To Liong To – 16

To Liong To – 16

Tapi mendadak saja di dalam hati pemuda itu muncul rasa sayang terhadap kepandaian Siang seng. Sambil melepaskan cengkeraman dan pelukannya ia berkata, “Kepandaianmu sangat tinggi dan biarlah kau mempertahankan nama besarmu. Pergilah!”

Siang seng Po soe ong merasa berterima kasih bercampur malu. Buru2 ia melompat balik ke kapalnya sendiri.

Ketika itu Cia Soen dan Cie Jiak sudah menyeret keluar Kong tek dan Hoa hie ong dari dalam gubuk kapal dan menjaga kedua tawanan penting itu dengan To liong to dan Ie thian kiam terhunus.

Melihat kekalahan Siang seng ong dan tertawannya Kong tek dan Hoa hie ong, Tay seng po soe ong ciut nyalinya. Ia tahu bahwa jika kapal yang ditumpangi rombongan Boe Kie ditenggelamkan juga, pihaknyapun akan menderita kerugian besar, yaitu binasanya empat pemimpin penting dari Cong kauw. Maka itu sesudah memikir beberapa saat, ia segera memberi tanda dan menarik pulang semua kawan kawannya, terhitung yang sudah selulup di air ke kapal sendiri.

“Lekas antarkan Tay Kie kemari dan luluskan tiga syarat Kim mo Say ong!” teriak Tio Beng.

Sesudah selesai berunding, Tie hwie ong berseru, “Kami bersedia untuk meluluskan permintaanmu, tapi kamu harus menjawab pertanyaan. Ilmu silat pemuda itu terus terang ilmu silat kami. Darimana ia mendapatkannya? Kamu harus memberi keterangan yang sejelas jelasnya.”

Sambil menahan tertawa, nona Tio menjawab. “Kamu semua manusia manusia tolol. Dengarlah! Pemuda itu adalah murid kedelapan dari Kong beng soe cia kami. Tujuh kakak dan tujuh adik seperguruannya tak lama lagi akan tiba disini. Kalau mereka datang, kamu semua akan dibasmi bersih.”

Tie hwee ong sangat pintar, tapi ia tak begitu paham bahasa Tionghoa dan hanya bisa menangkap enam tujuh bagian dari perkataan Tio Beng. Ia tahu bahwa nona itu sedang omong kosong. Sesudah memikir sejenak, ia berkata, “Baiklah! Saudara saudara pulangkan Tay Kie.”

Dua orang anggota Cong kauw lantas saja mengantarkan Tay Kie ke kapal Boe Kie. Dengan dua kali menyabet dengan Ie thian kiam Cie Jiak memutuskan rantai yang mengikat kaki tangan Cie san Liong ong. Melihat ketajaman pedang itu, kedua pengantar ketakutan setengah mati dan buru buru kembali ke kapal mereka.

“Kamu boleh segera berangkat pulang,” kata Tie hwie ong. “Kami akan mengirim sebuah perahu kecil untuk mengikuti dari belakang.”

Sambil merangkap kedua tangannya, Boe Kie berkata, ”Beng kauw di Tiong goan bersumber dari Persia, kalian dan kami sebenarnya adalah saudara2. Kami mengharap bahwa kalian tidak menjadi kecil hati karena adanya salah mengerti di hari ini. Kami mengundang kalian datang di Kong beng teng, supaya kita bisa minum arak bersama sama. Untuk segala kesalahan kami dengan jalan ini aku menghaturkan maaf.”

Tie hwie ong tertawa terbahak bahak. “Kami semua merasa kagum akan ilmu silatmu yang sangat tinggi,” katanya. “Apa tidak girang kalau kita belajar dan terus mempelajari pelajaran itu? Apa tidak girang, kalau mendapat kunjungan sahabat dari jauh?”

Mendengar kutipan dari kata Khong coe, Boe Kie membungkuk dan berkata, “Tepat sekali perkataanmu.” Ia tidak berayal lagi. Seorang diri ia mengangkat jangkar, memutar kemudi dan memasang layar, sehingga dalam beberapa saat, kapal itu mulai bergerak.

Melihat tenaga Boe Kie yang dapat mengangkat jangkar seorang diri, sedangkan pekerjaan itu sebenarnya harus dilakukan oleh belasan orang, anak buah kapal kapak Cong kauw bersorak sorak.

Sebuah perahu kecil lantas saja mendekati kapal Boe Kie dan melemparkan seutas tambang. Boe Kie lalu mengikat tambang itu di buritan kapal. Di dalam perahu itu terdapat dua orang penumpang, Lioe in soe dan Hwie go soe.

Kapal mulai berlayar ke jurusan barat.

Sambil memegang kemudi, Boe Kie mengawasi kapal-kapal Cong kauw. Sesudah melewati Leng coa to dan kapal2 itu tetap tidak bergerak, berubah hatinya lega. Ia segera menyerahkan kemudi kepada Siauw Ciauw, pergi ke gubuk kapal untuk menengok In Lee. Nona itu berada dalam keadaan setengah tertidur, setengah sadar. Lukanya belum mendingan, tapi juga tidak jadi lebih hebat.

Tay Kie termenung seorang diri waktu mendengar tindakan Boe Kie. Dengan rasa kagum Boe Kie mengawasi potongan tubuh nyonya itu yang langsing gemulai. Sebagian rambutnya yang hitam bergoyang goyang tertiup angin, sedang kulitnya yang putih seakan akan batu pualam. Ayah angkatnya mengatakan, bahwa dahulu Tay Kie terkenal sebagai wanita tercantik dalam Rimba Persilatan. Pujian itu bukan pujian kosong.

Di waktu maghrib, kapal Boe Kie sudah terpisah kira kira seratus li dari Leng coa to. Lautan tenang dan di atas permukaan air tidak terlihat apapun jua. Cong kauw ternyata menepati janji.

“Giehoe, apa tawanan sudah boleh dilepaskan?” tanya Boe Kie.

“Boleh!” jawabnya. “Sekarang mereka tak bisa mengejar kita lagi.”

Sambil menghaturkan maaf berulang-ulang, Boe Kie segera membuka ‘hiat’ ketiga raja dan Biauw hong soe.

“Enam Seng hwee leng ditaruh di bawah penjagaan kami bertiga,” kata Biauw hong soe. “Kalau hilang, kami berdosa besar. Maka itu, aku memohon kau suka membayar pulang.”

“Seng hwee leng adalah tanda kekuasaan Kauw coe dari Beng kauw di wilayah Tiong goan,” kata Cia Soen. “Hari ini, barang itu kembali kepada majikannya. Bagaimana kita bisa menyerahkannya kepadamu?”

Tapi Biauw hong soe tidak mau mengerti. Ia terus memohon mohon. Boe Kie merasa, bahwa kalau ia tidak menakluki hati orang itu, di hari kemudian soal ini bisa menjadi bibit penyakit. Maka itu ia lantas berkata, “Kami sebenarnya bersedia untuk mengembalikan kepadamu. Tapi kami kuatir kepandaianmu masih terlalu rendah dan tidak bisa menjaga mustika itu. Daripada dirampas oleh orang luar lebih baik dipegang oleh kami.”

“Bagaimana orang luar bisa merampasnya?” tanya Biauw hong coe.

“Jika kau tidak percaya mari kita mencoba coba,” kata Boe Kie yang segera menyerahkan keenam Seng hwee leng kepadanya.

Biauw hong coe girang, tapi baru saja mengatakan ‘terima kasih’, kedua tangan Boe Kie sudah menyambar dan merebut kembali Seng hwee leng itu.

“Curang!” teriak Biauw hong coe dengan gusar. “Kau mendahului sebelum aku memegangnya erat erat.”

Boe Kie tertawa, “Tak apa, boleh coba lagi,” katanya seraya menyerahkan pula enam ‘leng’ ke dalam sakunya sambil mencekal yang dua Biauw hong coe memasang kuda kuda.

Serangan Boe Kie dipapaki olehnya dengan pukulan pada pergelangan tangan. Dengan sekali membalik tangan Boe Kie sudah menangkap lengan tangan kanannya, yang lalu ditarik sehingga kedua ‘leng’ terpukul satu sama lain dan mengeluarkan suara “cring!” yang menggetarkan hati. Diam diam Boe Kie mengirim tenaga dalam yang sangat kuat lengan lawan, Biauw hong soe lantas saja merasa lengannya kesemutan dan semua tenaganya musnah. Ia tidak bisa bergerak lagi dan dua ‘leng’ yang dicekalnya jatuh. Dengan tenang Boe Kie lalu merogo saku lawan dan mengambil empat leng yang menggeletak di geladak kapal. “Bagaimana? Apa kau mau mencoba lagi?” tanya Boe Kie.

Paras muka Biauw hong soe berubah pucat. “Kau bukan manusia! Kau setan!” katanya dengan suara parau. Ia bertindak untuk melompat ke perahu. Mendadak badannya terhuyung dan ia roboh. Lioe in soe melompat naik, mendukungnya dan cepat cepat kembali ke perahu.

Sementara itu perahu sudah memasang layar dan Kong tek ong lalu memutuskan tambang sehingga kedua kendaraan air itu lantas berpisah.

“Kami yang telah membuat banyak kesalahan dan harap kalian suka memaafkan,” teriak Boe Kie seraya merangkap kedua tangannya.

Kong tek ong dan kawan kawannya tidak menjawab. Mereka mengawasi dengan sorot mata gusar.

Kapal terus berlayar ke arah barat.

Sekonyong konyong Tay Kie membentak, “Bangsat! Jangan main gila!” ia menggenjot tubuh dan menerjun ke air!

Boe Kie terkesiap, buru buru ia memutar kemudi. Mendadak ia melihat timbulnya darah yang tercampur di pinggir kapal. Dengan saling susul timbul pula darah di lima tempat. Tak lama kemudian Tay Kie muncul di permukaan air dengan gigi menggigit pisau dan tangan mencekal rambut seorang Persia.

Dengan memutar kemudi, Boe Kie berusaha untuk menyambut nyonya itu. Tapi sebab ia tidak segera menurunkan layar, maka sebaliknya daripada maju kapal itu terputar dengan perlahan.

Ilmu berenang Cie san Liong ong benar benar lihay ia sudah menghampiri secepat ikan. Dalam sekejap ia sudah sampai di pinggir kapal. Dengan tangan kiri ia menekan jangkar untuk meminjam tenaga dan sekali menggenjot tubuh ia “terbang” ke atas dan kemudian hinggap di atas geladak bersama sama tawanannya.

Ternyata sesudah Kong tek ong dan kawan kawannya turun ke perahu dengan menggunakan layar sebagai aling aling tujuh penyelam meloncat ke air untuk membocorkan kapal Boe Kie. Untung besar Tay Kie yang berpengalaman luas dan bermata jeli dapat melihat gelembung gelembung air yang muncul di permukaan laut karena pernafasan orang orang itu. Dengan demikian ia berhasil membinasakan enam orang dan membekuk seorang.

Baru saja Boe Kie mau memeriksa tangkapan itu, tiba tiba di buritan kapal terdengar peledakan dahsyat diikuti dengan mengepulnya asap hitam… kapal bergoncang keras, potongan potongan kayu berterbangan ke angkasa. Dengan hati mencelos Boe Kie dan kawan kawannya merebahkan diri di geladak kapal.

“Jahat sungguh manusia manusia itu!” kata Tay Kie sambil berlari lari ke buritan kapal.

Ternyata peledakan itu telah membocorkan buritan dan air sudah mulai mengalir masuk, sedang kemudi kapalpun sudah terbang tanpa berbekas.

Dengan sorot mata berduka Tio Beng mengawasi Boe Kie. “Kapal musuh akan segera mengejar dan kita semua bakal mati tanpa kuburan,” katanya di dalam hati.

Sementara itu, dengan menggunakan bahasa Persia, Tay Kie mengajukan beberapa pertanyaan kepada tawanannya yang menjawab dengan bahasa itu juga. Mendadak Cie san Liong ong mengangkat tangannya dan menghantam batok kepala orang itu yang lantas saja roboh binasa. Sambil menendang mayat itu ke air, ia berkata dengan suara menyesal, “Aku hanya mengetahui, bahwa mereka berusaha untuk membocorkan kapal, tapi tidak pernah menduga bahwa mereka bakal mengikat obat pasang di buritan.”

Ketika itu perahu yang ditumpangi Kong tek ong dan kawan kawannya sudah pergi jauh, sehingga biarpun pandai berenang, Tay Kie tak akan bisa mengejarnya.

Semua orang saling mengawasi tanpa mengeluarkan sepatah kata. Mereka tidak berdaya. Karena sangat besar, kapal itu tidak lantas tenggelam.

Sekonyong konyong Tay Kie dan Siauw Ciauw berbicara dalam bahasa Persia. Selagi berbicara, paras muka mereka berubah ubah. Mereka kelihatannya sedang bertengkar. Dengan kedua pipi bersemu dadu, Siauw Ciauw mengawasi Boe Kie, sedang Tay Kie mendesaknya dengan perkataan perkataan keras. Nyonya itu rupa rupanya tengah membujuk Siauw Ciauw untuk meluluskan suatu permintaan, tapi si nona menolak keras. Belakangan sesudah melirik Boe Kie dan menghela napas, Siauw Ciauw mengatakan sesuatu. Tiba tiba Tay Kie memeluk dan menciumnya dan mereka berdua serentak mengucurkan air mata. Siauw Ciauw menangis sedu sedan dan Tay Kie membujuknya dengan perkataan perkataan lemah lembut.

Dengan rasa heran, Boe Kie, Tio Beng dan Cie Jiak saling memandang. Mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua wanitu itu.

“Lihatlah paras muka mereka sangat mirip satu sama lain,” bisik Tio Beng di kuping Boe Kie.

Boe Kie terkejut. Ia mengawasi. “Benar! Kedua duanya cantik, muka mereka potongan kwaci, hidung mancung kulit putih dan paras mereka memang hampir bersamaan.” Dengan jantung memukul keras ia ingat perkataan Kouw Tauw too Hoan Yauw di rumah makan. Kata kata “sungguh sama” berarti sungguh sama dengan Cie san Liong ong?

Memikir begitu. Boe Kie lantas saja ingat sikap Yo Siauw dan puterinya yang sangat berwaspada terhadap Siauw Ciauw. Setiap kali ia menanya mengapa mereka begitu berhati hati terhadap seorang gadis cilik, jawabnya selalu tidak memuaskan. Sekarang baru ia mengerti, bahwa Yo Siauw bercuriga karena paras muka nona itu sangat mirip dengan Cie san Liong ong. Iapun baru mengerti mengapa Siauw Ciauw telah berusaha untuk mengubah mukanya supaya kelihatan jelek.

Mendadak ia ingat sesuatu. “Perlu apa Siauw Ciauw datang di Kong beng teng?” tanyanya di dalam hati. “Bagaimana ia bisa tahu pintu masuk dari jalanan rahasia? Ah… ia tentu disuruh Cie san Liong ong untuk mencuri pelajaran Kian koen tay lo ie. Hampir dua tahun ia menjadi pelayanku dan aku belum pernah berjaga jaga. Kalau ia mau menyalin pelajaran itu, gampangnya seperti orang merogoh saku. Celaka sungguh! Aku… belum pernah bermimpi mimpi, bahwa ia mengandung maksud tertentu. Boe Kie, Boe Kie!… Kau tolol! Kau terlalu percaya kepada manusia…”

Sambil mengutuk diri sendiri, ia melirik Siauw Ciauw. Apa mau, si nona pun sedang mengawasi dengan sorot mata penuh kecintaan murni. Sorot mata itu bukan sorot mata berpura pura. Sekali lagi jantungnya memukul keras. Ia lantas saja ingat, bahwa pada waktu ia menghadapi enam partai besar di Kong beng teng, Siauw Ciauw pernah melindungi dirinya tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri. Selama hampir dua tahun, nona itu telah merawat dan melayani dia dengan penuh pengabdian. Apa dia salah menerka?

Sekonyong konyong kapal bergoncang dan sudah tenggelam separuh.

“Thio Kauwcoe dan kawan2 tak usah kuatir!” kata Tay Kie. “Kalau sebentar kapal Cong kauw datang disini, aku dan Siauw Ciauw sudah mempunyai daya upaya untuk menghadapinya. Biarpun hanya seorang wanita, Cie san Liong ong bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Aku pasti tidak akan merembet rembet kalian, Thio Kauwcoe dan Say ong Cia heng telah membuang budi yang seberat gunung kepadaku. Untuk itu semua, dengan jalan ini Tay Kie menghaturkan banyak terima kasih.” Sehabis berkata begitu, ia menekuk lututnya.

Cia Soen dan Boe Kie buru2 membalas hormat. Mereka tahu bahwa nyonya itu bersungguh, tapi mereka sangsi apakah Cong kauw bersedia untuk melepaskan mereka.

Perlahan tetapi pasti, kapal terus tenggelam. Tak lama kemudian, air sudah masuk di gubuk. Semua orang lalu memanjat tiang layar dengan Boe Kie mendukung In Lee dan Cie Jiak mendukung Tio Beng.

Sekonyong konyong, sambil menangis Siauw Ciauw menuding ke jurusan timur. Semua orang menengok ke arah itu. Di tempat jauh, mereka melihat beberapa titik yang makin lama makin jadi besar, yang kemudian ternyata adalah belasan kapal Persia yang menghampiri dengan kecepatan luar biasa….

“Kalau aku jadi Tay Kie, aku lebih suka mati di air daripada dibakar hidup hidup,” kata Boe Kie dalam hati. Tapi Tay Kie kelihatannya tenang tenang saja, sedikitpun tak mengunjuk rasa jeri sehingga Boe Kie merasa kagum sekali. “Sebagai kepala dari empat Hoat ong dia sungguh bukan sembarang orang” pikirnya. “Pada waktu Eng ong Say ong dan Hok ong sudah dikenal sebagai orang gagah yang usianya tak muda lagi, dia masih jadi gadis remaja. Tapi belakangan kedudukannya bisa berada di sebelah atas ketiga Hoat ong itu. Dilihat sikapnya yang sekarang ia memang pantas mendapat kedudukan itu.” Sambil berpikir begitu ia mengawasi kapal kapal Cong kauw yang makin dekat. “Aku telah merobohkan beberapa Po soe ong dan kalau aku jatuh ke dalam tangan mereka, aku tak usah mengharap hidup,” katanya pula dalam hati. “Biar bagaimanapun juga aku harus berusaha supaya Gie Hoe, Tio Kauwnio, Cioe Kauwnio dan piauw moay bisa selamat. Dan juga… Siauw Ciauw. Hei!… Dia boleh berkhianat terhadapku tapi aku tak bisa berkhianat terhadapnya.”

Tiba tiba In Lee bergerak dan membuka kedua matanya. Ia kaget ketika tahu, bahwa ia sedang didukung Boe Kie. “A Goe Koko… dimana kita berada?” tanyanya. “Mengapa kau mendukung aku?”

“Jangan takut,” kata Boe Kie. “Bagaimana keadaanmu?”

In Lee menggeleng gelengkan kepalanya. “Aku tak punya tenaga, rasanya lemas,” jawabnya dengan suara parau.

Begitu datang dekat, semua mulut meriam dari belasan kapal Cong kauw ditujukan ke tiang layar yang dipeluk oleh rombongan Boe Kie. Andaikata pemuda itu memiliki kepandaian yang seratus kali lipat lebih tinggi, iapun tak usah harap bisa melawan peluru meriam meriam itu.

Kapal kapal Cong kauw membuang sauh dan menurunkan layar dalam jarak kira kira seratus tombak. Mereka rupa rupanya kuatir, bahwa kalau datang terlalu dekat, Boe Kie akan melompat dan menawan pula beberapa Po soe ong.

Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara tertawanya Tie hwie ong. “Heei!” teriaknya. “Apa kamu mau menakluk atau tidak?”

“Orang orang gagah dari Tionggoan boleh mati, tapi tidak boleh menekuk lutut,” jawab Boe Kie dengan suara lantang. “Kalau kamu bukan kawanan pengecut, marilah kita mengadu ilmu silat!”

Tie hwie ong tertawa nyaring. “Orang gagah sejati mengadu kepintaran, bukan mengadu kekuatan,” teriaknya. “Sudahlah! Kamu tidak bisa berbuat lain daripada menyerah!”

Tiba tiba Tay Kie berbicara dalam bahasa Persia. Ia bicara dengan sikap angker. Tie hwie ong kelihatan kaget dan lalu menjawab. Tayseng Po soe ong turut bicara. Sehabis mereka bicara, dari atas kapal diturunkan sebuah perahu dengan delapan pendayung dan perahu itu segera menuju ke kapal Boe Kie yang sudah hampir karam.

“Thio Kauwcoe, aku dan Siauw Ciauw mau menuju ke sana,” kata Tay Kie. “Kalian tunggu saja disini sebentar.”

“Han hoejin!” bentak Cia Soen. “Beng kauw di Tionggoan telah memperlakukan kau secara baik. Bangun atau robohnya agama kita tergantung atas Boe Kie seorang. Jika kau menjual kami, kebinasaan Cia Soen tidak menjadi soal. Tapi kalau selembar rambut Boe Kie sampai terganggu, biarpun sudah menjadi setan, Cia Soen pasti tak akan mengampuni kau.”

Tay Kis tertawa dingin, “Kalau anak angkatmu seperti mustika, apakah anakku tak lebih daripada lumpur yg kotor?” tanyanya dengan suara getir. Sehabis berkata begitu seraya menuntun tangan Siauw Ciauw, ia melompat ke perahu yang segera didayung kearah kapal besar.

Mendengar perkataan nyonya itu, Cia Soen dan yang lain2 terkejut. “Kalau begitu benar Siauw Ciauw puterinya,” kata Tio Beng.

Tak lama kemudian Tay Kis dan Siauw Ciauw sudah berada dikapal besar dan mereka terus bicara dengan para Po Soe Ong.

Sementara itu kapal Boe Kie terus menenggelam dengan perlahan. Sedim demi sedim tiang layar masuk kedalam air.

Cia Soen menghela napas. “Boe Kie,” katanya. “Aku salah menilai Han Hoejin, kau salah menilai Siauw Ciauw. Boe Kie seorang lelaki sejati harus mundur dan bisa maju. Biarlah untuk sementara waktu kita menelan hinaan untung mencari kesempatan guna meloloskan diri. Diatas pundakmu terdapat beban yg berat. Berlaksa laksa rakyat di Tiong Goan menunggu nunggu tindakan Beng Kauw untuk mengusir Tat coe dari negara kita. Boe Kie begitu ada kesempatan kau mesti menggunakannya untuk melarikan diri. Jangan perdulikan yg lain. Kau adalah pemimpin suatu agama. Kau harus mengerti apa artinya itu.”

Sebelum pemuda itu menyahut Tio Beng sudah mendahului. “Fuh! sedang jiwa sendiri tak bisa ditolong lagi, kau masih bicarakan soal Tat coe”

Cie Jiak yg sedari tadi terus membungkam, tiba2 berkata. “Rasa cinta Siauw Ciauw terhadap Thio Kong coe sangat besar. Menurut pendapatku ia takkan berkhianat.”

“Apa kau tak lihat cara bagaimana Cie gan liong ong mendesak dia?” tanya Thio Beng. “Semula Siauw Ciauw menolak, kemudian lantaran terlalu didesak, ia kelihatannya meluluskan permintaan ibunya. Hm.. dan dia berlagak sedih.” Sesaat itu tiang layar hanya menonjol setombak lebih dari permukaan air. Gelombang yang turun naik membawa semua orang.

“Thio kong coe,” kata Tio Beng sambil tertawa, “kami akan mati bersama sama kau dan segala apa tamat ceritanya. Tapi Siauw Ciauw yg licik dan licin malah tak bisa mati bersama sama kau.” Biarpun kata2 itu semacam guyon, artinya sangat mendalam. Dengan berkata begitu terang2 nona Tio menyatakan rasa cintanya yg sangat besar terhadap pemuda itu.

Boe Kie sendiri merasa sangat terharu. “Benar,” pikirnya. “Aku tak bisa menikah dengan mereka sekaligus. Tapi bahwa aku bisa mati bersama2 mereka, tidaklah Cuma2 kuhidup didunia ini.” Sambil memikir begitu ia melirik Tio Beng melirik Cie Jiak dan melirik pula In Lee yang berada dalam dukungannya.

Ia menghela napas. In Lee masih berada dalam keadaan setengah sadar dan setengah lupa sedang Tio Beng dan Cie Jiak seperti berlomba lomba dalam kecantikan. Pada muka mereka yg bersermu dadu terdapat titik2 air, sehingga kalau Tio Beng seperti sekuntun bunga mawar, Cie Jia bagaikan bunga anggrek. Ia menghela napas pula dan berkata dalam hati, “Hai! Bagaimana aku bisa membalas budi mereka?”

Sekonyong2 dari kapal2 Cong kauw terdapat sorak sorai bergemuruh. Boe Kie kaget. Ia mendapat kenyataan, bahwa semua orang disetiap kapal berlutut diatas geladak dengan menghadap kearah kapal besar itu sendiri, semua Po Soe ong berlutut dihadapan seorang yg duduk disebuah kursi. Orang itu kelihatan seperti Siauw Ciauw. Sebab jarak terlampau jauh ia tak bisa lihat tegas. Ia merasa sangat heran, apa yg dilakukan oleh orang Persia itu?

Beberapa saat kemudian, orang2 itu bangun berdiri tapi sorak sorai yg sangat gembira, masih terus terdengar.

Sekonyong2 sebuah perahu mendatangi. Waktu perahu itu sudah datang dekat, penumpangnya ternyata bukan lain daripada Siauw Ciauw sendiri. Si nona menyapa dan berteriak, “Tio Kongcoe! Mari kita naik kekapal besar. Mereka takkan mengganggu kalian.”

“Mengapa begitu?” tanya Tio Beng.

“Kalian akan segera tahu,” jawabnya. “Aku pasti takkan mencelakai Tio Kong coe.”

Mendadak Cia Soen bertanya “Siauw Ciauw, apakah kau sudah menjadi Kauwcoe dari Beng Kau di Persia?”

Siauw Ciauw tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepala. Selang beberapa saat air mata mengalir, turun di kedua pipinya.

Mata Boe Kie berkunang kunang. Ia sekarang bisa menebak segala kejadian yg sebenarnya. Ia berduka dan berterima kasih. “Kau telah berkorban untukku!” katanya dengan suara parau. Si nona memalingkan kepalanya. Ia tidak berani berbentrok mata dengan pemuda itu.

Cia Soen menarik napas, “Tay kie mempunyai putra yg seperti kau tidaklah memalukan nama besarnya Cie Sang Liong Ong,” katanya. “Boe Kie, mari kita ikut Siauw Ciauw Kauwcoe.” Sehabis berkata begitu, ia melompat ke perahu disusul oleh yg lain2. Delapan pedayung lantas saja memutar perahu itu dan mendayung kan ke arah kapal yg besar.

Dalam jarak dua puluh tombak lebih para Po Soe Ong, membungkuk untuk menyambut Kauwcoe mereka. Biarpun Tay Kie ibunya si nona iapun menjalani peradatan seperti yg lain. Begitu lekas rombongan Boe Kie naik dengan sikap sangan hormat beberapa pelayan lantas mengantar mereka ke gubuk kapal untuk menukar pakaian yg basah.

Boe Kie sendiri diantar kesebuah kamar yang diperaboti mewah dan indah. Selagi ia mengerinkan air dibadannya, tiba2 pintu diketuk dan ditolak soerang wanita yg kedua tangannya menyangga seperangkat pakaian bertindak masuk dan wanita itu adalah Siauw Ciauw.

“Kongcoe, biarlah aku melayani kau,” kata si nona.

Boe Kie merasa sangat terharu, “Siauw Ciauw,” katanya, “Sekarang kau sudah menjadi Kauwcoe dari Cong Kauw dan pada hakekatnya aku sendiri adalah seorang sahabatmu. Mana boleh kau melakukan lagi pekerjaan pelayanan?”

“Kongcoe inilah untuk penghabisan kali,” kata si noan. “Kita akan segera berpisahan jauh2 sekali, dan kita tak kan bertemu pula. Sesudah aku berada di negeri orang, biarpun mau tak bisa aku melayani kau lagi.”

Boe Kie merasa hatinya hancur. Sambil menahan turunnya air mata, ia membiarkan si nona membayangnya – membantunya memakai baju, mengancing baju, mengangkat tali pinggang dan menyisir rambutnya. Sambil melakukan itu semua air mata Siauw Ciauw terus mengalir di kedua pipinya.

Boe Kie tak dapat mempertahankan dirinya lagi, tiba2 ia memeluk erat2. Bagaikan bendungan pecah si nona menangis tersedu sedan. Dengan tubuh bergemetara ia balas memeluk, “Siauw Ciauw,” bisik Boe Kie, “Semula aku bahkan menduga kau berkhianat terhadapku. Tak dinyana rasa cintamu begitu besar.”

Sambil menyandarkan kepalanya pada dada yg lebar, si nona berkata dengan suara perlahan, “Kongcoe memang aku pernah menipu kau. Ibuku adalah seorang dari ketiga Seng lie cong kauw. Ia mendapat perintah untuk datang di Tiong goan guna melakukan suatu pekerjaan penting dengan pengertian bahwa kalau nanti kembali di Persia ia akan menduduki kursi Kauwcoe. Tak disangka begitu bertemu dengan ayah, ibu jatuh cinta dan tidak dapat menahan dirinya lagi. Ketika ayah meninggal dunia, aku masih berada di dalam kandungan dia aku belum pernah melihat wajahnya. Ibu tahu bahwa ia berdosa besar. Ia menyerahkan cincin besi Senglie kepadaku dan memerintahkan aku pergi ke Kong beng teng untuk mencuri sim hoat (pelajaran) Kian Koen Tay lo ie. Kongcoe didalam hal ini, aku sudah menipu kau. Aku tidak memberitahukan hal yg sebenarnya kepadamu. Akan tetapi, hatiku bersih. Sedikitpun aku tak punya niatan untuk menjadi Kauwcoe dari Beng Kauw di Persia. Aku mengharap untuk menjadi pelayanmu, untuk melayani kau seumur hidup, untuk tidak berpisahan denganmu selama lamanya. Aku pernah memberitahukan harapanku ini kepadamu bukan? Dan kau sendiri sudah meluluskan. Bukankah benar begitu?”

Boe Kie manggut2kan kepalanya.

Sesudah berdia sejenak, si nona berkata pula, “Aku sudah menghapal sim hoat kian koen tay lo ie, tapi menghapalnya bukan lantaran didorong oleh niatan untuk berkhianat terhadapmu. Kalau bukan karena terlalu kepaksa aku pasti tidak akan memberitahukan mereka.”

“Sudahlah kau tak usah bersedih lagi,” bisik Boe Kie. “Sekarang aku sudah mengerti semuanya.”

“Sedari kecil, aku sudah melihat kekuatiran ibu,” kata pula Siauw Ciauw. “Siang malam ia tak tentram. Belakangan ia menyamar sebagai nenek yg bermuka jelek ia mengirim aku kepada lain keluarga dan hanya menengok aku setahun sekali atau dua tahun sekali. Kongcoe kalau kau dan yang lain2 tidak menghadapi kebinasaan, jangankan menjadi Kauwcoe sekalipun menjadi ratu Persiaa aku pasti akan menolak.”

Sehabis berkata begitu, ia menangis pula dengan badan bergemetara.

“Siauw Ciauw!” mendadak terdengar bentakan Tay Kie diluar kamar. “Jika kau mengantarkan jiwanya Kongcoe.”

Bagaikan dipagut ular, si nona memberontak dari pelukan Boe Kie dan melompat mundur. “Kongcoe, jangan ingat2 aku lagi,” katanya dengan suara parau. “In Kouwhie telah mengikuti ibu dalam banyak tahun dan ia sangat mencintai kau. Ia akan menjadi seorang istri yg budiman.”

“Siauw Ciauw,” bisik Boe Kie. “Mari kita menerjang keluar dan membekuk satu dua Po soe ong. Kita bisa paksa mereka untuk mengantarkan kita ke Leng coa to.”

Si nona menggelengkan kepala, “Sekarang mereka sudah berjaga2,” katanya. “Tubuh Cia Tayhiap dan Tio Kouwnio ditandalkan senjata. Kalau kita bergerak, mereka binasa.” Seraya berkata begitu, ia membuka pintu berdiri Tay Kis yg punggungnya dituding dengan dua pedang oelh dua orang Persia. Kedua orang itu membungkuk, tapi pedang mereka tidak berkisar dari punggung Cie San Liong Ong.

Denga diikuti Boe Kie, si nona berjalan keluar. Benar saja mereka melihat, bahwa Cia Soen dan lain2 berada dibanwah ancaman senjata.

“Kongcoe,” kata Siauw Ciauw, aku akan memberikan kau obat untuk mengobati luka In Kouwnio.” Ia lalu berbicara dalam bahasa Persia dan Kong tek ong segera mengeluarkan sebotol obat luar yg lalu diserahkan kepada Boe Kie.

“Aku akan memerintahkan orang untuk mengantar kalian pulang ke Tiong Goan,” kata pula si nona. “Sekarang saja kata berpisahan. Kongcoe, badan Siauw Ciauw berada di Persia, hatinya tetap bersama2 kau. Siang dan malam aku berdoa supaya kau selalu sehat segala pekerjaan bisa berjalan lancar…” Ia tak dapat meneruskan perkataannya.

“Kau berada disarang harimau, jagalah dirimu baik2,” kata Boe Kie.

Si nona mengangguk dan lalu memerintahkan orang untuk menyediakan perahu.

Sesudah Cia Soen, In Lee, Tio Beng dan Cie Jiak turun ke perahu, Siauw Ciauw segera memulangkan To Liong to Ie Thian Kiam dan enam Seng hwee leng kepada Boe Kie. Sambil tertawa sedih, ia mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan. Boe Kie berdiri terpaku, ia tdiak bisa mengeluarkan sepatah kata. Selang beberapa saat dengan hati seperti tersayat pisau ia melompat turun keperahu.

Kapal besar segera membunyikan terompet. Kedua kendaraan air bergeral memasang layar dan mulai berpisahan dengan perlahan. Dengan berdiri di kepala kapal, Siauw Ciauw mengawasi perahu Boe Kie. Makin lama mereka jadi makin jauh, sampai akhirnya masing2 lenyap dari pemandangan.

Obat luar yg diberikan kepada In Lee tidak menolong banyak. Lukanya banyak mendingan tapi panasnya tak mau turun dan mulutnya terus mengaco karena di samping luka si nona jg menderita demam keras sebagai akibat serangan hujan dan angin. Boe Kie mulai bingung. Pada hari ketiga ia melihat pulau kecil disebelah timur. Buru2 ia minta pengemudi memutas haluan kearah pulau itu. Tapi si pengemudi menolak dengan menggeleng2kan kepala dan berbicara dalam bahasa Persia yg tidak dimengerti Boe Kie. Ia rupa2nya menolak sebab di perintah mengantar rombongan itu ke Tiong Goan. Dengan gerakaan tangan Boe Kie coba menerangkan, bahwa maksudnya adalah untuk mencari daun2 obat guna molong In Lee. Tapi pengemudi itu tak mau mengerti. Akhirnya karena jengkel, Boe Kie lalu merampas kemudi dan haluan perahu segera diputar ke jurusan timur.

Mereka tiba diwaktu magrib. Sesudah terombang ambing dilautan beberapa hari, semangat mereka terbangun waktu menginjak lagi bumi. Luas pulau hanya beberapa li persegi tapi karena hawanya hangat, pohon dan rumpu tumbuh dengan subur. Sesudah meminta Cie Jiak menjaga In Lee dan Tio Beng, Boe Kie segera mencari daun2 obat.

Tapi mudah mencari daun obat dipulau itu. Sampai malam baru Boe Kie menemukan salah satu macam. Ketika ia kembali, Cie Jiak sudah menyalakan api unggun.

In Lee kelihatan lebih segar. “A Goe koko,” katanya. “Sebaiknya malam ini kita menginap disini saja.”

Semua orang segera menyetujui. Dipulau itu tidak terdapat binatang buas dan diantara hangatnya bawa api, mereka tidur dengan hati lega.

Waktu fajar menyingsing, Boe Kie tersadar. Tiba2 ia terkejut, sebab perahu tidak ada ditempatnya. Ia berlari2 diseputar pulau, tapi perahu itu tetap tidak kelihatan bayang2nya.

Dengan rasa bingung, ia mendaki bukit kecil. Baru beberapa tindak ia terhuyung hampir jatuh. Ia merasa kedua lututnya tidak bertenaga.

Hatinya mencelos. “Gie Hoe!” teriaknya. “Apa kau baik?”

Cia Soen tidak menjawab. Ia makin bingung. Bagaikan terbang ia menghampiri. Hatinya agak lega, karena Kim mo say ong sedang tidur dengan tenang. Karena ada batas2 antara lelaki dan perempuan, Tio Beng, In Lee dan Cie Jiak tidur terpisah dibelakang sebuah batu besar.

Waktu Boe Kie pergi kesitu, ia melihat In Lee dan Cie Jiak tidur berhadapan, tapi Tio Beng tidak kelihatan mata hidungnya. Begitu ia mendekati matanya berkunang2! Muka In Lee belepotan darah dengan belasan tapak senjata tajam! Dengan tangan bergemetaran, ia memegang nadi si nonan yg masih mengetuk dengan perlahan. Cie Jiak pun tidak terbebas dari serangan. Sebagian rambutnya terpapas, sebagian kuping kirinya teriris putus. Tapi nona Cioa sendiri masih teruk terpulas dengan bibir tersungging senyuman.

Ketika itu perasaan Boe Kie sukar dilukiskan.

“Cie Kouwnio! Cie Kouwnio!” ia memanggil2. Tapi si noan Cioe tetap menggeros. Karena terpaksa, Boe Kie lalu menggoyang2 pundaknya. Cie Jiak berbangkit beberapa kali kemudian pulas lagi. Boe Kie tahu, bahwa nona itu kena racun, begitupun ia sendiri, sebab ia merasa seluruh badannya tidak bertenaga lagi.

Cepat2 ia kembali ke ayah angkatnya, “Gie hoe! Gie hoe!” teriaknya.

Kim mo Say ong tersadar. Perlahan2 ia berduduk, “Ada apa” tanyanya.

“Celaka besar, Gie hoe!” jawabnya. “Kita ditipu manusia rendah.” Ia segera memberitahukan hilangnya perahu dan terlukanya In Lee serta Cie Jiak.

Cia Soen terkejut. “Tio Kouwnio?” tanyanya.

“Entahlah, dia megnhilang,” sahutnya. Dia menarik napas dalam2 dan coba mengerahkan tenaga. Ia merasa kaki tangannya mengambang dan lweekangnya tak bisa keluar. “Gie Hoe,” katanya, “Kita kena racun Sip hiang Joan Kin san.”

Dari anak angkatnya, Cia Soen sudah mendengar tentang dirobohkannya orang2 enam partai besar dengan racun itu. Ia segera berbangkit dan mendapat kenyataan, bahwa ia pun tidak dapat mengeluarkan tenaga dalamnya. Sesudah menetapkan hati, ia bertanya, “Apakah dia pergi dengan membawa To Liong To dan Ie Han kiam?”

Benar saja kedua senjata mustika itu tidak bisa ditemukan.

Rasa gusar, jengkel dan menyesal memenuhi dada Boe Kie. Ia bukan menyesal karena tercurinya golok dan pedang mustika itu. Ia menyesal karena tak pernah menduga, bahwa, pada waktu ia berada dalam kesukaran besar Tio Beng bisa mengkhianatinya.

Untuk beberapa saat, ia berdiri bagaikan patung. Ia sangat bekuatir akan lukanya In Lee dan lalu pergi ke belakang batu. In Lee masih pingsan, sedang Cie Jiak masih tidur. “Lwee kangku paling kuat, sehingga aku tesadar paling dulu,” pikirnya. “Sesudah aku, barulah Giehge. Tenaga dalam Cioe Kouwnio masih terlalu cetek. Rasanya ia tak gampang2 tersadar.”

Ia segera merobek tangan bajunya dan menggunakannya untuk membersihkan darah dari muka nona In, yang penuh dengan goresan2 garis malang melintang. Boe Kie tahu, bahwa goresan2 itu dibuat denga Ie Thian Kiam. Semenjak terluka karena timpukan Cie san Ling ong, In Lee telah mengeluarkan banyak darah. Sebagian besar racun laba2 yg mengeram dalam tubuh si nan, jg turut keluar. Oleh karena itu sebagian besar bengkak2 pada mukanya sudah menghilang, sebagian kecantikannya yg dahulu sudah pulih kembali. Tapi sekarang muka cantik itu jadi lebih menakuti lagi sebab adanya goresan pedang.

Boe Kie merasa hatinya seperti disayat pisau. Darahnya bergolak dan ia berkata sambil menggertak gigi: “Tio Beng! … Tio Beng!…. Kalau…. kau jatuh kedalam tanganku, Thio Boe Kie bukan manusia, kalau dia tidak menggores seluruh mukamu!”

Sesudah hatinya agak tentram, ia berlari2 mencari daun2 obat, yg sesudah dikunyak didalam mulutnya, lalu ditempelkan pada muka In Lee, pada kulit dan kuping Cie Jiak.

Cie Jiak tiba2 tersadar. Ketika ia membuka mata dan mengetahui bahwa Boe Kie sedang meraba2 kepalanya, mukanya lantas saja berubah merah. Ia mendorong dengan tangannya dan bertanya, “Kau… mengapa kau…” sebelum selesai bicara, mendadak ia merasa kupingnya sakit lalu merabanya. “Ah! …” teriaknya sambil melompat bangun. “Mengapa begini?” Sekonyong2 kedua lututnya lemas dan ‘bruk!’ ia jatuh dalam pelukan Boe Kie.

“Cioe Kouwnio, jangan takut,” bujuk Boe Kie.

Dengan mata membelak, Cie Jiak mengawasi muka In Lee. Ia mengusap mukanya sendiri dan bertanya, “Apa kau juga?”

“Tidak,” jawab Boe Kie. “Nona hanya mendapat luka enteng.”

“Perbuatan orang Persia?” tanya pula si nona. “Mengapa aku sama sekali tidak merasa?”

Boe Kie menghela napas, “Mungkin sekali ini semua dilakukan oleh Tio Kouwnio,” katanya. “Rupa2nya semalam ia menaruh racun didalam makanan kita.”

Sesudah berdiri bengong beberapa saat, Cie Jiak meraba2 kupingnya yg hilang sebagian dan tiba2 ia menangis.

“Cioe Kouwnio, untung juga kau hanya terluka enteng,” bujuk Boe Kie. “Kerusakan pada kuping itu dapat ditutup dengan rambut dan tak akan bisa dilihat orang.”

“Rambut? Rambutku pun sudah hilang,” kata Cie Jiak dengan suara mendongkol.

“Yang terpapas hanya kulit ubun2 (meercu kepala) dan bagian itu bisa ditutup dengan rambut dari kedua pinggiran kepala,” kata pula Boe Kie. “Kalau mau, nona bisa juga menggunakan rambut palsu….”

“Hm!… “ si nona mengeluara suara dihidung. “Perlu apa aku menggunakan rambut palsu? Ah… sampai pada detik ini, kau masih juga coba melindungi Tio Kouwniomu.”

Disemprot begitu Boe Kie tertegun.

“Aku melindungi dia?…. “ katanya seperti orang linglung. “Dia sungguh jahat…. Aku tak akan mengampuni dia…” Ia melihat In Lee yg tak karuan macam dan air matanya mengucur.

Cia Soen dan Boe Kie benar2 bingung. Biarpun mereka orang2 gagah, jarang tandingan skrg mereka tak tahu lagi apa yg hrs diperbuat.

Sesudah mengasah otak beberapa lama, Boe Kie bersila dan mencoba menjalankan pernapasannya. Ia merasa, bahwa ia sudah keracunan berat. Ia tahu, bahwa Sip huang Joan kin san hanya dapat dipunahkan dengan obat pemunah Tio Beng. Tapi demikian pikirnya, daripada menunggu kebinasaan tanpa berusaha, ingin mencoba2 untuk melawan racun itu dengan Lwee kang nya yg sangat tinggi. Ia segera menjalankan pernapasan guna membawa dan mengumpulkan semua racun di kaki tangannya ke bagian tantian (bawah pusar). Inilah ilmu tertinggi dari Kioe yang Sin kang yg dinamakan Poe tok Siauw kouw hoat (Ilmu pemunah segala racun).

Sesudah mengerahkan tenaga dalam kira2 satu jam, ia merasa bahwa sebagian Lweekang telah pulih kembali pada kaki tangannya. Hatinya jadi lebih lega, ia percaya bahwa ia akan dapat mengusir racun itu dari tubuhnya.

Tapi karena harus menjalankan dengan Kioe yang Sin Kang, ia tidak bisa mengajar ilmu itu kepada Cia Soen dan Cie Jiak. Jalan satu2nya ialah sesudah ia mengusir semua racun dari tubuhnya, ia harus membantu Cia Soen dan Cie Jiak dengan Kioe yagn Sin Kang.

Ilmu itu sederhana, tapi sukar dijalankan. Sesudah berusaha tujuh hari, barulah Boe Kie bisa mengusir tiga bagian racun. Harus diingat bahwa Sip hiang Soen Kin san ada salah satu semacam racun yg terlihati didalam dunia. Tokoh2 seperti Kong boen Kong tie, Wan Cioe Biat soet Soethay yg memiliki lweekang sangat tinggi masih tak berdaya. Bahwa didalam tujuh hari Boe Kie berhasil mengusir tiga bagian racun dan mengambil pulang satu dua bagian tenaga dalamnya. Didalam dunia, tak ada orang lain yg dapat melakukannya.

Untung juga racun itu hanya meniadakan Lwee kang dan tak membahayakan jiwa. Semula Cie Jiak merasa sangat jengkel, tapi sesudah lewat beberapa hari, ia sudah jadi biasa. Ia selalu mengawani Cia Soen menangkap ikan, memanah burung dan menyediakan makanan. Diwaktu malam ia tidur disebuah guha disebelah timur pulau itu, terpisah jauh dari Boe Kie.

Biarpun buta, Cia Soen tahu, bahwa Cie Jiak mencintai anak angkatnya. Tapi nona itu sangat menjaga tata kesopanan. Ia tak pernah mengeluarkan sepath kata yg bersifat guyon. Hal ini sudah mendatangkan rasa hormat didalam hati orang tua itu.

Boe Kie sendiri terus dirundung dengan rasa kemalu2an. Ia merasa bahwa kemalangan ini adalah gara2nya sendiri. Tio Beng seorang putri Mongol dan musuh Beng Kauw. Banyak tokoh rimba persilatan roboh dalam tangan nona ini. Tapi ia sendiri secara sangat tolol sama sekali tidak berjaga2. sepatahpun Cia Soen dan Cie Jiak tidak pernah menyalahkannya. Tapi, maka mereka bungkam makin ia merasa jengah. Kadang2 matanya kebentrik dengan mata nona Cioe. Sorot mata si nona seolah2 mengatakan begini, “Kejadian ini terjadi sebab kau dibutakan dengan kecantikan Tio Beng.”

Racun dalam tubuh Boe Kie makin hari makin enteng, tapi luka In Lee kian hari kian berat. Dipulau itu ternyata tidak terdapat daun obat. Walaupun Boe Kie memliki banyak ilmu pengobatan yg tinggi ia tak berdaya. Ia tahu pasti bahwa pasti luka nona In dapat disembuhkan. Tapi tanpa obat ia tak bisa berbuat banyak. Kalau dipulau itu terdapat pohon2 besar, ia tentu sudah membuat getek untuk berlayar guna mencari pulau lain. Tapi dipulau itu hanya tumbuh pohon2 kecil. Kalau ia tak mengerti ilmu pengobatan masih tak apa. Tapi sebagai ahli, siang malam hatinya seperti diiris2. Ia tahu bagaimana harus menolong, tapi ia tak dapat menolong.

Pada suatu malam ia mengunyah seperti daun obat yg bisa menolak panas dan kemudian memasukkannya kedalam mulut In Lee. Si nona tidak bisa menelan lagi. Bukan main rasa dukanya dan air matanya jatuh berketel2 dimuka In Lee.

Tiba2 si nona membuka mata, ia tersenyum dan berkata, “A Goe koko, jangan kau susah hati. Aku ingin pergi di dunia baga untuk menemui setan kecil Thio Boe Kie yg kejam dan pendek umur. Aku ingin memberitahukan dia bahwa didalam dunia terdapat seorang A Goe koko yg memperlakukan aku secara luar biasa baik seribuk kali, selaksa kali lebih baik daripada perlakuan Thio Boe Kie.

Boe Kie menggigit bibir untuk menahan mengucurnya air mata.

Sementara itu, sambil memegang tangan pemuda itu erat2, In Lee berkata pula, “A Goe koko, aku selalu menolak permintaanmu untuk menikah. Apa kau marah? Kurasa permintaanmu itu bukan keluar dari hati yg sejujurnya. Kurasa kau menipu aku… kau hanya ingin menyenangkan hatiku. Mukaku jelek, adatku aneh bagaimana kau bisa mencintai aku?”

“Tidak! Aku tak menipu kau!” kata Boe Kie dengan suara sungguh2. “Kau seorang gadis yg sangat baik, yg berhati mulia dan penuh kasih. Aku akan merasa sangat beruntung apa bila bisa menikah dengan kau. Sesduah kau sembuh semua urusan2 kita menjadi beres, kita akan segara menikah. Apa kau setuju?”

Dengan sorot mata berterima kasih, In Lee mengusap2 muka Boe Kie. Ia menggeleng2 kan kepala dan berkata dengan suara menyesal. “A Goe koko, aku tak bisa nikah dengan kau. Aku… sudah diberikan kepada Thio Boe Kie yg kejam dan jahat… A Goe koko, aku merasa takut… Apa yg bakal kau temukan didunia baka? Apakah ia masih akan mengunjuk kegalakannya terhadapku?”

Mendengar perkataan si nona yg tak melantur lagi melihat kedua pipinya yg bersemu dadu, hari Boe Kie mencelos. “Inilah tanda2 sinar terakhir dari api pelita yg hampir padam,” katanya dalam hati. “Apakah piauwmoay bakal meninggal dunia hari ini juga?” Bagaikan orang linglung ia mengawasi muka saudari sepupunya.

In Lee mengulan pertanyaannya.

“Dia selama2nya akan memperlakukan kau dengan penuh kecintaan,” jawab Boe Kie dengan suara lemah lembut. “Dia akan menganggap kau sebagai jantung hatinya.”

“Apakah dia akan memperlakukan aku sama baiknya seperti kau?” tanya pula si nona In.

“Langi menjadi Saksti,” kata Boe Kie dengan suara tetap. “Thio Boe Kie mencintai kau dengan setulus hati. Dia merasa menyesal bahwa diwaktu kecil dia pernah melakukan kau secara tidak pantas. Dia… dia tiada bedanya… tidak beda dari aku sendiri.”

Si nona menghela napas dan pada bibirnya tersungging senyuman. “Kalau begitu… kalau begitu… “ katanya dengan suara berbisik, “Aku.. aku tidak berkuatir lagi….” Perlahan2 kedua matanya tertutup dan rohnya kembali ke alam baka.

Sambil menggerung2 Boe Kie memeluk jenazah In Lee. Ia mengutuk dirinya. Ia merasa menyesal tak habisnya, bahwa sampai menutup mata In Lee masih tak tahu, bahwa dia adalah Thio Boe Kie. Selama beberapa hari sinona berada dalam keadaan lupa ingat dan pada detik terakhir sudah tidak keburu diterangi padanya lagi. Kesedihan Boe Kie waktu itu tidak dapat dilukiskan lagi dengan kalam. Ia mengutuk Tio Beng berulang2. Kalau mukanya tidak digores pedang, belum tentu In Lee dapat ketolongan. Kalau tidak ditinggalkan dipulau mencil, begitu tiba di Tiong Goan, ia akan bisa menolong saudari sepupunya itu.

“Tio Beng!.. Tio Beng!” ia mengeluh dengan darah bergolak golak. “Begitu jahat kau!… kalau kau jatuh didalam tanganku, aku pasti tidak akan mengampuni kau.”

“Hm!….” mendadak terdenagr suara dingin dibelakangnya. “Kalau sudah bertemu dengan si cantik, belum tentu kau turun tangan.”

Boe Kie berpaling dan melihat Cie Jiak di belakangnya. Ia berduka tercampur malu.

“Aku sudah bersumpah dihadapan jenazah piauwmoay, bahwa jika aku tidak membunuh perempuan siluman itu, Thio Boe Kie tak ada muka untuk hidup diantara langit dan bumi,” katanya dengan suara parau.

“Kalau benar begitu, barulah kau seorang lelaki yg mempunyai ambekan,” kata Cie Jiak seraya mendekati dan lalu menangis sambil memegang jenazah nona In.

Mendengar suara tangisan, Cia Soen datang dan iapun sangat berduka ketika tahu hal meninggalnya In Lee.

Sesudah kenyang memeras air mata, Boe Kie lalu menggali lubang dan menguburkan In Lee. Ia mengambil sebatang pohon mengulitinya dan dengan pisau si noan In, mengukir perkataan seperti berikut, “Kuburan istriku yg tercinta, In Lee.” Dibawahnya ia mengukir namanya sendiri. Sesudah itu, ia berlutut ditanah dan menangis tersedu2.

Melihat kesedihan pemuda itu, Cie Jiak merasa kasihan. “Sudahlah,” ia membujuk. “Dia mencintai kau dan kaupun telah memperlakukannya dengan penuh kasih. Asal saja kau tidak melanggar janjimu dan kau benar2 dapat membinasakan Tio Beng untuk membalas sakit hatinya dialam baka roh, adik In akan merasa terhibur.”

(red: tidak ada halaman ato paragraph yg ilang disini, ketikan as is)

Karena keduanya, racun yg sudah berkumpul di tantian Boe Kie membayar pula. Dengan bekerja keras tujuh delapan hari barulah ia bisa mengumpulkan pula racun yg buyar itu. Akhirnya kira2 sebulan, semua racun baru dapat diusir pergi.

Pulau dimana mereka terkandas berbeda dari Peng Hwee to, ato Leng coa to. Disitu bukan saja tak ada pohon pohon buah, tapi juga tidak terdapat binatang yg bisa dijadikan barang santapan. Maka itu hidup mereka sangat menderita. Untung juga, sebab merasa kasihan akah kemalangan Boe Kie, Cie Jiak sudah memperlakukannya dengan penuh kasihan dan memberikan bujukan2 yg dapat diberikan sehingga dengan begitu, penderitaan pemuda itu, banyak entengan.

Sesudah ia berhasil Boe Kie lalu membantu ayah angkatnya dalam usahanya mengusir racun Sip Hiang Joan kin san. Setelah beres dengan Cia Soen, ia sebenarnya harus menolong Cie Jiak, tapi pertolongan ia tidak dapat dilakukan sebab terbentur dengan tata kesopanan pada jaman itu. Dalam memberi bantuan sebelah tangan Boe Kie harus menempel pada pinggang dan sebelah tangan lagi hrs menempel pada kempungan yang mau ditolong. Mana boleh ia membantu seorang gadis remaja cara begitu? Tapi itu merupakan jalan satu2nya untuk memasukkan Kioe yg sin kang kedalam tubuh si nona selama beberapa hari, ia tidak dapat mengambil keputusan.

Pada suatu malam tiba2 Cia Soen bertanya, “Boe Kie berapa lamakah kita harus berdiam dipulau ini?”

Boe Kie terkejut, “Suka dikatakan,” jawabnya. “Kita hanya mengharap bahwa sebuah perahu akan lewat dipulau ini.”

“Dalam waktu satu bulan, apakah kau pernah melihat bayang2an perahu?” tanya pula sang Gie hoe.

“Tak pernah”

“Ya! Mungkin besok sebuah perahu akan lewat disini. Mungkin juga seratus tahun lagi tak muncul bayang2annya.”

“Pulau ini memang pulau terpencil dan tidak berada dalam garis perhubungan air. Harapan kita memang tidak besar.”

“Hm… obat pemunah tak akan bisa didapatkan, Boe Kie. Disamping rasa lemas pada kaki tangan, bahaya apa lagi yg dapat ditimbulkan oleh racun itu?”

“Kalau mengeramnya didalam tubuh hanya sementara waktu, boleh dikata tiada lain bahaya. Tapi kalau lama, racun itu menyerap diotot dan tulang dan sangat membahayakan anggota didalam badan.”

“Nah kalau begitu mengapa kau tidak buru2 berusaha untuk menolong Cioe Kouwnio? Kalau orang tua Cioe Kouwnio adalah anggota agama kita sedang ia sendiri seorang Ciangboen jin dari Go bie pay. Dimana lagi kau mau cari gadis yg begitu lemah lembut dan mulia hatinya? Apa kau anggap ia kurang cantik?”

Boe Kie tertegun. “Kalau Cioe Kouwnio tidak cantik, didalam dunia tak ada wanita cantik,” jawabnya.

Cia Soen tersenyum, “Kalau begitu aku memerintahkan supaya kau berdua segera menikah,” katanya. “Sesudah menikah, kamu tidak terikat lagi dengan segala peraturan bulukan.”

Cie Jiak yang juga berada disitu buru2 berlalu dengan paras muka kemerah2an. Cia Soen melompat dan menghalangi didepannya. Ia tertawa dan berkata, “Jangan kau pergi! Hari ini aku bertekad untuk menjalankan peranan comblang.”

“Cia Looya coe, mengapa kau mengacau belo?” kata si nona dengan sikap kemalu2an.

Kim mo Say ong tertawa terbahak. “Perangkap jodoh antara lelaki dan perempuan adalah urusan penting dalam penghidupan manusia,” katanya. “Mengapa kau mengatakan aku mengacau belo? Boe Kie, kedua orang tuamu jg menikah dipulau kecil. Kalau dahulu mereka tidak menyampingkan segala tata adat istiadat bulukan, didalam dunia mana bisa menjelma seorang bocah yg seperti kau? Berbeda dari kedua orang tuamu, hari ini, aku yg menjadi ayah angkatmu, menjalankan peranan sebagai Coaboen (orang yang menikahkan). Apa kau tidak suka Cioe Kouwnio? Apa kau tak sudi menolong dia?”

Cie Jiak jadi makin jengah. Ia coba lari.

Sambil menarik tangan si nona, Cia Soen berkata, “Kemana kau mau lari? Apa besok kamu tidak bakal bertemu pula. Aha! Kutahu, katu tidak sudi memanggil “Kong kong” kepadaku, si buta. Bukankan begitu?”

“Bukan! Bukan begitu!”

“Dengan lain perkataan, kau menyetujui usulku?”

“Tidak!… tidak!….”

“Mengapa tidak? Apa kau anggap anak angkatku tak pantas menjadi pasangan?”

Cie Jiak tidak lantas menjawab. Sejenak kemudian, sambil menatap muka Kim mo Say ong ia berkata dengan suara perlahan. “Thio Kong coe, memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan namanya terkenal diseluruh kalangan Kangouw. Kalau seorang wanita bisa mendapatkan ia sebagai suami, apalagi yg masih kurang? Tapi… tapi…”

“Tapi apa?”

“Tapi…. Didalam hati, dia mencintai Tio Kouwnio. Kutahu adanya kenyataan ini.”

Cia Soen menggertak gigi. “Tidak bisa jadi!” katanya. “Tak mungkin Boe Kie kelelap terhadap perempuan yg begitu jahat, yg sudah mencelakai kita secara begini hebat. Boe Kie aku ingin dengar pernyataan dari mulutmu sendiri.”

Didepan mata Boe Kie terbayang senyuman dan cara2 Tio Beng yg membetot hati. Ia merasa sangat beruntung kalau bisa menikah dengan gadis yg sangat menarik hati itu. Tiba2 ia seolah2 melihat pula jenazah In Lee yg mukanya penuh dengan goresan pedang. Darahnya meluap dan ia segera berkata, “Tio Kouwnio adalah musuh besarku. Aku akan membunuh dia guna membalas sakit hatinya piauwmoay.”

“Cioe Kouwnio, kau dengarlah!” kata Coa Soen. “Apa kau masih tak percaya?”

“Aku masih bersangsi…” jawabnya dengan suara perlahan. “Aku masih bersangsi, kecuali… kecuali dia bersumpah. Kalau tidak, aku lebih suka mati daripada ditolong olehnya.”

“Boe Kie, lekas sumpah!” kata sang Giehoe.

Boe Kie segera berlutut dan berkata. “Apabila aku, Thio Boe Kie, melupakan sakit hatinya piauwmoay, biarlah langit dan bumi mengutuk aku.”

“Kau harus bicara secara tegas,” kata Cie Jiak. “Apa yg ingin diperbuat olehmu terhadap Tio Kouwnio?”

Didalam hati Cia Soen merasa geli. Galak benar nona Cioe! Belum jadi istri, tuntutannya sudah begitu hebat. Tapi sebagai seorang tua, ia lantas saja berkata. “Boe Kie, hayolah bicara biar tegas!”

Boe Kie mengangguk dan berkata dengan suara nyaring. “Perempuan siluman Tio Beng bekerja untuk kaisar Tat coe. Dia mencelakai rakyat, membunuh pendekar2 Rimba Persilatan mencari golok mustika Gie Hoe dan membinasakan In Lee piauwmoay. Begitu lama ia masih bernapas, Thio Boe Kie tidak akan melupakan sakit hati itu. Jika aku melanggar sumpah ini, biarlah langit mengutuk aku, bumi mengutuk aku.”

Cie Jiak tertawa. “Aku hanya kuatir, jika tiba waktunya kau akan menaruh balas kasihan terhadapnya,” katanya.

“Sekarang sudah berse,” kata Cia Soen. “Kita, orang2 dalam kalangan kangouw, selamanya tidak banyak rewel. Menurut pikiranku, sebaiknya kamu berdua hari ini segera menikah, supaya racun Sip haing joan kin san bisa terusir secepat mungkin.”

“Tidak!” bantah Boe Kie. “Giehoe, Cie Jiak dengarlah dulu perkataanku. In kouwnio sangat mencintai aku. Sedari kecil ia menganggap aku sebagai suami nya dan akupun menganggap dia sebagai istri. Sekarang, sedang jenazah nya masih belum dingin, mana aku tega untuk segerah menikah?”

Sesudah memikir sejenak, Cia Soen berkata, “Benar juga. Tapi bagaimana keinginanmy?”

“Menurut pikiran anak, hari ini anak mengikati tali pertunangan dengan Cioe Kouw nio dan segera membantunya dalam mengusir racun Sap hiang joan kin san,” jawabnya. “Kalau dengan berkah langit, kita bisa pulang ke Tiong goan sesudah membunuh Tio Beng dan memulangkan To liong to kepada Gie hoe, barulah anak melangsungkan upacara pernikahan. Dengan begini, segala apa akan dapat diselesaikan secara baik.”

“Baik memang baik sekali,” kata Cia Soen. “Tapi bagaimana kalau sampai sepuluh duapuluh tahun kita masih belum bisa pulang ke Tiong goan?”

“Didalam batas waktu tiga tahun, tak peduli kita bisa pulang ke Tiong goan atau tidak Gieh pe boleh menikahkan kami,” jawabnya.

Kim mo sau ong mengangguk, “Cio Kouw nio, bagaimana pendapatmu?” tanyanya.

Cie Jiak menundukkan kepalanya, selang beberapa saat, barulah ia menyahut. “Aku seorang perempuan sebatang kara. Aku tidak dapat mengambil keputusan sendiri dan menyerahkan segala apa kepada Loo ye coe.”

Cia Soen tertawa terbahak2, “Bagus! Bagus!” katanya. “Kita bertiga menetapkan janji itu. Sekarang kamu sudah menjadi tunangan dan tak usah malu2 lagi. Boe Kie, lekas bantu, tunanganmu!” Sehabis berkata begitu, ia berlalu dengan tindakan lebar.

Sesudah ayah angkatnya pergi, Boe Kie berkata dengan suara perlahan. “Cie Jiak, apakah kau bisa mengerti perasaan hatiku yg penuh kesengsaraan?”

Si nona tersenyum, “Karena mukaku tak cantik, kau sudah mengajukan rupa2 alasan,” katanya. “Andai kata aku Tio Kouwnio, mungkin sekarang juga….” Ia tidak meneruskan perkataannya dan berpaling kejurusan lain.

Dengan jantung memukul keras, Boe Kie berkata didalam hati, “Waktu terombang ambing ditengah lautan aku pernah melamun untuk mengambil empat istri sekaligus. Tapi didalam hati kecilku, orang yg benar2 kucintai adalah si perempuan siluman yg jahat itu. Hai! …. Cuma2 saja aku dinamakan seorang gagah…. Aku masih belum bisa membedakan mana yg baik mana yg jahat.”

Ketika Cie Jiak menengok lagi, ia lihat tunangannya sedang termenung. Tanpa mengatakan suat apa, ia segera berjalan pergi Boe Kie buru2 menarik tangannya. Diluar dugaan sebab lweekangnya musnah, ditarik begitu, nona Cioe terhuyung dan jatuh didalam pelukan Boe Kie. “Apakah seumur hidup aku harus selalu di hina kau?” tanyanya dengan suara mendongkol.

Cie jiak benar2 cantik. Ia cantik selagi tertawa dan cantik pula selagi bergusar. Sambil terus memeluk, Boe Kie berkata daengan suara lemah lembut. “Cie Jiak, kata pertama bertemu disungai Han soe. Waktu itu aku sudah mencintai kau. Sungguh diluar dugaan, bahwa hari ini apa yg telah dibayang2kan olehku dapat terwujud. Waktu aku sedang bertempur melawan empat tetua Koen loen dan hwa san pay di kong beng teng, kau telah memberi petunjuk kepadaku dan menolong jiwaku, untuk pertolongan itu, aku sekarang menghaturkan banyak terima kasih.”

Si nona membiarkan dirinya dipeluk.

“Hari itu aku menikam kau, apa kau tidak membenci aku?” bisiknya.

“Tidak,” jawabnya “Kau tak menikam terus. Detik itu juga kutahu, bahwa kau sebenarnya mencintai aku.”

Muka Cie Jiak lantas saja berubah merah. “Fui! Kalau kutahu bakal terjadi kejadian2 yg sudah terjadi, hari itu aku sudah menikam jantungmu, supaya aku tak dihina kau terus menerus,” katanya.

Boe Kie tertawa, “Aku sangat mencintaimu, mana boleh aku menghina kau?” katanya.

Untuk beberapa saat, kedua orang muda yg sedang menikmati kebahagian tidka berkata2.

Akhirnya, sambil bersandar didada yg lebar, nona Cioe memecahkan kesunyian.

“Boe Kie koko,” katanya. “Kalau aku membawa kesalahan kepadamu, kalau aku berdosa apakah kau akan mencaci aku, memukulku, membunuh aku?”

Boe Kie mencium leher si nona. “Wanita yg semulia kau tak mungkin berdosa,” jawabnya.

“Biarpun nabi bisa membuat kesalahan sebagai manusia biasa, aku pasti tak terbebas dari segala kekhilafan.”

“Kalau benar begitu, aku takkan marah. Aku hanya akan membujuk kau supaya insaf akan kekeliruan.”

“Apa kau takkan berubah pikiran terhadapku? Apa kta takkan membunuh aku?”

“Cie Jiak, sudahlah! Jangan memikir yang tidak2. Mana bisa terjadi kejadian itu?”

“Baiklah!” kata Boe Kie sambil tertawa.

“Aku berjanji takkan berubah pikiran, tak akan membunuh kau.”

Cie Jiak menatap wajah Boe Kie, “Aku tak mau kau memberi janji sambil tertawa-tawa,” katanya. “Aku menuntut kau bersungguh.”

“E-eh!… Ada apa yg masuk kedalam otakmu?” tanya Boe Kie sambil tertawa geli. Tapi didalam hati dia berkata.

“Dasar aku yg salah. Ia rupa2nya masih berkuatir, karena sikapku yg penuh kecintaan terhadap Tio Beng. Siauw Ciauw dan piauw moay.” Memikir begitu, dia lantas saja berkata dengan sungguh2. “Cie Jiak, kau istriku. Kalau dahulu hatiku banyak bercabang, sekarang lain keadaannya. Aku berjanji, bahwa mulai detik ini, aku takkan berubah pikiran terhadapmu. Andai kata kau bersalah, andai kata kau berdosa, aku bahkan takkan mencaci kau.”

Si nona menghela napas. “Boe Kie koko,” katanya. “Kau seorang laki2 yang sejati. Kuharap dihari kemudian, kau tidak akan melupakan perkataanmu yg dikeluarkan pada malam ini.” Ia menuding bulan sisir yg baru muncul “Boe Kie koko, sang rembulan menjadi saksi kita berdua.”

“Benar,” kat Boe Kie, “Kau benar. Sang rembulan menjadi saksi.” Sambil mengawasi dewi malam itu ia berkata pula.

“Cie Jiak, selama hidup, sering sekali aku dihina orang. Sebab terlalu percaya manusia, sering sekali aku menderita. Entah berapa kali, aku tak ingat lagi. Hanyalah pada waktu berada di Peng hwee to bersama ayah, ibu dan Giehce, aku terbebas dari segala kelicikan manusia rendah. Waktu aku baru tiba di Tiong goa, seorang pengemis sedang bermain main dengan seekor ular, telah menipu aku. Dia membujuk supaya aku melongok kedalam karungnya untuk melihat ularnya dan tiba2 ia menangkrup dengan karungnya itu. Lihatlah sekarang. Kita datang dipulau ini dnegna sama sama menderita. Siapa nyana pada malam pertama, Tio Kouwnio telah menaruh racun dimakanan kita dan kabur dengan perahu yg satu2nya?”

Si nona tersenyum. “Sudahlah,” katanya, “Menyesalpun tiada gunanya.”

Tiba2 gelombang rasa bahagia bergolak golak dalam dada Boe Kie. “Cie Jiak,” bisiknya. “Kau adalah manusia yg berada paling dekat denganku. Kau selalu memperlakukan aku dengan penuh kecintaan. Dihari kemudian, sesudah kita pulang dari Tiong goan, kau dapat membantu aku untuk berjaga jaga terhadap manusia2 rendah. Dengan bantuanmu, aku boleh tak usah mengalami lebih banyak penderitaan lagi.”

Si nona menggelengkan kepalanya, “Aku seorang yg tak punya guna,” katanya.

“Aku kalah jauh daripada Tio Kouwnio, bahkan masih kalah dari Siauw Ciauw kouwnio. Apa kau tahu, bahwa istrimu seorang bodoh?”

Demikianlah, sambil berduduk dipinggir pantai kedua tunangan ini beromong kosong sampai larut malam.

Pada keesokan harinya Boe Kie mulai membantu Cie Jiak dengan Kioe yang Sin kang. Ia merasa girang bahwa tunangannya segera mendapat kemajuan. Mungkin sekali, sebab tidak banyak makan, Cie Jiak hanya menelan sedikit racun.

Tapi diluar dugaan, pada hari ketujuh didalam tubuh si nona muncul semacam hawa yang amat dingin, yg melawan hawa Kioe yang sin kang. Dengan seantero tenaganya, Cie Jiak coba menekan hawa dingin itu, tapi ia tetap tak dapat memasukkan Kioe yang Sin Kang kedalam badannya. Boe Kie kaget dan segera menanyakan pendapat ayah angkatnya.

Sesudah memikir beberapa saat, Cia Soen berkata, “Akupun tidak mengerti. Mngkin sekali karena pemimpin Go Bie pay seorang wanita, maka tenaga dalam mereka bersifat Im Jioe (dingin lembek).”

Boe Kie manggut2kan kepalanya.

Untung jg lweekang Cie Jiak berada disebelah bawah lweekang Boe Kie. Maka itu dalam memasukkan sin kang kedalam tubuh si nona, pemuda itu dapat menindih hawa yg sangat dingin itu. Tapi dengan demikian ia harus mengeluarkan lebih banyak tenaga daripada waktu membantu ayah angkatnya. Ia merasa bahwa Im Kim (tenaga dingin) dari tunangannya memang belum kuat. Tapi sebagai ahli, ia tahu, bahwa dihari kemudian, kalau Cie Jiak sudah mencapai tingkat yg tinggi, ia kaan memperoleh lwee kang yg dahsyat luar biasa. Tanpa terasa ia memuji, “Cie Jiak, gurumu, Biat Coat Soethay, memang seorang tokoh jarang tandingan. Ia telah mewariskan lweekang yg sangat tinggi kepadamu. Apabila kau terus berlatih menurut ajaran itu, dikemudian hari tenaga dalammu akan bisa berendeng dengan Kioe yang sin kaing yg dimiliki olehku.”

“Justru!” kata si nona sambil tertawa.

“Mana bisa ilmu GO bie pay merendengi Kioe Yang Sin Kang dan Kian Koen Tay Lo Ie dari Toa Kauw Coe (Kauwcoe besar)?”

“Cie Jiak, aku tidak bicara main2,” kata pula Boe Kie dengan paras sungguh2.

“Bakatmu sangat baik, mungkin sekali, didalam jurus2 ilmu silat, kau tidak dapat memahami telalu banyak. Tapi dalam lweekang kau sudah mempunya dasar yg sangat baik. Tay suhu sering mengatakan, bahwa pada tingkat tertinggi ilmu silat yg berhubungan erat dengan sifat seorang manusia yg mempelajarinya. Seorang yg berotak cerdas belum tentu bisa naik sampai dipuncak tertinggi. Sepanjang ceritga ayah, Kwee liehiap pendiri Go Bie pay, yaitu Kwee tayhiap adalah seorang yg berotak tumpul. Akan tetapi semenjak dahulu sampai sekarang, ilmu silat yg dimiliki Kwee tayhiap mungkin belum ada tandingannya. Tay soehoe mengatakan bahwa ia sendiri belum bisa merendengi lwee kang Kwee tayhiap. Cie Jiak, aku bersungguh2. pelajaran lwee kang Go bie pay agaknya masih lebih tinggi dari Boe tong pay. Menurut penglihatanku dihari nanti, kalau kau sudah berhasil, kau bisa berada disebelah atas gurumu sendiri.”

Si nona mengawasi tunangannya. “Ah! Kau hanya ingin mengambil hatiku,” katanya seraya tersenyum. “Aku sudah merasa sangat puas, apabila aku bisa memperoleh sepersepuluh dari kepandaian Sian soe. Aku akan segera berterima kasih, jika kau sudah mengajarku dalam ilmu Kioe yang Sin Kang Kian Koen tay lo Ie.”

Boe Kie tidak menjawab ia megerutkan alisnya.

Si nona tertawa, “Apa aku belum cukup berderajat untuk menjadi murid Tao Kauwcoe?” tanyanya.

“Bukan begitu! Aku merasa bahwa lweekang mu berbeda dari lweekang ku. Bukan saja berbeda, bahkan bertentangan satu sama lain. Kalau aku mengajar kau akan menghadapi suatu yg amat sukar dan sangat berbahaya. Bukan aku tak sudi.”

“Kalau kau tak sudi mengajar, sudahlah! Perlu apa rewel2? Dalam belajar ilmu silat, paling banyak tidak berhasil. Mana bisa jadi berbahaya?”

“Kau salah! Kau salah menerka. Kioe yang Sin kang adalah lweekang yg bersifat Yang Kong (panas keras) sedang lweekang Go bie pay bersifat Im jioe (dingin lembek). Apabila kau melatih diri dalam ilmu Kioe yang Sin kang, maka Im dan Yang akan bercampur menjadi satu. Hanyalah orang2 yg memiliki kepandaian sangat tinggi, misalnya Tay suhu, yg bisa mempersatukan “air” dan “api” bercampur “keras” dengan “lembek”. Salah sedikit saja ilmu itu akan membakar, orang yg berlatih seperti golok makan tuan. Hm…. Cie Jiak, nanti manakala lweekangmu sudah mencapai tingkat yg tinggi, kau boleh mempelajari Sim hoat dari Kian koen Tay lo ie.”

Si nona tertawa geli, “Aku hanya berguyon,” katanya. “Mulai dari sekarang aku tak akan berpisah lagi dengan kau, sehingga tak ada perbedaan apa itu ilmu silatku atau ilmu silatmu. Aku manusia yg malas. Kioe yang Sin kang bukan ilmu yg gampang. Maka ia biarpun dipaksa, belum tentu aku mau mempelajarinya.” Mendengar kata2 yg manis itu, Boe Kie merasa girang sekali.

Dalam suasana bahagia, tanpa merasa mereka sudah berdiam dipulau itu selama beberapa bulan. Cie Jiak merasa seantero tenaganya sudah pulih kembali. Mungkin sekali semua racun sudah terusir.

Sesudah musim dingin lewat, tibalah musim semi yg indah. Pada suatu hari, Boe Kie memeting beberapa ranting tho yg penuh bunga disebelah timur pulau. Dengan rasa terharu, ia menancapkan ranting2 di depan kuburan In Lee. Ia ingat bahwa saudari sepupu itu bernasib malang. Mungkin sekali, sehari pun nona itu belum pernah mencicipi rasa beruntung. Ia berdiri terpaku dan didepan matanya terbayang pula kejadian2 pada masa yg lampau.

Mendadak, ia disadarkan oleh suara burung2 laut. Ia menengadah dan tiba2 saja ia melihat layar ditempat jauh dan kendaraan air itu sedang mendatangi kearah pulau. Itulah kejadian yg tak diduga2. Hatinya meluap dengan kegirangan. Ia melompat dan berteriak sambil berlari2. “Gie hoe! Cie Jiak! Kapal! Ada kapal!”

Cia Soen dan Cie Jiak lantas saja menghampiri. “Boe Kie koko,” kata si nona dengan suara gemetar, “Bagaimana bisa ada kapal datang kesini?”

“Akupun tak mengerti” jawabnya. “Apa kabal bajak?”

Setengah jam kemudia, kapal layar itu sudah membuang sauh di luar pulau. Sebuah perahu kecil menghampiri pulau. Cia Soen bertiga berdiri di pesisir untuk menyambut. Segera juga mereka mendapat kenyataan, bahwa orang2 di perahu itu semua mengenakan seragam angkatan laut Mongol.

Jantung Boe Kie memukul keras. “Apa Tio Kouwnio berubah pikiran dan datang lagi kesini?” tanyanya didalam hati. Ia melirih Cie Jiak yang ternyata sedang mengerutkan alis. Rupa2 nya tunangan itupun mempunyai dugaan yg sama.

Tak lama kemudia perahu itu menepi. Lima orang anak buah mendarat. Pemimpinnya seorang perwira, menghampiri Boe Kie dan bertanya sambil membungkuk, “Apa tuan Thio Boe Kie, Thio Kongcoe?”

“Benar,” jawabnya. “Siapa tuan?”

Mendengar jawaban itu, ia kelihatan girang sekali, “Namun Siauw jin yg rendah, Pas Tai,” sahutnya. “Siauwjin merasa sangat beruntun, bahwa hari ini kami bisa menemukan Kongcoe. Siauwjin menerima perintah untuk menyambut Thio Kongcoe dan Cia Tayhiap pulang ke Tionggoan,” ia tidak menyebut nama Cie Jiak.

Boe Kie menyoja, “Dari tempat jauh tuan datang kesini dan kami merasa sangat berterima kasih,” katanya. “Tapi apa kau boleh mendapat tahu, siapa yg memerintahkan tuan?”

“Siauw jin adalah orang sebawahan Teetok angkatan laut, Taiwa Che lu, yang menjaga propinsi Hiok kian,” jawabnya. “Atas perintah Pol tua, Ciang Koen (jendral), siauwjin datang kesini untuk menyambut Kongcoe dan Cia Tayhiap Pol tua Ciang koen telah mengirimkan delapan buah kapal yg coba mencari kalian diperairan sepanjang propinsi Hok Kian, Ciat kang dan kwitang. Atas berkat Thian, siauw jin lah yg memperoleh pahala ini.” Dari keterang itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang yg berhasil mencari Boe Kie akan mendapat hadiah besar.

Boe Kie belum pernah mendengar nama pembesar2 Mongol itu dan ia tahu bahwa semua perintah dikeluarkan atas titah Beng Beng koengcoe. “Apa kau tahu, mengapa kau diperintah untuk menyambut kami?” tanyanya.

“Pol tua Ciang koen mengatakan, bahwa Thio Kongcoe adalah seorang bangsawan berkedudukan tinggi dan juga seorang gagah kenamaan pada jaman ini,” jawabnya. “Beliau memesan, bahwa andaikata siauwjin berhasil menemukan Kongcoe, siauw jin harus melayani sebaik mungkin. Tentang mengapa siauwjin diperintah menyambut kongcoe, siauwjin sendiri sebagai seorang berpangkat rendah, tidak mengetahui.”

“Apa ini maunya Beng beng kongcoe?” sela Cie Jiak.

Pas tai kelihatan terkejut, “Beng beng kongcoe?” ia menegas. “Siauwjin tak punya rejeki begitu besar untuk menemui beliau.”

“Apa artinya perkataan ‘rejeki’ itu?” tanya pula si nona.

“Beng beng koengcoe adalah wanita Mongol yg tercantik,” sahutnya. “Tidak!… bukan begitu saja. Beliau adalah wanita tercantik diseluruh dunia, seorang yg boen boe coan cay (paham ilmu surat dan ilmu perang). Beliau adalah putra yg tercinta dari Jie Lam ong Ong ya. Siauwjin belum punya rejeki untuk melihat muka emasnya.”

Cie Jiak mengeluarkan suara dihidung, tapi dia tidak menanya lagi.

“Gie hoe, apa kita boleh turut merek?” tanya Boe Kie.

“Sesudah mengambil barang2 kita disana, kita boleh lantas naik kapal,” jawabnya. “Tuan tunggu saja disini.”

“Biar Siauwjin dan anak buah kami yang mengangkut perbekalan kalian,” kata Pas Tai.

Cia Soen tertawa, “Perbekalan apa? Beberapa potong barang kita tidak dapat dinamakan perbekalan. Kami tidak berani menerima tawaran tuan,” katanya.

Seraya berkata begitu, ia berlalu sambil menuntun tangan Boe Kie dan Cie Jiak. Setibanya dibelakang gunung, ia berhenti dan berkata, “Secara mendadak Tio Beng mengirim kapal. Di balik tindakan ini pasti bersembunyi tipu keji. Bagaimana kita harus menghadapinya?”

“Gie hoe, apa kau rasa… Tio Beng… berada di kapal itu?” tanya Boe Kie.

“Entahlah,” jawabnya. “Bagus sungguh kalau benar perempuan siluman itu berada dikapal. Kita hanya harus berhati2 dalam makanan.”

Cia Soen manggut2kan kepalanya.

“Menurut taksiranku, Tio Beng tidak ikut serta,” katanya pula. “Menurut ia ingin menulad tindakan orang Persia. Ia memancing kita kekapal dan setelah kapal berada ditengah lautan, pasukan laut Mongol akan mengurung dan menenggelamkan kapal yg ditumpangi kita.”

Boe Kie mengeluarkan keringat dingin.

“Tapi.. apa benar dia begitu busuk?” tanyanya dengan suara gemetar. “Dia sudah tinggalkan kita dipulau ini yang akan menjadi kuburan kita. Apa itu masih belum cukup? Pada hakekatnya kita bertiga belum pernah berdosa besar terhadapnya.”

Cia Soen tertawa dingin, “Kau sudah melepaskan anggota2 enam partai dari Ban hoat sie,” katanya. “Apa kau kira dia tidak sakit hati? Bagi peremouan siluman itu, perempuan siluman meninggalkan kita di pulau ini memang tak cukup sebab kita masih bisa pulang ke Tiong goan. Menghilangnya kau sudah pasti akan menggemparkan semua anggota Beng kauw. Mereka pasti akan berusaha untuk mencari kau. Dalam usaha ini, mungkin sekali mereka akan mencari sampai disini. Maka itu, jalan yg paling baik bagi si perempuan siluman adalah membinasakan kita dengan mengirim kita kedasar laut.”

“Tapi Gie hoe,” kata si anak dengan suara sangsi, “Kalau mereka menenggelamkan kapal yang ditumpangi kita dengan tembakan meriam, bukankah Pas Tai dan lain2 anak buah kapal bakal turut binasa?”

Cia Soen tertawa terbahak2. Sesudah itu ia pun menghela napas berulang2. “Anak Boe Kie! Pikiranmu terlalu sederhana,” katanya. “Apa kau rasa orang2 yg seperti dia menghiraukan matinya beberapa manusia? Kalau kaisar Mongol lembek seperti kau, mana bisa dia menyapu musuh2nya?”

Boe Kie tertegun. Selang beberapa saat baru lah ia berkata dengan suara perlahan. “Gie hoe, kau benar.”

“Gie hoe, apakah yang harus kita perbuat?” tanya Cie Jiak.

“Bagaimana pikiranmu. Apa kau mempunya daya yg baik?” Cia Soen balas menanya.

“Kalau begitu, kita jangan mengikuti mereka. Katakan saja bahwa kita berubah pikiran dan sekarang tak mau pulang ke Tiong goan.”

“Ha, ha,ha! Pikiran itu adalah pikiran tolol dari seorang gadis yg tolol pula. Kalau kita menolak, apa mereka mau mengerti? Andaikata kita membinasakan semua anak buah kapal itu, si perempuan siluman masih bisa mengirim lain2 kapal. Disamping itu, di Tionggoan masih banyak urusan yg harus diurus oleh Boe Kie. Ia tidak boleh mati konyol disini.”

Paras si noan lantas saja berubah merah. “Benar,” katanya dengan perlahan. “Sebaiknya kita menyerahkan saja segala apa kepada Gie Hoe.”

Cia Soen manggut2kan kepalanya. Setelah mengasah otak beberapa laam ia lalu bicara bisik2 dikuping kedua orang muda itu yg lantas saja mengangguk dengan paras muka girang.

Mereka lalu mengangkut semua bahan makanan keperahu kecil dan sesudah itu, Boe Kie menengok kekuburan In Lee untuk penghabisan kali dan berpamitan dengan mengucurkan air mata.

Setibanya di kapal, Boe Kie lalu memeriksa seluruh kapal. Benar saja Tio Beng tidak berada di situ. Iapun mendapati kenyataan, bahwa di antara anak buah tidak terdapat orang yang berkepandaian tinggi. Mereka semua adalah pelaut-pelaut biasa dari angkatan perang Mongol.

Sesudah mengangkat sauh dan menaikkan layer, kapal itu mulai berlayar. Baru berlayar beberapa puluh tomabk, Boe Kie segera bertindak dengan cepat sesuai dengan tipu yang ditetapkan Cia Soen. Tiba-tiba dengan kecepatan kilat, tangan kirinya mencekal tangan kanannya mencabut golok perwira itu, yang lalu ditandal di lehernya.

“Dengarlah perintah aku!” bentaknya.
“Suruh juru mudi jalankan kapal ke arah timur!”

Pas-tai kaget bercampur takut. “Thio…Thio Kong-coe…” katanya dengan suara gemetar, “Siauwjin…Siauwjin.”

“Turut perintahku!” bentak pula Boe Kie. “Kalau kau tidak menurut, kubacok batok kepalamu!”

“Baik…baik…” jawabnya.

Haluan kapal segera diputar ke timur.

Setelah itu, Boe Kie berkata dengan suara nyaring. “Kamu semua dengarlah! Aku sudah tahu bahwa kamu ingin mencelakai kami. Lebih baik kamu mengaku. Kalau kamu berdusta, kucabut nyawamu semua!” Seraya berkata begitu, ia menepuk pinggiran kapal dengan telapak tangan. Potongan-potongan kayu beterbangan dna bagian-bagian yang ditepuk somplak. Melihat begitu, semua anak buah ketakutan setengah mati.

“Thio Kongcoe, kau bersabarlah dulu.” Kata Pas-tai dengan meringis. “Dengan sebenar-benarnya, siauwjin hanya menerima perintah dari atasan untuk mencari Kongcoe dan Cia Tayhiap dan mengajak kalian pulang ke Tionggoan. Siauwjin hanya berharap bahwa sesudah menunaikan tugas itu, siauwjin akan mendapat sedikit hadiah. Inilah pengakuan yang setulus-tulusnya. Kami semua tidak mempunyai niat jahat.”

Mendengar nada suara yang bersungguh-sungguh, Boe Kie yakin bahwa dia tidak berdusta. Ia segera melepaskan cekalannya dan berjalan ke kepala kapal. Kedua tangannya menjumput dua buah sauh yang terbuat dari besi. “Hei! Lihatlah!” serunya. Dengan sekali menggerakkan tangan, kedua sauh yang beratnya beberapa ratus kati lantas saja terbang ke atas.

“Aduh…!” semua anak buah kapal mengeluarkan suara tertahan.

Waktu kedua sauh itu jatuh, Boe Kie mendorongnya dengan menggunakan Kian-koen Tay lo ie, sehingga mereka terbang lagi ke atas. Setelah mengulangi pertunjukkan itu tiga kali beruntun, barulah ia menyambutnya dan kemudian menaruhnya di kepala kapal.

Sebagai bangsa yang sudah menaklukkan negeri-negeri dengan kegagahan, bangsa Mongol sangat mengagumi kegagahan. Melihat kepandaian Boe Kie, tanpa terasa mereka kagum. “Kegagahan Thio Kongcoe bagaikan malaikat,” kata Pas-tai. “Hari ini mata Siauwjin mendapat kehormatan untuk sesuatu yang luar biasa.”

Demikianlah, dnegan memperlihatkan kepandaian itu, Boe Kie berhasil menaklukkan anak buah kapal.

Kapal terus menuju ke arah timur dan masuk ke samudra. Selama tiga hari ia tak melihat lain kecuali air yang menyambung dengan langit. Menurut perhitungan Cia Soen kapal-kapal meriam yang dikirim Tio Beng hanya berkeliaran di sepanjang pantai Hok-kian dan Kwi-tang. Sekarang kapal yang ditumpanginya sudah berada di samudra dan takkan bertemu dengan kapal-kapal itu. Maka itu, pada hari kelima ia lalu memerintahkan supaya kapal memutar haluan lagi dan berlayar menuju ke arah utara. Berselang dua puluh hari lebih mereka masuk di wilayah pak hay (Lautan Utara). Cia Soen tersenyum sendirian. Biarpun pintar, Tio Beng takkan bisa menebak di mana adanya kapal itu. Dari pak hay, juru mudi diperintah lagi untuk memutar haluan ke arah barat, dengan tujuan Tiong-goan. Selama kurang lebih sebulan, Cia Soen bertiga hanya makan makanan yang dibawa mereka atau ikan yang ditangkap dari lautan. Mereka tak berani makan makanan kapal.

Pada suatu lohor, sayup-sayup mereka lihat bayangan daratan. Sesudah berada di lautan dalam waktu lama, tentara Mongol girang dan ia bersorak sorai. Di waktu magrib, kapal sudah berlabuh di pinggir pantai. Daerah pantai memang satu-satunya daerah yang merupakan gunung dan airnya dalam, sehingga kapal bisa menepi sampai menempel dengan daratan. “Boe Kie,” kata Cia Soen, “Coba kau selidiki di mana kita sekarang berada.” Boe Kie mengiyakan dan lantas melompat ke daratan.

Apa yang ditemui Boe Kie hanyalah hutan. Salju baru saja melumer dan jalanan sangat licin. Makin jauh ia maju, makin besar pohon-pohon yang ditemuinya. Ia memanjat sebuah pohon yang tinggi dan memandang ke sekitarnya. Ia ternyata berada di tengah-tengah sebuah hutan yang sangat besar. Sedikitpun tidak terdapat tanda-tanda bahwa di hutan itu ada musuhnya.

Ia segera turun dari pohon dan mengambil keputusan untuk kembali ke kapal guna berdamai dengan ayah angkatnya. Sebelum tiba, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan yang menyayat hati. Ia terkesiap dan berlari-lari dengan menggunakan ilmu meringankan badan. Setibanya di kapal, ia melihat mayat-mayat yang menggeletak di kapal, antaranya mayat pas-tai sendiri. Ia girang karena ayah angkatnya dan tunangannya tak kurang suatu apa. Mereka berdiri dengan tenang di kepala kapal dan di situ tidak terdapat manusia lain.

“Giehoe! Cie Jiak!” serunya. “Ke mana perginya musuh?”
“Musuh apa?” Cia Soen balas bertanya.
“Apa kau bertemu dengan musuh?”
“Tidak. Tapi tentara Mongol ini…”
“Dibunuh olehku dan Cie Jiak!”
Boe Kie terkesiap, “Tak disangka, begitu tiba di Tiong-goan, mereka mencoba mencelakai kita,” katanya.

“Tidak, mereka tak mencoba mencelakai kita. Aku membunuh mereka untuk menutup mulutnya. Sesudah mereka mati, Tio Beng tak akan tahu bahwa kita sudah kembali ke Tiong-goan. Mulai dari sekarang, dia berada di tempat terang dan kita di tempat gelap, sehingga usaha untuk membalaskan sakit hati akan lebih gampang tercapai.”

Boe Kie tertegun. Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata dan hanya menatap wajah ayah angkatnya dengan mata membelalak.

“Apa? Kau anggap aku terlalu kejam?” tanya Cia Soen. “Tentara Tat coe adalah musuh-musuh kita. Apa kau mau memperlakukan mereka dengan menggunakan hati Po sat (balas kasih)?”

Boe Kie membungkam terus. Di dalam hati, ia berduka. Orang-orang itu tidak berdosa dan sikap mereka sangat baik. Biarpun musuh, ia merasa tak tega untuk membunuh mereka.

Melihat paras muka anak angkat Cia Soe berkata, “Boe Kie, kau harus bisa mengeraskan hati. Terhadap musuh, kalau kita tidak turun tangan lebih dulu, kitalah yang menjadi korban. Tio Beng sangat jahat. Terhadap manusia begitu, kita harus menghadapinya dengan tindakan yang tegas, tanpa sungkan-sungkan lagi.”

Boe Kie tidak berani membantah perkataan ayah angkatnya. Ia mengangguk dan berkata dengan suara parau, “Giehoe benar.”

“Boe Kie, bakarlah kapal ini,” perintah Cia Soen. “Cie Jiak, geledah saku-saku semua mayat. Ambil semua barang yang berharga. Ambil tiga senjata yang paling baik untuk kita.”

Perintah itu segera dijalankan. Semua mayat terbakar bersama kapal yang kemudian tenggelam di laut. Dengan demikian, kembalinya Cia Soen bertiga tidak meninggalkan tanda apapun juga. Diam-diam Boe Kie merasa kagum terhadap ayah angkatnya. Walaupun kejam, ayah angkat itu adalah seorang Kang ouw yang berpengalaman.

Malam itu mereka tidur di pinggir laut dan pada keesokan paginya meneruskan perjalanan ke selatan. Pada hari kedua sesudah melintasi hutan, mereka bertemu dengan tujuh orang yang mencari obat-obatan sejenis “som”. Ternyata mereka sekarang berada di daerah yang berdekatan dengan gunung Tiang pek san.

Sesudah berpisah dengan ketujuh orang itu, Cie Jiak bertanya, “Giehoe, apa kita tak perlu bunuh orang-orang itu?”

“Cie Jiak, tutup mulutmu!” bentak Boe Kie, “Mereka tak tahu siapa kita. Apa kau mau bunuh semua manusia yang kita temui?”
Paras muka si nona berubah merah. Semenjak bertemu, Boe Kie belum pernah mengeluarkan kata-kata begitu keras terhadapnya.

“Kalau ikut kata hatiku, aku memang ingin bunuh mereka,” kata Cia Soen, “Tapi Kauwcoe kita tidak mau membunuh lebih banyak manusia. Sekarang kita harus menukar pakaian dan menyamar supaya tidak dikenali orang.”

Sesudah berjalan dua hari, mereka bertemu dengna sebuah rumah petani. Boe Kie mengeluarkan perak dan minta beli pakaian. Tapi petani itu sangat miskin dan hanya mempunyai selembar baju kulit kambing yang bisa dijual. Sesudah mereka mengunjungi kira-kira tujuh delapan rumah, barulah Boe Kie berhasil membeli tiga perangkat pakaian tua yang kusam. Cie Jiak yang biasa dengan kebersihan hampir-hampir muntah waktu mengendus bau tak enak dari pakaian itu. Tapi Cia Soen merasa girang. Sesudah mengenakan pakaian-pakaian itu dan memoles muka mereka dengan Lumpur, mereka kelihatannya seperti pengemis Lieon tong. Boe Kie yakin bahwa biarpun berhadapan, Tio Beng tak akan bisa mengenalinya.

Mereka terus berjalan ke arah selatan. Pada suatu hari, mereka tiba di sebuah kota yang harus dilewati jika orang mau masuk ke Kwan-lwee. Cia Soen bertiga pergi ke sebuah rumah makan yang paling besar. Boe Kie mengeluarkan sepotong perak yang beratnya sepuluh tail dan berkata kepada pengurus restoran, “Kau pegang ini. Sesudah kami selesai makan, hitunglah.” Ia memberi uang lebih dulu sebab kuatir ditolak karena pakaian mereka compang-camping.

Tapi sambutannya sangat luar biasa. Pengurus itu bangun berdiri dan dengan sikap hormat memulangkan uang. “Kami sudah merasa beruntung bahwa kalian sudi mampir di rumah makan kami yang kecil ini. Apa artinya semangkok dua mangkok sayur? Kali ini biarlah kami yang menjamu kalian.”

Boe Kie merasa sangat heran. Sesudah mengambil tempat duduk ia berbisik kepada Cie Jiak, “Aku heran. Mengapa dia tak mau menerima uang? Apa penyamaran kita tidak sempurna dan dikenali orang?”

Cie Jiak mengawasi Cia Soen dan Boe Kie, tidak, penyamaran mereka dapat dikatakan tidak ada cacatnya.

“Nada suara pengurus itu nada ketakutan,” kata Cia Soen, “Kita harus berhati-hati.”

Tiba-tiba di bawah tangga loteng terdengar suara langkah kaki ramai-ramai dan tujuh orang naik ke atas, mereka semua pengemis! Lagak pengemis-pengemis itu sangat keren da mereka duduk seperti tuan-tuan besar. Pelayan menyambut dengan sikap sangat hormat dan memanggil mereka dengan istilah “ya” (padaku tuan), seolah-olah mereka orang-orang berpangkat tinggi.

Boe Kie segera saja mengetahui bahwa mereka itu murid-murid Kay pang yang berkedudukan agak tinggi, sebab mereka membawa lima atau enam lembar karung. Beberapa saat kemudian datang lagi lima enam pengemis, disusul dengan rombongan-rombongan lain sehingga jumlah mereka melebihi tiga puluh orang. Diantara mereka terdapat tiga orang yang membawa tujuh lembar karung.

Boe Kie mendusin. Kay pang mau mengadakan perhimpunan dan si pengurus rumah makan menganggap mereka sebagai anggota-anggota partai tersebut. “Giehoe,” bisik Boe Kie, “Sebaiknya kita berlalu saja supaya tidak terjadi kejadian yang tak enak. Dilihat seluruhnya, orang-orang Kay pang yang datang ke sini jumlahnya sangat besar.”

Selagi Boe Kie bicara, seorang pelayan datang dengan membawa sepiring daging sapi, ayam rebus dan lima kali arak putih.

Sudah lebih dua bulan Cia Soen belum pernah makan kenyang dan sekarang ia sedang lapar. Begitu hidungnya mengendus wanginya daging, tangannya bergerak. “Makan dulu,” katanya. “Halangan apa kalau kita makan tanpa memperdulikan urusan orang?” Seraya berkata begitu, ia menuang arak di mangkok dan lalu meneguknya dengan bernapsu. Dua puluh tahun lebih ia tak pernah mencicipi arak, baginya arak putih yang keras dan pedas itu seolah-olah arak yang paling baik. Dengan dua kali teguk, semangkok besar sudah menjadi kering.

Tiba-tiba ia menaruh mangkok di meja dan berbisik, “Hati-hati! Dua orang yang kepandaian tinggi naik ke sini.”

Boe Kie pun sudah mendengar langkah di tangga loteng. Langkah kaki kiri orang yang berjalan di depan sangat berat, langkah kaki kanannya sangat ringan, sedang yang berjalan di belakang pun begitu juga, langkah sebelah ringan, sebelah yang lain berat. Tak bisa salah lagi, mereka mempunyai kepandaian luar biasa. Begitu mereka muncul, semua pengemis serentak bangun berdiri. Cia Soen bertiga juga turut bangkit. Untung juga mereka duduk di sudut yang jauh sehingga tidak menyolok mata.

Orang yang pertama bertubuh sedang, tampan dan berjenggot. Kecuali pakaiannya, pada keseluruhannya ia seperti seorang siaucay yang tak lulus ujian. Yang jalan belakangan keren sekali. Di mukanya menonjol otot-otot, brewoknya seperti kawat, parasnya galak dan kulitnya hitam sehingga melihat dia, orang segera ingat Cioe Cong (panglima di jaman Sam kok yang selalu berdiri di samping Kwan kong). Keduanya berusia lima puluh tahun lebih dan masing-masing menggendong selembar karung kecil yang tidak bisa dimuatkan suatu apa dan hanya digunakan untuk menunjuk kedudukan mereka di dalam partai pengemis.

Boe Kie menghela napas. Ia ingat bahwa seratus tahun yang lalu, Kay pang mempunyai nama yang sangat harum. Dari Tay soehoenya ia tahu bahwa dulu sebagai seorang pangcu, Ang Cit Kong yang berkepandaian sangat tinggi telah mengabdi kepada rakyat dan selalu bersedia untuk menolong sesame manusia sehingga dia dihormati oleh semua kalangan dalam Rimba Persilatan. Belakangan Oey Pangcoe (Oey Yong) dan Yehlu Pangcoe juga merupakan pemimpin-pemimpin yang sangat baik. Di luar dugaan selama beberapa puluh tahun, Kay pang banyak berubah. Soe Hwee Liong, Pangcoe yang sekarang belum pernah muncul dalam kalangan Kang ouw. Dengan membawa sembilan karung, kedua orang itu berkedudukan sangat tinggi hanya di bawah Pangcoe sendiri. “Apakah mereka yang menyuruh orang datang di Leng coa to untuk merampas To liong to?” tanya Boe Kie di dalam hati.

Sejak beberapa puluh tahun yang lampau yaitu dari Seng hwee leng dirampas oleh Kay pang, hubungan Beng-kauw dan Partai Pengemis bagaikan air dan api. Dalam usaha untuk merebut kembali tanda kekuasaan agama itu, beberapa kali orang Beng-kauw bertempur hebat dengan orang-orang Kay pang. Sebab Beng-kauw dipandang sebagai agama sesat, maka dalam setiap pertempuran banyak orang Rimba Persilatan membantu Kay pang dan Beng-kauw selalu menderita kekalahan.

Sekarang biarpun Tio liong to dan Ie thian kiam dicuri Tio Beng, untung juga keenam Seng hwee leng tidak turut dicuri. Mungkin sekali karena takut terhadap kepandaian Boe Kie yang sangat tinggi maka Tio Beng tidak berani merogoh saku pemuda itu. Melihat jumlah orang Kay pang yang sangat besar, Boe Kie tidak berani memandang rendah. Ia segera merogoh saku untuk memastikan bahwa Seng hwee leng masih berada di dalamnya.

Kedua Tiang-loo sembilan karung itu segera duduk pada sebuah meja besar yang terletak di tengah-tengah. Tiang-loo yang bermuka seperti Cioe Cong lalu mengeluarkan sebatang tongkat bambu yang panjangnya kira-kira empat kaki dalam karung dan menaruhnya di atas meja. Sebagian murid-murid Kay pang segera berlutut. “Murid-murid Ouw-ie-pay menghadap Ciang-pang Liong-tauw!” seru dia (Ciang-pang Liong-tauw – Pemimpin yang memegang tongkat kekuasaan).

Sebab Kay pang musuh Beng-kauw maka sesudah menjadi Kauwcoe, Boe Kie lalu mencari tahu seluk-beluk partai pengemis. Ia tahu bahwa sejak dulu Kay pang terbagi dalam dua golongan, yaitu golongan Ouw-ie-pay (Golongan baju kotor) dan Ceng-ie-pay (Golongan baju bersih). Melihat semua pengemis yang berlutut berpakaian kusam, ia mengerti bahwa Ciang-pang Liong-tauw adalah pemimpin Ouw-ie-pay.

Sesaat kemudian, Tiong-loo yang seperti sioecay mengeluarkan sebuah mangkok yang mulutnya somplak dari dalam karung dan menaruhnya di atas meja. Sisa pengemis yang mengenakan pakaian bersih segera saja menekuk lutut. “Murid-murid Ceng-ie-pay menghadap Ciang-poen!” teriak mereka (Ciang-poen Liong-tauw – Pemimpin yang memegang mangkok kekuasaan).

Kedua pemimpin itu mengangkat tangan mereka dan berkata, “Duduklah!” Semua pengemis bangkit dan duduk di kursi masing-masing.

Boe Kie baru menarik napas lega. Menyambut kedua Tiang-loo itu dengan berdiri masih tidak apa-apa. Tapi sebagai Kauwcoe dari Beng-kauw, biar bagaimanapun juga ia tidak boleh berlutut di hadapan pemimpin Kay pang. Untung juga karena mereka duduk di sudut yang paling jauh dan mata kedua Tiang-loo it uterus mengawasi langit-langit tanpa memperhatikan orang-orang yang berlutut, maka tak ada orang yang lihat bahwa Cia Soen bertiga tidak ikut berlutut.

Pengemis-pengemis itu segera makan minum seperti orang kelaparan. Mereka main rebut, berteriak-teriak dan tertawa-tawa. Cia Soen berwaspada, memasang kuping dan mata. Di luar dugaan dalam perjamuan itu tak terjadi kejadian luar biasa dan tak terdengar sesuatu yang penting. Sesudah kedua Liong-tauw selesai bersantap dan turun ke bawah, pengemis-pengemis yang lain pun ikut bubar.

Sesudah semua pengemis meninggalkan loteng, Cia Soen berbisik, “Boe Kie, bagaimana pendapatmu?”

“Tak mungkin mereka berkumpul di sini hanya untuk makan minum,” jawabnya. “Anak rasa, mereka akan berkumpul lagi di tempat lain, di tempat yang sepi untuk membicarakan soal penting yang menjadi tujuan mereka.”

Cia Soen mengangguk. “Akupun berpendapat begitu,” katanya. “Kay pang adalah musuh kita, sesudah bertemu kita harus menyelidiki dengna jelas maksud pertemuan mereka. Aku kuatir kalu mereka mau mengatur siasat untuk mencelakai Beng-kauw.”

Mereka turun dan mencoba membayar uang makanan tapi ditolak keras oleh pengurus rumah makan. “Giehoe, kau lihatlah,” kata Boe Kie. “Rumah makan takut menerima uang, dari sini dapatlah diketahui bahwa Kay pang sering melakukan perbuatan sewenang-wenang.”

Mereka segera mencari sebuah rumah penginapan kecil di tempat yang agak sepi. Menurut kebiasaan, murid-murid partai pengemis tak pernah menginap di hotel sehingga Cia Soen tak usah kuatir akan bertemu dengan rombongan musuh.

“Boe Kie, mataku buta dan tak bisa ikut menyelidiki,” kata Cia Soen. “Kepandaian Cie Jiak belum cukup, biarpun ikut ia takkan bisa membantu kau. Sebaiknya kau pergi sendiri saja.”

Boe Kie mengangguk. Sesudah mengaso sebentar, ia lalu keluar seorang diri. Dari selatan ia berjalan ke utara, tapi sesudah berjalan beberapa lama, seorang pengemis pun tak ditemui olehnya.

“Ke mana mereka pergi?” tanya Boe Kie di dalam hati. Sebab baru berpisah kira-kira setengah jam, ia percaya rombongan pengemis itu belum pergi jauh dan ia akan bisa mencarinya.

Ia lalu pergi ke sebuah warung kelontong. Sambil menepuk meja dengan mata melotot ia membentak, “Hei! Ke mana perginya saudara-saudaraku?”

Melihat sikap yang galak, orang-orang di warung itu jadi ketakutan. Salah seorang yang bernyali lebih besar menghampiri dan sambil menuding ke utara ia berkata, “Kawan-kawan Toaya (tuan) menuju ke sana. Apa Toaya mau minum teh?”

“Tidak. Aku tak sudi minum segala teh bau,” bentak Boe Kie yang lalu berjalan keluar dengan langkah lebar. Dalam hati ia tertawa geli.

Baru saja ia melewati perbatasan kota, dari gombolan rumput tinggi mendadak melompat keluar seorang pengemis yang dilihatnya dari gerakannya mau mencegahnya. Dengan cepat ia melompat sambil mengempos semangat. Bagaikan anak panah, badannya berkelabat melewati si pencegat. Pengemis itu mengucek matanya. Ia merasa heran. Apa ia salah lihat? Ke mana perginya manusia yang tadi kelihatan mendatangi?

Mulai dari situ, sepanjang jalan di jaga keras. Boe Kie segera mengeluarkan ilmu meringankan badan. Dengan matanya yang sangat jeli, ia bisa lihat penjaga-penjaga yang di tempatkan di antara rumput-rumput tinggi, di belakang pohon atau di belakang batu besar. Sebaliknya daripada jadi halangan, orang-orang itu merupakan penunjuk jalan. Sesudah berlari-lari empat lima li penjagaan makin rapat. Kepandaian orang-orang itu kalah jauh dari Boe Kie tapi meloloskan diri dari mata mereka di tengah hari benar-benar bukan pekerjaan kecil, arah satu kelenteng di lereng gunung ia menduga bahwa perhimpunan Kay pang akan dilansungkan di rumah berhala itu.

Setibanya di situ, ia lihat papan nama yang tertulis “Bie lek Sin bio Kelenteng bie lek hoat”. Kelenteng itu besar, indah dan angker, “Dengan memilih tempat di sini, pertemuan mungkin akan dihadiri oleh banyak tokoh-tokoh penting,” pikirnya. “Kalau aku membaurkan diri di antara mereka, mereka mungkin sadar.” Ia lalu mengamat-amati keadaan di sekitarnya. Di dalam pekarangan sebelah kiri di depan toa tian (ruangan besar) terdapat sebuah pohon siong tua, sedang di sebelah kanannya berdiri pohon pak. Kedua pohon itu rindang daunnya, besar dan tinggi, lebih tinggi banyak dari atap toa tian. Ia segera pergi ke belakang kelenteng dan melompat ke atas genteng. Dengan merunduk, ia mengayun dan sekali melompat ia sudah berada di pohon siong. Sambil memeluk sebatang cabang besar ia melongok ke bawah dan ia bersorak di dalam hati, sebab dari situ ia bisa memandang ke seluruh toa tian.

Lantai Tay hiong Po tian ternyata sudah penuh dengan pengemis yang berjumlah kira-kira tiga ratus orang. Mereka semua menghadap ke dalam sehingga melompatnya Boe Kie ke pohon tak dilihat mereka. Dalam ruangan itu terdapat lima lembar tikar yang masih kosong. Rupa-rupanya kelima pemimpin masih ditunggu kedatangannya. Apa yang sangat menyolok adalah kesunyian di ruangan itu. Ratusan pengemis duduk dengan tegak tanpa mengeluarkan sepatah kata. Dalam hati Boe Kie memuji. Walaupun derajat Kay pang sudah banyak merosot dan meskipun di waktu biasa kawanan pengemis itu sering menunjukkan sikap tak pantas pada tata tertib partai.

Di tengah-tengah Tay hiong Po tian duduk patung Bie lek hoed dengan perut yang gendut, mulut tertawa lebar dan paras muka yang sangat ramah.

Selagi Boe Kie memperhatikan semua itu tiba-tiba terdengar teriakan seseorang. “Ciang-poen Liong-tauw tiba!”

Semua pengemis serentak berdiri tegak dan menundukkan kepala. Dengan tangan memegang sebuah mangkok somplak, Ciang-poen Liong-tauw melangkah keluar dan lalu berdiri di sebelah kanan.

“Ciang-pang Liong-tauw!” orang itu berteriak pula.

Tiang-loo yang mukanya seperti Cioe Cong muncul dengan kedua tangan menyangga tongkat bambunya yang berkilauan. Ia berjalan dengan langkah lebar dan lalu berdiri di sebelah kiri.

Sesudah itu terdengar teriakan ketiga, “Cie-hoat Tiang-loo!” (Tetua yang memegang undang-undang)

Seorang pengemis tua yang bertubuh kurus dan memegang sebatang belahan bambu pecah, masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang sangat enteng. “Ilmu ringan badan orang itu cukup hebat,” piker Boe Kie. “Kira-kira standing dengan po-tay Hweeshio dan hanya beda setingkat dari Wie Hok-ong.”

Teriakan keempat segera menyusul, “Coan-kang Tiang-loo!” (Tetua yang menurunkan ilmu)

Yang keluar kini seorang kakek yang berambut dan berjenggot putih. Paras mukanya aneh seperti tertawa tapi bukan tertawa. Seperti menangis bukan menangis. Ia bertangan kosong dan langkahnya tidak memperlihatkan tinggi rendah kepandaiannya.

Keempat orang itu lalu memindahkan empat lembar tikar ke sebelah bawah dari tikar yang di tengah dan kemudian sambil membungkuk mereka berseru, “Kami mengundang Pangcoe!”

Boe Kie terkejut, Pangcoe dari Partai Pengemis yang bernama Soe Hwee Liong dan bergelar Kim gin ciang (Tangan emas dan perak) jarang sekali muncul dalam Rimba Persilatan. Hadirnya pemimpin itu membuktikan betapa pentingnya pertemuan yang sedang berlangsung.

Semua pengemis turut membungkuk dengan sikap hormat. Tak lama kemudian di belakang terdengar suara langkah dan keluarlah seorang pria bertubuh tinggi besar. Gerak gerik orang itu yang mukanya bersinar merah seolah-olah orang itu berpangkat atau hartawan besar dan pakaiannya biarpun tidak mewah sedikitnya bukan pakaian pengemis. Dengan tangan kanan memegang tiat-tan (peluru besi yang digunakan sebagai senjata), ia melangkah masuk dengan langkah lebar.

“Murid-murid Kay pang memberi hormat kepada Pangcoe!” teriak para pengemis.

Soe Hwee Liong mengibaskan tangannya, “Cukuplah!” katanya. Sehabis berkata begitu, dia segera duduk di tikar yang terletak di tengah-tengah dan semua pengemis pun segera ikut duduk.

“Lim Heng-too,” kata Soe Hwee Liong kepada Ciang-poen Liong-tauw, “Cobalah ceritakan soal Kim mo Say ong dan To liong to.”

Jantung Boe Kie memukul keras dan ia segera memasang kuping dengan penuh perhatian.

Ciang-poen Liong-tauw bangun berdiri dan sesudah membungkuk ke arah Pangcoe, ia berkata dengan suara nyaring. “Saudara-saudara, sebagaimana kalian tahu partai kita dan Mo kauw sudah bermusuhan selama kurang lebih enam puluh tahun. Semenjak Seng hwee leng jatuh ke dalam tangan kita, mereka terus berada di bawah angin. Belum lama berselang, Mo kauw telah mengangkat seorang Kauwcoe baru yang bernama Thio Boe Kie. Anggota-anggota kita yang turut serta dalam pengepungan Kong ben teng pernah bertemu dengan si Kauwcoe itu. Dia seorang bocah yang masih bau susu dan mana bisa dia melawan Soe Pangcoe kita yang berkepandaian sangat tinggi?” Kata-kata itu disambut dengan tepuk tangan dan sorak-sorai, sedang Soe Hwee Liong sendiri tersenyum-senyum dengan muka bersinar terang.

Sesudah sorak-sorai mereda, Ciang-poen Liong-tauw berkata pula, “Tapi ada sesuatu yang harus diketahui kalian. Selama puluhan tahun Mo kauw terpecah belah. Sesudah pengangkatan Kauwcoe baru itu, keadaan tersebut segera berubah dan perubahan ini merupakan penyakit di dalam perut bagi golongan kita.”

“Selama setahun ini, kawanan siluman telah memberontak di berbagai tempat. Han San Tong dan Coe Goan Ciang bergerak di daerah Hway-see sedang di wilayah Ouw lam dan Ouw pak, Cie Sioe Hwee telah mendapat kemenangan dalam beberapa pertempuran dan telah menduduki banyak tempat penting. Kalau mereka berhasil mengusir Tat coe dan mereka pulang ke negara, maka beberapa puluh laksa saudara-saudara kita akan mati tanpa kuburan.”

Kawanan pengemis itu segera berteriak-teriak, “Mereka tidak boleh berhasil! Mereka harus ditumpas!”

“Kita bersumpah untuk hajar Mo kauw habis-habisan!”

“Kalau Mo kauw berhasil, kita musnahkan!”

Dilain pihak Boe Kie yang bersembunyi di pohon berkata di dalam hati, “Tidak disangka selama aku berada di luar lautan beberapa bulan saudara-saudara sudah mendapat hasil begitu besar. Kekuatiran Kay pang memang dapat dimengerti, jumlah mereka sangat besar dan apabila mereka dapat diajak kerjasama, usaha mengusit Tat coe akan berjalan lebih lancer. Tapi bagaimana? Bagaimana aku harus berbuat untuk mengubah permusuhan menjadi persahabatan?”

Sementara itu Ciang-poen Liong-tauw melanjutkan pembicaraannya. “Kalian tahu bahwa Soe Pangcoe biasanya hidup menyendiri di Cwee siauw San chung (Perkampungan meniup seruling) dan sudah lama tidak pernah menginjakdunia Kang ouw. Tapi dalam menghadapi urusan besar ini, ia tidak bisa tidak turun tangan sendiri. Syukur seribu syukur, Thian memayungi kita, Pat-tay Tiang-loo (Tetua delapan karung) Tan Yoe Liang telah bersahabat dengan seorang murid Boe tong dan telah mendapatkan sebuah berita yang sangat penting.” Ia menengadah dan berteriak, “Tan Tiang-loo! Ajaklah Song Siauw hiap masuk ke dalam sini untuk berkenalan dengan saudara-saudara kita!”

“Baiklah!” kata seorang di belakang tembok. Sesaat kemudian dua orang masuk dengan berpegangan tangan. Yang satu ialah Tan Yoe Liang, yang lain seorang pemuda tampan yang baru berusia dua puluh tahun lebih dan di pinggangnya tergantung sebatang pedang.

Boe Kie terkesiap, sebab pemuda itu adalah Song Ceng Soe, putra Song Wan Kiauw.

Setibanya di tengah ruangan mereka lalu menjalankan adat kepada Soe Hwee Liong, lalu menyoja keempat ketua dan akhirnya memberi hormat kepada pengemis yang lain dan merangkap kedua tangan.

“Tan Tiang-loo,” kata Ciang-poen Liong-tauw, “Cobalah tuturkan apa yang diketahui olehmu.”

“Saudara-saudara,” kata Tan Yoe Liang seraya memegang tangan Song Ceng Soe, “Kita sangat mujur bahwa kita telah mendapat bantuan Song Siauw hiap. Song Wan Kiauw, Song Tay hiap dari Boe tong pay. Dikemudian hari, Ciangboen Boe tong pay sudah pasti akan jatuh ke dalam tangannya.”

“Thio Boe Kie, Kauwcoe dari Mo kauw pada hakikatnya adalah adik seperguruan Song siauw hiap, tahu jelas seluk beluk keadaan dalam kalangan Mo kauw. Beberapa bulan yang lalu Song siauw hiap telah memberitahukan aku bahwa siluman besa Kim mo Say ong sudah datang di Leng coa to di wilayah Teng hay (Lautan Timur).”

“Tapi bagaimana Song Siauw hiap bisa tahu hal itu?” Tanya Cie hoat Tiang-loo. “Selama beberapa puluhn tahun orang-orang rimba persilatan berusaha untuk mencari Kim mo Say ong, tapi usaha ini sia-sia.”

Sejak pertemuan di Leng coa to di dalam hati Boe Kie juga muncul satu pertanyaan yang belum terjawab. Kedatangan Cia Soen di Leng coa to ditutup rapat-rapat. Bagaimana Kay pang mengetahuinya? Maka itu pertanyaan tiba-tiba Cie hoat Tiang-loo lebih menarik perhatian Boe Kie.

“Berkat rejeki Pangcoe, hal itu terjadi secara sangat kebetulan,” jawab Tan Yoe Liang. “Di Tang-hay hidup seorang nenek yang dikenal sebagai Kim ho Po po dan entah bagaimana ia tahu tempat sembunyinya Cia Soen. Nenek itu yang hidup di pantai laut memiliki pengetahuan mendalam ilmu pelayaran dan akhirnya berhasil mencari Cia Soen di sebuah pulau di Kutub Utara. Ia pun berhasil membawa Kim mo Say ong ke pulau Leng coa to, memenjarakan sepasang suami-istri yaitu Wie Pek dan Boe Ceng Eng, ahli waris partai persilatan di negeri Toa lie. Waktu Kim hoa Po po pergi ke Tiong-goan, mereka mendapat kesempatan untuk membunuh penjaga-penjaga dan melarikan diri. Di Shoa tang mereka menemui bahaya dan pada saat yang tepat secara kebetulan ia ditolong oleh Song Siauw hiap. Dalam pembicaraan mereka membuka rahasia dan inilah sebabnya mengapa Song Siauw hiap tahu kedatangan Cia Soen di Leng coa to.”

Cie hoat Tiang-loo manggut-manggutkan kepalanya.

Boe Kie menghela napas, “Manusia tak bisa melawan maunya Thian,” pikirnya.

“Wie Pek dan Boe Ceng Eng bukan manusia baik-baik. Dengan tipu busuk mereka mengorek rahasia dari mulutku. Lantaran itu, barulah Cie san Liong ong tahu tempat kediaman Giehoe. Pada jaman ini kepandaian Kim hoa Po po dalam ilmu pelayaran jarang ada tandingannya. Kalau bukan dia yang turun tangan, siapa lagi yang bisa mencari Giehoe di Peng hwee to, andaikata kedua orang tuaku masih hidup, belum tentu mereka bisa mengarungi samudra dan tiba di Peng hwee to dengan selamat. Dari sini dapat dilihat bahwa manusia tidak bisa menentang kemauan Thian.”

Sesudah berdiam sejenak, Tan Yoe Liang berkata lagi, “Aku dan Song Siauw hiap mempunyai ikatan mati hidup bersama-sama (persaudaraan). Sesudah mendapat berita itu, Kie Tiang-loo, The Tiang-loo dan lima murid tujuh karung, aku pergi ke Leng coa to dengan tujuan membekuk Cia Soen dan merampas To liong to untuk dipersembahkan kepada Pangcoe. Apa mau kata, rombongan Mo kauw yang berjumlah besar mendadak tiba di situ. Kami semua bertempur mati-matian tapi jumlah kami yang kecil tak bisa melawan jumlah mereka yang besar. Akhirnya Kie Tiang-loo dan empat murid tujuh karung gugur dalam pertempuran. Tentang jalannya pertempuran, aku minta The Tiang-loo yang melaporkan kepada Pangcoe.”

The Tiang-loo yang lengan kanannya buntung segera bangun berdiri dan menceritakan pertempuran di Leng coa to itu. Tapi cerita-ceritanya dusta. Ia mengatakan bahwa rombongan Beng kauw yang berjumlah besar mengepung Kay pang yang berjumlah kecil tapi terus melawan dengan nekad sehingga lima diantaranya mengorbankan jiwa. Akhirnya dengan bernapsu ia menceritakan tentang kesaktian Tan Yoe Liang dalam usaha menolong jiwanya sehingga Cia Soen dipengaruhi oleh kegagalan itu dan tidak berani turun tangan lagi.

Para pengemis bersorak-sorai memuji manusia-manusia licik itu.

“Tan Heng tee bukan saja pintar dan gagah tapi juga mempunyai gie-knie (rasa persahabatan) yang sangat tebal,” kata Coan kang Tiang-loo.

Tan Yoe Liang membungkuk. “Berkat ajaran Pangcoe dan Tiang-loo Koko, aku dapat memahami kewajiban-kewajiban partai,” katanya. “Demi kepentingan kita, biarpun mati masuk ke dalam lautan api, aku takkan menolak. Apa yang aku perbuat tidak berarti dan tidak cukup berharga untuk mendapat pujian yang begitu tinggi dari The Tiang-loo. Pujian itu sungguh membuat aku merasa sangat malu.”

Mendengar kata-kata merendah itu, rasa kagum para pengemis jadi lebih besar.

Makin lama Boe Kie jadi makin dongkol. Manusia tak mengenal malu itu yang terang-terangan mau menjual sahabat guna menolong jiwanya sekarang dianggap sebagai ksatria yang tebal rasa persahabatannya. Tapi dia memang telah menjalankan siasat secara pandai. Bahkan The Tiang-loo sendiri sudah dikelabui olehnya. Mengingat begitu Boe Kie berkata di dalam hati, “Tan Yoe Liang benar-benar seorang kan hiong (orang gagah yang jahat). Bukan saja Giehoe, malah akupun sudah kena tipu. Hanya Tio Kauwnio yang tidak dapat diakali. Hai!…Tio Kauwnio sungguh pintar…sayang hatinya kejam…”

Sementara itu Cie hoat Tiang-loo bangun berdiri, “Banyak sekalio saudara kita telah dibinasakan oleh kawanan iblis,” katanya dengan suara dingin. “Apa kita boleh menyudahi saja sakit hati itu?”

Para pengemis segera berteriak-teriak.

“Sakit hatinya Kie Tiang-loo harus dibalas.”

“Ratakan Kong beng teng!”

“Bunuh Thio Boe Kie! Mampuskan Cia Soen!” dan sebagainya.

Sesudah teriakan-teriakan mereda, Cie hoat Tiang-loo berpaling kepada Soe Hwee Liong dan berkata, “Lapor kepada Pangcoe bahwa murid-murid partai kita merasa sangat penasaran dan kami mohon petunjuk Pangcoe dalam usaha membalas sakit hati.”

Alis Soe Hwee Liong berkerut. “Hm…memang soal ini soal besar dari partai kita,” katanya. “Hm…kita harus berdamai dengan otak dingin. Coba kau perintahkan supaya semua murid tujuh karung ke bawah meninggalkan ruangan ini untuk sementara waktu agar kita bisa berunding dengan tenang.”

Cie hoat Tiang-loo mengangguk dan sambil berpaling kepada para pengemis, ia membentak. “Dengarlah! Semua orang dari murid tujuh karung ke bawah diminta meninggalkan ruangan ini untuk sementara waktu dan menunggu diluar kelenteng.”

Para pengemis segera mengiyakan dan sesudah membungkuk ke arah Soe Hwee Liong, mereka segera berjalan keluar sehingga dalam sekejap ruangan toa tian hanya tertinggal pemimpin-pemimpin Kay pang yang penting.

Tan Yoe Liang maju selangkah dan berkata seraya membungkuk, “Lapor kepada Pangcoe bahwa saudara ini Song Ceng Soe, Seng Heng tee berjasa besar terhadap partai kita. Maka itu aku mohon restu Pangcoe supaya ia diperbolehkan masuk ke dalam partai kita. Seorang yang mempunyai kepribadian dan kedudukan sebagai Song Heng tee dibelakang hari pasti akan dapat melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi partai kita.”

“Tapi…tadi…,” kata Song Ceng Soe dengan suara terganggu. “Hal ini tidak…” Baru saja ia mengucapkan perkataan “tidak”, Tan Yoe Liang sudah mengawasinya dengan sorot mata tajam. Melihat sinar mata yang berabu dan kejam itu, ia menundukkan kepalanya dan tidak membuka suara lagi.

“Bagus,” kata Soe Hwee Liong, “Kami menyambut dengan girang masuknya Song Ceng Soe ke dalam partai kita. Untuk sementara waktu, ia diberi kedudukan murid enam karung dan berada dibawah pimpinan Tiang-loo delapan karung Tan Yoe Liang. Kuharap Song Heng tee suka menaati segala peraturan kita dan bekerja keras demi kepentingan partai. Peraturan kita selalu dijalankan dengan keras, siapa yang berjasa akan dihargai, siapa yang berdosa akan dihukum.”

Kedua mata Song Ceng Soe mengeluarkan sinar sengsara dan dongkol, tapi sebisanya ia menekan perasaannya itu. Ia maju beberapa langkah dan berlutut dihadapan Soe Hwee Liong. “Tee coe (murid) Song Ceng Soe memberi hormat kepada Pangcoe,” katanya. “Terima kasih atas kemurahan Pangcoe yang sudah memberi kedudukan murid enam karung kepada tee coe.” Sesudah itu iapun memberi hormat dengan berlutut kepada semua tiang-loo dan liong-tauw.

“Song Heng tee!” kata Cia hoat Tiang-loo dengna suara angker. “Sesudah menjadi anggota partai, kau terikat dengan semua peraturan. Di hari nanti, andaikata kau menjadi ciang boen dari Boe tong pay, kau tetap harus menaati segala perintah dari pimpinan Kay pang. Apakah kau sudah tahu adanya peraturan ini?”

“Ya,” jawabnya.

“Song Heng tee!” kata Cia hoat pula. “Walaupun tujuannya sama, yaitu sama-sama bertujuan untuk melakukan perbuatan-perbuatan ksatria tapi jalan yang diambil oleh Kay pang dan Boe tong pay berbeda. Mengapa kau rela masuk ke dalam partai kita? Jawablah! Kau harus menjawab dengan sejujur-jujurnya dan sejelas-jelasnya.”

Sebelum menjawab, pemuda itu melirik Tan Yoe Liang, “Tan Tiang-loo melepas budi yang sangat besar terhadap tee coe,” sahutnya. “Tee coe sangat mengakuinya dan rela untuk mengabdi dibawah perintahnya.”

Tan Yoe Liang tertawa. “Disini tak ada orang luar,” katanya. “Song Heng tee, kau boleh bicara secara bebas. Kalau kau merasa tak enak biarlah aku yang menjelaskan. Sesudah Biat coat Soethay meninggal dunia, Ciang boen jin yang baru dari Go bie pay adalah seorang gadis yang sangat cantik. Cioe Cie Jiak namanya. Nona itu dan Song Heng tee adalah kawan dari kecil dan mereka sudah berjanji untuk menjadi suami isteri. Diluar dugaan, Cioe Kauwnio dirampas oleh kepala siluman Thio Boe Kie yang membawanya kabur ke seberang lautan. Dalam gusarnya Song Heng tee meminta bantuanku. Aku segera menyanggupi dan aku bersumpah untuk merebut kembali nona itu.”

Boe Kie merasa dadanya seperti mau meledak, tapi sebisanya ia menahan napas amarahnya.

Soe Hwee Liang tertawa terbahak-bahak. “Kita tidak bisa menyalahkan Song Heng tee, sejak dulu orang gagah memang sukar menolak wanita cantik,” katanya. “Yang satu Ciang boen dari Boe tong pay yang lain Ciang boen Go bie pay. Sungguh kedudukan yang sederajat, muda sama muda!”

“Tapi Song Heng tee dalam menghadapi kejadian itu mengapa kau tidak meminta bantuan Thio Sam Hong Cinjin atau Song Tayhiap?” Tanya Cia hoat Tiang-loo lagi.

“Menurut keterangan Song Heng tee, sekarang Boe tong pay bergandengan tangan dengan Mo kauw,” kata Tan Yoe Liang. “Thio Sam Hong dan ayah Song Heng tee sungkan bentrok dengan agama iblis itu. Pada waktu ini dalam seluruh rimba persilatan hanya partai kita yang bermusuhan dengan Mo kauw dan mempunyai cukup tenaga untuk menghadapi agama siluman itu.”

Cia hoat Tiang-loo manggut-manggut. “Dia itu benar,” katanya. “Sesudah kita memusnahkan Mo kauw dan membinasakan si bocah Boe Kie, keinginan Song Heng tee pasti akan terkabul.”

Mendengar tanya jawab itu Boe Kie segera ingat kejadian di Kong beng teng. Ia ingat sikap Song Ceng Soe yang luar biasa terhadap Cie Jiak dan sekarang ia tahu bahwa putra pamannya telah jatuh cinta kepada tunangannya.

“Tapi dia betul-betul gila!” katanya didalam hati. “Karena seorang wanita dia rela mengkhianati rumah perguruan sendiri bahkan ayah kandungnya sendiri. Cinta Cie Jiak terhadapku adalah cinta yang suci. Biarpun dibantu Kay pang, dia pasti tak akan bisa memaksa Cie Jiak untuk menuruti kemauannya. Hai!…Song Toako sudah mendapat nama dan dipandang sebagai tunas harapan dari Boe tong pay. Bagaimana dia bisa tersesat sampai begitu jauh?” Ia merasa sangat menyesal dan menghela napas berulang-ulang.

Sementara itu, Tan Yoe Liang sudah berkata lagi. “Lapor kepada Pangcoe bahwa didekat kota raja, teecoe telah membekuk salah seorang penting dalam kalangan Mo kauw. Orang ini mempunyai sangkut paut dengan usaha partai kita. Tee coe minta keputusan Pangcoe mengenai orang itu.”
Tan Yoe Liang segera menepuk tangan tiga kali, “Bawa masuk kepala iblis yang ditawan itu,” teriaknya.

Jantung Boe Kie memukul keras. Siapa yang tertangkap?

Hampir bersamaan dari belakang toa tian keluar empat pengemis bersenjata dengan seorang tangkapan yang kedua tangannya terbelenggu. Boe Kie merasa bahwa ia pernah bertemu dengan orang itu yang berusia kira-kira dua puluh tahun di Ouw taip kok, tapi ia lupa namanya. Pemuda itu berjalan masuk dengan paras muka gusar dan waktu melewati Tan Yoe Liang tiba-tiba ia membuka mulut dan menyembur dengan ludahnya. Tan Yoe Liang berkelit dan menggampar pipi kiri orang itu yang segera menjadi bengkak. Salah seorang pengemis yang mengawalnya mendorong dan membentak, “Jangan kurang ajar! Ayo berlutut dihadapan Pangcoe!”

Tapi sebaliknya, pemuda itu kembali menyemburkan riak ke muka Soe Hwee Liong.

Karena jarak mereka sangat dekat dan semburan itu dilakukan dengan tenaga dalam yang cukup hebat, maka walaupun Soe Hwee Liong coba mengelak, riak itu mampir tepat di dahinya. Tan Yoe Liang melompat dan menyapu dengan kakinya sehingga pemuda itu roboh di lantai. “Bangsat! Apa kau sudah bosan hidup?” bentaknya sambil berdiri menghadang di depan Soe Hwee Liong.
“Sesudah jatuh ke dalam tanganmu, tuanmu memang sudah tidak berpikir soal hidup lagi,” jawabnya.

Sesudah Soe Hwee Liong menyusut riak dari dahinya, Tan Yoe Liang segera mundur beberapa langkah dan berkata, “Lapor kepada Pangcoe bahwa bocah itu adalah salah seorang jago yang terhebat dalam kalangan Mo kauw. Ilmu silatnya berada ditempat keempat Hoat ong. Kita tak boleh memandang rendah kepadanya.”

Semula Boe Kie merasa heran tapi ia segera mengerti bahwa Tan Yoe Liang sengaja menunjukkan kepandaian pemuda itu untuk menolong muka sang Pangcoe. Biar bagaimanapun Soe Hwee Liong seorang pemimpin paling tinggi dari Kay pang tidak dapat mengelak dari semburan seorang tangkapan merupakan kejadian yang benar-benar aneh, benar-benar tidak masuk akal. Apalagi sesudah mendapat hinaan yang hebat itu, dia sama sekali tidak menunjukkan kegusaran. Pada paras mukanya bahkan terlihat sinar kebingungan seolah-olah ia merasa takut akan terbukanya suatu rahasia besar.

Boe Kie jadi makin heran. Ia merasa bahwa dalam peristiwa ini pasti terselip suatu latar belakang yang belum diketahuinya.

“Tan Heng tee, siapa tangkapan itu?” tanya Cia hoat Tiang-loo.
“Han Lim Jie, anak Han San Tong,” jawabnya.

Sekarang Boe Kie ingat, ia ingat bahwa dalam pertempuran di Ouw tiap kok, pemuda itu selalu mengikuti dibelakang ayahnya dan jarang berbicara dengan orang lain. Tak heran ia tak ingat lagi namanya.

“Aha! Anak Han San Tong?” tegas Cia hoat dengan suara girang. “Tan Heng tee jasamu sangat besar. Lapor kepada Pangcoe bahwa belakangan ini, Han San Tong berturut-turut telah mengalahkan tentara Goan sehingga namanya disegani orang. Panglima-panglimanya seperti Coe Goan Ciang, Cie Tat dan Siang Gie Coen adalah jago-jago Mo kauw yang paling hebat. Sekarang kita berhasil membekuk bocah itu yang bisa dijadikan semacam sandera. Han San Tong pasti akan jinak dan menuruti segala perintah kita.”

“Binatang! Jangan mimpi kau!” caci Han Lim Jie. “Ayahku seorang gagah sejati. Tak akan Thia thia mau ditekan oleh manusia-manusia tak mengenal malu sepertimu. Thia thiaku mendengar perintahnya satu orang yaitu Thio Kauwcoe kami. Kay pang ingin bertanding melawan Beng kauw kami? Huh! Kamu jangan mimpi di siang bolong. Kamu semua sangat tak tahu diri. Pangcoemu yang semacam itu belum cukup sederajat untuk berendeng dengan sepatu Thio Kauwcoe kami.”

Tan Yoe Liang tak jadi gusar. “Han Heng tee,” katanya. “Kau memuji Thio Kauwcoemu tinggi sekali. Kami semua merasa sangat kagum dan ingin sekali bertemu dengan beliau. Bolehkah kau mengajak kami untuk menemui beliau?”

Han Lim Jie adalah seorang yang jujur dan polos. Ia tak tahu kelicikan Tan Yoe Liang. “Thio Kauwcoe memikul beban yang sangat berat,” jawabnya. “Sekalipun saudara-saudara didalam Beng kauw, tidak sembarangan bertemu muka dengan beliau karena tak punya waktu untuk meladeni manusia-manusia seperti kalian.”

Tan Yoe Liang tertawa dingin. “Omong kosong!” bentaknya mengejek. “Semua orang Kang ouw mengatakan bahwa Thio Boe Kie sudah dibinasakan oleh tentara Goan di kota raja. Hanya kau seorang yang masih bicara besar.”

“Bangsat! Tutup bacotmu!” caci Han Lim Jie. “Tat coe menangkap Kauwcoe kami? Huh huh!…Andaikata dikurung beribu laksa tentara, Thio Kauwcoe kami masih bisa datang dan pergi sesuka hati. Memang benar Thio Kauwcoe pergi ke kota raja. Maksud tujuannya ialah menolong tokoh-tokoh enam partai yang tertangkap musuh. Dibinasakan Tat coe? Huh huh…tutuplah bacotmu!”

Tan Yoe Liang tetap tidak gusar. Ia terus ha ha he he. “Mungkin kau benar,” katanya. “Tapi semua orang Kang ouw mengatakan begitu, aku tidak bisa tidak percaya. Selama setengah tahun terakhir, kita hanya mendengar nama Han San Tong, Cie Ceng Hwe, Goe Goan Ciang, Lauw Hok Thong, Pheng Eng Giok dan sebagainya, tapi nama Thio Boe Kie belum pernah disebut-sebut. Bukankah itu merupakan bukti bahwa bocah she Thio itu benar-benar sudah mampus?”

Paras muka Han Lim Jie berubah merah padam, urat-uratnya menonjol keluar. “Binatang…” teriaknya dengan suara gemetar. “Jangan kau menghina Kauwcoe kami! Suatu hari Kauwcoe akan kembali dari luar lautan dan kamu semua kan mengenal kehebatannya.”

“Oh oh!…Oh begitu?” kata Tan Yoe Liang sambil menyeringai. “Kalau begitu Thio Kauwcoemu menjelajahi lautan. Sekarang kutahu, ia tentu bermaksud untuk menjemput ayah angkatnya, Kim mo Say ong Cia Soen. Bukankah begitu?”

Han Lim Jie terkesiap. Ia tahu bahwa ia sudah dijebak oleh musuh pintar itu.

Sesudah diam sejenak, Tan Yoe Liang berkata pula dengan suara tawar. “Ilmu silat Thio Boe Kie memang boleh juga, Cuma mukanya muka pendek umur. Ada orang menghitung peruntungannya dan dia mengatakan bahwa bocah she Thio ini tidak akan hidup lebih lama dari tahun ini, permulaan…”

Tiba-tiba sebatang cabang pohon pek dipekarangan itu bergoyang, Boe Kie yang kupingnya sangat tajam segera mendengar suara napas manusia di cabang itu. Sesaat kemudian, suara napas itu hilang. Boe Kie tahu bahwa orang itu sudah mengatur jalan pernapasannya. “Dia sudah sembunyi lebih lama dari aku,” pikirnya. “Sudah lama dia berada di situ tapi aku tidak mengetahuinya. Dia pasti memiliki kepandaian yang sangat tinggi.” Sambil berpikir begitu ia mengawasi pohon pek itu.

Diantara cabang dan daun yang rindang ia melihat ujung baju yang berwarna hijau. Orang itu bersembunyi di tempat yang sangat bagus dan warna pakaiannya sama dengna warna daun sehingga kalau Boe Kie tidak mempunyai mata yang luar biasa, ia tak akan bisa melihatnya.

Sementara itu Han Lim Jie sudah membentak dengan penuh kegusaran. “Dusta! Thio Kauwcoe seorang yang berhati murah dan orang baik pasti akan dilindungi langit. Ia masih berusia muda ia pasti bisa hidup seratus tahun.”

Tan Yoe Liang menghela napas. “Tapi kau tahu bahwa didalam dunia sering terjadi kejadian luar biasa dan hati manusia sukar dijajaki,” katanya. “Kudengar diseberang lautan ia kena tipu oleh orang jahat sehingga akhirnya ia dibinasakan oleh kerajaan Goan. Tapi kau tak usah merasa heran. Orang-orang yang pernah melihat wajah Thio Boe Kie sependapat bahwa bocah itu takkan hidup lebih lama dari tiga kali delapan puluh empat tahun…”

Mendadak perkataan Tan Yoe Liang terputus, sebab hampir bersamaan dengan bergoyangnya cabang pohon pek sosok tubuh manusia melayang turun ke bawah. “Thio Boe Kie disini!” bentak orang itu. “Siapa kata aku sudah mati?” Seraya membentak begitu ia melompat masuk dan berdiri di tengah-tengah toa tian.

Ciang pang Tiang-loo memapakinya dengan jambretan ke arah leher. Dengan gerakan yang sangat indah, orang itu berkelit. Ia ternyata seorang pemuda yang sangat tampan dengan mengenakan ikatan kepala empat segi dan baju warna hijau.

Boe Kie terkesiap karena ia segera mengenal orang itu tak lain adalah Tio Beng yang menyamar sebagai pria. Bermacam perasaan memenuhi dadanya, kaget, gusar, cinta dan girang bercampur aduk menjadi satu. Tanpa terasa ia mengeluarkan seruan tertahan yang untung juga tak didengar oleh para pengemis yang sedang menumpahkan perhatian mereka kepada Tio Beng.

Dulu diluar kuil Siauw lim sie, Tan Yoe Liang pernah bertemu muka dengan Boe Kie. Hal ini terjadi waktu Boe Kie masih kecil. Dalam jangka waktu belasan tahun Boe Kie sudah berubah banyak, baik muka maupun badannya sehingga ia tidak bisa mengenali lagi. Belakangan di pulau Leng coa to, ia bertemu lagi tapi waktu itu Boe Kie dan Tio Beng memakai kumis palsu dan menyamar sebagai orang-orang Kie keng pang. Maka itu pada hakikatnya Tan Yoe Liang tak tahu bagaimana rupa Thio Boe Kie sekarang. Soe Hwee Liong dan yang lain-lain lebih tak mengenalnya. Mereka hanya pernah mengetahui bahwa Kauwcoe baru dari Beng kauw seorang pemuda yang berusia kurang lebih dua puluh tahun dan yang berkepandaian sangat tinggi. Melihat cara berkelitnya Tio Beng lincah dan indah mereka tak ragu lagi. Tapi Tan Yoe Liang merasa sangsi sebab Tio Beng terlampau cantik untuk jadi seorang pria, usianya terlalu muda dan suaranya bukan suara lelaki. Maka itu ia segera membentak, “Thio Boe Kie sudah mampus! Siapa kau? Sungguh berani kau main gila terhadap kami!”

“Binatang!” bentak Tio Beng dengan gusar. “Perlu apa kau mencaci Thio Boe Kie? Thio Boe Kie mempunyai rejeki yang sebesar langit dan akan berusia seratus tahun. Sesudah manusia-manusia seperti kamu dikubur, ia masih bisa hidup delapan puluh tahun.”

Mendengar suara si nona yang bernada duka, jantung Boe Kie memukul keras. Apakah nada duka itu menunjuk rasa menyesal? Tapi ia segera menekan segala pikiran lain. “Perempuan kejam itu mana punya rasa menyesal?” katanya dalam hati. “Boe Kie! Oh, Boe Kie! Mengapa kau begitu lemah? Mengapa hatimu masih harus diikat oleh manusia kejam itu?”

Sementara itu Tan Yoe Liang bertanya pula dengan suara lebih sabar. “Siapa sebenarnya kau? Kau takkan bisa mendustai aku. Kau pasti bukan Thio Boe Kie.”

“Aku Thio Boe Kie dari Beng kauw,” jawabnya. “Mengapa kau tangkap saudaraku? Lekas lepaskan. Dalam segala hal, aku yang bertanggung jawab.”

Mendadak terdengar suara tawa dingin. “Tio Beng Kauwnio,” kata seseorang. “Orang lain bisa tak mengenal kau tapi aku mengenal kau. Orang lain bisa tak mengenal Thio Boe Kie tapi aku mengenalnya dengan baik. Lapor kepada Pangcoe bahwa perempuan itu dalah putrinya Jie Lam Ong. Dia bergelar Beng beng Koencoe dan mempunyai banyak orang pandai. Kita harus bersiap siaga.” Orang yang melucuti topeng Tio Beng adalah Song Ceng Soe.

Cia hoat Tiang-loo segera bersiul nyaring.

“Ciang pang Tiang-loo!” teriaknya. “Bawalah sejumlah saudara kita untuk menjaga diluar kelenteng. Hajar setiap musuh yang mau coba menerobos masuk.”

Ciang pang Tiang-loo segera mengiyakan.

Dalam sekejap diempat penjuru terdengar teriakan-teriakan para pengemis yang bersiap untuk menyambut musuh.

Paras muka Tio Beng agak berubah. Ia menepuk tangan dan dari atas tembok melayang turun dua orang. Mereka adalah Hian beng Jie loe Lok thung kek dan Ho pit ong.

“Bekuk mereka!” bentak Cia hoat Tiang-loo.

Empat murid tujuh karung segera menerjang. Tapi mereka bukan tandingan Hian beng Jie lok. Dalam tiga jurus mereka sudah luka semua. Melihat itu Coan kang Tiang-loo segera turun ke arena dan menghantam Ho pit ong dengan pukulan yang mengeluarkan deru angin dahsyat. Boe Kie tahu bahwa pukulan itu adalah Kian liong Cay tian (melihat naga di sawah) dari Han liong Sip pat ciang (Delapan belas pukulan menakluki naga). Dulu di Peng hwee to, ia pernah mendengar keterangan dan melihat contoh dari pukulan itu yang diberikan oleh ayah angkatnya. Tapi ketika itu, ia masih belum bisa menangkap intisari pukulan tersebut. Sekarang ia merasa sangat kagum, ia tak sangka bahwa Hang liong Sip pat ciang sedemikian hebat dan si pengemis tua ternyata sudah mengalami dasar ilmu silat Kioe cie Sin kay Ang Cit Kong yang sangat tinggi itu.

Ho pit ong tidak berani bermain lagi. Cepat-cepat ia menggunakan Hian beng Sin ciang dan memapaki telapak tangan si pengemis. Plaak! Kedua tangan beradu. Hian liong Sip pat ciang mengandung tenaga soen-kang (keras yang murni) sedang tenaga Hian beng Sin ciang bersifat Im jioe (dingin dan lemas). Kedua lawan itu sama-sama sudah berlatih puluhan tahun dan tenaga dalam mereka sama-sama sudah mencapai tingkat yang tinggi. Dalam bentrokan tangan yang pertama, kedua pihak kira-kira standing. Coan kang Tiang-loo merasa semacam hawa yang sangat dingin menerobos masuk ke lengan dari telapak tangan dan terus naik ke atas. Dilain pihak Ho pit ong merasa hawa dan darah bergolak-golak di dadanya. Ia terkejut dan mengawasi lawannya dengan mata mendelik.

Ia mendapati kenyataan bahwa dengan paras muka pucat dan biji mata merah, pengemis itu dengan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan hawa dingin yang dikirimnya.

Ia merasa sangat girang. “Kukira hari ni aku bertemu lawan yang berat,” katanya dalam hati. “Untung juga dia masih kalah setingkat.” Ia segera mengambil keputusan untuk menyerang pula. Ia maju selangkah dan menghantam lagi dengan Hian beng Sin ciang yang tenaganya menyambar dari empat penjuru sehingga tidak dapat ditambah lagi. Coan kang Tiang-loo tidak bisa berbuat lain daripada menyambut lagi dengan pukulan Hang liong Sip pat ciang.

Biarpun tenaga kedua lawan kira-kira setara, sifat tenaga mereka agak berbeda. Ciang hoat Coan kang Tiang-loo adalah warisan Ang Cit Kong dan merupakan ilmu yang murni bersih sedang Hian beng Sin ciang Ho pit ong mengandung hawa dingin yang beracun. Dalam Lweekang, kedua belah pihak sama-sama kuat. Tapi setiap kali tangan mereka beradu, Coan kang Tiang-loo harus menggunakan sebagian tenaganya untuk mengusir hawa dingin yang beracun itu sehingga dengan demikian ia harus menggunakan lebih banyak tenaga daripada lawannya. Oleh karena itu, sesudah beradu tangan tiga kali si pengemis tua segera jatuh dibawah angin.

Disudut lain toa tian, dengan menggunakan tongkat tanduk menjangan, Lok thung kek melawan Cia hoat Tiang-loo dan Ciang poen Liong-tauw. Meskipun dikerubuti, jagonya Tio Beng tidak jadi keteter dan terus berkelahi dengan hati mantap.

Dengan rasa kuatir Ciang pang liong tauw memperhatikan keadaan Coan kan Tiang loo. Kawan itu sudah menyelami duabelas antara delapanbelas pukulan Hang liong Sip pat ciang dan dalam kalangan Kay-pang, ia memiliki lweekang yang paling kuat. Mengapa ia keteter? Sesudah tujuh kali beradu tangan, napasnya tersengal-sengal dan ia kelihatannya sudah payah sekali. Ciang pang liong tauw tahu, bahwa biasanya Coan kang Tianglo tak suka dibantu orang. Tapi kini ia menghadapi kekalahan. Dari pada kalah atau binasa, lebih baik disela orang sebagai tukang keroyok, pikir Ciang pang Liong tauw.

Memikir begitu, ia lantas saja menyabet Ho Pit Ong dengan tongkat bambunya. Walaupun pukulan itu belum bisa direndengi dengan Tah kauw Pang hoat (Ilmu Tongkat memukul anjing yang hanya boleh dimililiki Pangcoe dari Kay pang), tapi di dalam kalangan Partai Pengemis terdapat serupa kebiasaan, bahwa orang yang bersenjata tongkat selalu berkepandaian tinggi. Di dalam Kay pang, Ciang pang Liong tauw memang salah seorang jago utama. Begitu ia turun tangan, Coan kang Tiangloo bisa bernafas lega dan mereka lalu mendesak Ho Pit Ong sehebat2nya.

Sesudah Hian beng Jie loo turun, Tio Beng sendiri sebenarnya ingin melarikan diri. Tapi ia keburu dicegat Tan Yoe Liang yang menyerang dengan pedangnya. Di waktu singkat si nona segera mengeluarkan pukulan2 terhebat dari beberapa partai yang didapatinya di Ban hoat sie. Bagaikan kilat ia mengirim serangan berantai – yang pertama pukulan dari Hwa san Kiam hoat, yang kedua dari Koen loen Kiam hoat, yang ketiga dari Kong tong Kiam Hoat. Tikaman keempat yang menyusul adalah Hang mo Toa koe sit dari Go bie pay. Tan Yoe Liang kaget tak kepalang dan dalam kagetnya, ia tak keburu menyambut sambaran pedang. Seperti anak panah, pedang Tio Beng meluncur ke hulu hati… Tapi, pada detik ujung pedang menyentuh dada, terdengar suara “trang!” dan pedang nona Tio terpukul ke samping. Orang yang menolong adalah Song Ceng Soe. Di lain saat, Tio Beng sudah dikerubuti.

Semua kejadian itu tidak terlepas dari mata Boe Kie. Ia memperhatikan serangan2 Song Ceng Soe yang menggunakan Boe tong Kiam hoat dan ternyata pemuda itu telah dapat menyelami pelajaran yang diturunkan oleh ayahnya. Sementara itu, saban ada lowongan, Tan Yoe Liang menyerang dari samping dengan pukulan pukulan Siauw lim. Dengan demikian, meskipun mengenal macam2 ilmu silat, dalam pertempuran jangka panjang, perlahan tapi tentu, Tio Beng keteter.

Boe Kie jadi bingung tercampur heran.

“Mengapa ia menggunakan pedang biasa?” tanyanya di dalam hati. “Kalau menggunakan Ie thian kiam, ia segera bisa meloloskan diri.” Waktu itu nona Tio mengenakan pakaian yang tipis dan pas betul pada tubuhnya, sehingga dapat dilihat bahwa ia menyoren pedang mustika itu di pinggangnya.

Sesudah kebingungan beberapa saat, Boe Kie menegur dirinya sendiri: “Boe Kie! Ah, Boe Kie! Kau benar gila! Perempuan siluman itu telah membinasakan Piaw moay. Aku seharusnya merasa girang kalau Song Ceng Soe berhasil membunuh dia. Mengapa aku jadi bingung? Ini membuktikan, bahwa aku masih belum bisa melepaskan dia. Ah… aku bukan saja harus merasa bersalah terhadap Piauw moay, tapi juga terhadap Giehoe dan Cie Jiak.”
Tak lama kemudian, beberapa jago Kay pang lain turun ke gelanggang, sedang pihak Tio Beng tidak mendapat bantuan. Melihat keadaan tidak baik, Lok Thung Kek berseru, “Koencoe Nio nio! Ho Heng tee! Mundur ke pekarangan luar dan menyingkir!”

“Baiklah,” kata Tio Beng. “Manusia she Tan itu telah mencuci Thio Kongcoe. Aku merasa sangat tidak senang. Sebelum mundur kamu harus hajar padanya.”

“Nio nio mundur saja lebih dahulu,” kata Lok Thung Kek. “Serahkan bocah itu kepada kami.”

“Han Lim Jie setia terhadap Thio Kongcoe,” kata pula nona Tio. “Kamu harus menolong dia.”

“Baik! Sesudah Nio nio mundur, kami akan menolongnya,” jawab si kakek.

Pertempuran terus berlangsung dengan hebatnya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Soe Hwee Liong berdiri menonton di satu pojok. Mendengar pembicaraan antara Tio Beng dan Hian beng Jie loo, Coan kang dan Cie hoat segera berteriak teriak, memberi perintah kepada kawanan pengemis untuk mencegat di empat penjuru.

Mendadak Hian beng Jie loo meninggalkan lawannya dan dengan kecepatan kilat, dia menyerang Soe Hwee Liong. Perubahan itu tak diduga2 dan meskipun berkepandaian tinggi, Soe Hwee Liong takkan bisa menyambut serangan kedua kakek itu yang dikirim dengan sepenuh tenaga.

Tapi, sebab belum takdirnya mati, seorang penolong sudah bersiap sedia. Mendengar pembicaraan Tio Beng dan kedua jagonya, Tan Yoe Liang yang sangat pintar sudah menduga bakal adanya serangan itu. Ia segera mendekati Soe Hwee Liong. Pada detik yang sangat berbahaya, ia mendorong pundak Soe Hwee Liong ke belakang patung Bie lek Hoed, sehingga pukulan Jie loo jatuh di patung itu lantas pecah, pecahnya muncrat berhamburan dan patung itu sendiri bergoyang-goyang. Ho Pit Ong maju setindak, menghantam dan mendorong patung yang sangat besar itu lantas saja roboh terguling.

Keadaan jadi kalut semua orang melompat minggir supaya tak tertimpa. Dengan menggunakan kesempatan itu, Tio Beng segera kabur ke pekarangan depan dengan dikejar oleh Song Ceng Soe dan Ciang pang Liong tauw.

Selagi nona mau melompati pintu tiga batang tongkat menyambar kakinya. Tio Beng mencelos batinnya ia digencet dari belakang dan dari depan. Dengan mati matian ia berhasil mengalihkan dua tongkat yang menyambar lebih dulu, tapi tongkat ketiga mampir tepat pada kakinya sehingga tanpa ampun lagi ia ambruk di lantai. Song Ceng Soe merangsek membalik pedangnya dan memukul kepala si nona dengan gagang pedang untuk menangkapnya hidup-hidup.

Pada saat saat yang berbahaya, mendadak tongkat bambu Ciang pang Liong tauw berkelebat dan menangkis pedang Song Ceng Soe dan dengan berbareng satu bayangan manusia melompat keluar dari atas tembok, dengan kecepatan yang sukar dilukiskan.

Song Ceng Soe menengok kepada Ceng pang Liong Tauw dan bertanya dengan suara mendongkol. “Mengapa kau lepaskan dia?”

“Perlu apa kau pukul tongkatku?” si pengemis balas tanya dengan mata melotot.

“Eeh! Bukankah kau yang pukul gagang pedangku? Mengapa…”

“Jangan rewel! Lekas kejar!”

Mereka segera melompati tembok. Di luar, di kaki tembok, mereka bertemu dengan seorang murid tujuh karung yang patah kakinya dan tidak bisa bediri lagi. Mereka segera menghampiri tujuh delapan pengemis yang menjaga diluar kelenteng. “Kemana larinya perempuan siluman itu?” tanya Cia pang Liong tauw.

“Perempuan yang mana? Kami tak melihat manusia lain,” jawab seorang.

Ciang pang Liong tauw gusar tak kepalang. “Apa kamu buta?” bentaknya. “Terang terangan perempuan itu melompat keluar dari tembok sana.”

Sambil membangunkan pengemis yang patah kakinya, seorang murid enam karung berkata. “Barusan toako inilah yang melompat keluar. Kami tak lihat orang lain.”

Ciang pang Liong tauw menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. “Mengapa kau melompati tembok?” tanyanya.

“Aku… aku… ditangkap dan dilemparkan,” jawab si murid tujuh karung sambil menahan sakit. “Perempuan siluman itu mempunyai ilmu yang sangat aneh.”

Dengan paras muka gusar Ciang pang Liong tauw mengawasi Song Ceng Soe. “Mengapa kau pukul tongkatku? Apa maksudmu? Baru saja masuk ke dalam Kay pang, kau sudah coba-coba main gila.”

Soe Ceng Soe meluap darahnya, tapi sebisa bisa ia menahan hawa marahnya. “Selagi teecoe memukul kepala perempuan siluman itu, Liong tauw toako menangkis senjataku, sehingga siluman itu bisa melarikan diri,” jawabnya.

“Omong kosong!” bentak si pengemis tua. “Perlu apa aku menangkis gagang pedangmu? Sudah beberapa puluh tahun aku mengabdi di dalam partai dan karena jasa jasaku aku sekarang menduduki kursi Ciang pang Liong tauw. Apa kau mau mengatakan bahwa aku sengaja membantu orang luar? Sekarang aku tanya. Sebab apa kau tidak menggunakan ujung pedang untuk menikam dia dan berlagak memukul dengan gagang pedang? Huh.. huh!.. mataku belum lamur, tak dapat kau memperdayai aku.”

Dalam Boe tong pay, biarpun kedudukan Soe Ceng Song hanyalah murid turunan ketiga tapi sebab orang orang Boe tong tahu, bahwa dia adalah calon Ciang boen jin maka mereka sangat mengindahkannya. Bahwa kau Jie lian Cioe, Thio Song Kee dan yang lain lain yang masih pernah paman berlaku sungkan kepadanya. Atas tekanan Tan Yoe Liang ia terpaksa masuk ke dalam Kay pang. Di luar dugaan pada hari pertama, ia sudah dicaci orang. Ia adalah seorang yang beradat tinggi dan meskipun ia tahu, bahwa Ciang pang Liong tauw mempunyai kedudukan tinggi, ia tidak bisa menahan sabar lagi. “Perkataan main gila adalah tuduhan membuta tuli,” katanya dengan bernafsu. “Liong tauw toako mesti bisa membuktikan tuduhan itu. Terang-terang kau yang menangkis gagang pedangku. Di siang hari bolong belum tentu tak ada yang lihat.”

Dengan berkata begitu, Song Ceng Soe balas menuduh, bahwa si pengemislah yang sudah main gila dan sengaja melepaskan Tio Beng. Ciang pang Liong tauw adalah seorang berangasan. Mana bisa ia menelan hinaan itu? “Binatang!” bentaknya. “Kau tidak mengindahkan orang yang lebih tua. Apakah di tempat ini kau masih mau mengandalkan pengaruh Boe tong pay?” Seraya berkata begitu, ia menghantam kepala Song Ceng Soe dengan tongkatnya. Dalam kegusarannya, ia menggunakan tenaga dalam yang dahsyat.

Song Ceng Soe segera menangkis tanpa sungkan sungkan lagi. Tongkat itu meskipun terbuat daripada bambu sangat ulet dan keras dan babatan pedang tidak dapat memutuskannya. Begitu kedua senjata beradu, Song Ceng Soe merasa telapak tangannya terbeset. Ia kaget, si pengemis ternyata mempunyai Lweekang yang sangat kuat dan lebih unggul daripada tenaga dalamnya. Di lain pihak, si pengemis merasa lengannya kesemutan. Ia juga terkejut, sebab ia tak duga pemuda itu memiliki Lweekang yang sedemikian kuat. “Bocah she Song!” bentaknya. “Berani sungguh kau melawan aku. Apakah kau suruhan musuh untuk menjadi mata mata di sini?” Sambil mencaci ia menghantam lagi.

Tiba tiba seseorang melompat keluar dan menangkis pukulan itu. “Liong tauw toako sabar dulu,” katanya. Orang itu adalah Tan Yoe Liang.

“Tan Heng tee, aku minta kau menimbang urusan ini,” kata Ciang pang Liong tauw.

“Mana si perempuan siluman?” tanya Tan Yoe Liang.

“Dilepaskan oleh dia,” kata Ciang pang Liong tauw sambil menuding Song Ceng Soe.

“Bukan aku, dia yang melepaskannya,” balas Song Ceng Soe.

Selagi mereka bertengkar, Hian beng Jielo sudah menerobos keluar. Melihat Tio Beng tidak berada di luar kelenteng, mereka tahu bahwa sang majikan sudah meloloskan diri dan hati mereka jadi lega dan lebih mantep. Sambil tertawa nyaring, mereka menyerang pula dengan sekuat tenaga. Dengan sekali jurus empat murid Kay pang roboh di tanah. Waktu Coan kang Cie hoat dan Ciang boen memburu keluar mereka sudah kabur jauh dan hanya terdengar suara tertawa mereka yang membangunkan bulu roma.

Ciang pang Liong tauw berjingkrak bahna gusarnya. “Uber!” teriaknya.

“Jangan!” cegah Tan Yoe Liang. “Liong tauw Toako, musuh mungkin menyembunyikan pasukan yang kuat di sepanjang jalan.”

Si pengemis mendusin. “Benar,” katanya. “Mengapa aku begitu tolol? Musuh pasti datang kemari dalam jumlah yang besar. Dua orang saja sudah sukar dilawan.” Ia merasa berterima kasih terhadap Tan Yoe Liang dan kegusarannya terhadap Song Ceng Soe pun agak mereda.

Sementara itu Cie hoat Tiangloo menghitung kerusakan pada pihaknya. Sebelas orang mati dalam tangan Hian beng Jieloo, tujuh orang terluka berat dan delapan sembilan orang luka karena tertimpa patung Bie lek hoed. Ia segera memerintahkan orang untuk menolong yang luka dan memerintahkan Ciang poen Liong tauw memeriksa di seputar kelenteng dengan membawa sejumlah murid.

Sekarang marilah kita menengok Tio Beng. Sebagaimana diketahui, dengan rasa kuatir Boe Kie memperhatikan segala gerak geriknya. Waktu Seng Ceng Soe membalik pedangnya dan memukul kepala si nona dengan gagang senjata itu, hati Boe Kie mencelos. Pukulan itu bisa enteng, bisa berat. Kalau enteng, nona Tio akan pingsan. Jika berat, jiwanya melayang. Pada detik yang sangat berbahaya, tanpa memikir panjang panjang lagi ia melompat turun dan mendorong tongkat Ciang pang Liong tauw supaya menangkis gagang pedang yang menyambar. Dalam dorongan itu, ia menggunakan Kian koen Tay lo ie. Selama berdiam beberapa bulan di pulau kecil, ia mempelajari dan melatih diri dalam ilmu yang tertera pada Seng hwee leng yang diterjemahkan Siauw Ciauw. Ia mendapat kemajuan pesat dan sekarang kepandaiannya sepuluh kali lipat lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh Samsoe dari Persia. Maka itu dorongannya tadi bahkan tak diketahui oleh tokoh tokoh yang berilmu tinggi seperti Ciang peng Liong tauw dan Tan Yoe Liang. Ciang pang Liong tauw menduga bahwa Song Ceng Soe sengaja memukul tongkatnya, sedang Song Ceng Soe menduga, bahwa si pengemis yang sengaja menangkis senjatanya.

Pada saat kagetnya kedua musuh, Boe Kie menjambret seorang pengemis tujuh karung dan melemparkan keluar tembok sehingga dengan demikian, karena melihat berkelebatnya bayangan manusia, Ciang pang Liong tauw dan Tan Yoe Liang menduga bahwa Tio Beng sudah melarikan diri dengan melompati tembok. Sementara itu, sambil mendukung si nona bagaikan kilat Boe Kie melompat ke atas dan hinggap di atap toa tian.

Pada waktu itu ilmu mengentengkan badan Boe Kie sudah mencapai puncak tertinggi. Ia melompat seperti terbangnya seekor burung. Ada beberapa hal yang menguntungkan Boe Kie sehingga lompatannya tak dilihat orang. Pertama waktu itu sudah lewat lohor dan segala apa yang berada di bawah matahari tak terlihat bayangannya lagi. Kedua para pengemis sedang memburu keluar, sehingga biarpun ada beberapa orang yang merasa ada sesuatu yang lewat di dalam, mereka tidak menghiraukan. Ketiga, di sekitar toa tian masih penuh debu yang melayang di udara sebagai akibat dari robohnya patung Bie lek hoed. Keempat keadaan sedang kalut dan kelima tokoh tokoh yang berkepandaian tinggi sudah memburu keluar untung mengepung Hian beng Jie loo dan membekuk Tio Beng. Inilah beberapa yang membikin Boe Kie bisa menolong Tio Beng tanpa diketahui oleh siapapun juga.

Selagi badannya melayang di tengah udara dengan didukung lengan yang kuat, Tio Beng membuka matanya. Ia terkesiap karena penolong tadi yang alisnya tebal dan mukanya tampan, bukan lain daripada Boe Kie. Ia hampir tak percaya matanya sendiri. “Kau!” serunya dengan suara parau.

Buru buru Boe Kie mendekap muka si nona. Ia mengawasi ke bawah. Di kiri kanan di depan di belakang kelenteng penuh dengan murid2 Kay pang. Walaupun begitu, kalau mau, ia masih bisa meloloskan diri. Tapi, sesudah mengetahui adanya perundingan Kay pang untuk menjatuhkan Beng kauw dan masuknya Song Ceng Soe ke dalam partai pengemis, ia bertekad untuk menyelidiki hal itu sampai seterang terangnya! Ia tak boleh pergi dengan begitu saja. Di samping itu dalam pertengkaran antara Ciong pang Liong tauw dan Song Ceng Soe, kedua mata si pengemis mengeluarkan sinar yang ganas dan terdapat kemungkinan bahwa pengemis itu tak merasa segan untuk turunkan tangan jahat. Lain pertimbangan yang menahan perginya Boe Kie adalah Han Lim Jie yang masih tertawan. Pembantu yang setia itu harus ditolong. Memikir begitu ia mengambil keputusan untuk masuk pula dan bersembunyi di ruangan toa tian.

Ia merangkak ke pinggir genteng menggaet payon dengan kedua kakinya dan kemudian dengan sekali melompat ia sudah berada di belakang sebuah patung Buddha

some parts missing here

Loe Hwee Liong, Coan kang, Cie hoat Thiang Boo dan yang lain lain sudah memburu keluar sedang ruangan toa tian hanya terdapat beberapa pengemis yang terluka karena tertimpa patung Bie lek boat. Han Lim Jie sendiri tidak kelihatan mata hidungnya.

Ia mengawasi ke seputarnya, tapi untuk beberapa saat, ia masih belum mendapatkan tempat yang cocok untuk menyembunyikan diri. Tiba tiba Tio Beng menyentuh tangannya dan menuding sebuah tambur besar. Tambur itu ditaruh di atas tempat menaruh tambur yang tingginya setombak lebih dan berhadap hadapan dengan sebuah lonceng besar.

Boe Kie lantas saja mendusin. Dengan mepet mepet di pinggir tembok, ia pergi ke belakang tambur. Sambil meloncat ke atas, jari tangannya menggores kulit. “Pret!” kulit kerbau yang tebal robek seperti gores pisau. Dengan berdiri di lapangan kayu, ia menggores lagi dengan jerijinya dan membuat robekan garis silang. Sesudah itu, sambil menduking Tio Beng ia masuk ke dalamnya.

Tambur itu tambur tua. Di antara debu dan bau apak, Boe Kie mengendus wewangian yang keluar dari badan si nona. Tambur itu cukup besar, tapi kedua orang yang bersembunyi di dalamnya bergerakpun tak bisa lagi. Dengan hati berdebar debar, si nona bersandar di dada Boe Kie. Perasaan pemuda itu sendiri sukar dilukiskan. Rasa benci sakit hati, gusar duka dan rasa cinta tercampur menjadi satu. Ia mau mencaci, tapi dengan di kelilingi musuh ia tidak bisa membuka suara. Tiba tiba ia mendusin, bahwa kepala si nona bersandar pada dadanya. Ia kaget dan mendorong keras keras. Tio Beng gusar dan menyikut dadanya. Dengan ilmu memindahkan tenaga memukul tenaga, Boe Kie menghantam balik, sehingga si nona kesakitan, hampir hampir ia berteriak kalau mulutnya tidak keburu didekap Boe Kie.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara Cie hoat Tiangloo, “Melaporkan kepada Pangcoe ia mengatakan bahwa musuh telah meloloskan diri. Karena ketololanku, aku tak bisa menyerahkan musuh kepada Pangcoe, untuk kedosaaan itu, aku mohon Pangcoe suka memaafkan.”

“Sudahlah!” kata Soe Hwee Liong. Musuh berkepandaian sangat tinggi. Hal itu disaksikan oleh semua orang. Cie hoat Tiangloo tak usah berlaku terlalu sungkan.”

“Terima kasih Pangcoe,” kata Cie hoat.

Sesudah itu Ciang pang Liong tauw segera mengadu bahwa Song Ceng Soe sudah sengaja melepaskan Tio Beng dan pemuda itu lalu membela diri serta balas menuduh. Mereka lantas saja bertengkar dan suasana menjadi tegang.

“Sin Heng tee, bagaimana pendapatmu?” tanya Soe Hwee Liong.

“Melaporkan kepada Pangcoe, bahwa Ciang pang Liong tauw adalah tetua partai kita dan ia tentu tidak berdusta,” jawabnya. “Tapi Song heng tee pun masuk ke dalam partai kita dengan setulus hati, lebih lagi wanita siluman itu musuhnya. Menurutku perempuan she Tio itu memiliki kepandaian luar biasa dan dengan ilmu meminjam tenaga memukul tenaga, ia mendorong tongkat Liong tauw untuk menangkis gagang pedang Song heng tee. Dalam kekalutan, kedua belah pihak jadi salah mengerti.”

Di dalam hati Boe Kie memuji Tan Yoe Liang. Dia sungguh pintar. Tanpa menyaksikan kejadiannya, dia sudah bisa menebak tanpa meleset jauh.

“Benar,” kata Soe Hwee Liong. “Saudara saudara, kalian berdua bertujuan sama yaitu mengabdi kepada partai kita. Maka itu, kalian hendaknya jangan jadi bermusuhan karena hal yang remeh ini.”

Ciang pang Liong tauw manggut manggutkan kepalanya dan berkata dengan suara mendongkol, “Biarpun dia…”

“Song heng tee,” memutus Tan Yoe Liang. “Liong tauw Toako seorang yang berkedudukan tinggi. Biarpun ia menyalahkan kau, kau harus menerimanya dengan segala senang hati. Hayo, lekas minta maaf.”

Dengan apa boleh buat Song Ceng Soe maju setindak dan menjura. ‘Liong tauw Toako,” katanya, “Siauwtee bersalah dan mohon Toako suka memaafkan.”

Meskipun masih bergusar, si pengemis tak bisa lagi mengumbar napasnya. Ia mengeluarkan suara di hidung dan berkata, “Ya, sudahlah!”

Biarpun menggunakan kata kata yang kedengarannya seperti menegur Song Ceng Soe, pada hakekatnya Tan Yoe Liang mempersalahkan si pengemis tua. Ia mengatakan bahwa Tio Beng mendorong tongkat Liong tauw Toako untuk menangkis gagang pedang Song hengtee dan bahwa Liong tauw Toako seorang yang berkedudukan tinggi. ‘Biarpun ia menyalahkan kau, kau harus menerimanya dengan segala senang hati’. Perkataan2 itu sebenarnya menyindir Ciang pang Liong tauw dan sindiran itu dimengerti oleh para Tiangloo. Tapi sebab Tan Yoe Liang sangat disayangi oleh Pangcoe, maka tak seorangpun berani membuka suara.

“Tan Hengtee,” kata Soe Hwee Liong. “Puterinya Jie lam ong, Mo kauw adalah musuh kerajaan Goan. Tapi mengapa Koen coe Nio nio itu berbalik membela si iblis kecil Thio Boe Kie?”

Tan Yoe Liang berpikir, tapi sebelum ia menjawab, Ciang pang Liong tauw sudah mendahului. “Kulihat Koen coe Nio nio itu sangat bergusar mendengar Tan Hengtee mencaci Kiauwcoe dari Mo kauw, dia seperti juga mendengar cacian terhadap ayah atau saudara kandungnya sendiri. Hal ini sungguh sungguh membikin orang tidak mengerti.”

“Ku tahu sebabnya,” kata Song Ceng Soe. “Biarpun Mo kauw musuh kerajaan, Beng koencoe mencintai Thio Boe Kie. Bahwa dia selalu melindungi bocah itu bukanlah hal yang heran.”

Para pengemis terkejut banyak. Boe Kie sendiri merasa sangat jengah dan jantungnya memukul lebih keras. Tio Beng memutar kepalanya dan mengawasi pemuda itu. Di dalam tambur sangat gelap, tapi dengan kedua matanya yang luar biasa, Boe Kie bisa melihat sinar mata si nona yang mengeluarkan sorot mencintai. Tanpa merasa ia memeluk lebih keras. Mendadak, di depan matanya terbayang In Lee yang binasa secara mengenaskan. Mendadak pula, rasa cintanya yang baru muncul berubah menjadi rasa benci dan ia memijit lengan Tio Beng dengan penuh kegusaran. Meskipun pijitan itu tidak disertai tenaga dalam yang kuat, si nona merasakan kesakitan luar biasa. Dengan menggigit gigi ia menahan sakit dan air matanya mengalir turun di kedua pipinya. Boe Kie mengeraskan hati dan tidak memperdulikannya.

Sementara itu, Tan Yoe Liang sudah bertanya, “Bagaimana kau tahu? Apa benar ada hal yang sedemikian aneh?”

“Memang benar,” jawab Song Ceng Soe dengan nada membenci. “Bocah Thio Boe Kie bukan pemuda tampan, mukanya biasa saja, tapi ia mempunyai ilmu siluman sehingga banyak sekali wanita lupa daratan.”

Cie hoat Tiangloo manggut manggutkan kepalanya. “Tak salah. Di dalam Mo kauw memang terdapat serupa ilmu untuk memelet wanita. Bukankah Kie Siauw Hoe dari Go bie pay sudah celaka karena dipelet siluman Yo Siauw? Thio Coei San, ayah Thio Boe Kie, menurut pendapatku, dengan ilmu iblis, siluman kecil itu sudah merusak kehormatan Beng2 Koencoe, sehingga ibarat beras sudah menjadi nasi dan Beng beng Koencoe tidak bisa menolong dirinya lagi.”

Semua pengemis lantas saja berteriak teriak mencari Boe Kie yang dinamakan sebagai manusia keji dan kotor.

“Semua orang gagah harus berusaha untuk menyingkirkan manusia itu dari dunia,” kata Coan kang Tiangloo dengan suara menyeramkan. “Kalau dia dibiarkan hidup terus, entah berapa banyak wanita suci akan celaka dalam tangan penjahat cabul itu.”

Boe Kie merasa dadanya menyesak. Untuk menahan amarahnya, badannya bergemetar. Sampai pada detik itu ia masih jadi jejaka yang suci tapi sering sungguh ia dimaki sebagai penjahat cabul. Ia benar benar penasaran, tapi tak dapat ia mencaci segala tuduhan itu. Ia terutama bergusar sebab dikatakan sudah mencemarkan kesuciannya Tio Beng. Tiba tiba ia terkesiap, “Celaka!” ia mengeluh di dalam hati. “Kalau orang tahu aku bersembunyi disini berdua dua, biarpun bersumpah berat, orang takkan percaya kebersihanku.”

“Sesudah jatuh ke dalam tangan penjahat cabul itu, Cioe Cie Jiak Kouwnio mungkin tak dapat mempertahankan lagi kesuciannya,” kata pula Cong kang Tiangloo.

“Song heng tee, kau tak usah jengkel. Kami pasti akan merebut pulang isterimu yang tercinta. Peristiwa Kie Siauw Hoe pasti tidak akan terulang.”

“Benar,” menyambut Cie hoat Tiangloo, “Perkataan Toako benar sekali. Dahulu Boe tong pay tidak bisa membantu In Lie Heng dan sekarang partai itu juga tidak bisa membantu Song Ceng Soe. Sekarang Song heng tee sudah masuk ke dalam Kay pang. Apabila kita tidak bisa membela sakit hatinya dan tidak bisa mewujudkan angan angannya, perlu apa dia menjadi murid enam karung dari partai kita, sedang di dalam Boe tong pay ia seorang calon Ciang boen jin?”

Sekali lagi para pengemis berteriak teriak, mencaci Boe Kie habis habisan.

Tio Beng menempelkan bibirnya di kuping Boe Kie dan berbisik. “Ah!… kau penjahat cabul!” bisiknya bernada gusar, duka dan cinta, sehingga jantung Boe Kie kembali berdebar2.

“Kalau dia tidak begitu kejam, aku sungguh beruntung jika bisa menikah dengannya,” katanya di dalam hati.

Sementara itu dengan suara perlahan Song Ceng Soe menghaturkan terima kasih kepada pengemis yang mau membela dirinya.

Cie hoat Tiangloo adalah seorang yang sangat berhati hati dan ia bertanya pula, “Song heng tee, apakah kau tahu cara bagaimana Beng beng Koencoe dipincuk si penjahat cabul?”

“Latar belakangnya kutak tahu,” jawabnya. “Aku hanya tahu, Beng beng koencoe pernah menyateroni Boe tong san dengan pemimpin sejumlah jago jago untuk menangkap Thay soehoe. Tapi begitu bertemu dengan si penjahat, ia segera mengundurkan diri, sehingga bencana itu dapat dielakkan. Selama dua puluh tahun lebih Sam soesiok Jie Thay Giam bercacat. Beng beng koencoe lalu menghadiahkan serupa obat kepada si penjahat sehingga Sam soesiok menjadi sembuh.”

Itulah kata Cie hoat Boe tong pay adalah paku di mata kerajaan Goan. Kalau Beng beng koencoe tidak terpincuk ia tentu tak akan menyerahkan obat kepada si penjahat. Dilihat begini biarpun wataknya jahat, penjahat itu telah membuang budi kepada Thay soehoemu dan para pamanmu.”

“Ah!” tiba tiba Tan Yoe Liang berseru. “Melaporkan kepada Pangcoe, bahwa sesudah mendengar pembicaraan tadi, aku sekarang mempunyai serupa tipu yang bisa menaklukan penjahat cabul itu. Dengan tipu ini, seluruh Mo kauw dari atas sampai bawah akan menuruti perintah partai kita!”
Soe hwee Liong kegirangan. “Tan Heng tee, lekas beritahukan tipumu itu!” katanya.

“Disini terlalu banyak orang,” kata Tan Yoe Liang. “Biarpun kita berada di antara saudara saudara sendiri, aku masih berkuatir, kalau kalau rahasia besar ini menjadi bocor.”

Keadaan di toa tian berubah sunyi. Beberapa saat kemudian terdengar tindakan kaki belasan orang yang keluar dari ruangan itu sehingga yang ketinggalan hanyalah beberapa tokoh terpenting dari Kay pang.

“Rahasia ini harus dijaga baik baik jangan sampai bocor,” kata Tan Yoe Liang. Song Heng tee kedua Liong tauw Toako, mari kita periksa di atas, di depan dan di belakang kelenteng untuk memastikan bahwa tak ada orang luar yang mencuri dengar pembicaraan kita.”

Ciang pang dan Ciang poen Liong tauw segera melompat ke atas genteng, sedang Tan Yoe Liang dan Song Ceng Soe memeriksa seluruh toa tian, di depan dan di belakang kelenteng. Diam diam Boe Kie memuji Tio Beng, sebab kecuali tambur itu, segala pelosok diperiksa dengan teliti.

Beberapa lama kemudian mereka berempat kembali ke toa tian. “Dalam tipu ini, kita harus mengandalkan bantuan Song Heng tee,” bisik Tan Yoe Liang.

“Aku?” menegas Song Ceng Soe dengan suara heran.

“Benar,” jawabnya. “Ciang poen Liong tauw Toako, kuharap kau suka membagi racun Ngo tok Swee sim san (bubuk racun yang dapat menghilangkan kesadaran manusia) kepada Song Heng tee, Song Heng tee, dengan membawa racun itu kau harus pulang ke Boe tong san dan diam2 menaruhnya di makanan Thio Cinjin dan para pendekar Boe tong. Kami akan menunggu di kaki gunung. Sesudah berhasil, kita menangkap Thio Cinjin dan semua pendekar Boe tong. Kemudian kita menggunakan penangkapan tersebut untuk menekan Thio Boe Kie, memaksa ia untuk menurut segala kemauan kita.”

“Bagus! Tipu itu benar benar bagus!” puji Soe Hwee Liong.

“Tipu ini memang sangat bagus,” menyambut Cie hoat. “Kita sukar untuk bisa meracuni Thio Boe Kie. Tapi Song Heng tee pasti berhasil. Sebagai anggota penting dari Boe tong pay, kau bisa turun tangan dengan mudah sekali.”

Song Ceng Soe jadi bingung. Dengan paras muka pucat ia berkata, “Tapi.. tapi… aku pasti tak akan bisa meracuni ayah sendiri…”

“Song heng tee tidak usah kuatir,” bujuk Tan Yoe Liang. “Ngo tok Swee sim san adalah racun luar biasa dari partai kita. Racun itu hanya dapat menghilangkan kesadaran manusia untuk sementara waktu dan sama sekali tidak membahayakan jiwa. Kami semua sangat mengindahkan Song Tay hiap. Kami pasti tidak akan mengganggu selembar rambut ayahmu.”

Tapi Song Ceng Soe tetap menolak. “Jika diketahui, masuknya aku ke dalam partai kita ini pasti akan ditegur oleh Thaysoehoe dan ayah,” katanya. “Meracuni ayah sendiri adalah perbuatan yang aku tak akan berani lakukan.”

“Saudara,” kata Tan Yoe Liang. “Jalan pikiranmu tak benar. Dalam sejarah terdapat contoh contoh, bahwa ada orang orang yang rela menghukum keluarga sendiri demi kepentingan orang banyak atau negara. Apapula tujuan kita yang sekarang adalah menumpas Mo kauw. Kita menawan para pendekar Boe tong hanya untuk menaklukkan si penjahat cabul.”

“Kalau aku melakukan perbuatan itu, aku pasti akan dicaci oleh berlaksa orang dalam dunia Kang ouw dan aku tak ada muka lagi untuk hidup di antara langit dan bumi,” kata Song Ceng Soe.

“Song Heng tee, kau tak usah begitu berkuatir,” kata Tan Yoe Liang. “Mengapa tadi aku minta supaya semua tiangloo delapan karung meninggalkan ruangan ini? Mengapa kita memeriksa di seluruh kelenteng? Aku begitu berhati hati sebab takut rahasia bocor. Song heng tee, sesudah menaruh racun, kau sendiri harus berlagak pingsan dan kaupun akan ditangkap. Kau akan dikumpulkan bersama sama Thay soehoemu, ayahmu dan paman pamanmu. Kecuali kita bertujuh orang, di dalam dunia tak ada orang lain yang mengetahuinya. Kami semua kagum dan berterima kasih terhadap kau yang sudah menunaikan tugas yang sangat berat. Siapa lagi yang akan mentertawakan kau?”

Ceng Soe mengerutkan alisnya. Sesudah berpikir beberapa lama, ia berkata dengan suara perlahan. “Perintah Pangcoe dan Tan Toako sebenar benarnya tidak boleh ditolak olehku. Apa pula sebagai anggota baru dari partai kita, siauwtee seharusnya menggunakan kesempatan ini untuk membuat pahala. Maupun harus masuk kedalam lautan api, siauw tee mesti melakukannya. Akan tetapi… akan tetapi… seorang manusia yang hidup di dunia ini berpokok kepada ‘hauw gie’ (berbakti dan mempunyai rasa persahabatan). Maka itu, biar bagaimanapun jua siauw tee tidak bisa turun tangan terhadap ayah kandung sendiri.”

Semenjak dahulu Kay pang sangat mengutamakan ‘kebaktian’. Mendengar perkataan Song Ceng Soe, para tetua tidak berani mendesak lagi. Mendadak Tan Yoe Liang tertawa dingin.

“Yang muda tidak boleh menyerang yang tua adalah salah satu larangan dalam Rimba Persilatan,” katanya. “Hal itu sudah diketahui olehku dan Song Heng tee tak usah mengajari aku. Aku hanya ingin mengajukan pertanyaan. Pernah apakah Song Heng tee dengan Boh sengkok Cit hiap? Siapakah yang lebih tinggi tingkatannya? Boh Cit hiap atau kau sendiri?”

Song Ceng Soe tidak menjawab. Ia menundukkan kepala dan sesudah berselang beberapa lama, barulah ia berkata, “Baiklah! Siauw tee akan menurut perintah! Tapi kalian harus berjanji untuk tidak mengganggu selembar rambut ayahku, untuk tidak menghina ayah dengan cara apapun jua. Apabila kalian berjanji begitu, Siauwtee lebih suka celaka daripada melakukan perbuatan yang tidak mengenal kebaktian ini.”

Soe Hwee Liong dan yang lain lain jadi sangat girang. Mereka segera mengiakan tuntutan Song Ceng Soe.

Boe Kie merasa sangat heran. “Song Toa ko tadinya menolak keras, tapi mengapa begitu lekas Tan Yoe Liang menyebutkan Boh Cit siok ia lantas menyerah?” tanyanya di dalam hati. “Di dalam hal ini tentu menyelip latar belakang yang luar biasa. Aku harus menanyakan Boh Cit siok sendiri.”

Sementara itu Cie hoat Tiang loo dan Tan Yoe Liang lalu berunding dengan bisik bisik. Mereka membicarakan tindakan tindakan menangkap tokoh tokoh Boe tong pay, sesudah mereka kena racun. Saban saban Tan Yoe Liang menyatakan pikiran Soe Hwee Liong selalu berkata, “Bagus! Bagus!”

“Sekarang musim dingin dan Ngo tok masih bersembunyi di bawah tanah,” kata Ciang poen Liong tauw. “Siauwtee harus pergi ke kaki gunung Tian pek san untuk menggalinya. Di dalam dua puluh hari atau paling lama sebulan, siauwtee akan bisa membuat Ngo tok Swee sim san” (Ngo tok lima macam binatang beracun).

“Kalau begitu Tan heng tee dan Song heng tee sebaiknya mengawani Ciang poen Liong tauw ke Tiang Pek san sedang kami sendiri turun ke selatan lebih dahulu,” kata Cie hoat Tiang loo. “Sebulan kemudian kita berkumpul di Lao ho. Hari ini Cap Jie Gwee cee peh (bulan 12 tanggal 8). Lain tahun Cia gwee Cee peh (bulan 1 tanggal 8) kita bertemu pula.” Sesudah berdiam sejenak ia berkata pula, “Han Lim Jie yang sudah menjadi tawanan kita banyak gunanya. Kuminta Ciang pang Liong tauw menjaga baik baik, supaya jangan sampai direbut oleh orang2 Mo kauw. Dalam perjalanan ini kita harus sangat berhati hati supaya tindakan kita tidak diendus musuh.”

Sesudah itu semua orang lantas saja meminta diri dari Pang coe. Ciang poen Liong tauw, Tan Yoe Liang dan Song Ceng Soe berangkat paling dahulu dan kemudian dengan beruntun semua pengemis meninggalkan kelenteng Bie lek hoed.

Setelah semua orang berlalu, barulah Boe Kie dan Tio Beng melompat keluar dari dalam tambur. Sambil membereskan pakaiannya, dengan sorot mata girang tercampur gusar, nona Tio mengawasi Boe Kie.

“Hm.. “ Boe Kie mengeluarkan suara di hidung. “Kau masih ada muka untuk bertemu dengan aku!…”

Paras muka si nona lantas saja berubah. “Mengapa?” ia menegas. “Kedosaan apa yang kuperbuat terhadap Toakoauw coe?”

“Manusia kejam!” bentak Boe Kie dengan muka pucat. “Aku tak mempersalahkan kau, bila kau hanya mencuri Ie thian kiam dan To Liong to. Aku tak mempersalahkan kau jika kau hanya meninggalkan aku di pulau terpencil itu! Tapi, kau tahu, bahwa In kouwnio sudah terluka berat. Mengapa kau begitu kejam, begitu tega turunkan tangan jahat kepadanya? Perempuan kejam! Dalam dunia yang lebar ini, kekejamanmu sukar dicari keduanya!” Selagi mencaci, darahnya meluap. Ia maju setindak dan kedua tangannya menggaplok. Tio Beng coba berkelit, tapi mana bisa ia menyingkir dari serangan Boe Kie yang telah kalap? Plak!… plak….plak… plak!” kedua pipinya merah bengkak kena empat gamparan.

Rasa sakit malu dan gusar bercampur aduk dalam dada si nona. Akhirnya ia menangis. “Kau kata, aku curi Ie thian Kiam dan To liong to… siapa yang lihat?” tanyanya. “Kau kata.. aku kejam terhadap In Kouwnio… panggil dia kemari untuk diadu denganku…”

Boe Kie jadi makin gusar. “Baiklah!” teriaknya. “Aku akan kirim kau ke akherat untuk diadu dengannya!” Tangannya menyambar dan mencekik leher si nona. Tio Beng memberontak dan memukul dada Boe Kie, tapi pemuda itu yang tubuhnya dilindungi Kioe yang Sin kang tidak menghiraukan semua pukulan. Selang beberapa saat kemudian, dengan muka merah si nona pingsan.

Dalam sakit hatinya, Boe Kie sebenarnya sudah ingin meembinasakan nona Tio. Tapi melihat si nona dalam keadaan pingsan, tiba tiba hatinya lemas dan ia melepaskan cekikannya, sehingga si nona lantas saja roboh dengan kepala terpukul batu lantai.

Sesudah bersilang beberapa lama, perlahan lahan Tio Beng tersadar. Ia membuka kedua matanya dan melihat paras muka Boe Kie yang mengunjuk rasa kuatir. Sesudah si nona tersadar, Boe Kie menahan nafas lega.

“Apa benar In Kouwnio sudah meninggal dunia?” tanya Tio Beng.

Darah pemuda itu bergolak lagi. “Digores pedang tujuh belas delapan belas goresan bagaimana dia bisa hidup?” jawabnya dengan suara gemetar.

“Siapa… siapa yang kata aku berbuat begitu?” tanya Tio Beng. “Apa Cioe Kouwnio?”

“Cioe kouwnio tidak pernah memfitnah orang. Dia sama sekali tidak menuduh kau.”

“Apa In Kouwnio sendiri yang kata begitu?”

“In Kouwnio tidak bisa bicara. Binatang di pulau itu hanya terdapat lima orang. Apa ini perbuatan Giehoe? Apa aku? Apa In Kouwnio yang membacok dirinya sendiri? Hmm..! Kutahu jalan pikiranmu. Kau turunkan tangan jahat sebab kau takut aku menikah dengan piauw moay. Sekarang aku bicara terus terang. Tak peduli dia mati atau hidup, aku tetap menganggapnya sebagai isteriku.”

Tio Beng menundukkan kepalanya. Lama ia berdiri terpaku. Akhirnya ia bertanya. “Bagaimana kau bisa kembali ke Tionggoan?”

Boe Kie tertawa dingin. “Kami bisa kembali berkat kemuliaan hatimu,” katanya dengan nada mengejek. “Kau mengirim angkatan laut untuk mencari kami. Untung juga Gie hoe tidak setolol aku. Karena kecerdasan Gie hoe, kami tak masuk ke dalam perangkapmu. Kami tahu, bahwa kau telah mempersiapkan kapal2 meriam untuk menenggelamkan kapal yang ditumpangi kami. Tapi lihatlah! Tipu busukmu tak berhasil.”

Sambil mengusap usap pipinya yang bengkak, si nona menatap wajah Boe Kie. Mendadak kedua matanya mengeluarkan sinar kasihan dan mencinta. Ia menghela nafas panjang.

Buru2 Boe Kie memalingkan kepala ke lain jurusan, sebab ia kuatir terjatuh di bawah pengaruh kecantikan. Ia menjejak bumi dan berkata, “Aku pernah bersumpah untuk membalas sakit hati piauwmoay. Aku mengakui kelemahanku dan hari inin aku tidak bisa turun tangan. Kau terlalu jahat! Di lain hari kau pasti akan jatuh ke dalam tanganku!” Sehabis berkata begitu, ia berjalan keluar dengan tindakan lebar.

Tapi baru saja ia berjalan belasan tombak, Tio Beng sudah memburu. “Thio Boe Kie! Mau kemana kau?” teriak si nona.

“Kau tak perlu tahu!”

“Aku mau bicara dengan Cia tayhiap dan Cioe Kouwnio. Antarkan aku kepada mereka!”

“Giehoe tak akan berlaku sungkan terhadapmu,” kata Boe Kie. “Menemui Giehoe berarti mengantarkan jiwa.”

“Giehoemu kejam, tapi ia tidak setolol kau. Di samping itu, apabila Giehoemu membunuh aku, bukankah dengan demikian sakit hati piauw moaymu jadi terbalas impas?”

“Tolol apa aku? Aku hanya tak ingin kau menemui Giehoe.”

“Thio Boe Kie, kau memang tolol. Kau tak rela mengorbankan aku. Kau tak ingin ayah angkatmu membunuh aku. Bukankah begitu?”

Muka Boe Kie berubah merah. “Jangan rewel!” bentaknya. “Sebaiknya kau menyingkir jauh jauh dari kami. Jika tidak, aku mungkin tak dapat menguasai diriku lagi dan akan mengambil jiwamu.”

Setindak demi setindak Tio Beng mendekati. “Aku mesti ajukan beberapa pertanyaan kepada Cia Tayhiap dan Cioe Kouwnio,” katanya dengan suara sungguh sungguh. “Aku tak berani bicara jelek di belakang orang. Aku akan menanyakan seterang terangnya secara berhadap hadapan.”

“Pertanyaan apa yang kau akan ajukan?”

“Kau akan segera tahu. Aku sendiri berani menempuh bahaya, mengapa kau berbalik ketakutan?”

Boe Kie kelihatannya sangat bersangsi. Lewat beberapa saat, barulah dia berkata, “Kau harus ingat, bahwa kaulah yang memaksa. Jika Gie hoe turunkan tangan jahat, tak dapat aku menolong kau.”

“Kau tak usah terlalu kuatir,” kata si nona.

Tiba tiba Boe Kie naik darahnya. “Berkuatir?” ia mengulang. “Huh.. huh!.. Menurut pantas aku harus segera mengambil jiwamu.”

“Hayolah!” si nona menantang sambil tertawa.

Boe Kie mengeluarkan suara di hidung. Tanpa meladeni lagi, ia segera menuju ke kota dengan tindakan lebar, diikuti oleh Tio Beng dari belakang. Waktu hampir tiba di kota, Boe Kie menghentikan tindakannya dan menengok ke belakang. “Tio Kouwnio,” katanya, “aku pernah berjanji untuk melakukan tiga pekerjaan untukmu. Yang pertama mencari To liong to. Janji ini sudah dipenuhkan olehku. Masih ada dua. Jika kau menemui Giehoe, jiwamu pasti melayang. Kau pergilah! Aku ingin memenuhi janjiku itu dan sesudah terpenuhi, barulah kau pergi menemui Gie hoe.”

Si nona tertawa geli. “Thio Boe Kie,” katanya dengan suara bahagia. “Kau hanya mencari cari alasan supaya Giehoemu jangan sampai membinasakan aku. Kutahu, kau tak tega mengorbankan aku.”

“Kalau aku tak tega, mau apa kau?” kata Boe Kie dengan suara aseran.

“Aku merasa sangat girang,” jawabnya.

Boe Kie menghela napas. “Tio Kouwnio,” katanya. “Aku memohon… aku memohon.. kau jangan pergi…”

Si nona menggelengkan kepalanya. “Tidak, biar bagaimanapun jua, aku mesti menemui Cia Tayhiap,” katanya dengan suara tetap.

Boe Kie mengerti, bahwa tak guna ia membujuk lagi. Dengan tindakan berat, ia segera menuju rumah penginapan. Setiba di depan kamar Cia Soen, ia mengetuk pintu. “Giehoe!” panggilnya. Sesudah memanggil beberapa kali, ia belum juga mendapat jawaban. Ia menolak pintu kamar, tapi pintu itu dikunci dari dalam.

Ia merasa sangat heran karena ia tahu sang ayah angkat sangat sigap dan andaikata tertidur, tindakan kakinya di luar kamar pasti sudah menyadarkannya. Ia pun bercuriga dan berkuatir. Kalau orang tua itu keluar, mengapa pintu terkunci dari dalam? Ia segera mengerahkan tenaga dan mendorong pintu. “Brak!” palang pintu patah dan pintu terbuka dan… Cia Soen tak berada dalam kamarnya!

Boe Kie menyapu seluruh kamar dengan matanya. Ia mendapat kenyataan, bahwa jendela terbuka separuh. “Gie hoe tentu keluar dari jendela,” pikirnya.

Ia pergi ke depan kamar nona Cioe. “Cie Jiak! Cie Jiak!” panggilnya. Si nona tak memberi jawaban. Ia segera membuka pintu dengan paksa dan sekali lagi ia mendapat kenyataan, bahwa Cie Jiak juga tak berada dalam kamar tapi buntelan pakaiannya masih terletak di atas pembaringan. “Apa mereka disatroni musuh?” tanyanya dalam hati. Ia segera menanya seorang pelayan tapi pelayan itu tak lihat Cia Soen dan Cie Jiak dan juga tak mendengar suara keributan. Boe Kie jadi agak lega. “Mungkin sekali mereka mendengar suara mencurigai dan mereka lalu mengejar. Ayah angkat berkepandaian sangat tinggi dan dengan dikawani oleh Cie Jiak yang sangat berhati hati mungkin takkan terjadi sesuatu yang tak enak.” Waktu memeriksa jendela dan keadaan di bawah jendela ia tak lihat petunjuk yang mencurigakan. Dengan hati yang lebih tenang ia lalu kembali ke kamarnya.

“Melihat Cia tayhiap tak berada di dalam kamar, mengapa kau berbalik merasa senang?” tanya Tio Beng sambil tersenyum.

“Omong kosong! Lagi kapan aku merasa senang?”

“Kau rasa aku tak bisa membaca paras mukamu? Waktu menolak pintu, kau memang kaget. Tapi sesudah itu, ketegangan otot2 mukamu lantas menghilang.”

Boe Kie tak meladeni dan lalu duduk di pembaringan batu. Seraya bersenyum simpul, Tio Beng duduk di kursi. Ia melirik Boe Kie dan berkata dengan suara perlahan. “Kutahu… kutahu, bahwa di dalam hati, kau kuatir Cia tayhiap membunuh aku sehingga menghilangnya orang tua itu berbalik menyenangkan hatimu. Kutahu… kau tak tega mengorbankan aku.”

“Kalau aku tak tega, mau apa kau?” bentak Boe Kie dengan mendongkol.

Si nona tertawa, “Aku merasa sangat girang,” jawabnya.

“Tapi mengapa berulang kali kau coba mencelakai aku?” tanya Boe Kie. “Apa di dalam hati kau membenci aku, kau rela mengorbankan aku?”

Paras Tio Beng lantas saja bersemu dadu. “Benar,” katanya, “memang benar dulu aku berusaha untuk mengambil jiwamu. Tapi sesudah pertemuan di Lek Lioe chung, apabila dalam hati aku mempunyai niatan sedikit saja untuk mencelakai kau, biarlah aku dikutuk Tuhan Yang Maha Esa, biarlah aku binasa secara mengenaskan, biarlah aku tak bisa menitis lagi dalam dunia yang fana ini.”

Mendengar sumpah yang sangat berat itu, Boe Kie terkejut. “Tapi mengapa hanya karena sebatang golok dan sebatang pedang, kau sudah begitu tega terhadapku dan meninggalkan aku di pulau kecil itu?” tanyanya pula.

“Kalau kau tetap berpendapat begitu, aku pun tak akan bisa membantah,” kata si nona. “Tunggu saja sampai Cia tayhiap dan Cioe kouwnio datang.”

“Dengan lidahmu, kau hanya bisa menipu aku seorang. Kau pasti tak akan dapat mengelabui Giehoe dan Cioe kouwnio.”

“Mengapa kau rela ditipu aku? Karena kau mencintai aku, bukan?”

“Kalau ya, mau apa kau?” bentak Boe Kie.

“Aku sangat girang,” jawabnya sambil tertawa manis.

Melihat tertawa yang menggoncangkan hati, buru buru Boe Kie memalingkan kepala ke lain jurusan.

“Hampir setengah hari aku bersembunyi di pohon itu,” kata Tio Beng. “Sekarang kulapar.” Tanpa menunggu jawaban, ia memanggil pelayan, menyerahkan sepotong emas dan memerintahkan supaya disediakan semeja makanan kelas satu.

Melihat uang yang berjumlah besar itu, si pelayan berlaku hormat luar biasa dan tak lama kemudian makanan dan minuman mulai diantar masuk.

“Sebaiknya tunggu sampai Giehoe datang dan kita boleh makan bersama sama,” kata Boe Kie.

“Begitu Cia tayhiap datang, jiwaku akan melayang,” kata si nona. “Paling benar makan dulu. Lebih baik jadi setan perut kenyang daripada setan kelaparan.” Biarpun ia berkata begitu, sikapnya dan suaranya sangat tenang, sedikitpun tidak mengunjuk rasa kuatir. Sesudah berdiam sejenak, ia berkata pula, “Aku masih mempunyai emas. Sebentar kita boleh pesan makanan lagi.”

“Tapi aku tak berani makan bersama sama kau,” kata Boe Kie dengan suara dingin. “Kutakkan menaruh tahu Sip hiang joan kin san.”

Paras muka Tio Beng lantas saja berubah. Ia sangat mendongkol. “Terserah,” katanya. Sehabis ia berkata begitu, ia segera makan seorang diri. Sebab ia sendiri memang sudah lapar, Boe Kie lalu meminta beberapa potong kue phia dan memakannya dengan duduk di pembaringan batu.

Sesudah makan beberapa suap, si nona mendadak merasa sedih dan air matanya turun di kedua pipinya. Tiba tiba ia melemparkan sumpit dan lalu mendekam di meja sambil menangis segak seguk.

Lama juga ia menangis. Sesudah kedukaannya disalurkan, ia mengawasi keluar jendela. “Satu jam lagi siang akan berganti dengan malam,” katanya seorang diri. “Kemana Han Lim Jie akan dibawa? Kalau jejaknya tak dapat dicari, dia sukar ditolong lagi.”

Boe Kie terkejut. Ia melompat bangun dan berkata, “Benar. Aku harus menolong Han heng tee terlebih dahulu.”

“Cis! Tak tahu malu!” bentak Tio Beng. “Aku bukan bicara dengan kau.”

Melihat lagak si nona Boe Kie merasa geli tercampur dongkol. Cepat cepat ia menghabiskan kuenya dan lalu berjalan keluar dengan tindakan lebar.

“Aku ikut!” teriak Tio Beng.

“Tak boleh!”

“Mengapa?”

“Kau membunuh piauw moayku. Mana bisa aku berjalan sama sama musuh?”

“Baik. Nah, kau pergilah!”
Boe Kie segera bertindak keluar, tapi baru beberapa langkah, ia merandek. “Perlu apa kau berdiam di sini?” tanyanya.

“Tunggu Giehoemu. Aku akan memberitahu bahwa kau pergi untuk menolong Han Lim Jie.”

“Gie hoe sangat membenci kejahatan. Ia tak akan mengampuni kau.”

Tio Beng menghela napas. “Jika aku mesti mati, aku takkan mempersalahkan siapapun jua,” katanya. “Aku mati sebab nasibku buruk.”

Boe Kie mengawasi si nona. “Sebaiknya kau menyingkir untuk sementara waktu,” katanya dengan suara membujuk. “Sesudah aku kembali, kita bisa berdamai lagi.”

“Tak ada tempat untuk aku menyingkirkan diri.”

“Sudahlah! Kau ikut aku menolong Han Lim Jie.”

Tio Beng tertawa. “Ingatlah, kaulah yang mengajak aku,” katanya. “Bukan aku yang memohon mohon.”

“Hm… kau merupakan binatang iblis bagi diriku. Rupa rupanya memang sudah nasibku semenjak bertemu dengan kau, aku selalu menderita.”

Tio Beng tertawa geli. “Tunggu sebentar,” katanya sambil menepal pintu.

Beberapa lama kemudian, setelah pintu terbuka lagi, si nona ternyata sudah menukar pakaian, pakaian wanita yang sangat indah. Boe Kie tak pernah menduga, bahwa di dalam buntelan yang selalu dibawa bawa terisi seperangkat pakaian yang mahal harganya. “Perempuan ini banyak akalnya dan sepak terjangnya selain diluar dugaan orang,” katanya di dalam hati.

“Mengapa kau terus mengawasi aku?” tanya Tio Beng. “Apa pakaianku bagus?”

“Muka seperti bunga tho dan lie, hati bagaikan ular dan kalajengking,” jawabnya.

Tio Beng tertawa terbahak bahak. “Terima kasih banyak kepada Thio Toakauwcoe yang sudah menghadiahkan kata kata seindah itu,” katanya. “Thio kauwcoe, kaupun harus menukar pakaian.”

“Sedari kecil aku sudah biasa memakai pakaian compang camping,” kata Boe Kie dengan hati mendulu. “Apabila kau merasa malu melihat pakaianku, kau boleh tak usah mengikutku.”

“Kau jangan menduga yang tidak tidak,” kata Tio Beng sambil tersenyum. “Aku hanya ingin melihat romanmu sesudah kau mengenakan pakaian yang baik. Boe Kie koko, kau tunggulah di sini sebentar. Kawanan pengemis itu pasti mengambil jalanan ke Kwan Lwee. Kita tentu dapat mengejar mereka.” Sehabis berkata begitu tanpa menunggu jawaban, ia segera berlalu.

Boe Kie duduk bengong di pembaringan batu. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri, ia heran mengapa ia seperti tauwhoe yang bisa dipermainkan oleh perempuan itu. “Terang terang dialah yang membinasakan piauw moay tapi aku masih bisa beromong omong dan tertawa tawa dengan dia,” pikirnya. “Boe Kie… ah Boe Kie… Lelaki apa kau? Apa kau ada muka untuk menjadi kauwcoe dari Beng kauw, untuk memimpin segenap orang gagah di kolong langit?”

Lama juga ia menunggu, tapi Tio Beng belum juga balik. Cuaca sudah mulai gelap.

“Perlu apa kutunggu dia?” pikirnya. Ia mau lantas berangkat, tapi ia segera membayangkan kemungkinan bertemunya Tio Beng dengan ayah angkatnya. Kalau mereka bertemu muka, nona Tio pasti akan binasa. Mengingat begitu dia mengurungkan niatnya dan menunggu terus. Ia mendongkol bukan main, duduk salah berdiripun salah. Akhirnya terdengar tindakan kaki dan si nona masuk dengan tangan menyangga dua bungkusan.

“Mengapa begitu lama?” tanya Boe Kie. “Sudahlah! Aku tak usah menukar pakaian. Mari kita berangkat.”

Si nona tertawa. “Sesudah kau menunggu begitu lama, beberapa detik lagi untuk menyalin pakaian tak jadi soal,” katanya. “Aku sudah membeli dua ekor kuda dan kita bisa mengubar di waktu malam.” Ia mengeluarkan kedua bungkusan itu dan mengeluarkan seperangkat pakaian, sepatu dan kaos kaki. “Di tempat kecil tak ada barang baik,” katanya pula. “Setibanya di kota raja, aku akan beli baju kulit rase.”

Boe Kie kaget dan lalu berkata dengan suara sungguh sungguh, “Tio Kouwnio, apabila kau menganggap bahwa aku kemaruk akan segala kemewahan dan bersedia untuk menekuk lutut kepada kerajaan, hilangkanlah anggapan itu. Thio Boe Kie adalah anak cucu bangsa Han. Andaikata diangkat menjadi raja muda, iapun tak akan menakluk kepada bangsa Mongol.”

Tio Beng menghela napas. “Thio Kauwcoe, kau lihatlah!” katanya. “Lihatlah, apa ini pakaian seorang Mongol atau pakaian orang Han?” Seraya berkata begitu, ia lalu membuka baju dan celana yang baru dibelinya. Boe Kie manggut2kan kepalanya, sebab pakaian itu adalah pakaian Han. Sesudah itu, sambil memutar tubuh, si nona berkata pula, “Nah kau lihatlah lagi! Apa pakaian ini pakaian puteri Mongol atau pakaian seorang puteri Han?”

Hati Boe Kie berdebar2. Tadi ia tak berkata. Sekarang ia mendapat kenyataan, bahwa nona Tio memang mengenakan pakaian wanita Han. Ia menatap wajah si nona yang balas mengawasinya dengan sorot mata penuh kecintaan. Mendadak ia tersadar, ia sadar akan maksud puteri Mongol itu. “Kau… kau…” katanya dengan suara parau.

“Sebab kutahu kau mencintai aku, aku sekarang tidak memperdulikan apapun jua. Aku bersedia untuk membuat pengorbanan yang paling besar,” katanya dengan suara perlahan. “Bagiku, orang Mongol atau orang Han tak jadi soal lagi. Kalau kau orang Han, aku orang Han. Kalau kau orang Mongol, akupun orang Mongol. Apa yang dipikiri olehmu adalah soal negara, soal ketentraman, soal kekuasaan, pengaruh dan nama. Tapi Boe Kie koko, bagiku yang paling penting adalah kau seorang – pribadimu sendiri. Entah kau manusia baik, entah kau pengemis… bagiku… sama saja!”

Mendengar kata2 itu, bukan main rasa terharunya Boe Kie. Untuk beberapa saat ia berdiri terpaku tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata. Akhirnya ia berkata, “Apakah kau mencelakai piauwmoay lantaran jelus? Lantaran kuatir aku akan menikah dengan dia?”

“Thio Toakauwcoe!” bentak Tio Beng dengan suara keras. “Bukan aku yang mencelakai In Kouwnio. Kau percaya, baik – tidak ya sudah! Hanya ini keteranganku!”

Boe Kie menghela napas. “Tio Kouwnio,” katanya, “manusia bukan kayu atau batu. Kutahu kecintaanmu terhadapku. Tapi apakah sampai hari ini dan di tempat ini, kau masih juga ingin mendustai aku?”

“Dahulu, kuanggap diriku pintar. Tapi sekarang kutahu, bahwa di dalam dunia ada hal hal yang berada di luar taksiran manusia,” kata si nona secara menyimpang. “Boe Kie koko, biarlah kita jangan berangkat hari ini. Kau tunggu Cia tayhiap di kamar ini dan aku sendiri akan menunggu Cioe Kouwnio di kamarnya.”

“Mengapa begitu?” tanya Boe Kie heran.

“Kau tak usah tanya,” jawabnya. “Kau tidak usah kuatir akan keselamatan Han Lim Jie. Aku tanggung dia akan dapat ditolong.” Seraya berkata begitu, ia berjalan keluar dan pergi ke kamar Cie Jiak.

Boe Kie bingung. Ia tak dapat meraba maksud nona itu. Sambil bersandar di pembaringan batu, ia mengasah otak. Mendadak di dalam otaknya berkelebat serupa ingatan. “Apa tak bisa jadi, ia telah mengatur siasat untuk mencelakai Cie Jiak karena ia tahu aku sudah bertunangan dengan nona Cioe?” pikirnya di dalam hati. “Apa tak bisa jadi, ia menyuruh Hian beng Jie loo datang disini untuk membokong Gie hoe dan Cie Jiak?” Mengingat Hian beng Jie loo, rasa kuatirnya menghebat. Kedua kakek itu berkepandaian sangat tinggi. Biarpun matanya bisa melihat, ayah angkatnya belum tentu dapat menandingi salah seorang dari mereka. Ia melompat bangun dan berlari lari ke kamar Tio Beng. “Tio Kouwnio, kemana perginya Hian beng Jie loo?” tanyanya.

“Mungkin mereka menyusul ke selatan, sebab rupa rupanya mereka anggap aku masuk ke daerah Kwan lwee sesudah aku meloloskan diri,” jawabnya.

“Apa benar?”

“Kalau tak percaya, perlu apa kau tanya?”

Boe Kie tertegun. Ia berdiri di depan kamar tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun jua.

“Kalau aku mengatakan, bahwa aku sudah menyuruh Hian beng Jie loo datang kesini untuk membinasakan Cia tayhiap dan Cioe Kouwniomu yang tercinta, apa kau percaya?” tanya si nona.

Perkataan itu kena jitu di hati Boe Kie. Sekali menendang, pintu terpental. Dengan paras muka merah padam, ia berkata. “Kau…. Kau…..”

Melihat paras yang menakuti, si nona baru ketakutan. Ia merasa menyesal, bahwa ia sudah mengeluarkan kata-kata itu. “Jangan marah!” katanya terburu-buru. “Aku hanya guyon-guyon.”

Dengan sorot mata bagaikan pisau, Boe Kie menatap wajah si nona. “Tio Kouw Nio, bicaralah terang-terangan….. “ katanya dengan suara menyeramkan. “Kau tidak takut datang di sini… kau tidak takut bertemu dan dipadu dengan Gie Hoe. Apakah itu berarti, bahwa kau sudah tahu mereka berdua sudah mati, sudah tak ada lagi didalam dunia ini?” seraya berkata begitu, ia maju beberapa tindak, sehingga dengan sekali menghantam, ia akan bisa mengambil jiwa nona Tio.

Tio Beng balas mengawasi mata pemuda itu. “Thio Boe Kie,” katanya dengan suara sungguh-sungguh. “Aku bicara terus terang kepadamu. Dalam hal-hal di dunia ini, kecuali kau lihat dengan mata sendiri, kau tidak boleh lantas percaya. Lebih-lebih kau tidak boleh memikirkan yang bukan-bukan dan menarik kesimpulan sendiri. Jika kau mau membunuh aku, sekarangpun kau boleh turun tangan. Tapi kalau sebentar Gie Hoe-mu datang, bagaimana perasaanmu?”

Kegusaran Boe Kie lantas saja mereda, bahkan ia merasa malu sendiri. “Apabila Gie Hoe tidak kurang suatu apa, aku tentu saja merasa sangat girang.” Katanya dengan suara perlahan. “Kau tidak boleh guyon-guyon dalam soal keselamatan ayah angkatku.”

Tio Beng mengangguk. “memang, memang tak pantas aku mengeluarkan kata-kata itu.” Katanya. “Kuharap kau suka memaafkan.”

Mendengar permintaan maaf itu, hati Boe Kie lantas saja lemas. Ia tersenyum dan berkata, “Untuk kekasaranku, akupun memohon maaf.” Sehabis berkata begitu, ia segera balik ke kamar Cia Soen.

Semalam suntuk mereka menunggu, tapi kedua orang yang ditunggu tak juga kembali. Sesudah sarapan pagi ia segera berdamai dengan Tio Beng. “Heran sekali,” kata si nona sambil mengerutkan alis. “Kecuali Kay Pang, di tempat ini tak terdapat lain orang Kang Ouw. Sebaiknya kita mengejar rombongan Soe Hwee Liong dan coba menyelidiki.”

Boe Kie menyetujui usul itu. Sesudah membayar uang sewa kamar, ia memesan pengurus rumah penginapan supaya Cia Soen dan Cie Jiak jika mereka kembali menunggu saja di penginapan itu. Tak lama kemudian, seorang pelayan menuntun dua ekor kuda yang garang dan tinggi besar badannya. Boe Kie merasa kagum dan memberi pujian kepada kuda Kwan Gwa yang tersohor itu. Mereka lantas saja melompat ke punggung tunggangan itu yang segera dikabur ke jurusan selatan. Mereka merupakan pasangan setimpal yang lelaki tampan yang perempuan cantik, dan kedua-duanya mengenakan pakaian indah. Yang tak tahu pasti akan menduga bahwa mereka adalah suami isteri bangsawan yang sedang pesiar di daerah itu.

Hari itu mereka melalui dua ratus li lebih, malamnya mereka menginap di sebuah penginapan pada keesokan pagi. Mereka meneruskan perjalanan kira-kira tengah hari, angin dingin mulai meniup dengan santernya sehingga awan hitam beterbangan di angkasa. Sesudah mulai lagi, dua puluh li lebih salju mulai turun. Selama dalam perjalanan Boe Kie jarang berbicara dengan Tio Beng. Kini, meskipun turunnya salju jadi makin besar, ia terus membedal kuda tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Di waktu magrib, tebalnya salju sudah hampir sekali. Biarpun gagah, kedua tunggangan itu lelah, apapula mereka harus berjalan di jalanan gunung yang licin dan tebal saljunya. Boe Kie menahan les dan mengawasi seputarnya. Mereka berada di gunung yang tak ada manusianya. “Tio Kouw Nio, bagaimana baiknya?” Boe Kie bertanya, “kalau kita meneruskan perjalanan, kedua binatang ini mungkin roboh.”

Si nona tertawa dingin. “Kau hanya memikiri kuda, tidak memperdulikan manusia.” Jawabnya.

Ditegur begitu, Boe Kie merasa menyesal tercampur malu. “Aku sendiri mempunyai Kioe Yang Sin Kang, sehingga tidak mengenal letih,” pikirnya. “Benar-benar aku tak ingat dia.”

Sesudah berjalan lagi beberapa jauh, dari pinggir jalan tiba-tiba melompat keluar seekor kijang yang terus kabur ke atas. “Tio Kouw Nio, kau tunggu di sini.” Kata Boe Kie.

“Aku mau tangkap kijang itu untuk menangsal perut.” Ia melompat turun dan terus mengejar dengan mengikuti tapak-tapak di salju. Sesudah membelok di sebuah tanjakan lapat-lapat ia lihat binatang itu lari ke arah sebuah gua. Dengan sekali mengempos semangat, tubuh Boe Kie melesat bagaikan anak panah dan sebelum kijang itu masuk ke gua, ia sudah berhasil mencekal lehernya. Binatang itu coba memberontak, tapi tulang lehernya lantas patah dipijut Boe Kie.

Dengan menenteng bangkai kijang, Boe Kie kembali kepada Tio Beng. “Di sana ada sebuah gua yang cukup besar untuk dua orang.” Katanya. “Apa kau setuju jika kita menginap di situ?”

Nona Tio mengangguk. Tiba-tiba mukanya bersemu dadu dan ia memalingkan kepala ke lain jurusan.

Sesudah menambat kedua kuda di bawah pohon siong, Boe Kie lalu mencari cabang-cabang kayu kering dan membuat perapian di depan gua. Gua itu yang di dalamnya gelap, ternyata sangat bersih, bebas dari kotoran binatang. Boe Kie menguliti bangkai kijang, mencuci dagingnya dengan salju dan kemudian membakarnya di atas perapian. Tio Beng membuka baju luarnya yang terbuat daripada kulit binatang, menggelarnya di lantai gua dan kemudian mendudukinya sambil menikmati hawa hangat dari perapian. Tiba-tiba Boe Kie menengok dan mereka berdua saling tersenyum. Senyuman yang menghilangkan semua rasa letih dan lelah.

“Sesudah daging masak, mereka lalu makan dengan bernapsu. Selang beberapa lama, sambil bersender di dinding gua. Boe Kie berkata, “Kau tidurlah!” si nona tertawa manis, ia bersandar di dinding seberang dan lalu memejamkan kedua matanya. Dengan hidung yang saban-saban mengendus wewangian yang keluar dari badan puteri Mongol itu, Boe Kie melirik dengan rasa kagum, karena di bawah sinar api, Tio Beng lebih cantik lagi, seolah-olah sekuntum bunga Hay Thong yang baru mekar. Seraya menghela napas, iapun memejamkan mata.

Kira-kira tengah malam sayup-sayup tersadar dan segera memasang kuping. Ia tahu, bahwa yang sedang mendatangi berjumlah empat ekor kuda. “Di tengah malam buta dan di waktu turun salju mereka berjalan juga,” katanya di dalam hati. Mereka pasti sedang menghadapi urusan pentin.

“Makin lama suara itu makin dekat. Untuk sejenak mereka berhenti dan kemudian berjalan lagi. Tak bisa salah lagi kuda-kuda itu menghampiri gua, Boe Kie kaget. “Gua ini terletak di tempat yang sembunyi,” pikirnya. “Kalau bukan dituntun kijang, aku tak akan bisa mencarinya. Mengapa dan cara bagaimana orang-orang itu bisa datang kemari?” tiba-tiba ia mendusin dan berkata pula di dalam hati. “Benar! Mereka tentu lihat tapak kaki kami.”

Ketika itu Tio Beng pun sudah tersadar. “Mereka mungkin musuh,” katanya. “Biarpun kita tak takut, sebaiknya kita menyingkir.”

“Mereka datang dari selatan,” kata Boe Kie.

“Heran sekali,” kata si nona sambil meraup salju yang lalu digunakan untuk menutup api.

Sementara itu suara kaki kuda sudah berhenti dan sebagai gantinya terdengar tindakan empat orang. Dalam sekejab mereka mendekati gua. “gerakan mereka sangat cepat,” bisik Boe Kie. “Mereka berkepandaian sangat tinggi,” ia bingung sebab orang-orang itu sudah hampir tiba di depan gua. Tiba-tiba Tio Beng mencekal tangannya dan menariknya masuk ke dalam. Makin ke dalam gua itu jadi makin sempit dan baru saja masuk setombak lebih, mereka bertemu dengan sebuah tikungan.

Sekonyong-konyong terdengar suara seorang.

“Ah! Di sini ada gua.”

Boe Kie kaget tercampur girang sebab ia segera mengenali, bahwa orang yang berbicara adalah paman gurunya yang keempat. Thio Siong Kee.

“Tanda-tanda yang tinggalkan Cit Tee menuju ke tempat ini,” kata seorang lain. “Mungkin sekali Cit Tee pernah masuk ke gua ini,” itulah suara Boe Tong Liok Hiap, In Lie Heng.

Baru saja Boe Kie mau memanggil, mulutnya sudah ditekap Tio Beng. “Kita berada berduaan dan kalau dilihat mereka, kita akan merasa tidak enak,” bisik si nona.

Boe Kie menyetujui peringatan itu. Meskipun ia putih bersih, tapi jika ia dan Tio Beng ditemukan berduaan dalam sebuah gua, para paman itu tentu sukar percaya kebersihannya. Apapula, sebagai koencoe dari kerajaan goan, nona Tio pernah memperanjakan para pendekar Boe Tong di Ban Hoat Sie, sehingga kalau mereka bertemu muka, pertemuan itu merupakan pertemuan antara musuh dan musuh. Ia segera mengambil keputusan, bahwa begitu lekas para pamannya berlalu, akan segera ia berpisahan dengan Tio Beng, supaya ia tak usah mengalami hal-hal yang tidak enak.

“Ih!” Demikian terdengar seruan Jie Lian Cioe. “Di sini ada cabang-cabang siong yang terbakar…. Hmmm.. kulit… darah dan sisa daging kijang.”

“Hatiku sangat tak enak.” Kata orang keempat. “Kuharap saja Cit Tee tak kurang suatu apa.” Orang itu bukan lain daripada Song Wan Kiauw.

Jantung Boe Kie memukul keras. Empat paman gurunya turun gunung bersama-sama untuk mencari Boh Seng Kok. Dari pembicaraan mereka, dapat ditarik kesimpulan, bahwa paman guru yang paling kecil itu telah bertemu dengan musuh yang kuat. Ia turut merasa kuatir.

“Toa Soeko tak usah begitu kuatir,” kata Thio Siong Kee sambil tertawa. “Karena sangat mencintai Cit Tee, Toa Soeko masih menganggap dia sebagai anak kecil Boh Seng Kok dahulu. Andaikata ia bertemu dengan musuh tangguh, kurasa Cit Tee masih bisa menghadapinya.”

Aku bukan kuatir Cit Tee,” kata In Lie Heng. “Yang kupikiri si bocah Boe Kie yang sekarang tak ketahuan ke mana perginya. Dia sekarang menjadi kc dari Beng Kauw. Pohon yang tinggi mengandung angin. Dalam kedudukannya itu tentu ada banyak musuh yang ingin mencelakainya. Walaupun ilmu silatnya tinggi, pikirnya terlalu sederhana dan ia tak tahu hebatnya gelombang Kang Ouw. Kuatir ia kena ditipu orang jahat.”

Boe Kie merasa sangat terharu. Budi kebaikan para pamannya besar bagaikan gunung dan ia tak tahu bagaimana harus membalasnya. Mendadak Tio Beng berbisik, “aku orang jahat dan sekarang kau sudah ditipu orang jahat. Apa kau tahu?”

“Dalam usaha mencari Boe Kie dengan mengambil jalan utara, Cit Tee nampaknya telah mendapat endusan,” kata Song Wan Kiauw. “tapi apa artinya itu delapan perkataan yang ditinggalkannya di rumah penginapan Wie Kek di Tian Cin?”

“Ya….. “ kata Thio Siong Kee. “Cit Tee mengatakan, dalam rumah tangga ada perubahan, kita harus membersihkannya. Siapa yang dimaksudkan dengan kata-kata itu? Apakah dalam Boe Tong Pay terdapat manusia keji? Apa Boe Kie…. “ ia tak meneruskan perkataannya. Tapi nada suaranya mengunjuk rasa kuatir.

“Kurasa anak Boe Kie tak nanti melakukan sesuatu yang merusak nama rumah perguruan kita.” Kata In Lie Heng.

“Tapi si perempuan siluman Tio Beng terlampau lihai,” kata pula Thio Siong Kee. “Kau jangan lupa, anak Boe Kie masih muda, seorang muda gampang sekali dipengaruhi dengan kecantikan. Apakah… apakah… ia bertindak seperti ayahnya yang akhirnya binasa secara mengenaskan?…. “ Keadaan berubah sunyi. Yang terdengar hanyalah hela napas.

Beberapa saat kemudian terdengar suara beradunya batu api yang membakar cabang-cabang pohon. Salah seorang pendekar Boe Tong membuat obor yang sinarnya lantas saja menerangi bagian dalam gua. Biarpun berada di tikungan, sayup-sayup Boe Kie bisa melihat paras muka Tio Beng yang mengunjuk rasa duka tercampur gusar. Ia tahu, bahwa perkataan Thio Siong Kee telah membangkitkan rasa jengkelnya si nona. Ia sendri merasa bingung dan berkata di dalam hati. “Perkataan Thio Sie Siok memang beralasan. Ibu belum pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas. Tapi toh, dia menyeret ayah sampai binasa, Tio Kouw Nio telah membunuh pmy, menghina Thay Soehoe dan para paman, ia tak bisa dibandingkan dengan ibu.” Memikir begitu, ia makin bingung. Kalau mereka menemukan aku bersama Tio Kouw Nio di gua ini, biarpun aku mencuci dengan semua air sungai Hoang Ho, tak dapat aku membersihkan diri.”

Tiba-tiba terdengar suara Song Wan Kiauw yang bergemetar. “Sie-tee, di dalam hatiku terdapat sebuah pertanyaan yang tak bisa keluar dari mulutku. Kalau aku mengatakan terang-terangan aku merasa tak adil terhadap ngo-tee yang sudah meninggal dunia.”

“apakah Toako kuatir Boe Kie turunkan tangan jahat terhadap Cit Tee?” tanya Thio Siong Kee dengan suara perlaha.

Song Wan Kiauw tak menyahut. Meskipun tak melihat, Boe Kie merasa bahwa paman itu telah manggutkan kepala.

“Anak Boe Kie berwatak mulia dan jujur.” Kata Thio Siong Kee. “Menurut pantas, ia takkan melakukan perbuatan keji itu, tapi Cit Tee sangat berangasan dan ceroboh. Kalau ia mendesak Boe Kie sampai di jalan buntu ditambah dengan siasat si perempuan siluman Tio Beng memang…. Memang… Hai!… Hati manusia tak dapat dijajaki. Semenjak dulu orang gagah sukar melawan paras cantik. Aku hanya berdoa agar dalam menghadapi detik-detik penting, Boe Kie bisa mempertahankan diri.”

“Toako, Sieko! Kalian jangan omong yang tidak-tidak!” kata In Lie Heng. “Belum tentu Cit Tee mengalami kebencanaan.”

“Tapi sendiri melihat pedang Cit Tee, aku tak enak tidur,” kata Song Wan Kiauw.

“Memang benar,” menyambung Jie Lian Cioe. “Orang-orang rimba persilatan sekali-sekali tak boleh lalai terhadap senjatanya. Kita tak boleh menaruh senjata secara sembarangan saja. Apapula pedang itu hadiah Soehoe. Kata orang pedang ada, orangnya hidup, pedang hilang, orangnya…. “ mendadak ia berhenti bicara dan perkataan “mati” yang sudah hampir keluar, ditelan lagi olehnya.

Mendadak kecurigaan keempat paman guru itu terhadap dirinya, Boe Kie jadi makin bingung dan berduka. Sekonyong-konyong dari dalam gua keluar semacam bau wangi yang tercampur dengan bau anaknya binatang, seperti jua gua itu pernah atau memang sedang dialami binatang. Karena kuatir wewangian itu diendusi para pamannya, sembil menahan napas dan mencekal sebelah tangan Tio Beng, Boe Kie masuk lebih jauh ke dalam gua. Supaya tak tersandung batu-batu yang menonjol, sambil berjalan Boe Kie meraba-raba lantai gua dengan tangan kirinya. Sesudah beberapa tindak dan baru saja membelok di sebuah tikungan lain, tangannya mendadak menyentuh sebuah benda lembek seperti tubuh manusia.

Boe Kie terkesiap, “tak perduli orang ini sahabat atau musuh sedikitpun dia tak bersuara para paman tentu akan mendengarnya,” katanya dalam hati. Bagaikan kilat ia menotok lima “hiat” di dada orang itu dan kemudian mencekal tangannya dan hatinya mencelos, sebab tangan itu seperti es tangan orang mati! Dengan bantuan sinar remang-remang yang menembus dari luar ia mengawasi muka orang itu. Tiba-tiba ia menggigil. Lapat-lapat ia seperti melihat muka Boh Seng Kok! Tanpa menghiraukan bahaya lagi, ia mendukung jenazah itu dan maju beberapa tindak ke tempat yang lebih terang. Sekarang ia mendapat kepastian, bahwa jenazah itu adalah jenazah Boh Seng Kok, yang mukanya pucaat dan matanya belum tertutup. Gusar dan duka bergolak-golak di dada pemuda itu, untuk sejenak ia berdiri terpaku.

Beberapa tindakan Boe Kie itu sudah didengar oleh keempat pendekar Boe Tong. “Siapa?” bentak Jie Lian Cioe. Dengan serentak mereka menghunus pedang.

Boe Kie mengeluh, “Jika ditemukan, aku pasti tidak bisa mengelakkan tuduhan membunuh paman,” pikirnya.

Pada detik itu di dalam otaknya berkelebat-kelebat berbagai ingatan. Dadanya menyesak dengan kedukaan yang sangat hebat karena ia ingat budi kecintaan Boh Seng Kok terhadap dirinya.

Dalam menghadapi bahaya, Tio Beng bisa berpikir cepat. Mendadak ia melompat dan menerjang sambil memutar pedang, bagaikan kilat ia mengirim empat serangan dengan pukulan-pukulan Go Bie Kiam Hoat yang terhebat. Baru saja keempat pendekar Boe Tong menangkis, ia sudah menerobos keluar dan sembil mengelakkan tikaman Thio Siong Kee, ia melompat ke punggung kuda dan menendang perut tunggangan itu dengan kakinya sehingga lantas saja kabur sekeras-kerasnya. Tiba-tiba ia merasa punggungnya sakit dan matanya berkunang-kungan. Sambil mendekam dan memeluk leher kuda ia mempertahankan diri dan kabur terus. Ternyata ia sudah kena pukulan Jie Lian Cioe dan meskipun kenanya tidak telak, ia terluka berat.

Sementara itu sambil berteriak-teriak, keempat pendekar Boe Tong sudah mengejar dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. “Makin jauh aku lari, makin gampang dia meloloskan diri,” kata Tio Beng di dalam hati. “Untung juga semua orang mengejar aku.”

Ketika si nona menerjang ke luar, Boe Kie mencelos hatinya. Dilain saat barulah ia mengerti, bahwa Tio Beng telah menggunakan tipuan muslihat untuk memancing harimau meninggalkan gunung untuk menolong dirinya. Buru-buru dengan mendukung jenazah Boh Seng Kok, ia lari keluar dan terus kabur ke jurusan barat sebab para pamannya mengejar ke arah timur. Sesudah melalui kurang lebih dua li, ia berhenti dan menaruh jenazah itu di belakang sebuah batu besar. Sesudah itu, ia kembali ke jalanan tadi dan memanjat sebuah pohon. Lama ia bersembunyi di situ sambil mengucurkan air mata. “Ah! Sungguh malang nasib Boe Tong Pay!” pikirnya. “siapakah yang telah membinasakan Cit Soesiok?”

Berselang kira-kira setengah jam, ia mendengar suara kaki kuda yang mendatangi utara dari tenggara. Tak lama kemudian, ia melihat dua ekor kuda dengan empat penunggangnya: Song Wan Kiauw dan Jie Lian Cioe menunggang yang satu, In Lie Heng dan Thio Siong Kee menunggang yang lain.

“Sesudah kena pukulanku, perempuan siluman itu jatuh ke jurang,” demikian terdengar suara Jie Lian Cioe. “Kurasa dia tak akan bisa hidup lagi.”

“Hari ini barulah kita bisa mencaci hinaan di Ban Hoat Sie,” kata Thio Siong Kee. “Tapi perlu apa di bersembunyi di gua itu? Aku benar-benar merasa heran.”

“Tapi Sieko, apakah kau tidak bisa menebak-nebak?” tanya In Lie Heng.

“Tak bisa,” jawabnya. “Bagi kita, binasanya perempuan siluman itu tidak begitu penting. Kita baru bisa bergirang kalau kita bisa menemukan Cit Tee.” Makin lama mereka makin jauh dan akhirnya Boe Kie tidak bisa mendengar lagi pembicaraan mereka.

Sesudah menunggu beberapa lama lagi, Boe Kie turun dari pohon. Dengan mengikuti tapak-tapak kaki di atas salju, ia lantas berlari-lari ke arah timur. Ia sangat berkuatir akan keselamatan Tio Beng dan berkata dalam hatinya. “Biarpun jahat, kali ini dia menolong jiwaku. Kalau karena aku dia mengantarkan jiwa, aku sungguh…. “ memikir begitu, ia lari makin keras dan sesudah melalui kira-kira lima li, ia bertemu dengan sebuah tebing. Tapak-tapak di sekitarnya kelihatan kalang kabut, sedangkan di sisi tebing terdapat tanda-tanda dari gugurnya tanah dan batu. Boe Kie mengerti, bahwa karena terdesak, Tio Beng sudah terjun ke bawah bersama-sama kudanya.

“Tio Kouw Nio! Tio Kouw Nio!” teriaknya. Ia tak dapat jawaban. Ia melongok ke jurang. Ditengah malam ia tak bisa lihat dasar jurang itu yang dindingnya sangat terjal dan tidak punya tempat untuk menaruh kaki.

Tapi Boe Kie sudah nekat. Seraya menarik napas dalam-dalam ia turunkan kedua kakinya dan lalu merosot ke bawah sambil bersandar di dinding jurang. Perbuatan itu tentu sangat berbahaya, tapi ia tak memikir panjang-panjang lagi. Seraya merosot, ia mengerahkan lweekang dan berusaha keras untuk menancapkan sepuluh tangannya di es yang keras. Ia berhasil dan sesudah berhenti sejenak ia merosot lagi. Kejadian ini terulang lima enam kali. Akhirnya ia tiba di dasar jurang. Mendadak ia melompat karena kakinya menyentuh sesuatu yang lembek. Dengan meraba-raba ia mendapat tahu bahwa kakinya telah menginjak paha kuda dan Tio Beng sendiri masih mendekam di punggung kuda dan memeluk leher binatang itu. Cepat-cepat ia menyelidiki pernapasan si nona. Ia merasa agak lega sebab walaupun pingsan, gadis itu masih bernapas. Untung sungguh si nona terus memeluk leher kuda, sehingga di waktu jatuh, yang terpukul hebat adalah binatang yang mati seketika itu juga. Boe Kie lalu memegang nadi Tio Beng. Ia girang sebab ia mendapat kenyataan, bahwa meskipun terluka berat jiwa si nona tidak akan terancam. Ia segera mendukungnya, menempelkan kedua telapak tangannya dengan telapak tangan Tio Beng dan kemudian mengerahkan tenaga dalam untuk mengobati luka itu.

Boe Kie bukan saja memilik lweekang yang sangat kuat. Tapi juga mahir dalam ilmu ketabiban. Maka itu sesudah dibantu kira-kira setengah jam dengan lweekang Boe Tong Pay yang murni, perlahan-lahan Tio Beng tersadar. Sesudah itu, Boe Kie lalu memasukkan Kioe Yang Cin Khie ke dalam tubuh si nona. Setengah jam kemudian fajar menyingsing. Tiba-tiba, “Uah!” Tio Beng muntah dara, ia tersadar seluruhnya. “Apa mereka sudah pergi? Apa mereka bertemu dengan kau?” bisiknya.

Mendengar pertanyaan yang penuh kasih sayang itu, bukan main rasa terharunya Boe Kie. “Mereka tidak menemukan aku,” jawabnya. “ah! …. Karena kau, kau sangat menderita…. “ Selagi bicara ia tetap mengirim Cin Khi ke dalam tubuh si nona. Dengan bibir tersungging senyuman Tio Beng memejamkan matanya. Kaki tangannya lemas, tapi dada dan perutnya hangat dan ia merasa nyaman sekali. Sesudah “hawa tulen” itu berputar beberapa kali di dalam tubuhnya, ia memutar kepalanya dan berkata sambil tersenyum. “Kau mengasolah. Aku sudah banyak mendingan.”

Mendadak rasa terima kasih yang sangat besar bergelombang dalam hati Boe Kie. Ia memeluk erat-erat dan menempelkan pipinya pada pipi si nona. “Kau sudah menolong nama baik-ku dan pertolongan itu sepuluh kali lipat lebih berharga daripada pertolongan jiwa,” bisiknya.

Tio Beng tertawa geli. “Aku perempuan jahat, bagiku nama baik tak menjadi soal. Yang penting adalah jiwa.”

Pada saat itulah, di atas jurang tiba-tiba terdengar bentakan. “Perempuan siluman! Benar saja kau belum mampus! Cara bagaimana kau mencelakai Boh Cit Hiap! Lekas mengaku!”

“Jangan perlihatkan mukamu!’ bisik nona Tio.

“Perempuan bangsat! Teriak Thio Siong Kee. “Jika kau tidak menjawab, kami akan menghantam dengan batu besar!”

Tio Beng mengawasi ke atas. Benar saja, Song Wan Kiauw berempat kelihatan berdiri di pinggir tebing dengan masing-masing memegang sebuah batu besar. Jika mereka menimpuk, jiwanya dan jiwa Boe Kie akan segera melayang. “Robek baju kulit ini untuk menutupi mukamu,” bisiknya. “Sesudah itu barulah kita kabur.”

Boe Kie segera melakukan nasehat si nona. Sesudah memakai topeng, ia menekan topi kulitnya ke bawah sampai lewat dahi.

Mengapa empat pendekar Boe Tong itu balik kembali! Karena mereka mempunyai pengalaman luas. Sesudah Tio Beng jatuh ke jurang, mereka sengaja menyingkir jauh-jauh. Tapi mereka tahu, bahwa sebagai seorang puteri dari kerajaan Goan, si nona pasti tidak berjalan sendirian. Ia pasti mempunyai orang-orang yang melindunginya secara diam-diam. Demikianlah, sesudah berjalan beberapa li, mereka kembali dan sesudah menambat tunggangan mereka di dahan pohon, mereka membuat obor dan memeriksa gua bekas tempat bersembunyinya Tio Beng. Di dalam gua mereka menemukan bangkai dua ekor rase yang badannya rusak karena gigitan binatang, entah binatang apa. Bau wangi dari rase itu masih belum menghilang. Sesudah menyelidiki, mereka keluar dan terus mengikuti tapak kaki Boe Kie. Akhrinya menemukan jenazah Boh Seng Kok yang kaki tangannya tergigit binatang. Kegusaran dan kedukaan mereka sukar dilukiskan. In Lie Heng menangis tersedu-sedu dan akhirnya roboh pingsan.

“Meskipun berkepandaian tinggi, dengan seorang diri perempuan siluman itu pasti tak akan bisa membinasakan Cit Tee,” kata Jie Lian Cioe sambil menyusut air mata. “Lak tee, jangan terlalu berduka. Kita sekarang harus mencari semua musuh dan membinasakan mereka untuk membalas sakit hatinya Cit Tee.”

“Sebaiknya kita bersembunyi di sekitar gua ini dan menunggu sampai fajar,” kata Thio Siong Kee. “Menurut dugaanku, kaki tangan si perempuan siluman pasti akan datang ke sini untuk mencarinya. Diantara tujuh pendekar Boe Tong, Siong Kee-lah yang paling berakal budi. Mendengar usul itu, Song Wan Kiauw bertiga lantas berhenti menangis dan dengan berpencaran lalu menyembunyikan diri di belakang batu-batu dekat mulut gua. Tapi sampai fajar menyingsing, tiada manusia yang datang ke situ.

Dengan mendongkol keempat jago Boe Tong itu lalu pergi ke tebing untuk mengamat-amati. Tiba-tiba mereka terkejut sebab sayup-sayup mereka mendengar suara manusia di bawah jurang. Waktu melongok ke bawah, mereka melihat seorang pria yang mengenakan pakaian indah sedang memangku Tio Beng. Buru-buru mereka mengambil batu besar dan mengancam. Mereka tidak lantas menimpuk sebab ingin menyelidiki sebab musabab kebinasaan Boh Seng Kok.

Jurang itu menyerupai sebuah sumur yang berdinding batu. Hanya sudut barat terdapat sebuah jalanan keluar yang sangat sempit. “Anjing Goan!” bentak Thio Siong Kee. “Naik dari jalan itu! Kalau berayal, kami akan menghabiskan jiwa kamu dengan batu-batu ini.” Karena pakaiannya indah, Thio Siong Kee menganggap Boe Kie sebagai seorang Mongol.

Boe Kie sendiri bingung bukan main. Di dasar tidak terdapat tempat bersembunyi yang bagaimanapun jua. Kalau para pamannya menimpuk, meskipun ia sendiri bisa menyelamatkan diri, Tio Beng pasti akan binasa. Lantaran tidak melihat lain jalan lagi, maka dengan apa boleh buat, sambil mendukung Tio Beng, perlahan-lahan ia memanjat ke atas. Ia sengaja tidak memperlihatkan keindahannya. Saban-saban ia berlagak terpeleset dan napasnya tersengal-sengal seperti orang kecapaian. Sesudah jatuh bangun beberapa kali barulah kakinya menginjak tanah datar.

Menurut perhitungannya, begitu lekas keluar dari mulut jurang, ia ingin segera melarikan diri dengan menggendong Tio Beng. Dengan menggunakan ilmu ringan badannya yang tinggi, ia masih ungkulan meloloskan diri dari kejaran.

Tapi Thio Siong Kee pintar luar biasa. Siang-siang ia sudah melihat bahwa orang Mongol itu berpura-pura dan ia sudah memberi isyarat supaya ketiga saudara seperguruannya berwaspada.

Maka itu, begitu lekas Boe Kie menginjak bumi ia sudah dikurung dengan empat pedang yang ujungnya terpisah kira-kira sekaki dari tubuhnya.

“Bangsat Tat Coe!” caci Song Wan Kiauw dengan suara gemetar. “Apa dengan memakai topeng, kau rasa akan bisa melarikan diri? Siapa yang membunuh Boh Cit Hiap? Lekas mengaku! Kalau kau berdusta, aku akan cincang badanmu!” Song Wan Kiauw sebenarnya berwatak sabar dan welas asih. Hanya karena melihat kebinasaan Boh Seng Kok yang begitu mengenaskan, maka itu, ia mengeluarkan cacian yang menyeramkan. Selama puluhan tahun, baru sekarang ia memperlihatkan kegusaran yang sedemikian hebat.

Tio Beng menghela napas. “Kalupawa Ciangkoen,” katanya. “Tak ada jalan lain lagi untuk meloloskan diri, sekarang kau boleh mengaku terus terang!” sesudah ia berbisik di kuping Boe Kie, “gunakan ilmu silat Seng Hwee Leng.”

Tak usah dikatakan lagi, kalau bisa Boe Kie tentu tak ingin bertempur melawan paman-pamannya. Tapi sekarang sudah terdesak di jalan buntu. Sambil menggigit gigi, ia melemparkan tubuh Tio Beng ke arah In Lie Heng dan seraya berjungkir balik tangannya menyambar lengan Thio Siong Kee. Dengan kaget, In Lie Heng menyambut tubuh nona Tio. Sesudah tertegun sejenak, ia menotok jalan darah si nona dan kemudian melontarkannya di tanah.

Sementara itu, Boe Kie sudah mengeluarkan ilmu silat Seng Hwee Leng yang sangat aneh. Ia meninju Song Wan Kiauw, menendang Jie Lian Cioe, menyeruduk Thio Siong Kee dengan kepalanya, dan merampas pedang In Lie Heng. Keempat pendekar Boe Tong itu adalah ahli-ahli silat kelas satu yang berpengalaman luas. Tapi menghadapi ilmu silat Seng Hwee Leng, mereka repot dan hampir-hampir tak bisa membela diri.

Dalam pertempuran di Leng Coa To. Boe Kie memiliki Kioe Yang Sin Kang dan Kian Koen Tay Lo Ie masih tidak bisa melawan Sam Soe dari Persia yang baru mempelajari sebagian ilmu Seng Hwee Leng. Sekarang Boe Kie sudah menyelami seluruh ilmu yang tertera di enam Seng Hwee Leng dan kepandaiannya sudah banyak lebih tinggi daripada kepandaian Sam Soe. Ilmu Seng Hwee Leng pada hakekatnya bukan ilmu terjurus yang sangat aneh dan sukar diraba.

Manakala ilmu tersebut digunakan oleh orang biasa, orang itu bukan tandingan perndekar Boe Tong yang terkenal sebagai ahli lweekang kelas utama. Tapi Boe Kie bukan orang biasa. Ia memiliki Kioe Yang Sin Kang, mahir dalam Kian Koen Tay Lo Ie dan paham dalam segala ilmu dari Boe Tong Pay. Maka itulah setiap serangannya serangan bahaya dan ditujukan kepada bagian-bagian yang kosong dari garis pembelaan keempat pendekar. Sesudah bertanding kurang lebih dua puluh jurus, serangan Boe Kie makin hebat dan makin aneh.

Tiba-tiba Tio Beng yang menggeletak di tanah berteriak, “Kalupuwa CiangKoen, sekarang baru mereka tahu kelihaian ilmu silat Mongol! Hajar mereka! Jangan sungkan-sungkan!”

Keempat pendekar Boe Tong mendongkol bukan main. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak. Kian lama mereka makin terdesak.

“Bela diri dengan Thay Kek Koen!” seru Thio Siong Kee.

Keempat pendekar Boe Tong lantas saja menambah cara bersilat mereka. Sekarang mereka membela diri secara rapat sekali dengan menggunakan ilmu gubahan Thio Sam Hong yang sangat lihai itu.

Sekonyong-konyong Boe Kie berduduk di tanah, kedua tinjunya meninju-ninju dadanya sendiri!

Selama menjagoi dalam rimba persilatan, para pendekar Boe Tong pernah mengukur tenaga dengan banyak sekali ahli-ahli silat yang tangguh dan pernah melayani entah berapa banyak pukulan yang aneh-aneh. Tapi baru sekarang mereka menyaksikan cara berkelahi yang aneh dari “tat coe”. Berduduk di tanah dan memukul dadanya sendiri. Jangankan melihat, mendengar pun mereka belum pernah mendengar pukulan yang luar biasa. Sebelum Boe Kie mengeluarkan silatnya yang luar biasa itu, keempat pendekar Boe Tong sudah memasukkan pedang mereka ke dalam sarung dan membela diri dengan tangan kosong. Boe Kie berduduk di tanah dan memukul-mukul dada, dalam kage dan heran mereka dengan serentak menghunus pedang dan menikam. Hampir berbareng pedang Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe, dan Thio Siong Kee menyambar ke tubuh Boe Kie. Pedang In Lie Heng telah dirampas dan dilemparkan oleh Boe Kie. Tapi di pinggangnya masih tergantung pedang Boh Seng Kok. Ia segera menghunusnya dan turut menikam

Pada detik yang sangat berbahaya, mendadak Boe Kie menyapu salju dengan kakinya dan salju itu muncrat berhamburan keempat penjuru.

Itulah salah sebuah pukulan Seng Hwee Leng yang dinamakan Hoei See Coan Siang Toei (pasir terbang menggulung rombongan pedagang) Ilmu ini dulu sering digunakan oleh si orang tua dari pegunungan untuk merobohkan rombongan pedagang yang lewat di padang pasir dengan menggunakan unta. “Si orang tua dari pegunungan” adalah perampok besar. Kalau lihat iring-iringan pedagang, ia segera duduk di pasir dan menangis tersedu sambil memukul-mukul dadanya sendiri. Rombongan pedagang itu tentu saja lantas berhenti dan menanyakan sebab musababnya dari tangisannya itu. Selagi orang tak waspada, si Orang Tua dari Pegunungan tiba-tiba menyapu pasir dengan kakinya, sehingga pasir muncrat berhamburan dan masuk di mata pedagang-pedagang itu. Selagi korban-korbannya tidak bisa membuka mata, dia menyerang sehebat-hebatnya. Dengan sekali pukul, dia bisa membinasakan puluhan orang. Itulah asal-usul Hoei See Coan Siang Toei dan sebagai gantinya pasir, Boe Kie menggunakan salju.

Berbareng muncratnya salju, keempat pendekar Boe Tong kelilipan dan tidak bisa membuka mata. Tapi sebagai jago-jago ulung gerakan mereka cepat luar biasa dan serentak mereka melompat ke belakang. Tapi kalau mereka cepat, Boe Kie lebih cepat lagi. Bagaikan kilat, memeluk kedua lutut Jie Lian Cioe dan selagi menggulingkan diri, ia sudah menotok tiga hiat besar di tubuh jjh. Hampir berbareng ia berjungkjir dan selagi badannya melayang turun di udara, lutut kanannya menggentus Ngo Coe Hiat dan Sin Kong Hiat di tubuh In Lie Heng yang matanya lantas saja berkunang-kunang dan roboh di tanah. Song Wan Kiauw tidak dapat menggunakan pedangnya lagi tapi tangan kirinya lantas saja menghantam kepala si tat Coe. Tapi sebelum pukulan itu mampir pada sasarannya, mendadak dadanya kesemutan dan jalan darahnya sudah kena disikut Boe Kie.

Tak kepalang kagetnya Thio Siong Kee. Dalam sekejab tiga saudara seperguruannya dibikin tidak berdaya. Ia mengerti, bahwa biar bagaimanapun jua, dengan seorang diri ia bukan tandingan musuh yang tangguh itu. Tapi ia tentu tidak bisa kabur sendirian dengan meninggalkan saudara-saudaranya. Dengan nekat, ia segera mengirim tiga tikaman berantai.

Ketika itu Thio Siong Kee sudah dijalanan buntu dan menghadapi bahaya besar. Tidakannya tetap, sikapnya tenang dan serangannya hebat, sesuai dengan kemestian. Melihat begitu, didalam hati Boe Kie bersorak, “ilmu silat Boe Tong benar-benar luar biasa. Apabila tidak memiliki silat yang aneh ini, mungkin sekali aku tak bisa melawan para pamanku,” tiba-tiba ia memutar kepalanya, membuat lingkaran-lingkaran. Thio Siong Kee tidak memperdulikan, ia sengaja tak mau melihat lingkaran-lingkaran itu. Mendadak, dengan kecepatan luar biasa, ia menikam dada Boe Kie. Boe Kie menundukkan kepala, seolah-olah mereka mau memapaki tikaman itu dengan batok kepalanya. Sekonyong-konyong, pada waktu ujung pedang hampir menyentuh kulit kepala, ia membuang diri ke tanah dan menubruk ke depan. Hampir berbareng, empat hiat di kempungan dan betis kiri Thio Siong Kee tertotok dan tanpa ampun lagi, ia jatuh terjengkang.

Boe Kie tahu, bahwa empat totokan itu hanya dapat melumpuhkan bagian bawah tubuh pamannya. Selagi ia mau menotok Tiong Kie Hiat dan Tho To Hiat di bagian punggung, tiba-tiba Thio Siong Kee mengeluarkan teriakan menyayat hati, kedua matanya terbalik, tubuhnya bergemetaran dan sesaat kemudian, napasnya habis.

Hati Boe Kie mencelos, keempat totokannya takkan melukai sang paman. Apa paman itu memang sudah sakit dan penyakitnya kambuh karena ditotok? Keringat dingin membasahi bajunya dan dengan tangan gemetar ia meraba kepala pamannya. Siong Kee menyambar dan topeng Boe Kie terlocot! Mereka saling mengawasi dengan mata membelalak.

Beberapa saat kemudian, Thio Siong Kee berkata dengan suara parau. “Thio Boe Kie… kau!… kasih sayang kami terhadap kau tersia-sia…. “ Nada suara itu mengunjuk rasa duka dan gusar yang tiada taranya. Sambil menatap wajah Boe Kie, air mata pendekar Boe Tong itu mengalir turun di kedua pipinya. Tadi, sesudah dirobohkan, ia mengambil keputusan untuk melocotkan topeng musuh, supaya kalau mesti mati, ia mau mati setelah melihat wajah lawannya. Maka itu ia berlagak mati dan akhirnya berhasil menjambret topeng Boe Kie. Didalam pihak, Boe Kie yang berwatak polos tidak pernah menduga, bahwa ia akan diakali secara begitu.

Pada waktu itu, penderitaan Boe Kie banyak lebih hebat daripada penderitaan jasmaniah yang paling hebat. Bagaikan hilang ingatan, ia hanya berkata dengna suara perlahan: “bukan aku…. Sie Soepeh.. bukan aku yang membunuh Cit Soe Siok… “

Thio Siong Kee tertawa terbahak-bahak.

“Bagus!… bagus…. “ serunya. “Lekas kau bunuh kami semua! Toako! Lak Tee! Kau sudah lihat, bahwa manusia yang kita namakan Tat Coe bukan lain daripada anak Boe Kie yang kita cintai.”

Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe dan In Lie Heng yang badannya tidak bisa bergerak, hanya mengawasi dengan mata melotot dan muka merah padam.

Hebat sungguh kedudukan Boe Kie. Tiba-tiba serupa ingatan pendek berkelebat di otaknya.

Lebih baik mati! Tapi, sebelum menjemput pedang dan mengorok leher, tiba-tiba Tio Beng berkata, “Thio Boe Kie! Dalam menghadapi penasaran, seorang laki-laki harus bisa mempertahankan diri. Di dalam dunia ini, air surut, batu kelihatan. Kau harus berusahan untuk membinasakan penjahat yang membunuh Boh Cit Hiap untuk membalas sakit hatinya. Hanyalah dengan berbuat begitu, baru kau tak percuma menerima kasih sayang para pendekar Boe Tong.”

Boe Kie terkejut. Ia menyetujui pendapat Tio Beng. “Tapi apakah yang harus kita perbuat?” tanyanya. Sambil menanya begitu, ia menghampiri dan mengurut punggung serta pinggang si nona untuk membuka jalan darahnya yang tertotok.

“Kau tak usah terlalu bingung,” bujuk Tio Beng dengan suara lemah lembut. “Dalam Beng Kauw terdapat banyak orang pandai, sedang akupun mempunyai banyak pembantu yang berkepandaian tinggi. Penjahat itu pasti akan bisa dibekuk.”

“Thio Boe Kie! Teriak Siong Kee. “kalau di dalam hatimu masih terdapat rasa kasihan, bunuhlah kami dengan segera! Aku tak kuat menyaksikan kau bercinta-cintaan dengan perempuan siluman itu.”

Paras muka pemuda itu pucat bagaikan mayat. Ia benar-benar bingung dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

“Tindakan kita yang pertama adalah coba menolong Han Lim Jie,” kata Tio Beng. “Sesudah itu, kita berusaha untuk mencari ayah angkatmu. Di sepanjang jalan kita boleh menyelidiki penjahat yang membunuh Boh Cit Hiap dan yang membunuh Piauw Moaymu.”

“Apa?…. Apa?….” tanya Boe Kie dengan suara terputus-putus.

“Apakah Boh Cit Hiap dibunuh olehmu?” Tio Beng balas menanya dengan suara dingin. “Mengapa keempat pamanmu menuduh kau? Apa In Lee dibunuh olehku? Mengapa kamu menuduh aku? Apakah hanya kau seorang yang boleh penasaran terhadap orang lain dan orang lain tak boleh merasa penasaran terhadapmu?” kata-kata itu bagaikan halilintar di tengah hari bolong. Sekarang, sesudah mengalami sendiri, barulah ia mengakui, bahwa di dunia yang lebar ini sering terjadi kejadian-kejadian yang kebetulan, yang tidak bisa dikira oleh manusia. Sekarang dia sendiri menerima tuduhann berat. Ia tidak berdosa, tapi ia tidak berdaya untuk membersihkan diri. “apakah … Apakah Tio Kouw Nio seperti aku?….” tanyanya di dalam hati.

“Apakah keempat pamanmu bisa membuka sendiri totokanmu?” tanya pula Nona Tio.

Boe Kie menggelengkan kepala. “Tidak,” jawabnya. “Totokanku dari ilmu Seng Hwee Leng. Soepeh dan Soesiok takkan bisa membukanya. Sesudah lewat dua belas jam, totokan itu akan terbuka sendiri.”

“Jalan satu-satunya bagi kita adalah menaruh keempat pamanmu di dalam gua dan kita lantas menyingkirkan diri,” kata Tio Beng. “Sebelum berhasil mencari penjahat yang berdosa, kau tak boleh bertemu muka lagi dengan dia.”

“tapi di dalam gua itu sering keluar masuk binatang,” kata Boe Kie. “Pada jenazah bcs terdapat tanda-tanda gigitan.”

“ah! Otakmu sudah tidak bisa bekerja lagi!” kata si nona. “Kalau salah seorang dari keempat pamanmu bisa menggerakkan tangannya dan dalam tangannya terdapat sebatang pedang, apakah binatang buas akan bisa melukakan mereka?”

Muka Boe Kie berubah merah. Ia mengangguk dan menjawab. “Benar, kau benar.” Sesudah berkata begitu, ia mendukung tubuh keempat pamannya dan menaruh mereka di belakang sebuah batu besar, supaya terbebas dari serangan salju. Boe Kie tak menjawab dan hanya mengucurkan air mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: