw. Ia sekarang yakin, bahwa biarpun ia berusaha sebisa bisa dengan menggunakan ilmu pengobatan yang paling tinggi, paling banyak ia bisa-bisa memperpanjang umur si bocah dengan beberapa tahun saja.

Sementara itu, karena berada dipergunungan yang sepi, Boe Kie merupakan seorang kawan yang sangat menyenangkan, maka diwaktu-waktu luang Ceng Goe memberi petunjuk dan pelajaran ilmu ketabiban kepada si bocah yang terus belajar dengan rajin dan tak mengenal capai.

Melihat kecerdasan bocah itu yang dalam tempo singkat sudah dapat memahami kitab-kitab Oey te Ha mo keng, See hong Coe beng tong Cie keng, Tay peng seng Hoei hong dan sebagainya, Ceng Goe menghela napas seraya berkata: “Dengan kecerdasanmu, dibantu olehku sendiri, sebelum berusia duabelas tahun, kau sudah akan hisa merendengi Hoa To atau Pian Ciak. Hanya sayang ….sungguh sayang!”

Ia merasa sayang, karena dengan berusia pendek, semua kecerdasan dan kepandaian itu, tiada gunanya. Tapi Boe Kie mempunyai lain tujuan. Ia belajar ilmu ketabiban dengan tekad untuk memulihkan usia Siang Gie Coen yang menurut Ouw Ceng Goe, akan berkurang dengan tigapuluh tahun.

Hari berlalu laksana terbang dan tanpa terasa, dua tahun sudah berselang, Boe Kie sekarang sudah berusia empat belas tahun. Selama dua tabuh itu beberapa kali Gie Coen datang menengoknya. Ia memberitahukan, bahwa Thio Sam Hong memperkenankannya, untuk berdiam lebih lama di Ouw tiap kok, sampai racun dingin dalam tubuhnya dapat dibasmi seluruhnya. Ia juga menyampaikan warta bahwa makin lima orang Mongol jadi ganas, bahwa rakyat menderita dan permusuhan antara partai lurus bersih dan partai sesat makin menghebat dan jumlah manusia yang menjadi korban makin meningkat.

Setiap kali datang di Ouw tiap kok, Siang Gie Coen berdiam beberapa hari dan kemudian pergi lagi. Pada kedatangannya yang terakhir, Boe Kie telah mendapat kemajuan pesat dalam pelajaran ilmu ketabiban. Ia memeriksa nadi Siang Gie Coen dan kemudian menulis obat yang lalu diberikan kepada si berewok dengan pesanan bahwa ia harus sering-sering minum obat itu. Gie Coen menghaturkan banyak terima kasih dan lalu memasukkan surat obat itu kedalam sakunya.

Kali ini, dalam kamar paman gurunya, Gie Coen beromong-omong dengan orang tua itu sehingga jauh malam. Malam itu dia tidak bisa tidur dan gelisah. Boe Kie merasa heran. Si berewok tidak begitu akur dengan paman gurunya. Mengapa ia bicara begitu lama? Boe Kie menduga, bahwa didalam kalangan Mo kauw timbul gelombang dan sebab ia sendiri bukan anggauta “agama” itu, maka ia tidak mau menyelidiki.

Esok paginya, Gie Coen berpamitan dan Boe Kie mengantarnya sampai dimulut selat. “Saudara.” kata si berewok waktu mereka berpisahan, “dalam beberapa hari ini seorang musuh yang sangat lihay akan menyateroni Ouw Soepeh. Sebenarnya aku ingin mengajak kau pergi kelain tempat untuk sementara waktu, akan tetapi Ouw Soepeh mengatakan, bahwa musuh itu tak akan bisa berbuat banyak. Ia mengatakan, aku tak usah takut. Tapi aku harap, kau suka berlaku hati-hati.”

“Musuh siapa?” tanya Boe Kie.

“Akupun tak tahu,” jawabnya. “Aku mendengar Warta itu ditengah jalan dan buru-buru aku datang kemari untuk memberitahukan Ouw Soepeh. Saudara, Ouw Soepeh seorang pintar yang sangat berhati-hati. Kalau ia mengatakan tak usah kuatir, ia tentu sudah mempunyai pegangan. Hanya aku yang masih berkuatir.”

Melihat kecintaan si berewok terhadap dirinya, Boe Kie merasa sangat terharu dan sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, mereka lalu berpisahan.

Sekembalinya dirumah Ceng Goe, ia melihat orang tua itu tenang—tenang saja. Beberapa kali ia coba menanya, tapi pertanyaan selalu diputuskan ditengah jalan.

Enam tujuh hari telah lewat dengan tenang. Malam itu, selagi Boe Kia membaca sejilid kitab obat, mendadak ia merasa kepalanya berat dan badannya lelah. Ia lantas saja naik kepembaringan. Esok harinya, ketika tersadar, ia merasa kepalanya sakit sekali. Ia segera pengi kebelakang untuk mengambil obat. Tapi, baru berjalan puluhan tindak, ia mendapat kenyataan, bahwa ia baru tersadar diwaktu lohor. “Mengapa aku tidur begitu lama? Apa aku sakit?” tanyanya didalam hati.

Ia segera memegang nadi, tapi ketukan nadi tidak mengunjuk hal yang luar biasa. ia jadi semakin kaget. Apakah racun dingin itu mengamuk dan ia sudah mendekati ajalnya?

Buru buru ia mencari Ouc Ceng Goe, tapi orang tua itu tidak kelihatan hidungnya. Selama beberapa hari ia selalu berkuatir dan sekarang karena orang tua itu tidak berada didalam rumah, sambil berlari lari i apergi kekebun untuk mencarinya. Di kebun ia bertemu dengan seorang kacung yang sedang mencangkul tanah. “Mana Ouw Sinshe?” tanyanya.

“Apa ia tidak berada dikamarnya?” si kacung balas menanya. “Baru saja aku membawa teh. Ouw Sinshe memesan supaya ia tidak diganggu”. Boe Kie tertawa. “Aku benar tolol.” katanya didalam hati dan lalu kembali kerumah.

Waktu tiba di depan kamar Ceng Goe, ia melihat pintu dikunci. Mengingat perkataan sikacung ia tidak berani mengetuk dan hanya batuk-batuk beberapa kali.

“Boe Kie,” kata orang tua itu, “hari ini badanku kurang enak. Leherku sakit. Kau belajar saja sendiri.”

“Baiklah,” jawabnya. Sesaat kemudian, sebab kuatir penyakit orang tua itu lebih berat, ia berkata: “SinShe, boleh kuperiksa lehermu?”

“Tak usah,” Jawabnya dengan suara dalam. “Aku sendiri sudah memeriksa dari kaaa. Tak apa apa. Aku sendiri sudah minum obat.”

Malam itu, waktu kacung membawa nasi, Boe Kie turut masuk kekamar Ceng Goe. Ia melihat, bahwa muka orang tua itu yang rebah dipembaringan pucat pasi. Ia kaget. “Apakah semalam, selagi aku tidur, musuh sudah datang menyatroni?” tanyanya dalam hati. “Mungkin sekali, biarpun berhasil mengusirnya, Ouw Sinshe sendiri terluka berat.”

Begitu melihat Boe Kie, Ceng Goe mengibas tangannya. “Pergi!” bentaknya. “Kau tahu aku sakit apa? Sakit cacar.”

Si bocah mengawasi dan benar saja, tangan dan muka orang tua itu penuh dengan titik-titik hebat. Kalau salah pengobatannya, orang bisa mati, atau sedikitnya bakal bermuka bopeng. Tapi mengingat Ceng Goe seorang tabib malaikat, ia tidak merasa kuatir. Hatinya lega sebab ia yakin, bahwa orang tua itu bukan dilukakan musuh.

“Kau dan si kacung tidak boleh masuk lagi kedalam kamarku,” kata pula Ceng Goe. “Semua perabot makan, sesudah digunakan olehku, harus diseduh dengan air panas. Kau tidak boleh menggunakan itu….hm…” Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi. “Boe Kie, begini saja. Menyingkirlah dari Ouw tiap kok untuk sementara waktu. kau boleh menumpang di salah sebuah rumah penduduk kira kira setengah bulan. Aku kuatir kau ketularan cacar!”

“Tidak!” kata si bocah. “Sinshe sedang sakit, kalau aku pergi, siapa yang harus merawatmu. Biar bagaimanapun jua, aku lebih mengenal ilmu pengobatan dari pada kedu akacung itu.”

“Tapi lebih baik kau menyingkir,” kata orang tua itu. Ia membujuk beberapa kali, tapi si bocah tetap pada pendiriannya. Akhirnya Ceng Goe berkata: “Baiklah. Tapi biar bagaimanapun jua, aku melarang kau masuk lagi kekamarku”

Tiga hari telah lewat. Setiap pagi dan malam Boe Kie selalu menanyakan kesehatan orang tua itu dari luar kamar. Ia mendapat kenyataan bahwa biarpun suara Ceng Goe masih agak parau, tapi semangatnya sudah cukup baik dan nafsu makannyapun bertambah besar. Setiap kali, dari dalam kamar, Ceng Goe menyebutkan nama nama obat dan timbangannya yang harus dimasak untuknya oleh sikacung.

Pada hari keempat, diwaktu lohor, Boe Kie membaca bagian Soe Kie Tauw sia Tay Loen (Perundingan mengenai peranan empat hawa dalam memperkuat semangat) dari Oey Tee Lwee keng (Kitab obat obatan dari Kaizar Oey Teng). Di bagian itu antara lain tertulis seperti berikut:

“Maka itulah, seorang pandai tidak mengobati penyakit, tapi menjaga supaya penyakit itu jangan sampai timbul. Ia tidak membereskan kekacauan, tapi menjaga jangan sampai kekacauan muncul. Inilah jalan yang paling baik. Kalau menunggu sampai penyakit timbul dan baru mengobatinya, sampai kekacauan muncul dan baru mengobatinya, sampai kekacauan muncul dan baru membereskannya, maka usaha itu adalah seperti menggali sumur sesudah haus atau membuat senjata sesudah menghadapi musuh. Apakah itu bukan sudah terlambat ?”

Tanpa merasa, Boe Kie mengangguk beberapa kali. “Memang sudah terlambat, kalau menggali sumur sesudah haus dan membuat senjata sesudah berhadapan dengan musuh,” katanya didalam hati. “Membereskan negara sesudah terbit kekacauan juga sudah terlambat. Biarpun andaikata keamanan dapat dipulihkan, akan tetapi negara tetap mendapat kerugian. Mengobati penyakit juga tiada bedanya. Lebih baik menjaga sebelum penyakit mengamuk dari pada mengobati sesudah penyakit itu menjadi berat,” Ia ingat dibagian lain dari kitab tersebut terdapat kata kata seperti berikut:

“Seorang tabib yang pandai, paling senang mengobati kulit dan bulu, kemudian mengobati otot otot, lalu mengobati urat urat, dan akhirnya baru mengobati isi perut. Jika ia harus mengobati isi perut, maka kemungkinan sembuhnya si sakit hanya separuh separuh.”

“Benar, memang benar apa yang dikatakan dalam kitab itu,” pikir Boe Kie. “Seorang tabib pandai selalu mengobati pada waktu penyakit baru saja muncul. Kalau penyakit sudab masuk ke isi perut biar bagaimana pandaipun jua, ia tidak mempunyai pegangan lagi. Seperti aku, racun sudah masuk ke dalam isi perutku. Keadaanku sudah sembilan bagian mati dan hanya satu bagian hidup.”

Selagi memikir begitu, tiba tiba terdengar suara tindakan kuda. Boe Kie buru buru menutup bukunya dan berbangkit. Ia bingung sebab kuatir kedatangan musuh. Sambil berlari lari ia pengi kekamar Ceng Goe. “Ouw Sinshe,” katanya. “Kudengar suara tindakan bebrapa ekor kuda yang masuk ke selat ini. Bagaimana baiknya?”

Sebeleum orang tua itu keburu menjawab, kuda kuda itu yang ternyata bisa lari luar biasa cepatnya, sudah tiba didepan rumah.

“Sesama orang Rimba Persilatan mohon bertemu dengan Ie Sian Ouw Sinshe!” demikian terdengar teriakan seorang. “Kami ingin memohon belas kasih Ouw Sinshe untuk mengobati penyakit”

Mendengar itu, hati Boe Kie agak lega. Ia bertindak keluar dan melihat seorang bermuka hitam berdiri didepan pintu. Tangan orang itu menuntun tiga ekor kuda. Di punggung dua diantara hewan hewan itu kelihatan rebah dua orang yang pakaiannya berlepotan darah. Penunggang kuda itu sendiri berdiri dengan kepala dibalut dengan kain putih bernoda darah, sedang tangan kanannya dimasukkan dalam selembar kain yang diikatkan keleher. Di lihat dari romannya, iapun mendapat luka yang tidak enteng.

“Kedatangan kalian sungguh sangat tidak kebetulan,” kata Boe Kie. “Ouw Sinshe sedang sakit dan tidak bisa bangun. Harap kalian suka cari lain tabib saja.”

“Celaka!” kata orang itu dengan suara kaget. “Kami melalui perjalanan ratusan li dengan harapan bisa mendapat pertolongan Ie sian”

“Ouw Sinshe mendapat sakit cacar,” Boe Kie menerangkan. “Dalam beberapa hari ini, keadaannya sangat buruk. Inilah suatu kenyataan dan aku tidak berjusta.”

Orang itu menghela napas. “Kami bertiga adalah saudara seperguruan dan kami mendapat luka yang sangat berat,” katanya dengan suara duka. “Kalau tidak ditolong Ie sian, kami pasti akan meninggal dunia. Kuharap saudara suka melaporkan kepada Ouw Sinshe.”

“Kalau begitu, bolehkah aku tahu she dan nama Toako yang mulia?” tanya Boe Kie.

“Nama kami tidak cukup berharga untuk disebut-sebut,” jawabnya. “Tolong beritahukan saja bahwa murid-murid Sian-ie Ciang-boen dari Hoa San-pay memohon pertolongan.” Sehabis berkata begitu, badannya bengoyang-goyang, paras mukanya jadi lebih pucat dan mulutnya agak terbuka seperti mau muntahkan darah.

Boe Kie melompat dan menotok beberapa jalan darah di dada dan punggung orang itu. Begitu tertotok, darah yang sudah meluap turun kembali dan orang itu merasa dadanya agak lega.

Melihat kepandaian si bocah, ia kelihatan kaget dan kagum.

Boe Kie segera masuk kedalam, “Sinshe,” katanya. “di luar menunggu tiga orang yang mendapat luka berat dan minta pertolonganmu. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah murid-murid dari Sian ie Ciang boen Hoa-san-pay.”

Ouw Ceng Goe mengeluarkan suara “ih!” dan kemudian, ia berteriak dengan gusar: “Tidak! Tidak! Usir mereka!”

“Baiklah,” kata Boe Kie yang dengan cepat lalu berjalan keluar.

“Ouw Sinshe tak bisa menemui kalian karena penyakitnya masih belum mendingan,” kata Boe Kie. “Harap kalian suka memaafkan.”

Orang itu mengerutkan alis. Selagi ia mau memohon lagi, tiba-tiba salah seorang yang bertubuh kurus kecil dan rebah diatas punggung kuda mengangkat kepalanya dan mengayun tangannya. Hampir berbareng sehelai sinar emas menyambar dan serupa benda jatuh di atas meja di dalam rumah.

“Saudara, bawalah bunga emas itu kepada Kian sie poet kioe,” kata si kurus. “Beritahukanlah bahwa kami bertiga telah dilukakan oleh majikan dari bunga emas itu. Dia akan segera mencari le sian sendiri. Jika Kian sie Poet kioe suka mengobati kami, sesudah sembuh kami akan tetap berdiam disini untuk bantu melawan musuh. Biarpun kepandaian kami tidak berarti, tapi masih merupakan tiga tenaga bantuan”

Boe Kie menghampiri meja. Ia melihat, bahwa senjata rahasia itu menyerupai sekuntum bunga bwee yang terbuat dari pada emas tulen, dengan sari bunga dibuat dari perak putih, sehingga Kim hoa (bunga emas) itu indah sekali kelibatannya. Boe Kie mengulurkan tangan dan coba menjemputnya, tapi diluar dugaan bunga emas itu menancap dimeja dan ia tidak dapat mencabutnya lagi. Dengan mengunakan jepitan obat, barulah ia berhasil. “Orang kurus itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi, tapi dia masih kena dilukakan oleh majikan bunga emas itu.” pikirnya, “Siang Toako mengatakan bahwa seorang musuh akan menyatroni Ouw Sinshe. Mungkin sekali musuh Ouw Sinshe adalah orang itu.” Sambil mambawa senjata rahasia tersebut, ia segrera masuk dan menyampaikan perkataan si kurus kepada Ouw Ceng Goe.

“Coba aku lihat,” kata orang tua itu.

Boe Kie menolak pintu dan menyingkap tirai. Kamar itu sangat gelap. Seorang yang kena penyakit cacar memang takut dengan sinar terang, maka pintu dan jendela kamar itu ditutup dengan tirai. Ia melihat muka Ouw Ceng Goe ditutup dengan kain dan hanya kedua matanya yang bisa dilihat orang. Hati Boe Kie berdebaran. Bagaimana macamnya bisul bisul dimuka orang tua itu. Apa sesudah sembuh, dia bakal bopeng?

“Taruh bunga emas itu diatas meja dan lekas keluar,” perintah si tabib malaikat.

Boe Kie menurut.

“Mati hidup mereka bertiga tiada sangkut paut nya dengan aku,” demikian terdengar suara Tiap kok ie sian, “Soal mati hidupku juga tak usah diributi mereka.” “Ptak!”, bunga emas itu terbang keluar sesudah menobloskan tirai dan kemudian jatuh ditanah.

Biarpun daun bunga dari senjata rahasia itu sangat tipis dan tajam, tapi karena tirai adalah lemas dan alot, maka dicobloskannya kain jang tebal itu mengejutkan Boe Kie. Selama berdiam dua tahun dirumah Tiap kok Ie sian, Boe Kie belum pernah melihat ilmu silat orang tua itu. Baru sekarang ia mendapat bukti, bahwa si tabib malaikat juga memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.

Ia menjemput Kim hoa itu dan menghampiri lelaki yang kurus itu. Sambil menggelengkan kepala,
ia berkata. “Sakitnya Ouw Sianshe sangat berat.”

Mendadak dari sebelah kejauhan terdengar suara roda kereta yang tengah memasuki selat Ouw tiap kok. Perkataan Boe Kie terhenti dan semua orang memasang kuping.

Kereta itu cepat sekali jalannya, dan tak lama kemudian sudah berada diluar rumah. Dari dalam kereta keluarlah seorang pemuda yaug kuning kulit mukanya sambil melompat. Begitu turun ia mendukung seorang kakek yang gundul kepalanya “Apa Tiap kok Ie sian Ouw Sinshe ada?” tanyanya. “Murid Khong tong pay. . . .” Baru ia ber kata begitu, badannya bergoyang goyang dan ia lalu roboh bersama sama si kakek. Dua ekor kuda yang menarik kereta, yang mulutnya mengeluarkan busa, juga berlutut dengan berbareng. Rupanya kedua binatang itu kehabisan tenaga.

Melihat romannya dua orang itu, tanpa ditanya lagi ketahuanlah sudah bahwa mereka itu baru saja melakukan perjalanan cepat satu sampai dua ratus li tanpa beristirahat ditengah jalan. Sudah begitu Boe Kie pun mendengar di sebutnya “Murid murid Khong Tong pay”, maka ingatlah ia akan halnya, diantara orang-orang yang memaksakan kematian ayah dan ibunya diatas gunung Boe tong san ada tianglo atau tertua dari partai itu. Ia melihat si orang tua kepala gundul lantang yang disebut Seng Cioe Ka Lam Kao Ciat. Orang tua ini tidak hadir digunung ketika itu, akan tetapi mau ia menduga bahwa dia ini mestinya bukan manusia baik baik. Karena itu ingin ia menolak mereka itu atau ia segera melihat munculnya lagi empat atau lima orang ada yang dingkluk-dingkluk sambil memegangi tongkat, ada yang saling menuntun, dan semua mereka itu mempunyai luka-luka di tubuh mereka. Ia mengerutkan alisnya. Tidak menanti sampai mereka itu datang dekat, ia lantas berkata nyaring: “Ouw Sinshe kena penyakit cacar, karena dirinya sendiri belum tentu dapat ditolong, ia jadinya tidak dapat mengobati kalian, tuan-tuan! Maka itu, silahkan tuan-tuan sekalian lekas mencari lain tabib saja supaya kamu tidak digagalkan luka luka kau”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: