To Liong To – 13

Tak lama kemudian, jalam pertempuran berubah dari cepat menjadi perlahan karena mereka mulai menguji tenaga dalam. Sekonyong-konyong dari mulut pintu gerbang masuk serupa benda yang sangat besar dan menyambar ke tubuh si tinggi besar. Benda itu jauh lebih besar daripada karung beras. Semua orang kaget, senjata apa itu?”

Si tinggi besar terkejut dan dengan sepenuh tenaga, ia menghantam benda tersebut, yang lantas saja benda itu terpental setombak lebih, dibarengi dengan teriakan manusia yang menyayat hati. Ternyata benda itu sebuah karung dan di dalam karung terdapat manusia. Dipukul dengan Coe See Cit sat ciang, orang itu telah hancur tulangnya.

Si tinggi besar tertegun. Mendadak ia menggigil karena pada saat itu ia tidak berwaspada, Wie It Siauw melompat ke belakangnya menotok Toa Toei Hoatnya, di bagian punggung dengan Han Peng Bian Ciang. Dibokong begitu, ia jadi kalap. Sambil memutar tubuh, ia menghantam batok kepala Wie It Siauw dengan telapak tangannya. 

Nyali Ceng Ek Hok Ong benar-benar besar. Ia tertawa terbahak-bahak dan berdiri tegak, tidak berkelit atau menangkis. Si tinggi besar ternyata sudah habis tenaganya. Telapak tangannya tepat mampir di batok kepala Wie It Siauw, tetapi Wie Hok Ong hanya seperti diusap-usap.

Melihat gilanya Wie It Siauw, semua orang menggeleng-gelengkan kepala. Kalau si tinggi besar mempunyai ilmu untuk bertahan terhadap pukulan Han Peng Bian Ciang, bukankah ia akan mati konyol? Tapi memang adat Wie Hok Ong yang otak-otakan itu. Makin besar bahaya yang dihadapi, ia makin gembira. Ia menganggap bokongannya sebagai perbuatan yang kurang bagus, maka itu ia memasang kepalanya untuk menebus dosa.

Sementara itu si tokoh Kay Pang (Partai pengemis) sudah membuka karung itu dan mengeluarkan sesosok tubuh manusia yang berlumuran darah dan yang sudah mati karena pukulan Coe See Cit Sat Ciang. Mayat itu yang berpakaian compang-camping adalah mayat seorang pengemis. Entah mengapa dia berada di dalam karung dan menemui ajal secara mengenaskan.

Tak kepalang gusarnya si tokoh Kay Pang. Dengan mata merah, dia berteriak, “Bangsaat…” Ia tidak dapat meneruskan caciannya, sebab pada detik itu, selembar karung menyambar dan mau menelungkup dirinya. Cepat-cepat ia melompat mundur.

Di lain saat, seorang pendeta gemuk sudah berdiri di tengah ruangan sambil tertawa haha hihi. Dia bukan lain daripada Poet Tay Hweeshio Swee Poet Tek! Sesudah karung Kian Koen It Khie Tay dipecahkan Boe Kie, ia tak punya senjata yang tepat dan terpaksa membuat beberapa karung biasa sebagai gantinya. Meskipun ilmu mengentengkan tubuhnya tidak selihai Wie It Siauw, tapi karena tidak menemui rintangan, ia sudah tiba di Boe Tong San pada saat yang tepat.

Ia menghampir Thio Sam Hong dan sambil membungkukkan, ia memperkenalkan diri, “Yoe Heng Sian Jin Poet Tay Hweeshio Swee Poet Tek, orang sebawahan Thio Kauwcoe dari Beng Kauw, memberi hormat kepada Boe Tong Ciang Kauw Couw Soe Thio Cin Jin.”

Guru besar itu membalas hormat dan berkata sambil tersenyum. “Tay Soe banyak capai. Terima kasih atas kunjunganmu.”

“Thio Cin Jin,” kata pula Swee Poet Tek dengan suara lantang. “Kong Beng Soe Cia, Peh Bie Kie Peh Bie Eng Ong, empat Sian Jin, lima Kie Soe, berbagai pasukan dari agama kami sudah mendaki Boe Tong San untuk menghajar kawanan manusia yang tak kenal malu itu, yang sudah menggunakan nama kami.”

Boe Kie dan Wie It Siauw tertawa geli di dalam hati. Hebat sungguh “ngibulnya” Poet Tay Hweeshio. Tapi Tio Beng kaget dan berkuatir. Ia kira benar para pemimpin Beng Kauw sudah tiba dengan seluruh barisan. “Cara bagaimana mereka bisa datang begitu cepat? Siapa yang membocorkan rahasia?” tanyanya dalam hati.

Karena bingung, tanpa merasa ia bertanya, “mana Thio Kauw Coe mu? Suruh dia menemui aku.”

“Thio Kauw Coe sudah memasang jaring untuk menjaring kamu semua,” jawab Swee Poet Tek. “Orang yang berkedudukan begitu mulia mana boleh sembarangan menemui manusia seperti kau.” Sambil berkata begitu, ia saling melirik dengan Wie It Siauw dengan sorot mata menanya.

Melihat datangnya bantuan, tidak kepalang girangnya Boe Kie.

Tio Beng tertawa dingin. “Yang satu kelelawar berabun, yang lain hweesio bau hawa di sini sungguh tidak sedap.” Katanya.

Mendadak di sudut timur terdapat suara tertawa yang sangat nyaring. Swee Poet Tek, apa Yo Co Soe sudah tiba?” tanya orang itu, yang ternyata bukan lain daripada In Thian Ceng. Sebelum Swee Poet Tek keburu menjawab, suara ketawa Yo Siauw sudah terdengar di sudut bara. “Eng Ong sungguh lihai, sudah tiba lebih dahulu daripada aku.” Katanya.

“Yo Co Soe jangan berlaku sungkan,” kata In Thian Ceng. “Kita berdua tiba bersamaan, tak ada yang kalah tak ada yang menang. Mungkin sekali, karena memandang muka Thio Kauw Co, Yo Co Soe sengaja mengalah terhadapku.”

“Tidak!” kata Yo Siauw. “Boanpwee sudah menggunakan semua tenaga tapi setindakpun tidak bisa mendului Eng Ong.”

Mereka berbicara begitu sebab di tengah jalan selagi gembira mereka setuju untuk menjajal tenaga kaki. In Thian Ceng memiliki Lweekang yang lebih kuat, tapi Yo Siauw bisa lari lebih cepat, sehingga pada akhirnya mereka tiba pada detik yang bersamaan dan lalu melompat turun dari kedua ujung payon kuil.

Thio Sam Hongsudah mengenal lama nama besarnya In Thian Ceng. Mengingat bahwa jago itu juga mertua Thio Coei San, maka ia lantas saja maju tiga tindak dan menyambut sambil merangkap kedua tangannya. “Thio Sam Hong menyambut In Heng dan Yo Heng.” Katanya. Diam-diam ia merasa heran. Terang-terang In Thian Ceng seorang Kauw Coe dari Peh Bi Kauw, tapi mengapa ia menyebut-nyebut “karena memandang Thio Kauw Coe?”

In Thian Ceng dan Yo Siauw membalas hormat dengan membungkuk. “Sudah lama kami dengar nama harum Thio Cin Jin hanya menyesal sebegitu jauh kami belum mendapat kesempatan untuk bertemu muka.” Kata Peh Bie Eng Ong.

“Kami bersyukur bahwa hari ini kami bisa melihat wajah Thio cin Jin yang mulia.”

“Kalian adalah guru-guru besar pada zaman ini,” kata Thio Sam Hong. “Kunjungan kalian merupakan kehormatan untuk Boe Tong San.”

Tio Beng jadi lebih jengkel dan gusar. Makin lama jumlah tokoh Beng Kauw makin bertambah. Boe Kie sendiri belum muncul, tapi keterangan Swee Poet Tek tak boleh diabaikan. Memang mungkin pemuda itu sudah mengatur siasat untuk menghancurkan segala rencananya. Makin dipikir, ia makin mendongkol. Dengan mudah ia berhasil melukai Thio Sam Hong. Hasil itu hasil luar biasa. Hari ini adalah satu-satunya utnuk membasmi Boe Tong Pay. Di lain hari kalau Thio Sam Hongsudah sembuh, kesempatai itu tak ada lagi.

Diluar semua penghitungan Beng Kauw mengadu biru. Yang datang pentolan-pentolannya. Apa ia akan berhasil?

Makin dipikir ia makin mendongkol. Biji matanya yang hitam bermain beberapa kali. Tiba-tiba ia tertawa dingin dan berkata dengan suara mengejek. “Dunia Kang Ouw selamanya memuji Boe Tong Pay sebagai partai yang lurus bersih. Huh huh! Mendengar tak sama dengan melihat. Tak dinyana Boe Tong Pay bergandeng tangan dengan Mo Kauw dan mempertahankan tenaga Mo Kauw. Huh Huh!… Sekarang baru kutahu, ilmu silat Boe Tong Pay tiada harganya.”

Swee Poet Tek tertawa nyaring. “Tio Kauw Nio,” katanya “pemandanganmu tidak lebih panjang dari panjang rambutmu. Kau sungguh masih kanak-kanak. Dengarlah Thio cin Jin sudah dapat nama besar pada sebelum kakekmu dilahirkan! Anak kecil tahu apa!”

Belasan orang yang berdiri di belakang Tio Beng mengawasi hweesio yang gatal mulut itu dengan mata melotot, tapi Poet Tay Hweeshio tenang-tenang saja. “Apa aku tidak boleh bicara begitu.” Tanyanya. “Aku Swee Poet Tek, tapi bila aku bicara, aku tetap bicara. Mau apa kamu?” (Swee Poet Tek tak boleh dibicarakan)

Seorang Hweesio jangkung meluap darah. “Coe Jin,” katanya, “permisikan aku membereskan Hweesio gila itu!” (Coe Jin – Majikan)

“Bagus!” kata Swee Poet Tek. “Aku hweesio gila, kaupun hweesio gila. Yang gila ketemu dengan yang gila, kita boleh minta Thio Cin Jin jadi juru pemisah.” Seraya berkata begitu, ia mengibaskan tangannya yang sudah memegang selembar karung.

Tio Beng menggelengkan kepala, “Hari ini kita meminta pelajaran Boe Tong,” katanya. “Kalau yang turun anggota Boe Tong Pay, kita boleh melayani.” Berisi atau kosongnya Boe Tong Pay akan dapat dipastikan hari ini. Perhitungan antara kita dan Mo Kauw dapat dibereskan di hari nanti.

Kalau aku belum mencabut urat-urat setan kecil Thio Boe Kie dan membeset kulitnya, belum puas hatiku. Tapi hal itu boleh ditunda untuk sementara waktu.”

Mendengar perkataan setan kecil Thio Boe Kie,” Thio Sam Hongjadi sangat heran. “apa Kauw Coe Beng Kauw juga bernama Thio Boe Kie?” tanyanya di dalam hati.

Swee Poet Tek tertawa geli, “Kauw coe kami seorang pemuda gagah yang sangat tampan,” katanya. “Mungkin usiamu lebih muda beberapa tahun daripada Kauw Coe. Apa tak baik kau menikah saja dengan Kauw Coe kami? Kulihat cocok benar… “

Sebelum ia habis bicara, orang-orangnya Tio Beng sudah membentak dan mencaci.

“Bangsat, tutup mulut!”

“Diam!”

”Kau sungguh telah bosan hidup!”

Paras muka si nona lantas saja bersemu dadu, sehingga ia nampaknya lebih cantik lagi. Pada paras itu terlihat tiga bagian kegusaran dan tujuh bagian kemalu-maluan. Seorang pemimpin yang berkuasa lantas saja berubah menjadi seorang gadis pemalu. Tapi perubahan itu hanya untuk sedetik dua saja.

Dilain saat, paras muka mereka itu berubah dingin seperti es. “Thio Cinjin,” katanya dengan nada memandang rendah. “Jika kau tak mau turun ke dalam gelanggang, kamipun tak akan memaksa, asal saja kau mengakui terang-terangan, bahwa Boe Tong Pay adalah partai yang mendustai dunia dan mencuri nama. Sesudah kau mengaku begitu, kami akan pergi. Kami bahkan bersedia untuk memulangkan Song Wan Kiauw, Jie Lian Cio dan lain-lain kawanan tikus, kepadamu.”

Sesaat itu, Tiat Koat Toojin dan In Ya Ong tiba, disusul dengan Cioe Than dan Pheng Eng Giok. Melihat bertambahnya tenaga Beng Kauw, Tio Beng mengerti bahwa dalam suatu pertempuran memutuskan, pihaknya belum tentu menang. Dan apa yang paling dikuatiri adalah Boe Kie dan siasatnya.

Sambil menyapu pihak lawan dengan matanya yang jeli, si nona berkata dalam hati. “Thio Sam Hongdibenci kaisar karena hambanya yang sangat besar dan dianggap sebagai thaysan atau Pak Tauw dalam rimba persilatan. Tapi dia sudah begitu tua, berapa tahun lagi dia bisa hidup? Tak perlu aku mengambil jiwanya. Kalau aku bisa menghina Boe Tong Pay, jasaku sudah cukup besar,” memikir begitu, ia lantas saja berkata, “tujuan kedatangan kami ke sini adalah untuk menjajal kepandaian Thio Cin Jin. Kalau kami mau mengukur tenaga dengan Beng Kauw, apakah kami tak tahu jalanan ke Kong Beng Teng? Begini saja, sebelum menjajal, kami tidak bisa mengatakan apa ilmu silat Boe Tong berisi atau kosong. Aku mempunyai tiga orang pegawai rumah tangga yang sudah lama mengikuti aku. Yang satu mengerti sedikit ilmu pukulan, yang lain mempunyai lweekang yang cetek, yang ketiga mengenal sedikit ilmu pedang. A Toa, A Jie, A Sam, kemari! Asal Thio Cin Jin bisa mengalahkan mereka, kami akan merasa takluk dan mengakui, bahwa Boe Tong Pay benar-benar mempunyai ilmu silat tinggi. Manakala Thio Cin Jin tidak mau apabila dijajal atau tidak mampu melawan mereka, maka kesimpulannya biarlah ditarik oleh orang-orang Kang Ouw sendiri. Seraya berkata begitu, ia meneput tangan dan tiga orang, yang berdiri di belakangnya lantas saja bertindak ke tengah ruangan.

Yang dinamakan A Toa seorang kakek kurus kering yang kedua tangannya memegang sebatang pedang, pedang itk. Mukanya yang berkerut-kerut diliputi paras sedih.

Yang kedua, A Jie, juga bertubuh kurus, tapi lebih tinggi daripada A Toa. Kepala botak Tha Yang Hiatnya melesak ke dalam, kira-kira setengah dim.

A Sam yang ketiga, berbadan keras padat, sikapnya garang anker bagaikan harimau. Pada mukanya, lengannya, lehernya, pendek kata di bagian-bagian badannya yang terbuka terlihat otot-otot yang menonjol keluar.

Thio Sam Hong, In Thian Ceng, Yo Siauw dan yang lain terkejut. Ketiga orang itu bukan sembarang orang.

“Tio Kouw Nio,” kata Cioe Thian, “mereka bertiga adalah ahli-ahli silat kelas utama dalam rimba persilatan. Melawan mereka Cioe Thian tidak unggulan. Tapi mengapa secara tidak mengenal malu, nona memperkenalkan mereka sebagai pegawai rumah tangga? Apa nona mau berguyon dengan Thio Cin Jin?”

“Mereka ahli silat kelas utama?” menegas Tio Beng. “Ah! Aku sendiri tak tahu. Apa kau tahu siapa mereka? Apa kau tahu nama mereka?”

Cioe Thian tertegun, ia diam tak dapat menjawab pertanyaan itu.

Si nona tersenyum tawa. Ia menengok kepada Thio Sam Hongdan berkata, “Thio Cin Jin lebih dahulu, biarlah kau mengadu pukulan dengan A Sam.”

A Sam maju setindak dan sambil merangkap kedua tangannya. Ia berkata, “Thio Cin Jin, silahkan!” berbareng dengan tantangannya, kaki kirinya menjejak lantai. “Brak!” tiga batu hijau persegi hancur. Orang tak heran kalau yang hancur hanya batu yang terjejak. Yang luar biasa adalah turut hancurnya dua batu yang lain.

Sesudah kawannya maju, A Toa dan A Jie segera mundur sambil menundukkan kepala. Sedari masuk ke dalam sam ceng tian, ketiga orang itu selalu mengikuti Tio Beng dengan kepala menunduk, sehingga orang tidak memperhatikan mereka. Siapapun tak menduga bahwa mereka adalha jago-jago yang tidak boleh dibuat gegabah. Tapi begitu mundur, mereka memperlihatkan lagi sikap sebangsa budak belian.

Melihat lihainya A Sam, In Thian Ceng merasa kuatir akan keselamatan Thio Sam Hong. “Thio Cin Jin sudah terluka berat, tapi meskipun tidak terluka, dengan usianya yang sudah begitu tinggi, bagaimana ia bisa bertanding dengan orang itu?” pikirnya. “dilihat gerak-geriknya, orang itu ahli dalam ilmu silat keras. Sudahlah! Biar aku saja yang melayaninya.” Memikir begitu, ia lantas saja berkata dengan suara nyaring. “Seorang yang kedudukannya begitu tinggi seperti Thio Cin Jin mana boleh melayani manusia rendah semacam kau! Jangankan Thio Cin Jin, sedang akupun, seorang she In, rasanya masih terlalu tinggi untuk berhadapan dengan seorang budak belian seperti kau.” Ia tahu, bahwa ketiga orang itu bukan sembarangan orang, supaya mereka panas dan diterimanya dengan baik tantangannya itu.

“A Sam,” kata Tio Beng. “apa kau masih ingat namamu yang dahulu?” cobalah beritahu mereka, supaya mereka bisa menimbang-nimbang apa kau cukup berderajat atau tidak untuk bertanding dengan seorang tokoh Boe Tong Pay.” Dalam pembicaraan itu, ia menekankan perkataan Boe Tong Pay.

“Sedari Siauw Jin (aku yang rendah) menghadapi kepada Coe Jin, nama yang dahulu telah tak digunakan lagi.” Kata A Sam.

“Kalau diperintah, siauw jin tidak berani tak berbicara, dahulu Siauw Jin she Oe Boen Cek.”

Semua orang terkesiap.

Sesaat kemudian, In Thian Ceng membentak, “Oe Boen Cek! Pada dua puluh tahun berselang, bukankah kau yang sumpah membinasakan lima jago she Sie Tiangan! Pada malam itu, pembunuh yang mengenakan topeng dan baju merah yang mengaku sebagai “Piat Pie Sin Mo Oe Boen Cek” telah membunuh tiga belas tokoh rimba persilatan dalam sebuah perjamuan hari ulang tahun. Bukankah kau yang melakukan pembunuhan itu?” (Pat Pie Sin Mo Iblis bertangan delapan)

“Ingatanmu sangat kuat, aku sendiri telah lupa,” jawabnya dengan suara dingin.

Mendengar perkataan itu, semua orang dari Beng Kauw dan Boe Tong Pay meluap darahnya.

Lima jago She Sie adalah orang-orang yang sangat disegani dan dihormati dalam rimba persilatan. Ia berkepandaian tinggi, dan selalu bersedia untuk menolong sesama manusia yang perlu ditolong. Tiba-tiba pada suatu malam, mereka semua dibinasakan oleh seorang bertopeng dan mengenakan baju merah. Pembunuh itu mengaku sebagai Ang Ie Kok Oe Boen Cek. Disamping lima jago She Sie, beberapa tokoh hsp dan gbp turut dibinasakan. Karena orang tak bisa menyelidiki asal-usul manusia yang bernama Oe Boen Cek itu, maka orang lantas saja menduga, bahwa perbuatan musuh itu dilakukan oleh Beng Kauw dan Peh Bie Kauw.

Tuduhan itu sangat menjengkelkan hati In Thian Ceng, tapi ia tak dapat jalan untuk melampiaskan rasa penasarannya. Tidak dinyana, sesudah berselang dua puluh tahun barulah diketahui pembunuh yang benar.

Biarpun Oe Boen Cek hanya muncul satu kali di Tiong Goan, tapi perbuatannya itu adalah sedemikian hebat, sehingga kalau mau diperhitungkan soal derajat yang berdasarkan tingginya ilmu silat, maka dia memang cukup berderajat untuk bertanding dengan Thio Sam Hong. Di samping itu, andaikata ia tidak menantang Thio Sam Hong, tapi sesudah ia memperkenalkan dirinya menurut pantas seorang tetua. Thio Sam Hong harus turun tangan untuk menegakkan rimba persilatan. Maka itu sesudah ia memperkenalkan diri Oe Boen Cek telah mendesak Thio Sam Hong sedemikian rupa. Sehingga guru besar itu tak bisa mengelakkan diri lagi dari satu pertempuran.

“Bagus!” seru In Thian Ceng. “Kalau benar kau Pat Pie Sin Mo, biarlah aku orang she In yang menyambut tantanganmu.” Seraya berkata begitu, ia melompat masuk ke dalam gelanggang.

“In Thian Ceng,” kata Oe Boen Cek, kau siluman, aku iblis, kita berdua sama-sama bangsa jejadian. Orang sendiri tak bertempur dengan orang sendiri. Kalau kau mau juga, kita boleh memilih lain hari untuk berkelahi. Hari ini atas perintah Coe Jin aku hanya ingin menjajal kosongnya ilmu silat Boe Tong Pay.” Ia menengok kepada Thio Sam Hong dan berkata pula. “Thio Cin Jin, apabila kau tak sudi turun gelanggang, cukuplah bila kau membuat pengakuan yang diminta Coe Jin. Kami tak akan menggunakan kekerasan.”

Thio Sam Hongtersenyum. Di dalam hati ia menimbang-nimbang keadaan yang tengah dihadapinya. Dengan menggunakan Thay Kek Koen, dengan ilmu “yang kosong menjatuhkan yang berisi,” belum tentu ia kalah dari lawan itu. Apa yang sukar dihadapi ialah sesudah merobohkan as, ia tentu harus mengadu lweekang melawan A Jie. Dan sesudah terluka berat, ia tidak boleh mengerahkan tenaga dalam. Inilah yang paling sulit, ia tak bisa mencari jalan keluar. Tapi api sudah membakar alis, ia tak bisa mundur lagi.

Perlahan-lahan ia maju ke tengah ruangan dan berkata kepada In Thian Ceng. “Untuk maksud In Heng yang sangat mulia, pinto merasa sangat berterima kasih. Selama berapa tahun terakhir pinto telah menggubah mengganti dengan semacam ilmu silat yang diberi nama Thay Kek Koen. Ilmu ini agak berbeda dari ilmu silat yang sudah dikenal dalam dunia. Oe Boen Sie Coe mengatakan bahwa ia bertujuan untuk menjajal ilmu silat Boe Tong Pay. Manakala In Heng yang merobohkannya ia tentu merasa tidak puas. Biarlah pinto saja yang melayani berberapa jurus dengan menggunakan Thay Kek Koen. Biarlah kita lihat apakah pinto yang sudah begitu tua masih berharga untuk menunjukkan kebodohan pintoo.

Mendengar perkataan itu, In Thian Ceng girang bercampur khawatir. Ia girang karena dari omongannya, Thio Sam Hong ternyata penuh percaya penuh akan kelihaian Thay Kek Koen. Tanpa pegangan kuat, guru besar itu tentu takkan bicara sembarangan. Ia khawatir karena ingat usia Thio Sam Hongdan luka yang dideritanya. Tapi ia tak berani membantah lagi dan sambil merangkap kedua tangannya ia berkata, “Boanpwee memberi selamat kepada Thio Cin Jin untuk ilmu silat yang luar biasa itu.”

Melihat Thio Sam Hongsudah turun ke gelanggang, Oe Boen Cek jadi agak keder, tapi di lain saat ia bias menetapkan hati, “Biarlah aku berkelahi mati-matian, sehingga kedua belah pihak sama-sama rusak.” Pikirnya. Ia segera menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan semangat, sedang kedua matanya mengincar Thio Sam Hongtanpa berkedip. Sesaat kemudian tulang-tulangnya berkerotokan.

Mendengar itu, orang-orang Boe Tong dan Beng Kauw saling memandang dengan rasa cemas. Itulah suatu tanda, bahwa Oe Boen Cek sudah mencapai puncak tertinggi dari ilmu silat Gwa Boen (ilmu silat luar) Menurut cerita di dalam dunia hanyalah ketiga pendeta suci Siauw Lim Sie yang sudah mencapai tingkatan itu. Siapapun tak menduga, bahwa Pat Pie Sin Mo memiliki ilmu tersebut yang dikenal sebagai ilmu malaikat Kim Kong Hok Mo.

Thio Sam Hongpun turut merasa kaget.

“Orang itu mempunyai asal usul yang tidak kecil!” pikirnya. “Thay Kek Koen belum tentu bisa melawannya.” Perlahan-lahan ia mengankat kedua tangannya. Tapi baru saja ia ingin mengundang lawan untuk memulai, tiba-tiba dari belakang Jie Thay Giam melompat keluar seorang too tong.

“Thay Soehoe,” katanya. “kalau siecoe itu mau menjual ilmu silat Boe Tong, perlu apa thay soehoe turun tangan sendiri?” Biarlah teecoe sendiri yang melayani sejurus dua jurus.”

Too tong itu, yang mukanya berlepotan tanah, bukan lain daripada Boe Kie. In Thian Ceng, Yo Siauw dan lain-lain jago Beng Kauw lantas saja mengenali dan mereka kegirangan. Tapi Thio Sam Hongdan Jie Thay Giam tentu tak dapat mengenalinya. Mereka menduga, bahwa too tong itu Ceng Hong adanya.

“Ini bukan permainan anak-anak,” kata Thio Sam Hong. “Oe Boen Cek mempunyai kim kong Hok Mo. Mungkin sekalai mereka seorang pentolan dari Siauw Lim cabang See Hek.

Dengan sekali pukul, ia bisa menghancurkan tulang-tulangmu.

Dengan tangan kiri, Boe Kie mencekal ujung baju orang tua itu, sedang tangan kanan memegang tangan kiri guru besar itu. “Thay Soehoe,” katanya, “Thay kek Koen yang telah diturunkan kepada Tee Coe belum pernah digunakan. Kebetulan sekali Oe Boen Sie Coe seorang ahli Gwa Kee. Permisikanlah Tee coe untuk menjajal ilmu melawan kekerasan dengan kelemahan, yang kosong memukul yang berisi. Kalau Tee Coe berhasil, bukankah ada baiknya juga? Seraya berkata begitu, ia mengerahkan Kioe Yang Sin Kang, yang dahsyat, yang lembut dan mengirimnya ke tubuh thay Soe Hoe, melalui telapak tangannya.

Pada detik itu, sekonyong-konyong Thio Sam Hong merasai semacam tenaga yang hebat luar biasa menerobos masuk dari telapak tangannya. Biarpun belum bisa menandingi tenaganya sendiri, tenaga itu yang murni dan yang halus menerobos bagaikan ombak gelombang demi gelombang. Dalam kagetnya, ia mengawasi muka Boe Kie. Kedua mata too tong itu tidak memperlihatkan sinar berkeredepan yang bisa dipunyai oleh seorang ahli silat kelas satu. Tapi sayup-sayup, dalam kedua mata itu terlihat selapis sinar kristal yang sangat lembut. Itulah suatu tandan dari lwee kang yang sudah mencapai puncak tertinggi. Thio Sam Hongmakin kaget, selama hidupnya dalam jangka waktu seabad lebih, ia hanya pernah menemui satu, dua orang yang mempunyai sinar mata begitu, misalnya mendiang gurunya sendiri Kak Wan Tay Soe dan Tay Hiap Kwee Ceng. Diantara ahli-ahli silat pada zaman itu, sebegitu jauh yang diketahui ia sendiri yang sudah mencapai tingkat tersebut.

Selama satu dua detik, macam-macam pikiran berkelabat-kelebat dalam otak Thio Sam Hong. Sementara itu, Boe Kie terus mengirim lwee kangnya. Dilain saat guru besar itu sudah mengambil keputusan. Ia yakin bahwa ditinjau dari lweekang itu yang bertujuan untuk mengobati lukanya si too tong pasti tidak bermaksud jahat. Maka itu, sambil tersenyum ia berkata.

“aku sudah tua dan tak punya guna. Pelajaran apa yang kudapat berikan padamu? Tapi jika kau mau juga menjual ilmu gwa kee Oe Boen Sie Coe, kau boleh melakukan itu.” Thio Sam Hong menduga, bahwa too tong itu seorang ahli dari partai lain yang sengaja datang untuk membantu Boe Tong Pay. Maka itu, ia telah menggunakan kata-kata rendah.

Budi Thay Soehoe terhadap anak berat bagaikan gunung, kata Boe Kie. Biarpun badan hancur luluh, tak dapat anak membalas budi Thay Soehoe dan para paman, biarpun ilmu silat Boe Tong Pay kita tidak bisa dikatakan tiada tandingannya di dalam dunia, tapi kita pasti tak akan kalah dari ilmu silat Siauw Lim cabang See Hek. Legakanlah hati Thay Soehoe.

Itulah jawaban yang tidak bisa disalahartikan! Jawaban murid terhadap seorang guru, dalam suara yang agak gemetar itu terdengar nada dari cinta yang tidak barbatas, rasa berterima kasih yang tiada taranya dan rasa terharu yang memuncak. Bukan main herannya Thio Sam Hong. Apa benar dia murid Boe Tong? Tanyanya di dalam hati. Mungkin sekali sejarah mendiang gurunya, Kak Wan Tay Soe, terulang pula dan dia belajar secara diam-diam. Sambil memikir begitu, ia melepaskan tangan Boe Kie dan lalu kembali pada kursinya. Ia melirik Jie Thay Giam, tapi dilihat dari paras mukanya, murid itupun sedang terheran-heran.

Bagi Oe Boen Cek, dipermisikan seorang too tong untuk melayani merupakan hinaan yang sangat besar. Tapi sebagai manusia yang beracun ia tak memperlihatkan kegusarannya. Dengan sekali pukul, ia akan membinasakan too tong itu dan sudah itu ia akan menantang Thio Sam Honglagi. “Anak kecil, kau mulailah,” katanya.

“Ilmu silat Thay Kek Koen adalah hasil jerih payah Thio Cin Jin, Thay Soehoeku, selama banyak tahu,” kata Boe Kie, “boanpwee baru saja belajar silat dan sekarang belum bisa melayani intisari daripada ilmu silat itu. Mungkin sekali boanpwee belum dapat merobohkan kau didalam tiga puluh jurus. Apabila benar sedemikian, maka hal itu adalah kesalahanku dan bukan lantaran jeleknya Thay Kek Koen. Sebelum kita bertempur, boanpwee menganggap hal ini perlu dikemukakan terlebih dahulu. dalam gusarnya Oe Boen Cek berbalik tertawa terbahak-bahak, “toa ko, jie ko, lihatlah!” serunya. “Dalam dunia mana ada bocah segila dia!”

A Jie turut tertawa, tapi A Toa tajam matanya. Ia dapat melihat bahwa Boe Kie bukan sembarang orang. “sam tee, kau tidak boleh memandang enteng,” katanya.

Oe Boen Cek maju setindak dan segera meninju dada Boe Kie dengan tangan kanan. Tinju itu menyambar bagaikan kilat. Diluar dugaan, sebelum tinju pertama mampir pada sasarannya tinju kedua, yang dikirim dengan tangan kiri menyusul. Tinju itu yang dikirim belakangan tiba lebih dahulu dan menyambar muka Boe Kie. Itulah pukulan yang sangat luar biasa.

Sesudah mendengar keterangan dan melihat contoh-contoh Thio Sam Hong mengenali ilmu silat Thay Kek Koen, selama kurang lebih satu jam diam-diam Boe Kie mempelajari isi daripada ilmu silat itu. Melihat menyambarnya dua tinju yang saling susul, ia segera menyambut dengan Long Ciak Bwee kaki kanannya “berisi” kaki kiri “kosong”, tapak tangan menyentuh pergelangan tangan kiri musuh dan segera melepaskan tenaganya dengan menggunakan teori “menempel”. Tanpa tercegah jadi tubuh Oe Boen Cek terhuyung dua tindak.

Semua orang terkejut.

Demikianlah, untuk pertama kali, Thay Kek Koen dijajal untuk melawan musuh. Biarpun baru saja menerima pelajaran itu dengan memiliki Kioe Yang Sin Kang dan Kian Koen Tay Li Ie Sin Kang, Boe Kie sudah dapat menggunakan ilmu yang lihai itu. Tinju Oe Boen Cek yang bertenaga ribuan kati seolah-olah amblas di dalam lautan, amblas tanpa berbekas bukan saja begitu, bahkan tubuhnya kena didorong tenaganya sendiri.

Sesudah hilang kagetnya, Oe Boen Cek segera menyerang seperti orang kalap. Tinjunya menyambar-nyambar bagaikan hujan gerimis, berkelebat-kelebat seperti keredengan kilat. Sehingga ia seolah-olah mempunyai beberapa puluh tangan yang menyerang Boe Kie dengan dahsyatnya. Kecuali Beng Goat, semua orang yang berada dalam ruangan sam Ceng Tian rata-rata ahli silat kelas satu. Mereka kagum melihat serangan itu. Nama besar Pat Pie Sin Mo ternyata bukan nama kosong belaka.

Untuk mengangkat derajat Boe Tong Pay, Boe Kie hanya menggunakan pukulan-pukulan Thay Kek Koen. Dengan beruntung, ia mempergunakan Tan Pian disusul dengan Tee Chioe Siang Sit. Kemudian Pek Ho Liang Chie Dan Louw Sit Yauw Po. Selagi mengeluarkan Chioe Hie Pie Pee (jari-jari tangan memetik pie-pee semacam tetabuhan seperti gitar) tiba-tiba saja ia mendusin dan pada ketika itu, ia menyelami intisari daripada Thay Kek Koen yang pada hakekatnya mempunyai dasar yang bersamaan dengan Kian Koen Tay Li Ie Sin Kang. Dengan demikian, Chioe Hwie Pie Pee menyambar bagaikan mengalirnya air, dengan keindahan yang mengagumkan.

Pada detik itu, Oe Boen Cek merasa, bahwa bagian atas badannya sudah ditutup dengan tenaga pukulan lawan dan dia tidak dapat berkelit lagi. Dalam menghadapi bahaya, cepat-cepat ia mengerahkan tenaga di punggungnya untuk menerima pukulan Boe Kie dan dengan berbareng tinju kanannya disabetkan. Ia mau melawan keras dengan keras, supaya kedua belah pihak celaka bersama-sama.

Diluar dugaan, pada waktu belakangan Boe Kie mengubah gerakannya. Ia membuat sebuah lingkaran dengan kedua tangannya, seperti orang memeluk …. (alam semesta). Mendadak saja dari lingaran itu keluar semacam tenaga dahsyat, tenaga yang berputaran seperti pusar laut. Hampir berbareng, tubuh Oe Boen Cek berputar-putar tujuh delapan putaran laksana gangsing. Dengan ilmu Cian Kin Toei, ia berhasil menolong diri. Paras mukanya berubah merah padam, malu bercampur gusar.

“Sungguh lihai Thay Kek Koen dari Boe Tong Pay!” teriak Yo Siauw.

“Oe Boen Lao heng!” seru Cioe Tian sambil tertawa nyaring. “Lebih baik jika kau dinamakan si gangsing berlengan delapan.” (gelar Oe Boen Cek Pat Pie Sin Mo – Iblis berlengan delapan)

“Apa salah orang berputaran?” menyambung In Ya Ong. “Liang San mempunyai Hek Soan Hong (si angin puyuh hitam). Angin puyuh mesti berputaran, bukan?”

Saling sahut, pentolan-pentolan Beng Kauw mengejek sepuas hati.

Sekarang Oe Boen Cek benar-benar kalap. Dari merah, paras mukanya berubah hijau. Dengan mengaum seperti harimau edan, ia menerjang. Cara menyerangnya berubah. Tangan kirinya menghantam dengan tinju atau telapak tangan. Tangan kanannya dengan menggunakan jari-jari tangan, menotok atau mencengkram.

Karena belum berlatih dalam Thay Kek Koen, Boe Kie lantas saja keteter. Beberapa saat kemudian terdengar suara “Bret!” dan tangan baju Boe Kie robek, kesambar jari tangan yang sangat luar biasa itu. Boe Kie terpaksa menggunakan ilmu mengentengkan badan. Oe Boen Cek mencaci dan mengubar. Tapi mana bisa ia mengubar Boe Kie?

Sambil berlari-lari, Boe Kie berpikir, “Kalau aku terus kabur, bukankah aku kalah? Aku belum biasa dengan Thay Kek Koen, biarlah aku menyisipkan Kian Koen Tay Lo Ie.”

Memikir begitu, ia memutar badan seraya memasang kuda-kuda dari Ya Ma Hoen Coeng, salah satu pukulan Thay Kek Koen, tapi tangan kirinya diam-diam bersiap-sedia untuk mengeluarkan gerakan Kian Koen Tay Lo Ie. Oe Boen Cek menubruk dan menusuk pundak Boe Kie dengan satu jari. Hampir berbareng, ia mengeluarkan kesakitan dan matanya berkunang-kunang, karena entah bagaimana jarinya berbalik menusuk lengan kirinya, sehingga lengan itu hampit tidak bisa diangkat lagi.

Yo Siauw tahu, bahwa Boe Kie bukan menggunakan Thay Kek Koen, tapi ia sengaja berteriak, “Lihai sungguh ilmu Thay Kek Koen!”

“Thay Kek Koen apa! Ilmu siluman!” teriak Oe Boen Cek dengan mulut berbusa. Secara nekat-nekatan ia mengirim tiga pukulan berantai, sehingga Boe Kie terpaksa melompat mundur. Dengan mata beringas, ia melompat mundur seraya menyodok dengan dua jari tangannya. Sekarang Boe Kie sudah bersiap sedia dengan Kian Koen Tay Lo Ie, bagaikan kilat ia menempel dan menarik tangan musuh. “Tok!” kedua jari tangan Oe Boen Cek amblas di tiang Sam Ceng Tian!

Semua orang kaget tercampur geli.

Sesudah suara tertawa mereda. Mendadak terdengar bentakan Jie Thay Giam. “Tahan! Oe Boen Cek, kau menggunakan Kim Kong Cie dari Siauw Lim Pay, bukan?”

Boe Kie melompat mundur mendengar “Kim Kong Cie dari Siauw Lim Pay” ia segera ingat luka Jie Thay Giam dan In Lie Heng dan selama kurang lebih dua puluh tahun, orang-orang Boe Tong Pay menduga bahwa perbuatan itu dilakukan oleh orang Siauw Lim Pay. Mendengar bentakan Jie Thay Giam terdapat kemungkinan besar, bahwa si penyerang gelap itu adalah Pat Pie Sin Mo.

Sementara itu Oe Boen Cek sudah menjawab dengan suara dingin. “Kalau benar Kim Kong Cie, mau apa kau? Siapa suruh kau berkepala batu, tak mau memberitahukan kemana perginya To Liong To? Enakkah menjadi manusia bercacat selama dua puluh tahun?”

“Oe Boen Cek!” teriak Jie Thay Giam. “Terima kasih, bahwa hari ini segala apa sudah menjadi terang. Kalau begitu, aku sudah dicelakai oleh Siauw Lim Pay dari See-Hek.” Ia berhenti sejenak dan berkata pula dengan suara parau. “Hanya sayang… Hanya sayang Ngo Tee.. “ Ia tak dapat meneruskan perkataannya, sedang air matanya mengucur dengan deras.

Sebagaimana diketahui, Thio Coei San membunuh diri sebab Jie Thay Giam dilukai oleh In So So dengan jarum emas. Sehingga ia tak ada muka untuk bertemu pula dengan kakak seperguruannya itu. Tapi sesudah melukai Jie Thay Giam, In So So telah minta bantuan Liong Boen Piauw Kiok untuk membawa pendekar itu pulang ke Boe Tong. Sebenarnya kalau itu hanya mendapat luka itu, luka dari jarum emas, sesudah diobati Jie Sam Hiap akan sembuh seluruhnya. Yang mengakibatkan kelumpuhan kaki tangannnya adalah pijitan Tay Lek Kim Kong Cie. Andaikata pada hari itu, orang yang berdosa dapat dicari, suami isteri Thio Coei San tentu tidak akan membunuh diri.

Mengingat begitu dan mengingat pula penderitaannya sendiri, Jie Thay Giam sedih bercampur gusar. Dengan darah mendidih dan kedua mata yang seolah-olah mengeluarkan api, ia menatap wajah musuh besarnya itu.

Mendengar perkataan pamannya, Boe Kie lantas saja ingat cerita yang pernah dituturkan oleh mendiang ayahnya. Dahulu dalam kuil Siauw Lim Sie terdapat seorang Tauw Too (Hweesio yang piara rambut) yang bekerja di dapur dan yang karena sering dianiaya oleh pemilik dapur menjadi sakit hati dan lalu belajar silat secara diam-diam. Belakangan Tauw Too itu membinasakan Sioe Co (pemimpin) Tat Mo Tong, Kouw Tie Sian Soe, dan lalu melarikan diri. Sesudah itu, di dalam Siauw Lim Sie timbul gelombang. Pentolannya pada Berebut kekuasaan. Akhirnya salah seorang pemimpin, yaitu Kouw Hoei Sian Soe pergi ke See Hek dan mendirikan lagi Siauw Lim Pay di daerah tersebut. (baca Kisah Pembunuh Naga Jilid 2 mulai halaman 67)

“Oe Boen Sie Coe sungguh kejam,” kata Thio Sam Hong. “Kami sama sekali tidak pernah menduga, bahwa diantara ahli waris-ahli waris Kouw Hoei Sian Soe terdapat manusia seperti Sie Coe.”

Oe Boen Cek menyeringai, “Kouw Hoei!” katanya. “Huh huh! Manusia apa Kouw Hoei?”

Thio Sam Hong lantas saja mendusin.

Sesudah Jie Thay Giam bercacad karena Kim Kong Cie, Boe Tong Pay lalu mengirim orang ke kuli Siauw Lim Sie untuk menanyakan. Hong Siauw Lim Sie menolak segala tuduhan dan menduga bahwa perbuatan itu dilakukan oleh salah seorang anggota Siauw Lim Pay cabang See Hek. Tetapi sesudah diselidiki dengan seksama, terdapat bukti bahwa cabang See Hek itu sudah lemah sekali. Murid-muridnya kebanyakan hanya mempelajari ajaran agama Buddha dan tidak mengenal ilmu silat. Sekarang mendengar jawaban Oe Boen Cek “manusia apa Kouw Hoei” Thio Sam Hong segera menarik kesimpulan bahwa dia bukan murid Siauw Lim Pay cabang See Hek, tak mungkin dia mencaci Aoew Soe-nya sendiri.

Maka itu ia lantas saja berkata. “Tak Heran! Tak Heran! Sie Cie tentulah ahli waris dari si Tauw Too pembantu dapur. Sie coe bukan saja sudah mempelajari ilmu silatnya, tapi juga sudah menelah kejamannya. Tak heran kalau Siauw Lim Pay rusak dalam tangan Sie Coe. Siapa itu Kong Siang? Apa dia saudara seperguruan Sie Coe?”

“Benar! Jawabnya. “Ia Soehengku, ia bukan Kong Siang, ia bernama Kang Siang. Thio cin jin, bagaimana kalau Pan Jiek Kim Kong Cie dari Kim Kong Boen kami dibandingkan dengan Ciang Hoat dari Boe Tong Pay?”

“Tidak nempil!” bentak Jie Thay Giam. “Batok kepalanya sudah dihancurkan oleh guruku.”

Sambil berteriak, Oe Boen Cek menubruk. Dengan Jie Hong Sie Pit, Boe Kie merintangi serangan terhadap Jie Thay Giam. “Oe Boen Cek,” bentaknya. “Lekas keluar Hek Giok Toan Siok Ko!” (Koyo Giok Hitam untuk menyambung tulang)

Oe Boen Cek terkesiap. “Bagaimana dia tahu” tanyanya di dalam hati. “Koyo penyambung tulang sangat dirahasiakan, walau murid biasa tak mungkit tahu adanya obat luar biasa itu.”

Boe Kie mengenal nama obat itu dari kitab obat-obatan mendiang Ouw bahwa di daerah See Hek terdapat semacam ilmu silat Gwa Kee mungking cabang Siauw Lim Pay yang sangat aneh. Tulang manusia yang dipatahkan dengan ilmu itu hanya bisa diobati dengan Hek Giok Toan si Koyo, tapi cara membuat obat itu dengan sangat dirahasiakan dan tak diketahui oleh orang luar.

Mengingat itu, Boe Kie segera menyebutkannya untuk menjajal benar tidaknya catatan dalam kitab itu. Benar saja paras muka Oe Boen Cek segera berubah dan ia tahu bahwa tebakannya tidak meleset.

“Anak kecil, cara bagaimana kau tahu nama obat itu?” tanyanya.

“Keluarkan!” bentak Boe Kie. Mengingat nasib kedua orang tuanya karena gara-gara manusia itu, darah Boe Kie mendidih dan ia tak mau banyak bicara.
Sementara itu, sesudah memikir sejenak, hati Oe Boen Cek jadi lebih besar. Tapi biarpun dalam gebrakan pertama, ia mendapat sedikit kesalahan, akan tetapi sesudah ia mengeluarkan Tay Lek Kim Kong Cie, Boe Kie tak berani melawan lagi dan hanya berlari-lari. Maka itu asal saja ia berhati-hati terhadap ilmu menempel dan menarik dari si Too tong, ia pasti akan memperoleh kemenangan, pikirnya. Memikir begitu, ia maju setindak seraya membentak. “Binatang kecil! Aku suka mengampuni jiwamu, jika kau berlutut tiga kali. Kalau tidak, lihatlah contoh si orang she Jie.”

Alis Boe Kie berkerut. Ia bertekat untuk mendapatkan Hek Giok Toan Siokko, tapi ia belum mendapat jalan untuk memunahkan Tay Lek Kim Kong Cie. Kian Koen Tay Lo Ie memang bisa melukai dia, tapi tidak bisa memaksa dia mengeluarkan obat itu.

Selagi ia mengasah otak, tiba-tiba Thio Sam Hong menggapai seraya berkata, “anak, mari sini!”

“Baik, thay Soehoe,” jawabnya sambil menghampiri.

“Anak, kau dengarlah,” kata guru besar itu. “Menggunakan maksud tidak menggunakan tenaga. Thay Kek Koen berputaran bundar tak putus-putusnya mendapat kesempatan mendapat kedudukan baik, sehingga akarnya lawan putus sendirinya. Setiap jurus, setiap pukulan, haruslah bersambung-sambung seperti sungai Tiang Kang, gelombang tak habis-habisnya.” Sesudah memperhatikan cara berkelahinya Boe Kie, Thio Sam Hong sudah mendapat intisari dari pada Thay Kek Koen, tapi karena Boe Kie sudah memiliki ilmu yang tinggi, maka dalam menggunakan pukulan-pukulan Thay Kek Koen, ia masih belum bisa menyelamai maksud terpenting dari Thay Kek Koen, yaitu Wan Coan Poet Toan (berputaran tidak habis-habisnya)

Sebagai seorang yang cerdas, beberapa perkataan itu sudah cukup untuk menyadarkan Boe Kie.

“Cepat!” teriak Oe Boen Cek. “Sesudah masuk ke gelanggang, mana bisa kau belajar?”

“Bisa! Kau sambutlah pukulan yang baru didapat olehku,” katanya seraya memutar tubuh. Ia membuat sebuah lingkaran dengan tangan kanannya dan menghantam muka musuh. Itulah pukulan Ko Tam Ma dari Thay Kek Koen. Oe Boen Cek menyambut dengan babatan jari-jari tangannya yang berbentuk golok. Bagaikan kilat Boe Kie mengubah gerakannya. Ia membuat lingkaran dengan kedua tangannya dalam pukulan Song Hong Koan Nyie. Kali ini terlihatlah lihainya ajaran Thio Sam Hong mengenai Wan Coan Poet Toan. Begitu ia mengerahkan tenaga, tubuh Oe Boen Cek terhuyung. Dengan saling susul Boe Kie segera membuat lingkaran-lingkaran. Lingkaran di kiri, lingkaran di kanan, lingkaran besar, lingkaran rata, lingkaran berdiri, lingkaran miring… setiap lingkaran meruapakan bola dunia.

Diserang begitu, Oe Boen Cek tak bisa mempertahankan diri lagi. Tubuhnya limbung, terhuyung kian kemari seperti orang mabuk arak. Tiba-tiba dengan nekat dia menyodok dengan lima jari tangannya. Boe Kie menyambut dengan Ia Chioe (tangan awan) tangan kiri tinggi, tangan kanan lebih rendah dan dengan sekali membuat lingkaran, ia sudah menggulung lengan musuh dalam lingkaran itu. Hampir berbareng, ia mengeluarkan tenaga Kioe Yang Sin Kang. “Krek krek krek…!” tulang lengan Oe Boen Cek hancur beberapa tempat.

Mengingat kekejaman musuh dan mengingat pula nasib kedua orang tuanya. Boe Kie turun tangan tanpa sungkan-sungkan. Dengan saling susul ia membuat lingkaran-lingkaran In Chioe diikuti suara patah atau hancurnya tulang setelah lengan kanan, lengan kiri, kemudian betis kiri dan betis kanan. Sambil mengeluarkan teriakan menyayat hati, Oe Boen Cek terguling. Seumur hidup Boe Kie belum pernah begitu gusar. Kalau bukan ingin mendapatkan Hek Giok Toan Siokko, ia tentu sudah mengambil jiwa musuh besar itu.

Salah seorang pengikut Tio Beng lantas saja memburu dan mendukung jago yang roboh itu, dibawa balik ke barisan sendiri.

Si botak A Jie melompat ke luar dan tanpa menegur lagi, ia menghantam dada Boe Kie. Sebelum telapak tangan musuh tiba, Boe Kie sudah merasai tindihan tenaga yang sangat berat, maka ia buru-buru mengeluarkan pukulan Sia Hwie Sit untuk menolaknya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, A Jie menancapkan kedua kakinya di lantai dan mengirim pukulan berantai yang disertai Lwee Kang yang sangat dahsyat. Melihat pukulan dan usia musuh, Boe Kie menduga bahwa dia adalah kakak seperguruan Oe Boen Cek. Dia kalah gesit, tapi tenaganya lebih besar daripada Oe Boen Cek.

Dengan menggunakan Kouw Koat (teori) “menempel dan menarik” dari Thay Kek Koen. Boe Kie coba mendorong, tapi tenaga dalam musuh terlalu kuat. Bukan saja ia tidak berhasil, bahkan dia sendiri kena didorong dan terhuyung beberapa kali. Tiba-tiba semangat Boe Kie terbangun, “biarlah aku melawan Lwee Kang dengan Lwee Kang,” katanya di dalam hati. “aku akan lihat Lwee Kang Siauw Lim atau Kioe Yang Sin Kang yang lebih lihai.”

Sesaat itu, telapak tangan si botak kembali menyambar. Sambil mengerahkan Kioe Yang Sin Kang, Boe Kie memapaki dengan tangannya. Itulah keras melawan keras. Dengan mengeluarkan suara nyaring, kedua tangan kebentrok dan tubuh kedua lawan sama-sama bergoyang.

Thio Sam Hong terkejut, “dengan cara itu, siapa lebih kuat siapa menang dan bertentangan dengan teori Thay Kek Koen.” Pikirnya. “kakek itu memiliki Lwee Kang luar biasa tinggi, yang jarang terlihat dalam rimba persilatan. Dalam gebrakan tadi, anak itu mungkin sudah menderita luka.”

Tapi sebelum Thio Sam Hong sempat memikir jalan yang baik, tangan Boe Kie dan si botak sudah beradu lagi. Kali ini si kakek bergoyang-goyang, sedang badan Boe Kie tidak bergeming. Ia berdiri tegak dengan paras muka tenang.

Sekali lagi Thio Sam Hong kaget, tapi kaget tercampur heran dan girang.

Kioe Yang Sin Kang dan Lwee Kang Siauw Lim Pay bersumber satu, kedua-duanya digubah oleh Tat Mo Kauw Coe. Bila telah mencapai tingkat tinggi, kedua ilmu itu tidak ada perbedaannya. Tapi sebagaimana diketahui, pendiri partai Kim Kong Boen, Touw Too bagian dapur mendapat ilmunya dengan jalan mencuri bukan didapat dari seorang guru. Pukulan-pukulan yang bisa dilihat dengan mata memang mudah dicuri, tapi tenaga dalam yang harus dilatih dengan menjalankan hawa di dalam tubuh, tidak dapat dicuri dengan begitu saja. Maka itulah walaupun Gwa Kang (ilmu luar) Kim Kong Boen sangat lihai dan bersamaan dengan Gwa Kang Siauw Lim Pay yang tulen Lwee Kangnya masih kalah jauh.

A Jie adalah seorang luar biasa dalam Kim Kong Boen. Ia memiliki tenaga yang sangat besar, pembawa dalam dirinya sendiri. Dengan menggunakan cara-cara sendiri, ia berlatih dan akhirnya mendapat Lwee Kang yang sangat kuat yang bahkan melampaui tenaga dalam Couw Soenya, si Touw Too bagian dapur. Selama hidupnya ia jarang menemui lawan yang bisa menyambut tiga pukulannya. Sekarang ia ketemu batunya. Untuk pertama kali ia bertemu dengan seorang lawan yang dapat menindih tenaga dalamnya. Ia kaget bercampur gusar, ia segera menarik napas dalam-dalam dan dengan kedua tangan ia menghantam Boe Kie.

Tiba-tiba Boe Kie berteriak, In Liok Siok, lihatlah! Tit Jie akan balas sakit hati Liok siok.”

Ternyata dengan diantar Yo Poet Hwi, Siauw Ciauw, dan yang lain-lain In Lie Heng yang digotong dalam sebuah tandu oleh dua orang anggota Beng Kauw sudah masuk ke dalam ruangan Sam Ceng Tian. Dilain saat jago-jago Ngo Heng Kie pun tiba saling menyusul.

Seraya berteriak begitu, Boe Kie menangkis dengan tangan kanannya, “Dak!” si botak terhuyung tiga tindak, matanya melotot dan darahnya bergolak.

“In Liok Siok!” teriak pula Boe Kie. “apakah diantara penyerang terdapat manusia gundul itu?”

“Benar! Bahkan dia yang menjadi kepala.” Jawabnya.

Sementara itu, si botak mengumpulkan tenaganya, sehingga tulang-tulangnya berkeretakan.

“Sebelum dia menyeberang, seranglah di tengah sungai!” seru Jie Thay Giam. Seruan itu berarti bahwa sebelum A Jie selesai menjalankan pernapasannya dalam mengumpulkan tenaga, Boe Kie harus menyerang lebih dahulu.

Boe Kie mengerti maksud sang paman. Iapun tahu, bahwa sesudah si botak mengumpulkan tenaga, dia bisa mengeluarkan tenaga dalam yang lebih hebat daripada tadi. “Baik!” jawabnya. Ia maju setindak, tapi tidak menyerang. Di dalam hati ia percaya penuh, bahwa Kioe Yang Sin Kang tak kalah dari Lwee Kang musuh. Semangatnya sudah terbangun dan ia bertekad untuk melayani secara ksatria, sesudah musuh selesai mengumpulkan tenaga.

Dilain detik, A Jie menghantam dengan kedua tangannya. Hebat sungguh tenaganya yang menindih bagaikan gunung roboh, Boe Kie menarik napas dalam-dalam dan Kioe Yang Sin Kang mengalir di dalam tubuhnya. Ia mengangkat kedua tangannya, satu mendorong, satu menyambut, melawan keras dengan keras pulan.

Hampir berbareng, A Jie mengeluarkan teriakan menyayat hati, badannya terbang bagai sebutir peluru, menyambar tembok dan… “brak!” tembok berlubang besar dan tubuh si botak terlempar ke luar dari lubang itu!

Semua orang tertegun, Tio Beng dan kawan-kawannya pucat, jago-jago Boe Tong dan Beng Kauw mengawasi dengan mata membelalak. Selama hidup belum pernah mereka menyaksikan pemandangan sehebat itu.

Sekonyong-konyong dari lubang tembok masuk seorang yang menenteng A Jie, dia lalu menaruhnya di lantai. Orang itu kate, gemuk tubuhnya, lucu mukanya tapi gerak-geriknya bukan lain daripada Gan Hoan. Ciang Kie Soe Houw Touw Kie. Tulang tangan, dada, dan pundak si botak ternyata sudah remuk, terpukul tembok. Sesudah meletakkan A Jie, Gan Hoang menghampiri Boe Kie dan memberi hormat dengan membungkuk dalam. Sesudah itu, dengan gerakan menggelikan hati, ia keluar lagi dari lubang di tembok.

Sesudah si “Too Tong” merobohkan kedua jagonya. Tio Beng bercuriga dan melihat cara memberi hormatnya Gan Hoan, ia lantas saja mengenali Boe Kie. “Celaka sungguh!” ia mengeluh. “aku sungguh tak pernah menyangka bahwa si setan kecil sudah lebih dahulu berada di sini.” Sesudah menetapkan hatinya, ia berkata dengan suara lemah lembut. “mengapa kau begitu rendah? Dengan menyamar sebagai seorang Too Tong kau memanggil orang luar sebagai “Thay Soehoe, apa kau tak malu?”

Melihat dirinya sudah dikenali, Boe Kie lantas saja menjawab dengan suara lantan. “Mendiang ayahku Thio Coei San, adalah murid kelima dari Thay Soehoe, aku memang harus memanggil Thay Soehoe.” Sehabis berkata begitu, ia menghampir Thio Sam Hong dan berlutut. “anak Thio Boe Kie memberi hormat pada Thay Soehoe dan Sam SoePeh,” katanya dengan suara gemetar. “Karena keadaan anak tidak lebih dahulu memperkenalkan diri, untuk kekurang ajaran itu, anak memohon Thay Soehoe dan Sam SoePeh sudi mengampuni.”

Perasaan Thio Sam Hong dan Jie Thay Giam tak mungkin dilukiskan dengan kalam. Girang, kaget, heran, sedih, dan terharu mangaduk dalam dada mereka. Untuk beberapa saat kedua orang tua itu tak dapat mengeluarkan sepatah kata. Perlahan-lahan air mata turun dari mata mereka. Mimpi pun mereka tak pernah mimpi, bahwa pemuda yang telah merobohkan kedua jago Kim Kong Boen adalah si anak kurus kering, dia yang telah menghadapi kebinasaan.

Sesudah lampiaskan perasaannya dengan air mata, Thio Sam Hong berbangkit dan membangunkan cucu muridnya. “Anak… kau tidak mati.” Katanya dengan suara parau, “Ah… Coei San mempunyai turunan… “ ia berhenti sejenak dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Ia menengok kepada In Thian Ceng dan berteriak, “In Heng! Aku memberi selamat, bahwa kau mempunyai seorang cucu yang sangat baik.”

“Thio Cinjin,” jawabnya seraya tertawa lebar, “akupun memberi selamat, bahwa kau mempunyai seorang cucu murid yang begitu baik.”

“Tua bangka bangsat!” caci Tio Beng. “Cucu baik!… cucu murid baik… A Toa, coba jajal ilmu pedangnya!”

“Baik!” jawab kakek bermuka sial itu. Ia menghunus Ie Thian Kiam yang mengeluarkan sinar menyilaukan mata.

“Pedang itu adalah milik Go Bie Pay,” kata Boe Kie. “Mengapa sekarang berada dalam tanganmu?”

“Setan kecil, tau apa kau?” bentak si nona. “Si tua bangka Biat Coat telah mencuri Ie Thian Kiam dari rumahku. Sekarang pedang itu pulang kepada majikannya yang lama. Ada hubungan apa antara Ie Thian Kiam dan Go Bie Pay?”

Boe Kie yang tidak mengenal sejarah pedang mustika itu, tidak dapat membuka mulut lagi. “Tio Kouw Nio, berikanlah Hek Giok Toan Siok kepadaku,” katanya dengan menyimpang, “sesudah Sam Soepeh dan Liok Soesiok sembuh, kita boleh bikin habis permusuhan ini.”

“Bikin habis permusuhan ini?” menegas si nona dengan suara dingin. “Bagus! Apa kau tahu dimana adanya Kong Boen Kong Tie, Song Wan Kiauw dan yang lain-lain?”

Boe Kie menggelengkan kepala, “Tak tahu.” Jawabnya. “Bolehkah Tio Kouw Nio memberi keterangan?”

“Perlu apa aku beritahu kau?” jawabnya. “Jika aku tidak mencincang padamu sampai menjadi berlaksa potong, tak dapat aku melampiaskan rasa penasaran untuk segala hinaan dalam penjara besi di Lek Lioe Chung.” Sehabis berkata begitu, paras si nona bersemu dadu.

Mendengar perkataan hinaan dalam penjara besi di Lek Lioe Chung, paras muka Boe Kie pun lantas berubah merah. Pada hari itu, untuk menolong jiwa para pemimpin Boe Kie, karena terpaksa ia sudah mengitik telapak kaki Tio Beng. Ia sama sekali tidak berniat untuk menghina seorang wanita, tapi biar bagaimanapun jua perbuatan itu sangat melanggar kesopanan. Ia tidak pernah memberitahukan kejadian itu kepada siapapun jua dan kalau sampai diketahui orang, ia malu besar. Sebab tidak bisa membela diri di hadapan orang banyak, ia hanya berkata, “Tio Kouw Nio, bilanglah terus terang, kau suka menyerahkan Hek Giok Toan Siokko atau tidak?”

Biji mata Tio Beng memain dan ia berkata sambil tersenyum, “boleh kau bisa segera mendapatkan Hek Giok Toan Siokko apabila kau meluluskan permintaanku.”

“Permintaan apa?”

“Sekarang belum dapat dipikir olehku.”

“Kau tentu bakal mengajukan permintaan yang gila-gila. Apakah aku harus meluluskan juga manakala kau minta membunuh diri sendiri atau mengubah badan menjadi babi dan anjing.”

“Aku pasti tak akan minta kau membunuh diri atau minta kau menjadi babi dan anjing, hihihi… andaikata kau mau, kaupun tak akan bisa melakukan itu.”

“Sebutlah sekarang, apabila permintaanmu tidak melanggar kesatriaan dalam rimba persilatan dan bisa dilakukan olehku, aku akan meluluskannya.”

Baru saja Tio Beng mau bicara lagi, tiba-tiba ia melihat sekuntum kembang mutiara pada kundai Siauw Ciauw dan kembang itu adalah miliknya sendiri yang dihadiahkan kepada Boe Kie. Tiba-tiba saja darahnya meluap. Sambil menggigit gigi, ia berpaling kepada A Toa dan berkata, “Putuskan kedua lengan bocah she Thio itu!”

“Baik,”jawabnya. Ia maju setindak menghunus Ie Thian Kiam dan berkata,

“Thio Kauw Coe, Coe jin memerintahkan aku memutuskan kedua lenganmu.”

Alis Boe Kie berkerut. Ie Thian Kiam tajam luar biasa, tidak bisa dilawan dengan senjata apapun jua. Jalan satu-satunya ialah coba merampas pedang mustika itu dengan tangan kosong dengan menggunakan ilmu Kian Koen Tay Lo Ie. Tapi kalau musuh memiliki ilmu yang tinggi, sekali kurang hati-hati, sekali tergores, ia bisa celaka. Maka itulah ia jadi agak bingung dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Sekonyong-konyong Thio Sam Hong memanggil, “Boe Kie, kau sudah paham Thay Kek Koen. Disamping ilmu pukulan itu, akupun menggubah Thay Kek Kiam (Ilmu Pedang Thay Kek) “Mari! Aku akan mengajar ilmu pedang itu kepadamu supaya kau bisa melayani Sie coe itu.”

“Terima kasih Thay Soe Hoe,” kata Boe Kie. Ia berpaling kepada A Toa dan berkata pula, “cianpwee, aku tidak paham ilmu pedang, sesudah Soehoe memberi pelajaran barulah aku melayani cianpwee.”

Biarpun ia mempunyai pedang mustika, tapi sudah melihat kelihaian Boe Kie, A Toa masih merasa keder. Sekarang ia girang, ilmu pedang adalah serupa ilmu yang sangat sulit. Untuk mempergunakannya secara lancer, orang harus berlatih sepuluh dan dua puluh tahun. Begitu belajar, begitu memperguanakannya adalah hal yang tak mungkin. Maka itu, ia lantas saja manggutkan kepala dan berkata: “baiklah, aku menunggu di sini. Apa dua jam cukup?”

“Aku akan menurunkan pelajaran di sini,” kata Thio Sam Hong. “Tak usah dua jam setengah jam sudah lebih dari cukup.”

Kecuali Boe Kie, semua orang kaget. Mereka hampir tak percaya kuping sendiri. Andaikata benar Thay Kek Kiam Hoat pandai luar biasa, tetapi dengan mengajar di hadapan orang banyak dan musuh bisa menyaksikannya, rahasia pukulan-pukulan lihai tidak dapat dipertahankan lagi.

“Baiklah,” kata A Toa. “Kalau begitu, sebaiknya aku keluar dari ruangan ini.”

“Tak usah,” kata Thio Sam Hong.

“Ilmu pedangku gubahan baru. Aku sendiri tak tahu apa dapat digunakan atau tidak. Tuan boleh turut menyaksikan dan kuminta tuan suka memberi petunjuk pada bagian-bagian yang kurang sempurna.”

Sesaat itu, Yo Siauw mendadak ingat sesuatu, “Ah!” teriaknya, “Sekarang aku ingat, tuan adalah Giok Bin Sin Kiam tiang loo yang berkedudukan tinggi dalam Kay Pang! Mengapa tuan rela menjadi budaknya orang?” (Giok Bin Sin Kiam Sim – Malaikat pedang yang mukanya seperti batu pualam, tiang loo – tetua Kay Pang partai pengemis. Dalam Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar, Kay Pang dipimpin oleh Kioe Cie Sin Kay Ang Cit Kong)

Mendengar itu, jago-jago Beng Kauw terkesiap, “Bukankah kau sudah mati?” kata Cioe Tian. “Bagaimana….. bagaimana kau bisa hidup lagi?”

A Toa menghela napas. “Aku manusia sisa mati.” Katanya sambil menundukkan kepala. “Apa yang sudah lampau perlu apa disebutkan lagi? Telah lama aku sudah bukan tiang loo dari Kay Pang.”

Orang-orang yang lebih tua mengetahui, bahwa Giok Bin Sin Kiam Phoei Tong Peng dahulu menjadi kepala dari keempat tetua partai pengemis. Kelihaiannya dalam ilmu pedang telah menggetarkan dunia kang ouw dan disamping itu, ia pun terkenal sebagai pria yang sangat tampan, sepanjang warta, pada belasan tahun berselang, ia telah meninggal dunia karena sakit. Tentu saja munculnya di Sam Ceng tian sangat mengejutkan, lebih-lebih sebab mukanya berubah dan sekarang ia menjadi kaki tangan Tio Beng.

“aku merasa sangat girang, bahwa Thay Kek Kiam Hoat akan mendapat pelajaran dari Giok Bin Sin Kiam,” kata Thio Sam Hong. “Boe Kie, apa kau mempunyai pedang?”

Siauw Ciauw segera menghampiri dan menyerahkan Ie Thian Kiam kayu yang diambil dari Lek Lio Chung. Thio Sam Hong menyambut pedang itu dan berkata sambil tersenyum: ”pedang kayu? Apa kau kira aku akan menulis jimat atau mengusir hawa jahat?” Ia berbangkit dan memegang senjata itu di tangan kiri, perlahan-lahan ia membuat lingkaran. Ia mulai bersilat dengan gerakan sangat lambat – San Hoan To Goat, toa Kwie Chee Yan Coe Tiauw Coei, Co Lan Sauw, Yoe Lan Siauw dan sebagainya. Boe Kie mengawasi dengan mata tidak berkesiap tapi yang diperhatikannya bukan jurus pedang, hanya jiwa ilmu pedang itu bersambung-sambung.

Sesudah Thio Sam Hong selesai bersilat, tak seorangpun yang menepuk tangan. Mereka semua merasa heran. Apakah ilmu pedang itu yang lambat gerakannya dan tak menunjukkan keluar biasaan apapun jua dapat digunakan untuk melawan Giok Bin Sin Kiam? Tapi ada juga yang memikir lain. Mereka menduga, bahwa Thio Sam Hong sudah sengaja memperlambat gerak-geriknya, supaya dilihat oleh cucu muridnya.

“Anak apa kau sudah lihat terang?” tanya Thio Sam Hong.

“Cukup terang,” jawab Boe Kie.

“Kau ingat semua?”

“Sudah lupa sebagian.”

“Bagus, aku banyak membikin susah kepadamu. Sekarang kau harus memikiri sendiri.”

Alis Boe Kie berkerut, suatu tanda ia sedang mengasah otak.

Beberapa saat kemudian, Thio Sam Hong bertanya lagi, “Bagaimana sekarang?”

“Sudah lupa sebagian besar.” Jawabnya.

“Celaka!” teriak Cioe Tian. “Makin lama makin banyak yang dilupakan. Thio cinjin, ilmu pedangmu sangat sulit tak dapat orang mengangkatnya dengan hanya sekali lihat, coba sekali lagi.”

Thio Sam Hong tertawa, “Baiklah, aku akan bersilat sekali lagi.” Katanya. Seperti tadi ia bersilat pula dengan gerakan perlahan. Sesudah beberapa jurus, semua penonton jadi makin heran sebab jurus-jurus yang diperlihatkan kali ini berbeda dengan jurus-jurus yang tadi.

“Gila! Betul-betul gila!” Teriak Cioe Tian.

Tapi guru besar itu tak meladeni si sembrono. Ia hanya senyum. “Anak,” katanya kepada Boe Kie. “Bagaimana sekarang?”

“Masih ada tiga jurus yang belum terlupa.”

Thio Sam Hong balik kursinya, sedang Boe Kie jalan terputar di ruangan itu. Tiba-tiba ia mengangkat kepala dan dengan paras muka berseri-seri, ia berseru, “sekarang anak lupa semuanya! Lupa seluruhnya.”

“Bagus!” kata sang Thay Soehoe. “Sekarang kau boleh minta petunjuk Giok Bin Sin Kiam.” Seraya berkata begitu, ia menyerahkan pedang kayu yang dipegangnya kepada Boe Kie.

Boe Kie seraya menghampiri Phoei Tong Peng dan berkata seraya membungkuk. Phoei Cian Pwee, silahkan.”

Cioe Tian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Hatinya penuh kekuatiran.

Bagaikan seekor kera, Phoei Tong Peng melompat dan sambil berkata, “Maaf” ia menikam. Sinar hijau berkelebat disertai dengan suara “Srrt” hal ini membuktikan, bahwa ia memiliki Lwee Kang yang sangat kuat, sedikitnya tak kalah dengan A Jie.

Semua orang terkejut. Dengan Lwee Kang yang sehebat itu, jangankan ia menggunakan pedang mustika, sedang pedang biasapun sudah sukar dilawan. Meskipun ia sudah tidak memiliki Giok Bin (muka tampan seperti batu pualam), tapi julukan Sin Kiam (pedang malaikat) sungguh bukan nama kosong.

Melihat serangan hebat itu, cepat Boe Kie membuat setengah lingkaran, menempelkan badan pedang kayu di badan Ie Thian Kiam, mengirim Lwee Kang, dan… Ie Thian Kiam tertekan ke bawah.

“Bagus!” puji Phoei Tong Peng seraya membalik pedangnya dan menusuk pundak lawan. Boe Kie memutar senjata dan kedua lawan sama-sama melompat mundur. Ie Thian Kiam tergetar dan mengeluarkan suara “unggg” yang sangat nyaring.

Kedua pedang itu berbeda bagaikan langit dan bumi. Yang satu bersenjata mustika, yang lain hanya kayu belaka. Akan tetapi, karena bentrokan terjadi pada badan pedang, maka yang tajam tidak dapat berbuat banyak terhadap yang tumpul. Dengan memukul badan pedang maka boleh dikatakan Boe Kie sudah berhasil menangkap jiwa Thay Kek Kiam Hoat.

Tadi waktu memberikan pelajaran yang diturunkan Thio Sam Hong ialah “jiwa” atau “intisari” dari Thay Kek Kiam Hoat, tapi bukan “justru” ilmu pedang itu. Maka itulah, sesudah Boe Kie bisa menyelami intisari daripada ilmu pedang itu dan bisa menggunakan secara bebas, wajar dengan segala perubahan-perubahannya yang bermacam-macam. Dalam otak masih teringat sejuru dua dari apa yang dilihatnya, maka kelancaran itu akan terganggu. In Thian Ceng dan Yo Siauw mengerti prinsip tersebut, tapi Cioe Tian yang ilmunya masih agak cetek, sudah jadi kebingungan.

Suara bentrokan senjata makin lama makin gencar. Dengan jurus-jurus luar biasa, dengan Lwee Kang yang dahsyat dan dengan senjata mustika. Phoei Tong Peng mengirim serangan-serangan berantai bagaikan hujan dan angina. Sinar hijau berkelebat-kelebat tak ada hentinya dan hawa dalam Sam Ceng Tian berubah dingin. Boe Kie melayani dengan hati-hati dan tenang. Dalam membela diri atau balas menyerang, pedang kayunya membuat lingkaran-lingkaran, lingkaran besar, dan kecil. Lingkara itu seolah-olah benang sutra yang berputar-putar dan untuk menggulung Ie Thian Kiam. Makin lama jumlah benang sutera jadi makin banyak. Sesudah bertempur dua ratus jurus lebih, kelincahan Ie Thian Kiam mulai berkurang. Phoei Tong Peng merasa, bahwa berat pedang selalu bertambah, dari lima menjadi enam kati, tujuh, delapan,… sepuluh… dua puluh…

Si kakek sekarang bangun, ia mengeluarkan keringat dingin. Tiga ratus jurus sudah lewat. Tapi ia belum juga bisa merampas pedang lawan yang terbuat dari pada kayu. Itulah kejadian yang belum pernah dialami. Pihak lawanm seperti juga melepaskan jala raksasa yang makin lama jadi makin kecil. Berulang kali Phoei Tong Peng menukar ilmu pedang, tapi ita tetap tidak dapat kemajuan. Terus menerus Boe Kie membuat lingkaran-lingkaran di antara penonton, kecuali Thio Sam Hong seorang, tak satupun yang bisa melihat tegas apa dia sedang menyerang atau membela diri. Pada hakikatnya Thay Kek Kiam Hoat hanya terdiri daripada lingkaran-lingkaran besar, kecil, miring, berdiri rata dan sebagainya, sehingga jika orang ingin berbicara tentang “jurus” ilmu pedang itu hanya terdiri dari satu jurus lingkaran. Tapi dalam jurus tunggal itu terdapat perubahan-perubahan yang tiada habisnya.

Sekonyong-konyong Phoei Tong Peng membentak keras, kumis atau alisnya berdiri dan Ie Thian Kiam menyambar dada Boe Kie. Itulah serangan yang disertai dengan seantero tenaga dalam. Boe Kie membalik senjata dan coba menangkis. Mendadak si kakek memutar sedikit pergelangan tangannya merampas dari samping. “Kres” pedang kayu itu putus enam dim dan Ie Thian Kiam meluncur terus ke dada Boe Kie.

Boe Kie terkesiap. Tapi dalam bahaya, ia tidak jadi bingung. Secepat kilat, telunjuk dan jari tengah tangan kirinya menjepit badan Ie Thian Kiam sedang tangan kanannya membabat lengan kanan musuh dengan pedang bunting. Biarpun kayu, tapi ia sebab membacok dengan tenaga Kioe Yang Sin Kang sampai hati untuk menyerang pula dan merampas pedang mustika itu.

Dengan tangan kiri mencekal Ie Thian Kiam Boe Kie seperti juga jepitan besi. Dalam keadaan begitu, jalan satu-satunya untuk menyelematkan lengan kanannya dari bacokan ialah melepaskan Ie Thian Kiam dan melompat mundur. “lepas!” bentak Boe Kie sambil menggigit gigi dengan nekat si kakek yang bandel membetot lagi. “Kres!” lengan itu terbabat putus dan terus meluncur jatuh!

Phoei Tong Peng lebih suka mengorbankan lengan daripada kehilangan pedang.

Sebelum lengan yang jatuh itu menyentuh lantai, tangan kiri si kakek menjambretnya dan mengambil pedang Ie Thian Kiam yang masih terus dicengkram dengan jari-jari tangan dari lengan yang putus itu.

Melihat kegagahan orang tua itu, Boe Kie kaget bercampur kagum dan ia tak sampai hati untuk menyerang pula dan merampas pedang mustika itu. Phoei Tong Peng menghampir Tio Beng dan seraya berkata membungkuk, “Coe Jin, Siauw Jin tak punya kemampuan dan rela menerima hukuman.”

“Aku suruh kau putuskan kedua tangan bocah itu.” Katanya dengan suara dingin.

Muka si kakek yang sudah pucat jadi lebih pucat lagi. “Baiklah.” Katanya. Tangan kirinya mengayun Ie Thian Kiam yang dengan sekali berkelebat sudah memutuskan lengan kiri si kakek.

Dengan serentak semua orang mengeluarkan seruan tertahan.

Boe Kie gusar tak kepalang. Sambil menuding, ia membentak, “Tio Kouw Nio! Sungguh kejam kau! Phoei Sian Seng telah berbuat apa yang dia bisa. Tapi kau masih tak bisa memaafkannya.”

“Kau, bukan aku yang memutuskan tangannya.” Kata si nona dengan suara dingin. “Apa kau atau aku yang kejam?”

Boe Kie jadi kalap, “Kau…. Kau… “ teriaknya. Ia tidak bisa mendapatkan kata-kata yang tepat untuk melampiaskan kemarahannya.

Tapi Tio Beng tenang-tenang saja. “Budakku, tak perlu kau campur urusan orang lain,” ia menengok kepada Thio Sam Hong dan berkata pula. “hari ini, dengan memandang muka Thio Kauw Coe, aku memberi ampun kepada Boe Tong Pay,” ia mengibaskan tangan kirinya dan membentak. “Berangkat!” beberapa orang sebawahannya segera mendukung Phoei Tong Peng, A Jie, dan Oe Boen Cek dan kemudian beramai-ramai keluar dari Sam Tian Ceng.

“Tahan!” teriak Boe Kie “sebelum kamu tinggalkan Hek Giok Toan Siokko, jangan harap kamu bisa berlalu dari Boe Tong San!” dengan sekali melompat, tangannya menjambret Tio Beng. Tapi sebelum tangan itu menyentuh si nona, tiba-tiba ia merasa kesiuran angin yang menyambar dari kiri ke kanan. Kedua serangan itu tidak ada suaranya. Tahu-tahu sudah tiba di hadapannya. Ia terkesiap, degnan kecepatan luar biasa ia membalik kedua tangannya dengan tangan kanan menyambut serangan yang datang dari sebelah kanan, tangan kiri menangkis pukulan yang menyambar dari sebelah kir. Begitu kedua tangannya kebentrok dengan tangan musuh, ia merasa tekanan Lwee Kang yang sangat kuat dan lebih hebat lagi, Lwee Kang itu dingin luar biasa. Tiba-tiba ia terkejut, hawa dingin itu sudah dikenalnya. Aha! Hian Beng Sin Ciang yang dahulu hampir-hampir mengambil jiwanya!

Dalam kagetnya, Boe Kie segera mengerahkan Kioe Yang Sin Kang. Hampir berbareng, iga kiri dan kanannya ditepuk orang sehingga ia terhuyung beberapa tindak. Yang menepuknya adalah dua kakek yang bertubuh kurus jangkung. Selagi sebelah tangan mereka kebentrok dengan kedua tangan Boe Kie, sebelah tangan yang lainnya tanpa mengeluarkan suara sudah menyambar ke iga pemuda itu.

Seraya membentak keras, Yo Siauw dan Wie It Siauw melompat dan menyerang kakek itu. “Plak, plak!” kedua jago Beng Kauw itu juga terhuyung beberapa tindak, dada mereka menyesak dan hawa dingin meresap sampai ke tulang.

“Nama Beng Kauw sungguh besar, tapi kepandaiannya hanya sebegitu!” kata si kakek di sebelah kanan. Sehabis berkata begitu, dengan kawannya, ia melindungi Tio Beng keluar dari Sam Ceng Tian.

Sebab kuatir akan keselamatan Kauw Coe mereka, orang-orang Beng Kuaw tidak mengubar dan mereka lalu mengerumuni Boe Kie yang duduk di lantai dengan dipeluk oleh In Thian Ceng.

Semua orang kelihatan bingung. Sambil tersenyum, Boe Kie menggoyang-goyangkan tangannya supaya orang jangan berkuatir. Perlahan-lahan ia mengerahkan Kioe Yang Sin Kang untuk mengeluarkan racun dingin itu dari dalam tubuhnya. Selagi hawa dingin itu terdesak ke luar, beberapa orang yang Lwee Kangnya agak cetek, bergemetaran badannya. Tapi karena mencintai pemimpin mereka, tak seorangpun meninggalkan Boe Kie.

Beberapa saat kemudian, Boe Kie berkata, “Gwa kong dan saudara-saudara sekalian. Keadaanku tak apa-apa. Harap kalian jangan kuatir.”

Mendengar Kauw Coe mereka bicara, semua orang merasa girang dan lantas mengundurkan diri. Sementara itu, kelihatanlah di atas kepala Boe Kie terus menerus keluar semacam asap berwarna putih, sebagai tanda bahwa pemuda itu sedang mengerahkan Lwee Kang yang dahsyat.

Beberapa saat kemudian, ia membuka baju dan pada kedua iganya terlihat tapak tangan dengan warna kehitam-hitaman. Berkat khasiat Kioe Yang Sin Kang, warna hitam itu perlahan-lahan berubah menjadi ungu, dari ungu menjadi abu-abu yang akhirnya menghilang. Demikianlah, dalam waktu kira-kira setengah jam Boe Kie sudah berhasil mengusir seantero racun hitam Hian Beng Sin Ciang. Ia berbangkit dan berkata sambil tertawa, “Biarpun mesti menghadapi bahaya, kita sekarang sudah mengenal muka musuh.”

Yo Siauw dan Wie It Siauw pun tidak terluput dari racun dingin. Tapi sebab pada waktu menangkis, mereka mengeluarkan seluruh Lwee Kang, maka racun itu hanya masuk sampai di pergelangan tangan dan tidak menembus ke isi perut. Maka itu, sesudah mereka bersemedi dan mengerahkan tenaga dalam beberapa lama, merekapun berhasil mengusir racun tersebut.

Beberapa saat kemudian, Gouw Kin Co, Ciang Kie Soe Swie Kim Kie, melaporkan bahwa semua musuh sudah turun gunung.

Jie Thay Giam lantas saja memerintahkan Tie Kek Toojin menyediakan makanan untuk menjamu para anggota Beng Kauw. Selagi makan minum, Boe Kie menceritakan kepada Thay SoeHoe dan Sam SoePehnya segala sesuatu yang terjadi atas dirinya semenjak mereka berpisahan. Mendengar penuturan yang luar biasa itu, semua orang merasa kagum dan heran.

”Tahun itu, di ruangan ini juga aku telah beradu tangan dengan si kakek yang memiliki Hian Beng Sin Ciang itu,” kata Thio Sam Hong. Pada waktu itu, ia menyamar sebagai perwira tentara mongol. Sampai sekarang, aku masih belum tahu dengan kakek yang mana aku beradu tangan. Kalau dipikir-pikir, aku harus merasa malu, karena sampai hari ini aku masih belum mampu meraba asal-usul kedua orang itu.

“Kitapun masih belum tahu siapa adanya wanita She Tio itu,” menyambung Yo Siauw. “Dia pasti mempunyai orang-orang Seperti Hian Beng Jie Loo (dua kakek yang memiliki Hian Beng Sin Ciang) menakluk di bawah perintahnya.”

“Kita sekarang menghadapi dua tugas yang harus segera diselesaikan,” kata Boe Kie. “Pertama kita harus merampas Hek Goan Toan Siokko untuk mengobati luka Jie Sam SoePeh dan In Liok Siok. Kedua, kita harus segera menyelidiki dimana adanya Song Toa Peh dan yang lain-lain. Untuk menunaikan kedua tugas ini, kita harus mencari si wanita she Tio.”

Jie Thay Giam tertawa getir, “Aku sudah bercacad selama kurang lebih dua puluh tahun, sehingga biarpun Hek Goan Toan Siokko bisa dirampas, kurasa cacad ini tak mungkin disembuhkan lagi.” Katanya. “Perhatian kita sekarang harus ditujukan kepada Toako, Liok Tee dan yang lain-lain.

“Kita harus bertindak cepat,” kata Boe Kie pula. “Kuminta Yo Co Soe, Wie Hok Ong, dan Swee Poet Tek Tay Soe mengikut aku turun gunung untuk mengejar musuh. Dengan berpencaran, kelima Ciang Kie Hoe Soe (wakil pemimpin) dari lima bendera harus pergi ke Go Bie, Hwa San, Koen Loen, Khong Tong, dan Siauw Lim Sie di Hok Kian untuk mengadakan hubungan berbagai partai dan mengadakan penyelidikan. Gwa Kong dan Koe Koe (Paman, In Ya Eng) pulang ke Kang Lim untuk mempersiapkan seluruh pasukan Peh Bie Kie. Tiat Koan Too Tiang dan Cioe Sian Seng, Pheng Thay Soe dan Ciang Kie Soe dari Ngo Heng Kie untuk sementara waktu berdiam di Boe Tong Pay guna memantu Thay Soehoe Thio Cin Jin.”

Demikianlah, dengan sikap wajar ia mengeluarkan perinta. Sedang In Thian Ceng, Yo Siauw, Wie It Siauw dan yang lain-lain menerimanya sambil membungkuk. Melihat begitu, bukan main girangnya Thio Sam Hong. Semula guru besar itu masih bersangsi, apakah cucu muridnya yang masih baru begitu muda bisa menguasai jago-jago Beng Kuaw.Sekarang dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan bahwa In Thian Ceng dan yang lain-lain benar-benar mengakui Boe Kie sebagai pemimpin mereka yang mempunyai kekuasaan mutlak. “Kepandaiannya yang tinggi dan otaknya yang cerdas biarpun harus dikagumi di mataku tidaklah berharga terlalu besar.” Kata Thio Sam Hong di dalam hati. “Tapi bahwa ia berhasil menaklukkan memedi-memedi Beng Kuaw dan Peh Bie Kie, hingga mereka sekarang balik ke jalanan lurus sungguh-sungguh satu kejadian yang menakjubkan. Ha!… Coei San ada turunannya… “ memikir begitu, kedua mata guru besar itu mengembang air.

Boe Kie berempat cepat-cepat makan dan sesudah makan, mereka segera meminta diri dari Thio Sam Hong dan segera turun gunung untuk mengejar Tio Beng. In Thian Ceng dan para pemimpin Beng Kauw. menghantar sampai di kaki gunung. Poet Hwi yang rupanya berat untuk segera berpisahan dengan ayahnya mengikuti terus dan sesudah melalui lagi kira-kira satu li, Yo Siauw berkata, “Poet Hwi, kau baliklah, rawatlah In Liok Siok sebaik-baiknya.”

“Baiklah,” jawab si nona, mengawasi Boe Kie dan tiba-tiba paras mukanya berubah merah. “Boe Kie Koko,” katanya dengan suara perlahan. “aku ingin bicara sepatah dua patah dengan kau.”

Yo Siauw, Wie It Siauw, dan Swee Poet Tek tertawa dalam hati. Kedua orang muda itu sahabat lama dan dalam menghadapi perpisahan mereka mungkin ingin mengatakan sesuatu yang tak boleh didengar orang lain. Memikir begitu, mereka segera mempercepat tindakan dan meninggalkan Boe Kie dan Poet Hwi.

Sesudah kedua orang tua itu pergi jauh, sambil menarik tangan Boe Kie, si nona berkata, “Boe Kie koko, kemari,” mereka menghadapi sebuah batu besar dan lalu berduduk di atasnya.

Jantung itu memukul keras. “aku dan dia pernah sama-sama melewati banyak bahaya besar. Perhubungan antara aku dan dia bukan perhubungan biasa.” Katanya di dalam hati. “Tapi sesudah perpisahan lama dan bertemu lagi sikapnya agak dingin, acuh tak acuh. Apakah yang dia sekarang mau sampaikan kepadaku?”

Sebelum bicara, paras muka si nona sudah berubah merah dan ia menundukkan kepala. Lama juga ia berdiam bagaikan patung. Akhirnya ia mendongak dan berkata, “Boe Kie koko, pada waktu ibu mau menutup mata, bukankah ia telah meminta supaya kau melihat-lihat aku?”

“Benar,” jawabnya.

“Dengan melalui perjalanan berlaksa li, dari Tepi Hwai Ho sampai ke See Hek, kau telah berhasil menyerahkan aku kepada ayah. Dalam perjalanan itu, berulang kali kau mengalami penderitaan hebat dan menghadapi bahaya-bahaya besar. Budi yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata belaka. Sebegitu jauh aku hanya mengingat di dalam hati dan tidak pernah menyebutkannya di hadapanmu.”

“Itu semua tak ada harga untuk disebutkan lagi,” kata Boe Kie. “apabila aku tidak mengawani kau ke See Hek, aku tentu tidak mengalami kejadian-kejadian yang sangat kebetulan dan di waktu ini aku pasti sudah tidak berada di alam dunia.”

“Tidak! Boe Kie koko, kau tak boleh mengatakan begitu,” kata si nona sembil menggeleng-gelengkan kepala. “Kau seorang yang sangat mulia, dengan “restu Tuhan” segala bahaya akan berubah menjadi keselamatan. Boe Kie koko, sedari kecil aku sudah ditinggalkan ibu, ayah adalah seorang yang paling dekat denganku, tapi aku tidak bisa mengatakan kepadanya apa yang aku ingin katakana sekarang. Kau adalah Kauw Coe kami, akan tetapi, di dalam hati aku masih tetap memandang kau sebagai kakak kandungku. Hari itu, ketika kau datang di Kong Beng Teng dalam keadaan sehat, bukan main rasa girangku. Akan tetapi, aku merasa malu hati untuk menyatakan perasaan itu. Boe Kie koko, kau tidak gusar, bukan?”

“Tidak! Tentu saja aku tidak gusar,” jawabnya.

Si nona menundukkan kepala dan berkata pula. “Terima kasih, kau sungguh mulia, Boe Kie koko, aku telah memperlakukan Siauw Ciauw secara kejam dan mungkin sekali kau mendongkol terhadap perlakuan itu. Hal itu terjadi karena aku selalu tidak dapat melupakan kebinasaan ibu yang sangat mengenaskan sehingga terhadap orang jahat, aku tidak main kasihan lagi. Belakangan sesudah melihat perlakuanmu terhadap Siauw Ciauw, aku tidak membencinya lagi.”

Boe Kie tersenyum, “Siauw Ciauw beradat aneh, tapi kurasa dia bukan seorang jahat,” katanya.

Ketika itu matahari sudah mulai menyelam ke barat dan musim rontok yang dingin mulai turun. Untuk beberapa saat mereka tidak berkata-kata. Tiba-tiba paras muka si nona berubah lagi, kulitnya yang putih bersemu dadu, kedua matanya mengeluarkan sinar kecintaan, sedang sikapnya seperti orang kemalu-maluan. “Boe Kie koko,” katanya dengan suara hampir tidak kedengaran, bukankah ayah dan ibu berdosa terhadap In… Liok Siok?”

“Ah! Kejadian yang sudah lampau, tak perlu disebut-sebut lagi,” kata Boe Kie.

“Tidak!” bantah si nona. “Bagi orang lain, kejadian itu memang kejadian yang sudah lama. Aku sendiri sekarang sudah berusia tujuh belas tahun. Tapi bagi In Liok Siok kejadian itu bkan kejadian lama. Ia masih tidak bisa melupakan ibu. Waktu ia terluka berat dan berada dalam keadaan setengah sadar, sering-sering ia mencekal tanganku dan berkata Siauw Hoe! Siauw Hoe! Jangan tinggalkan aku, aku sudah menjadi manusia bercacat. Tapi aku memohon jangan tinggalkan aku….. jangan tinggalkan aku,” ia bicara dengan suara parau dan kemudian air matanya mengalir turun di kedua pipinya.”

“Liok Siok mengatakan begitu, sebab ia berada dalam keadaan lupa ingat,” kata Boe Kie dengan suara membujuk. “Kau tidak boleh menerima perkataan itu secara sungguh.”

Poet Hwi menggelengkan kepala. “Kau salah,” bantahnya. “Bukan begitu kau tidak tahu, tapi aku tahu. Belakangan sesudah tersadar, ia mengawasi aku dengan sorot mata dan sikap yang tidak berbeda. Ia mau minta supaya aku kan dia, tapi ia merasa berat untuk membuka mulut.”

Boe Kie menghela napas. Ia mengenal baik adat paman itu. Biarpun ilmu silatnya sangat tinggi, pada hakekatnya In Lie Heng berperasaan sangat halus. Dahulu waktu masih kecil, Boe Kie sering menyaksikan cara bagaimana paman itu mengucurkan air mata untuk urusan-urusan kecil. Kebinasaan Siauw Hoe merupakan pukulan sangat hebat. Maka tidaklah heran meskipun sudah bercacat, Lie Heng masih tidak bisa melupakan tunangannya itu.

Sesudah termangu beberapa lama, Boe Kie berkata dengan suara serak. “Ya ….. kita tidak bisa berbuat banyak untuk menghibur hatinya. Jalan satu-satunya aku harus berusaha sekeras-kerasnya untuk merampas Hek Goan Toan Siokko guna mengobati Liok Siok san Sam Soepeh.”

“Makin lama melihat sikap In Liok Siok, hatiku merasa kasihan.” Kata pula Poet Hwi. “Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bahwa selama orang itu termasuk ayah dan ibu telah melakukan perbuatan yang tidak pantas terhadapnya. Boe Kie koko… “ ia terdiam sejenak kemudian meneruskan perkataannya dengan suara hampir tak kedengaran, “aku… aku sudah berjanji dengan In Liok Siok, bahwa aku tak perduli ia sembuh atau tak sembuh, aku akan mengawaninya seumur hidup dan tidak akan berpisah lagi selama-lamanya!” sehabis berkata begitu, air mata mengucur deras, akan tetapi paras mukanya berubah terang. Itulah paras dari seorang yang dihinggapi rasa malu bercampur bangga.

Boe Kie terkejut. Ia tak pernah mimpi, bahwa Poet Hwi rela mengabdi kepada In Lie Heng seumur hidup. Untuk beberapa saat, dia mengawasi si nona dengan mata membelalak dan kemudian berkata dengan suara terputus-putus, “kau!….. kau….. “

“Secara tegas aku sudah berjanji dengannya, bahwa dalam penitisan ini, aku akan mengikutinya selama-lamanya,” berkata pula Poet Hwi dengan suara yang tetap. “Walaupun seumur hidup ia bercacat, maka seumur hidup aku akan mendampinginya, melayaninya dan coba menghiburnya.”

Boe Kie menghela napas dan sambil mengawasi si nona dengan alis berkerut, ia berkata, “tapi kau….. “

“Janjiku tak diberikan kepadanya secara tergesa-gesa,” memutus Poet Hwi. “Di sepanjang jalan, aku merenungkan soal itu masak-masak. Bukan saja itu tidak berpisahan denganku, akupun tak bisa berpisahan dengannya. Kalau lukanya tak sembuh, aku tidak bisa hidup lebih lama di dalam dunia. Saban kali aku mendampinginya, ia selalu mengawasiku dengan sorot mata yang tak dapat dilukiskan pada saat itu. Boe Kie, dahulu, waktu masih kecil, aku selalu memberikan rahasia hatiku kepadamu. Kuingat karena tak punya uang untuk beli kembang gula, di tengah malam buta, aku mencuri sebuah tong jin (kembang gula yang berbentuk manusia) dan memberikannya kepadaku. Apa kau masih ingat?”

Disebutkannya kejadian yang lampau itu mengharukan sangat hatinya Boe Kie. Di depan matanya lantas saja terbayang pengalaman-pengalaman pada waktu ia bersama Poet Hwi, dengan bergandengan tangan, merantau ke wilayah barat. “Aku ingat,” jawabnya sambil menundukkan kepala.

Seraya memegang tangan kakaknya, si nona berkata pula: “tapi aku tidak tega untuk makan gula itu yang akhirnya melumer karena hawa panas matahari. Aku sangat berduka dan menangis terus. Kau coba membujuk aku dan mengatakan, bahwa kau akan memberikan sebuah lagi. Tapi biar bagaimanapun jua, kau takkan mendapatkan tong jin yang sama seperti itu. Belakangan kau membeli tong jin yang lebih besar dan lebih bagus, tapi sebaliknya dari girang, aku menangis lagi. Waktu itu kau sangat jengkel dan mencaci aku yang dikatakan tidak dengar kata. Apa kau masih ingat?”

Boe Kie tersenyum. “Apa aku maki kau?” katanya. “Aku sudah lupa.”

“adatku sangat kukuh,” kata pula si nona. “In Liok Siok adalah tong jin pertama yang disukai olehku. Aku menolak lain kembang gula. Boe Kie koko, sering-sering di tengah malam yang sunyi kuingat segala kebaikanmu. Beberapa kali kau sudah menolong jiwaku. Menurut pantas, aku harus mengabdi kepadamu seumur hidup. Akan tetapi, aku hanya bisa menganggap kau sebagai saudara kandung.”

“Di dalam hati, aku menyintai dan menghormati kau sebagai seorang kakak. Tapi terhadap dia, aku mempunyai rasa kasihan dan rasa cinta yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Usianya banyak lebih tua dan tingkatannya pun lebih tinggi daripada aku. Di samping itu, ayah adalah seorang musuh besarnya… Kutahu bahwa dalam hal ini kau menghadapi kesukaran-kesukaran besar. Tapi.. tanpa memperdulikan apapun jua, aku membuka isi hatiku kepadamu.” Sehabis berkata begitu, tiba-tiba ia berbangkit dan kabur secepatnya.

Boe Kie berdiri bagaikan patung dan dengan hati berduka ia mengawasi si bayangan Poet Hwi yang lalu menghilang di lembah gunung. Lama ia berdiri di situ dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Sesudah kenyang menangis, barulah ia menyusul kawan-kawannya.

Melihat tanda-tanda bekas air mata di kedua belah pipi kauwcoe mereka, Wie It Siauw dan Swee Poet Tek melirik Yo Siauw sambil bersenyum. Di dalam hati, mereka menduga bahwa tak lama lagi Ko Cosoe bakal menjadi mertua Thio Kauwcoe.

Sesudah berada dikaki gunung, Yo Siauw berkata. “Kauwcoe, menurut pendapatku, Tio Kauwnio yang mempunyai banyak pengiring tidak akan berjalan sendiri. Maka itu usaha mencari dia tidaklah terlalu sukar. Sebaiknya kita sekarang mengejar dengan berpencaran, ke arah timur, selatan, barat dan utara dan besok tengah hari, kita berkumpul di Kok shia. Bagaimana pikiran kauwcoe?”

“Aku setuju,” jawabnya. “Aku akan mengambil jalan ke barat.” Kok shia terletak di sebelah timur Boe tong san dan dengan mengejar ke jurusan barat, ia harus menempuh jarak lebih jauh daripada kawan-kawannya. “Hian beng Jie lo memiliki kepandaian yang tinggi,” katanya pula. “Apabila Sam wie bertemu dengan mereka, menyingkirlah jika masih bisa menyingkir. Tak usah Sam wie bertempur dengan mereka.” Ketiga jago itu mengiakan dan segera mengejar ke timur, selatan dan utara.

Jalanan ke barat adalah jalanan gunung, tapi dengan menggunakan ilmu ringan badan, Boe Kie tidak menemui kesukaran apapun jua. Dalam waktu satu jam lebih, ia sudah tiba di Sip yan tin. Sesudah makan semangkok mie di sebuah warung makan, ia menanya seorang pelayan, apakah dia pernah melihat sebuah joli dengan tirai sutera kuning.

“Lihat!” jawabnya. “Di samping joli ada tiga orang sakit yang digotong dalam tandu. Mereka lewat di sini kira-kira satu jam yang lalu menuju ke arah Oey liong tin!”

Boe Kie girang karena rombongan itu pasti tidak bisa berjalan cepat. Ia segera mengambil keputusan untuk menyelidiki di waktu malam. Ia segera pergi ke tempat sepi dan tidur di sebuah batu besar. Kira-kira tengah malam, barulah ia menuju ke Oey liong tin.

Dengan melompati tembok ia masuk ke dalam kota. Jalanan sepi, tapi penerangan di sebuah penginapan yang besar kelihatan terang sekali. Ia melompat naik ke genteng dan dengan beberapa lompatan ia sudah berada di atas genteng sebuah rumah kecil yang berdampingan dengan rumah penginapan itu. Dengan matanya yang sangat jeli ia memandang ke sekitarnya.

Tiba-tiba ia melihat sebuah tenda di atas lapangan, di pinggir sungai di bagian luar kota. Di seputar tenda itu berkelebat-kelebat bayangan-bayangan manusia suatu tanda bahwa tenda tersebut dijaga keras. “Apa Tio Kouw nio berada di tenda itu?” tanyanya di dalam hati. Muka dan bicaranya nona itu tidak berbeda dengan orang Han, tapi tempat tinggalnya dan makanannya mempunyai selera orang Mongol.”

Tapi baru saja ia mau menghampiri tenda itu, dari jendela sebuah rumah penginapan tiba-tiba terdengar suara merintih. Boe Kie kaget. Ia melompat turun, mendekati jendela itu dan melongok ke dalam.

Dalam kamar itu terdapat tiga ranjang dan di atas setiap ranjang berbaring satu orang. Yang kedua tidak kelihatan mukanya, tapi yang menghadap ke jendela bukan lain daripada Pat pie Sin mo Oe boen Cek. Ia merintih dengan perlahan, rintihan dari seorang yang menahan kesakitan hebat. Sedang kedua lengan dan kedua betisnya dibalut kain putih.

Mendadak Boe Kie ingat sesuatu. “Tulang kaki tangannya telah dihancurkan olehku dan sekarang sedang diobati dengan Hek giok Toansiok ko,” pikirnya. “Kalau tidak merebut sekarang, mau tunggu kapan lagi?”

Memikir begitu ia segera mendorong jendela dan melompat masuk. Seorang yang berada di dalam kamar itu berteriak dan meninju. Dengan tangan kirinya Boe Kie menangkap tinju yang menyambar, sedang tangan kanannya menotok ke jalan darah itu. Ia sekarang suatu mendapat kenyataan bahwa dua orang yang lain adalah si kakek botak A jie dan Giok bin Sin kiam Poei Tong pek. Orang yang ditotok olehnya mengenakan jubah panjang warna hijau dan tangannya memegang dua batang jarum emas. Tak bisa salah lagi dia seorang tabib yang sedang mengobati ketiga jago itu dengan penjaruman. Di atas meja terdapat sebuah botol yang berwarna hitam dan pinggir botol menggeletak beberapa gulung daun hio.

Boe Kie menjemput botol itu, membuka tutupnya dan mencium-cium. Ia mengendus bebauan yang pedas dan tajam.

Tiba-tiba Oe boen Cek berteriak, “Tolong!… ada orang merampas obat!…

Bagaikan kilat Boe Kie menotok A-hiat (hiat yang membuat orang jadi gagu) ketiga jago itu dan kemudian membuka balutan lengan Oe boen Cek. Ternyata lengan itu dilabur dengan lapisan koyo yang berwarna hitam. Karena mengenal kelicikan Tio Beng, sehingga nona itu mungkin menaruh obat palsu di dalam botol untuk menjebaknya, maka Boe Kie segera mengeruk koyo yang melekat di luka-luka Oe boen Cek dan si kakek botak. Ia menganggap bahwa andaikata di dalam botol itu berisi obat palsu, obat yang dilabur kedua jago itu tak mungkin palsu.

Sementara itu karena mendengar teriakan Oe boen Cek, orang-orang yang menjaga di luar sudah mulai menyerang. Pintu ditendang dan beberapa orang menerjang masuk. Tanpa menengoki Boe Kie menendang setiap musuh yang mendekatinya. Dalam sekejap ia sudah merobohkan enam orang. Sesaat kemudian ia sudah mengeruk habis koyo yang melekat di luka-luka Oe boen Cek dan A jie dan kemudian membungkusnya dengan kain pembalut.

Ia tidak berani berdiam lebih lama lagi, karena jika Hian beng Jie lo keburu datang, ia bakal berabe sekali. Dengan cepat ia masukkan botol hitam dan bungkusan koyo ke dalam sakunya dan kemudian melontarkan tubuh si tabib keluar jendela. “Plak!” tabib itu terpukul jatuh. Benar saja di luar bersembunyi musuh. Dengan menggunakan kesempatan itu, Boe Kie melompat keluar. Dua sinar golok menyambar. Dengan menggunakan Kian koen Thay lo ie Sin kang, Boe Kie menyeret dengan tangan kanannya dan menarik dengan tangan kirinya, sehingga musuh yang di sebelah kiri membabat yang di sebelah kanan. Sementara itu, ia sendiri kabur secepat-cepatnya.

Ia berlari-lari dengan hati bungah. Biarpun ia tidak dapat menyelidiki asal usul Tio Beng tapi didapatkannya Hek giok Toan Siok ko secara begitu mudah sudah merupakan hasil yang gilang gemilang. Ia tidak mau membuang2 waktu pergi ke Kok shia guna menemui Yo Siauw dan yang lain-lain, tapi terus menuju ke Boe tong san. Setibanya di kuil, ia segera memerintahkan salah seorang anggota Ang sei kie pergi ke Kok shia untuk memberitahukan hal itu kepada Yo Siauw dan kawan2nya.

Mendengar Hek giok Toan siok ko telah dapat dirampas, Thio Sam Hong dan yang lain-lain tentu saja merasa sangat girang. Sesudah menuturkan cara bagaimana ia merebut koyo itu, Boe Kie segera membandingkan koyo kerokan dengan obat yang terisi di dalam botol hitam itu. Ternyata kedua-duanya tidak berbeda, di samping itu ia pun mendapat kenyataan bahwa botol obat dibuat daripada sepotong batu giok hitam yang jika dipegang mengeluarkan rasa hangat, sehingga botol itu saja mempunyai harga yang tidak bisa ditaksir berapa besarnya.

Sekarang ia tidak bersangsi lagi. Ia segera memerintahkan orang menggotong In Lie Heng ke kamar Jie Thay hiam dan merendengkan kedua mereka. Poet Hwie yang ikut masuk tidak berani kebentrok mata dari Boe Kie, tapi paras mukanya yang berseri-seri membuktikan bahwa ia merasa sangat berterima kasih. Dahulu waktu mengantar dia ke See hek Boe Kie telah membuat pengorbanan besar, antaranya di Koen loen san mewakili dia minum arak beracun. Tapi bagi si nona, semua budi itu kalah besarnya seperti budi yang sekarang.

“Sam soepeh,” kata Boe Kie, “lukamu yang dahulu sudah rapat dan sembuh. Kalau sekarang mau diobati tit-jie harus mematahkan lagi tulang-tulang dan kemudian menyambungnya pula. Tit-jie harap Sam soepeh suka menahan sakit untuk sementara waktu.”

Di dalam hati Jie Thay Giam tidak percaya bahwa kelumpuhannya yang sudah berjalan kurang lebih duapuluh tahun masih dapat diobati. Tapi ia tak mau menolak, sebab ia merasa paling jeleknya obat itu tidak berhasil dan ia bercacat terus. Di samping itu iapun sungkan mengecewakan keponakannya yang sangat berbudi. “Boe Kie berusaha untuk menebus dosa kedua orang tuanya dan jika aku menolak, ia tentu tak enak hati,” pikirnya. “Perduli apa sedikit rasa sakit.” Ia seorang lelaki keras kepala yang tak suka banyak bicara. Ia hanya tersenyum dan berkata. “Boe Kie, kau boleh berbuat sesukamu.”

Sesudah meminta Poet Hwie keluar Boe Kie buka pakaian pamannya itu dan sehabis menotok jalan darah Hoen soei hiat (jalan darah yang mengakibatkan pulas) ia segera mematahkan tulang-tulang di bagian yang dulu patah. Ia menyambung lagi tulang itu melabur koyo dan dibalut dengan jepitan papan tipis. Mengobati In Lie Heng banyak lebih mudah karena waktu bertemu dengan sang paman di See hek ia sudah menyambung tulang yang patah secara sempurna sehingga sekarang tidak perlu dipatahkan lagi. Ia hanya perlu melabur koyo dan membalutnya.

Sesudah selesai barulah merasai letihnya. Ia segera memerintahkan kelima orang kie soe Ngo heng kie untuk menjaga kedua pamannya secara bergilir lalu sehabis makan tengah hari, ia mengaso dalam kamarnya. Karena kantuk dan lelah tak lama kemudian ia tertidur.

Tiba-tiba lapat-lapat terdengar suara tindakan kaki dan seseorang berhenti di depan kamarnya. “Ada apa? Kauw coe sedang tidur?” bisik Siauw Ciauw yang menjaga di luar pintu. Jawab Goan Hoan, Ciang kie soe Houw touw kie dengan suara perlahan, “In Lie hiap menderita kesakitan hebat dan sudah tiga kali pingsan.”

Sebelum Gan Hoan bicara habis, Boe Kie sudah melompat keluar dan berlari pergi ke kamar Jie Thay Giam. In Lie Heng sedang pingsan. Kedua matanya mendelik dan Poet Hwie menangis sambil mendekap muka dengan kedua tangannya. Di ranjang lain, sambil menggertak gigi Jie Thay Giam menggelisah.

Tak kepalang kagetnya Boe Kie. Ia segera menotok beberapa hiat dan mengurut tubuh In Lie Heng untuk menyadarkannya. Sambil menengok kepada Jie Thay Giam ia bertanya, “Samsoepeh, apa kesakitan terasa di bagian tubuh yang patah?”

“Benar, tapi itu masih tak apa,” jawabnya. “Yang lebih hebat lagi, rasa sakit di dalam perut… seperti… seperti digigit berlaksa kutu.”

Boe Kie mencelos hatinya. “Kalau benar keterangan itu, sang paman sudah pasti kena racun hebat. “Liok siok, apa yang dirasai Liok siok?” tanyanya kepada In Lie Heng yang sudah tersadar.

“Yang merah, yang ungu, yang hijau, kuning putih, biru… indah sungguh!” banyak sekali bola-bola kecil menari-nari… sungguh indah… lihatlah… lihatlah!… kau lihatlah.”

“Ah!” teriak Boe Kie. Ia merasa seakan2 disambar halilintar, sehingga hampir-hampir ia jatuh pingsan. Mengapa? Karena ia ingat keterangan dalam Tok keng (kitab tentang racun) dari Ong Lan Kauw, yang antara lain berbunyi seperti berikut.

Cit ciong Cit hoa ko dibuat daripada tujuh macam serangga dan tujuh macam bunga beracun. Orang yang kena racun itu lebih dahulu merasakan sakit di dalam perut, seperti digigit serangga. Kemudian, ia seperti melihat macam2 warna yang indah, seperti 7 macam bunga yang berterbangan kian kemari. Dari sekian banyak serangga dan bunga beracun, orang dapat memilih tujuh macam serangga dan tujuh macam bunga2 beracun untuk membuat Cit ciong Cit hoa ko. Yang paling hebat ialah empatpuluh sembilan macam campuran itu dengan perubahan2nya yang tak kurang dari enampuluh tiga macam. Racun koyo itu hanya dapat dipunahkan dengan menggunakan racun juga.

Keringat dingin membasahi baju Boe Kie. Ia tahu, bahwa ia sudah kena dijebak Tio Beng dan bahwa koyo di dalam botol itu bukan lain daripada Ciat ciong Ciat hoa ko. Mengingat kekejaman Tio Beng, ia bergidik. Dalam memasang jebakan, perempuan itu tidak merasa segan untuk melebur racun di tubuh kedua orang sebawahannya, untuk mengorbankan jiwa jago-jagonya yang berkepandaian tinggi.

Dengan cepat Boe Kie membuka kain pembalut dan dengan arak mencuci koyo racun yang melekat di kaki dan tangan kedua pamannya. Melihat paras muka pemuda itu, Poet Hwie tahu, bahwa sesuatu yang hebat telah terjadi. Tanpa malu-malu lagi, ia segera bantu mencuci kaki dan tangan In Lie Heng. Sesudah koyo bersih, ternyata warna hitam sudah masuk ke dalam daging dan tidak dapat dihilangkan lagi.

Boe Kie tidak berani sembarangan menggunakan obat. Ia hanya memberikan obat untuk menahan sakit dan menentramkan semangat kepada kedua pamannya. Sesudah itu, dengan tindakan limbung ia bertindak keluar dari kamar Jie Thay Giam. Rasa kaget, kuatir dan malu memenuhi dadanya. Tiba-tiba kedua lututnya lemas dan ia roboh sambil menangis.

Poet Hwie memburu. “Boe Kie koko! Boe Kie koko!” teriaknya dengan air mata bercucuran.

Aku sudah membunuh Sampeh dan Liok siok!…” katanya dengan suara putus harapan. Pada detik itu, ia sama sekali tidak melihat jalan untuk menolong jiwa kedua pamannya. Cit ciong Cit hoa ko dapat dibuat menurut ratusan cara. Siapapun jua tak akan tahu serangga macam apa dan bunga apa yang digunakan dalam membuat koyo itu. Untuk memunahkan racun itu, orang harus menggunakan “racun melawan racun”. Dengan demikian, sebelum orang tahu racun apa yang terdapat dalam koyo itu, ia tidak berdaya, sebab kalau salah menggunakan racun, maka si penderita pasti akan hilang jiwanya.

Dalam kedukaannya dan rasa menyesalnya yang sangat besar, tiba-tiba Boe Kie mengerti, mengapa dahulu ayahnya telah membunuh diri. Ia sekarang sudah berbuat kesalahan besar yang tidak bisa diperbaiki lagi. Seperti mendiang ayahnya, baginya pun hanya terdapat satu jalan. Jalan membunuh diri untuk menebus dosa. Perlahan-lahan ia bangun berdiri.

“Boe Kie koko, apa benar tak ada obat lagi?” tanya Poet Hwie dengan mata membelalak. “Boe Kie koko, mengapa kau tidak mau mencoba?”
Boe Kie menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh, begitu?” kata si nona. Di luar dugaan dalam mengeluarkan perkataan itu, suara dan sikap Poet Hwie kelihatan tenang.

Mendadak jantung Boe Kie memukul keras. Ia ingat apa yang pernah dikatakan oleh si nona. Pada waktu membuka rahasia hatinya, antara lain Poet Hwie mengatakan, “… kalau lukanya tak sembuh akupun tak bisa hidup lebih lama di dalam dunia.” Ia sekarang tahu, bahwa ia bukan membunuh dua, tetapi tiga orang.

Dengan mata berkunang-kunang, ia berdiri bagaikan patung. Tiba2 Gouw Kin Co masuk dan berkata, “Kauw coe, Tio Kouw nio berada di luar kuil dan minta bertemu dengan kau.”

“Aku justru mau cari dia!” teriak Boe Kie. Ia mencabut pedang yang tergantung di pinggang Poet Hwie dan lalu menuju keluar pintu dengan tindakan lebar.

Siauw Ciauw mencabut kembang mutiara yang tertancap di kundainya dan sambil mengangsurkan perhiasan itu kepada Boe Kie, ia berkata, “Kong coe, pulangkan ini kepadanya.”

Boe Kie mengawasi dan di dalam hati ia memuji sikap si nona. Tanpa mengatakan suatu apa, ia mengambil kembang itu.

Setibanya di luar, ia lihat Tio Beng berdiri sendirian dengan bibir tersungging senyuman, dengan disoroti sinar matahari sore, nona itu kelihatan lebih cantik lagi. Di belakangnya, dalam jarak belasan tombak, berdiri Hian beng Jie lo yang memegang tali les dari tiga ekor kuda.

Boe Kie melompat. Dengan sekali berkelebat tangan kirinya sudah mencekal kedua pergelangan tangan si nona, sedang pedangnya yang dipegang dengan tangan kanan, menuding dada musuh. “Keluarkan obat pemunah!” bentaknya.

Kata Tio Beng sambil tersenyum, “Kau pernah memaksaku, apa kini kau ingin memaksa lagi? Aku datang untuk menengok kau. Mengapa kau bersikap begitu garang terhadap seorang tamu?”

“Berikan obat pemunah kepadaku!” kata Boe Kie. “Jika tidak, aku tidak ingin hidup lebih lama lagi dan kaupun tak usah hidup lebih lama lagi”.

Muka si nona bersemu dadu, “Fui!” katanya. “Kau mau mati, boleh mati. Kau sangkut paut apa denganku? Siapa mau mati bersama-sama kau?”

“Aku bukan berguyon,” kata Boe Kie dengan mata melotot. “Apabila kau tidak menyerahkan obat pemunah, hari ini adalah hari matinya kau dan aku”.
Dari kedua pergelangan tangannya yang dicengkeramkan Boe Kie, nona Tio dapat merasakan bergemetarnya tubuh pemuda itu. Iapun merasai sebuah benda keras di telapak tangan Boe Kie. “Pegang apa kau?” tanyanya.

“Kembangmu”, jawabnya. “Nih, aku pulangkan!” Dengan sekali menggerakkan tangan kembang itu sudah menancap di kundai si nona dan kemudian, secepat kilat, tangan kirinya itu sudah mencengkeram pula pergelangan tangan Tio Beng.

“Mengapa kau pulangkan?” tanya nona Tio.

“Kau mempermainkan aku hebat sekali,” jawabnya. “Ku tak sudi memegang segala milik kau”.

“Apa benar?” menegas Tio Beng sambil tersenyum. “Tapi mengapa kau meminta obat dari aku?”

Ditanya begitu, Boe Kie jadi tertegun. Dalam mengadu lidah, ia selalu kalah. Mengingat bahwa Jie Thay Giam dan In Lie Heng akan segera meninggal dunia, bukan main rasa dukanya. Kedua matanya merah, hampir2 ia mengucurkan air mata. Andaikata ia bisa mendapatkan obat itu, ia rela untuk berlutut. Tapi ia yakin, bahwa terhadap wanita yang kejam itu, takkan guna ia memohon-mohon.

Sementara itu, In Thian Ceng dan yang lain-lain sudah datang ke situ. Melihat tangan nona Tio dicekal Boe Kie dan Hian beng Jie lo berdiri di tempat jauh dengan sikap acuh tak acuh, merekapun segera berdiri di belakang Boe Kie dan menunggu perkembangan selanjutnya dengan hati berdebar debar.

Sesudah berdiam sejenak, nona Tio berkata pula, “Kau seorang kauwcoe dari Beng kauw dan ilmu silatmu yang sangat tinggi menggetarkan dunia. Tapi mengapa baru saja menghadapi sebuah cengkeraman kecil, kau sudah bersikap kanak-kanak? Kau berteriak2 dan menangis2. Sungguh memalukan! Aku sekarang mau bicara sejujurnya. Sebab kau kena pukulan Hian beng Sin ciang, aku sengaja datang untuk menengok keadaanmu. Di luar dugaan, begitu bertemu dengan aku, kau berteriak-teriak. Lepaskan tanganku! Mau lepas atau tidak?”

Ditegur begitu, Boe Kie merasa sedikit jengah. Ia segera melepaskan cekalannya, sebab ia merasa bahwa biar bagaimanapun jua, nona itu tak akan bisa melarikan diri.

Sambil mengusap2 kundainya yang tertancap kembang mutiara, Tio Beng tertawa. “Tapi kau rupanya tidak terluka,” katanya.

Boe Kie mengeluarkan suara di hidung. “Hm! Segala Hian beng Sin ciang belum tentu dapat melukai orang,” katanya.

“Tapi bagaimana dengan Tay lek Kim kong cie? Dengan Cit ciong hoa ko?” tanya Tio Beng dengan nada mengejek.
“Benar2 Cit ciong Cit hoa ko!” kata Boe Kie dengan penuh kebencian.

Tiba-tiba nona Tio mengubah sikapnya. Sekarang ia berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Thio Kauwcoe, aku bersedia untuk menyerahkan Hek giok Toan sik ko kepadamu dan akupun bersedia untuk memberi obat pemunah Cit ciong Cit hoa ko kepadamu. Aku bersedia, asal saja kau suka meluluskan tiga permintaanku. Jika kau menggunakan kekerasan, kau dapat membunuh aku, tapi kau jangan harap bisa mendapat obat. Kalau kau coba memaksa aku dengan disiksa, aku bisa memberi obat palsu atau racun yang hebat.”

Boe Kie girang, “Permintaan apa? Lekas bilang!” katanya cepat.

Sambil bersenyum, si nona menjawab. “Bukankah aku pernah mengatakan, bahwa begitu lekas aku dapat memikir tiga permintaan itu aku akan segera memberitahukan kepadamu? Kau hanya perlu mengatakan dan berjanji untuk tidak melanggar janji. Aku mesti tak akan minta kau menangkap rembulan di langit, tak akan minta kau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Rimba Persilatan dan juga takkan minta kau membunuh diri sendiri.”

Mendengar bahwa ia tak akan diminta untuk “melakukan sesuatu yang bertentangan dengan peraturan Rimba Persilatan” Boe Kie merasa lega. Ia lantas saja berkata dengan suara lantang, “Tio Kouwnio, asal saja kau benar-benar memberikan obat yang bisa menyembuhkan kedua pamanku, biarpun mesti masuk ke lautan api, aku tak akan menampik segala perintahmu.”

Tio Beng tersenyum sambil mengangsurkan tangan ia berkata, “Baiklah! Marilah kita menepuk tangan sebagai sumpah. Aku akan segera memberikan obat yang diminta olehmu. Di belakang hari, sesudah Samsoepeh dan Lioksoesiokmu sudah sembuh, kau akan melakukan tiga permintaanku. Asal saja ketiga permintaanku itu tidak bertentangan dengan peraturan dalam Rimba Persilatan. Kau setuju?”

“Ya.” Kata Boe Kie seraya mengulurkan tangannya dan menepuk tiga kali tangan si nona.

Sesudah itu, Tio Beng mencabut kembang mutiara yang tertancap di kundainya. “Sekarang kau harus menerima lagi hadiah ini!” katanya.

Sebab kuatir nona Tio marah dan menarik pulang janjinya, Boe Kie segera menyambuti perhiasan itu.

“Tapi kau tidak boleh memberikan lagi kembangku ini kepada budak yang cantik itu, kata Tio Beng.

“Baiklah!” jawabnya.

Nona Tio tertawa dan mundur tiga tindak. “Obat akan segera diantarkan kepadamu,” katanya. “Thio Kauwcoe, sampai bertemu lagi!” Ia mengibaskan tangan baju, memutar tubuhnya yang langsing dan lantas berjalan pergi. Dengan sikap menghormat Hian beng Jie lo menyerahkan tunggangannya. Tio Beng melompat naik ke atas punggung tunggangannya dan tanpa menengok lagi, ia turun gunung.

Sesudah si nona dan dua pengiringnya membelok di satu tikungan, dari atas sebuah pohon tiba-tiba melompat turun seorang pria. Boe Kie mengenali, bahwa dia itu bukan lain daripada Cian Jie Pay, salah seorang dari Sin cian Pat hiong. “Majikanku mengirim sepucuk surat kepada Thio Kauwcoe!” teriaknya sambil melepaskan anak panah.

Boe Kie menyambutnya dengan tangan kiri. Di ujung anak panah itu – yang mata panahnya sudah dicopotkan, terikat sepucuk surat yang dialamatkannya kepada “Thio Kauwcoe pribadi”.

Boe Kie segera merobek sampul dan surat itu berbunyi seperti berikut:

“Di lapisan kotak emas,
Koyo mustajab sudah tersimpan lama
Di lubang kembang mutiara
Terdapat surat obat
Kedua barang itu sudah lama berada dalam tangan Tuan
Tapi mengapa Tuan begitu bersusah hati?
Karena Tuan tak sudi melihatnya
Dan menyerahkannya kepada seorang budak.”

Membaca itu, Boe Kie kaget, girang dan malu. Tanpa menyia-nyiakan waktu, ia memperhatikan kembang mutiara itu dan coba memutar-mutar setiap mutiara yang tertera di atasnya. Benar juga salah sebuah dapat diputar, karena bagian bawahnya diperlengkapi dengan ulir (alur-alur berputar seperti pada sekrup). Boe Kie segera mencopotnya dan ia mendapat kenyataan, bahwa pada batang kembang yang terbuat daripada emas terdapat sebuah lubang. Di dalam lubang itu terisi benda yang berwarna putih. Dengan jarum emas, ia mengorek keluar benda itu selembar kertas amat tipis dengan tulisan yang memberitahukan nama nama serangga dan kembang beracun yang digunakan dalam Cit ciong Cit hoa ko. Di samping itu juga terdapat petunjuk cara bagaimana ia harus menolong orang yang kena racun koyo itu.

Petunjuk yang terakhir sebenarnya tak perlu diberikan. Begitu lekas mengetahui nama-nama serangga dan kembang yang digunakan, Boe Kie sendiri bisa mengobati. Sesudah melihat, bahwa petunjuk itu tidak menyimpang dari keharusan, ia jadi girang sekali. Ia sekarang tahu bahwa Tio Beng tidak main gila. Buru-buru ia masuk ke dalam dan dengan dibantu oleh beberapa orang, ia segera membuat obat dan memakaikannya di kaki dan tangan kedua pamannya. Benar saja, dalam waktu kurang lebih satu jam, akibat mengamuknya racun sudah banyak mereda. Rasa sakit di perut dan warna-warna yang dilihat oleh Jie Thay Giam dan In Lie Heng mulai menghilang.

Sesudah itu Boe Kie mengambil kotak emas tempat penyimpanan kembang mutiara yang diberikan kepadanya oleh Tio Beng.

Sesudah meneliti beberapa lama, ia berhasil mendapatkan lapisan rahasia dalam kotak itu dan pada lapisan itu terdapat koyo yang berwarna hitam. Berbeda dengan koyo racun, koyo sangat harum baunya. Tapi Boe Kie tak berani berlaku sembrono lagi. Ia menangkap seekor anjing, mematahkan satu kakinya dan kemudian mengobatinya dengan koyo itu. Pada keesokan harinya tulang yang patah sudah mulai menyambung.

Berselang tiga hari, racun yang mengeram dalam tubuh Jie Thay Giam dan In Lie Heng sudah terusir semua dan Boe Kie mulai mengobati dengan Hek giok Toan siok bo. Kali ini tidak terjadi sesuatu yang diluar dugaan. Koyo ini ternyata sangat mujarab. Kira-kira dua bulan kedua tangan In Lie Heng sudah bisa bergerak. Tapi Jie Thay Giam yang sudah lumpuh selama sepuluh tahun tidak bisa sembuh seperti sedia kala. Ia hanya bisa jalan perlahan-lahan dengan bantuan tongkat. Biar bagaimanapun jua, hal itu sudah merupakah perbaikan yang tidak diduga-duga.

Karena harus mengobati kedua pamannya, Boe Kie terpaksa berdiam lama di Boe tong san. Sementara itu para Ciang kie Hoe oe dari Ngo heng kie sudah kembali dengan beruntun dan mereka membawa warta yang mengejutkan. Menurut mereka, rombongan2 Go bie, Hwa san, Khong tong dan Koen loen yang menyerang Beng kauw di See hek, belum pulang ke masing-masing tempatnya. Kalangan Kang ouw gempar. Orang-orang Rimba Persilatan percaya, bahwa sesudah membasmi rombongan keenam partai, Beng kauw akan segera menyatroni dan merampas berbagai partai persilatan. Menghilangnya pendeta2 kuil Siauw lim sie telah menerbitkan gelombang yang belum pernah dialami dalam Rimba Persilatan.

Masih untung para wakil pemimpin Ngo heng kie membawa surat Thio Sam Hong dan merekapun tak memperkenalkan diri sebagai anggota Beng kauw. Kalau bukan begitu mereka mungkin tak pulang. Mereka selanjutnya menerangkan, bahwa pada waktu ini, berbagai partai, berbagai piauw hang dan kelompok kelompok perampok, baik yang di gunung maupun di air, semua siap sedia dan sangat waspada sebab mereka kuatir Beng kauw akan menyerang dengan tiba-tiba.

Beberapa hari kemudian, In Thian Ceng dan In Yo Ong yang pulang ke markas besar Peh bie kie sesudah Jie Thay Giam dan In Lie Heng mendapat obat juga sudah kembali di Boe tong san. Mereka melaporkan bahwa dalam Peh bie kie sudah dibuat perubahan-perubahan dan seluruh pasukan sekarang berada di bawah Beng kauw. Di samping itu merekapun memberitahukan bahwa jago-jago Rimba Persilatan di daerah tenggara sudah mulai bergerak dan membentuk pasukan-pasukan rakyat untuk menggulingkan pemerintah penjajah.

Pada waktu itu tentara Goan masih sangat kuat dan dengan cepat mereka menumpas pasukan-pasukan rakyat. Di samping kekuatan pemerintah Goan, perlawanan rakyat itupun mempunyai kelemahan, ialah mereka bergerak dengan sendiri-sendiri, satu sama lain tidak mengadakan hubungan atau perserikatan, sehingga dengan mudah mereka dapat dibasmi.

Malam itu di ruangan belakang Thio Sam Hong mengadakan perjamuan cia cay untuk In Thian Ceng dan puteranya. Selagi makan minum In Thian Ceng menceritakan sebab musabab dari kekalahan pemberontakan rakyat. Dalam setiap pergerakan anggota-anggota Beng kauw dan Peh bie kie (dahulu Peh bie kie kauw) selalu mengambil bagian dan banyak di antaranya telah ditangkap atau dibinasakan oleh tentara Goan.

“Menurut pandangan hati rakyat sekarang sudah berubah dan waktu ini adalah waktunya mengusir Tat-coe dan merampas pulang tanah air kita,” kata Yo Siauw. Selama hidup mendiang Yo Kauwcoe itu selalu memikiri persoalan ini, hanya sayang karena bermusuhan dengan berbagai partai persilatan, maka selama kurang lebih seratus tahun agama kita tidak bisa bergandengan tangan dengan orang-orang gagah di seluruh negeri untuk mengusir kaum penjajah. Atas berkah Tuhan sekarang, Thio Kauwcoe memegang tampuk pimpinan. Permusuhan kita dengan berbagai partai sudah mulai berkurang. Kini tibalah waktunya untuk kita bersatu padu dalam melawan musuh.”

“Yo Co soe,” kata Cioe Tian. “Apa yang dikatakan olehmu kedengarannya sangat tepat, tapi itu semua hanya omong kosong.”

Yo Siauw tak jadi gusar. “Bagaimana pendapat Cioe heng?”

“Orang-orang Kang ouw semua mengatakan bahwa Beng kauw telah membunuh jago-jago dari enam partai..”, jawabnya. “Begitu mendengar nama Beng kauw, begitu mereka naik darah. Mana bisa bersatu padu dalam melawan musuh? Kata-katamu enak sekali kedengarannya. Tapi bagaimana melakukannya?”

“Memang pada waktu ini kita memang masih mendapat nama jelek,” kata Yo Siauw. “Bagi aku percaya, pada akhirnya segala apa akan jadi terang. Apabila dalam hal ini seorang yang berkedudukan begitu tinggi seperti Thio Cinjin bisa menjadi saksi.”

Cioe Tian tertawa nyaring, “Andai kata kita benar sudah membunuh Song Wan Kiauw Biat coat, Ho Thay Ciong dan yang lain-lain, Thio Cin-jin yang berada di gunung ini sudah pasti takkan mengetahuinya,” kata si sembrono. “Maka itu kesaksian Thio Cinjin tak bisa diterima sebagai bukti yang kuat.”

“Cioe Tian!” bentak Tiat koan Too jin, “Di hadapan Thio Cinjin dan Kauwcoe tak dapat kau bicara yang gila-gila.”

Disemprot begitu, Cioe Tian tak berani membuka mulut lagi.

“Apa yang dikatakan Cioe heng bukan tidak beralasan sama sekali” sela Pheng Eng Giok. “Menurut pikiran pin ceng sebaiknya kita segera mengadakan sebuah perhimpunan antara pemimpin Beng kauw. Dalam perhimpunan kita mengumumkan keinginan Thio Kauwcoe untuk memperbaiki hubungan dengan berbagai partai. Di samping itu, dalam pertemuan tersebut, kitapun dapat menyelidiki dimana adanya rombongan Song Thay-hiap, Biat coat Soethay dan lain-lain.”

“Menyelidiki dimana adanya Song Thay hiap bukan pekerjaan sukar,” kata Cioe Tian. “Bahkan mudah sekali, kita tidak usah mengeluarkan tenaga.”

Beberapa orang lantas saja menanya dengan bernafsu.

“Bagaimana?”
“Lekas katakan!”
“Mengapa kau tak siang-siang memberitahukan kami?”

Dengan paras muka berseri-seri si sembrono menceguk cawannya dan kemudian berkata dengan suara nyaring, “Anak kunci berada dalam tangan Thio Kauwcoe sendiri. Asal Thio Kauwcoe mau membuka mulut, menanyakan Tio Kouwnio, segala apa akan menjadi terang. Aku merasa pasti, bahwa tidak dibunuh mereka pasti ditawan oleh nona tersebut.”

Selama dua bulan lebih, Wie It Siauw, Peng Eng Giok dan Swee Poet Tek pernah turun gunung untuk menyelidiki jejak Tio Beng yang sesudah membuat perjanjian dengan Boe Kie sesudah menghilang tanpa bekas. Bukan saja nona itu, tapi orang2nya pun yang berjumlah tak sedikit tak ketahuan kemana perginya. Para pemimpin Beng kauw hanya bisa menduga-duga bahwa nona Tio mempunyai hubungan dengan kaisar Goan. Di samping itu tak terdapat lain penerangan.

Maka itulah, mendengar jawaban Cioe Tian, beberapa orang lantas saja mengejek dan mengatakan bahwa pikiran si sembrono hanya omong kosong belaka. Meskipun tahu, bahwa nona Tio merupakan sumber keterangan. Tapi yang menjadi soal, kemana mereka harus mencari nona yang licin itu.

Cioe Tian tertawa, “Orang-orang seperti kalian tentu saja takkan bisa mencari nona itu,” katanya. “Tapi Kauwcoe kita tak usah mencarinya. Kauwcoe kita masih hutang tiga pekerjaan yang belum dikerjakan. Apa kalian kira nona yang lihay akan membebaskan hutang dengan begitu saja? Huh huh!… Dia sangat cantik dan ayu. Tapi aku setiap kali kuingat namanya, badanku sudah bergemataran.”

Semua orang tertawa, tapi mereka mengakui bahwa pendapat kawan itu memang sebuah kenyataan.

Boe Kie menghela napas, “Aku mengharap supaya lekas-lekas menyebutkan tiga permintaannya, supaya aku segera bisa membereskan hutang,” katanya. “Siang malam aku selalu memikiri, permintaan apa yang akan diajukan olehnya. Pheng Thaysoe, tadi kau mengusulkan supaya agama kita mengadakan sebuah perhimpunan besar antara para pemimpin. Bagaimana pendapat kalian?”

“Aku setuju,” kata Yo Siauw. “Tapi dimana kita harus mengadakan perhimpunan tersebut?”

Sesudah memikir beberapa saat, Boe Kie berkata, “Dalam menduduki kursi sebagai wakil Kauwcoe, aku sering sekali ingat dua orang yang telah melepas budi besar terhadapku. Yang satu Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe Sianseng. Sungguh menyesal, orang tua itu telah binasa di tangan Kim hoa popo. Yang satu lagi, Siang Gie Cien Toko yang sekarang tak diketahui dimana adanya. Sebagai peringatan untuk kedua tuan penolong itu, kalau bisa, ku ingin perhimpunan kita diadakan di Ouw tiap kok di Hwaipak.”

“Bagus2!” teriak Cioe Tian sambil menepuk2 tangan. “Dahulu Kian sie Pout kioe setiap hari bertengkar dengan aku. Sebagai manusia dia boleh juga. Melihat kebinasaan dia tak sudi menolong dan akhirnya dia sendiri binasa tanpa ditolong orang. Tapi biar bagaimanapun jua, Cioe Tian mau memberi hormat dengan berlutut di depan kuburannya.

Persetujuan dicapai dengan suara bulat. Kurang lebih tiga bulan lagi, pada Peh Swee Tiong Cioe (tanggal lima belas bulan delapan menurut penanggalan Imlek, yaitu pesta pertengahan musim rontok). Beng Kauw akan mengadakan perhimpunan besar antara para pemimpinnya di seluruh negeri.

Pada keesokan paginya, sejumlah petugas dari Ngo heng-kie dan Peh bie-kie turun gunung untuk menyampaikan perintah Kauwcoe kepada para pemimpin Bengkauw. Segenap para pemimpin Bengkauw, yang berkedudukan hin coe ke atas, harus sudah berada di Ouw tiap kok pada sebelum Pehgwee Cap go guna bertemu dengan Kauwcoe baru dan merundingkan hal-hal penting mengenai agama mereka.

Sebab masih ada waktu tiga bulan dan juga sebab kuatir Jie Thay Giam dan In Lie Heng kumat lagi penyakitnya, maka Boe Kie tidak berani lantas meninggalkan Boe tong san. Sambil merawat kedua pamannya, dalam waktu-waktu luang, ia selalu meminta penjelasan-penjelasan mengenai Thay kek koen dari kakek gurunya. Sementara itu, Wie It Siauw, Pheng Eng Giok, Swee Poet Tek dan yang lain-lain terus berkelana di berbagai tempat untuk menyelidiki tempat sembunyinya Tio Beng.

Atas perintah Kauwcoe, dengan apa boleh buat Yo Siauw berdiam terus di Boe tong san. Mengingat perbuatannya terhadap Kie Siauw Hoe, ia selalu merasa malu terhadap In Lie Heng dan tidak berani sering-sering bertemu muka. Saban hari, ia kebanyakan menutup diri di dalam kamar dan membaca buku. Tanpa urusan yang sangat penting, ia tak pernah keluar dari kamar itu.

Pada suatu lohor Boe Kie datang di kamar Yo Siauw untuk merundingkan soal-soal yang mau dibicarakan dalam perhimpunan besar. Sebagai seorang muda yang mendadak memikul beban sangat berat, ia sering merasa kuatir kalau-kalau ia tidak dapat menunaikan tugasnya itu. Yo Siauw adalah orang satu-satunya yang paham akan seluk beluk Beng kauw. Maka itulah ia meminta Yo Co soe untuk mengawaninya di Boe tong san supaya setiap waktu ia bisa minta pikirannya.
Sesudah bicara beberapa lama, Boe Kie menjemput sejilid buku yang terletak di meja. Di kulit buku tertulis huruf-huruf yang berbunyi “Masuknya Beng kauw ke Tiongkok” dan di sebelah bawah dalam huruf-huruf kecil tertulis “Disusun oleh tee coe Kong beng Co soe Yo Siauw”.

Boe Kie menghela nafas. “Yo Co soe” katanya, “kau seorang boen boe coan cay dan merupakan tiang dari agama kita”.

“Terima kasih atas pujianmu Kauwcoe,” jawabnya sambil membungkuk.

Boe Kie membalik-balik lembaran buku itu yang mencatat sejarah Beng kauw. Menurut catatan itu, Beng kauw masuk ke Tiong Tauw (tanah tengah atau Tiongkok) pada tahun Yancay kesatu dari Boe Cek Thian dari kerajaan Tong yaitu pada waktu seorang Iran menghadap ratu dan menyerahkan Sam cong keng kitab pelajaran Beng kauw. Mulai waktu itu orang Tionghoa mempelajari kitab tersebut. Tahun tay lek ketiga (kerajaan Tong) bulan enam tanggal 29 di Lok yang Tiangan diberdirikan sebuah kuil Beng kauw yang diberi nama Tay in Kong beng sie, belakangan kuil-kuil seperti itu juga diberdirikan di Tay goan, Keng cioe, Yang cioe, Ang cioe, Wat cioe dan lain-lain kota penting. Pada tahun Hwee ciang ketiga Kaisar mengeluarkan perintah untuk membinasakan anggota-anggota Beng kauw semenjak itu pengaruh dan tenaga agama tersebut sangat berkurang. Karena dilarang, Beng kauw menjadi semacam agama rahasia yang selalu diuber-uber dan ditindas oleh pembesar-pembesar negeri. Nama Beng kauw yang aseli adalah Mo ni kauw, belakangan orang menukar perkataan “mo” dari “Moni” menjadi “mo” yang berarti “iblis”, sehingga akhirnya agama itu diejek sebagai “Mo kauw” atau agama iblis.

Membaca sampai disitu, Boe Kie menghela napas panjang. “Yo Co soe,” katanya, “tujuan agama kita ialah menyingkirkan kejahatan dan menjalankan kebaikan. Pada hakekatnya agama yang kita pelajari itu, tidak banyak berbeda dengan Hoed kauw dan Too kauw. Mengapa sedari jaman Tong sampai sekarang agama kita selalu ditindas?”

“Hoed bertujuan untuk menyelamatkan mahluk,” jawabnya. “Tapi pendeta2 Hoed kauw adalah orang-orang beradat yang tak mau campur tangan dalam urusan dunia. Too kauw pun demikian. Di lain pihak, agama kita bergerak di antara rakyat jelata dan mengambil bagian dalam segala suka dan dukanya. Penganut2 agama kita selalu membantu orang-orang yang mendapat kesukaran. Ada kalanya, pembesar yang rakus menindas rakyat. Terhadap pembesar-pembesar semacam itu agama kitapun tak segan-segan untuk memberi perlawanan, sehingga sebagai akibatnya, kita sering mesti kebentrok dengan kalangan pembesar”.

Boe Kie manggut2-kan kepalanya. “Kalau begitu, agama kita baru benar2 bisa menjadi makmur, manakala kaisar dan pembesar-pembesar negeri waktu sekarang ini sudah tidak mau menindas rakyat dan jagoan2 serta hartawan-hartawan berpengaruh menghentikan segala tindakan yang sewenang-wenang,” katanya.

“Kauwcoe benar!” teriak Yo Siauw sambil menepuk meja. “Itulah tujuan agama kita, negeri yang adil dan damai.”
Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Yo Co soe, apa bisa kita mengalami jaman itu?” tanyanya.

“Atas berkah Tuhan, semoga kita akan mengalami jaman yang diidam-idamkan itu,” jawabnya. Sesudah berdiam sejenak, ia berkata pula, “Biarpun ditindas, sampai kini masih berdiri. Pada kerajaan Lam-song (Song Selatan), tahun Siauw hin keempat, seorang pembesar bernama Ong Kie Ceng telah membereskan laporan mengenai urusan agama kita kepada kaisar. Jika mau, Kauwcoe boleh membaca laporan itu.” Seraya berkata begitu, ia membalik lembaran yang mencatat laporan itu mengangsurkan kepada Boe Kie.

Boe Kie segera membaca laporan itu berbunyi sebagai berikut.

“Di Ciat kang dan Kang ouw terdapat kebiasaan cia cay (tidak makan makanan berjiwa) mengabdi kepada iblis. Sebelum jaman Phoei Lap, larangan masih longgar dan jumlah orang yang mengabdi kepada iblis tidak begitu besar. Sesudah jaman Phoei Lap, larangan semakin diperkeras, tapi jumlah iblis jadi makin besar.

Hamba dengar, sepak terjang kawanan iblis adalah sebagai berikut.
Dalam setiap kampungan, satu dua orang yang lebih licik dan cerdik menjadi kepala iblis. Mereka mencatat she dan nama2 penduduk yang kemudian dipersatukan ke dalam persekutuan iblis. Seorang pengikut iblis tidak makan makanan berjiwa. Kalau dia mendapat urusan atau kesukaran, maka kawan-kawan sekutunya akan membantu, baik dengan uang, maupun dengan tenaga atau jiwa.

Pada hakekatnya, tidak makan daging berarti mengirit ongkos dan dengan hidup irit, seseorang gampang merasa puas. Saling bantu membantu antara kawan-kawan berarti saling mencintai dan saling mencintai berarti setiap pekerjaan mudah diselesaikan dengan jalan gotong royong…” (Poei Lap yang disebutkan dalam buku itu adalah salah seorang Kauwcoe Beng Kauw yang memberontak terhadap kerajaan Song di Ciat kang timur. Ia dikalahkan dan belakangan dibinasakan).

Membaca sampai disitu, Boe Kie berkata, “Biarpun Ong kie Ceng memusuhi Beng kauw, tapi ia mengakui bahwa penganut-penganut agama kita hidup irit dan sederhana dan saling menyintai.” Sebab berkata begitu ia membaca pula.

“… sepanjang pengetahuan hamba mendiang kaisar pun selalu menganjurkan rakyat untuk saling mencintai dan bantu membantu. Hidup sederhana dan irit memang merupakan kebiasaan yang baik dari jaman dahulu. Hanya sayang banyak pembesar tidak bisa hidup sederhana sehingga pemimpin-pemimpin iblis bisa mendapat kesempatan untuk menghasut rakyat dan menerima pujian rakyat untuk persekutuan mereka.

Rakyat banyak yang bodoh. Mereka menganggap, bahwa jika mereka menuruti perkataan iblis dan mengabdi kepada iblis, mereka bisa mendapat keputusan dan segala rupa pekerjaan bisa diselesaikan dengan gotong royong. Dengan demikian mereka percaya segala apa yang dikatakan oleh pemimpin2 iblis dan dengan berlomba2 mereka masuk ke dalam persekutuan iblis. Itulah sebabnya, mengapa larangan makin diperkeras, kemajuan mereka makin sukar dibendung.”

Boe Kie menengok kepada Yo Siauw dan berkata sambil tertawa, “Yo Co soe, Ong Kie Ceng seorang jujur. Dia kata larangan makin diperkeras, kemajuan mereka makin sukar dibendung. Inilah pengakuan bahwa agama kita dicintai rakyat. Apa boleh kupinjam buku ini? Adalah kewajibanku untuk mempelajari usaha-usaha dan nasehat-nasehat para pemimpin kita yang sudah almarhum.”

“Tentu saja boleh,” jawabnya. “Aku justru ingin minta petunjuk Kauw coe.”

Sambil memegang buku itu Boe Kie berkata pula. “Jiu samsoepeh dan In Lioksiok sudah boleh dikatakan sembuh. Besok kita berangkat ke Ouw tiap kok. Di samping itu ada suatu hal yang kuinginkan menanyakan pikiran Yo Co soe. Hal ini mengenai adik Poet Hwie.”

Yo Siauw menduga Boe Kie melamar puterinya jadi girang sekali. “Jiwa Poet Hwie telah ditolong Kauwcoe,” katanya. “Kami berdua ayah dan anak ingin sekali membalas budi yang sangat besar itu. Perintah apapun jua yang Kauwcoe mau berikan aku pasti akan menurut dengan girang hati.”

Boe Kie lantas saja menceritakan pengakuan Poet Hwie pada hari itu.

Yo Siauw kaget tak kepalang dan untuk beberapa saat ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata. “Bahwa anakku dicintai In Liok hiap adalah kejadian yang sangat menggirangkan,” kata ia akhirnya. “Tapi usia mereka berbeda terlampau jauh dan angkatan merekapun tidak bersamaan In…” berkata sampai disitu ia tidak dapat meneruskan perkataannya.

“Usia In Liok siok belum cukup empat puluh. Ia sedang gagah2nya. Biarpun benar adik Poet Hwie memanggilnya dengan sebutan Siok-siok (paman, mereka tidak mempunyai hubungan dalam perguruan). Mereka saling mencintai dengan setulus hati. Manakala pernikahan ini bisa terjadi, maka ganjelan yang dahulu lantas bisa disingkirkan. Menurut pendapatku inilah kejadian yang sungguh-sungguh boleh dibuat girang.”

Yo Siauw seorang yang sangat terbuka. Sebab perbuatan terhadap Kie Siauw Hoe, ia selalu merasa malu untuk bertemu muka dengan In Lie Heng. Sekarang mendengar perkataan Boe Kie di dalam hati ia mengakui, bahwa pernikahan itu bukan saja menebus dosa, tapi juga bisa menghilangkan segala ganjelan antara Beng kauw dan Boe tong pay. Memikir begitu ia lantas saja menyoja dan berkata, “Bahwa Kauwcoe sudah sudi campur tangan untuk membereskan soal ini merupakan bukti bahwa Kauwcoe sangat menyayangi kami. Untuk itu semua, terlebih dahulu aku menghaturkan banyak terima kasih.”

Malamnya Boe Kie mengumumkan kabar girang itu. Semua orang turut bersyukur dan mereka menghaturkan selamat kepada In Lie Heng. Poet Hwie sendiri tidak berani menemui orang dan bersembunyi di dalam kamarnya. Thio Sam Hong dan Jie Thay Giam yang merasa kaget dan heran, belakangan turut bergirang. Waktu ditanya tentang tanggal pernikahannya, In Lie Heng menjawab, “Sesudah Toa soeko dan yang lain-lain pulang barulah kita menetapkan tanggal itu.”

Pada keesokan harinya, bersama Yo Siauw dan In thian ceng, In Ya ong, Tiat koan toojin, Cioe Tian, Siauw Ciauw dan yang lain-lain, Boe Kie mohon berpamitan dengan Thio Sam Hong dan kedua pamannya untuk berangkat ke Hwaipak. Poet Hwie tidak mengikut sebab ia masih perlu merawat In Lie Heng.

Dalam perjalanan itu rombongan Boe Kie menyaksikan penderitaan rakyat yang sangat hebat. Daerah sepanjang pantai biasanya daerah yang kaya. Tapi apa yang dilihat mereka hanyalah ladang-ladang yagn kosong kering dan kelaparan yang merajalela di mana-mana. Dengan ringkas dapat dikatakan, bahwa kemiskinan rakyat sudah sampai pada puncaknya.

Boe Kie dan kawan-kawannya merasa sangat berduka, tapi merekapun tahu, bahwa dengan adanya penderitaan itu kekuasaan Mongol di Tiongkok pasti tidak dapat dipertahankan dalam waktu lama. Sekarang saja, orang-orang gagah di seluruh negeri sudah mulai bangkit untuk mengusir kaum penjajah itu.

Pada suatu hari mereka tiba di Kay pay kie yang terletak tak jauh dari Ouw tiap kok. Selagi enak berjalan, sekonyong2 mereka mendengar teriakan-teriakan dan belakangan ternyata bahwa teriakan itu keluar dari dua pasukan yang sedang bertempur. Boe Kie dan kawan2nya segera membedal kuda dan sesudah melewati sebuah hutan, mereka melihat kira-kira seribu serdadu Mongol sedang mengepung sebuah tangsi yang di atasnya berkibar bendera Bengkauw. Tangsi itu dipertahankan oleh anak buah yang berjumlah kecil yang perlahan-lahan mereka tak dapat mempertahankan diri lagi. Tapi biarpun dihujani anak panah, mereka tetap tidak mau menyerah. Tentara Goan berteriak-teriak.

“Pemberontak Mo kauw! Lekas menakluk!”

“Kalau menakluk, kalian mendapat ampun.”

“Apa kamu mau mampus semua?”

Untuk beberapa saat, rombongan Boe Kie memperhatikan jalannya pertempuran.

“Kauwcoe, apa kita sudah boleh menerjang musuh?” tanya Coe Tian.

“Baiklah!” jawabnya. “Lebih dahulu singkirkan pemimpin-pemimpin pasukan itu.”

Di lain saat, Yo Siauw, In Thian Ceng, In Ya Ong, Tiat koan Toojin dan Cioe Tian sudah menerjang musuh. Dua orang Peh hoe thio lantas saja roboh. Sesaat kemudian, Cian hoe thio yang memimpin pasukan dibinasakan In Ya Ong. Karena kehilangan pemimpin, tentara Goan lantas saja kalut. Dilain pihak, melihat datangnya bala bantuan, orang-orang yang membela tangsi bersorak-sorai. Pintu tangsi terbuka dan seorang pria yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata tombak menerjang keluar. Dalam sekejap ia sudah merobohkan sejumlah serdadu Goan.

Setiap kali tombak orang itu berkelebat, seorang serdadu Goan terjungkal. Melihat begitu, tentara Goan menjadi jeri. Mereka lari serabutan untuk menyingkirkan diri dari orang itu yang gagah dan angker bagaikan malaikat.

Para pemimpin Beng kauw dalam rombongan Boe Kie merasa kagum dan memuji orang gagah itu. Tapi yang paling bergirang adalah Boe Kie sendiri karena ia sudah mengenali bahwa orang itu bukan lain daripada Siang Gie Coen yang selalu diingatnya siang dan malam. Hanya karena masih mesti bertempur, ia tak bisa segera menghampiri tuan penolong itu.

Sebab digencet dari depan dan belakang, tentara Goan mendapat kerusakan besar. Kurang lebih limaratus orang mati dan luka-luka. Sisanya tidak berani berperang terus dan lalu melarikan diri.

Sesudah musuh kabur, sambil tertawa terbahak-bahak Siang Gie Coen berseru, “Saudara-saudara dari manakah yang sudah memberi bantuan? Siang Gie Coen menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.”

“Siang Toako!” teriak Boe Kie. “Aduh! Siang malam siauwtee memikiri Toako,” ia berlari lari dan memegang tangan kakak itu erat-erat.

Siang Gie Coen memberi hormat dengan membungkuk. “Saudara Kauwcoe,” katanya dengan suara gemetar. “Aku menjadi kakakmu dan juga menjadi orang sebawahanmu. Tak dapat aku mengatakan, betapa besar rasa girangku.”

Ternyata Siang Gie Coen memegang tugas Hee koa dalam Kie bok kie. Pertempuran hebat di Kong beng teng yang berakhir dengan diangkatnya Boe Kie sebagai Kauwcoe sudah diketahuinya dari Boen Cong Siong Ciang kie soe Kie bok kie. Sudah beberapa hari, dengan sejumlah anggota Kie bok kie, ia berkemah disitu untuk menunggu kedatangan Boe Kie. Apa mau, sepasukan tentara Goan menyerang. Karena musuh berjumlah lebih besar, ia berlagak kalah dan memancing musuh untuk dibasmi.

Di luar dugaan rombongan Boe Kie muncul pada saat yang tepat dan ia segera menerjang ke luar. Dalam Bengkauw, ia berkedudukan rendah sebagai orang bawahan, ia lantas memberi hormat Yo Siauw, In Thian Ceng dan yang lain-lain. Melihat kegagahannya dan mengingat bahwa saudara angkat Kauwcoe para pemimpin Beng kauw itu memperlakukannya sebagai sahabat yang sederajat.

Siang Gie Coen segera memerintahkan orang menyediakan makanan untuk menjamu para tamunya. Selagi makan minum, ia menceritakan keadaan dan apa yang dilakukannya di daerah itu. Selama beberapa tahun, daerah Hwai lam dan Hwai pa (sebelah selatan dan utara sungai Hwai ho) mengalami kekeringan, sehingga rakyat sangat menderita. Karena terpaksa, ia mengumpulkan saudara-saudara Beng kauw dan melakukan pekerjaan tanpa modal. Tapi dalam pekerjaan itu ia hanya merampok milik hartawan jahat atau pembesar rakus dan jika ada kelebihan, kelebihan itu selalu digunakan untuk menolong rakyat. Beberapa kali tentara Goan coba menyerang tangsi mereka tapi selalu dapat dipukul mundur.

Sesudah menginap semalaman, pada keesokan paginya, bersama pasukan Siang Gie Coen rombongan Boe Kie meneruskan perjalalan. Mereka menganggap, bahwa sesudah mengalami kekalahan, selama dua tiga bulan tentara Goan pasti tak akan berani menyerang lagi.

Beberapa hari kemudian mereka tiba di luar Ouw tiap kok. Mendengar kedatangan Kauwcoe para anggota Bengkauw yang sudah tiba lebih dahulu lantas saja keluar menyambut. Ternyata barisan Kie bok kie sudah membangun rumah-rumah kecil untuk tempat meneduhnya para orang gagah. Wie It Siauw, Peng Eng Giok dan Swee Poet tek pun sudah berada di situ dan mereka segera menemui Boe Kie.

Sesudah berkenalan dengan semua orang, Boe Kie segera memerintahkan disediakan barang sembahyang dan lalu menyembayangi suami istri Ouw Ceng Goe dan Kie Siauw Hoe. Mengingat kejadian dahulu bukan main rasa terharunya. Mimpipun tak pernah mimpi, bahwa hari ini ia bisa kembali seorang Kauwcoe dari satu agama yang sangat besar pengaruhnya pada jaman itu.

Tiga hari kemudian tibalah harian Tiongcioe. Di tengah-tengah lapangan Ouw tiap kok yang luas didirikan sebuah panggung tinggi dan di depan panggung dinyalakan api koen boen, yang sangat besar.

Sesudah semua pemimpin Beng kauw berkumpul, Boe Kie segera naik ke atas panggung dan dengan suara lantang mengumumkan bahwa Beng kauw sudah menghentikan permusuhan dengan berbagai partai persilatan di wilayah Tionggoan dan bahwa sekarang Beng kauw berusaha dengan sekuat tenaga utnu mengusir penjajah Goan dari tanah air. Sesudah itu, ia membaca peraturan-peraturan agama yang bertujuan untuk menyingkirkan penjahat dan menolong sesama manusia yang memerlukan pertolongan.

Pengumuman itu disambut oleh sorak sorai gegap gempita. Dalam suasana riang gembira dan dengan semangat bergelora para hio coe dan yang lain-lain memasang hio dan bersumpah untuk mentaati pesan Kauwcoe. Hari itu dian berkobar-kobar, wangi hio dapat diendus di seluruh selat. Sesudah terpecah belah begitu lama, Beng Kauw sekarang bersatu kembali. Semua orang mengakui, bahwa di dalam Beng Kauw belum pernah tercapai persatuan yang sedemikian kokoh dan diantaranya banyak yang mengucurkan air mata kegirangan.

Sesudah itu Boe Kie membuat lain pengumuman yang berbunyi sebagai berikut:

“Menurut kebiasaan agama kita, kita semua tidak makan makanan yang asalnya berjiwa. Tapi dalam menghadapi kelaparan, manusia harus makan apapun juga yang bisa dimakan. Apa pula hari ini kita harus bertekad untuk melakukan satu pekerjaan besar, yaitu mengusir Tat coe (orang Mongol) dari tanah air kita. Kalau kita tetap tidak makan makanan berjiwa, maka tenaga atau semangat kita akan berkurang dan kita sukar untuk menunaikan tugas tugas yang berat itu. Maka itulah, mulai dari sekarang, kami mulai menghapuskan peraturan yang melarang anggota-anggota makan makanan berjiwa dan minum arak. Sebagai manusia yang hidup dalam dunia ini, kita harus mementingkan urusan besar. Soal makan adalah soal remeh yang bisa diubah sesuai dengan keadaan.”

Malam itu, dibawah sinar rembulan, beberapa ribu pemimpin Beng kauw makan minum sepuas hati dan pesta baru berakhir setelah terang tanah.

Sesudah mengaso sampai kira-kira tengah hari, Boe Kie bangun dan mandi. Baru saja dia selesai berpakaian, seorang anggota melaporkan bahwa Cioe Coan Ciang, Cie Tat dan beberapa anggota lain dari Ang soei kie minta bertemu.

Boe Kie girang dan lalu keluar menyambut. Begitu melihat Boe Kie, Cioe Coan Ciang, Cie Tat, Thong Ho, Teng Jie, Hoa In, Gouw Liang dan Gouw Tin yang menunggu di luar pintu, lantas saja memberi hormat dan membungkuk.

Cepat-cepat Boe Kie membalas hormat. Di depan matanya lantas saja terbayang kejadian pada hari itu, pada waktu Cie Tat menolong jiwanya. Dengan tangan kiri menuntun Coe Goan Ciang dan tangan kanan menuntun Cie Tat, ia mengajak semua orang memasuk ke dalam. Sesudah meminta maaf, Coe Goan Ciang dan kawan-kawannya baru berani duduk di kursi. Ternyata Coe Goan Ciang sudah tak menjadi pendeta lagi. “Sesudah menerima perintah Kauwcoe, buru-buru kami datang ke sini,” katanya.

“Di luar dugaan, di tengah jalan kami bertemu dengan kejadian yang luar biasa, sehingga kami terlambat, dan untuk itu, kami memohon maaf.”

“Kejadian apa?” tanya Boe Kie.

“Pada bulan enam kami telah menerima perintah Kauwcoe,” jawabnya. “Kami merasa girang lalu berdamai tenang barang antaran yang sebaiknya dibawa kami untuk memberi selamat kepada Kauwcoe. Tapi Hwai pak daerah miskin dan tak ada barang berharga. Untung juga masih ada banyak waktu dan sesudah berunding, kami mengambil keputusan untuk mencoba peruntungan di propinsi Shoa tang. Sebab kuatir dikenali pembesar negeri, kami menyamar sebagai kusir kereta keledai, dengan aku sendiri sebagai pemimpin rombongan. Hari itu kami tiba di kota Kwie tek hoe dimana kereta kami disewa oleh beberapa saudagar yang ingin pergi ke Ho tek, di Shoa tang. Selagi enak berjalan, tiba-tiba kami diuber oleh sejumlah orang yang bersenjata dan kelihatannya garang sekali. Mereka mengusir saudagar2 itu dan kemudian dengan sikap galak mengatakan bahwa kami harus mengangkut lain penumpang. Saudara Hoa In yang beradat berangasan lantas saja mau turun tangan. Untung saja ia keburu dihalangi oleh saudara Cie Tat yang buru-buru memberi isyarat dengan lirikan mata. Orang2 itu mengirim kami dan sembilan buah kereta kami ke sebuah lembah, dimana sudah menunggu beberapa belas kereta lain. Di atas tanah kelihatan berduduk sejumlah hweeshio…”

“Hweeshio?” menegas Boe Kie.

“Benar,” jawabnya. “Mereka kelihatannya sangat berduka cita, sebagian besar mereka berduduk dengan menundukkan kepala. Tapi banyak di antaranya bukan sembarang orang. Ada yang Tay yang hiatnya menonjol keluar, ada yang tubuhnya tinggi besar kokoh. Bisik-bisik saudara Cie Tat mengatakan, bahwa pendeta2 itu memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Setibanya kami, orang-orang galak itu memerintahkan semua hweeshio naik ke kereta dan menggiring kami ke jurusan utara.”

“Aku merasa pasti, bahwa didalam hal ini terselip sesuatu yang luar biasa. Diam2 aku memesan supaya semua saudara berwaspada dan harus menjaga supaya penyamaran kita tidak diketahui. Disepanjang jalan kami memperhatikan gerak-gerik dan bicaranya orang2 yang mengiring kami. Tapi mereka sangat berhati-hati dan dihadapan kami, mereka tak pernah bicara sembarangan. Belakangan, dengan memberankan diri ditengah malam saudara Gouw Liang coba memasang kuping diluar jendela kamar mereka. Sesudah menyatroni 4-5 malam, barulah ia mendapat sedikit keterangan. Ternyata hweesio itu adalah pendeta2 berilmu dati Siauw Lim Sie di siong san.”

Biarpun sudah menduga dari semula, mendengar itu Boe Kie mengeluarkan seruan kaget.

Sesudah berdiam sejenak, Coe Goan Ciang melanjutkan penuturannya. “Malam itu, sesudah mengintip beberapa lama, saudara Gouw Liang mendengar suara seseorang. ‘Hitung2 Coe Jin benar2 lihai, semua jago dari 6 partai besar tak ada yang terlolos dari tangannya. Semenjak dahulu, siapakah yang bisa berbuat seperti itu?’ seorang lagi menyambung. ‘Masih ada lain hal yang mengangumkan. Dengan sebatang anak panah, majikan kita berhasil memanah 2 ekor tiauw. Dengan siasatnya yang sangat lihai, ia sudah menyeret iblis2 Mo Kauw ke dalam lubang permusuhan.’ Kami lantas saja berunding. Kami berpendapat, bahwa karena agama kita juga disebut2, kami harus menyelidiki hal ini sampai seterang2nya guna dilaporkan kepada Kauwcoe.”

“Benar” kata Boe Kie sambil menggangguk. “Keputusan kalian tepat sekali”

“Kami terus digiring ke jurusan utara,” kata pula Coe Goan Ciang. “Di sepanjang jalan kami berlagak sebagai manusia tolol. Saudara Thong Ho dan saudara Teng Jie berlagak berkelahi lantaran berebut 5 tahil perak. Mereka saling memukul membabi buta untuk menunjukan mereka tidak mengerti ilmu silat. Orang2 galak itu tertawa terbahak2 dan mereka tak memperhatikan kami lagi. Disamping itu kami memperlakukan sangat hormat kepada mereka. Kami selalu memanggil mereka dengan panggilan “looya” (Tuan Besar). Saudara Gouw Tin mengusulkan untuk menggunakan obat pulas guna menolong pendeta2 itu. Sesudah berdamai, kami menolak usulnya. Kami berpendapat, bahwa terlebih dahulu kami harus menyelidiki teka teki ini sampai didasarnya. Kamipun berpendapat, bahwa orang2 itu sangat berhati2 dan memiliki kepandaian tinggi, sehingga sekali salah bertindak urusan besar bisa menjadi gagal. Maka itu, kami tidak berani turun tangan. Waktu tiba dikota Ho kian hoe, kami bertemu dengan 6 buah kereta lain yang juga membawa orang. Orang2 dalam kereta itu adalah orang2 biasa. Selagi makan, salah seorang pendeta menegur orang itu dengan berkata begini ‘Song Tayhiap, kaupun berada disini?’”

Boe Kie terkesiap. “Song Thayhiap?” ia menegas.

“Bagaimana macamnya?”

“Dia bertubuh jangkung kurus,” jawabnya. “Usianya kira2 50 atau 60 tahun. Jenggotnya bercabang 3, paras mukanya tampan dan anggun.”

Tak salah lagi itulah Song Wan Kiauw! Boe Kie girang dan buru2 menanyakan macamnya orang2 lain dalam rombongan itu. Dari keterangan Coe Gon Ciang, ia menarik kesimpulan bahwa Jie Lian Cioe, Thio Song Kee dan Boh Seng Kok juga berada disitu. “Apakah mereka terluka? Apa dirantai?” tanyanya pula.

“Tidak” jawab Coe Goan Ciang. “Mereka tak dirantai dan kamipun tak melihat tanda2 luka. Mereka berbicara dan main2 seperti orang yang sehat. Mereka hanya tak punya semangat dan kalau berjalan tindakan mereka agak limbung. Mendengar perkataan pendeta Siauw Lim itu Song Tayhiap hanya tertawa getir. Ia tidak menjawab. Hweesio itu ingin bicara lagi tapi seorang penjaga keburu datang dan dengan kasar memisahkan mereka dalam jarak belasan li. Kami tak pernah ketemu muka lagi dengan rombongan Song Tayhiap. Pada tanggal 3 bulan 7, rombongan kami tiba di kota raja.”

“Ah!” seru Boe Kie “Kota raja! Kalau begitu yang turun angan kaisar Goan sendiri. Habis bagaimana?”

“Pendeta2 Siauw Lim dikirim kesebuah rumah berhala yang sangat besar di See saja” katanya “kamipun disuruh nginap di bio (kuil) itu.”

“Bio apa?” tanya Boe Kie.

“Ketika tiba didepan kuil, aku mendogak dan mengawasi papan nama yang terpasang diluar” jawabnya “Bio itu adalah Pan Hoat sie, karena mendongak, aku dicambuk oleh seorang penjaga. Kami segera berdamai, kami menduga, bahwa untuk menutup mulut kami, kami akan dibinasakan. Maka itu, kami mengambil keputusan untuk melarikan diri malam itu juga”

“Sungguh berbahaya” kata Boe Kie. “Untung juga mereka tidak mengejar, sehingga kalian bisa lari sampai disini dengan selamat”

Thonh Ho tertawa. “Coe Taoko sudah bertindak terlebih dahulu untuk mencegah pengejaran” katanya. “Selagi penjaga2pergi keluar cepat2 kami menyatroni tempat penjualan keledai dan membekuk 7 penjual keledai. Sesudah menukar pakaian dengan mereka, kami mebunuh ke-7 orang itu kedalam bio. Kami mebacok2 muka mereka supaya tidak dikenali lagi. Kemudian kami mebinasakan kusir2 kereta yang lain datang bersama2 kami menyebar uang perak di lantai. Dengan begitu penjaga2 tentu akan menduga, bahwa ke-2 rombongan kusir kereta saling bunuh sebab saling berebut uang.” Ia sama sekali tak merasai kekejaman dari perbuatan itu dan sambil cerita sambil tertawa2.

Boe Kie terkejut. Ia melirik Cie Tat yang kelihatannya mereasa tak tega, sedang paras Jie menunjukkan paras jengah. Hanyalah Coe Goan Ciang yang bersikap tenang dengan paras muka tak berubah. “Dia kejam dan lihay” kata Boe Kie dalam hati. Sesudah menentramkan hati, ia berkata dengan suara tajam. “Biar tipu toako bagus, tapi mulai sekarang kita tidak boleh membunuh manusia yang tidak berdosa” Dengan serentak Cu Goan Ciang dan kawan2nya berbangkit dan berkata sambil membungkuk. “Kami akan memperhatikan perintah Kauwcoe”.

“Kau berjasa besar dan sekarang kita sudah tahu dimana adanya rombongan Siauw Lim dan Boe Tong,” kata pula Boe Kie. “Sesudah selesai mengatur gerakan untuk merobohkan kerajaan Goan, kita akan segera ke kota raja untuk menolong rombongan kedua partai itu” sesudah beres urusan yang mengenai kepentingan umum barulah ia menyebutkan hal masak daging kerbau di kelenteng Hong kak sie pada hari itu. Mengingat kejadian itu, semua orang tertawa terkakak dan menepuk2 tangan.

Malam itu, Boe Kie mengadakan perhimpunan dengan segenap pemimpin Beng Kauw. Mereka menyalakan api ungun dan memasang hio. Secara resmi maka telah diambil suatu keputusan, bahwa seluruh bengkauw siap akan bergerak dengan serentak. Pasukan dan segenap anggota Beng Kauw harus saling tolong menolong dalam meenggempur tentara musuh dan merubuhkan kerajaan Goan.

Rencana gerakan Beng Kauw adalah sebagai berikut Kauwcoe Thio Boe Kie bersama Kong Beng Coe soe Yo Siauw dan Ceng Ek Hok Ong Wie It Siauw memegang kekuasaan Cong Tan (seluruhnya) dan menjadi Cong Swee (pemimpin ketentaraan yang tertinggi).

Pheh Bie Eng ong In Thian Ceng bersama seluruh anggota Pheh bie kie bergerak di daerah Khong lam.

Coe Goan Ciang, Cit Tat, Thonh Ho, Teng Jie, Hoa in, Gauw Liang dan Gauw Tin, bersama pasukan pasukan Siang Gie Coen, Kwee Coe Hian dan Soen Tek Cioe bergerak di Hoe Cioe di Hwai Pak.

Po Tay hweesio Swee Poet Tek denagn memimpin Han San Tong, Lauw Hok Thong, Touw Coen Too, Lo Boen So, Seng Boen Yoe, Ong Hian Tiong dan Hau Kauw Jie bergerak di Eng Cioe propinsi Ho Lam.

Pheng Eng Giok dengan memimpin Cie, Siu Hwie, Cee Cin Ong dan Beng Giok Tin bergerak di Yauw Cioe, Wan Cioe, Sin Cioe dan lain2 kota di kang say.

Tiat Toan Toojin dengan memimpin Po Sam Ong dan Beng Hay Ma bergerak di daerah Siang couw dan Keng siang.

Cioe Tian dengan memimpin Cie Ma Lie dan Tio Koen Yang bergerak di daerah Cioe siok dan Hoang pay.

Leng Kiam bersama anggota Beng Kauw wilayah See Hek harus mencegat bara tentara Mongol yang dikirim ke Tionggoan dari See Hek.

Ngo Hek kie dikuasai Cong Tan yang juga akan mengatur dan mengirim bala bantuan yang perlu dibantu.

Itulah rencana pergerakan Beng Kauw yang menurut taksiran orang telah direncanakan oleh Yo Siauw.

Pengumuman Boe Kie itu disambut dengan tepuk tangan dan sorak2 yang menggetarkan seluruh Ouw tiap kok. Sesudah suasana agak mereda, Boe Kie berkata dengan suara nyaring. “Menurut perhitungan kalo kita hanya mengandalkan tenaga sendiri tak gampang kita bisa merobohkan kerajaan Goan yang sudah menancapkan kaki selama seratus tahun. Maka itu, kita harus berserikat dengan semua orang gagah di seluruh negeri dan dengan kerja sama yang erat kokoh, semoga kita bisa mencapai tujuan yang besar ini. Disini waktu hampir separuh tokoh2 rimba persilatan Tionggoan, telah ditawan dengan kerajaan Goan. Coang tan akan berusaha sekeras tenaga untuk menolong mereka. Besok saudara2 harus puang ke masing2 tempat untuk mengatur dan mempersiapkan segala sesuatu. Begitu lekas mendapat kesempatan, saudara2 boleh segera bergerak. Cong tan pun akan lekas berangkat ke kota raja. Hari ini kita boleh makan minum sepuas hati. Di belakang hari entah kapan kita bisa bertemu muka lagi. Kami mengharapkan saudara2 akan saling mencintai kawan seperjuangan dan akan mengutamakan kepentingan umum. Janganlah saudara2 serakah untuk kepentingan pribadi atau saling bunuh dengan kawan sendiri. Terhadap siapapun juga yang menyeleweng Cong Tan tak akan memberi ampun.

Pernyataan dan nasehat itu disambut dengan teriakan2 bersemangat oleh para hadirin yang berjanji akan mentaati pesan Kauwcoe mereka.

Sesudah itu diadakan upacara sumpah. Dengan meneteskan darah dan memasang hio semua orang bersumpah untuk berserikat sehidup semati dan berjuang untuk melaksanakan rencana serta mencapai tujuan mereka. Pada keesokan paginya, semua orang berpamitan pada kauwcoe. Meskipun mereka terdiri dari orang2 gagah yang berhati baja, perpisahan itu mengharukan banyak orang karena mereka yakin, bahwa didalam peperangan bakal jatuh banyak korban sehingga belum tentu berapa banyak orang yang bisa ketemu muka lagi. Perlahan2 mereka mulai keluar dari mulut Ouw Tiap Kok, dimana dinyalakan sebuah api ungun yang sangat besar. Entah siapa yang memulai, tiba2 diselat itu berkumandang nyanyian seperti berikut.

“Membakar ragaku,
Api nan suci.
Hidup apa senangnya.
Mati apa susahnya?

Semua orang lantas saja mengikuti dan suara nyanyian makin keras.

Membakar ragaku.
Api nan suci.
Hidup apa senangnya?
Mati apa susahnya?
Untuk kebaikan, menyingkirkan kejahatan.
Guna kegelimangan Beng Kauw.
Kesenangan dan kedukaan.
Semua berpulang kedalam tanah.
Kasihan manusia didalam dunia.
Banyak yang menderita!
Kasihan manusia didalam dunia
Banyak yang menderita!

Diantara suara nyanyian itu yang mengalun di seluruh selat, para pemimpin Beng Kauw yang mengenakan pakaian serba putih meminta diri dari Kauwcoe mereka. Satu demi satu mereka menghampiri Boe Kie membungkuk dan lalu berjalan keluar tanpa menengok lagi.

Boe Kie menerima pemberian hormat itu dengan rasa terharu. Mereka itu adalah orang2 gagah sejati. Selama 10 atau 20 tahun demi nusa dan bangsa, darah mereka akan mengucur di bumi Tiongkok. Mengingat begitu tanpa merasa air matanyadi kedua pipinya.

Makin lama suara nyanyian makin jauh. Tak lama kemudian, Ouw tiap kok yang selama beberapa hari penuh dengan manusia, pulang keasal sunyi dan tenang. Yang masih ketinggalan hanya Boe Kie, Yo Siauw, Wie It Siauw, Coe Goan Ciang dan kawan2nya.

Sesudah menanyakan letak Ban hoat sie dan macamnya penjaga kelenteng itu Boe Kie berkata kepada Coe Goan Ciang “Coe taoko, dunia sedang menghadapi kekalutan dan kita tidak boleh menyia-nyiakan setiap kesempatan. Kalian tak usah menemani kami lagi ke kota raja. Sekarang saja kita berpisah”

“Baiklah” jawabnya. “Kami mengharapkan Kauwcoe akan segera berhasil dan kami semua menunggu kabar baik” sehabis berkata begitu dengan kawan2nya ia meninggalkan Ouw tiap kok.

“Mari kitapun harus berangkat” kata Boe Kie sesudah rombongan Coe Goan Ciang berlalu. “Siauw Ciauw, karena kau membawa2 rantai, sebaiknya kau menunggu disini saja”

si nona tidak menolak, tapi ia mengantar terus menerus. Sesudah 3 li, 3 li lagi dan ia tetap tak tega untuk berpisahan.

“Siauw Ciauw kau sudah mengantar terlalu jauh” kata Boe Kie. “Ada kemungkinan kau kesasar dan tidak bisa kembali ke Ouw tiap kok”

“Thio kauwcoe apakah kau akan bertemu dengan Tio Kuwnio di kota raja?” tanya si nona.

“Entahlah” jawabnya.

“Jika kau bertemu dengan dia, bolehkah ajukan satu permintaan untukku?”

Boe Kie heran “Permintaan apa?” tanyanya.

“Minta pinjam Ie Thian po kiam untuk memutuskan rantai. Sebegitu lama rantai ini masih belum bisa diputuskan, sebegitu lama aku masih jadi orang perantara”

melihat sikap dan paras muka si nona Boe Kie merasa tak tega. “Aku kuatir, ia tak sudi meminjamkan pedang itu. Kita bisa minta supaya dia sendiri yang memutuskan rantai ini”

Boe Kie tertah. “Siauw Ciauw, kalau maksud” katanya. “Kau hanya ingin mengikut kami. Yo Co soe bagaimana pendapatmu? Apa boleh kita ajak padanya?”

Yo Siauw menegrti jalan pikiran sang Kauwcoe. Dengan bertanya begitu, Boe Kie sebenarnya ingin mengajak si nona. Maka itu, ia lantas saja menjawab “Tak halangan jika Kuwcoe ingin mengajak dia, diperjalanan ia bisa merawat Kauwcoe. Hanya rantai itu sangat menarik perhatian. Begini saja, ia berlagak sakit dan bersembunyi di kereta. Didepan orang banyak, ia tidak boleh sembarangan menonjolkan muka”

Siauw Ciauw girang bukan main. “Terima kasih Kowcoe, terima kasih Yo Co soe” katanya. Ia menengok Wie it Siuaw dan menambahkan “Terima kasih Wie Hot ong”

Wie It Siauw tertawa dan berkata “Perlu apa kau menghaturkan terima kasih kepadaku? Hati2 kau, kalau penyakitku kumat lagi, aku bisa menghisap darahmu” sambil berkata begitu, ia menyeringai dan memperlihatkan 2 baris giginya yang putih.

Siauw Ciauw tahu, Wie It Ong sedang bergurau, tapi ia merasa seram. Ia mundur beberapa tindak dan berkata “Wie Hot ong, jgn menakut2i aku”

Demikianlah, dengan menggunakan 3 ekor kuda dan sebuah kereta, Boe Kie berempat menuju ke kota raja. Perjalanan itu dilakukan tanpa menemui halangan dan pada suatu hari, tibalah mereka di Taytouw (sekarang peking). Ibukota dari kerajaan Goan.

Sebagai tempat berdiamnya kaisar, ota itu tentu saja lain daripada yang lain. Wakil2 berbagai negeri dan suku2 bangsa berkumpul disitu. Begitu masuk di pintu kota. Boe Kie berempat langsung menuju ke See shia (kota sebelah barat) dan mencari sebuah rumah penginapan yang besar. Yo siauw membawa lagak sebagai seorang hartawan. Ia minta 3 kamar kelas 1 dan memberi persen secara loyal kepada pelayan, yang tentu saja berlaku sangat hormat dalam pelayannya. Sesudah minum the, Yo Siauw memanggil pelayan itu dan mengajaknya beromong2 tentang keadaan di kota raja. Ia mengatakan ia suka sekali meninjau tempat2 yang mempunyai nilai kebudayaan dan sejarah. “Dimana kami bisa melihat lihat kelenteng2 tua yang tersohor?” tanyanya.

Sesudah menyebutkan beberapa nama, si pelayan menyebutkan Ban hoat sioe. “Ban hoat soie sangat besar” katanya “ Didalam kelenteng itu terdapat 3 patung budha yang sangat besar, yang terbuat daripada tembaga. Diseluruh negeri tidak ada lain patung yang sebesar itu. Sebenarnya kalian mau meninjau bio tersebut, hanya sayang kalian terlambat. Semenjak setengah tahun yang lalu, kelenteng itu digunakan sebagai tempat tinggal para Hoed ya(pendeta) dari See hoan (daerah barat). Sekarang rakyat tidak lagi berani datang kesitu”

“Biarpun ada Hoang Ceng, halangan apa kalo kita melihat2 bio itu?” kata Yo Siauw.

Si pelayan menggeleng2kan kepalanya. Sesudah menegok kesana kesini, ia berbisik “Tuan baru saja datang kesini dan tak tahu keadaan yang sebenarnya. Bukan aku banyak mulut, para Hoed ya Soe hoan itu galak luar biasa. Mereka sering memukul dan membunuh orang. Mereka dilindungi Hong siang (Kaisar), sehingga tak satu manusiapun yang berani menepuk lalat di kepala harimau. Rakyat biasa tak berani datang lagi di kelenteng itu.”

Bahwa para pendeta Soe Hoan sering berlaku sewenang2 terhadap rakyat sudah lama diketahui Yo Siauw. Ia hanya tak menduga, bahwa pendeta2 itu berani berbuat sesuka hati di kota raja. Mendengar keterangan si pelayan ia tidak berkata suatu apa lagi.

Sesudah makan malam, Boe Kie, Yo Siauw dan Wie It Siauw bersemedi untuk mengaso dan mengumpulkan tenaga kira2 tengah malam mereka membuka jendela dan lalu menuju ke arah barat.

Ban Hoat Sie berloteng 4 dan di belakang kelenteng terdiri sebuah menara yang bertingkat 9. dengan menggunakan ilmu ringan badan, dalam sekejap mereka sudah berada didepan kelenteng.

Sesudah memberi isyarat dengan gerakan tangan, mereka mengambil jalan mutar dan pergi ke sebelah kiri. Mereka ingin melompat naik ke atas menara guna menyelidiki keadaan didalam kelenteng. Diluar dugaan dari jarak kira2 30 tombak mendadak mereka melihat bayangan2 manusia bergerak2 di menara itu. Ternyata disetiap tingkat terdapat penjagaan dan dibawah menarapun berkumpul kurang lebih 20 penjaga.

Melihat begitu mereka kaget tercampur girang. Mereka yakin bahwa dengan adanya penjagaan yang keras itu, tokoh2 Siauw lim, Boe tong dan yang lain2 partai pasti dipenjarakan dalam menara itu. Mereka mngirit waktu dan tak usah menyelidiki di tempat lain.

Tapi merekapun mengerti, bahwa tak gampang mereka memberi pertolongan. Orang2 seperti Koeng Boen, Koeng Tie, Song Wan Kiauw dan lainnya adalah ahli silat kelas utama tapi mereka tertawan dan tidak berdaya. Ini membuktikan bahwa di pihak musuh terdapat banyak orang pandai yang tidak boleh dibuat gegabah.

Sebelum berangkat ke Bang hoet sie, Boe Kie bertiga sudah berdamai dan menyetujui untuk bertindak dengan sangat berhati2. maka itu, sesudah mengawasi menara tersebut beberapa lama mereka segera bertindak mundur.

Tiba2 ditingkat keenam muncul penerangan yang terang benderang. Dari sebelah kejauhan Boe Kie melihat gerakan 8-9 orang yang tangannya memegang obor. Dari tingkat ke-6, orang2 itu turun ke tingkat ke-5, turun lagi ke tingkat ke-4, terus turun sampai ke bawah dan akhirnya keluar dari pintu menara dan menuju ke arah kelenteng. Yo Siauw mengelapkan tangan dan lalu menguntit dengan hati2.

Pekarangan belakang Ban hoat sie penuh dengan pohon2 besar yang berusia tua. Boe kie bertinga bersembunyi di belakang pohon2 itu dan kalau angin meniup barulah mereka berani bergerak maju. Ban hoat sie penuh dengan orang pandai dan mereka sedikitpun tidak berani berlaku ceroboh. Ilmu ringan badan mereka sudah mencapai tingkat tinggi, tapi mereka masih merasa khawatir, kalau2 diketahui orang. Maka itu, mereka baru berani bergerak berbareng tiupan angin, diantara berkereseknya daun2. dengan cara begitu, mereka maju kurang lebih 20 tombak.

Dengan bantuan sinar obor, mereka melihat beberapa belas lelaki yang mengenakan jubah kuning dan memegang senjata, mengiring seorang kakek yang menggunakan jubah panjang. Satu waktu, kakek itu menengok ke belakangdan Boe Kie terkesinap karena ia itu bukan lain daripada Thie kim Sianseng Ho Thay Ciong, Cang boe boen jie Koen Loen pay.

Tak lama kemudian, orang2 itu masuk di pintu belakang Ban hoat sie. Sesudah menunggu beberapa saat, melihat disekitar itu tidak ditaruh penjaga. Boe Kie bertiga turut masuk ke dalam.

Ban hoat sie terdiri dari sejumlah bangunan besar kecil dan sejumlah besar kamar2. untung juga begitu masuk, Boe Kie bertiga melihat penerangan luar biasa di Toa thian (ruangan besar, tempat sembayang utama) Mereka merasa pasti bahwa Ho Thay Ciong di bawa ke ruangan ini. Indap2 mereka mendekati. Boe Kie mengintip di jendela sedang Yo Siauw dan Wie It Siauw menjaga di kiri kanan. Sebagai orang yang berkepandaian tinggi, mereka bernyali besar. Tapi dalam sarang harimau jantung mereka memukul keras.

Celah jendela sangat kecil dan Boe Kie hanya bisa melihat bagian sebelah bawah tubuh Ho Thay Ciong. Lain2 orang yang berada dalam ruangan itu tidak bisa dilihat olehnya.

Sekonyong2 ia mendegar suara Ho Thay Ciong “Aku sudah ditipu dan jatuh ke dalam tanganmu. Mau bunuh, boleh bunuh! Kamu tak usah mengharap aku sudi menjadi anjingnya kaisarmu. Biarpun kau membujuk 3 tahun atau 5 tahun lagi, kau hanya membuang2 tenaga”

Boe Kie manggut2kan kepalanya.

“Walupun Ho Thay Ciong bukan seorang koen coe, tapi dalam menghadapi urusan penting, ternyata ia bisa mempertahankan keanggunannya sebagai seorang Ciang boen” pikirnya.

“Kalau kau mau terus keras kepala, Cioe jin pun takkan memaksa,” kata seorang dengan suara dingin. “Apa kau sudah tahu peraturan disini?”

“Meskipun kau memutuskan sepuluh jari tanganku, aku tetap takkan menakluk,” kata Ho Thay Ciong.

“Baiklah.” Kata orang itu “Sekali lagi aku ingin memberitahukan peraturan kami. Apabila kau bisa memenangkan ketiga orang ini, kami akan selekas mungkin akan melepaskan kamu. Kalau kau kalah, kami akan memutuskan jari tanganmu dan kemudian mengurung kau lagi selama 1 bulan. Sesudah itu, kami akan menanyakan pula, kalau kau sudah berubah pikiran dan suka menakluk pada Hong siang”

“2 jari tanganku sudah putus” kata Ho Thay Ciong “Putus sebelah lagi tak menjadi soal. Ambil pedang!”

Orang itu tertawa dingin. “Kalau semua jari tanganmu sudah putus, biarpun kau mau menakluk, kami takkan menerima. Perlu apa menerima orang yang sudah tak berguna lagi? Serahkan pedang padanya! Mokopas, kau majulah terlebih dahulu”

“Baik.” Jawab seorang yang suaranya kasar.

Dengan menggunakan sinkang, Boe Kie meniup celah jendela yang lantas terbuka lebar. Ia melihat Ho Thay Ciong yang memegang pedang kayu yang ujungnya dibungkus kain. Yang berdiri didepannya adalah seorang tinggi besar yang memegang sepasang golok baja. Tapi Ho Thay Ciong sedikitpun tak merasa keder dan sambil mengibaskan pedang kayu, ia membentak “Hayolah!” seraya berkata begitu, ia membacok salah satu pukulan lihai dari Koen Loen Kiam hoat.

Mokopas berkelit dan balas menyerang. Jika bertubuh besar, gerakannya cukup gesit dan setiap serangannya ditujukan kepada badan Ho Thay Ciong yang berbahaya.

Sesudah memperhatikan beberapa jurus, Boe Kie berkata didalam hati “Mengapa tindakan Ho sianseng kosong dan nafasnya tersengal2? Ia kelihatan sudah tak punya tenaga dalam”.

Semenjak memiliki Kioe yang Sin kang dan Kian koen Tay lo ie Sim hoat, Boe Kie dapat memahami berbagai ilmu silat yang terdapat dalam dunia persilatan. Selama beberapa bulan yang paling belakang, ia telah menerima banyak petunjuk dari Thio Sam Hong, sehingga kepandaiannya tambah tinggi. Kini, makin lama ia menonton pertandingan antara Ho Thay Ciong dan pendeta See hoan itu, makin ia merasa bahwa dibalik pertempuran itu terselip suatu latar belakang. Kiam hoat Ho Thay Ciong tetap lihai akan tetapi ia tidak memiliki lagi Lweekang dan tenaganya bersaman dengan tenaga orang biasa yang tidak mengerti ilmu silat. Dilain pihak kepandaian Hoan ceng itu kalah jauh dari Ho Ciangboen. Beberapa kali ia menyerang dengan hebat. Tapi setiap serangannya dapat dipunahkan. Sesudah bertanding kira2 50 jurus tiba2 Ho Thay Ciong membentak. “Kena” pedang kayu yang menyambar ke timur mendadak dan membelok ke barat dan mapir tepat di iga pendeta See hoan itu. Jika pedang itu pedang baja atau jika Ho Thay Ciong masih mempunyai Lweekang pendeta itu sudah pasti sudah binasa. Tapi sekarang bacokan itu, hanya mengakibatkan sedikit rasa sakit.

“Mokopas, mundur kau!” bentak orang yang suaranya dingin. “Uawei sekarang giliranmu!”

Boe Kie mengawasi orang yang memberi perintah itu. Muka orang yang berjenggot putih, seolah2 tertutup oleh selapis asap hitam dan dia bukan lain daripada salah seorang dari Hian beng Jie lo. Ia berdiri sambil menggendong tangan dan kedua matanya dirapatkan, seolah2 dia tidak memperdulikan apa yang terjadi dalam ruangan itu.

Tiba2 Boe Kie melihat sepasang kaki diatas sebuah meja kate yang dialaskan dengan sutra sulam. Kedua kaki itu memakai sepatu kuning dan diatas setiap sepatu tertera dengan sebutir mutiara yang berkeredapan. Jantung Boe Kie memukul keras. Ia mengenali, bahwa sepasang kaki itu yang bulat dan bagus sekali bentuknya adalah kaki nona Tio Beng. Dalam pertemuan di Boe tong san, ia menghadapi nona itu sebagai seorang musuh. Tapi sekarang entah mengapa hatinya berdebar2 dan paras mukanya berubah merah.

Kaki Tio Beng bergerak. Ia rupanya sedang memperhatikan jalannya pertempuran.

Berselang kira2 seminuman the, mendadak Ho Thay Ciong membentak lagi. “Kena!” ia berhasil merobohkan jago kedua.

“Uawol mundur!” bentak Hian beng Loojia. “Helin Pohu maju”

Ketika itu, nafas Ho Thay Ciong udah tersengal. Sesudah merobohkan 2 orang lawan, tenaganya mulai abis. Sesaat kemudian, pertempuran ke-3 dimulai. Helin Pohu menggunakan senjata berat, yaitu sebatang toya baja dan ia bertenaga sangat besar. Angin pukulan toya menyambar nyambar dengan hebatnya, sehingga semua lilin yang menerangi ruangan itu berkedip2, sebentar gelap, sebentar terang. Baru saja belasan jurus, pedang kayu sudah terpukul patah dan sambil menghela nafas Ho Thay Ciong melemparkan pedang buntungnya di lantai.

“Thie Kiam Sian seng, apa sekarang kau tidak suka menakluk?” tanya Hian beng Loe jin.

“Tidak!” jawabnya dengan angkuh. “Aku bukan saja tidak menakluk, tapi juga tidak menyerah kalah. Kalau aku masih memiliki tenaga dalam, Hoan ceng itu sama sekali bukan tandinganku.”

“Putuskan jari manis tangan kirinya!” bentak Hian beng Loo jin. “Sesudah itu kirim pulang ke menara!”

boe Kie menengok dan mengawasi kedua kawannya. Yo Siauw menggeleng2kan kepala, sebagai tanda bahwa ia tidak menyetujui penyerbuan yang bakal menggagalkan seluruh rencana mereka.

Sesaat kemudian terdengar suara dibacoknya jari tangan dan suara orang yang membalut luka, Ho Thay Ciong bener2 jago, sedikitpun ia tidak mengeluarkan suara. Sesudah itu sejumlah pengawal baju kuning kembali keluar dari pintu belakang dan mengantar Ho Thay Ciong balik ke menara. Dengan menyembunyikan diri di sudut tembok, Boe Kie bertiga melihat paras muka si kakek yang pucat bagaikan kertas dan kedua matanya yang seolah2 mengeluarkan api.

Sekonyong2 didalam ruangan terdengar suara wanita yang nyaring.

“Loo thung kek, sungguh lihai Kiam hoat Koen loen pay. Ia membacok Mokopas dengan pukulan ini, membabat seperti ini disebelah kiri dan memutar begini di sebelah kanan……” Orang yang bicara bukan lain daripada Tio Beng. Sambil bicara dengan dilayani oleh Mokopas, ia bersilat menggunakan pedang kayu, menurutr pukulan2 yang tadi digunakan oleh Ho Thay Ciong.

Orang yang dipanggil Loo Thung Kek adalah Hian beng Loo jin, si kakek muka hitam yang lantas saja memberi pujian.

“Coe jin berotak sangat cerdas. Pukulan2 itu tidaj beda dengan aslinya”

Tio Beng berlatih berulang2. setiap kali ia membacok iga Mokopas dengan menggunakan tenaga. Sehingga, biarpun pedang itu pedang kayu si pendeta soe hoa harus merasai kesakitan hebat, sebab harus menerima pukulan berulang2 ditempat yang sama. Tapi walaupun berjengit2. Mokopas sama sekali tidak memperlihatkan rasa jengkel. Sesudah memahami beberapa pukulan, Tio Beng lalu memanggil Unwol dan berlatih dengan pendeta itu dalam pukulan2 Ho Thay Ciong yang tadi merobohkan si pendeta.

Melihat begitu Boe Kie segera mengerti latar belakang kejadian itu. Dengan suatu tipu Tio Beng telah memenjarakan tokoh2 berbagai partai di Ban Hoat Sie dan menekan Lweekang mereka dengan menggunakan obat. Dengan cara itu ia mencoba ahli2 silat tersebut menekluk kepada kerajaan Goan. Karena tujuan yang pertama tidak berhasil, maka ia memerintahkan orang2nya bertanding dengan tokoh2 itu. Sedang ia sendiri memperhatikan jalannya pertandingan untuk mencuri pukulan2 yang paling lihay dari berbagai partai. Dari sini dapatlah dilihat, bahwa nona yang cantik itu telah menjalankan tipu daya.

Sekarang Tio Beng berlatih dengan Helin Po hu. Sesudah beberapa lama ia kelihatan bersangsi dalam beberapa jurus yang terakhir. Ia menengok dan bertanya. “Lok Thung kek, apa begini?”

Si kakek muka hitam terkejut dan sambil berpaling ke sebelah kiri, ia berkata “Saudara Ho, apa kau lihat tegas pukulan2 itu?”

Tio Beng tersenyum “Kauw soehoe” katanya. “Aku mohon petunjukmu”

Seorang Tauw too (pendeta ) yang berambut putih lantas saja bertindak keluar. Dia bongkok dan pincang, sedang mukanya penuh dengan bacokan golok, sehingga hampir tidak dapat dikenali. Disamping itu, ia bertubuh tinggi besar, sehingga biarpun bongkok, ia tidak lebih kate daripada Lok Thung Kek. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia mengambil pedang kayu dari tangan Tio Beng dan segera menyerang Helin Pohu dengan pukulan2 Koen Lun Kim hoat. Gerak2annya adalah sedemikian lincah, sehingga ia seolah2 sudah mempelajari ilmu pedang itu selama puluhan tahun.

Seperti Ho Thay Ciong, Kauw Tauw too tidak menggunakan tenaga dalam, sedang Helin Pohu menyerang dengan sekuat tenaga. Sesudah bertanding beberapa saat. Sambil membentak Helin Pohu menyabet dengan toyanya. Sebagian lilin padam karena angin pukulan itu. Itulah pukulan yang mematahkan pedang Ho Thay Ciong. Menghadapi sabetan dahsyat itu Kauw Tauw too memperlihatkan kegesitannya. Bagaikan walet yang terbang diatas air, pedangnya berkelebat, menempel di badan toya dan menapas ke depan, menghantam tangan Helin Pohu yang lantas kesemutan. “Trang!” toya itu jatuh dilantai. Muka Helin Pohu berubah merah. Ia tahu bahwa jika pedang itu pedang baja, jari2 tangannya tentu sudah terbabat putus, “Aku menyerah kalah!” katanya sambil membungkuk dan lalu menjemput toyanya.

Dengan kedua tangan Kauw Tauw too segera memulangkan pedang kayu kepada Tio Beng.

“Kauw Soehoe” kata si nona sambil tersenyum “Apakah pukulan yang terakhir juga Koen loen Kiam hoat?”

si pendeta manggutkan kepalanya.

“Apa Ho Thay Ciong tak mampu menggunakan pukulan itu?” tanya Tio Beng.

Dia menggangguk lagi.

“Kauw soehoe coba ajar aku lagi” memohon si nona.

Pendeta itu lantas saja melayani Tio Beng dengan tangan kosong. Biarpun ia Bongkok dan pincang, gerakannya gesit luar biasa, sehingga Tio Beng tidak bisa melayaninya. Tapi meski begitu, berkat kecerdasannya, si nona bisa juga meniru ferakan setiap pukulan. Sesudah beberapa gebrakan, dalam satu gerakan yang cepat dan indah, si tauw too memutar badan sambil mendorong dengan ke-2 tangannya. Kemudia ia berdiri tegak dan tidak bergerak lagi.

“Sungguh lihay pukulan itu!” puji Boe Kie didalam hati.

Sesudah memikir sejenak, nona Tio mendusin. “Apa!” serunya “Kauw soehoe, jika kau memegang toya, toya itu tentu sudah menghantam lenganku. Dengan cara apa pukulan itu bisa dipunahkan?”

Kauw tauw too segera membuat suatu gerakan seperti orang merampas toya dan berbareng kaki kirinya menendang. Gerakan itu yang dibuat dalam kecepatan luar biasa, bukan pukulan Koen loen Pay.

“Kauw soehoe, perlahan sedikit!” kata Tio Beng sambil tertawa.

“Tenaga dalammu tak cukup, tak dapat kau meniru gerakan itu” kata Boe Kie didalam hati.

Kouw Tauw too mwnggoyang2kan tangannya, sebagai tanda bahwa Tio Beng yang belum mempunyai cukup Lweekang tak akan bisa menggunakan pukulan itu. Sesudah itu, tanpa meladeni si nona lagi, dengan terpincang2 ia kembali ke tempatnya.

“Kepandaian Tauw too itu mungkin tidak berada di sebelah bawah Hian beng Jie lo” pikit Boe Kie. “Biarpun lweekangnya belum diketahui seberapa tingginya. Tapi ia bukan lawan enteng. Mengapa ia tak pernah bicara? Apa ia gagu? Tak mungkin gagu, sebab ia tak tuli. Tio kauwnio kelihatannya sangat menghormati dia. Dia pasti bukan sembarang orang.”

Melihat si bongkok tidak meladeninya. Tio Beng tidak menjadi gusar. Ia hanya tersenyum dan kemudian berkata “Panggil Tong Boen Liang!”

Tak lama kemudiam Tong boen liang digiring masuk dan kembali Long thung kek menyuruh 3 orang untuk melayani tetua Kong Tong pay itu. Tong Boen Liang yang tak mau jatuh dibawah angin karena senjata yang tidak seimbang minta bertanding dengan tangan kosong. Ia berhasil merobohkan 2 orang lawan, tapi kalah dalam pertandingan yang ke-3. seperti Ho Thay Ciong salah satu jati tangannya segera dikutungkan. Sesudah Tong Boen Liang meninggalkan ruangan itu, dengan dibantu oleh Long Thung Kek sendiri, Tio Beng segera berlatih dalam pukulan2 Kong Tong pay.

Didalam hati Boe Kie memuji kelihayan Tio Beng. Nona itu rupa2nya mengerti, bahwa tenaga dalamnya tak cukup dan untuk memiliki lweekang yang tinggi, ia harus berlatih dalam jangka waktu yang lama. Maka itu, ia mengambil jalan yang lebih pendek. Untuk menambal kekurangan dalam lweekang, ia memetik bagian2 yang paling bagus dari berbagai ilmu silat dalam dunia persilatan.

Sesudah berlatih beberapa lama, Tio Beng berkata “Panggil Biat Coat Loo nie!”

“Sudah 5 hari Biat Coat mogok makan” jawab seorang pengawal baju kuning.

“Sampai hari ini dia msih keras kepala”

“Biar dia mati kelaparan!” kata si nona sambil tersenyum. “Kalau begitu, panggillah Cioe Ci Jiak!”

Semenjak kembali dari Boe Tong, dari kakek gurunya, Boe Kie sudah mengerti segala kejadian semenjak ia berpisahan dengan Thay soehoe itu. Ia tahu, bahwa Cioe Ci (Tit) Jiak adalah si gadis yang dulu ditolong Thio Sam Hong ditengah sungai Han soei. Pada waktu itu, mereka berdua masih kecil. Tapi kecintaan, atau sedikitnya keramah tamahan, si nona tak dapat dilupakan olehnya. Di Kong beng teng atas perintah Biat Coat, Cie Jiak pernah menikam dia. Tapi ia sedikit tidak pernah merasa sakit hati. Sekarang mendengar perintah Tio Beng, tiba2 jantung memukul keras.

Tak lama kemudian, sejumlah pengawal baju kuning mengawal nona Cioe untuk masuk kurungan itu. Boe Kie mendapat kenyataan, bahwa si nona banyak lebih kurus, tapi kecantikannya tetap tak berubah. Ia bertindak masuk dengan sikap tenang, seolah2 ia tidak memikiri lagi soal hidup atau mati.

Lok Thung Kek segera menanyakan apa Cioe Ci Jiak suka menakluk, tapi si nona tak menjawab dan hanya menggelengkan kepala. Baru saja kakek itu mau memerintahkan orang sebawahannya turun ke gelanggang, tiba2 Tio Beng berkata. “Aku sungguh merasa kagum, bahwa dalam usia yang masih begitu muda kau telah menjadi salah seorang murid terpenting dari Go Bie Pay. Kudengar kau sangat disayang oleh Biat Coat Soethay dan telah mendapat ilmu yang paling tinggi dari gurumu. Apa begitu?”

“Ilmu silat guruku sangat luas dan dalam” jawabnya. “Mana bisa orang gampang2 mewarisi ilmunya yang paling tinggi?”

Tio Beng tertawa. “Menurut peraturan disini asal saja orang bisa menangkan 3 orangku, ia akan segera diantar keluar tanpa diganggu selembar rambutpun” katanya. “Mengapa gurumu begitu sombong dan sungkan memperlihatkan ilmu silatnya kepada kami?”

“Dalam menghadapi kebinasaan, guruku sungkan dihina” sahut nona Cioe “Mana boleh Ciangboen Go Bie pay mencari keselamatan dari orang2 sebawahanmu? Kau benar! Guruku memang tak memandang sebelah mata kepada manusia2 rendah yang jahat dan kejam. Memang benar soehoe tak sudi bertanding dengan manusia2 seperti kau dan anjing2mu!”

walaupun disemprot dengan perkataan2 tajam, Tio Beng kelihatan tidak menjadi gusar. Ia bahkan masih tertawa. “Bagaimana dengan Cioe Kauwnio sendiri?” tanyanya.

“Aku seorang muda, belum mempunyai pendirian sendiri” jawabnya. “Aku hanya turut apa yang dikatakan oleh guruku”

“Gurumu juga melarang kau bertanding dengan kami, bukan?” tanya pula Tio Beng. “Mengapa begitu?”

Cioe Jiak tersenyum dingin. “Biarpun Kiam hoat Goe bie pay tidak bisa dinamakan sebagai ilmu pedang yang sangat tinggi, sedikitnya kiam hoat kami adalah ilmu dari sebuah partai lurus bersih di wilayah Tionggoan. Maka itu, kami tentu saja menjaga supaya ilmu itu tidak sampai dicuri oleh segala manusia yang tidak mengenal malu”

Tio Beng terkejut. Ia tidak pernah menduga bahwa maksudnya telah ditebak jitu oleh Biat Coat Soethay. Mendengar sindiran yang sangat pedas, darahnya meluap juga. “Sret!” ia menghunus Ie Thian kiam. “Gurumu telah mencaci kami sebagai manusia yang tidak mengenal malu” katanya. “Baiklah! Sekaranf aku ingin menanya pedang Ie Thian kiam ini terang2 sebuah mustika milik keluargaku. Mengapa partaimu, partai Goe Bie Pay telah mencurinya?”

“Semenjak dahulu orang mengenal Ie Thian kiam dan To Liong To sebagai senjata2 mustika milik rimba persilatan daerah Tionggoan.” Jawabnya dengan suara tawar. “Aku belum pernah mendengar, bahwa pedang itu mempunyai sangkut paut dengan seorang perempuan Hoan pang (orang asing dari See hoan)”

Paras muka Tio Beng lantas saja berubah merah padam. “Ha!” bentaknya. “Apa benar kau tidak mau bertanding?” Nona Cioe menggeleng2kan kepala.

“Menurut peraturan disini, orang yang kalah bertanding atau yang tidak mau bertanding harus diputuskan salah satu jari tangannya” kata Tio Beng “Rupa2nya kau beradat sombong karena menggangulkan mukamu yang sangat cantik. Aku sekarang tak mau memutuskan jari tanganmu” ia menunjuk Kauw Tauw too dan berkata pula. “Aku akan membuat mukamu seperti muka suhu itu. Aku akan membuat beberapa puluh goresan pedang diatas mukamu. Kumau lihat apakah kau masih bisa mempertahankan kesombonganmu”

sehabis berkata begitu, ia mengibaskan tangannya. 2 pengawal baju kuning lantas saja melompat dan mencekel ke-2 lengan Cioe Jiak erat2.

Tio Beng tertawa mengejek. “Untuk menggores muka, orang tidak perlu memiliki Kiam hoat Go bie pay” katanya. “Apa kau kira aku tidak mengubah kau menjadi perempuan muka jelek karena ilmu silatku tak keruan macamnya?”

Kedua mata nona Cioe mengembang air dan tubuhnya bergemetaran. Untung Ie thian kiam hanya terpisah beberapa dim dari pipinya. Dengan sekali mendorong tangannya si iblis bisa membuat mukanya menyerupai muka tauw too itu.

Tio Beng tertawa “Kau takut tidak?” tanyanya.

Sekarang Cioe Ci Jiak tidak bisa mempertahankan keteguhannya lagi. Ia menggangguk dan menjawab dengan suara parau “Takut”

“Bagus!” kata nona Tio. “Apa itu berarti, bahwa kau menakluk?”

“Tidak!” jawabnya. “Lebih baik kau bunuh aku saja”

Tio Beng tertawa nyaring. “Aku belum pernah membunuh orang.” Katanya. “Aku hanya ingin menggores kulit dan sedikit dagingmu”

Tiba2 sinar putih berkelebat. Tio Beng benar2 menyabetkan Ie thian kiam ke muka nona Cioe. Pada detik yang sangat berbahaya, sebelum ujung pedang menyentuh kulit, tiba2 terdengar suara “Trang!” sebuah benda melayang dan Ie thian kiam terpukul miring. Hampir berbareng jendela hancur, seorang melompat masuk dan 2 pengawal yang mencekal Cioe Ci Jiak roboh dilantai. Semua kejadian itu terjadi dalam sekejap mata. Dilain detik tangan kiri orang itu melindungi nona Cioe dengan memeluk pinggang si nona, sedang tangan kanannya mengadu dengan Long Thung Kek. “Plak!” keduanya terhuyung2 setindak. Ternyata orang yang menolong bukan lain Boe Kie.

Menyerbunya Boe Kie seolah2 halilintar ditengah hari bolong. Dalam ruangan itu berkumpul jago2 yang sangat lihai, tapi tak urung mereka terkesiap. Bahkan Hian beng ji loe (2 kakek yang memiliki Hian beng sin kiang) yang memiliki kepandaian paling tinggi tak keburu menghalangi Boe Kie. Tapi biar bagaimanapun Long Tung Kek bertindak cepat. Begitu mendengar pecahan jendela, ia lantas melompat ke depan Tio Beng untuk melindungi majikannya dan berbareng menyambut pukulan Boe Kie. Diluar dugaannya bentrokan tangannya membuatnya terhuyung. Buru2 ia mengempos semangat, tapi ia kaget sebab ia merasa sekujur badannya panas, seperti orang masuk ke dalam dapur. Mengapa begitu? Karena pada waktu beradu tangan, Kioe yang cin keng dari Be Kie menerobos masuk kedalam badannya. Sebagaimana diketahui, Lweekang Long Thung Kek adalah Lweekang yang sangat dingin. Kioe yang Cin kie adalah “hawa” yang bersifat Soen yang (panas murni). Maka itu, masuknya Kioe yang cin kie suda mengakibatkan bentrokan antara panas dan dingin didalam tubuhnya.

Melihat keadaan Long Thung Kek, Hian beng Jie lo yang satunya lagi yang bernama Ho Pit Ong cepat2 menghampiri dan mencekal tangan Long Thung Kek. Dengan tenaga kedua orang itu barulah Kioe yang cin kie dapat ditindih.

Pada detik itu, orang yang merasai keneruntungan yang paling besar adalah Cioe Cie Jiak. Dalam menghadapi bahaya besar, ia tidak pernah mimpi, bahwa ia akan mendapat pertolongan dan yang menolong adalah Boe Kie sendiri. Dengan jantung memukul keras ia mendapat tahu, bahwa pinggangnya dipeluk Boe Kie. Semenjak pertemuan di Kong beng teng, siang malam ia belum pernah melupakan pemuda itu.

Maka itulah, biarpun menghadapi bahaya besar, biarpun ia berada ditengah2 ratusan golok, ia merasa beruntung dan tidak memperdulikan apapun juga.

Sementara itu melihat kauwcoe mereka menyerbu, Yo Siauw dan wie It Siauw-pun segera melompat masuk dan berdiri di belakang Boe Kie. Orang2nya Tio Beng yang semula kaget sekarang sudah tenang kemabli lantaran mereka tahu, bahwa yang datang hanyalah 3 orang musuh. Dari tanda yang diberikan oleh pengawal, mereka tahu bahwa diluar ruangan itu tidak terdapat lain musuh. Mereka lantas saja menjaga semua pintu dan menunggu perintah sang majikan.

Nona Tio tidak bergusar. Ia mengawasi Boe Kie dan kemudian mengawasi 2 benda kuning berkeredapan yang menggeletak di lantai. Ternyata, waktu ia mau menggores muka Cioe Cie Jiak. Boe Kie sudah menimpuk dengan serupa benda dan sebab Ie thian Kiam tajam luar biasa maka benda itu terbacok menjadi 2 potong. Sekarang ia tahu, bahwa benda itu adalah kotak emas yang ia berikan kepada Boe Kie. “Kau rupa2nya membenci sangat kotak itu” katanya dengan suara pelan.

Melihat sorot mata Tio Beng yang penuh rasa menyesal, Boe Kie kaget dan heran. “Aku tidak membawa senjata rahasia” katanya dengan suara lemah lembut. “Dalam keadaan kesusu, aku sudah menggunakan kotak itu. Harap Tio kauwnio tidak menjadi gusar”

Kedua mata si nona mendadak mengeluarkan sinar terang. “Apakah kau selalu membawa kotak itu?” tanyanya.

“Ya” jawabnya. Melihat Tio Beng terus mengawasi dirinya, dengan paras muka merah cepat2 Boe Kie melepaskan pelukannya pada pinggang Cie Jiak.

Nona Tio menghela nafas dan berkata. “Aku tak tahu bahwa Cioe Cie Jiak adalah…..adalah…sahabatmu. kalau kutahu tentu tidak berbuat begitu terhadapnya. Kalau begitu kalian adalah……”ia tidak meneruskan perkataannya dan menengok ke jurusan lain.

“Cioe Kauwnio tidak….bukan…..apa2”kata Boe Kie “Hanya……hanya….”

Tanpa mengeluarkan sepatah kata Tio Beng mengawasi pula 2 potong kertas itu. Sinar matanya menunjuk, bahwa ia ingin bicara banyak tapi mulutnya terkancing.

Melihat begitu Cioe Ci Jiak kaget. Dengan jantung memukul keras ia berkata didalam hati “Ah! Tak dinytana iblis perempuan itu mencintainya”

Tapi Boe Kie tidak memikir sampai disitu. Ia hanya merasa, bahwa ia sudah berbuat salah. Isi kotak itu sudah mengobati Jie Thay Giam dam In Lie Heng. Sebagai pembalasan budi, ia menggunakannya sebagai senjata rahasia, sehingga kotak itu terbagi 2. inilah ketelaluan, pikirnya. Ia segera menjemput ke-2 potong kotak itu dari atas lantai dan berkata dengan suara meminta maaf. “Aku akan meminta seorang tukang yang pandai untuk menyambungnya lagi”

“Apa benar?” menegas si nona dengan suara girang.

Boe Kie manggutkan kepala. Ia merasa heran mengapa nona Tio begitu girang. Tapi ia tak mau memikir panjang panjang. Ia hanya menganggap bahwa wanita muda itu sering menunjukan sikap yang aneh2. ia segera memasukkan kedua potongan itu kedalam sakunya.

“Nah, sekarang kau pergilah!” kata Tio Beng.

Alis Boe Kie berkerut. Ia datang dengan tujuan untuk menolong para pamannya dan lain2. sebelum mereka tertolong ia tidak bisa pergi. Tapi dilain pihak, musuh mempunyai banyak sekali orang pandai dan dengan hanya bertiga, ia tidak bisa berbuat banyak. “Tio kauwnio, perlu apa kau menangkap Toasopeh dan yang lain2nya” tanyanya.

Nona Tio tertawa, “Maksudku sebenarnya baik sekali” jawabnya. “Aku mengundang mereka supaya mereka suka mengeluarkan tenaga untuk kerajaan supaya kita bersama2 bisa mencicipi kesenangan dan kemewahan. Diluar dugaan mereka sangat keras kepala. Maka itu, aku tidak bisa berbuat lain daripada coba membujuk mereka dengan perlahan2”.

Boe Kie mengeluarkan suara dihidung dan lalu mendekati Cioe Cie Jiak. Biarpun dikurung oleh musuh2 yang berkepandaian sangat tinggi, sikapnya tenang dan wajar. Tadi ketika ia menjemput kedua potong kotak emas, ia bergerak seolah2 di ruangan itu tak ada manusianya. Sekarang, setelah menyapu seluruh ruangan dengan matanya, ia berkata “Baiklah! Kalau begitu, kami ingin berpamitan.” Ia memegang tangan Cioe Cie Jiak, memutar badan dan lalu bertindak keluar.

“Tahan!” bentak Tio Beng. “Jika kau inin pergi sendiri, aku tak nanti menghalang-halangi. Tapi dengan mengajak Cioe kauwnio tanpa memberitahukan aku, kau sungguh tidak memandang sebelah mata kepadaku”.

“Benar aku melanggar adat kesopanan” kata Boe Kie sambil menghentikan tindakannya lalu memutar tubuh. “Tio kauwnio, aku meminta kau melepaskan Cioe Kauwnio dan mempermisikannya untuk mengikut aku”.

Tio Beng tidak menjawab. Ia memberi isyarat kepada Hian beng Jie lo dengan lirikan mata. Ho Pit Ong maju beberapa tindak dan berkata “Thio kauwcoe, kau datang lantas datang, mau pergi lantas pergi. Mau menolong orang lantas menolong. Kau pikirlah! Dengan perbuatan itu, dimana kami harus menaruh muka? Apabila kau tidak memperlihatkan kepandaianmu kami semua tentu merasa sangat penasaran.”

Mendengar suara si kakek, darah Boe Kie lantas saja meluap. “Tua bangka kurang ajar!” cacinya “dahulu, diwaktu aku masih kecil, kau sudah membekuk aku, sehingga hampir2 jiwaku melayang. Hari ini, kau masih ada muka bicara begitu dihadapanku. Sambutlah!” seraya berkata begitu, ia menghantam Ho Pit Ong.

Lok Tung Kek yang tadi sudah berkenalan dengan kelihayan Boe Kie, mengerti bahwa dengan seorang diri, kawan itu bukan tandingan pemuda itu. Bagaikan kilat ia melompat dan memukul. Boe Kie tidak membatalkan serangannya tangan kanannya terus menghantam Ho Pit Ong sedang tangan kirinya menangkis pukulan Lok Thung Kek. Dalam gebrakan ini “Tenaga tulen” melawan “tenaga tulen”. Berbarengan dengan bentrokan empat lengan, tubuh ketiga orang itu bergoyang2.

Pada beberapa bulan berselang, dalam pertemuan di Boe tong san, 2 tangan Hian beng Jie lo melayani ke-2 tangan Boe Kie, sedang 2 tangan mereka yang lain menghantam tubuh pemuda itu. Sekarang mereka ingin mengulangi siasat itu. 2 tangan mereka yang masih merdeka dengan berbareng menghantam Boe Kie.

Tapi sesudah dibokong satu kali. Siang2 ia sudah memikiri cara bagaimana untuk memunahkannya. Demikianlah, selagi ke-2 tangan musuh menyambar, tiba2 ia menyikut dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie Sin Kang. “Plak!” tangan kiri Ho Pit Ong memukul tangan kanan Lok Thung Kek. Kedua kakek itu memukul dengan ciang hiat yang sama, dengan tenaga yang sama pula. Sambil mengeluarkan seruan tertahan, mereka merasakan kesakitan hebat. Tak kepalang rasa herannya. Mereka sama sekali tidak mengerti, mengapa mereka saling pukul dengan teman sendiri. Ternyata, biarpun berkepandaian tinggi, Hian beng jie lo belum mengenal Kian koen Tay lo ie.

Dilain saat, dengan gusar mereka menyerang bagaikan hujan dan angin. Dalam serangan itu, mereka bekerja sama erat sekali, yang satu menyerang, yang satu membela diri. Tapi Boe Kie terus menggunakan Tay loe ie sin kang, sehingga beberapa kali ke-2 lawannya saling gebuk dengan kawan sendiri.

Hian beng Jie lo saling mengawasi dengan mata membelalak dan muka pucat. Sementara itu, Boe Kie mengubah cara berkelahinya. Kini ia menyerang, dengan “hawa” yang “panas murni”. Diserang begitu ke-2 kakek itu yang mempunyai Lweekang “dingin” jadi setengah mati.

Boe Kie terus mendesak tanpa mengenal ampun. Makin lama pukulan2nya makin cepat dan erat. Dalam pertemuan ini, ia mengenali, bahwa diantara Hian beng Jie lo, Ho Pat Ong lah yang telah memukulnya dengan Hian Beng sin ciang pada 20 tahun berselang. Ia ingat cara bagaimana pukulan itu sudah mengakibatkan penderitaan hebat bagi dirinya dan hampir saja ia kehilangan jiwa. Ia adalah seorang yang selalu bersedia untuk mengampuni semua manusia. Tetapi sekarang, darahnya mendidih. Terhadap Lok Thung Kek, ia masih berlaku murah hati, tapi terhadap Ho Pit Ong ia tak sungkan2 lagi.

Sesudah bertempur kira2 20 jurus muka Ho Pit Ong yang semula hijau berubah menjadi merah. Tiba2 Boe Kie menghantam dengan telapak tangannya. Buru2 ia menangkis dengan tangan kiri, sedang tangan kanan mereka itu dapat digunakan lagi untuk balas menyerang “Plak!…Plak!” kedua tangan dengan saling susul mampir di pundak Long Thung Kek sedang tangan Boe Kie terus menyambar tanpa bisa ditangkis atau dikelit lagi. “Buk!” dadanya terpukul keras. Untung juga pada detik terakhir Boe Kie merubah pikiran dan sungkan mengambil jiwa musuh. Sehingga pada saat yang memutuskan, ia mengurangi tenaganya. Tapi biarpun begitu, Ho Pit Ong segera memuntahkan darah, dari merah mukanya berubah menjadi ungu dan badannya bergoyang2. kalau Boe Kie mengirim pukulan susulan kakek itu tentu segera tamat riwayatnya. Sementara itu sebab kena 2 pukulan kawan sendiri. Lok Thung Kek berjengit dan seraya menggigit gigi ia terhuyung beberapa tindak.

Hian Beng Jie lo adalah jago2 utama dibawah perintah Tio Beng. Bahwa belum cukup 30 jurus mereka sudah terluka berat, adalah kejadian yang sungguh2 mengejutkan semua orang. Terhitung Yo Siauw dan Wie It Siauw sendiri.

Mengejutkan karena pada waktu bergebrak dengan Hian beng Jie lo di Boe Tong San kepandaian Boe Kie belum setinggi sekarang. Tak disangka dalam tempo beberapa bulan saja, ia sudah maju begitu pesat.

Sebab musabab dari kemajuan itu ialah sambil mengobati Jie Thay Giam dan In Lie Heng selama beberapa bulan Boe Kie banyak menerima pelajaran dari Thio Sam Hong. Kioe yang sin kang, Kian koen thay lo ie dan Thay kek koen telah bergabung menjadi satu sehingga dapat dikatakan, Boe Kie telah mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu silat. Sesudah memikir sejenak, Yo Siauw mengerti sebab musabab itu. Mereka kagum terhadap guru besar itu dan mengagumi juga kauwcoe mereka.

Sesudah menderita kekalahan dalam pertandingan tangan kosong sambil membentak keras, dengan berbareng hian beng jie lo mengeluarkan senjata mereka. Lok Thung Kek memegang sebatang tongkat pendek bercagak menyerupai tanduk menjangan, warna hitam, entah dibuat dari logam apa. Ho Pit Ong mencekal sepasang pit(senjata seperti pena Tionggoan) warna putih terang, seperti krystal, yang ujungnya lancip seperti patuk burung Ho. Mereka sudah lama mengikuti Tio Beng tapi malah nona itu sendiri tidak pernah melihat mereka menggunakan senjata.

Dimana saat satu sinar hitam dan 2 sinar putih segera mengepung Boe Kie. Pemuda itu tak bersenjata, tapi sedikitpun ia tak merasa keder. Ia justru ingin menjajal kepandaiannya. Ia ingin mengetahui apakah dengan tangan kosong ia bisa melayani ke-2 musuh yang lihay itu.

Dalam kegusarannya, Hian beng jie lo menggunakan senjata yang jarang sekali mereka gunakan. Selama hidup mereka sangat mengandalkan senjata itu yang dapat digunakan untuk menyerang musuh dengan pukulan2 aneh. Nama mereka atau lebih tepat nama julukan mereka telah didapatkan dari senjata itu. Lok kak Toan thung dan Ho swee Siang pit (Tongkat pendek yang menyerupai tanduk menjangan dan sepasang pit yang menyerupai patuk burung ho) dan sebagai ringkas mereka menggunakan nama Lok Thung Kek (si pit burung ho).

Dengan memusatkan seluruh perhatian dan semangatnya, Boe Kie melayani ke-2 musuh itu. Untuk menyelamatkan diri dari serangan2 musuh luar biasa ia menggunakan ilmu ringan badan yang paling tinggi. Tapi untuk sementara waktu, ia belum benar2 memahami pukulan2 kedua kakek itu yang benar2 aneh. Dengan demikian biarpun ia berkepandaian cukup untuk membela diri, ia tak bisa mendapat kemenangan dalam waktu cepat.

Sementara itu, begitu Boe Kie bertempur melawan hian beng jie lo, Tio Beng menepuk tangan 3 kali dan 3 orang lantas saja menerjang Yo Siauw, 4 orang meyerang Wie It Siauw, sedang 2 orang membekuk Cioe Cie Jiak. Dalam sekejap Yo Siauw mwlukai lawan dengan pedangnya. Wie It Siauw merubuhkan 2 orang dengan pukulan Bian Ciang. Tapi jumlah musuh terlalu banyak. Roboh satu maju 2. Boe Kie yang sedang dikepung tak bisa memberikan pertolongan. Andaikata mereka bertiga ingin melarikan diri, mereka masih bisa berbuat begitu. Tapi kalau mau mengajak Cioe Cie Jiak mereka takkan bisa melakukan itu.

Makin lama keadaan pihak Boe Kie jadi makin jelek. Mereka bingung dan makin bingung, mereka makin terdesak.

Sekonyong2 Tio Beng membentak. “Semua berhenti!”

Hampir berbareng, semua jagonya nona Tio melompat keluar dari gelanggang.

Yo Siauw segera memasukkan pedangnya kedalam sarung, sedang Wie It Siauw memulangkan golok yg dirampasnya kepada pemiliknya. Sesudah itu sambil tertawa terbahak2 mereka berdiri dibelakang Boe Kie. Orang2 sebawahan Tio Beng yg berkepandaian tinggi Kouw Tauw Too dan yang lain2 banyak yg belum turun ke gelangang. Apabila mereka menyerbu, Boe Kie bertiga pasti takkan bisa mempertahankan diri. Bahwa dalam menghadapi bahaya kedua pemimpin Bengkauw itu masih bisa tertawa sudah membangkitkan rasa kagum dalam hatinya semua orang. Sementara itu dengan rasa kuatir Boe Kie melihat seorang pria yg menudingkan sebatang pisau ke punggung Cioe cie Jiak.

“Thio kongcu, sam wie (ketiga tuan) pergilah”, kata nona Cioe. “Aku merasa sangat berterima kasih akan maksud sam wie yg mulia.”

“Thio Kongcu,” kata Tio Beng sambil tersenyum. “Aku sungguh merasa kasihan terhadap nona yg begitu cantik. Apakah Cioe Kouwnio gadis idam2an mu?”

Paras muka Boe Kie lantas saja berubah merah. “Cioe Kouwnie dan aku sudah saling mengenal sejak kecil” katanya. “Diwaktu kecial aku telah dipukul oleh manusia itu…” ia menuding Hi Pin Ong, “Dengan Hian beng Sin ciang. Racun dingin masuk kedalam tubuhku dan aku hampir tak bisa bergerak. Pada waktu itu Cioe Kouwnio telah merawat aku menyuapi makan kemulutku dan memberi minum kepadaku. Budi yang besar itu sukar sekali bisa dilupakan olehku.”

“Kalau begitu, kalian adalah kawan sedari kecil,” kata Tio Beng. “Bukankah kau ingin mengangkat dia sebagai kauwcoe Hoejim (Nyonya kauwcoe) dari Beng Kauw?”

Muka Boe Kie jadi terlebih merah. “Sebelum musuh dapat diusir, tak bisa aku menikah!” katanya.

Tio Beng lantas saja gusar, “Apa benar2 kau mau menumpas aku?” tanyanya.

Boe Kie menggelengkan kepalanya. “Sampai sekarang aku masih belum tahu asal usul kauw Nio,” katanya. “Meskipun kita telah kebentrok berapa kali bukan aku, tapi kauwnio yg cari urusan. Apabila kouwnio sudi melepaskan para pamanku dan tokoh2 berbagai partai, aku akan merasa sangat berterima kasih dan sedikitpun tidak berani bermusuhan lagi dengan kouwnio. Apapula kouwnio boleh memerintahkan aku melakukan tiga rupa pekerjaan. Kouwnio boleh menyebutkannya dan aku pasti akan melakukannya sedapat mungkin.”

Tio Beng tertawa, “Ah! Kau belum lupa?” katanya. Ia berpaling kepada Cioe Cie Jiak dan berkata pula. “Jika benar Cioe kouwnio bukan gadis idamanmu, bukan saudari seperguruanmu bukan tunangamyu, maka di goresnya muka yg cantik itu sama sekali tiada sangkut pautnya dengan kau.”

Sehabis berkata begitu, ia melirik. Hampir berbareng Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong melompat kedepat Cioe Cie Jiak dengan masing2 mencekal senjata, sedang salah seorang pengawal menudingkan pisau pada muka Coe.

“Thio kong coe,” kata pula Tio Beng. “Lebih baik kau berterus terang kepadaku.”

Selagi Tio Beng bicara, Wie It Siauw membuka telapak tangannya dan meludahinya beberapa kali, akan kemudian menggosok gosok telapak tangan yg penuh ludah itu di sela sepatunya. Semua orang merasa heran. Mereka tak bisa menebak apa maksud Wie Hok Ong.

Sekonyong2 Ceng Ek Hong Ong tertawa terbahak bahak dan belum habis ia tertawa tubuhnya berkelebat bagaikan kilat. Hampir berbareng Tio Beng kedua pipi nya di usap orang dan dilain detik Wie It Siauw sudah berdiri lagi di tempat semula dengan tangan memegang dua batang golok pendek. Tak seorangpun melihat, dari pinggang siapa ia mencabut kedua senjata itu.

Nona Tio terkesiap, ia tak berani meraba pipinya dan lalu mengeluarkan sehelai sapu tangan untuk menyusutnya. Sapu tangan itu bergelepotan suatu cairan2 lendir yg tercampur tanah. Ludah Wie Hok Ong! Bahwa gusar, paras muka si nona berubah menjadi meah padam. Mengingat mukanya dilabur ludah hampir2 ia muntah.

“Tio Kouwnio!” bentak Wit It Siang dengan suara lantang. “Kalau kau mau merusak muka Cioe Kouwnio, aku tentu tudak bisa mencegah. Nama Thio Kauwcoe kami dikenal ditengah lautan dan sebagai pemuda berkepandaian tinggi dan tampat, tak sukar untuk mencari gadis2 cantik untuk dijadikan istri dan empat gundik. Pada hakekatnya, ia tak memikir Cioe Kounio. Tapi kau manusia kejam luar biasa dan aku, si orang she Wie, tidak bisa membiarkan dengan begitu saja. Tio Kouwnio, kau dengarlah! Jika hari ini kau menggores muka Cioe Kouwnio satu kali, aku akan membalas budi dengan dua kali lipat, aku akan menggores mukamu dua kali, aku akan membayar dengan empat goresan. Apabila kau memutuskan satu jari tangannya, aku akan memutuskan satu dua jari tangan2mu. Si orang she Wie tidak pernah berdusta. Apa yg dikatannya pasti akan dilakukannya. Ceng Ek Hok Ong belum pernah menjilat lagi ludah yg sudah dibuangi. Mungkin kau bisa menjaga diri selama setengah atau satu tahun, tapi kau pasti tak akan mampu berwaspada terus menerus dalam delapan sembilan tahun atau sepuluh tahun. Mungkin untuk menyelamatkan diri kau akan menyuruh anjing2mu untuk membinasakan aku. Tapi aku percaya tak seorangpun didalam dunia ini yg bisa mengubar dirinya Ceng Ek Hong Ong. Nah selamat tinggal!.” Berbareng dengan terdengarnya “perkataan tinggal” badan Wie It Siauw menghilang dari ruangan itu. Kecepatan bergeraknya Wie Hok Ong sungguh2 menakjubkan, semua orang yakin bahwa ancaman yg dikeluarkan dengan suara tenang bukan gertak sambal.

Muka Tio Beng sebentar pucat, sebentar merah. Ia mengerti, bahwa kalau tadi Wie It Siauw mengusap mukanya menyeluruh dengan sebatang pisau, muka yg cantik itu sudah mulai cacat iapun yakin bahwa sesuai dengan ancaman itu, ia tak akan bisa menjaga diri terus menerus. Dalam ruangan itu, orang yg berilmu silat paling tinggi adalah Boe Kie. Tapi Boe Kie pun tidak ungkulan melawan Wie It Siauw dalam ilmu ringan badan. Dalam perlombaan jarak jauh berkat Lweekangnya ia akan memperoleh kemenangan. Tapi dalam jarak dekat ia tak usah berharap bisa menyandek Wie Hok Ong. Pada jaman itu, dalam seluruh rimba persilatan, Wie It Siauw lah yg memiliki ilmu mengentengkan badan yg paling tinggi.

Sesaat kemudian, sambil membungkuk Boe Kie berkata, “Tio Kauwnio, kalau begitu sekarang saja kami minta diri.” Dengan menuntun tangan Yo Siauw, ia meninggalkan ruangan itu. Ia tahu bahwa sesudah mendapat ancaman, Tio Beng pasti tidak berani main gila terhadap Cioe Cie Jiak.

Dengan rasa malu dan gusar nona Tio mengawasi mereka, tapi ita tidak berani memerintahkan orang2nya untuk mencegat kedua pimpinan Beng Kauw itu.

Setibanya dirumah penginapan, Wie It Siauw sudah menunggu, “Wie Hok Ong,” kata Boe Kie sambil tertawa, “hari ini kau memberi pelajaran lepat kepat kepada mereka. Mereka sekarang mengerti, bahwa Beng Kauw tidak boleh dibuat gegabah.”

Wie It Siauw tertawa nyaring, “Aku tanggung tiga hari tiga malam nona cantik itu tidak enak tidur,” katanya.

“Makin dia tidak enak tidur, makin sukar kita menolong orang,” kata Yo Siauw.

“Yo Co Soe bagaimana pikiranmu?” tanya Boe Kie. “Apakah kau mempunyai daya yang baik untuk menolong mereka?”

Alis Yo Siauw berkerut. “Memang sukar,” jawabnya. “Kita hanya bertiga, apapula kedatangan kita sudah diketahui oleh musuh.”

Boe Kie merasa jangah. “Akulah yang bersalah,” katanya dengan suara meminta maat. “Sebab melihat Cioe Kauwnio menghadap bahaya aku tidak bisa untuk melakukan dan menahan hati, sehingga akhirnya aku merusak urusan besar.”

“Kauw coe tidak bersalah,” bantah Yo Siauw. “Dalam keadaan begitu, kamipun tidak bisa tidak turun tangan. Bahwa dengan seorang diri, Kauw coe sudah mengalahkan Hian Beng Jie Lo, adalah kejadian yg sangat baik untuk pihak kita.” Sesudah beromong2 beberapa lama lagi, mereka segera pergi mengaso di masing2 kamarnya.

Pada esok harinya Boe Kie tersadar dari tidurnya. Begitu membuka mata ia melihat jendela terpentang lebar dan seorang berdiri didepan jendela sedang mengawasinya. Dengan kaget ia melompat bangun. Orang itu mukanya penuh tanda bacokan golok, bukan lain daripada Kouw Tauw Too. Boe Kie makin kaget, Kouw Tauw Too terus mengawasinya, tapi ia kelihatan tidak mengandung maksud jelek. Boe Kie merasa seolah2 kepalanya diguyur air dingin. “Bagaimana aku bisa pulas begitu nyenyak?”, katanya didalam hati. Musuh sudah berada diluar jendela dan aku masih belum tahu. Dilain saat ia berteriak, “Yo ce soe! Wie Hok ong!” Mereka yg tidur dikamar sebelah, lantas saja menyahut. Hati Boe Kie agak lega sedikitnya ia tahu, bahwa kedua kawannya tidak dicelakai musuh.

Sementara itu, Kauw Tauw Too sudah menyingkir. Bagaikan kilat Boe Kie melompat keluar jendela dan terus mengubar. Yo Siauw dan Wie It Siauw menyusul dari belakang. Setibanya diluar mereka tidak melihat musuh lain, sedang si pendeta kabur ke arah utara. Seraya memberi isyarat dengan ulapan tangan, mereka mengejar.

Meskipun pincang, pendeta itu bisa lari cepat sekali. Waktu itu fajar baru menyingsing dan jalanan masih sepi. Tapi lama kemudian, mereka sudah keluar dari pintu utara dan Kouw Tauw too membelok kejalanan kecil. Sesudah lari tujuh delapan li lagi, mereka tiba disebuah bukit batu dan si pendeta menghentikan tindakannya. Sesudah mengibas2kan tangannya sebagai tanda supaya Yo Siauw and Wie It Siauw mundur, ia memberi hormat. “Apa maksudnya?” tanyanya didalam hati. “Tempat ini tiada manusianya dan kalau sampai bertempur, dengan seorang diri, dia pasti kalah. Kelihatannya dia tidak mengandung maksud jahat.”

Selagi Boe Kie memikir begitu, seraya mengeluarkan suara “ah ah uh uh” si gagu sudah menerjang. Dia menyerang dengan memandang sepuluh jeriji tangan kiri merupakan Houw Jiauw (kuku harimau), tangan kannya berbentuk Liong Jiauw (cakar naga) sepuluh jari tangannya bengkok seperti gretan baja dan serangannya hebat luar biasa.

Dengan mengibaskan tangan kiri, Boe Kie memunahkan serangan lawan. “Bagaiman maksud Siang jin?” tanyanya. “Sesudah bicara, kita masih mempunyai banyak waktu untuk bertempur.” Tapi si pendeta tidak meladeni dan terus menyerang. Tangan kirinya semula merupakan Hauw Jiauw berubah menjadi Eng Jiauw (cakar elang) sedang tangan kanannya berubah menjadi Hauw Jiauw.

“Apa benar2 Sian jin mau bertanding juga?” tanya Boe Kie seraya berkelit.

Si gagu tetap tidak menjawab. Kedua tangannya berubah lagi Eng Jiauw menjadi Say ciang (telapak tangan singa), Houw Jiauw menjadi Ho uwee (patuk burung Ho), sedang pukulannyapun turut berubah. Demikianlah, dalam tiga gebrakan ia sudah menyerang dengan enam rupa pukulan.

Boe Kie tidak berani berayal lagi dan segara melayani dengan Thay kek koen. Ia bergerak bagaikan mengalirnya air dan setiap pukulannya, baik membela diri maupun menyerang, merupakan lingkaran Thay kek. Dalam pihak, Kauw tauw too menyerang dengan tipu2 yg beraneka ragam. Ia menggunakan ilmu silat yg aneh2 menggabung silat “sesat” dengan silat dari partai lurus bersih. Tapi Boe Kie sendiri tetap melayani dengan Thay Kek Koen. Sesudah bertempur kurang lebih tujuh puluh jurus, sambil membentak keras. Kouw Tauw Too, meninju dari jurusan Tiong Kiong. Bagaikan kilat, dengan gerakan Jie hong Sie pit, Boe Kie memuji tinju yang menyambar dan berbareng dengan pukulan Tan Pian, telapak tangan kanannya meneput punggung si pendeta yg bongkok. Tepukan itu mampir tepat pada sasarannya, tapi Boe Kie tidak menggunakan Lwee Kang dan begitu telapak tangannya menyentuh punggung ia segera menarik pulang.

Si pendeta melompat kebelakang dan mengawasi Boe Kie dengan sorot mata berterima kasih. Ia mengerti bahwa dalam tepukan tadi, pemuda itu telah menaruh belas kasihan. Sesaat kemudian, ia menggapai Yo Siauw dan dengan gerakan tangan mengutarakan keinginannya untuk meminjam pedang. Yo Siauw membuka ikatan tali pedang dan bersama sama sarungnya, ia menyerahkan senjata itu kepada si pendeta.

Boe Kie heran, “Mengapa Co Soe meminjam senjata kepada musuh?” tanyanya dalam hati.

Sementara itu, sesudah menghunus pedang Kouw Tauw too memberi isyarat supaya Boe Kie meminjam pedang Wie It Siauw. Tapi pemuda itu menggelengkan kepala dan lalu menggambil sarung pedang dari tangan si pendeta. Sesudah itu, sambil melintangkan sarung pedang di depan dada ia membuat gerakan Ceng chioe (mengundang). Kouw Tauw too tidak berlaku sungkan2 lagi dan lalu membuka serangan. Setelah menyaksikan cara bagimana pendeta itu mengajar ilmu pedang kepada Tio Beng, Boe Kie tahu, bahwa dia memiliki Kiam hoat yg sangat tinggi. Maka itu, ia segera melayani dengan Thay kek Kiam hoat. Seperti juga dalam pertandingan tangan kosong, Kouw tauw too menyerang dengan rupa2 pukulan yg dikirim secara berantai yg satu belum habis yg lain sudah menyusul. Sesudah bertanding beberapa lama, Boe Kie merasa kagum sekali.

“Kalau aku ketemu dia pada setengah tahun berselang, di dalam kiam hoat belum tentu aku dapat menandinginya,” katanya didalam hati. “Di bandingkan dengan Giok Bin Sin Kiam Tong Hong Peng ilmu pedang yg masih lebih tinggi setingkat.” Memikir begitu, didalam hatinya lantas muncul rasa sayang kepada pendeta itu.

Sesudah lewat beberapa jurus lagi, Kauw Tauw Too menyerang dengan ilmu Loan Pie Hong (angin puyuh) dan pedangnya menyambar nyambar bagaikan berlaksa ular. Boe Kie menyambut setiap serangan dengan memusatkan seluruh semangat dan perhatiannya. Mendadak, mendadak saja dengan kecepatan yg tak mungkin dilukiskan ia membalik sarung pedang sehingga mulutnya menghadap keluar dan memapaki pedang si pendeta yg menyambar! Srok! Pedang itu masuk kesarungnya. Hampir berbareng, kedua menyambar dan menyentuk pergelangan tangan si pendeta dan kemudian, sambil tersenyum melompat mundur. Kalau mau, dengan menggunakan sedikit tenaga, ia sudah dapat merampas pedang si pendeta. Cara yg digunakannya itu berbahaya dan indah luar biasa.

Diluar dugaan, selagi ia melompat mundur, sebelum kakinya menginjak tanah, Kouw Tauw too sudah melemparkan pedangnya dan menghantam dengan telapak tangan. Dari sambaran angin, ia tahu bahwa pukulan itu disertai lweekang yg dahsyat. Karena ingin menjajal kekuatan tenaga dalam pendeta itu, ia segera menyambut dengan tangan kanannya dan kemudian barulah kedua kakinya hinggap ditanah.

Kouw Tauw Too tidak berhenti sampai disitu dan terus mengirim pukulan2 hebat. Boe Kie segera mengeluarkan ilmu Kian Koen Tay Lo Ie yg paling tingig dna dengan ilmu tersebut, ia mengumpulkan tenaga pukulan2 itu. Kemudian sambil membentak keras, ia balas memukul. Pukulan itu seolah2 air banjir yg memecahkan bendungan. Tenaga kira2 dua puluh pukulan Kouw Tauw too yg terkumpul menjadi satu, dilepaskan secara mendadak. Di dalam dunia belum pernah ada tenaga pukulan sehebat itu. Jika pukulan itu menimpa tubuh manusia, maka daging dan tulang pasti bisa hancur luluh.

Sesaat itu kedua telapak tangan menempel dan Kouw Tauw too tidak bisa meloloskan diri lagi. Tiba2 tangan kiri Boe Kie menjambret dada si pendeta dan melemparkannya keatas, sehingga tubuh yg tinggi besar itu terbang ke angkasa. Hampir berbareng terdengar suara keras dan batu2 terbang berhamburan. Pukulan yg sangat dahsyat itu menimpa batu.

Yo Siauw dan Wie It Siauw mengeluarkan teriakan kaget. Semula mereka menduga, bahwa dalam pertandingan Lwee Kang antara Kauw Coe dan Kouw Tauw Too, keputusan siapa menang siapa kalah baru bisa didapat sedikitinya dalam waktu seminuman teh. Diluar taksiran, detik yg menentukan tercapai dalam waktu yg begitu cepat.

Sesaat kemudian, dengan keringat membasahi telapak tangannya, Kouw Tauw too sudah hinggap pula di tanah dengan selamat. Begitu lekas kedua kakinya menyentuh tanah, dengan kedua tangannya ia membuat gerakan seperti api yg berkobar2 dan sesudah itu, sambil menaruh tangannya diatas dada dan berlulut ia berkata “Siauwjin (aku yg rendah).”

“Kong Beng Yo soe Hoan Yauw, menghadap Kauwcoe. Siauwjin menghaturkan banyak terima kasih kepada Kauwcoe yg sudah menaruh belas kasihan, dan meminta maaf untuk segala kekurang ajaranku.”

Bukan main kagetnya Boe Kie. Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa si gagu Kouw Tauw too bukan saja bisa bicara, tapi juga Kong beng Yoe Soe dari Beng Kauw yg sudah menghilang selama banyak tahun. Buru2 ia membangunkannya dan berkata, “Hoan Yoe Soe, antara orang sendiri janganlah menggunakan terlalu banyak peradatan.”

Waktu tiba di bukit batu itu, Yo Siauw dan Wie It Siauw sebenarnya sudah menduga duga. Hanya karena tubuh dan muka Hoan Yauw berubah terlalu banyak, maka mereka belum berani memastikan. Sesudah Hoan Yauw memperlihatkan ilmu silatnya, dugaan mereka jadi makin keras. Sekarang dengan serentak mereka mendekat dan mencekal tangan kawan itu erat2. sambil mengawasi Hoan Yauw dengan air mata berlinang2, Yo Siauw berkata, “Saudara Hoa, siang malam kakakmu memikiri kau.”

Hoan Yauw memeluknya. Ia menangis segak2 dan berkata, “Taoko kita harus berterima kasih kepada Tuhan yg sudha mengirim seorang kauwcoe yg berkepandaian tinggi dan bijaksana kepada kita. Kitapun harus berterima kasih, bahwa hari ini kita bisa bertemu muka lagi.”

“Saudara, mengapa kau jadi begini?” tanya Yo Siauw.

“Jika aku tidak merusak muka dan tubuh sendiri, cara bagimana kudapat mengabuli Seng Koen?” jawabnya.

Mendenger keterangan itu, Boe Kie bertiga kaget bercampur duka. Mereka sekarang tahu, bahwa Hoan Yauw sudah mencaci diri sendiri untuk bisa masuk kedalam kalangan musuh.

“Saudara, kau sangat menderita,” kata Yo Siauw dengan suara parau.

Dahulu, dalam kalangan Kang Ouw, Yo Siauw dan Hoan Yauw dikenal sebagai Siauw Yauw Jie Sian (Siauw dan Yauw dua dewa) dan julukan itu didapat karena mereka berdua memiliki muka yg sangat tampan. Dari sini dapatlah dibayangkan bahwa dengan mencacati muka sendiri, Hoan Yauw telah membuat suatu pengorbanan yg sangat besar. Wie It Siauw yg beradat aneh sebenarnya tidak begitu akur dengan Hoan Youw. Tapi sekarang ia turut berduka dan sambil berlutut ia berkata, “Hoan Yoe soe, hari ini Wie It Siauw benar2 takluk kepadamu.”

Hoan Yauw segera balas berlutut. “Ilmu ringan badan Wie Hog ong tiada bandingannya dalam dunia,” katanya. “Makin tua kau kian lihai. Semalam Kauw Touw too bertambah pengalaman.”

Yo Siauw menengok kesekitarnya dan berkata, “Tempat ini tidak jauh dari kota dan musuh banyak mempunyai mata. Lebih baik kita pergi kelembah sebelah depan.” Semua menyetujui dan mereka lantas saja berangkat. Sesudah berlari2 belasan li, mereka tiba dibelakang sebuah bukit kecil, darimana mereka bisa memandang beberapa li jauhnya, sehingga mereka tak usah kuatir pembicaraan mereka di dengar orang. Mereka lalu duduk ditanah dan mendengari cerita Hoan Yauw.

Sebagaimana diketahui, sesudah Yo Po Thian menghilang dengan mendadak Peng Kauw terpecah belah sebab para pemimpinnya berebut kedudukan Kauwcoe. Hoan Yauw sendiri percaya Yo Po Thian belum meninggal dunia, maka seorang diri ia menjelajah dunia Kang ouw untuk mencari pemimpin itu. Dalam beberapa tahun ia masih jg belum berhasil. Belakangan ia menduga mungkin sekali Yo Po Thian dicelakai orang2 Kay pang. Diam2 dia membekuk beberapa tokoh partai si pengemis dan menyiksanya untuk mengorek keterangan. Tapi tindakan inipun tidak berhasil. Ia bukan saja gagal, tapi tanpa sebab juga sudah mempersakiti banyak anggot Kaypang. Ketika itu, permusuhan kalangan Beng Kauw makin menghebat. Dalam agama tersebut, ia mempunyai kedudukan yg sangat tinggi. Apabila ia mau tampil kemuka dan turut serta dalam perebutan kedudukan Kauwcoe, ia pasti akan mendapat banyak pengikut. Akhirnya dia mengundurkan diri dari dunia pergaulan dan menjadi pendeta yg memelihara rambut (tauw too).

Tapi manusia tidak bisa melawan maunya nasib. Suatu kejadian yg sangat kebetulan telah terjadi. Pada suatu hari, selagi lewat dikaki gunung Thay heng san, ia ditimpa hujan dan lalu meneduh di sebuah kelenteng rusak. Tanpa di sengaja ia mendengar pembicaraan dua orang yg satu Seng Koen, yg lain seorang pendeta. Belakangan baru itu tahu, bahwa pendeta itu adalah Kong kian Tay soe, kepala dari empat pendeta suci dari kuil Siauw Lim sie.

Di Kong beng teng, Hoan Yauw pernah bertemu dengan Seng Koen dan ia tahu, bahwa orang itu adalah adik seperguruan Yo Kauwcoe. Sesudah mereka selesai bicara, ia sebenarnya ingin segera menemuinya. Diluar dugaan, baru saja mendengar beberapa patah perkataan, dia sudah kaget tak kepalang. Dengan berlutut di lantai, Seng Koen meminta belas kasihan Kong kian Tay soe. Dia menceritakan, cara bagaimana waktu mabuk arak, dia telah memperkosa anak dari muridnya sendiri, yaitu Cia Soen, dan cara bagimana dia belakangan membunuh rumah tangga murid itu. Diapun menuturkan bahwa untuk membalas sakit hati, Cia Soen telah mencarinya diberbagai tempat, tapi dia tak berani muncul untuk menemui murid itu. Akhirnya, dengan menggunakan namanya, Cia Soen membunuh banyak jago Rimba Persilatan guna memaksa dia keluar.

Kejadian itu telah diketahui Boe Kie. Tapi mendengar berita Hoan Yauw, ia kembali gusar tercampur duka.

Selanjutnya Hoan Yauw menuturkan, bahwa sambil menangis Seng Koen memohon supaya Kong kia Tay soe suka menerima sebagai murid. Dia juga memohon, supaya dengan belas kasihan sang Budha, pendeta itu suka mendamaikan permusuhannya dengan Cia Soen.

“Siancay, siancay!” kata Kong kian Tay soe, “Lautan kesengsaraan tiada batasnya,” memalingkan kepala, melihat daratan, menaruh golok, menjadi Budha. Manakala kau sungguh2 merasa menyesal, pintu Sang Budha. Manakala kau sungguh2 merasa menyesal, pintu sang Budha terbuka lebar dan kau takkan dibiarkan berdiri diluar pintu.” Sehabis berkata begitu, ia mencukur rambut Seng Koen dan menerima sebagai murid. Disamping itu, ia pun berjanji akan berusaha mendamaikan permusuhan hebat antara Seng Koen dan Cia Soen.

Mendengar sampai disitu, Boe Kie segera memutar cara bagaimana Cia Soen membinasakan Kong kian Tay soe dengan pukulan hebat. Kong kian sudah rela menerima pukulan dengan harapan bisa membereskan sakit hati itu. Diluar dugaan, Seng Koen sudah memperdayai gurunya. Pada waktu itu Kong kian mau melepaskan napas yg penghabisan, ia tidak muncul untuk menemui Cia Soen.

Yo Siauw menyambung dengan menceritakan cara bagaimana Seng Koen menyerang Kong bent teng dan cara bagaimana dalam pertempuran melawau In Thian Ceng dan In Yan Ong, ia akhirnya binasa.

Hoan Yauw merangkap kedua tangannya dan berkata berulang2. “Omitohud! Siancay, siancay!”

Dengan hati duka, Yo Siauw mengawasi kawan itu yg dahulu terkenal sebagai seorang pria yg berparas tampan.

“Dengan Kim mo Say ong, perhitunganku sangat baik,” kata pula Hoan Youw.

“Akupun mendengar, bahwa seluruh keluarganya telah dibinasakan orang. Aku hanya tak pernah menduga bahwa pembunuh itu adalah gurunya sendiri. Sesudah hujan berhenti mereka keluar dari kelenteng itu dan aku mengikuti dari belakang. Kutahu mereka berkepandaian tinggi dan hanya berani menguntit dari kejauhan. Tapi kong kian tidak bisa diakali. Ia tahu bahwa dirinya dikuntit orang. Sambil berjalan ia berkata2 seorang diri, ia mengatakan bahwa seorang murid Budha harus mempunyai hati kasihan. Mendengar begitu, aku tidak berani mengikuti lagi.”

“Berselang kira2 setahun kudengar Kong kian Tay soe meninggal dunia. Aku merasa curiga dan menduga, bahwa wafatnya pendeta itu tentu mempunyai sangkut paut dengan Seng Koen. Diam2 kupergi ke Siauw Lim Sie untuk menyelidiki. Tapi aku tidak berani masuk kedalam kuil dan hanya bergerak disekitar gunung Siong San, benar saja. Langit tidak menyianyiakan usaha manusia yg sungguh2. secara kebetulan aku mendengar pembicaraan antara Seng Koen dan seorang utusan kaisar. Utusan kaisar itu bukan lain daripada Lok Thian Kek. Mereka berdua berkepandaian terlalu tinggi dan aku merasa tidak unggulan. Aku tidak berani datang telalu dekat. Dari kejauhan, aku hanya dapat menangkap sepatah dua patah. Perkataan yg didengar jelas olehku hanyalah, “Kong Beng teng harus dimusnahkan” Sekarang kutahu bahwa agama kita tengah menghadai bencana dan aku tidak bisa berpeluk tangan lagi. Aku lantas saja menguntit Lok tong kek sampai di kota raja. Manusia itu aku tak berani ganggu. Dia berkepandaian terlalu tinggi. Yg lainnya kupandang remeh akhirnya sesudah menyelidiki lama juga, aku mendapat tahu bahwa jagao2 Rimba persilatan itu adalah orang2 sebawahannya Jie Lam Ong Khakan Temur.”

Jie Lam Ong Khakan Temur adalah seorang anggota keluarga kaisar. Ia berpangkat Thay kat Thay wie dan berkuasa atas semua tentara kerajaan diseluruh negeri. Ia seorang pintar dan gagah, menteri utama dari kaisar Goen. Dia lah yg sudah menindas pemberontakan rakyat di Kang hoay. Sudah lama Boe Kie dan para pemimpin beng kauw mendengar nama besarnya. Sekarang, mendengar Lok Thung Kek dan lain2 jago rimba persilatan menjadi orang bawahan pembesar itu, biarpun tidak terlalu kaget sedikit banyak Boe Kie terkejut juga (Jie Lam Ong = Raja muda Jie Lam)

“Tapi siapakah adanya Tio Kouwnio?” tanya Yo Siauw.

“Coba taoko tebak,” kata Hoan Yauw.

“Apa nona itu bukan putrinya Khakan Temur?” tanya pula Yo Siauw.

Hoan Yaow menepuk2 tangannya. “Benar,” katanya. “Sekali menebak taoko menebak jitu. Jie Lam Ong mempunyai seorang putera yg bernama Kuh Kuh Temur dan seorang puteri yg bernama Ming Ming Temur. Nama itu nama Mongol, kedua anak itu gemar ilmu silat dan mereka punya kepandaian yg cukup tinggi. Disamping itu merekapun suka berpakaian seperti orang Han dan menggunakan bahasa Han. Belakangan masing2 menggunakan jg nama Han, Kuh Kuh Temur memilih nama Ong Popo dan Ming Ming memilih nama Tio Beng. Perkataan Tio Beng hampir bersamaan dengan Siauw beng dan Siauw beng Koen coe (putri Siauw Beng) gelaran si nona.”

Wie It Siauw tertawa, “Kakak beradik itu sangat aneh,” katanya. “Yang satu she Ong, satu lagi she Tio. Kejadian itu tak akan terjadi dalam kalangan orang Han.”

“She atau nama keluarga mereka ialah Temur,” menerangkan Hoan Yauw. “Menurut kebiasaan orang asing, nama keluarga ditaruh disebelah belakang.”

“Dari muka dan potongan badan, Tio Kouw nio seorang wanita cantik,” kata Yo Siauw. “Hanya sayang, wataknya terlalu kejam.”

Baru sekarang Boe Kie tahu asal usul Tio Beng. Sebenarnya siang2 ia sudah menduga bahwa nona itu seorang putri yg berasal dari turunan keluarga kaisar. Ia hanya tidak pernah menaksir, bahwa nona Tio putrinya raja muda Jie Lam Ong yg memegang kekuasaan atas semua tentara kerajaan. Beberapa kali ia selalu jatuh dibawah angin.

Dalam ilmu silat nona Tio memang masih kalah jauh, tapi dalam menggunakan tipu, ia banyak lebih unggul daripada dirinya sendiri. Mengingat itu semua didalam hati Boe Kie merasa jengah.

“Dalam penyelidikan selanjutnya aku mengetahui bahwa Jie Lam Ong ingin membasmi semua partai persilatan yg terdalam dalam dunia Kangouw,” kata pula Hoan Yauw. “Ia telah menerima baik rencana Seng Koen. Sebagai tindakan pertama, ia inin menumpas agama kita. Dalam menimbang2 keadaan itu, aku berpendapat bahwa dengan terpecah belahnya kalangan kita sendiri dan tangguhnya musuh, bahaya yg sedang dihadapi benar2 hebat. Untuk menolong jalan satu2nya adalah masuk kedalam Ong Hoe dan coba menyelidiki rencana raja itu. Sesudah tahu rencana mereka, baru aku bertindak dengan mengimbangi keadaan. Selain itu,t ak ada jalan lain lagi. Tapi aku sudah pernah bertemu muka dengan Soen Koen, sehingga untuk mencegah bocornya rahasia aku mesti membunuh manusia itu.”

“Benar,” kata Wie It Siauw.

“Tapi manusia itu sangat licin dan ilmu silat nya pun sangat tinggi,” kata pula Hoan Yauw. “Tiga kali aku mencoba membokong dia, tiga kali aku gagal. Dalam usaha yg ketiga, aku berhasil menikamnya dengan pedang, tapi aku sendiri kena pukulan telapak tangannya. Untung juga aku berhasil melarikan diri tanpa dikenali. Tapi aku terluka berat dan sesudah berobat setahun lebih, barulah kesehatanku pulih kembali. Waktu itu rencana Jie Lam Ong sudah mendekati penyelesaiannya dan untuk bencana agama kita sudah diambang pintu. Aku jadi nekad, aku merusak muka sendiri, aku mematahkan tulang betisku dan menyamar sebagai seorang gagu dan bongkok aku pergi ke negeri Watzu.”

“Negeri Watzu?” menegas Wie It Siauw. “Negeri itu jauhnya berlaksa li. Perlu apa Hoan Yoe pergi ke situ?”

Sebelum Hoan Yauw menjawab, Yo Siauw sudah mendahului. “Saudara, sungguh bagus tipumu itu! Yo heng, perginya saudara Hoan ke negeri itu sungguh tepat. Dinegeri itu, ia pasti akan diundang untuk bekerja kepada pembesar2 Mongol. Sebagaimana kau tahu, Jie Lam Ong sedang mencari orang2 pandai. Untuk mengambil hatinya raja muda itu, pembesar2 Watzu pasti akan mengirim saudara Hoan ke kota raja. Dengan muka dan badan yg sudah berubah dan dengan berlagak gagu, biarpun Seng Koen lihati, dia pasti tidak akan bisa mengenali.”

Wie It Siauw menghela napas. “Yo kauwcoe telah menempatkan Siauw Yauw Jie Sian disebelah atas keempat Hoat Ong dan sekarang aku mengakui bahwa mata Yo Kauw coe benar2 tajam,” katanya. “Tipu selihai itu pasti takkan bisa dipikir oleh Eng ong, Hok ong dan lain2 ong.”

“Wie heng banyak terima kasih untuk pujian mu yg tinggi,” kata Hoan Yauw. Ia berhenti sejenak dan kemudian berkata lagi dengan suara perlahan, “Kauw coe, aku sekarang ingin menerima hukuman.”

“Mengapa Hoan Yoe soe berkata begitu?” tanya Boe Kie.

Hoan Yauw berbangkit dan sambil membungkuk, ia menjawab, “Aku telah berbuat kedosaan besar sebab sudah membunuh saudara2 dari agama kita. Sesuai dengan dugaan Yo Co Soe, di Watzy aku sengaja membunuh singa dan membinasakan harimau, sehingga namaku lantas saja terkenal. Pembesar2 disitu lalu mengirim aku kepada Jie Lam Ong. Guna memperkuat kepercayaan raja muda itu atas diriku, aku membunuh tiga orang hio coe dari agama kita.”

Alis Boe Kie berkerut. Ia tidak lantas menjawab. Didalam hati ia beranggapan, bahwa tindakan Hoan Yauw sangat luar biasa dan agak kejam. Ia rela mengorbankan muka dan kaki sendiri dan belakangan membunuh kawan sendiri. “Beng Kauw dinamakan orang sebagai agama sesat, agama siluman,” pikirnya. “Dilihat begini, sampai kapan Beng Kauw bisa mencuci kata2 sesat dan siluman itu?”

Melihat sikap Boe Kie, tiba2 Houw Yauw menghunus pedang Yo Siauw. Dengan skali berkelebat, pedang itu sudah memutuskan tiga jari tangan kirinya, Boe Kie terkejut dan merampas senjata itu, “Hoan Yoe soe…. Mengapa….. mengapa kau berbuat begitu” tanyanya dengan mata membelak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: