To Liong To – 14

“Membunuh saudara2 dalam agama kita adalah kedosaan besar,” jawabnya. “Karena urusan besar belum selesai, Hoan Yauw belum berani membunuh diri. Sekarang Hoan Yauw lebih dahulu memutuskan tiga jeriji dan nanti dia akan mempersembahkan kepalanya kepada Kauwcoe.”

“Aku sudah mengampuni kesalahan Hoan Yoe soe,” kata Boe Kie. “Mengapa kau berbuat begitu. Sekarang kita menghadapi tugas yg sangat berat. Kuharap Hoan Yoe Soe tidak menyebut2 lagi urusan ini.” Sehabis berkata begitu ia mengeluarkan obat luka, menyobek ujung bajunya dan membalut luka Hoan Yauw. Didalam hati ia merasa sangat tidak enak. Ia tahu bahw Hoan Yauw bukan gertak sambel. Apa yg dikatakannya dapat dilakukannya. Mungkin mereka dihari di kemudian ia akan membunuh diri. Mengingat segala penderitaannya demi kepentingan Beng Kauw, Boe Kie terasa sangat terharu dan tiba2 ia menekuk sebelah lututnya, “Hoan yoe soe sebagai orang yg berjasa besar untuk agama kita, terimalah hormatku,” katanya dengan suara parau. “Apabila kau melukai lagi dirimu, itu berarti kau menganggap aku sebagai manusia yg tak punya guna dan tidak pantas untuk menjadi kauwcoe dari agama kita. Kalau kau menikam dirimu satu kali, aku akan menikam diriku dua kali.”

Melihat Kauw coe mereka berlulut, dengan air mata bercucuran Hoan Yauw, Yo Siauw dan Wie It Siauw segera turut berlutut.

“Saudara Hoan,” kata Yo Siauw sambil menyusut airmatanya. “Kau tidak boleh mengulangi perbuatan itu. Bangun robohnya agama kita hanya mengandalkan kauw coe seorang. Kauw coe telah mengeluarkan perintah dan kau tidak boleh melanggar perintah itu.”

Dalam pertandingan hari ini aku sudah merasa takluk terhadap kauw coe,” kata Hoan Yauw, “Kouw Tauw too mempunyai adat yg sangat aneh dan aku memohon belas kasihan Kauwcoe.”

Dengan kedua tangan, Boe Kie membangunkan Hoan Yauw. Sesudah terjadinya kejadian ini, ia dan Hoan Yauw menjadi sahabat yg saling mencintai.

Sesudah itu, Hoan Yauw segara menceritakan pengalaman dalam gedung Jie Lam ong.

Pada jaman itu kaisar Goan yg bodoh diikuti oleh mentri2 dorna sehingga, karena tindakan2 nya yg seweang2 negeri jadi kalut dan rakyat memberontak. Untung besar kerajaan Goan masih mempunyai Jie Lam ong yg gagah dan bijaksana. Tanpa mengenal capai, raja muda itu membawa tentara kesana sini untuk menindas berbagai pemberontakan. Tapi negeri tetap tidak menjadi aman, disana sudah kalut lagi. Dalam kerepotannya, raja muda terpaksa menunda rencana untuk membasmi partai2 persilatan.

Selama beberapa tahun kedua anaknya sudah menjadi besar. Kuh kuh Temur alias Ong Po Po mengikuti ayahandanya dalam tentara, sedang Ming Ming Temur (Tio Beng) memimpin rombongan jago2 silat untuk menumpas partai2 rimba persilatan. Jago2 itu terdiri dari ahli2 silat Mongol, Han dan See Hek dan diantara terdapat juga sejumlah pendeta See hoan.

Gerakan enam partai besar untuk menyerang Kong beng teng membuka kesempatan baik bagi Tio Beng. Atas usul Seng Koen, ia membawa semua jagonya untuk membasmi enam partai itu dan Beng Kauw dengan sekaligus. Kejadian di Leng Lioe Choeng dan lain2 adalah sebagian dari rencana itu.

Karena sedang bertugas diseberang lautan untuk menyelidiki tempat sembunyinya Cia Soen maka Hoan Yauw tidak turut serta dalam rombongan Tio Beng yg pergi ke See Hek. Belakangan baru ia tahu bahwa ia menggunakan racun Sip Hiang Joan Kinsan (obat bubuk berbau harum yg membuat lemasnya tubuh manusia) yg dipersembahkan oleh pendeta See hoan. Tio Beng telah menangkap jago2 enam partai besar yg mau pulang dari Kong Beng Teng. Racun itu asin spt garam dan wangi bagaikan sayur yg segar. Dengan mencampurnya didalam makanan, nona Tio berhasil menjaring semua kurban. Biarpun masih bisa bergerak dan berjalan seperti biasa orang2 yg kena racun itu lemas badannya dan habis semua tenaga lweekangnya. Hanya waktu meracuni Hwa pay, kaki tangan Tio Beng kurang berhati2 dan rahasia bocor. Satu pertempuran lantas saja terjadi. Tapi Hwa san pay tak tahan melawan jago2 seperti Hian Beng Jie Lo, Sin cian Pat Hiong, Atoa, A jie, A sam dan yg lain2 sehingga sesudah beberapa belas orang binasa mereka semua kena dibekuk jg.

Penangkapan atas diri para pendeta dikuil Siauw Lim sie jg dilakukan dengan tipu daya itu. Tapi kuil Siauw Lim sie biasanya dijaga keras, sehingga tidak gampang orang bisa turun tangan. Menaruh racun dikuil tersebut berbeda jauh dengan menaruh racun di rumah2 pengindapan untuk menangkap orang2 yg sedang bepergian.

“Aku tahu bahwa tugas menaruh racun dalam kuil itu sebenarnya jatuh kedalam tangan Seng Koen,” kata Hoan Yauw. “Dengan kedudukannya sebgai murid Kong Kian Tay soe, dengan mudah ia akan bisa menjalankan peranannya. Tapi ia keburu mati dalam pertempuran di Kong Beng Teng. Aku merasa sangat heran. Siapa yg meracuni pendeta2 Siauw Lim Sie? Waktu itu aku baru saja kembali dari luar lautan dan menyusul rombongan yg mau membekuk pendeta2 Siauw Lim Sie. Aku kepingin sekali menyelidiki, tapi sebab sudah berlagak gagu, tentu saja aku tidak bisa menanyakan mereka. Apapula Siauw Lim pay sering menghina agama kita and untuk berterus terang, aku merasa senang sekali, jika pendeta2 itu merasai sedikit penderitaan. Kauwcoe, mungkin kau tak setuju dengan pendetaku itu. Ha ha!”

“Saudara, bukankah penggeseran patung Tat mo dilakukan oleh kau?” tanya Yo Siauw.

Hoan Yauw tertawa, “Ya,” jawabnya. “Ditulisnya huruf2 itu adalah atas perintah Koencoen (putri seorang pangeran) untuk menumplek semua kedosaan atas pundak agama kita. Belakangan, sesudah mereka semua berlalu, diam2 aku kembali dan memutar patung itu. Matanya kawan2 ternyata tajam sekali dan bisa melihat kejadian itu. Saudara Yo, apakah waktu itu kau mempunyai dugaan, bahwa pekerjaan tersebut dilakukan olehku?”

“Aku hanya tahu, bahwa pihak musuh terdapat seorang berkepandaian tinggi yg diam2 dilindungi agama kita,” jawabnya. “Aku tidak perna mimpi, bahwa pelindung kita saudara sendiri!” keempat pemimpin Beng Kauw itu tertawa terbahak2.

Kepada Hoan Yauw, Yo Siauw segera memberitahukan bahwa Beng Kauw sudah mengakhiri permusuhan dengan partai2 persilatan dan dengan bekerja sama, akan berusaha merobohkan kerajaan Goan. Maka itu, Yo Siauw Beng Kauw merasa berkewajiban untuk menolong tokoh2 dari keenam partai itu.

“Musuh berjumlah besar, kita kecil,” kata Hoan Yauw. “Dengan hanya mengandalkan tenaga empat orang, kita takkan berhasil. Jalan satu2nya kita harus berusaha untuk mendapatkan obat pemunah Sip hiang Joan kin san dan memberikannya kepada hweshio, niekow dan hidung kerbau bau itu. Sesudah tenaga dalamnya pulih kembali, beramai2 kita bisa menghandatam Tat coe dan kabur dari kota raja ini.”

Selama belasan tahun, Hoan Yauw tak pernah berbicara, sehingga sekarang lidahnya agak kaku dan suara yg dikeluarkannya tak begitu tegas. Disamping itu, berhubung adanya permusuhan antara Beng Kauw dan partai2 Rimba Persilatan, dalam mengeluarkan kata2 ia tak sungkan lagi. Mendengar suara yg pelat (pelo) dan perkataan “bau”, Yo Siauw merasa geli tercampur kuatir. Ia memberi isyarat dengan lirikan mata, tapi Hoan Yauw tidak meladeni.

Tapi Boe Kie sendiri tidak menjadi kecil hati. “Pendapat Hoan Yoe soe memang benar,” katanya. “Tapi cara bagaimana kita bisa mendapatkan obat pemunah itu?”

“Sebab aku berlagak gagu, maka biarpun koencoe menghormati aku, ia belum pernah mengajak aku dalam merundingkan soal2 penting,” jawabnya. “Selain begitu, aku datang dari lain negeri dan dapatlah dimengerti, jika ia menganggap diriku sebagai orang kepercayaan. Maka itu, sampai sekarang aku belum tahu bagaimana macamnya obat pemudah Sip hiang Joan kin san. Aku hanya mengetahui, bahwa karena obat itu obat yg sangat penting, koencoe sudah berlaku sangat hati2. Kalau tak salah, racun dan obat dipegang oleh Hoan beng Jie lo yang satu memegang racun, yg lain memegang obat. Bukan saja begitu, pada waktu2 tertentu, bahkan diadakan tukar menukar dalam pemegangannya. Misalnya, kalau bulan ini Lok Thung Kek menguasai racun, lalu bulan ia menguasai obat pemunah.”

Yo Siauw menghela napas, “Wanita itu sungguh pintar,” katanya. “Tanggung2 lelaki tak akan bisa menandingi dia. Apa dia tidak percaya habis kepada Hian beng Jie lo?”

“Pertama memang begitu dan kedua untuk menjaga secara lebih hati2,” kata Hoan Yauw. “Kita sekarang ingin mencuri obat pemunah. Dengan tindakan Koencoe itu kita tak tahu siapa memegangnya. Lok Thung Kek atau Ho Pit Ong. Disamping itu, kudengar antara racun dan obat tidak perbedaan bau dan warna, sehingga, andaikata kita berhasil mencurinya, kita masih belum bisa memutuskan, apa kita mendapatkan obat atau racun. Sip hiang joan kin san mengandung serupa bahaya yg tidak diketahui oleh banyak orang. Kalau orang kena racun itu pertama kali, otot2 dan tulang2nya tak bertenaga lagi, tenaga dalam lagi, tenaga dalamnya hilang semua. Tapi kalau dia kena untuk kedua kalinya biar bagaimana sedikitpun maka aliran darahnya akan berbalik dan dia akan mati tanpa bisa ditolong lagi.”

Wie It Siauw meleletkan lidahnya, “Kalau begitu, kita tidak boleh salah,” katanya.

“Memang begitu,” kata Hoan Yauw. “Tapi aku mempunyai satu jalan yg baik. Tanpa memperdulikan obat dan racun, kita curi saja apa yg disimpan oleh Hian Beng Sie Lo. Sesudah itu kita memberikannya kepada seorang Hwa san pay atau Khing tong pay yg kedudukan nya tidak begitu penting. Bubuk yg membinasakan sudah pasti adalah bubuk racun. Dengan begitu kita lantas tahum yg mana racun yg mana obat. Kauwcoe, bagaimana pendapatmu?”

Boe Kie mengerti bahwa Hoan Yauw masih memiliki sifat2 sesat. Tapi ia hanya tertawa dan berkata, “Aku tidak begitu setuju. Terdapat kemungkinan bahwa yg dicuri kita racun semuanya.”

Yo Siauw menepuk lututnya. “Kauw coe kau benar, sesudah kita mengacau mungkin sekali karena berkuatir kauwcoe menyimpan sendiri obat pemunah. Menurut pemikiraku yg paling penting kita harus menyelidiki siapa yg memegang obat itu. Sesudah tahu pasti barulah kita mengatur daya upaya untuk mencurinya. Sesudah mengasah otak beberapa saat, ia berkata pula, “Saudara Hoan, apakah yg paling disukai Hian beng Jie Lo?”

“Lok Thung kek suka paras cantik. Ho Pit Ong suka arak,” jawabnya.

“Kauwcoe,” kata Yo Siauw kepada Boe Kie. “Apakah ada racun yg menghilangkan manusia seperti Sip hiang joan kin san?”

Boe Kie tersenyum, “Tidak sukar untuk membuat seseorang menghilangkan tenaga,” jawabnya. “Tapi jika racun itu masuk kedalam perut seorang yg berkepandain tinggi, belum cukup setengah jam, tenaganya sudah habis. Membuat racun yg selihai Sip hiang joan kin san, aku rasanya tak mampu.”

“Setengah jam sudah cukup,” kata Yo Siauw. “Aku telah memikirkan suatu daya, tapi apa dapat digunakan atu tidak terserah atas pertimbangan Kauwcoe. Saudara Hoan cobalah kau mengundang Ho Pit Ong untuk meminum arak dan didalam arak kau menaruh racun yg dibuat oleh Kauwcoe. Kau mendahului bikin ribut berlagak gusar dan mengatakan, bahwa kau sudah diracuni oleh Ho Pit ong dengan Sip Hiang Joan kin san. Menurut dugaanku dengan siasat itu, kita bisa segera mengetahui siapa yg menyimpan obat pemunah. Dengan mengimbangi keadaan, kita bisa lantas merampasnya.”

Boe Kie manggut2kan kepalanya. “Apa daya itu bisa berhasil tergantung atas sifat dan watak Ho Pit ong,” katanya. “Hoan yoe soe, bagaimana pendapatmu?”

“Kurasa tipu Yo Taoko boleh dijalankan,” jawabnya. “Ho Pit Ong berangsan dan kejam, tapi ia tidak selihai Lok thun kek yg jahat dan banyak akalnya. Asal saja obat pemuda itu berada pada Ho Pit Ong, biarpun tidak berkepandaian tinggi, mungkin aku masih melayaninya.

Tapi bagaimana kalau obat itu disimpan oleh Lok Thang Kek?” tanya Yo Siauw.

Alis Hoan Yauw berkerut, “Ya, itulah sukar,” sahutnya. Sehabisa berkata begitu bangun berdiri dan berjalan mundar mandir sambil menundukkan kepala. Berselang beberapa lama, tiba2 ia menepuk kedua tangannya, “Hanya ada satu jalan,” katanya “Lok Thung kok sangat pintar. Kalau kita menggunakan tipu, sangat mungkin ia tidak kena ditipu. Jalan satu2nya kita mencengkram kelemahannya dan kemudian menggertak dia. Tindakan ini memang berbahaya. Tapi menurut pikiranku, selain ini tak ada jalan lain lagi.”

“Apa maksud saudara Hoan?” tanya Yo Siauw. “Cara bagaimana kita bisa mencengkram kelemahan tua bangka itu?”

“Pada musim semi tahun ini, Jie Lam ong telah mengambil seorang selir (gundik),” menerangkan Hoan Yauw. “Untuk merayakannya, ia mengundang kami, beberapa orang, dalam semua perjamuan ditaman bunga. Jie Lam ong mengagulkan selir itu sebagai seorang wanita yg sangat cantik dan untuk membuktikannya ia memerintahkan gundik baru itu menemui kami dan menuang arak. Kulihat mata bangsat Lok Thung kek mengawasi nyonya muda itu tak henti2nya.”

“Habis bagaimana?” tanya Wie It Siauw.

“Tak apa2,” jawabnya. “Andai kata situa bangka mempunyai nyali sebesar langit, dia tentu tidak berani main gila kepada selir Jie Lam ong.”

“Tapi ada hubungan apakah antara mata bangsat si tua bangka dan kelemahannya yg mau di cengkram olehmu?” tanya pula Wie It Siauw.

“Dengan sedikit usaha kita dapat berbuat begitu,” sahutnya sambil tersenyum. “Dalam hal ini kita memerlukan bantuan Wie heng. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan yg tiada bandingannya kau culik selir itu dan menaruhnya di ranjang si tua bangka. Andaikata dia dapat mempertahankan diri dan tidak berani mengganggu nyonya itu, dia tetap tidak akan bisa membersihkan diri, sebab wanita itu terbukti berada dalam kamarnya. Aku akan menorobos masuk kekamanya dengan tiba2 memaksa dia mengeluarkan obat pemunah. Kurasa dia pasti akan menurut.

Yo Siauw dan Wie It menepuk nepuk tangan. Mereka sangat menyetujui tipu kawan itu. Boe Kie sendiri mendongkol tercampur geli. Ia ingat bahwa atas maunya nasib, ia sekarang menjadi pemimpin serombongan manusia yg cara2nya sering menyeleweng dari kepantasan dan tiada bedanya dengan sepak terjang kawanan Tio Beng. Tapi ia ingat juga bahwa tipu2 kelompok Tio Beng bertujuan busuk, sedang siasat Hoan Yauw pada hakekatnya bermaksud baik, yaitu untuk menolong tokoh2 keenam partai persilatan. Memang jg demikian pikirnya untuk melawan racun orang harus menggunakan racun. Memikir begitu, ia lantas saja tertawa dan berkata, “Hanya saja tipu Hoan Yoe soe harus menyeret juga nama baiknya selir Jie Lam ong.”

Hoan Yauw tertawa, “Aku akan mendobrak pintu kamar si tua bangka terlebih cepat supaya biarpun mau dia tak akan keburu menodai kehormatan nyonya itu,” katanya.

Sesudah tercapai persetujuan tipu daya, mereka segera merundingkan tindakan selanjutnya. Akhirnya ditetapkan, bahwa begitu lekas obat pemunah dapat dirampas, Hoan Yauw akan pergi kemenara untuk memberikannya kepada jago2 keenam partai, sedang Boe Kie dan Yo Siauw menjaga diluar menara. Sehabis menunaikan tugas eprtama, Hoan Yauw harus membakar Bat Hoat sie dan Boe Kie bersama Wie It Siauw akan membakar rumah2 rakyat disekitar kelenteng tersebut. Dalam kekacauan, rombongan keenam partai yg sudah pulih tenaga dalamnya, akan segera menerjang keluar. Yo Siauw mendapat tugas untuk membeli kuda dan kereta yg hrs menunggu diluar pintu See shia. Semua orang harus menerjang keluar dari pintu See shia dan lari berpencarang dengan menggunakan kuda2 dan kereta2 itu. Akhirnya mereka harus berkumpul di Ciang peng.

Dalam rencana itu, ada sesuatu yg tidak disetujui Boe Kie, yaitu pembakaran rumah2 rakyat. “Kauwcoe,” kata Yo Siauw dengan suara membujuk, “Dalam setiap urusan kita tidak bisa mengharap kesempurnaan. Kita ingin menolong jago2 itu, supaya dikemudia hari kita bisa mengusir Tat coe. Tujuan ini demi nusa dan bangsa, demi keselamatan beribu laksa umat manusia dikolong langit. Jika hari ini kita membakar sejumlah rumah rakyat, tindakan itu sudah diambil karena terpaksa.”

Sesudah mencapai persetujuan bulat, masing2 lantas mulai bekerja. Yo Siauw pergi kepasar untuk membeli kuda dan Boe Kie membuat racun yg kemudian diserahkan kepada Hoan Yauw oleh Wie It Siauw. Dalam membuat racun itu Boe Kie sengaja menaruh tiga macam wewangian, supaya arak yg tercampur racun berbau harum. Wie It Siauw membeli selembar karung dan begitu lekas siang terganti dengan malam, ia segera menyatroni gedung Jie Lam ong.

Untuk menjaga tawanan, Hian beng Jie lo Hoan Yauw dan lain2 jago menginap di Ban Hoat sie, Tio Beng sendiri berdiam di gedung raja muda dan hanya diwaktu malam, jika mau berlatih ilmu silat, ia datang ke kelenteng itu.

Hoan Yauw kembali kekamarnya dengan rasa bahagia. Ia ingin cara bagaimana selama duapuluh tahun lebih, Beng Kauw terpecah belah. Hari ini, atas berkah Tuhan agama tersebut mempunyai harapan untuk menjadi makmur kembali, sehingga pengorbanannya bukan hanya pengorbanan cuma2. ia berdia sebuah kamar dideretan kamar2 sebelah barat, sedang Hian bang Jie Lo mengindap dikamar dekat menara dipekarangan belakang. Sebab merasa jari akan kelohaian kedua kakek itu dan kuatir rahasianya bocor, ia jarang bergaul dengan Hian beng jie lo dan mengambil kamar yg jauh dari mereka. Tapi sekarang ia mendapat tugas untuk mengajak Ho Pit ong minum arak. Ia sekarang harus mendekati kakek itu. Sambil memutar otak, ia mengawasi pekarangan belakang. Matahari sudah mulai menyelam kebarat dan sinarnya yg menyoroti genteng kaca menara sudah mulai guram. Sesudah mengasah otak beberapa lama, ia belum jg mendapat jalan untuk mendekati Ho Pit ong. Sambil mengegadong tangan perlahan2 ia berjalan kebelakang perkarangan. Mendadak hidungnya mengendus bau daging yg keluar dari sebuah kamar diseberang kamar Hian beng jie lo. Itulah kamarnya Soeu sam Hwie dan Lie sie Coei, dua anggota Sin cia pat eiong. Tiba2 dalam otaknya berkelebat serupa ingatan. Ia menghampiri kamar itu dan menolak pintu. Hampir berbareng bau daging menyambar hidung, Lie Sie Coei sedang berjongkok dilantai dan mengipas api di dapur tanah. Diatas dapur itu terdapat sebuat kuali yg airnya bergolak2 dan mengeluarkan bau yg sangat harum. Soen sam hwie sendiri sedang menggambil piring mangkok dan tidak bisa salah lagi, mereka tengah bersiap2 untuk makan minum.

Melihat masuknya Koun tauw too, paras kedua orang itu berubah pucat. Mengapa? Karena yg dimasak mereka adalah daging anjing dan makan daging anjing dalam sebuat kelenteng hweeshio merupakan pelanggaran hebat. Kalau dipergoki orang lain masih tak apa. Tapi kouw tauw too bukan saja seorang pendeta tapi jg berkepandaian yang tinggi. Bagaimana kalau dia tidak mau mengerti?

Diluar dugaan mereka, kouw tauw too tidak menjadi gusar. Ia menghampiri dapur, membuka tutup kuali dan mengendus ngendus dengan hidungnya. Sekonyong2 ia memasukkan tangan kedalam kuali tanpa memperdulikan panasnya air menjemput sepotong daging dan lalu mengunyahnya secara rakus. Dalam sekejap daging itu sudah ditelan habis. Dalam sekejap daging itu sudah ditelan habis. Soen sam hwie dan lie sie coei girang tak kepalang. “Kauw tay soe duduklah! Duduklah!” kata Soen sam hwie. “Kami merasa sangat girang, bahwa Tay soe pun suka makan daging anjing.”

Tapi kouw tauw too tidak mau duduk di kursi. Sesudah mengambil sepotong daging dan memasukkan kedalam mulut, ia turut berjongkok disamping dapur. Soen sam hwie buru2 menuangkan semangkok arak yg lalu diangsurkan kepada si Touw too. Tapi baru menenguk Kouw tauw too segera menyemburkannya dilantai, sedang tangan kirinya mengipas ngipas hidung, seperti juga ia mau mengatakan, bahwa arak itu tidak wangi dan tidak enak rasanya, sesudah itu ia berlalu dengan tindakan lebar, tapi tak lama kemudian ia kembali dengan tangan menentang sebuyung arak. Tapi melihat si pendeta pergi dengan sikap marah Soe Sam Hwie dan Lie sie cioe sangat berkuatir. Sekarang mereka sangat girang. “Bagus!” seru Lie cie coe. “Arak kami memang sangat jelek. Sungguh syukur Tay soe mempunyai arak yg mahal.”

Mereka segera mengatur piring mangkok meja dan dengan sikat hormat mengundang Kouw tauw too untuk duduk di kursi pertama. Dalam kalangan para jago2nya Tio Beng, Kouw tauw too termasuk jago kelas utama. Dengan melayani secara hormat Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei mengharap supaya dalam gembiranya si pendeta akan turunkan satu dua pukulan istimewa kepada mereka.

Kouw Tauw too membuka tutup buyung dan menuang isinya kedalam tiga mangkok. Arak itu berwarna kuning keemas2an, seperti madu tawon dan baunya yg menyambar hidung harum dan segar. “Sungguh bagus arak ini!” seru Tie Sie Coei.

Sambil menjalankan peranannya, didalam hati Hoan Yauw bersangsi. Ia tidak tahu, apa Hian Beng Jie Lo berada dirumah. Apabila kedua kakek itu sedang berpergian, maka usahanya kali ini akan sia2. dengan pikiran tak tentram ia menjemput mangkok araknya dan menaruhnya di kuah daging yg sedang bergolak2. begitu panas, arak itu jadi semakin wangi. Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei yg sudah keluar iler, ingin segera mencegak arak dingin, tp di cegah oleh Kouw Tauw Too yg dengan gerakan tangan, meminta mereka memanaskan dahulu arak itu, menurut contohnya. Demikianlah dengan bergantian mereka memanaskan arak dikuah daging. Hoang Yauw menghitung pasti, bahwa jika Ho Pit Ong berda di Bau Hoat sie ia tentu akan dapat mencium bau arak itu dan akan datang kesitu.

Benar saja, tak lama kemudian pintu kamar diseberang tiba2 terbuka dan hampir berbareng terdengar seruan Ho Pit Ong. “Aduh! Wangi sungguh arak itu. Huh, huh!” Tanpa sungkan2 ia menolak pintu dna terus menolak pintu masuk kedalam. Melihat Kouw Tauw too turut serta dalam pesta itu, ia agak terkejut, “Kouw Taysoe aku tak nyana kaupun menyukai makanan itu,” katanya.

Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei buru2 berbangkit, “Ho Kong kong, kebetulan sekali,” kata Soen Sam Hwie. “Mari kita minum, arak ini arak Kouw taysoe. Tak gampang orang bisa minum arak seenak itu.”

Ho Pit Ong segera berduduk dihadapan Kouw Tauw too dan mereka berdua segera makan minum sepuas hati, sedang kedua tuan rumah menjadi semacam pelayan. Tak lama kemudian mereka sudah mulai sinting.

“Sekarang tiba waktunya untuk aku tutun tangan,” pikir Hoan Yauw. Memikir begitu ia segera mengisi mangkoknya sendiri sampai arak meluber. Sesudah itu ia mengembalikan buyung keatas meja, tapi cara menaruhnya berbeda dari tadi. Kali ini buyung arak ditaruh miring.

Miringnya buyung berart Hoan Yauw sudah turun tangan.

Dalam menjalankan tipunya, Hoan Yauw bertindak secara cermat dan hati2. ia menggiling ramuan racun yg dibuat Boe Kie menjadi bubuk. Kemudia ia membuat sebuah lubang ditutup buyung yg terbuat dari kayu dan memasukkan bubuk racun kedalam lubang itu. Tutup buyung lalu dibungkus dengan kekainan, sehingga dengan demikian selama buyung ditaruh beridir, arak yg didalamnya tetap merupakan arak biasa. Tapi sebegitu lekas buyung di taruh miring, sebagian arak akan segera membasahi kain penyaring dan racunnya lantas tercampur ke dalam arak. Dasar buyung itu berbentuk bulat sehingga baik ditaruh berdiri, maupun ditaruh miring tidak begitu menarik perhati. Apapula setelah minum begitu banyak, ketiga orang itu sudah sinting dan mereka lebih2 tidak bisa melihat perubahan itu.

Melihat mangkuk Ho Pit Ong sudah kosong, Hoan Yauw segera mencabut tutup buyung dan mengerahkannya kepada sih kakek. Ho Pit Ong menyambuti dan lalu mengisi mangkoknya. Sesudah itu, ia menambahkan arak dimangkok Soen Sam Hwi dan Lie Sie Coei yg sudah separuh kosong. Ia tidak bisa menambah di mangkok Hoan Yauw yg masih penuh.

“Mari!” mengajak Ho Pit Ong.

Dengan serentak mereka mengangkat mengkok masing2 dan mengeringkan isinya. Kecuali Hoan Yauw, ketiga orang itu sudah minum arak beracun. Soen sam Hwie dan Lie Sie Coei yg lweekangnya tidak begitu kuat, lantas saja merasa lemas. “Sie tee perutku tak enak,” bisik Soen Sam Hwie.

“Aku.,.. akupun begitu,” kata Lie Sie Cui. “Apa kena racun?”

Sesaat itu Ho Pit Ong sudah mulai merasa tidak enak. Buru2 ia mengerahkan tenaga dalam, tapi hawanya tidak mau naik keatas. Parasa mukanya lantas saja berubah pucat.

Tiba-tiba Hoan Yauw bangkit dan mencengkram dada Ho Pit Ong sambil mengeluarkan suara “ah ah uh uh”. Matanya mendelik dan ia kelihatannya sangat gusar.

“Kouw Tay-soe, mengapa kau?” Tanya Soen Sam Hwie.

Hoan Yauw mencelup arak dengan jari tangannya dan menulis huruf “Sip hiang Joan kin san” di atas meja.

Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei tahu bahwa racun dan obat pemunah Sip hiang Joan kin san dikuasai Hian beng Jie lo. Mereka saling melirik dan sambil membungkuk, Soen Sam Hwie berkata, “Ho Kong kong, kami berdua sedikit pun belum pernah berdosa terhadap Kong kong. Kami mohon Kong kong suka menaruh belas kasihan.” Mereka berkata begitu sebab menduga si kakek memang mau mencelakai Kouw Tauw-too dan secara kebetulan mereka turut minum arak beracun.

Bukan main herannya Ho Pit Ong. Bulan ini Sip hiang Joan kin san memang dipegang olehnya sendiri, disembunyikan dalam salah sebuah pit yang berbentuk patuk burung ho. Kedua senjata itu belum pernah berpisah dari badannya sehingga tak mungkin orang bisa mencuri racun tanpa diketahui olehnya. Tapi waktu mengerahkan hawa, ia tidak bisa mengeluarkan tenaga seperti juga kena Sip hiang Joan kin san.

Racun yang dibuat Boe Kie biarpun sangat keras sebenarnya berbeda jauh dari Sip hiang Joan kin san dan perasaan tidak enak yang dirasakan oleh korban juga berbeda. Ho Pit Ong hanya tahu bahwa racun Sip hiang memusnahkan tenaga dalam. Karena belum pernah mencobanya, ia tentu saja tidak tahu perbedaan antara racun Sip hiang dan racun buatan Boe Kie. Melihat kegusaran Kouw Touw too dan mendengar ratapan Soen Sam Hwie serta Lie Sie Coei, ia tidak ragu lagi bahwa mereka semua dan ia sendiri sudah kena racun Sip hiang. “Kouw Tay-soe, kau bersabarlah,” katanya. “Kita adalah sahabat. Mana bisa jadi aku ingin mencelakai kalian? Akupun kena racun itu. Badanku lemas dan tidak bertenaga. Tapi siapa yang sudah main gila? Aku sunguh merasa heran.”

Kouw Tauw-too mencelup lagi arak dengan jari tangannya dan menulis “lekas keluarkan obat pemunah di atas meja.”

Ho Pit Ong mengangguk. “Benar,” katanya. “Lebih dahulu kita makan obat. Sesudah itu kita cari penjahatnya. Tapi obat disimpan oleh Lok heng. Kouw Tay-soe, mari kita pergi kepadanya.”

Hoan Yauw merasa sangat girang. Ia tidak mengira tipuan Yo Siauw berjalan begitu lancar. Dengan tangan kiri ia sengaja memegang pergelangan tangan kanan Ho Pit Ong dan ia berjalan dengan langkah limbung.

Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di gedung itu. Kamar samping yang di sebelah selatan adalah kamar Ho Pit Ong, sedang kamar di sebelah utara kamarnya Lok Thung Kek. Pintu kamar itu tertutup rapat.

“Lok heng!” teriak Ho Pit Ong, “Lok heng!”

Dari dalam kamar terdengar sahutan Lok Thung Kek.

Ho Pit Ong mendorong pintu tapi pintu terkunci. “Lok heng!” panggilnya, “Lekas buka pintu! Ada urusan penting.”

“Urusan apa?” Tanya Lok Thung Kek. “Aku sedang berlatih ilmu silat. Jangan mengganggu.”

Ho Pit Ong dan Lok Thung Kek adalah saudara seperguruan. Kepandaian pun kira-kira berimbang. Tapi karena Lok Thung Kek seorang kakek yang lebih tua dan juga karena dia lebih berakal budi, maka Ho Pit Ong selalu menghormatinya. Mendengar jawaban sang kakek yang kurang enak ia tidak berani memanggil lagi.

Hoan Yauw bingung. Dalam tipuan ini, sang waktu memainkan peranan penting. Kalau harus menunggu sampai tenaga racun berkurang, rahasianya akan bocor. Maka itu tanpa memperdulikan segala cara ia segera mendobrak daun pintu dengan pundaknya dan pintu lantas saja terbentang. Hamper berbarengan terdengar jeritan seorang wanita.

Mendengar suara terpentalnya pintu, Lok Thung Kek yang sedang berdiir di depan ranjang segera menengok. Paras mukanya lantas saja berubah pucat, kaget bercampur malu. Di tengah ranjang tergeletak seorang wanita yang tubuhnya terbungkus dengan selembar kasur tipis dan kasur itu dibebat dengan seutas tambang. Apa yang bisa dilihat adalah rambutnya terurai. Wanita itu mengawasi Ho Pit Ong dan Hoan Yauw dengan mata membelalak dan paras mukanya menunjukkan ketakutan besar. Hoan Yauw lantas saja mengenali bahwa dia itu tidak lain adalah Han kie (selir seorang raja muda she Han). “Hok Ong benar-benar hebat,” katanya di dalam hati. “Seorang diri ia masuk ke dalam Ong hoe (gedung raja muda) dan dengan begitu cepat ia sudah berhasil menculik Han-kie.” Wie It Siauw berhasil sebab meskipun di dalam Ong hoe terdapat banyak sekali pengawal, yang diperhatikan dan dilindungi hanyalah Jie lam ong, Sie coe (putra seorang pangeran) dan Koen coe. Raja muda itu mempunyai banyak selir dan seorangpun tak pernah menduga bahwa seorang selir bakal diculik. Selain itu gerak gerik Wie Hok Ong juga cepat luar biasa dan tanpa penjagaan istimewa, dengan mudah ia sudah bisa menculik Han-kie. Tapi menaruh wanita cantik itu di ranjang Lok Thung Kek lebih sukar daripada menculiknya. Sesudah menunggu beberapa lama barulah di kakek kelihatan keluar dari kamarnya dan dengan menggunakan kesempatan itu, ia melompat masuk dan meletakkan tubuh Han kie di pembaringan.

Waktu kembali ke kamarnya melihat sosok tubuh wanita, Lok Thung kaget tak kepalang. Bagaikan kilat ia melompat ke atas genteng tapi Wie It Siauw sudah pergi jauh. Penyelidikannya di sekitar rumah itu tidak memberi hasil. Buru-buru ia balik ke kamar dan ia jadi lebih kaget lagi.

Hari itu dalam perjamuan di taman bunga, melihat kecantikan Han-kie, semangat Lok Thung terbang. Ia pulang dengan perasaan duka dan menyesal. Ia merasa menyesal mengapa tidak lebih dulu ia bertemu dengan si cantik. Tapi sesudah Han-kie menjadi selir Jie lam ong, biar bagaimanapun juga ia tidak berani mengganggu. Belakangan ia mendapat seseorang baru yang cukup cantik sehingga perlahan-lahan ia dapat melupakan Han-kie.

Mimpipun ia tak pernah bahwa Han-kie bisa mendadak berada di pembaringannya. Ia kaget bercampur heran. Sesudah berpikir sejenak ia menduga bahwa perbuatan itu dilakukan oleh murid kenalannya yang bernama Yoe liong soe. Murid itu rupanya sudah bisa menebak isi hatinya dan diam-diam sudah menculik si cantik sambil menyeringai ia mengawasi Han kie dan mengajukan beberapa pertanyaan tapi wanita itu tidak bisa menjawab. Ia sadar bahwa jalan darah Han kie telah ditotok.

Baru saja mengangsurkan tangannya untuk membuka jalan darah tiba-tiba Ho Pit Ong mengetuk pintu dan Kauw Tauw-too mendobraknya. Itulah kejadian yang tidak terduga. Ia tidak bisa menyangkal lagi. Tiba-tiba dalam otaknya berkelabat sebuah ingatan. Ia menduga bahwa kedatangan Kauw Tauw-too adalah atas perintah Jie lam ong yang sudah tahu penculikan itu untuk menangkapnya.

Dalam keadaan begitu, jalan satu-satunya adalah kabur. Bagaikan kilat tangan kanannya mengulurkan tongkat tanduk menjangan, tangan kirinya mendukung Han kie dan ia segera bergerak untuk melompat keluar dari jendela.

Ho Pit Ong terkejut, “Lok Soeko!” teriaknya, “Lekas keluarkan obat pemunah!”

“Apa?” tegas sang kakak.

“Entah bagaimana Siauw tee dan Kouw Tay-soe kena racun Sip hiang Joan kin san,” jawabnya.

“Apa katamu?” ia tegaskan lagi.

Ho Pit Ong mengulangi keterangannya.

“Bukankah Sip hiang Joan kin san dipegang olehmu?” tanya Lok Thung Kek dengan suara heran.

“Siauw tee pun merasa sangat heran,” sahutnya. “Kami empat orang, tadi makan dan minum. Secara mendadak, kami semua kena racun. Lok Soeko keluarkanlah obat pemunah. Sesudah makan obat itu, kita boleh bicara lagi.”

Hati Lok Thung Kek jadi lega. Ia segera menaruh Han kie di pembaringan dan menyuruhnya menghadap ke tembok. Ho Pit Ong yang tahu kesukaan kakaknya, tidak merasa heran melihat adanya seorang wanita dalam kamar sang kakak. Dalam kebingungannya ia tidak memperhatikan siapa adanya wanita itu. Tapi biar bagaimanapun dalam keadaan biasa, tak tentu ia bisa segera mengenali. Hari itu, dalam perjamuan di taman bunga, yang diperhatikannya bukan si cantik, tapi makanan dan arak yang istimewa.

Sesudah menaruh Han kie, Lok Thung Kek berkata, “Kouw Tay-soe, tunggulah di kamar saudara Ho, aku akan datang membawa obat.” Seraya berkata begitu, ia mendorong tubuh kedua orang itu. Badan Ho Pit Ong bergoyang-goyang hampir ia jatuh. Hoan Yauw pun berlagak sempoyongan. Tapi ada sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan oleh pemimpin Beng-kauw itu. Ia memiliki Lweekang yang sangat tinggi dan waktu didorong secara wajar, di luar keinginannya, dari dalam tubuhnya lantas keluar semacam tenaga untuk melawan dorongan itu. Sebagai seorang ahli silat kelas satu, Lok Thung Kek lantas saja merasakan perbedaan antara dua dorongannya. Karena kuatir salah, ia mendorong lagi, kali ini dengan menggunakan tenaga. Ho Pit Ong dan Kouw Tauw-too jatuh dengan berbarengan. Tapi Lok Thung Kek lantas mendapat kepastian bahwa adik seperguruannya benar-benar jatuh sebab tenaga dalamnya “kosong” sedang Kouw Tauw-too hanya berlagak jatuh.

“Kouw Tay-soe, maaf,” katanya sambil mengangsurkan tangannya mau membangunkan Hoan Yauw. Begitu tangan menyentuh tangan, ia segera memijit Hwee-cong hiat dan Thong-tie hiat di pergelangan tangan Kauw Tauw too.

Tapi Hoan Yauw cukup hebat. Ia segera tahu bahwa rahasianya sudah diketahui. Dengan cepat ia menotok Hoen-boen hiat di punggung Ho Pit Ong supaya dalam tiga jam ia tak dapat bergerak. Setelah Ho Pit Ong tak berdaya, ia tidak usah kuatir lagi sebab paling banyak ia harus melayani Lok Thung Kek seorang diri.

“Huh-huh!” ia tertawa dingin, “Lok Thung Kek, kau mau hidup atau mati. Sungguh besar nyalimu! Selir Ong-ya kau berani culik.”

Hian beng Jie lo tertegun. Selama belasan tahun mereka menganggap Kouw Touw too seorang gagu. Lok Thung Kek sudah lama mencurigainya tapi ia belum pernah berpikir bahwa Hoan Yauw bukan seorang gagu. Ia mengerti bahwa ia sekarang berada dalam keadaan sangat berbahaya.

“Baru sekarang kutahu bahwa Kouw Tay-soe bukan seorang gagu,” katanya. “Perlu apa kau memperdayai orang selama belasan tahun?”

“Aku berlagak gagu atas perintah Ong-ya,” jawabnya. “Sebab tahu hatimu bercabang, ia memerintahkan aku untuk mengamat-amati gerak gerikmu.”

Keterangan itu sebenarnya agak mustahil tapi Lok Thung Kek yang telah kebingungan tak bisa lagi menggunakan otaknya yang cerdas. Ia terkesiap dan badannya lemas. “Apakah Ong-ya memerintahkan kau untuk menangkapku?” tanyanya. “Huh huh! Biarpun kau berkepandaian tinggi, belum tentu kau bisa menangkap Lok Thung Kek.” Seraya berkata begitu, ia mengambil tongkatnya, siap sedia untuk bertempur.

Hoan Yauw tertawa. “Lok Sianseng,” katanya dengan suara mengejek. “Andaikata ilmu silat Kouw Tauw-too tidak bisa menandingi kau, itu tak seberapa. Kalau kau mau merobohkan aku, paling sedikit kau harus berkelahi dalam seratus atau dua ratus jurus. Memang tidak terlalu sukar untuk kau kalahkan aku. Tapi jangan harap kau bisa membawa lari Han kie dan menolong soeteemu.”

Lok Thung Kek mengawasi adik seperguruannya dengan sorot mata berduka. Sedari muda ia belajar silat bersama-sama dan puluhan tahun ia belum pernah terpisahkan. Mereka berdua tidak menikah dan di dalam dunia ini, tiada orang yang lebih dicintainya seperti adik seperguruan itu. Maka itu, biar bagaimanapun juga ia tidak akan bisa melarikan diri seorang diri dengan meninggalkan Ho Pit Ong.

Melihat hati si kakek tergerak, Hoan Yauw segera memanggil Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei. Sesudah menutup pintu kamar, ia berkata, “Lok Sianseng, urusan ini belum keluar. Kouw Tauw-too bersedia untuk melindungi kau.”

Bagaikan kilat Hoan Yauw lalu menotok Ah hiat (hiat gagu) dan Joan ma hiat (hiat yang membuat badan lemas) Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei. Sesudah itu ia berkata dengan perlahan, “Kau sendiri tentu tidak akan membocorkan rahasia ini, sedang soeteemu pasti tak akan mau mencelakai kau. Kouw Tauw-too berlagak gagu dan ia akan tetap berlagak gagu. Kedua sahabat itupun tak menjadi rintangan, Kouw Tauw-too akan menotok Sie hiatnya untuk menutup mulutnya,” Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei kaget tak kepalang. Ia tak nyana bahwa urusan makan daging anjing akan berbuntut begitu hebat. Mereka ingin minta dikasihani tapi mereka tidak bisa untuk diajak bicara sama sekali. Sambil menunjuk pada Han kie Hoan Yauw lalu berkata pula. “Mengenai wanita cantik itu, loo lap ingin mengusulkan dua jalan. Pertama mencuci tangan bersih-bersih. Kita membawa dia dan kedua sahabat itu ke tempat sepi dan membunuh mereka. Aku akan melaporkan kepada Ong-ya bahwa Han-kie main gila dengan Lie Sie Coei yang tampan dan mereka mencoba melarikan diri. Tapi mereka berpapasan dengan Kouw Tauw-too yang dalam kegusarannya sudah membunuh mereka. Kalau mau, boleh kita mengampuni jiwa Soen Sam Hwie. Jalan kedua kau membawa lari Han-kie dan coba sembunyikan di tempat aman. Apa kau berhasil atau tidak bukan urusanku.”

Tanpa merasa Lok Thung Kek berpaling dan mengawasi Han-kie. Si cantik balas mengawasi dan sorot matanya memohon. Ia mengerti bahwa Han-kie ingin mengambil jalan kedua. Melihat kecantikan wanita itu, ia merasa tak tega untuk membunuhnya.

“Terima kasih untuk maksudmu yang baik,” katanya. “Tapi apakah yang kau ingin dilakukan olehku?” Ia tahu bahwa Kouw Tauw-too mampunyai sesuatu untuk diajukan kepadanya. Tanpa mengharap balasan budi, si pendeta pasti tak gampang mau menyudahi urusan ini.

“Permintaanku sangat sederhana,” jawab Hoan Yauw. “Ciang poen-jin, Go Bie-pay, Biat Coat Soethay adalah istriku sedang si nona she Cioe adalah anak kami berdua. Aku ingin minta obat pemunah Sip hiang Joan kin san untuk menolong mereka supaya mereka bisa melarikan diri. Di hadapan Kauwcoe aku yang bertanggungjawab. Apabila aku melibatkan kau, biarlah semua anggota Kouw Tauw-too dan Biat Coat Soethay menjadi manusia hina dina yang binasa secara mengerikan dan tidak bisa terlahir lagi ke dunia.”

Hoan Yauw sudah memperhitungkan bahwa sebagai orang yang suka bercinta, Lok Thung Kek tentu akan percaya jika ia mengarang cerita yang berdasarkan percintaan. Ia sangat sekali membenci Biat Coat Soethay sebab sudah mendengar keterangan Yo Siauw bahwa pendeta wanita itu telah membinasakan banyak anggota Beng-kauw. Itulah sebabnya mengapa ia tidak merasa segan untuk mengarang cerita yang tidak-tidak, yang menodai nama baik Biat Coat. Mengenai sumpah, ia sama sekali tak menghiraukan sumpah. Dalam hal ini, orang harus ingat bahwa Hoan Yauw masih memiliki sifat-sifat yang sesat dan ia dapat melakukan perbuatan yang biasanya tak akan diperbuat oleh tokoh-tokoh Rimba Persilatan.

Mendengar keterangan itu, Lok Thung Kek terkejut tapi sesaat kemudian ia tersenyum. Perbuatan yang diakui Kouw Tauw-too dianggapnya sebagai perbuatan lumrah. Biarpun berbahaya, ianggap menukar obat pemunah dengan wanita cantik ada harganya juga. “Kalau begitu, menculik selir Ong-ya dan menaruhnya di dalam kamarku juga perbuatan Kouw Tay-soe bukan?” tanyanya.

“Kau memberi aku obat, aku membalasnya dengan Han-kie,” jawabnya. “Mulai dari sekarang kita bersahabat untuk selama-lamanya.”

Lok Thung Kek girang. Mendadak ia mendapat satu ingatan dan bertanya, “Tapi cara bagaimana soeteeku bisa kena Sip hiang Joan kin san? Dari mana kau mendapatkan racun itu?”

“Gampang sekali,” jawabnya. “Racun itu disimpan oleh soeteemu dan soeteemu suka minum arak. Sesudah dia mabuk, apa kau kira Kouw Tauw-too masih tidak bisa mencuri racun itu?”

Sekarang Lok Thung Kek tak ragu lagi, “Baiklah. Kouw Tay-soe,” katanya. “Kami berdua akan mengikat sahabat denganmu. Aku tidak akan menjual kau tapi kuharap kau jangan memasang jebakan lain yang sehebat ini.”

Hoan Yauw tertawa. Sambil menunjuk Han-kie ia berkata, “Lain kali kalau ada wanita secantik dia, kuharap Lok Sianseng suka memasang jaring supaya aku terjaring di dalam jaring bahagia.”

Mereka tertawa terbahak-bahak tapi masing-masing mempunyai perhitungan sendiri-sendiri. Diam-diam Lok Thung Kek memikirkan daya untuk menyembunyikan Han-kie dan sesudah itu ia akan berusaha untuk membinasakan si Tauw-too jahat.

Dilain pihak, Hoan Yauw tahu bahwa biarpun sekarang Lok Thung Kek tunduk tapi begitu dia telah menyembunyikan Han-kie di tempat yang aman, Hian beng Jie lo tentu akan membuat perhitungan dengannya. Tapi pada waktu itu, rombongan keenam partai sudah tertolong dan ia sendiri sudah menyingkir ke tempat lain.

Sementara itu Lok Thung Kek sedang mengkhayal, ia tidak segera mengeluarkan obat pemunah. Hoan Yauw tidak mau mendesak terlalu keras sebab bila ia berbuat begitu si kakek tentu akan curiga. Ia duduk dan berkata, “Lok heng, mengapa kau tidak segera membuka jalan darah Han-kie? Ayolah! Untuk merayakan keberuntunganmu, kita boleh minum beberapa cawan arak. Di bawah sinar lampu, ada arak, nona cantik apalagi yang mau dicari oleh seorang manusia yang hidup dalam dunia ini?”

Selagi Hoan Yauw bicara, si kakek mengasah otaknya. Ban hoat sie tempat yang ramai, kelamaan Han-kie berada dalam kamar akan berbahaya. Ia segera mengeluarkan tongkatnya dan mencabut salah satu cabang tanduk menjangan. Ia mengambil cawan dan menuang sedikit bubuk obat ke dalam cawan itu, “Kouw Tay-soe,” katanya, “Tipumu sangat hebat dan aku menyerah kalah. Ambillah obat ini.”

Hoan Yauw menggelengkan kepalanya. “Begitu sedikit?” katanya. “Mana bisa cukup?”

“Obat ini lebih dari cukup,” kata Lok Thung Kek. “Jangankan dua orang enam tujuh orang masih bisa ditolong.”

“Mengapa kau begitu pelit?” kata Hoan Yauw, “Apa halangannya jika kau beri lebih banyak? Untuk berterus terang, aku kuatir diperdayai olehmu karena kau sangat licin dan cerdik.”

Karena penolakan itu, Lok Thung Kek curiga. “Kouw Tay-soe, apakah mau ditolong olehmu tidak hanya Biat Coat dan putrimu?” tanyanya.

Baru saja Hoan Yauw mau memberi keterangan, di luar rumah sudah terdengar suara ramai-ramai dan langkah kaki tujuh delapan orang. “Tapak kakinya terlihat di sini,” kata seorang. “Apakah mungkin Han-kie dibawa ke “Ban hoat sie”?”

Muka Lok Thung Kek berubah pucat. Ia segera memasukkan cangkir obat ke dalam sakunya. Ia menduga bahwa Kouw Tauw-too sudah menyiapkan orang dan begitu ia menyerahkan obat itu, si pendeta akan turun tangan.

Hoan Yauw menggoyang-goyangkan tangannya. Ia lalu mengambil selembar seprai menyelimuti seluruh tubuh Han-kie dan menutup kelambu.

“Lok Sianseng! Apa Lok Sianseng ada?” demikian terdengar suara seruan orang.

Hoan Yauw menunjuk mulutnya. Dengan isyarat itu ia mau mengatakan bahwa karena ia dikenal sebagai orang gagu, ia tidak bisa memberi jawaban dan biarlah Lok Thung Kek yang menjawab.

“Ada apa?” bentak si kakek.

“Seorang selir Ong-ya diculik orang,” jawabnya. “Tapak kaki penculik diikuti sampai di sini.”

Lok Thung Kek menatap muka Hoan Yauw dengan sorot mata gusar. Hoan Yauw tersenyum dan dengan gerakan-gerakan tangan, ia menyilakan Lok Thung Kek mengusir orang-orang itu.

“Jangan bikin ribut di sini!” bentak Lok Thung Kek. “Cari ke tempat lain!” Ia seorang berkepandaian tinggi dan berkedudukan tinggi dan sangat disegani. Orang-orang itu tidak berani bersuara lagi dan lalu berpencar untuk menggeledah berbagai pelosok kelenteng Ban hoat sie.

Lok Thung Kek mengerti bahwa sesudah terjadi kejadian itu, Ban hoat sie akan dijaga keras dan usaha membawa Han-kie keluar kelenteng hampir tidak bisa dilakukan lagi. Alisnya berkerut dan kedua matanya mengawasi Hoan Yauw dengan sorot benci.

Tiba-tiba, Hoan Yauw teringat sesuatu. “Lok heng,” bisiknya, “Di Ban hoat sie terdapat sebuah tempat yang aman untuk sementara waktu menyembunyikan kesayanganmu. Satu dua hari kemudian sesudah penjagaan agak kendor, kita bisa berusaha lain.”

“Paling aman dalam kamarmu sendiri!” kata si kakek dengan gusar.

Hoan Yauw tertawa. “Apa Lok heng rela menyerahkan wanita yang begitu cantik kepadaku?” tanyanya dengna nada mengejek.

“Di mana tempat itu?” bentak si kakek.

Hoan Yauw tersenyum dan menuding puncak menara.

Sebagai orang yang cerdas, Lok Thung Kek lantas saja bisa melihat tepatnya usul itu. Ia mengacungkan jempol dan memuji. “Bagus!”

Sebagaimana diketahui, menara itu merupakan penjara untuk rombongan keenam partai. Secara kebetulan Cong koan (pengurus) penjara adalah Yoe liong coe, murid kepala si kakek. Orang bisa mencurigai tempat lain tapi orang pasti tak akan mimpi bahwa selir Ong-ya disembunyikan di puncak menara yang terjaga ketat.

“Orang-orang itu sudah pergi ke tempat lain,” bisik Hoan Yauw. “Kita harus segera bertindak tidak boleh menunda lagi.” Ia segera mengikat empat sudut seprai sehingga tubuh han-kie merupakan bungkusan besar. Ia mengangkat bungkusan itu dan mengangsurnya kepada Lok Thung Kek.

Hoan Yauw mengerti, “Mau menolong orang harus menolong sampai akhir,” katanya, “Biarlah! Aku akan menolong kau dan kau menyerahkan obat kepadaku.”

Seraya berkata begitu, ia mengangkat bungkusan itu menaruhnya di atas pundak. “Kau harus menjaga baik-baik,” bisiknya. “Kalau ada yang coba menahan, binasakan saja.”

Lok Thung Kek menggutkan kepala dan segera keluar lebih dahulu. Hoan Yauw turut keluar dan sesudah merapatkan pintu sambil manggul Han-kie, ia berjalan ke arah menara.

Waktu itu kira-kira sudah jam sembilan malam. Kecuali sejumlah pengawal yang menjaga di luar menara, dalam pekarangan kelenteng tidak terdapat manusia lain. Melihat Kouw Tauw-too dan Lok Thung Kek, para pengawal segera memberi hormat dengan membungkuk dan membuka jalan.

Sebelum tiba di pintu, Yoe liong coe mendapat berita dari bawahannya, sudah keluar menyambut dan berkata dengan suara girang, “Soehoe! Mari masuk!”

Lok Thung Kek mengangguk dan bersama Kouw Tauw-too, ia segera menuju ke pintu. Mendadak pintu menara terbuka dan dari dalam keluar seorang yang tidak lain adalah Tio Beng!

Lok Thung Kek terkesiap. Ia tak pernah menduga secara kebetulan majikannya berada dalam menara.

Sambil menengok ke Yoe liong coe, Tio Beng berkata sambil tertawa, “Gurumu mempunyai seorang murid yang sangat baik. Karena hanya ingat menyambut guru, kau tidak memperdulikan aku lagi.”

Yoe liong coe membungkuk. “Siauwjin tak tahu kedatangan Koen-coe,” katanya. “Untuk kelalaian itu, mohon Koen-coe sudi memaafkan.”

“Penjagaanmu sangat memuaskan,” kata si nona. “Kurasa Beng-kauw takkan gampang bisa turun tangan.”

Sesudah Boe Kie mengacau, Tio Beng yang tidak tahu bahwa yang datang ke kota raja hanya tiga orang, merasa kuatir Beng-kauw akan menyatroni lagi dengan rombongan besar. Maka itu, Tio Beng segera datang sendiri ke menara untuk memeriksa penjagaan. Ia merasa sangat puas karena penjagaan terlalu rapi dan di setiap lantai ditaruh dua orang yang berkepandaian tinggi. Ia menengok pada Kouw Tauw-too dan tersenyum, “Kouw Tauw-too,” katanya, “Aku justru sedang mencari kau.”

Kouw Tauw-too manggut-manggutkan kepalanya.

“Aku mau minta kau mengantar aku ke satu tempat,” kata si nona pula.

Hoan Yauw mengeluh di dalam hati. Ia sudah berhasil menipu Lok Thung Kek dan obat pemunah sudah berada di depan mata. Siapa sangka, Tio Beng datang mengacau? Ia mau menolak tapi dalam peranan sebagai orang gagu ia tidak boleh bicara. “Biarlah si tua bangka yang menolong aku,” pikirnya. Ia mengangkat bungkusan dan mengangsurkannya ke Lok Thung Kek.

Si kakek terkejut.

“Lok Sianseng,” kata Tio Beng, “Apa isi bungkusan itu?”

“Oh…,” jawabnya tergugu, “Kasur Kouw Tay-soe.”

“Kausr? Perlu apa Kouw Tay-soe membawa kasur kemari?” Ia tertawa dan berkata pula. “Kouw Tay-soe menganggap aku terlalu bodoh dan tak sudi menerima aku sebagai muridnya. Sekarang ia sampai harus membawa kasur sendiri.”

Hoan Yauw menggeleng-gelengkan kepala dan menggerak-gerakkan tangan kanannya. “Biar si tua yang mencuri jalan keluar,” katanya di dalam hati. “Huh-huh…inilah enaknya jadi seorang gagu.”

Tio Beng tidak mengerti gerakan tangan itu dan ia mengawasi Lok Thung Kek. Si kakek cukup hebat, dalam sekejap ia sudah memikirkan jawaban yang bagus. “Sebagaimana Coejin tahu, beberapa siluman telah datang mengacau,” katanya. “Kami kuatir…kuatir mereka menyatroni lagi untuk menolong tawanan itu. Maka itu kami berdua telah mengambil keputusan untuk bermalam di sini guna menjaga diri. Kasur itu kasur Kouw Tay-soe.”

Tio Beng girang sekali. “Sebenarnya aku sendiri memang ingin sekali meminta bantuan Lok Sianseng dan Kouw Tay-soe untuk menjaga menara ini,” katanya sambil tertawa, “Tapi aku belum berani membuka mulut sebab menganggap bahwa dengan meminta begitu aku minta terlalu banyak. Aku sungguh merasa girang bahwa tanpa diminta kalian berdua sudi mengeluarkan tenaga begitu besar. Kouw Tay-soe, dengan adanya Lok Sianseng, kurasa kawanan siluman tidak akan berani mengacau. Biarlah kau sendiri ikut aku.” Seraya berkata begitu ia memegang tangan Hoan Yauw.

Hoan Yauw tidak bisa meloloskan diri lagi. Jalan satu-satunya adalah menyerahkan bungkusan kepada Lok Thung Kek yang lalu menyambuti. “Baiklah aku menunggu kau di menara,” kata si kakek.

“Soehoe, mari teecoe yang membawanya,” kata Yoe liong coe.

“Tak usah,” kata sang guru sambil tertawa. “Aku ingin mengambil hati Kouw Tay-soe. Tugas ini harus dipanggul olehku sendiri.”

Di dalam hati Hoan Yauw mengutuk si kakek. Tiba-tiba ia menepuk bungkusan itu. Baik juga Han-kie sudah tertotok jalan darahnya sehingga tepukan itu tidak mengakibatkan teriakan. Tapi Lok Thung Kek sudah ketakutan setengah mati. Ia tidak berani bercanda lagi dan sesudah membungkuk kepada majikannya ia segera melangkah masuk ke dalam menara. Diam-diam ia sudah memperhitungkan tindakannya. Begitu ia tiba di atas menara, ia akan mengeluarkan Han-kie dari bungkusannya dan membungkus sebuah kasur dengan sprei itu. Andaikata Kouw Tauw-too mengadu kepada Tio Beng biarpun mesti mati ia tak akan mengaku.

Dengan rasa bingung dan heran, Hoan Yauw mengikuti Tio Beng keluar dari Ban hoat sie. Ke mana nona itu mau pergi? Sambil memakai tudung yang semula tergantung di punggungnya Tio Beng berbisik,” Kouw Tay-soe, mari kita menemui si bocah Boe Kie.”

Hoan Yauw terkejut dan melirik si nona. Ia mendapati kenyataan bahwa muka nona Tio Beng bersemu dadu, sikapnya seperti orang malu bercampur girang. Hati Hoan Yauw jadi lega. Ia lantas saja ingat pertemuan malam itu di Ban hoat sie antara kedua orang muda itu. Cara-cara mereka bukan seperti musuh besar. Tiba-tiba ia sadar, “Aha!” serunya di dalam hati, “Mungkin sekali Koen-coe mencintai Kauwcoe.” Sejenak kemudian ia berpikir, “Tapi…tapi mengapa dia mengajak aku dan bukan Hian-beng Jie lo yang menjadi orang kepercayaannya…Aku tahu, aku gagu dan tidak bisa membocorkan rahasia. Ya! Itulah sebabnya.” Berpikir begitu, ia manggut-manggutkan kepalanya dan tersenyum.

“Mengapa kau tertawa?” tanya si nona.

Kouw Tauw-too menggerak-gerakkan kedua tangannya dalam isyarat bahwa biarpun harus masuk ke dalam sarang harimau ia akan turut serta dan melindungi keselamatan si nona.

Tio Beng tidak buka suara lagi dan lalu berjalan mengikuti si gagu. Tak lama kemudian tiba di depan penginapan Boe Kie.

“Koen-coe benar-benar hebat,” pikir Hoan Yauw, “Ia sudah tahu tempat penginapan Kauwcoe.”

Mereka segera masuk ke dalam. “Kami ingin bertemu dengan seorang tamu she Can,” kata Tio Beng kepada pengurus hotel. Si nona tahu bahwa dalam rumah penginapan itu Boe Kie menggunakan nama “Can Ah Goe”.

Seorang pelayan segera masuk ke dalam untuk memberitahukan Boe Kie. Pemuda itu sedang bersemedi sambil menunggu tanda api di kelenteng Ban hoat sie. Mendengar kedatangan seorang tamu, ia merasa heran dan segera pergi ke ruangan tengah. Melihat Tio Beng dan Hoan Yauw ia kaget, “Celaka!” ia mengeluh. “Mungkin rahasia Hoan Yoe Soe bocor dan Tio Kauwnio datang untuk berhitungan denganku.” Ia menyoja dan berkata, “Maaf! Karena tak tahu Kauwnio datang berkunjung aku sudah tidak keburu menyambut.”

Tio Beng balas memberi hormat. “Tempat ini bukan tempat bicara,” katanya dengan suara perlahan. “Mari kita pergi ke sebuah rumah makan kecil untuk minum tiga cawan arak.”

Tio Beng berjalan lebih dulu. Di seberang rumah penginapan lewat lima rumah terdapat sebuah rumah makan kecil dengan hanya beberapa meja kayu. Karena sudah malam, di rumah makan itu tidak terdapat tamu lain. Tio Beng segera memilih sebuah meja di ruang tengah dan duduk berhadapan dengan Boe Kie. Hoan Yauw tertawa dalam hati. Ia menggerak-gerakkan kedua tangannya memberi isyarat bahwa ia ingin minum arak di ruangan depan dan Tio Beng segera manggutkan kepalanya.

Sesudah Kouw Tauw-too keluar, si nona lalu memanggil pelayan dan memesan tiga kati daging kambing serta dua kati arak putih.

Boe Kie merasa sangat heran. Nona itu bagaikan pohon bercabang emas dan berdaun giok. Mengapa dia mengajaknya makan minum di dalam rumah makan yang kecil dan kotor? Apa maksudnya?

Sementara itu si nona sudah mengisi dua cawan arak. Sesudah meneguk salah sebuah cawan, ia berkata sambil tertawa, “Nah! Arak ini tidak beracun. Kau boleh minum dengna hati lega!” Seraya berkata begitu, ia menaruh cawan yang isinya sudah dicicipinya di hadapan Boe Kie.

“Ada urusan apa nona mengajak aku kemari,” tanya Boe Kie.

“Minum dulu tiga cawan baru kita bisa bicara,” jawabnya. “Untuk kehormatanmu, aku minum lebih dahulu.” Ia mengangkat dan mengeringkan isi cawannya. Boe Kie pun segera mengangkat cawannya. Tiba-tiba hidungnya mengendus bau yang sangat harum. Di bawah sinar lampu di pinggir cawan, samar-samar ia melihat tapak bibir yang berwarna merah. Dari bau harum itu, duri Yanciekah? Dari badan si nonakah? Hatinya berdebar-debar tapi ia segera meneguk cawannya.

“Kita minum dua cawan lagi,” kata Tio Beng. “Kutahu kau selalu curiga. Maka itu isi setiap cawan akan lebih dahulu dicicipi olehku.”

Boe Kie membungkam. Di dalam hati, ia memang merasa jeri terhadap nona Tio yang mempunyai banyak akal bulus, ia merasa senang bahwa setiap cawan yang disuguhkan kepadanya diminum lebih dahulu oleh si nona sehingga dengan demikian ia tak usah menempuh bahaya. Tapi minum arak yang sudah diteguk oleh seorang wanita mengakibatkan perasaan yang sukar dilukiskan dalam hatinya. Ketika ia mengangkat muka, si nona ternyata sedang mengawasi dengna bibir tersungging senyum dan pipi berwarna dadu. Buru-buru Boe Kie melengos.

“Thio Kauwcoe,” Kata Tio Beng dengan suara perlahan, “Apa kau tahu siapa sebenarnya aku?”

Boe Kie menggelengkan kepala.

“Hari ini aku akan berterus terang,” katanya pula. “Ayahku ialah Jie lam ong yang berkuasa atas seluruh angkatan perang kerajaan. Aku wanita Mongol, namaku Mingming Temur. Tio Beng adalah nama Han yang dipilih olehku. Hong-siang telah menganugerahkan aku gelar Siauwbeng Koen-coe.”

Kalau bukan sudah diberitahukan oleh Hoan Yauw, Boe Kie tentu akan merasa kaget. Bahwa si nona sudah bicara terus terang adalah sangat luar biasa. Sebagai manusia yang tidak bisa berpura-pura pemuda itu tidak menunjukkan rasa kaget.

Tio Beng heran, “Mengapa kau tenang saja?” tanyanya. “Apa kau sudah tahu?”

“Bukan,” sahutnya. “Tapi sejak awal aku sudah menduga. Kau seorang wanita muda belia tapi kau bisa menguasai tokoh-tokoh ternama dalam Rimba Persilatan. Sejak awal aku sudah menduga bahwa kau bukan sembarang orang.”

Nona Tio mengusap-usap cawan arak. Untuk beberapa saat, ia tidak mengeluarkan sepatah kata. Akhirnya ia berkata dengan suara perlahan, “Thio Kongcoe, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan dan kuharap kau suka menjawab dengan setulus hati. Bagaimana sikapmu apabila aku membunuh Cioe Kauwnio?”

“Cioe Kauwnio tidak berdosa terhadapmu,” jawabnya dengan suara heran. “Mengapa kau mau bunuh dia?”

“Ada orang-orang yang tidak disukai aku dan aku segera membunuh mereka,” kata si nona. “Apa kau kira aku hanya membunuh orang yang berdosa terhadapku? Ada manusia yang berdosa terhadapku tapi aku tidak membunuh mereka. Seperti kau sendiri, apakah dosamu terhadapku belum cukup besar?” Sambil berkata begitu, sinar matanya menunjukkan sinar bercanda.

Boe Kie menghela nafas, “Tio Kauwnio,” katanya. “Aku berdosa terhadapmu karena terpaksa. Aku bagaimanapun selalu tak dapat melupakan budimu yang sudah menolong Sam soe-peh dan Liok soe-siok ku.”

Tio Beng tertawa dan berkata, “Kau seorang yang berotak miring. Jie Thay Giam dan In Lie heng terluka karena perbuatan orang-orangku. Tapi kau bukan saja tidak menyalahkan aku bahkan kau menghaturkan terima kasih.”

“Sam soe-peh terluka kira-kira dua puluh tahun yang lalu dan pada waktu itu kau belum lahir,” kata Boe Kie.

“Tapi biar bagaimanapun juga, orang-orang itu adalah kaki tangan ayahku dan kalau mereka kaki tangan ayahku merekapun menjadi kaki tanganku,” kata si nona. “Ah! Kau coba menyimpang dari pokok pembicaraan. Aku Tanya, jika aku membunuh untuk membalas sakit hati?”

Boe Kie berpikir sejenak, “Aku tak tahu,” jawabnya.

“Mengapa tak tahu?” desak si nona. “Kau tidak mau bicara terus terang bukan?”

“Ayah dan ibuku mati karena didesak orang,” kata Boe Kie dengan suara berduka. “Hari itu di gunung Boe tong san, di hadapan jenazah kedua orang tuaku, aku telah bersumpah bahwa di kemudian hari sesudah aku besar, aku akan membalas sakit hati. Aku mengingat muka orang-orang Siauw liem, Go bie, Koen loen dan Khong tong-pay yang waktu itu berada di Boe tong. Saya masih kecil dan hatiku penuh dengan kebencian. Tapi sesudah aku besar, sesudah aku memperoleh lebih banyak pengetahuan, sakit hatiku kian lama kian berkurang.”

“Pada hakekatnya aku tak tahu siapa yang sebenarnya sudah mencelakai kedua orang tuaku. Saya tidak boleh menuduh Khong tie Siansoe, Thie kim Sianseng dan tokoh-tokoh lain. Aku tidak boleh menuduh kakek atau pamanku (In Ya Ong), aku bahkan tidak pantas menuduh orang-orangmu seperti A-toa, A-jie, Hian-beng Jie lo dan yang lainnya. Selama beberapa hari aku merenungkan hal itu dalam pikiranku. Apabila manusia tidak saling bunuh, apabila semua manusia hidup damai dan bersahabat, bukankah kehidupan akan menjadi lebih berarti daripada sekarang ini?” Pikiran itu sudah lama berada dalam otaknya tapi sebegitu jauh belum pernah ia utarakan kepada orang lain. Malam itu entah bagaimana ia membuka isi hatinya kepada Tio Beng dalam rumah makan kecil itu. Sesudah bicara, ia sendiri malah merasa heran mengapa ia sudah bicara begitu.

Tio Beng tahu bahwa Boe Kie bicara sungguh-sungguh. “Hatimu sangat mulia,” katanya sesudah berdiam beberapa saat. “Manusia seperti aku tidak bisa berbuat seperti kau. Kalau ada orang membinasakan ayah dan kakakku, aku bukan saja akan menumpas keluarganya tapi bahkan membasmi sahabat-sahabat dan kenalan-kenalannya.”

“Aku pasti akan merintangi.”

“Mengapa begitu?”

“Karena lebih banyak kau membunuh manusia, lebih besar dosamu dan lebih berbahaya keadaanmu. Tio Kauwnio, bilanglah terus terang, apa kau pernah membunuh orang?”

“Sampai kini, belum. Tapi sesudah aku lebih tua, aku akan membunuh banyak sekali manusia. Leluhurku Kaisar Genghiz Khan, Kubilai-khan dan yang lain. Sungguh sayang aku seorang wanita. Kalau lelaki…huh huh! Aku pasti akan melakukan sesuatu yang maha besar.” Ia menuang arak ke cawannya dan meneguk isinya. Setelah itu, ia tertawa dan berkata pula, “Thio Kongcoe, kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Bila kau membunuh Cioe Kauwnio atau salah seorang sahabatku maka aku takkan menganggapmu sebagai sahabat lagi,” jawabnya. “Aku tak mau bertemu muka lagi selama-lamanya dan jika bertemu juga aku takkan mau bicara lagi denganmu.”

“Dengan demikian, kau kini menganggapku sebagai sahabatmu, bukan?” tanya si nona dengan suara dingin.

“Andaikata aku membenci kau, aku tentu sungkan minum bersama kau di tempat ini,” sahutnya. “Hai!…Aku merasa sukar untuk membenci orang. Di dunia ini, manusia yang paling dibenci olehku adalah Hoen-goan Pel lek-cioe Seng Koen. Tapi setelah dia mati aku berbalik merasa kasihan di dalam hati, seolah-olah aku mengharap supaya dia tak mati.”

“Bagaimana perasaanmu, andaikata besok aku mati?” tanya Tio Beng. “Di dalam hatimu kau tentu berkata, “Terima kasih kepada Langit dan Bumi, musuh yang kejam sudah mampus dan aku boleh tidak usah terlalu pusing.” Kau tentu berpikir begitu bukan?”

“Tidak! Tidak! Aku sama sekali tak mengharapkan kematianmu. Tidak! Wie Hok Ong hanya menakut-nakuti kau, mengancam untuk menggores mukamu. Bicara terus terang, aku merasa sangat kuatir. Tio Kauwnio, kuharap kau tidak menyulitkannya lebih lama. Lepaskanlah tokoh-tokoh keenam partai itu. Marilah kita hidup damai. Bukankah kehidupan begitu lebih bahagia daripada bermusuhan yang berlarut-larut?”

“Bagus! Akupun mengharapkan itu. Kau seorang Kauwcoe dari Beng-kauw. Perkataanmu berharga bagaikan emas. Pergilah kau memberitahukan supaya mereka semua mengabdi kepada kerajaan. Ayahku akan melaporkan kepada Hong-siang agar mereka diberi anugerah.”

Boe Kie menggelengkan kepala dan berkata dengan suara perlahan, “Kami bangsa Han mempunyai suatu tekad. Tekad itu ialah mengusir kekuasaan Mongol dari bumi bangsa kami.”

Tiba-tiba si nona bangkit. “Apa?” tegasnya. “Kau berani mengeluarkan kata-kata itu? Apakah itu bukan berarti pemberontakan?”

“Aku memang sudah memberontak,” jawabnya, “Apa kau belum tahu?”

Lama sekali si nona mengawasi wajah Boe Kie. Perlahan-lahan sinar kegusaran menghilang dari paras wajahnya dan berganti dari sinar kedukaan dan putus harapan. Perlahan-lahan ia duduk dan berkata dengan suara parau, “Aku sudah tahu. Aku hanya ingin dengar kepastiannya dari mulutmu sendiri.”

Boe Kie berhati lemah. Melihat kedukaan si nona ia terus merasa berduka. Kalau dapat, ia bersedia untuk menuruti segala kemauan nona Tio. Hanya urusan itu adalah urusan nusa dan bangsa maka ia harus tetap kokoh pada pendiriannya, ia tak tahu bagaimana caranya menghibur Tio Beng dan ia membungkam sambil menundukkan kepala.

Selang beberapa lama ia berkata, “Tio Beng Kauwnio, sekarang sudah larut malam. Biarlah aku mengantar kau pulang.”

“Apakah kau tak sudi menemani aku duduk-duduk di sini lebih lama lagi?”

“Bukan! Kalau kau masih ingin minum dan berbicara aku bersedia untuk menemani terus.”

Tio Beng tersenyum, “Kadang-kadang aku melamun,” katanya. “Andaikata aku bukan seorang Mongol, bukan seorang putri pangeran tapi hanya seorang wanita Han biasa seperti Cioe Kauwnio, mana yang lebih cantik.”

Boe Kie terkejut, ia tak duga si nona bakal mengajukan pertanyaan begitu. Tapi hal ini tidak mengherankan. Tio Beng adalah seorang Mongol yang beradat polos. Tanpa merasa pemuda itu mengawasi wajah si nona yang sangat ayu dan tanpa merasa pula ia berkata, “Tentu saja kau lebih cantik.”

Mata Tio Beng bersinar girang, ia menyodorkan tangan kanannya dan mencekal tangan Boe Kie. “Thio Kongcoe apakah kau merasa senang jika kau sering-sering bertemu denganku?” tanyanya dengan suara lemah lembut. “Apakah kau sudi datang pula jika aku mengundang kau minum arak lagi di rumah ini?”

Jantung Boe Kie memukul keras. Sesudah menentramkan hatinya ia menjawab, “Aku tidak bisa berdiam lama-lama di sini, beberapa hari lagi aku harus pergi ke Selatan.”

“Perlu apa kau pergi ke Selatan?”

“Kurasa kau bisa menebak sendiri. Kalau aku memberitahukan maksudku kau tentu akan gusar….”

Tio Beng mengawasi keluara jendela memandang sang rembulan dengan sinarnya yang putih bagaikan perak. Tiba-tiba ia berkata, “Thio Kongcoe kau telah berjanji untuk melakukan tiga permintaanku. Apa kau masih ingat?”

“Tentu saja masih ingat. Nona boleh memberitahukan dan dalam batas kemampuanku, aku akan melakukan perintahmu.”

Si nona menatap wajah Boe Kie dan berkata, “Sekarang aku baru mempunyai sebuah permintaan, aku minta kau mengambil golok To-liong to.”

Boe Kie tahu bahwa permintaan yang diajukan Tio Beng pasti bukan permintaan yang mudah dilakukan. Tapi ia sama sekali tak menduga bahwa permintaan pertama sudah begitu sukar.

Melihat paras Boe Kie yang menunjukkan rasa susah hati. Tio Beng bertanya, “Bagaimana? Apa kau tak sudi melakukan permintaanku? Apakah dilakukannya permintaan itu melanggar sifat kesatriaan dalam Rimba Persilatan?”

“Sebagaimana kau tahu, To-liong to adalah milik ayah angkatku, Kim mo Say Ong Cia Tay-hiap. Tak dapat aku mengkhianati Giehoe dan menyerahkan golok itu kepadamu.”

“Aku bukan menyuruh kau mencuri, merampas atau menipu. Akupun bukan ingin memiliki golok itu. Aku hanya minta kau meminjamnya dari ayahmu dan memberikannya kepadaku supaya aku bisa bermain-main dengan golok itu untuk satu jam lamanya. Sesudah satu jam, aku akan memulangkannya kepada Cia Tay-hiap. Kalian berdua adalah ayah dan anak. Apa bisa jadi Cia Tay-hiap akan tak sudi untuk meminjamkannya dalam jangka waktu hanya satu jam. Aku bukan ingin merampas harta benda atau membunuh manusia. Apakah hal itu melanggar kesatriaan dalam Rimba Persilatan?”

“Biarpun namanya tersohor, To-liong to sebenarnya tidak terlalu luar biasa hanya lebih berat dan lebih tajam dari golok biasa.”

“Dalam Rimba Persilatan terdapat kata-kata sebagai berikut. Boe lim cie coen po to to liong, hauw leng thian hee boh kam poet ciong, ie thian poet coet swee ie ceng hong (Yang termulia dalam Rimba Persilatan, golok mustika membunuh naga, perintahnya di kolong langit tiada manusia yang berani tidak menurut, ie thian tidka keluar siapa yang bisa melawan ketajamannya). Ie thian kiam berada dalam tanganku terlihat seperti To-liong to. Kalau kau tidak percaya padaku untuk melihat golok mustika itu, kau boleh berdiri di sampingku. Dengan memiliki kepandaian yang begitu tinggi kau tak usah takut bahwa aku main gila terhadapmu.”

Mendengar keterangan itu, Boe Kie berpikir. Sesudah rombongan keenam partai tertolong memang ia juga ingin segera berangkat untuk mengajak ayah angkatnya pulang ke Tiongkok supaya orang tua itu bisa menduduki kursi Kauwcoe. Kalau nona Tio hanya ingin melihat-lihat golok itu dalam waktu satu jam biarpun dia mau main gila, dengan penjagaan yang hati-hati mungkin tak kan terjadi sesuatu yang tak diinginkan, ia ingat bahwa menurut ayah angkatnya di dalam golok tersebut bersembunyi rahasia pelajaran ilmu silat yang sangat tinggi. Ayahnya telah mendapatkan To-liong to sebelum kedua matanya buta. Tapi sebegitu lama orang tua itu, yang berotak sangat cerdas masih belum bisa memecahkan rahasia tersebut. Maka itu, dalam waktu satu jam nona Tio rasanya takkan bisa berbuat banyak. Selain itu, ayah angkatnya dan ia sudah berpisah kurang lebih sepuluh tahun. Mungkin sekali dalam sepuluh tahun ayah angkat itu sudah berhasil menembus tabir rahasia dari To-liong to.

Melihat Boe Kie belum juga menjawab, Tio Beng tertawa. “Kau tidak sudi meluluskan?” tegasnya. “Terserah padamu, aku ingin mengajukan permintaan lain, permintaan yang lebih sukar.”

Boe Kie tahu bahwa Tio Beng pintar dan banyak akalnya. Apabila nona itu mengajukan permintaan lain yang lebih sulit, ia lebih takkan bisa memenuhi janji. Maka itu, buru-buru ia menjawab, “Baiklah! Aku bersedia untuk meminjamkan To-liong to kepadamu. Tapi kita berjanji pahit dulu, aku hanya meminjamkan dalam jangka waktu satu jam. Manakala kau berani main gila, berani coba-coba merampasnya, aku tentu takkan tinggal diam.”

“Akur! Aku tak bisa bersilat dengan golok. Perlu apa aku inginkan golok yang berat itu? Andaikata kau menghadiahkannya kepadaku dengan segala kehormatan, belum tentu aku sudi menerimanya. Kapan kau mau berangkat untuk mengambilnya?”

“Dalam beberapa hari ini.”

“Bagus. Akupun akan segera berkemas. Jika kau sudah menetapkan tanggalnya, harap kau segera memberitahukan padaku.”

Boe Kie terkejut, “Kau mau ikut?” tanyanya.

“Tentu saja, kudengar ayah angkatmu berdiam di sebuah pulau terpencil. Jika orang tua itu tidak mau pulang, apakah kau mesti berlayar berlaksa li untuk mengambil golok itu dan menyerahkannya kepadaku dalam jangka waktu satu jam dan kemudian kau harus melakukan perjalanan berlaksa li lagi untuk memulangkannya dan sesudah itu pulang ke Tiong goan? Itu terlalu gila!”

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. Pelayaran menyeberangi samudera penuh dan masih merupakan sebuah pertanyaan, apa ia bisa mencapai pulau Peng hwee to atau tidak. Sekali jalan saja masih belum tentu, apalagi sampai tiga kali. Perkataan Tio Beng mungkin sekali benar. Sesudah berdiam di pulau itu selama puluhan tahun, juga belum tentu ayah angkat mau pulang ke Tiong goan. Sesudah berpikir beberapa saat ia berkata, “Angin dan ombak samudera tidak mengenal kasihan. Perlu apa nona pergi menempuh bahaya itu?”

“Kalau kau boleh menempuh bahaya, mengapa aku tidak boleh?” si nona balas bertanya.

“Apakah ayahmu sudi meluluskan?”

“Ayah menyuruh aku memimpin jago-jago Kang ouw dan selama beberapa tahun aku pergi ke berbagai tempat tanpa pengawalan ayah.”

Mendengar keterangan Tio Beng “ayah menyuruh aku memimpin jago-jago Kang ouw” tiba-tiba Boe Kie ingat sesuatu.

“Dalam usaha menyambut Gie hoe entah kapan aku bisa kembali,” pikirnya. “Jika dia menggunakan tipu memancing harimau dari gunung dan dengan menggunakan kesempatan itu dia menyerang Beng-kauw secara besar-besaran keadaan bisa berbahaya. Tapi kalau dia ikut aku, kaki tangannya pasti tidak akan berani bergerak sembarangan.” Berpikir begitu lantas saja mengangguk dan berkata, “Baiklah, begitu aku sudah menetapkan tanggal keberangkatan, aku akan segera memberitahu kau.”

Belum habis ia bicara, dari jendela mendadak terlihat sinar api yang kemerah-merahan diikuti dengan teriak-teriakan di tempat jauh.

Tio Beng melongok keluar. “Celaka!” ia mengeluh. “Menara Ban hoat sie kebakaran! Kouw Tay-soe! Kouw tay-soe!” ia berteriak berulang-ulang tapi Kouw Tauw-too tak muncul. Ia pergi ke ruang depan ternyata pendeta itu sudah tidak kelihatan lagi baying-bayangnya. Menurut keterangan pengurus rumah makan, Kouw Tauw-too sudah pergi lama sudah kira-kira dua jam. Bukan main rasa herannya si nona tapi ia masih belum menduga bahwa si pendeta telah mengkhianatinya.

Sementara itu, melihat sinar api yang berkobar-kobar di atas menara. Boe kIe jadi kuatir akan keselamatan paman-pamannya dan tokoh lain yang baru saja kembali Lweekang mereka. “Tio Kauwnio, aku tak bisa menemani lebih lama lagi,” katanya. Seraya berkata begitu, ia melompat ke luar jendela.

“Tunggu! Aku ikut!” seru si nona. Tapi ketika ia keluar dari jendela, Boe Kie sudah hilang dari pandangan.

Sekarang marilah kita lihat Lok Thung Kek yang sesudah Koen-coe dan Kouw Tauw-too berlalu, dengan hati lega ia merangkul Han-kie ke kamar Yoe liong coe, yang terletak di tengah-tengah lantai ketujuh. “Kau tunggu di luar, tak seorangpun boleh masuk ke sini,” kata si kakek kepada muridnya. Begitu Yoe liong coe keluar, ia segera membuka bungkusan dan mengeluarkan Han-kie yang paras mukanya pucat dan sinar matanya menunjukkan duka besar. “Sesudah berada di sini, kau tak usah takut,” bujuk si kakek. “Aku tentu akan memperlakukan kau baik-baik.” Ia belum berani membuka jalan darah si cantik sebab kuatir dia berteriak. Sesudah menaruh Han-kie di ranjang Yoe liong coe, ia menurunkan kelambu dan kemudian mengambil satu kasur yang lalu dibungkus dengan sprei yang tadi membungkus tubuh si cantik. Ia menaruh bungkusan itu di samping ranjang.

Lok Thung Kek adalah orang yang sangat berhati-hati. Buru-buru ia keluar dari kamar itu dan memesan Yoe liong coe bahwa tak seorangpun boleh masuk ke dalam kamar. Ia tahu muridnya sangat taat kepadanya dan pesan itu pasti takkan dilanggar.

Sesudah beres menyembunyikan Han-kie, ia lalu memikirkan tindakan selanjutnya. “Bila aku mau Kouw Tauw-too menutup mulut, aku harus membalas budi kepadanya,” pikirnya. “Jalan satu-satunya adalah melepaskan si nenek kecintaannya dan anak perempuannya. Untung juga Kauwcoe Mo-kauw telah mengacau di sini dan pengacau itu ada sangkut pautnya dengan Cioe Kauwnio. Sesudah menolong, aku bisa mengatakan bahwa kedua orang itu ditolong oleh si Kauwcoe Mo-kauw. Koen-coe pasti takkan curiga dan tak akan menyalahkanku sebab Kauwcoe memang mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.” Sesudah mengambil keputusan, ia segera pergi ke kamar tahanan Biat Coat Soethay.

Semua murid wanita Goe bie-pay ditahan di lantai empat sedang Biat Coat sendiri mengingat kedudukannya sebagai seorang ciang boen jin, ditahan sendirian di dalam sebuah kamar.

Lok Thung Kek memerintahkan penjaga membuka pintu dan ia lantas masuk ke dalam. Pendeta wanita itu ternyata sedang bersemedi seraya memejamkan matanya. “Biat Coat Soethay, apa kau baik?” tegur si kakek.

Perlahan-lahan Biat Coat membuka kedua matanya. “Baik apa?” katanya dengan suara dongkol.

“Kau sangat keras kepala,” kata Lok Thung Kek. “Coe jin mengatakan bahwa tak guna kau diberi hidup lebih lama lagi dan ia sudah memerintahkan aku untuk mengirim kau ke dunia baka.”

“Baiklah,” kata si nenek dengan suara tawar. “Tapi tak perlu tuan turun tangan sendiri. Aku hanya ingin meminjam sebatang pedang pendek. Di samping itu, sebagai keinginanku terakhir kuminta tuan sudi memanggil muridku Cioe Cie Jiak. Aku ingin bicara dengannya.”

Lok Thung Kek mengiyakan. Ia keluar dan memerintahkan seorang penjaga untuk membawa nona Cioe. “Cinta ibu dan anak memang tak sama dengan cinta lain,” pikirnya.

Beberapa saat kemudian, Cie Jiak sudah datang. “Lok Sianseng,” kata Biat Coat. “Kumohon kau keluar dulu. Pembicaraan kami tidak memakan waktu yang lama.”

Sesudah si kakek berlalu, Cie Jiak merapatkan pintu lalu menubruk gurunya. Ia menangis sesegukan. Biarpun Biat Coat berhati besi tapi pada saat itu, pada detik-detik perpisahan untuk selama-lamanya hatinya seperti disayat sembilu. Ia mengusap-usap rambut muridnya.

Nona Cioe tahu bahwa gurunya takkan bicara panjang-panjang. Maka itu, lebih dulu ia menceritakan bagaimana caranya ia sudah ditolong Boe Kie dan kedua kawannya.

Alis si nenek berkerut. Selang beberapa saat ia berkata, “Mengapa ia hanya menolong kau, tidak menolong yang lain?”

Muka si nona berubah merah, “Entahlah,” jawabnya.

“Hmm! Bocah itu terlalu jahat,” kata sang guru dengan suara gusar. “Dia kepala siluman dari kawanan siluman Mo-kauw. Tak mungkin dia mempunyai hati yang baik. Dia memasang jaring untuk menjaring kau.”

“Dia…dia memasang jaring apa?” tanya si nona dengan suara heran.

“Kita adalah musuh kawanan Mo-kauw,” terang sang guru. “Dengan Ie thian kiam aku telah membunuh banyak sekali siluman. Mereka sangat membenci Go bie-pay. Mana bisa jadi mereka benar-benar mau menolong? Siluman she Thio itu jatuh hati kepadamu, diam-diam dia menyuruh orang menangkap kita dan kemudian untuk mengambil hati, dia sendiri yang menolong kau.”

“Tapi Soehoe,” kata si nona dengan suara lemah lembut. “Kulihat…ia tidak berpura-pura.”

Si nenek lantas naik darah. “Apa kau kata?” bentaknya, “Rupanya kau telah mengikuti contoh si binatang Kie Siauw Hoe dan sudah jatuh cinta kepada siluman itu. Kalau aku masih bertenaga, dengan sekali hantam aku sudah mengambil jiwamu.”

Cie Jiak ketakutan, dengan tubuh gemetar ia berkata, “Murid tak berani.”

“Apa sungguh-sungguh tidak berani atau kau hanya mencoba memperdaya gurumu?”

“Murid sungguh-sungguh tak berani melanggar ajaran Soehoe.”

“Kalau begitu, kau berlututlah dan bersumpah.”

Nona Cioe segera menekuk kedua lututnya tapi ia tak tahu sumpah apa yang harus diucapkan olehnya.

Kata Biat Coat, “Kau harus bersumpah begini. Aku, Cie Jiak bersumpah kepada Langit bahwa kalau di kemudian hari aku jatuh cinta kepada Kauwcoe Mo-kauw Thio Boe Kie dan menjadi suami istri dengan dia, maka roh kedua orang tuaku yang sekarang berada di alam baka akan merasa tidak aman. Sedang guruku Biat Coat Soethay akan menjadi setan yang jahat dan akan mengganggu aku seumur hidup. Apabila dari perkawinan itu terlahir anak maka semua anak lelaki akan menjadi budak, anak perempuan akan menjadi pelacur.”

Tak kepalang kagetnya nona Cioe. Ia orang yang berwatak lemah lembut dan di dalam lubuk hatinya terdapat kasih sayang terhadap sesama umat manusia.

Tapi sekarang ia harus mengucapkan sumpah yang begitu hebat. Sumpah yang menyebut roh kedua orang tuanya, sumpah yang menyeret juga anak-anaknya yang belum lahir. Tapi melihat sinar mata gurunya yang berkilat-kilat, ia tidak berani membantah. Dengan kepala puyeng dan dengan suara parau, ia mengucapkan kata-kata yang diucapkan Biat Coat.

Sesudah muridnya itu bersumpah begitu berat, paras si nenek berubah lunak, “kau bangunlah, katanya.

Dengan air mata bercucuran, Cie Jiak lantas bangun berdiri.

Sesaat kemudian, Biat Coat berkata pula dengan suara halus bercampur rasa terharu yang sangat besar. “Cie Jiak, aku bukan sengaja menekan kau. Setiap tindakanku adalah untuk kebaikanmu sendiri. Kau masih berusia muda dan mulai dari sekarang, gurumu tidak bisa memilik kau lagi. Apabila kau mengikuti contoh Kie Soecimu, maka di alam baka, gurumu tak akan merasa senang. Disamping itu, ada sesuatu yang sangat penting. Apapula gurumu sekarang ingin menyerahkan tanggung jawab yang sangat berat di atas pundakmu, sehingga kau sedikitpun tak bisa berlaku sembarangan. Seraya berkata begitu, ia mencabut sebuah cincin besi dari telunjuk kirinya dan berdiri tegak, “Murid wanita Go Bie Pay, Cioe Cie Jiak, kau berlututlah untuk menerima amanat! katanya dengan suara angker.

Cie Jiak terkejut dan segera menekuk lututnya.

Sambil mengangkat cincin besi itu tinggi-tinggi, Biat Coat Soethay berkata pula.

“Ciang Boen Jin Go Bie Pay turunan ketiga pendeta wanita Biat Coat, dengan ini menyerahkan kedudukan Ciang Boen Jin kepada murid wanita turunan keempat, Cioe Cie Jiak.

Tak kepalang kagetnya nona Cioe. Sedang kepalanya masih pusing sebagai akibat pengucapan sumpah yang berat itu, ia mendapat lain kekagetan hebat. Ia hanya mengawasi sang guru dengan mulut ternganga dan mata membelalak.

“Cioe Cie Jiak, keluarkan tangan kirimu untuk menerima cincin besi sebagai tanda Ciang Boen Jin dari partai kita, kata pula si nenek.

Bagaikan seorang linglung, si nona menyodorkan tangan kirinya dan sang guru segera memasukkan cincin itu ke telunjuknya.

Sekarang baru Cie Jiak bisa membuka suara, “soehoe katanya dengan suara bergemetar, teecoe masih sangat muda dan belum lama belajar ilmu, cara bagaimana teecoe bisa memikul beban yang begitu berat? Soehoe jangan berkata begitu, dengan sesungguhnya teecoe tak dapat… “ ia tak dapat meneruskan perkataannya dan sambil menangis ia memeluk kedua betis gurunya.

Mendengar suara tangisan, Lok Thung Kek yang sudah sangat tidak sabaran, lantas saja mengetuk pintu, “Hei! Apa belum beres? teriaknya.

“Jangan rewel! bentak Biat Coat. Ia mengawasi si murid dan berkata dengan suara menyeramkan, “Cie Jiak, apakah kau membantah perintah gurumu? tanpa menunggu jawaban, ia segera menyebutkan peraturan dan larangan bagi seorang Ciang Boen Jin Go Bie Pay dan menyuruh murid itu menghafal larangan tersebut.

Nona Cioe jadi makin bingung. Dengan air mata bercucuran, ia berkata, “soehoe, teecoe…. Sungguh-sungguh…. Tak…. Sanggup… “

“Cie Jiak!‿ bentak si nenek dengan gusar. “Apa benar-benar kau mau membantah perintahku? Seorang murid yang melawan kemauan guru adalah murid yang menghina guru, tapi meskipun suaranya keras hatinya sedih seperti tersayat pisau. Ia merasa kasihan terhadap muridnya itu. Ia bakal segera meninggalkan dunia ini dan secara mendadak ia menaruh beban seberat itu di atas bahu seorang wanita muda yang lemah. Memang mungkin sekali Cie Jiak tidak menunaikan tugasnya secara memuaskan. Akan tetapi ia tahu, bahwa diantara murid-murid Go Bie Pay, nona Cioe-lah yang paling cerdas otaknya. Demi kepentingan dan kemakmuran Go Bie Pay, hanyalah dia seorang yang pantas menjadi Ciang Boen Jin. Ia dapat membayangkan, bahwa sesudah ia pulang ke alam baka, murid kecil itu akan menghadapi macam-macam kesukaran dan penderitaan. Mengingat begitu, bukan main rasa dukanya. Dengan kedua tangan ia membangunkan Cie Jiak yang lalu dipeluknya. “Cie Jiak, katanya dengan suara lembut. “kau dengarlah, bahwa aku sudah menyerahkan kedudukan Ciang Boen Jin kepadamu dan bukan salah seorang dari para kakak seperguruanmu adalah bukan karena aku memilih kasih. Sebab musababnya ialah seorang Ciang Boen Jin partai kita harus memiliki ilmu silat yang sangat tinggi yang dapat bersaing dengan lain-lain partai.

“tapi soehoe, kata Cie Jiak. “ilmu silat teecoe kalah jauh dari para suci.

Biat Coat tersenyum, “kepandaian mereka sangat terbatas, katanya. “Sesudah mencapai batas tertentu, mereka sukar bisa maju lebih jauh. Inilah soal bakat yang tak dapat diubah dengan tenaga manusia. Biarpun sekarang ilmu silatmu masih kalah jauh dari para sucimu, tapi di hari kemudian kepandaian yang bakal dimiliki olehmu tak dapat diukur bagaimana tingginya, Hm… tak dapat diukur bagaimana tingginya.

Dalam bingungnya. walaupun mendengar, Cie Jiak tak bisa menangkap maksud perkataan sang guru.

Sesaat kemudian Biat Coat mendekati muridnya dan berbisik di kuping si nona. “kau sekarang Ciang Boen Jin partai kita dan adalah kewajibanku untuk memberitahukan suatu rahasia besar kepadamu. Couwsoe pendiri partai kita ialah Kwee Liehiap, puteri kedua Tay Hiap Kwee Ceng. Pada waktu tentara goan merampas kota Siang Yang, dalam peperangan yang sangat hebat, Kwee Tayhiap gugur untuk nusa dan bangsa. Sebelum melepaskan napasnya yang penghabisan, ia memberitahukan rahasia besar ini kepada Couwsoe Kwee Liehiap. Pada jaman itu, nama Kwee Tayhiap menggetarkan seluruh dunia. Ia memiliki dua rupa ilmu yang sangat istimewa, pertama ilmu perang dan kedua ilmu silat. Isteri Kwee Tayhiap adalah Oey Yong, Oey Liehiap seorang wanita yang pintar luar biasa. Siang-siang ia sudah menduga, bahwa kota Siang Yang pasti akan dirampas oleh tentara goan yang sangat kuat. Kedua suami isteri itu telah mengambil keputusan untuk membalas budi negara dengan mengorbankan jiwa. Inilah keputusan yang biasa diambil oleh kesatria-kesatria yang bersetia kepada negara. Tapi bukankah sayang sekali apabila dua rupa ilmu Kwee Tayhiap turut menjadi musnah? Apapun Oey Liehiap sudah menduga, bahwa orang mongol akan menguasai Tiongkok dan hal itu pasti akan menimbulkan rasa penasaran dalam hati segenap bangsa Han. Disatu waktu bangsa Han tentu akan memberontak untuk menggulingkan pemerintah penjajahan. Pemberontakan itu akan merupakan peperangan hebat. Manakala saatnya tiba, maka kedua ilmu Kwee Tayhiap akan berguna besar, Oey Liehiap merundingkan hal ini dengan suaminya. Akhirnya mereka mengambil suatu keputusan. Ia mengundang tukang yang pandai betul dalam pembuatan senjata. Tukang itu melebur Hian Tiat Kiam, milik Yo Ko Tay Hiap, dan dengan menambahkannya dengan emas murni dari daerah barat, ia membuat Ie Thian Kiam.

Cie Jiak terkejut, ia mengenal Ie Thian Kiam dan sudah lama ia mendengar nama To Liong To. Tapi baru sekarang ia mengetahui sejarah kedua senjata mustika itu.

Biat Coat melanjutkan penuturannya. “Dengan menggunakan waktu sebulan, Oey Liehiap dan Kwee Tayhiap menulis ilmu perang dan ilmu silat yang kemudian disembunyikan dalam pedang dan golok itu. Yang disembunyikan di dalam To Liong To adalah ilmu perang. Golok itu dinamakan To Liong. Nama itu mengandung arti bahwa di kemudian hari, orang bisa mendapatkan kitab ilmu perang di dalam golok tersebut harus mengusir Tat Coe dan membunuh kaisar Tat Coe. Yang disembunyikan di dalam Ie Thian Kiam ialah kitab ilmu silat, antaranya yang paling berharga adalah Kioe Im Cin Keng dan Hang Liong Sip Pat Ciang. Kedua suami isteri mengharap, supaya di belakang hari, orang yang mendapatkannya bisa berbuat kebaikan terhadap sesama manusia, bisa menumpas kejahatan dan menolong rakyat.

“Sesudah pembuatan pedang dan golok mustika itu selesai. Oey Liehiap menyerahkan To Liong To kepada Kwee Kong (paduka Kwee) Poh Louw dan Ie Thian Kiam kepada Kwee Couw Soe. Tak usah dikatakan lagi, Kwee Couw Soe telah mendapat pelajaran ilmu silat dari ayah dan ibunya, sedang Kwee Kong Poh Louw mendapat pelajaran ilmu pedang dari kedua orang tuanya. Tapi Kwee Kong Poh Louw gugur bersama-sama ayah dan ibunya. Bakat Kwee Couw Soe tidak sesuai dengan pelajaran ilmu silat dari ayahandanya. Maka itulah sebabnya mengapa ilmu silat partai kita berbeda dari ilmu silat Kwee Tayhiap.

Dari para kakek seperguruannya, Cie Jiak memang sudah mendengar cara bagaimana berbagai partai persilatan berebut To Liong To, sehingga belakang mereka naik ke Boe Tong dan sebagai akibatnya, kedua orang tua Boe Kie sampai membunuh diri. Sekarang baru ia tahu, bahwa pedang dan golok itu mempunyai sangkut paut yang sangat rapat dengan Go Bie Pay.

Sementara itu, Biat Coat Soethay melanjutkan penuturannya. “selama kurang lebih seratus tahun, di dalam rimba persilatan timbul gelombang hebat. Beberapa kali, pedang dan golok itu menukar majikan. Belakangan orang hanya tahu, bahwa To Liong To adalah “Boe Lim Cie Coen (yang termulia dalam rimba persilatan) dan yang dapat menandinginya hanyalah Ie Thian Kiam, tapi orang tak tahu mengapa golok itu dipandang sebagai “Boe Lim Cie Coen Kwee Kong Poh Louw mati muda. Ia tak punya keturunan dan tak punya murid yang bisa mewarisi kepandaiannya dan rahasia besar itu. Maka itulah, hanya Couw Soe seorang yang tahu rahasia itu. Selama hidupnya, Couw Soe telah beruasaha sekuat tenaga untuk mencari To Liong To, tapi semua usahanya tinggal sia-sia.

Pada waktu mau meninggal dan CouwSoe telah memberitahukan rahasia ini kepada Insoe (guruku yang besar badannya) It Ceng SoeThay. Insoe adalah seorang yang sangat mulia dan lemas hatinya. Ia mempunyai seorang murid durhaka. Belakangan bukan saja To Liong To tidak dicari, bahkan Ie Thian Kiam dicuri oleh soecieku itu yang mempersembahkannya kepada kaisar Goan. Insoe sangat berduka dan mati mereras. Sebelum menutup mata, ia juga memerintahkan supaya aku mengambil pulang kedua senjata mustika itu.

“Ah, kalau begitu teecoe mempunyai seorang soepeh yang kurang baik. Kata Cie Jiak.

Paras muka Biat Coat lantas saja berubah dingin bagaikan es. “Kau masih memanggil Soepeh kepada manusia pengkhianat itu? katanya dengan suara gusar.

Si nona menundukkan kepalanya dan tidak berani menjawab.

“Akhirnya murid pengkhianat itu tidak terlolos dari tanganku. Kata pula Biat Coat. “Karena hatinya jahat, ilmu silatnya tak terlalu tinggi. Kau boleh merasa bangga bahwa gurumu tak menyia-nyiakan pesan Soecouw-mu. Pada akhirnya aku berhasil membersihkan rumah tangga kita. (membersihkan rumah tangga kita berarti menyingkirkan kejahatan dalam kalangan sendiri)

“Membersihkan rumah tangga kita? menegas si nona.

Paras muka Biat Coat berkelebat sinar kebanggaan dan kekejaman. “Benar, katanya dengan suara angkuh. “Di kaki gunung Gak Louw San, di daerah kota Tiang See, aku menyandak manusia durhaka itu dan dengan pukulan Pwee Hoa Pwee Yan (bukan bunga, bukan asap) aku menikam jantungnya. Dahulu, dialah orang yang mengajarkan pukulan itu. Dia pernah mengejek diriku dengan mengatakan, bahwa seumur hidup, aku tidak akan bisa menggunakan pukulan tersebut. Pada malam itu, di bawah sinar rembulan, aku sebenarnya sudah bisa mengambil jiwanya dalam dua ratus jurus.

Tapi sebab aku bertekad untuk membinasakannya dengan Pwee Hoa Pwee Yan, maka sesudah bertempur kurang lebih tiga ratus jurus, barulah aku berhasil. Huh! Huh!… itulah kejadian dua puluh tahun berselang.

Cie Jiak bergidik. Entah mengapa, di dalam lubuk hatinya muncul perasaan kasihan terhadap soepeh yang berkhianat itu.

Tiba-tiba Lok Thung Kek memukul-mukul pintu. “Hei! Sudah beres belum? teriaknya. “aku tidak bisa menunggu lagi.

“Tak lama lagi,‿ sahut Biat Coat. “kau tunggulah. Sesudah itu, ia berkata lagi di kuping muridnya. “Waktu sudah mendesak, kita tak dapat membicarakan lagi hal yang penting. Belakangan, Ie Thian Kiam dihadiahkan kepada Jie Lam Ong oleh kaisar Goan. Aku berhasil mencurinya dari gedung raja muda itu. Hanya sungguh sayang, aku terjebak dan pedang itu jatuh ke tangan Mo Kauw.

“Bukan, membantah si murid. “Ie Thian Kiam dirampas oleh Tio Kouw Nio.

Biat Coat mendelik. Sambil mengeluarkan suara di hidung, ia berkata. “Apa kau tidak tahu bahwa perempuan she Tio itu adalah kawannya si Kauw Coe Mo Kauw? Apa sampai pada detik ini kau masih tidak percaya perkataan gurumu?

Nona Cioe memang tidak percaya, tapi ia tidak berani membantah lagi.

“Cie Jiak, kau dengarlah, kata pula sang guru. “Dalam memilih kau sebagai Ciang Boen Jin, gurumu mempunyai suatu maksud yang dalam. Aku jatuh ke dalam tangan orang jahat, sehingga nama besarku yang didapat selama puluhan tahun musnah laksana disapu air. Aku sendiri memang tak sudi keluar dari menara ini dengan masih bernapas, penjahat cabul she Thio itu punya niatan tidak baik atas dirimu. Tapi menurut pendapatku, dia tidak akan mengambil jiwamu. Sekarang aku memerintahkan kau untuk berlagak membalas cintanya dan kemudian begitu mendapat kesempatan, kau rampas pedang Ie Thian Kiam. Golok To Liong To ada di tangan Cia Soen, ayah angkat penjahat she Thio itu. Biar bagaimana jua pun, bocah itu tidak akan membuka rahasia dimana adanya Cia Soen. Tapi di dalam dunia terdapat manusia yang bisa memaksa dia mengambil golok tersebut.‿

Cie Jiak tahu, bahwa seorang manusai itu dimaksudkan dirinya sendiri. Ia kaget bercampur malu, girang bercampur takut.

“Orang itu adalah kau sendiri,‿ kata pula sang guru. Aku memerintahkan kau mengambil pulang pedang dan golok mustika itu dengan menggunakan kecantikanmu. Aku tahu, tindakan ini memang bukan tindakan seorang kesatria. Akan tetapi dalam usaha besar, orang tak perlu menghiraukan soal-soal remeh. Cobalah kau pikir, Ie Thian Kiam berada dalam tangan si perempuan She Tio, sedang To Liong To jatuh ke dalam tangan bangsat Cia Soen. Jahat bertemu dengan jahat, pedang bertemu dengan golok. Apabila mereka berhasil mengambil ilmu perang dan ilmu silat Kwee Tayhiap, betapa besar penderitaan umat manusia di kolong langit ini. Disamping itu usaha mengusir penjahat Tat Coe pun akan menjadi lebih sukar lagi. Cie Jiak, kutahu, bahwa beban yang ditaruh di atas pundakmu terlampau berat. Sebenar-benarnya aku merasa tak tega untuk memerintahkan kau memikul yang berat itu. Tapi apakah adanya maksud tujuan orang-orang seperti kita dalam mempelajari ilmu silat? Cie Jiak, demi kepentingan rakyat di seluruh negeri, aku memohon kepada kau.‿ Seraya berkata begitu, ia berlutut di hadapan muridnya.

Tak kepalang kagetnya nona Cioe. Buru-buru iapun menekuk kedua lututnya dan berseru dengan suara parau, “soehoe!… “

“Ssst! Perlahan sedikit, jangan sampai penjahat di luar mendengarkan pembicaraan kita. Apa kau sudi meluluskan permintaanku? Sebelum kau meng-iya-kan aku, aku tidak akan bangun.‿

Cie Jiak merasa kepalanya puyeng. Dalam waktu sependek itu, gurunya telah mengeluarkan tiga perintah sulit. Pertama, ia diperintah untuk mengangkat sumpah berat, bahwa ia tidak akan mencintai Boe Kie. Kedua, ia diperintah menerima kedudukan Ciang Boen Jin dari Go Bie Pay. Akhirnya ia diperintah memancing Boe Kie dengan kecantikannya untuk merampas pulang To Liong To dan Ie Thian Kiam. Sebagai seorang wanita muda belia yang berarti sangat lemah, ia sungguh-sungguh tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Kepalanya berrputar, matanya berkunang-kunang, ia hampir pingsan. Cepat-cepat ia memejamkan kedua matanya dan menggigit bibir untuk coba mempertahankan diri.

Tiba-tiba ia merasa bibirnya sakit dan ia membuka kedua matanya. Sang guru masih terus berlutut. “Soehoe… bangunlah!‿ katanya sambil menangis.

“Apakah kau sudi meluluskan permintaanku?‿ tanya Biat Coat pula.

Dengan air mata mengucur, si nona menggut-manggutkan kepalanya.

Biat Coat mencekal pergelangan tangan muridnya erat-erat dan berbisik. “Sesudah merampas pulang To Liong To dan Ie Thian Kiam, kau harus segera pergi ke tempat sepi, ke tempat yang tak ada manusianya. Dengan sebelah tangan mencekal golok dan sebelah tangan memegang pedang, kau harus mengerahkan tenaga dalam dan saling membacokkan kedua senjata itu. Bacokan itu akan mematahkan atau memutuskan golok dan pedang dengan berbareng. Sesudah itu, barulah kau bisa mengambil pit-kip (kitab) yang disembunyikan di dalam kedua senjata itu. Cie Jiak, inilah cara satu-satunya untuk mengambil kedua kitab yang berharga itu. Sampai disitu tamatlah riwayat To Liong To dan Ie Thian Kiam. Apa kau ingat pesananku?‿ walaupun berbicara dengan suara berbisik-bisik, paras muka Biat Coat angker dan kereng.

Si murid mengangguk.

“Cara itu, cara yang diambil kedua pit-kit merupakan rahasia terbesar dari partai kita.‿ Kata pula sang guru. “Semenjak Oey Liehiap mewariskan tentang rahasia kitab ini kepada Kwee SoeCouw, hanyalah Ciang Boen Jin dari partai kita yang mengetahuinya. To Liong To dan Ie Thian Kiam adalah senjata mustika. Andaikata seseorang bisa memiliki kedua senjata itu dengan berbareng, ia pasti tak akan berlaku begitu gila untuk merusakkan kedua-duanya. Sesudah memiliki kitab ilmu perang, kau harus mencari seorang pecinta negeri yang berhati mulia untuk mewarisi kitab tersebut. Sebelum menyerahkannya, kau harus menyuruh dia bersumpah, bahwa dengan segala usaha dan kepandaiannya, dia akan mencoba untuk mengusir kaum penjajah. Kitab ilmu silat harus dipelajari olehmu sendiri. Dalam seluruh penghidupannya, gurumu mempunyai dua angan-angan, yang pertama adalah mengusir Tat Coe dan merampas pulang negara kita. Yang kedua adalah mengangkat derajat Go Bie Pay sedemikian rupa sehingga partai kita berada di sebelah atas Siauw Lim , Boe Tong dan lain partai. Sehingga partai kita menjadi partai yang paling terutama dalam rimba persilatan. Kedua angan itu memang sukar tercapai. Tapi sekarang kita sudah melihat satu jalanan. Apabila kau mentaati pesan gurumu, belum tentu kau tidak akan berhasil, di alam baka gurumu akan merasa sangat berterima kasih terhadapmu.

Baru ia sampai di situ, pintu sudah digedor oleh Lok Thung Kek.

“Masuklah! kata Biat Coat.

Pintu terbuka, tapi yang masuk bukan Lok Thung Kek. Yang masuk adalah Kouw Touwtoo. Biat Coat tidak menjadi heran. Baginya Lok Thung Kek atau Kouw Touwtoo tidak berbeda, “Bawa anak itu keluar, katanya sambil mengibaskan tangan. Ia tidak mau muridnya menyaksikan waktu ia membunuh diri. Karena khawatir si murid tidak dapat mempertahankan diri.

Namun diluar dugaan Kouw Touwtoo mendekati dan berbisik: “telanlah obat pemunah ini. Sebentar, kalau di luar suara ribut, kau harus turut menerjang keluar.

Biat Coat heran dan bingung. “Siapa tuan? tanyanya. “Mengapa tuan menyerahkan obat pemunah kepadaku?

“Aku dari Kong Beng Yoe Soe dari Beng Kauw dan aku bernama Hoan Yauw. Aku berhasil mencuri obat ini dan aku sengaja datang untuk menolong Soe Thay, jawabnya.

Darah si nenek lantas saja meluap. “Penjahat Mo Kauw! bentaknya. “Sampai saat ini kau masih coba mempermainkan aku?

Hoan Yauw tertawa, “Baiklah! katanya. “Aku tak membantah anggapanmu. Apa kau mempunyai nyali untuk menelannya? Begitu masuk di perut, racun ini akan memutuskan isi perutmu.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, si nenek menyambut bubuk yang diangsurkan kepadanya, membuka mulut dan lalu menelannya.

“Soehoe… soehoe!… teriak Cie Jiak.

“Jangan ribut! bentak Hoan Yauw. “Kaupun harus menelan racun ini.

Si nona terkejut, tapi ia tak berdaya karena badannya sudah dipeluk dan mulutnya dibuka. Dengan cepat, Hoan Yauw memasukkan bubuk obat dan menuang air ke dalam mulut si nona sehingga obat pemunah itu lantas saja masuk ke dalam perut.

Tak kepalang gusarnya Biat Coat. Matinya Cie Jiak berarti musnahnya segala harapan. Dengan kalap, ia menubruk Hoan Yauw, tapi sebab tak punya tenaga dalam, ia segera kena dirobohkan.

“Semua pendeta Siauw Lim dan jago-jago Boe Tong sudah menelan racunku itu. Kata Hoan Yauw sambil menyeringai. “Apa orang Beng Kauw manusia jahat atau manusia baik, kau segera akan mengetahui. Seraya berkata begitu, ia melompat keluar dan mengunci pintu.

Ajakan Tio Beng untuk mencari Boe Kie sangat membingungkan Hoan Yauw. Bagaimana ia dapat menunaikan tugas untuk merampas obat pemunah? Maka itu, setelah mendapat permisi dari Tio Beng untuk minum arak di ruangan depan, ia segera kabur ke Ban Hoat Sie. Tanpa membuang waktu, ia mendaki menara sampai ke lantai paling atas, dimana ia bertemu dengan Yoe Liong Coe yang sedang menjaga di luar kamar sendiri.

Melihat Hoan Yauw, Yoe Liong Coe menyambut dengan hormat, “Kouw Touwtoo, katanya sambil membungkuk.

Hoan Yauw manggut-manggutkan kepalanya. “Kurang ajar si tua bangka,‿ katanya di dalam hati. “Muridnya disuruh menjaga di luar, sedang dia sendiri bercinta-cintaan dengan selir Ong Ya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini.

Ia melangkah berjalan melewati Yoe Liong Coe dan tiba-tiba, secepat kilat, jari tangannya menotok jalan darah di kempungan murid kepala Lok Thung Kek. Jangankan Yoe Liong Coe tidak berwaspada, sekalipun siap sedia, belum tentu ia bisa meloloskan diri dari totokan Hoan Yauw. Begitu tertotok, badannya tak bisa bergerak lagi dan ia mengawasi si pendeta dengan mata membelalak. Kedosaan apa yang sudah diperbuatnya? Apakah ia berlaku kurang hormat?

Hoan Yauw segera mendobrak pintu dan melompat ke dalam. Sebelum kakinya hinggap di lantai, tangannya menghantam tubuh yang berbaring di ranjang. Ia tahu, bahwa Lok Thung Kek berkepandaian tinggi dan kalau ia tidak membokong dengan pukulan yang membinasakan, ia harus melakukan pertempuran lama dan belum tentu ia bisa menang. Maka itu, dalam pukulan itu, ia menggunakan seantero tenaganya.

“Buk! kasur pecah dan kapas berhamburan. Tapi waktu membuka kasur, ia kaget, sebab ia hanya melihat sesosok tubuh, yaitu Han Kie yang sudah binasa dengan mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Lok Thung Kek sendiri tak kelihatan bayangan-bayangannya. Setelah memikir sejenak, buru-buru Hoan Yauw keluar dan menyeret masuk Yoe Liong Coe yang kemudian digulingkan masuk ke kolong ranjang. Sesudah itu, ia merapatkan pintu dan menunggu.

Beberapa saat kemudian, ia mendengar teriakan Lok Thung Kek. “Liong Jie! Liong Jie! panggilnya dengan suara gusar.

“Kemana kau?

Sebagaimana diketahui, si kakek telah dijemur Biat Coat. Dengan mendongkol, ia menunggu di luar kamar. Karena tak tahu sampai kapan si nenek baru selesai bicara dengan muridnya, ia segera mengambil keputusan untuk menengok Han Kie dan sebentar kembali lagi. Setibanya di depan kamar Yoe Liong Coe, ia marah besar karena murid itu tak mentaati perintahnya. Ia menolak pintu. Hatinya agak lega karena di dlam kamar tak terjadi perubahan dan si cantik masih berbaring di ranjang dengan tubuh tertutup kasur. Setelah menapal pintu, ia berkata sambil tertawa, “Nona cantik, aku akan membuka jalan darahmu. Tapi aku mengharap kau tak mengeluarkan suara. Seraya berkata begitu, ia memasukkan tangannya ke bawah kasur untuk menotok punggung Han Kie.

Mendadak, mendadak saja, ia merasa pergelangan tangannya dicengkeram dengan jari-jari tangan yang keras bagaikan besi dan berbareng tenaganya habis. Kasur tersingkap dan dari bawah kasur keluar seorang pendeta rambut panjang, Kouw Touwtoo!

Dengan tangan kanan mencekal pergelangan tangan si kakek, Hoan Yauw segera menotok sembilan belas hiat utama sekujur badan Lok Thung Kek, sehingga jago itu benar-benar tidak berdaya lagi dan hanya bisa mengawasi musuh dengan mata melotot.

Sambil menuding hidung si kakek, Hoan Yauw berkata, “tua bangka! Aku tak pernah mengubah she atau menukar nama. Aku adalah Kong Beng Yoe Soe dari Beng Kauw, Hoan Yauw namaku. Kau sudah kena ditipu olehku dan Cuma-Cuma saja kau selalu membanggakan diri sebagai manusia yang pintar dan cerdas. Sebetulnya kau tak lebih dan tak kurang daripada manusia goblok. Kalau kini aku akan membunuhmu, aku mengampuni jiwamu, jika kau mempunyai nyali, di belakang hari kau boleh mencari Hoan Yauw untuk membalas sakit hatimu. Sebab kuatir Lok Thung Kek berhasil membuka jalan darahnya dengan jalan menggunakan Lweekang sendiri. Sesudah berkata begitu, ia menghantam kaki tangan si kakek sehingga tulang-tulangnya patah. Hoan Yauw adalah seorang anggota Beng Kauw yang masih memiliki Sia Khie (sifat-sifat sesat) Sesudah mematahkan tulang si kakek, ia masih belum merasa puas. Sambil menyeringai, ia membuka pakaian Lok Thung Kek dan merendengkannya dengan mayat Han Kie kemudian menggulung dua sosok tubuh itu. Satu manusia hidup, dan satu mayat dengan satu kasur. Sesudah itu, barulah ia mengambil kedua tongkat Lok Thung Kek, membuka salah sebuah cabang tanduk menjangan dan menuang semua obat pemunah. Dengan hati gembira, dia segera pergi ke berbagai kamar tahanan dan membagi obat kepada Kong Boen Taysoe, Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe, dan yang lain-lain. Dalam memberi pertolongan, beberapa kali ia harus menerangkan secara panjang lebar kepada orang-orang yang bersangsi, sehingga ia harus menggunakan waktu banyak sekali. Kamar yang paling akhir dikunjungi ialah kamar Biat Coat Soethay. Melihat sikap si nenek, ia sengaja mengeluarkan kata-kata yang membangkitkan hawa amarah. Dengan berbuat begitu, hatinya senang, sebab pada hakikatnya ia membenci pemimpin Go Bie Pay itu yang pernah membinasakan banyak anggota Beng Kauw.

Tapi baru saja tugasnya selesai dan hatinya tergirang-girang, sekonyong-konyong di kaki menara terdengar teriakan-teriakan ramai. Dengan kaget, ia mamasang kuping. Diantara suara ramai-ramai itu, ia menangkap teriakan Ho Pit Ong. “Kouw Touwtoo mata-mata musuh! Tangkap! Tangkap dia!‿

Hoan Yauw mengeluh. “Celaka! Siapa yang menolong bangsat itu?‿ ia menengok ke bawah dan melihat, bahwa menara itu sudah dikurung oleh Ho Pit Ong dan sejumlah besar boesoe. Hampir berbareng, dua batang anak panah yang dilepaskan oleh Soem Sam Hwie dan Lie Sie Coei menyambar dirinya. “Bangsat! Hebat sungguh kau menyiksa kami!‿ caci Soem Sam Hwie.

Siapa yang menolong ketiga orang itu? Dengan totokan Hoan Yauw, tanpa ditolong tak gampang mereka bisa menolong diri sendiri. Yang menolong adalah rombongan boesoe (pengawal) yang mencari Han Kie. Sebagaimana diketahui, rombongan itu telah menanyakan Lok Thung Kek, tapi diusir oleh si kakek. Sesudah mencari di seluruh Ban Hoat Sie usaha mereka tetap sia-sia. Beberapa orang mencurigai Lok Thung Kek yang dikenal sebagai seorang yang gemar akan paras cantik.

Tapi semua orang merasa jeri terhadap si kakek. Siapa yang berani menepuk kepala harimau? Belakangan sebab kuatir dimarahi Ong Ya. Pemimpin rombongan yang bernama Ali Chewa mendapat satu tipu. Ia memerintahkan seorang boesoe yang berkedudukan rendah untuk mengetuk kamar Lok Thung Kek. Ia menganggap bahwa orang yang berkedudukan tinggi akan berlaku kejam terhadap orang yang bukan tandingannya. Dengan memberanikan hati, boesoe itu mengetuk pintu. Diluar dugaan, sesudah diketuk beberapa kali dari dalam tak ada jawaban. Sesudah menunggu beberapa lama, Ali Chewa jadi nekat dan mendobrak pintu. Begitu pintu terbuka, ia terkesiap karena melihat tiga sosok tubuh Ho Pit Ong, Soem Sam Hwie, dan Lie Sie Coei yang tergeletak di lantai. Ketika itu, Ho Pit Ong sudah hampir membuka jalan Darahnya sendiri. Dengan bantuan Ali Chewa, jalan darah yang tertotok segera terbuka. Sesudah Soem Sam Hwie dan Lie Sie Coei tertolong, dengan kegusaran yang meluap-luap Ho Pit Ong segera mengajak rombongan boesoe itu pergi ke menara dan mengurungnya. Dari bawah, ia berteriak-teriak menantang Kouw Touwtoo untuk bertempur sampai ada yang binasa.

“Bangsat tua! Apa kau kira Hoan Yauw takut terhadapmu?‿ Hoan Yauw balas mencaci. Didalam hati ia merasa bingung. Rahasianya sudah terbuka, tapi ia tak akan bisa melawan musuh yang jumlahnya begitu besar, sedang anggota keenam partai yang baru saja menelan obat dan belum pulih tenaga dalamnya. Untuk sementara waktu belum bisa memberikan bantuannya.

“Tauw Too jahanam! Kalau kau tidak mau turun, akulah yang akan naik ke atas!‿ teriak pula Ho Pit Ong.

Tiba-tiba Hoan Yauw mendapat akal. Ia masuk ke kamar Yoe Liong Coe dan keluar pula dengan membungkus tubuh Han Kie dan Lok Thung Kek. Sambil mengangkat kasur itu tinggi-tinggi, ia berteriak, “Tua bangka, begitu kau bertindak masuk pintu menara, begitu aku melemparkan tubuh lelaki dan perempuan cabul ini!

Para boesoe mengangkat obor dan lapat-lapat mereka bisa melihat muka Lok Thung Kek dan Han Kie. Bukan main kagetnya Ho Pit Ong. “Soeko! Soeko! Bagaimana kau? teriaknya. Lok Thung Kek tidak menyahut. Hati Ho Pit Ong mencelos. Ia menduga, bahwa kakak seperguruannya telah dibinasakan Hoan Yauw. “Tauw Too bangsat! teriaknya bagaikan kalap. “Kau sudah membinasakan kakakku, aku bersumpah tak akan hidup bersama-sama dengan kau di dunia ini.

Mendengar itu, Hoan Yauw segera membuka ah-hiat (jalan darah yang mengakibatkan gagu) si kakek yang lantas saja mencaci. “Tauw Too bangsat! Aku bersumpah mencincang badanmu seperti perkedel!… “ Baru mencaci sampai di situ, ah-hiat sudah ditotok lagi.

Sesudah mendapat bukti bahwa soeheng-nya belum mati. Ho Pit Ong merasa lega dan demi keselematan jiwa sang kakak. Ia tidak berani maju lebih jauh.

Untuk beberapa lama, Ho Pit Ong dan rombongan boesoe tidak berani bergerak. Hoan Yauw sendiri tentus saja sebiswa mungkin ingin mempertahankan keadaan itu. Ia perlu mendapat waktu supaya tokoh-tokoh keenam partai yang baru mendapat obat keburu pulih tenaga dalamnya. Sambil tertawa terbahak-bahak, ia berteriak.

“tua bangka she Ho! Sungguh besar nyali soehengmu. Dia berani menculik selir Ong Ya. Aku sudah menangkap kedua-duanya. Tua bangka! Apa kau berani melindungi soehengmu yang kotor itu? Ali Chewa Cong Koan, mengapa kau tak lantas membekuk tua bangka itu? Dia dan kakaknya berdosa besar dan harus mendapat hukuman mati. Dengan membekuk dia, kau akan mendapat hadiah besar.

Ali Chewa melirik Ho Pit Ong. Ia niat turun tangan, tapi ia merasa jeri kepada jago tua yang berkepandaian tinggi itu. Di dalam hati, ia merasa heran Kouw Touwtoo tiba-tiba bisa bicara. Ia tahu, bahwa kejadian itu mesti ada latar belakangnya. Tapi iapun tidak dapat mengabaikan bukti yang nyata dan dengan mata kepala sendiri ia telah melihat Lok Thung Kek dan Han Kie di dalam selembar kasur. Sesudah memikir sejenak, ia berseru, “Kauw Tay Soe, kau turunlah! Mari kita pergi kepada Ong Ya supaya bisa memutuskan siapa yang salah siapa yang benar. Kalian bertiga adalah Cianpwee yang berkedudukan tinggi. Terhadap siapapun SiauwJin tidak berani bertindak.

Hoan Yauw adalah seorang pemberani. Ia segera menghitung-hitung untung ruginya usul Ali Chewa. Ia merasa bahwa dengan menghadap Jie Lam Ong, ia bisa mengulur waktu sampai tenaga dalam tokoh-tokoh keenam partai pulih kembali. Maka itu, ia lantas saja berteriak, “Bagus! Bagus! Aku justru ingin minta hadiah, dari Ong Ya. Ali Cong Koan, tahanlah tua bangka she Ho itu, jangan sampai dia kabur.

Tapi baru saja Hoan Yauw habis bicara, sekonyong-konyong terdengar suara tindakan kuda yang sangat ramai dilain saat. Sejumlah penunggang kuda menerobos masuk ke pekarangan kelenteng dan terus menghampiri menara.

Para boesoe serentak membungkuk dan berseru, “Siauw Ong Ya! (Siauw Ong Ya – Raja Muda Kecil berarti putera Jie Lam Ong)

Hoan Yauw mengawasi ke bawah. Ia mendapat kenyataan bahwa yang mengepalai rombongan itu adalah seorang pemuda yang mengenakan jubah sangat indah dengan topi emas dan menunggang seekor kuda bulu putih yang kelihatannya sangat garang. Ia mengenali bahwa pemuda itu bukan lain daripada kkt, alias Ong Po Po, putera Jie Lam Ong.

“Mana Han Kie? bentak pangeran muda “Hoe Ong marah besar, beliau memerintahkan aku menyelidi sendiri.

Ali Chewa segera menerangkan bahwa Han Kie diculik Lok Thung Kek yang sekarang sudah dibekuk Kouw Touwtoo.

“Dusta! teriak Ho Pit Ong. “siauw ong ya, Kouw Touwtoo mata-mata musuh dan dia telah mencelakai soehengku…. “

Alis Ong Po Po berkerut, “Sudahlah, katanya, “Semua orang turun dan kita bisa bicara dengan perlahan.

Sebagai seorang yang sudah berdiam lama di gedung raja muda. Hoan Yauw mengenal Ong Po Po sebagai seorang yang cerdik dan pandai. Kepandaian pemuda itu bahkan melebihi ayahnya sendiri. Ia bisa mendustai orang lain, tapi tak mungkin mengelabui tuan muda itu. Kalau ia turun, hampir boleh dipastikan rahasianya terbuka dan begitu lekas topengnya tercopot, ia pasti akan dikepung. Satu Ho Pit Ong saja sudah sukar dilayani, apalagi begitu banyak orang? Selain begitu, tokoh-tokoh keenam paratai juga sukar bisa ditolong lagi.

Sesudah memikir beberapa saat, ia lantas saja berteriak, “Siauw Ong Ya, Ho Pit Ong sangat membenci aku, sebab aku sudah membekuk soehengnya. Kalau aku turun, dia tentu akan membunuhku.

“Kau turunlah, aku tanggung Ho Sianseng tidak akan menyerang kau, kata Ong Po Po.

Hoan Yauw menggeleng-gelengkan kepalanya. “Disini lebih selamat, katanya. “Siauw Ong Ya, selama hidup Kouw Touwtoo tidak pernah bicara. Hari ini karena terpaksa, aku membuka mulut untuk membalas budi Ong Ya yang sangat besar dan untuk memperhatikan kesetiaanku. Kalau kau tidak percaya, lebih baik aku melompat dari sini dan membenturkan kepala di tanah supaya Siauw Ong Ya bisa membuktikan kesetiaanku.

Mendengar perkataan yang mencurigakan itu, Ong Po Po segera dapat menebak, bahwa si pendeta sedang menjalankan siasat mengulur waktu, “Ali Cong Koan, bisiknya. “Kurasa ia sedang menjalankan tipu dan mencoba untuk mengulur waktu. Apa kau tahu, siapa lagi yang ditunggu olehnya?

“siauwjin tak tahu. Jawabnya.

“Siauw Ong Ya, penjahat itu telah merampas obat pemunah dari tangan soehengku, kata Ho Pit Ong. “Ia mau menolong kaum pemberontak yang ditahan di menara.

Ong Po Po lantas saja tersadar. “Kouw Touwtoo!‿ teriaknya, “aku tahu kau sangat berjasa, turunlah! Aku akan memberi hadiah besar untukmu.

“Siauw Ong Ya,aku tidak bisa jalan. “aku kena ditendang Lok Thung Kek dan kedua tulang betisku patah. Tunggulah sebentar, aku akan mengerahkan lweekang untuk mengobati lukaku. Begitu lekas aku bisa berjalan, aku pasti akan segera turun.

“Ali Cong Koan! bentak pangeran itu. “Kirim seseorang naik ke atas untuk memapah Kouw Tay soe.

“Tidak bisa!‿ teriak Hoan Yauw. “Kalau badanku bergerak, kedua kakiku tak akan bisa digunakan lagi.

Sekarang Ong Po Po tidak bersangsi lagi. Ia menarik kesimpulan, bahwa pendeta itu seorang musuh yang berselimut. Sesudah Han Kie dan Lok Thung Kek berada dalam satu kasuran. Andaikata mereka tidak main gila, ayahnya tentu tak akan menerima selir itu. Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara perlahan, “Ali Cong Koan, bakar menara itu dan siapkan sepasukan pemanah. Binasakan setiap orang yang melompat turun.

Ali Chewa membungkuk dan segera menjalankan perintah itu. Dalam sekejab, menara itu sudah dikurung oleh para boesoe yang bersenjata gendewa dan anak panah, sedang sejumlah boesoe lainnya mengambil rumput kering, kayu serta bahan api.

Ho Pit Ong kaget tak kepalang, “Siauw Ong Ya, katanya dengan suara bingung. “Kakakku berada di atas.

Tauw Too itu tidak bisa dibiarkan berdiam di atas selama-lamanya.‿ Kata Ong Po Po dengan suara tawar. “Begitu lekas kaki menara dibakar, ia akan turun sendiri.

“bagaimana kalau dia melemparkan Soehengku ke bawah? tanya Ho Pit Ong. “Siauw Ong Ya, janganlah membakar.

Ong Po Po hanya mengeluarkan suara di hidung dan tidak meladeninya.

Tak lama kemudian para boesoe sudah menumpuk rumput dan kayu kering di seputar menara dan lalu mulai menyulutnya.

Ho Pit Ong adalah seorang ternama besar dalam rimba persilatan. Dengan mendapat undangan yang disertai segala kehormatan ia bekerja kepada Jie Lam Ong dan selama banyak tahun ia dihormati oleh majikan dan rekan-rekannya. Siapa duga hari ini, ia bukan saja ditipu oleh Kouw Touwtoo, tapi juga sudah tidak dipandang sebelah mata oleh Ong Po Po? Karena kakaknya sedang menghadapi bahaya, ia menjadi kalap. Tanpa memperdulikan suatu apa lagi, sambil mengangkat kedua pitnya yang berbentuk patuk burung ho, ia melompat dan menendang dua orang boesoe yang tengah menyulut tumpukan kayu. Hampir berbareng, kedua boesoe itu terpental dan roboh di tanah.

“Ho Sianseng!‿ Bentak Ong Po Po. “apa kau mau mengacau?‿

“Aku takkan mengacau, jika kau tak membakar menara,‿ jawabnya.

“Bakar! teriak Ong Po Po dengan gusar. Seraya membentak, ia mengibaskan tangan kirinya. Hampir berbareng dari belakang pangeran muda itu melompat keluar lima orang Hoan ceng yang mengenakan baju merah. Mereka mengambil obor dari lima boesoe dan lalu menyulut tumpukan kayu. Perlahan-lahan api berkobar-kobar.

Ho Pit Ong bingung bukan main. Dari tangan seorang boesoe, ia merampas sebatang tombak yang lalu digunakan untuk memukul-mukul api.

Ong Po Po naik darah, “Tangkap! bentaknya.

Kelima Hoan Ceng baju merah itu lantas saja menghunus golok dan mengurung. Ho Pit Ong melemparkan tombaknya dan coba merampas golok hoan Ceng yang berdiri di sudut kiri. Tapi pendeta itu bukan sembarang orang. Dengan sekali membalik tangan, ia mengegos sambaran tangan Ho Pit Ong dan terus membacok. Baru saja Ho Pit Ong berkelit, dua golok sudah menyambar pula punggungnya.

Kelima Hoan Ceng (pendeta asing) itu adalah orang-orang kepercayaan Ong Po Po dan mereka termasuk di dalam Thian Liong Sip Pat Po (delapan belas jago Thian Liong) Pemuda itu suka sekali pesiar seorang diri dengan menunggang kuda. Tapi kemanapun ia pergi, dari sebelah kejauhan ia selalu diikuti oleh delapan pengawal pribadinya. Thian Liong Sip Pat Po terdiri dari Ngo To, Ngo Kiam, Sie Thung, dan Sie Poa (lima golok, lima pedang, empat tongkat, dan empat cecer) Lima Hoan ceng yang bersenjata adalah Ngo To Sin (malaikat lima golok) biarpun lihai kalau satu lawan satu, mereka bukan tandingan Ho Pit Ong. Tapi dengan bekerja sama, mereka telah membuat Ho Pit Ong jadi ripu sekali. Tapi keteternya si tua sebagian disebabkan oleh rasa bingungnya dalam memikirkan nasib kakak seperguruannya.

Sesudah Ho Pit Ong dirintangi oleh kelima Hoan Ceng, sejumlah boesoe segera bantu menyalakan api yang makin lama jadi makin besar.

Melihat musuh menggunakan api, Hoan Yauw bingung bercampur kuatir. Sesudah menaruh kasur yang membungkus Lok Thung Kek dan hk di lantai, buru-buru ia masuk ke beberapa kamar tahanan. “Tat Coe membakar menara!‿ teriaknya, “apa lweekang kalian sudah pulih kembali?‿

Tapi teriakannya tidak mendapat jawaban. Ia mendapat kenyataan bahwa Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe, dan yang lain-lain sedang bersemedi. Mereka semua memejamkan mata dan tidak memberi jawaban. Hoan Yauw tahu bahwa mereka berada pada detik yang sangat penting yaitu detik menjelang pulihnya tenaga dalam mereka.

Sementara sejumlah boesoe yang menjaga di beberapa lantai telah dirobohkan dan dilontarkan ke bawah oleh Hoan Yauw sehingga mereka binasa seketika. Juga ada penjaga yang melompat turun sendiri.

Tak lama kemudian api sudah membakar lantai ketiga. Yang dikurung di lantai ini adalah rombongan Hwa San Pay yang terpaksa lari ke lantai empat. Api terus membakar keras. Orang-orang Khong Tong Pay yang ditahan di lantai keempat juga terpaksa naik ke lantai lima bersama-sama rombongan Hwa San Pay.

Makin lama Hoan Yauw jadi makin bingung. Sekonyong-konyong mereka mendengar teriakan seseorang. “Hoan Yoe Soe! Sambutlah!

Hoan Yauw girang. Itulah teriakan Wie It Siauw yang berdiri di atas wuwungan gedung belakang Ban Hoat Sie. Dengan sekali menghuyun tangan, terbanglah seutas tambang yang lalu disambut Hoan Yauw. “Ikatlah dilainkan supaya menjadi jembatan tambang!‿ teriak pula Wie Hok Ong.

Tapi baru saja Hoan Yauw mengikat tambang itu, Tio It Siang salah seorang dari Sin Cian Pat Hiong sudah memutuskannya dengan anak panah. Wie It Siauw dan Hoan Yauw mencaci kalang kabut, tapi mereka tahu, bahwa tak guna mencobanya lagi. “Bangsat! Kau sungguh sudah bosan hidup! teriak Wie It Siauw seraya menghunus senjata dan melompat turun. Ia menggunakan sepasang gaetan berbentuk kepala harimau yang jarang sekali digunakan kecuali dalam detik-detik berbahaya. Begitu kakinya hinggap di bumi. Lima Hoan Ceng yang berbaju hijau dan bersenjata pedang lantas saja mengepungnya. Kelima pendeta asing itu ialah Ngo Kiam Ceng dari Thian Liong Sip Pat Po.

Sedang api terus berkobar-kobar, dengan rasa bingung Ho Pit Ong bertempur mati-matian. “Siauw Ong ya! teriaknya. “Kalau kau tak mau memadamkan api, aku takkan berlaku sungkan lagi terhadapmu.

Ong Po Po tidak meladeninya. Empat Hoan yang bersenjata tongkat lantas berdiri di seputar majikan mereka untuk menjaga serangan di luar dugaan. Ho Pit Ong jadi nekat. Tiba-tiba dengan kedua pit, ia membabat dengan pukulan Hoang Siauw Cian Koen(menyapu ribuan tentara) karena serangan itu hebat luar biasa, tiga hoan ceng terpaksa melompat mundur. Dengan menggunakan kesempatan itu, Ho Pit Ong melompat tinggi dan bagaikan seekor elang, kedua kakinya hinggap di payon lantai menara tinggi yang pertama itu. Melihat api yang berkobar-kobar, kelima pendeta asing itu tidak berani mengejar.

Sambil mengempos semangat, Ho Pit Ong naik ke atas. Waktu ia tiba di lantai keempat, Hoan Yauw yang berdiri di lantai ke tujuh, mengangkat kasur tinggi-tinggi sambil berteriak, “tua bangka she Ho, berhenti kau! Kalau kau maju setindak lagi, badan soehengmu akan hancur bagaikan perkedel.

Diancam begitu, benar-benar Ho Pit Ong memberhentikan semua tindakannya. “Kouw Thay Soe! teriaknya dengan suara memohon. “Soehengku belum pernah berbuat kedosaan terhadapmu dan kita belum pernah bermusuhan, mengapa kau begitu kejam? Kalau kau mau menolong kecintaan Biat Coat Soethay, dan puterimu Cioe Kouw Nio, kau boleh menolong. Kami pasti takkan menghalang-halangi.’

Sekarang marilah kita menengok Biat Coat Soethay. Setelah menelan bubuk yang diberikan Hoan Yauw, ia menduga bahwa ia akan segera mati. Ia tidak takut mati. Yang membuat perasaannya berduka ialah turut matinya Cioe Cie Jiak. Dengan matinya murid itu, habislah harapannya. Selagi berada dalam kedukaan besar, sekonyong-konyong ia mendengar suara ribut-ribut di kaki menara disusul dengan caci mencaci antara Kouw Touwtoo dan Ho Pit Ong. Sesudah itu, Ong Po Po memerintahkan dibakarnya menara. Semua kejadian itu didengar jelas olehnya. Ia merasa heran dan berkata di dalam hati. “apa tak bisa jadi touwtoo bangsat itu benar-benar menolong aku? sambil memikir begitu, ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya. Sekonyong-konyong ia merasakan naiknya seperti hawa hangat dari bagian tan-tian (pusar). Ia terkesiap. Inilah tanda bahwa tenaga dalamnya mulai pulih.

Dengan wataknya yang sangat keras. Biat Coat menolak untuk memperlihatkan kepandaiannya di hadapat Tio Beng dan telah mogok makan enam tujuh hari sehingga perutnya kosong. Karena perut kosong, obat pemunah bisa bekerja lebih cepat. Berkat lweekangnya yang sangat kuat maka racun Sip Hian Joan Kin san segera terdorong ke luar. Inilah sebabnya mengapa begitu lekas ia mengerahkan tenaga dalam, hawa hangat lantas saja naik ke atas. Tak kepalang girangnya si nenek. Cepat-cepat ia bersila dan mengatur jalan napasnya. Belum cukup setengah jam, kira-kira separuh lweekangnya sudah pulih kembali.

Sambil bersemedi, ia terus memasang kuping. Mendadak ia mendengar perkataan Ho Pit Ong yang tajam bagaikan pisau, “… kalau kau menolong kecintaanmu, Biat Coat Soethay, dan puterimu, Cioe Kouw Nio, kau boleh menolong…. “

Biat Coat adalah gadis yang putih bersih. Di waktu masih muda ia bahkan tidak pernah menemui orang lelaki. Dengan demikian dapatlah dibayangkan betapa besar kegusarannya. Dengan mata merah, ia berbangkit dan menghampiri lankan. “Bangsat! Apa kau kata? teriaknya.

“Toosoethay, Ho Pit Ong berkata dengan suara memohon. “bujuknya… sahabatmu. Lepaskanlah soehengku. Aku tanggung keluargamu yang terdiri dari tiga orang akan bisa keluar dari kelenteng ini dengan selamat. Hian Beng Jie Loo tidak pernah menjilat ludah sendiri.

“Apa itu keluarga dari tiga orang? teriak pula Biat Coat .

Walaupun tengah menghadapi bencana Hoan Yauw tertawa terbahak-bahak. “Loo Soethay!‿ teriaknya, “dia mengatakan bahwa aku adalah kecintaanmu dan Cioe Kouw Nio adalah puteri kita berdua.

Paras muka si nenek berubah merah padam. Dengan disoroti sinar api, muka itu sungguh menakuti. “penjahat she Ho! bentaknya. “Naik kau! Mari kita bertempur sampai ada yang mampus!

Di waktu biasa, Ho Pit Ong pasti akan segera menyambut tantangan itu. Sedikitpun aku tidak merasa takut terhadap Ciang Boen Jin Go Bie Pay. Tapi sekarang kakaknya berada dalam tangan musuh dan ia tidak berani mengubar napsu amarahnya.

“Kouw Touwtoo, itulah keterangan yang diberikan olehmu sendiri,‿ katanya.

Hoan Yauw kembali tertawa besar. Baru saja ingin mengejek si nenek, di kaki menara terdengar suara ribut yang sangat hebat. Cepat-cepat ia melongok ke bawah. Diantara musuh diringi suara gemerencengnya senjata-senjata yang jatuh di tanah. Orang itu Kauw Coe Thio Boe Kie.

Begitu lekas Boe Kie turun tangan, lima batang pedang dari kelima hc yang mengurung Wie It Siauw lantas saja terpental ke tengah udara. Wie Hok Ong girang tak kepalang. Dengan sekali melompat, ia sudah berada di samping Boe Kie dan berbisik, “Kauw Coe, aku mau pergi ke gedung Jie Lam Ong untuk melepas api. Boe Kie mengerti maksudnya dan segera mengangguk. Ia tahu, bahwa dengan beberapa orang kalau pihaknya tidak berhasil dalam waktu cepat, musuh segera mengirim bala bantuan maka usaha menolong tokoh-tokoh keenam paratai bisa gagal semua. Didalam hati, ia memuji siasat Ceng Ek Hok Ong yang sangat lihai. Begitu lekas Ong Hoe kebakaran, para boesoe pasti akan buru-buru pulang untuk melindungi keluarga raja muda itu. Dilain saat, dengan sekali berkelabat, Wie Hok Ong sudah berada di atas tembok kelenteng yang tinggi.

Sesudah Wie It Siauw berlalu. Boe Kie menengadah dan berteriak, “Hoan Yoe Soe, bagaimana kau?

“Celaka besar! jawabnya, “Jalanan turun terputus, aku tidak dapat meloloskan diri lagi!

Sesaat itu, empat belas anggota Thian Liong Sip Pat Po serentak menerjang dan mengepung Boe Kie dari berbagai jurusan. Melihat jumlah musuh yang sangat besar, pemuda itu berpendapat bahwa jalan satu-satunya adalah membekuk pemimpin rombongan yang memakai topi emas untuk memaksa dia memadamkan api. Dengan sekali melompat, ia sudah menoblos dari kepungan bagaikan gerakan seekor ikan. Dilain saat dia sudah berhadapan dengan Ong Po Po. Tapi sebelum ia sempat bergerak, sebatang pedang menyambar dadanya. “Thio Kauw Coe, jangan lukai kakakku!‿ kata orang yang menikam yang bukan lain daripada Tio Beng. Sambaran pedang itu disertai dengan hawa yang sangat dingin dan Boe Kie tahu, bahwa ia berhadapan dengan Ie Thian Kiam. Bagaikan kilat, ia berkelit ke samping.

“Lekas kau perintah orang memadamkan api dan melepaskan semua tahanan, kata Boe Kie. “Kalau tidak, aku tak akan berlaku sungkan lagi.‿

“Thian Liong Sip Pat Po! teriak Tio Beng. “Orang itu berkepandaian sangat tinggi. Kepung dia dengan barisan Thian Liong Tin!

Tanpa diberitahukan, kedelapan belas hc itu sudah tahu kelihaian Boe Kie. Mereka lantas saja bergerak dan merupakan semacam tembok manusia di antara Boe Kie dan kedua majikan mereka. Melihat cara bertindak yang sangat aneh dari kedelapan belas lawan itu, Boe Kie tahu bahwa Thian Liong Tin tidak boleh dipandang enteng. Tiba-tiba saja kegembiraannya muncul dan ia mengambil keputusan sebelum ia bergerak. Sekonyong-konyong terdengar suara gedubrakan dan sepotong balok yang apinya berkobar-kobar jatuh ke bawah.

Boe Kie mengawas ke atas. Api sudah membakar lantai ke enam dan di antara sayap ia melihat dua orang yang sedang bertempur mati-matian. Mereka itu adalah Biat Coat Soethay dan Ho Pit Ong. Lantai jatuh yaitu lantai yang tertinggi penuh dengan manusia tokoh-tokoh keenam paratai. Lweekang mereka belum pulih semua, tapi biarpun dalam keadaan sehat, mereka tidak akan bisa melompat dengan selamat dari tempat itu yang tingginya beberapa puluh tombak. Jika mereka melompat juga, mereka pasti celaka. Kalau tidak binasa, sedikitnya patah tulang.

Dalam waktu beberapa detik, Boe Kie mengasah otak. “kalau aku mencoba untuk memecahkan Thian Liong Tin, usaha itu meminta waktu, pikirnya. “Apapula andaikata Thian Liong Tin pecah, lain-lain jago pasti akan turun mengepung. Tak gampang untuk aku membekuk pangeran itu, Biat Coat Soethay dan Ho Pit Ong sudah bertempur lama juga dan belum ada yang kalah. Tenaga dalam si nenek sudah pulih kembali. Dengan demikian lweekang toasupeh dan lain-lain cianpwee-pun sudah pulih. Kalau belum semua sedikitnya sebagian besar. Hanya sayang menara itu terlampau tinggi dan kalau melompat mereka pasti celaka. Tiba-tiba ia mendapat satu ingatan baik dan ia segera mengambil keputusan apa yang harus diperbuatnya. Sambil membentak keras, ia lari berputar-putar. Kedua belah tangannya bekerja bagaikan kilat. Dalam sekejab, Sin Cian Pat Hiong roboh dan gendewa mereka dirampas atau dipatahkan. Lain-lain boesoe yang bersenjata gendewa dan anak panah pun diserang. Ada yang senjatanya dipatahkan, ada yang dipukul roboh dan adapula yang ditotok jalan darahnya. Sesudah pasukan anak panah tidak berdaya, Boe Kie mendongak pula dan berteriak, “Para cianpwee yang berada di atas! Lompatlah! Aku akan menyambut kalian.

Mendengar teriakan itu, orang-orang yang di atas terkejut. Anjuran pemuda itu tak mungkin dilaksanakan. Dengan melompat dari tempat atas menara yang sangat tinggi, tenaga jatuh hebat bukan main. Sedikitnya ribuan kati. Bagaimana dia bisa menyambutnya? Beberapa orang Khong Tong dan Koen Loen lantas saja berteriak-teriak menolak anjuran itu.

“Tak bisa! Terlalu tinggi!

“Jangan kena diakali oleh bocah itu!

“Kalau kita menurut, badan kita akan hancur luluh!

Dengan hati berdebar-debar, Boe Kie mengawasi ke atas. Api sudah mulai menjilat lantai ke tujuh. Waktu sudah mendesak. Ia jadi semakin bingung. “Boh Cit Siok!‿ Teriaknya dengan suara memohon. “budimu besar bagaikan gunung. Apa mungkin Siauw Tit mencelakai citsiok! Citsiok, kau lompatlah lebih dulu!

Boh Seng Kok adalah seorang yang bernyali sangat besar. Dengan segera ia mengambil keputusan. Daripada mati terbakar, memang lebih baik mati terjatuh. “baiklah! Teriaknya seraya melompat ke bawah.

Boe Kie mengawasi dengan mata tajam. Pada detik tubuh Boh Cit Hiap terpisah kira-kira empat kaki dari bumi, dengan menggunakan tenaga dan gerakan Kian Koen Tay Lo Sin Kang paling tinggi, ia menepuk pinggang sang paman. Begitu “dimuntahkan sin kang memunahkan tenaga jatuhnya cit hiap dan mendorongnya ke atas, sehingga tubuh pendekar itu mengapung ke atas kira-kira setombak tingginya.

Tenaga dalam Boh Seng Kok sudah pulih sebagian. Berbareng dengan mengapungnya, ia mengerahkan lweekang dan mengeluarkan ilmu ringan badan, sehingga di lain saat ia melayang ke bawah dan kedua kakinya hinggap di tanah dengan selamat. Tiba-tiba seorang boesoe menyerang. Dengan sekali menghantam, Boh Seng Kok sudah merobohkan pembokong itu. “toasoeko, jiesoeko, siesoeko! teriaknya dengan girang, “Lekas lompat!

Berhasilnya Boh Seng Kok disambut dengan sorak sorai oleh semua jago yang sedang dikepung api. Sebagai seorang ayah yang sangat mencintai anaknya, Song Wan Kiauw berkata, “Ceng Soe, kau lompatlah lebih dahulu! sedari keluar dari kamar tahanan, Song Ceng Soe terus mendampingi Cioe Cie Jiak. Mendengar anjuran ayahnya, ia segera berkata kepada si nona, “Cioe Kouw Nio, kau lebih dahulu.

Cie Jiak menggelengkan kepala, “aku tunggu soehoe, katanya.

Sementara itu, satu demi satu tokoh-tokoh keenam partai melompat turun dengan disambut Boe Kie. Sebagai ahli-ahli silat kelas utama, biarpun tenaga dalam mereka baru pulih sebagian, mereka sudah bukan tandingan boesoe biasa. Boh Seng Kok dan yang lain-lain segera merampas senjata dan mereka berdiri di seputar Boe Kie untuk melindungi pemuda itu dalam menyambut orang-orang yang melompat turun. Kaki tangan Ong Po Po yang coba menyerang Boe Kie dengan mudah dipukul mundur. Setiap orang melompat turun berarti penambahan tenaga bagi pihak Boe Kie. Sedari ditangkap, dikurung, dan dihina bahkan ada beberapa orang yang diputuskan jari-jari tangannya. Sakit hati mereka bertumpuk-tumpuk. Sekarang mereka mendapat kesempatan untuk melampiaskan sakit hati itu. Mereka berkelahi bagaikan harimau edan dan dalam sekejab, berpuluh-puluh boesoe sudah menggeletak tanpa bernyawa.

Melihat bahaya, Ong Po Po segera berkata, “panggil pasukan anak panah yang menjadi pengawal pribadiku!

Tapi sebelum Ali Chewa berlaku untuk menjalankan perintah itu, sekonyong-konyong di sebelah tenggara terlihat api yang berkobar-kobar. Ali Chewa terkejut, “Siauw Ong Ya!‿ katanya, “Ong Hoe kebakaran! Kita harus melindungi Ong Ya.

Ong Po Po mengangguk, “adikku, katanya kepada Tio Beng. “Aku pulang lebih dulu. Kau harus berhati-hati. Tanpa menunggu jawaban, ia mengedut les kuda dan segera berangkat dengan dilindungi oleh sejumlah pengiring.

Berlalunya Ong Po Po berarti berlalunya Thian Hoan Sip Pat Po dan sejumlah boesoe. Melihat kebakaran di gedung Ong Hoe, boesoe lainnya yang masih bertempur juga tidak bisa berkelahi dengan hati tenang.

Dengan cepat, terutama setelah turunnya tokoh-tokoh Siauw Lim Sie, keadaan jadi berubah. Pihak Boe Kie jadi lebih kuat. Tio Beng tahu, jika ia bertahan lebih lama lagi, ia sendiri bisa menjadi orang tawanan. Maka itu, ia lantas saja berseru, “Semua orang keluar dari Ban Hoat Sie!

Ia lalu menengok kepada Boe Kie dan berkata pula sambil tersenyum, “besok magrib aku mengundang lagi kau minum arak.

Boe Kie terkejut, sebelum ia sempat menjawab, si nona sudah berlalu dan mundur ke bagian belakang Ban Hoat Sie.

Sekonyong-konyong di atas menara terdengar teriakan Hoan Yauw, “Cioe Kouw Nio, lekas lompat! Api akan segera membakar alismu, apa kau mau menjadi gadis tanpa alis?‿

“Aku ingin menemani soehoe, jawabnya.

Ketika itu, Biat Coat dan Ho Pit Ong tengah melakukan pertempuran mati-matian. Tenaga dalam si nenek belum pulih semua, tapi ia sudah tak memikir hidup. Dengan kalap, ia menyerang tanpa memperdulikan pembelaan diri. Di lain pihak, sebab memikiri keselamatan soeheng-nya, Ho Pit Ong tidak bisa berkelahi dengan hati mantap. Selain begitu, sesudah kena racun Boe Kie, tenaga dan gerak-geriknya pun tak seperti biasa lagi. Maka itulah, sesudah bertempur beberapa lama, keadaan kedua belah pihak masih berimbang.

Mendengar perkataan muridnya, Biat Coat berkata, “Cie Jiak, lekas turun, jangan perdulikan aku! Penjahat ini terlalu mengejek aku. Tak bisa aku mengampuni jiwanya.‿

Ho Pit Ong mengeluh. Ia ingin menolong soehengnya dan di luar dugaan, si nenek menyerang secara nekat-nekatan. “Biat coat Soethay!‿ teriaknya. “Omongan itu berasal dari Kouw Touwtoo, bukan karanganku.‿

Sambil menghantam Ho Pit Ong dengan telapak tangan, Biat Coat menengok dan bertanya, “Touwtoo bangsat, apa benar kau yang mengeluarkan omongan gila-gila itu?‿

“Omongan apa?‿ Hoan Yauw balas menanya. Dengan menanya begitu, ia ingin si nenek mengulangi ejekannya, bahwa ia dan Biat Coat adalah kecintaan dan bahwa Cie Jiak adalah anak mereka. Tapi si nenek tentu saja tidak dapat mengulangi kata-kata itu. Mendengar nada suara Ho Pit Ong, ia tahu bahwa musuh itu tidak berdusta. Darahnya bergemetaran.

Sesaat itu, selagi Biat Coat menengok kepada Hoan Yauw, segulung asap tiba-tiba menyambar. Ho Pit Ong sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik. Sambil melompat menerjang ia menghantam punggung si nenek.

“Soeboe, hati hati!‿ teriak Cie Jiak.
“Niekouw tua, hati hati!‿ seru Hoan Yauw.

Bagaikan kilat Biat Coat berbalik dan menangkis. Tangan kirinya menyambut tangan kiri Ho Pit Ong, tapi ia tidak keburu menangkis tangan kanan musuh yang memukul dengan Hian beng Sin Ciang. Begitu punggungnya terpukul, badan si nenek bergoyang-goyang, hampir-hampir ia jatuh terguling. Cie Jiak terkesiap, ia melompat dan memeluk gurunya.

“Manusia licik!‿ bentak Hoan Yauw dengan gusar. “Tak bisa kau dan kakakmu diberi hidup lebih lama lagi,‿ seraya berkata begitu, ia melemparkan ke bawah kasur yang menggulung tubuh Lok Thung Kek dan Han kie. Hati Ho Pit Ong mencelos. Tanpa memikir lagi, ia turut melompat tapi kasur itu sudah melayang agak jauh dan ia hanya bisa menjambret ujungnya. Dengan kecepatan luar biasa, ia pun turut melayang ke bawah.

Karena teraling asap dan api, Boe Kie tak tahu apa yang terjadi di puncak menara. Tiba-tiba ia melihat jatuhnya serupa benda dan seorang manusia. Ia tak tahu apa adanya benda itu, tapi ia segera mengenali, bahwa manusia itu adalah Ho Pit Ong. Kakek itu adalah musuh besar yang sudah menyebabkan banyak penderitaannya. Bahkan kebinasaan kedua orang tuanya pun adalah gara-gara Hiam beng Jie lo. Tapi ia seorang berhati mulia yang tak bisa mengawasi kebinasaan dengan berpeluk tangan. Pada detik itu, dengan melupakan sakit hatinya, ia melompat ke atas dan menepuk dengan kedua tangannya, sehingga kasur dan Ho Pit Ong terpental ke kiri-kanan kurang lebih tiga tombak jauhnya.

Sesudah berjungkir balik, kedua kaki Ho Pit Ong hinggap di tanah. “Hah! Sungguh berbahaya‿ katanya. Ia tak pernah mimpi, bahwa Boe Kie akan membalas kejahatan dengan kebaikan. Tapi ia tidak sempat memikir lain dan segera menengok ke sana sini untuk mencari soehengnya. Tiba-tiba ia terkejut, karena kakak itu menggeletak di tumpukan api. Dalam usaha untuk menolong, kali ini Boe Kie harus menggunakan kedua tangannya. Menggunakan kedua tangan tentu saja lebih berat daripada menggunakan sebelah tangan. Apa pula karena di dalam kasur itu terdapat dua manusia, maka tenaga jatuh kasur itu pun jadi lebih hebat. Oleh karena itu waktu menepuk kasur, ia tidak bisa memperdulikan lagi arahnya. Begitu tertepuk kasur terbuka dan dua sosok tubuh manusia ambruk di tumpukan api. Karena jalan darahnya tertotok, Lok Thung kek tak bisa bergerak dan rambutnya lantas saja terbakar.

“Soeko!‿ teriak Ho Pit Ong seraya menubruk dan memeluk tubuh kakaknya. Selagi ia melompat keluar dari api yang berkobar-kobar waktu kedua kakinya belum keluar dan menginjak bumi. Jie Lian Cioe memapaki dengan pukulan pada pundaknya. “Sambutlah!‿ bentak pendekar Boe tong itu. Ho Pit Ong tidak dapat menangkis dan coba berkelit dengan miringkan pundaknya, tapi telapak tangan Jie Lian Cioe menyusul ke bawah. “Plak!‿ badan si kakek she Ho bergemetaran dan keringat dingin keluar dari dahinya. Sambil menggigit gigi ia melompat ke atas tembok.

Sesaat itu sebatang balok yang berkobar2 jatuh dan menimpa tubuh Han kie yang lantas saja terbakar.

Sementara itu semua orang yang sudah berada di bawah mendongak mengawasi ke atas sambil berteriak-teriak.

“Turun! Hayo, lekas!‿
“Lompat! Lompat!‿

Di antara api dan asap Hoan Yauw kelihatan melompat kesana sini untuk meloloskan diri dari kobaran api. Satu demi satu balok balok jatuh ke bawah diiringi meluruknya genteng dan bata. Puncak menara mulai goyang-goyang.

“Cie Jiak lompatlah!‿ bentak Biat coat.

“Soeboe, sesudah kau, baru aku,‿ jawabnya.

Sekonyong-konyong si nenek melompat dan menghantam pundak Hoan Yauw. “Bangsat Mo kauw mampus kau!‿ teriaknya.

Sambil tertawa nyaring Hoan Yauw berkelit dan menerjun ke bawah. Boe Kie segera menyambutnya dengan tepukan Kian kun tay lo ie Sin kang. “Hoan Yoesoe, kau telah berhasil dan kami menghaturkan terima kasih,‿ kata Thio Kauwcoe.

“Ini semua bukan jasaku,‿ jawabnya dengan merendahkan diri. “Kalau Kauwcoe tak menolong dengan sin kang, semua orang akan menjadi babi panggang di puncak menara.‿

Melihat Hoan Yauw sudah melompat ke bawah, sambil menghela napas Biat coat memeluk pinggang muridnya dan segera meninggalkan puncak menara yang hampir roboh. Waktu terpisah kira-kira setombak dari bumi, mendadak ia mendorong dengan kedua tangannya, sehingga tubuh nona Cioe mengapung ke atas kurang lebih setombak, sedang tenaga jatuh si nenek sendiri jadi makin hebat.

Sambil mengawasi dengan mata tajam, Boe kie menepuk pinggang Biat coat dengan Kian koen tay loe ie sin kang. Di luar dugaan, Biat coat yang telah mengambil keputusan untuk mati dan sungkan menerima budinya Beng kauw, sekonyong-konyong menghantam dengan seantero sisa tenaganya. Dengan bentroknya kedua tangan Sin kang terdorong ke lain arah dan “bruk‿ si nenek ambruk di tanah dengan patah beberapa tulangnya, Boe kie sendiri merasa dadanya menyesak dan ia terhuyung beberapa tindak. Ia sungguh tidak mengerti sikap si nenek, karena pukulannya itu berarti membunuh diri sendiri.

Cie Jiak menubruk dan memluk tubuh gurunya, “Soeboe… soeboe….‿, jeritnya dengan suara menyayat hati. Para murid Go bie segera mengerumuni sang guru.

Perlahan lahan Biat coat Soethay membuka kedua mata. “Cie Jiak,‿ katanya dengan suara lemah, “mulai hari ini kau menjadi Ciang boenjin dari partai kita. Apakah kau masih mau berjanji untuk menaati perintahku?‿

“Ya… soeboe…‿

Si nenek tersenyum. “Kalau begitu‿, bisiknya, “aku bisa mati dengan mata meram…‿

Sesaat itu Boe Kie menghampiri dan memegang nadi si nenek untuk melihat apa orang tua itu masih bisa ditolong. Tiba tiba Biat coat membalik tangannya dan mencengkeram pergelangan Boe Kie. “Murid cabul Mo kauw!‿ bentaknya. “Jika kau menodai kesucian muridku, biarpun sudah menjadi setan aku tak akan mengampuni…‿ Ia tak bisa meneruskan perkataannya dan segera menghembuskan napas yang penghabisan, tapi jari-jari tangannya masih tetap mencekal pergelangan tangan Boe Kie.

Mendadak terdengar teriakan Hoan Yauw, “Semua orang ikut aku! Kita keluar dari pintu kota sebelah barat. Kalau terlambat tentara musuh bangsat itu akan mengepung kita.‿

Sambil mendukung jenazah Biat coat, Boe Kie berkata, “Baiklah kita berangkat sekarang.‿ Cie Jiak menyodorkan kedua tangannya dan menyambut jenazah gurunya dari tangan Boe Kie. Sesudah itu tanpa mengeluarkan sepatah kata ia bertindak keluar dari Ban hoat sie.

Sementara itu, orang2 Koen loen, Khong tong dan Hwa san pay sudah keluar lebih dahulu. Yang terus berdiam menemani Boe kie adalah Kong boen dan Kong tie. Setelah rombongan lain lain partai berangkat semua, sambil merangkap kedua tangannya menghaturkan terima kasih kepada Boe Kie yang menjawabnya dengan kata kata merendahkan diri. Akhirnya bersama pendekar2 Boe tong dan Boe kie, Kong boen dan Kong tie juga turut meninggalkan Ban hoat sie.

Berjalan belum beberapa jauh, Boe Kie ternyata telah terlalu lelah, karena dalam menolong rombongan keenam partai, ia sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga dan bentrokan dengan Biat coat juga telah melukai bagian dalam dari tubuhnya. Boh Seng Kok segera menggendong keponakannya yang sambil digendong, perlahan-lahan mengerahkan Kioe yang sin kang untuk memulihkan tenaga dalamnya.

Waktu fajar menyingsing rombongan itu tiba di pintu kota sebelah barat. Dengan tak banyak sukar, mereka mengusir tentara yang menjaga pintu. Di tempat yang jauhnya beberapa li dari pintu kota, Yo Siauw telah menunggu dengan kuda kuda dan kereta. Sambil tertawa ia memberi selamat kepada orang2 yang baru saja terlolos dari lubang jarum.

“Tanpa pertolongan Thio Kauwcoe dan anggota2 Beng kauw, rombongan keenam partai pasti menemui kebinasaan,‿ kata Kong boen Taysoe. “Untuk budi yang besar itu, kami hanya bisa menghaturkan banyak terima kasih. Kini kita harus memikiri tindakan selanjutnya dan kuharap Thio Kauwcoe suka memutuskannya.‿

“Aku yang rendah berpengetahuan sangat cetek,‿ kata Boe Kie. “Dalam hal ini, aku mohon perintah Hong thio.‿

Tapi, biarpun dipaksa, Kong boen Taysoe menolak untuk memegang pimpinan.

“Tempat ini tak jauh dari kota raja,‿ kata Thio Siong kee. Sesudah kita mengacau hebat, raja muda pasti tidak akan menyudahi saja. Dia pasti akan segera mengirim tentara yang kuat untuk mengejar kita. Biar bagaimana pun jua kita tak boleh berdiam lama lama di sini dan harus pergi ke tempat lain.‿

“Paling baik bila raja muda bangsat itu mengirim tentaranya,‿ kata Ho Thay ciong. “Kita bisa menghajar mereka sepuas hati.‿

Thio Siong kee menggelengkan kepala. “Aku tidak setuju,‿ katanya. “Lweekang kita belum pulih seanteronya dan pada hakekatnya kita masih mempunyai banyak waktu untuk menghajar Tat coe. Pada saat ini, jalan yang paling baik ialah menyingkirkan diri‿.

“Thio Shiehiap benar,‿ kata Kong boen. “Kalau bertempur, biarpun kita bisa membinasakan banyak Tat coe, pihak kitapun pasti akan menderita kerusakan besar. Memang sebaiknya kita menyingkir untuk sementara saat.

Sesudah Kong boen menyatakan pendapatnya, yang lain tak berani membantah lagi.

“Thio Siehiap, menurut pendapatmu, kemana kita harus pergi?‿ tanya Kong boen.

“Tat coe tentu menduga, bahwa kita pergi ke selatan atau ke tenggara,‿ jawabnya. “Untuk menyelesaikannya, kita menyingkir ke tempat yang tidak diduga mereka. Sebaiknya kita pergi ke Monggolia. Bagaimana pendapat kalian?‿

Semua orang kaget. Monggolia adalah negeri Tat coe. Cara bagaimana mereka mau diajak masuk ke sarang musuh?

Tapi Yo Siauw menepuk nepuk tangan dan berkata sambil tertawa. “Tepat benar pendapat Thio Siehiap. Monggolia sedikit penduduknya dan digurun pasir yang luas, dengan mudah kita mencari tempat sembunyi. Tat coe tentu menganggap kita bakal kembali ke Tiong goan. Mereka tak akan mimpi, bahwa kita berbalik menyatroni sarang mereka.‿

Sekarang semua orang tersadar. Diam diam mereka memuji kecerdasan Thio Siog Kee. Semua orang lalu menunggang kuda atau naik kereta dan segera berangkat ke arah utara.

Sesudah melalui kira kira lima puluh li, rombongan itu berhenti di sebuah selat gunung. Yo Siauw segera mengeluarkan makanan kering dan arak yang memang sudah disediakannya. Sambil beromong omong, tokoh keenam partai menyatakan rasa terima kasihnya terhadap Boe Kie dan Hoan Yauw yang sudah menolong jiwa mereka.

Sementara itu, Cioe Cie Jiak dan murid murid Go bie lainnya menggali lubang dan menguburkan jenazah guru mereka. Kong boen, Kong tie, Sen Wan Kiauw, Boe Kie dan yang lain2 bersembahyang dan memberi hormat terakhir kepada si nenek. Biat coat soethay adalah salah seorang pendekar kenamaan pada jaman itu. Biarpun adatnya aneh, ia seorang jujur dan selama hidupnya banyak menolong sesama manusia, sehingga segenap Rimba Persilatan menghormatinya. Waktu bersembahyang para murid Go bie menangis sedu sedan, sedang jago jago keenam partai turut merasa sedih.

“Orang yang mati tak bisa hidup kembali,‿ kata Kong boen taysoe dengan suara nyaring. “Para pendekar Go bie janganlah terlalu berduka. Asal kalian bisa penuhi mendiang gurumu, maka biarpun Soethay sudah meninggal dunia, ia seperti juga masih hidup di dalam dunia. Kali ini musuh menggunakan racun dan kita semua sama sama menderita. Kong seng Soetee dari partai kami juga binasa dalam tangan Tat coe. Sakit hati ini pasti mesti dibalas. Cara bagaimana kita harus membalasnya, kita sekarang harus berunding masak masak.‿

“Benar,‿ menyambung Kong tie. “Dalam waktu yang lampau enam partai bermusuhan keras dengan Beng kauw. Tak dinyana Thio Kauwcoe membalas kejahatan dengan kebaikan dan sudah menolong kita semua. Mulai dari sekarang kedua belah pihak meniadakan permusuhan dan melupakan segala apa yang sudah terjadi. Hari ini dengan meminjam kesempatan dari kumpulnya semua partai, loolap ingin mengajukan sebuah usul. Usul itu ialah kita beramai ramai mengangkat Thio Kauwcoe sebagai Beng coe (kepala perserikatan) dari perserikatan partai2 Rimba Persilatan di wilayah Tiong goan. Dengan berserikat dan bekerja sama dan bersatu padu, kita berusaha untuk mengusir Tat coe dari tanah air kita.‿

Usul itu disambut dengan sorak sorai gegap gempita oleh para hadirin. Hanya Cioe Cie Jiak seorang yang tidak mengeluarkan sepatah kata. Ia menunduk dan memikirkan janji yang telah diberikannya kepada sang guru.

Boe Kie kaget. Ia menggoyang goyangkan kedua tangannya dan menggeleng gelengkan kepala. “Tidak bisa! Tidak bisa!‿ katanya dengan suara gugup. “Dalam Rimba Persilatan, sejak dulu Siauw lim pay selalu dianggap sebagai tetua. Dan mengenai perseorangan yang paling tua dan paling dihormati dapat dikatakan ialah Thay soehoeku, Thio Cinjin. Disamping itu, Boe Kie Coe hiap (para pendekar Boe tong) adalah paman pamanku. Biar bagaimanapun juga, tak dapat aku si bocah menduduki kursi Bengcu secara melampaui orang orang tua yang berkedudukan banyak lebih tinggi daripada aku.‿

“Boe Kie,‿ kata Song Wan Kiauw. “Bahwa hari ini kita beramai ramai mengangkat kau sebagai Bengcoe, memang juga sebagian disebabkan oleh pertolonganmu. Tapi selain itu, pengangkatan ini adalah demi kepentingan umat manusia di kolong langit. Dengan pengangkatan ini kita semua mengharap supaya berbagai partai bisa bekerja sama tidak saling bermusuhan dan lagi bersatu padu dalam menghadapi kaum penjajah. Kalau Rimba persilatan Tiong goan tak punya pemimpin umum, mungkin sekali usaha mengusir Tat coe tak gampang diwujudkan.‿

“Boe Kie, usul kedua Sen ceng Siauw lim pay keluar dari hati yang sejujurnya,‿ Siong Kee turut membujuk. “Thay soehoemu sudah berusia begitu lanjut. Apakah kau ingin beliau memikul beban yang berat itu?‿

Berganti ganti lain lain tokoh partai coba membujuk, tapi Boe Kie tetap menolak. “Aku masih terlalu muda dan berpengetahuan terlalu cetek,‿ katanya. “Apa yang aku mempunyai hanyalah ilmu silat. Tanggung jawab seorang Bengcoe yang sangat berat hanya dapat dipikul oleh orang orang seperti Hong thio Seng ceng dari Siauw lim pay atau Song soepeh.‿

“Kauwcoe,‿ kata Yo Siauw, “kalau kesempatan ini lewat dengan cuma cuma, kita tidak akan mendapatkan lagi. Adalah maunya Tuhan, bahwa hari ini tokoh tokoh Rimba Persilatan berkumpul disini dan semua bersamaan pendapat. Apabila Kauwcoe tetap menolak kedudukan Bengcoe, maka tiada orang lain yang bisa disetujui dengan suara bulat oleh segenap orang orang gagah. Kalau mereka sudah berpencaran, adalah sangat sukar untuk mengumpulkannya kembali. Hari itu, di atas Kong beng teng, Kauwcoe menghendaki supaya kita mengakhiri permusuhan dengan keenam partai dan bekerja sama dengan satu hati. Apakah Kauwcoe sudah melupakan itu.‿

“Kauwcoe!‿ teriak Hoan Yauw dengan suara tak sabaran. “Menjadi Bengcoe bukan menjadi kaisar. Kami bukan ingin menjual lagak dan mengunjuk keangkeranmu. Kami mengangkat kau demi kepentingan nusa dan bangsa. Kami ingin kau memikul beban penderitaan rakyat. Apa kau bukan seorang lelaki? Mengapa kau terus menolak untuk memikul beban yang berat itu? Dengan menganggap kau sebagai seorang gagah, Hoan Yauw rela mengabdi di bawah perintahmu. Sungguh tak nyana, dalam menghadapi tugasmu, kau menyembunyikan kepala dan buntut!‿

Mendengar teguran pedas itu, muka Boe Kie berubah merah. Sambil merangkap kedua tangannya dan membungkuk, ia berkata. “Hoan Yoesoe benar. Aku menghaturkan terima kasih untuk teguran itu. Memang juga seorang lelaki yang hidup di antara langit dan bumi tidak melarikan diri dari kesukaran dan penderitaan.‿ Seraya menyoja semua orang, ia berkata. “Aku tak menolak lagi kecintaan Coe wie (tuan tuan). Semoga usaha kita akan berhasil dan cita cita kita akan tercapai dalam waktu yang sesingkat2nya.‿

Sorak sorai dan tepuk tangan yang menyambut pernyataan Boe Kie itu, menggetarkan seluruh selat.

Yo Siauw segera mengambil sebuah kantong kulit yang berisikan arak, menggores jari tangannya dan meneteskan darahnya ke dalam arak. Satu persatu, para tokoh persilatan menuruti contoh itu dan kemudian menceguk arak yang tercampur darah. Upacara tersebut merupakan suatu sumpah, bahwa mulai hari itu mereka bersepakat, bersatu padu dan bekerja sama untuk mengusir penjajah dari bumi Tiong kok.

Boe Kie girang bercampur kuatir. Ia berkuatir karena bebannya sungguh sungguh berat. Tapi mengingat perkataan Hoan Yauw, hatinya menjadi tenang. Seorang laki laki tidak boleh melarikan diri dari tugasnya. Seorang manusia hanya bisa berusaha sekuat kuatnya dengan seantero tenaga. Apa usaha itu akan berhasil atau tidak, terserah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selama beberapa bulan, Boe Kie telah menghadapi macam2 gelombang. Hari ini, waktu menerima kedudukan Bengcoe, di dalam hati ia merasa terlebih tenang daripada waktu menerima kedudukan Kauwcoe dari Bengkauw. Hari ini, ia menjadi Bengcoe dengan tujuan yang nyata dan tekad yang bulat. Hari itu, ia rasa bimbang sebab ia mengenal Bengkauw sebagai agama yang lurus tercampur jahat.

Sesudah selesai upacara membentuk perserikatan, Boe Kie berkata. “Sekarang dunia berada dalam ketakutan. Para anggota Bengkauw telah disebar keempat penjuru untuk menunggu ketika yang baik guna memulai usaha kita. Aku mengharap para tetua berbagai partai menturuti tindakan murid murid Bengkauw dalam membentuk pasukan pasukan sukarela. Aku mengharap supaya semua menyampingkan kepentingan pribadi dan menyingkirkan setiap kemungkinan yang bisa mengakibatkan permusuhan antara kawan sendiri. Jika terjadi suatu perselisihan, orang yang tersangkut harus melaporkan kepada Ciang boen jin dari partainya. Maka soal itu tidak dapat dibereskan oleh Ciangboen tersebut, maka dengan bantuan para tetua partai, aku sendiri yang akan coba membereskannya.

Semua orang mengiakan permintaan Bengcoe.

“Sesudah urusan ini mendapat keberesan, aku perlu kembali ke kota raja guna sebuah urusan pribadi,‿ kata pula Boe Kie. “Di sini saja aku meminta diri. Dalam beberapa tahun bakal datang dengan bahu membahu, kita harus melakukan pertempuran mati hidup melawan Tat coe.‿

Dengan sorak sorai seluruh rombongan mengantarkan Bengcoe sampai di luar selat. Waktu mau berpisahan Yo Siauw berkata, “Kauwcoe! Kau adalah harapan orang orang gagah di seluruh negeri. Kuharap kau bisa menjaga diri.‿

“Aku akan perhatikan pesanan saudara,‿ kata Boe Kie sambil mencambuk kudanya yang segera lari ke arah selatan.

Waktu sudah dekat dengan kota raja, Boe Kie ingat bahwa sesudah terjadinya pertempuran di Ban hoat sie, ia tentu dikenali oleh banyak kaki tangan Jie lam ong. Jika bertemu dengan mereka mungkin sekali ia akan menghadapi banyak kesukaran. Mengingat begitu, ia segera mampir di rumah seorang petani, membeli seperangkat pakaian petani, memakai tudung dan memoles mukanya dengan tanah liat. Sesudah itu ia barulah masuk ke dalam kota.

Setibanya di depan rumah penginapan di See shia, sesudah mengamat amati keadaan barulah ia masuk ke kamarnya. Siauw Ciauw kelihatan berduduk di samping jendela. Ia sedang menjahit. Melihat masuknya seorang muka coklat, si nona terkejut dan sesaat kemudian barulah ia mengenali Boe Kie. Dengan paras berseri-seri, ia berkata,‿ Kauwcoe, kau membuat aku kaget sekali. Kukira seorang petani tolol kesalahan masuk ke kamar ini.‿

“Kau jahit apa?‿ tanya Boe Kie.

Paras muka si nona berubah merah, buru-buru ia menyembunyikan pakaian yang sedang dijahitnya dibelakangnya. “Tak apa-apa,‿ jawabnya serta menyelipkan pakaian itu di bawah bantal. Ia lalu menuang teh untuk Boe Kie dan berkata sambil tertawa, “Apa Kongcoe mau cuci muka?‿

“Tidak,‿ sahutnya sambil mengangkat cangkir teh. Sambil meneguk teh ia berpikir, “Tio Kauwnio ingin aku menemaninya untuk meminjam To liong-to. Aku tidak bisa menolak. Pertama, sebagai laki laki aku tidak bisa menarik pulang janji dan kedua aku memang ingin menyambut Gie hoe pulang ke Tiong goan. Gie hoe mempunyai musuh dan sesudah kedua matanya buta, ia pasti tak akan bisa membela dirinya sendiri. Tapi sekarang sesudah berserikatnya berbagai partai, semua permusuhan lama sudah disingkirkan. Asal aku berada sama2 orang pasti tak akan mengganggu Gie hoe. Tapi pelayaran sangat berbahaya. Siauw Ciauw tidak boleh mengikut. Bagaimana baiknya? Hmm.. ya begini saja. Aku akan minta bantuan Tio Kauwnio supaya Siauw Ciauw bisa dititipkan di Ong hoe untuk sementara waktu. Dengan berdiam di gedung raja muda keselamatannya lebih terjamin daripada di tempat lain.‿ Memikir begitu, ia tersenyum.

“Kongcoe, mengapa kau tertawa? Kau lagi pikir apa?‿ tanya si nona.

“Aku mau pergi ke sebuah tempat yang sangat jauh,‿ jawabnya. “Tak bisa aku membawa kau. Aku telah memikir sebuah tempat, dimana kau bisa berdiam sementara waktu.‿

Paras muka Siauw Ciauw lantas saja berubah. “Kongcoe, kemanapun kau pergi aku mau mengikut,‿ katanya. “Siauw Ciauw sudah biasa melayani kau setiap hari. Aku tidak mau berdiam di tempat orang yang belum dikenal.‿

“Aku mengambil keputusan itu untuk kebaikanmu sendiri,‿ Boe Kie membujuk. “Tempat itu sangat jauh dan perjalanan penuh dengan bahaya. Aku sendiri tak tahu, sampai kapankah aku kembali.‿

“Kongcoe, waktu berada di gua di Kong beng teng, Siauw Ciauw telah mengambil keputusan untuk terus mengikuti kau, kemana juga kau pergi. Kau hanya bisa menolak tekadku dengan membunuh aku. Kongcoe, apakah kau merasa sebal terhadapku dan tidak mau aku terus mengikuti?‿

“Tidak! Kau tahu, bahwa aku sangat menyayang kau dan aku hanya tidak mau kau menempuh bahaya yang sebenarnya tidak perlu ditempuh. Begitu lekas kembali, aku akan mencarimu.‿

Si nona menggeleng-gelengkan kepala. “Aku bersedia untuk menghadapi bahaya apapun jua,‿ katanya dengan suara mantap.

Boe Kie terharu. Sambil memegang tangan si nona, ia berkata dengan suara lemah lembut. “Siauw Ciauw, aku tidak mau mendustai kau. Aku telah meluluskan permintaan Tio Kouwnio untuk mengawani dia dalam menyeberangi lautan. Kau tahu, pelayaran penuh bahaya. Tapi aku mesti pergi juga. Aku sungguh tak mau kau turut menghadapi bahaya.‿

Paras muka Siauw Ciauw bersemu merah. “Kalau kau pergi bersama2 Tio Beng, lebih-lebih aku mesti mengikut,‿ katanya. Sesudah berkata begitu, ia kelihatan kemalu-maluan dan air mata berlinang-linang di kedua matanya.

“Mengapa kau lebih2 mau mengikut?‿

“Karena Tio Kouwnio seorang yang hatinya beracun. Kita tidak bisa menaksir apa yang akan diperbuatnya terhadapmu. Dengan berada bersama-sama, aku bisa turut mengamat-amati keselamatanmu.‿

Tiba-tiba jantung Boe Kie melonjak. “Ah! Apa Siauw Ciauw jatuh cinta kepadaku?‿ tanyanya di dalam hati. Sesudah memikir beberapa saat, ia berkata sambil tertawa. “Baiklah, kau boleh ikut. Tapi kau tak boleh menyesal.‿

Tak kepalang girangnya si nona. “Kalau aku menyusahi kau dengan pernyataan menyesal, kau boleh melemparkan diriku ke lautan supaya aku dimakan ikan besar,‿ katanya sambil tersenyum.

Boe Kie tertawa nyaring. “Bagaimana kau tega berpisahan dengan kau?‿ katanya.

Persahabatan antara Boe Kie dan Siauw Ciauw sudah berjalan lama. Di dalam perjalanan, kalau rumah penginapan kekurangan kamar, kadang-kadang mereka terpaksa tidur dalam satu kamar. Tapi belum pernah mereka berbicara atau melakukan sesuatu yang melampaui batas2 kepantasan. Siauw Ciauw selalu menempatkan dirinya sebagai pelayan, sedang Boe Kie yang bersikap sebagai seorang kakak, belum pernah mengeluarkan perkataan yang tidak pantas. Sekarang, begitu perkataan “bagaimana aku tega berpisahan dengan kau‿ keluar dari mulutnya, begitu ia merasa bahwa ia telah kesalahan omong. Mukanya berubah merah dan buru-buru ia memalingkan muka ke jurusan lain.

Siauw Ciauw menghela napas.

“Mengapa kau menghela napas?‿ tanya Boe Kie.

“Ada banyak orang yang tak tega kau berpisahan. Cioe Kouwnio dari Go bie pay. Tio Kouwnio dari gedung Jie lam ong dan di hari kemudian, entah masih ada berapa banyak orang lagi. Di dalam hatimu, mana bisa jadi kau memikiri seorang pelayan kecil seperti aku?‿

“Siauw Ciauw, kau selalu berlaku sangat baik terhadapku. Apa aku kira aku tak tahu? Apakah aku seorang manusia yang tak ingat budinya orang?‿ Waktu bicara begitu, suara Boe Kie mengunjuk, bahwa ia berbicara dari lubuk hatinya yang putih bersih.

Si nona malu bercampur girang. Sambil menundukkan kepala, ia berkata dengan suara perlahan. “Aku belum pernah melakukan sesuatu yang berharga untukmu. Asal saja kau mempermisikan aku untuk melayani selama-lamanya, asal aku bisa menjadi pelayanmu seterusnya, hatiku sudah merasa puas. Kongcoe, semalam suntuk kau tak tidur. Kau tentu capai. Pergilah tidur.‿ Sehabis berkata begitu, ia membuka kasur. Boe Kie merebahkan diri, maka ia sendiri menjahit di bawah jendela. Tak lama kemudian Boe Kie tertidur.
Sampai magrib, Boe Kie baru tersadar dari pulasnya. Sesudah makan semangkok mie, ia berkata, ‿Siauw Ciauw, aku mau ajak kau pergi menemui Tio Kouwnio untuk meminjam Ie thian kiam guna memutuskan rantai yang mengikat kaki tanganmu.‿

Di tengah jalan, mereka bertemu dengan banyak tentara Mongol dan penjagaan sangat ketat. Boe Kie tahu, bahwa diperketatnya penjagaan adalah akibat kekacauan semalam.

Tak lama kemudian mereka tiba di rumah makan kecil yang semalam. Setelah masuk, Tio Beng sudah berada di situ. Ia sedang minum arak sendirian. Ia berbangkit dan berkata sambil tertawa, “Thio Kongcoe, kau seorang yang boleh dipercaya.

Boe Kie mengawasi nona Tio. Ia mendapat kenyataan, bahwa paras si nona tenang tenang saja, sedikitpun tak mengunjuk rasa gusar. Dengan meja sudah tersusun dua pasang sumpit. Sesudah membungkuk Boe Kie segera duduk di sebuah kursi dan Siauw Ciauw sendiri berdiri menunggu di tempat yang agak jauh.

Sambil menyoja Boe Kie berkata, “Tio Kouwnio, dalam kejadian semalam, aku telah berdosa terhadapmu dan kuharap kau suka memaafkan.‿

“Aku merasa sangat sebal melihat Hankie yang seperti siluman,‿ kata si nona. “Bahwa kau sudah menyuruh orang untuk membunuhnya, aku sebenarnya harus menghaturkan terima kasih. Ibu memuji kau sebagai pemuda pintar.‿

Boe Kie terkejut.

Nona Tio tersenyum dan berkata pula, “Bahwa kau sudah menolong orang-orang itu, pada hakekatnya kau tak merasa keberatan. Mereka tak suka menakluk. Perlu apa aku menahan lama-lama. Sesudah kau menolong mereka, mereka tentu merasa sangat berterima kasih terhadapmu. Di dalam Rimba Persilatan kau sekarang menjadi orang gagah yang terutama. Semua orang merasa berhutang budi terhadapmu. Thio Kongcoe, untuk itu aku memberi selamat dengan secawan arak,‿ ia tertawa dan mengangkat cawannya.

Sesaat itu tiba2 berkelebat bayangan manusia dan Hoan Yauw bertindak masuk. Lebih dulu ia memberi hormat kepada Boe Kie dan kemudian berlutut di hadapan Tio Beng. “Kongcoe,‿ katanya, “Kouw Tauwtoo mohon meminta diri.‿

Tio Beng tak membalas pemberian hormat itu. “Kouw Taysoe,‿ katanya dengan suara dingin. “Hebat sungguh kau mendustai aku.‿

Hoan Yauw bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk. “Kouw Tauwtoo she Hoan bersama Yauw Kong beng Yoeseo dari Bengkauw. Karena kerajaan memusuhi Beng kauw, maka waktu masuk ke gedung Jia lam ong, aku terpaksa menyamar. Koen Coe telah memperlakukan aku secara baik sekali, sehingga oleh karenanya, aku sekarang menghadap Koencoe untuk berpamitan.

“Kau mau pergi boleh pergi,‿ kata Tio Beng. “Tak usah kau unjuk banyak peradatan.‿

“Seorang lelaki harus berlaku terus terang,‿ kata Hoan Yauw. “Mulai dari sekarang, aku yang rendah merupakan seorang musuh dari Koencoe. Kalau aku tidak bisa memberitahukan secara terang terangan, hatiku merasa tak enak dan aku berbuat tak pantas terhadap Koencoe yang sudah memperlakukan aku secara pantas.‿

Tio Beng menengok pada Boe Kie dan berkata, “Ilmu apa yang dimiliki olehmu, sehingga orang-orangmu semua rela membela kau dengan jiwa mereka?‿

“Kami bekerja untuk negara, untuk rakyat, untuk menolong sesama manusia dan untuk mempertahankan gie khie (semangat persahabatan yang paling tinggi). Hoan Yoesoe dan aku belum kenal satu sama lain. Tapi begitu bertemu, kita lantas menjadi sahabat karib. Kita mempunyai pendapat dan tujuan yang sama. Dengan demikian usaha kita untuk mempertahankan gie kie dan kawan kawan sendiri, tidaklah tersia-sia.‿

Hoan Yauw tertawa terbahak-bahak. “Kauwcoe,‿ katanya, “perkataanmu memang cocok sungguh dengan apa yang dipikir olehku. Kauwcoe, kuharap kau menjaga diri baik-baik. Nona ini sangat lihay. Dia bukan wanita biasa. Kuharap Kauwcoe suka berwaspada.‿

Tio Beng tertawa. “Terima kasih untuk pujian Kouw Taysoe,‿ katanya.

Sesudah mengangguk, Hoan Yauw segera berlalu. Waktu lewat di depan Siauw Ciauw, ia kelihatan terkejut, paras mukanya berubah pucat dan seolah-olah ia melihat sesuatu yang sangat menakutkan. “Kau… kau!…‿ katanya.

“Mengapa aku?‿ tanya Siauw Ciauw.

Hoan Yauw mengawasi dengan mata membelalak. Selanjutnya ia menggeleng gelengkan kepala dan berkata, “Bukan… bukan… aku… aku salah lihat.‿ Ia menolak pintu dan berjalan keluar, sedang mulutnya berkata, “Sungguh sama… sungguh sama…‿

Tio Beng dan Boe Kie saling mengawasi. Mereka merasa heran dan tak tahu siapa yang dimaksudkan oleh Hoan Yauw.

Sekonyong konyong di tempat jauh terdengar suara dan teriakan tiga kali panjang, dua kali pendek. Suara itu nyaring dan tajam, seperti seseorang memanggil kawan. Tiba-tiba Boe Kie terkejut. Ia ingat, bahwa teriakan itu tanda rahasia Go bie pay dalam mengumpulkan kawan. Waktu bertemu dengan rombongan Biat coat Soethay di See hek, beberapa kali ia pernah mendengar tanda rahasia itu untuk menghadapi Beng kauw. “Mengapa Go bie pay kembali lagi di kota raja?‿ tanyanya di dalam hati. “Apa mereka bertemu dengan musuh?‿

Sebelum ia mengambil keputusan apa yang harus diperbuatnya, Tio Beng sudah berkata, “Ah, itulah tanda Go bie pay. Mereka rupa2nya sedang menghadapi persoalan yang sangat mendesak. Mari kita menyelidiki. Apa kau setuju?‿

“Bagaimana kau tahu teriakan itu tanda rahasia Go bie pay?‿ tanya Boe Kie.

“Mengapa aku tak tahu?‿ kata si nona sambil tersenyum. “Di See hek, sebelum mendapat kesempatan untuk turun tangan, empat hari dan empat malam, dengan orang-orangku aku menguntit mereka.‿

“Baiklah, aku setuju untuk menyelidiki,‿ kata Boe Kie. “Tapi Tio Kouwnio lebih dahulu aku ingin meminta pinjam Ie thian kiam.‿

Si nona tertawa. “Sungguh jempol ilmu hitungmu. Sebelum aku meminjam To liong to, kau sudah mendahului meminjam Ie thian kiam,‿ katanya seraya membuka tali ikatan pedang dan menyodorkannya kepada Boe Kie.

Sambil menghunus senjata mustika itu, Boe Kie berkata, “Siauw Cie Coe kemari!‿

Siauw Ciauw menghampiri dan dengan beberapa kali membabat semua rantai yang mengikat kaki tangannya sudah terputus. Ia berlutut dan berkata, “Terima kasih Kongcoe, terima kasih Koencoe.‿

Boe Kie segera memasukkan Ie thian kiam ke dalam sarung dan memulangkannya kepada Tio Beng. Ketika itu teriakan-teriakan Go bie pay makin menghebat.

“Mari kita pergi!‿ kata Boe Kie.

Tio Beng mengeluarkan sepotong emas dan melemparkannya di atas meja, bersama Boe Kie dan Siauw Ciauw ia segera berjalan keluar dengan tindakan lebar.

Karena kuatir ilmu mengentengkan badan Siauw Ciauw masih terlalu cetek dengan tangan kanan Boe Kie menarik tangan si nona sedang tangan kirinya mendorong pinggang. Sambil memberi bantuan itu, ia mengikuti di belakang Tio Beng. Sesudah berlari lari beberapa puluh tombak, ia merasa bahwa badan Siauw Ciauw sangat enteng dan tindakannyapun sangat cepat. Ia heran dan menarik pulang bantuannya. Tapi biarpun sudah tidak dibantu, nona itu masih terus dapat merendenginya. Walaupun waktu itu Boe Kie menggunakan ilmu ringan badan yang paling tinggi, tindakannya sudah cukup cepat. Bahwa Siauw Ciauw dapat mengikutinya merupakan bukti bahwa kepandaian si nona tidak dapat dipandang rendah.

Tak lama kemudian sesudah melewati beberapa jalanan kecil mereka tiba di luar sebuah tembok tua yang sudah runtuh disana sini. Tiba-tiba Boe Kie mendengar pertengkaran antara beberapa orang wanita dan ia tahu, bahwa murid-murid Go bie berada di dalam tembok itu. Sambil menarik tangan Siauw Ciauw ia melompati tembok dan hinggap di antara rumput alang-alang. Ia mendapat kenyataan, bahwa mereka berada di dalam sebuah taman yang sudah lama tidak terurus. Di lain saat, Tio Beng menyusul dan mereka bertiga lalu bersembunyi di antara rumput tinggi.

Di sebelah utara taman terdapat sebuah pendopo rusak dimana terlihat bayangan beberapa belas orang. Sekonyong-konyong terdengar suara seorang wanita. “Kau adalah murid termuda dalam partai kita. Baik dalam nama atau kepandaian, tak pantas kau jadi Ciangboenjin dari partai kita…‿

Boe Kie segera mengenali bahwa yang berbicara adalah Teng Bin Koen. Dengan merangkak ia maju mendekati pendopo itu dan menyembunyikan diri pada jarak beberapa tombak.

Malam itu malam tak berbulan dan di langit hanya terdapat bintang-bintang yang berkelap kelip. Tapi mata Boe Kie sangat awas. Sayup2 ia melihat murid-murid Go bie pay ada kepala Biat coat soethay. Di samping murid kepala itu berdiri seorang wanita yang bertubuh agak jangkung dan mengenakan baju warna hijau. Orang itu adalah Cioe Cie Jiak.

Teng Bing kun terus mendesak dengan suara menyeramkan. “Coba kau bilang… Bilang, lekas bilang!…‿

“Apa yang dikatakan Teng soecie memang tak salah,‿ kata nona Cioe. “Siauw moay adalah murid termuda dari partai kita. Baik dalam nama, maupun dalam ilmu silat, kepandaian, kecerdasan dan kemuliaan siauwmoay tidak pantas untuk menjadi Ciangboenjin. Pada waktu Siansoe (mendiang guru) menyerahkan beban yang berat ini, siauwmoay telah menolak sekeras-kerasnya. Tapi siansoe marah besar. Beliau memaksa supaya siauwmoay bersumpah berat untuk tidak melanggar kemauannya.‿

“Memang benar,‿ kata seorang wanita yang mengenakan pakaian pendeta. “Memang benar, ketika siansoe mau berangkat pulang ke alam baka beliau telah mengatakan bahwa Cioe Soemoay harus menjadi Ciangboenjin dari partai kita. Pesanan itu telah didengar oleh kita semua. Bahkan para orang gagah dari Siauw lim, Boe tong, Koen loen, dan Khong tong pun bisa menjadi saksi.‿

“Siansoe adalah seorang yang sangat cerdas dan berpemandangan jauh,‿ menyambung seorang murid pria yang berusia setengah tua. “Dengan menghendaki bahwa Cioe soemoay menjadi pemimpin kita, beliau tentu mempunyai maksud yang mendalam. Kita semua telah menerima budi Siansoe yang sangat besar dan adalah selayaknya jika mentaati pesanan siansoe. Kita harus menunjang Cioe soemay dalam usaha menaikkan derajat partai kita.‿

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Pang soeko mengatakan, bahwa Siansoe pasti mempunyai maksud yang mendalam,‿ katanya dengan nada mengejek. “Kata-kata itu, siansoe pasti mempunyai maksud yang mendalam adalah tepat sekali. Bukankah semua orang, baik yang di atas maupun di bawah menara telah mendengar perkataan Kouw Tauwtoo dan Ho Pit Ong? Siapa ayah dan ibunya Cioe soemoay? Mengapa siansoe memilih kasih? Apakah kita semua masih mengerti?‿

Sebagaimana diketahui, sebagai guyon guyon Hoan Yauw telah mengatakan bahwa Biat coat soethay adalah kecintaannya dan bahwa Cioe Jiak adalah anak mereka. Hoan Yauw memang gila-gilaan dan masih memiliki sie khie (sifat2 yang sesat). Tapi perkataan Ho Pit Ong telah terdengar oleh banyak orang. Biar bagaimanapun jua, mendengar itu, banyak orang jadi bersangsi, karena percintaan lelaki dan perempuan, tak peduli siapa adanya mereka, adalah kejadian yang lumrah di dalam dunia. Dengan demikian, tuduhan Teng Bin Koen, bahwa Biat coat memilih kasih sebab Cie Jiak adalah anaknya sendiri, memang kedengarannya beralasan juga. Maka itulah, sehabis perempuan itu melepaskan racunnya, murid2 Go bie pay membungkam semua.

Tak kepalang gusarnya nona Cioe. Dengan suara bergemetaran, ia berkata. “Teng Soecie! Jika kau tak setuju siauwmoay menjadi Ciangboenjin, kau boleh mengatakan terang2an. Tapi dengan menjatuhkan fitnah membabi buta kepada Siansoe dan merusak nama Siansoe yang putih bersih, kau berdosa besar. Mendiang ayah she Cioe bernama Coe Ong, sedang mendiang ibuku seorang she Sie. Atas pertolongan Cinjin dari Boe tong pay, siauwmoay berguru kepada Siansoe. Sebelum itu, siauwmoay belum pernah mengenal siansoe. Teng Soecie! Kau telah menerima budi Siansoe, tapi hari ini sedang tulang belulangnya Siansoe belum menjadi dingin, kau sudah berani melontarkan tuduhan yang sangat keji itu…‿ Ia tak meneruskan perkatatannya dan air matanya mulai mengucur.

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Siapapun juga tahu, bahwa kau sangat mengilar untuk menjadi Ciangboenjin,‿ katanya. “Tapi sebelum disetujui saudara2 kita, kau telah coba2 mengunjuk keangkeranmu dan menjual lagak galak. Merusak nama Siansoe! Berdosa sangat besar! Kau ingin menghukum aku bukan? Kini aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan;

“Sesudah menerima pesan Siansoe untuk menjadi Ciangboenjin, kau sebenarnya harus segera pulang ke Go bie guna mengurus urusan2 partai. Tapi mengapa kau kembali ke kota raja? Sesudah Siansoe meninggal dunia di dalam partati terdapat banyak sekali urusan yang harus segera diurus. Aku tanya, mengapa kau balik ke kota raja?‿

“Siauwmoay kembali ke kota raja untuk menunaikan tugas berat yang diberikan Siansoe,‿ jawabnya.

“Tugas apa?‿ mendadak si perempuan she Teng bertanya. “Kita berada di antara saudara saudara sendiri, kau boleh memberitahukan terang terangan.‿

“Tugas ini merupakan rahasia besar bagi partai kita,‿ sahut nona Cioe. “Rahasia itu hanya boleh diketahui oleh seorang Ciangboenjin. Aku menyesal tak bisa memberitahukan kepada siapapun jua.‿

Teng Bin Koen mengeluarkan suara di hidung. “Huh! Huh!‿ katanya. “Kau mau coba berlindung di balik pangkat Ciangboenjin. Huh! Tak bisa kau memperdayai aku. Partai kita bermusuhan hebat dengan Mo kauw. Banyak sekali saudara saudara kita yang binasa di dalam tangan Mo kauw dan orang orang Mo kauw yang mampus di bawah pedang Ie thian kiam tidak bisa dihitung berapa banyaknya. Meninggalnya siansoe juga kalau beliau tak sudi menerima pertolongan pemimpin Mo kauw. Tapi mengapa jenazah Siansoe masih belum dingin, kau kembali ke kota raja untuk mencari penjahat cabul she Thio itu, si kepala siluman?‿

Boe Kie menggigil. Sesaat itu, tiba-tiba pipinya dicolek orang. Ia menengok. Orang yang mencoleknya ialah Tio Beng. Muka Boe Kie lantas berobah merah. “Apa benar Cioe Kauwnio mencari aku?‿ tanyanya di dalam hati.

Cie Jiak merasa dadanya seperti mau meledak. Sambil menuding ia membentak dengan suara terputus-putus. “Kau!… kau!… bagaimana kau berani mengeluarkan kata kata itu?‿

Teng Bin Koen menyeringai. “Kau masih mau menyangkal?‿ tanyanya. Kau menyuruh kami pulang ke Go bie lebih dahulu. Waktu ditanya mengapa kau kembali ke kota raja, kau menjawab secara tidak terang. Itulah sebabnya mengapa kami menguntit kau. Kau telah menanyakan ayahmu, Kauw Tauwtoo, tentang tempat kediamannya si penjahat cabul. Apa kau kira kami tak tahu? Kau telah pergi ke rumah penginapan untuk mencari penjahat cabul itu. Apa kau rasa kami tak tahu?‿

Mendengar cacian “penjahat cabul‿ yang dikeluarkan berulang ulang, biarpun sabar darah Boe Kie meluap juga. Tiba-tiba ia merasa lehernya ditiup orang. Ia tahu bahwa nona Tio mengejeknya kembali.

Sementara itu, si perempuan she Teng sudah menyemburkan lagi racunnya. “Siapa yang mau dicari olehmu dan dengan siapa kau ingin bersahabat, orang luar memang tak dapat mencampuri. Tapi penjahat cabul she Thio itu adalah musuh besar partai kita. Waktu orang mengangkat dia menjadi Bengcoe sebagai Ciangboenjin Go bie pay mengapa kau tidak menentang? Biarpun kita kalah suara, tapi sedikitnya kita sudah menyatakan di hadapan umum bahwa partai kita tidak menyetujui pengangkatan itu. Waktu itu aku memperhatikan kau. Ah! Kau kelihatannya girang sungguh. Paras mukamu berseri seri. Waktu di Kong beng teng, Siansoe memerintahkan kau membunuh penjahat cabul itu, dia sama sekali tidak coba membela diri. Sebaliknya dari itu bermain mata dengan kau. Kau sengaja memberi tikaman yang sangat enteng. Siapa bisa percaya bahwa kau tidak mempunyai perhubungan rahasia dengan penjahat itu?‿

Kepala nona Cioe puyeng. Ia mendekap muka dan menangis. “Siapa… bermain mata…,‿ katanya dengan suara parau. “Mengapa kau memfitnah orang dengan kata-kata yang tidak enak didengar itu?‿

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Kata kataku tak enak didengar?‿ ejeknya. “Tapi bagaimana perbuatanmu? Perbuatanmu yang tidak enak dilihat, perkataanmu memang sedap sekali. Huh… huh… misalnya tadi siang kau berkata begini kepada pengurus rumah penginapan. Mohon tanya, apa disini ada seorang tamu she Thio? Kata kau lagi, ia berusia kira kira dua puluh tahun, tubuhnya jangkung. Mungkin sekali ia menggunakan lain she. Kau mengatakan itu semua dengan suara yang sungguh merdu.‿ Dalam ejekannya itu, Teng Bin Koen meniru suara Cioe Cie Jiak dengan lagak yang genit sekali. Di tengah malam yang sunyi sekali suaranya membangunkan bulu roma.

Tak kepalang gusarnya Boe Kie. Hampir2 ia melompat keluar. Syukur juga ia masih dapat mempertahankan diri, karena ia ingat bahwa ia tidak boleh mencampuri urusan dalam Go bie pay dan jika ia turun tangan, tindakannya akan lebih merugikan nona Cioe. Dengan demikian biarpun darahnya meluap ia tidak bisa bergerak.

Dalam Go bie pay semula terdapat sejumlah murid yang ingin mentaati kemauan guru mereka dan menyokong Cie Jiak sebagai Ciangboenjin. Tapi sesudah mendengar perkataan Teng Bin Koen, hati mereka menjadi goncang. Go bie pay dan Beng kauw memang bermusuhan keras sedang mereka harus mengakui memang ada suatu perhubungan antara Cie Jiak dan Boe Kie. Bagaimana kalau Cie Jiak menyerahkan Go bie pay ke dalam tangan Beng kauw? Itulah jalan pikiran mereka.

Sementara itu, Teng Bin Koen berkata pula, “Cioe soemoay, kau masuk dalam partai kita atas pujian Thio Cinjin dari Boe tong pay. Penjahat cabul she Thio itu adalah anaknya Thio Ngo hiap dari Boe tong pay. Tak seorangpun bisa menanggung bahwa di dalam hal ini tidak terselip suatu siasat yang aneh.‿ Sehabis berkata begitu seraya berpaling kepada saudara saudari seperguruannya, ia berteriak. “Saudara saudari sekalian! Memang Siansoe telah memesan untuk mengangkat Cioe moay sebagai Ciangboenjin partai kita. Tapi beliau pasti tak menduga, bahwa begitu beliau menutup mata Ciangboenjin kita lantas saja pergi mencari Kauwcoe dari Mo kauw. Kejadian ini bersangkut paut dengan mati hidupnya partai kita. Kejadian ini bukan kejadian kecil yang dapat dikesampingkan dengan begitu saja. Kalau malam ini Siansoe masih hidup, beliau pasti akan mengangkat seorang lain. Cita2 Siansoe adalah kegemilangan partai kita. Siansoe pasti tidak menghendaki bahwa partai kita musnah di dalam tangan Mo kauw. Maka itulah menurut pendapat Siauwmoay, kita semua harus berusaha untuk mewujudkan cita cita Siansoe yang sangat luhur itu. Kita sekarang menuntut supaya Cioe Soemoay menyerahkan cincin Ciangboenjin supaya kita bisa mengangkat seorang yang cocok untuk menjadi pemimpin kita, untuk menjadi Ciangboenjin dari Go bie pay. Inilah usul Siauwmoay.‿

Usul itu segera disetujui oleh lima enam orang.

“Aku telah menerima perintah Siansoe untuk menjadi Ciangboenjin dan tak dapat aku menyerahkan cincin ini,‿ kata Cie Jiak. “Sebenarnya aku tak kepingin untuk menjadi Ciangboenjin, tapi aku sudah bersumpah berat dan aku pasti tak bisa menyia-nyiakan harapan Siansoe.‿

“Kau mau serahkan atau tidak?‿ bentak Teng Bin Koen. “Menurut peraturan partai, larangan pertama tak boleh menghina guru dan larangan kedua tak boleh berjina. Dan kau masih mau mengurus partai kita?‿

“Nonamu bakal celaka!‿ bisik Tio Beng di kuping Boe Kie. “Jika kau suka memanggil aku dengan kata-kata Ciecie yang baik, aku bersedia untuk menolong dia.‿

Boe Kie tahu, bahwa nona Tio yang sangat pintar tentu sudah mempunyai akal untuk menolong Cie Jiak. Tapi karena ia berusia lebih tua, maka ia merasa agak jengah untuk memanggil Ciecie kepadanya. Selagi ia bersangsi, Tio Beng berkata pula. “Kalau kau tak suka terserahlah kepadamu. Aku sekarang ingin berlalu.‿

Dengan apa boleh buat, Boe Kie segera berkata dengan suara perlahan. “Ciecie yang baik…‿

Si nona tertawa, tapi baru saja ia mau melompat keluar, orang2 Go bie rupa rupanya sudah merasakan bahwa sedang diintip orang. “Siapa disitu?‿ bentak Teng Bin Koen.

Sekonyong konyong di luar tembok terdengar batuk batuk, diiringi dengan suara orang nenek nenek. “Apa yang dilakukan oleh kamu di tengah malam buta?‿ Di lain saat dua manusia lain sudah berada di pendopo itu. Boe Kie segera mengenali bahwa nenek yang bertongkat adalah Kim Hoa po po, sedangkan kawannya, seorang wanita yang bermuka jelek, bukan lain daripada Coe Jie atau A-iee, saudara sepupunya sendiri.

Sebagaimana diketahui, pada waktu enam partai persilatan menyerang Kong beng teng Cie Jie telah dibawa lari oleh Wie It Siauw. Waktu mendekati Kong beng teng dengan diuber oleh In Ya Ong (ayah Coe Jie) dan Boe Kie, Wie Hok tong melepaskan si nona di lereng gunung, dan belakangan, ketika ia mencarinya kembali Coe Jie sudah menghilang.

Semenjak perpisahan, Boe Kie seringkali memikiri nasib nona itu. Sekarang secara tak diduga duga, ia muncul bersama Kim Hoa po po. Bukan main girangnya Boe Kie hampir2 ia berteriak memanggilnya.

“Kim hoa po po, perlu apa kau datang ke sini?‿ tanya Teng Bin Koen.

“Mana gurumu?‿

“Kemarin siansoe meninggal dunia. Huh! Kau sudah mencuri dengar di luar tembok, tapi kau masih menanya juga.‿

“Ah! Biat Coat mati? Bagaimana matinya? Mengapa ia tak menunggu untuk bertemu denganku? Hai! Sayang… sungguh sayang…‿ Selagi berkata begitu, si nenek batuk tak henti2nya. Sambil menumbuk numbuk punggung orang tua itu, Coe Jie menengok kepada Teng Bin Koen dan berkata dengan suara tawar. “Siapa kesudian mencuri dengar pembicaraan kamu? Po po dan aku lewat di sini. Secara kebetulan saya dengar suara bicaranya manusia dan sebab aku mengenali suaramu, barulah kami masuk kesini. Po po menanya kau, kau dengar tidak? Bagaimana cara matinya gurumu?‿

“Bukan urusan kamu!‿ bentak Teng Bin Koen dengan gusar.

Sesudah batuknya agak mereda, Kim hoa po po berkata dengan suara lebih sabar. “Selama hidupku baru pernah satu kali aku kalah dalam pertempuran. Aku kalah dari gurumu. Kekalahan itu bukan lantaran lebih unggulnya ilmu silat gurumu, tapi sebab tajamnya Ie thian kiam. Selama beberapa tahun aku mencari cari senjata mustika untuk bertempur lagi melawan Biat coat. Aku menjelajah empat penjuru dunia dan pada akhirnya dapat dikatakan capai lelahku tak tersia2. Seorang sahabat lama bersedia untuk meminjamkan sebatang golok mustika kepadaku. Belakangan aku mendengar bahwa orang-orang Go bie pay telah ditawan oleh kerajaan dan dikurung di kelenteng Ban hoat sie. Aku segera mengambil keputusan untuk menolong gurumu supaya kita berdua bisa menjajal lagi kepandaian yang sesungguhnya. Siapa nyana menara di Ban hoat sie yang digunakan sebagai penjara gurumu sudah berubah menjadi tumpukan puing. Hai!.. itulah maunya nasib. Seumur hidup Kim hoa po po tak akan dapat mencuci lagi hinaan atas dirinya itu. Biat Coat! Mengapa tidak bisa menunggu sehari dua?‿

Teng Bin Koen tertawa dingin. “Jika soehoe masih hidup, apa yang akan didapat olehmu hanyalah kekalahan yang kedua kalinya,‿ katanya. “Sesudah keok untuk kedua kalinya, kau pasti tak akan merasa penasaran lagi…‿

“Plak!…plak!…plak!…plak!…‿, tiba tiba terdengar suara gaplokan. Pipi Teng Bin Koen digaplok empat kali beruntun, sehingga matanya berkunang-kunang dan hampir2 ia jatuh terguling. Empat gaplokan itu dikirim secara cepat luar biasa, dalam gerakan yang sangat aneh dan Teng Bin Koen sama sekali tidak dapat membela diri.

Ia kaget bercampur gusar, menghunus pedang dan menuding si nenek. “Pengemis tua!‿ bentaknya, “Apa kau sudah bosan hidup?‿

Tapi Kim hoa po po seolah olah tidak mendengar cacian itu dan tidak memperdulikan pedang yang ditudingkan kepadanya. Dengan suara menyesal dan putus harapan, ia bertanya lagi. “Cara bagaimana matinya gurumu?‿

“Tak perlu aku memberitahukan kepadamu,‿ jawab Teng Bin Koen.

Si nenek menghela napas dan berkata, “Biat coat Soethay, selama hidup kau adalah salah seorang gagah dalam jaman ini dan merupakan juga salah seorang tokoh paling terkemukan dalam Rimba Persilatan. Sungguh sayang, sesudah kau mati murid muridmu tolol semua. Apakah kau tak punya murid yang mendingan untuk mewariskan kedudukan Ciangboenjin?‿

Tiba-tiba seorang pendeta wanita setengah tua yang bertubuh jangkung maju setindak. Sambil merangkapkan kedua tangannya, ia berkata:

“Pie-pie Congsoe menghadap kepada Po po. Pada waktu Siansoe mau menutup mata, beliau telah mengangkat Cioe Cie Jiak Cioe Soe moay sebagai Ciangboenjin partai kami. Kami disini karena masih ada sejumlah saudara seperguruan yang merasa tidak setuju dengan pengangkatan itu. Bahwa Siansoe sudah keburu meninggal dunia dan Po po tidak dapat mencapai keinginan yang sudah dikandung lama, memang juga adalah maunya nasib. Manusia tidak bisa melawan takdir. Karena urusan Ciangboenjin partai kami masih belum beres, maka kami masih belum bisa membuat janjian apapun juga dengan Po po. Tapi sebagai salah sebuah partai besar dalam Rimba Persilatan, Go bie pay tidak dapat menjatuhkan nama besarnya Siansoe. Jika Po po mau memberi pesanan apa apa, berikanlah sekarang. Di hari kemudian, sesuai dengan peraturan peraturan dalam Rimba Persilatan, Ciangboenjin kami pasti akan pergi menemui Po po. Akan tetapi, jika dengan mengandalkan kekuatan sendiri Po po mau menghina kami, maka biarpun pada saat ini Go bie pay masih berkabung, kami pasti akan melayani Po po sampai pada titik darah yang penghabisan.‿

Boe Kie dan Tio Beng merasa kagum akan perkataan niekouw itu yang diucapkan secara tetap dan sopan santun.

Sambil menyapu murid murid Go bie dengan kedua matanya, si nenek berkata, “Pada waktu gurumu mau menutup mata, ia telah mengangkat seorang Ciangboenjin. Itulah bagus. Siapa adalah Ciangboenjin itu? Aku ingin bertemu dengan dia,‿ sesudah berkata begitu, nada suara Kim hoa po po sudah banyak lebih lunak daripada waktu ia bicara dengan Teng Bin Koen.

Cioe Cie Jiak lantas saja maju sambil memberi hormat. “Po po, selamat bertemu,‿ katanya. “Ciangboenjin turunan keempat dari Go bie pay memberi hormat kepada Po po.‿

“Tak malu kau!‿ bentak Teng Bin Koen. “Kau berani menamakan diri sendiri sebagai Ciangboenjin turunan keempat!‿

Coe Jie tertawa dingin. “Cioe Ciecie adalah seorang yang sangat baik,‿ katanya. “Waktu berada di See hek, ia telah memperlihatkan kasih sayangnya terhadapku. Jika ia tidak pantas menjadi Ciangboenjin, apakah kau kira dirimu cocok untuk menjadi Ciangboenjin? Di hadapan Po po, kau jangan banyak tingkah. Apakah kau mau digaplok lagi?‿

Teng Bin Koen meluap darahnya. Ia menghunus pedang dan menikam si nona yang lidahnya tajam. Coe Jie berkelit seraya menggaplok. Gerakannya menyerupai gerakan si nenek, tapi banyak lebih lambat. Teng Bin Koen buru-buru menundukkan kepalanya, sehingga telapak tangan Coe Jie menyampok angin, tapi tikamannyapun jatuh di tempat kosong.

Si nenek tertawa, “Bocah!‿ katanya. “Aku telah mengajar kau berulang kali, tapi kau masih belum mampu juga dalam menggunakan pukulan yang begitu gampang. “Lihatlah!‿ Seraya berkata begitu, tangan kanannya menyambar dan mampir tepat di pipi kanan Teng Bin Koen. Hampir berbareng ia membalik tangan dan menggaplok pipi kiri, setelah pipi kiri, pipi kanan pula dan sesudah pipi kanan pipi kiri lagi – semuanya empat gaplokan. Gerakan tangan si nenek tak begitu cepat dan bisa dilihat nyata oleh semua orang. Tapi Teng Bin Koen sendiri merasakan, bahwa dirinya ditindih… dengan semacam tenaga yang tak kelihatan, sehingga kaki tangan tak bisa bergerak.

“Po po, aku sudah mahir dalam pukulan itu,‿ kata Coe Jie sambil tertawa. “Aku hanya tak mempunyai tenaga dalam yang besar. Coba kujajal lagi!‿

Sesaat itu Teng Bin Koen masih berada di bawah kekuasaan si nenek dan ia masih belum bisa bergerak. Melihat sambaran telapak tangan Coe Jie, bahna gusarnya, ia merasa seolah olah dadanya mau meledak.

Pada detik terakhir, tiba-tiba Cioe Jiak melompat dan menangkis tangan Coe Jie. “Ciecie, tahan!‿ katanya. Ia berpaling dan berkata pula. “Po po, barusan Cengcoe Soecie telah menyatakan, bahwa biarpun ilmu silat kami tidak bisa menandingi Po po, tapi kami tidak bisa membiarkan Po po menghina kami.‿

Si nenek tertawa dan berkata, “Lidah perempuan she Teng itu sangat beracun. Dia menentang kau sebagai Ciangboenjin, tapi kau masih mau melindungi dia.‿

“Orang luar tidak dapat mencampuri urusan dalam dari partai kami,‿ kata nona Cioe. “Aku yang rendah telah menerima warisan Siansoe dan meskipun berkepandaian cetek, tak bisa aku mempermisikan orang luar menghina saudari seperguruanku.‿

Si nenek tertawa terbahak-bahak. “Bagus! Bagus!‿ katanya. Baru saja berkata begitu, ia batuk-batuk lagi dengan hebatnya. Buru-buru Coe Jie menyodorkan sebutir pel yang lalu ditelannya dengan napas tersengal.

Beberapa saat kemudian, sesudah batuknya mereda, kedua tangan si nenek tiba-tiba menyambar, sebelah tangannya menekan punggung dan sebelah tangan menindih dada Cie Jiak. Gerakan itu dilakukan dalam kecepatan kilat dan nona Cioe tidak berdaya lagi, karena jari-jari tangan Kim hoa po po sudah menempel pada jalan darahnya yang membinasakannya. Dengan mata membelalak, Cie Jiak mengawasi lawannya.

“Cioe Kouwnio, kepandaianmu masih sangat rendah,‿ kata si nenek. “Apa bisa gurumu menyerahkan kedudukan Ciang boenjin kepadamu?‿

Cioe Jiak tahu, bahwa begitu si nenek menekan dengan tenaga dalam, jiwanya akan melayang. Tapi begitu ingat gurunya, semangatnya berkobar2. Sambil mengacungkan tangannya, ia berkata dengan suara nyaring, “Popo, inilah cincin besi tanda Ciang boenjin yg dimasukkan kejari tanganku oleh Siansoe sendiri. Apa kau masih bersangsi?‿

Si nenek tersenyum, “Tugas seorang Ciang boenjin dari Go Bie Pay adalah sangat berat,” katanya. “Setiap Ciangboenjin harus memikul pikulan yg tidak enteng. Apakah soal itu tidak diberitahukan kepadamu oleh gurumu? Kurasa belum tentu.”

“Tentu saja Siansoe memberitahukan soal itu kepadaku,” kata Cie Jiak. Berbareng dengan jawabnnya, jantung nona Cioe melonjak. “Mengapa dia tahu rahasia partaiku?” tanyanya didalam hati.

Sementara itu dengan hati berdebar2 Boe Kie memperhatikan semua perkembangan. Melihat kekerasan Cie Jiak, ia berkuatir bahwa dalam gusarnya, Kim Hoa Popo akan turunkan tangan jahat. Dalam bingungnya, ia bergerak untuk melompat keluar, tapi tangannya dicekal Tio Beng yg melarangnya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

Sekonyong2 si nenek tertawa terbahak bahak. “Biat Coat Soethay tidak salah mata,” katanya. “Biarpun ilmu silatnya cetek, Ciangboen jin yg dipilihnya adalah seorang yg berwatak keras. Benar, ilmu silat memang dapat dipertinggi dengan pelajaran dan latihan. Sungai dan gunung mudah diubah, tapi watak manusia susah di ubah.”

Sebenarnya Cioe Cie Jiak sendiri sudha ketakutan setengah mati dan keberaniannya muncul karena ia ingat pesan sang guru. Sementara itu dimata saudara saudari seperguruannya derajat nona Cioe naik tinggi. Ia sudah memperlihatkan kemuliaan hatinya bahwa dengan menyampingkan kepenting pribadi ia sudah menolong Teng Bin Koen. Ia pun sudah membuktikan wataknya yg kuat dalam menghadapi kebinasaan.

Mendadak Ceng coe mengibaskan pedangnya dan memberi komando dengan teriakan. Para murid Go bie lantas saja berpencaran, menghunus senjata dan mengurung pendopo itu.

“Apa kau mau?” tanya si nenek sambil tertawa.

“Apa maksud popo dengan menculik cian boenjin partai kami?” Ceng Coe balas menanya.

Si nenek batuk2. “Apa kamu mau menekan aku dengan jumlah yg lebih besar?” tanyanya dengan suara memandang rendah. “Huh, huh…. Di mata Kim Hoa popo, sepuluh kali lipat lebih besar dari jumlahny ini masih belum masuk hitunganku.” Mendadak ia melepas Cie Jiak, badannya berkelebat dan tahu2 jari2 nya menyambar mata Ceng Coe. Nie Kauw itu menangkis dengan pedangnya, tapi hampir berbareng dengan teriakan kesakitan dan seorang sumoi sudah terguling disampingnya. Gerakan Kim hoa popo cepat sekali dan aneh. Berbareng dengan serangannya kepada Ceng Coe, kaki kirinya menendang pinggang seorang murid Go Bie yg lain. Di lain saaat tubuh nenek itu berkelebat kelebat diseputar pendopo dan diantara suara batuk2 kaki tangannya menyambar nyambar. Dengan nekad para murid Go Bie melawan dengan senjata mereka. Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Dalam sekejap tujuh delapan orang sudah roboh dengan jalan darah tertotok. Totokan si nenek hebat luar biasa. Mereka menjerit jerit dan berguling ditanah.

Beberapa saat kemudian, sambil menepuk kedua tangannya, Kim hoa popo sudah kembali kependopo. Cioe Kauwnio bagaimana pendapatmu?‿ tanyanya. “Apa ilmu silat Go Bie atau ilmu silat Kim Hoa popo yg lebih unggul?‿

“Tentu saja ilmu silat kami yg lebih unggul,‿ jawabnya. “Apa popo sudah lupa kekalahan dalam tangan Siansoe?‿

Mata si nenek melotot. “Biat coat loo nie menang berkat Ie thian kiam,‿ bentaknya dengan gusar. “Dia bukan menang sewajarnya.‿

“Popo,‿ kata Cie Jiak, “Cobalah kau bicara menurut perasaan hatimu, dengan sejujurnya. Siapa yg lebih unggul andaikata Siansoe dan Popo bertanding dengan tangan kosong?‿

Si nenek tidak lantas menjawab. Untuk sejenak ia mengawasi muka si nona. Akhirnya ia menggelengkan kepala dan berkata.

“Entahlah. Aku datang kekota raja justru untuk mendapat keputusan siapa diantara kita yg lebih unggul. Hai! Sesudah Biat coat Soethay meninggal. Rimba persilatan kehilangan seorang tokoh yg berkepandaian tinggi. Hai! Mulai dari sekarang, Go Bie pay menjadi partai yg lemah.‿

Selagi mereka berbicara, murid2 Go Bie yg tertotok jalan daranya terus berteriak2. Ceng Coe coba menolong, tapi tidak berhasil.

Ternyata ilmu totok Kim hoa popo bebeda dari ilmu totok yg dikenal di rimba persilatan dan hanyalah yg sudah mempelajarinya barulah bisa membukanya. Sebagai seorang yg pernah menolong sejumlah jago yg dilukai sinenek, Boe Kie sudah mengenal kelihaian nya orang tua itu.

“Cioe Kaownio, bagaimana? Apa kau sudah merasa takluk terhadapku?‿ tanya nenek itu.

Ilmu silat partai kami sangat dalam bagaikan lautan dan seseorang yg mempelajarinya tak bisa berhasil dalam waktu yg singkat,‿ jawab si nona. “Kami masih berusia muda tertu saja kami belum bisa menandingin popo. Tapi dikemudian hari, kemajuan kami tiada batasnya.‿

Si nenek tertawa, “Bagus!‿ katanya. “Kalau begitu, sekarang Kim hoa Popo meminta diri. Dihari kelak, kapan ilmu silatmu telah tidak terbatas, barulah kau membuka jalan darah dia‿. Sehabis berkata begitu, ia menuntun tangan Coe Jie, memutar badan dan berjalan pergi.

Cie Jiak terkejut. Kalau si nenek pergoi, saudara saudari seperguruannya pasti akan binasa. “Popo, tahan dulu!‿ katanya. “Aku memohon popo suka menolong sucie dan suhengku‿.

“Aku bersedia untuk menolong, asal saja kau mau berjanji, bahwa mulai kini orang2 Go Bie pay harus menyingkir dari tempat2, dimana aku dan Coe Jie berada,‿jawabnya.

Nona Cioe mengawasi si nenek dengan rasa mendongkol. Sebagai Ciang boenjin, mereka pasti tidak bisa memberi janji itu yg berarti runtuhnya Go Bie pay.

Kim hoa popo tertawa. “Kalau kau tidak mau menurunkan keangkeran Go Bie pay, aku pun tak mau memaksa, asal saja kau suka meminjamkan Ie thian kiam kepadaku,‿ katanya. “Begitu lekas kau menyerahkan pedang itu kepadaku, aku akan segera menolong suci dan suhengmu.‿

“Sebagaimana popo tahu, karena ditipu oleh kerajaan, kamu, guru dan murid, telah tertawan dan terkurung dimenara kelenteng Ban hoat sie,‿ kata si nona. “Cara bagaimana Ie thian kiam masih bisa berada di dalam tangan kami?‿

Si nenek memang sebenarnya telah menduga hal itu. Dalam mengajukan permintaan, dia tahu harapannya sangat tipis. Tapi mendengar jawabannya Cie Jiak,paras mukanya lantas saja terlihat sinar putus harapan. Tiba2 ia membentak, “Cioe Kouwnio! Jika kau mau melindungin nama Go bie pay, kau tidak melindungi jiwamu sendiri…‿ Ia mengeluarkan sebutir pel dan berkata pula, “Inilah racun yang bisa memutuskan usus manusia. Setelah kau menelannya, aku segera akan menolong mereka.‿

Sambil menyubiti pel itu, Cie Jiak berkata didalam hatinya, “Suhu memerintahkan aku untuk menipu Tio Kongcu dan aku sebenarnya tak bisa berbuat begitu. Daripada hidup menderita, memang lebih baik aku lantas mati.‿

“Cioe sumoi, jangan telan racun itu !‿ teriak Cengcoe.

Melihat keadaan mendesak, Boe Kie segera bergerak untuk melompat keluar, tetapi lagi2 tangannya dicekal Tio Beng. “Anak tolol!‿ bisik si nona. “Pel itu bukan racun‿ Boe Kie terkejut dan Cie Jiak telah menelan pel tersebut.

Semua murid Go Bie mencelos hatinya. Mereka segera bergerak untuk menyerang.

“Jangan banyak tingkah!‿ bentak si nenek.

“Racun ini tidak lantas bekerja Cioe Kouwnio, ikutlah aku. Jika kau dengar kata, mungki sekali aku pasti akan memberikan obat pemunah‿ Sehabis berkata begitu, ia menepuk badannya murid2 Go Bie yang tertotok. Rasa sakit mereka lantas saja hilang, tapi untuk sementara waktu belum bisa bergerak, sebab kaki tangannya masih kesemutan. Melihat kegagahan dan kemuliaan nona Cioe yg telah menolong mereka dengan menelan racun, bukan main rasa terima kasihnya. “Terima kasih, Cioe sumoi,‿ teriak seorang.

Sementara itu, seraya menarik tangan Cie Jiak, Kim hoat popo berkata dengan suara lemah lembut. “Anak baik, ikutlah aku. Popo takkan mencelakaimu.‿

Sebelum ia sempat menyahut, nona Cioe merasa dirinya di betot dengan tenaga yg sangat besar dan tanpa merasa, ia melompat.

Ceng coe berteriak. “Cioe sumoi!…‿ Ia melompat untuk mencegat. Tiba2 ia merasa sambaran angina tajam. Itulah serangan Cioe Jie. Dengan cepat ia menangkis dengan tangan kirinya. Tapi pukulan Cioe Jie hanya pukulan gerak.

“Plak!‿ yg benar2 di gaplok adalah pipi Teng Bin Koen. Pukulan itu yg diberi nama Cie Tang Tah say (Menunjuk ke Timur, memukul ke Barat) adalah salah satu pukulan lihai dari Kim hoa popo. Sesudah menggaplok, sambil tertawa nyaring, Coe Jie melompati tembok.

“Ubar!‿ kata Boe Kie sambil mencekal tangan Siauw Ciauw. Mereka lantas saja melompati tembok. Melompat munculnya tiga orang lain, murid2 Go bie pay tentu saja merasa kaget dan dilain saat, merekapun melompat untuk mengejar. Tapi ilmu ringan badan Kim hoa popo dan Boe Kie bukan ilmu ringan badan yg sembarangan. Waktu murid2 Go Bie melompati tembok mereka tak kelihatan bayang2annya lagi.

Sesudah ubar2an beberapa puluh tombak, Kim hoa popo membentak, “Siapa!‿

“Serahkan Ciang boen kami! Setelah kau menyerahkan aku mengampuni jiwamu,‿ teriak Tio Beng yg kemudian berbisik dikuping Boe Kie, “Kau mengamat2i dari kejauhan. Jangan munculkan diri.‿ Sehabis berkata begitu ia mengempos semangat dan tubuhnya melesat beberapa tombak. Dengan pukulan Kim Teng hoed kong (Sinar Budha di Kim teng) yaitu salah satu pukulan dari Kim hoat Go bie pay ia menikam punggung si nenek. Dengan memiliki kecerdasan yg luar biasa, dari latihan dikelenteng Ban hoat sie ia sudah bisa menggunakan ilmu pedang Go Bie pay. Biarpun tenaga dalamnya masih belum cukup tapi serangannya itu yg dikirim dengan Ie Thian Kiam sudah cukup hebat.

Mendengar sambaran angin yg luar biasa si nenek buru2 melepaskan Cioe Jiak dan berkelit sambil memutar tubuh. Dengan beruntun Tio Beng mengirim beberapa serangan tapi semuanya di punahkan secara mudah.

Melihat senjata yg digunakan si nona adalah Ie Thian Kiam, Kim hoa popo kaget tercampur girang. Ia merangsek dan terus menyerang sesudah bergebrak memakai beberapa jurus, tiba2 Tio Beng memutar pedangnya dan menyerang dengan pukulan Soan hong chioe (angin puyuh) dari Koen loen pay. Dalam pertempuran itu , si nenek menganggap bahwa Tio Beng adalah murid Go bie pay dan diperhatikan ialah kiam hoat Go bie pay. Pada detik itu ia justru sedang melompat untuk menangkap pergelangan tangan si nona dan merampas Ie Thian Kiam. Serangan mendadak dengan pukulan Koen loen pay benar2 diluar dugaannya. Ia terkesiap tapi sebagai orang yg memiliki kepandaian tinggi, dalam bahaya ia tidak jadi bingung dan secepat kilat ia menggulingkan badannya ditanah. Tapi walaupun ia dapat menyelematkan jiwa, tangan bajunya tak urung kena disambar jg dan robek.

Bukan main gusarnya Kim hoa popo. Begitu melompat bangun, ia menyerang dengan hebatnya. Tio beng mengerti bahwa ilmu silatnya masih kalah jauh dari si nenek! Dalam pertempuran yg lama ia pasti bakal dirobohkan.

Dengan secepat ia mengubah siasat. Sekarang ia menyerang berbagai ilmu pedang, sebentar dengan kim hoat Khong tong pay, sebentar dengan kiam goat Hwa san pay, Koen loen pay, atau Siauw lim pay dan yg digunakannya selalu pukulan2 yg paling hebat. Berkat Ie thian kiam, serangan2an itu dahsyat luar biasa dan Kim hoat popo tidak berlaku sembrono. Coe Jie jengkel. Ia menghunus pedangnya dan melontarkannya kepada sang popo. Karena orang itu itu menyambuti senjata tersebut, tapi baru bertanding sembilan jurus, dengan satu suara, “kres!‿ pedangnya putus dua.

Paras muka si nenek berubah. Ia melompat keluar dari gelanggang dan membentak. “Bocah! Siapa kau sebenarnya?‿

Tio Beng tertawa. “Mengapa kau tidak mencabut To liong to?‿ tanyanya

“Kurang ajar! Jika aku memegang To Liong to kau sama sekali bukan tandinganku. Apa kau berani mengikuti kami untuk menjajal jajal?‿

Mendengar disebutnya To Liong to, Boe Kie merasa heran.

“Nenek pergilah kau ambil To liong to,‿ kata si nona sambil tertawa. “Aku tunggu kau dikota raja. Sesudah kau bersenjatakan golok itu, kita boleh bertempur lagi.‿

“Balik kepalamu kemari! Aku mau lihat lebih tegas mukamu,‿ kata si nenek dengan gusar.

Tio Beng memutar badan, mengeluarkan lidahnya dan memejamkan sebelah matanya, sehingga mukanya tidak keruan macam. Si nenek mengutuk dan meludahi muka si nona. Sesudah itu dengan menuntung Coe Jia han Cie Jiak, ia berlalu.

“Ubar lagi!,‿ kata Boe Kie

“Tak perlu tergesa gesa. Aku tanggung keselamatan Cioe Kauwniomu tidak akan terganggu.‿

“Mengapa tadi kau menyebut2 To liong to?‿

“Waktu berhadapan dengan murid2 Go Bie pay nenek itu mengatakan bahwa seorang sahabat lama bersedia untuk meminjamkan sebatang golok mustika kepadanya dan dengan golok itu, ia ingin bertempur lagi denagn Boat coat soethay, Ie thian poe coet, swee ie ceng hong (kalau ie thian tidak keluar, siapa lagi yg bisa melawan ketajamannya?) untuk melawan In thiam Kiam, orang harus menggunakan To Liong to. Aku bertanya dalam hatiku, apakah dia sudah berhasil meminjam to liong to dari ayah angkatmu, Cia locianpwee? Maka itulah, tadi aku menyerang dengan Ie Thian kiam dan maksudku adalah untuk memaksa supaya ia mengeluarkan to liong to. Tapi ternyata ia tdiak membawa golok mustika itu dan hanya menantang supaya aku mengikuti dia untuk menjajal Ie thian kiam dengan to liong to. Dari perkataannya itu mungkin sekali ia sudah tahu dimana adanya to liong to, tapi belum bisa mendapat,‿ katanya.

“Mendengar keterangan itu, Boe kie mengmanggutkan kepalanya. “Ya benar sekali bahwa golok itu berada dalam tangan Gie Hoe,‿ katanya.

“Menurut dugaan ia segera akan pergi ke pantai untuk menyebrangi lautan guna mencari golok itu,‿ kata pula Tio Beng. “kita harus mendahului, supaya Cia locianpwee yg buta dan berbaik hati tak sampai kena di perdayai oleh perempuan tua itu.‿

Darah Boe Kie bergolak. “Benar! Benar! Katamu!‿ katanya dengan tergesa gesa. Waktu meluluskan permintaan Tio Beng yg mau meminjam To liong to, ia hanya mempertahankan sifatnya lelaki yg takkan menjilat ludah sendiri. Tapi sekarang mengingat keselamatan ayah angkatnya, ia ingin sekali mempunyai sayap supaya ia bisa segera terbang untung melindungi ayah angkat itu.

Tanpa membuang buang waktu lagi Tio Beng segera mengajak Boe Kie dan Siauw Ciauw kegunung Ong hoe. Ia tak masuk kedalam dan hanya bicara dangan penjaga pintu yg sesudah mendengari pesanan sang majikan, buru2 masuk ke dalam keluar lagi dengan menuntun sembilan ekor kuda yg jarang kelihatannya dan menenteng buntalan yg berisi emas dan perak.

Tio Beng bertiga lantas saja melompat kepunggung tunggangan itu yang terus dikaburkan kearah timu. Enam ekor kuda lainnya mengikuti dibelakang dan ditunggang dengan bergantian supaya mereka tak terlalu capai.

Pada keesokan paginya, kesembilan kuda itu dapat dikatakan sudha tak bisa lari lagi. Dengan memperlihatkan kin pay (tanda perintah) Jie lam ong, Tio beng menemui pembesar setempat dan menukar kuda2 itu dengan tunggangan yg masih segar. Malam itu, mereka tiba di kota pesisi. Malam2 notan Tio menemui pembesar dikota itu dan memerintahkan supaya ia segera menyediakan sebuah perahu besar yg kuat dan lengkap segala2nya. Ia pun memerintahkan supaya semua perahu yg berada di pelabuhan segera berlayar kearah selatan dan disepanjang pantai kota itu dalam jarak seratus li, tak boleh berlabuh perahu apapun juga.

Belum cukup sehari, segala apa sudah siap sedia. Tio beng, Boe Kie dan Siauw Ciauw segera menukar pakaian pelaut, memasang kumis palsu, memoles muka mereka dengan semacam cat air sehingga warna kulit jadi berubah dan terus turun ke perahu untuk menunggu Kim Hoa popo.

Lihai sungguh tebakan Beng beng koencoe. Kira2 magrib, sebuah kereta tiba dipantai dengan diiring oleh Kim hoa popo yang menuntun Cie Jiak dan Coe Jie. Si nenek segera pergi ke perahu itu kendaraan air satu2nya yg berlabuh di pesisir dan minta menyewanya. Anak buah kapal yg sudah menerima pesanan Tio Beng, semula menolak dan sesudah Kim hoa popo menyerahkan sepotong emas dengan sikap apa boleh buat, barulah pemimpin kapal meluluskan permintaannya. Begitu lekas si nenek begitu turun kapal segera memasang layar dan berangkat ke arah timur.

Di atas samudra seolah2 tidak berbatas sekuat perahu berlayar kearah tenggara.

Perahu itu sangat besar bertingkat dua, diatas geladak dikepala perahu dan dikiri kanan nya terdapat meriam. Perahu itu adalah sebuah perahu meriam Mongol. Bangsa Mongol pernah berniat menyerang negeri Jepang dan mempersiapkan perahu2 perang. Diluar dugaan angkatan laut itu diserang topan hingga berantakan dan niatan itu menjadi gagal. Jika berlabuh di pantai, perahu itu karam kelihatannya. Tapi diatas samudra dia menyerupai selembar daun yg terombang ambing merupakan tiupan angin.

Dengan menyamar sebagai anak buah Thio Boe Kie, Tio Beng dan Siauw Ciauw bersembunyi dibagian bawah perahu.

Hari itu, waktu mau turun keperahu, Tio Beng kaget dan berkuatir. Ia sama sekalitak menduga, pembesar setempat menyediakan sebuah perahu meriam dari angkatan laut Mongol. Hal ini bisa membuka rahasia. Tapi sebgai seorang yg sangat pintar si nona lantas saja dapat memikir satu jalan untuk memperdayai Kim hoa popo, ia segera memerintahkan supaya perahu itu membawa sejumlah jala dan beberapa ton ikan basah. Dengan demikian nenek Kim Hoa akan percaya bahwa lantaran sudah tua maka perahu perang itu telah diubah menjadi semacam perahu penangkap ikan.

Ketika tiba dipantai sebab tak mendapatkan lain kendaraan air tanpa curiga Kim hoa popo segera menyewa perahu tersebut.

Dari lubang jendela, Boe Kie dan Tio Beng memperhatikan jalannya matahari dan rembulan yg selalu naik dari sebelah kiri perahu. Mereka tahu, bahwa perahu sedang berlayar ke arah selatan. Waktu itu sudah masuk musim dingin dan angin utara meniup dengan hebatnya, sehingga perahu berlayar dengan kecepatan luar biasa.

“Gie hoe berada di pulau Penghwee to, di daerah Kutub utara,‿ kata Boe Kie. “Untuk mencarinya, kita harus berlayar kearah utara. Mengapa Kim hoa popo memerintahkan perahu ini menuju ke selatan?‿

“Si nenek tentu mempunyai niatan yang belum di ketahui kita,‿ jawab Tio Beng. “Sekarang ini angin selatan belum waktunya turun, sehingga biar bagaimanapun juga, kita tidak akan bisa berlayar ke jurusan utara.‿

Pada hari ketiga, diwaktu lohor, salah seorang anak buah memberi laporan kepada Tio Beng, bahwa Kim hoa popo sangan paham dengan jalanan air yg digunakan mereka. Si nenek tahu mana ada pulau yg ditempat apa bakal ada batu karang yg menonjol keatas dia bahkan lebih paham daripada anak buah perahu itu.

Tiba tiba Boe Kie ingat sesuatu. “Ah!‿ serunya dengan suara tertahan. “Apa dia bukan mau pulang ke pulau Leng coat to?‿

“Leng coat to apa?‿ menegas si nona.

“Kim hoa popo bersarang di pulau Leng coat to,‿ jawabnya. “Mendiang suaminya dikenal sebagai Gin yap sian seng. Pada banyak tahun berselang, Kim hoa dan Gin yap dari Leng coat to mengentarkan dunia Kang ouw. Apa kau tidak tahu?‿

Si nona tertawa. “Kau hanya lebih tua beberapa tahun daripada aku, tapi dalam pengalaman kau seperti seorang kakek,‿ katanya.

Boe Kie turut tertawa, “Beng Kauw dikenal sebagai agama siluman dan anggota2 Beng Kauw memang sedikit, lebih berpengalaman daripada seorang kauwcoe yg dikeram didalam gedung raja muda,‿ katanya.

Mereka berdua adalah musuh besar. Dengan masing2 pemimpin sejumlah jago beberapa kali mereka telah mengukur tenaga. Tapi sekarang sesudah bergaul beberapa hari dalam sebuat perahu dengan Kim hoa popo sebagai musuh umum mereka dari musuh mereka telah berubah menjadi sahabat.

Sesudah memberi laporan anak buat itu buru2 kembali ke tempat kemudi.

“Toa kauwcoe‿ kata Tio Beng. “Apakah kau sudah menceritakan sepak terjang Kim hoa dan Gin yap kepada seorang budak kecil yang di keram didalamg gedung raja muda?‿

Boe Kie menyeringai, “Mengenai Gin yap Sian seng, aku tidak mempunyai pengetahuan apa pun jua,‿ jawabnya. “Tapi dengan si nenek aku pernah bertemu dan pernah menyaksikan sendiri sepak terjangnya.‿ Ia segera menuturkan pengalamannya di Ouw Tiep Kok, Ie Sian Ouw Ceng Goe untuk minta di obati, cara bagaimana nenek dikalahkan oleh Biat coat suthay dan akhirnya cara bagaimana Ouw Ceng Coe dan Ong Len Kouw binasa dalam tangan nenek itu. Sehabis bercerita kedua matanya mengembang air mata, biar pun Ouw Ceng Coe berada aneh, orang itu itu telah memperlakukannya dengan baik sekali dan telah banyak memberi pertolongan kepadanya. Ia merasa sangan berduka, bahwa orang tua itu dan istrinya telah dibinasakan secara menggenaskan dan jenazah mereka di gantung di pohon oleh si nenek Kim Hoa. Ia hanya tidak menceritakan ajakan Coe Jiak supaya ia turut pergi ke Leng coat to dan karena tampikannya sebelah tangannya sudah digigit oleh nona itu. Mungkin sekali ia merasa jengah untuk menuturkan peristiwa yg kecil itu.

Sesudah mendengarkan cerita Boe Kie dengan paras sungguh2 Tio Beng berkata, “Thio kong coe semuda aku hanya menganggap nenek itu sebagai seorang yg ilmu silatnya sangat tinggi. Tapi dalam penuturannya, aku menarik kesimpulan, bahwa dia orang yg sangat cerdik dan bukan lawan yg enteng. Kita tidak boleh memandang rendah kepadanya.‿

Boe Kie tertawa, “Koencoe nio nio seorang Boen boe song coan dan bukan saja begitu, ia bahkan memimpin sejumlah orang gagah yang berkepandaian sangat tinggi,‿ katanya. “Maka itu menurut pendapatku menghadapi seorang nenek sama sekali tidak menjadi soal baginya.‿

“Hanya yg di lautan ini aku tidak bisa memanggil para boesoe dan hoenceng.

Boe Kie tersenyum, “Tukang masak dan anak buah yg menarik layar bukan sembarang orang,‿ katanya. “Biarpun mereka bukan jago kelas satu mereka pasti bisa termasuk dalam kalangan jago jago kelas dua.‿

Si nona berkesiap. Sesudah berdiam sejenak ia tertawa geli. “Aku menyerah kalah! Menyerah kalah!‿ katanya. “Dengan sesungguhnya Toa kauwcoe mempunyai mata yg sangat awas.‿

Ternyata waktu pulang ke Ong hoe untuk mengambil kuda dan emas perak diam2 Tio Beng telah memesan boesoe penjaga pintu supaya sejumlah orang sebawahannya menyusul ke pesisir untuk ikut berlayar. Orang2 itu menggunakan kuda, tapi mereka ketinggalan kira2 setengah hari dari majikan mereka. Mereka menyamar sebagai tukang masak dan anak buah perahu dan terdiri dari orang yang tidak turut dalam pertempuran di Ban hoat she. Tapi sebagai ahli2 silat, sinar mata sikap dan gerak gerik mereka berbeda dari orang biasa. Dan Boe Kie yang bermata tajam tidak kena di kelabui.

Kenyataan itu mengkuatirkan hati si nona. Kalau Boe Kie masih belum bisa diakali, apalagi Kim Hoa popo yang berpengalaman luas. Tapi untung juga pihaknya berjumlah banyak lebih besar sehingga kalau sampai mesti bergerak dengan bantuan Boe Kie ia pasti tak akan kalah.

Selama beberapa hari yg paling mengganggu pikiran Boe Kie ialah keselamatan Cie Cioe Jiak yg telah menelan pel ‘racun’. Didalam hati ia selau bertanya2, kapan racun itu mengamuk? Tio Beng yg pintar lantas saja dapat menebak rahasia hatinya. Setiap kali alis pemuda itu berkerut setiap kali ia memerintahkan orang pergi keatas untuk menyelidiki dengan berlagak membawa air atau teh. Orang it lalu kembali dengan laporan yg menyenangkan, nona Cioe sehat2 saja. Sesudah kejadi ini berulang beberapa kali Boe Kie merasa jengah sendiri.

Sementara itu lain peringatan sering mengganggu pikiran Boe Kie. Saban ia termenung seorang diri, ia ingat peristiwa itu diatas salju didaerah see hek. Ia ingat pengalamannya dengan Coe Jie. Ia ingat, cara bagaimana dengan Ho thay Ciong, Boe liat dan yang lain2, ia pernah berkata begini, “Nona dengan setulus2 hati aku bersedia, untuk menikah dengan kau. Aku hanya mengharap kau jangan mengatakan, bahwa aku tidak setimpal dengan dirimu.‿ Dilain saat sambil mencekal tangan si nona, ia berkata pula, “Aku ingin berusaha supaya kau bisa hidup beruntung supaya kau melupakan penderitaanmu yg dulu2. Tak peduli ada berapa banyak orang yg mau menghina kau, aku bersedia untuk mengorbankan jiwa demi keselamatanmu.‿ Ia ingat itu semua (Kisah pembunuh naga jilid 14, halaman 44) dengan mulut berkumak kumik, ia mengulangi perkataan2 itu. Mukanya lantas berubah merah.

Tiba2 terdengar suara tertawanya Tio Beng “Hai!‿ kata si nona “Lagi2 kau memikiri Cioe Kouwnie mu!‿

“Tidak!‿

“Kau memikiri apa dia tidak memikiri dia sedikitpun tiada sangkut pautnya dengan diriku. Aku hanya merasa menyesal, seorang laki2 gagah sudah berdusta dihadapan seorang wanita.‿

“Perlu apa kau berdusta? Dengan sesungguhnya aku bukan memikiri Cioe Kouwnio.‿

“Dusta! Kalau ingat Kouw Tauwto Wie It Siauw atau lain2 manusia muka jelek, paras mukamu tidak nanti mengunjuk sinar yang begitu lemah lembut yang penuh kasih saying, yang kemerah2an. Omong kosong kau!‿

Boe Kie tertawa. “Kau sungguh lihai,‿ katanya. “Kau dapat membaca hati orang, apa dia sedang memikiri orang yg cantik atau yg jelek. Tapi aku mau menerangkan dengan sesungguh2nya, bahwa orang yg kuingat pada detik ini sedikitpun tak ada yg berparas cantik.‿

Mendengar nada suara yg sungguh2 si nona tersenyum dan tidak menggoda lagi. Biarpun pintar, ia sama sekali tidak menduga, bahwa yang diingat Boe Kie adalah Coe Jie yg mukanya tak keruan macam.

Mengingat, bahwa jeleknya muka Coe Jie adalah akibat latihan Cian Coe Ciat Hoe Chie, Boe Kie menghela napas. Waktu si nona muncul pada malam itu diantara murid2 Go Bie, ia mendapat kenyataan bahwa muka Coe Jie lebih hebat daripada dulu. Ia merasa menyesal, karena ia merasa, bahwa makin mendalam Coe Jie melatih diri dalam ilmu silat itu, makin besar bahaya bagi dirinya. Ia kuatir akan keselamatan si nona, baik jasmani maupun rohani. Dengan rasa terima kasih, ia ingat budi nona itu. Sesudah berada di Kong Beng Teng dan menjadi Kauw coe karena repot, ia tak sempat memikiri segala urusan pribadi. Tapi biarpun begitu ia pernah meminta bantuan Leng Kiam untuk mencarinya diseluruh Kong Beng Teng. Ia pernah meminta pertolongan Wie It Siauw untuk bantu menyelidiki tapi usahanya tinggal tersia sia. Coe Jie menghilang bagaikan batu yg tenggelam di lautan.

Tiba2 si nona muncul, tak usah dikatakan lagi. Ia merasa sangat girang. Diam2 ia mengutuk dirinya sendiri, Coe Jie begitu baik mengapa dia sendiri bersikap begitu tawar? Tapi pada hakekatnya pemuda itu bukan manusia yg tidak mengenal budi. Sikap tawarnya itu adalah karena ia selalu memikiri bebannya yang sangat berat. Sebagai Kauw Coe dari Beng Kauw dan Bengcoe dari perserikatan segenap Rimba Persilatan. Ia tak sempat untuk mengurus kepentingan pribadi.

Mendadak Tio Beng tertawa nyaring, “Eh! Mengapa kau menghela napas?‿ tanyanya.

Sebelum Boe Kie menjawab diatas perahu sekonyong2 terdengar teriakan2. Sesaat kemudian seorang anak buah dating melapor, “Disebelah depan terlihat daratan dan nenek itu memerintahkan supaya perahu dijalankan terlebih cepat.”

Boe Kie dan Tio Beng segera mengitip dari lubang jendela. Pada jarak beberapa li, mereka melihat sebuah pulau yg besar, dengan pohon2 yg hijau disebelah timur terlihat beberapa gunung yg menjulang tinggi keangkasa. Dengan angin yg bagus, perahu itu berlayar dengan epsar dan dengan waktu kira2 semakanan nasi, dia sudah tiba di depan pulau. Dibagian timur pulau, tidak terdapat pesisir yg lazim dari pasir cetek. Batu gunung di bagian itu termasuk masuk ke dalam ari yg tak diketahui berapa dalamnya. Perahu ditujukan kejurusan timur dans segera menempel pada batu gunung yg menjulang keatas dari pinggir air.

Baru saja perahu itu melepas jangkar diatas gunung sekoyong2 terdengar teriakan atau jeritan dahsyat yg menyerupai auman harimau dan jeritan Naga. Teriakan itu yg berulang2 seolah2 menggetarkan seluruh gunung.

Mendengar teriakan itu, Boe Kie tercampur girang, karena dia mengenali karena itulah teriakan ayah angkatnya, Kim Mo Say Ong Cia Soen. Sesudah berpisah belasan tahun keangkeran Gie Hoe ternyata masih seperti dahulu. Tanpa memikir panjang2 lagi, buru2 ia mendaki tangga dan naik diatas geledak di belakang perahu. Ia menengadah dan mengawasi puncak bukt atau gunung kecil itu. Ia melihat empat pria bersenjata sedang mengepung sorang yg bertubuh tinggi besar dan orang itu, yg bertangan kosong memang bukan lain dari ayah angkatnya.

Biarpun buta dan biarpun dikerubuti berempat Cia Soen tidak jatuh dibawah angin. Boe Kie yg belum pernah melihat ayah angkatnya yg sedang ramai bertempur dia merasa kagum sekali. Tak heran nama Kim mo say ong Cia Soen menggetarkan Rimba Persilatan. Ilmu silatnya lebih tinggi daripada Ceng Ek Hok Ong, Wie It Siauw dan kira2 setanding dengan kakeknya.

Tapi ke empat musuh itupun bukan lawan enteng. Karena jauh, Boe Kie tidak bias melihat dengan jelas muka mereka. Tapi dilihat dari pakaian mereka yg compang camping dan karung yg menggemblok dipunggung mereka sudah dapat dipastikan mereka adalah anggota Kaypang. Tiga orang lain berdiri menonton, kalau empat kawannya kalah, mereka tentu turut turun tangan.

Tiba2 teriakan seseorang, “Serahkan To liong to! Golok tukar dengan jiwa!”

Meskipun kuping nya tajam, Boe Kie tidak bisa menangkap semua perkataan itu. Tapi ia sudah tahu, bahwa musuh itu dating menyateroni untuk merebut To liong to!

Cia Soen tertawa terbahak bahak, “To liong to ada disini! Ambillah sendiri, kalau kau mampu!” teriaknya. Sedang mulutnya berbicara, perlawanannya sedikitpun tak menjadi kendor.

Dengan sekali berkelebat, Kim hoa popo sudah medarat. Sambil batuk2 ia berteriak, “Para pendekar Kaypang! Apa maksud kalian? Tanpa bicara dulu dengan si nenek, kalian mengganggu tamu terhormat dari Leng coa to.”

Sekarang Boe Kie mendapat kepastian, bahwa pulau itu benar Leng coa to. Ia merasa sangat heran. Dulu ayah angkatnya menolak untuk kembali ke Tong Goan. Mengapa kini ia suka mengikuti Kim hoa popo? Cara bagaimana si nenek tahu, bahwa ayah angkatnya berada di Peng Hwee To?

Mendengar teriakan nyonya rumah, keempat orang itu rupa2nya menjadi bingung. Dalam usaha untuk menjatuhkan Cia Soen secepat mungkin, mereka memperhebat serangan. Tapi dengan berbuat begitu, mereka melakukan kesalahan besar. Dia orang buta, Cia Soen melawan dengan mengandalkan kupingnya. Ia menangkis setiap serangan dengan mendengar sambaran angin dari pukulan2 musuh. Dengan memperhebat serang mereka2, sambaran2 jadi makin keras dan hal ini bahkan memunahkan perlawanan Cia Soen. Dilain saat, seraya membentak keras Cia soen meninju dan tinju itu mampir didada salah seorang musuh. Orang berteriak dan roboh tergelincir kebawah, akan kemudian jatuh diatas batu, sehingga kepalanya hancur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: