To Liong To – 18

Sesudah Han San Tong mempersembahkan secawan arak kepada Boe Kie dengan diiringi tetabuhan perang dan sepasukan tentara yang mengenakan pakaian perang mentereng serta bersenjata lengkap, rombongan itu masuk kedalam kota Hauwcoe. Dengan menunggang kuda, Cie Jiak mengikuti dibelakang Boe Kie. Di sepanjang jalan ia menengok ke kanan dan ke kiri dengan perasaan bangga. Meskipun belum menyamai arak-arakan Hong tee dan Hong hauw dikota raja, iring-iringan itu sudah cukup memuaskan hatinya.

Setibanya dikota, safu demi satu para jenderal dan perwira menghadap dan memberi hormat kepada Boe Kie. Malam itu diadakan pesta besar. Mendengar puteranya ditolong oleh sang Kauwcoe sekali lagi secara resmi Han San Tong menghaturkan terima kasih.

Selama beberapa hari dengan beruntun datanglah Yoe Siauw, Hoan Yauw, In Thian Ceng, In Ya Ong, Tiat koan Hoejin Swee Poet Tek, Cioe thian, kelima Ciang kie soe dari Ngo-heng-kie dan lain-lain pemimpin Beng kauw. Mereka datang dari pelbagai tempat sebab mendengar warta tentang itu. Beberapa hari itu tak putus-putusnya diadakan pesta-pesta untuk menyambut para pemimpin itu. Lewat beberapa hari lagi tibalah Ceng ek Hok ong Wie It Siauw dan Pheng Eng Giok.

Kepada Boe Kie Pheng Hweeshio melaporkan bahwa ia sama sekali tak mendengar sesuatu tentang Cia Soen.

Waktu mendapat gilirannya, Wie It Siauw berkata, “Selagi berkelana di Hopak, aku bertemu dengan Ciang pang Liong tauw yang sedang menjalankan tugas kurang baik bagi agama kita. Aku lagi guyon-guyon dengannya. Waktu itu aku belum tahu, bahwa Cia Heng sudah kembali di Tiong goan. Kalau tahu aku pasti akan menyelidiki di kalangan Kay pang karena sangat mungkin Cia heng jatuh di tangan mereka.” Boe Kie segera memberitahu bahwa Cia Soen memang pernah ditangkap oleh Kay pang tapi kemudian bisa melarikan diri. Iapun menuturkan segala pengalamannya dalam usaha mencari ayah angkatnya itu.

Hoan Yauw dan In Thian Cheng adalah orang-orang yang berakal budi, tapi merekapun tak bisa menembus kabut yang meliputi hilangnya Kim mo Sai ong.

“Kita masih belum bisa meraba asal-usul nona baju kuning itu,” kata Hoan Yauw.

“Kalau kita mengusut dari nona itu, mungkin sekali kita akan berhasil dalam usaha mencari Ceng heng.

Tapi siapakah yang menaruh tanda-tanda obor dari Louw Liong Kauwcoe mengejar sampai di Louw liong lagi?” tanya In Thian Cheng. “Bisa jadi orang itu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan hilangnya Cia heng.”

Diantara pemimpin-pemimpin Tjeng Kauw terdapat banyak yang berpengalaman luas. Tapi tidak seorangpun yang bisa menebak siapa adanya si baju kuning. Mereka hanya bisa membujuk Boe Kie dengan mengatakan bahwa ditinjau dari sepak-terjangnya si baju kuning sama sekali tidak mengandung niat kurang baik.

Boe Kie pun tidak berdaya. Ia hanya bisa memerintahkan sejumlah anggota Ngo heng kie pergi ke berbagai tempat untuk mengadakan penyelidikan.

Dalam beberapa perternpuran, biarpun mendapat kemenangan, tentara Beng kauw menderita juga kerusakan yang tidak kecil. Maka itu mereka memerlukan waktu dua tiga bulan untuk memperbaiki apa yang rusak, mengumpulkan serdadu baru dan mengaso.

Sebagaimana diketahui, pada malam itu Pheng Eng Giok turut menyaksikan percobaan membunuh diri dari Cioe Cie Jiak. Meskipun tak tahu latar belakangnya, ia mengerti, bahwa diantara pemuda dan pemudi yang sedang bercintaan memang sering terjadi gelombang atau ribut-ribut, Disamping itu, HoanYauw dan beberapa orang lain juga tahu adanya perhubungan yang agak luar biasa diantara Boe Kie dan Tio beng.

Apabila Kauwcoe mereka sampai menikah dengan seorang puteri Mongol, maka kejadian ini sudah tentu akan memberi akibat buruk bagi usaha menggulingkan pemerintahan Goan. Maka itulah, sesudah berdamai, mereka menarik kesimpulan, bahwa jalan yang paling baik adalah membujuk Boe Kie supaya melangsungkan upacara pernikahan dengan Cie Jiak secepat mungkin. Mereka menganggap bahwa sekarang adalah waktu yang paling tepat, karena peperangan justeru sedang ditunda.

Waktu mereka mengajukan usul, Boe Kie lantas saja mengiakan. In Thian Ceng lantas saja mencari hari dan segera ditetapkan, bahwa hari pernikahan Boe Kie dan Cie Jiak jatuh pada Sha gwee Cap-go (Bulan tiga tanggal 15).

Tak usah dikatakan lagi, seluruh anggota Beng kauw bergirang dan repot mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta pernikahan itu.

Pada waktu itu nama Beng kauw telah menggetarkan seluruh Tiongkok. Disebelah timur, Han San Tong menduduki kota-kota penting di wilayah Hway-see. Disebelah barat, Cie Coen Hoei telah mengalahkan tentera Mongol dalam pertempuran-pertempuran di sebelah utara Ouwpak dan selatan Holam. Maka itulah, begitu lekas warta tentang pernikahan Thio Kauw coe disiarkan, segera orang-orang gagah dari Rimba persilatan mulai datang – kian lama makin banyak, sehingga seolah-olah melimpahnya air banjir. Koen loen pay, Kong tong pay dan beberapa partai lain, yang dikenal sebagai partai lurus hati, sebenarnya tidak begitu akur dengan Beng kauw. Tetapi sesudah tokoh-tokohnya ditolong Boe Kie di Bin hoat sie, partai-partai tersebut rata-rata berhutang budi.

Disamping itu, Cioe Cie Jiak adalah Ciangboenjin dari Go-bie-pay yang mempunyai kedudukan tinggi dalam Rimba Persilatan. Walau pun tidak datang sendiri, para ciang-boen-jin partai-partai itu mengirim wakil ke Hauw cioe untuk membawa barang antaran. Thio Sam hong sendiri tidak bisa datang. Sebagai bingkisan, orang tua itu menulis empat huruf “Kee-jie-,Kee-hoe,” (Suami isteri yang baik ) diatas selembar sutera. Sutera itu bersama jilid kitab Thay Kek-koen yang ditulis sendiri, diserahkan kepada Song Wan Kiauw. Jie Lian Cioe dan In Lie Heng yang juga mendapat tugas untuk pergi ke Hauw coe guna memberi selamat dan doa restu kepada sepasang mempelai itu. Waktu itu Yo Poet Hwie sudah menikah dengan In Lie Heng dan ia mengikut ke Hauwcioe, begitu bertemu, dengan girang Boe Kie berseru, “Lok-Soe-cim!“

Muka Yo Poet Hwie lantas saja berubah merah. Ia menarik tangan Boe Kie dan lalu menuturkan segala pengalamannya semenjak meraka berpisahan. Ia girang tercampur terharu.

Sebab kuatir Tan Yoe Liang dan Song Ceng Soe menggunakan kesempatan itu untuk mencelakai Thay soepeknya, maka Boe Kie lalu memerintahkan Wie It Siauw pergi ke Boe-tong san sebagai wakilnya untuk menghaturkan terima kasih kepada Thio Sam Hong.
Kepada Ceng ek Hok ong, Boe Kie menceritakan sapak terjang Song Ceng Soe yang sudah membinasakan Boh Seng Kok dan berniat untuk mencelakai Thio Sam Hong. Ia memesan, supaya sesudah bertemu dengan Thio Sam Hong, Wie It Siauw harus menemani Jie Thay Giam dan Thio Siong Kee untuk berjaga-jaga terhadap tipu muslihat Tan Yoe Liang. Sesudah Song Wan Kjuuw bertiga kembali di Boe tong san, barulah Wie It Siauw pulang.

Mendengar penuturan itu, paras muka Ceng ek Hok ong berubah merah padam. “Atas nasihat Kauwcoe, Wie It Siauw tidak berani mengisap lagi darah manusia,” katanya dengan suara gusar. “Tapi jika bertemu dengan kedua penjahat itu, aku pasti akan mengisap habis darah mereka.”

“Terhadap Tan Yoe Liang, Wie heng boleh berbuat sesuka hati,” kata Boe Kie. “Tapi Song Ceng Soe adalah putera tunggal Song Toasoepeh dan ia selalu dianggap sebagai calon ciangboenjin dari Boe tong pay. Kalau dia berdosa, biarlah Boe tong pay sendiri yang menghukumnya. Dengan memandang muka Song Toa soepeh, Wie heng tidak boleh melanggar selembar rambutpun.” Wie It Siauw mengiakan dan segera berpamitan.

Pada Sha gwee Ceecap ( bulan tiga tanggal sepuluh ), sejumlah murid wanita Go-bie tiba di Hauwcioe dengan membawa antaran. Teng Bin Koen sendiri tidak muncul.

Lima hari kemudian tibalah hari pernikahan. Pagi-pagi sekali orang sudah berdandan dan mengenakan pakaian yang sebaik-baiknya. Upacara sembahyang kepada Bumi dan Langit itu segera akan dilakukan di gedung hartawan terkaya di kota Hauwcioe, Gedung itu dihias seindah-indahnya. Yang menjadi cu hun (yang memegang peranan orang tua) pengantin lelaki adalah In Thian Ceng, sedang Siang Gie Coen menjadi cu hun pengantin perempuan. Tiat koan Toojin mendapat tugas untuk menjaga keselamatan kota Hauw cioe selama pesta. Guna menjaga merembasnya musuh, dia harus mengatur penjagaan diseluruh kota yang dilakukan oleh sejumlah murid Beng kauw pilihan. Diluar kota dijaga oleh Tong Ho yang memimpin satu pasukan tentara. Pagi itu sebagai tamu terakhir datang wakil-wakil Siauw Lim pay dan Hwa san yang membawa barang antaran.

(Begitu tiba waktu Sia sie ( antara jam tiga dan lima sore ), terdengarlah bunyi meriam sebagai tanda dimulainya upacara pernikahan.

Yo Siauw dan Hoan Yauw mengundang semua tamu masuk di toa-thia ( ruangan besar). Tak lama kemudian, diapit oleh In Lie Heng dan Han Lim Jie, Boe Kie keluar dengan diiring suara tetabuhan dan hampir berbareng, Cie Jiak juga masuk ke ruangan upacara dengan dikawani oleh delapan murid wanita Go bie. Kedua mempelai lantas saja berdiri berendeng.

“Sembahyang kepada langit!” teriak pemimpin upacara.

Baru saja Boe Kie dan Cie Jiak mau berlutut tiba-tiba diluar pintu terdengar bentakan yang merdu, “Tahan !” Di lain detik, seorang wanita yang mengenakan pakaian hijau muda sudah berdiri ditengah-tengah ruangan. Wanita itu bukan lain daripada Tio Beng.

Kejadian yang tidak diduga-duga itu mengejutkan semua orang. Tokoh-tokoh Beng kauw dan berbagai partai persilatan yang sudah kenyang makan asam garam dunia Kang ouw, tidak pernah mimpi, bahwa Tio Beng berani datang seorang diri ke tempat ini. Beberapa orang yang beradat berangasan lantas saja bergerak untuk menyerang.

“Tahan dulu!” bentak Yo Siauw. Sambil menyoja para tamu, ia berkata pula. “Hari ini adalah hari paling beruntung dari Kauwcoe kami dan Ciangboenjin Go bie-pay. Tio-Kouwnio datang berkunjung dan beliau adalah tamu kami. Dengan memandang muka Go-bie-pay dan Beng kauw, kami mohon kalian suka melupakan ganjalan lama untuk sementara waktu jangan melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap Tio Kouwnio.” Sehabis berkata begitu, ia memberi isyarat kepada Swee Poet Tek dan Pheng Eng Giok dengan kedipan mata. Kedua kawan itu mengerti maksudnya. Mereka segera meninggalkan ruangan itu dan menyelidiki jumlah jago-jago yang mungkin dibawa Tio Beng.

“Tio Kouwnio, kau duduklah sambil menyaksikan pernikahan,” kata Yo Siauw pula. “Sesudah upacara, kami akan mengundang Tio-Kouwnio untuk turut minum arak kegirangan.”

Tio Beng tersenyum. “Aku hanya ingin bicara beberapa patah dengan Thio Kauwcoe,” katanya. “Sehabis bicara, aku akan segera berlalu.”

“Sesudah upacara, nona boleh bicara.” kata Yo Siauw.

“Sesudah upacara, sudah terlambat.” jawabnya.

Yo Siauw dan Hoan Yauw saling mengawasi. Mereka mengerti, bahwa Tio Beng sengaja datang untuk mengacau dan biar bagaimana pun jua, mereka harus mencegah, supaya pesta itu tidak menjadi gagal. Yo Siauw lantas saja maju dua tindak. “Tio Kouwnio,” katanya dengan suara menyeramkan. “Sebagai tuan rumah kami tidak ingin bertindak secara melanggar kepantasan dan kami mengharap, bahwa sebagai tamu, Tio Kouwnio juga bisa menghormati diri sendiri.” Ia telah mengambil keputusan, bahwa jika Tio Beng rewel, ia akan menotok jalan darahnya.

Si nona menengok kepada Hoan Yauw dan berkata, “Kauw Taysoe orang mau turun tangan terhadapku. Apa kau tak menolong ?”

“Koencoe,” kata bekas orang sebawahan itu. “Di dalam dunia sering terjadi kejadian yang tak cocok dengan kemauan kita. Dalam hal ini kuharap Koencoe tak memaksakan sesuatu yang tak bisa dipaksakan lagi.”

Si nona tertawa manis. “Tapi aku mau paksa juga,” katanya. Ia berpaling kearah Boe Kie dan berkata pula. “Thio Boe Kie, kau adalah pemimpin Beng kauw. Sekarang aku mau tanya. Apakah perkataan seorang lelaki sejati tetap dipertahankan atau tidak?”

Begitu Tio Beng muncul, Boe Kie sangat berkuatir. Ia hanya berdoa supaya Yo Siauw berhasil membujuknya supaya dia lantas berlalu. Mendengar pertanyaan itu jantungnya memukul keras. Ia tak dapat menjawab lain dari pada “Tetap dipertahankan.”

“Hari itu,” kata Tio Beng, ketika aku menolong jiwa In Lioksiokmu, kau telah berjanji akan melakukan, tiga rupa pekerjaan untukku. Bukankah benar begitu?”

“Benar. Kau ingin pinjam lihat To liong to. Kau bukan saja sudah melihat, kau bahkan sudah mencuri golok mustika itu.”

Selama beberapa puluh tahun jago-jago Kangouw gagal dalam usaha mencari golok mustika itu. Maka itu, begitu mendengar bahwa To liong to sudah jatuh ke tangan Tio Beng, mereka lantas saja menjadi gempar.

“Dimana adanya To liong to hanya diketahui oleh Kim mo Say ong Cia Taihiap,” kata Tio Beng. “Kau boleh tanya ayah angkatmu sendiri

Kembalinya Cia Soen ke Tionggoan belum diketahui oleh banyak orang. Keterangan Tio Beng sangat mengejutkan dan suara ramai-ramai lantas saja berhenti.

“Siang malam aku memikiri dimana adanya Giehoe,” kata Boe Kie. “Jika kau tahu, aku mohon kau sudi memberitahukan kepadaku.”

Si nona tertawa. ‘”Kau sudah berjanji akan melakukan tiga pekerjaan, asal saja tidak bertentangan dengan kesatriaan dalam Rimba Persilatan,” katanya. “Mengenai permintaan untuk pinjam lihat To liong to dapat dikatakan sudah dipenuhi olehmu. Walaupun golok itu belakangan hilang, aku tak bisa mempersalahkan kau. Sekarang permintaanku yang kedua. Thio Boe Kie di hadapan para orang gagah kau tidak boleh hilang kepercayaan.”

“Pekerjaan apa yang harus aku lakukan?” tanya Boe Kie.

“Tio Kouwnio,” sela Yo Siauw. “Mengenai janji Kauwcoe kami yang bersyarat itu, bukan saja Kauwcoe kami sendiri saja, tapi juga seluruh anggauta Bengkauw turut memikul tanggungan untuk menunaikannya. Tapi sekarang adalah saat yang sangat penting, saat bersembahyang kepada langit dan bumi dari Kauwcoe kami dengan pengantinnya. Maka itu, aku harap soal ini ditunda untuk sementara waktu dan janganlah Kouwnio merintangi upacara yang sedang berlangsung.” Kata-kata yang terakhir itu diucapkan dengan nada keras.

Tapi Tio Beng tenang-tenang saja. Ia seolah-olah tidak memandang sebelah mata kepada Kong beng Co soe yang tersohor, “Pekerjaan yang aku ingin berikan kepada Kauwcoe-mu terlebih penting lagi dan tidak boleh ditunda,” katanya dengan suara ogah-ogahan. Tiba-tiba ia maju beberapa tindak dan berbisik di kuping Boe Kie “Permintaanku yang kedua ialah hari ini kau tak boleh menikah dengan Cioe Kouwnio !”

BoeKie tertegun. “Apa?” ia menegas.

“Itulah pekerjaanmu yang kedua,” jawabnya “Yang ketiga aku akan berikan belakangan.”

Biarpun bisik-bisik, setiap perkataan nona Tio didengar tegas oleh Cie Jiak, Song Wan Kiauw, In Lie Heng dan delapan murid Go bie yang mengiring pengantin perempuan. Mereka semua terkejut dan paras muka mereka lantas saja berubah. Kedelapan murid Go-bie itu lantas saja siap sedia untuk menyerang, jika nona Tio berani menghina Ciang boen-jin mereka.

“Permintaanmu tidak bisa diturut olehku,” kata Boe Kie. “Kuharap kau suka memaafkan.”

“Apa kau mau membatalkan janjimu sendiri?”

Ia menolak pintu, tapi pintu ditimpal dari dalam. Tanpa memikir panjang lagi, dengan seantero tenaga, ia mendorong pintu dengan pundaknya, sehingga timpal pintu patah. Ia masuk ke dalam dan segera menyalakan lilin. Cocok dengan dugaannya, nona Cioe menggantung diri dengan seutas tambang yang diikatkan pada balok rumah dengan lehernya sendiri. Bagaikan kalap, ia melompat tinggi, menjambret tambang dan menarik sekuat-kuatnya, sehingga tambang itu putus. Dengan tangan bergemetaran, ia mendukung tubuh si nona dan merebahkannya diatas pembaringan. Seperti disambar halilintar, ia mendapat kenyataan, bahwa nona Cioe sudah tidak bernapas! “Cioe Kouwnio !…. Cioe Kouwnio !…” ia sesambat.

Tiba-tiba diluar kamar terdengar suara seorang. “Han Toako, ada apa?” Orang itu lantas masuk kedalam dan dia bukan lain daripada Boe Kie sendiri. Melihat tunangannya, bukan main kagetnya, pemuda itu. Buru-buru ia membuka ikatan tambang pada leher Cie Jiak dan meraba dadanya. Untung juga jantungnya masih berdenyut. “Masih bisa ditolong,” katanya dengan suara lega. Ia lalu mengurut punggung Cie Jiak dan mengirim Kioeyang Cin khie kedalam tubuh si nona.

Beberapa saat kemudian Cie Jiak berteriak, “Uah!” dan lalu menangis. Ia membuka matanya dan begitu melibat Boe Kie ia berkata “Biar aku mati! Aku lebih baik mati!” Mendadak ia lihat bibir Boe Kie yang berdarah dan bertanda tapak gigi, darahnya lantas saja bergolak dan dengan sekuat tenaga ia menggaplok.

Han Lim Jie terkesiap. Ia berdiri terpaku dan mengawasi dengan mata membelalak. Pihak mana yang harus diambil olehnya? Di satu pihak Kauwcoe yang dipujanya, dilain pihak calon nyonya Kauwcoe yang juga dipandangnya seperti dewi. Selagi kebingungan mendadak pundaknya ditepuk orang. Ia menengok dan ternyata orang itu bukan lain dari pada Pheng hweeshio. “PhengTay soe” katanya dengan suara girang. “Lekas bujuk Cioe Kouwnio!”

Pheng Eng Giok tertawa. “Bujuk apa?” tanyanya. “Mari kita keluar”.

“Tidak bisa! Mereka akan berkelahi! Cioe Kouwnio bukan tandingan Kauwcoe,” kata si tolol.

Pheng Eng Giok tertawa terbahak bahak. “Han Heng-tee, apakah kita berdua bisa menandingi Kauwcoe?” tanyanya. “Aku berani pastikan dengan seorang diri Cioe Kouwnio akan mendapat kemenangan.” Seraya berkata begitu, ia memberi isyarat dengan kedipan mata dan lalu menarik taagan Han Lim Jie.

Sementara itu, sesudah menggapelok tunangannya, Cie Jiak lalu membanting diri di pembaringan dan menangis tersedu-sedu. Boe Kie duduk di pinggir ranjang dan sambil mengusap-usap pundak si nona, ia berkata dengan suara lemah lembut. “Sungguh mati aku tidak berjanji dengan dia untuk mengadakan pertemuan di situ. Hal itu telah terjadi karena kebetulan saja.”

“Justa! Bohong! Aku tidak percaya!”

Boe Kie menghela napas. “Cie Jiak, apa kau tak ingat riwayat Cioe Kong dan Ong Bong?” tanyanya. “Dalam dunia ini banyak sekali kejadian-kejadian kebetulan yang bisa menimbulkan salah mengerti”.

Si nona bangun duduk. “Kau sungguh kejam!” teriaknya. “Koencoe Nio nio-mu menghina aku dengan sajaknya dan kau bahkan menyebut-nyebutnya lagi. Lihat bibirmu! Apa kau tak malu?” Sehabis berkata begitu, mukanya sendiri berubah merah.

Boe Kie mengerti, bahwa ia takkan dapat membela diri. Jalan satu-satunya ia harus bersabar. Melihat muka tunangannya yang kemerah-merahan, lehernya yang masih bertanda bekas ikatan tambang dan matanya yang merah, di dalam hatinya lantas saja timbul rasa kasihan. Ia ingat, bahwa jika tidak keburu ditolong oleh Han Lim Jie, tunangannya itu pasti sudah binasa. Mengingat begitu, dengan rasa terharu ia segera memeluk. Cie Jiak coba memberontak, tapi Boe Kie terus memeluk erat-erat dan mencium dahinya.

Lama ia memeluk dan Cie Jiak pun tidak memberontak lagi. Tiba-tiba ia merasa jengah sendiri. Perlahan-lahan ia melepaskan pelukannya dan berkata. “Cie Jiak, kau tidurlah. Besok kita bicara lagi. Kalau aku berani menjustai kau lagi dan diam-diam mengadakan pertemuan dengan Tio Kouwnio, kau boleh bunuh aku.”

Si nona tidak menjawab. Ia terus menangis dengan perlahan. Makin dibujuk, ia menangis makin keras. Akhirnya Boe Kie bersumpah, bahwa ia tidak akan berkhianat dan bahwa ia masih tetap mencintai si nona deagan segenap jiwa.

“Aku tak mempersalahkan kau, aku hanya merasa menyesal akan nasibku yang buruk…” kata Cie Jiak dengan suara hampir tak kedengaran.

“Diwaktu masih kecil, kita bersama-sama bernasib buruk,” kata Boe Kie. “Dengan Tat coe yang berkuasa, seluruh rakyat bernasib buruk. Nanti sesudah Tat coe terusir, kita akan hidup beruntung.”

Tiba-tiba Cie Jiak mengangkat kepalanya dan berkata dengan suara sungguh-sungguh, “Boe Kie Koko, kutahu kecantikanmu terhadapku. Ku tahu ini semua karena gara-gara bujukan si perempuan siluman… bukan kau yang berhati bercabang. Tapi … tapi … dengan sebenarnya aku tak bisa menjadi isterimu. Aku ingin mati. Tapi si Han Lim Jie menolong aku. Sesudah gagal satu kali, aku tak berani mencoba untuk kedua kali. Aku… akan mengikuti contoh Soehoe, aku akan mencukur rambut dan menjadi pendeta. Ya! Ciang … boenjin dari Gobie pay memang biasanya seorang wanita yang tidak menikah.“

“Mengapa kau mempunyai pikiran begitu ? Apakah kau bergusar terhadap Tio Kouwnio karena kau anggap Tio Kouwnio memberi petunjuk, bahwa kaulah yang sudah mencelakai ayah angkatku ?”

“Apa kau percaya ?”

“Tentu saja tidak!”

“Kalau tidak percaya, baguslah. Siapapun juga tak akan percaya.”

“Tapi mengapa kau terus berduka?”

Cie Jiak menggigit bibirnya. “Karena … karena …“ katanya. Sehabis mengatakan dua kali perkataan “karena”, ia memalingkan mukanya ke jurusan lain. “Boe Kie Koko,” katanya pula dengan suara parau. “Sebenarnya kau lebih baik tidak pernah bertemu dengan aku. Mulai dari sekarang, kau jangan ingat-ingat lagi diriku. Kau boleh menikah dengan Tio Kouwnio atau dengan wanita lain. Aku . . . aku tak perduli …” Mendadak kedua kakinya menjejak pembaringan dan tubuhnya melesat keluar dari jendela dan kemudian hinggap diatas rumah.

Boe Kie tertegun. Ia tak pernah menduga bahwa tunangannya memiliki ilmu mengentengkan badan yang begitu. Sesaat itu ia tidak sempat memikir panjang-panjang lagi dan segera menguber.

Si nona kabur ke jurusan timur. Boe Kie mengejar dengan mengambil jalan mutar dan dengan cepat, ia sudah menghadang didepan. Sebab tidak keburu menghentikan tindakannya, Cie JiaK menubruk Boe Kie yang segera memeluknya, mereka berada di dekat sungai kecil. Boe Kie lalu mendukung tunangannya ke sebuah batu besar di pinggir sungai. “Cie Jiak,” katanya dengan suara halus, “Suami isteri harus sama-sama senang dan sama-sama susah. Penderitaanmu adalah penderitaanku juga. Ganjelan apa yang sedang dipikir olehmu. Bilanglah! … kau bilanglah…”

Sambil menyesapkan kepalanya di dada Boe Kie, si nona menangis tersedu-sedu. “Aku … aku ….” katanya terputus-putus. “Kehormatanku sudah dirusak orang! … Aku sudah ternoda … Aku … aku sudah … hamil! Bagaimana aku bisa menikah dengan kau?”

Pengakuan itu bagaikan halilintar ditengah hari bolong. Boe Kie terpaku ia merasa kepalanya puyeng dan matanya berkunang-kunang.

Perlahan-lahan Cie Jiak bangun berdiri. “Itulah sudah nasibku,” katanya. “Kau harus bisa melupakan aku.”

Boe Kie tidak menyahut. Ia menatap wajah tunangannya dengan mata membelalak. Ia tak percaya kupingnya sendiri.

Si nona menghela napas. Ia memutar badan dan berlalu.

Boe Kie melompat dan seraya mencekal tangan tunangannya, ia bertanya dengan suara gemetar. “Apa …. bangsat Song Ceng Soe?”

Cie Jiak mengangguk. Dengan air mata berlinang-linang ia berkata, “Aku ditotok dan aku tidak bisa melawan … “

Pada detik itu juga Boe Kie sudah mengambil keputusan. Ia memeluk Cie Jiak dan berkata dengan suara halus. “Cie Jiak, itu semua bukan salahmu. Sesudah beras menjadi bubur, jengkelpun tiada gunanya. Cie Jiak karena penderitaanmu itu, aku lebih mencintai kau, aku lebih merasa kasihan terhadapmu. Besok kita berangkat ke Hway see dan mengumumkan kepada saudara-saudara agamaku, bahwa kita akan segera menikah. Mengenai anak dalam kandunganmu, anggap saja, bahwa anak itu adalah anakku sendiri. Cie Jiak, bagiku kau masih tetap suci, kau tetap putih bersih, karena segala kejadian itu adalah diluar kemauanmu.”

“Perlu apa kau menghibur aku? Aku sudah ternoda. Mana bisa aku menjadi hoe jin (isteri) dari seorang Kauwcoe?”

“Cie Jiak, dengan berkata begitu kau memandang rendah kepadaku Thio Boe Kie seorang laki-laki tulen. Pemandanganku berlainan dengan pemandangan orang biasa. Andai kata, karena khilaf, kau terpeleset dan jatuh, aku masih bisa melupakan segala kesalahanmu. Apalagi dalam hal ini, dimana bencana sudah datang diluar keinginanmu?”

Bukan main rasa berterima kasihnya Cie Jiak. “Boe Kie Koko,” katanya, “apa benar kau begitu mulia? Kukuatir kau menjustai aku.”

“Kecintaanku … kebaikanku terhadapmu, kau akan tahu dihari kemudian. Pada hakekatnya, sekarang ini aku belum berbuat baik terhadapmu.”

Si nona menangis makin sedih. “Boe Kie Ko ko … ” bisiknya, “gugurkan saja kandungan ku dengan menggunakan obat … “

“Tidak boleh!” kata Boe Kie. “Menggugurkan kandungan adalah perbuatan berdosa. Selain begitu, hal itu bisa menusuk kesehatan badanmu.” Waktu berkata begitu, didalam hatinya tiba-tiba muncul perasaan sangsi. Cie Jiak berada dalam tangan Kay pang hanya kira-kira sebulan lamanya. Apa bisa jadi dia sudah hamil? Diam diam ia memegang nadi tunangannya. Tidak! Ia tidak mendapatkan tanda-tanda kehamilan. Tapi ia tidak mau menanya lebih terang, Ia mahir dalam ilmu ketabiban, tapi kepandaian itu terbatas dalam bidang luka-luka dan penyakit karena keracunan. Dalam penyakit kalangan wanita, ia tak punya banyak pengetahuan.

“Kalau anak ini perempuan masih tak apa,” kata pula CieJiak. “Tapi kalau lelaki… Jika di hari kemudian kau menjadi hong tee (kaisar ) apakah dia harus menjadi tay coe ( putera mahkota )? Ah! … sebaiknya, digugurkan saja untuk menghilangkan bibit penyakit.”

“Cie Jiak,” kata Boe Kie dengan suara kaku, “perkataan hong tee kuharap jangan disebut-sebut lagi. Aku seorang anak kampungan. Sedikitpun aku belum pernah mimpi, belum pernah mempunyai keinginan uutuk naik ditahta kerajaan. Apabila perkataanmu didengar oleh saudara-saudara kita mereka akan anggap aku sebagai manusia yang mengejar kekuasaan dan hati mereka akan menjadi dingin”.

“Aku bukan mau paksa kau menjadi hongtee. Tapi kalau sudah takdir, biarpun mau menolak? Kau memperlakukan aku secara begitu mulia. Aku harus berusaha untuk membalasnya. Cioe Cie Jiak seorang wanita lemah, tapi kalau ada kesempatan mungkin sekali aku masih bisa memberi sedikit bantuan supaya kau menjadi kaisar. Ayahku gagal dalam usahanya dan menemui kebinasaan. Dahulu aku menjadi kong coe ( puteri seorang kaisar ). Siapa tahu di hari nanti aku akan menjadi seorang hong houw (permaisuri)?“

Mendengar perkataan yang sungguh-sungguh itu Boe Kie jadi tertawa. “Cie Jiak,” katanya, “kemuliaan seorang hong houw belum tentu bisa menandingi kemuliaan Tiangboenjin dari Go bie pay. Sudahlah, hauw Nio-nio! Hamba mohon Hong houw Nio-nio sudi beristirahat!”

Awan kedukaan lantas saja membuyar dan sambil tertawa, kedua orang muda itu mengakhiri pembicaraan mereka.

Pada keesokan paginya, sesudah membuka jalan darah pelayan yang mengaso dikolong ranjang, Boe Kie meminta Pheng Eng Giok berdiam dikota raja tiga hari lagi untuk mendengar-dengar Cia Soen, sedang dia sendiri bersama Cie Jiak dan Han Lim Jie lalu berangkat ke-Hway see.

Perjalanan mereka tidak menemui rintangan. Setibanya didaerah Shoatang mereka sudah bisa menyaksikao kekalahan tenlara Mongol yang terus mundur dengan kerusakan besar. Sedapat mungkin Boe Kie bertiga menyingkir dari kelompok-kelompok musuh yang besar jumlahnya dengan mengambil jalan kecil. Belakangan mereka bertemu dengan seorang serdadu Goan yang kasar dan lalu membekuknya. Dari serdadu itu, mereka mengetahui, bahwa Han San Tong dengan beruntun mendapat beberapa kemenangan besar dan berhasil merebut beberapa tempat yang penting. Mereka sangat girang dan meneruskan perjalanan secepat mungkin.

Mulai perbatasan Soatang Anhoei kekuasaan sudah berada dalam tangan tentara rakyat Beng Kauw. Diantara tentara itu ada yang mengenal Han Lim Jie dan dia buru-buru melaporkan kepada Goan swee hoe (gedung panglima besar). Maka itulah pada waktu Boe Kie bertiga masih berada dalam jarak tigapuluh li dari kota Hauwcoe, mereka sudah dipapak oleh Han San Tong yang mengajak Coe Goan Ciang, Cie Tat, Siang Gie Coen, Teng Jie Thong Ho dan lain-lain panglima. Pertemuan itu sudah tentu sangat menggirangkan semua orang.

Sesudah Han San Tong mempersembahkan secawan arak kepada Boe Kie dengan diiringi tetabuhan perang dan sepasukan tentara yang mengenakan pakaian perang mentereng serta bersenjata lengkap, rombongan itu masuk kedalam kota Hauwcoe. Dengan menunggang kuda, Cie Jiak mengikuti dibelakang Boe Kie. Di sepanjang jalan ia menengok ke kanan dan ke kiri dengan perasaan bangga. Meskipun belum menyamai arak-arakan Hong tee dan Hong hauw dikota raja, iring-iringan itu sudah cukup memuaskan hatinya.

Setibanya dikota, safu demi satu para jenderal dan perwira menghadap dan memberi hormat kepada Boe Kie. Malam itu diadakan pesta besar. Mendengar puteranya ditolong oleh sang Kauwcoe sekali lagi secara resmi Han San Tong menghaturkan terima kasih.

Selama beberapa hari dengan beruntun datanglah Yoe Siauw, Hoan Yauw, In Thian Ceng, In Ya Ong, Tiat koan Hoejin Swee Poet Tek, Cioe thian, kelima Ciang kie soe dari Ngo-heng-kie dan lain-lain pemimpin Beng kauw. Mereka datang dari pelbagai tempat sebab mendengar warta tentang itu. Beberapa hari itu tak putus-putusnya diadakan pesta-pesta untuk menyambut para pemimpin itu. Lewat beberapa hari lagi tibalah Ceng ek Hok ong Wie It Siauw dan Pheng Eng Giok.

Kepada Boe Kie Pheng Hweeshio melaporkan bahwa ia sama sekali tak mendengar sesuatu tentang Cia Soen.

Waktu mendapat gilirannya, Wie It Siauw berkata, “Selagi berkelana di Hopak, aku bertemu dengan Ciang pang Liong tauw yang sedang menjalankan tugas kurang baik bagi agama kita. Aku lagi guyon-guyon dengannya. Waktu itu aku belum tahu, bahwa Cia Heng sudah kembali di Tiong goan. Kalau tahu aku pasti akan menyelidiki di kalangan Kay pang karena sangat mungkin Cia heng jatuh di tangan mereka.” Boe Kie segera memberitahu bahwa Cia Soen memang pernah ditangkap oleh Kay pang tapi kemudian bisa melarikan diri. Iapun menuturkan segala pengalamannya dalam usaha mencari ayah angkatnya itu.

Hoan Yauw dan In Thian Cheng adalah orang-orang yang berakal budi, tapi merekapun tak bisa menembus kabut yang meliputi hilangnya Kim mo Sai ong.

“Kita masih belum bisa meraba asal-usul nona baju kuning itu,” kata Hoan Yauw.

“Kalau kita mengusut dari nona itu, mungkin sekali kita akan berhasil dalam usaha mencari Ceng heng.

Tapi siapakah yang menaruh tanda-tanda obor dari Louw Liong Kauwcoe mengejar sampai di Louw liong lagi?” tanya In Thian Cheng. “Bisa jadi orang itu mempunyai hubungan yang sangat erat dengan hilangnya Cia heng.”

Diantara pemimpin-pemimpin Tjeng Kauw terdapat banyak yang berpengalaman luas. Tapi tidak seorangpun yang bisa menebak siapa adanya si baju kuning. Mereka hanya bisa membujuk Boe Kie dengan mengatakan bahwa ditinjau dari sepak-terjangnya si baju kuning sama sekali tidak mengandung niat kurang baik.

Boe Kie pun tidak berdaya. Ia hanya bisa memerintahkan sejumlah anggota Ngo heng kie pergi ke berbagai tempat untuk mengadakan penyelidikan.

Dalam beberapa perternpuran, biarpun mendapat kemenangan, tentara Beng kauw menderita juga kerusakan yang tidak kecil. Maka itu mereka memerlukan waktu dua tiga bulan untuk memperbaiki apa yang rusak, mengumpulkan serdadu baru dan mengaso.

Sebagaimana diketahui, pada malam itu Pheng Eng Giok turut menyaksikan percobaan membunuh diri dari Cioe Cie Jiak. Meskipun tak tahu latar belakangnya, ia mengerti, bahwa diantara pemuda dan pemudi yang sedang bercintaan memang sering terjadi gelombang atau ribut-ribut, Disamping itu, HoanYauw dan beberapa orang lain juga tahu adanya perhubungan yang agak luar biasa diantara Boe Kie dan Tio beng.

Apabila Kauwcoe mereka sampai menikah dengan seorang puteri Mongol, maka kejadian ini sudah tentu akan memberi akibat buruk bagi usaha menggulingkan pemerintahan Goan. Maka itulah, sesudah berdamai, mereka menarik kesimpulan, bahwa jalan yang paling baik adalah membujuk Boe Kie supaya melangsungkan upacara pernikahan dengan Cie Jiak secepat mungkin. Mereka menganggap bahwa sekarang adalah waktu yang paling tepat, karena peperangan justeru sedang ditunda.

Waktu mereka mengajukan usul, Boe Kie lantas saja mengiakan. In Thian Ceng lantas saja mencari hari dan segera ditetapkan, bahwa hari pernikahan Boe Kie dan Cie Jiak jatuh pada Sha gwee Cap-go (Bulan tiga tanggal 15).

Tak usah dikatakan lagi, seluruh anggota Beng kauw bergirang dan repot mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta pernikahan itu.

Pada waktu itu nama Beng kauw telah menggetarkan seluruh Tiongkok. Disebelah timur, Han San Tong menduduki kota-kota penting di wilayah Hway-see. Disebelah barat, Cie Coen Hoei telah mengalahkan tentera Mongol dalam pertempuran-pertempuran di sebelah utara Ouwpak dan selatan Holam. Maka itulah, begitu lekas warta tentang pernikahan Thio Kauw coe disiarkan, segera orang-orang gagah dari Rimba persilatan mulai datang – kian lama makin banyak, sehingga seolah-olah melimpahnya air banjir. Koen loen pay, Kong tong pay dan beberapa partai lain, yang dikenal sebagai partai lurus hati, sebenarnya tidak begitu akur dengan Beng kauw. Tetapi sesudah tokoh-tokohnya ditolong Boe Kie di Bin hoat sie, partai-partai tersebut rata-rata berhutang budi.

Disamping itu, Cioe Cie Jiak adalah Ciangboenjin dari Go-bie-pay yang mempunyai kedudukan tinggi dalam Rimba Persilatan. Walau pun tidak datang sendiri, para ciang-boen-jin partai-partai itu mengirim wakil ke Hauw cioe untuk membawa barang antaran. Thio Sam hong sendiri tidak bisa datang. Sebagai bingkisan, orang tua itu menulis empat huruf “Kee-jie-,Kee-hoe,” (Suami isteri yang baik ) diatas selembar sutera. Sutera itu bersama jilid kitab Thay Kek-koen yang ditulis sendiri, diserahkan kepada Song Wan Kiauw. Jie Lian Cioe dan In Lie Heng yang juga mendapat tugas untuk pergi ke Hauw coe guna memberi selamat dan doa restu kepada sepasang mempelai itu. Waktu itu Yo Poet Hwie sudah menikah dengan In Lie Heng dan ia mengikut ke Hauwcioe, begitu bertemu, dengan girang Boe Kie berseru, “Lok-Soe-cim!“

Muka Yo Poet Hwie lantas saja berubah merah. Ia menarik tangan Boe Kie dan lalu menuturkan segala pengalamannya semenjak meraka berpisahan. Ia girang tercampur terharu.

Sebab kuatir Tan Yoe Liang dan Song Ceng Soe menggunakan kesempatan itu untuk mencelakai Thay soepeknya, maka Boe Kie lalu memerintahkan Wie It Siauw pergi ke Boe-tong san sebagai wakilnya untuk menghaturkan terima kasih kepada Thio Sam Hong.
Kepada Ceng ek Hok ong, Boe Kie menceritakan sapak terjang Song Ceng Soe yang sudah membinasakan Boh Seng Kok dan berniat untuk mencelakai Thio Sam Hong. Ia memesan, supaya sesudah bertemu dengan Thio Sam Hong, Wie It Siauw harus menemani Jie Thay Giam dan Thio Siong Kee untuk berjaga-jaga terhadap tipu muslihat Tan Yoe Liang. Sesudah Song Wan Kjuuw bertiga kembali di Boe tong san, barulah Wie It Siauw pulang.

Mendengar penuturan itu, paras muka Ceng ek Hok ong berubah merah padam. “Atas nasihat Kauwcoe, Wie It Siauw tidak berani mengisap lagi darah manusia,” katanya dengan suara gusar. “Tapi jika bertemu dengan kedua penjahat itu, aku pasti akan mengisap habis darah mereka.”

“Terhadap Tan Yoe Liang, Wie heng boleh berbuat sesuka hati,” kata Boe Kie. “Tapi Song Ceng Soe adalah putera tunggal Song Toasoepeh dan ia selalu dianggap sebagai calon ciangboenjin dari Boe tong pay. Kalau dia berdosa, biarlah Boe tong pay sendiri yang menghukumnya. Dengan memandang muka Song Toa soepeh, Wie heng tidak boleh melanggar selembar rambutpun.” Wie It Siauw mengiakan dan segera berpamitan.

Pada Sha gwee Ceecap ( bulan tiga tanggal sepuluh ), sejumlah murid wanita Go-bie tiba di Hauwcioe dengan membawa antaran. Teng Bin Koen sendiri tidak muncul.

Lima hari kemudian tibalah hari pernikahan. Pagi-pagi sekali orang sudah berdandan dan mengenakan pakaian yang sebaik-baiknya. Upacara sembahyang kepada Bumi dan Langit itu segera akan dilakukan di gedung hartawan terkaya di kota Hauwcioe, Gedung itu dihias seindah-indahnya. Yang menjadi cu hun (yang memegang peranan orang tua) pengantin lelaki adalah In Thian Ceng, sedang Siang Gie Coen menjadi cu hun pengantin perempuan. Tiat koan Toojin mendapat tugas untuk menjaga keselamatan kota Hauw cioe selama pesta. Guna menjaga merembasnya musuh, dia harus mengatur penjagaan diseluruh kota yang dilakukan oleh sejumlah murid Beng kauw pilihan. Diluar kota dijaga oleh Tong Ho yang memimpin satu pasukan tentara. Pagi itu sebagai tamu terakhir datang wakil-wakil Siauw Lim pay dan Hwa san yang membawa barang antaran.

(Begitu tiba waktu Sia sie ( antara jam tiga dan lima sore ), terdengarlah bunyi meriam sebagai tanda dimulainya upacara pernikahan.

Yo Siauw dan Hoan Yauw mengundang semua tamu masuk di toa-thia ( ruangan besar). Tak lama kemudian, diapit oleh In Lie Heng dan Han Lim Jie, Boe Kie keluar dengan diiring suara tetabuhan dan hampir berbareng, Cie Jiak juga masuk ke ruangan upacara dengan dikawani oleh delapan murid wanita Go bie. Kedua mempelai lantas saja berdiri berendeng.

“Sembahyang kepada langit!” teriak pemimpin upacara.

Baru saja Boe Kie dan Cie Jiak mau berlutut tiba-tiba diluar pintu terdengar bentakan yang merdu, “Tahan !” Di lain detik, seorang wanita yang mengenakan pakaian hijau muda sudah berdiri ditengah-tengah ruangan. Wanita itu bukan lain daripada Tio Beng.

Kejadian yang tidak diduga-duga itu mengejutkan semua orang. Tokoh-tokoh Beng kauw dan berbagai partai persilatan yang sudah kenyang makan asam garam dunia Kang ouw, tidak pernah mimpi, bahwa Tio Beng berani datang seorang diri ke tempat ini. Beberapa orang yang beradat berangasan lantas saja bergerak untuk menyerang.

“Tahan dulu!” bentak Yo Siauw. Sambil menyoja para tamu, ia berkata pula. “Hari ini adalah hari paling beruntung dari Kauwcoe kami dan Ciangboenjin Go bie-pay. Tio-Kouwnio datang berkunjung dan beliau adalah tamu kami. Dengan memandang muka Go-bie-pay dan Beng kauw, kami mohon kalian suka melupakan ganjalan lama untuk sementara waktu jangan melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap Tio Kouwnio.” Sehabis berkata begitu, ia memberi isyarat kepada Swee Poet Tek dan Pheng Eng Giok dengan kedipan mata. Kedua kawan itu mengerti maksudnya. Mereka segera meninggalkan ruangan itu dan menyelidiki jumlah jago-jago yang mungkin dibawa Tio Beng.

“Tio Kouwnio, kau duduklah sambil menyaksikan pernikahan,” kata Yo Siauw pula. “Sesudah upacara, kami akan mengundang Tio-Kouwnio untuk turut minum arak kegirangan.”

Tio Beng tersenyum. “Aku hanya ingin bicara beberapa patah dengan Thio Kauwcoe,” katanya. “Sehabis bicara, aku akan segera berlalu.”

“Sesudah upacara, nona boleh bicara.” kata Yo Siauw.

“Sesudah upacara, sudah terlambat.” jawabnya.

Yo Siauw dan Hoan Yauw saling mengawasi. Mereka mengerti, bahwa Tio Beng sengaja datang untuk mengacau dan biar bagaimana pun jua, mereka harus mencegah, supaya pesta itu tidak menjadi gagal. Yo Siauw lantas saja maju dua tindak. “Tio Kouwnio,” katanya dengan suara menyeramkan. “Sebagai tuan rumah kami tidak ingin bertindak secara melanggar kepantasan dan kami mengharap, bahwa sebagai tamu, Tio Kouwnio juga bisa menghormati diri sendiri.” Ia telah mengambil keputusan, bahwa jika Tio Beng rewel, ia akan menotok jalan darahnya.

Si nona menengok kepada Hoan Yauw dan berkata, “Kauw Taysoe orang mau turun tangan terhadapku. Apa kau tak menolong ?”

“Koencoe,” kata bekas orang sebawahan itu. “Di dalam dunia sering terjadi kejadian yang tak cocok dengan kemauan kita. Dalam hal ini kuharap Koencoe tak memaksakan sesuatu yang tak bisa dipaksakan lagi.”

Si nona tertawa manis. “Tapi aku mau paksa juga,” katanya. Ia berpaling kearah Boe Kie dan berkata pula. “Thio Boe Kie, kau adalah pemimpin Beng kauw. Sekarang aku mau tanya. Apakah perkataan seorang lelaki sejati tetap dipertahankan atau tidak?”

Begitu Tio Beng muncul, Boe Kie sangat berkuatir. Ia hanya berdoa supaya Yo Siauw berhasil membujuknya supaya dia lantas berlalu. Mendengar pertanyaan itu jantungnya memukul keras. Ia tak dapat menjawab lain dari pada “Tetap dipertahankan.”

“Hari itu,” kata Tio Beng, ketika aku menolong jiwa In Lioksiokmu, kau telah berjanji akan melakukan, tiga rupa pekerjaan untukku. Bukankah benar begitu?”

“Benar. Kau ingin pinjam lihat To liong to. Kau bukan saja sudah melihat, kau bahkan sudah mencuri golok mustika itu.”

Selama beberapa puluh tahun jago-jago Kangouw gagal dalam usaha mencari golok mustika itu. Maka itu, begitu mendengar bahwa To liong to sudah jatuh ke tangan Tio Beng, mereka lantas saja menjadi gempar.

“Dimana adanya To liong to hanya diketahui oleh Kim mo Say ong Cia Taihiap,” kata Tio Beng. “Kau boleh tanya ayah angkatmu sendiri

Kembalinya Cia Soen ke Tionggoan belum diketahui oleh banyak orang. Keterangan Tio Beng sangat mengejutkan dan suara ramai-ramai lantas saja berhenti.

“Siang malam aku memikiri dimana adanya Giehoe,” kata Boe Kie. “Jika kau tahu, aku mohon kau sudi memberitahukan kepadaku.”

Si nona tertawa. ‘”Kau sudah berjanji akan melakukan tiga pekerjaan, asal saja tidak bertentangan dengan kesatriaan dalam Rimba Persilatan,” katanya. “Mengenai permintaan untuk pinjam lihat To liong to dapat dikatakan sudah dipenuhi olehmu. Walaupun golok itu belakangan hilang, aku tak bisa mempersalahkan kau. Sekarang permintaanku yang kedua. Thio Boe Kie di hadapan para orang gagah kau tidak boleh hilang kepercayaan.”

“Pekerjaan apa yang harus aku lakukan?” tanya Boe Kie.

“Tio Kouwnio,” sela Yo Siauw. “Mengenai janji Kauwcoe kami yang bersyarat itu, bukan saja Kauwcoe kami sendiri saja, tapi juga seluruh anggauta Bengkauw turut memikul tanggungan untuk menunaikannya. Tapi sekarang adalah saat yang sangat penting, saat bersembahyang kepada langit dan bumi dari Kauwcoe kami dengan pengantinnya. Maka itu, aku harap soal ini ditunda untuk sementara waktu dan janganlah Kouwnio merintangi upacara yang sedang berlangsung.” Kata-kata yang terakhir itu diucapkan dengan nada keras.

Tapi Tio Beng tenang-tenang saja. Ia seolah-olah tidak memandang sebelah mata kepada Kong beng Co soe yang tersohor, “Pekerjaan yang aku ingin berikan kepada Kauwcoe-mu terlebih penting lagi dan tidak boleh ditunda,” katanya dengan suara ogah-ogahan. Tiba-tiba ia maju beberapa tindak dan berbisik di kuping Boe Kie “Permintaanku yang kedua ialah hari ini kau tak boleh menikah dengan Cioe Kouwnio !”

BoeKie tertegun. “Apa?” ia menegas.

“Itulah pekerjaanmu yang kedua,” jawabnya “Yang ketiga aku akan berikan belakangan.”

Biarpun bisik-bisik, setiap perkataan nona Tio didengar tegas oleh Cie Jiak, Song Wan Kiauw, In Lie Heng dan delapan murid Go bie yang mengiring pengantin perempuan. Mereka semua terkejut dan paras muka mereka lantas saja berubah. Kedelapan murid Go-bie itu lantas saja siap sedia untuk menyerang, jika nona Tio berani menghina Ciang boen-jin mereka.

“Permintaanmu tidak bisa diturut olehku,” kata Boe Kie. “Kuharap kau suka memaafkan.”

“Apa kau mau membatalkan janjimu sendiri?”

“Aku berjanji akan melakukan tiga pekerjaan yang diminta olehmu asal saja pekerjaan itu tidak melanggar ‘hiap gie’. Aku dan Cioe Kouwnio telah setuju untuk menjadi suami istri. Apabila aku menurut kemauanmu, maka aku melanggar ‘gie’”.

Tio Beng tertawa dingin, “Kalau kau menikah dengan dia, berarti kau melakukan perbuatan “put-hauw put-gie”, katanya. “Pada waktu arak-arakan di Hong-shia, apakah kau tidak lihat gambaran cara bagaimana ayah angkatmu diakali orang?”

Boe Kie meluap darahnya, “Tio Kouwnio!” bentaknya. “Hari ini aku menghormati kau dan mengalah terhadapmu karena kau adalah tamuku. Tapi kalau kau terus ngaco-belo, janganlah kau salahkan aku.”

Si nona tidak menggubris ancaman itu, “Apa benar kau tidak mau melakukan pekerjaan kedua itu?” tanyanya dengan suara tenang.

Boe Kie adalah orang yang berhati lemah. Tiba-tiba saja ia ingat bahwa sebagai seorang koencoe yang mempunyai kedudukan tinggai, Tio Beng rela memperlihatkan muka sendiri dan meminta ia membatalkan pernikahan. Hal ini pada hakikatnya merupakan satu bukti dari rasa cinta yang tak terbalas. Mengingat itu tanpa terasa ia berkata dengan suara lemah lembut.

“Tio Kouwnio…urusan sudah jadi begini…kau mundurlah. Thio Boe Kie adalah seorang anak kampong. Bagaimana cara…bagaimana cara…,” ia tidak dapat meneruskan perkataannya.

“Baiklah,” kata si nona, “Tapi lihat! Apa ini?” Ia membuka tangan kanannya dan menyodorkannya ke hadapan Boe Kie. Begitu melihat, Boe Kie terkejut. Dengan badan gemetaran ia berkata dengan suara terputus-putus, “Ah!…ini….”

Tio Beng buru-buru menutup lagi telapak tangannya dan memasukkan benda itu ke dalam sakunya. “Sekarang, terserah kepada kau, apa kau suka melakukan pekerjaan kedua itu atau tidak,” katanya seraya memuta badan dan berjalan keluar.

Benda apa yang dilihat Boe Kie dan mengapa ia begitu kaget, tidak diketahui oleh orang lain. Cie Jiak sendiri yang berdiri berendeng tidak bisa melihatnya karena mukanya terhalang sutra merah.

“Kalau kau mau, kau boleh ikut aku,” kata Tio Beng sambil terus berjalan.
“Tio Kouwnio!…tunggu dulu…segala hal dapat didamaikan.”
Tapi si nona tidak meladeni.
Tiba-tiba Boe Kie memburu. “Baiklah!” teriaknya. “Aku setuju untuk menunda pernikahan!”
Tio Beng menghentikan langkahnya.
“Kalau begitu ikut aku!” katanya.

Boe Kie maju dua langkah dan berhenti lagi. Ia menengok ke arah Cie Jiak dan mengawasi nona Cioe dengan sorot mata menyesal dan meminta maaf. Ia kelihatannya seperti mau memberi penjelasan tapi Tio Beng sudah berjalan keluar dengan langkah lebar. Keadaan sangat mendesak dan ia harus mengambil keputusan cepat. Di lain detik sambil menggertak gigi ia mengejar Tio Beng.

Baru saja ia memburu sampai di ambang pintu, disampingnya mendadak berkelabat bayangan merah dan orang lain sudah menerjang Tio Beng dari belakang. Hampir bersamaan dari bawah tangan baju yang berwarna merah menyambar lima jari tangan ke batok kepala si nona Tio. Serangan itu adalah serangan yang membinasakan yang dikirim secepat kilat. Yang menyerang tidak lain adalah pengantin perempuan.

“Sungguh hebat! Dari mana Cie Jiak mendapat pukulan itu?” pikir Boe Kie.

Biarpun sudah mempelajari macam-macam ilmu silat, Tio Beng tidak berdaya lagi. Pada detik yang sangat berbahaya tanpa berpikir lagi Boe Kie melompat dan meraih pergelangan tangan Cie Jiak. Nona Cioe menyikut dengan sikut kirinya. “Duk!”, sikut it mampir tepat di dada Boe Kie. Walaupun dilindungi Kioe-yang Sin-kang, Boe Kie terhuyung dan darahnya bergolak, sebab tenaga benturan itu bukan main kuatnya. Melihat pemimpinnya menghadapi bahaya, Hoan Yauw melompat dan mendorong pundak Cie Jiak. Dengan gerakan luar biasa si nona ngebut pergelangan tangan Hoan Yauw dengan jari-jari tangannya dan segera Hoan Yauw separuh badannya merasa kesemutan sehingga ia tidak bisa menyerang lagi.

Dengan adanya rintangan itu, Tio Beng sudah maju setengah langkah sehingga batok kepalanya lolos dari pukulan. Tiba-tiba ia merasakan sakit hebat karena lima jari tangan Cie Jiak sudah menancap di pundak kanannya di dekat leher.

Sambil mengeluarkan teriakan kaget, Boe Kie mendorong calon istrinya. Dengan telapak tangan kiri Cie Jiak membabat pergelangan tangan Boe Kie dan kemudian dengan tubuh tidak bergerak ia mengirim pukulan berantai, semuanya delapan pukulan. Mau tak mau Boe Kie melindungi diri dengan Kian-koen Tay lo-ie.

Semua kejadian itu sudah terjadi dalam sekejap mata, seluruh ruangan pesta sunyi senyap dan jago-jago Rimba Persilatan menyaksikannya. Sambil menahan nafas Tio Beng roboh dan darah mengucur dari lima lubang di pundaknya.

Dilain saat Cie Jiak menghentikan serangannya. “Thio Boe Kie!” bentaknya, “Sekarang kau benar-benar sudah mabuk oleh perempuan siluman itu dan kau menyia-nyiakan aku!”

“Cie Jiak!” kata Boe Kie dengan suara memohon, “Kuharap kau bisa membayangkan penderitaanku. Menikah dengan kau sedikitpun Thio Boe Kie tidak merasa menyesal. Aku hanya mohon supaya pernikahan ini ditangguhkan untuk sementara waktu.”

“Sesudah pergi, kau jangan kembali lagi,” kata Cie Jiak dengan suara dingin.

Sementara itu Tio Beng sudah bangun berdiri. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia berjalan keluar dengan darah mengucur di pundaknya.

Orang-orang gagah yang hadir di situ sudah kenyang menyaksikan kejadian-kejadian luar biasa dalam dunia ini, tapi peristiwa berdarah semacam itu, saat dua jago perempuan berebut suami adalah pengalaman yang pertama kali.

Tiba-tiba Boe Kie membanting sebelah kakinya, “Cie Jiak!” katanya dengan suara parau. “Budi Giehoe terhadapku besar bagaikan gunung…kecintaannya mendalam seperti lautan…Oh Cie Jiak! Kuharap kau mengerti perasaanku….” Sehabis berkata begitu ia menguber Tio Beng. In Thian-Ceng, Yo Siauw, Song wan Siauw Song Wang Kiauw In Lie Heng dan lain-lain yang tak tahu latar belakang kejadian itu tidak berani bergerak.

Saat semua orang kebingungan, tiba-tiba Cie Jiak merobek sutra merah yang menutup kepalanya. “Tuan-tuan, lihatlah!” teriaknya dengan suara nyaring. “Dia sudah mengkhianati aku. Mulai hari ini, Cioe Cie Jiak dan orang she Thio itu putus hubungan.” Seraya berkata begitu, ia mengangkat coe koa dari kepalanya, mencengkeram segenggam mutiara dan melemparkan cu khoa itu, kemudian sambil menggertakkan gigi dengan kedua tangannya ia meremas mutiara itu menjadi hancur seperti tepung dan jatuh ke lantai. “Jika aku tidak bisa mencuci hinaan di hari ini, biarlah badanku hancur seperti mutiara ini!” katanya dengan bernafsu. (Coe koa topi perhiasan bertata mutiara)

Baru saja In Thian Ceng dan lain-lain mau mencoba membujuk supaya ia bersabar dan menunggu kembalinya Boe Kie yang tentu akan memberi penjelasan, Cie Jiak sudah merobek pakaian pengantinnya dan melontarkannya ke lantai, kemudian dengan gerakan yang indah ia melompat ke atas genteng. In Thian Ceng dan kawan-kawannya mengejar tapi si nona sudah lari jauh ke arah Timur. Semua orang merasa kagum karena ilmu ringan tubuh Cie Jiak ternyata tak berada di bawah Ceng ek Hok ong Wie It Siauw. Karena tak sanggup mengejar, Yo Siauw dan yang lainnya terpaksa kembali ke toathia.

Demikianlah karena pengacauan Tio Beng, pesta yang meriah itu berakhir secara menyedihkan dan memalukan Beng Kauw. Para tamu yang datang dari jauh tentu saja merasa kecewa dan mereka mencoba menebak benda apa yang diperlihatkan Tio Beng kepada Boe Kie. Dari perkataan Boe Kie, mereka menebak bahwa benda itu tentu mempunyai hubungan dengan Cia Soen tapi tak seorangpun bisa menebak tepat teka-teki itu.

Sesudah berdamai, delapan murid Go Bie segera berpamitan. In Thian Ceng menghaturkan maaf dan mengatakan bahwa ia akan membawa Boe Kie ke puncak Go Bie untuk sekali lagi minta maaf dan kemudaian melangsungkan upacara pernikahan yang tertunda itu. Ia menyatakan harapannya agar persahabatan antara Go Bie pay dan Beng Kauw tak menjadi terganggu. Para murid Go Bie memberi jawaban samar-samar yang penuh rasa dongkol dan mereka segera pergi untuk mencari Cie Jiak.

Benda apakah yang diperlihatkan Tio Beng kepada Boe Kie?

Benda itu adalah rambut manusia yang berwarna kuning emas. Begitu melihat Boe Kie segera mengenali bahwa rambut itu adalah rambut ayah angkatnya. Warna kuning rambut itu berbeda dari warna kuning orang asing adalah akibat dari latihan Lweekang yang luar biasa. Dapatlah dimengerti bahwa begitu melihat rambut tersebut Boe Kie segera menarik kesimpulan bahwa ayah angkatnya jatuh ke tangan Tio Beng atau setidak-tidaknya si nona tahu di mana adanya sang Giehoe.

Kecintaan Boe Kie terhadap Cia Soen tak berbeda dari kecintaan seorang putra kandung terhadap ayah kandungnya sendiri. Baginya di dalam dunia ini tak ada hal yang lebih penting daripada keselamatan orang tua itu. Ia kuatir bahwa jika ia melangsungkan upacara pernikahan dengan Cie Jiak, dalam kegusarannya Tio Beng sgera membunuh atau menyakiti Giehoenya. Di hadapan para tamu ia tak bisa memberi penjelasan yang jelas. Di antara tamu-tamu itu kecuali orang-orang Beng Kauw dan Boe Tong pay sebagian besar ingin mencari Cia Soen baik untuk membalas sakit hati maupun untuk merebut To Liong To. Maka itu ia merasa sangat berdosa terhadap Cie Jiak demi keselamatan sang ayah angkat, ia tak dapat berbuat lain daripada menyusul Tio Beng.

Begitu keluar dari gedung pesta, ia lihat Tio Beng lari-lari dengan darah menetes di sepanjang jalan. Ia mengempos tenaga dan mempercepat langkahnya. Beberapa saat kemudian ia menghadang di depan si nona. “Tio Kauwnio,” katanya, “Janganlah kau memaksa aku untuk menjadi manusia tak berbudi yang akan di tertawai oleh segenap orang gagah.”

Tio Beng terluka sangat berat. Dengan memusatkan seluruh tenaganya, ia bisa juga mempertahankan diri. Begitulah melihat Boe Kie ia berkata dengan suara parau. “Kau!…kau…” Karena mengeluarkan suara, pemusatan tenaganya buyar dan sesaat itu juga, ia jatuh terguling.

Boe Kie membungkuk dan bertanya, “Di mana Giehoe-ku?”

“Bawalah aku untuk menolongnya,” jawab si nona, “Aku akan menunjuk jalan.”

“Apa jiwanya terancam?” tanya Boe Kie pula.

“Giehoe-mu…dia…jatuh ke tangan Seng Koen!…,” jawabnya.

Mendengar nama Seng Koen, hati Boe Kie mencelos. Ia sudah tahu bahwa dalam pertempuran di Kong Beng teng, manusia jahat itu hanya berlagak mati. Manusia itu berkepandaian tinggi dan banyak akalnya. Dengan ayah angkatnya, ia mempunyai permusuhan hebat. Jika sang Giehoe jatuh ke dalam tangannya, dapatlah dibayangkan betapa hebatnya bahaya yang mengancam jiwa orang tua itu.

“Seorang diri, kau tak…tak…akan bisa menolong,” kata Tio Beng pula, “Panggillah Yo Siauw…dan…yang lain-lain….” Seraya berkata begitu, ia menuding ke jurusan Barat. Tiba-tiba kepalanya terkulai dan ia pingsan.

Hati Boe Kie seperti dibakar. Dengan tergesa-gesa ia merobek tangan bajunya yang lalu digunakan untuk membalut luka si nona Tio. Sesudah itu ia menggapai seorang anggota Beng Kauw yang kebetulan lewat dijalanan itu. “Lekas kau beritahukan kepada Yo Co-soe bahwa dengan membawa sejumlah pembantu, ia harus segera menyusul aku ke jurusan barat,” pesannya. “Ada tugas sangat penting yang perlu dikerjakan segera.” Orang itu membungkuk dan segera berlalu dengan berlari-lari untuk menyampaikan pesan tersebut.

Sedikitpun Boe Kie tidak mau membuang-buang waktu. Dengan mendukung Tio Beng itu ia segera lari ke pintu kota dan minta segera disediakan seekor kuda pilihan. Perwira yang menjaga pintu tidak berani membangkang dan begitu kuda dituntun keluar, Boe Kie segera melompat ke punggungnya dan mengaburkan ke jurusan barat.

Sesudah melalu belasan lie, tiba-tiba Boe Kie merasa bahwa badan Tio Beng yang didukungnya makin lama menjadi semakin dingin, ia memegang nadinya yang ternyata sudah lemah. Ia kaget dan segera memeriksa luka si nona. Dengan hati mencelos ia lihat lima lubang yang sudah warna ungu hitam, suatu tanda bahwa nona Tio kena racun yang sangat hebat. Sebagai murid Go Bie, bagaimana Cie Jiak bisa memiliki ilmu yang begitu beracun?” tanyanya di dalam hati. “Pukulannya yang hebat luar biasa bahkan lebih hebat daripada Biat Coat Soethay sendiri. Sungguh mengherankan.” Ia tahu bahwa jika tidak segera mendapat pertolongan, Tio Beng akan binasa. Tapi ia sendiri tidak membawa obat pemunah racun. Sesudah berpikir beberapa saat, ia melompat turun dari punggung kuda dan dengan mendukung si nona, ia segera mendaki sebuah gunung yang terletak di sebelah kiri. Sambil memanjat dai memperhatikan rumput-rumput untuk mencari daun obat yang bisa memunahkan racun. Tapi sesudah beberapa saat, sepohonpun tidak dapat ditemukan olehnya.

Dengan bingung ia berjalan terus. Mulutnya komat-kamit memohon pertolongan Tuhan. Tiba-tiba hatinya lega sebab di sebelah kanan di dekat sebuah air tumpah, ia lihat empat lima pohon yang kembangnya merah dan kembang itu obat pemunah racun. Cepat-cepat ia meletakkan Tio Beng di tanah. Sesudah melompati dua selokan, ia tiba di sisi tumpahan. Tapi baru saja ia membungkuk untuk memetik bunga merah itu, dibelakangnya terdengar bentakan seorang wanita, “Tahan!”

Ia menengok dan melihat tiga wanita yang berdiri di seberang selokan. Ia mengenali bahwa salah seorang di antaranya yang bertubuh jangkung kurus dan mengenakan jubah pendeta, adalah Ceng hoe, murid Go Bie pay. Dua yang lain, yang berusia muda dan mengenakan baju hitam juga murid Go Bie tapi ia tak tahu namanya.

Dengan tangan memegang pedang terhunus, Ceng hoei membentak, “Thio Kauwcoe! Ada apa kau datang ke sini?”

Boe Kie tidak segera menyahut. Ia terus memetik tiga kuntum bunga merah yang segera dimasukkan ke dalam mulutnya. “Ceng hoei Soethay,” katanya sambil mengunyah kembang, “Apa kau membawa Hoed kong Kie tok tan?” Hoed kong Kie tok tan adalah pil obat Go Bie pay untuk memunahkan segala jenis racun dan mempunyai khasiat lebih besar daripada bunga yang sedang dikunyahnya. Ia tahu bahwa kalau turun gunung, hampir setiap murid Go Bie pay selalu membawa obat mujarab itu.

“Perlu apa kau bertanya!” kata Ceng hoei.

“Tio Kouwnio kena racun hebat dan aku mohon supaya Soethay sudi menghadiahkan tiga butir untuk mengobatinya,” jawabnya.

Ceng hoei mendelik. “Perempuan siluman itu adalah penjahat yang sudah membinasakan guruku,” katanya dengan suara keras. “Semua murid Go Bie ingin merobek kulitnya dan makan dagingnya. Hm!…Mereka kena racun yang sangat hebat? Itulah akibat dosanya sudah melewati takaran. Thio Kauwcoe, aku ingin tanya. Hari ini adalah pernikahanmu dengan Ciangboen jin kami. Mengapa begitu dibujuk perempuan siluman itu, kau…kau meninggalkan ruang pesta? Di mana kau mau menempatkan muka Ciangboen jin kami, di mana kau menempatkan Go Bie pay kami?”

Boe Kie menyoja. “Ceng hoei Soethay,” katanya, “Aku perlu segera menolong jiwa manusia, aku sangat menderita tapi tak bisa menceritakan penderitaanku sekarang. Aku mohon kalian sudi memberi maaf. Kecintaanku pada Cie Jiak tak akan berubah sampai mati. Langit dan bumi menjadi saksinya.”

Ceng hoei hanya menafsirkan bahwa orang yang mau ditolong adalah Tio Beng. Ia tak tahu bahwa selain Tio Beng, Boe Kie pun perlu menolong Cia Soen. Maka itu ia jadi lebih gusar. “Biarpun kau merasa perlu untuk menolong dia sepantasnya kau harus menunggu sampai selesai upacara pernikahan,” katanya, “Ha! Kau pandai sekali bersilat lidah!”

Karena pengobatan atas diri Tio Beng tidak boleh tertunda, Boe Kie tidak mau banyak bicara lagi. Ia melompat mendekati nona Tio, merobek baju di bagian pundak dan lalu menaruh bunga merah yang sudah dikunyah di atas luka. Ia menyadari bahwa daging di sekitar luka sudah bengkak dan berwarna lebih hitam. Ia kaget dan sangat kuatir, kalau nona itu sampai binasa di samping rasa duka dan menyesal, iapun tak akan bisa mencari ayah angkatnya lagi. Tanpa petunjuk Tio Beng, dia mau mencari di mana di dunia ini? Mungkin ayah angkatnya itu akan binasa di tangan Seng Koen.

Selagi ia membalut luka dengan tangan gemetar, tiba-tiba ia merasakan sambaran angin dan sebatang pedang menikam dirinya. Tanpa menoleh, Boe Kie menyambut dengan tangan kirinya…tiga jari tangannya mendorong badan pedang dan serangan itu dapat dipunahkan. Dalam menangkis serangan yang dikirim oleh Ceng hoei, Boe Kie menggunakan ilmu yang istimewa. Kalau perhitungannya salah sedikit saja, tiga jari tangannya akan putus. Jangankan tanpa melihat, dengan berhadap-hadapan saja seorang ahli silat biasa tak akan berani menggunakan pukulan itu.

Sesudah pedangnya terdorong, Ceng hoei segera mengerahkan tenaga pukulan untuk mengirim serangan susulan. Diluar dugaan tenaga dorongan Boe Kie belum habis dan dirinya sendiri turut terdorong sehingga ia terhuyung beberapa langkah.

Ia tahu bahwa ia bukan tandingan Boe Kie. Tapi, karena merasa bahwa hari ini Go Bie pay sudah mendapat hinaan besar dan juga karena Tio Beng adalah musuh besar partainya maka ia tidak mau menyerah begitu saja. Musuh besar itu sudah kena racun hebat dan jika ia bisa menghalang-halangi pertolongan Boe Kie, ia mungkin akan bisa membalas sakit hati tanpa menggunakan pedang. Berpikir begitu ia segera berteriak, “Kwa Soemoay, Auw Soemoay, majulah!”

Kedua gadis remaja itu segera menghunus pedang dan menerjang.

Boe Kie tertawa getir. “Dengan kalian bertiga aku sama sekali tidak punya permusuhan,” katanya. “Mengapa kalian mendesak begitu hebat?” Sambil berkata begitu ia menangkis semua serangan dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya terus membalut luka.

Ketiga wanita itu menyerang sehebat-hebatnya tapi dengan Kian koen Tay lo ie Sin kang, Boe Kie berhasil menyelamatkan dirinya dari setiap serangan. Tiba-tiba Ceng hoei membentak keras dan pedangnya menikam Tio Beng. “Ah!” seru Boe Kie sambil menyentil badan pedang dengan jarinya. “Trang!” Ceng hoei merasa telapak tangannya terbeset dan pedangnya terpental ke tengah udara kemudian patah dua dan jatuh ke tanah.

Ceng hoei jadi kalap, ia melompat dan menotok punggung Boe Kie pada hiat yang membinasakan. Biarpun sabar, Boe Kie mendongkol juga. Ia menangkis dan mendorong dengan keras sehingga tubuh niekouw itu terpental dan jatuh tanpa ampun. Melihat kakak seperguruannya roboh, si gadis she Kwa dan she Auw tidak berani menyerang lagi.

Ketika itu Boe Kie sudah selesai membalut luka. Ia menyadari bahwa nafas Tio Beng jadi makin lemah dan hawa hitam makin menjalar. Ia tahu bahwa bunga merah itu tidak bisa menolong banyak. Dengan terpaksa ia menoleh ke Ceng hoei dan berkata dengan suara memohon, “Ceng hoei Soethay, kau adalah murid Sang Buddha yang selalu bertindak berdasarkan kasih. Kumohon kau sudi memberi tiga butir Hoed kong Kie tok tan, jika kau sudi meluluskan, seumur hidup aku takkan melupakan budimu yang sangat besar.”

“Kau mimpi!” bentak Ceng hoei, “Jika kau menolong perempuan siluman itu kau pun menjadi musuh besar dari partai kami.”

Sedari tadi si gadis she Auw ingin sekali mencoba membujuk Boe Kie tapi ia belum begitu berani membuka suara. Sekarang ia tak bisa tahan lagi. “Thio Kauwcoe,” katanya, “Aku dan Cioe Soecie begitu…begitu…baik. Mengapa…mengapa…karena perempuan siluman itu…kau jadi begitu? Sebaiknya kau kembali ke Cioe Soecie….” Ia tidak bisa meneruskan perkataannya dan mukanya berubah merah.

“Terima kasih atas maksud nona yang sangat baik,” jawab Boe Kie. “Tapi aku tidak bisa melihat kebinasaan dengan berpeluk tangan.” Sementara itu hawa hitam di sekitar pundak Tio Beng sudah jadi lebih hebat. “Nona,” katanya pula, “Apakah kau sudi menghadiahkan tiga butir Hoed kong Kie tok tan kepadaku? Nona, kau tolonglah, Thio Boe Kie pasti membalas budimu.”

Nona she Auw itu berhenti, merasa kasihan dan segera merogoh saku. Tapi melihat paras muka Ceng hoei yang penuh kegusaran, ia tidak berani mengeluarkan pil itu.

“Auw Soemay,” bentak Ceng hoei. “Apa kau lupa sakit hati kita? Jika kau serahkan pil itu aku akan binasakan kau!”

“Ceng hoei Soethay!” bentak Boe Kie. “Kalau kau sendiri tak sudi, akupun tidka memaksa tapi mengapa kau menghalang-halangi orang lain.”

Ceng hoei tidak menyahut, sambil menaruh kedua tangannya di dada, ia mundur selangkah demi selangkah, “Auw Soemay, Kwa Soemay, berangkat!” serunya.

Melihat si pendeta mau kabur dalam hatinya Boe Kie segera muncul keinginan untuk merampas obat. “Ceng hoei Soethay,” katanya, “Apabila kau tetap tidak mau menolong, kau jangan salahkan aku.” Seraya berkata begitu, ia merangsek, Ceng hoei angkat tangan kirinya dan tangan kanannya menyambar dari bawah tangan kiri, Boe Kie miringkan muka untuk menghindari pukulan itu sedang tangan kirinya menotok jalan darah di pundak Ceng hoei.

Begitu tertotok, bagian atas badan pendeta itu tidak bisa bergerak lagi tapi dengan nekad ia menendang betis Boe Kie.

Tendangan itu mampir tepat pada sasarannya tapi ia mendadak merasa Yong coan hiat dibawah kakinya panas, seluruh tubuhnya kesemutan dan ia berdiri terpaku.

“Thio Kauwcoe, jangan lukai Soecieku!” teriak si gadis she Auw.

“Tidak, sedikitpun aku tidak berniat mencelakai Soecie-mu,” jawabnya, “Tapi tolonglah ambil obat dari sakunya.”

“Auw Soemay!” bentak Ceng hoei. “Murid Go Bie boleh mati tidak boleh dihina. Aku mau lihat kalau kau berani ikut perintahnya.” Diancam begitu, si nona tidak berani bergerak.

Sekarang Boe Kie tidak lagi menghiraukan adat istiadat antara pria dan wanita. Ia segera merogoh saku Ceng hoei. Fui! Ceng hoei menyembur dengan ludahnya, Boe Kie miringkan kepalanya sambil menarik keluar tiga botol kristal. Saat itu gadis she Kwa mendadak menikam dari belakang.

Boe Kie mengibaskan tangan bajunya dan ujung pedang menikam angin. Sesudah itu ia membuka tutup tiga botol itu dan memeriksa isinya. Kemudian ia mengambil dan mengunyah tiga butir Hoed kong Kie tok tan. Sesudah pil itu hancur, yang separuh ia masukkan ke mulut Tio Beng dan separuh lagi ia taburkan di lubang luka. Karena kuatir tak cukup ia segera memasukkan botol obat ke dalam sakunya. “Maaf!” katanya seraya membuka jalan darah Ceng hoei. Akhirnya dengan mendukung Tio Beng ia lari ke jurusan barat.

Boe Kie menoleh dan melihat berkelabatnya sehelai sinar hijau. Ia terkesiap karena tangan kiri memegang pedang, Ceng hoei sudah membacok putus lengannya sebatas pundak. Ia segera sadar bahwa perbuatan nekad itu adalah karena gerakannya sendiri. Tadi wkatu menangkis tikaman si gadis she Kwa, secara tidak sengaja menyentuk kulit tulang pi peo (tulang di antara lengan dan pundak) niekauw itu. Sebagai seorang pendeta wanita yang suci bersih sentuhan dari seorang pria dianggapnya sebagai suatu hinaan dan kejadian yang sangat memalukan. Dalam gusarnya ditambah dengan adatnya yang berangasan dan keras ia sudah memutuskan lengan kanannya sendiri, muali dari bagian yang disentuh Boe Kie.

Sesudah melakukan perbuatan nekad itu dengan darah mengucur badan Ceng hoei bergoyang-goyang tapi dengan menggigit gigi ia mempertahankan diri supaya tidak roboh.

Boe Kie kembali dan sesudah meletakkan Tio Beng di tanah, bagaikan kilat ia memberi tujuh totokan kepada Ceng hoei untuk menghentikan keluarnya darah.

“Bangsat Mo Kauw, pergi!” bentak si niekauw.

Mendadak di sebelah kejauhan tiba-tiba terdengar suara suitan dan si nona she Kwa segera mengeluarkan sebuah suitan bambu yang lalu ditiupnya. Boe Kie tahu bahwa itulah tanda Go Bie pay untuk mengumpulkan kawan. Dilain saat, tujuh delapan orang sudah kelihatan mendatangi sambil berlari-lari.

Boe Kie merasa bahwa datangnya bantuan itu jiwa Ceng hoei tak perlu dikuatirkan lagi. Maka itu buru-buru ia mendukung Tio Beng dan terus kabur.

Sesudah kira-kira tiga puluh li, mendadak terdengar suara rintihan Tio Beng yang baru saja tersadar, “Apa…apa aku masih hidup?” tanyanya.

Boe Kie girang, “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

“Pundakku sangat gatal,” jawabnya, “Hai!…Cioe Kouwnio sungguh hebat.”

Boe Kie lalu merebahkannya di tanah dan memeriksa pula lukanya. Ia sadar bahwa warna hitam belum berubah hanyak ketukan nadi si nona sudah lebih keras daripada tadi. Ia sekarang tahu bahwa Hoed kong Kie tok tan tidak cukup kuat untuk melawan racun itu. Sesudah berpikir sejenak, ia segera menghisap lubang luka itu menarik racun ke mulutnya membuangnya ke tanah. Sambil menahan bau amis yang sangat tajam, ia mengisap racun itu dan menyemburkannya berulang-ulang.

Sambil mengusap-usap rambut Boe Kie, Tio Beng bertanya dengan rasa terima kasih yang sangat besar, “Boe Kie Koko, apa kau bisa menebak latar belakang peristiwa ini?”

Boe Kie tidak menjawab, beberapa saat kemudia ia sudah mengisap habis semua racun dan pergi ke kolam untuk berkumur. Ia kembali dan sesudah duduk di samping nona Tio ia balik bertanya, “Latar belakang apa?”

“Cioe Kauwnio adalah murid sebuah partai lurus bersih. Tapi mengapa ia memiliki ilmu yang sesat itu?”

“Akupun merasa sangat heran, siapa yang sudah mengajarnya?”

Tio Beng tertawa, “Tak bisa lain, orang dari penjahat Mo Kauw,” katanya.

Boe Kie pun turut tertawa. “Di dalam Mo Kauw terdapat banyak sekali kepala iblis,” katanya. “Tapi diantara mereka tak ada yang memiliki ilmu begitu. Hanya Ong yang bisa menghisap darah manusia dan ilmu Thio Boe Kie yang bisa menghisap pundak manusia yang agak mirip dengan ilmu itu.”

Dengan penuh rasa bahagia, Tio Beng menyandarkan kepalanya di dada Boe Kie, “Boe Kie Koko,” bisiknya. “Hari ini aku sudah mengacaukan pernikahan. Apa kau marah?”

Sungguh aneh, pada waktu itu sebaliknya daripada berduka, Boe Kie merasa senang. Kecuali memikirkan Cia Soen, ia bahkan merasa tenang dan beruntung. Mengapa bisa begitu? Ia sendiri tak tahu sebab musebabnya tapi ia tentu saja merasa malu untuk memberitahukan si nona perasaan hatinya yang sebenarnya. “Tentu saja aku marah,” jawabnya. “Di kemudian hari aku pun akan mengacaukan pernikahanmu.”

Muka Tio Beng segera berubah dadu, “Jika kau berani, aku akan bunuh kau,” katanya tersenyum.

Mendadak Boe Kie menghela nafas.

“Mengapa kau menghela nafas?”

“Entah siapa yang pada penitipan dahulu telah melakukan perbuatan mulia sehingga dalam penitisan sekarang ia begitu beruntung untuk menjadi Koen bee ya.” (Koen bee ya suami seorang putri raja muda)

“Sekarang masih ada waktu untuk kau sendiri melakukan perbuatan mulia,” kata si nona.

Jantung Boe Kie memukul keras, “Apa?” tegasnya.

Tapi si nona segera memalingkan kepala ke jurusan lain dan tidak menyahut.

Sesudah pembicaraan tiba pada titik itu, mereka merasa jengah utnuk berbicara lagi. Sesudah mengaso, Boe Kie lalu menaruh obat baru pada lubang luka dan kemudian sambil mendukung nona Tio ia meneruskan perjalanan ke jurusan barat.

Malam itu mereka tidur dibawah langit dan pada keesokan paginya mereka tiba di sebuah kota kecil. Karena Tio Beng masih sangat lemah dan belum bisa menunggang kuda maka Boe Kie hanya membeli seekor kuda untuk ditunggang berdua.

Sesudah berjalan lima hari, mereka tiba di daerah Ho-lam. Pada hari keenam, selagi enak jalan di sebalah depan tiba-tiba kelihatan debu mengebul dan tak lama kemudian mereka mendengar suara kaki kuda yang sangat ramai. Mereka tahu bahwa itu pasukan angkatan darat Mongol. Boe Kie buru-buru minggir dan menahan tunggangannya di sisi jalan.

Pasukan itu terdiri dari beberapa ratus serdadu dan tak memperdulikan Boe Kie dan Tio Beng. Sesudah mereka lewat, di sebelah belakang mengikuti sekelompok penunggang kuda yang tidak teratur.

Tiba-tiba Boe Kie mengeluh, “Celaka!” dan buru-buru melengos ke jurusan lain.

Apa yang dilihatnya tidak lain adalah Sin cian Pat hiong, delapan jago panah itu adalah bawahan Tio Beng. Ia bukan takut tapi ia tahu bahwa jika ia dikenali mereka dia bakal berabe sekali.

Kelompok itu yang terdiri kira-kira dua ratus orang lewat tanpa memperhatikan Boe Kie dan Tio Beng yang di sisi jalan. Sesudah mereka lewat, Boe Kie segera memutar tangannya untuk meneruskan perjalanan.

Mendadak terdengar suara kaki kuda dan tiga penunggang kuda mendatangi dengan cepat. Begitu melihat orang-orang itu, Boe Kie terkesiap. Orang yang ditengah-tengah yang menunggang kuda putih mengenakan pakaian sulam dan topi emas sedangkan dua orang yang mengapitnya Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong.

Secepat mungkin Boe Kie mencoba memutar kepala kuda, tapi sudah terlambat. “Koen coe Nio nio!” teriak Ho Pit Ong, “Jangan takut!” Sehabis berteriak begitu ia bersiul keras dan kelompok Sin cian Pat hiong segera kembali. Dilain saat Boe Kie dan Tio Beng sudah dikurung.

Dengan perasaan ragu Boe Kie mengawasi si nona. Apakah Tio Beng sudah lebih dulu mengatur datangnya bala bantuan ini? Tapi hatinya langsung lega sebab si nona sendiri kelihatannya bingung. Ia memastikan bahwa nona itu tidak menjual dia.

“Koko,” seru Tio Beng, “Sungguh tak sidangka bisa bertemu dengan kau di tempat ini! Apa Thia-thia baik?”

Mendengar perkataan “Koko” (kakak) Boe Kie segera mengawasi pemuda yang mengenakan pakaian sulam. Ia segera mengenali bahwa dialah Kuh-kuh Temur, kakak Tio Beng yang dikenal juga dengan nama Han Ong Po-po. Di kota raja ia sudah pernah bertemu dengan pemuda bangsawan itu tapi karena ia mencurahkan seluruh perhatian kepada Hian beng Jie-loo maka ia tidak memperhatikan kakak Tio Beng itu.

Melihat adiknya, Ong Po-po kaget bercampur girang. Ia tidak mengenali Boe Kie. “Kau…kau…! Mengapa?…,” katanya.

“Koko,” kata Tio Beng, “Aku dibokong musuh dan mendapat luka beracun. Untung ditolong oleh Thio Kauwcoe, tanpa pertolongannya aku tak akan bisa berjumpa lagi dengan Koko.”

“Siauw ong-ya, dia tidak lain adalah Kauwcoe Mo Kauw, Thio Boe Kie,” bisik Lok Thung Kek.

Sudah lama Ong Po-po mendengar nama Boe Kie. Ia menduga bahwa adiknya bicara begitu karena diancam, maka itu ia segera memberi tanda dengan kibasan tangan. Melihat tanda itu, Hian beng Jie-loo segera mendekat dan empat anggota Sin cian Pat hiong segera memasang anak panah gendawa yang ditujukan ke punggung Boe Kie.

“Thio Kauwcoe,” kata Ong Po-po, “Kau adalah pemimpin suatu agama dan seorang gagah terkenal. Dengan menghina adikku bukankah akan ditertawai oleh semua orang? Lepaskan adikku! Hari ini aku ampuni jiwamu.”

“Koko, mengapa kau berkata begitu,” kata Tio Beng. “Sebaliknya dari menghina, Thio Kongcoe telah melepas budi padaku.”

Ong Po-po masih menganggap bahwa adiknya berada dibawah tekanan. “Thio Kauwcoe!” teriaknya, “Biarpun kepandaianmu sepuluh kali lipat lebih tinggi, kau tidak akan bisa melawan jumlah yang besar. Lepaskanlah adikku! Hari ini kita berdamai, Ong Po-po tidak akan melanggar janji, kau tidak usah kuatir.”

Boe Kie merasa demi keselamatan Tio Beng, nona itu memang lebih baik mengikuti kakaknya supaya bisa diobati oleh tabib-tabib pandai daripada ikut ia terlunta-lunta. Maka itu ia segera berkata, “Tio Kauwnio, kakakmu sudah dating, sebaiknya kita berpisah saja. Aku hanya memohon agar kau memberitahukan di mana ayah angkatku berada supaya aku bisa mencarinya. Tio Kauwnio, di kemudian hari kita masih mempunyai kesempatan untuk bertemu.” Sehabis berkata begitu, ia merasa sangat berduka dalam hatinya.

Jawaban Tio Beng diluar dugaan. “Jika aku belum memberitahukan di mana adanya Cia Tayhiap karena mempunyai maksud yang dalam,” katanya, “Aku hanya berjanji akan membawa kau ke tempat itu tapi aku tak bisa memberitahukan tempat itu kepadamu.”

Boe Kie kaget. “Kau belum sembuh dan ikut aku sangat tidak baik bagi kesehatanmu,” katanya, “Paling baik kau ikut kakakmu.”

Tapi si nona menggelengkan kepala, sambil mengawasi Boe Kie dengan sinar mata berduka ia berkata, “Kalau kau tinggalkan aku, kau tidak akan dapat mencari Cia Tayhiap. Aku percaya bahwa aku akan sembuh dalam waktu singkat. Aku yakain bahwa melakukan perjalanan adalah baik untuk kesehatanku. Kalau aku pulang ke Ong hoe aku bisa mati jengkel.”

“Siauw ong-ya,” kata Boe Kie kepada Ong Po-po, “Cobalah kau bujuk adikmu.”

Ong Po-po merasa sangat heran tapi sesaat kemudian ia berkata dengan suara tawar, “Kau jangan bercanda! Aku tahu jari tanganmu memegang hiat yang membinasakan adikku. Kau paksa dia untuk bicara begitu.”

Melihat dirinya masih dicurigai, Boe Kie melompat turun dari tunggangannya.

Selagi ia melompat turun, dua anggota Sin cian Pat hiong mengira ia mau menyerang Ong Po-po segera melepaskan anak panah ke punggungnya. Untuk memperlihatkan kepandaiannya ia mengibas dengan Kian koen Tau lo ie Sin kang. Kedua anak panah iu terpental balik dan tepat menghantam kedua gendewa yang segera menjadi patah. Kalau tidak lekas berkelit, kedua orang itupun pasti sudah terluka berat. Melihat kepandaiannya yang luar biasa itu kecuali Hian beng Jie-loo, semua orang termasuk Ong Po-po sendiri merasa kagum sekali.

“Tio Kauwnio,” kata Boe Kie, “Sebaiknya kau pulang dulu untuk berobat, setelah kau sembuh kita bisa bertemu lagi.”

Tapi si nona menggelengkan kepalanya. “Tidak,” jawabnya, “Tabib di Ong hoe mana bisa menandingi kau? Thio Kongcoe, kalau menolong orang, kau harus menolong sampai akhir.”

Mendengar perkataan adiknya, Ong Po-po kaget bercampur gusar. Saat itu Boe Kie berdiri agak jauh dari Tio Beng maka Ong Po-po segera menoleh ke Hian beng Jie-loo dan berkata, “Tolong kalian lindungi adikku. Ayo berangkat!”

“Baik!” jawab mereka yang lalu mendekati Tio Beng.

“Lok Hi Jie we Sian seng!” kata si nona dengan nyaring, “Ada satu urusan penting yang harus diselesaikan olehku dan Thio Kauwcoe. Tenaga kami berdua justru tak cukup maka kuminta kalian sudi untuk membantu.”

Kedua kakek itu melirik Ong Po-po. “Sepak terjang kepala siluman Mo Kauw selalu menyeleweng dan Koencoe Nio nio tidak boleh mendekati dia,” kata Lok Thung Kek, “Paling baik Koencoe Nio nio ikut Siauw ong-ya.”

Alis si nona berdiri. “Apa sekarang Jie wie hanya mau menuruti perkataan kakakku dan tak sudi lagi mendengar perkataanku?” tanyanya dengan marah.

“Ajakan Siauw ong-ya adalah untuk kebaikan Koencoe Nio nio sendiri,” kata Lok Thung Kek sambil tertawa, “Nasihatnya keluar dair hati yang mencintai.”

Tio Beng mengeluarkan suara di hidung. “Koko,” katanya, “Atas seijin Thia-thia aku berkelana di dunia Kang ouw, kau tak usah kuatir. Aku bisa menjada diri sendiri jika bertemu Thia-thia sampaikanlah hormatku.”

Ong Po-po tahu bahwa si adik sangat disayang oleh ayah mereka dan sebenarnya ia tidak berani terlalu mendesak tapi perginya adik seorang diri dengan Boe Kie biar bagaimanapun juga tak dapat diijinkan olehnya. Melihat si adik sudah mengedut tali untuk segera berangkat, ia segera menghadang dan berkata, “Hian moay, Thia-thia akan segera tiba di sini. Kau tunggulah sebentar, beritahukan dulu Thia-thia sebelum kau berangkat.”

“Begitu Thia-thia datang aku tentu dihalangi,” kata si nona, “Koko aku tidak ikut campur urusanmu kaupun jangan ikut campur urusanku.”

Ong Po-po melirik Boe Kie, melihat pemuda yang gagah dan tampan romannya itu dan mendengar perkataan adiknya, ia tahu si adik sudah cinta. Tapi Beng Kauw telah memberontak dan Kauwcoe Beng Kauw adalah kepala pemberontak. Ia gusar bercampur bingung. Terang-terang adiknya sudah dipengaruhi oleh kepala pemberontak itu. Bencana yang dihadapi bukan bencana kecil, demikian pikirnya.

Sesudah berpikir sejenak, sambil mengibas tangan kirinya ia membentak, “Tangkap kepala siluman itu!”

Hian beng Jie-loo segera menerjang, Lok Thung Kek menggunakan tongkat tanduk menjangan sedang Ho Pit Ong menyerang dengan pit-nya. Lweekang dari Hian beng Jie-loo agak lebih tinggi daripada orang-orang seperti Ia Thian Geng dan Cia Soen dan sekarang mereka mengerubuti seorang musuh adalah kejadian yang baru pertama kali terjadi. Melihat penyerangnya kedua lawan yang tangguh Boe Kie pun tidak berani bertindak sembrono dan segera melayani dengan menggunakan segenap kepandaiannya.

Tio Beng tahu kehebatan kedua kakek itu, ia merasa sangat kuatir akan keselematan Boe Kie. “Hian beng Jie-loo!” teriaknya, “Jika kau melukai Thio Kauwcoe aku akan memberitahu Thia-thia dan Thia-thia pasti tak akan mengampuni kau.”

“Omong kosong!” bentak Ong Po-po, “Setiap orang berusaha untuk membunuh penjahat pemberontak. Hian beng Jie-loo! Setelah kalian bunuh penjahat itu, Thia-thia dan aku akan memberi hadiah besar.” Ia terdiam sejenak dan berkata pula, “Sok Sianseng, aku akan mempersembahkan empat wanita cantik untukmu.”

Hian beng Jie-loo serba salah, pihak mana yang harus diikuti? Sesaat kemudian, Lok Thung Kek memberi isyarat kepada soetenya dengan kedipan mata dan berkata dengan suara perlahan, “Tangkap hidup-hidup saja.”

Tiba-tiba Boe Kie mengubah cara bersilatnya. Ia menggunakan ilmu silat Seng hwe teng. Dilain detik dengan satu pukulan aneh yang dikirim dari satu sudut yang tak mungkin dapat dilakukan oleh orang lain ia berhasil menggaplok pipi Lok Thung Kek, “Coba tangkap hidup-hidup!” bentaknya dengan suara mengejek.

Si kakek gusar sekali, tapi sebagai ahli silat kelas utama dalam kegusarannya pemusatan pikirannya tidak terpecah. Ia segera menambah tenaga dan menyerang bagaikan hujan dan angin.

Saat semua orang mencurahkan perhatian pada pertempuran itu, tiba-tiba Tio Beng mengedut tali dan kuda yang ditungganginya segera melompat. Ong Po-po terkejut dan menyabet dengan cambuknya yang mampir di mata kiri binatang itu sehingga sambil meringkik keras dia mengangkat kedua kakinya. Tubuh Tio Beng miring dan karena masih sangat lemah ia hampir jatuh terjengkang. “Koko, apa kau benar-benar mau menghalangi aku?” bentaknya.

“Adik yang baik, dengarlah perkataanku,” jawabnya, “Jika kau menurut, aku akan menghaturkan maaf.”

“Koko, jika sekarang kau menghalangi aku, aku pasti akan mati. Thio Kauwcoe akan membenci aku sampai di sumsum…adikmu…sukar hidup lebih lama lagi….”

“Hian moay, mengapa kau berkata begitu? Gedung Jie lom ong dijaga oleh banyak orang pandai yang tentu akan bisa melindungi kau sebaik-baiknya. Jangankan melukai kau, sekalipun hanya bertemu muka dengan kau, iblis kecil itu tak akan bisa lagi.”

Si adik menghela nafas. “Aku justru kuatir tak bisa bertemu muka lagi dengannya,” katanya, “Kalau sampai begitu…aku…aku lebih suka mati.”

Pada jaman itu wanita Mongol memang lebih berani daripada wanita Han. Selain hubungan kakak dan adik itu sangat erat, mereka biasanya selalu bicara terus terang. Maka itu dalam keadaan terdesak, Tio Beng membuka rahasia hatinya secara terang-terangan.

“Moaycoe, mengapa kau bicara yang tidak-tidak?” bentak Ong Po-po dengan gusar, “Kau adalah anggota keluarga raja muda Mongol. Ibarat pohon, kau bercabang emas berdaun giok. Mana bisa kau jatuh cinta kepada anjing itu? Jika tahu, Thia-thia bisa mati berdiri!” Seraya berkata begitu, ia mengibaskan tangan kirinya dan tiga jago segera turun ke gelanggang untuk membantu mengepung Boe Kie. Tapi mereka tak bisa mendekati sebab saat itu Boe Kie dan Hian beng Jie-loo sedang bertempur menggunakan Sin kang yang tertinggi sehingga dalam jarak beberapa tombak angin tenaga dalam menyambar-nyambar bagaikan tajamnya pisau.

“Thio Kongcoe!” teriak Tio Beng, “Jika kau mau menolong Giehoe, kau harus lebih dulu menolong aku.”

Mendengar itu Ong Po-po tidak bisa menahan sabar lagi. Ia segera memeluk adiknya dan menendang perut kuda yang segera kabur.

Ilmu silat Tio Beng sebenarnya lebih tinggi dari kakaknya tapi dalam keadaan terluka ia tidak bertenaga untuk melawannya. Ia hanya bisa berteriak, “Thio Kongcoe tolong! Thio Kongcoe tolonglah aku!”

Boe Kie terkejut, dengan menggunakan seluruh tenaga ia mengirimkan dua pukulan sehingga Hian beng Jie-loo terpaksa mundur beberapa langkah. Dengan menggunakan kesempatan itu ia melompat dan mengejar Ong Po-po. Hian beng Jie-loo dan tiga jago segera mengejar. Tapi begitu mereka mendekat, Boe Kie segera memukul dengan Sin-liong Pah hwee (Naga sakti menyabetkan ekornya), yaitu salah satu pukulan dari Han liong Sip pat ciang. Biarpun belum menyelami inti sari dari pukulan itu tapi karena memiliki Kioe yang Sin kang, tenaga pukulan itu dahsyat sekali sehingga Hian beng Jie-loo dan tiga kawannya tidak berani terlalu dekat.

Dilain saat Ong Po-po sudah terkejar oleh Boe Kie. Sambil melompat tinggi ia mencengkram jalan darah dibatang leher pemuda bangsawan itu yang segera tidak bisa bergerak lagi yang lalu diangkat dan dilemparkan ke arah Lok Thung Kek. Karena kuatir majikannya terluka, si kakek buru-buru menyambuti. Dilain detik Boe Kie sudah mendukung Tio Beng melompat turun dari punggung kuda dan terus kabur ke lereng gunung.

Ho Pit Ong dan jago lain segera menguber tapi dari lereng Boe Kie lari ke atas puncak yang tingginya beberapa ratus tombak sehingga untuk mengejarnya orang harus mempunyai ilmu ringan badan yang tinggi. Hian beng Jie-loo adalah ahli silat kelas utama tapi ilmu ringan badan mereka tidak seberapa tinggi dan mepat lima jago yang lain bahkan tidak bisa lari lebih cepat daripada Ho Pit Ong. Melihat dirinya dikejar, Boe Kie menjumput beberapa batu dan menimpuk. Dua orang roboh dan menggelinding ke bawah sehingga yang lain tidak berani mengejar terlalu keras. Dalam sekejap Boe Kie sudah lari jauh.

Ong Po-po jadi kalap. “Lepaskan anak panah! Lepaskan anak panah!” teriaknya sambil mementang busurnya sendiri dan lalu melepaskan sebatang anak panah ke punggung Boe Kie tapi karena jaraknya terlalu jauh, jatuh di tanah tanpa mengenai sasarannya.

Setelah memastikan bahwa kaki tangan kakaknya tidak akan bisa mengejar lagi barulah Tio Beng merasa lega. Sambil memeluk leher Boe Kie ia menghela nafas dan berbisik, “Untung aku berjaga-jaga untuk tidak segera memberitahukan di mana adanya Cia Tayhiap, kalau tidak, kau tentu tidak akan mau menolongku.”

“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa sebaiknya kau pulang untuk berobat?” kata Boe Kie, “Untuk apa kau bentrok dengan kakakmu dan ikut aku menderita.”

“Aku rela menderita,” jawabnya, “Mengenai kakak, sekarang atau nanti aku pasti bentrok dengan dia. Hal terpenting bagiku adalah kuatir kau tidak mau mengajak aku. Yang lainnya hal kecil.”

Boe Kie tertegun. Ia tak pernah menduga sama sekali bahwa cinta Tio Beng terhadapnya sedemikian besar. Sudah lama ia tahu bahwa si nona menyukai dirinya. Tapi pada hakekatnya ia menganggap rasa cinta itu hanyalah rasa cinta yang tidak berdasar teguh dari seorang gadis remaja yang pikirannya mudah berubah-ubah. Baru sekarang ia menyadari bahwa cinta Tio Beng tulus dan murni. Untuk mengikuti dia, si nona rela melemparkan segala kekayaan dunia.

Berpikir begitu ia menunduk dan mengawasi muka yang pucat tapi cantik luar biasa. Pada saat itu sebagai manusia biasa ia tidak dapat menahan gejolak hatinya lagi dan dengan rasa cinta yang meluap-luap ia menempelkan bibirnya ke bibir si nona.

Muka Tio Beng segera berubah merah, kejadian itu merupakan goncangan yang terlampau berat bagi badannya yang sangat lemah dan ia pingsan.

Boe Kie yang paham ilmu ketabiban tidak menjadi bingung. Pingsannya Tio Beng hanya memperlipat rasa terima kasih dan rasa cintanya. Tiba-tiba dalam otaknya berkelabat sebuah pertanyaan, “Cinta Cie Jiak terhadapku mana bisa menandingi cinta Tio Kauwnio?”

Beberapa saat kemudian Tio Beng tersadar. Melihat Boe Kie seperti sedang memikirkan sesuatu ia bertanya, “Apa yang dipikirkan olehmu? Cioe Kauwniokah?”

Boe Kie mengangguk, “Aku merasa bersalah terhadapnya,” jawabnya.

“Kau menyesal?”

“Waktu aku mau bersembahyang dengan dia sebagai suami istri, aku ingat padamu dan aku sedih. Sekarang aku ingat dia dan aku merasa bersalah terhadap dia.”

“Tapi dalam hati kau lebih mencintai aku, bukankah begitu?”

“Bicara terus terang, terhadapmu aku cinta dan aku benci, terhadap Cie Jiak aku menghormati dan aku takut.”

Si nona tertawa geli. “Aku lebih suka terhadapku kau cinta dank au takut,” katanya, “Terhadap dia kau menghormati dan kau benci.”

Boe Kie ikut tertawa. “Tapi sekarang sudah jadi lain,” katanya tersenyum. “Terhadapmu kubenci dan kutakut. Kubenci karena kau sudah menggagalkan pernikahanku, kutakut sebab aku takut kau tidak mau membayar kerugian.”

“Bayar kerugian apa?”

“Bayar kerugian dengan dirimu sendiri, dengan menjadi istriku sebagai gantinya Cie Jiak.”

Muka Tio Beng segera berubah merah. “Tidak segampang itu,” katanya dengan sikap malu-malu, “Terlebih dulu aku harus ijin dari ayah, aku harus lebih dulu menyadarkan kakak….”

“Tapi bagaimana jika ayahmu menolak?”

Si nona menghela nafas. “Kata orang tua, menikah dengan iblis harus ikut iblis,” katanya. “Kalau sampai begitu, bagiku tiada jalan lain kecuali mengikuti si iblis kecil.”

“Perempuan siluman!” bentak Boe Kie, “Kau berkomplot dengan penjahat cabul dan pemberontak Thio Boe Kie! Hukuman apa yang harus dijatuhkan atas dirimu?”

“Di dunia ini, kamu berdua dihukum menjadi suami istri yang hidup beruntung sampai berambut putih. Di akhirat kamu berdua harus masuk ke delapan belas lapis neraka dan tidak bisa menitis lagi sebagai manusia!”

Bicara sampai disitu, mereka berdua tertawa terbahak-bahak.

Mendadak di sebelah depan terdengar teriakan seseorang. “Koencoe Nio nio, siauw ceng sudah lama menunggu di sini!” Teriakan itu nyaring dan tajam, suatu tanda bahwa orang itu memiliki Lweekang yang sangat kuat.

Boe Kie terkejut dan segera menghentikannya. Dilain saat, dari sebuah tikungan muncul tiga orang hoan ceng (pendeta asing), yang satu mengenakan jubah warna merah, yang lain memakai jubah kuning, yang ketiga bertubuh kate kecil mengenakan jubah warna kuning emas. Si jubah merah merangkap kedua tangannya dan berkata sambil membungkuk, “Atas titah Ong-ya, siauw ceng menunggu di sini untuk menyambut Koencoe Nio nio pulang ke Ong hoe.”

Tio Beng tak kenal ketiga pendeta itu. “Siapa kalian?” tanyanya, “Aku belum pernah mengenal kalian.”

“Siauw ceng Mohan Fa,” jawabnya. Ia menunjuk si kate kecil dan berkata pula, “Yang itu Soepeh Kioe Coen cia sedang yang ini kakak seperguruan siauw ceng, Mohan Singh. Kami bertiga datang dari Thian tiok (India) dan bekerja di Ong hoe. Waktu kami datang Koencoe sudah berkelana maka tak heran jika Koencoe tak mengenal kami.” Setelah berkata begitu, ia membungkuk diikuti oleh kedua kawannya.

“Lweekang orang itu tidak lemah,” piker Boe Kie selagi Mohan Fa bicara. “Paman dan kakak seperguruannya tentu lebih hebat lagi. Seorang diri aku belum tentu bisa melawan mereka bertiga.”

“Perlu apa kalian mencegat aku di sini?” tanya Tio Beng.

Mereka tidak menyahut hanya Mohan Singh mengangkat tinggi-tinggi seekor merpati putih yang dipegangnya. Tio Beng tahu bahwa itulah merpati pos yang membawa warta dari kakak kepada ayahnya. Ia menduga bahwa ayahnya yang berkepandaian tinggi sudah turun tangan sendiri. Ia melirik Boe Kie dan melihat paras yang muram, “Apa ketiga pendeta itu sukar dimundurkan?” bisiknya.

Boe Kie mengangguk.

Sesudah berpikir sejenak, Tio Beng segera mengambil keputusan. “Aku akan beritahukan kau di mana Cia Tayhiap berada,” bisiknya pula, “Apa yang akan terjadi di kemudian hari, apa kau akan menyia-nyiakan aku atau tidak aku serahkan kepadamu.” Ia tahu bahwa Boe Kie sendiri dengan mudah akan bisa meloloskan diri dari kepungan, ia tak mau demi kepentingan pribadi, jiwa Cia Soen sampai terancam.

Tapi sekarang, Boe Kie sendiri sungkan berpisah lagi dengan Tio Beng. Ia menolak untuk kabur sendirian. “Kau jangan kuatir, kita harus menerjang keluar bersama-sama,” katanya.

Mereka dicegat di jalan gunung yang sangat sempit. Di sebelah kiri terdapat jurang yang dalam dan disebelah kanan berdiri lereng gunung yang menjulang ke atas bagaikan tembok, jalan satu-satunya ialah menerjang dengan kekerasan.

“Koencoe terluka berat dan Ong-ya sangat kuatir,” kata Mohan Fa, “Maka itu beliau telah memerintahkan siauw ceng untuk mengantar Koencoe pulang ke Ong hoe secepat mungkin.” Walaupun orang asing, ia bisa bicara Tionghoa secara lancar, kedua kawannya tak mengeluarkan sepatah kata. Kioe Coen cia menundukkan kepala sambil memejamkan mata seperti orang bersemedi sedang Mohan Singh berdiri tegak dengan membusungkan dada.

“Di mana Thia-thiaku?” tanya Tio Beng.

“Ong-ya menunggu di kaki gunung,” jawabnya, “Beliau ingin sekali bertemu dengan Koencoe.”

Tio Beng tertawa. “Bahasa Tionghoamu sangat baik,” katanya, “Baiklah! Thio Kongcoe mari kita berangkat!” Dengan berlagak menurut ia sudah mencari cara untuk segera kabur begitu mereka berada di tempat yang lebih terbuka.

Tapi diluar dugaan, Mohan Fa mengambil sekarung kain dari punggungnya dan dengan sekali dikibaskan karung itu berubah menjadi kain panjang yang kedua ujungnya dipegang olehnya dan Mohan Singh. “Koencoe, naiklah ke joli ini,” katanya sambil membungkuk.

“Aku tak suka duduk di joli,” kata Tio Beng sambil tertawa, “Aku lebih senang didukung olehnya.”

Boe Kie mengerti bahwa ia tak boleh lengah, hampir bersamaan ia maju dengan langkah lebar.

Sesudah membaca surat yang dibawa merpati pos, ketiga pendeta itu tahu bahwa Boe Kie berkepandaian tinggi. Mohan Singh segera memapakinya dengan benturan sikut. Boe Kie melompat tinggi melewati kepala Kioe Coen cia. Mendadak ia merasa sambaran angin yang sangat dingin ke arah kakinya. Bagaikan kilat ia membaba dengan tangan kiri untuk menyambut pukulan itu, mendadak angin dingin itu berubah menjadi sangat panas. Ternyata dalam sekejap si pendeta sudah dapat mengubah tenaga pukulannya dari dingin menjadi panas. Itulah Ciang hoat yang sangat hebat dari Thian tiok dan yang sangat berbeda dengan pukulan di wilayah Tiong goan. Tapi Kioe yang Sin kang yang dimiliki oleh Boe Kie adalah gubahan Tat mo Couwsoe yang berasal dari Thian tiok, begitu mendengar bahwa ketiga pendeta itu datang dari Thian tiok, ia segera berhati-hati. Dalam sambutannya itu ia menggunakan delapan bagian tangannya, begitu tangan kebentrok dengan meminjam tenaga lawan dan dengan menggunakan kesempatan itu Boe Kie melompat jauh dan kemudian dengan mendukung Tio Beng ia kabur secepatnya. Sesudah menjajal tenaga ia tahu bahwa Lweekangnya masih lebih tinggi setingkat dari tenaga dalam si pendeta.

Ketiga pendeta itu segera menguber sambil berteriak-teriak. Ilmu ringan badan mereka cukup tinggi tetapi mereka masih belum bisa menandingi Boe Kie yang memiliki Lweekang luar biasa. Biarpun mesti mendukung Tio Beng makin lama pemuda itu lari makin cepat dan sesudah melewati sebuah lereng ia sudah meninggalkan pengejarnya jauh sekali.

Tapi baru saja mau cari jalanan kecil untuk menyembunyikan diri, mendadak terdengar suara terompet yang berulang-ulang dan dilain saat tigapuluh lebih serdadu Mongol yang bersenjata gendewa dan anak panah sudah menghadang di depannya. Hampir bersamaan di atas tanjakan muncul pula sejumlah serdadu yang melemparkan balok-balok dan batu-batu ke bawah tanjakan itu. Tapi karena kuatir melukai Tio Beng, balok dan batu itu tidak ditujukan ke arah Boe Kie. Karena jalanan di depan sudah tercegat ia segera berlari ke tanjakan sebelah kiri, tapi baru lari beberapa tombak sudah terdengar suara gembereng dan diatas tanjakan muncul lagi pasukan Mongol lain yang bersenjata gendewa dan anak panah. Kalau seorang diri ia tentu akan menerjang, tapi dengan mendukung Tio Beng, ia tidak berani mengambil tindakan yang nekat itu. Andaikata si nona terkena anak panah atau balok batu dan terbinasa, seumur hidup ia akan menyesal.

Setelah berpikir sejenak, ia segera lari balik ke jalanan yang tadi dilaluinya tapi baru setengah li ia sudah berhadapan dengan ketiga pendeta asing. Ia menaruh Tio Beng di tanah dan membentak, “Kalau masih mau hidup, mundurlah!”

Kioe Coen cia maju selangkah dan segera memukul dada Boe Kie dengan kedua telapak tangannya dalam pukulan Pay san ciang. Dalam menghadapi jalan buntu, Boe Kie tidak dapat berbuat lain selain melawan. Dengan sepenuh tenaga ia segera menangkis dengan tangan kirinya.

Sesudah tertangkis tangannya, Kioe Coen cia terhuyung dan mundur beberapa langkah. Mohan Singh dan Mohan Fa menahan punggungnya dan mendorongnya kembali ke depan. Untuk kedua kalinya Kioe Coen cia mengirim pukulan Pay san ciang. Karena ingin menyimpan tenaga kali ini Boe Kie tidak mau melawan kekerasan dengan kekerasan. Ia menangkis dengan Kian koen Tay lo ie. Tapi ia segera terkejut karena telapak tangannya mendadak tersedot dan melekat pada telapak tangan si pendeta. Dua kali mencoba menarik kembali tangannya tapi tidak berhasil. Karena terpaksa, ia segera mengerahkan Kioe yang Sin kang dan mendorong lawannya. Tapi Kioe Coen cia tidak kena didorong, ia tetap berdiri tegak.

Dalam kagetnya Boe Kie menyadari bahwa Mohan Singh dan Mohan Fa menempelkan kedua telapak tangan mereka pada punggung Kioe Coen cia dan ketiga pendeta itu kelihatannya sedang mengerahkan seluruh tenaga dalam mereka. Ia segera tersadar, ia ingat Thio Sam Hong pernah memberitahukan kapadanya bahwa di Thian tiok terdapat sebuah ilmu mempersatukan tenaga beberapa orang untuk menghadapi tenaga yang sangat besar. Karena kuatir bala bantuan lawan keburu tiba, sambil membentak keras ia mengempos semangat dan menambah tenaganya.

Ketiga pendeta itu lantas saja memperlihatkan tanda2 tidak bisa bertahan lagi dan keringat mereka mengucur dari kepala dan muka. Sekonyong2 Mohan Fa menyemburkan darah dari mulutnya. Itulah bukti bahwa si pendeta sudah terluka berat, tapi sungguh aneh, sesudah darah disemburkan, tenaga pihak lawan berbalik bertambah satu kali lipat. Boe Kie terpaksa menambah pula tenaganya. Di lain saat Mohan Singh, yang selebar mukanya sudah berubah merah, meyemburkan darah ke leher Kioe Coen Cia seperti tadi, tenaga lawan bertambah lagi satu kali lipat. Boe Kie lantas saja mersa tenaganya mulai tertindih.

Dalam keadaan terdesatk ia segera mundur dua tindak untuk mengurangi tekanan dan sesudah itu, sambil mengambil napas dalam2 ia menyerang balik. Diserang begitu, badan Mohan Singh dan Mohan Fa bergoyang2, hampir2 mereka roboh.

Melihat kedua keponakan muridnya tak dapat bertahan lagi, buru2 Kioe Coen Cia membuka mulutnya dan menyemburkan darah kemuka Boe Kie. Pemuda itu miringkan kepala untuk mengegos semburan itu. Mendadak ia merasa dadanya seperti ditindih dengan besi yang berat nya berlaksa kati dan hawa dibagian tan tian bergolak2. Ia terkejut, Ia tanya nyana, ketiga pendeta itu memiliki ilmu yg sedemikian aneh. Tapi ia pun tahu, bahwa pihak lawan sudah hampir kehabisan tenaga. Jika ia bisa bertahan terus, kemenangan terakhir akan direbut olehnya sendiri. Ia segera memusatkan pikirannya dan mengempos seluruh Kioe yang Sin Kang yang terdapat dalam tubuhnya. Beberapa saat kemudian Mohan Fa berlulut, tapi tangannya masih tetap menempel dipunggung Kioe Coen Cia.

Baru saja Boe Kie bergiran, kupingnya mendadak mendengar suara tindakan kaki yang sangat enteng dan seorang pembokong menghantam punggungnya. Ia terkesiap dan mengibaskan tangan kanannya kebelakang untuk memunahkan serangan itu dengan Kian Koen Tay lo Ie. Tapi ia salah hitung. Tenaga Kian Koen Tay lo ie yg dimilikinya berdasarkan tenaga Kioe yang sin Kang. Pada saat itu hampir semua tenaga itu sudah dipergunakan olehnya untuk melawan ketiga pendeta itu.

Dengan demikian, tenaga untuk menangkis si pembokong hanya kira2 dua bagian dari seluruh tenaganya. Begitu tangannya kebentrok dengan tangan si pembokong, begitu cepat ia merasa menerobosnya semacam hawa yang dingin luar biasa dan badannya lantas saja bergemetaran. Dilain detik, ia roboh.

“Lok Sianseng, tahan!” teriak Tio Beng. Si penyerang gelap memang bukan lain daripada Lok Thung Kek.

Sehabis berteriak, dengan nekad si nona menubruk dan memeluk Boe Kie. “Aku mau lihat siapa yg berani bergerak lagi!” bentaknya.

Lok Thung Kek sebenarnya sudah mengangkat tangan untuk menghabiskan jiwa Boe Kie yang dipandangnya sebagai lawan terberat didalam dunia. Tapi karena pemuda itu dialingan oleh badan sang Koencoe, ia terpaksa undur kemabli dan lalu bersiul keras, sebagai isyarat bahwa Boe Kie sudah dapat dirobohkan. “Koencoe Nio nio,” katanya, “Ong ya hanya menghendaki supaya Koen coe Nio nio pulang. Beliau tak punya lain maksud. Orang ini adalah pemberontak. Mengapa Koen coe Nio nio melindungi dia?”

Tio Beng sebenarnya ingin mencaci bekas orang sebawahan itu tapi sebab kuatir dia menjadi gusar dan lalu teruntuk tangan jahat terhadap Boe Kie, maka sebisa bisa ia menahan hawa amarahnya dan lalu membangunkan Boe Kie tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Beberapa saat kemudian tiga penunggang kuda kelihatan mendatangi yang paling depat Ho Pit Ong, yang kedua Ong Po Po dan yang paling belakang Jie Lam Ong sendiri. Begitu tiba, mereka lantas melompat turun dari punggung kuda.

Jie Lam Ong mengerutkan alisnya dan berkata, “Beng beng, mengapa kau tak turut nasehat kakakmu? Bikin apa kau disini?”

Air mata si nona lantas saja mengucur, “Thia,” katanya, “anak telah di hina orang.”

Sang ayah maju beberapa tindak dan mengangsurkan tanagn untuk memegang putrinya. Tiba2 Tio Beng membalik tangannya, sinar putih berkelebat dan ia sudah menandalkan ujung sebatang pisau pada dadanya sendiri. “Thia!” teriak nya dengan suara menyayat hati. “Jika kau tidak meluluskan permintaanku hari ini anak akan mati di hadapanmu!”

Jie Lam Ong terkejut, ia mundur setindak dua, “Eeh!… Beng beng… mengapa kau begitu?” tanyanya. “Jika kau ingin minta sesuatu bicaralah baik2.”

Si nona segera membuka baju di bagian pundaknya dan memperlihatkan lukanya. Racun pada lukanya itu sudah hilang, tapi lukanya masih belum sembuh dan kelihatannya hebat sekali.

Sebagai seorang ayah yg sangat mencintai anaknya, Jie Lam Ong kaget bercampur bingung. “Mengapa… mengapa kau sampai mendapat luka begitu berat?” tanyanya dengan suara gemetar.

Sambil menuding Lok Thung Kek, Tio Beng menjawab dengan suara terputus putus, “Manusia itu sangan jahat.. anak melawan.. dan … dia menyengkeram anak. Mohon… Thia thia suka mengadilinya…”

Semangat si tua terbang. Untuk sejenak ia mengawasi si nona dengan mulut ternganga dan kemudian berkata dengan gemetar. “Tak.. tak mungkin… siauwjin berani berbuat begitu!”

Jie Lam Ong mendelik dan mengeluarkan suara di hidung. “Binatang!” bentaknya. “Dalam urusan Han Kie, aku sudah menaruh belas kasihan dan tak mau menyelidiki lebih jauh. Sekarang… huh, huh!… kau berani coba2 melanggar puteri ku. Tangkap!”

Ketika itu para boesoe sudah menyusul sampai disini. Mendengar perintah sang majikan. Biarpun tahu si kakek berkepandaian sangat tinggi, empat orang lantas saja menerjang. Kaget dan gusar mengaduk dalam dada Lok Thung Kek. Ia tahu bahwa si nona mau balas sakit hati sebab ia coba membinasakan Boe Kie. Ia pun tahu bahwa ia takkan dapat melawan sang putri yg pintar dan banyak akalnya. Maka itu, sesudah memukul mundur keempat boesoe itu dengan tangan ia menghela napas dan berkata “Soeiee, mari kita pergi!”

Ho Pit Ong kelihatan bersangsi.

“Ho sianseng!” seru Tio Beng. “Kau orang baik, tak seperti suhengmu. Lekas tangkap kan! Ayahku akan menaikkan pangkatmu dan memberi hadiah besar.”

Hian beng Jie Loo adalah ahli silat jarang tandingan pada jaman itu. Hanyalah karena kemaruk akan pangkat dan kemewahan, mereka rela mengabdi pada Jie Lam Ong. Ho Pit Ong tahu, bahwa kakak seperguruannya memang suak paras cantik dan tuduhan sang Koencoe Nio Hio mungkin sekali bukan tuduhan kosong. Disamping itu, hatinya jg bergoncang sebab mendengar janji pangkat dan hadiah besar. Tapi di lain pihak, hubungan dengan Lok thung Kek menyerupai hubungan antara saudara kandung dan ia merasa tak teag untuk mengkhianati suhengnya itu. Maka itulah ia sangsi, sangat bersangsi.

Melihat begitu paras muka Lok Thung Kek lantas saja berubah pucat pasti. “Sute,” katanya, “Kalau kau ingin naik pangkat tangkaplah aku!”

Ho Pit Ong menghela napas, “Suko!” katanya. “Mari kita pergi!” sehabis berkata begitu ia lalu melompat mendekati kakak seperguruan nya dan dengan berendeng pundak Hian Beng Jie Loo meninggalkan majikan mereka.

“Beng beng,” kata Jie Lam Ong sesudah kedua kakek itu berlalu, “Sesudah terluka kau harus pulang dahulu untuk berobat.”

“Waktu anak mau diperkosa, Tio Kongcoe itulah yang sudah menolong,” kata Tio Beng sambil mengunjuk Boe Kie. “Koko yg tak tahu, latar belakangnya berbalik menuduh dia sebagai pemberontak Thia ada satu peekraan besar yg harus dilakukan oleh anak dan Tio Kongcoe. Sesudah selesai kami berdua akan segera menemui Thia Thia.”

Mendengar keterangan itu, Jie Lam Omg tahu bahwa putrinya mencintai Boe Kie. Tapi menurut laporan puteranya, pemuda itu Kauwcoe dari Beng Kauw kepala pemberontak yg coba merobohkan Gaon Tiauw. Kunjungannya ke Tiongkok Selatan adalah untuk menghadapi kawanan pemberontak Beng Kauw didaerah Hway see, Ho Lamg dan Ouwpak. Maka itu cara bagaimana ia bisa mempermisikan putrinya mengikuti si kepala pemberontak? “Kakak Kauwcoe dari Beng Kauw,” katanya. “Apa benar?”

“Koko paling pandai mengarang cerita,” jawabnya. “Thia coba taksir2 usianya. Apa mungkin orang yang seperti dia menjadi pemimpin pemberontak Beng Kauw.”

Jie Lam Ong mengawasi Boe Kie. Ia menaksir paling banter pemuda itu berusia 22 tahun. Sesudah terluka muka boe kie pucat, sehingga yang tak tahu lebih baik pasti tidak akan menduga bahwa dia adalah pemimpin dari ratusan ribu tentara rakyat. Tapi raja muda itu tahu, bahwa putrinya sangat berakal budi. Biarpun bukan seorang kauwcoe, mungkin sekali pemuda itu salah seorang tokoh penting didalam Bengkauw pikirnya. Memikir begitu ia lantas saja membentak, “Bawa dia kekota dan selidiki asal usulnya. Asala saja dia bukan anggota Mo Kauw aku akan “memberi hadiah,” dengan begitu, ia coba menolong putrinya supaya si nona tak usah mendapat malu terhadap orang2 sebawahannya.

Empat boecoe segera mendekati Boe Kie.

Tio Beng menangis, “Thia thia apa benar mau mau memaksakan kebinasaanku?” tanyanya. Ia menekan pisaunya yg lantas saja menancap setengah dim, di daging sehingga darah lantas saja mengucur dan menodai bajunya.

Jie Lam Ong terkesiap, “Beng beng! Tak boleh kau berbuat begitu…” teriaknya.

“Thia thia anakmu tidak berbakti…” kata pula si nona. “Diam diam anak sudah menikah dengan Tio Kongcoe dan sekarang anak sudah mengandung! Kalau Thia mau membinasakand ia, binasakanlah anak terlebih dahulu…”

Pengakuan itu bagaikan halilitar ditengah hari bolong. Bukan saja Jie Lam Ong dan Ong Popo, bahkan Boe Kie sendiri kaget tak kepalang. Pemuda itu tak pernah mimpi, bahwa untuk melindungi dirinya si nona rela mengarang cerita itu, kedustaan yg menodai kesuciannya sendiri sebagai seorang gadis bangsawan dan terhormat.

Berulang ulang Jie Lam Ong membanting2. “Apa benar?…. Apa benar?….” tanyanya berulang2.

“Hal itu adalah hal yg sangat memalukan,” jawabnya. “Kalau bukan karena terpaksa anak pasti tidak akan membusukkan nama sendiri dihadapan orang banyak. Anak tahu, kejadian ini juga akan menyeret nama baik ayah dan saudara. Thia thia, jangalanh kau berduka! Hitung2 Thia thia kehilangan seorang anak. Lepaskanlah supaya anak bisa bawa diri sendiri!”

Dengan tagnan rada bergemetaran raja muda itu mengurut2 jenggotnya, sedang kepala dan mukanya basah dengan keringat. Dia adalah seorang jendral besar yang biasa mengambil keputusan2 penting dalam waktu yg sependek2nya. Tapi sekarang ia bingung. Ia tak tahu apa yg harus diperbuatnya.

“Moaycoe,” kata Ong Popo, “Kau dan Tio Kongcoe terluka berat, maka sebaiknya pulang bersama sama Thia thia untuk berobat. Sesduah kau berdua sembuh, Thia thia lantas bisa menikahkan kamu secara pantas. Thia thia dapat menatu, aku sendiri mendapa moay-hoe. Bukankah lebih baik begitu?”

Tio Beng tahu, bahwa bujukan sang kakak hanya merupakan tipu untuk mengulur waktu. Ia tahu, bahwa begitu lekas jatuh ke dalam tangan mereka, Boe Kie tak usah harap hidup lebih lama lagi. Tanpa menghiraukan kakaknya, ia lantas saja berkata, “Thia thia, ibarat beras sekarang adalah menjadi bubur. Kata orang, kawin dengan ayam, mengikut ayam, kawin dengan anjing, mengikuti anjing. Mati atau hidup anak mengikut Tio Kongcoe. Segala siasat tidak akan bisa memperdayai aku. Bagi Thia thia hanya terbuka 2 jalan. Apabila kau suka mengampuni anak, anak akan hidup terus. Tapi jika kau ingin anak mati, anak anak segera mati dihadapanmu.”

“Beng beng!” bentak sang ayah dengan gusar. “Kau harus pikir masak2. Jika kau mengikuti pemberontakan itu, mulai dari sekarang kau bukan anakku lagi.”

Dalam sedetik itu, si nona memikiri bulak balik ratusan kali. Ia merasa sangat berat untuk meninggalkan ayah dan kakak. Mengingat kecintaan sang ayah, hatinya seperti tersayat pisau. Tapi ia mengerti, bahwa sedikit saja ia bersangsi, jiwa Boe Kie takkan bisa ditolong lagi. Ia segera mengambil keputusan untuk lebih dahulu menolong kecintaannya dan dihari kemudian, barulah berusaha untuk meminta pengampunan sang ayah dan kakak. Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara perlahan. “Thia thia.. koko… segala apa memang salah Beng beng. Ampunilah aku…”

Melihat keputusan putrinya tak bisa diubah lagi, bukan main rasa dukanya Jie Lam Ong. Ia merasa sangat menyesal, bahwa ia telah memperlihatkan rasa cintanya secara berlebih2an terhadap anak itu dan membiarkannya berkelana di dunia Kangouw, sehingga terjadi kejadian yang menyakiti hatinya itu. Mereka mengenal putri itu sebagai manusia keras kepala. Kalau dipaksa, bukan tak bisa jadi dia benar2 akan membunuh diri. Tanpa merasa jenderal tua itu menghela napas dan air matanya mengucur, “Beng beng…” katanya dengan suara parau, “Kau harus bsia menjaga diri. Thia thia mau pergi… berhati-hatilah!…”

Si nona mengangguk. Ia tidak berani mengangkat muka untuk melihat wajah ayahnya.

Jie Lam Ong memutar tubuh lalu turun gunung dengan tindakan perlahan. Ia seperti tidak melihat kudanya yg dituntun oleh seorang pengawal. Ia terus berjalan kaki. Tapi baru berjalan belasan tombah, tiba2 ia menengok dan berseru, “Beng beng, apa lukamu tak berbahaya? Apa kau bawa uang?”

Dengan air mata berlinang2, si nona menganggutkan kepalanya.

Alis Jie Lam Ong berkerut. Tiba2 dia berpaling kepada pengawalnya dan berkata, “Serahkan dua ekor kuda kepada Koen Coe!”

Beberapa pegawal lantas saja menuntun dua ekor kuda pilihan dan menyerahkan nya kepada Tio Beng.

Sesudah menghadiahkan kedua ekor kuda kepada putrinya, dengan diiring oelh para pengawal, Jie Lam Ong terus turun gunung. Enam orang boesoe memapak ketiga pendeta Thian tiok yg tidak bisa jalan karena kehabisan tenaga. Tak lama kemudian di jalanan itu hanya ketinggalan Boe Kie dan Tio Beng berdua.

Boe Kie lantas bersila dan mengerahkan sinkang untuk mengeluarkan hawa dingin akibat pukulan Lok Thung Kek, dari dalam tubuhnya. Dia menderita luka berat, sebab pada Long Thung Kek mengirim pukulan, ia sedang menggunakan seanterot tenaganya untuk menghadapi ketiga pendeta Thian tiok. Sesudah ia mengerahkan Kioe Yang Cin Khie tiga putaran dan dua kali memuntahkan darah, barulah dadanya yg menyesak jadi lebih lega. Ia membuka mata dan melihat paras muka Tio Beng yg diliputi rasa kuatir, “Tio Kouwnio, kau sangat menderita,” katanya dengan suara lemah lembut.

“Apa sampai sekarang kau masih merasa perlu untuk memanggil aku dengan istilah Tio Kouwnio?” tanya si nona. “Aku sudah bukan orang Kerajaan lagi, aku sudah bukan seorang Koencoe… Apa… apa kau menganggap aku sebagai wanita siluman?”

Perlahan2 Boe Kie bangun berdiri.

“Aku ingin ajukan satu pertanyaan,” katanya dengan suara sungguh2. “Kau harus menjawab sejujur2nya. Siapakah yg melukai piauw moay ku, In Lee? Apa kau?”

“Bukan!” jawabnya.

“Kalau bukan kau siapa?”

“Aku tidak bisa memberitahukan. Begitu lekas aku bertemu dengan Cia Tayhiap, orang tua itu bisa segera memberi keterangan jlease kepadamu.”

“Giehoeku? Apa benar Giehoe tahu siapa yg turunkan tangan jahat?”

“Kau baru saja terluka dan kau tidak boleh banyak berpikir. Aku hanya ingin mengatakan begini. Apabila dihari kemudian, sesudah menyelidiki sejelas2nya, kau mendapat bukti bahwa Thio Kouwnio dicelakai olehku, maka tanpa kau turun tangan, aku sendiri akan membunuh diri dihadapamu.”

Mendengar perkataan yg diucapkan sangat bernapsu dan tegas jelas, Boe kie tidak bisa percaya. Sesudah memikir sejenak ia berkata. Hm… kalau tak salah piauwmoay dicelakai oleh salah seorang dari kapal Persia. Mungkin sekali seorang yg berkepandaian tinggi dari kapal itu diam diam menyateroni pulau itu membikin kami semua jadi mabuk, turunkan tangan jahat terhadap piauw moay dan kemudian mencuri Ie Thian Kiam dan To Liong To. Dilihat begini, sesudah menolong Gie Hoe, kita harus pergi ke Persia. Hai!… Siauw Ciauw!…

Tio Beng tertawa geli, “Ku tahu segala akalmu,” katanya. “Kau ingin bertemu dengan Siauw Ciauw dan kau sengaja membuat dugaan yg tidak2. Aku menasehati, lebih baik kau jangan memikir yg bukan. Paling penting kau mengobati lukamu, supaya kita bisa pergi ke Siauw Lim Sie secepat mungkin.”

Boe Kie heran, “Perlu apa ke Siauw Lim Sie?” tanyanya.

“Menolong Cia Tayhiap?” jawabnya.

Boe Kie jadi lebih heran lagi, “Giehoe berada di Siauw Lim Sie?” ia menegas.

“Bagaimana Giehoe berada disitu?”

“Hal ini banyak seluk beluknya,” sahut si nona. “Akupun masih belum tahu seterang2nya. Tapi bahwa Cia Tayhiap sekarang berada di Siauw Lim Sie adalah kenyataan yang tak dapat dibantah lagi. Diantara orang2 sebawahanku terdapat seorang serdadu yang mencukur rambut dan menjadi pendeta di Siauw Lim Sie. Dialah yang beritahukan aku tentang Cia Tayhiap.”

“Ha!… sungguh lihai!…” seru Boe Kie. Entah apa yg dimaksudkan olehnya dengan perkataan lihai itu. Mungkin lihai itu berarti hebatnya bahaya yg dihadapi Cia Soen. Sesudah berkata begitu ia menundukkan kepala dan tak bicara lagi. Mendadak tubuhnya bergoyang ‘uah’. Ia muntah darah.

Tio Beng jadi bingung “Aku sungguh menyesal!” katanya. “Kalau kutahu lukamu begitu hebat, kalau kutahu kau jadi begitu jengkel aku pasti takkan bicara.”

Boe Kie duduk menyandar dibatu gunung dan berusaha untuk menjernihkan pikirannya. Tapi sebab pikirannya lagi kalut ia gagal dalam usahanya. “Kong kian Sengceng dai Siauw Lim Sie dibinasakan oleh Gie Hoe,” katanya. “Selama dua puluh tahun lebih orang2 Siauw Lim Sie coba mencari Gie hoe untuk membalas sakit hati. Kalau sekarang Gie hoe jatuh ketangan mereka, jiwalnya pasti akan melayang.”

“Kau tak usah bingung,” bujuk si nona. “Ada sesuatu yang menolong jiwa Cia Tayhiap.”

“Apa itu?”

“To Liong To.”

Boe Kie mendengar. Ia mengakui kebenaran perkataan Tio Beng. Selama beberapa ratus tahun Siauw Lim pay menjadi pemimpin dalam rimba persilatan. Partai itu sangat ingin memiliki To Liong To yg dikenal sebagai “Boe lim Cie coen” (yang termulia dirimba persilatan).
Untuk mendapatkan golok mustika itu mereka pasti takkan gampang2 membunuh ayah angkatnya. Tapi biar bagaimana pun juga, orang tua itu tentu takkan terlolos dari macam2 penderitaan dan haluan.

“Menurut pendapatku, usaha menolong Cia Tayhiap sebaiknya dilakukan oleh kita berdua saja,” kata Tio Beng. “Biarpun dalam Beng Kauw terdapat banyak orang gagah, tapi kalau kita menyerang secara besar2an, kedua belah pihak pasti akan mendapat kerusakan besar. Apabila Siauw Lim Sie merasa tak tahan menghadapi serang Beng Kauw, mungkin sekali mereka akan turunkan tangan jahat terhadap Cia Tayhiap, sebelum kita keburu menolong.”

Boe Kie manggut2kan kepala. Ia menyetujui perkataan si nona dan ia merasa sangat berterima kasih, “Beng moay, kau benar”, katanya. (Beng moay = adik Beng).

Sungguh sedap perkataan “Beng moay” itu, yang digunakan Boe Kie untuk pertama kali! Tapi dilain detik Tio Beng ingat orangtuannya, sanak familinya. Ia ingat bahwa mulai sekarang ia tak bisa pulang lagi kepada orantuanya dan mengingat begitu, ia berduka. Boe Kie apa yang dipikir gadis itu, tapi ia tak tahu bagaimana harus menghiburnya. Akhirnya ia berbangkit dan berkata. “Hayo kita berangkat.”

Melihat paras muka Boe Kie yang pucat pasi. Si nona merasa sangat kuatir. “Thia thia yang sangat mencintai aku tidak akan mengambil tindakan,” katanya. “Yang aku kuatir adalah koko. Dia mungkin akan mengirim orang untuk menangkap kita.

Boe Kie mengangguk. Ia pun merasa bahwa Ong Popo yang sangat lihat tak akan gampang2 mau melepaskan mereka berdua. Mereka terluka berat dan perjalanan ke Siauw Lim Sie kelihatannya penuh dengan duri.

“Boe Kie koko,” kata si nona. “Sekarang kita menyingkir dulu dari tempat ini. Sesudah tiba di kaki gunung barulah kita berdami lagi.”

Sekali lagi Boe Kie mengangguk. Dengan tindakan limbung mendekati kuda. Selagi mau melompat naik, tiba2 badannya sakit dan tenaganya tak cukup untuk naik kepunggung kuda. Sambil mengigit gigi, Tio Beng mendorong dia keatas dengan tangan kiri. Tapi sesudah Boe Kie berada diatas kura, lukanya di dada akibat tusukan pisau kembali mengeluarkan darah. Dengan banyak susah barulah ia bisa turut naik dan duduk dibelakang Boe Kie. Kalau tadi ia dipapah Boe Kie, sekarang ia yang harus memapah Boe Kie. Sesudah mengaso beberapa saat, tunggangan itu baru dijalankan, sedang yang seekor lagi mengikuti dari belakang.

Perlahan2 mereka turun gunung. Tio Beng sudah menduga pasti, bahwa sebegitu lama masih berada dihadapan ayahandanya, kakaknya tentu tidak akan berani bertindak. Tapi kalau sudah menyingkir dari mata orang tua itu, Ong Popo bisa mengambil segala rupa tindakan. Maka itu, mereka segera membelok ke timur dan kemudian mengambil sebuah jalanan kecil. Sesudah berjalan beberapa lama, mereka merasa agak lega. Andaikata Ong Popo mengirim orang untuk mengejar, tak mudah orang itu bisa menemukan mereka.

Selagi enak jalan, sekonyong2 terdengar suara kaki kuda dan dua penunggang kuda mendatangi dari belakang dengan cepatnya. Muka Tio Beng lantas saja berubah pucat. Sambil memeluk pinggang Boe Kie, berkata, “Kakakku bertindak cepat sekali. Kita ternyata tidak bisa terlolos dari tangannya. Boe Kie biarlah aku pulang dulu. Aku akan berikhtiar untuk memohon kepada ayah supaya kita bisa berkumpul kembali. Boe Kie koko, aku akan bersumpah tidak akan mengkhianati kau!” Sesaat itu kedua pengejar sudah datang dekat sekali. Tio Beng menarik les supaya tunggangan miring ke sisi jalanan dan mencabut pisaunya. Ia sudah mengambil keputusan pasti, bahwa jika kakaknya mau jiwa Boe Kie, ia akan mati bersama2 kecintaannya itu.

Tapi sesudah elwat, kedua pengejar itu tidak lantas berhenti dan ternyata mereka hanyalah dua serdadu biasa. Baru saja Tio Beng bergirang, kedua serdadu Mongol itu mendadak menahan kuda tunggangan mereka dan sesudah berdamai sejenak mereka lalu membelokkan kuda dan menghampiri.

“Hai! Darimana kamu curi kuda2 itu?” bentak salah seorang yang berewokan.

Mendengar bentakan itu Tio Beng tahu, bahwa mereka jadi mata merah karena melihat kuda yang dihadiahkan oleh ayahnya. Kuda2 itu adalah tunggangan pilihan dengan seta tertata emas sanggurdi yg terbuat daripada per k. Orang2 Mongol sangat mencinai kuda, sehingga oleh karenanya tidaklah heran kalau kedua serdadu itu bergoncang hatinya. Diam2 si nona mengambil keputusan bahwa kalu terpaksa ia akan menyerahkan kuda2 itu. “Jangan kurang ajar!” bentaknya dalam bahasa Mongol, “Dalam pasukan siapa kamu berdua?”

Serdadu itu terkejut. “Siapa Siocia?” dia balas menanya. Melihat pakaian Boe Kie dan Tio Beng yang sangat indah dan mendengar bahasa Mongol yg diucapkan dengan lancar dia tidak berani berlaku sembrono.

“Aku adalah putri Waeri Puche Ciangkoen,” jawab Tio Beng. “Ini kakakku. Ditengah jalan aku bertemu dengan orang jahat dan kami terluka.”

Kedua serdadu itu saling melirik dan kemudian mereka tertawa terbahak2. “Bagus!” teriak si berewok. “Paling benar aku antar kamu berdua ke akherat!” Seraya berkata begitu, dia menghunus golok menyentik les dan menerjang.

Tio Beng terkesiap. “Ee!” teriaknya. “Aku akan beritahukan ayah dan engkat akan dibeset oleh empat kuda.”

Si botak menyeringai dan mengeluarkan suara di hidung. “Puche tak becus melawan pemberontak Beng kauw dan melampiaskan amarahnya terhadap aku,” katanya. “Kemarin aku membenrontak dan mencincang ayahmu. Sungguh kebetulan kami bertemu dengan kamu berdua.” Seraya berkata begitu ia membacok. Tio Beng mengendut les dan kudanya melompat sehingga golok membacok angin. Selagi siberewok mau mengubar kawannya yg berusia lebih muda berkata, “Jangan bunuh nona manis itu! Paling benar kita mengambil dia untuk menghibur hati.”

“Bagus!” kata si berewok.

Pada detik itu, Tio Beng yg sangat pintar sudah menghitung tindakan yg harus diambilnya. Ia melompat turun dari punggung kuda dan lari ke sisi jalanan.

Kedua serdadu itu lantas saja mengubar.

“Aduh!” teriak si nona yang lantas roboh ditanah.

Si berewok menubruk. Begitu di tubruk, dengan sikutnya Tio Beng menggentus dada si penyerang, yang tanpa bersuara lagi, lantas terguling. Gentasan itu kena tepat pada jalan darah. Kawannya gusar dan lantas menyerang, tapi iapun mendapat nasib seperti si berewok. Sesudah merobohkan kedua serdadu itu, dengan napas tersengal sengal Tio Beng turunkan Boe Kie dari punggung kuda. “Binatang! Kamu mau mati atau hidup?” bentaknya.

Kedua serdadu itu yang tidak mengharap hidup lagi, melihat jalan hidup. “Ampun nona!” kata si berewok. “Aku tidak ikut menyerang Waerl Puche Ciangkoen.”

“Baiklah,” kata si nona. “Kamu menurut perintah, aku akan mengampuni jiwa anjingmu!”

“Turut! Turut!” jawab mereka, tergesa gesa.

Sambil menuding kedua kudanya sendiri si nona berkata, “Dengan menunggang kuda2 itu, kamu harus pergi ke jurusan timur. Dalam sehari dan semalam, paling sedikit kamu harus melalui tiga ratus li. Lebih cepat lebih baik.”

Kedua serdadu itu saling mengawasi. Mimpi pun ereka tak pernah mimpi, bahwa mereka akna mendapat perintah itu. Beberapa saat kemudia barulah si berewok berkata, “Kauw nio, siauwjin tidak… tidak berani…”

“Jangan rewel!” memutus Tio Beng. “Lekas nunggang kuda2 itu! Kalau ditanya orang, katakan saja, bahwa kamu membelinya di pasar. Kamu tidak boleh beritahukan hal yg sebenarnya. Mengerti?”

Kedua serdadu itu masih bersangsi. Tapi karena didesak Tio Beng berulang2, sambil menahan sakit dan dengan terpincang2, mereka lalu menghampiri kedua tunggangan itu. Tangan mereka masih belum bisa bergerak. Untung juga setiap orang Mongol pada jaman itu mahir dalam ilmu menunggang kuda, sehingga, biarpun tidak menggunakan tangan, ia bisa juga naik kepunggung binatang itu dan kemudian menjalankannya. Mereka menduga Tio Beng seorang otak miring dan merasa kuatir, kalau si nona berubah pikiran secara mendadak. Maka itu, sesudah berjalan belasan tombak, mereka menjepit perut kuda erat2, sehingga kedua binatang itu lantas saja kabur.

Boe Kie menghela napas, “Beng moay, kau sungguh pintah,” ia memuji. “Jika kuda2 itu dilihat oleh orang2nya kakakmu, mereka tentu menaksir, bahwa kita lari kejurusan timur. Beng moay, kemana kini kita menuju?”

“Ke Barat Daya,” jawabnya.

Mereka lantas saja menunggung kuda yg ditinggalkan oleh serdadu Mongol dan dengan perlahan menuju ke barat daya.

Jalan kecil yg diambil mereka berliku2 dan penuh dengan pohon2 berduri. Sesudah berjalan kurang lebih satu jam dan melalulu kira2 duapuluh lie, matahari mulai menyelam ke barat. Selagi mencari2 tempat untuk beristirahat, tiba2 mereka melihat mengepulnya asal disebelah depan. “Didepan ada rumah orang untuk kita bermalam,” kata Boe Kie dengan girang.

Mereka segera menuju keasap itu. Tak lama kemudia mereka lihat tembok kuning yg mengitari sebuah kelenteng.

Sesudah menurunkan Boe Kie, Tio Beng menghadapkan kuda itu ke arah Barat dan kemudian mencambuknya dengan sebatang ranting duri. Kedua binatang itu berdenger dan kabur sekeras2nya. Demikianlah, sekali lagi si nona mengatur siasat untuk memperdayai pengejar2 yang mungkin dikirim oleh kakaknya. Dengan hilangnya tunggangan, perjalanan makin sukar dilakukan. Tapi nona Tio tidak mau memikir panjang2. ia mendahulukan apa yg dianggapnya paling penting. Untuk menyelamatkan diri ia haru lebih dahulu menenggelamkan perahu.”

Dengan saling memapah, mereka mendekati pintu. Diatas pintu itu terdapat sebuah papan dengan huruf2 yang berbunyi, “Tiong gak Sin oio.” (Kelenteng Malaikat Tiong gak)

Tio Beng segera mengetuk2 pintu. Sesudah menunggu lama belum juga ada jawaban, si nona mengetuk lagi. Selang beberapa saat, dari dalam terdengar bentakan, “Siapa? Manusia atau setan?” dalam suara itu terdapat lweekang sehingga sudah dapat dipastikan, bahwa yg bicara adalah seorang Rimba Persilatan. Boe Kie kaget dan menarik si nona.

Tiba2 terdengar suara “kreeeyot” dan daun pintu itu yg rupanya jarang dibuka lantas saja terpentang. Diambang pintu berdiri seorang tapi karena waktu itu cuaca mulai gelap dan dia berdiri membelakangi sinar tenar terang, maka Boe Kie dan Tio Beng tidak bisa melihat mukanya. Tapi dia seorang pendeta, sebab kepalanya gundul dan mengenakan pakaian hwee-shio.

“Kami berdua kakak beradik,” kata Boe Kie. “Ditengah jalan kamu bertemu dengan perampok dan mendapat luka. Kami mohon bermalam disini dan kamu percaya Taysoe suka menaruh belas kasihan.”

Pendeta itu mengeluarkan suara dihidung.

“Huh… tidak!” sahutnya. “Disini bukan penginapan.” Sehabis berkata begitu, tangannya bergerak untuk menutup pintu.

“Taysoe, tahan dulu!” kata Tio Beng. “Kata orang, siapa yg membantu orang, membantu diri sendiri. Dengan menolong kamu, mungkin Taysoe mendapat juga kebaikannya.”

“Kebaikan apa?” tanyanya dengan aseran.

Si nona segera membuka anting2nya yg tertata mutiara dan meyerahkannya kepada pendeta itu.

Melihat mutiara yang bersinar terang, untuk sejenak si pendeta mengawasi kedua tamunya dengan mata tajam. Akhirnya ia berkata, “Baiklah! Ya … membantu orang, membantu diri sendiri.”

Dengan memapah Boe Kie, Tio Beng segera bertindak masuk. Si pendeta membawa merea melewati ruang sembahyang dan sebuah perkarangan dan akhirnya berhenti disebuah kamar samping yang terletak dibagian timur.

“Kalian boleh tidur disini,” katanya.

Kamar ini gelap gulita. Dengan meraba2 ranjang, Tio Beng hanya mendapat selembar kasur rumput.

Mendadak terdengar suara sangat nyaring. “Hek Soetee, siapa?”

“Dua tamu yg numpang mengindap,” jawabnya si pendeta yang lantas saja bertindak untuk berlalu.

“Taysoe,” kata Tio Beng, “Bolehkan kami minta dua mangkok nasi dan sedikit makanannya?”

“Tidak ada nasi!” bentaknya, dan terus berlalu.

Si nona mendongkol bukan main. “Kurang ajar!” katanya, “Boe Kie koko, kau tentu lapar. Kita harus berusaha untuk mendapat makanan.”

Diluar kamar sekonyong2 terdengar suara tindakan yang ramai. Sinar api berkelebat dan pintu didorong orang. Dua orang pendeta mengangkat Ciaktay (tempat menancap lilin) tinggi2. dengan sekelebatan Boe Kie sudah tahu, bahwa yang datang berjumlah delapan orang ada yg alisnya tebal matanya melotot. Ada yang otot2 mukanya menonjol keluar. Semua beroman bengis dan kelihatannya semua bukan orang baik2.

“Keluarkan semua harta bendamu!” bentak seorang pendeta tua.

“Perlu apa?” tanya Tio Beng.

“Karena berjodoh kalian datang disini dan secara kebetulan kami ingin mengadakan sembahyang besar serta memperbaiki kelenteng kami yang sudah tua,” kata si pendeta. “Maka itu kami minta kalian suka mengeluarkan emas, perak dan lain2 barang berharga dan menyumbangkannya kepada kami. Apabila kalian berlaku pelit dan pousat sampai jadi gusar kalian berabe sekali.”

“Ah! Itulah perbuatan perampok!” kata si nona dengan gusar.

“Maaf! Maaf!” kata si pendeta sambil menyeringai. “Urusan perampok membunuh dan membakar memang perkerjaan kami. Karena didesak Mo Kauw, kami terpaksa mencukur rambut untuk mengelakan bencana. Kalian berdua berjodoh dengan kami. Kambing gemuk datang sendiri! Ha! Ha! Sungguh kejadian yg sukar terjadi lagi!”

Boe Kie dan Tio Beng terkesiap. Celaka sungguh! Mereka masuk disarang perampok.

“Lie siecoe jangan takut,” kata seorang pendeta lain sambil tertawa terhehe hehe.

“Kami berdelapan kebetulan tak punya nyonya. Kau begitu cantik! Sungguh kebetulan! He he he he…”

Tio Beng merogoh saku dan mengeluarkan delapan potong emas serta serenceng mutiara yg lalu ditaruh diatas meja. “Inilah semua milikku,” katanya. “Kami berdua adalah orang2 Rimba Persilatan juga. Kami harap dengan memandang persahabatan, kalian tak menganggu kami lagi.”

“Bagus!” kata si pendeta tua. “Apakah aku bisa tahu nama partai kalian?”

“Kami murid Siauw Lim Pay,” jawabnya. Siauw Lim Pay adalah sebuat partai besar dan dengan menyebutkan partai ebsar itu Tio Beng mengharap urusan akan jadi beres.

Tapi diluar dugaan si tua lantas saja tertawa terbahak2. “Murid Siauw Lim Pay?” Ia menegas denga suara menyeramkan. “Sungguh kebetulan! Kami tidak bisa melawan hweeshio2 Siauw Lim Pay dan sekarang mendapat kesempatan untuk melampiaskan ganjelan kamu terhadap kamu.” Seraya berkata begitu, ia mengangsurkan tangannya untuk menarik Tio Beng. Si nona mundur, sehingga tangan itu menjambret angin.

Boe Kie mengerti, bahwa baya sudah sangat mengancam. Ia dan Tio Beng terluka berat dan tidak bisa melawan. Selama beberapa tahun ia merobohkan banyak jago Rimba Persilatan yg kenamaan. Apa sekarang ia mesti binasa didalam tangan kawanan penjahat kecil? Tidak! Biar bagaimana pun juga, ia mesti melawan. “Beng Moay,” bisiknya “Kau sembunyi dibelakang ku. Aku masih bisa bereskan mereka.”

Nona Tio sangat pintar. Tapi sekarang ia mati akal. “Siapa sebenarnya kamu semua?”

“Kami adalah murid2 yang diusir dari Siauw Lim Sie,” jawab si perampok tua.

“Kalau bertemu dengan anggota lain partai, kami masih bisa menaruh belas kasihan. Tapi terhadap orang Siauw Lim sie… huh.. huh!… semuanya mesti dibunuh.”

“Bagus!” bentak Boe Kie. “Kamu pasti murid2 pendeta jahat Goan Tin. Bukan begitu?”

Si perampok tua (Red: aslinya di bilang si nona) mengeluarkan seruan kage. “Heran! Bagaimana kau tahu?” tanyanya.

“Kami justru mau ke Siauw lim sie.” Tio Beng mendahului. “Kami ingin menemui Tan Yoe Liang toako untuk mengangkat Gian Tin Taysoe menjadi Hong thio.” (Hong Thio kepala sebuah kelenteng).

“Bagus!” seru si tua. “Sang Budha memang sangat murah hati.”

“Ya.” Menyambung si nona, “kita semua harus bersatu padu untuk mencapai tujuanyg besar.”

Semua penjahat itu tiba2 tertawa terbahak2.

Kedelapan penjahat itu memang benar konco2 nya Tan Yoe Liang. Tan Yoe Liang lah yg membawa mereka ke Gian tin. Mereka berasal dari Rimba Hijau (kalangan perampok) dan memiliki ilmu yg cukup tinggi. Sesudah mendapat petunjuk2 Goan tin kepandaian mereka bertambah tinggi. Selama beberapa tahun memang Goan tin berusaha keras untuk merebut kedudukan hong thio dan mencari murid dari berbagai tempat. Untung juga Siauw lim sie mempunyai peraturan yang keras dan setiap murid baru selalu diselidiki asal usulnya, sehingga Goan tin tiada berhasil dalam usaha mengumpulkan orang2nya didalam kuil itu. Belakangan Tan Yoe Liang mengatur lain siasat. Ia mencari orang2 gagah dan penjahat2 dalam dunia Kang ouw dan mereka mengangkat Goan tin sebagai guru diluar Siauw Lim sie. Mereka disiapkan sekitar Siauw Lim Sie dan menunggu saat yg baik untuk turun tangan.

Goan tin adalah ahli silat kelas utama pada jaman itu. Mendengar nama Siauw Lim sie yang cemerlang dan melihat kepandaian pendeta itu banyak orang Kang ouw lari dari partainya sendiri dan rela menjadi muridnya, untuk menjadi murid Goan tin. Perkataan “Sang Budha memang sangat murah hati” sebenarnya kata2 rahasia dari persekutuan Goan tin dan harus dijawab dengan “Kembang mekar menemui Sang Budha.” Tio Beng sangat pintar. Ia bisa lantas menebak, bahwa Goan Tin ingin merebut kedudukan hong thio, tapi ia tidak tahu, bahwa perkataan yg diucapkan oleh si tua adalah kata2 rahasia.

“Hoe toako,” kata seorang yg katai gemuk, “Bocah perempuan itu mengatakan guru kita mau diangkat sebagai Hong thio. Darimana ia dengar warta itu? Hal ini hal besar. Kitaharus menyelidiki seterang2nya.”

Sementara itu, begitu mendenar nada tertawa kedelapan penjahat itu, Boe Kie sudah tahu bahwa ada sesuatu yg tidak benar dan bahaya yg lebih besar sedang mengancam. Sesudah terluka, meskipun Cin khie (hawa tulen) didalam tubuhnya tidak menjadi musnah, hawa itu suka dikumpulkan dan digunakan untuk berkelahi. Dalam menghadapi bencana, mati2an ia berusaha untuk mengumpulkan hawa tersebut. Tapi ia gagal. Hawa itu berkumpul dalam kelompok2 kecil disana sini dalam tubuhnya, tapi tidak bisa menjadi satu dan mengalir disepanjang jalan darah.

Tiba2 si penjahat tua menjambret Tio Beng. Sebab tak kuat menangkis, si nona hanya mundur keranjang Boe Kie sendiri tetap bersila sambil memejamkan kedua matanya. Ia terus mengerahkan pernapasannya dengan harapan sebagian tenaganya akan pulih kembali.

Melihat Boe Kie bersila dengan tenang di tengah ranjang, penjahat yg bertubuh katai gemuk meluap darahnya. “Bocah, kau sungguh sombong!” bentaknya sambil mengerahkan seluruh lweekangnya, sehingga tulang2nya berbunyi perotok2 dan kemudian, ia meninju Lan thiong hiat di dada Boe Kie sekuat2nya. “Buk!” Sehabis meninju lengan kanannya terkulai, matanya melotot dan ia tidak bergerak lagi. Si pendeta tua terkejut dan mengangaurkan tangan untuk menarik kawai itu. Tapi begitu tersentuh, si katai gemuk roboh — mati!

Kawanan penjahat itu kaget tercampur gusar. Mereka menduga Boe Kie memiliki ilmu siluman.

Mengapa penjahat itu binasa seketika? Sebagaimana telah dikatakan, sesudah terluka Cin Khie (hawa tulen) dalam tubuh Boe Kie sukar berkumpul menjadi satu dan tidak bisa digunakan untuk melukai musuh. Tapi biarpun begitu, Kioe yang sin Kang didalam badannya tidak menjadi musnah. Penjahat itu memukul dengan sepenuh tenaganya. Kioe yang Sin kang Boe Kie waktu itu memang tidak cukup untuk menghantam musuh, tapi lebih dari cukup untuk melindungi dirinya sendiri. Begitu terpukul, tenaga Kioe yang segera menolah dan memulangkan tenaga pukulan itu. Disamping itu terjadi pula kejadian yg diluar dugaan. Karena terpukul hawa Kioe yang dalam Boe Kie terbangun pula, sehingga tenaga menolak ditambah lagi dengan tenaga lain. Itulah sebabnya mengapa si penjahat lantas saja binasa.

Pendeta tua itu seorang yg berpengalaman luas. Ia tahu bahwa Boe Kie mengugnakan ilmu meminjam tenaga, memukul tenaga. Tapi ia tidak jadi gentar, sebab ia percaya akan kelihaiannya Tiat see ciang nya (Tangan Pasir Besi). Sambil menarik napas dalam2, ia segera memukul dengan kedua tangannya.

Dalam Rimba Persilatan, Tiat See Ciang si tua cukup terkenal dan ia mendapat julukan Sin see Pa Thian Chioe (Tangan pasir malaikat yg bisa memecahkan langit)

Waktu kawannya yg gemuk memukul dada Boe Kie ia menyaksikan terang2an denga kedua matanya sendiri. Ia menduga bahwa didada pemuda itu tersimpat senjata beracun. Maka itu ia sekarang tujukan pukulannya kepada lengan Boe Kie yang berada di luar tangan baju. Ia ingin mematahkan lengan itu lebih dahulu dan kemudian barulah membinasakan pemuda itu. Tapi begitu memukul tubuh si tua terbang keluar dari jendel yg terbukan menjadi hancur dan kepalanya membentur batang pohon, sehingga ia binasa seketika itu juga.

Ketiga kawannya, yg masih belum tahu nasib si tua, lantas saja menyerang dengan berbareng. Yang satu meninju Tay yang hiat yang satu mencoba mengorek biji mata dengan pukulan Siang liong Chio coe (Sepasang naga merebut mutiara) sedang yg ketig menendang tan tian (dibawah pusar). Dengan menundukkan kepala Boe Kie menggores dua jari tangan yang mau mengorek biji matanya sehingga pukulan itu mampir pada dahinya dan sambil menahan napas, ia menerima dua pukulan yg lain.

Berbareng dengan suara “buk buk!” terdengar jeritan menyayat hati dan ketiga penjahat itu melayang jiwanya. Penjahat yg menendang tna sian mati dengan tulang kaki patah sebab tendangan terlalu keras. Dilain pihak dengan tertendangnnya tan tian chin khie dalam tubuh Boe Kie bergolak hebat dan tiba2 ia mersa jalan2 darah disebagian tubuhnya terbuka dengan mendadak. Ia girang dan berkata didalam hati. “Sayang sungguh pendeta jahat itu mampus terlalu cepat. Kalau ia bisa menendang beberapa kali lagi, keadaan akan lebih banyak mendingan. Diluhat begini dalam sepuluh hari tenagaku akan pulih kembali.”

Diantara delapan sudha lma orang melayang jiwanya. Taku usdah dikatakan lagi sisanya tiga orang ketakutan setengah mati dan kabur lintang pukang. Setibanya diluar mereka melihat mayat si tua yg menggeletak di bawah pohon dengan kepala hancur. Mereka kabur terus sampai diluar pintu kelenteng. Sebab tak diubar mereka berenti dan berdamai. “Kurasa bocah itu mempunya ilmu siluman,” kata yang satu.

“Bukan.. bukan ilmu siluman,” bantah yang lain. “Dia tentu memiliki lweekang yg tinggi yg digunakan untuk memukul balik serangan saudara kita.”

“Benar,” meyambung yg ketiga. “Biar bagaimanapun juga kita harus membalas sakit hati.”

Biarpun penjahat kejam, mereka ternyata masih mempunyai “gie khie” (rasa setia kawan) dari kalangan Kong ouw. Mereka berdelapan telah mengangkat saudara denga bersumpah untu sama2 senang dan sama2 susah. Sesudah berdamai agak beberapa saat, mereka bertekad bulat untuk membalas sakit hati. Tapi mereka mengerti, bahwa mereka bukan tandingan Boe Kie.

“Ah! Tak salah!” seorang tiba2 berseru. “Bocah itu tentu mendapat luka berat. Kalau tidak mengapa dia tidak mengubar?”

Kedua konconya jadi girang. “Benar,” kata yang satu. “Rupa2nya dia tidak bisa berjalan. Kelima saudara kita menyerang denga kai tangan dan dia memukul balik dengan lweekang. Sekarang kita serang dia dengan senjata. Aku tidak percaya badannya, badannya tidak mempan senjata.”

Untuk segera bertindak. Satu membawa tombak satu menentang golok, saut mencekal pedang dan mereka lantas masuk lagi kedalam kelenteng.

Mereka mendapat kenyataan, bahwa kamar disebelah timur sunyi tidk terdengar suara apapun juga. Indap2 merek mendekati dan mengintip dari jendela yang hancur. Ternyata Boe Kie masih tetap duduk bersila dan ia kelihatnnya lelah sekali. Tio Beng duduk disampingnya sambil menyusuti keringat.

Ketiga penjahat itu saling melirih. Tapi tak ada satupun yang berani menerjang lebih dahulu.

Selang beberapa saat, yang satu tidak sabar lagi. “Bocah bau!” teriaknya. “Akali kau nayari2 keluar!”

“Bocah tak tau malu!”

Menyambung yang lain. “Kalau kau benar2 berkepandaian tinggi, jangan gunakan ilmu siluman!”

Boe Kie tidak meladeni. Makin lama ketiga penjahat itu makin berani sehingga belakangan mereka mencaci dangan perkataan2 kotor. Tapi Boe Kie dan Tio Beng tidak marah. Sebaliknya dari bergusar, mereka bersyukur, bahwa sesudah kabur ketiga penjahat itu kembali lagi. Tempat itu tak jauh dari Siauw Lim Sie dan tadi waktu mereka lari, Boe Kie dan Tio Beng merasa khawatir kalau2 mereka pergi ke Siauw Lim Sie dan melaporkan kejadian itu kepada Seng Koen. Apabila Seng Koen atau konconya datang, bencana suka di hindarkan.

Sementara itu, sesudah diserang beberapa kali Kioe yang Ci Khie dibeberapa bagian tubuh Boe Kie yang tadinya terus membuyar, sekarang sedikit banyak bisa berkumpul. Ia masih belum bisa menggunakan lweekang untuk melukai musuh, tapi ia sekarang sudah tidak begitu bingung seperti semula.

Tiba2 terdengar suara, “brak!” dan pintu berbareng ujung tombak ygn berkuncir merah muncul di ambang pintu.

“Celaka!” seru Tio Beng seraya menyodor kan pisau yang dipegangnnya kepada Boe Kie. Boe Kie menggelengkan kepala. Dia tidak menyambut pisu itu sebab ia tahu, ia tak punya tenaga untuk menggunakannya.

Dilain detik sesudah membuat sebuah lingkaran bagaikan kilat ujung tombak menyambar kepada Boe Kie. Pada saat yg sangat berbahaya tapa berpikir lagi, Tio Beng merogo saku Boe Kie dan mengeluarkan sebatang Seng hwa leng, yang lalu ditaruh di dada Boe Kie, ditempat yang sedang disambar oleh mata tombak.

“Tak!” mata tombak mampir tepat pada Seng hwee leng. Pukulan itu merangsang Kioe yang sin kang dalam tubuh Boe Kie, dan tenaga itu lantas balik memukul. “Aduh!” si pendeta yang menikam mengeluarkan teriakan hebat, karena gagang tombak ambals didadanya.

Sebelum dia roboh seorang kawanan sudah membacok batok kepala Boe Kie dengan goloknya sebab kuatir sebatang Seng hwee leng tidak cukup kuat denga kedua tangannya nona Tio menaruh dua batang leng diatas kepala Boe Kie, sekali lagi terdengar suara “tak!”. Golok itu terpental dan menghantam janggut majikannya yg lantas saja menjadi hancur. Kali ini, sebab tidak keburu menarik palang tangan kirinya, ujung kelingking nona Tio tepapas putus oleh mata golok yang terpental. Dalam keadaan tegang, si nona sendiri tidak merasai luka itu.

Pendeta ketiga yg masuk dengan membawa pedang, terbang semangatnya ketika lihat dua kawan nya menggeletak tanpa bernyawa. Sambil berteriak keras, ia kabur.

“Dia tidak bolek di biarkan lari!” seru Tio Beng seraya menimpuk dengan sebatang Seng hwee leng. Meskipun ia menimpuk dengan seantero tenaga, senjata itu jatuh di tengah jalan sebab tenaganya tidak cukup.

Boe Kie terkejut. Ia memeluk si nona dan berbisik. “Timpuk lagi!” ia mengempos cin khie yg berkumpul didadanya dan mengirimnya kedalam tubuh si nona.

Tio beng menimpuk lagi deng Seng hwee leng yg dicekal ditangan kiri. Dua tindak lagi penjahat itu akan bisa menyelamatkan diri dibelakang tembok. Tapi dia tidak keburu sebab Seng hwee leng menyambar bagaikan kilat, amblas dipunggungnya menembus keluar didadanya.

Sesudah menggunakan tenaga yang penghabisan Boe Kie dan Tio Beng pingsan bersama sama dan dengan salik peluk mereka lantas ke bawah ranjang. Dalam kamar itu menggeletak enam sosokmayat, diluar kamar dua mayat lagi, sedang Boe Kie dan Tio Beng sendiri berbaring diantara kobakan darah. Sinar rembulan menerangi kelenteng itu yg sunyi bagaikan kuburan.

Sesudah lewat beberapa lama, Tio Beng tersadar. Ia memegang hidung Boe Kie dan mendapat kenyataan, bahwa pemuda itu masih bernapas dan jalan napasnya tenang. Perlahan2 ia berbangkit dan berusaha untuk mengangkat Boe Kie ke atas ranjang, tapi tenaga nya tak cukup, sehingga ia hanya bisa meluruskan tubuh Boe Kie dan kemudian mereka lantas napas tersenggal2 ia berduduk disamping kecintaannya.

Beberapa saat kemudian, Boe Kie membuka matanya. “Beng moay,” katanya. “Kau.. kau berada disini?”

Si nona tertawa. Mereka saling mengawasi dan mereka tertawa bersama2. muka mereka belepotan darah dan keadaan dalam kamar itu sesudah terlolos dari bencana bersama2 didalam hati mereka merasakan semacam kebahagiaan yang sukar dilukiskan.

Dalam seluruh pertempuran, mereka membinasakan tujuh pendeta tanpa mengeluarkan tenaga sendiri dan menggunakan ilmu meminjam tenaga memukul tenaga. Tapi dalam mengambil jiwa penjahat yg terakhir, mereka telah menggunakan seantero kekuatan dan sekarang mereka tak punya tenaga lagi. Meeka terpaksa rebah diantara mayat2 itu. Dengan tangan gemetaran Tio Beng membalut kelingkingnya yg terpapas golok untuk menghentikan darah. Sesudah itu bersama Boe Kie ia tertidur pulas.

Pada keesokan tengah hari barulah mereka tersadar. Sesudah bersamedhi kira2 setengah jam, Boe Kie merasa badannya segar, sebab lapar, perlahan2 ia pergi ke dapur, dimana ia dapatkan nasi yang separuh hangus didalam kuali. Sambil tersenyum ia makan dua suap kemudia mengisinya disebuah mangkok yang lalu dibawa ke kamar dan diserahkan kepada Tio Beng.

“Bagaimana kalau keadaan sekarang dibanding makan minum dirumah makan kecil dikota saja?” kata Tio Beng.

“Dulu lain, sekarang lain!” jawabnya sambil tertawa.

“Ya,” kata pula si nona. “Sekarang kita menderita dilahir tapi apa yang dirasakan didalam hati kita, hanya diketahui oleh langit, oleh bumi, olehmu dan olehku sendiri. Orang luar tak pelu tahu!” Mereka tertawa dan lalu makan bersama2 dengan hanya menggunakan tangan. Yang dimakan mereka hanyalah nasi separuh hangus. Tapi bagi mereka lezatnya nasi itu melebihi santapan yang terlezat didalam dunia.

Belum habis mereka makan, ditempat jauh sekonyong2 terdengar suara tindakan kuda. Tak kepalang kagetnya Boe Kie dan Tio Beng. Mangkok nasi yg dipegang si nona jatuh dan hancur dilantai. Meeka saling mengawasi dengan hati berdebar2.

Tak lama kemudian kedua ekor kuda berhenti dihadapan pintu kelenteng dan pintu di ketuk orang. “Siangkoan Sam ko!” teriak seorang. “Buka pintu! Aku Cia Loo Ngo.”

“Bagaimana sekarang?” bisik Boe Kie.

“Mereka akan segera merusak pinth” kata Tio Beng. “Kita berlagak mati.” Boe Kie menganggul dan mereka lalu rebah tengkurep.

Beberapa saat kemudian terdengar suara kedubrakan dan pintu terpental karena dorongan tenaga yg sangat kuat.

“Kau rebah dipinggir pintu cegat jalan mundur mereka!” bisik si nona.

Boe Kie lalu merangkak kepintu kamar.

Di luar terdengar seruan kaget dari dua orang yang baru masuk, disusul dengan suara menghunus senjata. Rupa2nya mereka sudah lihat mayat yang menggeletak diluar.

“Hati2!” kata seorang. “Jangan kena di bokong!”

“Sahabat!” teriak yang lain. “Perlu apa kau sembunyi2? Kalau nualimu besar, keluarlah!” Suara orang itu nyaring dan bertenaga. Tak bisa salah lagi dialah yang mendobrak pintu. Dia teriak menantang berulang2 tapi tetap tak dapat jawaban.

“Bisa jadi penjahatnya adalah pergi,” kata kawannya.

“Mari kita geledah,” kata orang yg suaranya nyaring, yang tadi memperkenalkan diri sebagai Cin Lo Ngo. “Sioe Lao tee, kau memeriksa disebelah timur, aku dibarat.”

Orang she Soe itu bernyali kecil, “Kau kuatir musuh berjumlah besar,” katanya dengan nada jeri. “Lebih baik kita jalan berdua.”

Sebelum Cin Loo Ngo menyahut, dia mengeluarkan seruan, tertahan, “Ini!” katanya sambil menuding kamar sebelah timur. “Dikamar itu kelihatannya masih ada lain mayat.”

Mereka menghampiri dan bulu mereka bangun semua. “Siapa… siapa yg binasakan mereka?” kata Cin Loo Ngo dengan suara gemetar.

“Cin Loo Ngo mari kita pulang! Kita harus beritahukan Suhu.”

“Suhu telah memesan, kita harus buru2. Surat undangan harus disampaikan secepat mungkin supaya tamu2 bisa hadir dalam To Say Eng Hiong Hwee yang akan diadakan pada harian Toan ngo. Kalau kita terlambat, kita bisa dihukum. (Toa say Eng hiong hwee – Pertemuan orang2 gagah dalam upacara membinasakan singa Toan ngo Bulan Lima tanggal Lima menurut perhitungan Imlet atau hari perayaan Pehcun).

Mendengar Toan say Eng hiong hwee, alis Boe Kie berkerut. Tiba2 darahnya bergolak kaget, girang dan gusar bercampur aduk jadi satu. Ayah angkatnya begelar Kim Mo Say Ong atau Raja singa bulu emas dan To say eng hiong hwee tentu dimaksudkan upacara membunuh ayah angkatnya. “Dilihat begini sebelum Toan ngo jiwa Giehoe takkan diganggu,” pikirnya. “Hai … kedudukanku sebagai pemimpin Beng Kauw tapi aku tak mampu melindungi Gie hoe, hingga di mesti menderita, mesti menerima segala rupa hinaan. Aku sungguh seorang anak yg tidak berbakti.” Makin lama ia jadi makin gusar. Kalau menuruti kemauannya, ia ingin lantas membinasakan kedua orang itu. Tapi sebab tenaganya belum pulih, jalan satu2nya adalah menunggu sampai mereka masuk kamar dan kemudian membinasakan dengan ilmu ‘Meminjam tenaga, memukul tenaga’.

Tapi kedua orang itu tidak berani lantas masuk. Mereka berdiri diluar kamar dan berdamai.

“Begini saja,” kata Cin Loo Ngo, “Kita berdua membagi tugas. Aku mengantarkan surat undanagn dan kau kembali ke Siauw Lim Sie untuk memberi laporan kepada suhu.”

Tapi si orang she Sioe kuatir kalau ditengah jalan ia bertemu dengan musuh. Ia bersangsi dan tidak mengiakan usul kawannya.

Cin Loo Ngo mendongkol, “Kalau kau takut kau boleh pilih,” katanya. “Kalau kau mau mengantarkan surat undangan, bolehlah.”

Sesudah berpikir sejenak, si orang she Soe menganggap, bahwa pulang ke Siauw Lie Sie banyak selamat. Maka itu, ia lantas saja berkata, “Aku turut perkataan Cin Loo Ngo. Biarlah aku pulang dan melaporkan kejadian ini kepada suhu.”

Sesudah mencapai persetujuan, mereka segera bertindak untuk berlalu.

Mendadak Tio Beng menggerakkan tubuhnya dan merintih.

Kedua orang terkejut. Mereka menghentikan tindakan dan menengok. Sekali lagi nona Tio menggerakkan badannya. Kali ini kedua orang itu melihat tegas bahwa yg tubuhnya bergerak adalah seorang wanita.

“Siapa perempuan itu?” tanya Cin Loo Ngo seraya menghampiri. Si orang she Sioe juga mengikuti masuk ke kamar. Biarpun nyalinya kecil ia tak takut sebab Tio Beng seorang wanita dan seorang wanita yg terluka berat. Ia membungkuk untuk membalikkan tubuh si nona.

Tiba2 Boe Kie batuk2, sehingga si orang she Sioe terkesiap dan mengurungkan niatnya. Sesudah batuk2, Boe Kie duduk sambil memejamkan kedua matanya.

Melihat Boe Kie yg mukanya berlepotan darah, kedua orang itu terbang semangatnya.

“Celaka!” teriak si orang she Sioe, “Mayat bangun lagi!”

“Setan!” bentak Cin Loo Ngo sesudah menentramkan hatinya. “Aku tak takut!” Ia mengayun golok dan membacok batok kepala Boe Kie.

Ketika itu Boe Kie sudah siap sedia dengan kedua Seng hwee leng. Begitu musuh membacok, ia menaruh kedua leng itu diatas kepalanya. “Tak” golok terpental memukul Cin Loo Ngo yg binasa seketika itu jg.

Si orang she Sioe, yang tangannya mencekal golok itu terlepas dari tangannya.

“Kalau kau punya nyali, bacoklah aku!” tantang Boe Kie. “Tinjulah aku, kalau kau berani!”

“Siawjin… siauwjin tak berani,” jawabnya.

“Coba kau tendang aku!”

“Siauwjin… siauwjin.. lebih2 tak berani.”

“Tolol kau! Lekas bacok aku!”

Orang she Sioe itu makin ketakutan. Tiba2 ia berlutut dan berkata sambil manggut2an kepalanya. “Ampun loya… ampun…”

Tio Beng sangat mendongkol. Ia mengeluarkan suara dihidung dan berkata, “Aku tak nyana didalam Rimba Persilatan ada manusia yg begitu rendah seperti kau!”

“Ya… ya… siauwjin manusia rendah…….,” katanya.

Thio Boe Kie jadi kewalahan. Mendadak ia dapat serupa pikiran. “Kemari kau!” bentaknya.

Dia lantas menghampiri dengan merangkak.

Boe Kie segera menempelkan kedua jempol tangannya di biji mata orang itu dan membentak. “Aku korek biji matamu!”

Dalam menghadapi bahay, tanpa merasa si orang she Sioe mendorong dengan kedua tangannya. Inilah yang diinginkan oleh Boe Kie. Dengan meminjam tenaga itu, ia menotok jalan darah Sin Hong dan Po Long di bawah tetek orang itu yang badannya lantas saja kesemutan dan tak bertenaga lagi. “Looya… ampun…” dia sesambat.

Tio Beng tahu bahwa totokan Boe Kie hanya bisa menahan orang itu untuk sementara waktu. Dalam waktu kira-kira setengah jam “hiat” yang tertotok itu akan terbuka lagi dengan sendirinya. Tapi iapun tak ingin mengambil jiwa orang, terutama sebab ia memerlukan banyak keterangan dari orang itu. Sesudah memikir sejenak, ia berkata, “Kau sudah ditotok pada hiat yang membinasakan. Coba kau tarik napas dalam-dalam.”

Orang itu menurut.

“Nah, bukankah dadamu di sebelah kiri sangat sakit?”

Si orang she Sioe mengangguk dengan rasa takut yang lebih besar, padahal rasa sakit itu adalah gejala biasa, sebagai akibat dari totokan yang dilakukan Boe Kie. Ia lantas saja memohon mohon kepada Tio Beng supaya jiwanya ditolong.

“Untuk menolong jiwamu aku harus menggunakan jarum emas dalam waktu setengah bulan,” kata Tio Beng.

“Tolong Kouwnio!” sesambat si orang she Sioe. “Apabila Kouwnio sudi menolong Siauwjin rela menjadi kerbau atau kudanya Kouwnio.”

Si nona tertawa. “Huh! Baru pertama aku lihat orang Kang ouw yang semacam kau,” katanya. “Baiklah. Ambil sepotong batu!”

“Baik… baik… jawabnya tergesa gesa dan dengan menahan sakit dan tindakan limbung ia berjalan keluar untuk mencari apa yang diminta Tio Beng.

“Untuk apa?” bisik Boe Kie.

“Kau lihat saja,” sahutnya sambil tersenyum.

Beberapa saat kemudian, si orang she Sioe kembali dan sambil membungkuk menyerahkan sepotong batu kepada Tio Beng.

Nona Tio mencabut tusuk kundainya yang terbuat daripada emas dan memasangnya di Coat poen hiat, di pundak orang she Sioe itu. “Aku akan membuka jalan darahnya dengan tusuk kundai ini, supaya hawa Sie hiat (“hiat” mati) tidak naik ke atas dan masuk ke dalam otakmu. Tapi aku tak tahu, apa Looya itu suka mengampuni jiwamu atau tidak.”
Mendengar keterangan itu, si orang she Sioe lantas saja mengawasi Boe Kie dengan sorot mata minta dikasihani. Boe Kie mengangguk dan dia kegirangan. “Looya suka memberi ampun!” katanya. Kouwnio, hayolah.”

“Hm!…” si nona mengeluarkan suara di hidung. “Apa kau takut sakit?”

“Tidak! Siauwjin hanya takut mati, tidak takut sakit.”

“Kalau begitu, panteklah tusuk kundaiku dengan batu ini.”

Tanpa berpikir lagi, ia memantek tusuk kundai itu yang lantas saja masuk di daging pundaknya, tepat di Coat poen hiat.

Sebaliknya dari sakit, ia merasa nyaman sehingga ia makin percaya omongannya Tio Beng dan menghaturkan terima kasih berulang-ulang.

Beberapa saat kemudian, si nona menyuruh mencabut tusuk kundai itu dan mengulangi penusukkan pada Hoen boen hiat, Kouw pong hiat dan beberapa “hiat” lain.

Boe Kie tersenyum dan berkata. “Sudah! Sudah cukup!”

Penusukan beberapa “hiat” itu adalah tindakan Tio Beng untuk berjaga jaga menghadapi pengkhianatan. Selama sepuluh hari, jika orang she Sioe itu berlari-lari dalam jarak kira-kira seratus lie ia akan roboh dan binasa. Menurut perhitungan nona Tio, apabila ia ingin melaporkan kejadian itu kepada Seng Koen, begitu keluar dari kelenteng, ia tentu akan lari secepat mungkin sebab takut diuber. Dan larinya itu berarti kebinasaannya.

“Sekarang ambil dua paso air untuk kami cuci muka dan sesudah itu masak nasi,” kata si nona. “Kalau sudah bosan hidup, tak ada halangan kau menaruh racun di nasi, supaya kita bertiga bisa mampus bersama-sama.”

“Siauwjin tak berani, siauwjin pasti tidak berani…” jawabnya.

Demikianlah, mulai hari itu Boe Kie dan Tio Beng mempunyai seorang pelayan.

Atas pertanyaan Tio Beng, ia menerangkan bahwa ia she Sioe, bernama Lam san. Ia juga dikenal dengan julukan Ban sioe Boe Kiang.

Julukan itu berarti Usia Abadi, hanya merupakan suatu ejekan. Ia berasal dari kalangan Rimba Hijau dan ia mengabdi kepada Goan tin (Seng Koen) sebab ia tolol, otaknya tumpul dan kepandaiannya cetek. Goan Tin hanya menggunakannya sebagai pesuruh dan tidak pernah memberi pelajaran silat kepadanya. Paling belakang ia mendapat perintah untuk mengantarkan surat surat undangan dan akhirnya bertemu Boe Kie dan Tio Beng.

Dalam peranan sebagai pelayan, Sioe Lam San rajin dan mendengar kata. Dialah yang mengubur mayat-mayat. Biarpun bodoh, dia memiliki semacam ilmu yang cukup tinggi yaitu ilmu memasak. Sayur sayur yang dibuatnya sangat lezat dan bernilai tinggi, sehingga kedua “majikannya” jadi sangat girang.

Perlahan-lahan Boe Kie dan Tio Beng menanyakan soal To say Eng hiong hwee. Sioe Lam San memberi segala keterangan yang ia tahu, hanya sayang, ia tahu sangat sedikit. Ia hanya mendengar bahwa Hong thio Siauw lim sie, Kong boen Taysoe telah mengangkat Goan Tin sebagai pelaksana pertemuan besar yang bakal diadakan dan bahwa yang mengundang adalah Kong boen dan Kong tie Seng ceng. Orang2 gagah dari berbagai partai dan golongan diundang untuk berkumpul di Siauw lim sie pada hari perayaan Toan ngo.

Boe Kie lalu minta surat surat undangan yang dibawa olehnya. Ternyata surat surat itu dialamatkan Houw tin goe, Kouw siong coe dan lain-lain kiam kek (ahli pedang) dari Tiam cong pay di In Lam. Jago jago pedang Tiam cong pay sudah lama dikenal dalam Rimba Persilatan. Tapi mereka selalu menyembunyikan diri di daerah In Lam dan tidak pernah bergaul dengan orang-orang gagah di wilayah Tionggoan. Bahwa sekarang Siauw lim pay telah mengundang juga mereka itu, dapatlah dibayangkan bahwa pertemuan yang bakal diadakan benar2 bukan pertemuan kecil. Siauw Lim pay diakui sebagai pemimpin Rimba Persilatan, dengan kedua Seng Ceng (pendeta suci) yang mengundang sendiri, maka orang-orang yang menerima undangan sedapat mungkin akan coba menghadiri pertemuan itu.

Bunyi undangan itu sangat singkat. “Kami mengundang (tuan) untuk berkumpul di kuil Siauw lim sie pada hari perayaan Toan ngo untuk minum arak dan bergembira ria bersama-sama orang-orang gagah di kolong langit.”

Dalam surat undangan itu sama sekali tidak disebut-sebut soal “To-say”. Mengapa Cin Loo Ngo mengatakan bahwa pertemuan itu adalah To-say Eng hiong hwee?” tanya Boe Kie.

“Thio ya tak tahu,” jawab Sioe Lam San dengan suara bangga. “Guruku telah menangkap seorang yang mempunyai nama sangat besar, yaitu Kim Mo Say Ong Cia Soen. Kali ini Siauw lim pay akan mendapat muka terang di hadapan para orang-orang gagah. Di hadapan mereka itu Siauw lim pay akan binasakan si Singa Bulu Emas, maka itu pertemuan itu dinamakan To say Eng hiong hwee.”

Boe Kie meluap darahnya, tapi sebisa bisa ia menahan sabar. “Apa kau pernah lihat Kim mo say ong?” tanyanya. “Bagaimana gurumu menangkap dia? Di mana adanya dia sekarang?”

“Kim mo say ong… huh huh.. lihay tiada bandingannya,” jawabnya. “Tingginya… dua kali tubuh Siauwjin. Yang lain boleh tak usah disebutkan. Matanya saja sudah sukar dilawan. Matanya berkeredepan dan kalau kita diawasi… huh… semangat kita lantas terbang!” Ia mendehem beberapa kali dan berkata pula. “Tujuh hari dan tujuh malam guruku bertempur dengan dia, belakangan Soehoe marah dan menggunakan Kim Liong Hok hauw kang. Sesudah menggunakan ilmu itu barulah Kim mo Say Ong dapat ditaklukkan. Sekarang dia dikurung di dalam gua batu di belakang kuil dan dirantai dengan delapan…”

“Diam!” bentak Boe Kie. “Jangan ngaco kalau kau masih sayang jiwamu! Kim mo say ong Cia Tayhiap buta matanya. Mana bisa matanya berkeredepan?”

Sioe lam San terkesiap. “Ya… ya… siauwjin tentu salah lihat,” jawabnya dengan ketakutan.

“Bilang sebenar-benarnya,” kata pula Boe Kie. “Apakah kau pernah bertemu dengan Cia Tayhiap atau tidak?”

Sioe lam San yang tadi hanya mengibul buru-buru menyahut. “Siauwjin tidak berani berdusta lagi. Siauwjin sebenarnya belum pernah lihat Cia Tayhiap. Siauwjin hanya dengar cerita itu dari saudara saudara seperguruan.”

Apa yang sangat ingin diketahui Boe Kie adalah tempat dikurungnya Cia Soen. Ia mendesak dan mendesak lagi, tapi Sioe Lam San tetap mengatakan tidak tahu. Boe Kie yakin, bahwa dia tidak mendusta. Rahasia besar yang tentu tidak akan dibocorkan kepada sembarang orang. Untung juga perayaan Toan-ngo masih dua bulan lebih, sehingga mereka mempunyai cukup waktu. Yang paling penting bagi mereka ialah mengobati luka dan beristirahat.

Sesudah berdiam sepuluh hari di kelenteng itu Boe Kie dan Tio Beng sembuh seluruhnya dan tenaga merekapun sudah pulih kembali. Hari itu Boe Kie lalu berdamai dengan Tio Beng cara bagaimana mereka harus menolong Cia Soen.

“Jalan yang paling baik adalah menotok “hiat mati” Sioe lam San dan kemudian mengirim dia ke Siauw lim sie untuk jadi mata-mata kita,” kata nona Tio. “Tapi orang itu terlalu tolol dan kalau rahasia sampai diendus Seng koen atau Tan Yoe Liang semua urusan dengan mereka selalu akan menjadi rusak. Begini saja. Kita berdua pergi ke kaki Siauw sit san dan coba menyelidiki. Tapi kita harus menyamar.”

“Menyamar bagaimana?” tanya Boe Kie.

“Apa menyamar jadi hweesio dan niekouw?”

“Fui! Bagus sungguh pikiranmu! Apa katanya orang kalau mereka lihat seorang hweesio berjalan bersama sama seorang niekouw?”

“Kalau begitu kita menyamar saja sebagai suami isteri dari pedusunan.”

Tio Beng tertawa. “Apa tidak boleh sebagai kakak dan adik?” tanyanya. “Apabila kita menyamar sebagai suami isteri dan dilihat Cioe Kouwnio, bukankah pundakku bisa berlubang lagi?”

Boe Kie turut tertawa dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Sesudah menanyakan Sioe lam san tentang keadaan di kuil Siauw lim sie, ia lantas berkata. “Sie-hiatmu yang tertotok sekarang sudah hampir sembuh. Tapi kau perlu berada di daerah Selatan yang hawanya panas. Manakala kau berdiam di tempat yang turun salju, jiwamu akan lantas melayang. Sekarang juga kau harus berangkat ke Selatan, ke tempat lebih panas lebih baik lagi. Apabila kau kena angin utara, dadamu akan menyesak dan kau akan batuk-batuk dan itulah sangat berbahaya.” Sehabis berkata begitu, ia segera mengurut dada dan punggung si tolol.

Sioe Lam San tentu saja percaya habis karangan Boe Kie. Tanpa menyia-nyiakan waktu, ia segera meminta diri dan lalu berangkat ke Selatan. Di Tiongkok Selatan ia hidup tenteram dan berumur panjang. Ia baru meninggal dunia pada tahun Kian boen, kerajaan Beng.

Sesudah Sioe lam san berlalu, sebelum berangkat ia membakar kelenteng itu. Di satu dusun mereka membeli seperangkat pakaian dan menukar di tempat sepi.

Pakaian mereka yang mewah ditanam di tanah.

Dengan hati-hati mereka menuju ke Siauw sit-san. Dalam jarak tujuh delapan lie dari kuil Siauw lim sie, beberapa kali mereka bertemu dengan beberapa pendeta.

“Kita tidak boleh maju lebih jauh,” kata Tio Beng.

Kebetulan sekali di pinggir jalan terlihat gubuk dan seorang petani tua yang sedang menyiram kebun sayur di depan gubuk itu.

“Kita boleh numpang nginap di situ,” kata si nona.

Boe Kie segera menghampiri dan sesudah memberi hormat, ia berkata. “Loo-tiang, kami berdua kakak beradik capai sekali dan kami memohon semangkok air dingin.”

Tapi si kakek tidak meladeni. Ia terus menyirami sambil menundukkan kepala.

Tiba-tiba pintu gubuk terbuka dan keluarlah seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua. “Suamiku tuli dan gagu,” katanya sambil tertawa. “Apa yang tuan inginkan?”

“Adikku tak kuat jalan lagi,” jawab Boe Kie. “Kami ingin minta air minum.”

“Masuklah,” kata si nenek.

Gubuk itu bersih, perabotnya bersih dan pakaian si nenek biarpun terbuat dari kain kasar juga tidak kalah bersihnya. Melihat kebersihan itu, Tio Beng merasa senang. Sesudah minum air ia mengeluarkan sepotong perak dan berkata sambil tertawa. “Popo, kakakku mengajak aku ke rumah nenek kami. Lantaran tidak biasa, kakiku sakit bukan main. Apa boleh malam ini kami numpang nginap? Besok pagi kami akan meneruskan perjalanan.”

“Numpang nginap tidak halangan dan juga tidak perlu mengeluarkan uang,” jawabnya dengan suara manis. Tapi kami hanya mempunyai sebuah kamar dan sebuah ranjang. Andaikata aku dan suamiku tidur di luar, kalian berdua kakak beradik tentu tidak boleh tidur seranjang. Hm! Nona kecil… sebaiknya kau bicara terus terang kepada Popo. Bukankah kau kabur dari rumah mengikut kakak yang tercinta?”

Muka si nona lantas saja berubah menjadi merah. Di dalam hati ia kaget. Nenek itu mempunyai mata yang sangat tajam dan dia pasti bukan sembarangan orang. Tanpa merasa ia melirik orang tua itu beberapa kali.

Walaupun sudah berusia lanjut dan badannya bongkok, ia kelihatan gagah. Kedua matanya bersinar, sehingga mungkin sekali ia memiliki ilmu silat yang tinggi. Tio Beng tahu, bahwa roman Boe Kie masih menyerupai seorang petani. Tapi dia sendiri pasti bukan seorang gadis dusun. Maka itulah, sesudah memikir sejenak, ia lantas saja berkata dengan sikap kemalu-maluan.

“Sesudah ditebak Popo, aku tahu tidak boleh berdusta lagi. Dia itu, Goe koko kawan mainku sedari kecil. Sebab dia miskin, ayah tidak mufakat aku menikah dengannya. Melihat aku mau bunuh diri, ibu lantas menyuruh aku… aku lari mengikut dia. Kata ibu, sesudah lewat satu atau dua tahun, sesudah kami mempunyai anak, kami baru boleh pulang. Di waktu itu, mungkin ayah sudah berubah pikiran. Sambil berkata begitu, dengan sorot mata mencintai, beberapa kali ia melirih Boe Kie. Sesudah berdiam sejenak, ia berkata pula. “Di kota raja keluargaku mempunyai muka. Ayah bekerja sebagai pembesar negeri. Apabila kami kena ditangkap, celakalah kami! Maka itu, sesudah aku bicara terus terang, mohon Popo tidak membuka rahasia kepada siapapun juga.”

Si nenek tertawa terbahak-bahak dan manggut-manggutkan kepalanya. “Aku sendiri pernah muda,” katanya. “Kau jangan kuatir! Aku akan menyerahkan kamarku kepada kamu berdua. Tempat ini terpisah ribuan li dari kota raja dan aku tanggung tidak ada manusia yang akan berani ganggu kamu. Andai kata ada orang berani main api, Popo tentu tidak berpeluk tangan.”

Melihat Tio Beng yang cantik dan lemah lembut sudah lantas membuka rahasianya sendiri, hati si nenek jadi girang dan ia segera mengambil keputusan untuk membantu kedua orang muda itu.

Di lain pihak, Tio Beng makin tetap dugaannya, bahwa mereka itu seorang Rimba Persilatan. Tempat itu sangat berdekatan dengan Siauw lim sie dan belum diketahui, apa dia itu musuh atau sahabat Seng Koen, sehingga si nona merasa bahwa ia harus lebih berhati-hati. Ia lantas saja menyoja dan berkata, “Terima kasih banyak atas kebaikan dan bantuan Popo. Goe koko, mari! Lekas haturkan terima kasih kepada Popo!”

Boe Kie segera mendekati dan menyoja.

Malam itu si nenek benar-benar menyerahkan kamarnya kepada Boe Kie dan Tio Beng. Ia sendiri membuat semacam dipan di ruangan tengah dengan menggunakan beberapa lembar papan dan mengalaskannya dengan selembar tikar.

Di dalam kamar Tio Beng menceritakan pembicaraannya dengan si nenek kepada Boe Kie.

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Kakek yang menyiram sayur memiliki kepandaian lebih tinggi,” katanya. “Apa kau tak lihat?”

“Ah… aku benar-benar tak dapat lihat.”

“Tadi dia memikul air. Tindakannya sangat cepat tapi airnya sama sekali tidak bergoyang. Inilah bukti dari lweekang yang sangat tinggi.”

“Bagaimana kalau dibandingkan kau?”

“Aku mau coba.” Sehabis berkata begitu, Boe Kie mengangkat tubuh si nona yang lalu bergaya seperti orang memikul air.

Tio Beng tertawa geli. “Gila kau! Aku tahang air?” bentaknya dengan rasa bahagia.

Mendengar senda gurau, rasa curiga si nenek lantas hilang sama sekali.

Malam itu Boe Kie dan Tio Beng makan bersama-sama kakek dan nenek itu. Makannya cukup baik, ada daging dan sayur. Selama makan Boe Kie dan Tio Beng terus bercanda dan memperlihatkan rasa cinta mereka, sebagaimana biasanya pengantin baru. Si nenek tersenyum-senyum, tapi si kakek tidak menghiraukan dan terus makan sambil menundukkan kepala.

Sesudah makan dan beromong-omong sebentar, Boe Kie dan Tio Beng masuk ke kamar dan memalang pintu.

Dengan muka kemerah-merahan, Tio Beng berbisik. “Kita hanya bersandiwara, bukan sungguhan.”

Boe Kie lantas memeluknya erat-erat dan berkata dengan suara perlahan. “Kalau tidak sungguhan, dalam dua atau tiga tahun, cara bagaimana kita bisa mendapatkan anak?”

“Fui!” bentak si nona. “Kau tentu mencuri dengar pembicaraanku!” Sehabis berkata begitu, ia menundukkan kepala dengan sikap kemalu-maluan.

Dalam keadaan itu sebagai seorang ksatria Boe Kie dapat menguasai dirinya. Ingat, bahwa dengan Cioe Cie Jiak, ia sudah mengikat janji itu mesti dipenuhi. Nanti sesudah menikah dengan nona Cioe, pikirnya, barulah ia boleh mengurus persoalan nona Tio. Sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, ia segera mempersilahkan Tio Beng tidur, sedang ia sendiri bersila di kursi dan mengerahkan Kioe yang Cin khie. Tak lama kemudian ia tertidur.

Tio Beng tidak bisa lantas pulas. Lama ia bergulak gulik di ranjang. Kira-kira tengah malam, dalam keadaan setengah tidur, tiba-tiba kupingnya dengar suara tindakan kaki yang datang dari tempat jauh. Tindakan itu cepat luar biasa dan dalam sekejap sudah tiba di pintu luar. Ia melompat dan menyentuh tangan Boe Kie. Pemuda itu ternyata sudah tersadar dan mencekal tangannya.

Dalam saat itu terdengar suara seorang yang sangat nyaring. “Suami isteri Touw – selamat bertemu! Malam malam kami datang berkunjung. Apakah kunjungan ini dianggap tak pantas?”

“Apa Ceng hay Sam kiam?” tanya si nenek. “Dari Coan see (Soecoen barat) kami menyembunyikan diri di tempat ini. Dengan berbuat begitu, kami sudah mengunjuk rasa takut terhadap Ceng hay Giok ciu koan. Mengapa kalian mendesak sampai begitu keras?”

Tamu itu tertawa terbahak-bahak. “Kalau benar-benar kalian takut, berlututlah tiga kali di hadapan kami dan kami akan mencoret semua hutang lama,” katanya.

Sekonyong-konyong terdengar suara dibukakannya pintu. “Masuklah!” kata si nenek.

Boe Kie dan Tio Beng mengintip dari celah-celah papan dan dengan bantuan sinar rembulan mereka lihat tiga toojin (imam) yang berdiri di ambang pintu.

Toojin yang berdiri di tengah-tengah seorang katai gemuk dengan berewok pendek lantas saja bertanya. “Apa kalian mau meminta ampun dengan berlutut atau membereskan persoalan ini dengan senjata?”

Sebelum si nenek menjawab, suaminya keluar dengan tulang tulang dalam tubuhnya memperdengarkan suara peratak perotok, suatu tanda bahwa dia memiliki lweekang yang luar biasa. Ia lantas berdiri di samping isterinya seraya mengawasi ketiga imam itu dengan mata tajam.

“Touw loosianseng,” kata si berewok, “mengapa kau tidak mengeluarkan sepatah kata? Apa kau merasa derajatmu terlalu tinggi untuk beromong-omong dengan Ceng hay Sam kiam?”

“Suamiku tuli,” kata si nenek.

Si berewok mengeluarkan seruan tertahan, “Ilmu Thia hong Pan kee (membedakan senjata rahasia dengan mendengar sambaran anginnya) dari Touw Loosianseng amat terkenal dalam Rimba Persilatan,” katanya. “Mengapa Loosianseng bisa jadi tuli? Sungguh sayang!”

Toojin yang berbadan lebih gemuk dari si berewok lantas saja menghunus pedang dan berkata, “Mengapa kalian tidak mengeluarkan senjata?”

Si nenek mengangkat kedua tangannya dan ternyata pada setiap telapak tangan terdapat tiga batang golok yang panjangnya belum cukup setengah kaki. Hampir berbareng si kakek juga mengangkat kedua tangannya dan iapun memegang enam golok pedang yang berukuran sama, tiga batang di saban tangan. Di lain saat golok itu saling berpindah tangan yang di tangan kanan pindah ke tangan kiri dan yang di tangan kiri pindah ke tangan kanan. Cara pemindahan itu menakjubkan dan memperlihatkan suatu hasil dari latihan yang lama dan sungguh sungguh.

Melihat senjata yang aneh itu ketiga toojin terkejut. Dalam Rimba Persilatan belum pernah ada senjata begitu. Mau dikata golok terbang (hoetoo), cara menggunakannya bukan menggunakan golok terbang.

Siapa pasangan tua itu?

Kakek yang tuli dan gagu itu seorang she Touw bernama Pek Tong dan dengan senjata Siang kauw (sepasang gaetan) ia telah mendapat nama besar di Soecoan barat. Isterinya yang bernama Ek Sam Nio mahir dalam menggunakan tombak. Banyak tahun yang lalu mereka bermusuhan dengan Giokcit koan di Ceng pay. Karena harus menghadapi musuh yang berjumlah banyak lebih besar dan juga sebab bibit permusuhan sebenarnya hanya soal yang remeh, maka mereka belakangan mengambil keputusan untuk meninggalkan Soecoan dan berpindah ke tempat lain. Di luar dugaan biarpun sudah berada di tempat jauh, malam ini mereka disusul oleh musuh-musuh lama itu.

Ketiga imam itu adalah murid turunan kedua dari Giok cin koan. Yang berewokan bernama In Ho, yang gemuk Ma Hoat Thong, sedang yang ketiga yang bertubuh kecil kurus bernama In Yan. Mereka menggunakan pedang dan mendapat julukan sebagai “Ceng hay Sam kiam” (tiga jago pedang dari Ceng hay).

Biarpun berbadan gemuk dan gerak geriknya kelihatan tidak begitu gesit, Ma Hoat Thong sangat berakal budi. Melihat suami isteri Touw menggunakan golok golok pendek dan tidak menggunakan lagi senjata mereka yang lama, ia lantas saja mengetahui bahwa keduabelas golok pendek itu tentu mempunyai kelihayan yang luar biasa. Maka itu, ia lantas saja berseru, “Sam Cay-kiam tin Thian tee jin (Samcay) kiam tin – barisan pedang Sam cay kiam. Thian tee-jin – langit, bumi, manusia yang dikenal sebagai Sam kay.

“Tian swee seng cie Coet giok cin!” menyambung In Ho. (Tan swee seng cie Coet giok cin – kilat menyusul bintang, keluar dari Giok cin koan).

Dengan serentak ketiga imam itu bergerak mengurung suami isteri Touw.

Boe Kie memperhatikan “tin” itu dengan perasaan sangsi. Tiga toojin itu tak henti2nya saling menukar tempat dan tiga batang pedang seolah-olah merupakan selembar jala yang bersinar putih. Sesudah mengawasi beberapa saat ia lantas dapat menebak intisari daripada barisan itu. “Kurang ajar!” pikirnya, “ketiga imam itu benar-benar licik. Mereka menggunakan Sam cay kiam tin, tapi sebenarnya di dalam tin mengandung Ngo-heng. Kalau musuh percaya bahwa tin itu Sam cay kiam tin dan coba memecahkannya dengan mengambil kedudukannya Thian tee jin, maka dia lantas bisa celaka dalam kepungan Ngo heng, tapi memang bukan gampang untuk tiga orang menciptakan Ngo heng kiam tin, sebab setiap orang harus menduduki lebih dari satu kedudukan. Ilmu ringan badan dan kiam hoat mereka memang sudah cukup tinggi.” (Ngo heng kiam tin – barisan dari Ngo heng).

Suami isteri Touw lantas saja berdiri saling membelakangi dan kedua belas batang golok itu segera bergerak-gerak di seputar badan mereka. Dengan cara yang mengagumkan, golok-golok itu bertukar tangan. Golok Touw Pek Tong diserahkan kepada Ek Sam Nio dan sebaliknya. Dalam tukar menukar, mereka bukan melemparkan tetapi menyodorkan dari satu ke lain tangan.

Tio Beng heran. “Boe Kie Koko, ilmu apa itu?” tanyanya dengan berbisik.

Boe Kie tidak lantas menyahut. Ia terus mengawasi dengan alis berkerut. Tiba-tiba ia berkata. “Ah! Sekarang kutahu! Dia takut akan Bay coe hauw Giehoe” (Bay coe hauw – Geram singa).

“Apa itu Say coe hauw?” tanya Tio Beng.

Boe Kie tidak menyahut. Ia manggut2 kan kepalanya, ia tertawa dingin dan berkata. “Hmm dengan kepandaian itu mereka ingin membunuh singa?”

Si nona jadi lebih tidak mengerti. “Eh… tolol!” katanya dengan mendongkol. “Mengapa kau bicara sendirian?”

”Kelima orang itu adalah musuh2nya Giehoe,” bisik Boe Kie. “Karena takut akan Saycoe hauw Giehoe, si tua sudah merusak kupingnya sendiri.”

Sementara itu pertempuran sudah berlangsung dan bentrokan senjata terdengar tak henti-hentinya.

Lima kali Ceng hay Sam kiam menyerang, lima kali mereka dipukul mundur. Dua belas golok pendek yang dioper dari satu ke lain tangan berputar terus menerus dan di bawah sinar rembulan, tiga helai sinar putih mengelilingi tubuh suami isteri Touw. Garis pembelaan itu rapat dan padat.

Selang beberapa saat, tiba-tiba Touw Pek Tong membuka serangan bagaikan kilat golok pendek menyambar kempungan Ma Hoat Thong. Dalam ilmu silat terdapat kata kata begini, “Panjang satu cun (dim), kekuatan satu cun. Pendek satu cun, bahaya satu cun.” Golok Touw Pek Thong hanya kira-kira lima cun, maka dapatlah dibayangkan hebatnya bahaya serangan itu. Tiga kali ia melakukan serangan yang membinasakan tanpa memperdulikan pembalasan pada diri sendiri. In Ho dan In Ya balas menyerang tapi serangan serangan itu ditangkis oleh Ek Sam Nio. Ilmu golok suami isteri itu ternyata berdasarkan kerjasama yang sangat erat, yang satu menyerang, yang lain membela. Yang menyerang boleh tak menghiraukan pembalasan atas dirinya sendiri. Diserang cara begitu, Ma Hoat Thong repot bukan main. Touw Pek Tong terus mendesak, kian lama serangan kian hebat.

Sekonyong-konyong, sambil bersiul nyaring In Ho mengubah cara bersilatnya. In Ya dan Mo Hoat Thong pung mengikuti perubahan itu dan mereka bertiga membuat sehelai jala pedang yang sedemikian rapat, sehingga andaikata mereka disiram air, air itu tak akan kena di badan mereka.

Boe Kie tertawa dingin dan berbisik. “Ilmu golok dan ilmu pedang itu semuanya dilatih untuk menghadapi Gie hoe. Lihatlah! Mereka lebih banyak membela diri daripada menyerang. Berkelahi cara begini sampai besok tidak akan ada keputusannya.” Benar saja sesudah serangan serangannya gagal, Touw Pek Tong juga mengubah siasat dan sekarang dia hanya membela diri.

Sesudah memperhatikan beberapa lama, Tio Beng pun mendapat lihat bahwa serangan2 kelima orang itu biasa saja dan yang istimewa adalah pembelaan mereka. “Boe Kie koko,” bisiknya. “Kim mo say ong Cia Tayhiapo berkepandaian sangat tinggi. Dengan ilmu silat itu, mana bisa mereka memperoleh kemenangan?”

Sesudah lewat tujuh delapan jurus lagi, tiba-tiba sambil melompat keluar dari gelanggang, Ma Hoat Thong berseru. “Tahan!” Touw Pek Thong melompat ke belakang dan berdiri tegak sambil mengawasi lawannya.

“Apakah to hoat (ilmu golok) kalian dilatih untuk membunuh singa?” tanya Ma Hoat Thong.

Ek Sam Nio kaget, “Kupingmu terang sekali,” jawabnya.

“Saudara Touw Loosianseng dibunuh Cia Soen dan sakit hati itu memang tidak bisa tak dibalas,” kata Ma Hoat Thong. “Sesudah kalian mendapat tahu bahwa Cia Soen berada di Siauw liem sie, mengapa kalian tidak coba membereskan persoalan itu terlebih siang?”

“Urusan itu urusan kami berdua,” jawab Ek Sam Nio. “Tootiang boleh tak usah turut memikiri.”

“Ganjelan antara Giok cin koan dan kalian berdua adalah urusan kecil,” kata Ma Hoat Thong. “Perlu apa kita mengadu jiwa? Bukankah lebih baik jika kita bersahabat dan bersama sama mencari Cia Soen?”

“Apa Giok cin koan juga bermusuhan dnegan Cia Soen?” tanya Ek Sam Nio.

“Tidak, bermusuhan memang tidak.”

“Kalau tidak bermusuhan, mengapa kalian melatih diri dalam kiamhoat yang istimewa itu? Kalau tidak salah kiam hoat kalian dan to hoat kami bertujuan sama, yaitu untuk melawan pukulan Cit siang koen.”

“Sam Nio mempunyai mata yang sangat tajam! Kini kami tidak perlu menyembunyikan suatu apa lagi. Maksud kami ialah meminjam To liong to.”

Nyonya Touw manggut2kan kepalanya dan dengan jari tangannya lalu menulis beberapa huruf di telapak tangan suaminya. Sebagai jawaban, Touw Pek Tong pun menulis huruf-huruf di telapak tangan isterinya. Sesudah “berbicara” dengan tulisan, si nenek berkata. “Tujuan kami berdua ialah membalas sakit hati. Untuk itu kami rela membuang jiwa. Terhadap To liong to, sedikitpun kami tak punya minat.”

“Bagus!” kata Ma Hoat Thong dengan girang. “Sekarang sebaiknya kita berlima berserikat untuk mencapai tujuan kita – kalian membalas sakit hati dan kami meminjam golok mustika. Dengan demikian, kita mendapat dua keuntungan, yaitu hasil yang dikejar dan persahabatan.”

Semua orang setuju. Mereka berlima lalu mengangkat tangan dan mengucapkan sumpah perserikatan.

Sesudah bersumpah, suami isteri Touw lalu mengundang ketiga tamunya masuk ke rumahnya untuk minum teh dan merundingkan rencana tindakan mereka.

Sesudah duduk di ruangan tengah, melihat pintu kamar tidur tertutup, Ceng hay Sam kiam merasa curiga dan menengok beberapa kali.

“Sam wie tak usah bercuriga,” kata Ek Sam Nio sambil tertawa. “Yang tidur di situ adalah sepasang suami isteri muda yang kabur dari rumah mereka di kota raja. Yang perempuan cantik bagaikan dewi, yang lelaki seorang pemuda kasar yang tak tahu ilmu silat.”

Ma Hoat Thong adalah seorang yang sangat berhati-hati. “Sam Nio jangan gusar,” katanya. “Bukan aku tidak percaya, tapi sebab urusan ini urusan sangat besar, maka jangan sampai bocor.”

Si nenek tertawa, “Kita bertempur begitu lama dan mereka terus tidur seperti bangkai,” katanya. “Kalau tak percaya Ma Tooya boleh lihat sendiri.” Sehabis berkata begitu ia berbangkit dan menolak pintu, tapi pintu dipalang dari dalam.

Boe Kie tahu, apabila rahasianya bocor, kesempatan untuk menolong ayah angkatnya akan menjadi hilang. Buru-buru ia membuka sepatu, naik ke ranjang dan menyelimuti dirinya.

Di lain saat terdengar suara “krek” dan palang pintu patah didorong In Ho. Ek Sam Nio masuk paling dulu dengan membawa ciak-tay (tempat menancap lilin) diikuti oleh Ceng hay Sam kiam.

Dengan mata dan paras muka seperti orang yang baru tersadar, Boe Kie mengawasi si nenek. Tiba-tiba Ma Hoat Thong menghunus pedang dan menikam tenggorokan Boe Kie. Tikaman itu menyambar bagaikan kilat.

Boe Kie mengeluarkan teriakan kaget. Sebaliknya dari berkelit, dengan lagak bingung ia coba bangun, sehingga tenggorokannya seolah olah memapaki ujung pedang. Buru-buru Ma Hoat Thong menarik pulang senjatanya. Ia tak pernah mimpi bahwa kepandaian pemuda itu sepuluh kali lipat lebih tinggi daripada kemampuannya dan bahwa, andaikata ia benar-benar mempunyai niatan jahat iapun tak akan bisa mencelakai Boe Kie. Tio Beng hanya mengeluarkan suara seperti orang mengigau dan terus tidur.

“Sam Nio tak salah,” kata In Ho. “Mari kita keluar.” Mereka lantas kembali ke ruangan tengah.

Boe Kie segera melompat turun dari ranjang, memakai sepatunya dan mengintip pula.

“Apakah kalian sudah menyelidiki pasti bahwa Cia Soen berada di Siauw lim sie?” tanya Mo Hoat Tong.

“Siauw lim pay telah mengirim surat undangan kepada berbagai orang gagah untuk menghadiri To say Tay hwee pada hari perayaan Toan ngo. Apabila Cia Soen belum tertangkap mereka tentu tak akan berbuat begitu.”

Ma Hoat Thong mengangguk. “Kong kian Seng ceng telah dibinasakan oleh Cia Soen,” katanya. “Semua murid Siauw lim sie bertekat untuk membalas sakit hati. Sebenarnya kalian berdua tak usah banyak capai. Kalian hanya perlu menghadiri pertemuan itu dan menyaksikan kebinasaan Cia Soen. Tanpa mengangkat tangan, sakit hati kalian sudah terbalas. Perlu apa Touw loosianseng merusak kuping sendiri dan menempuh bahaya besar?”
Ek Sam Nio tertawa dingin.

“Hm… ! Kalian tak tahu bahwa anak lelaki tunggal kami, tanpa sebab, tanpa lantaran, sudah dibunuh Cia Soen,” katanya dengan suara parau. “Sakit hati sedalam lautan, untuk membalas sakit hati itu, mana bisa kami hanya memainkan peranan sebagai penonton? Begitu bertemu dengan bangsat she Cia itu, aku akan tusuk kedua kupingnya dan kami berdua rela untuk binasa bersama sama dia. Huh.. huh!… untuk membalas sakit hati itu, kami tak memperdulikan segala akibatnya. Kami tidak menghiraukan kalau kami mesti melanggar Siauw lim pay, Boe tong pay atau pay apapun juga.”

Mendengar keterangan itu, Boe Kie bergidik. “Karena perbuatan Seng Koen Giehoe melampiaskan amarahnya kepada orang-orang yang tidak berdosa,” pikirnya. Suami isteri Touw kelihatannya bukan orang jahat. Tapi sakit hati mereka sudah pasti tak akan bisa didamaikan. Hai!…. jalan satu-satunya bagiku adalah menolong Giehoe dan membawanya ke tempat jauh, supaya permusuhan tidak bertambah hebat.”

Sesudah itu Boe Kie tak dengar suara apa apa lagi. Ia mengintip dari sela sela papan dan mendapat kenyataan bahwa suami isteri Touw dan ketiga tamunya bicara dengan menulis huruf huruf di meja dengan menggunakan air the. “Mereka sungguh berhati-hati,” katanya dalam hati.

“Giehoe banyak musuhnya dan To liong to mempunyai daya tarik yang sangat hebat. Dilihat gelagatnya, sebelum Toan ngo Siauw lim sie bakal disatroni oleh banyak orang pandai. Kalau penjagaan kurang kuat, Giehoe bisa mati konyol. Aku harus mencoba menolong secepat mungkin.”

Sebab tidak bisa mengorek rahasia lagi, Boe Kie lantas tidur. Pada keesokan paginya, Ceng hay Sam kiam sudah berlalu. “Popo,” kata Boe Kie kepada si nenek. “Semalam mengapa ketiga tooya itu masuk ke kamar dengan golok terhunus? Aku takut setengah mati dan menduga mereka datang untuk menangkap kami.”

Mendengar Boe Kie menamakan pedang sebagai golok si nenek tertawa di dalam hatinya. “Mereka nyasar dan sesudah minum teh, mereka berlalu,” jawabnya. “Can Siauwko, sesudah tengah hari kami ingin membawa tiga pikul kayu bakar ke kuil Siauw lim sie untuk dijual. Bolehkah kau membantu kami? Kepada para pendeta kami akan mengaku kau sebagai anak supaya mereka tidak curiga. Isterimu sangat cantik, sebaiknya menunggu saja di rumah.”

Boe Kie mengerti bahwa kedua orang itu mau menyelidiki keadaan Siauw lim sie. Ia girang dan lantas menyahut, “Aku akan menurut semua perintah Popo harapanku yang satu satunya Popo suka menerima kami menumpang di sini. Kami sudah lelah berlarian kesana sini.”

Lohor itu Boe Kie mengikuti suami isteri Touw, dengan masing-masing memikul satu pikul kayu bakar. Boe Kie memakai tudung besar, kasur rumput dan di pinggangnya terselip kapak pendek. Selagi mereka berangkat, Tio Beng berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.

Mereka berjalan perlahan lahan dan berlagak tersengal-sengal. Setibanya di pendopo di luar kuil Siauw lim sie, mereka berhenti mengaso. Di pendopo itu terdapat dua orang yang mengawasi mereka dengan sikap acuh tak acuh. Ek Sam Nio membuka bungkusan kepala yang terbuat dari kain kasar dan menggunakan untuk menyusut keringat, sesudah itu ia menyusut keringat Boe Kie. “Nak, apa kau sudah capai?” tanyanya.

Waktu keringatnya disusuti, Boe Kie merasa agak jengah. Tapi begitu mendengar suara si nenek, jantungnya memukul keras. Itulah suara yang bernada rasa cinta dan yang keluar dari hati setulusnya. Ia melirik dan melihat air mata yang berlinang-linang di kedua mata si nenek. Ia tahu, bahwa orang tua itu ingat anaknya sendiri, yang telah dibunuh Cia Soen. Sesudah menanya nenak itu mengawasi Boe Kie dengan sorot mata meminta jawabah. Boe Kie tak tega dan segera menjawab dengan suara lemah lembut. “Ibu, aku tidak capai. Kau sendirilah yang sudah capai.”

Begitu mendengar perkataan “Ibu” air mata si nenek lantas mengucur. Buru buru ia menyusut mukanya. Touw Pek Tong lantas saja bangun dan memikul pikulannya. Sambil mengulapkan tangan kirinya, ia lantas bertindak keluar dari pendopo itu. Ia tahu, bahwa isterinya bersedih dan kalau mereka berdiam lama lama, kedua pendeta itu bisa bercuriga. Sebelum berangkat, Boe Kie menghampiri pikulan si nenek dan menaruhnya di pikulannya sendiri. “Ibu, mari!” katanya.

Melihat kecintaan Boe Kie, Ek Sam Nio jadi makin sedih. “Jika puteraku masih hidup, kemungkinan dia lebih tua daripada pemuda ini,” pikirnya. “Mungkin sekarang aku sudah mengempo cucu. Sambil mikir begitu, ia segera memikul pikulannya. Karena berduka, tindakannya agak limbung dan Boe Kie yang melihat itu lantas saja kembali dan menuntun tangan si nenek.

”Anak itu sangat berbakti,” kata salah seorang pendeta.

“Popo apa kamu mau bawa kayu itu ke Siauw lim sie?” seru pendeta yang lain. “Sedari beberapa hari berselang, Hong thio telah mengeluarkan peraturan bahwa orang luar tidak boleh datang ke kuil. Sebaiknya kau jangan pergi!”

Ek Sam Nio terkejut. Kalau mereka tidak bisa masuk dengan menyamar, penjagaan Siauw lim sie yang sangat kuat sukar ditembus. Sementara itu, melihat isterinya dan Boe Kie berhenti, Touw Pek Tong yang sudah berjalan lebih dahulu juga turut berhenti.

“Mereka keluarga baik,” kata pendeta yang pertama. “Ibu mencintai anak, anak berbakti kepada ibunya. Kita patut menolong. Soetee, ajaklah mereka ke dapur. Kalau diketahui pengawas, katakan saja penduduk dusun sini yang biasa menjual kayu bakar.”

“Baiklah,” jawabnya. Ia lalu membawa suami isteri Tauw dan Boe Kie ke dapur dengan masuk dari pintu belakang. Sesudah tiga pikul kayu bakar itu dimasukkan ke gudang dan harganya dibayar oleh hweesio pengurus dapur, Ek Sam Nio berkata. “Kami menanam piecay yang sangat bagus. Besok aku akan suruh A Goe membawa beberapa kati untuk para soehoe, sebagai pernyataan terima kasih kami.”

Pendeta yang mengantar mereka tertawa dan menggelengkan kepalanya. “Tak bisa,” katanya. “Mulai besok, siapapun jua tak boleh masuk di sini. Kalau ketahuan aku bisa celaka.”

Pendeta pengawas dapur mengawasi Boe Kie dan tiba-tiba ia berkata. “Selama perayaan Toan ngo, kita bakal menerima kira-kira seribu tamu. Kita akan sangat repot, masak, pikul air, bacok kayu bakar dan sebagainya. Kulihat saudara ini bertubuh kuat. Apa kau mau bantu di sini selama dua bulan? Setiap bulan kau akan menerima lima tahil perak.”

Ek Sam Nio girang. “Bagus!” katanya. “A Goe, di rumah tidak ada kerjaan penting. Kalau kau bisa bekerja di sini dan mendapat beberapa tahil perak, kau bisa membantu ongkos rumah tangga.”

Boe Kie bersangsi. Di antara tokoh tokoh Siauw lim sie banyak yang mengenal dia. Kalau salah seorang datang ke dapur, ia bisa dikenali. Maka itu ia lantas berkata, “Ibu… isteriku…”

Si nenek tidak menyia nyiakan kesempatan yang begitu baik, ia segera berkata, “Apa kau takut aku aniaya isterimu? Turutlah perkataanku. Kau berdiam di sini dan bekerja baik2. Beberapa hari lagi ibu dan isterimu akan menengok kau. Hm!… kau sudah begitu besar, tapi masih belum ketinggalan ibu. Apa kau masih menetek?” Setelah berkata begitu, sambil membereskan rambutnya, ia mengawasi Boe Kie dengan sorot mata penuh kecintaan.

Dalam menghadapi pertemuan orang2 gagah, sudah banyak hari pendeta pengurus dapur merasa jengkel. Pekerjaan mempersiapkan makanan dan minuman untuk begitu banyak orang bukan pekerjaan enteng. Pendeta pengawas kuil sudah mengirim banyak pembantu, tapi semua tidak memuaskan. Pendeta-pendeta Siaulw lim pay kalau bukan mempelajari kitab-kitab suci tentu belajar ilmu silat. Pekerjaan di dapur tak ada yang suka. Orang-orang yang dikirim oleh pengawas pergi ke dapur dengan perasaan mendongkol, mereka di dapur tidak mau bekerja. Apabila tingkatannya lebih tinggi daripada pengurus dapur, mereka lebih-lebih sungkan diperintah. Itulah sebabnya mengapa pengurus dapur itu bertekad untuk mendapat bantuan Boe Kie yang kelihatannya kuat dan rajin. Ia lalu membujuk berulang2.

Sebenarnya, sesudah memperhitungkan untung ruginya, tawaran itu menggirangkan Boe Kie. Tapi sengaja ia mengunjuk lagak sangsi. Sesudah pendeta yang mengantarkannya turut membujuk, barulah ia mengiakan dengan tawaran. “Soehoe,” katanya. “Kalau aku bisa minta enam tahil perak sebulan, lima tahil untuk ibu dan setahil untuk isteriku membeli pakaian…”

Pengurus dapur tertawa terbahak-bahak. “Baiklah! Enam tahil perak sebulan!”

Sesudah memberi pesanan berulang-ulang supaya Boe Kie bekerja baik-baik, barulah bersama suaminya, Ek Sam Nio turun gunung.

Atas pertanyaan Boe Kie, pendeta pengurus dapur memberitahukan bahwa nama sebagai seorang pendeta adalah Hoei cie. Mulai hari itu, Boe Kie melakukan rupa-rupa pekerjaan kasar, seperti bacok kayu, ambil arang, nyalakan api, pikul air dan sebagainya. Ia sengaja menghitamkan mukanya, sehingga waktu berkaca di air, ia sendiri tidak mengenalinya.

Malam itu, bersama lain-lain pekerja dia tidur di sebuah rumah kecil di samping dapur. Ia tahu bahwa Siauw lim sie sarang harimau dan di antara pendeta-pendeta yang berkedudukan rendah kadang-kadang terdapat orang yang berkepandaian tinggi. Maka itu, ia sangat ber-hati2 setiap gerak geriknya. Selama kurang lebih seminggu, dua kali Ek Sam Nio dan Tio Beng menyambanginya. Ia bekerja keras, dari pagi sampai malam dan tidak pernah menampik pekerjaan apapun juga, sehingga pengurus dapur sangat menyayanginya. Iapun bergaul rapat dengan semua kawan. Tapi mereka tidak berani menanya ini atau itu yang bersangkut paut dengan Cia Soen. Ia hanya memasang kuping dan mata. Ia berpendapat bahwa manakala ayah angkatnya berada di Siauw lim sie, orang tentu harus mengantarkan makanan. Kalau tugas mengantarkan makanan diberikan kepadanya, ia akan bisa tahu dimana ayah angkatnya dikurung. Tapi sesudah bersabar beberapa hari, ia belum juga menemukan sesuatu yang memberi harapan.

Pada hari kesembilan, selagi tidur lapat-lapat Boe Kie mendengar bentak-bentakan. Perlahan-lahan ia bangun dan sesudah mendapat kepastian, bahwa semua kawannya sedang tidur pulas, ia segera pergi ke arah suara itu dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Ia sangat berhati-hati. Saban-saban ia melompat naik ke pohon besar dan memperhatikan keadaan di seputarnya. Sesudah mendapat kepastian bahwa di sekitar tempat itu tidak ada manusianya, barulah ia berani maju dan kemudian naik lagi ke atas lain pohon. Tak lama kemudian ia sudah lihat satu pertempuran yang dilakukan oleh beberapa orang. Ia segera bersembunyi di belakang pohon dan memperhatikan pertempuran itu. Karena berada di hutan yang gelap, ia tak bisa lihat mukanya orang-orang yang berkelahi. Ia hanya lihat berkelebat-kelebatnya senjata dan enam orang yang sedang bertempur, dengan masing-masing pihak terdiri dari tiga orang. Selang beberapa saat ia mengenali bahwa pihak yang satu itu adalah Ceng hay Sam kiam yang ketika itu sedang membela diri dengan Sam cay tin palsu. “Tin” itu sangat rapat, tapi ketiga pendeta Siauw lim yang bersenjata golok ternyata memiliki kepandaian tinggi dan terus merangsek dengan hebatnya. Tak lama kemudian, salah seorang dari Ceng hay Sam kiam roboh terbacok. Begitu lekas “tin” itu pecah, pembelaan diri dari dua orang yang masih hidup lantas kalang kabut. Selang beberapa jurus terdengar teriakan menyayat hati dan seorang pula roboh terguling. Didengar dari suaranya, yang roboh itu ialah Ma Hoat Thong. Orang yang terakhir, yang lengannya sudah terluka, terus melawan secara nekat.

Tiba-tiba salah seorang pendeta membentak. “Tahan!” Anggota Ceng hay Sam kiam yang masih hidup itu yaitu In Ho tetap dikurung, tapi serangan segera dihentikan. “Cang hay Giok cin koan dengan Siauw lim sie sama sekali tidak bermusuhan,” kata seorang pendeta tua. Mengapa kamu menyatroni kuil kami di tengah malam?”

“Sesudah kami kalah, perlu apa banyak bicara lagi?” kata In Ho dengan suara parau.

Pendeta tua itu tertawa dingin. “Kamu datang untuk Cia Soen atau untuk To liong to?” tanyanya pula. “Aku belum pernah dengar, bahwa Giok cin koan bermusuhan dengan Cia Soen. Huh huh!… kamu tentu datang untuk merebut To liong to. Dengan kepandaian yang tidak berarti itu, kamu berani menyatroni kuil kami. Selama seribu tahun lebih Siauw lim sie, kuil kami ini telah memimpin Rimba Persilatan. Aku tak nyana ada orang yang memandang kami begitu rendah.”

Selagi dia bicara, mendadak In Ho menikam bagaikan kilat. Pendeta itu berkelit, tapi tak urung pundak kirinya tertikam juga. Dua kawannya lantas membacok dan In Ho roboh binasa.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ketiga pendeta itu memanggul mayat Ceng hay Sam kiam dan kembali ke kuil. Baru saja Boe Kie mau menguntit, tiba-tiba kupingnya mendengar suara bernafasnya manusia. “Sungguh berbahaya!” pikirnya. Ia tidak berani bergerak. Berselang kira2 setengah jam, dari rumput2 tinggi barulah terdengar suara tepukan tangan yang disambut oleh lain-lain tepukan. Di lain saat enam pendeta yang memegang macam-macam senjata muncul dari tempat persembunyiannya. Mereka balik ke kuil dengan berjalan dalam barisan yang berbentuk kipas.

Sesudah mereka pergi jauh, Boe Kie kembali ke pondokannya. Para pekerja dapur ternyata masih tidur pulas. “Kalau bukan melihat dengan mata sendiri, aku tak akan menduga bahwa dalam sekejap tiga orang gagah sudah mengorbankan jiwanya,” pikirnya. Dengan adanya pengalaman itu, ia lebih berhati-hati.

Beberapa hari lagi sudah lewat pertengahan bulan empat. Hawa udara berubah hangat dan perayaan Toan ngo sudah berada di ambang pintu. Hari lepas hari, Boe Kie bertambah bingung. Kalau tidak berlaku nekad, aku tentu tak akan bisa tahu dimana Giehoe dikurung,” pikirnya. “Malam ini biar bagaimanapun juga, aku harus berani menempuh bahaya.” Ia tahu, bahwa ilmu silatnya lebih tinggi dari pendeta Siauw lim manapun juga. Tapi dengan seorang diri, ia tak berdaya. Siauw lim sie sarang harimau dan dengan kekerasan ia pasti takkan bisa menolong ayah angkatnya. Jalan satu2nya ialah menggunakan tipu.

Malam itu kira2 tengah malam ia keluar dan melompat ke atas genteng. Tiba-tiba dua bayangan hitam mendatangi dari selatan ke utara. Buru-buru ia mendekam. Kedua bayangan itu adalah pendeta Siauw lim yang meronda.

Sesudah peronda itu lewat, Boe Kie bergerak maju. Tapi baru berjalan beberapa tombak, kupingnya mendadak menangkap suara tindakan yang sangat enteng. Sekali lagi ia menyembunyikan diri. Yang datang kali ini juga dua peronda. Boe Kie mengerti bahwa penjagaan diperkeras sebab para pemimpin Siauw lim sie tahu, kali ini kuilnya bakal disatroni oleh banyak tokoh Rimba Persilatan. Sesudah melihat penjagaan yang hebat itu, Boe Kie merasa bahwa jika ia maju terus, ia bakal dipergoki.

Tiga hari lewat.

Malam itu geledek bergemuruh, kilat menyambar nyambar dan turunlah hujan yang sangat besar. Tak kepalang girangnya Boe Kie. “Thian membantu aku!” katanya di dalam hati.

Makin lama hujan makin besar. Langit gelap gulita. Sesudah berdandan rapi, dengan tetap berhati-hati Boe Kie pergi ke gedung sebelah depan. “Lo han tong, Tat mo tong, Cong kek kok dan tempatnya Hong thio adalah tempat-tempat penting,” pikirnya. Biarlah lebih dulu aku menyelidiki di situ.”

Tapi Siauw lim sie besar. Ia tak tahu dimana Lo han tong, dimana Cong kek kok. Indap indap ia maju, waktu tiba di sebuah lorong sayup sayup ia ingat, bahwa ia pernah berada disitu. Aha benar.. dulu waktu ia diajak Thio Sam Hong datang di Siauw lim sie untuk meminta pelajaran Siauw lim Kioe yang kang guna mengobati lukanya akibat pukulan Hian beng Sin ciang, ia pernah lewat di lorong itu dan sesudah membiluk ke kiri ia pergi ke kamar Seng koen atau Goan tin. Sesudah berpikir sejenak, ia mengambil keputusan untuk menyelidik kamar rahasia itu.

Perlahan-lahan ia maju sambil mengingat-ingat jalan yang dulu dilewatinya. Sesudah melalui jalanan kecil yang tertutup batu batu sebesar telur itik dan sesudah melewati sebuah hutan-hutan bambu tibalah ia di depan kamar Seng Koen.

Jantungnya memukul keras. Ia tahu Seng Koen berkepandaian tinggi dan banyak akalnya. Jika rahasianya bocor, kesudahannya tak dapat diramalkan. Ketika itu pakaiannya basah kuyup. Sambil mengentengkan tubuhnya ia menghampiri jendela dan memasang kuping. Di dalam terdengar suara orang. Dengan satu perkataan saja ia mengenali bahwa yang bicara adalah Kong boen Taysoe, Hong thio atau kepala kuil Siauw lim sie.

“Karena Kim mo Say ong, selama sebulan Siauw lim pay sudah membinasakan dua puluh orang,” kata Kong boen. Pada hakekatnya ini bukan cara cara agama kita yang berdasarkan belas kasihan. Beng kauw Co soe Yo Siauw, Yoe soe Han Yauw Peh bie Eng ong We It Siauw dengan beruntun telah mengirim utusan untuk meminta supaya kita melepaskan Cia Soen.”

Mendengar sampai disitu, Boe Kie merasa terhibur. Sedikitpun ia mendapat tahu, bahwa tokoh tokoh Beng kauw sudah bertindak.

Sesudah berdiam sejenak, Kong Boen berkata pula. “Kita menolak, tapi Beng kauw tidak akan menyudahi dengan begitu saja. Thio Kauwcoe berkepandaian sangat tinggi sampai sekarang ia belum muncul. Kukuatir ia bekerja dengan diam-diam.”

Aku dan Kong tie Soetee pernah ditolong olehnya dan kami berhutang budi. Manakala ia sendiri meminta bagaiman kita harus menjawabnya? Hari ini ketiga Soesiok coba menanyakan Cia Soen tentang kebinasaan Kong kian Soe heng. Tapi dia menutup mulut. Hal ini benar-benar sukar. Soetee, Soetit, bagaimana pikiranmu?”

Seorang tua batuk-batuk beberapa kali. Sesudah itu ia berkata, “Hong thio Soesiok terlalu banyak berkuatir. Dengan dijaga ketiga Thay soesiok, Cia Soen tak akan bisa lari dan tak akan bisa ditolong oleh siapapun juga. Eng hiong Tay hwee bersangkut paut dengan nama baiknya Siauw lim pay sebagai pemimpin Rimba Persilatan selama ribuan tahun. Budi kecil dari pihak Mo-kauw, Hong thio Soesiok tak usah terlalu pikiri. Apa pula dalam urusan itu sebenar benarnya secara menggelap Mo kauw telah bersekutu dengan kerajaan Goan dalam usaha mencelakai enam partai. Apa Hong thio Soesiok belum tahu kenyataan itu?”

Boe Kie mengenali bahwa yang bicara adalah Seng koen yang dikenal sebagai Goan tin (Thay Soesiok kakek paman guru, Seng Koen murid Kong kian, sehingga Kong boen dan Kong tie adalah paman gurunya. Thay Soesiok Seng koen ialah tokoh tokoh Siauw lim pay yang tingkatannya lebih atas daripada Kong kian Taysoe dan saudara saudara seperguruannya).

“Cara bagaimana Beng kauw bisa bersekutu dengan kerajaan?” tanya Kong boen dengan heran.

“Thio Kauwcoe sebenarnya harus nikah dengan Cioe Kouwnio, Ciangboenjin Go bie pay,” Coan tin menerangkan. “Pada hari pernikahan, Koencoe Nio nio puteri Jie lam ong mendadak muncul dan kemudian kabur bersama sama bocah she Thio itu. Kejadian ini menggemparkan seluruh Kang ouw. Hong thio Soesiok tentu sudah mendengarnya.”

“Benar, aku pernah dengar cerita itu,” kata Kong boen.

“Di antara jago jagoannya Koencoe Nio nio itu terdapat orang yang dikenal sebagai Kouw Touwtoo,” kata pula Goan tin. “Di Ban hoat-sie, Jie wie Soesiok tentu sudah pernah bertemu dengan dia.”

“Hm!…” Kong tin mengeluarkan suara di hidung dengan paras muka gusar. Ia rupa-rupanya ingat kejadian dahulu. “Sesudah urusan di sini beres, aku ingin pergi ke kota raja untuk mencari Kouw Touw too.”

“Apa Jie wie Soesiok tahu siapa sebenarnya Kouw Touw too?” tanya Goan tin.

“Dia berpengetahuan luas dan dia agaknya paham segala rupa ilmu silat,” kata Kong tie.

“Tapi aku sendiri tak bisa lihat asal usulnya. Kouw touwtoo itu bukan lain daripada Kong beng Yoe soe Hoan Yauw,” kata Goan tin.

Kong boen dan Kong tie terkejut. “Apa benar?” tanya mereka dengan berbareng.

“Mana berani Goan tin mendustai Soesiok,” jawabnya. “Kalau dia benar akan datang di sini, Jie wie Soesiok akan bisa membuktikan sendiri.”

Sesudah berpikir sejenak Kong tie berkata, “Kalau begitu memang benar Thio Boe Kie bersekutu dengan Koencoe itu. Si Koencoe menangkap tokoh-tokoh enam partai dan Thio Boe Kie berlagak melepas budi dan memberi bantuan.”

“Rasanya memang begitu,” sahut Goan tin.

“Tapi menurut penglihatanku, Thio Kauwcoe seorang ksatria yang jujur dan bukan manusia jahat,” kata Bong boen. “Kita tidak boleh sembarangan menuduh orang yang baik.”

“Tapi Hong thio Soesiok jangan lupa, bahwa menurut katanya pepatah kita bisa mengenal muka tapi sukar mengenal hati orang,” kata Goan tin. “Cia Soen adalah ayah angkatnya Thio Boe Kie. Mungkin sekali tanpa memperdulikan segala apa dan dengan menggunakan segala rupa daya, Mo kauw akan coba menolong Cia Soen. Pada hari Toa say Tay hwee segala apa akan menjadi terang.”

Sesudah itu mereka bertiga lalu merundingkan soal menyambut tamu, melawan musuh dan menghitung-hitung tokoh tokoh berbagai partai yang berkepandaian tinggi. Didengar dari perkataannya, siasat Goan tin ialah mengadu domba berbagai partai persilatan dan kemudian sesudah partai-partai itu rusak, barulah Siauw lim pay tampil ke muka dan secara resmi menjadi partai yang menguasai To liong to. Dan sesudah itu, barulah Cia Soen dibunuh dan diadakan sembahyangan untuk rohnya Kong kian. Tapi Kong boen sendiri kelihatannya tidak berani memandang enteng kepada Beng kauw.

“Tapi biar bagaimanapun juga, yang paling penting ialah mengorek rahasia dimana adanya To liong to dari mulut Cia Soen,” kata Kong tie. “Kalau kita tidak berhasil memiliki senjata itu, maka To say Tay hwee bukan saja tidak ada artinya, bahkan dapat menurunkan derajat partai kita.”

“Soetee benar,” kata Kong boen. “Dalam pertemuan itu kita harus memperlihatkan To liong to untuk mengangkat tinggi derajat partai. Kita harus bisa mengumumkan bahwa To liong to yang termulia dalam Rimba Persilatan sudah dikuasai oleh partai kita. Dengan demikian partai kita akan bisa memerintah dalam Rimba Persilatan tanpa ada yang berani tidak menurut.”

“Ya, begitu saja,” kata Kong tie. “Goan tin sekarang kau pergilah untuk coba membujuk Cia Soen supaya dia suka memberitahukan dimana adanya To liong to. Katakanlah kepadanya bahwa jika ia menurut, kita akan mengampuni jiwanya.”

“Baik,” jawabnya. “Serahkan tugas ini kepada Goan tin. Aku tanggung, sebelum hari Toan ngo sudah memiliki To liong to.” Kemudian terdengar suara tindakan yang sangat enteng dan bayangan Goan tin berkelebat keluar dari kamar itu.

Tak kepalang girangnya Boe Kie. Tapi ia mengerti, bahwa ketiga pendeta itu berkepandaian tinggi. Jika ceroboh gerak geriknya bakal diketahui. Maka itu ia segera menahan nafas. Ia lihat bayangan Goan tin berlari-lari ke jurusan utara. Dia memakai payung kertas minyak dan jatuhnya air hujan di payung menerbitkan suara yang agak keras. Sesudah musuh itu berjalan belasan tombak, barulah Boe Kie berani menguntit.

DALAM HUJAN, penjagaan banyak kendur. Dengan mengandalkan ilmu ringan badan dan dengan bantuan sang hujan, Boe Kie bisa maju terus dengan selamat. Ia lihat Goan tin melompati tembok dibelakang kuil dan terus ke utara. “Kalau begitu Giehoe dikurung diluar Siauwlimsie,” pikirnya. Ia tidak berani melompat tembok dengan begitu saja. Ia menempelkan badannya ditembok dan kemudian memanjat dengan perlahan. Sesudah tiba diatas, ia menunggu sampai peronda lewat dan sesudah itu, barulah ia melompat turun. Ketika itu Goan tin sudah berada jauh didepan, kira-kira seratus tombak. Lapat-lapat ia lihat manusia itu membiluk kekiri dan menuju kescbuah bukit kecil.

Goan tin adalah gurunya Cia Soen dan waktu itu ia sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Tapi ia masih gagah dan gesit. Selagi memanjat bukit, payungnya tidak bergoyang dan tubuhnya seolah olah ditarik keatas dengan seutas tambang. Boe Kie mempercepat tindakannya. Tapi baru saja ia tiba dikaki bukit, dari antara pohon2 mendadak berkelebat bayangan manusia. Dengan cepat ia menghentikan tindakan. Sesaat kemudian muncul empat orang, tiga didepan satu dibelakang, yang lalu memanjat bukit itu.

Boe Kie mengawasi keatas. Dipuncak hanya terdapat beberapa pohon siong yang sudah tua dan sama sekali tidak terdapat rumah atau gubuk. “Dimana Gihoe dipenjarakan?” tanyanya didalam hati. Dipuncak itu juga tidak terlihat manusia. Dengan menggunakan ilmu ringan badan, ia segera ikut memanjat bukit. Ke empat orang itu memiliki ilmu meringankan badan yang cukup tinggi. Dalam memanjat bukit, mereka seperti juga berjalan di tanah datar. Boe Kie mengempos semangat dan mengudak. Dalam beberapa saat saja ia sudah berada dalam jarak kira-kira dua puluh tombak dari orang-orang itu. Ia mendapat kenyataan bahwa diantara mereka terdapat seorang wanita. Ketiga pria mengenakan pakaian biasa, sehingga bisa dipastikan bahwa mereka itu bukan pendeta Siauw lim sie. Mereka tentu datang untuk mencelakai Gihoe ” pikirnya. “Biar mereka bertempur dulu dengan Goan tin dan kemudian barulah aku turun tangan.”

Waktu mendekati puncak, keempat orang itu lari makin cepat. Tiba-tiba Boe Kie mongenalinya, antaranya, “Ah! Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham!” katanya didalam hati.

Sekonyong konyong, sambil bersiul nyaring Goan tin memutar tubuh dan turun lagi dari bukit itu dengan berlari-lari. Ternyata ia sudah tahu, bahwa dirinya dikuntit orang. Gerakan Boe Kie cepat luar biasa. Begitu lihat Goan tin memutar tubuh ia melompat ke rumput tinggi dan lalu merangkak kesebelah kiri, sehingga dalam sekejap ia sudah berada di tempat puluhan tombak jauhnya. Dilain saat ia dengar suara beradunya senjata. Dari suara itu, ia tahu, bahwa dua orang mengerubuti Goan tin. “Ah! Yang dua lagi tentu menyateroni Gihoe!” pikirnya. Buru-buru ia merangkak keluar dari rumput tinggi kan mendaki bukit secepat mungkin.

Setibanya dipuncak, ia merasa sangat heran. Seperti dilihat dari bawah, puncak itu hanya merupakan tanah datar. Disitu haaya terdapat tiga pohon siong tua yang tumbuh dalam bentuk segi tiga. “Dimana adanya Gihoe?” tanyanya didalam hati. Sesaat kemudian ia dengar suara orang. “Kita harus lantas turun tangan, Sat Soetee dan Lam Soetee belum tentu bisa melayani pendeta itu.” Itulah suara Pan Siok Ham.

“Benar” jawab Ho Thay Ciong.

Mendadak kedua orang itu yang mendaki bukit dengan merangkak bangun berdiri dan lalu menerjang kearah tiga pohon siong. Karena kuatir ayah angkatnya celaka Boe Kie segera mengudak.

Sekonyong-konyong Ho Thay Ciong mengeluarkan suara “huh!” seperti orang terluka. Boe-Kie mengawasi. Ia lihat suami isteri Ho itu memutar pedang sambil berdiri diantara ketiga pohon siong. Mereka seperti juga sedang bertempur tapi lawannya tak kelihatan. Dilain saat terdengar suara “tak tak tak!” seolah-olah pedang kedua suami isteri itu kebentrok dengan semacam senjata. Dengan heran Boe Kie mendekati dan tiba-tiba saja ia terkesiap. Dipongkol dua pohoo siong yang berada didepannya ternyata terdapat sebuah lubang berduduk seorang pendeta tua yang masing-masing memegang seutas tambang untuk menyerang suami isteri Ho. Pohon yang ketiga membelakangi Boe Kie, sehingga tidak bisa lihat keadaannya. Tapi sebab dari samping pohon itu juga keluar seutas tambang, maka dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa dipangkal pohon itupun terdapat seorang pendeta. Pada malam yang gelap itu, Boe Kie tak bisa lihat tegas gerakan2 tiga tambang itu.

Dalam pertempuran itu Ho Tay Ciong dan isterinya kelihatan repot sekali. Mereka memutar pedang bagaikan kitiran dan membuat garis pembelaan yang sangat rapat. Beberapa kali mereka membentak keras dan coba menerjang keluar, tapi selalu dipukul balik dengan ketiga tambang itu.

Boe Kie kaget tercampur kagum. Tambang hitam itu sama sekali tidak mengeluarkan suara dan kenyataan ini membuktikan, bahwa Lweekang ketiga pendeta itu sudah mencapai puncak kesempurnaan, “Goan tin mengatakan, bahwa Giehoe dijaga oleh tiga Thaysoesioknya,” pikir Boe Kie, “Ketiga pendeta itu tentulah juga paman guru dari Kong koen dan Kong tie. Mereka mempunyai Lweekang yang sudah dilatih selama tujuh-puluh tahun. Kalau aku harus melawan mereka, aku pasti akan kalah.”

Mendadak mendengar teriakan menyayat hati. Teriakan itu keluar dari Ho Thay Ciong yang punggungnya terpukul tanbang dan tubuhnya terlempar keluar dari gelanggang. Ia jatuh rebah dan kelihatannya sudah binasa. Pan Siok Ham gusar dan sedih. Dilain detik, karena tidak berwaspada, kepalanya terpukul pecah. Seutas tambang menyambar dan melemparkan mayatnya keluar gelanggang.

Sementara itu Goan-tin berkelahi sembari mundur. “Mari! Mari! Kalau kamu berani, maju terus untuk menerima kebinasaan!” ia berteriak ber-ulang2 untuk memancing lawannya.

Orang she Sat dan she Lam itu adalah jago-jago Koen-loen-pay. Mereka tahu, bahwa si pendeta tengah memancing mereka, tapi mereka tidak takut dan terus mendesak. Dalam ilmu silat, biarpun dikerubuti, Goan-tin tidak kalah. Tapi menurut perhitungannya, paling banyak ia binasakan seorang lawan dan yang lain tentu melarikan diri. Maka itu, ia memancing mereka ke pohon siong supaya kedua-duanya bisa dibunuh oleh Thay-soesioknya. Waktu berada dalam jarak beberapa tombak dari pohon siong, kedua jago Koen-loen itu mendadak lihat mayat Ho Thay Ciong. Dangan serentak mereka berhenti. Tiba-tiba dua utas tambang menyambar dan melibat pinggang mereka. Dengan sekali disentak, tambang-tambang itu melempar tubuh mereka. Ditengah udara mereka berteriak dan jatuh tanpa bernyawa lagi.

Melihat caranya ketiga pendeta itu membinasakan empat tokoh Koen loen pay, Boe Kie meleletkan lidah. Itulah kepandaian yang belum pernah dilihatnya. Kepandaian itu lebih tinggi daripada yang dimiliki Hian beng Jielo. Biarpun belum bisa menyamai Thio Sam Hong kepandaian mereka sudah boleh dikatakan mencapai puncak kesempurnaan. Bahwa Siauw lim pay masih mempunyai tetua yang berkepandaian sedemikian tinggi mungkin tidak diketahui oleh Thio Sam Hong dan Yo Siauw yang berpengetahuan luas. Hati Boe Kie berdebar-debar. Ia terus mendekam di rumput tinggi, tanpa berani bergerak.

Sementara itu, sambil mengeluarkan senyuman mengejek Goan tin menendang mayat Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham kesebuah jurang yarg sangat dalam. Boe Kie berduka. “Biarpun Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham pernah membalas kebaikan dengan kejahatan terhadapku dan biarpun mereka ingin mencelakai Gie hoe, mereka adalah pemimpin-pemimpin sebuah partai besar.” Pikirnya, “Bahwa mereka harus mati cara begitu, adalah kejadian yang mendukakan.”

Dilain saat, Goan tin menghampiri Thay soesioknya dan berkata sambil membungkuk. “Sam wie Thay soesiok mempunyai kepandaian yang tidak terbatas. Dalam sekejap Thay soesiok sudah binasakan empat tokoh Koen-loen pay. Rasa kagum Goan tin tak dapat dilukiskan lagi.

Salah seorang mengeluarkan suara di hidung. Mereka tidak menjawab perkataan si penjilat.

“Atas perintah Hong thio Soe siok, Goan-tin datang untuk menanyakan kewarasan Sam-wie Thay soesiok,” katanya pula. “Disamping itu, Goan tin juga diperintahkan untuk berbicara dengan orang yang dipenjarakan”.

“Kong kian Soetie seorang mulia dan berkepandaian tinggi,” kata salah seorang pendeta tua. “Kami sangat mencintai dan kann mengharap ia akan bisa memperkembang ilmu silat kita. Tak dinyana ia binasa dalam tangan penjahat itu. Selama puluhan tahun kami menutup diri dan tidak mencampuri lagi urusan dunia. Hanyalah karena memandang muka Kong kian Soetie, kami rela menjaga tempat ini. Penjahat itu pantas mendapat hukuman mati, maka perlu apa rewel-rewel lagi ?”

Perkataan Thay soesiok memang tidak salah,” kata Goan tin seraya membungkuk. ”Tapi
Hong thio Soesiok mengatakan, bahwa biarpun In soe benar dibunuh oleh penjahat itu, tapi mengingat kepandaian In soe yang sangat tinggi, maka timbullah pertanyaan, apa benar dengan seseorang diri penjahat itu bisa membunuh In-soe ? Sekarang kita penjarakan dia disini dan meminta bantuan Sam wie Thay soesiok untuk menjaganya. Maksud kita pertama ialah untuk memancing kawan-kawan penjahat itu supaya kita bisa membasmi musuh-musuh yang mencelakai In soe dengan sekali pukul dan kedua, untuk memaksa dia supaya menyerahkan To liong to supaya golok mustika itu tidak jatuh ke tangan lain partai. Apabila To liong to direbut oleh partai lain, maka partai itu juga akan merebut julukan “Boelim Cie coeh” ( yang termulia dalam Rimba Persiiatan), sehingga dengan demikian, derajat Siauw lim pay yang sudah dipertahankan selama ribuan tahun akan merosot.” (In soe: Guruku yang budinya besar).

Mendengar itu, bukan main gusarnya Boe Kie. “Goan tin benar-benar jahat!” katanya di dalam hati. “Dengan lidahnya yang beracun, dia lagui ketiga pendeta itu yang selama puluhan tahun menutup diri. Hmm ! …. Dia coba menggunakan tangan mereka untuk membinasakan tokoh-tokoh Rimba Persilatan.”

Salah seorang pendeta tua itu mengeluarkan suara di hidung. “Ya, kau boleh bicara dengan dia,” katanya.”

Ketika itu hujan belum berhenti dan guntur saban-saban bergemuruh, sehingga keadaan jadi lebih menyeramkan. Goan tin pergi ke antara tiga pohon siong itu, berlutut dan berkata “Cia Soen, apa kau sudah pikir masak-masak? Begitu lantas kau beritahukan, dimana To liong-to disembunyikan, aku akan segera melepaskan kau.”

Boe Kie heran,”Apa Giehoe dikurung dalam penjara di bawah tanah?” tanyanya didalam hati.”

Mendadak salah seorang pendeta tua membentak dengan gusar. “Goan tin! Seorang beribadat tidak boleh berjusta! Mengapa kau justai dia? Kalau dia beritahukan dimana adanya To liong to, apakah kau akan benar-benar melepaskan dia?”

“Biarlah Thay soesiok mengetahui, bahwa menurut pendapat teecoe, meskipun sakit hati kita karena binasanya In-soe sangat mendalam, tapi kalau ditimbang-timbang antara dua soal, soal nama dan derajat partai kita adalah terlebih penting,” jawabnya. “Asal dia beritahukan dimana adanya To liong to dan partai kita dapat memiliki golok mustika itu, kita boleh melepaskan dia. Dalam waktu tiga tahun, teecoe pasti akan bisa membalas sakit hatinya In soe.”

“Baiklah,” kata pendeta tua itu. “Dalam Rimba Persilatan, kita harus mengutamakan kesatriaan. Perkataan itu yang sudah diucapkan adalah seperti melesatnya anak panah yang tidak bisa ditarik kembali. Biarpun terhadap orang jahat, murid Siauw lim sie tidak boleh hilang kepercayaan.”

Mendengar perkataan itu, Boe Kie mengakui bahwa, ketiga pendeta tersebut bukan saja
berkepandaian tinggi, tapi juga luhur wataknya. Hanya sayang, tanpa merasa mereka sudah kena ditipu Goan tin.

“Cia Soen!” bentak Goan tin. “Apa kau dengar perkataan Thay-soesiokku? Ketiga tetua kami ini sudah bersedia untuk melepaskan kau.”

Tiba-tiba dari bawah tanah keluar suara yang nyaring dan angker. “Seng koen, apakah kau masih ada muka untuk bicara dengan aku?”

Jautung Boe Kie melonjak. Itulah suara ayah angkatnya! Kalau turut batinnya, seketika itu juga ia akan menerjang, membinasakan Seng Koen dan menolong sang ayah. Tapi sebisa-bisa ia menahan sabar. Ia yakin, bahwa ia tak akan bisa melawan ketiga pendeta tua itu. “Biarlah sesudah penjahat Goan tin pergi, aku akan menemui ketiga pendeta itu,” pikirnya. “Aku akan jelaskan latar belakang urusan ini. Mereka berilmu tinggi dan mereka tentu bisa membedakan, siapa yang salah, siapa yang benar.”

Sementara itu, sesudah menghela napas Goan tin berkata pula. “Cia Soen, kita sama-sama sudah berusia lanjut. Perlu apa kau selalu ingat kejadian yang dulu-dulu? Paling lama dua puluh tahun lagi, kita akan berpulang ke alam baka. Aku bersalah terhadap kau, tapi kau pun bersalah terhadap aku. Biarlah kita sama-sawa coret kejadian di masa lampau.”

Cia Soen tidak menghiraukan. Ia hanya berkata. “Seng Koen, apa kau masih ada muka untuk bicara dengan aku?”

Goan-tin membujuk berulang-ulang, tapi Cia Soen tetap tidak meladeni. Akhirnya ia bergusar dan berkata. “Dengan mengingat kecintaan dahulu, aku belum pernah turunkan tangan jahat terhadapmu Apa kau masih ingat totokanku yang dinamakan Ban-gie Can sim cie?” (Ban gie Can sim cie-Totokan berlaksa semut berkumpul dijantung).

Begitu mendengar “Ban-gie Can sim cie,” darah Boe Kie bergolak. Dari ayah angkatnya ia tahu, bahwa totokan itu salah satu ilmu paling beracun dalam kalangan persilatan. Siapa yang tertotok, isi perutnya seperti juga digigit berlaksa semut sakit dan gatal bercampur menjadi satu. Ia lantas saja mengambil keputusan, bahwa andaikata Goan tin benar-benar coba menurunkan tangan jahat itu, ia akan mengadu jiwa untuk menolong ayah angkatnya. Tapi Cia Soen sendiri hanya menjawab. “Seng koen, apa kau masih ada muka untuk bicara dengan aku?”

“Aku beri batas waktu tiga hari kepadamu,” kata Goan tin dengan suara dingin.

“Kalau dalam tiga hari kau tetap membandel, rasakanlah Ban gie Can sim cie!” Sehabis berkata begitu ia memberi hormat kepada ketiga pendeta tua dan kemudian turun dari bukit itu.

Sesudah pendeta jahat itu berlalu, selagi Boe Kia mau muncul untuk menemui tiga pendeta tiba-tiba saja ia merasakan ketidak beresan pada aliran hawanya. Ia tahu, bahwa ia diserang orang. tapi sedikitpun ia tidak merasakan sambaran serangan itu. Bagaikan kilat ia menggulingkan diri dan dua utas tambang lewat didepan mukanya. Baru ia berguling setombak lebih, seutas tambang yang tegak bagaikan toya menyambar dadanya hampir berbareng, dua tambang, lainnya menyambar punggungnya.

Sesudah menyaksikan keempat jago Koen-loen pay, ia mengerti bahwa jiwanya tergantung pada selembar rambut. Pada detik berbahaya, ia membalik tangan kirinya dan menangkap tambang yang menotok dada. Baru saja ia mau mendorong tambang itu, ia mendadak tambang tersebut dikerut dan semacam tenaga yang dahsyat luar biasa menindih dadanya. Kalau tindihan itu kena jitu, maka tulang-tulang dadanya akan menjadi remuk. Pada saat yang genting, dengan kecepatan yang tak mungkin dilukiskan, dengan tangan kanan ia menyampok dua tambang yang menyambar punggungnya dan berbareng dengan Kian koen Tay lo ie dan Kioe yang Sin kang tangan kirinya yang mencekal tambang mendorong dan melepaskan tambang , sehingga pada detik itu juga tubuhnya melesat ke tengah angkasa.

Sekonyong-konyong kilat berkeredepan. Karena kaget dan kagum melihat kepandaian Boe Kie, salah seorang pendeta mengeluarkan seruan tertahan. Ketiga pendeta itu menengadah dan dengan bantuan sinar kilat, mereka melihat wajah Boe Kie yang ternyata pemuda dusun dengan muka kotor. Bukan main rasa heran mereka.
Dilain saat, bagaikan naga hitam, tiga utas tambang menyambar keatas dan coba menggulung tubuh Boe Kie dari tiga penjuru.

Dengan bantuan sinar kilat, Boe Kie bisa melihat wajah tiga pendeta itu. Yang duduk disudut timur laut bermuka hitam, yang dibarat laut bermuka kuning dan yang disebelah selatan bermuka putih seperti kertas. Mereka ketiga-tiganya kurus kering, seperti tak punya daging, sedang pendeta yang bermuka kuning hanya bermata satu. Ditengah malam yang gelap itu, lima sinar mata mereka mengeluarkan sinar berkilauan.

Melihat sambaran tiga tambang itu, selagi tubuhnya melayang di udara, Boe Kie mengibas menarik dan menggulung. Dengan meminjam tenaga lawan ia menggulung tiga tambang itu menjadi satu. Itulah ilmu Thay-kek dari Boe-tong pay yang tenaganya merupakan sebuah lingkaran. Dengan ilmu itu Boe Kie menggulung tenaga tambang itu menjadi satu.

Tiba-tiba sesudah kilat yang tadi, guntur berbunyi berulang-ulang, sehingga bumi seolah-olah bergetar. Diantara keangkeran Langit dan Bumi itu, Boe Kie berjungkir balik di tengah udara dan kemudian kaki kirinya hinggap di sebatang siong. “Boan pwee Thio Boe Kie, Kauw coe dari Beng kauw, menghadap Sin wie Koceng,” serunya sambil membungkuk. Ia berdiri diatas sebelah kaki, ketika ia menyoja, ranting siong itu membal beberapa kali, sehingga tubuhnya terayun-ayun dan memberi sebuah pemandangan yang sangat indah. Tapi biarpun ia menjalankan kehormatan sebagai seorang muda terhadap orang tua ia berdiri disebelah atas, sehingga dengan demikian ia mempertahankan kedudukannya sebagai pemimpin Beng kauw.

Dengan mengedut beberapa kali, ketiga pendeta itu melepaskan tambang mereka yang tergulung. Tadi mereka menyerang dengan Sam cauw Kioe sit ( Tiga jurus sembilan pukulan ). Dalam setiap pukulan mengandung perubahan yang terdiri dari sepuluh jurus dan walaupun namanya “Sam cauw Kioe sit,” serangan itu sebenarnya merupakan beberapa puluh serangan berantai yang membinasakan. Diluar dugaan, semua serangan itu sudah dapat dipatahkan olen Boe Kie. Pada hakekatnya, setiap serangan berarti kebinasaan dan salah sedikit saja, tulang-tulang Boe Kie akan terpukul remuk. Tapi sesudah lolos dari lubang jarum, pemuda itu, kelihatan tenang tenang saja dan paras mukanya sedikit pun tidak berubah. Inilah kejadian yang belum pernah dialami ketiga pendeta itu. Tapi mereka tak tahu, bahwa selagi badannya terayun-ayun diranting pohon, diam-diam Boe Kie mengerahkan pernapasannya untuk mengatur hawanya yang sudah kalang kabutan.

Jurus silat yang tadi digunakan oleh Boe Kie terdiri dari Kioe yang Sin kang, Kian koen Thay lo ie, Tay kek koen dan paling belakang untuk berjungkir balik, ia menggunakan ilmu dari seng bwee leng. Biarpun memiliki kepandaian sangat tinggi, tapi karena sudah rnenutup diri selama beberapa puluh tahun, ketiga pendeta Siauw lim itu tidak mengenal ilmu2 tersebut, mereka hanya merasakan bahwa Lwee kang Boe Kie agak menyerupai Siauw lim kioe yang kang, meskipun tenaga dalam itu banyak lebih kuat daripada Kioe yang kang mereka. Mereka kagum tercampur kaget. Tapi sesudah Boe Kie memperkenalkan diri sebagai Kauwcoe dari Beng kauw, rasa kagum itu, lantas berubah jadi (amarah).

Pendeta yang bermuka putih berkata dengan suara menyeramkan. “Loolap kira siapa, tak tahunya iblis besar dari Mo Kauw! Sejak beberapa puluh tahun yang lalu loolap bertiga menutup diri dan tak pernah mencampuri urusan luar. Kami bahkan tak pemah menghiraukan urusan Siauw lim sie sendiri. Tak dinyana hari ini kami bertemu dengan Kauw coe dari Mo kauw dan oleh karenanya kami merasa syukur.”

Mendengar perkataan “Mo kauw” (Agama iblis ), Boe Kie jadi bingung. Ia tak tahu, bagaimana harus menjawab pendeta tua itu. Sebelum ia membuka suara, pendeta yang bermuka kuning bertanya. “Dimana adanya Yo po Thian?”

“Yo Kauw coe sudah meninggal dunia pada tiga puluh tahun yang lalu,” jawabnya.

Mendengar jawaban Boe Kie, pendeta itu mengeluarkan seruan”ah!” Nada seruan itu mengandung rasa kaget, duka dan putus harapan.

“Mendengar meninggalnya Yo Kauwcoe, dia kelihatannya sangat berduka,” kata Boe Kie di dalam hati. “Tak salah lagi, ia tentu mempunyat hubungan erat dengan Yo Kauwcoe. Giehoe orang sebawahan Yo Kauwcoe. Biarlah aku coba menggerakan hatinya dengan menyebutkan persahabatan dahulu dan kemudian menceriterakan cara bagaimana Yo Kauwcoe meninggal dunia sebab perbuatan Goan tin.” Memikir begitu, ia lantas saja berkata. “Kalau begitu, Taysoe mengenal Yo Kauwcoe, bukan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: