To Liong To – 17

Tio Beng tak bisa menahan sabarnya lagi. “Kalian adalah orang-orang yang berkedudukan tinggi dalam rimba persilatan dan aku sungguh tak mengerti mengapa kalian begitu tolol,” katanya. “Kalau benar Boe Kie membunuh Boh Cit Hiap, bukankah dengna mudah saja dia bisa membinasakan kalian semua untuk menutup mulut kalian? Kalau dia tega membunuh Boh Cit Hiap, apakah dia tak tega membunuh kalian? Jika kalian mencaci terus, aku akan gaplok muka kalian satu persatu. Aku perempuan siluman, aku bisa lakukan apa yang kukatakan. Dulu waktu kalian berada di Ban Hoat Sie, dengan memandang muka Thio Kong Coe, aku sudah memberi perlakuan istimewa pada orang-orang Boe Tong Pay. Lihatlah! Jari tangan jago-jago Siauw Lim, Koen Loen, Go Bie, Hwa San dan Khong Tong diputuskan olehku. Terhadap pendekar-pendekar Boe Tong, aku membuat kecualian. Dibagian mana perlakuanku terhadap kalian kurang sempurna? Bilang!”

Song Wan Kiauw berempat saling mengawasi. Di dalam hati mereka masih berpendapat, bahwa Boh Seng Kok dibunuh Boe Kie, tapi mereka kuatir, Tio Beng akan benar-benar menggaplok mereka. Seorang gagah boleh dibinasakan, tapi tak boleh dihina. Kalau sampai mereka digaplok si perempuan siluman, mereka benar-benar merasa terhina. Maka itu mereka lantas berhenti mencaci.

Tio Beng tersenyum dan berkata, “Ambillah tunggangan kita untuk membawa paman-pamanmu ke gua.”

Boe Kie kelihatan bersangsi. “Lebih baik kudukung mereka,” katanya.

Si nona mengerti maksud perkataan itu. Ia tertawa dingin dan berkata, “Apa kau rasa, karena berkepandaian tinggi, kau seorang diri bisa membawa empat orang dengan sekaligus? Kutahu, kau kuatir begitu lekas kau pergi, aku akan membunuh paman-pamanmu. Kau belum pernah menaruh kepercayaan atas diriku. Baiklah, aku pergi mengambil kuda dan kau tunggu di sini.”

Mendengar perkataan yang jitu, sekali lagi muka Boe Kie berubah merah. Tapi memang benar ia tidak berani menyerahkan keempat pamannya ke dalam tangan si nona yang angin-anginan. Maka itu, ia lantas saja berkata, “Terima kasih banyak jika kau sudi mengambil kuda-kuda itu, kutunggu di sini.”

“Hm!…. “ Si nona mengeluarkan suara di hidung. “Kau begitu mulia, tapi orang tetap tak percaya kepadamu, kau begitu baik hati, tapi orang tetap menganggap kau seperti anjing.” Sehabis berkata begitu, ia berjalan pergi.

Boe Kie tidak meladeni. Dengan hati masgul, ia megawasi bayangan si nona.

Sekonyong-konyong terdengar suara larinya kuda dari selatan, dan didengar dari suaranya jumlah kuda sedikitnya ada tiga ekor. Tio Beng pun sudah mendengarnya, karenanya ia buru-buru kembali dan berkata, “Ada orang!” seraya berkata begitu, ia lari ke belakang batu dan berjongkok di samping Boe Kie. Melihat separu badan Jie Lian Cioe berada di luar batu, ia segera menariknya.

“Jangan sentuh badanku!” bentak Jie Hiap dengan mata melotot.

Si nona tertawa, “aku justru ingin pegang badanmu,” katanya. “Aku mau lihat apa yang bisa diperbuat olehmu.”

“Tio Kouw Nio! Jangan kurang ajar terhadap soepehku!” bentak Boe Kie.

Tio Beng tertawa dan mengeluarkan lidahnya.

Sesaat itu, seorang penunggang kuda kelihatan mendatangi, dengan dikejar oleh dua orang lain. Dalam jarak kira-kira tiga puluh tombak, Boe Kie yang bermata jeli sudah mengenali, “Song Ceng Soe Toako!” bisiknya.

“Tahan kudanya!” kata Tio Beng.

“Perlu apa?” tanya Boe Kie.

“Jangan banyak tanya. Apa kau lupa, pembicaraan di ruangan kelenteng Bie Lek Hoed?” kata si nona.

Boe Kie mendusin, menjemput sepotong es dan menimpuk. Timpukan itu kena tepat di kaki depan kuda Song Ceng Soe yang langsung saja berlutut. Song Ceng Soe melompat turun dan coba membangunkan tunggangannya, tapi kuda itu tidak bisa berdiri lagi sebab tulangnya patah. Melihat pengejarnya sudah datang, cepat Song Ceng Soe segera melarikan diri. Tapi ia tidak bisa lari jauh, karena Boe Kie sudah menimpuk lagi dan potongan es mampir tepat pada jalan darah di betis kanannya.

Hampir berbareng robohnya Song Ceng Soe, kedua pengejar itu sudah menyandak. Mereka adalah Tan Yoe Liang dan Ciang Poen Liong Tauw.

“Heran sungguh!” kata Boe Kie dalam hati. “mereka bertiga bersama-sama pergi ke Tiang Pek San untuk mencari racun. Mengapa yang seorang lari dengan dikejar oleh yang dua?” sejenak kemudian ia mendapat lain ingatan. Ya, mungkin sekali Song Toako tersadar dan insaf bahwa ia tak boleh melakukan perbuatan terkutuk. Untung juga ia lari ke sini. Aku harus menolong.

Begitu menyandak, Tan Yoe Liang dan Ciang Liong Tauw meloncat turun dari tunggangan mereka. Mereka menduga kuda Song Ceng Soe roboh sebab terlalu letih dan pemuda itu sendiri terluka berat. Karena dugaan itu, mereka segera menghunus senjata yang lalu dituding ke tubuh Ceng Soe.

Tangan Boe Kie sudah mencekal kepingan es siap sedia untuk menimpuk. Tapi tangannya sudha disentuh Tio Beng, si nona menggeleng-gelengkan kepala, menuding kupingnya sendiri dan kemudian menuding Song Ceng Soe. Boe Kie mengerti bahwa ia dinasehati untuk bersabar dan menunggu pembicaraan ketiga orang itu.

“Orang she Song!” bentak Ciang Poen Liong Tauw. “Mengapa kau kabur ditengah malam buta? Apa kau mau membuka rahasia kepada ayahmu?” Sambil mencaci, ia membaling-balingkan golok Cie Kim Pat Kwa Lo di atas kepala Ceng Soe. Song Wan Kiauw sangat berkuatir akan keselematan puteranya. Secara kebetulan Boe Kie menengok dan ia melihat sorot mata sang paman yang penuh kekuatiran itu. Ketika benterok dengan mata Boe Kie, sinar matanya berubah dan memperlihatkan sinar memohon. Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya sebagai janji, bahwa ia akan menolong. “Kecintaaan ayah ibu benar-benar setinggi langit dan setebal bumi,” katanya di dalam hati. “Toasoepeh begitu gusar terhadapku. Tapi begitu melihat jiwa Song Toako terancam bahaya, ia rela untuk meminta pertolongan kepadaku. Andaikata Toasoepeh sendiri yang terancam bahaya, ia pasti tak akan meminta pertolongan.” Pada detik itu, tiba-tiba hatinya seperti tersayat pisau. Ia ingat, bahwa Song Ceng Soe mempunyai seorang ayah yang sangat mencintai, sedang ia sendiri seorang anak yatim piatu.

Sementara itu terdengar jawaban Song Ceng Soe, “Aku bukan mau memberitahukan ayah.”

“Pangcoe telah memberitahukan kau untuk mengikut kami ke Tiang Pek San guna mencari obat,” kata Ciang Poen Liong Tauw. “Mengapa kau pergi tanpa permisi?”

“Ciang Poen Liong Tauw! Aku anak manusia mempunyai ayah dan ibu. Kalian memaksa aku untuk mencelakai ayah kandung sendiri. Mana tega aku berbuat begitu? Aku bukan mau berseteru dengan kalian. Aku hanya tak sanggup melakukan perbuatan binatang itu.”

“apakah kau mau melanggar perintah Pangcoe? Apa kau tahu, hukuman apa yang akan dijatuhkan terhadap seorang anggota yang menghianati partai?”

“aku seorang berdosa besar. Aku memang sudah tak ingin hidup. Selama beberapa hari, setiap kali memejamkan mata, aku selalu melihat bayangan bcs selalu mengganggu aku. Ciang Poen Liong Tauw, bunuhlah aku! Aku akan merasa sangat berterima kasih.”

“Baiklah!” bentak si pengemis sambil mengangkat goloknya.

“Tahan!” cegah Tan Yoe Liang. “Liong Tauw Toako, apabila Song Heng Tee tetap menolak, lepaskan saja dia. Tak baik kalau kita bunuh.”

“Lepaskan dia?” menegas Ciang Boen Liong dengan suara heran.

“Benar, dia membinasakan paman gurunya sendiri, Boh Seng Kok. Dia berdosa besar dan pasti akan dibunuh oleh orang partainya sendiri. Perlu apa kita mengotorkan senjata?”

Itulah perkataan yang mengejutkan. Bagi keempat pendekar Boe Tong, kata-kata itu bagaikan halilintar yang menyambar dengan tiba-tiba.

Waktu mengintip pertemuan Kay Pang di kelenteng Bie Lek Hoed, ketika Tan Yoe Liang menyebut-nyebut nama Boh Seng Kok. Boe Kie sudah menduga bahwa Song Ceng Soe telah melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap pamannya itu. Tapi mimpipun tak pernah mimpi, bahwa Boh Seng Kok binasa dalam tangan pemuda itu. Antara mereka semua, hanyalah Tio Beng yang tidak terlalu kaget, sebab ia sudah menduga terjadinya kejadian itu.

“Tan Toako,” kata Song Ceng Soe dengan suara gemetar, “kau sudah bersumpah untuk tidak membocorkan rahasia ini. Asal kau tidak membuka mulut, ayah tentu tak akan tahu.”

Tan Yoe Liang tertawa tawar. “kau Cuma mengingat sumpahku, tapi lupa sumpah sendiri,” katanya. “kau sudah bersumpah, bahwa mulai waktu itu kau akan menurut segala perintahku. Apa kau atau aku yang lebih dahulu melanggar sumpah?”

“biarpun mesti mati, aku tak dapat menuruti perintahmu untuk menaruh racun di makanan Thay Soehoe dan ayah. Lebih baik kau bunuh saja aku.”

“Song Heng Tee, seorang gagah harus bisa bertindak dengan mengimbangi keadaan. Kami bukan menyuruh kau membinasakan ayah sendiri. Kami hanya ingin kau menaruh sedikit racun Bong Han Yo (obat yang melupakan), supaya mereka tertidur untuk sementara waktu. Bukankah kau sudah mengiakan waktu kita berada di kelenteng Bie Lek Hoed?”

“Aku hanya mengiakan untuk menaruh Bong Han Yo. Tapi yang ditangkap Ciang Poen Liong Tauw adalah binatang-binatang yang sangat beracun – ular, kelabang, dan sebagainya. Itu semua racun untuk membinasakan manusia. Itu semua bukan Bong Han Yo.”

Tan Yoe Liang mengawasi korbannya dan perlahan-lahan memasukkan pedangnya ke dalam sarung. “Cioe Kouw Nio dari Go Bie Pay sangat cantik bagaikan bidadari,” katanya. “didalam dunia sangat sukar dicari tandingannya. Aku merasa heran mengapa kau rela menyerahkan gadis itu ke dalam tangannya si bocah Boe Kie. Song Heng Tee, hari itu kau mengintip kamar tidur para wanita murid-murid Go Bie Pay dan perbuatanmu diketahui oeh Cit Soesiokmu lalu mengejar sehingga terjadi pertempuran di bukit batu. Pertempuran itu berakhir dengan peristiwa pembunuhan oleh seorang keponakan terhadap pamannya sendiri. Mengapa kau sudah melakukan pembunuhan itu? Bukankah karena ingin mendapatkan Cioe Kouw Nio yang cantik manis? Apa sekarang kau bisa mundur lagi? Tidak! Pasti tidak!”

Dengan menggunakan seantero tenaganya, Song Ceng Soe bangun berdiri, “Tan Yoe Liang, lidahmu sungguh jahat!” teriaknya.

“Kau menekan aku secara keterlaluan. Malam itu, di dalam pertempuran melawan bcs, aku sudah kalah. Aku berdosa besar. Kalau aku binasa, segala apa akan menjadi besar. Siapa suruh kau membantu aku? Aku kena ditipu olehmu, sehingga sekarang namaku hancur dan tidak akan bisa ditolong lagi.”

“Bagus, bagus!” kata Tan Yoe Liang dengan suara mengejek. “Apa boleh aku bertanya? Boh Seng Kok mati sebab punggungnya terpukul dengan pukulan Cia Thian Tiat Ciang (Pukulan tangan besai yang menggetarkan langit) Siapa yang memukulnya? Apa Kau? Malam itu, aku bukan saja menolong jiwamu, tapi juga menolong namamu. Apa itu salah? Song Heng Tee, didalam persahabatan, yang lain tak usah disebut-sebut lagi, tapi hal kau membunuh paman sendiri pasti tak akan diuar-uar olehku. Sekarang kita boleh berpisahan dan dilain hari kita masih mempunyai kesempatan untuk bertemu muka pula.”

Mendengar perkataan manusia itu yang seolah-olah bersedia untuk menyudahi segala persoalan sampai di situ, Song Ceng Soe sangat bersangsi. “Tan…. Tan Toako, apa yang mau diperbuat olehmu terhadapku?” tanyanya.

Tan Yoe Liang tertawa, “Aku selalu berbuat baik terhapamu, tapi kau tetap tak percaya aku,” katanya. “Apa yang aku mau berbuat terhadapmu? Tidak! Aku tak ingin berbuat apapun jua terhadapmu. Aku hanya ingin memperlihatkan serupa barang kepadamu. Kau lihatlah! Apa ini?”

Boe Kie dan Tio Beng sangat ingin melihat barang itu. Tapi mereka tidak berani mengeluarkan kepala. Tiba-tiba terdengar suara kaget dari Song Ceng Soe. “Ah!…. cincin besi Go Bie Pay!… milik Cioe Kouw Nio. Darimana kau dapatkan itu?”

Boe Kie terkejut, tapi dilain saat ia menduga, bahwa cincin itu bukan cincin tulen.

Tan Yoe Liang tertawa. “Lihatlah dahulu,” katanya. “Lihat dulu, apa tulen apa palsu.”

Beberapa saat kemudian Song Ceng Soe berkata, “Waktu berada di See Hek, aku pernah meminta pelajaran silat dari Biat Coat Soethay. Aku lihat cincin ini di jarinya. Rasanya, barang ini bukan barang palsu.”

Tiba-tiba terdengar suara “trang!”

“Inilah buktinya,” kata Tan Yoe Liang. “Kalau palsu, bacokanku pasti akan memutuskannya. Lihatlah! Di dalam cincin terdapat empat huruf Lioe Ie Siang Lie (dihadiahkan kepada anak Siang) Cincin ini dahulu milik Kwee Siang Lie Hiap, pendiri Go Bie Pay, dan terbuat daripada besia Hiantiat.

“Tan Toako…. “ Kata Song Ceng Soe dengan suara parau. “darimana…. Darimana kau mendapatkannya!… Dimana Cioe Kouw Nio sekarang?”

Tan Yoe Liang tersenyum, “Ciang Poen Liong Tauw, mari kita berangkat,” katanya tanpa memperdulikan pertanyaan Song Ceng Soe. “Mulai dari dulu, tapi sekarang Kay Pang tidak memerlukan manusia seperti dia lagi.” Suara tindakan kaki lantas terdengar kedua orang itu berjalan ke jurusan utara.

Sekonyong-konyong Song Ceng Soe memanggil, “Tan Toako! Apa dia mati atau masih hidup?”

Tan Yoe Liang kembali. “Benar,” katanya, “Cioe Kouw Nio berada dalam tangan kami. Dia sungguh cantik, aku sendiri belum beristeri. Aku ingin memohon kepada Pangcoe untuk menikah dengannya. Kurasa Pangcoe akan meluluskan.”

Song Ceng Soe mengeluarkan seruan tertahan.

“Benar, pada hakekatnya seorang koencoe tak akan merampas milik orang lain,” kata pula Tan Yoe Liang. “Tan Yoe Liang pasti tidak akan merusak persahabatan karena paras cantik. Tapi sekarang kau sudah menjadi penghianat partai. Diantara kita sudah tidak ada ikatan apapun jua dan aku bisa berbuat sesuka hati, bukankah begitu?”

Song Ceng Soe tidak menyahut. Dua macam pikiran rupa-rupanya sedang berkelahi di dalam hatinya.

Boe Kie melirik Song Wan Kiauw. Dengan rasa kasian, ia lihat pamannya mengucurkan air mata. Sebagai seorang gagah kalau bukan berlalu duka, paman itu tentu tidak akan menangis.

Beberapa saat kemudian barulah Song Ceng Soe berkata, “Tan Toako, Liong tauw Toako, tadi pikiranku kusut. Aku bersalah dan kuharap kalian suka memaafkan.”

Tan Yoe Liang tertawa terbahak-bahak. “Nah begini baru benar,” katanya. “Dengan menepuk dada aku memberi jaminan, bahwa soal kau menaruh Bong Han Yo di minuman para pendekar Boe Tong, bukan saja jiwa ayahmu tak akan kurang suatu apa, tapi Cioe Cie Jiak pun akan segera menjadi isterimu. Sesudah Thio Sam Hong dan para pendekar Boe Tong berada di dalam tangan kita. Thio Boe Kie pasti akan menurut segala perintah kita. Sesudah Kay Pang menguasai Beng Kauw, mengusir Tat coe dan merebut pulang tahta kerajaan, kau dan aku akan menjadi menteri-menteri sendiri negara. Bukan saja isteri kita dan anak-anak kita, tapi ayahnyapun akan menikmati segala kebesaran.”

Song Ceng Soe tertawa getir. “Thia-thia bukan manusia yang kemaruk harta,” katanya. “Aku hanya mengharap ayah jangan membunuh aku. Kalau harapan itu bisa terkabul, aku sudah merasa puas.”

Tan Yoe Liang tertawa, “Kecuali ayahmu dewa, ia pasti tak akan tahu latar belakang kejadian itu,” katanya. “Song Heng Tee, apa kakimu terluka? Kita berdua bisa menunggang kudaku. Setibanya di kota kita bisa membeli lain kuda.”

“Sebab terburu-buru, betisku terpukul kepingan es,” jawabnya. “Sungguh sial kepingan es itu kena tepat pada Coe Peng Hiat. Didalam dunia memang sering terjadi kejadian yang kebetulan.”

Dari pengakuan Song Ceng Soe dapatlah dilihat kelihaian Boe Kie dalam ilmu melepaskan senjata rahasia. Pemuda itu sama sekali tak pernah menduga, bahwa dirinya dibokong orang. Ia hanya merasa terpukul kepingan es yang secara kebetulan kena pada jalan darahnya. Hal ini pada hakekatnya tidak luar biasa. Lengan kita secara tidak sengaja juga sering membentur meja kursi dan kadang-kadang begitu terbentur, kita merasa kesemutan, karena benturan itu kebetulan kena pada “Hiat”.

“Bukan sial, tapi mujur,” kata Tan Yoe Liang sambil tertawa. “Song Heng tee bernasib baik dan sudah ditakdirkan bakal mempunyai isteri yang sangat cantik. Kalau betismu tidak terpukul es dan kami tidak bisa menyusul, maka kau tak akan tersadar dari kekeliruan. Dengan demikian, bukan saja namamu hancur, tapi usaha kitapun akan menjadi gagal. Selain begitu, Cioe Cie Jiak yang ayu akan menjadi isteri Tan Yoe Liang. Bukankah kejadian itu seperti burung hong berjodoh dengan burung gagak seolah-olah sekuntum bunga tertancap di atas tai kerbau?” Ia berbicara secara guyon-guyon, tapi setiap perkataannya hebat bukan main dan menekan Song Ceng Soe, sehingga pemuda itu tidak bisa berkutik lagi.

Song Ceng Soe menghela napas dan berkata dengan suara perlahan. “Tan Toako, bukan aku tidak percaya….”

“Kau mau bertemu dengan Cioe Kouwnio?” memutus Tan Yoe Liang. “Boleh! Mudah sekali. Sekarang Pangcoe dan para tiangloo berada di Louw liong dan Cioe Kouwnio pun berada di situ. Mari kita pergi ke Louw liong. Sesudah urusan Boe tong beres, kakakmu akan segera mengadakan pesta pernikahan untuk mewujudkan idam-idamanmu. Dan… seumur hidup, kita akan berterima kasih kepada Tan Yoe Liang Toako… ha..ha..ha….”

“Baiklah, mari kita pergi ke Louw liong,” kata pula Song Ceng Soe. “Tap Toako, bagaimana… bagaimana Cioe Kouwnio bisa berada dalam tangan kita?”

“Itulah berkat jasa Liong tauw Toako,” jawabnya sambil tertawa. “Hari itu, ketika Ciang pang dan Ciang poen Lio tauw makan minum di sebuah Cioe-lauw, mereka lihat tiga orang yang tidak dikenal. Sesudah diselidiki, salah seorang adalah Cioe Kouwnio. Ciang poen Liong tauw Toako segera mengirim orang untuk mengundangnya. Legakan hatimu. Cioe Kouwnio sehat walfiat, tak kurang satu apa.”

Boe Kie mengeluh. Sekarang baru ia tahu bahwa hari itu mereka sebenarnya dikenali. “Jika Giehoe tidak buta, ia bisa lihat bahwa rahasia sudah terbuka,” pikirnya. “Hai… aku dan Cie Jiak masih terus mimpi…” Tapi bagaimana dengan keselamatan Giehoe?” Dia bingung sebab Tan Yoe Liang tak pernah menyebut-nyebut ayah angkatnya.

Sementara itu si orang she Tan sudah berkata pula. “Song Heng tee, sesudah kau menikah dengan Cioe Kouwnio, Go Bie dan Boe tong pay harus menurut perintah Kay pang. Siauw lim pay sudah berada dalam tanganku. Ditambah dengan Kay Pang dan Beng Kauw, tenaga kita bukan main besarnya. Kita pasti bisa mengalahkan orang Mongol dan merebut negeri. Huh…huh… negara akan segera menukar majikan.”

Tan Yoe Liang berbicara dengan hati berbunga bunga. Ia memperlihatkan lagak seolah olah Kay pang sudah merebut seluruh negeri dan ia sendiri akan segera naik ke tahta kerajaan. Ciang poen Liaong tauw dan Song Ceng Soe juga turut ketawa, tapi tertawa mereka tertawa getir.

“Mari kita berangkat,” ajak Tan Yoe Liang. “Song Heng tee Bok Cit hiap binasa di dekat ini. Kau telah memasukkan jenazahnya ke dalam gua yang rasanya tak jauh dari sini. Bukankah begitu? Tadi, kudamu tiba tiba roboh. Apakah roh Bok Cit hiap menunjukkan keangkerannya? Ha.. ha.. ha!…. ha.. ha.. ha!…”

Kata kata itu membangunkan bulu roma Song Ceng Soe yang lantas saja berjalan dengan terpincang pincang.
Sesudah ketiga orang itu berlalu, Boe Kie lalu membuka jalan darah keempat pamannya sambil berlutut ia manggut manggutkan kepalanya dan berkata, “Soepeh, Soesiok, tadi titjie berada dalam keadaan terjepit dan tidak bisa membersihkan diri, sehingga karena terpaksa, titjie telah melakukan perbuatan berdosa terhadap Soepeh dan Soesiok. Titjie bersedia untuk menerima segala hukuman.”

Song Wan Kiauw menghela napas panjang, air matanya mengucur dan ia menengadah tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Jie Lian Cioe segera membangunkan keponakannya dan berkata dengan suara menyesal. “Perhubungan kita bagaikan perhubungan tulang dan daging. Hal itu tak usah disebut sebut lagi. Aku sungguh tidak duga, bahwa Ceng Soe… Ceng Soe… Hai!… kalau bukan mendengar dengan kuping sendiri, siapa yang bisa percaya?”

Tiba tiba “srt…!” Song Wan Kiauw menghunus pedang. “Binatang…!” katanya dengan suara gemetar. “Sam wie Soe tee, anak Boe Kie, mari kita kejar. Biar kubunuh binatang itu dengan tangan sendiri.” Seraya berkata begitu, badannya berkelebat dan ia mengubar puteranya dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.

“Toako, balik!” teriak Thio Siong Kee. “Kita harus berdama dulu.” Tapi Song Tayhiap tidak meladeni.

Boe Kie segera mengudak. Dengan cepat ia melewati sang paman dan lalu menghalang di depannya. “Tio Soe peh,” katanya sambil membungkuk. “Siesoepeh ingin bicara. Sebab ditipu, Song Toako telah membuat kekeliruan. Di hari kemudian, ia pasti akan mendusin. Jika Toasoepeh mau menghukum, tak perlu tergesa2.”

“Cit tee!… Cit-tee…!” kata Song Wan Kiauw dengan suara di tenggorokan. “Kakakmu benar2 berdosa besar…” Sekonyong-konyong ia mengangkat pedangnya dan coba menggorok leher. Boe Kie terkesiap dan secepat kilat tangannya menyambar. Sungguh mujur dia keburu merampas senjata itu dengan menggunakan ilmu Kian koen Tay lo ie. Tapi biarpun tak sampai membinasakan, ujung pedang menggores juga leher Song Tay hiap.

Ketika itu Jie Lian bertiga sudah menyusul. “Toako,” kata Thio Siong Kee dengan suara membujuk. “Ceng Soe telah melakukan perbuatan sangat terkutuk itu dan semua orang Boe tong pasti takkan dapat mengampuninya. Tapi, membersihkan rumah tangga sendiri urusan kecil, sedang urusan yang besar adalah keselamatan rakyat. Tak boleh, karena memperhatikan yang kecil, kita menyia nyiakan yang besar.”

“Membersihkan rumah tangga sendiri urusan kecil?” Menegas Song Wan Kiauw dengan mata melotot. “Huh!… sungguh sial aku mempunyai anak penghianat itu!….”

Didengar dari omongan Tan Yoe Liang, Kay pang ingin meminjam tangan Ceng Soe untuk mencelakai guru kita,” kata pula Thio Siong Kee dengan sabar. “Di samping itu, Kay pang berusaha untuk menekan atau mempengaruhi berbagai partai Rimba Persilatan guna merampas negeri. Bagi kita, Soecoen (guru yang mulia) merupakan urusan besar. Keselamatan Rima Persilatan dan rakyat di kolong langit juga merupakan urusan besar. Ceng Soe yang durhaka pasti akan mendapat pembalasan. Kewajiban kita yang sekarang ini adalah berdamai untuk menolong urusan besar.”

Song Wan Kiauw membungkam. Ia tak dapat membantah perkataan adiknya. Akhirnya ia memasukkan pedangnya ke dalam sarung dan berkata dengan suara perlahan. “Pikiranku kusut, otakku tak bisa memikir lagi. Biarlah Sietee yang memikirkan tindakan kita.”

Sesudah kegusaran kakaknya agak mereda, In Lee Heng lalu mengeluarkan obat dan membalut luka Song Wan Kiauw.

“Menurut pendapatku,” kata pula Thio Siong Kee,” karena Kay pang ingin mencelakai Soecoen dan guru kita tidak tahu menahu, maka tindakan yang harus segera diambil adalah pulang ke Boe Tong secepat mungkin. Meskipun Tan Yoe Liang mengatakan bahwa ia ingin meminjam tangan Ceng Soe, manusia jahat itu mungkin akan turun tangan terlebih siang. Yang terpenting bagi kita ialah melindungi soecoan. Soecoan sudah berusia tinggi, kalau kejadian dahulu sampai terulang, kalau sampai ada musuh lagi yang sampai membokong dengan menyamar sebagai pendeta Siauw lim, kita tak akan bisa menebus kedosaan kita.”

Sehabis berkata begitu, ia mengawasi Tio Beng dengan mata mendelik. Ia rupa rupanya masih mendongkol karena si nona pernah berusaha untuk membinasakan Thio Sam Hong.

Song Wan Kiauw mengeluarkan keringat dingin. “Benar…! Benar…!” katanya dengan gemetar. “Sebab ingin membunuh anak jahanam itu, aku sampai melupakan keselamatan Soecoan. Hai!… otakku sudah miring!”

Ia seorang yang tak sabaran. “Hayo! Lekas! Kita harus berangkat sekarang juga,” desaknya berulang-ulang.

“Boe Kie,” kata Thio Siong Kee sambil berpaling kepada keponakannya, “tugas menolong Cie Kauwnio harus ditunaikan olehmu sendiri. Sesudah berhasil, datanglah di Boe tong san.”

Boe Kie membungkuk dan berkata. “Baiklah Soepeh.”

“Tio Kauwnio berwatak kejam,” bisik Thio Siong Kee. “Kau harus berhati hati. Ceng Soe merupakan sebuah contoh seorang laki laki tak boleh dibikin lupa oleh paras cantik.”

Dengan muka merah Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya.

Sesudah selesai berdamai, keempat pendekar Boe tong Boe Kie lalu menguburkan jenazah Boh Seng Kok di belakang sebuah batu besar. Mereka menangis sedih sekali dan sehabis memeras air mata, Seng Wan Kiauw berempat segera berangkat.

Sesudah mereka berlalu, Tio Beng mendekati Boe Kie dan berkata. “Sie soepehmu menasihati supaya kau berhati hati terhadapku dan jangan sampai kena dibikin lupa oleh paras cantik. Dia mengatakan bahwa Song Ceng Soe adalah sebuah contoh. Benarkah begitu?”

“Bagaimana kau tahu?” tanya Boe Kie dengan suara jengah. “Apakah kau mempunyai kuping Soen hong nie?”

Tio Beng mengeluarkan suara di hidung. “Sekarang aku bicara terus terang,” katanya dengan bangga. “Aku berani memastikan bahwa sesudah memikir dan memikir lagi, Song Tay hiap dan yang lain lain akan berbalik mempersalahkan Cioe Cie Jiak yang dianggap sebagai gara gara yang mengakibatkan runtuhnya seorang jago muda dari Boe tong pay. Huh huh!… jalan pikiran orang lelaki tak pernah terlolos dari terkaanku.”

“Song Toasoepeh dan lain lain paman adalah koencoe (manusia utama), kata Boe Kie. “Mereka semuanya sudah mengetahui aturan dan tidak mungkin mempersalahkan orang secara serampangan.”

Si nona tertawa dingin, “Huh!… makin koencoe mungkin makin gila!” katanya. Sesudah berdiam sejenak, ia berkata lagi sambil tertawa, “Lekas tolong Cioe kauw untukmu! Kau celaka besar kalau dia sampai jatuh ke dalam tangan Song Ceng Soe.”

Muka Boe Kie berubah merah. “Mengapa celaka besar?” tanyanya sambil tertawa kecil.

Dengan mengikuti tapak kaki kuda Boe Kie dan Tio Beng berhasil menemukan tunggangan mereka yang lantas saja dikaburkan ke Kwan Lee. Boe Kie membedal kuda dan dengan pikiran kusut. Ia memikiri ayah angkatnya dan memikiri juga Cioe Cie Jiak. Mengingat bahwa Kay pang ingin menggunakan ayah angkatnya untuk menekan Beng Kauw, maka andaikata orang tua itu benar benar jatuh ke dalam tangan Partai Pengemis, jiwanya belum tentu terancam. Tapi biarpun begitu, sang Giehoe tentu tidak bisa terlolos dari segala hinaan. Ia lebih berkuatir akan keselamatan Cie Jiak. Si nona putih bersih. Dalam menghadapi Tan Yoe Liang yang jahat dan Song Ceng Soe yang tidak mengenal malu, jika didesak sampai di pojok, si nona pasti akan binasa. Mengingat begitu, ia ingin sekali mempunyai sayap supaya tiba di Lauw liong terlebih cepat.

Malam itu ia menginap di sebuah penginapan kecil. Walaupun tunggangan mereka kuda-kuda jempolan, tapi sebab dibedal terus menerus, kedua binatang itu sudah lelah sekali. Setiba di rumah penginapan mereka tak mau makan rumput lagi.

Sambil merebahkan diri di pembaringan batu makin lama Boe Kie makin bingung. Indap indap ia pergi ke depan jendela kamar Tio Beng. Nona itu sedang pulas nyenyak. Sesudah berpikir beberapa saat Boe Kie pergi ke meja pengurus penginapan, mengambil perabot tulis menyobek selembar kertas dan lalu menulis sepucuk surat. Ia mengatakan bahwa karena keadaan mendesak, ia mengambil keputusan untuk melangsungkan perjalanan di tengah malam. Sesudah menaruh surat itu di atas meja, ia membuka jendela, melompat keluar dan lari kabur ke jurusan selatan dengan menggunakan ilmu ringan badan yang paling tinggi.

Demikian, setiap malam ia meneruskan perjalanan dengan menggunakan ilmu ringan badan, sedang di waktu siang ia menggunakan keledai atau kuda. Dalam beberapa hari saja ia sudah tiba di Lauw liong. Meskipun terus menggunakan tenaga dan beberapa hari tak pernah tidur sebab memiliki lweekang yang sangat kuat ia tidak terlalu payah. Menurut perhitungan, dengan mengubar tanpa mengaso, siang siang ia sudah bisa melampaui rombongan Tan Yoe Liang. Tapi ia tak pernah bertemu dengan mereka. Mungkin sekali selagi ia berjalan di waktu malam, mereka sedang mengaso di penginapan.

Lauw liong adalah sebuah kota penting di propinsi Ho pak. Pada jaman kerajaan Tong, kota itu dijaga oleh seorang pembesar Cit tauwsoe selama kerajaan Cong dan Goan lauw liong mengalamai beberapa kali peperangan, sehingga kotanya hancur dan sampai sekarang belum pulih seperti sedia kala. Tapi biarpun begitu kota tersebut banyak penduduknya dan berbeda dengan kota kota di Kwan gwa yang sangat sepi.

Setibanya di kota itu, Boe Kie berkeliling di jalan jalan raya, di jalanan kecil, di lorong lorong, di rumah rumah penginapan dan rumah rumah makan. Heran sungguh ia tak pernah bertemu dengan seorang pengemis. Tan Yoe Liang tentu tidak berdusta waktu ia mengatakan bahwa para pemimpin pengemis berkumpul di Louw liong. Mungkin sekali pengemis pengemis itu sedang pergi menemui pangcu mereka.

“Kalau aku bisa mencari tempat pertemuan mereka, aku akan bisa menyelidiki benar tidaknya Giehoe dan Cie Jiak ditawan Kay Pang,” kata Boe Kie di dalam hati. Tapi sesudah menjelajah di seluruh dan di sekitar kota, ia masih belum mendapatkan sesuatu yang memberi petunjuk baik.

Waktu magrib Boe Kie mulai bingung. Tanpa merasa ia ingat kefaedahan Tio Beng.

“Kalau dia berada bersama aku, aku tentu tidak akan menghadapi jalanan buntu ini,” pikirnya. Dengan masgul ia lalu mencari sebuah rumah penginapan yang layak. Sesudah makan minum ia tidur sebentaran. Kira-kira tengah malam, ia melompat ke genteng untuk menyelidiki lagi.

Dengan matanya yang sangat tajam, ia mengawasi ke seputarnya, keadaan sunyi senyap dan angin dingin meniup dengan perlahan. Sedikitpun tak terlihat tanda, bahwa di kota itu tengah berlangsung pertempuran antara orang2 Kangouw. Ia jadi uring-uringan. Sekonyong-konyong dari loteng tinggi dari sebuah gedung besar terlihat sinar api.

“Kalau bukan milik pembesar tinggi, gedung itu tentu milik seorang hartawan,” pikirnya. “Tak mungkin pemilik gedung mempunyai sangkut paut dengan Partai pengemis…”. Belum habis jalan pikirannya, mendadak sesosok bayangan manusia melompat keluar dari sebuah jendela loteng. Gerakan orang itu cepat luar biasa dan dalam sekejap, ia tak kelihatan bayang bayangannya lagi. Kalau bukan Boe Kie yang mempunyai mata istimewa, melihatpun orang tak akan bisa melihatnya.

“Apa orang jahat bekerja di gedung itu?” tanyanya di dalam hati. “Orang itu ahli silat kelas utama.” Karena tak mempunyai tujuan tertentu, ia lantas mengambil keputusan untuk coba melihat lihat.

Setibanya di samping gedung, dengan sekali menjejakan tanah, tubuh Boe Kie melesat ke atas dan melompati tembok yang mengurung gedung. Sekonyong konyong jantungnya memukul lebih.

“Tan tiang loo sangat rewel,” demikian terdengar suara seorang. “Terang terang ia sudah mengatakan, bahwa kita akan berkumpul pula, di Lao ho kouw pada Chia hwee Cepeh. Sekarang ia mendadak menyuruh kita menunggu di sini. Dia bukan Pangcu, tapi lagaknya seperti Pangcu saja.”

Bukan main girangnya Boe Kie. Ia mengenali bahwa suara itu suara seorang anggota Kay Pang. Suara itu datang dari taman bunga. Begitu mendekat, ia dengar suara Soe hwee ling yang berkata, “Tan tiang loo sangat berakal budi. Ia berhasil membekuk Kim mo Say ong Cia Soen, yang dicari oleh segenap rimba persilatan selama dua puluh tahun lebih tanpa berhasil. Hasil yang gemilang itu jangankan di dalam partai kita sekalipun seluruh Rimba Persilatan, tak ada orang yang bisa meneladaninya…”

Boe Kie kaget bercampur girang. Sekarang ia tahu, ayah angkatnya berada dalam tangan orang-orang Kay Pang. Sesudah mengetahui itu, menolong sang Giehoe tak begitu sukar lagi pikirnya. Di dalam partai pengemis tidak terdapat tokoh tokoh yang benar benar berilmu tinggi.

Ia segera mendekati jendela dan mengintip dari celah-celah. Ternyata pertempuran itu berlangsung di sebuah pendopo di taman bunga.

Ia lihat Soe hwee liong duduk di tengah tengah. Coan kang dan Cie hoat Tiang loo, Ciang pang, Liong tauw dan tiga tiangloo delapan karung duduk di sebelah bawah.

Selain mereka terlihat pula seorang setengah tua yang berbadan gemuk dan mengenakan pakaian indah. Dilihat dari pakaiannya, dia seorang hartawan, tapi pada punggungnya terdapat enam lembar karung. Boe Kie manggut manggutkan kepalanya. “Benar,” katanya di dalam hati, “hartawan itu seorang murid Kay Pang. Para pengemis berkumpul di rumah orang kaya raya tak akan dapat diduga oleh siapapun jua, sungguh pintar!”

Sementara itu Soe hwee liong berkata pula, “Permintaan Tan tiangloo supaya kita menunggu di Louw liong tentu mempunyai sebab musabab yang beralasan. Kita mempunyai tujuan besar dan kita harus berhati hati.”

“Pangcu,” kata Ciang pang Liong tauw. “Tujuan orang gagah dalam mencari Cia Soen adalah untuk memperoleh To ling to yang dikenal sebagai Boe lim Cie coen (yang termulia dalam Rimba Persilatan). Tapi To liong to tidak terdapat di badan Cia Soen. Biar dibujuk dan diancam, dia tetap tidak mau beritahukan dimana adanya golok mustika itu. Dengan demikian, kita hanya mendapat seorang buta yang harus diberi makan dan minum. Apa gunanya? Menurut pendapat teecu, sebaiknya kita siksa padanya. Teecu melihat, apa dia tetap menutup mulut.”

Soe Hwee Liong meng-goyang2-kan tangan. “Tidak benar,” katanya. “Tindakan keras bisa merusak urusan besar. Kita harus tunggu Tan Tiangloo. Sesudah dia tiba, kita boleh berdamai lagi.”

Paras muka Ciang pang Liong tauw mengunjuk rasa mendongkol. Ia rupa rupanya merasa jengkel karena sang pemimpin terlalu menurut perkataan Tan Yoe Liang.

Soe Hwee Liong merogo saku dan mengeluarkan sepucuk surat yang lalu diangsurkan kepada Ciang pang Liong tauw. “Pang Heng tee,” katanya, “kuminta kau segera berangkat ke Ho cioe dan menyerahkan surat ini kepada Han San Tong. Beritahukan dia, bahwa puteranya berada dalam tangan kita dengan tak kurang suatu apa. Asal dia suka menakluk kepada partai kita, aku akan memperlakukannya secara layak.”

“Apakah pekerjaan menyampaikan surat harus dilakukan oleh teecu?” katanya Ciang pang Liong tauw.

Paras muka Soe Hwee Liong lantas saja berubah. “Pang Heng tee,” katanya, “selama setengah tahun ini Han San Tong dan kawan kawannya telah mencapai hasil hasil besar di daerah Ho cioe. Kudengar, di bawah perintah terdapat orang orang gagah kelas, seperti Coe Goan Ciang, Cie Tat, Siang Gie Coen dan lain lain. Maksud suratku ini ialah supaya Han San Tong menakluk kepada kita. Kalau dia bersedia untuk menakluk, Pang Heng tee harus menyelidiki apa menakluknya itu sungguh sungguh atau berpura pura. Di samping itu, Pang Heng tee pun harus mencari tahu kekuatan dari barisan Beng kauw. Tugas Pang Heng tee bukan semata mata menyampaikan surat. Tugasmu adalah berat.”

Ciang pang Liong tiauw tidak berani membantah lagi. “Baiklah,” katanya. Sesudah memberi hormat kepada pemimpinnya, ia segera meninggalkan ruangan pertemuan.

Sesudah itu dengan gembira mereka saling mengutarakan pikiran mengenai kemakmuran dan kejayaan Kay Pang yang sesudah menaklukan Beng kauw, Siauw lim, Boe tong dan Go bie pay. Angan angan Soe Hwee Liong ternyata tidak semuluk Tan Yoe Liang. Dia sudah merasa puas jika Kay Pang bisa menjagoi dalam Rimba Persilatan. Dia tidak bercita cita untuk merebut negara dan menjadi kaisar.
Boe Kie merasa sebal untuk mendengari lebih jauh dan berkata dalam hatinya. “Didengar dari pembicaraan mereka, Gie hoe dan Cie Jiak terkurung di gedung ini. Sebaiknya aku berusaha untuk melepaskan mereka dan kemudian barulah menghajar pengemis pengemis yang tak mengenal malu itu.” Sekali menjejak bumi, tubuhnya melesat ke atas dan hinggap di dalam pohon. Ia mengawasi ke sekitarnya, mencari cari tempat yang dijaga keras. Segera juga ia lihat, bahwa di bawah loteng terdapat belasan pengemis yang meronda dengan senjata terhunus.

Ia melompat turun, mendekati loteng itu, menyembunyikan diri di belakang sebuah batu besar. Selagi dua peronda memutar badan, secepat kilat ia lari ke kaki tembok di bawah loteng dan lalu memanjat ke atas dengan menggunakan ilmu Pek houw Yoe ciang kong (cecak merambat di tembok). Ia segera memasang kuping dan mata ke loteng yang terang benderang itu.

Namun akhirnya dengan rasa penasaran ia lalu mengintip dari celah celah jendela. Sepanjang lilin besar yang ditaruh di meja sudah terbakar habis, separuh, tapi di dalam kamar itu tidak terdapat bayang bayangan manusia.

Loteng itu mempunyai tiga kamar. Sesudah menyelidiki kamar sebelah timur, ia mengintip di jendela kamar sebelah barat. Lilin yang berada di kamar itu juga kelihatan nyala sangat terang dan di atas meja terlihat banyak makanan dengan tujuh delapan mangkok nasi dan sumpitnya. Tapi cawan cawan arak belum diminum dan makanan itu baru saja dimakan. Herannya, di kamar itupun tidak terdapat manusia. Kamar yang di tengah gelap gulita. Boe Kie mendorong pintu, tapi terkunci dari dalam. “Giehoe!” panggilnya dengan suara perlahan. Ia tidak mendapat jawaban. “Kalau Giehoe tidak dikurung di sini, mengapa loteng ini dijaga begitu keras?” pikirnya. “Apakah ia menggunakan tipu berisi berisi kosong, kosong kosong berisi?” (berisi is kosong, kosong berisi – apa yang dilihat berisi, sebenarnya kosong, dilihat kosong sebenarnya berisi).

Tiba tiba hidungnya mengendus bau darah yang keluar dari kamar itu. Ia terkejut. Dengan mengeluarkan sedikit tenaga tapal pintu patah. Sambil mendorong pintu, ia melompat ke dalam dan menyambut kedua potongan tapal pintu itu supaya tidak jatuh dan mengeluarkan suara.

Baru ia menindakkan kakinya menginjak sesuatu yang lembek seperti tubuh manusia. Ia membungkuk dan meraba raba. Aha! Mayat manusia yang mati belum berapa lama. Ia merasa agak lega karena mayat itu berkepala kecil. Dengan jari tangannya ia menotok papan kamar barat yang lantas berlubang dan dari lubang itu masuk sinar terang.

Sekarang ia bisa lihat, bahwa kamar itu penuh mayat pengemis yang kelihatannya binasa karena mendapat luka hebat di badan. Ia membuka baju satu di antaranya dan melihat tapak tinju di dada, tapak dari pukulan Cit siang koen. “Ah! Inilah pukulan Giehoe,” pikirnya dengan rasa girang. Di sudut tembok terdapat sebuah gambar obor – tanda Beng kauw – yang diukir dengan serupa benda tajam. Tapi bagaimana Giehoe bisa dibekuk mereka?” tanya Boe Kie di dalam hati. “Mungkin mereka menggunakan bong han yo, tambang atau jala. Tapi pintu di tapal dari dalam. “Bagaimana Giehoe bisa keluar? Heran!” Sambil memikir begitu, ia tiba tiba melihat darah di lain pintu dan di daun pintu bagian luar terdapat telapak telapak tangan. Sekarang ia mengerti. Ayah angkatnya tidak sengaja membunuh seorang dan sesudah keluar dari kamar, ia menyuruh orang itu menapal pintu, akan kemudian mengirim pukulan Cit siang koen pada daun pintu. Biarpun teraling selembar papan, pukulan tersebut masih kuat untuk membinasakan pengemis itu yang memuntahkan darah dan darahnya menyembur ke pintu. “Ya, tadi kulihat melompatnya bayangan manusia dari atas loteng,” pikirnya. “Bayangan itu tentulah Giehoe… tapi… tidak mungkin. Orang itu bertubuh kurus kecil, sedangkan Giehoe tinggi besar. Siapa dia?”

Ia keluar dari kamar dan melongok ke bawah. Para pengemis masih meronda. Mereka tak tahu apa yang terjadi di atas. “Pengemis2 baru saja mati dan Giehoe tentu belum pergi jauh,” pikirnya. “Perlu apa kau menebak nebak?” Sebaiknya aku menyusul dan menanyakannya. Aku dan Giehoe bisa kembali ke sini untuk menghajar pengemis2 bau itu.”

Bayangan yang tadi melompat turun dari tembok sebelah barat daya. Setelah mengambil keputusan, Boe Kie segera melompat ke satu pohon dan dari pohon itu, dia melompat pula ke atas tembok barat daya. Ia membungkuk untuk menyelidiki. Dengan rasa heran dia mendapat kenyataan, bahwa di situ terpeta tapak tapak kaki kecil, yaitu tapak wanita. “Siapa wanita itu?” tanyanya di dalam hati. “Biat coat Soethay telah meninggal dunia. Cie san Liong ong pergi ke lain negeri, Pan Siok Ham dari Koen loen pay belum tentu mempunyai ilmu ringan badan yang sedemikian tinggi. Cie Jiak dan Tio Beng tak mungkin. Yang lain lebih tak mungkin.” Tapi ia tak memikir panjang2 lagi dan segera menguber ke jurusan barat daya.

Sesudah berlari lari beberapa lie dengan mengikuti jalan raya, ia tiba di persimpangan jalan. Sesuai dengan kebiasaan Kang ouw, mereka lantas mencari tanda tanda di gombolan rumput tinggi. Benar saja, di sebuah batu besar ia menemukan gambar obor yang mengunjuk ke sebuah jalan kecil, jurusan barat daya. Ia girang karena jejak ayah angkatnya sudah dapat diikuti. Gambar itu yang sangat indah tidak mungkin dilukis oleh sembarang orang. Hanyalah orang orang seperti Cia Soen yang boen boe coan bay yang dapat melukisnya.

Tanpa ragu ragu lagi, ia lalu mengejar dengan mengambil jalanan kecil itu. Ketika tiba di See boek, fajar sudah menyingsing. Sesudah menangsal perut dengan bak pauw dan kue phia, ia meneruskan perjalanan ke arah barat. Di Pangcoe tin di kaki tembok ia menemukan sebuah gambar obor yang mengunjuk ke sebuah si thung (tempat pemujaan abu leluhur). Ia girang dan merasa pasti bahwa ayah angkatnya bersembunyi di tempat itu. Ia menghampiri dan memilih empat huruf “Goei sie Su thung” (tempat pemujaan abu leluhur orang she Goei) di papan merek. Begitu masuk ia mendengar suara ramai ramai dari sejumlah orang yang sedang berjudi.

Melihat Boe Kie yang berpakaian indah, kepala judi segera menghampiri dan berkata sambil tertawa, “Kong coe ya, hayolah!” Ia berpaling pada para penjudi dan berkata pula, “Berikan tempat kepada Kong coe ya!”

Alis Boe Kie berkerut dan matanya menyapu ke seluruh ruangan. Para penjudi itu bukan orang orang Kang ouw. Maka itu tanpa meladeni ajakan orang, ia segera berteriak. “Giehoe! Giehoe!” tapi ia tak mendapat jawaban.

Salah seorang penjudi yang iseng mulut tertawa dan berkata. “Mau apa kau nak. Giehoe mu berada di sini.” Para penjudi lantas saja tertawa terbahak bahak.

Sambil menahan sabar Boe Kie menanya si kepala judi. “Apa kau lihat seorang toa ya yang berambut kuning bertubuh tinggi besar dan buta matanya?”

“Omong kosong,” jawabnya dengan suara tawar. “Di kolong langit mana ada si buta yang bisa berjudi?” Kecuali kalau dia sudah bosan hidup.”

Darah Boe Kie meluap. Ia melompat dan mencekal si kepala judi dan penjudi yang tadi mengejeknya dan melontarkannya ke genteng. Walaupun tidak terluka mereka ketakutan setengah mati dan berteriak teriak minta tolong. Boe Kie menjemput dua potong perak dari meja judi dan sesudah memasukkannya ke dalam saku ia segera berjalan keluar. Para penjudi hanya mengawasi dengan mata membelalak dan tidak seorangpun berani mengubar.

Boe Kie meneruskan perjalanan ke arah barat. Tak lama kemudian, ia menemukan lagi tanda gambar obor. Di waktu magrib, ia tiba di Hong jiong, sebuah kota besar di Ho pak utara. Dengan mengikuti tanda obor, ia pergi ke sebuah gedung yang pintu depannya berwarna hitam. Dengan cincin pintu yang berkilat dan bunga bunga di dalam tembok yang sedang mekar, gedung itu memperlihatkan suasana tenang dan damai. Ia mengetuk ngetuk pintu dan tak lama kemudian terdengar tindakan kaki yang enteng. Hampir berbareng dengan terendusnya bau harum, pinta dibuka oleh seorang pelayan wanita yang mengenakan baju kulit warna merah. “Sudah lama Kong coe ya tak datang dan Ciecie sangat memikiri kau,” katanya sambil tersenyum. “Masuklah.”

Boe Kie bingung. “Bagaimana kau kenal aku? Siapa Cieciemu?” tanyanya.

Pelayan itu tertawa. “Ah, jangan berlagak pilon!” jawabnya. “Hayo masuk! Ciecie sudah menunggu nunggu.” Ia mencekal tangan kanan Boe Kie dan lalu menariknya.

Tak kepalang herannya Boe Kie. Sesudah memikir sejenak ia berkata di dalam hatinya. “Ah bisa jadi! Bisa jadi Cie Jiak berada di sini. Apa ia sudah menduga bahwa aku akan menyusul dengan mengikuti tanda tanda obor, ia memerintahkan pelayan ini untuk menyambut. Hai! Ia tentu sangat menderita.” Memikir begitu, ia lantas saja mengikuti. Sesudah melalui sebuah jalanan kecil yang tertutup batu dan melewati sebuah pekarangan, mereka tiba di depan sebuah kamar. Seekor burung kakaktua tiba-tiba berteriak. “Kakak yang tercinta datang! Ciecie kakak yang tercinta datang!”

Muka Boe Kie lantas saja berubah merah.

Kamar itu sangat indah. Semua kursi teralas bantal sulam dan dengan perapian yang apinya berkobar kobar, hawa di dalam kamar hangat bagaikan hawa di musim semi. Di atas sebuah meja kecil menyala hio wangi, di samping tempat hio terletak sebuah khim. Pelayan itu lantas masuk ke dalam dan keluar lagi dengan tangan menyangga nampan yang berisi enam piring kecil bebuahan dan sepoci teh. Ia menuang teh dan mengangsurkan cangkir kepada Boe Kie.

Waktu pemuda itu menyambutnya, si pelayan tiba tiba menekan pergelangan tangannya dengan perlahan. Alis Boe Kie berkerut. “Bagaimana pelayan ini bisa berlaku kurang ajar? Bukankah tak baik jika dilihat Cie Jiak?” katanya di dalam hati. “Mana Cia looya? Cie Kouwnio berada di mana?” ia bertanya.

Si pelayan tertawa. “Perlu apa kau tanyakan Cia looya?” jawabnya. “Ciecie akan segera datang. Kau sungguh tak punya perasaan hati. Sesudah berada di sini, kau masih ingat Cioe Kouwnio, Ong Kouwnio…”

Boe Kie kaget. “Jangan ngaco kau! Apa kau kata?” ia menegas.

Pelayan itu tertawa pula dan segera berlalu. Tidak lama kemudian ia kembali dengan menuntun seorang wanita muda yang berusia kira kira duapuluh tiga atau duapuluh empat tahun, kulitnya putih alisnya kecil bengkok dan di sudut mulutnya terdapat sebuah tahi lalat. Ia cukup cantik, hanya sinar matanya genit sekali dan ia menghampiri dengan tindakan gemulai. Alis Boe Kie berkerut karena ia mengendus wewangian yang sangat santer.

Wanita itu tertawa manis. “Siangkong she apa?” tanyanya. “Duduklah. Kedatangan Siangkong memberi muka kepadaku.” Seraya berkata begitu, sebelah tangannya memegang pundak Boe Kie.

Dengan muka kemerah merahan Boe Kie mundur setindak. “Aku she Thio,” jawabnya. “Apakah seorang tua she Cia dan seorang gadis she Cioe berada di sini?”

“Di sini Lee hiang ih,” sahut wanita itu. “Kalau Siangkong mau cari Cioe Sian sian, pergilah ke Pek tho kie. Siangkoan agaknya sudah linglung dan mencari Cioe Sian sian di Lee hiang ih. Hi..hi..hi…” Ia tertawa geli.

Boe Kie mendusin. Ia berada di rumah pelacur. Tanpa mengatakan suatu apa lagi, buru buru ia mengangkat kaki. Si pelayan memburu dan berteriak teriak. “Siangkong!… Siangkong!… apa nonaku kalah cantik dari Cioe Sian sian? Duduklah sebentaran…”

Boe Kie menggoyang goyangkan tangannya. Ia mengambil sepotong perak dari sakunya, melontarkannya di tanah dan terus kabur dengan berlari lari.

Ia terus lari. Ketika itu matahari sudah menyelam ke barat. Sebab sukar mengikuti tanda tanda obor di waktu malam, ia mengambil keputusan untuk m beramalam di rumah penginapan. Sesudah makan, ia mengasah otak, memikir segala pengalamannya. “Mengapa Giehoe pergi ke rumah judi, ke rumah pelacur?” tanyanya di dalam hati. “Di dalam hal ini tentu bersembunyi latar belakang yang luar biasa.” Karena letih ia tertidur. Di tengah malam ia tersadar dan tiba tiba saja di dalam otaknya berkelebat serupa ingatan. “Giehoe seorang buta, bagaimana ia bisa meninggalkan tanda tanda di sepanjang jalan?” tanyanya di dalam hati. “Apakah ia dikawani dan dibantu Cie Jiak? Apakah musuh yang membantunya untuk mempermainkan aku? Tapi… sudahlah! Biarpun mesti masuk ke sarang harimau, aku harus menyelidiki teka teki ini sampai seterang terangnya.”

Pada keesokan paginya, diluar kota Hong ji ong, ia kembali menemukan tanda obor, yang mengunjuk ke arah barat. Lohor itu ia tiba di Giok ian dan tanda obor menuntunnya ke sebuah gedung yang besar. Pemilik gedung sedang merayakan pesta pernikahan puterinya. Sebab sudah mendapat pelajaran getir, Boe Kie tak berani lantas menanyakan hal Cia Soen. Ia masuk ke tempat pesta dan memasang mata tapi tak bisa mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Dengan rasa masgul ia meninggalkan gedung itu dan benar saja, di pinggir jalan di sebuah pohon ia menemukan sebuah tanda obor.

Demikianlah tanpa memperdulikan apa pun jua, ia terus mengikuti tanda tanda obor. Dari Giok tian ia pergi ke Sam ho membiluk ke selatan, terus ke Hiang ho. Sampai di situ ia mulai menduga duga bahwa Kay Pang menggunakan tipu “memancing harimau meninggalkan gunung” untuk menyingkirkannya ke tempat jauh, supaya mereka bisa leluasa melakukan sesuatu kejahatan. Tapi biarpun menduga begitu, ia tak berani mengikuti terus tanda obor itu. Bagaimana kalau tanda tanda tersebut benar benar dibuat oleh ayah angkatnya dan Cie Jiak yang sedang diubar ubar musuh? Sesudah menimbang nimbang, ia mengambil keputusan untuk mengikuti terus.

Dari Hian ho, ia menguber ke Po shia, Toa pek chung, Poa chung. Menikung ke jurusan tenggara, tiba di Leng hoa, membiluk ke utara melewati Hong lam Kay peng Loei chung dan sesudah bercapai lelah berhari2 ia tiba pula di Louwliong. Ia ternyata sudah membuat sebuah lingkaran besar dari Louwliong kembali di Louwliong.

Setibanya di Louwliong, mendadak hatinya tenang. “Bagaimana jadinya jika musuh menyesatkan aku ke tempat jauh misalnya ke Kwitang Kwisay In Lam atau Kwi coe? Baik juga mereka menuntun aku balik ke Louwliong. Memikir begitu, sesudah makan kenyang2 ia membeli jubah panjang warna putih dan membuat gambar obor merah memakai itu. Ia mau menyatroni pusat Kay Pang secara resmi sebagai seorang Kauwcoe dari Beng Kauw.

Sesudah berdandan, ia segera pergi ke gedung si hartawan yang menjadi tempat berkumpulnya tokoh tokoh Kay Pang. Pintu depan terkunci. Dengan sekali pukul daun pintu terbang menimpa dua jambangan ikan emas yang lantas saja menjadi hancur.

Sesudah dipermainkan beberapa hari dia datang dengan darah mendidih. Ia bertekad untuk mengadu kepandaian dan melampiaskan hawa amarahnya. Begitu pintu terpukul pecah, ia masuk dengan tindakan lebar. “Orang orang Kay Pang dengarlah!” teriaknya. “Lekas suruh Soe Hwee Liong keluar untuk menemui aku!”

Di pekarangan terdapat belasan murid Kay Pang dari tingkatan empat dan lima karung. Hancurnya pintu tentu saja mengejutkan mereka.

Boe Kie tak mau membuang buang waktu. Ia mendorong keras dan bagaikan rumput kering tubuh murid murid Kay Pang itu terpental roboh sesudah membentur tembok atau jendela.

Boe Kie maju terus. Sesudah menghancurkan pintu tengah ia mendapat kenyataan bahwa tokoh tokoh Kay Pang sedang makan minum di toa thie, dengan Soe Hwee Liong duduk menghadap keluar.

Para pemimpin Kay Pang sudah mendengar ribut ribut dan baru saja memerintahkan salah seorang untuk menyelidiki. Tapi Boe Kie sudah keburu datang. Dengan sekali menjepret ia cengkeram dada murid Kay Pang tujuh karung yang mau keluar menyelidiki itu dan terus melemparkannya ke arah Soe Hwee Liong.

Si hartawan pemilik gedung yang duduk di sebelah bawah buru buru mementang kedua tangannya untuk menangkap tubuh si pengemis yang “terbang” mendatangi. Tangkapannya tepat, tapi ia terhuyung tujuh delapan tindak karena tenaga melempar itu hebat luar biasa.

Para pengemis terkesiap, murid tujuh karung yang dilemparkan itu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi sedang si hartawan berkepandaian lebih tinggi lagi.

Kalau tokoh tokoh partai pengemis kaget, Boe Kie lebih kaget lagi. Tapi dalam kagetnya Boe Kie tercampur rasa girang, sebab ia lihat bahwa Cioe Cie Jiak dan Song Ceng Soe sedang duduk berendeng di meja bundar sebelah kiri. Untuk sejenak ia terpaku dan mengawasi nona Cioe dengan mata membelalak.

“Boe Kie Koko!” teriak Cie Jiak. Ia berdiri, tapi tubuhnya bergoyang goyang dan lantas roboh.

Boe Kie melompat, membungkuk dan memeluk si nona.

Tiba tiba punggungnya dipukul dua kali beruntun oleh Song Ceng Soe dan oleh seorang pengemis lain. Tapi tidak bergeming sebab sekujur badannya dilindungi Kioe yang sinkang. Sambil mendukung si nona, ia melompat keluar dari ruangan perjamuan.

“Mana Giehoe?” tanyanya.

“Aku… aku…” kata nona Cioe terputus putus.

“Apa Giehoe selamat?”

“Jalan darahku ketotok… aku tidak bertenaga…”

Tapi Boe Kie yang sangat memikiri Cia Soen tidak menghiraukan keterangan si nona. “Bagaimana Giehoe?” tanyanya pula.

“Entahlah, aku tak tahu. Aku ditangkap mereka dan dibawa kemari. Aku tak tahu di mana adanya Giehoe.”

Boe Kie segera melepaskan Cie Jiak di tanah dan mengurut betisnya. Tapi totokan atas diri Cie Jiak adalah totokan istimewa dari Kay Pang dan Boe Kie tidak berhasil dalam usaha membukanya. Cie Jiak masih tetap tidak bisa berdiri.

Sementara itu semua tokoh Kay Pang sudah meninggalkan meja perjamuan dan berdiri di atas undakan batu dari ruangan itu. Sambil merangkap kedua tangannya Soe Hwee Liang bertanya, “Apakah tuan Kauwcoe dari Beng kauw?”

Dalam menghadapi seorang pemimpin dari sebuah partai persilatan yang besar, Boe Kie tidak berani melanggar kesopanan. Ia pun lantas segera merangkap kedua tangannya dan menjawab. “Benar. Tanpa diundang aku sudah datang di Cong to (pusat kalian). Untuk itu, aku menghaturkan maaf.”

“Nama Thio Kauwcoe menggetarkan seluruh Kangouw dan sudah lama aku ingin bertemu dengan tuan,” kata Soe Hwee Liong. “Kini aku mendapat bukti, bahwa nama itu bukan nama kosong.”

“Aku datang untuk menemukan ayah angkatku, Kim mo Say ong,” kata Boe Kie. “Kuharap Pangcoe suka mengeluarkan Giehoe itu.”

Paras muka Soe Hwee Liong mendadak berubah merah padam. Sesudah tertawa terbahak-bahak, ia berkata. “Thio Kauwcoe berusia sangat muda, tapi perkataanmu sangat tak pantas. Dengan maksud baik aku mengundang Cia Say ong datang kemari untuk menjadi tamu kami selama beberapa hari. Di luar dugaan Cia Say ong telah berlalu tanpa pamitan. Bukan saja begitu, dia bahkan membinasakan delapan murid kami. Thio Kauwcoe, bagaimana perhitungan ini bisa dibereskannya?”

Boe Kie terkejut. “Kalau begitu delapan pengemis itu benar benar dibinasakan Giehoe,” pikirnya. “Tapi kemana perginya Giehoe?” Sesudah memikir sejenak, ia berkata. “Tapi bagaimana dengan Cioe Kouwnio ini? Apa kedosaannya sehingga kalian menahannya disini?”

Soe Hwee Liong tertawa dan menjawab dengan suara mengejek. “Benar juga kata orang, bahwa biarpun berkepandaian tinggi, Thio Boe Kie adalah iblis yang tak mengenal aturan. Ha..ha..ha!..”

“Sebab apa?”

“Sepak terjang Thio Kauwcoe sudah merupakan bukti yang nyata.”

“Aku tanya, sebab apa kau mengatakan aku tak tahu aturan?”

“Cioe Kauwnio adalah seorang Ciangboen dari Go bie pay. Ia adalah pemimpin dari sebuah partai yang lurus bersih. Ada hubungan apakah ia dengan agama mu yang sesat? Song Ceng Soe, Song Heng tee, adalah seorang tokoh terkemuka Boe tong pay. Dengan Cioe kauwnio ia merupakan pasangan yang setimpal. Mereka kebetulan lewat disini dan kami menjamu mereka. Hal ini sedikitpun tidak ada sangkut pautnya dengan Thio Kauwcoe. Sungguh lucu!… sungguh menggelikan.” Sehabis berkata begitu ia tertawa berkakakan diturut oleh kawan-kawannya.

“Kalau benar Cioe Kouwnio tamu mu mengapa kau totok jalan darahnya sehingga ia tidak bisa berdiri?” tanya Boe Kie.

Soe hwee Liong tergugu. Ia tidak dapat menjawab.

Tan Yoe Liang maju setindak dan berkata, “Siapa bilang Cioe Kouwnio tertotok jalan darahnya?” Kami baru saja makan minum dengan riang gembira. Semenjak dahulu Kay Pang dan Go bie pay mempunyai hubungan yang sangat erat. Pendiri Go bie pay adalah Kwee Lie hiap, puteri Oey Pangcu Oey Yong. Yeh lu Pangcu dari partai kami adalah cie hoe (suami dari kakak perempuan) Kwee lie hiap. Kenyataan ini diketahui oleh seluruh anggota Rimba Persilatan. Coba kau pikir. Dengan adanya hubungan yang erat itu, cara bagaimana cara melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap seorang ciang boenjin dari Go bie pay? Omongan Thio Kauwcoe seperti omongan anak anak yang bisa ditertawakan oleh segenap orang gagah di kolong langit.”

Boe Kie tertawa dingin. “Kalau menurut perkataanmu, apakah Cioe Kouwnio telah menotok jalan darahnya sendiri?” tanyanya.

Tan Yoe Liang mengeluarkan suara di hidung. “Belum tentu begitu,” jawabnya.

“Semua orang menyaksikan dengan mata sendiri, bahwa Thio Kauwcoe lah yang telah merampasnya secara paksa. Cioe Kouwnio coba memberontak dan Thio Kauwcoe segera menotoknya. Thio Kauwcoe meskipun benar seorang agah sering sukar mengatasi diri dalam menghadapi seorang wanita cantik, tapi janganlah kau melakukan perbuatan kurang ajar itu di hadapan orang banyak. Thio Kauwcoe, kau sungguh tak ingat kedudukanmu yang sangat tinggi.”

Dalam mengadu lidah, Boe Kie memang bukan tandingan Tan Yoe Liang. Tak dapat ia menangkis serangan si orang she Tan. Paras mukanya merah padam dan ia hanya mengawasi lawannya. Beberapa saat kemudian barulah ia bisa membuka mulut. “Apa benar benar kau tidak mau memberitahukan dimana adanya ayah angkatku?” tanyanya dengan suara gemetar.

“Thio Kauwcoe,” kata Tan Yoe Liang dengan suara tawar, “Kong beng Soecie Yo Siauw dari agama mu dahulu pernah merusak kehormatan Kie Siauw Hoe dari Go bie pay. Sebab perbuatan itu, dia dikutuk oleh semua orang di kolong langit. Maka itu aku sekarang ingin menasihati kau, supaya janganlah kau meneladan contoh Yo Siauw itu. Dengan setulus hati aku memberi nasehat. Terserah kepada kau, apa kau sudi dengar atau tidak.”

Boe Kie tidak meladeni. Ia menengok kepada Cie Jiak, “Beritahukan aku cara bagaimana mereka bawa kau sampai di sini?”

Nona Cioe menjawab dengan terputus-putus. “Aku… aku… aku…,” mendadak tubuhnya bergemetaran dan roboh pingsan.

Orang orang Kay Pang lantas saja mencaci maki.

“Iblis Beng Kauw bunuh orang!”

“Thio Boe Kie bunuh Ciang boen jin Go bie pay!”

“Binasakan penjahat cabul Thio Boe Kie!”

dan sebagainya.

Tak kepalang gusarnya Boe Kie. “Tangkap penjahat harus ditangkap rajanya, pikirnya. Dengan membekuk Soe hwee liong, aku bisa mengorek rahasia dimana adanya Giehoe.” Memikir begitu, ia segera menerjang pangcu Kay Pang itu.

Tapi baru mau bergerak, Ciang pang Liong tauw dan Cie hoat Tiang loo sudah menghadang di depannya. Ciang pang Liong tauw menyapu dengan tongkatnya, sedang Cie hoat Tiangloo yang tangan kanannya bersenjata gaetan baja dan tangan kirinya memegang tongkat besi turut menyerang dengan pukulan yang membinasakan.

Sambil membentak, Boe Kie menyambut dengan Kian koen Tay lo ie. “Trang!” gaetan Cie hoat Tiangloo menangkis tongkat Ciang pang Liong tauw.

“Semua orang awas!” teriak Coan kang Tiang loo. “Bocah itu memiliki ilmu silat aneh.” Seraya berkata begitu, ia mengirim tiga serangan dengan pedangnya. Setiap serangan diajukan ke arah “hiat” besar, di bagian dada dan kempungan.

“Bagus!” seru Boe Kie sambil melompat. Hampir berbareng jari tangannya menotok Hoan tiauw hiat di paha lawan. Bagaikan kilat pedang Coan kang membuat lingkaran dan ujung pedang menyambar ujung jari tangan Boe Kie. Sambutan itu yang dikirim secara indah dan tepat membuktikan kelihaian Coan kang Tiangloo sehingga Boe Kie sendiri merasa kagum sekali. Buru2 ia menarik pulang tangannya untuk mengelakkan tusukan pedang itu.

Hari itu di kelenteng Bie lek hoed, Boe Kie pernah menyaksikan pertempuran antara Hiang beng Jieloo dan jago jago Kay Pang. Tapi sebab bersembunyi di pohon dan tidak berani menonjolkan kepala, maka itu ia tidak melihat tegas jalannya pertempuran. Sekarang ia harus mengakui, bahwa Coan kang dan Cie hoat Tiangloo adalah tokoh tokoh persilatan kelas utama, sedang kepandaian Ciang pang Liong tauw hanya kalah setingkat.

Dalam sekejap, ketiga ketua Kay Pang sudah bertanding kurang lebih dua puluh jurus melawan Boe Kie.

Tiba-tiba Tan Yoe Liang berteriak, “Kepung dengan Sat-kauw-tin!” (Sat kauw tin – barisan membunuh anjing).

Sambil berteriak teriak, dua puluh satu jago Kay Pang yang masing masing bersenjatakan golok bengkok, lantas saja mengurung Boe Kie. Teriakan dan kelakuan mereka sangat aneh. Ada yang berteriak, “Looya, minta nasi!” Ada pula, “Tai-tai, mohon belas kasihan!” Ada yang menjerit jerit kesakitan, ada yang memukul dada dan sebagainya. Semula Boe Kie merasa terkejut, tapi ia lantas saja mengerti bahwa teriakan dan kelakuan itu bertujuan untuk membingungkan pikirannya. Ia mendapat kenyataan, bahwa walaupun kelihatannya kalut, tindakan kaki para pengepung itu sesuai dengan peraturan tertentu.

Baru saja Boe Kie terkepung, sekonyong-konyong Coan kang Tiangloo membentak. “Tahan!” Sambil melintangkan pedangnya di dada, ia melompat mundur, diikuti oleh Cie hoat Tiangloo dan Ciang pang Liong tauw. Tapi dua puluh satu pengemis yang merupakan anggota Sat kauw tin masih terus mempertahankan tin tersebut dengan berlari lari terputar putar.

“Thio Kauwcoe,” kata Coan kang. “Dalam sejumlah besar kami mengepung kau seorang. Pada hakekatnya andaikata kami menang, kemenangan itu bukan kemenangan yang boleh dibanggakan. Tapi di dalam partai kami tidak seorangpun bisa menandingi Thio Kauwcoe. Maka itu, dalam usaha menumpas kejahatan, kami tidak bisa lagi mempertahankan kebiasaan Rimba Persilatan yang penuh kehormatan, yaitu satu melawan satu.”

Boe Kie tersenyum. “Bagus, bagus!” katanya.

“Kami semua bersenjata, sedang Thio Kauwcoe bertangan kosong,” kata pula Coan kang Tiangloo. “Dalam menarik keuntungan, Kay Pang tidak pantas menarik keuntungan terlampau besar. Thio Kauwcoe, kau beritahukanlah, senjata apa ayng diinginkan olehmu. Kami akan segera menyerahkannya.”

Mendengar itu, diam diam Boe Kie memuji tetua itu yang berbeda wataknya dari manusia semacam Tan Yoe Liang. Ia tersenyum dan menjawab, “Di dalam Kay Pang, tidak ada senjata yang cocok bagiku. Untuk main main dengan kalian sebenarnya aku tidak memerlukan senjata. Dan andaikata perlu, aku sendiri bisa mengambilnya.”

Hampir berbareng, tubuhnya berkelebat dan ia sudah melompat keluar dari Sat kauw tin. Bagaikan kilat ia menekan pundak Tan Yoe Liang dan Song Ceng Soe, merampas pedang kedua orang itu dan kemudian melompat masuk pula ke dalam Sat kauw tin. Kesemuanya itu dilakukan dengan gerakan yang sangat indah dan kecepatan yang sukar dilukiskan.

Sebelum para pengemis hilang kagetnya, Boe Kie sudah berkata dengan suara nyaring. “Orang Kay Pang memang biasa mencuri ayam dan menangkap anjing. Nama Sat kauw tin memang tepat sekali. Membunuh anjing memang tak sukar. Tapi kalau ingin menakluki naga atau harimau, barisan ini tak dapat digunakan.” Sehabis berkata begitu ia mengibaskan kedua pedang yang dicekalnya sambil mengirim tenaga dalam ke badan pedang. “Tak!” kedua senjata itu patah dengan berbareng.

“Majulah!” bentak Ciang pang Liong tauw sambil menotok dada Boe Kie dengan tongkatnya. Cie hoat juga lantas menyerang. Boe Kie bersiul nyaring. Ia mengegos, melompat dan menerjang kian kemari dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie. Di lain saat sinar putih menyambar nyambar ke arah tiang di tengah tengah ruangan itu. Sinar putih itu adalah golok bengkok yang dirampas Boe Kie dan dilemparkan ke tiang. Dalam sekejap, dua puluh satu batang golok sudah menancap di tiang tersebut.

Sekonyong-konyong terdengar bentakan Tan Yoe Liang. “Thio Boe Kie! Apa kau belum mau berhenti?”

Boe Kie menengok dan melihat si orang she Tan tengah menuding punggung Cie Jiak dengan ujung pedang. Sebab kuatir tunangannya celaka, ia segera menghentikan serangannya. “Selama kurang lebih seratus tahun dunia Kang ouw menyebut nyebut nama Beng kauw, Kay Pang dan Siauw lim pay,” katanya dengan suara dingin. “Dalam kalangan pang, Kay Pang dipandang paling tinggi. Dengan melakukan perbuatan yang seperti ini, apakah kalian tidak menodai nama besarnya Ang Cit Kong loohiap?”

Paras muka Coan kang Tiangloo berubah merah. “Tan Tiangloo!” teriaknya dengan gusar. “Lepaskan Cioe Kauwnio! Hari ini kita harus melakukan jalan suatu pertempuran mati hidup dengan Thio Kauwcoe. Dimana kita mau menaruh muka jika seluruh tenaga Kay Pang tak dapat menjatuhkan tokoh Beng Kauw yang seorang diri.”

Tan Yoe Liang tertawa, “Seorang gagah tak mengadu tenaga, tapi mengadu kepintaran,” katanya. “Thio Boe Kie, apa kau belum mau menyerah?”

“Baiklah,” jawabnya. “Hari ini aku belajar kenal dengan keangkeran Kay Pang.” Ia mundur dua tindak dan mendadak saja ia berjungkir balik ke belakang. Selagi tubuhnya melayang turun ke bawah secara tepat sekali ia jatuh duduk di pundak Soe hwee liong, dengan tangan kanan menekan batok kepala dan tangan kiri mencengkeram leher pemimpin partai pengemis itu.

Itulah salah satu jurus dari ilmu Seng hwee leng. Bahwa ia sudah berhasil begitu mudah bahkan di luar dugaan Boe Kie sendiri. Sebelum berjungkir balik, ia telah menghitung hitung untuk coba membekuk Soe hwee liong dengan menggunakan tiga pukulan berantai. Di luar dugaan, dengan sekali jurus ia berhasil. Ia sekarang menunggang Soe hwee liong seperti kanak kanak main kuda kudaan.

Melihat pangcu mereka tertawan, para pengemis mengeluarkan seruan tertahan. Boe Kie tersenyum, jari tangannya menempel pada Pek hwee hiat di batok kepala Soe hwee liong. Pek hwee hiat adalah hiat yang sangat penting. Asal Boe Kie mengeluarkan sedikit tenaga, pangcu itu akan binasa tanpa bisa ditolong lagi. Di lain saat ruangan itu berubah sunyi senyap. Bagaikan patung para pengemis mengawasi Boe Kie dan pemimpin mereka.

Pada saat itulah tiba tiba terdengar suara khim dan seruling. Suara itu sayup sayup dan datang dari atas atap gedung. Didengar dari suaranya, jumlah khim dan seruling lebih dari satu. Suara itu sebentar hilang, tapi semua orang dapat mendengarnya dengan jelas sekali.

Boe Kie kaget dan heran.

“Tokoh darimana yang datang mengunjungi Kay Pang?” teriak Tan Yoe Liang. “Kalau kau iblis Beng kauw, perlihatkan dirimu!”

Teriakan si orang she Tan disambut dengan tiga kali suara “Cring” dari tali khim dan hampir berbarengan empat orang wanita muda yang mengenakan baju putih melompat turun dari payon timur dan barat. Kedua tangan setiap wanita itu memeluk sebuah yauw khim yang ukurannya lebih pendek dan lebih kecil separuh dari cit hiam khim (khim tujuh tali). Tapi biarpun lebih kecil khim itu mempunyai tujuh tali. Begitu hinggap di bumi mereka lantas saja berdiri di empat penjuru di ruangan toa thiam itu. Sesaat kemudian dari luar pintu masuk empat orang wanita muda yang mengenakan baju hitam dan masing masih memegang sebatang seruling yang berwarna hitam pula. Seruling itu lebih panjang daripada seruling biasa. Mereka pun lantas berdiri di empat sudut ruangan.

Boe Kie tak punya pengertian cukup dalam ilmu susiang Pat kwa kedudukan delapan wanita itu mengherankan hatinya. Mereka seolah olah menduduki kedudukan Pat kwa, tapi bukan Pat kwa yang tulen. Tapi biar bagaimanapun jua, Boe Kie merasa bahwa kedudukan mereka sesuai dengan peraturan tertentu.

Sementara itu, kedelapan wanita itu sudah mulai memperdengarkan sebuah lagu yang luar biasa. Meskipun Boe Kie tidak mengerti musik, ia bisa merasai bahwa lagu itu bersifat merdu, tenang dan damai.

Beberapa saat kemudian dengan iringan lagu itu, masuklah seorang wanita yang mengenakan baju kuning dengan tangan kiri menuntun seorang gadis cilik yang berusia kurang lebih dua belas tahun. Wanita yang berusia kira kira dua puluh tujuh tahun itu sangat cantik, hanya kulit mukanya terlampau putih seolah olah tak punya darah. Si gadis cilik beroman jelek, hidungnya dongak ke atas, mulutnya lebar memperlihatkan deretan dua gigi yang besar. Ia mengikuti si cantik dengan sebelah tangan memegang tongkat bambu hijau.

Begitu mereka masuk, mata semua pengemis serentak ditujukan kepada tongkat bambu itu.

Boe Kie sebenarnya merasa tak enak untuk terus menunggang Soe hwee liong di hadapan begitu banyak wanita. Tapi ia tidak berani lantas turun sebab pedang Tan Yoe Liang masih terus ditudingkan ke punggung Cie Jiak. Ia heran tak kepalang karena mendapat kenyataan bahwa semua pengemis menumplek seluruh perhatian mereka kepada tongkat bambu itu yang seolah olah dipandang sebagai barang terpenting dalam dunia ini. Tongkat ini berwarna hijau biru dan mengkilap luar biasa. Di samping itu Boe Kie tak melihat keistimewaan apapun jua.

Dengan sinar mata yang seperti kilat si baju kuning menyapu seluruh ruangan. Akhirnya ia mengawasi Boe Kie. “Thio Kauwcoe,” katanya, “kau bukan kanak kanak lagi. Mengapa kau masih memperlihatkan lagak bocah nakal?” Suaranya menegur tapi nadanya hangat, seperti nada seorang kakak yang bicara dengan adiknya.

Muka Boe Kie lantas saja berubah menjadi merah. “Tan Tiangloo sangat licik dan mengancam… kawanku,” jawabnya. “Maka itu aku tidak bisa berbuat lain daripada menangkap pangcu mereka.”

Si nona tersenyum. “Menunggang seorang pangcu agak keterlaluan,” katanya. “Dalam perjalanan dari Tiang an aku sudah mendengar bahwa kauwcoe dari Beng kauw adalah satu iblis kecil. Hari ini…ha!…ha!..,” ia menggeleng gelengkan kepalanya.

Sekonyong konyong Soe hwee liong berteriak, “Thio Boe Kie penjahat cabul! Lepaskan aku!” Ia mau memberontak tapi tak bertenaga.

Dimaki sebagai penjahat cabul di hadapan begitu banyak wanita, Boe Kie malu bercampur gusar. Tanpa merasa tenaga dalamnya keluar dan Soe hwee liong berteriak teriak kesakitan.

Semua pengemis meluap darahnya. Mereka gusar bercampur malu. Mereka malu karena pangcu mereka memperlihatkan kelemahan di hadapan orang luar. Jangankan seorang pangcu, sedang seorang anggota Kay Pang yang biasapun tak akan berteriak teriak kesakitan di hadapan lawan.

“Thio Boe Kie,” kata Tan Yoe Liang, “Lepaskan Soe pangcu.” Sehabis berkata begitu tanpa menunggu jawaban ia memasukkan pedangnya ke dalam sarung. Ia manusia licik, tapi ia tahu Boe Kie tak akan menarik keuntungan secara licik. Benar saja Boe Kie segera melompat turun dari punggung Soe hwee liong dan dengan sekali lompat ia sudah berada di samping Cie Jiak. Nona Cioe baru saja tersadar, kedua matanya tertutup. Dengan rasa kasihan Boe Kie lalu mendukungnya dan mendudukkannya di sebuah kursi batu di ruangan itu.

Sementara itu sambil merangkap kedua tangannya Tan Yoe Liang berkata kepada si nona baju kuning, “Pelajaran apakah yang nona mau berikan kepada kami? Bolehkan kami mendapat tahu she dan nama nona yang mulia?” Sambil mengajukan pertanyaan yang sopan santun itu, dia mengasah otaknya. Si baju kuning sudah cukup dewasa, tapi ia masih mengenakan pakaian seorang gadis. Para pengiringnya dan cara kedatangannya mengunjuk bahwa ia bukan sembarangan orang. Tapi siapakah dia? Si gadis cilik yang bermuka jelek juga merupakan sebuah teka teki. Dia memegang tongkat Tah kauw pang (tongkat pemukul anjing) dan Tah kauw pang adalah tanda kepercayaan atau tanda kekuasaan seorang pangcu partai Kay Pang. Cara bagaimana tongkat itu bisa berada dalam tangan si muka jelek? Inilah pertanyaan2 yang berkelebat di otak Tan Yoe Liang.

“Dimana adanya Hoen goan Pek lek chio Seng koen?” tanya si baju kuning dengan suara dingin. “Suruh dia keluar untuk menemui aku.”

Boe Kie terkesiap.

Tan Yoe Liang berubah paras mukanya. Tapi perubahan itu hanya untuk sejenak. Di lain detik ia menjawab dengan tenang. “Hoen goan Pek lek chioe Seng koen?” Dia adalah guru Kim mo Say ong Cia Soen. Pertanyaan nona seharusnya diajukan kepada Kauwcoe dari Beng kauw”.

“Siapa tuan?” tanya si nona

“Aku she Tan, namaku Yoe Liang, tiangloo delapan karung dari Kay pang.”

Sambil menuding Soe Hwee Liong, si baju kuning bertanya pula. “Siapa manusia itu? Macamnya begitu keren, kenapa dia begitu tolol? Dipijit sedikit saja sudah berteriak teriak!”

Tak kepalang rasa malunya para tokoh pengemis. Sebagian di antara mereka memang memandang rendah kepada Soe Hwee Liong.

“Ia adalah Soe Pangcoe dari partai kami,” jawab Tan Yoe Liang. “Beliau habis sembuh dari penyakit dan badannya masih sangat lemah. Nona, sebagai tamu dari tempat jauh, sedapat mungkin aku akan memperlakukan kau secara sopan. Tapi jika kau masih mengeluarkan omongan yang tidak-tidak, kami takkan merasa segan segan untuk bertindak terhadapmu.”

Si nona tidak menghiraukan ancaman itu. Ia berpaling kepada seorang berbaju hitam dan berkata, “Siauw Coei, pulangkan suratnya!”

Si baju hitam mengangguk, merogoh saku dan mengeluarkan sepucuk surat.

Boe Kie yang bermata jeli lantas saja lihat huruf huruf yang bertuliskan di atas amplop yang berbunyi sebagai berikut. “Dipersembahkan kepada Han Toa ya San Tong pribadi dari Beng Kauw.” Di sebelah bawahnya terdapat huruf huruf yang lebih kecil. “Dari Soe dari Kay pang.”

Begitu melihat surat itu, darah Ciang pang Liong tauw mendidih. “Perempuan hina dina!” cacinya. “Kalau begitu kaulah pencuri surat!” Ia mengangkat tongkatnya dan bersiap untuk menerjang.

Siauw Coei tertawa geli. “Kau tua bangka tolol!” ia balas mencaci. “Surat saja kau tak mampu jaga. Apa kau tak malu?” Seraya ia berkata lantas saja terbang ke arah Ciang pang Liong tauw. Jarak antara mereka kurang lebih tiga tombak. Bahwa si baju hitam bisa melemparkan sepucuk surat yang begitu enteng pada jarak tiga tombak merupakan bukti, bahwa dia memiliki tenaga dalam yang sangat kuat. Ciang pang Liong tauw mengangkat tangannya untuk menyambuti. Di luar dugaan, pada jarak tiga kaki, surat ini mendadak membelok ke kiri dan jatuh di lantai. Ciang pang Liong tauw kaget dan lalu membungkuk untuk menjemputnya. Sekonyong konyong Boe Kie mengibaskan tangannya dan mengirim tenaga angin, sehingga surat itu terbang ke atas.

Hampir berbareng, ia mengerahkan Kian koen Tay lo ie Sin kang, sehingga di lain detik surat itu sudah berada di dalam tangannya. Semua pengemis pucat mukanya. Mereka yang tak tahu sebab musababnya menduga bahwa Boe Kie memiliki ilmu gaib.

Sebagai hasil mengintainya, Boe Kie sudah mengetahui bahwa Ciang pang Liong tauw telah diperintahkan oleh Soe Hwee Han San Tong yang mau dipaksa supaya menakluk kepada Kay pang, dengan menggunakan Han Lim Jie sebagai tunggangan. Kini, dengan mendengar pembicaraan antara Ciang pang Liong tauw dan Siauw Coei, ia tahu bahwa di tengah jalan, nona nona baju putih hitam itu telah mempermainkan dan mencuri surat si pengemis tua yang terpaksa pulang ke Louw liong sebelum dapat menunaikan tugasnya. Waktu suratnya tercuri, si pengemis ternyata tak tahu siapa yang mencurinya, sehingga dengan demikian dapatlah dibayangkan kelihayannya nona2 itu, yang dipimpin si baju kuning. Mengingat itu, diam diam Boe Kie merasa berterima kasih terhadap si baju kuning.

Sementara itu, sambil tersenyum si baju kuning berkata. “Han San Tong mengangkat senjata di daerah Hway see untuk mengusir Tat coe dari negara kita. Di sepanjang jalan kudengar dia seorang gagah budiman yang sangat memperhatikan kepentingan rakyat jelata. Maka itu, sangatlah tak bisa jadi, bahwa dia akan mau mengkhianati Beng kauw dan menekuk lutut kepada Kay pang, sebab puteranya ditahan oleh Kay pang. Thio Kauwcoe, pulangkanlah surat itu. Andaikata surat itu benar-benar jatuh ke tangan Han toaya, akibatnya yang buruk hanya dirasakan oleh Kay pang sendiri. Aku sudah mencuri surat itu karena melihat ketololan Liong tauw Toako dan juga karena di dalam Kay pang terdapat suatu soal besar yang memerlukan kedatangan di tempat ini.”

“Terima kasih atas bantuan Toacie,” kata Boe Kie sambil merangkap kedua tangannya. “Terimalah hormatnya Boe Kie.”

Si nona membalas hormat. “Thio Kauwcoe, tak usah kau memakai banyak peradatan,” katanya sambil tersenyum.

Boe Kie mengibaskan tangan kanannya dan surat itu lantas saja terbang ke arah Ciang pang Liong tauw. Sesudah itu, diam diam ia mengirim “am kin” (tenaga gelap atau tenaga yang dikirim dari jarak jauh), yang biarpun dikirim belakangan, tiba terlebih dulu, kira-kira dua kaki di sebelah depan surat tersebut.

Demikianlah, pada saat Ciang pang Liong tauw mengangsurkan tangannya untuk menyambut surat itu, tiba-tiba ia didorong dengan semacam tenaga yang tidak kelihatan, sehingga mau tak mau, ia terhuyung tiga langkah ke belakang hampir hampir ia jatuh terguling di lantai. Sedetik kemudian surat itu jatuh di lantai.

Si tua kaget tercampur gusar. Sambil membungkuk dan menjemput surat itu, ia berteriak. “Perempuan binatang mana yang menyerang dengan anak panah gelap?” Ia mencaci begitu sebab menduga dirinya diserang dengan senjata rahasia luar biasa oleh salah seorang wanita tersebut.

Si baju kuning menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sungguh cuma-cuma kau menjadi salah seorang tokoh Kay pang,” katanya dengan suara menyesal. “Kau bahkan tak tahu pukulan Khek-shoa Peh goe dari Thio Kauwcoe.” (Khek shoa Peh goe – memukul kerbau dari tempat yang teraling gunung).

Para pengemis terkejut. Mereka sudah dengar bahwa dalam Rimba Persilatan terdapat semacam ilmu yang bisa merobohkan musuh dari jarak jauh, tapi belum pernah menyaksikan dengan mata sendiri. Di luar dugaan, hari ini mereka membuktikan kebenaran cerita itu.

“Orang pintar sering melakukan perbuatan tolol karena kepintarannya itu,” kata pula si baju kuning. “Dunia memang begitu. Kamu merasa bahwa dengan menawan Han Lam Jie, kamu akan bisa memaksakan takluknya Han San Tong? Hari itu, sebab beberapa kali menemui rintangan kau sudah mengambil jalanan kecil untuk menyingkir dari segala ganggugan. Tapi kau tidak tahu, bahwa andaikata surat itu bisa didengar oleh Han San Tong, bagi Kay-pang sedikitpun tidak ada faedahnya.”

Mendengar perkataan si nona, mendadak Tan Yoe Liang ingat sesuatu. Buru buru ia mengambil surat itu dari tangan Ciang pang Liong tauw. Amplop surat kelihatannya masih utuh. Ia lalu merobek amplop, mengeluarkan suratnya dan lalu membacanya. Begitu membaca, paras mukanya berubah pucat. Mengapa? Sebab surat itu yang semula isinya untuk memaksakan menakluknya Han San Tong kepada Kay pang, sekarang berubah menjadi surat minta menakluknya Kay pang kepada Beng kauw! Surat itu penuh dengan perkataan perkataan merendahkan diri, memohon-mohon supaya Beng kauw sudi menerima menakluknya Kay pang.

Si baju kuning tertawa dingin. “Benar!” katanya. “Surat itu telah aku baca, tetapi bukan aku yang mengubahnya. Sesudah membaca kutahu, bahwa Ciang pang Liong tauw telah dikerjai oleh seorang yang berkepandaian tinggi. Dengan mengingat, bahwa leluhurku mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Kay pang, aku sudah curi surat itu, supaya ‘pang’ yang terbesar dalam dunia tak usah mendapat malu yang sedemikian hebat. Coba kau pikir. Kalau surat itu diserahkan oleh Ciang pang Liong tauw kepada Han San Tong, apakah Kay pang masih ada muka untuk berdiri lebih lama lagi dalam dunia Kang ouw?”

Dengan bergantian Coan kang dan Cie hoat Tiang loo, Ciang poen dan Ciang pang Liong tauw membaca surat itu. Seperti Tan Yoe Liang paras muka mereka segera berubah pucat. Mereka malu bercampur gusar. Memang benar, andaikata surat takluk itu dicoba Han San Tong habislah nama Kay pang. Segenap murid Kay pang tak akan bisa berdiri lagi di muka bumi. Ditinjau dari sudut ini, dengan mencuri surat itu, si baju kuning sudah berbuat kebaikan terhadap partai pengemis. Tapi siapakah yang sudah main gila, yang sudah mengubah surat itu?

Seluruh ruangan berubah sunyi.

Tiba-tiba Siauw Coei tertawa. “Kalian ingin tahu siapa yang menukar surat itu bukan?” tanyanya.

Semua pengemis lantas saja memperlihatkan paras muka yang tidak sabaran.

“Ciang pang Liong tauw, bukalah jubah luarmu,” kata pula Siauw Coei.

Ciang pang Liong tauw seorang yang beradat polos dan berangasan. Tanpa membuka kancing ia menarik jubahnya. “Bret!” semua kancing putus. Nah sekarang bagaimana?” bentaknya sambil melontarkan jubahnya di lantai.

Tiba-tiba para pengemis di belakangnya mengeluarkan teriakan ‘ih’, seperti juga mereka melihat sesuatu yang mengejutkan.

“Ada apa?” tanya Ciang pang Liong tauw sambil memutar tubuh. Enam tujuh orang menuding ke arah punggungnya. Dengan tidak sabar ia merobek baju dalamnya, sehingga terlihatlah daging dan otot otot badannya yang menonjol keluar. Ia mengawasi baju dalamnya. Ternyata di bagian punggung baju itu terlukis sebuah gambar kelelawar hijau dengan warna menakutkan, mulut berlepotan warna merah darah dan sepasang sayap yang sangat besar, itulah gambar kelelawar pengisap darah.

“Ceng ek Hok ong Wie It Siauw!” seru Coan kang dan Cie hoat Tiangloo dengan berbareng.

Dahulu Wie It Siauw jarang datang di Tianggoan dan namanya tidak begitu dikenal. Selama waktu-waktu belakangan ia berkelana di dunia Kang ouw dengan saban-saban memperlihatkan kepandaiannya, sehingga namanya termashyur, bahkan lebih cemerlang daripada Peh bie Eng Ong In Thian Ceng.

Melihat gambar itu bukan main girangnya Boe Kie.

Di lain pihak dengan kegusaran yang meluap-luap, Ciang pang Liong tauw menimpuk Boe Kie dengan baju dalamnya itu sambil mencaci. “Bagus! Kalau begitu loohoe telah dipermainkan oleh kawanan siluman dari agamamu!”

Boe Kie mengibaskan tangan bajunya dan baju dalam itu lantas saja terapung ke atas dan akhirnya menyangkut cabang tertinggi dari sebuah pohon beng.

Tan Yoe Liang mulai bingung. Ia merasa bahwa jalan paling baik ialah coba menyampingkan urusan surat itu. Maka itu, ia lantas menanya si baju kuning. “Apakah kami boleh mendapat tahu she dan nama nona yang mulia? Hubungan apakah yang dipunyai nona dengan kami semua?”

“Dengan kamu?” menegas si nona dengan suara dingin. “Aku hanya mempunyai sedikit hubungan dengan tongkat Tah kauw pang ini.”

Semua pengemis tahu, bahwa Tah kauw pang adalah tongkat tanda kekuasaan dari seorang pangcoe dan mereka adalah sungguh tak mengerti mengapa tongkat itu bisa berada di tangan orang lain. Semua mata ditujukan kepada Soe Hwee Liong yang mukanya pucat pasi dan kelihatannya bingung sekali.

“Pangcoe, apakah Tah Kauw pang yang dipegang oleh wanita itu tulen atau palsu?” tanya Coan kang Tiangloo.

“Aku… aku… kukira palsu,” jawabnya.

“Baiklah,” kata si baju kuning. Sekarang keluarkan yang tulen, supaya bisa dibandingkan.”

“Tah kauw pang adalah mustika dari partai kami,” kata Soe Hwee Liong. “Tak dapat aku memperlihatkannya kepada sembarang orang. Lagipula aku sekarang tidak membawa tongkat itu, sebab kuatir hilang.”

Para pengemis merasa bahwa alasan itu tak masuk akal. Cara bagaimana seorang Pangcoe bisa tak membawa Tah kauw pang sebab takut tongkat itu hilang?

Sekonyong konyong si gadis cilik mengangkat tongkat itu tinggi dan berkata dengan suara nyaring. “Para Tiangloo! Para murid Kaypang lihatlah Tah kauw pang adalah mustika partai kita yang sudah turun temurun. Mana bisa tongkat ini palsu?”

Mendengar si cilik menggunakan istilah “partai kita”, semua orang merasa heran. Mereka meneliti tongkat itu yang mengkilap bagaikan giok dan keras melebihi besi. Tak usah disangsikan lagi, tongkat itu adalah Tah kauw pang yang tulen. Semua pengemis saling mengawasi. Mereka tak dapat menangkap apa itu artinya semua.

Si baju kuning tersenyum tawar dan berkata dengan suara tawar pula. “Kudengar pangcoe dari Kaypang memiliki dua rupa ilmu yang sangat istimewa, yaitu Han Liong Sip pat Ciang dan Tah kauw pang hoat. Siauw Hong, cobalah kau meminta pelajaran Han Liong Sip pat Ciang dari Coan kang Tiangloo. Siauw leng, sesudah Siauw Hong Cie cie memperoleh kemenangan, kau boleh minta pelajaran Tah kauw pang hoat dari Soe pangcoe.” Dua wanita yang memegang seruling lantas saja melompat keluar dan berdiri di kiri kanan.

“Nona!” bentak Tan Yoe Liang dengan suara gusar. “Bahwa kau tak sudi memberitahukan she dan namamu saja, kau sudah tidak memandang sebelah mata kepada kami semua. Sekarang bahkan kau menyuruh kedua pelayanmu untuk menantang Pemimpin kami. Di dalam dunia Kang ouw, mana ada kekurang ajaran yang seperti itu? Soe Pangcoe biarlah teecoe yang bereskan kedua pelayan itu dan kemudian teecoe akan menjajal kepandaiannya perempuan yang sudah menghina partai kita.”

“Baiklah,” kata Soe hwee liong.

Tan Yoe Liang segera menghunus pedang dan maju ke tengah ruangan.

“Nonaku menyuruh aku meminta pelajaran dalam ilmu Hang liong Sip pat ciang,” kata Siauw Hong. “Apa kau mahir dalam ilmu itu?” Apa Hang liong Sip pat ciang menggunakan pedang?”

“Soe Pangcu seorang yang berkedudukan sangat tinggi dan bukan lawan sebangsa pelayan,” kata Tan Yoe Liang dengan suara menghina. Juga tak mungkin seorang pelayan memiliki Hang liong Sip pat ciang. Sudahlah. Terimalah kebinasaanmu di bawah pedangku!”

“Thio Kauwcoe, kata si baju kuning kepada Boe Kie, “bolehkah kuminta bantuanmu?”

“Tentu saja,” jawabnya.

“Kuminta kau lemparkan manusia she Tan itu dan bekuk penipu itu yang menyamar sebagai Soe Pangcu,” kata pula si nona.

Tadi, waktu menawan Soe hwee liong, Boe Kie sudah bercuriga, sebab orang itu ternyata tak punya kepandaian tinggi yang sesuai kedudukannya. Kecurigaannya jadi makin lebih besar karena melihat orang itu tak punya pendirian dan selalu menurut perkataan Tan Yoe Liang. Maka itu, begitu mendengar perkataan si baju kuning yang menamakan orang itu sebagai ‘penipu yang menyamar sebagai Soe pangcoe’, ia tidak bersangsi lagi. Ia mengangguk dan lalu melompat ke arah Soe hwee liong. Soe hwee liong meninju dengan pukulan Tiong tian pauw. Boe Kie tertawa terbahak bahak.

“Apa ini Hang liong Sip pat ciang?” teriaknya seraya mencengkeram baju di dada Soe Hwee liong yang lalu diangkat tinggi tinggi. Tan Yoe Liang tahu, bahwa ia bukan tandingan Boe Kie. Tanpa mengeluarkan sepatah kata ia mundur dan menghilang di antara para pengemis.

Sekonyong konyong si nona cilik menangis keras. Ia menubruk dan mencengkeram baju Soe hwee liong, dan bagaikan kalap memukulnya berulang ulang. “Binatang!” teriaknya. Kau sudah membinasakan ayahku! Kau membunuh ayahku! Aku akan cincang badanmu!” Ia menjambret rambut Soe hwee liong dan… rambut itu terlepas dan terlihatlah kepala yang gundul.

Rambut palsu!

Dengan punggung ditekan Boe Kie, orang itu tidak berdaya. Si nona cilik terus memukul. Beberapa tinju menimpa hidungnya, tapi hidung itu tidak mengeluarkan darah. Hidungnya juga hidung palsu!

Para pengemis lantas saja berteriak-teriak.

“Siapa kau?” tanya yang satu.
“Binatang! Mengapa kau berani menyamar sebagai Soe pangcoe?” caci yang lain.
“Dimana Soe pangcoe?” dan sebagainya.

Sambil tersenyum Boe Kie mengangkat tubuh orang itu tinggi tinggi yang kemudian dibanting ke lantai. Dia berteriak kesakitan dan tidak bisa bangun lagi. Ia merasa bahwa urusan itu adalah urusan pribadi Kay pang yang harus diselesaikan oleh orang orang Kay pang sendiri.

Ciang pang Liong tauw yang berangasan lantas saja mengirim tinju delapan gaplokan ke pipi si penipu yang lantas saja menjadi bengkak.

“Bukan aku!…” ia sesambat. “Aku… aku diperintah oleh Tan… Tan… Tiangloo!…”

Cie hoat Tiangloo terkejut, “Mana Tan Yoe Liang?” tanyanya.

Tapi Tan Yoe Liang tak kelihatan mata hidungnya. Begitu dia lihat gelagat jelek, begitu dia kabur.

“Kejar!” bentak Cie hoat Tiangloo. Beberapa murid tujuh karung lantas saja mengiakan dan berlari lari keluar dari gedung itu untuk mencari manusia yang kabur itu.

“Bangsat!” caci Ciang pang Liong tauw. “Sungguh penasaran aku musti berlutut di hadapanmu dan memanggil kau sebagai Soe pangcoe.” Ia mengangkat tangannya dan mau menggapelok lagi.

“Pang Heng tee, tahan!” cegah Cie hoat Tiang loo. “Kalau dia mati, kita sukar mencari keterangan.” Ia memutar badan dan berkata kepada si baju kuning sambil merangkap kedua tangannya. “Kalau tak mendapat petunjuk Kouwnio, sampai sekarang kami masih dikelabui oleh manusia itu. Bolehkah kami mendapat tahu she dan nama Kouwnio yang harum? Seluruh Kaypang sangat berhutang budi kepada Kouwnio.”

Si nona tertawa tawar dan berkata, “Aku sudah biasa hidup di gunung dan tak pernah berhubungan dengan dunia luar. Aku sendiri sudah lupa she dan namaku. Tapi apakah benar-benar di antara kalian tiada yang mengenali adik ini?”

Semua pengemis lantas saja mengawasi si gadis cilik. Tiba-tiba Coan kang Tiangloo maju beberapa tindak dan berkata dengan suara parau. “Dia… dia… seperti Soe pangcoe Hoejin.. apa…apa…”

“Benar,” kata si baju kuning. “Dia Soe Hong Sek, puteri tunggal dari Soe Hwee Liong Pangcoe. Waktu menghadapi kebinasaan Soe Pangcoe telah memerintahkan murid kepalanya, Ong Siauw Thian untuk membawa lari anak itu dan Tah Kauw pang mencari aku supaya di kemudian hari sakit hatinya bisa dibalas. Hanya sayang sebab terluka berat dalam pertempuran, jiwa Ong Siauw Thian tak dapat ditolong. Tapi ia sedikitnya sudah bisa mengantarkan Hong Sek kepadaku.”

“Kouw… kouw… nio,” kata Coan kang Tiang loo suara terputus-putus. “Kau kata Soe Pangco sudah meninggal dunia…? Bagaimana matinya Soe Pangcoe?”

* * * * *

Pada dua puluh tahun lebih yang lalu, karena tenaga dalamnya tidak mencukupi dalam latihan Hang liong Sip pat ciang, badan Soe Hwee liong lumpuh separoh dan tidak bisa menggerakkan kedua lengannya. Dengan mengajak isterinya, ia pergi ke gunung gunung untuk mencari obat dan menyerahkan urusan Kay pang kepada Coan kang dan Cie hoat Tiangloo, Ciang poen dan Ciang pang Liong tauw. Karena kekurangan seorang pemimpin yang pandai dan keempat tetua itu hanya mengurus bidang masing-masing dan tidak bekerja sesama keras, maka kian lama Kay pang yang besar jadi kian lemah.

Waktu Pangcoe palsu mendadak muncul, murid-murid yang berusia muda tentu saja tidak mengenalnya, sedang para tetua juga kena dikelabui sebab mereka sudah berpisahan selama bertahun-tahun dan muka si penipu memang sangat mirip dengan muka Soe Pangcoe.

* * * * *

Si baju kuning menghela napas dan berkata dengan suara perlahan. “Soe Pangcoe binasa dalam tangan Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen!”

“Hah!” Boe Kie mengeluarkan seruan tertahan. Dalam pertempuran di Kong beng teng, dengan mata sendiri ia menyaksikan bagaimana Seng Koen dipukul mati oleh pamannya. Maka itu, ia lantas saja bertanya. “Kouwnio, lagi kapan Soe Pangcu dibinasakan?”

“Tahun yang lalu, tanggal enam bulan sepuluh,” jawabnya. “Sampai sekarang sudah dua bulan lebih.”

“Heran sungguh!” kata pula Boe Kie. “Cara bagaimana Kouwnio tahu bahwa yang turunkan tangan jahat adalah bangsat Seng Koen?”

“Ong Siauw Thian yang memberitahukan kepadaku,” jawabnya. “Ong Siauw Thian mengatakan, bahwa Soe Pangcoe telah beradu tangan dua belas kali dengan seorang kakek. Kakek ini muntah darah dan lari. Soe Pangcoe pun mendapat luka di dalam dan ia tahu lukanya tak dapat disembuhkan laagi. Ia menduga, bahwa tiga hari kemudian, sesudah sembuh, si kakek akan menyateroni lagi. Maka itu ia segera memberi pesanan terakhir kepada Ong Siauw Thian dan memberitahukan, bahwa musuh itu adalah Hoe goan Pek lek Thioe Seng Koen. Pada waktu itu lumpuhnya Soe pangcoe sudah hampir sembuh. Ia memiliki dua belas pukulan dari Hang liong Sip pat ciang dan di dalam dunia, ia sudah jarang tandingan. Dalam pertempuran melawan Seng Koen, ia sudah menggunakan kedua belas pukulan itu dan sesudah itu, ia tidak bisa menyelamatkan diri lagi dari tangan jahatnya musuh.” Mendengar itu Soe Hong Sek menangis lagi.

Dengan paras muka berduka Coan kang Tiang loo mengeluarkan sapu tangannya yang kotor dan menyusut air mata si nona. “Siauw sumoay,” katanya. “Sakit hati Pangcoe adalah sakit hati berlaksa murid Kay pang. Kami akan membekuk Seng Koen dan mencincang badannya jadi laksaan potong. Kami pasti akan membalas sakit hati mendiang ayahmu. Tapi dimanakah adanya ibumu?”

“Ibu sedang berobat ke rumah Yo Cie ci,” jawabnya sambil mengunjuk si baju kuning. Sekarang baru orang tahu bahwa gadis itu seorang she Yo.

“Soe hoejin juga kena dipukul Seng Koen dan mendapat luka yang sangat berat,” kata si baju kuning sambil menghela nafas. “Ia datang di rumahku sesudah melalui perjalanan jauh dan sampai kini ia belum tersadar dari pingsannya. Apa ia masih bisa ditolong… sukar dikatakan.”

“Tapi… apa dosanya pangcoe, sehingga binatang Seng Koen sudah menurunkan tangan jahatnya?” tanya Cie hoat tiangloo dengan suara penasaran. “Sakit hati apa sudah terjadi di antara mereka?”

“Menurut perasaan Soe pangcoe, ia sama sekali belum pernah mengenal Seng Koen,” menerangkan si baju kuning. “Sama sekali tidak ada soal sakit hati. Sampai pada detik terakhir, Soe pangcoe juga tak tahu sebab musababnya. Menurut dugaan Soe pangcoe, mungkin sekali ada orang Kay pang yang berbuat suatu kesalahan dan Seng Koen mencari Soe pangcoe untuk membalas sakit hati.”

Cie hoat menundukkan kepalanya. Sesudah berpikir beberapa saat, ia berkata pula. “Untuk menyingkirkan diri dari kejaran Cia Soen, selama beberapa puluh tahun Seng Koen tidak pernah muncul dalam dunia Kang ouw. Mana bisa jadi murid Kay pang kebentrok dengan dia? Dalam hal ini mungkin terselip salah mengerti yang sangat hebat.”

Ciang poen Liong tauw yang sedari tadi tak pernah mengeluarkan sepatah kata, tiba2 mengambil sebatang golok bengkok dan menandalkan senjata itu di lehernya si penipu. “Binatang!” bentaknya. “Siapa namamu? Mengapa kau menyamar sebagai Soe pangcoe? Lekas mengaku! Kalau kau berdusta… huh… huh… Ia mengangkat goloknya dan menyabet sebuah kursi yang lantas saja terbelah dua.

Dengan badan bergemetaran, si gundul berkata, “Aku… aku… siauw jin Lay tauw goan Lauw Ngauw (Lauw Ngauw, si kura-kura kepala buduk), salah seorang tauwbak (kepala kelompok) perampok dari kawanan perampok di Loan sek kang, kota Kay koan, propinsi Soa say. Apa mau, waktu merampok, Siauwjin bertemu dengan Tan toaya dan guru Tan toaya menendang Siauwjin sehingga roboh dan selagi Tan toaya mengangkat pedangnya, siauwjin meminta ampun. Setelah mengawasi siauwjin, tiba2 Tan Toaya berkata, “Soe hoe, roman bangsat kecil ini mirip orang yang kita temui kemarin dulu.” Gurunya menggeleng-gelengkan kepala dan berkata, “Huh..huh… lain, tidak sama. Usianya tak cocok, hidungnya terlalu kecil, kepalanya gundul.’ Tan toaya tertawa dan berkata, “Soe hoe jangan kuatir, teecu mempunyai daya untuk mengubah itu semua.” Tan toaya lalu mengajak siauwjin ke sebuah rumah penginapan di Kay koan. Ia menggunakan sek-ko untuk meninggikan hidung Siauwjin dan memberi rambut palsu… sehingga siauwjin beroman seperti sekarang. Para loya, andaikata siauwjin punya nyali sebesar langit, siauwjin takkan berani mempermalukan para looya. Siauwjin sudah melakukan ini semua karena diperintah oleh Tan toaya. Jiwa anjing siauwjin berada dalam tangannya. Siauwjin tidak berani tidak menurut. Siauwjin mempunyai seorang ibu sudah berusia delapan puluh tahun… siauwjin mohon para looya sudi mengampuni jiwa anjing Siauwjin.” Sehabis berkata begitu, sambil berlutut ia manggut manggutkan kepalanya.

Cie hoat Tiangloo mengerutkan alisnya. Tan Yoe Liang murid Siauw lim pay dan gurunya pendeta Siauw lim sie,” katanya. “Apa dia mempunyai lain guru?”

Pertanyaan itu menyadarkan Boe Kie. “Benar,” ia menyambungi. “Seng Koen adalah gurunya.” Ia lalu memberi tahu, bahwa dengan menggunakan nama Goan tin, Seng Koen masuk ke Siauw lim sie dan berguru kepada pendeta suci Kong kian. Selanjutnya ia menceritakan cara bagaimana di waktu kecil ia pernah dicelakakan oleh Goan tin di dalam kuil Siauw lim sie, cara bagaimana Goan tin turut menyerang Kong beng teng dan akhirnya binasa dalam tangan pamannya, In Ya Ong. Ia menambahkan, bahwa memang benar mayat Goan tin sekonyong konyong hilang.

“Kalau begitu, kita boleh tak usah bersangsi lagi, bahwa di waktu itu Seng Koen pura pura mati dan kemudian kabur,” kata Cie hoat Tiangloo.

“Tapi penjahat yang paling besar dan yang paling jadi dalangnya adalah bangsat Tan Yoe Liang,” kata Coan kang Tiangloo. “Mereka berdua, guru dan murid, mempunyai angan angan untuk merajai di kolong langit. Mereka membunuh Soe pangcoe, menyuruh buaya kecil ini menyamar sebagai Pangcoe, coba mempengaruhi Beng kauw, berusaha untuk menguasai Siauw lim, Boe tong dan Go Bie pay. Huh..huh..! Angan angan mereka benar benar tak kecil… Eeh!… mana Song Ceng Soe?”

Ternyata pada waktu perhatian semua orang ditujukan kepada Pangcoe tetiron, si baju kuning dan Soe Hong Sek, diam diam Song Ceng Soe turut menghilang.

Sesudah rahasia kejahatan Tan Yoe Liang terbuka, sambil menyoja si baju kuning, Coan kang Tiangloo berkata, “Kouwnio telah membuang budi yang sangat besar kepada Kay pang dan kami tak tahu cara bagaimana untuk membalasnya.”

Si nona tertawa tawar. “Orang tuaku punya hubungan erat dengan Pangcoe yang dulu,” katanya. “Bantuan yang tiada artinya ini tidak berharga untuk disebut sebut. Aku hanya mengharap kalian suka merawat baik baik adik Soe ini.” Ia membungkuk dan dengan berkelebat, ia sudah berada di atas genteng.

“Kouwnio tunggu dulu!” teriak Coan kang tiangloo.

Hampir berbareng, empat wanita baju hitam dan empat baju putih turun melompat ke atap gedung, diiringi dengan suara khim dan seruling. Dalam sekejap suara tetabuhan itu telah terdengar sayup sayup di tempat jauh dan kemudian menghilang dari pendengaran. Dengan mulut ternganga semua orang mengawasi ke atas genteng.

Sambil menuntun tangan Soe Hong Sek, Coan kang Tiangloo berkata kepada Boe Kie. “Thio Kauwcoe, mari masuk.”

Ia mempersilahkan Boe Kie berjalan lebih dahulu dan tanpa sungkan2 Boe Kie segera bertindak masuk dengan melewati dua baris pengemis yang berdiri sebagai pengawal kehormatan. Setelah berduduk dengan Cie Jiak di sampingnya, Boe Kie segera berkenalan dengan para tetua Kay pang dan lalu menanyakan halnya Cia Soen.

“Coan Tiangloo,” katanya. “Jika ayah angkatku, Kim mo Say ong berada di tempat kalian, kuminta bertemu.”

Coan kang tiangloo menghela nafas. “Karena perbuatan bangsat Tan Yoe Liang, Kay pang mendapat malu besar terhadap segenap orang gagah,” katanya. “Memang benar, waktu berada di Kwan gwa, Cia tayhiap dan Cioe kouwnio diundang oleh kami. Ketika itu Cia Tayhiap sakit, ia selalu di pembaringan. Kami belum pernah bertempur dengannya. Belakangan aku membawa beliau ke gedung ini. Pada malam yang lalu, Cia tayhiap telah membinasakan murid murid kami yang menjaganya dan lalu kabur. Peti peti mati para korban masih berada di belakang gedung ini dan belum dikuburkan. Jika tak percaya, Thio Kauwcoe boleh lihat dengan mata sendiri.”

Mendengar keterangan yang diucapkan dengan sungguh sungguh dan juga memang telah menyaksikan sendiri terbinasanya beberapa murid Kay pang, Boe Kie segera berkata, “Perkataan Coan Tiangloo tidak bisa tidak dipercaya.”

Ia menundukkan kepala dan coba menebak nebak kemana perginya sang ayah angkat. Dia ingat, bahwa pada malam kaburnya Cia Soen, ia melihat bayangan seorang wanita yang melompat turun dari atas tembok. Apakah wanita itu si baju kuning? Mengingat itu, ia lantas menanya Soe Hong Sek. “Tiauw moay moay, dimana rumah Yo Ciecie? Apa dahulu memang telah mengenal dia?”

Si nona cilik menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak pernah mengenal Yo Ciecie sebelum pertemuan di hari itu,” jawabnya. “Sesudah mendapat pesanan Thia thia, dengan membawa tongkat bambu ini Ong tiangloo membawa ibu dan aku dengan naik kereta. Di tengah jalan aku bertemu dengan orang jahat. Dalam pertempuran, Ong tiangloo terluka. Beberapa hari kami naik kereta, naik gunung Ong toako tidak bisa berjalan lagi dan merangkak di tanah. Belakangan kami tiba di luar sebuah hutan. Ong tiangloo berteriak teriak. Belakangan datang seorang ciecie kecil yang memakai baju hitam. Belakangan datang Yo ciecie yang berbicara lama dengan Ong toako dan meneliti tongkat bambu ini. Belakangan Ong tiangloo mati dan ibu pingsan. Yo ciecie lalu membawa aku ke kereta, bersama sama delapan ciecie kecil yang memakai baju putih dan baju hitam.” Sebab masih kecil, keterangan Soe Hong Sek tak terang dan Boe Kie tidak bisa mengorek sesuatu yang diinginkan dari mulutnya.

Boe Kie menghela nafas dan untuk beberapa saat, semua orang membungkam.

Akhirnya Coan kang tiangloo berkata, “Thio Kauwcoe, putera Han San Tong berbicara ayah masih berada di tempat kami!” Ia lalu berbicara dengan seorang pengemis yang lantas masuk ke dalam dengan tindakan cepat.

Tak lama kemudian, terdengarlah cacian Han lim Jie. “Pengemis, kau lagi lagi coba menipu tuan besarmu!” teriaknya. Thio Kauwcoe seorang agung dan mulia. Mana boleh jadi ia sudi datang di sarang kawanan pengemis bau? Sudahlah! Lekas lekas kau hantarkan aku ke See tian (dunia baka)! Segala akal bulusnya tidak dapat digunakan terhadapku.”

Boe Kie merasa kagum. Di dalam hati ia memuji pemuda itu, yang setia jujur dan bernyali besar. Buru buru ia bangkit dan menyambut, “Han toako,” katanya, “aku berada di sini. Selama beberapa hari kau banyak menderita.”

“Aku she Tan, namaku Yoe Liang, tiangloo delapan karung dari Kay pang.”

Sambil menuding Soe Hwee Liong, si baju kuning bertanya pula. “Siapa manusia itu? Macamnya begitu keren, kenapa dia begitu tolol? Dipijit sedikit saja sudah berteriak teriak!”

Tak kepalang rasa malunya para tokoh pengemis. Sebagian di antara mereka memang memandang rendah kepada Soe Hwee Liong.

“Ia adalah Soe Pangcoe dari partai kami,” jawab Tan Yoe Liang. “Beliau habis sembuh dari penyakit dan badannya masih sangat lemah. Nona, sebagai tamu dari tempat jauh, sedapat mungkin aku akan memperlakukan kau secara sopan. Tapi jika kau masih mengeluarkan omongan yang tidak-tidak, kami takkan merasa segan segan untuk bertindak terhadapmu.”

Si nona tidak menghiraukan ancaman itu. Ia berpaling kepada seorang berbaju hitam dan berkata, “Siauw Coei, pulangkan suratnya!”

Si baju hitam mengangguk, merogoh saku dan mengeluarkan sepucuk surat.

Boe Kie yang bermata jeli lantas saja lihat huruf huruf yang bertuliskan di atas amplop yang berbunyi sebagai berikut. “Dipersembahkan kepada Han Toa ya San Tong pribadi dari Beng Kauw.” Di sebelah bawahnya terdapat huruf huruf yang lebih kecil. “Dari Soe dari Kay pang.”

Begitu melihat surat itu, darah Ciang pang Liong tauw mendidih. “Perempuan hina dina!” cacinya. “Kalau begitu kaulah pencuri surat!” Ia mengangkat tongkatnya dan bersiap untuk menerjang.

Siauw Coei tertawa geli. “Kau tua bangka tolol!” ia balas mencaci. “Surat saja kau tak mampu jaga. Apa kau tak malu?” Seraya ia berkata lantas saja terbang ke arah Ciang pang Liong tauw. Jarak antara mereka kurang lebih tiga tombak. Bahwa si baju hitam bisa melemparkan sepucuk surat yang begitu enteng pada jarak tiga tombak merupakan bukti, bahwa dia memiliki tenaga dalam yang sangat kuat. Ciang pang Liong tauw mengangkat tangannya untuk menyambuti. Di luar dugaan, pada jarak tiga kaki, surat ini mendadak membelok ke kiri dan jatuh di lantai. Ciang pang Liong tauw kaget dan lalu membungkuk untuk menjemputnya. Sekonyong konyong Boe Kie mengibaskan tangannya dan mengirim tenaga angin, sehingga surat itu terbang ke atas.

Hampir berbareng, ia mengerahkan Kian koen Tay lo ie Sin kang, sehingga di lain detik surat itu sudah berada di dalam tangannya. Semua pengemis pucat mukanya. Mereka yang tak tahu sebab musababnya menduga bahwa Boe Kie memiliki ilmu gaib.

Sebagai hasil mengintainya, Boe Kie sudah mengetahui bahwa Ciang pang Liong tauw telah diperintahkan oleh Soe Hwee Han San Tong yang mau dipaksa supaya menakluk kepada Kay pang, dengan menggunakan Han Lim Jie sebagai tunggangan. Kini, dengan mendengar pembicaraan antara Ciang pang Liong tauw dan Siauw Coei, ia tahu bahwa di tengah jalan, nona nona baju putih hitam itu telah mempermainkan dan mencuri surat si pengemis tua yang terpaksa pulang ke Louw liong sebelum dapat menunaikan tugasnya. Waktu suratnya tercuri, si pengemis ternyata tak tahu siapa yang mencurinya, sehingga dengan demikian dapatlah dibayangkan kelihayannya nona2 itu, yang dipimpin si baju kuning. Mengingat itu, diam diam Boe Kie merasa berterima kasih terhadap si baju kuning.

Sementara itu, sambil tersenyum si baju kuning berkata. “Han San Tong mengangkat senjata di daerah Hway see untuk mengusir Tat coe dari negara kita. Di sepanjang jalan kudengar dia seorang gagah budiman yang sangat memperhatikan kepentingan rakyat jelata. Maka itu, sangatlah tak bisa jadi, bahwa dia akan mau mengkhianati Beng kauw dan menekuk lutut kepada Kay pang, sebab puteranya ditahan oleh Kay pang. Thio Kauwcoe, pulangkanlah surat itu. Andaikata surat itu benar-benar jatuh ke tangan Han toaya, akibatnya yang buruk hanya dirasakan oleh Kay pang sendiri. Aku sudah mencuri surat itu karena melihat ketololan Liong tauw Toako dan juga karena di dalam Kay pang terdapat suatu soal besar yang memerlukan kedatangan di tempat ini.”

“Terima kasih atas bantuan Toacie,” kata Boe Kie sambil merangkap kedua tangannya. “Terimalah hormatnya Boe Kie.”

Si nona membalas hormat. “Thio Kauwcoe, tak usah kau memakai banyak peradatan,” katanya sambil tersenyum.

Boe Kie mengibaskan tangan kanannya dan surat itu lantas saja terbang ke arah Ciang pang Liong tauw. Sesudah itu, diam diam ia mengirim “am kin” (tenaga gelap atau tenaga yang dikirim dari jarak jauh), yang biarpun dikirim belakangan, tiba terlebih dulu, kira-kira dua kaki di sebelah depan surat tersebut.

Demikianlah, pada saat Ciang pang Liong tauw mengangsurkan tangannya untuk menyambut surat itu, tiba-tiba ia didorong dengan semacam tenaga yang tidak kelihatan, sehingga mau tak mau, ia terhuyung tiga langkah ke belakang hampir hampir ia jatuh terguling di lantai. Sedetik kemudian surat itu jatuh di lantai.

Si tua kaget tercampur gusar. Sambil membungkuk dan menjemput surat itu, ia berteriak. “Perempuan binatang mana yang menyerang dengan anak panah gelap?” Ia mencaci begitu sebab menduga dirinya diserang dengan senjata rahasia luar biasa oleh salah seorang wanita tersebut.

Si baju kuning menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sungguh cuma-cuma kau menjadi salah seorang tokoh Kay pang,” katanya dengan suara menyesal. “Kau bahkan tak tahu pukulan Khek-shoa Peh goe dari Thio Kauwcoe.” (Khek shoa Peh goe – memukul kerbau dari tempat yang teraling gunung).

Para pengemis terkejut. Mereka sudah dengar bahwa dalam Rimba Persilatan terdapat semacam ilmu yang bisa merobohkan musuh dari jarak jauh, tapi belum pernah menyaksikan dengan mata sendiri. Di luar dugaan, hari ini mereka membuktikan kebenaran cerita itu.

“Orang pintar sering melakukan perbuatan tolol karena kepintarannya itu,” kata pula si baju kuning. “Dunia memang begitu. Kamu merasa bahwa dengan menawan Han Lam Jie, kamu akan bisa memaksakan takluknya Han San Tong? Hari itu, sebab beberapa kali menemui rintangan kau sudah mengambil jalanan kecil untuk menyingkir dari segala ganggugan. Tapi kau tidak tahu, bahwa andaikata surat itu bisa didengar oleh Han San Tong, bagi Kay-pang sedikitpun tidak ada faedahnya.”

Mendengar perkataan si nona, mendadak Tan Yoe Liang ingat sesuatu. Buru buru ia mengambil surat itu dari tangan Ciang pang Liong tauw. Amplop surat kelihatannya masih utuh. Ia lalu merobek amplop, mengeluarkan suratnya dan lalu membacanya. Begitu membaca, paras mukanya berubah pucat. Mengapa? Sebab surat itu yang semula isinya untuk memaksakan menakluknya Han San Tong kepada Kay pang, sekarang berubah menjadi surat minta menakluknya Kay pang kepada Beng kauw! Surat itu penuh dengan perkataan perkataan merendahkan diri, memohon-mohon supaya Beng kauw sudi menerima menakluknya Kay pang.

Si baju kuning tertawa dingin. “Benar!” katanya. “Surat itu telah aku baca, tetapi bukan aku yang mengubahnya. Sesudah membaca kutahu, bahwa Ciang pang Liong tauw telah dikerjai oleh seorang yang berkepandaian tinggi. Dengan mengingat, bahwa leluhurku mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Kay pang, aku sudah curi surat itu, supaya ‘pang’ yang terbesar dalam dunia tak usah mendapat malu yang sedemikian hebat. Coba kau pikir. Kalau surat itu diserahkan oleh Ciang pang Liong tauw kepada Han San Tong, apakah Kay pang masih ada muka untuk berdiri lebih lama lagi dalam dunia Kang ouw?”

Dengan bergantian Coan kang dan Cie hoat Tiang loo, Ciang poen dan Ciang pang Liong tauw membaca surat itu. Seperti Tan Yoe Liang paras muka mereka segera berubah pucat. Mereka malu bercampur gusar. Memang benar, andaikata surat takluk itu dicoba Han San Tong habislah nama Kay pang. Segenap murid Kay pang tak akan bisa berdiri lagi di muka bumi. Ditinjau dari sudut ini, dengan mencuri surat itu, si baju kuning sudah berbuat kebaikan terhadap partai pengemis. Tapi siapakah yang sudah main gila, yang sudah mengubah surat itu?

Seluruh ruangan berubah sunyi.

Tiba-tiba Siauw Coei tertawa. “Kalian ingin tahu siapa yang menukar surat itu bukan?” tanyanya.

Semua pengemis lantas saja memperlihatkan paras muka yang tidak sabaran.

“Ciang pang Liong tauw, bukalah jubah luarmu,” kata pula Siauw Coei.

Ciang pang Liong tauw seorang yang beradat polos dan berangasan. Tanpa membuka kancing ia menarik jubahnya. “Bret!” semua kancing putus. Nah sekarang bagaimana?” bentaknya sambil melontarkan jubahnya di lantai.

Tiba-tiba para pengemis di belakangnya mengeluarkan teriakan ‘ih’, seperti juga mereka melihat sesuatu yang mengejutkan.

“Ada apa?” tanya Ciang pang Liong tauw sambil memutar tubuh. Enam tujuh orang menuding ke arah punggungnya. Dengan tidak sabar ia merobek baju dalamnya, sehingga terlihatlah daging dan otot otot badannya yang menonjol keluar. Ia mengawasi baju dalamnya. Ternyata di bagian punggung baju itu terlukis sebuah gambar kelelawar hijau dengan warna menakutkan, mulut berlepotan warna merah darah dan sepasang sayap yang sangat besar, itulah gambar kelelawar pengisap darah.

“Ceng ek Hok ong Wie It Siauw!” seru Coan kang dan Cie hoat Tiangloo dengan berbareng.

Dahulu Wie It Siauw jarang datang di Tianggoan dan namanya tidak begitu dikenal. Selama waktu-waktu belakangan ia berkelana di dunia Kang ouw dengan saban-saban memperlihatkan kepandaiannya, sehingga namanya termashyur, bahkan lebih cemerlang daripada Peh bie Eng Ong In Thian Ceng.

Melihat gambar itu bukan main girangnya Boe Kie.

Di lain pihak dengan kegusaran yang meluap-luap, Ciang pang Liong tauw menimpuk Boe Kie dengan baju dalamnya itu sambil mencaci. “Bagus! Kalau begitu loohoe telah dipermainkan oleh kawanan siluman dari agamamu!”

Boe Kie mengibaskan tangan bajunya dan baju dalam itu lantas saja terapung ke atas dan akhirnya menyangkut cabang tertinggi dari sebuah pohon beng.

Tan Yoe Liang mulai bingung. Ia merasa bahwa jalan paling baik ialah coba menyampingkan urusan surat itu. Maka itu, ia lantas menanya si baju kuning. “Apakah kami boleh mendapat tahu she dan nama nona yang mulia? Hubungan apakah yang dipunyai nona dengan kami semua?”

“Dengan kamu?” menegas si nona dengan suara dingin. “Aku hanya mempunyai sedikit hubungan dengan tongkat Tah kauw pang ini.”

Semua pengemis tahu, bahwa Tah kauw pang adalah tongkat tanda kekuasaan dari seorang pangcoe dan mereka adalah sungguh tak mengerti mengapa tongkat itu bisa berada di tangan orang lain. Semua mata ditujukan kepada Soe Hwee Liong yang mukanya pucat pasi dan kelihatannya bingung sekali.

“Pangcoe, apakah Tah Kauw pang yang dipegang oleh wanita itu tulen atau palsu?” tanya Coan kang Tiangloo.

“Aku… aku… kukira palsu,” jawabnya.

“Baiklah,” kata si baju kuning. Sekarang keluarkan yang tulen, supaya bisa dibandingkan.”

“Tah kauw pang adalah mustika dari partai kami,” kata Soe Hwee Liong. “Tak dapat aku memperlihatkannya kepada sembarang orang. Lagipula aku sekarang tidak membawa tongkat itu, sebab kuatir hilang.”

Para pengemis merasa bahwa alasan itu tak masuk akal. Cara bagaimana seorang Pangcoe bisa tak membawa Tah kauw pang sebab takut tongkat itu hilang?

Sekonyong konyong si gadis cilik mengangkat tongkat itu tinggi dan berkata dengan suara nyaring. “Para Tiangloo! Para murid Kaypang lihatlah Tah kauw pang adalah mustika partai kita yang sudah turun temurun. Mana bisa tongkat ini palsu?”

Mendengar si cilik menggunakan istilah “partai kita”, semua orang merasa heran. Mereka meneliti tongkat itu yang mengkilap bagaikan giok dan keras melebihi besi. Tak usah disangsikan lagi, tongkat itu adalah Tah kauw pang yang tulen. Semua pengemis saling mengawasi. Mereka tak dapat menangkap apa itu artinya semua.

Si baju kuning tersenyum tawar dan berkata dengan suara tawar pula. “Kudengar pangcoe dari Kaypang memiliki dua rupa ilmu yang sangat istimewa, yaitu Han Liong Sip pat Ciang dan Tah kauw pang hoat. Siauw Hong, cobalah kau meminta pelajaran Han Liong Sip pat Ciang dari Coan kang Tiangloo. Siauw leng, sesudah Siauw Hong Cie cie memperoleh kemenangan, kau boleh minta pelajaran Tah kauw pang hoat dari Soe pangcoe.” Dua wanita yang memegang seruling lantas saja melompat keluar dan berdiri di kiri kanan.

“Nona!” bentak Tan Yoe Liang dengan suara gusar. “Bahwa kau tak sudi memberitahukan she dan namamu saja, kau sudah tidak memandang sebelah mata kepada kami semua. Sekarang bahkan kau menyuruh kedua pelayanmu untuk menantang Pemimpin kami. Di dalam dunia Kang ouw, mana ada kekurang ajaran yang seperti itu? Soe Pangcoe biarlah teecoe yang bereskan kedua pelayan itu dan kemudian teecoe akan menjajal kepandaiannya perempuan yang sudah menghina partai kita.”

“Baiklah,” kata Soe hwee liong.

Tan Yoe Liang segera menghunus pedang dan maju ke tengah ruangan.

“Nonaku menyuruh aku meminta pelajaran dalam ilmu Hang liong Sip pat ciang,” kata Siauw Hong. “Apa kau mahir dalam ilmu itu?” Apa Hang liong Sip pat ciang menggunakan pedang?”

“Soe Pangcu seorang yang berkedudukan sangat tinggi dan bukan lawan sebangsa pelayan,” kata Tan Yoe Liang dengan suara menghina. Juga tak mungkin seorang pelayan memiliki Hang liong Sip pat ciang. Sudahlah. Terimalah kebinasaanmu di bawah pedangku!”

“Thio Kauwcoe, kata si baju kuning kepada Boe Kie, “bolehkah kuminta bantuanmu?”

“Tentu saja,” jawabnya.

“Kuminta kau lemparkan manusia she Tan itu dan bekuk penipu itu yang menyamar sebagai Soe Pangcu,” kata pula si nona.

Tadi, waktu menawan Soe hwee liong, Boe Kie sudah bercuriga, sebab orang itu ternyata tak punya kepandaian tinggi yang sesuai kedudukannya. Kecurigaannya jadi makin lebih besar karena melihat orang itu tak punya pendirian dan selalu menurut perkataan Tan Yoe Liang. Maka itu, begitu mendengar perkataan si baju kuning yang menamakan orang itu sebagai ‘penipu yang menyamar sebagai Soe pangcoe’, ia tidak bersangsi lagi. Ia mengangguk dan lalu melompat ke arah Soe hwee liong. Soe hwee liong meninju dengan pukulan Tiong tian pauw. Boe Kie tertawa terbahak bahak.

“Apa ini Hang liong Sip pat ciang?” teriaknya seraya mencengkeram baju di dada Soe Hwee liong yang lalu diangkat tinggi tinggi. Tan Yoe Liang tahu, bahwa ia bukan tandingan Boe Kie. Tanpa mengeluarkan sepatah kata ia mundur dan menghilang di antara para pengemis.

Sekonyong konyong si nona cilik menangis keras. Ia menubruk dan mencengkeram baju Soe hwee liong, dan bagaikan kalap memukulnya berulang ulang. “Binatang!” teriaknya. Kau sudah membinasakan ayahku! Kau membunuh ayahku! Aku akan cincang badanmu!” Ia menjambret rambut Soe hwee liong dan… rambut itu terlepas dan terlihatlah kepala yang gundul.

Rambut palsu!

Dengan punggung ditekan Boe Kie, orang itu tidak berdaya. Si nona cilik terus memukul. Beberapa tinju menimpa hidungnya, tapi hidung itu tidak mengeluarkan darah. Hidungnya juga hidung palsu!

Para pengemis lantas saja berteriak-teriak.

“Siapa kau?” tanya yang satu.
“Binatang! Mengapa kau berani menyamar sebagai Soe pangcoe?” caci yang lain.
“Dimana Soe pangcoe?” dan sebagainya.

Sambil tersenyum Boe Kie mengangkat tubuh orang itu tinggi tinggi yang kemudian dibanting ke lantai. Dia berteriak kesakitan dan tidak bisa bangun lagi. Ia merasa bahwa urusan itu adalah urusan pribadi Kay pang yang harus diselesaikan oleh orang orang Kay pang sendiri.

Ciang pang Liong tauw yang berangasan lantas saja mengirim tinju delapan gaplokan ke pipi si penipu yang lantas saja menjadi bengkak.

“Bukan aku!…” ia sesambat. “Aku… aku diperintah oleh Tan… Tan… Tiangloo!…”

Cie hoat Tiangloo terkejut, “Mana Tan Yoe Liang?” tanyanya.

Tapi Tan Yoe Liang tak kelihatan mata hidungnya. Begitu dia lihat gelagat jelek, begitu dia kabur.

“Kejar!” bentak Cie hoat Tiangloo. Beberapa murid tujuh karung lantas saja mengiakan dan berlari lari keluar dari gedung itu untuk mencari manusia yang kabur itu.

“Bangsat!” caci Ciang pang Liong tauw. “Sungguh penasaran aku musti berlutut di hadapanmu dan memanggil kau sebagai Soe pangcoe.” Ia mengangkat tangannya dan mau menggapelok lagi.

“Pang Heng tee, tahan!” cegah Cie hoat Tiang loo. “Kalau dia mati, kita sukar mencari keterangan.” Ia memutar badan dan berkata kepada si baju kuning sambil merangkap kedua tangannya. “Kalau tak mendapat petunjuk Kouwnio, sampai sekarang kami masih dikelabui oleh manusia itu. Bolehkah kami mendapat tahu she dan nama Kouwnio yang harum? Seluruh Kaypang sangat berhutang budi kepada Kouwnio.”

Si nona tertawa tawar dan berkata, “Aku sudah biasa hidup di gunung dan tak pernah berhubungan dengan dunia luar. Aku sendiri sudah lupa she dan namaku. Tapi apakah benar-benar di antara kalian tiada yang mengenali adik ini?”

Semua pengemis lantas saja mengawasi si gadis cilik. Tiba-tiba Coan kang Tiangloo maju beberapa tindak dan berkata dengan suara parau. “Dia… dia… seperti Soe pangcoe Hoejin.. apa…apa…”

“Benar,” kata si baju kuning. “Dia Soe Hong Sek, puteri tunggal dari Soe Hwee Liong Pangcoe. Waktu menghadapi kebinasaan Soe Pangcoe telah memerintahkan murid kepalanya, Ong Siauw Thian untuk membawa lari anak itu dan Tah Kauw pang mencari aku supaya di kemudian hari sakit hatinya bisa dibalas. Hanya sayang sebab terluka berat dalam pertempuran, jiwa Ong Siauw Thian tak dapat ditolong. Tapi ia sedikitnya sudah bisa mengantarkan Hong Sek kepadaku.”

“Kouw… kouw… nio,” kata Coan kang Tiang loo suara terputus-putus. “Kau kata Soe Pangco sudah meninggal dunia…? Bagaimana matinya Soe Pangcoe?”

* * * * *

Pada dua puluh tahun lebih yang lalu, karena tenaga dalamnya tidak mencukupi dalam latihan Hang liong Sip pat ciang, badan Soe Hwee liong lumpuh separoh dan tidak bisa menggerakkan kedua lengannya. Dengan mengajak isterinya, ia pergi ke gunung gunung untuk mencari obat dan menyerahkan urusan Kay pang kepada Coan kang dan Cie hoat Tiangloo, Ciang poen dan Ciang pang Liong tauw. Karena kekurangan seorang pemimpin yang pandai dan keempat tetua itu hanya mengurus bidang masing-masing dan tidak bekerja sesama keras, maka kian lama Kay pang yang besar jadi kian lemah.

Waktu Pangcoe palsu mendadak muncul, murid-murid yang berusia muda tentu saja tidak mengenalnya, sedang para tetua juga kena dikelabui sebab mereka sudah berpisahan selama bertahun-tahun dan muka si penipu memang sangat mirip dengan muka Soe Pangcoe.

* * * * *

Si baju kuning menghela napas dan berkata dengan suara perlahan. “Soe Pangcoe binasa dalam tangan Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen!”

“Hah!” Boe Kie mengeluarkan seruan tertahan. Dalam pertempuran di Kong beng teng, dengan mata sendiri ia menyaksikan bagaimana Seng Koen dipukul mati oleh pamannya. Maka itu, ia lantas saja bertanya. “Kouwnio, lagi kapan Soe Pangcu dibinasakan?”

“Tahun yang lalu, tanggal enam bulan sepuluh,” jawabnya. “Sampai sekarang sudah dua bulan lebih.”

“Heran sungguh!” kata pula Boe Kie. “Cara bagaimana Kouwnio tahu bahwa yang turunkan tangan jahat adalah bangsat Seng Koen?”

“Ong Siauw Thian yang memberitahukan kepadaku,” jawabnya. “Ong Siauw Thian mengatakan, bahwa Soe Pangcoe telah beradu tangan dua belas kali dengan seorang kakek. Kakek ini muntah darah dan lari. Soe Pangcoe pun mendapat luka di dalam dan ia tahu lukanya tak dapat disembuhkan laagi. Ia menduga, bahwa tiga hari kemudian, sesudah sembuh, si kakek akan menyateroni lagi. Maka itu ia segera memberi pesanan terakhir kepada Ong Siauw Thian dan memberitahukan, bahwa musuh itu adalah Hoe goan Pek lek Thioe Seng Koen. Pada waktu itu lumpuhnya Soe pangcoe sudah hampir sembuh. Ia memiliki dua belas pukulan dari Hang liong Sip pat ciang dan di dalam dunia, ia sudah jarang tandingan. Dalam pertempuran melawan Seng Koen, ia sudah menggunakan kedua belas pukulan itu dan sesudah itu, ia tidak bisa menyelamatkan diri lagi dari tangan jahatnya musuh.” Mendengar itu Soe Hong Sek menangis lagi.

Dengan paras muka berduka Coan kang Tiang loo mengeluarkan sapu tangannya yang kotor dan menyusut air mata si nona. “Siauw sumoay,” katanya. “Sakit hati Pangcoe adalah sakit hati berlaksa murid Kay pang. Kami akan membekuk Seng Koen dan mencincang badannya jadi laksaan potong. Kami pasti akan membalas sakit hati mendiang ayahmu. Tapi dimanakah adanya ibumu?”

“Ibu sedang berobat ke rumah Yo Cie ci,” jawabnya sambil mengunjuk si baju kuning. Sekarang baru orang tahu bahwa gadis itu seorang she Yo.

“Soe hoejin juga kena dipukul Seng Koen dan mendapat luka yang sangat berat,” kata si baju kuning sambil menghela nafas. “Ia datang di rumahku sesudah melalui perjalanan jauh dan sampai kini ia belum tersadar dari pingsannya. Apa ia masih bisa ditolong… sukar dikatakan.”

“Tapi… apa dosanya pangcoe, sehingga binatang Seng Koen sudah menurunkan tangan jahatnya?” tanya Cie hoat tiangloo dengan suara penasaran. “Sakit hati apa sudah terjadi di antara mereka?”

“Menurut perasaan Soe pangcoe, ia sama sekali belum pernah mengenal Seng Koen,” menerangkan si baju kuning. “Sama sekali tidak ada soal sakit hati. Sampai pada detik terakhir, Soe pangcoe juga tak tahu sebab musababnya. Menurut dugaan Soe pangcoe, mungkin sekali ada orang Kay pang yang berbuat suatu kesalahan dan Seng Koen mencari Soe pangcoe untuk membalas sakit hati.”

Cie hoat menundukkan kepalanya. Sesudah berpikir beberapa saat, ia berkata pula. “Untuk menyingkirkan diri dari kejaran Cia Soen, selama beberapa puluh tahun Seng Koen tidak pernah muncul dalam dunia Kang ouw. Mana bisa jadi murid Kay pang kebentrok dengan dia? Dalam hal ini mungkin terselip salah mengerti yang sangat hebat.”

Ciang poen Liong tauw yang sedari tadi tak pernah mengeluarkan sepatah kata, tiba2 mengambil sebatang golok bengkok dan menandalkan senjata itu di lehernya si penipu. “Binatang!” bentaknya. “Siapa namamu? Mengapa kau menyamar sebagai Soe pangcoe? Lekas mengaku! Kalau kau berdusta… huh… huh… Ia mengangkat goloknya dan menyabet sebuah kursi yang lantas saja terbelah dua.

Dengan badan bergemetaran, si gundul berkata, “Aku… aku… siauw jin Lay tauw goan Lauw Ngauw (Lauw Ngauw, si kura-kura kepala buduk), salah seorang tauwbak (kepala kelompok) perampok dari kawanan perampok di Loan sek kang, kota Kay koan, propinsi Soa say. Apa mau, waktu merampok, Siauwjin bertemu dengan Tan toaya dan guru Tan toaya menendang Siauwjin sehingga roboh dan selagi Tan toaya mengangkat pedangnya, siauwjin meminta ampun. Setelah mengawasi siauwjin, tiba2 Tan Toaya berkata, “Soe hoe, roman bangsat kecil ini mirip orang yang kita temui kemarin dulu.” Gurunya menggeleng-gelengkan kepala dan berkata, “Huh..huh… lain, tidak sama. Usianya tak cocok, hidungnya terlalu kecil, kepalanya gundul.’ Tan toaya tertawa dan berkata, “Soe hoe jangan kuatir, teecu mempunyai daya untuk mengubah itu semua.” Tan toaya lalu mengajak siauwjin ke sebuah rumah penginapan di Kay koan. Ia menggunakan sek-ko untuk meninggikan hidung Siauwjin dan memberi rambut palsu… sehingga siauwjin beroman seperti sekarang. Para loya, andaikata siauwjin punya nyali sebesar langit, siauwjin takkan berani mempermalukan para looya. Siauwjin sudah melakukan ini semua karena diperintah oleh Tan toaya. Jiwa anjing siauwjin berada dalam tangannya. Siauwjin tidak berani tidak menurut. Siauwjin mempunyai seorang ibu sudah berusia delapan puluh tahun… siauwjin mohon para looya sudi mengampuni jiwa anjing Siauwjin.” Sehabis berkata begitu, sambil berlutut ia manggut manggutkan kepalanya.

Cie hoat Tiangloo mengerutkan alisnya. Tan Yoe Liang murid Siauw lim pay dan gurunya pendeta Siauw lim sie,” katanya. “Apa dia mempunyai lain guru?”

Pertanyaan itu menyadarkan Boe Kie. “Benar,” ia menyambungi. “Seng Koen adalah gurunya.” Ia lalu memberi tahu, bahwa dengan menggunakan nama Goan tin, Seng Koen masuk ke Siauw lim sie dan berguru kepada pendeta suci Kong kian. Selanjutnya ia menceritakan cara bagaimana di waktu kecil ia pernah dicelakakan oleh Goan tin di dalam kuil Siauw lim sie, cara bagaimana Goan tin turut menyerang Kong beng teng dan akhirnya binasa dalam tangan pamannya, In Ya Ong. Ia menambahkan, bahwa memang benar mayat Goan tin sekonyong konyong hilang.

“Kalau begitu, kita boleh tak usah bersangsi lagi, bahwa di waktu itu Seng Koen pura pura mati dan kemudian kabur,” kata Cie hoat Tiangloo.

“Tapi penjahat yang paling besar dan yang paling jadi dalangnya adalah bangsat Tan Yoe Liang,” kata Coan kang Tiangloo. “Mereka berdua, guru dan murid, mempunyai angan angan untuk merajai di kolong langit. Mereka membunuh Soe pangcoe, menyuruh buaya kecil ini menyamar sebagai Pangcoe, coba mempengaruhi Beng kauw, berusaha untuk menguasai Siauw lim, Boe tong dan Go Bie pay. Huh..huh..! Angan angan mereka benar benar tak kecil… Eeh!… mana Song Ceng Soe?”

Ternyata pada waktu perhatian semua orang ditujukan kepada Pangcoe tetiron, si baju kuning dan Soe Hong Sek, diam diam Song Ceng Soe turut menghilang.

Sesudah rahasia kejahatan Tan Yoe Liang terbuka, sambil menyoja si baju kuning, Coan kang Tiangloo berkata, “Kouwnio telah membuang budi yang sangat besar kepada Kay pang dan kami tak tahu cara bagaimana untuk membalasnya.”

Si nona tertawa tawar. “Orang tuaku punya hubungan erat dengan Pangcoe yang dulu,” katanya. “Bantuan yang tiada artinya ini tidak berharga untuk disebut sebut. Aku hanya mengharap kalian suka merawat baik baik adik Soe ini.” Ia membungkuk dan dengan berkelebat, ia sudah berada di atas genteng.

“Kouwnio tunggu dulu!” teriak Coan kang tiangloo.

Hampir berbareng, empat wanita baju hitam dan empat baju putih turun melompat ke atap gedung, diiringi dengan suara khim dan seruling. Dalam sekejap suara tetabuhan itu telah terdengar sayup sayup di tempat jauh dan kemudian menghilang dari pendengaran. Dengan mulut ternganga semua orang mengawasi ke atas genteng.

Sambil menuntun tangan Soe Hong Sek, Coan kang Tiangloo berkata kepada Boe Kie. “Thio Kauwcoe, mari masuk.”

Ia mempersilahkan Boe Kie berjalan lebih dahulu dan tanpa sungkan2 Boe Kie segera bertindak masuk dengan melewati dua baris pengemis yang berdiri sebagai pengawal kehormatan. Setelah berduduk dengan Cie Jiak di sampingnya, Boe Kie segera berkenalan dengan para tetua Kay pang dan lalu menanyakan halnya Cia Soen.

“Coan Tiangloo,” katanya. “Jika ayah angkatku, Kim mo Say ong berada di tempat kalian, kuminta bertemu.”

Coan kang tiangloo menghela nafas. “Karena perbuatan bangsat Tan Yoe Liang, Kay pang mendapat malu besar terhadap segenap orang gagah,” katanya. “Memang benar, waktu berada di Kwan gwa, Cia tayhiap dan Cioe kouwnio diundang oleh kami. Ketika itu Cia Tayhiap sakit, ia selalu di pembaringan. Kami belum pernah bertempur dengannya. Belakangan aku membawa beliau ke gedung ini. Pada malam yang lalu, Cia tayhiap telah membinasakan murid murid kami yang menjaganya dan lalu kabur. Peti peti mati para korban masih berada di belakang gedung ini dan belum dikuburkan. Jika tak percaya, Thio Kauwcoe boleh lihat dengan mata sendiri.”

Mendengar keterangan yang diucapkan dengan sungguh sungguh dan juga memang telah menyaksikan sendiri terbinasanya beberapa murid Kay pang, Boe Kie segera berkata, “Perkataan Coan Tiangloo tidak bisa tidak dipercaya.”

Ia menundukkan kepala dan coba menebak nebak kemana perginya sang ayah angkat. Dia ingat, bahwa pada malam kaburnya Cia Soen, ia melihat bayangan seorang wanita yang melompat turun dari atas tembok. Apakah wanita itu si baju kuning? Mengingat itu, ia lantas menanya Soe Hong Sek. “Tiauw moay moay, dimana rumah Yo Ciecie? Apa dahulu memang telah mengenal dia?”

Si nona cilik menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak pernah mengenal Yo Ciecie sebelum pertemuan di hari itu,” jawabnya. “Sesudah mendapat pesanan Thia thia, dengan membawa tongkat bambu ini Ong tiangloo membawa ibu dan aku dengan naik kereta. Di tengah jalan aku bertemu dengan orang jahat. Dalam pertempuran, Ong tiangloo terluka. Beberapa hari kami naik kereta, naik gunung Ong toako tidak bisa berjalan lagi dan merangkak di tanah. Belakangan kami tiba di luar sebuah hutan. Ong tiangloo berteriak teriak. Belakangan datang seorang ciecie kecil yang memakai baju hitam. Belakangan datang Yo ciecie yang berbicara lama dengan Ong toako dan meneliti tongkat bambu ini. Belakangan Ong tiangloo mati dan ibu pingsan. Yo ciecie lalu membawa aku ke kereta, bersama sama delapan ciecie kecil yang memakai baju putih dan baju hitam.” Sebab masih kecil, keterangan Soe Hong Sek tak terang dan Boe Kie tidak bisa mengorek sesuatu yang diinginkan dari mulutnya.

Boe Kie menghela nafas dan untuk beberapa saat, semua orang membungkam.

Akhirnya Coan kang tiangloo berkata, “Thio Kauwcoe, putera Han San Tong berbicara ayah masih berada di tempat kami!” Ia lalu berbicara dengan seorang pengemis yang lantas masuk ke dalam dengan tindakan cepat.

Tak lama kemudian, terdengarlah cacian Han lim Jie. “Pengemis, kau lagi lagi coba menipu tuan besarmu!” teriaknya. Thio Kauwcoe seorang agung dan mulia. Mana boleh jadi ia sudi datang di sarang kawanan pengemis bau? Sudahlah! Lekas lekas kau hantarkan aku ke See tian (dunia baka)! Segala akal bulusnya tidak dapat digunakan terhadapku.”

Boe Kie merasa kagum. Di dalam hati ia memuji pemuda itu, yang setia jujur dan bernyali besar. Buru buru ia bangkit dan menyambut, “Han toako,” katanya, “aku berada di sini. Selama beberapa hari kau banyak menderita.”

Melihat Boe Kie, Han Lim Jie terkesiap. Dengan kegirangan yang meluap luap sedetik kemudian ia berlutut dan berkata, “Thio Kauwcoe, benar benar kau berada di sini!… bunuhlah pengemis pengemis bau itu!”

Sambil tertawa Boe Kie membangunkannya. “Han toako,” katanya dengan terharu. “Para tiangloo ditipu orang dan sudah terjadi salah mengerti. Sekarang segala apa sudah menjadi terang. Dengan memandang mukaku, kuharap Han Toako sudi melupakan segala apa yang sudah terjadi.”

Sesudah bangun berdiri dengan mata melotot Han Lim Jie mengawasi para tokoh pengemis. Ia ingin mencaci untuk melampiaskan rasa dongkolnya, tapi sesudah mendengar perkataan Boe Kie, ia terpaksa menahan sabar.

“Thio kauwcoe,” kata Cie hoat tiangloo. “Kunjunganmu membikin terang muka partai kami. Kami ingin mengundang kalian dalam sebuah perjamuan sederhana untuk menyambut Thio Kauwcoe dan menghaturkan maaf kepada Kouwnio serta Han toako.” Ia berpaling kepada seorang murid dan berkata pula, “Lekas sediakan meja perjamuan!”

Murid itu lantas saja mengiakan.

Karena memikir ayah angkatnya dan ingin bicara banyak dengan Cioe Cie Jiak, Boe Kie tak punya kegembiraan untuk makan minum. Maka itu, sambil merangkap kedua tangannya ia berkata, “Aku menghaturkan banyak terima kasih atas undangan kalian. Tapi aku tak bisa membuang buang waktu karena perlu mencari Gie hoe. Di lain hari aku mau datang berkunjung pula. Kuharap kalian suka memaafkan untuk penolakan ini.”

Tapi Coan kang Tiangloo dan yang lain2 tidak mau mengerti sehingga Boe Kie terpaksa juga menerima undangan itu. Selagi makan minum, para tetua Kaypang kembali menghaturkan maaf dan berjanji akan menyebar murid murid Kaypang untuk bantu mencari Cia Soen. Begitu lekas mendapat warta baik, mereka akan segera melaporkan kepada Beng kauw, kata mereka. Untuk kebaikan itu, Boe Kie menghaturkan banyak terima kasih. Biarpun berkepandaian dan berkedudukan tinggi, ia sedikitpun tidak mengunjuk kesombongan. Ia bahkan sangat merendah, sehingga para pengemis merasa kagum dan takluk. Sesudah bersantap, Boe Kie bertiga segera berpamitan. Para pengemis mengantar mereka sampai sepuluh li di luar kota Louw liong dan mereka berpisahan dengan hati berat.

Dengan menunggang kuda kuda hadiah Kay pang, Boe Kie, Cie Jiak dan Han Lim Jie meneruskan perjalanan ke selatan dengan mengambil jalan raya. Han Lim Jie berlaku sangat hormat. Ia tidak berani merendengkan kudanya dengan Boe Kie dan Cie Jiak dan hanya mengikuti dari belakang. Di sepanjang jalan, ia melayani Boe Kie dan Cie Jiak seperti seorang pelayan.

Boe Kie merasa sangat tidak enak. “Han Toako,” katanya, “biarpun kau seorang anggota agama kita, kau hanya diharap mendengar segala perintahku dalam urusan urusan yang resmi. Dalam pergaulan pribadi sehari hari, kita adalah orang orang yang sepantar, yang berkedudukan sama tinggi, seperti saudara dan sahabat. Sedalam dalamnya aku sangat menghormati kepribadianmu.”

Han Lim Jie kelihatan bingung dan jengah. “Dengan setulus hati aku yang rendah berdiri sama tinggi dengan Kauwcoe?” Aku sudah merasa sangat beruntung, bahwa aku mendapat kesempatan untuk melayani Kauwcoe.”

“Aku bukan Kauwcoe,” kata Cie Jiak sambil tersenyum. “Kau jangan mengunjuk kehormatan yang begitu besar terhadapku.”

“Coe kouwnio bagaikan seorang dewi,” jawabnya. “Bahwa siauwjin bisa berbicara sepatah dua patah kata dengan Kouwnio sudah merupakan kebahagiaan seumur hidup. Siauwjin hanya kuatir, sebagai manusia kasar siauwjin sering bicara kasar dan untuk segala kekurang ajaran, siauwjin mohon Kouwnio suka memaafkan.”

Mendengar kata kata memuja itu yang tulus ikhlas, sebagai manusia biasa, diam diam Cie Jiak merasa girang.

Sambil berjalan Boe Kie menanya Cie Jiak, cara bagaimana dia ditangkap oleh orang orang Kay pang. Si nona memberitahukan, bahwa hari itu, sesudah Boe Kie meninggalkan rumah penginapan untuk menyelidiki siasat Kay pang, badan Cia Soen bergemetaran dan mulutnya ngaco. Ia ketakutan dan berusaha untuk menentramkannya, tapi tidak berhasil. Cia Soen seolah olah tidak mengenalnya lagi. Dia melompat dan kemudian roboh pingsan. Pada saat itu, di tengah enam tujuh orang tokoh Kay pang yang lantas menerobos masuk ke dalam kamar. Sebelum keburu menghunus pedang, jalan darahnya sudah ditotok. Kemudian bersama Cia Soen, ia dibawa ke Louw liong.

Mendengar keterangan itu, Boe Kie manggut manggutkan kepalanya. Sedari kecil ia memang sudah tahu, bahwa sebagai akibat dari latihan Cit Siang kocu, ayah angkatnya mendapat serupa penyakit kalap dan kadang kadang kumat dengan mendadak. Tapi dimana adanya ayah angkat itu sekarang?”

“Kota raja adalah tempat berkumpulnya macam macam manusia,” kata Boe Kie akhirnya. “Kurasa, dalam perjalanan ke selatan, sebaiknya kita mampir di kota raja untuk menyelidiki. Mungkin sekali, dari Ceng ek Hok ong Wie hong aku bisa mendapat keterangan berharga.”
Cie Jiak tertawa, “Ke kota raja?” ia menegas dengan nada mengejek. “Apa benar benar kau hanya ingin menemui Wie It Siauw?”

Boe Kie mengerti maksud tunangannya, sehingga paras mukanya lantas saja berubah merah. “Memang belum tentu kita bisa menemui Wie heng,” jawabnya. Tujuan kita adalah mencari Giehoe, kalau kita bisa bertemu dengan Wie heng, Kouw tauwtoo atau Yo Co Soe, sedikit banyak kita akan mendapat bantuan.”

“Kukenal seorang yang pintar luar biasa,” kata Cie Jiak sambil tersenyum. “Dia seorang wanita cantik. Jika kau cari dia, kau akan mendapat banyak bantuan. Orang-orang seperti Yo Co soe atau Kouw Tauw tok tidak akan bisa menyaingi kepintaran nona cantik itu.”

Boe Kie pernah menceritakan pertemuannya dengan Tio Beng di kelenteng Biek lek hoed, tapi tak urung ia kena disindir juga. “Kau tidak pernah melupakan Tio kouwnio dan setiap ada kesempatan, kau selalu mengejek aku,” katanya dengan suara jengah.

Cie Jiak tertawa, “Apa aku atau kau yang tidak pernah melupakan dia?” tanyanya. “Apa kau rasa kutak tahu rahasia hatimu?”

Boe Kie adalah seorang yang polos dan jujur. Ia menganggap, bahwa sesudah berjanji untuk hidup sebagai suami isteri, ia tak boleh menyembunyikan sesuatu di hadapan tunangannya itu. Maka itu dengan memberanikan hati ia lantas saja berkata, “Ada satu hal yang aku harus beritahukan kepada kau. Kuharap kau tidak jadi gusar.”

“Kalau pantas gusar, aku akan gusar, kalau tak pantas gusar, aku pasti tak akan gusar,” jawabnya.

Boe Kie menjadi lebih jengah. Di hadapan tunangannya pernah bersumpah untuk membunuh Tio Beng guna membalas sakit hatinya In Lee. Tapi waktu bertemu dengan nona Tio, bukan saja ia tidak turun tangan, ia bahkan jalan bersama sama dengan nona itu. Sebagai seorang yang tidak biasa berpura pura, ia tidak berani membuka suara lagi.

Tak lama kemudian mereka tiba di kota kecil dan waktu itu matahari sudah mulai menyelam ke barat. Mereka segera mencari penginapan kecil untuk bermalam. Sesudah makan Boe Kie mengurut punggung Cie Jiak untuk memperlancar aliran darah. “Hiat” yang tertotok sudah terbuka sendiri, tapi otot masih agak kaku dan mengalirnya darah masih kurang lancar. “Ilmu menotok Kay pang memang istimewa,” kata Boe Kie di dalam hati. “Cie Jiak angkuh dan sungkan minta pertolongan, sedang orang yang menotok berlagak lupa. Hmm… kawanan pengemis itu mati matian mau coba menolong muka. Sesudah kalah, mereka ingin memperhatikan keunggulan dalam tiam-hoat.”

Karena hawa udara panas, sesudah diurut, Cie Jiak berkata, “Mari kita jalan jalan di luar.”

“Baiklah,” kata Boe Kie.

Dengan Boe Kie menuntun tangan si nona, mereka berjalan sampai di luar kota. Ketika itu sang surya sudah menyelam ke barat, dan sesudah berjalan beberapa lama lagi, mereka lalu duduk di bawah sebuah pohon.

Di situlah antara kesunyian dan pemandangan alam yang indah, Boe Kie lalu menuturkan segala pengalamannya – cara bagaimana ia bertemu dengan Tio Beng di kelenteng Bie lek hoed, cara bagaimana ia menemui jenazah Boh Seng kok, pertemuannya dengan rombongan Song Wan Kiauw dan kejarannya terhadap tanda gambar obor dari Louw liong, sampai di Louw liong lagi. Sesudah selesai bercerita, sambil memegang tangan si nona, ia berkata dengan suara sungguh sungguh. “Cie Jiak, kau adalah tunanganku dan tak bisa aku menyimpan saja apa yang dipikir olehku. Tio kouwnio berkeras untuk menemui Giehoe dan mengatakan, bahwa ia ingin bicara dengan Giehoe. Ketika itu aku sudah bercuriga. Sekarang, makin kupikir, makin kutakut.” Waktu mengucapkan perkataan perkataan paling belakang suara bergemetar.

“Kau takut apa?” tanya Cie Jiak.

Boe Kie merasa, bahwa kedua tangan tunangannya dingin seperti es dan juga bergemetaran.

“Kuingat, bahwa Giehoe mempunyai semacam penyakit kalap dan kalau lagi kumat ia tak ingat segala apa,” jawabnya.

“Dalam kekalapannya, ia pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap ibu, sehingga kedua matanya buta. Waktu aku lahir, dalam kalapnya Giehoe coba membunuh ayah dan ibu. Sungguh mujur, pada detik yang sangat berbahaya, aku menangis keras dan suara tangisanku itu telah menyadarkannya. Ah!… aku kuatir.. ku kuatir…”

“Kuatir apa?”

Boe Kie menghela nafas. “Sebenarnya aku tak boleh membuka rahasia hatiku ini kepada siapa pun jua,” katanya dengan suara hampir tak kedengaran. “Aku.. aku… kuatir piauwmoay… dibunuh… oleh Giehoe…”

Bagaikan dipagut ular, Cie Jiak melompat bangun. “Apa?” tanyanya dengan suara parau. “Cia tayhiap seorang ksatria budiman yang mencintai kita. Mana boleh jadi ia membunuh In Kouwnio?”

“Aku hanya berkuatir,” kata Boe Kie. “Aku merasa syukur, beribu syukur, jika kekuatiranku itu tidak benar. Tapi… andai kata benar Gie hoe membunuh Piauw moay, ia melakukan itu dalam keadaan tidak sadar. Hei!.. Semua… gara gara bangsat Seng Koen.”

Cie Jiak menggeleng gelengkan kepalanya. “Tak bisa, tak bisa jadi,” katanya. “Apakah racun Sip hiang Joad kin san juga ditaruh oleh Gie hoe? Darimana Gie hoe mendapat racun itu?”

Boe Kie tak menyahut. Kedua matanya mengawasi ke tempat jauh. Ia tak dapat menembus kabut tebal yang menyelimuti teka teki itu.

“Boe Kie Koko,” kata Cie Jiak dengan suara dingin. “Dengan macam macam cara kau berusaha untuk melindungi Tio Beng.”

“Kalau Tio Kouwnio benar2 pembunuhnya, mengapa ia berkeras ingin menemui Giehoe dan ingin bicara dengannya?” kata Boe Kie.

Si nona tertawa dingin. “Tio kouwnio pintar luar biasa,” katanya. “Andai kata ia bertemu dengan Gie hoe, ia pasti mempunyai siasat lain untuk meloloskan diri.” Tiba tiba nada suara Cie Jiak berubah lunak dan ia berkata dengan suara lemah lembut. “Boe Kie koko, kau seorang yang sangat jujur. Dalam kepintaran dan mengatur siasat, kau bukan tandingan Tio Kouwnio.”

Boe Kie menghela nafas pula. Ia mengakui benarnya perkataan Cie Jiak. Sambil memegang tangan si nona, ia berkata, “Cie Jiak, aku merasa bahwa hidup di dunia seperti hidup dalam siksaan. Kau lihatlah, sekarang aku bahkan harus curigai ayah angkatku sendiri. Aku hanya mengharap, bahwa sesudah Tat coe bisa diusir pergi, aku akan bisa hidup ber-sama2 kau di pegunungan yang sepi, jauh dari pergaulan, jauh dari manusia lain.”

“Kurasa tak mungkin,” kata Cie Jiak. “Kau adalah Kauwcoe dari Beng kauw. Apabila, atas berkah Tuhan, Tat coe bisa terusir, tugas mengurus negara jatuh di tangan Beng kauw. Mana bisa kau menikmati penghidupannya yang tenteram itu?”

“Kepandaianku tak cukup untuk menjadi Kauwcoe dan akupun sebenarnya tak ingin menjadi kauwcoe. Jika di kemudian hari beban Kauwcoe Beng Kauw terlalu berat, maka aku harus menyerahkan kedudukan itu kepada orang yang lebih pandai.”

“Kau masih berusia muda, kalau sekarang kepandaianmu belum cukup, apa kau tak bisa menambah pengetahuanmu? Mengenai aku sebagai Ciang boen Go bie pay, akupun mempunyai pikulan yang sangat berat. Soehoe telah menyerahkan cincin besi Ciang boen kepadaku dengan pesanan, supaya aku mengangkat naik derajat kami. Maka itulah, andaikata kau benar2 menyembunyikan diri di pegunungan, aku sendiri tak punya rejeki untuk menuntut penghidupan begitu.”

Waktu melihat cincin itu di tangan Tan Yoe Liang, aku bingung bukan main. Kukuatir akan keselamatanmu. Kalau punya sayap, aku tentu sudah terbang waktu itu juga. Cie Jiak, siapa yang memulangkannya kepadamu?”

“Song Ceng Soe Siauw hiap.”

Mendengar disebutkannya nama Song Ceng Soe, jantung Boe Kie memukul keras. “Song Ceng Soe sangat baik terhadapmu bukan?” tanyanya.

“Mengapa kau menanya begitu?” menegas si nona. Ia menangkap nada luar biasa dalam suara tunangannya.

“Tak apa2,” jawabnya. “Kutahu bahwa Song Soeko sangat mencintai kau. Dia rela mengkhianati partai dan ayah kandung sendiri. Dia bahkan rela membunuh paman seperguruan sendiri. Tak usah dikatakan lagi, terhadapmu dia baik luar biasa.”

Cie Jiak menengadah dan sambil mengawasi sang rembulan yang baru muncul di sebelah timur, ia berkata dengan suara perlahan. “Jika perlakuanmu terhadapku separuh saja dari perlakuannya, aku sudah merasa sangat puas.”

“Aku bukan Song Soeko. Jika untukmu aku harus melakukan perbuatan put hauw dan put gie (tidak berbakti dan tidak mengenal persahabatan), biar bagaimanapun jua aku takkan dapat melakukannya.

“Untukku tak bisa melakukan segala apa. Di pulau kecil kau pernah bersumpah akan membunuh perempuan siluman itu, guna membalas sakit hatinya In Kouwnio. Tapi setelah bertemu muka, kau melupakan semua sumpahmu.”

“Cie Jiak, manakala terbukti bahwa To Liong to dan Ie thian kiam dibawa oleh Tio Kouwnio dan piauwmoay dibinasakan olehnya, aku pasti takkan mengampuninya. Tapi apabila tak berdosa, aku tentu tak mengambil jiwanya. Meskipun sekali aku khilaf dalam mengucapkan sumpah itu.”

Cie Jiak membungkam.

“Mengapa kau diam saja? Apa aku salah?” tanya Boe Kie.

“Tidak!” jawabnya. “Aku sendiri sedang memikiri sumpahku sendiri yang diucapkan di hadapan Soehoe di menara Ban hoat sei. Aku merasa sangat menyesal bahwa waktu menerima lamaranmu, aku tak memberitahukan sumpah itu kepadamu secara terang-terangan.”

Boe Kie terkejut. “Kau… kau… sumpah apa?” tanyanya.

“Di hadapan Soehoe, aku telah bersumpah bahwa jika di hari kemudian aku menikah dengan kau, maka roh kedua orang tuaku takkan mendapat ketenteraman di dunia baka, bahwa roh Soehoe akan menjadi setan jahat yang akan terus menggangguku, bahwa anak cucuku akan menjadi manusia2 hina, yang lelaki menjadi budak, yang perempuan menjadi pelacur!”

Tak kepalang kagetnya Boe Kie. Ia berdiri terpaku dan badannya menggigil. Sesudah lewat beberapa lama dan sesudah dapat menetapkan hatinya, barulah ia berkata. “Cie Jiak, sumpah itu tak boleh dianggap sungguh2. Gurumu sudah memaksa kau mengucapkan sumpah itu sebab ia anggap Beng kauw sebagai agama siluman dan aku sendiri sebagai manusia jahat yang tak mengenal malu. Kalau ia tahu hal yang sebenarnya, ia pasti takkan menyuruh kau bersumpah begitu.”

Air mata si nona lantas mengucur. “Tapi… tapi… ia sudah tak tahu lagi,” katanya. Tiba-tiba ia menubruk Boe Kie dan sambil menangis tersedu-sedu, ia menyesapkan kepalanya di pangkuan pemuda itu.

Sambil mengusap usap rambut tunangannya, Boe Kie berkata. “Cie Jiak, apabila roh gurumu benar-benar angker, ia pasti takkan mempersalahkan kau. Apakah aku benar-benar seorang penjahat cabul, jahanam yang tidak mengenal malu?”

“Sekarang memang belum, tapi siapa tahu karena dipengaruhi Tio Beng, di belakang hari kau tidak menjadi manusia yang tidak mengenal malu?”

Mau tak mau Boe Kie tertawa. “Ah, Cie Jiak!” katanya. “Kau menilai aku terlalu rendah. Apakah kau mengharap mempunyai suami manusia jahat?”

Si nona mengangkat kepalanya. Kedua matanya masih basah, tapi sinarnya sinar tertawa. “Tak malu kau!” bentaknya dengan suara perlahan. “Apa kau sudah menjadi suamiku?” Kalau kau terus bersahabat dengan perempuan siluman itu, aku sungkan menjadi isterimu. Siapa berani memastikan, bahwa kau tidak akan meneladani Song Ceng Soe yang rela melakukan perbuatan terkutuk karena gara gara paras cantik?”

Boe Kie menunduk dan mencium dahi tunangannya. “Siapa suruh kau begitu cantik?” katanya. “Inilah salahnya kedua orang tuamu yang melahirkan seorang puteri yang terlalu cantik, sehingga kaum pria mabok otaknya.”

Mendadak saja, di belakang pohon dalam jarak kira-kira tiga tombak terdengar suara tertawa dingin. “Huh..huh!…” Hampir berbareng terlihat berkelebatnya bayangan manusia yang kabur dengan kecepatan kilat.

Cie Jiak melompat bangun. “Tio Beng!…” serunya dengan suara parau.

Suara tertawa itu, memang suara wanita, tapi Boe Kie masih bersangsi, apakah benar Tio Beng? “Perlu apa dia menguntit kita?” tanyanya.

“Lantaran dia mencintai kau!” jawabnya dengan gusar. “Mungkin kau berdua diam diam sudah berjanji untuk bertemu di sini guna mempermainkan aku.”

Boe Kie bersumpah keras keras, membantah terkaan tunangannya. Cie Jiak berdiri dengan darah meluap. Tiba-tiba karena mengingat nasibnya, ia menangis lagi.

Dengan tangan kiri memeluk pundak, Boe Kie menyeka air mata tunangannya dengan tangan baju kanannya. “Mengapa kau menangis?” tanyanya dengan suara lemah lembut. “Kalau aku menjanjikan Tio Kouwnio datang di sini untuk mempermainkan kau, biarlah aku dikutuk langit dan bumi. Coba kau pikir, apabila benar aku mencintai dia dan kutahu bahwa dia berada dekat, mana boleh jadi aku mengucapkan kata kata cinta terhadapmu? Bukankah dengan berbuat begitu, aku sengaja menyakiti hatinya?”

Cie Jiak merasa perkataan itu beralasan juga. Ia menghela nafas dan berkata. “Boe Kie koko, hatiku sangat tidak tenteram.”

“Mengapa?”

“Aku tidak dapat melupakan sumpahku. Selain itu, Tio Beng pun tentu tak bisa mengampuni aku. Baik dalam ilmu silat maupun dalam kepintaran, aku tak dapat menandinginya.”

“Aku melindungi kau dengan segenap tenagaku. Kalau dia berani melanggar selembar rambut isteriku, aku pasti takkan mengampuni dia.”

“Apabila aku lantas mati dibunuh olehnya, ya sudah saja. Apa yang ditakuti olehku adalah, karena disiasatkan olehnya, kau bergusar terhadapku dan lalu membunuhku. Kalau aku mati cara begitu, aku mati dengan penasaran, dengan mata melek.”

“Kau benar sudah gila!” kata Boe Kie dengan tertawa. “Berapa banyak manusia sudah mencelakai aku, berbuat kedosaan terhadapku, tapi toh aku tak membunuh mereka. Mana boleh jadi aku bunuh isteri tercinta?” Ia membuka bajunya dan seraya mengunjuk bekas luka tusukan pedang, ia berkata pula, “Tusukan siapa ini? Cie Jiak, makin dalam tusukanmu, makin dalam pula rasa cintaku terhadapmu.”

Dengan rasa menyesal dan rasa cinta yang sangat besar, Cie Jiak meraba raba tanda luka itu. Sekonyong-konyong mukanya berubah pucat. “Tikaman dibalas dengan tikaman…” katanya dengan suara parau. “Di belakang hari… andaikata benar kau membunuh aku, aku takkan penasaran lagi…”

Buru2 Boe Kie memeluk si nona. “Sudahlah Cie Jiak!” katanya. Kita harus lekas2 cari Gie hoe supaya orang tua itu segera bisa menikahkan kita. Setelah menikah kalau kau senang, kau boleh menikam aku lagi beberapa kali dan aku takkan merasa menyesal.”

Sambil menyandarkan kepalanya di dada Boe Kie, Cie Jiak berbisik, “Aku mengharap, bahwa sebagai laki laki sejati, kau takkan melupakan perkataanmu di malam ini.”

Lama mereka berdiam di situ, ber-omong2 dengan penuh kasih, di antara sinar rembulan yang putih bagaikan perak. Sesudah larut malam barulah mereka kembali ke rumah penginapan.

Pada keesokan pagi, bersama Han Lim Jie, mereka meneruskan perjalanan ke selatan. Pada suatu magrib, tibalah mereka di kota raja. Mereka mendapat kenyataan bahwa rakyat di seluruh kota sedang sibuk membersihkan rumah dan jalan, dan di depan setiap rumah terdapat hio to (meja sembahyang). Mereka lalu mencari rumah penginapan dan menanya seorang pelayan mengenai kerepotan itu.

“Kedatanganmu sungguh kebetulan,” kata si pelayan. “Kalian mempunyai rejeki besar, besok adalah hari arak arakan besar di Hong shia (kota tempat tinggalnya kaisar).”

“Arak arakan apa?”

“Besok adalah hari pesiarnya Hong shia (kaisar), kejadian ini hanya terjadi satu tahun sekali. Tujuan Hong shia adalah bersembahyang di kelenteng Keng sioe sie. Malam ini kalian harus tidur siang siang dan besok bangun pagi pagi.”

“Pagi pagi sekali kau harus pergi di mulut pintu istana Giok tek tian untuk mendapat tempat yang baik. Kalau untung bagus, kau bisa lihat wajah Hong siang, Hong houw (permaisuri), Koei hoi (selir kaisar), putera mahkota dan puteri kaisar. Coba kalian pikir, kalau sebagai rakyat jelata kita tidak berada di kota raja mana bisa kita melihat wajah Hong siang dengan mata sendiri?”

Bukan main mendongkolnya Han Lim Jie. Tanpa bisa menahan sabar lagi, ia lantas saja mengeluarkan suara di hidung. “Huh!… manusia apa kau!” bentaknya. “Kau pengkhianat yang tak mengenal malu, yang mengakui musuh sebagai ayahmu sendiri. Apa senangnya melihat muka kaisar Tat coe?”

Si pelayan kaget. Ia menatap muka Han Lim Jie dengan mulut ternganga. Akhirnya sambil menuding ia berkata. Kau!… kau… perkataan memberontak! Apa kau tak takut potong kepala?”

“Kau seorang Han, tapi kau begitu mendewa-dewakan kaisar Tat coe,” kata Han Lim Jie. “Kau sungguh tak mengenal malu, lelaki tak punya tulang punggung!”

Melihat sikap Han Lim Jie yang galak garang, si pelayan tidak berani berkata apa apa lagi. Ia memutar badan dan berlalu. Tapi Cie Jiak lantas melompat dan menotok jalan darah di punggungnya. “Dia tentu banyak mulut dan kalau dia dibiarkan pergi, kita mungkin ditangkap,” katanya. Seraya berkata begitu, ia menendang tubuh si pelayan ke kolong ranjang dan berkata pula. “Biar dia kelaparan beberapa hari. Kita baru lepaskan dia waktu mau meninggalkan kota ini.”

Tak lama kemudian pengurus rumah penginapan berteriak teriak memanggil pelayan itu yang sedang mengaso di kolong ranjang. “A Hok! A Hok! Kemana kau? Ambil air untuk tamu kamar nomor tiga!”

Sambil menahan tertawa, Han Lim Jie menepuk meja, “Hei! Lekas sediakan makanan dan arak!” bentaknya. Tuan besarmu sudah lapar!”

Makanan dan minuman diantarkan oleh seorang pelayan lain yang datang dengan menggerutu. “Si A Hok tentu kabur untuk melihat keramaian. Kurang ajar! Dia enak-enakan, aku yang capai.”

Pada keesokan paginya, baru tersadar Boe Kie sudah dengar ramai ramai. Ia keluar dan melihat ribuan rakyat, lelaki, perempuan, tua dan muda, berjalan ber-bondong2 ke jurusan utara dengan mengenakan pakaian baru. Semua orang riang gembira. Di antara gelak tertawa, terdengar pula suara merotoknya petasan. Keramaian itu melebihi keramaian tahun baru.

Tak lama kemudian Cie Jiak pun turut keluar. “Mari kita nonton,” ajaknya.

“Kita pernah bertempur dengan boesoe gedung Jie lam ong,” kata Boe Kie. “Aku kuatir kita akan dikenali. Kalau mau menonton, kita harus menyamar.”

Bersama Han Lim Jie, mereka lalu mengenakan pakaian orang dusun dan kemudian menuju ke Hong shia bersama sama rombongan rakyat.

Ketika itu baru masuk Sin sie (jam tujuh sampai jam sembilan pagi), tapi di dalam dan di luar Hong shia sudah penuh dengan manusia. Dengan Boe Kie sebagai pembuka jalan, mereka maju dengan perlahan. Akhirnya mereka berdiri menunggu di bawah payon sebuah gedung besar, di luar pintu Yan coen boen.

Tak lama kemudian, di sebelah kejauhan terdengar suara gembrengan dan tambur. “Sudah datang! Mereka datang!” teriak rakyat yang menunggu sambil memanjangkan leher mereka. Suara itu makin lama jadi makin keras sehingga terlihatlah rombongan pertama dari arak-arakan itu. Mereka terdiri dari 108 orang yang bertubuh tinggi besar dan mengenakan seragam hijau. Tangan kiri mereka memegang sebuah gembereng besar dan tangan kanan memukulnya dengan menurut irama.

Hebatnya suara 108 gembereng dapat dibayangkan. Rombongan gembereng diikuti rombongan tambur yang terdiri dari 30 orang. Di belakang mereka mengikuti tetabuhan – ada rombongan pi-poe (semacam gitar) dari See hek, rombongan terompet dari Mongol dan sebagainya. Jumlah anggota rombongan2 itu berkisar antara seratus orang lebih sampai seribu. Sesudah rombongan musik, muncul dua bendera sutera yang sangat besar. Yang satu dengan huruf “An pang Hoe kok” (menenteramkan dan melindungi negara), yang lain dengan “Tin sia Hok mo” (menindih yang kotor, menakluki siluman). Kedua bendera itu dikawal oleh 400 serdadu Mongol – di depan 200, di belakang 200, yang menunggang kuda putih dan memegang macam macam senjata. Melihat keangkeran itu, rakyat bersorak sorai tak henti-hentinya.

Melihat Boe Kie, Han Lim Jie terkesiap. Dengan kegirangan yang meluap luap sedetik kemudian ia berlutut dan berkata, “Thio Kauwcoe, benar benar kau berada di sini!… bunuhlah pengemis pengemis bau itu!”

Sambil tertawa Boe Kie membangunkannya. “Han toako,” katanya dengan terharu. “Para tiangloo ditipu orang dan sudah terjadi salah mengerti. Sekarang segala apa sudah menjadi terang. Dengan memandang mukaku, kuharap Han Toako sudi melupakan segala apa yang sudah terjadi.”

Sesudah bangun berdiri dengan mata melotot Han Lim Jie mengawasi para tokoh pengemis. Ia ingin mencaci untuk melampiaskan rasa dongkolnya, tapi sesudah mendengar perkataan Boe Kie, ia terpaksa menahan sabar.

“Thio kauwcoe,” kata Cie hoat tiangloo. “Kunjunganmu membikin terang muka partai kami. Kami ingin mengundang kalian dalam sebuah perjamuan sederhana untuk menyambut Thio Kauwcoe dan menghaturkan maaf kepada Kouwnio serta Han toako.” Ia berpaling kepada seorang murid dan berkata pula, “Lekas sediakan meja perjamuan!”

Murid itu lantas saja mengiakan.

Karena memikir ayah angkatnya dan ingin bicara banyak dengan Cioe Cie Jiak, Boe Kie tak punya kegembiraan untuk makan minum. Maka itu, sambil merangkap kedua tangannya ia berkata, “Aku menghaturkan banyak terima kasih atas undangan kalian. Tapi aku tak bisa membuang buang waktu karena perlu mencari Gie hoe. Di lain hari aku mau datang berkunjung pula. Kuharap kalian suka memaafkan untuk penolakan ini.”

Tapi Coan kang Tiangloo dan yang lain2 tidak mau mengerti sehingga Boe Kie terpaksa juga menerima undangan itu. Selagi makan minum, para tetua Kaypang kembali menghaturkan maaf dan berjanji akan menyebar murid murid Kaypang untuk bantu mencari Cia Soen. Begitu lekas mendapat warta baik, mereka akan segera melaporkan kepada Beng kauw, kata mereka. Untuk kebaikan itu, Boe Kie menghaturkan banyak terima kasih. Biarpun berkepandaian dan berkedudukan tinggi, ia sedikitpun tidak mengunjuk kesombongan. Ia bahkan sangat merendah, sehingga para pengemis merasa kagum dan takluk. Sesudah bersantap, Boe Kie bertiga segera berpamitan. Para pengemis mengantar mereka sampai sepuluh li di luar kota Louw liong dan mereka berpisahan dengan hati berat.

Dengan menunggang kuda kuda hadiah Kay pang, Boe Kie, Cie Jiak dan Han Lim Jie meneruskan perjalanan ke selatan dengan mengambil jalan raya. Han Lim Jie berlaku sangat hormat. Ia tidak berani merendengkan kudanya dengan Boe Kie dan Cie Jiak dan hanya mengikuti dari belakang. Di sepanjang jalan, ia melayani Boe Kie dan Cie Jiak seperti seorang pelayan.

Boe Kie merasa sangat tidak enak. “Han Toako,” katanya, “biarpun kau seorang anggota agama kita, kau hanya diharap mendengar segala perintahku dalam urusan urusan yang resmi. Dalam pergaulan pribadi sehari hari, kita adalah orang orang yang sepantar, yang berkedudukan sama tinggi, seperti saudara dan sahabat. Sedalam dalamnya aku sangat menghormati kepribadianmu.”

Han Lim Jie kelihatan bingung dan jengah. “Dengan setulus hati aku yang rendah berdiri sama tinggi dengan Kauwcoe?” Aku sudah merasa sangat beruntung, bahwa aku mendapat kesempatan untuk melayani Kauwcoe.”

“Aku bukan Kauwcoe,” kata Cie Jiak sambil tersenyum. “Kau jangan mengunjuk kehormatan yang begitu besar terhadapku.”

“Coe kouwnio bagaikan seorang dewi,” jawabnya. “Bahwa siauwjin bisa berbicara sepatah dua patah kata dengan Kouwnio sudah merupakan kebahagiaan seumur hidup. Siauwjin hanya kuatir, sebagai manusia kasar siauwjin sering bicara kasar dan untuk segala kekurang ajaran, siauwjin mohon Kouwnio suka memaafkan.”

Mendengar kata kata memuja itu yang tulus ikhlas, sebagai manusia biasa, diam diam Cie Jiak merasa girang.

Sambil berjalan Boe Kie menanya Cie Jiak, cara bagaimana dia ditangkap oleh orang orang Kay pang. Si nona memberitahukan, bahwa hari itu, sesudah Boe Kie meninggalkan rumah penginapan untuk menyelidiki siasat Kay pang, badan Cia Soen bergemetaran dan mulutnya ngaco. Ia ketakutan dan berusaha untuk menentramkannya, tapi tidak berhasil. Cia Soen seolah olah tidak mengenalnya lagi. Dia melompat dan kemudian roboh pingsan. Pada saat itu, di tengah enam tujuh orang tokoh Kay pang yang lantas menerobos masuk ke dalam kamar. Sebelum keburu menghunus pedang, jalan darahnya sudah ditotok. Kemudian bersama Cia Soen, ia dibawa ke Louw liong.

Mendengar keterangan itu, Boe Kie manggut manggutkan kepalanya. Sedari kecil ia memang sudah tahu, bahwa sebagai akibat dari latihan Cit Siang kocu, ayah angkatnya mendapat serupa penyakit kalap dan kadang kadang kumat dengan mendadak. Tapi dimana adanya ayah angkat itu sekarang?”

“Kota raja adalah tempat berkumpulnya macam macam manusia,” kata Boe Kie akhirnya. “Kurasa, dalam perjalanan ke selatan, sebaiknya kita mampir di kota raja untuk menyelidiki. Mungkin sekali, dari Ceng ek Hok ong Wie hong aku bisa mendapat keterangan berharga.”
Cie Jiak tertawa, “Ke kota raja?” ia menegas dengan nada mengejek. “Apa benar benar kau hanya ingin menemui Wie It Siauw?”

Boe Kie mengerti maksud tunangannya, sehingga paras mukanya lantas saja berubah merah. “Memang belum tentu kita bisa menemui Wie heng,” jawabnya. Tujuan kita adalah mencari Giehoe, kalau kita bisa bertemu dengan Wie heng, Kouw tauwtoo atau Yo Co Soe, sedikit banyak kita akan mendapat bantuan.”

“Kukenal seorang yang pintar luar biasa,” kata Cie Jiak sambil tersenyum. “Dia seorang wanita cantik. Jika kau cari dia, kau akan mendapat banyak bantuan. Orang-orang seperti Yo Co soe atau Kouw Tauw tok tidak akan bisa menyaingi kepintaran nona cantik itu.”

Boe Kie pernah menceritakan pertemuannya dengan Tio Beng di kelenteng Biek lek hoed, tapi tak urung ia kena disindir juga. “Kau tidak pernah melupakan Tio kouwnio dan setiap ada kesempatan, kau selalu mengejek aku,” katanya dengan suara jengah.

Cie Jiak tertawa, “Apa aku atau kau yang tidak pernah melupakan dia?” tanyanya. “Apa kau rasa kutak tahu rahasia hatimu?”

Boe Kie adalah seorang yang polos dan jujur. Ia menganggap, bahwa sesudah berjanji untuk hidup sebagai suami isteri, ia tak boleh menyembunyikan sesuatu di hadapan tunangannya itu. Maka itu dengan memberanikan hati ia lantas saja berkata, “Ada satu hal yang aku harus beritahukan kepada kau. Kuharap kau tidak jadi gusar.”

“Kalau pantas gusar, aku akan gusar, kalau tak pantas gusar, aku pasti tak akan gusar,” jawabnya.

Boe Kie menjadi lebih jengah. Di hadapan tunangannya pernah bersumpah untuk membunuh Tio Beng guna membalas sakit hatinya In Lee. Tapi waktu bertemu dengan nona Tio, bukan saja ia tidak turun tangan, ia bahkan jalan bersama sama dengan nona itu. Sebagai seorang yang tidak biasa berpura pura, ia tidak berani membuka suara lagi.

Tak lama kemudian mereka tiba di kota kecil dan waktu itu matahari sudah mulai menyelam ke barat. Mereka segera mencari penginapan kecil untuk bermalam. Sesudah makan Boe Kie mengurut punggung Cie Jiak untuk memperlancar aliran darah. “Hiat” yang tertotok sudah terbuka sendiri, tapi otot masih agak kaku dan mengalirnya darah masih kurang lancar. “Ilmu menotok Kay pang memang istimewa,” kata Boe Kie di dalam hati. “Cie Jiak angkuh dan sungkan minta pertolongan, sedang orang yang menotok berlagak lupa. Hmm… kawanan pengemis itu mati matian mau coba menolong muka. Sesudah kalah, mereka ingin memperhatikan keunggulan dalam tiam-hoat.”

Karena hawa udara panas, sesudah diurut, Cie Jiak berkata, “Mari kita jalan jalan di luar.”

“Baiklah,” kata Boe Kie.

Dengan Boe Kie menuntun tangan si nona, mereka berjalan sampai di luar kota. Ketika itu sang surya sudah menyelam ke barat, dan sesudah berjalan beberapa lama lagi, mereka lalu duduk di bawah sebuah pohon.

Di situlah antara kesunyian dan pemandangan alam yang indah, Boe Kie lalu menuturkan segala pengalamannya – cara bagaimana ia bertemu dengan Tio Beng di kelenteng Bie lek hoed, cara bagaimana ia menemui jenazah Boh Seng kok, pertemuannya dengan rombongan Song Wan Kiauw dan kejarannya terhadap tanda gambar obor dari Louw liong, sampai di Louw liong lagi. Sesudah selesai bercerita, sambil memegang tangan si nona, ia berkata dengan suara sungguh sungguh. “Cie Jiak, kau adalah tunanganku dan tak bisa aku menyimpan saja apa yang dipikir olehku. Tio kouwnio berkeras untuk menemui Giehoe dan mengatakan, bahwa ia ingin bicara dengan Giehoe. Ketika itu aku sudah bercuriga. Sekarang, makin kupikir, makin kutakut.” Waktu mengucapkan perkataan perkataan paling belakang suara bergemetar.

“Kau takut apa?” tanya Cie Jiak.

Boe Kie merasa, bahwa kedua tangan tunangannya dingin seperti es dan juga bergemetaran.

“Kuingat, bahwa Giehoe mempunyai semacam penyakit kalap dan kalau lagi kumat ia tak ingat segala apa,” jawabnya.

“Dalam kekalapannya, ia pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap ibu, sehingga kedua matanya buta. Waktu aku lahir, dalam kalapnya Giehoe coba membunuh ayah dan ibu. Sungguh mujur, pada detik yang sangat berbahaya, aku menangis keras dan suara tangisanku itu telah menyadarkannya. Ah!… aku kuatir.. ku kuatir…”

“Kuatir apa?”

Boe Kie menghela nafas. “Sebenarnya aku tak boleh membuka rahasia hatiku ini kepada siapa pun jua,” katanya dengan suara hampir tak kedengaran. “Aku.. aku… kuatir piauwmoay… dibunuh… oleh Giehoe…”

Bagaikan dipagut ular, Cie Jiak melompat bangun. “Apa?” tanyanya dengan suara parau. “Cia tayhiap seorang ksatria budiman yang mencintai kita. Mana boleh jadi ia membunuh In Kouwnio?”

“Aku hanya berkuatir,” kata Boe Kie. “Aku merasa syukur, beribu syukur, jika kekuatiranku itu tidak benar. Tapi… andai kata benar Gie hoe membunuh Piauw moay, ia melakukan itu dalam keadaan tidak sadar. Hei!.. Semua… gara gara bangsat Seng Koen.”

Cie Jiak menggeleng gelengkan kepalanya. “Tak bisa, tak bisa jadi,” katanya. “Apakah racun Sip hiang Joad kin san juga ditaruh oleh Gie hoe? Darimana Gie hoe mendapat racun itu?”

Boe Kie tak menyahut. Kedua matanya mengawasi ke tempat jauh. Ia tak dapat menembus kabut tebal yang menyelimuti teka teki itu.

“Boe Kie Koko,” kata Cie Jiak dengan suara dingin. “Dengan macam macam cara kau berusaha untuk melindungi Tio Beng.”

“Kalau Tio Kouwnio benar2 pembunuhnya, mengapa ia berkeras ingin menemui Giehoe dan ingin bicara dengannya?” kata Boe Kie.

Si nona tertawa dingin. “Tio kouwnio pintar luar biasa,” katanya. “Andai kata ia bertemu dengan Gie hoe, ia pasti mempunyai siasat lain untuk meloloskan diri.” Tiba tiba nada suara Cie Jiak berubah lunak dan ia berkata dengan suara lemah lembut. “Boe Kie koko, kau seorang yang sangat jujur. Dalam kepintaran dan mengatur siasat, kau bukan tandingan Tio Kouwnio.”

Boe Kie menghela nafas pula. Ia mengakui benarnya perkataan Cie Jiak. Sambil memegang tangan si nona, ia berkata, “Cie Jiak, aku merasa bahwa hidup di dunia seperti hidup dalam siksaan. Kau lihatlah, sekarang aku bahkan harus curigai ayah angkatku sendiri. Aku hanya mengharap, bahwa sesudah Tat coe bisa diusir pergi, aku akan bisa hidup ber-sama2 kau di pegunungan yang sepi, jauh dari pergaulan, jauh dari manusia lain.”

“Kurasa tak mungkin,” kata Cie Jiak. “Kau adalah Kauwcoe dari Beng kauw. Apabila, atas berkah Tuhan, Tat coe bisa terusir, tugas mengurus negara jatuh di tangan Beng kauw. Mana bisa kau menikmati penghidupannya yang tenteram itu?”

“Kepandaianku tak cukup untuk menjadi Kauwcoe dan akupun sebenarnya tak ingin menjadi kauwcoe. Jika di kemudian hari beban Kauwcoe Beng Kauw terlalu berat, maka aku harus menyerahkan kedudukan itu kepada orang yang lebih pandai.”

“Kau masih berusia muda, kalau sekarang kepandaianmu belum cukup, apa kau tak bisa menambah pengetahuanmu? Mengenai aku sebagai Ciang boen Go bie pay, akupun mempunyai pikulan yang sangat berat. Soehoe telah menyerahkan cincin besi Ciang boen kepadaku dengan pesanan, supaya aku mengangkat naik derajat kami. Maka itulah, andaikata kau benar2 menyembunyikan diri di pegunungan, aku sendiri tak punya rejeki untuk menuntut penghidupan begitu.”

Waktu melihat cincin itu di tangan Tan Yoe Liang, aku bingung bukan main. Kukuatir akan keselamatanmu. Kalau punya sayap, aku tentu sudah terbang waktu itu juga. Cie Jiak, siapa yang memulangkannya kepadamu?”

“Song Ceng Soe Siauw hiap.”

Mendengar disebutkannya nama Song Ceng Soe, jantung Boe Kie memukul keras. “Song Ceng Soe sangat baik terhadapmu bukan?” tanyanya.

“Mengapa kau menanya begitu?” menegas si nona. Ia menangkap nada luar biasa dalam suara tunangannya.

“Tak apa2,” jawabnya. “Kutahu bahwa Song Soeko sangat mencintai kau. Dia rela mengkhianati partai dan ayah kandung sendiri. Dia bahkan rela membunuh paman seperguruan sendiri. Tak usah dikatakan lagi, terhadapmu dia baik luar biasa.”

Cie Jiak menengadah dan sambil mengawasi sang rembulan yang baru muncul di sebelah timur, ia berkata dengan suara perlahan. “Jika perlakuanmu terhadapku separuh saja dari perlakuannya, aku sudah merasa sangat puas.”

“Aku bukan Song Soeko. Jika untukmu aku harus melakukan perbuatan put hauw dan put gie (tidak berbakti dan tidak mengenal persahabatan), biar bagaimanapun jua aku takkan dapat melakukannya.

“Untukku tak bisa melakukan segala apa. Di pulau kecil kau pernah bersumpah akan membunuh perempuan siluman itu, guna membalas sakit hatinya In Kouwnio. Tapi setelah bertemu muka, kau melupakan semua sumpahmu.”

“Cie Jiak, manakala terbukti bahwa To Liong to dan Ie thian kiam dibawa oleh Tio Kouwnio dan piauwmoay dibinasakan olehnya, aku pasti takkan mengampuninya. Tapi apabila tak berdosa, aku tentu tak mengambil jiwanya. Meskipun sekali aku khilaf dalam mengucapkan sumpah itu.”

Cie Jiak membungkam.

“Mengapa kau diam saja? Apa aku salah?” tanya Boe Kie.

“Tidak!” jawabnya. “Aku sendiri sedang memikiri sumpahku sendiri yang diucapkan di hadapan Soehoe di menara Ban hoat sei. Aku merasa sangat menyesal bahwa waktu menerima lamaranmu, aku tak memberitahukan sumpah itu kepadamu secara terang-terangan.”

Boe Kie terkejut. “Kau… kau… sumpah apa?” tanyanya.

“Di hadapan Soehoe, aku telah bersumpah bahwa jika di hari kemudian aku menikah dengan kau, maka roh kedua orang tuaku takkan mendapat ketenteraman di dunia baka, bahwa roh Soehoe akan menjadi setan jahat yang akan terus menggangguku, bahwa anak cucuku akan menjadi manusia2 hina, yang lelaki menjadi budak, yang perempuan menjadi pelacur!”

Tak kepalang kagetnya Boe Kie. Ia berdiri terpaku dan badannya menggigil. Sesudah lewat beberapa lama dan sesudah dapat menetapkan hatinya, barulah ia berkata. “Cie Jiak, sumpah itu tak boleh dianggap sungguh2. Gurumu sudah memaksa kau mengucapkan sumpah itu sebab ia anggap Beng kauw sebagai agama siluman dan aku sendiri sebagai manusia jahat yang tak mengenal malu. Kalau ia tahu hal yang sebenarnya, ia pasti takkan menyuruh kau bersumpah begitu.”

Air mata si nona lantas mengucur. “Tapi… tapi… ia sudah tak tahu lagi,” katanya. Tiba-tiba ia menubruk Boe Kie dan sambil menangis tersedu-sedu, ia menyesapkan kepalanya di pangkuan pemuda itu.

Sambil mengusap usap rambut tunangannya, Boe Kie berkata. “Cie Jiak, apabila roh gurumu benar-benar angker, ia pasti takkan mempersalahkan kau. Apakah aku benar-benar seorang penjahat cabul, jahanam yang tidak mengenal malu?”

“Sekarang memang belum, tapi siapa tahu karena dipengaruhi Tio Beng, di belakang hari kau tidak menjadi manusia yang tidak mengenal malu?”

Mau tak mau Boe Kie tertawa. “Ah, Cie Jiak!” katanya. “Kau menilai aku terlalu rendah. Apakah kau mengharap mempunyai suami manusia jahat?”

Si nona mengangkat kepalanya. Kedua matanya masih basah, tapi sinarnya sinar tertawa. “Tak malu kau!” bentaknya dengan suara perlahan. “Apa kau sudah menjadi suamiku?” Kalau kau terus bersahabat dengan perempuan siluman itu, aku sungkan menjadi isterimu. Siapa berani memastikan, bahwa kau tidak akan meneladani Song Ceng Soe yang rela melakukan perbuatan terkutuk karena gara gara paras cantik?”

Boe Kie menunduk dan mencium dahi tunangannya. “Siapa suruh kau begitu cantik?” katanya. “Inilah salahnya kedua orang tuamu yang melahirkan seorang puteri yang terlalu cantik, sehingga kaum pria mabok otaknya.”

Mendadak saja, di belakang pohon dalam jarak kira-kira tiga tombak terdengar suara tertawa dingin. “Huh..huh!…” Hampir berbareng terlihat berkelebatnya bayangan manusia yang kabur dengan kecepatan kilat.

Cie Jiak melompat bangun. “Tio Beng!…” serunya dengan suara parau.

Suara tertawa itu, memang suara wanita, tapi Boe Kie masih bersangsi, apakah benar Tio Beng? “Perlu apa dia menguntit kita?” tanyanya.

“Lantaran dia mencintai kau!” jawabnya dengan gusar. “Mungkin kau berdua diam diam sudah berjanji untuk bertemu di sini guna mempermainkan aku.”

Boe Kie bersumpah keras keras, membantah terkaan tunangannya. Cie Jiak berdiri dengan darah meluap. Tiba-tiba karena mengingat nasibnya, ia menangis lagi.

Dengan tangan kiri memeluk pundak, Boe Kie menyeka air mata tunangannya dengan tangan baju kanannya. “Mengapa kau menangis?” tanyanya dengan suara lemah lembut. “Kalau aku menjanjikan Tio Kouwnio datang di sini untuk mempermainkan kau, biarlah aku dikutuk langit dan bumi. Coba kau pikir, apabila benar aku mencintai dia dan kutahu bahwa dia berada dekat, mana boleh jadi aku mengucapkan kata kata cinta terhadapmu? Bukankah dengan berbuat begitu, aku sengaja menyakiti hatinya?”

Cie Jiak merasa perkataan itu beralasan juga. Ia menghela nafas dan berkata. “Boe Kie koko, hatiku sangat tidak tenteram.”

“Mengapa?”

“Aku tidak dapat melupakan sumpahku. Selain itu, Tio Beng pun tentu tak bisa mengampuni aku. Baik dalam ilmu silat maupun dalam kepintaran, aku tak dapat menandinginya.”

“Aku melindungi kau dengan segenap tenagaku. Kalau dia berani melanggar selembar rambut isteriku, aku pasti takkan mengampuni dia.”

“Apabila aku lantas mati dibunuh olehnya, ya sudah saja. Apa yang ditakuti olehku adalah, karena disiasatkan olehnya, kau bergusar terhadapku dan lalu membunuhku. Kalau aku mati cara begitu, aku mati dengan penasaran, dengan mata melek.”

“Kau benar sudah gila!” kata Boe Kie dengan tertawa. “Berapa banyak manusia sudah mencelakai aku, berbuat kedosaan terhadapku, tapi toh aku tak membunuh mereka. Mana boleh jadi aku bunuh isteri tercinta?” Ia membuka bajunya dan seraya mengunjuk bekas luka tusukan pedang, ia berkata pula, “Tusukan siapa ini? Cie Jiak, makin dalam tusukanmu, makin dalam pula rasa cintaku terhadapmu.”

Dengan rasa menyesal dan rasa cinta yang sangat besar, Cie Jiak meraba raba tanda luka itu. Sekonyong-konyong mukanya berubah pucat. “Tikaman dibalas dengan tikaman…” katanya dengan suara parau. “Di belakang hari… andaikata benar kau membunuh aku, aku takkan penasaran lagi…”

Buru2 Boe Kie memeluk si nona. “Sudahlah Cie Jiak!” katanya. Kita harus lekas2 cari Gie hoe supaya orang tua itu segera bisa menikahkan kita. Setelah menikah kalau kau senang, kau boleh menikam aku lagi beberapa kali dan aku takkan merasa menyesal.”

Sambil menyandarkan kepalanya di dada Boe Kie, Cie Jiak berbisik, “Aku mengharap, bahwa sebagai laki laki sejati, kau takkan melupakan perkataanmu di malam ini.”

Lama mereka berdiam di situ, ber-omong2 dengan penuh kasih, di antara sinar rembulan yang putih bagaikan perak. Sesudah larut malam barulah mereka kembali ke rumah penginapan.

Pada keesokan pagi, bersama Han Lim Jie, mereka meneruskan perjalanan ke selatan. Pada suatu magrib, tibalah mereka di kota raja. Mereka mendapat kenyataan bahwa rakyat di seluruh kota sedang sibuk membersihkan rumah dan jalan, dan di depan setiap rumah terdapat hio to (meja sembahyang). Mereka lalu mencari rumah penginapan dan menanya seorang pelayan mengenai kerepotan itu.

“Kedatanganmu sungguh kebetulan,” kata si pelayan. “Kalian mempunyai rejeki besar, besok adalah hari arak arakan besar di Hong shia (kota tempat tinggalnya kaisar).”

“Arak arakan apa?”

“Besok adalah hari pesiarnya Hong shia (kaisar), kejadian ini hanya terjadi satu tahun sekali. Tujuan Hong shia adalah bersembahyang di kelenteng Keng sioe sie. Malam ini kalian harus tidur siang siang dan besok bangun pagi pagi.”

“Pagi pagi sekali kau harus pergi di mulut pintu istana Giok tek tian untuk mendapat tempat yang baik. Kalau untung bagus, kau bisa lihat wajah Hong siang, Hong houw (permaisuri), Koei hoi (selir kaisar), putera mahkota dan puteri kaisar. Coba kalian pikir, kalau sebagai rakyat jelata kita tidak berada di kota raja mana bisa kita melihat wajah Hong siang dengan mata sendiri?”

Bukan main mendongkolnya Han Lim Jie. Tanpa bisa menahan sabar lagi, ia lantas saja mengeluarkan suara di hidung. “Huh!… manusia apa kau!” bentaknya. “Kau pengkhianat yang tak mengenal malu, yang mengakui musuh sebagai ayahmu sendiri. Apa senangnya melihat muka kaisar Tat coe?”

Si pelayan kaget. Ia menatap muka Han Lim Jie dengan mulut ternganga. Akhirnya sambil menuding ia berkata. Kau!… kau… perkataan memberontak! Apa kau tak takut potong kepala?”

“Kau seorang Han, tapi kau begitu mendewa-dewakan kaisar Tat coe,” kata Han Lim Jie. “Kau sungguh tak mengenal malu, lelaki tak punya tulang punggung!”

Melihat sikap Han Lim Jie yang galak garang, si pelayan tidak berani berkata apa apa lagi. Ia memutar badan dan berlalu. Tapi Cie Jiak lantas melompat dan menotok jalan darah di punggungnya. “Dia tentu banyak mulut dan kalau dia dibiarkan pergi, kita mungkin ditangkap,” katanya. Seraya berkata begitu, ia menendang tubuh si pelayan ke kolong ranjang dan berkata pula. “Biar dia kelaparan beberapa hari. Kita baru lepaskan dia waktu mau meninggalkan kota ini.”

Tak lama kemudian pengurus rumah penginapan berteriak teriak memanggil pelayan itu yang sedang mengaso di kolong ranjang. “A Hok! A Hok! Kemana kau? Ambil air untuk tamu kamar nomor tiga!”

Sambil menahan tertawa, Han Lim Jie menepuk meja, “Hei! Lekas sediakan makanan dan arak!” bentaknya. Tuan besarmu sudah lapar!”

Makanan dan minuman diantarkan oleh seorang pelayan lain yang datang dengan menggerutu. “Si A Hok tentu kabur untuk melihat keramaian. Kurang ajar! Dia enak-enakan, aku yang capai.”

Pada keesokan paginya, baru tersadar Boe Kie sudah dengar ramai ramai. Ia keluar dan melihat ribuan rakyat, lelaki, perempuan, tua dan muda, berjalan ber-bondong2 ke jurusan utara dengan mengenakan pakaian baru. Semua orang riang gembira. Di antara gelak tertawa, terdengar pula suara merotoknya petasan. Keramaian itu melebihi keramaian tahun baru.

Tak lama kemudian Cie Jiak pun turut keluar. “Mari kita nonton,” ajaknya.

“Kita pernah bertempur dengan boesoe gedung Jie lam ong,” kata Boe Kie. “Aku kuatir kita akan dikenali. Kalau mau menonton, kita harus menyamar.”

Bersama Han Lim Jie, mereka lalu mengenakan pakaian orang dusun dan kemudian menuju ke Hong shia bersama sama rombongan rakyat.

Ketika itu baru masuk Sin sie (jam tujuh sampai jam sembilan pagi), tapi di dalam dan di luar Hong shia sudah penuh dengan manusia. Dengan Boe Kie sebagai pembuka jalan, mereka maju dengan perlahan. Akhirnya mereka berdiri menunggu di bawah payon sebuah gedung besar, di luar pintu Yan coen boen.

Tak lama kemudian, di sebelah kejauhan terdengar suara gembrengan dan tambur. “Sudah datang! Mereka datang!” teriak rakyat yang menunggu sambil memanjangkan leher mereka. Suara itu makin lama jadi makin keras sehingga terlihatlah rombongan pertama dari arak-arakan itu. Mereka terdiri dari 108 orang yang bertubuh tinggi besar dan mengenakan seragam hijau. Tangan kiri mereka memegang sebuah gembereng besar dan tangan kanan memukulnya dengan menurut irama.

Hebatnya suara 108 gembereng dapat dibayangkan. Rombongan gembereng diikuti rombongan tambur yang terdiri dari 30 orang. Di belakang mereka mengikuti tetabuhan – ada rombongan pi-poe (semacam gitar) dari See hek, rombongan terompet dari Mongol dan sebagainya. Jumlah anggota rombongan2 itu berkisar antara seratus orang lebih sampai seribu. Sesudah rombongan musik, muncul dua bendera sutera yang sangat besar. Yang satu dengan huruf “An pang Hoe kok” (menenteramkan dan melindungi negara), yang lain dengan “Tin sia Hok mo” (menindih yang kotor, menakluki siluman). Kedua bendera itu dikawal oleh 400 serdadu Mongol – di depan 200, di belakang 200, yang menunggang kuda putih dan memegang macam macam senjata. Melihat keangkeran itu, rakyat bersorak sorai tak henti-hentinya.

BOE KIE mendongkol bukan main. Ia menganggap penduduk kota raja tidak mengenal malu dan melupakan, bahwa negara mereka dijajah orang.

Baru saja kedua bendera itu lewat didepan Boe Kie, dari sebelah barat tiba-tiba menyambar dua helai sinar putih kearah tiang bendera. Sinar itu adalah sinar golok terbang yang masing-masing terdiri dari tujuh batang. Walaupun tiang bendera itu besar, tapi kedua tiang itu tidak dapat bertahan dari serangan tujuh golok, sehingga di lain saat kedua-duanya patah dan roboh bersama sama benderanya. Keadaan lantas saja berubah kalut. Belasan orang terguling tertimpa tiang.

Kejadian yang tidak diduga-duga itu turut mengejutkan Boe Kie dan Cie Jiak. Han Lim Jie kegirangan dan tanpa merasa mulutnya terbuka untuk. bersorak. Untung juga sebelum suaranya keluar mulutnya keburu ditekap Cie Jiak. Boe Kie tahu, bahwa golok terbang itu dilepaskan oleh ahli silat kelas satu, hanya sayang ia tak lihat siapa yang melepaskannya.

Empat ratus serdadu Mongol yang melindungi bendera gusar tercampur takut. Secara serampangan mereka menangkap tujuh delapan orang yang segera dibinasakan ditempat itu juga.

Han Lim Jie meluap darahnya. “Binatang!” cacinya dengan suara tertahan. Yang melepaskan golok sudah kabur, yang dibinasakan rakyat tidak berdosa”.

“Sst! Han Toako!” bisik Cie Jiak. “Kita mau nonton, bukan mau bikin ribut”.

Han Lim Jie manggutkan kepalanya dan tidak berani buka suara lagi.

Sesudah ribut ribut sebentar dari belakang datang lagi rombongan-rombongan tetabuhan. Rakyat mulai bersorak-sorak pula dan kejadian tadi yang mengenaskan segera dilupakan orang.

Dibelakang rombongan tetabuhan yang kedua itu mengikuti rombongan-rombongan wayang, seperti wayang po-tee-hie dan lain-lain, dan selewatnya, rombongan wayang muncullah kereta-kereta hias yang ditunggu-tunggu. Setiap kereta ditarik kuda pilihan dan diatas kereta terdapat pemuda-pemudi dengan bermacam-macam pakaian yang menggambarkan ceritera-ceritera atau dongeng jaman dahulu, seperti “Pek-Nio nio merendam Kim san,” “Tong Som Cong mengambil kitab suci di See thian”. “Tong Beng pesta di istana rembulan dan sebagainya.

Disaban kereta terdapat sehelai bendera suram dengan nama pembesar yang mempersembahkannya. Makin ke belakang kereta itu makin indah dan pembesar-pembesar yang namanya tertera di bendera juga makin tinggi pangkatnya.

Dengan mendapat tempik sorak gegap gempita, kereta-kereta lewat satu demi satu. Tiba-tiba suara tetabuhan yang mengiring setiap kereta berubah secara menyolok yang diperdengarkan sebuah lagu kuno. Boe Kie melihat, bahwa di kereta yang sedang mendatangi tertancap sehelai bendera putih, dengan tulisan. “Cioe Kong Lioe hong Koan coan ( Cie Kong membuang Koan Siok dan Coa Siok ). Di kereta itu terdapat seorang pria setengah tua yang memegang peranan Cioe Kong dan disampingnya berduduk seorang kanak-kanak yang mengenakan pakaian raja yaitu Raja Yan seng ong. Dua orang lain yang mengenakan pakaian sebagai Koan Siok dan Coa Siok, berbisik-bisik satu sama lain dan menuding-nuding Cioe Kong. Dibelakang kereta tersebut mengikuti lain kereta dengan bendera dengan tulisan yang berbunyi: “Ong Bong Kee-jin Kee Gie” (Ong Bong berlagak jadi manusia budiman) “Ong Bong” di kereta itu, yang mukanya dipoles bedak putih, sedang membagi bagian uang kepada beberapa rakyat miskin, Di belakang kedua kereta itu mengikuti empat bendera dengan tulisan yang merupakan sajak.

“Cioe Kong pernah dicaci.
Ong Bong pernah dipuja.
Kalau waktu itu mereka mati,
Tulen palsunya yang tahu siapa?”

Membaca sajak itu. Boe Kie manggut-manggut manggutkan kepala. “Benar,“ pikirnya. “dalam dunia ini, salah atau benar, hitam atau putih, sukar sekali bisa diketahui. Cioe Kong seorang nabi, tapi, waktu membuang Koan Siok dan Coa Siok orang menuduhnya sebagai pengkhianat yang ingin merebut tahta kerajaan. Ong-bong seorang menteri dorna. Tapi semula pada waktu ia merendahkan diri dan menghormat rakyat ia dipuji. Inilah apa yang dikatakan sesudah berjalan jauh, barulah kita tahu seekor kuda, sesudah diuji lama. barulah kita mengenal hati manusia. Orang yang menerangkan kedua kereta itu bukan sembarang orang. Ia termenung. Ia ingat segala pengalaman yang akhir-akhir ini. Ia ingat duga-dugaannya dalam sebuah teka-teki yang ditutup kabut. Manusia apa sebenarnya Tio Beng? Apa dia membunuh atau tidak membunuh In Lee? Sekonyong-konyong ia disadarkan oleh suara gembereng pecah. Ia menengadah dan melihat sebuah kereta yang ditarik oleh dua kuda kurus. Berbeda dari yang lain, kereta itu polos tanpa hiasan apapun jua.

Beberapa orang tertawa mengejek. “Masakah kereta begitu turut diarak?” kata seorang.,

Tapi waktu kereta ita mendekati, Boe Kie terkesiap. Ia terkesiap karena diatas kereta, disebuah dipan, bersila seorang tinggi besar yang rambutnya kuning, dan kedua matanya meram. Siapa lagi, kalau yang digambarkan bukan Kim-mo Say ong Cia Soen? Disamping “Cia Soen” berdiri seorang wanita cantik yang memegang cangkir teh. Keayuan wanita itu belum menyamai Cie Jiak, tapi pakaian dan geriknya tidak berbeda dari nona Cioe.

“Cioe Kouwnio, dia mirip kau!” bisik Han Lim Jie dengan suara kaget.

Cie Jiak tidak menyahut, Boe Kie menengok dan melihat muka si nona yang pucat pasi dan dada yang turun naik. Ia tahu bahwa tunangannya sedang bergusar. Ia mencekal tangan orang yang dingin bagaikan es.

Kereta yang disebelah belakang masih memperlihatkan ceritera “Cia Soen Cie Jiak“, Cie Jiak menotok punggung “Cia Soen” dan kemudian mengangkat pedang untuk membunuh oraug tua itu. “Benar! benar!Bunuh dia!” teriak beberapa orang.

Kereta ketiga masih juga cerita “Cia Soen Cie Jiak” Enam tujuh orang mengenakan pakaian pengemis sedang menahan ‘Cia Soen dan Cie Jiak.“

Boe Kie tak merasa sangsi lagi, bahwa ketiga kereta itu dibuat atas suruhan Tio beng, untuk menghina tunangannya. Ia membungkuk, menjemput enam butir batu kecil dan menimpuk

Hebat sungguh timpukan itu! Setiap batu mampir tepat di mata kanan setiap kuda dan batu itu terus masuk ke otak, sehingga sesudah berbenger dan berjingkrak-jingkrak, enam ekor kuda itu lantas saja roboh binasa. Keadaan berubah kalut. Kecuali Cie Jiak dan Han Liem Jie, tak seorangpun mendapat tahu timpukan dari dalam tangan bajunya.

Nona Cioe menggigit bibirnya, “Boe Kie koko,” katanya, perempuan siluman itu . . .. terlalu, terlalu menghina aku…..” Ia tak bisa meneruskan suaranya yang parau dan badannya agak bergemetaran.

Dengan rasa kasihan, Boe Kie mencekal tangan tunangannya. “Cie Jiak,” katanya dengan suara membujuk, perempuan itu memang dapat melakukan apa pun jua. Kau jangan ladeni. Asal aku mencintai kau, orang luar tak akan bisa berbuat sesuatu apa.”

Cie Jiak mengangguk. Lewat beberapa saat mendadak ia berkata. “Ah, sekarang ku ingat! Hari itu Giehoe sehat-sehat saja dan tiba-tiba ia bergemetaran, lalu roboh. Sesudah roboh mulutnya ngaco. Apa tak bisa jadi…..perempuan siluman itu bersembunyi di rumah penginapan dan melepaskan senjata rahasia terhadap Gie hoe?”

“Kurasa tak mungkin” jawab Boe Kie.

“Kalau itu perbuatannya aku rasa tak akan keburu menyusul ke kelenteng Bie tek-hoed. Mungkin juga kerajaan Hian beng Jie loo.

Sementara itu sejumlah serdadu Mongol sudah datang dan menyingkirkan bangkai2 kuda supaya arak-arakan tidak terhalang.

Boe Kie dan Cie Jiak tak punya kegembiraan lagi untuk menonton kereta-kereta hias lewat tanpa diperhatikan mereka. Sesudah kereta hias, datanglah rombongan pendeta yang mengenakan jubah merah, diikuti oleh 2000 serdadu Gie lim koen yang bersenjata tombak dan 3000 serdadu pilihan yang bersenjata gendewa dan anak panah. Kemudian, diantara asap hio yaag mengepul keatas, berjalan rerotan joli dengan patung-patung malaikat, semuanya 360 patung. Dengan paling dulu joli Kwan teeSeng koen (Kwan Kong ). Rakyat menyambut rerotan itu dengan mengucapkan doa, banyak diantaranya berlutut ditanah.

Akhirnya, sesudah lewatnya barisan yang membawa alat-alat upacara, seperti kim koa (labu emas), kim toei (martil emas) dan sebagainya, rakyat bersorak, “Hongsiang! Hongsiang!” teriak mereka.

Sebuah joli besar yang ditutup dengan sutera kuning dan digotong oleh 32 sie wie baju sulam kelihatan mendatangi. Joli itu joli kaisar. Boe Kie mengawasi dengan mata tajam. Ia mendapat kenyataan, bahwa kaisar itu pucat mukanya dan suatu tanda dari pelesir dan arak yang tidak mengenal batas. Putera mahkota mengikuti dengan menunggang kuda. Dengan menggendong gendewa tertawa emas, putera kaisar itu kelihatan gagah dan angker dan cocok untuk menjadi sesorang putera Mongol.

“Kauwcoe,” bisik Han Lim Jie, “mengapa kau tidak mau menggunakan kesempatan ini untuk membinasakan kaisar Tat coe itu?”

“Hm!” jawabnya. Ia tidak bisa lantas mengambil keputusan dan lalu menimbang-nimbang baik tidaknya.

“Dengan membinasakan dia Kauwcoe menyingkirkan satu bahaya bagi rakyat,” bisik pula Han Lim Jie. “Biarpun dia banyak pengawalnya2, mana bisa menghalangi serangan Kauwcoe.”

Mendadak, seorang yang berdiri disebelah kiri Boe Kie, berbisik. “Tidak boleh! Jangan!”

Boe Kie terkejut dan melirik orang itu, seorang penjual obat setengah tua . Sekonyong-konyong dia mengacungkan kedua jempolnya dan membuat tanda obor didepan dadanya. “Pheng Eng Giok menghadap kepada Kauwcoe,” bisiknya.

Boe Kie kegirangan dan berkata dengan suara tertahan. “Kau! … Pheng …”

Pandai sungguh Pheng Hweeshio menyamar, sehingga Boe Kie yang berdiri disampingnya tidak dapat mengenalinya.

“Disini bukan tempat bicara,” bisik Pheng Eng Giok. “Kauwcoe tidak beleh binasakan kaisar Tat coe.”

Boe Kie tahu, bahwa pembantunya itu mempunyai pemandangan yang sangat luas. Ia mengangguk dan mencekal tangannya erat-erat, sebagai tanda rasa girangnya.

Kaisar dan putera mahkata diiringi oleh barisan Gie lim koen dengan kekuatan 3000 orang dan rerotan yang terakhir adalah berlaksa rakyat jelata yang mengenakan pakaian beraneka-warna. “Mari lihat Hong houw Nio nio dan Kong coe Nio nio!” seru beberapa orang sambil menggapai sahabat atau kenalannya.

“Aku ingin sekali lihat mereka,” kata Coe Jiak kepada Boe Kie. Ia mengangguk dan bersama Pheng Eng Giok dan Han Lim Jie, mereka lalu menuju ke arah Giok tek tian, bersama-sama rerotan rakyat. Tak lama kemudian mereka melihat tujuh buah loteng indah yang dihias secara indah pula. Dibawah loteng dijaga oleh sepasukan Gie lim koen bersenjata rotan yang digunakan untuk mengusir rakyat yang datang terlalu dekat. Dengan tak banyak susah Boe Kie berempat mendesak ke depan. Di loteng yang di tengah-tengah berduduk sang kaisar disebuah kursi naga-nagaan dengan diapit oleh dua orang permaisurinya yang berbadan gemuk dan berpakaian mewah. Putera mahkota duduk di sebelah kiri, sedang yang duduk di sebelah kanan seorang wanita muda yang berusia kira-kira dua puluh tahun.

“Dia tentulah puteri kaisar,” kata Boe Kie di dalam hati sambil mengawasi loteng kedua yang terletak disebelah kiri.

Tiba-tiba jantungnya mengetuk lebih keras, karena di loteng ini berduduk Tio Beng yang mengenakan baju bulu dan perhiasan mahal. Di tengah-tengah loteng itu berduduk seorang raja muda yang berparas agung dan bukan lain daripada Kuhkun Temur, ayahanda Beng-beng Koencoe. Kuhkun Temur, kakak Tio Beng kelihatan berjalan di sisi loteng dengan tindakan seperti tindakan harimau.

Dengan mata mendelong Cie Jiak mengawasi kedua permaisuri yang mewah itu. Tanpa merasa ia maju beberapa tindak dan melewati perbatasan yang diperbolehkan untuk rakyat jelata. Seorang anggota Gie lim koen segera menyabet dengan rotannya.

Bagaikan kilat Cie Jiak menangkap ujung rotan. Dengan mudah ia akan dapat merobohkan serdadu itu, tapi sejenak kemudian ia melepaskan cekalannya dan mundur, akan kemudian menghilang diantara orang banyak.

Ketika itu didepan loteng mulai diadakan latihan barisan Thian mo Thia tin oleh rombongan Han ceng (pendeta asing). “Tin” yang diperlihatkan di keluarga kaisar benar-benar hebat dengan perubahan-perubahan yang sangat aneh, sehingga saban-saban mendapat sambutan yang gegap gempita dari berlaksa rakyat. Tapi Cie Jiak tidak tertarik oleh latihan itu. Sesudah mengawasi Tio Beng beberapa lama, ia menghela napas, dan berkata. “Mari kita pulang.”

Setibanya di rumah penginapan, Pheng Eng Giok memberi hormat kepada Boe Kie sebagai mana layaknya dan masing-masing lalu menceriterakan pengalamannya. Pheng Hweeshio yang baru kembali dari Hway see ternyata tak tahu kalau Cia Soen sudah pulang ke Tiong goan. Ia memberitahu, bahwa Coe Goan Cang, Cie Tat dan Siang Gie Coen telah memperoleh banyak kemajuan sehingga Beng kauw sangat disegani.

Pheng Taysoe,” kata Han Lim Jie sesudah Pheng Eng Giok selesai menutur. “Apabila tadi kita melompat untuk naik ke loteng dan membunuh kaisar Tat coe itu, bukankah dengan demikian kita menyingkirkan satu bencana bagi rakyat?”

Pheng Hweeshio menggeleng-gelengkan kepala, “Kaisar bebodoran itu justru pembantu kita yang sangat berharga,” jawabnya. “Mana boleh kita membunuh dia?”

“Han Heng tee” kata Pheng Eng Giok sambil tersenyum, “kaisar itu tolol, kejam dan doyan pelesir. Paling belakang dia memerintahkan penggalian sungai Hong ho. Rakyat sangat menderita dan bergusar. Mengapa saudara-saudara kita sudah memperoleh hasil-hasil baik di medan perang? Apa benar tentara rakyat serba kekurangan bisa melawan tentara Mongol yang gagah perkasa? Sebab musabab dari kemenangan kita ialah karena rakyat sudah. membenci Tat coe. Dalam setiap pertempuran, rakyat membantu kita. Kaisar tolol itu tak bisa menggunakan orang-orang pandai, Jenderal yang seperti Jie Lam ong selalu dihalang-halangi dan dicurigai. Kaisar bebodoran itu kuatir, bahwa kalau pahalanya sudah terlalu besar, raja muda tersebut akan merebut kerajaan. Maka itu perlahan-lahan dia mengurangi kekuasaan Jie Lam ong atas ketentaraan dan mengangkat jenderal-jenderal tolol untuk memimpin tentara, sehingga biarpun gagah perkasa, pasukan-pasukan Mongol sering kalah dalam medan perang. Inilah sebabnya mengapa aku mengatakan bahwa kaisar Tat coe itu pembantu kita yang sangat berharga.”

Han Lim Jie tersadar. Ia manggut-manggutkan kepalanya dan merasa kagum akan pandangan Pheng Eng Giok yang sangat jauh.

“Apabila kita membunuh kaisar Tat coe itu, putera mahkota akan menggantikannya” kata pula Pheng Hweeshio. “Meskipun bodoh, dia tentu tak sebodoh ayahnya. Jika dia bisa menggunakan panglima-panglima yang pandai usaha kita bisa gagal seanteronya.”

“Syukur sekali Taysoe berada disini” kata Boe Kie. “Kalau tidak, mungkin aku sudah menyerang dan merusak urusan besar.”

“Kauwcoe adalah seorang yang sangat penting dan memikul tugas berat untuk mengusir kekuasaan Tat coe” kata Pheng Eng Giok. “Maka itu Kauwcoe tak boleh menempuh bahaya secara sembrono. Seorang kaisar selalu dijaga keras dan diantara pengawalnya terdapat banyak orang yang berkepandaian tinggi. Meskipun gagah, Kauwcoe belum tentu bisa melawan mereka yang berjumlah sangat besar.”

Boe Kie mengangkat kedua tangannya dan berkata. “Aku merasa sangat berterima kasih untuk nasihat Taysoe dan aku berjanji akan memperhatikannya.”

Cie Jiak menghela napas. “Memang kau juga tidak boleh sembarangan menerjang bahaya” katanya. Di hari kemudian sesudah usaha kita berhasil, kursi naga tentu akan diduduki oleh Thio Kauwtjoe.”

Han Lim Jie bertepuk tangan. “Benar!“ serunya dengan suara perlahan.

“Thio Kauwcoe jadi Hongtee. Cioe Kouwnio jadi Hong houw. Pheng dan Yo coesoe sebagai Yoe sin siang.”

Muka nona Cioe lantas saja berubah merah. Ia menunduk dengan sikap kemalu-maluan tapi sinar ujung matanya menandakan bahwa ia merasa girang sekali.

Dengan sikap bingung Boe Kie sendiri buru-buru menggoyang-goyangkan kedua tangannya. “Han Hengtee, perkataanmu itu tak boleh dikeluarkan lagi!” katanya dengan suara sungguh-sungguh. “Aku hanya bertujuan untuk menolong rakyat dari penderitaan, sesudah berhasil aku akan segera mengundurkan diri. Aku sedikitpun tak kemaruk akan kekayaan dan kedudukan tinggi.”

Pheng Eng Giok tertawa. “Kauwcoe mempunyai kepandaian dan kebijaksanaan yang jarang tandingan” katanya, “Kalau waktunya tiba andaikata Kauwcoe mau menolak, Kauwcoe takkan bisa menolak. Dahulu, Tio Kong In pun belum pernah mimpi akan menjadi kaisar.” ( Ti Kong In adalah, pertama dari kerajaan Song)

„Tidak bisa!“ kata Boe Kie. „Bila dalam usaha ini hatiku bercabang dan mempunyai angan-angan untuk keuntungan pribadi, biarlah langit dan bumi mengutuk aku, biarlah aku mati secara tidak baik!“

Mendengar penolakan yang disertai sumpah itu, paras muka Cie Jiak lantas saja berubah. Ia melongok keluar jendela dan berkata, „Pemimpin Beng Kauw menjadi kaisar bukan kejadian yang terlalu luar biasa. Dahulu ayahku mengangkat diri sendiri sebagai raja. Kalau berhasil, bukankah ayah sudah menjadi Hong-tee?“

“Ya, hanya sayang Cioe Coe Ong Cioe Soeheng gagal dalam usahanya,“ kata Pheng Eng giok dengan suara duka. „Kalau berhasil, Cioe Kouwnio sudah menjadi Kong coe Nio-nio.“

Cie Jiak tertawa dingin. “Mm!…..” Ia mengeluarkan suara di hidung. „Apakah keistimewaan Koen coe dari Jie-lam ong? Tapi toh ada yang mengawasinya tanpa berkedip dan mendewi-dewikannya. Kalau aku jadi lelaki dan aku mau menikah dengan keluarga kaisar sendiri, kalau bisa menjadi Hoe-ma barulah boleh dibuat bangga. (Hoe ma adalah Menantu lelaki dari seorang kaisar)

Pheng Eng Giok dan Han Lim Jie yang menafsirkan perkataan Cie Jiak sebagai guyonan, lantas saja tertawa terbahak-bahak. Tapi Boe Kie sendiri bukan main rasa jengahnya. „Cie-Jiak sangat halus budi pekerti, tapi mengapa ha ri ini ia mengeluarkan kata-kata itu?” pikirnya.

“Mungkin sekali waktu tadi aku mengawasi Tio Kouwnio, Cie Jiak merasa tak senang. Tapi… ah! … Perkataannya itu hanya membuktikan kecintaannya terhadapku.”

Sementara itu Pheng Eng Giok melaporkan hasil-hasil gerakan Beng Kauw dalam keseluruhannya. Ia mengatakan bahwa biarpun sering juga menderita kekalahan di medan perang tapi tenaga kekuatan Beng kauw makin lama jadi makin besar! Hanya sayang dalam Rimba Persilatan masih terdapat partai-partai yang merasa jelus atau mengiri, persatuan yang sempurna belum tercapai. Maka itu kata Pheng Eng Giok alangkah baiknya jika bisa diadakan pertemuan dan musyawarah besar antara orang-orang gagah Rimba Persilatan. Apabila tercapai persatuan yang kokoh, maka usaha mengusir Tat-coe pasti akan terwujud.

“Taysoe benar,” kata Boe Kie. “Nanti sesudah bertemu dengan Yo-CoSoe, kita akan berdamai lebih jauh.”

Sesudah makan malam Boe Kie berkata, “Aku dan Pheng Taysoe ingin jalan-jalan sambil mendengar-dengar halnya Giehoe.” Ia menengok kepada Han Lim Jie dan berkata pula: “Han Heng-tee, kau dan Cie Jiak tak usah mengikut. Kalian mengaso saja.” Ia tidak mau mengajak Han Lim Jie sebab kuatir saudara yang berangasan itu menerbitkan onar.

Sesudah keluar dari rumah penginapan, mereka berpencaran, yang satu mengambil jalan ke barat, yang lain ke timur dan berjanji akan pulang ke penginapan sebelum jam dua lewat tengah malam.

Boe Kie yang menuju ke barat memasang mata dan kuping. Tapi apa yang didengarnya hanya omong-omongan rakyat tentang keramaian siang tadi dan cerita-cerita ngawur tentang pemberontakan Beng kauw. Ia tak mendapat sesuatu yang penting. Ia berjalan dengan menuruti mau nya kaki, makin lama jalan jadi makin sepi. Tiba-tiba jantungnya memukul keras karena ia mendapat kenyataan, bahwa ia berada didepan sebuah rumah makan kecil, dimana dahulu ia pernah minum arak bersama-sama Tio Beng. “Mengapa aku bisa datang kesini? Apa lantaran aku selalu tidak dapat melupakan Tio Kouwnio?” tanyanya didalam hati.

Pintu rumah makan itu separuh dirapati, di dalam tidak terdengar suara, seperti juga tiada tamunya. Ia mendorong pintu dan bertindak masuk. Seorang pegawai kelihatan tertidur sambil mendekam di meja. Ia terus masuk kedalam.

Ternyata, pada sebuah meja di suatu sudut berduduk seorang tamu yang sedang bersantap dengan muka menghadap kedalam, dibawah penerangan sebatang lilin. Hati Boe Kie berdebar-debar sebab ia segera mengenali, bahwa meja itu adalah dimana ia pernah minum arak bersama nona Tio.

Sebab mendengar tindakan, tamu itu mendadak berbangkit dan menengok dan … orang itu bukan lain dari pada Tio Beng sendiri!

Untuk sejenak kedua-duanya berdiri terpaku dan Kedua-duanya mengeluarkan seruan kaget.

“Kau! … mengapa kau datang kesini?” kata Tio Beng. Suaranya bergemetaran. Sebagai tanda dari goncangan hatinya.

„Aku keluar jalan-jalan dan kebetulan lewat disini dan tak dinyana……” kata Boe Kie sambil mendekati. Melihat seperangkat piring mangkok dan sepasang sumpit didepan si nona, ia berkata pula “Apa kau sedang menunggu seseorang ?”

Tio Beng lantas bersemu dadu. “Tidak” jawabnya. “Dua kali kita pernah minum arak di sini dan kau duduk dihadapanku. Maka itu … maka itu … kuperintahkan pelayan menyediakan piring mangkok itu.”

Boe Kie merasa sangat berterimakasih. Ia lihat empat tempat macam sayur di meja dan ke empat macam sayur itu tidak berbeda dengan sayur yang pernah dimakannya bersama sama nona Tio.

Tak kepalang rasa terharunya Boe Kie. Tanpa merasa ia memegang tangan si nona dan berkata dengan perlahan. “Tio Kouwnio …. “

“Aku hanya merasa menyesal …” kata si nona, “menyesal aku terlahir dalam keluarga raja muda Mongol yang menjadi musuhmu …“

Pada saat itulah, di luar jendela mendadak terdengar “heh-heh,” suara tertawa dingin, dan serupa benda menyambar lilin yang lantas saja menjadi padam. Boe Kie dan Tio Beng mengenal bahwa suara itu suara Cie Jiak. Mereka jadi serba salah keluar salah, berdiam diruangan yang gelap itupun salah. Dalam detik itu, di atap rumah terdengar suara berkeresekan dan bagaikan angin, Cie Jiak sudah berlalu.

“Apa benar kau sudah bertunangan sama dia?” bisik Tio Beng.

“Benar,” jawabnya. “Aku tidak boleh berdusta.“

“Hari itu waktu bersembunyi dibelakang pohon, kudengar perkataan-perkataanmu yang penuh kecintaan, yang manis seperti madu. Ketika itu, aku ingin lantas mati, aku tak mau hidup lebih lama lagi di dunia ini. Aku tertawa dingin dua kali. Sekarang ia membalasnya. Tapi . . . tapi . . . dari mulutmu aku tidak pernah mendengar sepatah katapun yang bisa menghibur hatiku …”

“Tio Kouwnio, sebenarnya aku tidak boleh datang kesini lagi, tidak boleh bertemu muka lagi dengan kau. Aku sudah mengikat janji dan aku tak pantas melakukan sesuatu yang dapat membangkitkan rasa dukamu. Tio Kouwnio ibarat pohon kau bercabang emas dan berdaun kemala. Mulai dari sekarang kau harus melupakan aku ….”

Tio Beng memegang tangan Boe Kie dan mengusap-usap tanda bekas luka dibelakang tangan itu. “Luka ini karena gigitanku.” katanya, “Biarpun ilmu silatmu tinggi, biarpun ilmu ketabibanmu tinggi, tak bisa kau menghilangkan tanda luka dalam hatiku?” Sehabis berkata begitu, ia menatap wajah Boe Kie dengan air mata yang tak bisa dilukiskan. Sekonyong-konyong kedua tangaanya memegang kepala Boe Kie dan ia . . .. menggigit bibir pemuda itu sehingga mengeluarkan darah! Sesudah itu ia mondorong dan melompat keluar dari jendela. “Penjahat cabul! Aku benci kau!… aku benci kau …“ serunya.

*****

SESUDAH Boe Kie dan Pheng Eng Giok berlalu, Han Lim Jie berkata “Cioe Kouwnio, kau tidurlah siang-siang.” Sehabis berkata begitu, ia segera berlalu dan pergi ke kamarnya sendiri.

Cie Jiak tertawa, “Han Toako,” katanya. “Mengapa kau begitu takut? Duduk omong omong sebentar saja kau tidak mau.”

“Tidak ! tidak!” jawabnya. Ia mempercepat tindakannya, masuk ke kamarnya dan lalu menapal pintu.

Sambil rebah diatas pembaringan batu, ia membayangkan kecantikan dan kehalusan Cie Jiak yang dipandangnya seperti dewi. Tak lama kemudian ia tertidur.

Kira-kira tengah malam mendadak pintu terketuk. Ia melompat bangun dan bertanya, “Siapa?”

“Aku,“ demikian terdengar suara Cie Jiak. “Buka pintu! Aku ingin bicara denganmu.”

Han Lim Jie melompat turun dari pembaringan, membuka tapal pintu dan menyalakan lilin. Dengan kaget ia lihat kedua mata si nona yang merah dan sikapnya yang luar biasa. “Cioe Kauwnio, kau . . . kau. . . kenapa?” tanyanya. Untuk sejenak ia berdiri terpaku dan kemudian sambil lari keluar ia berkata, “Aku mau ambil air.” Tak lama kemudian ia masuk lagi dengan membawa sepaso air. “Kau . . . cucilah mukamu,” katanya.

Cie Jiak tidak menyahut. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan mengawasi api lilin dengan mata mendelong. Mendadak air matanya mengucur. Han Lim Jie kaget bercampur bingung, ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Lama juga nona Cioe berdiri bengong seperti orang linglung. Tiba-tiba ia tersadar dan mengeluh dengan suara perlahan.

“Cioe Kouwnio, siapa yang menyakitimu?” tanya Han Lim Jie. “Beritahukanlah kepadaku. Si orang she Han akan tikam dia.”

Cie Jiak tetap membungkam. Sambil menghela napas, ia bertindak keluar dan masuk ke kamarnya sendiri. Sesudah duduk beberapa lama, ia keluar lagi.

Han Lim Jie jadi makin bingung. Tak lama kemudian kentong berbunyi tiga kali. “Mengapa Kauwcoe dan Pheng Taysoe belum juga balik?” tanyanya didalam hati, “Tak lama ada jalan lain dari pada tunggu pulangnya mereka.” Walaupun berkuatir, ia tidak berani menengok si nona yang sudah masuk lagi ke kamarnya. Ia lalu merebahkan diri di pembaringan.

Dalam keadaan setengah tidur, sekonyong-konyong ia mendengar suara gedubrukan di kamar Cie Jiak, seperti jatuhnya kursi. Ia melompat bangun dan berlari-lari ke kamar nona Cioe. Dengan bantuan sinar rembulan, dari luar jendela ia lihat bayangan sesosok tubuh manusia yang bergelantungan dan bergoyang-goyang dengan perlahan. Dengan hati mencelos ia berteriak “Cioe Kouwnio ! … Cioe Kouwnio …”

Ia menolak pintu, tapi pintu ditimpal dari dalam. Tanpa memikir panjang lagi, dengan seantero tenaga, ia mendorong pintu dengan pundaknya, sehingga timpal pintu patah. Ia masuk ke dalam dan segera menyalakan lilin. Cocok dengan dugaannya, nona Cioe menggantung diri dengan seutas tambang yang diikatkan pada balok rumah dengan lehernya sendiri. Bagaikan kalap, ia melompat tinggi, menjambret tambang dan menarik sekuat-kuatnya, sehingga tambang itu putus. Dengan tangan bergemetaran, ia mendukung tubuh si nona dan merebahkannya diatas pembaringan. Seperti disambar halilintar, ia mendapat kenyataan, bahwa nona Cioe sudah tidak bernapas! “Cioe Kouwnio !…. Cioe Kouwnio !…” ia sesambat.

Tiba-tiba diluar kamar terdengar suara seorang. “Han Toako, ada apa?” Orang itu lantas masuk kedalam dan dia bukan lain daripada Boe Kie sendiri. Melihat tunangannya, bukan main kagetnya, pemuda itu. Buru-buru ia membuka ikatan tambang pada leher Cie Jiak dan meraba dadanya. Untung juga jantungnya masih berdenyut. “Masih bisa ditolong,” katanya dengan suara lega. Ia lalu mengurut punggung Cie Jiak dan mengirim Kioeyang Cin khie kedalam tubuh si nona.

Beberapa saat kemudian Cie Jiak berteriak, “Uah!” dan lalu menangis. Ia membuka matanya dan begitu melibat Boe Kie ia berkata “Biar aku mati! Aku lebih baik mati!” Mendadak ia lihat bibir Boe Kie yang berdarah dan bertanda tapak gigi, darahnya lantas saja bergolak dan dengan sekuat tenaga ia menggaplok.

Han Lim Jie terkesiap. Ia berdiri terpaku dan mengawasi dengan mata membelalak. Pihak mana yang harus diambil olehnya? Di satu pihak Kauwcoe yang dipujanya, dilain pihak calon nyonya Kauwcoe yang juga dipandangnya seperti dewi. Selagi kebingungan mendadak pundaknya ditepuk orang. Ia menengok dan ternyata orang itu bukan lain dari pada Pheng hweeshio. “PhengTay soe” katanya dengan suara girang. “Lekas bujuk Cioe Kouwnio!”

Pheng Eng Giok tertawa. “Bujuk apa?” tanyanya. “Mari kita keluar”.

“Tidak bisa! Mereka akan berkelahi! Cioe Kouwnio bukan tandingan Kauwcoe,” kata si tolol.

Pheng Eng Giok tertawa terbahak bahak. “Han Heng-tee, apakah kita berdua bisa menandingi Kauwcoe?” tanyanya. “Aku berani pastikan dengan seorang diri Cioe Kouwnio akan mendapat kemenangan.” Seraya berkata begitu, ia memberi isyarat dengan kedipan mata dan lalu menarik taagan Han Lim Jie.

Sementara itu, sesudah menggapelok tunangannya, Cie Jiak lalu membanting diri di pembaringan dan menangis tersedu-sedu. Boe Kie duduk di pinggir ranjang dan sambil mengusap-usap pundak si nona, ia berkata dengan suara lemah lembut. “Sungguh mati aku tidak berjanji dengan dia untuk mengadakan pertemuan di situ. Hal itu telah terjadi karena kebetulan saja.”

“Justa! Bohong! Aku tidak percaya!”

Boe Kie menghela napas. “Cie Jiak, apa kau tak ingat riwayat Cioe Kong dan Ong Bong?” tanyanya. “Dalam dunia ini banyak sekali kejadian-kejadian kebetulan yang bisa menimbulkan salah mengerti”.

Si nona bangun duduk. “Kau sungguh kejam!” teriaknya. “Koencoe Nio nio-mu menghina aku dengan sajaknya dan kau bahkan menyebut-nyebutnya lagi. Lihat bibirmu! Apa kau tak malu?” Sehabis berkata begitu, mukanya sendiri berubah merah.

Boe Kie mengerti, bahwa ia takkan dapat membela diri. Jalan satu-satunya ia harus bersabar. Melihat muka tunangannya yang kemerah-merahan, lehernya yang masih bertanda bekas ikatan tambang dan matanya yang merah, di dalam hatinya lantas saja timbul rasa kasihan. Ia ingat, bahwa jika tidak keburu ditolong oleh Han Lim Jie, tunangannya itu pasti sudah binasa. Mengingat begitu, dengan rasa terharu ia segera memeluk. Cie Jiak coba memberontak, tapi Boe Kie terus memeluk erat-erat dan mencium dahinya.

Lama ia memeluk dan Cie Jiak pun tidak memberontak lagi. Tiba-tiba ia merasa jengah sendiri. Perlahan-lahan ia melepaskan pelukannya dan berkata. “Cie Jiak, kau tidurlah. Besok kita bicara lagi. Kalau aku berani menjustai kau lagi dan diam-diam mengadakan pertemuan dengan Tio Kouwnio, kau boleh bunuh aku.”

Si nona tidak menjawab. Ia terus menangis dengan perlahan. Makin dibujuk, ia menangis makin keras. Akhirnya Boe Kie bersumpah, bahwa ia tidak akan berkhianat dan bahwa ia masih tetap mencintai si nona deagan segenap jiwa.

“Aku tak mempersalahkan kau, aku hanya merasa menyesal akan nasibku yang buruk…” kata Cie Jiak dengan suara hampir tak kedengaran.

“Diwaktu masih kecil, kita bersama-sama bernasib buruk,” kata Boe Kie. “Dengan Tat coe yang berkuasa, seluruh rakyat bernasib buruk. Nanti sesudah Tat coe terusir, kita akan hidup beruntung.”

Tiba-tiba Cie Jiak mengangkat kepalanya dan berkata dengan suara sungguh-sungguh, “Boe Kie Koko, kutahu kecantikanmu terhadapku. Ku tahu ini semua karena gara-gara bujukan si perempuan siluman… bukan kau yang berhati bercabang. Tapi … tapi … dengan sebenarnya aku tak bisa menjadi isterimu. Aku ingin mati. Tapi si Han Lim Jie menolong aku. Sesudah gagal satu kali, aku tak berani mencoba untuk kedua kali. Aku… akan mengikuti contoh Soehoe, aku akan mencukur rambut dan menjadi pendeta. Ya! Ciang … boenjin dari Gobie pay memang biasanya seorang wanita yang tidak menikah.“

“Mengapa kau mempunyai pikiran begitu ? Apakah kau bergusar terhadap Tio Kouwnio karena kau anggap Tio Kouwnio memberi petunjuk, bahwa kaulah yang sudah mencelakai ayah angkatku ?”

“Apa kau percaya ?”

“Tentu saja tidak!”

“Kalau tidak percaya, baguslah. Siapapun juga tak akan percaya.”

“Tapi mengapa kau terus berduka?”

Cie Jiak menggigit bibirnya. “Karena … karena …“ katanya. Sehabis mengatakan dua kali perkataan “karena”, ia memalingkan mukanya ke jurusan lain. “Boe Kie Koko,” katanya pula dengan suara parau. “Sebenarnya kau lebih baik tidak pernah bertemu dengan aku. Mulai dari sekarang, kau jangan ingat-ingat lagi diriku. Kau boleh menikah dengan Tio Kouwnio atau dengan wanita lain. Aku . . . aku tak perduli …” Mendadak kedua kakinya menjejak pembaringan dan tubuhnya melesat keluar dari jendela dan kemudian hinggap diatas rumah.

Boe Kie tertegun. Ia tak pernah menduga bahwa tunangannya memiliki ilmu mengentengkan badan yang begitu. Sesaat itu ia tidak sempat memikir panjang-panjang lagi dan segera menguber.

Si nona kabur ke jurusan timur. Boe Kie mengejar dengan mengambil jalan mutar dan dengan cepat, ia sudah menghadang didepan. Sebab tidak keburu menghentikan tindakannya, Cie JiaK menubruk Boe Kie yang segera memeluknya, mereka berada di dekat sungai kecil. Boe Kie lalu mendukung tunangannya ke sebuah batu besar di pinggir sungai. “Cie Jiak,” katanya dengan suara halus, “Suami isteri harus sama-sama senang dan sama-sama susah. Penderitaanmu adalah penderitaanku juga. Ganjelan apa yang sedang dipikir olehmu. Bilanglah! … kau bilanglah…”

Sambil menyesapkan kepalanya di dada Boe Kie, si nona menangis tersedu-sedu. “Aku … aku ….” katanya terputus-putus. “Kehormatanku sudah dirusak orang! … Aku sudah ternoda … Aku … aku sudah … hamil! Bagaimana aku bisa menikah dengan kau?”

Pengakuan itu bagaikan halilintar ditengah hari bolong. Boe Kie terpaku ia merasa kepalanya puyeng dan matanya berkunang-kunang.

Perlahan-lahan Cie Jiak bangun berdiri. “Itulah sudah nasibku,” katanya. “Kau harus bisa melupakan aku.”

Boe Kie tidak menyahut. Ia menatap wajah tunangannya dengan mata membelalak. Ia tak percaya kupingnya sendiri.

Si nona menghela napas. Ia memutar badan dan berlalu.

Boe Kie melompat dan seraya mencekal tangan tunangannya, ia bertanya dengan suara gemetar. “Apa …. bangsat Song Ceng Soe?”

Cie Jiak mengangguk. Dengan air mata berlinang-linang ia berkata, “Aku ditotok dan aku tidak bisa melawan … “

Pada detik itu juga Boe Kie sudah mengambil keputusan. Ia memeluk Cie Jiak dan berkata dengan suara halus. “Cie Jiak, itu semua bukan salahmu. Sesudah beras menjadi bubur, jengkelpun tiada gunanya. Cie Jiak karena penderitaanmu itu, aku lebih mencintai kau, aku lebih merasa kasihan terhadapmu. Besok kita berangkat ke Hway see dan mengumumkan kepada saudara-saudara agamaku, bahwa kita akan segera menikah. Mengenai anak dalam kandunganmu, anggap saja, bahwa anak itu adalah anakku sendiri. Cie Jiak, bagiku kau masih tetap suci, kau tetap putih bersih, karena segala kejadian itu adalah diluar kemauanmu.”

“Perlu apa kau menghibur aku? Aku sudah ternoda. Mana bisa aku menjadi hoe jin (isteri) dari seorang Kauwcoe?”

“Cie Jiak, dengan berkata begitu kau memandang rendah kepadaku Thio Boe Kie seorang laki-laki tulen. Pemandanganku berlainan dengan pemandangan orang biasa. Andai kata, karena khilaf, kau terpeleset dan jatuh, aku masih bisa melupakan segala kesalahanmu. Apalagi dalam hal ini, dimana bencana sudah datang diluar keinginanmu?”

Bukan main rasa berterima kasihnya Cie Jiak. “Boe Kie Koko,” katanya, “apa benar kau begitu mulia? Kukuatir kau menjustai aku.”

“Kecintaanku … kebaikanku terhadapmu, kau akan tahu dihari kemudian. Pada hakekatnya, sekarang ini aku belum berbuat baik terhadapmu.”

Si nona menangis makin sedih. “Boe Kie Ko ko … ” bisiknya, “gugurkan saja kandungan ku dengan menggunakan obat … “

“Tidak boleh!” kata Boe Kie. “Menggugurkan kandungan adalah perbuatan berdosa. Selain begitu, hal itu bisa menusuk kesehatan badanmu.” Waktu berkata begitu, didalam hatinya tiba-tiba muncul perasaan sangsi. Cie Jiak berada dalam tangan Kay pang hanya kira-kira sebulan lamanya. Apa bisa jadi dia sudah hamil? Diam diam ia memegang nadi tunangannya. Tidak! Ia tidak mendapatkan tanda-tanda kehamilan. Tapi ia tidak mau menanya lebih terang, Ia mahir dalam ilmu ketabiban, tapi kepandaian itu terbatas dalam bidang luka-luka dan penyakit karena keracunan. Dalam penyakit kalangan wanita, ia tak punya banyak pengetahuan.

“Kalau anak ini perempuan masih tak apa,” kata pula CieJiak. “Tapi kalau lelaki… Jika di hari kemudian kau menjadi hong tee (kaisar ) apakah dia harus menjadi tay coe ( putera mahkota )? Ah! … sebaiknya, digugurkan saja untuk menghilangkan bibit penyakit.”

“Cie Jiak,” kata Boe Kie dengan suara kaku, “perkataan hong tee kuharap jangan disebut-sebut lagi. Aku seorang anak kampungan. Sedikitpun aku belum pernah mimpi, belum pernah mempunyai keinginan uutuk naik ditahta kerajaan. Apabila perkataanmu didengar oleh saudara-saudara kita mereka akan anggap aku sebagai manusia yang mengejar kekuasaan dan hati mereka akan menjadi dingin”.

“Aku bukan mau paksa kau menjadi hongtee. Tapi kalau sudah takdir, biarpun mau menolak? Kau memperlakukan aku secara begitu mulia. Aku harus berusaha untuk membalasnya. Cioe Cie Jiak seorang wanita lemah, tapi kalau ada kesempatan mungkin sekali aku masih bisa memberi sedikit bantuan supaya kau menjadi kaisar. Ayahku gagal dalam usahanya dan menemui kebinasaan. Dahulu aku menjadi kong coe ( puteri seorang kaisar ). Siapa tahu di hari nanti aku akan menjadi seorang hong houw (permaisuri)?“

Mendengar perkataan yang sungguh-sungguh itu Boe Kie jadi tertawa. “Cie Jiak,” katanya, “kemuliaan seorang hong houw belum tentu bisa menandingi kemuliaan Tiangboenjin dari Go bie pay. Sudahlah, hauw Nio-nio! Hamba mohon Hong houw Nio-nio sudi beristirahat!”

Awan kedukaan lantas saja membuyar dan sambil tertawa, kedua orang muda itu mengakhiri pembicaraan mereka.

Pada keesokan paginya, sesudah membuka jalan darah pelayan yang mengaso dikolong ranjang, Boe Kie meminta Pheng Eng Giok berdiam dikota raja tiga hari lagi untuk mendengar-dengar Cia Soen, sedang dia sendiri bersama Cie Jiak dan Han Lim Jie lalu berangkat ke-Hway see.

Perjalanan mereka tidak menemui rintangan. Setibanya didaerah Shoatang mereka sudah bisa menyaksikao kekalahan tenlara Mongol yang terus mundur dengan kerusakan besar. Sedapat mungkin Boe Kie bertiga menyingkir dari kelompok-kelompok musuh yang besar jumlahnya dengan mengambil jalan kecil. Belakangan mereka bertemu dengan seorang serdadu Goan yang kasar dan lalu membekuknya. Dari serdadu itu, mereka mengetahui, bahwa Han San Tong dengan beruntun mendapat beberapa kemenangan besar dan berhasil merebut beberapa tempat yang penting. Mereka sangat girang dan meneruskan perjalanan secepat mungkin.

Mulai perbatasan Soatang Anhoei kekuasaan sudah berada dalam tangan tentara rakyat Beng Kauw. Diantara tentara itu ada yang mengenal Han Lim Jie dan dia buru-buru melaporkan kepada Goan swee hoe (gedung panglima besar). Maka itulah pada waktu Boe Kie bertiga masih berada dalam jarak tigapuluh li dari kota Hauwcoe, mereka sudah dipapak oleh Han San Tong yang mengajak Coe Goan Ciang, Cie Tat, Siang Gie Coen, Teng Jie Thong Ho dan lain-lain panglima. Pertemuan itu sudah tentu sangat menggirangkan semua orang.

3 Responses to “To Liong To – 17”

  1. cerita sedarah Says:

    cerita sedarah…

    […]To Liong To – 17 « Cerita Silat[…]…

  2. obat mata|penyakit diabetes Says:

    obat mata|penyakit diabetes…

    […]To Liong To – 17 « Cerita Silat[…]…

  3. Cocotay Jewerly Says:

    Cocotay Jewerly…

    […]To Liong To – 17 « Cerita Silat[…]…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: