To Liong To – 5

Pertanyaan itu tidak bisa menghilang dari otak Insoe. Maka itulah, beliau lalu menutup diri untuk mempelajari dan merenungkan ilmu silat kami guna mencapai suatu kesempurnaan.”

Mendengar keterangan itu, bukan main rasa kagumnya Coei San dan So So.

“Yang turut mendengar Kak wan Couwsoe menghafal Kioe yang Cin keng ada tiga orang.” Lian Cioe melanjutkan penuturannya. “Yang satu Insoe sendiri, yang kedua Boe sek Taysoe dari Siauw lim sie, sedang yang ketiga seorang wanita yaitu Couwsoe Goe bie pay, Kwee Siang Kwee Lie hiap. Kecerdasan, bakat dan kepandaian mereka berlainan satu sama lain. Yang ilmu silatnya paling tinggi pada waktu itu adalah Boe sek Taysoe, Kwee Lie hiap ialah puteri Kwee Tayhiap dan Oey Yong, Oey Pangcoe. Sebagai puterinya ahli-ahli silat kelas utama pada jaman itu, beliau sudah memiliki ilmu silat yang beraneka warna. Insoe sendiri pada waktu itu dapat dikatakan belum mengenal ilmu silat. Tapi sebab itulah ilmu silat Boe tong menjadi ahli waris yang paling bersih dari pada kitab Kioe yang Cin keng.”

“Belakangan mengenai ilmu-ilmu silat Siauw Lim, Go bie dan Boe tong, orang memberi julukan Ko (tinggi) kepada Siauw lim. Pok (luas) kepada Go bie dan Soen (bersih) kepada Boe tong. Ketiga partai masing-masing mempunyai keunggulan sendiri dan juga mempunyai kekurangan kekurangan.”

“Kalau begitu, Kak wan Couw soe memiliki ilmu silat yang paling tinggi pada jaman itu,” kata So So.

“Tidak !” jawabnya. “Kak wan Couw soe tidak mengerti ilmu silat. Dalam kuil Siauw lim sie, ia bekerja sebagai pengurus Cong keng kok (gedung perpustakaan). Ia seorang kutu buku yang membaca segala rupa kitab dan menghafalnya. Secara kebetulan ia mendapatkan Kioe yang Cin-keng Yang lalu dibacanya dan dihafalnya. Ia sama sekali tak tahu, bahwa dalam kitab itu terdapat ilmu silat yang sangat tinggi.”

Lian Cioe selanjutnya menuturkan cara bagaimana kitab itu hilang dan tidak dapat ditemukan lagi. Coei San sendiri sudah pernah mendengar cerita itu dari gurunya, tapi So So yang baru pertama kali mendengarnya, merasa ketarik bukan main.

Lian Cioe seorang pendiam dan biasanya sangat jarang bicara. Tapi sekarang, dalam kegembiraannya karena sudah bertemu pula dengan adiknya yang disangka mati, ia berbicara banyak sekali, bahkan berguyon. Sesudah bergaul belasan hari dengan So So, ia merasa, bahwa si Teehoe sebenarnya bukan manusia jahat. Ia yakin, bahwa kekejaman So So pada masa yang lampau, adalah akibat daripada suasana dan pergaulannya. Kata orang, mendekati bak (tinta) keluaran hitam, mendekati coe see (bubuk merah) berlepotan merah. Sedari kecil, apa yang dilihat dan didengar So So adalah perbuatan-perbuatan sesat dan kejam, sehingga sesudah besar, ia tidak dapat membedakan lagi apa yang benar, apa yang salah dan biasa membunuh manusia secara serampangan. Tapi sesudah menikah dengan Soeteenya, adat yang kejam itu perlahan-lahan berubah. Itulah kesimpulan Lian Cioe.

Baru saja Coei San ingin menanyakan Soehengnya tentang kemajuan yang telah dicapai oleh gurunya dalam usaha menyempurnakan ilmu silat Boe-tong, sekonyong konyong suara tindakan kuda tadi terdengar pada kali ini dari menuju ketimur dan tidak lama kemudian mereka lewat diatas gili gili dekat perahu.

Coei San agak terkejut, tapi ia tidak menggubris. “Jieko” katanya. “jika Insoe mengundang tokoh-tokoh Siauw lim dan Gobie untuk bersama2 menyempurnakan ilmu silat, kurasa ketiga partai ini sama-sama akan memperoleh keuntungan yang sangat besar.”

Lian Cioe menepuk lututnya. “Kau benar !” katanya dengan bersemangat. “Perkataan Soehoe, bahwa dihari kemudian kau bakal menjadi ahli warisnya sungguh tepat sekali.”

“Perkataan itu kurasa sudah dikeluarkan karena Insoe selalu mengingat Siauwtee yang tidaak diketahui kemana perginya,” kate Coei San. “Bukankah seorang anak durhaka yang bergelandangan di luaran lebih dipinggirkan oleh ibunya daripada anak berbakti yang selalu berdampingan dengan sang ibu? Pada waktu ini, janganlah dibandingkan dengan Toako, Jieko dan Sieko, sedangkan dengan Lioktee dan Cit tee pun, ilmu silat Sauwtee masih belum bisa menempil.”

“Bukan, tafsirannya bukan begitu,” kata Lian Cioe sambil meggelengkan kepala. “Sebegitu jauh mengenai ilmu silat, memang juga Ngotea tidak bisa menandingi aku. Akan tetapi, seorang ahli waris Insoe mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk memperkembangkan ilmu silat. Insoe sering mengatakan, bahwa dalam dunia yang lebar ini, soal gemilang atau suramnya Boe tong pay sebagai partai persilatan adalah soal remeh. Soal yang penting ialah seorang ahli silat harus menunaikan tugasnya sebagai seorang anggota dari Rimba Persilatan. Jika ia bisa mempelajari menyelami rahasia ilmu silat dan kemudian menurunkan pelajarannya itu kepada orang lain, supaya ilmu silat seorang koen coe (manusia utama) berbeda dengan ilmu silat seorang Siauwjin (manusia rendah). Jika ia dapat mempersatukan pencinta-pencinta negeri untuk mengusir penjajah dan merampas pulang negeri yang sedang dijajah, maka dapatlah dikatakan, bahwa ia sudah menunaikan tugasnya yang sangat mulia. Itulah penedapat Insoe mengenai tanggung jawab seorang ahli silat. Maka itulah seorang ahli warisnya, pertama harus mempunyai batin yang luhur dan kedua harus memiliki kesadaran. Mengenai batin, kita bertujuh tiada banyak bedanya. Tapi mengenai kesadaran, Ngotee lah yang paling unggul.”

Coei San menggoyangkan tangannya. “Tapi siauw tee masih tetap berpendapat, bahwa perkataan itu sudah dikeluarkan Insoe karena beliau terlalu memikirkan siauwtee,” katanya dengan suara ter haru. “Andaikata benar Insoe mempunyai niat begitu, biar bagaimanapun jua, siauwtee tak akan dapat menerimanya.”

Mendadak Lian Cioe berpaling kearah So So. Ia bersenyum seraya berkata: “Teehoe pergilah kau melindungi Boe Kie, supaya ia tak jadi kaget. Urusan diluar akan diurus olehku dan Ngotee.”

So So memandang kedarat, tapi ia tak dapat melihat sesuatu yang luar biasa. Selagi ia bersangsi, Lian Cioe berkata pula: “Diantara pohon pohon itu bersembunyilah orang dan diantara rumput alang-alang disebelah depan pasti bersembunyi perahu-perahu musuh”

So So membuka rnatanya lebar-lebar dan mengawasi keempat penjuru, tapi ia tetap tak melihat apapun jua. Diam-diam dia menduga mata sang Jiepeh kabur.

Sekonyong konyong Lian Cioe berteriak: “Boe tong san Jie Jiehiap dan Thio Ngo hiap numpang lewat ditempat ini. Kami memohon kalian sudi memaafkan, jika kami melanggar kesopanan. Kami mengundang kalian untuk naik keperahu ini guna minum bersama-sama.”

Teriakan Lian Cioe diikuti dengan suara air yang terpukul dayung dan sesaat kemudian, dari antara rumput alang-alang muncullah enam buah perahu kecil yang didayung cepat sekali dan yang kemudian berbaris dan menghadang dari satu tepi kelain tepi sungai. Dari salah sebuah perahu itu terdengar suara “uuu…uuu…” dan dilepaskan sebatang anak panah pertandaan, yang mengeluarkan suara nyaring. Hampir berbareng, dari antara gerombolan pohon pohon melompat keluar belasan orang yang ringkas dan badannya semua mengenakan pakaian warna hitam dan semua mencekal senjata. Sedang muka mereka ditutup dengan topeng kain yang berwarna hitam juga.

So So kagum tak kepalang. “Nama besar Jie peh sungguh bukan nama kosong,” pikirnya. Melihat jumlah musuh yang besar cepat cepat ia masuk kedalam gubuk perahu untuk melindungi puteranya. Anak itu ternyata sudah mendusin. Sesudah merapikan pakaiannya ia berbisik “Anak kau jangan takut!”

“Sahabat dari mama yang akan berkunjung?” tanya Lian Cioe. “Boe tong Jie Jie dan Thio Ngo hiap menyampaikan salam persahabatan.”

Tapi tak satu manusiapun yang muncul dari perahu-perahu itu dan pertanyaan Jiehiap tetap tidak mendapat jawaban.

“Celaka!” Lian Cioe mengeluarkan seruan tertahan dan lalu melompat keair. Ia kelahiran Kang lam dan rumah tinggalnya berdekatan dengan sungai, sehingga semenjak kecil ia sudah mahir dalam ilmu berenang.

Ia menyelam dan melihat empat orang sedang berenang mendekat, ia mengerti maksud mereka yaitu ingin membor dasar perahu supaya perahu itu karam.

Jie Lian Cioe segera bersembunyi disamping badan perahu. Begitu lekas keempat orang itu datang dekat, kedua tangannya bergerak dan dua orang sudah tertotok jalanan darahnya. Hampir berbareng ia mengirim tendangan dan jalanan darah Cit sit hiap, dipinggang orang ketiga, kena tertendang. Musuh yang keempat coba melarikan diri, tapi Lian Cioe keburu menjambret pergelangan kakinya dan lalu melontarkannya keatas perahu. Mengingat, bahwa ketiga musuhnya pasti bakal mati kalelap jika tidak ditolong, ia segera melemparkan mereka satu persatu kekepala perahu dan kemudian barulah ia sendiri meloncat keatas perahu.

Sementara itu sesudah bergulingan, musuh keempat melompat bangun dan lalu menikam dada Coei San dengan bornya. Melihat ilmu silat orang itu biasa saja, tanpa berkelit. Coei San menangkap pergelangan tangannya yang mencekal senjata kemudian menotok jalanan darah didada dengan sikutnya. Tanpa mengeluarkan teriakan, dia rubuh diatas geladak perahu.

“Diantara yang berkumpul didarat kelihatannya terdapat beberapa orang yang berkepandaian tinggi”, kata Lan Cioe. “Sesudah berhadapan, tak dapat kita berlaku sungkan lagi.”

Coei San mengangguk dan lalu memerintahkan juragan perahu untuk menjalankan kendaraan air itu. Karena mesti melawan arus air, jalanannya perahu perlahan sekali. Begitu berdekatan dengan enam perahu musuh, Lian Cioe mengangkat keempat tawanannya, membuka jalanan darah mereka dan lalu melemparkannya keperahu yang paling dekat. Tapi sungguh heran dari enam perahu itu sama sekali tidak terdengar suara manusia, belasan orang yang berkumpul didaratanpun tidak mengeluarkan sepatah kata, seolah-olah mereka semua gagu, sedang keempat orang yang barusan dilontarkan juga tak muncul lagi.

Tiba-tiba, selagi perahu Lian Cioe mau melewati keenam perahu itu, seorang pendayung dari perahu musuh yang paling dekat mengayun tangannya dan hampir berbareng, dengan dua kali suara ledakan, kemudi perahu Lian Cioe terbakar dan perahunya sendiri terputar badannya.

Yang dilemparkan oleh sipendayung yalah semacam dinamit yang biasa digunakan oleh para nelayan untuk mendinamit ikan. Hanya karena barang peledak itu dibuat luar biasa besar maka tenaganyapun jauh lebih bear daripada dinamit yang biasa.

Dengan paras muka tetap menunjuk ketenangan, Lian Cioe melompat keperahu musuh. Sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, nyalinya sangat besar dan sampai pada saat itu, ia masih tetap tidak bersenjata.

Kedatangan Jiehiap tidak digubris oleh sipendayung. “Siapa yang melemparkan dinamit?” bentak Lian Cioe. Tapi orang itu tidak menjawab dan lagaknya seperti orang gagu dan tuli.

Lian Cioe segera masuk kegubuk perabu, dimana terdapat dua orang laki-laki yang duduk pada sebuah meja, tapi merekapun tidak bergerak dan tidak bersuara.

Dengan mendongkol ia mencekal tengkuk salah seorang dan lalu mengankatnya tinggi-tinggi. “Hai! Kau jangan main gila!” bentaknya. tapi orang itu merarnkan kedua mata nya dan tetap menutup mulut.

Sebagai seorang kenamaan dari Rimba Persilatan, Lian Coe sungkan mengunjak kegarangan terhadap seorang yang bukan tandingannya. Ia lalu melepasakan orang itu dan pergi kebelakang perahu, dimana ia bertemu dengau Coei San dan So So yang mendukung Boe Kie.

Tiba-tiba So So berteriak “Awas! Penjahat menenggelamkan perahu!” Sesaat itu, air sudah mulai mencapai geladak perahu.

Ternyata, musuh yang berdiam diperahu itu sudah membuat persiapan dan begitu lekas Lian Cioe berempat pindah keperahu mereka, orang-orang itu lalu membuka sumbat lubang lubang di dasar perahu. Lian Cioe berempat lantas melompat keparaha yang kedua, tapi perahu itupun mulai kalam.

“Ngotee, sekarang tak bisa tidak, kita mendarat juga,” katanya. Ia mengerti, bahwa musuh telah membuat keenam perahu itu sebagai papan loncatan untuk mengundang tamu-tamu naik kedaratan. Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada diatas gili-gili.

Belasan lelaki yang mengenakan pakaian hitam itu berdiri dalam garis setengah lingkaran, sehingga Lian Cioe berempat separuh terkurung. Sabagain besar diantara mereka bersenjatakan pedang sedang yang lainnya mencekal sepasang golok atau Joanpian (cambuk). Tak satupun yang membawa senjata berat.

Jiehiap berdiri tegak dengan paras muka dingin dan sepasang matanya yang bersinar terang menyapu musuh-musuh yang menghadang itu.

Mendadak, seorang musuh yang berdiri ditengah-tengah mengebas tangan kanannya dan barisan setengah lingkaran itu segera terpecah dua dan membuka jalan ditengah-tengah. Mereka berdiri dengan badan separuh membungkuk, ujung senjata mereka ditudingkan kebumi, sedang kedua tangan mereka dirangkap sebagai tanda memberi hormat. Sesudah membalas hormat, Lian Cioe bertindak maju. Begitu Jiehiap lewat sekonyong-konyong ujung kedua barisan kembali menyambung menjadi satu dan menutup jalanan keluar, sehingga Coei San, So So dan Boe Kie lantas saja terkurung.

Ngohiap tertawa terbahak-bahak. “Kalau begitu, yang dikehendaki kalian adalah aku, seorang she Thio,” katanya. “Terima kasih atas perhatian kalian yang begitu besar.”

Musuh yang berdiri ditengah tengah, yang rupanya menjadi pemimpin rombongan, kelihatan bersangsi. Ia menundukkan pedangnya dan sekali lagi membuka jalan.

“So So, kau jalan lebih dulu !” memerintah sang suami.

Sambil mendukung Boe Kie, si isteri segera bertindak maju.

Sekonyong-konyong selagi mau melewati kedua barisan, lima orang bergerak bagaikan kilat dan pedang mereka menuding Boe Kie. Dengan kaget So So bertindak mundur, tapi kelima musuh itu mengikuti dan pedang mereka tetap berada dalam jarak kira-kira satu kaki dari tubuh si bocah.

Lian Cioe yang sangat berwaspada sudah lantas melihat kejadian itu. Sekali menotol tanah dengan kedua kakinya, tubuhnya terbang dan masuk ke dalam kurungan musuh. Bagaikan kilat, kedua tangannya menepuk empat kali, saban tepukan mengenakan pergelangan tangan musuh yang mencekal pedang dan empat batang pedang hampir berbareng terpental ketengah udara. Sesudah itu, tangan kirinya menyambar pergelangan tangan musuh yang kelima. Begitu mencekal, ia merasa tangan musuh halus luar biasa, seperti juga tangan seorang wanita. Buru-buru ia menotok jalanan darah orang dan buru-buru pula ia melepaskan cekalannya. Tangan orang itu lantas saja lemas dan pedangnya jatuh ditanah.

Sesudah pedang mereka terlepas, kelima orang itu cepat-cepat melompat mundur.

Dilain saat, dua batang pedang menyambar Lian Cioe. Kedua senjata itu menikam lurus dari kiri dan kanan. Jiehiap lantas saja mengenali bahwa serangan itu yalah pukulan Tay mo pang see (Pasir yang rata digurun pasir) dari Koen loen pay.

Lian Cioe menunggu sampai ujung pedang hanya terpisah kira-kira tiga dim dari dadanya dan pada saat yang tepat, ia menarik sedikit dadanya kebelakang, sedang telunjuk tangan kiri dan tangan kanan menyentil badan kedua pedang itu.

Kedua sentilan itu kelihatannya tidak bertenaga, tapi sebenarnya hebat luar biasa disertai dengau Lweekang yang sangat tinggi. Menurut kebiasaan senjata lawan pasti akan terlepas. Tapi kali ini begitu telunjuknya nenyentuh badan pedang, ia merasakan sambutan dari tenaga Jioa kin (tenaga lembek), sehingga Lweekangnya kena dipunahkan. Tapi kedua musuh itu tak dapat mempertahankan diri, satu terhuyung tiga tindak dan badannya bergoyang-goyang sedang yang lain, sesudah mengeluarkan teriakan kesakitan, muntah darah.

Semenjak mencegat, tak satupun mengeluarkan suara dan teriakan itu adalah suara pertama. Sungguh heran, teriakan itu tajam dan nyaring, seperti teriakan seorang wanita.

Melihat kelihayan Lian Cioe, pemimpin rombongan mengebas tangannya dan belasan orang itu lantas saja mundur, akan kemudian menghilang di antara pohon-pohon. Lian Cioe mengawasi bayangan mereka deugan mata tajam. Ia mendapat kenyataan, bahwa hampir semuanya bertubuh langsing dan gerak-gerik mereka yang gemulai menyerupai gerak-gerik wanita.

“Jie Jie dan Thio Ngo dari Boe tong pay menghaturkan maaf kepada Thie khim Sianseng! ” teriak Lian Cioe.

Orang-orang itu tidak menjawab, hanya sayup sayup terdengar tertawanya seorang wanita.

Sesudah bahaya lewat, So So menurunkan Boe Kie dari dukungannya dan sambil terus mencekal tangan puteranya, ia berkata. “Jiepeh, orang-orang itu rasanya orang perempuan. Apa mereka orang orang Koen loen pay?”

“Bukan,” jawabnya “mereka orang Go bie pay.”

“Go bie pay?” menegas Coei San dengan perasaan heran. “Bukankah tadi Jieko menyebut nama Thie khim Sianseng?”

Lian Cioe menghela napas, “Mereka tidak bersuara dan muka mereka ditutup dengan topeng itu semua menandakan bahwa mereka sungkan dikenali orang,” katanya. “Lima pedang yang mengancam Boe Kie ialah Han bwee kiam tin (Barisan pedang bunga Bwee) dari Koen loen pay, sedang kedua orang yang menikam aku juga menggunakan pukulan Tay mo pang see data Koen loen pay. Karena mereka menyamar sebagai orang Koen loen, aku sungkan membuka rahasia mereka dan sengaja menyebutkan nama Thie khim Sianseng, Ciang boenjin dari Koen loen pay.”

“Bagaimana Jiepeh tahu mereka orang Go bie pay?” tanya So So. “Apa diantaranya ada yang dikenal?”

“Tidak,” jawabnya. “Dilihat dari Lweekangnya yang tidak seberapa dalam, mereka mungkin cucu cucu murid Biat coat Soe thay, Ciang boenjin Go bie pay. Dengan lain perkataan, mereka adalah murid turunan keempat dari partai tersebut. Diantara mereka, tak satupun yang dikenal aku. Tapi pada waktu mereka coba mempunahkan sentilanku dengan tenaga Jio kin, aku segera mengenali, bahwa ilmu yang digunakan lima Go bie pay. Sebagaimana kau tahu, tidaklah terlalu sukar untuk meniru pukulan-pukulan partai lain. Tapi begitu lekas seseorang menggunakan Lweekang, tak dapat tidak, topengnya terlocot.”

Coei San mengangguk. “Sebenarnya mereka tak akan terluka berat, jika mereka tidak melawan dan segera melepaskan senjata waktu disentil Jieko,” katanya. “Aku tahu, kalau Jieko memandang mereka semua seperti musuh, kedua bocah itu tentu sudah hilang jiwanya. Hanya aku merasa heran, mengapa hari ini mereka mencegat kita, sedang biasanya orang-orang Go bie pay selalu berlaku sungkan terhadap kita.”

“Di waktu muda. Insoe pernah menerina budi Kwee Siang Liehiap Couw soe dari Go bie pay.” menerangkan Lian Cioe. “Oleh karena begitu, In soe sering memesan, supaya kami jangan sampai kebentrok dengan murid-murid Go bie, supaya persahabatan lama dapat dipertahankan terus. Sesudah sentilanku mengenakan pedang, barulah aku tahu, bahwa mereka tak akan bisa bertahan. Aku ingin menarik pulang Lweekang, tapi sudah tidak keburu lagi, sehingga kedua orang itu terluka juga. Biarpun tidak disengaja, aku sudah melanggar pesanan Insoe.”

So So tertawa. “Baik juga Jiepeh menyebutkan nama Thie khim Sianseng, sehingga, jika bersalah, kesalahan itu tidak ditujukan langsung terhadap Go bie pay.”

Sementara itu, keenam perahu kecil sudah karam semua, sedang perahu yang ditumpangi Lian Cioe berempat sudah pergi jauh. Anak buah perahu perahu kecil itu dengan basah kuyup mulai merangkak naik digili-gili.

“Apa mereka semua orang-orang Go bie?” tanya So So.

“Bukan.” bisik Lian Cioe. “Kurasa mereka orang orang Liang coan pang dari Cauw ouw.”

Melihat lima batang pedang Go bie yang sangat bagus menggeletak ditanah, So So membungkuk untuk menjemputnya.

“Jangan ganggu!” melarang sang Jiepeh. “Jika dipedang itu diukir nama, dihari kemudian kita tak akan bisa menyangkal lagi. Hayolah kita meneruskan perjalanan.”

Sekarang So So sudah merasa takluk terhadap Jiepeh yang mulia dan lihay itu. “Baiklah,” katanya sambil berjalan dengan menuntun tangan Boe Kie.

Sesudah melewati gerombolan pohon pohon sekonyong-konyong Boe Kie berteriak dengan suara girang: “Kuda! Lihat!”

Benar saja, dibawah sebuah pohon lioe tampak tertambat tiga ekor kuda yang besar dan garang.

Cepat cepat mereka menghampiri dan didahan pohon tercantum selembar kertas. Coei San mengambil kertas itu yang tertulis perkataan seperti berikut: “Mempersembahkan tiga ekor kuda untuk menebus dosa.”

“Mereka ternyata berlaku sungkan sekali terhadap kita,” kata Lian Cioe. Mereka segera menunggang kuda-kuda itu dengan Boe Kie duduk di depan ibunya. Sibocah yang belum pernah menunggang kuda jadi girang tak kepalang.

“Sesudah banyak orang mengetahui gerak-gerik kita, kurasa menumpang perahu atau menumpang kuda tiada banyak bedanya,” kata Coei San.

“Benar,” jawab sang kakak: “Kita tentu akan menghadapi lebih banyak gelombang. Kalau bukan terlalu terpaksa, kita tidak boleh turunkan tangan terlampau berat.” Ia berkata begitu, karena mengingat terlukanya kedua murid Go bie dan hatinya tetap merasa tidak enak.

Diam-diam So So merasa sangat malu. Karena kesalahan yang begitu kecil, Jiehiap sudah merasa begitu menyesal. Betapa jauh perbedaan antara dirinya sendiri yang pernah memandang jiwa manusia seperti jiwa semut dan sang Jiepeh yang sedemikian mulia hatinya. Ia merasa bahwa orang yang berdosa harus bertanggung jawab dan ia tak pantas menyukarkan Jie Lian Cioe lagi. Karena memikir begitu, ia lantas saja berkata: “Jiepeh, tujuan mereka ialah kami berdua suami istri. Sedang terhadap Jiepeh, mereka berlaku hormat sekali. Jika didepan ada rintangan lagi, biarlah teehoe yang menyambutnya lebih dulu dan jika aku kalah, barulah Jiepeh menolong.”

“Ah, mengapa Teehoe berkata begitu”” kata Lian Coe. “Dengan berkata begitu, Teehoe menganggap aku seperti orang luar. Kita sekarang sudah terikat pamili, mati dan hidup haruslah bersama-sama.”

So So tidak berani membantah lagi. “Terang terang mereka tahu, bahwa Jiepeh berada bersama sama kami, tapi mengapa mereka berlaku begitu ceroboh dan mengirim saja murid-murid turunan keempat yang ilmu silatnya belum seberapa?” tanyanya pula.

“Mungkin sekali karena persiapan mereka dilakukan dengan tergesa-gesa, sehingga tidak keburu memanggil orang orang lebih pandai,” jawab Lian Cioe.

Karena menduga, bahwa pencegatan Go hie pay bertujuan untuk menyelidiki tempat sembunyinya Cia Soen, Coei San lantas berkata: “Baru sekarang kutahu, bahwa Gieheng bermusuhan dengan Go bie pay. Selarna berada di Peng hwee to, ia tidak pernah menyebut-nyebut itu.”

“Ya, semula akupun merasa heran,” kata Lian Cioe. “Go bie pay adalah sebuah partai persilatan yang menjaga keras peraturannya, sedang murid muridnya sebagian terbesar terdiri dari kaum wanita. Biat coat Soethay selamanya tidak mempermisikan murid-murid Go bie berkelara dalam dunia Kangouw. Mereka kebanyakan menjadi pendata, mengasingkan diri dari pergaulan atau menikah dan mengurus rumah tangga. Waktu Go bie pay mengirim orang untuk bertempur dangan Peh bie kauw kamipun merasa heran. Belakangan baru kami tahu latar belakangnya. Pada suatu malam Phoei Peng, Phoei Loo eng hiong, siorang jago tua dipropinsi Holan, dibunuh orang dan diatas tembok tertulis huruf-huruf yang berbunyi: Si pembunuh ialah Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen.”

“Apakah Phoei Peng anggauta Go bie pay ?” tanya So So.

“Bukan,” jawabnya. Sesudah berdiam beberapa saat, barulah Jie Lian Cioe memberi penjelasan: “Sebenarnya adalah kurang pantas untuk membicarakan soal-soal pribadi dari orang-orang yang tingkatannya lebih atas. Sepanjang keterangan, di waktu muda, Biat coat Soethay adalah salah seorang wanita tercantik dalam Rimba Persilatan. Belakangan, mendadak beliau mencukur rambut dan menjadi pendeta, sedang Phoei Loo enghiong memutuskan sebuah lengannya sendiri, dan sampai mati ia tidak pernah menikah.”

Hampir berbareng, Coei San dan So So mengeluarkan seruan tertahan. Baru sekarang mereka tahu, bahwa Ciang boen jin Go bie pay yang tersohor itu pernah mengalami kegagalan dalam percintaan. Mereka mengerti, kalau Biat coat Soethay sedapat mungkin ingin membalas sakit hatinya orang yang dicintainya.

“Jiepeh, apakah Phoei Loo enghiong seorang baik atau seorang jahat’?” tanya Boe Kie.

“Tentu saja seorang baik,” jawabnya. “Sesudah mengutungkan lengan sendiri, ia bercocok tanam, membaca kitab-kitab dan menyembunyikan diri dari pergaulan manusia.”

“Hai! Perbuatan Giehoe memang sangat tidak pantas,” kata Boe Kie dengan suara duka. “Ia tak boleh membunuh manusia secara serampangan saja”

Lian Cioe jadi girang sekali. Ia mengangkat anak itu dan lalu mengusap kepalanya, “Anak kau sekarang tahu, bahwa seorang manusia tidak boleh sembarangan membunuh sesama manusia” katanya dengan suara halus. “Jiepeh sungguh merasa girang. Orang yang sudah mati tidak bisa hidup kembali. Maka itu, biarpun terhadap seorang yang sangat jahat, kita masih tidak boleh segera membunuhnya. Kita harus memberi kesempatan supaya dia bisa membelok kejalanan yang lurus.”

“Jiepeh, aku ingin ajukan satu permintaan, bolehkan” tanya Boe Kie.

“Permintaan apa?” menegas sang paman.

“Jika mereka mencari Giehoe, aku minta jie peh suka membujuk mereka supaya mereka tidak membinasakannya karena Giehoe sudah buta dan tidak dapat melawan mereka,” kata si bocah.

Lian Cioe bersangsi. Sesudah memikir sejenak, ia menjawab: “Tak dapat aku meluluskan permintaanmu. Tapi aku berjanji, bahwa aku sendiri tak akan membunuh Giehoemu”

Boe Kie mengawasi Jiehiap dengan mata membelalak dan air matanya berlinang-linang.

Waktu fajar menyingsing, mereka tiba disebuah kota kecil, dimana mereka mengaso setengah harian dan diwaktu lohor segera meneruskan perjalanan.

Selang beberapa hari, tibalah mereka dikota Hankouw. Hari itu selang mendekati kota Anlok. Ditengah jalan mereka bertemu dengan belasan orang yang lari lintang pulang dari sebelah depan.

Begitu bertemu dengan rombongan Lian Cioe mereka berteriak-berteriak: “Balik! Balik! Jangan menuju terus! Disebelah depan serdadu Tat coe (serdadu Mongol, Goan) sedang membunuh dan merampok”.

Sambil mengawasi So So, salah seorang berkata “Kau sungguh berani mati. Kalau bertemu dengan mereka, kau bakal celaka.”

“Ada berapa banyak?” tanya Lian Cioe,

“Belasan orang,” jawabnya dan mereka segera lari terus kejurusan timur.

Musuh terbesar dari Boe tong Cit-hiap ialah serdadu Goan yang sering berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat. Dalam mendidik murid-muridnya, Thio Sam Hong memegang peraturan keras dan selamanya melarang murid-murid itu sembarangan turun tangan. Tapi jika menghajar serdadu Goan yang sedang merampok atau membunuh rakyat, mereka bukan saja tidak ditegur malah dipuji. Maka itu, mendengar rombongan musuh hanya berjumlah belasan orang, Lian Cioe lantas saja mengeprok tunggangannya dan maju kedepan diikut oleh Coei San bertiga.

Benar saja, sesudah berjalan kira-kira tiga mereka mendengar sesambat rakyat. Belasan serdadu yang bersenjata golok dan tombak tengah mengunjuk kegarangannya dan diatas tanah sudah menggeletak beberapa mayat.

Bukan main gusarnya Coei San. Ia menyerang dan melompat dari punggung kuda. Sebelum kedua kakinya hinggap dibumi, tinjunya menghantam dada seorarg serdadu yang mau menenteng satu anak kecil. Tanpa mengeluarkan suara serdadu itu roboh ditanah. Kawannya gusar dan menikam punggung Coei San dengan tombaknya.

Coei San memutar badan dan ujung tombak hanya terpisah kurang lebih setengah kaki dari dadanya. Sambil bersenyum ia menangkap ujung senjata dan lalu mendorongnya keras-keras, sehingga gagang tombak menghantam dada serdadu itu yang lantas saja roboh pingsan.

Melihat kelihaian Coei San, sambil berteriak teriak belasan serdadu lantas saja mengurung. So So buru-buru melompat turun dari tunggangannya. Ia merampas sebatang tombak dan membinasakan dua orang musuh. Serdadu-serdadu itu jadi keder dan mereka lalu melarikan diri. Tapi sambil lari disepanjang jalan mereka masih mengunjuk kekejaman dan mrlukakan beberapa orang penduduk,

“Cegat! Cegatlah mereka!” teriak Lian Coei yang cudah meluap darahnya. Seraya berkata begitu, ia mengubar dan mencegat empat orang serdadu. Coei San dan So So pun turut mengejar dan masing-masing memotong jalanan lari dari sejumlah musuh.

Walaupun garang, serdadu Goan kebanyakan tidak memiliki ilmu silat tinggi, sehingga Coei San dan So So tidak kuatir akan keselamatan Boe Kie.

Boe Kie juga melompat turun dari punggung kuda. Melihat paman dan kedua orang tuanya sedang mengamuk diantara belasan musuh, ia kegirangan dan menepuk nepuk tangan seraya berteriak-teriak: “Bagus! Bagus!”

Sokonyong-konyong, serdadu Goan yang tadi disodok Coei San dengan gagang tombak dan roboh pingsan, melompat bangun dan memeluk Boe Kie. Si bocah, terkesiap lalu menghantam dengan pukulan Sin liong Pa bwee. Karena melihat paman dan kedua orang tuanya mengamuk tanpa mengenal kasihan lagi, ia menggunakan pukulan itu dengan seantero tenaga.

Di luar dugaan serdadu Goan itu hanya mengeluarkan suara “heh!” terlahan, badannya tidak bergenting dan dengan sekali menotol tanah dan dengan kedua kakinya, ia melompat keatas punggung kuda yang lalu dikaburkan keras-keras.

Lian Cioe, Coei San dan So So kaget tak kepalaug, cepat-cepat mereka mengubar. Dengan beberapa lompatan Jiehiap sudah menyandak dan tangan kirinya menghantam punggung serdadu itu. Tanpa menengok, serdadu itu menangkis. “Plak!”, kedua tangan beradu. Lian Cioe merasa tenaga musuh dahsyat luar biasa, seolah-olah gelombang besar, sehingga dadanya menyesak, tubuhnya bergoyang-goyang dan terhuyung beberapa tindak. Tunggangan serdadu itu tak kuat bertahan, keempat kakinya bergemetaran dan dia jatuh berlutut. Sambil mendukung Boe Kie, serdadu itu melompat turun dan terus kabur dengan menggunakan ilmu ringan badan. Dalam sekejap ia sudah lari puluhan tombak jauhnya.

Melihat paras muka Lian Cioe yang pucat pasir Coei San tahu, bahwa kakak seperguruan itu telah mendapat luka yang tidak enteng.

Buru-buru in menghampiri dan memeluknya. Sementara itu, dengan nekad So So mengejar terus, tapi musuh berkepandaian tinggi, makin lama jarak antara mereka makin jauh sehingga belakargan, sesudah membelok disebuah tikungan, serdadu itu menghilang dari pemandangan. Tapi So So yang sudah kalap mengejar terus.

“Minta Teehoe balik.” kata Lian Cioe dengan suara perlahan. “Kita harus….. berusaha dengan perlahan”

“Bagaimana luka Jieko?” tanya si adik sambil menikam dua serdadu yang menerjang dengan tombaknya.

“Tak apa-apa,” jawabnya, “Yang paling penting panggillah Teehoe.”

Karena kuatir diantara sisa serdadu itu masih terdapat orang pandai, Coei San segera mengubar kian kemari dan sesudah mengusir mereka, barulah la melompat kepunggung kuda dan menyusul isterinya.

Sesudah membedal tunggangannya belasan li, barulah ia bertemu dengan So So yang tengah berlari-lari dalam keadaan kalap dan dengan tindakan limbung, suatu tanda, bahwa nyonya muda ini sudah kehabisan tenaga. Coei San memeluknya dan menaikkannya kepunggung kuda.

Sambil menangis sedu-sedan, So So berkata “Anak kita hilang ! Tidak kecandak ….. tidak kecandak…..” Tiba-tiba matanya mendelik dan ia pingsan dalam pelukan sang suami.

Karena memikir keselamatan saudara seperguruannya, cepat-cepat Coei San memutar kuda dan lari balik ketempat tadi. Jauh-jauh ia melihat tiga serdadu Goan yang bersenjata tombak sedang mendekati Lian Cioe. Biarpun Soehengnaya duduk menyender dipohon ketiga serdadu itu, yang sudah berkenalan dengan kelihayannya Jiehiap tidak berani lantas menyerang.

“Tat-coe, serahkan jiwamu!” teriak Coei San sambil menerjang dengan kaburkan tunggangannya. Dilain saat, dua diantaranya sudah roboh, sedang musuh yang ketiga lari lintang-pulang. Sambil membentak keras, Ngohiap menimpuk dengan tombaknya. Dalam kegusarannya sebab putranya diculik, Soehengnya terluka dan isterinya pingsan, ia menimpuk dengan sepenuh tenaga. Tombak itu terbang dengan mengeluarkan suara mengaung dan “jres!” serdadu itu terpaku ditanah

Sementara itu, So So sudah mendusin. “Boe Kie!”, ia sesambat.

Sesudah menjalankan pernapasan beberapa lama, Lian Cioe mengambil sebutir pel Thay it Tok beng tan yang lalu ditelannya. Beberapa saat kemudian, pada mukanya terlihat sinar merah. Ia membuka matanya seraya berkata perlahan “Sungguh hebat tenaga orang itu!”

Coei San lega hatinya. Ia tahu, bahwa jiwa soe hengnya sudah terlolos dari bahaya, tapi ia masih tidak berani mengajak bicara. Perlahan-lahan Jie hiap bangun berdiri. “Apa sudah tidak kelihatan bayangan bayangan lagi?” tanyanya dengan suara perlahan.

“Jiepeh….bagaimana baiknya?’ tanya si Tee hoe dengan suara parau.

“Legakan hatimu, Boe Kie tidak kurang suatu apa,” jawabnya. “Orang itu berkepandaian sangat tinggi. Aku merasa pasti bahwa seorang yang berkepandaian setinggi itu tak akan mencelakakan anak kecil yang tidak berdosa.”

Air mata So So kembali mengucur. “Tapi… tapi… Boe Kie sudah diculik,” katanya. Lian Cioe mengangguk. Ia memeramkan kembali kedua matanya dan mengasah otak.

Sesaat kemudian, ia membuka, matanya seraya berkata: “Aku tidak dapat menebak asal usul orang itu. Jalan satu satunya kita harus menanyakan Soehoe.”

So So bingung bukan main. “Jiepeh, yang paling penting kita harus memikiri daya untuk merampas pulang Boe Kie,” katanya memohon.
“Asal usul orang itu dapat diselidiki belakangan”

Lian Cioe tidak menyahut, ia hanya menggeleng gelengkan kepala.

“So moay, Jieko mendapat luka berat, sedang orang itu berkepandaian begitu tinggi,” kata Coei San. “Andai kata kita sekarang dapat mencarinya, kitapun tidak dapat berbuat banyak,”

“Apa kita menyudahi dengan begitu saja ?” tanya si isteri dengan suara mendongkol.

“Kita tak perlu cari dia,” jawabnya. “Dialah yang pasti akan cari kita.”

So So adalah seorang wanita yang sangat pintar. Hanya karena puteranya diculik, pikirannya kalut dan ia tidak dapat berpikir dengan otak dingin. Mendengar perkataan sang suami, ia tersadar dan mengerti maksud Coei San. Serdadu Goan itu memiliki kepandaian begitu tinggi, sehingga Lian Cioe sendiri sampai terluka. Dia pasti seorang tokoh Rimba Persilatan yang menyamar. Jika mau, sesudah Lian Cioe terluka, dia bisa membinasakan Coei San bertiga. Tapi dia hanya menculik Boe Kie. Dari kenyataan itu, dapatlah di tebak, bahwa tujuan orang itu ialah ingin menekan, supaya Coei San dan isterinya mau mem buka rahasia mengenai tempat sembunyinya Cia Soen.

Coei San lalu mendukung dan menaikkan Jieko nya keatas punggung kuda dan perlahan-lahan mereka meneruskan perjalanan. Setibanya di An lok, mereka menginap disebuah rumah penginapan kecil dan sesudah bersantap, mereka segera mengunci pintu.

Lian Cioe segera bersila dan mengerahkan Lweekang untuk mengobati lukanya. Coei San duduk didekatnya, sedang So So menyender disebuah kursi panjang. Kira-kira tengah malam, Lian Cioe turun dari pembaringan dan berjalan perlahan lahan, memutari kamar, untuk mengendorkan otot ototnya. “Ngotee.” katanya. “Selama hidup, kecuali Soehoe sendiri, belum pernah aku bertemu dengan manusia yang memiliki Lweekang begitu hebat.”

Pada waktu disodok dengan gagang tombak oleh Coei San, “serdadu” itu berlagak pingsan sehingga Coei San bertiga tidak memperhatikannya. Sekarang mereka mengingat ingat wajah dan potongan badan orang itu. Kalau tak salah, dia brewokan, tiada banyak bedanya dengan kebanyakan serdadu Goan.

“Dia menculik Boe Kie pasti dengan tujuan untuk menyelidiki Gieheng,” kata So So. “Ah! Apakah anak itu akan membuka rahasia?”

“Boe Kie pasti tidak akan membuka rahasia,” kata sang suami dengan suara tetap. “Kalau dia membuka rahasia, dia bukan anak kita,”

“Benar,” kata si isteri. ” Dia parti tidak membuka rahasia.,”

Tiba-tiba nyonya Coei San menangis pula.

“Mengapa kau menangis?” tanya sang suami.

“Kalau….. Boe Kie menutup ……. .mulut, penjahat itu pasti akan ……mempersakitinya.” jawabnya terputus-putus. “Mungkin….. mungkin dia turunkan tangan beracun.”

Coei San dan Lian Cioe menghela napas. “Batu kumala yang tidak digosok, tidak akan jadi barang yang berguna,” kata Coei San. “Biarlah dia merasakan sedikit penderitaan. Mungkin sekali penderitaan itu banyak faedahnya dihari kemudian.”

Walaupun mulutnya berkata begitu hatinya sakit sekali. Ia ingat bahwa pada saat itu Boe Kie sedang menderita siksaan atau sedang tidur nyenyak di atas pembaringan. Kalau dia sedang tidur nyenyak, dia tentu sudah membuka rahasia dan sudah menjadi manusia yang tak punya pribudi.

“Dari pada jadi manusia rendah, lebih baik dia mati,” kata Coei San didalam hatinya. Ia melirik isterinya yang kelihatan berduka bukan main. Pada ke dua mata si isteri terlihat sinar mohon belas kasihan. Jantungnya memukul keras. Ia merasa. bahwa jika penjahat itu menekan So So dengan mengancam jiwa Boe Kie mungkin sekali si-isteri akan menakluk.

Ia menghela napas dan berkata “Jieko, bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa enakan ? “

Semenjak kecil, mereka berdua bersama-sama belajar silat, sehingga yang satu sudah bisa rnembaca isi hati yang lain. Melihat sikap dan mendengar pertanyaan si adik, Lian Cioe sudah mengerti maksudnya. Ia mengerti, bahwa Coei San kuatir penjahat itu akan rnenyateroni dan coba menaklukkan So So dengan menyiksa Boe Kie. “Baiklah, kita meneruskan perjalanan malam ini juga.”

Sesudah membayar uang sewa kamar dan santapan, mereka segera berangkat dan berjalan dengan mengambil jalanan kecil. Mereka bukan takut mati. Yang dikuatirkan yalah penjahat itu akan menyiksa Boe Kie didepan mata mereka, untuk memaksa mereka membuka rahasia.

Mereka meneruskan perjalanan tanpa bertemu dengan rintangan lagi. Tapi So So jatuh sakit karena duka, Coei San segera menyewa dua kereta keledai untuk So So dan Lian Cioe, sedang ia sendiri melindungi dengan menunggang kuda.

Sesudah melewati Siangyang, pada suatu malam mereka menginap disebuah rumah penginapan dikota Tay-pang-liam. Baru saja Coei San mengucapkan selamat malam kepada Soehengnya dan ingin kembali kekamarnya, tiba-tiba seorang lelaki menyingkap tira daa menyelonong masuk.

Dia mengenakan baju hijau dan celana pendek, sedang tangannya menyekal cambuk, sehingga macamnya seperti seorang kusir kereta. Begitu masuk, dia mengawasi Lian Cioe dan Coei San dengan mata melotot dan sesudah tertawa dingin, lalu memutar badan berjalan keluar.

Coei San tahu, bahwa orang itu mengandung maksud tidak baik. Sikap orang itu yang kurang ajar menggusarkan sangat hatinya. Sesaat itu,
tirai kain yang didorong oleh orang itu, terayun kedepan Coei San. Ia segera menangkap ujung tirai dan sambil mengerahkan Lweekang, menimpuknya kepunggung orang itu. “Ptak !” dia terhuyung, akan kemudian roboh dilantai. Cepat-cepat dia bangun berdiri, “Penjahat-penjahat Boe-tong pay !” bentaknya, “Sedang kebinasaan sudah berada diatas kepalamu, kau masih mengunjuk keganasan !” Mulutnya mencaci, tapi kakinya lari dan dari tindakannya yang limbung, ia bukan terluka enteng.

Lian Cioe tidak mengatakan suatu apa.

“Jieko, apa tidak baik kita jalan terus?” tanya Coei San.

“Tidak!” jawab sang kakak deagan suara lantang. “Besok pagi baru kita terangkat.”

Coei San mengerti jalan pikiran kakak seperguruannya dan semangatnya lantas saja meluap luap “Benar!” katanya. “Dari tempat ini, dua hari lagi kita akan tiba digunung kita. Biarpun kita tolol, tak dapat kita merosotkan derajat dan keangkeran Boe tong pay. Di bawah kaki Boe tong san, masa boleh kita lari ngiprit?”

Sang kakak bersenyum. “Sesudah orang tahu siapa kita, biarlah mereka tahu, bagaimana murid murid Boe tong menghadapi kebinasaan yang sudah berada diatas kepala,” katanya dengan suara angkuh.

Lian Cioe lantas saja mengikut kekamar Coei San dimana mereka duduk bersila diatas pembaringan batu dengan berendeng pundak sambil memeramkan mata dan menjalankan pernapasan. Malam itu, tujuh delapan orang berkeliaran diluar kamar dan diatas genteng, tapi mereka tidak berani menerjang karena merasa jerih terhadap nama besarnya Boe tong pay.

Pada esokan harinya, meskipun duduk dikereta. Lian Cioe memerintahkan supaya kusir menyingkap semua tirai, sehingga ia dapat mengamat amati keadaan diseputarnya. Sesudah meninggalkan Tay pong tiam beberapa li dari sebelah timur kelihatan mengejar tiga penunggang kuda yang kemudian mengintildebelakang kereta dalam jarak belasan tombak.

Sesudah berjalan lagi beberapa li, disebelah depan menunggu empat penunggang kuda. Begitu lekas rombongan Lian Cioe lewat, mereka segera mengikuti dari belakang. Beberapa lama kemudian, jumlah “pengiring” bertambah lagi empat orang.

Kusir kereta jadi ketakutan. “Tuan, apakah mereka penjahat?” Ia tanya Coei San dengan suara perlahan.

“Jangan takut,” jawab Ngohiap. “Mereka bukan mau merampas uang”

Kira kira tengah hari, jumlah yang mengikuti bertambah lagi dengan enam orang. Pakaian mereka beraneka warna, ada yang mewah dan ada yang buruk.

Mereka semua membekal senjata dan mengikuti tanpa mengeluarkan sepatah suara. Dilihat dari potongan badan mereka yang kecil, mungkin sekali mereka penduduk Tiongkok Selatan. Sesudah lewat tengah bari, jumlah mereka bertambah lagi dengan duapuluh satu orang. Beberapa antaranya yang bernyali besar, mendekati kereta sampai jarak kira-kira tiga tombak. Lian Cioe sendiri terus duduk sambil meramkan mata, seolah-olah tidak memperhatikan mereka.

Diwaktu magrib, dari sebelah depan mendatangi dua penunggang kuda, yang satu seorang tua dengan jenggotnya yang panjang, sedang yang lain seorang wanita muda yang berparas cantik. Si kakek bertangan kosong, tapi wanita itu bersenjatakan sepasang golok. Begitu tiba didepan kereta, mereka segera menghadang ditengah jalan.

Coei San naik darahnya. Sambil mengangkat tangan ia berkata: “Boe-tong Jie Jie dan Thio ngo numpang lewat dijalanan ini. Dapatkah kami menanya she dan nama tuan yang mulia?”

Orang tua itu bersenyum. “Dimana Cia Soen?” tanyanya. “Jika kau sudi memberitahukan, kami pasti tidak akan mengganggu murid2 Boe tong.”

“Dalam hal ini, aku lebih dulu ingin meminta petunjuk Insoe,” jawab Coei San.

“Jie Jie terluka, Thio Ngo sebatang kara.” kata si tua. “Dengan sendirian, kau bukan tandingan kami.” Seraya berkata begitu, ia meraba pinggangnya dan mengeluarkan sepasang Poan koan pit (Senjata yang menyerupai pit, pena Tionghoa), Senjata itu agak berbeda dengan yang biasa, karena ujungnya berbentuk kepala ular.

Coei San bergelar Gin kauw Tiat hoa dan salah sebuah senjatanya yalah Poan koan pit. Maka itu dapat dikatakan ia mengenal semua jago yang menggunakan Poan koan pit. Begitu melihat senjata si kakek, ia terkejut.

Waktu masih belajar silat, gurunya pernah cerita, banwa dinegeri Ko lee (Korea) terdapat sebuah pay yang menggunakan Poan koan pit berujung kepala ular. Silat partai itu berbeda dengan silat Tiam hiat (menotok jalan darah) yang di gunakan oleh ahli-ahli silat Tionggoan yang menggunakan poan koan pit. Silat partai itu katanya licin dan telengas. Partai tersebut dinamakan Sin liong pay (Partai Naga malaikat), sedang salah seorang tokohnya she Coan, tapi Thio Sam Hong sendiri tak tahu namanya.

Mengingat itu, ia lantas saja menyoja seraya berkata: “Bukankah Cianpwee dari Sin liong pay di Ko lee? Bolehkah aku mendapat tahu nama besar dari Coan Looy coe?”

Orang tua itu, yang bernama Coan Kian Lam, bukan lain daripada Ciangboenjin dari Sin Liong pay. Dengan memberi hadiah besar, Pangcoe Sam kang pang di Lang lam telah mengundangnya dari negeri Ko lee. Ia sebenarnya ingin merahasiakan dirinya, tapi diluar dugaan, begitu bertemu Coei San, rahasianya terbuka.

Sambil mengebas kedua pitnya, ia menjawab : “Loohoe Coan Kian Lam “

“Sin liong pay dan Rimba persilatan dari wilayah Tionggoan belum pernah berhubungan.” kata Coei San “Bolehkah aku mendapat tahu, apa kesalahan Boe tong pay terhadad Coan Loo eng hiong .”

“Loohoe dan tuan memang tidak mempunyai permusuhan apapun jua.” kata si tua, “Kami, orang Ko lee, juga tahu bahwa di Tionggoan terdapat Boe tong pay dengan tujuh pendekarnya yaug selalu melakukan perbuatan-perbaatan muila. Loohoe hanya ingin mengajukan satu pertanyaan dimana tempat persembunyiannya Cia Soen”

Biarpun cukup sopan, perkataannya sangat mendesak. Disamping itu, begitu lekas ia mengebas kedua senjatanya, orang-orang yang berkumpul di belakang kereta lantas saja berpencaran dan mengurung dari sebelah kejauhan. Maka itu, jadilah terang, bahwa jika mereka tidak mendapat jawaban memuaskan, satu pertempuran tidak dapat dielak kan lagi.

“Bagaimana jika aku menolak untuk menjawab?” tanya Coei San

“Thio Ngohiap memiliki kepandaian tinggi, sehingga biarpun berjumlah besar, kami tentu tidak dapat menahan kau,” kata sikakek. “Tapi Jie Jiehiap telah luka dan isterimu sedang sakit. Dengan menggunakan kesempatan pada waktu orang berada dalam bahaya, kami akan menahan mereka berdua. Jika mau, Ngohiap boleh berlalu sekarang.” Ia bicara dalam bahasa Tionghoa yang tidak lancar dan nadanya tajam, sehingga suaranya sangat menusuk kuping.

Mendengar kata-kata ‘menggunakan kesempatan pada watu orang berada dalam bahaya’ kata-kata yang sangat tidak mengenal malu, Coei San lantas saja berkata: “baik, Kalau begitu, tak bisa lain daripada aku meminta pelajaran dari Coan Loo enghiong. Tapi bagaimana, jika Coan Loo enghiong menjadi pihak yang kalah dalam pertempuran?”

“Jika aku kalah, kawan-kawanku akan mengerubuti kamu.” jawabnya.

Coei San mengerti, tak guna bicara lagi. Tujuan satu satunya adalah coba membekuk Coan Kian Lam, supaya kawan-kawannya tidak berani menyerang. Ia segera melompat turun dari tunggangannya dan waktu kedua kakinya hinggap diatas bumi, tangan kirinya sudah mencekal gaetan perak yang berkepala harimau, sedang tangan kanannya memegang Poan koan pit.

“Kau tamu, maka aku mengundang kau menyerang lebih dulu,” kata Ngohiap.

Coan Kian Lam juga sudah turun dari kuda nya dan sambil mengebas kedua senjatanya, ia melompat kesamping Coei San.

“Hari ini aku dan So So bertempur demi kepentingan Gie heng,” pikir Coei San. “Sebagai saudara angkat, hal itu hal yang wajar. Tapi Jie ko belum pernah mengenal Gie heng, sehingga tidaklah pantas jika ia menerima hinaan karena gara-gara Gie heng.” Memikir begitu, ia lantas saja mengambil suatu keputusan.

Sesaat itu, si tua sudah menotok dengan pit nya dan Coei San lalu menangkis dengan hanya menggunakan dua bagian tenaganya. Begitu kedua senjata kebentrok, badan Thio ngohiap kelihatan bergoyang goyang. Kian Lam jadi girang bukan main. Ia tak nyana pendekar Boe tong yang begitu di sohorkan, sedemikian ‘empuk’. Ia segera bertekad untuk merubuhkan Ngohiap dalam pertempuran satu lawan satu supaya dalam segebrakan saja, namanya bisa naik tinggi dalam Rimba Persilatan diwilayah Tionggoan.

Sambil membela diri, Coei San memperhatikan ilmu silat musuh. la mendapat kenyataan si kakek gesit dan licin gerakannya dan caranya menotok jalan darah berbeda dengan ilmu totokan Tionggoan.

Sesudah bertempur beberapa lama, Coei San mengetahui bahwa Poan koan pit musuh yang di cekel ditangan hanya menotok jalanan jalanan darah dibagian punggung dari Leng thay hiat kebawah, sedang Poan koan pit yang disebelah kanan menotok jalanan jalanan darah dibagian pinggang dan lutut seperti Ngo kie hiat, Wie to hiat, Kie kauw biat dan lain lain,

“Soehoe pernah mengatakan, bahwa walaupun lihay, Tiamhiat dari San liong pay tidak usah ditakuti,” pikirnya. “Hari ini baru aku melihat buktinya,” Sesudah dapat meraba ilmu silat musuh, pembelaan diri jadi makin sederhana, karena ia hanya perlu menjaga jalanan-jalanan darah tertentu yang dicecer dengan totokan totokan.

Sesudah lewat lagi beberapa jurus, sambil membentak keras, cepat bagaikan kilat, Coei San menyerang dengan Coretan huruf “Liong” (naga) dengan gaetannya “Srt!” Ginkauw menggores jalan darah Hong say biat dilutut kanan si tua.

Seraya mengeluarkan teriakan kesakitan, Kian Lam berlutut. Seperti arus kilat, dengan menggunakan coretan huruf “Hong” (tajam ), Ngohiap monotok belasan jalanan darah, yaitu jalanan-jalanan darah yang biasa jadi bulan bulanan sikakek sendiri.

“Sudahlah! Sudahlah!” mengeluh Kian Lam. “Andaikata dia patung, aku masih tak mampu menotok belasan jalanan darahnya dalam tempo sekejap mata. Celaka sungguh! Aku bahkan masih belum pantas untuk menjadi muridnya!”

Seraya menempelkan Ginkauw di leher Kian Lam, Coei San membentak: “Tuan tuan, mundurlah! Sesudah Coan Loo eng hiong mengantar kami sampai dikaki Boe tong san, aku akan membuka jalanan darahnya dan mengembalikannya kepada kalian!” Ia merasa pasti, bahwa orang orang yang mengepung akan segera mundur.

Tapi diluar dugaan, si wanita muda mengangkat sepasang goloknya dan berteriak: “Serbu!”

“Tahan !” bantak Ngohiap. “Maju setindak lagi kakek ini akan menjadi mayat !”

Wanita itu tertawa dingin. “Serbu!” teriaknya pula. Ia mengeprak kuda dan menerjang, sedikitpun tidak menghiraukan nasib Coan Kian Lam.

Wanita itu adalah salah seorang Tocoe dari Sam kang pang dan tujuan mereka yalah menawan, Jie Lian Cioe dan So So untuk memaksa Coei San memberitahukan tempat sembunyinya Cia Soen. Coan Kian Lam seorang luar yang hanya menjadi tamu, sehingga mati hidupnya tidak begitu dihiraukan.

Coei San kaget bukan kepalang. Ia mengerti, bahwa tak ada gunanya membunuh si kakek. Sesaat itu, tujuh delapan orang sudah mengurung kereta So So, delapan sembilan musuh mengepung kereta Lian Cioe, sedang ia sendiri dikurung oleh si wanita bersama enam tujuh orang.

Selagi ia kebingungan, tiba-tiba Lian Cioe berteriak dengan suara nyaring: “Liok tee, beres kan Orang-orang itu!”

Coei San tercengang. Apa kakaknya tengah menggunakan siasat “kota kosong”?

Sekonyong- konyong ditengah udara terdengar siulan yang panjang dan nyaring. “Ngoko! Setengah mati aku memikir kau!” teriak seorang. Hampir berbareng dari atas sebuah pohon besar melompat turun satu bayangan manusia yang lantas saja menerjang sambil memutar pedang. Orang itu memang bukan lain dari pada In Lie Heng.

Hati Coei San meluap dengan kegirangan, “Liok tee !” serunya.

Beberapa orang dari Sam kam pang segera menceggat Lie Heng. Pedang Boe tong Liokhiap berkelebata kelebat dibarengi dengan suara jatuhnya sejumlah senjata, karena setiap kali pedang berkelebat ujungnya menggores jalanan darah Sin boen hiat, dipergelangan tangan musuh.

Wanita itu gusar tak kapalang dan membentak: “Siapa kau ?” Ia tak dapat bicara terus, sebab kedua goloknya hampir berbareng jatuh di tanah.

“Ilmu Sin boen Sip sam kiam yang digubah Soehoe sudah sempurna!” teriak Coei San kegirangan.

Sin boen Sip sam kiam atau “Tiga belas jurus pedang Sin boen” terdiri dari tiga belas macam jurus yang berbeda beda gerakannya, tapi setiap jurus mengarah jalanan darah Sin boen Hiat dipergelangan tangan lawan. Pada sepuluh tahun berselang, waktu Coei San berada di Boe tong san, Thio Sam Hong pernah mengutarakan niatnya untuk menggubah ilmu pedang tersebut. Tapi, karena adanya berbagai kesukaran, pada waktu itu sang guru belum berhasil mencapai maksudnya. Sekarang Coei San dapat melihat kelihayan Sin boen Sip sam kiam.

Melihat gelagat tidak baik, wanita itu berseru “Angin keras! Mundur!” Semua kawannya tantas saja kabur lintang pukang, beberapa antaranya malah tidak keburu menunggang kuda.

Sementara itu, Coei San sudah membuka jalanan darah Coan Kian Lam yang tertotok. Ia menjemput kedua Poan koan pit pecundangnya dan menyelipkannya dipinggang si kakek. Dengan kemalu maluan, si tua buru-buru berlalu.

Sesudah memasukkan pedang kedalam sarung sambil mencekal tangan kakak seperguruannya, Lie Heng berkata: “Ngoko, aku sungguh menderita dalam memikiri nasibmu!”

Sang kakak tertawa. “Liok tee, kau sudah besar sekali,” katanya. Waktu mereka berpisahan, In Lie Heng baru berusia delapan belas tahun. Selang sepuluh tahun. adik yang tadinya kurus kecil itu sudah berubah menjadi pemuda jangkung yang tampan parasnya.

Sambil menuntun tangan Lie Heng, Coei San mengajak adik itu menemui isterinya. So So yang tengah menderita sakit yang tidak enteng manggut manggutkan kepala seraya bersenyum, “Lioktee!” katanya dengan suara perlahan.

“Bagus!” kata Lie Hang. “Ngoso juga she In. Aku bukan saja mendapat enso, tapi juga memperoleh kakak.”

“Jieko sungguh lihay,” kata Coei San. “Aku tak mimpi kau bersembunyi dipohon, tapi ia sudah mengetahuinya.”

Lie Heng lantas saja menuturkan cara bagaimana ia bisa datang kesitu untuk menyambut kakaknya. Ternyata, pada waktu Siehiap Thio Siong Kee turun gunung untuk membeli barang guna perayaan ulang tahun gurunya, ia telah bertemu dengan dua orang Kangouw yang sikapnya sangat mencurigakan.

la curiga lalu menguntit mereka. Dengan mendengari pembicaraan mereka, ia tahu, bahwa Coei San sudah pulang dan sudah mempersatukan diri dengan Lian Cioe. Disamping itu, ia juga tahu, bahwa Sam kang-pang dan Ngo hong to ingin mencegat kedua saudara itu untuk menanyakan tempat sembunyinya Cia Soen.

Cepat-cepat ia pulang ke Boe tong san, tapi di tempat gurunya ia hanya bertemu dengan In Lie Heng seorang. Mereka segera turun gunung untuk menyambut kedua saudara itu. Sedikitpun mereka tidak merasa kuatir. Mereka menganggap, bahwa orang dari partai-partai kecil tidak akan bisa berbuat banyak terhadap Lian Cioe dan Coei San. Tapi karena mereka ingin sekali bertemu dengan Coei San selekas mungkin, maka mereka berjalan dengan secepat-cepatnya, mereka tak tahu tentang terlukanya Lian Cioe, sebab kedua orang kangouw itu sama sekali tidak membicarakannya.

Ditengah perjalanan Siong Kee mengusir orang pandai dari Ngo hong to, sedang tugas menghajar orang orang Sam kang pang diserahkan kepada In Lie Heng.

Lian Cioe menghela napas. “Kalau Sietee tidek berwaspada, mungkin sekali hari ini Boe tong pay ambruk namanya.” katanya.

“Benar,” menyambungi Coei San dengan suara jengah. “Siauwtee sendiri pasti tak akan dapat melindungi Jieko. Hai! Sesudah meninggalkan rumah perguruan sepuluh tahun lamanya kepandaian Siauwtee sungguh-sungguh kacek terlalu jauh dari saudara.”

“Janganlah Ngoko berkata begitu,” kata Lie Heng seraya tertawa. “Barusan Ngoko telah memperlihatkan pukulan yang sangat lihay waktu merobohkan si tua bangka dari Ko lee kok. Sesudah kau pulang, Soehoe pasti akan menurunkan berbagai ilmu kepadamu. Mengenai Sin boen Sip sam kiam, sekarang juga siauw tee bersedia untuk memberi penjelasan kepadamu.”

Malam itu, mareka menginap disebuah rumah penginapan di Sian Jan touw. In Lie Heng minta tidur bersama sama Coei San. Permintaan itu disambut dengan rasa girang oleh sang kakak, yang juga merasa sangat kangen dengan adiknya itu.

Dalam runtunan Boe tong Cit hiap, Boh Seng Kok yang berusia paling muda. Tapi walaupun berusia lebib muda, lagak lagu Boh Seng Kok lebih tua dari pada Lie Heng. Semenjak dulu, Coei San sangat mencintai Lie Heng yang usianya tidak kacek seberapa dengannya dan mereka berdua biasa bergaul rapat sekali.

“Ngotee sudah mempunyai isteri,” kata Lian Cioe sambil tertawa. “Jangan kau mempersarnakan dia seperti pada sepuluh tahun yang lalu. Ngotee, pulangmu sungguh kebetulan. Sesudah minum arak panjang umur dari Sohoe, kau akan segera minum arak kegirangan (arak pesta pernikahan) dari Lioktee.”

Coei San girang tak kepalang. Ia menepuk nepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak. “Bagus ! Sungguh bagus. Siapa pengantin perempuannya?” tanyanya.

Paras muka si adik lantas saja berubah merah.

“Mutiara (puteri) dari Kim pian Kie Loo eng hiong di Hian yang,” kata Lian Cioe.

“Bagus! Kalau Lioktee natal, Kim pian (cambuk emas) akan menghantam kepalamu.” katanya sambil tertawa geli.

Lian Cioe bersenyum, tapi pada mukanya berkelebat sehelai sinar suram. “Kie Kouwnio menggunakan pedang…” katanya. “Kuharap diantara wanita-wanita bertopeng yang mencegat kita di tengah sungai, tidak terdapat Kie Kouwnio.”

Coei San kagat. “Kalau begitu ia murid Go bie?” tanyanya.

Lian Cioe mengangguk seraya berkata “Waktu kita bertempur dipinggir sungai, semua anggauta rombongan Go bie berkepandaian biasa saja sehingga tak mungkin Kie Kouwnio turut serta dalam rombongan itu. Jika ia berada disitu untuk kepentingan Ngo teehoe, aku bisa berdosa terhadap Liok teehoe dan orang bisa mengatakan aku memilih kasih. Ngotee, Liok teehoe kita berparas cantik, berkepandaian tinggi dan sebagai murid dari sebuah partai yang tersohor, ia benar-benar merupakan pasangan yang setimpal dengan adik kita ….”

Mendadak ia berhenti bicara, karena tiba-tiba ia ingat bahwa In So So adalah puteri seorang pemimpin ‘agama’ yang sesat, sehingga dengan memuji nona Kie, seperti juga mengejek isterinya Coei San. Selagi mencari perkataan untuk memperbaiki kesalahannya, sekonyong-konyong datang seorang pelayan yang lantas saja berkata: “Jie ya, ada beberapa orang, yang mengaku sebagai sahabatmu, datang berkunjung “

“Siapa?” tanya Lian Cioe.

“Mereka memperkenalkan diri sebagai murid murid Ngo-hong-to” jawab sipelayan. “Jumlahnya enam orang.”

Lian Cioe bertiga terkejut. Apakah Siong Kee yang bertanggung jawab untuk mengusir orang orang Ngo-hong-to, mendapat kecelakaan?

“Aku akan menemui mereka,” kata Coei San yang kuatir keselamatan Lian Cioe yang masih belum sembuh dari lukanya.

“Undang mereka masuk,” kata Jiehiap kepada si pelayan.

Beberapa lama kemudian, masuklah enam pria dan seorang wanita. Coei San dan Lie Heng berdiri disamping Lian Cioe siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan. Tapi tamu-tamu itu kelihatan berduka tercampur malu dan merekapun tidak membekal senjata.

Begitu masuk, seorang yang rupanya menjadi pemimpin dan yang berusia kira-kira empat puluh tahun, merangkap kedua tangannya dan berkata dengan sikap hormat: “Apakah kalian Jie Jiehiap, Thio Ngohiap dan In Liok hiap dari Boe-tong-pay? Aku, Ben Ceng Hooey, murid Ngo-hong-to memberi hormat.”

Lian Cioe bertiga lantas sajs membalas hormat. “Beng Loosoe, selamat bertemu,” kata Lian Cioe. “Kalian duduklah.”

Beng Ceng Hoey tidak lantas berduduk, tapi berkata pula: “Partai kami yang berkedudukan di Ho tong, propinsi San see, hanyalah sebuah partai kecil yang tidak ada artinya. Sudah lama kami mendengar nama besarnya Thio Cinjin dan Boe tong Cit hiap, hanya sebegitu jauh, kami belum mendapat kesetempatan untuk bertemu muka. Hari ini kami tiba dikaki Boe tong san. Menurut pantas, kami haruslah naik gunung untuk menemui Thio Cinjin. Tapi mendengar, bahwa beliau sudah berusia seratus tahun dan selalu hidup dengan mengasingkan diri, kami orang-orang kasar tidak berani mengganggu ketenteraman beliau. Kalau nanti sudah pulang kegunung kami mengharap Sam wie suka memberitahukan beliau, bahwa murid-murid Ngo hong to memberi selamat dan berdoa agar beliau dikurniani dengan rejeki dan umur panjang oleh Tuhan Yang Maha kuasa.”

Mendengar pemberian selamat kepada gurunya, Lian Cioe yang duduk diatas pembaringan batu sebab lukanya belum sembuh, buru-buru memegang pundak In Lie Heng dan turun dari pembaringan.

“Terima kasih atas pemberian selamat dan doa itu,” katanya seraya membungkuk.

“Sehagai penduduk kampung. kami seperti kodok didalam sumur,” kata pula Beng Ceng Hoey. “Kami tak tahu bagaimana luasnya langit dan lebarnya bumi. Dengan berani mati, kami datang ketempat kalian. Tapi dengan jiwa yang sangat besar, para pendekar Boe tong berbalik menolong kami, untuk itu kami berterima kasih tidak habisnya. Kedatangan kami pertama untuk menghaturkan terima kasih yang tak terhingga. Kedua untuk meminta maaf dan kami memohon agar Sam wie tidak mencatat kedosaan kami”

Sehabis berkata begitu, Beng Ceng Hoey kelihatan bingung, seolah-olah merasa takut untuk bicara terus.

“Beng Loosoe boleh bicara saja tanpa ragu ragu,” kata Lian Cioe dengan manis.

“Terlebih dulu aku memohon janji Jiehiap, bahwa Boe tong pay tak akan menggusari kami, supaya kami bisa memberi laporan kepada soehoe,” katanya.

Lian Cioe tersenyum. “Apakah kunjungan kalian untuk menyelidiki tempat bersembunyinya Kim mo Say ong Cia Soen?” tanyanya. “Kedosaan apa yang telah diperbuat Cia Soen terhadap partai kalian?”

“Saudaraku, Beng Ceng Jin, telah binasa dalam tangan Cia Soen !” jawabnya.

Lian Cioe kaget. “Oleh karena adanya kesukaran yang tidak dapat diatasi kami tidak bisa memberitahukan kalian mengenai tempatnya Cia Soen,” katanya. “Tentang soal menggusari kalian, baik lah jangan disebut-sebut lagi. Kalau nanti kalian pulang dan bertemu dengan Ouw Loo yacoe, katakanlah, bahwa Jie Jie, Thio Ngo dan In Liok menanyakan kesehatan beliau.”

“Kalau begitu, kami ingin meminta diri,” kata Beng Ceng Hoey. “Di hari kemudian, andaikata Boe tong pay memerlukan tenaga kami, biarpun Ngo hong to bertenaga sangat kecil, murid-murid Ngo hong to pasti tak akan menolak tugas sebagai pesuruh.”

Sehabis berkata begitu ia mengangkat kedua tangan, diturut oleh kelima kawannya, dan kemudian meninggalkan kamar itu.

Baru berjalan beberapa tindak, yang wanita mendadak memutar badan dan lalu berlutut dilantai, “Aku yang rendah sudah bisa mempertahankan kesucian diri berkat pertolongan para pendekar Boe tong,” katanya dengan suara perlahan. “Selama hidup, aku tak akan melupakan budi yang sangat besar ini.”

Biarpun sangat kepingin tahu duduknya persoalan, tapi mendengar perkataan “kesucian diri.” Lian Cioe bertiga tidak berani menanya lebih jelas. Sesudah berlutut beberapa kali, ia lalu berjalan keluar untuk menyusul rombongannya.

Beberapa saat sesudah rombongan Ngo hong to berlalu, tirai mendadak tersingkap dibarengi dengan masuknya seorang yang segera menubruk dan memeluk Coei San.

“Sieko!” teriak Coei San, bagaikan kalap bahna girangnya.

Orang itu yalah Siehiap Thio Siong Kee. Sesudah berpelukan beberapa lama, Coei San berkata: “Sieko, kau sungguh pintar dan berakal budi. Kau sudah berhasil mengubah sikap orang orang Ngo-hong-to dari lawan menjadi kawan.”

“Ah! itulah sudah terjadi karena kebetulan saja”, sang kakak merendahkan diri.

Siong Kee lantas saja menuturkan latar belakang kejadian itu.

Wanita cantik itu seorang she Ouw, puteri kedua dari Ciangboenjin Ngo-hong-to. Suaminya ialah Beng Ceng Hoey. Kali ini, kedua suami isteri bersama empat orang Soetee dan Soetit telah datang di Ouwpak untuk menyelidiki Cia Soen. Ditengah jalan mereka bertemu dengan Tocoe Sam-kang-pang yang memberitahukan, Coei San dari Boe-tong pay mengetahui dimana adanya Kim mo Say-ong. Ouw-sie lantas saja mengusulkan untuk membekuk Coei San guna memaksakan pengakuan.

Beng Ceng Seng biasanya sangat takut isteri, tapi kali itu ia menolak. la mengatakan, bahwa murid Boe-tong-pay lihay luar biasa, dan jalan yang paling baik yalah menanyakan dengan memakai peradatan. Kalau tidak diluluskan, coba mencari daya upaya lain. Ouw-sie kukuh pada pendapatnya, ia mengatakan, bahwa jika Coei San sudah pulang ke Boe-tong-san, mereka tak akan dapat menangkapnya lagi.

Karena tidak sependapat, kedua suami isteri itu lantas saja bercekcok, sedang kawan-kawannya yang lain tidak berani campur mulut.

Ouw-sie jadi sangat gusar “Setan nyali tikus!” teriaknya. “Kan usul itu untuk membalas sakit hati saudaramu, bukan untuk kepentinganku. Hmmm! Kapan kau begitu takut terhadap murid-murid Boe tong! Andai kata dia Thio Coei San memberitahukan tempat sembunyinya Cia Soen, apakah kau mempunyai nyali untuk mencari musuhmu. Menikah dengan manusia nyali tikus benar-benar celaka besar!”

Beng Ceng Hoey tidak berani bertengkar lagi, tapi ia tetap tidak menyetujui usul isterinya untuk menggunakan song-han-yo (obat pulas) guna membekuk Coei San dan So So. Dalam gusarnya, malam itu, selagi suaminya pulas, ia menghilang.

Nyonya muda itu pergi dengan niatan membekuk Coei San dan So So supaya ia bias mengejek suaminya. Diluar dugaan, gerak geriknya diketahui oleh seorang Tocoe dari Sam kang pang. Melihat kecantikan Ouw Sie, Tocoe itu mendapat pikiran jahat dan lalu menguntit, sehingga akhirnya, bukan Coei San dan So So yang kena Bong han yo, tapi, Ouw Sie sendiri.

Siong Kee yang terus mengintip gerak-gerik keenam orang Ngo hong to, itu, lalu memberi pertolongan. Sesudah dihajar dan diperingati keras, ia mengusir Tocoe Sam kang pang itu. Pada Ouw sie, Siong Kee tidak memperkenalkan nama. Ia hanya mengatakan, bahwa ia adalah murid Boe tong Pay.

Dengan malu besar, Ouw sie kembali kepada suaminya dan menceritakan segala apa yang sudah terjadit. Dengan demikian, Boe tong pay berbalik menjadi tuan penolong.

Sesudah berdamai, mereka segera mengunjungi Lian Cioe bertiga untuk menghaturkan terima kasih dam meminta maaf. Supaya Ouw sie tidak terlalu jengah, sesudah mereka berlalu, barulah Siong Kee muncul.

“Menghajar Tocoe Sam kang pang itu memang bukan pekerjaan sukar,” kata Coei San. “Tapi tindakan Sieko yang selamanya memberi kesempatan kepada orang-orang yang berdosa, sangat sesuai dengan pendirian Soehoe.”

Siong Kee tertawa. “Sesudah sepuluh tahun tak bertemu, begitu bertemu Ngotee menghadiahkan topi tinggi kepadaku.” katanya.

Malam itu keempat saudara seperguruan tidur disatu pembaringan dan mereka beromong-omong terus sampai pagi.

Meskipun pintar dan berakal budi, Stong Kee tidak dapat menebak siapa adanya orang yang menyamar seperti serdadu Goan, menculik Boe Kie dan melukakan Lian Cioe.

Pada esok paginya sesudah Siong Kee menemui So So, mereka lalu meneruskan perjalanan. Sesudah menginap lagi semalaman ditengah jalan, barulah mereka mulai mendekati Boe tong san.

Sesudah berpisahan sepuluh tahun. Coei San kembali kegunung itu yang menjadi tempat tinggalnya sedari kecil. Mengingat bahwa ia akan segera bertemu dengan guru dan saudara-saudaranya, biar pun isteri sakit dan anak hilang, kegirangannya melebihi rasa dukanya.

Setibanya diatas gunung mereka melihat delapan ekor kuda tertambat didepan kuil.

“Ada tamu,” kata Siong Kee. “Kita masuk saja dari pintu samping.”

Sambil menuntun isterinya, Coei San beramai masuk dari pintu samping. Melihat kembalinya Ngohiap, segenap penghuni kuil dari imam sampai pesuruh jadi girang bukan main. Begitu masuk, Coei San segera ingin menemui gurunya, tapi kacung yang merawat sang guru memberitahukan bahwa Thio Sam Hong masih menutup diri. Karena itu, ia hanya bisa berlutut didepan kamar sang guru.

Sesudah itu, ia pergi kekamar Jie Thay Giam. Kacung yang menjaga Jie Samhiap berkata: “Samsoe siok pules. Apakah mau dibanguni?”

Coei San menggoyangkan tangannya dan masuk kedalam kamar dengan indap-indap. Dengan hati tersayat, ia mengawasi kakak seperguruannya yang pucat dan perok mukanya, dengan kulit membungkus tulang. Keangkeran dan kegagahannya sepuluh tahun berselang sudah tak kelihatan lagi bayangan bayangannya. Mengingat pengalamannya yang dulu, bagaimana pada waktu baru naik gunung, ia telah menerima banyak pelajaran dari kakak itu, air mata Coei San lantas saja mengucur deras.

Sesudah mengawasi beberapa saat, sambil mendekap muka ia berjalan keluar. “Mana Toasoepeh dan Citsoesiok?” tanyanya kepada si kacung.

“Lagi menemani tamu di toathia (ruang besar),” jawabnya.

Ia lalu pergi keruangan belakang untuk menunggu Toasoeko dan Citsoeteenya. Tapi sesudah menunggu agak lama, kedua saudara itu belum juga muncul. Kepada seorang toojin yang membawa teh, ia menanya: “Siapa tamu itu?”

“Kelihatannya seperti orang dari Piauwkiok,” jawabnya.

Sesaat kemudian, In Lie Heng yang masih sangat kangen pada saudaranya menyusul keruangan belakang dan Coei San lantas saja menanyakan asal usul tamu itu.

“Tiga orang Cong piauw tauw,” jawab si adik. “Yang satu Kie Thian Pioe, Congpiauwtauw Houw-po-Piauwkiok di Kim leng, yang satu lagi In Ho Congpiauwtauw Chin-yang-Piauwkiok di Thaygoan, yang ketiga Kiong Kioe Kee, Congpiauwtauw Yan-in-Piauwkiok dikota raja.”

Coei San terkejut. “Perlu apa mereka datang kemari?” tanyanya. Ia tahu, bahwa dalam kalangan Piauwkiok diwilayah Tionggoan, ketiga Piauw kiok itulah yang mempunyai nama paling besar.

In Lie Heng tertawa. “Mungkin sekali ada piauw yang kena dirampok dan si perampok sangat lihay sehingga mereka minta pertolongan Toasoeko,” jawabnya.

“Ngoko, selama beberapa tahun ini. Toasoeko makin mulia sepak terjangnya. Kalau di Kong ouw terjadi sesuatu, mereka lantas pada datang menemui Toasoeko.”

“Toako memarg berhati mulia seperti Budha.” kata Coei San “la tak pernah merasa bosan untuk menolong sesama manusia. Hai! Sesudah berpisahan sepuluh tahun, apa Toasoeko tampak banyak lebih tua?”

Sesudah berkata begitu, hatinya seperti dibetot dan ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. “Lioik tee,” katanya, “mari kita pergi kebelakang sekosol supaya aku bisa segera melihat wajah Toako dan Cit tee.”

Indap-indap ia masuk ke toa thia dan mengintip dari belakang sekosol. Song Wan Kiauw dan Boh Seng Kok yang sedang duduk dikursi tuan rumah tengah bicara dengan tamu tamunya. Wan Kiauw mengenakan Jubah iman, parasnya tenang, tiada banyak bedanya seperti dulu hari, hanya rambut dibawah kundainya sudah berawarna abu abu.”

Toako itu sebenarnya bukan seorang toosoe, tapi karena sang guru seorang toosoe dan juga sebab ia menetap didalain kuil, maka kalau berada di kuil, ia kebanyakan mengenakan jubah imam dan barulah menukar pakaian biasa bila turun gunung.

Tubuh Boh Seng Kok jauh lebih jangkung dan besar daripada sepuluh tahun berselang. Meskipun masih berusia muda, mukanya penuh brewok, sehingga ia kelihatannya lebih tua daripada Coei San.

Tiba tiba terdengar suara Boh Seng Kok yang keras: “Toasoekoku tidak pernah menjusta, perkataannya satu – satu. dua – dua. Apakah kalian masih tidak percaya?”

Coei San kaget. Adat Soetee itu yang berangasan ternyata belum berubah. Mengapa ia bergusar?
la lalu mengawasi ketiga tamu itu. Mereka semua berusia kurang lebih lima puluh tahun. Yang satu kelihatan angker dan garang, yang satunya lagi jangkung kurus, sedang yang ketiga yang duduk dikursi paling buncit kelihatannya seperti orang sakit. Dibelakang mereka berdiri lima orang lain, mungkin murid murid mereka.

“Kami tentu tidak bisa menyangsikan perkataan Song Toahiap,” kata sijangkung kurus. “Tapi apakah kami boleh mendapat tahu, kapan Thio Ngohiap akan pulang?”

Mendengar perkataan Thio Ngohiap, Coei San terkesiap. “Apa mereka datang untuk menyelidiki Gieheng?” tanyanya didalam hati.

Sementara itu, Boh Seng Kok sudah menjawab: “Biarpun kami bertujuh berkepandaian sangat rendah, tapi dalam hal menolong sesama manusia kami selalu tidak mau ketinggalan. Kawan kawan dikalangan Kangouw telah menghadiahkan kami dengan julukan Boe tong cit hiap. Kami sebenarnya merasa malu mendapat julukan itu. Akan tetapi, sesudah terlanjur menerimanya kami lebih berhatii hati setiap tindakan kami. Thio Ngoko seorang yang halus budi pekertinya baik adatnya dan seorang yang boen boe coan cay. Maka itu, omong kosong jika Ngoko dituduh membunuh keluarga Liong boen Piauw kiok.”

Sekarang baru Coei San tahu maksud kedatangan tamu-tamu itu.

“Nama besar Boe tong Cit hiap memang sudah dikenal dalam Rimba Persilatan,” kata orang yang sikapnya garang, “Boh Cit hiap tak usah mengagulkan diri!”

Mendengar perkataan yang menusuk itu, Seng kok segera berkata: “Apa sebenarnya keinginan Kie Cong piauw tauw. Kau boleh bicara saja terang-terangan “

Orang itu, Kie Thian Pioe, lantas saja berkata dengan suara gusar: “Aku tidak menyangsikan, bahwa Boe tong Cit hiap omong satu-satu, omong dua-dua. Tapi, apakah pendeta suci dari Siauw lim sie berjusta? Dengan mata sendiri, pendeta Siauw lim telah menyaksikan cara bagaimana keluarga Liong boen Piauw kiok tetah binasa oleh Thio Ngo hiap….” Perkataan “hiap” diucapkan dengan suara luar biasa nyaringnya dan nadanya mengejek.

Bukan main gusarnya In Lie Heng. Selagi ia mau melompat keluar untuk menghadapi piauwsoe itu, Coei San mencekal tangannya dan mengawasinya dengan sorot mata berduka.

Si-adik tidak berani membantah. la kagum akan kesabaran kakak seperguruannya.

Dengan mata berapi, Seng Kok berkata: “Ngoko sekarang belum pulang, Boh Seng Kok dan Coei San mati hidup bersama-sama.”

Boh Seng Kok bangun berdiri. “Urusannya adalah urusanku. Jika Sam wie ingin cari Coei San carilah aku. Sam wie memastikan bahwa Ngoko sesudah membunuh keluarga Liong boen Piauwkiok! Baiklah, pembunuhan itu sama juga telah dilakukan olehku sendiri. Kalau mau membalas sakit hati, balaslah kepadaku, Boh Seng Kok adalah Thio Coei San, Thio Coei San adalab Boh Seng Kok. Dalam kepintaran dan kepandaian, aku tak nempel dengan saudaraku yang kelima itu. Maka boleh dikatakan, untung besar kau bertemu dengan aku.”

Kie Thian Pioe juga meluap darahnya. Ia melompat bangun seraya membentak: “Kalau tujuan kami benar untuk mengacau di Boe tong san, orang sedunia akan mentertawai kami sebagai manusia-manusia yang tak tahu diri. Akan tetapi, sakit hatinya keluarga Touw Tay Kim sehingga sekarang belum terbalas. Hal itu tak dapat ditelan oleh kami. Waktu naik kegunung, karena menghargai Thio Cinjin, kami tidak berani membekal senjata. Sekarang biarlah aku menerima kebinasaan dibawah kaki dan tangan Boh Cit hiap.” Sehabis berkata begitu, dengan tindakan lebar ia berjalan ketengah ruangan.

Melihat pertempuran akan segera terjadi, Song Wan Kiauw yang sedari, tadi terus membungkam, mencekal tangan adiknya seraya berkata: “Dari tempat jauh kalian datang kemari dengan membawa tuduhan bahwa Ngotee telah membunuh keluarga Liong boen Piauwkiok. Untung juga, tak lama lagi Ngotee akan pulang. Maka itu, menurut pendapatku, sebaiknya kalian menunggu sampai Ngotee kembali dan menanyakan soal-soal itu kepadanya sendiri.”

Tamu yang seperti orang sakit, pemimpin Yan in Piauwkiok Kiang Kioe Kee yang berakal budi, lantas saja berkata: “Kie Congpiauwtauw, sabar. Duduklah dulu. Memang juga, sebelum Thio Ngohiap pulang, urusan ini sukar mendapat penyelesaian yang memuaskan. Sebaiknya kita sekarang menemui Thio Cinjin untuk meminta jawaban. Beliau adalah gunung Thay san atau bintang Pak tauw dari Rimba Persilatan dan dihormati oleh segenap orang gagah. Maka itu, tak mungkin beliau melindungi diri murid sendiri tanpa melihat siapa yang benar siapa yang salah,”

Perkataan itu yang diucapkan secara sopan, lihay bukan main dan Boh Seng Kok tentu saja mengerti maksudnya. “Guruku sedang menutup diri dan sampai sekarang belum keluar ” katanya. “Disamping itu, selama beberapa tahun ini, segala urusan selalu diurus oleh Toa soeko dan kecuali orang yang sangat kenamaan dalam Rimba Persilatan, Soehoe boleh dikatakan tidak pernah menerima tamu.” Dengan berkata begitu, Boh Cit hap mau mengatakan, bahwa ketiga Congpiauw tauw tersebut belum cukup tinggi kedudukannya untuk berjumpa dengan Thio Sam Hong.

Tamu yang bertubuh jangkung kurus, yaitu In Ho dari Chin-yang piauwkiok, tertawa dingin: “Urusan-urusan dalam dunia memang sering terjadi secara kebetulan,” katanya: “Secara kebetulan, kedatangan kami terjadi pada saat Thio Cinjin sedang menutup diri. Tapi soal tujuh puluh jiwa lebih dari keluarga Liong boen Piauwkiok sukar dielakkan dengan alasan menutup diri.”

Dengan perkataan yang sangat berat itu, buru-buru Kiong Kioe Kee mengedipkan matanya.

Boh Seng Kok gusar tak kepalang. “Kau mau mengatakan, bahwa guruku menutup diri karena merasa jeri terhadap kamu?” bentaknya. In Ho tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin.

Biarpun sabar, hinaan terhadap gurunya yang sangat dihormati umum, sangat mendongkolkan hati Song Wan Kiauw. Selama banyak tahun, belum pernah ada orang berani mengucapkan kata kata kurang ajar untuk alamat Thio Sam Hong dihadapan Boe tong Cit hiap. Maka itu, ia segera berkata dengan suara perlahan.

“Sam wie adalah tamu kami dan kami tidak berlaku kurang sopan. Marilah kami mengantar kalian keluar dari kuil ini.”

Seraya berkata begitu, ia mengebas dengan tangan jubahnya dan ……..loh! tiga cangkir teh yang berada dihadapan Kie Thian Pioe, In Ho dan Kiong Kioe Kee serentak terbang dan kemudian perlahan-lahan turun dihadapan Wan Kiauw.

ltulah pertunjukan Lweekang yang dahsyat luar biasa. Begitu Wan Kiauw mengebas, Kie Thian Pioe bertiga merasa dada mereka menyesak, tapi sejenak kemudian, rasa sesak itu menghilang. Paras muka ketiga orang itu berubah pucat bagaikan kertas. Mereka tahu bahwa jika mau Song Toahiap dengan mudah dapat mengambil jiwa mereka seperti orang membalik telapak tangannya sendiri.

Antara mereka, Kie Thian Pioe lah yang paling polos. Sambil merangkap kedua tangannya ia berkata: “Terima kasih atas belas kasihan Song Toahiap. Kami minta permisi!”

Wan Kiauw dan Seng Kok mengantar tamunya sampai diluar kuil.

“Cukuplah, kalian tak usah mengantar lebih jauh lagi,” kata Kie Thian Pioe.

“Kami menghaturkan banyak terima kasih atas kunjungan kalian,” kata Wan Kiauw. “Dilain hari, kami akan balas mengunjungi pianwkiok kalian di kotaraja, Thay goan dan Kim leng.”

“Itulah kehormatan yang kami tidak berani menerima.” sahut Kie Thian Pioe.

Selagi mereka meagucapkan kata kata sungkan, tiba tiba datang orang setengah tua yang bertubuh kecil. “Sietee, berkenalanlah dengan ketiga sahabat ini.” kata Wan Kiauw.

Sesudah diperkenalkan sambil tertawa Thio Siong Kee berkata: “Sungguh kebetulan Samwie datang di sini. Aku justru ingin menyerahkan beberapa rupa barang.” la merogoh sakunya mengeluarkan tiga bungkusan kecil yang lalu di bagikan kepada ketiga tamu itu.

“Barang apa ini?” tanya Kie Thian Pioe.

“Jangan buka disini,” kata Siong Kee. “Sesudah turun gunung, barulah kalian boleh membukanya.”

Sesudah ketiga tamu itu berlalu, Boh Seng Kok berkata dengan tergesa-gesa: “Sieko. Mana Ngo ko? Apa ia sudah pulang?”

“Pergilah kau menemui Ngotee,” kata Siong Kee seraya bersenyum. “Aku dan Toako akan menunggu kembalinya ketiga piauwsoe itu.”

“Kembalinya ketiga piauwsoe?” menegas Seng Kok dengan heran. “Mengapa begitu ?” Tapi, sebab ia ingin lekas-lekas bertemu dengan Coei San tanpa menunggu jawaban, ia lantas masuk dengan berlari-lari.

Benar saja, baru Boh Cithiap masuk kedalam, Kie Thian Pioe bertiga sudah kembali dengan terburu-buru dan begitu berhadapan dengan Wan Kiauw dan Siong Kee, mereka berlutut. Wan Kiauw dan Siong Kee membalas hormat dan membangunkan ketiga orang itu.

“Kemuliaan para pendekar Boe tong baru sekarang diketahui aku, si orang she In.” Kata In Ho. “Barusan aku telah mengeluarkan kata-kata yang menghina Thio Cinjin dan aku sungguh lebih hina dari pada anjing atau babi.”

Sehabis berkata begitu, ia menggapelok mukanya sendiri belasan kali, sehingga jadi bengkak dan matang biru.

“In Congpiauwtiauw adalah seorang laki-laki gagah yang mempunyai cita-cita besar,” kata Siong Kee. “Cita-cita untuk merampas pulang, sungai dan gunung (negara) dari tangan penjajah, mendapat sokongan sepenuhnya dan segenap orang gagah diseluruh negeri. Bantuan sekecil itu yang diberikan kami adalah selayaknya saja. Perlu apa In Congpiauwtauw berlaku sampai begitu rupa?”

“Jiwa seluruh keluargaku telah ditolong oleh Coe hiap (para pendekar),” kata pula In Ho.

“Selama lima tahun, aku seperti orang mimpi. Untuk kedosaanku, aku harap beliau suka menghajar aku, supaya hatiku jadi lebih enak.”

Siong Kee tertawa. “Urusan yang sudah lewat sebaiknya jangan disebut-sebut lagi,” katanya. “Andai kata Soehoe sendiri mendengar perkataan In Congpiauwtauw yang sangat mulia, beliaupun tak merasa tersinggung,” Tapi In Ho yang masih merasa sangat malu, terus mencaci dirinya sendiri.

Song Wan Kiauw yang tidak mengerti duduknya persoalan, hanya mengeluarkan perkataan-perkataan merendahkan diri. Selain In Ho, Kie Thian Pioe dan Kiong Kioe Kee juga tak hentinya menghaturkan terima kasih. Menurut penglihatan Wan Kiauw, Siong Kee bersikap sangat manis dan hangat terhadap In Ho, tapi terhadap Kie dan Kiong Congpiauwtauw, ia bersikap sedang-sedang saja. Mereka bertiga memohon permisi untuk memberi hormat didepan kamar Thio Sam Hong dan menghaturkan maaf kepada Beh Sang Kok, tapi permintaan itu semua ditolak dengan manis oleh Wan Kiauw berdua.

Sesudah ketiga orang itu berlalu, Siong Kee berkata seraya menghela napas: “Biarpun mereka merasa sama sekali tidak menyebutkan soal Liong boen Piauwkiok. Dengan lain perkataan, budi tinggal budi, tapi urusan itu masih belum beres.”

Baru saja Wan Kiauw ingin meminta penjelasan, Coei San sudah muncul sambil berlari-lari. Begitu berhadapan dengan kakaknya, ia berlutut seraya berkata “Toako …..”

Song Wan Kiauw halus budi pekertinya. Walaupun terhadap adik seperguruannya, apa pula dalam keadaannya ini, seperti sekarang selagi hatinya berdebaran, ia tidak dapat melupakan akal budinya itu, maka ia membalas hormat sambil berlutut juga. la pun berkata “Ngo tee, oh akhirnya kau pulang juga !”

“Ya, Toako,” menyahut adik seperguruannya yang nomor lima itu.

Coei San lantas menuturkan hal ikhwalnya semenjak perpisahan mereka.

Boh Seng Kok yang tidak sabaran, menyelak: “Ngoko, ketiga piauwsoe itu sangat kurang ajar, mereka tetap menuduh kaulah yang membinasakan seantero keluarga Liong boen Piauw kiok di Lim an, kenapa kau berlaku demikian sabar dan tidak hendak pergi menghajar adat kepada mereka ?”

Mendengar itu, Coei San menghela napas, romannyn sangat berduka.

“Tentang soal, itu berliku-liku duduknya, tidak dapat dituturkan dengan sepatah dua patah kata,” katanya. “Tunggu saja sampai Sha-ko sudah mendusin, nanti aku menjelaskan semua. Bahkan aku masih hendak memohon saudara-saudara membantu memikirkan suatu daya yang sempurna.”

“Jangan kuatir, Ngoko,” berkata In Lie Hang. “Tidak layak perbuatannya Liong boen Piauw kiok yang mengantarkan Sha-ko pulang dalam keadaan bercacad seumur hidupnya! Andai kata benar Ngoko telah membinasakan seluruh keluarga nya, itulah disebabkan kecintaan terhadap saudara sendiri. karena kemurkaanmu pada satu saat….”

“Liok tee, kau ngaco !” bentak Lian Cioe. “kalau Soehoe mendengar kata-katamu ini, pastilah kau bakal dikurung selama tiga bulan! Membinasakan seantero keluarga, tua dan muda, itu artinya memusnahkan satu rumah tangga, perbuatan demikian itu mana dapat kita lakukan ?”

Kelima orang itu lantas mengawasi Thio Coei San, roman siapa tampak sangat berduka.

“Keluarga Liong boen Piauw kiok itu, seorang pun tidak ada yang kubunuh,” berkata Coei Sani selang sesaat. “Aku tidak berani melupakan ajaran Soehoe dan tidak berani juga menyeret-nyeret semua saudara.”

Mendengar ini lega hati mereka. Tadinya mereka menyangsikan saudara seperguruan ini. Mereka tidak percaya saudara mereka melakukan perbuatan sangat terlengas itu. Tetapi pihak Siauw lim menuduh pasti pembunuhan itu dilakukan Coei San dan mereka itu mengatakan melihatnya dengan mata kepala sendiri, sedang ketika piauwsoe tadi datang, Coei San tidak mangajukan dirinya untuk menyangkal atau menegur mereka toh bercuriga.

Tapi sekarang, sesudah mendengar pernyataan Coei San, hati mereka lega. Mereka lantas berpikir. “Didalam urusan ini tentu ada kesulitannya, akan tetapi tidak apalah asal jangan dia yang melakukan pembunuhan. Biar bagian apapun jua, akhirnya pasti soal itu akan dapat dibikin terang dan didamaikan.”

Kemudian Boh Seng Kok menanyakan tentang ketiga piauwsoe itu.

“Diantara mereka bertiga, in Ho yang omongnya kasar adalah yang perlakuannya paling baik,” kata Siong Kee, “diwilayah Shoa say dan Siam say, dia sangat tersohor, Diam-diam dia telah berserikat dengan orang-orang gagah dikedua propinsi itu, dengan tujuan untuk merobohkan kerajaan Goan.”

“Itulah bagus!” berseru Song Wan Kiauw berlima.

“Tidak disangka dia sedemikian bersemangat,” kata Boh Seng Kok dengan rasa kagum, “dia harus dihormati dan dipuji Sieko, kau jangan bicara terus dulu, kau tunggu sampai aku sudah kembali.” Setelah berkata begitu, ia pergi keluar sambil berlari lari.

Thio Siong Kee benar-benar berhenti menutur, sebaliknya ia menanyakan Coei San tentang pulau Peng hwee to.

Coei San lantas bercerita tentang si kera putih yang cerdik luar biasa, sehingga keempat saudaranya menjadi heran dan kagum.

“Sebenarnya kami berniat membawa pulang kera itu,” kata Coei San pula. “Sesudah berlayar berapa hari, ia agaknya tidak biasa dengan hawa udara yang hangat, mendadak dia menerjun ke air, dan berenang kearah utara, mungkin dia niat pulang kepulau Peng hwee to.”

“Sayang, sayang,” kata In Lie Heng.

“Kera sedemikian kecil, tetapi begitu kuat, itulah hebat,” kata Wan Kiauw.

“Mungkin kera itu bukan bangsa kera asli,” Coei San mengutarakan dugaannya, “Mungkin dia berjenis tersendiri disebabkan terlahirnya di pulau yang hawa udaranya sangat luar biasa. “

Wan Kiauw mengangguk. “Mungkin,” katanya. “Ditanah pegunungan dan rimba-rimba kitapun terdapat binatang binatang yang istimewa.”

Selagi mereka bicara, Boh Seng Kok kembali dengan berlari-lari. “Aku telah menyusul In Piauw soe untuk menghaturkan maaf dan aku telah memujinya sebagai seorang laki-laki sejati!” katanya.

Senang saudara-saudaranya mendengar keterangan itu. Mereka memang telah menduga kemana perginya saudara itu barusan. Sebagai seorang jujur, Boh Seng Kok tak menghiraukan perjalanan maafnya itu, sebab kalau tidak, ia bakal tidak dapat tidur tenang.

“Cit tee,” kata In Lie Hang, “penuturan Sieko ditunda sebab musti menantikan kau, tetapi ceritanya Ngoko tentang si kera cerdik lebih menarik hati Iagi.”

“Oh, begitu?” Seng Kok berjingkrak.

Siong Kee menyelak “Rencananya In Ho itu sudah diatur rapi…”

“Sieko maaf,” Seng Kok memotong, “tunggu sebentar!….”

“Dasar Cit tee!” Coei San tertawa yang terpaksa mengulangi ceritanya tentang si kera putih.

“Benar benar aneh, benar-benar aneh!” seru Seng Kok. “Nah, Sieko giliranmu!”

Siong Kee bersenyum, ia berkata: “Rencana In Ho itu sudah rapi, dia tinggal menanti harinya untuk bergerak ditiga tempat ialah Thay goan, Thay tong dan Hoen yang. Siapa tahu, diantara kawan serikat mereka, ada seorang pengkhianatnya. Tiga hari sebelum bergerak, dia telah pergi membuka rahasia kepada pihak Mongolia sambil menyerahkan juga daftar nama-nama rancana gerakan In Ho itu.”

“Ah, itulah hebat!” seru Seng Kok.

“Tapi disana telah terjadi sesuatu yang kebetulan.” kata Siong Kee tertawa. “Ketika itu aku berada di Thay goan, maksudku mencari Tiekoan Thay goan untuk mengajar adat kepada nya. Pada tengah malam itu, aku mendapatkan si Tiekoan asyik berbicara dengan si pengkhianat, merundingkan cara untuk membeber rahasia itu kepada kaizar serta daya untuk mengirim tentara guna menyapu bersih kawanan pencinta negara itu. Tanpa ayal lagi, aku melompat masuk dari jendela. Aku bunuh Tiekoan dan si pengkhianat, kemudian aku merampas daftar nama-nama rencana kerja itu yang terus dibawa pulang olehku ke Selatan. Di pihak In Ho, orang bingung dan berkuatir sekali karena lenyapnya daftar dan rencana mereka. Mereka mengerti, bahwa selain kuatir mereka akan gagal, juga mereka serta keluarga mereka terancam bahaya kemusnahan. Mereka lantas bekerja mengirim orang untuk memberi kisikan, agar keluarga mereka pada pergi mengumpatkan diri. Celakanya, tindakan inipun mendapat halangan, yaitu pintu kota telah ditutup dan pesuruh-pesuruh ini tidak dapat keluar dari kota.”

“Besoknya pagi kekuatiran mereka ditambah dengan tersiarnya berita pembunuhan atas diri Tie koan, pembunuhan mana sangat menggemparkan, sebab pembesar negeri mengambil tindakan menutup pintu kota sambil berbareng melakukan penggledahan luas untuk mencari dan membekuk si pembunuh gelap. In Ho semua bagaikan rombongan semut di atas kwali panas. Mereka terutama berkuatir akan keselamatan semua kawan mereka dikedua propinsi. Untuk beberapa hari mereka hidup seperti tersiksa. Selama itu tidak terjadi sesuatu dan sipembunuh Tiekoanpun tidak kedapatan. Akhirnya, urusan menjadi reda. Ketika mereka mengetahui bahwa sipangkhianatpun terbunuh didalam kantor Tiakoan, mereka menduga ada pertolongan tersembunyi untuk pihak mereka. Mereka tidak tahu siapa penolong itu. Merekapun sama sekali tidak menduga aku”

“Jadi yang tadi kau serahkan pada In Ho itu ialah daftar nama-nama dan rencananya itu?”

“Benar.” jawabnya.

“Bagaimana dengan Kiong Kioe Kee ?” Lie Heng tanya pula. “Bagaimana Sie ko membahtu dia ?”

“Kioo Kee cukup-tinggi ilmu silatnya, hanya dalam hal sifat, ia tidak dapat disamakan dengan In Ho,” menyahuti Siong Kee, “Pada enam tahun dulu ia mengantar piauw ke propinsi Inlam. Setibanya di Koen beng is diminta bantuannya membawa barang barang permata untuk Pakkhia, harganya semua enampuluh laksa tail. Ia mesti membawanya secara diam-diam. Tiba di propinsi Kang say, is mendapat susah, ialah ditepi telaga Po yang ouw, ia dicegat dan dikepung oleh tiga anggauta Poyang Soa gie, empat orang gagah dari Po yang ouw, dan piauwnya dirampas. Meskipun dia menjual harta bendanya semua, tidak nanti Kioe Kee dapat mengganti kerugian. Inipun mengenai nama baik dari Yan in Piauw kiok yang sangat kesohor untuk wilayah utara. Karena kejadian itu, pasti perusahaan Piauw kioknya bakal roboh. Selagi berada dirumah penginapan, saking putus asa, ia nekad hendak menghabiskan jiwanya sendiri. Po yang Soe gie bukan orang Rimba Hijau, mengapa mereka merampas piauw itu? Ini pun ada sebabnya. Saudara meraka yang tertua lagi mendapat susah, saudara itu dikurung dalam penjara di kota Lam Ciang, setiap waktu bisa menjalankan hukumannya, hukuman mati. Dua kali Soe gie coba menolong. Mereka membongkar penjara, dua kalinya gagal. Akhirnya mereka terpaksa mencari uang, untuk menyogok pembesar-pembesar di Lam ciang itu, cukup asal hukuman kakak mereka diperenteng. Aku mendapat tahu perkara mereka itu, aku tahu juga bahwa Po yang Soe gie orang baik-baik. Aku lantas bekerja uptuk menolong kakak mereka, supaya piauwnya Kioe Kee dikembalikan kepada piauwsoe itu. Wajah Kioe Kee memuakkan dan cara bicaranya juga tidak menyenangkan, tetapi ia belum pernah melakukan sesuatu kejahatan dan iapun tidak pernah mengganggu rakyat, maka aku pikir, ada baiknya juga aku menolong jiwanya. Hanya dalam menolong dia, aku meminta Po yang Soe gie jangan menyebut nyebut namaku. Piauw itu dipulangkan, melainkan bungkusan sulamannya yang aku tahan. Dan barusan aku memberikan pulang bungkusan itu, maka kau tentulah telah mengerti sendiri.” i

Lian Cioe mengangguk angguk.

“Bagus perbuatanmu itu, Sie tee.” ia memuji. “Kiang Kioe Kee itu dapat dimaklumkan dan Po yang Soe gie juga tak ada celaannya.”

“Eh, Sieko,” tanya Seng Kok. “Barang apa itu yang kau serahkan pada Kie Thian Pioe?”

“itulah sembilan biji Toan hoen Gouwkong piauw,” jawabnya.

Jawaban ini membuat lima saudara itu terperanjat. Untuk dunia Kang ouw, piauw itu ialah semacam senjata rahasia yang kesohor sekali. Itulah senjata yang membikin naik namanya Gouw It Beng dari Liang Cioe.

“Mengena piauw itu, aku bertindak dengan terlalu berbesar hati,” Siong Kee mengakui. “Kalau sekarang aku mengingatnya, aku merasa bersyukur sekali bahwa aku telah lolos dari marabahaya. Ketika itu Kie Thian Poe mengantar piauw lewat dikota Tong kwan, diluar tahunya ia berbuat keliru terhadap satu muridnya Gouw It Beng. Dalam pertempuran, Thian Pioe merobohkan dan melukakan parah murid orang itu. Setelah kejadian, baru Thian Pioe menginsyafi bahwa ia telah menerbitkan onar. Maka lekas-lekas ia menyelesaikan tugas nya sebab ia ingin segera pulang ke Kim leng guna mengumpul kawan yang bersedia menghadapi It Beng itu. Ia baru sampai di Lok yang, ketika di sana ia dicandak It Beng. Maka tarjadilah janji ,akan bertarung besoknya di luar pintu barat kota Lok yang “

“Gouw It Beng lihay, tak ada disebawahan kita, bagaimana Kie Thian Pioe dapat menandingi dia ?” tanya In Lie Heng.

“Memang. Thian Pioe sendiri merasa bahwa ia tidak unggulan melawan musuhnya, maka itu ia minta bantuannya persaudaraan Kiauw dikota Lok yang itu,” Siong Kee menerangkan. “Atas permintaan itu, pihak parsaudaraan Kiauw menjawab: Kau bukan tahu sendiri, Kie Toako, kami bukan lawan Gouw It Beng. Bukankan kau hanya menghendaki kami membantu memberikan suara saja? Baiklah, besok pagi kami pasti datang diluar kota barat itu !”

“Persaudaraan Kiauw pandai menggunakan senjata rahasia, dengan Thian Pioe dibantu meteka, artinya tiga lawan satu, mungkin It Beng dapat dilawan bingga berimbang kekuatannya,” berkata Seng Kok. “Bagaimana dengan Gouw It Beng, apakan ia mempunyai kawan atau tidak ?”

“It Beng tidak punya kawan,” kata Siong Kee. “Yang aneh yalah dua saudara Kiauw itu. Pagi pagi sekali besoknya Thian Pioe telah pergi kerumah mereka, terutama untuk memastikan cara menghaadapi It Beng Ketika tiba, ia bertemu dengan penjaga pintu yang berkata: Toaya dan Jieya mempuayai urusan yang penting yang mendadak, mereka telah pergi ke Tongcioe. Aku dipesan untuk memberitahukan Kie Looya agar Looya tidak usah menantikannya. Mendengar itu, Thian Pioe kaget dan mendongkol bukan main. Beberapa tahun yang lalu, tempo dua saudara Kiauw itu nampak kesukaran di Kanglam, Thian Pioe telah membantunya, tetapi sekarang, mulut mereka manis, kaki mereka ngacir. Thian Pioe menginsyafi bahaya, tetapi ia tidak mau salah janji, dari itu ia kembali kehotelnya untuk menulis pesan terakhirnya. Sesudah memesan seperlunya kepada sekalian pembantunya, seorang diri ia pergi keluar pintu kota barat.”

“Semua kejadian itu tidak lolos dari mataku,” Siong Kee melanjutkan setelah berhenti sejenak. “Aku sudah lantas pergi keluar pintu kota itu, Disana aku bercokol dibawah sebuah pohon. Sengaja aku menyamar sebagai seorang pengemis. Aku melihat It Beng dan Thian Pioe datang saling susul, terus mereka bertempur. Baru beberapa jurus. It Beng telah habis sabar, ia lantas menyerang dengan sebatang piauwnya yang liehay. Thian Pioe putus asa, ia meraimkan matanya menanti kebinasaan. Disaat itu aku melompat maju. Aku menanggapi piauw maut itu. It Brng kaget, heran dan gusar. Ia lantas saja menegur aku dan menanya aku orang dari partay Pengemis atau bukan. Aku tertawa saja, tidak menjawab: Dalam gusar dan penasarannya, delapan kali beruntun ia menyerang aku dengaa sepasang senjata rahasia nya itu, yang semua aku tanggapi dengan berhasil. Dia benar-henar lihay. Sedang aku, aku tidak berani menanggapi dengan menggunakan ilmu silat kita. Aku takut ia mengenali aku. Begitulah aku berpura pura pincang sebelah kakiku dan mati tanganku yang kanan, aku menggunakan saja tangan kiri, dan ilmu yang digunakan olehku ialah ilmu silat Siauw lim pay. Semua senjata itu aku bekap, hampir telapakan tanganku terluka piauw yang ke tujuh. Dia lantas membentak, menanyakan aku muridnya Siauw lim sie yang mana. Aku tetap membungkam dan berlagak tuli. Aku bicara ah an uh uh saja. It Beng mengerti bahwa ia tidak akan sanggup melawan aku, ia lantas ngeloyor pergi dengan mendongkol. Setibanya di Liangcoe, di rumahnya, seterusnya ia menutup pintu, selama beberapa tahun ini ia tidak pernah muncul lagi dalam dunia Kang ouw.”

Seng Kok jujur dan polos, ia tidak mengerti sikapnya kakak seperguruan itu yang menolong Kioe Kee dan menentang It Beng. Thio Coei San sebaliknya tahu, bahwa dengan itu Siong Kee hendak meredakan permusuhan yang disebabkan pembunuhan keluarga Liong boen Piauw kiok. Houw po Piauw kiok adalah piauwkiok paling ternama uptuk Kang Lam. Untuk wilayah Utara yalah Yan in Piauwkiok, dan di Barat daya yaitu Chin yang Piauw kiok. Dengan terjadinya pembunuhan pada keluarga Liong boen Piauwkiok itu, dua yang lainnya tentulah bakal turun tangan, maka Song Kee diam-diam menumpuk perbuatan baik atau budi, yang diaturnya sedemikian rupa hingga orang tidak akan menyangka bahwa itulah usaha berencana.

“Sieko,” kata Coei San akhirnya sambil menangis sesenggukan, “kita berada diantara saudara sendiri, tidak usah aku menghaturkan terima kasih lagi padamu. Semua itu ialah sembrononya iparmu, yang bertindak menuruti hawa amarahnya hingga mendatangkan bahaya besar.”

Sampai disitu, tanpa tedeng aling aling, Coei San menuturkan perbuatan isterinya, So So yang menyamar menjadi ia dan sudah menyatroni dan membunuh keluarga Liong boen Piauwkiok di waktu malam. Kemudian ia menambahkan: “Sieko, bagaimana urusan ini dapat diselesaikan di kemudian hari? Aku memohon pikiranmu.”

Thio Siong Kee berdiam untuk berpikir. “Aku pikir dalam urusan ini perlu kita mengundang Soehoe turun gunung, supaya Soehoe yang
memberi petunjuk,” katanya. “Perkara telah terjadi, orang yang sudah mati tidak dapat hidup kembali, sedang Tee hoe sudah menginsyafi kesalahan nya dan mengubahnya. Ia sekarang bukan lagi si wanita pembunuh yang telengas. Maka itu, perlu kita mengerti maksudnya pepatah kuno: tahu bersalah dan dapat mengubahnya, itulah paling baik. Kau lihat, Toako bukankah ini benar?”

Song Wan Kiauw, yang ditanya itu, berdiam saja. Soal itu menyangkut perkara jiwanya beberapa puluh orang. Itulah perkara sangat besar, ia
ragu-ragu

“Tidak salah.” Jie Lian Cioe menalangi kakak seperguruannya. Ia mengangguk.

Ketika In Lie Heng mendengar suaranya kakak she Jie ini, bukan main luga hatinya. la memang paling jeri terhadap ini kakak seperguruan
yang nomor dua, yang saking jujurnya, membenci perbuatan jahat seperti dia membenci musuhnya yang dalam segala pertimbangan tidak mengenal urusan peribadi. Tadinya ia berkuatir untuk So So, isterinya Coei San itu, iparnya. Siapa nyana, demikian singkat dan bijaksana putusannya Jieko itu.

“Benar”, ia lantas turut bicara. “Kalau nanti ada orang luar yang menanyakan, Ngoko, kau jawab saja bahwa bukan kau yang membunuh mereka itu. Kau bukan mendusta, sebab memang bukan kau yang membunuhnya,”

Song Wan Kiauw melotot terhadap adik seperguruan ini, katanya: “Dengan menyangkal begitu, mana hati Ngotee bisa tenang? Kita menamakan diri kita orang-orang gagah mulia. Apakah kita bisa merasakan tenteram ?”

“Habis bagaimana ?” tanya Lie Heng;

“Menurut pikiranku, kita harus berbuat begini”, berkata sang Toako. “Paling dulu kita menanti sampai selesai perayaan ulang tahun Soehoe. Setelah itu kita pergi mencari anaknya Ngotee. Habis itu pada rapat besar di Hong ho lauw kita membereskan urusannya Kim mo Say ong Cia Soen. Lalu sesudah itu, kita berenam saudara dibantu oleh Ngo tee hoe, berangkat ke Kang lam. Didalam tempo tiga tahun, kita masing-masing harus melakukan perbuatan-perbuatan baik sebanyak sepuluh macam ”

“Akur! Akur!” Thio Siong Kee berseru menepuk-nepuk tangan. “Liong boen Piauwkiok kematian tujuh puluh jiwa, kita bertujuh melakukan masing-masing sepuluh rupa kebaikan. Asal kita semua bisa menolong seratus sampai duaratus orang yang bersengsara atau terfitnah, maka dengan itu dapatlah kita menebus jiwanya tujuh puluh orang yang mati kecewa itu!”

“Pikiran Toako sangat sempurna,” Jie Lian Cioe memuji. “Aku percaya soehoe pun akan menyetujuinya. Kalau tidak demikian, untuk tujuhpuluh jiwa itu, Teehoe mengganti dengan satu jiwanya. Apakah artinya penggantian satu jiwa itu ?”

Coei San girang berbareng terharu.

“Nanti aku bicara padanya!” katanya. Ia maksudkan isterinya. Lantas ia lari masuk kedalam untuk menuturkan semua itu kepada So So.

Mendengar keterangan suamiana, So So menjadi bersemangat. Ia percaya lihaynya enam jago Boe tong pay itu, maka ia percaya juga yang Boe kie, anaknya, bakal dapat dicari. Ia memangnya bukan sakit berat, ia hanya bersusah hati. Sekarang ia terbuka hatinya, dan sakitnya lalu berkurang setiap hari.

===========================

Lewat beberapa hari maka tibalah Sie gwee Cap pee, tanggal delapan bulan keempat. Tanpa, bersangsi lagi, Thio Sam Hong membuka pintu kuilnya. Besok adalah hari ulang tahunnya yang ke seratus, murid-muridnya pasti bakal datang untuk merayakannya. Sebenarnya, sesudah Jie Thay Giam terluka bercacad dan Thio Coei San lenyap, ia sangat berduka. Tetapi, bahwa ia telah bisa memasuki usia seratus tahun, adalah hal yang tak dapat dilewatkan dengan begitu saja.

Selain itu, ia juga yakin, bahwa lima silatr Thay kek Sin kang sudah mencapai kesempurnaannya, itu artinya, di dalam ilmu silat, ia telah membuat suatu jasa yang tak kurang daripada jasanya Tatmo Couwsoe dari Siauw-lim-sie.

Pagi pagi Thio Sam Hong membuka kedua daun pintu kamarnya. Untuk herannya, orang yang pertama ia lihat bukan lain daripada Thio Coei San, muridnya yang telah hilang sepuluh tahun. Ia mengucek matanya, kuatir nanti keliru melihat.

Coei San sendiri sudah lantas menuju untuk menubruk gurunya itu.
“Soehoe !” serunya sambil menangis sesenggukan. Saking terharunya, ia lupa berlutut untuk menjalankan kehormatan.

Song Wan Kiauw berlima lantas turut maju. “Selamat, Soehoe !” berseru mereka. “Saudara yang kelima sudah pulang!”

Thio Sam Hong sudah berumur seratus tahun, itu artinya ia telah belajar silat dan melatihnya selama delapan puluh tahun. Ppengalamannya luas dan hatinya sudah terbuka. Akan tetapi dengan ketujuh murid muridnya ini ia bergaul sangat erat, seperti ayah dan anaknya.Mmaka begitu melihat Coei San, tak tahan ia akan rasa terharunya. Ia pun memeluk erat erat dan air matanya mengucur turun.

Segera setelah itu, keenam murid itu melayani guru mereka menyisir rambut, mencuci muka dan mulut serta berdandan, kemudian mereka duduk memasang omong. Coei San tidak berani omong perihal segala apa yang dapat memusingkan kepala, maka ia menuturkan saja mengenai pulau Peng hwee to, tentang yang indah dan menarik hati, juga perihal ia sudah menikah.

Girang guru itu mengetahui muridnya sudah beristeri. “Mana isterimu itu?” katanya. “Lekas ajak ia menemui aku!”

Coei San lantas saja berlutut didepan gurunya.

“Soehoe, muridmu bernyali besar,” katanya. “Untuk menikah, dia tidak memberitahukan terlebih dulu kepada Soehoe… “

Sang guru mengurut kumisnya dan tertawa.

“Kau berada dipulau Peng hwee to selama sepuluh tahun dan tidak dapat pulang, apakah kau mesti menanti sepuluh tahun dan sesudah memberitahukan aku baru kau menikah?” katanya. “Ngaco, ngaco! Lekas bangun, tidak usah kau memohon maaf. Mana Thio Sam Hong mempunyai murid yang tidak tahu aturan!”

Tetapi Coei San tetap berlutut.

“Tapi muridmu beristerikan orang yang asal usulnya sesat,” katanya pula. “Dia ….. dialah gadisnya In Kauwcoe dari Peh bie kauw …..”

Kembali guru itu mengurut kumisnya.

“Apakah halangannya itu?” katanya sambil bersenyum. “Asal kelakuan isterimu tidak ada celaannya, sudah cukup! Atau umpama kata pribadinya tidak baik, setelah dia naik kegunung kita, apakah dia tidak dapat dididik untuk menjadi baik? Pula, apa artinya Peh bie kauw? Coei San, yang terutama untuk menjadi manusia ialah jangan cupat pandangan ! Jangan kita menganggap, sebab diri kita dari golongan sejati lantas kita memandang enteng kepada lain orang! Dua huruf sejati dan sesat itu, sulit untuk dibedakannya. Murid golongan sejati juga, kalau hatinya tidak lurus, ia menjadi sesat, dan murid pihak sesat, apabila hatinya benar, dia dapat menjadi seorang koencoe!”

Bukan main girangnya Coei San. la tidak menyangka ganjalan hatinya selama sepuluh tahun itu, yang sangat menguatirkannya sekarang buyar dalam sedetik dengan kata-kata bijaksana gurunya.

Maka ia lantas berbangkit dengan wajahnya riang gembira.

“Mertuamu itu. In Kouwcoe, adalah sahabatku,” kata sang guru kemudian. “Aku mengagumi ilmu silatnya. Dialah seorang laki-laki yang luar biasa. Walaupun sifatnya agak sesat, dia bukan seorang buruk. Maka kami dapat menjadi sahabat satu dengan yang lain.”

Kembali kata-kata ini melegakan hati Coei San. Wan Kiauw dan yang lainnyapun berpikir: “Sungguh Soehoe sangat mencintai muridnya yang ke lima ini hingga sekalipun mertuanya, siraja iblis, dia senang menjadikannya sahabatnya.”

Selagi guru dan murid-muridnya itu berbicara, seorang kacung masuk untuk menyampaikan kabar. “In Kauwcu dari Peh bie kauw mengirim orang membawa hadiah untuk Ngo soesiok!”

“Mertuamu mengirim bingkisan!” berkata Thio Sam Hong sambil tertawa “Coei san, pergi kau sambut tamu!”

“Baik soehoe !” jawab murid itu.

“Nanti aku ikut bersama !” kata In Lie Heng.

Thio Siong Kee tertawa dan berkata: “Yang mengirim bingkisan bukannya Kim pian Kie Loo enghiong. Buat apa kau repot tidak keruan?”

Mukanya Lie Heng menjadi merah tetapi ia diam saja, terus ia mengikuti Coei San.

Di toa thia, ruang depan, terlibat dua orang yang usianya sudah lanjut. Mereka berdandan sebagai bujang tetapi pakaian mereka rapi. Begitu mereka melihat Coei San, mereka maju beberapa tindak untuk memberi hormat sambil berlutut seraya berkata: “Thio Kouwya baik ! Terimalah horrnat kami In Boe Hok dan In Boe Lok!”

Coei san membalas hormat kedua orang itu dengan mengangguk.

“Silahkan koankee bangun,” katanya (Koankee itu kuasa rumah). Meski begitu, ia heran dan berkata didalam hatinya: “Nama mereka ini aneh. Orang biasa memakai nama Pang An dan lain-lain sebagainya untuk bujang. Kenapa mereka memakai nama Boe Hok dan Boe Lok yang berarti tidak punya rejeki dan tidak jaya?”

Ia memandang kedua pegawai mertuanya itu, dimana terlihat olehnya pada muka In Boe Hok ada tapak bacokan golok yang panjang, dari jidat kanan turun kebawah, mengenai hidung dan bibir kiri, sedang In Boe Lok bekas diserang cacar. Terang wajah mereka buruk sekali. Usia mereka masing-masing sudah lima puluh tahuh lebih.

“Apa kedua mertuaku baik ?” tanya Coei San. “Setelah ada ketikanya, bersama nonamu aku akan pergi menjenguknya. Tidak disangka, sekarang kedua orang tua itu telah mendahului mengirim bingkisan. Bagaimana aku dapat menerimanya? Kamu baru datang dari tempat yang jauh, silahkan duduk dan minum teh.”

Boe Hok dan Boe Lok tidak berani duduk. Mereka hanya menyerahkan daftar barang- barang bawaannya itu. Sikapnya sangat menghormat. Kata mereka: “Looya dan Thay thay kami mengatakan agar ini sedikit barang sukalah kouwya menerimanya tanpa dibuat tertawaan.”

Mereka itu menyebut kouwya, atau baba mantu.

“Terima kasih!” berkata Coei San yang lantas membeber daftar itu, melihat mana, ia terperanjat. Ia mendapatkan belasan helai daftar dengan huruf air emas yang menyebutkan nama namanya dua ratus rupa barang yang menjadi hadiah itu, umpamanya sepasang singa-singaan kemala, sepasang burung hong batu hijau, alat tulis dari bulu serigala serta bak dan bakhinya yang istimewa. Rupanya Peh bie Kauwcoe mengetahui mantunya mengerti ilmu sastra, maka ia mengirim perabot tulis yang berhanga mahal itu. Yang lainnya tarnyata rupa pakaian, kopia, rupa-rupa perhiasan dan lain lainnya, yang lengkap sekali.

Selama itu Boe Hok telah pergi keluar untuk kembali bersama sepuluh tukang pikul yang memikul barang-barang itu.

Coei San ragu-ragu.

“Aku biasa hidup melarat dan sederhana, untuk apa semua barang mewah ini?” pikirnya. “Tapi mertuaku mengirimnya dari tempat demikian jauh. Kalau aku menampik, aku jadi berlaku tidak hormat”

Maka terpaksa ia menerimanya. Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih.

“Nona kamu habis melakukan perjalanan jauh, kesehatannya sedikit tenganggu,” katanya kepada kedua pesuruh itu. “Maka itu, koankee, lebih baik kamu berdiam dulu disini untuk beberapa hari, nanti baru kamu menemui nona kamu itu,”

“Looya dan Thay thay sangat kangen kepada Kouwnio. Mereka mengharuskan kami pulang hari ini juga untuk menyampaikan balasan kabar,” kata Boe Hok. “Kalau Kouwnio kurang sehat, kami hanya memohon untuk bertemu saja sebentar guna menghaturkan hormat kami, habis ltu kami segera berangkat pulang.”

“Kalau begitu, harap tunggu sebentar,” berkata Coei San. Ia lantas masuk, untuk menemui isterinya, guna menyampaikan warta girang.

So So girang sekali lekas lekas ia menyisir rambutnya dan berdandan, lalu ia pergi keruang samping untuk menemui kedua pegawai ayahnya itu. Ia menanyakan kesehatan orang tua serta kakaknya, setelah mana, ia minta mereka dahar dan minum dulu.

Boe Hok dan Boe Lok lantas meminta diri untuk segera berangkat pulang.

Sesaat Coei San bersangsi ataukah kedua pesuruh itu harus diberi persen, tapi ia tak punya uang. Biarpun semua uang digunung itu dikumpulkan masih belum cukup untuk menhadiahkan mereka berdua. Dasar polos, sembari tertawa, ia berkata: “Nona kalian menikah dengan orang miskin yang tidak bisa memberi persen pada kalian, harap kalian maklum saja!”

Boe Hok dan Boe Lok merendahkan diri.

“Tidak apa,” kata mereka. “Kamipun tidak berani menerima. Malah kami bersyukur selalu telah dapat melihat wajahnya Boe tong Ngohiap!”

“Mereka bicara rapi sekali, mereka tentu mengerti baik ilmu surat,” pikir Coei San selagi ia mengantar orang sampai dipintu. “Cukup Kouw ya. Kami hanya mengharap Kouwya dan Kouwnio lekas datang menjenguk agar Looya dan Thaythay tidak terlalu lama mengharap harap. Semua anggauta kami juga mengharap sekali dapat melihat wajah Kouwya!”

Atas itu, Coei San melainkan bersenyum.

“Ah! hampir aku lupa!” kata In Boe Lok tiba-tiba. “Hal ini perlu disampaikan kepada Kouwya. Dalam perjalanan kemari, dirumah penginapan di Siangyang kami bertemu dengan tiga piauwsioe, sambil berbicara mereka itu menyebut nyebut nama Kouwnio….”
“Oh begitu!” Kata Coey San. “Apakah kata mereka?”

“Kata yang seorang,” berkata Boe Lok “Meskipun Boe tong Cit hiap telah melepas budi besar terhadap kita, akan tetapi soal jiwanya tujuh puluh lebih orang-orang Liong boen Piauw kiok tidak dapat dibikin habis secara begini saja. Bicara lebih jauh mereka mengatakan, biarpun mereka tak dapat memperhatikan lagi urusan itu tetapi mereka hendak pergi pada Sin Chio Tin Pat hong Tam Loolonghiong di kota Kay hong untuk minta biarlah jago tua itu sendiri yang berurusan dengan Kouwya.”

Mendengar itu, Coei San hanya mengangguk. Ia tidak mengatakan suatu apa.

In Boe Lok merogo sakunya, mengeluarkan tiga batang bendera kecil berbentuk segitiga. Sembari mengangsurkan itu kepada Coei San dengan kedua tangannya, ia berkata pula: “Oleh karena mendengar ketiga piauwsoe itu bernyali demikian besar, berani membentur kepalan batu, maka urusan ini kami telah mengalihkan kepada Peh bie kauw.”

Coei San terkejut melihat ketiga bendera tiga itu. Yang pertama bersulamkan harimau galak, kepalanya dimiringkan, mulutnya dipentang lebar, dan tubuhnya lagi nongkrong. Itulah benderanya Houw po Piauwkiok. Bendera yang kedua bergambar sulaman seekor burung ho putih lagi terbang ditengah udara, itulah benderanya Chin Yang Piauwkiok, sebab burung itu diartikan in Ho, ketua piauwkiok itu. Bendera yang ketiga yang disulam juga, sulamannya merupakan sembiIan ekor burung walet (yan). Terang itulah bendera Yan In Piauwkiok, sebab disitu ada huruf yan itu, yang berarti “walet” sedang “sembilan” walet, bilangan “sembilan” (kioe) diambil dari namanya Kiong Kioe Kee.

“Kenapa kau mengambil bendera mereka itu?” ia tanya dengan heran.

“Kouwya toh baba mantunya Peh bie kauw!” menyahut In Boe Lok. “Dan Kie Thian Pioe dan Kiong Kioe Kee ketiga orang itu makhluk-makhluk macam apa? Mereka tahu bahwa mereka hutang budi kepada Boe tong Cit hiap, kenapa mereka masih mau pergi kepada Sin chio Tin pat hong, si tua bangka she Tam di Kay hong itu? Agar si tua bangka datang berurusan dengan Kouw ya? Bukankah itu terlalu tidak pantas? Sebenarnya Looya dan Thay thay hanya menugaskan kepada kami untuk mengantar hadiah kepada Kouwya, tetapi setelah dapat mendengar kata kata ketiga orang piauwsoe itu yang kurang ajar…..”

“Sebenarnya mereka tidak kurang ajar…” kata Coei San.

“Benar, sebab Kouwya sangat bijaksana dan pemurah,” kata Boe Hok, “Tetapi kami yang tidak dapat menahan sabar sudah lantas membereskan mereka semuanya dan mengambil sekalian bendera mereka ini…..”

Thio Coei San terkejut. Ia tahu Kie Thian Pioe bertiga adalah Piauwsee piauwsoe kenamaan. Meskipun mereka itu bukan orang Rimba Persilatan nomor satu, mereka mempunyai masing masing kepandaian sendiri sendiri. Kenapa dua orang sebawahan In Thian Ceng ini memandang mereka enteng sekali?

Umpama In Noe Hok ngoceh saja, toh bendera ketiga piauwkiok itu telah berada ditangan mereka berdua. Bukankah jangan kata mengambilnya dengan berterang, dengan jalan mencuripun sukar? Maka itu, apa mungkin mereka merobohkan tiga Piauwsoe itu dengan obat atau hio pulas?

“Bagaimana caranya bendera ini diambil dari tangan mereka?” akhirnya ia tanya.

“Ketika itu Jie tee Boe Lok menantang mereka”, Boe Hok memberikan keterangan. “Tempat yang dipilih yalah pintu luar kota selatan. Mereka bertiga, kamipun bertiga.”

“Pertaruhan kita yalah jikalau mereka yang kalah, mereka mesti menyerahkan bendera mereka dengan mereka mesti mengutungkan sebelah tangan sendiri serta untuk selanjutnya tidak dapat mereka menaruh kaki, sekalipun satu tindak di wilayah propinsi Ouw pak.”

Coei San jadi bertambah heran. Hebat pertaruhan itu. Ia jadi semakin tidak berani memandang enteng kepada kedua Koankee itu.

“Bagaimana kemudian jadinya?” ia tanya pula.

“Kemudian tidak ada apa apa yang aneh” kata Boe Hok. “Mereka itu menyerahkan bendera mereka serta masing-masing menabas kutung lengan mereka yang kanan seraya mengatakan untuk seumur hidupnya mereka tidak akan menginjak pula wilayah Ouw pak.”

Diam-diam giris hatinya Coei San. Pikirnya: “Benar-benar telengas orang-orang Peh bie kauw itu…”

Boe Hok berkata pula: “Seandainya Kouwya menganggap turun tangan kami terlalu enteng, sekarang juga kami pergi menyusul mereka, untuk mengambil kepala mereka!”

“Bukannya enteng, bahkan berat!” berkata Coei San cepat-cepat.

“Kamipun berpikir,” kata Boe Hok pula. “kami datang untuk mengantar hadiah kepada Kouwya. Itu artinya girang dibalik girang, maka jikalau kami mengambil jiwa orang, itulah berarti alamat tidak baik.”

“Benar, kamu memikir sempurna sekali,” Coei San memuji. “Barusan kamu menyebut kamu datang bertiga, mana dia satu lagi?”

“Dialah saudara kami, In Boe Sioe,” menyahut Boe Hok.

“Sesudah mengusir ketiga piauwsoe itu, kami berdua lantas berangkat kemari menjeguk kouwya, sedang saudaraku itu terus berangkat ke Kayhong. Kami kuatir situa bangka she Tam nanti keburu mendapat kabar dan lantas datang untuk banyak rewel. Ya, Boe Sioe meminta kami mewakilkan menyampaikan hormatnya kepada Kouwya.”

Habis berkata, koankee itu berlutut dan mengangguk untuk memberi hormat.

Coei San membalas dengan menjura. Ia merendah dan berkata bahwa tidak dapat ia menerima kehormatan itu.

Didalam hatinya, baba mantunya Peh bie Kauwcoe lantas memikirkan jago tua Tam Soei Lay, yang oleh dua saudara Boe ini menamakan “si tua bangka she Tam”. Ia bergelar Sin Chio Tin Pat Hong, artinya ia jago ilmu silat yang menggetarkan delapan penjuru negara. Ia tahu orang itu telah menjagoi selama empatputuh tahun. Dengan perginya In Boe Sioe seorang diri, ia berkuatir. Siapapun yang akan terluka diantara mereka berdua, hatinya tidak senang.
“Sudah lama aku mendengar nama Tam Soei Lay,” katanya. “Ia seorang Koencoe. Maka Jiewie tolong kamu lekas pergi menyusul ke Kayhong, untuk minta toako Boe Sioe… Bukan! Untuk berbicara dengan Soei Lay. Jikalau mereka berdua sama-sama besikap keras dan jadi bentrok, itulah tidak bagus.”

“Jangan Kouwya merasa kuatir”, berkata Boe Lok dengan tawar. “Tua bangka she Tam itu tidak nanti berani melawan Shatee Boe Sioe. Jikalau Shatee memberitahukan dia untuk jangan usilan, pasti dia akan mendengar kata.”

“Begitu?” tanya Coei San bersangsi. Ia pikir mungkin Tam Soey Lay sendiri sudah tua dan dapat berlaku sabar, tetapi bagaimana dengan orang orang didalam rumahnya? Sedikitnya Soei Lay mempunyai duapuluh murid yang sudah lihay, mana mereka jeri terhadap Boe Sioe?

Boe Hok dapat melihat roman ragu ragu dari baba mantu majikannya. Ia berkata: “Pada duapuluh tahun yang lalu, tua bangka she Tam itu ialah pecundangnya Boe Sioe. Juga ada sesuatu yang penting yang berada ditangan kami. Maka Kouwya jangan kuatir. Harap Kouwya tetap baik!” tambahnya dan bersama saudaranya ia lantas memberi hormat untuk meminta diri dan berangkat pergi.

Coei San membiarkan mereka itu berlalu. Tangannya masih memegang ketiga helai bendera piauwkiok. Pikirannya bekerja. Tadinya ia memikir untuk minta dua orang itu pergi mendengar dengar halnya Boe Kie, anaknya, tetapi berat untuk ia mengatakannya. Ia kuatir merusak nama kakaknya yang nomor dua. Maka diakhirnya, dengan ayal-ayalan ia kembali kekamarnya.

In So So duduk menyender diatas pembaringan sambil memeriksa daftar barang-barang bingkisan ayah dan ibunya. Disamping itu, ia berduka dan berkuatir untuk Boe Kie yang dibawa lari musuh. Sekarang ini entah bagaimana nasib anak itu. Ketika ia melihat suaminya masuk, ia heran melihat roman suaminya itu tidak tenang.

“Kenapa eh ?” tanyanya.

“Sebenarnya Boe Hok, Boe Lok dan Boe Sioe itu orang macam apa?” sang suami balik menanya.

Sudah 10 tahun So So menikah dengan Coei San. Ia tahu suami itu tidak menyukai Peh bie kauw, kumpulan agama yang dipimpin ayahnya. Dari itu, mengenai agamanya itu serta rumah tangganya, tidak mau ia membicarakannya, sedang suaminyapun tidak pernah menanyakannya. Maka itu, heran juga ia mendengar pertanyaan suaminya ini. Tapi ia menjawab: “Mereka bertiga, pada duapuluh tahun yang sudah adalah penjahat-penjahat besar yang telah malang melintang diwilayah barat daya. Pada suatu hari mereka kena dikepung serombongan jago, sampai mereka tidak berdaya untuk melawan atau melolos kan diri. Kebetulan ayahku lewat di situ dan melihatnya. Senang ayah melihat keberanian mereka yang tidak sudi menyerah kalah. Maka ayah lantas mengulurkan tangan, menolong mereka. Lantaran itu, mereka jadi sangat bersyukur dan mereka bersumpah bahwa seumurnya mereka rela menjadi hamba-hamba ayah. Mereka membuang she dan nama mereka. Mereka memakai nama yang sekarang: In Boe Hok, Boe Lok dan Boe Sioe. Sejak kecil aku berlaku baik kepada mereka, tidak berani aku memandang rendah. Mereka tidak diperlakukan sebagai bujang-bujang biasa. Ibu pernah memberitahukan aku, mengenai kepandaian mereka. Walaupun ahli silat yang kenamaan belum tentu gampang-gampang dapat menandingi mereka”

“Begitu!” kata Coei San yang terus menuturkan cerita Boe Kok tentang bertempuran dengan ketiga piauwsoe itu, yang benderanya dirampas serta bagaimana ketiga piauwsoe itu mengutungi lengannya sendiri.

Mendengar itu, In So So mengerutkan alis.

“Dengan berbuat begitu, mereka sebenarnya bermaksud baik,” kata si isteri. “Aku tidak menyangka bahwa kelakuan orang-orang yang menyebut diri dari kalangan sejati, mirip dengan orang kaum sesat. Ngoko, urusan ini dapat menambah kepusingan untukmu. Ah, aku tidak tahu bagaimana baiknya ini diatur…..”

Ia berhenti sejenak, untuk kemudian menambahkan: “Biarlah nanti setelah Boe Kie dapat dicari, kita balik lagi ke Peng Hwee to ….”

Belum lagi Coei San menanggapi kata-kata isterinya itu, diluar terdengar suara berisik dari In Lie Heng yang berseru: “Ngoko, Mari lekas! Kau ambil pit besar. Lekas kau menulis lian dan lain lainnya!” Kata-katanya itu lantas disusul dengan: “Ngo so, jangan kau menyesalkan aku yang mengajak Ngo ko keluar! Siapa suruh dia dijuluki Ginkauw Tiat hoa?”

Maka keluarlah Coei San, untuk selanjutnya lohor itu bekerja berenam, mengepalai saudara-saudaranya menghias kuil mereka, terutama untuk memajang banyak lian pilihan Song Wan Kiauw yang ditulis oleh Coei San. (peep: lian = ???)

Besoknya pagi-pagi, Wan Kiauw semua berdandan rapi dengan pakaian baru mereka. Disaat mereka hendak memayang Jie Thay Giam, untuk diajak pergi keluar memberi selamat kepada guru mereka, tiba-tiba datang satu tootong, yaitu kacung imam, yang membawa sehelai karcis nama.

Song Wan Kiauw yang menyambuti, tetapi mata Thio Siong Kee yang liehay sudah lantas membaca tulisan diatasnya, bunyinya: “Ho Thay Ciong yang muda dari Koen loen san beserta sekalian muridnya memberi selamat kepada Thio Cinjin. Semoga panjang umur sebagai gunung Selatan!” Maka heranlah ia dan lantas ia berkata: “Ketua dari Koen loen pay datang sendiri memberi hormat kepada Soeho! Ia datang dari tempat jauh selaksa ialah suatu pemberian muka terang yang tak kecil!”

Wan Kiau pun berkata: “Tetamu kita ini bukan tetamu sembarangan, harus kita minta Soe hoe sendiri yang menyambutnya!” Maka ia lantas lari masuk guna memberitahukan gurunya.

“Ciangboenjin dari Koen loen pay Ini kabarnya belum pernah datang ke Tionggoan. Maka luar biasa yang ia mendapat tahu hari ulang tahunku,” berkata sang guru, yang lantas memimpin keenam muridnya melakukan penyambutan.

Ho Thay Ciong mengenakan jubah kuning, romannya ramah dan agung, agaknya tepat ia menjadi ketua sebuah partai persilatan. Ia diiringi deIapan muridnya antaranya terdapat See hoa coe serta Wie Soe Nio.

Thio Sam Hong menyambut sambil menjura dan lantas menghaturkan terima kasihnya. Song Wan Kiauw berenam memberi hormat sambil berlutut.

Ho Thay Ciong membalas hormatnya tuan rumah, sedang hormatnya Wan Kiauw beramai di balas dengan setengah kehormatan. “Nama Boe tong Liok hiap tersohor sekali, maka itu hormatmu itu tidak dapat aku menerimanya,” katanya.

Tetamu itu lalu diundang keruang tengah, dimana ia dipersilahkan duduk dan disuguhkan teh.

Belum lama, satu tootong datang pula dengan selembar karcis nama. Ketika Wan Kiauw menerimanya, ternyata itulah kartu nama dari rombongan Khong tong pay.

Didalam kalangan persilatan masa itu, Siauw lim pay yang namanya paling tersohor, Koen loen pay dan Go bie pay yang kedua, baru Khong Tong pay. Maka itu, kedudukannya orang Khong tong pay ini seimbang dengan Song Wan Kiauw. Akan tetapi Thio Sam Hong manis budi, ia berbangkit seraya berkata kepada tetamunya: “Ada tetamu dari Khong tong pay, hendak aku menyambutnya, dari itu minta sudilah Ho looyoe menanti sebentar.”

Ho Thay Ciong mengangguk, akan tetapi di dalam hatinya ia berkata: “Yang datang hanya orang Khong tong pay, cukup kalau mereka disambut saja oleh seorang murid…..”

Tidak lama muncullah Khong tong Ngo loo bersama muridnya. Ho Thay Ciong menemui mereka itu tanpa berbangkit, ia melainkan membungkuk sambil berduduk.

Tidak lama pula datanglah lain-lain tetamu, Seperti dari partai Sin koen boen, Hay see pay, Kie keng pang, Boe san pay dan lainnya. Maka repotlah Wan Kiauw dan saudara-saudaranya. Mereka ini bermaksud bersuka-ria bersama gurunya saja. Siapa tahu telah datang demikian banyak tetamu.

Thio Sam Hong juga tidak gemar ramai-ramai. Ketika ia berulangtahun usia tujuhpuluh, delapan puluh dan sembilan puluh, ia telah memesan murid muridnya untuk jangan memberitahukan itu pada banyak orang. Maka ia tidak menyangka kali ini ia kedatangan begitu banyak tetamu, sehingga tidaklah heran, kursipun sampai kekurangan hingga terpaksa Wan Kiauw beramai menggunakan batu-batu bundar sebagai gantinya.

Semua ketua partai dapat duduk dikursi, tetapi murid murid mereka terpaksa duduk dibatu bundar itu. Untuk minum teh juga, cawan kehabisan dan sebagai gantinya dipakai mangkok nasi.

Selagi Thio Siong Kee dan Thio Coei San beara dikamar sebelah timur, sang kakak menanya adik seperguruannya: “Ngo tee, apakah kau dapat melihat sesuatu?”

“Agaknya mereka telah berdamai Iebih dulu,” berkata Coei San. “Lihatlah sikap mereka di waktu mereka baru bertemu satu pada yang lain. Beberapa orang tampaknya heran tetapi terang itulah berpura-pura belaka.”

“Kau benar. Mereka ini bukannya bersungguh hati datang untuk memberi selamat kepada Soehoe,” kata Siong Kee kemudian.

“Memberi selamat hanya alasan. Yang benar mereka datang untuk menegur!” Kata Coei San.

“Bukan, bukan menegur.” kita Siong Kee. “Perkara jiwa keluarga Liong boen Piauw kiok tidak nanti dapat mengundang Ho Thay Ciong dari Koen loen pay.”

“Habis apakah itu untuk urusannya Kim mo Say ong Cia Soen ?” tanya Coei San.

Siong Kee tertawa dingin.

“Hmm! Mereka memandang terlalu enteng pada Boe tong pay!” katanya. “Walauputn mereka mengandalkan jumlah yang banyak untuk memperoleh kemenangan, apakah mereka menyangka murid-murid Boe tong pay dapat menjual sahabatnya? Ngo tee, meski Cia Soen itu jahat tak berampun, tidak nanti saudaramu membuka mulut untuk memberitahukan hal dia.”

“Sieko benar. Sekarang bagaimana kita harus bertindak ?”

Siong Kee berdiam untuk berpikir. “Sekarang ini kita berhati-hati saja,” sahutnya. “Cukup asal kita bersatu padu, Boe tong Cit hiap sudah kenyang menghadapi badai dan gelombang dahsyat, dari itu mana kita jeri terhadap mereka ini?”

Siong Kee tetap menyebut Boe tong Cit hiap, tujuh jago dari Boe tong pay, walaupun Jie Thay Giam telah bercacad. Ia tidak ingin gurunya sampai turun tangan, terutama sebab guru itu lagi merayakan ulang tahunnya yang keseratus. la menghibur saudaranya itu meski ia merasa urusan sulit sekali.

Selanjutnya, Wan Kiauw bertiga Jie Lian Cioe dan In Lie Heng yang melayani tetamu-tetamu di toathia, ruang besar. Mereka merasa semakin pasti bahwa sikap sekalian tetamu itu luar biasa.

Selagi orang berbicara, kembali ada kacung yang masuk dengan wartanya: ‘Murid kepala dari Go bie pay, Ceng hian Soe thay, datang bersama lima Soetee dan Soemaynya untuk memberi selamat kepada Soe couw !”

Mendengar warta itu, Wan Kiauw dan Lian Cioe bersenyum. Keduanya memandang Lie Heng. Justeru itu Boh Seng Kok pun tampak masuk bersama sembilan tetamunya yang baru tiba, sedang Thio Siong Kee dan Thio Coei San baru muncul dari dalam. Mereka ini juga mendengar warta itu, mereka turut memandang Lie Heng sambil bersenyum.

Saudara she In ini menjadi merah mukanya, likat sikapnya. Tapi tanpa memperhatikan itu, Coei-San menarik tangannya Soe tee itu, untuk diajak keluar sambil tertawa, ia kata: “Mari, mari… Mari kita menyambut tetamu!”

Diluar terlihat Ceng hian Soe Thay tengah menanti bersama lima adik seperguruannnya. Bhiksuni itu berusia empatpuluh lebih, tubuhnya tinggi dan besar, romannya gagah. Ia seorang wanita, tetapi tubuhnya lebih tinggi daripada kebanyakan pria. Dari lima saudara seperguruannya, satu adalah seorang pria kurus, usia tigapuluh tahun, dua yang wanita, satu antaranya yalah Ceng hie Soe thay, yang Coei San pernah ketemukan didalam perahu ditengah laut. Dua wanita lainnya, yang satu yalah nona umur kurang lebih duapuluh tahun, yang mulutnya senantiasa tersungging senyuman, dan yang lainnya berkulit halus, tubuhnya jangkung, romannya cantik. Dia ini, terus menunduk kan kepala dan tangannya selalu membuat main ujung bajunya. Sebab ialah Nona Kie yang menjadi tunangannya In Lie Heng.

Bersama Lie Heng, Coei San menyambut tetamu dari Go bie san yang mereka pimpin masuk ke dalam. Selama itu, Lie Heng tidak berani mengawasi Siauw Hoe, tunangannya. Hanya setibanya dipaseban, selagi yang lainnya sudah berada disebelah depan, baru ia berpaling, justeru si nona pun melirik kearahnya. Dengan begitu bentroklah sinar mata mereka.

Adik seperguruan Siauw Hoe melihat langak soe cienya ini, dia berdehem, sehingga kedua muda mudi itu menjadi kemalu-maluan, keduanya lantas berpaling kelain arah. Soemoay itu tertawa geli dan berkata: “Soecie, lihat, In Soeko lebih pemaluan dari padamu!”

Hati Siong Kee lega juga karena datangnya rombongan Go Bie pay. Ia percaya, kalau sampai terjadi sesuatu, Ceng hian Soe thay tentu bakal membantu pihaknya, mengingat Nona Kie tunangannya Lie Heng.

Sedang tetamu datang begitu banyak, pihak Giok hie koan tidak bersiap siaga. Mana bisa di adakan perjamuan besar? Maka juga pihak imam ini hanya bisa menyuguhkan masing-masing tetamu semangkok nasi putih campur sayur tauwhoe dan kwacay.

Wan Kiauw berulang ulang minta maaf karena dia tidak dapat menjamu semua tetamunya lebih dari pada itu. Sebaliknya kawanan tetamu itu sembari dahar mereka saban-saban memandang ke arah luar seperti juga mereka lagi menantikan orang.

Diam diam Song Wan Kiauw dan saudara saudaranya memperhatikan gerak gerik mereka. Semua ciang boen jin atau Pangcoe tidak ada yang membekal senjara, tetapi banyak murid mereka membawa senjata. Hanya murid-murid Go bie pay, Koen loan pay dan Khong tong pay yang bertangan kosong.

Boe tong pay belum lama didirikan, di kaki gunung belum dipasang “Kay Kiam Giam”, yaitu batu tanda untuk meletakkan pedang. Dengan “pedang” diartikan pelbagai macam senjata tajam. Karena itu, meskipun ada yang membawa pedang naik kegunung dan termasuk perbuatan kurang pantas, sekalian tetamu itu tidak dapat dilarang kedatangannya. Tuan rumah sendiripun tidak dapat menegur. Cuma di dalam hati merasa tidak puas. Kata Wan Kiauw didalam hatinya: “Kalian datang untuk memberi selamat pada guruku, mengapa kalian diam-diam membekal senjata?”

Ada lagi yang tidak memuaskan pihak Boe tong pay, yang membikin terlebih nyata bahwa tetamu-tetamu itu mengandung sesuatu maksud. Pelbagai bingkisan yang dibawa oleh mereka, mieshoa dan lainnya, semua barang pembelian sambil lalu disusun di kaki gunung Boe tong san, semua dibeli secara kesusu. Bingkisan semacam itu tidak saja tidak tepat untuk Thio Sam Hong, juga tidak sesuai dengan derajatnya pelbagai tetamu golongan ketua itu. Melainkan bingkisan Go bie pay yang tepat, ialah enam belas perabot kumala berikut sepotong jubah warna merah yang sekalian disulamkan seratus huruf “Sioe” (umur) pelbagai model.

Thio Sam Hong girang sekali. Ia mengucapkan terima kasih. Ia memuji kepandaian menyulam itu. Murid murid Go bie pay bukan hanya pandai silat, katanya.

Selagi gurunya itu berkata kata, Siong Kee terus berpikir: “Entah semua orang ini masih menantikan siapa lagi…. Soehoe tidak gemar akan keramaian. Maka juga sahabat-sahabat Boe tong pay tidak ada yang diundang. Kalau tidak, tidaklah kita menjadi mencil semacam ini hingga kita tidak mempunyai bala bantuan…..”

Thio Sam Hong biasa merantau. Tujuh murid nya juga banyak perbuatan baiknya. Jikalau melepas undangan mendatanglah banyak sahabat yang liehay.

Jie Lian Cioe, yang berpikir seperti Siong Kee, berbisik pada adik seperguruannya itu: “Kita sudah pikir sehabis ulang tahun Soehoe, akan melepas undangan guna rapat orang gagah di Lauw teng Hong ho lauw, siapa tahu karena kita berayal, sekarang kita mengalami kegagalan ini.”

Ia bermaksud didalam rapat itu memberi ketika kepada Thio Coei San untuk menjelaskan, bahwa Coei San tidak menjual sahabat agar dia bebas, atau kalau ada yang mendesaknya, pihaknya mungkin memperoleh simpati dan bantuan dari banyak hadirin lainnya. Diluar dugaan, pihak “musuh” telah mendahului, sekarang mereka meluruk datang.

“Sekarang kita cuma dapat berkelahi mati-matian,” berbisik Siong Kee kemudian.

Diantara Boe tong Cit hiap, Siong Kee yang paling pandai berpikir. Setiap ada kesulitan, saban-saban ialah yang memperoleh pikiran baik. Maka itu, mendengar suaranya Soetee ini, Jie Lian Cioe kata didalam hatinya: “Sampaipun Soetee tidak berdaya, rupanya enam murid Boe tong pay harus mengucurkan darahnya diatas gunungnya ini.”

Coba orang berkelahi satu demi satu, hanya Thie khiem Siang seng Ho Thay Ciong yang dapat menandingi Boe tong Liok hiap. Tetapi orang pasti akan mengepung, itu artinya bukan satu lawan duapuluh tetapi satu lawan empatpuluh.

Siong Kee menarik ujung baju Lian Cioe untuk diajak kebelakang ruang. Ia kata pada kakaknya yang nomor dua itu: “Kalau sebentar pembicaraan memuncak kesuasana buruk, kita mesti menantang satu lawan satu. Syukur kalau siasat kita ini kesampaian. Kalau tidak, terang mereka bakal main keroyok ….” Lian Cioe mengangguk.

“Dalam kesulitan ini, paling perlu kita menolong Shatee,” katanya. “Kita mesti jaga hingga ia tidak terjatuh kedalam tangan musuh, supaya ia tidak menderita pula, baik bathin maupun lahir. Tugas ini aku serahkan padamu. Ngo teehoe telah sembuh tetapi ia belum pulih benar kesehatannya, maka itu kau mintalah Ngotee yang melindunginya. Untuk menyambut, tugasnya terjatuh padaku dan Toako berempat.”

Siong Kee mengangguk. “baik,” katanya. Ia berdiam sejenak, lantas ia berkata pula: “Mungkin ada jalan untuk kita lolos dari bahaya…”

“Apakah itu, Soetee? Biar kita mesti menerjang bahaya dulu, tidak apa.”

“Aku memikir untuk menggunakan siasat, ialah kita berenam masing-masing meyerbu satu lawan” Siang Kee mengutarakan pikirannya. “Didalam satu jurus, kita mesti berhasil membekuk musuh itu agar musuh lainnya menjadi jeri dan tidak berani mendesak kita…”

Lian Cioe ragu ragu: ” Yang lainnya tetntulah bakalan mengepung kita. Juga umpamanya kita berhasil, masih ….”

“Dalam saat berbahaya begini, jangan pikir banyak banyak,” kata Siong Kee. “Kita gunakan saja jurus cengkeraman naga Liong jiauw Ciat hoe cioe!”

“Hari ini hari ulang tahun Soehoe,” kata Lian Cioe, “artinya hari ini hari baik. Apakah tidak terlalu telengas untuk menggunakan jurus itu?”

Jago Boe tong yang nomor dua itu bersangsi oleh kerena ia mengenal baik jurusnya itu, semacam jurus Kim na Coei hoat atau menangkap tangan sedang Liong jiauw Ciat hoat cioe itu berarti “kuku naga memutuskan.” Itulah jurus paling lihay dalam Boe tong pay. Ketika Lian Cioe berhasil dengan jurus itu, ia masih kurang puas. Sebahnya ialah kalau musuh lihay, masih dapat meloloskan tangannya dari tangkapan, maka dengan kecerdikannya, ia mengolahnya. Dan ia berhasil menambah itu, menciptakan duabelas jurus hubungannya.

Dalam memilih murid, Thio Sam Hong memperhatikan juga kecerdasan setiap murid. Maka itu murid-muridnya dapat menggunakan otak mereka, dimana perlu mereka bisa mengubah ilmu silat yang diajarkan gurunya untuk disempurnakan. Ketika Lian Cioe berhasil dengan ciptaannya, ia menjalankan itu didepan gurunya. Sang guru cuma mengangguk, tidak mengiakan juga tidak menolak. Melihat sikap guru itu Lima Cioe tahu rupanya masih ada cacad dalam ciptaannya itu, ia lantas meyakinkan terus. Selang beberapa bulan, kembali ia mempertunjukkannya didepan gurunya. Kali ini Thio Sam Hong menghela napas dan berkata:”Lian Cioe, ciptaanmu ini jauh lebih lihay dari pada jurus yang aku ajarkan, hanya sambaranmu pata pinggang tidak peduli siapa yang menjadi korban, dia bakal terluka didalam hingga putus daya turunannya. Apakah kau menganggap ajaranku, yaitu ilmu silat sejati masih kurang, hingga kau menghendaki jurus yang membikin, hanya dengan satu serangan, lawan lantas tidak berkutik pula?”

Mendengar perunturan itu. Lian Coe mengeluaran keringat dingin, ia bergidik seorang diri.

Seberapa hari selewat itu, Thio Sam Hong mengumpulkan ketujuh muridnya dan bicara kepada mereka tentang ciptaan Lian Cioe itu, kemudian dia menambahkan: “Ciptaan Lian Cioe yang menjadi duabelas jurus berkat ketekunannya adalah suatu ilmu pukulan yang istimewa. Kalau ilmu itu dibuang karena kata-kataku satu orang, itulah sayang, maka itu kamu pergilah belajar pada Lian Cioe, untuk mempelajari itu, supaya masing-masing bisa menggunakannya. Aku melainkan hendak memesan, kecuali kalau bertemu saat mati hidup, janganlah itu sembarang dipakai. Sekarang di bawah nama Liong Jiauw itu, aku menambahkan dua huruf ‘Ciat hoe’, yang berarti ‘menutup pintu’. Ingatlah kamu, akibatnya serangan pukulan ini dapat membuat musuh putus turunannya, jadi inilah jurus yang mematikan!”

Semua murid itu menerima baik pesanan guru mereka. Maka yang enam lantas belajar pada Lian Cioe. Mereka telah meyakinkan ilmu itu, tetapi mereka belum pernah menggunakannya, sebab mereka taat kepada pesan guru mereka. Adalah sekarang ini, karena keadaan sangat berbahaya, Siong Kee mengajukan pikirannya itu yang membuat si orang she Jie ragu-ragu.

“Memang dengan terkena serangan kita, lawan bakal putus turunannya,” kata Siong Kee kemudian. “tetapi kita masih mempunyai jalan lain. Ialah kita mencari lawan dalam dirinya seorang pendeta imam, atau kalau tidak, kita hajar lawan-lawan yang usianya sudah tujuh atau delapanpuluh tahun.

Mendengar itu, Lian Cioe tertawa. “Sungguh cerdik kau, Soetee!” Ia memuji. “Memang pendeta atau imam tidak bakal mempunyai anak!”

Sampai disitu, mereka sudah mencapai persetujuan, maka keduanya lantas mencari empat saudara yang lainnya, untuk mengisik, supaya mereka masing-masing menghadapi satu lawan yang tangguh atau kenamaan. Tanda untuk turun tangan, ialah kalau Thio Siong Kee sudah berseru.

Jie Lian Cioe sendiri sudah lantas memilih bakal mangsanya yaitu anggauta paling tua dari Khong tong Ngo too, sedang Thio Coei San mengincar See hoa coe dari Koen loen pay.

Habis orang bersantap, semua mangkuk, sumpit dan cawan lantas dibenahkan. Setelah itu Thio Siong Kee, dengan suaranya yang terang dan lancar, lalu berpidato. Dia kata: ‘”Cianpwee serta para sahabat! Hari ini hari peringatan ulang tahun guru kami memasuki usia seratus tahun. Atas kunjungan Cianpwee dan sahabat sekalian, kami sangat bersyukur, hanya kami mohon dimaafkan untuk pelayanan yang tidak sempurna ini. Sebenarnya guru kami hendak mengundang para Cianpwee dan sahabat untuk pertemuan di Hong ho lauw, untuk minum bersama hingga puas, dari itu pelayanan bari ini biarlah diperbaiki kelak, dikemudian hari.”

“Hari inipun saudara seperguruan kami, Thio Coei San, baru saja kembali dari perjalanan jauh yang memakan waktu sepuluh tahun. Dia belum sempat menuturkan kepada guru kami tentang parjalanan dan pengalamannya itu. Inilah di sebabkan pesta ulang tahun guru kami ini. Maka itu, kalau umpama dalam suasana begini kita berbicarakan tentang budi atau permusuhan kaum Rimba Persilatan, itulah tidak dapat, itulah juga alamat tidak bagus.”

“Dengan begitu maksud para Cianpwee dan sahabat datang memberi selamat lantas dengan sendirinya berubah menjadi hal yang tidak-tidak. Maksud baik itu berubah menjadi masud buruk. Oleh karena itu, tuan-tuan, setelah tuan tuan datang ke Boe tong pai, mari aku yang rendah mengundang tuan-tuan melihat-lihat gunung ini bagian depan dan belakangnya.”

Hebat siasatnya Siong Kee. Pertama-tama ia telah lantas menyumbat mulut orang. Dengan itu ia mau mengatakan, orang pastilah bermaksud bermusuh jika hendak membicarakan urusan Cia Soen dan Liong boen Piauw kiok. Sebab hari itu, hari pesta ulang tahun, adalah hari baik.

Sekalian tetamu itu mendaki gunung Boe tong san untuk bicara, untuk mendesak menanyakan dimana adanya Kim mo Say ong Cia Soen. Tapi nama Boe tong pay angker sekali. Tidak ada yang berani memulai. Siapa yang mengajukan diri, berarti dialah yang mengundang permusuhan. Sebaliknya, untuk segera menyerang sendiri juga tidak ada yang berani memulai. Itupun berarti, siapa maju paling dulu, ada harapan dialah yang celaka paling dulu juga. Maka itu tidak ada yang mau menjadi musuh Boe tong pay serta tidak sudi juga menjadi korban pertama. Mereka itu saling mengawasi satu pada yang lain.

Dengan sendirinya suasana menjadi tegang tidak keruan junterungannya.

Akibatnya See hoa coe dari Koen loen pay berbangkit untuk bicara. Ia bukannya menerima undangan Siong Kee, hanya berkata nyaring: “Thio Sie hiap, tidak usah kau mengatakan sesuatu yang artinya lain. Kita terang-terang tidak melakukan apa apa yang gelap. Kita mau bicara dengan mementang jendela lebar-lebar! Kali ini kami datang kemari dengan maksud, pertama tama yalah untuk memberi selamat kepada Thio Cinjin. Yang kedua yaitu guna mencari tahu tentang dimana beradanya Cia Soen sekarang ini.”

Boh Seng Kok sudah lama sekali menahan hatinya. Mendengar perkataannya Sea hoa coe, ia tidak dapat pula menguasai dirinya.

“Bagus! Kiranya begitu!” katanya dengan tertawa dingin. “Tidak heran ! Tidak heran.”

See hoa coe mendelik. “Apa yang tidak heran ?” tanyanya bengis.

Dengan nyaring Seng Kok berkata: “Tidak heran sebab mulanya aku menyangka tuan-tuan datang kemari untuk memberi selamat kepada guru. Tetapi ditubuh kamu masing-matsng disembunyikan senjata tajam. Mulanya aku heran sekali, di dalam hatiku aku bertanya tanya apakah tuan-tuan hendak menghadiahkan senjata tajam kepada guruku? Sekarang barulah terang duduknya hal! Kiranya bingkisan ini bingkisan macam begini!”

See hoa coe menjadi mendongkol sekali. Ia menepuk-nepuk tubuhnya, terus ia meloloskan jubahnya.

“Bok Cit hiap lihatlah biar terang!” ia berseru. “Kau masih muda sekall, jangan kau menyembur orang dengan darah! Lihatlah tubuhku ini! Siapakah yang menyembunyikan senjata tajam?”

“Bagus! Memang tidak ada!” berkata Seng Kok dengan tertawa. Dengan sebat, dengan jari tangannya ia sodok dua orang yang berada disamping, Ketika ia menarik, putuslah tali baju dua orang itu, karena mana dengan menerbitkan suara nyaring berisik jatuhlah dua batang golok pendek yang berkilauan. Mereka benar telah menyembunyikan senjata disebelah dalam bajunya itu.

Menyaksikan itu, banyak hadirin yang air mukanya menjadi berubah.

“Benar!” See hoa coe berseru. Sekarang ini ia tidak main pernik lagi. “Thio Ngo hiap jikalau kau tidak menunjukkan kami dimana adanya Cia Soen, maka entah kita bakal menggerakkan golok atau pedang!”

Thio Siong Kee tengah menantikan ketika untuk mengasi dengar seruan. Ia melihat ketikanya itu telah sampai. Hanya disaat itu hendak membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar suara pujian “Omie too hoed!” yang datangnya dari arah luar pintu. Suara itu tegas sekali dan halus nadanya masuk ketelinga orang. Suara itu datang dari tempat jauh akan tetapi seperti dari sampingnya setiap orang.

Thio Sam Hong yang semenjak tadi berdiam saja lantas berkata: “Kiranya Kong tie Siansoe dari Siauw Lim pay datang! Lekas sambut!”

Ketika itu dipintu luar lantas terdengar pula suara: “Hong thio Kong boen dari Siauw lim sie dengan mengajak soeteenya, Kong tie dan Kong seng serta murid muridnya memujikan agar Thio Cinjin panjang umur!”

Kong boen bersama Kong tie dan Kong-seng adalah tiga diantara pendeta-pendeta kenamaan dari Siauw lim-sie. Oleh karena saudara mereka yang tertua, Kong-Kian, telah berpulang ke Tanah Barat (meninggal) sekarang tinggal mereka saja. Karena kedatangan mereka yang tiba tiba itu batal lah Siong Kee berseru. Pula lantas ia mengerti, dengan datangnya ketiga pendeta Siauw lim-sie ini, gagallah rencananya untuk menyengap lawan.

Ho Thay Ciong dari Koen loen pay sudah lantas menyambut dengan berkata: “Sudah lama aku mendengar nama besar dari keempat pendeta berilmu dari Siauw lim-sie. Sekarang kita dapat bertemu di sini, aku merasa beruntung sekali. Dengan begini berarti juga tidaklah sia sia belaka kedatanganku kemari!”

Dari luar lantas terdengar satu suara dalam, suatu tanda bahwa yang mengeluarkannya yalah seorang yang usianya telah lanjut. Katanya: “Tuan tentunya Ho Sianseng yang menjadi Ciangboenjin dari Koen-loen-pay. Maka aku berbahagia sekali dengan pertemuan ini. Thio Cinjin, aku sipendeta tua telah datang terlambat untuk memberi selamat padamu, itulah perbuatan kurang hormat, maaf !”

Atas itu Thio Sam Hong berkata, dengan merendah: “Hari ini di Boe tong san telah berkumpul hanyak tetamu tetamu ku yang mulia. Aku girang sekali! Aku si imam hanya berhasil hidup sampai umur seratus tahun. Bagaimana aku berani membuat Soehoe yang agung datang kemari…. “

Sembari berkata begitu, ia mengajak murid muridnya pergi kepintu untuk menyambut tetamu tetamunya yang dipandang suci itu dan dihormati nya.

Kedatangan rombongan Siauw-lim pay ini luar biasa. Pihak mereka dengan pihak Boe tong-pay tuan rumah, bicara dari jarak yang jauh. Kedua pihak sudah menggunakan suara dari tenaga dalam. Mereka masih terpisah jauh tetapi mereka bagaikan lagi bicara berhadapan.

Ceng hian Soethay dari Go bie pay kalah mahir tenaga dalamnya. Dia tidak berani campur bicara. Yang lain-lain terlebih pula sampai hati mereka ciut dan malu sendirinya.

Ketika Thio Sam Hong dan murid-muridnya muncul diluar, rombongan Siauw-lim-pay, yang jalannya perlahan, baru sampai didepan pintu. Ketiga pendeta tua itu datang bersama sembilan murid mereka yang telah memasuki usia pertengahan.

Kong-boen Taysoe beralis putih yang panjang sampai turun kematanya, hingga dia mirip dengan Tiang-bie Loo-han, arhat yang alisnya panjang. Kong-seng bertubuh besar dan romannya gagah. Adalah Kong-tie yang beroman meringis dan mulutnya monyong kebawah. Melihat romannya Kong-tie ini, Siong Kee heran, hingga dia berpikir; “Aku dapat melihat wajah orang, siapa beroman seperti pendeta ini, kalau dia bukan umurnya pendek, pasti dia mati celaka, maka heran, kenapa dia dapat berumur panjang dan dihormati banyak orang? Mungkinkah ilmu khoamia dari aku masih sangat terbatas?”

Thio Sam Hong dan Kong-boen semua adalah guru-guru silat ternama dan asalnya satu golongan. Akan tetapi mereka belum pernah mengenal satu dengan lain. Didalam hal umur, Sam Hong lebih tua kira-kira tiga atau empat puluh tahun. Ia berasal dari Siauw lim sie, karena gurunya yalah Kak wan Taysoe. Ia berderajat atau bertingkat dua lipat lebih tinggi daripada Kong boen bertiga. Hanya ia tidak menjadi pendeta dan masuknya menjadi murid Siauw lim sie pun tanpa upacara resmi. Ia cuma murid perseorangan dari Kak wan. Karena ini, pertemuan dengan Kong boen bertiga dilakukan sebagai orang-orang dari sesama derajat dan tingkat. Karenanya, Wan Kiauw dan saudara saudaranya menjadi berada ditingkat sebelah
bawah tetamu-tetamu itu.

Setelah kedua pihak saling memberi hormat, Sam Hong mengundang sekalian tetamunya ke dalam dimana mereka itu bertenau dengan Ho Thay Ciong dan Ceng hian Soethay sekalian.

Kong boen halus gerak geriknya. Ia memberi hormat sekalipun terhadap anak-anak muda.

Habis minum teh, Kong boen berkata: “Thio Cinjin, menurut usia dan tingkat loolap adlah pihak yang lebih muda. Akan tetapi mengingat kedudukan Boe tong dan Siauw lim sederajat, dan loolap justeru menjadi Ciangboenjin dan Siauw lim pay, harap kau mengijinkan loolap bicara terus terang dan sukalah loolap diberi maaf.”

Thio Sam Hong dapat menduga maksud orang. Karena ia memang jujur, ia lantas berkata “Sam wie yang suci, apakah kedatangan Sam wie ini untuk Thio Coei San, muridku yang nomor lima?”

” Benar”, menjawab Kong boen. “Ada urusan yang hendak didamaikan dengan Thio Ngo hiap”

“Pertama yaitu halnya Thio Ngo hiap sudah membinasakan tujuh puluh dua jiwa keluanga Liong boen Piauwkiok serta enam jiwa murid Siauw lim sie. Bagaimana harus diputuskan mengenai tujuh puluh delapan jiwa itu? Yang kedua yaitu mengenai Soeheng kami, Kong kian Taysoe. Ialah seorang yang pemurah dan bijaksana, seumurnya belum pernah ia ribut dengan siapapun juga tetapi ia telah dicelakai Kim mo Say ong Cia Soen hingga ia mati secara sangat menyedihkan. Kami mendengar Thio Ngo-hiap mengetahui dimana beradanya Cia Soen itu, maka kami mohon sukalah Ngo hiap memberikan petunjuknya. Pasti kami dari Siauw lim sie akan mengingat budi itu.”

Mendengar itu, Thio Coei San lantas berbangkit tanpa menanti gurunya bicara. Ia berkata tegas: “Kong-boen Taysoe, tujuh puluh delapan jiwa keluanga Liong boen Piauwkiok dan pendeta Siauw lim sie yang dimaksudkan itu bukannya dibunuh olehku. Seumur hidupku, Coei San telah menerima budi dan ajaran guruku yang berbudi luhur. Walau pun aku bodoh, tidak berani aku mendusta. Hanya halnya siapa siapa yang telah menyebabkan lenyapnya tujuh puluh delapan jiwa itu, dapat aku terangkan bahwa aku mengetahui orangnya. Cumalah tidak ingin aku memberitahukannya. Inilah jawabanku untuk urusan yang pertama itu. Mengenai urusan yang kedua, kematiannya Kong kian Taysoe, siapapun di kolong langit ini tidak ada yang tidak merasa berduka akan tetapi Cia Soen itu yalah sahabat dan saudara angkatku, maka hal dimana beradanya dia sekarang, meski aku ketahui, tak dapat aku menerangkan. Kita kaum Rimba Persilatan, kita paling mengutamakan kehormatan. Dari itu aku Thio Coei San, leherku boleh kutung dan darahku boleh muncrat, tetapi alamatnya kakat angkatku itu tidak bisa aku menerangkannya. Urusanku ini tidak ada sangkut pautnya dengan guruku yang berbudi luhur, juga tidak ada hubungannya sama sekalian saudaraku sepenguruan. Jadi semua itu aku yang bertanggung jawab sendiri. Terserah kepada Taysoe bila hendak membinasakan aku, silahkan turun tangan! Aku si orang she Thio, seumurku aku belum pernah aku melakukan sesuatu yang dapat membikin malu guruku, juga belum pernah aku lancang membunuh seorang baik-baik. Jikalau tuan-tuan hendak memaksa aku melakukan perbuatan tidak terhormat, bagianku yalah mati, lain tidak!”

Coei San bicara dengan bersemangat sekali hingga Kong boen memuji: “Omie toohoed!” dan berpikir: “Mendengar suaranya, ia tidak mendusta. Bagaimana sekarang”

Justeru ruang sunyi, dari luar jendela terdengar suara bocah memanggil. “Ayah!”

Coei Sin terkejut. Ia mengenali suara anaknya.

“Boe Kie, kau pulang!” serunya. Dan ia berlompat untuk lari keluar.

Dua orang masing-masing dari Boe san pay dan Sin koen boen yang berdiri dimuka pintu, menduga orang hendak melarikan diri. Sambil membentak “Kau hendak lari ke mana?” mereka mengulur tangannya, mencekuk.

Coei San keras memikirkan anaknya. Ia mementang kedua tangannya, maka dua perintang itu lantas terpental ke samping kiri dan kanan dan roboh tenguling. Ketika ia telah melompat keluar jendela, di situ ia tidak melihat suatu apa.

“Boe Kie!! Boe Kie!” ia terus memanggil berulang ulang kali.
Tidak ada penyahutan.

Dari dalam memburu belasan orang. Apabila mereka mendapatkan orang bukannya lari, merera berdiri diam mengawasi saja.

“Boe Kie ! Boe Kie !” Coei San memanggil manggil lagi.

Tetapi ia tidak memperoleh jawaban, sebaliknya, sejenak kemudian, disitu muncul In So So. Isteri itu baru sembuh dan berada diruangan dalam ketika ia mendengar suaminya memanggil manggil anak mereka.

“Boe Kie pulang?” tanya isteri ini kegirangan.

“Barusan aku seperti mendengar suaranya. Ketika aku memburu keluar, aku tidak melihatnya.” sahut sang suami.

So So kecele.

“Mungkin disebabkan kau terlalu memikirannya, barusan kau salah mendengar.” katanya perlahan,

Coei San berdiam, lalu ia menggelengkan kepana nya dengan keras.

“Terang aku mendengarnya,” katanya. “Pergilah kau masuk!”

Coei San kuatir isterinya bertemu sama sekalian tetamu dan nanti ada ekornya. Seberlalunya isteri itu, ia kembali ke dalam, terus ia memberi hormat pada Koen boen seraya meminta maaf untuk kepergiannya barusan tanpa perkenan lagi.

“Siancay, siancay!” Kong tie memuji, “Thio Ngohiap demikian menyayang anak. Kau sampai seperti lupa ingatan. Maka itu. begitu banyak jiwa yang dicelakai Cia Soen, apakah mereka itu tidak mempunyai ayah atau ibu, isteri atau anak ?”

Pendeta itu bertubuh kecil dan kurus akan tetapi suaranya nyaring bagaikan genta, menderu ditelinga para hadirin. Coei San lagi kalut pikirannya, ia tidak memberikan penyahutannya.

Kong boen mengawasi kedua soeteenya, Kong tie dan Kong sang mengangguk. Maka ia lantas menghadapi tuan rumah dan berkata: “Thio Cinjin, bagaimana urusan ini hendak diputuskan, kami memohon petunjuk Cinjin saja.”

“Muridku tidak mempunyai kepandaian apa-apa. Walaupun demikian tidaklah nanti dia berani memperdayai gurunya,” berkata Sam Hong. “Maka itu, aku percaya tidak nanti dia berani mendustakan samwie. Seperti dia katakan, jiwanya orang-orang Liong boen Piauwkiok serta murid-muridmu itu bukanlah dia yang membunuhnya. Sedang tentang tempat kediamannya Cia Soen sudah terang dia tidak hendak memberitahukannya.”

Kong tie tertawa dingin.

“Tetapi ada orang yang melihat dengan matanya sendiri Thio Ngo hiap membunuh murid murid kami itu!” katanya mengejek. “Mustahilah murid-murid Boe tong pay tidak dapat mendusta tetapi murid Siauw lim pay dapat.”

Dia lantas mengibas dengan tangan kirinya dan dua pendeta usia pertengahan dibelakangnya lantas maju kedepan

Dibelakang dua pendeta ini mengintil seorang pendeta lain tetapi sebab ia bertubuh kecil dan kate tubuhnya itu teraling dan tidak segera terlihat. Tiga-tiga mereka picak mata kanannya. Mereka bukan lain daripada Goan sim, Goan im dan Goan hiap, ketiga pendeta Siauw lim pay yang ditepi telaga di Lim an telah terhajar jarum emasnya in So So.

Coei San telah melihat mereka itu dan mengenalinya. Ia menduga pasti mereka bakal dijadikan saksi untuk peristiwa ditepi telaga Seeouw itu. Sekarang dugaannya itu jitu. Ia tidak takut. Ialah bukan si pembunuh, si pembunuh adalah So So yang telah menjadi isterinya. Bagaimana ia bisa tidak melindungi isterinya itu? Hanya, bagaimana ia harus melindunginya ?

Diantara tiga pendeta itu yang bernama berhuruf ‘Goan’, Goan im yang tabiatnya paling keras. Sebenarnya menurut adatnya, begitu bertemu Coei San, ingin ia menerjang. Tetapi karena ada gurunya, ia menahan sewot. Sekarang setelah gurunya memanggil, ia lantas muncul untuk terus berkata: “Thio Coei San, ditepi telaga See ouw di Lim an, kau telah menerjang Hoei bong dengan jarummu. Jarum mana masuk dari mulut, mengambil jiwanya! Aku melihat itu dengan mataku sendiri! Apakah aku memfitaah kau? Dan mata kanan kamipun disarang jarum beracun itu. Apakah kau masih hendak menyangkal?”

Didalam keadaan seperti itu, Coei San mesti menyangkal terus. Ia kata: “Kami dari kaum Boe tong pay, benar kami mempelajari senjata rahasia dan jumlah macamnya bukan sedikit. Akan tetapi semua itu sebangsa piauw dan panah tangan! Kami bertujuh sudah lama sering merantau, cobalah tanya, apa pernah ada yang melihat kami menggunakan jarum, baik jarum emas maupun jarum perak? Maka tentang jarum beracun tak usah disebut-sebut lagi!”

Dunia Rimba Persilatan memang tahu golongan Boe tong pay golongan lurus, maka itu banyak yang tidak percaya bahwa Thio Coei San menggunai jarum jahat seperti itu. Tidak demikian dengan Goan im yang menjadi sangat gusar.

“Apakah kau tetap menyangkal”” dia membentak: “Bersama-sama soetee Goan giap aku melihat sendiri kau menyerang Hoei hong dengan jarum. Jikalau itu bukannya kau, habis siapakah?”

“Aku tahu siapa dia, tetapi aku tidak hendak memberitahukan kepada kamu!” menyahut Coei San. “Apakah kau kira murid-murid Boe tong pay dapat kau main paksa “

Coei San pandai bicara. Ia membuatnya darah Goan im meluap. Maka itu, adu mulut mereka berkesudahan dari unggul si pendeta jatuh dibawah angin.

“Goan im Soeheng,” Thio Siong Kee turut bicara,” tentang siapa sebenarnya yang membinasakan murid-murid Siauw lim itu, untuk sekarang ini sulit buat dibikin terang. Akan tetapi Soe heng kami, Jie Thay Giam, terang sudah telah dilakukan dengan Kim kong cie dari Siauw Lim pay! Maka itu kebetulan sekali kunjungan tuan tuan semua, sekarang aku mohon menanya, sebenarnya siapakah yang telah melukai Sam soe heng kami itu?”

“Itulah bukan aku,” Goan sim menyangkal cepat.

“Aku juga tahu bukannya kau!” kata Siong Kee tertawa dingin. “Aku juga tidak percaya kau mampu meyakinkan ilmu itu!”

Ia berdiam sejenak, lalu melanjuti: “Jikalau Soeheng kami itu bertubuh sehat dan ia bertempur dengan orang partaimu yang kosen secara laki-laki, kalau ia sampai dilukakan dengan Kim kong cie, harus disesalkan saja kepandaiannya belum sempurna. Kalau pertempuran sampai terjadi orang terluka atau binasa apa mau dibilang lagi? Orang toh tidak biasanya membuat perjanjian sebelum pertandingan dimulai untuk mempertanggungkan keselamatan bulu atau rambutnya? “

” Akan tetapi Soeheng kami itu justeru lagi menderita sakit berat, tubuhnya tidak dapat digerakkan. Justeru begitu tuan pendeta itu sudah menggunakan pukulan Kim kong cie. Dia memaksa Soehengku menerangkan tentang golok mustika To liong to!”

Sampai disitu, dengan mengeraskan suaranya, Siong Kee menambahkan: “ilmu silat Siauw lim pay telah menjagoi dikolong langit ini, Siauw lim pay telah menjadi jago Rimba Persilatan. Dari itu apa perlunya dia menghendaki juga golok mustika itu? Di sebelah itu, golok tersebut pernah dilihat satu kali oleh Soehengku itu! Kenyataannya ia telah dipaksa, bukankah perbuatan itu terlalu kejam? Jie Thay Giam mempunyai juga sedikit nama dalam Kang Ouw. Ia biasa melakukan perbuatan perbuatan mulis. Dengan begitu ia jadinya pernah melakukan jasa jasa baik untuk kaum Rimba Persilatan. Tetapi sekarang ia dianiaya pihak Siauw lim pay hingga ia bercacad seumur hidupnya. Untuk sepuluh tahun ia rebah saja diatas pembaringan. Maka itu sekarang kami mau memohon pertimbangan dari tiga Taysoe yang mulia”

Urusan terlukanya Jie Thay Giam dan kebinasaan keluarga Liong boen Piauw kiok itu telah menjadi bahan perselisihan selama sepuluh tahun. Hanya karena lenyapnya Thio Coei San suami isteri perkara tinggal tengantung. Sekarang pihak Siauw lim pay menimbulkannya pula dan Thio Siong Kee menggunakan ketikanya akan turut menggugatnya.

“Tentang itu pernah loolap menyelidiki,” berkata Kong boen. “Loolap telah memeriksa sekalian murid Siauw lim sie, tapi tidak ada satupun yang melakukan penganiayan itu.”

Mendengar jawaban itu, Thio Siong Kee merogo sakunya. untuk mengeluarkan sepotong emas goan po. Pada uang itu ada tapak jari tangan. Sambil menunjuki itu, ia berkata dengan nyaring: “baiklah semua orang gagah dikolong langat ini mengetahui. Orang yang menyiksa Soeheng kami itu yatah pendeta Siauw lim pay yang tapak jati tangannya berada diatas uang goanpo ini ! Kecuali dengan Kim kong cie, ada partai mana lagi yang dapat membikin tanda diatas uang seperti ini?

Goan-im bertiga menuduh Thio Coei San hanya dengan kata-kata. Sekarang Siong Kee membalas dengan ada buktinya, inilah hebat.

“Siancay, siancay!” memuji Kong boen Taysoe: “Diantara orang partai kami yang meyakinkan Kim kong cie, kecuali kami bertiga cuma lima Tiang Loo dari Tat mo tong. Akan tetapi, kelima Tiang loo itu tidak pernah keluar dari kuil kami lamanya sudah tiga sampai empat puluh tahun. Maka dari itu cara bagaimana mereka dapat melukai Jie Sam Hiap?”

Mendengar itu, Boh Seng Kok menyelak: “Barusan Taysoe tidak percaya perkataannya Ngo Soeko kami. Taysoe mengatakannya omong disatu pihak saja. Habis bagaimana sekarang, apakah kata kata Taysoe juga bukan hanya kata kata sepihak?”

Kong boen sabar luar biasa, walaupun ditanggapi demikian rupa, ia tidak menjadi gusar.

“Jikalau Boh Cit hiap tidak percaya loolap, ya apa boleh buat!” katanya.

“Mana berani boanpwee tidak percaya Taysoe?” berkata Seng Kok. “Hanyalah didalam dunia ini segala sesuatu gampang sekali berubab, sukar untuk menerkanya dan segala yang benar dan tidak benar tak dapat dipastikan. Tuan tuan cuma ketahui beberapa pendeta Siauw lim pay itu telah terbinasa ditangan Soeheng kami. Sebaliknya kami menyatakan, Sam Soeheng dianiaya pihak Siauw lim pay. Siapa tahu jikalau didalam perkara ini ada sesuatu yang tersembunyi? Maka kalau menurut Cianpwee urusan harus diurus dengan sabar, supaya tidak mengganggu persahabatan diantara kedua partai. Jikalau kita bertindak sembrono, kemudian dibelakang hari urusan dapat dibikin terang, bukankah kita akan menyesal sesudah kasep.”

“Boh Cit hiap benar,” berkata Kong boen mengangguk.

Sedang saudaranya itu berlaku demikian sabar, Kong tie berteriak dengan mendadak: “Habis apa kah sakit hatinya Soeheng Kong kian dapat dibiarkan saja? Thio Ngohiap, urusan Liongboen Piauw kiok untuk sementara boleh kita biarkan saja, tetapi tentang Cia Soen si jahat itu, itulah lain! Mengenai dia itu, hari ini kami menghendaki kau memberitahukannya biarpun kau tidak suka, kau mesti bicara juga!”

Song Wan Kiauw membungkam sekian lama. Sekarang ia melihat suasana tegang, terpaksa ia campur bicara. Ia kata nyaring “Jikalau golok mustika itu tidak ada ditangannya Cia Soen, apa kah Taysoe tetap begini bernafsu hendak mengetahui dimana beradanya dia?”

Kata kata itu singkat tetapi maksudnya dalam sekali. Kong tie telah ditegur dan dituduh ingin memiliki golok mustika itu.

Kong tie menjadi gusar sekali. Tangannya menepuk meja! Maka celakalah meja itu yang menjadi hancur! Tapi inipun menandakan lihaynya tangan itu. Ia sampai terkejut sendirinya. Tapi ia lagi murka, ia tidak menghiraukannya. Ia bahkan berkata nyaring: “Sudah lama kami mendengar yang ilmu silatnya Thio Cinjin asalnya dari Siauw lim pay. Bahwa orang Rimba Persilatan mengatakan, hijau itu asalnya dari biru, tetapi yang hijau akhirnya menjadi lebih menang dari pada biru. Kamipun sudah lama mengaguminya, hanya kami tidak lagi tahu sampai dimana kebenarannya pembilangan itu. Apakah itu tidak melebihkan dari kenyataan hari itu? Hari ini dihadapan orang orang gagah diseluruh negara ini, ingin aku belajar kenal. Aku mengharap tidaklah Cinjin pelit untuk mengajarnya!”

Perkataan itu mengejutkan orang banyak berbareng menarik hati. Thio Sam Hong menjagoi pada tujuh puluh tahun yang lampau. Orang-orang sepantarannya yang pernah bertempur dengannya sudah pada mati. Jadi sekarang ini belum ada yang mengetahui sampai dimana lihaynya dia. Kecuali tujuh muridnya, belum pernah ada yang menyaksikan ia bersilat. Hanya dengan melihat dari kegagahannya Song Wan Kiauw bertujuh, bisalah ditaksir kelihayannya itu. Kali ini orang-orang mendengar ketua Boe tong pay itu ditantang, semua orang menjadi gembira, rata rata ingin menyaksikan pertempurannya jago jago utama.

Semua mata lantas saja diarahkan kepada Thio Sam Hong. Semua orang ingin sekali mendengar tantangan itu diterima atau tidak. Tapi orang mendapatkan orang tua itu melainkan hanya bersenyum. Sekali tidak menolak tetapi juga tidak menerima.

“Ilmu silat Thio Cinjin sangat lihay. Dikolong langit ini tidak ada tandingannya,” berkata Kong boen Taysoe. “Begitu juga kami ketiga pendeta dari Siauw lim sie. Kami bukannya tandingannya Cinjin, hanyalah sekarang, keadaan memaksa sekali! Perselisihan diantara murid kedua pihak, jikalau tidak dibereskan dengan kekuatan tenaga, untuk memastikan siapa kuat dan siapa lemah, sungguh sukar untuk diselesaikan. Maka itu kami bertiga menjadi tidak tau diri, kami bersedia bekerja sama bertiga meminta Cinjin sukalah memberi pengajaran kepada kami. Cinjin berderajat dua tingkat lebib tinggi dari pada kami. Jikalau kita bertempur satu lawan satu, itu artinya terhadap Cinjin kami berlaku sangat tidak hormat!”

Kata-kata ini didengar orang banyak, mereka itu pada berkata didalam hatinya: “Perkataanmu sangat merendah, enak dldengarnya, tetapi itu artinya tiga melawan satu! Thio Sam Hong boleh liehay sekali, tetapi sekarang ia sudah berusia seratus tahun. Tenaganya tentu telah berkurang banyak sekali. Maka itu, dapatkah ia melayani tiga jago dari Siauw lim sie itu ?”

Song Wan Kiauw sudah lantas berbangkit. “Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun guruku. Mana dapat hari ini orang mengadu kepandaian ?” katanya.

Mendengar sampai disitu para hadirin menduga Boe tong pay takut menyambut tantangan. Tapi orang belum bicara habis, Wan Kiauw berkata terus: “Laginya benar seperti kata Kongboen Taysoe barusan. Tingkat derajat diantara guruku dan Taysoe bertiga berlainan, tidak seimbang. Jikalau pertempuran sampal terjadi, bukankah itu sama dengan yang tua menghina yang muda? Akan tetapi Siauw lim pay sudah menantang. Boe tong pay tidak dapat tidak menyambutnya. Pepatah membilang, kalau ada urusan, sang murid mengurusnya. Maka itu sekarang baiklah diatur begini, kami tujuh murid dari Boe tong pay, kami akan melawan dua belas pendeta lihay dari Siauw lim pay!”

Orang gempar sendirinya mendengar jawaban berani dari Wan kiauw ini. Itulah bukan menyambut tantangan belaka bahkan berbalik menantang.

Kong boen, Kong tie,dan Kong Seng datang ke Boe tong san dengan mengajak masing masing tiga murid. Dari itu jumlah mereka menjadi dua belas, dan ialah jumlah yang ditantang murid Boe tong pay itu. Oleh karena Wan Kiauw menyebut jumlah tujuh, orang menjadi heran. Bukankah Jie Thay Giam telah bercacad dan jumlah mereka menjadi tinggal enam orang. Enam lawan dua belas, itu sama artinya satu melawan dua. Bukankah dengan begitu dengan sendirinya Song Wan Kiauw menjadi telah mengangkat harga diri Boe tong pay?

Kelihatannya Song Wan Kiauw menyerbu bahaya dengan kata katanya itu. Memang juga, terpaksa ia bersikap demikian. Tapi sikapnya ini telah diperhitungkan. Ia tahu baik Kong boen bertiga liehay melebihkan semua saudaranya. Kalau satu lawan satu, hanya ia seorang yang dapat menandinginya secara berimbang. Jie Thay Giam bercacad, sedang Jie Lian Cioe baru sembuh. Tapi kalau mereka melawan dua belas orang, ia tahu sembilan murid tiga pendeta itu tidak harus dijerikan. Maka namanya saja enam lawan dua belas, kenyataannya enam lawan tiga.

Kong tie Taysoe ketahui maksud hatinya Wan Kiauw. Ia mengeluarkan suara dihidung. Ia kata: “Jikalau Thio Cinjin sendiri tidak sudi memberi pelajaran, baiklah, biar kami bertiga saja yang melawan tiga diantara keenam tuan dari Boe-tong pay. Dalam tiga pertandingan, siapa yang. menang dua kali dialah yang menang.”

Thio Siong Kee dapat membade hati orang. Ia menggantikan kakaknya berbicara. Ia kata: “Jikalau Kong-tie Taysoe menghendaki juga satu lawan satu, baiklah, dari kita tujuh saudara, Shako Jie Thay Giam tidak dapat turun dari pembaringan sebab ia telah dianiaya oleh pendeta Siauw lim sie. Meskipun begitu, tidak ada satu diantara kita berenam yang sudi ketinggalan. Maka baiklah kita bertempur dalam enam rombongan saja. Yalah enam murid Boe-tong-pay melawan enam pendeta gagah dari Siauw lim-pay, dan siapa yang menang dalam empat pertandingan, dialah yang menang.”

“Benar begitu!” Boh Seng Kok turut bicara, “Jikalau pihak Boe-tong-pay yang kalah, Thio Ngoko akan memberitahukan tentang Kim mo Say ong Cia Soen. Dia akan memberitahukan kepada Hongthio dari Siauw-lim-sie. Umpama kata pihak Siauw-lim-pay yang mengalah, maka kami minta Taysoe bertiga lantas mengajak semua sababat ini, yang namanya saja datang untuk memberikan selamat ulang tahun kepada guruku, tetapi sebenarnya hendak mencari gara-gara, untuk turun dari gunung ini!”

Seng Kok mengatakan demikian sebab ia bisa mengerti maksud Siong Kee. Dengan enam lawan enam, sudah terang Boe tong pay bakal tidak kalah. Ia ketahui baik sekali kakaknya yang nomor satu dan nomor dua dapat menandingi ketiga musuh yang libay itu, tetapi ketiga murid mereka itu pasti bakal kena dikalahkan.

Kong-tie Taysoe cerdik, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak sempurna, itulah tidak sempurna!” katanya. Ia berkata begitu, lantas ia berhenti, tidak mau menjelaskan ‘tidak sempurna’ nya itu.

Thio Siong Kee berkata pula: “Taysoe bertiga menantang guru kami, katanya kamu mau bertanding tiga lawan satu. Setelah kami enam orang Boe tong pay bersedia melawan duabelas pendeta Siauw lim-pay, Kong-tie Taysoe menghendaki satu lawan satu. Kami menerima baik, tetapi Tay soe bilang tidak sempurna. Sekarang begini saja, biar boanpwee seorang diri melawan tiga pendeta yang lihay. Bukankah ini sempurna? Jikalau Taysoe bertiga dapat menghajar aku sampai mati, itu arti nya Siauw lim-pay yang menang! Tidaklah itu bagus?”

Mukanya Kong-tie menjadi berubah. Hebat ejekan itu.

Tapi Kong Seng tertawa terbabak-babak, berulang kali dia memuji: “Siancay ! Siancay!”

Semenjak datangnya, pendeta ini belum pernah membuka mulutnya. Inilah yang pertama kali. Lalu ia menambahkan: “Soeheng berdua, Thio Sie hiap ini mau bersendirian melawan kami bertiga, mari kami maju bersama!”

Pendeta ini lihay ilmu silatnya, tetapi ia tidak menginsafi ejekannya Siong Kee itu.

“Jangan banyak omong, Soetee!” Kong boen mencegah. Kemudian ia berpaling kepada Song Wan Kiauw dan berkata: “Begini saja ! Kami enam pendeta Siauw lim melawan enam jago Boe tong, menang atau kalah diputuskan dengan ini satu kali pukul. “

“Bukannya enam orang dari Boe tong melainkan tujuh!” berkata Wan Kiauw.

Kong tie Taysoe terkejut.

“Jadi kalau begitu Thio Cinjin bakat turun tangan juga ?” tanyanya.

“Taysoe keliru,” sahut Wan Kiauw. “Orang orang dengan siapa guru kami pernah bertempur semua sudah tidak ada lagi dalam dunia karena itu mana bisa lagi guru kami melakukan pertempuran? Sedang tentang Jie Shatee kami, dia bercacad, dia tidak dapat bengerak, dia juga tidak punya murid. Tetapi meski demikian, persaudaraan kami bertujuh sangat erat. Kami mau hidup dan mati bersama. Dari itu disaat mati hidup seperti ini, mana dapat kami berpeluk tangan menonton saja dipinggiran? Maka itu, untuk gantinya, aku hendak minta dia mencari wakil. Untuk ini biarlah dia diberi ketika untuk memberi petunjuk kepada wakilnya itu. Dengan begitu, tujuh murid Boe tong pay menempur pendeta-pendeta dari Siauw lim pay! Untuk pihak taysoe, maju tujuh baik, maju duabelas baik juga, untuk kami tidak ada halangannya!”

Kong boan heran. Ia berpikir: “Sebegitu jauh yang aku tahu dipihak Boe tong pay kecuali Thio Cinjin dan tujuh muridnya, tidak ada lagi yang lihay. Maka sekarang dia mau mencari wakil mana dapat? Kalau mereka minta bantuan dari lain partai, itu bukan lagi namanya partai Boe tong pay Mengucapkan begini sebagai pelabi saja untuk memegang nama baiknya Boe tong Cit hiap …”

Maka ia lantas mengangguk dan menyambut: “Baiklah, tujuh pendeta Siauw lim akan melawan tujuh jago Boe tong!”

Dipihak Boe tong pay, Jie Lian Cioe, Thio Siong Kee dapat membade maksudnya Toako mereka. Thio Sam Hong mempunyai semacam ilmu silat istimewa yang diberi nama “Cit boe Cit cay tin” yalah semacam warisan, untuk mana tujuh orang meski bertempur bersatu padu melayani musuh. Ilmu itu didapatkan Thio Sam Hong karena ilham yang muncul setelah ia melihat sesuatu.

Pujaan Boe tong pay yalah Cin Boe Tay tee, Pacungnya Tay tee didampingi oleh dua panglimanya, yalah Koe Ciang koen, dan Coa Ciang koen, malaikat kura-kura dan ular. Kedua Ciang koen ini berkedudukan demikian rupa hingga mirip dengan letaknya Coa san dan Koe san. Gunung Ular dan Gunung Kura-kura di sungai Tiangkang dan sungai Hansoei. Sifatnya ular yalah lincah, dan sifatnya kura-kura pendiam. Ular dan kura kuranya Cin Boe Tay tee justeru mencakup ke dua sifat itu. Maka setelah mendapat ilham itu segera Thio Sam Hong pergi ke Han yang untuk memandang kedua Gunung Ular dan kura-kura itu, mengawasi terus-terusan. Ia membayangi bagaimana Gunung Ular bagaikan berlegot-legot, dan Gunung Kura-kura numprak tegak dan agung.

Lantas setelah itu, ia melamuni ilmu silat yang hendak diciptakan itu. Hebat usahanya Sam Hong ini. Ia berdiri ditepi sungai selama tiga hari dan tiga malam tanpa minum dan dahar. Dipagi hari keempat, ia menyaksikan munculnya Sang Surya yang merah marong. Mendadak ia sadar. Lantas ia tertawa lebar dan terus berangkat pulang ke Boe tong san untuk selanjutnya mengumpulkan tujuh muridnya untuk mengajar mereka ilmu silat istimewa itu.

Ilmu sitat itu mempunyali keistimewaan sendiri-sendiri bila digunakan oleh satu orang. Kalau dengan dua orang, maka mereka berdua dapat saling membantu, baik maju baik mundur Kalau bertiga, maka itu menjadi terlebih hebat pula, hebatnya seperti tiga melawan empat orang liehay.

Dengan rajin ketujuh murid itu belajar. Merekat menyakirkannya dengan sungguh-sungguh. Mereka telah memperoleh hasil berlipat ganda. Umpama empat dapat melawan delapan, lima dapat melawan enambelas, enam dapat melawan tiga puluh dua, dan tujuh dapat melawan enampuluh empat.

Dijaman itu, orang lihay cuma berjumlah kira kira tigapuluh orang. Mereka pun terpecah diantara pelbagai partai dan golongan sejati dan sesat. Maka kalau terjadi bertempuran, mereka tidak dapat besatu. Maka itu Cinboe Cit cay tin jadi merupakan semacam barisan.

Sekarang, Song Wan Kiauw menghadapi lawan tangguh. Ia ingat ilmu silat itu.

“Sekarang aku minta Taysoe suka menanti sebentar,” kemudian ia kata pada Kong boen beramai. “Kami hendak menemui Jie Samtee untuk minta ia memilih wakilnya untuk menambah jumlah kami yang kurang satu.”

Habis berkata, kakak sepenguruan itu mengedipkan mata pada lima saudaranya, lalu mereka memberi hormat pada guru mereka, terus mereka mengundurkan diri keperdalaman.

“Toako,” kata Seng Kok yang lantas mendahului membuka mulut: “mari kita lawan pendeta pendeta Siauw lim itu dengan Cin cay tin supaya mereka menginsafi lihaynya ilmu silat Boe tong pay. Hanya siapakah yang bakal menggantikan
Shako?”

“Hal itu kita putuskan dengan suara kita yang terbanyak,” kata Wan Kiauw mengangguk. “Sekarang kita semua jangan bicara. Kita menulis satu nama ditelapak tangan kita. Nanti kita lihat siapa pilihan kita beramai”

“Bagus!” seru Seng Kok yang sangat setuju. Ia lantas mengambil pit dan menyerahkannya kepada kakak yang tertua itu.

Wan Kiauw menulis satu nama lalu dia membekap tangannya itu. Pitnya ia serahkan pada Lian Cioe. Si adik lantas menulis ditelapakan tangannya. Demikian seterusnya mereka berenam.

“Sekarang mari buka sama-sama!” kata Wan Kiauw kemudian.
Segera ternyata Wan Kiauw bersama Lian Cioe dan Siong Kee menulis “Ngo Teehoe,” artinya ipar mereka, isteri Coei San. Coei San sendiri menulis nama So so, isterinya. Seng Kok pun menulis “Ngo so,” artinya isteri Coei San juga.
In Lie Hong yang paling belakang. Dia tidak membuka telapak tangannya, cuma mukanya yang merah.

“Heran!” kata Seng Kok. “Apanya yang aneh?” Lantas ia memaksa membuka kepalan kakaknya itu.

Ternyata saudara she In ini menulis “Nona Kie” yalah tunangannya.

Coei San terharu. Ia menggenggam tangan adik seperguraan itu, sedang mulutnya mengucap: “Oh, Lioktee”

Semua orang mengetahui mengapa Lie Hang sampai menulis nama tunangannya itu. Ini adalah disebabkan karena ia mengasihani In So So yang belum lagi pulih benar kesehatannya, yang pada pikirnya tak seharusnya berkelahi mati-matian. Seng Kok hendak menggoda, tapi Coei San lekas mencegah dengan kedipan mata.

“Karena semua sudah setuju Tee hoe, Ngotee, pergilah kau undang isterimu datang kemari,” kata Wan Kiauw.

Coei San menurut. Ia segera pergi kekamarnya dan mengundang isterinya itu dengan sekalian menjelaskan duduk persoalan.

“Semua orang orang Liong boen Piauwkiok dan Hoei hong beramai, akulah yang membinasakannya”, kata So So. “Ketika aku melakukan hal itu, aku belum berkenalan sama Ngo-ko. Maka itu urusan itu tidak selayaknya menyeret-nyeret Boe tong-pay. Baiklah aku menyuruh saja semua pendeta itu mencari Peh bie-kauw yalah ayahku untuk mereka membuat perhitungan disana.”

“Teehoe, perkara telah terjadi. Kita tidak mestinya berhitungan,” kata Siong Kee. “Laginya aku telah melihat jelas: katanya mereka itu datang untuk urusan Liong boen Piauw-kiok. Itu melainkan alasan yang benar yalah untuk urusannya Cia Soen. Mereka berpegangan kepada permusuhan, tapi sebenarnya mereka mencari golok mustika To-liong-to!”

“Sieko betul!” kata Seng Kok. “Memang benar mereka mencari golok mustika itu. Maka biar bagaimana, mereka pasti tanya dimana tempat berdiamnya Cia Soen sekarang ini.”

“Memang demikian adanya.” kata Coei San. “Kong-kian sendiri yang memberitahukan Cia Soen saudara-angkatku itu, bahwa didalam golok To liong-to itu ada tersimpan semacam ilmu silat yang dapat membikin orang menjagoi dikolong langit ini. Kong-kian ketahui itu, mesti Kong boen, Kong-tie dan Kong-seng mengetahuinya juga.”

“Jikalau begitu, terserah kepada kalian,” kata So So akhirnya. “Hanya ilmu silatku masih rendah sekali, didalam tempo pendek ini, mana dapat aku memahami Cin boe Cit tay tin?”

“Itulah gampang,” berkata Wan Kiauw. “Sebenarnya dengan kita berlima melawan tujuh pendeta, kita merasa pasti bakal menang. Jikalau toh meminta bantuan kau, Teehoe, itulah sebab kita mendengar lihaynya senjata rahasiamu yang berupa jarum. Kita mengharap kapan perlu, agar kau membantu kita. Dengan begitupun pastilah Shatee bakal jadi terhibur hatinya”

Wan Kiauw benar. Ia memang memberati Jie Thay Giam yang tidak bisa turut bertempur hingga saudara itu pasti akan menyesal sekali. sedang penggunaan “tin” itu, inilah yang pertama kalinya. Bagaimana terhiburnya Thay Giam umpama kata dia bisa turut mengambil bagian dan mereka menang.

In So So cerdas, ia lantas mengerti.

“Baik!” katanya. “Sekarang juga aku pergi kepada Shako untuk minta petunjuknya. Aku hanya kuatir nanti tidak dapat memahaminya dengan baik.”

“Jangan kuatir, enso” kata In Lie Hang: “Itu lah gampang asal kau mengingat baik baik letak kedudukanmu dan gerakan kaki. Umpama kata kau mendadak lupa, kamipun dapat menyadarkan kau.”

Karena ini, bertujuh mereka pergi kekamar Jie Thay Giam.

Semenjak pulang ke gunung, beberapa kali sudah Thio Coei San menemui kakak sepenguruannya itu, tapi untuk In So So, inilah yang pertama kali, sebab gangguan kesehatannya mencegah dia lantas menemui iparnya itu.

Melihat si nona muda cantik, gerak geriknya halus, Thay Giam merasa senang. Tetapi ketika ia mendengar keterangannya Wan Kiauw hal datangnya musuh pendeta Siauw lim pay yang mau di lawan dengan Cin boe Cit cay tin, untuk mana ia harus diwakili oleh So So, ia terharu dan berduka sekali. Pedih hatinya. Tentu sekali ia menyesatkan sangat cacadnya hingga ia tidak dapat membantu semua saudaranya itu. Tapi ia kuat hatinya. Ia tertawa. Sembari bersenyum, ia kata pada So So: “Teehoe, Shapeh tidak dapat memberikan apa apa padamu untuk pertemuan pertama kali ini sebab kesusu. Maka baiklah, nanti aku mengajar kau tentang ‘tin’ kita itu. Nanti sesudah musuh mundur, akan kulatih kau terlebih jauh agar kau paham semuanya.”

So So girang sekali.

“Terima kasih, Shapeh.” ucapnya.

Inilah pertama kali Thay Giam mendengar suara iparnya itu. Ia agaknya terkejut sekali, segera ia menatap muka orang. Otaknyapun bekerja, memikirkan sesuatu yang telah dilupakan. Wajahnya menunjuk rasa heran yang luar biasa.

Coei Sanpun heran.

“Shako, apakah kau merasa tubuhmu tidak enak?” tanyanya.

Thay Giam tidak menyahut, dari menatap ia bengong. Matanya mendelong kedepan. Mata itu bersinar sangat tajam. Sekarang terlihat juga perubahan air mukanya yang menandakan ia menderita dan penasaran.

Habis memandang saudaranya itu, Coei San berpaling pada isterinya. Juga isteri itu berubah air mukanya. So So nampaknya sangat berkuatir dan Song Wan Kiauw dan yang lainnya juga turut merasa heran. Bergantian mereka mengawasi saudara mereka itu serta sang ipar. Hati mereka tidak tenang lagi.

Kamar menjadi sangat sunyi. Semua hati orang berdebaran.

Selagi berdiam itu, Thay Giam nampak napasnya memburu, mukanya yang pucat bersemu merah.

“Ngo teehoe, coba kemari,” katanya perlahan. “Mari aku lihat kau…..”

Tubuh So So bengemeteran, ia tidak berani menghampiri, sebaliknya tangannya menyambar tangan suaminya.

Kamar menjadi sunyi pula.

Selang sesaat, terdengar Thay Giam menghela napas.

“Kau tidak sudi datang tidak apa,” katanya pula. “Dulu, hari itupun aku tidak melihat wajahmu. Teehoe, aku minta sukalah kau menyebutkan kata kataku ini: Pertama, aku minta Congpiauw tauw sendiri yang mengantarkannya. Kedua, dari Lim an sampai di Sang yang, di propinsi Ouwpak, kau harus berjalan siang hari dan malam, supaya piauw bisa mencapai tempat tujuannya dalam tempo sepuluh hari. Syarat ketiga, kalau terjadi sedikit kesalahan saja, huh! huh! jangankan jiwa Cong piauw tauw sendiri, sedangkan ayam dan anjing dari Liong boen Piauwkiok pun tak akan terluput dari kebinasaan !”

Thay Giam bicara dengan perlahan, tetapi mendengar itu orang pada mengeluarkan peluh di punggungnya.

So So maju satu tindak.

“Shapeh, kau benar-benar hebat!” katanya. “Kau dapat mengenali suaraku.. Memang itu hari, didalam kantor Liong boen Piauwtiok, orang yang memesan Touw Thay Kim mengantarkan kau ke Boe tong san yalah adikmu adanya.”

“Terima kasih untuk kebaikan hatimu Teehoe.”

“Kemudian pihak Liong boen Piauw kiok itu telah membuat kegagalan ditengah jalan,” So So berkata pula. “Kegagalan itu menyebabkan kau menjadi bersengsara begini rupa. Karena itu adikmu ini telah membunuh habis semua keluarga Liong boen Piuaw kiok itu.”

“Demikian rupa kau berlaku untukku, kenapa kah?” tanya Thay Giam dingin.

Wajah So So menjadi guram. Ia menghela napas panjang.

“Shapeh, perkara telah berjalan sampai sebegini jauh. Tidak dapatlah aku menyembunyikan apa-apa lagi,” katanya kemudian. “Hanya terlebih dulu hendak aku menjelaskan. semua-muanya Coei San tidak tahu menahu. Aku kuatir … aku takut….. Setelah dia mengetahui itu, selanjutnya dia bakal tidak memperdulikan lagi padaku.”

“Jikalau begitu, tak usahlah kau menyebutnya lagi.” kata Thay Giam. “Aku telah bercacad begini rupa, urusan yang sudah-sudah tidak usah ditimbulkan pula. Kejadian itu tidak perlu mengganggu kamu sebagai suami isteri. Nah, kamu pergilah! Boe tong Liok hiap melawan pendeta-pendeta dari Siauw lim pay kemenangannya sudah dapat dipastikan. Jadi tak usahlah aku mendapat nama kosong”

Karena lukanya itu, sebab keangkuhannya, Thay Giam tidak pernah mengeluh atau mengutarakan penasarannya. Bahkan bicarapun ia tak dapat, tapi setelah dirawat sungguh sungguh oleh gurunya selama sepuluh tahun, perlahan-lahan ia bisa juga bicara. Hanya mengenai urusannya itu atas pengalamannya, ia tetap menutup mulut.

Maka itu ini hari, yalah disaat ini, kira-kiranya itu membikin semua saudaranya menjadi kaget dan heran, akan akhirnya semuanya berduka, bahkan ln Lie Heng lantas menangis.

“Shapeh, sebenarnya kau telah mendapat atau menduga dari siang-siang,” berkata So So pula, “melulu karena kau berat kepada Coei San sebagai Soeteemu, kau menahan sabar. Kau tidak sudi bicara. Memang itu hari disungai Cian tong, yang sembunyi didalam perahu, yang melukakan kau dengan jarum, yalah adikmu ini ….”

Coei San terkejut.

“So So!” serunya. “Benarkah itu? Kau …… mengapa kau tidak memberitahukan itu padaku?”

“Biang keladi segala kejadian dan orang yang mencelakai Soehengmu ini yalah So So isterimu ini. Cara bagaimana aku berani menerangkannya?” sahut sang isteri. “Shako, orang yang melukai kau dengan paku Cit seng teng, yang memperdayakan golok To liong to dari tanganmu, dialah kakakku sendiri, In Ya Ong… Kami dari Peh bie kauw tidak bermusuhan dengan kamu dari Boe tong pay. Setelah kami mendapatkan golok mustika itu, sedang kamipun menghargai kau sebagai seorang gagah sejati. Maka kami telah menugaskan Liong boen Piauw kiok mengantarkan kau pulang ke Boe tong san. Perihal peristiwa ditengah jalan, sungguh aku tidak duga sama sekali.”

Tubuh Coei San menggigil keras, matanya seperti menghamburkan marong. Ia lantas menuding isterinya:

“Kau…. kau mendustai aku hebat sekali!” katanya nyaring.

Mendadak Jie Thay Giam berseru keras, lantas tubuhnya mencelat dari atas pembaringannya dan roboh. Tubuh itu jatuh dipapan pembaringan hingga papan itu tak kuat menahannya dan ambruk. Thay Giam sendiri terus pingsan.

Menampak semua itu, So So menghunus pedang dipinggangnya. Ia membalik itu gagangnya pedang. Ia angsurkan pada suaminya.

“Ngo ko,” katanya. “Sudah sepuluh tahun kita menjadi suami isteri, aku bersyukur sekali untuk kecintaanmu. Maka kalau sekarang aku mati, aku puas. Aku tidak menyesal. Dari itu kau tikamlah aku supaya dengan begitu kau dapat melindungi dan mempertahankan kehormatannya Boe tong Cit hiap….. “

Coei San menyambuti pedang isterinya hendak ia meneruskan menikam dada isterinya. Mendadak ia ingat akan cinta kasih mereka selama sepuluh tahun. Hatinya menjadi lemah. Segala apa lantas berbayang didepan matanya itu. Untuk sejenak ia menjublak, diakhirnya ia berteriak, lalu ia lari keluar dari kamar, menuju kedepan !

So So dan Wan Kiauw semua tidak tahu apa yang bakal dilakukan. Mereka lari menyusul.

Mereka dapat melihat Coei San pergi keruangan besar untuk lantas berlutut didepan gurunya untuk mengangguk angguk beberapa kali seraya berkata “Soehoe, kesalahanku telah menjadi begini hingga tidak dapat ditarik pulang lagi. Maka itu muridmu hanya memohon satu hal…..”

Thio Sam Hong tidak tahu apa yang telah terjadi. Karena ia sabar ia berkata dengan tenang: “Apakah itu? Kau sebutkanlah! Pasti gurumu tidak akan menampik.”

Coei San mengangguk pula tiga kali.

“Terima kasih, Soehoo,” katanya. “Muridmu ada mempunyai seorang anak laki laki, ialah anak satu satunya. Dia sekarang masih berada didalam tangannya orang jahat. Maka itu muridmu mohon sukalah Soehoe menolongnya dari tangan iblis itu, kemudian tolong Soehoe merawatnya hingga dia menjadi besar.”

Habis berkata begitu, Coei San memutar tubuh kearah Kong boen Taysoe dan lain tetamu terhitung Ceng hian Soe thay dari Go bie pay. Dengan nyaring ia berkata: “Segala kesalahan, aku Thio Coei San yang melakukannya. Sebagai seorang laki laki, aku sendiri juga yang menanggungnya. Maka itu sekarang hendak aku membuat tuan tuan puas!”

Kata kata itu diakhiri dengan tebasan pedang nya kepada lehernya, hingga darahnya lantas muncrat dan tubuhnya roboh binasa.

Thio Sam Hong kaget bukun main. Ia melompat untuk menolong. Bersama ia melompat juga Jie Lian Cioe, Thio Siong kie dan In Lie Heng. Semua mereka pada berseru.

Berbareng dengan mereka berempat, ada lima orang lain yang turut melompat maju, akan tetapi mereka telah dibikin terpental dengan sampokan guru dan tiga muridnya. Justeru karena ini, mereka ini terlambat, Coei San keburu membunuh diri dan tubuhnya roboh.

Song Wan Kiauw, Boh Seng Kok dan In So So muncul paling belakang.

Justeru itu, dari luar jendela terdengar teriakan: “Ayah! Ayah!” Suara yang kedua kali itu tertahan seperti keluar dari mulut yang lantas tersumbat.

Hanya sekelebatan saja, Thio Sam Hong sudah mencelat keluar jendela, hingga ia dapat melihat seorang laki laki dengan dandanan seragam tentara Mongolia memeluki seorang bocah umur delapan atau sembilan tahun, bocah mana dibekap mulutnya tetapi ia coba meronta.

Hatinya Sam Hong tengah sakit dan pedih, maka itu tanpa berpikir lagi, ia membentak orang Mongolia itu: “Kau masuk kedalam !”

Orang itu tidak menurut perintah, bahkan dia menggerakkan sebelah kakinya untuk menjejak tanah, guna melompat naik keatas genteng. Selagi menjejak, ia mendak sedikit, si bocah tetap dipeluk. Tapi ia tidak dapat berlompat. Tubuhnya di rasakan berat. Thio Sam Hong yang telah melompat kepadanya, telah menekan pundaknya !

Kaget orang itu, rupanya dia mengerti gelagat, tanpa membuka suara, dia bertindak kedalam, hingga batallah dia hendak melarikan diri.

Bocah itu memang Boe Kie, puteranya Coei San dan So So. Ia telah ditotok urat gagunya. Akan tetapi ia pernah mengikuti Cia Soen belajar silat. Ia telah memperoleh kemajuan luar biasa, maka juga tidak lama habis ditotok, ia dapat dengan sendirinya membebaskan diri. Ia melihat ayahnya membunuh diri. Ia kaget luar biasa dan berteriak memanggil manggil ayahnya itu, atas mana ia segera dibekap pula, sampai kakek gurunya datang menolongnya.

In So So karam hatinya melihat suaminya membunuh diri. Meski begitu, mendapatkan anaknya, kegirangannya muncul juga, maka segera ia menghampirkan, tetapi perkataannya yang pertama ialah pertanyaan ini: “Anak, kau toh tidak menyebutkan tentang dimana adanya ayah angkatmu”

“Biarnya dia bunuh mati padaku, tidak nanti aku beritahu!” sahut si anak.

“Oh, anak yang baik”, seru sang ibu, “Mari aku memelukmu!”

“Serahkan anak itu!” Sam Hong memerintah orang Mongolia.

Orang itu menurut, tanpa bersuara, ia menyerahkan si bocah kepada ibunya.

Boe Kie nelusup dalam rangkulan ibunya. “Ibu,” katanya, “Siapa yang memaksa ayah membunuh diri?”

“Disini ada begini banyak orang,” menyahut sang ibu. “Merekalah yang naik kegunung ini dan memaksakan kematian ayahmu!”

Matanya Boe Kie lantas menyapu, dari kiri dan kekanan. Dia masih kecil akan tetapi sinar matanya tajam sekali. Sinar mata itu mengsandung kebencian dan kemarahan hebat, hingga siapa yang sinar matanya bentrok, hatinya terkesiap.

“Boe Kie, berjanjilah kepada ibumu!” kata So So

“Titahkan, ibu!” sang anak menjawab.

“Kau jangan terburu napsu menuntut balas” katanya. “Kau harus sabar. Perlahan-lahan saja kau menantikan, asal seorang jua jangan diberi lolos….”

Mendengar itu, orang pada merasakan tubuhnya bergidik, punggungnya dingin sendirinya.

“Baik, ibu!” Boe Kie menjawab. “Aku akan menantikan dengan perlahan-lahan, seorang jua aku tidak akan kasih lolos!”

Tubuh si nyonya tiba-tiba menggigil.

“Anak,” katanya, “karena ayahmu sudah mati, baiklah kita menyebutkan tempat kediamannya ayahmu itu, supaya mereka ini mendapat tahu…”

“Jangan, ibu, jangan!” Boe Kie mencegah. Tapi So So tidak memperdulikannya.

“Kong boen Taysoe, mari!” katanya. “Aku hanya akan memberitahukan pada kau seorang. Mari kupingmu, akan aku bisiki….”

Semua orang heran. Inilah diluar dugaan mereka.

“Siancay ! Siancay!” Kong boen memuji. “Nyonya yang budiman, coba kau bicara tadian sedikit, pastilah Thio Ngo hiap tidak usah binasa….”

Ia lantas menghampiri So So untuk membungkuk memasang kupingnya.

Nyonya Coei San menggerakkan kedua bibirnya, tetapi suaranya tidak terdengar.

“Apa?” Kong boen tanya.

“Kim mo Say ong Cia Soen, dia bersembunyi di….” kata So So. Kata “bersembunyi di” itu diucapkan sangat perlahan dan samar samar hingga sukar terdengar tegas.

“Apa!” pendeta dari Siauw lim sie itu menegas.

“Ya, dia bersembunyi disana, pergilah kau mencari sendiri.” So So berkafa pula.

“Aku tidak mendengar nyata !” kata Kong boen yang menjadi gelisah sendirinya.

“Aku hanya bisa memberitahukan secara demikian maka pergilah kau kesana. Kau akan mendapatkannya sendiri….” katanya pula.

Habis itu, ibu ini merangkul anaknya untuk berbisik: “Anak, setelah dewasa nanti, jagalah dirimu agar tidak diperdayakan wanita! Makin seorang cantik dan manis dilihat, makin dia pandai memperdayakan orang ….”

Kupingnya ibu itu ditaruh ditelinga puteranya. Ia menambahkan: “Aku tidak membilangi si pendata. aku cuma mendustakan dia!”

Lalu ia tertawa sendirinya, tertawa sedih.

“Nyonya yang baik!” Kong-boen berseru.

Sekonyong-konyong rangkulannya So So terlepas dengan sendirinya. Tubuhnya terhuyung, terus roboh celentang. Maka terlihatlah didadanya tertancapnya sebilah pisau belati. Karena selagi merangkul Boe Kie, puteranya, pisau belatinya sudah dipasang, dari itu tidak ada seorang juga yang melihat ia membunuh diri.

Boe Kie menubruk tubuh ibunya. “Ibu! Ibu!” ia memanggil-manggilnya. Tapi sang ibu telah lantas putus jiwanya.

Kedukaan Boa Kie melampaui batas, sampai ia tidak dapat menangis. Ia mencabut pisau belati dari dada ibunya, ia mencekal pisau yang berlumuran darah itu. Sambil memegangnya, ia memandang Kong boen Taysoe. Ia tanya dengan dingin: “Kaukah yang membunuh ibuku? Benar atau tidak?”

Kong-boen terperanjat. Kematiannya sinyonya sampai membuatnya menjublak. Biar bagaimana juga, ia adalah seorang Ciang boen jin, maka hatinya terharu juga menyaksikan sekaligus dua peristiwa berdarah yang terjadi secara beruntun dan menyayatkan hati itu.

Tanpa merasa, ia mundur setindak.

“Bukan……. bukan aku……. ” katanya menyangkal. “Dia membunuh diri…”

Air matanya Boe Kie mengembang, tetapi ia mencoba menahan mengucurnya itu. Ia kata dalam hatinya: “Aku tidak boleh menangis! Aku tidak boleh menangis! Aku tidak boleh mengasi lihat mereka ini aku menangis!”

Dengan tangan mencekal keras pisau belati berdarah itu, bocah ini lantas bertindak, dari kiri ruangan terus kesebelah kanan. Dia berjalan dengan tindakan perlahan, matanya mengawasi tajam pada semua hadirin itu yang berjumlah tiga-ratus orang lebih untuk mengenali mereka satu demi satu, sedang dibatok kepalanya teringat pesan ibu nya barusan: ” … perlahan-lahan saja kau menantikan, asal saja seorang juga jangan diberi lolos!”

Memang yang mendaki gunung Boe tong san itu, kalau bukannya ketua partai atau perkumpulan, tentu ahli silat dan bahwa mereka berani mengunjungi kuilnya Thio Sam Hong, menyatakan keberanian mereka. Akan tetapi sekarang, ditatap Boe Kie demikian rupa, hati mereka terkesiap dan mencelos. Jantung mereka berdenyutan memukul keras …”

Akhir-akhirnya Kong boen Taysoe berbatuk batuk perlahan.
“Thio Cinjin,” katanya, “peristiwa ini…. ah….sungguh diluar dugaan…. Thio Ngo hiap suami isteri telah menutup mata sendirinya. Maka itu semua urusan yang telah lampau, baiklah dibikin habis saja. Sekarang kami meminta diri”

Pendeta itu lantas memberi hormat.

Thio Sam Hong membalas hormat itu. “Maaf, tidak dapat aku mengantar sampai jauh” katanya tawar.

Semua pendeta Siauw lim sie itu lantas bergerak untuk berlalu.

Mendadak In Lie Heng berseru bengis: “…kamu telah memaksa kematiannya saudaraku …..” Tapi ia segera berhenti sendirinya, karena ia lantas ingat Ngoko telah membunuh diri sebab ia malu kepada Shako. Mereka ini tidak ada sangkut pautnya. Maka ia tidak melanjuti menegur, sebaiknya ia menubruk tubuhnya Coei San dan menangis menggerung-gerung.

Semua orang menjadi merasa tidak enak hati. Lantas mereka menghampiri Thio Sam Hong untuk pamitan, sedang didalam hati mereka, mereka berpikir: “Perkara ini hebat sekali, Boe tong pay tentulah tidak mau sudahan dengan gampang gampang….”

Hanya Song Wan Kiauw yang mengantar semua tetamunya sampai diluar pintu. Selama itu mata nya sudah merah, ketika kemudian ia memutar tubuh, air matanya lantas nerobos keluar, sedang kupingnya mendengar tangisan riuh dan memedihkan dari ruangan dalam.

Rombongan Go bie pay yang paling belakang meminta diri. Kie Siauw Hoe melihat In Lie Heng menangis demikian sedih, matanya menjadi merah sendirinya, lupa malu atau likat, ia menghampiri pemuda itu.

“Liok ko, aku mau pengi,” katanya perlahan sekali, “Kau….. kau rawatiah dirimu baik baik.”

Dengan air mata masih mengembang, In Lie Heng mengangkat kepalanya akan memandang si nona. Karena air matanya itu matanya seperti kabur. Ia masih sesenggukan ketika ia berkata. “Kamu….. kamu kaum Go bie pay apakah kamupun datang untuk menyeterukan Ngoko ?”

“Bukan,” menyahut Siauw Hoe cepat. “Hanya guruku mau meminta saudara Thio suka mengunjuk alamatnya Cia Soen.”

Boe Kie mendengar pembicaraan itu, mendadak ia menyeletuk: “Ibuku sudah memberitahukan itu kepada si pendeta, pergi kau tanya dia saja! Jikalau pendeta itu tidak sudi memberi tahu, pergi kamu rewel dengan mereka !”

Dalam kedukaannya, anak ini sudah mengerti maksud ibunya
“Kau anak yang baik,” berkata Kie Siauw Hoe. “Paman In mu tentulah akan bisa merawati kau terus ….”

Dengan kata katanya ini si nona mau maksudkan ia dan In Lie Heng pasti nanti memandang dia sebagai anak sendiri.

Kemudian ia meloloskan rantai emasnya dari lehernya. Ia memasuki itu kekepalanya Boo Kie seraya berkata dengan halus : “Ini untukmu …”

Mendadak Boe Kie melompat sambil membentak: “Aku tidak menghendaki barang musuh!”

Nona Kie berdiri menjublak likat, tangannya tetap memegangi kalungnya itu.

“Kamu lekas pergi !” kata Boe Kie berteriak. “Aku hendak menangis! Seperginya semua musuh, baru aku menangis!”

“Anak, kami bukan musuhmu,” kata Kie Siauw Hoe perlahan.
Boe Kie menggertak gigi. Mendadak ia berkata sengit: “Semakin wanita cantik, semakin dia pandai menipu orang!”

Mukanya Kie Siatiw Hoe menjadi merah semua, hampir ia menangis. Wajahnja Ceng hian Soethay menjadi guram.
“Soemoay, buat apa banyak bicara sama anak kecil !” katanya. “Mari kita pergi!”

Boe Kie mengawasi, ia menanti sampai Kie Siauw hoe semua sudah lenyap dari pintu ruang itu, baru ia hendak menangis, atau tiba tiba napasnya berhenti berjalan, tubuhnya roboh terkulai.

Jie Lian Cioe terkejut. Ia lompat menubruk, untuk membangunkannya. Ia menyangka, saking sedihnya, anak ini jadi pingsan. Ia kata. “Anak, kau menangislah!” Iapun lantas mengurut tubuh si bocah.

Luar biala keadaannya Boe Kie. Ia tidak siuman, bahkan sebaliknya tubuhnya menjadi dingin bagaikan es. Melainkan dari hidungnya menghembuskan napas yang lemah sekali.

Lian Cioe terus mengurut, tapi ia tetap tidak tersadar.

Sekarang Wan Kiauw semua menjadi kaget.

“Anak ini keras hatinya, iapun telah mengerti segala apa.” berkata Thio Sam Hong menghela napas. Ia lantas menekan jalan darah Leng thay hiat dipunggung anak itu untuk menyalurkan hawanya sendiri ketubuh si anak.

Menurut tenaganya Thio Sam Hong, orang luka bagaimana berat juga, asal jiwanya belum putus, asal dia menyalurkan hawanya, dia bakal mendusin dari pingsannya dan keadaannya lantas menjadi baikan. Akan tetapi tidak demikian dengan Boe Kie. Anak ini mengasi lihat akibat yang luar biasa. Mukanya lantas berubah jadi pucat menjadi biru, dari biru menjadi unggu, dan tubuhnyapun bengemetaran. Ketika jidatnya diraba, jidat itu dingin seperti es. Maka kagetlah kakek guru ini. Lekas-lekas ia masuki tangannya kedalam baju di punggung untuk meraba-raba. Disitu ada satu bagian yang mengeluarkan hawa panas, sedang disekitarnya semua dingin sekali. Kalau bukannya Sam Hong, mungkin dia turut kedinginan juga.

“Wan Kiauw, lekas cari itu Tartar yang tadi membawa anak ini kemari!” guru ini menitahkan muridnya.

“Aku turut?” berkata Lian Cioe yang pun turut pengi.

Ketika tadi orang bingung, tanpa ketahuan, orang Mongolia itu telah mengangkat kakinya. Thio Sam Hong sendiri sampai lupa memperhati kan dia.

Sam Hong lantas merobek baju Boe Kin, untuk memeriksa tubuhnya yang berkulit halus dan putih. Dipunggung kedapatan tapak dari lima jari tangan, tapak mana bersemu hijau tua dan berbahaya. Ketika diraba, tapak itu mengeluarkan hawa panas sekali. Dilain pihak, disekitar, semua nya berhawa dingin. Pantaslah, karenanya, Boe Kie pingsan bagaikan mayat.

Wan Kiauw dan Lian Cioe kembali dengan cepat dengan laporannya bahwa siorang Mongolia tidak kedapatan, bahwa mereka telah mencari dengan sia sia.Mereka inipun menjadi kaget sekali melihat tapak tangan dipunggung Boe Kie.

Thio Sam Hoag mengerutkan alisnya. Tampaknya ia menyesal ketika mengucapkan katanya: “Aku telah menyangka tigapuluh tahun yang lalu, dengan matinya Pek soe Tauwto, maka lenyaplah sudah ini ilmu Hian beng Sin cieng yang lihay luar biasa. Siapa sangka sebenarnya masih ada orang yang mempunyai kepandaian itu”

Wan Kiauw kaget bukan main.

“Jadi anak ini terluka dengan ilmu Hian beng Sin ciang?” tanyanya. Ia berusia paling tinggi dan ketahui perihal ilmu pukulan tangan kosong itu, Tangan Malaikat Air, Lian Cioe dan yang lain nya, mendengar pun belum.

“Warnanya tapak jari ini yalah tanda utama dari pukulan jahat itu” Thio Sam Hong menerangkan.

“Soehoe perlu obat apa?” tanya In Lie Heng: “Nanti aku lantas ambil.”

Guru itu menghela napas. Ia tidak menyahut, hanya kedua mata mengucarkan air. Ia mengangkat tubuh Boe Kie untuk di rangkul erat-erat, sedang matanya mengawasi mayat Coei San.

Ia kata: “Coei San, Coei San ! Kau mengangkat aku menjadi guru. Ketika kau mau pulang, kau menitipkan anakmu ini padaku, akan tetapi aku aku tidak sanggup melindungi anakmu ini! Maka apakah artinya aku hidup sampai umur seratus tahun? Apakah gunanya Boe tong pay terkenal di seluruh jagat? Lebin baik aku mati saja ….”

Wan Kiauw semua kaget tidak terkira. Semenjak mengikuti guru ini, mereka selalu mendapatkan si guru bergembira. Belum pernah ia bersusah hati atau berputus asa seperti ini.

“Soehoe, benarkah anak ini tidak dapat ditolong lagi ?” tanya Lie Heng penasaran.

Sam Hong memeluk terus tubuh Boe Kie. Ia berjalan mundar-mandir diruang itu.

“Kecuali …. kecuali guruku Kak-wan hidup pula dan ia mengajar aku seluruh kitab Kioe yang Cin keng …..”

Semua murid Thio Sam Hong kaget. Semuanya berdiam. Kak wan Tay soe telah menutup mata pada delapan puluh tahun yang lampau. Mana dapat ia hidup pula? Itu artinya, Bor Kie tidak bisa ditolong lagi….

“Soehoe,” kata Lion Cioe tiba tiba “Aku ingat orang Mongolia tadi. Dengannya pernah aku beradu tangan. Memang tangannya lihay sekali, jarang orang selihay dia. Tanganku telah terluka karena beradu tangan itu, tetapi sekarang tanganku telah sembuh seantengnya, rasanya bakal tidak ada akibatnya lebih jauh…”

“Didalam hal itu kau mengandal kepada nama besar Boe tong Cit hiap,” berkata sang guru “Hian beng Sin Ciang itu luar biasa. Kalau melukai orang, celakalah korbannya. Sebaliknya, kalau dia kalah tenaga dalam, dia bakal terluka sendirinya. Ketika dia beradu tangan dengan kau, mungkin dia tidak bersungguh hati, rupanya dia jeri. Maka ingat, kalau lain kali. kau bertemu dia, berhati-hatilah.”

Lian Cioe bergidik sendirinya.

“Jadi dia jeri kepada tenaga dalamku? Dia jadi tidak menggunakan seantero ilmunya yang liehay itu,” pikirnya. “Coba lain kali dia bertemu pula denganku, tentu dia tidak akan memberi ampun lagi ….”

Keenam orang itu berdiam. Sekonyong-konyong terdengar jeritan Boe Kie: “Ayah, ayah, aduh sakit!” Dan ia membalas merangkul Thio Sam Hong keras-keras, kepalanya diselusupkan di dada si imam tua.

Hati Sam Hong menggetar. Ia sangat menyayang anak itu. Dengan mengertak gigi ia berkata: “Mari kita gunakan semua tenaga kita untuk menolong bocah ini. Sampai berapa lama lagi dia dapat hidup, terserah kepada kemurahan hati Thian”

Ia lantas mengawasi mayat Coei San, air mata turun bercucuran ia berkata: “Coei San, Coei San, oh, bagaimana sengsara anakmu ini!”

Kemudian ia bertindak kedalam, membawa bocah itu ke kamarnya sendiri, setelah meletakkan tubuh orang ia menotok berulang ulang delapan macam jalan darahnya.

Setelah ditotok pergi datang itu, tubuh Boe Kie tidak bergemetaran lebih jauh, hanya warna kulit mukanya, warna ungu itu, sudah menjadi bertambah gelap. Sam Hong tahu baik sekali, bila warna itu berubah menjadi hitam, habislah sudah jiwa bocah yang malang ini. Maka ia lekas-lekas meloloskan semua pakaian Boe Kie, dan membuka jubahnya sendiri, lalu punggung si anak ditempel rapat rapat pada dadanya sendiri.

Ketika itu diluar, Song Wan Kiauw beramai mengurus mayat Thio Coei San dan In So So. Kemudian Jie Lian Cioe bersama Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok bertiga menyusul guru mereka hingga mereka melihat sepak terjang guru itu, yang tengah mengerahkan tenaga dalamnya menurut ilmu “Soen-yang Boe kek kang” untuk menyedot hawa dingin dari tubuh Boe Kie. Seumurnya Thio Sam Hong tidak menikah, maka sampai usianya seratus tahun, dia tetap perjaka sejati, karena mana juga dia berhasil meyakinkan ilmu tenaga dalamnya itu yang istimewa. Hanya ilmu itu luar biasa sekali, kalau salah penggunaannya dapat mencelakakan diri sendiri.

Menyaksikan itu, ketiga murid ini berdebatati hatJnya. Mereka menguatirkan gurunya. Yang di kuatirkan, karena sudah tinggi usianya, tenaganya mungkin telah berkurang tanpa diketahui.

Selang setengah jam terlihat muka Thio Sam Hong berwarna semu hijau dan sepuluh jari tangannya bengemetaran.

Kemudian guru itu membuka matanya dan berkata: “Lian Cioe mari kau gantikan aku. Kalau kau sudah tidak sanggup, lekas suruh Siong Kee menggantikannya. Ingat, jangan kau memaksakan diri.”

Lian Cioe meloloskan jubahnya, menyambuti Boe Kie, untuk dipeluk erat erat. Begitu tubuh mereka beradu, ia merasakan hawa dingin, seakan akan ia memeluk sebalok es. Maka ia berkata “Cit tee, lekas kau suruh orang menyalakan beberapa dapur, makin marong apinya makin balik!”

Demikian, dengan mengandalkan tenaga dalam mereka, guru dan murid-muridnya itu menolong Boe Kie, si bocah keturunan satu-satunya dari Coei San dan So So. Disini terlihat nyata perbedaan tingkat tenaga dalam antara guru dan murid itu. Seng Kok tidak dapat bertahan lama-lama seperti saudara-saudaranya, ia hanya kuat bertahan selama sepanasnya air teh didalam cangkir, sedang Wan Kiauw kuat bertahan selama dua batang hii. Ketika In Lie Heng yang menggantikan, seketika itu dia menjerit dan tubuhnya menggigil.

“Mari serahkan Boe Kie padaku!” kata Sam Hong kaget. “Pergi kau bersamadhi!”

Ternyata Lie Heng menjadi lemah karena ia lah yang mendaratkan pukulan batin paling hebat karena kematian Coei San itu, hingga ia tidak dapat menguasai diri.

Usaha merampas jiwa Boe Kie dari tangan maut ini dilanjutkan terus dengan bergantian selama tiga hari dan tiga malam, maka bisalah dimengerti hebatnya penderitaan mereka.

Syukurnya yalah, hawa dingin ditubuh Boe Kie mulai berkurang, yang berarti juga berkurangnya racun dari Hian beng Sin ciang. Baru dihari ke empat, mereka dapat senggang sedikit, untuk beristirahat dan tidur. Sedang pada hari kedelapan, pembagian giliran dapat diatur lebih rapi, yalah seorang dapat menolong bergantian setiap dua jam. Dengan begitu, mereka bisa beristiahat dengan baik dan teratur.

Boe Kie memperoleh kemajuan, hawa dinginnya berkurang setiap hari. Ingatannya pun bertambah sadar, bahkan ia dapat dahar sedikit-sedikit. Semua orang berlega hati. Itulah bertanda bahwa anak ini akan dapat ditolong. Maka bukan kepalang kagetnya orang ketika tiba pada hari yang ketigapuluh enam, Lian Cioe yang pertama mengetahui datangnya perubahan luar biasa mendapatkan bahwa hawa dingin ditubuh Boe Kie tidak dapat disedot pula. Lian Cioe heran, ia menyangka bahwa tenaganya sendiri yang sudah habis, maka ia memberitahukan gurunya.

Thio Sam Hong segera mencoba sendiri, iapun gagal. Semua orang menjadi gelisah lagi. Lima hari dan lima malam mereka mencoba terus, tetapi hasilnya tetap tidak ada.

“Thay soe hoe,” berkata Boe Kie yang masih tetap sadar, “tangan dan kakiku telah terasakan hangat, hanya embun-embunanku, hati dan perut ku bertambah dingin…”

Didalam hatinya, Thio Sam Hong kaget bukan

“Lukamu telah sembuh banyak,” ia berkata meaghibur.

“Kamipun rasanya tidak usah selalu harus mendampingimu. Pergilah kau rebahkan diri sebentar dipembaringanku.”

“baik, thaysoehoe,” kata bocah itu.

Boe Kie terus berlutut didepan kakek gurunya, begitupun didepan Wan Kiauw berlima, untuk manggut-manggut beberapa kali. Ia berkata pula: “Thay soehoe bersama paman semua telah menolong jiwa Boe Kie, maka selanjutnya Boe Kie mohon diajarkan ilmu silat supaya Boe Kie dapat membalaskan sakit hati ayah dan ibu kelak”

Sam Hong mengajak semua muridnya keruang dalam, disini ia berkata kepada mereka itu: “Hawa dingin sudah masuk ke embun-embunan, hati dan perut, tak tertolong dengan tenaga luar. Kelihatannya sia sia belaka pengorbanan kita selama hampir empat puluh hari. Kenapa bisa terjadi begini, sungguh aku tidak mengerti….”

Semua orang mengasah otak, tapi sesudah sekian lama, belum juga ada yang bisa menebak sebab musababnya perubahan itu. Jika mau dikatakan, bahwa Soen yang Boe kek kang tidak dapat mengusir hawa dingin itu, mengapa ilmu tersebut memperlihatkan kefaedahannya selama tiga puluh enam hari dan baru gagal pada hari ke tiga puluh tujuh?

Mengapa sedang lain-lain bagian tubuhnya hangat hanya di embun-embunan, hati, dan tantian (perut, tiga dim dibawah pusar) yang dingin luar biasa?

Selang beberapa saat lagi, tiba-tiba Jie Lian Cioe berkata: “Soehoe, apa tidak bisa jadi, sesudah kena pukulan Hian beng Sin ciang, Boe Kie mengerahkan Lweekang untuk melawannya dan karena salah menggunakan tenaga dalam, racun dingin itu dan tenaga dalamnya melekat satu sama lain, sehingga tidak dapat disedot lagi?”

Sam Hong menggelengkan kepala. “Tak mungkin,” jawabnya. “Andai kata Coei San telah mengajarnya, anak yang masih begitu kecil pasti tidak mempunyai Lweekang yang begitu berarti.”

“Soehoe keliru,” membantah Lian Cioe. “Tenaga dalam Boe Kie tidak lemah.” Ia segera menceritakan, cara bagaimana dengan pukuan Sin Liong Pa bwee, bocah itu telah merobohkan seorang murid dari Boe san pang.

Sang guru menepuk lututnya. “Benar, kau benar!” katanya. “Anak ini tentu sudah mempelajari ilmu silatnya Kim mo Say ong Cia Soen yang aneh aneh. Kalau Lweakangnya diperoleh dari Coei San, sehingga ia memiliki tenaga dalam dari partai kita sendiri, maka pengobatan dengan Soen yang Boe kek kang sudah pasti akan mempercepat kesembuhannya dan tak mungkin akan timbul perubahan yang sangat luar biasa, Tapi …. ilmu silat apakah yang dimiliki Cia Soen?”

Ia segera kembali kekamar Boe Kie dan berkata: “Nak, Thay soe hoe ingin menyelidiki ilmu silat mu. Cobalah kau memukul aku tiga kali.”

“Aku tidak berani memukul Thay soehoe,” kata Boe Kie.

Sang kakek guru bersenyum. “Jika kau tidak memukul, cara bagaimana aku bisa mendapat tahu cetek dalamnya ilmu silatmu?” katanya. “Sebelum mengetahui itu, tak dapat aku menurunkan pelajaran yang lebih tinggi. Pukullah dengan seantero tenaga.”

“Kalau begitu baiklah,” kata si bocah. “Tapi Thay soehoe jangan membalas.”

“Jangan kuatir,” kata Sam Hong.

Boe Kie lantas saja miringkan badannya, tangan kanannya dari atas menyabet kebawah, kesebelah kiri. Itulah pukulan Kian liong Cay tian (Melihat naga disawah) dari Hang liong Sip pat ciang. Sang kakek guru segera menyambut dengan tangan kirinya dan tenaga pukulan si bocah lantas saja punah.

Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya. “Tidak jelek,” katanya.

Begitu lekas pukulan pertama punah, Boe Kie memutar tubuh dan lalu menyabet pula dengan telapak tangannya, dengan jurus Sin liong Pa bwee. Sam Hong menyambutnya dengan tangan kanan dan untuk kedua kalinya, pukulan Boe Kie punah seperti masuk kedalam laut.

“Bagus!” memuji sang kakek guru. “Bahwa anak sekecil kau bisa mempunyai tenaga yang sebesar itu, sungguh-sungguh luar biasa.”

Paras muka si bocah berubah merah. “Thay soehoe, sudahlah! Aku tak mau memukul lagi”

“Kedua pukulanmu sangat bagus, coba lagi satu kali,” memerintah Sam Hong.

Boe Kie segera membuat sebuah lingkaran dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya mendorong kedepan. Itulah pukulan Kang liong Yoe hwie (Penyesalan sang naga) dari Hang liong Sip pat ciang.

Waktu menyambutnya, Sam Hong merasa bahwa pukulan itu tidak selihay dua pukulan yang lebih dulu. Ia menggelengkan kepala seraya berkata: “Pukulan ini kurang bagus. Mungkin kau belum mahir.”

“Bukan, bukan aku, tapi Giehoe yang belum mahir,” membantah Boe Kim. “Gie hoe telah mengatakan, bahwa Hang liong sip pat ciang adalah salah satu ilmu pukulan yang terlihay didalam dunia. Sayang, ia hanya mengenal sebagian kecil saja. Giehoe juga mengatakan, bahwa ia sendiri masih belum dapat menyelami intisari dari pada Kang liong Yoe hwie, tapi ia mengajarkannya juga kepadaku, dengan pengharapan bahwa dikemudian hari aku sendiri bisa menyelaminya.”

Sam Hang mengangguk “Ya.” katanya. “sekarang aku mengerti. Tapi dalam pertempuran, tak boleh kau menggunakan pukulan itu, karena kau sendiri bisa celaka.”

“Thay soehoe, aku memohon kau untuk mengajar aku ilmu silat itu,” kata Boe Kie.

“Aku sandiri tak mampu,” jawabnya. “Semenjak jaman Kwee Ceng, Kwee Thayhiap, membela kota Siangyang, kecuali Kwee Tayhiap sendiri, ilmu silat itu sudah menghilang dari Rimba Persilatan.” Sesudah itu ia lalu menanyakan semua ilmu yang sudah dipelajari Boe Kie dan anak itu menerangkan sejelas-jelasnya.

Sesudah mendengar habis, Sam Hong merasa kagum akan luasnya pengetahuan Cia Soen. Dapat dikatakan, bahwa ia mengenal semua ilmu silat yang terdapat dalam Rimba Persilatan. Hanya sayang, ia tidak menyelami ilmu-ilmu itu sampai didasarnya, akan kemudian mengubah ilmu silatnya sendiri, seperti lazimnya diperbuat oleh guru-guru besar. Oleh karena begitu, biarpun ilmunya beraneka warna tak satupun yang dipelajari sampai dipuncaknya. Tak usah dikatakan lagi, bahwa dalam usia yang semuda itu, Boe Kie belum bisa mewarisi kepandaian ayah angkatnya. Apa yang sudah dilakukannya yalah menghafal kitab kitab dan Kouw koat (teori) dari macam-macam ilmu silat. Ia menghafal dengan lancar sekali. Beberapa macam ilmu silat bahkan belum pernah didengar oleh Sam Hong sendiri.

Dalam tekadnya yang bulat untnk membalas sakit hati terhadap Seng Koen, Cia Soen telah membinasakan banyak jago dari berbagai partai atau golongan persilatan. Saban kali membunuh orang, ia selalu merampas kitab ilmu silat yang dimilik oleh korbannya itu, supaya kalau belakangan ia mesti bertempur dengan kawan-kawan sikorban. Ia sudah mengenal ilmu silat musuhnya. Itulah sebabnya mengapa ia memiliki ilmu silat yang begitu banyak corak ragamnya dan ilmu-ilmu itu semua diturunkan kepada Boe Kie.

Tapi Boe Kie hanya mempelajari teori dan tidak mengenal prakteknya. Ia belum bisa bersilat berdasarkan teori itu dan masih gelap akan perubahan-perubahan yang tersebut dalam Kouw koat itu.

Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya. Ia mengerti, bahwa dengan berbuat begitu, Cia Soen memperlihatkan cintanya yang tidak terbatas terhadap anak pungutnya. Cia Soen tahu, bahwa dalam tempo beberapa tahun, Boe Kie tak akan bisa mempelejari semua ilmu silatnya.

Sang tempo sudah sangat mendesak, karena Boe Kie mesti segera pulang ke Tionggoan. Maka ia sudah menurunkan semua Kouw koat, dengan pengharapan bahwa dikemudian hari, dengan dibantu kecerdasannya, anak itu bisa mengerti sendiri teori-teori yang sudah dihapalnya.

Sesudah menyambut tiga pukulan Boe Kie, Sam Hong tahu, bahwa tenaga dalam bocah tidak murni. Sebagai akibatnya, Lweekang dingin dari Hian beng Sin ciang tidak dapat disedot keluar lagi.

Dengan hati masgul kakek guru itu duduk terpekur sambil mengasah otak. Selang sekian lama, ia berkata dengan suara perlahan: “Untuk mengeluarkan racun itu, orang lain tidak akan dapat membantunya lagi. Jalan satu-satunya, ia harus melatih diri dengan Lweekang tertinggi dari Kioe yang Cin keng. Tapi sayang sungguh, bahwa pada waktu mendiang guruku yaitu Kak wan Taysoe, menghafal kitab tersebut, aku masih sangat muda dan tidak bisa ingat seanteronya. Biarpun sudah berulang kali aku menutup diri merenungkannya sekian lama, belum juga aku dapat menyelami seluruhnya. Sekarang, karena tiada jalan lain, biarlah ia berlatih sendiri dengan apa yang aku mampu. Jika ia bisa hidup lebih lama satu hari, biarlah ia hidup lebih lama satu hari.”

Sesudah itu, ia segera mengajar Boe Kie dengan Kouw koat dan cara berlatih dari Kioe yang Cin-kang (Ilmu senjata dari Kioe yang). Ilmu itu, yang kelihatannya sederhana, sangat dalam dan banyak sekali perubahannya. Dengan menjalankan pernapasan menurut peraturan yang sudan ditetapkan, Cin kie (Hawa murni) yang hangat dari tantian mengalir keberbagai jalan darah dan kemudian kembali dan berkumpul pula sekitar tantian. Pengaliran “Hawa murni” dari tantian ketantian merupakan satu putaran dan putaran itu diulang dan di ulang lagi.

Sesudah selesai satu putaran, orang yang berlatih lantas saja merasa seluruh tubuhnya nyaman luar biasa. “Hawa-murni” itu yang melayang-layang dan mengalir bagaikan asap rokok dinamakan juga In-Oen Cie kie (Hawa ungu dari Langit dan Bumi). Jika latihan seseorang sudah capai tingkat yang tinggi, In oen Cie-kie bisa mengusir racun dingin ditatian dan diberbagai jalan darah. Dalam Rimba Persilatan, azas-azas Lweekang dari berbaggai partai itu tidak banyak bedanya. Yang berbeda yalah cara berlatihnya. Sebegitu jauh mengenai tenaga, Boetong Sin-hoat dari Thio Sam Hong jarang tandingannya didalam dunia.

Sesudah berlatih dua tahun lebih, Boe Kie sudah dapat mengumpulkan banyak juga In oen Cin Kie ditantiannya. Tapi karena racun dingin terlampau hebat, maka kehangatan dari “Hawa murni” itu tidak berhasil mengusirnya. Sebaliknya dari pada sembuh, sinar hijau dimukanya kian hari kian tua dan setiap kali racun dingin itu mengamuk, ia menderita bukan main.

Selama dua tahun, Thio Sam Hong memeras tenaga dan pikiran untuk mengajar, menilik dan merawat cucu muridnya itu. Song Wan Kiauw dan saudara-saudara sepenguruannya telah menjelajah keberbagai tempat untuk mencari obat obatan yang mujarab dan langka terdapat di dalam dunia. Mereka membawa pulang Jin som yang sudah berusia lebih seratus tahun, Sioe ouw, Hok leng dari Soat san dan sebagainya untuk diberikan kepada bocah itu. Tapi semua obat-obatan itu bagaikan batu yang dilemparkan kedalam lautan. Makin hari anak itu jadi makin kurus dan pucat.

One Response to “To Liong To – 5”

  1. nasruddin Says:

    buagus….amat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: