To Liong To – 3

Demikianlah, tanpa bergerak, dengan ilmu “meminjam tenaga memindahkan tenaga”, ia memindah kan tenaga pukulan itu ketelapak tangannya sendiri. “Plok !”, Bwee hoa piauw yang ketiga melompat keluar dari lengan In So So dan menancap di papan gubuk perahu!

Sesaat itu, orang yang nenyerang sudah mengirim pukulan kedua. Ia terkesiap melihat akibat pukulannya yang pertama, sehingga tangannya yang tengah menyambar berhenti ditengah udara. “In Kouwnio! .. kau … apa kau terluka?” teriaknya.

Si nona tidak menyahut.

Sebagai seorang jago yang berpengalaman, begitu melihat darah hitam yang mancur dari lengan si nona, orang itu sudah mengerti, bahwa ia telah berbuat suatu kehilafan. Ia merasa sangat menyesal dan menduga Thio Coei San telah mendapat luka berat karena pukulannya itu hebat luar biasa. Buru2 ia merogo saku dan mengeluarkan obat untuk diberikan kepada pemuda itu.

Coei San menggelengkan kepala dan setelah melihat darah hitam sudah berubah merah, perlahan2 ia melepaskan lengan si nona. Ia menengok dan berkata sambil tertawa: “Tenaga pukulanmu sungguh tidak kecil.”

Orang itu kaget bukan main. Dengan pukulan serupa itu, entah sudah berapa banyak jago2 binasa dalam tangannya Sungguh heran, pemuda itu seperti juga tidak merasakan apapun jua. Ia mengawasi dengan mulut ternganga dan berkata dengan suara ter-putus2 “Kau…kau…” Ia mengangsurkan tiga jari yang lalu ditempelkan kepada Coei San.

“Biar aku main2 sedikit dengannya,” pikir pemuda itu. yang segera mengerahkan Lweekang dan jantungnya lantas saja berhenti berdenyut serupa kepandaian yang hanya dimiliki oleh seorang yang Lweekangnya sudah mencapai puncak tertinggi.

Begitu menyentuh nadi Coei San, paras maka orang itu berobah pucat karena nadi itu tidak mengetuk lagi. Dalam kagetnya, ia meraba dada pemuda itu dan hatinya mencelos, sehingga ia melompat kebelakang sambil mengeluarkan seruan tertahan.

“In Kouwnio, apakah tuan ini sahabatmu ?” tanya Coei San sambil tersenyum. “Mengapa kau tidak memperkenalkannya kepadaku ?” Sambil berkata begitu, ia menyambuti saputangan yang di sodorkan oleh In So So dan lalu membalut luka dilengan nona itu.

Mendengar suara Coei San yang tidak berubah sedikitpun jua, keheranan orang itu tak mungkin dilukiskan lagi.
“Siang Tan coe, kau tak boleh kurang ajar!” membentak si nona. “Inilah Thio Ngo hiap dari Boe tong pay.”

Orang itu buru-buru memberi hormat dan berkata dengan suara kagum “Aha. Kalau begitu Thio Ngo hiap dari Boe tong Cit hiap! Tak heran jika Lweekangnya sedemikian tinggi. Aku yang rendah Siang Kim Peng dan aku memohon maaf untuk kekurang ajaranku.”

Coei San mengawasi orang itu yang berusia kurang lebih limapuluh tahun. Mukanya bopeng dengan otot-otot yang menonjol keluar dari telapak tangannya lebar seperti kipas sehingga selintas saja mengetahui, bahwa orang she Siang itu adalah seorang ahli silat Gwa kee. Ia mengerti bahwa jika lweekangnya belum sempurna betul, pukulan yang tadi sudah pasti akan mengambil jiwanya sendiri.

Sesudah memberi hormat kepada pemuda itu. Siang Kim Peng lalu menjalankan peradatan dihadapan In So So yang menerimanya dengan sikap acuh tak acuh.

Coei San jadi sangat beran. Dari pukulan Siang Kim Peng, ia tahu bahwa orang itu bukan sembarang orang. Tapi mengapa In So So berani bersikap begitu kurang ajar terhadapnya dan dia juga kelihatannya menerima baik sikap dari si nona.

Di lain saat, Siang Kim Peng berkata dengan suara perlahan: “Hian boe tan Pek Tan coe telah menjanjikan orang-orang Hay see pay, Kie keng pang dan Hok kian Sin koen boen untuk mengadakan partemuan besok pagi di pulau Ong poan san dimulut sangai Can tong kang, guna mengangkat senjata dan menetapkan keangkeran. Jika, kesehatan nona agak terganggu, biarlah Siauw jin lebih dulu mengantarkan nona pulang ke Lim an. Menurut pendapatku, Pek Tan coe sudah lebih dari pada cukup untuk membereskan segala urusan di Ong poan san.”

So So mengeluarkan suara di hidung. “Hay-see-pay, Kie keng -pang, Sin koen boen …. Hmmm …. Apakah Ciang boen Jin Hoa koen boen Kwee Sam Koen, turut datang juga?” tanyanya.

“Ya. Kudengar ia akan datang sendiri dengan mengajak dua belas muridnya yang terutama,” jawabnya.

Si nona tertawa dingin. “Meskipun nama Kwee San Koen sangat cemerlang, tapi dia bukan tandingan Pek Tan coe,” katanya. “Siapa lagi yang bakal turut serta?”

Sesudah berdiam sejenak, barulah Siang Kim Peng menjawab: “Menurut warta, dua orang Kiamkek (ahli silat pedang) muda dari Koen loen pay juga akan menghadiri pertemuan itu, untuk .. melihat To .. . To … To ….” Ia melirik Thio Coei San dan tidak meneruskan perkataannya.

“Mereka mengatakan mau lihat-lihat To liong to?” tanya So so. “Hm …. mungkin .. sesudah melihat dalam hati mereka timbul rasa serakah …..”

Mendengar perkataan “To liong to”, Coei San terkejut, tapi sebelum ia keburu membuka mulut untuk menanyakan terlebih jauh, sinona sudah berkata pula: “Hmmm……selama beberapa tahun ini, dalam Rimba Persilatan, gelombang Tiangkang yang disebelah belakang mendorong gelombang yang disebelah depan. Orang-orang Koen loen pay tak dapat dipandang enteng. Luka dilenganku tidak berarti. Begini saja. Aku akan turut pergi kesitu untuk menonton keramaian. Mungkin sekali aku akan perlu memberi bantuan kepada Pek Tancoe.” Ia berpaling kepada Thio Coei San dan menyambung perkataannya: “Thio Ngohiap, disini saja kita berpisahan. Aku menumpang di perahu Siang Tan coe dan kau sendiri boleh menggunakan perahuku untuk kembali ke Lim an. Boe tong-pay jangan kerembet dalam urusan ini.”

“Terlukanya Samko agaknya bersangkut paut dengan To liong to,” kata Coei San. “Apakah nona dapat memberi keterangan lebih jelas mengenai hal itu?”

“Seluk beluk kejadian itu tidak diketahui jelas olehku.” Jawabnya. “Kau harus tanya Samkomu sendiri.”

Coei San mengerti, So So sungkan meberi keterangan dan iapun tak mau mendesak lagi.

“Orang yang melukakan Samko sangat ingin memiliki To liong to,” katanya didalam hati.

“Menurut Siang Tan coe, pertemuan di Ong poan san adalah untuk mengangkat senjata dan menetapkan keangkeran. Apakah bisa jadi To Liong to berada dalam tangan mereka? Jika benar begitu, orang-orang yang mencelakakan Samko tentu juga turut datang kepulau itu”
Memikir begitu, ia lantas saja menanya: “Apakah Toosoe yang menyerang kau dengan Bweehoa piauw akan turut datang dipulau itu?”

So So tertawa sebaliknya dari menjawab pertanyaan orang, ia balas menanya: “Kaupun ingin menonton keramaian, bukan? Baiklah! Kita pergi bersama-sama.” Ia menengok kepada Siang Kim Peng dan berkata pula “Siang Pangcoe, perahumu jalan duluan.”

“Baik,” jawabnya sambil membungkuk dan lalu berjalan pergi, seperti caranya seorang pegawai terhadap majikannya. Sinona hanya mengangguk sedikit, tapi Coei San, yang menghargai ilmu silatnya orang itu, sudah mengantarkarnya sampai dipintu gubuk perabu.

Sesudah itu, So So menggapai jurumudi seraya membentak: “Kemari kau!” paras muka si tukang perahu lantas saja berubah pucat dan tubuhnya menggigil. Ia mengerti, bahwa tadi ia sudah berbuat kesalahan dengan teriak-teriakannya dan sekarang ia akan mendapat hukuman. Dengan bibir bergemetaran, ia berkata: “Siauw …. siauwjin tidak sengaja ……. Mohon ….. mohon Kouw nio sudi mengampuni .. .”

Sinona tidak menjawab, sehingga dia jadi lebih ketakutan dan dengan sorot mata memohon pertolongan, ia mengawasi Coei San, yang merasa sangat tidak mengerti akan sikapnya itu. Bahwa jurumudi tersebut sudah berteriak-teriak meminta pertolongan Siang Kim Peng, adalah karena salah mengerti, karena ia menduga Coei San mau mencelakakan So So. Tapi, teriakannya itu adalah sebab kesetiaannya terhadap sinona. Mengapa ia sudah begitu ketakutan?

Dilain saat, sinona berkata dengan suara kaku: “Matamu tak ada bijinya, kupingmu tuli. Perlu apa kau mempunyai mata dan kuping?”

Mendengar comelan itu, paras muka sijurumudi lantas berubah girang, sebab ia tahu si nona sudah mengampuni Jiwanya. Baru-baru ia menekuk lutut seraya berkata: “Banyak terima kasih untuk kemurahan hati nona!” Hampir berbareng, ia meraba pinggannya dan menghunus sebilah pisau yang lalu digunakan untuk memotong kedua kupingnya. Sesudah itu, ia mengangkat pisau itu tinggi tinggi ditujukan kearah matanya!

Bukan main kagetnya Coei San. Bagaikan kilat tangannya menyambar dan dua jirinya menjepit pisau itu yang sedang meluncur turun ke mata si jurumudi. “In Kauwnio,” katanya. “Dengan memberanikan hati, aku memohon belas kasihanmu,”

So So mengawasi kearah pemuda itu dan kemu dian berkata dengan suara perlahan: “Baiklah.” Ia menengok pada si tukang perahu dan menyambung perkataannya: “Lekas haturkan terimakasih pada Thio Ngohiap !”

Dengan tersipu-sipu, ia segera menekuk lutut dan manggut manggutkan kepalanya berulang ulang kali dihadapan Coei San dan kemudian berlutut lagi di hadapan So So. Sesudah itu, ia mundur ke belakang dan dengan suara nyaring memerintahkan ke anak buah perahu menaikkan layar.

Sementara itu, Coei San berdiri membelakang So So dan mengawasi air yang luas tanpa mengeluarkan sepatah kata. Di dalam hati, ia merasa heran, bagaimana seorang wanita yang berparas begitu cantik mempunyai tangan begitu kejam.

So So melirik pemuda itu dan melihat pakaiannya yang pecah dibagian punggung karena pukulan Siang Kim Peng, ia segera berkata: “Buka pakaianmu. Aku mau tambal.”

“Tak usah!” kata Coei San.

“Kau kira aku tidak bisa menjahit?” tanya Si nona.

“Bukan begitu,” kata pula pemuda itu dengan suara pendek dan matanya tetap memandang ke tempat jauh. Didalam hati, ingat kebinasaan yarg sangat menyedihkan dari orang orarg Liong boen Piauw kiok. Tapi, sebaliknya dari pada membunuh manusia yang begitu kejam, ia malahan sudah menolongnya dengan mengeluarkan piauw beracun. Biarpun pertolongan itu adalah untuk membalas budi orang yang sudah membantu Soehengnya, akan tetapi, sepak terjangnya tetap tidak dapat dibenarkan dan ia merasa bahwa dalam tindakannya itu, ia tidak bisa membedakan yang jahat dan yang baik.
Diam diam ia mengambil keputusan, bahwa begitu lekas pertemuan dipulau Ong poan san sudah selesai, ia akan berpisahan dengan nona itu untuk selama-lamanya.

Melihat paras muka Coei San yang suram, So So lantas saja dapat menebak apa yang dipikirnya. Ia tertawa dingin dan berkata: “Bukan saja Touw Tay Kim, Ciok dan Soe Piauw tauw, bukan saja semua orang dari Liong boen Piauw kiok dan dua pendeta Siauwlim itu, tapi Hoei hong pun dibunuh olehku,”

“Aku memang sudah mencurigai kau, hanya aku tidak tahu cara bagaimana kau membunuhnya?” kata Coei San.

“Tak usah heran” kata sinora. “Waktu itu aku merendam didalam air dan mendengari pembicaraan kamu. Sesudah didesak olehmu, tiba-tiba Hoei hong merasa, bahwa muka kita memang berbeda, tapi sebelum ia keburu mengaku, aku mendahului melepaskan sebatang jarum kedalam mulutnya. Kau coba mencari aku digombolan pohon dan rumput-rumput tinggi, tapi aku sendiri enak-enak merendam diair”

“Sebagai akibat dari perbuatanmu itu, pihak Siauw lim menuduh aku,” kata Coei San dengan mendongkol. “In Kouwnio, kau sungguh pintar dan tanganmu benar—benar lihay.”

So So berlaga pilon. Ia bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk : “Terima kasih Thio Ngohiap memuji aku terlalu tinggi.”

Coei San jadi semakin gusar. “In Kouwnio!” bentaknya. “Aku seorang she Thio belum pernah berbuat kesalahan apapun jua terhadapmu. Tapi mengapa kau sudah begitu tega mencelakakan aku ?”

So So bersenyum. “Aku bukan ingin mencelakakan kau,” katanya dengan suara tenang “Mengapa aku sudah berbuat begitu ? Siauwlim dan Boe tong adalah dua partai persilatan yang sangat besar dan ternama. Aku hanya ingin mereka bertempur nntuk menyaksikan siapa sebenarnya yang lebih kuat.”

Mendengar pengakuan sinona, Coei San terkejut. Sedikitpun ia tak nyana wanita cantik itu mempunyai tujuan yang begitu hebat “Kalau Siauw Lim dan Boe tong sampai bertempur entah berapa banyak korban yang akan rubuh dan kejadian itu bakal merupakan suatu peristiwa hebat dalam Rimba Persilatan,” pikirnya.

Paras sinona sendiri tetap berseri-seri dan sambil menggoyang-goyangkan kipasnya, ia berkata: “Thio Ngohiap, bolehkah kulihat tulisan dan lukisan dikipasmu?”

Sebelum Coei San keburu menjawab, diperabu Siang Kim Peng se konyong konyong terdengar suara teriakan: “Apa perahu Kie keng pang? Siapa yang berada diperahu?”

“Siauw pang coe dari Kie keng pang ingin menghadiri pertemuan dipulau Ong poan san.”

“In Kouw nio dan Coe ciak tan Siang Tan coe berada disini” teriak seorang dari perahu Siang Kim peng. “Kalian diharap mengikuti saja dari belakang.”

“Jika Peh bie kauw In Kauw coe sendiri yang berada disitu, kami bersedia untuk mengalah,” jawab seorang dengan suara keras. “Kalau orang lain, maaf saja.”

Mandeagar perkataan “Peh bie kauw In Kauw coe,” Coei San kaget, karena ia belum pernah mendengar nama agama (kauw) itu, baik dari gurunya, maupun dari luaran. Ia melongok keluar jendela dan dilihatnya disebelah kanan terdapat sebuah perahu yang bentuknya menyerupai seekor ikan paus. Dikepala perahu terlihat sinar putih yang ber kilau kilauan karena dipasangnya puluhan pisau sebagai gigi ikan, sedang badan perahu yang melengkung dan buntutnya yang mengacung keatas berbentuk seperti buntut ikan paus. Layar perahu sangat lebar dan jalannya perahu itu lebih cerat daripada perahu Siang Kim Peng.

Kie keng pang (partai Ikan Paus Raksasa) adalah sebuah perkumpulan bajak laut yang berkeliaran disepanjang pantai propinsi, Kangsouw, Ciatkang dan Hokkian. Mereka membajak, membunuh dan melakukan lain-lain perbuatan terkutuk, tapi sebegitu jauh, karena licinnya, mereka belum dapat ditumpas oleh angkatan laut negeri dan selama puluhan tahun mereka malang melintang diperairan lautan Tong hay.

Siang Kim Peng segera maju dan berdiri dikepala perahu. “Bek Siauw pangcoe,” teriaknya.

“In Kouwnio berada disini. Apakah kau sungkan memberi sedikit muka kepada kami ?”

Dari gubuk perahu Kie keng pang muncul seorang pemuda yang mengenakan pakaian warna kuning. Ia tertawa dingin seraya berkata: “Didaratan, Peh bie kauw boleh menjagoi, diair Kie keng pang yang memegang kekuasaan. Mengapa kami mesti mengalah dan membuntuti kamu dari belakang ?”

Medengar pembicaraan mereka, Coei San juga merasa, bahwa cara-cara Peh bie kauw terlalu sombong.

Sementara itu, anak buah Kie keng pang sudah menaikkan lagi sebuah layar, sehingga jalannya perahu jadi semakin laju, dengan begitu jadi sukar dapat diubar lagi.

Siang Kim Pang mengeluarkan suara dihidung.

“Kie kong pang …… hm ….. To Liong to ….. juga ….. To liong to ……” demikian terdengar perkataannya. Karena suara angin yang menderu deru dan jarak antara kedua perabu sudah agak jauh, maka Bek Siauw pang coe hanya dapat menangkap perkataan “To liong to.” Ia kelihatan kaget dan buru-buru memerintahkan anak buahnya memperlambat jalan perahu. Beberapa saat kemudian, perahu Siang Kim Peng sudah mendekati.

“Siang Tan coe, apa kau kata ?” tanya pemuda itu.

“Bek Siauw pang coe . . . Hian boentan Pek Tan coe kami …… golok To liong to itu….” jawab Siang Kim Peng.

Coei San merasa heran karena ter putus-putusnya jawaban Siang Kim Peng.

Sementara itu, kedua perahu sudah jadi semakin makin dekat. Tiba-tiba terdengar suara gedubrakan disusul dengan teriakan orang. Ternyata diluar dugaan semua orang, dengan mendadak Siang Kim Peng mengangkat jangkar dan melontarkannya keperahu Kie keng pang.

Suara rantai dan mencangkolnya jangkar diperahu Kie keng pang dibarengi dengan jeritan kesakitan dan ada orang anak buah perahu. (peep: ????)

“Hai! Apa kau gila?” bentak Bek Siauw pang coe.

Anak buah Siang Kim Peng buru-buru mengangkat sebuah jangkar lain yang lalu dilemparkan lagi keparahu Kie keng pang dan dua buab jangkar itu telah mengambil jiwanya tiga orang anak buah. Dilain saat, kedua perahu hampir berdampatan. Bek Siauw pang coe melompat kepinggir perahu dan coba mengangkat salah sebuah jangkar. Tapi sebelum ia berhasil, Siang Kim Peng sudah mengayun tangan kanannya dan serupa benda warna biru yang menyerupai buah semangka
menghantam tiang layar tengah. Benda itu, yang terbuat daripada baja, adalah salah sebuah dari sepasang sanjata Siang Kim Peng yang berantai emas dan digunakan sebagai bandringan. “Semangka” itu adalah senjata berat yang dipegang ditangan kiri sembilanpuluh lima kati beratnya. sedang yang ditangan kanan seratus lima kati. Dari situ dapatlah dibayangkan, betapa hebat tenaga orang she Siang. Jika tak mempunyal tenaga ribuan kati, ia pasti tidak akan dapat menggunakan senjata seberat itu.

Begitu dihatam dengan “semangka” kanan, tiang layar itu bergoyangagoyang. “Semangka” kiri menyusul dan disusul pula dengan “Semangka” kanan. “Krek….krek….krek…. brak!” Tiang yang kasar itu tak tahan dan patah. Keadaan jadi terlebih kalut dengan anak buah Kie keng pang ber teriak-teriak, sambil menghunus senjata.

Tanpa mempedulikan segala kekacauan itu Siang Kim Peng melompat kebelakang parahu itu dan menghantam tiang layar belakang. Tiang itu banyak lebih kecil dan sekali dihajar, lantas saja ambruk.

Pek Siauw pang coe sebenarnya mempunyai kepandaian tinggi. Senjatanya dinamakan Hoensoen Go bie cek, sepasang pusut yang panjangnya kirakira satu kaki dan sangat cocok untuk digunakan dalam pertempuran didalam air. Tapi dalam kaget dan bingungnya, sebelum ia keburu berbuat suatu apa, Siang Kim Peng yang bergerak luar biasa cepat, sudah mematahkan dua tiang layarnya.

“Dengan adanya Peh bie kauw, diatas airpun Kie keng pang tak mempunyai kekuasaan,” teriak orang she Siang itu sambil melontarkan sebuah “semangka” kelambung perahu musuh yang lantas saja ber lubang besar dan air mengalir masuk. Anak buah Kie keng pang jadi semakin bingung.

Dengan mata merah Bek Siauw pang coe mencabut pusutnya dan dengan sekali menotol kaki di depan perahu, badannya melesat keperahu musuh.

Selagi tubuh pemuda itu berada ditengah udara tiba-tiba Siang Kim Peng melontarkan senjatanya kemuka pemuda itu. Serangan itu yang dikirim secara mendadak dan kejam mengejutkan sangat sekali. Hati Bek Siauwpangcoe. “Celaka” teriaknya sambil menotok “semangka” itu dengan kedua pusutnya dalam usaha melompat balik dengan meminjam tenaga tersebut. Jika ilmu mengentengkan badannya bersamaan dengan ilmu Thio Coei San, bukan saja ia akan dapat mengelakkan serangan itu, tapi ia juga bisa balas menyerang. Tapi dalam segala hal, dia masih kalah jauh dari jago Boe tong pay itu.
“Semangka” yang beratnya seratus kati, ditambah dengan tenaga Siang Kim Peng sendiri, terlalu hebat untuk dilawannya. Tiba-tiba ia merasa dadanya menyesak, matanya berkunang-kunaug dan tanpa ampun ia rubuh terguling diatas perahunya.

Begitu lawannya rubuh, Siang Kim Peng segera menghantam pula dengan kedua “semangka” dan badan perahu Kie keng pang lantas saja berlubang dibeberapa tempat. Sesudah itu, sambil mengerahkan Lweekang, is menarik pulang kedua jangkar yang mencantol di perahu musuh. Tanpa diperintah lagi oleh Tan Coe mereka anak buah perahu Peh bie kauw lantas saja menaikkan layar dan perahu itu perlahan-lahan mulai bergerak, tapi sebentar kemudian melaju kedepan dengan amat cepatnya.

Melihat cara Siang Kim Peng merubuhkan musuh, jantung Thio Coei San bardebar keras, “Jika tak mempunyai kepandaian meminjam tenaga memindahkan tenaga, tadi aku tentu sudah binasa dalam tangannya. ” pikirnya. Ia melirik In So So yang bersikap tenang-tenang saja, seolah-oah tidak terjadi kejadian luar biasa.

Tiba-tiba disebelah kejauhan terdengar suara guruh. itulah tanda, bahwa air pasang sedang mendatangi. Walaupun anak buah Kie keng pang pandai berenang, mereka tak nanti dapat melawan gelombang pasang yang seperti gunung. Bahaya yang dihadapi mereka lebih besar lagi, karena pada waktu itu, mereka berada dimuara tempat ber temunya sungai dan lautan, sehingga lebarnya permukaan sungai sampai puluhan li. Maka itulah, begitu mendengar guruh, anak-anak Kie keng pang ketakutan setengah mati dan berteriak-teriak minta pertolongan, tapi perahu Siang Kim Peng dan In So So tidak meladeni dan terus berlayar kejurusan timur

Coei San melongok keluar jendela dan melihat Perahu ikan paus itu sudah tenggelam separuh. Mendengar teriakan-teriakan anak buah perahu ia sebenarnya merasa sangat tidak tega tapi karena mengetahui bahwa Siang Kim Peng dan In So So adalah manusia-manusia kejam, ia merasa tak guna membuka mulut.

Melihat paras pemuda itu, si nona bersenyum. Mendadak ia berseru “Siang Tan coe, hati Thio Ngohiap sangat mulia. Tolonglah anak buah perahu kie keng pang !”

Coei San terkejut, sebab hal itu benar-benar diluar dugaannya.

“Baik !” teriak Siang Kim Peng. Dilain saat perahunya membelok dan menuju ke perahu Kie keng pang. “Anggauta- anggauta Kie keng pang dengarlah!” teriak Siang Kim Peng,” Atas permintaan Thio Ngohiap dari Boe tong pay, kami bersedia untuk menolong jiwamu. Siapa yang mau hidup, berenanglah kemari!”

Anak buah Kie keng pang jadi girang dan berburu berenang kearah perahu Siang Kim Peng yang memapaki mereka. Dalam tempo tidak berapa lama, hampir semua orang, terhitung juga Bek Siauw pangcoe, sudah dapat ditolong. Tapi biarpun begitu, ada enam tujuh orang yang mati dipukul ombak.

“Terima kasih untuk pertolongananmu!” kata Coei San.

Sinona mengeluarkan suara dihidung dan berkata dengan suara tawar: “Orang-orang itu adalah Bajak-bajak yang biasa merampok dan membunuh, perlu apa kau menolong mereka ?”

Coei San tergugu, tak dapat ia menjawab pertanyaan si nona. Ia memang sudah dengar, bahwa Kie keng pang adalah salah satu dari empat “pang” yang jahat dan ia pun tak pernah menduga, bahwa hari ini ia berbalik menolong kawanan bajak yang kejam itu.

“Kalau mereka tidak ditolong didalam hati Thio Ngohiap pasti akan mencaci maki aku,” kata pula si nona. “Kau tentu akan mencaci aku sebagal perempuan kejam yang tidak pantas ditolong.”

Perkataan itu mengenakan jitu dihati Coei San, sehingga paras muka pemuda itu lantas saja berubah merah: “Kau memang pandai bicara dan aku tidak dapat menandingi,” katanya sambil tertawa. “Dengan menolong orang-orang itu, kau telah melakukan perbuatan baik dan kau sendirilah mendapat pembalasan baik. Dengan aku sedikitpun tiada sangkut pautnya.”

Baru saja ia berkata begitu, tibalah gelombang pasang. Perahu In So So seperti juga dilontarkan keatas dan mereka tak dapat bicara lagi. Coei San melongok keluar jendela dan melihat gelombang gelombang besar dalam bentuk seperti tembok tembok tinggi mendatangi dengan saling susul. Ia bergidik karena mengingat, bahwa jika tidak ditolong semua anak buah perahu Kie keng pang pasti binasa didalam air.

Mendadak si nona bangun berdiri, masuk kegubuk perahu yang disebelah bekakang dan lalu menutup pintu. Beberapa saat kemudian, ia keluar lagi dengan mengenakan pakaian wanita dan memberi isyarat dengan gerakan tangannya, supaya Coei San membuka jubah luarnya. Karena merasa kurang enak untuk menolong lagi, ia lalu membuka jubahnya. Ia menduga si nona ingin menambal bagian yang berlubang dari jubah itu. Tapi tak dinyana, So So lalu mengangsurkan jubahnya sendiri yang tadi dipakai olehnya, sedang jubah Coei San lalu dibawanya kegubuk belakang.

Mau tak mau, Coei San terpaksa memakai juga. Karena jubah luar biasanya dibuat dalam ukuran besar, maka meskipun tubuh pemuda itu lebih besar daripada badan si nona, ia masih dapat menggunakannya. Dilain saat, jantungnya memukul keras, sebab hidungnya mengendus bebauan yang sedap dan wangi. Ia merasa jengah dan tidak berani memandang lagi si nona. Karenanya matanya ditujukan kepada lukisan-lukisan yang dipasang didinding gubuk, tapi hatinya tetap berdebar-debar. In So So pun tidak mengajak bicara lagi dan duduk diam sambil mendengar suara gelombang. Datam gubuk ini dipasang sebatang lilin. Mendadak sebagai akibat hantaman gelombang, perahu miring dan lilin padam. “Celaka!” Coei San mengeluh dalam hatinya.

“Biarpun aku sopan, tapi dengan berdiam berdua-dua ditempat gelap, name baik In Kauwnio bisa ternoda.” Buru-buru in bangun berdiri dan membuka pintu belakang, akan kemudian pergi ketempat jurumudi yang dengan tenang mengemudikan parahu itu kealiran bawah.

Kurang lebih satu jam kemudian air pasang mulai surut dan air keluar lagi kelautan, sehingga dengan menurut aliran air, perahu itu laju semakin cepat. Pada waktu fajar menyingsing pulau Ong poan san sudah berada didepan mata.

Pulau itu, yang terletak dimulut sungai Ciantong kang, dalam perairan lautan Tonghay adalah sebuah pulau kecil yang tandus dan tiada penduduknya. Waktu kedua perahu itu berada dalam jarak beberapa kali, dari atas pulau tiba-tiba terdengar suara terompet dan dua orang kelihatan menggoyang-goyangkan dua bendera hitam. Waktu perahu datang lebih dekat, Coei San mendapat kenyataan bahwa bendera hitam itu berpinggir putih dengan sulaman kura-kura terbang.

Dibawah kedua bendera itu berduduk seorang tua, begitu lekas perahu menepi, lantas saja berseru : “Hian boen tan Pek Kwie Sioe menyambut In Kauw nio dengan segala kehormatan.” Suaranya keras, tapi kedengarannya sangat menusuk kuping. Sehabis berseru begitu si kakek sendiri memasang papan untuk pendaratan. In So So mempersilahkan Coei San jalan lebih dulu dan sesudah mereka mendarat, ia segera memperkenalkan, pemuda itu kepada Pek Kwie Sioe.

Mendengar pemuda itu adalah salah seorang dari Boe tong Cit hiap, Pek Kwie Sioe terkejut. “Sudah lama aku mendengar nama besar dari Boe tong Cit hiap,” “katanya. “Aku merasa sangat beruntung, bahwa dihari ini aku dapat bertemu muka dengan Thio Ngohiap.”

Thio Coei San segera menjawab dengan perkataan-perkataan merendahkan diri.

“Hai! Kalian berdua pandai sekali bicara manis-manis,” kata In So So. “Di hati lain, dimulut lain. Didalam hati, yang satu berkata: “Celaka. Orang Boe tong pay turut datang kesini dan tambah lagi satu lawan lihay yang mau merebut To liong to. Yang lain berpikir Huh! Manusia apa kau ? Anggauta dari agama yang menyeleweng. Tak sudi aku bersahabat denganmu. Menurut pendapatku, lebih baik kalian bicara saja terang-terang. Jangan main berpura pura.”

Pek Kwie Sioe tertawa terbahak-bahak.

“Tidak, aku tidak memikir begitu,” kata Coei San. “Aku yakin, bahwa Pek Tan coe memiliki ke pandaian yang sangat tinggi. Ilmu mengirim suara sangat mengagumkan. Kedatanganku disini hanyalah menemani In Kouwnio untuk menonton ke ramaian dan sedikitpun aku tidak mempunyai niatan untuk turut dalam perebutan golok mustika.”

Mendengar perkataan pemuda itu, In So So me rasa girang sekali.

Pek Kwie Sioe mengenal nona In sebagai wanita yang berhati kejam dan tak pemah berlaku manis2 terhadap siapapun jua. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, ia menyaksikan sikap yang luar biasa halus dari sinona terhadap Thio Coei San, sehingga ia segera mengetahui, bahwa Son So sudah jatuh hati kepada pemuda yang tampan itu. Selain begitu, ia juga merasa senang mendengar pujian yang diberikan Coei San dan rasa permusuhannya terhadap pemuda itu lantas saja hilang.

“In Kouw nio,” katanya sambil tersenyum, “orang orang Hay See Hay dan Sin koen boen sudah datang semua. Disamping mereka, terdapat juga dua pemuda dari Koen loan pay. Lagak mereka agak sombong dan berbeda jauh dengan Thio gohiap yang tenama besar….hm…,Memang orang yang benar-benar berkepandaian tinggi tidak banyak tingkah”

Baru ia berkata sampai disitu, dibelakang bukit mendadak terdengar bentakan: “Hai! Perlu apa kau membusuki nama orang dibelakangnya? Apa itu perbuatan seorang laki-laki ?”

Berbareng dengan bentakan itu, dari belakang bukit dua pemuda usia dua puluh tahun lebih yang bertubuh kurus dan mengenakan jubah panjang wama kuning, sedang dipunggung mereka terselip sebatang pedang. Mereka menghampiri dengan paras muka menyeramkan.

Pek Kwie Sioe tertawa nyaring, dan berkata dengan suara tenang: “Aha! Baru menyebut nama Co Coh, Co Coh lantas saja datang. Mari, mari aku memperkenalkan kalian.”

Kedua Kiamtek (ahli pedang) Koen loan pay itu sebenamya sudah mau mengunjuk kegusaran mereka, tapi begitu melihat kecantikan So So mereka tertegun. Yang satu mengawasi sinona dengan mulut ternganga, yang lain melengos, tapi diam-diam melirik berulang ulang.

Sambil menunjuk pemuda yang tengah mengawasi So So, Pek Kwie Sioe berkata: “Yang ini adalah Ko Cek Sang Tay kiamkek.” Ia menengok kearah yang lain dan menyambung perkataannya : “Yang itu Chio Tauw Taykiamkek. Mereka berdua adalah pentolan-pentolan Koen loen pay. Nama Koen loan pay telah menggetarkan wilayah Barat dan dalam Rimba Persilatan, semua orang merasa kagum akan tingginya ilmu silat Koen loan. Maka itu, Ko dan Cio Taykimkek juga pasti memiliki kepandaian yang lain dari pada yang lain. Kali ini, dari tempat jauh mereka datang di Tionggoan dan mereka pasti akan memperlihatkan kepandaian istimewa supaya kita semua bisa menambah pengalaman.

Mendengar perkataan itu yang dikeluarkan nada mengejek, Coei San menduga, bahwa kedua pemuda itu akan segera menghunus senjata, atau sedikitnya, akan membalas dengan kata-kata tajam. Tapi diluar dugaan, mereka hanya manggut-manggut, tanpa mengeluarkan sepatah kata. Setelah mengawasi muka merah, baru Coei San tahu sebab musababnya. Mereka teryata seperti orang linglung karena dipengaruhi dengan kecantikan In So So.

Coei San merasa geli. “Nama Koen loan pay tersohor dikolong langit dan dikenal sebagai malaikat dalam ilmu silat pedang,” pikimya “Sungguh sayang murid-muridnya yang datang kemari adalah manusia-manusia rendah.”

Tapi sebenamya, meskipun Ko Cok Sang dan Chio Tauw beradat sombong, mereka bukan manusia rendah yang gemar dengan paras cantik. Yang menjadi soal ialah karena memang So So terlalu cantik dan memiliki sifat-sifat seperti besi barani, yang dapat membetot semangat orang. Dengan mengingat, bahwa mereka adalah manusia manusia biasa, apapula usia mereka masih begitu muda, maka sikap yang menggelikan itu dapat dikatakan jamak.

Sementara itu, Pek Kwie Sioe berkata pula: “Yang itu adilah Thio Coei San Siangkong dari Boe tong pay, yang ini nona In So So, sedang yang itu Siang Kim Pang Tan coe dari agama kami.”

Mendengar perkataan Pek Kwie Sioe, So So merasa sangat girang. Bahwa si kakek hanya menggunakan istilah “Siangkong” ( tuan ) dan tidak menggunakan lagi perkataan “Thio Ngohiap”, merupakan petunjuk, bahwa ia menganggap Coei San seperti orang sendiri. Sambil bersenyum, si nona melirik pemuda itu dengan sorot mata menyinta.

Melihat sikap So So terhadap Coei San, Ko Cek Song yang beradat kasar saja meluap darahnya dan tidak dapat menyembunyikan lagi rasa jelusnya. “Chio Soetee,” katanya dengan suara tawar, “di See hek, kita seperti pemah mendengar, bahwa Boe tong pay adalah sebuah partai yang tulen dalam Rimba Persilatan diwilayah Tionggoan.”
“Benar. akupun seperti pemah mendengar begitu” jawab adik seperguruannya.

“Tapi kita mendengar tidak sama dengan melihat sendiri,” kata pula Ko Cek Sang “Pendengaran itu tidak dapat dipercaya.”

“Dalam kalangan Kangouw memang banyak sekali tersiar desas desus yang tidak boleh dipercaya,” menyambung Cio Tauw. “Ko Soeheng, apa artinya perkataanmu itu?”

“Murid dari partai persilatan yang tulen bagaimana bisa bercampur gaul dengan orang-orang dari Sia kauw (agama yang menyeleweng)?” jawabnya, “Bukankah kejadian itu sangat menurunkan namanya partai yang sangat cemerlang itu?”

Dalam menyindir Thio Coei San, mereka tak pernah mimpi, bahwa In So So pun seorang dari Peh bie kauw. Mereka hanya mengetahui, bahwa yang menjadi anggauta agama itu hanya Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Pang.

Coei San meluap darahnya, tapi segera juga ia mendapat pikiran lain. Ia ingat, bahwa kedatangannya dipulau Ong poan san adalah untuk menyelidiki musuh yang telah mencelakakan Jie Thay Gam, sehingga ia tak boleh merusak tujuannya sendiri dengan mengumbar napsu amarah. Ia juga ingat, bahwa biarpun berusia lebih tinggi dari padanya, kedua Kiamkek Koen loen pay itu adalah orang orang tidak tenama yang baru menceburkan diri kedalam dunia Kangouw. Maka itu, tak pantas ia meladeninya. Di samping itu, iapun mengakui, bahwa Peh bie kauw memang suatu agama yang menyeleweng dan In So So serta Siang Kim Pang adalah manusia-manusia kejam yang dapat membunuh sesama manusia seperti orang menyuap nasi. Ia memang sudah mengambil putusan untuk tidak bergaul terus dengan orang itu.

Memikir begitu, ia lantas saja tersenyum seraya berkata: “Dengan orang-orang Peh kie kauw, aku pun baru berkenalan, tidak berbeda dengan kedua Jin heng.”

Keterangan itu mengherankan hatinya semua orang, kecuali si nona sendiri, Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Pang pun semula menduga, bahwa persahabatan antara nona In dan Coei San sudah berjalan lama. In So So sendiri merasa sangat mendongkol. Ia mengerti, bahwa dengan berkata begitu, Coei San memandang rendah kepada Peh bie kauw. Ko Cek Sang dan Chio Tauw saling mengawasi dengan senyuman mengejek. Mereka menganggap, bahwa Coei San sudah jadi ketakutan karena mendengar nama Koen loan pay.

“Kecuali Bek Siauw pangcoe, semua tetamu sudah tiba,” kata Pek Kwie Sioe. “Kita tak usah menunggu ia. Sekarang kalian boleh jalan-jalan di pulau ini secara bebas dan sebentar tengah hari, harap kalian suka datang dilembah untuk minum arak dan melihat golok mustikaku.”

Siang Kim Pang tertawa. “Perahu Bek Siauw pangcoe mendapat kerusakan dan atas permintaan Thio Siangkong, mereka telah ditolong,” ia menerangkan. “Sekarang Siauw pangcoe itu berada dalam perahuku. Sebentar kita boleh mengundangnya untuk menghadiri pertemuan”

Biarpua kedua Tan coe itu bersikap sangat hormat dan walaupun In So So memperlihatkan kecintaannya, Coei San sudah mengambil keputusan untuk menjauhkan diri. Maka itu, ia segera berkata: “Siauwtee ingin jalan-jalan sendiri,” tanpa menunggu jawaban, ia segera berjalan kearah sebuah hutan di sebelah timur.

Kecuali bukit-bukit dan hutan-hutan kecil. di Pulau itu tidak ada pemandangan yang berharga. Disebelah tenggara terdapat sebuah pelabuhan di mana berlabuh belasan perahu, yaitu perahu-perahu para tetamu. Sambil menunduk Coei San berjalan disepanjang pantai dan sembari berjalan ia mengasah otak. Ia merasa sangat tidak puas dengan kekejaman dan sepak terjang In So So, tapi sungguh heran, hatinya seperti juga dibetot betot dan tak dapat melupakan nona yaag cantik itu.
“Tak dapat disangkal lagi, In kauwnio mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam Peh bie kauw,” pikirnya. “Pek Tancoe dan Siang Tancoe menghormatinya seperti juga ia seorang puteri. Tapi sudah terang ia bukan Kauw coe. Siapa dia?”

Dilain saat, ia berkata pula didalam hatinya: “Dalam pertemuan ini yang dihimpunkan oleh Peh bie kauw, partai-partai lain telah mengirim wakil-wakilnya yang paling jempolan. Tapi Peh bie kauw sendiri hanya mengutus seorang Tan coe, seolan-olah mereka tidak memandang sebelah mata kepada pihak lawan. Dari gerakan-gerakannya, kepandaian Pek Tancoe berada di sebelah atas Siang Tancoe. Dilihat begini, Peh bie kauw sungguh-sungguh tidak boleh dipandang enteng. Biarlah hari ini aku menyelidiki asal usul mereka, Mungkin sekali di kemudian hari Boe tong Cit hiap akan bertempur mati-matian dengan mereka.” Selagi memikir begitu, tiba tiba ia dengar suara beradunya senjata di luar hutan.

Ia heran dan lalu menuju kearah suara itu.

Jauh-jauh ia lihat Ko Cek Seng dan Chio Tauw sedang berlatih pedang dengan ditonton oleh In So So. “Soehoe sering mengatakan, bahwa kiam sut (ilmu pedang) Koen loen pay lihay bukan main dan diwaktu masih muda, beliau pernah bertempur dengan seorang pentolan Koen loan pay yang ber gelar Kiam Seng (Nabi pedang),” pikirnya: “Kesempatan untuk menyaksikan ilmu pedang itu sebenar-benarnya tidak boleh disia-siakan. Akan tetapi, menurut peraturan Rimba persilatan, jika orang sedang berlatih silat, orang tidak boleh mencuri lihat.” Sebagai murid dari sebuah rumah perguruan yang terhormat, Coei San sungkan melanggar peraturan itu, sehingga oleh karenanya, biarpun didalam hati ia sangat kepingin menonton, tetapi sesudah melihat beberapa kali, ia segera memutar badan dan berjalan pergi.

Diluar dugaan, baru satu dua tindak, ia telah dilihat In So So yang sambil menggapai-gapai, lantas saja berteriak : “Thio Ngoko, kemari!”

Coei San tahu, bahwa jika tidak menghampiri, ia bisa dicurigai sebagai orang yang benar sudah mencuri lihat latihan pedang itu. Maka itu, ia lantas saja mendekati seraya berkata : “Kedua Heng tay tengah berlatih dan tak pantas kita berdiam disini lama-lama. Mari kita pergi ketempat lain.”

Sebelum sinona keburu menjawab,mendadak berkelebat sinar pedang dan “brett !” pedang Chio tauw telah menggores lengan kiri Ko Cek Sang yang lantas saja mengucurkan darah.

Coei San terkejut, ia duga Chio Tauw kesalahan tangan. Tapi ia lebih kaget lagi, karena tanpa mengeluarkan sepatah kata dan dengan paras muka merah padam, Ko Cek Seng mengirim tiga serangan beruntun yang sangat hebat dan ditujukan kearah bagian-bagian tubuh yang membinasakan. Sekarang baru ia tabu, bahwa kedua orang itu bukan berlatih, tapi sedang bertempur sungguhan.

In So So tertawa dan berkata : “Dilihat begini, sang Soeko belum dapat menandingi siadik. Menurut pendapatku ilmu Chio heng lebih unggul sedikit.”

Mendengar perkataan itu, sambil bergertak gigi, Ko Cek Seng memutar tubuh dan menyabet dengan pedangnya dalam pukulan Pek tiang hoe po (Air tumpah beratus tombak panjangnya). Pedang itu menyambar dari atas kebawah, seolah-olah turunnya air tumpah. Dengan menggunakan seantero kelincahannya, Chio Tauw coba mundur kebelakang, tapi pedang Ko Cek Seng tiba-tiba berubah arah dan dengan satu suara “brett !,” ujung pedang mengenakan jitu dibetis kirinya.

Sinona tertawa geli dan menepuk nepuk tangan.

“Aha ! Kalau begitu sang Soeheng mempunyai ilmu simpanan!” teriaknya “Kali ini Chio heng yang kalah.”
“Belum tentu !” bentak Chio Tauw dengan gusar sambil menyerang dengan pukulan Ie tehhoei hoa (Hujan menghantam bunga yang beterbangan). Pedangnya menyambar nyambar dalam gerakan miring kadang-kadang diseling dengan tikaman lurus. Sebagai murid Koen loen pay, Ko Cek Seng tentu saja paham dalam ilmu pedang itu dan tanpa sungkan sungkan lagi iapun segera membuat serangan serangan membalas. Mereka berdua sudah sama-sama terluka dan biarpun tidak berbahaya, dalam perterpuran, darah mereka beterbangan kian kemari, sehingga muka, tangan dan pakaian mereka penuh dengan noda darah. Semakin lama mereka terus bertempur semakin sengit dan ahirnya mereka saling tikam mati-matian, seolah olah sedang berhadapan deagan musuh besar,

Dilain pihak, In So So saban-saban tertawa dan menepuk-nepuk tangan, sebentar ia memuji yang satu, sebentar memuji yang lain.

Sekarang Coei San mengerti, bahwa bertempurnya kedua saudara seperguruan itu adalah karena gara-gara sicantik, yang rupanva sudah menjalankan siasat adu domba, karena mendongkol atas ejekan mereka terhadap Pak bie kauw. Sesudah mengawasi beberapa lama, ia berpendapat, bahwa meskipun mereka cukup paham dalam ilmu pedang, perubahan perubahan pedang masih kurang cepat den Lweekang merekapun masih belum cukup tinggi.

“Thio Ngoko,” kata sinona dengan suara gembira. “Bagaimana pendapatanmu dengan Kiang hoat Koen loan pay ?”

Coei San tidak menjawab. Ia mengerutkan alis seperti orang sebal. Melihat begitu, So So lantas saja berkata : “Sudahlah ! begitu-begitu juga. Aku pun sudah merasa sebal. Mari kita pergi kesitu untuk menikmati pemandangan langit.” Sehabis berkata begitu ia menarik tangan kiri Coei San dan berjalan pergi.

Jantung Coei San berdebar keras. Ia merasa tangan nya dicekal dengan tangan yang empuk halus, sedang hidungnya mengendus bebauan yang sangat wangi. Ia mengerti, bahwa dengan berbuat begitu, So So sengaja ingin membangkitkan rasa jelus dan guramnya kedua murid murid Koen loen pay itu. Karena merasa tak enak untuk melepaskan tangannya, tanpa menneluarkan sepatah kata, ia segera mengikuti.

Mereka berdiri ditepi laut sambil memandang air yang seakan-akan tiada batasnya. Beberapa saat kemudian, So So mendadak berkata: “Dalam kitab Congcoe dibagian Chioe soei pian terdapat kata kata begini: Air dikolong langit tak ada yang lebih besar dari pada lautan. Laksana sungai mengalir kedalam laut. Entah kapan sungai-sungai itu berhenti mengalir dan tidak memenuhkan lautan. Tapi Sang laut sedikitpun tidak jadi sombong dan hanya berkata: Aku berada diantara langit dan bumi seperti juga sebutir batu atau satu pohon kecil yang tumbuh disebelah gunung yang besar. Setiap kali membaca kitab itu, aku mengagumi Cong coe (Chuang tze) tidak habisnya, karena dari tulisan-tulisan tersebut, ia sungguh sungguh seorang
berjiwa besar”

Mendengar perkataan sinona Coei San kaget. Ia merasa tak puas melihat cara-cara nona In yang sudah mencari kesenangan dengan mengadu domba kan orang. Sedikitpun ia tidak nyana, bahwa memedi perempuan yang dapat membunuh manusia tanpa berkesip, dapat mengutip kata-kata dari kitab Cong coe.

Kitab Cong coe adalah sebuah kitab yang mesti dibaca dan dipelajari oleh murid-murid agama Too kauw. Waktu masih berguru di Boe tong sn, ia dan saudara-saudara seperguruannya sering sekali mendengar penjelasan-penjelasan Thio Sam Hong mengenai isi kitab itu.

Demikianlah dalam rasa kaget dan herannya, tanpa merasa ia segara berkata: “Benar. Ribuan li jauhnya, tak dapat dikatakan besar, ribuan kaki tak dapat dikatakan dalam.”

Dendengar Coei San mengutip kitab Congcoe untuk melukisan besarnya dan dalamnya lautan, sedang pada muka pemuda itu terlihat paras penuh penghormatan, sinona segera berkata : “Apakah kau ingat Soehoemu ?”

Coei San terkesiap, tanpa merasa ia mengangsurkan tangan kanannya dan’mencekal tangan sinona yang satunya lagi. “Bagaimana kau tahu apa yang dipikir olahku?” tanyanya dengan suara heran.

Hal ini mempunyai latar belakang seperti berikut:
Dulu waktu berada digunung Boe tong san, pada suatu hari ia bersama-sama Song Wan Kiauw dan Jie Thay Giam membaca kitab Congcoe. Sesudah membaca “Ribuan li jauhnya, tak dapat dikatakan besar, ribuan kaki tak dapat dikatakan dalam”, Jie Thay Giam berkata: “Dalam berguru dengan Soe hoe, semakin lama belajar, aku merasa semakin berbeda jauh dengan kepandaian beliau, seperti juga, sebaiknya daripada maju, kita mundur setiap hari menurut pendapatku, kata-kata Cong coe itu adalah yang paling tepat untuk melukiskan kepandaian Soehoe yang tak dapat diukur berapa dalamnya.”

Mendengar perkataan saudara itu, Wan Kiauw dan Coei San memanggut manggutkan kepalanya.

Itulah sebab musabab mengapa begitu mengutip kata-kata itu, ia lantas saja ingat gurunya yang tercinta.

“Dengan melihat paras mukamu, aku segera mengetahui, bahwa jika bukan ingat kedua orang tuamu, kau tentu ingat gurumu,” jawab si nona. “Oleh karena dalam dunia ini hanyalah Thio Sam Hong seorang yang surup untuk dilukiskan dengan perkataan itu, maka aku segera menduga pasti, bahwa yang diingat olehmu adalah Soehoemu.”

“Kau sungguh pintar,” kata Coai San dengan suara kagum. Sesaat itu, tiba-tiba ia sadar, bahwa kedua tangannya sedang mencekal kedua tangan si nona. Paras mukanya lantas saja berubah merah dan buru-buru ia melepaskannya.

“Apakah kau boleh memberitahukan kepadaku, berapa tingginya ilmu silat gurumu?” tanya So So.
Pemuda itu tidak lantas menjawab. Sesudah memikir sejenak baru ia berkata. “Ilmu silat adalah ilmu yang tidak begitu penting. Apa yang diajar dari beliau bukan terbatas pada ilmu silat saja. Hai! Luas dan dalam … entah bagaimana aku harus menceriterakannya.”

Sinona tersenyum seraya berkata: “Hoecoe bertindAk, aku turut bertindak. Hoecoe berjalan, aku turut berjalan. Hoecoe lari aku turut lari. Tapi begitu lekas Hoecoe lari cepat, biarpun mengikuti sebisa-bisanya, aku tetap ketinggalan jauh” (Hoe coe berarti guru, tapi disini dimaksudkan Khong coe atau Khongfusius).

Mendengar sinona mengutip kata-kata pujian Gan Hwee (murid Khongcoe ) terhadap Khongcoe, Coei San lantas saja berkata: “Tapi guruku tak usah lari keras. Sekali ia berjalan atau lari pelan pelan, kami sudah tidak dapat mengikutinya.” Dari perkataan itu dapatlah diketahui, bahwa pemuda itu sangat memuja gurunya

Demikianlah, dengan duduk berendeng diatas sebuah batu besar, kedua orang muda itu merunding kan ilmu surat dan iimu silat secara panjang lebar dan mendalam.

Sebagai seorang yang berpengetahuan tinggi dan sangat cerdas, In So So selalu dapat menimpali Coei San dalam omong-omong itu.

Tiba-tiba terdengar suara tindakan dan batuk batuk, disusul dengan suara orang: “Thio Siangkong, In Kouwnio, Ngo sie (tengah hari) sudah tiba. Harap kalian suka pergi ketempat perjamuan.”

Coei San menengok dan melihat Siang Kim Peng berdiri dalam jarak belasan tombak dan mengawasi mereka dengan bersenyum. Dari paras mukanya, ia kelihatan merasa kagum dan girang melihat dua sejoli yang setimpal itu. Menurut kebiasaan, In So So sombong dan kurang ajar jika berhadapan dengan orang-orang sebawahannya. Tapi kali ini, dengan muka kemerah merahan ia menundukkan kepala.

Siang Kim Peng lantas saja memutar badan dan berjalan lebih dulu dengan tindakan lebar.

“Aku jalan lebih dulu,” bisik sinona.

Coei San tak mengerti, tapi ia lantas saia mengangguk.
In So So lantas saja berlari lari dan berjalan berandeng dengan Siang Kim Peng. “Bagaimana dengan kedua bocah tolol dari Koen loen itu ?” demikian terdengar pertanyaan si nona.

Coei San mengawasi mereka dengan perasaan sukar dilukiskan dan kemudian, sesudah mereka terpisah jauh, barulah ia mengikuti dengan tindakan perlahan.

Begitu tiba dimulut lembah, ia lihat tujuh delapan meja persegi disebidang tanah lapang rumput. Kecuali meja utama disebelah timur, semua meja sudah penuh orang.

Melihat kedatangan Coei San, Siang Kim Peng segera bangun berdiri dan berteriak dengan suara nyaring: “Thio Ngohiap dari Boe tong pay”. Hampir berbareng, Pek Kwie Sioe juga bangun dari tempat duduknya dan kemudian dengan masing-masing diikuti oleh lima orang Hio Coe kedua Tan coe itu meninggalkan meja perjamuan untuk menyambut tamu yang baru datang itu. Duabelas orang itu berdiri berjejer dikedua pinggir dan menyambut sambil membungkuk.

“Hian boe tan Pek Kwie Sioe dan Ciak tan Siang Kim Peng yang berada dibawab perintah In Kauw coe dan Peh bie kauw, menyambut kedatangan Thio Ngohiap!” seru Pek Kwie Sioe dengan suara nyaring, In So So sendiri tidak meninggalkan meja, tapi ia turut bangun sendiri.

Mendengar kata-kata “In Kauw coe.” hati Coei San berdebaran. “Kalau begitu, kepala agama Peh bie kauw benar seorang she In,” katanya didalam hati. Segera ia menangkap kedua tangannya dan berkata: “Tak berani aku menerima kehormatan yang begitu besar.” Begitu datang dekat meja-meja perjamuan ia mendapat kenyataan, bahwa semua orang mengawasinya dengan paras mendongkol. Ia merasa heran, tapi tidak memperdulikan.

Yang menjadi sebab dari perasaan mendongkol itu adalah karena kedatangan pemimpin-pemimpin Hay see pay, Kie keng pang dan Sin koen boen hanya disambut oleh seorang Hio coe dan tidak mendapat kehormatan seperti yang didapat oleh jago Boe tong pay itu. Keruan saja mereka merasa dihina, tapi kejadian itu tidak diketahui Coei San.

Dengan sikap hormat Pek Kwie Sioe mengantarkan pemuda itu kemeja utama disebelah timur dan mengundang supaya dia duduk disitu. Dimeja itu, yang mempunyai kedudukan paling mulia, hanya terdapat sebuah kursi. Coei San menyapu seluruh gelanggang perjamuan dengan matanya dan is mendapat kenyataan, bahwa dilain-lain meja berduduk tujuh delapan orang, hanya dimeja keenam berduduk dua orang, yaitu Ko Cek Seng dan Chio Tauw.

“Aku yang rendah adalah seorang muda yang berkepandaian cetek,” katanya dengan suara nyaring. “Tidak berani aku duduk dimeja utama itu.”

“Dalam Rimba Persilatan, Boe tong pay merupakan gunung Thay san atau bintang Pak tauw,” kata Pek Kwie Sioe. “Kalau Thio Ngohiap yang namanya menggetarkan seluruh negara tidak berani duduk, siapa lagi yang berani duduk disitu ?”

Tapi Coei San yang selalu diajar oleh gurunya untuk merendahkan diri, tetap menolak.

Sementara itu, Ko Cek Seng dan Chio Tauw saling memberi isyarat dengan lirikan mata. Tiba tiba Chio Tauw mengangkat kursinya dan melontarkannya kearah meja utama. Antara meja yang didudukinya dan meja utama itu terdapat lima belas meja lain. Dengan menggunakan Lweekarg yang tepat. kursi itu terbang diatas kepala para tamu dan hinggap disamping kursi utama. Begitu lekas Chio Tauw memperlihatkan kepandaiannya, Ko Cek Seng segera berseru : “Huh huh ! Thaysan …..Pak tauw ! Siapa yang mengangkat Boe tong pay menjadi Thaysan Pak tauw? Jika si orang se Thio tidak berani duduk disitu, biarlah kami berdua yang menggantikannya.” Bersama Soetee nya, ia segera melompat kemeja utama itu.

Bagaimana kedua saudara seperguruan jadi bertempur dan sesudah bertempur mati-matian, mereka akur kembali ?
Tadi, sesudah barkenalan, dalam kedongkolannya karena kedua pemuda itu sudah mengejek Peh bie kauw, In So So segera menanya siapa di antara mereka berdua yang ilmu pedangnya terlebih tinggi dan mengatakan, bahwa ia ingin sekali mempelajari beberapa pukulan dari Koenloen Kiamhoat. Kedua pemuda itu yang sudah dirubuhkan oleh kecantikan si nona, lantas saja menghunus pedang.

Semula mereka hanya ingin memperlihatkan keunggulan dalam sebuah latihan, tapi semakin lama mereka jadi semakin sengit dan ditambah dengan ejekan-ejekan So So, akhirnya mereka jadi bergempur mati-matian dan kedua-duanya terluka.

Belakangan, sesudah si nona dan Coei San meninggalkan mereka sambil bergandengan tangan, barulah mereka tersadar dan menghentikan pertempuran itu. Dengan rasa malu dan gusar, mereka membalut luka, tapi mereka tak berani mengunjuk kegusaran terang-terangan kepada nona In.

Demikianlah, mereka sekarang ingin merebut kursi yang ditawarkan kepada Coei San untuk menghina pemuda itu dihadapan orang banyak.

“Tahan!” bentak Siang Kim Peng sambil merentang tangannya.

Ko Cek Seng segera mengangkat tangannya untuk menotok jalan darah dilengan Kim Peng.

Tapi sebelum ia turun tangan, Coei San sudah mendahului berkata: “Jie wie berdua memang paling cocok duduk di sini,” kata Coei San. “Biarlah aku duduk disitu.” Sambil berkata begitu, ia berjalan kemeja keenam.

“Thio Ngoko, kemari! ” seru In So So sambil menggapai.
Coei San segera mendekati, karena menduga si nona ingin berbicara dengannya. Tapi diluar dugaan, So So menarik sebuah kursi dan menaruhnya di samping kursinya. “Kau duduk disini saja.” katanya sambil tersenyum.

Coei San jengah bukan main dan untuk sejenak ia tak tahu harus berbuat bagaimana. Kalau duduk disitu, ia merasa malu. Kalau menolak, penolakan itu merupakan hinaan besar untuk sinona.

“Aku ingin bicara denganmu,” bisik SoSo.

Melihat sorot mata memohon dari sinona, Coei San merasa tak tega untuk menolak dan lantas saja duduk dikursi itu. Nona In jadi sangat girang dan sambil bersenyum-senyum, ia menuang secawan arak.

Di lain pihak melihat duduknya Coei San di samping nona In, walaupun sudah berhasil merebut kedudukan utama, Kok Cek Seng dan Chio Tauw jadi semakin medongkol. Pada sebelum mereka duduk dikedua kursi itu, Pek Kwie Sioe menyelak dan mengebut-ngebut kursi itu dengan menggunakan tangan bajunya. “Memang pantas Taykiamkek dari Koen loen pay duduk dikursi utama,” katanya sambil tertawa. “Duduklah.” Sehabis berkata begitu, dengan bersama Siang Kim Peng dan sepuluh Hio coe, ia segera kembali ke tempat duduknya.

Dengan anggapan bahwa mereka sudah berhasil menindih lawannya, Ko Cek Seng dan Chio Tauw segera duduk dikedua kursi itu. Tapi berbareng dengan suara “krekek”, kaki kursi patah dan mereka rubuh terjengkang. Untung juga, sebagai ahli-ahli silat, begitu rubuh, begitu mereka melompat bangun. Tak usah dikatakan lagi, mereka malu bukan main, lebih-lebih karena para hadirin tertawa terbahak-bahak. Ko Cek Seng mengerti, bahwa patahnya kaki kursi adalah karena perbuatan Pek Kwie Sioe yang mengerahkan Lwee-kang pada waktu mengebut-ngebut dengan tangan bajunya. Ia yakin, siorang she Pek telah menggunakan tenaga Im kin (tenaga dingin) yang tidak dipunyakan olehnya sendiri. Ia adalah seorang yang sombong dan sama sekali tidak memandang mata kepada Peh bie kauw yang dianggapnya sebagai agama menyeleweng.

Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa dalam Peh bie kauw terdapat orang yang berkepandaian sedemikian tinggi.

Sementara itu, dengan suara tawar Pek Kwie Sioe berkata pula: “Semua orang tahu, bahwa ilmu silat Koen loen pay lihay luar biasa. Akan tetapi, janganlah Jie wie menumplek hawa marah kepada kursi itu. Ilmu yang barusan diperlihatkan Jie wie, aku yakin dimiliki oleh semua orang yang hadir disini.” Ia menuding kepada sepuluh orang Hiocoe yang duduk dimeja paling ujung, Hampir ber bareng, diiringi dengan suara “krekek-krekek”, sepuluh kursi patah kakinya dan sepuluh Hio coe itu bangun berdiri dengan sikap tenang.

Sekali lagi para hadirin bersorak sorai, sedang paras muka kedua jago Koen loen pay jadi pucat bagaikan mayat.

Diantara sorakan tiba tiba dua orang Hio coe menghampiri meja utama dengan masing-masing mendukung sebuah batu besar. “Kursi kayu tidak cukup kuat untuk diduduki oleh kalian,” kata satu antaranya “Jie wie duduklah dibatu ini”

Kedua Hio coe itu adalah orang kuat dalam Peh bie kauw. Ilmu silat mereka biasa saja, tapi mereka memiliki tenaga yang luar biasa.

Ko Cek Seng dan Chio Tauw kaget bukan main. Meskipun mereka berkepandaian tinggi ilmu ilmu pedang, mereka merasa tak sanggup menyambuti batu yang beratnya kira-kira tujuh ratus kati itu, “Taruhlah.” kata Ko Cek Seng.

“Huh !’ kedua orang kuat itu mengerahkan tenaganya dan mengangkat tinggi-tinggi kedua batu itu. “Sambutlah !” kata mereka.

Kedua jago Koenloen itu terkesiap. Dengan serentak mereka melompat kebelakang.

“Jika Jie wie Koenloen Kiam kek tak mau duduk di meja utama, biarlah Thio Siang ong saja yang duduk di situ,” kata Pek Kwie Sioe.

Mendengar perkataan itu, Coei San yang sedang kelelap dalam lautan asmara mendadak tersadar. “Celaka !” ia mengeluh. “Tak boleh aku membiarkan diriku dijatuhkan oleh memedi perempuan ini,” Ia lantas saja bangun berdiri dan menghampiri meja utama.

Dalam mengundang Coei San untuk duduk di meja utama, Pek Kwie Sioa beminat menjajal kepandaian pemuda itu, yang dipuji tinggi oleh Siang Kim Pang, tapi belum disaksikan olehnya sendiri. Maka itu, begitu lekas Coei San menghampiri, ia segera memberi isyarat kepada kedua Hio coe itu dengan lirikan mata.

“Thio Siangkoan, hati-hati!” teriak kedua Hio coe itu waktu Coei San sudah datang cukup dekat dan sambil membentak keras, dengan berbareng mereka melontarkan kedua batu itu yang lantas saja terbang kekepala Coei San.

Semua hadirin terkesiap dan serentak mereka bangun. berdiri. Dilain pihak, melihat terbangnya kedua batu besar itu, Pek Kwie Sioe yang hanya ingin mencoba kepandaian pemuda itu dan pada hakekatnya tidak mempunyai maksud kurang baik, lantas saja merasa menyesal, tercampur takut. Ia yakin, bahwa sebagai seorang ahli silat, pemuda itu masih dapat menyelamatkan diri dengan melompat mundur. Akan tetapi, kejadian itu adalah kejadian yang sangat memalukan, sehingga bukan saja Coei San, tapi In So So pun bisa menjadi gusar.

Sebagai seorang kejam, sesaat itu juga ia sudah mengambil keputusan, bahwa ia akan menumplek semua kesalahan diatas pundak kedua Hio coe itu dan jika perlu, ia akan membinasakan mereka supaya bisa meloloskan diri dari kegusaran nona In.

Melihat menyambarnya batu, Coei San pun terkejut. Jika ia melompat mundur, seperti Ko Cek Sang dan Chia Tauw, ia merasa sangat malu karena hal ini sangat menurunkan pamornya Boe tong pay. Pada detik yang sangat genting, ia tak sempat memikir panjang-panjang lagi. Pada saat berbahaya, semua tenaga dan ilmu dari seorang yang pandai silat bisa keluar secara wajar. Demikianlah, tanpa dipikir lagi, tangan kirinya mengebas kekanan batu yang menyambar dari sebelah kiri dengan pukulan huruf “boe” (persilatan) sedang tangan kanannya mengebas kekiri batu yang menyambar dari sebelah kanan. Seperti telah dikatakan, berat setiap batu tak kurang dari tujuh ratus kati, sehingga, ditambah dengan tenaga jatuhnya dari atas kebawah, maka tenaga menindih dari setiap batu tidak kurang dari seribu kati.

Dalam mempelajari ilmu silat, Coei San belum pernah mengutamakan latihan untuk memperbesar tenaga, sehingga jika diukur dengan tenaga yang dimilikinya, ia pasti tak akan dapat menyambuti kedua batu itu. Akan tetapi, ilmu silat Tnio Sam Hong yang berdasarkan Soe hoat adalah ilmu silat yang sangat luar biasa.

Pada hakekatnya, ilmu silat dari Boe tong pay tidak mengutamakan tenaga atau kecepatan memukul. Yang dipelajari yalah ilmu mengeluarkan tenaga pada saat yang tepat dengan gerakan dan kekuatan tenaga yang tepat pula. Pada jaman belakangan, dalam kitab Thay kek Koen keng, Ong Cong Gak, seorang ahli Boe tong pay telah ne nyebutkan pukulan Sie nio Po cian kin (tenaga empat tahil melontarkan barang yang beratnya ribuan kati). Dengan lain parkataan, jika tenaga yarg dikirim sesuai dengan “peraturan”, maka tenaga empat tahil akan dapat melontarxan barang yang beratnya ribuan kati.

Demikianlah dengan menggunakan ilmu silat yang paling tinggi dari gurunya, Coei San berhasil melontarkan kedua batu besar itu yang menyambar kepalanya

Apa yang telab mengejutkan para hadirin yalah ia seolah-olah melemparkan kedua batu itu dengan tangan bajunya, karena kedua tangannya bersembunyi didalam tangan baju yang besar. Kejadian itu adalah sedemikian mengejutkan, sehingga semua orang hanya mengawasi dengan mulut terngaga dan lupa untuk bersorak sorai lagi.

Dilain saat, kedua batu itu melayang turun ke muka bumi, yang satu lebih tinggi, yang lain lebih rendah. Dengan sekali menotol kakinya di tanah, badan Coei San meleset keatas dan ia lalu bersila diatas batu yang lebih tinggi. Dengan suara gedubrakan hebat, sehingga bumi tergetar, batu pertama ambruk dibumi dan separuhnya amblas di dalam tanah dan dilain detik, batu kedua jatuh tepat diatas batu pertama dan waktu kedua batu itu beradu, lelatu api muncrat keatas.

Dengan paras tenang, Coei San tetap duduk di batu yang sebelah atas. “Tenaga kedua Hio coe sungguh besar.” katanya sambil bersenyum. “Aku merasa kagum dan takluk.” Tapi kedua Hio coe itu masih tetap mengawasi dengan mata membelalak, tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata.

Beberapa saat kemudian, dilembah yang sunyi itu barulah bergema sorak sorai gegap gempita.

In So So mengawasi Pek Kwie Sie dengan mata melotot, tapi paras mukanya berseri-seri. Sekarang Pek Kwie Sie kegirangan. Ia mengerti, bahwa ke cerobohannya yang hampir-hampir menerbitkan onar, berbalik merupakan keuntungan bagi dirinya.

Sesudah menuang secawan arak, ia segera menghampiri Thio Coei Sin dan berkata dengan suara nyaring: “Sudah lama kami mendengar nama besar Boe tong Cit hiap, tapi baru sekarang kami melihat kepandaian Thio Ngohiap. Betapa besar rasa kagum kami tak dapat dilukislan lagi. Izinkan siauwjin memberi selamat kepada Thio Siang kong dengan secawan arak ini.” Sehabis berkata begitu, ia minum kering arak itu.

Coei San lantas saja turut minum dan menjawab dengan kata-kata merendahkan diri.

Tiba-tiba dari meja Kie keng pang bangun berdiri seorang lelaki yang mengenakan baju kuning. “Menurut pendapatku, ilmu silat Thio Ngohiap yang sangat tinggi adalah soal kedua.” teriaknya. “Yang paling mengagumi adalah hatinya yang mulia, berbeda jauh dengan manusia manusia rendah yang barhati jahat dan biasa menggunakan siasat busuk. Aku juga ingin memberi selamat kepada Thio Ngohiap dengan secawan arak.” Sehabis berkata begitu, ia minum kering secawan arak yang dipegangnya.

Orang itu bukan lain daripada Bek Siauw pangcoe yang kemarin telah ditolong dengan perahu Siang Kim Pang atas permintaan Coei San. Sambil membungkuk pemuda itu mengangkat cawan araknya seraya berkata: “Tak berani aku menerima pujian yang begitu tinggi. Aku pun ingin balas memberi hormat kepada Bek Siauw pangcoe dengan secawan arak ini.” ia hirup araknya sampai kering.

Sesudah suasana berubah tenang kembali, perlahan-lahan Pek Kwie Sioe bangun berdiri dan berkata dengan suara nyaring : “Belum lama berselang, agama kami telah mendapatkan golok mustika yang dikenal sebagai To liong to…. Mengenai golok itu, dalam Rimba Persilatan tersiar kata kata yang, seperti berikut : Boelim cie-coen, poto To Liong, hauw leng thian hee, boh kam poet-ciong!” Berkata sampai disitu, ia berhenti sejenak dan kedua matanya yang bersinar terang menyapu para hadirin.

“Sesudah memperoleh golok mustika itu, In Kauw coe dari agama kami sebenarnya ingin mengundang orang-orang dikolong langit untuk mengadakan sebuah pertemuan besar di gunung Heng San guna memperlibatkan golok itu kepada dunia,” katanya pula. “Akan tetapi menghimpun pertemuan besar itu meminta banyak tenaga dan tempo, sehingga oleh karenanya pemimpin kami telah mengambil keputusan untuk mengundang saja kalian yang berada ditempat-tempat yang berdekatan supaya kalian dapat turut melihat macamnya golok mustika itu.” Sehabis berkata begitu, ia mengebas tangannya dan delapan orang murid Peh bie kauw lantas saja bangun berdiri dan berjalan menuju kesebuah gua yang terletak disebelah barat.

Semua mata mengawasi delapan orang itu yang mendapat tugas untuk mengambil To liongto. Tapi waktu mereka keluar lagi, yang dibawa mereka, bukan golok, tapi satu hanglo (tempat perapian) besi yang sangat besar dengan api yang berkobarkobar. Mereka memikulnya dengan menggunakan pikulan kayu yang sangat panjang dan dengan napas tersengal-sengal, meraka menaruh hanglo itu di tengah-tengah lapangan. Di belakang mereka mengikuti empat orang, dua menggotong sebuah bantalan besi dan dua orang lagi maisng-masing membawa sebuah martil raksasa

“Siang Tan coe,” kata Pek Kwie Sioe, “harap kau suka memperhatikan golok mustika itu untuk menetapkan keangkeran!”

“Baiklah.” kata Siang Kim Peng sambil berpaling dan berkata kepada Hio coe yang tadi melontarkan batu kepada Coei San, “Ambil golok mustika itu !”

Mereka lantas saja masuk kedalam guha dan keluar lagi dengan seorang menyangga sebuah bungkusan sutera kuning dengan kedua tangannya, sedang seorang lain melindungi di sampingnya. Hio coe itu lalu menyerahkan bungkusan tersebut kepada Siang Kim Peng dan kemudian berdiri dikiri kanannya. Dengan sikap hormat, Siang Kim Peng jalu membuka bungkusan yang didalamnya berisi sebatang golok. Dengan kedua tangan ia mengangkat tinggi-tinggi golok itu yang kemudian dihunusnya. “Golok ini adalah To liong to yang sangat dihormati dalam Rimba Persilatan!” teriaknya. “Kalian boleh melihatnya dengan teliti.”

Nama besar To liong to sudah lama dikenal dalam dunia Kang ouw. Akan tetapi, melihat macamnya golok itu yang biasa saja dan warnanya kehitam-hitaman, semua orang menjadi sangsi. Apa benar golok itu To liong to yang dikagumi dalam Rimba Persilatan ?

Perlahan-lahan Siang Kim Peng turunkan golok itu dan menyerahkannya kepada Hio coe yang berdiri disebelah dirinya. “Gunakanlah martil!” ia merintah.

Hio coe itu lalu menyambuti golok tersebut yang lalu ditaruh diatas bantalan besi dengan mata golok menghadap keatas Hio coe yang disebelah kanan segera mengangkat martil dan menghantam nya kemata golok. “Trang!” dan.., “loh!” Kepala martil terpapas putus jadi dua potong. Separuh jatuh ditanah dan separuh lagi masih menempel digagang martil

Itulah kejadian yang sungguh luar biasa. Semua orang terkesiap dan dengan serentak mereka bangun berdiri. Bahwa dalam Rimba Persilatan terdapat senjata mustika yang dapat memapas baja atau emas, bukan kejadian langka.

Tapi senjata yang dapat memapas besi yang begitu besar seperti memapas tahu, benar-benar belum pernah didengar mereka. Seorang dari Sin koen boen dan seorang dari Kie keng pang segera menghampiri bantalan besi itu dan menjemput potongan martil yang jatuh di tanah. Ternyata, bagian yang terpapas berkilat-kilat, sebagai tanda baru saja dipapasnya.

Sementara itu, dua orang Hio coe yang lain sudah mengangkat martil yang satunya lagi yang lalu dihantamkan kemata golok. Seperti juga tadi, dengan mengeluarkan suara “tring”, kepala martil terpapas pula.

Kali ini semplaknya martil itu disambut dengan tampik sorak riuh.

Perlahan-lahan Siang Kim Peng mendekati bantalan besi itu dan mengangkat To liong to. Kemudian, dengan gerakan To pek Hwa san (Menghantam gunung Hwa san), ia membabat bantalan besi itu yang lantas saja kutung dua. Sesudah itu, sambil menenteng golok, ia berjalan ke sebelah barat dan dengan kecepatan kilat, menjambret dahan satu pohon siong tua dengan golok itu. Dengan beruntun-runtun, ia membabat delapan belas pohon siong,
Para hadirn merasa sangat heran, karena meskipun terang-terangan sudah dibabat putus, pohon-pohon itu masih tetap berdiri tegak.

Pek Kwie Sioe tertawa nyaring dan dengan tangan bajunya, ia mengebas pohon yang pertama. Dengan suara gedubrakan, pohon itu. sebatas yang telah terbacok, rubuh diatas tanah. Teryata, memang dengan sekali membabat saja, dahan pohon itu sudah menjadi putus. Tapi karena To liong to tajam luar biasa, maka biarpun dahannya putus pohon itu masih tetap berdiri dan barulah tumbang sesudah didorong oleh Pek Kwie Sioe, sesudah merubuhkan pohon pertama, Pek Tan coe lalu mengebas pohon-pohon lainnya yang juga lantas saja rubuh dengan mengeluarkan suara keras.

Sesudah itu, sambil tertawa terbahak-bahak Pek Kwie Sioe mengambil Toliong to dari tangan Siang Kim Peng dan lalu memasukkannya kedalam hanglo yang apinya sedang berkobar-kobar.

Pada waktu pohon-pohon sedang rubuh dikebas Pek Kwie Sioe, tiba-tiba disebelah kejauhan terdengar suara “peletak peletok” dan gedubrakan yang beruntun-runtun, seperti juga seorang lain sedang merubuhkan lain-lain pohon. Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Peng terkejut dan mereka segera mengawasi kearah suara itu. Mereka jadi lebih kaget lagi, karena teryata, bahwa tiang-tiang dari perahu perahu yang berlabuh dipantai, rubuh satu demi satu. Pada tiang-tiang itu tergantung bendera bendera Peh bie kauw, Kie keng pang, Hay see pay dan Sin koen boen. Semua orang lantas saja turut memandang kearah itu. Keruaan saja mereka jadi gusar bukan main dan beberapa pemimpin, dengan mengajak sejumlah orang sebawahannya, lantas saja berlari-lari kepantai untuk me nyelidiki.

Mendadak, jago-jago yang berkumpul dilapangan itu melihat lain perubaban yang lebih mengagetkan. Satu demi satu, perahu mereka mulai tenggelam. Rombongan kedua, yang terdiri dari beberapa partai, lantas saja menyusul kepantai. Jarak antara pelabuhan dan lapangan rumput itu tidak terlalu jaub, tapi rombongan penyelidik pertama, yang terdiri dari belasan orang, tidak kelihatan balik kembali.

Semua orang saling mengawasi dengan perasaan sangsi. Sambil menengok kepada seorang Hio coe Pek Kwie Sioe berkata: “Coba kau pergi lihat.” Sesudah orang itu pergi, dengan sikap tenang yang di buat-buat, ia berkata pula: “Mungkin sekali di-lautan terjadi perubahan luarbiasa, Tuan-tuan tak usah terlalu berkuatir. Andaikata semua perahu rusak, kita masih bisa pulang dengan getek-getek kayu. Mari! Keringkan cawan !”

Walaupun hati mereka bergoncang keras, tapi supaya tidak dikatakan bernyali kecil, jago-jago itu terpaksa mengangkat juga cawan mereka. Tetapi baru saja cawan menenpel di bibir, tiba-tiba terdengar teriakan menyayatkan hati, seperti juga jeritan orang yang melompat bangun dengan paras muka pucat. Mereka itu rata-rata manusia-manusia, yang sudah biasa membunuh sesama manusia. Tapi sekarang mereka jadi ketakutan karena terjadinya perkembangan luar biasa dan suara jeritan itu yang sangat menyeramkan. Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Peng segera mengenali, bahwa itulah teriakan Hio coe yang barusan diperintah pergi menyelidiki. Di lain saat, sekonyong-konyong terdengar bunyi tindakkan kaki dan seorang yang bagaikan mandi darah mendatangi de gan berlari lari. Orang itu bukan lain dari pada Hio coe tadi.

Dengan kedua tangsnnya, ia menekap mukanya yang bercucuran darah, kulit kepalanya terbeset, pakaiannya robek-robek dan berlepotan darah. Begitu berhadapan dengan suara bergemetar ia berkata : “Kim mo Say ong ! .Kim mo Say ong …” (Kim mo Say ong ‘Raja singa bulu emas” .

“Singa?” menegas Pek Kwie Sioe dengan hati lebih lega karena menduga, bahwa yang menyerang adalah seekor binatang buas.

“Bukan…bukan….” jawab Hio coe itu, “Manusia, bukan, bukan singa. Semua orang dicakar sampai mati…. semua perahu tenggelam !”

Sehabis berkata begitu, ia tidak dapat mempertahankan diri lagi dan rubuh binasa diatas tanah “Coba aku yang menyelidiki,” kata Pek Kwie Sie.

“Aku ikut,” kata Siang Kim Peng.

“Tidak, kau harus melindungi In Kouwnio,” cegah Pek Kwie Sioe, yang mengerti bahwa sekarang ia sedang menghadapi lawan yang sangat tangguh. Hio coe yang tadi diperintah pergi menyelidiki, adalah salah seorang yang ilmu silatnya paling tinggi dalam kalangan Pek bie kauw. Bahwa dia telah dibinasakan secara begitu mudah, merupakan suatu tanda, bahwa pihak lawan adalah seorang yang lihay bukan main. Siang Kim Peng tidak membantah lagi dan sambil mengangguk, ia menjawab “ya.”

Mendadak tardengar suara batuk-batuk, diikuti dengan suara bicaranya seorang : “Kim mo Say ong sudah berada disini!”

Semua orang terkejut dan menengok kesana tapi mereka tak melihat bayangan manusia lain. Dimana orang itu bersembunyi ?

Mendadak terdengar pula suara itu : “Tolol! Sungguh tolol !” Cacian itu disusul dengan terbayangnya sebuah batu besar dan satu manusia melompat keluar dari lubang dibawah batu. Ternyata, siang-siang ia sudah bersembunyi dibelakang pohon dan kemudian, dengan menggali tanah,ia masuk kedalam lubang yang dibuatnya dibawah sebuah batu besar.

Bukan main kagetnya semua orang, tidak terkecuali In So So, yang sambil mengeluarkan seruraan “ah!” lari mendekati Thio Coei San.

Badan orang itu tinggi besar luar biasa, kira-kira lebih tinggi satu kaki dari manusia biasa. Rambutnya yang berwama kuning terurai dipundaknya sedang kedua matanya yang bersinar hijau bersorot tajam seperti pisau.

Dalam tangannya, is mencekal sebatang toya Long gee pang yang panjangnya satu tombak tujuh kaki. Dengan tubuhnya yang seperti raksasa. Ia berdiri diantara meja-meja perjamuan bagaikan satu malaikat.

“Kim mo Say ong?” Coei San tanya dirinya sendiri. “Siapa dia ? Aku belum pemah mendengar nama begitu, baik dari Soehoe, maupun dari lautan.” Ia mendapat kenyataan, bahwa orang itu mengenakan jubab panjang yang terbuat dari macam-macam kulit binatang, seperti kulit harimau, kulit macan tutul, kulit kerbau, manjangan, biruang. anjing ajak, rase dan sebagainya. Sepotong demi sepotong kulit-kulit itu dijahit satu pada lainnya dan dilihat dari buatannya yang sangat halus, tukang yang membuatnya bukan sembarang tukang. Antara begitu banyak binatang, hanya kulit singa saja yang tidak terdapat pada pakaiannya itu. Coei San menduga, bahwa orang itu sangat menghormati binatang singa, sehingga ia menggunakan nama binatang itu sebagai gelarnya. Long gee pang atau toya gigi anjing ajak, yang dicekal oleh orang itupun lain daripada yang lain. Menurut kebiasaan, paku-paku yang merupakan gigi anjing ajak, hanya dipasang pada satu ujung dari Long gee pang. Tapi toya yang dicekal orang bukan saja panjang dan besar luar biasa, tapi juga dipasang paku-paku pada kedua ujungnya, sedang warna toya keemas-emasan, tapi bukan terbuat daripada emas.

Sesudah dapat menenteramkan hatinya yang berdebaran, Pek Kwie Sioe maju setindak seraya bertanya : “Apakah aku boleh mengetahui she dan nama tuan yang mulia ?”

“Aku she Cia, bernama Soen, alias Twie Soe,” jawabnya. “Disamping itu aku juga mempunyai satu gelaran, yaitu Kim mo Say ong.”

Coei San dan So So saling melirik. Mereka sependapat, bahwa walaupun ganas, orang itu mempunyai nama dan gelar seperti seorang sasterawan.

Mendengar jawaban yang pantas, hati Pek Kwie Sioe jadi lebih lega. “Oh, kalau begitu, aku sedang berhadapan dengan Cia Sianseng,” katanya sambil membungkuk.

“Sebegitu jauh yarg diketahui olehku, Sianseng dan kami sama sekali belum pemah berurusan, malah belum pernah mengenal satu sama lain. Tapi mengapa, begitu tiba
Sianseng segera merusak perahu dan membunuh orang !”

Cia Soen tersenyum dan memperlihatkan dua baris giginya yang putih dan berkilat. “Perlu apa tuan-tuan berkumpul ditempat ini?” ia balas menanya.

Pak Kwie Sioe merasa, bahwa ia tidak dapat berjusta terhadap orang yang lihay itu. Dalam perhitungannya, biarpun ia tahu orang itu bekepandaian tinggi, tapi karena dia hanya seorang diri, ia tidak begitu keder. Ia menganggap bahwa dengan Siang Kim Peng, Thio Coei San dan In So So, biar bagaimanapun juga, pihaknya akan dapat menjatuhkan lawan tunggal itu. Memikir begitu, ia lantas saja menjawab dengan suara nyaring: “Belum lama berselang Peh bie kauw telah mendapat sebilah golok mustika dan sekarang kami mengumpulkan sahabat-sahabat dalam dunia Kang ouw untuk menyaksikan golok tersebut.”

Cia Soon menengok kehanglo yang apinya sedang berkobar-kobar dan membakar sebilah golok berwama hitam. Melihat api yang begitu hebat, tapi golok itu sedikitpun tidak bergeming, ia tabu, bahwa golok itu benar benar senjata mustika. Dengan tindakan lebar ia mendekat dan mengangsurkan tangan untuk mencekal gagang golok.

“Tahan!” bentak Siang Kim Peng.

Cia Soen menengok. “Mengapa?” tanyanya sambil tersenyum tawar.

“Golok itu adalah milik agama kami,” jawabaya.

“Sababat, kau hanya boleh melihat dari jauh tidak boleh mendekatinya “

“..Milikmu?” menegas Cia Soen. “Apa golok itu dibuat olehmu atau dibeli olehmu?”

Siang Kim Peng tergagap, tak dapat ia menjawab pertanyaan itu.

“Pihakmu mengambilnya dari tangan orang lain dan sekarang aku mengambilnya dari tangan kamu,” kata pula Cia Soen “Hal itu cukup adil, mengapa tidak boleh?” Sehabis berkata begitu, ia kembali memutar badan dan. mengangsurkan tangannya untuk mencekal gagang To liong to.

Berbareng dengan suara berkerincin rantai Siang Kim Peng mengeluarkan senjata semangka dari pinggangnya.

“Sahabat!” bentaknya. “Jika kau tidak meladeni, aku terpaksa berlaku kurang sopan terhadapmu.” Dalam kata-katanya ia baru memberi peringatan, tapi sebenarnya berbareng dengan perkataannya itu “semangka” yang ditangan kirinya sudah menyambar punggung Cia Soen.

Tanpa memutar badan atau menengok, Cia Soen menyodok kebelakang dengan toyanya. Benturan antara Long gee pang dan ’semangka’ itu menerbitkan suara yang sangat hebat dan semangka besi itu hancur jadi tujuh delapan potong yang melesat kesana sini. Hampir berbareng badan Siang Kim Peng bergoyang goyang dan sudah muntahkan darah, ia rubuh berguling tanpa beryawa lagi.

Ternyata Siang Kim Peng telah dibinasakan dengan tenaga Lweekang yang menyerang dari Long gee pang lewat semangka besi itu ketubuhnya. Jika orang tahu betapa tinggi kepandaian Siangg Kim Peng, dapatlah ia membayangkan hebatnya Lweekang orang she Cia itu.

Lima Hio coe Coe ciak tan menecelos hatinya. Dengan serentak mereka melompat maju, dua menubruk pemimpin mereka, sedang tiga yang lain, tanpa memperdulikan segala apa, segera menghunus golok dan menerjang musuh.
Sesudah mengambil To liong to, dengan menggunakan Long gee pang Cia Soen menyontek hangl0 besi itu yang lantas saja terbang keatas dan jatuh menghantam tubuh ketiga Hio coe itu. Karena tenaganya belum habis, hanglo itu menggelinding terus dan menghantam pula kedua Hio coe yang sedang coba membangunkan Siang Kim peng. Dalam sekejap, pakaian lima Hio coe dan mayat Siang Kim Peng, berkobar-kobar. Empat Hio coe mati disitu juga, sedang yang satu menjerit_jerit kesakitan.

Siapakah yang tidak menjadi gentar sesudah melihat kejadian yang sangat hebat itu?

Meskipun masih berusia muda, Coei San sudah kenyang makan asam garam dunia Kangouw dan sudah pernah bertemu dengan banyak sekali orang pandai. Tapi manusia yang kepandaiannya setinggi Cia Soen, belum pemah ditemuinya. Diam diam ia mengakui, bahwa kepandaiannya masih kalah jauh. Ia mengakui, bahwa diantara saudara-saudara seperguruannya, tak satupun yang dapat menandingi orang itu, bahkan Boe tong Cit hiap, tujuh pendekar Boetong, bersama-sama belum tentu bisa memperoleh kemenangan. Menurut taksirannya, adalah gurunya seorang yang dapat meladeni Cia Soen.

Sementara itu, dengan jarinya Cia Soen menyentil To liong to yang mengeluarkan suara aneh, seperti suara tersentuhnya emas, tapi bukan emas, seperti kayu tapi bukan kayu. Ia manggut-manggutkan kepalanya seraya berkata dengan suara perlahan : “Tak ada suara, tak ada warna, Benar-benar golok mustika.”

Sesudah itu, ia mengawasi sebuah sarung golok yang terletak dimeja, didekat tempat berdirinya Pek Kwie Sioe. “Apa itu sarung To long to?” tanyanya, “Bawa kemari.”

Pek Kwie Sioe mengerti, bahwa sepuluh sembilan jiwanya bakal melayang. Jika ia menurut dan menyerahkan sarung golok itu, habislah nama baiknya yang sudah dipertahankan selama puluhan tahun. Disamping itu, jika dikemudian hari Kauw coe menyelidiki peristiwa tersebut, ia pasti akan binasa dalam tangannya pemimpin tersebut. Tapi dilain pihak, jika membangkang, ia juga bakalan mati. Maka itu, sesudab memikir sejenak, ia lantas saja berkata : “Jika kau ingin membunuh aka, bunuhlah ! Aku siorang she Pek, bukan manusia yang takut mati.”

Cia Soen bersenyum. “Keras kepala ! Manusia keras kepala !” katanys. “Dalam Peh bie kauw teryata terdapat orang-orang yang mempunyai nyali.” Tiba tiba ia mengayun tangan kirinya dan To liong to menyambar ke arah Pek Kwie Sioe, Begitu golok menyambar, Pek Kwie Sioe, yang tidak berani menyambuti, lantas saja berkelit ke samping. Tapi diluar dugaan. waktu mendekati
meja mendadak golok itu terbang rendah dan ., “srok!”, masuk tepat kedalam sarungnya ! Apa yang lebih aneh lagi, golok yang sudah bersarung itu terbang balik dan dengan sekali menyontek dengan Long gee pang, Cia Soen sudah mencekel lagi golok itu yang bersama sama sarungnya lantas saja diselipkan dipinggangnya !

Pertunjukan aneh itu, yang hanya dapat diperlihatkan oleh seseorang yang Lweekangnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, benar-benar menakjubkan.

Sesudah itu, sambil menyapu para hadirin dengan matanya yang sangat tajam, ia berkata: “Apakah tuan-tuan mempunyai pendapat lain mengenai keinginanku untuk memiliki golok mustika ini?”

Sesudah ia mengulagi pertanyaannya dua kali, tiba-tiba seorang yang duduk dimeja Hay see pay duduk berdiri dan berkata “Cia Cianpwe adalah seorang yang mulia dan tersohor diempat lautan. Golok mustika itu memang pantasnya dimiliki oeh Cia Cianpee dan kami semua merasa sangat setuju.”

“Apakah tuan Cong to ceo?, (pemimpin besar) dari Hay see pay yang bernama Goan Kong Po?” tanya Cia Soen.

“Benar,” jawabnya. Ia merasa girang dan heran mendengar pertanyaan itu. Bagaimana Cia Soen bisa mengenal she dan namanya ?

“Apa kau tahu siapa guruku ?” tanya pula Cia Soen “Apa kau tahu dari partai mana ? Perbuatan mulia apakah yang pernah dilakukan olehku ?”

Goan Kong Po tergugu. “Aku …aku ….” jawabnya terputus putus. Ia sebenarnya tidak pernah mangenal Cia Soen dan kata katanya yang barusan hanyalah untuk mengumpak-umpak.

“Sedang kau tidak mengenal aku, bagaimanakau tahu aku sangat mulia dan tersohor diempat lautan?” tanya Cia Soan dengan suara memandang rendah. “Golok ini dulu dimiliki oleh Hay see pay, kemudian direbut oleh Tiang pek Sam-kim dan lalu jatuh kedalam tangan Jie Thay Giam dari Boo tong pay …”

Mendengar perkataan “Jatuh kedalam tangan Jie Thay Giam dari Bo tong pay” membuat jantung Coei Sin memukul keras. Baru sekarang ia tahu, bahwa golok itu mempunyai sangkut usut dengan Samkonya.

Sementara itu Cia Soen bicara terus: “Dengan diam-diam turunkan tangan beracun, Peh bie kauw merampas golok ini dari tangan Jie Thay Giam. Huh huh!” Sesudah merasa, bahwa Hay see pay tidak mempunyai kesempatan lagi untuk merebut pulang To liong to, kau segera mengeluarkankata-kata merdu untuk mengumpak umpak aku Kau adalah penjilat yang tak mengenal malu dan selama hidup, aku paling benci bangsa penjilat. Kemari!” Waktu mengucapkan kata-kata paling belakang, suaranya nyaring bagaikan geledek dan menusuk kuping.

Goan Kong Po yang sudah hancur nyalinya tidak berani membangkang. Dengan tindakan limbung, ia menghampiri dan waktu sudah berhadapan deaga Cia Soen, kedua kakinya bergemetaran.

Sementara itu, hati Coei San berdebaran dan darahnya bergolak-golak. waktu melirik In So So, ia mendapat kenyataan paras muka si nona pucat bagaikan kertas.

“Kamu, kawanan Hay see pay, sungguh kawanan simuka tebal,” Cia Soen mencaci pula. “Ilmu silat kamu ilmu silat pasaran dan modalmu yang terutama untuk mencelakakan manusia adalah garam beracun. Tahun yang lalu, di Gin yauw, kamu telah membinasakan Thio Teng In serumah tangga, tak kurang dari sebelas orang melayang jiwanya. Bulan ini, tanggal satu, kamu juga telah membunuh Auwyang Ceng di Hay boen.”

Goan Kong Po kaget tak kepalang. Ia sungguh tak mengerti, bagaimana Cia Soen bisa tahu seluk beluk kedua pembunuhan itu yang dilakukan secara rahasia.

“Mengapa kau diam saja ?” bentak Cia Soen “Suruh orangmu bawa dua mangkok garam beracun kemari! Aku mau lihat bagaimana macamnya racunmu itu?”

Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Hay see pay bahwa kemanapun mereka pergi, mereka pasti membekal garam beracun. Maka itu, dengan apa boleh buat, Goan Kong Po segera memerintahkan sebawahannya membawa dua mangkok racun.

Cia Soen menyambuti dua mangkok itu yang lalu diendut-endus dengan hidungnya, “Mari kita masing-masing makan semangkok!” katanya.

Goan Kong Po terkesiap, garam itu mengandung racun yang sangat hebat, sehingga, jangankan dimakan. sedangkan menempel dibadan manusia saja sudah cukup untuk mengambil jiwa orang.

Dalain saat, Cia Soen menancapkan toyanya di tanah dan satu tangannya menyambar kedagu Goan Kong Po yang begitu tersentuh, mulutnya lantas saja menganga dan tidak dapat ditutup lagi.

Hampir berbareng ia mengangkat mangkok garam dan menuang semua isinya kemulut orang!

Binasanya Thio Tang In dan semua keluarganya di Gie yauw dan terbunuh matinya Auwyang Ceng dalam sebuah hotel di Hay boen merupakan suaru teka-teki yang mengherankan dalam Rimba Persilatan.

Sekarang baru ketahuan, bahwa kedua pembunuhan gelap itu telah dilakukan oleh orang-orarg Hay See pay. Maka itu melihat nasib yang dijalani Goan Kong Po, jago-jago yang berada di situ diam-diam merasa girang,

Sesudah itu sambi mengangkat mangkok garam yang satunya lagi. Cia Soen berkata dengan suara nyaring : “Aku si orang she Cia selalu berlaku adil dan jujur. Kau sudah makan semangkok, aku pun akan makan semangkok.” Ia menuang garam itu kedalam mulutnya dan lalu menelannya.

Itulah perbuatan yang tak pernah diduga orang orang yang paling kaget adalah Coei San. Sesudah memperhatikan paras muka Cia Soen, ia mendapat kenyataan, bahwa meskipun sepak terjangnya sangat ganas, pada paras mukanya terdapat sinar kesedihan, Dengan mengingat, bahwa’ jago-jago yaag telah dibinasakan olehnya adalah manusia manusia jahat. maka dalam hati pemuda itu muncul rasa simpathi. Demikianlah, begitu lihat Cia Soen menelan garam itu, tanpa terasa ia berteriak : “Cia Cianawee, manusia itu memang pantas mendapat hukuman mati. Perlu apa Cianpwee ber buat begitu ?”

Cia Soen menengok dan mengawasi, Coei can bersenyum, sedang paras mukanya sedikitpun tidak terlihat sinar ketakutan.

“Siapa tuan ?” tanya Cia Soen.

“Boanpwee adalah Thio Coei San dari Boe tong,” jawabnya.

“Hmmn ….Boe tong Thio Ngohiap . . . apakah kau datang untuk merebut To liong to ?” tanyanya pula.

Pemuda itu menggelengkan kepala seraya berkata: “Bukan. kedatangan boanpwee adalah untuk menyelidiki sebab musabab terlukanya Jie Samko, Kurasa Cianpwee mengetahui banyak mengenai peristiwa itu dan aku memohon keterangan Cianpwee.”

Sebelum Cia Soen keburu menjawab, tiba-tiba Goan Kong Po mengeluarkan jeritan kesakitan dan ia rubuh sambil memegang perutnya. Sesudah bergulingan beberapa kali ditanah, badannya tidak bergerak lagi dan rohnya berpulang kealam baka.

“Cia Sianseng, lekas minum obat!” teriak Coei San dengan bingung.

“Obat apa?” bentaknya. “Ambil arak!” Seorang pelayan dari Peh bie kauw lantas saja mengambil cawan dan poci arak.

“Mengapa Peh bie kauw begitu kikir?” teriak Cia Soen. “Ambil poci yang paling besar!”

Dengan tergesa-gesa pelayan itu segera mengambil poci yang paling besar dan lalu menaruhnya dihadapan Cia Soen. “Manusia ini rupanya kepingin mampus terlebih cepat,” katanya didalam hati.

Sambil tertawa Cia Soen lalu mengangkat tempat arak itu dan menuang isinya kedalam mulutnya. Dalam sekejap, arak itu yang beratnya kirakira tigapuluh kati, sudah dituang kering. Ia mengusut-ngusut perutnya yang melembung besar den tertawa berkakakan.

Mendadak ia mendongak dan membuka mulutnya. Hampir berbareng, diluar dugaan semua orang ia menyemburkan arak yang menyambar dada Pek Kwie Sioe bagaikan sehelai sutera putih. Karena tidak berjaga-jaga, Pek tan coe terhuyung dan kemudian rubuh karena dadanya seperti dipukul martil. Sesudah itu, Cia Soen lalu menyemburkan keatas arak itu yang kemudian jatuh seperti hujan gerimis, sehingga membasahi muka semua orang.

Sejumlah orang yang Lweekangnya masih cetek,yang tidak tahan dengan bau dan racun arak, lantas saja roboh dalam keadaan pingsan.

Ternyata, dengan menggunakan Lweekang yang sangat tinggi, terlebih dulu Cia Soen mencuci racun garam dalam perutnya dengan arak itu yang kemudian disembur keluar sebagai arak beracun. Sedikit racun yang masih ketinggalan didalam perut ditindih olehnya dengan menggunakan Lwee kang.

Bek Keng Pangcoe dari Kie keng pang, jadi gusar bukan main dan mendadak ia melompat bangun. Tapi dilain detik, ia ingat, bahwa kepandaiannya masih jauh dari kepandaian orang itu, sehingga perlahan-lahan ia duduk kembali sambil menahan amarah.

“Bek Pangcoe,” kata Cia Soen seraya tertawa dingin. “Bukankah pada Go gwee tahun ini di muara Sungai Bin kiang kau telah membajak sebuah perahu dari Liaow tong ?”

Paras muka Bek keng lantas saja berubah pucat . “Benar,” jawabnya.

“Sebagai bajak, memang juga, kalau tidak membajak, kau tentu tak bisa hidup,” kata pula Cia Soen. “Bahwa kau membajak, sangat dapat dimengerti olehku. Sedikitpun aku tidak menyalahkan kau. Tapi mengapa kau sudah melemparkan beberapa puluh pedagang yang tidak berdosa kedalam laut dan telah memperkosa tujuh wanita sehingga mereka jadi binasa? Apakah seorang gagah dalam dunia Kang ouw boleh melakukan perbuatan yang terkutuk itu ?”

Bek Keng bergemetar sekujur badannya. “Itu…. itu ….. perbuatan …..perbuatan orang orang ku,” jawabnya terputus-putus. “Aku aku sama sekali tidak mengambil bagian.”

Cia Soen mengeluarkan suara dari hidung. “Huh! Enak benar kau menyangkal!” bentaknya. “Andai kata benar kau tidak mengambil bagian, karena kau sama sekali tidak mencegah orang orangmu melakukan perbuatan yang sangat memalukan Rimba persilatan, maka semua kedosaan harus ditanggung olehmu sendiri. Perbuatan itu seperti juga dilakukan olehmu sendiri. Sekarang aku mau tanya: Siapa siapa pada hari itu telah melakukan perbuatan terkutuk itu ?”

Untuk menyelamatkan jiwanya sendiri, Bek Keng segera menghunus golok. “Coa Sie, Hoa Cong San Ouw Liok ! Kamu bertiga mengambil bagian di hari itu!” Hampir berbareng, bagaikan kilat ia membacok tiga kali dan ketiga bajak itu lantas saja rubuh tanpa bernyawa lagi.

“Bagus! Hanya sayang terlalu terlambat,” kata Cia Soen. “Kalau hari itu kau menghukum mereka, hari ini aku tentu tidak turun tangan. Bek Pangcoe, ilmu apa yang paling diandalkan olehmu?”
Melihat ia tidak dapat meloloskan diri lagi, Bek Keng berkata dalam hatinya : “Kalau bertanding didaratan, mungkin aku tidak dapat melawannya dalam tiga jurus. Tapi diair adalah duniaku. Andai kata kalah, aku masih dapat melarikan diri. Tak mungkin ilmu berenangnya lebih lihay daripada aku.” Memikir begitu, ia lantas saja berkata: “Aku ingin meminta pelajaran Cia Cianpwee dalam ilmu berkelahi dibawah air.”

“Baiklah, mari kita pergi ketengah laut untuk menjajal kepandaian” jawab Cia Soen sambil meagangguk. Tapi baru berjalan beberapa tindak, ia berhenti seraya berkata: “Tahan! Aku kuatir begitu lekas aku pergi, orang-orang itu lantas saja kabur!”

Mendengar perkataan itu, semua orang tereajut. Apa dia mau membinasakan semua orang ?

Bek Keng sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik dan ia segera berkata dengan tergesa-gesa “Biarpun didalam air, aku pasti bukan tandingan Cianpwee. Aku mohon pertandingan dibatalkan saja dan aku mengaku kalah.”

“Hm… kalau begitu, aku boleh tak usah banyak berabe,” kata Cia Soen. “Jika kau mengaku kalah, kau harus membunuh diri.”

Bek Keng terkesiap. Sesudah berdiam sejenak, ia berkata dengan suara tak lampas: “Dalam…. dalam pertempuran, kalah menang adalah kejadian biasa. Mengapa mesti membunuh diri?”

“Jangan rewel!” bentak Cia Soen. “Manusia seperti kau ingin bertanding denganku? Kedatanganku hari ini adalah untuk menagih jiwa. Siapa saja yang pernah melakukan perbuatan jahat dan membunuh manusia yang tidak berdosa tak akan bisa terlolos dari tanganku. Hanya karena aku kuatir kamu binasa dengan penasaran, maka aku membolehkan kamu mengeluarkan kepandaian yang paling lihay untuk membela diri. Siapa yang dengan kepandaiannya dapat menangkan aku, aku akan mengampuni jiwamu.”

Sehabis berkata begitu, ia membungkuk dan mengambil dua gempal tanah liat yang lalu dibasahi dengan arak. Sesudah memulung gempalan tanah itu menjadi dua bola bundar, ia segera berkata: “Tinggi rendahnya kepandaian berenang dari seseorang dapat diukur dengan berapa lama ia dapat bertahan dibawah permukaan air. Sekarang begini saja. Dengan menggunakan tanah ini, aku dan kau menutup hidung dan mulut. Siapa yang lebih dulu tak tahan, boleh mengorek tanah ini, tapi ia harus membunuh diri sendiri.”

Tanpa menanya lagi apa Bek Keng setuju atau tidak, ia segera menutup hidung dan mulutnya dengan tanah liat itu dan kemudian, dengan sekali menimpuk, bola tanah yang lain menutup hidung dan mulut Bak Keng.

Melihat pertunjukan itu, semua orang merasa geli, tapi tak satupun berani tertawa. Sebelum jalanan napasnya ditutup, Bek Keng sudah menarik napas dalam-dalam. Sesudah itu, ia lantas saja bersila dan menahan napas.

Dalam ilmu menahan napas Bek Keng banyak lebih unggul daripada manusia kebanyakan. Semenjak berusia tujuh delapan tahun, ia sering selulup diair untuk menangkap ikan dan kepiting. Dengan latihan yang terus menerus, semakin lama in semakin mengenal sifatnya air dan dapat bertahan dibawah permukaan air sampai kira-kira sepasangan hio. Maka itu, dalam pertandingan ia percaya bahwa ia bakal mendapat kemenangan.

Dilain pihak, Cia Soen tidak menyontoh perbuatan lawannya. Sebaiknya dari bersila atau duduk, dengan tindakan lebar ia menghampiri meja Sin koen dan menatap wajah Kwee Sam Koen, Ciangbunjin in boen, dengan mata melotot.

Diawasi secara begitu, si orang she Kwee bangun bulu romanya. Buru-buru ia berdiri dan berkata sambil merangkap kedua tangannya. “Cia Cianpwee, aku yang rendah adalah Kwee Sam Koen dari Sin koen boen.”

Karena hidung dan mulutnya tertutup, Cia Soen tidak dapat bicara. Ia menyelup telunjuknya ke dalam cawan arak dan menulis tiga huruf diatas meja. Begitu melihat tiga hurup itu, paras muka Kwee Sam Koen lantas saja berubah pucat seperti kertas. Beberapa muridnya melirik huruf-huruf itu yang ternyata berbunyi “Coei Hoei Yan” adalah nama seorang wanita, tapi tak tahu mengapa guru mereka jadi begitu ketakutan

Coei Hoei Yan adalah puteri gurunya Kwee Sam Koen. Sesudah sang guru meninggal dunia, dia telah main gila dengan nona itu. Tapi, sesudah nona itu hamil, ia meninggalkannya dengan begitu saja dan masuk menjadi murid partai Sin Koen boen. Karena malu dan gusar, Hoei Yan menggantung diri sehingga binasa. Karena keluarga Hoei hanya ketinggal Hoei Yan seorang, maka urusan itu tidak menjadi panjang dan kecuali Kwee Sam Koen sendiri, rahasia tersebut tidak diketahui oleh orang luar. Tapi diluar semua dugaan, sesudah lewat kurang lebih dua puluh tahun, Cia Soen telah menulis nama nona itu diatas meja.

Begitu melihat tiga huruf itu, Kwee Sam Koen segera berkata dalam hatinya: “Sesudah menang kan Bek Keng dan mencopot tanah liat yang menutup jalan napasnya, dia tentu akan mengumumkan perbuatan itu. Paling baik aku menggunakan kesempatan ini untuk turun tangan lebih dulu. Jika dia mengerahkan tenaga untuk melawan aku, dia tentu akan kalah dalam pertandingan melawan Bek Keng”. Memikir begitu, ia lantas saja berkata deagan suara nyaring: “Aku yang rendah adalah Ciang boen dari Sin koen boen. Kepandaian ku yang paling diandalkan adalah silat tangan kosong. Sekarang aku ingin meminta pelajaran darimu dalam ilmu silat itu”

Berbareng deagan perkataannya, ia mengirim tinju kempungan Cia Soen dan tinju pertama lalu disusul tinju kedua. Nama “Sam Koen” atau “Tiga tinju” yang digunakan nya adalah karena ia mempunyai tinju yang luar biasa keras, sehingga dengan sekali meninju saja, ia dapat membinasakan seekor kerbau. Dalam kalangan Kangouw, ahli-ahli kelas pertengahan jarang ada yang dapat malayani tiga tinjunya, sehingga oleh karenanya, ia kenal dengan nama “Kwee Sam Koen” dan namanya yang aseli tidak diketahui orang.

Dua tinju yang dikirim dengan beruntun itu segera ditangkis oleh Cia Soen, Sam Koen merasa bahwa dalam menangkis pukulannya, Lweekang lawan tidak seberapa kuat dan berbeda banyak dengan Lweekang yang digunakan untuk membunuh Siang Kim Pang. Maka itu, sambil mengayun tinju ketiga, ia membentak keras: “Jagalah pukulan ketiga!”

Tinju yang sangat hebat itu di beri nama Hoen sauw cian koen (Menyapu laksaan serdadu) dan pukulan tersebut sudah pernah menjatuhkan banyak sekali jago-jago Kangouw.

Sementara itu, Bek Keng yang bersila sambil menahan nafas rupanya sudah merasa tak tahan lagi muka dan kupingnya merah, sedang matanya berkunang-kunang. Melihat keadaan ayahnya, Bek Siauw pangcu berkhuatir bukan main. Maka itu selagi Kwee Sam Koen menyerang dengan dua pukulan, dengan cepat ia mencabut sebatang tusuk konde seorang Tocoe wanita dari Kie keng pang. Dengan mengerahkan Lweekang dijari tangannya, ia memutus tangkai tusuk konde yang kemudian ditimpukkan kemulut ayahnya. Biarpun tangkai tusuk konde itu dapat melukakan mulut atau tenggorokan sang ayah, tapi tanah liat yang menutup jalanan napas akan berlobang sehingga sedikit banyak ayahnya bisa mendapat hawa udara segar.

Pada saat tangkai tusuk konde itu terpisah kira kira setombak dari mulut Bek Keng, mata Cia Soen yang sangat tajam telah melihatnya. Tanpa menggerakkan tubuh,ia menendang tanah dan sebutir batu kecil melesat keatas, menyambar tangkai tusuk konde, yang begitu terpukul dengan batu kecil itu, lantas saja terbang balik. Tiba tiba Bek Siauwpangcoe mengeluarkan teriakan kesakitan sambil menutup mata kanannya, yang mengeluarkan darah. Ternyata, tangkai tusuk konde itu menjambret tepat kemata kanannya yang lantas saja menjadi buta.

Pada saat itulah, tinju Kwee Sam Koen yang ke tiga menyambar kempungan Cia Soen. Sebelum tiba pada sasarannya, pukulan yang sangat dahsyat itu sudah mengeluarkan sambaran angin yang sangat tajam. Sam koen menduga lawannya akan coba menangkis atau berkelit. Tapi tak dinyana, Cia Soen tidak bergerak “Bak!”, tinju itu mengenakan tepat pada sasarannya. Kempungan adalah salah satu bagian tubuh manusia yang paling lemah dan tinju itu amblas di kempungan.

Tapi, sesaat itu juga, Kwee Sam Koen mencelos hatinya, karena tinjunya tersedot dengan semacam tenaga yang seperti besi berani. Cepat-cepat ia mengerahkan Lweekang untuk menarik pulang kepalannya, tapi sedikitpun tidak bergeming dan tinju itu terus melekat di kempungan musuh.

Dengan tenang Cia Soen mengangsurkan tangan kirinya kepinggang lawan. Melihat guru mereka dalam keadaan bahaya, dua orang murid Sin koen segera melompat untuk memberi pertolongan. Tapi begitu diawasi Cia Soen dengan sorot mata yang setajam pisau, hati mereka keder dan tidak berani bergerak lagi. Dilain saat, Cia Soen sudah meloloskan ikat pinggang Kwee Sam Koen yang lalu digunakan untuk melibat leher pecundang itu. Sesudah itu ia mengikat ujung ikatatan pinggang kedahan pohon, sehingga badan Kwee Sam Koen jadi tergantung.

Kwee Sam Koen meronta-ronta, tapi semakin ia meronta, ikatan pada lehernya menjirat semakin erat. Beberapa saat kemudian, didepan matanya terlibat bayangan Coei Hoei Yang. Rasa takut dan menyesal bercampur aduk dalam hatinya. Dalam keadaan separuh lupa, kupingnya mendengar kata-kata: “Jalan langit tidak pernah gagal. Perbuatan jahat akan mendapat pembalasan Jahat!”

Cia Soen menengok dan melihat warna putih pada kedua matanya Bek Keng. Ia lalu menghampiri, dan lalu mencopot tanah liat yang menutupi jalanan napas lawan itu dan kemudian meraba raba dadanya. Sesudah mendapat kepastian, bahwa Pangcoe Kek keng pang itu sudah tidak bernyawa lagi, barulah ia mencopot tanah yang menutupi hidung dan mulutnya sendiri. Ia mendongak dan tertawa nyaring “Kedua orang itu adalah manusia-manusia yang sangat jahat,” katanya “bahwa mereka baru binasa sekarang sebenarnya sudah terlalu terlambat.” Sehabis berkata begitu, ia mengawasi kedua Kiam kek muda dari Koen loan pay. Paras muka Ko Cek Seng dan Chio Tauw pucat seperti kertas, tapi merekapun bales mengawasi, tanpa mengunjuk rasa keder.

Melihat cara bagaimana Coei San telah membinasakan dua pemimpin dari dua partai persilatan yang ternama, Coei San kaget bukan main dan sugguh-sungguh ia tak dapat mengukuri betapa tinggi kepandaian orang itu. Sekarang melihat Cia Soen mengawasi kedua Kiam kek Koenloen ia merasa sangat berkuatir akan keselamatan kedua orang muda itu.

Buru-buru ia bangun berdiri dan berkata: “Cia Cianpwee, menurut katamu sendiri, orang-orang yang telah dibinasakan olehmu adalah manusia-manusia jahat yang pantas dibunuh. Tapi, jika kau sendiri membunuh manusia secara sembarangan. maka kaupun tiada banyak bedanya dengan orang orang yang dikatakan jahat olehmu.”

“Tidak banyak bedanya?” menegas Cia Soen sambil tertawa-tawa. “Kepandaianku tinggi kepandain mereka rendah. Yang kuat menjatuhkan yang lemah. Itulah perbedaannya.”

“Manusia bukan binatang dan manusia yang wajar harus dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah,” kata pula Coei San. “Jika seorang menindih yang lemah dengan hanya mengandalkan kekuatannya, tanpa memperdulikan benar atau salah, maka orang itu tiada bedanya dengan binatang”

Cia Soen tertawa berkakakan. “Apa benar dalam dunia ini terdapat apa yang dinamakan salah atau benar?” tanyanya dengan nada mengejek. “Orang yang berkuasa pada jaman ini adalah bangsa Mongol. Mereka sering berbuat sewenang wenang. Apakah dalam melakukan perbuatan-perbuatan itu, mereka bersedia untuk bicarakan soal benar atau salah denganmu?”

“Memang benar, mereka tak memperdulikan benar atau salah,” jawab Coei San. “Tapi juga benar, bahwa segenap pencinta negeri siang malam mengharap-harapkan datangnya kesempatan untuk mengusir kawanan penjajah itu.”

Cia Soen menyeringai, “Huh ! Sekarang kita bicara saja mengenai orang Han sendiri,” katanya. “Dulu, pada waktu orang Han duduk diatas tahta, apa dia menggubris soal benar atau salah dalam sepak terjangnya? Gak Hoei adalah seorang menteri setia. Tapi mengapa ia dibunuh oleh Song ko cong? Cin Kwee dan Kee Soe To adalah menteri-menteri dorna, Tapi mengapa mereka dapat memanjat kedudukan tinggi dan hidup dalam kemuliaan dan kemewahan?”

“Kaizar-kaizar Lam song (kerajaan Song Selatan) telah menggunakan manusia-manusia pengkhianat dan membinasakan menteri menteri setia, antaranya Gak Hoei, sehingga kerajaan rubuh dan negeri jatuh kedalam tangan bangsa lain,” kata Coei San. “Dalam hal ini dapat kita katakan, bahwa kaizar-kaizar itu telah mendapat buah yang jahat karena menyebut bibit kejahatan. Inilah kejadian yang membuktikan adanya perbedaan antara salah dan benar.”

Cia Soen bersenyum dan berkata dengan suara duka: “Thio Ngohiap, kau mengatakan, bahwa kaizar-kaizar itu telah mencicipi buah sebab perbuatannya yang jahat dan kejam. Sekarang aku ingin menanya: Apakah dosanya rakyat jelata sehingga mesti menderita terus menerus, mesti mengalami tindasan?”

Coei San tak dapat menjawab ia hanya menghela napas dengan paras muka suram.

“Rakyat sudah terpaksa membiarkan dirinya di persakiti karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk melawan,” menyeletuk In So So. “Hal ini adalah hal yang lumrah dalam dunia.”

“Itulah sebabnya mengapa kita, orang-orang Rimba Persilatan, telah belajar silat,” menyambungi Coei San. “Tujuan kita yang terutama adalah membela keadilan dan menolong manusia yang perlu ditolong, Cia cianpwee adalah seorang enghiong yang jarang ada tandingannya dan dengan memiliki ilmu yang sangat tinggi itu, Cianpwee dapat berbuat banyak sekali untuk umat manusia ?”

“Apa bagusnya membela keadilan” tanya Cia Soen sambil menjebi. “Apa perlunya membela keadilan?”

Coei San kaget tak kepalang. Semenjak kecil ia telah menerima didikan bathin dari gurunya dan pada sebelum belajar silat, ia sudah tahu pentingnya tugas membela keadilan. Dalam alam pikirannya, seorang yang belajar silat secara wajar mempunyai tugas suci itu. Selama hidup, pertanyaan perlu apa membela keadilan belum pernah masuk kedalam otaknya. Maka itu, mendengar perkataan Cia Soen, ia tercengang dan tak dapat mengeluarkan sepatah kata.

Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata: “Membela keadilan… itulah jalan untuk menegakkan keadilan, sehingga perbuatan baik mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat mendapat pembalasan jahat.”

Cia Soen jadi tertawa terbahak-bahak. “Omong kosong!” katanya dengan suara nyaring. “Perbuatan baik mendapat pembalasan baik, perbuatan jahat mendapat pembalasan jahat! itu semua omong kosong belaka! Orang-orang Boe tong pay paling suka membaca kitab Cong coe dan sebagai murid Boe tong, kau tentu paham dengan isinya kitab itu.”

“Dalam kitab tersebut terdapat kata-kata yang seperti berikut: Dalam dunia ini, Kaizar Oey Tee dianggap sebagai manusia yang berkedudukan paling tinggi. Tapi Oey Tee masih belum dapat menyempurnakan kemuliaannya. Dalam peperangan dilembah To Ok, ia telah mengalirKan darah sampai ratusan li jauhnya. Kaizar Gouw tidak welas asih, Kaizir soen tidak berbakti. Kaizar Ie sempit pemandangannya. Kaizar Tong mengusir majikannya, Boe ong menyerang Tioe, sedang Boe ong menangkap Kiang Lie. Sepanjang sejarah, keenam kaizar itu dianggap sebagai manusia-manusia yang paling mulia. Untuk kepentingan pribadi ahli-ahli sejarah telah memutar balikkan kenyataan-kenyataan secara tidak mengenal malu.“

“Sekarang aku mau menanya, Apa artinya perkataan perkataan itu? Oey Tee yang selalu dianggap sebagai seorang nabi, masih dapat membunuh begitu banyak manusia dan mengalirkan darah sampai ratusan li. Jika dibandingkan dengan itu, apa artinya perbuatanku yang hanya membinasakan beberapa manusia saja dan mengalirkan darah yang jauhnya hanya beberapa tindak?”

Coei San tak pernah menduga, bahwa manusia yang macamnya begitu menyeramkan dan sepak terjangnya begitu kejam ganas, dapat menghapal kitab-kitab kuno. Rasa kagumnya jadi semakin besar dan ia berkata dengan sikap menghormat:
“Cia Cianpwee, apa yang barusan dihapal olehmu adalah bagian To tit pian dari kitab Cong coe dan bagian itu dipalsukan orang, bukan ditulis oleh Cong coe sendiri.”

“Andai kata benar bagian tersebut ditulis oleh seorang lain tapi yang penting bukan penulisnya.” kata Cia Soen “Yang menjadi soal ialah: Apakah tulisan itu beralasan atau tidak?”

“Beralasan terang beralasan juga.” jawab Coei San. “Tapi tulisan itu yang menyerang kaizar kaizar jaman dulu, terlalu mencari-cari kesalahan orang dan menurut kesempurnaan dalam dirinya manusia, sedang pada hakekatnya, dalam dunia yang fana ini, tidak ada manusia yang pernah berbuat kesalahan.”

Cia Soen mengeluarkan suara dihidung. “kau selalu mencari cari alasan untuk membela orang-orang itu,” katanya. “Dalam kitab Kit bong soe terdapat tulisan seperti ini: Soan mengusir Giauw di Pang yang. Ek dibunuh oleh Kit. Dalam kitab Siang sie Tong cek terdapat kata kata: Tong mengusir Kiat di Lam co dan perbuatan itu sangat mengurangkan kemuliaannya Nah, lihatlah! Bukankah kedua kitab terang-terang mengunjuk, bahwa kaizar-kaizar jaman dulu yang begitu dimulaikan sebenarnya tidak begitu mulia ?”

Coei San kembali bengong untuk beberapa saat.” Aku seorang yang berpengetahuan dangkal dan belum pernah membaca kitab-kitab” katanva “Tapi halnya kaizar-kaizar itu terjadi dijaman purba, sehingga benar tidaknya tak dapat diketahui dengan pasti.”

“Baiklah, Jika begitu, sekarang bicarakan saja kejadian-kejadian yang belakangan,” kata Cia Soen “Tadi, kau mengatakan, bahwa perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat akan mendapat pembalasan jahat. Tapi kenyataannya tidak selamanya begitu Cong-coe berkata seperti berikut: Benda diluar selamanya belum dapat dipastikan. Maka itulah, Liong Hong dibinasakan. Pie Kan binasa, Kie Coe jadi gila. Ok Lay meninggal dunia. Kiat dan Coe juga habis nyawanya. Orang yang menjadi raja selalu mengharapkan kesetiaan menteri menterinya, akan tetapi menteri setia belum tentu dipercaya. Maka itulah, Ngo Yan menceburkan dirinya disungai. Sedang Tiang Sie binasa di negeri Siok.”

“Itulah kata-kata yang ditulis Cong coe. Disamping itu, kau tentu tahu, bahwa Souw Cin telah berhasil mempersatukan enam negara, tapi ia sendiri celaka. Koet Goan seorang menteri setia, tapi belakangan ia sampai membuang diri disungai Bie lo, Han Sin berjasa besar untuk negaranya, tapi tak urung ia binasa didalam penjara. Sekarang marilah tengok orang-orang peperangan, Tang Ngay berhasil merebut Siok han, tapi ahkirnya ia masuk kerangkeng. Atas bantuan Ngo Coe Sie, negeri Gouw menjagoi, tapi Ngo Coe Sie sendiri didesak oleh rajanya, sehingga ia mesti membunuh diri.

“Han ko couw telah merebut dunia (Tiongkok) atas bantuan Han Sin, tapi ia masih tega untuk membunuh Han Sin. Sesudah mengalahkan Tio Coei di Liang peng. Raja Cin berbalik membunuh Pek Kie. Dilihat dari contoh-contoh itu, siapa kata perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik?”

Coei San menghela napas panjang. Ia berduka karena mengingat, bahwa diantara jenderal-jenderal ternama, seperti Teng Ngai, Ngo Coe Sie, Han Sin, Pek Kie, Lie Kong, Man Wan dan lain lain, banyak sekali yang menjadi korban kaizar kaizar kejam.

Sementara itu Cia Soen berkata pula: “Dengan segenap jiwa dan raga. Tay hoe Boen Ciong telah mengabdi kepada Gouw ong Kouw Cian, sehingga Kouw Cian dapat merebut pulang negerinya. Tapi bagaimana akhirnya ? Akhirnya Boen Ciong dibunuh mati oleh Kouw Cian.”

“Kay Coe Twie mengikuii Ciong Nyie dalam mengunjungi berbagai negeri, sehingga Ciong Nyie belakangan dapat pulang kenegeri Cin dan menjadi Raja Cin boen kong. Akan tetapi, Cin boon kong bukan saja sudah melupakan jasa-jasa Kay Coe Twie bahkan belakangan ia membakar gunung sehingga Kay Coe Twie mati kebakar.”

“Hok Kong bersetia kepada kerajaan Han, tapi sesudah ia mati, kaizar Han membunuh serumah tangganya.”

“Pada jaman Sam Kok, Liok Soen telah mengalahkan Lauw Pie dan membakar tenda-tenda tentara yang panjangnya tujuh ratus sehingga menyelamatkan Tong gouw dari kemusnahan. Tapi tak urung Soen Koan bercuriga dan menulis surat berulang-ulang. sehingga karena jengkel ia meninggal dunia.”

“Pada jaman Tong, Pang Hiang Lang berhamba kepada Tong thay cong. Ia mengunjuk kesetiaannya, sehingga namanya dipuji tinggi dalam kitab sejarah. Tapi pada akhirnya, seluruh keluarganya tak urung di sapu bersih juga oleh sang kaizar ….”

Dengan bersemangat, terus-menerus Cia Soen memberi contoh-contoh dari sejarah, cara bagaimana menteri setia menjadi korban dalam tangannya kaizar kaizar kejam. Sebagian contoh itu dikenal, sebagian pula tidak dikenal oleh Coei San.

Dari sini dapatlah dilihat betapa dalam pengetahuan Cia Soen mengenai ilmu surat dan pengetahuannya itu bahkan melebihi sasterawan biasa.

Sambil mengawasi ketempat jauh, Coei San merenungkan perundingan itu.
“Hm ….. sekarang kau lihatlah !” kata pula Cia Soen. “Kau lihatlah .. . baik dibalas baik, jahat dibalas jahat, tidak selamanya begitu. Banyak manusia jahat hidup mewah dan berkedudukan tinggi. Kita ambil contoh yang paling terkenal. Han ko couw Lauw Pang adalah manusia kejam. Waktu ia akan perang, untuk menyelamatkan jiwa sendiri, dia melontarkan putera puteri kandungnya kebawah kereta.”

“Satu waktu Hang Ie telah menangkap ayahnya dan ia diberitahukan, bahwa daging sang ayah bakal dimasak, Tapi Lauw Pang cukup tega untuk berkata begini: Sesudah dimasak, bagilah sedikit kepadaku untuk dicoba. Tapi manusia kejam, manusia tidak berbakti itu, bukan saja sudah menjadi kaizar, tapi juga berumur panjang dan mati baik-baik diatas pembaringan. Huh! Tong thay tiong membunuh kakak dan adiknya sendiri dan kemudian mendesak ayah andanya sambai begitu rupa, sehingga, mau tidak mau sang ayah terpaksa menyerahkan kedudukan kepada anak durhaka itu.”

“Song thay cong pun tidak kalah kejamnya. Ia juga manusia yang telah membunuh saudara sendiri. Dalam kalangan Kang ouw, manusia-manusia begitu dipandang luar biasa jahat. Tapi pembalasan apa yang didapat mereka ?”

“Mengenai kekejaman kaizar-kaizar jaman dulu, apa yang dikatakan Cia Cianpwee memang benar sekali,” kata Coei San. “Diantara sepuluh, ada sembilan kaizar yang sangat kejam dan buas. Dengan kekuasaannya yang tidak terbatas, mereka membunuh manusia dan berbuat sewenang-wenang, sesuka hati. Mungkin sekali, dihari kemudian akan tiba temponya, kapan dunia tidak melihat lagi kaizar yang memiliki kekuasaan tidak terbatasi.”

“Tapi biar bagaimanapun jua, aku tetap ber pendapat, bahwa perbuatan baik akan mendapat pembalasan baik dan perbuatan jahat akan mendapat pembalasan jahat.”

“Menurut pendapatku, tujuan terutama dari hidupnya manusia dalam dunia ina adalah mencari keberuntungan dalam rupa ketenangan jiwa dan kepuasan batin. Dan seseorang barulah bisa merasa beruntung, jika ia tahu, bahwa selama hidupnya, ia telah berbuat banyak kebaikan terhadap sesama manusia.”

“Mengenai kaizar-kaizar itu atau menteri-menteri dorna yang banyak mencelakakan manusia, sedikit pun aku tidak percaya, jika dikatakan mereka tidak meadapat pembalasan. Manusia yang bermusuhan dengan ayah atau saudara sendiri bahkan mencelakakannya adalah manusia yang paling tidak beruntung didalam dunia. Bayangkanlah penderitaan batin dari manusia-manusia itu! Mana boleh mereka tidak terhukum? Mereka mungkin terlolos dari hukuman lahir, tapi mereka pasti tidak terlolos dari hukuman batin dan hukuman batin adalah hukuman yang terhebat, karena orang terhukum tidak sedikitpun dapat mencicipi kesenangan dan kepuasan di dalam hatinya. Maka itulah, aku tetap berpendapat bahwa siapa yang menyabar angin pasti akan mendapat taufan.”

Sesudah mendengar perundingan yang panjang itu, paras muka Cia Soen agak berubah. Dalam hati kecilnya, ia mengakui kebenaran perkataan pemuda itu. Tapi ia tentu saja sungkan mengaku terang terangan. Sesaat kemudian, sambil mengawasi Coei San dengan sorot mata tajam, ia berkata dengan suara mengejek: “Kudengar gurumu yaitu Thio Sam Hong, berilmu tinggi. Hanya sayang aku belum pernah bertemu dengannya. Kau adalah salah seorang murid terutama dari Thio Sam Hong dan aku merasa menyesal karena mendapat kenyataan bahwa pemandanganmu begitu tolol. Kurasa Thio Sam Hong tiada banyak bedanya denganmu dan aku boleh tak usah pergi menemuinya.”

Melihat Cia Soen mempunyai pengetahuan tinggi dalam ilmu surat dan ilmu silat, Coei San merasa sangat kagum. Tapi, karena mendadak orang itu memandang rendah kepada gurunya, yang dipuja olehnya bagaikan malaikat, darahnya lantas saja meluap. “In soe (guruku) memiliki kepandaian sedemikian tinggi, sehingga tak akan dapat diukur oleh manusia biasa,” katanya dengan suara keras.

“Ilmu Cianpwee sangat tinggi dan tak dapat dilawan oleh orang-orang muda. Tapi dimata Insoe, Cia Cianpwee hanyalah seorang kasar yang tidak kenal budi.”

Mendengar kata-kata itu, In So So kaget bukan main dan buru-buru menarik ujung baju Coei San. Tapi pemuda itu yang sedang panas perutnya, lantas saja berkata: “Seorang laik-laki, jika mesti mati, biarlah mati, tapi tak dapat ia membiarkan gurunya dihina orang”

Diluar dugaan, Cia Soen tidak menjadi gusar. “Thio Sam Hong adalah seorang guru besar dan pendiri sebuah partai yang besar pula,” katanya dengan suara tawar. “Mungkin sekali, ia memiliki kepandaian tinggi. Ilmu silat tiada taranya. Bukan tak bisa jadi bahwa jika dibandingkan, kepandaianku tak nempil dangan kepandaiannya. Nanti, di satu hari, aku pasti akan mendaki Boe tong san untuk meminta pelajaran. Thio Ngohiap, ilmu apa yang kau paling mahir? Hari ini aku siorang she Cia ingin menambah pengalaman.”

In So So terkejut. Sesudah menyaksikan kepandaian Cia Soen, ia mengerti, bahwa Coei San bukan tandingan orang itu. Maka itu ia lantas saja berkata : “Cia Cianpwee, To liong to sudah jatuh kedalam tanganmu dan semua orang merasa kagum melihat kepandaianmu. Apa lagi yang kau mau ?”

“mengenai To liong to, semenjak dulu telah tersiar beberapa kata-kata yang sampai sekarang belum dapat dipecahkan orang.” kata Cia Soen. “Apakah kau tahu bunyi kata-kata itu ?”

“Ya,” jawabnya.

“Golok ini katanya sebuah senjata yang paling dihormati dalam Rimba Persilatan dan siapapun juga yang memilikinya, akan dapat memerintah di kolong langit dan tiada manusia yang akan menentangnya,” kata pula Cia Soen. “Tapi sampai sekarang, belum ada juga yang tahu, rahasia apa bersembunyi dalam golok ini. Apakah benar orang yang memilikinya dapat memerintah orang-orang gagah dalam Rimba Persilatan ?”

“Cia Cianpwee adalah seorang yang berpengetahuan tinggi dan boan pwee justru ingin menanyakan Cianpwee tentang hal itu,” kata si nona.

“Akupun tak tahu,” jawabnya. “Sesudah mendapatkan golok ini, aku akan berdiam ditempat yang sepi dan akan menggunakan tempo beberapa tahun untuk mencoba memecahkan teka-teki itu “

“Bagus.” kata So So. “Cia Cianpwee mempunyai kecerdasan otak yang melebihi manusia biasa. Jika Cianpwee tidak berhasil, lain orangpun pasti tak akan bisa berhasil.”

“Huh huh! Aku si orang she Cia bukan sebangsa manusia sombong,” katanya. “Mengenai ilmu surat dan ilmu silat, Kong boen Tay soe Ciang boen jin Siauw lim pay, Thio Sam Hong Too tiang dari Boe tong pay, Tiang loo dari Go bie pay dan Koen loen pay semuanya adalah orang-orang yang berkepandaian sangat tinggi. Mengenai kecerdasan otak, Peh bie Eng ong In Kauwcoe dari Peh bie kauw memiliki kecerdasan otak yang jarang terdapat dalam ratusan abad.”

In So So segera bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk: “Terima kasih banyak atas pujian Cianpwee.”

“Aku ingin memiliki golok ini, lain orang juga kepingin,” kata Cia Soen. “Hari ini dipulau Ong poan san, aku tidak bertemu dengan tandingan. Dalam hal ini, In Kauwcoe sudah salah menghitung. Ia menganggap bahwa Pek Tan coe dan yang lain-lain sudah cukup untuk menghadapi Hay see pay, Kie keng pang dan Sin koen boen. Ia sedikit pun tidak menduga, bahwa siorang she Cia bisa datang kemari.”

“Bukan, bukan Kauwcoe salah menghitung,” memutus si nona. “Ia tak dapat datang kemari karena mempunyai lain urusan yang terlebih penting.”

“Tapi biarpun begitu, bahwa hari ini To liong to sampai jatuh ketanganku, sedikit banyak menurunkan nama besar In Kauwcoe sebagai seorang yang bisa menghitung bagaikan malaikat,” kata Cia Soen seraya bersenyum.

Si nona bersenyum dan berkata pula: “Dalam dunia ini, banyak kejadian tidak dapat diperhitungkan lebih dahulu. Enam kali Coekat Boehouw ke luar dari gunung Kie San, tapi ia gagal dalam usahanya untuk mempersatukan seluruh Tiongkok. Tapi, meskipun ia mengalami kegagalan, nama besarnya tidak jadi merosot. Inilah apa yarg dikatakan: Manusia berusaha, Allah yang berkuasa. Cia cianpwee adalah seorang yang luar biasa dan mempunyai rejeki besar. Lain orang bergulat mati-matian untuk merebut golok itu, tapi Cianpwee sendiri sudah dapat memiliknya secara mudah sekali.” Sehabis berkata begitu, ia mengawasi Cia Soen sambil bersenyum manis. Ia sudah sengaja mengulur-ulur pembicaraan itu supaya Cia Soen melupakan tantangannya terhadap Thio Coei San.

“Semenjak muncul dalam dunia, entah sudah berapa kali golok ini berpindah tangan dan entah sudah berapa orang binasa karena memilikinya,” kata Cia Soen. “Sekarang aku berhasil merebut golok ini. Siapa tahu kalau dikemudian hari tidak muncul seorang yang berkepandaian lebih tinggi dari pada aku”

So So dan Coei San saling melirik. Mereka menganggap, perkataan orang itu mengandung maksud yang dalam. Coei San ingat, bahwa kakak seperguruannya mendapat luka berat karena mempunyai sangkut paut dengan To liong to, dan sampai sekarang mati hidupnya belum dapat dipastikan. Ia sendiri berada dalam bahaya besar dan sebab-sebabnya hanya karena turut melihat golok mustika itu.

Sesudah berdiam sejenak, Cia Soen menghela napas panjang. “Kalian berdua adalah orang-orang yang boen boe coan cay (mahir ilmu surat dan ilmu silat) dan setimpal benar satu sama lainnya, yang satu cantik, yang lain tampan,” katanya.

“Jika aku membunuh kalian, aku seolah-olah menghancurkan sepasang Giak kee (alat dari batu giok) yang jarang terdapat dalam dunia. Tapi, didesak oleh keadaan dan kenyataan, tak dapat aku tidak membinasakan kalian.”

“Mengapa begitu?” tanya si nona dengan suara kaget.
“Kalau aku pergi dengan membawa golok ini dan meninggalkan kalian dipulau ini, dalam berapa hari saja, orang sedunia sudah tahu, bahwa To liong to berada dalam tanganku,” Ia menerangkan.

“Yang ini akan cari aku, yang itu akan cari aku, semua orang akan cari aku. Aku bukan manusia yang tiada tandingan didalam dunia. Yang lain tak usah dibicarakan. Peh bie Eng ong saja belum tentu dapat dirubuhkan olehku.”

“Ah! Kalau begitu kau membunuh orang menutup mulutnya!” kata Coei San dengan suara tawar.

“Benar.” jawabnya.

“Jika demikian, perlu apa kau mengunjuk kedosaan orang-orang Hay see pay, Kie keng pang dan Sin koen boen?” tanya Coei San.

Cia Soen tertawa berkakakan. “Aku ingin mereka mati tanpa penasaran,” jawabnya.

“Hmm . . kau kelihatannya masih mempunyai hati yang baik,” kata puji pemuda itu.

“Didalam dunia ini, siapakah yang bisa hidup abadi ?” tanya Cia Soen. “Mati lebih cepat atau mati lebih lama beberapa tahun, tidak banyak bedanya. Kau, Thio Ngohiap, dan In Kouwnio masih berusia sangat muda. Jika hari ini kalian binasa dipulau Ong poan san, memang juga kelihatannya sangat mesti disayangkan. Tapi, ditinjau seratus tahun kemudian, bukankah kebinasaan dihari ini atau meninggal dunia dihari nanti bersamaan saja? Andai kata dahulu Cin Kwee tidak mencelakakan Gak Hoei sehingga panglima besar itu binasa, apakah Gak Hoei bisa hidup sampai sekarang? Yang penting ialah seseorang harus mati dengan hati terang dan tidak merasakan penderitaan. Mika itu, aku sekarang mengajak kalian bertanding secara adil. siapa yang kalah, dialab yang mati. Kalian berusia lebih muda dan aku suka mengalah. Pilihlah dalam ilmu silat dergan senjata, tanpa senjata, Lweekang, senjata rahasia, atau mengentengkan badan, ilmu berenang, kalian boleh pilih dan aku akan mengiringkan.”

“Kau sombong sekali,” kata sinona. “Apakah kau artikan, bahwa kau bersedia untuk melayani kami dalam ilmu apapun juga?” Suara si nona agak gemetar karena ia tahu, bahwa ia dan Coei San tidak dapat meloloskan diri lagi.

Mendengarkan pertanyaan So So, Cia Soen agak terkejut. Ia adalah seorang yang amat cerdas dan sesaat itu juga, ia lantas saja ingat, bahwa untuk si nona dapat menantangnya dalam ilmu menjahit atau lain lain ilmu kaum wanita yang tidak dimilikinya. Mengingat begitu, ia lantas saja menjawab dengan suara nyaring: “Tantanganku itu terbatas pada ilmu silat. Aku pasti tidak bermaksud untuk bertanding makan nasi, minum arak dan sebagainya yang tidak bersangkut paut dengan ilmu silat.” Dilain saat, melihat Coei San mencekal kipas, ia menyambung perkataannya: “Akupun bersedia untuk melayani kalian dalam ilmu boen (ilmu surat). Menulis huruf indah, melukis, memetik khim, main tio kie, menulis syair atau sajak semua boleh. Hanya kita harus berjanji, bahwa pihak yang kalah harus membunuh diri sendiri, Hai! Melihat kalian, sepasang orang muda yang setimpal sungguh untuk menjadi suami isteri, aku merasa sangat tak tega untuk untuk turun tangan.”

Mendengar perkataan yang paling belakang itu, paras muka kedua orang muda itu lantas saja berubah merah.

Si nona mengerutkan alis. “Kalau kau yang kalah, apakah kau juga akan membunuh diri?” tanyanya.

“Bagaimana aku bisa kalah?” kata Cia Soen sambil tertawa.

“Dalam pertandingan mesti ada yang kalah dan ada yang menang,” kata si nona. “Thio Ngohiap adalah murid dari seorang berilmu tinggi, maka selalu terdapat kemungkinan, bahwa dia akan mengalahkan kau “

Cia Soen tertawa, “Orang yang masih berusia begitu muda, biarpun berkepandaian tinggi tak akan memiliki Lweekang yang cukup dalam untuk dapat menghadapi aku,” katanya.

Selagi kedua orang itu bicara, diam-diam Coei San mengasah otak untuk menetapkan ilmu apa yang akan diajukan olehnya. Dalam ilmu surat, dalam mana tercakup seni melukis huruf indah, seni lukis, memetik khim, main tio kie, menulis syair, pengetahuannya masih dangkal. Ilmu apa yang harus diajukannya? Ilmu silat? Ilmu mengentengkan badan? Ilmu silat gubahan gurunya yang berdasarkan Soehoat? Tiba-tiba serupa ingatan berkelebat dalam otaknya dan ia lantas saja berkata: “Cia Cianpwee, karena kau mendesak, maka aku tak dapat tidak mempersembahkan kebodohanku. Jika kalah, aku tentu akan menggorok leher sendiri. Tapi bagaimana, andaikata aku beruntung bisa keluar dengan seri ?”

Cia Soen menggelengkan kepala, “Tak mungkin seri,” jawabnya. “Seri dalam pertandingan pertama, kita bertanding pula sampai ada yang menang, dan ada yang kalah.”

“Baiklah,” kata Coei San. “Andaikata dalam pertandingan ini boanpwee memperlihatkan keunggulan, boanpwee tak berani menuntut apapun jua. Boanpwee hanya ingin memohon supaya Cianpwee sudi meluluskan satu permintaan.”

“Aku berjanji untuk meluluskan permintaanmu itu,” kata Cia Soen. “Hayolah, katakan saja, dalam ilmu apa kau ingin bertanding.”

Melihat begitu, bukan main leganya hati sinona.
“Kau mau bertanding dalam ilmu apa ? Apa kau punya pegangan untuk mendapat kemenangan?” bisiknya.

“Belum tentu,” jawabnya.

“Kalau kau kalah, kita coba lari,” bisik pula si nona.

Coei San tidak menjawab, ia hanya bersenyum getir. Dengan perahu sudah tenggelam semua dan mereka berada disebuah pulau kecil, kemana mereka mau lari? Ia segera mengikat tali pinggang erat-erat dan mencabut Poan koan pit dari pinggangnya.

“Dalam dunia Kangouw, Gin kauw Tiat hoa Thio Coei San sangat cemerlang dan hari ini aku akan menjajal-jajal dengan Long gee pang.” kata Cia Soen,

“Mengapa kau tidak mengeluarkan Lan gin Houw tauw Gin kauw ?”

“Boanpwee bukan ingin bertempur melawan Cianpwee dengan menggunakan senjata,” jawabnya dengan sikap hormat.

“Boanpwee hanya ingin sekedar menulis beberapa huruf.” Sehabis berkata begitu, ia berjalan kelereng bukit disebelah dimana ia berdiri satu tembok batu yang tinggi dan besar. Ia menarik napas dalam-dalam, menotol tanah dengan kakinya dan badannya lantas saja melesat keatas.

Ilmu ringan badan dari Boe tong pay adalah yang terbaik dalam seluruh Rimba Persilataa. Pada detik mati atau hidup, Coei San telah mengeluarkan seanteto kepandaiannya. Dengan sekali melompat, tubuhnya melesat setombak lebih dan lompatan itu disusul dengan lompatan Tee in ciong kaki kanannya menendang tembok dan badannya kembali terbang keatas kurang lebih dua tombak. Dengan berbareng, Poan koan pit bergerak. “Sret sret sret …..” bagaikan kilat ia sudah menulis huruo , “boe”. Baru selesai satu hurup badannya mulai melayang turun kebawah.

Dengan cepat ia mencabut Gin Kauw yang lalu ditancapkan kesebuah lobang kecil ditemboK batu itu. Demikianlah, dengan menggunakan gaetan itu untuk menahan badannya, ia lalu menulis huruf “lim”. Ia menulis dengan menggunakan gerakan yang digubah Thio Sam Hong pada malam itu, gerakan-gerakan yang mengandung tenaga Im dan Yang, Kong dan Jioe (negatip dan positip, keras dan lembek) dan semua itu merupakan limn silat tertinggi dari Boe tong pay. Meskipun Lweekang Thio Coei San belum sempurna, sehingga goresan goresan Poan koan pit tidak masuk terlalu dalam ditembok batu itu, tapi kedua huruf itu indah luar biasa, seolah-olah terbangnya naga atau menarinya burung Hong. Sesudah huruf “cie” dan “coen”, ia menulis semakin cepat dan dalam sekejap mata, dua puluh empat hurup itu sudah selesai.

Sesudah menulis hurup “hong” yang terakhir, ia menotol tembok dengan Gin kauw dan Poan koan pit dengan berbareng dan dalam suatu gerakan yang indah, badannya melayang turun ke bawah dan hinggap didampingi si nona.

Dengan mulut ternganga Cia Soen mengawasi tiga baris huruf huruf itu yang setiap hurufnya sebesar gantang. Sesudah lewat sekian lama, ia menghela napas saraya berkata: “Aku tak dapat menulis seperti itu. Aku kalah.”

Ia tentu saja tak tahu, bahwa Thio Sam Hong berhasil menggubah lima silat yang sangat luar biasa itu sesudah mengasah otak seluruh malam dan pada waktu bersilat, ia telah menumplek seluruh semangat dan pikirannya. Andai kata Thio Sam Hong sendiri yang harus menulis huruf-huruf itu diatas tembok itu, belum tentu ia bisa menulis begitu indah dan bertenaga, jika tidak di sertai dengan semangat dan pemusatan pikirannya yang sesuai. Cia Soen tentu saja tak tabu, bahwa dua puluh empat huruf itu serupa ilmu silat. Ia hanya menduga, bahwa karena melihat To liong to, Coei San sudah ingat perkataan yang tersiar mengenai golok itu dan lalu menulisnya. Ia tak pernah mimpi, bahwa apa yang mampu ditulis oleh Coei San hanyalah dua puluh empat huruf itu.

In So So girang bukan kepalang. “Kau kalah, kau tak boleh mungkir dari janjimu!” teriaknya.

“Thio Ngohiap, ilmu yang mempersatukan Boe hak dengan Soe hoat (ilmu silat dengan ilmu huruf-huruf bagus) baru sekarang dilihat olehku,” kata Cia Soen. “Aku sungguh merasa kagum.”Perintah apa yang kau mau memberikan ke padaku?”

“Boanpwee adalah seorang muda yang berkepandaian cetek, mana berani boanpwee memberi perintah kepada Cianpwee?” jawabnya sambil membungkuk. “Boanpwee hanya ingin memberanikan hati untuk mengajukan satu permohonan.”

“Permohonan apa?” tanya Cia Soen.

“Aku mohon supaya Cianpwee suka mengampuni jiwa semua orang yang berada dipulau ini,” jawabnya. “Cianpwee dapat memerintahkan supaya mereka bersumpah untuk tidak membuka rahasia, bahwa To liong to berada dalam tanganmu.”

“Aku belum begitu edan untuk percaya sumpahnya manusia.” kata Cia Soen dengan mata melotot.

“Apa kau mau menarik pulang janjimu sendiri?” tanya si nona. “Bukankah kau sudah herjanji, bahwa jika kalah, kau akan meluluskan permintaan Thio Ngoko?”

“Kalau aku tidak pegang janji, mau apa kau?” bentak Cia Soen. Sesaat itu ia rupanya menginsyafi kekeliruannya, karena ia segera menyambung perkataannya: “Jiwa kalian berdua sudah kuampuni. Yang lain tidak bisa.”

“Kedua Kiam kek Koen loen pay adalah murid murid dari partai yang ternama dan mereka belum pernah melakukan perbuatan jahat,” kata Coei San.

“Jangan rewel!” bentak Cia Soen. “Dimataku, baik dan jahat tiada bedanya. Lekas robek ujung baju kalian dan sumbatlah kuping kalian. Tutup kuping keras-keras dengan kedua tangan. Jika kalian menyayang jiwa, turut perintahku.” Ia bicara separuh berbisik, seperti takut didengar orang.

Coei San dan So So saling mengawasi dengan perasaan heran. Tapi karena melihat Cia Soen bicara sungguh-sungguh mereka merobek ujung tangan baju yang lalu digunakan untuk menyumbat kuping dan kemudian mereka menutup kuping dengan kedua tangan.

Tiba2 Cia Soen membuka mulut lebar2 seperti orang berteriak dan mendadak mereka merasa bumi goyang-goyang. Hampir berbareng orang orang Peh bie kauw, Kie keng pang, Hay see pay dan Sin koen boen berubah paras mukanya seolah olah merasakan kesakitan luar biasa, dan dilain saat, mereka rubuh bergulingan diatas tanah.

Ko Cek Sang dan Cio Tauw kelihatan kaget dan ketakutan, buru-buru mereka bersila dan mengerahkan Lwee kang untuk melawan teriakan itu. Dilihat dari paras muka kedua Kiamkek dan keringat yang turun berketel-ketel dari muka mereka, Coei San dan So So tahu, bahwa Ko Cek Seng dan Cio Tauw sedang mengeluarkan seantero tenaganya. Beberapa kali, mereka mengangkat tangan untuk menutup kuping, tapi selalu gagal dan tangan mereka sudah diturunkan lagi sebelum menyentuh kuping.

Sesaat kamudian, Coei San merasa tubuhnya bergoyang keras dan hampir berbareng, tubuh Ko Cek Seng dan Cio Tauw melesat keatas kira-kira setombak akan kemudian rubuh ditanah tanpa bergerak lagi.

Cia Soen segera menutup mulutnya dan memberi isyarat supaya Coei San dan So So membuka sumbat kuping.

“Sebagai akibat dari teriakanku, mereka pingsan untuk sementara waktu,” katanya. “Sebentar, sesudah tersadar, urat syaraf mereka yang rusak tidak dapat pulih lagi seperti biasa dan mereka menjadi gila. Mereka tak ingat apa yang sudah terjadi disini. Thio Ngohiap, kau minta aku mengampuni jiwa semua orang yang berada dipulau ini dan permintaan itu telah dipenuhi olehku.”

Coei San bengong dan tidak dapat mengeluarkan sepatah kata. Ia bergusar dan berduka, tapi tidak berdaya. Biar bagaimanapun jua, kepandaian Cia Soen yang sangat luar biasa itu harus dikagumi. Ia juga akan mengalami nasib seperti yang lainnya. Dengan perasaan tidak keruan rasanya ia mengawasi Ko Cek Sang, Cio Tauw, Pek kwie Sian dan lain-lain, yang rebah ditanah dengan paras muka pucat bagaikan mayat.

“Mari kita berangkat,” kata Cia Soen dengan suara tawar.

“Kemana?” tanya Coei San.

“Pulang!” jawabnya. “Urusan di Ong poan san sudah beres. Perlu apa berdiam lama-lama disini”

Sehabis berkata begitu, ia mengajak kedua orang muda itu pergi kesebelah barat pulau, kebelakang sebuah bukit kecil, darimana mereka lihat sebuah perahu dengan tiga tiang layar yang berlabuh disebuah muara kecil. Perahu itu adalah perahu Cia Soen.

Begita tiba dipinggir perahu, Cia Soen berkata sambil membungkuk: “Aku mengundang Jiewie naik keperahu.”

“Hm! Sekarang kau berlaku mulia sekali.” kata So So seraya ketawa dingin.

“Dalam perahuku, kalian adalah tamu-tamu yang terhormat, sehingga aku harus memperlakukan kalian dengan segala kehormatan,” jawabnya.

Ia memberi isyarat kepada anak buahnya yang segera mengangkat jangkar dan perahu lantas saja berangkat.
Diperahu itu terdapat enambelas atau tujuhbelas anak buah, tapi waktu memberi perintah perintah kepada mereka juru mudi hanya menggerak gerakkan kaki tangannya, seokah-olah semua anak buah gagu dan tuli.

Si nona merasa heran dan berkata : “Kau pintar sungguh, bisa mendarat anak buah yang tuli gagu”

Cia Soen tertawa. “Apa sukarnya?” jawabnya. “Aku hanya perlu cari orang-orang yang buta huruf, menusuk telinganya, memberi obat kepada nya dan segala apa sudah beres.”

Mendengar keterangan itu, bulu roma Coei San bangun semua dan ia mengawasi Cia Soen dengan sorot mata gusar.

Tapi So So menepuk-nepuk dan tertawa nyaring : “Bagus! Bagus!” katanya. “Tuli dan gagu juga buta huruf. Hmm! Rahasiamu yang bagaimana besarpun pasti tak akan dibocorkan mereka, Hanya sayang, kau masih memerlukan mereka untuk menjalankan perahu. Kalau bukan begitu, bukankah kau akan membuta kan juga mata mereka?”

Coei San melirik si nona dan menegur dengan suara mendongkol : “In Kauwnio, kau adalah seorang gadis baik-baik, tapi mengapa kau begitu kejam? Kejadian itu adalah kejadian yang sangat mendukakan dan aku sungguh tak mengerti, bagaimana kau sampai hati untuk mengatakan begitu.”

So So sudah membuka mulutnya untuk bertengkar, tapi ia mengurungkan niatnya, karena Coei San kelihatannya sudah gusar sungguhan

“Dikemudian hari, sesudah kembali didaratan Tiongkok, aku akan menusuk mata mereka,” kata Cia Soen dengan suara dingin.

Sementara itu, layar sudah naik dan perahu melaju semakin cepat.

“Cia Cianpwee, bagaimana orang-orang yang berada dipulau Ong poan san.” tanya Coei San. “Kau sudah menenggelamkan semua perahu. Cara bagaimana mereka bisa pulang? “

“Thio Ngohiap,” jawabnya, “kau adalah seoraug yang berhati mulia, hanya kau bawel sekali, seperti nenek bangkotan. Biarlah mereka mampus sendiri, bagaikan impian dimusim semi yang tiada bekasnya, Apakah itu bukan kejadian yang bagus sekali?”

Coei San segera menutup mulutnya, karena ia tahu, bahwa terhadap manusia yang kejam itu, ia tak dapat berunding lagi. Ia menunduk dan menghela napas perlahan. Ia ingat, bahwa selama beberapa tahun, Boe tong Cit hiap malang melintang didunia Kangouw dan selalu berada diatas angin. Tapi sekarang, diluar dugaan, ia mesti menunduk dibawah pengaruh orang, tanpa dapat melawan, Hatinya jengkel, pikirannya kusut dan ia memandang ketempat jauh tanpa meladeni Cia Soen dan So So.

Tak lama kemudian, tampak seorang pelayan membawa makanan dan menuang arak ditiga cawan. “Sebelum bersantap aku ingin memetik khim guna menghibur tetamuku yang terhormat,” kata Cita Soen. “Disamping itu aku ingin minta petunjuk-petunjuk Thio Siangkong dan In Kauwnio,”

Sehabis berkata begitu, ia mengambil sebuah khim dari dinding gubuk perahu dan lalu memetiknya. Dalam seni musik, Coei San tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam dan ia tidak mengenal lagu yang dimainkan. Ia hanya merasa bahwa lagu itu sangat sedih, semakin lama semakin menyayat hati, sehingga pada akhirnya, tak dapat mempertahankan diri lagi dan lalu mengucurkan air mata.

Tiba-tiba, dengan sekali menggaruk dengan lima jarinya, suara tetabuhan itu berhenti. “Aku sebenarnya ingin menghibur kalian, tapi tak dinyana Thio Siangkong berbalik sedih,” katanya sambil tertawa getir.” Untuk kesalahanku itu aku harus didenda dengan secawan arak,”

Ia mengangkat cawan dan meneguk isinya.

“Lagu apa yang barusan diperdengarkan Cia Cianpwee?” tanya Coei San.

Cia Soen mengawasi So So, seperti juga ingin meminta supaya nona itu yang menjawabnya. Tapi sinona menggelengkan kepala.

“Apakah kau pernah mendengar riwayat Kie Kong dari jaman Cin?” tanya Cia Soen. “Inilah baru yang diperdengarkannya waktu ia mau dihukum mati.”

“Lagu Kong leng san?” tanya Ceil San dengan suara terkejut.

“Benar,” jawabnya.

“Sepanjang sejarah, semenjak Kie Kong meninggal dunia, lagu ini sudah tidak terdapat dalam dunia,” kata pula pemuda itu. “Bagaimana Cianpwee bisa mendapatkannya ?”

Cia Soen tertawa dan paras mukanya yang berseri-seri mengunjuk, bahwa hatinya senang sekali. “Kie Kong manusia keras kepala, adatnva mirip-mirip dengan adatmu.” katanya. “Pada jaman itu, Ciong Hwee berpangkat tinggi dan mendengar nama besarnya Kie Kong, ia telah mengunjunginya. Tapi Kie Kong tidak meladeninya dan terus memukul besi yang sedang dikerjakannva. Ciong Hwee mendongkol dan lantas saja berlalu. Ia adalah seorang yang sangat pintar dan berkepandaian tinggi, hanya sayang, pemandangannya terlalu sempit. Sikap Kie Kong dianggapnya suatu hinaan yang tidak dapat diampuni dan secara licik, ia lain menggosok-gosok Soema Ciauw dengan mengatakan, bahwa Kie Kong telah bicara jelek tentang Soema Ciauw itu. Dengan gusar, Soema Ciauw menjatuhkan hukuman mati atas diri Kie Kong. Sebelum dibunuh, ia memetik khim dan memperdengarkan lagu Kong leng san. Sesudah selesai, ia berkata: Mulai hari ini Kong leng san tak akan dapat didengar lagi dalam dunia. Menurut pendapatku, kata-kata itu sangat memandang rendah kepada orang-orang yang hidup dijaman belakangan. Ia hidup dijaman Samkok. Menurut perhitunganku, mungkin sekali lagu itu tidak tersiar pula sesudah jaman itu. Tapi aku tak percaya Kong leng san tidak dikenal orang pada sebelum jaman Samkok.”

Thio Coei San tidak mengerti apa maksudnya keterangan itu dan ia lalu minta penjelasan.

“Perkataan Kie Kong menimbulkan rasa penasaran dalam hatiku,” menerangkan pula Cia Soen. “Aku segera membongkar kuburan-kuburan menteri-menteri besar dari kerajaan Tong han dan sesudah membongkar duapuluh sembilan kuburan akhirnya aku berhasil menemukan lagu Kong leng san dalam kuburan, Coa Yong” Sehabis menerangkan begitu, ia tertawa terbahak-bahak dengan kegirangan besar.

Coei San terkejut. “Orang ini benar-benar tak mengenal Tuhan,” katanya didalam hati. “Hanya karena sepatah kata yang diucapkan oleh seorang dijaman dulu, dia rela menjadi pembongkar kuburan. Andai kata ada orang yang berdosa terhadapnya, ia pasti membalas sakit hati sehebat-hebatnya”

waktu mendongak, ia lihat sebuah lukisan yang tergantung didinding gubuk perahu. Dilihat dari warnanya yang sudah agak suram, lukisan San Coei (gunung dan air) itu sudah tua sekali, tapi lukisannya sendiri hidup, indah dan angker luar biasa.

Melihat pemuda itu mengawasi tanpa berkesip Cia Soen segera berkata: “Lukisan itu adalah buah tangan Thio Ceng Yoe dari jaman kerajaan Liang. Aku telah mencurinya dari istana kaizar. Menurut orang, kalau melukis naga, ia tak pernah melukis mata naga itu, sebab, jika dilukis, gambar naga lantas saja hidup dan terbang kelangit sesudah mendobrak tembok. Tentu saja cerita itu omong kosong belaka dan hanya digunakan untuk memberi pujian kepada lukisan naga Thio Ceng Yoe yang indah luar biasa. Menurut pendapatku, duapuluh empat huruf yarg ditulis olehmu ditembok batu tidak kalah indahnya dari lukisan San soei itu.”

“Boanpwee hanya mencorat coret secara serampangan, mana bisa dibandingkan dengan pelukis kenamaan dijaman dulu” Coei San merendahkan diri.

Demikianlah, mereka beromong omong tentang sastra dan lain-lain ilmu jaman dulu dan jaman sekarang dengan tuan rumah bicara sebagai seorang sasterawan besar. Coei San merasa sangat kagum akan pengetahuan Cia Soen, tapi hatinya tetap diliputi kegusaraaan karena mengingat kekejaman orang itu. Beberapa lama kemudian, ia mulai merasa sebal dan lalu memandang keluar jendela, dengan membiarkan si nona bicara terus dengan tuan rumah.

Tiba-tiba ia lihat matahari sore yang tengah menyelam ditepian laut dan yang memancarkan sinar emas yang gilang gemilang. Selagi mengawasi dengan pikiran melayang layang, mendadak ia terkejut. “Mengapa matahari menyelam disebelah balakang perahu ?” tanyanya didalam hati. Ia menengok seraya berkata : “Cia cianpwee, juru mudimu telah mengambil jalanan yang salah. Kita menuju kearah timur.”

“Tidak salah, kita memang sedang menuju ke timur,” jawabnya.

In So So juga kaget. “Disebelah timur adalah lautan besar. Kemana kita mau pergi?” tanyanya.

Cia Soen tidak segera memberi jawaban, tapi pelan-pelan menuang secawan arak dan lain mengendus endusnya dengan paras muka berseri-seri.”Arak ini adalah Lie tin, Tin cioe dari Siauwhin,” katanya sambil bersenyum. “Usianya paling sedikit sudah dua puluh tahun dan Jie wie tak boleh memandang rendah.”

“Aku bukan bicarakan soal arak,” kata si nona dengan suara tidak sabaran. “Perahu salah jalan dan kau harus memerintahkan jurumudi memutar kemudi.”

“Bukankah waktu masih berada di pulau Ong poan san aku sudah memberitahukan kalian seterang-terangnya?” kata Cia Soen, “Sesudah mendapatkan To liong to, aku ingin mencari sebuah tempat yang terpencil, dimana aku bisa menggunakan tempo beberapa tahun untuk coba memecah kan teka teki sekitar golok mustika itu. Aku ingin mencari tahu, mengapa To liong to dikatakan sebagai senjata yang paling dihormati dalam Rimba persilatan dan apa benar pemiliknya dapat menguasai segenap orang gagah dikolong langit, Daratan Tiong-goan adalah tempat yang sangat ramai. Begitu lekas orang tahu bahwa aku memiliki golok itu, mereka ramai ramai tentu akan menyateroni untuk coba merebutnya dari tanganku. Dengan adanya gangguan itu, mana bisa aku memusatkan pikiran? Kalau yang datang pentolan-pentolan seperti Thio Sam Hong Sianseng atau Peh bie kauwcoe atau yang lain lain, belum tentu aku dapat menandinginya. Itulah sebabnya, mnengapa aku ingin cari sebuah pulau yang kecil dan terasing ditengah-tengah lautan, guna dijadikan tempat tinggalku selama beberapa tahun.”

“Kalau begitu, kau antarkan kami pulang lebih dulu,” kata So So.

Cia Soen tertawa. “Begitu lekas kalian kembali di Tiong goan, apakah rahasiaku tidak menjadi bocor?” tanyanya.

Mendadak Coei San melompat dan berseru dengan suara keras: “Habis apa yang kau mau?”

“Aku tak dapat berbuat lain daripada meminta kalian berdiam bersama-sama aku dan melewati hari-hari secara riang gembira selama beberapa tahun,” jawabnya. “Begitu lekas aku dapat menembus rahasia To liong to, kita bertiga segera kembali kedaratan Tiong goan bersama-sama.”

“Bagaimana kalau sampai sepuluh tahun kau masih juga belum berhasil?” tanya pula Coei

“Kalian harus mengawani sehingga sepuluh tahun,” jawabnya dengan tenang. “Andaikata seumur hidup, aku tidak berhasil, kalianpun harus menemani aku seumur hidup.”

“Kau adalah sepasang orang muda yang setimpal dan aku mengerti, bahwa kalian mencintai satu sama lain. Nah ! Kalian boleh menikah dan berumah tangga dipulau itu. Apa itu tidak cukup menyenangkan ?”

Coei San gusar bukan main. “Jangan ngaco kau !” bentaknya.

Ia melirik So So dan ternyata si nona sedang menunduk dengan paras muka kemalu-maluan. Ia bingung bukan main. Ia merasa, bahwa ia tengah menghadapi beberapa lawan yang tangguh dengan berbareng. Cia Soen lawan pertama, si nona lawan kedua, sedang dirinya sendiri merupakan lawan ketiga. Dengan berdampingan dengan wanita cantik itu, belum tentu ia dapat menguasai diri terus menerus.

Terdapat kemungkinan besar sekali, bahwa pada akhirnya, ia akan rubuh dibawah kaki In SoSo.

Memikir begitu, sambil menahan amarah ia segera berkata: “Cia Cianpwee, aku adalah seorang yang selamanya memegang teguh kepercayaan. Aku pasti tidak akan membocorkan rahasia Cianpwee. Aku bersumpah, bahwa aku takkan bicara dengan siapapun jua tentang kejadian dihari ini.”

“Aku percaya segala perkataanmu,” kata Cia Soen “Thio Ngohiap adalah seorang pendekar yang kenamaan dan setiap perkataanmu berharga ribuan tail emas. Hanya sayang, pada waktu berusia dua puluh lima tahun, aku pernah bersumpah berat. Lihatlah jeriji tanganku.”

Ia mengangkat tangan kirinya dan mementang jari-jarinya. Ternyata, ditangan itu hanya ketinggalan tiga jeriji.

Dengan paras muka dingin, Coei San berkata pula: “Pada tahun itu, seorang yang paling dipercaya dan paling dihormati olehku, telah menipu dan mencelakakan aku, sehingga namaku rusak, rumah tangga berantakan, anggauta-anggauta keluargaku binasa dalam sekejap mata. Waktu itu, aku membacok jari tangan dan bersumpah, bahwa selama hidup, tak nanti aku percaya manusia lagi. Sekarang aku berusia empatpuluh lima tahun. Selama duapuluh tahun, aku ingin bergaul dengan kawanan binatang. Aku percaya binatang, tidak percaya manusia. Selama duapuluh tahun, aku membunuh manusia, tidak membunuh binatang.”

Coei San bergidik. Sekarang ia mengerti, mengapa lagu Ko leng san begitu menyayat hati dan mengapa, biarpun berkepandaian sangat tinggi, nama orang itu tidak dikenal dalam dunia Kangouw. Sekarang ia mengerti, bahwa kejadian hebat yang terjadi pada dua puluh tahun berselang, telah mengubah sifat-sifatnya Cia Soen. sehingga dia membenci dunia dan segenap penghuninya. Dengan munculnya pengertian itu, rasa gusarnya agak mereda dan didalam hatinya malah timbul rasa kasihan. Sesudah bengong sejenak, ia berkata dengan suara halus: “Cia Cianpwee, bukankah sakit hatimu sudah terbalas ?”

“Belum” jawabnya. “Ilmu silat orang yang mencelakakan aku, luar biasa tinggi dan aku tak dapat melawannya.”

Tanpa merasa, hampir berbareng, Coei San dan So So mengeluarkan suara tertahan: “Masih ada manusia yarg lebih lihay dari padamu?” tanya si nona. “Siapa dia?”

“Perlu apa aku memberitahukan namanya kepadamu?” Cia Soen balas menanya. “Jika bukan karena gara-gara sakit hati ini, apa perlunya aku marebut To liong to? Guna apa aku berusaha untuk memecahkan teka teki sekitar golok itu? Thio Ngohiap, begitu bertemu denganmu, aku lantas saja merasa suka. Jika menuruti kebiasaanku, siang-siang jiwamu sudah melayang. Bahwa aku membiarkan kalian hidup beberapa tahun lebih lama sebenarnya sudah melanggar kebiasaanku, sehingga mungkin sekali, pelanggaran itu akan mengakibatkan kejadian yang tidak baik bagi diri ku.”

“Apa artinya perkataanmu?” menegas So So “Mengapa kau mengatakan, hidup beberapa tahun lebih lama?”

“Sesudah aku berhasil memecahkan rahasia To liong to, pada waktu mau meninggalkan pulau itu aku akan mengambil jiwamu,” jawabnya dengan tawar. “Satu hari belum berhasil, satu hari kalian masih boleh hidup.”

Si nona mengeluarkan suara dihidung. “Hmm! Menurut pendapatku, golok itu hanyalah golok yang berat luar biasa dan tajam tuar biasa,” katanya. “Kata-kata tentang siapa yang memilikinya akan menguasai orang-orang gagah di kolong langit rasanya hanya omong kosong belaka.”

“Kalau benar begitu, biarlah kita bertiga berdiam dipulau itu seumur hidup,” kata Coei San. Tiba-tiba menghela napas dan paras mukanya diliputi dengan awan kedukaan.

Perkataan si nona kena tepat pada hatinya. Memang mungkin sekali To liong to hanya sebuah golok yang tajam dan jika benar sedemikian, sakit hatinya yang sangat besar tidak akan dapat dibalas lagi.

Melihat paras Cia Soen yang penuh dengan kesedihan, Coei San ingin coba menghibur. Tapi sebelum ia keburu membuka mulut, Cia Soen su dah meniup lilin seraya berkata: “Tidurlah !” ia kembali menghela napas dan suara helaan napas itu kedengarannya bukan seperti suara manusia, tapi bunyi binatang yang sudah menghembuskan napasnya yang penghabiskan. Dan suara yang menyeramkan itu jadi lebih menyeramkan lagi karena bercampur dengan arus ombak ditengah lautan. Mendengar itu jantung Coei San dan So So memukul keras.

Angin laut yang dingin menderu deru. Sesudah lewat beberapa lama, si nona yang hanya mengenakan selembar pakaian tipis, tak dipat mempertahankan diri dan ia mulai menggigil.

“In kauwnio, apa kau dingin?” bisik Coei San “Tak apa.” jawabnya.

Coei San segera membaka jubah panjangnya dan berkata: “Kau pakailah.”

Sinona merasa sangat berterima kasih. “Tak usah, kau sendiri juga kedingnan,” Ia menolak sambil memaksakan diri untuk bersenyum. Tapi biarpun mulutnya menolak. tangannya menyambuti juga jubahnya itu yang lalu digunakan untuk menyelimuti pundaknya. Begitu merasakan hawa hangat dari jubah itu, ia bersenyum dengan rasa beruntung.

Sementara itu, Coei San sendiri mengasah otak untuk mencari jalan guna meloloskan diri. Sesudah memikir bulak balik, ia berpendapat, bahwa jalan satu-satunya adalah membunuh Cia Soen.

Ia memasang kuping dan diantara suara gelombang, ia mendengar suara mengerosnya Cia Soen yang sudah pulas nyenyak, ia heran dan berkata dalam hatinya: “Orang itu telah bersumpah untuk tidak percaya manusia. Tapi bagaimana ia bisa tidur pulas dalam sebuah perahu bersama sama aku dan In Kauwaio? Apa dia tidak takut aku turunkan taugan jahat? Atau, apakah, karena menganggap kepandaiannya sudah sangat tin6gi, ia tidak memandang sebelah mata kepadaku? Sudahlah ! Biar bagaimanapun jua, aku harus berani menempuh bahaya. Orang ini sudah pasti akan melakukan apa yang dikatakannya. Kalau terlambat, bisa-bisa aku harus menemani dia dipulau kecil sampai masuk dilubang kubur,” Memikir begitu, perlahan-lahan ia mendekati In So So untuk membisiki niatannya.

Tapi diluar dugaan, sebelum ia keburu membuka mulut, didalam kegelapan apa mau si nona memutar kepala sehingga tanpa tercegah lagi, bibir pemuda itu menyentuh pipinya.

Tak kepalang kagetnya Coei San! Ia sangat ingin menyatakan kepada sinona, bahwa kejadian itu adalah kejadian kebetutan dan ia sama sekali tidak berniat untuk berlaku kurang ajar tapi mulutnya terkancing dan ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata.

Dilain pihak sinona girang bukan main dan lalu merebahkan kepalanya dipundak pemuda itu. Sesaat itu, So So melupakan segala bahaya yang tengah mengancam dan pada detik itu, ia merasa dirinya, sebagai manusia yang paling beruntung dalam dunia. Tiba-tiba ia dengar bisikan Coei San: “In Kouwnio, aku harap kau tidak jadi gusar.”

Dengan paras muka bersemu merah dan dengan suara terputus-putus, ia berkata: “Kau…. menyintai aku…. Aku…. sangat.. girang.”

In So So adalah memedi perempuan yang dapat membunuh manusia tanpa berkedip. Tapi dalam keadaan begitu, ia tiada bedanya seperti wanita lain. Jantungnya memukul keras, mukanya panas, rasa malu, kaget dan girang tercampur menjadi satu.

Kalau bukan berada dalam kegelapan, mungkin sekali ia tak berani mengucapkan kata-kata itu yang menumplek isi hatinya kepada pemuda yang dicintainya.

Mendengar jawaban si nona, sekali lagi Coei San terkesiap, ia tidak duga, bahwa permintaan maafnya sudah memancing pengakuan cinta. Biar bagaimana jua, ia adalah manusia biasa, manusia yang masih berusia muda. Maka itu, jantungnyapun memukul keras dan ia jadi bingung bukan main. Tiba-tiba, jiwa kesatrianya memberontak. “Coei San!” Ia mengeluh. “Mengapa kau begitu lemah? Apa kau sudah lupa pesanan In soe?. Biarpun ia mencintai aku dan ia pernah melepas budi kepada Samko, tapi ia seorarg dari agama yang menyeleweng dengan sepak terjangnya yang tidak dapat dibenarkan. Andaikata aku ingin menikah dengannya, terlebih dahulu aku harus memberitahukan In soe untuk minta permisi. Mana boleh aku bercinta-cintaan ditempat gelap?”

Memikir begitu, dengan perlahan ia mendorong tubuh sinona dan berbisik: “Kita harus berusaha untuk menakluki orang itu guna meloloskan diri.”

Mendengar bisikan itu, So So terkejut. “Apa?” Ia menegas.
“Biarpun berada dalam bahaya, kita barus bertindak secara tenang,” Menerangkan pernuda itu. “Kalau kita menyerang selagi dia pulas, perbuatan kita bukan perbuatan kesatria. Aku akan membangunkannya dan akan menantangnya untuk mengadu kekuatan. Selagi aku bertanding, kau harus melepaskan jarum emas kejalan darahnya. Meskipun kita mengerubuti dan kemenangan kita bukan kemenangan yang gemilang, tapi apa boleh buat, karena ilmu silatnya banyak lebih tinagi daripada kita.”

Coei San membisikkan dengan suara yang sangat halus dan bibirnya hampir menempel dengan kuping si nona. Tapi diluar dugaan, baru saja ia selesai, Cia Soen yang tidur digubuk belakang sudah tertawa terbahak-bahak “Kalau kau membokong, mungkin sekali kau masih mempunyai harapan.” katanya dengan suara nyaring. “Tapi dengan ingin mengambil jalanan yang terang, untuk mempertahankan nama baik partaimu, kau cari celaka sendiri.”

Dilain saat berbareng dengan berkelebatnya bayangan manusia ia sudah berada dihadapan Coei San dan lalu menghantam dada pemuda itu dengan telapak tangannya.

Selagi Coei San bicara, Coei San sudah mengempos semangat dan mengerahkan Lweekang. Begitu lekas lawan menyerang, ia segera menyambut dengan tangan kanannya dan balas mengirim serangan deagan tenaga Bin ciang (Pukulan kapas). Begitu lekas tangannya kebentrok dengan tangan lawan, ia merasa dadanya tergetar dan tenaga lawan menindih hebat bagaikan gelombang.

Sebelum tangan lawan menyambar, Coei San, yang tabu keunggulan orang itu, sudah mengerahkan seluruh Lweekang untuk membela diri. Maka itu, waktu angin pukulan menyambar, ia menarik pulang lengannya kira-kira delapan dim dan dengan garis pembelaan yang lebih pendek itu, ia mendapat banyak keuntungan, sehingga, walau pun Cia Soen terus menambah tenaganya, ia masih dapat mempertahankan diri.

Sesudah mendorong tiga kali, Cia Soen merasa heran, sebab meskipun Lweekang lawannya banyak lebih rendah, tapi ia tidak berhasil untuk menghancurkannya. Ia terus menambah tenaga, tapi Coei San masih tetap dapat mempertahankan diri. Selagi mereka mengadu kekuatan secara mati-matian, papan perahu mengeluarkan suara “krekekkrekek”, karena tidak kuat menahan tindihan tenaga kedua orang yang tengah bertanding itu.

Tiba-tiba Cia Soen mengangkat tangan kirinya dan menghantam kepala Coei San, yang buru-buru menangkis dengan tangan kirinya dengan pukulan Hoeu kee kim liang (Memasang penglari emas).

Sesudah kedua-dua tangannya beradu dengan kedua tangan lawan, Coei San merasa dadanya di tindih dengan tenaga Im jioe (tenaga lembek), sedang tenaga yang menindih dari atas kepala adalah tenaga Yang kong (tenaga keras). Bahwa seseorang dapat menyerang dengan dua macam tenaga dengan berbareng adalah kepandaian yang sungguh jarang terdapat dalam Rimba Persilatan. Untung juga ilmu silat Boe tong pay sangat mengutamakan Lweekang, sehingga biarpun kalau dalam pertempuran biasa kepandaian Coei San masih jauh, tapi dalam pertandingan Lweekang sedikitnya untuk sementara waktu, dengan menggunakan “ilmu meminjam tenaga, memidahkan tenaga” dan Sie nio po cia kin, ia masih dapat mempertahankan diri.

Dalam sekejap, keringat membasahi pakaian pemuda itu. “Mengapa In Kauwnio masih belum turun tenaga?” tanyanya didalam hati. “Jika In Kouw nio menyerang, dia pasti akan berkelit dan waktu dia berkelit, aku bisa menggunakan kesempatan untuk menyerang.”

Kemungkinan itu juga rupanya sudah diingat oleh Cia Soen sendiri. Waktu baru menyerang, ia menduga, bahwa dengan sekali pukul, ia akan dapat merubuhkan pemuda itu. Tapi diluar dugaan, sesudah seminuman teh, Coei San masih dapat mempertahankan diri. Ia mengerti, bahwa jika sinona turun tangan, ia bisa celaka. Maka itu, sambil bertanding, kedua lawan tersebut terus memperhatikan gerak-gerik In So So.

Karena sedang mengerahkan seluruh Lweekang nya, Coei San tidak berani bicara. Tapi Cia Soen Yang Lweekangnya sudah mencapai puncak tertinggi masih dapat bicara. “nona kecil, aku menasehati kau jangan coba-coba turun tangan,” katanya. “Begitu kau melepaskan jarum emas, aku akan segera menghantam dengan sekuat tenaga kecintaanmu tidak dapat hidup lebih lama lagi “

“Cia Cianpwee, tarik pulang seranganmu,” kata sinona.

“Kamu akan menghatur maaf?” tanya Cia Soen.

Coei San tidak berani menjawab, karena begitu membuka suara, tenaganya akan habis. Ia mendongkol bukan main karena So So tidak melepaskan jarumnya.

“Cia Cianpwee, lekas tarik pulang tenagamu!” teriak nona In dengan suara bingung “Apa kau mau aku turun tangan?”

Sebenar-benarnya didalam hati Cia Soen pun sangat berkuatir. Didalam kegelapan dan ditempat yang sangat sempit, ia sukar menolong diri, jika si nona menyerang dengan jarum emas yang berjumlah besar dan halus itu, ia juga tidak bisa menangkis jarum-jarum itu dengan kedua tangannya yang tengah beradu deagan kedua tangan Coei San. Maka itu, jika So So menyerang, mungkin sekali mereka bertiga akan binasa atau terluka berat bersama-sama.

Karena adanya kekuatiran itu, ia segera berkata: “Nona kecil, aku sebenarnya tidak mempunyai niatan kurang baik, aku bersedia untuk mengampuni jiwanya, jika kau bersumpah atas nama nya.”

sesudah memikir sejenak, So So berkata: “Thio Ngoko, kita bukan tandingan Cia Cianpwee. Tiada lain jalan daripada menurut perintahnya dan menemani dia satu dua tahun. Kurasa, sebagai seorang yang sangat cerdas otaknya, tak sukar untuk Cia Cianpwee memecahkan rahasia To liong to. Ngo ko boleh aku bersumpah atas namamu?”

Coei San tetap tidak berani menyahut. Didalam hati ia mendongkol bukan main karena si nona masih juga tidak mau melepaskan senjata rahasianya.

Melihat kecintaannya terus membungkam, sinona segera berkata: “Aku In So So bersama Thio Coei San berjanji akan mengawani Cia Cianpwee disebuah pulau sampai Cia Cianpwee dapat memecahkan rahasia To liong to. Jika kami mempunyai hati bercabang, biarlah kami mati dibawah pedang atau golok “

Cia Soen tertawa, “Bagi orang-orang Rimba Persilatan, mati dibawah senjata bukan soal penting,” katanya.
Si nona menggertak gigi. “Baiklah,” katanya dengan suara gusar. “Kalau aku melanggar janji, biarlah aku tidak bisa hidup sampai dua puluh tahun. Apa kau puas?”

Cia Soen tertawa terbahak-bahak dan lalu menarik pulang tenaganya. Begitu lekas tindihan tenaga lawan disingkirkan, Coei San yang sudah habis tenaganya lantas saja rubuh diatas papan perahu. Melihat muka pemuda itu pucat bagaikan kertas dan napasnya tersengai-sengal, bukan main bingungnya si nona yang lantas saja menubruk sambil mengucurkan air mata.

“Murid Boe tong sungguh-sungguh bukan mempunyai nama kosong,” memuji Cia Soen. “Tak malu mereka menjagoi dalam Rimba Persilatan diwilayah Tionggoan.”

Sementara itu, So So sudah mengeluarkan sapu tangan dan menyusuti keringat yang membasahi Coei San. Melihat si nona menangis sedu sedan, kemendongkolan pemuda itu lantas saja hilang dan didalam hatinya timbul perasaan sangat berterima kasih. Baru saja ia ingin menghaturkan terima kasih, tiba-tiba matanya gelap. Sayup sayup ia mendengar teriakan So So: “Orang she Cia jika kakakku mati, aku akan mengadu jiwa dengan mu!”

Dilain saat dalam keadaan lupa ingat, ia mendengar suara menderunya angin dan badannya terayun-ayun. Mendadak ia merasa badannya basah dan air asin masuk kedalam mulutnya. Sesaat itu juga ia tersadar dan hatinya bingung, karena ia duga perahu itu sedang karam. Cepat-oepat ia bangun berdiri, tapi ia tak dapat berdiri tegak, sebab perahu kembali miring kekiri dan gelombang menghantam perahu. Angin menderu-deru dan gelombang sebesar bukit menerjang dengan saling susul.

Dalam keadaan ribut dan kacau, mendadak ia dengar teriakan Cia Soen: “Thio Coei San, lekas pergi kebelakang perahu dan pegang kemudinya. Tanpa memikir lagi, ia berlari-lari kebelakang perahu. Ombak lagi-lagi menghantam perahu miring kekiri kanan dan sebuah perahu kecil, yang semula ditaruh diatas perahu layar itu, terbang keatas beberapa tombak tingginya, akan kemudian tenggelam kedasar laut.

Sebelum Coei San tiba ditempat kemudi, gelombang-gelombang besar mengamuk, sehingga perahu terputar-putar dan terpental kian kemari. Buru buru ia mengempos semangat dan menancap kedua kakinya dipapan perahu, sehingga meskipun perahu terombang-ambing, badannya tidak bergerak. Beberapa saat kemudian, sesudah serangan gelombang agak mereda, ia merangkak dan dengan kedua tangannya ia memegang kemudi erat-erat.

Sekonyong-konyong terdengar beberapa kali suara gedubrakan yang keras bukan main dan badan perahu bergoyang goyang, Ternyata, dengan menggunakan Long gee pang, Cia Soen telah merubuhkan tiang layar tengah dan depan dan kedua tiang itu bersama-sama kain layarnya yang berwarna putih, jatuh kedalam laut

Topan yang menyerang benar-benar hebat. Meskipun hanya ketinggalan sebuab layar belakang, perahu itu masih tetap miring kian kemari seperti orang mabok arak. Menghadapi serangan alam yang hebat, Cia Soen yang gagah tak berdaya. Ia mengawasi langit dergan paras muka mendongkol dan beberapa kali hampir-hampir ia tergelincir di sapu angin. Akhirnya, dengan apa boleh buat, ia mengangkat pula Long gee pang dan menghantam tiang yang terakhir.

Sesudah semua tiang layar rubuh, perahu itu lantas saja terombang ambing tanpa tujuan. Tiba-tiba Coei San ingat So So. “In Kouwnio!” teriaknya. “Dimana kau? Dimana kau? In Kouwnio !” Ber ulang-ulang ia berteriak, tapi sedikitpun ia tidak mendapat jawaban, sehingga dalam teriakan-teriakan yang belakangan, dalam suaranya terdapat nada seperti orang menangis. Mendadak ia merasa lututnya seperti dipeluk orang dan berbareng, sebuah gelombang yang besar telah menyambar badannya.

Sambil mengempos semangat, ia mencekal kemudi erat-erat, tapi tak urung tubuhnya bergoyang goyang karena dahsyatnya ombak itu. Pada detik itu, orang yang barusan memeluk lututnya sudah merangkul pinggangnya. “Thio Ngoko, terima kasih,” demikian terdengar suara So So yang lemah lembut: “Kau sangat memperhatikan keselamatanku.”

Coei San girang bukan, main. “Oh, Tuhan ! Terima kasih untuk perlindunganMu!” bisiknya sambil memeluk pinggang sinona.

Angin terus mengamuk dan amarah lautan masih tetap belum mereda.

Diantara pukulan-pukulan gelombang, mendadak Coei San melihat sebuab kenyataan. Ia sekarang mengakui, bahwa didalam bahaya, ia lebih memikiri keselamatan So So daripada keselamatan diri nya sandiri.

“Thio Ngoko, biarlah kita mati bersama-sama,” bisik pula si nona.

Dalam keadaan biasa, biarpun kedua orang muda itu menyintai satu sama lain mereka pasti tak akan menumplek isi hati mereka secara begitu cepat dan terang-terangan. Tapi pada saat itu pada detik mereka bersama-sama menghadapi kebinasaan, segala perasaan main dan jengah telah dikesampingkan. Didalam kegelapan dan diantara badai, badan perahu tak hentinya mengeluarkan suara “krekek” dan bisa hancur luluh disetiap saat, tapi didalam hati kedua orang muda itu terdapat rasa beruntung yang tiada batas.

Sesudah mengadu tenaga dengan Cia Soen, Coei San sebenarnya merasa lelah bukan main. Tapi rasa cinta yang kini tengah memenuhi dadanya telah memberi tenaga baru kepadanya. Dengan tangan kanan, mencekal kemudi tangan kiri memeluk pinggang si nona, ia mengempos semangat dan mengerahkan seluruh Lweekang untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan topan dan gelombang.

Semua anak buah perahu sudah habis disapu air. Jika Cia Soen, Coei San dan So So tidak memiliki ilmu tinggi, siang-siang merekapun sudah ditelan laut.

Untung juga, perahu itu sangat kuat buatannya, sehingga, walaupun diserang begitu hebat, tidak sampai jadi berantakan.

Dilain saat, untuk penambahan penderitaan, hujan turun seperti dituang tuang.

Sementara itu, sesudah merubuhkan semua tiang layar, sambil merangkak Cia Soen pergi kebelakang perahu. “Thio Heng tee, terima kasih untuk bantuanmu,” katanya. “Serahkan kemudi kepadaku dan pergilah kalian mengaso digubuk perahu.”

Coei San lalu menyerahkan kemudi kepadanya dan sambil menuntun tangan si nona, ia menuju kegubuk perahu. Tapi baru berjalan beberapa tindak, se-konyong2 sebuah gelombang, sebesar bukit menghantam dengan dahsyatnya. Karena serangan itu datang secara sangat mendadak,
sekali ini Coei San tidak dapat mempertahankan dirinya lagi. Badan mereka tersapu dan terpental keluar perahu .

Dilain detik tubuh Coei San sudah berada ditengah udara dan melayang turun keatas gelombang! Dalam bingungnya, ia berhasil menjambret pergelangan tangan So So. Pada saat itu, ia hanya ingat untuk binasa bersama dengan si nona

Tapi baru saja tangan kirinya mencekal pergelangan tangan nona In, sekonyong-konyong sehelai tambang menyambar dan melibat lengan tangan kanannya. Hampir berbareng, ia merasa badannya ditarik kebelakang, akan kemudian, bersama sama So So, jatuh diatas papan perahu. Yang menolong mereka adalah Cia Soen sendiri. Pada saat yang sangat genting, Cia Soen menjemput seutas tambang layar yang kebetulan menggetetak didekat kakinya, sehingga pada detik terakhir, jiwa kedua orang muda itu ketolongan.

Itulah kejadian yang sangat diluar dugaan, “Sungguh berbahaya !” mengeluh Cia Soen. Kalau tambang itu tidak kebetulan berada didekatnya, biarpun mempunyai kepandaian yang sepuluh kali lipat lebih tinggi, ia tentu tidak berdaya.

Dengan merangkak, Coei San dan So So lalu masuk kedalam gubuk perahu. Perahu terus ter ombang-ambing, sebentar seperti berada dipuncak gunung dan sebentar seperti masuk kedalam lembah. Tapi bagi mereka yang seolah-olah baru saja bangun dari kuburan, semua bahaya itu tidak ada artinya lagi. “Ngoko,” bisik nona In. “Jika kita bisa hidup terus, aku tak mau berpisahan dengan kau untuk selama-lamanya.”

“Akupun justeru begin mengatakan begitu,” kata Coei San. “Langit diatas, bumi dibawah, diantara manusia dan didasar lautan, kita akan tetap bersama-sama.”

Si nona menghela napas. “Benar,” bisiknya pula. “Langit diatas, bumi dibawah, diantara manusia dan didasar lautan, kita akan tetap bersama-sama.”

Sementara itu, Cia Soen mengemudikan perahu sambil mengomel panjang pendek. Dalam menghadapi badai dan gelombang, kepandaiannya yang sangat tinggi tidak banyak menolong.

Sesudah mengamuk tujuh jam lamanya, barulah topan mereda. Awan hitam perlahan-lahan buyar dan bintang-bintang mulai muncul lagi diatas langit. Coei San dan So So keluar dari gubuk perahu. “Cia Cianpwee, terima kasih banyak untuk pertolonganmu,” kata pemuda itu.

“Tak usah rewel,” jawabnya. “Kita bertiga hampir-hampir mampus.”

Coei San menghela napas dan lain menggantikan memegang kemudi. Sesudah bertahan mati matian hampir semalam Cia Soen pun sudah lelah sekali dan ia segera pergi kegubuk perahu untuk mengaso.

So So duduk didamping kecintaannya dan dongak mengawasi bintang Paktauw yang tengah memancarkan sinaraya. “Ngoko, perahu ini tengah menuju kejurusan utara,” katanya.

“Benar,” jawabnya. “Aku ingin sekali dia menuju kebarat supaya kita bisa pulang”

“Kalau dia berbalik ketimur, entah kemana kita akan pergi,” kata pula nona In.

“Ketimur masuk bilangan samudera,” kata Coei San. “Kalau kita berada ditengah lautan tujuh delapan hari saja, tanpa air, kita akan….”

“Kudengar di lautan Tanghay tardapat sebuah pulau dewata,” memutus si nona. “Orang kata, dipulau itu terdapat dewa-dewi yang hidup abadi. Siapa tahu, kalau kita mendarat dipulau itu, kita akan tertemu dengan para dewa dan dewi …..”

Sambil mengawasi bima sakti yang membentang dilangit, ia berkata pula: “Mungkin sekali perahu ini akan berlayar terus, sehingga tiba dibimasakti dan kita dapat menyaksikan pertemuan diatas jembatan burung antara Goe Long dan Cit Lie.” ( Bima-sakti adalah sehelai sinar terang diwaktu malam yang membentang dilangit, terdiri daripada rangkaian bintang-bintang).

“Ya,” kata Coei San. “Kita boleh menyerahkan perahu ini kepada Goe Long, supaya ia dapat menemui Cit Lie disembarang waktu dan tidak usah menunggu Cit gwee Cit sek (tanggal tujuh Cit lie).”

Si nona bersenyum. “Ngoko, jika perahu dihadiahkan kepada Goe long, alat pengangkutan apakah yang dapat digunakan kita jika kita ingin bertemu ?” tanyanya.

“Langit diatas, bumi dibawah, sekali bersama sama, kita telah bersama-sama,” jawabnya. “Perlu apa kita menyeberangi bima-sakti ?”

In So So tertawa, paras mukanya seakan-akan sekuntum bunga yang baru mekar Dengan sikap kemalu-maluan, ia mencekal erat-erat tangan Coei San.

Kedua orang mula itu saling mencekal tangan dengan rasa bahagia. Banyak sekali yang ingin dikatakan mereka, akan tetapi, mereka tak tahu apa yang harus dikatakan terlebih dahulu. Memang juga, manakala dua manusia sedang mencintai satu sama lain, kata-kata tidak perlu sama sekali.

Dengan lirikan mata saja, mereka sudah bicara banyak, karena dalam keadaan sedemikian, yang satu tahu apa yang mau dikatakan oleh yang lain.

Entah sudah selang berapa lama barulah Coei San menunduk dan melirik kecintaannya. Ia terkejut, karena kedua mata si nona kelihatan basah dan paras mukanya penuh kedukaan. “Mengapa kau menangis ?” bisiknya.

“Diantara manusia atau dibawah lautan mungkin sekali aku dapat berkumpul dengan kau.” jawabnya perlahan. “Tapi dihari kemudian, sesudah kita meninggal dunia, kau masuk di surga, aku… aku ….akan masuk keneraka !”

“Omong kosong!” bentak Coei San dengan suara menyinta.
So So menghela napas dan berkata dengan suara menyesal: “Aku sendiri mengerti ……aku mengakui, bahwa aku telah melakukan banyak sekali perbuatan jahat dan banyak membunuh manusia secara sembarangan.”

Coei San terkejut. Diam diam dia merasa, bahwa memang benar dia tidak pantas menikah dengan seorang wanita yang sepak terjangnya menyeleweng seperti So So. Akan tetapi karena rasa cintanya sudah mendalam dan juga sebab dalam menghadapi bahaya besar, orang tidak menghitung hitung kejadian dihari kemudian, maka ia lantas saja membujuk dengan suara lemah lembut:
“Jika kau ingin memperbaiki kesalahanrnu, sekarang masih belum terlambat. Mulai dari sekarang, kau harus berbuat kebaikan guna menebus segala dosamu.” So So tidak menyahut. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ia menyanyi dengan perlahan.

Yang dinyanyikannya adalah lagu Sam poyang, sebuah lagu rakyat yang sangat terkenal pada jaman kerajaan Goan. Lagu itu biasa dinyanyikan rakyat dari selatan sampai diutara, hanya kata katanya banyak berbeda satu sama lain.

Sambil menahan napas Coei San mendengar nyanyian itu yang seperti berikut

“Dia dan aku,
Aku dan dia.
Diantara kita, terdapat binyak rintangan.
Bagaimana dapat mencapai sebuah pernikahan?
Akhirnya mati didepan keraton Giam ong.

Ai ya ! Biarkanlah !
Mengambil alu untuk menumbuknya.
Mengambil gergaji untuk menggargajinya.
Mengambil penggilingan untuk menggilingnya,
Mengambil kuali untuk menggorengnya.

Ai ya ! Biarkanlah !
Apa yang terlihat, manusia, hidup mendapat hukuman,
Belum pernah terlihat, setan jadi perantaian.

Ai ya ! Biarkanlah !
Alis terbakar, perhatikan saja mata,
Alis terbakar, perhatikan saja mata.”

Nyanyian itu disambut dengan sorak sorai Cia Soen dari dalam gubuk perahu. “Bagus ! Bagus sungguh nyanyian itu !” teriaknya “In Kouwnio, kau lebih menyocoki aku daripada Thio Siang kongmu yang berlagak mulia !”

“Ya, aku dan kau adalah manusia-manusia jahat dan kita pasti akan mati secara tidak baik,” kata si nona.

“Kalau kau mati secara tidak baik, akupun begitu,” bisik Coei San.

So So kaget tercampur girang. Ia mengawasi pemuda itu dan hanya dapat mengeluarkan sepatah kata: “Ngoko ….”

Pada esokan paginya, dengan menggunakan Long gee pang, Cia Soen membinasakan seekor ikan Yang beratnya belasan kati dan yang dapat menangsal perut selama dua hari. Karena lapar, biar pun ikan mentah, mereka makan dengan bernapsu. Untung toya itu yang dipasangi paku-paku seperti gaetan merupakan alat yang sangat cocok untuk memukul ikan. Biarpun diatas perahu sudah tidak ketinggalan setetes air tawar, tapi dengan menelan minyak dan cairan yang keluar dari badan ikan mereka masih dapat mempertahankan diri.

Arus air terus mengalir keutara dan siang malam, mereka dapat melihat bintang kutub Utara yang memancarkan sinarnya berhadapan dengan kepala perahu.
Diwaktu siang, matahari muncul dari sebelah kiri perahu dan diwaktu sore, menyelam dari sebelah kanan.

Selama belasan hari. keadaan berlangsung seperti itu tanpa perobahan.

Semakin lama hawa udara jadi semakin dingin. Dengan memiliki Lweelang yang tinggi, Cia Soen dan Coei San masih dapat mepertahankan diri. Tapi tidak begitu dengan In So So. Ia kedinginan, sehingga mukanya berubah pucat. Cia Soen dan Coei San membuka jubah panjang mereka dan memberikannya kepada sinona, tapi pakaian yang tidak seberapa tebal itu, tidak banyak menolong.

Dengan sekuat tenaga si nona coba menguatkan diri bertahan dan sebisa-bisanya harus memperlihatkan paras gembira. Tapi Coei San yang tahu, bahwa kegembiraan itu adalah kegembiraan yang dibuat-buat, jadi makin bingung. Ia mengerti, kalau perahu terus menuju keutara beberapa hari lagi, kecintannnya bakal mati ke dinginan.

Tapi benar juga orang kata, Langit tidak memutuskan jalanan manusia.

Secara tidak diduga duga, perahu berpapasan dengan sekelompok biruang dan dengan menggunakan Long gee pang, Cia Soen telah membinasakan beberapa antaranya.

Kulit biruang merupakan selimut hangat, sedang dagingnya dapat dimakan. Tak usah dikatakan, mereka tertiga jadi girang bukan main.

Malam itu, mereka berkumpul dikepala perahu sambil mengawasi langit.

“Bintang apa yang paling berfaedah dalam dunia ini?” tanya So So sambit tertawa.

Cia Soen dan Coei San tertawa geli. “Biruang” jawab mereka hampir berbareng.

Sesaat itu tiba-tiba terdengar suara “ting tung ting tung !”

Serentak meraka memasang kuping, mendadak paras muka Cia Soen berubah pucat. “Es Es yang mangambang !” katanya deagan suara parau. Ia memukul mukul air dengan senjatanya dan terdengar suara terpukulnya kepingan-kepingan es.

Hati mencelos, dingin bagaikan es. Mereka tahu, bahwa jika perahu terus menuju keutara, pada akhirnya dia akan terjepit diantara balokan balokan es dan tidak dapat bergerak lagi. Itu akan berarti, bahwa merekapun tak akan bisa hidup lebih lama lagi. Malam itu mereka tak dapat pulas, kuping mereka terus mendengari “ting tung ting tung” yang tak henti hentinya.

Pada esokan paginya, kepingan-kepingan es sudah jadi lebih besar, sudah sebesar mangkok, sedang suaranya pun makin nyaring, Cia Soen tertawa getir seraya berkata: “Hai! Aku bermimpi ingin membuka rahasia To liong to. Tapi siapa nyana, sebelum berhasil, aku sudah jadi manusia es.”

Jantung sinona berdebar debar. Ia mencekal tangan Coei San erat-erat.

Tiba-tiba Cia Soma mengangkat To liong to dan membentak dengan suara gusar. “Paling benar lebih dulu aku mengantarkan kamu kekeraton Raja Naga!” Tapi sudah mengangkat golok, ia tak tega dan sambil menghela napas, ia pergi kegubuk perahu untuk menaruh golok mustika.

Empat hari lewat lagi dan selama empat hari Itu, perahu terus menuju keutara. Balokan es jadi semakin besar, sekarang sebesar meja atau rumah kecil. Mereka merasa, bahwa kebinasaan su dah berada didepan mats dan dalam menghadapi kebinasaan, mereka jadi nekad dan tak mau memikir panjang-panjang lagi. Malam itu kira-kira tengah malam, sekonyong-konyorg terdengar suara gedubrakan dan perahu bergoncang hebat. “Bagus ! Bagus sungguh !” teriak Cia Soen, “Gunung es !”

Coei San dan So So saling mengawasi sambil bersenyum getir. “Inilah saat terakhir!” pikir mereka. Tiba-tiba mereka saling memeluk erat erat. Mereka ingin mati dalam keadaan begitu, dilain saat, mereka merasa air es sampai dilutut. “Tamatlah! perahu sudah pecah !”

Sekonyong-konyong terdengar teriakan Cia Soen: “Naik keatas gunung es! Bisa hidup sehari, biar kita hidup sehari! Langit mau membinasakan aku, aku melawan!”

Kedua orang muda itu tersadar. Buru buru mereka melompat kekepala perahu. Disamping perahu berdiri sebuah gunung es yang dibawah sinar rembulan, memancarkan sinar hijau yang dingin luar biasa. Itulah pemandangan yang indah tapi menakuti.

Cia Soen berdiri disebuah undakan, dibagian bawah gunung es itu, dan ia menyodorkan senjata nya untuk menyambut kedua orang muda itu. Dengan tangan kiri So So menekan Long gee pang bersama sama Coei San, ia melompat naik ke gunung es itu.

Perahu itu ternyata terlubang besar dan selang kira-kira seminuman teh, sudah tenggelam kedalam laut.
Cia Soen segera menggelar selembar kulit biruang diatas es dan mereka bertiga lantas saja duduk dengan berendeng pundak. Jika berada di atas bumi, besar gunung es itu kira-kira bersamaan dengan sebuah bukit kecil, dengan garis tengah kurang lebih delapan belas tombak dan tingginya kira-kira lima tombak.

Cia Soen mendongak sambil mengeluarkan teriak nyaring, seolah-olah sedang menantang musuh, “Berdiam diperahu yang sempit, dadaku menyesak,” katanya. “Tempat ini lebih cocok untuk aku melemaskan urat,” berkata begitu, ia berjalan mundar mandir dan sungguh heran, kakinya tidak terpeleset meskipun permukaan es licin luar biasa.

Coei San mengerti, dia sedang menantang Langit yang dianggapnya sangat tidak adil terhadapnya. Dalam menghadapi kebinasaan, rasa penasarannya semakin menjadi.

Dengan menuruti tiupan angin dan arus air, gunung es itu terus bergerak kejurusan utara.

Pada suatu hari, selagi mereka bertiga duduk terpekur, tiba-tiba Cia Soen tertawa terbahak bahak dan berkata dengan suara mengejek: “Langit telah mengirim sebuah perahu untuk menyambut kita guna bertemu dengan Pak kek Siang ong (Dewa Kutub Utara).”

Mendengar itu So So hanya bersenyum. Ia tidak menghiraukan andaikata langit bakal rubuh asal saja kecintaannya berada didampingnya. Tapi Coei San mengerutkan alis dan pada paras mukanya terlukis sinar kedukaan.

Selang tujuh delapan hari, sinar es yang disoroti matahari adalah demikian hebat berkilauannya sehingga mata mereka dirasakan sakit sekali. Oleh karena begitu, diwaktu siang mereka menyelimuti kepala dengan kulit biruang sambil merebahkan diri diatas es dan diwaktu malam, barulah mereka bangun untuk menangkap atau memburu biruang.

Sungguh heran, semakin keutara siang hari jadi
semakin panjang, sehingga belakangan, jangka waktu dimalam hari hanya beberapa jam saja.

Makin lama Coei San dan So So jadi makin lelah dan paras muka mereka makin pucat. Cia Soen sendiri kelihatan seperti seorang lupa ingatan dan pada kedua matanya terlihat sinar luar biasa. Kadang-kadang, kalau datang kalapnya, ia menuding-nuding tangan dan mencaci-caci, seolah-olah manusia edan.

Pada suatu malam, karena tak dapat pulas di waktu siang, Coei San tidur sambil menyender di es, tiba-tiba dalam pulasnya, ia mendengar jeritan So So: “Lepas Lepas!” Ia tersadar dan melompat bangun dan melihat Cia Soen sedang memeluk kecintaannya dengan mulut mengeluarkan suara “ho ho ho,” seolah olah bunyi binatang buas.

Sesudah menyaksikan lagak Cia Soen yang luas biasa selama beberapa hari Coei San merasa sangat berkuatir. Hanya ia tak nyana bahwa orang itu dapat berbuat begitu rupa terhadap So So. “Lepas !” bentaknya dengan gusar, sambil melompat maju.

Cia Soan tertawa terbahak-bahak. “Dalam menghadapi kebinasaan, aku tak mergenal segala peraturan bau,” katanya. “Waktu masih berada diatas bumi, aku sudah tidak mengenal Lie gie liam tie. Apa lagi sekarang?”

Lie gie liam tie berarti adat istiadat, pribudi putih bersih tak korup dan mmgenal malu, yaitu empat prinsip dari Kwan Tong.

“Lepas!” teriak pula Coei San dengan gusar. “Jika tidak, aku akan mengadu jiwa denganmu.”

“Apamu dia? Jangan campur-campur urusanku!” jawabnya dengan suara dingin. Ia mengeraskan pelukannya, sehingga So So mengeluarkan jeritan kesakitan.

“Dia isteriku,” kata Coei San dengan bingung. “Cia Cianpwee, seorang laki-laki lurus berjalan lurus. Biarpun kita sekarang berada diatas gunung es, tapi janganlah kau melakukan perbuatan yang hanya akan memalukan diri sendiri.”

Cia Soen tertawa terbahak-bahak. “Aku si orang she Cia belum pernah menghiraukan jahat atau baik,” katanya. Andai kata benar kau suami nya, kau tetap tidak boleh campur-campur dan harus turut segala perintahku. Jika berani membandal, aku akan hajar kau.”

Coei San tak dapat menahan sabar lagi. Baiklah, biar kita bertiga mampus bersama sama!” bentaknya seraya menghantam punggung Cia Soen yang menangkis dengan tangan kirinya. Tubuh Coei San bergoyang-goyang dan karena licinnya es, ia tak dapat berdiri tetap dan lantas saja terguling. Cia Soon mengangkat kaki kanannya dan menendang pinggang pemuda itu. Tapi Coei San pun bukan anak kemarin dulu. Ia menekan es dengan satu tangannya dan melompat bangun, sedang tangan yang lain menotok jalan darah dilutut Cia Soen. Pada detik yang berbahaya, cepat bagaikan tandangannya, tangan kanannya memukul kepala Coei San, sedang tangan kirinya memeluk pinggang si nona.

Sesaat itu tangan kiri So So mendapat kemerdekaan, maka buru-buru ia menggunakan dua jerijinya untuk menotok jalan darah Soei touw hiat ditenggorokan orang. Tapi, diluar dugaan, tanpa menghiraukan serangan itu, Cia Soen terus mengerahkan Lweekang dan memukul kepala Coei San. Dengan kedua tangan, pemuda itu menangkis dan ia terkesiap, karena pukulan itu berat luar biasa, sehingga dadanya menyesak.

Dilain pihak, nona In pun tidak kurang kaget nya. Kedua jerijinya yang menotok Soei touw hiat seperti membentur benda yang licin dan serta didorong balik dengan serupa tenaga yang tidak kelihatan. Si nona mencelos hatinya, sebab, walaupun seorang yang mempunyai ilmu weduk Kim ciong to atau Tiat po san tak akan dapat menahan totokannya itu. Dari sini dapat dibayang kan, betapa tinggi kepandaian Cia Soen.

Waktu itu, badan So So dan tangan kanannya di peluk keras-keras dan hanya tangan kirinya yang merdeka. Sesudah totokannya gagal, dengan pertolongan sinar es, ia lihat muka Coei San yang kedua matanya berwarna merah seperti darah dan seolah-olah mengeluarkan api. Pada detik itu. mendadak ia ingat pengalamannya waktu mengikuti ayahnya memburu harimau dihutan. Ia ingat bahwa kedua mata seekor harimau yang terluka juga berwarna merah darah. Sepulangnya dari perburuan, sering-sering ia merasa kasihan terhadap binatang itu.
Sekarang, melihat Cia Soen yang menyerupai macan edan rasa kasihannya timbul dan ia berkata pada dirinya sendiri: “Dia biasanya ramah tamah dan sopan santun. Ia beradat aneh, tapi keanehan itu adalah akibat pengalaman getir dalam penghidupannya. Tapi biar bagaimanapun juga, ia seorang luar biasa mahir ilmu surat dan ilmi silat. Bahwa sekarang ia kalap adalah karena otaknya yang kurang beres.” Selagi memikir begitu, tiba-tiba disebelah utara muncul sinar berkredepan yang beraneka warna dan indah luar biasa. “Cia Cian pwee,” katanya dengan suara lemah lembut. “Kau mengasolah. Lihatlah! Ditepian langit muncul sinar yang sangat luar biasa!”

Cia Soen menengok kearah yang ditunjuk si nona. Ternyata, diantara kegelapan disebelah utara itu muncul ribuan, bahkan laksaan, sinar terang yang sangat aneh, sebentar besar, sebentar kecil, sedang warnanya yang kuning campur ungu dan dalam sinar ungu itu berkredepan sinar keemas emasan.

Cia Soen terkesiap, ia melepaskan pelukannya dan menarik pulang tangannya yang menindih ke dua tangan Coei San. Dilain saat, sambil menggendong tangan, ia berjalan kepinggir gunung es dan memandang kearah utara dengan mata membelalak. Ternyata, mereka sudah mendekati Kutub Utara. Sinar yang luar biasa itu adalah pemandangan yang hanya terdapat didaerah kutub. Pada jaman itu belum pernah ada orang Tionghoa yang pernah melihat pemandangan tersebut.

Sambil mencekal tangan kecintaannya, Coei San mengiwasi orang anah itu dengan hatiri berdebaran. Malam itu, Cia Soen tidak mengganggu lagi. Lama sekali ia berdiri terpaku disitu sambil menikmati sinar-sinar menakjubkan itu.

Pada keesokan paginya, sinar-sinar itu menghilang dari pemandangan. Cia Soen rupanya merasa jengah karena kejadian semalam, sehingga seharian suntuk ia tak pernah berani melirik sinona, sedang gerak-geriknya pun kelihatan kikuk sekali.

Beberapa hari kembali lewat dan mereka terus berlayar kejurusan utara. Sementara itu, gilanya Cia Soen mulai kumat lagi. Semakin hari caciannya terhadap langit jadi semakin hebat. Sedang dari matanya keluar pula sinar mata binatang buas. Coei San dan So So memperhatikan perubahan perubahan itu dengan hati berkuatir dan mereka selalu berwaspada untuk menghadapi segala kemungkinan.

Hari itu sudah lewat jam tujuh malam, tapi matahari yang menyerupai sebuah bola merah masih tergantung ditepian laut sebelah barat dan tak juga mau menyelam. Mendadak Cia Soen melompat bangun dan sambil menuding matahari, ia membentak: “Kau juga mau menghina aku? Oh, matahari jika aku memiliki busur dan anak panah, dengan sekali memanah, aku dapat menembuskan badan mu!” Tiba-tiba, dengan tinjunya ia menghantam es yang jadi somplak dan kemudian, dengan sekuat tenaga, ia menimpuk matahari dengan potongan es itu, yang terbang puluhan tombak dan kemudian jatuh dilaut. Ia mengutangi lagi perbuatan itu, sehingga dalam tempo tidak terlalu lama, ia sudah melontarkan tujuh puluh lapis potongan es. Sesudah itu, sambil berteriak-teriak, ia menginjak injak gunung es itu, sehingga kepingan-kepingan es pada muncrat keatas.

“Cia Cianpwee, kau mengasolah dulu,” membujuk So So dengan suara lemah lembut. “Jangan kau meladeni matahari itu.”

Cia Soen menengok dan dengan mata merah, ia menatap wajah si nona. So So ketakutan, tapi ia memaksakan diri untuk bersenyum.

Sekonyong konyong sambil berteriak keras Cia Soen melompat dan memeluki nona. “Mampus kau! Mampus!” jeritnya.

So So memberontak, tapi sedikitpun tidak bergeming. Coei San kaget bukan main dan tanpa mengeluarkan sepatah kata. ia menghantam jalan darah Sin tohiat dipunggung Cia Soen. Tapi tinju yang hebat itu seolah-olah memukul besi. Sementara itu, sambil mengeluarkan suara “ho ho ho” seperti bunyi binatang buas, Cia Soen mengeraskan pelukannya.

“Lepas! Jika kau tak lepas, aku akan menggunakan senjata !” teriak Coei San.

Tapi orang kalap itu tetap tidak meladeni.

Cepat bagaikan kilat Coei San mencabut Poan koan pit dari pinggangnya dan lalu menotok jalan darah Kian kin hiat dipundak kanan serta Siauw hay hiat pada lengan kiri Cia Soen. Tapi dia sungguh-sungguh lihay. Jika seorang ahli silat biasa kena totokan itu, sudah pasti kedua tangannya tidak akan dapat digunakan lagi. Tapi ia hanya merasa kesemutan dan dengan sekali menjambret, ia berhasil merampas Poan koan pit yang lalu dilontarkan kelaut.

Tapi serangan Coei San bukan tidak ada hasilnya. Totokan itu melonggarkan pelukan Cia Soen. Nona in memberontak dan berhasil memerdekakan dirinya. Tapi hampir berbareng, sambil mengbantam leher Coei San dengan telapak tangan kirinya, Cia Soen coba menyengkeram badan sinona dengan tangan kanan. Dengan satu suara “bret!” kulit biruang yang menyelimuti badan So So, menjadi robek. Coei Saa tahu, bahwa jika ia melompat mundur, kecintaannya pasti akan tertangkap lagi. Maka itu sambil mengerahkan seantero Lwee kangnya, ia menyambut tangan lawan dengan pukulan Bian ciang.

Begitu lekas kedua tangan kebentrok, ia merasa tangannya diisap dengan semacam tenaga yang
dahsyat luar biasa, sehingga tidak dapat dilepaskan lagi. Ia tidak dapat berbuat lain dari pada mengempos semangat untuk coba melawan. Tiba tiba ia merasakan menyerangnya semacam hawa yang sangat panas dari tangan lawan sehingga pikirannya kalang-kabut dan kepalanya pusing.

Inilah untuk ketiga kalinya Coei San mengadu tenaga dengan Cia Soen. Dalam dua pertandingan yang lebih dulu, ia belum pernah mengalami serangan yang seaneh itu.

Dilain detik, dengan satu tangannya terus menempel pada tangan pemuda itu, Cia Soen miringkan badannya dan coba menjambret si nona. Dengan cepat nona In melompat kebelakang. Selagi tubuhnya masih berada ditengah udara. tiba-tiba Cia Soen menendang es, sehingga beberapa keping terbang dan mengenakan lutut kanan si nona, yang sambil mengeluarkan teriakan kesakitan, rubuh terguling. Hampir berbareng, Cia Soen mengebas tangannya yang menempel dengan tangan Coei San, sehingga pemuda itu terlempar beberapa tombak jauhnya dan jatuh dipinggir gunung es, ia terpeleset dan tergelincir kedalam air.

“Celaka !” Coei San mengeluarkan seruan tertahan. Tapi berkat kepandaiannya yang sudah mencapai taraf sangat tinggi dalam keadaan yang sangat berbahaya, ia masih keburu mencabut Gin kauw dari pinggangnya yang lalu digunakan untuk menotok es, dan dengan meminjam tenaga , badannya kembali melesat keatas.

Selagi kedua kakinya hinggap diatas es, hatinya berdebar-debar, karena ia merasa pasti, bahwa So So akan jatuh lagi kedalam tangannya orang edan itu.
Tapi diluar dugaan dibawah sinar rembulan, ia lihat Cia Soen sedang menekap kedua matanya dengan tangan sambil mengeluarkan suara kesakitan, sedang So So sendiri menggeletak diatas es. Buru buru Coei San membangunkannya. Sambil memeluk leher pemuda itu, si nona berbisik : “Aku…. aku telah lukakan matanya.”

Mendadak, sambil mengaum bagaikan harimau, Cia Soen menubruk, tapi untung juga, sambil memeluk kecintaanaya dan dengan bergulingan Coei San dapat menyelamatkan diri. Tiba-tiba terdengar beberapa kali suara keras dan kedua tangan Cia Soen kelihatan amblas didalam es yang beratnya seratus kati lebih. Ia berdiri diam sambil memasang kuping untuk mendengar dimana adanya kedua orang muda itu, Coei San dan So So mengerti apa artinya itu, perlahan-lahan menyenubunyikan diri didalam sebuah lubang yang terdapat di gunung es itu dan mengawasi si orang edan sambil menghela napas. Melihat darah mengalir dari kedua mata Cia Soen, Coei San mengerti, bahwa pada saat berbahaya, So So sudah menimpuk dengan jarum emasnya dan sekarang orang itu sudah menjadi buta.

Tapi, biarpun sudah tak dapat melihat, kuping orang kalap itu tajam luar biasa. Lama ia berdiri bagaikan patung. Jika kedua orang muda itu mengeluarkaw suara sedikit saja, ia pasti akan menyerang sehebat-betatnya
Untung juga suara gelombang, angin dan suara terbenturnya balokan balokan es pada gunung es itu telah menutupi suara napas mereka. Andaikata mereka berada dalam sebuah kamar tertutup diatas daratan sudah boleh dipastikan mereka tak akan terlolos dari tangan Cia Soen.

Sesudah memasang kuping beberapa lama tanpa berhasil, dalam kegusaran, kesakitan dan ketakutan, Cia Soen kalap lagi. Sambil berteriak-teriak, ia memukul-mukul dan menendang-nendang, sambil menimpuk kian kemari dengan potongan-potongan es. Dengan paras muka pucat, Coei San dan So So saling peluk dalam lubang itu. Mereka yakin, sepotong es saja sudah cukup untuk mengambil jiwa mereka.

Cia Soen mengamuk kurang lebih setengah jam, tapi kedua orang muda itu merasakan seperti juga setengah tahun. Beberapa saat kemudian, ia berhenti dan mendadak berkata dengan suara lemah lembut: “Thio Siangkong, In Kauw Nio, barusan aku kalap dan telah melakukan gila-gila. Kuharap kalian sudi memaafkan”

Sudah berkata begitu. ia duduk untuk menunggu jawaban.
Thio Coei San adalah seorang yang mulia dan murah hati, tapi iapun seorang pintar yang sangat hati-hati, sehingga tidak gampang diakali orang. Nona In yang licin dan banyak akalnya, lebih-lebih sukar diabui. Mereka tidak meladeni perkataan Cia Soen dan tetap berwaspada sambil bernapas pelan-pelan. Sesudah mengulangi perkataannya beberapa kali, Cia Soen menghela napas panjang seraya berkata: “Jika kalian tak sudi memberi maaf, akupun tidak bisa memaksa lagi,” Sehabis berkata begitu, ia menarik nafas dalam-dalam.

Tiba-tiba dalam otak Coei San berkelebat satu peringatan. Ia ingat, bahwa sebelum mengeluarkan jaritannya yang dahsyat dipulau Ong poan San, Cia Soen telah menarik napas seperti itu. Hatinya mencelos, menyumbat kuping sudah tidak keburu lagi. Dengan cepat ia membetot tangan sinona dan melompat kedalam air.

Sebelum si nona mengerti maksudnya, Cia Soen sudah mengeluarkan teriakannya yang dahsyat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, pemuda itu membetot pula tangan kecintaannya dan mereka menyelam kedalam air.

Dengan Gin kauw yang dicekel di tangan kiri, Coei San menggaet pinggiran gunung es, sedang tangan kanannya memegang tangan nona In.

Tapi, biarpun kepala berada dibawah permukaan
air, kuping mereka masih mendengar juga teriakan-teriakan yang hebat luar biasa. Gunung es terus maju keutara. Diam-diam Coei San bersyukur, bahwa yang dilemparkan Cia Soen adalab Poan koan pit, sehingga ia masih dapat menggunakan Gin Kauw untuk menggaet gunung es itu. Andaikata ia kehilangan Gin Kauw, maka meskipun dapat menyelamatkan diri dari teriakan Cia Soen, mereka pasti akan mati didalam air, sebab ditinggalkan gunung es itu yang terus bergerak maju.

Sesudah lewat. beberapa lama, mereka menim but dipermukaan air untuk menyedot hawa udara yang segar. Cia Soen pun sudah berhenti berteriak.

Teriakan-teriakan itu rupanya telah meminta banyak tenaga dan dengan letih, ia bersila diatas es sambil menjalankan pernapasannya. Coei San lantas saja menarik tangan So So dan pelan pelan mereka merayap naik keatas.

Sesudah duduk ditempat agak jauh dari Cia Soen, mereka mencabut bulu biruang untuk menyumbat kuping.

Mereka mengerti, bahwa setiap detik mereka menghadapi bahaya besar.

Matahari belum juga menyelam karena mereka sudah berada didaerah kutub, dimana siang dan malam berbeda jauh dengan lain bagian bumi.

Beberapa saat kemudian, So So yang basah kuyup tak dapat mempertahankan dirinya lagi. Badannya bergemetaran dan giginya bercakrukan.

Tentu saja suara itu segera terdengar Cia Soen, yang sambil membentak keras, lalu menghantam dengan Long gee pang. Buru-buru mereka menyingkirkan diri. Dengan satu suara nyaring luar biasa, gunung es itu somplak dan tujuh delapan balokan es jatuh kedalam laut.

Sesudah gagal dengan pukulannya yang pertama, Cia Soen segera memutar senjatanya bagaikan titiran. Begitu diputar, senjata itu yang panjangnya setombak lebih segera mengeluarkan tenaga mendorong yang sangat hebat dalam jarak tujuh delapan tombak.

Coei San dan So So terpaksa mundur terus dan dalam sekejap mereka sudah berdiri di pinggir gunung es.

Cia Soen teru§ mendesak …..

“Bagaimana baiknya?” bisik si nona dengan suara parau.

Sekali lagi Coei San membetot tangan si nona dan mereka segera melompat pula kedalam air.

Selagi badan mereka masih berada ditengah udara, terdengar suara nyaring dan beberapa kepingan es menghantam punggung mereka yang dirasakan sakit sekali. Hampir berbareng dengan jatuhnya mereka kedalam air, sebalok es, sebesar meja, jatuh didekat mereka. Dengan cepat Coei San menjambretnya dan dilain saat, mereka sudah duduk diatas balokan es itu.

Bagaikan seorang gila, Cia Soen menimpuk kalang kabut dengan potonngan-potongan es, tapi sebab matanya buta dan balokan es yang diduduki kedua orang muda itu terus bergerak maju, maka timpukannya meleset semua.

Karena balokan es itu banyak lebih kecil dari gunung es, maka jalannyapun banyak lebih cepat, sehingga tak lama kemudian, Coei San dan So So sudah meninggalkan Cia Soen jauh sekali. Tapi karena kecilnya, balokan es itu tak dapat menahan berat badan dari dua orang dan sebagian tubuh mereka masuk kedalam air.

Untung juga, tak lama kemudian mereka bertemu dengan sebuah gunung es Cepat-cepat mereka menggayu dengan menggunakan tangan untuk mendekati gunung es itu dan kemudian merapat naik keatasnya.

“Langit tidak memutuskan jalanan orang, tapi langit telah memberikan sangat banyak penderitaan kepada kita,” kata Coei San sambil tertawa getir. “So So bagaimana keadaanmu?”

“Sayang sungguh kita tidak membekal daging biruang,” kata sinona. “Apa Gin Kauwmu hilang?”

Dilain saat, mereka tertawa geli, karena mereka baru merasa, bahwa bulu biruang yang digunakan untuk menyumbat kuping, belum dicabut, sehingga masing-masing tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh pihak lain.

“So So,” kata Coei San sesudah mereka mencabut bulu biruang dari kuping mereka. “Andaikata kita mesti mati kitapun tak akan berpisahan lagi.”

“Ngoko,” kata sinona dengan suara aleman. “Aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Kuharap kau akan menjawab dengan sejujurnya. Apakah kau akan tetap mencintai aku, andaikata kita betada didaratan, tanpa mengalami penderitaan yang hebat ini ?”

Coei San tertegun. Beberapa saat kemudian, barulah ia dapat menjawab: “Aku rasa, kita tidak akan bisa bersahabat begitu cepat. Juga …. juga …. kita pasti akan mendapat banyak rintangan. kita barasal dari lain partai….”

So So manghela napas, “Akupun berpendapat begitu,” katanya. “Itulah sebabnya, mengapa pada waktu kau bertanding pertama kali dengan Cia Soen, aku sudah tidak mau melepaskan jarum emas, biarpun didesak berulang-ulang olehmu.”

“Ya, tapi mengapa begitu?” tanya Coei San dengan rasa heran, “Aku semula menduga, bahwa kau menolak untuk melepaskan jarum, karena kuatir melukakan aku yang waktu itu sedang bertanding ditempat gelap.”

“Bukan, bukan begitu,” bisik sinona. “Kalau waktu itu aku melukakan dia dan kita dapat kembali kedaratan, kau tentu akan meninggalkan aku!”

Coei San kaget mendengar pengakuan. itu. “So So!” serunya.

“Mungkin kau akan gusar,” kata sinona. “Tapi tujuanku yang satu-satunya adalah supaya tidak berpisahan dengan kau. Keinginan Cia Soen supaya kita mengawaninya dipulau yang terpencil, cocok sekali dengan keinginanku,”

Bukan main rasa terima kasihnya Coei San. Ia tak pernah menduga, bahwa rasa cinta sinona adalah demikian besar. “So So, sedikitpun aku tidak gusar,” bisiknya.

Nona In dongak mengawasi pemuda itu dan berkata pula dengan suara lemah lembut: “Langit telah mengirim aku keneraka dingin ini, tapi sebaliknya daripada penasaran aku merasa beruntung sekali. Aku mengharap kita jangan kembali keselatan untuk selama-lamanya. Hm … Jika kita pulang ke Tiong goan gurumu tentu akan membenci aku, sedang ayah mungkin sekali akan membunuh kau …”

“Ayahmu ?” menegas Coei San.

“Ya, ayah adalah Peh bie Eng ong In Thian Ceng,” jawabnya. “Ia adalah pendiri dan pemimpin Peh bie kauw.”

“Oh, begitu ?” kata Coei San. “So So, kau tak usah takut. Aku pasti akan tetap berada bersama sama kau. Aku yakin, biarpun ayahmu ganas, ia tentu tidak akan membunuh puteri dan mantunya sendiri.”

Mendengar perkataan itu, paras si nona bersinar terang, sedang mukanya bersemu dadu. “Apa kau bicara setulus hati?” tanyanya.

“So So, biarkan sekarang saja kita terangkap
menjadi suami isteri,” kata Coei San.

Mereka lantas saja berlutut dengan berendeng diatas es dan Coei San berkata dengan suara nyaring : “Raja Langit menjadi aksinya, bahwa hari ini tee coe Thio Coei San terangkap jodoh menjadi suami isteri dengan In So So. Biarlah senang dan susah bersama-sama dan cinta mencinta selama-lamanya!”

Sesudah Coei San si nonapun berdoa perlahan: “Aku mohon supaya Langit melindungi kami berdua, supaya dari satu ke lain penitisan kami bisa terus menerus menjadi suami isteri.” Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula: “Andaikata dibelakang hari kami bisa kembali di Tiong goan, tee coe akan mencuci hati dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dulu. Tee coe akan bertobat dan bersama-sama suamiku, tee coe akan berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan balk. Tee coe tak akan membunuh manusia lagi secara sembarangan. Jika tee coe melanggar sumpah ini, biarlah Langit dan manusia menghukum tee coe.”

Coei San girang tak kepalang. Ia tak pernah menduga, bahwa tanpa diminta, sang isteri telah bertobat dan bersumpah untuk menjadi manusia balk. Sesudah selesai dengan upacara pernikahan itu, sambil saling mencekal tangan dan duduk berendeng diatas es. Pakaian mereka basah dan hawa dingin menyerang dengan hebat. Akan tetapi, hati mereka hangat bagaikan hangatnya muslin semi yang penuh kebahagiaan dan keindahan.

Lewat beberapa lama, baru mereka ingat, bahwa sudah sehari suntuk, perut mereka belum ditangsal. Kedua senjata Coei San sudah hilang dilaut, tapi So So masih mempunyai pedang yang tergantung dipinggangnya. Coei San lalu menghunus pedang isterinya, membungkus ujung pedang dengan kulit biruang dan kemudian, sambil mengerahkan Lwee kang sampai di jeriji tangan, ia menekuknya sehingga ujung pedang itu menjadi bengkok seperti gaetan. Tak lama kemudian, dengan menggunakan gaetan itu, ia berhasil menangkap seekor ikan yang cukup besar. Ikan diwilayah Kutub Utara gemuk dan banyak minyaknya, sehingga biarpun baunya sangat amis dapat menambahkan tenaga dan menghangatkan badan.

Demikianlah siang malam, gunung es itu terapung-apung kejurusan utara, Mereka mengerti, bahwa kemungkinin pulang ke Tionggoan hampir tidak ada, tapi hati mereka tenang dan damai. Ketika itu, siang sudah berubah sangat panjang, sedang malam sangat pendek dan mereka tak dapat mengbitung hari lagi. Pada suatu hari, mendadak mereka lihat mengepulnya asap hitam disebelah utara. So So yang melihat lebih dulu, mencelos hatinya dan paras mukanya berubah pucat. “Ngo ko!” teriaknya sambil, menuding asap hitam itu.

“Apa disitu terdapat manusia?” tanya sang suami dengan rasa kaget tercampur girang. Tapi biarpun sudah tertampak dalam pandangan mata, tempat mana asap itu keluar masih terpisah jauh sekali, Sesudah lewat lagi satu hari, asap itu jadi makin besar dan makin tinggi kelihatannya dan diantara asap terlihat sinar api.

“Siapa itu?” tanya So So.

Sang suami tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.

“Ngoko, ajal kita sudah hampir tiba,” kata si isteri dengan suara gemetar. “Itu pintu nereka.”

Coei San terkejut, tapi ia segera membujuk: “Mungkin juga disana ada manusia yang sedang membakar hutan.”

“Kalau membakar hutan, bagaimana asap dan apinya begitu tinggi?” tanya sang isteri.

“So So, sesudah tiba disini, biarlah kita menyerahkan segala apa kepada Langit,” kata Coej San. “Kalau Langit tidak mau kita mati kedinginan dan ingin kita mati terbakar, biarlah kita menerima nasib.”

Dengan perlahan tapi tentu, gunung es itu terus menuju kearah asap dan api. Coei San dan So So yang tidak mengerti sebab musababnya, merasa sangat heran dan mereka hanya menganggap, bahwa apa yang bakal terjadi, baik kecelakaan maupun keselamatan, adalah takdir.

Apa yang dilihat mereka sebenarnya adalah sebuah gunung berapi yang bekerja, sehingga sebagai akibat, air laut diseputar gunung itu menjadi hangat dan air yang hangat mengalir kejurusan selatan. Dengan demikian, secara wajar, air yarg dingin atau es terbetot kearah utara.
Sebagaimana diketahui, angin dan gelombang yang saling terjadi ditengah lautan adalah karena perbedaan antara air dingin dan panas dalam hawa dan air.

Sesudah terapung-apung lagi sehari semalam, gunung es itu tiba dikaki gunung.

Ternyata gunung berapi itu berada diatas sebuah pulau yang sangat besar. Disebelah barat terdapat sebuah puncak dengan batu yang bentuk dan macamnya sangat aneh. Selama berkelana di daerah Tionggoan, Coei San sudah kenyang mendaki gunung-gunung yang kenamaan, akan tetapi, belum pernah ia melihat puncak yang begitu luar biasa. Ia mengawasi itu semua dengan mata membelalak dan kegirangan meluap-luap didalam hatinya. Ia tak tahu bahwa puncak itu adalah tumpukan lahar yang disemprotkan gunung berapi selama ratusan atau ribuan tahun. Disebelah timur terdapat tanah datar yang sangat luas. Tanah datar itupun muncul disitu karena bekerjanya gunung berapi. Abu yang disemprotkan oleh gunung itu jatuh ke dalam laut dan lama-lama, mungkin dalam tempo ribuan tahun, air laut teruruk dan muncullah tanah datar yang sangat luas.

Biarpun tempat itu sudah mendekati Kutub Utara, tapi karena gunung berapi masih bekerja, maka hawa dipulauitu menyerupai hawa digunung Tiang pek san atau daerah Hek Liong kang. Dipuncak-puncak yang tinggi terlihat salju, tapi ditempat yang rendah, pohon-pohon menghijau, pohon siong, pek dan lain-lain yang tidak terdapat diwilayah Tionggoan.

Sesudah memandang beberapa lama dengan mata tidak berkesip, tiba-tiba So So melompat dan memeluk suaminya. “Ngoko ! Kita sudah tiba ditempat dewa !” bisiknya dengan suara serak.

Kegirangan Coei San pun sukar dilukiskan. Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata dan hanya balas memeluk isterinya yang tercinta.

Lama mereka saling peluk dengan disaksikan oloh sejumlah menjangan yang sedang makan rumput dengan tenang diatas pulau itu. Kecuali asap api yang agak menakuti, segala apa yang tertampak disitu adalah tenang, damai dan indah.

Mandadak terdengar teriakan So So: “Celaka ! Kita tak dapat mendarat!” Ternyata gunung es itu, yang terpukul dengan air yang hangat, mulai bergerak meninggalkan pulau.

Coei San pun tidak kurang kagetnya. Buru-buru
mengerahkan Lweekang dan menghantam es yang lantas saja somplak sebesar balok. Sesudah itu, sambil memeluk balokan es itu, mereka melompat kedalam air dan dengan menggunakan tangan dan kaki sebagai penggayu, mereka akhir nya mendarat dipulau itu.

Melihat kedatangen manusia, manjangan-menjangan yang sedang makan rumput mendongak dan mengasi, tapi mereka tidak memperlihatkan rasa takut sedikit jua. Perlahan lahan So So mendekati, menepuk-nepuk punggung salah seekur. “Kalau disini terdapat juga beberapa ekor burung ho, aku pasti akan mengatakan, bahwa tempat ini adalah tempatnya dewa Lam kek Sian ong,” katanya seraya tertawa.

Karena letih, mereka segera merebahkan diri diatas lapangan rumput dan pulas nyenyak untuk beherapa jam lamanya. Waktu tersadar, matahari masih belum menyelam. “Sekarang mari kita menyelidiki pulau ini untuk mendapat tahu apa ada manusia atau binatang buas,” kata sang suami.

“Aku rasa tak mungkin ada binatang buas,” kata So So.
“Lihat saja menjangan-menjangan itu yang hidup damai dan tenteram.”

So So adalah seorang wanita yang sangat memperhatikan dandanannya. Biarpun menghadapi bahaya diatas gunung es, ia tetap berpakaian rapi.

Sekarang sudah berada diatas bumi, begitu tersadar, ia membereskan pakaian dan rambutnya dan kemudian membantu sang suami menyisir rambut. Sesudah itu, harulah mereka berangkat untuk menyelidiki pulau tersebut.

Untuk menghadapi segala kemungkinan, So So mencekal pedangnya yang sudah bengkok, sedang Coei San sendiri lalu mematahkan cabang pohon untuk dijadikan semacam tongkat. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, mereka berlari-lari dari selatan keutara yang panjangnya lebib dari duapuluh lie. Apa yang dilihat mereka di sepanjang jalan, selain pohon pohon yang tinggi kate, adalah binatang kecil, burung dan pohon-pohon bunga yang kebanyakan tidak dikenal mereka.

Belakangan, sesudah melewati hutan besar, dari
jauh mereka lihat sebuah gunung batu dan dikaki gunung itu terdapat sebuah guha. “Ah! Sungguh bagus tempat ini !” teriak sang isteri sambi1 lari-lari.

“Hati hati!” teriak Coei San.

Belum rapat mulutnya, dari dalam guha mendadak berkelebat satu bayangan dan seekor biruang putih yang sangat besar menerjang keluar. Biruang itu yang panjang bulunya seolah-olah seekor kerbau.

Dengan kaget So So melompat mundur. Biruang itu berdiri diatas kedua kakinya seperti manusia dan menghantam kepala So So dengan satu telapak kakinya. Nyonya itu menyambut dengan sabetan pedang, tapi apa mau, karena pedang bengkok itu sudah jadi lebih pendek, sabetannya meleset. Baru saja ia mau membabat lagi, binatang itu sudah menubruk dan menghantam senjatanya yang lantas saja jatuh diatas tanah.

“So So, mundur!” teriak Coei San seraya melompat dan menotok lutut biruang itu dengan tongkatnya. Cabang kayu itu patah, tapi tulang kaki binatang itu hancur dan dia mengeluarkan jeritan hebat dan menyeramkan.

Buru-buru So So menjemput pedangnya untuk memberi bantuan.

“Lekas lontarkan pedarg itu keudara!” teriak Coei San. Sang isteri terkejut, tapi ia nenurut apa yang diperintahkan suaminya.

Dengan menotol tanah dengan kakinya, Coei San melompat tinggi dengan menggunakan ilmu Tee in ciong dan sekali menjambret, ia menangkap pedang itu. Dengan tangan kiri mencekal tongkat pendek, ia sekarang seperti juga ber senjatakan Gin kauw dan Poan kian pit. Ia mengangkat tangan kanannya dan menyabet dari atas kebawah dengan gerakan huruf “Hong” (tajam). Pukulan tersebut diberikutkan dengan Lweekang yang sangat dahsyat dan tongkat pendek itu amblas tujuh delapan dim dikepala binatang itu yang sesudah ngamuk dan menggeram hebat, lantas saja rubuh tanpa berkutik lagi.

So So menepuk-nepuk tangan sambil tertawa. “Indah sekali ilmu ringan badan itu!” teriaknya. “Hebat sungguh totokan itu!”

Tapi, baru babis ia berteriak begitu tiba-tiha Coei San berseru : “Awas! Lari!”

Mendengar teriakan suaminya dengan cepat ia melompat kedepan. Begitu menengok kebelakang, ia terkesiap karena dibelakangnya sudah berbaris tujuh ekor biruang putih yang memperlihatkan sikap menakutkan.

Coei San mengerti. bahwa mereka berdua tak akan dapat melawan tujuh binatang buas itu. “Lari !” bisiknya dan mereka lantas saja kabur dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.

Meskipun badannya besar, binatang-binatang itu bisa lari cepat sekali, tapi kecepatan mereka masih kalah dengan ilmu ringan badan Coei San dan So So, sehingga sesudah mengubar beberapa lama, mereka ketinggalan agak jauh. Tapi mereka terus mengejar dari belakang.

“Jalan satu-satunya lari ke air,” kata Coei San “Apa biruang tidak bisa berenang?” tanyanya.

“Entahlah,” jawab So So sambil menggelengkan kepala.

“Harap saja mereka tidak bisa berenang.”

Sambil bicara mereka lari terus secepat-cepat nya.

“Celaka!” mendadak So So mengeluh.

“Mengapa ?” tanya Coei San.

“Apa kau tahu apa makanan biruang putih?” sang isteri balas menanya. “Menurut katanya seorang jurumudi. biruang makan madu tawon dan ikan.”

“Makan ikan” menegas Coei San sambil menghentikan tindakannya. “Kalau benar binatang itu makan ikan, mereka pasti bisa berenang.”

Sebelum mereka dapat berdamai terlebih jauh,

sekonyong konyong So So berteriak: “Ih! Mengapa mereka berada didepan kita ?”

Dengan hati berdebar-debar mereka mengawasi enam ekor biruang yang mendatangi dari sebelah depan.

“Bukan. Mereka bukan biruang yang tadi,” kata Coei San. “Kita sekarang dicegat dari depan dan dari belakang,” Sehabis berkata begitu, buru burn ia melompat keatas satu pohon siong yang sangat besar .

Sesudah berada diatas, ia menggaetkan kedua kakinya dicabang pohon, sehingga badannya menggelantung kebawah dan kedua tangannya menyambut-tangan sang isteri yang turut melompat keatas. “Aku harap saja mereka tak dapat memanjat pohon,” kata So So sesudah mereka duduk disatu cabang.

“Biarpun mereka, bisa manjat kita tak usah kuatir,” kata sang suami. “Maju satu, kita binasakan satu. Asal saja tidak dikurung, kita masih dapat melayani.”

Sesaat kemudian, enam ekor biruang yang datang dari depan dan tujuh ekor dari belakang sudah berkumpul dibawah pohon. Mereka mendongak dan menggeram hebat sambil memperlihat gigi mereka.

Coei San mematahkan sebatang cabang kecil yang lain digunakan untuk menimpuk mata seekor biruang.

Timpukan itu mengenakan tepat pada sasarannya dan sambil menggeram serta me lompat-lompat bahna sakitnya, binatang itu menyeruduk pangkal pohon dengan kepalanya. Melihat hasil pertama, Coei San segera mengulangi perbuatannya. Tapi kawanan binatang itu ternyata pintar sekali dan mereka semua menundukkan kepala dan mulai mengeragoti pohon. Oleh karena begitu, Coei San hanya dapat menimpuk punggung mereka yang kulitnya tebal, sehingga serangan itu tidak dirasakan sama sekali. Tak lama kemudian, pangkal pohon itu sudah somplak sebagian dan jika di dorong beramai-ramai, sudah pasti akan roboh.

Coei San menghela napas. “Aku tak nyana, sesudah berhasil menyelamatkan diri dari lautan, kita bakal jadi makanan kawanan biruang,” katanya.

Dengan jantung memukul keras, So So mengawasi satu pohon siong yang terpisah kira-kira tujuh delapan tombak. “Ngoko,” bisiknya. “Dengan ilmu mengentengkan badan, sekali lompat kau bisa turun kebawah dan dengan sekali lompat lagi, kau bisa naik kepohon itu.”

Sang suamipun sudah lihat kemungkinan itu. Memang, kalau seorang diri, ia dapat berbuat begitu. Tapi dengan membawa isterinya, mereka tentu akan tercegat ditengah jalan. Maka itu sambil menggeleagkan kepala, ia berkata: “Tidak dapat. Tak dapat aku berbuat begitu.”

“Ngoko, tak usah kau pikiri aku,” kata pula sang istiri. “Tidak perlu kita mati berdua-dua.”

“Kita sudah bersumpah, bahwa Langit diatas bumi dibawah, kita tak akan berpisahan untuk selama-lamanya.” jawab sang suami. “Mana dapat aku meninggalkan kau dengan begitu saja ?”

Bukan main rasa terharunya nyonya itu, sehingga air matanya lantas saja berlinang-linang. Ia ingin coba membujuk lagi, tapi mu!utnya seearti terkancing.

Sesaat itu, tiba-tiba pohon bergoyang-goyang, karena didesak dengan berbareng oleh kawanan biruang itu.

Hati So So mencelos, sehingga tanpa merasa, ia mengeluarkan teriakan perlanan. Ia tahu. beberapa detik lagi, pohon itu pasti akan rubuh.

Pada saat yarg sangat berbahaya, disebelah kejauhan sekonyong konyong terdengar suara yang sangat tajam. Suara itu tidak begitu keras, tapi aneh sekali, seperti bunyi burung malam, seperti bunyi khim, seperti angin meniup daun bambu dan seperti bunyi genta.

Begitu mendengar suara itu, ketigabelas biruang berhenti serentak dalam usahanya untuk merubuhkan pohon dan berdiri diam sambil memasang kuping. Dari sikap mereka, seolah olah suara itu adalah suara yarg paling menakuti didalam dunia. Apa yang paling mengherankan lagi, sesaat kemudian, seekor demi seekor menundukkan kepala dan mendekam diatas tanah tanpa bergerak.

Walaupun tak tahu apa artinya itu, Coei San dan So So girang tak kepalang dan harapan besar muncul dalam hati mereka. “Tolong! Tolong!” jerit So So. “Tolong….! Biruang mau mencelakakan manusia.”

Jeritan itu disambut dengan suara yang tadi, yang mendatangi dengan kecepatan luar biasa, lebih cepat dari terbangnya burung.

Sesaat kemudian, didepan mereka berkelebat satu bayangan merah, seolah-olah sebuah bola api yang menyambar dari satu pohon disebelah depan dan kemudian hinggap didahan pohon dimana Coei San dan So So sedang menyembunyikan diri.

Sekarang baru mereka bisa melihat nyata. Yang hinggap didahan itu adalah seekor kera yang bulu nya merah, tingginya kira-kira tiga kaki, mukanya putih seperti batu giok, sedang kedua matanya yang berkilat-kilat mengeluarkan sinar keemas emasan.

Bahwa binatang yang datang kesitu adalah seekor
kera yang begitu menarik, tidak diduga-duga mereka. Waktu berteriak untuk meminta pertolongan, So So menaksir, bahwa binatang yang mengeluarkan suara begitu adalah binatang buas yang sangat menakuti.

Tapi karena sedang menghadapi bahaya besar, mau tidak mau, ia berteriak juga. Maka itu, dengan kegirangan yang meluap-luap, ia segera mengangsurkan tangannya kearah kera itu.

Biarpun belum pernah melihat manusia kera itu ternyata pintar luar biasa. Ia rupanya mengerti maksud persahabatan itu dan segera mengulur satu tangannya dan menyentuh tangan si nyonya. Sambil menuding kawanan biruang itu, So So ber kata: “Mereka mau mencelakakan kami. Apa kau dapat menolong?”

Melihat gerakan So So, seraya memekik kera itu melompat turun dan menghampiri salah seekor biruang. Dengan sekali menggerakkaa tangan, jari-jarinya amblas kedalam kepala biruang itu dan dilain saat, tangannya sudah memegang otak biruang. Ia melompat naik pula dan dengan sikap hormat, mengangsurkan otak biruang itu kepada So So.

Coei San dan isterinya kaget bakan main. tenaga binatang yang sehebat itu sungguh-sungguh belum pernah didengar mereka. So So sebenarnya tidak sanggup menelan otak mentah itu. Tapi sebab tidak mau membangkitkan kegusaran tuan penolong itu, dengan apa boleh buat, ia menyambutinya. Ia menggigit sebagian otak itu, dan menyerahkan sisanya kepada Coei San.

Diluar dugaan, otak biruang itu lezat luar biasa, lebih enak dari makanan apapun jua yang pernah dimakannya. Sambil bersenyum, ia lalu mengambilnva kembali dari tangan suaminya dan menghabis kan semuanya.

“Terima kasih, terima kasih,” katanya sambil memanggut-manggutkan kepala.

Dilain saat kera itu sudah melompat turun lagi dan mengambil pula dua otak biruang yang lalu dimakannya. Sungguh mengherankan, kawanan biruang itu bukan saja tidak berani melawan, tapi juga tidak berani lari Mereka terus mendekam diatas tanah, seperti orang yang sedang menerima hukuman.

So So tertawa nyaring. “mampuskan semua biruang itu,” katanya. “Kalau kau tidak keburu datang, kami berdua tentu sudah masuk kedalam perut mereka.” Sambil memekik kera itu melompat turun lagi dan dalam sekejap ia sudah membinasakan semua biruang itu.

Coei San dan So so lantas saja turut melompat turun. Melihat tiga belas bangkai binatang itu, Coei San merasa tidak tega dan ia berkata dengan suara menyesal: “Sebenarnya tak usah membinasakan mereka semua. Cukup jika mereka diusir pergi.”

Mendengar perkataan suaminya, So So yang sedang mencekal lengan si kera agak terkejut. “Ngoko tentu mencela aku,” katanya didalam hati. “Ya… aku harus berusaha untuk mengubah adatku yang kejam.” Tapi biarpun hatinya menyesal, ia tertawa seraya berkata: “Hm. . . sekarang Ngoko merasa kasihan terhadap biatang-binatang buas itu. Kalau saudara kera tidak datang menolong, apakah biruang-biruang itu akan menaruh belas kasihan terhadap kita?”

“Kalau kita sama kejamnya seperti binatang, bukankah kita tiada beda seperti binatang?” kata sang suami.

“Binatangpun ada juga yang baik,” kata So So sambil tertawa. “Lihatlah saudara kera ini. Kepandaiannya lebih tirggi dan rupanya lebih tampan daripada kau.”

Coei San tertawa terbahak-bahak. “Ai ya?” seru nya. “Kau membuat aku cemburu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: