To Liong To – 19

“Tcntu saja,” jawab pendeta yang bermuka kuning. “Apabila loolap tidak mengenal poaenghiong Yo Po Thian, cara bagaimana loolap menjadi manusia bermata satu? Dan perlu apa kami bertiga bersamadhi tiga puluh tahun lebih?” (Bersamadhi dalam artiannya mempertinggi ilmu silat). Kata-kata itu yang diucapkan secara tawar mengandung nada sakit hati dan kebencian yang sangat berat.

“Celaka,” Boo Kie mengeluh didalam hati. “Didengar dari perkataannya, sebelah mata pendeta itu telah dibutakan oleh Yo Kauwcoe dan mereka menutup diri untuk mencari ilmu yang lebih tinggi guna membalas sakit hati. Dan kecewa putus harapan waktu mendengar Yo Kauwcoe sudah meninggal dunia.”

Tiba-tiba pendeta muka kuning itu mengeluarkan siulan nyaring dan berkata dengan suara keras, “Sesudah Yo Po Thian meninggal dunia, jalan satu-satunya hanyalah menumplek sakit hati kami diatas pundak Kauwcoe yang sekarang, Thio Kauwcoe, hoat-mia (nama sebagai orang beribadat) loolap Touw-ok, soetee ku yang putih mukanya bernama Touw ciat, sedang soetee yang bermuka hitam adalah Touw lan. Kong kian, Kong boen, Kong tie dan Kong seng adalah keponakan murid kami. Kong kian dan Kongtie binasa dalam tangan Mokauw. Tipu busuk apa yang digunakan Mokauw, kami pun tak ingin tahu. Kunjungan Kauwcoe mengunjuk, bahwa Kauwcoe tidak merasa gentar terhadap kami. Maka itu, hutang-piutang dahulu baiklah kita selesaikan sekarang dengan mengadu ilmu. (Touw ok = Menyeberangi penderitaan. Touw-ciat = Menyeberangi kecelakaan. Touw lan = Menyeberangi Kesengsaraan ).

“Kedatanganku hanyalah untuk menolong Gie hoe Kim mo Say ong Cia Tayhiap,” kata Boe Kie. “Boanpwee sendiri tak punya ganjelan dengan Siauw lim pay dan dalam soalnya Giehoe terdapat latar belakang yang berbelit-belit. Meninggalnya Kong seng Seng ceng sedikitpun tiada sangkut-pautnya dengan agama kami. Sam wie tak boleh hanya mendengar keterangan dari satu pihak dan Sam wie sebaiknya menyelidiki persoalan itu sampai seterang-terangnya.

“Coba kau bilang siapa yang binasakan Kong-seng?” tanya Touw ciat yang bermuka putih.

Alis Boe Kie berkerut. “Menurut pengetahuan boanpwee, Kong Seng ceng telah dibinasakan oleh boesoe dari Jie lam ong!” jawabnya.

“Siapa yang memimpin boesoe Jie lam ong?” tanya pula Touw ciat.

“Tio beng, putera Jie lam ong.”

“Goan tin telah memberitahukan aku bahwa perempuan itu telah kerja sama dengan agamamu. Dia mengkhianati kaizarnya dan memberontak terhadap ayahnya akan kemudian masuk kedalam Mo kauw. Apa benar begitu?”

Desakan Touw ciat hebat sekali. Boe Kie yang tak biasa berjusta, terpaksa menyahut, “Benar. Dia- – – dia telah meninggalkan tempat gelap dan pergi ke tempat terang.”

Touw ciat mengeluarkan suara di hidung. “Yang membunuh Kong kian, Kim mo Say ong dari Mo kauw, yang membunuh Kong ceng Tio beng dari agamamu!”‘ katanya dengan suara kaku. “Tio beng adalah orang yang sudah memukul pecah Siauw lim sie dan menangkap murid-murid partai kami. Yang paling tak bisa diampuni ialah dia sudah menulis perkataan2 menghina dipatung Couwsoe Tat mo Loocouw, Semua sakit hati itu ditambah pula dengan sebuah biji mata dari soehengku, Thio Kauwcoe kalau piutang tak diperhitungkan dengan kau, dengan siapa lagi kami bisa memperhitungkannya?”

Boe Kie menghela napas. Ia merasa perkataan Touw ciat ada benarnya juga. Kalau ia sebagai kauwcoe dari Beng kauw tak mau bertanggung jawab atas semua itu, siapa lagi yang bisa bertanggung jawab?”

Maka itu, ia segera mengerahkan Lweekang ke ujung kaki sehingga bergoyang-goyang ranting siong, lantas saja berkata, “Jika Sam wie Loosiansoe berpendapat begitu, boanpwee tak bisa berkelit lagi,” katanya dengan suara nyaring “Biarlah boanpwee memikul kedosaan itu. Tapi dalam kebinasaan Kong kian Seng ceng terdapat hal-hal yang mendukakan. Biar bagaimana pun juga, dalam peristiwa itu boanpwee memohon pengampunan Sam wie Loosiansoe.”

“Apa yang diandalkan olehmu, sehingga kau berani minta pengampunan untuk Cia Soen?” tanya Touw ciat. “Apa kau rasa kami bertiga tidak mampu mengambil jiwamu?”

Boe Kie yakin, bahwa kali ini ia bertempur, ia mesti mengadu jiwa. “Kalau, satu melawan tiga, boanpwee tak akan bisa menandingi Sam wie,” katanya. “Loosiansoe yang mana yang lebih dulu mau memberi pelajaran kepada boanpwee?”

“SATU lawan satu belum tentu kita menang,” kata Touw ciat. “Dalam sakit hati yang hebat ini, kami tidak bisa mempertahankan peraturan Kang ouw. Kepala iblis terimalah kebinasaanmu! Omie tohoed!”

“Sang Buddha berbelas kasihan!” menyambung Touw ok dan Touw lan.

Hampir berbareng tiga tambang menyambar kearah Boe Kie. Sambil mengegos tali, Boe Kie melompat turun. Sebelum kakinya hinggap di tanah ia memutar badan dan menubruk Touw-?

Touw lan mengibaskan tangan kiri dan Boe Kie merasa semacam tenaga dalam yang hebat menyambar ke punggungnya. Ia berkelebat dan memunahkan pukulan itu dengan Kian koen Tay-lo ie. Pada saat itu, dua tambang dari Touw ok dan Touw lan menyapu dengan datang berbareng.

Baru saja Boe Kie mengegos, Touw ciat sudah meninju dengan pukulan yang tak ada anginnya. Boe Kie menangkis dan membalas menyerang. Demikianlah, dengan berdiri di tengah-tengah tiga pohon siong, Kauwcoe dari Beng kauw itu melakukan pertempuran mati hidup melawan tiga tetua Siauw lim pay.

Sesudah lewat sekian jurus tiba-tiba Boe Kie memukul dengan telapak tangannya sambil menggetarkan tubuh, sehingga ratusan butir air yang menempel pada badannya menyambar Touw ok. Pendeta itu memiringkan kepalanya, tapi tak urung mukanya disambar juga oleh beberapa puluh butir air sehingga kulitnya dirasakan pedas perih. “Kurang ajar!” bentaknya seraya mengedut tambang yang lantas saja menghantam kepala Boe Kie. Bagaikan kilat, Boe Kie melompat mundur akan kemudian menyerang Touw ciat dengan tenaga dalam yang tidak kurang hebatnya.

Makin lama Boe Kie makin bingung. Semenjak memiliki ilmu silat tinggi, belum pernah ia bertemu dengan lawan yang sedemikian berat. Ketiga pendeta itu bukan saja lihay pukulan-pukulannya, tapi juga mempunyai Lwee-kang yang sangat dahyat. Semula ia masih bisa menggunakan tujuh bagian kepandaiannya untuk membela diri dan tiga bagian untuk menyerang. Tapi sesudah lewat seratus jurus, hawa tulennya mulai merosot dan hanya mampu membela diri.

Menurut pengalamannya, yang berada dalam tubuhnya bukan saja tidak bisa habis, bahkan semakin digunakan jadi makin kuat. Tapi dalam menghadapi ketiga pendeta itu setiap gerakan meminta Lweekang yang sedemikian kuat dengan gerakan-gerakan demikian, perlahan-lahan ia merasa datangnya tenaga susulan tidak begitu lancar lagi. Inilah kejadian yang belum pernah dialaminya.

Sesudah bertanding lagi beberapa puluh jurus, ia berkata didalam hati. “Kalau terus begini, jiwaku akan melayang. Sebegitu lama gunung masih berdiri, kayu bakar tak akan habis. Kini aku mesti kabur. Biarlah dilain hari aku datang lagi bersama Gwa kong, Yo Coe soe, Hian Yoesoe dan Wie Hok ong. Dengan berlima, ketiga pendeta itu pasti akan bisa dikalahkan dan aku akan menolong Giehoe.” Memikir begitu ia lantas saja mengirim serangan-serangan hebat dan coba melompat keluar dari gelanggang. Diluar dugaan, tiga tambang itu membuat sebuah lingkaran yang teguh bagaikan tembok tembaga. Berulang ia menerjang, tapi selalu terpukul mundur. Sebaliknya dari terlolos, pinggangnya kena disapu tambang Touw lan sehingga terluka.

Boe Kie jadi bingung. Ia tak tahu, bahwa dalam melatih ilmu selalu tiga puluh tahun lebih dengan bersemedhi dalam kamar tertutup, ketiga pendeta itu telah mencapai sebuah “Perpaduan pikiran.” Dengan demikian apa yang dipikir oleh seorang pendeta lantas saja bisa di rasakan oleh kedua pendeta lainnya. Adanya perpaduan pikiran itu memungkinkan sebuah kerja sama yang sangat sempurna.

Boe Kie mulai putus harapan. “Dilihat begini, biarpun mendapat bantuan Gwakong dan yang lain-lainnya, belum tentu aku bisa mengalahkan mereka,” pikirnya. “Apakah Giehoe tak akan bisa ditolong? Apa hari ini aku harus mati di tempat ini?”

Karena bingung, pemusatan semangatnya lantas saja terpecah. Dilain detik, pundaknya tertotok lima jari tangan Touw ciat dan rasa sakit masuk di sumsum. Tiba-tiba ia ingat sesuatu, “Kalau mesti mati, aku rela mati. Tapi sebelum mati, aku harus menyampaikan rasa penasaran Gie-hoe. Giehoe seorang yang beradat tinggi. Sesudah dapat ditangkap, ia menjadi lebih-lebih sungkannya untuk mengeluarkan sepatah kata membela diri.”
Memikir begitu, ia lantas saja berkata dengan suara nyaring. “Sam wie Loosiansoe! Boanpwee sudah terkurung dan boan pwee akan binasa. Seorang lelaki sejati tak takut. Tapi sebelum berpulang ke alam baka boan pwee ingin lebih dulu memberitahukan…” Dua tambang menyambar dan sesudah memunahkan dua senjata itu, ia berkata pula, “Nama Goan-tin yang sebenarnya, yaitu nama pada sebelum ia menjadi murid Siauw lim sie, ialah Seng-koen, bergelar Hoe goan Pek lek chioe. Dia adalah guru dari Gihoe.”

Mendengar bicaranya Boe Kie, ketiga pendeta itu kaget bukan main. Mereka kaget sebab menurut kebiasaan, seorang yang sedang bertempur dengan menggerahkan Lweekang, tak boleh bicara. Sekali bicara tenaga dalamnya buyar. Bahwa Boe Kie bicara selagi bertempur merupakan bukti bahwa pemuda itu memiliki Lweekang lain dari yang lain. Sebab dikelabui Goan tin, ketiga tetua itu beranggapan bahwa Boe Kie manusia jahat. Makin tinggi kepandaiannya, makin besar bahayanya untuk masyarakat. Maka itu mereka berpendapat, bahwa dengan membinasakan pemuda itu, mereka berbuat kebaikan untuk umat manusia. Sebab adanya anggapan itu, mereka tak menghiraukan dan terus menyerang sehebat-hebatnya.

Boe Kie berkata pula, “Sam wie Loosiansoe harus tahu, bahwa Seng koen dan Yo Kauwcoe dari Beng kauw adalah saudara seperguruan. Mereka berdua sama-sama jatuh cinta kepada seorang Sumoay (saudari seperguruan) yang belakangan menjadi isteri Yo Kauwcoe. Seng koen sakit hati dan ia lantas memusuhi Beng kauw.” Dengan suara lantang Boe Kie terus menceritakan segala rahasia yang meliputi sepak terjangnya Seng koen. Ia menuturkan cara bagaimana Yo Hoejin mengadakan pertemuan rahasia dengan Seng koen, sehingga lantaran gusar, Yo po Thian meninggal dunia, cara bagaimana dengan berlagak mabuk, Seng koen coba merusak kehormatan isterinya Cia Soen dan lalu membasmi keluarga Kim mo Say ong, cara Seng koen mengatur tipu sehingga Cia Soen jadi kalap dan membunuh banyak orang dalam Rimba persilatan, cara bagaimana ia mengangkat Kong kian menjadi guru dan belakangan memancing guru itu supaya menerima pukulan Cia SOEN, tapi dia sendiri tak muncul sehingga Kong-kian meninggal dunia dengan penuh rasa penasaran…

Makin mendengar ceritera itu, Touw ok bertiga jadi makin kaget. Walaupun hebat ceritera itu kedengarannya sangat beralasan dan sesuai dengan beberapa kenyataan. Gerakan tambang Touw ok lantas saja berubah perlahan.

“Boanpwee tak tahu sebab musabab permusuhan antara Yo Kauwcoe dan Touw ok Taysu,” kata pula Boe Kie. Tapi Boanpwee merasa pasti, bahwa permusuhan itupun sudah terjadi karena siasat Seng Koen. Cobalah Touw ok Tay-su mengingat-ingat lagi kejadian yang lampau itu.”

Touw ok menundukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, ia berkata; “Mungkin, memang mungkin kerjaan Seng-koen. Dalam permusuhan antara Yo Kauwcoe dan loolap, Seng koen telah mengeluarkan banyak tenaga untukku. Belakangan ini ia minta berguru kepada loo-lap, tapi sebab belum pernah menerima murid, maka loolap lantas memujikan dia kepada Soe tit. Memang mungkin sekali kejadian itu sudah terjadi karena siasat Seng koen.”

“Bukan saja begitu,” menyambung Boe Kie, “dia sekarang berusaha untuk merebut kedudukan hong thio dari Siauw lim sie. Diam-diam ia menerima murid sembarangan dan bersekutu dengan orang kangauw yang tidak baik. Dia berusaha untuk mencelakai Kong boen Seng ceng…!”

Perkataan Boe Kie itu terputus sebab dengan mendadak ia mendengar suara keras dan sebuah batu raksasa yang menggelinding ke arah tiga pohon siong itu. “Siapa?” bentak Touw ok sambil menghantam dengan tambangnya sehingga batu itu somplak, sekonyong-konyong dari belakang batu berkelebat bayangan manusia yang lantas menubruk Boe Kie dan sebilah golok pendek menyambar ke tenggorokan pemuda itu.
Itulah serangan yang tak diduga-duga!

Pada detik itu seantero tenaga di kedua tangan Boe Kie sedang menyambut tambang Touw ciat dan Touw lan. Ia tak pernah mimpi bahwa ia bakal dibokong.

Waktu ia mendusin adanya serangan itu, ujung golok sudah hampir menyentuh kulit tenggorokan. Tapi detik penghabisan, mati-matian ia mengegos. Golok lewat dan merobek baju di bagian dadanya. Terlambat sedikit saja, jiwanya pasti melayang. Sesudah serangannya gagal, dengan ditedeng batu besar yang tengah menggelinding, pembokong itu menggulingkan diri sampai diluar kalangan tambang.

“Sungguh berbahaya!” kata Boe Kie. “Binatang Seng Koen ! Kalau kau punya nyali datanglah kesini untuk dipadu denganku! Huh huh!- – – Kau coba membunuh aku untuk menutup mulutku.” Biarpun tak melihat tegas muka penyerang itu, dengan memperhatikan gerakannya dan Lweekang, Boe Kie tahu, bahwa penyerang itu bukan lain daripada Seng Koen.

Semeatara itu, dengan tambang mereka ketiga tetua Siau lim itu sudah berhasil mengalihkan sambaran batu raksasa itu ke jurusan lain.

“Apa benar Goan tin?” tanya Touw ok. “Benar dia,” jawab Touw lan.

“Ya,” kata pula Touw ok, “kalau dia tak berdosa, perlu apa…”

Perkataan itu mendadak terputus sebab tiba-tiba saja beberapa bayangan manusia berkelebat. Orang yang paling dulu membentak, “Pendeta Siauw lim adalah murid Sang Budha tapi mereka telah membunuh begitu banyak orang, apa mereka tak takut dosa? Kawan-kawan, seranglah!”

Delapan orang lantas saja menerjang. Boe Kie yang segera berduduk diantara
ketiga pendeta itu mendapat kenyaataan, bahwa tiga orang bersenjata pedang dan yang lain menggunakan macam-macam senjata. Mereka semua berkepandaian tinggi dan dilain detik, mereka sudah bertempur hebat dengan ketiga tetua Siauw lim. Sesudah memperhatikan sesaat, ia lihat, bahwa ketiga orang yang bersenjata pedang memiliki ilmu silat yang bersamaan dengan ilmu Cenghay Sam kiam yang sudah binasa dalam tangan pendeta Siauw lim. Ia lantas saja menarik kesimpulan, bahwa ketiga orang itu tetua dari Ceng hay pay. Mereka bertiga mengepung Touw ok. Tiga orang lain mengerubuti Touw ciat. Sisanya, dua orang, menyerang Touw lan. Meskipun hanya dikerubuti dua orang, sesudah bertempur kurang lebih dua puluh jurus, Touw lan mulai jatuh dibawah angin sebab dua orang itu berkepandaian tinggi dari lain-lain kawannya. Dalam tiga rombongan, pendeta yang berada di atas angin adalah Touw ok.

Sesudah bertempur belasan jurus lagi, Touw ok mendapat kenyataan, bahwa Touw-lan terdesak. Ia mengedut tambangnya yang lantas saja menyambar lawannya Touw lan. Mereka bertubuh jangkung, berjenggot hitam dan meskipun sudah berusia lanjut, gerakannya masih sangat gesit. Yang satu bersenjata poan-koan pit (senjata yang berbentuk pena Tiong-hoa), yang lain memegang pah hiat-koat (”pacul” untuk menotok jalan darah). Kedua senjata itu untuk menotok “hiat”. Touw ok dan Touw lan tahu, bahwa mereka bukan lawan enteng. Ketika itu, mereka masih berada dalam jarak beberapa tombak, tapi sambaran angin senjata mereka sudah dapat dirasakan. Kalau mereka bisa merangsek lebih dekat, serangan kedua senjata pendek itu akan lebih berbahaya.

Sementara itu, ketiga jago Ceng hay pay mulai menyerang lagi dengan hebatnya, sekarang Touw ciat melawan tiga orang, sedang Touw ok dan Touw lan melayani lima lawan. Untuk sementara waktu, keadaan berimbang dan kedua belah pihak dapat mempertahankan diri.

Boe Kie heran. “Ilmu silat kedelapan orang itu rata-rata bisa melayani Ceng ok Hok-ong,” pikirnya. “Mereka kelihatannya lebih unggul daripada Ho Thay Ciong dan hanya setingkat lebih rendah dari Biat coat Soethay. Tapi kecuali tiga anggauta Ceng hay pay, yang lain aku tak kenal. Dari sini bisa dilihat, bahwa dalam dunia yang lebar ini, bagaikan harimau yang mendekam di rumput-rumput tinggi, bersembunyi banyak orang gagah yang namanya tidak dikenal.”

Sesudah bertanding kira-kira seratus jurus, tambang ketiga pendeta itu menjadi lebih pendek. Dengan lebih pendeknya tambang itu, mereka bisa menghemat tenaga. Tapi dilain pihak kelincahan tambang dalam serangan juga agak berkurang. Sesudah lewat beberapa puluh jurus lagi, tambang-tambang itu jadi makin pendek.

Kedua kakek jenggot hitam menyerang sehehat-hebatnya dalam usaha untuk mendekati ketiga pendeta itu. Tapi sesudah menjadi pendek, garis pembelaan tambang lebih rapat dan padat. Ketiga tambang itu membuat sebuah lingkaran yang terisi dengan tenaga memukul yang sangat dahsyat. Kedua kakek berjenggot berulang-ulang menerjang, tapi mereka selalu terpukul mundur.

Sambil bertempur, ketiga pendeta itu mengeluh di dalam hati. Mereka bukan takut kena dikalahkan. Asal mereka menarik tambang-tambang itu sampai panjangnya delapan kaki, maka akan bisa membuat garis Kim kong Hok mo co an.

Dengan garis pembelaan itu, jangankan delapan orang sekalipun, enam belas atau tiga puluh orang, mereka masih sanggup menahan. Apa yang mereka takuti ialah dalam lingkaran mereka bersembunyi seorang lawan yang hebat. Lawan itu adalah Boe Kie. Jika pemuda itu turun tangan menggencet dari dalam, habislah jiwa mereka. Mereka lihat Boe Kie bersila. Mereka itu menduga pemuda itu sedang menunggu waktu yang baik untuk menyerang. Mungkin sekali Boe Kie mau menunggu, sampai kedua belah pihak payah dan kemudian, dengan sekali pukul ia bisa merobohkan semua orang.

Waktu itu ketiga pendeta tersebut sedang menggunakan seantero tenaga dalamnya. Mereka mau berteriak meminta bantuan, tapi mereka tidak bisa berbuat begitu. Kalau mereka membuka suara, andaikata tidak mati, mereka pasti terluka berat dan akan menjadi manusia bercacad. Sekarang mereka menyesal, bahwa mereka terlalu mengandalkan kepandaian sendiri. Kalau tadi mereka meminta pertolongan, semua musuh tentu sudah dapat dikalahkan.

Kenyataan ini juga sudah dilihat Boe Kie, kalau ia mau mengambil jiwa ketiga pendeta itu ia dapat berbuat begitu dengan mudah sekali. Tapi ia merasa bahwa seorang laki-laki sejati tidak boleh menarik keuntungan pada waktu pihak lawan berada dalam bahaya. Apapula mereka hanya menjadi korban dari tipu busuknya Goan tin dan mereka tidak pantas menemui kebinasaan. Disamping itu andaikata ia membunuh ketiga pendeta itu ia masih harus menghadapi delapan lawan yang berat, yang belum tentu dapat dikalahkan olehnya. Ia tahu, bahwa kekuatan kedua belah pihak kira-kira berimbang dan bagaimana kesudahannya masih meminta waktu.

Sekarang ia lihat bahwa sebuah batu menutup pintu penjara dibawah tanah dan di pinggir batu hanya terbuka sebuah lubang kecil untuk bernapas dan memasukkas makanan. Batu itu yang beratnya ribuan kati, tak akan bisa digerakkan oleh seorang dua orang. Tapi sebagaimana diketahui, waktn berada dijalanan rahasia di Kong beng teng, sesudah mempelajari Kian koen Tay lo ie Sin kang, Boe Kie pernah membuka pintu batu yang tebalnya setombak lebih. Kalau dibandingkan dengan pintu itu, batu tersebut agaknya tak terlalu berat. Tapi batu itu terletak diatas tanah gundul sehingga didorongnya banyak lebih sukar dari pada mendorong pintu. Tapi biar bagaimanapun juga, ia harus berdaya. Ia yakin, bahwa kalau salah satu pihak sudah memperoleh kemenangan atau dari kuil Siauw lim sie sudah datang bala bantuan ia takkan bisa menolong lagi ayah angkatnya.

Maka itu ia segera berlutut disamping batu dan mendorongnya dengan mempergunakan Kian koen Tay lo ie Sinkang. Begitu tenaganya dikerahkan dan dikirim, batu tersebut lantas bergerak dengan perlahan.

Tapi baru saja batu itu terdorong satu kaki, punggungnya sudah disambar dengan pukulan Touw lan. Bagaikan kilat ia menggunakan ilmu “memindahkan tenaga, meminjam tenaga.” “Buk” punggungnya terpukul, bajunya hancur dan keping-keping kain berterbangan diantara hujan dan angin. Tapi tenaga pukulan itu sudah dialihkan ke batu raksasa yang lantas saja terdorong kira-kira satu kaki. Walaupun tak mendapat luka didalam, pukulan tersebut mengakibatkan rasa sakit yang hebat. Sebab waktu terpukul, Boe Kie adalah menggunakan seantero tenaga dalamnya untuk mendorong batu.

Karena Touw lan memukul Boe Kie, pada garis pembelaan tambang terbuka sebuah lowongan. Pihak lawan sungkan menyia-nyiakan kesempatan itu dan seorang kakek jenggot hitam lantas saja menerjang kedalam garisan.

Senjata tambang dari ketiga pendeta itu sangat lihay jika digunakan pada jarak jauh dan kurang kelihayannya pada jarak yang dekat. Begitu menerobos ke dalam garis pembelaan si jenggot hitam menotok bawah tetek Touw lan dengan pah hiat koat. Touw lan menangkis dengan tangan kirinya. Selagi senjata ditangkis, seperti kilat jari tangan kiri si jenggot menotok Tao-tiong hiat. “Celaka!” seru Touw lan. Ia tak duga, totokan It cie sian si jenggot lebih lihay daripada pah-hiat-koatnya. Dalam keadaan berbahaya, mau tak mau ia melepaskan tambangnya dan balas menyerang dengan jari-jari kedua tangannya. Walaupun si jenggot kena ditahan namun seutas tambang sudah jatuh di tanah, kakek yang bersenjata poan koan pit lantas saja menerjang masuk. Ketiga pendeta Siauw lim sie sekarang menghadapi bencana. Antara tiga tambang, satu sudah jatuh dan Kim kong Hok mo coan sudah jadi pecah!

Mendadak bagaikan seekor ular yang mau hidup kembali, tambang hitam yang menggeletak di tanah itu mendongak ke atas dan menyambar muka si kakek yang bersenjata poan koan-pit. Tambangnya belum sampai anginnya sudah berkesiur seperti pisau. Si-kakek buru-buru menangkis dan begitu lekas tambang kebentrok dengan poan koan pit, kedua lengannya kesemutan.sehingga poan kit yang dipegang dengan tangan kirinya hampir-hampir terpental, sedang poan koan pit yang dicekal dengan tangan kanan terlepas dan jatuh di batu gunung.

Tambang itu kemudian menyambar ketiga jago Ceng hay pay yang lantas saja terdesak mundur setombak lebih. Demikianlah Kim-kong Hok mo coan pulih kembali–bukan saja pulih kembali, bahkan sekarang lebih kuat dari pada semula.

Ketiga pendeta Siauw lim sie kaget tercampur girang. Mereka mendapat kenyataan, bahwa lain ujung tali tambang itu dipegang oleh Thio Boe Kie. Pemuda itu belum pernah berlatih dalam ilmu Kim kong Hok mo coan. Dalam kerja sama, ia tentu tidak bisa menyamai Touw-lan. Akan tetapi dalam Lweekang, ia tak kalah. Tenaga dalam yang keluar dari tambang yang dicekalnya seolah-olah tenaga robohnya gunung atau terbaliknya lautan yang menyambar-nyambar ke delapan penjuru. Dengan bantuan tambang Touw ok dan Touw ciat, tujuh lawan yang berada diluar garis pembelaan terpaksa mundur jauh-jauh.

Sekarang, dengan hati mantep Touw lan melayani si jenggot hitam itu yang berada di dalam garis pertahanan. Baik dalam ilmu silat, maupun dalam Lweekang, ia lebih unggul setingkat. Dengan tetap berduduk didalam lubang pohon sepuluh jari tangannya menyerang dengan rupa-rupa pukulan yang dahsyat, sehingga dalam sekejap si jenggot sudah keteter. Melihat tujuh kawannya terpukul mundur, sambil membentak keras dia melompat keluar dari garis pembelaan tambang.

Sesudah si jenggot terpukul mundur, Boe-Kie segera mengembalikan tambang yang dipegangnya kepada Touw lan dan kemudian mendorong lagi batu raksasa penutup lubang. Sekarang lubang itu sudah cukup besar untuk tubuh manusia. “Gie hoe!” teriak Boe Kie. “Anak terlambat dalam memberi pertolongan. Apa Gie-hoe bisa keluar sendiri?”

“Aku tak mau keluar,” jawab Cia Soen. “Anak baik, kau pergilah!”

Boe Kie heran dan kaget. “Giehoe apa kau ditotok orang?” tanyanya. “Atau dirantai?”

Tanpa menunggu jawaban, ia melompat ke lubang “Pruk,” kakinya menginjak air. Ternyata lubang itu terisi air sampai sebatas pinggang.

Dengan hati tersayat pisau, pemuda itu merangkul ayah angkatnya. Ia meraba-raba tangan kaki orang itu tapi tidak dapatkan rantai atau lain alat pengikat. Kemudian ia meraba-raba beberapa”hiat,” tapi jalan-jalan darah itupun tak ada yang tertotok. Tanpa menanya lagi ia memeluk sang ayah erat-erat dan melompat ke atas. Cia Soen tidak mengucapkan sepatah kata. Sesudah berada diatas, mereka berduduk di atas sebuah batu besar.

“Sekarang mereka baru bertempur dan kesempatan iai, tidak boleh disia-siakan,” kata Boe Kie. “Giehoe, mari kita berangkatl” Seraya berkata begitu, ia menuntun tangan ayah angkatnya.

Tapi Cie Soen tidak bergerak. Sambil menepuk lutut ia berkata. “Nak, kedosaanku yang
paling besar ialah membunuh Kong Kian Taysoe. Apabila Giehoemu jatuh ditangan orang lain, dia tentu akan melawan mati-matian. Tapi di Siauw lim sie, aku rela binasa untuk membayar hutang kepada Kong kiansoe.”

“Karena kesalahan tangan Giehoe telah mencelakai Kong kian Tay soe,” kata Boe Kie dengan suara bingung. “Tapi itu semua adalah akibat dari tipunya Seng Koen. Sedang ini sakit hati Giehoe belum terbalas, mana bisa Giehoe mati dalam tangan Seng Koen?”

Cia Soen menghela napas. “Selama sebulan setiap hari kudengar Sam wie Koceng menghafal kitab suci,” katanya, “Saban pagi kudengar suara lonceng dan saban sore suara tambur dari kuil Siauw lim sie. Mengingat kejadian-kejadian dahulu, aku harus mengakui bahwa kedua tanganku berlepotan terlalu banyak darah dan sebenar-benarnya, biarpun mati seratus kali, aku masih belum bisa membayar hutang. Dalam dunia ini, siapa yang berdosa harus bertanggung jawab akan segala akibatnya. Kedosaanku banyak lebih berat daripada Seng koen. Anakku, jangan kau perdulikan aku lagi. Pergilah!”

Boe Kie jadi makin bingung. “Giehoe!” teriaknya dengan suara duka. “Jika kau tidak mau berangkat juga anak akan menggunakan kekerasan.” Sesudah berkata begitu, ia mencekal kedua tangan Cia Soen dan coba menggendongnya.

Sekonyong-konyong terdengar suara ribut-ribut dan beberapa orang berteriak-teriak: “Siapa berani jual lagak di Siauw lim sie?” Dilain saat belasan orang mendatangi dengan menggunakan ilmu ringan badan.

Boe Kie memegang kedua paha Cia Soen erat-erat, tapi baru saja ia bertindak, mendadak Tio hiatnya tertotok dan kedua tangannya lemas sehingga mau tak mau ia melepaskan orang tua itu. Tak kepalang dukanya Boe Kie hampir-hampir ia menangis, “Gieboe! … Mengapa… mengapa… kau begitu?” teriaknya dengan suara parau.

“Nak, hal ihwal sakit hatiku, kau sudah beritahukan kepada ketiga pendeta suci itu,” jawabnya. “Untuk segala kedosaanku, akulah yang harus menerima segala hukumannya. Kalau sekarang kau tidak berlalu, siapakah yang akan balas sakit hatiku?” Kata-kata yang terakhir diucapkan dengan suara keras, sehingga Boe Kie jadi kaget.

Sementara itu, belasan pendeta yang membekal rupa-rupa senjata sudah menerjang delapan orang yang sedang mengerubuti tiga tetua Siauw lim sie. Si jenggot yang bersenjata Poan koan pit tahu bahwa jika pertempuran dilangsungkan, pihaknya bakal celaka. Ia merasa sangat penasaran bahwa kemenangannya yang sudah berada di depan mata dirusak oleh seorang pemuda yang macamnya sepertinya orang kampung. Maka itu ia lantas saja berteriak, “Bolehkah kami mendapat tahu she dan nama besar dari pemuda yang berada di pohon siong? Homi dan Kathay dari Hokian ingin mengenal orang yang sudah campur urusan kami.”

Sebelum Bae Kie menjawab, Touw lan mengedut tambangnya dan berkata dengan suara nyaring. “Apakah Ho kian Siang sat-sin tak pernah mengenal Beng kauw Thio Kauwcu, ahli silat nomor satu dikolong langit?”

Homi mengeluarkan seruan kaget. Sambil mengibaskan kedua pitnya, ia melompat keluar dari gelanggang. diluar oleh tujuh kawannya. Belasan pendeta itu sebenarnya mau coba menghalangi, tapi kepandaian mereka kalah setingkat, sehingga dengan demikian kedelapan orang itu segera turun gunung tanpa rintangan.

Selain bertempur, Touw ok bertiga sudah dengar pembicaraan antara Cia Soen dan Boe Kie. Disamping itu, Boe Kie bukan saja tidak menyerang waktu mereka menghadapi bencana, tapi juga sudah dianya itu, memberi pertolongan. Andaikata pemuda itu berpeluk tangan, mereka tentu sudah binasa didalam tangannya Ho kian Siang-sat.
Sekarang sesudah musuh kabur, semua ketiga pendeta itu melepaskan tambang mereka, bangun berdiri dan memberi hormat dengan merangkap tangan. “Terima kasih banyak atas pertolongan Thio Kauwcoe ini,” kata mereka.

Boe Kie buru-buru memberi hormat.

“Itulah hanya kewajiban sebagai sesama manusia dan tiada harganya untuk disebut-sebut,” jawabnya.

“Hari ini sebenarnya loolap harus membiarkan Cia Soen berlalu bersama-sama Thio Kauw coe,” kata Touw ok. “Kalau tadi Thio Kauw-coe menolong dia, kami tak akan bisa mencegah. Tapi pada waktu menerima perintah Hong-thio untuk menjaga Cia Soen. Di hadapan tangan Buddha, loolap bertiga telah bersumpah bahwa sebegitu kami masih bernyawa, kami tak akan membiarkan larinya Cia Soen. Hal ini, mengenai nama baik partai kami, dan kami memohon Thio Kauwcoe suka memaafkan.”

Boe Kie tidak menyahut, ia hanya mengeluarkan suara di hidung.

Sesudah berdiam sejenak, Touw-ok berkata pula. “Sekarang loolap sudah tahu, siapa gara-gara rusaknya sebelah mata loolap. Mana kala Thio Kauwcoe main menolong Cia Soen, Thio Kauwcoe pula datang di lain waktu asalkan bisa mengalahkan kami, Thio Kauwcoe dapat membawa Say ong pergi. Thio Kauwcoe dapat membawa banyak kawan, boleh menyerang kami dengan berganti atau mengerubuti kami. Yang akan melawan hanya kami bertiga. Kami takkan minta bala bantuan. Pada sebelum Thio Kauwcoe tiba, kami akan berjanji untuk melindungi Cia Soen. Kami tak akan membiarkan dia dihina atau digangggu selembar rambutnya oleh Goan tin.”

Boe Kie milirik ayah angkatnya. Diantara gelapnya sang malam, Kim mo Say ong yang bertubuh tinggi besar dan rambut terurai, berdiri sambil menundukan kepala. Dihadapan ketiga pendeta suci itu, dia bersikap sebagai seorang yang berdosa yang rela menerima hukuman.

Boe Kie mengawasi ayah angkatnya dengan air mata berlinang linang. Ia insyaf, bahwa sekarang ia tidak bisa berbuat banyak. Bukan saja dengan seorang diri dia tidak dapat mengalahkan ketiga pendeta itu, tapi ayah angkatnya sendiri juga menolak untuk diajak lari. “Jalan satu-satunya ialah mengajak Gwa kong, Yo Cosoe, HoanYo soe dan yang lain lainnya datang kemari,” pikirnya. Tapi garis pembelaan itu teguh bagaikan tembok tembaga. Kalau tadi Touw lan tidak memukul punggungku dan aku memindahkan tenaganya ke batu raksasa, Kathay pasti tak akan bisa merangsek. Masih merupakan sebuah pertanyaan, apakah kau dan kawan-kawan akan bisa memecahkan garis pertahanan mereka.

“Hai… Tapi jalan lain tidak ada lagi,” memikir begitu ia lantas saja berkata: “Baiklah, beberapa hari lagi aku akan datang berkunjung pula untuk meminta pelajaran.”

Sesudah itu, dengan berduka, ia memeluk Cia Soen. “Giehoe, anak mau pergi …” bisik dengan suara parau.

Cia Soen manggut-manggutkan kepalanya. Dengan penuh kasih sayang, ia mengusap-usap kepala Boe Kie. “Kau tak usah datang lagi, aku sudah mengambil keputusan untuk tidak berlalu dari tempat ini,” katanya, “Nak, aku berdoa supaya kau selalu berada dalam keselamatan, supaya kau tidak menyia-nyiakan harapan ayah dan ibumu dan harapanku sendiri. Kau harus menelad ayahandamu. Janganlah turut ayah angkat mu.”

“Thia-thia dan Giehoe sama-sama eng hiong,” kata Boe Kie. “Hanyalah nasib ayah lebih bagus dari Giehoe.”

Di lain detik ia melompat keluar dari lingkaran pohon siong dan sesudah menyoja kepada ketiga pendeta itu, badannya berkelebat dan mendadak hilang dari pemandangan. Orang hanya mendengar teriakan nyaring ditempat kira-kira satu li jauhnya. Semua pendeta kaget tercampur kagum. Sudah lama mereka dengar kepandaian Kauwcoe dari Beng kauw tapi mereka tak pernah menduga bahwa Boe Kie memiliki ilmu ringan badan yang begitu lihai.

Sesudah orang tahu kedatangannya, Boe Kie memang sengaja memperlihatkan kepandaiannya. Di tengah hujan lebat, teriakannya yang saling susul seperti juga pekik naga yang terbang di tengah angkasa. Ia lari dengan ilmu ringan badan yang tertinggi makin lama makin cepat, sedang teriakan kian lama kian nyaring. Di kuil Siauw lim sie, seribu lebih pendeta tersadar dari tidurnya. Sesudah teriakannya itu tidak terdengar lagi, barulah mereka saling mengutarakan pendapat mengenai peristiwa itu. Kong boen dan Kong tie segera mendapat laporan tentang kedatangan Boe Kie dan mereka jadi berkuatir.
Sesudah lari beberapa li, dari belakang sebuah pohon lioe tiba-tiba Boe Kie mendengar bentakan “hai!” dan satu bayangan manusia melompat keluar. Orang itu bukan lain daripada Tio Beng. Boe Kie menghentikan tindakannya dan mencekal tangan si nona yang pakaiannya basah kuyup.

“Kau sudah bertempur dengan pendeta Siauw lim sie?” tanya Tio Beng.

“Benar.”

“Bagaimana Cia Tayhiap? Apa kau sudah bertemu dengannya?”

Sambil menuntun tangan si nona, di bawah hujin, Boe Kie segera menceriterakan segala pengalamannya yang tadi.

“Apa kau tidak tanya cara bagaimana ia tertangkap?” tanya pula Tio Beng.

“Aku hanya ingat hal soal menolong Giehoe. Tapi ada waktu untuk menanyakan itu?”

Si nona menghela napas dan tidak berkata apa-apa lagi.

“Mengapa kau jengkel?”

“Bagimu soal itu soal remeh, bagiku soal besar. Sudahlah! Nanti saja, sesudah tertolong,
baru kita tanyakan Cia Tayhiap. Hanya… kukuatir …”

“Kuatir apa? Apa kau kuatir aku tak bisa meenolong Giehoe ?”

“Beng kauw lebih kuat daripada Siauw lim-pay. Kalau mau, kita tentu bisa menolong Cia Tay hiap. Aku hanya kuatir Cia Tay hiap sudah mengambil keputusan untuk mati guna membayar hutang kepada Kong kian Taysoe.”

Boe Kie pun mempanyai dugaan itu. “Apa kau rasa akan terjadi kejadian itu?” tanyanya.

“Harap saja tidak” jawabnya.

Ketika tiba di depan gubuk suami siteri Touw, Tio Beng tertawa dan berkata, “Rahasiamu sudah terbuka. Kau tak bisa menjustai mereka lagi.” Seraya berkata begitu, ia menolak pintu bertindak masuk.

Mendadak mereka mengendus bau darah. Boe Kie kaget dan secepat kilat mendorong Tio beng keluar pintu. Hampir berbareng di tempat yang gelap itu tangan seorang coba mencengkeram dia. Cengkeraman itu dikirim seperti kilat sama sekali tak mengeluarkan suara dan tahu-tahu lima jari tangan sudah menyentuh kulit muka. Boe Kie tak keburu berkelit lagi.

Ia segera menendang dada si penyerang. Orang itu menyambut dengan menyikut Hoantiauw hiat dibetis Boe Kie. Ditempat gelap Boe Kie tak bisa lihat gerakan lawan tapi perasaan nya sangat tajam. Ia merasa bahwa jika menarik pulang tendangannya orang itu akan merengsek dan akan coba mengorek biji matanya dengan tangan kiri. Maka itu, dia meneruskan tendangannya dan tangan nya menyambut gerakan mencengkram. Dugaannya sangat jitu. Tangannya menangkap tangan lawan. Tapi pada detik itu, Hoan Tiauw hiatnya tersikut kaki kanannya lemas dan ia berlutut dengan sebuah kaki.

Sebenarnya, ia sudah mengerahkan tenaga untuk mematahkan tangan yg dicekalnya. Tapi sebab tangan itu kecil lemas dan ia berlutut dengan sebuah kaki.

Sebenarnya, ia sudah mengerahkan tenaga untuk mematahkan tangan yg dicekalnya. Tapi sebab tangan itu kecil lemas dan tak salah lagi tangan seorang wanita, ia tak tega. Ia hanya mengangkat dan melontarkan tubuh orang itu. Tiba2 ia merasa pundak kanannya merasa sakit tertusuk senjata tajam.

Sementara itu sudah dilontarkan Boe Kie penyerang tersebut kabur, tapi selagi ia melompat keluar dari gubuk itu, tangannya menghantam muka Tio Beng yg berdiri diluar pintu. Boe Kie tahu, si nona takkan kuat menangkis pukulan itu. Dengan menahan sakit, ia turut melompat dan mengayun tangannya. Kedua tangan kebentrok tanpa mengeluarkan suara. Tenaga Yang Kong (tenaga keras) dari Boe Kie telah dipunahkan seluruhnya oelh Im jioe (tenaga lembek) dari orang itu. Dia tidak berani menyerang lagi. Dengan meminjam tenaga pukulan Boe Kie, tubuhnya melesat beberapa tombak dan kemudian menghilang ditempat gelap.

“Siapa dia?” tanya Tio Beng dengan suara kaget.

Boe Kie tidak menjawab. Ia merogoh saku dan mengeluarkan bibit api, tapi tidak bisa menyalakannya karena basah. Ia tahu bahwa pundaknya tertancap pisau dan sebab kuatir pisau itu beracun, ia tidak berani lantas mencabutnya. “Lekas nyalakan lampu,” katanya kepada Tio Beng.

Si nona pergi ke dapur, mengambil bibit api dan menyulut sebuah lampu minyak lalu melihat pisau yang tertancap di pundak Boe Kie, ia kaget tak kepalang. Boe Kie sendiri merasa lega sebab mendapat kenyataan, bahwa pisau itu, atau lebih benar golok pendek tidak beracun. “Tak apa, hanya diluar,” katanya seraya mencabut pisau itu.

Tiba-tiba ia lihat Touw Pek Tong dan Ek Sam Nio duduk bersandar disatu sudut.

Tanpa memperdulikan darah yang mengucur dari lukanya, ia memburu kesitu. Ia terkejut sebab kakek dan nenek itu sudah jadi mayat.

“Waktu aku keluar, mereka masih segar bugar,” kata Tio Beng.

Boe Kie manggut2kan kepalanya. Sesudah si nona membalut lukanya, ia memeriksa golok itu ternyata adalah senjatanya suami istri Touw. Ia pun mendapat kenyataan, bahwa di tiang, di meja dan di lantai tertancap golol2 semacam itu. Rupanya musuh telah bertempur dengan suami istri Touw dan kedua suami istri itu menggunakan semua senjatanya, barulah ia turun tangan.

“Orang itu berkepandaian sangat tinggi!” kata Tio Beng.

Boe Kie mengangguk, mengingat pengalamannya yang tadi ia bergidik. Biarpun ia hanya bertempur satu dua gebrakan pertempuran itu hebat luar biasa dan dapat dikatakan hanya dari lubang jarum. Kalau tadai, didalam kegelapan ia tdiak menduga, bahwa musuh bakal coba mengorek matanya, maka sekarang ia dan Tio Beng tentu sudah menjadi mayat. Ia lalu memeriksa jenazah Touw Hok Tong Ek Sam Nio. Beberapa puluh tulang dada kakek dan nenek hancur remuk. Bahkan tulang dibagian punggungnya juga turut patah. Itulah akibat dari pukulan yang sangat lihai.

Boe Kie sudah sering bertempur melawan musuh2 tangguh dan pernah mengalami macam2 bahaya. Tapi sebuah pengalaman itu belum ada yang menyamai hebatnya bahaya seperti gebrakan digubuk suami istri Touw itu. Malam itu, dua kali ia bertempur. Yang pertama pertempuran dahsyat melawan tiga tokoh persilatan kelas utama. Tapi kalau dibandingkan dengan pertempuran kedua yang memakai waktu yang sangat singkat, pertempuran yang kedua lah yang lebih berbahaya.

“Siapa dia?” tanya Tio Beng.

Boe Kie tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala.

Tiba-tiba si nona mendusin. Ia menebak orang itu. Mulanya mengeluarkan sinar ketakutan dan sesudah tertegun sejenak ia menubruk memeluk Boe Kie, akan kemudian mengangis dengan badan gemetaran. Tanpa bicara kedua2nya mengerti apabila Tio Beng tak dengar teriakan Boe Kie dan apabila si nano tidak keluar menyambut kekasihnya tanpa memperdulikan hujan, maka mayat yang akan ditemukan Boe Kie itu akan berjumlah tiga.

Dengan lemah lembut Boe Kie membujuk si nona.

“Tujuannya untuk membunuh aku, tapi yang menjadi korban suami istri Touw,” kata Tio Beng.

“Ya” kata Boe Kie. “Selama beberapa hari ini tak boleh kau berpisahan dari aku.” Sesudah berdiam beberapa saat, ia berkata pula. “Belum cukup setahun, cara bagaimana ilmu silatnya bisa maju begitu pesat? Pada jaman ini, didalam dunia ini, kecuali aku mungkin tidak ada lain orang yg bisa melindungi jiwamu.”

Pada keesokan paginya, Boe Kie menggali lubang dan mengubur jenazah suami istri Touw. Bersama Tio Beng, ia mengunjuk hormat yang penghabisan kepada kakek dan nenek itu.

Baru saja mereka bertindak untuk meninggalkan tempat itu, di kuil Siauw Lim Sie sekonyong2 terdengar suara lonceng yang gencar bersambung sambung. Beberapa saat kemudian diudara sebelah timur muncul sinar api yang berasap hijau, disebelah selatan sinar berasap merah, dibarat putih dan diutara hitam. Beberap li dari empat sinar itu, kelihatan lain sinar yang berasap kuning sehingga denga demikian kelima sinar api itu mengurung kuil Siauw Lim Sie.

“Ngo heng kie datang kesini!” seru Boe Kie. “Mereka datang mungkin secara resmi dan terang2an. Lekas!” Cepat2 ia dan Tio Beng menukar pakaian, mencuci muka dan berlari2 kearah kuil dengan menggunakan ilmu ringan badan. Baru beberapa li mereka sudah bertemu dengan sepasukan anggota Beng Kauw yang mengenakan baju putih dan membawa bendera2 keceil warna kuning.

“Apa Gan Kie cie berada dalam pasukanku?” tanya Boe Kie dengan suara nyaring. (Kie cie = pemimpin bendera)

Mendengar teriakan itu, Gia Hoan Ciang Kie Soe Hauw Touw Kie menengok dan begitu lihat Boe Kie, ia bersorak kegirangan. Buru2 ia menghampiri dan berlulut sambil berkata “Houw Touw Kie Gan Hoan menghadap kepada Kauw coe!” Semua anggota pasukan turut berturut dan kemudian bersorak2.

Ternyata di bawah pimpinan Kong beng Cosoe Yo Siauw dan Kong beng Yo Soe Hoan Yauw, tokoh2 Beng Kauw dan lima pasukan Ngo Heng Kie menyateroni Siauw Lim Sie untuk menuntut dimerdekakannya Cia Soen.

Para pemimpin Beng Kauw mengerti, bahwa kedatangan mereka di Siauw Lim Sie dapat mengakibatkan pertempuran besar2an. Menurut pantas, tindakan yang penting itu harus diputuskan dan dipimpin oleh kauwcoe sendiri. Tapi karena waktu sudah mendesak, mereka tidak bisa menunggu Boe Kie lagi. Apabila mereka datang pada harian Toan Ngo, usaha menolong Cia Soen akan terlebih sukar karena pada waktu itu orang2 gagah dari berbagai golongan sudah berkumpul dikuil Siauw Lim Sie. Maka itulah sesudah berdamai masak2, mereka mengambil keputusan untuk menyateroni Siauw Lim Sie sepuluh hari sebelum Toan Ngo.

Pertemuan itu tentu saja sangat menggirangkan Boe Kie.

Sementar itu, beberapa anggota pasukan sudah meniup terompet pertanda tentang kedatangan Kauwcoe tak lama kemudian, Yo Siauw, Hoan Yauw, In Thian Ceng wie It Siauw, In Ya Ong, Cioe Tian, Pheng Eng Giok, Swee Poet Tek, Tiat Koan Toojien dan yang lain2 datang dengan beruntun. Mereka memberitahukan, bahwa oleh karena harus berada pada tempatnya masing2 disekitar kuil, maka empat bendera, yaitu Swie kim, Kie bok, Ang Soei dan Tat hwee, tidak bisa menghadap kepada kauwcoe. Melihat tokoh2 Beng Kauw kumpul semua tak kepalang girangnya Boe Kie.

Sesudah saling memberi hormat, Yo Siauw dan Hoa Yaow secara resmi memohon maaf untuk kelancangan mereka yang sudah bertindak tanpa persetujuan atau perintah Kauwcoe.

“Kalian jangan terlalu sungkan,” kata Boe Kie. “Kita semua bersatu padu dan bertekad untuk menolong Ciat Hoat Ong. Hal ini membuktikan gie khie, rasa setia kawan yang sangat kuat didalam agama kita, untuk itu aku merasa sangat berterima kasih, mana bisa jadi aku mempersalahkan kalian?” Sesudah berkata begitu, ia segera menceritakan segala pengalamannya, hasil penyelidikannya Siauw Lim Sie dan pertempuran melawan tiga tetua Siauw Lim, mendengar bahwa semua kejadian itu merupakan akibat dari tipu busuk nya Seng Koan, semua orang jadi gusar sekali dan Cioe Tian serta Tiat koan too jin yang berangasan lantas saja mencaci.

Sesudah menuturkan pengalamannya, Boe Kie berkata pula, “Hari ini dengan pasukan besar kita datang di Siauw Lim Sie, sedapat mungkin kita harus coba mempertahankan keakuran. Apabila kita terpaksa turun tangan, maka tujuan kita yang pertama ialah menolong Cia Hoat Ong dan tujuan kedua membekuk Seng Koen. Seboleh2 jangan sampai jatuh terlalu banyak korban!” Semua orang berjanji untuk memperlihatkan pesan pemimpin mereka.

Sambil berpaling kepada Tio Beng, Boe Kie berkata lagi, “Beng-moay, sebaiknya kau menyamar supaya tak usah menimbulkan lain urusan.”

Si nona tersenyum, “Gan Taoko,” katanya, “Biarlah aku menyamar sebagai anggota pasukanmu.”

Biarpun belum tahu hubungan antara Kauw coe dan nona itu, tapi mendengar istilah “Beng moay”, Gan Hoan mengerti, bahwa antara sang pemimpin dan si nona mempunyai hubungan yang sangat erat. Ia lantas saja mengingatkan dan memerintahkan salah seorang anggota pasukannya membuka jubah luarnya dan menyerahkannya kepada Tio Beng.

Dengan membawa jubah itu, si nona berlari2 kehutan untuk menukan pakaian dan memoles mukanya dengan tanah. Tak lama kemudia dia kembali sebagai seorang anggota Houw Touw kie yang kurus dan bermuka kehitam2an.

Dengan diiringi suara terompet para pemimpin Beng Kauw segera mendaki gunung kearah kuit.

Pemimpin Siauw Lim Sie sudah menerima surat resmi dari Beng Kauw dan dengan membawa sejumlah pendeta, Kong tie Siansoe menyambut dipendopo diluar kuil.

Sesudah bilagui Seng Koen, bahwa Beng kauw bersekutu dengan Jie Lam Ong, Kong Tie menyambut dengan penuh kegusaran. Ia hanya merangkap kedua tangannya tanpa mengeluarkan sepatah kata, sedang paras mukanya kelihatan menyeramkan.

“Untuk satu urusan penting, kami ingin bertemu dengan Hong thio Sengceng,” kata Boe Kie sambil menyoja.

“Persilahkan!” kata Kong tie yang lalu mengantar rombongan itu. Diluar pintu kuil, rombongan Boe Kie disambut oleh Kong Boen Sian Soe. Mendengar kedatangan Boe Kie sebagai Kauwcoe dari Beng Kauw, Kong Boen tak mau melanggar adat istiadat Rimba Persilatan. Ia keluar menyambut dengan mengajak Sioe coe (pemimpin) Tat mo tong To kan tong dan Cong keng kok. Sesudah saling memberi hormat, ia mengajak para tamu masuk di Thay Hiong. Po thian dan beberapa pendeta kecil lantas saja menyuguhkan teh.

“Hong thio Sing Ceng,” kata Boe Kie, “Tanpa urusan penting, kami tentu tidak berani datang disini. Maksud kunjungan kami ialah untuk memohon dimerdekakannya Hoe Kauw Hoat Ong cia hoat Ong kami. Untuk budi yang sangat besar itu, kami pasti tak akan melupakan dan akan berusaha untuk membalasnya.”

O mie to hoed!” kata Kong boen. “Pada hakekatnya tentang beribadat harus berpokok belas kasihan dan tidak boleh membunuh. Menurut kebiasaan, kami memang tidak boleh menyukarkan Cia Soen. Tapi sebagaimana diketahui, suhenku Kong kian telah binasa didalam tangan Cia Siesoe. Sebagaimana pemimpin dalam satu agama, Thio Kauwcoe tentu pahan akan peraturan didalam rimba persilatan.

“Didalam peristiwa yang menyedihkan itu, terselip latar belakang yang berbelit2 dan sesudah mengetahui latar belakang itu kita sebenarnya tidak dapat mempersalahkan Cia Hoat Ong,” kata Boe Kie yang lalu menjelaskan jalannya peristiwa, cara bagaimana untuk menghilangkan satu permusuhan besar. Kong kian rela menerima pukulan Cia Soen.

Baru Boe Kie memutar separuh, Kong Boen sudah berbangkit dan berdiri sambil membungkuk. Dengan sinar mata berlinang2, ia berkata: “Siancay! Siancay! Untuk menolong sesama manusia, Kongkian suhen rela membuat pengorbanan yg besar itu. Jasanya sungguh tak kecil.”

Berapa pendeta lantas saja membaca doa. Para pemimpin Beng Kauw pun segera bangun berdiri sebagai tanda menghormat kepada pendeta suci itu.

“Sesudah mencelakai Kongkian seng ceng sebab kesalahan tangan, Cia Hoat ong berduka dan menyesal,” kata pula Boe Kie. “Tapi seumpamanya urusan ini lalu diusut lebih jauh orang yg berdosa adalah Goan tin Taysoe dari Siauw Lim sie.” Melihat Seng Koen tidak berada disitu, ia berkata, “Aku memohon supaya Goan tin Taysoe disuruh keluar guna dipadu di hadapan orang banyak, supaya Hong thio Seng ceng bisa membuktikan, apa aku berdusta atau tidak.”

“Benar,” sela Cioe Tian. “Di Kong beng teng keledai gundul itu berlagak mampus, lekas panggil dia keluar!” Si sembrono rupa2nya masih sakit hati terhadap Seng Koen yg telak mempersakitinya dalam pertempuran di Kong beng teng.

Boe Kie melirik dan menegur, “Cioe Sianseng, kau tak boleh berlaku kurang ajat dihadapan Hong thio Taysoe.”

“Aku bukan maki dia, aku maki penjahat Seng Koen,” jawabnya, tapi ia tidak berani bicara apa2 lagi.

Mendengar perkataan Cioe Tian, Kong tie yang sudah bergusar tidak bisa menahan sabar lagi, “Tapi bagaimana dengan kebinasaan Kong seng sute?” tanyanya.

“Kong seng ceng berdarah panas, beradat polos dan memiliki sifat ksatria sejati,” jawab Boe Kie. “Di Kong beng teng aku pernah menerima pelajarannya dan aku merasa sangat kagum akan kepandaiannya. Aku turut berdukacita untuk kemalangannya. Ia mati karena diserang oleh manusia jahat dan hal itu tiada sangkut pautnya dengan agama kami.”

Kongtie tertawa dingin, “Thio kouwcoe mencuci tangan bersih2,” ejeknya.

“Apakah persekutuan antara Koencoe dari Jie lamong dan Beng Kauw bukan sebuah kenyataan?”

Muka Boe Kie berubah merah. “Memang benar, sesudah kebentrok dengan ayah dan kakaknya, Koencoe telah masuk kedalam agama kami,” sahutnya. “Perbuatannya terhadap Siauw Lim Sie memang satu kesalahan. Aku berjanji akan selalu bersedia mengajak dia datang kemari guna mengakui kedosaannya dan memohon maaf.”

“Thio Kauwcoe, pandai sunggu kau menggoyang lidah!” bentak Kong tie. “Apa dengan berkata begitu kau tidak akan ditertawai oleh para orang gagak dikolong langit?”

Boe Kie jadi serba salah. Sebagai seorang jujur, didalam hati ia mengaku, bahwa perbuatan Tio Beng dalam menyerang dan menangkap pendeta2 Siauw Lim Sie memang suatu kedosaan terhadap Siauw Lim Sie. Biarpun urusan itu bukan urusan Beng Kauw, tapi setelah si nona masuk ke dalam agamanya, ia tidak bisa mencuci tangan begitu saja.

Selagi ia bersangsi, Tiat Koan Toojin yang meluap darahnya sudah mulai membentak:
“Kong tie taysoe! Dengan memandang sebagai pendeta suci yang tertua, kauwcoe kami sudah berlaku sangat sungguh terhadapmu. Sebaiknya kau tahu diri sebagai pemimpin Beng kauw dan sebagai seorang ksatria, mana bisa jadi kauwcoe kami bicara sembarangan? Kau menghina kauwcoe kami dan itu berarti kau menghina Beng Kauw yang mempunyai anggota ratusan laksa. Meskipun kauwcoe sangat baik hati dan tidak mempunyai rasa gusar, hinaan itu tidak ditelan begitu saja oleh kami semua,” pada waktu itu Beng Kauw sudah menguasai banyak daerah dengan tentara rakyat berjumlah besar dan istilah “ratusan laksa” tidaklah terlalu berlebih2an.

Kong tie tertawa tawar, “Ratusan laksa?” ia mengulang. “Apa kalian mau menginjak Siauw Lim Sie sampai jadi bumi rata? Bukan baru sekarang. Mo Kauw menghina Siauw Lim. Bahkan kami sampai kena ditawan dan dikurung di Ban hoat si, kami tidak mempersalahkan siapapun juga. Kami hanya boleh merasa menyesal karena ceteknya kepandaian kami. Huh huh! … Lebih dahulu membasmi Siauw Lim, kemudian menumpas Boetong, yang merajai Rimba Persilatan, hanyalah Beng Kauw. Sungguh gagah! Sungguh angker!”

Boe Kie lantas saja ingat. Bahwa kata2 itu, “Lebih dahulu membasmi Siauw Lim dan sebagainya yang di “ukir” dengan coretan tangan dalam ilmu Kim Kong Tay lek cie, terdapat pada patung Tat me Couw soe. Huruf2 dituli oleh salah seorang jagoan Tio Beng, sesudah para pendeta Siauw Lim Sie tertawan dan dibawa pergi. Waktu itu, Kouw Touw too Hoao Yauw masih menghamba dibawah perintah Tio Beng, tapi didalam hati ia lelah, untuk menyingkirkan bencana yang diatur oleh Tio Beng, sesudah semua orang pergi, buru2 ia kembali ke Tat Mo tong dan memutar patung tersebut, sehingga pulih ketempat asalnya, yaitu menghadapi tembk, belakangan waktu rombongan Boe Kie dalam kuil Siauw Lim sie dengan bantuan In Ya Ong, Yo Siauw memutar patung itu dan membaca huruf2 tersebut. Sesudah membaca, mereka memulangkan kedudukan patung itu seperti tadinya, yaitu menghadap tembok, belakangan waktu rombongan Boe Kie dalam kuil Siau Lim sie, dengan bantuan Yo Siauw emutar patung itu dan membaca huruf2 tersebut. Sesudah membaca, mereka memulangkan kedudukan patung itu seperti tadinya, yaitu menghadap ketembok, supaya jangan samapi diketahui oleh orang Siauw Lim Sie. Tapi sekarang ternyata bahwa pihak Siauw Lim sie toh mengetahui juga.

Boe kie yang jujur tidak pandai bicara. Ia mengakui bahwa penulisan huruf2 itu dimuka patung yg di papas rata adalah perbuatan Tio Beng yg paling tak pantas. Ia merasa malu dan tidak bisa menjawab sindiran Kong tie.

Melihat sang Kauwcoe membungkam, Yo Siauw segera maju menolong. “Kami sungguh tidak mengerti maksud perkataan Kong tie Tay soe,” katanya. “Mendiang ayahanda thio Kauwcoe adalah seorang murid Boe tong. Hal ini diketahui oleh semua orang. Andaikata benar2 kami, orang2 Beng Kauw, gila2an, kami pasti masih tidak berani menghina ayahanda Kauwcoe kami sendiri. Disamping itu, ukiran jari tangan itu dilakukan dengan menggunakan ilmu Kim kong Tay tek cie, yaitu ilmu rahasia Siauw Lim Sie yang tak sembarangan diturunkan kepada orang. Diantara orang2 agama kami tidak satupun yang mengenal ilmu tersebut. Kong ti taysoe adalah seorang ahli yang mengenal ilmu silat dalam rimba persilatan, sehingga taysoe tentu tahu, apa dengan bicara begini aku berdusta atau tidak,” jawab Yo Siauw itu membuat Kong tie tidak bisa membuka suara lagi.

“Ketika bertengkar disini tak ada gunanya,” kata Kong boen dengan suara sabar. “Menurut pendapat looiap, sebaiknya kita sekarang pergi ke Tat mo tong untuk melihat dengan mata sendiri.” Kong boen seorang yang sabar dan mulia hatinya. Iapun tahu bahwa Beng kauw bertenaga besara dan kalau sampai terjadi bentrokan besar2an Siauw Lim sie mungkin menjadi hancur.

“Begitupun baik,” kata Boe Kie sambil menyapi seluruh ruangan dengan menanya. Melihat Tio Beng tidak turut masuk disitu, hatinya agak lega.

Dengan Tio kek ceng (pendeta menyambut tamu) sebagai pembuka jalan; semua orang lantas saja menuju ke Tat mo tong. Tat mo tong adalah tempat istirahat dan semedhi dari pendeta2 Siauw Lim sie yang berkedudukan tinggi. Pendeta yang tingkatannya terendah tak akan berani masuk keruangan itu! Bahkan sioe Co (kepala) Tat mo tong sendiri berlaku semabrangan terhadap pendeta2 yang berada disitu.

Begitu tiba didepan ruangan yg pintu nya tertutup. Kong tia lantas berkata, “Hong thio mengajak para sioecoe (tuan) dari Beng Kauw datang di Tat mo tong untuk melihat patung Cee couw (leluhur yang pertama).”

Sesudah menunggu beberapa saat dan di dalam tidak terdengar suara apa2, sioecoe dari Tat mo tong lantas saja menolak pintu. Didalam ruangan itu terdapat sembilan pendeta tua yang bersemedhi diatas tikar sambil memejamkan mata. Cara mereka bersemedhi berbeda-beda, ada yang berlutut, yang tidur, ada yg mengangkat sebelah kiri dan sebagainya, Boe Kie tahu bahwa mereka sedang melatih diri dalam lweekang yang tertinggi dan cara bersemedi yang aneh2 itu dilakukan dengan mencontoh patung2 lima ratus lohan. Kesembilan pendeta itu tidak menghiraukan kedatangan Hong thio. Dengan mulut membungkam dan badan tidak bergerak, mereka seolah2 sembilan patung.

“Waktu aku datang di Siauw Lim Sie, dalam ruangan ini hanya terdapat sembilan tikar rombeng,” kata Boe Kie didalam hati. Diantara pendeta2 yang ditawan Beng Moay juga tidak terdapat sembilan pendeta tua. Kemana mereka pergi?”

Kong beng, Koen tie dan yang lain2 juga tidak memperdulikan sembilan pendeta itu. Mereka segera berlulut dihadapan patung tat mo couw soe. “Hari ini tee coe mengganggu Cee couw dan untu kekurang ajaran ini, teecoe mohon di ampuni,” kata Kong boen yang lalu memerintahkan enam orang murid untuk memutar patung tersebut. Enam murid itu segera maju, menangkap kedua tangan mereka dan mulut mereka berkemak kemik membaca doa. Sesudah itu, dengan sikap hormat barulah mereka mengerahkan lweekang dan memutar patung tersebut yang beratnya dua ribu kati lebih.

Baru saja patung itu terputar separuh, semua orang mengeluarkan seruan kaget. Mengapa? Sebab muka patung lengkap, sempurna dengan mulut mata kuping dan hidung yg tak ada cacatnya!

Itulan kejadian yang sungguh2 mengejutkan. Sebagaimana diketahui, muka patung itu telah dipapas orang sehingga rata dan menyerupai papan batu dan diatas papan batu itu tertulis “Lebih dahulu membasmi Siauw Lim kemudia menumpas Boetong, yang merajai Rimba Persilatan, hanyalah Beng Kauw.” Mengapa sekarang muka itu lengkap sempurna?

Dengan rasa penasaran Kong tie maju memeriksa. Ia mendapat kenyataan, bahwa muka patung itu dipahat sebuat batu besar. Muka patung bukan ditempelkan pada bagian muka yg dulu sudah dipapas rata. Tegasnya dari muka sampai ke badan, patung itu terbuat dari sepotong batu raksasa.

Semua orang saling mengawasi dengan mulut ternganga. Untuk beberapa lama mereka tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Kemungkinan satu2nya ialah lebih dulu orang membuat sebuah patung baru kemudian mengeluarkan patung lama dati Tat mo tong dan akinya memasukkan patung baru itu kedalam Tat mo tong. Tapi ini tak mungkin dilakukan tanpa diketahui orang. Selama beberapa bulan yg belakangan Siauw Lim sie, dijaga keras sehingga jangankan sebuah patung raksas sedang sebuah mangkok pun takkan bisa keluar masuk di Tat mo tong tanpa diketahui.

Melihat kekagetan para pendeta Yo Siauw tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik itu. “Siauw Lim sie mempunyai rejeki yang besar dan pahal terhadap semsama manusia yang tiada batasnya” ,katanya dengan suara nyaring. “Tat mo Loocouw telah memperlihatkan keangkerannya dan memperbaiki sendiri patungnya yang dirusak orang. Kejadian ini benar2 kejadian yg menggirangkan dan patut diberi selamat.” Sehabis berkata begitu, ia menekuk kedua lututnya dan berlutut di hadapan patung.

Boe kie dan lain2 tokoh Beng Kauw lantas saja mengikuti. Para pendeta Siauw Lim tak bisa berbuat lain daripada membalas hormat. Kong boen couw telah memperlihatkan keangkeran dan memperbaiki sendiri kerusakan itu, ia menduga bahwa itu semua kerjaan Beng Kauw. Tapi biar bagaimanapun juga andaikata benar kerjaan Beng Kauw dapat dikatakan sudah coba memperbaiki kesalahannya dan sudah menghaturkan maaf dengan demikian, kegusaran para pendeta lantas saja berkurang.

“Patung sudah baik kembali dan hal ini tak usah disebut2 lagi,” kata Kong boen yang lalu memerintahkan keenam murid Siauw Lim untuk memutar kembali patung itu. Sesudah itu ia berkata pula, “Semalam Kauw Tio datang berkunjung dan sudah berkenalan dengan ketiga susiok loolap, Touw ok susiok dan Thio Kauwcoe telah berjanji, bahwa asl Khioe kauwcoe dapat memecahkan Kim kong Hok mo coan, maka Thio Kauwcoe lantas boleh membawa Ciao Siecoe pergi. Apa benar ada perjanjian begitu?”

“Benar,” jawab Boe Kie. “Touw ok Taysoe telah mengatakan begitu. Aku merasa sangat kagum tehadap ilmu sam wie ko ceng dan kutahu bukan tandingan mereka. Semalam aku sudah dikalahkan dan sebagai pecundang mana berani aku menjual lagak lagi?”

“Omieko hoad, Thio kauwcoe mengeluarkan kata2 yg terlalu berat,” kata Kong Boen. “Semalam menang atau kalah belum ada keputusannya dan ketiga soesiok loolap merasa sangat berterimakasih akan kemuliaan Thio Kauwcoe.”

Mendengar kelihaian ketiga tetua Siauw Lim itu, sebagai biasanya ahli2 silat, tokoh2 Beng Kauw lantas saja kepingin menyaksikan kepandaian mereka. “Kauwcoe,” kata In Thian Ceng, “Karena pihak Siauw lim sendiri yang ingin menjajal kepandaian, maka kita terpaksa harus meminta pelajaran dari mereka. Tujuan kedatangan kita adalah untuk menolong Cia Heng tee. Kita terpaksa berbuat begitu dan sama sekali bukan mau menjajal lagak di Siauw Lim sie.”

Sebagi cucu Boe Kie sangat mengindahkan perkataan kakeknya. Apa pula untuk mencapai tujuan mereka, Beng Kauw tidak mempunyai pilihan lain dari pada bertempur. “Mendengar ilmu yang sangat tinggi dari ketiga tetua Siauw Lim saudara2ku ingin sekali menemui mereka dan pertemuan ini sangat menggirangkan kita semua.”

“Persilahkan!” kata Kong tie yang lantas mengajak para tamunya kepuncak bukit yang terletak dibelakang kuil.

Kaki bukit itu dijaga rapat2 oleh pasukan Ang Soei Kie, tapi Kong boen dan kawan2nya tidak menghiraukan. Dengan sikap tenang mereka mendaki bukit. Begitu tiba dipuncak Kong Boen dan Kong Tie menghampiri pohon siong dan melaporkan kedatangan rombongan Beng Kauw sambil membungkuk. “Bagus! Bagus sungguh!” kata Touw ok. “Soal sakit hati Yo po Thian sudah beres dan soal patung Cie Cauw juga sudah beres. Bagus! Thio Kauwcoe beberapa orang yg mau main?”

Sesudah memikir sejenak Boe Kie menjawab “Semalam aku sudha berkenalan dengan singkang Sam wie yang sangat tinggi dan menurut pantas aku tidak boleh memperlihatkan lagi kebodohanku kehadapan Sam wie. Akan tetapi karena antara Cia hoat ong dan aku terdapat perhubungan ayan dan anak dan dengan saudara2 lain nya mempunyai perhubungan persaudaraan, maka dengan tidak mengimbangi tenaga sendiri kami terpaksa harus berusaha juga untuk menolongnya. Menurut pendapatku jalan yang paling adil ialah aku meminta bantuan dua saudara sehingga tiga melawan tiga.”

“Thio Kauwcoe tak usah berlaku sungkan,” kata Touw ok. “Apabila didalam kalangan Beng Kauw terdapat orang lain yang berkepandaian sama tingginya seperti Kauwcoe maka dengan dua orang saja Kauwcoe akan bisa membinasakan kami bertiga. Tapi menurut pendapat loolap didalam dunia tak ada yg bisa menyamai kepandaian Kauwcoe. Maka itu sebaiknya kauwcoe menggunakan lebih banyak orang untuk mengurubuti kami.”

Tioe Can Tiat koan Toojin dan lain2 saling mengawasi. Mereka menganggap Touw Ok sangat sombong. Tapi dalam kesombongan itu, si pendeta mengakui bahwa didalam dunia tak ada orang bisa menandingi Bie Koe, satu pujian tinggi bagi Kauwcoe mereka.

Boe Kie membungkuk dan berkata, “Biarpun agama kami tidak bisa berendeng dengan Siauw Lim pay, tapi dalam sejarah ratusan tahun kami masih memiliki juga beberapa orang pandai. Aku sendiri sebenarnya menduduki kursi kauwcoe hanya untuk sementara waktu. Kalau bicara tentang kepandaian, di dalam agama kami terdapat banyak orang yg berkepandaian lebih tinggi daripada aku. Wie Hok ong serahkanlah karcis nama ini kepada Sam wie ko ceng!” Sehabis berkata begitu ia merogoh saku dan mengeluarkan selembar karcis nama yg tercantum nama2 para tokoh Beng Kauw yg berkunjung.

Wie It Siauw mengerti bahwa Boe Kie ingin supaya ida memperlihatkan ilmu ringan badannya yang tiada keduanya di dalam dunia. Ia membungkuk dan menyambuti karcis nama itu. Mendadak tanpa memutar tubuh ia melesat atau lebih benar terpental bagaikan menyambarnya sebutir peluru ketengah2 tiga pohon siong dn dalam satu gerakan yang indah, menyodorkan karcis nama itu kepada Touw Ok.

Ketiga tetua Siauw Lim itu sudah kenyang makan asam garam dunia dan mempunyai pengalaman yang sangat luas. Tapi ilmu ringan badan yg lihai itu baru pernah dilihatnya.

Tanpa terasa mereka berseru “Bagus!”

Dengan membungkuk sedikit Touw ok menyambuti karcis nama itu. Begitu lima jari tangannya menyentuh kertas, begitu Wie It siauw merasa badannya kesemutan. Ia terkejut dan segera mengerahkan lweekang untuk melawannya.

Sedetik kemudian Youw Ok sudah mengambil karcis nama itu dan giliran tenaga lweekannya yang dirasai Ceng ek Hok ong lantas saja hilang. Paras muka Wie it siauw berubah. Ia tak menduga bahwa pendeta itu memiliki lweekang yg sedemikian tinggi. Ia tidak berani berdiam lama2 disitu. Sesudah memanggutkan kepala, ia melayang diatas rumput dan kembali kepada Boe Kie. Ilmu ringan badan yg digunakannya ialah Co siang hoei (Terbang diatas rumput).

Biarpun bukan ilmu luar biasa, ia melakukannya secara lain dari yang lain.

Kong boen dan Kong tie tahu dengan mendapat pelajaran dari dan latihan semata2 orang tak dapat mencapai ilmu ringan badan pada tingkat yang begitu tinggi. Disamping guru dan latihan, Wie Hok Ong mempunyai bakat yang tidak dipunyai orang lain.

“Sesudah Thio Kauwcoe mengambil keputusan untuk tiga melawan tiga, bolehkan loolap mendapat tahu, disampai Wie Hok Ong siapa lagi yang memberi pelajaran kepada kami?” tanya Touw Ok.

“Wie Hok Ong sudah menerima pelajaran lweekang dari taysoe,” jawabnya. “Yang akan membantu aku adalah Co Yoe Kong beng Siocia.”

“Sungguh lihai mata pemuda itu,” Touw Ok memuji didalam hati. Ia sudah bisa lihat pengiriman lweekang dengan melalui karcis nama.

Siapa itu Co yoe kong beng Soe cia? Apa mereka lebih lihat dari Wie hok ong? Sebgai orang yg sudah lama menutup diri, ia pernah mendengar Co yoe Kong beng Soe cie. Sementara itu, Yo Siauw dan Hoan Yaow, lantas saja maju dan berkat sambil membungkuk, “Kami menunggu perintah Kauwcoe.”

“Sam wi ko ceng menggunakan senjata lemas,” kata Boe Kie. “Senjata apa yang harus kita gunakan?” Diwaktu biasa Boe Kie, Yo Siauw dan Hoan Yauw tidak pernah menggunakan senjata. Tapi dalam menghadapi lawan berat, tidak bisa mereka berlaku sombong dan bertempur dengan tangan kosong. Sebagai ahli2 silat kelas utama mereka bisa menggunakan senjata apapun juga.

“Terserah kepada Kauwcoe,” jawab Yo Siauw.

Boe Kie ingat apa yang dilihat semalam, cara bagaimana dengan senjata pendek Ho kian siang sat menyerang tambang yang panjang dan telah menarik keuntungan dari senjata yang pendek itu, ia lantas saja mengeluarkan enam batang Seng hwee leng dari sakunya dan sesudah menyerahkan masing2 dua batang kepada mereka.

“Yo Siauw dan Hoan Yauw,” ia berkata, “Dalam mengunjungi Siauw Lim, kami tidak berani membekal senjata. Aku hanya membawa mustika dari agama kami. Biarlah kami menggunakan saja mestika ini.” Yo Siauw dan Hoan Yauw lantas saja menerima “leng” itu dengan membungkuk.

Baru saja mereka mau berdamai untuk menetapkan siasat pertempuran, tiba2 Kong tie membentak, “Kouw Louwtoo! Di Ban hoat si kita telah menaruh ganjelan. Mana bisa disudahi begitu saja?”

“Mari, mari! Loolap ingin minta pelajaran. Hari ini loolap tidak dipengaruhi Sip Hiang Joan kin san dan biarlah hari ini kita mendapat keputusan siapa yang lebih unggul.”

“Meyesal aku, tidak bisa menerima tantangan itu,” jawab Hoan Yauw dengan suara tawar.

“Hari ini aku sudah menerima perintah Kauw coe untuk memecahkan Kim Kong Hok mo coan. Apabila Taysoe mau membalas sakit hati yang dulu, sesudah tugas selesai, aku pasti akan melayani.”

Kong tie segera mengambil sebatang pedang dari salah seorang murid Siauw Lim Sie, “Secara tak tahu diri aku berani, melawan ketiga susiokku,” katanya. “Kalau tak mati, sebentar kau tentu terluka berat. Sakit hatiku akan tidak bisa dibalas lagi.”

Hoan Yauw tertawa dingin. “Apa selain tuan dalam Beng Kauw tidak terdapat lain jago?” tanyanya dengan nada mengejek.

Semua orang tahu, bahwa dalam berkata begitu Kong tie ingin membikin panas hatinya orang2 Beng Kauw. Tapi kalau ejekan itu ditelan begitu saja, derajat dan keangkeran Beng Kauw akan merosot. Dalam kedudukan, sesudah Hoan Yaum adalah Peh bie Eng Ong Ing thian Ceng. Tapi mengingat usia sang kakek yang sudah lanjut Boe Kie bersangsi untuk meminta bantuannya. Selagi ia menimbang2 untuk menarik In Ya Ong, pamannya, In Thian Ceng mendadak maju beberapa tindak dan lalu berkata, “Kauw coe, In Thian Ceng memohon tugas.”

“Gwakong sudah lanjut usia, sebaiknya Kuku (paman) saja yang…”

“Benar aku sudah tua, tapi usiaku tak mungkin melampaui Sam wie ko ceng. Kalau siauw lim punya jago2 tua, apa Beng Kauw tak punya?”

Boe Kie tahu bahwa kakeknya memiliki kepandaian sangat tinggi yang sedikitnya tak kalah dari Yo Siauw dan Hoan Yauw. Maka itu sesudah memikir sejenak ia segera mengangguk dan berkata, “Baiklah Hoan Yoesoe, simpanlah tenagamu untuk melayani Kong tie Seng ceng. Aku sekarang memohon bantuan Gwakong.”

In Thian Ceng membungkuk dan lalu mengambil sepasang “leng” dari tangan Hoan Yauw.

“Sam wie Susiok!” kata Kong boen dengan suara nyaring. “Yang ini ialah In Loo Enghiong bergelar Peh bie kauw yang. Dahulu ia mendirikan Peh bie kauw yang berseteru dengan enam partai besar. Ia seorang enghiong yg berkepandaian tinggi. Yang itu adalah Yo sianseng. Baik lweekang maupun gwakang ia sudah mencapai tingkat tertinggi. Ia adalah seorang tokoh terutama dalam Beng Kauw. Sudah banyak jago Koen Loen dan Go Bie rubuh ditangannya.”

Touw ciat tertawa, “Selamat bertemu! Selamat bertemu!” katanya. “Cobalah kita lihat, apakah murid2 Siauw Lim bisa melayani atau tidak.”

Tiga lambang lantas saja bergerak dan membuat tiga buah lingkaran.

Semalam, ditempat gelap, Boe Kie bertempur dengan hanya mengandalkan perasaannya terhadap sambaran angin dari tambang2 itu. Tapi sekarang, diwaktu tengah hari, bukan saja gerakan tambang bahkan kerut muka ketiga kakek itu juga dapat dilihat tegas olehnya. Sesudah menundukkan Seng hwee leng kemuka bumi dan menyoja, ia berkata, “Maaf!” Hampir berbareng ia membabat tambang Touw lan dengan leng yg di pegang dalam tangan kanannya. Begitu kedua senjata yang aneh itu kebentrok, Touw Lan dan Boe Koie merasa lengan mereka kesemutan.

Boe Kie tahu bahwa andaikata pihaknya bisa memperoleh kemenangan, kemenangan tidak akan bisa di dapat secara mudah. Paling sedikit ia harus bertempur lima ratus jurus.

Memikir begitu ia segera mengambil keputusan untuk melelahkan ketiga pendeta itu dan kemudian barulah mencari lowongan untuk mengirim pukulan2 yang memutuskan. Demikianlah ia segera melawan keras juga. Kioe yang sin kang yang berada dalam tubuhnya makin digunakan jadi makin kuat dan pukulan2 nya kian berat. Penonton yang lweekangnya kurang kuat terpaksa mundur setindak demi setindak sebab tak tahan, disambar angin pukulan.

Sesudah bertanding kira2 semakanan nasi ketiga tambang jadi lebih pendek tambangnya, makin kuat pembelaannya.

Semula pertempuran berlangsung dalam tiga psang lawan, tapi sesudah lewat setengah jam, Yo Siauw dan In Thian Ceng tidak bisa mempertahankan diri lagi sehingga keadaan jadi berubah mereka berdua mengerubuti Touw Lan, sedang Boe Kie melayani Touw Ok dan Toyw Ciat.

Dalam pertempuran itu, In Thian Ceng menggunakan ilmu silat keras, sedang Yo Siauw mengubah2 caranya, sebentar lembek sebentar keras. Antara enam orang itu, yang silanya paling resap ditonton adalah Yo Siauw. Dalam tangannya kedua lengan itu berputar2, menyambar2 dan menari2. sebentar kedua senjata itu digunakan sebagai pedang, sebentar sebagai golok, sebentar sebagai tombak yg menikam, membabat dan memapas. Dilain detik ia mengubah cara bersilat dan kedua leng itu digunakan sebagai poan koan pit yang menyambar2 dalam usaha untuk menotok jalan darah lawan. Baru beberapan gebrakan sudah berubah lagi, sekarang leng di tangan kiri sebagai pisau, leng ditangan kanan sebagai soecek (pusut). Sesaat kemudian kedua senjata itu memegang peranan sebagai cambuk dan toya. Demikianlah, belum cukup seratus jurus Yo Siauw sudah mengubah2 kedua leng itu menjadi dua puluh dua macam senjata.

Hoan Yaow biasanya sangat temberang sebab ia menganggap bahwa ia mengenal semua ilmu silat dikolong langit. Tapi sekarang, melihat kelihaian Yo Siauw, ia merasa takluk tercampur kagum. Sudah lama Cioe Tian bermusuhan dengan Yo Siauw dan mereka pernah bertempur beberapa kali. Makin lama ia menonton makin besar rasa malunya. “Baruku tahu si kura2 Yo Siauw sengaja mengalah terhadapku,” pikirnya.

“Tadinya kukira kepandaiannya hanya lebih setingkat daripada aku. Kuanggap ia menang sebab mujur. Siapa nyana ilmu sikura2 sebenarnya banyak lebih tinggi daripada aku.”

Tapi sesudah Yo Siauw mengubah2 silatnya, Touw Lan tetap bisa melayani kedua lawannya secara tenang. Perlahan2 diatas kepala In Thiang Ceng mengepul uap putih, suatu tanda bahwa si kakek sedang mengerahkan lweekang terhebat. Karena penuh dengan hawa jubahnya yang berwarna putih juga mulai melembung setiap kali ia bertindak. Diatas tanah terlihat apak kaki yang dalam sehingga sesudah bertempur hampir satu jam, tanah dalam gelanggang pertandingan penuh dengan tapak2 kaki.

Tiba2 si kakek mengoper leng ditangan kanan ketangan kiri dan menggunakan kedua senjata itu untuk menekan tambang Touw Lan. Hampir berbareng tangan kanannya yang sudah tidak bersenjata menghantam Touw Lan dengan pukulan Pek Tongciang. Bagaikan kilat Touw Lan mengangkat tangan kirinya, mementang lima jari tangan, mengepalnya dan kemudia menyambut Pek kong ciang In thian Ceng dengan tinju itu.

Kong beon dan Kong tie mengeluarkan seruan tertahan, bahwa kaget dan kagum. Pukulan Touw Lan itu adalah Siauw sie bie ciang, salah satu dari tujuhpuluh dua ilmu silat Siauw Lim sie yg tersohor. Siauw sie bie ciang bukan saja sukar dipelajari dan meminta waktu lama dalam latihan, tapi menurut kebiasaan waktu mau mengeluarkan pukulan tersebut seseorang harus lebih dahulu memasang kuda2 dan mengerahkan lweekang untuk beberapa saat. Bahwa Touw Lan bisa menggunakan pukulan tersebut dengan begitu saja adalah diluar dugaan. Sesudah memukul Touw Lan lalu mengedut tambangnya ygn lantas saja menyambar.

Karena sebelah tangannya harus mengadu tenaga dengan In Thian ceng, maka tenaga tangan Touw Lan yang memegang tambang yg melayani Yo Siauw lantas saja berkurang. Akan tetapi ia segera menambal kelemahannya itu dengan pukulan2 yg luar baisa, sehingga tambang itu seperti juga seekor ular sakti berterbangan kian kemari. Yo Siauw melawan dengan tidak kalah siasatnya dan ilmu yg dipergunakannya terus berubah2. Karena lebih sedap lagi pandangan mata, maka perhatian penonton lebih banyak ditujukan kepada pertempuran ini daripada pertandingan antara Boe Kie dan kedua tetua dari Siauw Lim.

Dilihat sekelebatan, pukulan2 Touw ok, Touw ciat dan Boe Kie biasa saja. Kehebatan pertandingan itu bukan terletak pada pukulan2nya, tapi pada lweekangnya. Pada hakekatnya, pertandingan itu sepuluh kali lebih berbahaya daripada pertempuran Touw Lan, Yo Siauw dan In Thia Ceng. Salah sedikit saja, kalau tidak mati tentu terluka berat.

Satu jam lebih mereka sudah bertempur dan matahari sudah mulai mendoyong ke barat. Ketika itu Kong Boen, Kong tia dan Hoan Yauw, Wie it Siaw dan lain2 ahli silat kelas satu sudah biasa lihat kemungkinan menang atau kalahdari kedua belah pihak. Dipihak Boe Kie, uap putih yg mengepul dari kepala In thian ceng jandi makin tebal, sedang di pihat Siauw lim daun2 dari pohon siong yg diduduki Tauw Ciat, bergoyang2 tak henti2nya. Ini berarti, bahwa sambil bersandar Tauw Ciat harus meminjam tenaga pohon itu untuk melawan sinkangnya Boe kie. Demikianlah apabila In Thian Ceng yang roboh lebih dahulu, maka BengKauwlah yang kalah dan manakala Touw ciat yg lebih dulu tak tahan, Siauw lim sie lah yang kena di jatuhkan.

Hal itu tentu saja diketahui oleh keenam orang yg sedang bertempur itu. Sesudah mengadu tangan tigapuluh kali lebih, In thian ceng tahu bahwa ia bukan tandingan Touw Lan. Ia merasa sangat menyesal dan berkata dalam hati, “Hari ini yang terpenting adalah menolong Cia Hengtee. Namaku kalah menangku urusan kecil. Apapula kalau aku mesti kalah dalam tangannya seorang tetua Siauw Lim, nama besar Peh bie Eng Ong tidak akan jadi merosot. Yang penting kekalahanku berarti Cia Heng tee tak bisa ditolong. Ah!… tiada jalan lain dari pada mati2an dan kalau perlu, mengorbankan jiwa yang tua ini.” Memikir begitu, ia mundur setindak dan dengan seluruh lweekang nya, ia mengirim pula belasan pukulan. Tapi Siauw sie ciang yg sudah dilatih Touw Lan selama beberapa puluh tahun, bukan main hebatnya. In Thian Ceng mundur setindak, tenaga Siauw sie bie ciang maju stindak. Dengan perkataan lain semakin jauhnya jarak sama sekali tak memperkurang tenaga pukulan itu.

Melihat kawannya sudah jauh dibawah angin Yo Siauw segera mengambil keputusan untuk menukar siasat. Ia ingin merangkap kedua Seng hwee leng untuk menjepit tambang dan mengadu tenaga dengan Touw Lan, supaya tekanan terhadap In Thian Ceng bisa berkurang. Tapi baru saja ia mau menjepit, tambang itu mendadak di kedut dan menyambar mukanya. Ia terkesiap. Bagaikan kilat ia menimpuk dada Touw Lan dengan kedua “leng” dan kedua tangannya lalu menangkap ujung tambang yang segera dibetot.

Melihat timpukan yg hebat itu, dengan sikut kiri Touw Lan mengentus “leng” yang menyambar ke dada kiri dan berbareng ia miringkan badan untuk mengegos “leng” yang satunya lagi. Diluar dugaan ditengah jalan senjata itu tiba2 terputar dan menyambar Touw ciat! Inilah kelihaian Yo Siauw hanyalah timpukan “kosong” sedang timpukan kepada Touw ciat barulah serangan sungguh2 yang disertai seluruh lweekangnya.

Ketika itu Touw ciat tengah melayani Boe Kie. Ia merasa girang, bahwa meskipun dikerubuti dua orang Touw Lan sudah berada diatas angin. Ia tak pernah mimpi, bahwa ia bakal diserang secara begitu aneh dan tahu2 sebatang seng hweleng sudah tiba didepan mukanya. Tapi sebagai ahli silat kelas utama dalam kagetnya ia tak jadi bingung. Dengan dua jari tangan ia berhasil menjepit senjata itu. Tapi terpecahnya perhatian sanagt merugikan dirinya dalam pertandingan lweekang melawan Boe Kie. Pohon siong lantas saja bergoyang2 kerang dan daun2 yang seperti jarum jatuh ketanah bagaikan hujan gerimis. Tentu saja Boe Kie sungkan menyia2kan kesempatan ini. Ia segera mengempos semangat dan menambah tenaga. Pohon siong bergoyang lebih keras dan ranting2 kecil turut jatuh kebawah.

Melihat bahaya, Touw ok bangun berdiri melompat kesamping saudara seperguruannya dan kemudian menempelkan telapak tangan kirinya dipundak Touw ciat. Sesudah mendapat bantuan, barulah Touw ciat bisa mempertahankan dirinya lagi.

Dilain bagian, pengaduan tenaga antara Touw Lan, Yo Siaw dan In Thian Ceng sudah mencapai detik2 memutuskan. Yo Siauw membetot tambang, lweekang In thian Ceng terus mengirim pukulan2 dahsyat. Ini berarti bahwa Touw Lan diserang oleh dua tenaga yang bertentangan satu sama lain yang satu membentot, yang lain mendorong (memukul). Untuk melayani kedua itu ia harus menggunakan semua tenaga dalamnya. Tapi biarpun berat, ia kelihatannya masih bisa mempertahankan diri.

Orang2 Siauw Lim dan Beng Kauw mengerti, bahwa menang kalah akan segera mendapat keputusan. Mungkin sekali, antara enam tokoh itu ada beberapa yang akan binasa atau terluka berat. Puncak bukit itu menjadi sunyi senyap. Banyak orang basah bajunya karena keringat yang mengucur, sebagai akibat dari rasa tegang yg sangat hebat.

Mendadak saja, diantara kesunyian terdengar suara manusia yang keluar dari bawah tanah. “Yo Cosoe, In Taoko, anak Boe kie, dengarlah. Tangan Cia Soen berkelepotan darah hukuman mati tak cukup untuk menebus dosa. Hari ini kalian berusaha untuk menolong aku dan melakukan pertempuran mati hidup melawan tiga ketua Siauw Lim. Kalau karena usaha menolong aku ini ada seorang saja yang binasa, maka kedosaanku akan lebih besar lagi. Anak Boe Kie! Ajaklah semua saudara meninggalkan Siauw Lim Sie. Jika kau membandel, aku akan segera mengambil keputusan untuk memutuskan urat2ku, supaya aku tak usah menanggung kedosaan yg lebih besar.”

Biarpun perlahan, suara itu menusuk kuping setiap orang. Sebab Cia Soe berbicara dengan menggunakan Say coe hauw (geram singa) yang pernah digunakan dahulu dipulau Ong poan san.

Boe Kie tahu ayah angkatnya tidak bicara main2. iapun tahu, jika pertempuran dilangsungkan, kakeknya, Yo Siauw, Touw Ciat dan Touw Lan akan binasa atau terluka. Selagi ia bersangsi, Cia Soen sudah membentak “Boe Kie! Apa kau belum mau mundur?”

“Baik Gie Hoe!” jawabnya sambil mundur setindak dan kemudian berkata dengan suara nyaring, “Hari ini kami tidak bisa memecahkan Kim kong hong mo coan. Lain hari kami akan datang pula untuk meminta pelajaran. Gwa kong, Yo Cosoe, berhentilah!” seraya berkata begitu ia mendorong tenaga Touw Ok dan Tauw ciat dikedua tambang dan lalu menarik pulang tenaganya sendiri.

Tapi Yo Siauw dan In thian ceng tidak berani lantas menarik pulang tenaganya. Jika berbuat begitu mereka akan dilakukan oleh tenaga lawan. Touw Lan pun sedemikian. Melihat begitu Boe kie segera berjalan kedepan kakenya dan mengibas kedua tangannya, ia menyambut tenaga Touw Lan dan In thiang Ceng yang saling menyerang dari kiri kanan. Hampir berbareng, ia menempelkan sebatang seng hwee leng di tambang Touw Lan. Tambang itu ditarik Yo Siauw dan Touw Lan sehinggak tegang bagaikan tali gendewa. Tapi begitu lekas tersentuh “leng” lantas saja berubah lemas sebab kedua tenaga dipunahkan oleh Kin koen tay lo ie sin kang. Sesudah tangannya dipunah cekalan Yo Siauw tiba2 terlepas dan tambang itu jatuh di tanah. Tapi begitu tambang jatuh, Yo Siauw membungkuk dan menjemputnya lagi.

Touw Lan terkejut. Ia menduga Yo Siauw mau menyerang pula. Tapi maksud Yo Cosoe bukan begitu. Ia maju beberapa tindak dan berkata seraya mengangsurkan ujung tambang kepada Touw Lan. “Taysoe, terimalah senjatamu!”

Touw Lan dapat menebak kemauan Yo Siauw. Ia pun lantas menjemput dua “leng” yang menggeletak ditanah dan memulangkannya kepada Yo Siauw.

Sesudah mendapat pengalaman itu, hilanglah segalah rasa sombong dalam hati ketiga pendeta itu. Mereka mengerti, bahwa jika pertempuran dilangsungkan terus, kedua belah pihak akan celaka bersama2. “Sesudah menutup diri selama beberapa puluh tahun, loolap merasa girang bahwa hari ini, kami bisa berkenalan dengan jago2 di ini jaman,” kata Touw Ok. “Boe Kauwcoe, Beng kauw mempunyai banyak orang pandai, kau sendiri seorang luar biasa. Loolap mengharap bahwa dengan tenaga itu Beng Kauw bisa menolong sesama manusia dan tidak berbuat sesuatu yang mencelakai rakyat/

Boe Kie membungkuk, “Terima Kasih atas nasehat Taysoe,” jawabnya.

“Baiklah,” kata Touw ciat. “Kami bertiga akan menunggu kunjungan Kauwcoe yang ketiga kali.”

“Ya,” kata Boe Kie. “Kami terpaksa berbuat begitu, terutama karena antara Cia Ho tong dan aku terdapat hubungan ayah dan anak.”

Touw Ok menghela napas. Ia segera memejamkan mata dan tidak berkata apa2 lagi.

Boe Kie dan kawan2nya lantas saja meminta diri dari Kang Boen dan yang lain2. dengan dipimpin oleh Phen Eng giok, kelima pasukan Ngo beng kie turut mundur sampai jarah sepuluh li dari Kuil Siauw Lim sie. Anggota Houw ouw kie segera membuat belasan tenda2 besar dilereng gunung untuk tempat meneduh nya seluruh barisan Beng Kauw.

Boe Kie berduka dan duduk termenung. Didalam Beng Kauw ada orang berkepandaian lebih tinggi dari Yo Siauw dan In Thian Ceng. Andaikata ia menukar mereka dengan Hoan Yauw dan Wie It Siauw hasilnya takkan berberda.

Pheng Eng giok bisa menebak apa yang dipikir oleh sang Kauwcoe. “Kauwcoe…” katanya. “Mengapa kau melupakan Thio cinjin?”

“Apabila thay suhu suka turun gunung bersama2 aku, kita berdua rasanya akan dapat memecahkan Kim kong hok mo coan,” katanya dengan suara sangsi. “Akan tetapi, hal itu berarti rusaknya keakuran antara Siauw Lim dan Boe tong, sehingga belum tentu thay suhu sudi meluluskan dan kedua, biarpun dalam ilmu silat thay suhu sudah mencapai tingkat tinggi, tapi usianya sudah terlalu tua. Kalau sampai terjadi sesuatu… mungkin sekali Toa supeh dan yang lain2 tak dapat menyetujui…”

Mendadak In Thian Ceng bangun berdiri dan tertawa terbahak2. “Bagus! Bagus!” serunya. “Jika Thio Cinjin suka membantu, kutanggung kita berhasil.” Tiba2 dia membungkam, sedang mulutnya masih ternganga. Paras mukanya berseri2, tai ia berdiri seperti patung. Semua orang merasa heran.

“In heng, apa kau rasa Thio Cinjin mau turun gunung?” tanya Yo Siauw. Tapi si kakek tidak menyahut dan badannya tak bergerak.

Boe Kie kaget dan buru2 memegan nadinya. Astaga! Nadi sang kakek sudah berhenti mengetuk! Sebab tadi sudah menggunakan banyak tenaga, orang tua itu meninggal dunia seperti lampu kehabisan minyak.

Boe Kie memeluk jenazah kakeknya dan menangis dengan disusul oleh In Ya Ong yang menubruk mendiang ayahandanya. Semua orang yg berkumpul turut mengucurkan air mata. Warta tentang meninggalnya Peh bie Eng ong lantas saja disampaikan kepada segenap barisan Beng Kauw. Diantara anggota2 pasukan Nio heng kie terdapat banyak orang yg dulu menggabungkan diri pada Peh bie kauw dan mereka itulah yang paling bersedih hati.

Selama beberapa hari Beng Kauw sibuk mengurus urusan kematian In Thian Ceng. Selama beberapa hari itu, tokoh2 rimba persilatan yang mendapat undangan sudah mulai tiba pada Siauw Lim sie. Antara mereka, banyak yang dtg di tenda2 Beng Kauw untuk menyatakan turut berduka cita dan bersembahyang. Disamping bersembahyang mereka mengirim delapan belas pendeta untuk membaca doa guna roh nya. In thian ceng tapi pendeta2 itu diusir oleh In Ya ong.

Selama beberapa hari Boe Kie kalut pikirannya. Perundingan dengan Yo Siauw, Phen Eng Giok, Tio Beng dan yang lain2nya tak menghasilkan sesuatu yg menyenangkan. Nona Tio menyarankan untuk menarup sip hiang Joan kien san dimakanan Touw ok bertiga dan mengusulkan untuk meminta bantuan Hian beng Jie loo guna membantu Boe Kie. Tapi Boe Kie dan Yo Siauw menolak saran2 itu.

Tanpa terasa tibalah harian Toan Ngo atau Toan yang (tanggal lima bulan lima Imlek. Yaitu perayaan peh coen). Hari itu Boe Kie mengajak tokoh2 Beng Kauw datang dikuil Siauw Lim sie. Ketika mereka tiba, semua ruangan dikuil besar itu sudah penuh dengan tamu. Semua orang tahu bahwa Eng Hiong Thay Hwee dibuka untuk menghukum Cia Soen. Antara orang2 gagah iu ada yang untuk membalas sakit hati terhadap Cia Soen ada yang ingin melihat atau merebut To Liong To dan ada pula yang hanya ingin menonton kematian. Untuk melayani tamu2 itu, Siauw Lim Sie mengerahkan seratus lebih tie kek ceng (pendeta penyambut tamu).

Dari Boetong pay datang dua orang yaitu Jie Lian Coe dengan In Lie Hong, Boe Kie menemui paman gurunya dan menanyakan kesehatan sang kakek guru. “Apa kau pernah dengar harunya (?) Ceng Soe dan Tan Yoe Liang?” tanya Jie Lian cioe dengan suara perlahan.

Secara ringkas Boe kie lalu menceritakan segala pengalamannya. Dari sang paman ia mendapat tahu, bahwa sebegitu jauh Boe Tong san belum pernah dikacau oleh Tan Yoe Liang dan Song Ceng Soe. Bahwa Song Wan Kiauw berdua dengan Thio Siong Kee tidak turut datang di Siauw Lim sie adalah untuk melindungi sang guru dari bokongan manusia2 rendah, Jie Lian cioe selanjutnya memberitahukan bahwa perbuatan Song Ceng Soe telah memberi pukulan sangat hebat kepada Song Wan Kiauw yang tak enak makan dan tak enak tidur, sehingga badannya berubah sangat kurus. Iapun menerangkan bahwa peristiwa itu ditutup rapat2 dari kuping sang guru.

“Kita harap saja Song suko bisa cepat2 tersadar, supaya Toesupeh ayah dan anak bisa berkumpul kembali,” kata Boe Kie.

“Ya kita semua berharap begitu,” kata sang paman.

Selama satu jam, jumlah tamu yang datang terus bertambah, Ho Kian Siang sat dan jago pedang dari Ceng hay pay yang malam itu menyerang tiga tetua Siauw Lim, juga turut datang Hwa san pay dan koong tong pay. Koen loen pay dan lain2 partai mengirim wakit. Hanya orang Go bie pay yang tak muncul. Boe Kie mengharap2 Cie Jiak datang sendiri, supaya ia bisa memberi keterangan tentang sikapnya yang luar biasa pada hari itu. Tapi dalam mengharap2, hatikecilnya merasa tak enak untuk bertemu muka daengan nona Cie. Rombongan Beng Kauw menempati ruangan ada disebelah barat dan mereka tidak bercampur dengan orang banyak. Boe kie sengaja mengambil tindakan penjagaan, sebab Beng Kauw mempunyai banyak musuh dan kalau musuh bertemu dengan musuh akibatnya bisa mengacaukan Eng hiong tay hwee.

Menjelang Ngo sie (atau jam sebelas siang sampai lohor) para tie kek ceng mengundang para tamu supaya berkumpul disebuah lapangan luas yang terletak disebelah kanan kuil. Diatas lapangan itu semula sebbuah kebun sayur yang luasnya beberapa ratus bauw, didirikan belasan gubuk raksasa yang diatur meja2 dan kursi2 yang baru selesai dibuat. Atas undangan tie kek ceng, para tamu lantas mengambil tempat duduk.

Sesudah para tamu berduduk, sebaris demi sebaris, menurut tingkatannya, para pendeta keluar dari kuil untuk memulai pertemuan resmi dengan orang2 gagah di kolong langit. Barisan terakhir ialah Kong tie seng ceng yang diikuti oleh sembilan pendeta tua dari Tat mo tong. Mereka menuju ketengah2 lapangan dan sesudah memberi hormat, Kong tie berkata:

“Hari ini para enghiong datang berkunjung dan membikin terang muka Siauw Lim sie. Hanya menyesal Heng Thio soeheng mendadak sakit dan tidak bisa menemui para tamu yg terhormat. Ia meminta loolap untuk menghaturkan maaf kepada kalian semua.”

Boe Kie heran. “Hari itu ketika Kong-boen Taysoe datang bersembahyang kepada Gwakong, mukanya tidak menunjukkan orang sakit,” pikirnya. “Apa bias jadi orang yang mempunyai Lweekang seperti dia bisa mendadak mendapat sakit berat? Apa bukan ia terluka?”

Sesudah berdiam sejenak Kong tie berkata pula, “Kim mo Say ong Cia Soen banyak dosanya dan sekarang kami berhasil menangkap dia. Karena Siauw lim-pay tidak berani mengambil keputusan sendiri, maka kami sudah mengundang orang-orang gagah dalam Rimba Persilatan untuk merundingkan cara menghukumnya.” Dalam mengucapkan pidato pembukaan itu, Kong tie seperti sedang berduka, sedang memikirkan sakitnya Kong boen Taysoe.

Eng hiong Tayhwee yang terakhir diadakan Keng cie kwan dan selama lebih kurang seratus tahun belum pernah diadakan lagi pertemuan orang-orang gagah yang sedemikian besar. Maka itu, kejadian ini merupakan salah satu kejadian terpenting dalam dunia persilatan. Tapi apa mau tuan rumah mendapat sakit dan mendengar pengumuman itu, kegembiraan para hadirin lantas berkurang banyak.

Dengan matanya yang sangat tajam Boe Kie menyapu barisan Siauw lim sie. Ia tidak lihat Goan tin dan Tan Yoe Liang. “Sesudah aku membuka topeng Goan tin dihadapan Touw ok bertiga, apa dia sudah dihukum?” tanyanya dalam hati, “Apa tak munculnya Kong boen Taysoe ada sangkut pautnya dengan hal ini?”

Sesudah bicara sambil merangkap kedua tangannya Kong tie mundur beberapa langkah. Tiba-tiba disudut tenggara bangkit seseorang yang tubuhnya tinggi besar dan janggutnya yang berwarna dan melambai-lambai tertiup angin. Ia berparas angker dan tangannya memegang tiga butir ‘tiat tan’ (peluru besi). Banyak orang segera mengenali bahwa ia bernama Hee Cioe seorang guru silat di Soecoan timur. Begitu bangun berdiri ia segera berkata dengan suara nyaring, “Cia Soen telah melakukan banyak sekali kejahatan. Bahwa ia sudah ditangkap oleh Siauw lim-pay merupakan berkah bagi seluruh Rimba Persilatan, Kong boen dan Kong tie Seng ceng bersikap terlalu sungkan. Manusia yang begitu jahat boleh segera dibunuh saja. Untuk apa berdamai lagi? Tapi sesudah kita semua terlanjur berkumpul di sini, boleh dinamakan To say Tay hwee (pertemuan untuk membunuh singa). Untuk membalaskan sakit hatinya orang-orang yang binasa tanpa berdosa, sebaiknya kita menghukum mati dia dengan siksaan.”

Hee Cioe bicara dengan bernapsu karena salah seorang saudaranya telah dibunuh Cia Soen dan selama beberapa puluh tahun ia telah berusaha membalaskan sakit hati. Usul itu segera saja disetujui oleh beberapa puluh orang.

Mendadak diantara suara ramai terdengar suara yang menyeramkan. “Cia Soen adalah Hoe kauw Hoatong dari Beng kauw. Kalau Siauw lim-pay tidak merasa takut terhadap Beng kauw sudah lama mereka tentu sudah turun tangan. Apa dengan mengumpulkan kita, mereka ingin membagi tanggung jawab di atas pundak kita semua? Hee lookoesoe menurut pendapatku, pikiranmu sudah gila.” Semua segera mengarah ke suara itu, tapi orang yang bicara tidak kelihatan batang hidungnya. Ternyata dia seorang kate kecil dan waktu bicara dia tidak bangun berdiri.

“Apa Cioe poet sie Soema Hengtee?” teriak Hee Cioe, “Cia Soen telah membunuh adikku, seorang laki-laki bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Kuharap para pendeta Siauw lim sie suka mengeluarkan dia dan loohoe akan bacok mati dia. Carilah orang she Hee di Coan tong.” (Cioe poet sie – Gelaran yang berarti “Mabuk tak mati”)

Cioe poet sie Soema Cian Ciong tertawa dingin. “Hee To ko semua orang kangouw tahu bahwa To liong to yang termulia dalam Rimba Persilatan telah jatuh ditangan Cia Soen,” katanya. “Kalau Siauw lim pay berhasil membekuk Cia Soen bukankah itu berarti bahwa Siauw lim-pay juga sudah berhasil merebut To liong to? Membunuh Cia Soen urusan kecil, mendapat To liong to barulah urusan besar. Kong tie Taysoe, kuharap kau jangan berlagak bodoh. Keluarkanlah To liong to supaya kita semua bisa melihatnya. Selama ribuan tahun Siauw lim-pay sebagai partai utama dalam Rimba Persilatan. Dengan golok mustika itu, Siauw lim-pay tak jadi lebih agung. Tanpa golok mustika itu, Siauw lim-pay takkan jadi lebih rendah. Dengan To liong to atau tanpa To liong to, Siauw lim-pay sudah menduduki kedudukan termulia dalam Rimba Persilatan.”

Soema Cian Ciong adalah salah satu orang aneh dalam Rimba Persilatan. Dia tak punya guru dan tak punya murid. Dia bebas bagaikan burung hoe liar, tidak masuk partai manapun jua dan sangat jarang bertempur sehingga orang tak tahu sampai berapa tinggi kepandaiannya. Kalau berbicara, dia bicara seenaknya saja, tak ragu-ragu untuk mengejek atau menyindir.

Perkataan Soema Cian Ciong segera saja mendapat sambutan hangat. Beberapa orang turut bicara dan meminta supaya Siauw lim-pay segera mengeluarkan To liong to untuk diperlihatkan kepada semua tamu.

“To liong to tidak ada ditangan kami,” kata Kong tie dengan suara perlahan. “Selama hidup loolap pun belum pernah melihat golok mustika itu.”

Pernyataan itu diluar dugaan dan mengejutkan semua orang. Keadaan segera berubah ramai, banyak orang berebut menyatakan pendapat. Semula semua tamu menduga bahwa To liong to ada sangkut paut dengan pertemuan ini.

Dibelakang Kong tie berdiri sembilan pendeta tua yang mengenakan jubah pertapa warna merah. Sesudah suara ramai mereda, salah seorang sembilan pendeta itu maju ke depan dan berkata dengan suara nyaring. “Bahwa To liong to berada di dalam tangan Cia Soen diketahui oleh semua orang. Hanya sayang waktu kami menangkap Cia Soen, To liong to tidak berada ditangannya. Karena hal ini hal penting dalam Rimba Persilatan, maka hong Tio kami telah berusaha untuk mencari tahu. Tapi Cia Soen orang yang keras kepala, biarpun segera dibunuh dia tidak mau membuka mulut. Maka itu pertemuan hari ini mempunyai dua tujuan. Yang pertama untuk merundingkan cara menghukum Cia Soen, yang kedua untuk menyelidiki dimana adanya To liong to. Apabila diantara kalian ada yang mendapat informasi, kami harap bisa memberitahukan secara terang-terangan.”

Semua orang saling mengawasi. Semua orang membungkam.

Yang bicara lagi Soema Cian Ciong. “Selama ratusan tahun, disamping To liong to masih ada Ie thian kiam,” katanya. “Menurut cerita orang pedang itu berada dalam tangan Go bie-pay. Tapi sesudah pertempuran di Kong-beng teng, Ie thian kiam juga hilang tak berbekas. Apakah karena pertemuan hari ini dinamakan Eng hiong Tay hwee (pertemuan orang-orang gagah, pria), maka jago-jago betina dari Go bie-pay lantas tidak mau datang?”

Perkataan itu diambut gelak tawa.

Tiba-tiba terdengar teriakan seorang tie kek-ceng, “Kay pang Soe Pangcoe dengan para Tiang loo dan para murid Kay pang datang berkunjung!”

Boe Kie heran. “Soe Hwee Liong Pangcoe sudah binasa ditangan Goan tin,” katanya dalam hati, “Dari mana muncul Soe Pangcoe lagi?”

“Undang mereka masuk!” teriak Kong tie.

Kay pang adalah pang hwee (perkumpulan) yang terbesar dalam dunia kangouw. Sebagai penghargaan terhadap tamu yang baru datang itu Kong tie sendiri keluar menyambut. Rombongan Kay pang terdiri dari seratus lima puluh orang lebih yang semuanya mengenakan pakaian rombeng. Biarpun dalam tahun belakang keadaan Kay pang tak seperti dulu lagi tapi hari ini dia masih merupakan organisasi yang sangat besar pengaruhnya. Mendengar kedatangannya banyak orang gagah segera bangun berdiri sebagai tanda penghormatan.

Rombongan dilalui oleh dua pengemis tua. Boe Kie mengenali bahwa mereka adalah Coan kang dan Cie hoat Tiangloo. Dibelakang mereka berjalan seorang anak perempuan yang berusia kira-kira dua belas atau tiga belas tahun. Anak itu jelek romannya, hidungnya dongak dan mulutnya terlihat dua gigi yang sangat besar. Dia bukan lain dari pada Soe Hong Sek, putri Soe Hwe Liong. Dia berjalan dengan memegang sebatang tongkat bamboo warna hijau yaitu tongkat Tah kauw pang (tongkat untuk memukul anjing tanda kekuasaan dari seorang pangcoe). Dibelakang Soe Hong Sek mengikuti Ciang pang Liong tauw, Cian poen Liong tauw murid delapan karung, tujuh karung dan enam karung. Ternyata untuk menghadiri Eng hiong Tay hwee murid Kay pang yang paling rendah tingkatannya adalah murid enam karung.

Melihat yang membawa Tah kauw pang seorang anak-anak, Kong tie ragu. Apa anak itu yang menjadi pangcoe? Karena rasa ragunya ia berkata, “Siauw lim sie menyambut orang gagah dari Kay pang.”

“Karena Soe Hwee Liong Pangcoe telah berpulang ke alam baka, maka atas persetujuan para Tiangloo, kami mengangkat putrid Soe pangcoe, Soe Hong Sek kauwnio sebagai pangcoe baru,” kata Coan kang Tiangloo seraya menunjuk Soe Hong Sek.

Kong tie terkejut. Kauwcoe dari Beng kauw sudah sangat muda tapi pangcoe Kay pang lebih muda lagi bahkan seorang anak-anak. Sesuai dengan tata kehormatan ia segera menangkup kedua tangannya dan berkata, “Kong tie murid Siauw lim menghadap Soe pangcoe.”

Nona Soe membalas hormat.

“Karena pangcoe kami masih sangat muda maka segala urusan perkumpulan diurus olehku dan Cin hoat Tiangloo berdua,” kata Coan kang. “Kong tie Seng ceng adalah cian pwee yang berkedudukan tinggi dan kami berani menerima kehormatan yang begitu besar.”

Sesudah kedua pemimpin itu saling merendahkan diri, para pengemis diantar ke gubuk dan mengambil tempat duduk mereka.

Boe Kie menyadari bahwa semua pengemis mengenakan pakaian berkabung dan pada paras mereka terlihat paras berduka dan gusar. Ia lihat sejumlah karung yang dibawa mereka bergerak-gerak sebagai tanda bahwa didalamnya berisi sesuatu. Boe Kie segera menebak bahwa kedatangan mereka mempunyai maksud tertentu. Ia girang dan berbisik kepada Yo Siauw, “Kita mendapat bantuan!”

Dengan diantar oleh Coan kang dan Cie hoat Tiangloo, Ciang pang dan Ciang poen Liong tow Soe Hong Sek pergi ke tempat rombongan Beng kauw, sambil menyoja Coan kang berkata, “Thio Kauwcoe, tertangkapnya Kim mo Say ong ada sangkut paut dengan rapat perkumpulan kami. Maka itu, biarpun hari ini harus melepaskan jiwa kami bertekad untuk pertama, melindungi Cia hoat ong supaya kami bisa membalas budi Thio Kauwcoe dan menebus dosa dan kedua, supaya bisa membalas sakit hatinya mendiang Soe pangcoe, seluruh barisan Kay pang akan dengar semua perintahmu.”

Cepat-cepat Boe Kie balas menghormat dan berkata, “Tidak berani aku memerintah kalian!”

Coan kang Tiangloo mengucapkan kata-kata itu dengan suara nyaring. Ia memang sengaja berbicara keras supaya didengar oleh semua orang. Pernyataan itu sangat mengejutkan. Hampir semua orang tahu bahwa Kay pang bermusuhan dengan Beng kauw dan telah ikut menyerang Kong beng teng. Pernyataan Coan kang Tiangloo bahwa Kay pang akan ikut perintah Boe Kie dan membalas sakit hati mendiang Soe pangcoe tidak bisa dimengerti semua orang.

Sehabis Coan kang berbicara, semua anggota Kay pang bangun serentak dan berseru, “Kami menunggu perintah Thio Kauwcoe! Biarpun mesti masuk ke dalam lautan api, kami takkan menolak!”

Coan kang segera memutar tubuh dan menghadap Kong tie. “Kay pang dan Siauw li-pay belum pernah mempunyai permusuhan,” katanya dengan suara keras. “Kami selalu menghormati Siauw lim-pay sebagai partai utama dalam Rimba Persilatan sehingga kalau ada ganjalan-ganjalan kecil kami selalu menahan sabar dan mengalah. Kami selamanya tidak berani berbuat salah kepada Siauw lim-pay. Dari paling rendah kami semua menaruh hormat kepada keempat Seng ceng dari Siauw lim yang pantas diteladani semua orang gagah dalam Rimba Persilatan. Sudah lama karena sakit, Soe Pangcoe kami mengundurkan diri dari dunia Pergaulan dan tidak berhubungan lagi dengan orang-orang Kangouw. Entah mengapa Pangcoe kami tidak luput dari tangan jahat seorang pendeta Siauw lim yang berkedudukan tinggi.” Perkataan itu disambut dengan suara ‘ah!’. Semua orang terkesiap terlebih lebih Kong tie.

Sementara itu Coan kang Tiangloo bicara terus. “Hari ini kami datang kemari bukan sebagai eng hiong yang ingin menghadari Eng hiong Tay hwee. Kami datang untuk meminta petunjuk Kong boen Hong thio. Kami ingin bertanya dimana letak kesalahan Soe Pangcoe sehingga ia mesti dibinasakan oleh seorang pendeta Siauw lim bahkan Soe Hoejin tidak lolos dari kematian?”

Kong tie merangkap kedua tangannya. “O mie to hoed,” katanya. “Bahwa Soe Pangcoe meninggal dunia baru hari ini diketahui loolap. Tiangloo mengatakan bahwa Soe Pangcoe dibinasakan oleh murid Siauw lim-pay. Apa tak salah loolap mohon Tiangloo memberikan penjelasan yang lebih jelas.”

“Kong boen dan Kong tie Seng ceng adalah pendeta-pendeta suci yang mulia hatinya,” kata Coan kang. “Kami tentu tidak berani menuduh sembarangan.”

“Sekarang aku mohon Taysoe sudi mengeluarkan seorang pendeta dan seorang murid Siauw lim yang bukan pendeta supaya mereka bisa dilihat dihadapan umum.”

“Baiklah, siapa kedua orang itu?”
“Mereka adalah….” Mendadak suaranya terputus!

Kong tie terkejut. Ia mendekat dan memegang pergelangan tangan kanan tetua Kay pang itu dan…astaga…Nadinya sudah berhenti berdenyut! “Tiangloo Tiangloo!” panggil Kong tie. Dilain saat ia sadar bahwa diantara alis Coan kang Tiangloo terdapat satu titik hitam sebesar kepala hio. “Para enghiong, dengarlah,” teriak Kong tie. “Tiangloo sudah kena senjata rahasia yang sangat beracun dan sudah meninggal dunia! Siauw lim-pay pasti takkan menggunakan senjata semacam itu.”

Keadaan segera berubah kacau. Semua orang kaget tak kepalang terutama orang-orang Kay pang yang segera berteriak dan beberapa puluh diantaranya maju ke depan untuk melihat jenasah tetua mereka. Ciang-poen Liongtauw mengeluarkan sepotong besi berani dari sakunya dan menempelkan didahi Coan kang. Dengan besi itu ia mengeluarkan sebatang jarum yang halus seperti bulu kerbau dan panjangnya kira-kira satu dim.

Pemimpin-pemimpin Kay pang percaya bahwa dengan mengatakan Siauw lim-pay tak menggunakan senjata itu, Kong tie Seng ceng tidak berdusta. Senjata rendah itu pasti takkan digunakan oleh sebuah partai utama yang terkenal lurus bersih dalam dunia persilatan. Dibawah terangnya matahari dan dibawah pengawasan begitu banyak mata, orang itu bisa menyerang tanpa diketahui oleh siapapun juga. Hal ini membuktikan bahwa si pembokong mempunyai kepandaian luar biasa. Coan kang Tiangloo berdiri menghadap ke selatan sehingga senjata rahasia itu pasti datang dari jurusan selatan. Dengan sorot mata gusar, para pemimpin Kay pang mengawasi orang-orang yang berdiri dibelakang Kong tie. Sembilan pendeta Tat mo berdiri sambil menundukkan kepala dan dibelakang mereka sebaris demi sebaris berdiri pendeta yang mengenakan jubah kuning, jubah abu-abu dan sebagainya. Siapa yang berdosa tak mungkin diketahui, biarpun sudah bisa dipastikan bahwa si pembokong adalah salah seorang dari pendeta-pendeta itu.

Dengan air mata mengucur, Cie hoat berkata, “Kong tie Taysoe menganggap kami menuduh sembarangan tapi keterangan apa yang mau diberikan Siauw lim-pay dalam peristiwa ini?”

Ciang pang Liong tauw yang paling berangasan segera berteriak sambil mengibaskan toya besinya. “Mari kita adu jiwa dengan Siauw lim-pay!” Ajakan itu disambut dengan suara terhunusnya senjata dan seratus lebih anggota Kay pang melompat masuk ke tengah-tengah lapangan.

Dengan paras pucat dan berduka, Kong tie berkata kepada para pendeta.

“Sejak Tat-mo Loocouw sampai sekarang sudah ribuan tahun kita menaati ajaran-ajaran Sang Buddha. Walaupun kita belajar silat untuk menjaga diri dan bergaul dengan orang-orang gagah dalam dunia persilatan kita belum pernah melakukan sesuatu yang berdosa. Hong-thio Soeheng dan aku sudah merasa tawar akan segala yang bersifat keduniawian….” Sehabis berkata begitu, secepat kilat mengambil sebatang sian-thung bajak dari tangan seorang murid Siauw lim dan melontarkannya. “Blas!” toya itu amblas di dalam tanah! Menancapkan sianthung di tanah adalah suatu tanda Siauw lim-pay bahwa orang yang berbuat begitu sudah bertekad untuk mengadu jiwa dan melanggar larangan membunuh.

Ketegangan memuncak dan dengan hati berdebar-debar semua orang menunggu perkembangan selanjutnya.

Sesudah memutar tubuh dengan sorot mata tajam bagaikan pisau, Kong tie menatap wajah semua pendeta, satu demi satu yang berdiri dihadapannya. “Siapa yang menimpuk dengan jarum beracun itu?” tanyanya dengan suara parau. “Seorang laki-laki berani berbuat harus berani menanggung segala akibatnya. Keluarlah!”

Tiba-tiba Boe Kie ingat sesuatu. Ia ingat perbuatan mendiang ibunya, In So so yang dengan menyamar sebagai ayahnya telah membunuh beberapa pendeta Siauw lim dengan jarum beracun sehingga ayahnya dituduh yang tidak-tidak. Tapi bentuk jarum emas Peh bie kauw berbeda dari jarum perak yang digunakan untuk membinasakan Coan kang Tiangloo dan racunnya pun tidak sama. Menurut dugaannya, racun jarum perak itu adalah “Sim it tiauw” (jantung satu kali lompat) dari semacam serangan beracun. “Sim it tiauw” berarti bahwa begitu racun itu bertemu dengan darah, jantung dari orang yang kena racun hanya bisa berdenyut satu kali lagi. Tak perlu diragukan lagi bahwa si pembokong adalah konco Goan tin yang coba menutup mulut Coan kang Tiangloo waktu tetua Kay pang itu mau menyebutkan nama Goan tin.

Perintah Kong tie tidak diladeni, sejumlah pendeta hanya menyambut dengan, “O mie to hoed” sambil merangkapkan tangan mereka.

“Siapa yang membunuh Soe Pangcoe sudah diketahui oleh berlaksa murid Kay pang!” teriak Ciang pang Liong tauw, “Kalau kamu mau menutup mulut kami, kamu harus membunuh semua anggota Kay pang. Hweeshio yang membunuh Pangcoe kami adalah Goan tin….”

Tiba-tiba Cian poen Liong tauw melompat seraya mengibaskan mangkok. Selagi kawannya bicara, Ciang poen Liong tauw bersiaga. Begitu melihat berkelebatnya sinar putih, ia melompat. Terlambat sedikit saja kawan itu tentu mati.

Hamper bersamaan, cepat luar biasa Kong tie melompat ke arah sembilan pendeta Tat mo-tong dan menendang roboh salah seorang pendeta tua. Ia mencengkram batang leher pendeta itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Kong jie, kau!” bentaknya. Ia merobek jubah pendeta itu dan melontarkannya di tanah. Dipinggang pendeta itu terdapat sebatang tabung kecil yang terbuat dari tembaga dan didalam tabung itu dipasang per yang bisa menendang kalau alatnya dipijit sehingga dalam melepaskan jarum orang tak usah mengayunkan tangan.

Dalam gusar, duka dan kagetnya, Ciang pang Liong tauw menyapu dengan toyanya dan kepala Kong jie segera hancur. Sebagai pendeta yang sama tingkatannya (tingkatan “Kong”) dengan keempat Seng ceng, Kong jie memiliki kepandaian tinggi. Tapi karena jalan darahnya sudah ditotok Kong tie, maka ia tak berdaya meloloskan diri dari toya Ciang pang Liong tauw.

Kong tie dongkol karena kekasaran tetua Kaypang itu. Dengan sorot mata gusar ia mengawasi Ciang pang Liong tauw. Keadaan berubah kalut, banyak orang berteriak-teriak.

Mendadak dari luar masuk empat orang pendeta wanita yang masing-masing memegang hudtim (kebutan). Salah seorang berteriak, “Cioe Cie Jiak, Ciang boen-jin Go bie-pay dengan mengajak murid-murid Go bie, mengunjungi Koen boen Hong thio dari Siauw lim sie!”

“Masuklah!” kata Kong tie. Dengan sikap tenang seolah-olah tidak terjadi apapun jua, ia keluar menyambut dengan diiringi oleh pendeta-pendeta Tat mo-tong yang sekarang berjumlah delapan. Sesudah memberi hormat, keempat pendeta wanita itu memutar badan dan berjalan keluar lagi untuk menyambut pemimpin mereka.

Begitu mendengar nama “Cioe Cie Jiak”, jantung Boe Kie memukul keras. Ia melirik Tio Beng yang juga sedang mengawasi dirinya.

Rombongan Go bie-pay tidak segera masuk ke lapangan. Sesudah Kong tie keluar menyambut, barulah mereka maju dalam barisan yang rapi. Barisan sebelah depan terdiri dari delapan puluh atau sembilan puluh murid Go bie-pay yang mengenakan baju warna hitam. Sebagian besar adalah pendeta wanita yang mencukur rambut. Sesudah mereka dalam jarak kira-kira setombak mengikuti seorang wanita muda yang memakai baju warna hijau. Wanita yang sangat cantik itu tidak lain adalah Cioe Cie Jiak. Dengan rasa malu Boe Kie mengawasi muka nona Cioe yang pucat dan diliputi sinar kedukaan. Dibelakang Cie Jiak, barulah murid pria yang jumlahnya duapuluh lebih dan mengenakan jubah panjang warna hitam. Setiap murid pria membawa kotak kayu dalam berbagai ukuran, ada yang panjang, ada yang pendek. Murid Go bie-pay tidak membawa senjata terang-terangan tapi dapat diduga bahwa kotak-kotak itu berisi senjata.

Sesudah semua orang Go bie duduk, Boe Kie menghampiri Cie Jiak. Sambil menyoja ia berkata, “Cioe Ciecie, Thio Boe Kie memohon maaf.”

Belasan murid wanita bangun serentak dan mengawasi Boe Kie dengan sorot mata gusar.

“Thio Kauwcoe, untuk apa kau memberi hormat?” tanya si nona dengan suara tawar.

Sesudah menetapkan hatinya, Boe Kie berkata pula, “Cie Jiak, hari itu karena perlu menolong Gie hoe, aku telah berbuat sesuatu yang tidak pantas dan aku merasa sangat malu dan menyesal.”

Melihat diantara murid Go bie yang berdiri terdapat Cenghoei yang lengannya bunting, ia maju dan menyoja. “Thio Boe Kie berdosa besar dan dia rela menerima hukuman,” katanya. Ceng hoei memutar badan dan menolak penghormatan itu.

“Kudengar Cia Tayhiap jatuh ke tangan Siauw lim sie,” kata Cie Jiak. “Thio Kauwcoe seorang gagah luar biasa, Thio Kauwcoe tentu sudah berhasil menolong Cia Tayhiap.”

Muka Boe Kie berubah merah. “Para pendeta Siauw lim sie berkepandaian tinggi dan Bengkauw sudah menderita kekalahan dalam satu pertempuran,” jawabnya. “Karena pertempuran itu, kakekku meninggal dunia.”

“Sungguh sayang! In Loo enghiong seorang gagah yang jarang tandingannya,” jawabnya.

Melihat sikap dan perkataan Cie Jiak yang sangat tawar, Boe Kie merasa jengah bercampur dongkol. Tapi mengingat perbuatannya sendiri pada hari pernikahan, ia menahan sabar. “Nanti aku ingin berusaha untuk menolong Giehoe,” katanya. “Dengan mengingat hubungan dulu, kuharap kau sudi memberi bantuan.”

Sesudah berkata begitu, mendadak ia ingat bahwa selama kurang lebih setengah tahun, kepandaian si nona mendapat kemajuan luar biasa. Dalam ruangan upacara pernikahan bahkan orang seperti Hoan Yauw kena dipukul olehnya. Ia ingat juga bahwa Tio Beng yang mengenal berbagai ilmu silat hampir kena dibinasakan. “Kalau dia sudi membantu mungkin sekali aku akan bisa pecahkan Kim kong Hok mo coan,” pikirnya. Berpikir begitu hatinya girang dan ia berkata dengan suara penuh harapan. “Cie Jiak, aku ingin minta pertolonganmu.”

Paras muka Cie Jiak mendadak berubah. “Thio Kauwcoe,” katanya. “Kuharap kau tahu sopan sedikit, antara lelaki dan perempuan terdapat larangan tertentu.”

“Apakah tak bisa kau menggunakan istilah dulu?” Ia menggapai ke belakang dan berkata pula. “Ceng Soe, mari! COba kau beri penjelasan kepada Thio Kauwcoe.”

Seorang pria brewokan menghampiri dan berkata sambil menyoja. “Thio Kauwcoe selamat bertemu!” Boe Kie mengenali bahwa suara itu memang suara Ceng Soe yang menyamar.

“Song Toako, selamat bertemu,” jawabnya sambil membalas hormat.

Ceng Soe tersenyum. “Sepantasnya aku harus menghaturkan terima kasih kepadamu,” katanya. “Hari itu ketika Thio Kauwcoe mau menjalankan upacara pernikahan dengan istriku….”

“Apa?” putus Boe Kie. Ia terkesiap ketika mendengar perkataan “istriku”

“Aku ingin mengatakan bahwa pernikahanku pada hakikatnya terjadi berkat bantuan Kauwcoe,” jawabnya.

Jawaban itu bagaikan halilintar di siang bolong. Boe Kie terpaku, matanya berkunang-kunang. Selang beberapa saat lamanya ia merasa tangannya ditarik orang. “Thio Kauwcoe, mari!” kata orang itu.

Boe Kie menoleh. Orang yang menarik tangannya adalah Han Lim Jie. Dengan paras muka duka bercampur gusar, Han Lim Jie berkata, “Thio Kauwcoe, Kauwcoe kali ini adalah seorang mulia. Hari itu sesudah terjadi salah paham tapi dia segera menikah dengan e…hu…hu” Ia ingin mencaci Song Ceng Soe tapi mengurungkan niatnya sebab memandang muka Cie Jiak.

Boe Kie masih berdiri terpaku. Ia merasa sakit, lebih sakit daripada tikaman pedang Cie Jiak di atas Kong beng teng. Ia mencintai Tio Beng tapi iapun menganggap Cie Jiak sebagai istrinya.

Hari itu demi menolong ayah angkatnya ia mengikuti Tio Beng. Ia menduga bahwa nona Cioe yang beradat halus akan memaafkannya jika ia sudah menjelaskan penyebab tindakannya itu dan meminta maaf. Ia tak pernah menduga bahwa dalam gusarnya Cie Jiak segera menikah dengan Song Ceng Soe.

Sementara itu Ceng Soe sudah duduk disamping Cie Jiak. Sambil tersenyum ia berkata, “Waktu menikah kami tidak mengundang orang dan yang memberi selamat hanyalah para murid Go bie-pay. Dilain hari aku akan mengundang kau minum arak kegirangan.”

Boe Kie ingin menghaturkan terima kasih tapi mulutnya terkancing.

Mendengar ejekan itu, Han Lim Jie menarik tangan pemimpinnya. “Kauwcoe,” katanya. “Jangan ladeni manusia itu!”

Ceng Soe tertawa terbahak-bahak. “Han Toako, kaupun harus minum arak kegirangan,” katanya.

Han Lim Jie meludah, “Aku lebih suka minum kencing kuda daripada arak racunmu!” bentaknya dengan mata melotot.

Boe Kie tahu bahwa pemuda she Han itu beradat polos dan berangasan. Sebagai tamu, tidak baik jika sampai terjadi bentrokan. Maka itu, sambil menghela nafas ia menarik tangan Han Lim Jie dan balik ke gubuk Bengkauw.

Waktu itu Ciang pang Liong tauw sedang bercekcok dengan seorang pendeta Siauw lim sie. Pembicaraan antara Boe Kie, Cie Jiak dan Ceng Soe dilakukan dengan suara perlahan di satu sudut gubuk Go bie-pay sehingga tidak menarik perhatian orang yang sedang memperhatikan pertengkaran antara Siauw lim-pay dan Kay pang.

“Aku sudah mengatakan bahwa Goan tin Soeheng dan Tan Yoe Liang tidak berada di kuil kami,” kata seorang pendeta jubah merah. “Meninggalnya Coan kang Ciang loo sudah diganti dengan Kong jie Soesiok. Mau apa lagi kau?”

“Siapa percaya omonganmu!” bentak Ciang pang Liong tauw. “Kami baru percaya setelah menggeledah kuilmu.”

Pendeta itu tertawa dingin. “Kau mau menggeledah Siauw lim sie?” tanyanya dengan suara memandang rendah. “Perkumpulan semacam Kay pang belum tentu bisa menggeledah kuil kami!”

“Kurang ajar!” teriak Ciang pang Liong tauw. “Kau memandang enteng kepada Kay pang ya? Baiklah, sekarang aku minta pelajaran.”

Panasnya suasana memuncak tapi Kong tie masih tetap berpeluk tangan.

Tiba-tiba Soema Cian Cong berteriak, “Hei! Dari tempat jauh kami datang ke sini bukan untuk menyaksikan pertengkaran antara Siauw lim pay dan Kay pang!”

“Benar,” sambung Hee Cioe. “Ganjelan antara Kay pang dan Siauw lim-pay boleh ditunda sementara waktu, kita harus lebih dulu membersihkan penjahat Cia Soen.”

“Mulutmu jangan terlalu busuk!” bentak Ciang pang Liong tauw. “Biar bagaimanapun juga, Cia Tayhiap adalah salah seorang anggota dari keempat Hoe kauw Hoat ong.”

“Kalau kau takut pada Bengkauw, aku tak takut,” balas Hee Cioe. “Cia Soen lebih jahat dari anjing. Apa aku harus menamakan dia seorang pendekar?”

Mendadak Yo Siauw melesat dari tempat duduknya dan tahu-tahu ia sudah berada di tengah lapangan. Dengan menyoja ia berkata, “Aku Kongbeng Cosoe dari Bengkauw. Aku mengutarakan pendapatku bahwa Cia Say ong membunuh orang memang harus diakui sebagai satu kesalahan. Tapi kita orang-orang Kangouw setiap hari hidup diujung senjata, diantara orang-orang yang berada di sini, siapa yang belum pernah membunuh sesama manusia? Hee Loo enghiong, apa seumur hidupmu kau belum pernah mengambil jiwa manusia?”

Jaman itu, akhir kerajaan Goan adalah jaman kalut dan pemberontak melawan penjajah. Orang-orang Rimba Persilatan yang terlibat dalam kalangan Kangouw terpaksa membunuh orang kalau tidak mau dibunuh. Yang tangannya dapat dikatakan bersih hanyalah pendeta Siauw lim-pay, pendeta perempuan Go bie-pay atau orang-orang Rimba Persilatan yang menjauhkan diri dari kancah pergulatan. Sebagai jagoan Soecoan timur, Hee Cioe banyak membunuh orang. Mendengar pertanyaan Yo Siauw, ia tertegun beberapa saat barulah ia bisa menjawab.

“Orang jahat pantas dibunuh tapi orang baik tidak boleh dibunuh secara membabi buta. Cia Soen manusia jahat luar biasa, aku ingin sekali mencincang dia. Huh huh! Orang she Yo, kau juga bukan manusia baik.”

Mendengar itu, dari antara rombongan Bengkauw terdengar suara seseorang, “Hee Cioe, menurut pendapatmu aku manusia baik apa manusia jahat?”

Hee Cioe menoleh ke arah suara, yang bicara seseorang berkepala lancip, mulut lancip dan muka pucat pasi. “Siapa kau?” bentaknya. “Karena kau anggota Mokauw kau juga tentu bukan manusia baik-baik.”

“Hee heng, kau tak kenal dia?” tanya Soema Cian Cong, “Dia Cengek Ho kong, salah seorang dari keempat Hoekauw Hoat ong Mokauw.”

Mendadak, mendadak saja terlihat kelebatan bayangan dan Wie it siauw sudah berhadapan dengan Hee Cioe. Jarak mereka berdua ada belasan tombaki.

Entah bagaimana jarak itu bisa dilampaui dalam sekelebatan. Dilain detik Wie it siauw sudah mengirim empat tamparan di muka Hee Cioe dan totokan sikut dikempungan. Sebenarnya Hee Cioe bukan sembarang orang, kalau bertempur mungkin ia bisa dikalahkan Wie it siauw sesudah limapuluh atau enampuluh jurus, ia roboh tanpa bisa melawan karena ilmu ringan tubuh Ceng ek Hek ong yang sangat luar biasa.

Diantara seruan kaget dari para hadirin, dari gubuk Bengkauw tiba-tiba berkelebat lagi satu bayangan putih. Bayangan itu tidak secepat Wie it siauw tapi toh cukup cepat. Begitu orang itu berhadapan dengan Hee Cioe, selembar karung terbuka dan menelungkup tubuh jagoan Soecoan itu. Sekarang semua orang bisa lihat bahwa dia itu adalah Po tay Hweshio swee poet tek. Sambil menggendong karungnya dan tertawa ha ha hi hi ha ha, ia berkata, “Manusia baik! Kau manusia baik! Aku akan bawa kau pulang dan perlahan-lahan masak dagingmu!”

Sambil berkata begitu dengan tenang ia kembali ke tempat duduknya.

Semua orang tertegun.

Selang beberapa saat, beberapa belas orang yaitu kawan-kawan dan murid-murid Hee Cioe barulah menghampiri rombongan Bengkauw dengan sikap mengancam.

Swee poet tek membuka karung dan berkata sambil tertawa, “Kamu semua kembalilah! Setelah pertemuan bubar, aku akan bebaskan dia. Kalau kamu tidak dengar aku akan mengencingi dia. Kamu percaya atau tidak?”

Orang-orang itu percaya bahwa Swee poet tek akan membuktikan ancamannya. Apabila sampai terjadi kejadian itu, untuk menghilangkan malu, sebagai seorang jago Hee Cioe akan bunuh diri. Maka itu, sesudah saling mengawasi sambil menahan marah mereka kembali ke tempatnya masing-masing.

Sesudah menyaksikan kepandaian kedua jago Bengkauw, banyak orang kuatir. Mereka merasa andaikan Cia Soen dibinasakan maka satu pertumpahan darah tidak akan bisa dicegah lagi.

Sementara itu, dengan tangan kiri memegang cangkir dan tangan kanan mencekal poci arak, Soema Cian Cong berjalan ke tengah lapangan dengan langkah sempoyongan. “Hari ini benar-benar ramai,” katanya, “Ada yang mau membunuh Cia Soen, ada pula yang mau menolong. Tapi apa benar Cia Soen berada di Siauw lim sie aku sendiri merasa ragu. Kong tie Taysoe sebaiknya kau segera keluarkan Cia Soen agar kita bisa melihat mukanya. Sesudah itu yang mau membunuh dia dan yang mau menolong boleh mengadu kepandaian. Ha ha! Dengan demikian, bukankah kita bakal menyaksikan keramaian yang sangat menarik hati?”

Usul itu disambut dengan sorak sorai oleh para hadirin.

Melihat sambutan itu, Yo Siauw berpikir, “Cia Say ong terlalu banyak musuhnya. Kerjasama antara Bengkauw dan Kay pang belum tentu bisa menghadapi orang-orang itu. Aku harus menggunakan jalan dari sudut To liong to.” Berpikir begitu ia segera berkata, “Hari ini para eng hiong berkumpul di Siauw lim pertama karena ada perhitungan yang belum dibereskan dan kedua…hehe…mungkin karena ingin lihat bagaimana bentuk To liong to….”

“Jika kita ikuti usul Soema Sianseng maka kita ramai-ramai bertempur sekaligus dalam rombongan. Apabila diadakan pertempuran begitu siapakah yang akhirnya memiliki To liong to?”

Semua orang menganggap perkataan itu sangat beralasan. Mereka manggut-manggutkan kepala. Diantara beberapa ribu tamu itu yang benar-benar sakit hati pada Cia Soen semuanya hanya kira-kira seratus orang, yang lain begitu dengar pertanyaan Yo segera goyah hatinya.

Seseorang yang jenggotnya hitam berdiri dan bertanya, “Apa Yo Cosoe tahu dimana adanya To liong to?”

“Tidak tau,” jawabnya. “Mengenai itu kita harus tanya Kong tie Taysoe.”

Kong tie tidak buka suara. Ia hanya menggelengkan kepala sehingga banyak orang merasa tidak puas.

Seseorang setengah tua yang mengenakan jubah panjang warna kuning bangkit dan berkata, “Kalau Kong tie Taysoe tidak tau, Cia Say ong tentu tahu. Sekarang kita minta agar dia dikeluarkan untuk ditanya dan sesudah itu lalu diadakan pertandingan. Siapa yang menang, dia menjadi Boe lim Cie coen (yang termulia dalam Rimba Persilatan). Siapapun juga yang memegang To liong to harus menyerahkan golok mustika kepada Boe lim Cie coen itu. Menurut pendapatku, kita harus lebih dulu menetapkan hal ini supaya tidak terjadi pertengkaran dibelakang hari. Bagaimana pandapat kalian?”

Boe Kie segera mengenali bahwa yang bicara adalah salah seorang dari ketiga tokoh Ceng hay-pay yang pernah menyerang tiga pendeta Siauw lim dipohon siong.

“Usul itu tak beda dari pah lai tay,” kata Soema Cian Ciong. “Kurasa tidak begitu tepat.” (Pah lai tay – Adu silat diatas panggung)

“Dimana tidak tepatnya?” tanya si jubah kuning. “Kalau bukan adu silat apa mau adu minum arak? Apa tuan mau gunakan bahwa siapa yang tidak mabuk atau siapa yang mabuk tapi tidak mati dialah yang akan jadi Boe lim Cie coen?” (Gelar Soema Cian Ciong ialah “Coet poet sie” atau “Mabuk arak tapi tidak mati”)

Sindiran itu disambut dengan gelak tawa oleh para hadirin.

“Tidak, tidak!” kata Soema Cian Ciong sambil menuang arak ke cangkir. “Dalam perebutan gelar Cioe lim Cie coen (yang termulia dalam Rimba Arak) mungkin aku masih bisa ada harapan.” Sesudah berdiam sejenak, ia berkata lagi. “Dengan mengajukan usul itu, tuan tentu memiliki kepandaian tinggi. Mataku lamur dan tidak mengenal tuan. Bolehkah aku tahu she dan nama tuan yang mulia?”

“Aku Yap Tiang Ceng dari Ceng hay-pay. Dalam hal minum arak dan mengadu lidah aku tidak menandingi tuan.” Dengan kata lain maksudnya adalah dalam ilmu silat ia lebih unggul.

Soema Cian Ciong mengerutkan alis dan miringkan kepala, “Ceng hay-pay?” tanyanya, “Aku belum pernah dengar, Yap Tiang Ceng juga belum pernah dengar!”

Itu hinaan dan Yap Tiang Ceng dongkol sekali, “Kalau tuan anggap adu silat tidak tepat, adu apakah yang lebih tepat?” katanya dengan gusar.

Jawab Soema Cian Ciong. “Hm…dulu waktu aku berada di Cee lam hoe….”

Mendengar tarik urat itu banyak orang habis kesabarannya, “Cioe poet sie, kau mundurlah!” teriak seseorang.

“Yang penting soal Cia Soen dan To liong to!” teriak yang lain.

“Kong tie Siansoe, sebagai tuan rumah kau harus utarakan pikiran!” kata seseorang pula.

Seorang pendeta Tat mo tong yang berada dibelakang Kong tie bangun berdiri dan berkata, “Siauw lim-pay menjadi tuan rumah tapi Hong thio mendadak sakit, kami merasa menyesal dan minta maaf. Soal Cia Soen dan To liong to adalah dua soal yang bisa diurus sekaligus. Menurut pendapat loolap, usul Yap Siecoe dari Ceng hay-pay adalah tepat, setiap orang memperlihatkan kepandaiannya, Cia Soen dan To liong to diserahkan kepada orang yang paling unggul. Dengan demikian semua orang merasa puas. Bukankah jalan ini jalan yang paling adil?”

Dengan berbisik Boe Kie tanya Pheng Eng Giok siapa pendeta itu.

“Aku tak tahu!” jawabnya. “Pendeta itu tidak ikut menyerang Kong beng teng dan juga tidak ikut ditawan oleh Koencoe Nionio. Tapi dengan berani bicara mendahului Kong tie, ia pasti mempunyai kedudukan yang tinggi didalam Siauw lim sie.”

“Kuduga dia teman Goan tin,” bisik Tio Beng. “Mungkin sekali Kong boen Hong thio sudah jatuh ke tangan Goan tin dan Kong tie Taysoe berada dibawah kekuasaan pemberontak, lihat saja sikapnya yang sangat berduka.”

Hati Boe Kie berdebar-debar, “Pheng Soehoe bagaimana pendapatmu?” tanyanya.

“Dugaan Koencoe Nionio rasanya tepat. Dalam Siauw lim sie banyak sekali orang pandai kalau benar Goan tin mengacau terang-terangan, nyalinya benar-benar tak kecil.”

“Goan tin sudah lama siap,” kata Boe Kie. “Dan ingin menjadi Ciang boen Hong thio.” (Ciang boen Hong thio – Pemimpin Partai dan kepala kuil Siauw lim sie)

“Ciang boen Hong thio mungkin masih belum cukup,” kata Tio Beng.

“Siauw lim-pay adalah partai terutama dalam Rimba Persilatan,” kata Boe Kie. “Dengan menjadi Ciang boen Hong thio, dia sudah menduduki tempat yang paling tinggi, tidak bisa lebih tinggi lagi.”

“Bagaimana dengan Boe lim Cie coen?” tanya nona Tio. “Bukankah Boe lim Cie coen lebih tinggi dari Ciang boen Hong thio Siauw lim-pay?”

Boe Kie tertegun, “Apa benar dia punya niatan itu!”

“Boe Kie Koko, karena Cioe Ciecie menikah dengan orang lain, kau jadi linglung,” kata si nona sambil tertawa. “Kau tidak bisa menggunakan otakmu lagi.”

Mendengar tebakan yang jitu itu, muka Boe Kie segera berubah merah. Diam-diam ia mengutuk dirinya sendiri yang lantaran memikirkan wanita cantik sudah lupa tugas menolong ayah angkatnya.

Sesudah menentramkan pikirannya ia bertanya, “Beng moay, menurut kau siasat apa yang dijalankan Goan tin?”

Jawab si nona, “Goan tin adalah orang yang sangat banyak akalnya….”

“Koencoe Nionio kepintaranmu tak kalah dengan Goan tin,” putus Cioe Tian.
“Kau memuji terlalu tinggi.”
“Tidak terlalu tinggi….”
Cioe heng memotong Pheng Eng Giok, “Jangan putuskan omongan Koencoe.”

“Kau sendiri jangan putuskan omonganku!” bentak Cioe Tian dengan dongkol.

Pheng Eng Giok tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi. Kalau ia bersuara, pertengkaran tentu menjadi panjang.

“Memang dugaanku kalau Goan tin hanya bertujuan untuk merebut kedudukan Ciang boen Hong thio, ia tak perlu mengadakan pertemuan besar ini,” kata Tio Beng. “Sesudah Cia Tayhiap jatuh ke tangannya perlu apa ia menganjurkan pertandingan dengan orang gagah? Boe Kie Koko, kalau kita bicara tentang ilmu silat di jaman ini mungkin tak ada orang yang bisa menandingimu. Kenyataan ini tidak bisa tidak diketahui Goan tin. Maka itu tidaklah mungkin dia mengatur pertemuan ini untuk membiarkan kau merebut gelar Boe lim Cie coen, memiliki To liong to dan membebaskan Cia Tayhiap.”

Boe Kie, Pheng Eng Giok dan Cioe Tian mengangguk. “Tapi bagaimana pendapatmu?” tanya Boe Kie, “Siasat apa yang dijalankan Goan tin?”

Ketika itu Yo Siauw sudah kembali. “Aku pun anggap Goan tin mempunyai tujuan yang jahat dalam menjalankan tipu muslihatnya. Goan tin musuh besar agama kita dan Koencoe Nionio pernah menjadi musuh kita,” kata Cioe Tian. “Goan tin banyak akalnya. Mereka berdua kira-kira tak banyak bedanya.”

Tio Beng tersenyum. “Cioe Sianseng,” katanya. “Perkataan memang beralasan, sekarang mari kita renungkan. Kalau aku jadi Goan tin, apa yang akan kuperbuat? Hm…pertama, aku akan membujuk supaya Kong boen Hong thio mengundang orang-orang gagah dikolong langit untuk berkumpul di Siauw lim sie, Kong boen Hong thio seorang beribadat, berhati murah dan berilmu tinggi. Ia sebenarnya tak mau banyak urusan. Tapi kutahu bahwa untuk membujuknya aku hanya perlu menyebutkan nasib Kong kian dan Kong Seng ceng. Mengingat kecintaan kedua saudara seperguruannya itu, Kong boen Hong thio pasti akan mengiyakan. Disamping itu, apabila Siauw lim sie membunuh Cia Tayhiap, sakit hati Bengkauw besar bagaikan lautan. Dengan mengandalkan tenaga sendiri belum tentu Siauw lim sie bisa melawan serangan Bengkauw. Dengan mengumpulkan orang-orang gagah dikolong langit, Bengkauw tentu tidak bisa membunuh semua orang yang berjumlah beberapa ribu.”

Boe Kie dan yang lain manggut-manggutkan kepala.

“Dalam Eng hiong Tayhwee aku sendiri takkan muncul,” kata nona Tio lagi. “Aku menyuruh orang-orangku melepas umpan guna mengadu domba. Umpamanya Cia Tayhiap dan To liong to. Didalam pertempuran tak peduli kalah atau menang sebagian tokoh Bengkauw pasti akan celaka dan tenaga Bengkauw akan berkurang.”

“Benar, hal itu sudah dipikirkan olehku,” kata Boe Kie. “Tapi budi Giehoe berat bagaikan gunung dan saudara-saudara dan Giehoe mempunyai hubungan persaudaraan selama puluhan tahun. Mana bisa kita mengawasi dengan berpeluk tangan saja? Hai!…Baru saja berapa hari kita dating disini kakek sudah meninggal dunia. Dengan bersembunyi di tempat gelap bangsat Goan tin tentu bertepuk tangan.”

Tio Beng mengangguk. “Ya,” katanya, “Memang begitu, gelar ahli silat nomor satu dikolong langit kebanyakan akan jatuh dalam tangan Thio Kauwcoe. Pendeta Siauw lim akan berkata Thio Kauwcoe sudah berhasil mengalahkan para orang gagah dan kami memberi selamat, kami menyerahkan Cia Tayhiap kepada Thio Kauwcoe.”

“Silakan Kauwcoe pergi ke puncak bukit dibelakang kuil kami untuk menyambutnya. Dengan seorang diri, Thio Kauwcoe harus memecahkan Kim kong Hok mo coan. Kalau ada yang mau membantu, teman-teman Goan tin pasti akan berkata Thio Kauwcoe yang sudah bisa menindih orang gagah dikolong langit tidak berkaitan dengan orang luar. Tuan sebaiknya jangan ikut campur, dalam merebut gelarnya, meskipun tidak sampai terluka, tenaga Thio Kauwcoe pasti sudah berkurang banyak. Bagaimana ia bisa melawan ketiga pendeta itu? Buntutnya Cia Tayhiap tidak dapat ditolong dan ia sendiri mati diantara pohon-pohon siong tua. Jenazah Thio Kauwcoe, pendekar besar disuatu jaman hanay ditemani rembulan dan angin dingin. Apa siasat itu tidak lihay?”

Mendengar keterangan itu, semua orang terkejut. Mereka merasa bahwa dugaan si nona bukan tebakan kosong. Boe Kie orang yang beradat keras, biar bagaimana sukarpun ia pasti berusaha untuk terus menolong Cia Soen. Dalam usaha itu ia rela mengorbankan jiwa. Andaikan mesti mendaki gunung golok atau mencebur ke dalam kuali minyak mendidih, ia pasti tak akan mundur.

Sesudah menghela napas, Tio Beng berkata, “Dengan demikian Bengkauw akan hancur lebur. Sesudah itu Goan tin akan maju lebih jauh, ia akan meracuni Kong boen Hong thio dan melimpahkan dosa di atas kepala Kong tie Taysoe. Tak sukar menjalankan siasat ini. Asal ia membuat bukti palsu, para pendeta Siauw lim pasti akan percaya. Setelah Kong boen dan Kong tie dirobohkan dengan bantuan teman-teman, ia tentu akan diangkat menjadi Hong thio. Sesudah menjadi Hong thio ia akan memerintahkan penyerangan terakhir pada sisa Bengkauw dan Bengkauw akan musnah dari bumi. Saat itu gelar jago nomor satu dikolong langit akan jatuh pada dirinya. Kalau To liong to tak muncul lagi ya sudah saja. Tapi apabila golok mustika itu kelihatan dalam kalangan Kangouw, semua orang menyetujui bahwa pemiliknya yang sah adalah Goan tin Seng ceng Hong thio dari Siauw lim sie. Jika orang yang memegang golok itu tak menyerahkannya kepada Goan tin, dia mungkin tak bisa hidup selamat dalam waktu lama.”

Tio Beng bicara dengan bisik-bisik dan hanya bisa didengar oleh beberapa orang. Tapi sesudah si nona selesai bicara, Cioe Tian segera menepuk lututnya keras-keras dan berkata dengan suara nyaring. “Benar-benar siasat yang hebat!” Banyak orang menengok dan mengawasi omongan Bengkauw.

“Siasat apa?” tanya Soema Cian Ciong, “Apa boleh loohoe tahu?”

“Tak bisa,” jawab Cioe Tian, “Aku ingin mengadu domba orang-orang gagah dikolong langit agar mereka saling bunuh. Siasatku itu tak bisa diberitahukan kepada siapapun juga. Kalau rahasia bocor, tak manjur lagi.”

“Bagus! Bagus!” kata Soema Cian Ciong sambil tertawa. “Tapi, bagaimana kau mau mengadu domba orang-orang gagah?”

“Tipuku sangat hebat!” teriak Cioe Tian. “Aku mengatakan bahwa To liong to berada dalam tanganku dan siapa yang ilmu silatnya paling tinggi akan mendapat golok mustika itu.”

“Bagus! Bagus!” teriak Soema Cian Ciong. “Bicara terus!”

“Kau ingin merebut To liong to untuk menjadi Boe lim Cie coen, Siecan dibunuh setan arak, setan arak dibunuh hweeshio, si hweeshio dibunuh oleh too soe, si too soe dibunuh si nona terus menerus drah mengucur, mayat memenuhi lapangan ini. Apa itu tak bagus?”

Semua orang terkesiap, mereka merasa bahwa biarpun seperti orang berotak miring, perkataan Cioe sangat tepat.

Jie loo (tetua nomor dua) dari Khong tong-pay, Cong Wie hiap segera bangun berdiri dan berkata, “Perkataan Cioe sianseng sangat beralasan. Ketika orang terang tidak bicara secara gelap. Kita harus mengakui bahwa semua golongan ingin sekali memiliki To liong to, tapi janganlah berebut karena golok mustika itu, banyak orang jadi celaka. Sekarang aku ingin ajukan sebuah usul. Biarlah pertandingan ini merupakan pertandingan yang dinamakan dengan ilmu silat mencari persahabatan. Kita tetapkan sebuah peraturan bahwa begitu salah satu pihak kena disentuh, pertandingan harus segera dihentikan. Dengan demikian biarpun kalah menang mendapat keputusan tidaklah sampai terjadi permusuhan yang tak diinginkan. Bagaimana pendapat kalian?”

Sebagaimana diketahui Kong beng teng dikepung oleh enam partai, Boe Kie telah mengobati luka Cong Wie Hiap yang didapat karena berlatih Cit siang koen. Jago tua itu merasa sangat berterima kasih dan kedatangan Khong tong-pay kali ini di Siauw lim sie mengandung maksud membantu Bengkauw dalam usaha menolong Cia Soen.

Soema dan Cian Ciong tertawa nyaring, “Kulihat kau manusia yang takut mati,” katanya. “Kalau kau ada luka dan tak ada orang mati, adu silat mana enak dilihat?”

Siang Tek Cie, tetua keempat Khong tong-pay yang berangasan segera meluap darahnya, “Tutup mulutmu,” bentaknya. “Melukai kau si setan arak sama gampangnya seperti orang membalik tangan.”

“Ah! Aku hanya guyon,” kata si setan arak. “Mengapa Siang sianseng segera marah? Siapa tidak kenal Cit siang koen dari Khong tong-pay? Bukankah Kong kian Seng ceng juga mati karena pukulan Cit siang koen. Aku si setan arak mana bisa menyamai Kong kian Seng ceng.”

Semua orang diam-diam tertawa dalam hati. Mereka merasa heran bahwa setan arak yang berbicara seenaknya saja bisa hidup terus sampai hari ini.

Cong Wie Hiap tidak meladeni dan berkata dengan suara nyaring, “Aku mengusulkan supaya setiap partai, setiap perkumpulan atau golongan menunjuk dua wakil untuk maju ke gelanggang pieboe. Siapa yang dapat kemenangan terakhir dialah yang akan mendapat Cia Tayhiap dan To liong to.”

Usul itu disambut dengan sorak sorai dan tepuk tangan. Semua orang mengatakan bahwa usul Cong Wie Hiap adalah jalan yang paling baik.

Diam-diam Boe Kie memperhatikan pendeta-pendeta yang berdiri dibelakang Kong tie. Ia sadar bahwa banyak yang paras mukanya tak senang. Ia yakin sekarang bahwa dugaan Tio Beng adalah tepat.

Seseorang setengah tua yang putih mukanya dan sebelah tangannya memegang kipas terbalut emas bangun berdiri dan berkata, “Aku menyetujui usul Cong Jiehiap. Tapi biarpun diadakan peraturan begitu ada yang tersentuh pertandingan segera dihentikan, kitapun harus ingat bahwa senjata dan kaki tangan tidak ada matanya. Kalau ada yang salah tangan biarlah dianggap saja bahwa kejadian itu adalah takdir. Sahabat-sahabat dari orang yang terluka atau mati tidak boleh berusaha untuk membalas sakit hati. Tapi adanya ketetapan itu, pertandingan mungkin akan berlarut-larut dan takkan ada habisnya.”

“Bagus! Bagus! Setuju!” demikian sambut para hadirin.

“Kalau tidak salah, saudara yang berparas tampan itu adalah saudara Auwyang dari Heng yang hoe di Ouwlan,” kata Soema Cian Ciong.

“Benar,” jawabnya sambil menggoyang-goyangkan kipas.

“Auwyang Heng tay dan aku seperti setan-setan liar,” kata Soema Cian Ciong pula. “Kita tidak masuk didalam partai atau perkumpulan manapun juga. Aku suka arak (cioe), kau suka paras cantik (sex). Alangkah baiknya bila kita berdua membentuk sebuah partai baru yang dinamakan Cioe sex-pay, kita berdua menghadapi orang gagah dikolong langit. Apa kau setuju?”

Semua orang tertawa terbahak-bahak. Orang yang bermuka putih itu bernama Auwyang Bok. Ia mempunyai dua belas gundik dan biarpun ilmu silatnya tinggi ia jarang bergaul dengan orang-orang kangouw.

Auwyang Bok turut tertawa. “Kalau aku menyatukan diri dengan kau dalam sebuah partai, aku kuatir hartaku tak cukup untuk membiayai minum arakmu,” katanya. “Saudara bicara lagi tentang pertandingan silat, kita sebaiknya mengangkat beberapa cianpwee yang berkedudukan tinggi untuk menjadi juru pemisah guna menyingkirkan segala pertengkaran!”

“Aku setuju,” jawab Cong Wie Hiap. “Aku usulkan Kong tie Sengceng.”

Seraya menuding karung yang dipegang Swee Poet Tek, Soema Cian Ciong berkata, “Aku usulkan Coan tong Tayhiap Hee Cioe Hee Loo eng hiong yang berada dalam karung itu.”

Swee Poet Tek mengangkat karungnya dan melontarkan ke arah Soema Cian Ciong, “Juru pemisah datang,” teriaknya sambil tertawa.

Soema Cian Ciong menyambuti dan segera coba membuka ikatan mulut karung. Diluar dugaan ikatan itu sangat istimewa dan ia tidak berhasil membukanya. Seraya tertawa hahahihi Swee Poet Tek mengangkat karung itu dengan tangan kirinya dan beberapa gerakan tangan mulut karung sudah terbuka. Dilain saat tubuh Hee Cioe sudah menggelinding keluar, cepat-cepat Soema Cian Ciong membangunkannya dan membuka jalan darahnya.

Bukan main malunya Hee Cioe, tiba-tiba ia mencabut pedang pendeknya dan menikam dadanya. Soema Cian Ciong terkesiap. Untung juga ia masih sempat menangkap dan merebut senjata itu. “Hee heng, mengapa kau berpandangan begitu sempit?” katanya dengan suara membujuk.

“Aku usulkan Soen Looya coe dari Tiang pek-san!” teriak seorang pria kate gemuk.

“Siang gie (sepasang Gie) dari Ciat kang timur menggetarkan seluruh Kang lim!” seru seorang wanita setengah tua. “Mereka berdua terkenal adil dan aku usulkan mereka sebagai juru pemisah.”

Dengan cepat sudah diajukan belasan calon.

Mendadak dirombongan Go bie-pay terdengar suara seorang pendeta wanita tua, “Perlu apa diadakan juru pemisah?” Suaranya yang dingin tak keras, tapi menusuk kuping, satu bukti bahwa nenek itu memiliki Lweekang yang tinggi.

“Apa boleh aku tahu nama Soethay?” tanya Soema Cian Ciong, “Mengapa tak perlu juru pemisah?”

“Yang menang hidup, kalah mati, juru pemisah yang tepat adalah Giam loo ong!” jawabnya.

Mendengar suara bernada dingin dan menyeramkan, banyak orang bangun bulu romanya.

“Dengan ilmu silat kita mencari persahabatan,” kata Soema Cian Ciong. “Antara kita tidak terdapat permusuhan. Perlu apa kita berkelahi sampai ada yang mati? Seorang beribadat berdiri diatas dasar belas kasihan. Dengan berkata begitu apakah Soethay tak kuatir Hoedcouw (Sang Buddha) akan menjadi gusar?”

“Terhadap orang lain kau boleh menggoyang lidah secara gila-gilaan. Terhadap murid Go bie-pay, kau harus tahu aturan sedikit.”

“Go bie-pay sangat hebat! Kata orang, lelaki tak boleh ribut dengan perempuan. Aku si setan arak mau tarik urat dengan pendeta perempuan.” Seraya berkata begitu, ia mengangkat cangkir arak untuk meneguknya. Tapi baru saja cangkir menempel dibibir tiba-tiba terdengar suara “srr…srr…!” yang sangat tajam dan tiga peluru menyambar, satu menghantam cangkir, satu memukul poci dan satu lagi menyambar dada.

Hampir bersamaan terdengar ledakan-ledakan keras, ketiga peluru itu meledak dan terbakar. Cangkir dan poci arak hancur sedang dada Soema Cian Ciong berlubang besar. Badannya terpental dan ambruk di tanah. Dengan hati mencelos Hee Cioe menubruk tapi Soema Cian Ciong sudah tak bisa ditolong lagi. Bajunya hangus dan napasnya sudah berhenti tapi bibirnya masih tersungging senyuman. Pada detik terakhir, ia masih belum tahu bahwa ia sedang menghadapi maut.

Kejadian itu tentu saja mengejutkan semua orang. Orang-orang gagah yang berada disitu adalah jago-jago berpengalaman luas. Tapi mereka tak tahu senjata rahasia apa yang digunakan Go bie-pay.

“Celaka! Senjata apa itu?” teriak Cioe Tian dengan suara parau.

“Kudengar di negeri asing ada semacam senjata rahasia yang menggunakan bahan peledak dan dinamakan Pek-lek Loei hwee tan,” bisik Yo Siauw. “Mungkin sekali peluru itu semacam Pek-lek Loei hwee tan.” (Pek-lek Loei hwee tan = Peluru geledek api atau granat).

Sementara itu, sambil memeluk jenazah Soema Cian Ciong, Hee Cioe berkata kepada rombongan Go bie pay. “Walaupun dia sering suka guyon-guyon, Soema Hengtee seorang yang berhati mulia. Selama hidup ia belum pernah melakukan sesuatu yang berdosa. Saudara-saudara orang-orang gagah di kolong langit. Apakah di antara kalian ada yang pernah dengar bahwa Soema Cian Ciong pernah mencelakai sesama manusia?”

Semua orang membungkam. Mereka turut berduka.

Sambil menuding niekouw tua itu, Hee Cioe berkata pula dengan suara keras! “Go bie pay dikenal dikenal sebagai partai yang lurus bersih. Siapa nyana kamu menggunakan senjata yang begitu beracun! Di dalam rimba persilatan, partai atau jago yang bagaimana tangguhpun tidak boleh melewati batas yang dinamakan “li” (kepantasan). Apa aku boleh tahu nama Soethay?”

“Aku Ceng kee, jago dalam karung. Mau apa kau?”

“Sebab kepandaian cetek, aku sudah dihina oleh kawanan iblis,” kata Hee Cioe dengan suara parau. “Tapi biarpun tak punya kebecusan, si orang she Hee tidak menyeleweng dari jalan kesatriaan. Ceng kee Soethay, kau begitu kejam! Kau sungguh berdosa terhadap Coawsoe Go bie pay, Kwee Siang Kwee Liehiap.”

Mendengar disebutnya nama Couwsoe mereka, semua murid Go bie pay serentak bangun berdiri. Sambil mengawasi Hee Cioe dengan alis berdiri Ceng kee membentak. “Apa nama yang mulia dari Couwsoe kami boleh disebut-sebut begitu saja oleh telur busuk seperti kau?”

Banyak murid Go bie pay melakukan perbuatan tidak pantas dan menodai nama Couwsoe mereka. Jangankan Kwee Liehiap, sekalipun Biat coat Soethay yang terkenal kejam, masih belum pernah membunuh manusia yang tidak berdosa. Kau sudah sembarangan mengambil jiwa sesama manusia yang tidak berdosa dan Ciang boenjin mu sama sekali tidak menghiraukannya. Huh huh… apa dengan kekejaman itu Go bie pay masih ingin berdiri dalam dunia Kangouw?”

“Tutup bacotmu! Kalau membacot lagi setan arak itu menjadi contohmu.”

Dengan paras muka merah padam Hee Cioe maju tiga tindak. “Kalau Ciang boenjin Go bie-pay tidak membersihkan rumah tangganya, mulai dari sekarang Go bie pay akan dikutuk oleh segenap orang gagah!” teriaknya.

Ribuan pasang mata murid-murid Go bie pay dan mata semua orang tamu ditujukan kepada Cioe Cie Jiak. Perlahan-lahan Cie Jiak manggutkan kepalanya. Di lain saat sesudah dapat permisi dari pemimpinnya, Ceng Kee melepaskan dua butir Pek Lek Loei hwee tan yang menyambar bagaikan kilat. Dada dan kempungan Hee Cioe berlubang dan pakaiannya terbakar. Tapi biarpun sudah binasa, ia masih berdiri tegak dan kedua tangannya masih memeluk jenazah Soema Cian Ciong.

Semua orang tertegun. Selang beberapa saat, barulah keadaan berubah gempar dan ratusan orang berteriak-teriak mencaci Go bie pay.

Wie It Siauw dan Swee poet tek saling mengawasi dan kemudian saling manggutkan kepala. Sesudah saling memberi isyarat, mereka berlari-lari menghampiri jenazah Hee Cioe. Mereka berlutut dan Swee poet tek berkata, “Hee looenghiong, kami berdua tak tahu bahwa kau seorang ksatria yang berhati mulia. Tadi kami telah berlaku kurang ajar dan kami merasa menyesal dan malu.” Sehabis berkata begitu ia menggapelok muka sendiri, diturut oleh Wie It Siauw. Sesudah itu mereka memadamkan api yang membakar kedua jenazah dan kemudian membawanya ke gubuk rombongan Beng kauw.

Melihat Cie Jiak berubah begitu kejam, bukan main rasa dukanya Boe Kie.

Selagi orang berteriak-teriak, Cie Jiek bicara bisik-bisik kepada Soe Ceng Soe yang sesudah menggangguk beberapa kali lalu berjalan ke tengah-tengah lapangan.

“Hari ini para orang gagah membuat pertemuan dan pertemuan ini bukan pertemuan untuk menulis syair, menabuh tabu-tabuan atau minum arak,” katanya dengan suara nyaring. “Pertemuan ini adalah pertemuan Rimba Persilatan dan dalam pertemuan begitu, soal luka atau binasa adalah soal yang biasa saja. Hee Looenghiong mengatakan bahwa Soema Siau Seng belum pernah melakukan perbuatan tidak baik dan mempersalahkan Cengkee Soethay sebagai seorang yang sudah membunuh orang yang tak berdosa. Sesudah itu, kalian bikin ribut ribut seperti juga tak merasa puas terhadap partai kami. “Apakah dalam pertandingan silat kita harus lebih dulu mencari tahu riwayat setiap orang dan yang baik tak boleh dilukai dan yang jahat barulah boleh dibinasakan?”

Pertanyaan itu telah membungkam semua orang. Banyak di antaranya lantas saja merasa bahwa perkataan Song Ceng Soe memang beralasan.

Sesudah mendapat angin Song Ceng Soe berkata pula. “Kalau To liong to hanya boleh dimiliki oleh orang yang mulia, tak perlu diadakan pertandingan silat lagi. Kalau benar begitu, kita beramai-ramai harus pergi ke Shoatang dan mencari turunan nabi Khong Hoe Coe untuk menyerahkan golok mustika itu kepadanya. Tapi kalau kita bicara tentang silat, maka dalam pertempuran orang mungkin tak bisa memperhatikan lagi apa lawannya seorang tidak berdosa atau berdosa.”

Banyak orang manggut2kan kepala bahkan ada yang lantas berteriak. “Benar!”

Suara Song Ceng Soe itu membangkitkan rasa sangsi di dalam hati Jie Sam Cioe dan In Lie Heng. Suaranya mirip dengan suara Song Ceng Soe, tapi ia menggunakan istilah “partai kami”, suatu tanda bahwa dia seorang anggota Go bie pay. Di samping itu, mukanya yang berewokan tak sama dengan muka Song Ceng Soe.

Karena kesangsian itu, Jie Lian Cioe segera berbangkit dan bertanya, “Apa aku boleh mendapat tahu she dan nama tuan yang mulia?”

Melihat pamannya, Ceng Soe jadi gentar. Beberapa saat kemudian barulah ia menjawab. “Aku seorang muda yang tak terkenal, sehingga tiada harganya untuk Jie hiap mengenal aku.”

“Tuan telah bicara tentang pertandingan silat dan tuan tentu memiliki kepandaian tinggi,” kata Jie Lian Cioe dengan suara keras. “Di waktu masih muda, guruku pernah menerima budi Kwee Liehiap dari Go bie pay. Guruku telah memesan, bahwa murid2 Boe tong tak boleh bertempur melawan murid Go bie, maka itu aku mau mencari keterangan se-jelas2nya, apa benar tuan murid Go bie pay dan siapa adanya tuan. Seorang lelaki sejati harus terus terang, tak boleh main sembunyi-sembunyi.”

Yang menjawab adalah Cioe Cie Jiak. “Jie-Jiehiap, aku tak mendustai kau,” katanya. “Dia adalah suamiku, dia she Song bernama Ceng Soe. Dulu ia murid Boe tong sekarang sudah jadi anggota Go bie pay. Kalau mau bicar, Jie hiap boleh bicara dengan aku.” Keterangan itu yang diucapkan dengan suara nyaring dan dingin mengejutkan semua orang sehingga seluruh lapangan jadi sunyi senyap.

Di lain detik Song Ceng Soe mengusap mukanya dan terloncatlah topengnya. Ia sekarang berubah menjadi seorang pemuda yang sangat tampan.

Mengingat kedosaan keponakan itu, darah Jie Lian Cioe bergolak-golak. Tapi sebagai orang berilmu tinggi, walaupun amarahnya besar paras mukanya masih tetap tenang. Hanya sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau menyapu muka Song Ceng Soe, yang lantas saja menunduk.

“Suamiku sudah keluar dari Boe tong dan masuk di Go bie,” kata Cie Jiak. “Hari ini secara resmi aku mengumumkan hal itu di segenap orang gagah di kolong langit. Jie Jiehiap dengan mengingat persahabatan lama, Thio Cinjin melarang murid murid Boe tong bermusuhan dengan partai kami. Itulah gie khie dari Thio Cinjin. Tapi mungkin juga larangan ini merupakan kepintaran Thio Cinjin dalam usaha mempertahankan nama besar Boe tong pay.”

Sampai di situ In Lie Heng tak bisa menahan sabar lagi. Ia melompat keluar dan sambil menuding Cie Jiak ia membentak. “Cioe kauwnio, dahulu di waktu kau kecil waktu kau terancam bencana, gurukulah yang sudah menolong jiwamu dan kemudian menyerahkan kau kepada Go bie pay. Meskipun guruku sama sekali tidak mengharapkan pembalasan budi, tapi kau sungguh keterlaluan, karena dalam omonganmu itu kau seperti juga mengatakan bahwa Boe tong pay hanya punya nama kosong dan tidak bisa menandingi Go bie pay. Apa dengan berkata begitu kau tidak merasa malu terhadap guruku?”

Cie Jiak tertawa datar. “Para pendekar Boe tong yang namanya menggetarkan Kang ouw memang berkepandaian tinggi dan Song tayhiap sendiri adalah mertuaku,” katanya. “Mana berani aku mengeluarkan celaan itu? Tapi Boe tong dan Go bie pay masing masing mempunyai kepandaian sendiri-sendiri. Sukar dikatakan yang mana yang lebih tinggi dan yang mana lebih rendah. Dulu, Kwee Couwsoe dari partai kami melepas budi kepada Thio Cinjin. Belakangan Thio Cinjin menolong aku. Budi sudah dibalas dengan budi dan di antara kedua partai tidak ada yang berhutang budi lagi, Jie Jiehiap, In Liok hiap! Peraturan bahwa murid Boe tong tidak boleh kebentrok dengan murid Go bie, sebaiknya mulai dari sekarang dihapuskan saja.”

Perkataan yang menantang itu mengejutkan semua orang. Nama Jie Lian Coe tersohor di seluruh rimba persilatan. Mengapa Cie Jiak begitu berani? Apa dengan hanya mengandal kepada peluru geledek Go bie pay mau menjagoi di dunia Kang ouw?

Darah In Lie Hong bergolak golak. Mengingat kebinasaan Boh Seng Kok air matanya lantas saja mengucur. “Ceng Soe! Oh Ceng Soe!” teriaknya dengan suara parau. “Mengapa… mengapa kau binasakan Cit siok mu…?”

Ia tidak dapat lagi meneruskan perkataannya dan menangis sedu sedu.

Semua orang saling mengawasi.

Jie lian Cioe mendekati dan sambil memegang pundak adik seperguruan. “Para enghiong, dengarlah. Boe tong sangat tidak beruntung dan muncul Song Ceng Soe, seorang murid pengkhianat dan durhaka. Cit tee ku, Boh Seng Kok, telah…” mendadak terdengar suara, “srr… srr…” dua butir Pek Lek Loei Hwee tan menyambar dada Jie Lian Cioe.

“Celaka” seru Boe Kie. Ia tak duga Go bie pay bisa berbuat begitu. Ia mau melompat menolong, tapi sudah tidak keburu lagi.

Jie Lian Cioe pun tidak pernah menduga bahwa dirinya bakal diserang secara begitu. Kalau ia berkelit, granat itu pasti akan mencelakai murid-murid Kay pang yang berada di sebelah belakangnya. Ia seorang ksatria tulen dan ia tidak mau kalau karena gara-garanya banyak orang yang tidak berdosa mesti mengorbankan jiwa. Ketika pikiran itu berkelebat dalam otaknya, kedua senjata rahasia itu sudah hampir menyentuh dadanya. Secepat kilat ia membalik kedua telapak tangannya dan menyambut dengan In Chioe (Tangan awan), salah satu ilmu dari Thay kek koen. Kedua granat itu lantas saja terputar-putar di kedua telapak tangannya.

Semua orang serentak bangun berdiri dan ribuan pasang mata ditujukan ke arah kedua telapak Jie Lian Cioe. Meledak atau tidak!… meledak atau tidak?… jantung mereka seolah olah berhenti berdenyut.

Syukur! Granat itu tidak meledak.

Thay kek koen adalah ilmu silat “terlembek” di kolong langit. Bertahun-tahun Jie Lian Cioe melatih diri dalam ilmu itu. Berkat ketekunannya ia berhasi mewarisi ilmu yang sangat tinggi itu. Tadi melihat kebinasaan Soema Cian Ciong dan Hee Cioe, ia tahu bahwa peluru itu akan meledak begitu terbentur dengan lain benda apapun juga. Dalam keadaan terdesak, ia terpaksa mempertaruhkan jiwanya dan menggunakan ilmu “lembek” itu. Benar saja, “kelembekan” dapat mengatasi kekerasan. Kedua peluru itu seperti masuk ke dalam sebuah kekosongan dan hanya berputar putar.

Tiba tiba terdengar pula “srr… srr!…” dan dua butir granat kembali menyambar Jie Lian Cioe.

In Lie Heng yang berdiri di samping soehengnya lantas saja mengibaskan kedua tangannya. Dengan Cioe hwie pi-pee sit (Tangan memetik pi pee, semacam tetabuhan seperti gitar), ia menyambut kedua peluru itu dan kemudian, dalam Kim kee tok li pasat (ayam emas berdiri di atas satu kaki, yaitu kaki kiri menginjak bumi dan kaki kanan terangkat ke atas tubuhnya terputar-putar bagaikan kitiran cepatnya).

Mengapa ia berbuat begitu? In Lie Heng terkenal lihay dalam ilmu pedang, tapi dalam Thay kek koen ia belum bisa menandingi Jie Lian Cioe. Ia lihat bahwa waktu menyambut Pek lek Loei hwee tan, kakak seperguruannya telah menggunakan seantero kepandaiannya. Ia mengerti bahwa apabila kelembekan kedua telapak tangannya mengandung sedikit saja tenaga kekerasan, peluru itu akan lantas meledak. Maka itu, untuk memunahkan tenaga timpukan dan mencegah peledakan, ia memutar mutar kedua peluru itu dengan iringan telapak tangan dengan memutar mutar tubuhnya sendiri. Demikianlah, kalau Jie Lian Cioe bisa memunahkan tenaga timpukan di telapak tangannya sendiri, In Lie Heng harus memunahkannya di tengah udara. Pada hakekatnya kepandaian Jie Jiehiap lebih tinggi daripada In Lie Heng, tapi apa yang diperlihatkan cara menyambut In Liok hiap banyak lebih indah daripada Jie Lian Cioe. Sesudah In Lie Heng memutar-mutarkan tubuhnya kurang lebih tiga puluh putaran, di empat penjuru lapangan terdengar sorak sorai gegap gempita.

Sekonyong-konyong terdengar lagi suara “srr…srrr….” Dan delapan Loei hwee tan menyambar dengan saling susul.

Sambil membentak keras dengan berbareng Jie Lian Cioe dan In Lie Heng menimpuk dengan empat peluru yang berada dalam tangan mereka. Murid-murid Boe tong pay tidak pernah belajar menggunakan senjata rahasia, tapi mereka telah berlatih diri dalam ilmu menyambut senjata rahasia dan memulangkannya kepada lawan. Dengan sebuah senjata rahasia, seorang murid Boe tong bisa memukul dua atau tiga senjata lawan. Maka itu, empat Loei hwee tan yang dilontarkan oleh Jie Lian Cioe dan In Lie Heng dengan jitu sudah menghantam delapan peluru yang sedang menyambar.

Hampir berbareng terdengar delapan perledakkan dahsyat dan seluruh lapangan penuh dengan asap dan bau obat pasang. Sesudah menimpuk, kedua pendekar Boe tong melompat mundur belasan tombak untuk menyingkir dari lain serangan Loei hwee tan.

Melihat lihaynya Pek lek Loei hwee tan, semua orang kaget dan cemas. Yang memiliki ilmu seperti kedua pendekar Boe tong hanya beberapa orang saja. Dalam menghadapi granat itu ilmu ringan tubuh tidak mencukupi, sebab kalau diserang dengan Boan thian Hoa ie (Hujan bungan di angkasa yang berarti serangan dengan sejumlah besar peluru) dan peluru peluru saling menyentuk dan meledak di tengah udara, maka orang yang ringan tubuhnya paling lihaypun sukar terlolos dari bencana.

Sementara itu, di gubuk Hwa san pay kelihatan berdiri seorang yang bertubuh jangkung dan yang segera berkata dengan suara nyaring. “Apakah dalam pertandingan silat Go bie pay ingin memperoleh kemenangan dengan mengandalkan jumlah yang besar?” Yang bicara adalah seorang dari Hwasan Jih Loo (dua tetua Hwa san pay). Dahulu di atas Kong beng teng, ia pernah mengerubut Boe Kie bersama Ho Thay Cong dan Pan Siok Ham.

“Silat banyak sekali perubahan-perubahannya,” jawab Geng Kee Soethay. “Yang kuat menang, yang lemah kalah. Kita bukan sebangsa sastrawan yang saban2 ributi soal peraturan.”

Mendengar perkataan itu, orang hanya menggelengkan kepala. Murid Go bie pay kebanyakan wanita, tapi sekarang ternyata mereka bahkan lebih sukar diajak berbicara daripada kaum pria. Waktu bicara tetua Hwa san pay itu tidak berani datang dekat sebab kuatir diserang dengan Pek Lek Loei hoei tan.

Boe Kie menyaksikan itu semua dengan rasa menyesal dan berduka. “Cie Jiak menikah bukan karena mencintai Song Soeko,” katanya. Ia ingat pengalamannya di pulau kecil, ketika dia dan si nona saling mengutarakan rasa cinta dan berjanji untuk hidup sebagai suami isteri. Mana bisa janji suci itu dilanggar dengan begitu saja? Ia sungguh merasa bersalah. Waktu menghadapi meja sembahyang, di hadapan orang banyak ia kabur bersama sama Tio Beng.

Cie Jiak adalah Ciangbunjin sebuah partai besar dan seorang wanita terhormat. Mana boleh ia menghinakannya secara begitu hebat? Mana bisa Cie Jiak tidak sakit hati? “Hari ini Go bie pay telah berbuat perbuatan perbuatan yang tidak pantas, tapi kalau mau diusut itu semua adalah gara2ku,” katanya di dalam hati.

Makin dipikir, ia makin merasa menyesal. Akhirnya sambil menahan rasa jengah, ia pergi ke gubuk Go bie pay dan berkata, “Cie Jiak, ini semua lantaran kedosaanku. Urusan Song Soeko mencelakai Boh Citsiok harus ada pemberesannya. Menurut pendapatku, sebaiknya Song Soeko ikut Jie Jiepeh dan To Lek Siok pulang ke Boe tong untuk memohon ampun, atau kalau perlu menerima hukuman, dari Song Toa Soepeh.”

Cioe Cie Jiak tertawa dingin. “Thio Kauwcoe,” katanya, “dahulu kuanggap kau seorang lelaki sejati. Hanya sepak terjangmu tolol tololan. Siapa nyana kau hanya seorang manusia rendah. Seorang laki-laki berani berbuat harus berani menanggung segala akibatnya. Kau sudah membinasakan Boh Cit hiap. Mengapa kau menimpakan kedosaan itu di atas kepala orang lain?”

Boe Kie terkesiap. “Ah!… aku membinasakan Boh Citsiok?” ia menegas. “Aku?”

“Mengapa ayah dan ibumu binasa?” tanya Cie Jiak. “Sebab mereka berdosa. Mereka bunuh diri sendiri, bukan?” Jie Thay Giam, Sam Soepehmu, adalah seorang gagah di jaman ini. Tapi dia bercacat seumur hidup, karena dicelakai ibumu. Bukankah begitu? Ayahmu adalah murid dari sebuah partai yang lurus bersih. Tapi dia mabuk dengan paras cantik, dan menikah dengan perempuan siluman. Bukankah begitu? Thio Kauwcoe, kulihat kau sudah meneladani semua perbuatan mulia dari ayah dan ibumu!”

Bahna gusarnya muka Boe Kie jadi merah padah dan tubuhnya bergemetaran, kalau Cie Jiak hanya mencaci dirinya, ia takkan menghiraukan. Tapi sekarang yang dimaki adalah mendiang ayah dan ibunya. Dengan kejadian itu, tiba-tiba saja mukanya berubah putih, pucat pasi sebab menahan hawa amarah. Hampir hampir ia tak dapat mempertahankan diri. Untung juga dalam kegusarannya ia ingat bahwa Cie Jiak menghina kedua orang tuanya justru untuk membuatnya kalap dan melakukan perbuatan yang tidak pantas. Di samping itu iapun tidak dapat melupakan kesalahannya sendiri. Mengingat begitu sambil menggigit bibir ia memutar tubuh dan lantas berjalan pergi!

Sekonyong konyong dalam rombongan Go bie pay terdengar teriak seorang. “Tak disangka Thio Kauwcoe hanya manusia rendah yang nyalinya kecil. Melihat kelihayan Pek lek Loei hwee tan kita, dia kabur dengan menyeret buntutnya.”

Boe Kie menengok dan mendapat kenyataan bahwa niekouw yang berteriak begitu adalah Cenghoat Soethay yang berlengan satu. Ia menghela napas dan berkata di dalam hati. Dia kehilangan lengan juga sebab gara-garaku. Sudahlah! Perlu apa aku meladeni? Ia berjalan terus tanpa menengok lagi, walaupun ia terus disoraki dan diejek oleh murid Go bie pay.

Yo Siauw tertawa dingin dan berkata dengan suara nyaring. “Pek Lek Loei hwee tan hanya permainan kanak! Tidak ada harganya untuk disebut sebut. Kalau peluru itu tidak bisa mencelakai kedua pendekar Boe tong, dia juga tak akan bisa mencelakai Thio Kauwcoe kami ahli waris ilmu silat Boe tong. Hoh hah… kamu, orang-orang Go bie pay mau memperoleh kemenangan mengandalkan jumlah besar. Baiklah, aku akan memberi pelajaran kepadamu cara bagaimana orang bisa menarik keuntungan dengan mengandalkan jumlah yang besar.” Seraya berkata begitu, ia mengulapkan tangan kirinya. Seorang kacung yang memakai baju putih menghampiri dengan kedua tangan menggenggam sebuah rak kayu kecil dimana tertancap puluhan bendera kecil yang terdiri dari lima warna.

Yo Siauw mencabut satu bendera putih dan melontarkannya. Bendera itu terbang dan menancap di tengah-tengah lapangan.

Semua orang mengawasi dengan penuh rasa heran. Panjang bendera itu bersama-sama gagangnya belum cukup dua kaki dan di tengah-tengah bendera tersulam sebuah gambar obor yaitu pertanda Beng kauw.

Selagi para hadirin coba menebak nebak, salah seorang yang berdiri di belakang Yo Siauw maju ke depan dan melepaskan sebatang anak panah api yang berwarna putih.

Beberapa saat kemudian, dari luar terdengar suara tindakan kaki yang ramai dan masuklah serombongan anggota Beng kauw yang memakai ikatan kepala putih. Jumlah rombongan itu lima ratus orang. Begitu tiba di lapangan, mereka melepaskan anak panah menancap di seputar bendera putih. Rombongan itu tidak lain daripada pasukan Swi kim kie yang dipimpin oleh Gouw Kin Co.

Sebelum para orang gagah sempat bersorak, anggota anggota Swi kim kie itu sudah mencabut tombak pendek yang diselipkan di punggung mereka maju beberapa tindak dan melemparkannya ke tengah lapangan. Tombak-tombak itu menancap tepat di dalam lingkaran anak panah.

Mereka maju lagi tiga tindak, mencabut kampak pendek kecil dari pinggang mereka dan menimpuknya. Di lain saat, di tengah lapangan sudah terdapat tiga lingkaran senjata, yaitu kampak, tombak dan anak panah. Semua orang mengawasi dengan rasa kagum tercampur jeri. Seorang yang ilmu silatnya bagaimana tinggipun tak nanti bisa meloloskan diri dari serangan 1500 senjata.

Sebagaimana diketahui, di Seehek Swie kim kie pernah bertempur melawan Go bie pay dengan menderita rusak besar, sedang Ciang kie soenya sendiri, yaitu Chung Ceng, binasa dalam tangan Biat coat Soethay. Dalam waktu yang belakangan ini, semenjak Boe Kie menjadi Kauwcoe, Beng Kauw mengadakan perbaikan ke dalam dan keluar. Ngo beng kie disusun lagi dan diberikan latihan latihan baru. Sekarang jumlah anggota Swi kim sie sudah 4000 orang dan 500 orang yang diajukan ke Siauw lim sie itu adalah orang orang pilihan. Mereka semua sudah memiliki dasar ilmu silat yang sangat baik sekali dan di bawah pimpinan orang-orang yang pandai,mereka merupakan satu pasukan yang benar-benar tangguh.

Sementara itu Yo Siauw sudah membentak. “Swie kim kie mundur! Kie bok kie maju!”

Lima ratus anggota Swi kim kie segera berlari-lari ke tengah lapangan, mengambil pulang senjata mereka, menghampiri gubuk Beng kauw dan sesudah memberi hormat kepada Boe Kie, dengan rapih dia meninggalkan lapangan.

Yo Siauw mengambil bendera hijau dan melemparkan ke tengah lapangan. Bendera itu menancap di samping bendera putih.

Beberapa saat kemudian pasukan Kie bok kie yang memakai ikatan kepala warna hijau masuk ke lapangan. Kekuatan pasukan itu juga 500 orang dan saban sepuluh orang membawa sepuluh balok besar, yang beratnya kurang lebih seribu kati. Pada balok itu dipasangi gaetan gaetan besi yang digunakan sebagai pegangan untuk membawanya.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan balok-balok tersebut dengan serentak dilemparkan ke tengah udara, ada yang tinggi, ada yang rendah, ada yang ke kanan, ada juga yang ke kiri, dan setiap balok membentur balok yang lain sehingga dengan demikian, dua lima pasang balok saling membentur di tengah udara dan sesudah itu, dengan berbareng lima puluh balok itu jatuh di muka bumi! Suara benturan balok balok itu hebat luar biasa dan siapapun jua yang kena terpukul pasti tak akan bisa meloloskan diri dari kebinasaan. Pasukan balok ini sebenarnya dilatih untuk memecahkan pintu kota di dalam peperangan. Sesudah balok-balok itu jatuh, lima ratus anggota Kie bok kie segera memburu dan mencekal lagi gaetan gaetan besi siap sedia untuk melemparkan lagi.

“Kie bok kie mundur!” teriak Yo Siauw. “Dari kayu (tok) muncul api (bwee).” Ia mengibaskan tangannya dan sebatang bendera merah menancap di tengah lapangan.

Sesudah pasukan Kie bok kie mundur, lima ratus anggota Liat hwee kie yang memakai ikatan kepala merah, berlari-lari masuk ke lapangan. Setiap orang membawa sebatang semprotan dan begitu tiba di tengah lapangan, mereka menyemprotkan minyak yang berwarna hitam. Hampir berbareng Ciang kie soe pasukan itu melepaskan sebatang anak panah api dan begitu lepas tersentuh api, minyak itu lantas saja berkobar-kobar. Minyak tanah adalah hasil bumi Kong beng teng dan Beng kauw mempunyai sumber minyak yang tidak ada batasnya.

Yo Siauw berteriak lagi. “Liat hwee kie mundur! Ang soei kie maju!”

Bendera hitam dilontarkan dan 500 anggota Ang Soe kie yang memakai ikatan kepala hitam masuk ke dalam lapangan. Perbekalan pasukan ini berbeda dari yang lain. Bebererapa puluh orang yang berjalan di depan mendorong sepuluh gerobak kayu, diikuti oleh rombongan yang membawa semprotan dan tahang tahang air. Hampir berbareng dengan teriakan Tong Yang, Ciang kie soe Ang Soe Kie, sepuluh gerobak itu dibuka dan dari gerobak keluarlah dua puluh ekor anjing ajak atau anjing hutan yang kelaparan! Begitu terlepas binatang2 itu memperlihatkan sikap beringas dan bergerak untuk menubruk manusia2 di sekitarnya.

Semua orang kaget.

“Semprot!” bentak Tong Yang.

Seratus orang segera menyemprotkan air ke arah anjing2 itu. Begitu kena air, binatang2 itu menyalak hebat, melompat lompat dan kemudian roboh dengan badan hangus! Ternyata yang disemburkan adalah semacam air keras dengan campuran macam macam racun.

Melihat hebatnya pertunjukan itu, banyak orang bangun bulu romanya atau mengeluarkan keringat dingin.

“Ang soei kie mundur!” seru Yo Siauw. “Houw touw kie bersihkan semua kotoran!” Seraya berkata begitu, ia melemparkan bendera kuning. Gagang bendera itu ternyata dipasangi bahan peledak, sebab begitu menyentuh tanah, begitu meledak.

Pasukan Houw touw kie yang mengenakan ikatan kepala kuning lantas saja masuk. Jumlah mereka hanya seratus orang dan setiap orang menggendong sebuah karung besar yang berisi sesuatu. Mereka tak maju ke tengah, tapi berlari-lari di pinggir lapangan. Sekonyong-konyong terdengar suara keras dibarengi dengan muncratnya debu dan tanah di tengah-tengah lapangan mendadak berlubang besar, dengan garis tengah kira-kira empat tombak panjangnya. Dalam saat tanah di sekitar lubang bergerak-gerak dan dari bawah permukaan bumi keluar empat ratus orang yang mengenakan topi besi dan memegang cangkul!

“Ah…” banyak orang mengeluarkan seruan tertahan.

Empat ratus orang itu ternyata sudah menunggu di dalam tanah dengan membuat terowongan sedang lubang itupun dibuat terlebih dulu dan lapisan tanah di atas dipertahankan dengan papan-papan. Begitu mendengar isyarat, orang yang menunggu di bawah menarik papan-papan itu dan lapisan tanah di atas lantas saja ambruk ke bawah, berikut bangkai-bangkai anjing dan lain-lain kekotoran. Seratus orang yang membawa karung lantas saja menuang isi karung ke dalam lubang. Isi karung itu ialah batu dan pasir. Dengan sebadan teratur empat ratus orang segera menggunakan cangkul mereka dan dalam sekejap lubang itu sudah tertutup rapih dan seluruh lapangan menjadi bersih sekali. Sesudah itu mereka menghampiri Boe Kie dan setelah memberi hormat meninggalkan lapangan dalam satu barisan panjang.
Pertunjukkan itu diterima berbagai cara oleh para hadirin. Ada yang girang, ada pula yang jengkel, ada yang menghela nafas, menggeleng-gelengkan kepala, ada yang pucat mukanya dan ada juga yang bersorak-sorai. Tapi semua mendapat dua macam perasaan yang sama, rasa kagum dan jeri.

Sesudah selesai Yo Siauw lalu memulangkan bendera kepada si kacung yang berdiri di belakangnya dan kemudian mengawasi Cie Jiak dengan sorot mata dingin.

Seluruh lapangan sunyi senyap.

Beberapa lama kemudian seorang pendeta tua dari Tat mo thong yang berada di belakang Kong tie berbangkit dan berkata… “Tadi Beng kauw memperlihatkan latihan perang. Kelihatannya memang bagus, tapi apa bisa digunakan atau tidak, kita tidak tahu sebab kita bukan jenderal perang dan juga apa yang kita pelajari bukan ilmu perang.”

Semua orang mengerti, bahwa dengan berkata begitu, si pendeta hanya ingin mengecil-ngecilkan kelihayan Ngo heng kie.

“Hwesio tua!” bentak Cioe Tian. “Kalau kau ingin tahu apa bisa digunakan atau tidak, gampang sekali. Cobalah kau dan kawan-kawanmu maju ke lapangan untuk mencoba-coba.”

Tanpa meladeni tantangan itu, si pendeta menlanjutkan perkataannya. “Hari ini orang gagah di kolong langit mengadakan pertemuan untuk saling belajar ilmu silat. Aku menyetujui usul2 yang telah diajukan oleh beberapa siecoe (tuan). Kita bertanding dengan satu lawan satu. Menarik keuntungan dengan mengandalkan jumlah yang besar adalah bertentangan dengan peraturan Rimba Persilatan.”

“Menarik keuntungan dengan mengandalkan jumlah yang besar memang bertentangan dengan peraturan Rimba Persilatan,” kata Auwyang Bok. “Tapi bagaimana dengan Pek Lek Loei hwoei tan? Apa permainan kanak-kanak itu boleh dipergunakan?”

Sesudah berdiam sejenak, si pendeta menjawab. “Orang yang bertanding tentu saja boleh menggunakan senjata rahasia. Di antara orang-orang dari kalangan sesat banyak yang suka menaruh racun pada senjata rahasia mereka. Kita tentu saja tidak bisa mencegah kesukaan mereka. Yang harus dilarang adalah pembokongan oleh orang yang tidak turut bertanding. Kita harus menghajar siapa juga yang berani melakukan serangan membokong. Apa kalian setuju?”

Semua orang lantas menyatakan setuju.

“Tapi aku ingin menambah dengan sebuah usul,” kata Tong beng liang dari Khong tong pay. “Seorang yang menang dua kali beruntun harus diperbolehkan mengaso. Biar bagaimana tinggi kepandaiannya seorang manusia yang tidak bisa tahan berkelahi terus menerus. Di samping itu, setiap partai atau perkumpulan hanya boleh mengajukan dua wakil dan kalau kedua wakil itu kalah, partai atau perkumpulan yang tersangkut tidak boleh mengajukan lain jago lagi. Tanpa ketentuan ini, pieboe yang bakal dilakukan mungkin takkan selesai dalam waktu tiga bulan dan Siauw lim sie akan kehabisan makanan untuk memiara kita.”

Diantar gelak tertawa para hadirin menyetujui usul itu. Mereka tak tahu bawah dalam mengajukan usulnya, Tong boen liang sebenarnya ingin membalas budi Boe Kie yang pernah menyambung tulangnya yang patah di atas Kong beng teng.

Ia tahu bahwa Boe Kie berkepandaian lebih tinggi dari semua orang yang ada di situ. Tapi pemuda itu bisa roboh kalau memang berkelahi terus menerus tanpa istirahat.

Pheng Eng Giok tertawa dan berkata dengan suara perlahan. “Tong loosam baik sekali. Sekarang kita boleh menghitung bantuan Khong tong pay. Di samping Kauwcoe, siapakah yang akan diajukan?”

Semua tokoh Beng kauw ingin sekali turun ke gelanggang. Tapi mereka tahu, bahwa orang yang dipilih memikul pertanggungjawaban yang sangat berat. Orang itu harus dapat mengalahkan banyak lawan, lebih banyak lebih baik, supaya Kauwcoe mereka bisa menyimpan tenaga untuk menghadapi beberapa lawan yang berat. Maka itulah, biarpun semua orang ingin turut berkelahi tak satupun yang berani ajukan diri.

“Kauwcoe,” kata Cioe Tan. “Bukan Cioe Tan takut mati, tapi sebab kepandaianku masih terlalu rendah kali ini aku tidak berani menonjolkan diri.”

Boe Kie mengawasi semua pembantunya. “Yo Cosoe, Hoan Yosoe, Wie Hok ong, Potay Soehoe, Tiat koen Tootiang dan yang lain2 berkepandaian cukup tinggi dan setiap orang sebenarnya boleh mewakili Beng kauw,” pikirnya. “Tapi di antara mereka Hoan Yosoe mempunyai pengetahuan paling luas dalam macam-macam ilmu yang terdapat di Rimba Persilatan. Ilmu silat apapun dilayani dan diatasi olehnya. Biarlah aku memilih dia.”

Memikir begitu, ia lantas berkata. “Sebenarnya saudara yang manapun juga boleh maju ke gelanggang. Tapi Yo Cosoe sudah pernah membantu aku memukul Kim kong Hek mo coan, Wie Hok ong dan Po tay Soehoe sudah mengeluarkan tenaga dalam menangkap Hee Cioe. Kali ini biarlah aku meminta bantuan Hoan Yosoe.”

Hoan Yauw girang, ia sambil membungkuk berkata, “Terima kasih atas penghargaan Kauwcoe.”

Para pemimpin Beng kauw mengenal kepandaian Hoan Yauw dan pilihan itu disetujui mereka

Tiba-tiba Tio Beng berkata, “Kauw Thay Soe, bolehkah aku meminta sesuatu dari kau?’

“Tentu,” jawabnya. “Koencoe boleh katakan saja.”

Semua orang segera mengawasi Tio Beng dengan sorot mata menanya.

“Ganjelan antara Kong tie Taysoe dan kau belum dibereskan,” kata si nona. “Apa bila lebih dahulu kau harus bertempur melawan Kong tie siapa menang, siapa kalah belum bisa dipastikan. Andaikata kau menang, kemenangan itu akan diperoleh sesudah membuang banyak sekali tenaga.”

Hoan Yauw manggut-manggutkan kepalanya. Ia mengakui, bahwa Kong tie bukan lawan enteng.

“Aku usulkan supaya kau tantang dia untuk bertanding satu lawan satu di Ban hoat sie,” kata Tio Beng.

“Bagus! Bagus!” kata Hoan Yauw dan Yo Siauw dengan berbareng.

Mereka insaf, bahwa dengan tipuan itu si nona menyingkirkan seorang lawan berat untuk Beng kauw. Begitu lekas Kong tie menerima baik tantangan Hoan Yauw untuk bertempur di lain waktu dan di lain tempat, ia tidak boleh maju dalam pertandingan yang sekarang.
Ketika itu di perbagai gubuk para pemimpin partai atau perkumpulan sedang berdamai untuk mengangkat wakil.

Dengan menggunakan kesempatan tersebut Hoan Yauw menghampiri Kong tie dan berkata sambil memberi hormat, “Kong tie taysoe, apakah kau mempunyai nyali? Apakah kau berani datang di Ban hoat sie?”

Mendengar Ban hoat sie, muka Kong tie lantas saja berubah. “Apa?” ia menegas.

“Di Ban hoat sie kita menaruh ganjalan, di Ban hoat sie juga kita harus membereskan,” jawabnya. “Taysoe mempunyai nama besar, akupun mempunyai sedikit nama. Kalau kita bertanding sekarang dan Taysoe mendapat kemenangan, orang gatal mulut lantas saja berkata bahwa Taysoe menarik keuntungan karena berada di sarang sendiri. Andaikata aku yang menang, manusia-manusia rendah bisa menambah bumbu yang tidak tidak, yang merugikan Siauw lim sie. Maka itulah, kalau Taysoe merasa tidak puas, di bawah terangnya rembulan Pengwee Tiong cioe tahun ini, aku akan tunggu kau di menara Ban hoat sie untuk minta pelajaran.” (Pengwee Tiong cie: bulan delapan tanggal lima belas, perayaan pertengahan musim rontok denganmakan kue Tiong cioe phia).

Kong tie tahu, bahwa Hoan Yauw memiliki kepandaian tinggi. Di samping itu ia sedang berduka sebab terjadinya suatu perubahan hebat dalam Siauw lim sie dan ia tidak punya kegembiraan untuk bertempur dengan tokoh Beng Kauw itu. Sebab itu ia lantas mengangguk dan berkata, “Baiklah, pada hari Pengwee Tiong Cioe aku akan datang di Ban hoat sie.”

Hoan Yauw menyoja dan lalu kembali ke gubuk Beng kauw. Tapi baru berjalan tujuh delapan tindak, ia dengar Kong tie berkata dengan suara perlahan. “Hoan Sie coe, hari ini karena mau menolong Kim mo say ong, kau tidak mau bertempur dengan aku. Bukankah begitu?”

Hoan Yauw terkejut. Ia menghentikan tindakannya dan berkata dalam hatinya, “Pendeta itu sudah bisa menebak dengan jitu.” Ia seorang yang beradat terbuka, ia lantas tertawa besar dan berkata, “Aku tidak punya pegangan bahwa aku akan menang.”

Kong tie tersenyum, “Loolap juga tidak punya pegangan bahwa Loolap akan bisa mengalahkan Sie coe,” katanya.

Dalam Rimba Persilatan, ahli-ahli yang sudah mencapai tingkatan tinggi, saling menghargai kata orang eng hiong menyayang eng hiong. Sambil mengawasi Hoan Yauw yang kembali ke gubuk Beng kauw, Kong tie menghela nafas.

Beberapa saat kemudian si Pendeta memotong perkataan dengan suara nyaring. “Sekarang kita boleh mulai dengan peraturan yang sudah ditetapkan. Senjata dan kaki tangan tidak punya mata. Siapa yang terluka atau binasa harus menerima nasib secara rela. Orang yang berkepandaian paling tinggi akan memiliki Cia Soen dan To liong to.”

Boe Kie mendongkol bukan main. “Pandai betul dia mengadu domba,” pikirnya.

Beberapa jago lantas masuk ke lapangan dan mengajukan tantangan. Di lain saat enam orang sudah mulai bertempur dalam tiga rombongan. Tak lama kemudian dua orang kalah dan dua orang lain maju dan menggantikan. Pertandingan berlangsung terus dengan saban-saban roboh dengan kaki luka berat atau enteng.
Boe Kie menyaksikan itu semua dengan rasa menyesal dan berduka. Ia tahu bahwa permusuhan dalam Rimba Persilatan tidak dapat dielakkan lagi.

Beberapa lama kemudian dengan pedang seorang tosu Koen loen pay melukai lawannya dari Kie keng pang dan Cie hong Tiangloo berhasil memukul tetua Hwa san pay yang bertubuh katai, sehingga tetua itu muntah darah.

Melihat kakak seperguruannya terluka tetua Hwa san pay yang jangkung lantas saja mencaci, “Pengemis bau!” Seraya memaki, ia melompat masuk ke lapangan.

Si katai buru-buru mencekal tangan si jangkung. “Soetee,” bisiknya, “Kau tak akan bisa menang. Biarlah aku menelan hinaan ini.” Si jangkung tidak mau mengerti, tapi dia lantas diseret kakak seperguruannya.”

Sesudah itu, Ciehoat Tiangloo berhasil merobohkan Tiang boen jin Bwe hoato dan sesudah menang dua kali beruntun, ia segera mundur untuk beristirahat.

Sesudah pertandingan berlangsung dua jam lebih, matahari mulai mendoyong ke sebelah barat dan ilmu silat orang-orang yang turun ke gelanggang makin lama jadi makin tinggi. Banyak yang semula ingin memperlihatkan kepandaiannya mundur kembali sesudah melihat kepandaian orang-orang itu.

Pada waktu sin sie (antara jam tiga dan lima sore), Ciang poen Liong touw dari Kay pang telah menendang roboh Pheng Sie Nio, seorang tokoh Kay pang dari Ouwlam barat. Sesudah menjatuhkan jago betina itu sambil mengawasi rombongan Go bie pay ia berkata, “Perempuan bisa apa? Kalau bukan mengandal kepada jumlah yang besar, mereka tentu berpegangan kepada senjata rahasia beracun. Wanita yang berkepandaian seperti Pheng Sie Nio sudah jarang terdapat.”

Mendengar ejekan itu, Cie Jiak segera bicara bisik-bisik kepada Song Ceng Soe yang sesudah mengangguk lantas saja berbangkit dan menghampiri Ciang poen Liong tauw. “Liong tauw Toako,” katanya sambil menyoja. “Aku ingin meminta pelajaran.”

Melihat pemuda itu, darang Ciang poen Liang tauw meluap. “Manusia she Song!” bentaknya. “Secara tak menganal malu kau menyusup ke dalam Kay pang. Mungkin sekali kau juga turut mencelakai Soe pangcoe kami, dan kau masih ada muka untuk menemui aku?”

Song Ceng Soe tertawa dingin. “Dalam dunia Kang ouw, berusaha menyelidiki rahasia musuh adalah kejadian lumrah,” katanya. “Kau harus sesali dirimu sendiri yang tidak punya mata dan tidak bisa lihat siapa sebenarnya Song toaya.”

“Binatang!” teriak Ciang poen Liong tauw. “Partai sendiri dikhianati olehmu. Terhadap ayah kau tidak berbakti. Kau pasti akan mengkhianati juga isterimu sendiri. Go bie pay bakal hancur dalam tanganmu.”

Muka Song Ceng Soe sebentar pucat, sebentar merah. “Tutup bacotmu!” bentaknya dengan suara gemetar.

Ciang poen Liong tauw tidak mencaci lagi. Sambil menggeram ia menghantam dengan telapak tangannya. Song Ceng Soe berkelit dan balas menyerang dengan Kim teng Bian ciang (pukulan kapas) dari Go bie pay.
Karena gusar, jago Kay pang itu menyerang mati-matian dan mengirim pukulan-pukulan yang membinasakan. Diserang begitu, Song Ceng Soe lantas saja jatuh di bawah angin. Sebelum menjadi anggota Kay pang, Ciang poen Liong tauw sudah mendapat nama besar dan dalam Partai Pengemis, kedudukannya hanya berada di sebelah bawah Pangcoe, Coan kang dan Cie hoat Tiangloo.

Di lain pihak Song Ceng Soe adalah murid Boe tong turunan ketiga, dan ia baru saja mempelajari pukulan Kim teng Biau ciang. Sebab belum cukup berlatih, ia belum bisa mempergunakan ilmu silat itu sebaik-baiknya. Demikianlah saban-saban terdesak, secara wajar ia membela diri dengan Bian ciang dari Boe tong pay yang sudah dipelajari olehnya sedari kecil. Antara Kim teng Bian ciang dan Bian ciang Boe tong pay memang banyak persamaannya, sehingga orang luar bisa keliru.

Makin lama perut In Lie Heng jadi makin panas. “Song Ceng Soe!” ia akhirnya membentak. “Mukamu sungguh2 tebal! Kau mengkhianati Boe tong pay, tapi kau gunakan ilmu silat Boe tong pay untuk menolong jiwamu. Kau membelakangi ayahmu, tapi kau masih ada muka untuk menggunakan ilmu silat yang diturunkan oleh ayahmu!”

Muka Ceng Soe berubah merah. “Apa jempolnya ilmu silat Boe tong pay?” teriaknya. “Kau lihatlah!” Seraya berkata begitu, ia mengibaskan tangan kirinya di depan mata Ciang poen Liong touw dan sesudah membuat tujuh delapan gerakan kilat, lima jari tangan kanannya mendadak menyambar dan menancap di kepala pemimpin Kay pang itu. Semua orang terkesiap. Di lain detik Song Ceng Soe mencabut jari-jari tangannya yang berlumuran darah dan Ciang poen Liong touw roboh tanpa bernyawa lagi.

“Apa Boe tong pay mempunyai ilmu silat begini?” tanya Ceng Soe dengan suara dingin.

Di antara ribut suara orang, tujuh delapan anggota Kay pang melompat masuk ke lapangan. Sebagian menggotong jenazah pemimpin mereka dan sebagian pula menerjang Song Ceng Soe!

Seorang hweeshio gemuk yang berduduk di belakang Kong tie lantas saja berteriak, “Hei, tahan! Kay Pang tidak boleh langgar peraturan!”

“Mundur!” bentak Cie hoat Tiangloo. “Biar aku yang membalas sakit hatinya Ciang poen Liong touw.”

Murid-murid Kaypang tidak berani membantah. Mereka kembali ke gubuk sambil mengawasi Song Ceng Soe dengan sorot mata gusar. Banyak orang turut merasa gusar, mereka berpendapat pemuda she Song itu terlalu kejam.

Bagi Boe Kie, kebinasaan Ciang poen Liong touw lantas saja mengingatkan dia kepada luka di pundak Tio Beng dan kebinasaan mengenaskan dari suami isteri Tauw. “Yo Cosoe, mengapa Go bie pay menggunakan ilmu silat yang sesat itu?” tanyanya dengan suara gemetar.

Yo Siauw menggelengkan kepala. “Akupun belum pernah lihat ilmu silat semacam itu,” jawabnya. “Tapi Kwee liehiap, pendiri Go bie pay dijuluki sebagai ‘Siauw tong sia’. Maka itu kita boleh tak usah heran kalau ilmu silat Go bie pay mengandung sesuatu yang sesat.” (siauw tong sia: si sesat kecil dari timur).

Sementara itu, Song Ceng Soe sudah mulai bertempur dengan Cie hoat Tiangloo. Jago Kaypang itu, yang bertubuh kurus kecil, sangat gesit geraknya. Dengan mementang sepuluh jari tangannya, ia menyerang dalam ilmu Eng jauw kang (silat cakar elang) dan berusaha menancapkan jari-jari tangannya itu di kepala Song Ceng Soe. Sesudah bertempur puluhan jurus, tiba-tiba ia membentak, “Terimalah kebinasaanmu, anjing!” Hampir berbareng, lima jari tangan kirinya sudah menyentuh kepala Song Ceng Soe. Tapi baru saja ia mengerahkan Lweekang untuk menancapkannya, si orang she Song mendahului – bagaikan kilat jari-jari tangannya amblas di tenggorokan Cie hoat Tiangloo! Tanpa bersuara lagi, tetua Partai Pengemis itu roboh di tanah.

Begitu lekas Cie hoat terguling, Cioe Cie Jiak menggerakkan tangannya dan delapan murid Go bie pay melompat masuk ke lapangan dengan pedang terhunus. Mereka terpecah jadi empat rombongan dan berdiri di sekitar Song Ceng Soe dengan saling membelakangi, siap sedia untuk menyambut serangan Kay pang.

“Tiga puluh enam murid Lo han tong, bersiaplah!” teriak seorang pendeta To mo tong, sambil menepuk tangan tiga kali. Hampir berbareng, tiga puluh enam pendeta yang mengenakan jubah pertapaan warna kuning melompat keluar. Separuh dari mereka bersenjata sian thung dan separung lagi memegang golok. Setibanya di lapangan, mereka berpencaran dan berdiri di tempat-tempat tertentu. “Murid-murid Lo han tong, dengarlah!” teriak pula si pendeta To mo tong. “Atas perintah Kong tie Soesiok tiga puluh enam murid Lo han tong harus mempertahankan peraturan-peraturan dalam pertemuan ini. Dalam pertandingan apa, bila ada yang berani mengerubuti atau membokong dari luar gelanggang, maka murid-murid Lo han tong harus segera mencegah. Sebagai tuan rumah, Siauw lim sie harus berlaku adil. Siapa yang membantah boleh dibinasakan!”

Rombongan murid Lo han tong itu lantas saja mengiakan.

Demikianlah karena sudah ada penjagaan keras, orang-orang Kay pang tidak berani bergerak, mereka hanya mencaci dan berteriak-teriak dan kemudian menggotong jenazah Cie hoat Tiang loo keluar dari lapangan.

“Kauw Taysoe, aku tak nyana Go bie pay masih punya ilmu yang begitu hebat,” bisik Tio Beng. “Di Ban hoat sie, biarpun harus mati, Biat coat Soethay menolak untuk bertanding! Mungkin sekali inilah sebab musababnya.”

Hoan Yauw hanya menggelengkan kepala. Ia tak mau bicara sebab sedang mengasah otak untuk mencoba memecahkan ilmu silat itu. Selang beberapa saat mendadak ia berkata, “Kauwcoe, aku ingin meminta pelajaran.” Sehabis berkata begitu ia menggerak-gerakan jari-jari tangannya di atas meja. “Kauwcoe lihatlah!” bisiknya. “Dengan cara ini kedua tanganku membuat serangan berantai. Aku akan berusaha untuk menangkap lengan bangsat kecil itu dan mencopotkan sambungan-sambungan tulang lengannya. Kalau sambungan lengannya sudah copot, biarpun lihay, jari-jari tangannya tidak bisa digunakan lagi!”

Boe Kie juga menggerakkan beberapa jari tangannya. “Kau harus berhati-hati,” katanya. “Jagalah jangan sampai jari-jari tangannya menyentuh lenganmu.”

Hoan Yauw mengangguk. “Aku akan tangkap lengannya dengan Ki na choe dan menendang bagian bawah tubuhnya dengan Wan yo Lian-hoe to,” katanya.

“Kalau serang dengan delapan puluh satu pukulan berantai supaya dia tidak bisa bernafas,” kata Boe Kie.

Sambil membisik-bisik, mereka melanjutkan latihan silat itu dengan kecepatan luar biasa. Tiba-tiba Hoan Yauw tersenyum dan berkata, “Kauwcoe, beberapa seranganmu itu terlampau hebat. Kecuali jari tangannya, ilmu silat bangsat kecil itu tidak seberapa tinggi. Dan pasti tidak bisa menyerang dengan pukulan-pukulan yang sehebat itu.”

Boe Kie turut tersenyum. “Kalau benar, kaulah yang akan memperoleh kemenangan,” katanya.

Tiba-tiba jari tangan kirinya membuat dua lingkaran dan jari tangan kanannya menerobos dari lingkaran itu dan menggaet jari tangan Hoan Yauw, akan kemudian tersenyum dan mengawasi orang sebawahan itu tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Sesudah hilang kagetnya, Hoan Yauw berkata dengan suara girang. “Terima kasih atas petunjuk Kauwcoe. Aku takluk. Empat pukulan itu sangat luar biasa dan membuka pikiranku yang gelap. Aku merasa menyesal, bahwa aku tidak bisa mengangkat Kauwcoe sebagai guru.”

“Pukulan itu adalah Lian hoat koat, pukulan yang terdiri dari lingkaran-lingkaran Thay kek Koen hoat, gubahan Thay soehoe,” kata Boe Kie. “Yang terpenting ialah lingkaran-lingkaran yang dibuat dengan tangan kiri. Biarpun she Song itu keluar Boe tong, kurasa ia belum bisa menyelami pukulan ini.”

Hoan Yauw adalah orang yang sangat cerdas dan berkepandaian tinggi. Begitu mendapat petunjuk, ia lantas punya pegangan untuk merobohkan Song Ceng Soe. Tapi sesudah menang dua kali beruntun, menurut peraturan Song Ceng Soe harus beristirahat, maka itu ia tidak bisa berbuat lain dari untuk kedua kalinya.

Sementara itu dengan paras muka berseri-seri Tio Beng mengawasi Boe Kie.

“Beng moay, mengapa kau kelihatannya begitu bergirang?” tanya Boe Kie.

“Kau mengajar Hoan Yoesoe beberapa jurus hanya itulah untuk mematahkan lengan,” kata si nona. “Mengapa kau tidak menyuruh dia untuk ambil saja jiwa manusia she Song itu?”

“Biarpun dia menyeleweng, Song Ceng Soe putera Toa soepeh. Toa soepeh lah yang harus menghukum dia. Jika aku memerintahkan Hoan Yoesoe mengambil jiwanya, aku berlaku tak pantas terhadap Toa soepeh.”

“Tapi apabila dia mati, Cioe ciecie akan jadi janda dan kau akan mendapat kesempatan untuk menikah dengannya. Bukankah baik begitu?”

Boe Kie mencekal tangan Tio Beng erat-erat dan bertanya sambil tertawa, “Apa kau suka mempermisikan aku berbuat begitu?”

“Tentu! Sesudah menikah hatimu akan bercabang lagi dan Cioe ciecie pasti akan melubangkan dadamu dengan jari-jari tangannya.”

Selagi kedua orang muda itu bergurau, dengan dilindungi oleh delapan murid wanita Go bie pay, Song Ceng Soe sudah kembali ke gubuk Go bie pay untuk beristirahat.

Kekejaman Song Ceng Soe dalam membinasakan kedua tokoh Kay pang sudah mengejutkan semua orang. Seluruh lapangan menjadi sunyi dan para hadirin menunggu perkembangan selanjutnya dengan hati berdebar-debar.

Sesudah mengaso sebentar, Song Ceng Soe maju lagi ke gelanggang. “Aku sudah beristirahat,” katanya sambil merangkap kedua tangannya. “Siapa lagi yang mau memberi pelajaran kepadaku?”

“Aku!” teriak Hoan Yauw. “Aku ingin berkenalan dengan ilmu silat Go bie pay.”

Tapi baru saja ia mau melompat keluar, satu bayangan manusia mendadak berkelebat dan tahu-tahu sudah berdiri di depan Song Ceng Soe. “Hoan sianseng, biarlah aku yang maju lebih dulu,” katanya. Orang yang bicara dengan suara menyeramkan itu adalah Boe tong Jie hiap Jie Lian Cioe.

Sedari kecil Ceng Soe takuti pamannya itu. Melihat paras muka sang paman ia tahu, bahwa ia sekarang menghadapi satu pertempuran mati hidup dan hatinya jadi gentar.

Jie Lian Cioe menyoja dan berkata, “Song Siauwhiap, mulailah!” Kata-kata itu membuktikan bahwa ia tidak memandang rendah lawannya dan juga tidak lagi menganggap Song Ceng Soe sebagai orang separtai. Song Ceng Soe tidak menjawab, ia hanya membungkuk untuk membalas hormat dan Jie Lian Cioe lantas saja menyerang.

Boe tong Jie hiap sudah mendapat nama besar selama tiga puluh tahun lebih, tapi dalam Rimba Persilatan hanya beberapa orang yang pernah menyaksikan kepandaiannya. Orang-orang Kangouw mengenal ilmu silat Boe tong pay sebagai ilmu yang dengan “kelembekan” melawan “kekerasan” dan pukulan2nya yang perlahan mengandung aneka perubahan beraneka warna. Di luar dugaan, serangan2 yang dikirim Jie Lian Cioe cepat bagaikan kilat dan dalam beberapa saat saja, pinggang dan lutut Song Ceng Soe sudah kena terpukul.

Tak kepalang kagetnya Song Ceng Soe. “Thay soehoe dan Thia thia ingin mengangkat aku menjadi Ciang boenjin Boe tong pay turunan ketiga, sehingga tak mungkin mereka merahasiakan apapun juga,” pikirnya. “Tapi serangan Jie jiesiok, biarpun dia menggunakan ilmu silat Boe tong, tapi sangat berbeda dari kebiasaan.” Dia mau menguba cara berkelahinya dengan ilmu yang diturunkan Cioe Cie Jiak, tapi Jie Lian Cioe tidak memberi kesempatan dan terus mengirim serangan-serangan berantai.

Para hadirin menyaksikan pertandingan itu sambil menahan napas. Biarpun Jiehiap sudah berada di atas angin, mereka merasa kuatir sebab tadi kedua pimpinan Kay pang yang sudah dibinasakan juga lebih dahulu berada di atas angin.

Makin lama serangan Jie Jiehiap jadi makin cepat, tapi setiap pukulannya dapat dilihat dengan nyata sekali, seperti juga setiap kata kata penyanyi kenamaan masih bisa didengar tegas walaupun dia menyanyi dengan tempo yang ama cepat. Di antara orang-orang gagah yang berduduk di bagian belakang, banyak yang berdiri di kursi atau meja. Semua orang kagum dan mengakui bahwa nama besar Boe tong Jiehiap bukan nama kosong.

Untung juga Song Ceng Soe sudah mempelajari intisari daripada ilmu silat Boe tong pay, sehingga sedikitnya untuk sementara waktu ia masih dapat mempertahankan diri. Begitu hebat pertempuran itu, sehingga debu mengepul ke atas dan tubuh kedua jago itu seolah-olah dikurung dengan awan yang berwarna kuning.

Tiba-tiba terdengar “plak!” suara beradunya tangan dan kedua lawan melompat ke belakang dengan berbareng. Baru kakinya menginjak bumi, tubuh Jie Lian Cioe sudah melesat lagi ke depan dan mengirim pukulan dahsyat.

Karena kuatir akan keselamatan kakak seperguruannya, In Lie Heng maju sampai ke perbatasan lapangan. Dengan tangan memegang gagang pedang, ia terus memperhatikan jalannya pertempuran tersebut. Sebagai murid Boe tong, ia tahu bahwa setiap pukulan adalah pukulan yang membinasakan dan ketegangan yang dirasakannya lebih hebat daripada yang dirasakan orang lain. Untung juga Jie Lian Cioe sekarang sudah banyak lebih unggul daripada lawannya. In Lie Heng mengerti, bahwa apabila sang kakak tidak berjaga-jaga terhadap totokan lima jari yang sangat lihay, siang-siang Song Ceng Soe sudah dapat dibinasakan.

Boe Kie pun tidak kurang kuatirnya. Diam-diam ia mencekal dua “seng hwee leng”. Kalau Jie Lian Cioe menghadapi bahaya, tanpa memperdulikan segala peraturan, ia pasti akan membantu.

Sesudah lewat sekian jurus lagi, sekonyong-konyong Song Ceng Soe mementang lima jari tangannya dan coba mencengkeram pundak lawannya. Inilah pukulan yang ditunggu-tunggu Jie Lian Cioe. Waktu Song Ceng Soe membinasakan kedua tetua Kay pang, pukulan itu telah diperhatikan sungguh-sungguh oleh Jiehiap. Manakala belum ada contoh, andaikata tidak mati, Jie Lian Cioe sedikitnya terluka hebat. Tapi sekarang ia sudah bersiap sedia dan sudah menghitung-hitung cara bagaiman untuk menghadapinya. Di lain pihak, sebab berlatih belum lama, Song Ceng Soe belum berhasil menyelami inti sari daripada pukulan itu dan gerak-gerakannya tidak banyak berbeda dari gerak-gerakan dalam dua pukulan yang dikeluarkannya waktu mengambil jiwa kedua pemimpin Kay pang.

Demikianlah begitu lima jari tangan Song Ceng Soe menyambar, Jie Jiehiap mengegos ke samping dan tangan kirinya membuat beberapa lingkaran di tengah udara.

“Ih!” Hoan Yauw mengeluarkan seruan tertahan. Itulah gerakan Lian hoan koat! Ia tahu pemuda she Song itu tengah menghadapi bencana.

Sekonyong-konyong Song Ceng Soe menyodok tenggorokan Jie Lian Cioe dengan lima jari tangan kanannya.

Boe Kie gusar bukan main. “Memang kurang ajar!” cacinya dengan suara perlahan. Sodokan itu adalah sodokan yang digunakan untuk mengambil jiwa Cie hoat Tiangloo.

Hampir berbareng, kedua tangan Jie Lian Cioe membuat dua lingkaran dan mengeluarkan dua macam tenaga dari ilmu Liok hap kin. Tak ampun lagi kedua lengan Song Ceng Soe terkurung oleh lingkaran itu, dan “krek..krek..” sambungan tulang lengannya patah. Begitu berhasil, Jie Lian Cioe mengirim Song hong koan nie (dua angin menerobos kuping) dengan memukul kedua kuping Song Ceng Soe dengan kedua tinjunya. Tanpa mengeluarkan suara, anak durhaka itu roboh.

Sebelum tubuh Song Ceng Soe roboh, Jie Lian Cioe sudah mengangkat kaki untuk menendangnya dan menghabiskan jiwanya. Tapi tiba-tiba satu bayangan hijau berkelebat dan ujung cambuk menyambar mukanya, secepat kilat Jie Jiehiap melompat ke belakang dengan dikejar oleh beberapa sabetan. Orang yang menyerang bukan lain daripada Ciang boenjin Go bie pay, Cioe Cie Jiak.

Pukulan-pukulan cambuk itu luar biasa. Dalam tiga pukulan saja, tubuh Jie Lian Cioe sudah terkurung. Mendadak cambuk ditarik pulang dan Cie Jiak berkata dengan suara dingin. “Kalau aku ambil jiwamu sekarang, kau tentu penasaran. Ambil senjatamu!”

In Lie Heng menghunus pedangnya. Ia maju dan berkata, “Biarlah aku yang melayani Kouwnio,” katanya.

Cie Jiak mendelik dan lalu menghampiri suaminya. Kepala Song Ceng Soe pecah, matanya melotot, darah keluar dari lubang-lubang anggota badannya dan sepuluh-sembilan ia tak dapat hidup lagi. Tiga murid lelaki sudah masuk ke lapangan dan menggotongnya.

Cie Jiak memutar tubuh. Ia menuding Jie Lian Cioe dan membentak, “Sesudah binasakan kau, aku baru ambil jiwa manusia she In itu!”

Serangan Cioe Cie Jiak sangat mengejutkan Jie Lian Cioe. Dengan rasa cintanya yang sangat besar terhadap si adik, ia berpikir. “Biarlah aku yang maju lebih dahulu. Andaikata aku mati, Lak tee sedikitnya bisa memperhatikan ilmu silatnya dan mungkin sekali ia akan bisa meloloskan diri dari kebinasaan.” Ia segera mendekati In Lie Heng untuk mengambil pedangnya.

Tapi rasa cinta In Lie Heng pun tak kalah dari kakaknya.

Merasa bahwa meskipun mengerubuti, mereka belum tentu bisa menjatuhkan Cioe Cie Jiak. Seperti soehengnya, ia rela berkorban supaya sang kakak bisa memperhatikan ilmu silat cambuk itu dan dengan demikian, masih ada kemungkinan bahwa Jie Lian Cioe bisa menolong diri. Memikir begitu, ia tidak menyerahkan pedangnya dan berkata, “Soeko, biarlah aku yang maju lebih dahulu.”

Jie Jie hiap mengawasi sang adik. Selama puluhan tahun mereka belajar bersama-sama mereka seperti hubungan tangan dan kaki. Tiba-tiba saja darah Jie Lian Cioe bergolak-golak dan rasa terharu datang seperti gelombang. Ia ingat bahwa Jie Thay Giam bercacat. Thio Coei san bunuh diri, Bo Seng koh dibinasakan orang sehingga Boe tong Cithiap hanya ketinggalan empat orang saja. Dan hari ini dua diantaranya, untuk beberapa saat, ia mengawasi muka si adik.

“Kalau aku mati lebih dahulu, Laktee pasti tak akan bisa membalas sakit hatiku,” pikirnya. “Tapi ia pasti tak akan lari dan kami berdua akan mengorbankan jiwa bersama sama, tanpa mampu membalas. Kalau dia mati lebih dahulu mungkin sekali dengan memperhatikan silat wanita itu, aku masih bisa binasa dengan mengambil juga jiwanya musuh. “Memikir begitu ia segera mengangguk dan berkata. “Lak-tee pertahankan dirimu sedapat mungkin.”

Mengingat isterinya Yo Pit Hwie sedang hamil, tanpa merasa In-Liok hiap mengawasi Yo-Siauw dan Boe Kie. Tapi ia merasa jengah sendiri. Ia tahu. andaikata ia mati, isteri dan anaknya pasti tak akan terlantar. Perlu apa ia bersikap seperti seorang perempuan yang berhati lemah.

Dilain saat ia sudah mengangkat pedang dan dengan kedua mata mengawasi ujung pedang, ia memusatkan semangat dan pikiran. “Ciangboen jin, silahkan!” ia mengundang. Ia berusia banyak dan lebih tua daripada Cie Jiak, tapi karena nyonya itu seorang Ciang boen jin, maka ia menjalankan tata kehormatan itu.

Melihat si adik seperguruan memasang kuda-kuda Thay kek kiam, sambil menghela napas Jie-Jiehiap mundur.

“Kau mulailah,” kata Cie Jiak.

Mengingat gerakan nyonya itu cepat bagaikan kilat, sehingga kalau dia menyerang lebih dahulu dia mendapat banyak lagi keuntungan, maka dari itu tanpa sungkan-sungkan lagi In Lie Heng lalu menggeser kaki kirinya dan menikam dengan pukulan Sam hoau To goat ( Tiga lingkaran memeluk rembulan).

Waktu menikam ujung pedang menggetar dan mengeluarkan suara, suatu tanda, bahwa tikaman itu disertai dengan Lweekang yang sangat tinggi, sehingga para hadirin menyambutnya dengan tepukan tangan. Cie Jiak berkelit dan In Lie Heng mengirim lagi serangan berantai Bintang Tay hwie chee dan Yan coe Tiauw soen (Anak walet terbang diatas air). Dengan egosan yang indah Cie Jiak memunahkan kedua serangan itu. “In Liok hiap, aku mengalah dalam tiga jurus untuk membalas budi kecintaanmu waktu aku berada di Boe tong pai,” katanya. Hampir berbareng, ujung cambuk menyambar dada In Lie Heng. Pendekar Boe tong itu melompat ke samping dan membabat dengan pedang dalam pukulan Hong Ho yap ( Angin menyapu daun teratai ). “Tak!” cambuk dan pedang kebenterok dan In Lie Heng merasa telapak tangannya seperti terbeset, sehingga pedangnya hampir-hampir terlepas. Ia kaget.

Ia tak menyana bahwa Cie Jiak memiliki Lweekang yang begitu kuat. Buru-buru ia mengempos semangat dan menyerang pula dengan memusatkan seantero pikirannya.

Cambuk Cie Jiek seolah-olah selembar benang sutera, sedang tubuhnya berkelebat-kelebat dan terputar-putar tak henti-hentinya. Gerakan-gerakan itu baik cambuk maupun manusianya seperti juga bukan gerakan manusia biasa.

Tiba-tiba HoanYauw berbisik. “Dia setan! Dia bukan manusia!”

Mendengar perkataan itu Boe Kie menggigil. Kalau waktu itu ia bukan berada ditengah tengah ribuan orang.ia mungkin akan merasa bahwa yang dilihatnya adalah roh Cioe Cie Jiak. Ia mengenal dan pernah melihat macam-macam ilmu silat, tapi belum pernah menyaksikan ilmu yang seaneh itu. “Apa dia memiliki ilmu siluman?” tanya didalam hati.

Tapi biarpun Cioe Cie Jiak lihay, Thay kek Kiam hoat yang digubah oleh Thio Sam Hong dapat dikatakan suatu ilmu pedang tertinggi di dalam dunia. Maka itu, meskipun tak bisa melukai lawan, sedikitnya untuk sementara waktu In Lie Heng masih dapat mempertahankan diri. Hanya banyak orang sudah lihat, bahwa pendekar Boe tong itu akan kalah, apa ia kalah dengan masih hidup atau kalah membuang jiwa adalah suatu yang masih belum bisa diramalkan.

Tiba tiba terdengar teriakan nyaring. “Celaka! Song Ceng soe hampir putus jiwa. Cioe Toa ciangboen ! Kalau kau tak menemani lakimu waktu putus jiwa kau bakal jadi janda yang kurang terhormat.”

Semua orang menengok kearah suara itu, Yang teriak bukan lain dari pada Cioe Tian. Ia tahu bahwa berkat latihannya seorang jago Boe tong-pay sangat pandai dalam mempertahankan pemusatan pikirannya, hingga andaikan gunung Tay san roboh, paras mukanya bisa tak berubah.

Melihat In Lie Heng jatuh dibawah angin ia coba membantu pendekar Boe tong itu dengan mengacaukan pemusatan pikiran Cioe Cie Jiak Tapi nyonya muda itu tenang2 saja dan terus bertempur tanpa memperdulikan teriakan itu.

“Hai! Cioe Kauwnio dari Go bie pay !” teriak pula Cioe tian. “Lakimu sudah hampir putus jiwa. Dia mau memberi pesanan kepadamu. Dia kata, dia punya tiga kali tujuh dua puluh satu anak diluaran. Sesudah dia mati, dia minta kurawat anak2 itu supaya dia bisa mati dengan mata meram. Cioe Kauwnio! Apa kausuka meluluskan permintaan lakimu itu?”

Mendcagar ocehan itu, banyak orang tertawa terpingkal-pingkal tapi Cioe Jiak tetap tak menghiraukan.

“Aha!” Cioe Tian teriak pula. “Biat coat Soet hay! Sudah lama kita tak pernah bertemu. Apa kau baik?”

Mendadak tanpa memutar tubuh Cie Jiak melompat kebelakang beberapa tombak jauhnya dan dengan berbareng menyabetkan cambuknya yang bagaikan seekor naga menyambar kemuka Cioe Tian. Si semberono yang sama sekali tak duga bakal diserang secara begitu, kaget tak kepalang dan dalam kagetnya ia berdiri terpaksa sebab ujung cambuk tahu-tahu sudah hampir menyentuh mukanya.

Untung juga, Yo Siauw yang berdiri didekat Cioe Tian dan yang selalu berwaspada, keburu mengangkat sebuah meja dan melontarkannya, “Plak! plak!” meja itu terbelah karena terpukul cambuk.

Sesudah itu Cie Jiak lantas saja molompat balik dan menyerang In Lie heng lagi.
Sesudah memperhatikan beberapa lama, Jie lian Cioe masih juga belum bisa menangkap intisari daripada silat cambuk itu, “Andai kata aku yang maju, aku tak akan bisa mengeluarkan Tay kek Kiam hoat yang lebih baik dari Laktee.” pikirnya. “Dalam pertandingan jangka panjang perempuan itu mungkin akan kecapaian dan Lak
tee mungkin akan memperoleh kemenangan.” Melihat kelihayan Thay kek Kiam hoat, ia merasa bangga dan ia percaya, bahwa adiknya tak akan kalah.

Perubahan-perubahan paras muka Jie Lian Coe yang sebentar jengkel, sebentar girang tidak terlepas dari mata Cioe Cie Jiak, “Jie jiesiok kau jangan bergirang dulu!” katanya dengan mendadak. Aku sengaja mengalah dalam dua ratus dan sesudah duaratus jurus, barulah kuambil jiwanya supaya nama besarnya tak hancur lebur. Sebentar jika kau yang maju, dalam tiga puluh jurus aku akan ambil jiwamu!” Tiba-tiba cambuk bergemetar dan membuat lingkaran-lingkaran besar dan kecil yang lantas saja mengurung In Lie Heng. Sebagaimana diketahui, gerakan Tay kek koen dan Tay kek Kiam hoat juga berdasarkan lingkaran-lingkaran. Perbedaannya ialah, lingkaran yang dibuat Cioe Cie jiak puluhan kali lebih cepat daripada lingkaran In Lie Heng. sebab tenaga pedang kena ditarik, tanpa merasa tubuh In Lie Heng berputar beberapa kali dan …. pedang itu mendadak terlepas dari tangannya.

Bagaikan ular ujung cambuk menyambar batok kepala In Lie Heng, Jie Lian Cioe mencelos hatinya. Tanpa menghiraukan jiwa sendiri, ia melompat dan coba menangkap senjata musuh. Cie jiak menendang dan tendangan itu mampir tepat dipinggang Jie Jiehiap.

Pada detik yang sangat berbahaya, satu bayangan manusia berkelebat dan menangkis sabetan cambuk. Orang yang menolong adalah Boe Kie. Dengan Kian koen Tay loie. ia memindahkan tenaga cambuk. Tapi perubahan Cie Jiak aneh dan cepat. Mendadak ia melepaskan cambuknya dan dengan dua telapak tangan ia memukul dada Boe Kie. Kalau Boe Kie memindahkan tenaga pukulan itu dengan Kian koen Tay lo ie, maka tenaga itu akan jatuh di muka In Lie Heng, sebab tangan kanannya masih dilibat ujung cambuk, maka ia segera mengangkat tangan kirinya dan menyambut dengan keras juga.

Diluar dugaan begitu lekas tiga telapak tangan kebentrok, Boe Kie mendapat kenyataan bahwa kedua telapak tangan Cie Jiak tidak berisikan Lweekang. “Celaka!” ia mengeluh. “Sesudah melawan In liok siok duaratus jurus lebih Lweekangnya habis, jika aku meneruskan pukulan ini jiwanya mesti melayang”. Sebab tahu, kelihayan Cie jiak, maka waktu menyambut pukulan itu, ia telah menggunakan seantero tenaga Lweekangnya. Untuk menolong jiwa Cie Jiak ia harus secara menarik pulang tenaga itu. Hal ini bertentangan dengan peraturan ilmu silat. Jika seorang menarik pulang Lweekang yang ba ru saja dikeluarkan, maka itu berarti bahwa tenaga dalam tersebut akan menghantam dirinya sendiri.

Tapi Lweekang Boe Kie sudah mencapai tingkat tertinggi, sehingga tenaga yang memukul balik itu paling banyak akan membuat dadanya sesat. Tapi alangkah kagetnya, baru saja ia menarik pulang tenaga itu, tiba-tiba ia merasakan serangan tenaga Cie Jiak yang menghantam bagaikan “gelombang dahsyat.” Dak!” kedua telapak tangan Cie Jiak mampir tepat di dadanya. Dengam demikian ia seperti juga menerima pukulan berbareng dari dua musuh. Biarpun kuat, Kioe yang Sin kang tidak cukup kuat untuk melindungi tubuhnya dari serangan itu. Apa pula pukulan Cie Jiak tiba pada detik yang “kosong,” yaitu pada detik tenaganya baru saja digunakan dan tenaga baru belum keburu dikerahkan. Tak ampun lagi Boe Kie terjengkang, matanya gelap dan ia muntah darah. Cie Jiak tahu, bahwa dalam pertandingan biasa ia bukan tandingan Boe Kie. Maka itu begitu berhasil dengan bokongannya ia segera mementang jari-jari tangan kirinya dan coba mencengkeram dada Boe Kie.

Untung sungguh meskipun terluka berat, pikirannya anak ini tidak menjadi kalut. Melihat sambaran tangan, mati-matian ia menggeser tubuhnya. “Bret!” bajunya dibagian dada robek semakin membesar. Cie jiak lantas saja mementang jari-jari tangan kanannya dan bergerak untuk menancapkannya didada itu.

Pada saat itu, Boe Kie sudah tidak bisa ditolong atau menolong diri. Jie Lian Cioe tertendang hiatnya dibagian lutut dan tidak bisa bergerak, sedang ln Lie Heng tidak keburu menolong lagi.

Tangan Cie Jiak terangkat – . – tapi tangan itu mendadak berhenti ditengah udara. Mengapa? Sebab matanya melihat bekas luka didada itu dan dalam otaknya lantas berkelebat peristiwa diatas Kong beng teng, waktu ia melukai Boe Kie dengan Ie thian kiam. Mengingat itu, rasa kemanusiaannya mendadak muncul dan gerakan tangannya terhenti.

Dilain detik In Lie Heng, Wie It Siauw, Yo Siauw dan Hoan Yauw menubruk dengan berbareng. Wie It Siauw menghadang didepan pemimpinnya, Yo Siauw dan Hoan Yauw menyerang Cie Jiak dari kiri dan kanan, sedang In Lie Heng lalu mendukung Boe Kie dan membawanya ke luar lapangan.

Keadaan jadi kalut. Murid murid Go bie dan pendeta2 Siauw lim berteriak-teriak dan menyerbu dengan senjata terhunus. Melihat Boe Kie sudah disingkirkan, Yo Siauw dan Hoan Yauw lantas mengundurkan diri. Wie It Siauw lalu mendukung Jie Lian Cioe dan kembali ke gubuk Beng kauw.

Muka dan pakaian Boe Kie berlumuran darah. Orang yang paling kaget adalah Tio Beng, sehingga mukanya berubah pucat pasi. Boe Kie tersenyum dan berkata dengan suara perlahan, “Tak apa-apa,” ia segera bersila dilantai dan perlahan-lahan mengerahkan Kioe yang Cin khie untuk mengobati lukanya.

“Siapa lagi yang mau memberi pelajaran kepadaku?” teriak Cie Jiak.

Hoan Yauw segera mengencangkan ikatan pinggangnya dan bertindak keluar gubuk. “Hoan Yoe soe!” seru Boe Kie. “Aku memerintahmu – . – kau tidak boleh bertanding. Kita – – – kita menyerah kalah,” Sehabis berkata begitu ia muntah darah lagi.

Hoan Yauw tidak berani membantah. Jika ia keluar juga, luka sang Kauwcoe pasti akan bertambah berat. Apapula satu pertandingan melawan Cie Jiak hanya berarti kebinasaannya.

Beberapa kali Cie Jiak menantang tanpa mendapat jawaban. Bahwa Boe Kie terluka sebab menarik pulang tenaganya sendiri, tidak diketahui oleh orang lain. Para hadirin hanya menganggap bahwa nyonya itu lebih tinggi ilmunya dan bahwa dia sudah mengampuni jiwa Boe Kie. Apa yang diketahui orang hanyalah, bahwa Cie Jiak sudah merobohkan tiga tokoh kelas utama dalam Rimba persilatan, sehingga oleh karenanya orang2 yang semula masih ingin mengukur tenaga sudah mengurungkan niatnya.

Sesudah Cie Jiak menunggu beberapa lama lagi si pendeta tua dari Tat mo tong maju ke depan dan berkata seraya merangkap kedua tangannya. “Song Hoejin, Ciang boen jin Go bie pay memiliki ilmu silat nomor satu dikolong langit. Siapa yang tidak mufakat?” Ia mengajukan pertanyaan itu tiga kali beruntun, tanpa mendapat tantangan. “Kalau begitu,” kata si pendeta akhirnya. “Sesuai dengan persetujuan yang sudah dicapai, Kim mo Say ong Cia Soen diserahkan kepada pertimbangan Song Hujin. Selain itu, siapapun juga yang sekarang memegang To liong to harus menyerahkan kepada Song Hujin. Hal ini sudah disetujui oleh segenap orang gagah dan tidak dapat dibantah lagi.”

Ketika sipendeta bicara, Boe Kie sedang mengerahkan Kioe yang Cin kie dan seantero semangat pikirannya berada dalam suatu “kekosongan.” Mendadak kupingnya menangkap kata-kata Kim mo Say ong Cia Soen diserahkan kepada pertimbangan Song Hoejin. Ia terkejut hampir ia muntah darah lagi. Tio Beng yang terus berwaspada lihat perubahan pada paras muka pemuda itu dan ia mengerti sebab musababnya. “Kita boleh merasa girang apa bila Giehoe diserahkan kepada pertimbangan Cioe Cie
cie. Ia tak tega membinasakan kau dan ini membuktikan bahwa ia masih mencintai kau. Ia masih mengharap pemulihan hubungan dengan kau dan ia pasti tidak akan mencelakai Giehoe. Legakanlah hatimu,” Boe Kie menyetujui pendapat itu dan ketenangannya pulih.

Sementara itu matahari sudah menyelam kebarat dan seluruh lapangan mulai diliputi dengan kegelapan malam.

“Kim mo say ong Cia soen dipenjarakan di belakang gunung,” kata pula sipendeta Tatmo tong. “Lantaran sekarang sudah malam dan kalian sudah lapar, maka besok tengah hari saja kita berkumpul lagi disini dan loolap akan mengantar Song Hojein kepenjara untuk melepaskan Cia Soen. Besok kita akan menyaksikan ilmu silat Song Hoejin yang tiada tandingannya dikolong langit.

Boe Kie,Yo Siauw dan Hoan Yauw mengawasi Tio Beng. Didalam hati, mereka memuji tebakan si nona yang sangat jitu. Serombongan pendeta Siauw lim itu ternyata sudah menetapkan tipu untuk mencelakai jago-jago nomer satu.

Biarpun berkepandaian tinggi, Cie Jiak tentu tak bisa melawan Touw ok bertiga. Mungkin sekali nyonya muda itu akan membuang jiwa dalam pertempuran.

Sementara itu Cie Jiak kembali ke gubuk Go bie pay dan menengok suaminya.

Sesudah berdiam sejenak, sipendeta berkata lagi. “Para enghiong, dengarlah! Kalian datang berkunjung dikuil kami dan kalian adalah tamu kami yang terhormat. Jika diantara kalian terdapat ganjelan, maka kami harap dengan memandang muka kami yang tipis, janganlah kalian coba membereskan ganjelan itu ditempat ini, Sesudah makan malam, kalian boleh berjalan-jalan disegala tempat, kecuali ditempat untuk menyimpan kitab-kitab yang terletak dibelakang kuil kami.

Sesudah itu semuta orang bubar dari lapangan dan kembali ketempat peristirahatan. Boe Kie didukung Hoan Youw dan rombongm Beng kauw pulang kepesanggrahan mereka. Boe Kie terluka berat, tetapi sesudah menelan sembilan butir pil buatannya sendiri dan sesudah mengerahkan hawa Kioe yang, kira-kira tengah malam, sehabis memuntahkan darah hitam, lukanya sudah sembuh seluruhnya. Yo Siauw, Hoan Yauw, Jie Lian Cioe, In Lie Heng dan lain-lain semuanya kaget tercampur girang. Mereka memuji Lweekang Boe Kie yang sangat luar biasa. Kalau orang lain yang terluka begitu berat dia sedikitnya harus beristirahat satu dua bulan, biarpun diobati oleh tabib yang paling pandai-

Sehabis makan dua mangkok nasi dan mengaso lagi, Boe Kie berbangkit dan berkata, “Aku mau keluar sebentar.” Ia seorang Kauwcoe dan meskipun ia tidak memberitahukan maksudnya, tak seorangpun berani menanya.

“Kau baru sembuh, harus berhati hati,” kata In Lie Heng.

Boe Kie mengaagguk. Melihat paras muka Tio beng yang mengunjuk kekuatiran besar ia tersenyum, seperti juga ia mau mengatakan, “Jangan kuatir!”

Ia keluar dari pesanggrahan dan menengadah. Rembulan memancarkan sinarnya yang gilang gemilang dan langit terang dengan bintang-bintang. Diluar kuil ia bertemu dengan seorang tie kekeong. “Aku ingin bertemu dengan Ciang soe jia Go bi pay,” katanya. Kumohon Taysoe suka mengantar.”

Melihat orang yang bicara adalah Kauwcoe dari Beng kauw, pendeta itu membungkuk dan mengiakan. Ia lalu berjalan kearah barat dan sesudah melalui kira-kira satu li, ia menuding serentengan gubuk seraya berkata, “Itulah tempat Go bie pay. Lelaki dan perempuan tidak boleh bertemu sembarangan, Siauw Ceng hanya bisa mengantar sampai disini.” Sebenarnya apa yang dtakuti olehnya adalah pertempuran aotara Boe Kie dan Cie Jiak. Kalau terjadi begitu, ia bisa terbawa-bawa.

“Jika kau memberitahukan hal ini kepada orang lain, banyak orang bakal jadi kaget,” kata Boe Kie sambil tersenyum. Bagaimana kalau aku totok jalan darahmu supaya kau menunggu aku disini.”

“Siauwceng akan menutup mulut,” kata si pendeta tergesa-gesa. “Kauwcoe tak usah kuatir.” Ia memutar tubuh dan lalu berjalan cepat-cepat.

Boe Kie mendekati gubuk-gubuk itu. Mendadak dua bayangan berkelebat dan dua pendeta wanita mencekal pedang terhunus, menghadang didcpannya. “Siapa?” bentak salah seorang.

“Beng Kauw Thio Boe Kie.” jawabnya. “Aku minta bertemu dengan Song Hoejin.”

Kedua nikouw itu terkesiap. “Thio… Thio Kauwcoe tunggu … aku akan melaporkan,” kata yang satu dengan suara gemetar. Ia memutar tubuh dan sesudah berjalan beberapa tindak, ia meniup suitan bambu.

Hari ini adalah hari kegemilangan Go bie pay, dihidapan ribuan enghiong, ciang bun jin Go bie pay telah megalahkan tiga tokoh terutama pada jaman ini. Sejmenjak Go bie pay didirikan, inilah suatu kejadian yang pertama kali. Tapi, sesudah membunuh dua pemimpin Kay pang, menjatuhkan dua pendekar Boe tong dan melukai Kauwcoe dari Beng kauw, Go bie pay mendapat banyak musuh. Lagi pula sesudah merebut gelar jago silat aomor satu di kolong langit, Cie Jiak dibuat iri hati oleh entah berapa banyak orang.

Maka itulah, malam ini Go bie pay membuat penjagaan yang sangat keras. Hampir berbareng dengan tanda pendeta wanita itu dari empat penjuru muncul empat puluh orang lebih yang mencekal pedang terhunus. Boe Kie tenang-tenang saja. Dengan menaruh kedua tangannya di belakang, ia berdiri tegak.

Pendeta wanita yang meniup suitan segera masuk kedalam untuk memberi laporan. Beberapa saat kemudian, ia keluar lagi dan berkata. “Ciang boen jin kami mengatakan, bahwa karena lelaki dan perumpuan tidak boleh bertemu dengan begitu saja ditengah malam buta, maka Ciang boen jin kami mempersilahkani Thio Kauwcoe balik kembali.”

“Aku mengerti ilmu ketabiban dan aku coba mengobati Song Ceng Soe Siauw hiap” kata Boe Kie. “Aku tidak mengandung lain maksud.”

Pendeta itu kelihatannya kaget. Ia masuk lagi. Sesudah agak lama, baru dia keluar lagi. “Ciang boen jin undang Thio Kauwcoe masuk.” katanya.

Sesudah menepuk-nepuk pinggangnya untuk memperlihatkan, bahwa ia tidak membawa senjata, Boe Kie segera mengikut pendeta wanita itu masuk kedalam. Setibanya diruangan tengah, ia lihat Cie Jiak sedang duduk termenung sambil menopang dagu. Mendengar tindakan kaki, nyonya itu tidak menengok atau berkisar. Sehabis menuang teh dan menaruh cangkir di depan Boe Kie, pendeta wanita itu lalu meninggalkan ruangan tersebut.

Dibawah sinar lilin, untuk beberapa saat Boe Kie mengawasi bekas tunangannya yang mengenakan baju warna hijau. Diantara kesunyian suasana diliputi dengan peringatan-peringatan masa yang lampau, dan sewaktu Boe Kie merasa sangat berduka. “Bagaimana dengan luka Song Soeko?” tanyanya. “Boleh aku menengoknya?”

Cie Jiak tetap tidak menengok. “Tulang kepalanya hancur,” jawabnya dengan suara dingin. “Lukanya sangat berat. Rasanya tak bisa hidup lagi. Entahlah apa dia bisa melewati malam ini.”

“Kau tahu bahwa ilmu ketabibanku tidak terlalu jelek. Aku bersedia untuk menolongnya sedapat mungkin.”

“Mengapa kau mau menolong dia?”

Boe Kie terkejut. Beberapa saat kemudian barulah ia menjawab. “Aku bersalah terhadap mu dan aku merasa sangat malu. Apalagi hari ini kau sudah menaruh belas kasihan dan mengampuni jiwaku. Adalah sepantasnya saja jika aku pun berusaha untuk menolong Song Soeko.”

“Kaulah yang lebih dahulu mengampuni jiwaku. Apa kau kira aku tak tahu? Jika kau berhasil menolong Song Toako balasan budi apa yang di pinta olehmu?”

“Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa. Aku datang untuk minta kau menolong Gie hoe.”

Cie Jiak menuding kedalam. “Ia berada disitu,” katanya.

Ketika Boe Kie menolak kamar, kamar itu gelap gulita. Ia segara mengambil ciak tay, tempat menancap lilin. Cie Jiak tetap tak bergerak.

Boe Kie membuka kelambu. Ia lihat Song Ceng Soe berada dalam keadaan pingsan, napasnya lemah, kedua matanya melotot dan paras mukanya menakutkan. Ia lalu memeriksa nadi. Ketukan nadinya kalut, sebentar cepat sebentar perlahan kulit tubuhnya dingin dan memang juga, kalau tidak keburu ditolong, dia sukar melewati malam itu. Perlahan-lahan ia meraba-raba batok kepala Ceng Soe. Ia mendapat kenyataan bahwa pada bagian depan dan bagian belakang kepala ada empat potong tulang yang hancur. Pukulan song hong Koan nyie yang dikirim Jie Lian Cioe yang disertai dengan sepuluh bagian tenaga dalam dan kalau Song Ceng Soe sendiri tidak memiliki Lweekang yang kuat, ia siang2 sudah binasa.

Boe Kie lalu menutup kelambu, menaruh ciak tay dimeja dan duduk dikursi bambu sambil mengasah otak untuk mencari jalan guna mengobatinya. Sebagai murid tiap kok ie sian, kepandaiannya dalam ilmu ketabiban sudah jarang ada tandingannya. Tapi luka Ceng Soe terlampau berat, sehingga ia sama sekah tak punya pegangan.

Sesudah duduk disitu kira2 semakanan nasi, ia berjalan keluar dan berkata: “Song Hoe-jin, aku tak bisa mengatakan apa aku akan berhasil dalam usaha mengobati Song-soeko. Apakah kau suka mempermisikan untuk aku mencoba-coba.”

“Kalau kau tak bisa menolong, didalam dunia tak ada orang lain yang akan bisa menolong.”

“Andaikata aku berhasil, muka dan ilmu silatnya mungkin tak bisa pulih seperti kala.

“Kau bukan dewa. Kutahu kau akan berusaha sedapat mungkin untuk menolong jiwanya
supaya kau bisa menjadi koenma dengan tidak usah malu sendiri.” ( Koen-ma – suami seorang puteri raja muda ).

Jantung Boe Kie memukul keras. Ia sama sekali tak mempunyai maksud begitu, tapi merasa tak enak untuk bertempur dengan tunangannya itu. Ia lalu kembali kekamar Ceng-soe, mem buka selimut dan menotok delapan “hiat” pada tubuh pemuda itu. Kemudian, dengan tangan yang hampir tulang-tulangnya patah atau hancur dan akhirnya melabur tulang-tulang itu dengan semacam koyo hitam yang dikoreknya dari sebuah kotak emas. Koyo itu bukan lain dari pada Hek giok Toan siok ko-Koyo untuk mengobati tulang patah dari Siauw lim boen di See-hek. Sebagaimana diketahui, Koyo itu diberikan oleh Tio Beng untuk mengobati Jie Thay Giam dan In Lie Heng dan masih ada lebihnya: Sesudah itu, ia dengan secepat mungkin segera mengerahkan Kioe yang Cin khie dan mengirim hawa yang hangat kedalam otak Song Ceng Soe.

Sesudah tulang2nya disambung dan kepalanya dilabur obat, paras muka Song Ceng soe
tak berubah jadi lebih jelek, Boe Kie girang di dalam hatinya timbul harapan besar. Sebab ia sendiri baru saja terluka, maka sehabis mengerahkan Lweekang, napasnya lantas saja ter-sengal2. Untuk beberapa lama ia berdiri didepan ranjang dan menenteramkan jalan pernapasannya.

Sesudah itu ia meninggalkan Song Ceng soe dan menaruh ciak tay diatas meja. Dari sinar lilin ia melihat muka Cie Jiak yang pucat pasi. Diluar lapat2 terdengar suara tindakan kaki. Ia tahu, bahwa itulah suara tindakan murid2 Go-bie pay yang jaga malam.

“Song soeko mungkin sekali bisa ditolong,” kata Boe Kie. “Legakanlah hatimu.”

“Kau tak punya pegangan pasti dalam menolong dia, akupun tak pumya pegangan pasti dalam menolong Cia Tayhiap,” kata Cie Jiak.

Boe Kie tahu bahwa yang dikatakan Cie Jiak memang sebenarnya. Biarpun dibantu oleh dua jago Go bie pay Cie Jiak belum tentu berhasil. Bahkan mungkin dia membuang jiwa. “Apa kau tahu dimana Giehoe dipenjarakan dan bagaimana penjagaannya ?” tanyanya.

“Tidak” jawabnya. “Penjagaan apa yang diatur Siauw lim pay?”

Boe Kie segera menceritakan apa yang ia tahu dan segala pengalamannya dalam pertempuran melawan tiga pendeta Siauw lim.

“Kalau kau tidak berhasil akupun lebih tak kan berhasil,” kata Cie Jiak sesudah Boe Kie selesai menutur.

“Cie Jiak,” kata Boe Kie dengan bernafsu, “apabila kita berdua bekerja sama kita pasti berhasil. Dengan tenaga Soen yang (keras) aku melibat cambuk ketiga pendeta itu sedang kau sendiri bisa menerjang dengan tenaga Im-Jioe (lembek). Begitu kau menerobos masuk ke dalam Kim kong Hok mo coan, kita menyerang dari dalam dan dari luar dan kita pasti akan berhasil.”

Cie Jiak tertawa dingin. “Dahulu, kita pernah memadu janji untuk menjadi suami isteri,” katanya, “Kini jiwa suamiku berada dalam bahaya- Hari ini aku mengampuni jiwamu. Orang luar tentu akan bilang bahwa aku berbuat begitu sebab aku sukar melupakan kecintaan. Tapi apabila kau meminta bantuan dalam memukul Kim kong Hok mo can, orang-orang gagah dikolong langit tentu akan mencaci aku sebagai perempuan yang tak tahu malu.”

“Perduli apa omongan orang luar?” kata Boe Kie. “Kita hanya perlu menanya hati sendiri, apakah kita ada yang berbuat sesuatu yang memalukan atau tidak.”

“Bagaimana kalau aku menanya dalam hati sendiri, aku merasa, bahwa aku telah berbuat sesuatu yang memalukan?” kata Cie Jiak.

Boe Kie tertegun. “Kau… kau…” katanya.

“Thio Kauwcoe,” memutus Cie Jiak. “Bahwa kita berdua berada bersama-sama ditengah malam buta, sudah sangat tak pantas. Thio Kauwcoe kau pergilah !”

Boe Kie menyoja sambil membungkuk, “Song Hoejin, sedari kecil kau berlaku sangat baik kepadaku,” katanya. “Kumohon kali ini kau suka berbuat baik lagi kepadaku. Selama Thio Boe Kie masih hidup, dia takkan melupakan budimu yang sangat besar.”

Cie Jiak membungkam. Ia tidak menjawab “ya” atau “tidak”. Iapun tidak pernah menengok, sehingga Boe Kie tidak bisa lihat paras mukanya. Baru saja Boe Kie mau memohon lagi, nyonya muda itu tiba-tiba berteriak, “Ceng hoei Soe cie, antarkanlah tamu kita.”

Pintu terbuka dan Ceng hoei Soethay berdiri diambang pintu dengan mencekal pedang terhunus. Dengan mata berapi pendeta wanita itu mengawasi Boe Kie.

Mendadak Boe Kie menekuk kedua lututnya dan berlutut. Ia menyampingkan segala perasaan malu sebab mati hidupnya sang ayah angkat tergantung atas kemauan Cie Jiak untuk memberi pertolongan. Sesudah memanggutkan kepala empat kali ia berkata, “Song-hoejin, memohon belas kasihanmu.”

Cie Jiak tetap duduk bagaikan patung.

“Thio Boe Kie, Ciang boenjin menyuruh kau pergi!” bentak Ceng hoei. Kalau kau masih rewel, kau benar-benar manusia rendah yang tak mengenal malu!” Ia mencaci begitu karena menduga Boe Kie minta menikah dengan Cie Jiak sesudah Song Ceng Soe mati.

Boe Kie menghela napas. Ia bangkit dan terus berjalan keluar.

Setibanya digubuk Beng kauw, Tio beng menyambutnya dengan berkata. “Song Ceng soe dapat ditolong bukan? Kau jadi orang mulia dengan menggunakan Hek hiok Toan siok koku.”

“Beng moay, kau sungguh pintar! Tapi aku tidak bisa katakan, apa dia bisa ditolong atau tidak.”

“Hmm… Kau coba menolong Song ceng soe untuk ditukar dengan Cia Tay hiap. Boe Kie ko ko makin lama otakmu makin tidak beres!”

“Mengapa begitu? Aku tak mengerti maksud mu.”

“Dengan seantero kepandaianmu, kau berusaha untuk menolong Song ceng soe. Itu berarti bahwa kau sedikitpun tak ingat lagi kecintaan Cioe Ciecie. Coba pikir, bagaimana dia tidak jadi mendongkol?”

Boe Kie terkejut. Tak dapat ia menjawab perkataan si nona. Tak bisa jadi Cie Jiak merasa senang kalau suaminya binasa. Tapi ia ingat perkataan nyonya itu. “Kutahu, kau akan berusaha sedapat mungkin untuk menoloug jiwanya, supaya kau bisa menjadi koenma dengan tak usah merasa malu sendiri” Perkataan itu mengunjuk bahwa didalam hati Cie Jiak merasa mendongkol.

Melihat Boe Kie membungkam, Tio beng berkata pula. “Apakah kau merasa menyesal sesudah menolong jiwa Song ceng soe?” Sehabis bertanya begitu, tanpa menunggu jawaban ia masuk kedalam. Boe Kie duduk diatas batu. Sambil mengawasi rembulan, pikirannya melayang kemasa lampau. Ia ingat bahwa sebelum setahun sesudah meninggalkan Peng hwee to, kedua orang tuanya meninggal dunia. Semenjak itu ia hampir diliputi kedukaan. Banyak kali ia coba berbuat, tapi akibatnya jadi sebaliknya. “Ah… kalau tahu bakal begini lebih baik berdiam terus di Peng hwee to dan hidup tenteram bersama ayah ibu dan Giehoe,” katanya didalam hati.

Pada keesokan paginya para enghiong kembali berkumpul dilapangan yang kemarin, kali ini si pendeta Tat mo tong yang berlaku sebagai juru bicara tanpa minta permisi dari Kong tie. “Para enghiong dengarlah,” teriaknya. “Dalam pie boe kemarin Song hoejin dari Go bie pay telah memperoleh kemenangan terakhir, sehingga sebagai mana sudah disetujui, hari ini kami mengundang ia untuk pergi kebelakang gunung guna melepaskan Kim mo Say ong Cia Soen. Mari.” Sehabis berkata begitu ia berjalan lebih dahulu sebagai penunjuk jalan, diikuti oleh rombongan Go bie pay dan lain-lain. Melihat Cie Jiak tidak mengenakan pakaian berkabung Boe Kie tahu, bahwa jiwa Song Ceng Soe dapat dikatakan sudah tertolong.

Setibanya dipuncak bukit, sipendeta Tat mo tong segera berkata. “Ini penjara dibawah tanah diantara ketiga pohon siong itu. Penjaga penjara ialah ketiga tetua dari partai kami. Sesudah mengalahkan ketiga tetua kami itu, Song Hoejin boleh lantas mengambil Cia Soen.

Melihat paras muka Boe Kie yang penuh kebingungan Yo Siauw berbisik. “Kauwcoe tak usah kuatir, Wie Hok kiong dan Swe Poet Tek sudah mempersiapkan Ngo heng kie dikaki bu-kit2. Apabila Go bie pay tidak mau menyerahkan Cia Soen, kita boleh segera mengunakan kekerasan.”

Alis Boe Kie berkerut. “Tindakan itu melanggar persetujuan dan kita akan kehilangan kepercayaan,” katanya.

“Untuk menolong Cia Say ong, kita tidak bisa terlalu memperhatikan hal yang sedemikian,” kata Yo Siauw.

“Musuh Cia Tayhiap terlalu banyak,” sela Tio Beng. “Kita harus menjaga juga senjata gelap.”

“Benar,” kata Boe Kie. “Hoan Yoesoe Tiat koen Too tiang, Cioe heng, Pheng Tay Soe, kuminta kalian berdiri ditempat sudut dan menjaga serangan gelap.”

“Boe Kie Koko,” bisik nona Tio, “kuingin ajukan sebuah usul. Jika ada orang menggunakan senjata rahasia, kita boleh segera menggunakan itu untuk merampas Cia Thayhiap. Dengan demikian, tidak seorang pun bisa mengatakan, bahwa kita melanggar janji. Kalau tidak ada yang membokong, sebaiknya Yo Cosoe memerintahkan salah seorang untuk melepaskan senjata rahasia, supaya didalam kekalutan kita bisa turun tangan.

Yo Siauw tertawa. “Bagus! tipu itu sungguh lihay.” katanya. Ia segera berlalu untuk mengatur persiapaan.

Boe Kie merasa, bahwa siasat itu bukan cara seorang ksatria. Tapi untuk menolong jiwa ayah angkatnya, ia tidak bisa terlalu menghiraukan soal itu lagi. Diam-diam ia merasa sangat berterima kasih terhadap Tio Beng. “Beng moay dan Yo Cosoe adalah orang-orang pandai pada jaman ini,” katanya didalam hati. Sungguh untung aku bisa mendapat bantuan mereka.”

Sementara itu Cioe Cie Jiak sudah maju menghampiri ketiga pohon siong dan berkata sambil membungkuk. “Sam wie adaiah tetua Siauw-lim pay yang memiliki kepandaian sangat tinggi! Jika dengan sendirian aku melawan Sam wie, aku bukan saja berlaku tidak adil, tapi juga tidak menghormat kalian.”

“Song Hoejin boleh mengambil pembantu,” si pendeta Tat mo tong.

“Karena mengalahnya para enghiong, secara kebetulan aku merebut kemenangan,” kata Cie Jiak. Dalam memperoleh kemenangan itu, aku mengandalkan ilmu silat mendiang guruku, Biat coat Soethay. Jika tiga lawan tiga biarpun menang, kemenangan itu belumlah cukup untuk memperlihatkan hasil yang jerih payah mendiang guruku dalam mengajar aku. Kalau satu lawan tiga, aku jadi berlaku kurang hormat terhadap tuan rumah. Begini saja. Aku akan meminta bantuannya seorang Bocah yang kemarin jatuh di-dalam tanganku dan yang lukanya sampai sekarang belum sembuh betul, Bocah itu dahulu pernah muntah-muntah darah karena dipukul Siansoe (mendiang guruku). Kejadian ini diketahui oleh semua orang. Dengan meminta bantuannya aku tidak merugikan nama baik Sian soe.”

Mendengar perkataan itu, Boe Kie jadi girang sekali. “Benar saja dia meloloskan permohonanku,” katanya didalam hati.

Sementara itu Cie Jiak sudah berseru. Thio Boe Kie kau keluarlah!”

Kecuali Yo Siauw dan beberapa pemimpin lain, para anggauta Beng Kauw tidak tahu mau Kauwcoe mereka, mereka merasa sangat gusar. Tapi diluar dugaan, sang Kauwcoe kelihatan girang dan menghampiri dengan paras muka berseri-seri. Sambil menyoja, ia berkata. “Terima kasih atas belas kasihan Song Hoejin yang kemarin sudah meagampuni jiwaku.” Untuk menebus dosa dahulu hari dan demi keselamatan ayah angkatnya, ia sudah mengambil keputusan untuk menelan segala hinaan.

“Sebab lukamu belum sembuh, akupun bukan sungguh2 mengharapkan bantuanmu,” kata Cie Jiak.

“Aku hanya menanti perintah,” jawab Boe Kie.

Dengan sekali menggerakkan tangan kanannya, Cie Jiak membuat belasan lingkaran besar dan kecil dengan cambuknya. Hampir berbareng ia membalik tangan kirinya dan tahu2 ia sudah memegang sebilah golok pendek yang bersinar hijau. Para orang gagah yang kemarin sudah menyaksilcan kelihayan cambuk tak pernah menduga bahwa jago betina itu akan menggunakan juga lain snnjata. Kedua senjata itu sangat berlainan sifatnya, yang satu panjang yang lain pendek, yang satu lemas yang lain keras. Bahwa Cie Jiak dapat menggunakan kedua senjata itu dengan berbareng, merupakan bukti bahwa ia benar2 memiliki kepandaian tinggi. Para enghiong lantas saja terbangun semangatnya dan merasa pasti bahwa mereka akan menyaksikan pertempuran yang luar biasa.

Boe Kie segera merogoh saku dan mengeluarkan dua batang Seng hwee leng. Ia maju ke gelanggang. Tiba-tiba tindakannya limbung dan ia sengaja batuk-batuk seperti orang yang masih menderita luka berat. Ia bertekad untuk menyerahkan semua jasa pada Cie Jiak.

Perlahan-lahan Touw ok bertiga mengangkat tambang mereka, siap sedia untuk menyambut serangan lawan.

Cie Jiak mendekati Boe Kie dan berbisik, “Kau pernah bersumpah untuk membalas sakit hati piauw moaymu. Kalau si pembunuh ayah angkatmu, apakah kau masih mau menolong dia.”

Boe Kie terkejut, “Kadang-kadang Giehoe, dia terserang penyakit kalap dan ia bisa melakukan perbuatan yang sebenarnya tidak diinginkan olehnya” jawabnya.

Sesaat itu dilereng bukit sekonyong-konyong terdengar suara khim dan seruling. Boe Kie girang, Dilain saat dengan diiringi oleh tiga suara tali khim empat nona yang mengenakan baju putih dan masing-masing memegang satu khim muncul dipuncak bukit. Beberapa detik kemudian dengan iringan suara seruling, empat gadis baju hitam yang masing-masing membawa sebatang seruling, memperlihatkan diri. Delapan wanita muda itu lantas saja berdiri didelapan penjuru dan mulai memperdengarkan sebuah lagu yang sangat merdu. Diantara iringan lagu itu seorang gadis cantik yang menggunakan baju warna kuning muda perlahan-lahan mendaki puncak bukit. Benar saja wanita itu bukan lain daripada si nona baju kuning yang pernah ditemui Boe Kie diantara orang-orang
di Kay pang di Louw liong.

Begitu melihat, Pangcoe Kay pang Soe Kong Sek lantas saja memburu dan menubrukdan memeluk sibaju kuning, “Yo Ciecie!” teriaknya. “Tetua dan Liong tauw kami dibinasakan orang. Ia menuding Cie Jiak dan berteriak pula, “Dari Go bie pay dan Siauw lim pay yang turun tangan jahat.”

Si baju kuning manggut-manggut. “Aku sudah tahu,” katanya. Hmm.. Kioe im pek koet jiauw belum tentu merupakan ilmu yang paling tinggi.” ( Kioe im Pek koet jiauw – cengkeraman tulang putih dari kitap Kioe im Cin-keng ).

Munculnya si baju kuning sudah menarik perhatian semua orang dan perkataan itu didengar oleh semua kuping. Para enghiong yang berusia lanjut dan berpengalaman terkejut di dalam hari. Mereka bertanya-tanya, “Kioe im pek koet jiauw? Apakah Kioe im pek koet jiauw yang pada seabad yang lalu dikenal sebagai ilmu silat sangat jahat dan yang belakangan hilang dari Rimba persilatan?

Sementara itu dengan bergandengan tangan si baju kuning dan Soe hong Sek menuju ke rombongan Kay pang, Nona aneh itu kemudian duduk disebuah batu besar.

“Siapa wanita itu?” tanya Cie Jiak. “Aku baru pernah ketemu sekali,” jawab Boe Kie. Aku tahu nama dan asal usulnya”.

“Dia she Yo!”

“Kau tak salah.”

Cie Jiak mengeluarkan suara dihidung. “Mulailah!” katanya seraya mengedut cambuknya yang lantas saja meayambar Touw ok dan dengan menuruti gerakan itu tubuhnya melesat keatas, akan kemudian, hinggap diantara tiga pohon siong. Serangan dan lompatan itu yang sangat cepat dan indah mengagumkan semua orang. Dilain saat, cambuknya sudah beradu dengan tambang Touw lan. Touw ok dan Touw ciat buru-buru mengangkat senjata mereka dan menyerang dari kiri kanan. Boe Kie segera melompat untuk menolong, tapi begitu lekas kakinya hinggap ditanah tubuhnya terhuyung, Banyak orang mengeluarkan seruan tertahan. Mereka menduga pemuda itu sudah tak punya tenaga untuk berkelahi.

Mereka tak tahu, bahwa Boe Kie sedang menggunakan ilmu Seng hwee leng yang sangat aneh. Selagi terhuyung Seng hwee leng menghantam dada Touw lan yang “terikat” dengan cambuk Cie Jiak dan sukar main bela diri. Melihat bahaya Touw ok dan Touw ciat lantas saja merubah arah serangannya terhadap Cie jiak dan kedua tambang menyambar Boe Kie seperti dua ekor naga. Sekali lagi semua orang terkesiap. Pada detik yang sangat berbahaya, Boe Kie menggulingkan diri kearah Touw ok yang menyambutnya dengan totokan jari kepundak. Dengan Kian koen Tay lo ie, Boe Kie memunahkan totokan dan hampir berbarengan tubuhnya bergulingan kejurusan Touw ciat.

Demikianlah Boe Kie terus menggunakan ilmu Seng hwee leng yang aneh. Ia bergulingan kesana-sini. Ia kelihatannya bingung, repot dan terdesak. Tapi pada detik terakhir serangan2 berbahaya, ia selalu dapat meloloskan diri dari bencana.

Sesudah lewat puluhan jurus, orang-orang gagah yang berpengalaman mulai merasa bahwa Boe Kie sedang menggunakan ilmu silat luar biasa, misalnya sebangsa ilmu Coei pat-sian (Delapan dewa mabuk ). Tapi ilmu itu banyak lebih sukar dan mengandung perubahan-perubahan yang lebih sulit daripada segala ilmu yang dikenal dalam wilayah Tionggoan.

Pada hakekatnya silat Persia kuno itu digunakan untuk melawan hanya seorang dari ketiga tetua Siauw lim, dengan mudah Boe Kie bisa memperoleh kemenangan. Kekuatan ketiga ketua itu terletak pada kerja sama mereka yang sangat erat. Sesudah mempelajari Kim kong Hok-mo coan bersama-sama selama puluhan tahun, pikiran mereka sudah terjalin menjadi satu. Kalau yang satu menghadapi bahaya, dua yang lain segera membantu secara wajar. Maka itulah, sesudah bertempur kira-kira duapuluh jurus, Boe Kie belum juga bisa mendapat kemajuan.

Pada dasarnya sebagian kecil silat Seng hwee leng termasuk di jalanan sesat sedang Kim kong Hok mo coan berdasarkan ilmu Sang Buddha menaklukan segala apa yang sesat.
Dengan demikian sesudah bertempur beberapa lama lagi, sifat iblis dari ilmu Seng hwee leng itu mulai mempengaruhi Boe Kie. Dibawah tekanan ilmu yang bersih suci, pikiran Boe Kie mulai kalut. Tanpa diketahui oleh para hadirin ia menghadapi bencana. Andaikata tidak terpukul dalam seratus jurus lagi ia bakal roboh sendiri. Bahwa Beng kauw sering dinamakan orang sebagai “Agama iblis” ( Mo kauw ), bukan sama sekali tidak beralasan, sedang ilmu silat Seng hwee leng adalan gubahan “si Orang tua dari Pegunungan,” “si raja iblis yang bisa membunuh manusia tanpa berkedip. Pada waktu meyakinkan ilmu itu, Boe Kie tidak melihat dan tidak merasakan apapun juga. Tapi sekarang dalam menghadapi musuh besar yang menggunakan ilmu lurus bersih, bagian yang berbabaya dari ilmu tersebut menonjolkan diri.

Tiba tiba ia tertawa-tertawa berkakakan yang bernada “iblis” dan membangunkan bulu roma. Mendadak, sehabis tertawa itu, dari dalam tanah diantara ketiga pohon siong terdengar suara orang menghafalkan kitab-Budha. Boe Kie kaget dan mengenali, bahwa yang menghafalkan kitab bukan lain dari pada ayah angkatnya. Ia mengerti, bahwa sedari dipenjarakan, setiap hari orangtua itu mendengari penghafalan kitab suci yang dilakukan oleh ketiga pendeta Siauw-lim. Sang ayah angkat pernah menolak untuk melarikan diri karena ia merasa mempunyai alasan dosanya terlalu besar: “Apakah sesudah mendengari pembacaan kitab suci selama beberapa bulan, Giehoe mendusin?” tanya Boe Kie didalam hati.

Sementara itu, tekanan tambang ketiga pendeta itu mulai berkurang.

Cia Soen menghafal terus.

Boe Kie belum menyelami intisari dari pada pelajaran Budha. Tapi kata-kata yang diucapkan oleh Cia Soen dimengerti olehnya dan kira-kira berarti begini: Segala sesuatu didalam dunia merupakan kekosongan. Aku sama sekali tidak memikiri badanku atau badan orang lain. Kalau ada orang membunuh aku atau menyembelih aku, akupun tak merasa gusar, karena aku tak menganggap tubuhku sebagai milik sendiri.”

“Apakah sesudah berdiam disini beberapa bulan Giehoe benar-benar sudah mencapai tingkat yang bebas dari rasa kaget, rasa takut dan kuatir?” tanya Boe Kie didalam hati. “Apakah memang benar-benar ingin menasehati supaya tidak memikiri lagi keselamatannya tidak usah menolong lagi jiwanya?”

Ilmu Kim kong Hok mo coan bersumber dan digubah dari kitab suci Kim kong beng. Pada tingkat yang paling tinggi, kitab itu tidak membedakan lagi antara kau dan aku antara hidup dan mati, sedang segala apa dialami ini di pandang sebagai suatu khayal atau kekosongan. Biarpun ilmunya tinggi. Pada waktu berhadapan dengan lawan, ketiga pendeta Siauw lim itu masih mempunyai keinginan untuk menindih lawan dan memperoleh kemenangan. Mereka bisa melupakan soal mati atau hidup, tapi belum bisa membedakan perbedaan antara kau dan aku. Itulah sebabnya mengapa mereka belum mencapai puncak tertinggi dari Kim kong Hok mo coan dan kekuatan Lingkaran (Coan) itu belum mempunyai tenaga yang sebesar-besarnya. Apa yang selama beberapa bulan didengar Cia Soen bukan lain dari hafalan Kim kong keng.

3 Responses to “To Liong To – 19”

  1. cerita dewasa panas Says:

    cerita dewasa panas…

    […]To Liong To – 19 « Cerita Silat[…]…

  2. davin Says:

    Mantabbb… Ceritany.. Lanjutan akhir koq ngak ad yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: