To Liong To – 12

Itu semua tak terlepas dari mata Song Ceng Soe. Untuk beberapa detik mata pemuda itu mengeluarkan sinar kebencian.

Sesudah Boe Tong pay tahu siapa adanya Boe Kie dan sesudah Go Bie Pay berlalu, usaha ena, partai untuk membasmi Beng Kauw gagal seanteronya. Orang2 Khong tong dan Koen Loen lantas saja berpamitan. Ho Tay Ciong mendekati dan berkata, “Saudara kecil aku memberi selamat bahwa hari ini kau bertemu dengan keluarga sendiri…” Tanpa menunggu sampai orang tua itu habis bicara. Boe Kie segara mengeluarkan dua butir Yowan dari sakunya. Yowan itu hanya obat biasa untuk menolak racun. Sambil mengangsurkan kepada Ho Thay Ciong. Pemuda itu berkata. “Cianpwee berdua masing2 boleh menelan sebutir. Sesudah makan obat ini, racun Kim cam Kauw tak akan punah.”

Ho Thay Ciong mengawasi kedua yowan itu dengan perasaan sangsi.

“Boanpwee pasti tak berdusta” kata pula Boe Kie.

Mendengar perkataan itu ia tak berani membuka mulut lagi. “Andaikata dia memberi obat palsu dihadapan keempat pendekar Boe tong aku tentu tak bisa menggunakan kekerasan,” pikirnya : “Apalagi orang2 Siauw Lim beridir di pihak bangsat kecil itu. Sudahlah! Terserah kepada nasih,” memikir begitu seraya tertawa getir, ia berkata. “Terima kasih.” Sesudah menelan yowan itu bersama Pay Siok Ham ia segera memerintah murid2nya merawat jenazah partai Koen Loen dan kemudian sesudah berpamitan mereka turun gunung.

“Boe Kie,” kata Jie Lian Cioe, “karena kau terluka berat sebaiknya kau berdiam saja disini untuk sementara waktu, guna berobat. Kami tak bisa menemani kau. Kami hanya mengharap supaya sesudah sembuh kau suda tangan ke Boe tong San, agar Soe Hoe turut merasa girang.”

Dengan mata mengembang air, pemuda itu manggutkan kepalanya.

Keempat pemuda itu ingin sekali mengajukan banyak pertanyaan, tapi melihat kelemahan keponakannya, mereka berani bicara banyak2.

Sekonyong2 diantara barisan Siauw Lim terdengar teriakan seorang, “Kemana perginya jenazah Goan tin soeheng?”

“Mengapa hilang ?” menyambung yg lain.

Boh Seng Kok heran dan segera mendekati tujuh delapan pendeta Siauw Lim yang sedang merawati jenazah anggota2 partainya. Benar sajat tidak melihat jenazah Goan tin.

“Lekas pulangkan jenazah Goan tin soeheng!” teriak Goan im sambil menuding orang2 Beng Kauw.

Cioe Thian tertawa terbahak2. “Benar2 kau sudah gila!” katanya. “Perlu apa kami mencuri mayat pendeta.”

Orang2 Siauw Lim tidka rewel lagi. Jawabnya itu ada benarnya jg. Mereka menduga mungkin sekali waktu mengumpulkan jenazah orang2 Hwa san pay atau Kong tong pay sudah mengambil jenazah Goan tin.

Tak lama kemudian, dengan beruntun barisan Siauw Lim dan Boe Tong turun gunung.

Boe Kie menyoja dan membungkuk untuk memberi selamat jalan kepada para pamannya.

“Anakku Boe Kie,” kata Song Wan Siauw.

“Hari ini namamu tersohor di kolong langit dan Beng Kauw menanggung budimu yang sangat berat. Kuharap supaya kau bisa menuntun mereka ke jalan yang lurus.”

“anak pasti akan memperhatikan pesan Tao Soe pek,” jawabnya.

“Dalam segala hal kau harus berhati2, kau harus menjaga jangan sampai diperdayai oelh manusia2 rendah,” kata Thio siong Kee.

Boe Kie mengangguk. Baik pihak paman, maupun pihak keponakan, sama2 merasa beat untuk berpisahan.

Sesudah keenam partai pergi semuanya, Yo Siauw dan In Thian Ceng saling mengawasi. Tiab2 mereka berteriak dengan berbareng, “Para anggauta Beng Kauw dan Peh Bie Kauw! Berlutut untuk menghaturkan terima kasih kepada Thio Tay hia!” Dilain saat semua orang sudah mendekam diatas bumi.

Boe Kie bingung tak kepalang apa pula diantara mereka terdapat kakek dan pamannya sendiri. Di luar dugaan, karena berlutut luka di dadanya terbukan lagi dan darah kembali mengucur dan ia lantas saja roboh pingsan.

Siauw Ciauw tersipu sipu memapahnya. Dua orang tauw bak (pemimpin regu) segera mengambil tandu dan merebahkan tuan penolong itu didalamnya

Alis Yo Siauw berkerut, “Lekas antar Thio Tay Hiap kekamarnya,” katanya. “Selama beberapa hari ia tidak boleh diganggu oleh siapapun jua.”

Kedua tauw bak itu mengiakan sambil membungkuk dan lalu membusung Boe Kie kekamar Kong Beng Soe cia dengan diikuti oleh Siauw Ciauw. Waktu ia lewat didepan Poet Hwie, nona Yo berkata dengan suara dingin: “Siauw Ciauw! Kau sungguh pandai bersandiwara. Aku memang sudah menaksir, bahwa kau main gila. Aku hanya tidak menduga, bahwa dibelakang penyamaran memedhi perempuan bersembunyi seorang nona yang cantik manis.”

Siauw Ciauw tidak menjawab. Ia berjalan terus sambil menundukkan kepala dan menyeret rantai.

Selama beberapa hari orang2 Beng Kauw yg tidak terluka sangat repot. Mereka harus mengubur yang mati dan mengobati yang luka. Sekarang mereka insyap, bahwa adegan yang berupa cakar2an didalam kalangan sendiri akhirnya membawa bencana besar. Ditambah dengan kekuatiran akan keselamatan Boe Kie, maka diantara mereka tak ada yang menyentuh nyentuh lagi soal permusuhan lama.

Dengan memiliki Kioe yang sin kang dan juga sebab tusukan pedang yang tidak melanggar bagian berbahaya, kesembuhan Boe Kie terjadi dengan cepat sekali. Dalam tujuh delapan hari, lukanya sudah mulai rapat.

In Thian Ceng, Yo Siauw, Wie It Siauw, Swe Poet Tek dan yang lain2 masih rebah diranjang. Tapi setiap hari, dengan menggunakan tandu mereka menengok tuan penolong itu. Melihat kesehatan Boe Kie pulih dengan cepat, mereka semua girang sekali.

Pada hari kedelapan, malam. Boe Kie sudah bisa duduk. Malam itu Yo Siauw dan Wie It Siauw datang dikamarnya.

“Sesudah kena It im cie bagaimana keadaan Jie Wie selama beberapa hari ini?” tanya Boe Kie.

Serangan2 dingin kian hari kian meningkat, akan tetapi, sebab kuatir pemuda itu jengkel, mereka serentak menjawab, “Banyak mendingan.”

Tapi Boe Kie tak mudah dilagui. Melihat mukanya yang bersinar hitam dan suara yang tak bertenaga, ia tahu keadaan yg sebenarnya.

“Tenaga dalamku sudah pulih enam-tujuh bagian dan kini aku telah bisa membantu jie wie,” katanya.

“Tidak! Tak boleh!” kata Yo Siauw tergesa2. “Perlu apa Thio tayhiap begitu kesusu? Sesudah sembuh seluruhnya, masih banyak waktu untuk menolong kami.”

“Memang juga tidak perlu terburu2,” menyambung Wie It Siauw sambil tertawa.

“Sekarang atau nanti tak banyak bedanya. Yang paling penting ialah Thio tayhiap harus menjaga diri sendiri.”

“Gie hoe (ayah angkatku) adalah pantaran jie wie dan tingkatan jie wie lebih tinggi dari pada aku,” kata Boe Kie. “Maka itu kumohon jie wie jangan mengugnakan panggilan tayhiap lagi karena aku tak bisa menerimanya.” (Tayhiap pendekar besar)

Yo Siauw bersenyum. “Dikemudian hari kami semua akan menjadi orang sebawahanmu,” katanya. “Dihadapanmu kami takkan berani turun bersama sama.”

Boe Kie terkejut. “Yo Peh peh, apa katamu!” ia menegas.

“Thio tayhiap” kata Wie It Siauw, “Kedudukan Kauw coe dari Beng Kauw tak bisa diduduki oleh lain orang daripada kau sendiri!”

Dengan kaget pemuda itu menggoyang goyangkan kedua tangannya. “Tidak! Tidak! Biar bagaimanapun jua tit jie takkan berani menerima,” katanya. (Tit jie keponakan)

Saat itu, mendadak saja, dari sebelah kejauhan terdengar teriakan nyaring. Itulah tanda bahaya di kaki Kong Beng Teng!

Yo Siauw dan Wie It Siauw agak terkejut. Apa keenam partai masih merasa penasaran dan datang menyerang lagi? Tapi sebagai jago kelas utama, paras muka mereka sedikitpun tidak berubah.

“Apakah jin somg yang kemarin sudah dimakan?” tanya Yo Siauw. “Ciauw, pergi kau ambil lagi dari kamar obat dan tolong godok supaya bisa lantas bisa dimakan oleh Thio tayhiap.” Baru saja ia berkata begitu, disebelah barat dan selatan kembali terdengar teriakan nyaring.

“Apa kita diserang musuh?” tanya Boe Kie.

“Beng Kauw dan Peh bie Kauw tidak kekurang orang pandai,” kata Wie It Siauw. “Thio tayhiap, kau tak usah kuatir. Beberapa bangsat kecil tak cukup untuk dibuat pikiran.”

Beberapa saat kemudai teriakan2 sudah terdengar dipinggir gunung! Cepat sungguh bergeraknya musuh. Mereka ternyata bukan bangsat kecil.

“Coba kukeluar untuk membereskan mereka,” kata Yo Siauw. “Wie Heng, kau berdia saja disini untuk menemai Thio tayhiap. Huh, huh! Apakah orang kira Beng Kauw boleh di hina terus, menerus oleh segala manusia?” Biarpun badannya belum bisa bergerak, suaranya lantang dan gagah.

Diam2 Boe Kie merasa bingung. “Siauw Lim, Boe tong danyang lain2 adalah partai2 lurus bersih dan tak mungkin mereka datang lagi untuk menyerang,” pikirnya. “Yang datang mungkin sekali manusia2 jahat. Semua orang pandai di Kong Beng Leng terluka berat. Selama tujuh delapan hari mereka belum mendapat pengobatan yang tepat. Kita tak akan bisa melawan musuh. Kalau bertempur, kita semua akan mengantarkan jiwa.”

Sekonyong2 dari luar menerobos masuk sesorang yang mukanya berlepotan darah da dadanya tertancap pisau.

Begitu masuk ia berteriak dengan suara terputus putus. “Musuh…. Meyerang dari tiga jurusan… saudara2 kita…. Tak tahan…”

“Musuh dari mana?” menegas Wie It Siauw.

Orang itu menuding keluar, tapi sebelum ia bisa menjawab, ia roboh dan melepaskan napasnya yang penghabisan.

Suasana teriakan jadi makin ramai.

Sekonyong2 ua orang lain masuk ke kamar. Yo Siauw mengenali, bahwa yg diselah depan adalah Cian Kie Hoe Soe (wakil pemimpin) dari Ang Soei Kie. Ia terluka berat, lengannya putus sebatas bahu dan mukanya pucat pasi. Orang yg mengikuti dibelakangnya juga berlumuran darah.

Meskipun berada dalam keadaan setengah mati, wakil pemimpin itu bersikap tenang dan sambil membungkuk, ia berkata, “Thio tayhiap, Yo Co soe, Wie Hiat ong, musuh yang menyerang kita terdiri dari Kie Keng pang, Hay see pay, Sin koen boen dan lain2.”

Alis Yo Siauw berkerut dan ia mengeluarkan suara di hidung, “Hm… kawanan setan kecil itu jg berani menghina kita?” katanya.

“Yang menjaid kepala adalah seorang Hoan ceng dari See Hek,” menerangkan Ciang Kie Hoe Soe. “Dia berkepandaian sangat tinggi dan menggunakan Ie thian kiam….” (Hoan ceng dari Seee hek – Pedeta asing dari daerah barat).

Mendengar “Ie thian kiam”, hampir berbarengan Boe Kie, Yo Siauw dan Wie It Siauw mengeluarkan seruan tertahan.

“Apa benar Ie thian kiam?” tanya Yo Siauw, “Apa kau tak salah lihat?”

“Selagi aku bertempur, saudara Ong ini berada disampingku, memegang obor,” jawabnya. “Aku pasti tidak salah lihat. Dengan sekali, pendeta itu memutuskan golok dari lenganku. Aku dapat membaca huruf “Ie thian” pada pedang itu. Tak bisa salah lagi.”

Waktu bicara sampai disitu, kelima Ngo Sian Jie Leng Kiam, Tiat Koen Tan Jin Thio Tiong, Pheng Eng Giok, Swee Poet Tek dan Cioe Tian masuk dengan digotong oleh beberapa orang.

“Kurang ajar! Betul2 kurang ajar!” teriak Cioe Tian. “Kay pang bersama Sam boen pang dan Boe San pang jg turut menyerang. Sebegitu lama masih bernyawa aku tak akan menyudahi sakit hati ini…” belum habis ia bicara, dengan bertongkat In Thian Ceng dan In Ya Ong turut masuk kedalam kamar.

“Boe Kie, kau tidur saja disini,” kata sang kakek. “Bangsat! Segala partai cilik seperti Ngo Beng to dan Toan Hoen chio jg berani datang kemari. Aku mau lihat apa yang bisa diperbuat mereka.”

“Dilihat begini musuh yang menyerang bukan kecil jumlahnya,” kata Yo Siauw, “Sayang, sungguh sayang kita masih belum bisa bergerak.”

Diantara tokoh2 itu, dalam kalangan Beng Kauw. Yo Siauw berkedudukan paling tinggi dalam Peh Bie Kauw, In Thian Ceng menjadi Kauw Coe sedang Pheng Bug Giok dikenal sebagai jago yang terkenal budi. Selama hidup mereka sudah kenyang mengalami gelombang hebat. Dengan kepandaian dan kebijaksanaan mereka selalu bisa lulus dari ujian dengan selamat. Tapi sekarang mereka menghadapi jalanan buntu. Sedang semua jago terluka hebat, musuh yang berjumlah besar datang menyerang. Apa yang harus diperbuat mereka? Kemungkinan satu satunya adalah dibasmi musuh.

Waktu itu didalam hati, semua orang sudah menganggap Boe Kie sebagai Kauw Coe sehingga tanpa merasa mereka semua mengawasi pemuda itu.

Tentu saja Boe Kie turut mengasah otak. Dalam beberapa detik, macam2 ingatan berkelebat2 dalam otaknya. Dalam ilmu silat, ini memang lebih unggul daripada To Siauw dan yang lain2. Tapi dalam menarik daya upaya ia masih kalah dari jago2 yg sudah berpengalaman itu. Kalau mereka sudah putus asa, apakah yang bisa diperbuat olehnya sendiri.

Untuk beberapa saat kamar itu sunyi senyap.

Sekonyong2 Boe Kie ingat sesuatu. “Ah!” teriaknya. “Jalan satu2nya menyembunyikan diri dalam jalanan rahasia. Musuh mungkin tak akan tahu. Tapi seandainya mereka tahu tak gampang2 mereka menerjang masuk.” Di dalam hati ia merasa, bahwa daya itu paling sempurna sehingga suaranya penuh kegirangan. Tapi diluar dugaannya, kelihatannya tidak mendapat jawaban. Semua saling mengawasi tanpa mengeluarkan sepatah kata. Mereka kelihatannya tidak menyetujui usul itu.

“Seorang laki2 harus bisa mundur dan bisa maju,” kata Boe Kie. “Kau sekarang mundur untuk sementara waktu. Begitu lekas kita sudah sembuh, kita boleh keluar untuk bertarung. Menurut pendapatku, tindakan ini sama sekali tidak menurunkan derajat atau keangkeran kita.”

“Daya upaya Thio tayhiap memang sangat baik,” kata Yo Siauw. Ia menengok kepada Siauw Ciauw dan berkata pula, “Siauw Ciauw, tolong antar Thio tayhiap kejalanan rahasia.” “Kalau aku pergi, kita semua pergi bersama sama,” kata Boe Kie.

“Thio tayhiap jalan duluan, kita akan mengikuti dibelakang,” kata Yo Siauw.

Didengar dari nada suaranya, pemuda itu tahu, bahwa Yo Siauw dan yang lain2 takkan mengikuti. Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara nyaring. “Para cianpwee! Walaupun Thio Boe Kie bukan anggauta Beng Kauw, tapi sesudah kita bersama sama melewati bahaya besar, perhubungan antara kita adalah perhubungan mati hidup bersama sama. Apakah para cianpwee kira kau seorang manusia yg takut mati? Apakah para cianpwee duga, Thio tayhiap, ada sesuatu yg diketahui olehmu,” jawabnya dengan suara terharu. “Menurut peraturan Beng Kauw yg sudah berturun turun, jalanan rahasia di Kong beng teng dianggap sebagai tempat suci. Kecuali Kauw coe, anggota yang manapun jua tak boleh masuk kesitu. Siapa yang melanggar peraturan, dia akan kena hukuman mati. Karena Thio tayhiap dan Siauw ciauw bukan anggota partai, maka kalian berdua tak usah menaati peraturan tersebut.”

Sementara itu teriakan2 makin santer dan makin dekat kedengarannya.

Jalanan keatas Kong keng teng penuh dengan bahaya, tak mudah dipanjat dan disana sini terdapat tebing2 yg curam. Dibanyak tempat dipasang pintu2 besi atau batu raksasa. Maka itu biarpun Beng Kauw tak bisa memberi perlawanan hebat tapi musuh tidak gampang2 bisa mencapai puncak Kong Beng teng. Disamping itu, karena merasa jeri akan nama Beng Kauw yang besar, musuh tidak berani menerjang secara sembrono. Tapi didengar dari teriakan2 itu, mereka dapat merasak maju dengan perlahan.

Makin lama Boe Kie jadi makin bingung. “Dalam waktu satu jam lagi, semua orang bakal binasa,” katanya didlm hati. Dalam bingungnya, ia segera bertanya, “Para Cianpwee! Apakah peraturan itu tidak dapat diubah?”

Dalam paras duka Yo Siauw meng geleng2kan kepalanya.

“Bisa!” kata Pheng Eng Giok sekonyong2. “Thio Tayhiap memiliki ilmu silat yg sangat tinggi dan rasa perikemanusiaan yg sangat luhur. Disamping itu, Thio tayhiap telah membuang budi yang besar luar biasa kepada kita. Sampai mati, kita semua tak akan bisa membalas budi itu. Kalau sekarang kita ramai2 mengangkat kau sebagai Kauw Coe turunan ketiga puluh empat, maka sebagai Kauw Coe kau bisa memerintah kita semua untuk masuk ke jalan2 rahasia itu. Kalau di perintah oleh Kauw Coe sendiri kita tidak melanggar peraturan yang sudah ditetapkan.”

Mendengar usul Pheng Eng Giok, semua orang yg sudah mempunyai niatan untuk mengangkat Boe Kie sebagai Kauw Coe, dengan serentak menyatakan setuju.

Tapi Boe Kie menggoyang2kan tanganya. “Tak bisa, ini tak bisa!” katanya. “Boanpwee masih terlalu muda dan berpengetahuan terlampau cetek. Boanpwee tidak mempunyai kemuliaan apapun jua. Bagaimana boanpwee bisa menerima tanggung jawab yang sedemikian berat? Disamping itu, Thay soehoe jg pernah memesan, bahwa boanpwee skali kai tidak boleh masuk kedalam kalangan Beng Kauw. Dengan merasa sangat menyesal, boanpwee tidak bisa menerima usul Pheng Tay soe.”

“Boe Kie aku adalah kakekmu dan sebagai kakek, aku sekarang memerintahkan supaya kau masuk kedalam Beng Kauw,” kata In Thia Ceng. “Andai kata dalam ikatan denga kau kedudukan sebagai kakek tidak lebih tinggi dari Thay soehoemu, tapi sedikitnya sebagai kakek aku tidak jauh lebih rendah dari guru besar itu. Sekarang, dengan menggunakan
Kekuasaan sebagai kakek, aku memudahkan perintah Thay soehoemu. Kalau kau menerima, orang luar pasti tak akan bisa menyalahkan kau. Tapi biar bagaimanapun jua, aku menyerahkan segala keputusan kepada pertimbanganmu sendiri.”

“Dengan ditambah seorang paman, kita jadi terlebih kuat,” menyamnung In Ya Ong. “Kata orang, bertemu dengan paman seperti bertemu dengan orangtua sendiri. Orang tuamu sudah meninggal dunia dan aku sebagai pamanmu, bisa menggantikan kedudukan orangtua mu.”

Mendengar perkataan kakek dan pamannya, Boe Kie berduka dan serba salah. Sambil menghela napas, ia berkata, “Waktu berada dalam jalan rahasi, aku telah mendapatkan surat wasiat mendiang Yo Kauw Coe. Aku mengambil surat itu unutk diperingatkan kepada kalian. Dan surat tersebut, mendiang Yo Kauw Coe memesan supaya ayah angkatku, Kamo mo Say Ong, diangkat menjadi Kauw Coe untuk sementara waktu.”

“Thio tay hiap,” kata Pheng Eng Giok, “Seorang laki2 tidak boleh terlaku berkukuh dalam hal2 kecil. Seorang laki2 haris bisa menyesuaikan dii dengan perubahan2 bersar dalam dunia. Sekarang Cia Soen tidak berada disini. Maka itu, aku sekarang mengusulkan, supaya sesuai dengan keinginan mendiang Yo Kauw Coe, Thio tayhiap menduduki kursi Kauw Coe, untuk sementara waktu.”

“Benar! Benar!” menyambut semua orang.

Dalam menghadapi bencana Boe Kie akhirnya mengambil keputusan cepat. Yang paling penting menolong jiwa yang lain boleh didamaikan belakangan, pikirnya. “Sesudah para Cianpwee mengunjuk kecintaan yg sedemikian besar, jika aku tetap menolak, maka aku akan menjadi manusia yg berdosa. Sekarang untuk sementara waktu Boe Kie menerima kedudukan Kauw Coe. Nanti, sesudah kita melewati bahaya dengan selamatan kuharap kalian suka mengangkat seorang lain yg lebih cakap.”

Pertanyaan itu disambut dengan sorak sorai. Biarpun sedang menghadapi bencana mereka sangat girang dan paras muka semua orang berseri seri.

Bagaimana mereka tak girang? Semenjak meninggalnya Yo Po Thian, Beng Kauw tidak mempunyai pemimpin, sehingga belakangan, agama itu menjadi berantakan dan jago2nya saling bermusuhan. Sebagian memisahkan diri, sebagian mendirikan lain “agama” atau partai, sebagian melakukan perbuatan2 ,jahat tanpa tercegah kejadian2 itu bantu meruntuhkan Beng Kauw. Sekarang sesudah lewat banyak tahun, mereka mendapat seorang Kauw Coe yang berkepandaian tinggi dan luhur pribadinya, sehingga bila diharapkan bahwa Beng Kauw akan segera mendapat kembali keangkeran dan kemakmuran yang dahulu. Bagaimana mereka tak girang?

Dengan serentak orang2 yg masih bisa berlulut lantas saja berlutut dihadapan Kauw coe baru itu. In Thian Ceng dan In Ya Ong adalah kakek dan paman Boe Kie. Tapi kedua orang tua itupun turut menekuk lutut.

Dengan bingung ia berteriak, “Aduh! Harap kalian jangan begitu! Bangunlah Yo Co Soe, aku minta kau segera menyampaikan perintah kepada semua orang, supaya seluruh anggota agama kita, dari yg tinggi sampai yang rendah, semua masuk ke jalanan rahasia. Perintahkan Ang So Kie dan Liat Hwee Kie melepas api dan menahan musuh. Semua bangunan yang berdiri diatas Kong Beng Teng harus dibakar habis.”

“Baiklah,” jawab Yo Siauw. “Perintah Kauw Coe akan segera dilaksanakan,” ia lantas saja di gotong keluar dari kamar itu untuk memerintahkan Ang Soei dna Liat Hwee melindungi dari belakang dan semua orang mundur ke jalanan rahasia.

Waktu masuk ke jalanan rahasia mereka membawa ransum dan air secukupnya, sehingga biarpun harus bersembunyi satu dua bulan, mereka takkan mati kelaparan.

Para anggauta Beng Kauw dan Peh Bie Kauw berjalan tanpa mengeluarkan sepatah kata. Jalanan rahasia itu dianggap sebagai tempat suci oleh orang lain kecuali Kauw Coe. Hanyalah atas kurnia Kauw Coe, mereka sekarang bisa masuk kesitu.

Dengan berdiri disekitar kerangka Yo Po Thian, Yo Siauw dan lain2 pemimpin mendengari penuturan Boe Kie tentang cara bagaimana ia mendapat surat wasiat mendiang Yo Kauw Coe dan cara bagaimana ia melatih diri dalam ilmu Kien Koen Tay Lo Ie Sin Kang.

Sesudah selesai penuturannya, Boe Kie segera mengangsurkan kulit kambing yang berisi pelajaran Kian Koen Tay Lo Ie Sin Kang kepada Yo Siauw. Tapi Yo Siauw tidak berani menerima. Seraya membungkuk ia berkata, “Dalam surat wasiat mendiang Yo Kauw Coe telah menetapkan, bahwa untuk sementara waktu Kian Koen Tay Lo Ie Sim hoat dipegang oleh Cia Soen dan kemudian diserahkan kepada Kauw Coe baru. Menurut pantas Sim hoat ini skrg hrs disimpan Kauw Coe Sendiri.”

Dengan bergilir semua orang membaca surat wasiat Yo Po Thian. Banyak diantaranya menghela napas dan menggeleng gelengkan kepala. Mereka tak pernah menyangka bahwa Yo Po Thian sedemikian gagahnya akhirnya binasa karena gara2 cinta. Kalau siang2 mereka tahu ada surat wasiat itu, Beng Kauw tantu takkan terpecah belah berantakan. Mengingat saudara2 yang sudah mengorbankan jiwa dan segala hinaan yang dideritanya merasa menyesal dan lalu mencaci Seng Koen.

“Biarpun Seng Koen adik seperguruan mendiang Yo Kauw Coe dan guru dari Kim mo Say ong, kita tak pernah bertemu muka dengannya,” kata Yo Siauw. “Siapapun takkan menduga, bahwa selama beberapa puluh tahun ia mengatur dan menjalankan siasat untuk merobohkan Beng Kauw.”

Cioe Tian mengeluarkan suara dihidung.

“Yo Coe Soe, Wie Hong Ong, sesudah masuk dalam perangkap, kalian masih juga belum mendusin dan dilihat begini, kalian seperti juga manusia2 tolol,” kata Cioe Tian. Ia sebenarnya mau menyebutkan juga nama “si tua bangka Peh Bie,” tapi perkataan itu ditelan lagi kedalam perutnya, sebab ia merasa malu hati kepada Kauw Coe.

Disentil begitu, paras muka Yo Siauw lantas saja berubah menjadi merah. “Tapi manusia takkan bisa terlolos dari jaring ‘Langit’,” katanya. “Pada akhirnya, bangsat Seng Koen mampus jg dalam tangan saudara Ya Ong.”

“Mengingat kejahatan nya, dia sebenarnya mati terlalu enak,” kata pemimpin Liat hwee kie dengan suara mendongkol.

Setelah beromong2 lagi beberapa lama, mereka baru bersila dan menjalankan pernapasan untuk mengobati luka.

Berselang tujuh delapan hari Boe Kie sudah hampir sembuh dan yang masih ketinggalan hanya luka yg dalamnya kira2 sedim. Ia segera mengobati anggota2 Beng Kauw dan Peh Bie Kauw yang mendapat luka diluar. Meskipun kekurangan obat, dengan pembantuan penjaruman, “pempakaran” dan ilmu mengurut ia berhasil menolong semua orang.

Semua orang2 itu hanyal mengenal Kauw Coe mereka sebagai pemuda yg ilmu silatnya tinggi luar biasa. Mereka tak pernah menyangka, bahwa Boe Kie pun memiliki ilmu ketabiban yg dapat direndengkan Tiap kok ie sian Ouw Ceng Goe.

Lewat beberapa hari lagi, Boe Kie sudah sembuh seanteronya. Dengan menggunakan Kioe yang Sin Kang, ia segera menolong Yo Siauw, Wie It Siauw, Yo Poet Long Hwie dan Ngo Sin Jiu untuk mengusir racun dingin It Um Cie yang mengeram dalam tubuhnya. Dalam tempo tiga hari saja, racun telah dapat dikeluarkan.

Begitu sembuh, dengan semangat bergelora mereka terus mau keluar untuk menghajar musuh.

“Tunggu dulu,” kata Boe Kie. “Kalian baru saja sembuh dan tenaga dalam belum pulih semuanya. Bersabarlah beberapa hari lagi.”

Selama beberapa hari itu, semua orang2 bersiap sedia. Yang ilmu silatnya agak rendah menggosok golok, menggosok pedang. Yang ilmu silatnya tinggi, melatih Lweekang.

Sedari di keroyok oleh enam partai besar, mereka telah menerima banyak hinaan dan kedongkolan sudah bersusun tindih.

Malam itu Yo Siauw mengawasi Boe Kie dan menceritakan segala sesuatu mengenai agama mereka, seperti sejarah, peraturan2, pengaruh dan kekuatan diberbagai tempat, kepandaian dan watanya tokoh2 yg terkemuka.

Selagi beromong2 tiba2 terdengar suara rantai dan Siauw Ciauw masuk dengan membawa nampan teh. Setelah menaruh kedua cangkir dihadapan pemimpin itu, ia segera keluar lagi.

Sekonyong2 Boe Kie teringat sesuatu dan ia segera berkata, “ Yo Co soe, selama beberapa hari ini nona kecil itu tidak pernah melakukan pelanggaran apa2. Kuharap kau suka membuka rantainya.”

“Baiklah,” kata Yo Siauw yang lantas saja memanggil putrinya. “Poet Hwie, Kauw Coe ingin supaya Siauw Ciauw dilepaskan,” katanya. “Kau bukalah kuncinya.”

“Anak kunci berada dalam lemari, dalam kamarku,” jawabnya. “Aku tidak membawanya kemari.”

“Tak apa, nanti saja,” kata Boe Kie.

“Kurasa anak kunci itu takkan terbakar lumer.”

Sesudah puterinya keluar, Yo Siauw berkata, “Kauw Coe, biarpun Siauw Ciauw masih berusia muda, tindakan2nya sangat aneh. Kita harus berhati2.”

“Siapa nona itu? Bagaimana asal usulnya?” tanya Boe Kie.

“Pada waktu kira2 setengah tahun yg lalu, waktu aku bersama Poet Hwie jalan2 dibawah gunung, tiba2 kulihat dia sedang menangis di gurun pasir sambil memeluk dua mayat,” kata Yo Siauw. “Aku menghampiri dan menanya. Ia mengatakan, bahwa kedua mayat itu adalah jenazah ayah ibunya. Menurut penuturannya, sebab sang ayah membuat suatu pelanggaran di Tiong Goan, maka mereka – ayah, ibu dan anak tiga orang – dihukum untuk bekerja dalam tentara See Hek. Beberapa hari yg lalu, mereka melarikan diri karena tak tahan di hina dan di persakiti perwira Mongol. Tapi akhirnya, sebab sudah terluka dan habis tenaga, kedua orang tua itu meninggal dunia. Biarpun romannya jelek, aku merasa kasihan. Sesudah mengubur kedua jenazah itu, dan mengajaknya pulang dan menyuruh menemani Peot Hwie.”

Boe Kie manggut2kan kepalanya.

“Kalau begitu Siauw Ciauw yatim piatu,” ‘sama seperti aku,’ katanya didalam hati.

Sesudah berdiam sejenak, Yo Siauw berkata pula, “Sesudah Siauw Ciauw berdiam di Kong beng teng, pada suatu hari, ketika aku mengajar ilmu silat kepada Poet Hwie, itu terjadi sesuatu yg luar biasa. Aku mencoba memberi penjelasan tentang kedudukan keenam puluh empat dari Pat Kwa. Anehnya Poet Hwie masih belum mengerti, mata Siauw Ciauw sudah mengawasi kedudukan yg benar.”

“Mungkin sekali sebab dia berotak sangat cerdas,” kata Boe Kie.

“Semula akupun menganggap begitu dan bahkan aku merasa girang,” kata Yo Siauw. “Tapi belakangan aku bercuriga dan dengan sengaja menyebutkan satu kauw koat (teori ilmu silat) yang sangat sulit. Kauw koat itu belum pernah diturunkan kepada Poet Hwie. Untuk menjajalnya, aku sengaja menyebutkan kedudukan2 Pat kwa yg kalah. Benar saja, kulihat alisnya berkerut, sehingga aku menarik kesimpulan, bahwa ia tahu akan kesalahanku itu. Mulai waktu itu aku berhati2. Aku tahu, bahwa nona cilik ini memiliki kepandaian tinggi dan kedatangannya ke Kong Beng Teng mengandung maksud tertentu.”

“Apakah tidak bisa jadi kedua orang tuanya paham kitab Ya Keng dan ia mendapat pelajarang turunan?” tanya Boe Kie.

“Aku rasa tidak begitu,” bantah Yo Siauw. “Sebagiamana Kauw Coe tahu. Ya Keng yang dipelajari oleh seorang ses rawan berdau dengan Ya Keng yang dipelajari untuk ilmu silat. Kalau benar Siauw Ciauw mendapat pelajaran itu dari kedua orang tuanya, maka kedua orang itu adalah ahli2 silat kelas utamg. Supaya dia tidak bercuriga, sikapku sama sekali tidak berubah. Beberapa hari kemudian dengna menggunakan satu kesempatan baik, aku menanyakan nama ayah ibunya dan asal usul mereka. Tapi ia sangat licin dan aku tidak dapat meraba apapun jua. Akupun tidak marah. Aku hanya memesan supaya Poet Hwie berhati hati. Satu hari aku berguyon dan Poet Hwie tertawa terbahak2. Siauw Ciauw yang juga berada disitu tak takut untuk tidak tertawa. Ia berdiri dibelakang aku dan Poet Hwie dan rupanya ia mangganggap kami berdua tidak akan lihat tertawanya. Diluar dugaannya, ketika itu Poet Hwie sedang memegang sebatang cit sioe (pisau) yang mengkilap bagaikan kaca dan bayangan mukanya terlihat nyata kebadan pisau itu. Dengan tertawanya itu, penyamarannya terlocot. Ia ternyata bukan seorang wanita jelek. Romannya yang jelek bukan sewajarnya, tapi di buat2. Kecantikannya bahkan melebih Poet Hwie.”

Boe Kie bersenyum, “Membuat muka yang aneh itu terus menerus memang bukan pekerjaan mudah,” katanya.

“Tapi kami masih belum membuka topengnya,” Yo Siauw melanjutkan penuturan. “Malam itu, sesudah larut malam, diam2 aku pergi ke kamar Poet Hwie untuk mengintip gerak-geriknya. Sesudah mengintip beberapa lama, dan keluar dari kamar Poet Hwie dan pergi kerentahan kamar2 disebelah timur. Ia masuk kesetiap kamar dan menyelidiki saban pelosok, entah mau cari apa. Aku tak tahan lagi. Aku keluar dari tempat sembunyi dan tanya dia lagi cari apa. Akupun tanya siapa yang menyuruhnya dtg kemari. Tapi ia tenang2 saja. Ia menyangkal semua tuduhan dan mengatakan, ‘bahwa ia masuk keluar kamar hanya untuk main2 karena tak bisa pules. Dengan berbagai jalan aku coba membujuknya dan memancingnya supaya aku mengaku terus terang, tapi semua usahaku sia2 saja. Karena jengkel, aku mengurung dia didalam kamar dan tidak memberi makan selama 7 hari dan 7 malam, sehingga mati. Tapi ia tetap menutup mulut. Dengan kewalahan aku lalu merantai kai tangannya dengan rantai hian tiat supaya kalau dia bergerak rantai itu bersuara. Tindakan ini adalah untuk mencegah dia mencelakai Poet Hwie dengan membokong.

“Kauw Coe, itu merasa pasti, bahwa dia dtg kemari atas suruhan musuh kita. Sebab dia mengerti kedudukan2 Pat Kwa, maka mungkin sekali dia anggauta Boe tong ataupun Go Bie. Tapi biar bagaimanapun jua, kita tentu tak usah terlalu berkuatir. Dia hanya seorang gadis cilik. Dengan mengingat jasanya, bahwa dia sudah merawat Kauw Coe selama beberapa hari. Kauw Coe sudah menaruh belas kasihan dan mengampuninya. Dia untung besar bertemu dengan Kauw Coe dan aku pun tidak menentang keputusan Kauw Coe.”

Boe Kie tertawa dan lalu berbangkit, “Yo Co soe, sudah lama kita terkurung di penjara dan kurasa sekarang sudah tiba waktunya untuk kita mencari sedikit hiburan,” katanya.

Yo Siauw girang sekali. “Apa kita sudah boleh keluar?” tanyanya.

“Yang belum sembuh tidak boleh bergerak,” jawabnya. “Kedua Ciang Kie Soe dari Ang Soen dan Kie Bok, tak boleh ikut serta. Yang lain keluar semua.”

Perintah itu disambut dengan sorak sorai. Sesudah semua orang bersiap sedia, Boe Kie mendorong batu raksasa yang menutup pinta jalanan rahasia. Ia keluar lebih dahulu dan menunggu diluar pintu. Sesudah semua orang keluar, ia menutup lagi pintu itu dengan batu raksasa tersebut. Dalam kalangan Beng Kauw, orang yang memiliki tenaga paling besar yalah Gon Hoan Ciang Kie Soe Houw Touw Kie. Ia mengerahkan lweekang dan coba mendorong batu itu dengan sekuat tenaga. Tapi usahanya itu seperti capung mendorong pilar batu.

Supaya tidak mengagetkan musuh, semuanya berjalan dengan mengindap2 sambil menahan napas. Boe Kie sendiri menilik gerakan barisan itu dengan berdiri diatas satu batu besar. Dengan bantuan sinar rembulan, ia lihat pasukan Peh Bie Kauw mengambil kedudukan disebelah barat. Rombongan2 Lwee Sam Tong – dan Gwa ngo tan, yaitu Sin Coa, Ceng Liong, Peh Houw Hian Boe dan Cioe Ciak tan berbaris rapi dengan masing2 dikepalai oleh pemimpin mereka.

Disebelah timur berkumpul Ngo Kie dari Beng Kauw, yaitu Swie Kim, Kie Bok, Ang Soet Liat Hwee dan Houw Touw Kie, yang mengambil kedudukan Ngo Heng dan masing2 di kepalai oleh pemimpin2nya.

Yang ditengah2 adalah empat pasukan Soe Boen (Empat Pintu) yang berada dibawah kekuasaan Yo Siauw. Soe Boen berarti pintu Thian (Langit), Tee (Bumi), Hong (angin) dan Loei (Geledek) yang masing2 dipimpin oleh seorang Boen Coe dan semua anak buahnya adalah para anggota dari Kong Beng Teng. Thian Coe Boen terdiri dari para anggota pria daerah Tionggoan. Lee Coe Boen yang dipimpin Yo Poet Hwie terdiri dari hweeshio atau toojin, sedang Loei Coe Boen terdiri dari orang2 See Hek (Daerah Barat).

Anak buah Lima Bendera dan Empat Pintu itu banyak yang baru saja sembuh dari lukanya, tapi sekarang mereka berbaris dengan semangat bergelora.

Sebagai rombongan terakhir ialah rombongan Boe Kie sendiri yang dilindungin oleh Ceng ke Hong Ong, Wie It Siauw dan Ngo Sian Jia.

Dengan hati berdebar2 semua orang menunggu perintah Kauw Coe.

Perlahan lahan Boe Kie berkata, “Musuh sudah menyerang sampai disini. Biarpun kita tak ingin bertempur, kita tak bisa tidak bertempur. Akan tetapi, kalau bukan terlalu terpaksa, kita tak boleh melukai atau membunuh sesama manusia. Kuharap kalian suka ingat pesan ini.”

“Saudara2 Peh Bie Kauw, yg di pimpin oleh In Kauw Coe, harus menyerang dari jurusan barat. Ngo Heng Kie, yang di pimpin oleh Boen Ciong Siong, Ciang Kie Soe dair Kei Bok Kie menyerang dari timur. Yo Co Soe yang memimpin Soe Boen menyerang dari utara. Ngo Siang Jin menyerang dari selatan, Wie Hong Ong dan aku sendiri akan berdiam ditengah2 untuk memberi bantuan kepada yg memerlukan bantuan.”

Semuar orang membungkuk.

Sesaat kemudian, Boe Kie mengibas tangan kirinya dan berkata, “Serbu!!” Dengan serentak empat pasukan bergerak mengepung Kong Beng Teng dari empat jurusan.

“Hok Ong,” kata Boe Kie, “Kita berdua keluar dari jalanan rahasia dan serang mereka secara mendadak.”

Mereka masuk ke jalanan rahasia dan keluar dari kamar Yo Poet Hwie. Begitu keluar mereka bertemu dengan tumpukan puing dan hidung mereka mengendus bau sangit.

Dikalangan musuh ternyata terdapat banyak orang pandai. Sebelum pasukan2 Beng kauw, Peh Bie Kauw datang dekat, mereka sudah tahu dan segera berteriak2, memberi isyarat kepada kawan2nya.

Boe Kie dan Wie It Siauw saling mengawasi sambil tersenyum. Mereka yakin, bahwa pihak mereka akan mendapat kemenangan. Mereka memperhatikan jalan pertempuran dengan menyembunyikan diri di belakang tembok yang roboh.

Beberapa saat kemudia, dengan bantuan sinar rembulan mereka lihat Swee Poet Tek dan Cioe Tian, yg tiba paling dahulu dan yang segera menyerang musuh. Sesudah itu, dengan beruntun tibalah In Thian Ceng, Yo Siauw dan pasukan2 Ngo Heng Kie. Hebat sungguh serangan mereka. Mereka mengamuk bagaikan harimau edan.

Yang menyerang Kong Beng Teng dikali ini adalah Kaypang, Hay see pay dan lain2, semuanya beberapa belas partai besar dan kecil.

Sesudah Kong Beng Teng terbakar habis, mereka anggap orang2 Beng Kauw sudah binasa semua dan mereka sudah mendapat kemenangan besar. Maka itu, selama beberapa hari, Kay Pang, Kie Keng Pang dan sejumlah partai lain sudah turun gunung, sedang yang masih berada di Kong Beng Teng hanyalah Sin Koen Boen, Sam Kang Pang, Boe San Pang dan Ngo Hong To. Serangan mendadak dari Beng Kauw dan Peh Bie Kauw sudah membingungkan mereka dan biarpun diantara mereka terdapat banyak jago yg pandai mereka semua bukan tandingan Yo Siauw dan kawan2nya. Baru saja bertempur kira2 semakan nasi, sebagian besar sudah mati atau terluka.

Melihat begitu, Boe Kie segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata dengan suara nyaring, “Anggota2 dari berbagai partai dengarlah! Semua pemimpin Beng Kauw sekarang berkumpul disini. Tak guna kalian melawan terus. Lemparkan senjata kalian! Aku akan mengampuni jiwa kalian dan memperbolehkan turun gunung tanpa diganggu.”

Tiba2 seroang Hoan Ceng (pendeta asing) yang bertubuh kate kecil melompat dan membentak, “Siapa kau?”

“Jangan kurang ajar!” bentak Yo Siauw, “Inilah Thio Kauw Coe, Kauw Coe kami yang baru.”

“Aku tak perduli Kauw Coe atau bukan Kauw Coe,” kata si pendeta dengan jumawa.

“Sambutlah pedangku!” bagaimana kilat pedang menyambar. Dengan matanya yg sangat jeli, Boe Kie segera mengenali bahwa pedang itu benar In Thian Kiam, ia berkelit dan bertanya, “Mengapa pedang milik Go Bie itu bisa ditangan Tay soe?”

Sebaliknya dari menjawab dia mengirim tiga serangan berantai. Menghadapi senjata mustika itu, Boe Kie sangat berhati2. Untuk menyelamatkan diri ia berkelit ber ulang2. Tiba2 tangan kiri Boe Kie menyambar dan mencekal pergelangan tangan kanan si pendeta yang lantas saja kesemutan dan Ie Thian Kim yg dipegangnya, jatuh ketanah. Tapi hoan ceng itu cukup lihai. Mendadak tangan kirinya menghantam dada Boe Kie. Tapi sebaliknya dari Boe Kie, dia yang terguling karena seluruh tubuh pemuda itu dilindungi oleh Sinkang. Begitu terguling, begitu dia melompat bangun menjemput In Thian Kiam yg menggeletak di tanah, Peng Eng Giok buru2 melompat dan menjambret dengan pedangnya. Berbarengan dengan berkelebatnya sinar pedang, Peng Hwesio sudah kutung dua. Sesudah memutuskan pedang lawannya, si pendeta segera kabur kebawah gunung.

Seraya membentak keras Boe Kie melompat dan mengejar pendeta itu. Didalam hati sangat berkuatir akan keselamatan Cioe Cie Jiak. Cara bagaimana In Thian Kiam, yg berada dalam tangan nona Cioe, kena rampas oleh hoan ceng itu? Maka itu, ia segera mengambil keputusan untuk membekuk pendeta itu guna mencari keterangan.

Tapi baru saja ia mengejar beberapa puluh tombak, disebelah kiri tiba2 terdengar teriakan “Celaka!” diikuti dengan terbangnya sebatang pedang yg berkelebat ketengah udara.

Itulah suara Yo Poet Hwie si noan pasti sedang menghadapi bahaya. Teriakan Poet Hwie keluar dari tempat yang penuh pohon2. tanpa memikir lagi Boe Kie melompat masuk kedalam gerombolan photon itu. Sekonyong2 ia merasai menyambar angin tajam dan sebatang golok berkelebat kemukanya. Searaya mengengos ia menangkap tangan si penyerang yang lalu dilemparkan beberapa tombak jauhnya.

Hampir berbaereng ia dengar bentakan dan cacian. Ia menerobos kearah suara itu. Ternyata Poet Hwie yang tidak bersenjata tengah diserang oleh seorang pria sangat tinggi besar yang menggunakan sepasang kampak.

Dengan sekali melompat Boe Kie sudah menghadang di depan si penyerang, “Tahan!” bentaknya.

Orang itu terkejut sejenak, akan kemudian mengayun kedua kampaknya. Boe Kie mengibaskan tangan kirinya dengan menggunakan Kian Koen Tay Lo Ie Sin Kang. Kedua senjata itu tersempok miring oelh tenaga Sin kang dan ‘prak’, menghantam satu batu besar sehingga lelatu muncrat dan mata kampak somplak. Dengan lelaki itu kesemutan dan tidak bisa mengangkat senjatanya lagi. Poet Hwie sungkan menyia2kan kesempatan baik. Ia melompat dan meninju Tay yang hiat musuh yang lantas saja roboh tanpa bernyawa lagi.

“Poet Hwie moy moy apa kau terluka?” tanya Boe Kie.

“Tidak, terima kasih atas pertolonganmu,” jawabnya.

Boe Kie bersembunyi. “Hayo kita balik!” katanya.

Karena harus menolong nona Yo. Boe Kie tidak bisa mengurus Hoan Cong itu lagi. Begitu tiba di puncak gunung, tiba2 mereka mendengar teriakan menyeramkan. “Siapa yang takut mati, , tak diberi ampun! Siapa yang takut mati, tak diberi ampun!” ketika itu, rombongan Boe san pang sudah merusak dan mereka kabur kalang kabutan. Tapi, begitu mendengar teriakan yang begitu menakutkan itu, semangatnya kembali lagi dan mereka lalu melawan pula secara nekat2an. Dalam sekejap sejumlah anggota Beng Kauw mati dan terluka. Tapi sebab kalah tenaga dan kalah jumlah, satu demi satu mereka roboh.

“Kalian dengarlah!” terial Boe Kie. “Tak guna kalian melawan lagi, lebih baik meyerah saja.”

Tapi orang2 terus meyerang mati2an. Dibawah sinar purnama, paras mukanya kelihatan ketakutan, seperti juga di belakang mereka ada iblis yang memaksa mereka bertempur nekat2an. Melihat begitu Boe Kie merasa tak tega. Dengan menggunakan ilmu ringan badan tubuhnya berkelebat dan jari2 tangannya bekerja, menotok jalan darah orang2 itu. Sekejap saja, kecuali 3 orang yang berkepintaran sangat tinggi dan lincah geraknya, mereka roboh. Ketiga orang itu akhirnya dibinasakan oleh Yo Siauw, Wie It Siauw dan In Ya Ong.

Beng Kauw mendapat kemenangan besar. Lebih dari 300 musuh dibinasakan atau ditawan. Yang berhasil melarikan diri hanya beberapa orang saja. Tak lama kemudian diatas Kong Beng Teng dinyalakan api unggun yang sangat besar, sebagai peryataan terima kasih kepada beng coen yang sudah melindungi Beng Kauw.

Selama beberapa hari Boe san pang dan yang lain2 telah membuat gubuk2 di atas Kong beng teng. Sekarang gubuk2 itu dapat digunakan oleh Beng Kauw/Peh Bie Kauw untuk mengaso. Tanpa memperdulikan rasa letih, para anggota wanita segera menanak nasi, memasak air dan menyediakan sekedar lauk pauknya. Semua orang bersuka ria, rasa kantuk dan lelah tidak dirasakan.

Sekonyong-konyong, dengan paras muka berseri2 In Thian Ceng berdiri dan berkata dengan suara nyaring. “Para anggota Peh bie kauw dengarlah! Peh bie kauw dan Beng kauw sebenarnya berpangkal satu. Pada 20 tahun lebih yang lalu, karena tidak akur dengan Beng Kauw, aku mendirikan sebuah agama lain. Sekarang, sesudah Thio Tayhiap menjadi Kauwcoe, semua orang harus melupakan ganjelan lama dan harus bersatu padu. Mulai hari ini Peh bie kauw tak ada lagi. Kita semua harus mentaati perintah Kauwcoe. Siapa tak setuju, boleh segera turn gunung!”

Pernyataan itu disambut dengan tepuk tangan dan sorak sorai gegap gempita.

Si kakek tersenyum dan berkata pula. “Mulai hari ini kita hanya mempunyai Beng Kauw dengan Thio kauwcoe satu2nya. Siapa yang memanggil aku In Kauwcoe lagi, dia dianggap sebagai orang berdosa.”

Boe Kie menyoja dan berkata”Persatuan kembali antara Peh bie kauw dan Beng kauw adalah kejadian yang sungguh2 menggirangkan. Akan tetapi, aku yang rendah hanyalah kauwcoe untuk sementara waktu. Sesudah musuh dikalahkan tibalah waktunya untuk memilih Kauwcoe yang baru. Dalam Beng Kauw dan Peh bie kauw terdapat banyak sekali tokoh2 yang berkepandaian tinggi. Aku yang masih beusia muda, berpengatuan cetek, mana bisa menduduki kursi yang tinggi itu?”

“Thio Kauwcoe jangan kau berkata begitu!” teriak Cioe Tian. “Coba kau pikir, karena berebut kursi Kauwcoe, kami berantakan. Untung besar semua orang takluk kepadamu. Jika kau tetap menolak biarlah kau saja menunjuk seorang kauwcoe baru. Hu uh!!!! Tapi, siapapun juga yang ditunjuk olehmu, aku, Cio Tian, yang paling dulu menentang. Kalau kau mengangkat aku, tentu ada orang lain yang tidak mufakat!”

Pheng Eng Giok berdiri dan berkata denan suara nyaring. “Thio Kauwcoe, jika kau menolak Beng kauw pasti akan berantakan lagi!”

Apa yang dikatakan Pheng Hweesio memang sangat mungkin terjadi. Boe Kie menunduk dan menimbang2. semua orang menunggu jawaban sambil menahan nafas.

Akhirnya ia berkata, “Karena kecintaan kalian yang sangat besar, aku yang rendah merasa berat untuk menolak terus. Tapi aku hanya bersedia untuk memegang tugas Kauwcoe sementara waktu dengan satu syarat. Syaratnya ialah kalian harus mengiakan 3 permintaanku. Jika kalian menolak, meskipun mesti mati aku takkan menerima kedudukan Kauwcoe.”

“Baik! Baik!”

“Bagus!”

“Jangankan tiga, tiga puluhpun kami akan meluluskan!”

“Permintaan apa?”

“Kauwcoe bilang saja!”

sesudah teriakan2 mereda, Boe Kie membungkuk dan berkata dengan suara nyaring. “Agama kita dinamakan orang luar sebagai agama agama siluman. Hal ini tentu saja tidak benar. Mereka yang berkata begitu tidak tahu isi daripada Beng Kauw. Akan tetapi karena jumlah anggota kita sangat besar, maka memang benar ada sejumlah anggota yang melakukan perbuatan2 menyeleweng. Maka itu, permintaanku yang pertama ialah mulai dari sekarang, dari Kauwcoe sampai anggota biasa semua orang harus mentaati peraturan2 Beng kauw, harus menolong sesama manusia dan harus berlaku sebagai ksatria sejati. Aku ingin minta supaya Leng Kiam Sianseng suka menjadi Hio coe dari Heng tong Cie coe (pemimpin dari bagian hukum) untuk mengadili segala pelanggaran dan membereskan segala percecokan antara kita. Siapa yang berdosa akan dihukum berat. Aku, kakek, pamanku dan lain2 ketua tidak terkecuali”.

Semua membungkuk dan mengiakan.

“Waktu mendiang Yo Kauwcoe masih hidup, peraturan kita dipegang keras sekali.” Kata Pheng Eng Giok. “Belakangan orang2 yang berdosa tidak diadili secara tepat dan makin lama keadaan makin buruk. Soal ini memang merupakan soal terpenting dari agama kita dan aku merasa girang, bahwa Kauwcoe dan saudara Leng akan bertindak tanpa memilih bulu”.

Leng Kiam maju setindak seraya berkata dengan ringkas. “Aku terima”. Kakek ini memang paling tidak suka bicara banyak.

“Permintaanku yang kedua mungkin agak berat,” kata pula Boe Kie. “Kedua belah pihak telah menderita kerusakan besar, banyak orang mati atau luka. Tapi sekarang aku ingin minta supaya kalian suka mengakhiri permusuhan ini dan tidak cari2 urusan lagi dengan keenam partai itu”.

Semua orang kaget. Itulah permintaan yang sukar diluluskan. Mereka saling mengawasi dan membungkam. Sesudah selang beberapa lama Cioe Tian bertanya “Bagaimana kalau mereka yang mengganggu kita?”

“Kita harus bertindak dengan mengimbangi keadaan,” jawab Boe Kie. “Mana kala mereka mendesak terlalu keras, kita tentu saja tidak bisa menerima kebinasaam tanpa melawan”.

“Baiklah!” kata Tiat koan To jin. “Jiwa kita ditolong Kauwcoe. Biarlah kita turut apa yang diinginkan Kauwcoe”.

“Saudara2!” teriak Pheng Eng Giok, “Enam partai itu telah membunuh banyak anggota kita, tapi kitapun telah banyak membinasakan anggota mereka. Kalau permusuhan terus berlarut2, makin lama makin banyak manusia mati. Menurut pendapatku, perintah Kauwcoe supaya kita tidak cari permusuhan lagi dengan mereka, adalah untuk kebaikan kita sendiri”.

Semua orang menyetujui pendapat itu dan mereka segera meluluskan permintaan Boe Kie yang kedua ini.

Boe Kie merangkap kedua tangannya dan berkata dengan suara terharu. “Pandangan luas dan hati lapang yang ditunjukkan kalian sungguh2 rejeki umat manusia. Permintaanku yang ketiga adalah supaya kita mentaati pesan mendiang Yo Kouwcoe yang ditulis dalam surat wasiatnya. Yo Kouwcoe memesan, supaya siapa yang bisa mendapatkan kembali Seng Hwee Leng dan mengambil pulang barang peninggalan Kauwcoe turunan ketiga puluh satu dari tangan Kay pang, dialah yang harus diangkat menjadi Kuwcoe turunan ketiga puluh empat. Yo Kauwcoe juga memesan, supaya sesudah ia, meninggal dunia, untuk sementara jabatan Kuwcoe dipegang oleh Kim Mo Say Ong. Maka itu sudah sepatutnya kalau sekarang kita menyeberangi lautan untuk menyambut Cia Hoat agar beliau bisa menduduki kursi Kauwcoe sementara waktu. Belakangan barulah kita mencari Seng Hwee leng dan mengambil pulang barang peninggalan Kauwcoe turunan ketiga puluh satu. Siapa yang berhasil, dialah yang harus menjadi Kuwcoe.”

Semua orang saling mengawasi. Sesudah kehilangan pemimpin selama beberapa puluh tahun, mereka sangat tidak ingin melepaskan Kauwcoe baru itu yang berkepandaian sangat tinggi dan luhur pribadinya. Andaikat dikemudian hari Seng hwee leng didapat oleh seorang goblok, apakah manusia goblok itu akan menjadi pemimpin mereka?

“Syra mendiang Yo Kauwcoe ditulis pada dua puluh tahun lebih berselang. Berbeda dengan keadaan sekarang, kita memang pantas menyeberangi lautan untuk meyambut Kim mo say ong. Kita memang harus berusaha mencari Seng hwee leng, tapi kalo diangkat oleh orang lain menjadi Kauwcoe, kuatir tidak semua orang menyetujuinya.”

Tapi Boe Kie tetap pada pendiriannya, bahwa pesan Yo Kauwcoe harus ditaati. Sebab tak bisa mengubah lagi, maka pada akhirnya semua orang mengiakan juga kemauan itu.

Setelah perundingan beres, Boe Kie segera mengeluarkan perintah untuk menyalakan Seng Hwee (api suci) dan kemudian, dengan meneteskan darah, semua pimpinan dan anggota Beng Kauw bersumpah, bahwa mereka tidak akan melanggar peraturan itu.

Tak lama kemudian fajar menyingsing sekonyong konyong didalam hutan terdengar teriakan kaget dari seseorang.

“Siapa itu?” bentak Tiat koat tojin.

Hampir berbareng dari dalam hutan kelihatan berlari2 2 anggota Ang soei kie. Begitu mereka tiba dihadapan Tong Yang Ciang kie soe Ang Soei kie, mereka segera melaporkan sesuatu dengan suara perlahan.

“Apa benar?” tanya Tong Yang dengan kaget. Dengan cepat ia memberi isyarat dengan gerakan tangan dan barisan Ang soei kie dengan serentak bergerak, masing2 anggota menduduki kedudukan Pat Kwa, siap sedia untuk bertempur. Sesudah itu, dengan mengajak beberapa orang, Tong Yang lantas masuk kedalam hutan.

Sesudah mendapat kerusakan besar dalam beberapa kali pertempuran, jumlah anggota Ang sioe kie tidak cukup seratus orang. Tapi kegagahan tidak berkurang dan cara Tong Yang mengatur barisannya tetap angker luar biasa. Tak terlalu salah bila dikatakan, bahwa Ang soei kie saja, satu bendera dalam Beng Kauw, sudah cukup untuk melayani partai biasa dalam Kang ouw. Melihat begitu, Boe Kie merasa sangat terhibur, karena itulah suatu tanda, bahwa Beng Kauw mempunyai hari depan yang gilang gemilang.

Tak lama kemudian Tong Yang keluar dari dalam hutan dengan tindakan lebar. Ia menghampiri Boe Kie dengan paras muka bingung. Sambil membungkuk ia berkata, “Melaporkan kepada Kauwcoe, bahwa Tong Yang menunggu hukuman”.

“Ada apa?” tanya Boe Kie.

“Aku telah memerintahkan orang2ku untuk menjaga tawanan,” jawabnya. “Diluar dugaan, orang2 itu telah berhasil merampas senjata orang2ku dan membunuh diri”.

“Aneh sungguh!” kata Boe Kie dengan kaget. Dengan diiring tokoh2 Beng Kauw, ia segera masuk ke dalam hutan.

Benar saja, para tawanan Boe san pang dan Ngo ho tong sudah menjadi mayat dan menggeletak di tanah. Enam orang dari delapan penjaga mendapat lukadan mereka berlutut untuk mendapat hukuman.

“Apa benar mereka bunuh diri?” tanya Boe Kie.

“Melapor kepada Kauwcoe,” kata pimpinan rombongan penjaga itu, “mereka menyerang kami secara mendadak dan merampas senjata kami akan kemudian bunuh diri. Dalam melakukan perbuatan itu, mereka tak pernah mengucapkan sepatah kata”.

Boe Kie manggut2kan kepalanya. “Bukan salah kalian, bangunlah!” katanya.

“Terima kasih ata belas kasihan Kauw Coe” kata pemimpin itu.

Boe Kie segera memeriksa luka para tawanan, dan ternyata, mereka memang bukan dibunuh orang. Diantara mayat2 itu terdapat seorang yang masih belum putus jiwa, sebelah lengannya masih bergerak2. Boe Kie segera membungkuk dan menotok Leng tay hiatnya, sambil mengirim Kioe Yang Cin Khie.

Orang itu perlahan lahan tersadar.

“Mengapa kau bunuh diri?” tanya Boe Kie.

Jawab orang itu dengan suara terputus2. “Siapa…..yang takut mati….tak diberi ampun…..tidak…..diberi….ampun…”

Boe Kie terkejut ia ingat, bahwa selama pertempuran ia pernah mendengar teriakan begitu di lereng gunung dan sebagai akibatnya pihak musuh berkelahi secara nekat2an. Ia sekarang mengerti, bahwa di balik teriakan itu tersembunyi rahasia hebat. “Siapa yang tak memberi ampun?” tanyanya.

“Keluargaku…tua muda….istri….anak, semua dalam tangan orang,” jawabnya.

“Dalam tangan siapa? Kami akan menolong kau” kata pula Boe Kie.

Orang itu menggeleng2 kepalanya. Ia tersenyum getir, kepalanya terkulai dan nafasnya terhenti.

Yo Siauw dan yang lain2 saling memandang. Mereka tak dapat menembus teka-teki itu. Sesudah memerintah Angsoei Kie mengubur mayat2 itu Boe Kie segera mengajak In Thian Ceng, Yo Siauw, Wie It Siauw dan yang lain2 ke gubuk untuk mendamaikan urusan ini.

“Dari keterangan orang itu, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa keluarganya ditahan oleh seorang yang berkuasa dan kalau dia tak berkelahi mati2an, keluarganya akan dibinasakan.” Kata Pheng Eng Giok. “Siapa orang itu yang mempunyai kekuasaan begitu besar, sehingga dia bisa menindih begitu banyak orang gagah dari partai2 persilatan? Siapa manusia itu yang dapat menahan begitu banyak keluarga?”

Kecuali Boe Kie tokoh2 Beng kauw adalah orang2 berpengalaman. Tapi mereka tak bisa meraba siapa adanya orang itu.

“Menurut pendapatku urusan ini ada sangkut pautnya dengan Goe Bie pay,” kata Coe Tian. “Hoan Cong itu menggunakan pedang Ie Thian Kiam, Biat Coat sangat beracun dan mungkin sekali, sebab tak unggulan melawan Kauwcoe kita. Dia menyuruh orang2 itu datang kemari”.

“Bukan begitu,” kata Leng Kiam.

“Mengapa bukan?” tanya Cioe Tian.

Leng Kiam tidak menjawab.

“Kurasa soal menahan keluarga berbagai partai terpisah dari soal serangan enam partai besar” kata Swee Poet Tek. “Dalam serangannya itu, keenam partai pasti tidak akan menduga, bahwa mereka akan mengalami kegagalan. Biat Coet Soethay dan sejumlah kawannya adalah orang2 yang sangat sombong dan mereka tentau tak pernah ingat perkataan kalah. Maka itu tidak bisa jadi mereka lebih dahulu sudah mempersiapkan sebuah siasat lain untuk menyerang kita”.

Semua orang membenarkan perkataan Swee Poet Tek.

“Andaikata kau benar, tapi siapa musuh kita itu?” tanya Coe Tian.

“Akupun tak tahu,” jawab Swee Poet Tek.

“Kalau Seng Koen blom binasa. Kita bisa menuduh dia”.

Sesudah berunding beberapa lama, mereka belum juga mendapat kemajuan.

“Kurasa urusan ini bisa dikesampingkan untuk sementara waktu,” kata Boe Kie akhirnya. “Soal penting yang kini dihadapi kita adalah menyeberangi lautan untuk menyambut Kim Mo Say Ong. Tugas ini harus dilakukan olehku sendiri, siapa yang ingin ikut?”

Semua orang segera berbangkit dan menjawab “Kami semua bersedia untuk mengiring Kauwcoe”

“Jangan terlalu banyak,” kata Boe Kie, “Disamping itu ada beberapa urusan besar yang perlu diurus. Begini saja, Yo Co Soe dan Soe coen berdiam di Kong Beng Teng untuk membangun lagi dan menjaga pusat kita. Kim, Bok, Soie, Hwee, Touw Ngo heng kie pergi ke berbagai tempat untuk mengumpulkan lagi anggota2 kita yang sudah terpencar dan menyampaikan tiga janji yang sudah disetujui. Kakek dan paman coba menyelidiki musuh yang bersembunyi itu dan berbareng coba mencari Kong Beng Yoe Soe serta Cie san liong ong. Tugas Wie Hok Ong ialah pergi menemui Cia Boenjin keenam partai besar untuk memberitahukan perubahan2 didalam Beng kauw. Andaikata Hok Ong tidak dapat mengubah musuh menjadi sahabat, tindakan ini setidaknya akan dapat menunda permusuhan untuk sementara waktu. Kutahu tugas ini bukan tugas enteng. Tapi dengan kebijakannya, kupercaya Hok ong akan berhasil. Aku sendiri bersama Ngo sian jin akan melayari lautan guna menyambut Cia Hoat ong.

Sebagai seorang kauwcoe, setiap perkataan Boe Kie adalah undang2 yang tidak dapat dibantah. Semua orang lantas saja menggangguk dan menerima baik perintah itu.

“Thia” tiba2 Poet Hwoei berkata “Aku ikut, kuingin melihat gunung es”

Sang ayah tersenyum “Kau harus memohon pada Kauwcoe,” jawabnya “Aku tidak berkuasa”

Si nona memoyongkan mulutnya, tapi ia tak dapat berkata apa2 lagi.

Boe Kie tertawa. Ia ingat, waktu mengantar Poet Hwei ke see hek, si nona sering meminta ia bercerita dan ia sering menceritakan pengalamannya di pulau Heng hwee to. Berkali2 ia menceritakan keindahan pulau itu dengan beruang putihnya, kera api, ikan2 aneh dan sebagainya. Maka itu tidaklah heran kalo sekarang Poet Hwie ingin mengikut. “Poet Hwie moy moy” katanya “Pelayaran ke Peng hwee to banyak bahayanya. Tapi jika kau tak takut dan Yo Coe soe meluruskan biarlah Yo Cosoe dan kau sama2 ikut”

“Takut apa?” kata si nona sambil menepuk nepuk tangan. “Thia biarlah kita berdua mengikut Boe Kie…….bukan mengikut Kauwcoe”

Sambil mengawasi Boe Kie, Yo Siauw hanya mengangguk.

“Kalau begitu aku ingin minta bantuan Leng Sianseng untuk menjaga Kong Beng teng dan untuk sementara waktu soe boen ditaruh didalam kekuasaannya”

“Baiklah! Sungguh bagus!” teriak Cioe Tian.

“Cioe heng bagus apa?” tanya Swee Poet Tek.

“Beng Kauw menaruh penghargaan begitu tinggi kepada Leng Kiam merupakan suatu penghormatan besar untuk Ngo sian jin” jawabnya “Disamping itu, dalam perjalanan ini, entah berapa lama Kauwcoe harus terombang-ambing di tengah lautan. Dengan ada Yo Coe soe bakal tak terlalu kesepian. Mereka bisa beromong2. jika Leng Kiam yang pergi, maka Kauwcoe seperti juga mengajak sepotong balok”

semua orang tertawa terbahak2. Leng Kiam tidak jadi gusar, tapi iapun tak tertawa. Ia bersikap seperti tak dengar gurauan Cio Tian.

Sesudah bersantap, semua orang lantas pergi mengaso.

Sebelum berangkat Boe Kie minta Poet Hwie membuka rantai hian tiat yang merantai Siauw Cioew. Tapi anak kunci hilang dalam tumpukan puing dan tak dapat dicari.

“Tak apa” Siauw Ciauw dengan suara tawar. “Suara rantai ini bahkan lebih merdu kedengarannya.”

“Siauw Ciauw kau tunggulah di Kong Beng Teng dengan hati tenang” Boe Kie menghibur “Aku akan meminjam To Liong To dari Cia Hoat ong untuk memutuskan rantai ini.”

Siauw Ciauw menggeleng2kan kepala. Ia tak menyahut.

Pada keesokan paginya, Boe Kie dan rombongan berpamitan “Kauwcoe kau adalah seorang yang bertanggung jawab atas mati hidupnya Beng Kauw” kata Seng Kiam. “Kuharap kau menjaga diri baik2”

“Terima Kasih” jawab Boe Kie “Leng Sian seng dalam menjalankan tugasmu, kau akan banyak capai”

“Hati2 ikan aneh akan makan kau” kata Leng Kiam kepada Cioe Tian.

Dengan rasa terharu Cioe Tian mencekal tangan Leng Kiam erat2. kecintaan antara Ngo sian jin menyerupai kecintaan saudara kandung sendiri. Hari ini Leng Kiam melanggar kebiasaannya dan bicara lebih banyak. Hal ini sudah terjadi karena kegoncangan hatinya.

Bersama-sama Soe Boen, Leng Kiam mengantar rombongan Kauwcoe sampai dikaki Kong Beng Teng dan dengan perasaan berat mereka berpisahan.

Sesudah berlalu seratus li lebih rombongan Boe Kie bermalam di gurun pasir. Kira2 tengah malam, tiba2 Boe Kie mendengar suara “ting tang ting tang” sesudah memiliki Kioe Yang Cin Keng panca inderanya sepuluh kali lebih tajam dari manusia biasa. Ia kaget, bangun dan lantas berlari2 kearah suara itu. Sesudah melewati beberapa li, jauh2 ia lihat sebuah titik hitam yang bergerak kearahnya dan makin lama makin besar.

Tiba2 ia bergerak. “Siauw Ciauw! Mengapa kau datang?”

Orang itu memang bukan lain daripada si nona. Melihat Boe Kie ia lantas menangis keras.

“Anak baik! Sudahlah jangan menangis” kata Boe Kie seraya menepuk2 pundak si nona.

Tapi si nona jadi makin sedih dan menangis makin keras. “Kemanapun jua kau pergi…….aku…….ikut……”katanya.

Boe Kie merasa sangat kasihan. “Dia sangat tak beruntung dan karena aku berlaku manis terhadapnya, dia sangat mencinta aku” katanya dalam hati, maka itu ia segera berkata. “Sudahlah kau jangan menangis, kau boleh ikut”

Si nona menjadi girang. Ia mendongak dan mengawasi Boe Kie dengan sorot mata berterima kasih. Dibawah sinar rembulan yang masih putih bagaikan perak, dengan muka yang cantik dan potongan badannya yang langsing kecil, ia seolah seorang dewi yang turun dari kayangan. Melihat kedua pipi yang masih basah oleh air mata dan paras muka yang berseri2, Boe Kie jadi ingat sekuntum bunga dengan butiran2 embun. Ia tersenyum dan berkata dengan suara perlahan “Siauw Ciauw, kalau sudah besar kau akan cantik luar biasa”

“Bagaimana kau tahu?” tanya si nona sambil tertawa.

Sebelum Boe Kie menjawab, disebelah timur laut tiba2 terdengar suara kaki kuda yang mendatangi dari barat ke timur. Didengar suaranya yang makin lama makin jauh, jumlah penumpang paling sedikit 100 orang lebih.

Beberapa saat kemudian, Wie It Siauw datang dengan saling susul “Kauwcoe” kata Wie It Siauw ”Ditengah malam buta serombongan penumpang kuda lewat sini. Kukhawatir mereka musuh2 kita”

Boe Kie segera minta Siauw Ciauw mempersarukan diri dengan Pheng Eng Giok dan yang lain2, sedang ia sendiri bersama Yo Siauw dan Wie It Siauw mengubar rombongan penumpang kuda itu.

Tak lama kemudian mereka bertemu dengan tapak2 kuda. Wie It Siauw membungkuk dan menjumput segenggam pasir “ada darahnya” katanya.

Boe Kie mencium pasir itu dan merasai bau darah yang masih segar. Mereka lalu mengejar dengan mengikuti tapak2 itu. Sesudah melalui beberapa li, tiba2 Yo Siauw melihat sepotong golok buntung diatas pasir, ia menjumput dan ternyatadi gagangnya terukir 3 huruf “Pang Jin Ho” ia memikir sejenak dan berkata.

“Inilah orang Kong Tong Pay, Kauw Coe. Kurasa mereka memang sengaja menyediakan kuda2 ditempat ini untuk pulang ke tionggoan.”

“Sudah setengah bulan lebih mereka turun dari Kong Beng Teng” kata Wie It Siauw. “Apa perlunya mereka harus berdiam disini?”

Sesudah mengetahui bahwa rombongan itu adalah rombongan Kong Tong Pay, Boe Kie bertiga tidak berkuatir lagi dan lalu kembali ke tempat asal. Malam itu lewat dengan tentram dan pada keesokan paginya, mereka meneruskan perjalanannya.

Pada hari kelima, pagi2 mereka tiba di padang rumput. Selagi enak berjalan, dikejauhan muncul serombongan orang yang mendatangi ke arah mereka. Boe Kie yang matanya paling lihay sudah dapat lihat, bahwa rombongan itu terdiri dari nie kouw (pendeta perempuan) yang mengenakan jubah pertapaan dan diantara mereka terdapat 7-8 orang lelaki.

Dalam jarak belasan tombak, salah seorang nie kouw berteriak, “Apa kamu bangsat2 Mo Kauw?” hampir berbarengan semua kawannya menghunus senjata dan berpancaran.

Boe Kie tahu, bahwa mereka itu adalah orang2 Go Bie Pay. Tapi ia belum pernah bertemu dengan yang manapun jua. “Apakah kalian murid2 Go Bie Pay?” tanyanya.

Seorang nie kouw setengah tua yang bertubuh kurus kecil melompat keluar dan membentak, “Bangsat Mo-kauw! Jangan rewel! Terimalah kebinasaanmu!”

“Siapa Soethay? Mengapa Soethay bergusar?” tanya Boe Kie dengan sabar.

“Bangsat! Siapa kau?” bentak pula nie kouw itu, “Apa derajatmu sehingga kau berani tanya namaku?”

Melihat kekurangajaran pendeta itu, Wie It Siauw jadi mendongkol. Bagaikan kilat ia melompat masuk kedalam barisan Go Bie Pay dan lantas menotok jalan darah dua murid pria yang lalu di cengkeram leher bajunya. Hampir berbareng, ia melompat keluar dan berlari2, seperti angin cepatnya, akan kemudian melemparkan kedua tawanannya diatas tanah. Dilain saat, ia sudah kembali kedalam rombongannya sendiri.

Kecepatan bergeraknya Ceng Ek Hong Ong mengejutkan semua anggota Go Bie Pay. Dengan mulut ternganga mereka mengawasi kedua saudara seperguruannya yang dibawa lari puluhan tombak dan sekarang menggeletak ditanah tanpa bergerak.

Sesudah memperlihatkan kepandaiannya seraya tertawa deban Wie It Siauw berkata “Yang berdiri dihadapanmu adalah seorang gagah luar biasa yang ilmu silatnya paling tinggi pada jaman ini, yang memimpin Kong Beng Co Soe dan Kong Beng Yoe Soe, yg mengepalai keempat Hoe Kauw Hat Ong Ngo Sian Jin. Ngo Heng Kie dan Thian Tee Hong Loei Soe Boe yaitu Thio Kauw Coe dari Beng Kauw kami yg pernah mengusir Go Bie Pay dari atas Kong Beng Teng dan merampas Ie Thian Po Kiam dari tangan Biat Coat Soe Thao. Sekarang aku mau tanya kan, apakah orang seperti Thio Kauw Coe mempunyai cukup derajat untuk menanya hoat beng Soethay?” (Hoat beng Nama, bukan nama asli yang digunakan oleh seorang pendeta)

Semua murid Go Bie terkesiap. Sesudah menyaksikan Wie It Siauw, mereka tidak menyangsikan keterangannya.

Setelah menentramkan hatinya si nie kauw setengah tua bertanya, “Siapa Tuan?”

“Aku she Wie, bergelar Ceng Eh Hok Ong,” jawabnya.

Beberapa murid Go Bie mengeluarkan seruan tertahan. Empat orang lantas saja berlari2 menghampiri kedua saudara seperguruannya yang tergeletak ditanah.

Ceng ek Hok ong bersenyum dan berkata dengan suara sabar, “Atas perintah Kauw Coe Beng Kauw dan keenam partai mengadakan gencatan senjata dan kami akan berusaha untuk memperbaiki perhubungan. Kalian tak usah khawatir. Kedua orang itu tidak kurang sesuatu apa. Sekarang si kelelawar tidak menghisap darah manusia lagi.”

Keterangan Wie It Siauw memang tak salah. Sesudah mengobati Boe Kie dengan menggunakan Kioe yang Sin kang, bukan saja racun It im cie terusir dari dalam badannya, tapi racun dingin yang dahulupun sudah turut dipunahkan, sehingga sekarang sesudah menggunakan Lweekang ia tak usah mengisap darah manusia lagi untuk melawan racun dingin itu.

Sementara itu, keempat murid Go Bie sesudah balik kebarisannya dengan menggotong kedua saudara seperguruannya. Baru saja mereka mau membuka jalan darahnya yg terteotok tiba tiba terdengar suara “sr… sr… “ dua butir pasir yang disertai Lweekang sangat hebat menyambar jalan darahnya kedua orang itu yang lantas saja terbuka.

Orang yg menolong adalah Yo Siauw. Dengan menggunaan ilmu Tan Sie Sin Thing dan Cie Sek Tiam hoat, ia membuka jalan darah kedua orang itu. (Tan cie sin thong ilmu menyentil dengan jari tangan. Cie Sek Tiam Hoat ilmu menotok jalan darah dengan timpukan batu)

Melihat lawat berkepandaian begitu tinggi, nie kauw setengah tua itu jadi keder. “Pie nie bernama Ceng Kong,” memperkenalkan dirinya. “Apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama yang mulai dari Sie coe (tuan) yang menggunakan Tan Sie Sin Thong dan Cie Sek Tiam Hoat.

Sebelum Yo Siauw menjawab, Cioe Tian sudah mendahului sambil tertawa terbahak bahak, “Dia bukan lain dari Kong Beng Soe sia, dengan kalian dia mempunyai sangkutan keluarga.”

Si pendeta mundur setindak. Bahwa gusarnya kedua alisnya bediri, “Ha! Kalau begitu kau bangsat Yo Siauw yang mencelakai Kie Soe moay!” teriaknya. Ia mengibas pedangnya dan bergerak untuk menyerang.

“Soethay tahan!” kata Boe Kie. “Kau tahu akan segala persoalannya jika kau menanyakan gurumu sendiri. Jangan kita bertempur karena urusan ini.”

“Mana guruku!” tanya Ceng Kong.

“Pada setengah bulan yang lalu, gurumu sudah turun dari Kong Beng Teng,” jawabnya. “Mungkin sekali ia sekarang sudah masuk di Giok Boen kwan.”

“Soecie, jangan dengar segala obrolannya,” kata seorang murid Go Bie yg berdiri dibelakang Ceng Kong. “Kita menyambut dari tiga jurusan, disampin gitu kita jg menggunakan tanda2 rahasia dan panah api. Kalau bener soehoe sudah turun dari Kong Beng Teng, tak mungkin kita tidak bertemu dengan nya.”

Mendengar itu Cioe Tian mendongkol. Tapi sebelum ia membalas dengan kata2 pedas, Boe Kie sudah berkata dengan suara perlahan. “Cioe siang seng tak usah ladeni dia. Karenat tak bertemu dengan guru mereka, bisa mengerti jika mereka uring2an.”

Jilid 45, bagian 2

Ceng Kong kelihatan bersangsi. “Apakah guruku dan saudara2 ku bukan jatuh kedalam tangan Beng Kauw?” tanyanya. “Seorang lelaki sejati harus berlaku jujur. Tak usah kamu berdusta.”

Cioe Tian tertawa dan berkata, “Baiklah, sekarang aku mau bicara terang2an. Tanpa menimbang nimbang tenaganya yg kecil Go Bie pay telah menyerang Kong Beng teng kami. Biat coat Soethay dan semua muridnya sudah ditawan dan dipenjarakan dalam penjara didalam air. Kami akan menahan mereka delapan belas tahun lamanya, supaya mereka bisa merenungkan kedosaannya mereka. Sesudah delapan belas tahun barulah kami akan menimbang pula, apa kami akan melepaskan mereka atau tidak.”

Pheng Eng Giok terkejut, “Cioe Heng, jangan kau berguyon secara melampui batas,” tegurnya. “Kalian jangan dengar guyonan saudara ini. Ia hanya main2. Bibi Coat Soethay adalah seorang yang berkepandaian luar biasa, sedang semua murid Go Bie jg berkepandaian tinggi. Mana bisa mereka jatuh didalam tangan beng kauw? Sekarang ini, kedua belah pihak sudah mengadakan gencatan senjata. Kalian pulanglah! Kalian pasti akan bertemu dengan mereka.

Ceng Kong tak menjawab. Ia bercuriga, bersangsi dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

“Cioe Heng memang paling suka main2,” kata Wie It Siauw. “Apakah seorang yg berkedudukan tinggi seperti Kauw Coe kami bisa memperdayai kalian?”

“Sedari dulu Mo Kauw terkenal licin, licik dan banyak akal bulusnya,” kata si nie kauw setengah tua. “Bagaimana kita bisa gampang2 percaya?”

Sekonyong2 Tong Yang, Ciang Kie Soe Ang Soei Kie, mengibas tangan kirinya. Dilain saat lima barisan Ngo Heng Kie bergerak serentak. Kie Bok Kie mengambil kedudukan disebelah timur. Liat hwee diselatan. Swie Kim dibarat, Ang Soei di utara. Houw touw ditengah2 dan mengurung seluruh barisan Go Bie Pay.

“Loehoe adalah Peh Bie Eng Ong,” teriak In Thian Ceng. “Dengan seorang diri loehoe sanggup membekuk kamu semua. Tapi hari ini Beng Kauw menaruh belas kasihan. Loehoe hanya ingin memperingatkan, bahwa orang2 muda harus berhati2 sedikit dalam mengeluarkan perkataan.” Si kakek bicara dengan menggunakan lweekang sehingga suaranya sangat menusuk kuping dan menggoncangkan hati. Melihat kelihaian orang tua itu, semua murid Go Bie jadi kaget tercampur kagum.

Boe Kie lantas saja mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Kami ingin meneruskan perjalanan dan kuharap kalian suka menyampaikan hormat Boe Kie kepada gurumu.” Sehabis berkata begitu, ia segera berjalan ke jurusan timur.

Sesudah semua pemimpin Beng Kauw lewat barulah Tong yg menarik pulang barisan Ngo heng Kie dan mengikuti dari belakang. Murid2 Go Bie tidak berani bergerak. Mereka mengawasi dengan mata membelak.

“Kauw Coe,” kata Peng Eng Giok, “Menurut pendapatku dalam hal ini mesti terselip sesuatu yg luar biasa. Sama sekali tak bisa terjadi, bahwa rombongan Biat coat Soethay tidka bertemu dengan murid2nya. Setiap partai mempunyai tanda rahasia yang selalu digunakan didalam perjalanan. Mana bisa jadi rombongan Biat coat menghilang dengan begitu saja?”

Sambil berjalam mereka bicarakan hal yang luar biasa itu. Semua orang sependapat dengan Peng Eng Giok. Menghilangnya rombongan Biat coat mencurigakan, apabila jika diingat, bahwa Lie Thian Kiam telah jatuh kedalam tangan seorang hoan ceng. Dilihat dari sudut ini, mungkin sekali rombongan itu menemui bencana. Diam2 Boe Kie berkuatir. Ia berkuatir akan keselamatannya Cioe Cie Jiak, tapi ia tentu saja tidak mengutarakan perasaannya itu kepada orang lain.

Pada magrib, selagi enak jalan, sekonyong2 Swee Poet Tek berkata. “Eeh!…. disini ada sesuatu yang luar biasa…” Ia berlari2 kearah serentetan pohon2 kate dan mengawasi bumi. Ia mencangkul dari tangan seorang pengikut dan menggali tanah. Tak lama kemudian, didalam lubang terlihat sesosok mayat yg sudah rusak, tapi dari pakaiannya dapat dikenali, bahwa mayat itu adalah mayat seorang murid Koen Loen Pay. Beberapa anggota Beng Kauw lantas saja bantu menggali dan belakangan ternyata, bahwa didalam lubang terdapat belasan mayat semuanya murid2 Koen Loen yang mati dengan luka2. Swee Poet Tek segera memerintahkan sejumlah anggota Beng Kauw menguburkan kembali mayat2 itu secara baik2.

Semua orang saling mengawasi dengan sorot mata menanya. Didalam hati mereka rata2 muncul sebuah pertanyaan. Siapa yang melakukan itu?

“Kalau urusan ini tidak diselidiki sampai ke dasarnya, segala kedosaan pasti akan ditimpakan keatas kepada Beng Kauw,” kata Peng Eng Giok.

Semua pemimpin Beng Kauw, kecuali Boe Kie sendiri, adalah orang2 yang berpengalaman. Mereka mengerti bahwa disebelah depan bersembunyi musuh2 yang bukan saja berkepandaian tinggi, tp jg kejam dan banyak akal busuknya. Mereka tahu, bahwa musuh semacam itu tak mudah dilawan.

“Saudara2 dengarlah!” kata Swee Poet Tek. “Kalau kita diserang dengan golok dan tombak terang, dibawah pimpinan Kauw Coe, biarpun kita tidak bisa mengatakan bahwa kita tidak pernah akan menemui tandingan didalam dunia, akan tetapi, anak panah gelap suka ditangkis. Maka itu, mulai sekarang, baik waktu makan maupun waktu berjalan atau mengaso, kita harus berlaku hati2 untuk menjaga bokongan musuh.”

Semua orang manggut2 kan kepalanya.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, sang surya mulai selam kebarat dan cuaca perlahan2 berubah gelap. Baru saja mereka mau mencari tempat untuk mengaso, disebelah timur laut tiba2 terlihat tiga empat ekor elang yang terbang melayang2 diangkasa. Dengan mendadak salah seekor menyambar kebawah dan dengan mendadak pula, dia terbang lagi keatas sambil mengeluarkan pekik kesakitan, sedang beberapa lembar bulunya berhamburang diudara. Binatang itu rupanya menyerang sesuatu, tapi sudah kena dihajar.

“Coba kau selidiki,” kata Gouw Kin Co, Ciang Kie Soe Swie Kim Kie. Setelah Cung Ceng, pemimpin Swie Kim Kie binasa. Boe Kie mengangkat Gouw Kin Coe, yg tdnya memegang jabatan wakil pemimpin, menjadi pemimpin. Sehabis berkata begitu, dengan mengajak dua orang anggota barisannya, ia menuju timur laut sambil berlari2. tak lama kemudian, salah seorang kembali dan berkata kepada Boe Kie.

“Melaporkan kepada Kauw Coe, bahwa In Liok Hiap dari Boe tong pay rebah didalam jurang!”

Boe Kie terkejut, “In Liok hiap?” ia menegas.”Apa terluka?”

“Kelihatannya terluka berat,” jawabnya.

“Begitu melihat In Liok hiap, Gouw Kiesoe segera memerintahkan aku kembali untuk member laporan kepada Kauw Coe, sedang ia sendiri sudah turun kedalam jurang untuk menolong…”

Sebelum orang itu bicara habis, Boe Kie sudah berjalan dengan tindakan lebar. In Thian Ceng dan yang lain2 lantas saja mengikuti dari belakang.

Tak lama kemudia mereka tiba di tebing dengan jurang yg cukup dalam. Dilereng tebing tumbuh pohon2 kecil, dan Gouw Kin Co, dengan lengan kiri memeluk tubuh In Lie Heng, sedang berusaha memanjat keaas dengan pertolongan pohon2 kecil itu. Dengan penuh rasa kuatir Boe Kie melompat kebawah. Sebelah tangannya mencekal lengan kanan Gouw Kin Co, sedang tangannya yang lain meraba dada pamannya. Ia girang sebab In Lie Heng masih bernapas. Buru2 ia menyambut tubuh sang paman dan dengan beberapa lompatan, ia telah berada diatas dan lalu merebahkan tubuh In Lie Heng ditanah.

Begitu memeriksa luka In Lie Heng, paras muka Boe Kie berubah merah padam. Rasa kaget, gusar dan duka bercampur menjadi satu. Sang paman ternyata telah dianiaya secara kejam. Tulang lututnya, sikut, tulang kering, tumit kaki, jari tangan semua buku2 tulang di kaki tangannya, hancur semua. Ia tak bisa bergerak dan napasnya sangat perlahan. Tapi walaupun begitu, otaknya masih terang, begitu melihat Boe Kie, paras mukanya berubah menjadi terang dan ia segera mengeluarkan dua butir batu kecil dari mulutnya.

Sesudah dianiaya hebat, In Liok hiap dilemparkan kedalam jurang. Berkat lweekangnya yg sangat tinggi, ia dapat menyelamatkan jiwanya. Kawanan elang yang sangat ganas ingin memakan dagingnya. Tapi ia berhasil mempertahankan diri dengan menyemburkan batu2 kecil dari mulutnya. Perlawanannya terhadap burung2 itu sudha berlangsung beberapa hari lamanya.

Melihat empat ekor elang masih melayang2, Yo Siauw jadi gusar. Ia menjemput empat butir batu2 dan menimpuk. Hampir berbareng, keempat binatang bersayap itu jatuh dengan kepala hancur. In Lie Heng manggut2 kan kepalanya sebagai tanda terima kasih.

Buru2 Boe Kie memasukkan sebutir yo wan untuk menghilangkan rasa sakit dan melindungi jantung kedalam mulut In Lie Heng. Sesudah itu mereka terus mencoba2 untuk menyambung tulang2 yg patah. Tapi begitu memeriksa lebih teliti, hasilnya berkerut. Pada kaki sang paman terdapat kurang lebih dua puluh tempat yg hancur, dihancurkan dengan pijitan jari2 tangan. Tulang2 yang hancur itu tak bisa disambung lagi.

“Sama seperti Sam ko…” kata In Lie Heng dengan suara yang lemah. “Pijitan Kim kong cie dari Siauw Lim Pay….”

Boe Kie lantas saja ingat penuturan mendiang ayahnya, bahwa tulang2 Sam Soe peh Thay Giam telah dihancurkan koleh Kim Kong Cie dari Siauw Lim Pay. Sampai kini Sam Soe peh itu telah dua puluh tahun lebih rebah di ranjang sebagai orang yang bercacad. Tak dinyana, setelah berselang beberapa lama, seorang paman kembali dianiaya dengan Kim Kong Cie.

Setelah menentramkan hatinya, Boe Kie berkata, “Liok siok jangan jengkel. Serahkanlah urusan ini kepada tit jie.” Orang yang berdosa itu pasti tidak akan terlepas dari keadilan.

“Apakah Liok Siok tahu siapa yang melakukannya?”

In Lie Heng menggelengkan kepala dilain saat, ia pingsan. Selama beberapa hari, dengan seantero tenaganya, ia mempertahankan diri. Kini, sesudah bertemu dengan keponakannya hatinya lega, badannya yang sudah terlalu lelah tidak tertahan lagi.

Dengan hati seperti disayat pisatu, Boe Kie berdiri bengong. Ia ingat, bahwa sebab musabab terutama yang menyebabkan pembunuhan diri dari kedua orang tua nya adalah karena merasa berdosa terhadap Sam soe peh itu. Kini paman keenam mendapat kecelakaan yang serupa. Jika ia tidakmemaksa supya Siauw Lim Pay mengeluarkan orang yg berdosa, cara bagaimana ia bisa menunaikan tanggung jawabnya terhadap paman Jie dan paman In itu? Cara bagaimana ia bisa berhadapan dengan roh kedua orangtuanya di alam baka?

Ia sekarang menghadapi persimpangan jalan. Jalanan mana yg harus diambil? Sambil menggendong tangan, ia menyingkir diri dari rombongannya, ia ingin perig ketempat yg sepi untuk
merenungkan persoalan itu semasak2 nya. Ia menaik keatas sebuah bukit kecil daj lalu duduk disitu. Dua rupa pikiran berkelahi dalam otaknya. Apakah ia harus pergi kekuil Siauw Lim Sie untuk mencari musuh besar itu. Kalau Siauw Lim Sie suka menyerahkan orang yg berdosa urusan akan menjadi bersampai disitu. Tapi jika Siauw Lim Sie menolak, bukankah Beng Kauw dan Boe tong pay akan bermusuhan dengan partai itu? Bersama2 para anggota Beng Kauw, ia sudah bersumpah untuk tidak bermusuhan lagi dengan keenam partai. Sekarang karena urusan pribadi, ia mesti melanggar sumpahnya sendiri. Dengan membuat begitu, cara bagaimana supaya busa menalukkan orang banyak? Disamping itu kalu permusuhan dimulai lagi, balas membalas akan berlangsung terus. Dari satu kelain urusan, darah akan terus mengucur. Berapa banyak orang akan mengorbankan jiwa karena itu.

Siang sudah terganti dengan malam. Para anggota Beng Kauw sudah menyalakan api unggun dan menanak nasi, tapi Boe Kie masih tetap duduk di atas bukit. Sampai tengah malam barulah ia bisa mengambil keputusan. Biarlah pergi ke Siauw Lim Sie dan menemui Kong Boen Seng ceng, katanya didalam hati. ‘Aku akan menceritakan segala kejadian dan meminta keadilan.’ Tapi dilain saat ia mendapat lain ingatan. ‘Kalau sampai bertengkar, akupun mesti bertempur. Bagaimana jika terjadi kejadian itu?’ Ia menghela napas dan lalu berbangkit.

Boe Kie masih berusia muda dan baru saja memikul beban berat, ia sudah harus menghadapi cengkraman yg sangat sulit. Pada hakekanya persoalan itu belu tentu segera dipecahkan secara memuaskan biarpun oleh orang tua yg berpengalaman. Disatu pihak ia ingin menghentikan permusuhan, tapi dilain pihak perbuatan musuh adalah sedemikian ganas dan sakit hati adalah sedemikian besar, sehingga tidak dapat dibiarkan begitu saja. Karena maunya nasib, tanpa bisa menolak lagi ia terpaksa menduduki kursi Kauw Coe dari Beng Kauw, sehingga oleh karenanya, ia mesti menghadapi macam2 kesulitan.

Dengan pikiran kusut perlaha2 ia kembali ke rombongannya. Biarpun sangat lapar, tak seorangpun berani makan dahulu. Ia merasa tidak enak hati dan berkata dengan suara menyesal, “Kalian janganlah menunggu aku. Lain kali makanlah terlebih dahulu.” Sehabis berkata ia pergi menengok In Lie Heng.
Paman itu sedang diberi minum kuah daging oleh Poet Hwie yg sudah mencuci bersih luka2nya dengan air hangat. In Liok hiap masih belum sadar. Tiba2 ia mengawasi nona Yo dan berteriak,

“Siauw Hae Moay, siang malam aku memikirkan kau! Apa kau tahu?”

Paras muka Poet Hwie berubah merah. Ia mengangsurkan sesendok kuah dan berbisik, “Minumlah.”

“Lebih dahulu kau harus berjanji, bahwa kau tidak akan berlalu lagi dan disampingku untuk selama2nya,” kata Lie Heng.

“Baiklah, tapi minumlah dulu,” kata si nona.

In Liok hiap kelihatan puas. Ia segera meneguk kuah yg diangsurkan kemulutnya.

Pada esok harinya, Boe Kie mengeluarkan perintah, supaya rombongannya menuju siauw Lim Sie di Siong san untuk menanyakan siapa yg mencelakai In Lie Heng.
Wie It Siauw, Cioe Tian dan yg lain2 adalah jago2 ksatria. Melihat penderitaan In Leng Heng, didalam hati mereka merasa panas. Maka itu, perintah Boe Kie untuk pergi ke Siauw Lim Sie guna membuat perhitungan sudah disambut dengan sorak sorai. Diantara mereka hanyalah Yo Siauw yg tidak buka mulut. Akan tetapi, semenjak terjadinya peristiwa dengan Kie Siauw Hoe, hatinya selalu merasa tidak enak. Ia merasa berdosa terhadap In Lie Hong. Maka itu selain memberi bisikan supaya putrinya merawat sebisa2, ia diam2 mengambil keputusan untuk menggunakan seantero tenaga guna membalas sakit hati In Liok Hiap.

Pada suatu hari, rombongan itu tiba di Giok Boan Kwau. Beberapa orang segera diperintahkan membeli kuda2 tunggangan. Selama dalam perjalanan, In Lie Heng sebentar ingat, sebentar lupa. Ia belum bisa menjawab pertanyaan Boe Kie secara tegas. In hanya berkata, “Aku dikepung oleh lima pendeta Siauw Lim Pay. Mereka menyerang aku dengan ilmu silat Siauw Lim Pay. Tak bisa salah lagi.”

Supaya tidak menyolok mata, rombongan Boe Kie menyamar sebagai kaum pedagang. Pagi itu mereka berangkat dan mengambil jalanan raya Kim Liang. Sesudah berjalan kira2 dua jam, hawa udara yaitu berubah sangat panas. Untung jg, tak lama kemudian di sebelah kejauhan terlihat deretan pohon2 Hoe yg sangat besar, semuanya kurang lebih dua puluh pohon. Mereka girang dan buru2 menuju pohon2 itu untuk mengaso.

Ketika mereka tiba, dibawah pohon sudah berduduk sembilan orang lain. Yang delapan terdiri dari pria bertubuh kasar yg mengenakan pakaian pemburu dengan golok dipinggang dan busur serta anak panah dipunggungnya. Mereka membawa lima enam ekor elang yg berbulu hitam dan bercakar tajam. Elang2 itu bisa diginakan untuk membantu dalam pemburuan. Yang seorang adalah lain dari yang lain. Dia kelihatannya seperti seorang pemuda sasterawan yg lemah lembut, seorang kong coe yg tampan. Ia memegang kipas bergagang batu giok dan tanggannya yang putih tiada bedanya dari giok yg putih itu (Kong coe – putra seorang berpangkat atau sastrawan).

Tapi pada saat itu, mata semua orang ditujukan kepinggang si kongcoe rempan, karena pada pinggang itu tergantung sepasang pedang yg gagangnya diukir dengan huruf “Ie Thian”. Bentuk dan panjangnya pedang itu bersamaan dengan Ie Thian kiams milik Biat Coat Soethay.

Semua orang kaget bukan main. Coe Tiam yg berangasan tidak dapat menahan sabar lagi. Tapi baru saja bibirnya bergerak untuk mengajukan pertanyaan, disebelah sekonyong2 terdengar suara kuda yg sangat ramai, diiring dengan teriakan2 menyayat hati.

Semua orang menengok kearah timur. Tak lama kemudia mereka lihat sepasukan serdadu Goan, yg berjumlah kira2 limapuluh orang. Tiba2 semua orang melupa darahnya. Mengapa? Karena serdadu Goan itu menyeret seratus lebih wanita Han yang diikat dan diranteng kan dengan tambang. Beberapa antaranya sudha tidak kuat berjalan lagi, tapi terus diseret dengan kejam. Ratapan mereka sangat memilukan hati.

Semua anggota Beng Kauw merah matanya. Tangan mereka meraba pinggang. Mereka hanya menunggu perintah untuk menerjang.

Sekonyong2 si kongcoe berkatar, “Li ?ok Po, suruh mereka lepaskan wanita2 itu!” suaranya nyaring empuk, suara seorang wanita.

“Baik!” jawab salah seorang pria yg lantas membuka tambang tambatan kuda disebuah pohon. Ia melompat kepunggung kuda yg lalu dilarikan kearah pasukan Goan yg sedang datang. “Hei! Mengapa kau bikin ribut2 ditengah hari bolong!” teriaknya. “Apa kamu tak punya pembesar yg mengurus kamu? Hayo, lepaskan wanita2 itu!”

Seorang yg mengenakan pakaian pembesar majukan tungganggannya. Ia tertawa cekakakan, “Berani sungguh kau campur tangan urusan tuan besarmu!” bentaknya. “Apa kau sudah bosan hidup?”

“Kaulah yg bosan hidup! Sebentar kau akan bertemu dengan Giam Loo Ong,” kata pria itu dengan suara dingin.

Dengan rasa heran, pembesar Goan itu mengawasi orang2 yg sedang meneduh dibawah pohon. Ia merasa sangat heran akan keberanian orang itu. Mendadak ia lihat dua butir mutiara sebesar buah lengkeng diikat kepala si kong coe tampan. Rasa serakahnya lantas saja muncul. Sambil majukan tunggangannya kearah kongcoe, ia menyeringai dan berkata. “Siangkong, paling benar kau ikut aku. Aku tanggung kau akan memperoleh banyak keuntungan.”

Mendengar perkataan itu, alis si kongcoe berdiri, “Binatang!” bentaknya. “Turun tangan! Satupun tak boleh diberi ampun!”

“Sret!” sebatang anak panah menancap di ulu hati pembesar Boan itu yg lantas saja roboh tanpa bersuara lagi. Anak panah itu dilepaskan oleh seorang pemburu yg berada didekatnya. Dilihat dari cara melepaskan anak panah itu dan tenaga yg menyertainya, sudah terang orang itu bukan pemburu biasa. Dilain saat, anak panah menyambar nyambar bagaikan hujan gerimis, setiap batang selalu tepat pada sasaran.

Tapi biar bagaimanapun jua, serdadu2 Boan tidak boleh dipandang enteng. Sesudah kagetnya hilang, mereka segera melawan dengan nekad, anak panah dibalas dengan anak panah. Melihat perlawanan, delapan pemburu itu segera melompat naik ke punggung kuda dan menerjang bagaikan angin puyuh. Dalam sekejap, tigapuluh lebih serdadu Goan sudah roboh tak bernyawa. Melihat gelagat tidak baik, yang lainnya lantas saja terus melepaskan anak panah, sehingga pada akhirnya, sesudah mengejar kira2 dua li, mereka berhasil membinasakan semua musuh. Tak satupun diberi ampun.

Sesudah itu, dengan sikap acuh tak acuh si kong coe tampan melompat keatas punggung tunggangannya dan berlalu tanpa menengok lagi.

“Hei! Tahan dulu!” teriak Cioe Tian. “Aku mau bicara dengan kau,” Tapi si kongcoe tidak meladeni. Ia berjalan terus dengan diiringi oleh kedelapan pemburu.

Kalau mau, dengan menggunakan ilmu peringan badan, Boe Kie dan yg lain2 masih bisa menyusul sembilan orang itu. Tapi sebab menghormati perbuatan orang2 itu, biarpun mereka heran, mereka sungkan melanggar adat. Mereka coba menduga2, tp tak bisa meraba siapa adanya orang2 itu.

“Kong coe itu terang2an seorang wanita yg menyamar sebagai pria,” kata Yo Siauw. “Delapan orang yg menggenakan pakaian pemburu rata2 berkepandaian tingi dan mereka bersikap hormat terhadap si kongcoe. Kepandaian mereka dalam melepaskan anak panah sangat luar biasa dan dilihat dari gerak gerik nya, mereka bukan orang2 dari salah sebuat partai di wilayah Tiong goan.”

Sementara itu, Yo Poet Hwie dan sejumlah anggota2 Houw Touw Kie memberi hiburan kepada para wanita yang baru terlepas dari bahaya. Atas pertanyaan, mereka menerangkan, bahwa mereka adalah penduduk dari tempat sekitar daerah tersebut. Dari saku mayat serdadu2 Goan, Poet Hwie mengumpulkan emas, perah dan lain2 barang yg berharga yg lalu dibagikan kepada wanita2 itu, yg kemudia diperbolehkan pulang ke masing2 rumahnya.

Sesudah beres rombongan Boe Kie lalu meneruskan perjalanan. Selama beberapa hari tak lain yg merek bicarakan drpd pembasmian pasukan Goan yg dilakukan oleh kesembilan orang itu. Sebagaimana biasanya orang gagah menghormati orang gagah. Mereka merasa menyesal, bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk mengikat tali persahabatan dengan orang2 itu.

“Yo Heng,” kata Cioe Tian kepada Yo Siauw, “Puterimu adalah seorang yg sangat cantik. Tapi kalu dibandingkan dengan sinona yang menyamar sebagai lelaki, ia kalah jauh.”

“Benar,” kata Yo Siauw. “Jika mereka bersedia untuk masuk kedalam agama kita kedudukan delapan pemburu itu akan lebih tinggi dari pada Ngo Sian Jin.”

Cioe Tian meluap darahnya. “Omong kosong,” bentaknya. “Apa keistimewaannya ilmu melepaskan anak panah dari atas kuda? Kau boleh suruh mereka coba2 bertanding dengan Cioe Tian.”

“Kalau mesti bertempur melawan Cio Heng, tantu saja mereka akan kalah,” jawab Yo Siauw. “Tapi jika dilihat kepandaian mereka kurasa mereka lebih tinggi setingkat dari pada saudara Leng Kiam.”

Dengan berkata begitu Yo Siauw memberi ejekan yg terlebih hebat, karena diantaranya Ngo sian jin, Leng Kiam Lan yang ilmu silatnya paling tinggi. Cioe Tian dan Yo Siauw memang tak begitu akur. Sekarang meskipun bermusuhan secara terang2an tapi tiap kali mendapat kesempatan, Cioe Tian selalu menggunakan kesempatan untuk mengejek. Mendengar kata2 yg menghina Ngo Sian Jie ia jadi makin gusar. Tapi sebelum dia membalas, Paeng Eng Giok sudah mendahului dengan berkata sambil tertawa, “Cioe beng sekali lagi kau ke dijebak Pe Co Coe. Ia sengaja ingin membangkitkan hawa marahmu.”

Cioe Tian tertawa terbahak2, “Tidak aku tidak gusar,” katanya. “Apa yg bisa perbuat terhadapku?”

Semua orang tertawa. Mereka mengenal kawan itu yang otak2kan dan yg belum pernak menang dalam mengadu lidah melawan Yo Siauw.

Dengan diobati dan diawasi oleh Boe Kie sendiri selama beberapa hari In Lie Heng sudah banyak lebih baik dan peringatannya sudah pulih kembali. Ia mengatakan bahwa sesduah turun dari Kong Beng Teng pada hari itu ia kesasar. Delapan sembilan hari ia berputar2 di gurun pasir. Waktu ia bertemu dengan jalanan yg benar, saudara2 nya sudha jauh sekali dan tidak dapat disusul. Pada suatu hari, ia berpapasan dengan serombongan pendeta Siauw Lim yg lantas menyerang tanpa menegur lagi. Ia berhasil merobohkan empat orang, tapi sebab musuh berjumlah lebih banyak lebih besar, akhirnya ia kena dijatuhkan pula. Ia memastikan, bahwa ilmu silat pendeta2 itu adalah ilmu silat Siauw Lim Pay.

Menurut dugaannya rombongannya itu merupakan bala bantuan yang datang belakangan, sebab ia melihat mereka waktu berada di Kong beng teng. Ia sendiri tak bisa menebak, mengapa mereka turunkan tangan beracun itu. Sekian antara lain penuturan In Lie-Heng.

Selama dalam perjalanan, Poet Hwie merawat Lie Heng dengan telaten. Si nona tahu, bahwa mendiang ibunya telah mengecewakan pendekar Boe tong itu. Melihat keadaan orang tua itu yang sangat menyedihkan, rasa kasihannya jadi semakin besar.

Hari itu di waktu magrib, rombongan Boe Kie Eng teng. Dari Eng teng mereka membedal kuda, sebab ingin buru2 tiba di Kang shia coe untuk menginap. Sekonyong konyong dari kejauhan mendatangi dua penunggang kuda. Dalam jarak beberapa puluh tombak, mereka melompat turun dan berdiri di pinggir jalan dengan sikap hormat.

Boe Kie dan yang lain lain segera mengenali, bahwa mereka itu adalah orang orang yang turut membasmi tentara Goan. Dengan girang para pemimpin Beng kauw segera turun dari tunggangannya mereka.

Kedua orang itu menghampiri Boe Kie dan memberi hormat dengan membungkuk. “Orang atasan kami sangat luhur dari Thio kiauw coe” kata salah seorang. “Maka itu siauw jin diperintah untuk mengundang kalian datang di tempat kami untuk mengutarakan rasa hormatnya.’

Boe Kie membalas hormat. “Tidak berani kami menerima kehormatan yang begitu besar,” katanya. “Bolehkan aku mendapat tahu she dan nama yang mulia dari atasan kalian?”

“Ia she Tio,” jawabnya. “Tanpa diberi permisi aku tak berani beritahukan nama nonaku kepada Kauw coe.”

Mendengar pengakuan orang itu, bahwa si kong coe adalah seorang wanita yang menyamar sebagai pria. Semua orang jadi girang, sebab hal itu membuktikan, undangan nona Tio keluar dari hati yang setulusnya.

“Sedari menyaksikan cara kalian melepaskan anak panah, dengan rasa kagum setiap hari kami membicarakan ilmu malaikat itu,” kata Boe Kie, “Hari ini kami merasa sangat beruntung, bahwa kalian sudi mengikat tali persahabatan dengan kami semua.”

“Kalian adalah orang orang gagah sejati pada jaman ini”, kata orang itu. “Hari ini secara kebetulan kalian lewat di tempat kami. Maka itu, mana bisa kami menyia-nyiakan kesempatan untuk mengajak kalian meneguk tiga cawan arak?”

Boe Kie jadi girang. Ia bukan saja ingin bersahabat dengan orang-orang itu, tapi juga ingin menyelidiki pedang Ie thian kiam yang tergantung di pinggang si kong coe tampan. Maka itu lantas saja berkata, “Kalau begitu baiklah, mari kita berangkat.”

Dengan girang kedua orang itu melompat ke punggung kuda dan jalan lebih dahulu sebagai penunjuk jalan. Baru berjalan kira-kira satu li mereka dipapak oleh kedua orang lain.

Jauh-jauh kedua orang itu juga anggota dari Sin-cian Pat-hiong (delapan jago yang bisa melepaskan anak panah bagaikan malaikat) sudah turun dari tunggangannya dan menunggu di pinggir jalan. Sesudah berjalan kurang lebih satu li lagi, mereka disambut oleh empat anggota lain dari Sin cian Pat hiong. Melihat penyambutan yang begitu sungguh-sungguh, para pemimpin Beng Kauw menjadi girang.

Tak lama kemudian mereka tiba di depan sebuah perkampungan besar yang dikitari dengan sebuah sungai dan di pinggir sungai dengan berderet-deret pohon-pohon lioe hijau (leklioe). Melihat pemandangan Kang lam di daerah Kam liang, para orang gagah terbangun semangatnya.

Hampir berbareng dengan tibanya rombongan Boe Kie, pintu tengah dari perkampungan itu terbuka dan sebuah jembatan gantung diturunkan. Seorang gadis yang mengenakan pakaian lelaki keluar dengan tindakan lebar dan seraya memberi hormat dengan membungkuk ia berkata, “Kami merasa sangat beruntung, bahwa para orang gagah dari Beng Kauw hari ini datang berkunjung pada Liok lie San coeng. Thio Kauw-coe selamat bertemu dan masuklah! Yo soe-cian! In Loocian pwee! Wie Hok ong…” Ia menegur setiap orang dan menyebutkan nama-nama dengan tepat sekali, sehingga tak usah diperkenalkan lagi. Bukan saja begitu, ia bahkan tahu runtunan tinggi rendahnya kedudukan para pemimpin Beng kauw itu.

Semua orang kaget. Si sembrono Cioe Tian tak tahan untuk membuka mulut. “Siocia, bagaimana kau tahu nama-nama kami yang rendah?” tanyanya. “Apakah kau mahir dalam ilmu petang petangan?”

Tio Siocia bersenyum. “Siapa yang tidak mengenal nama para pendekar Beng kauw yang menggetarkan dunia Kang ouw?” katanya. “Dalam pertempuran di Kong beng teng, dengan sin kang yang sangat tinggi Thio Kauw coe telah menundukkan enam partai besar. Kejadian luar biasa ini dengan cepat sudah diketahui oleh seluruh Rimba Persilatan. Dalam perjalanan kalian ke wilayah Tionggoan, entah berapa banyak sahabat Rimba Persilatan akan menyambut kalian. Dalam penyambutan ini, aku yang rendah tentu tak mau ketinggalan.”

Para jago itu merasa, bahwa si nona bicara sebenarnya, tapi mereka lantas merendahkan diri. Sesudah itu, Boe Kie lalu menanyakan nama-nama Sin cian Pat hiong.

“Aku yang rendah Tio It Siang” jawab salah seorang yang bertubuh tinggi besar. “Yang itu Cian Jie Pay, yang ini Soen Sam Wie. Itu Lie-Sie Coet, Cioe Ngo Siok, Gauw Liok Po, The Cit Biat, dan yang itu yang paling belakang, Ong Pat Swee.”

Semua orang terkejut. She dari kedelapan orang itu adalah menurut runtunan dari she yang terdapat dalam buku Pek kee she (she seratus keluarga), yaitu “Tio, Cian, Soen, Lie, Cioe, Gouw, The dan Ong.” Di samping itu, nama2 merekapun sangat luar biasa sehingga dapatlah diduga, bahwa nama-nama mereka bukan nama sejati. Akan tetapi, digunakannya nama samaran dalam dunia Kang-ouw adalah kejadian yang biasa, sehingga Boe Kie pun tak mendesak terlebih jauh.

Dengan manis budi, Tio Siocia mengajak tamu-tamunya masuk ke ruangan tengah. Di tengah-tengah ruangan itu tergantung sebuah gambar Pat coen touw (delapan kuda) yang sangat indah lukisan Tio Beng Siauw. Kedelapan kuda itu dilukiskan dalam rupa-rupa sikap yang angker serta garang. Dinding sebelah kiri dipasang selembar sutera yang sangat lebar dengan tulisan yang berbunyi seperti berikut:

“Bianglala putih terbang ke angkasa
Ular hijau bersuara di dalam kotak
Pedang diasah supaya tajam;
Rembulan naik mendekati pintu
Pedang bisa membabat awan di luar langit
Pedang bisa menerjang mencari di angkasa
Pedang menikam perut siluman
Pedang menyabet kepala pengkhianat
Aku bersembunyi untuk menjauhi siluman
Janganlah mengganggu aku, seorang wanita
Pedang harus disimpan untuk membunuh Kauw,
Jangan dijajal untuk “membacok anjing”

Di bawah sajak itu terdapat tulisan dengan huruf-huruf kecil seperti ini.
“Di waktu malam aku menjajal It-thian Po kiam.
Pedang itu sungguh2 senjata mustika
Maka itu aku menulis sajak Swee kiam untuk memujinya Pian liang Tio Beng.

Semua huruf itu indah dan angker, seakan naga atau burung Hong. Ayahanda Boe Kie seorang sasterawan dan ia sendiri mempunyai pengetahuan lumayan dalam Soe hoa (seni menulis huruf indah). Melihat bahwa dalam keangkerannya, huruf itu mempunyai sifat yang ayu, ia segera mengetahui bahwa penulisnya bukan lain daripada nona Tio sendiri. Ilmu surat Boe Kie tidak tinggi, tapi karena arti sajak itu tak terlalu mendalam, ia masih bisa mengerti bunyinya.

“Dilihat begini, It thian kiam benar berada dalam tangannya,” katanya di dalam hati. “Dalam sajak itu ia mengatakan, bahwa pedang menikam perut siluman, pedang menyabet kepala pengkhianat. Kata-kata ini menunjuk bahwa ia memiliki jiwa ksatria. Tapi pernyataannya bahwa pedang harus disimpan untuk membunuh kauw, jangan dijajal untuk membacok anjing, menunjukkan kesombongan. Pian liang Tio Beng kalau begitu ia orang Pian liang, she Tio bernama Beng.” Memikir begitu, ia lantas saja berkata, “Tio kouw nio boen boe coan cay. Aku sungguh merasa sangat kagum. Kalau begitu nona berasal dari keluarga sasterawan di ibukota jaman yang lampau.”

Si nona bersenyum. “Ayahanda Thio Kauwcoe yang bergelar Gin kauw Tiat hoa itu barulah merupakan seorang sasterawan kelas satu” katanya.

“Thio Kauw coe sendiri tentunya memiliki ilmu surat turunan. Sebentar aku ingin memohon supaya Thio Kauw coe suka menulis sebuah sajak.”

Paras muka Boe Kie lantas saja berubah merah. Waktu baru usia sepuluh tahun kedua orang tuanya meninggal dunia dan ia belum keburu belajar banyak dari mendiang ayahnya. Belakangan ia belajar ilmu ketabiban dan ilmu silat, sedang pengetahuannya dalam ilmu surat dapat dikatakan masih cetek sekali. Maka itu, ia lantas saja berkata, ”Kalau Kauw nio meminta aku menulis sajak seperti juga kau minta jiwaku. Sian hoe (mendiang ayahku) meninggalkan aku selagi aku masih kecil dan aku belum keburu memetik pelajarannya. Dalam hal ini, sungguh merasa sangat malu.”

Begitu lekas semua tamu duduk, pelayan segera menyuguhkan teh.

Dengan rasa heran, Yo Siauw dan kawan-kawannya mengawasi cangkir teh. Dalam cangkir-cangkir itu yang berwarna hijau mengambang daun teh Liong ceng yang masih segar dan yang menyiarkan bebauan sedap. Liong ceng adalah teh keluaran Kang lam dan tempat dimana mereka terpisah ribuan li dari Kang lam. Cara bagaimana si nona bisa mendapatkan daun the Liong ceng yang masih segar.

Tio Beng mengangkat cangkirnya terlebih dahulu, meneguk isinya dan kemudian mengundang para tamunya minum. Sesudah beromong-omong beberapa saat, ia berkata, “Kalian datang dari tempat jauh dan untuk pelayanan yang serba kurang ini, aku minta kalian suka memaafkan. Mungkin sekali kalian sudah lapar dan aku mengundang kalian makan saja disini seada-adanya.” Seraya begitu tanpa menunggu jawaban, ia berbangkit dan mengajak para tamunya masuk ke dalam. Sesudah melewati beberapa lorong dan bangunan, tibalah mereka di sebuah taman bunga.

Taman bunga itu yang sangat luas dihias dengan gunung-gunungan batu dan empang-empang. Pohon-pohon kembangnya tidak banyak, tapi diatur secara indah sekali. Boe Kie sendiri tidak dapat menghargai keindahan taman itu, tapi Yo Siauw, begitu melihatnya lantas saja manggut-manggutkan kepalanya dan di dalam hati ia mengakui, bahwa majikan taman itu benar-benar bukan sembarangan orang.

Di tengah-tengah Soei kok (semacam pendopo yang dikitari air) sudah dipasang dua meja perjamuan. Tio Beng segera mengundang Boe Kie dan para pemimpin Beng kauw berduduk di kursi kedua meja itu, sedang Sin cian Pat hiong Tio It Siang, Cian Jie pay dan enam kawannya menemani para anggota Beng kauw di ruangan samping. In Lie Heng sendiri yang belum bisa bergerak disuapi dan dilayani oleh Poet Hwie dalam sebuah kamar.

Sesudah meneguk kering secawan arak, Tio Beng berkata, “Inilah Lie tin coe dari Siauw lin yang tuanya sudah delapan belas tahun. Minumlah!”

Yo Siauw, Wie It Siauw, In Thian Ceng dan yang lain-lain percaya, bahwa nona Tio adalah seorang pendekar wanita. Tapi mereka tetap berhati-hati. Mereka memperhatikan poci dan cawan arak yang bebas dari tanda-tanda mencurigakan. Sesudah Tio Siocia menceguk araknya, barulah semua kesangsian hilang dan mereka lalu mulai makan minum dengan gembira.

Dahulu, anggota Beng kauw dilarang meminum arak atau makan makanan berjiwa. Tapi sedari jaman Cio Kauw coe, peraturan itu dirubah dan larangan dicabut. Sesudah pusat Beng kauw dipindahkan ke gunung Koen loen san, daging dan minyak jadi lebih perlu lagi untuk menahan hawa yang dingin.

Di empang seputar Soei kok terdapat tujuh-delapan pohon bunga yang menyerupai Coei-sian, tapi banyak lebih besar dari Coei-sian dan kembangnya yang berwarna putih menyiarkan bau yang sangat harum.

Nona Tio pandai bergaul dan ia beromong-omong secara bebas. Ia menceritakan banyak kejadian dalam Rimba Persilatan di wilayah Tionggoan, beberapa di antaranya bahkan tidak diketahui oleh orang-orang yang berpengalaman seperti In Thian Ceng dan puteranya.

Tentang Siauw lim, Go-bie dan Koen-loen tidak banyak dibicarakan olehnya, tapi terhadap Tio Sam Hong dan Boe-tong Cit-hiap, ia mengutarakan rasa kagumnya. Setiap pujian yang diberikan bukan umpakan kosong, tapi pujian tepat yang berdasarkan kenyataan.

Boe Kie dan yang lain-lain merasa senang sekali dan takluk akan pengetahuan si nona yang sangat luas. Tapi kalau mereka balas menanyakan siapa gurunya, Tio Beng hanya tertawa. Ia tidak menjawab atau memutar pokok pembicaraan ke jurusan lain.

Dengan beruntun nona Tio sudah mengeringkan beberapa cawan. Setiap piring sayur yang disuguhkan, ia selalu memakannya terlebih dahulu, sehingga hilanglah segala kecurigaan yang masih terdapat dalam hati para pemimpin Beng kauw. Karena pengaruh arak, kedua pipi si nona bersemu dadu, sehingga ia kelihatannya lebih cantik lagi dan dalam kecantikannya terdapat hawa keangkeran dan kegagahan yang membangkitkan rasa hormat dalam hati semua orang.

“Tio Kouw-nio, kami merasa sangat berterima kasih untuk penyambutanmu yang ramah tamah ini,” kata Boe Kie. “Aku yang rendah sebenarnya ingin mengajukan sebuah pertanyaan, tapi aku tidak berani membuka mulut.”

“Mengapa Thio Kauwcoe menganggap aku sebagai orang luar?” kata si nona. “Kita semua sama-sama berkelana dalam dunia Kangouw. Kata orang: Umat manusia di empat lautan adalah masih saudara. Jika kalian tidak mencela, siauw-moay ingin sekali mengikat tali persahabatan dengan kalian. Kalau Kauwcoe memerlukan suatu keterangan, asal saja siauw-moay tahu, siauw-moay pasti akan memberi penjelasan dengan seterang-terangnya.”
“Kalau begitu baiklah,” kata Boe Kie. “Apa yang ingin aku menanyakan ialah, darimana Tio Kauw-nio mendapat Ie-thian Po kiam itu?”

Tio Beng bersenyum. Ia membuka pedang dari pegangannya dan menaruhnya di atas meja. “Semenjak bertemu tak henti2nya kalian mengawasi pedang ini,” katanya. “Mengapa begitu? Apakah Kauw coe bisa memberitahukan sebab musababnya?”

“Ie thian kiam adalah milik Biat coat Soethay dari Go bie pay,” jawabnya. “Saudara2 dari agama kami banyak sekali yang binasa di bawah pedang itu. Dadaku sendiri pernah ditikam dengan pedang itu, sehingga hampir2 jiwaku melayang. Itulah sebabnya mengapa kami sangat memperhatikannya.”

“Thio Kauw coe mempunyai Sin kang yang tiada tandingannya dalam dunia ini,” kata Tio Beng. “Menurut cerita orang, dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie, Thio Kauwcoe telah merampas Ie thian kiam dari tangan Biat coat Soethay. Bagaimana Kauw coe sampai kena dilukai? Selanjutnya siauw moay dengar, bahwa yang melukai Kauw coe adalah seorang murid wanita Go bie pay yang ilmu silatnya tak seberapa tinggi. Hal ini dengan sesungguhnya tidak dapat dimengerti olehku.” Ia mengucapkan kata2 itu sambil mengawasi Boe Kie dengan sorot mata tajam, sedang di kedua ujung bibirnya tersungging senyuman, tapi bukan senyuman biasa.

Paras muka Boe Kie lantas saja berubah merah. “Dari mana dia tahu kejadian itu?” tanyanya di dalam hati. Dengan paras jengah ia menjawab, “Serangan itu datang dengan tiba-tiba, sedang aku sendiri kurang waspada.”

“Kalau tak salah, Cioe Cie Jiak Cioe Cie cie cantik luar biasa” kata pula si nona sambil tertawa. “Bukankah begitu?”

Selebar muka Boe Kie jadi makin merah. “Ah! Kau suka sekali berguyon” katanya. Ia mengangkat cawan, tapi sebelum menceguk isinya tangannya bergemetar sehingga sebagian arak tumpah membasahi tangan bajunya.

Si nona bersenyum dan berkata. “Siauw moay tak kuat minum, kalau minum lagi mungkin sekali siauw moay akan melanggar adat. Sekarang saja siauw moay sudah mengeluarkan kata-kata yang tak pantas. Siauw moay ingin minta permisi untuk masuk sebentar guna menukar pakaian dan akan segera kembali. Kalian jangan berlaku sungkan dan makanlah secara bebas.” Seraya berkata begitu, ia berbangkit dan sesudah memberi hormat, ia bertindak keluar dari Soei-kok. Pedang Ie thian-kiam ditinggalkan di atas meja.

Sementara itu, para pelayan terus mengeluarkan piring-piring makanan.

Para pemimpin Beng kauw saling mengawasi dan lantas berhenti makan. Lama juga mereka menunggu, tapi Tio Beng belum juga kembali.

“Dengan meninggalkan pedangnya, ia kelihatannya menaruh kepercayaan penuh atas diri kita,” kata Cio Tian sambil menjemput pedang itu. Tiba2 ia mengeluarkan seruan kaget. “Mengapa begini enteng?” tanyanya. Ia memegang gagangnya dan menariknya. Tiba2 jago2 itu serentak bangkit dan mengawasinya dengan mata membelalak. Mengapa? Karena pedang itu bukan terbuat daripada logam tapi hanya sebatang pedang kayu! Badan pedang yang ke-kuning2an mengeluarkan bau harum dari kayu garu.

Dengan bingung Cioe Tian memasukkannya lagi ke dalam sarung. “Yo… Yo… Co soe… permainan apa yang sedang dilakukan ini?” tanyanya dengan suara terputus-putus. Biarpun sering bertengkar dengan Yo Siauw, di dalam hati ia selalu mengakui kecerdasan Co coe itu, sehingga dalam bingungnya tanpa merasa ia mengajukan pertanyaan tersebut.

Dengan paras muka berkuatir Yo Siauw berbisik, “Kauw coe, sepuluh sembilan Tio siocia mengandung maksud yang kurang baik. Kita sekarang berada di tempat bahaya dan jalan yang paling baik ialah menyingkir se-cepat2nya.”

“Takut apa?” bentak Cioe Tian. “Kalau mereka main gila, apakah kita yang berjumlah begini besar, masih tak cukup untuk menghajarnya?”

“Sedari masuk di Lek lioe-chung, aku merasa tempat ini diliputi dengan teka-teki,” kata Yo Siauw tanpa meladeni Cioe Tian. “Mau dikata tempat orang baik-baik kelihatannya bukan tempat orang baik-baik. Mau dikata sarang penjahat, bukan sarang penjahat. Aku tidak dapat menerka tempat apa sebenarnya Lek lioe chung ini. Biar bagaimanapun jua, aku tidak dapat menghilangkan perasaan bahwa kita sekarang berada di tempat yang sangat berbahaya, Kauw coe sebaiknya kita angkat kaki.”

“Yo Co coe, kau benar,” kata Boe Kie. “Sekarang saja kita berpamitan.” Seraya berkata begitu, ia berbangkit.

“Kauw coe, apakah kau tak mau menyelidiki kemana perginya Ie-thian kiam yang tulen?” tanya Tiat-koan Too-jin.

“Menurut pendapatku, semua teka-teki ini telah diatur oleh Tio-soe-cia,” kata Pheng Eng Giok. “Dia pasti mempunyai maksud tertentu. Andai kata kita tak cari dia, dia tentu akan cari kita.”

“Tak salah,” katanya. “Kita harus menggunakan siasat. Menguasai lawan dengan bertindak belakangan, menunggu letihnya musuh dengan menyembunyikan diri.”

Semua orang lantas saja meninggalkan Soei-kok, kembali ke toa thia dan meminta supaya beberapa pegawai yang bertugas disitu melaporkan kepada nona Tio, bahwa para tamu dari Beng kauw menghaturkan terima kasih dan berpamitan.

Tio Beng buru-buru keluar. Ia sekarang mengenakan baju dari sutera kuning, sehingga kelihatannya jadi lebih ayu lagi. “Baru saja kita bertemu, mengapa kalian sudah mau berangkat lagi?” tanyanya. “Apakah penyambutan siauw-moay tidak memuaskan?’
“Janganlah Kauw-nio mengatakan begitu,” jawab Boe Kie. “Kami sangat merasa berterima kasih atas budi kecintaan Kauw-nio. Mana bisa jadi kami mencela kesambutan yang begitu ramah tamah? Kami perlu segera berangkat sebab mempunyai tugas yang sangat penting. Di belakang hari kita pasti akan bertemu lagi.”

Bibir si nona bergerak, ia seperti mau bersenyum, tapi bukan bersenyum biasa. Ia mengantar semua tamunya sampai di pintu depan, sedang Sin-cian Pat-hiong berdiri di pinggir jalan dengan sikap hormat.

Sesudah menyoja, Boe Kie dan rombongannya lantas saja melompat ke punggung kuda dan tanpa bicara lagi, mereka melarikan tunggangan-tunggangan itu.

Tidak lama kemudian mereka itu sudah terpisah amat jauh dari Lek-lioe chung dan tiba di sebelah tanah datar dan sepi.

“Nona itu mungkin tak mempunyai maksud jahat,” kata Cioe-Tian dengan tiba2. “Bisa jadi, dengan pedang kayu itu ia hanya ingin berguyon dengan Kauw coe, Yo-heng, kali ini kau salah mata.”

Yo Siauw tak lantas menjawab. Alisnya berkerut dan beberapa saat kemudian barulah berkata, “Akupun tak bisa mengatakan, tidak bisa menebak, apa maksud nona itu yang sebenarnya. Aku hanya merasa, bahwa ada sesuatu yang kurang beres.”

Cioe Tian tertawa nyaring. “Ha-ha! Yo Co soe yang namanya besar, baru saja bergebrak sekali di Kong beng teng sudah berubah menjadi seorang penakut… aduh!…” Badannya mendadak ber-goyang2 dan ia terjungkal dari tunggangannya.

Swee Poet Tek yang berada paling dekat lantas saja melompat turun dan membangunkannya. “Cioe heng, mengapa kau?”

Cioe Tian tertawa. “Tidak… tidak apa-apa,” jawabnya. “Sebab minum terlalu banyak, kepalaku agak pusing.”

Berbareng dengan terdengarnya perkataan “pusing”, paras muka para pemimpin Beng Kauw lantas saja berubah pucat. Sedari meninggalkan Lek-lioe chung, mereka semua memang sudah merasa agak pusing. Karena menganggap bahwa perasaan itu adalah akibat arak, mereka tidak memperdulikan. Tapi Cioe Tia yang terkenal kuat minum dan mempunyai Lweekang tinggi, tak mungkin bisa roboh karena beberapa cawan arak itu. Kejadian ini mesti ada latar belakangnya.

Sambil mendongak mengawasi langit, Boe Kie mengasah otak. Ia mengingat-ingat isi Tok keng dari mendiang Ong Kauw. Racun apakah yang tanpa warna, tanpa rasa dan bau, bisa menerbitkan rasa pusing? Ia mengingat-ingat kitab itu dari kepala sampai di buntut, tapi tak ada racun yang seperti itu. Makanan dan arak yang dimakannya tidak berbeda dengan arak yang dimakan oleh kawan-kawannya. Mengapa dia sendiri tidak merasai apapun juga? Heran sungguh!

Sekonyong-konyong bagaikan kilat, dalam otaknya berkelebat suatu ingatan. Ia terkesiap parasnya pucat pasi. “Semua orang yang turut makan minum di Soei kok turun” teriaknya dengan gugup. “Duduk bersila, tapi sekali-kali tidak boleh mengerahkan khie (hawa). Bernafaslah secara wajar.” Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula, “Kuminta saudara-saudara dari Ngo heng kie dan Peh bie kie berpencar dan berbaris di empat penjuru untuk menjaga keselamatan para pemimpin kita. Siapapun jua yang mendekati, bunuhlah!” Sesudah Peh bie kauw mempersatukan diri dengan Beng kauw, dengan perkataan “kauw” (agama) dibuang dan diganti dengan “Kie” (bendera).

Anggota keenam bendera itu membungkuk, menghunus senjata dan lalu berpencaran untuk menunaikan tugas yang diberikan oleh sang Kauw coe. “Sebelum aku kembali, kalian semua tidak boleh berkisar dari tempat penjagaan,” kata pula Boe Kie.

Semua orang kaget bukan main. Mereka hanya merasai sedikit pusing. Mengapa kauw-coe mereka jadi begitu bingung? “Kalian, dengarlah” kata Boe Kie dengan suara sungguh-sungguh. “Biar bagaimana tidak enakpun, kalian tidak boleh, sekali-kali tidak boleh mengerahkan tenaga dalam. Kalau racun mengamuk tak akan ada obat lagi untuk menolong kalian!”

Semua orang jadi terlebih kaget.

Dalam saat, dengan sekali berkelebat Boe Kie melesat belasan tombak jauhnya. Ia tidak mau menggunakan kuda sebab larinya binatang itu dianggap masih terlalu lambat. Sambil mengempos semangat, dengan ilmu ringan badan yang paling tinggi, ia “terbang” ke Lek hoe-chung.

Jarak duapuluh li lebih dilaluinya dalam sekejap mata, bagaikan seekor burung ia masuk ke dalam perkampungan. Para penjaga melihat berkelabatnya satu bayangan. Mereka sama sekali tak menduga, bahwa seorang manusia sudah menerobos masuk dari tempat jaganya.

Tanpa menyia-nyiakan waktu, Boe Kie berlari-lari ke Soei kok. Dari kejauhan ia melihat seorang wanita yang mengenakan baju warna hijau sedang membaca buku sambil minum teh. Wanita itu bukan lain dari Tio Beng.

Mendengar tindakan kaki, si nona menengok dan bersenyum.

“Tio Kauw nio,” kata Boe Kie, “aku minta beberapa pohon rumput.” Tanpa menunggu jawaban, kakinya menotol tepi empang dan melompat ke Soei kok, badannya melayang di permukaan air, seolah-olah seekor capung. Sambil melayang kedua tangannya mencabut tujuh delapan pohon yang menyerupai pohon bunga Coei sian. Tapi sebelum kedua kakinya hinggap di Soei kok, tiba-tiba terdengar sret… srr… beberapa senjata rahasia yang sangat halus menyambar dirinya. Dengan sekali mengibas, ia sudah menggulung semua senjata rahasia itu di dalam tadang saku bajunya dan hampir berbareng, ia mengebut Tio Beng dengan tangan baju kiri. Si nona berkelit dan angin kebutan itu sudah melontarkan poci dan cangkir teh yang jatuh hancur.

Sesudah berdiri tegak di lantai Soei-kok, Boe Kie melihat, bahwa pada setiap pohon bunga terdapat ubi sebesar telur ayam, merah. Ia girang sebab obat pemunah racun sudah didapatkan. “Terima kasih untuk obat ini, aku sekarang mau berangkat!” katanya sambil memasukkan pohon-pohon itu ke dalam sakunya.

“Datangnya gampang, perginya mungkin tidak begitu gampang,” kata si nona sambil tertawa. Ia melemparkan buku yang dipegangnya seraya menarik keluar dua batang pedang yang tipis bagaikan kertas dari dalam buku itu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia menerjang.

Karena memikiri orang-orang yang kena racun, Boe Kie sungkan berkelahi lama-lama. Ia mengibaskan tangan bajunya dan beberapa belas jarum emas milik si nona berbalik menyambar majikannya. Dengan satu gerakan yang sangat indah Tio Beng menyelamatkan diri. “Bagus!” memuji Boe Kie. Dilain detik, si nona sudah mulai menyerang dengan kedua pedangnya.

Sambil mengegos Boe Kie berkata dalam hatinya, “Perempuan ini sungguh kejam. Jika aku tidak memiliki Kioe yang Sin kang dan tidak pernah membaca Tok keng, hari ini jiwa para pemimpin Beng kauw tentu sudah terbinasa di dalam tangannya. Sesudah mengegos, kedua tangannya menyambar untuk merampas senjata si nona. Tapi Tio Beng cukup lihay, ia membalik kedua jari tangannya dan pedangnya memapas jari-jari tangan Boe Kie. Melihat kecepatan si nona Boe Kie merasa kagum. Tapi Sin kang bukan ilmu biasa. Biarpun gagal dalam usaha merampas senjata Sin kang itu sudah mengebut jalan darah di kedua pergelangan tangan Tio Beng, sehingga si nona tidak dapat mencekal lagi senjatanya. Tapi sebelum senjatanya terlepas, bagaikan kilat ia menimpuk. Boe Kie miringkan kepalanya dan kedua pedang itu amblas di tiang Soei kok.

Ia kaget. Ia kaget bukan lantaran tingginya ilmu si nona. Dalam ilmu silat Tio Beng masih kalah dari Yo Siauw, Wie It Siauw atau In Thian Ceng. Ia kaget sebab kecerdasan nona itu, yang bisa segera mengubah siasat dengan mengimbangi keadaan. Sesudah jalan darahnya dikebut dan ia tidak bisa mencekal lagi senjatanya, ia bisa berpikir cepat dan menimpuk. Kalau Boe Kie kurang gesit, pedang yang sangat tajam itu tentu sudah amblas di batok kepalanya. Dalam pertempuran, sering kejadian bahwa seseorang yang ilmu silatnya lebih rendah berhasil merobohkan seorang yang ilmunya lebih tinggi. Sebab musababnya terletak di sini.

Sesudah kedua pedangnya ditimpukkan, buru-buru Tio Beng menjemput pedang Ie thian kiam kayu yang menggeletak di atas meja. Tanpa menghunusnya, ia menyodok pinggang Boe Kie dengan sarung pedang. Boe Kie berkelit, tangan kanannya menyambar dan kali ini, ia berhasil merampas Ie thian kiam kayu itu.

Tio Beng melompat mundur. “Thio kong coe,” katanya sambil tertawa, “apakah itu yang dinamakan Kian koen Tay lo sin kang? Kulihat Sin kang itu sama sekali tidak mengherankan.”

Sambil tersenyum Boe Kie membuka telapak tangan kirinya yang ternyata menggenggam sekuntum kembang mutiara, yaitu yang dipakai di kondai si nona.

Tio Beng kaget tak kepalang. “Dia memetik perhiasanku, tanpa aku merasa,” katanya di dalam hati. “Kalau dia mau mencelakai aku, kalau dia itu mau menotok Tay yang hiatku, jiwaku tentu sudah melayang.” Tapi, sedang jantungnya memukul keras paras mukanya tidak berubah. Ia tertawa tawar dan berkata, “Jika kau senang dengan kembang itu, aku bersedia menghadiahkan dengan suka rela, tak perlu kau merampasnya.”

Boe Kie merasa jengah. “Aku pulangkan,” katanya sambil melontarkannya. Sesudah itu ia memutar badan dan melompat ke atas dari Soei-kok.

“Tahan!” seru si nona seraya menyambuti kembang mutiara itu.

Boe Kie menengok.

“Mengapa kau curi dua butir mutiara?” tanya Tio Beng.

“Justru aku tak punya waktu untuk berguyon,” jawabnya.

Nona Tio mengangkat kembangnya tinggi-tinggi. “Lihatlah!’ katanya. “Dua butir mutiara hilang.”

Boe Kie melirik dan memang benar dua butir mutiara tidak ada pada tempatnya tapi ia tahu, bahwa kedua mutiara itu sudah sengaja disingkirkan oleh pemiliknya. Ia mengerti, bahwa si nona mau memancingnya untuk menjalankan akal bulusnya lagi. Maka itu, ia tidak mau meladeni lagi. Sambil mengeluarkan suara di hidung, ia bertindak keluar.

“Thio Boe Kie!” bentak Tio Beng. “Kalau kau mempunyai nyali, datanglah kepadaku dalam jarak tiga tindak.”

Tapi Boe Kie tidak kena dibikin panas. “Kalau kau menganggap aku bernyali tikus, apa boleh buat,” katanya sambil bertindak turun dari undakkan Soei-kok.

Melihat semua akalnya tidak berhasil, paras muka Tio Beng lantas saja berubah. “Sudahlah!” katanya dengan suara putus harapan. “Hari ini aku kalah. Mana aku ada muka untuk bertemu lagi dengan lain manusia?” Ia mencabut sebatang pedang yang menancap di tiang dan berteriak, “Thio Boe Kie, terima kasih bahwa kau sudah menyempurnakan aku!”

Boe Kie menengok. Tiba-tiba sinar putih berkelebat. Tio Beng mengayun tangannya untuk menancapkan pedang di dadanya.

Boe Kie tertawa dingin dan berkata, “Aku tak akan kena…” Sebelum perkataan “ditipu” keluar dari mulutnya, ujung pedang sudah menancap di dada si nona. Tio Beng berteriak, tubuhnya terkulai.

Kali ini Boe Kie benar-benar kaget. Ia tidak pernah menyangka, bahwa si nona beradat begitu keras. “Asal saja pedang tidak melanggar isi perut, aku masih bisa menolong,” pikirnya sambil melompat untuk memeriksa luka si nona.

Tapi baru saja ia tiba dalam jarak tiga tindak dari meja, mendadak kakinya kejeblos, tubuhnya meluncur ke bawah!

“Celaka!” ia mengeluh. Cepat bagaikan kilat ia mengibaskan kedua tangan bajunya ke bawah sehingga untuk sedetik, tubuhnya terhenti di tengah udara. Hampir berbareng, satu tangannya coba menepuk pinggiran meja. Kalau kena dengan meminjam tenaga, ia bisa menyelamatkan diri. Tapi Tio Beng yang hanya pura2 bunuh diri, sudah menduga usaha pemuda itu dan dengan cepat ia menyampok dengan tangan kanannya. Selagi kedua tangan kebentrok, tubuh Boe Kie merosot ke bawah.

Dalam bingungnya, ia membalik tangan dan coba mencengkeram jari-jari tangan Tio Beng tapi jari-jari tangan si nona licin luar biasa, bagaikan licinnya lindung, sehingga tidak dapat dicengkeram! Cekalannya terlepas!

Pada detik yang sangat berbahaya, Sin kang yang dimiliki Boe Kie memperlihatkan kelihayannya. Biarpun cekalannya terlepas, tapi sebab cekalannya itu, ia berhasil meminjam sedikit tenaga, sehingga kemerosotan tubuhnya terhenti untuk sedetik dan tangannya menjambret lengan si nona. Jambretan itu berhasil! Ia mengerahkan Sin kang untuk melompat ke atas. Kali ini maksudnya gagal. Karena tubuhnya berat dan Tio Beng enteng, maka begitu ia membetot, tubuh si nona terjungkal dan tidak dapat tercegah, kedua-duanya tergelincir ke dalam lubang kemudian sesaat terdengar “trang!” tutupan lubang tertutup lagi.

Lubang itu, atau lebih benar sumur, tidak terlalu dalam, hanya belasan tombak. Begitu hinggap di dasarnya, Boe Kie melompat dengan menggunakan ilmu Pek houw Yoe ciang (Cicak merayap di tembok), ia merayap ke atas. Setelah sampai di atas, ia mendorong tutupan sumur beberapa kali, tapi tidak bergeming. Tutupan itu, yang dingin seperti es, adalah selembar besi tebal yang dipegang erat-erat dengan semacam alat. Walaupun memiliki sin kang, tapi lantaran badannya berada di tengah udara, ia tidak bisa meminjam tenaga. Sesudah mendorong beberapa kali tanpa berhasil, ia terpaksa melompat turun lagi.

Tio Beng tertawa geli. “Tutupan itu dipegang dengan delapan batang baja yang kasar,” katanya. “Dengan berada di bawahnya, cara bagaimana kau bisa membukanya?”

Boe Kie sangat mendongkol. Ia tak dapat meladeni dan meraba-raba pinggiran sumur yang licin dan dingin.

“Thio kongcu. Peh houw Yoe ciangmu betul betul lihay,” kata si nona. “Lubang jebakan ini terbuat daripada baja murni yang licin luar biasa. Tapi kau masih bisa naik ke atas, betul-betul hebat..hi..hi..hi!”

“Apa yang lucu?” bentak Boe Kie. Mendadak ia ingat, bahwa nona itu sangat licin. Di dalam sumur mungkin terdapat sebuah jalan rahasia. “Aku tak dapat membiarkan dia kabur seorang diri,” pikirnya. Memikir begitu, ia segera mencengkeram tangan si nona.

Tio Beng terkesiap, “mau apa kau?” tanyanya.

“Kau tak usah harap bisa lari seorang diri” jawab Boe Kie. “Kalaukau masih kepingin hidup, bukalah jalan keluar.”

“Kau tak usah bingung,” kata Tio Beng. “Kita tidak akan mati kelaparan dalam jebakan ini. Kalau orang-orangku tidak melihat aku, mereka pasti akan datang kemari untuk melepaskan kita. Aku hanya kuatir, mereka menduga aku pergi keluar. “Jika mereka menduga begitu, celakalah kita.”

“Apa dalam sumur ini tak ada jalanan keluar?”

“Kulihat kau bukan manusia goblok, tapi mengapa kau ajukan pertanyaan setolol itu? Jebakan ini dibuat bukan untuk ditempati sendiri, tapi untuk menangkap musuh. Perlu apa dibikin jalan keluar?”

Boe Kie merasa perkataan Tio Beng ada benarnya jua. “Menjeblaknya papan tutupan dan jatuhnya kita pasti didengar oleh orang-orangmu,” katanya. “Mengapa mereka belum datang? Lekas panggil mereka!”

“Orang-orangku sedang menjalani tugas,” jawabnya. Besok kira-kira pada waktu begini, barulah mereka kembali. Kau tidak perlu bingung. Mengasolah tenang-tenang. Tadi kau sudah makan kenyang.”

Boe Kie jadi gusar. Ia tak keberatan untuk berdiam lebih lama dalam jebakan itu. Tapi bagaiman keselamatan kakeknya dan yang lain2? Ia menyengkeram tangan si nona terlebih keras dan membentak, “Kalau kau tidak segera melepaskan aku, terlebih dahulu aku akan segera mengambil jiwamu.”

Tio Beng tertawa, “Jika kau bunuh aku, kau takkan bisa keluar dari penjara ini,” katanya. “Eh!… perlu apa kau pegang tanganku?”

Boe Kie jadi malu hati. Buru2 ia melepaskan cekalannya, mundur dua tindak dan lalu duduk di lantai. Tapi karena sumur itu terlalu kecil, mau tidak mau ia mengendus juga bebauan wangi yang keluar dari badan si nona.

Makin lama ia makin mendongkol. Tiba-tiba ia berbangkit dan berkata dengan suara gusar, “Beng kauw dan kau belum pernah sama sekali bermusuhan. Mengapa kau begitu jahat?”

“Ada banyak hal yang tak dimengerti olehmu” jawabnya. “Sebab kau sudah bertanya begitu, biarlah aku menceritakan sebab musababnya, dari kepala sampai di buntut. Apa kau tahu siapa sebenarnya aku?”

Boe Kie ingin sekali mendengar asal usul dan maksud nona itu. Tapi kalau ia mendengar cerita, mungkin sekali In Thian Ceng dan yang lain sudah keburu mati. Apapula, cerita wanita itu tentu benar. Jalan satu2nya adalah memaksa supaya ia membuka papan tutupan. Memikir begitu, ia lantas saja berkata, “Aku tak punya waktu untuk mendengari ceritamu.jawablah pertanyaanku. Kau mau atau tidak mau teriaki orang-orangmu untuk membuka papan tutupan itu?”

“Aku sudah memberitahukan kau bahwa semua orang2ku tak berada di sini,” jawabnya. “Selain itu teriakan yang bagaimana keraspun takkan terdengar di luar jebakan ini.”

Darah Boe Kie meluap, bagaikan kalap ia menubruk. Tio Beng kaget dan coba melawan, tapi jalan darahnya segera tertotok dan ia tak bisa bergerak lagi.

Sambil mencekik tenggorokan si nona, Boe Kie membentak. “Sedikit saja aku menambah tenaga, jiwamu melayang!”

Tio Beng mengap-engap. Tiba2 ia menangis. “Kau hinakan aku! Kau hinakan aku!” teriaknya.

Kejadian ini lagi-lagi di luar dugaan Boe Kie. Ia melepaskan cengkeramannya dan berkata, “Aku tak berminat untuk menghinakan kau. Aku hanya ingin supaya kau melepaskan aku.”

“Baiklah,” kata si nona. “Aku akan panggil orang-orangku.” Sehabis berkata begitu, ia berteriak. “Hei !… hei!… kemari! Buka tutup jebakan! Aku jatuh ke dalam penjara baja.” Tapi di luar hanya sepi-sepi saja. Ia sekarang tertawa dan berkata, “Kau lihatlah! Bukankah tak berguna aku berteriak-teriak?”

“Sungguh kau tak mengenal malu!” kata Boe Kie dengan mendongkol. “Sebentar menangis, sebentar tertawa.”

“Kau yang tak tahu malu!” bentak si nona. “Lelaki menghina perempuan.”

Boe Kie mengeluarkan suara di hidung. “Kau bukan perempuan biasa!” katanya. “Akal bulusmu terlalu banyak, sepuluh lelaki belum tentu bisa menandingi kau seorang.”

Tio Beng tertawa geli. “Aku rendah tak sanggup menerima pujian terlalu tinggi dari Thio Kauw coe yang mulia,” katanya.

Boe Kie menggertak gigi. Waktu sudah mendesak, kalau ia ayal-ayalan, semua pemimpin Beng Kauw akan binasa. Tiba2 tangannya menyambar dan merobek bagian bawah dari kain si nona.

Tio Beng terkesiap dan berteriak dengan suara terputus-putus. “Mau… mau… bikin apa… kau?”

“Jika kau bersedia melepaskan aku dari penjara ini, manggutkan saja kepalamu,” jawabnya.

“Mengapa begitu?” tanya pula si nona.

Boe Kie tidak menyahut, tapi segera membasahi kain sobekan itu dengan ludahnya. “Maaf, aku tidak bisa berbuat lain,” katanya seraya menyumbat mulut dan hidung si nona dengan kekainan itu.

Tio Beng tak bisa bernafas. Tapi ia bandel sekali. Walaupun dadanya menyesak dan selebar mukanya sudah berubah merah, ia tetap tak mau mengangguk. Akhirnya kedua matanya berkunang-kunang dan ia pingsan.

Lalu Boe Kie memegang nadi si nona, ketukan nadi itu ternyata sudah sangat lemah, sehingga ia buru buru mencabut kekainan yang menyumbat mulut dan hidung.

Beberapa saat kemudian, Tio Beng tersadar. Ia membuka kedua matanya dan mengawasi dengan penuh kegusaran.

“Tak enak bukan?” tanya pemuda itu. “Bagaimana? Apa kau bersedia untuk melepaskan aku?”

“Tidak nanti!” bentaknya dengan bernafsu. “Biarpun pingsan ratusan kali, tidak nanti ku melepaskan kau. Kalau penasaran, kau boleh membunuhku.”

Mendengar jawaban yang keras kepala itu, Boe Kie tertegun dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Akhirnya sambil menggertak gigi ia berkata, “Untuk menolong jiwanya banyak orang, aku terpaksa berlaku kasar terhadapmu dan kuharap kau suka memaafkan.” Sehabis berkata begitu, ia memegang kaki kiri Tio Beng dan melocotkan sepatu serta kaus kakinya.

Si nona kaget bercampur gusar. “Anak bau! Mau berbuat apa kau?” teriaknya.

Tanpa menjawab Boe Kie lalu membuka sepatu dan kaus kaki dan kemudian, dengan telunjuk ia menotok Yong coanhiat, di kedua telapak kaki si nona. Sesudah itu, ia mengerahkan Kioe-yang Sin-kang dan mengirim hawa hangat dari “hiat” tersebut.

Yong coanhiat, yang terletak di bagian cekung telapak kaki, adalah permulaan dari jalan darah Ciok siauw im Kian keng dan merupakan bagian tubuh manusia yang sangat perasa. Sebagai seorang yang mahir ilmu ketabiban Boe Kie tahu kenyataan itu. Jika bagian itu dikitik, orang akan merasa geli luar biasa, sehingga sekujur tubuhnya lemas kesemutan. Kiu yang Sin kang yang dikirim Boe Kie seratus kali lebih daripada dikitik. Semula Tio Beng tertawa geli terus menerus ia mau meronta tapi karena ditotok kaki tangannya tidak bisa bergerak. Sesaat kemudian, ia merasai penderitaan yang lebih hebat daripada bacokan golok atau cambukan. Ia merasa seperti juga berlaksa kutu merayap dan menggigit isi perutnya serta tulang tulangnya. Dari tertawa ia sekarang menangis dan sesambat.

Sambil mengeraskan hati Boe Kie terus mengirim Sin kangnya. Keringat dingin membasahi baju si nona, jantungnya seolah olah mau melompat keluar. “Anak bau…!” cacinya. “Bangsat… bangsat tengik…! Satu hari… aku… aku akan cincang kau!… Aduh! Ampun!… ampun!… Thio Kongcoe… hu.hu hu!…”

“Kau mau lepas aku atau tidak?” tanya Boe Kie.

“Le…pas! Ampun!…” jawabnya.

Boe Kie segera menarik pulang Sin kang-nya dan menepuk punggung si nona beberapa kali, sehingga jalan-jalan darah yang tertotok segera terbuka lagi.

Nafas Tio Beng tersengal-sengal. Beberapa saat kemudian, barulah ia bisa membuka suara. “Bangsat! Pakaikan sepatuku.”

Boe Kie segera mengambil kaos kaki dan sepatu dan kemudian memegang kaki kiri si nona. Tadi, waktu membukakan, dalam gusarnya, ia tak punya lain pikiran. Tapi sekarang, begitu tangannya menyentuh tumit kaki yang halus lemas itu, jantungnya memukul keras. Di lain pihak, si nona pun mendapat perasaan serupa, sehingga parasnya lantas saja berubah merah. Untung juga karena berada di tempat gelap Boe Kie tak lihat perubahan paras muka itu. Dengan cepat kedua kakinya sudah memakai lagi sepatu dan kaos kaki. Tiba-tiba ia mendapat perasaan luar biasa. Di dalam hati kecilnya ia kepingin pemuda itu memegang lagi kakinya.

Mendadak ia tersadar. Kupingnya mendengar bentakan Boe Kie. “Lekas! Lekas lepaskan aku.”

Tanpa menjawab tangannya meraba dinding jebakan dan kemudian dengan gagan pedang, ia mengetuk-ngetuk sebuah lingkaran yang diukir pada dinding baja itu. Sesudah mengetuk beberapa kali, sekonyong-konyong terdengar suara menjeblak dan tutupan jebakan terbuka.

Ternyata pada lingkaran itu terdapat alat rahasia yang dihubungkan dengan penjaga di luar jebakan. Begitu melihat isyarat yang diberikan oleh majikannya, si penjaga segera membuka tutup lubang.

Boe Kie kaget tercampur girang. “Mari kita keluar,” katanya.

Tapi Tio Beng tidak bergerak, ia tetap berdiri sambil menundukkan kepala. Melihat begitu dan mengingat akan perbuatannya, Boe Kie merasa tidak enak hati. Ia membungkuk seraya berkata, “Tio Kauw nio, tadi sebab sangat terpaksa aku sudah melakukan perbuatan yang sangat tidak pantas terhadapmu. Kuharap kau tidak menjadi gusar”.

Si nona tetap tidak menyahut. Ia bahkan memutar badan dan berdiri menghadapi dinding jebakan. Pundaknya bergoyang-goyang seperti orang lagi menangis. Waktu sedang mengadu kepandaian, Boe Kie merasa sangat mendongkol terhadap nona itu yang dianggapnya sebagai wanita kejam. Tapi sekarang di dalam hatinya muncul rasa kasihan. “Tio Kauw nio,” katanya dengan suara menyesal, “aku mau pergi sekarang. Aku mengakui, bahwa aku sudah berbuat kedosaan terhadapmu dan kuharap kau suka memaafkan.” Sehabis berkata begitu, dengan menggunakan ilmu Pek houw Yoe ciang ia merayap ke atas. Setibanya di mulut lubang sambil menendang pinggiran jebakan sehingga badannya lantas saja melesat ke atas, ia mengibaskan kedua tangan bajunya untuk menjaga bokongan. Sebelum kakinya hinggap di bumi, ia menyapu seputar Soe kok dengan kedua matanya, tapi disitu tidak kelihatan bayangan manusia.

Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi ia melompati tembok dan dengan menggunakan ilmu ringan badan, menuju ke tempat berkumpulnya rombongan Beng Kauw. Karena terjebak, ia sudah terlambat kira-kira satu jam. Apa In Thian Ceng dan yang lain-lain masih bisa ditolong? Dengan penuh rasa kuatir, ia berlari-lari sekeras-kerasnya dan dalam beberapa saat, ia sudah hampir tiba di tempat yang dituju.”

Mendadak hatinya mencelos. Bukan main kagetnya sebab ia lihat sepasukan serdadu Mongol berkuda sudah mengurung rombongan Beng kauw dan melepaskan anak panah. “Celaka” ia mengelak dan mempercepat tindakannya.

Sekonyong-konyong di tengah rombongan Beng kauw terdengar suara seorang wanita yang sangat nyaring. “Swi-kim kie menyerang dari timur laut! Ang soe kie mengurung ke barat daya.”

Itulah suara Siauw Ciauw! Hampir berbareng dengan komando itu, pasukan Beng kauw yang membawa bendera putih yang menerjang dari timur laut dan sepasukan lain yang membawa bendera hitam mengurung ke barat daya. Barisan Goan segera dipecah untuk menahan kedua pasukan itu. Mendadak Houw toaw kie yang membawa bendera kuning dan Kie kok kie yang membawa bendera hijau menyerang dari tengah. Mereka menerjang bagaikan sepasang naga yang kuning yang lain hijau. Barisan Goan lantas saja terpukul pecah dan terpaksa mundur.

Dengan beberapa kali lompatan, Boe Kie sudah berada di antara orang-orangnya sendiri. Melihat pemimpin mereka, para anggota Beng kauw terbangun semangatnya. In Thian Ceng, Yo Siauw dan yang lain-lain masih tetap bersila di tempat tadi, sedang Siauw Ciauw memimpin gerakan-gerakan Ngo heng kie dan Peh bie dengan berdiri di atas bukit kecil dan sebelah tangannya memegang bendera. Di bawah pimpinan si nona yang menggerakkan keenam bendera menurut ilmu Kie boen Pat kwa, serangan-serangan barisan Goan selalu dapat dipukul mundur.

“Thio Kongcoe, gantikan aku,” kata Siauw Ciauw dengan suara girang.

“Pimpin terus!’ jawab Boe Kie. “Aku akan coba membekuk pemimpin barisan musuh.” Tiba-tiba beberapa batangan panah menyambar ke arahnya. Dengan cepat ia menjambret sebatang tombak dari tangan seorang anggota Beng kauw dan memukul jatuh semua anak panah itu. Sesudah itu, sambil mengerahkan Sin kang ia menimpuk dengan tombaknya yang amblas di dada seorang Peh hoe thio. Sejumlah serdadu yang mengiring Peh hoe thio itu jadi ketakutan dan mundur serabutan.

Se-konyong2 dari kejauhan terdengar bunyi terompet tanduk, disusul dengan munculnya belasan penunggang kuda yang mendatangi dengan cepat. Boe Kie yang bermata paling jeli lantas saja mengenali bahwa dalam rombongan itu terdapat Sio Cian Pat hiong. Ia kaget dan berkata dalam hatinya. “Kalau mereka turun tangan banyak saudara bakal jadi korban. Lebih baik aku turun tangan lebih dahulu.”

Tapi lantas saja ternyata bahwa mereka tak bermaksud untuk menyerang. Dari jauh Tio It Siang, yang jadi pemimpin sudah meng-goyang2kan sebatang tongkat pendek kepala naga yang berwarna kuning emas. “Majikan mengeluarkan perintah untuk segera menarik pulang tentara!” teriaknya.

Seorang Cian hoe thio yang memimpin barisan itu lantas saja beteriak dalam bahasa Mongol dan seluruh barisan segera mundur dengan teratur.

Sementara itu, dengan tangan menyangga nampan, Cian Jie pay melompat turun dari tunggangannya dan menghampiri Boe Kie seraya membungkuk ia berkata, “Majikanku minta Kauw coe suka menerima ini sebagai kenang2an.” Di atas nampan itu yang dialaskan dengan selembar sutera sulam warna kuning terdapat sebuah kotak emas dengan ukir2an yang sangat indah.

Boe Kie menjemput kotak itu yang kemudian lalu diserahkan kepada Siauw Ciauw. Cian Jie pay membungkuk lagi, mundur tiga tindak dan kemudian barulah melompat ke punggung tunggangannya.

Sesudah musuh mundur dan rombongan Sin-cian Pat hiong berlalu, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi Boe Kie segera mengeluarkan pohon-pohon bunga yang serupa Cioe sian dari sakunya. Ia minta air bersih dan kemudian menghancurkan semua ubi yang warna merah di dalam air. Campuran itu segera diberikan kepada Ie Thian Ceng dan yang lain2 untuk diminum. Kecuali Boe Kie sendiri yang dilindungi Kioe yang sin kang sehingga tak mempan racun, semua orang yang turut makan minum dalam Soet kok sudah kena racun. Yo Poet Hwie terbebas sebab ia menemani In Lie Heng di dalam kamar, begitupun Siauw Ciauw dan para anggota Beng kauw yang lainnya, yang makan minum di lain ruangan.

Obat yang diberikan Boe Kie sangat mustajab. Belum cukup setengah jam, rasa pusing sudah hilang dan yang masih ketinggalan hanya perasaan lemas.

Menjawab pertanyaan beberapa orang cara bagaimana ia tahu tentang keracunan itu, sambil menghela napas Boe Kie berkata. “Kita semua berhati-hati dan kalau racun ditaruh dalam makanan atau minuman, kita bisa segera mengetahuinya. Di luar dugaan caranya wanita lihay luar biasa. Sebelum kalian merasa pusing, siapapun jua tak akan bisa menebaknya. Pohon kembang yang menyerupai bunga Coei sian itu adalah pohon Coei sian Leng hoe yang jarang terdapat di dalam dunia. Pada hakekatnya pohon itu tidak beracun. Di lain pihak, pedang Ie thian kiam kayu terbuat daripada kayu Kie kiauw Hiang bok yang terdapat di dasar laut. Kayu ini pun pada hakekatnya tidak beracun. Tapi… disinilah terletak kunci persoalan. Tapi, kalau bau wangi dari Coei sian Leng hoe dan Kie kiauw Hiang bok tercampur menjadi satu, maka kedua macam wangi2an itu akan berubah menjadi racun yang sangat berbahaya.”

Cioe Tian menepuk lututnya. “Aha! Kalau begitu akulah yang bersalah,” teriaknya. “Aku yang gatal tangan sudah mencabut pedang kayu itu.”

“Cioe heng tidak bersalah,” kata Boe Kie. “Wanita itu sudah bertekad untuk mencelakai kita, sehingga biarpun Cioe heng tidak mencabut pedang itu, ia tentu akan mencari jalan untuk mencabutnya. Kejadian itu tak akan bisa dicegah.”

“Kurang ajar!” kata si semberono dengan gusar. “Mari kita bakar perkampungannya sampai rata dengan bumi!”

Baru saja berkata begitu, di sebelah kejauhan tiba2 terlihat mengepulnya asap hitam. Benar-benar Lek lioe chung terbakar. Para pemimpin saling mengawasi tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata.

Semua orang kagum. Tio Beng ternyata dapat menghitung dengan tepat, ia sudah menduga bahwa sesudah racun dipunahkan, jago2 Beng kauw akan kembali untuk membakar perkampungannya, sehingga oleh karenanya, ia sudah mendahului dengan membakarnya sendiri. Walaupun ia masih berusia muda dan hanya seorang wanita, nona Tio ternyata merupakan seorang lawan yang tidak boleh dipandang enteng.

“Paling benar kita mengejar mereka dan menghajarnya sampai mereka bertobat,” kata Cioe Tian.

“Sesudah dia membakar perkampungannya sendiri, kita tahu, bahwa dalam setiap tindakannya, dia sudah mempersiapkan segala sesuatu,” kata Yo Siauw. “Kurasa belum tentu kita dapat menyusul mereka.”

“Yo heng, kau sungguh pintar,” kata Cioe Tian. “Dalam akal budi, kau memang lebih tinggi daripada Cioe Tian.”

Yo Siauw tertawa, “Aduh! Tak berani aku menerima pujian Cioe heng,” katanya. “Dalam hitung-hitungan, mana bisa siauw tee menandingi Cioe heng.”

“Sudahlah, Jie wie tak usah saling merendahkan diri,” menyela Boe Kie seraya bersenyum. “Bahwa hanya beberapa belas saudara terluka enteng karena panah dan bahwa kita tidak menderita kerusakan terlebih hebat, sudah dapat dikatakan untung sekali. Marilah kita meneruskan perjalanan.”

Di tengah jalan, beberapa orang menanya Boe Kie cara bagaimana ia bisa menebak keracunan itu.

“Kuingat, bahwa dalam Tok keng terdapat keterangan yang mengatakan, bahwa jika bau wangi dari kayu Kie kauw Hiang bok tercampur dengan bau wangi sebangsa kembang Hoe-yong, maka bebauan itu mengakibatkan mabuk, seperti mabuk arak, selama beberapa hari. Kalau hawa beracun itu masuk ke dalam isi perut, jantung dan paru-paru bisa rusak. Itulah sebabnya mengapa aku melarang kalian mengerahkan tenaga dalam. Manakala kalian mengerahkan khie (hawa), sehingga racun masuk ke dalam pembuluh darah, besarnya bahaya tidak bisa ditaksir lagi.”

“Tak dinyana si budak Siauw Ciauw berpahala begitu besar,” kata Wie It Siauw. “Kalau pada detik berbahaya dia tak tampil ke muka, kita pasti mendapat kerusakan besar sekali.”

Perbuatan Siauw Ciauw terutama membingungkan Yo Siauw. Ia telah menduga pasti, bahwa nona itu seorang mata-mata musuh yang mau menyelidiki segala rahasia Beng kauw. Tapi sekarang si nona berbalik menjadi seorang penolong.

Malam itu, rombongan itu menginap di sebuah rumah penginapan. Seperti biasa, Siauw Ciauw membawa sepaso air cuci muka ke kamar Boe Kie.

“Siauw Ciauw, hari ini kau berjasa besar sekali,” kata Boe Kie. “Mulai dari sekarang kau tak usah melakukan tugas pelayan lagi.”

Si nona tersenyum. “Aku justru merasa senang jika bisa merawat kau,” katanya. “Tugas semua sama saja, yang satu tidak lebih mulia daripada yang lain.”

Sesudah Boe Kie mencuci muka, si nona mengeluarkan kotak emas yang dikirim Tio Beng. “Apa di dalamnya?” tanyanya. “Mungkin racun, mungkin senjata rahasia. Kita harus ber-hati2.”

“Ya, kita harus berhati-hati,” kata Boe Kie. Ia menaruh kotak itu di atas meja dan sesudah menarik tangan si nona supaya menyingkir yang agak jauh, lantas ia menimpuknya dengan uang tembaga. “Tring!” uang itu kena tepat di pinggir kotak dan tutupannya lantas saja terbuka. Boe Kie mendekati dan melongok ke dalam kotak, yang isinya ternyata bukan lain daripada kembang mutiara yang pernah dipetik olehnya dari kondai nona Tio. Dua butir mutiara yang katanya hilang, juga sudah berada di tempatnya. Boe Kie mengawasi dengan mata membelalak. Ia tahu apa artinya itu.

“Thio Kongcoe,” kata Siauw Ciauw sambil tertawa. “Thio Kauw-nio bersikap manis luar biasa terhadapmu.”

“Aku seorang lelaki, perlu apa dengan perhiasan itu?” kata Boe Kie. “Siauw Ciauw, kau ambillah.”

Si nona tertawa nyaring. Sambil menggoyang-goyangkan tangannya ia berkata, “Tidak! Tak bisa begitu. Bagaimana aku bisa menerima hadiah itu yang diberikan kepadamu dengan penuh kecintaan.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Boe Kie segera menjemput kembang mutiara itu. “Kena!” serunya seraya menimpuk. Timpukan itu tepat sekali menancap di rambut Siauw Ciauw tanpa melukai kulit kepalanya.

Si nona mau mencabutnya, tapi Boe Kie buru-buru mencegah dengan berkata, “Anak baik, apakah aku tidak boleh menghadiahkan sesuatu kepadamu?”

Paras muka si nona lantas saja bersemu merah. Ia menunduk dan berkata, “Terima kasih. Tapi aku kuatir Sio-cia akan menjadi gusar jika ia lihat aku memakai perhiasan ini.”

“Tidak!” bantah Boe Kie. “Hari ini kau berjasa besar. Yo Cosoe, ayah dan anak tidak akan curiga lagi.”

Siauw Ciauw jadi girang sekali. “Melihat Kongcoe belum juga kembali, hatiku bingung. Apalagi belakangan datang barisan Goan itu yang segera mengurung dan menyerang,” katanya. “Entah bagaimana, entah dari mana aku dapat keberanian, tahu-tahu aku memegang bendera dan berteriak-teriak. Kalau sekarang kuingat kejadian itu, hatiku masih ketakutan. Thio Kongcoe, kumohon kau mau berkata begini kepada Ngo heng-kie dan Peh bie-kauw. Untuk segala kekurang ajaran Siauw Ciauw, aku harap kalian tidak kecil hati.”

Boe Kie tersenyum, “Kau gila?” katanya, “Mereka sebenarnya harus menghaturkan terima kasih kepadamu.”

Sambil berjalan, para pemimpin Beng-kauw beromong-omong membicarakan soal Thio Beng dan coba meraba-raba asal usulnya. Tapi tak satupun yang bisa menebak. Boe Kie sendiri menceritakan bagaimana ia mengambil Cui sian leng hoe tapi menyembunyikan hal terjebaknya dan segala kejadian dalam penjara baja itu. Meskipun benar segala tindakannya dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi ia merasa jengah untuk menceritakan itu.”

Pada suatu hari, tibalah mereka di daerah Ho-lam.

Jaman itu adalah jaman kalut rakyat Tiongkok yang mulai bangkit melawan penjajah. Di mana-mana tentara Mongol mengadakan pemeriksaan yang sangat keras. Untuk menghindarkan kecurigaan dan mencegah kerewelan, rombongan Beng-kauw dipecah dan kemudian berkumpul lagi di kaki gunung Siong san, dari sana mereka terus mendaki Siauw sit san, Gouw Kin Co diperintahkan jalan lebih dahulu dengan membawa karcis nama Boe Kie dan pemimpin lain untuk dipersembahkan kepada Hong thio Siauw lim sie.

Boe Kie mengerti bahwa dalam kunjungannya ke Siauw lim sie itu, walaupun dia tidak menghendaki pertempuran, sesudahnya masih merupakan teka-teki. Manakala pendeta-pendeta Siauw lim tidak bisa diajak bicara dan menyerang lebih dulu maka Beng-kauw tidak bisa tidak melayani. Maka itu ia segera mengeluarkan perintah supaya menyamar sebagai pelancong, anggota-anggota Ngo heng-kie dan Peh bie-kauw berpencar di seputar kuil dan mereka harus segera menerjang masuk jika mendengar tiga siulan panjang, perintah itu segera dijalankan dengan bersemangat.

Tak lama kemudian seorang Tie-kek ceng (pendeta penyambut tamu) ikut Gouw Kin Co turun dari atas gunung. “Kauw coe,” kata pendeta itu kepada Boe Kie. “Hong thio dan para Tiang-loo dari kuil kami sedang menutup diri dan bersemedi sehingga mereka tidak dapat menemui Kauw coe. Kami harap Kauw coe sudi memaafkan.,”

Mendengar itu, paras muka semua orang langsung berubah.

“Pendeta-pendeta Siauw lim sungguh sombong!” kata Cioe Tian dengan gusar. “Mereka sama sekali tidak memperdulikan bahwa yang datang berkunjung adalah Kauw coe kim sendiri.”

Pendeta itu menundukkan kepalanya dengan paras duka. “Tidak bisa menemui!” katanya.

Cioe Tian jadi lebih gusar. Tangannya menyambar untuk mencengkram dada si pendeta tapi keburu ditangkap oleh Swee Poet Tek. “Cioe heng jangan sembrono,” bujuknya.

“Kalau Hong thio sedang menutup diri, kami boleh bicara dengan Kong-tie dan Kong-seng Seng ceng,” kata Pheng Eng Giok.

Tie-kek ceng itu merangkap kedua tangannya dan berkata dengan suara dingin, “Tidak bisa menemui!”

“Bagaimana kalau Sioeco dari Tat-mo tong?” tanya Pheng Eng Giok. “Jika Sioeco Tat-mo tong juga tak bisa menemui kami, kami bersedia untuk bicara saja dengan Sioeco Lo-han tong.”

Tapi jawaban si pendeta tetap tidak berbeda, “Tidak bisa menemui!” katanya.

In Thian Ceng meluap darahnya. “Gila!” teriaknya. “Kau bilang saja apa pemimpin kamu mau menemui kami atau tidak?” Hampir bersamaan dengan bentakannya, ia menghantam sebuah pohon siong tua dengan kedua tangannya. Pohon itu segera patah dan roboh.

Pendeta itu ketakutan. “Kalian yang datang dari tempat jauh sebenarnya harus diterima dengan segala kehormatan,” katanya. “Hanya menyesal para pemimpin kami sedang menutup diri sehingga kami mohon kalian sudi datang di lain waktu.” Seraya berkata begitu, ia membungkuk dan memutar badan.

Dengan sekali melompat Wie It Siauw sudah menghadang di depannya. “Bolehkah aku mendapat tahu hoat-beng Taysoe yang mulia? Tanyanya.

“Hoat beng siauw ceng Hoei-hian,” jawabnya.

Mendengar itu semua pemimpin Beng-kauw dongkol bukan main. Seorang pendeta Siauw lim yang menggunakan nama “Hoei” adalah pendeta ketiga yang hidup pada saat itu. Sebagaimana diketahui yang paling tinggi “Kong”, sedang yang kedua adalah “Goan”. Bahwa Siauw lim hanya mengirimkan seorang wakil dari tingkatan “Hoei” untuk menyambut pemimpin Beng-kauw dianggap suatu hinaan paling besar.

Dengan paras muka gusar Wie It Siauw menepuk pundak pendeta itu. “Baiklah!” katanya. “Taysoe terus menerus mengatakan tidak bisa menemui. Jika Giam-loo-ong yang memanggil, Taysoe akan menemui atau tidak?”

Begitu ditepuk Hoei-hian merasakan hawa dingin yang sangat hebat menerobos, sehingga sekujur badannya gemetaran dan giginya gemelutukan. Sambil menahan rasa dingin itu, dia lari melewati Wie It Siauw dan terus kabur ke atas gunung dengan langkah limbung.

“Sesudah dia dipukul, guru dan paman-paman gurunya tidak akan menyudahi begitu saja,” Boe Kie menyambung perkataan itu. “Sekarang tak ada jalan lain daripada naik ke atas untuk melihat pendeta-pendeta itu benar-benar tidak mau menemui kita.”

Semua orang mengangguk. Mereka merasa bahwa satu pertempuran hebat tidak bisa dielakkan lagi. Siauw lim-pay dikenal sebagai gunung Thay-san atau bintang Pak tauw dalam Rimba Persilatan dan selama ribuan tahun, partai itu dinamakan sebagai “partai yang tak pernah terkalahkan”. Hari ini akan diputuskan, apa Beng-kauw atau Siauw lim-pay yang akan unggul. Mereka tahu bahwa di dalam kuil Siauw lim sie terdapat banyak orang pandai sehingga hebatnya pertempuran yang akan terjadi sukar dibayangkan lagi. Mengingat begitu, dengan semangat bergelora para pemimpin Beng-kauw mendaki gunung.

Berselang kira-kira sepeminuman teh mereka tiba di pendopo Lip-soat-teng. Dengan rasa terharu Boe Kie ingat bahwa pada beberapa tahun berselang mereka bersama-sama Thay-soehoenya, ia bertemu dengan pendeta suci Siauw lim-pay di pendopo itu. Pada waktu itu ia datang sebagai seorang bocah yang kurus kering yang menderita keracunan hebat, tapi sekarang ia berkunjung sebagai seorang Kauw coe dari Beng-kauw yang sangat berpengaruh. Jangka waktu kunjungan itu hanya beberapa tahun tapi seolah-olah sudah satu abad.

Boe Kie menahan rombongannya di pendopo itu. Ia ingin menunggu wakil Siauw lim sie. Sebelum menggunakan kekerasan, ia mau bertindak menurut peraturan sopan santun, tapi mereka menunggu dengan sia-sia.

“Ayo kita naik!” kata Boe Kie akhirnya.

Dengan Yo Siauw dan Wie It Siauw di sebelah kiri dan In Thian Ceng dan In Ya Ong di sebelah kanan, Thian koan Toojin, Pheng Eng Giok, Cioe Tian dan Swee Poet tek di belakang, Boe Kie lalu memasuki pintu kuil Siauw lim sie. Setelah berada di dalam ruangan sembahyang Tay-hiong Po tian, mereka melihat patung Budha yang agung, kursi meja yang mengkilap, asap hio yang mengepul ke atas dan lampu-lampu yang menyala tapi dalam ruangan itu tak kelihatan bayangan manusia.

“Beng-kauw Thio Boe Kie bersama Yo Siauw, In Thian Ceng dan lain-lain datang berkunjung untuk bertemu dengan Hong Tio Tay-soe!” teriak Boe Kie yang suaranya disertai Lweekang hebat sehingga lonceng yang tergantung di dalam ruangan itu mengeluarkan suara “ung…ung…”

Yo Siauw, Wie It Siauw dan yang lain-lain saling mengawasi dengan perasaan kagum. Dengan mempunyai seorang pemimpin yang tenaga dalamnya begitu tinggi, mereka merasa bahwa dalam pertempuran ini Beng-kauw akan memperoleh kemenangan.

Teriakan Boe Kie bisa didengar di seluruh kuil tapi sesudah menunggu beberapa lama seorang manusiapun tak kelihatan batang hidungnya.

“Hei! Apa kamu mau bersembunyi seumur hidup?” teriak Cioe Thian berangasan.

Mereka menunggu lagi tapi tetap tiada yang muncul.

“Sudahlah!” kata In Thian Ceng. “Sekarang kita tak usah perdulikan akal apa yang dijalankan mereka, mari kita masuk semua!” Seraya berkata begitu dengan diikuti oleh yang lain ia maju lebih dulu dan terus menuju ke ruang belakang. Tapi seorang manusiapun tidak ditemui mereka.

Mereka heran tak kepalang. Siauw lim-pay adalah sebuah partai persilatan yang besar dan sejak dulu sudah mempunyai nama yang sangat harum. Di dalam kuil terdapat banyak sekali pendeta yang tinggi ilmu silatnya dan banyak akal budinya. Tapi hari ini mereka menjalankan “tipu kuil kosong”. Tipu apa itu? Tak bisa tidak suatu tipu yang sangat hebat. Mengingat begitu, mereka makin berhati-hati. Mereka waspada pada setiap tindakan sesudah melewati Ka-lam tian, tapi mereka belum juga menemui manusia.

Tiba-tiba Wie It Siauw berkata, “Swee Poet Tek, mari kita mengamat-amati dari atas!”

Swee Poet Tek mengangguk dan badannya segera mencelat ke atas, tapi sebelum kedua kakinya menginjak payon rumah, Wie It Siauw sudah berada di atas wuwungan.

“Ilmu ringan badan Wie Hong ong benar-benar tak akan bisa ditandingi oleh Po tay Hweeshio,” katanya di dalam hati.

“Hei! Pendeta-pendeta Siauw lim sie!” teriak Cioe Tian. “Mengapa kau main bersembunyi terus menerus?”

Rombongan Boe Kie menyelidiki dari satu ruang ke lain ruang. Sebegitu jauh mereka bukan saja belum menemui manusia, tapi juga belum melihat tanda-tanda yang mencurigakan. Di Lo-han tong ruangan berlatih silat, mereka mendapati kenyataan bahwa semua senjata yang biasanya terdapat dalam ruangan itu sudah tidak ada lagi. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, cepat-cepat mereka menuju ke Tat-mo tong. Dalam ruangan itu di atas lantai, hanya terdapat sembilan lembar tikar yang sudah separuh rusak.

Dengan alis berkerut, Yo Siauw berkata, “Kudengar Tat-mo tong adalah tempat beristirahatnya para cianpwee dari Siauw lim sie, di antaranya ada yang tidak pernah keluar dari pintu ruangan ini selama sepuluh tahun. Mana bisa jadi?…Mana bisa jadi, tanpa bertempur, mereka menyembunyikan diri?”

“Hatiku sangat tidak enak,” sambung Pheng Eng Giok. “Aku merasa di dalam kuil ini sudah terjadi sesuatu yang sangat hebat, kejadian yang sangat buruk….”

Cioe Tian tertawa nyaring, “Ada-ada saja!” katanya.

Tiba-tiba Boe Kie ingat pengalaman waktu ia belajar Siauw lim Kioe yang kang.

“Coba kita pergi ke situ,” katanya. Dengan diikuti oleh pengiringnya, ia menuju ke kamar Goan tin. Di dinding masih terlihat bekas-bekas dari bagian yang dahulu dijobloskan Goan tin, tapi kamar kosong tiada manusianya.

“Coba kita selidiki di Cong keng kok,” kata Yo Siauw.

Di Cong keng kok, rak-rak buku kosong semua! Ke mana perginya beberapa laksa jilid kitab suci? Semua orang menggeleng-gelengkan kepala. Mereka benar-benar pusing. Andaikata benar pemimpin-pemimpin Siauw lim menyingkirkan diri, sepantasnya mereka harus meninggalkan beberapa orang untuk membersihkan kuil itu. Beng-kauw pasti tidak menyusahkan mereka itu. Apakah jika mereka meninggalkan beberapa orang pemimpin Siauw lim sie kuatir rahasianya terbuka?

Semua orang kembali ke Tay hiong Po thian. Wie It Siauw dan Swee Poet Tek yang menyusul belakangan melaporkan bahwa sesudah menyelidiki seluruh kuil mereka tidak mendapatkan apapun jua bahkan si pendeta penyambut tamupun turut menghilang.

Sementara itu, Yo Siauw memanggil Goan Hoan, pemimpin Houw touw-kie dan memerintahkannya supaya bersama semua anggota bendera tersebut menyelidiki kalau-kalau di dalam kuil tersebut terdapat jalan atau tempat rahasia untuk menyembunyikan diri. Dua jam kemudian Goan Hoan kembali dengan laporan bahwa penyelidikan tidak memberi hasil. Ia hanya menemukan beberapa kamar untuk menutup diri dan bersemedi, tapi kamar itu kosong semua. Goan Hoan adalah seorang ahli bangunan dan di dalam Houw touw-kie terdapat tukang membuat rumah yang pandai. Maka itu, laporan tersebut boleh tidak diragukan lagi.

Yo Siauw, In Thian Ceng, Pheng Eng Giok dan yang lain-lain adalah orang-orang yang berpengalaman luas dan berakal budi. Tapi sekarang mereka menemui jalan buntu. Mereka mengasah otak, berpikir bolak balik tapi mereka tetap tak bisa menembus misteri yang aneh itu.

Selagi mereka berunding, tiba-tiba di sebelah barat terdengar suara kedubrakan sebuah pohon siong tua roboh dengan tiba-tiba. Semua orang kaget dan memburu ke tempat itu. Pohon itu berada di pinggir sebuah perkarangan yang terkurung tembok dan batang yang patah menimpa tembok itu. Waktu didekati, pohon itu ternyata roboh karena terpukul, sebab urat-uratnya di bagian yang patah putus semuanya. Dilihat dari urat-uratnya yang sudah agak kering, pukulan itu bukan baru terjadi, tapi sudah berselang beberapa hari.

Mendadak beberapa orang mengeluarkan seruan kaget.
“Ih!”
“Lihat ini!”
“Aha! Di sini terjadi pertempuran hebat!”

Memang dalam perkarangan itu terlihat tanda-tanda bekas pertempuran. Di atas lantai batu hijau, di dahan pohon dan di tembok terlihat bekas bacokan senjata tajam atau pukulan-pukulan yang dahsyat. Dilihat dari bekas-bekasnya orang-orang yang bertempur adalah ahli-ahli silat kelas satu. Tapak-tapak kaki yang menggores lantai membuktikan Lweekang yang sangat tinggi dari orang-orang yang berkelahi itu.

Mendadak Wie It Siauw mengendus bau darah. Dalam pertempuran itu rupanya sudah mengucur banyak darah tapi karena semalam turun hujan besar, sebagian besar darah itu sudah hanyut dan hanya ketinggalan di beberapa tempat tertentu.

Perkarangan itu sangat besar dan tadi waktu diperiksa, orang tidak memeriksa secara teliti sebab di situ tak terdapat manusia. Kalau pohon siong itu tidak roboh mereka tentu takkan datang lagi ke sini.

“Yo Cosoe, bagaimana pendapatmu?” tanya Pheng Eng Giok.

“Pada tiga empat hari yang lalu, di sini telah berlangsung pertempuran yang sangat hebat,” jawabnya. “Hal ini tak usah disangsikan lagi. Apakah orang-orang Siauw lim sie terbasmi semua?”

“Aku sependapat dengan Yo Cosoe,” kata Pheng Eng Giok. “Tapi siapa musuhnya Siauw lim sie? Mana ada partai yang begitu lihay? Apa Kay-pang?”

“Biarpun partai besar dan banyak orang pandainya, Kay-pang pasti takkan bisa membasmi semua pendeta dalam kuil ini,” kata Cioe Tian. “Yang bisa berbuat begitu hanyalah Beng-kauw kita, tapi jelas-jelas bukan kitalah yang melakukannya.”

“Cioe Tian lebih baik kau jangan mengeluarkan segala omong kosong,” kata Tiat koan Toojin. “Apakah di antara kita ada yang tidak tahu bahwa kita tidak melakukan perbuatan ini?”

Diluar dugaan perkataan Cioe Tian yang dikatakan sebagai omong kosong sudah mengingatkan sesuatu kepada Yo Siauw. “Ah!…,” ia mengeluarkan seruan tertahan. “Kauw coe mari kita pergi lagi ke Tat-mo tong.”

Boe Kie tahu bahwa ajakan itu mesti ada sebabnya. “Baik,” katanya.

Dengan cepat semua orang masuk lagi ke dalam Tat-mo tong. Dalam ruangan itu, di samping sembilan lembar tikar pecah, di atas meja sembahyang terdapat sebuah patung batu dari Tat-mo Couw soe. Muka patung itu menghadap tembok, dengan punggung menghadap keluar. Semua orang tahu bahwa itu adalah untuk memperingati satu kejadian penting dalam hidupnya guru besar tersebut. Menurut cerita, sesudah bersemedi menghadap tembok selama sembilan tahun Tat-mo Couw soe berhasil mendapatkan inti sari daripada ilmu silat.

“Tapi kita sudah menyelidiki, ada perlu apa kita datang lagi ke sini?” tanya Cioe Tian.

Tanpa meladeni perkataan Cioe Tian, Yo Siauw berkata kepada In Ya Ong. “In Sie heng, aku minta bantuanmu. Mari kita putar patung Tat-mo Couw soe.”

“Jangan!” cegah In Thian Ceng.

Tat-mo Couw soe adalah pendiri Siauw lim sie yang dipandang suci dan dipuja bukan saja oleh orang-orang Siauw lim-pay, tapi juga oleh semua tokoh persilatan di kolong langit.

“Eng Ong jangan kuatir,” kata Yo Siauw. “Siauw tee bertanggung jawab untuk segala akibatnya,” seraya berkata begitu ia melompat ke atas meja sembahyang dan coba memutar patung itu. Namun karena terlalu berat, patung itu tidak bergeming.

“Ya Ong, bantulah,” kata sang ayah.

In Ya Ong segera melompat ke atas dan dengan tenaga dua orang patung itu yang beratnya dua ribu kati lebih dapat diputar.

Begitu patung diputar, paras muka semua orang berubah pucat. Ternyata muka patung telah dipapas rata sehingga merupakan selembar papan batu dan di atasnya terdapat huruf-huruf yang berbunyi seperti berikut:

“Lebih dahulu membasmi Siauw lim.
Kemudian menumpas Boe tong.
Yang merajai Rimba Persilatan hanyalah Beng-kauw.”

Huruf-huruf itu ditulis dengan jari tangan yang seolah-olah memahat papan batu itu.

Tanpa merasa semua orang mengeluarkan teriakan kaget. Itulah tipu daya yang sangat busuk, yang menimpakan semua dosa di atas pundak Beng-kauw.

Dengan bersamaan Yo Siauw dan In Ya Ong melompat turun.

“Hidung kerbau Tiat koan!” bentak Cioe Tian. “Jika aku tidak mengeluarkan omong kosong, Yo Cosoe pasti tak bisa menebak kejahatan musuh.”

Tiat koan Toojin tidak meladeni. Ia tak ada kegembiraan untuk bertengkar dengan saudara yang rewel itu. “Yo Cosoe, bagaimana kau dapat memikirkan bahwa pada patung itu terdapat sesuatu yang luar biasa?” tanyanya.

“Tadi waktu pertama kali aku masuk ke sini, aku sudah lihat bahwa patung itu memang digeser orang,” jawabnya. “Tapi aku belum dapat berpikir bahwa dalam penggeseran itu bersembunyi tipu daya yang sangat busuk.”

“Ada hal lain yang belum dimengerti olehku,” kata Pheng Eng Giok. “Tak bisa disangsikan lagi bahwa dengan huruf-huruf itu musuh ingin menumpahkan dosa di atas pundak Beng-kauw supaya kita dikeroyok oleh seluruh Rimba Persilatan. Tapi mengapa musuh itu manghadapkan muka patung ke tembok? Kalau Yo Cosoe tidak berotak cerdas, bukankah kitapun tak tahu adanya huruf-huruf itu?”

Yo Siauw manggut-manggutkan kepalanya. “Patung itu telah diputar lagi oleh orang lain,” jawabnya. “Dengan diam-diam, seseorang yang sangat tinggi kepandaiannya telah membantu kita. Kita telah menerima budi yang sangat besar.”

Semua orang segera menanyakan siapa adanya orang itu.

Yo Siauw menghela nafas dan berkata, “Akupun tak tahu….”

Perkataan itu tiba-tiba diputuskan oleh teriakan Boe Kie. “Celaka…! Lebih dahulu membasmi Siauw lim, kemudian menumpas Boe tong…Boe tong menghadapi bencana besar!”

“Kita harus segera membantu,” kata Wie It Siauw. “Dengan memberi bantuan, kitapun bisa menyelidiki siapa adanya anjing terkutuk itu.”

Saat itu, di depan mata Boe Kie segera terbayang kecintaan Thay soehoe dan para pamannya. Apa Song Wan Kiauw dan yang lain-lain sudah kembali ke Boe tong?

Di sepanjang jalan ia tak pernah menerima berita mengenai gerak-gerik rombongan Boe tong. Kalau rombongan itu terlambat, maka yang berada di gunung hanyalah Thay soehoe, murid-murid turunan ketiga dan Sam Soepeh Jie Thay Giam yang cacat. Jika musuh menyerang, bagaimana mereka bisa melawannya? Mengingat begitu, ia bingung bukan main. “Para Cianpwee dan Heng tiang!” katanya dengan suara nyaring. “Boe tong adalah tempat asal dari mendiang ayahku. Sekarang Boe tong menghadapi bencana. Kalau sampai terjadi sesuatu dikemudian hari, aku sukar menginjak bumi lagi sebagai manusia terhormat. Menolong orang seperti menolong kebakaran, lebih cepat lebih baik. Sekarang aku ingin minta Wie Hok-ong mengikuti aku untuk berangkat lebih dulu. Yang lain bisa menyusul belakangan. Kuminta Yo Cosoe dan Gwa kong sudi mengepalai rombongan kita.” Sehabis berkata begitu, ia menyoja dan dengan sekali berkelabat, ia sudah berada di luar kuil. Wie It Siauw mengikuti dengan ilmu ringan badan. Dalam sekejap mereka sudah melewati Lip-soat-teng. Dalam ilmu ringan badan di kolong langit tak ada orang yang bisa menandingi mereka.

Setibanya di kaki gunung Siong san, siang sudah berganti malam. Tapi mereka meneruskan perjalanan dan jalan semalaman suntuk, mereka sudah melalui beberapa ratus li. Kecepatan lari Wie It Siauw tidak kalah dari Boe Kie, tapi dalam jangka waktu panjang, ia kalah tenaga dalam. Biar bagaimanapun jua, lama-lama mereka merasa lelah. “Untuk mencapai Boe tong san dengan kecepatan seperti sekarang, harus menggunakan waktu satu hari satu malam lagi,” kata Boe Kie di dalam hati. “Manusia yang terdiri darah dan daging tak akan bisa lari terus menerus. Apalagi dalam menghadapi musuh kelas berat, kita harus menyimpan tenaga!”

Berpikir begitu ia segera berkata, “Wie Hok-ong, setibanya di kota aku ingin membeli dua ekor kuda untuk dijadikan tunggangan.”

Wie It Siauw memang sudah punya niat itu, tapi ia merasa malu hati untuk membuka mulut. “Kauw coe beli kuda sangat repot,” katanya sambil tersenyum. “Perlu apa kita membuang-buang waktu?”

Tak lama kemudian dari sebelah depan datang lima-enam penunggang kuda. Dengan sekali melompat Ceng-ek Hok-ong sudah mengangkat tubuh dua penunggang kuda yang lalu dilepaskan di tanah dengan perlahan. “Kauw coe, naiklah!” serunya.

Boe Kie ragu. Perbuatan itu tiada bedanya dengan merampok.

“Kauw coe!” teriak Wie It Siauw. “Demi kepentingan urusan besar, kita tidak boleh menghiraukan segala hal remeh.”

Beberapa orang itu yang mengerti sedikit ilmu silat segera menyerang. Dengan tangan memegang les kuda, Wie It Siauw menendang kian kemari dan beberapa golok terpental.

“Bangsat! Siapa kau!” bentak salah seorang.

Boe Kie mengerti bahwa jika orang-orang itu diladeni terlalu lama, Beng-kauw akan mendapat lebih banyak musuh. Maka itu, ia segera melompat ke punggung seekor kuda dan lalu kabur bersama-sama Wie It Siauw. Orang-orang itu mencaci tapi mereka tidak berani mengejar.

“Biarpun kita berbuat begini karena terpaksa, tapi orang-orang itupun mungkin mempunyai urusan yang sangat penting,” kata Boe Kie. “Aku sungguh merasa tidak enak.”

Wie It Siauw tertawa nyaring. “Kauw coe,” katanya. “Janganlah kau memikirkan urusan yang tiada artinya. Kalau dulu memang benar kita pernah berbuat seenaknya saja.” Sehabis berkata begitu ia tertawa terbahak-bahak.

Mendengar itu Boe Kie berpikir, “Kalau orang menamakan Beng-kauw sebagai agama yang sesat memang beralasan juga. Tapi dalam hakekatnya apa yang benar dan apa yang salah tak gampang disimpulkan dengan begitu saja.” Ia ingat bahwa dalam memikul beban Kauw coe yang sangat berat, ia kurang pengalaman dan pengetahuan sehingga ia sering ragu untuk mengambil keputusan. Meskipun ia memiliki ilmu silat yang sangat tinggi tapi urusan-urusan penting di dalam dunia tak bisa dibereskan dengan mengandalkan ilmu silat saja. Dengan pikiran kusut, ia larikan tunggangannya. Ia hanya berharap supaya berhadil dalam usaha menyambut Cia Soen. Agar ia bisa menyerahkan tanggungan yang berat itu kepada ayah angkatnya.

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba berkelabat bayangan manusia dan dua orang menghadang di tengah jalan.

Boe Kie dan Wie It Siauw menahan kudanya. Yang mencegat mereka adalah pengemis anggota Kay-pang yang bersenjata tongkat baja dan menggendong karung.

“MInggir!” bentak Wie It Siauw sambil mengedut dan menyabet salah seorang dengan cambuk. Pengemis itu menangkis dengan tongkatnya, sedang kawannya mengeluarkan siulan nyaring seraya mengibaskan tangan kirinya. Tunggangan Wie It Siauw kaget dan berjingkrak. Sesaat itu, dari gombolan pohon-pohon melompat pengemis lain, yang dilihat dari gerakannya berkepandaian cukup tinggi.

“Kauw coe, jalanlah lebih dulu!” seru Ceng-ek Hok-ong. “Biar aku yang melayani kawanan tikus ini.”

Boe Kie dongkol bukan main. Pencegatannya itu membuktikan bahwa Boe tong-pay benar-benar menghadapi bencana. Dengan mengingat bahwa Wie It Siauw memiliki ilmu ringan badan yang sangat tinggi sehingga andaikata ia tidak bisa memperoleh kemenangan sedikitnya ia masih bisa menyelamatkan diri, maka Boe Kie segera menjepit perut kuda dengan kedua lututnya dan binatang itu segera lompat menerjang. Dua orang pengemis mencoba merintangi dengan tongkatnya. Sambil mencondongkan badannya, Boe Kie menangkap kedua tongkat itu lalu dilemparkan. Hampir bersamaan kedua pengemis itu mengeluarkan teriakan kesakitan dan roboh di tanah karena tulang betisnya patah terpukul tongkatnya sendiri. Boe Kie sebenarnya tidak berniat melukai orang, tetapi karena melihat empat pengemis yang baru datang dan berkepandaian tinggi, maka ia terpaksa turun tangan untuk membantu Wie It Siauw.

Meskipun Siong san dan Boe tong san terletak di dua propinsi yang berlainan, tapi lantaran yang satu berada di Ho-lam barat dan yang lain berada di Ouw-ak utara, maka jarak antara kedua gunung itu tak begitu jauh. Sesudah melewati Ma san-kauw, daerah di sebelah selatan adalah tanah datar sehingga kuda bisa lari lebih cepat. Kira-kira tengah hari setelah melalui Lweehiang, Boe Kie segera berhenti di satu pasar untuk membeli makanan guna menahan perut.

Selagi makan ia mendadak mendengar pekik kesakitan dari kudanya. Ia menengok dan dengan terkejut ia melihat sebatang pisau tertancap di perut kuda dan berkelabat bayangan manusia yang coba melarikan diri. Tak salah lagi, binatang itu ditikam orang tersebut. Dengan beberapa lompatan Boe Kie berhasil membekuk orang itu yang ternyata juga seorang murid Kay-pang dengna baju berlepotan darah kuda. Dengan gusar Boe Kie menotok Toa-tio-hiatnya supaya ia menderita tiga hari tiga malam lamanya.

Boe Kie menjadi bingung kudanya mati dan ia tak punya uang lagi. Tapi waktu menggeledah tawanannya ia mendapatkan seratus tail perak lebih. “Kau sudah membunuh kudaku biarlah aku ambil uang ini sebagai gantinya,” katanya. Ia pergi ke pasar dan secara kebetulan ia bertemu kuda yang sikapnya garang. Sesudah melemparkan seratus tail perak lebih di tanah, tanpa memperdulikan si pemilik kuda, ia melompat ke punggung kuda yang lalu dilarikannya sekencang-kencangnya.

Tak lama kemudian ia tiba di Sam koan-tian, di tepi sungai Han-soei. Sungguh untung di pinggir sungai kelihatan berlabuh sebuah perahu eretan besar. Sambil menuntun kudanya ia turun ke perahu dan minta diseberangi.

Selagi perahu melaju di tengah sungai, di depan mata Boe Kie terbayang kejadian di masa lampau. Ia ingat, sekembalinya dari Siauw lim sie, waktu lagi menyeberangi Han-soei bersama Thay soehoe ia bertemu Siang Gie Coe dan kemudian menolong nona Sie Coe. Dengan pikiran melayang ia mengawasi air sungai yang berombak.

Mendadak ia tersadar dari lamunannya karena perahu bergoyang-goyang. Dengan kaget ia menyadari bahwa perahu bocor, air menerobos masuk dari sebuah liang. Sebagai orang yang pernah menghuni pulau Peng-hwee to, ia pandai berenang. Tapi bila perahu tenggelam perjalanannya jadi terlambat. Ia memutar badan dan melihat si juragan perahu sedang mau melompat ke dalam air dengan bibir tersungging senyuman mengejek. Gerakan Boe Kie cepat luar biasa. Dengan sekali melompat, ia sudah menjambret pakaian orang itu yang lalu ditotok sehingga dia berteriak-teriak. “Lekas kayuh!” bentak Boe Kie. “Kalau kau mau gila lagi, kusodok kedua biji matamu!” Sesudah mendengar ucapan itu, si juragan perahu tidak berani membantah dan segerah mengayuh sekuat-kuatnya. Selagi dia mengayuh, Boe Kie merobek ujung bajunya yang lalu digunakan untuk menyumbat liang kebocoran di dasar perahu.

Sesudah tiba di seberang, sambil mencengkram dada juragan perahu itu, Boe Kie membentak, “Siapa yang suruh kau mencelakai aku?”

Dia ketakutan dan menjawab dengan suara terputus-putus. “Siauw jin…siauw jin…Kay-pang….”

Tanpa menunggu selesainya jawaban, Boe Kie melompat ke punggung kuda yang lalu dilarikan ke arah selatan.

Cuaca sudah mulai berubah gelap. Sesudah berjalan kira-kira satu jam lagi, kuda itu berlutut karena terlalu lelah. Sambil menepuk-nepuk punggung kuda itu, Boe Kie berkata, “Kuda biarlah kau mengaso di sini. Aku perlu segera meneruskan perjalanan.” Dengan menggunakan ilmu ringan badan ia segera berlari sekencang-kencangnya.

Sesudah lewat tengah malam, selagi enak berlari-lari dengna kecepatan kilat, sayup-sayup ia mendengar suara kaki kuda yang ramai di sebelah depan. Ia menyusul dan melewati rombongan penunggang kuda itu. Karena gelap dan gerakannya sangat cepat, rombongan yang dilewati tidak mendusin. Dilihat dari arahnya, rombongan itu yang terdiri dari dua puluh orang lebih pasti menuju ke Boe tong san. Mereka terus berjalan tanpa berbicara sehingga Boe Kie tidak bisa mendapat keterangan apapun jua tapi lapat-lapat ia melihat bahwa orang-orang itu berbekal senjata. “Mereka tentu mau menyerang Boe tong san,” pikirnya. “Untung juga aku keburu menyusul. Dilihat begini tong-pay belum diserang.”

Berselang setengah jam ia kembali bertemu dengan serombongan orang yang menuju ke Boe tong san. Kejadian itu terulang beberapa kali sehingga ia telah menyusul dan melewati tidak kurang dari lima rombongan orang.

Boe Kie jadi bingung sendiri, “Berapa rombongan yang sudah naik ke atas?” tanyanya di dalam hati. “Apa mereka sudah bertempur dengan partaiku?” Secara resmi ia sebenarnya belum menjadi murid Boe tong, tapi karena ayahnya ia selalu menganggap dirinya sebagai seorang anggota Boe tong-pay.

Dalam bingungnya, ia lari makin cepat. Ketika tiba di tengah-tengah gunung, di sebelah depan tiba-tiba terdengar suara bentakan dan teriakan. Dengan mengambil jalan mutar, ia bersembunyi. Di lain saat ia lihat bayangan hitam yang sedang uber-uberan di depan, tiga menggenakan baju putih mengejar dari belakang.

“Kepala gundul! Perlu apa kau naik ke Boe tong san?” teriak salah seorang yang mengejar.

“Usahamu untuk menyampaikan berita tidak ada gunanya,” sambung yang lain. Hampir bersamaan terdengar suara “srrr…srrr…srrr…” dan beberapa senjata rahasia menyambar kea rah orang yang dauber. Di dengar dari suaranya, orang yang melepaskan senjata rahasia bukan sembarang orang.

“Kalau begitu dia sahabat,” pikir Boe Kie. “Aku harus mencegat ketiga pengejar itu.” Ia melompat dan menyembunyikan diri di belakang pohon. Di lain saat, orang yang dikejar sudah lewat di depannya. Orang itu gundul kepalanya, benar seorang hwee-shio. Ia memegang golok yang warnanya kehitam-hitaman dan larinya terpincang-pincang, rupanya ia sudah terluka. Tiga pengejarnya mengikuti dengan cepat. Mereka bersenjata tombak bercagak dan Boe Kie mengenali bahwa mereka itu orang-orang Kay tapi memakai baju putih yang biasa dipakai oleh anggota Beng-kauw.

Darah boe Kie bergolak, “Ayah sering menceritakan bahwa dahulu di bawah pimpinan Kioe cie Sin kay Ang Cit Kong, Kay-pang adalah sebuah partai yang dihormati dan disegani dalam Rimba Persilatan,” katanya dalam hati. “Siapa nyana sekarang partai itu sudah berubah tidak keruan.”

Sementara itu, si pendeta lari terus dengan langkah limbung. “Kepala gundul, berhenti kau!” teriak seorang pengejar. “Siauw lim-pay-mu sudah musnah semuanya. Apa yang bisa diperbuat olehmu seorang diri? Paling baik kau takluk. Beng-kauw bersedia untuk mengampuni.”

Boe Kie jadi makin gusar.

Karena merasa tidak bisa lari lebih jauh, pendeta itu berhenti memutar badan dan membentak seraya melintangkan goloknya. “Manusia siluman! Aku mau lihat sampai kapan kamu masih bisa berbuat sewenang-wenang. Sekarang aku mau mengadu jiwa dengan kamu.”

Ketika anggota Kay-pang itu segera mengurung si pendeta dan menyerang secara hebat. Tapi pendeta itu ternyata berkepandaian cukup tinggi dan melawan dengan gagah. Sesudah bertempur beberapa lama, sambil membentak keras pendeta itu membacok bagaikan kilat dan golok mampir tepat di lengan kiri seorang lawannya. Selagi musuh-musuhnya kaget, ia membabat lagi dan sekali ini berhasil melukai pundak seorang musuh lainnya. Sesudah dua kawannya luka, yang ketiga buru-buru angkat kaki.

Tanpa mengaso lagi pendeta itu lalu mendaki gunung secepatnya.

“Permusuhan antara Beng-kauw dan Siauw lim serta Boe tong masih belum selesai dan dengan adanya siasat busuk ini permusuhan akan menghebat,” pikir Boe Kie. “Kalau aku tunjukkan muka, urusan mungkin akan lebih sulit. Paling baik aku menguntit dan bertindak dengan mengimbangi keadaan.” Berpikir begitu, dengan menggunakan ilmu ringan badan, ia mengikuti di belakang pendeta itu.

Waktu hampir mencapai puncak, tiba-tiba terdengar di belakang, “Sahabat dari mana yang datang berkunjung?” Bentakan itu disusul dengan melompat keluarnya empat orang, dua imam, dua orang biasa dari belakang batu-batu gunung. Mereka adalah murid-murid turunan ketiga dan keempat dari Boe tong-pay.

Sambil merangkap kedua tangannya, pendeta itu menjawab. “Kong-siang pendeta Siauw lim, mohon berjumpa dengan Thio Cin-jin dari Boe tong-pay utnuk suatu urusan yang sangat penting.”

Mendengar nama “Kong-siang”, Boe Kie agak terkejut. “Kedudukan pendeta itu ternyata setingkat dengan ketiga Seng ceng (pendeta suci) dari Siauw lim sie Hong thio Kong-boen, Kong-tie dan Kong-seng. Tidak heran kalau ilmu silat begitu tinggi. Dia benar seorang ksatria,” pikir Boe Kie. “Tanpa memperdulikan bahaya dan lelah, dia datang ke Boe tong untuk menyampaikan berita.”

“Tay soe tentu capai, masuklah untuk minum secangkir teh,” kata salah seorang murid Boe tong.

Selagi berjalan, Kong-siang menyerahkan goloknya kepada salah seorang too-jin sebagai tanda menghormati bahwa ia tidak berani masuk ke dalam kuil dengan membawa senjata.

Boe Kie pernah berdiam di Boe tong san. Dengan rasa terharu ia melewati pohon rohon dan batu-batu yang dikenalnya. Keenam murid Boe tong itu lalu mengajak tamunya masuk ke dalam Sam ceng tian dan Boe Kie segera bersembunyi di luar jendela untuk mengamat-amati.

“Too-tiang, lekaslah memberi laporan kepada Thio Cin-jin,” kata Kong-siang. “Urusan ini sangat penting dan tidak boleh ditunda-tunda.”

“Taysoe datang pada waktu yang tidak tepat,” kata si imam dengan suara menyesal. “Tahun yang lalu Soe coe menutup diri dan sampati sekarang sudah setahun lebih. Kami sendiripun sudah lama tidak pernah bertemu muka dengan orang tua itu.”

Alis Kong-siang berkerut, “Kalau begitu, biarlah aku menemui saja Song Thay-hiap,” katanya.

Too-jin itu menggeleng-gelengkan kepala. “Toa soe-peh belum pulang,” jawabnya. “Sebagaimana Taysoe tahu bahwa Toa soe-peh, Soe hoe dan para Soe siok bersama partai Taysoe sendiri telah pergi menyerang Beng-kauw. Sampai sekarang mereka belum pulang.”

Boe Kie kaget. Ia sekarang tahu bahwa rombongan Boe tong-pay pun belum kembali dan terdapat kemungkinan besar para pamannya mendapat bencana atau sedikitnya mendapat halangan di tengah jalan.

Kong-siang menghela nafas, “Dilihat begini Boe tong-pay bakal sama nasibnya dengan Siauw lim-pay dan hari ini sukar meloloskan diri dari mara bahaya,” katanya dengan suara duka.

Si imam yang tidak mengerti maksud pertanyaan itu segera berkata, “Segala urusan partai kami untuk sementara diurus oleh Tong hian soe Soe-heng. Aku bisa melaporkan padanya.”

“Murid siapa Tong hian Too-tiang?” tanya Kong-siang. Paras muka pendeta itu berubah terang. “Biarpun Jie Sam-hiap cacat, ia seorang pandai,” katanya. “Biarlah aku bicara dengan Jie Sam-hiap saja.”

“Baiklah, aku akan menyampaikan keinginan Taysoe,” kata too-jin itu sambil masuk ke dalam.

Dengan roman tidak sabaran, Kong-siang jalan mondar-mandir dalam ruangan itu. Kadang-kadang ia berhenti dan memasang kuping, kalau-kalau musuh sudah tiba.

Tak lama kemudian too-jin yang tadi keluar dengan tergesa-gesa, “Jie Samsoe siok mengundang Taysoe,” katanya seraya membungkuk. “Samsoe siok memohon maaf bahwa ia tidak bisa keluar untuk menyambut Taysoe.” Sikap too-jin itu sekarang lebih banyak manis daripada tadi. Mungkin sekali, sesudah mendengar bahwa yang datang berkunjung adalah seorang pendeta Siauw lim dari tingkatan “Kong” Jie Thay Giam sudah memesan supaya dia berlaku hormat terhadap tamu itu.

Boe Kie sebenarnya sangat ingin mengintip dari jendela kamar pamannya, tapi ia segera membatalkan niatnya itu. “Sesudah kaki tangannya lumpuh, kuping dan mata Sam soepeh lebih hebat daripada manusia biasa,” pikirnya.

“Kalau kau mendengar di luar jendela, ia pasti akan mengetahui.” Berpikir begitu, ia lalu berdiri di tempat yang berjarak beberapa tombak dari kamar Jie Thay Giam.

Kira-kira sepeminuman teh dengan tersipu-sipu si imam keluar dari kamar. “Ceng-hong! Beng-goat!” teriaknya. “Kemari!”

Dua too-tong (imam kecil) menghampiri dengna berlari-lari, “Ada apa Soesiok?” tanyanya.

“Sediakan kursi tandu, Sam soesiok mau keluar,” jawabnya.

Kedua too-tong itu mengiyakan dan segera berlalu untuk mengambil kursi tandu.

Tie-kek Too-jin (imam penyambut tamu) yang menyambut Kong-siang adalah murid baru dari Jie Lian Cioe. Boe Kie tidak mengenalnya, karena pada waktu ia berada di Boe tong san imam itu belum menjadi murid. Tapi ia mengenal Ceng-hong dan Beng-goat. Ia pun tahu bahwa saban kali Jie Thay Giam mau keluar, paman itu selalu digotong dengan kursi tandu oleh mereka.

Melihat too-tong itu masuk ke kamar kursi tandu, ia lantas mengikuti dari belakang. Tiba-tiba ia menegur, “Ceng-hong, Beng-goat, apa kalian masih mengenaliku?”

Mereka terkejut dan mengawasi. Mereka merasa bahwa mereka sudah pernah bertemu dengan orang yang menegur itu tapi mereka lupa siapa orang itu.

Boe Kie tertawa dan berkata, “Aku Boe Kie, Siauw soesiok-mu! Apa kau lupa?” (Siauw soesiok artinya Paman kecil)

Mereka segera mengenali. Mereka girang tak kepalang. “Aha! Siauw soesiok pulang!” seru yang satu. “Apa kau sudah sembuh?”

Usia mereka bertiga kira-kira sepantaran. Dulu waktu Boe Kie di Boe tong san, mereka bersahabat dan sering bermain bersama-sama, main petak umpet, adu lari, adu jangkrik, tangkap kodok dan sebagainya. Pertemuan yang tidak diduga-duga tentu saja menggirangkan.

“Ceng-hong aku ingin menyamar sebagai kau dan ingin menggantikan tugasmu menggotong. Apa Sam soepeh kenali aku atau tidak.”

Ceng-hong ragu,”Aku bisa dimarahi…,” katanya.

“Tak mungkin!” kata Boe Kie, “Melihatku pulang dengan sehat, Sam soepeh tentu kegirangan. Mana ia ada waktu untuk mengusir kau?”

Kedua too-tong itu tahu bahwa semua pemimpin Boe tong-pay dari Couw soe sampai pada Boe tong Cit-hiap sangat mencintai paman kecil itu. Sekarang mendadak Siauw soesiok itu pulang dalam keadaan sembuh. Kejadian ini tentu saja kejadian yang sangat menggirangkan. Maka itu mereka berpikir, “Apa halangannya kalau si paman kecil mau berguyon sedikit untuk menggirangkan hati Jie Thay Giam yang sedang sakit?”

“Baiklah Siauw soesiok, kami menurut saja,” kata Beng-goat.

Sambil tertawa ha ha hi hi Ceng-hong segera membuka pakaian imamnya, sepatu dan kaus kakinya yang lalu diserahkan kepada Boe Kie. Sementara itu Beng-goat membuat kundai imam di kepala sang paman. Dalam sekejap seorang kong-coe yang tampan sudah berubah menjadi seorang too-tong.

“Siauw soesiok, tak bisa kau menyamar sebagai Ceng-hong sebab mukamu sangat berlainan,” kata Beng-goat. “Begini saja, kau mengaku sebagai seorang murid baru dan menggantikan Ceng-hong yang keseleo kakinya. Tapi kau harus mempunyai nama. Nama apa yang baik?”

Sesudah berpikir sejenak Boe Kie berkata sambil tertawa, “Ceng-hong meniup daun-daun jatuh. Biarlah aku menggunakan nama Sauw-cap.” (Ceng-hong Angin, Sauw-yan Menyapu daun)

Kedua too-tong itu tertawa nyaring. Ceng-hong menepuk-nepuk tangan dan berseru, “Bagus!…Sungguh bagus nama itu!”

Selagi mereka bersenda gurau, tiba-tiba terdengar teriakan si too-jin penyambut tamu, “Hei, lagi apa kamu? Mengapa belum juga keluar?”

Boe Kie dan Beng-goat buru-buru memikul kursi tandu dan pergi ke kamar Jie Thay Giam. Dengan hati-hati mereka mengangkat Jie Sam-hiap dan merebahkannya di kursi. Pendekar Boe tong itu kelihatannya diliputi kedukaan dan ia tidak memperhatikan kedua too-tong tersebut. “Pergi ke belakang gunung, ke tempat Couw soeya,” katanya.

Mereka segera memikul kursi tandu itu dan berangkat. Beng-goat berjalan di depan dan Boe Kie di belakang sehingga Jie Thay Giam hanya melihat punggung Beng-goat. Kong-siang sendiri berjalan di samping tandu. Karena diminta oleh sang paman, too-jin penyambut tamu itu tidak ikut.

Thio Sam Hong menutup diri dalam sebuah gubuk kecil, di hutan bambu di belakang gunung. Tempat itu sunyi senyap kecuali suara burung dan binatang-binatang kecil tidak terdengar suara apapun juga.

Setibanya di depan gubuk Beng-goat dan Boe Kie menghentikan langkah. Baru saja Jie Thay Giam mau memanggil, dari dalam gubuk mendadak terdengar sang guru, “Seng ceng Siauw lim-pay yang mana yang datang berkunjung? Aku minta maaf bahwa aku tidak dapat menyambut dari tempat jauh.” Hampir bersamaan pintu bambu terbuka dan Thio Sam Hong berjalan keluar.

Kong-siang kaget. “Bagaimana ia tahu bahwa yang datang adalah pendeta dari Siauw lim sie?” tanyanya di dalam hati. “Ah! Mungkin ia sudah diberitahukan oleh too-jin penyambut tamu itu.”

Tapi Jie Thay Giam tahu bahwa berkat ilmunya yang sangat tinggi, dengan hanya mendengar suara langkah kaki Kong-siang, sang guru sudah bisa menebak partai dari orang yang sedang mendatangi itu, bahkan bisa menebak juga tinggi rendahnya kepandaian itu. Tapi kali ini tebakan Thio Sam meleset sedikit. Ia menduga yang datang adalah salah seorang dari ketiga pendeta suci Siauw lim sie.

Dilain pihak Lweekang Boe Kie lebih tinggi banyak dari Kong-siang. Oleh karena itu dia bisa menyembunyikan gerak-geriknya dari pendengaran Thio Sam Hong, sebab pada hakekatnya seseorang yang Lweekangnya sudah mencapai tingkat tertinggi bisa berbuat sedemikian rupa sehingga yang “berisi” menjadi “kong”, yang “ada” menjadi “tidak ada”.

Dengan jantung memukul keras, Boe Kie mengawasi paras muka Thay soehoenya. Muka itu tetap bersinar merah tapi dengan rambut dan jenggotnya yang putih semua, paras itu kelihatan lebih tua daripada delapan sembilan tahun berselang. Ia girang bercampur terharu dan tanpa terasa air matanya mengalir keluar. Cepat-cepat ia melengos.

Kong-siang merangkap kedua tangannya, “Kong-siang pendeta Siauw lim sie, menghadap Boe tong Cianpwee Thio Cin-jin,” katanya.

Guru besar itu membalas hormat, “Aku tak berani menerima pujian yang sedemikian tinggi,” katanya. “Taysoe tak usah menggunakan banyak peradatan. Masuklah.”

Mereka berlima segera melangkah masuk. Dalam ruangan gubuk hanya terdapat sebuah meja dan di atas meja sebuah poci teh dan sebuah cangkir. Di lantai tergelar selembar tikar dan di dinding tergantung sebatang pedang kayu. Hanya itulah, tak ada apa-apa lagi.

“Thio Cin-jin,” kata Kong-siang dengan suara berduka. “Siauw lim-pay telah mengalami bencana hebat yang belum pernah dialami selama ribuan tahun. Mo-kauw telah menyerang dengan mendadak. Semua anggota Siauw lim-pay yang berada di dalam kuil dari Hong thio Kong boe Soe-heng sampai pada pendeta yang tingkatannya paling rendah, kecuali aku sendiri tidak ada yang lolos. Mereka binasa atau ditawan musuh. Hanya Siauw ceng sendiri yang luput dan siang malam Siauw ceng kabur ke sini. Serombongan Mo-kauw yang berjumlah besar sedang menuju ke Boe tong san. Mati hidupnya Rimba Persilatan Tiong goan sekarang berada dalam tangan Thio Cin-jin seorang.” Sehabis berkata begiut ia menangis sedih sekali.

Biarpun Thio Sam Hong berilmu tinggi dan berusia seabad lebih, mendengar laporan itu ia terkesiap. Untuk sejenak ia mengawasi Kong-siang dengan mulut ternganga. Sesudah ia menentramkan hatinya lalu ia berkat, “Dalam Siauw lim sie banyak orang yang pandai. Bagaimana kalian sampai mendapat kesukaran begitu besar?”

“Sebagaimana Thio Cin-jin tahu, Kong-tie dan Kong-seng, Jie-wie Soe-heng dan para murid Siauw lim sie bersama-sama lima partai besar telah pergi ke daerah barat untuk menumpas Mo-kauw,” kata Kong-siang.

“Entah bagaimana mereka dikalahkan, mereka tertawan….”

Boe Kie terkejut, “Siapa musuh itu?” tanyanya dalam hati.

Sesudah berdiam sejenak, Kong-siang meneruskan penuturannya. “Pada saat kami mendapat laporan bahwa rombongan yang menyerang Mo-kauw telah pulang. Hong thio Kong-boen Soe-heng sangat girang dan lalu keluar menyambut dan membawa murid Siauw lim sie. Kong-tie dan Kong-seng Soe-heng dan yang lainnya lantas saja masuk ke dalam kuil dan selain mereka juga terdapat kurang lebih seratus tawanan. Waktu itu berada di dalam perkarangan kuil, Kong-boen Soe-heng lalu menanyakan perihal berhasilnya keenam partai dalam usaha membasmi Mo-kauw. Kong-tie Soe-heng memberikan jawaban yang tidak terang. Mendadak Kong-seng Soe-heng berteriak, ‘Soe-heng, awas! Kami semua telah jatuh ke tangan musuh. Semua tawanan adalah musuh!….’ Sebelum Hong thio bisa berbuat apa-apa semua tawanan sudah menghunus pedang dan menyerang. Lantaran gugup dan tak membawa senjata, kami segera terdesak. Semua pintu sudah ditutup musuh. Suatu pertempuran yang sangat hebat, kami terbasmi, Kong-seng Soe-heng sendiri binasa….” Ia tak bisa meneruskan perkataannya lalu menangis sesegukan.

Thio Sam Hong sangat berduka, “Sungguh jahat!” katanya sambil menghela nafas berulang-ulang.

Sementara itu Kong-siang mengambil buntalan yang digendong di punggungnya. Ia lalu membuka buntalan itu yang di dalamnya terdapat bungkusan kain minyak, semua orang terkesiap karena di dalamnya terdapat satu kepala manusia, kepala Kong-seng Taysoe salah seorang dari Siauw lim Seng ceng!

Dengan bersamaan Thio Sam Hong, Jie Giam dan Boe Kie mengeluarkan teriakan kaget.

“Dengan mati-matian aku berhasil merebut jenazah Kong-seng Soe-heng,” kata Kong-siang dengan air mata bercucuran. “Thio Cin-jin, bagaimana caranya kita harus membalas sakit hati yang besar ini?” Seraya berkata begitu ia berlutut di hadapan Thio Sam Hong. Guru besar itu membungkuk untuk membalas hormat.

Rasa duka dan gusar mengaduk dalam dada Boe Kie. Ia ingat bahwa dalam pertempuran di Kong beng-teng Kong-seng Taysoe telah memperlihatkan ksatriaannya dan sifat-sifatnya yang agung sehingga ia boleh tak usah malu menjadi seorang guru besar dari Siauw lim-pay itu. Siapa nyana ksatria telah binasa dalam tangannya manusia-manusia terkutuk?

Melihat Kong-siang masih mendekam di lantai sambil menangis, Thio Sam Hong mengangsurkan kedua tangannya dan mengangkatnya seraya berkata, “Kong-siang Soe-heng, Siauw lim dan Boe tong pada hakekatnya adalah sekeluarga. Sakit hati ini tidak bisa tidak dibalas….” Bersamaan dengan perkataan “dibalas” mendadak saja Kong-siang mengangkat kedua telapak tangannya dan menghantam ke punggung Thio Sam Hong!

Itulah kejadian yang takkan diduga oleh siapapun juga, Thio Sam Hogn seorang guru besar yang berpengalaman sangat luas. Tapi iapun tak pernah mimpi bahwa seorang pendeta beribadat dari Siauw lim sie yang mempunyai sakit hati hebat dan dari tempat jauh untuk menyampaikan kabar penting bisa memukul dirinya. Dalam sedetik, pada saat Kong-siang baru menyentuh punggungnya, ia bahkan menduga bahwa karena terlalu berduka pendeta itu jadi was-was dan menganggap ia sebagai seorang musuh. Tapi di detik lain ia terkesiap. Pukulan itu adalah Kam kong Pan jiak ciang dari Siauw lim-pay dan Kong-siang telah menghantam dengan seluruh tenaganya. Muka pendeta itu pucat bagaikan kertas tapi pada bibirnya tersungging senyuman mengejek.

Melihat kejadian ini kagetnya Jie Thay Giam, Boe Kie dan Beng-goat bagaikan disambar halilintar. Mereka terpaksa dan mengawasi dengan mulut ternganga. Karena cacat, Thay Giam tak dapat membantu gurunya. Untuk beberapa detik, Boe Kie yang belum berpengalaman masih belum mendusin bahwa dengan pukulan itu si pendeta mencoba mengambil jiwa Thay soehoe-nya. Sebelum mereka bergerak, Thio Sam Hong sudah angkat tangan kirinya dan menepuk batok kepala Kong-siang. Berbarengan dengan suara “plak” tepuknya yang kelihatan enteng itu sudah menghancurkan kepala si pendeta yang segera roboh tanpa bersuara lagi. Dengan latihan hampir seabad, Lweekang guru besar itu sukar diukur bagaimana tingginya. Meskipun Kong-siang serang dengan ilmu kelas satu, ia masih tak mampu melawan tepukan yang enteng itu.

Sesudah hilang kagetnya, Jie Thay Giam teriak, “Soehoe! Kau….” Ia tak meneruskan perkataannya sebab sang guru sudah pejamkan kedua matanya dan dari kepalanya keluar uap putih, satu tanda bahwa guru besar itu sudah mengerahkan Lweekang untuk mengobati lukanya. Beberapa saat kemudian, mendadak Sam Hong membuka mulutnya dan memuntahkan darah.

Boe Kie kaget bukan kepalang. Ia sekarang tahu bahwa Thay soehoe menderita luka berat. Kalau darah itu berwarna ungu hitam maka dengan mempunyai Lweekang yang tinggi kesehatan guru besar itu aka segera pulih. Tapi darah yang barusan dimuntahkan adalah darah segar. Ini merupakan petunjuk bahwa isi perut Sam Hong sudah terluka hebat. Sesaat itu beberapa ingatan keluar masuk dalam otaknya. Apa yang harus diperbuatnya? Apa sebaiknya ia segera memperkenalkan diri dan menolong Thay soehoenya?

Sebelum ia bisa mengambil keputusan, di luar pintu mendadak terdengar suara langkah kaki. Langkah itu cepat sekali datangnya tapi segera berhenti di luar pintu. Orang itu yang rupanya sedang kebingungan tak berani membuka suara.

“Siapa? Apa Cong-hian? Ada apa?” tanya Thay Giam.

“Benar,” jawab too-jin penyambut tamu itu. “Melaporkan kepada Sam soesiok bahwa sejumlah besar musuh sudah berkumpul di luar kuil. Mereka mengenakan seragam Mo-kauw. Mereka mau bertemu dengan Couw soe Ya ya dan mereka mengeluarkan perkataan-perkataan kotor, mereka bilang mau injak Boe tong-pay sampai jadi tanah rata.”

“Diam!” bentak Thay Giam. Ia kuatir gurunya jadi lebih sakit karena laporan itu.

Perlahan-lahan Thio Sam Hong membuka kedua matanya dan berkata dengan suara perlahan. “Kim kong Pan jiak ciang benar-benar hebat. Untuk sembuh aku harus beristirahat tiga bulan lamanya.”

“Kalau begitu Thay soehoe menderita luka lebih berat dari dugaanku,” kata Boe Kie di dalam hati.

“Dalam serangannya ini, Beng-kauw pasti sudah membuat persiapan sempurna,” kata Sam Hong pula. “Hai! Bagaimana dengan Wan Kiauw Lian Cioe dan yang lain-lain? Thay Giam, apa yang harus kita perbuat?”

Si murid tak menyahut. Ia mengerti bahwa kecuali sang guru dan ia sendiri, murid-murid Boe tong lainnya, murid-murid turunan ketiga dan keempat tak akan mampu menahan musuh dan mereka hanya akan membuang jiwa dengan sia-sia. Maka itu, jalan satu-satunya adalah mengorbankan jiwa sendiri supaya sang guru bisa menyingkirkan diri untuk mengobati lukanya, untuk membalas sakit hati di kemudian hari. Berpikir begitu, ia segera berkata dengan suara nyaring, “Cong-hian, beritahukan orang-orang itu bahwa aku akan segera keluar untuk menemui mereka. Minta mereka tunggu di Sam cong tian.”

“Baiklah,” kata Cong-hian yang lalu berjalan pergi.

Thio Sam Hong dan Jie Thay Giam sudah menjadi guru dan murid selama puluhan tahun dan mereka sudah saling mengenal isi hati masing-masing. Mendengar perkatahan Thay Giam, Sam Hong segera mengerti maksud si murid. Ia tersenyum-senyum dan berkata, “Thay Giam, hidup atau mati, dihormati dan dihina, adalah soal-soal remeh. Tapi pelajaran istimewa dari Boe Tong Pay tidak boleh karena itu menjadi putus di tengah jalan. Dalam menutup diri selama delapan belas bulan, aku telah mendapatkan intisari dari ilmu silat dan telah mengubah Thay Kek Koen serta Thay Kek Kiam. Kedua ilmu ini sekarang aku hendak turunkan kepadamu.”

Thay Giam tertegun. Sebagai seorang bercacat, mana bisa ia belajar silat? Disamping itu musuh sudah masuk ke dalam kuil! Mana ada waktu lagi untuk menurunkan ilmu silat? “Suhu… “ katanya dengan tergugu.

Thio Sam Hongtertawa tawar. “Sedari didirikan, Boe Tong Pay kita telah melakukan banyak perbuatan baik, sehingga menurut pantas partai kita tidak akan musnah dengan begitu saja,” katanya. “Thay Kek Koen dan Thay Kek Kiam yang digubah olehku berlainan dengan ilmu silat yang pernah dikenal semenjak dahulu. Dasar daripada ilmu ini ialah: “yang tenang menindih yang bergerak, yang bergerak belakangan menguasai yang duluan. Thay Giam, gurumu sudah berusia lebih dari seratus tahun. Andaikata hari ini dia tidak bertemu dengan musuh berapa tahun lagi dia bisa hidup? Aku merasa girang, bahwa pada saat-saat terakhir dari penghidupanku aku masih bisa mengubah ilmu silat ini. Wan Kiauw, Lian Cioe, Siong Kee, Lie Heng dan Seng Kok tidak berada di sini. Kecuali Ceng Soe, diantara murid-murid turunan ketiga dan keempat tidak terdapat orang yang berpangkat baik. Tapi Ceng Soe pun tak berada di sini. Maka itu, Thay Giam, kau adalah orang satu-satunya yang bisa menerima warisan ini. Dihormatinya atau dihinanya Boe Tong Pay, disatu waktu tertentu tidaklah menjadi soal. Soal yang penting adalah semoga Thay kek Koen dapat diwariskan kepada orang-orang yang hidup di zaman belakangan. Kalau harapanku ini bisa terwujud, maka Boe Tong Pay pasti akan bisa hidup abadi selama ribuan tahun,” ia mengucapkan kata-kata itu dengan semangat gelora seolah-olah melupakan rombongan musuh yang sudah menumbuh di luar.

Dengan mata mengembang air, Thay Giam manggut-manggutkan kepalanya. Ia mengerti maksud sang guru. Ia mengerti, bahwa sang guru memerintahkan supaya ia menelan segala hinaan, agar ia dapat mewariskan ilmu silat Boe Tong Pay kepada dunia.

Perlahan-lahan Thio Sam Hong berdiri. Kedua tangannya diturunkan belakang tangannya menghadap ke luar, jari-jarinya ditekuk sedikit dan kedua kakinya dipentang. Sesudah itu, dengan perlahan ia mengankat kedua lengannya. Di depan dada, lengan kiri ditekuk, telapak tangan menghadapi muka, sehingga merupakan Im Ciang. Hampir berbareng, telapak tangan kanannya dibalik menjadi Yan Ciang. “Inilah permulaan Thay Kek Koen.” Katanya. Sesudah itu, sejurus demi sejurus, ia mulai bersilat sambil menyebutkan nama-nama setiap pukulan Lang Ciak Pwee, Tan Pian, Tee Chioe Siang Sit, Pek Ho Liang Cie, Siowsit Youw Pwee, Cioe Hwie Pee, Cin Po Pan Lan Toei, Jie Hong Sit Pit, Po Houw Kwie Shoa, Cap Jie Chioe.

Dengan sepenuh perhatian Boe Kie mengawas saban pukulan. Semula ia menduga Thay Suhu sengaja perlambat gerakannya, supaya Jie Thay Giam bisa melihat dengan tegas. Pada jurus ketujuh yaitu, Cioe Hwee Pie Pee, dengan Yang Ciang pada tangan kiri dan Im Ciang pada tangan kanan dan dengan mengawasi tangan kirinya Thio Sam Hongmendorong telapak tangannya dengan perlahan. Dorongan itu kelihatannya berat seperti gunung, tapi juga enteng bagaikan bulu burung.

Tiba-tiba Boe Kie mendusin. “Ah! Inilah yang dinamakan perlahan mengalahkan yang cepat, yang tenang menguasai yang bergerak!” katanya di dalam hati. “Aku taknyana dalam dunia terdapat ilmu silat yang begitu lihaI.” Ia memang sudah memiliki ilmu silat tinggi. Begitu dapat menangkap intisari Thay Kek Koen, perhatiannnya jadi lebih besar.

Thio Sam Hongbersilat terus dengan kedua tangannya membuat gerakan-gerakan yang merupakan lingkaran dan setiap jurus mengandung perubahan Im Yang dari Thay Kek Sit. Ilmu silat itu digubah dari kitab Ya Keng dari tiongkok purba dan berbeda dengan ilmu silat Tat Mo CouwSoe. Biarpun belum tentu menang, ilmu itu sedikitnya tidak usah kalah dari pelajaran Tat Mo.

Kira-kira semakanan nasi Thio Sam Hongselesai dan lalu berdiri tegak. Sesudah itu ia memberi pelajaran tentang pukulan-pukulan yang tadi diperlihatkannya.

Jie Thay Giam mendengar tanpa membuka mulut. Ia tahu, bahwa waktu sudah mendesak dan ia tak keburu mengajukan pertanyaan-pertanyaan lagi. Banyak yang tidak dimengerti olehnya dan hanya diingat saja dalam otaknya. Andaikata sampai terjadi sesuatu yang tidak diharapkan atas diri sang guru, ia bisa mengajar Kouw Koat (toori) itu kepada orang lain, supaya di hari kemudian seseorang yang cerdas dan berbakat bisa memecahkan artinya yang dalam.

Dilain pihak, Boe Kie berhasil menyelami hampir seluruh pelajaran itu. Kouw Kaot dan cara-cara latihan Kian Koen Tay Lo Ie berbeda dengan thay Kek Koen, tapi pada hakekatnya, dasar kedua ilmu silat itu adalah sama. Kedua-duanya berdasarkan “meminjam tenaga untuk memukul tenaga.” Maka itulah, setiap jurus dan penjelasan Thio Sam Hongdapat ditangkap olehnya.

Melihat paras bimbang pada muka muridnya. Thio Sam Hongbertanya, “Thay Giam, berapa bagian yang dapat dimengerti olehmu?”

“Murid berotak tumpul, hanya mengerti tiga empat bagian,” jawabnya. “Tapi murid sudah menghafal semua jurus dan Koaw Koat yang diberikan Suhu.”

“Aku banyak menyusahkan kau,” kata pula sang Guru. “Kalau Wan Kiauw berada di sini, ia pasti dia, bisa menangkap lima bagian dari pelajaran ini. Hai! Diantara murid-muridku, Ngo Soetee-mu yang berotak paling cerdas, hanya sayang, siang-siang ia sudah meninggal dunia. Jika ia masih hidup, dibawah pimpinanku dalam lima tahun ia tentu sudah bisa mewarisi seantero pelajaran ini.”

Mendengar mendiang ayahnya disebut-sebut, jantung Boe Kie memukul keras.

Sesudah berdiam sejenak, Thio Sam Hongberkata pula: “Nah sekarang perhatikan ini. Tenaga pukulan kelihatannya enteng, tapi tidak enteng, agaknya sudah dikerahkan, tapi belum dikerahkan, seolah-olah putus, tapi sebenarnya belum putus.. “

Ia berhenti karena dari Sam Ceng Tian tiba-tiba terdengar teriakan. “kalau Thio Sam Hongbersembunyi terus, lebih dahulu kita binasakan murid-murid dan cucu-cucu muridnya!”

“Boe!” menyambung seorang lain. “Bakar saja kuil ini!”

“Mampus dibakar terlalu enak untuk dia,” kata orang ketiga sambil tertawa, nyaring. “Kita harus tangkap dia, belenggu kaki tangannya, arak dia ke pusat berbagai partai, supaya semua orang bisa lihat macamnya gunung Thay San dan Bintang Pak Tauw dari dunia persilatan.”

Jarak antara gubuk di belakang gunung itu dan Sam Ceng Tiang kira-kira satu li, tapi suara mereka terdengar tegas sekali, sehingga dapat dilihat, bahwa musuh sengaja memperlihatkan Lweekang mereka dan memang juga, tenaga dalam itu harus diakui kelihatannya.

Mendengar cacian itu, tak kepalang gusarnya Jie Thay Giam, sehingga kedua matanya seolah-olah mengeluarkan api.

“Thay Giam,” kata sang guru, “apa kau sudah lupa pesanku? Jika kau tidak bisa menelan hinaan, cara bagaiman akau bisa memikul tanggung jawab yang sangat berat itu?”

“Benar,” kata si murid sambil menundukkan kepala.

“Kau bercacat dan musuh tentu tak akan turunkan tangan jahat atas dirimu.” Kata pula Thio Sam Hong. “Sekali lagi aku meminta supaya kau menahan napsu amarah. Manakala kau tidak bisa menyebar pelajaranku kepada turunan yang belakangan, maka aku menjadi seorang yang berdosa dari partai kita.”

Thay Giam mengeluarkan keringat dingin. Ia mengerti maksud gurunya. Demi kepentingan Boe Tong Pay, ia diperintah menelan segala hinaan.

Sesudah berkata begitu Thio Sam Hongmengeluarkan sepasang Loo Han besi dari sakunya dan menyerahkannya kepada si murid. Menurut katanya Kong Siang, Siauw Lim Pay sudah termusnah, katanya. Entah benar, entah dusta, kita tak tahu. Tapi bahwa seorang tokoh Siauw Lim Pay seperti dia menaklukkan kepada musuh dan kemudian membokong aku, dapatlah kita menarik kesimpulan, bahwa Siauw Lim Pay benar sudah mendapat bencana. Pada kira-kira seratus tahun yang lalu, Kwee Siang Lie Hiap telah menghadiahkan sepasang Loo Han ini kepadaku. Dihari kemudian serahkan kepadaku ahli waris Siauw Lim Pay. Aku berharap bahwa dengan bantuan sepasang Loo Han ini, sebagian ilmu silat Siauw Lim Sie akan dapat mempertahankan!” Sesudah memberi keterangan, sambil mengipaskan tangan jubah, ia bertindak keluar pintu.

“Mari kita ikut, kata Thay Giam, Boe Kie dan Beng Goat lantas saja memikul kursi tandu dan mengikuti di belakang guru besar itu.

Setibanya di Sam Ceng Tian, mereka mendapat kenyataan, bahwa di ruangan itu sudah penuh dengan manusia yang berjumlah kurang lebih tiga ratus orang, Thio Sam Honghanya mengangguk dan tidak mengeluarkan sepatah kata.

Inilah guruku, Thio Cin Jin,” kata Jie Thay Giam dengan suara nyaring. Perlu apa kalian naik ke Boe Tong San?”

Semua mata ditujukan kepada Thio Sam Hong, tokoh tertua dalam rimba persilatan yang namanya menggetarkan seluruh dunia. Guru besar itu mengenakan jubah hitam warna abu, rambut dan jenggotnya putih laksana perak, sedang badannya tinggi besar.

Sedang semua orang mengawasi Thio Sam Hong, Boe Kie menyapu seluruh ruangan dengan matanya. Ia mendapat kenyataan, bahwa separuh dari orang-orang itu memakai seragam Beng Kauw dan berapa belas orang, yang rupa-rupanya juga jadi pemimpin, mengenakan pakaian biasa.

Sekonyong-konyong di luar pintu terdengar teriakan “Kauw Coe tiba… “

Ruangan Sam Ceng Tian lantas saja berubah sunyi. Belasan pemimpin itu dengan tergesa-gesa keluar menyambut, diikuti oleh yang lain dan dalam sekejab beberapa ratus orang sudah keluar dari Sam Ceng Tian.

Tak lama kemudian, orang-orang itu kembali tapi mereka tidak lantas masuk dan berhenti di luar pintu. Boe Kie melongok keluar dan tiba-tiba saja ia terkesiap, karena ia lihat delapan orang memikul sebuah joki indah yang dikawal oleh enam tujuh orang dan delapan tukang pikul itu bukan lain dari Sin Cian Pat Hiong. Cepat-cepat ia mengusap debu lantai dengan kedua tangannya. Melihat begitu, Beng Goat geli bercampur takut, ia menduga bahwa perbuatan Boe Kie terdorong oleh perasaan takut. Dalam bingungnya, iapun segera memoles debu pada mukanya sehingga di lain saat kedua Too Tong itu sudah berobah menjadi badut wayang.

Joli diturunkan tirai disingkap dan dari dalam joli, keluar seorang Kong Coe tampan yang menikam jubah panjang warna putih dengan sulaman obor kemerah-merahan pada tangan bajunya. Ia itu bukan lain daripada Tio Beng.

Dengan diiring oleh belasan pemimpin rombongan, sambil menggoyang-goyangkan kipasnya, si nona bertindak masuk. Seorang pria yang bertubuh jangkung itu maju lebih dulu dan kemudian berkata sambil membungkuk. “Melaporkan pada Kauw Coe, yang itu Thio Sam Hong, yang itu yang bercacat, Jie Thay Giam, murid ketiga dari Boe Tong Pay.

Tio Beng manggut-manggutkan kepala. Ia maju beberapa tindak menutup kipasnya dan lalu menyoja seraya membungkuk. “Boan Seng Thio Boe Kie pemimpin Beng Kauw!” katanya. “Boan Seng bersyukur, bahwa hari ini bisa bertemu dengan Gunung Thay san dari rimba persilatan.”

Boe Kie kaget dan gusar. Di dalam hati, ia mencaci wanita itu yang sudah menyamar sebagai dirinya dan menipu Thay Suhu.

Mendengar nama Thio Boe Kie, Thio Sam Hongheran, “Mengapa namanya bersamaan dengan nama anak Thio Boe Kie? Tanyanya di dalam hati. Ia membalas hormat dan menjawab, “Sebab tak tahu Kauw Coe dari tempat jauh. Untuk kelainan itu kuharap Kauw coe suka memaafkan.”

“Bagus, bagus!” kata si nona.

Dengan diikuti oleh seorang Too Tong bagian depan Tie Kek Toojin menyuguhkan the. Tio Beng duduk di kursi seorang diri. Orang-orang bawahannya berdiri jauh-jauh dengan sikap hormat.

Sebagai seorang yang sudah memiliki usia seabad lebih dan memiliki ilmu yang sangat tinggi, Thio Sam Hongmempunyai ketenangan luar biasa dan tak menghiraukan lagi segala apa yang bersifat keduniawian. Akan tetapi, ikatan antara guru dan murid adalah sedemikian erat, sehingga dalam ketenangannya, guru besar itu masih memikirkan keselamatan murid-muridnya. “Dengan tidak mengimbangi tenaganya yang sangat kecil, beberapa murid Lao Too telah pergi ke tempat Thio Kauw Coe untuk meminta pelajaran,” katanya.

“Sampai kini mereka belum pulang. Apakah Thio Kauw Coe sudi memberi sedikit keterangan?”

Tio Beng tertawa, “Song Tay Hiap, Jie Tay Hiap, Thio Sie Hiap, dan Boh Cit Hiap sudah berada dalam tangan Beng Kauw.”

“Mereka mendapat luka enteng karena totokan dan sama sekali tidak membahayakan jiwa mereka.”

“Luka totokan mungkin berarti luka kena racun,” kata Thio Sam Hong.

Tio Beng tersenyum. “Thio Cin Jin kelihatannya sangat mengagulkan kepandaian Boe Tong Pay,” katanya. “Kalau Thio Cin Jin menduga kena racun, biarlah kita anggap mereka kena racun.”

Thio Sam Hongmengenal kepandaian murid-muridnya. Mereka adalah ahli-ahli silat kelas satu pada zaman itu. Andaikata benar, karena berjumlah kecil mereka tak dapat melawan musuh yang jumlahnya besar. Biar bagaimanapun jua mesti ada beberapa orang yang bisa meloloskan diri untuk menyampaikan berita. Jika tidak menggunakan racun, musuh tak mungkin bisa merobohkan atau menangkap mereka semua.

Mendengar jitunya tebakan guru besar itu, Tio Beng pun tak mau membantah.

“Dimana adanya muridku yang she In?” tanya pula Thio Sam Hong.

Si nona menghela napas, “In Liok Hiap telah dibokong oleh orang-orang Siauw Lim Pay dan keadaannya bersamaan dengan Jie Sam Hiap,” jawabnya. “Tulang kaki tangannya dihancurkan dengan Kim Kong Cie sehingga biarpun tidak binasa, ia sudah menjadi seorang bercacat yang tidak dapat bergerak pula.”

Paras muka Thio Sam Hongjadi lebih pucat. Ia tahu, Tio Beng tidak berdusta. Tiba-tiba ia memuntahkan darah.

Orang-orang itu yang berdiri di belakang si nona kelihatan bergirang sebab muntah darah itu sebagai bukti bahwa Kong Siang sudah berhasil dalam bokongannya. Lawan paling berat sudah terluka berat dan mereka boleh tak usah takut lagi.

“Dengan setulus hati aku ingin memberi nasehat, hanya aku tak tahu apakah Thio Cin Jin suka mendengarnya,” kata Tio Beng.
“Kauw Coe boleh bicara.”

“Selebur bumi di kolong langit ini adalah milik kaisar, keangkeran kaisar Mongol kami meliputi empat lautan. Jika Thio Cin Jin suka menakluk kepada kaisar Hong Siang tentu akan memberi anugerah dan Boe Tong Pay akan menikmati zaman gilang gemilang. Disamping itu Song Tay Hiap dan yang lain-lainpun bisa segera pulang dengan selamat.”

Thio Sam Hongmendongak dan mengawasi genteng. Sesudah itu, perlahan-lahan ia berkata dengan suara dingin. Walaupun Beng Kauw banyak melakukan perbuatan yang tidak patut, semenjak dahulu agama itu menentang penjajah Goan. Lagi kapan Beng Kauw menakluk kepada kerajaan? Lao Too belum pernah mendengar kejadian itu.”

“Meninggalkan tempat gelap dan pergi ke tempat terang adalah perbuatan seorang gagah sejati,” kata Tio Beng. “Siauw Boen dan Kong Tie Seng Ceng sampai pada pendeta yang berkedudukan paling rendah sudah menunjuk kesetiaannya kepada kerajaan. Tindakan kami adalah demi kepentingan negara dan mengikuti tindakan segenap orang gagah di seluruh rimba persilatan. Apa hal itu mengharapkan Thio Cin Jin.

Kedua mata Thio Sam Hongberkeredepan bagaikan kilat dan sorot matanya yang setajam pisau mengawasi muka si nona. “Orang Goan kejam dan banyak mencelakai rakyat,” katanya dengan suara gemetar. “Diwaktu ini, segenap orang gagah di kolong langit bangkit serentak untuk mengusir penjajah dan merampas pulang sungai dan gunung kita. Di dalam hati setiap anak cucu Oey Tee terdapat tekad untuk mengusir Tat Coe. Tindakan inilah yang bisa dinamakan sebagai tindakan demi kepentingan negara. Biarpun hanya seorang pertapaan, …. mengenal juga peribudi luhur. Kong Boen dan Kong Tie adalah pendeta-pendeta suci. Manabisa mereka ditundukkan dengan kekerasan? Nona, mengapa kau bicara begitu sembarangan?”

Mendadak seorang pria tinggi besar yang berdiri di belakang Tio Beng melompat ke luar dan membentak. “Bangsat tua, jangan kau menggoyang lidah seenaknya saja! Boe Tong Pay sedang menghadapi kemusnahan. Kau sendiri tidak takut mati, tapi apakah ratusan imam yang berada di kuil inI juga tak takut mati?” Ia bicara dengan suara yang disertai Lweekang dan sikapnya garang sekali.

Mendengar cacian itu, Thio Sam Hongberkata dengan suara tawar. “Semenjak dahulu, manusia mana yang tak pernah mati, aku menggunakan kesetian untuk mencatat kitab sejarah.” Kata-kata itu adalah sajak gubahan Boe Thian Siang yang sangat dikagumi Thio Sam Hong. Selama hidup sering kali ia rasa menyesal, bahwa waktu Boe Thian Siang menghadapi kebinasaan, ia tidak bisa menolong sebab ilmu silatnya belum cukup tinggi. Sekarang dalam menghadapi kematiannya sendiri tanpa merasa ia menyebutkan sajak itu. Sesudah berdiam sejenak, ia menambahkan, “Sebenarnya Boe Sin Siang pun terlalu kukuh. Aku hanya ingin bersetia terhadap nusa dan bangsa. Aku tak perduli apa yang akan ditulis dalam kitab sejarah,” ia lirik Jie Thay Giam dan berkata di dalam hati, “aku hanya mengharap agar Thay Kek Koen bisa diwariskan kepada orang-orang yang hidup di zaman belakangan. Tapi… hai! Jika aku mengharap begitu, bukankah akupun memikirkan soal sesudah aku meninggal dunia? Bukankah sikapku jadi bersamaan dengan sikap Boe Sin Siang? Hai, perduli apa bisa diwariskan atau tidak! Perduli apa mati hidupnya mati Boe Tong Pay!”

Tiba-tiba Tio Beng mengibaskan tangan kirinya dan pria tinggi besar itu lantas saja mundur sambil membungkuk. Si nona tersenyum dan berkata, “Thio Cin Jin ternyata seorang kukuh, biarlah untuk sementara kita tidak bicara lagi. Mari! Semua ikut aku!” seraya berkata begitu, ia berbangkit.

Hampir berbareng empat orang yang tadi berdiri di belakang Tio Beng, melompat dan mengurung Thio Sam Hong. Keempat orang itu ialah si pria tinggi besar, seorang yang mengenakan dandanan pakaian pengemis, seorang hwesio kurus dan seorang wanita setengah tua. Dilihat gerak-geriknya mereka semua ahli silat kelas utama.

Boe Kie kaget, “Darimana Tio KouwNio mendapat orang yang begitu lihai?” tanyanya di dalam hati.

Keadaan sudah mendesak! Kalau Thio Sam Hongtidak mengikut, keempat orang itu pasti akan menggunakan kekerasan.

“Jumlah musuh sangat besar dan mereka semua kawanan manusia tidak mengenal malu, tidak dapat dibandingkan dengan enam partai yang mengurung Kong Beng Teng, pikir Boe Kie. “Biarpun aku dapat merobohkan beberapa orang, yang lain pasti dan akan mengerubuti. Sangat sukar untuk aku melindungi Thay Suhu dan Sam Supeh. Tapi keadaan sudah jadi begini, Sudahlah! Jalan satu-satunya ialah mengadu jiwa.

Tapi baru saja ia mau menerjang, di luar pintu mendadak terdengar suara tertawa yang sangat nyaring, disusul dengan berkelabatnya masuknya satu bayangan hijau.

Gerakan orang itu cepat luar biasa, laksana angin, bagaikan kilat. Begitu berkelebat masuk, ia sudah berada di belakang si pria tinggi besar juga cukup lihai. Tanpa memutar badan, ia menangkis dengan sepenuh tenaga. Tapi orang itu sudah keburu menarik pukulan-pukulannya dan dengan berbereng tangan kirinya menepuk pundak wanita setengah tua. Wanita itu berkelit seraya menendang, tapi ia menendang angin, karena orang itu sudah melompat ke samping dan menghantam si pendeta. Dalam sekejab ia sudah mengirim empat pukulan kepada empat jago itu. Biar semua pukulan gagal, kecepatan gerakan itu sungguh menakjubkan. Keempat jago itu mengerti, bahwa mereka sedang menghadapi lawan berat. Dengan serentak mereka melompat mundur untuk melakukan serangan teratur.

Tanpa menghiraukan gerakan musuhnya, orang yang mengenakan pakaian hijau itu sudah menghampiri Thio Sam Hongdan sambil membungkuk, ia berkata “boanpwee Wie It Siauw, orang sebawahan Thio Kauw Coe dari Beng Kauw memberi hormat kepada Thio Cin Jin!” orang itu, memang bukan lain daripada Wie It Siauw yang sesudah berhasil mengelakkan musuh, buru-buru menyusul Boe Kie.

Mendengar perkataan, orang sebawahan Thio Kauw Coe dari Beng Kauw, Thio Sam Hong semula menganggap, bahwa ia adalah kaki tangan Tio Beng dan serangannya terhadap keempat jago itu hanya berpura-pura. Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara tawar “Wie Sian Seng tak usah menggunakan banyak peradatan. Sudah lama kudengar bahwa Ceng Ek Hok Ong memiliki ilmu ringan badan yang sangat luar biasa. Hari ini baru aku tahu, bahwa pujian itu bukan pujian kosong!”

Wie It Siauw girang, “Thio Cin Jin adalah gunung Thay san dari rimba persilatan,” katanya. Pujian Thio Cin Jin sungguh-sungguh membikin terang muka Boanpwee,” sehabis berkata begitu, ia memutar tubuh dan membentak sambil menuding Tio Beng.

“Tio Kouw Nio! Perlu apa kau merusak nama baiknya Beng Kauw? Kalau kau laki-laki sejati, mengapa kau menggunakan tipu yang begitu busuk?”

Si Nona tertawa geli,” aku memang bukan laki-laki,” jawabnya. “kalau aku menggunakan tipu busuk, kau mau apa?”

Ceng Ek Hok Ong tertegun. Ia insyaf bahwa ia sudah salah omong. Sesudah kagetnya hilang, ia berkata dengan sungguh-sungguh. “siapa sebenarnya kamu semua, lebih dahulu menyerang Siauw Lim, kemudian membokong Boe Tong. Kalau kamu hanya bermusuhan dengan Siauw Lim dan Boe Tong, Beng Kauw tak perlu campur. Tapi kamu menyuruh sebagai orang-orang Beng Kauw, aku Wie It Siauw tidak bisa tidak campur tangan!”

Thio Sam Hong memang tidak begitu percaya, bahwa Beng Kauw yang sudah berseteru dengan kerajaan Goan selama hampir seratus tahun bisa gampang menekuk lutut.

Mendengar perkataan dari Wie It Siauw, ia berkata di dalam hati. “Walaupun Mo Kauw mempunyai nama tak baik, tapi dalam soal penting para anggotanya ternyata bisa berpendirian secara tegas sekali.”

Sementara itu, Tio Beng sudah berpaling kepada si pria tinggi besar dan berkata, “Dengarlah, suaranya besar sungguhan! Coba kau jajal-jajal kepandaiannya.”

“Baik,” jawabnya. Sesudah mengencangkan pinggang, ia segera bertindak ke tengah ruangan, “Wie Hok Ong,” katanya, “aku meminta pelajaran dari Han Peng Bian Cang-mu!”

Wie It Siauw terkejut, “bagaimana dia tahu aku memiliki Han Peng Bian Ciang?” tanyanya di dalam hati. “Sesudah tahu aku memiliki ilmu itu, dia masih berani menantang. Dia pasti bukan lawan yang enteng.” Sambil memikir begitu, ia bertanya, “Bolehkah aku mendapat tahu nama tuan?”

“Sesudah datang menyamar orang-orang Beng Kauw, apa mungkin kuperkenalkan namaku yang sejati?” kata orang itu. “Wie Hok Ong, pertanyaanmu sungguh tolol!”

Wie It Siauw tertawa dingin. “Benar, pertanyaanku pertanyaan tolol,” katanya dengan suara mendongkol. “Mengapa juga, setelah rela menjadi anjingnya kaisar Goan dan bersedia menghamba kepada orang asing, terlebih baik tuan tak memperkenalkan nama sendiri. Dengan demikian sedikitnya kau merusak nama leluhurmu.”

Didamprat begitu, si tinggi besar jadi malu juga dan karena malu ia jadi gusar. Sambil membentak keras, ia menghantam dada Wie It Siauw.

Wie Hok Ong melompat ke samping, disusul dengan lompatan kedua di belakang lawannya sambil mengirim satu totokan. Sebab ingin menjajal “isi” orang itu totokan ini bukan totokan Han Peng Bian Cian. Orang itu mengegos lalu balas menyerang. Sesudah bertempur beberapa jurus, Wie It Siauw merasa heran lantaran ia merasai sambaran angin panas dalam pukulan-pukulan lawan. Tiba-tiba ia terkejut karena melihat kedua telapak tangan orang itu merah bagaikan darah. “Apa itu Coe See Cit Cat Siang?” tanyanya di dalam hati.

“Ilmu itu sudah lama hilang dari rimba persilatan, Siapa dia?” Bagaimana dia bisa memiliki ilmu yang luar biasa itu?”

Kini Ceng Ek Hok Ong berkelahi dengan hati-hati. Luka di dalam tubuhnya baru saja sembuh dan sekarang menghadapi musuh yang berat. Ia segera menggosok kedua telapak tangannya dan mulai bersilat dengan ilmu Han Peng Bian ciang.

One Response to “To Liong To – 12”

  1. jual kaos,desain kaos, kaos murah,kaos bola Says:

    jual kaos,desain kaos, kaos murah,kaos bola…

    […]To Liong To – 12 « Cerita Silat[…]…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: