To Liong To – 15

Melihat begitu, salah seorang yang nonton lantas saja membentak, “Mundur!” Ia melompat dan meninju, Ia meninju dengan tenaga yg “seperti ada dan seperti tidak ada” sehingga Cia soen tak bias membedakan arah sambarannya. Waktu tinju hanya terpisah beberapa dim dari tubuhnya, barulah ia bisa merasakan sambarannya dan menangkis dengan terburu2. sementara itu, ketiga orang yg tadi mengerubuti sudah melompat keluar dari gelanggang. Dilain saat seorang kakek lain yg tdai menonton turut membantu kawannya. Ia pun menyerang dengan pukulan2 “lembek” sehingga baru saja bertempur beberapa jurus Cia Soen sudah jd report sekali.

“Kie Tiangloo! The Tiangloo!” teriak Kim hoat popo. “Kim mo say ong buta matanya. Dengan menyerang secara licik cuma2 saja kalian mempunyai nama besar dalam dunia Kang Ouw.” Seraya berkata begitu, bagaikan terbang ia terus mendaki gunung. Dengan menggunakan seantero tenaganya Coe Jie mengikuti dari belakang.

Sebab kuatir akan keselamatan ayah angkatnya, Boe Kie jg segera menyusul. Tio Beng memburu dan menyandaknya. “Dengan adanya nenek itu kau tak usah kuatir,” bisiknya. “Yang paling penting kau tak boleh memperkenalkan dirimu.”

Boe Kie menganggung dan sambil mencekap tangan si noan ia terus berlari lari di belakang Coe Jie. Sambil mengikuti dengan rasa kagum ia mengawasi potongan badan Coe Jie yg langsing dan gemulai. Kalau mukanya tidak jelek karena latihan ilmu yg sesat, nona itu pasti tidak kalah dengan Tio Beng, Cie Jiak atau Siauw Ciauw. Mengingat begitu, jantungnya memukul keras. Dilain detik, ia mengutuk dirinya sendiri. “Boe Kie! Boe Kie! Kau benar edan!” katanya didalam hati. “Sedang ayah angkatmu menghadapi bencana, kau masih bisa memikir yg gila2!”

Tak lama kemduia ia sudah tiba di pinggang gunung. Ia mendapat kenyataan, bahwa ayah angkatnya melawan dengan pukulan2 pendek. Itulah siasat untuk membela diri. Ia memunahkan serangan2 musuh dengan Siauw kim na chioe (ilmu menyengkram dan membantung dengan jarak pendek) Dengan menggunakan siasat itu, untuk sementara waktu Cia Soen memang bisa menyelamatkan diri, tapi ia sukar bisa memperoleh kemenangan.

Dengan menyembunyikan diri dibawah sebuah pohon siong, Boe Kie mengawasi ayah angkatnya. Pada muka orangtua itun terlihat lebih kerutan sedang rambutnya sudah hampir putih semua. Rupa2nya, selama berada di pulau Peng hwee to belasan tahun, ia banyak menderita, sehingga ia cepat tua. Boe Kie ikut menderita. Ia ingin sekali turut menyerbu untuk menghajar musuh. Ia ingin sekali memeluk orang tua itu dan memperkenalkan dirinya. Tio Beng mengerti, apa yg di pikirkan pemuda itu. Ia memegan tangan Boe Kie erat2 dan mengeleng2kan kepalanya.

Sekonyong2 Kim hoa popo berkata dengan suara nyaring. “Kie Tangloo, Im san ciang Liok Kioe sudah tersohor dalam dunia Kang Ouw. Mengapa kau malu2 kucing dan menyembunyikan dalam pukulan Sin Ciang? Ah! The Tiang Loo lebih tolol lago. Dia menyembunyikan Hoei hong Hoed lioe koen didalam Patkwa koen. Apa kau kira Cia tayhiap tak tahu? Oh oh oh … oh oh … uh.. uh …” Ia batuk2. “Dahulu, kaypang adalah sebuah partai besar yg dihormati sebagai partai yg selalu menolong sesama manusia….. oh oh oh … saying, sungguh saying! … makin lama jadi makin busuk…”

Karena tak bisa melihat pukulan musuh yg sangat licik, Cia Soen memang lagi bingung. Mendengar petunjuk si nenek ia girang. Pada detik The Tiangloo mau mengubah pukulannya, ia membarengi dengan tinjunya. Hampir berbareng dengan ebradunya kedua tinju kanan The Tiangloo terhuyung satu dua tindak. Untung jg iapun memiliki kepandaian tinggi sehingga ia tak sampai roboh. Sebelum Cia Soen bisa mengirim serangan susulan, Cia Tiangloo sudan merangsek untuk menolong kawanya.

Boe Kie mendapat kenyataan, bahwa Kie Tiangloo bertubuh kate gemuk dan dengan mukanya yg bersinar merah, ia menyerupai seperti seorang tukang potong babo. Dilain pihak the Tiangloo berbadan kurus kering. Disebelah kejauhan berdiri seorang pemuda yg berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Iapun mengenakan pakaian kaypang dengan perbedaan, bahwa pakaiannya yg rombeng kelihatan bersih. Di punggungnya menggemblok delapan lembar karung. Bahwa seorang muda seperti dia bisa menjadi tiangloo (tetua) dengan pertandaan delapan karung, adalah kejadian yg luat biasa. Beberapa kali Boe Kie mengawasi dia, ia merasa, bahwa ia pernah bertemu dengan orang itu, tapi ia lupa dimana dan lagi kapan pertemuan itu terjadi.

Tiba2 pemuda itu berkata, “Kim hoa popo, terang2an kau tidak membantu Cia Soen, tapi gelap2an kau membantu jg. Apa kau tidak curang?”

“Apakah tuan tiangloo dari kay pang?” Tanya si nenek dengan suara tawar. “Maaf, nenekmu belum pernah bertemu muka denganmu.”

“Tentu saja popo tidak mengenal aku, sebab belum lama aku menduduki kursi tiangloo,” jawabnya. “Aku she Tan, namaku Yoe Liang.”

Tan Yoe Liang! Boe Kie lantas saja ingat. Waktu Thay suhu mengajaknya ke Siauw Lim sie untuk berobat, salah seorang murid Siauw Lim telah menghafal Boe Teng Kioe yang kang dengan hanya sekali membaca. Murid Siauw lim itu bukan lain drpd Tan Yoe Liang. Bagaimana ia sekarang menjadi tiangloo dari partai pengemis? Tapi hal itu tidak tetlalu mengherankan. Memang juga ada banyak anggota lain partai yg masuk kedalam kaypang. Bahwa ia bisa menjadi tiangloo bukan kejadian luar biasa. Ia berotak cerdas. Dengan memiliki ilmu silat Siauw lim sie dan Boe tong Kioe yang kang, tak heran kalau dia menduduki kedudukan penting didalam partai itu.

“Apa murid Boe tong pun masuk kedalam kaypang?” bentak Kim hoa popo.

Dari suara Tan Yoe Liang, Boe Kie tahu bahwa orang itu memilki lweekang boe tong pay. Dia ternyata sudah melatih diri dalam Boe tong kioe yang kang yg dicurinya. Mendengar bentakan si nenek, Boe Kie mendongkol bukan main. “Tak tahu malu!” katanya didalam hati.

Berbareng dengan itu, iapun akan merasa kagum atas ketajaman Kim Hoa Popo.

Tan Yoe Liang tertawa, “Sungguh lucu?” katanya. “Aku murid Siau Lim, tapi si nenek kukuh, bahwa aku anggota dari partai lain. “keras,” disertai Siaw Lim Kioe yang kang.

Boe Kie terkejut. Orang itu sudah mempelajari Kioe yang kang dari Siauw lim dan Boe tong dan benar2 lihai.

Mendadak terdengar bentakan keras dan lengan kiri The Thiangloo kembali dengan tinjunya Cia Soen. Tiga murid kay pang yg tadi mundur dari gelanggang, dengan serentak menerjang pula dengan senjata mereka. Ilmu silat ketiga orang itu kalah jauh dari kedua tiangloo tapi penyerbuan mereka sangan menambah kerepotan Cia Soen. Orang tua itu bukan saja tidak bisa melihat, tapi semenjak kedua matanya buta iapun belum pernah bertempur, sehingga ia tidak punya pengalaman. Hari ini pertama kali ia berhadapan dengan lawan2 berat dan berkelahi dengan hanya mengandalkan ketajaman kupingnya. Dengan bertambahnya musuh, bersenjata ia lantas jatuh dibawah angina sebab ia sukar membedakan yg mana sambaran tinju yg mana sambaran senjata tajam. Dalam sekejap bahunya sudah terbacok.

Melihat bahaya Boe Kie bersiap untuk menolong.

“Kim hoa popo tidak bisa tidak menolong” bisik Tio Beng sambil mencekal erat2 tangan pemuda itu.

Tapi si nenek masih tenang2 saja. Sambil bersandar dengan tongkatnya ia hanya bersenyum dingin.

Dilain detik, betis Cia Soen kena tendangan Tiangloo. Tendangan itu sangat hebat, sehingga Cia Soen terhuyung hampir2 ia roboh. Kelima anggota kaipang itu jadi girang. Sambil berteriak mereka memperhebat serangan.

Boe Kie sudah siap sedia. Sebelah tangannya sudah memegang tujuh butir batu kecil. Pada detik yg sangat berbahaya, ia menimpuk dan tujuh butir batu itu menyambar kearah lima musuh. Tapi sebelum batu2 itu mampir pada sasarannya, mendadak terlihat berkelebatnya sehelai sinar hitam. “Trang!” tiga senjata putus empat sosok tubuh manusia jg putus dan jatuh ke lereng gunung? Antara kelima musuh itu hanya The tiangloo yg masih hidup dan Cuma putus lengan kanannya. Ia menggeletak ditanah dengan punggung tertancap sebutir batu yg di timpukkan oelh Boe Kie. Keempat musuh yg sudah binasa jg tak luput dari sasaran batu. Tapi batu2 itu sudah didahului dengan babatan golok, sehingga bantuan Boe Kie sebenarnya sudah tidak perlu lagi.

Semua kejadian itu terjadi dalam sekejap mata. Dilain detik, Cia Soen kelihatan berdiri sambil mencekal sebatan golok yg berwarna hitam. Golok itu bukan lain daripada “Boe lim Cie Coen” To liong to! Sambil melintangkan senjatanya, Kim mo berdiri tegak dengan semangat bergelora dan keangkeran yg tiada taranya sehingag ia seolah2 malaikat yg baru turun dari atas langit.

Sedari kecil Boe Kie sudah sering melihat golok mustika itu, tapi ia tak pernah menduga bahwa To liong to sedemikian hebat.

“Boe lim cie coen… po to To liong!… boa lim coen po to To lion!” (yang termulia dari rimba persilatan adalah golok mustika To liong).

Sementara itu The tiangloo yg putus lengannya terus berteriak2. Dengan paras muka pucat Tan Yoe Liang berkata,

“Cia Tayhiap, aku akan merasa sangat takluk dengan ilmu silatmu. Aku mohon kau suka mengampuni jiwa The tiangloo dan membiarkan dia turun gunung. Aku bersedia untuk menggantikan jiwanya dengan jiwaku sendiri. Cia Tayhiap kau turun tanganlah!”

Semua orang kaget. Mereka tak sangka pemuda itu mempunya “gie kie” (perasaan persahabatan) yg begitu besar. “Gie” adalah sesuatu imlu silat yg sangat hebat dalam Rimba persilatan dan tiada bandingannya dikolong langit ini.

***

“Aku akan mempelajari ilmu silat yg lebih tinggi dan sepuluh tahun kemudian, aku akan menemui Cia tayhiap lagi.”

Kalau mau, dengan sekali membabat Cia Soen bisa membinasakan Tan Yoe Liang dan menyingkirkan ancaman di hari kemudian. Tapi ia seorang yg bernyali sangat besar dan sedikit pun ia tak merasa jeri terhadap ancaman itu. “Baiklah,” katanya.

“Jika lohu masih hidup, sepuluh tahun kemudian lohu akan meminta pelajaran mengenai sinkang dari Siauw Lim dan Boe Tong.”

Tan Yoe Liang merangkap kedua tangannya dan sambil membungkuk ia berkata kepada Kim Hoa popo. “Kay pang telah mengacau dipulau ini dan aku meminta maaf.” Sesudah itu mendukung The tiangloo, ia berlalu.

Seperginya Tan Yoe liang, dengan mata melotot Kim hoa popo mengawasi Boe Kie. ”Boca ilmu menimpuk mu lihai juga!” katanya. “Tapi mengapa didalam kedua tanganmu, kau memegang tujuh butir batu? Apakah sebutir untuk Tan Yoe Liang dan sebutir lagi untuk aku sendiri?”

Boe Kie terkejut karena is nenek sudah dapat menebak niatnya. Ia tak bisa segera menjawab dan hanya tersenyum.

“Bocah!” bentak Kim hoa popo dengan gusar. “Siapa kau? Mengapa kau menyamar sebagai anak buah kapal? Mengapa kau menguntit nenekmu. Bocah! Dihadapaan Kim hoa popo, kau tidak boleh main gila.”

Dibentak begitu, Boe Kie yg tidak bisa berdusta jadi gugup. Untung jg Tio Beng lantas menolong. Dengan mengubah suaranya, si nona berkata. “Kini orang2 Kie kengpang memang biasa berdagang tanpa modal dilautan terbuka, popo telah mengeluarkan banyak uang untuk menyewa kapal itu. Halangan apa kalau katai mengantar popo? Melihat kay pang menghina orang mengandalkan jumlahnya yg besar, saudara ku sudah membantu. Maksudnya baik sekali. Diluar dugaan Cia tayhiap memiliki kepandaian yg begitu tinggi, sehingga bantuan itu sebenarnya tidak perlu.” Ia berbicara dengan nada seorang pria yg agak terlalu nyaring. Baik juga si nenek tidak memperhatikan keganjilan itu.

Cia Soen mengibaskan tangan kirinya dengan berkata “Terima kasih. Kalian pergilah. Hai!… Kim Mo Say Ong telah jatuh di tanah datar dan hai ini ia mesti menerima bantuan Kim keng pang. Selama berpisahan dengan dunia kang ouw kira2 duapuluh tahun, dalam rimba persilatan telah banyak muncul iorang pandai. Hai!… sebenarnya, perlu apa kau kembali di Tiong goan?” ia mengeluarkan kata2 itu dengan suara berduka. Timpukan Boe Kie telah mengejutkan hatinya, karena dari sambaran angin ia tahu, bahwa orang yg menimpuk adalah seorang yg berkepandaian sangat tinggi, yg jarang terdapat didalam dunia. Disamping itu ia telah berhasil membinasakan musuh2nya hanya karena bantuan To liong to. Tanpa merasa ia ingat kegagahannya pada duapuluh tahun berselang, pada ia mengamuk di pulau Ong poan san. Mengingat berbedaan antara dahulu dan sekarang, ia jadi berduka.

“Cia Hiantee,” kata Kim hoa popo, “Aku tidak membantu kau, sebab kutahu, bahwa kau dan aku selamanya tidak suka dibantu irang. Cia Hiantee, apa kau tidak gusar?”

Mendengar si nenek memanggil ayah angkatnya dengan istilah “hiantee” (adik) Boe Kie kager tercampur heran.

“Tak usah sebut gusar, atau tidak gusar,” kata Cia Soen. “Bagaimana dengan hasil penyelidikanmu? Apakah kau sudah mendapat kabar tenang anakku Boe Kie?”

Boe Kie terkesiap. Hampir berbareng ia merasa tangannya dipijit Tio Beng. Ia tahu bahwa si nona melarang ia bergerak. Tadi ia karena ia tidak menghiraukan nasihat Tio Beng, hampir2 ia berurusan dengan si nenek karena urusan batu. Maka it ia sekarang tidak berani berlaku sembrono lagi dan sebisa2 menahan hatinya.

“Belum! Aku tidak berhasil,” jawab si nenek.

Cia Soen menghela napas. Sesudah berdiam beberapa saat, ia berkata “Han Hoejin, kita berdua adalah saudara. Tak boleh kau menipu aku sebab mataku buta. Bilanglah! Apakah anakku Boe Kie masih hidup?”

Sebelum si nenek keburu menjawab, mendadak Coe Jie mendahului. “Cia Tayhiap…” Tapi ia tidak bisa meneruskan perkataannya, karena tangannya di pijit nenek Kim hoa yang menatap wajahnya dengan melotot.

“In Kauwnio,” kata Cia Soe tergesa gesar. “Omong terus! Hayo…. Apa popo menipu aku. Dia berdusta bukan?”

Air mata si nona mengalir turun di kedua pipi nya. Dengan muka menyeramkan, si nenek menempelkan telapak tangannya pada batok kepala Coe Jie. Si nona tahu, bahwa kalau ia berani bicara secara bertentangan dengan kemauan popo nya, ia bakal binasa seketika. “Cia tayhiap,” katanya. “Popo tidak menipu kau. Kami tidka mendapat kabar apapun jua tentang Thio Boe Kie.”

Paras muka si nenek berubah terang, ia mengangkat tangannya dari batok kepala Coe Jie, tapi tangan kirinya maish tetap mencekal pergelangan tangan nona itu.

“Apa saja yg didengar olehmu?” tanya pula Cia Soen. “Bagaimana dengan bengkauw? Bagaimana dengan sahabat2 lama?”

“Tak tahu,” jawab si nenek. “Aku tidak memperdulikan urusan Kang Ouw. Yang penting bagiku adalah mencari Biat Coat suthay untuk membalas sakit hati. Urusan lain tidak menarik hatiku.”

“Bagus!” teriak Cia Soen dengan gusar. “Han Hoejin, apa yg dikatakan olehmu pada hari itu dipulau Teng Bwe to? Kau mengatakan, bahwa Thio Ngo tee suami istri telah membunuh diri di Boetongsan. Kau mengatakan bahwa anakku Boe Kie telah yatim piatu yg terhina2 (Red: kalau tidak salah) dalam dunia Kang Ouw dan dimana2 dihina orang. Kau mengatakan, sungguh kasihan anak itu! Bukankah kau mengatakan itu semua?”

“Benar!”

“Kau mengatakan bahwa anakku itu kena pukulan Hian beng sin ciang, sehingga siang dan malam ia menderita kedinginan. Kau mengatakan juga bahwa di Ouw Hiap kok, kau telah bertemu dengan dia. Kau coba membawa dia ke leng coat to, tapi ia menolak. Taulah yg dikatakan olehmu, bukan?”

“Benar! Jika aku menipu kau, biarlah aku dikutuk langit dan bumi. Kalau akau berpesta biarlah Kim hoa popo menjadi manusia hina dina dalam Rimba Persilatan.”

“Koawmo, aku ingin mendapat keteranganmu,” kata Cia Soen.

“Memang benar apa yg di katakan popo,” kata Coe Jie. “Aku telah membujuk ia untuk mengikut ke leng coa to. Ia bukan saja menolak, ia bahkan menggigit belakang tanganku. Sampai sekarang masih ada tandanya. Aku tidak berdusta.”

Mendengar keterangan itu, tiba2 Tio Beng memijit tangan Boe Kie, sedang pada kedua matanya terlihat sinar mengejek dan mendongkol. Maka Boe Kie lantas saja berubah merah.

Sekonyong konyong si nona mengangkat tangan Boe Kie kemulutnya dan menggigit belakang tangan si pemuda itu. Darah lantas saja mengalir keluar. Karena gigitan itu, kio yang sin kang yg berada di dalam tubuh Boe Kie lantas saja bergerak secara wajar untuk melawan seraogna luar, sehingga sebagai akibatnya, bibir si nona pecah dan berdarah. Tapi sambil menahan sakit mereka tidak mengeluarkan suara. Dengan rasa heran Boe Kie mengawasi nona Tio. Ia tidak tahu mengapa nona itu menggigit tangannya. Di lain pihak, nona Tio balas mengawasi dengan sinar mata tertawa dan paras muka kemerah2an. Dalam keadaan begitu, biarpun mulutnya berlepotan darah dan biarpun diatas bibirnya terdapat kumis palsu, ia kelihatannya cantik luar biasa.

Mendadak terdengar teriakan Cia Soen. “Bagus! Han hanjin, hanyalah sebab memikiri nasih anakku Boe Kie, maka aku rela berlalu dari Peng hwee to dan pulang ke Tionggoan. Kau berjanji akan mencari anakku itu. Mengapa sekarang kau tidak menepati janjimu itu?”

Boe Kie tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi. Air matanya lantas saja mengucur. Sekarang ia tahu, bahwa ayah angkatnya sudah rela menempuh segala bahaya, rela menghadapi musuh2 yg berjumlah besar dengan kedua mata tidak bisa melihat, karena memikiri dirinya.

“Apa kau lupa perjanjian kita?” Tanya Kim hoa popo. “Aku mencari Thio Boe Kie dan kau meminjamkan To liong to kepadaku. Ciah Hian tee, begitu lekas kau menepati janjimu, aku pun akan segera menyelidiki anak itu secara sungguh2. Perkataan Kim hoa popo berat bagaikan gunung. Tak nanti aku mungkin janji.”

Cia Soen menggeleng2kan kepala. “Bawa dulu Boe Kie kehadapanku, barulah aku menyerahkan To Liong to,” katanya.

“Apa kau tidak percaya aku?”

“Dalam dunia ini banyak terjadi kejadian yg tidak dapat diramalkan lebih dahulu. Bahkan diantara orang2 yg mempunyai hubungan seperti bapak dan anak, seperti saudara kaundung jg sering terjadi kejadian melanggar kepercayaan.”

Boe Kie tau, bahwa dengan berkata begitu ayah angkatnya ingat kebusukan Seng Koen.

“Apa benar kau tidak suka meminjamkan to liong to kepadaku?” Tanya si nenek dengan suara mendongkol.

“Sesudah aku melepaskan Tan Yoe Lang aku bakal terus disetaroni musuh,” jawabnya. “Entah berapa banyak musuh2ku akan dtg kesini untuk mencari aku. Keadaan kim mo say ong tidak seperti dahulu. Kecuali to liong to aku tak punya lain pembantu. Huh huh!…” Tiba2 ia tertawa dining. “Han Hoejin, waktu lima musuh mengepung aku, orang gagah dari Kie keng pang telah menyediakan tujuh butir batu. Apakah aku tidak boleh merasa curiga juga? Huh huh. rupa2nya kau mengharap supaya aku binasa didalam tangannya orang2 Kaypang. Sesudah aku mampus dengan mudah kau bisa merampas golokku. Mata Cia Soen buta, tapi hatinya tidak buta. Han Hoe jin aku mau tanya, kedatangan Cia Soen ke leng coa to dan senjata2 yg dipakai dirahasiakan. Mengapa rahasia itu bocor? Mengapa orang2 kaypang sampai menyateroni aku disini?

“Hal itu justru diselidiki olehku.”

Cia Soen tersenyum getir dan lalu memasukkan to liong to kedalam jubahnya. “Jika kau tak mau menyelidiki anakku Boe Kie, akupun tidak bisa memaksa,” katanya. “Jalan satu2nya bagi Cia Soen ialah masuk pula dalam dunia Kang Ouw dan melakukan pula perbuatan2 yg menggemparkan.” Ia menengadah bersiul nyaring dan kemudian berlari2 turun dari tanjakan disebelah barat. Biarpun buta ia bisa berlari dengan cepat menuju sebuah gunung kecil yg terletak disebelah utara pulau. Dipuncak gunung terdapat sebuah gubuh kecil. Gubuk itu rupa2nya gubuh Cia Soen.

Sesudah Kim mo say ong berlalu sambil mengawasi Boe Kie dan Tio Beng dangan mata melotot Kim hoa popo membentak, “Pergi!”

Nona Tio segera menarik tangan Boe Kie dan mereka lalu kembali ke kapal.

Baru saja tiba di kapal, Boe Kie berkata, “Aku mau menengok Gie hoe”

“Apa kau tidak lihat sinar mata si nenek yg sangat ganas?” kata Tio Beng.

“Aku tidak takut padanya.”

“Aku merasa bahwa pulau ini diliputi macam2 rahasia. Mengapa orang2 kaypang yg bisa dtg kesini? Cara bagaimana Kim hoa popo tahu tempat bersembunyi ayah angkatmu? Cara bagaimana dia bisa mencari ayah angkatmu di Peng hwee to? Banyak pertanyaan masih belum terjawab. Memang sukar untuk membinasakan nenek itu. Tapi begitu lekas dia binasa, semua teka teki tidak bisa dipecahkan lagi.”

“Akupun bukan mau membinasakan Kim hoa popo. Aku hanya ingin menemui Gie Hoe karena melihat penderitaannya aku merasa sangat tidak tega.”

Nona Tio menggeleng2kan kepala. “Dengan ayah angkatmu, kau sudah berpisah belasan tahun,” katanya. “Kau harus bisa menahan sabar sehari dua, Tio kong coe aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Apakah kita harus berwaspada terhadap Kim hoa popo atau harus lebih berjaga2 terhadap Tan Yoe Liang?”

“Menurut pendapatku, Tan Yoe Liang adalah seorang laki2 tulen yg sangat mengutamakan persahabatan.”

“Thio Kong coe, apa kau tidak coba menipu aku? Apa jawabanmu jawaban setulus hati?”

“Menipu kau? Tan Yoe Liang rela menerima kebinasaan untuk menggantikan The tiang loo. Apa itu bukan perbuatan yg suka dilakukan? Apakah kita tidak harus menghormatinya sebagai seorang laki2 sejati?”

Tio beng menatap wajah Boe Kie. Ia menghela napas dan berkata dengan suara menyesal. “Thio kong coe! Kau seorang kauwcoe dari bengkauw yg harus memimpin begitu banyak orang gagah, ku tak nyana kau bisa ditipu orang secara begitu mudah?”

“Ditipu orang?”

“Terang2 Tan Yoe Liang menipu Cia tayhiap. Kau sendiri melihat dengan matamu. Apa kau tak sadar akan adanya tipu itu?”

Boe kie berjingkrak. “Dia menipu Gie hoe?” ia menegas.

“Dengan sekali membabat, Cia tayhiap telah membinasakan orang dan melukakan seorang jago kaypang. Namun andai kata saja Tan Yoe Liang memiliki ilmu silat yg lebih tinggi lagi, ia pasti tidak akan bisa meloloskan diri dari To liong to. Dalam keadaan begitu, seorang manusia biasa hanya melihat dua jalan. Melawan dengan nekad untuk membinasakan atau menekuk lutut dan minta ampun. Cia Tayhiap tidak ingin lain orang tahu tempat bersembunyinya. Biarpun Tan Yoe Liang berlutut tiga ratus kali, belum tentu ayah angkatmu bersedia mengampuni jiwanya. Tapi Tan Yoe Liang seorang manusia luar biasa. Dengan otaknya yg sangat cerdas, segera menempuh jalan hidup satu2nya yaitu berlagak seperti seorang ksatria, berlagak menjadi seorang laki2 tulen yg mengutamakan Gie Khie. Thio kongcoe sebagai manusia yg sangat pintar, mustahil kau tidak bisa melihat tipu daya yg sangat licik itu?” Sambil memberi keterangan, si nona menempelkan koyo pada luka ditangan Boe Kie karena gigitannya dan kemudian membalutnya dengan menggunakan sapu tangannya sendiri.

Keterangan Tio Beng sangat beralasan tp mengingat sikap dan suara Tan Yoe Liang yg wkt itu sangat bersungguh2, Boe Kie menyangsikan kebenaran penafsiran si nona.

“Baiklah,” kata pula nona Tio. “Sekarang aku ingin mengajukan lain pertanyaan. Waktu Tan Yoe Liang bicara dengna Cia Tayhiap, bagaimana sikap kedua tangan dan kedua kakinya?”

Boe Kie tertegun. Tak dapat ia menjawab pertanyaani tu. Waktu Tan Yoe Liang berbicara, ia hanya memperhatikan paras muka pemuda itu dan paras muka ayah angkatnya. Ia tidak memperdulikan tangan dan kaki Tan Yoe Liang. Ia melihat, tapi seperti juga tidak melihat.

Sekarang, dengan munculnya pertanyaan Tio Beng, didepan matanya terbayang kembali peristiwa itu, terbayang sikap dan gerakan Tan Yoe Liang selagi dia mengeluarkan kata2 seorang ksatria.

Selang beberapa saat, barulah ia berkata. “Ya sekarang aku ingat. Tangan kanan Tan Yoe Liang terangkat sedikit, tangan kirinya dilintangkan didepan dada. Ha! Itulah pukulan Say coe pek touw (Anak singan menubruk kelinci) dari Boe tong pay. Kakinya…? Hm… ya! Kakinya memasang kuda2 dari pukulan Hang tee tauw sit (Tendangan menakluki siluman) Hang mo tee tauw sit adalah salah satu pukulan lihai dari Siauw Lim pay. Apakah ia hanya berlagak mengeluarkan kata2 itu dan sebenarnya ia ingin membokong Gie Hoe? Tapi.. tapi tak bisa jadi…”

Tio Beng tertawa dining. “Tio Kong coe, pengetahuanmy tentang hati manusia tinggi ilmu silatnya Tan Yoe Liang? Mana mampu dia membokong Cia Tayhiap. Dia seorang yg sangat pintar dan dia pasti tahu kemampuannya sendiri. Sekali lagi aku mau menanya. Andaikata tipu muslihatnya diketahui Cia Tayhiap yg tidak mau mengampuninya, siapakah yg akan ditendang olehnya dengan tendangan Hang mo tee sauw sit? Siapa yg akan diterkam dengan Say boe Pek tauw?”

Boe Kie bukan manusia tolol. Sebab ia seorang baik dan menganggap bahwa semua manusia sama mulianya seperti dia maka dia tidak bisa melihat kebusukan Tan Yoe Liang, tapi begitu disadarkan, ia segera dapat memecahkan teka teki itu dalam keseluruhannya. Ia merasa seolah olah di guyur dengan air es dan paras mukanya lantas saja berubah pucat. “Celaka…” ia mengeluh. “Sekarang aku mengerti… ia akan menendang The Tiangloo yg rebah ditanah dan menubruk In Kouwnio kearah Cia Tayhiap dan berbareng menubruk serta mendorong sahabatmu In Kouwnio keadrah Cia Tayhiap jg. Denang tipu itu masih terdapat kemungkinan untuk melarikan diri. Memang jg belum tentu ia berhasil, tapi kecuali itu, tidak ada lain jalan yg lebih baik. Andaikata aku berada dalam kedudukannya, akupun akan berbuat begitu. Sampai detik ini, aku belum dapat memikir jalan yg lebih baik. Ah!… bahwa dalam sekejap mata manusia itu sudah bisa mendapatkan tipu tersebut, merupakan bukti, bahwa dia benar2 lihai.” Sehabis berkata begitu nona Tio menghela napas.

Boe Kie mendengari keterangan itu dengan hati berdebar2. Sedari kecil ia sudah mengalami banyak perbuatan manusia2 busuk tp manusia yg selihai Tan Yoe Liang, ia belum pernah menemui. Lewat beberapa saat barulah ia dapat membuka suara, “Tio Kouwnio dengan sekali melirik kau sudah bisa melihat tipu muslihatnya. Hal ini membuktikan bahwa kau lebih unggul daripada dia.”

“Apa kau menyindir aku?” tanya si nona dengan suara jengah. “Thio Kongcoe, jika kau kuatir akan kelihaian atau kejahatanku lebih baik kau menyingkir jauh2.”

Boe Kie ketawa geli. “Tak usah” katanya. “Terhadap siasatmu aku masih bisa menjaga diri.”

“Apa benar?” tanya Tio Beng sambil tersenyum. “Apa benar kau mampu menjaga diri? Tapi mengapa sampai pada detik ini, kau masih belum tahu, siapa yang menaruh racun di belakang tanganmu?”

Boe Kie terkejut. Hampir berbareng ia merasa gatal2 pada lukanya. Buru2 ia membuka balutan memeriksa lukanya dan mencium cium belakang tangannya. Ia mengendus bau harus campur manis. “Celaka!” serunya. Ia tahu lukanya telah dilumas denga kie hye siauw kie san, semacam racun yg merusak daging. Walaupun tidak berbahaya, racun itu memperhebat lukanya dan sesudah luka itu sembuh, tapak gigi si nona akan melekat terus pada belakang tangannya.

Buru2 Boe Kie pergi keburitan kapal dan mencuci lukanya dengan air bersih. Tio beng mengikuti sambil tertawa hahahihi dan coba membantu pemuda itu. Dengan rasa mendongkol Boe Kie mendorong pundak si nakal. “Jangan dekat2!” bentaknya. “Mengapa kau begitu jahat? Apa kau kira tak sakit?” Racun itu sebenarnya mudah dikenali, tapi sebab dicampur dengan yan cie dna luka itu dibalut dengan sapu tangan yg wangi, maka Boe Kie tak mendusin bahwa dirinya diakali.

Sebaliknya dr gusar, Tio Beng tertawa berkakakan. “Kau benar2 tak mengenal kebaikan orang” katanya. “Aku menggunakan itu sebab kuatir kau merasakan kesakitan yg terlalu berat.”

Boe Kie tak mau meladeni dan uring2an, ia turun kebawah dan masuk kamarnya. Tio Beng mengikuti. “Thio Kongcoe!” panggilnya. Boe Kie tidak menyahut. Ia pura2 tidur. Si nona memanggilnya beberapa kali, tapi ia tetap tidak menggubris. “Ah, kalau tahu bakal begini tadi benar2 menaruh racun dan mengambil jiwa anjingmu!” kata Tio Beng yang mulai hilang sabarnya.

Boe Kie membuka matanya. “Mengapa kau mengatakan aku tak mengenal kebaikan orang?” tanyanya. “Coba ceritakan.”

Nona Tio tertawa geli. “Bagaimana kalau keteranganku sangat beralasan dan kau menyetujui kebenarannya keteranganku itu?” tanyanya.

“Kau memang pintar bicara. Dalam mengadu lidah, aku tak bisa menandingi kau.”

“Ha ha! Sebelum aku membuka mulut, kau sudah mengakui, bahwa maksudku memang bagus sekali.”

“Fui! Dikolong langit mana ada maksud baik yg diperlihatkan secara begitu? Kau menggigit tanganku dank au tidak meminta maaf. Itu masih tak apa. Kau bahkan melabur racun. Aku tak suka menerima maksud baik yg semacam itu.”

“Hm… Thio Boe Kie, kini aku bertanya. Mana yg lebih hebat, apa gigitanmu, atau gigitan mu pada tangan Kouw nio?”

Paras muka Boe Kie lantas saja berubah merah. “Itulah kejadian lama…. Perlu apa kau menyebut2 lagi?” katanya.

“Biarpun telah lama, justru aku mau menanya. Jangan kau coba berkelat kelit.”

“Andai kata benar gigitanmu lebih hebat, aku mempunyai alasan untuk berbuat begitu. Ia mencekal tanganku erat2. ilmu silatku belum bisa menandinginya. Aku berontak, tapi tidak bisa meloloskan diri. Waktu itu, aku masih kanak2 dan dalam bingungku tanpa merasa aku telah menggigit tangannya. Tapi kau bukan kanak2 dan akupun tidak mencekal tanganmu untuk menyeret kau dating di Leng coa to.”

“Heran sekali. Dulu, In Kouwnio mencekal tanganmu untuk memaksa kau datang di Leng coa to, tp kau menolak keras. Tapi mengapa kini kau datang dipulau ini, tanpa diundang siapapun jua?”

Sekali lagi paras muka Boe Kie berubah merah. Ia tertawa dan menjawab. “Aku dtg disini sebab di perintah olehmu!”

Mendengar jawaban itu, paras muka si nona pun berubah merah, sedang hatinya senang sekali. Dengan menjawab begitu, Boe Kie seolah2 mengatakan begini. “Waktu dia memaksa aku, aku menolak keras. Tapi diperintah olehmu aku lantas saja menurut.”

Untuk beberapa saat, mereka saling memandang tanpa mengeluarkan sepatah kata dan akhirnya masing2 memalingkan muka dengan sikap jengah.

Sambil menundukkan kepala, Tio Beng kemudian berkata dengan suara perlahan.

“Baiklah! Aku akan menjelaskan secara jujur. Dahulu kau mengigit tangan In Kouw nio. Sesudah berselang begitu lama ia masih belum bisa melupakan kau. Didengar dari perkataannya mungkin sekali seumur hidup ia tak akan melupakan kau. Sekarang akupun menggigit tanganmy. Aku menggigit tanganmu supaya… supaya.. seumur hidup, kau tidak melupakan aku.”

Jantung Boe Kie melonjak. Sekarang ia baru mengerti maksud si cantik yg sebenarnya. Mulutnya seolah2 terkancing dan ia hanya mengawasi nona Tio dengan mata membelak.

Sementara itu Tio Beng berkata pula.

“Dengan melihat tanda luka ditangan In Kouw nio, kutahu lukanya sangat dalam. Karena gigitanmu hebat, karena lukanya sangat dalam, maka peringatan In Kouwnio akan dirimu jg sangat mendalam, pikirku. Semula aku ingin mengigit keras2 tanganmu, sama kerasnya seperti gigitanmu pada tangan In Kouwnio. Tapi aku merasa tidak tega. Dilain pihak apabila aku tidak menggigit keras2 mungkin sekali kau akan segera melupakan aku. Sesudah menimbang2, aku segera mengambil jln yg plg baik. Aku tidak mengigit hebat. Gigitanku hanya cukup untuk membuat sedikit luka dan pada luka itu aku melebur sedikit Kie hoe Siauw kie san, supaya tanda gigitanku tidak bisa menghilang lagi dari tanganmu.”

Boe Kie merasa gelid an tercampur terharu. Dengan memberi pengakuan kanak2 yg tolol kedengarannya si nona telah membuka hatinya dan menunjuk rasa cintanya yg sangat besar. Ia menghela napas dan berkata, “ Sekarang aku tidak menggusari kau lagi. Akulah yg tidak mengenal kebaikan orang. Kau memerlukan aku secara begitu. Sebenarnya tak perlu, sebab, bagaimanapun jua, aku tidak akan melupakan kau.”

Mendengar perkataan Boe Kie, pada mata Tio Beng lantas saja berkelebat sinar kenakalannya. Ia tertawa dan berkata, “Kau mengatakan, kau memperlakukan aku secara begitu. Apa maksudnya? Apakah aku memperlakukan kau secara baik atau tidak baik? Tio Kongcoe berulang kali aku melakukan perbuatan yg tidak baik terhadapmu dan belum pernah aku berbuat sesuatu yg baik terhadapmu.”

“Sudahlah,” katanya seraya tersenyum. “Aku akan merasa girang, jika mulai sekarang kau menjadi anak yg baik,” ia memegang tangan kiri si nona erat2 dan kemudian mengangkat kemulut sendiri.

“Akupun inging menggigit tanganmu keras2, supaya seumur hidup kau tidak melupakan aku,” katanya sambil tertawa.

Girang dan malu memenuhi dada si nona. Ia memberontak dan melarikan diri. Tapi baru ia melangkah pintu, tiba2 ia kesamprok dengna Siauw Ciauw, “Celaka!” ia mengeluh. “Malu sungguh kalau pembicaraan didengar olehnya.” Dengan paras muka kemerah2an, ia naik kegeladak kapal dengan tindakan lebar.

Siauw Ciauw menghampiri Boe Kie dan berkata, “Tio Kongcoe, tadi kulihat Kim hoa popo dan nona muka jelek itu masing2 menggendong selembar karung besar. Apa maksud mereka?”

Sehabis bersenda gurau dengan Tio Beng, Boe Kie merasa jengah dan untuk sejenak, ia tidak bisa bicara. “Apakah mereka menuju kesebuah gubuh diatas gunung yg terletak disebelah utara pulau ini?” tanyanya kemudian.

“Benar,” jawab Siauw Ciauw. “Sambil berjalan mereka bertengkar dan didengear dari suaranya Kim hoa popo sedang bergusar.”

Boe Kie mengangguk. “Biarlah sebentar kita berdamai,” katanya. “Sebaiknya kita menyelidiki maksud mereka.” Sehabis berkata begitu, ia segera naik keatas dan pergi ke buritan kapal. Jauh2 ia melihat Tio Beng yg sedang berdiri termenung di kepala kapal. Ia mengawasi si nona dengan pikiran bergelombang seperti turun naiknya ombak yg memukul badan kapal. Lama ia berdiri disitu. Sesudah sang surya menyelam kebarat dan pulau Leng Coa to diliputi kegelapan, barulah ia turun kebawah.

Sesudah makan malam, Boe Kie berkata kepada Tio Beng dan Siauw Ciauw. “Aku ingin menengok Gie hoe. Kalian tunggu saja dikapal.”

“Jangan pergi sekarang,” kata Tio Beng. “Tunggu sejam lagi.”

Boe Kie menganggukkan kepala. Karena memikiri ayah angkatnya ia merasa jalannya sang waktu lambat sekali. Sesudah berselang kurang lebih satu jam ia berbangkit dan sambil tersenyum ia menghampiri pintu.
“Tunggu!” kata Tio Beng sambil membuka tali Ie Thian kiam dari pinggangnya.

“Tio Kongcoe, bawalah pedang ini unutk menjaga diri.”

Boe Kie terkejut. “Kau lebih memerlukan senjata itu untuk menjaga diri,” katanya.

“Tidak! Aku sangat berkuatir akan kepergianmu ini.”

“Mengapa berkuatir?”

“Entahlah. Kim hoa popo sukar ditebak maksudnya. Tan Yoe Liang banyak tipu muslihat. Disamping itu ayah angkatmu jg belum tentu percaya, bahwa kau ada si anak Boe Kie. Hai!… pulau ini dinamakan Leng coa (ular sakti). Mungkin sekali di pulau ini terdapat mahluk beracun yg sangat lihai. Apapula..” ia tidak meneruskan perkataannya.

“Apapula apa?”

Tio beng tidak menjawab. Sambil tertawa dengan muka bersemu dadu, ia mengangkat sebelah tangannya kemulut sendiri yg dibuka seperti orang mau menggigit. Bie Kie tahu, bahwa yg dimaksud nona Tio adalah In Lee saudari sepupunya. Ia tersenyum dan lalu berjalan pergi.

“Sambutlah!” teriak Tio Beng seraya melontarkan Ie Thian Kiam.

Mau tak mau Boe Kie menyambuti. Jantung relaannya itu, sekali lagi Tio Beng menunjuk rasa cintanya yg sangat besar.

Sesudah menyisipkan senjata mustika itu di punggungnya, dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan Boe Kie berlari lari ke arah gunung disebelah utara Leng coa to. Untuk menghindarkan diri dari serangan binatang beracun, ia hanya menginjak batu2 gunung. Kira2 semakanan nasi, ia sudha tiba di kaki puncak. Ia mengadah dan sayup2 melihat gubuk ayah angkatnya yg diliputi kegelapan. “Lampu sudha dipadamkan, apa Gie hoe sudah tidur?” tanyanya didalam hati. Dilain saat ia ingat, bahwa ayah angkatnya tidak bisa melihat dan sama sekali tidak memerlukan penerangan.

Mendadak dilereng gunung sebelah kiri lapat2 ia mendengar suara manusia. Dengan merangkak ia maju untuk mencari suara itu yg tiba2 menghilang pula. Secara kebetulan, angin dari sebelah utara meniup dengan kerasnya sehingga pohon2 bergoyang2. Dengan menggunakan kesempatan itu, ia berlari2 kearah suara tadi. Sebelum angin berhenti, dalam jarak empat limat tombak, ia sudah mendengar suara seorang yg berbicara sangat perlahan. ‘Mengapa kau tidak lantas bekerja? Mengapa kau main lambat2an?’ Itulah suara Kim hoa popo.

“Popo, dengan berbuat begini kan berdosa terhadap seorang sahabat,” kata seorang wanita yg bukan lain daripada In Lee. “Selama puluhan tahun Cia tayhiap bersahabat dengan popo, maka dari peng hwee to ia telah datang disini.”

“Dia percaya aku? Jangan kau omong yg gila2! Kalua benar dia percaya mengapa dia tak sudi meminjami tio liong to? Pulang nya ke tiong goan adalah untuk mencari anak angkatnya. Ada sangkut paut apakah dengan diriku.” Boe Kie mengerti, bahwa nenek itu sedang mengatur tipu untuk mencelakai ayah angkatnya guna merampas To liong to. Dengan hati2 ia maju lagi beberapa tindak dan diantara kegelapan, ia melihat peta badan si nenek. Tiba2 ia mendengar suara “tring” seperti logam beradu dengan batu. Lewat beberapa saat, suara itu terulang pula.

Ia merasa sangat heran tapi ia tidak berani maju terlebih jauh.

“Popo,” demikian tedengar suara In Lee. “Jika kau mau goloknya secara terang2an, seperti caranya seorang gagah. Nama Kim Hoa dan Gin hiap dari Leng coato pernah mengantarkan dunia Kang ouw kalau perbuatan popo sampai tersiar diluaran bukanlah popo akan di tertawai oleh segenap orang gagah? Biarpun popo dapat merampas To Liong To dan mengalah kan murid Go Bie Pay muka popo tak menjadi terlebih terang”

Bukan main gusarnya si nenek, “Budak kecil!” bentaknya. “Siapa yg sudah menolong jiwamu dari bawah telapak tangan ayahmu? Sekarang kau sudah besar dank au tak suka mendengar lagi perkataan. Cia Soen bukan sanakmu. Mengapa kau coba melindungi dia secara begitu mati2an. Jawab! Jawab! Pertanyaan popo!” bergusar ia bicara dengan suara sangat perlahan seperti juga ia kuatir perkataannya akan didengar oleh Cia Soen yg berada diatas pundak.

In Lee menghela napas. Ia melontarkan karung yg dipegangnya ketanah dan jatuhnya karung disertain suara gemerincing,s edang ia sendiri mundur beberapa tindak.

“Oh, begitu?” bentak pula si nenek. “Ibarat burung sekarang bulumu sudah tumbuh semua dan kau ingin terbang sendiri. Bukankah begitu?”

Diantara kegelapan Boe Kie melihat sinar mata si nenek yg dingin dan berkeredepan.

“Popo” kata In Lee dengan suara sedih, “aku takkan melupakan budimu yg sangat besar. Popo sudah menolong jiwaku dan mengajar ilmu silat kepadaku. Akan tetapi Cia Tayhiap adalah ayah angkatnya…”

Nenek Kim Hoa tertawa getir, “Aku Tanya nyana, bahwa didalam dunia ada manusia yg begitu tolot seperti kau” katanya. “Bukan kah dengan kupingmu sendiri kau sudah mendenagr pengakuan Boe Liat dan Boe Ceng Eng, bahwa bocah she Thio itu jatuh kedalam jurang yg dalamnya berlaksa tombak di wilayah she hek? Pada waktu ini tulang2nya mungkin sudah jadi tanah. Dan kau masih memikiri dia!”

“Tapi popo entah mengapa aku tetap tidak bisa melupakan dia,” kata si nona. “Mungkin sekali… inilah apa yg pernah dikatakan popo tentang hutang pada penitisan yg lampau…”

Si nenek menghela napas dan paras mukanya jadi terlebih sabar. “Sudahlah! Hapuskan bocah itu dari keringatmy!” katanya dengan membujuk. “Dia sekarang sudah mati. Andaikata kau dan dia sudah jadi suami istri, kaupun tak bisa berbuat apapun jua. Hm… baik jg dia mati siang2. kalau dia belum mati dan sekarang dia melihat mukamu apakah kau akan jatuh cinta kepadamu? Untung dia sudah mampus. Kalau tidak kau harus menyaksikan dia bercinta2an dan menikah dengan wanita lain. Apabila terjadi kejadian itu bukankah kau akan lebih menderita daripada sekarang?”

In Lee tidak menjawab. Ia menundukkan kepala dan air mata meleleh turun dikedua pipinya.

“Kita tak usah menyebut wanita lain,” kata pula si nenek. “Lihat saja Cioe Kouwnio yg di tawan kita. Dia cantik dan ayu bagikan bunga. Kalau she Thio itu masih hidup dan melihat nona Cioe dia pasti akan jatuh cinta. Dan kau? Apa yg akan diperbuat olehmu? Apa kau akan membunuh Cioe Kouwnio atau akan membunuh bocah she Thio itu? Huh! Huh! … Jika kau tak melatih diri dalam Ciat hoe chioe kau akan menjadi seorang gadis yg sangat cantik. Tapi skrg… segala apa sudah kasep.”

“Benar…” kata In Lee dengan suara sedih. “Orangnya sudah mati, sedang mukaku sudah rusak. Tak guna bicara panjang2 lagi. Tapi Cia Tayhiap adalah ayah angkatnya. Popo, aku hanya memohon belas kasihanmu dalam hal ini. Mengenai lain urusan, aku berjanji akan menaati segala perintahmu.” Sehabis berkata begitu, ia berlutut dan menangis segak2 sambil memanggut2kan kepalanya.

Dalam pelayaran ke Peng Hwee to untuk mengajak Cia Soen pulang ke Tiong goan, Kim hoa popo dan In Lee telah menggunakan waktu sekarang lebih satu tahun. Belakangan, setelah masuk kedalam dunia Kang Ouw, mereka tidak pernah berhubungan dengan tokoh Rimba Persilatan. Itulah sebabnya mengapa sampai sekurang mereka belum tahu bahwa Boe Kie telah menjadi Kauwcoe dari Beng Kauw.

Sesudah memikir beberapa saat, nenek Kim hoa berkata, “Baik kau bangunlah!”

“Terima kasih popo!” kata si nona dengan girang.

“Aku hanya meluluskan permohonanmu untuk tidak mengambil jiwanya. Tapi tekadku untuk merampas To Liong to tidak dapat diubah lagi…”

“Tapi popo…”

“Jangan rewel! Jangan sampai darahku meluap!” Sehabis membentak, si nenek mengayun tangannya “Cring!” demikian terdengar suara beradunya logam daengan batu. Sambil maju dengan perlahan, ia mengayun tangannya berulang2 dan setiap nyanan tangan di iring dengan suara “cring”. In Lee sendiri berduduk dibatu seraya menangis dengan perlahan.

Melihat kecintaan nona itu terhadap dirinya. Boe Kie merasa sangat terharu dan berterima kasih.

Beberapa lama kemudian, dari jarak belasan tombak, si nenek membentak, “Bawa kemari!”

Mau tak mau In Lee berbangkit dan menjemput karungnya. Dengan menenteng karung itu, ia menghampiri si nenek.

Boe Kie merangkak maju beberapa tindak. Tiba2 ia bergidik ia merasa punggungnya diguyur dengan air es. Mengapa? Karena dibatu2 gunung dalam jarak dua tiga kaki, tertancap sebatang jarum baja yg panjangnya kira2 delapan coen dengan tajamnya mendongak keatas. Ah! Nenek Kim hoa benar2 jahat! Sebab kuatir tidak bisa menjatuhkan ayah angkatnya, dia memasang “barisan jarum”. Rupa2nya Kim Hoa popo menganggap bahwa ia juga menggunakan senjata rahasia, ia belum tentu bisa berhasil. Sebab Kim mo Say ong bisa berkulit (Red: berkelit?) dengan mendengar sambaran angin.

Boe Kie seorang manusia yg sangat sabar. Tapi skrg darahnya meluap. Sebisa2 ia mencekam hawa amarahnya karena ia tahu bahwa dengan mengumbar napsu ia bisa merusak urusan besar. Semula ia ingin segera mencabut jarum itu dan melocoti topeng si nenek, tapi ia segera membatalkan niatnya karena mendapat lain pikiran. “Nenek jahat itu memanggil Gie hoe dengan istilah Cia Hiantee. Dahulu mereka tentu mempunya perhubungan yg lebih erat. Sekarang kutunggu sampai ia bertengkar dengan Gie hoe dan pada saat yg tepat, aku membuka topengnya. Hari ini langit menaruh belas kasihan sehingga secara kebetulan aku berada di tempat ini. Gie Hoe pasti tidak akan mengalami bahaya apapun jua.”

Sesudah mengambil keputusan, dengan pikiran lebih tenang, ia segera duduk di atas sebuah batu.

Sekonyong2 angin meniup dan di antara suara angina terdapat lain suara seperti jatuhnya selembar daun. Tapi Boe Kie yang berkuping tajam sudah tahun bahwa suara itu adalah Tan Yoe Liang yg tangannya memegang sebatang golok bengkok. Golok itu sangat tipis dan di bungkus dengan selembar kain untuk menendang sinarnya. Melihat lagak orang yg seperti maling, diam2 Boe Kie memuji, tepatnya tebakan Boe Kie. Dengan sesungguhnya dia bukan manusia baik2, katanya didalam hati.

Mendadak terdengar seruan Kim Hoa Popo, “Cia Hiantee, penjahat anjing yg tak mengenal mampus dtg menyatroni lagi!”

Boe Kie terkejut. Nenek Kim Hoa sungguh tidak boleh dibuat gegabah. “Apa dia jg sudah tahu kedatanganku?” tanyanya pada diri sendiri. Ia melihat Tan Yoe Liang sendiri sudah merebahkan diri dirumput, tanpa berani bergerak. Dengan sangat hati2 ia maju lagi beberapa tombak. Ia ingin berada terlebih dekat dengan ayah angkatnya untuk merintangi setiap bokongan dari si nenek.

Dilain saat orang yg bertubuh tinggi besar keluar dari gubuk. Orang itu adalah Cia Soen. Ia berdiri tegak tanpa mengeluarkan sepatah kata.

“Cia hiantee, kau selalu bercuriga terhadap sahabat lama, tapi menaruh kepercayaan besar terhadap orang luar,” kata Kim Hoa popo. “Tadi siang kau melepaskan Tan Yoe Liang dan sekarang dia datang lagi.”

“Tombak yg terang gampang dikelit, anak panah gelap sukar dijaga,” jawabnya.

“Selama hidupnya Cia Soen paling sering menderita karena perbuatan orang sendiri. Kalau Tan Yoe Liang mau mencari aku biarlah dia mencari aku.”

“Cia Hiantee, perlu apa kau meladeni manusia rendah itu?” kata si nenek. “Tadi siang waktu kau mengampuni jiwanya, apa kau tahusikap kai dan tangannya? Hm… kedua tangannya bersiap dengan pulukan Say coe Pek Tauw sie kakinya memasang kuda2 Heng mo Tee Tauw sit dari Siauw lim pay. Ha, ha, … ha, ha…” suaranya tertawa yg menyerupai jeritan burung hantu sangat menyeramkan.

Cia Soen kaget. Ia tahu bahwa Kim Hoa popo tidak berdusta. Karena tidak bisa melihat ia sudah bisa diakali. “Cia Soen sudah sering dihina orang,” katanya dengan suara tawar. “Dalam dunia Kang Ouw, jumlah manusia rendah seperti dia tidka bisa dihitung berapa banyaknya. Membunuh atau tidak membunuh dia tidak menjadi soal. Han Hoe jin, kau adalah seorang sahabat lama, waktu itu, mengapa kau tidak memberitahukan aku? Mengapa baru sekarang kau mengatakan begitu? Apa maksudmu?”

Sehabis bertanya begitu, tiba2 badannya melesat dan dalam gerakan yg cepat luar biasa, ia sudah berada dihadapan Tan Yoe Liang.

Dengan sekali menggerakkan tangan kirinya ia merampas golok bengkok, sedang tangan kanannya memberi tiga gapelokan beruntun pada pipi Tan Yoe Liang. Sesudah itu sambil mencengkeram leher pemuda itu, ia membentak: “Binatang! Aku bisa mengambil jiwamu seperti mengambil jiwa ayam, tapi aku sudah meluluskan bahwa sepuluh tahun kemudian, kau boleh datang lagi untuk mencari diriku. Dilain kali, jika kita bertemu pula, antara kira berdua hanya terbuka jalan mati atau hidup.” Ia mengangkat tubuh Tan Yoe Liang dan melontarkannya jauh2.

Apa mau, pemuda itu melayang jatuh ke arah “barisan jarum”. Si nenek kaget. Kalau Tan Yoe Liang jatuh diatas jarum, rahasianya akan terbuka dan capai lelahnya akan tersia2. Secepat kilat ia melompat dan menotok pingang pemuda itu dengan tongkatnya, sehingga tubuh yg hampir ambruk ditanah terpental lagi beberapa tombak jauhnya. “Pergi!” bentaknya. “Kalau kau berani menginjak lagi pulau Leng coa to, aku akan mengambil jiwanya seratus murid Kay pang, Kim hoa popo tidak pernah omong kosong. Sekarang aku hanya menghadiahkan kau dengan sekuntum bunga emas.”

Hampir berbareng sehelai sinar emas menyambar dan sekuntum bunga emas (kim hoa) mampir tepat pada jalan darah dipipi Tan Yoe Liang sehingga untuk sementara waktu, dia tidak dapat berbicara timpukan si nenek itu adalah untuk menjaga kalau2 Tan Yoe Liang membuka rahasianya. Dilain pihak, pemuda itu sendiri lalu kabur sekeras2nya.

Karena menyerang Tan Yoe Liang, sekarang Cia Soen hanya terpisah beberapa tombak dari ‘barisan jarum’ dan Boe Kie berada disebelah belakangnya. Dengan memiliki lweekang yg beberapa kali lipat lebih tinggi daripada Tan Yoe Liang, Boe Kie dapat menahan pernapasannya begitu rupa, sehingga biarpun dia berada sangat dekat, Kim hoa popo dan Cia Soen masih belum mengetahui.

“Cia hiantee, kau sungguh lihai,” memuji si nenek. “Kupingmu dapat menggantikan mata dan kegagahanmu masih belum berkurang. Menurut pendapatku kau masih bisa malang melintang dalam dunia Kang Ouw sedikitnya duapuluh tahun lagi.”

“Hm, tapi aku tak bisa mendengar Say Coe Pek Touw atau Hang Mo Tee Touw Sit Han Hoe Jin, aku tidak mengharap banyak. Asal saja aku bisa tahu dimana adanya Boe Kie atau mendapat kabar tentang keadaannya, biarpun mati, aku akan mait dengan mata meram. Hutang darah Cia Soen berat bagaikan gunung. Ia pantas mati dengan menggenaskan.. huh huh… janganlah bicara lagi dengan malang melintang dalam dunia Kangouw.”

Si nenek tertawa, “Cia Hian tee,” katanya. “Bagi Hoe kauw Hoat ong dari Beng Kauw, membunuh beberapa orang tak menjadi soal. Cia Hiantee, pinjamkanlah To Liong to kepadaku.”

Cia Soen tidak menyahut.

“Cia Hiantee,” kata pula si nenek, “tempat ini telah diketahui musuh dan kau tak bisa berdiam lebih lama lagi. Aku akan mencari tempat lain yg lebih aman dan akan membawamu ke situ untuk berdiam beberapa bulan. Serahkanlah To Lion To kepadaku. Setelah merobohkan Go bie Pay, aku akan mencari Tio Kongcu dengan seantero tenagaku.”

Tapi Kim mo say ong tetap menggeleng2kan kepalanya.

“Cia Hiantee, apa kau masih ingat kata2 soe tay hoat ong, Cie peh kim ceng? Dahulu dibawah pimpinan Yo Kauwcoe Eng ong, In Hian tee, Hong Ong, Wie Hiantee ditambah lagi dengan kau dan aku berdua telah malang melintang dikolong langit tanpa menemui tandingan. Sekarang biarpun badan kita sudah tua. Hati kita masih gagah seperti dahulu. Cia Hiantee apakah kau tega membiarkan Cie San Lao, cie cie mu dihina orang?” (Soe tay hoat ong Cie peh kim ceng, Empat hoe hauw Hoat ong, yaitu Cie san liong on. Peh bie Eng ong, Kim mo say ong dan Ceng Ek Hok on!)

Boe Kie terkesiap, “Ah! Apa Kim hoa popo Cie San Lion ong?” tanyanya didalam hati.

“Sudahlah!” kata Cia Soen dengan suara tawar. “Itulah urusan dahulu. Perlu apa disebut2 lagi? Sudah tua! … kita sekarang sudah tua.”

“Cia hiantee, cie cie mu belum lamur. Apa aku tak bisa melihat, bahwa selama dua puluh tahan kepandaianmu banyak bertambah? Perlu apa kau merendahkan diri? Kita hidup tidak terlalu lama lagi. Menurut pendapatku, sementara Soe Tay hoat ong belum mati, kita berempat haruslah bergandengan tangan pula dan melakukan sesuatu yg lebih hebat dan menggemparkan didalam dunia.”

Cia Soen menghela napas, “In jieko dan Wie hantee belum tentu masih hidup,” katanya. “Apa pula Wie Han tee yg didalam badannya mengeram racun dingin. Mungkin sekali ia sekarang sudah tidak berada didalam dunia lagi.”

“Kalau salah, dengan sejujurnya aku memberitahukan bahwa disini waktu Peh bie Eng ong dan Ceng ek Hok Ong berada di Kong Beng Teng.”

“Di Kong Beng Teng? Perlu apa mereka datang di Kong Beng Teng?”

“A lee telah melihat mereka dengan mata sendiri. A lee adalah cucu kandung dari In Hiantee. Ia dimarahi oleh ayahnya dan ayahnya mau membunuh dia, pertama kali aku yg menolongnya. Kedua kali ia ditolong Wie Hiantee yg membawanya ke Kong Beng Teng. Tapi ditengah jalan diam2 aku meramasnya. A lee coba kau ceritakan kepada Cia Kong2 cara bagaimana enam partai besar coba menyerang Kong beng teg.”

Dengan ringkas Alee segera memutarkan apa yg diketahui olehnya. Tapi karena sebelum tiba di Kong Beng Teng ia sudah ditemukan dan dibawa pergi oleh Kim hoa popo, maka ia tidak tahu kejadian2 di puncak gunung itu.

Makin mendengar Cia Soen jadi bingung, “Habis bagaimana? Habis bagaimana?” Ia bertanya tak henti2nya. Akhirnya ia teriak dengan penuh kegusaran. “Han hoe jin! Karena berebut kedudukan Kauw Coe kau tidak akur dengan saudara2 kita. Tapi pada waktu agama kita menghadapi bahaya bagaimana kau tega untuk berdiri dengan berpeluk tangan? Lihatlah In Jie ko Wie hianteeNgoi sian jin dan Ngo hen kie! Bukankah mereka semua datang di Kong Beng Teng untuk membantu?”

“Tanpa To Liong to, aku hanya pecandu Biat Coat Loonie. Biapun datang di Kong Beng Teng, aku tak ada muka untuk bertempur melawan dia. Apa pula waktu aku kebetulan mendengar tempat sembunyianmu. Dengan tergesa2 aku serga berlayar ke Peng hwee to.”

“Bagaimana kau tahu tempatku? Apakah orang Boe tong yg memberitahukan kepadamu?”

“Bukan!” orang Boe tong tak tahu tempatmu.

Waktu didesak Coei San duami istri lebih suka membunuh diri dari pada membuka rahasia. Orang Boe tong tak tahu tempat sembunyianmu. Baiklah, hari ini aku akan bicara terang2an. Di See hek aku bertemu dengan seorang yg bernama Boe Liat. Secara kebetulan kau mendengar pembicaraannya, dengan anak perempuan. Aku segera membekuk dia. Aku menyiksa dia dan sebab tak tahan siksaan dia membuka rahasia.”

Sesudah berdiam beberapa saat, Cia Soen bertanya, “Bukankah orang she Boe itu pernah bertemu dengan anak Boe Kie. Hm.. dia tentu menipu anakku dan mengorek rahasiaku dari mulutnya.”

Bukan main rasa malu Boe Kie. Ia ingat cara bagimana ia sudah ditipu Coe Tiang leng dan Coe Kioe Tin sehinga ia membuka rahasia. Kalau lantaran itu ayah angkatnya benar2 jadi celaka, biarpun mati berlaksa kali, ia tak bisa menebus dosa.

“Serangan enam partai terhadap Beng Kauw bukan urusan kecil,” kata pula Cia Soen. “Bagaimana sebenarnya nasib kita? Mengapa kau tidak memberitahukan hal itu kepadaku, waktu kita bertemu di Peng hwee to? Kau sudah pergi ke Tiong goan lagi dan aku percaya bahwa kau sudah mendapat warta yg lebih jelas.”

“Apa faedahnya jika aku beritahukan kau kejadian itu pada waktu aku datang di Peng Hwee to? Paling banyak kau mengoeml panjang pendek. Mati hidupnya Beng Kau tak ada sangkut pautnya lagi dengan Kim hoa popo. Kau rupa2nya sudah lupa kejadian di Kong Beng Teng. Waktu Kong Beng Co soe dan Kong Beng Yoe soe mengepung aku. Tapi si nenek masih belum melupakan kejadian itu.”

“Hait….. Ganjelan pribadi adalah soal kecil, melindungi agama kita adalah soal besar. Han hoejin dadamu sempit sekali.”

“Bagus!” bentak si nenek dengan gusar. “Kau laki2 gagah aku perempuan berpemandangan sempit! Apa kau tidak tahu, bahwa aku sudha untuk memutuskan hubungan dengna Beng Kauw? Kalau bukan begitu cara bagaimana Ouw Goe bisa memperlakukan aku sebagai orang luar? Dia menuntut supaya aku bersumpah untuk kembali kepada Beng Kauw dan hanyalah jika aku memenuhi tuntutannya barulah ia mengobati luka keracunan dari Gin yan sianseng. Cia hian tee, sekarang aku berterus terang. Akulah yg membunuh Tiap kok Ie sien Ouw Ceng Goe Cie san Liong ong sudah melanggar peraturan Beng Kauw yg paling penting. Mana bisa aku berhubung lagi dengan orang Beng Kauw?”

“Cia Song menggeleng2kan kepalanya. “Han hoe jin, aku mengerti maksudmu yg sebenarnya,” katanya. “Dengan meminjam To liong to, dimulut kau mengatakan untuk melawan Go bie pay, tapi dihati, kau sebenarnya ingin menggunakan golok itu untuk menggempur Yo Siauw dan Hoan Yauw. Tidak! Aku takkan meminjamkan golok ini.”

Kim hoa popo batuk2, “Cia hiantee, antara kita berdua, siapa yg berkepandaian tinggi?” tanyanya.

“Keempat hoat ong masing2 mempunyai keunggulan sendiri2”.

“Apa sesudah matamu buta, kau masih berani bertanding dengan aku?”

“Kau mau coba merampas golokku dengan kekerasan, bukan? Dengan mempunyai To Liong to biarpun buta, Cia Soen masih bisa meladeni kau.” Mendadak ia mendongak dan mengeluarkan siulan nyaring. “Han Hoe jin!” bentaknya dengan gusar. “Dua puluh tahun Giok Bin Hwee Kauw mengawani aku di Peng Hwe to. Mengapa kau membunuh dia dengna racun? Aku selalu menahan sabar dan tidak menegur kau, apa kau kira aku tidak tahu?” (Giok bin Hwee kauw, kera bulu merah, muka putih seperti batu giok).

Boe Kie terkesiap. Kera itu pernah menolong kedua orang tuanya. Diwaktu kecil, binatang itu adalah kawan mainnya satu2nya. Mendengar kebinasaan binatang itu, ia seolah2 mendengar meninggalnya seorang sahabat karib. Ia berduka tercampur gusar.

Si nenek tertawa dingin. “Aku benci kera kecil itu,” katanya. “Saban kali bertemu dia selalu mengawasi aku dengan sorot mata beringas. Gerakannya sangat cepat dan kalau aku tidak selalu berwaspada, bisa2 aku mampus dalam cekernya. Aku merendam beberapa buah tho didalam air racun. Kalau dia benar sakti, dia tentu tahu apa buah itu beracun atau tidak, pikirku. Tapi kera tetap kera. Nama besarnya hanya nama kosong. Dia gegares habis beberapa buah tho itu dan bahkan dia menyoja2, mengucapkan terima kasih kepadaku.”

Boe Kie meluap darahnya. Hampir2 ia menerjang. Sebisa2 ia menahan sabar karena mengingat bahwa biar bagaimanapun jua, si nenek adalah kepala dari keempat Hoe Kauw Hoat Ong. Untuk mempertahankan ‘gie-khie’ ia harus berdaya untuk menaklukkan nenek yg gagah itu.

Cia Soen menarik napas dalam2 dan maju setindak. Dengan sikap angker, kedua biji matanya yg sudah tidak dapat melihat lagi menatap wajah nenek Kim Hoa. In Lee keder dan mundur beberapa tindak. Dilain pihak, Kim hoa popo mencekal tongkatnya erat2 dan mengawasi Cia Soen dengan waspada. Suasana tegang luar biasa, ibarat gendewa yg sudah terpentgan. Diantara tiupan angin malam yg membangunkan bulu roma, kedua lawan itu saling berhadapan dalam jarang kurang lebih setombak. Lama mereka berdiri, masing2 sungkan untuk bergerak lebih dahulu.

Tiba2 Cia Soen berkata, “Han hoe jin, hari ini kau mendesak aku, sehingga aku tidak bisa turun tangan. Hai! Kejadian ini melanggar sumpah saudara dari keempat Hoe kauw hoat ong. Didalam hati, Cia Soen sangat menderita.”

“Cia Hiantee, hatimu memang lembek. Wkatu baru mendengar aku tidak percaya, bahwa kau sudah membunuh begitu banyak jago2 Rimba Persilatan.”

Cia Soen menghela napas. “aku kalap karena terbinasanya keluargaku – ayah, ibu, istri dan anak,” katanya. “Tapi kejadian yg membuat aku paling menyesal ialah, bahwa kau sudah membinasakan Kongkian Seng ceng dengan pukulan Cit siang koen.”

Si nenek tekejut. “Apa benar2 kau membinasakan Kong kian Seng Ceng?” ia menegas. “Lagi kapan kau belajar ilmu yg hebat itu?” Mendengar matinya Kong kian di dalam tangan Kim mo say ong, hatinya keder.

“Kau tak usah takut. Waktu di pukul, Kong kian Seng ceng tidak membalas. Dengan menggunakan ilmu Budha yg tiada batasnya, beliau berusaha untuk menuntun aku kejalan yg benar. Hai! … aku membinasakannya dengan tiga belas pukulan…”

“Kini aku percaya. Kepandaianku tak bisa menandingi Kong Kian Seng Ceng. Kau membinasakannya dengan tigabelas pukulan. Mungkin sekali, dengan sembilan atau sepuluh tinju, kau sudah bisa membinasakan aku.”

Cia Soen mundur setindak. Mendadak suaranya berubah lunak. “Han Hoe jin,” katanya, “Dahulu, waktu masih berada di Kong Beng Teng, Han Taoko dan kau telah memperlakukan aku baik sekali. Ketika Siauwtee sakit, sebulan lebih kalian merawat aku. Budi ini takkan bisa dilupakan.” Sambil menepuk2 bajunya yg berlapis kapas, ia berkata pula, “Dipulau peng hwee to, aku mengenakan baju yg terbuat dari kulit binatang. Kau membuat pakaian yg sangat cocok bagiku. Ini semua membuktikan, bahwa kecintaan persaudaraan masih belum hilang. Kau membunuh Giok bin Hwee kauw dan hatiku sakit. Tapi apa yg sudah terjadi tak dapat diubah lagi. Kau pergilah! Mulai sekarang, kita tak usah bertemu lagi. Aku hanya bisa mohon pertolonganmu, supaya anak Boe Kie bisa datang disini untuk menemui aku. Jika kau sudi meluluskan permohonanku, aku merasa sangat berhutang budi.”

Si nenek tertawa sedih. “Kalau begitu, kau masih ingat kejadian2 dahulu” katanya. “Sementara Gin yap taoko meninggal dunia, aku sudah merasa tawar terhadap segala keduniawian. Hanyalah karena masih ada beberapa urusan yg belum beres, aku masih belum mau mati untuk mengikuti Gin yap taoko. Cia hiantee biarpun kepandaian mereka tinggi dan akalnya banyak, semua jago di Kong beng teng tak dipandang sebelah mata olehku. Kecuali satu2nya adalah kasu sendiri. Apa kau tau sebab musababnya?”

Sesudah memikir beberapa saat, Cia Soen menggelengkan kepala, “Tidak,” jawabnya. “Cia Soen seorang bodoh dan tidak cukup berharga untuk dihargai oleh Hian Cie (kakakku yg budiman).”

Si nenek berjalan beberapa tindak dan berduduk diatas sebuah batu besar. “Diseluruh Kong Beng Teng, hanya nyonya Yo Kauwcoe dan kau sendiri yg dipandang mata oleh Cie san li ong long,” katanya. “Waktu aku menikah dengan Gin Yap Siang seng, hanya kau bedua yg tidak mengutuk aku, karena aku menikah dengan orang luar.”

Perlahan2 Cia Soen pun berduduk diatas sebuah batu besar. “Biarpun bukan penganut agama kita, Han Taoko adalah seorang gagah sejati,” katanya. “Pemandangan saudara2 kita memang sangat cupat. Hmm… bagaimana akibat serangan enam partai terhadap Kong Beng Teng? Bagaimana nasih saudara2 kita itu?”

“Cia Hiantee, badanmu diluar lautan, hatimu tetap di Tiong goan. Manusia hanya hidup beberapa puluh tahun. Dalam sekejap waktu itu lewat. Perlu apa kau memikiri orang lain?”

Mereka berhadapan dalam jarak beberapa kaki dan bisa saling mendengar jalan pernapasan masing2. Karena si nenek selalu batuk2 diwaktu berbicara, Cia Soen lalu berkata, “Waktu bertempur dengan orang2 Kaypang, dadamu tertikam pedang. Apa luka itu sampai sekarang belum sembuh?”

“Saban hawa udara dingin, batukku menghebat. Hmm, sesudah batuk tigapuluh tahun, aku sudah jadi biasa lagi. Cia Hiantee kudengar jalan pernapasanmu tidak begitu baik. Apakah kau mendapat luka didalam waktu berlatih Cit siang koen? Cia hiantee kau hraus menjaga diri.”

“Terima kasih atas perhatian Hian cie,” mendadak ia menengok kepada In Lee dan berkata, “In Lee, kemari.”

Si nona mendekati.

“Coba kau totok aku dengan jari tangamu, dengan seantero tenagamu.”

In Lee terkejut, “Aku tak berani!” katanya.

Cia Soen tertawa. “Cia Kong Kong, kau dan popo adalah saudara angkat. Segala urusan bisa dibereskan secara damai.”

Cia Soen tertawa sedih, “Cobalah totok aku,” katanya pula. “Kau tak usah takut. Kau di perintah olehku.”

In lee tak bisa menolak lagi. Ia segera membalut telunjuk tangan kanannya dengan sapu tangan dan kemudai menotok pundak Cia Soen. “Aduh!” ia menjerit, tubuhnya terpental setombak lebih dan ia jatuh duduk. Ia merasa kesakitan hebat, seolah2 tulang2nya patah semua.

“Cia Hiantee, kau sungguh beracun,” kata Kim Hoa popo. “Sebab takut aku mendapat pembantu, kau bertindak untuk menyingkirkannya.”

Cia Soen tidak lantas menjawab. Selang beberapa saat barulah ia berkata, “Anak ini sangat baik hatinya. Ia menotok hanya dengan menggunakan dua tiga bagian tenaga. Ia membungkus jarinya dan tidak mengerahkan racun Cian coe, bagus2! Kalau dia tidak berhati mulia, racun laba2 sekarang sudah menyebar jantungnya dan ia tentu sudah menjadi mayat.”

Mendengar itu, keringat dingin mengucur dari hati Boe Kie. Orang2 Beng Kauw memang agak kejam, pikirannya. “Gie hoe yg begitu mulia, tak urung telengas juga.”

“A lee, mengapa kau begitu baik terhadapku?” tanya Ciao Soen.

”Sebab kau … kau …. Adalah ayah angkatnya. Sebab kau dengan kesini untuk kepentingannya. Didalam dunia, hanya kita berdua, kau dan aku yg masih memperhatikan dia.”

“Ah! Aku tak nyana kau begitu menyayangi Boe Kie. Hampir2 aku mengambil jiwamu. Mari! Aku ingin membisikkan sesuatu dikupingmu.”

Perlahan2, sambil menahan sakit, In Lee bangun berdiri lalu menghampiri Cia Soen.

“Aku akan turunkan pelajaran semacam Lwee kang kepadamu,” bisik Cia Soen di kuping nona. “Lwee kang didapatkan olehku di Peng hwee to dan merupakan hasil jerih payahku selama seumur hidup.” Sebab berkata begitu ia segera membaca pelajaran tersebut, dari kepala sampai di buntut. Tentu saja In Lee tidak bisa lantas mengerti dan ia hanya coba menghafalnya. Sesudah membaca tiga kali beruntun Cia Soen bertanya “Apa kau sudah ingat semua?”

“Ya” jawabnya.

“Kau harus berlatih terus dan sesudah berlatih diri selama lima tahun, kau akan memperoleh hasilnya. Apa kau tahu maksudku yg sebenarnya dalam memberi pelajaran ini?”

Tiba2 In Lee mengangis segak seguk, “Aku tahu… tapi… hal itu tidak bisa terwujud,” jawabnya dengan suara terputus2.

“Apa yang kau tahu? Mengapa tidak bisa terwujud?” sambil bertanya begitu Cia Soen mengangkat tangannya. Jika In Lee memberi jawabyg tak menyenangkan, ia segera membinasakannya. Seraya mendekap muka dengan kedua tangannya, si nona berkata, “Ku tahu .. ku tahu, kau ingin aku mencari Boe Kie dan memberi pelajaran itu kepadanya. Kutahu.. kau ingin aku memiliki lweekangmu yg sangat lihai itu supaya aku bisa melindungi dia, supaya dia tak dihina orang. Tapi.. tapi…” ia tak bisa meneruskan kata2nya dan menangis menggerung gerung.

“Tapi apa?” bentak Cia Soen, “Apakah anakku Boe Kie…”

In Lee menubruk dan memeluk Cia Soen. Sambil menangis sedu sedan ia berkata, “Enam.. enam tahun yg lalu.. dia.. dia mati di See hek… terjerumus kedalam jurang!”

Badan Cia Soen bergoyang2. “Apa benar?” ia menegas dengan suara gemetar.

“Benar… Boe Liat dan anak perempuannya menyaksikan kebinasaannya dengan mata sendiri. Tujuh kali aku totok mereka dengan Cian Coe Chioe dan tujuh kali aku menolong jiwanya. Aku menyiksa mereka secara hebat luar biasa. Kupercaya mereka tidak berdusta.”

Sekonyong2 Cia Soen menengadah dan mengeluarkan jeritan menyayat hati sedang air matanya mengucur turun dikedua pipinya.

Melihat kedukaan ayah angkatnya dan saudari sepupunya, hampir2 Boe Kie tak bisa mempertahankan diri. Hampir2 ia melompat untuk memperkenalkan dirinya.

“Cia Hiantee,” kata nenek Kim hoa.

“Sesudah Thio Kongcoe meninggal dunia, perlu apa kau memegang terus to Liong to? Bukankah lebih baik kau menyerahkannya kepadaku?”

“Hebat sungguh kau mendustai aku!” bentak Cia Soen dengan suara menyeramkan. “Kalau kau maui golok ini, ambil dulu jiwaku!” Perlahan2 ia mendorong In Lee dan “brett” ia merobek pakaiannya dan melontarkan robekan itu kepada si nenek. Inilah yg dinamakan “Kwa pauw toan gie” (Merobek ppakaian, memutuskan persahabatan).

Waktu In Lee mau memberitahukan tentang “kebinasaan” Boe Kie, Kim hoa popo sebenarnya ingin merintangi. Tapi ia mendapat lain pikiran. Ia tahu, warta jelek itu akan sangat mendukakan Kim mo say ong, sehingga dalam pertempuran tenaganya akan berkurang, pikirnya kalut dan lebih gampang dipancing masuk ke dalam ‘barisan jarum’. Memikir begitu, dia hanya mengawasi sambil tersenyum dingin.

“Ah! Kini tiba waktunya unutk maju dan mencegah pertempuran,” kata Boe Kie didalam hati. Tapi sebelum dia melompat keluar, kupingnya yg sangat tajam mengangkap suara bernapasnya manusia diantar rumput2 tinggi.

Suara itu sangat perlahan dan pendek. Kalau bukan Boe Kie, lain orang pasti takkan bisa mendengarnya. “Kalau begitu si nenek menyembunyikan pembantu yg sangat lihai,” pikir Boe Kie. “Aku tak boleh lantas keluar.”

Sementara itu, setelah merobek pakaian nya sambil membentak keras Cia Soen memutar To liong to yg bagaikan seekor naga hitam turun naik disekitar tubuhnya. Kim hoa popo melayani dengan sangat hati2. dia bergerak diluar jarak samberan golok dan jika Cia Son sengaja membuka lowongan barulah ia berani merangsek. Tapi begitu lekas tongkat nya hampir beradu dengan To long to, dengan kecepatan luar biasa, ia menyingkir pula. Kedua lawan itu saling mengenal ilmu silat masing2. Mereka tahu, bahwa keputusan tak didapatkan dalam seratus atau duaratus yg kedua belah pihak mempunyai sesuatu yg menguntungkan. Cia Soen mempunyai golok mustika, sedangkan si nenek menarik keuntungan karena Cia Soen tidak bisa melihat. Dengan sedikit keuntungan itu, masing2 berusaha untuk mendapatkan kemenangan. Pada hakekatnya mereka bukan mengadu ilmu silat tapi mengadu kepintaran.

Mendadak dua sinar emas menyambar. Nenek Kim Hoa menumpuk dengan bunga emasnya. Cia Soen menyambut dengan goloknya dan … kedua senjata rahasia itu, menempel badan To Liong to! Bunga emas tersebut terbuat dari baja murni yg dilapis emas. Sebab To liong to terbuat daripada besi “hian tian” yg mengandung besi berani (sembrani) Kim Hoa popo mendapat nama beasr nya karena senjata rahasia itu. Biarpun matanya bisa melihat, Cia Soen harus menggunakan seantero kepandaiannya untukmenyelamatkan diri dari serangan Kim Hoa. Diluar dugaan To Liong to justru penakluk senjata rahasia.

Dengan beruntun si nenek melepaskan tujuh delapan bunga emas akan tetapi semuanya menempel di badan golok. Diantara kegelapan malam, bunga2 emas itu bagaikan kunang2 yg menari2. Sekonyong2 sambil batuk2, si nenek melepaskan seraup kim hoa. Beberapa belas bunga emas menyambar serentak. Cia Soen mengibas tangan baju kiri, sambil menyampik dengan To Liong to. Delapan sembilan kim hoa menempel di golok, yg lainny amasuk kedalam tangan baju.

“Han hoe jin,” kata Kim mo say ong. “Gelarmu Cie San liong on bertemu dengan golokku ini, gelar itu sangat tidak baik.”

Kim Hoa popo bergidik. Pada jaman itu, diantara ahli2 silat yg setiap hari bermain senjata masih banyak yg percaya akan takhayul mengenai nama senjata nama atau gelaran. Si nenek bergelar “Liong Ong” (Raja Naga) sedang nama golok itu adalah “To Liong” (Membunuh Naga). Sambil menekan rasa kedernya, ia tertawa dingin dan berkata, “Mungkin sekali tongkat Sat say thung (Tongkat membunuh singa) lebih dulu membinasakan anak singa yg matanya buta.” (Gelar Cia Soen Kim mo Say Ong yg berarti Raja Singa bulu emas).

Sehabis berkata begitu, dengan kecepatan luar biasa, ia menyamber pundak Cia Soen dengan tongkatnya. Cia Soen coba mengegos, tapi ia terlambat dan pundaknya terpukul. “Aduh!” teriaknya sambil terhuyung beberapa tindak.

Boe Kie kaget tercampur girang. Mengapa ia bergirang? Karena ia tahu, bahwa dengan sengaja menerima pukulan, ayah angkatnya sedang menjalankan tipu. Pada waktu itu, ia sudah menjadi seorang ahli silat yang berkedudukan sangat tinggi dan dalam menonton pertempuran. Ia selalu bisa meramalkan pukulan2 yg bakal dikeluarkan oleh kedua belah pihak. Setelah Cia Soen terpukul, ia berkata didalam hati. “Kalau Gie hoe menimpuk dengan bunga emas yg tergulung dudalam tangan bajunya. Kim hoa popo pasti akan mundur kesebelah kiri. Gie hoe tentu akan membacok dengan pukulan Cian san Bai soei loan pie hong sit. Sebab takut akan ketajaman To lion to, si nenek pasti akan mundur dua kali, dia tidak bisa mundur lagi. Kalau dengan menggunakan kesempatan itu, dengan lweekangnya Gie hoe menimpuk dengan bunga emas yg menempel pada badan To Liong to. Kim hoa popo rasanya akan terlalu berat.”

Sesuai dengan dugaan Boe Kie, tiba2 terlihat menyambar beberapa sinar emas. Cia Soen benar2 menimpuk dengan kim hoa yang tergulung didalam tangan bajunya. Dan sesuai dengan dugaan pemuda itu, nenek Kim hoa melompat mundur kesebelah kiri.

Mendadak Boe Kie mengeluh, “Celaka! Kim hoa popo menggunakan tipu!” ia mengeluh karena ingat sesuatu.

Sementara itu, di gelanggang terus berlangsung pertempuran seperti yg ditaksir Boe Kie. Cia Soen membacok dengan Cian Sen Ban Soei Loan pie hong sit. Si nenek melompat mundur lagi kekiri dan Cia Soen lalu menimpuk dengan beralsan kim hoa yg menempel pada badan golok.”Aduh!” teriak si nenek dan badannya sempoyongan.

Sesudah “merobek baju, memutuskan persahabatan,” Cia Soen tidak sungkan2 lagi. Sambil membentak keras, ia melompat tinggi dan lagi tubuhnya melayang kebawah, ia mengayun goloknya.

Mendadak terdengar teriakan In Lee, “Awas! Dibawah ada jarum!”

Cia Soen terkesiap. Kejadian inilah yg sudah dilihat Boe Kie, sehingga ia mengeluh.

Pada detik itu, belasan bunga emas menyambar. Kim hoa popo menimpuk selagi badan Cia Soen masih berada ditengah udara supaya ia tidak bisa mundur lagi dan jatuh diatas ‘barisan jarum’.

Kim mo say ong memang sudah tidak berdaya lagi. Ia hanya bisa menyelamatkan diri dari serangan bunga2 emas dengan menyampok dengan To Liong to, tapi ia tidak bisa menggelakkan hinggapnya diatas ‘barisan jarum’. Selagi dianya sedang ia menyampok dan selagi badannya melayang turun tiba2 ia mendengar suara ‘tring trinh….’ Dilain detik kedua kakinya hinggap diatas batu…. Dengan tak kurang suatu apa! Ia berjongkok dan meraba2 dan tangannya menyentuh jarum tajam di batu2 sekitarnya. Tapi empat batang jarunm yg sedang diinjaknya, hilang terpukul batu. Cia Soen gusar tercampur kaget. Ia tahu, bahwa ia sudah di tolong oleh orang yg berkepandaian tinggi. Dengan mendengar sambaran batu, ia pun tahu, bahwa yg menolong nya bukan lain daripada si pemuda yg mengaku sebagai kie keng pang dan yg pernah coba menolong nya dengan timpukan tujuh butir batu. Hebat sungguh kepandaian pemuda itu, pikirnya. Sudah lama dia menonton tanpa diketahui. Mengingat begitu, keringat dingin mengucur di dahi Kim mo say ong.

“Sekarang kedua Hoe Kouw hoat ong dari Beng Kauw masing2 sudah berjalan kau tipu Kouw jiok kee (tipu mempersakiti diri sendiri). Pundak Cia Soen sudah terpukul tongkat, tubuh si nenek sudah kena bunga emas. Biarpun tidak berbahaya, luka itu jg tak enteng.

Sesudah batuk2, sambil mengawasi tempat bersembunyinya Boe Kie, Kim hoa popo membentak, “Bocah Kie keng pang! Sekali lagi kau mengacau urusan nenekmu. Siapa namamu?”

Sebelum Boe Kie menjawab mendadak menyambar sinar emas dan In Lee mengeluarkan teriakan kesakitan. Kim hoa popo tahu, bahwa kepandaian Boe Kie tidak berada disebelah bawahnya. Jika ia menyerang In Lee pemuda itu tentu akan merintangi. Maka itu, ia sengaja berbicara dan pada saat Boe Kie tdk berwaspada ia menimpuk dengan tiga bunga emas yg menancap tepat di dada si nona.

Tak kepalang kagetnya Boe Kie. Badannya melesat bagaikan anak panah dan selagi berada di tengah udara, ia menyambut dua kim hoa yg menyambar. Begitu hinggap ditanah, ia memeluk tubuh In Lee.

Dealam keadaan setengah lupa si nona melihat seorang lelaki berkumis memeluk dirinya. Secara wajar Ia menolak keras dengan kedua tangannya. Begitu menggunakan tenaga, ia memuntahkan darah.

Boe Kie lantas saja mengerti mengapa In Lee menolak dirinya. Buru2 ia mengusap mukanya beberapa kali untuk mencopot kumis palsu dan penyamarannya.

Di lain saat nona In mengawasi dengan mata membelak. “A Goe koko, apa kau?” tanyanya dengan suara parau.

“Benar aku!” jawabnya.

Hati si nona lega dan ia pingsan. Karena lukanya sangat berat, Boe Kie tidak berani mencabut senjata rahasia yg menancap dan hanya menotok beberapa jalan darah untuk melindungi bagian2 terpenting dari tubuh In Lee.

“Dua kali tuan menolong Cia Soen dan Cia Soen takkan melupakan budi yg sangat besar itu,” kata Kim mo Say ong.

Mata Boe Kie lantas saja mengembeng air. “Gie… mengapa…” katanya.

Sesaat itu, ditempat jauh mendadak terdengar suara “tring!” Suara itu aneh. Perlahan tapi merdu dan menusuk kuping. Mendengar suara itu, jantung Kim hoa, Cia Soen dan Boe Kie melonjak, seolah2 mendengar halilintar yg dahsyat. Mereka bertiga adalah orang yg memiliki lwee kang yg tinggi. Kioe yang sin kang Boe Kie dapat dikatakan sudah sempurna dan ia tidak bisa dilanggar lagi oleh segala kekotoran. Tapi heran, suara itu dapat menggetarkan jantungnya. Ia bahkan merasa dirinya terombang ambing di angkasa. Itulah kejadian yg benar2 luar biasa.

Di lain detik, suara itu terdengar pula, lebih dekat bberapa puluh tombak. Dalam sedetik suara itu sudah berpindah sedemikian jauh. Sungguh hebat!

Tapi suara kedua berbeda dari yg pertama. Suara itu halus lemah lembut. Bagaikan bisikan seorang bercintaan di tengah malam yg sunyi seolah2 tiupan angin yg silir. Akan tetapi biarpun begitu, suara itu seperti membetot nyawa.

Boe Kie mengerti, bahwa ia sedang menghadapi seorang manusia luar biasa. Sambil memeluk In Lee, ia berdidi tegak siap sedia untuk menyambut setiap serangan.

Sekonyong2 terdengar “tang!” yang sangat hebat, yg berkumandang diseluruh lembah.

Hampir bersamaan muncul tiga orang, semua mengenakan jubah putih. Dua diantaranya bertubuh jangkung sedang yang di sebelah kiri seorang wanita. Mereka berdiri dengan membelakangi rembulan sehingga Boe Kie tidak bisa melihat muka mereka. Tapi tak bisa salah lagi mereka adalah anggota Beng-kauw, karena pada ujung jubah mereka tersulam sebuah obor.

“Seng hwee leng Beng-kauw sudah tiba,” kata si jangkung yang berdiri di tengah-tengah. “Hoe kauw Liong ong, Say ong, mengapa kalian tidak menyambut dengan berlutut?” Ia berbicara dalam bahasa Han yang sangat jelek dan kaku.

Boe Kie terkejut, “Menurut surat wasiat Yo Kongcoe, semenjak jaman Kongcoe ketiga puluh satu, jaman Kauwcoe, Seng hwee leng jatuh ke dalam tangan Kay-pang dan sampai sekarang belum bisa diambil kembali,” pikirnya. “Mengapa benda-benda itu berada di dalam tangan mereka? Apa itu Seng hwee leng asli? Apa benar mereka murid Beng-kauw?” Bermacam-macam pertanyaan keluar masuk dalam otaknya.

“Aku sudah keluar dari Beng-kauw, perkataan Hoe kauw Liong ong jangan disebut-sebut lagi,” kata Kim hoa po po. “Siapa nama tuan? Apa itu Seng hwee leng asli? Dari mana kalian mendapatkannya?”

“Pergi!” bentak orang itu. “Kalau kau sudah keluar dari agama kami, perlu apa kau banyak rewel? Pergi!”

Kim hoa po po tertawa dingin, “Kim hoa po po belum pernah dihina orang,” katanya, “Bahkan Kauwcoe memerlukan aku dengan segala kehormatan. Apa kedudukanmu di dalam Beng-kauw?”

Tiba-tiba ketiga orang itu bergerak dengan serentak mendekati dan tangan kiri mereka mencoba mencengkram badan si nenek. Kim hoa po po menyapu dengan tongkatnya. Entah bagaimana ketiga orang itu menggeser kaki tahu-tahu kedudukan badan mereka sudah berubah. Si nenek menyapu angin dan belakang lehernya dicengkram dengan tiga tangan dan segera dilontarkan jauh-jauh.

Astaga! Nenek Kim hoa adalah seorang ahli silat kelas utama. Andaikata ia dikepung oleh tiga orang jago yang paling hebat belum tentu ia bisa dirobohkan dengan satu dua jurus. Tapi ketiga orang itu sungguh-sungguh aneh gerakan kaki dan tangannya.

Tiba-tiba Boe Kie mengeluarkan teriakan “in!” Ia merasa bahwa gerakan badan, tangan dan kaki ketiga orang itu tak lain dari gerakan Kian koen Tay lo ie. Apakah mereka bersama-sama memiliki ilmu yang sangat tinggi itu?

Waktu mendengar suara “tang” yang ketiga kali, In Lee sadar dari pingsannya. Ia membuka kedua matanya dan mendapati kenyataan bahwa ia masih dipeluk Boe Kie. Dadanya sakit luar biasa dan sambil menahan sakit ia segera memejamkan kedua matanya.

Sesudah ketiga orang itu mengubah kedudukan, Boe Kie bisa melihat mukanya. Yang bertubuh paling jangkung berjenggot dan matanya biru, sedang yang satunya lagi berambut kuning dan berhidung bengkok seperti patuk elang. Kedua-duanya orang asing, yang wanita berambut hitam dan mukanya tak berbeda dengan muka orang Tiong-hoa. Hanya biji matanya tidak hitam. Ia berusia kurang lebih dua puluh tahun dan raut mukanya berbentuk kwa cie, ia cantik. “Semua orang asing, tidak herean apabila mereka itu suaranya kaku dan bicaranya seperti orang menghafal buku,” kata Boe Kie dalam hati.

“Melihat Seng hwee leng seperti bertemu dengan Kauwcoe,” teriak si jenggot. “Cia Soen mengapa kau tidak menyambut dengan berlutut?”

“Siapa kalian?” Tanya Kim-mo Say-ong.

“Kalau kalian murid agama kita, Cia Soen pasti mengenal nama kalian. Kalau bukan murid agama kami, kalian tidak bersangkut paut dengan Seng hwee leng.”

“Dari mana asalnya Beng-kauw?”

“Dari Persia.”

“Benar, aku adalah Lioe in soe (Utusan Awan) dari Beng-kauw yang berkedudukan di Persia. Kedua kawanku ini adalah Biauw hong soe (Utusan Rembulan). Atas perintah Cong Kauwcoe (Kauwcoe Pusat) dari Persia, kami bertiga datang ke Peng-goan.”

Cia Soen dan Boe Kie terkejut. Sesudah membaca buku gubahan Yo Siauw, Boe Kie tahu bahwa Beng-kauw memang berasal dari Persia. Melihat ilmu silat ketiga orang itu, ia percaya bahwa keterangan si jenggot bukan keterangan palsu. Ia tidak membuka mulut dan menunggu jawaban ayah angkatnya.

“Kauwcoe kami mendapat kabar bahwa Kauwcoe cabang Tiong-goan hilang tanpa jejak,” kata si rambut kuning Biauw hong soe. “Karena itu, murid-murid cabang Tiong-goan bermusuhan satu sama lain dan saling bunuh. Ceng Kauwcoe memerintahkan Sam soe (tiga utusan) In, Hong dan Goat datang ke Tiong-goan untuk membereskannya. Sesudah kami tiba di sini, semua murid harus mendengar perintah kami.”

Boe Kie girang. “Bagus,” pikirnya, “Dengan begini aku terbebas dari pikulan yang berat. Pengetahuanku memang sangat cetek dan bisa jadi aku akan menggagalkan urusan yang sangat besar.”

“Meskipun benar Beng-kauw Tiong-goan berasal dari Persia, akan tetapi selama seribu tahun lebih sudah jadi agama yang berdiri sendiri tanpa dikuasai Cong-kauw (pusat),” kata Cia Soen. “Bahwa dari tempat jauh Sam wie datang ke sini, Cia Soen merasa sangat girang. Tapi menyambut dengan berlutut adalah hal yang tidak beralasan.”

Lioe in soe merogoh saku dan mengeluarkan dua potong “pay” (potongan logam atau batu) yang panjangnya kira-kira dua kaki. “Pay” itu bukan emasa dan bukan batu giok, entah terbuat dari bahan apa. Begitu dikeluarkan kedua “pay” segera dipukulkan satu sama lain. “Ting!” itulah suara aneh yang terdengar paling dulu. Dalam jarak dekat, kedengarannya lebih hebat lagi.

“Inilah Seng hwee leng dari Beng-kauw cabang Tiong-goan,” kata Lioe in soe. “Mendiang Kauwcoe Cio tak becus sehingga barang ini jatuh ke tangan Kay-pang. Untung juga kami dapat merampasnya kembali. Semenjak dulu melihat Seng hwee leng seperti bertemu dengan Kauwcoe sendiri. Cia Soen apa kau masih mau berkepala batu?”

Waktu Cia Soen masuk agama Beng-kauw, Seng hwee leng sudah lama hilang. Ia belum pernah melihatnya tapi ia tahu sifat-sifatnya yang luar biasa. Dalam kitab-kitab Beng-kauw “pay” yang dipegang oleh ketiga orang asing itu adalah Seng hwee leng asli. Apalagi mereka memiliki kepandaian yang sangat luar biasa dan sekali gebrak mereka sudah bisa melemparkan tubuh Kim hoa po po. Kepandaiannya sendiri kira-kira setanding dengan Kim hoa po po sehingga andaikata ia mau melawan iapun takkan bisa melawan. “Aku percaya omongan tuan,” katanya. “pesan apa yang mau disampaikan oleh kalian?”

Lioe in soe tak menjawab. Ia mengibaskan tangan kirinya. Biauw hoe soe dan Hwie goat soe mengerti maksudnya. Dengan serentak ketiga orang itu melompat tinggi dan dalam sesaat mereka sudah berhadapan dengan Kim hoa po po. Si nenek menimpuk dengan enam Kim hoa tapi dengan mudah mereka bisa menyelamatkan diri. Hwie goat soe merengsek dan mencoba menotok leher si nenek. Kim hoa po po menangkis dan memukul dengan tongkatnya. Tiba-tiba tubuh si nenek terangkat tinggi, punggungnya sudah dicengkram oleh Lioe in soe dan Biauw hong soe dan diangkat ke atas. Ia tidak berdaya sebab jalan darah dipunggung sudah ditotok. Hwie goat soe maju dan dengan tangan kirinya ia menotok tujuh hiat di dada Cie San Liong ong.

Jalan serangan ketiga orang itu licin dan lancer, “Ilmu silat mereka tidak luar biasa,” kata Boe Kie dalam hati. “Yang luar biasa adalah kerjasama mereka. Hwie goat soe memancing si nenek, kedua tangannya membekuk dengan membokong, ilmu silat mereka secara perorangan belum tentu lebih tinggi dari Kim hoa po po.”

Sementara itu Lioe in soe melemparkan Kim hoa po po ke hadapan Cia Soen. “Cia Say ong,” katanya, “Menurut peraturan Beng-kauw, seseorang yang sudah masuk agama itu tapi ia meninggalkan agama kita maka dia telah menjadi murid pengkhianat. Penggal kepalanya!”

Cia Soen terkejut, “Beng-kauw di Tiong-goan tak punya peraturan begitu,” jawabnya.

“Mulai dari sekarang, Beng-kauw cabang Tiong-goan harus menurut Cong-kauw,” kata Lioe in soe dengan suara dingin. “Nenek itu telah mengatur tipuan busuk untuk mencelakai kau dan itu semua telah dilihat kami. Hidupnya dia merupakan bibit penyakit. Lekas binasakan dia!”

“Dahulu Han hoejin telah memperlakukan aku baik sekali. Empat Raja Pelindung Beng-kauw terikat pada tali persaudaraan. Biarpun hari ini dia memperlakukan aku dengan Poet ceng (tanpa kecintaan) tapi aku tak bisa membalasnya dengan Poet hie (tanpa rasa persahabatan) dan turun tangan untuk membinasakannya.”

Biauw hong soe tertawa terbahak-bahak. “Kau sungguh rewel!” katanya. “Caramu seperti perempuan bawel. Dia berusaha untuk membinasakan kau tapi kau tidak mau mengambil jiwanya. Mana ada aturan begitu? Heran! Aku sungguh tidak mengerti!”

“Aku bisa membunuh manusia tanpa terkesiap tapi aku tak bisa membunuh saudara seagama,” kata Cia Soen dengan suara mantap.

“Tapi kau mesti membunuh dia,” kata Hwie goat soe, “Kalau kau menolak berarti kau melanggar perintah. Kami akan lebih dulu mengambil jiwamu.”

“Baru datang di Tiong-goan Sam wie sudah mencoba memaksa Kim-mo Say-ong utnuk membunuh Cie San Liong ong,” kata Cia Soen dengan suara mendongkol. “Apakah Sam wie mau mencoba memperlihatkan keangkeran dengan menakut-nakuti aku?”

Hwie goat soe tersenyum, “Meskipun kau buta hati mengerti segalanya,” katanya, “Hayo! Lekas turun tangan!”

Cia Soen menengadah dan tertawa nyaring sehingga suaranya berkumandang di seluruh lembah, “Kim-mo Say-ong selamanya bekerja sebagai laki-laki,” katanya dengan suara keras. “Aku tak sudi membunuh sahabat sendiri. Tapi andaikata nenek itu musuh besarku akupun takkan turun tangan sebab dia sekarang sudah tidak bisa membela diri, Cia Soen belum pernah membunuh manusia yang tidak bisa melawan lagi.”

Mendengar perkataan itu, Boe Kie merasa kagum sekali dan terhadap ketiga utusan itu ia mulai merasa muak.

“Bagi setiap murid Beng-kauw melihat Seng hwee leng seperti melihat Kauwcoe sendiri,” kata Biauw hong soe. “Say-ong, apa kau mau memberontak?”

“Cia Soen telah buta dua puluh tahun lebih. Biarpun kau menaruh Seng hwee leng dihadapanku, aku tak bisa melihatnya. Maka itu, melihat Seng hwee leng seperti melihat Kauwcoe sendiri tiada sangkut pautnya denganku.”

“Bagus!” bentak Biauw hong soe dengan gusar. “Benar-benar kau mau berkhianat?”

“Cia Soen tidak berani berkhianat, tapi tujuan Beng-kauw ialah melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan menyingkirkan segala kejahatan. Disamping itu Beng-kauw pun sangat mengutamakan “gie kie”. Kepala Cia Soen boleh jatuh di tanah tapi Cia Soen tak boleh melakukan perbuatan sebusuk itu.”

Nenek Kim hoa tidak bisa bergerak tapi ia mendengar tegas setiap perkataan Kim-mo Say-ong.

Boe Kie tahu bahwa ayah angkatnya tengah menghadapi bencana. Perlahan-lahan ia melepaskan In Lee di tanah.

“Semua anggota Beng-kauw di Tiong-goan yang tidak menghormati Seng hwee leng akan mendapatkan hukuman mati,” bentak Lioe in soe.

“Aku adalah Hoe-kauw Hoat ong (Raja Pelindung Agama),” kata Cia Soen dnegan suara lantang, “Biarpun Kauwcoe sendiri yang mau membinasakan aku, ia harus mengadakan upacara kepada Langit dan Bumi dengan memberitahukan segala dosa-dosaku.”

Biauw hong soe tertawa. “Gila!” katanya. “Di Persia tidak ada peraturan begitu. Begitu datang di Tiong-goan, Beng-kauw segera mempunyai aturan yang gila-gila.”

Mendadak Sam soe membentak kerasa dan menyerang dengan berbarengan. Cia Soen segera memutar To liong to untuk melindungi diri. Sesudah menyerang tiga jurus tanpa berhasil dengan serentak mereka mengeluarkan Seng hwee leng. Hwie goat soe merangsek dan memukul batok kepala Cia Soen dengan Seng hwee leng yang dicekal dalam tangan kirinya. Cia Soen menangkis dengan goloknya. “Trang!” Biarpun senjata mustika, golok itu tidak bisa memutuskan Seng hwee leng. Hampir bersamaan, Lioe in soe menggulingkan diri di tanah dan memukul betis Cia Soen sehingga ia terhuyung satu dua langkah. Pada detik yang bersamaan Biauw hong soe berhasil menotok punggung Cia Soen dengan Seng hwee lengnya. Mendadak ia merasa tangannya dibetot orang dan Seng hwee leng dirampas. Dengan hati mencelos ia memutar badan. Yang merampas adalah seorang pemuda yang mengenakan pakaian anak buah perahu.

Perampasan Seng hwee leng dilakukan Boe Kie dengan kecepatan luar biasa. Dengan gusar Lioe in soe dan Hwie goat soe segera menyerang dari kiri dan kanan, untuk menyelamatkan diri Boe Kie melompat mundur ke sebelah kiri. Diluar dugaan punggungnya kena dipukul Hwie goat soe. Seng hwee leng adalah benda yang sangat keras dan pukulan itu disertai Lweekang yang hebat. Maka Boe Kie berkunang-kunang. Untung juga dia memiliki Sin kang dan sambil melompat ke depan ia mengempos semangat untuk menentramkan hatinya.

Sam soe tidak memberi nafas kepadanya dan segera mengurung. Sesudah serang menyerang beberapa jurus dengan Seng hwee leng yang dipegang tangan kanannya, Boe Kie mengirimkan pukulan gertakan kepada Lioe in soe dan berbarengan tangan kirinya menjambret Seng hwee leng yang dicekal dalam tangan kiri Hwie goat soe. Baru saja mau membetot mendadak Hwie goat soe melepaskan cekalannya sehingga buntut Seng hwee leng itu membal ke atas dan memukul pergelangan tangannya. Jari-jari tangan Boe Kie kesemutan sehingga mau tidak mau ia terpaksa melepaskan pula Seng hwee leng yang sudah dipegangnya, Hwie goat soe lantas saja menyambutnya.

Semenjak memiliki Kian koen Tay loe ie dan mendapat petunjuk Thio Sam Hong mengenai Thay kek keon, Boe Kie tidak pernah menemui tandingan. Diluar dugaan, dalam menghadapi seorang wanita muda seperti Hwie goat soe, dua kali beruntun ia kena dipukul. Dalam pukulan kedua, jika tidak memiliki Sin kang, pergelangan tangannya pasti sudah patah.

Sekarang ia tidak berani melayani kekerasan lagi. Sambil membela diri ia memperhatikan serangan-serangan lawan untuk mencari jalan melawannya.

Dilain pihak, ketiga utusan itu merasa kaget. Belum pernah mereka menemui lawan seperti Boe Kie.

Tiba-tiba Biauw hong soe menundukkan kepalanya dan menyeruduk. Inilah serangan luar biasa yang bertentangan dengan peraturan ilmu silat. Menyeruduk dengan bagian tubuh yang terpenting tidak pernah atau sedikitnya jarang digunakan oleh ahli-ahli silat di daerah Tiong-goan.

Boe Kie berdiri tegak bagaikan gunung. Ia mengerti bahwa serudukan itu akan disertai dengan serudukan susulan. Ketika batok kepala Biauw hogn soe hanya terpisah satu kaki dari perutnya barulah ia menggeser kaki dan mundur selangkah. Mendadak Lioe in soe melompat tinggi dan ketika tubuhnya turun, ia mencoba duduk di atas kepala Boe Kie. Inipun serangan aneh. Buru-buru Boe Kie mengegos ke samping. Mendadak ia merasa dadanya sakit sebab kena disikat Biauw hong soe tapi Biauw hong soe sendiri yang kena didorong dengan tenaga Kioe yang Sin kang terhuyung beberapa langkah.

Paras Sam soe berubah pucat. Tapi mereka segera merangsek lagi. Selagi Hwie goat soe membabat dengan kedua Seng hwee leng mendadak Lioe in soe melompat tinggi dan menjungkir balik tiga kali di tengah udara. Ia heran melihat saltonya Lioe in soe dan cepat-cepat ia mengegos ke kiri, mendadak sinar putih berkelabat dan pundak kanannya terpukul Seng hwee leng Lioe in soe. Ia terkesiap, itu pukulan yang sangat aneh. Bagaimana caranya selagi bersalto Lioe in soe bisa memukul dirinya tanpa ia sendiri bisa mencegahnya? Pukulan itu sangat hebat, meskipun seluruh tubuhnya dilindungi Sin kang, rasa sakit terasa di sumsum. Kalau bisa ia ingin mundur tapi ia tahu kalau ia mundur, ayah angkatnya akan binasa. Ia jadi nekat, sesudah menarik nafas dalam-dalam ia melompat menghantam dada Lioe in soe dengan telapak tangannya.

Pada detik yang bersamaan, Lioe in soe pun melompat ke depan sambil memukul kedua Seng hwee lengnya. “Trang!” Selagi abdannya masih berada di udara, mendengar suara itu Boe Kie merasa semangatnya terbetot keluar. Tiba-tiba Biauw hong soe terpental sebab didorong oleh Kioe yang Sin kang. Hampir bersamaan Hwie goat soe sudah menghantam pundak Boe Kie dengan Seng hwee leng.

Cia Soen tahu bahwa si pemuda Kie yang menolong jiwanya sedang menghadapi bencana, ia merasa menyesal bahwa ia tak bisa membantu. Makin lama ia jadi makin bingung. Jika bertempur sendirian ia bisa melawan dengan mengandalkan ketajaman kupingnya. Sekarang ia tak bisa membedakan yang mana lawan yang mana kawan. Bagaimana jadinya kalau To liong to sampai membinasakan kawan. Tapi ia tahu bahwa penolongnya sudah terpukul beberapa kali. “Siauw hiap! Lekas menyingkir!” teriaknya. “Ini urusan Beng-kauw, bukan urusan Siauw hiap bahwa Siauw hiap sudah sudi menolong Cia Soen merasa sangat berhutang budi.”

“Aku…Lari! Lekas kau…lari!” seru Boe Kie dengan suara terputus-putus.

Mendadak Lioe in soe menghantam dengna Seng hwee leng. Boe Kie menangkis dengan Seng hwee leng juga. “Trang!” Seng hwee leng Lioe in soe terlepas. Boe Kie segera melompat tinggi untuk menangkapnya. Tiba-tiba “bret!” baju dipunggungnya robek sebab jambretan Hwie goat soe. Goresan kuku mengeluarkan darah dan Boe Kie merasa perih pada punggungnya. Karena serangan itu, gerakan Boe Kie jadi terhambat dan Seng hwee leng keburu diambil kembali oleh Lioe in soe.

Sesudah bertempur beberapa lama, Boe Kie yakin bahwa Lweekang ketiga lawan itu masih kalah jauh dari tenaga dalamnya. Yang sukar dilawan adalah ilmu silat, kerja sama dan senjata mereka yang aneh. Mereka bekerja sama dalam cara yang sangat luar biasa. Boe Kie tahu bahwa kalau ia bisa merobohkan salah seorang maka ia akan mendapatkan kemenangan tapi hal itu tidak gampang dilakukan.

Dengan Sin kangnya, dua kali Boe Kie menghantam Biauw hong soe tapi lawan itu hanya terhuyung beberapa langkah dan rupa-rupanya tidak mendapat luka yang berarti. Selain itu setiap kali ia menyerang yang satu, dua yang lain segera menolong dengan cara yang tak diduga-duga. Beberapa kali ia menukar ilmu silat tapi ia tetap tak bisa memecahkan kerja sama mereka yang sangat erat.

Dilain pihak, Sam soe pun tak berani membenturkan kaki tangan atau badan mereka dengan Boe Kie. Setiap kali mengadu kekuatan setiap kali pihak mereka yang menderita.

Mendadak, sambil membentak keras Cia Soen memeluk To liong to melompat masuk ke gelanggang pertempuran dan mendekati Boe Kie. “Siauw hiap, gunakanlah golok ini!” katanya. Seraya berkata begitu, ia menyodorkan To liong to.

Boe Kie menyambuti dan Cia Soen melompat mundur. Selagi melompat, punggungnya terkena tinju Biauw hong soe yang menyambar tanpa bersuara sehingga ia tidak dapat mendengarnya. “Aduh!” ia mengeluh. Ia merasa isi perutnya seperti terbalik.

Sementara itu, sambil menggertak gigi Boe Kie membacok Lioe in soe. Si jenggot memapaki kedua Seng hwee leng yang lantas menempel di badan To liong to. Tiba-tiba Boe Kie merasa tangannya tergetar sehingga To liong to hampir terlepas.

Hatinya mencelos, buru-buru ia mengempos semangat dan menambah Lweekangnya. Merampas senjata dengan Seng hwee leng adalah satu-satunya ilmu yang sangat diandalkan oleh Lioe in soe. Dapat dikatakan ia belum pernah gagal. Kali ini ia tidak berhasil dan kaget bukan main. Melihat itu, sambil membentak keras Hwie goat soe melompat dan menempelkan kedua Seng hwee lengnya di badan To liong to. Sekarang empat Seng hwee leng membetot golok dan tenaga membetot bertambah satu kali lipat.

Boe Kie sudah terluka beberapa kali dan biarpun bukan luka berat tenaganya berkurang. Sesudah bertahan beberapa saat, ia merasa separuh badannya panas dan tangannya yang mencekal golok gemetaran. Ayah angkatnya menyayangi To liong to seperti jiwa sendiri dan bahwa orang tua itu sudah dengan rela meminjamkan kepada orang yang belum dikenal merupakan bukti bahwa sang Gie hoe mempunyai gie kie yang sangat tebal. Kalau To liong to sampai hilang dalam tangannya, mana ia ada muka untuk menemui sang ayah angkat lagi? Berpikir begitu sambil membentak, ia mengerahkan seluruh Kioe yang Sin kang ke tangan kanannya.

Paras muka Lioe in soe dan Hwie goat soe berubah pucat. Biauw hong soe kaget, ia melompat dan turut menempelkan sebuah Seng hwee lengnya ke badan To liong to.

Sekarang satu melawan tiga dan berkat Sin kang, Boe Kie tetap bisa bertahan. Diam-diam ia merasa syukur bahwa ia berhasil merampas sebelah “leng” dari tangan Biauw hong soe. Jika Liok leng (enam leng) menekannya dengan bersamaan belum tentu ia bisa mempertahankan diri.

Dengan tubuh tak bergerak, keempat orang mengerahkan Lweekang mereka yang paling tinggi.

Mendadak saja Boe Kie merasa dadanya sakit seperti ditusuk dengan jarum halus. Tusukan itu luar biasa hebat, terus menerobos ke dalam isi perutnya. Hampir bersamaan, To liong to terlepas dari cekalannya dan ditarik oleh lima Seng hwee leng!

Boe Kie terkesiap tapi sebagai ahli silat kelas utama, dalam kagetnya ia tak menjadi bingung. Ia menghunus Ie thiam kiam yang terselip dipunggungnya dan dengan Toan coan Jie ie (berputar-putar menurut kemauan hati) salah sebuah pukulan Thay kek Kiam hoat, ia membuat sebuah lingkaran dengan bersamaan membabat kepungan Sam soe. Cepat-cepat ketiga lawan itu melompat mundur. Boe Kie memasukkan Ie thiam kiam ke dalam sarung dan dengan sekali raih ia menangkap gagang To liong to.

Sungguh indah keempat gerakan melepaskan To liong to dan menghunus Ie thian kiam, memasukkan pedang ke dalam sarung dan menangkap gagang To liong to. Tempo kecepatannya bagaikan kilat dan gerakannya gemulai. Itulah gerakan-gerakan yang dikeluarkan dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie tingkat ketujuh.

Sam soe Persia mengeluarkan seruan kaget. Tak kepalang heran mereka. Lweekang mereka kalah jauh dari Boe Kie. Karena mereka berteriak, tenaga bertahan mereka berkurang dan kelima Seng hwee leng berbalik kena dibetot Boe Kie bersama-sama To liong to. Buru-buru Sam soe mengempos semangat dan keadaan pulih seperti tadi, keempat orang saling bertahan dan saling membetot.

Dilain saat, sekali lagi Boe Kie merasa dadanya sakit seperti ditusuk jarum.

Tapi sekarang karena sudah bersiap-siap, To liong to tidak sampai terlepas. Sehelai hawa dingin telah menerobos masuk dari lapisan Kioe yang Sin kang yang melindungi seluruh tubuh Boe Kie dan menyerang isi perutnya. Boe Kie mengerti bahwa itulah tenaga dalam Sam soe yang menyerang dengan perantaraan Seng hwee leng. Pada umumnya manakala dingin menyerang panas, belum tentu dingin mendapatkan kemenangan, tapi dalam hal ini Kioe yang Sin kang melindungi seluruh tubuh sedang hawa dingin itu berkumpul menjadi satu dalam bentuk sehelai benang tipis itu dan menikam bagaikan tikaman pisau. Itulah sebabnya mengapa biarpun hebat, garis pertahanan Kioe yang dapat diterobos juga.

Serangan itu sebenarnya dilakukan oleh Hwie goat soe dan Lweekang yang digunakan Tauw koet ciam (jarum yang bisa menembus tulang). Ia kaget dan heran karena Boe Kie dapat mempertahankan diri terhadap serangan Lweekang Tauw koet ciam, ia ingin sekali merampas Ie thian kiam tapi tak bisa berbuat begitu sebab kedua tangannya memegang Seng hwee leng. Biauw hong soe pun ingin merebut pedang mustika itu dan tangan kirinya kosong, tapi karena tenaganya sudah dikumpulkan di tangan kanan maka tangan kiri itu tidak bertenaga lagi.

Boe Kie mengerti bahwa dengan terus bertahan seperti itu dan setiap saat diserang dengan hawa dingin pada akhirnya ia akan roboh. Tapi ia tidak berdaya untuk menolong dirinya.

Sementara itu ia mendengar suara nafas Cia Soen yang mendekati selangkah demi selangkah. Ia tahu bahwa sang Gie hoe mau memberi bantuan.

Memang benar Kim mo Say ong telah mengambil keputusan untuk membantu “si pemuda Kie keng pang”. Selagi keempat orang itu mengadu Lweekang, kalau ia memukul musuh seperti juga memukul Boe Kie. Maka itu ia terus ragu dan belum berani turun tangan.

Boe Kie jadi bingung, “Yang paling penting Gie hoe harus menyingkir,” pikirnya, “Tapi kalau ia tahu bahwa aku adalah Boe Kie, ia tidak mau menyingkir.” Berpikir demikian, ia lantas saja berteriak, “Cia Tay hiap, walaupun Sam soe berkepandaian tinggi, kalau mau aku bisa meloloskan diri dengan gampang sekali. Cia Tay hiap, kau menyingkirlah untuk sementara waktu. Aku akan segera mengembalikan golok mustikamu.”

Sam soe terkesiap, menurut kebiasaan orang yang sedang mengadu Lweekang tidak boleh bicara, begitu ia berbicara tenaga dalamnya buyar. Tapi Boe Kie bisa berbicara sambil bertahan terus.

“Siapa nama she Siauw hiap yang mulia?” tanya Cia Soen.

Untuk sejenak Boe Kie ragu, tapi ia segera mengambil keputusan untuk tidak memperkenalkan diri. Apabila ia menyebut namanya yang asli, ayah angkatnya pasti akan mengadu jiwa dengan ketiga orang Persia itu. Berpikir begitu, ia lantas menjawab, “Aku yang rendah she Can bernama A Goe. Mengapa Cia Tay hiap tidak mau segera pergi? Apa Cia Tay hiap tidak percaya aku dan takut aku telan golok mustika ini?”

Cia Soen tertawa terbahak-bahak. “Siauw hiap, kau tak usah menggunakan kata-kata itu untuk mengusir aku,” katanya dengan suara terharu. “Kutahu kau dan aku mempunyai nyali yang sama. Cia Soen merasa bersyukur bahwa dalam usia tua ia bisa bertemu dengan seorang sahabat seperti kau. Can Siauw hiap, aku ingin menghantam perempuan itu dengan Cit siang koen. Begitu aku memukul, kau lepaskan To liong to.”

Boe Kie tahu kehebatan Cit siang koen, dengan mengorbankan golok mustika ternama itu memang dengan sekali tinju ia bisa membinasakan Hwie goat soe. Tapi kejadian itu berarti bahwa Beng-kauw Tiong goan akan bermusuhan dengan beng-kauw pusat. Kalau kini ia menyetujui dibunuhnya seorang utusan pusat, bukankah perbuatannya tidak sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang Kauwcoe? Mengingat itu, buru-buru ia mencegah. “Tahan!” Ia menengok kepada Lioe in soe dan berkata pula, “Mari kita berhenti untuk sementara waktu, aku mau berbicara dengan Sam wie.”

Lioe in soe mengangguk.

“Dengan Beng-kauw aku mempunyai hubungan erat,” kata Boe Kie. “Dengan membawa Seng hwee leng, kalian datang ke sini dan pada hakikatnya kalian adalah tamu kami. Untuk segala perbuatan yang tidak pantas aku mohon kalian sudi memaafkan. Dengan bersamaan kita menarik kembali tenaga dalam. Apa kalian setuju?”

Lioe in soe mengangguk lagi.

Boe Kie girang, ia segera menarik kembali Lweekangnya dan To liong to, dan ketiga lawannya pun menarik kembali tenaga mereka.

Tapi mendadak, sangat mendadak, semacam tenaga dingin bagaikan pisau menikam Giok tong hiat di dadanya. Nafas Boe Kie sesak dan ia tak bisa bergerak lagi. Pada detik itu di dalam otaknya berkelabat pikiran, “Setelah aku mati, Gie hoe pun akan mati. Tak disangka, utusan Cang kauw berbuat begitu. Bagaimana nasib In Lee piau moay? Bagaimana dengan Tio kauwnio, Cioe kauwnio dan Siauw Ciauw? Hai! Bagaimana dengan impian Beng-kauw untuk menolong rakyat dan merobohkan kerajaan Goan?” Selagi ia berpikir begitu, Lioe in soe sudah mengangkat Seng hwee leng dan menghantam kepalanya, Boe Kie mencoba mengerahkan Lweekang untuk membuka Giok tong hiat yang tertotok tapi sudah tidak keburu lagi.

Pada saat yang sangat genting, tiba-tiba terdengar teriak seorang wanita, “Rombongan Beng-kauw dari Tiong goan sudah tiba di sini!”

Lioe in soe terkejut, Seng hwee leng berhenti di tengah udara.

Bagaikan kilat, satu bayangan abu-abu berkelabat ke arah Boe Kie, mencabut Ie thian kiam dan menubruk Lioe in soe. Boe Kie mengenali orang itu adalah nona Tio, tapi dalam girangnya ia kaget tak kepalang sebab si nona menyerang dengan sebuah pukulan Koen loen-pay yang bertujuan untuk mati bersama-sama musuh. Pukulan itu diberi nama Giok swee Koen kong (batu giok hancur digunung Koen loen san). Meskipun Boe Kie tak tahu nama pukulan itu tapi ia mengerti jika nona Tio berhasil melukai Lioe in soe, ia sendiri sukar luput dari serangan lawan.

Lioe in soe mencelos hatinya. Ia tak pernah bermimpi bahwa sesudah memperoleh kemenangan dengan jalan licik, ia bakal diserang dengan begitu. Dalam bahaya, ia menangkis dengan Seng hwee leng dan menggulingkan dirinya di tanah. “Trang!” Ie thian kiam terpukul balik, selagi bergulingan ia merasa dingin pada dagunya, tangannya basah lengket dan dagunya perih. Ternyata kulit dagu bersama jenggotnya terpapas Ie thian kiam. Kalau Seng hwee leng bukan senjata mustika, kepalanya pasti sudah terbelah dua.

Dilain pihak, ketika terpukul balik Ie thian kiam memapas pinggiran kopiah nona Tioa sehingga sebagian rambutnya yang hitam terurai.

Tio Beng datang pada detik yang tepat karena hatinya tidak enak dan ia kuatir akan keselamatan Boe Kie. Ia merasa bahwa Kim hoa po po banyak akalnya, Tan Yoe Liang bukan manusia baik-baik dan pulau itu penuh dengan bahaya yang tersembunyi. Kian lama ia kian kuatir dan akhirnya ia mengikuti Boe Kie dari belakang. Ia tahu bahwa ilmu ringan badannya masih cetek dan kalau ia mendekat, Boe Kie tetap mengetahuinya.

Maka itu ia hanya menguntit dari kejauhan. Sesudah Boe Kie bertempur dengan ketiga utusan Cong kauw barulah ia mendekat. Ia girang ketika Boe Kie mengadu Lweekang sebab ia merasa pasti bahwa tenaga dalam ketiga orang itu tak akan bisa menindih Kioe yang Sin kang. Penundaan pertempuran mengejutkan hatinya. Ia ingin mendekati Boe Kie supaya ia waspada tapi sudah tak keburu. Demikianlah pada detik berbahaya ia melompat keluar. Ia tahu bahwa kepandaiannya tidak dapat menandingi ketiga orang asing itu tapi ia sudah nekat dan tidak berpikir panjang lagi. Ia mencabut Ie thian kiam dari pinggang Boe Kie dan menyerang dengan jurus yang dapat membinasakan kedua belah pihak, yang diserang dan penyerangnya sendiri.

Sesudah jurus pertama berhasil, ia membuat setengah lingkaran dan menubruk Biauw hong soe dengan badannya sendiri. Itulah jurus Jin koei Tong touw (manusia dan setan jalan bersama-sama), jurus Kong tong-pay yang mempunyai tujuan sama seperti Giok swee Koen kong. Nona Tio menganggap bahwa ia ditakdirkan untuk binasa bersama-sama musuh. Giok swee Koen kong dan Jin koei Tong touw bukan pukulan untuk memperoleh kemenangan dalam kekalahan atau mencari hidup dalam jalan mati. Kedua jurus itu adalah jurus bunuh diri sambil membunuh musuh. Ketika jago-jago Kong tong-pay dikurung di Ban hoat sie, beberapa diantaranya yang adatnya keras sudah menyerang dengan jurus tersebut. Tapi karena tidak mempunyai tenaga dalam serangan mereka gagal. Tio Beng yang menyaksikan serangan itu segera menghafal dalam otaknya.

Dengan jurus itu Biauw hong soe terkesiap, keringat dingin mengucur dan ia berdiri terpaku. Ternyata biarpun ilmu silatnya tinggi, ia bernyali kecil. Dalam menghadapi serangan yang mematikan, ia ketakutan dan tak berdaya lagi.

Sebagai akibat tubrukannya tubuh Tio Beng lebih dulu membentur Seng hwee leng kemudian barulah tangannya menikam dengan Ie thian kiam. Serangan jurus Jin koei Tong touw memang harus dilakukan dengan begitu. Lebih dulu menabrak senjata musuh dengan tubuh sendiri dan pada saat itu senjata itu menancap di tubuh, menikam musuh dengan senjata sendiri. Diserang begitu, biarpun kepandaiannya tinggi, seseorang tak akan bisa meloloskan diri. Biauw hong soe terpaku sebab ia segera melihat hebatnya pukulan itu. Untung besar bagi Tio Beng Seng hwee leng bukan senjata tajam. Senjata itu tumpul dan berbentuk tongkat pendek, maka itu biarpun terbentur badannya ia tidak terluka, dan untung juga bagi Biauw hong soe karena sebelum Ie thian kiam mampir di tubuhnya, Hwie goat soe sudah keburu memeluk badan Tio Beng dari belakang.

Karena dipeluk, noan Tio tak bisa menikam terus, ia tahu ia bakal celaka, tiba-tiba ia membalikkan pedangnya dan menikam kempungnya sendiri.

Itulah jurus yang lebih hebat dari dua jurus tadi! Jurus pedang ini yang dinamakan Thian tee Tong sioe (langit dan bumi bersamaan usianya) adalah jurus Boe tong-pay tapi bukan gubahan Thio Sam Hong. Siapa penggubahnya? In Lie Heng. In Lie Heng yang menggubah itu untuk membalas sakit hatinya terhadap Yo Siauw. Semenjak Kie Siauw Hoe meninggal dunia, tekadnya yang bulat adalah membunuh Yo Siauw. Biarpun gurunya seorang ahli silat yang paling terkemuka tapi karena bakatnya kurang, ia tak dapat memperoleh ilmu yang paling tinggi. Ia sudah tidak berharap hidup maka itu ia menggubah tiga jurus silat pedang yang bertujuan untuk mati bersama musuhnya. Satu waktu, selagi berlatih diam-diam, latihannya dilihat Thio Sam Hong. Guru besar itu menghela nafas sebab ia tahu biarpun ia coba mencegah, hasilnya akan sia-sia. Ia lalu memberi nama Thian tee Tong sioe kepada jurus itu. Nama tersebut berarti bahwa sesudah seorang manusia meninggal dunia, rohnya akan tetap hidup dan usia roh itu sama dengan usial langit dan bumi. Ketika dikurung di Ban hoat sie, murid kepala In Lie Heng pernah menggunakan jurus itu tapi ia keburu ditolong Kouw Touw too. Peristiwa tersebut disaksikan Tio Beng.

Thian tee Tong sioe adalah untuk menghabisi musuh yang tubuhnya berdempetan dengan tubuhnya sendiri, misalnya pada waktu musuh memeluk. Tio Beng menikam kempungan sendiri supaya Ie thian kiam menembus dan terus menikam kempungan Hwie goat soe seperti sate.

Tapi Tio Beng dan Hwie goat soe belum ditakdirkan mati. Saat itu dengan Kioe yang Sin kang Boe Kie sudah berhasil membuka jalan darahnya yang tertotok. Pada detik itu Boe Kie berhasil mencegah tikaman itu. Tio Beng memberontak dan berhasil melepaskan diri dari pelukan Hwie goat soe. Nona Tio adalah orang yang cerdas luar biasa, otaknya bisa bekerja cepat sekali. Ia mengambil Seng hwee leng dari tangan Boe Kie dan melontarkannya jauh-jauh. “Ting!” benda itu jatuh di dalam “barisan jarum”.

Sam soe menyayangi Seng hwee leng seperti menyayangi dirinya sendiri, tanpa memperdulikan keselamatan Biauw hong soe lagi, Lioe in soe dan Hwie goat soe segera melompat dan berlari-lari ke arah “barisan jarum”. Karena gelap dan sekitar tempat jatuhnya Seng hwee leng tumbuh rumput tinggi maka setibanya di “barisan jarum” mereka terpaksa merangkak, mencabut jarum-jarum dan meraba-raba. Di saat itu Biauw hong soe tersadar, seraya berteriak ia menyusul kedua kawannya.

Untuk menolong Boe Kie tadi Tio Beng menyerang dengan nekat. Sekarang, sesudah kekuatannya pulih rasa takutnya muncul. Tiba-tiba sambil menangis keras ia menubruk Boe Kie. Dengan rasa terima kasih yang berlimpah, Boe Kie memegang tangan si nona. Ia tahu bahwa begitu Sam soe menemukan Seng hwee leng yang dilemparkan mereka akan segera menyerang pula. Maka itu ia berkata, “Mari kita lari.” Ia melepaskan tangan Tio Beng, mendukung In Lee yang terluka berat dan berkata kepada Cia Soen, “Cia Tay hiap, kita harus menyingkir secepat mungkin.”

“Benar,” jawab Kim mo Say ong yang lalu membungkuk dan membuka jalan darah Kim hoa po po. Boe Kie menganggap bahwa setelah mendapat pengalaman pahit, si nenek tentu akan mencoret permusuhan terhadap ayah angkatnya. Setelah ia berlari-lari beberapa tombak, ia menyerahkan In Lee kepada si nenek sebab biarpun saudari sepupunya, ia merasa bimbang untuk mendukung seorang gadis. Mereka lari sekencang-kencangnya, Tio Beng paling depan. Cia Soen dan Kim hoa po po di tengah dan Boe Kie paling belakang sebagai pelindung.

Mendadak terdengar bentakan Kim mo Say ong yang lalu meninju punggung nenek Kim hoa. Cie san Lion gong menangkis dan melemparkan In Lee di tanah.

Boe Kie terkejut dan mendekat.

“Han Hoe jin!” bentak Cia Soen. “Mengapa lagi-lagi kau coba membunuh In Kauwnio?”

Si nenek tertawa dingin, “Jangan turut campur urusanku,” jawabnya.

“Kularang kau membunuh orang secara serampangan,” kata Boe Kie.

“Apa belum cukup kau mencampuri urusan yang sebenarnya bukan urusanmu?” tanya Kim hoa po po.

“Belum tentu bukan urusanku,” sahutnya. “Musuh akan segera mengejar, apa kau ingin mati?”

si nenek mengeluarkan suara di hidung dan lari ke arah barat. Mendadak tiga kuntum bunga emas menyambar ke kepala In Lee. Boe Kie mengebut tangannya dan senjata itu berbalik menyambar majikannya dengan suara “ungg” yang lebih hebat dari suara menyambarnya anak panah. Si nenek kaget, ia tak menyangka pemuda itu memiliki Lweekang yang begitu dahsyat. Ia tak berani menyambuti dan buru-buru menggulingkan badannya di tanah. Ketika Kim hoa lewat di atas punggungnya dan merobek pakaiannya, jantung si nenek melonjak dan ia terus kabur tanpa menoleh lagi.

Selagi Boe Kie membungkuk untuk mendukung In Lee, tiba-tiba Tio Beng mengeluh dan memegang kempungannya.

“Mengapa?” tanya Boe Kie sambil mendekati. Dengan terkejut ia melihat tangan si nona berlepotan darah. Ternyata biarpun keburu ditolong, tikaman Thian tee Tong sioe telah melukai kempungannya.

“Apa lukamu berat?” tanya Boe Kie dengan hati berdebar-debar.

Sebelum Tio Beng menjawab mendadak terdengar seruan Biauw hong soe, “Ini dia! Dapat! Sudah dapat!”

“Jangan perdulikan aku,” kata nona Tio. “Pergi! Lekas pergi!”

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Boe Kie segera memeluk pinggang Tio Beng dan terus kabur ke bawah gunung.

“Ke perahu…terus berlayar…,” bisik Tio Beng.

Boe Kie mengangguk. Dengan sebelah tangan mendukung In Lee dan sebelah tangan mendukung Tio Beng, ia lari sekencang-kencangnya. Cia Soen yang melindungi dari belakang merasa heran, sebab biarpun membawa dua orang dewasa, Boe Kie masih bisa lari begitu cepat. Boe Kie sendiri lari dengan pikiran kusut. Ia sangat memikirkan keselamatan kedua gadis itu. Kalau seorang saja tak dapat ditolong, ia akan menyesal seumur hidup. Untung juga tubuh mereka tak berubah dingin.

Sementara itu, sesudah mendapatkan kembali Seng hwee leng, Sam soe terus mengejar. Tapi ilmu ringan badan mereka tak bisa menandingi Boe Kie bahkan belum dapat merendengi Cia Soen.

Sebelum tiba di perahu, Boe Kie sudah berteriak. O hei! Beng beng Koencoe memberi perintah. Naikkan layer, angkat jangkar, siap untuk segera berangkat!”

Dengan demikian, waktu mereka naik di perahu layar-layar sudah terpentang. Tapi kapten tak berani menjalankan perahu sebelum mendapat perintah Tio Beng. Ia menghampiri si nona dan menanyakan sambil membungkuk.

“Dengar segala perintah Tio Kongcoe…,” kata nona Tio dengan suara lemah.

Dengan cepat perahu berangkat. Waktu Sam soe tiba di pesisir perahu itu sudah terpisah beberapa puluh tombak dari daratan.

Boe Kie segera merebahkan Tio Beng dan In Lee di pembaringan dan dibantu Siauw Ciauw, ia memeriksa luka mereka. Luka Tio Beng sendiri lebih dalam. Biarpun mengeluarkan darah, luka-luka itu tak membahayakan jiwa. Yang terluka berat adalah In Lee. Ketig Kim hoa menancap dalam dadanya. Apa nona In bisa ditolong masih merupakan teka-teki. Boe Kie dan Siauw Ciauw menaruh obat dan membalutnya. In Lee terus pingsan sedangkan Tio Beng menangis dengan perlahan.

Sesudah kedua gadis itu diberi obat, Cia Soen berkata, “Can Siauw hiap, di luar dugaan, dalam usia tua Cia Soen masih bisa bersahabat dengan seorang ksatria yang begitu luhur budi pekertinya.”

Boe Kie tidak menjawab. Ia mengambil kursi dan menyilakan ayah angkatnya duduk. Sesudah itu ia berlutut, “Gie hoe!” katanya sambil menangis. “Anak Boe Kie tidak berbakti. Anak tidak bisa menyambut lebih dulu sehingga Gie hoe banyak menderita.”

Cia Soen terkesiap, “Kau…apa katamu?” tegasnya.

“Anak adalah Boe Kie,” jawabnya.

Tentu saja orang tua itu tak percaya, mulutnya ternganga.

Boe Kie berkata, “Intisari dari ilmu silat adalah memusatkan semangat.…” Ia menghafal kouwkoar (teori) yang Cia Soen pernah ajarkan di pulau Peng hwee to. Sesudah ia menghafal seratus lebih dengan rasa kaget bercampur girang orang tua itu mencekal kedua tangannya dan berkata dengan suara parau, “Apa…apa benar kau Boe Kie?”

Boe Kie bangkit dan memeluknya. Dengan ringkas ia menceritakan segala pengalamannya sejak ia berpisah dengan ayah angkatnya itu. Hanya satu hal yang tidak diceritakannya yaitu tentang kedudukannya sebagai Kauwcoe dari Beng-kauw. Kalau ia terangkan, orang tua itu pasti akan menjalankan penghormatan terhadapnya.

Cia Soen merasa seperti mimpi tapi sekarang ia percaya apa yang didengarnya. Selagi Boe Kie bercerita, berulang-ulang ia berkata, “Langit mempunyai mata! Langit mempunyai mata!….”

Baru selesai Boe Kie menuturkan pengalamannya, mendadak di buritan perahu terdengar teriakan beberapa orang anak buah, “Perahu musuh mengejar! O hoi! Perahu musuh mengejar!”

Buru-buru Boe Kie pergi ke buritan kapal. Benar saja ia melihat sebuah perahu besar dengan lima layar sedang mengejar dengan kecepatan luar biasa. Di antara kegelapan sang malam, ia tak bisa melihat badan perahu itu, tapi layarnya yang putih sangat menyolok mata. “Padamkan penerangan!” teriaknya. Ia mengambil mangkok teh juru mudi dan menimpuk lentera angina yang terpancang di puncak tiang layar.

“Trang!” lentera hancur, apinya padam dan perahu gelap gulita. Tapi biarpun begitu karena layar berwarna putih, perahu itu masih tetap tidak bisa menyembunyikan diri, saat layar-layar diturunkan, perahu musuh akan segera menyandak.

Boe Kie bingung, perahu musuh lebih ringan dan makin lama makin mendekati. Ia tidak bisa berbuat lain daripada menunggu kedatangan musuh. Ia berharap di dek perahu yang sempit Sam soe tidak bisa bekerja sama sebaik di daratan. Cepat-cepat ia memindahkan Tio Beng dan In Lee ke kamar yang lebih aman, kemudian ia pergi ke geladak kapal dan mengambil tiga buah jangkar besar yang lalu ditaruh di kamar kedua gadis itu sebagai rintangan. Setelah itu ia menunggu musuh untuk melakukan pertempuran hidup mati.

Tiba-tiba terdengar suara “dung!” yang sangat hebat dan perahu bergoncang keras dan diikuti muncratnya air laut.

“Musuh menembak dengan meriam!” teriak anak buah di buritan perahu. Untung juga peluru yang ditembakkan jatuh ke air di samping perahu tersebut.

Selagi Boe Kie kebingungan, Tio Beng menghampirinya. Ia mendekat.

“Jangan takut,” bisik nona Tio. “Kita pun mempunyai meriam.”

Boe Kie tersadar. Dengan berlari-lari ia naik ke geladak dan memerintahkan anak buah perahu untuk segera menyingkirkan semua jala yang menutupi meriam. Dengan tergesa-gesa, mereka mengisi meriam dengan obat peledak dan peluru dan menyulut sumbunya. “Dung!” peluru menyambar musuh. Hanya sayang, tembakan itu meleset dan peluru jatuh di antara kedua perahu, karena dalam rombongan anak buah perahu Goan, yang sebagian besar terdiri dari boesoe gedung Jie lam ong, tak terdapat meriam. Tapi biarpun begitu, karena melihat pihak Boe Kie juga memiliki meriam, perahu Persia itu tak berani terlalu mendekat. Beberapa saat kemudian, perahu musuh melepaskan tembakan dan peluru jatuh di kepala perahu yang segera saja terbakar.

Boe Kie segera memimpin sejumlah anak buah untuk memadamkan api. Tiba-tiba api berkobar-kobar di ruangan tingkat atas. Dengan kedua tangan menenteng ember air, buru-buru Boe Kie naik ke atas dan setelah menendang pintu lalu menyiram api yang telah mulai mengganas. Di antara asap, ia melihat sesosok tubuh wanita di atas pembaringan yang ketika didekati ternyata tidak lain adalah Cioe Cie Jiak yang pakaiannya sudah basah kuyup. Boe Kie terkesiap, ia melemperkan ember dan bertanya dengan suara gugup, “Cioe Kauwnio, apa kau terluka?”

Si nona menggelengkan kepalanya. Melihat pemuda itu ia kaget tak kepalang. Ketika tangannya bergerak terdengarlah suara gemerincing. Ternyata kaki dan tangannya dirantai oleh si nenek Kim hoa. Boe Kie segera turun ke bawah mengambil Ie thian kiam dan memutuskan rantai itu.

“Thio Kauwcoe,” kata nona setalh kaki tangannya terbebas, “Bagaimana kau bisa berada di sini?”

Sebelum Boe Kie menjawab, perahu berguncang keras karena tembakan sehingga si nona yang kaki tangannya masih kaku segera roboh menubruk Boe Kie. Pemuda itu segera membangunkannya dan dari sinar api yang masuk dari jendela ia melihat dadu dan titik-titik air kelihatan samara-samar membasahi pada paras yang pucat pasi sehingga muka cantik ayu itu seolah-olah sekuntum bunga Coei-sian yang kena embun. Sesudah menentramkan hatinya, ia berkata, “Mari kita turun ke bawah.”

Selagi mereka berjalan keluar dari pintu ruang atas mendadak perahu itu berputar-putar sebab tembakan tadi telah menghancurkan kemudi di buritan perahu dan juru mudinya sendiri tenggelam di laut.

Pemimpin penembak meriam jadi bingung. Ia sendiri lalu mengisi obat peledak, dengan harapan bahwa dengan sekali tembak ia akan bisa menenggelamkan perahu musuh. Ia mengisi sekuat tenaga dan kemudian menyodok-nyodok obat peledak itu dengan sepasang toya besi supaya masuk sepadat-padatnya di dalam lubang. Sesudah merasa puas, ia mengambil obor dan menyulut sumbu. Hampir bersamaan terdengar suara “dunggg!” yang dahsyat luar biasa, diikuti melesatnya potongan-potongan baja. Meriam hancur dan semua anak buah penembak meriam menemui ajal mereka secara mengenaskan! Karena obat peledak yang diisi beberapa kali lipat lebih banyak dari takaran peluru maka peluru tidak bisa tertembak keluar dan obat peledak yang meledak telah menghancurkan meriam.

Karena ledakan itu Boe Kie dan Cie Jiak yang sedang berjalan di geladak perahu terlempar jauh dan disambar dengan hawa yang panas. Tanpa berpikir lagi Boe Kie meraih tambang layar dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya menangkap kaki Cie Jiak sehingga mereka tak jatuh ke air. Sesaat itu seluruh perahu sudah diliputi api dan asap dan mulai tenggelam dengan perlahan. Dengan hati berdebar-debar Boe Kie mengawasi sekitarnya untuk mencari jalan hidup. Mendadak terlihat sebuah perahu kecil, perahu penolong yang terikat di sisi perahu, “Cioe Kauwnio, loncatlah,” teriaknya.

Hampir bersamaan Siauw Ciauw yang mendukung In Lee dan Cia Soen yang menggendong Tio Beng muncul di geladak perahu. Mereka naik ke atas perahu lantaran perahu berlubang dan air sudah memenuhi bagian bawah perahu. Sesudah Cia Soen dan Siauw Ciauw duduk di perahu dengan In thiam kiam Boe Kie membabat tali pengikat dan perahu itu segera jatuh dan hinggap di permukaan air. Dilain detik, ia pun melompat ke perahu itu dan mengambil sepasang dayung dan lalu mendayungnya.

Ia mendayung dengan sekuat tenaga. Perahu yang sedang terbakar menerangi permukaan laut sampai pada jarak tertentu. Ia merasa bahwa perahu yang ditumpanginya harus cepat-cepat berada di luar sinar terang supaya tidak dilihat Sam soe yang tentu akan menduga bahwa semua orang mati terbakar dan tidak mencari lebih lanjut. Cia Soen mengerti maksud si anak dan ia bantu mendayung dengan sepotong papan. Perahu itu melaju bagaikan anak panah dan dalam sekejap dia sudah berada di luar lingkaran sinar terang.

Sementara itu di perahu meriam terjadi peledakan beruntun sebab terbakarnya obat peledak yang disimpan di dalam gudang. Perahu Sam soe tidak berani datang mendekat hanya mengamati dari kejauhan. Diantara boesoenya Tio Beng terdapat orang-orang yang bisa berenang. Mereka menceburkan diri di air dan teriak-teriak minta tolong. Tapi sebaliknya dari ditolong, mereka dibunuh Sam soe dan orang-orangnya.

Cia Soen dan Boe Kie tidak berani mengaso. Diantara mereka sedikitpun tidak merasa jeri. Tapi di lautan dengan mereka di perahu kecil dan musuh berada di perahu meriam, dia pasti akan binasa kalau sampai ditemukan musuh. Jika ditembak biarpun tidak kena tepat, perahu kecil itu pasti akan karam kalau jatuh di tempat berdekatan. Untung juga Cia Soen dan Boe Kie memiliki tenaga dalam yang sangat kuat sehingga meskipun harus bekerja sangat keras selama setengah malam, mereka tidak merasa lelah.

Waktu fajar menyingsing, langit tertutup awan hitam dan di lautan muncul halimun tebal.

“Bagus!” kata Boe Kie dengan girang, “Kalau kita bisa kabur setengah hari lagi, musuh pasti tak akan bisa mencari kita.”

Tapi sesudah berada agak jauh dari bahaya mereka menghadapi penderitaan lain. Pakaian mereka basah dan mereka berada dalam musim dingin. Cia Soen dan Boe Kie yang Lweekangnya kuat masih tak apa. Tapi Cie Jiak dan Siauw Ciauw yang menggigil lebih-lebih kalau ditiup angin utara. Perahu kecil tak punya persediaan apapun juga dan mereka semua tidak berdaya, Cia Soen dan Boe Kie hanya bisa membuka pakaian luar mereka yang lalu digunakan untuk menyelimuti tubuh Tio Beng dan In Lee.

Di waktu lohor penderitaan bertambah hebat. Angin meniup keras dan hujan turun seperti di tuang. Perahu melaju ke selatan karena ditiup angin dan dayung sudah tiada gunanya. Cia Soen berempat membuka sepatu mereka untuk menyendok untuk menyendok dan membuang air hujan yang masuk di perahu.

Karena bertemu dengan anak angkatnya, biarpun menghadapi bahaya dan sangat menderita, Cia Soen sangat gembira dan diantara hujan angin ia terus berbicara dengan suara menggeledek sambil tertawa. Siauw Ciauw yang sifatnya berandalan juga turut bicara dengan setiap kali mengeluarkan suara tertawa nyaring. Hanya Cie Jiak yang terus membungkam. Setiap kali sinar matanya bentrok dengan sinar mata Boe Kie, ia berpaling ke arah lain.

“Boe Kie,” teriak Kim mo Say ong. “Dahulu ketika aku dan kedua orang tuamu mengarungi lautan, ditengah jalan kami diserang topan dan penderitaan itu lebih hebat dari sekarang. Belakangan kami menggunakan sebuah gunung es sebagai perahu dan makan daging beruang. Tapi waktu itu yang meniup adalah angin selatan dan kami ditiup sampai kutub utara. Apakah kareana membenci Cia Soen, Loo thian ya (langit) ingin menggiring aku ke gedung Lam kek Sian ong (Dewa Kutub Selatan) supaya aku berdiam di situ dua puluh tahun lagi? Ha ha…Ha ha ha….” Sesudah tertawa terbahak-bahak ia berkata, “Waktu itu kedua orang tuamu merupakan pasangan yang serasi tapi sekarang kau membawa empat orang wanita muda. Bagaimana kau bisa berbuat begitu? Ha ha ha ha ha….”

Paras muka nona Cioe berubah merah dan ia segera menundukkan kepala. Yang segera membuka suara adalah Siauw Ciauw. “Cia Loo-ya coe, aku hanya seorang pelayan yang melayani Kongcoe ya,” katanya dengan sikap wajar. “Aku tidak masuk hitungan.”

Tio Beng tersenyum. Ia terluka berat tapi ia tak tahan untuk tidak ikut bicara. “Cia Loo-ya coe,” katanya. “Kalau kau masih terus mengaco belo, sesudah sembuh aku akan menggaplok pipimu.”

Cia Soen tertawa nyaring. “Ah! Sungguh galak si nona!” katanya. Mendadak ia berhenti tertawa dan berkata pula dengan suara sungguh-sungguh. “Hm, semalam kau telah menyerang dengan tiga jurus nekat. Yang pertama Giok swee Koen kong dari Koen loen-pay. Yang kedua, Jin koei Tong touw. Yang…yang ketiga…Aku si tua, memang sangat tolol, aku tak dapat mendengar jurus yang ketiga itu.”

Nona Tio terkejut, ia tak pernah menduga bahwa meskipun matanya buta Kim mo Say ong bisa menebak kedua jurus itu secara tepat. “Yang ketiga Thian tee Tong sioe dari Boe tong-pay,” katanya. “Jurus ini rupanya belum lama digubah sehingga tidaklah heran kalau tak dikenal oleh Loo-ya coe.”

Kim mo Say ong menghela nafas, “Kau ingin menolong Boe Kie itu sangat baik, sangat mulia,” katanya dengan suara terharu. “Tapi mengapa kau berlaku nekat? Mengapa?…Mengapa nekat?”

Tio Beng menjawab, “Karena dia…dia….” Untuk sejenak ia ragu tapi kemudian meneruskan juga perkataannya. “…karena…Siapa membunuh Thio Kongcoe, aku…aku tak mau hidup lagi!” Sehabis berkata begitu air matanya mengucur.

Cia Soen dan yang lain-lain kaget tak kepalang. Tak seorangpun pernah menduga bahwa seorang gadis seperti Tio Beng akan membuka rahasia hatinya di hadapan orang banyak. Tapi mereka tak ingat bahwa nona Tio adalah seorang gadis Mongol yang jalan pikirannya dan cara-caranya berlainan dengan wanita Han. Sebagai anak Mongol, ia berwatak polos. Kalau mencintai ia mencintai terang-terangan kalau membenci ia juga membenci terang-terangan. Apalagi keadaan waktu itu disaksikan banyak orang, tak seorangpun bisa mengatakan apa mereka akan hidup terus atau mati di dasar lautan.

Perkataan nona Tio sangat mengejutkan dan mengharukan Boe Kie, ia tak sangka bahwa rasa cinta gadis itu terhadapnya sedemikian besar. Sambil mencekal tangannya erat-erat ia berbisik, “Biar bagaimanapun juga, lain kali kau tak boleh berkata begitu.”

Sesudah lidahnya terpeleset, nona Tio sebenarnya merasa menyesal. Ia merasa bahwa kata-kata itu kurang pantas dikeluarkan oleh seorang gadis, tapi begitu mendengar bisikan Boe Kie, ia kaget bercampur girang, malu bercampur bahagia yang sukar dilukiskan. Ia merasa bahwa segala pengorbanannya dan segala penderitaannya tidaklah sia-sia.

Perlahan-lahan hujan berhenti tapi halimun makin tebal. Mendadak seekor ikan yang beratnya kira-kira tiga puluh kati melompat masuk ke dalam perahu. Dengan sekali totok, lima jari tangan Cia Soen amblas di badan ikan. Semua orang girang, Siauw Ciauw mencabut pedang dan memotong daging ikan menjadi potongan-potongan kecil. Mereka sangat lapar dan sambil menahan nafas sebab bau amis, masing-masing lalu memakan sepotong daging. Cia Soen makan dengan bernafsu, selama berada di Peng hwee to ia pernah menelan macam-macam untuk menahan lapar.

Tak lama kemudian, ombak mereda. Sesudah mengganjal perut, semua orang memejamkan mata dan mengaso. Yang tertidur paling dulu adalah Siauw Ciauw. Tio Beng terus memegang tangan Boe Kie dan beberapa saat kemudian karena hatinya tenteram, iapun pulas dengan bibir tersungging senyuman. Sesudah melawan bahaya sehari dan semalam suntuk mereka semua capai dan lelah. Cie Jiak dan Siauw Ciauw tidak ikut bertempur tapi merekapun mengalami kekagetan yang tidak kecil. Demikianlah laut yang tenang sehingga perahu itu merupakan ayunan yang berayun-ayun dengan perlahan, keenam penumpang itu tertidur semua.

Selang empat-lima jam, Cia Soen yang berusia lanjut sadar lebih dulu. Dengan kasih ia mendengar nafasnya kelima orang muda itu yang saling sahut dengan suara ombak. Nafas Cie Jiak perlahan dan panjang. Yang luar biasa adalah suara nafas Boe Kie, suara nafas itu seperti terputus seperti bersambung antara “ada” dan “tidak ada”. Bukan main rasa kagumnya Cia Soen. “Seumur hidup aku belum pernah bertemu dengan manusia yang mempunyai Lweekang begitu tinggi,” katanya di dalam hati. Nafas Siauw Ciauw pun sangat aneh, sebentar cepat sebentar pelan. Itulah tanda bahwa si nona telah berlatih sesuatu yang mirip Lweekang yang sangat luar biasa. Alis Kim mo Say ong berkerut. Ia ingat sesuatu hal. “Heran!” pikirnya. “Apa dia….”

Sekonyong-konyong terdengar bentakan In Lee. “Thio Boe Kie! Anak bau! Mengapa kau tak mau mengikuti aku ke Leng Coa To?”

Boe Kie, Tio Beng, Cie Jiak, dan Siauw Ciauw lantas saja tersadar.

“Boe Kie!” bentak pula nona In. “aku hidup sebatang kara di pulau itu… Mengapa kau tidak mau menemani aku? Kau… anak bau! Aku ingin memotong dagingmu jadi dua puluh tujuh potong untuk dijadikan makanan ikan… kau.”

Boe Kie meraba pipi si nona. Paras membara! Ia mengaco karena dengan keras. Boe Kie mengerti ilmu ketabiban, tapi di perahu itu ia tidak berdaya. Jalan satu-satunya hanyalah merobek ujung bajunya, mencelupnya di air laut dan menaruhnya di pipi In Lee.

Si nona terus berteriak-teriak. “Thia-thia! Jangan!… Jangan bunuh ibu! Jie-nio dibunuh olehku. Kau bunuhlah aku! Ibu tak campur-campur urusanku… Ibu mati!… mati!… akulah yang mencelakainya… uh-uh-uh-uh…. “ Ia menangis keras, ia sesambat.

“Coe Jie! Coe Jie!” panggil Boe Kie.

“Sadarlah ayahmu tidak berada di sini. Jangan takut!”

“Aku tak takut!” bentak si nona. “ayah yang salah, aku tak takut! Sesudah dia kawin dengan ibuku, perlu apa dia mengambil jie-nio, sam-nio? … thia-thia, kau membuat aku sangat menderita. Kau bukan ayahku… Kau lelaki curang… lelaki jahat… “

Boe Kie pucat mukanya. Perkataan In Lee seolah-olah pisau yang menikam hatinya, karena tadi ia mimpi menikah dengan Tio Beng, dengan Cie Jiak, dengan In Lee sendiri yang telah berubah cantik dan dengan Siauw Ciauw. Di waktu sadar ia tidak berani memikir yang tidak-tidak. Tapi di dalam mimpi, sesuatu yang tersimpan dalam alam pikirannya yang tidak sadar terbayang tegas. Ia merasa bahwa keempat gadis itu cantik semuanya dan ia tidak dapat berpisah dengan mereka. Selagi membujuk In Lee, di dalam otaknya masih teringat impian yang sedap.

Sekarang mendengar cacian In Lee, ia lantas ingat peristiwa di kaki Kong Beng Teng yang dilihatnya dengan mata sendiri dan kejadian-kejadian yang pernah didengarnya. Karena tak tahan melihat hinaan terhadap ibu kandungnya In Lee telah membinasakan gundik ayahnya. Karena perbuatan sadis itu, ibu kandungnya belakangan membunuh diri. In Ya Ong, ayah In Lee, atau paman Boe Kie, gusar tak kepalang. Beberapa kali ia coba membunuh puterinya. Karena peristiwa menyedihkan itu, karena gundik kesayangannya dibunuh puterinya sendiri, untuk menghibur hatinya, In Ya Ong mengambil beberapa gundik lagi.

Itulah yang diingat Boe Kie. Sambil memegang tangan nona In, ia melirik Tio Beng dan kemudian melirik Cie Jiak. Ia ingat impiannya dan ia merasa sangat jengah.

Sesudah mengucapkan perkataan-perkataan yang sukar ditangkap, In Lee berkata dengan suara yang agak tegas. “Boe Kie… kau ikutlah aku. Kau telah menggigit tanganku, tapi aku sedikitpun tidak membenci kau. Seumur hidup aku akan melayani kau, aku menganggap kau sebagai majikanku. Jangan lah kau mencela romanku yang jelek. Apabila kau sudi menerima aku, aku rela melemparkan seantero ilmu silatku, membuang racun Ciancoe yang berada dalam diriku, supaya paras mukaku bisa pulih kembali seperti pada waktu kita baru bertemu… “ Ia mengeluarkan kata-kata itu dengan suara lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Boe Kie merasa sangat terharu. Ia tak nyana bahwa saudari sepupuhnya itu adatnya aneh, mempunyai perasaan yang sangat halus.

“Boe Kie,” kata pula Nona In, “aku telah mencari kau di segala pelosok dunia. Belakangan kudengar, bahwa kau mati lantaran jatuh di dalam jurang. Waktu berada di See-Hek, aku bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Can A Goe. Dia berkepandaian tinggi, orangnya sangat baik dan dia pernah mengatakan, bahwa dia bersedia mengambil aku sebagai isteri… “

Tio Beng dan lain-lain tahu, bahwa Can A Goe adalah nama samaran Boe Kie. Dengan serentak mereka melirik pemuda itu yang paras mukanya lantas saja berubah menjadi merah. Dalam demam keras, In Lee tak dapat menahan lidahnya sendiri. Boe Kie tidak berani menghentikannya dengan menotok jalan darah si nona, sebab kalau ditotok jiwa nona In lebih terancam. Ia tidak berdaya waktu dilirik oleh Tio Beng, Cie Jiak, dan Siauw Ciauw, ia merasa begitu jengah sehingga ia ingin sekali menyeburkan diri ke laut.

Sementara itu, In Lee terus mengaco, ‘A Gu koko pernah mengatakan begini kepadaku. Nona, dengan setulus hati aku bersedia untuk menikah dengan kau. Aku hanya mengharap, kau tidak mengatakan bahwa aku tidak setimpal dengan dirimu. Selanjutnya dia berkata, mulai detik ini aku akan mencintaimu, akan melindungi kau dengan segenap jiwa dan raga. Tak perduli ada berapa banyak orang yang mau mencelakai kau, tak perduli ada berapa banyak jago yang mau menghina kau, aku pasti akan melindungi kau. Aku bersedia untuk mengorbankan jiwa demi kepentinganmu. Aku ingin kau berbahagia dan melupakan segala penderitaanmu yang dulu. (Kisah Pembunuh Naga Jilid 14 Halaman 744) Boe Kie, watak A Goe Koko baik, lebih tinggi ilmunya dari orang-orang sepantarnya Biat Coat Soethay. Tapi sebab hatiku sudah diserahkan kepadamu, Setan kecil yang pendek umurnya, maka aku tak meluluskan permintaan A Goe Koko. Kau sudah mati, biarlah aku tak menikah seumur hidup. Boe Kie, cobalah bilang, apa A Lee baik atau tidak baik terhadap dirimu? Hari itu kau tak memperdulikan aku, menolak ajaranaku. Coba kau katakan dengan setulus hati, apa kau merasa menyesal atau tak merasa menyesal?”

Mendengar kata-kata yang menyayat hati itu, tanpa merasa air mata Boe Kie mengalir turun ke dua pipinya.

“Boe Kie” bisik nona In. “Apakah kau tak merasa kesepian di alam baka? Aku telah mengikut Popo ke Peng Hwee To untuk mencari ayah angkatmu. Sesudah itu, aku ingin pergi ke Boe Tong San untuk menyembahyangi kuburan kedua orang tuamu dan kemudian aku akan pergi di See-hek untuk membuang diri di puncak es, dimana kau telah tergelincir jatuh, supaya aku bisa menemani kau selama-lamanya di alam baka. Tapi aku baru bisa bertindak begitu sesudah Popo meninggal dunia. Sekarang belum dapat aku mengawanimu. Tak bisa aku meninggalkan Popo seorang diri di alam dunia yang luas ini. Popo sangat baik terhadapku. Kalau ia tak menolong, siang-siang aku sudah mati dibunuh ayah angkatku. Aku telah memberontak terhadap Popo. Ia sekarang sangat membenci aku, tapi aku selamanya takkan dapat melupakan budinya dan akan coba membalas budi yang besar itu. Boe Kie, apakah sikapku sikap yang benar?”

Sesudah itu, suaranya tak tegas dan tak teratur lagi. Sebentar ia berbisik, sebentar berteriak, sebentar tertawa, sebentar menangis. Belakangan suaranya makin perlahan dan rupa-rupanya karena capai, akhirnya ia tertidur.

Boe Kie berlima saling mengawasi tanpa mengeluarkan sepatah kata. Masing-masing bicara pada dirinya sendiri. Ombak laut memukul-mukul badan perahu, siliran angin meniup dengan perlahan, sedang saug rembulan memancarkan sinarnya yang putih laksana perak. Boe Kie menghela napas. Apa yang dilihatnya langit rembulan adalah abadi. Apa yang berubah-rubah adalah manusia yang selalu diliputi dengan kedukaan dan penderitaan.

Tiba-tiba kesunyian dipecahkan dengan nyanyian yang sangat perlahan.

“Pada akhirnya badan manusia,
tak bisa lari dari hal itu,
hari ini ada kesenangan,
nikmatilah kesenangan itu,
siang dan malam seratus tahun,
yang berusia tujuh puluh sudah jarang ada,
sang waktu mengalir bagaikan air,
gelombang demi gelombang.”

Nyanyian itu ternyata keluar dari mulut In Lee yang masih terus mengaco.

Mendadak jantung Boe Kie memukul keras. Ia ingat, bahwa pada waktu terkurung di jalanan rahasia di Kong Beng Teng sebab jalanan ditutup Seng Koen, Siauw Ciauw pun pernah menyanyikan nyanyian itu. (Kisah Membunuh Naga Jilid 17, Halaman 890) Mau tak mau ia melirik nona itu yang justru sedang mengawasi dirinya. Begitu dua pasang mata kebentrok, si nona buru-buru memalingkan kepalanya.

Sementara itu, In Lee sudah menyanyi pula. Kali ini lagunya aneh, berbeda dengan lagu yang biasa di daerah Tiong Goan. Boe Kie dan yang lain-lain memasang kuping untuk menangkap kata-kata dalam nyanyian itu. Akhirnya mereka mendengar sajak yang maksudnya menyerupai sajak yang pernah dinyanyikan Siauw Ciauw di Kong Beng Teng.

“Dengan bagaikan mengalirnya air,
pergi, laksana siliran angin,
entah dari mana datangnya,
entah di maan tujuannya!”

Ia mengulangi sajak itu berulang-ulang. Makin lama makin perlahan, sehingga akhirnya menghilang di antara suara air dan suara angin.

Semua orang mendengar dengan termenung. Mereka merasa bahwa memang benar, seorang manusia yang dilahirkan di dalam dunia tak diketahui darimana datangnya. Biarpun dia gagah, biarpun di kosen, pada akhirnya dia tak bisa terluput dari kematian. Dengan mengikuti siliran angin tak diketahui dimana tujuannya. Pada saat itu, Boe Kie merasa, bahwa tangan Tio Beng yang dicekal olehnya dingin bagaikan es dan agak bergemetar.

Tiba-tiba kesunyaian dipecahkan oleh suara Cia Soen. “Ah! Lagu Persia diturunkan oleh Han Hoejin kepadanya. Dua puluh tahun lebih yang lampau, pada suatu hari ketika berada di Kong Beng Teng aku pernah dengar lagu ini. “Hai! Kutaknyana Han Hoejin bisa berlaku begitu kejam terhadap anak ini.”

“Loo Ya Coe,” kata Tio Beng, “cara bagaimana Han Hoejin dapat menyanyikan lagu persia itu. Apakah itu lagu Beng Kauw?”

“Beng Kauw berasal dari Persia dan meskipun bukan lagu Beng Kauw, lagu itu mempunyai hubungan rapat dengan Beng Kauw,” jawabnya. “Lagu itu telah digubah pada dua abad lebih yang lampau oleh seorang penyair Persia yang paling terkemuka yaitu Omar Khayyam. Sepanjang cerita lagu itu dapat dinyanyikan hampir oleh setiap orang Persia. Dahulu waktu aku mendengar nyanyian Han Hoejin, aku pernah menanyakan asal usul dan Han Hoejin telah memberi keterangan jelas kepadaku. Ceritanya adalah begini: Alkisah pada jaman itu, Persia terdapat seorang guru besar, Imam Mowfaak, ia mempunyai tiga orang murid terkemuka, yaitu Omar Khayyam, Nizam Mulk, dan Ben Sabah.”

“Omar Khayyam mengutamakan ilmu sastra, Nizam Mulk mengutamakan ilmu politik sedang Hasan unggul dalam ilmu silat. Mereka bertiga bersahabat erat dan belakangan mereka bersumpah untuk sama-sama senang dan sama-sama susah.”

“Sesudah mereka keluar dari rumah perguruan, Nazam-lah yang paling beruntung dan ia menjadi Vezer, atau menjadi seorang Menteri Pertama dari Sah Persia. Waktu kedua sahabat karibnya datang padanya. Nazam merasa girang, dan memohon supaya Raja Persia memberi pangkat kepada mereka itu. Hasan diberi pangkat dan menerimanya, tapi Omar menolak. Ia hanya memintan tunjangan uang supaya ia bisa mempelajari ilmu bintang menyusun kalender dan menulis sajak-sajak, tanpa harus memikiri soal penghidupannya. Dengan rasa menyesal, Nazam meluluskan permintaan sahabat itu.

“Tapi Hasan seorang yang berangan-angan besar dan tidak bisa terus-menerus berada di bawah kekuasaan orang lain. Ia memberontak dan setelah memberontaknya ditindas, ia mengumpulkan orang-orang yang tidak karuan dan melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk seperti membunuh dan sebagainya. Ia menjadi kepala dari sebuah gerombolan yang namanya menggetarkan dunia dan diantara para pejuang salib, ia terkenal sebagai seorang tua dari pegunungan. Di daerah barat banyak sekali manusia yang binasa di dalam tangan Hasan dan pengikutnya.”

“Menurut keterangan Han Hoejin, di ujung daerah Barat terdapat sebuah negeri yaitu Negeri Inggris. Raja Inggris ,Edward, dimusuhi si “orang tua dari pegunungan,” yang belakangan mengirim orang untuk membunuh raja tersebut. Pengawal-pengawal raja tidak berhasil memukul mundur orang-orangnya Hasan dan raja dilukai dengan golok beracun. Syukur tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri, permaisuri memberi pertolongan dengan mengisap luka sang suami dan menyedot keluar racun itu. Dengan demikian raja terluput dari kebinasaan.”

“Hasan benar-benar jahat, belakangan ia bahkan memerintahkan orang untuk membunuh Nizam Mulk, sahabat karib yang pernah memberi banyak bantuan kepadanya. Pada waktu mau melepaskan napasnya yang penghabisan, Nazam telah mengucapkan dua baris sajak yang tadi diucapkan oleh In KouwNio gubahan Omar Khayyam.”

“Akhirnya Han Hoejin memberitahukan, bahwa banyak pengikut Beng Kauw di Persia mempelajari ilmu silat “si orang tua dari pegunungan” Ilmu silat Sam Soe sangat aneh. Mungkin sekali ilmu silat mereka didapat dari cabang tersebut.”

“Loo Ya Coe,” kata Tio Beng. “sifat Han Hoejin menyerupai sifat si Orang tua dari Pegunungan. Kau mencintai dia, tapi dia mencelakai kau.”

Cia Soen menghela napas. “Dalam dunia ini, membalas kebaikan dengan kejahatan, adalah kejadian lumrah,” katanya dengan suara berduka. “Kau tak usah merasa heran.”

“Loo Ya Coe,” kata Nona Tio. “Han Hoejin berkedudukan sebagai kepala dari keempat Hoat Ong. Tapi mengapa ilmu silatnya tidak lebih tinggi dari ilmu silat Loo Ya Coe? Mengapa pada waktu dia diserang Sam Soe, dia tidak mengeluarkan ilmu silat Cian Coe Ciat Hoe Chioe?”

SEDIKIT TENTANG BENG KAUW

Beng Kauw atau agama terang ialah Manichaesm atau Agama dari Mani.

Mani (terlahir dalam tahun 216) adalah puteranya seorang bangsawan. Penduduk Ecbatama. Ia dididik baik oleh ayahnya dan dipelihara dalam lingkungan sekte Mandaens. Ketika ia dilahirkan. Terdapat dua agama besar yang saling bertentangan, agama Kristen dan Mitraism. Mani mempelajari kedua-duanya dan iapun mempelajari agama Magism dari Persia sendiri (sekarang Iran) Agama Manichaeism memiliki bagian-bagian dari agama-agama tersebut.

Sepanjang cerita, ia memproklamirkan agamanya pada hari penobatan Raja Persia, Shapur I, di istana raja. Ia berkelana di berbagai negeri untuk menyebarkan agamanya. Antara lain, ia mengunjungi Transoxiana, Tiongkok Barat dan India. Belakangan ia kembali ke Persia dan mendapat banyak pengikut, bahkan di dalam istana raja sendiri. Tapi ia dimusuhi Kasta Magians. Shapur I sedikit banyak dipengaruhi ajaran Mani dan Hormizd, penggantinya adalah seorang raja yang toleran dan menaruh perhatian kepada Manichaeism. Tapi pengganti Hormizd, Barham I condong kepada Kasta Magians. Mani ditangkap dan diserahkan kepada kasta tersebut (musuh Mani) yang lalu membinasakannya. Pemerintah Persia berusaha untuk membasmi agama Mani tapi gagal.

Sistem Manichaeism adalah sistem dualisme (rangkap dua) Menurut Mani, terang ialah baik dan gelap ialah jahat. Pengetahuan tentang agama berarti pengetahuan tentang alam dan unsur-unsurnya dan penyelamatan ialah proses membebaskan unsur terang dari kegelapan.

Menurut Mani, dalam alam semesta terdapat dua kerajaan. Terang dan gelap, yang berdiri berhadapan, Setan terlahir di kerajaan gelap.

Manusia pertama adalah ciptaan Setan, tapi dalam manusia itu juga terdapat unsur terang dari Tuhan. Setan berusaha untuk mengikat manusia dengan kejahatan, roh-roh terang berusaha untuk memerdekakannya.

Mani menamakan dirinya sebagai “Duta Terang.” Hanyalah dengan bantuannya dan bantuan murid-muridnya yang terpilih, barulah terang bisa dipisahkan dari gelap.

Dalam masyarakat Manichaeism terdapat perbedaan antara penganut pilihan dan penganut biasa. Penganut pilihan harus mentaati sepuluh larangan, antaranya larangan membunuh makhluk berjiwa.

Mengapa Manichaeism pernah mendapat kemajuan besar dan menjadi sebuah agama besar?

Kekuatannya ialah: Manichaeism mempersatukan mitologi kuno dan dualisme materialtis dengan cara bersembaHoan Yauwang sederhana dan larangan-larangan moral yang keras. Kekuatan lainnya ialah organisasi sosial yang sederhana. Yang pintar dan yang bodoh, yang sungguh-sungguh dan yang tidak sungguh, semua boleh masuk ke agama Mani.

Sepanjang catatan sejarah, Manichaeism hanya hidup pada abad ketiga belas.

1. Pada tahun 1690, Hasan merampas Alamut, di propinsi Rudbar, di daerah pengunungan sebelah selatan Laut Kaspia.
2. Di benua Eropa, Hasan dan pengikutnya dinamakan “Assassin.” Mungkin sekali perkataan “hashish,” semacam tumbuh-tumbuhan yang daunnya memabukkan, seperti madat dan yang digunakan oleh manusia-manusia itu sebelum mereka melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk.

“Cian Coe Ciat Hoe Chioe?” menegas Cia Soen. “Han Hoejin tak memiliki ilmu itu. Dia seorang wanita yang cantik luar biasa. Mana mau dia mengorbankan paras mukanya untuk ilmu begitu?”

Boe Kie, Tio Beng dan Cie Jiak terkejut. Kim Hoa Popo jelek mukanya. Dilihat mukanya yang sekarang, biarpun usianya lebih muda tiga puluh atau empat puluh tahun, ia tak nanti bisa dikatakan sebagai wanita yang cantik luar biasa. Hidungnya pesek, bibirnya tebal, mukanya persegi, kupingnya lebar bagaikan kipas. Itu semua takkan dapat diubah.

Tio Beng tertawa. “Loo Ya Coe,” katanya. “Kim Hoa Popo tak bisa dikatakan cantik.”

“Apa? Cie San Liong Ong cantik seperti bidadari dari kayangan. Pada dua puluh tahun lebih yang lampau, ia adalah wanita cantik di seluruh rimba persilatan. Andaikata karena usianya sudah lanjut, ia sekarang tak secantik dahulu, aku merasa pasti ia masih tetap mempertahankan kecantikannya… hai! … hanya sayangaku tidak bisa melihat mukanya lagi.”

Mendengar jawaban yang sungguh-sungguh itu, nona Tio merasa bahwa di balik soal kecantikan Kim Hoa Popo pasti bersembunyi satu latar belakang yang masih belum diketahuinya. Nenek itu memang manusia luar biasa. Bahwa dia bisa menjadi Cie San Liong Ong, kepala dari keempat Hoe Kauw Hoat Ong sudah luar biasa. Bahwa dia dinamakan sebagai “wanita tercantik di seluruh rimba persilatan” lebih luar biasa lagi. Sesudah memikir sejenak, Tio Beng berkata pula, “Loo Ya Coe, namamu menggetarkan dunia Kang Ouw. Keangkeranmu di Ong Poan San diketahui oleh semua orang. Tingginya ilmu silatmu tidak usah dibicarakan lagi. Peh Bie Eng Ong mendirikan agama sendiri dan selama kurang lebih dua puluh tahun, ia bermusuhan dengan enam partai besar. Ceng Ek Hok Ong lihai seperti setan, hari itu di Ban Hoat Sie ia menakut-nakuti aku. Juga ia telah mengeluarkan suatu ancaman untuk menggores mukaku. Kalau ingat ancamannya, sampai sekarang aku masih merasa jeri. Maka itu, menurut pendapatku, walaupun Kim Hoa Popo berkepandaian tinggi dan banyak akalnya, belum tentu ia pantas untuk mengambil kedudukan di sebelah atas dari ketiga Hoat Kong. Tapi mengapa ia bisa menjadi Cie San Liong Ong?”

“Karena In Heng, Wie Hian Tee dan aku bertiga rela mengalah terhadapnya,” jawab Kim Mo Say Ong.

“Apa?” menegas si nona. Ia tertawa geli dan kemudian berkata pula. “Apakah karena ia wanita tercantik, sehingga ketiga Enghiong rela berlutut di hadapannya?”

Boe Kie kaget. Tio Beng benar-benar otak. Terhadap Cia Soen, ia masih berani berguyon.

Tapi Cia Soen tidak menjadi gusar. Ia menghela napas dan berkata. “Yang menyerah kalah dengan suka rela bukan hanya kami bertiga. Waktu itu dalam kalangan agama kami, paling sedikit ada seratus orang lain yang mengagumi Taykis.”

“Taykis? Apa itu nama Han Hoejin? Kedengarannya aneh sekali.”

“Dia asal Persia. Nama itu nama Persia.”

Boe Kie, Tio Beng dan Cie Jiak terkesiap. “Orang Persia?” menegas mereka.

“Apa kalian tak bisa melihat?” Cia Soen balas menanya. “Ia mempunyai darah campuran puterinya seorang lelaki Tionghoa yang menikah dengan wanita Persia. Rambut dan biji matanya hitam, tapi hidungnya mancung dan matanya dalam. Kulitnya yang putih laksana salju juga berbeda dari kulit wanita Tiong Goan.”

“Tidak-tidak!” bantah Nona Tio. “Hidungnya melesak. Kedua matanya kecil. Berbeda jauh dari penjelasan Loo Ya Coe. Thio Kong Coe, bukankah begitu?”

“Benar,” jawabnya. “Apakah Kim Hoa Popo bertindak seperti Kouw Tauwtoo merusak mukanya sendiri?”

“Siapa Kouw Tauwtoo?” tanya Cia Soen.

“Kong Beng Yoe Soe Hoan Yauw,” jawab Boe Kie, yang dengan ringkas lalu menceritakan sepak terjang orang gagah itu.

“Hoan Heng sangat berjasa kepada Beng Kauw,” kata Cia Soen sesudah menghela napas. “Tindakannya itu tak akan bisa dilakukan oleh sembarang orang. Haei…. Bahwa ia sudah bertindak begitu dapat dikatakan juga lantaran Han Hoejin…. “

Tio Beng jadi makin heran. “Loo Ya Coe.” Katanya. “janganlah kau bercerita sepotong-sepotong. Cobalah ceritakan dari awal sampai pada akhirnya.”

“Hmm… “ Cia Soen menengadah seperti orang yang mau mengumpulkan ingatan dan kemudian ia berkata dengan suara perlahan. “Pada dua puluh tahun lebih yang lampau, Beng Kauw berada di bawah pimpinan Yo Po Thian, Yo KauwCoe. Waktu itu, agama kami sedang makmur-makmurnya. Pada suatu hari, tiga orang Persia tiba-tiba datang di Kong Beng Teng dan mempersembahkan surat pribadi KauwCoe dari CongKauw kepada Yo KauwCoe. Surat itu menerangkan bahwa di Congkauw terdapat seorang Cang San Soe Cie. Ia seorang Tionghoa yang merantau ke Persia kemuidan menjadi penganut Beng Kauw. Ia banyak berjasa untuk agama dan dari pernikahannya dengan seorang puteri. Pada tahun yang lalu, kata surat itu, Cang San Soe Cie meninggal dunia. Waktu mau menutup mata, ia ingat akan negerinya dan memesan supaya puterinya dikirim pulang ke Tiongkok. Maka itu, untuk memenuhi pesanan tersebut, KauwCoe CongKauw mengirim nona itu ke Kong Beng Teng dengan pengharapan supaya Yo KauwCoe sudi memeliharanya.”

“Yo KauwCoe lantas saja mengiakan dan meminta supaya nona itu dibawa masuk. Begitu dia masuk, ruangan Toa Thia (ruangan besar) seolah-olah bersinar terang. Selagi ia memberi hormat kepada Yo KauwCoe dengan berlutut, kami semua Kong Beng CoeSoe dan Yoe Soe, ketiga Hoat Ong, Ngo Siong Jin dan kelima pemimipin Ngo Heng Kie mengawasinya dengan mata membelalak dan hati berdebar-debar. Nona itu adalah Taykis. Ketiga utusan Congkauw hanya menginap semalaman, pada keesokan paginya mereka pulang. Mulai dari waktu itu, Taykis menetap di Kong Beng Teng.”

Tio Beng tertawa, “Loo Ya Coe, kau sendiri lantas jatuh cinta kepadanya, bukan?” tanyanya. “Jangan malu-malu. Akuilah!”

Kim Mo Say Ong menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak!” jawabnya dengan suara parau. “Waktu itu aku baru saja menikah dan isteriku sedang hamil. Dalam hatiku tak mungkin timbul niatan serong.”

“Oh!” kata Tio Beng. Ia tahu, bahwa ia sudah kelepasan bicara. Anak isteri Cia Soen dibinasakan Seng Koen dan tersentuhnya soal itu tentu saja mengingatkan kembali kejadian dahulu. Buru-buru ia berkata pula. “Benar! Tak heran kalau si nenek mengatakan, bahwa pada waktu ia menikah dengan Gin Yap Sianseng, hanya Kauwcoe dan Loo Ya Coe sendiri yang tidak menentang. Kurasa nyonya Kauwcoe bukan saja cantik, tapi juga sangat lihai menakluki suaminya.”

Cia Soen mengangguk. “dugaanmu tidak meleset,” katanya. “Yo KauwCoe seorang gagah sejati yang adatnya sangat terbuka. Taykis masih sangat muda – pantas untuk menjadi anaknya Yo KauwCoe. Apapula Kauwcoe dari Congkauw telah meminta supaya ia memelihara nona itu seperti anak sendiri. Semenjak Taykis datang di Kong Beng Teng, Yo KauwCoe selalu memperlakukannya dengan kasih sayang dari seorang ayah. Kutahu, Yo KauwCoe sama sekali tidak punya niatan yang tidak-tidak, Yo Hoejin adik seperguruan Yo KauwCoe atau Soesiok-ku (bibi seperguruan) sendiri. Yo KauwCoe, Seng Koen dan Yo Hoejin adalah Soe Heng Moay (saudara dan saudari seperguruan) Sebagai toa Soepeh, Yo KauwCoe sering memberi pelajaran ilmu silat kepadaku. Ia baik sekali terhadapku.”

Biarpun sakit hatinya terhadap Seng Koen tidak berkurang, tapi waktu menyebutkan nama manusia terkutuk itu, Cia Soen tidak kalap lagi dan hanya menyebutkan dengan suara tawar.

Mendadak Tio Beng ingat sesuatu dan ia lantas saja berkata. “Menurut katanya orang, di masa muda, Kong Beng Yoe Soe Hoan Yauw sangat tampan parasnya. Apakah ia tidak jatuh cinta terhadap Taykis?”

“Dia jatuh cinta sedari pertama bertemu, malahan dia tergila-gila,” jawabnya sambil mengangguk. “Tapi sebenarnya yang jatuh cinta bukan hanya Hoan Heng seorang. Kupercaya, masih banyak orang lain. Tapi sebab Beng Kauw mempunyai peraturan yang sangat keras dan juga karen Yo KauwCoe dihormati dan disegani oleh semua anggota agama kami, maka orang-orang yang berani mengincar Taykis hanyalah jejaka yang belum menikah. Diluar dugaan, hati Taykis dingin bagaikan es. Ia menyemprot setiap orang yang berani menimbulkan soal cinta kepadanya. Yo Hoejin telah berusaha untuk merangkap jodohnya dengan Hoan heng, tapi menolak keras. Belakangan di hadapan banyak orang, sambil mencekal pedang, ia bersumpah untuk tidak menikah. Kalau dipaksa ia lebih suka binasa daripada menunduk. Karena tindakannya yang sangat tandas itu, belakangan tak seorangpun yang berani coba-coba mendekati lagi nona yang hatinya dingin itu.”

“Setengah tahun kemudian, pada suatu hari, seorang dari Leng Coa To datang di Kong Beng Teng. Ia mengaku she Han, bernama Cian Yap, putera musuhnya Yo KauwCoe, dan kunjungannnya ke Kong Beng Teng adalah untuk membalas sakit ayahnya. Macamnya pemuda itu sama sekali tidak luar biasa. Bahwa dia sudah berani menantang Yo KauwCoe dianggap sebagai kejadian lucu. Banyak diantara kami yang tak bisa menahan untuk tidak tertawa.”

“Tapi Yo KauwCoe sendiri tak memandang enteng. Ia menyambut pemuda itu dengan segala kehormatan dan menjamunya dalam perjamuan besar.”

“Latar belakang tantangan itu adalah begini. Karena salah paham, Yo KauwCoe telah bertempur dengan ayah pemuda itu dan melukainya dengan pukulan Tay Kioe Thian Chioe. Pecundang itu segera mengatakan, bahwa ia akan membalas sakit hati itu. Tapi sebab tahu, bahwa ia takkan bisa mendapat kemajuan lebih jauh dalam ilmu silatnya, maka ia menjanjikan bahwa di kemudian hari ia akan mengirim anak lelaki atau anak perempuannya untuk membalas sakit hati. Yo KauwCoe menjawab bahwa kalau anak itu datang, ia akan mengalah dalam tiga pukulan. Ayah pemuda Cian Yap mengatakan bahwa dalam pertandingan Yo KauwCoe tak usah mengalah tapi kalau disetujui, ia ingin sekali supaya nanti anaknya boleh memilih cara bertanding. Yo KauwCoe lantas saja mengatakan tak dinyana sesudah berselang belasan tahun, orang itu benar-benar mengirim puteranya untuk menantang Yo KauwCoe.

“Waktu itu kepandaian Yo KauwCoe sudah sedemikian tinggi, sehingga biarpun ahli-ahli silat yang paling jempolan belum tentu bisa melawannya. Han Cian Yap masih sangat muda. Dalam usia yang belum seberapa itu ia tak mungkin memiliki kepandaian yang bisa merendengi Yo KauwCoe. Melihat begitu, kami semua merasa lega. Yang dikuatirkan hanyalah satu pertanyaan. Cara bertanding bagaimana yang akan dipilihnya?”

“Pada keesokan harinya, di hadapan kami Han Cian Yap menceritakan peristiwa itu, sehingga Yo KauwCoe tak bisa mundur lagi. Cara bertanding yang dipilihnya ialah ia mau bertanding di dalam Pek Soei Han Tam (kolam dingin yang airnya biru) yang terdapat di Kong Beng Teng. Siapa yang kalah harus membunuh diri di hadapan orang banyak.”

“Tantangan itu bagaikan halilintar di tengah hari yang bolong. Semua orang mencelos hatinya. Air kolam itu dingin bagaikan es. Jangankan pada waktu itu, di musim dingin, sedang di musim panas pun tiada orang yang berani menceburkan diri di kobakan tersebut. Celakanya Yo KauwCoe tak bisa berenang. Menerima tantangan itu berarti mengantarkan jiwa. Kami semua gusar dan mencaci pemuda itu.”

“Gie Hoe,” kata Boe Kie. “Urusan ini sangat sulit. Perkataan seorang laki-laki sejati tak bisa diubar oleh kuda yang paling keras larinya. Sesudah Yo KauwCoe mengiakan permintaan Han Cian Yap, menurut pantas ia tak boleh menolak tantangan itu.”

Tio Beng tersenyum dan memijit tangan Boe Kie. “Benar.” Katanya. “Perkataan seorang laki-laki sejati tidak bisa diubar oleh kuda yang larinya paling keras. Seorang kauwcoe dari Beng Kauw tak bisa menjilat ludah sendiri. Setiap janji harus dipastikan.”

Kata-kata itu sebenarnya untuk menyindir Boe Kie, tapi Cia Soen tentu saja tidak mengetahui. “Tak salah,” katanya. “Mendengar cacian kami, Han Cian Yap segera berkata dengan suara nyaring. “Seorang diri aku datang di sini. Aku memang tak mengharap hidup. Para enghiong boleh membunuh aku. Di sini hanya terdapat orang-orang Beng Kauw, sehingga pembunuhan terhadap diriku tak akan diketahui oleh orang luar. Kalian boleh segera turun tangan!” Mendengar omongan itu, kami tertegun.

“Sesudah memikir beberapa saat, Yo KauwCoe berkata, “Han Heng, memang benar dahulu aku pernah membuat perjanjian dengan ayahmu. Seorang laki-laki tidak dapat menyalahi janji. Aku mengaku kalah. Aku bersedia untuk segala keputusanmu.”

Tangan Han Cian Yap tiba-tiba bergerak dan sudah memegang sebatang pisau yang ditudingkan ke arah jantungnya sendiri. “Pisau ini warisan ayahku,” katanya. “Aku hanya meminta supaya Yo KauwCoe berlutut tiga kali kepada pisau ini.” Mana boleh kauwcoe kami menerima hinaan sehebat itu? Tapi sesudah Yo KauwCoe menyerah kalah, menurut peraturan Kang Ouw, ia tidak boleh menampik tuntutan itu. Suasana beruabah panas dan kepentingan memuncak. Han Cian Yap memang sudah tidak memikir hidup. Sesudah Yo KauwCoe berlutut, ia pasti akan menancapkan pisau itu di jantungnya sendiri supaya tak usah binasa dalam tangan jago-jago agama kami.

“Untuk beberapa saat, ruangan yang besar itu sunyi bagaikan kuburan. Siauw Yauw Jie Sian (Yo Siauw dan Hoan Yauw) Peh Bie Eng Ong In Heng, Pheng Eng Giok Hwee Sio dan yang lain-lain yang biasanya pintar sekarang menghadapi jalan buntu.

Pada saat yang genting, sekonyong-konyong Taykis melompat keluar dan berkata pada Yo KauwCoe. “Thia-thia, orang lain mempunyai putera berbakti, apakah Thia-thia tak punya anak perempuan yang berbakti juga? Hanya datang untuk membalas sakit hati ayahnya. Biarlah Anak yang melayaninya. Yang lebih tua yang melayani yang tua. Yang lebih muda berhadapan dengan yang lebih muda.”

“Semua orang kaget. Mengapa Taykis memanggil Thia-thia (ayah)? Tapi kami lantas saja mengerti, bahwa untuk menyingkirkan marabahaya itu, Taykis sengaja mengakui Yo KauwCoe sebagai ayahnya. Kami sangat kuatir. Kepandaian apa yang dimiliki nona itu? Apa ia mampu berkelahi di dalam air yang sangat dingin seperti es?”

Sebelum Yo KauwCoe keburu menjawab. Han Cian Yap sudah berkata sambil tertawa dingin. “Mewakili ayah menyambut lawan memang satu kepantasan, tapi kalau nona kalah aku tetap menuntut bahwa Yo KauwCoe harus berlutut di hadapan pisau ini.” Dengan berkata begitu, ia kelihatannya tidak memandang mata kepada Taykis. “tapi bagaimana kalau tuan yang kalah?” tanya Taykis. “Nona boleh berbuat sesuka hati. Boleh bunuh, boleh apapun jua,” jawabnya. “Baiklah. Mari, kita pergi ke Pek Soei Han Tam,” kata Taykis yang segera berjalan lebih dahulu. Yo KauwCoe menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata. “Tidak! Kau tak usah mencampuri urusan ini.” Taykis tersenyum, sikapnya tenang luar biasa. “Thia-thia, kau tak usah kuatir,” katanya sambil berlutut. Berlututnya seolah-olah sebuah upacara mengangkat ayah.

Ketenangan Taykis menunjuk bahwa ia mempunyai pegangan dan kepercayaan pada dirinya sendiri. Yo KauwCoe tidak membantah lagi. Pada hakekatnya memang tak ada jalan lain yang baik. Semua orang lantas saja menuju Pek Soei Han Tam yang terletak di sebelah utara gunung. Ketika itu angin utara meniup dengan kerasnya. Beberapa orang yang tenaga dalamnya tidak begitu kuat sudah menggigil. Mereka sudah menggigil dengan hanya berdiri di pinggir kolam. Apapula kalau menerjun! Sebagian air sudah mengeras menjadi es dan air yang berwarna biru ituseperti juga tiada dasarnya. Tiba-tiba Yo KauwCoe merasa bahwa ia tak pantas membiarkan Taykis mengantarkan jiwa, “Anak,” serunya dengan suara nyaring. “kutahu, hatimu sangat mulia. Tapi biarlah aku saja yang melayani Han Heng.” Seraya berkata begitu, ia membuka jubah luarnya untuk segera menerjun ke air. Taykis tersenyum. “Thia-thia,” katanya. “Anak pandai berenang semenjak kecil, anak selalu bermain-main di laut.” Ia menghunus pedang dan bagaikan seekor walet, badannya melesat dan kedua kakinya hinggap di atas es. Sesudah membuat lingkaran dengan pedangnya, ia melompat lagi dan menerjun ke air!

Di depan mataku terbayang pula kejadian itu. Hari itu, Taykis mengenakan baju warna ungu dan ketika ia berdiri di atas es, kecantikannya tak kalah dari kecantikan Dewi Leng Po. Mendadak tanpa mengeluarkan suara, ia menerjun ke air. Kami semua terkejut, Han Cian Yap pun kaget. Paras mukanya yang semula angkuh lantas saja berubah. Sambil mencekal pisau, ia turut melompat ke kolam.

Air kolam berwarna biru tua. Perkelahian tak dapat dilihat kami. Kami hanya melihat bergoyang-goyangnya air. Kami semua merasa sangat kuatir. Beberapa lama kemudian di satu sudut air kolam tercampur sedikit darah. Kami jadi lebih kuatir. Siapa yang terluka? Apa Taykis? Tak lama kemudian air bergolak dan Han Cian Yap melompat keluar dengan napas tersengal-sengal. Hati kami mencelos. “Mana Taykis?” tanyaku. Pemuda itu ternyata kosong pisaunya tertancap di dadanya sendiri. Sedang kedua pipinya terdapat goresan luka. Selagi jantung kami memukul keras, air tergolak pula laksana seekor ikan Taykis muncul di permukaan air. Akan kemudian sambil memutar pedang untuk melindungi diri, melompat ke daratan. Kami sorak sorai. Tanpa mengeluarkan sepatah kata bahna terharu. Yo KauwCoe mencekal tangan Taykis. Mimpipun kami belum pernah mimpi, bahwa Taykis memiliki kepandaian setinggi itu. Sementara itu, sambil melirik Han Cian Yap, Taykis berkata, “ilmu berenang orang itu cukup baik. Mengingat kebaktiannya, anak harap Thia-thia suka mengampuni jiwanya.” Yo KauwCoe lantas saja meluluskan permintaan itu dan memerintahkan Ouw Ceng Goe untuk mengobati lukanya.

“Malam itu di atas Kong Beng Teng diadakan perjamuan yang besar.Taykis telah membuat pahala yang sangat besar. Tanpa pertolongannya, habislah nama besar Yo KauwCoe. Yo Hoejin menghadiahkan gelar “Cie San Liong Ong” yang berendeng dengan Eng-Ong. Say Ong dan Hok Ong. Kami bertiga menyetujui pengangkatan itu. Kami rela menyerahkan kedudukan pemimpin keempat Hoat Ong kepada gadis muda belia itu.”

“Tapi peristiwa itu mempunyai ekor yang tak diduga-duga. Han Cian Yap kalah berkelahi, tapi menang total. Entah bagaimana, dia berhasil merebut hatinya Taykis. Rasa cinta Taykis muncul waktu ia setiap hari menengok si pemuda she Han yang dirawat oleh Ouw Ceng Goe. Sangat bisa jadi, rasa cintanya bersemi dari rasa kasihan dan menyesal, bahwa ia sudah melukai pemuda itu. Biar bagaimanapun jua, setelah Han Cian Yap sembuh, sekonyong-konyong Taykis memberitahukan Yo KauwCoe, bahwa ia mau menikah sama pemuda itu. Pemberitahuan itu mengejutkan kami. Ada yang berduka, ada yang merasa putus harapan. Ada pula yang bergusar. Han Cian Yap musuh besar agama kita, hinaannya terhadap Yo KauwCoe tak dapat dilupakan. Sekarang tiba-tiba Taykis mau mnikah sama dia. Beberapa saudara yang berangasan lantas saja mencaci. Tapi Taykis beradat keras. Ia menghunus pedang dan sambil berdiri di ambang pintu, dia berteriak, “Mulai hari ini Han Cian Yap menjadi suamiku. Siapa yang menghina dia boleh menjajal pedang Cie San Liong Ong.” Melihat tekadnya dan nekadnya, kami semua tidak berdaya lagi.

“Upacara pernikahan dilangsungkan dengan sangat sederhana. Sebagian besar saudara-saudara kami tidak menghadiri pesta. Karena mengingat jasanya, Yo KauwCoe dan aku berusaha keras memenuhi keinginannya, sehingga pernikahannya bisa berlangsung tanpa gelombang yang lebih hebat. Tapi masuknya Han Cian Yap di dalam Beng Kauw mendapat tentangan yang terlalu hebat sehingga Yo KauwCoe sendiri tidak bisa menindih tentangan itu.”

“Tak lama kemudian Yo KauwCoe hilang tanpa berbekas. Kami bingung dan coba mencarinya ke segala pelosok Secara kebetulan, waktu sedang mencari Yo KauwCoe, Kong Beng Yoe Soe Hoan Yauw melihat Han Hoejin keluar dari jalan rahasia.”

Boe Kie terkejut. “keluar dari jalanan rahasia?” ia menegas.

“Ya,” jawabnya. “Peraturan Beng Kauw sangat keras. Hanya kauwcoe seorang yang boleh masuk di jalanan rahasia itu. Dalam kaget dan gusarnya Hoan Yauw segera menegur. Jawab Han Hoejin. “Aku sudah melanggar peraturan. Mau bunuh, silahkan bunuh! Sesukamu!”

“Malam itu kami mengadakan perhimpunan besar untuk membicarakan kedosaan Han Hoejin. Tapi Han Hoejin tetap berkeras kepala. Pertanyaan mengapa ia masuk di jalanan itu tidak dijawab. Ia mengatakan tak tahu dimana adanya Yo KauwCoe. Ia mengatakan, bahwa ia bertanggung jawab sendiri untuk kedosaannya. Menurut peraturan, seorang anggota Beng Kauw yang berani masuk ke jalanan rahasia itu harus membunuh diri atau dikutungkan sebelah kaki atau sebelah tangannya. Mengingat kecintaannya yang dahulu, Hoan Yauw berusaha keras untuk melindunginya. Akupun membantu supaya hukuman berat itu tak usah dijalankan. Akhirnya semua orang menyetujui untuk memenjarakannya selama sepuluh tahun supaya ia bisa merenungkan kedosaannya. Di luar dugaan, Han Hoejin melawan. Tanpa Yo KauwCoe, siapa yang berani menghukum aku? Bentaknya.”

“Gie Hoe,” Boe Kie memotong pembicaraan ayah angkatnya. “Apa sebenarnya maksud Han Hoejin dengan masuk di jalanan rahasia itu?”

“Kalau mau diceritakan panjang sekali.” Jawabnya. “Di dalam Beng Kauw, hanya aku seorang yang tahu sebab musababnya. Waktu itu banyak yang menafsir, bahwa masuknya Han Hoejin di jalanan rahasia itu ada sangkut pautnya dengan masalah mengenai hilangnya suami isteri Yo KauwCoe.Aku menentang tapsiran itu. Kami bertengkar hebat sehingga akhirnya Han Hoejin memutuskan semua hubungan dengan Beng Kauw. Ia adalah orang pertama yang keluar dari agama kami. Hari itu juga bersama Han Cian Yap, ia turun gunung dan tidak bisa ditemukanpula. Kami berusaha keras untuk mencari Yo KauwCoe, tapi usaha itu tinggal tersia-sia. Berselang beberapa tahun, sebab perebutan kedudukan Kauwcoe, keadaan jadi semakin hebat. In Heng meninggalkan Beng Kauw dan mendirikan Peh Bie Kauw. Aku coba membujuknya, tapi ia tidak meladeni. Lantaran itu, aku dan dia jadi bermusuhan. Maka itulah pada dua puluh tahun lebih yang lalu, pada waktu Peh Bie Kauw memamerkan To Liong To untuk memperlihatkan keangkerannya, Kim Mo Say Ong turun tangan. Pertama, memang aku inging merampas golok itu, dan kedua aku hendak melampiaskan rasa dongkolku. Aku ingin memperlihatkan kepada In Heng, bahwa sesudah keluar dari kekuasaan Beng Kauw ia tak akan dapat melakukan sesuatu yang besar. Hai!… Sekarang aku merasa bahwa perbuatanku itu sangat keterlaluan.” Ia menghela napas dan paras mukanya kelihatan sangat berduka.

Untuk beberapa saat, semua orang tidak berkata-kata.

“Loo Ya Coe,” kata Tio Beng. Sesudah peristiwa ini terjadi nama Gin Yap dan Kim Hoa Popo menggetarkan dunia Kang Ouw. Mengapa orang-orang Beng Kauw tak dapat meraba, bahwa Gin Yap dan Kim Hoa Popo sebenarnya suami isteri Han Cian Yap? Dan sebab apa Gin Yap SianSeng mati kena racun?”

“Entahlah,” jawabnya. “Mungkin sekali dalam sepak terjang mereka di kalangan Kang Ouw, mereka selalu menyingkirkan diri dari orang-orang agama kami.”

Tiba-tiba Boe Kie menepuk lutut. “Benar!” katanya. Kim Hoa Popo memang mengelakkan pertemuan dengan orang-orang Beng Kauw waktu enam partai mengepung Beng Kauw. Meskipun sudah tiba di Kong Beng Teng, ia tidak naik ke puncak untuk memberi bantuan.”

Alis Tio Beng berkerut. “Ada sesuatu yang tidak bisa ditembus olehku,” katanya. “Cie San Liong Ong terkenal sebagai wanita yang sangat cantik. Mengapa sekarang mukanya jelek? Mengapa mukanya rusak?”

“Menurut taksiranku ia telah menggunakan satu atau lain cara untuk mengubah paras mukanya.” Kata Cia Soen. “Kau harus tahu, bahwa Han Hoejin beradat aneh. Kaupun harus tahu, bahwa di dalam hati ia sangat menderita. Selama hidup, ia harus selalu menyingkirkan diri dari orang-orang Cong Kauw yang coba mengubar dan mencarinya. Hai!… Tak dinyana dalam usianya yang lanjut, ia masih belum bisa meluputkan diri. Pada akhirnya orang-orang Cong Kauw dari Persia berhasil mencari dia.”

Mata Tio Beng terbuka lebar. “Mengapa orang Cong Kauw mencari dia?” tanyanya dengan rasa heran.

“Inilah rahasia yang paling besar dari Han Hoejin,” jawabnya. “Sebenarnya aku tidak boleh membuka rahasia. Tapi karena aku ingin kembali ke Leng Coa To untuk menolong dia maka aku harus bicara seterang-terangnya.

“Kembali ke Leng Coa To?” menegas si nona. “Apa Loo Ya Coe rasa kita akan dapat melawan Sam Soe?”

Cia Soen tidak menjawab. Sesudah menghela napas panjang, ia bercerita dengan suara perlahan. “Selama ratusan tahun, kursi kauwcoe dari Beng Kauw di Tiong Goan diduduki oleh seorang pria, tapi Kauwcoe Cong Kauw di Persia selalu seorang wanita. Bukan saja seorang wanita, tapi juga seorang gadis yang tidak menikah. Menurut peraturan Cong Kauw hanyalah seorang gadis yang masih suci yang boleh menjadi Kauw Coe supaya ia bisa mempertahankan kesucian Beng Kauw. Setiap Kauw Coe yang baru memegang jabatan harus memilih tiga gadis yang berkedudukan paling tinggi di dalam Cong Kauw, untuk meneliti di sekeliling dan dijadikan Seng Lie (wanita suci) Sesudah diangkat menjadi Seng Lie dengan sumpah yang berat. Mereka harus berkelana berbagai tempat untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik demi kemakmuran dan kebesaran Beng Kauw. Apa bila kauwcoe meninggal dunia, maka para tetua agama akan mengadakan pertemuan untuk memperbincangkan jasa-jasa ketiga Seng Lie. Yang dianggap paling baik jasa akan diangkat menjadi Kauw Coe baru. Kalau Seng Lie hilang kesuciannya, kalau dia menikah, maka dia akan dihukum bakar hidup-hidup. Tak perduli dia lari kemanapun jua, Cong Kauw akan memerintahkan orang-orang yang berkepandaian tinggi untuk mencarinya…. “

“Oh!… “ memutus Tio Beng. “Apakah Han Hoejin salah seorang dari ketiga Seng Lie itu?”

Cia Soen mengangguk: “benar!” jawabnya. “Aku sudah tahu pada sebelum Hoan Yauw memergokinya di mulut jalanan rahasia. Han Hoejin sendiri membuka rahasianya kepadaku, yang dianggapnya sebagai seorang teman atau sahabat paling karib. Ia mengatakan, bahwa ia jatuh cinta pada waktu bertempur dengan Han Cian Yap di kolam pshl. Belakangan sebab sering menengok pemuda itu yang dirawat oleh Ouw Ceng Goe, rasa cintanya jadi makin besar dan tidak dapat diobah lagi. Ia tahu, bahwa sesudah menikah ia pasti akan diubar oleh orang-orang Cong Kauw. Harapan satu-satunya untuk menebus dosa ialah membuat suatu pahala besar. Maka itu, dengan menempuh bahaya, ia masuk ke jalanan rahasia dengan maksud untuk mencari kitab Kian Koen Tay Lo Ie. Di Cong Kauw kitab ilmu silat itu sudah hilang lama dan yang masih memiliknya adalah Beng Kauw di Tiong Goan. Mengapa Cong Kauw mengirim Taykis ke Kong Beng Teng? Sebab yang paling terutama ialah untuk mencari dan mendapat kitab tersebut.”

“Ah!” Boe Kie mengeluarkan suara tertahan. Ia merasa, bahwa ada sesuatu yang tidak besar tapi apa itu yang tidak beres tidak diketahui olehnya.

Cia Soen meneruskan ceritanya. “Beberapa kali Han Hoejin masuk ke jalanan rahasia tanpa berhasil. Aku menasehati supaya menghentikan usaha itu, karena masuknya ke jalanan rahasia merupakan rahasia besar yang sukar bisa diampuni.”

“sekarang kutahu,” memotong Tio Beng. “Han Hoejin memutuskan perhubungan Beng Kauw supaya ia merdeka untuk masuk ke jalanan rahasia itu. Sesudah tak menjadi anggota Beng Kauw, dia tidak terikat lagi dengan peraturan agama. Loo Ya Coe, bukankah begitu?”

“Tio Kouwnio sangat pintar.” Jawabnya sambil mengangguk. “Kong Beng Teng adalah pusat agama kita dan aku tidak bisa mempermisikan orang keluar masuk sepenuh hati. Aku sudah menebak niatan Han Hoejin. Sesudah dia turun gunung, aku sendiri menjaga di mulut jalanan rahasia. Tiga kali dia menyatroni, tiga kali dia bertemu dengan aku. Akhirnya dia pergi dengan putus harapan.” Sehabis berkata begitu, ia menengadah seperti orang memikir sesuatu. Mendadak ia bertanya, “Bagaimanakah pakaian Sam Soe? Apa berbeda dari pakaian anggota Beng Kauw di Tiong Goan?”

“Mereka mengenakan jubah putih dan pada ujung jubah tersulam obor merah,” jawab Boe Kie. “Tapi… tapi… pada pinggiran terdapat lapisan kain hitam. Hanya itu perbedaannya.”

“Tak salah!” seru Cia Soen. “Kauwcoe Cong Kauw baru saja meninggal dunia! Bagi orang-orang See Hek, hitam adalah warna berkabung. Jubah putih dengan pinggiran hitam berarti pakaian berkabung. Mereka mau memilih kauwcoe baru dan mencari Han Hoejin.”

“Ada satu hal yang aku kurang mengerti,” kata Boe Kie. “Han Hoejin berasal dari Beng Kauw di Persia dan ia tentu mahir dalam ilmu silaat yang dipelajari dalam kalangan Cong Kauw. Tapi mengapa dalam sejurus ia sudah dirobohkan Sam Soe?”

“Tolol!” kata Tio Beng sambil tersenyum. “Han Hoejin hanya berpura-pura untuk menutupi asal-usulnya yang sebenarnya. Ia tidak boleh memperhatikan bahwa ia mengenal ilmu silat ketiga utusan itu. Menurut dugaanku, jika Loo Ya Coe mengiring kehendak Sam Soe dan coba membunuh dia, dia pasti tidak mempunyai daya untuk menyelamatkan diri.”

Cia Soen menggelengkan kepala. “Memang benar ia menutupi asal-usulnya,” katanya. “Tapi kalau Tio Kouwnio berpendapat bahwa sesudah ditotok Sam Soe ia masih bisa meloloskan diri, aku merasa kurang setuju. Belum tentu ia bisa meloloskan diri. Menurutku, Han Hoejin lebih suka dibunuh olehku daripada dibakar hidup-hidup.”

Tiba-tiba terdengar suara beradunya gigi. Semua orang kaget. Ternyata In Lee kembali menggigit keras dan giginya bercatrukan. Boe Kie meraba dahi si nona yang panas luar biasa. Ia menghela napas. Penyakit nona In sangat berat.

“Gie Hoe,” kata Boe Kie setelah memikir sejenak, “anak mengambil keputusan untuk kembali ke Leng Coa To. In Kouwnio harus bisa beristirahat sedapat mungkin Andai kata kita tak bisa berhasil menolong Han Hoejin, kita sedikitnya harus menolong In Kouwnio.”

“Benar,” kata Cia Soen. “In Kouwnio begitu mencintai kau. Dia tak bisa tak ditolong, Tio Kouwnio, bagaimana pikiranmu?”

“Luka In Kouwnio sangat berat, aku setuju untuk kembali.” Jawab Tio Beng.

Cie Jiak menjawab dengan suara dingin. “Terserah pada Loo Ya Coe.”

“Kita harus menunggu sampai halimun buyar dan berlayar dengan melihat bintang sebagai pedoman.” Kata Boe Kie. “Gie Hoe, Lioe In Soe berhasil melukai aku dengan Seng Hwee Leng pada waktu ia berjungkil balik di tengah udara. Mengapa bisa begitu? Ilmu silat apa itu?”

Mereka lantas saja membicarakan ilmu silat ketiga utusan Cong Kauw itu. Tio Beng yang mengenal banyak ilmu silat kadang-kadang turut mengantarkan pikirannya. Tapi sesudah berunding berjam-jam mereka belum juga bisa menangkap inti sari ilmu silat Sam Soe yang berdasarkan kerja sama antara mereka bertiga.”

Sesudah matahari keluar barulah halimun membuyar. “Semula kita menuju ke selatan dari utara,” kata Boe Kie. “Maka itu, kalau mau kembali ke Leng Coa To, kita sekarang harus mengambil jalan ke arah barat laut.”

Dengan bergiliran, Cia Soen, Boe Kie, Cie Jiak, dan Siauw Ciauw lalu mulai mendayung perahu. Kalau tadi perahu melaju dengan bantuan angin, sekarang harus melawan angin. Untung juga Cia Soen dan Boe Kie memiliki tenaga dalam yang sangat kuat, sedang kedua nona itu pun mempunyai lweekang yang lumayan sehingga pekerjaan mendayung tak dirasakan terlalu berat. Perlahan tapi tentu perahu itu bergerak ke jurusan utara.

Selama beberapa hari Cia Soen tak banyak bicara. Ia duduk termenung dengan alis berkerut memikiri jalan untuk melawan ilmu Sam Soe yang sangat aneh.

Pada magrib hari keenam, tiba-tiba ia menanya Cie Jiak tentang ilmu silat Go Bie Pay. Nona Cie segera memberitahukan tanpa tedeng-tedeng. Tanya jawab itu berlangsung sampai jauh malam. Akhirnya dengan suara kecewa, Cia Soen berkata: ”ilmu silat Siauw Lim, Boe Tong, dan Go Bie semua bersumber dari Kioe Yang Cin Keng dan tidak berbeda dengan ilmu silat Boe Kie – semua berdasarkan Yang Kong (keras). Kalau Thio Sam Hong Cinjin, yang memiliki Im Jioe dan Yang Kong (lembek keras) berada di sini, kita akan bisa merobohkan Sam Soe. Dengan Im Jioe dari Thio Cinjin dan Yang Kong dari Boe Kie, kupercaya Sam Soe dapat dikalahkan. Tapi Thio Cinjin berada di tempat jauh dan waktu sangat mendesak. Apa daya kalau Han Hoejin sudah ditangkap Sam Soe?”

“Loo Ya Coe,” kata Cie Jiak. “Kudengar pada ratusan tahun yang lalu, sejumlah tokoh rimba persilatan mengenal ilmu silat yang bersumber dari Kioe Im Cin Keng. Apa benar?”

Waktu berada di Boe Tong Sie, Boe Kie pun pernah mendengar nama Kioe Im Cin Keng dari Thay Soehoenya. Ia tahun bahwa Kwee Ceng Kwee Tay Hiap (ayah Kwee Siang Liehiap, pendiri Go Bie Pay) dan Siauw Tay Hiap Yo Ko adalah orang-orang yang telah mempelajari ilmu silat Kioe Im Cin Keng. Tapi ilmu-ilmu di dalam kitab itu sangat sukar dipelajari, sehingga Kwee Siang sendiri tidak dapat mempelajarinya. Ia terkejut waktu mendengar pertanyaan Cie Jiak.

“Memang ada ceritera begitu, tapi benar setidaknya, aku tak tahu,” jawab Cia Soen. “Menurut katanya orang-orang tua, ilmu silat Kioe Im Cin Keng lihai luar biasa. Kalau sekarang orang-orang memiliki ilmu silat itu dan ia bekerja sama dengan Boe Kie, Sam Soe pasti bisa dirobohkan dengan sangat gampang.”

“Ya,” kata nona Cioe. Ia tak bisa berkata suatu apa lagi.

“Cioe Kouwnio, apakah dalam Go Bie Pay tidak ada orang yang mengenal ilmu silat Kioe Im Cin Keng?” tanya Tio Beng.

Alis Cie Jiak berkerut dan ia menjawab dengan suara tawar. “Apabila Go Bie Pay mengenal ilmu silat itu, Sian coe (mendiang guru) pasti tidak sampai mengorbankan diri di Ban Hoat Sie.” Bagi Cie Jiak yang perasaannya halus. Kata-kata itu sudah sangat tajam. Ia tidak dapat menghilangkan rasa sakit hatinya terhadap Tio Beng, sebab kebinasaaan gurunya yang tercinta adalah gara-gara nona Tio.

Tapi Tio Beng tidak menjadi gusar. Ia hanya tersenyum.

Tak lama kemudian selagi enak mendayung, tiba-tiba Boe Kie berseru sambil menuding ke jurusan barat laut. “Lihatlah! Di sana ada sinar api.” Semua orang menengok ke arah itu. Benar saja, di garis antara langit dan laut rapat-rapat berkelebat-kelebatnya sinar api. Meskipun tidak bisa melihat, Cia Soen turut bergirang.

Sinar itu kelihatan dekat, tapi sebenarnya jauh. Sesudah mendayung lagi setengah harian barulah mereka bisa melihat tegas ke tempat terjandinya kebakaran itu. Tempat itu sebuah pulau yang penuh gunung dan pulau itu bukan lain daripada Leng Coa To.

“Kita sudah tiba di Leng Coa To!” kata Boe Kie dengan girang.

Dengan penuh harapan semua orang mengawasi pulau yang menghijau itu. Mendadak Cia Soen mengeluarkan teriakan tertahan. “Celaka! Mengapa terjadi kebakaran di Leng Coa To? Apa mereka sudah membakar Han Hoejin?”

Teriakan itu disusul dengan robohnya Siauw Ciauw. Buru-buru Boe Kie membangunkannya. Nona itu ternyata pingsan. Boe Kie menyadarkannya dengan totokan dan bertanya, “Siauw Ciauw, mengapa kau?”

“Aku takut,” jawabnya sambil menangis. “Aku takut…. Mendengar hukuman bakar hidup-hidup terhadap sesama manusia.”

“Itu belum tentu,” bujuk Boe Kie. “Itu hanya dugaan Cia Loocianpwee. Andaikata Han Hoejin sudah ditangkap, kurasa kita masih bisa menolong.”

Siauw Ciauw mencekal tangan Boe Kie erat-erat dan berkata dengan suara parau.

“Thio KongCoe, aku memohon… memohon supaya kau menolong Han Hoejin… “

“Tentu kita berusaha beramai-ramai,” jawabnya. Sehabis berkata begitu, ia kembali ke buritan perahu dan mendayung sekuat tenaga, sehingga kendaraan air itu melaju bagaikan terbang.

Mendadak Tio Beng berkata dengan suara perlahan. “Thio KongCoe, sudah lama aku memikiri dua soal yang sampai sekarang belum dapat dipecahkan olehku. Aku ingin meminta petunjukmu.”

Mendengar kata-kata yang sungkan, Boe Kie merasa heran. “soal apa?” tanyanya.

“Hari itu, waktu berada di Lek Lioe Chung, aku telah memerintahkan orang-orangku untuk mengepung rombongan kakekmu,” menerangkan si nona. “Selagi rombongan terkepung, tiba-tiba Siauw Ciauw Kouwnio maju dan memimpin pahlawan rombongan kakekmu. Memang benar, bahwa dibawah seorang panglima yang pandai tak ada serdadu yang lemah. Tapi bagiku, bahwa dibawah Kauw Coe Beng Kauw ada seorang pelayan yang mempunyai kepandaian begitu tinggi, masih tetap mengherankan… “

“Kauwcoe Beng Kauw?” memutus Cia Soen.

Tio Beng tertawa, “Loo Ya Coe,” katanya. “Sekarang biarlah aku berterus terang. Anak angkatmu bukan lain daripada kauwCoe yang tersohor dari agama Beng Kauw. Kau sendiri salah seorang bawahannya.”

Cia Soen terkesiap. Mulutnya ternganga dan ia tidak dapat mengeluarkan sepatah kata. Tapi, di dalam hati ia masih bersangsi. Tio Beng meretapkan keterangannya, tapi ia tidak bisa memberi penjelasan mengenai jalannya peristiwa yang berakhir dengan pengangkatan Boe Kie sebagai KauwCoe. Karena didesak keras oleh ayah angkatnya Boe Kie tidak bisa menyangkal lagi. Secara ringkas ia segera menceritakan segala kejadian.

Tak kepalang girangnya orang tua itu. Ia berlutut dan berkata dengan suara terharu.

“Orang sebawahan, Kim Mo Say Ong, Cia Soen, memberi hormat kepada KauwCoe.”

Tersipu-sipu Boe Kie balas berlutut. “Giehoe, janganlah menjalankan peradatan ini,” katanya dengan air mata berlinang-linang. “Menurut surat wasiat mendiang Yo KauwCoe, Giehoe-lah yang harus menjadi Kauwcoe untuk sementara waktu. Dalam menerima pengangkata, anak selalu berkuatir kalau-kalau anak tidak kuat memikul beban yang sangat berat itu. Atas berkah Thian, Giehoe pulang dengan tak kurang suatu apa. Inilah rejeki dari agama kita. Sepulangnya dari Tiong Goan, kursi KauwCoe harus diduduki giehoe.”

“Biarpun ayah angkatmu sudah bisa pulang, tapi dengan kedua matanya sudah buta, kau tidak bisa mengatakan bahwa ia pulang dengan tak kurang suatu apa,” kata Cia Soen dengan suara sedih. “Mana bisa Beng Kauw mempunyai pemimpin yang matanya tidak dapat melihat? Tio KouwNio, soal-soal apa yang tidak mengerti olehmu?”

“Aku merasa heran karena Siauw Ciauw Kouwnio memiliki kepandaian yang sangat luar biasa,” jawabnya. “Aku ingin menanya, siapa yang mengajarinya dalama ilmu Kie boen Pat Kwa dan Im Yang Ngo Heng? Cara bagaimana dalam usia yang begitu muda, ia sudah mempunyai ilmu tersebut?”

“Itulah ilmu turunan dari keluargaku,” jawab Siauw Ciauw. “Ilmu itu tidak cukup berharga untuk mendapat perhatian Koencoe Nio Nio.”

“Siapa ayahmu?” tanya pula Tio Beng. “Anaknya begitu lihai, ayah ibunya pasti tokoh-tokoh yang namanya cemerlang.”

“Ayahku hidup dengan mengubur she dan namanya sendiri,” jawabnya. “Tak perlu Koencoe menanyakannya. Apakah Koencoe mau memaksa aku dengan ancaman potong jari-jari tangan?” Si gadis cilik ternyata tak sungkan-sungkan. Dengan menyebutkan ancaman potong jari-jari tangan, ia rupa-rupanya ingin menarik tangan Cie Jiak untuk berdiri di pihaknya.

Tio Beng hanya tersenyum. “Thio Kongcoe,” katanya dengan suara tenang. “Malam itu di kota raja, waktu kita bertemu di rumah makan untuk kedua kali, Kouw Tauwtoo Hoan Yauw telah memberi selamat berpisah kepadaku. Waktu itu, ia kebetulan bertemu dengan Siauw Ciauw KouwNio dan ia mengatakan sesuatu, apakah kau masih ingat perkataannya?”

Sebenarnya Boe Kie sudah melupakan kejadian tersebut. Sesudah memikir beberapa saat, ia menjawab. “Hm… kalau aku tak salah ingat, Kouw Taysoe mengatakan bahwa paras muka Siauw Ciauw mirip dengan salah seorang musuhnya.”

“Benar,” kata Tio Beng sambil mengangguk. “Apakah kau bisa menebak siapa yang dimaksud Kouw Taysoe? Siauw Ciauw Kouwnio mirip siapa?”

“Bagaimana aku bisa menebak?” Boe Kie balas bertanya.

Selagi mereka bicara, perahu sudah makin mendekati Leng coa to. Mereka melihat, bahwa di sebelah barat pulau berderet kapal2 Cong kauw yang layarnya terlukis gambar obor merah dan pada setiap layar tergantung sehelai kain hitam.

Alis Boe Kie berkerut. “Cong kauw telah mengerahkan angkatan laut dan orang yang datang kesini tidak berjumlah kecil,” katanya.

“Kita harus coba mendarat di pulau yang sepi dan aman,” kata Tio Beng.

Boe Kie mengangguk dan segera mendayung.

Sekonyong2 dari salah sebuah kapal terdengar bunyi terompet. “Dung.. dung..” dua peluru menyambar, yang lain di sebelah kanan perahu, sehingga karena goncangan ombak, perahu kecil itu hampir hampir tenggelam.

“O hoooi! Dengarlah…!” demikian terdengar teriakan dari arah kapal itu. “Perahu kecil itu harus datang disini. Kalau tidak menurut akan ditenggelamkan.”

Boe Kie mengeluh. Kedua tembakan yang barusan adalah tembakan ancaman. Ia yakin bahwa jika membantah perahu yang ditumpanginya akan segera ditenggelamkan, tanpa bisa melawan. Sebab tak ada jalan lain, perlahan lahan ia mendayung ke arah kapal itu.

Meriam2 di tiga kapal Cong kauw bergerak dan menuding perahu Boe Kie. Waktu perahu menempel dengan sisi kapal dari atas kapal segera diturunkan sebuah tangga tambang.

“Mari kita naik dan berusaha untuk merampas kapal ini,” bisik Boe Kie.

Cia Soen naik paling dulu disusul oleh Cie Jiak yang mendukung Tio Beng. Sesudah itu Siauw Ciauw dan yang paling akhir adalah Boe Kie yang mendukung In Lee. Yang berada di kapal itu orang2 Persia yang bertubuh tinggi besar berambut kuning dan bermata biru. Boe Kie menyapu dengan matanya. Ia tak lihat Sam soe (Budi: Some parts missing here..) (PP: That’s what’s in the book)

tas saja ia bertanya. “Siapa kamu? Ada urusan apa kamu datang kemari?”

“Kami mengalami bencana kapal kami tenggelam,” jawab Tio Beng. “Kami menghaturkan terima kasih untuk pertolongan kalian.”

Orang itu setengah percaya setengah tidak. Ia berpaling kepada pemimpinnya yang berduduk di kursi geladak kapal dan bicara dalam bahasa Persia. Selagi pemimpin itu bicara tiba2 Siauw Ciauw melompat dan menghantam dengan telapak tangannya. Dia kaget, berkelit dan menjambret kursi yang lalu digunakan untuk memukul si nona. Boe Kie terkesiap. Ia tak pernah menduga, bahwa Siauw Ciauw akan segera menyerang. Sambil melompat, ia menotok dan pemimpin itu lantas saja roboh.

Puluhan orang Persia yang berada di situ lantas saja menjadi kalut. Mereka menghunus senjata dan segera mengepung. Tapi biarpun mengenal ilmu silat kepandaian mereka masih kalah

(Budi: Some parts missing here..) (PP: I think that’s OK)

Sambil mendukung In Lee erat erat dengan tangan kanannya, Boe Kie menyerang dengan tangan kiri. Cia Soen memutar To Liong To, sedangkan Cie Jiak mengamuk dengan pedangnya.

Ditambah dengan Siauw Ciauw yang lincah gerakannya dalam sekejap puluhan orang Persia itu sudah dapat dibereskan. Belasan orang luka dan rebah di geladak kapal, tujuh delapan orang jatuh di air dan sisanya tidak berdaya lagi karena ditotok hiatnya. Lain lain kapal Cong Kauw lantas saja membunyikan terompet dan mulai mengurung.

Buru buru Boe Kie merebahkan In Lee di geladak menentang pemimping yang tadi dirobohkannya dan lalu memanjat tiang layar. “Hai! Kalau ada yang berani datang kemari, lebih dahulu aku membinasakan orang ini!” teriaknya.

Pemimpin itu ternyata mempunyai kedudukan tinggi, lantaran, biarpun mereka berteriak

Some parts missing here…

Boe Kie melompat turun, tapi baru saja melepaskan tawanannya di geladak tiba tiba ia merasakan kesiuran angin yang sangat tajam. Secepat kilat ia berkelit dan menendang. Sebelum ia sempat memutar badan, semacam senjata yang bukan lain daripada Seng hwee leng menyambar dari samping kiri. Ia mengeluh. Ia tahu bahwa Sam soe sudah mulai menyerang. “Semua mundur ke tenda (gubug) kapal!” teriaknya seraya menjemput si pemimpin yang lalu digunakan untuk menyambut Seng hwee leng yang menyambar.

Orang yang memukul adalah Hwie goatsoe. Ia terkejut dan mati matian ia menarik pulang senjatanya. Ia berhasil, tapi sebab senjata itu ditarik pulang secara mendadak, maka bagian bawah tubuhnya jadi terbuka. Melihat lowongan itu Boe Kie menendang. Lioe in soe dan siauw hong soe menolong dengan serangan dahsyat sehingga tendangan Boe Kie meleset dan Hwie goat soe terluput dari bahaya. Sesudah lewat beberapa jurus tiba2 Biauw hong soe menyabet dengan Seng hwee leng dengan pukulan yang sangat aneh. Boe Kie memapaki senjata itu dengan tubuh si pemimpin dengan gerakan yang tak kurang anehnya. “Plak!” Seng hwee leng mampir tepat di pipi kiri orang itu.

Tak kepalang kagetnya Sam soe. Muka mereka berubah pucat. Mereka mengeluarkan beberapa buah perkataan dalam bahasa Persia dan kemudian membungkuk dengan sikap hormat kepada pemimpin yang dicekal Boe Kie itu.

Siapa pemimpin itu?

Ia adalah salah seorang dari duabelas Po soe ong (Raja Pohon Mustika) dalam Cong kauw dan ia bergelar Peng teng ong. Keduabelas raja itu menurut runtunannya, ialah Tay seng, Tio wi, Siang seng, Sin sim, Jin jiok, Ceng tit, Kong tek, Cie sim dan Kie beng. Mereka dalah Keng soe (guru dalam kitab suci) di bawah Kauwcoe dari Ceng kauw dan kedudukan mereka menyerupai empat Soe kauw di wilayah Tionggoan.

Perbedaannya dari Soe kauw Hoat ong ialah, sebaliknya dari mementingkan ilmu silat, mereka mengutamakan pelajaran keagamaan. Kecuali Tay seng Po soe ong, Siang seng Po soe ong dan Kong tek Po soe ong yang memiliki ilmu silat sangat tinggi, kepandaian yang lainnya hanya biasa saja dan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Sam soe. Kali ini dalam usaha mencari Seng lie untuk pengangkatan Kauwcoe baru, kedua belas Po soe ong turut datang di Tiong goan. Karena kedudukan yang sangat tinggi dari “raja raja” itu maka biarpun tak disengaja, terpukulnya Peng teng ong dengan Seng hwee leng sudah mengejutkan Sam soe, sehingga mereka tak berani menyerang lagi dan segera mengundurkan diri.

Boe Kie segera berduduk dan memangk Peng teng ong. Ia mengerti, bahwa orang itu mempunyai kedudukan penting di dalam Cong kauw dan merupakan orang tanggungan satu2nya yang bisa menolong rombongannya. Ia membungkuk dan memeriksa luka tawanannya. Untung juga tidak membahayakan jiwa hanya bengkak pada bagian pipi. Rupa2nya pada detik terakhir Biauw hong soe berusaha untuk menarik pulang senjatanya, sehingga tenaga pukulannya banyak berkurang.

Sementara itu, Cie Jiak dan Siauw Ciauw bekerja keras untuk memindahkan korban2 yang menggeletak di geladak kapal. Mereka mengangkat mayat2 ke gubuk belakang dan mengumpulkan orang-orang yang terluka.

Dengan cepat kapal yang dikuasai rombongan Boe Kie sudah terkurung rapat oleh belasan kapal Cong kauw. Semua meriam2 ditudingkan ke arah Boe Kie dan kawan2nya dan diatas semua kapal penuh dengan orang2 Cong kauw yang memegang obor dan menghunus senjata.

Boe Kie jadi bingung. Tanpa meriam lawan yang berjumlah begitu besar sudah tak mungkin dilawan. Dengan ilmu silatnya yang tinggi ia sendiri mungkin dapat selamat. Tapi bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan In Lee dan Tio Beng yang terluka berat?

Sekonyong konyong salah seorang berteriak dalam bahasa Tionghoa. “Kim mo Say-ong, dengarlah! Dua belas Po soe ong dari Cong kauw berada di sini. Kedosaanmu terhadap Cong kauw sudah diampuni oleh para Po soe ong. Lekas pulangkan anggota Cong kauw yang berada di kapal itu! Sesudah memulangkan semua orang, kau boleh pergi tanpa diganggu.”

Cia Soen tersenyum. “Cia Soen bukan anak kemarin dulu!” teriaknya. “Begitu lekas kami lepaskan semua tawanan, apakah meriam meriammu tidak lantas memuntahkan peluru?”

“Kurang ajar!” bentak orang itu dengan gusar. “Kalau kau tidak melepaskan mereka, apakah meriam kami tidak bisa melepaskan tembakan?”

“Mana Seng li Tay Kie?” tanya Cia Soen. “Lepaskan dia lebih dahulu! Sesudah kamu melepaskan dia, kita boleh bicara lagi.”

Orang itu segera berunding dengan orang yang berdiri di sekitarnya. Beberapa saat kemudian, ia berteriak pula. “Tay Kie membuat pelanggaran hebat dan ia akan mendapat hukuman dibakar hidup-hidup. Urusan ini urusan Cong kauw dan tidak bersangkut paut dengan Beng kauw di daerah Tiong goan.”

Sesudah berpikir sejenak Cia Soen berkata pula, “Aku ingin mengajukan tiga syarat. Begitu lekas kalian meluluskan, kami akan segera memulangkan semua orang.”

“Syarat apa?”

“Yang pertama, keduabelas Po soe ong harus berjanji, bahwa mulai kini Cong kauw dan Tiong goan harus saling mengindahkan dan tak boleh mencampuri urusan masing-masing.”

“Hmm!… Yang kedua?”

“Lepaskan Tay Kie dan antarkan kemari. Bebaskan kedosaannya dan kalian harus berjanji bahwa persoalan takkan ditimbulkan lagi.”

“Tidak bisa! Ini tidak bisa! Yang ketiga?”

“Sebelum kalian mengiyakan syarat kedua, perlu apa aku memberitahukan yang ketiga?”

“Syarat ketiga sangat mudah. Kalian mengirim sebuah perahu kecil yang harus mengikuti di belakang kapal ini. Sesudah kami berada dalam jarak sedikitnya lima puluh li dan kami mendapat kenyataan, bahwa kalian tidak mengejar, kami akan turunkan semua tawanan ke perahu itu yang boleh segera kembali kepada kalian.”

Orang yang bicara dengan Cia Soen adalah Kie beng Po soe ong, “raja” kedua belas. Mendengar syarat ketiga ia gusar tak kepalang. Sambil membentak keras, bersama Cie sim Po soe ong, ia melompat ke kapal Boe Kie.
Boe Kie segera menyambut. Dengan telapak tangannya ia mendorong dada Cie sim ong. Sebaliknya dari menangkis, “raja” itu balas menyerang. Tangan kirinya menyambar dan coba mencengkeram kepala Boe Kie. Hampir berbareng, Kie beng ong menerjang dan menyambut telapak tangan Boe Kie yang sudah hampir menyentuh dada Cie sim ong. Untuk menghindarkan cengkeraman Cie sim ong, Boe Kie sendiri lantas melompat ke samping.

Boe Kie kaget. Ilmu silat kedua lawan itu merupakan kerja sama yang sangat erat, sehingga ia seperti menghadapi seorang lawan yang mempunyai empat tangan dan empat kaki. Kepandaian mereka berdua agaknya masih kalah dengan Sam soe, tapi gerak geriknya sangat aneh. Terang2 ilmu silat mereka bersamaan dengan Kian koen Tay lo ie, tapi dalam menggunakannya mereka mengeluarkan perubahan2 luar biasa yang tak dapat diraba. Sesudah bertempur puluhan jurus, barulah Boe Kie bisa berada di atas angin.

Selagi Boe Kie mengasah otak untuk mengalahkan kedua lawannya, mendadak Sam soe membentak keras dan melompat pula mereka ke kapal Boe Kie. Sesudah mereka melakukan Peng seng ong tanpa sengaja, mereka merasa sangat malu dan mereka sekarang mengambil keputusan untuk merampas pulang “raja” yang keenam itu.

Cepat cepat Cia Soen mengangkat tubuh Peng seng ong dan memutarnya dalam bentuk lingkaran. Sam soe tentu saja tidak berani sembarangan menyerang. Mereka hanya bisa berlari lari mengikuti lingkaran itu untuk mencari lowongan guna menyerang.

Beberapa saat kemudian, mendadak terdengar teriakan kesakitan dari Kie beng ong yang roboh tertendang Boe Kie. Baru saja Boe Kie membungkuk untuk menawannya, Lioe in soe dan Hwie goat soe sudah menyerang dengan berbareng, sedang Biauw hong soe mendukung raja itu yang lalu dibawa balik ke kapal sendiri. Sekarang Cie sim ong mengepung Boe Kie bersama Lioe in see dan Hwie goat soe. Kerja sama mereka tidak seerat kerja sama Sam soe dan dengan kekuatiran mereka akan keselamatan Kie beng ong, maka sesudah bertempur beberapa jurus lagi, mereka segera mengundurkan diri.

Sesudah menenteramkan semangatnya, Boe Kie berkata. “Orang orang itu seperti juga pernah mempelajari Kian Koen tay lo ie. Tapi heran sekali, pukulan-pukulannya berbeda dari ilmu itu, mereka sungguh sukar dilawan.”

“Pelajaran Kian koen Tay lo ie sebenarnya bersumber dari Persia,” kata Cia Soen. “Tapi semenjak beberapa ratus tahun yang lalu, sesudah Beng kauw tersiar ke Tionggoan, di Persia sendiri ilmu itu bahkan tidak dikenal lagi. Menurut pendapatku, apa yang telah dipelajari mereka hanyalah kulit dari Kian koen tay lo ie. Maka itulah mereka telah mengirim Tay Kie ke Kong beng teng untuk mencuri kitab ilmu silat tersebut.”

Boe Kie menggelengkan kepala. “Anak berpendapat lain,” katanya. “Memang benar dasar ilmu silat mereka masih sangat cetek dan benar mereka hanya memiliki kulit dari ilmu Kian koen tay lo ie. Tapi dalam menggunakannya, mereka dapat menggunakan secara luar biasa sekali. Di dalam ini pasti terselip satu sebab yang masih belum diketahui kita. Hm!… dalam Kian koen tay lo ie tingkat ketujuh ada beberapa bagian yang belum dapat dipelajari oleh… Apa.. apa ini sebab musababnya?… Sehabis berkata begitu, ia bersila dan memejamkan matanya. Cia Soen dan yang lain lain menunggu tanpa membuka suara. Mereka tidak berani mengganggu jalan pikiran pemuda itu.

Sekonyong konyong di sebelah kejauhan terdengar suara terompet yang berulang ulang. Sebuah kapal besar mendatangi dengan perlahan. Di atas kapal kapal itu terpancang dua belas bendera dengan sulaman benang emas, sedang di atas geladak teratur duabelas kursi dengan alas kulit harimau. Antara keduabelas kursi itu, sembilan terisi dan tiga kosong. Begitu kapal berhenti, Cie sim ong dan Kie beng ong lantas melompat naik dan menduduki dua kursi yang paling akhir. Dengan demikian, hanya sebuah kursi keenam yang masih kosong.

Melihat begitu, Tio Beng tersadar. “Pakaian tawanan kita bersamaan dengan pakaian sebelas orang itu,” katanya. “Apa ia bukan salah seorang dari keduabelas Po soe ong!”

“Kurasa memang begitu,” kata Boe Kie. “Tawanan kita berkedudukan sangat tinggi dan kupercaya sedikitnya untuk sementara waktu, mereka tak akan berani menyerang….” Pembicaraannya terputus dengan mendadak, karena ia tiba tiba melihat Sam soe menghampiri sebelas “raja” itu dengan membawa seorang tangkapan.

Boe Kie dan yang lain terkejut. Mereka mengenali bahwa tangkapan itu, seorang nenek bongkok yang memegang tongkat, adalah Kim hoa Po po.

Di lain saat, Toe hwie Po soe ong yang berduduk di kursi kedua mengajukan beberapa pertanyaan dalam bahasa Persia dengan suara keras.

Si nenek miringkan kepalanya. “Apa yang kau katakan?” tanyanya. “Aku tidak mengerti.”

Tie hwie ong tertawa dingin. Ia bangun berdiri dan tangannya menyambar ke kepala si nenek. Di lain saat, ia sudah memegang segumpal rambut palsu, sedang di atas kepala si nenek terlihat rambut yang berwarna hitam dan mengkilat. Kim hoa Po po miringkan kepalanya, tapi tangan kanan Tie hwie ong sudah mampir di mukanya dan membeset selapis topeng. Boe Kie yang bermata tajam sudah melihat tegas, bahwa topeng yang terbeset itu adalah topeng muka Kim hoa Po po. Hampir berbareng Kim hoa Po po menyalin rupa. Ia sekarang berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Jantung Boe Kie memukul keras. “Ah!… Mukanya sungguh mirip sekali dengan muka Siauw Ciauw,” katanya di dalam hati. Mendadak ia mendengar suara Tio Beng yang berkata, “Sama betul dengan Siauw Ciauw!”

Sesudah topengnya dilucuti, seraya tertawa dingin si nenek melemparkan tongkatnya. Tie hwie ong lalu mengajukan pertanyaan pertanyaan dalam bahasa itu juga. Selama tanya jawab itu berlangsung, paras muka kesebelas “Ong” kelihatannya sangat menyeramkan.

Boe Kie dan yang lain tentu saja tidak mengerti pembicaraan itu.

“Siauw Ciauw Kouwnio, apa yang mereka bicarakan?” tanya Tio Beng.

Air mata Siauw Ciauw lantas saja mengucur, “kau sangat pintar,” katanya. “Kau tahu segala apa, tapi mengapa kau tidak mencegah Loo ya coe berkata begitu?”

“Mencegah Loo ya coe berkata apa apa?” tanya Tio Beng dengan rasa heran.

“Semula mereka tak tahu siapa adanya Kim hoa Po po”, menerangkan Siauw Ciauw. “Belakangan mereka tahu bahwa Kim hoa Po po ialah Cie san Liong ong. Tapi mereka tak pernah menduga bahwa Cie san Liong ong adalah Tay Kie. Po po telah menyamar dalam waktu lama dengan pengharapan bisa mengelabui mereka. Di luar dugaan tanpa sengaja Loo ya coe telah membuka rahasia dengan mengajukan syarat supaya mereka melepaskan Seng lie Tay Kie. Maksud Loo ya coe memang mulia sekali. Tapi dengan begitu Tie hwie Po soe ong jadi mendusin. Loo ya coe yang tidak bisa melihat tentu saja tak tahu lihaynya penyamaran Po po yang dapat mengelabui siapapun jua. Tio Kauwnio, kau telah lihat terang terang dengan matamu. Apa kau tidak bisa mikir sampai disitu?”

Inilah tuduhan yang paling tidak enak bagi Tio Beng, sebab nona itu memang tidak punya niatan kurang baik. Sesudah mendengar cerita Cia Soen, ia tentu saja tahu bahwa Kim hoa Po po adalah Seng lie Tay Kie. Tapi ia sungguh2 tidak pernah memikir bahwa penyamarannya Tay Kie belum bisa ditembus oleh orang Persia. Orang-orang Cong kauw itu masih tak tahu, bahwa si nenek muka jelek sebenarnya Tay Kie.

Bibir Tio Beng sudah bergerak untuk membalas dengan kata2 yang pedas, tapi melihat kedukaan Siauw Ciauw ia mengurungkan niatnya. Ia menduga pasti, bahwa di antara si nenek dan gadis cilik terdapat hubugan yang sangat erat dan ia merasa tidak tega untuk menyerang. “Siauw Ciauw moay moay,” katanya, “jika aku mempunyai niat untuk mencelakai Kim hoa Po po biarlah aku mati dalam jalan yang tidak benar.”

Cia Soen sendiri sangat menyesal. Ia tak mengatakan sesuatu apa, akan tetapi dalam hatinya ia telah mengambil keputusan untuk menolong Tay Kie, jika perlu dengan mengorbankan jiwa sendiri.

Sementara itu sambil menangis Siauw Ciauw berkata, “Mereka mengutuki Po po menikah dan mengkhianati agama, Po po harus dihukum bakar hidup hidupan.”

“Siauw Ciauw, jangan bingung,” bujuk Boe Kie. “Begitu ada kesempatan, aku akan segera menerjang untuk menolong Po po.”

Sebab sudah biasa menggunakan panggilan Po po, maka biarpun sekarang Cie san Liong ong sudah tak memakai topeng ia masih tetap menggunakan istilah itu. Walaupun sudah berusia setengah tua, dengan mukanya yang asli, kecantikan nyonya itu tak kalah dari Tio Beng dan Cie Jiak. Awet muda dan kelihatannya seperti kakak Siauw Ciauw.

“Tak mungkin!” kata Siauw Ciauw dengan suara parau. “Kau takkan bisa melawan sebelas po toe ong dan Sam soe. Kalau kau menerjang, kau seperti juga mengantarkan jiwa. Sekarang mereka sedang berunding untuk merebut pulang Peng seng ong.”

Hmm!… Andaikata Peng seng ong bisa pulang dengan selamat, mukanya yang tercetak beberapa huruf sudah tak keruan macam,” kata Tio Beng dengan suara mendongkol.

“Huruf apa?” tanya Boe Kie.

Jawab nona Tio, “Seng hwee leng yang memukul pipinya… agh!…” Tiba2 ia ingat sesuatu. “Siauw Ciauw! Apa kau mengenal bahasa Persia?”

“Kenal”

“Coba lihat! Huruf apa yang tercetak di pipi Peng teng ong?”

Siauw Ciauw segera memeriksa pipi “raja” itu yang bengkak. Ia melihat tiga baris huruf Persia yang tercetak di daging Peng teng ong. Ternyata pada setiap Seng hwee leng terdapat ukiran huruf2 Persia dan pukulan itu sudah mencetak huruf2 tersebut. Tapi sebab hanya sebagian senjata yang mampir di pipi, maka tak semua huruf tercetak di pipi Peng teng ong.

Sebagaimana diketahui, Siauw Ciauw pernah mengikut Boe Kie masuk di jalan rahasia Kong Beng teng dan ia pernah menghafal Kian koen Tay lo ie. Maka itu meskipun tak mengerti dan tak pernah melatih diri, ia tak melupakan pelajaran di kulit kambing itu. Begitu membaca ia berseru,”Ah! Inilah pelajaran Kian koen Tay lo ie.”

“Pelajaran Kian koen tay lo ie?” menegas

Si nona tidak lantas menyahut. Sejenak kemudian barulah ia berkata. “Bukan! Bukan pelajaran Kian koen tay lo ie. Sekelebatan aku menduga begitu, tapi ternyata bukan. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa, bunyinya seperti berikut, “Menyambut kiri berarti depan menyambut kanan berarti belakang, tiga kosong tujuh berisi, ada di dalam tidak ada… langit persegi bumi bulat… Yang disebelah bawah tak bisa dibaca lagi.”

Mendengar itu seperti juga merasa, bahwa diantara gumpalan awan awan hitam mendadak berkelebat sinar kilat, tapi sesudah berkelebatnya sinar itu, keadaan kembali menjadi gelap. Akan tetapi biar bagaimanapun jua sinar itu memberi harapan kepadanya. Bagaikan orang linglung, ia menghafal “… menyambut kiri berarti depan, menyambut kanan berarti belakang.” Menggunakan seantero kekuatannya otak dan kecerdasannya, ia berusaha untuk mempersatukan beberapa baris kauw koat (teori ilmu silat) itu dengan pelajaran Kiam koen tay lo ie yang sudah dimilikinya. Selang beberapa saat, ia merasa seperti sudah berhasil, tapi belum berhasil. Ia merasa seperti sudah menembus halimun tapi kembali menemui rintangan.

Mendadak Siauw Ciauw berteriak, “Thio Kongcoe, awas! Mereka sudah mengeluarkan perintah untuk menyerang. Sam soe akan menyerang kau sedangkan Kin sioe jin Jiok dan Kong tek ong akan coba merebut Peng teng ong.”

Mendengar isyarat si nona, Cia Soen segera memeluk Peng teng ong dan melontarkan To liong to ke arah Boe Kie. “Babat saja dengan To liong to!” katanya.

Tio Beng pun segera menyerahkan Ie thian kiam kepada Cie Jiak. Mereka sekarang berada dalam satu perahu, nasib setiap orang berarti nasib seorang. Boe Kie menyambut golok mustika itu dan menyisipkan di pinggangnya. Tapi mulutnya terus berkata kata… “tiga kosong tujuh berisi ada di dalam tidak ada…”

“Anak tolol!” bentak Tio Beng. “Sekarang bukan waktu belajar silat. Kau harus bersiap!”

Hampir berbareng Kim sioe Jien jiok dan Kong tek ong melompat dan menyerang Cia Soen. Sebab kuatir melukai Peng teng ong, maka dalam usaha merebut “raja” itu terpaksa merubah serangannya dengan tangan kosong. Dengan mencekal Ie thian kiam Cie Jiak mendampingi Cia Soen. Pada detik detik berbahaya, si nona menikam Peng teng ong sehingga ketiga “raja” itu terpaksa merubah serangannya untuk meluputkan Peng teng ong dari tikaman.

Di lain pihak Boe Kie sudah bertempur melawan Sam soe. Sesudah mendapat pengalaman dalam beberapa pertempuran mereka berempat tidak berani berlaku sembrono dan berkelahi dengan hati-hati. Sesudah lewat beberapa jurus tiba-tiba Hwie goat ong memukul dengan sebuah “Leng”. Menurut peraturan ilmu silat, senjata itu akan mampir di pundak kiri Boe Kie. Tapi di luar dugaan, waktu menyambar di tengah udara Seng hwee leng tersebut mendadak merubah haluan secara luar biasa dan menghantam belakang leher Boe Kie.

Boe Kie merasa kesakitan hebat, matanya berkunang kunang. Tapi karena pukulan itu, otaknya tiba-tiba menjadi terang. “Menyambut kiri berarti belakang…” pikirnya. Sesaat kemudian, tanpa terasa ia berteriak. “Sekarang aku mengerti! Benar!…. begitu…”

Ternyata ilmu silat yang dimiliki Sam soe hanya berdasarkan Kian koen Tay lo ie tingkat pertama. Tapi pada Seng hwee leng terdapat pelajaran yang luar biasa mengenai cara menggunakannya. Sekarang ia sudah bisa memecahkan teka teki empat baris kauw koat itu dan hanya sebaris langit persegi bumi bulat yang belum dapat ditembusnya. Ia sekarang yakin bahwa untuk bisa menyelami seluruh ilmu silat Cong kauw ia harus mempelajari seantero Kouw koat yang ada di Seng hwee leng.

Tanpa membuang2 waktu lagi, sambil membentak keras ia menyerang, kedua tangannya menyambar bagaikan kilat. Dengan sekali jurus dengan menggunakan kouwkoat “tiga kosong tujuh berisi” ia berhasil merampas dua ‘leng’ dari tangan Hwie goat soe. Di lain saat dengan “ada di dalam tidak ada” ia merebut dua ‘leng’ lagi dari tangan Lioe in soe.

Kedua utusan itu terbang semangatnya. Mereka berdiri terpaku. Sesudah memasukkan keempat ‘leng’ di dalam saku Boe Kie menyerang pula. Dengan kedua tangan ia mencengkeram belakang leher kedua pecundang itu yang lalu dilempar balik ke kapal mereka. Orang2 Persia kaget tak kepalang. Mereka jadi takut dan berteriak teriak.

Biauw hong soe ketakutan. Buru buru ia memutar dan coba melarikan diri. Tapi gerakan Boe Kie cepat luar biasa. Dengan sekali sambar, ia menangkap kaki kiri Biauw hong soe yang lalu ditarik ke belakang. Sesudah merampas kedua ‘leng’ ia mengangkat tubuh utusan itu dan menghantamnya ke kepala Jin jiok ong. Ketiga “raja” terkesiap, mereka buru buru lari balik ke kapal sendiri. Boe Kie lalu menotok jalan darah Biauw hong soe dan melemparkannya di geladak kapal.

Kemenangan itu bukan saja menggirangkan Boe Kie, tapi juga kawan kawannya. Mereka menanya cara bagaimana pemuda itu bisa merampas enam Seng hwee leng dengan begitu mudahnya.

Boe Kie tertawa, “Kalau bukan secara kebetulan pipi orang itu terpukul Seng hwee leng tak nanti aku bisa menangkap rahasia ilmu silat mereka,” katanya. Ia mengeluarkan enam biji ‘leng’ dan menyerahkannya kepada Siauw Ciauw. “Siauw Ciauw,” katanya, “lekas terjemahkan huruf-huruf di enam Seng hwee leng ini!”

Semua orang mengawasi keenam ‘leng’ itu yang terbuat dari semacam bahan yang sangat aneh – bukan emas dan bukan giok – tapi keras luar biasa. ‘Leng’ itu panjangnya berbeda satu sama lain, kelihatannya terang, di dalamnya terdapat sinar api yang bergerak gerak dan warnanya berubah-ubah, sedang setiap ‘leng’ terdapat ukiran huruf huruf Persia.

Boe Kie mengerti bahwa jika ia ingin meloloskan diri dari bahaya, ia harus memahami ilmu silat Cong kauw. Maka itu, ia lantas saja berkata, “Cioe kauwnio, tandalkan Ie thian kiam di leher Peng teng ong. Giehoe, tandalkan To liong to di leher Biauw hong soe. Kita harus memperpanjang waktu sedapat mungkin.” Cia soen dan Cie jiak lantas saja mengangguk.

Siauw Ciauw segera memilih ‘leng’ terpendek yang hurufnya paling sedikit lalu menterjemahkannya. Sesudah mendengar beberapa kali Boe Kie belum juga menangkap artinya, sehingga ia mulai merasa bingung.

“Siauw Ciauw, coba kau terjemahkan huruf2 dari Seng hwee leng yang telah memukul Peng teng ong,” kata Tio Beng.

Siauw Ciauw manggutkan kepalanya. Buru2 ia mencari ‘leng’ yang dimaksudkan. Ia mendapat kenyataan bahwa yang memukul Peng teng ong adalah Seng hwee leng yang panjangnya tujuh nomor dua. Ia lalu membaca dan Boe Kie dapat menangkap tujuh delapan bagian dari artinya. Sesudah itu ia membaca huruf huruf dari Seng hwee leng nomor satu yang paling panjang. Baru saja mendengar perkataan Boe Kie sudah berteriak dengan suara girang. “Bagus! Siauw Ciauw antara enam Seng hwee leng itu makin panjang makin mudah dimengerti. Yang dibaca olehmu ialah kouwkoat dari pelajaran pertama.”

Dahulu Seng hwee leng dibuat atas permintaan si orang tua dari pegunungan dan berisi intisari dari ilmu silat Hasan Ben Sabbah. Keenam ‘leng’ itu mengikuti agama Beng kauw memasuki Tiongkok dan bermaksud untuk menjadi tanda kekuasaan dari Kauwcoe daerah Tionggoan. Lama lama di antara penganut Beng kauw wilayah Tionggoan tidak terdapat lagi orang yang paham bahasa Persia. Pada beberapa puluh tahun kemudian, keenam Seng hwee leng dicuri orang Kay pang dan belakangan jatuh ke tangan saudagar Persia, sehingga akhirnya diambil pulang oleh Cong kauw di Persia. Selama puluhan tahun ilmu silat para pemimpin Cong kauw mendapat kemajuan pesat. Akan tetapi karena ilmu yang tertera pada Seng hwee leng terlampau sukar dipelajari, maka, bahkan Tay Seng Po soe ong yang berkepandaian paling tinggi hanya bisa menangkap tiga atau empat dari seluruh isinya.

Pada hakekatnya, pelajaran Kian koen Tay lo ie adalah ilmu silat pelindung agama dari Beng kauw di Persia. Tapi ilmu silat itu tidak bisa dimengerti oleh sembarang orang. Selain begitu, menurut ketetapan, jabatan Kauwcoe dari Beng kauw pusat (Cong kauw) harus dipegang oleh seorang gadis dan selama ratusan tahun, kursi Kauwcoe diduduki oleh beberapa wanita yang berkepandaian cetek. Itulah sebabnya mengapa di Persia sendiri, makin lama Kian koen tay lo ie makin jarang dikenal orang. Di lain pihak, Beng kauw di daerah Tionggoan masih menyimpan pelajaran Kian koen Tay lo ie yang lengkap.

Ilmu silat Cong kauw yang sangat aneh itu merupakan campuran dari sebagian Kian koen tay lo ie dan sebagian pelajaran Seng hwee leng. Para pemimpin Cong kauw insaf, bahwa jika kitab Kian koen tay lo ie bisa diambil pulang dan ditambah dengan kouwkoat Seng hwee leng, maka ilmu silat Beng kauw akan bisa menggetarkan dunia. Inilah maksud terutama pengiriman Tay Kie ke Kong beng teng.

Di luar semua dugaan, apa yang diidam-idamkan dan diusahakan oleh Cong kauw telah didapat dengan mudah oleh Boe Kie. Boe Kie telah mendapatkan ilmu itu secara kebetulan saja. Tapi andaikata Cong kauw berhasil mendapatkan kembali kitab Kian koen Tay lo ie, tanpa mempunyai Kioe yang sin kang sebagai dasar, belum tentu ada orang yang bisa menarik kefaedahannya. Dengan demikian dapatlah dilihat bahwa di dalam dunia ini, segala apa tergantung pada nasib dan manusia tidak akan bisa mencapai tujuan secara paksa.

Tanpa memperdulikan suatu apa lagi, Boe Kie bersila di kepala kapal dan Siauw Ciauw membisiki huruf2 yang terukir di Seng hwee leng. Ilmu silat yang tertera di enam ‘leng’ itu sebenarnya sangat sulit. Tapi kata orang mengerti satu ilmu, mengerti berlaksa ilmu. Manakala seseorang sudah mempelajari ilmu sampai di puncaknya kesempurnaan, maka dengan mudah ia bisa belajar lain2 ilmu, sebab, pada hakekatnya, semua ilmu menuju ke satu jurusan yang sama. Boe Kie telah menyelami Kioe yang sin kang, Kian koen tay lo ie dan Thay kek koen. Ketiga ilmu itu adalah ilmu ilmu silat yang paling tinggi, yang masing masing berasal dari India, Persia dan Tiongkok. Biarpun sulit, ilmu di Seng hwee leng belum bisa menyamai tingginya ketiga ilmu tersebut. Maka itulah, sesudah Siauw Ciauw selesai menterjemahkannya, Boe Kie lantas menghafal tujuh delapan bagian dan mengerti lima enam bagian. Dalam sekejap ia telah berhasil memahami pukulan pukulan aneh yang dikeluarkan oleh beberapa Po soe ong dan ketiga utusan Cong kauw.

Boe Kie terus mengasah otak tanpa memperdulikan segala perkembangan. Tapi Tio Beng dan Cioe Cie Jiak yang terus memperhatikan persiapan pihak lawan, makin lama jadi makin bingung. Mereka melihat Tay Kie diborgol kaki tangannya, melihat kesebelas Po soe ong, berdamai dengan bisik bisik dan menukar jubah mereka dengan pakaian perang yang lemas dan melihat sebelas orang menyerahkan sebelas senjata aneh kepada “raja raja” itu. Mereka melihat gendewa gendewa dan anak panahnya ditunjukkan kepada Boe Kie dan melihat pula puluhan orang Persia yang bersenjata kapak dan pahat menerjun ke air, siap sedia untuk melubangi kapal yang ditumpangi mereka.

Ketika itu fajar sudah menyingsing. Matahari sudah mengintip di sebelah timur dan memancarkan sinar yang gilang gemilang.

Mendadak Tay seng Po soe ong membentak dan bentakan itu diiringi dengan suara tambur dan terompet riuh rendah.

Boe Kie kaget. Ia mendongak dan melihat sebelas Po soe ong yang mengenakan pakaian berwarna keemas emasan dan memegan senjata, sudah melompat ke kapalnya. Tapi, setelah berada di kepala kapal, “raja” itu tidak berani lantas menyerang sebab Cia Soen dan Cie Jiak mengandalkan senjatanya di leher Peng teng ong dan Biauw hong goe. Mereka hanya mengawasi dengan mata melotot dan paras muka gusar.

Selang beberapa saat, barulah Tie hwie ong berkata dengan bahasa Tionghoa, “Lekas pulangkan orang orang kami! Kami akan mengampuni jiwa kamu. Di mata kami, beberapa orang itu bagaikan babi dan anjing. Mereka tidak berharga sedikitpun jua. Perlu apa kamu mengandalkan senjata di leher mereka? Jika kamu mempunyai nyali, bunuhlah mereka! Di dalam Cong kauw terdapat berlaksa orang yang sederajat dengan mereka. Kebinasaan mereka tiada artinya.”

“Jangan kau coba-coba menipu kami,” kata Tio Beng dengan suara menyindir. “Kami tahu bahwa mereka adalah Peng teng Po soe ong dan Biauw hong soe yang mempunyai kedudukan tinggi dalam kalanganmu. Kau mengatakan mereka sederajat dengan babi dan anjing? Bagus!”

Alis Tie hwie ong berkerut. “Di dalam Seng kauw (agama kami yang suci) terdapat tiga ratus enampuluh Po soe ong,” katanya. “Peng teng ong menduduki kursi yang ketiga ratus lima puluh sembilan. Kami mempunyai seribu dua ratus Soe cia (utusan). Biauw Hong soe bukan orang penting. Bunuhlah mereka, kalau kamu mau!”

“Baiklah,” kata Tio Beng. “Kawan kawan, bunuhlah kedua manusia yang tak berguna itu!”

“Baik!” jawab Cia Soen seraya mengangkat To Liong to. Dengan kecepatan kilat ia menyamber kepada Peng teng ong. Orang-orang Cong kauw mengeluarkan teriakan tertahan. Tapi… To liong to, lewat dalam jarak setengah dim dari batok kepala dan hanya memapas rambut yang lantas saja terbang ditiup angin. Kim mo Say ong kembali mengangkat golok dan menyabet dua kali beruntun ke lengan kanan dan lengan kiri Peng teng ong. Kedua sabetan itu kelihatannya hebat, tapi dalam detik mata golok hampir menyentuh kulit, Cia Soen memutar sedikit pergelangan tangannya sehingga senjata itu hanya merobek lengan baju. Jangankan seorang buta, sekalipun orang yang tidak buta sukar meneladan Kim mo Say ong. Peng teng ong pingsan sebab ketakutan dan sebelas Po soe ong yang mau menyerang berdiri terpaku.

“Apa kamu sudah lihat ilmu silat Beng kauw dari wilayah Tiong goan?” tanya Tio Beng. “Dalam kalangan agama kami Kim mo Say ong menduduki kursi yang ketiga ribu lima ratus sembilan. Apabila dengan mengandalkan jumlah besar, kamu sekarang menyerang kami, Beng kauw di Tionggoan pasti akan membalas sakit hati dan menyapu Cong kauw sampai bersih. Kamu pasti tak akan bisa melawan kami. Jalan satu-satunya bagi kamu sekalian adalah berdamai dengan kami.”

Tie hwie ong yakin, bahwa nona Tio hanya menakut-nakuti, tapi ia sendiri tak tahu apakah yang harus diperbuatnya. Mendadak Tay seng Po soe ong berkata kata dalam bahasa Persia.

“Thio Kongcoe, awas!” teriak Siauw Ciauw. “Mereka mau melubangkan dasar kapal!”

Boe Kie terkejut. Kalau kapal mereka ditenggelamkan, mereka semua yang tidak bisa berenang akan segera menjadi tawanan. Dengan melompat ia sudah berhadapan dengan Tay seng ong.

“Mau apa kau!” bentak Tie Hwie. Hampir berbareng, Kong tek dan Hoa hie ong yang masing masing bersenjata cambuk dan martil menyerang dari kiri kanan.

Boe Kie yang sudah memahami ilmu silat Cong kauw tidak memperdulikan serangan itu. Bagaikan kilat kedua tangannya menyambar dan mencengkeram jalan darah di tenggorokan kedua “raja” itu, sehingga senjata mereka menyimpang dan beradu satu sama lain. Sesudah melempar tubuh mereka ke gubuk kapal, Boe Kie segera mengamuk. Dengan dua tendangan ia melontarkan golok Cie sim dan Jin Jiok ong dan lalu dua tendangan lagi melemparkan Kin sioe dan Kie beng ong ke dalam air.

Mendadak seorang Po soe ong yang bersenjata sepasang pedang pendek menikam. Boe Kie mengegos dan menendang pergelangan tangannya. Secepat kilat, orang itu menyilangkan kedua tangannya dan menikam kempungan Boe Kie. Tikaman itu cepat dan di luar dugaan, sehingga untuk menyelamatkan jiwa, Boe Kie terpaksa melompat tinggi.

Orang itu adalah Siang seng, jago nomor dua di antara dua belas Po soe ong. Sesudah menikamnya gagal, ia terus merangsek dan mengirim serangan berantai. Boe Kie melayani dengan tenang. Sesudah bertempur sembilan jurus, diam diam ia memuji kepandaian “raja” itu.

Biarpun sudah memahami ilmu Seng hwee leng, tapi sebab belum berlatih, Boe Kie belum bisa mempergunakannya secara lancar. Dalam belasan jurus yang pertama, ia mempertahankan diri dengan kepandaiannya sendiri. Setelah lewat dua puluh jurus barulah ia bisa menggunakan ilmu Seng hwee leng dengan agak licin.

(Budi: Some part missing here..) (PP: not sure)

(Selamanya menang) sebab di negerinya sendiri ia jarang mendapat tandingan. Dalam menghadapi Boe Kie ia kaget bercampur heran dan pengalaman itu adalah pengalaman yang pertama didapat olehnya. Sesudah bertanding tiga puluh jurus lebih, tiba tiba Boe Kie berduduk di atas geladak dan kedua tangannya memeluk betis Siang seng. Itulah salah satu pukulan terhebat dalam Ilmu Seng hwee leng yang dikenal, tapi belum pernah digunakan oleh Siang seng ong sendiri. Begitu lekas kedua tangannya memeluk, dengan sepuluh jari tangannya Boe Kie mencengkeram Tiong tauw dan Coe peng hiat di betis lawan. Siang seng Po soe eng lantas saja lemas badannya. Ia menghela nafas dan menyerah kalah.

2 Responses to “To Liong To – 15”

  1. free Says:

    free…

    […]To Liong To – 15 « Cerita Silat[…]…

  2. Baby Jogger City Elite Single Stroller Says:

    Baby Jogger City Elite Single Stroller…

    […]To Liong To – 15 « Cerita Silat[…]…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: