To Liong To – 11

Perlahan-lahan Boe Kie mendekati. Kedua orang itu berkelahi dengan tangan kosong. Sambaran-sambaran angin dahsyat yang keluar dari pukulan-pukulan mereka menandakan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat kelas utama. Mereka bertempur dengan kecepatan kilat dan setiap pukulan istimewa selalu disambut dengan sorak sorai.

Boe Kie mengawasi dengan hati berdebar-debar. Ia mengenali bahwa yang satu, yang bertubuh kecil adalah Boe tong Sie-hiap Thio Siong Kee, sedang lawannya adalah seorang tua yang berbadan tinggi besar, beralis putih dan berhidung bengkok seperti patok burung. “Siapa kakek itu?” tanyanya di dalam hati.

Mendadak dari rombongan Hwa San-pay terdengar teriakan seseorang. “Tua bangka Peh Bie! Lebih baik kau menyerah kalah! Kau bukan tandingan Boe tong Sie-hiap.”

Jantung Boe Kie memukul keras. Kalau begitu orang tua itu kakek luarnya. Peh Bie Eng-ong In Thian Ceng. Ingin sekali menubruk dan memeluk orang tua itu tapi ia tak bisa berbuat begitu.

Semua orang memperhatikan jalannya pertandingan sambil menahan nafas. Di atas kepala Thio Siong Kee dan In Thian Ceng terlihat uap putih, suatu tanda mereka sedang mengeluarkan Lweekang yang paling tinggi dalam suatu pertempuran mati atau hidup. Kedua lawan sama-sama mempunyai nama besar, yang satu Peh Bie Kauwcoe dan Hoe Kauw Hoatong dari Beng-kauw, yang lain murid Thio Sam Hong dan anggota Boe Tong Cit-hiap yang menggetarkan dunia persilatan. Pertempuran ini adalah pertempuran yang akan memutuskan keunggulan antara Boe Tong-pay dan Peh Bie-kauw. Dengan mata berkilat-kilat, In Thian Ceng menyerang bagaikan angina dan hujan sedangkan Thio Siong Kee terus mempertahankan diri sesuai dengan dasar ilmu silat Boe Tong yang menguasai serangan dengan ketenangan. Siong Kee tahu bahwa lawannya yang lebih tua dua puluh tahun lebih mempunyai Lweekang yang lebih dalam. Akan tetapi, sebagai imbangan ia berusia lebih muda mempunyai keuletan yang lebih besar sehingga dalam suatu pertempuran yang lama, ia pasti akan memperoleh kemenangan.

Tapi diluar dugaan, In Thian Ceng adalah seorang yang luar biasa yang jarang terdapat di dalam dunia. Meskipun sudah berusia lanjut, tenaganya tidak kalah dari orang muda. Bagaikan ombak air pasang, gelombang demi gelombang Lweekang menghantam Siong Kee.

Melihat pertempuran yang hebat itu, Boe Kie semula girang karena ketemu dengan kakek dan pamannya, berbalik jadi bingung. In Thian Ceng adalah gwa kong (kakek luar) yang mempunyai hubungan darah dengan dirinya. Thio Siong Kee adalah seorang paman yang mencintainya seperti anak sendiri. Dulu waktu ia kena pukulan Hiang beng Sin ciang, tanpa memperdulikan bahaya, paman itu sudah turut berusaha untuk mengobati dengan menggunakan Lweekang maka itu kalau sampai salah satu pihak ada yang luka atau binasa, ia akan merasa menyesal tiada habisnya. Baru saja ia berpikir untuk mencoba mendamaikan, tiba-tiba kedua lawan itu membentak keras dan melompat mundur dengan serentak.

“In Locianpwee memiliki Sin-kang yang sangat tinggi,” kata Siong Kee. “Aku merasa takluk.”

“Thio heng sendiri mempunyai Lweekang yang sangat kuat dan aku tidak akan dapat menandingi,” kata si kakek. “Thio heng adalah saudara seperguruan dari menantuku. Apakah hari ini kalian bertekad untuk menguji kepandaian?”

Mendengar mendiang ayahnya disebut, mata Boe Kie berubah merah. Ia merasa sangat berduka dan berdoa supaya pertempuran itu tidak dilangsungkan.

“Boanpwee mundur lebih jauh daripada Locianpwee dan sudah kalah setengah jurus,” kata Siong Kee seraya mengangkat kedua tangannya. Sesudah mengatur jalannya pernafasan, sambil membungkuk ia mengundurkan diri.

Tiba tiba dari barisan Boe Tong pay melompat keluar seorang pria yg membentak sambil menuding Ian Thian Ceng. “In Loojiel. Jika kau tak menyebut Thio Ngoko tak menjadi soal. Sesudah disebutkan, sakit sekali hatiku. Jie Samko dan Thio ngoko kedua2nya celaka dalam tangan Peh Bie Kauw. Jika sakit hati ini tak dibalas, Cuma2 saja Boh Seng Kok menjadi anggota dari Boe Tong Cit Hiap.” Seraya berkata begitu, ia menghunus pedang dan memasang kuda2 dalam gerakan Bangak Tiaow Cong (Laksdana gunung memberi hormat), serupa pukulan yg biasa di keluarkan jika seorang murid Boe Tong berhadapan dengan lawan yang tingkatanya lebih tinggi. Boa Cit hiap sedang bergusar, tapi setiap gerak geriknya sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang tokoh terkemuka dalam rimba persilatan.

Si kakek kelihatan berduka. “Semenjak anakku meninggal dunia loohoe sebenarnya tak ingin menggunakan senjata lagi,” katanya dendean suara perlahan. “Akan tetapi kalau aku tetap melayani dengan tangan kosong; aku berlaku kurang hormat terhadap para pendekar Boe Tong.” Ia menengok dan menggapai seorang murid Beng Kauw yang memegang sebatang toya besi.

“Coba kupinjam toyamu,” katanya.

Dengan kedua tangan, murid itu menyerahkan senjatanya kepada In Thian Ceng. Begitu menyambuti, si kakek mengerahkan tenaganya.

“Tak !”, toya besi itu patah menjadi dua potong! Semua orang mengeluarkan seruan tertahan. Mereka tidak menduga, bahwa In Thian Ceng yg sudah begitu tua masih mempunyai tenaga yan sedemikian hebat.

Boh Seng Kok tahu, bahwa lawannya pasti takkan menyerang lebih dulu. Maka itu, tanpa sungkan2 lagi, ia segera membuka serangan dengan pukulan Pekuiauw Tiauw hong (Ratusan burung menghadap kepada burung Hong). Dengan tegetarnya ujung pedang, seolah2 puluhan batang pedang menyambar dengan beberapa pukulan ini masih tetap merupakan kiam hoat kehormatan terhadap seorang yg tertua.

Sambil menangkis dengan toya buntung yang dicekal dalam tangan kirinya. In Thian Ceng berkata “Bocah Cit hiap tak usah berlaku sungkan”. Setelah lewat gebrakan pertama, pertempuran lantas saja berlangsung dengan hebatnya.

Dengan senjata yg lebih berat, gerakan2 In Thian Ceng kelihatan kaku dan perlahan. Akan tetapi orang2 yg berkepandaian tinggi mengetahui, bahwa si kakek melayani lawanya dengan pukulan2 yg disertai Lweekang yg sangat tinggi. Di lain pihak, Boh Seng Kok menyerang bagaikan harimau edan dalam sekejap ia telah mengirim enampuluh lebih serangan yg membinasakan.

Makin lama Boh Seng Kok menyerang makin cepat, sehingga belakangan orang hanya bisa melihat sinar berkelebatnya pedang dan tak bisa mengenali lagi gerakan pukulan2nya. Koen-loen dan Go-bie adalah partai2 yg terkenal dalam ilmu pedangnya. Tapi biarpun begitu, orang2 kedua partai tersebut masih merasa sangat kagum akan lihainya Boh Cit Hiap. Mereka harus mengakui, bahwa tersohornya Boe tong Kiam hoat bukan nama kosong belaka.

Akan tetapi, biapun sudah menyerang bagaikan topan, pedang Boh Seng Kok masih tetap tak bisa menembus garis pertahanan si kakek itu.

“Si tua telah merobohkan sorang tokoh Hwa san pay dan tiga jago Siauw Lim,” pikir Boh Seng Kok. “Dia juga sudah bertempur melawan Sio Ko dan aku adalah lawannya yang kelima. Jika aku tidak memperoleh kemenangan, dimana aku harus menaruh muka Boe Tong pay?” Memkir begitu, seraya membentak keras, ia mengubah Kiam hoatnya. Dengan mendadak, pedang yg kaku menjadi lemas, seperti ikatan pinggang. Itulah Jiauw cie Jioe Kiam dari Boe Tong pay itu yang semuanya memuat tujuh puluh dua jurus (Jiauw cie Jioe Kiam – ilmu pedang lembek memutari jati tangan.

Tanpa tertahan lagi, para penonton bersorak sorak.

Mau tak mau In Thian Ceng terpaksa mengubah cara bersilatnya. Sekarang ia menggunakan ilmu ringan badan dan melawan dengan kecepatan pula.

Sekonyong2 Boh Seng Kok membentak dan pedangnya menyambar dada lawan. Tapi sebelum menyentuh dada, ujung pedang mendadak membengkok dan menyambar pundak kanan si kakek. Dalam menggunakan Jiauw Jie Jioe Kiam, orang harus mempunyai Lweekang yg sangat tinggi untuk mengubah sifatnya pedang dari kaku menjadi lemas. Dapat dimengerti, bahwa serangan pedang yg lemas seperti ikatan pinggang sangat sukar ditangkis. Walaupun berpengalaman, In Thian Ceng belum pernah bertemu dengan kiam hoat yg seaneh itu.

Demikianlah, melihat sambaran pedang dipundaknya, ia mengengos sebab sudah tidak keburu untuk menangkis lagi.

Mendadak terdengar suara “cring!” ujung pedang membal dan menikam lengan kirinya!

Hampir berbareng dengan tikamana yg tepat itu, In Thian Ceng mengulur tangan kanannya entah bagaimana tangan itu mulur setengah kaki dan menyapu pergelangan Boh Seng Kok! Sambaran kilat itu berhasil merampas pedang Boh Cit hiap! Lebih celaka lagi, tangan kanan si kakek sudah menempel di Kian tin hiat, di pundak Boh Seng Kok.

Eng Jiauw Kim na chioe (cengkeraman ceker burung elang) dari Peh bie Eng ong adalah suatu ilmu yang sangan tersohor dalam rimba persilatan. Pada jaman itu, tidak ada manusia yg dapat menandinginya.

Sekali ia mencengkram dengan menggunakan Lweekang, tulang pundak Boh Cit hiap akan hancur seumur hidup dan ia akan menjadi seorang yg bercacad.

Para pendekar Boe tong kaget tak kepalang. Tapi baru saja ia melompat niat untuk memberi pertolongan si kakek menghela napas dan berkata dengan suara duka:

“Satu saja sudah lebih daripada cukup , perlu apa terulang lagi?” Ia melepaskan cengkeramannya dan tangan kanannya menarik pedang yg dirampas. Begitu pedang tercabut, darah mengucur dari lengan kirinya.

Seraya mengawasi pedang itu, ia berkata pula. “Selama puluhan tahun, loohoe belum pernah dikalahkan, Thio Sam Hong. Kau benar2 lihai?”

Boh Seng Kok berdiri terpaku dan mengawasi dengan mulut ternganga. Lewat beberapa saat, barulah ia bisa membuka mulut. “Terima kasih atas budi loocian pwee yang sudah menaruh belas kasihan.”

“Tanpa menjawab In Thian Ceng mengangsurkan pedang yang telah dirampasnya. Tapi Beh Cit hiap merasa malu dan segera mengundurkan diri tanpa menerima senjatanya.

Boe Kie segera merobek tangan bajunya, tapi baru saja ia mau maju untuk membalut luka kakek luarnya, dari barisan Boe teng sudah keluar seorang pria yg jenggotnya, yang berwarna hitam, melambai sampai di dada dan mengenakan pakaian imam. Orang itu bukan lain dari pada Seng Wan Kiauw. Kepala Boe tong Cit hiap. “Permisikanlah aku membalut luka Loocianpwee.” Katanya dengan suara manis. Tanpa menunggu jawaban, ia mengeluarkan obat, melaburnya diluka sikakek dan membalutnya dengan sapu tangan.

Melihat keangkeran dan keagungan Song Wan Kiauw, orang2 He Bie Kauw, maupun Beng Kauw, tidak merasa curiga ”Terima kasih,” kata In thian Ceng.

Boe Kie girang. “Mungkin karena merasa berterima kasih, Song Soepeh sudah membalut luka Gwa kong,” pikirnya. “Biarlah permusuhan bisa habis sampai disini.”

Tapi diluar dugaan, sesudah selesai membalut, Song Wan Kiauw mundur setindak dan berkata seraya mengibas tangannya. “Aku yang rendah ingin minta pengajaran dari Loocianpwee!”

Boe Kie terkesiap. Tanpa merasa, ia berteriak. “Tidak adil! Melawan seorang tua dengan bergiliran adalah perbuatan tak adil!”

Semua orang menengok dan mengawasi pemuda yang berpakaian compang camping itu kecuali orang Goe Bie Pay, Song Ceng Soe In Lie Heng. Swee Poet Tek dan beberapa orang lain, tak ada yang tahu siapa adanya Boe Kie.

“Tak salah perkataan sahabat kecil itu,” kata Song Wan Kiauw. “Hari ini kita menunda permusuhan antara Boe Tong dan pek bie kauw. Sekarang ini adalah saat yg memutuskan dalam pergulatan antara enam partai dan Beng Kauw. Maka itu, kami dari Boe tong pay menantang pihak Beng Kauw.”

Dengan matanya yang sangat tajam, perlahan lahan In Thian Ceng menyapu seluruh lapangan. Yo Siauw Wie It Siauw dan lain2 pemimpin belum bisa bergerak. Jago2 Ngo heng Kie sudah roboh semua kalau tidak binasa, luka berat, puteranya sendiri, In Ya Ong, menggelatak dalam keadaan pingsan. Dalam kalangan beng kauw hanyalah ia seorang yang masih dapat menandingi Song Wan Kiauw. Tapi sesudah melawan lim ajago, ia mulai merasa lelash dan disamping itu, iapun sudah terluka.

Selagi si kakek mengasah otak untuk mencari jalan keluar, seorang tua yang bertubuh kecil dari rombongan Kong tong pay itu tiba2 berteriak. “Tenaga Mo Kauw telah memusnah. Kalau sekarang kamu tidak mau menakluk, mau tunggu sampai kapan lagi?”

“Kong tie Taysoe! Marilah kita hancurkan sin wie (tempat pemujaan) dari tigapuluh tiga Kauwcoe Mo Kauw!”

Dalam gerakan membasmi Beng Kauw, Hong thio (kepala gereja) Siauw Lim sie, yaitu Kong boeq Taysoe, tidak turut serta, karena ia harus tetap menjaga kuil Siauw Lim sie, karena ia harus tetap menjaga kuil Siauw Lim sie di Siong san. Maka itu, murid2 Siauw Lim sie dipimpin oleh Kong tie taysoe. Sebab Siauw lim sie mempunyai kedudukan sangan tinggi dalam Rimba persilatan, maka partai2 yg mengikat dalam gerakan ini dengan suara bulat telah mengangkat Kong tie taysoe sebagai pemimpin.

Sebelum Kong tie menjawab, seorang dari Haw san pay sudah mendahului. “Apa? Menakluk? Hari ini, tak satupun dari kawanan mo kauw yang boleh dibiarkan hidup terus. Kita harus membasmi sampai diakar2nya. Kalau masih ada yang ketinggalan dikemudian hari dunia kang ouw bisa dikacaukan lagi. Hei kawanan Mo kaow! Lebih baik kamu menggorok leher sendiri, supaya tuan besarmu tak usah berabe!”

Diam2 In Thian Ceng menggerakkan lwee kang. Ia merasa lengan kirinya tertusuk pedang sampai di tulang dan pada waktu menggerahkan tenaga dalam, ia merasa sangat sakit. Ia tahu bahwa sebagai murid kepala Thio Sam Hong, Song Wan Kiauw telah mendapat seluruh kepandaian guru besar itu. Dalam keadaan segar, belum tentu ia bisa memperoleh kemenangan. Apalagi sekarang setelah ia lelah dan terluka.

Tapi sebab lain2 jago Beng Kauw sudah binasa atau terluka berat, maka baginya, tidak ada pilihan lagi dari pada hanya mengadau, jiwa. Ia tidak takut mati ia hanya merasa sayang bahwa nama besarnya yang sduah dijaga seumur hidup bakal segera menjadi hancur.

“In Loocianpwee,” kata Song Wan Kiauw, “Antara Boe tong pay dan peh bie kauw terdapat permusuhan yang dalam bagaikan lautan. Tapi kami tidak ingin menggunakan kesempatan pada waktu musuh sedang menghadapi bahaya. Maka itu, persoalan ini dapa tditunda dan diperhitungkan dikemudian hari. Tujuan dari enam partai adalah untuk menyerang Beng Kauw, Peh Bie Kauw sudah memisahkan diri dari Beng Kauw dan kenyataan ini sudah diketahuik oleh semua orang. Perlu apa In Loocianpwee turut menceburkan diri? Kuharap Loocianpwee suka mengajak semua anggota Peh bie kauw dan turun dari gunung ini.”

Semua orang tahu, bahawa karena utusan Jie Thay Giam, Boe tong pay telah bermusuhan hebat dengan Peh bie Kauw. Maka itu, perkataan Song Wan Kauw yg membuka jalanan hidup bagi Peh bie kauw, sudah membangkitkan rasa heran dan kagun dama hatinya semua orang.

In Thian Ceng tertawa terbahak2.

“Song Tayhiap, banyak berterima kasikh untuk maksudmu yg sangat baik,” katanya. “Tapi biar bagaimanapun jg, loohoe adalah salah seorang dari keempat Hoe Kauw Hoat Ong. Meskipun benar loohoe sudah mendirikan agama lain, tapi jika Beng Kauw berada dalam keadaan bahaya, loohoe pasti tidak bisa berpeluk tangan diluar gelanggang. Hari ini loohoe rela mengorbankan jiwa Song tayhiap, kau mulailah!” Seraya berkata begitu, ia maju setindak dan memasung kuda2.

“Baiklah!” kata Song Wan Kiauw. Ia mengangkat telapak tangan kirinya dan menempelkan tinju kanan pada telapak kanan itu.

Itulah Ceng chioe sit, suatu gerakan yg memberi hormat kepada seorang yg tingkatannya lebih tinggi.

Boe tong pay adalah partai yg belum lama didirikan dan dalam mengubah ilmu silat Boe tong, Thio Sam Hong menggunakan cara2 tersendiri, lain dari pada yg lain. Maka itu, gerakan Song Wan Kiauw tak dikenal In Thian Ceng. Tapi melihat lawannya agak membungkuk, ia tahu, bahwa Wan Kiauw memberi hormat, sehingga oleh karenanya, ia berkata, “Song Taihap, jangan berlaku sungkan.”

Sambil berkata begitu, ia mengangkat kedua tangannya kedada untuk membalas hormat.

Menurut kebiasaan, Wan Kiauw harus maju dan menyerang. Tapi berbeda dengan kebiasaan Song Tayhiap, mengirim pukulan tanpa bertindak maju. Pukulan itu dikirim dari jarak setombak lebih.

In Thian Ceng terkejut. Apakah ilmu silat Boe tong sudah begitu lihai, sehingga memiliki Sin kang Khek san Pah goe? Tanyanya dalam hati. Buru2 ia mengerahkan tenaga dalam dan mengibaskan tangan kanannya untuk menangkis. (Khek san Pah goe – dengan terliang gunung pemukul kerbau, semacam ilmu yg dapat merobohkan lawan dari jarak jauh dengan “angin” pukulan yg disertai lweekang tertinggi).

Tapi sekali lagi, ia kaget karena sampokannyat idak terbentur dengan tenaga lawan. Dalam kagenya ia pun merasa heran.

“Sudah lama aku mengagumi ilmu loocianpwe dan guruku pun sering menyebutkan kepandaian loocianpwee yang sangat tinggi,” kata Song Wan Kiauw. “Tapi sekarang loocianpwee sudah bertanding dengan beberapa orang, sedang boanpwee masih segar, sehingga kalau kita mengadu kepandaian menurut cara yg biasa, pertanidngan itu sangat tak adil. Sekarang begini saja, kita hanya mengadu jurus tak mengadu trenaga.” Seraya berkata begitu, dari jarak setombak lebih ia menendang. Tendangan itu cepat bagaikan kilat yg dikirim dari arah yang tak diduga-duga, suka dielakan dan dalam pertempuran biasa, pasti akan dapat merobohkan seorang ahli silat yg ternama.

“Sungguh indah tendangan itu!” memuji In Thian Ceng seraya meninju. Dengan tinju itu yaitu siasat membela diri dengan menyerang (the best defense is by offense ?!?!?) si kakek berhasil memunahkan tendangan Wan Kiauw, yg lantas saja membalas pukulan telapak tangan.

Demikianlah, dari jarak jauh, mereka mulai serang menyerang.

Makin lama, silat mereka makin cepat. Walau pun mereka bertempur dari jarak jauh, tetapi semua pukulan tidak disertai tenaga dalam dan tidak menyentuh badan, tapi mereka adalah ahli2 silat kelas utama, maka masing2 tahu kalah menangnya. Andaikata pukulan yg satu tidak dapat dipunahkan pihak yg lain, maka pihak yang kalah takkan bisa tidak mengakui akan kekalahannya. Bukan saja dia, tapi lain2 ahli silat yg berkepandaian tingipun bisa mengikut jalannya pertempuran luar biasa itu.

Mereka bertanding hebat sekali tidak kalah hebatnya seperti dalam pertandingan sungguhan. Sesuai dengan azas ilmu silat Boe Tong, Wan Kiauw menggunakan ilmu “lembek” untuk menindih “kekerasan” lawan, sedang Thian Ceng mengutamakan “kekerasan” untuk menghancurkan “kelembekan” orang.

Waktu In Thian Ceng melawan Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok, Boe Kie tidak dapat memperhatikan dari semua jurus2 mereka, karena dalam kebingungan dan berkuatir akan keselamatan mereka. Tapi sekarang, karena mengetahui bahwa pertandingan itu hanya memutuskan kalah dan menang dan tidak membahayakan jiwa, maka dengan lega hati ia bisa memusatkan seantero perhatiannya kepada jalan pertempuran.

Makin lama ia menonton, makin besar rasa tak mengertinya. “Gwa-kong dan Song Toa soepeh adalah ahli2 utama dalam Rimba persilatan, tapi mengapa ilmu silat mereka begitu banyak cacadnya?”, tanyanya didalam hati. “Bila lengan Gwa-kong kekiri setengah kaki, tinjunya yg tadi pasti akan mampir tepat didada Toa soepeh. Bila sambarang tangan Toasoepeh terlambat sedetik, cengkeramannya kearah pundak Gwa Kong tentu berhasil. Apakah mereka sengaja saling mengalah? Ditinjau dair jalannya pertempuran, kelihatannya bukan begitu.”

Memang. Dalam pertandingan jarak jauh itu, baik In Thian Ceng maupun Song Wao Kiauw tak saling mengalah. Adalah tidak benar jika dikatakan, bahwa kepandaian kedua jago itu banyak cacadnya. Sebab musabab dari masuknya jalan pikiran tadi kedalam otak Boe Kie yalah karena, sesudah memiliki Kio yang dna Kian koe Tay lo ie Sin kang, dalam ilmu silat, pemuda itu sudah lebih unggul setingkat daripada In Thian Ceng – Son Wan Kiauw. Pukulan2 yg dapat dibayangkan dan dapat pula dilakukan oleh Boe Kie, tidak akn dapat dilakukan oleh In Thian Ceng – Song Wan Kiauw, maupun oleh jago2 lain. Sebagai contoh, jika seekor burung yg terbang diangkasa melihat caranya berkelahinya dua harimau, dia bisa bertanya didalam hatinya. “Mengapa harimau itu tak mau terbang menubruk musuhnya?”

“Apabila si harimau akan berbuat begitu, bukankah dia akan mendapat kemenangan?” si burung tak tahu, bahwa harimau tidak mampu terbang.

Karena belum cukup berpengalaman, sebab musabab itu belum dapa dipikir Boe Kie.

Sesudah bertanding lagi beberpa alama tiba2 Song Wan Kiauw mengubah cara bersilatnya. Kedua tangannya seperti menari nari dan gerak geraknnya lemas bagaikan kapas. Itulah Bian Ciang (ilmu pukulan kapas) dari Boe Tong pay. In Thiang Ceng membenak keras dan memperhebat serangan2nya dalam ilmu silat keras untuk melawan pukulan2 “lemek” dari lawannya.

Lewat beberapa saat, sekonyong2 telapak tangan kiri Song Wan Kiauw menyambar, disusul dnegna pukulan telapak tangan kana yg biarpun dikirim belakangan tiba terlebih dahulu. Hampir berbareng, telapan tangan kirinya miring dan menyusul pula dari belakang. Melihat seluruh tubunya sudah ditutup dengan pukulan lawan, seraya berteriak In Thian Ceng mengeluarkan kedua tinjunya. Semua orang terkejut. Dua telapak tangan dan dua tinju menempel satu sama lain di tengah udara!

Sesudah mengeluarkan seantero kepandaian dan sesudah menbapai gebrakan yg memutuskan, kedua jago itu tidak bisa berbuat lain drpd mengadu tenaga lawan.

Tiba2 Song Wan Kiauw bersenyum dan menarik pulang kedua tangannya. “Ilmu silat Locianpwee tinggi luar biasa dan boanpwee merasa takluk,” katanya seraya membungkuk. In Thian Ceng pun segera menarik pulang tinjunya dan berkata dengan suara manis. “Sekarang loohoe mengakui, bahwa semenjak dahulu Ciang Hoat (Ilmu pukulan dengan tangan kosong) dari Boe tong pay tiada tandingannya di dalam dunia.”

Karena sudah berjanji untuk tidak bertanding dengan menggunakan tenaga dalam, maka pertandingan itu tidak dapat dilangsungkan lagi.

Dipihak Boe tong pay masih ada Jie Lian Cioe dan In Lie Heng yg belum turun ke dalam gelanggang. Ketika itu muka In Thian Ceng berwarna merah dan diatas kepalanya keluar uap dari hawa panas. Biarpun dalam pertandingan td ia tdiak menggunakan tenaga dalam, tapi karena lawannya terlalu kuat dan ia bersilat dengan menggunakan seantero kepandaian, maka sekarang tenaganya sudah habis sama sekali. Maka itu, jika turun kedalam gelanggang, Jie Lian Cioe atau In Lie Heng dengan mudah bisa merobohkannya dan mendapat nama besar sebagai jago yg telah menjatuhkan Peh bie Eng ong. Kedua pendekar Boe tongitu mengawasi dan kemudian menggeleng2kan kepalanya. Mereka sungkan menggunakan kesempatan selagi lawan habis tenaganya. Mereka yakin, bahwa mereka akan menang, tapi kemenangan itu, bukan kemenangan yg boleh dibanggakan.

Tapi kalau tokoh2 Boe tong memikir begitu, orang lain tidak demikian. Dari barisan Khong tong pay mendadak melompat keluar seorang tua yg bertubuh kate kecil. Ia adalah orang yg menyarankan untuk membakar tempat pemujaan para kauwcoe Beng-kauw.

Begitu berhadapan dengan In Thian Ceng ia berkata, “Aku si orang she tong ingin bermain main sedikit dnegan In Loojie.” Tantangan itu ia keluarkan dengan suara yg sangat memandang rendah.

Peh Bie Eng ong melirik dan mengeluarkan suara dihidung. “Dalam waktu biasa, Khong Teng Ngo loe tidak masuk dalam perhitungan,” pikirnya. “Celaka sungguh! Benar jg kata orang harimau yg kesasar ditanah datar akan dihinakan oleh kawanan anjing. Jika roboh dalam tangan Boe tong Cit hiap, aku rela. Terhadap Tong Boen Liang, tak nanti aku mengalah.” Waktu ia merasa sekujur badannya lemas dan keinginan satu2nya merebahkan diri di pembaringan. Tapi mendengar tantangan Boen Liang darahnya meluap dan alisnya yg putih beridir. Sambil mengepos sisa tenaganya yg penghabisan, ia membentak, “Bocah! Kau mulailah!”

Tetua Khong Ting itu mengerti, bahwa sesungguhnya keabisan tenaga, dalam beberapa jurus saja In Thian Ceng akan roboh sendiri. Maka itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia segera melompat kebelakang musuhnya dan mengirim tinju kepunggung Peh bie Eng ong. In Thian Ceng mengengos dan menangkis, tp Tong Boen Liang sudah melompat kesamping dengan gerakan yg sangat gesit. Benar saja, baru beberapa gebrakan mata In Thian Ceng gelap dan memuntahkan darah dari mulutnya. Badannya tergoyang goyang tanpa tercegah lagi, ia jatuh duduk.

Tong Boen Liang girang, “In Thian Ceng! Hari ini kau mampus dalam tanganku!” teriaknya seraya melompat keatas.

Melihat Tong Boen Liang melompat tinggi dan dari atas menghantam kebawah, Boe Kie terkesiap dan mengambil keputusan untuk menolong kakeknya. Tapi sebelum ia bergerak, In Thian Liang sudha mengangkat tangan kanannya dalam suatu gerakan menyeramkan unutk menyambut musuhnya. Tong Boen Liang sudah tak dapat mengelakan sambutan itu.

“Krek!….krek!” kedua tangan jago Khong tong itu patah karena pukulan Eng Jiauw Kim na ohioe. Sekali lagi terdengar “krek-krek” dan tulang kedua betisnya pun turut patah. Ia jatuh ambruk tanpa bisa bergerak lagi.

Semua orang mengawasi dengan mata membelak. Mereka tak pernah menduga, bahwa sesudah terluka berat, In Thian Ceng masih bisa berbuat begitu.

Dengan robohnya tetua mereka yg ketiga, orang2 Khong tong tentu saja merasa malu. Karena Khong Tong Boen Liang menggeletak didekat Peh bie Eng ong, tiada seorang pun yg berani maju menolong. Sesudah berselang beberapa saat dari barisan Khong tong barulah keluar seorang tua bongkok yg bertubuh tinggi besar. Sambil menendang sebutir batu kearah In Thian Ceng ia membentak, “Peh Bie Lonh Jie! Biarlah aku si orang she Cong membereskan perhitungan lama denganmu.

Orang itu she Cong bernama Wie Hiap tetua kedua dari Khong tong Ngoloo. Dengan menyebutkan “perhitungan lama” dapatlah diketahui bahwa dahulu ia sudah pernah dirobohkan oleh In Thian Ceng.

“Tak!” batu yg di tendang Cong Wie Hiap mampir tepat didagu In Thian Ceng yg lantas saja mengucur darah. Semua orang terkejut, terhitung Cong Wie Hiap sendiri, yg sama sekali tidak menduga, bahwa batu itu bisa melukakan musuhnya. Sekarang ia tahu, bahwa In Thian Ceng tidak berdaya lagi, dan satu pukulan saja sudah cukup untuk membinasakannya. Ia maju seraya mengangkat tangannya.

Tiba2 dari barisan Boe tong pay melompat keluar seorang yg menghadang dihadapannya. Orang itu yg berparas angker dan mengenakan jubah panjang yg terbuat dari kain kasar, bukan lain daripada Boe tong Jie hiap Jie Lian Cioe. Sambil menjura Jie hiap berkata, “Cong Heng In Kauwcoe terluka berat, sehingga biarpun kau menang, kemenangan itu bukan kemenangan gemilang. Dengan partai kami, In Kauw Coe ia mempunyai perhitungan2 yg belum dibereskan. Maka itu, siauwtee harap Cong heng suka menyerahkannya kepada siauwtee.”

Cong Wie Hiap mengeluarkan suara di hidung. “Terluka berat?” ia menegas. “Huh-huh! Dia berlagak mampus. Kalau tadi dia tidak berpura pura, Tong Sam Tee tentu tidak sampai celaka. Jie Jie Hiap, kau mengatakan partaimu memiliki perhitungan dengan dia. Akupun mempunyai perhitungan dengan dia. Aku akan menyerahkan dia kepadamu, sesudah menghajarnya tiga kali…”

Jie Lian Cioe yg ingin menolong In Thiang Ceng, lantas saja berkata. “Cit siang koen dari Cong Heng tersohor dalam Rimba Persilatan. Dalam keadaan begini, mana bisa In Kauw Coe menerima tiga pukulanmu?”

Paras muka jago Khong tong itu lantas saja berubah. “Kalau begitu, begini saja, katanya dengan suara mendongkol.” Dia telah mematahkan kaki tangan Tong Sam Tee. “Aku akan mematahkan jg kaki tangannya. Ini yang dinamakan pembayaran tunai.”

Jie Lian Cioe kelihatan bersangsi.

“Jie Jie hiap!” bentuk Cong Wie Hiap. “Sebelum berangkat ke See heek, enam partai telah membuat perserikatan dengan sumpah yg berat. Mengapa kau sekarang ingin melindungi situa bangka dari Mo Kauw itu?”

Jie hiap menghela napas. “Baiklah, sekarang kau boleh berbuat sesukamu,” katanya. “Sesudah kembali di Tionggoan, aku akan minta pengajaran dari Cit Siang Koen mu.”

Cong Wie Hiap kaget. Ia tak mengerti mengapa Jie Lian Cioe coba menolong In Thian Ceng. Ia merasa jeri terhadap Boe tong pay, tapi dihadapan banyak orang, ia tak mau memperlihatkan kelemahannya. Seraya tertawa dingin, dia berkata. “Didalam dunia, orang tidak boleh melampui kepantasan. Biarpun Boe tong pay lebih kuat daripada sekarang, ia tidak boleh berbuat sewenang wenang.”

Perkataan itu sangat kejam, secara langsung menyeret nama partai dan secara tidak langsung menyentuh sama Thio Sam Hong sendiri. Song Wan Kiauw mendongkol. “Jie tee!” seruanya. “Biarkan dia berbuat sesukanya!”

“Baiklah,” jawab si adik. “Sungguh seorang gagah sejati! Sungguh seorang gagah sejati!”

Perkataan itu seperti juga mau memuji In Thian Ceng dan mengejek Cong Wie Hiap. Tetapi karena tidak mau bermusuhan dengan Boe Tong Pay, tetua Khong tong itu berlagak tidak mengerti. Begitu lekas Jie Lian Cioe mundur, ia segera maju mendekati korbannya.

Sementara itu, Kong tie Taysoe mengeluarkan perintah dengan suara yang sangan lantang. “Aku minta Hwa san pay dan Khong tong pay membinasakan sisa kawanan Mo kauw yg berada dilapangan ini. Boe tong pay menggeledah disebelah barat dan Go Bie Pay menggeledah disebelah disebelah timur. Seorangpun tidak boleh terlolos. Koen Loen Pay menyediakan bahan2 api untuk membakar serang Mo-Kauw.”

Sesudah membagi tugas kepada lima partai, ia merangkap kedua tangannya, seraya berkata, “Aku minta murid2 Siauw Lim Sie menyediakan alat2 sembahyang dan membaca kitab suci, supaya para enghiong dari enam partai dan para pengikut Mo Kauw yang sudah meninggal dunia, bisa mendapat temapt yang lapang dialam baqa dan supaya hutang piutang ini bisa berakhir sampai disini.

Selagi Kong tie mengeluarkan perintah, Cong Wie Hiap menghentikan tindakannya dan turut mendengari. Sesaat kemudian, ia maju lagi. Semua orang menahan napas. Begitu lekas pukulan dikirim, In Thian Ceng akan binasa dan usaha membasmi Mo Kauw turut selesai.

Pada detik menghadapi kemusnahan, kecuali yang terluka berat dan tidak bisa bergerak lagi, semua anggauta Beng kauw segera bersila dilantai dengan kedua tangan yg sepuluh jarinya terpentang itu merupakan simbol dari api yg berkobar2. Sambil memeramkan mata, mereka mengikuti yo Siauw mendia menurut cara Beng Kauw

“Membakar ragaku,
Api nan suci,
Hidup, apa senangnya,
Mati, apa susahnya?
Untuk kebaikan menyingkirkan kejahatan,
Guna kegemilangan Beng Kauw,
Kesenangan dan kedukaan,
Semua berpulang kedalam tanah,
Kasihan manusia dalam dunia,
Banyak yang menderita!
Kasihan manusia dalam dunia,
Banyak yang menderita!”

Dalam mengucapkan doa itu, dari Yo Siauw yg berkedudukan paling tinggi sampai pada pegawai dapur yg berkedudukan paling rendah sedikitpun tidak mengujuk rasa takut, suara mereka lantang dan sikap merekapun angker.

Jie Lian Cioe mendengari dengan hati berduka. Ia merasa bahwa mereka yg bisa bersikap tabah dalam menghadapi kebinasaan dan bahkan masih bisa berkasihan terhadap manusia yg hidup menderita, adalah orang2 gagah yang mulia.

“Pendiri Beng Kauw seorang mulia, hanya sayang pengikut2 nya yang belakangan menyeleweng dari jalan yang benar!” katanya didalam hati.

Sementara Boe Kie yg semula merasa keder sebab menghadapi begitu banyak orang, sekarang menjadi nekad. Ia nekad karena Cong Wie Hiap sudah mendekati kakeknya dan Kong tie sudah mengeluarkan perintah untuk membunuh sisa anggota Beng Kauw. Dengan sekali melompat ia sudah menghadang di depang Cong Wie Hiap. “Tahan!” bentaknya. “Kau ingin membunuh seorang yg sudah terluka berat apa kau tidak takut ditertawai?” Ia membentak dengan bernafsu, sehinga suara menggeledek dan menggetarkan seluruh lapangan. Semua orang yang sudah bergerak untuk menjalankan perintah Kong Tie, serentak menghentikan serangannya dan mengawasi pemuda itu.

Melihat, bahwa yang mencegatnya tak lebih daripada seorang pemuda yg berpakaian compang camping, Cong Wie Hiap bersenyum tawar dan segera mendorong Boe Kie, yg lantas mengengos seraya menyampok dengan tangannya.

“Plak!”

Cong Wie Hiap terhuyung tiga tindak. Secepat kilat ia mengerahkan tenaga kedua kakinya supya bisa berdiri tetap. Tapi diluar dugaan, gelombang tenaga Boe Kie terus mendorongnya sehingga tubuhnya terjengkang. Sebagai seorang ahli silat, dalam bahaya, buru2 ia menotol tanah dnegan kaki kanannya dan badannya lantas saja melesak kebelakang setombak lebih. Tapi, waktu kedua kakinya hinggak ditanah, gelombang tenaga itu masih belum mereda, sehingga ia kembali terhuyung tujuh delapan tindak!

Itulah kejadian yg betul2 diluar dugaan. Semua orang tidak mengerti sebab musababnya. Mereka mengira Cong Wie Hiap sengaja main gila atau berguyon. Cong Wie Hiap sendiri tak pernah mimpi, pemuda itu bertenaga sedemikian besar.

Sesudah mengumpukan semangatnya, Cong Wie Hiap mengawasi Jie Lian Cioe dengan mata melotot. “Lelaki harus berterang!” teriaknya. “Tak boleh menyerang orang denga panah gelap!” Ia menaksir, bahwa tadi Jie Lian Cioe memberi bantuan secara menggelap atau mungkin sekali bantuan itu diberikan oleh kelima pendeta Boe tong dengan serentak. Sebab tak bisa jadi seorang manusia mempunyai tenaga yang begitu besar.

Jie Lian Cioe bingung, tapi karena tak merasa bersalah, ia tak mempedulikan dan hanya balas melotot, “Gila betul!” katanya dalam hati.

Sementara Cong Wie Hiap sudah maju mendekati Boe Kie dan membentak seraya menuding, “Bocah siapa kau!”

“Aku Can A Goe,” jawabnya seraya mengangsurkan tangan dan menempelkannya di leng tay hiat di punggung In Thian Ceng. Gelombang tenaga yang berhawa panas lantas saja menerobos masuk kedalam tubuh si kakek. Jago tua itu membuka kedua matanya yg mengawasi Boe Kie yg membalas dengan senyuman sambil menambah tenaganya. In Thian Ceng heran tak kepalang. Tenaga itu sangat menakjubkan. Sebelum Cong Wie Hiap tiba dihadapkannya, dada dan tantiannya yang menyesak sudah lega kembali. Terima kasih sahabat kecil bisiknya.

Dengan gagah ia melompat bangun dan berkata dengan suara lantang. “Orang she Cong! Apa jempolnya Cit Siang Koen dari Khong tong pay? Mati! Aku bersedia untuk menerima tiga serangmu.”

Ceng Wie Hiap bangun. Ia tak nyana lawannya bisa segera berangkat dengan semangat penuh. Bagaimana bisa jadi begitu? Hatinya lantas saja merasa jeri, terutama terhadap Eng Jiauw Kim Na Chioe yg sangat lihai “Memang Cit siang koen tak dapat dikatakan jempol!:” katanya. “Baik.” Kau terimalah tiga tinjuku. I dalam hati ia mengambil keputusan untuk mengadu Lweekang, supaya pertandingan yg lama, tenaganya yg masih segar akan dapat mengalahkan lawan yg sudah payah.

Mendenger disebutkannya Cit “siangkoen”, didepan mata Boe Kie segera tebayang kejadian pada malam itu di pulau Peng hweeto, dimana ayah angkatnya telah menceritakan peristiwa kebinasaan Kong Kian Tayeoe akibat pukulan Cit Siangkoen. Belakangan ia sendiri disuruh menghafal teori Cit Siangkoen dan pernah digaplok beberapa kali oleh ayah angkat itu sebab tidak bisa menghafal lancar. Ia ingat pula teori ilmu pukulan tersebut dan… ia sekarang mengerti artinya teori itu. Ia heran tak kepalang. Mengapa ia jadi begitu cerdas!

Ia tak tahu, bahwa sebab musababnya terletak pada kenyataan, bahwa ia sudah mahir dalam Kioe yang dan Kim koen Tay lo ie Sing kang Kioe yang meliputi segala rupa lweekang yg terdapat diseluruh Rimba Persilatan, sedang Kiam koen tay lo ie yalah ilmu untuk mengerahkan tenaga dalam dan menggunakannya. Dengan demikian, sesudah dapat memahami kedua Sing kang yg tertinggi itu, lain2 ilmu silat sudah tak jadi soal baginya.

“Jangankan tiga, tiga puluh tinjupun akan kuterima,” kata In Thian Ceng. Ia berpaling pda Kong tie dan berkata dengan suara lantang, “Kong Tie Taysoe, sebelum mati, aku belum menyerah kalah! Apakah kau mau berbuat sewenang wenag dengan mengunakan jumlah yang besar.

Ternyata pada waktu tiba di Kong Beng Teng melihat Yo Siauw dan beberapa tokoh lain sudah terluka, dengan menggunakan kata2 tajam In Thian Ceng berhasil mencegah pengeroyokan kepada pihaknya. Sesuai dengan kebiasaan dalam Rimba Persilatan, Kung tie Taysoe telah menyetujui untuk mengadu kekuatan dengan satu melawan satu. Tapi pada akhirnya jago2 Peh Bie Kauw dan Ngo heng Kie roboh semua, kalau tidak mati terluka hebat, dan yg ketinggalan hanyalah si kakek sendiri. Tapi sebegitu lama In Thian Ceng masih belum menyerah, Kong tie memang tidak boleh memerintahkan pembasmian.

Boe Kie tahu, bahwa biarpun keadaannya sudah banyak mendingan, kakeknya tidak boleh menggunakan terlalu banyak tenaga. Kegagahan orang tua itu terhadap Cong Wie hiap telah didorong oleh tekad untuk berkelahi sampai binasa. Maka itu, ia segera berbisik, “In locianpwee, biarlah aku yg maju lebih dahulu. Jika aku kalah, barulah locianpwee maju.”

Si kakek yakin, bahwa lweekang pemuda itu, tinggi luar biasa dan dalam keadaan segar, ia tidak akan bisa menandinginya. Akan tetapi merasa bahwa ia berkewajiban untuk membela Beng kau dengan jiwanya, sedang pemuda itu yang mungkin tak punya sangkut paut dengan Beng Kauw tidak pantas untuk berkorban. Ia tahu bahwa biarpun lihai Boe Kie tak akan bisa melayani lawan yg berjumlah begitu besar. Mana bisa ia membiarkan seorang pemuda yg begitu mulia membuang jiwa secara cuma2 diatas Keng beng Teng? Memikir begitu, ia lantas saja bertanya, “Sahabat kecil, bolehkah ku tahu partai atau rumah perguruanmu? Kau kelihatannya bukan anggota agama kami. Benarkah begitu?”

“Boanpwee memang bukan anggota Beng Kauw,” jawabnya. “Tapi sudah lama boanpwee mengagumi loocianpwee dan hai ini kita berdua akan melawan musuh bersama sama.”

In Thian Ceng heran tak kepalang, tapi sebelum ia keburu menanya lagi, Cong Wie Hiap sudah maju sambil berteriak, “Orang she In, sambutlah tinju pertama!”

“Tahan!” bentak Boe Kie, “In Loocianpwee mengatakan, bahwa kedudukanmu belum cukup tinggi untuk bertanding dengannya. Kalau kau bisa menangkan aku, barulah ia akan melayani kau.”

“Siapa kau!” bentak Cong Wie Hiap dengan gusar. “Bocah, kau sungguh tak menggenal mampus! Apa kau mau berkenalan dengan kelihaian Cit Siang Koe dari Khong tong pay?”

Tiba2 serupa pikiran berkelebat dalam otaknya Boe Kie. “Untuk mendamaikan kedua belah pihak, jalan satu2 nya ialah membuka rahasia kebusukan Goan Tin,” pikirnya. “Kalau menggunakan kekerasan, mana dapat aku melawan jago2 dari enam parti. Apapula para pamanku juga berada disini. Mana bisa aku berhadapan dengan mereka sebagai musuh?”

Sesudah memikir sejenak, ia segera berkata dengan suara nyaring. “Kelihaian Cit Siang koang dari Khong tong pay sudah diketahui olehku lama sekali. Bukankah pendeta suci Siauw Lim Pay, Kong Kian Tay soe, juga binasa karena pukulan itu?”

Pernyataan itu menggemparkan barisan Siauw Lim Pay. Sepanjang pengetahuan mereka, Kong Kian Tay soe binasa dalam tangan Cia Soen. Turut sertanya Siauw Lim Pay dalam gerakan membasmi Beng Kauw juga bertujuan untuk membalas sakit hati ini. Tapi dalam pemeriksaan jenazah Kong Kian yg bebas dari tanda2 luka, urat2nya terputus dan tulang2nya patah, seperti dipukul Cit siang koen dari Khong tong pay.

Waktu itu, selama beberapa hari Kong Beon, Kong Tie dan Kong Seng mengadakan perdamaian rahasia. Mereka menganggap bahwa Khong tong pay tidak mempunyai jago yang berkepandaian begitu tinggi, sehingga dapat membinasakan Kong kian yang sudah berhasil dalam latihan Kim Kong Poet hoay tei Sin Kang. Maka itu biarpun tanda2 sangat mencurigakan mereka merasa bahwa pendeta suci itu bukan dibinasakan oleh orang Khong tong pay. Belakangan dengan membawa murid2nya Kong Seng membuat penyelidikan. Dari penyelidikan itu, mereka mendapat kepastian, bahwa waktu Kong kian meninggla dunia di Lok Yang, Khong tong Ngo Loo berada di dearah barat daya, sehingga pembunuh itu sudah tentu bukan dilakukan oleh kelima tetua tersebut. Sebab dalam Khong tong pay, hanya Ngo Loo yang sekiranya bisa melukakan Kong Kian, maka kecurigaan Siam Lim pay lantas saja hilang.

Disamping itu, pada tembok rumah pengindapan di Lok Yang jg terdapat tulisan yg berbunyi “membinasakan Kong Kian Taysoe dan bawah tembok ini.” Belakangan Siauw lim pay tahu, bahwa orang yg menggunakan nama Seng Koen adalah Cia Soen.

Sesudah lewat banyak tahun, tiba2 Boe Kie menyebutkan lagi kejadian itu, sehingga dapatlah dimengerti jika orang2 Siauw Lim Pay menjadi kaget.

“Kong kian Taysoe telah dibunuh oleh bangsat Cia Soen dan kenyataan ini diketahui diseluruh kalangan kang ouw,” kata Cong Wie Hiap dengan gusar. “Dengan Khong tong pay, kejadian itu tiada sangkut pautnya.”

“Apakah kau menyaksikan dengan mata sendiri pada waktu Cia Cianpwee membinasakan Kong kian Seng ceng?” tanya Boe Kie. “Apakah kau berada ditempat itu?”

Mendengar pertanyaan itu, Cong Wie lantas saja menduga, bahwa Boe Kie disuruh Boe Tong pay untuk merenggangkan perhubungan antar Khong tong dan Siauw lim pay. Karena itu, ia lantas saja berhati2.

“Waktu Kong tian Seng Ceng meninggal dunia, Lok yang Khong thong Ngo Loo berada di Inlam, sebagai tamu Lioe Tayhiap dari Tiam Cong pay,” jawabnya dengan sungguh2. “Cara bagaimana bisa berada di tempat pembunuhan?”

“Maka itu,” teriak Boe Kie, “Kalau benar waktu itu kau berada di In lam, cara bagaimana kau bisa mengatakan dengan pasti, bahwa Kong kian Seng Ceng dibunuh Cia Cianpwee? Adalah sebuat kenyataan yg tidak bisa dibantah lagi, bahwa Kong kian Taysu binasa karena pukulan Cit siang koen. Cia Cianpwee bukan orang Khong tong pay. Mana boleh kau menuduh orang secara serampangan?”

Cong Wie Hiap merasa dadanya seolah olah mau meledak. “Tutup mulut!” bentaknya. “Sesudah membunuh Kong Kian taysoe, diatas tembok binatang Cia Soen menulis huruf2 seperti berikut. ‘Seng Koen membinasakan Kong kian Taysoe’ dibawah tembok ini huruf2 itu ditulis dengan darah. Sesudah diketahui umum, bahwa dengan menggunakan nama gurunya, Cia Soen sudah melakukan pembunuhan diberbagai tempat.”

Boe Kie terkejut karena ia tak tahu bahwa sesudah membunuh Kong kian, ayah angkatnya menulis kata2 itu ditembok. Tapi ia lantas saja mendongak dan tertawa terbahak bahak, “perkataan itu bisa ditulis oleh siapapun jua,” katanya.

“Siapa yg lihat bahwa huruf2 itu ditulis oleh Cia Cianpwee? Akupun bisa mengatakan bahwa huruf2 itu ditulis oleh orang Khong tong pay. Tapi belajar Cit siang koan tidak semudah menulis.” Ia menengok ke arah Kong tie and berkata pula,” Kong tie taysoe bukankah soohengmu binasa karena pukulan Cit siang koen? Apakah tidak benar jika aku mengatakan, bahwa Cit Siang koen serupa ilmu yang tidak pernah diturunkan oleh orang partai Kong tong pay?”

Sebelum Kong tie menjawab seorang pendeta yg bertubuh besar tinggi dan mengenakan jubah warna merah tiba2 melompat keluar dari barisan Siauw Lim Pay. Seraya mengetrok sianthungnya (tongkat pertapaan) yg bersinar keemas2an dibumi, ia membentak, “Bocah suruhan siapa kau? Apakah manusia serendah kau mau coba mengadu lidah dengan guruku?”

Boe Kie mengawasi dan segera mengenali, bahwa pendeta itu adalah salah seorang dari delapan belas loo han yg bernama Goan Im. Dahulu, pada waktu Siauw Lim pay turut datang di Boe Tong untuk mendesak orang tuanya, pendeta itulah yg sudah memberi kesaksian, bahwa beberapa murid Siauw lim sie telah dibinasakan oleh mendiang ayahnya. Waktu itu, dalam kedukaan yg sangat besar, ia memperhatikan muka setiap orang dan menyimpan didlm otaknya. Sekarang begitu melihat Goan Im darahnya bergolak golak, paras mukanya merah padam dan badannya gemetaran. Sekuat tenaga ia menindih kegusarannya yg sudah mendekat kekalapan. “Boe Kie! Boe Kie!” serunya didalam hati. “Tugasmu di hari ini adalah mendamaikan permusuhan diantara enam partai dan Beng Kauw. Kau tak boleh merusak segala apa karena kepentingan pribadi. Sakit hati terhadap Siauw Lim pay dapat dibereskan dihari kemudian.”

Karena pertanyaannya tidak segera dijawab, Goan Im membentak pula. “Bocah! Jika kau kaki tangan Mo Kauw, panjangkan lehermu untuk menerima kebinasaan! Tapi kalau kau tiada sangkut pautnya dengan agama siluman itu, menyingkirlah dari gunung ini secepat mungkin. Sebagai orang pertapaan, kami takkan mencelakai kau.” Ia berkata begitu sebab melihat Boe Kie tak mengenakan seragam Beng Kauw dan jg krena pemuda itu bergemetaran badannya yg di tafsirkan olehnya sebagai rasa ketakutan.

“Bukankah kau Goan Im Taysoe?” tanya Boe Kie. “Dalam partaimu terdapat seorang yg dikenal sebagai Goan Tin Taysoe. Cobalah minta keluar. Aku ingin ajukan beberapa pertanyaan.”

“Goan tin Soeheng tidak turut datang kesini” jawabnya. “Jika kau ingin bicara lekaslah. Kami tak punya banyak waktu untuk mendengari segala obrolanmu. Siapakah gurumu?” Ia menanya begitu karena turut menyaksikan terhuyungnya Cong Wie Hiap karena sampokan Boe Kie. Ia tahu, bahwa guru pemuda itu bukan sembarangan orang. Kalau bukan memikir begitu, ia tentu tak sudi rewel2 pada saat berhasilnya usaha keenam partai.

“Aku bukan mengikut Beng kauw dan jg bukan murid dari sesuatu partai di daerah Tionggoan,” kata Boe Kie. “Akan tetapi, aku mempunyai sangkut paut dengan Beng Kauw, Boe Tong, Siauw Lim, Go Bie, Koen Loen dan Hwa san pay. Untuk bicara terus terang, gerakan enam partai untuk membalas Beng Kauw adalah karena perbuatan seorang jahat. Didalam itu terselip suatu salah mengerti yang sangat hebat. Biarpun masih berusia muda, aku tahu seluk beluk persoalannya. Maka itu, dengan memberanikan hati aku minta kedua belah pihak menghentikan pertempuran, menyelidiki soal ini sampai kedasar2nya, supaya siapa yang salah, siapa yg benar menjadi terang dan kemudian membereskan permusuhan ini seadil2nya.”

Pernyataan Boe Kie itu disambut dengan gelak tertahan, ejekan dan jengekan. “Ha,ha,ha… He, he,he,he…. Hi,hi,hi…..” mereka tertawa terbahak2, dan ejekan2 berkumandang diseluruh lapangan.

“Bocah itu tentunya sudah gila!”

“Otaknya miring! Dia rupanya mengganggap dirinya seperti Thio Cinjin dari Boe Tong pay atau Kong Beon Seng ceng dari Siauw Lim Pay!”

“Dia mimpi memperoleh To Ling To dan menjadi yg termulia dalam Rimba Persilatan!”

“Ha ha ha! Dia anggap kita seperti anak kecil. Aduh! Aku tertawa sampai perutku sakit.”

“Ho ho ho…. Hi hi hi….!”

Dalam Go Bie Pay hanya seorang, yaitu Cioe Cie Jiak, yg tidak membuka mulut. Dengan rasa duka, ia mengerutkan alis. Semenjak bertemu dengan Boe Kie digurun pasir, ia merasa rapat hati dengan pemuda itu. Mendengar ejek2an, ia turut merasa malu. Tapi waktu ia melirik, pemuda itu berdiri tegak sambil mengangkat kepala. Sikapnya angker dan tenang.

Tiba2 Boe Kie berkata dengan suara nyaring. “Asal saja Goan Tin Taysoe dari Siauw Lim pay mau munculkan diri dan bicara beberapa patah kata denganku segala tipu jahatnya, segera akan bisa diketahui oleh kalian.” Ia berkata sepatah demi sepatah dan meskipun suara tertawa dan ejekan masih belum mereda, setiap perkatannya dpt didengar jelas sekali oleh setiap orang yang dilapangan yg luas itu. Semua orang terkejut dan suara ramai lantas saja mereda. Mereka tak nyana bahwa pemuda itu mempunyai Lweekang yang begitu tinggi.

“Bocah, kau sungguh licin!” bentak Goan Im. “Kau tahu, bahwa Goan tin Soeheng tidak berada disini dan kau sengaja menyeretnya. Mengapa kau tidak mengambil Thio Coei San dari Boetong untuk dijadiakan kesakitan?”

Ejekan menusuk itu disambut dengan segalak tertawa oleh orang banyak, sedang murid2 Boe tong serentak saja berubah paras mukanya.

“Goan Im, hati2 bila bicara!” bentak Kong tie.

Mengapa Goan Im mengejek Thio Coei San? Karena ia merasa sakit hati terhadap Thio Ngo hiap. Ia menganggap Thio Ngo hiap yg sudah membutakan mata kanannya dengan senjata rahasia dipinggir telaga, padahal perbuatan itu dilakukan oleh In So So.

Mendengar cacian terhadap mendiang ayahnya, tak kepalang gusarnya Boe Kie.

“Apa kau dapat menodai nama baiknya Thio Ngo Hiap?” bentaknya. “Kau… kau…”

Goan Im tertawa dingin. “Thio Coei San cari penyakit sendiri dan dibikin mabuk oleh perempuan siluman,” katanya. “Dia mendapat pembalasan setimpal karena paras cantik…”

Itulah melampai batas!

Sekuat tenaga Boe Kie menindih amarahnya. Berulang kali ia berkata didalam hati.

“Boe Kie! Boe Kie! Ingatlah tugasmu yg suci!” Tapi ia gagal (matanya berkunang kunang dan ia kalap)

Dengan sekali melompat, tangan kirinya sudah mencengkram pinggang si pendeta yg lalu diangkat keatas, sedang tangan kanannya merampas sian thung! Menghadapi Boe Kie, Goan Im seolah olah anak itik menghadapi elang – sedikitpun ia tak bisa melawan.

Hampir berbareng, dua pendeta melompat dari barisan Siauw Lim Pay dan menyabet Boe Kie dari kiri kanan dengan sin thung mereka. Itulah cara terbaik untuk menolong orang, serupa siasat yg dikenal sebagai, “Menyerang Goei untuk menolong Toi”. Dengan siasat itu, musuh yang diserang harus menolong diri dan sebab musuh harus menolong diri, maka kawan yg menghadapi bencana dengan sendirinya dapat ditolong. Kedua pendeta itu adalah Goan tin dan Goan hiap.

Tapi Boe Kie lihai luar biasa. Begitu merasai kesiuran angin, dengan tangan kiri ia menenteng Goan Im dan tangan kanan mencekal sin thung, ia melompat tinggi dan menotol sin thung Goan tin dan Goan hiap dengan kedua ujung kakinya. Sungguh dahsyat totolan itu! Goan Tin dan Goan Hiap serentak jatuh terjengkal! Untung juga tongkatnya tak menghantam kepala sendiri.

Semua org mengeluarkan teriakan tertahan!

Dilain saat, bagaikan daun kering yg melayang, Boe Kie hinggap di muka bumi.

“Tee in ciong dari Boe tong pay!” seru beberapa orang (Tee in cion – Lompatan Tenaga Awan)

Memang benar lompatan Boe Kie adalah Tee In Ciong yg tersohor dalam Rimba Persilatan. Diwaktu kecil Boe Kie mengikuti ayah, Thay soehoe dan para pamannya.

Sehingga biarpun belum pernah belajar ilmu silat Boe tong secara resmi, ia sudah banyak mendengar dan melihat. Sesudah memiliki Kian koen tay lo ie sin kang, dengan mudah ia mengolah segala rupa ilmu silat. Tadi, secara mendadak ia ingat lompatan Tee in ciong dan waktu menjajalnya, ia berhasil secara wajar.

Pendekar2 Boe Tong, spt Jie Liao Cioe, Boh Seng Kok dan yang lain2, tentu saja mahir dalam ilmu ringan badan itu. Mereka bisa melayang2 ditengah udara, bagaikan burung. Tapi melakukan lompatan Tee in ciong sambil menenteng seorang dewasa yg bertubuh besar berat, adalah diluar kemampuan mereka.

Sementara itu, sambil menahan napas orang2 Siauw Lim Pay mengawasi Goan Im yg berada dalam tangan Boe Kie. Dengan sekali mengemplang, pemuda itu bisa menghancurkan kepala si pendeta. Mereka tidak akan keburu menolong sebab Goan Im berada dalam jarak tujuh delapan tombak. Jalan satu2nya yalah menimpuk dengan senjata rahasia. Tetapi jalan itupun tak mungkin digunakan, sebab Boe Kie bisa menggunakan tubuh Goan Im sebagai tameng, sehingga senjata rahasia akan berbalik mencelakai pendeta itu sendiri. Demikianlah, meskipun didalam barisan Siauw Lim terdapat Kong tie dan Kong Seng yg berkepandaian tinggi, mereka tidak berdaya.

Dengan mata menyala dan menggertak gigi Boe Kie menggangkat Sian Thung. Hati semua murid Siauw Lim mencelos, beberapa diantaranya meramkan mata krena tak tega menyaksikan kebinasaan Goan Im.

Diluar dugaan, tongkat yg sudah terangkat berhenti ditengah udara. Untuk beberapa saat, Boe Kie mengawasi korbannya dengan paras muka yg sukar dilukiskan. Perlahan lahan kegusarannya mereda dan perlahan lahan pula ia melepaskan Goan Im dari cekalannya.

Ternyata, pada detik yg sangat genting tiba2 pemuda itu dapat menguasai dirinya. “Begitu lekas aku bunuh salah seorang dari rombongan enam partai itu, aku bermusuhan dengan mereka semua dan aku tak dapa memainkan peranan sebagai pendamai lagi.” Pikirnya. “Jika aku gagal, permusuhan hebat ini tidak akan bisa dibereskan lagi.”

“Dengan demikian, aku justru terjerumus ke dalam jebakan yang dipasang oleh binatang Seng Koen. Sudahlah! Aku harus menelan semua hinaan. Hanya dengan begitu barulah aku bisa membalas sakit hati kedua orang tuaku dan Gie-hoe.”

Sesudah melepaskan Goan im, ia berkata dengan suara perlahan, “Matamu bukan dibutakan oleh Thio Ngo Hiap. Janganlah mendendam begitu hebat. Apalagi sesudah Thio Ngo Hiap bunuh diri, semua sakit hati sebenarnya sudah harus habis. Taysoe adalah seorang pertapa yang tentu tahu, bahwa dunia ini penuh dengan kekosongan. Perlu apa Taysoe begitu sakit hati?”

Sesudah lolos dari lubang jarum, Goan im berdiri terpaku dan mengawasi Boe Kie dengan mata membelalak tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Melihat pemuda itu mengangsurkan sian-thungnya seperti orang linglung ia menyambut dan sesaat kemudian ia mengundurkan diri dengan menundukkan kepala.

Melihat hebatnya Boe Kie, Cong Wie Hiap kaget bercampur heran. Tapi sebab ia sudah turun ke dalam gelanggang tak dapat ia memperlihatkan kelemahannya. “Orang she Can!” teriaknya. “Siapa sebenarnya yang sudah menyuruh kau berbuat begini?”

“Aku bukan suruhan orang,” jawabnya. “Aku bertindak demi keadilan dengan harapan agar enam partai dan Beng Kauw bisa berdamai.”

Cong Wie Hiap mengeluarkan suara di hidung, “Tak mungkin aku berdamai dengan Beng Kauw,” katanya dengan kaku. “Bangsat tua she In itu hutang tiga pukulan Cit siang koen. Sesudah aku menghajar dia, kita boleh bicara lagi.” Seraya berkata begitu ia menggulung tangan bajunya.

“Cong Cianpwee tak henti-hentinya menyebut Cit siang koen,” kata Boe Kie. “Tapi menurut penglihatan boanpwee, latihan Cianpwee dalam ilmu itu masih jauh dari cukup. Dalam tubuh manusia terdapat Ngo heng. Jantung berarti “Api”, paru-paru berarti “Emas”, ginjal berarti “Air”, nyali berarti “Tanah” dan hati berarti “Kayuz”. Disamping itu terdapat dua macam Khie (hawa), yaitu Im dan Yang (negative dan positif) sehingga semuanya berjumlah tujuh unsur. Begitu seseorang terburu-buru melatih diri dalam ilmu Cit siang koen maka ketujuh unsur itu akan terluka semua. Makin tinggi latihannya makin hebat luka di dalam badannya. Sebelum ilmu itu dapat melukai musuh, ilmu tersebut lebih dulu melukai diri sendiri. Untung juga latihan Cianpwee masih belum tinggi sehingga luka Cianpwee masih dapat diobati.” (Cit siang koen berarti ilmu pukulan tujuh luka)

Cong Wie Hiap terkejut. Keterangan pemuda itu sesuai dengan apa yang tertulis di dalam kitab Cit siang koen! Di dalam kitab itu diperingatkan keras bahwa seseorang yang mau melatih Cit siang koen harus mempunyai Lweekang yang sangat tinggi harus mencapai di mana Khie (hawa) yang dikerahkan bisa menerobos masuk ke dalam semua jalan darah yang terdapat di dalam tubuh manusia. Siapa yang belum mencapai tingkat setinggi itu dilarang mempelajarinya. Tapi Cong Wie Hiap tak menggubris. Begitu ia merasa tenaga dalamnya sudah cukup kuat, ia segera melakukan latihan Cit siang koen. Latihan itu benar saja banyak menambah tenaganya, karena belum merasakan bahaya, ia lupa daratan. Sekarang mendadak ia mendengar perkataan Boe Kie dan lantas saja ia jadi kaget. “Mengapa kau tahu?” tanyanya tanpa sadar.

Sebaliknya dari menjawab pertanyaan itu, Boe Kie berkata, “Cong Cianpwee, bukankah kau sering merasa sakit pada In boen hiat di pundakmu? In boen hiat berhubungan dengan paru-paru. Itu berarti paru-paru Cianpwee sudah terluka. Bukankah Ceng leng hiat Cianpwee di lengan terasa gatal-gatal? Ceng leng hiat berhubungan langsung dengan jantung dan itu berarti bahwa jantung Cianpwee telah terluka. Setiap hawa lembab dan turun hujan, betis Cianpwee di bagian Ngo lie hiat terasa lemas. Bukankah begitu? Ngo lie hiat berhubungan dengan hati dan aku berani mengatakan bahwa hati Cianpwee juga ikut terluka. Makin lama Cianpwee berlatih, tanda-tanda itu akan makin terasa. Kalau Cianpwee berlatih terus enam tujuh tahun lagi, maka sekujur tubuh Cianpwee akan menjadi lumpuh.”

Cong Wie Hiap mendengar keterangan itu dengan keringat dingin turun menetes dari dahinya.

Boe Kie mengerti seluk beluk Cit siang koen sebab ia pernah mendapat teorinya dari Cia Soen. Belakangan, sesudah mahir dalam ilmu ketabiban, ia mengerti juga bahaya-bahaya dari ilmu pukulan itu, hingga demikian ia dapat menyebutkan tanda-tandanya secara tepat sekali.

Dilain pihak, selama beberapa tahun Cong Wie Hiap pun sudah merasa bahwa ada sesuatu yang kurang beres dalam tubuhnya. Tapi lantaran penyakit itu enteng rasanya dan juga seperti lumrahnya manusia kebanyakan, ia takut menghadapi tabib maka sejauh ini ia belum pernah berusaha mengobati ketidak beresan itu. Sekarang ia takut setengah mati dan parasnya berubah pucat. Ia mengawasi Boe Kie dengan mata terbuka lebar dan beberapa saat barulah ia bisa membuka mulut, “Kau bagaimana…kau tahu?”

Pemuda itu tertawa tawar. “Boanpwee mengenal ilmu ketabiban,” sahutnya. “Jika Cianpwee percaya, sesudah urusan ini beres, boanpwee bersedia mengobati. Tapi bagi Cianpwee Cit siang koen banyak bahayanya dan tiada gunanya. Sebaiknya Cianpwee tidak berlatih ilmu itu lagi.”

Si tua coba ngotot terus. “Cit siang koen adalah ilmu terhebat dari Khong tong-pay sehingga bagaimana bisa kau katakana bahwa ilmu itu banyak bahaya dan tiada gunanya?” tanyanya. “Dahulu Ciang boen Soe cow kami, yaitu Bok Leng Coe telah mengguncang seluruh Rimba Persilatan. Nama harumnya dikenal di empat penjuru dan ia berusia sampai sembilan puluh satu tahun. Inilah bukti bahwa Cit siang koen tidak mencelakai orang yang mempelajarinya. Bocah! Kau jangan bicara sembarangan!”

“Kalau begitu, bisalah dipastikan bahwa Lweekang Bok Leng Coe cianpwee sudah mencapai taraf yang cukup,” kata Boe Kie. “Seseorang yang tenaga dalamnya cukup tentu saja boleh berlatih ilmu tersebut. Ia bukan saja tidak akan mendapat bahaya malah akan memperoleh keuntungan besar karena Cit siang koen dapat memperkuat isi perut manusia. Kalau Cianpwee tidak percaya omonganku, terserahlah. Tapi boanpwee tetap berpendapat bahwa Lweekang Cianpwee belum cukup tinggi untuk berlatih Cit siang koen.”

Cong Wie Hiap adalah salah seorang tetua Khong tong-pay dan jago ternama dalam Rimba Persilatan. Tapi sekarang, di hadapan tokoh-tokoh berbagai partai, ia didesak oleh seorang pemuda yang tidak dikenal. Bukan saja terdesak, tapi ilmu terhebat partainya dikatakan sebagai ilmu tak berguna. Dapatlah dimengerti kalau darahnya langsung mendidih.

“Bocah!” bentaknya dengan mata melotot. “Kalau kau bilang Cit siang koen tidak berguna, cobalah jajal!”

Boe Kie kembali tertawatawar. “Cit siang koen memang ilmu yang hebat,” katanya. “Aku tidak mengatakan bahwa ilmu itu tak berguna. Maksudku hanya bahwa jika Lweekang seseorang belum cukup tinggi, biarpun dia berlatih lama, latihan itu tiada gunanya.”

Dengan berdiri di belakang para soecinya, Cioe Cie Jiak mengawasi pemuda itu. Di dalam hati ia merasa geli. Paras muka Boe Kie masih agak kekanak-kanakan tapi dengan sikap seperti orang tua yang berpengalaman, ia memberi nasehat pada salah seorang tetua dari Khong tong-pay dan hal itu seolah-olah gurauan.

Murid-murid Khong tong-pay yang berusia muda merasa gusar dan ingin sekali menghajar Boe Kie. Tapi karena melihat Cong Wie Hiap mendengarkan setiap perkataan pemuda itu dengan penuh perhatian, mereka tidak berani bertindak sembrono.

“Apakah kau berpendapat bahwa Lweekangku belum cukup?” tanya Cong Wie Hiap.

“Cukup atau tak cukup, aku tak tahu,” jawabnya. “Tapi menurut penglihatanku, waktu berlatih Cit siang koen, Cianpwee telah terluka sehingga sebaiknay latihan itu tidak diteruskan….”

“Jiako tak usah meladeni semua omong kosong!” tiba-tiba terdengar suara bentakan seseorang di belakangnya. “Dia menghina Cit siang koen kita, biarlah dia rasakan pukulanku.” Hampir berbarengan, satu pukulan yang hebat menyambar Leng tay hiat di punggung Boe Kie. Leng tay hiat adalah salah satu “hiat” penting yang membinasakan. Jangankan Cit siang koen, pukulan yang biasa sekalipun bisa membinasakan jika kena tepat di bagian itu.

Dalam tekadnya untuk menaklukan keenam partai dengan Kioe yang Sin kang, biarpun tahu sedang dibokong orang, Boe Kie tidak memutar badan dan membalas, ia berkata pula kepada Cong Wie Hiap, “Cong Cianpwee….”

Mendadak terdengar kerincingan rantain disusul dengan bentakan, “Tua bangka! Jangan bokong orang!” Itulah bentakan Siauw Ciauw yang segera meninju kepala si pembokong. Orang itu menangkis dengan tangan kirinya sedang tinju kanannya sudah mampir tepat di Leng tay hiat Boe Kie. Semua orang terkesiap tapi pemuda itu sendiri tidak bergeming. Ia mengambil sikap acuh tak acuh bahkan tidak mengerahkan tenaga dalam untuk menolak tenaga pukulan itu. “Siauw Ciauw,” katanya seraya tertawa. “Kau tak usah khawatir. Pukulan Cit siang koen itu sedikitpun tiada gunanya.”

Muka si nona yang putih lantas saja bersemu merah. Dengan jengah ia berkata, “Aku lupa…aku lupa kau sudah belajar….” Ia tidak meneruskan perkataannya dan buru-buru meloncat mundur sambil menyeret rantai.

Boe Kie memutar tubuh dan melihat si pembokong adalah seorang kakek yang batok kepalanya besar dan tubuhnya kurus. Dia adalah tetua keempat dari Khong tong-pay namanya Siang Keng Cie. Mukanya sudah berubah pucat dan ia berkata dengan suara tergugu. “Kau…memiliki Kim kong Poet-hoay tee Sin-kang…Apa kau murid Siauw lim sie?”

Sambil tersenyum pemuda itu menjawab, “Aku bukan murid Siauw lim sie tapi benar aku pernah belajar ilmu di kuil Siauw lim sie.”

“Buk!” Selagi ia bicara, tinju Siang Keng Cie mampir tepat di dadanya. Sepanjang pengetahuan tetua Khong tong itu, Kim kong Poet hoay tee hanya dapat dipertahankan sambil menahan nafas.

Boe Kie tertawa dan berkata, “Kalau seseorang sudah melatih diri dalam Kim kong Poet hoay tee sampai pada puncak kesempurnaan, ia tak akan bisa diserang walaupun ia sedang bicara. Tanpa menggunakan Lweekang, tubuhnya tidak bisa kena segala pukulan. Jika kau tidak percaya kau boleh memukul lagi.”

Bagaikan kilat Siang Keng Cie mengirimkan empat tinju geledek. Pemuda itu menerima dengan paras muka berseri-seri.

Siang Keng Cie dijuluki It-koen Toan gak (satu tinju mematahkan gunung). Meskipun julukan itu terlalu mencolok tapi orang-orang yang berusia agak lanjut mengetahui bahwa tetua Khong tong itu memang mempunyai pukulan dahsyat. Bahwa Boe Kie bisa menerima keempat pukulan itu sambil tersenyum-senyum telah mengejutkan semua orang.

Sesudah lama Koen loen dan Khong tong-pay tak begitu akur dan meskipun sekarang mereka bersatu untuk membasmi Beng-kauw, tapi di dalam hati, banyak anggota kedua partai itu masih mengambil sikap bermusuhan. Maka itu, dari barisan Koen loen-pay segera saja terdengar beberapa ejekan.

“Lihat, sungguh tinju It-koen Toan gak!”

“Apakah yang telah dipatahkan Sie koen (empat tinju).”

Untung juga Siang Keng Cie berkulit hitam sehingga warna merah pada mukanya tak begitu menyolok.

Dilain pihak, anggota-anggota Siauw lim-pay merasa heran dan banyak pertanyaan muncul dalam hati mereka.

“Pemuda itu mengatakan bahwa dia sudah pernah belajar ilmu Siauw lim sie. Siapa dia?”

“Kim kong Poet hoay tee tak pernah diturunkan kepada orang luar. Disamping itu, Tong kian Taysoe dalam partai kita, tiada orang lain memiliki ilmu tersebut. Pemuda itu masih begitu muda. Mana bisa dia mempunya ilmu yang harus dilatih selama empat puluh tahun.”

“Sungguh mengherankan. Siapa dia?”

“Siapa dia?….”

Dilain saat, Cong Wie Hiap mengangkat tangannya dan berkata dengan suara menyeramkan, “Can heng, aku merasa sangat kagum akan Sin-kangmu. Apa boleh aku menerima pelajaran darimu dalam tiga jurus?” Ia menantang karena tahu bahwa tenaga Cit siang koen yang dimilikinya lebih kuat banyak daripada Siang Keng Cie sehingga mungkin sekali ia akan berhasil merobohkan pemuda itu.

“Jika nanti Cianpwee sudah berhasil, boanpwee pasti akan menolak,” jawabnya. “Tapi sekarang, bolehlah boanpwee menerima pukulan Cianpwee.”

Dengan gusar Cong Wie Hiap mengerahkan Cin-khie sehingga tulang-tulangnya di dalam tubuh berkerotokan. Ia maju selangkah dan menghantam dada Boe Kie sekuat tenaga.

Begitu tinju menyentuh dada, ia terkesiap sebab tersedot dengan semacam tenaga dan tak mampu menarik kembali tangannya. Dilain saat, dari tinjunya masuk semacam hawa hangat yang terus menerobos ke dalam isi perutnya. Waktu menarik kembali tangannya ia merasa semangatnya terbangun dan sekujur badannya nyaman luar biasa. Ia tertegun sejenak dan lalu mengirimkan tinju kedua ke Boe Kie. Kali ini pemuda itu mengerahkan sedikit Lweekang sehingga ia terhuyung beberapa langkah.

Melihat paras muka kawannya yang sebentar pucat dan sebentar merah. Siang Keng Cie yang berdiri di samping Boe Kie menduga bahwa kawan itu terluka berat. Maka itu waktu Cong Wie Hiap mengirimkan tinju ketiga, iapun menghantam dari belakang sehingga dengan bersamaan dua tinju mampir telak di tubuh Boe Kie, satu di dada satu di punggung.

Semua orang melihat bahwa dua pukulan itu disertai dengan Lweekang yang sangat tinggi. Tapi begitu menyentuh tubuh si pemuda, semua tenaga dalam amblas bagaikan batu yang masuk ke dalam lautan.

Siang Keng Cie tahu bahwa dengan kedudukannya yang tinggi, dalam pembokongannya yang pertama saja, ia sudah melakukan perbuatan tak pantas. Tapi bokongan pertama itu bisa dimengerti dan dimaafkan. Orang bisa menganggap ia berbuat begitu sebab terlalu gusar karena partainya dihina orang. Tapi pembokongan yang kedua merupakan perbuatan hina dan yang tak bisa dibela dengan cara apapun juga.

Waktu memukul ia percaya bahwa Boe Kie akan binasa dengan pukulan itu. Kalau pemuda itu dapat dibinasakan maka menurut jalan pemikirannya ia telah berjasa terhadap keenam partai dalam menyingkirkan seorang pengacau. Mungkin orang akan mencela dia tapi dia bisa menebus ketidak layakan itu dengan jasanya.

Betapa kagetnya karena bokongannya tidak berhasil, dapatlah dibayangkan sendiri.

“Bagaimana rasanya badan Cianpwee?” tanya Boe Kie kepada Cong Wie Hiap.

Si tua kelihatan terkejut. Sesaat kemudian ia mengangkat tangannya dan berkata dengan suara jengah. “Terima kasih atas budi Can-heng yang sudah membalas kejahatan dengan kebaikan, sungguh-sungguh aku merasa malu dan berterima kasih tidak habisnya.”

Pengakuan itu mengejutkan semua orang.

Ternyata waktu menerima tiga pukulan, Boe Kie telah mengirim Kioe-yang Cin-khie disalurkan ke dalam tubuh si tua. Meskipun pengiriman “hawa tulen” itu hanya dilakukan dalam waktu sedetik tapi karena Kioe-yang Cin-khie bertenaga dahsyat maka Cong Wie Hiap sudah mendapat keuntungan yang tidak kecil. Jika dalam pukulan ketiga Siang Keng Cie tidak mengadu tinju maka keuntungan yang didapat olehnya akan lebih besar lagi.

“Pujian Cianpwee yang begitu tinggi tak dapat diterima olehku,” kata pemuda itu dengan suara merendah. “Barusan Kie keng Pat meh (pembuluh darah) Cianpwee telah mendapat sedikit bantuan dan sebaiknya Cianpwee mengaso sambil mengerahkan hawa. Dengan demikian racun yang berkumpul dalam tubuh sebagai akibat latihan Cit siang koen akan dapat disingkirkan dalam waktu dua atau tiga tahun.”

Cong Wie Hiap yang tahu penyakitnya sendiri buru-buru menyoja dan berkata, “Terima kasih, banyak-banyak terima kasih.”

Boe Kie berjongkok dan menyambung tulang Tong Boen Liang. Seraya menengok ke Siang Keng Cie, ia berkata, “Berikanlah koyo Hwee-yang Giok-liong kepadaku.”

Siang Keng Cie segera menyerahkan apa yang dipintanya.

“Cobalah Cianpwee minta Sam hong Po la wan dari Boe tong-pay dan bubuk Giok Cin-san dari Hwa san-pay,” kata Boe Kie pula.

Permintaan itu lantas dituruti.

“Dengan menggunakan rumput Co o koyo Hwee-yang Giok-liong dari partai Cianpwee, sangat mujarab,” kata pemuda itu.

“Dalam Sam hong Po la wan dari Boe tong-pay terdapat Thiun tiok-hong, Hiong hong dan Tang hong. Ditambah dengan Giok Cin-san maka dalam waktu dua bulan saja kesehatan Tong Cianpwee akan pulih seperti biasa lagi.” Seraya berkata begitu dengan cepat ia membalut tulang-tulang Tong Boen Liang yang sudah disambung dan dalam sekejap pekerjaan itu sudah selesai.

Perbuatan Boe Kie kian lama kian mengherankan. Kepandaiannya dalam menyambung tulang tidak akan dapat ditandingi oleh tabib manapun juga. Disamping itu, iapun tahu obat-obat istimewa yang dipunyai oleh setiap partai.

Dengan rasa malu Siang Keng Cie mendukung Tong Boen Liang dan mundur dari gelanggang. Mendadak Tong Boen Liang berteriak, “Orang she Can! Bahwa kau telah menyambung tulangku, aku merasa sangat berterima kasih dan di kemudian hari nanti, aku pasti akan membalas budimu. Tapi permusuhan antara Khong tong-pay dan Mo-kauw sedalam lautan. Tak bisa kami sudahi karena budimu. Jika kau anggap melupakan budi, kau boleh mematahkan lagi tulang kaki tanganku.”

Mendengar pernyataan itu, hati semua orang timbul perasaan hormat terhadap Tong Boen Liang yang bersifat lebih ksatria daripada Siang Keng Cie.

“Cara bagaimanakah baru Cianpwee bisa merasa puas dan sudi menyudahi permusuhan ini?” tanya Boe Kie.

“Cobalah kau perlihatkan ilmu silatmu,” jawabnya. “Jika Khong tong-pay merasa tak bisa menandingi, barulah kami tak bisa berkata apa-apa lagi.”

“Dalam Khong tong-pay terdapat banyak sekali orang pandai sehingga biar bagaimanapun juga boanpwee takkan bisa menandingi,” sahut Boe Kie sambil tertawa. “Tapi karena telah terlanjur, biarlah boanpwee memperlihatkan kebodohannya.” Seraya berkata begitu, matanya mengawasi seluruh lapangan. Di sebelah timur terdapat pohon siong yang tingginya tiga tombak lebih dan rindang daunnya. Perlahan-lahan ia mendekati pohon itu dan berkata dengan suara nyaring, “Boanpwee pernah belajar Cit siang koen dan kini boanpwee ingin memperlihatkan kebodohan sendiri. Boanpwee mohon para Cianpwee supaya tidak menertawai.” Semua orang merasa heran. “Dari mana bocah itu belajar Cit siang koen?” tanyanya di dalam hati. Sesudah berdiam sejenak, tiba-tiba Boe Kie menghafalkan sesuatu yang menyerupai sajak:

“Hawa Ngo-heng dicampur Im-yang,
Merusak jantung, melukai paru-paru, hati dan usus,
Tenaga hilang, pikiran kalang kabut,
Semangat terbang!”

Tak kepalang kagetnya kelima ketua Khong tong-pay! Mengapa? Karena apa yang dihafal pemuda itu adalah bagian terakhir dari kitab Cit siang koen, suatu rahasia yang belum pernah diturunkan ke orang luar. Dalam kagetnya, mereka tentu saja belum bisa menduga bahwa pelajaran itu telah diturunkan oleh Cia Soen yang telah merampas kitab tersebut kepada Boe Kie.

Sementara itu, setelah mengerahkan tenaga dalam, bagaikan kilat Boe Kie meninju pokok pohon.

“Krreek!….” Sebatas pokok yang ditinju, pohon itu terbang dan … dubrak! Roboh dalam jarak dua tombak lebih! Di atas tanah hanya berdiri pohon yang tingginya kira-kira empat kaki.

“Pukulan…pukulan itu…bukan Cit siang koen,” kata Siang Keng Cie dengan suara tak puas.

Cit siang koen adalah semacam pukulan yang di dalam kekerasannya terdapat kelembekan dan di dalam kelembekannya terdapat kekerasan. Pukulan Boe Kie itu biarpun dahsyat luar biasa hanyalah pukulan yang menggunakan tenaga “keras”

Tapi waktu Siang Keng Cie menghampiri pangkal pohon yang masih berdiri dan memeriksanya, ia terpaku dan mengawasi dengan mulut ternganga. Ia lihat bahwa urat-urat pohon yang terpukul hancur semuanya! Itulah Cit siang koen yang sudah mencapai puncak kesempurnaan!

Ternyata dalam pukulannya itu, Boe Kie telah menggunakan dua macam tenaga. Untuk mencapai maksudnya, mereka harus memperlihatkan hasil dengan segera. Jika ia hanya menggunakan Cit siang koen maka sesudah berselang sepuluh hari atau setengah bulan, barulah pohon itu mati berdiri. Maka itu ia meningju dengan tenaga Cit siang koen yang disertai dengan Yang-kang (tenaga “keras”) sehingga batangnya patah dan terbang.

Kehebatan Boe Kie disambut dengan sorak-sorai gegap-gempita.

“Bagus!” seru Tong Boen Liang. “Itulah Cit siang koen yang tertinggi. Aku merasa takluk! Tapi bolehkah aku bertanya, dari mana Can Siauw hiap belajar ilmu itu?”

Boe Kie tidak menjawab. Ia hanya tersenyum.

Tiba-tiba si tua berteriak, “Di mana adanya Kim mo Say-ong Cia Soen! Beritahukanlah!”

Pemuda itu terkejut. “Celaka!” ia mengeluh di dalam hati. “Dengan memperlihatkan Cit siang koen, aku menyeret Gie-hoe. Jika aku bicara terus terang, peranan damai tidak dapat dipegang lagi olehku.”

Sesudah berpikir sejenak, ia bertanya dengan suara lantang, “Apakah Cianpwee menganggap kitab Cit siang koen dirampas oleh Kim mo Say-ong? Ha-ha! Cianpwee salah, salah besar! Kitab itu dicuri oleh Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen. Malam itu, ketika terjadi pertempuran di kuil Ceng yang koen, gunung Khong tong san bukankah ada dua orang yang kena pukulan Hoen goan kang? Katakanlah, boanpwee benar atau salah.”

Ternyata pada waktu Cia Soen bertempur di Khong tong san dalam usahanya merampas kitab Cit siang koen, Seng Koen yang ingin memperhebat kekacauan dalam Rimba Persilatan, diam-diam memberi bantuan. Ia melukai Tong Boen Liang dan Siang Keng Cie dengan pukulan Hoen goan kang. Waktu itu Cia Soen sendiri masih belum tahu. Belakangan, atas petunjuk Kong kian Taysoe, barulah ia tahu adanya bantuan itu.

Mengingat kejahatan Seng Koen, tanpa ragu lagi Boe Kie sudah menimpakan kesalahan padanya. Apalagi, pada hakekatnya Boe Kie tidak berdusta seluruhnya sebab memang benar Seng Koen sudah membokong kedua tetua Khong tong dengan maksud tidak baik.

Selama dua puluh tahun lebih Tong Boen Liang dan Siang Keng Cie dihinggapi perasaan ragu. Mendengar keterangan Boe Kie, mereka saling melirik tapi tidak mengatakan apapun juga.

“Apakah Can Siauw hiap tahu di mana adanya Seng Koen sekarang?” tanya Cong Wie Hiap.

“Dengan menggunakan semua kepandaiannya Seng Koen mengadu domba enam partai besar dan Beng-kauw,” terang Boe Kie. “Belakangan ia menjadi murid Siauw lin dan sebagai seorang pertapa ia memakai nama Goan-tin. Di kuil Siauw lim sie, dia pernah mengajar ilmu silat kepada boanpwee. Jika dusta, boanpwee rela menerima hukuman seberat-beratnya di akhirat dan biarlah boanpwee tidak bisa lahir lagi di dunia.”

Barisan Siauw lim-pay lantas saja gempar. Goan-tin adalah murid Kong kiang Seng Ceng dan sesuai dengan peraturan yang sangat keras, kecuali di kuil ini, pendeta-pendeta Siauw lim belum pernah keluar dari pintu kuil. Keterangan Boe Kie bahwa Goan-tin adalah Seng Koen sedikit pun tidak dipercaya oleh mereka.

Tiba-tiba terdengar pujian kepada Sang Buddha dan seorang pendeta yang mengenakan jubah pertapa warna abu-abu berjalan keluar dari barisan Siauw lim. Pendeta itu berparas angker dan tangan kirinya mencengkram tasbih, tidak lain daripada Kong seng, salah seorang dari ketiga pendeta suci. “Can Sie-coe, bagaimana kau bernai menuduh murid Siauw lim sie secara sembarangan?” tanyanya. “Kapan kau belajar silat di kuil kami? Di hadapan orang-orang gagah di seluruh Rimba Persilatan, aku tak bisa membiarkan kau menodai nama harumnya Siauw lim.”

Boe Kie membungkuk seraya berkata, “Taysoe, janganlah kau gusar. Jika Taysoe bisa memanggil Goan-tin. Taysoe akan segera tahu duduk persoalannya.”

Paras muka Kong seng lantas saja berubah menyeramkan. “Can Sie-coe, sekali lagi kau menyebut nama soetitku,” katanya dengan suara kaku. “Kau masih begitu muda, mengapa hatimu begitu kejam?”

“Mengapa Taysoe mengatakan hatiku kejam?” tanya Boe Kie. “Aku minta Goan-tin Hweeshio keluar hanya untuk menjelaskan persoalan ini di hadapan para orang gagah.”

“Goan-tin soetit telah berpulang ke alam baka,” kata Kong seng dengan suara perlahan. “Ia mengorbankan jiwa untuk partai kami. Sesudah meninggal dunia, nama baiknya tak dapat….” Begitu mendengar perkataan “Goan tin soetit sekarang sudah berpulang ke alam baka” kepala Boe Kie pusing dan paras mukanya berubah pucat. Perkataan Kong seng yang selanjutnya tak dapat ditangkap lagi olehnya. “Apa…apa benar dia mati?” tanyanya dengan suara terputus-putus. “Tidak…tak mungkin.”

Kong seng menunjuk sesosok tubuh yang tergeletak di sebelah barat dan berkata dengan suara keras, “Kau lihat sendiri.”

Boe Kie mendekati. Mayat itu mukanya melesak dan matanya terbuka lebar ternyata memang mayat Goan-tin atau Hoen-goan Pek lek chioe Seng Koen. Ia membungkuk dan meraba dada mayat yang dingin itu, suatu tanda bahwa Goan-tin sudah mati lama juga.

Boe Kie berduka campur girang. Ia tak menyangka bahwa musuh besar ayah angkatnya binasa di tempat itu. Biarpun bukan ia sendiri yang membinasakannya, sakit hati sudah terbalas. Darahnya bergolak-golak dan sambil mendongak, ia tertawa terbahak-bahak. “Bangsat! Oh, bangsat terkutuk!” teriaknya. “Selama hidup kau melakukan berbagai kejahatan tapi kau mendapat juga bagianmu di hari ini!” Suara tawanya yang dahsyat seolah-olah menggetarkan seluruh lembah. Sesudah berteriak, ia menengok ke arah Kong seng dan bertanya, “Siapa yang membinasakan Goan-tin?”

Kong seng tidka menyahut. Ia melirik pemuda itu dengan mata menyala dan mukanya bersinar dingin bagaikan es.

Yang menjawab Boe Kie adalah In Thian Ceng, “Dia telah bertempur dengan anakku, Ya Ong,” katanya. “Dia mati, anakku terluka.”

Boe Kie membungkuk. Di dalam hati ia berkata, “Sesudah kena pukulan Han-peng Bian-ciang dari Ceng-ek Hok ong, Goan-tin terluka berat. Karena itu paman berhasil membinasakannya. Sungguh menyenangkan bahwa paman sudah berhasil membalas sakit hati ini.” Ia menghampiri In Ya Ong dan memegang nadinya. Hatinya lega sebab ia tahu bahwa luka sang paman tidak berbahaya bagi jiwanya.

Makin lama Kong seng jadi makin gusar. Tiba-tiba ia berteriak, “Bocah! Kemari kau untuk menerima kebinasaan!”

Boe Kie terkejut, ia menengok dan menegaskan, “Apa?”

“Jelas-jelas kau tahu bahwa Goan-tin soetit sudah binasa tapi kau masih juga berusaha untuk menimpakan segala dosa di atas pundaknya,” kata Kong seng. “Kau terlalu jahat, dan aku tidak dapat mengampuni kau. Hari ini aku terpaksa membuka larangan membunuh. Pilihlah, kau mati bunuh diri atau dibinasakan olehku.”

Pemuda itu jadi bingung. “Kebinasaan Goan-tin merupakan ganjaran setimpal bagi dirinya dan kejadian ini sangat menggirangkan,” pikirnya. “Tapi dengan binasanya pendeta itu, aku tak punya saksi lagi dan urusan jadi makin susah dipecahkan. Bagaimana baiknya?”

Selagi ia mengasah otak, Kong seng sudah menerjang. Tangan kanannya menyambar ke leher dengan jari-jari yang dipentang lurus.

“Hati-hati! Itu Liong Jiauw chioe!” seru In Thian Ceng. (Liong Jiauw chioe ilmu pukulan cakar naga)

Dengan sekali berkelit Boe Kie menyelamatkan dirinya, tapi Kong seng adalah salah seorang dari tiga pendeta suci Siauw lim sie dan Liong Jiauw chioe merupakan salah satu pukulan terhebat dari Siauw lim-pay. Baru saja cengkraman pertama gagal, cengkraman kedua yang lebih cepat dan lebih dahsyat sudah menyusul. Boe Kie melompat ke samping. Cengkraman ketiga, keempat, kelima menyambar-nyambar bagaikan hujan dan angin dalam sekejap, pendeta itu seolah-olah seekor naga yang terbang di angkasa sambil mementangkan cakarnya sehingga semua gerakan Boe Kie di bawah kekuasaannya.

Mendadak berbarengan dengan mengapungnya tubuh Boe Kie terdengar suara “brett!” Di lain saat barulah orang tahu bahwa tangan baju pemuda itu robek dan lengan kanannya tercakar sehingga mengucurkan darah. Di antara sorak-sorai orang Siauw lim-pay terdengar teriakan kaget dari seorang wanita, Boe Kie melirik dan melihat Siauw Ciauw tengah mengawasinya dengan paras muka ketakutan. “Thio Kongcoe, hati-hati!” teriak si nona.

“Sungguh baik nona kecil itu,” piker Boe Kie sambil melompat ke belakang karena dengan kecepatan luar biasa Kong seng sudah menubruk lagi.

Begitu cengkraman pertama gagal, cengkraman kedua menyusul dan Boe Kie kembali melompat ke belakang. Selagi yang satu menubruk dan yang satu melompat, mereka tetap berhadapan satu sama lain. Sesudah menubruk delapan sembilan kali, Kong seng masih juga belum berhasil. Jarak antara mereka tetap tidak berubah, yaitu dua kaki lebih. Maka dengan demikian, meskipun Boe Kie masih belum balas menyerang, tinggi rendahnya ilmu ringan badan antara kedua lawan itu sudah bisa dilihat nyata.

Kita tahu bahwa Kong seng menubruk ke depan sedang Boe Kie melompat ke belakang. Tidak dapat disangkal lagi bahwa menubruk ke depan lebih mudah daripada melompat ke belakang. Meskipun begitu Kong seng masih tidak bisa menyentuh badan pemuda itu. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa dalam ilmu meringankan badan, pendeta itu sudah kalah setingkat. Kalau mau, dengan mudah Boe Kie bisa menyingkir jauh-jauh dari Kong seng.

Mengapa Boe Kie tetap mempertahankan jarak dua tiga kaki dari pendeta itu? Karena ia ingin mempelajari rahasia pukulan Liong Jiauw chioe. Ia menyadari bahwa sesudah mengeluarkan tiga puluh enam macam pukulan, si pendeta menyerang pula dengan pukulan ke delapan yaitu Na na sit (Gerakan mencengkram) yang tadi sudah digunakan. Sesudah itu kedua tangan Kogn seng menyambar dari atas ke bawah. Itulah Chio coe sit (Gerakan merebut mutiara), pukulan kedua belas. Melihat itu, Boe Kie segera mengetahui bahwa Liong Jiauw chioe hanya terdiri dari tiga puluh enam pukulan atau gerakan.

Selama hidup, Kong seng jarang sekali bertempur melawan musuh. Waktu mencapai usia setengah tua, walaupun musuh beberapa kali ia pernah bertemu dengan lawan berat, tapi begitu mengeluarkan Liong Jiauw chioe, pihak lawan segera keteteran. Sejauh itu, ia belum pernah bertempur dengan lawan yang bisa bertahan lebih dari dua belas pukulan. Maka itu, pukulan ketiga belas sampai ketiga puluh enam belum pernah digunakan untuk menghadapi musuh. Sungguh tak disangka, sesudah mengeluarkan tiga puluh enam pukulan, ia masih juga belum bisa merobohkan Boe Kie. Mau tak mau ia terpaksa mengulangi pukulan-pukulan yang tadi sudah digunakan. “Ilmu ringan badan bocah ini memang sangat hebat,” pikirnya. “Dengan mengandalkan kegesitannya, ia berhasil menyelamatkan diri dari pukulan-pukulan. Tapi kalau bertempur sungguhan, belum tentu ia bisa melayani dua belas pukulan Liong Jiauw chioe.”

Sementara itu, Boe Kie sudah dapat menyelami kehebatan Liong Jiauw chioe. Memang Jiauw hoat (Ilmu mencengkram) yang terdiri dari tiga puluh enam gerakan itu tidak ada cacatnya. Akan tetapi, sesudah memiliki Kian koen Tay lo ie Sin-kang, dengan mengandalkan Sin-kang tersebut, pemuda itu dapat memecahkan pukulan apapun juga. Sekarang juga ia bisa menghancurkan Liong Jiauw chioe. Tapi ia ragu dan berkata dalam hati, “Tidak sukar bagiku mengambil jiwanya, tapi Siauw lim-pay mempunyai nama besar sedangkan Kong seng Taysoe adalah salah seorang dari ketiga pendeta suci. Apabila dengan gegabah lalu aku merobohkannya di hadapan orang banyak, di mana Siauw lim-pay mau menaruh muka? Tapi bila tidak dirobohkan, dia pasti tak akan mau mundur.” Ia jadi serba salah.

Tiba-tiba Kong seng membentak, “Bocah! Kau kabur bukan Pie Boe!”

Boe Kie menjawab, “Mau Pie Boe….” Dengan menggunakan kesempatan selagi pemuda itu bicara, Kong seng mengirim dua pukulan berantai. Di luar dugaan, seraya melompat Boe Kie terus bicara dengan suara tenang. “…juga boleh. Tapi bagaimana kalau aku menang?” Suaranya bukan saja tenang, tapi juga tak terputus. Kalau seseorang memeramkan kedua matanya, ia tak akan menduga bahwa selama mengucapkan perkataan-perkataan itu, Boe Kie sudah menyelamatkan diri dari tiga serangan Kong seng yang cepat dan dahsyat.

“Ilmu ringan badanmu benar-benar hebat,” puji si pendeta itu. “Tapi kamu jangan harap bisa menandingi aku dalam suatu pertempuran yang sungguh-sungguh.”

“Dalam Pie Boe, tak seorangpun bisa meramalkan siapa bakal menang, siapa bakal kalah,” kata Boe Kie. “Usia boanpwee lebih muda daripada Taysoe. Tapi biarpun kalah ilmu, boanpwee mungkin menang tenaga.”

“Kalau aku kalah, kau boleh bunuh aku!” bentak Kong seng dengan gusar.

“Hal ini tak akan berani boanpwee lakukan,” kata pemuda itu. “Apabila boanpwee kalah, Taysoe boleh berbuat sesuka hati. Tapi jika secara kebetulan boanpwee menang sejurus atau setengah jurus maka boanpwee hanya berharap supaya Siauw lim-pay mundur dari Kong Beng-teng.”

“Urusan Siauw lim-pay harus diputuskan oleh Soehengku,” kata Kong seng. “Aku hanya bicara secara pribadi. Aku tak percaya Liong Jiauw chioe tak bisa membereskan kau.”

Sebuah gagasan lewat di otak Boe Kie dan ia segera mengambil keputusan, “Liong Jiauw chioe dari Siauw lim-pay memang tiada cacatnya,” katanya. “Ilmu itu adalah Kim na Chioe hoat (Ilmu mencengkram) yang tiada duanya dalam dunia. Hanya sayang latihan Taysoe belum sempurna.”

“Baiklah!” kata Kong seng dengan gusar. “Jika kau dapat memecahkan Liong Jiauw chioe-ku, aku akan segera pulang ke Siauw lim sie dan seumur hidup aku tidak akan keluar dari pintu kuil lagi!”

“Itu boleh tidak usah!” kata Boe Kie.

Selagi mereka bertanya jawab, sorak-sorai di seputar lapangan tak henti-hentinya. Semua orang merasa kagum sebab ketika mulut mereka bicara, kaki dan tangan bekerja terus. Waktu mengatakan “ilmu ringan badanmu benar-benar hebat” Kong seng mengirimkan dua serangan beruntun dan selagi mengatakan “tapi kau jangan harap bisa menandingi aku dalam suatu pertempuran yang sungguh-sungguh” ia sudah mengirimkan tiga serangan lain. Di antara sorak-sorai yang riuh rendah, setiap perkataan mereka terdengar nyata sekali.

Mendadak sesudah berkata “itu boleh tidak usah”, tubuh Boe Kie mencelat ke atas, berputar empat kali dan pada setiap putaran badannya mengapung makin tinggi dan kemudian bagaikan daun kering ia melayang-layang ke bawah dan kedua kakinya hinggap di bumi dalam jarak beberapa tombak jauhnya dari tempat semula.

Semua orang mengawasi dengan mata membelalak dan sesaat kemudian, tampik sorak gegap-gempita memecah angkasa. Belum pernah jago-jago itu melihat ilmu ringan badan yang setinggi itu.

Hampir bersamaan dengan hinggapnya Boe Kie, Kong seng sudah berada di hadapannya. “Apa kita sekarang boleh mulai Pie Boe?” tanyanya.

“Baiklah. Taysoe boleh menyerang,” jawab Boe Kie.

“Apakah kau akan menggunakan lagi siasat kabur?” tanya Kong seng pula.

Pemuda itu tersenyum, “Jika boanpwee mundur setengah langkah saja, boanpwee sudah boleh dihitung kalah,” jawabnya.

Walaupun badannya tidak dapat bergerak, Yo Siauw, Leng Kiam, Cioe Tiam, Swee Poet Tek dan yang lain-lain bisa melihat dan mendengar. Perkataan Boe Kie yang terakhir itu mengejutkan mereka. Mereka berpengalaman luas, setiap pukulan Kong seng hebat luar biasa dan untuk menyambut satu pukulan saja sudah bukan urusan gampang. Menurut pendapat mereka, walaupun hebat tapi kalau mau mengharap menang, Boe Kie setidaknya harus bertempur dalam seratus jurus. Selama pertempuran itu, mana bisa ia tidak mundur setengah langkah?

“Boleh tak usah begitu,” kata Kong seng. “Yang menang, biarlah menang secara adil. Yang kalah, biarlah kalah dengan tidak merasa penasaran.” Ia terdiam sejenak dan kemudian membentak, “Sambutlah!” Tangan kirinya mengirimkan pukulan gertakan disusul dengan sambaran tangan kanan yang meluncur ke arah Koat poen hiat di pundak Boe Kie. Itulah pukulan Na in sit. (Gerakan menjambret awan)

Begitu tangan kiri Kong seng bergerak, Boe Kie sudah tahu pukulan apa yang bakal dikeluarkan. Iapun segera membuat serangan gertakan dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menyambar ke Koat poen hiat di pundak Kong seng.

Kedua lawan itu menyerang dengan pukulan yang bersamaan. Tapi dalam persamaan itu ada juga bedanya. Bedanya Boe Kie menyerang belakangan tapi tangannya sampai lebih dahulu. Pada detik jari tangan Kong seng masih terpisah dua dim dari pundak Boe Kie, jari tangan pemuda itu sudah mencengkram Koat poen hiat Kong seng yang segera saja merasa jalan darahnya kesemutan dan tangan kanannya tidak bertenaga lagi, tapi Boe Kie segera menarik kembali tangannya.

Untuk sejenak kemudian Kong seng jadi terpaku. Tiba-tiba kedua tangannya menyambar ke Tay yang hiat kiri dan kanan dengan gerakan Chio coe sit. Kejadian tadi terulang lagi, Boe Kie pun menyerang sepasang Tay yang hiat Kong seng dengan Chio coe sit dan seperti tadi biarpun ia menyerang belakangan, kedua tangannya sampai lebih dulu. Tay yang hiat adalah “hiat” besar yang bila terpukul segera mati. Dengan perlahan Boe Kie mengebut kedua Tay yang hiat lawan dan kemudian dengan sekali berbalik tangan, ia menyentuh Hong hoe hiat di belakang kepala Kong seng dengan gerakan Lo goat sit (Gerakan menjemput rembulan), yaitu pukulan ketujuh belas dari Liong Jiauw chioe.

Begitu Tay yang hiat-nya dikebut, hati Kong seng mencelos dan melihat gerakan Lo goat sit itu ia kaget tak kepalang. “Kau…kau mencuri Liong Jiauw chioe Siauw lim-pay!” teriaknya.

Boe Kie tersenyum, “Semua ilmu silat dalam dunia ini diubah oleh manusia,” katanya. “Belum tentu Liong Jiauw chioe hanya dimiliki oleh Siauw lim-pay.”

Kong seng mengawasi pemuda itu dengan mata membelalak. Ia bingung bukan main. Dalam ilmu Liong Jiauw chioe, kepandaiannya lebih tinggi daripada Kong boen dan Kong tie. Bagaimana caranya pemuda itu bisa memiliki salah satu ilmu terhebat dari Siauw lim-pay? Bukan saja memiliki, ia bahkan lebih unggul daripada dirinya sendiri. Bagaimana bisa begitu? Untuk sejenak ia berdiri terpaku tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata.

Dengan hari berdebar-debar, ratusan orang mengawasi kedua lawan itu. Mereka merasa heran karena baru saja dua gerakan, kedua lawan itu sudah berhenti. Kecuali beberapa tokoh yang berkepandaian sangat tinggi, yang lain tak tahu siapa menang, siapa kalah. Tapi dengan melihat sikap Boe Kie yang tenang-tenang saja dan alis Kong seng yang berkerut, mereka menarik kesimpulan bahwa pendeta itulah yang jatuh di bawah angin.

Selama ratusan tahun, Liong Jiauw chioe sudah menjadi ilmu silat Siauw lim-pay yang tidak terkalahkan. Jika Boe Kie menggunakan ilmu lain, tak gampang ia memperoleh kemenangan.

Mendadak Kong seng membentak keras sambil melompat dan kedua tangannya menyambar bagaikan hujan dan angin. Dengan beruntun bagaikan kilat cepatnya ia menyerang dengan delapan pukulan yaitu Po hong sit, To eng sit, Boe khim sit, Kouw sek sit, Pi kong sit, To hie sit, Po cam sit dan Sioe koat sit. Boe Kie mengempos semangat dan menyambut dengan delapan pukulan yang sama.

Delapan pukulan berantai yang dikirim Kong seng sedemikian cepatnya sehingga seolah-olah merupakan satu pukulan tunggal yang berisi delapan perubahan. Tapi kalau Kong seng cepat, Boe Kie lebih cepat. Apa yang paling menakjubkan adalah biarpun pemuda itu bergerak belakangan, setiap pukulannya tiba lebih dulu sehingga setiap kali memukul Kong seng harus mundur selangkah.

Dalam sekejap, sambil melangkah mundur untuk ketujuh kalinya, Kong seng mengirimkan Po cam sit dan Sioe koat sit, yaitu pukulan ketiga puluh lima dan ketiga puluh enam. Dilihat dari luar, Po cam sit dan Sioe koat sit banyak cacatnya, tapi sebenarnya kedua pukulan itu adalah yang terhebat dalam Liong Jiauw chioe. Dalam cacatnya tersembunyi jebakan yang membinasakan. Pada hakikatnya Liong Jiauw chioe adalah ilmu silat “keras”, akan tetapi dalam kedua pukulan yang terakhir itu, di dalam “kekerasan” tersembunyi Im jioe. (“Kelembekan”)

Sambil membentak keras Boe Kie maju selangkah dan menyambut dengan Po cam sit dan Sioe koat sit juga, tapi mendadak ia mengubah gerakannya menjadi gerakan Na in sit dan tangannya menerobos masuk ke dalam garis pertahanan Kong seng.

Kong seng girang. “Lihat kehebatanku,” katanya dalam hati. Saat itu, lengan kanan Boe Kie sudah masuk ke dalam garis pertahanan Kong seng dan ia tidak bisa segera mundur kembali. Bagaikan kilat, si pendeta mengangkat kedua tangannya dan menghantam lengan pemuda itu.

Kong seng adalah seorang taat yang punya perikemanusiaan. Melihat Boe Kie mahir dalam ilmu Liong Jiauw chioe, ia kuatir pemuda itu mempunyai sangkut paut dengan Siauw lim sie. Di samping itu, dalam gerakan-gerakan yang lalu, beberapa kali jalan darahnya sudah tercengkram tapi Boe Kie sengaja melepaskan. Maka itu, dalam pukulan ini iapun tidak turunkan tangan jahat. Ia hanya ingin mematahkan lengan pemuda itu.

Tapi di luar dugaan, begitu lekas kedua telapak tangannya menyentuh lengan Boe Kie, ia merasakan dorongan semacam tenaga yang halus tapi dahsyat yang dengan mudah dapat menolak tenaga pukulannya. Hampir bersamaan, kelima jari tangan pemuda itu sudah menempel di dadanya di bagian Tan tiong hiat.

Kong seng runtuh semangatnya, ia merasa bahwa latihannya selama berpuluh tahun sedikitpun tiada gunanya. Ia manggut-manggut dan berkata dengan suara perlahan, “Can Sie-coe berkepandaian lebih tinggi daripada Loo-lap.” Seraya berkata begitu, lima jari tangan kirinya mencengkram lima jari tangan kanannya. Tapi sebelum ia keburu mengerahkan Lweekang untuk mematahkan jari tangan sendiri, mendadak pergelangan tangan kirinya kesemutan dan tenaganya habis. Ternyata jalan darahnya telah dikebut Boe Kie.

“Dengan menggunakan Liong Jiauw chioe dari Siauw lim-pay, boanpwee telah mengalahkan Taysoe,” kata Boe Kie dengan suara nyaring. “Kerugian apakah yang diderita oleh Siauw lim-pay? Jika boanpwee tidak menggunakan Liong Jiauw chioe, ilmu dari Siauw lim-pay sendiri, dalam dunia yang lebar ini tidak ada ilmu lain yang akan dapat menjatuhkan Taysoe.”

Tadi karena gusar dan malu, Kong seng ingin mematahkan jari tangannya sendiri supaya seumur hidup ia tidak bisa bersilat lagi. Sekarang, sesudah mendengar perkataan Boe Kie, hatinya jadi lega. Dilain saat ia mengaku bahwa sepak terjang pemuda itu selalu mencoba melindungi nama baik Siauw lim-pay. Memang benar, kalua Boe Kie tidak menggunakan Liong Jiauw chioe maka nama baik Siauw lim sie akan jatuh di dalam tangannya dan ia akan menjadi orang yang berdosa. Mengingat begitu, ia merasa berterima kasih dan terharu. Sejenak kemudian dengan air mata berlinang ia merangkap kedua tangannya dan berkata, “Can Sie-coe mempunyai budi yang sangat tinggi, Loo-lap merasa berterima kasih dan takluk.”

Buru-buru Boe Kie membalas hormat sambil membungkuk. “Janganlah Taysoe memuji begitu tinggi,” katanya. “Boanpwee berharap supaya Taysoe suka mengampuni segala kekurang ajaran boanpwee.”

Kong seng tersenyum. “Waktu digunakan oleh Sie-coe, Liong Jiauw chioe dahsyat luar biasa,” katanya. “Loo-lap belum pernah bermimpi bahwa ilmu silat itu sedemikian hebatnya. Jika di lain hari nanti Sie-coe mempunyai waktu luang, Loo-lap harap Sie-coe suka mampir di kuil kami, Loo-lap ingin menjadi tuan rumah dan meminta pengajaran dari Sie-coe.”

Menurut kebiasaan di dalam Rimba Persilatan, kata-kata “meminta pengajaran” mengandung maksud mengajukan tantangan. Tapi kali ini, perkataan itu jujur. Dengan sejujurnya Kong seng ingin meminta pengajaran dari Boe Kie.

Cepat-cepat Boe Kie menyoja dan berkata dengan suara merendah, “Tidak! Boanpwee tidak berani menerima perkataan Taysoe.”

Dalam Siauw lim-pay, Kong seng mempunyai kedudukan yang sangat tinggi. Biarpun karena tak bisa memimpin, ia tidak memegang tugas penting tapi sebab berwatak mulia dan berkepandaian tinggi, ia dihormati segenap pendeta Siauw lim sie. Sekarang, sesudah pertandingan antara Kong seng dan Boe Kie berakhir, semua anggota Siauw lim-pay merasa bhawa partai mereka tak bisa menantang pemuda itu lagi.

Dalam usaha membasmi Beng-kauw, Kong tie telah diangkat sebagai pemimpin. Maka dapatlah dimengerti jika perkembangan yang tak diduga-duga itu sangat membingungkan hatinya. Urusan membasmi Mo-kauw telah dirintangi dan dikacau oleh seorang pemuda yang tak bernama. Bagaimana jika ditertawai oleh segenap orang gagah dalam Rimba Persilatan?

Ia ragu dan tak dapat mengambil keputusan. Dalam kebingungannya, ia melirik Sin soan-coe (si Malaikat tukang hitung) Sian Ie Thong, Cian boen jin dari Hwa san-pay. Sian Ie Thong dikenal sebagai seorang yang mempunyai banyak tipu daya dan dalam usaha membasmi Beng-kauw ia memegang peranan sebagai Koen-soe (penasehat). Begitu dilirik Kong tie, ia segera bertindak masuk ke tengah lapangan sambil menggoyang-goyangkan kipasnya.

Melihat yang maju seorang sastrawan tampan yang berusia empat puluh tahun lebih, Boe Kie mendapat kesan yang baik. Ia menyoja dan berkata, “Pelajaran apakah yang hendak diberikan oleh Cianpwee?”

Sebelum Sian Ie Thong menjawab, In Thian Ceng sudah mendahului, “Dia bernama Sian Ie Thong, Cian boen jin Hwa san-pay. Ilmu silat tidak tinggi tapi banyak akal bulusnya.”

Mendengar “Sian Ie Thong”, Boe Kie kaget. Nama itu sepertinya tidak asing baginya. Tapi di mana ia pernah mendengar nama itu?

Dalam jarak setombak lebih, Sian Ie Thong menghentikan langkahnya dan sambil menyoja ia berkata, “Can Siauw-hiap selamat bertemu!”

Boe Kie membalas hormat. “Siang Ji Ciang boen, selamat bertemu,” sahutnya.

“Can Siauw-hiap mempunyai Sin-kang yang sangat tinggi,” kata Sian Ie Thong.

“Kau sudah mengalahkan tetua dari Khong tong-pay dan bahkan Siauw lim Seng Ceng pun jatuh di bawah angin. Aku sungguh merasa sangat kagum, tapi apakah aku boleh mengetahui, Cianpwee manakah yang mempunyai seorang murid begitu gagah seperti Can Siauw-hiap?”

Boe Kie yang sedang mengingat-ingat nama Sian Ie Thong, tidak menjawab. Ia pernah mendengar nama itu, tapi di mana? Di mana?

Tiba-tiba Sian Ie Thong mendongak dan tertawa terbahak-bahak. “Mengapa Can Siauw-hiap sungkan memberitahukan nama gurumu?” tanyanya dengan suara nyaring. “Orang jaman dulu sering berkata begini, Kian-hian soe-cee.…” (Melihat orang pandai teringat negeri Cee)

Mendengar “Kian-hian soe-cee” Boe Kie terkesiap dan lantas saja teringat “Kian-sie Poet-kioe” (Melihat kebinasaan tetap sungkan menolong, yaitu gelaran Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe)

Ia lantas saja ingat kejadian di Ouw tiap kok pada waktu lima tahun berselang. Waktu itu Ouw Ceng Goe pernah memberitahukan bahwa Sian Ie Thong dari Hwa san-pay adalah manusia yang sudah menyebabkan kebinasaan adik perempuannya. Di kala itu, ia masih kecil tapi di dalam hati ia sudah memastikan bahwa Sian Ie Thong akan mendapatkan pembalasan yang setimpal karena Tuhan adil. Saat itu, perkataan Ouw Ceng Goe seolah-olah terdengar pula di kupingnya, “Aku pernah menolong seseorang yang mendapat tujuh belas lubang luka bacokan. Ia sebenarnya sudah mesti mati. Tiga hari tiga malam aku tidak tidur dan dengan segenap kepandaian aku bisa menyembuhkannya. Belakangan aku mengangkat saudara dengannya. Tak disangka ia akhirnya membinasakan adik perempuanku, adik kandungku….” Waktu berkata begitu, air mata Ouw Ceng Goe mengucur deras sehingga iapun sangat berduka. Belakangan istri Ouw Ceng Goe yaitu Tok sian Ong Lan Kauw, meracuni Sian Ie Thong dengan racun yang sangat hebat. Tapi manusia terkutuk itu ditolong oleh Ouw Ceng Goe sendiri, kedua suami istri jadi bertengkar dan pertengkaran itu telah mengakibatkan banyak penderitaan. Pada akhirnya, suami istri Ouw Ceng Goe binasa secara tidak wajar. Biarpun bukan dibunuh oleh Sian Ie Thong, kebinasaan itu adalah karenanya.

Mengingat sampai di situ, Boe Kie mendekati. Dengan sinar mata berapi, ia menyapu muka Sian Ie Thong. Ia juga ingat satu manusia lain yang bernama Sie Kong Wan, murid Sian Ie Thong. Sesudah dilukai oleh Kim hoa Po po, jiwa Sie Kong Wan ditolong olehnya. Tak disangka, manusia itu belakangan mau mencoba mengiris dagingnya! Paras muka Boe Kie merah padam. Guru dan murid itu adalah manusia yang membalas kebaikan dengan kejahatan. Sie Kong Wan sudah mampus, tapi Sian Ie Thong masih malang melintang di dunia dengan berkedudukan tinggi. “Manusia ini harus diberi hajaran keras,” pikirnya.

Sesudah mengambil keputusan apa yang akan diperbuatnya, ia tersenyum dan berkata, “Di badanku tidak ada 17 luka dan akupun belum pernah mencelakai jiwa adik angkatku. Aku tak punya rahasia apapun jua yang harus disembunyikan.”

Sungguh tajam kata-kata itu!

Sian Ie Thong menggigil! Keringat dingin mengucur dari punggungnya.

Banyak tahun berselang, sesudah jiwanya ditolong oleh Ouw Ceng Goe, Sian Ie Thong dicintai oleh Ouw Cen Yo, adik perempuan Ouw Ceng Goe. Nona Ouw menyerahkan kehormatannya sehingga ia hamil. Tapi Sian Ie Thong yang ingin menduduki kursi Ciang boen jin dari Hwa san-pay sudah menyia-nyiakan nona itu, ia kabur dan menikah dengan putrid tunggal dari Ciang boen jin Hwa san-pay pada masa itu. Karena malu dan gusar, nona Ouw bunuh diri, sehingga dua jiwa yaitu jiwa ibu dan anak menjadi korban. Karena urusan memalukan itu, Ouw Ceng Goe tidak pernah memberitahukan kepada orang luar. Sian Ie Thong sendiri tentu saja menutup mulut rapat-rapat. Siapa sangka, sesudah berselang belasan tahun rahasianya dibuka Boe Kie. Bagaimana ia tidak kaget?

Saat itu juga dia mengambil keputusan untuk mengambil jiwa pemuda itu. “Kalau Can Siauw-hiap tidak sudi memberitahukan nama gurumu, maka aku mengambil keberanian untuk meminta pengajaran dengan menggunakan ilmu silat Hwa san-pay yang sangat cetek,” katanya. “Sedang Kong seng ceng saja masih belum dapat menandingi Can Siauw-hiap maka ilmu silatku tentu tidak masuk hitungan. Biarlah pertandingan ini dibatasi sampai salah satu pihak ada yang kena sentuh. Aku mengharap dalam pertempuran Can Siauw-hiap suka menaruh belas kasihan.” Sehabis berkata begitu tangan kirinya menghantam pundak Boe Kie. Ia tidak mau memberi kesempatan untuk pemuda itu bicara.

Boe Kie mengerti maksudnya. Sambil menangkis ia berkata, “Ilmu silat Hwa san-pay sangat tinggi dan tidak perlu meminta pelajaran dari orang luar. Yang menjadi soal adalah ilmu Sian Ie Ciang boen sendiri yang sukar dicari duanya dalam dunia ini. Ilmu itu bernama ilmu melupakan budi, ilmu membalas kebaikan dengan kejahatan….”

Bagaikan kalap Sian Ie Thong menyerang untuk menutup mulut pemuda itu. Ia menyerang dengan silat Eng coa Sang sie pek (Pertempuran mati hidup antara burung elang dan ular), salah satu ilmu silat terhebat dari Hwa san-pay yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Ia menutup kipas dan mencekalnya dalam tangan kanan sehingga gagang kipas yang menonjol keluar merupakan kepala ular yang digunakan untuk menotok dan menikam. Lima jari tangan kirinya yang dipentang lebar seolah-olah cakar elang yang menyambar-nyambar untuk mencoba mencengkram Boe Kie.

Eng coa Sang sie pek adalah ilmu simpanan dari Hwa san-pay. Pada seratus tahun yang lampau, waktu berada di gunung Hok goe-san seorang pendekar Hwa san-pay yang bernama In Pek Thian telah menyaksikan pertempuran hidup mati antara seekor elang dan seekor ular. Ia mendapat ilham dan belakangan mengubah ilmu tersebut.

Elang berkelahi dengan ular sebenarnya bukan kejadian langka. Semenjak dulu banyak ahli sudah mengubah ilmu-ilmu baru berdasarkan pertempuran antara binatang dan binatang. Tapi Eng coa Sang sie pek agak beda dari yang lain. Perbedaannya adalah ilmu itu gerakan elang dan ular dikeluarkan bersama-sama dengan kecepatan luar biasa. Terhadap orang biasa, ilmu ini sangat membingungkan karena serangan menyambar dari kiri ke kanan dalam gerakan yang berbeda-beda maka jika seseorang menjaga di bagian kiri, ia tak akan bisa menjaga di bagian kanan.

Baru beberapa gebrakan Boe Kie sudah tahu, biarpun mahir dalam ilmu itu, tenaga Sian Ie Thong masih jauh dari cukup. Sesudah lewat beberapa jurus, ia berkata, “Sian Ie Ciang boen, ada satu hal yang kurang dimengerti olehku dan aku ingin meminta penjelasan. Dulu kau mendapat tujuh belas luka dan keadaanmu lebih baik mati daripada hidup. Ada orang yang tanpa tidur tiga hari tiga malam sudah menolongmu dan mengobati kau hingga kau sembuh. Ia mengangkat saudara denganmu dan memperlakukanmu seperti saudara kandungnya sendiri. Tapi mengapa kau begitu jahat sehingga kau membinasakan adik perempuan orang itu?”

Sian Ie Thong gusar bukan kepalang dan berteriak, “Ouw….” Ia sebenarnya ingin mengatakan “Ouw swee Pat-to” (omong kosong) dan berniat menjatuhkan tuduhan yang tidak-tidak terhadap Boe Kie supaya pemuda itu gusar dan konsentrasi pikirannya terpecah sehingga dengan mudah ia bisa melaksanakan niat jahatnya. Di luar dugaan, baru saja ia berkata “Ouw”, semacam tenaga yang lembek dahsyat menindih dadanya yang lantas saja sesak sehingga ia tak bisa meneruskan perkataannya. Mati-matian ia mengerahkan Lweekang untuk melawan tenaga itu.

Sementara itu, Boe Kie sudah berkata pula dengan suara nyaring. “Benar! Kau rupanya masih ingat orang she Ouw itu. Mengapa kau tidak bicara terus? Sungguh mengenaskan matinya nona Ouw. Apakah di dalam hatimu kau tidak pernah merasa malu?”

Dengan napas mengap-mengap Sian Ie Thong menyerang bagaikan kalap. Boe Kie sengaja mengendurkan tekanan tenaganya dan Sian Ie Thong lantas saja merasakan seakan-akan dadanya lega. Ia menarik napas dan membentak. “Kau…” ia tidak dapat bicara lagi sebab Boe Kie mendadak menekan lagi dengan lweekangnya.

Pemuda itu mengeluarkan suara di hidung. “Laki-laki berani berbuat harus berani menanggung akibatnya,” katanya dengan nada mengejek. “Ya bilang ya, tidak bilang tidak. Mengapa kau tak berani buka suara? Bukankah Tiap Kok Ie Sian Ouw Ceng Goe Sinshe binasa dalam tanganmu, benarkah begitu? Jawab!” Boe Kie sebenarnya tidak tahu cara bagaimana adik Ouw Ceng Goe menemui ajalnya. Maka itu, ia tidak bisa mengatakan secara jelas. Tapi dalam bingungnya, Sian Ie Thong menganggap pemuda itu sudah tahu rahasianya. Mukanya pucat pasi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Orang-orang yang mengenal Sian Ie Thong tahu, bahwa dia sangat pandai bicara. Maka itu, melihat dari paras mukanya, sikap dan terkancingnya mulut pemimpin Hwa San Pay itu, mau tak mau dia percaya apa yang dikatakan Boe Kie. Bahwa pemuda itu sudah menindih jalan pernapasan Sian Ie Thong dengan lweekang yang sangat tinggi, tidak diketahui oleh siapapun jua kecuali mereka berdua. Yang paling malu adalah orang-orang Hwa San Pay. Pemimpin mereka dicaci oleh seorang pemuda tanpa mampu membela diri. Dimana muka mereka harus ditaruh? Tapi ada juga sejumlah orang yang berpendapat lain. Mereka mengenal Sian Ie Thong sebagai manusia yang banyak akalnya. Mungkin sikapnya itu hanya satu siasat yang berisi tipu untuk membalas sehebat-hebatnya.

Sementara itu, Boe Kie sudah memaki lagi. “Menurut kebiasaan, orang-orang rimba persilatan membalas budi dengan budi, kejahatan dengan kejahatan. Tiap Kok Ie Sian anggota Beng Kauw. Kau adalah seorang yang berhutang budi terhadap Beng Kauw. Tapi lihatlah! Hari ini kau mengajak orang-orang partaimu untuk menyerang Beng Kauw. Orang menolong jiwamu, kau berbalik mencelakai adik orang itu. Manusia rendah! Kau lebih rendah dari pada binatang! Mukamu tebal, begitu punya tebal hingga kau masih ada muka untuk menjadi Ciang Bun Jin dari sebuah partai besar.”

Boe Kie mencaci sesuka hati, tanpa dibalas. “Kalau Ouw Shinshe masih hidup dan berada di sini, ia pasti akan merasa puas,” pikirnya.

Sesudah memaki beberapa lama lagi, ia berkata di dalam hati. “Sekarang cukuplah. Hari ini aku mengampuni jiwanya. Biarlah dilain hari aku berhitungan lagi dengan dia.” Memikir begitu, ia lantas saja menarik pulang tenaga telapak tangannya yang digunakan untuk menekan Sian Ie Thong. “Binatang! Hari ini aku menitipkan kepalamu di atas lehermu untuk sementara waktu!”

Hampir berbareng dada Sian Ie Thong lega. “Bangsat kecil! Rasakan ini!” teriaknya seraya menotok Boe Kie dengan gagang kipas, sambil melompat ke samping.

Mendadak Boe Kie mengendus bebauan…… kepalanya tiba-tiba pusing, kakinya lemas dan ia terhuyung-huyung. Ia merasa matanya berkunang-kunang dan dunia seolah-olah terbalik.

“Bangsat kecil!” caci Sian Ie Thong. Sekarang kau boleh belajar kenal dengan lihainya Eng Coa Seng Sie Pek!” ia melompat dan lima jari tangan kirinya sudah mencengkram Yan Ie Hiat, di bawah ketiak Boe Kie. Tapi ia terkejut karena tangannya seolah-olah mencengkram ikan yang licin dan ia tak bisa menggunakan lweekangnya.

Melihat pimpinan mereka berada di atas angin, orang-orang Hwa San Pay bersorak-sorai dan teriak-teriak.

“Lihatlah lihainya Eng Coa Seng Sie Pek!”

“Sian Ie Ciang Bun, hajar!”

“Bangsat kecil! Akhirnya kau roboh juga!”

Diantara tampik sorak, tiba-tiba Boe Kie tersenyum dan meniup muka Sian Ie Thong. Hampir berbareng Sian Ie Thong mengendus bebauan wangi amis dan kepalanya puyeng. Hatinya mencelos kagetnya seperti disambar geledek. Baru saja ia mau beteriak, Boe Kie sudah mengebut kedua lututnya dengan tangan baju sehingga dia roboh berlutut dihadapan pemuda itu.

Kejadian ini diluar dugaan semua orang. Terang-terang mereka lihat Boe Kie terluka berat dan badannya bergoyang-goyang. Mengapa terjadi perubahan itu? Apakah pemuda itu mempunyai ilmu siluman?

Sementara itu sesudah mengambil kipas dari tangan Sian Ie Thong. Boe Kie tertawa terbahak-bahak. “Kalian lihatlah!” teriaknya sambil mengacungkan kipas itu. “Hwa San Pay menamakan diri sebagai partai yang lurus bersih. Siapa nyana pmemimpin partai itu memiliki ilmu penyebar racun?” Dengan sebelah tangan ia membuka kipas itu yang di atasnya terdapat lukisan puncak gunung Hwa San dengan beberapa baris sajak yang indah bunyinya dan indah pula huruf-hurufnya. Tak seorangpun akan menduga, bahwa dalam kipas yang seindah ini bersembunyi alat rahasia untuk melepaskan racun yang hebat,” katanya seraya menghampiri sebuah pohon bunga dan menotok batangnya dengan gagang kipas. Dalam sekejab semua bunga layu dan rontok, sedang warna daunnya pun segera berubah kuning. Semua orang kaget, di dalam hati mereka bertanya-tanya? Racun apa yang disimpan di kipas itu?

Dengan mendekam di muka bumi, Sian Ie Thong menjerit-jerit seperti babi dipotong. “Ah!….. ah,….” Suaranya menyayat hati. Menurut pantas, biarpun dipotong sungguhan seorang yang berkedudukan seperti dia harus bisa menahan sakit. Tak boleh ia menjerit-jerit di hadapan banyak orang. Setiap jeritan berarti digaploknya muka orang-orang Hwa San Pay.

“Lekas… lekas bunuh aku!” teriaknya. “Lekas!… lekas!…”

“Aku bisa menghilangkan rasa sakitmu,” kata Boe Kie. Tapi sebelum tahu racun apa yang digunakan olehmu, aku tidak berdaya.”

“Racun… racun… Kim Cam Kouw Tok… aduh! Bunuhlah aku… lekas!” ia sesambat.

Kata-kata “Kim Cam Kouw Tok” tidak mempengaruhi orang-orang muda, tapi orang-orang yang lebih tua lantas berubah paras mukanya. Mereka yang mempunyai rasa keadilan lantas mencaci.

Kim Cam Kouw Tok, keluaran propinsi Kwi Cioe, adalah salah satu racun terhebat di dunia. Penderitaan orang yang kena racun itu tak mungkin dilukiskan, sekujur badannya seperti digigit oleh berlaksa kutu beracun. Racun itu memuakkan orang-orang rimba persilatan yang baik-baik. Karena sukar didapat, banyak orang hanya pernah mendengar namanya. Sekarang, dengan menyaksikan penderitaan Sian Ie Thong, mereka baru tahu lihainya Kim Cam Kouw Tok.

“Apa kau tahu cara bagaimana racunmu berbalik makan tuan?” Tanya Boe Kie.

“Bunuh aku! Bunuhlah…! Aku tak tahu,” teriaknya sambil bergulingan.

“Kau melepaskan racun itu kepadaku, tapi aku berhasil menolaknya dengan menggunakan lweekang dan lalu balas menghantam kau,” kata Boe Kie. “Sekarang apa lagi yang mau dikatakan olehmu?”

“Ya! Pembalasan…! Pembalasan…!” jeritnya seraya mencengkram tenggorokannya untuk mencoba bunuh diri. Tapi tenaganya habis. Sekuat tenaganya ia coba membenturkan kepala di tanah, tapi ia gagal lagi. Disinilah lihainya Kim Cam Kouw Tok. Pancaindera si korban makin tajam, tapi tenaganya habis, sehingga mau hidup tidak bisa, mau matipun tidak mungkin.

Darimana Sian Ie Thong mendapat racun itu?

Pada waktu mau menghembuskan napasnya yang penghabisan, karena cintanya yang tiada terbatas, Ouw Ceng Yo telah memohon kepada Ouw Ceng Goe, supaya kakak itu suka melindungi Sian Ie Thong. Karena terpaksa, sang kakak memberi janjinya. Isteri Ouw Ceng Goe, Ouw Lan Kouw, gusar dan diam-diam meracuni Sian Ie Thong dengan Kim Cam Kouw Tok. Belakangan, sebab sudah berjanji, Ouw Ceng Goe menolong juga manusia itu. Sian Ie Thong ternyata licik luar biasa. Waktu berobat di rumah Tiap Kok Ie Sian, selagi orang meleng, ia mencuri dua pasang ulat sutera emas yang lalu dipiara menurut peraturan dan dibuat menjadi bubuk racun. Kemudian ia memasang alat rahasia di kipasnya untuk menyimpan racun itu, yang bisa disembur keluar dengan bantuan tenaga dalamnya.

Tadi, karena ditindih dengan lweekang Boe Kie, ia tak bisa bergerak. Tapi begitu lekas pemuda itu menarik pulang tekanannya, ia segera saja melepaskan racun. Untung besar Boe Kiememiliki lweekang yang sangat kuat. Pada detik yang berbahaya, mereka menahan napas, mengerahkan semua hawa tulen dan bahkan bisa menyembur balik racun itu ke badan Sian Ie Thong. Kalau badannya kurang kuat, maka yang akan menjerit-jerit bukannya Sian Ie Thong, tapi ia sendiri.

Sesudah mempelajari Tok Kang dari Ong Lan Kouw, Boe Kie tahu lihainya Kim Cam Kouw Tok. Diam-diam ia mengalirkan hawa tulen di seluruh badannya dan setelah merasakan sesuatu yang luar biasa, barulah hatinya lega. Melihat penderitaan Sian Ie Thong, di dalam hatinya merasa kasihan.

“Menolong, aku akan menolong, tapi dia harus lebih dahulu mengakui segala kedosaannya,” pikirnya. Maka itu ia lantas saja berkata, “Aku tahu cara mengobati orang yang kena racun Kim Cam Kouw Tok. Tapi sebelum ditolong, kau harus menjawab sejujurnya setiap pertanyaanku. Jika kau berdusta aku takkan memperdulikan kau lagi. Kau akan menderita tujuh hari tujuh malam, sehingga dagingmu rusak dan tulang-tulangmu kelihatan.”

Walaupun terpaksa, otak Sian Ie Thong tetap tenang. “dahulu Ong Lan Kouw pernah mengatakan dagingku akan rusak dan tulang-tulangku kelihatan, sesudah aku menderita tujuh hari tujuh malam,” Katanya di dalam hati. “Bagaimana bocah itu bisa tahu?” Tapi ia tak percaya Boe Kie mempunyai kepandaian yang menyamai kepandaian Ouw Ceng Goe. “Kau… kau… , takkan bisa menolongku,” katanya terputus-putus.

Boe Kietersenyum. Dengan gagang kipas, ia menotok Sian Ie Thong. “Aku akan membuat lubang di sini dan akan memasukkan obat ke dalam lobang,” katanya.

“benar! Kau benar!” teriak Sian Ie Thong.

“Nah! Kalau kau mau hidup, lekaslah ceritakan segala kedosaanmu,” kata Boe Kie.

Sambil menggigit bibir, Sian Ie Thong mengawasi pemuda itu. “Ti…. Dak!” katanya dengan suara gemetar.

“Baiklah,” kata Boe Kie seraya mengibas tangannya. “Kau rebahkan di sini tujuh hari tujuh malam.”

“Ya! … Ya! … aku… aku cerita… “ sesambat Sian Ie Thong. Tapi, mulutnya tetap terkancing. Biar bagaimanapun jua, terutama mengingat kedudukannya sebagai Ciang Bun Jin dari sebuah partai besar, ia merasa tak sanggup untuk menceritakan perbuatan-perbuatannya yang terkutuk di hadapan ratusan tokoh rimba persilatan.

Tiba-tiba, berbareng dengan siulan nyaring, dua orang, satu jangkung dan satu kate, melompat keluar dari barisan Hwa San Pay dan berdua di depan Boe Kie. Mereka berusia lima puluh tahun lebih dan masing-masing mencekal sebatang golok.

“Orang she Can,” kata si kate, “orang Hwa San Pay boleh dibunuh, tidak boleh dihina. Perbuatanmu terhadap Ciang Bun Jin kami bukan perbuatan seorang gagah.”

Boe Kie merangkap kedua tangannya dan bertanya: “Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama besar kedua Cianpwee?”

“Derajatmu masih belum cukup untuk mengetahui nama kami berdua,” kata si kate seraya membungkuk untuk mendukung Sian Ie Thong.

Boe Kie mendorong si kate dan si kate terhuyung, “hati-hati kau!” katanya. “Badannya penuh racun dan kalau kena sedikit saja, kau akan menderita seperti dia.”

Si kate terkejut dan berdiri terpaku.

“Tolong!… Tolong aku!” jerit Sian Ie Thong. Pek Goan, Pek Soeko! Hanya Pek Soeko yang dibinasakan olehku dengan Kim Cam Kauw Tok! Tidak ada orang lain lagi… Tidak ada..”

“Pek Goan dibinasakan olehmu?” menegas si kate. “Apa benar? Tapi mengapa kau mengatakan bahwa ia mati dalam tangan orang-orang Beng Kauw?”

“Pek Soeko!… ampun… “ jerit Sian Ie Thong sambil manggut-manggutkan kepalanya. “Pek Soeko.. kau mati secara mengenaskan. Tapi siapa suruh kau memaksa aku untuk mengakui urusan nona Ouw? Suhu pasti tak akan mengampuni aku, tiada jalan lain… aku… aku terpaksa.. Pek Suheng! Ampun!…. “ ia mencengkram ternggorokannya, tapi tenaganya habis. Dengan napas tersengal-sengal, ia berkata pula. “Sesudah mencelakai kau, jalan satu-satunya untukku adalah menumplak kedosaan di atas pundak Beng Kauw. Tapi… tapi.. aku sudah membakar banyak uang-uangan untuk rohmu… aku sudah membikin sembahyangan besar.. aku terus menunjang penghidupan anak isterimu. Mengapa kau masih minta ganti jiwa… ampun!…”

Ketika itu langit cerah dan matahari memancarkan sinarnya yang gilang gemilang. Tapi mendengar jerit-jeritan Sian Ie Thong, banyak orang menggigil seperti kedinginan. Roh Pek Goan seolah-olah berada di tempat itu.

Pengakuan yang tak diduga-duga itu sudah keluar dari mulut Sian Ie Thong sebab dalam penderitaannya, ia ingat penderitaan Pek Goan. Biarpun Ouw Ceng Yo mati, nona itu bukan mati dalam tangannya, ia mati bunuh diri. Tapi Pek Goan binasa karena diracuni olehnya sendiri. Maka itu ia merasa tak ada kedosaannya terhadap Nona Yo. Dalam penderitaannya yang maha hebat itu di dalam otaknya hanya teringat “Pek Goan” dan roh Suheng itu seolah-olah berdiri di depannya untuk menagih utang.

Boe Kie tak mengenal Pek Goan. Tapi dari pengakuan Sian Ie Thong, ia tahu bahwa segala kedosaan telah ditimpakan ke pundak Beng Kauw. Mungkin sekali turut sertanya Hwa San Pay dalam gerakan membasmi Beng Kauw adalah untuk balas sakit hatinya Pek Goan. Memikir begitu, ia lantas berkata dengan suara nyaring. “Para Cianpwee dari Hwa San Pay, dengarlah! Pek Goan Suhu bukan dicekali oleh orang Beng Kauw kalau sudah salah mereka orang.”

Tiba-tiba bagaikan kilat orang tua yang bertubuh jangkung mengangkat goloknya dan membacok leher Sian Ie Thong. Tapi Boe Kie mendahului, dengan gagang kipas ia menotol badan golok yang lantas saja terpental dan menancap di tanah.

“Perlu apa kau camput tangan?” bentak si jangkung dengan gusar. “Dia pengkhianat partai. Siapapun juga boleh membinasakannya.”

“Aku sudah berjanji untuk mengobati dia,” kata Boe Kie. “Perkataan yang sudah diucapkan tidak bisa diabaikan dengan begitu saja. Urusan dalam partai bisa dibereskan sesudah kalian pulang ke Hwa San.”

“Soetee, perkataan dia ada benarnya juga,” kata si kate sambil menendang punggung Sian Ie Thong. Tendangan yang sangat keras itu bukan saja mampir tepat di Toa Toei Hiat, tapi juga telah melontarkan tubuh Sian Ie Thong yang kemudian ambruk di depan barisan Hwa San Pay. Pukulan pada Toa Toei Hiat sakit bukan main, tapi Sian Ie Thong sudah tidak bisa berteriak lagi. Ia berguling-guling sambil menahan sakit, tapi tak seorangpun berani menolong, sebab mereka takut ketularan racun.

“Kami berdua adalah paman guru Sian Ie Thong,” kata si kate kepada Bu Ki. “Bahwa kau sudah membikin terang satu perkara besar dalam partai kami, sehingga sakit hatinya Pek Goan Soetit bisa terbalas, aku merasa sangat berterima kasih,” sehabis berkata begitu, ia menyoja sambil membungkuk. Si jangkung buru-buru ikut menyoja.

Mendadak si kate mengibas goloknya dan berkata, “tapi, sebab kau sudah merusak nama harumnya Hwa San Pay, maka tak ada jalan lain bagi kami berdua daripada mengadu jiwa dengan kau.”

…….. yang bersih tetap bersih, yang kotor tinggal kotor. Kalau dalam sebuah partai muncul seorang jahat, nama partai tersebut tidak rusak karena adanya orang jahat itu. Mengapa kalian berpandangan begitu sempit?”

“Bagaimana pendapatmu? Apakah kejadian itu tidak menodai nama Hwa San Pay?” Tanya si jangkung.

“Tidak, tentu saja tidak,” jawabnya.

“Soeko,” kata si jangkung. “Bocah itu mengatakan tidak menodai partai kita.” Kurasa lebih baik kita bikin habis urusan ini.

Si jangkung adalah seorang jujur terhadap Boe Kie, ia agak jeri.

“Tidak! Tidak!” bentak si kate. “lebih dahulu singkirkan hinaan dari luar, kemudian barulah menyapu bersih pintu kita. Kalau hari ini Hwa San Pay tidak berhasil menjatuhkan bocah itu, kita tidak bisa berdiri lagi dalam rimba persilatan.”

“Baiklah,” kata si jangkung. “Eh, bocah! Kami berdua mau mengerubuti kau. Jika kaur rasa tidak cukup adil, paling benar siang-siang kau mengaku kalah.”

Si kate mengerutkan alisnya dan membentak, “Soetee!…”

Si jangkung girang tak kepalang, “Kalau kami mengerubuti kau, kau pasti tak bisa hidup lagi,” teriaknya.

Katanya, “kami berdua mempunyai ilmu golok yang dinamakan Liang Gie To Hoat. Kau pasti kalah. Aku harap kau tidak menyesal.”

“Aku hanya mengharap kedua cianpwee suka menaruh belas kasihan.”

“Golok tidak mengenal belas kasihan,” kata si jangkung. “Begitu bertempur golok kami tak mau main sungkan-sungkan lagi. Kulihat kau seorang yang baik. Aku tidak sampai hati jika pasti membacok kau…”

“Soetee, jangan rewel!” bentak si kate.

“Aku hanya minta supaya ia berhati-hati,” kata si jangkung. “Liang Gie To Hoat kita lain dari yang lain… “

“tutup mulut!” bentak si kate. Ia berpaling kepada Boe Kie dan berteriak. “sambutlah!” Hampir berbareng, goloknya menyambar.

Boe Kie mengangkat kipas Sian Ie Thong dan mendorong belakang golok.

“Tidak bisa! Teriak si jangkung. Kalau begini, aku lebih suka tidak bertempur.”

“Mengapa?” tanya Boe Kie.

“Kipas itu ada racunnya, bisa-bisa kita celaka semua,” jawabnya.

“Benar,” kata Boe Kie. “Benda yang begini beracun tidak boleh dibiarkan lama-lama di dunia.” Ia menjepit kipas itu dengan telunjuk dan jari tengah menimpuk ke bawah. “Blas!” kipas amblas ke dalam tanah dan apa yang terlihat hanyalah lubang kecil. Sin kang sehebat itu tak akan dapat dilakukan oleh siapapun jua yang berada di lapangan itu. Tanpa merasa semua orang bersorak-sorai.

Sambil menjepit golok di bawah ketiaknya si jangkung menepuk tangan. “Ambillah senjata,” katanya.

Boe Kie berwatak sederhana dan ia sebenarnya tak ingin menonjol-nonjolkan kebenarannya di hadapan orang. Tapi keadaan sekarang sangat luar biasa. Jika ia tak memperlihatkan Sin Kang dan menaklukkan semua orang, ia takkan bisa mencapai tujuannya untuk menghentikan permusuhan. “Senjata apa yang cianpwee anggap pantas digunakan olehku?” tanyanya.

Si jangkung menepuk pundak Boe Kie dua kali. “Bocah, kau mempunyai sifat yang menarik,” katanya sambil tertawa, “Kau boleh menggunakan senjata apapun jua, perlu apa kau tanya aku.”

Boe Kie tahu, bahwa tepukan itu tak bermaksud jahat, tapi orang yang menonton kaget bukan main, sebab kalau si jangkung menggunakan tenaga dalam, pemuda itu bisa terluka berat. Mereka tak tahu, bahwa Boe Kie sudah melindungi sekujur tubuhnya dengan Sin Kang, sehingga andaikata si jangkung berlaku curang, ia takkan berhasil.

Karena pemuda itu tak lantas menjawab, kakek itu berkata pula. “Apakah kau akan turut perkataanku, jika aku menyebut senjata.”

“Ya,” jawabnya sambil tersenyum.

“Bocah, kau memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan kau tentu mahir dalam delapan belas senjata,” kata si jangkung. “Tapi sangat keterlaluan jika kau meladeni kami berdua dengan tangan kosong.”

“Tangan kosong juga boleh,” kata Boe Kie.

Si jangkung menyapu seluruh lapangan matanya. Ia ingin cari senjata yang aneh. Tiba-tiba ia lihat beberapa buah batu besar di sudut sebelah kiri, berat setiap batu kira-kira dua ratus atau tiga ratus kati. “Aku bersedia untuk mengalah terhadapmu dan kau boleh menggunakan senjata yang sangat berat itu,” katanya seraya menuding beberapa batu itu. Sehabis berkata begitu, ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak. Ia hanya berguyon. Batu-batu itu bukan saja sangat berat dan takkan bisa diangkat oleh manusia biasa, tapi juga tak ada pegangannya, tidak bergagang seperti senjata biasa, sehingga sangat mustahil bisa digunakan sebagai senjata.

Tapi di luar dugaan sambil tersenyum Boe Kie berkata, “Senjata itu agak luar biasa, Loocianpwee kelihatannya ingin menjajal kepandaianku.” Seraya berkata begitu, ia menghampiri batu itu.

Si jangkung menggoyang-goyangkan tangannya, “Aku hanya main-main!” teriaknya. “Ambillah pedang untuk melayani kami!”

Pemuda itu tak menjawab dan berjalan terus. Sekali menggerakkan tangan kirinya, ia menyangga sebuah batu yang paling besar dan sesudah memutar badan, ia berseru. “Jie Wie, ayolah!” Ia melompat tinggi dan dilain saat sudah berhadapan dengan kedua kakek itu.

Semua orang mengawasi dengan mulut ternganga. Mereka begitu kaget sehingga mereka lupa untuk menepuk tangan.

“Hebat! Sungguh hebat,” kata si jangkung seraya mengurut jenggotnya.

Si kate tahu bahwa hari ini mereka bertemu dengan lawan terberat. Apa nama besar mereka berdua akan dapat dipertahankan masih merupakan satu pertanyaan. Sesudah menarik napas dalam-dalam, ia maju, “sambutlah!” katanya seraya membacok dengan golok yang bersinar putih.

“Soeko, apa benar-benar kita berkelahi?” tanya si jangkung.

“Kau kira main-main?” si kate balas menanya. Bacokannya yang pertama dengan mudah sudah dikelit Boe Kie.

Mendengar jawaban soekonya, si jangkung segera menyabet dengan golok Ceng Kong To yang bersinar hijau.

“Bagus!” seru Boe Kie sambil memapaki dengan batunya.

“Trang!” Letupan api berhamburan. Hampir berbaring, Boe Kie mendorong batu ke depan.

“Soen Soei Toei Couw!” teriak si jangkung. “Bocah, senjata batu juga ada jurus-jurusnya?” (Soen Soei Toei couw dengan mengikuti aliran air mendorong perahu)

Soetee, Hoen Toen It Po!” bentak si kate seraya membuat setengah lingkaran dengan goloknya dan membabat Boe Kie.

“Tay it Seng Beng. Liang Gie Hop Tek…” menyambung si jangkung sambil mengirim beberapa serangan.

“Jit Goat Hoei Beng,” menyambut si kate. Dengan saling sahut menyebutkan namanya pukulan, mereka menyerang.

Sambil mengerahkan Kioe Yang Sin Kang. Boe Kie memutar-mutar batu itu seperti sebutir peluru. Tenaga serangan Liang Gie To Hoat sangat besar, tapi walaupun tenaga pemuda itu lebih besar lagi. Dengan melompat kian kemari, ia menyambut setiap serangan dean tiap bacokan menghantam batu sehingga letupan api berhamburan tak henti-hentinya.

Sesudah bertempur beberapa lama, mendadak Boe Kie melontarkan batu itu ke tengah-tengah udara dan kedua tangannya menyambar leher si kate dan si jangkung. Sesudah mencengkram jalan darah kedua kakek itu sehingga mereka tak bisa bergerak lagi, ia melompat ke belakang. Di lain saat batu yang beratnya kira-kira tiga ratus kati itu meluncur ke bawah, ke arah kepala kedua jago Hwa San Pay.

Semua orang terkesiap.

Pada detik berbahaya, Boe Kie melompat maju dan menepuk batu itu yang lantas saja terpental dan jatuh amblas di dalam tanah. Ia tertawa dan sambil menepuk pundak kedua kakek itu, ia berkata, “Jie Wie Loo Cianpwee jangan bingung, Boanpwee hanay main-main.”

Paras muka si kate pucat bagaikan kertas. “Sudahlah!” katanya dengan suara parau.

Tapi si jangkung menggelengkan kepalanya. “Tidak, ini tidak masuk hitungan.” Katanya.

“Mengapa tidak masuk hitungan?” tanya Boe Kie. “Kau mengalahkan kami dengan mengandalkan tenagamu yang besar,” jawabnya. “Kau bukan menjatuhkan kami dengan menggunakan ilmu silat.”

“Kalau begitu kita boleh bertanding pula.” Kata Boe Kie.

“Boleh,” kata si jangkung, “tapi kita harus menggunakan satu cara baru. Kalau kau menang karena tenagamu yang besar, biarpun kalah, kami kalah dengan penasaran. Bukankah demikian?”

Pemuda itu mengangguk, “benar,” katanya.

Tiba-tiba SC berteriak, “Malu! Benar-benar malu! Kakek jenggotan yang main padan berbalik mengatakan orang lain curang.”

Si jangkung tertawa terbahak-bahak. “Bocah,” katanya. “Orang sering kata: yang rugi ialah yang untung. Garam yang ditelan olehku lebih banyak daripada beras yang ditelan olehmu. Jembatan yang dilewati olehku lebih panjang daripada jalanan yang pernah dilalui olehmu. Bocah, tahu apa kau!” Ia menengok kepada Boe Kie dan berkata pula, “Kalau kau tidak setuju, kita boleh tidak usah bertanding lagi. Dalam pertandingan tadi, kau tak kalah dan kamipun tak menang. Seri saja! Tigapuluh tahun kemudian, kita boleh berjumpa kembali.”

Mendengar perkataan Soeteenya yang makin lama jadi makin gila, si kate buru-buru membentak. “Orang she Can! Kami mengaku kalah, kau boleh berbuat sesuka hati terhadap kami.”

“Boanpwee sama sekali tidak mengandung niat kurang baik,” kata Boe Kie. “Dengan memberanikan hati boanpwee hanya ingin mendamaikan permusuhan antara partai cianpwee dengan Beng Kauw.”

“Tak bisa!” teriak si jangkung. “Aku belum ajukan usulku. Mengapa kau lantas mundur?”

Si kate mengerutkan alisnya, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia tahu, bahwa biarpun gial-gilaan, dengan mengandalkan ketebalan mukanya dan lidahnya, soetee itu sering membuat musuh menjadi pusing dan mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Hari ini, dihadapan tokoh-tokoh rimba persilatan, cara-cara itu memang tidak bagus. Tapi jika ia dapat menjatuhkan Boe Kie, maka kemenangan itu sekiranya dapat juga digunakan untuk menebus dosa.

“Bagaimana usul cianpwee?” tanya Boe Kie.

“Ilmu golok yang terlihai dari Hwa San Pay dinamakan Hoan Liang Gie To Hoat,” jawabnya. “Lihainya To Hoat itu sudah dirasai olehmu. Tapi kau tak tahu, bahwa Koen Loen Pay mempunyai ilmu pedang yang dinamakan Ceng Liang Gie Kiam Hoat. Kelihaian ilmu ini dikatakan berendeng dengan To Hoat dari Hwa San Pay. Masing-masing mempunyai keunggulan sendiri-sendiri. Manakala dua golok dan dua pedang dipersatukan menjadi satu, maka im (negatip) akan mendapat imbangan dari yang (positip) dan air akan membantu api. Hai!….” berkata sampai di sini, ia menggoyangkan kepalanya dan kemudian menambah dengan perlahan. “Hebat! Terlalu hebat!… kau tak akan bisa melawan.”

Mendengar begitu, Boe Kie lantas saja menengok ke barisan Koen Loen Pay dan berkata, “Apakah cianpwee dari Koen Loen Pay sudi memberi pelajaran kepadaku?”

“Dalam Koen Loen Pay kecuali Thie Khim Sian Seng suami isteri, tak ada lain orang yang bisa bekerja sama dengan kami berdua,” kata si jangkung. “Kutak tahu apakah Ho Ciang Boen bernyali cukup besar atau tidak.”

Seorang yang ingin menonton keramaian jadi girang sekali. Dalam omongannya yang gila-gilaan, si jangkung ternyata bukan manusia tolol.

Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham mengawasi si jangkung. Mereka tak kenal dua kakek itu. Sebagai paman guru Sian Ie Thong, kedua orang tua itu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan sudah tentu jarang berkelana dalam dunia Kang Ouw See Hek yang jauh, meka tidaklah heran jika mereka belum pernah bertemu dengan kedua kakek itu.

Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham sangat bersangsi. Mereka tahu, bahwa kedua kakek itu mau menyeret mereka ke dalam gelanggan. Kalau menang, muka si jangkung dan si kate akan terang kembali. Tapi kalau kalah… Huh! Tak mungkin. Mana bisa Liang Gie Kim Hoat dari Koen Loen Pay kalah dari pemuda yang tak dikenal itu?”

Melihat suami isteri Ho Thay Ciong tidak lantas bergerak, si jangkung lantas saja berteriak. “Oooh! Suami isteri Ho dari Koen Loen Pay tidak berani bertempur dengan kau. Kau tak usah heran. Biarpun boleh juga, Ceng Liang Gie Kam Hoat masih banyak cacatnya. Dibandingkan dengan ilmu golok kami Hoan Liang Gie To Hoat masih lebih unggul setingkat dua tingkat.”

Pan Siok Ham gusat tak kepalang. Dengan sekali melompat, ia sudah berada di tengah gelanggang. “Siapa she dan nama tuan yang besar?” tanyanya seraya menuding si jangkung.

“Akupun she Ho,” jawabnya. “Ho Hoe jin silahkan.”

Perkataan itu disambut dengan gelak tertawa ejek sejumlah penonton.

Pan Siok Ham dikenal sebagai “tay Siang Ciang Boen Jin” dari Koen Loen Pay. Selama puluhan tahun di daerah yang luasnya beberapa ratus li persegi ia berkuasa bagaikan ratu. Maka itu, mana bisa ia menerima ejekan di hadapan orang banyak.

“srt!” bagaikan kilat ia menikam sijangkung.

Di detik ini masih bertangan kosong, di lain detik pedangnya sudah menyambar dan ujung pedang hanya terpisah setengah kaki dari pundak lawan.

Si jangkung terkesiap dan menyampok dengan goloknya. “Trang!” pada saat terakhir berhasil memapaki bacokan jago betina itu. Pan Siok Ham menyerang dengan pukulan Kim ciam Touw Ciat (jarum emas melewati merah bahaya) sedangkan si jangkung menyambut dengan Ban Ciat Pot Hok (laksana merah bahaya tidak datang lagi) Kedua pukulan itu yang satu “Ceng” yang lain “hoan” merupakan ilmu silat Liang Gie yang indah luar biasa. Kalau tadi dalam menghadapi Kiu Yang Sin Kang, si kakek tidak berdaya sekarang ia memperlihatkan kepandaiannya yang sangat tinggi, sebab pada hakekatnya, ia memang merupakan seorang ahli silat dari kelas utama.

Sesudah gebrakan pertama, masing-masing mundur setindak. Mereka terkejut dan merasa kagum. Mereka berlainan partai, berlainan ilmu dan belum pernah bertemu muka. Tapi sesudah gebrakan itu, masing-masing yakin bahwa jika Liang Gie To Hoat bekerja sama, maka kerja sama itu akan menciptakan serupa ilmu silat yang tiada bandingannya dalam dunia. Ketika itu, Pan Siok Ham merasa seperti juga seorang yang selama hidupnya hidup kesepian, tiba-tiba bertemu dengan sahabat akrab. Ia menengok kepada suaminya dan berkata, “eh, kemana kau!”

Ho Thay Ciong adalah seorang suami yang selalu menurut perintah sang isteri. Tapi di hadapan orang banyak ia merasa jengah juga dan berusaha untuk menolong muka dengan memperlihatkan keangkerannya sebagai seorang Ciang Boen Jin. Sambil mengeluarkan suara di hidung, perlahan-lahan ia menghampiri sang isteri dengan didahului oleh empat kacung. Satu membawa pedang, satu menyangga khim besi dan dua orang memegang hudtim (kebutan) Begitu tiba di tengah gelanggang, keempat kacung itu membungkuk dan mundur, akan kemudian berdiri di belakang Ho Thay Ciong.

Pan Siok Ham melirik suaminya dan berkata, “kita berempat coba main-main dengan bocah itu supaya dia mengenal lihainya ilmu silat Hwa San dan Koen Loen.” Ia menengok dan mendadak mengeluarkan seruan tertahan. Sambil mengawasi Boe Kie dengan mata membelalak, ia berkata, “kau… kau…. “

Sebagaimana diketahui, pada empat tahun berselang, ia pernah bertemu dengan Boe Kie. Walaupun sekarang dari kanak-kanak Boe Kie sudah menjadi seorang pemuda, badannya sudah berubah dan di atas bibirnya sudah tumbuh sedikit kumis, ia masih mengenali pemuda itu.

“Apa tak baik jika kita melupakan kejadian yang dulu?” kata Boe Kie. “Aku Can A Goe.”

Pan Siok Ham mengerti maksud pemuda yang tidak mau memperkenalkan namanya yang sejati. Ia mengerti, bahwa jika ia membuka rahasia, Boe Kie pun akan melucuti kedoknya akan mengumumkan cara bagaimana ia dan suaminya sudah membalas kebaikan dengan kejahatan. Maka itu, seraya mengangkat pedang, ia berkata, “Can Siauw Hiap telah mendapat kemajuan pesat sekali. Dengan jalan ini, aku memberi selamat, aku ingin minta pengajaranmu.”

Boe Kie tersenyum. “Sudah lama kudengar Kiam Hoat kalian berdua yang sangat lihai,” katanya. “Boanpwee hanya mengharap cianpwee suka menaruh belas kasihan.”

Sementara itu, Ho Thay Ciong sudah mengambil pedang yang dipegang kacungnya. “Senjata apa yang ingin digunakan Can siauw Hiap?” tanyanya.

Melihat Ho Thay Ciong, Boe Kie lantas saja ingat kejadian-kejadian pada empat tahun berselang. Ia ingat Kim Koan dan Cin Koan yang bisa mengisap racun dan yang kemudian mati sebab tiada makanan. Hal ini sangat disayangkanolehnya. Iapun ingat, bahwa Ho Thay Ciong dan isterinya pernah naik ke Boe tong untuk mendesak kedua orang tuanya, sehingga ayah dan ibu itu mati bunuh diri. Ia ingat pula, bahwa ia pernah dipaksa minum arak beracun, dipukul sampai babak belur dan dilemparkan ke batu gunung. Kalau tidak ditolong Yo Siauw, jiwanya pasti sudah melayang.

Mengingat itu darah Boe Kie meluap. “Ho Thay Ciong, Ho Thay Ciong!” katanya di dalam hati. “Hari itu kau menghajar aku sepuas hati, hari ini meskipun tidak mengambil jiwamu, aku akan memberi pelajaran setimpal kepadamu.

Ketika itu kedua pemimpin Koen Loen dan kedua ratus Hwa San Pay sudah berdiri di empat sudut sambil mencekal senjata mereka yang berkeredepan. Sekonyong-konyong Boe Kie bersiul dan bagaikan sebatang pit badannya meluncur ke atas, akan kemudian, dengan tiba-tiba mengubah arah ke jurusan sebuah pohon bwee. Dengan sekali menggerakkan tangan, ia sudah mematahkan sebatang ranting yang penuh bunga dan sesudah itu, barulah badannya melayang kembali ke bumi.

Ilmu ringan badan Boe Kie sudah dilihat orang. Tapi gerakannya dalam memetik ranting bwee itu indah luar biasa, sehingga semua orang menggeleng-gelengkan kepala, bahkan kagumnya.

Sementara itu, Boe Kie sudah bertindak ke tengah gelanggang dan sambil mengangkat ranting pohon itu. Ia berkata, “biarlah dengan menggunakan ini, boanpwee menerima pelajaran dari Hwa San Koen Loen.”

Semua orang kaget. Cara bagaimana pemuda itu melawan keempat ahli silat dengan menggunakan ranting pohon yang dihias dengan kurang lebih sepuluh kuntum bunga? Biarpun memiliki lweekang yang sangat tinggi, cabang kayu itu takkan bisa melawan golok dan pedang.

Pan Siok Ham tertawa dingin, “Bagus,” katanya. “Bocah! Kau sedikitpun tidak memandang sebelah mata kepada ilmu silat Hwa San dan Koen Loen.”

Boe Kie tersenyum dan menjawab, “Boanpwee pernah dengar cerita seorang Sian Hoe (mendiang ayah) bahwa seorang cianpwee dari Koen Loen Pay yaitu, Ho Ciok To Sian Seng, mempunyai kepandaian luar biasa dalam ilmu memetik khim, bersilat dengan pedang dan main catur, sehingga beliau dikenal sebagai Koen Loen Sam Seng. Hanya sayang kita terlahir terlalu lambat dan tak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang tua itu.”

Semua orang mengerti maksud pemuda itu, dengan memuju Ho Ciok Too, Boe Kie menghargai Koen Loen Pay yang mempunyai leluhur jempolan, tapi ia memang tak memandang sebelah mata kepada Cian Boen Jin yang sekarang bersama isterinya.

Sekonyong-konyong dalam barisan Koen Loen Pay terdengar bentakan menggeledek. “Anak haram! Betapa tingginya kepandaianmu sehingga kau begitu kurang ajar terhadap guruku?” cacian itu disusul dengan melompatny seorang pria bewokan yang mengenakan jubah imam warna kuning. Berbareng lompatan itu, pedangnya menikam punggung Boe Kie, biarpun sebelum menyerang ia mancaci tapi sebab gerakannya cepat luar biasa, maka serangan itu tiada bedanya seperti bokongan.

Pada detik ujung pedang hampir menyentuh punggungnya, tanpa memutar badan, kaki kiri Boe Kie menyambar ke belakang dan dengan gerakan yang tak dapat dilihat orang, kakinya sudah menginjak pedang itu di atas tanah. Dengan menggunakan seantero tenaganya, si imam membetot pedang itu, tapi sedikitpun tidak bergeming.

Perlahan-lahan Boe Kie menengok dan ia segera mengenali, bahwa penyerang itu bukan lain daripada See Hoa Coe yang pernah ditemui di tengah lautan. Imam itu yang sangat berangasan pernah mengeluarkan perkataan kurang ajar terhadap mendiang ibunya In So So. Mengingat itu Boe Kie berduka dan lalu bertanya, “Apakah kau See Hoa Coe Tootiang?”

See Hoa Coe tidak menyahut. Dengan muka kemerah-merahan, ia terus membetot pedangnya dengan sekuat tenaga.

Tiba-tiba sesudah menotol badan pedang dengan tumit sepatu. Boe Kie mengangkat kakinya. Sebab tidak mendug, si imam terhuyung setindak, tapi berkat kepandaiannya yang tinggi, dengan mengerahkan lweekang, ia segera dapat mempertahankan diri. Tapi, baru saja menggunakan Cian Kin Toei (ilmu memberatkan badan supaya bisa berdiri tetap) semacam tenaga yang datang dari badan pedang mendorongnya. Tenaga itu adalah begitu hebat, hingga tanpa berdaya ia jatuh duduk. Hampir berbareng, terdengar suara “tang!” dan pedang patah dan ia hanya mencekal gagangnya saja.

Bukan main malunya See Hoa Coe, Sang Soe Nio (isteri guru) mengawasinya mencorong dengan sorot mata yang gusar dan ia tahu bahwa ia akan mendapat hukuman. Dengan bingung dan ketakutan, buru-buru ia berbangkit, “anak haram!… “ bentaknya.

Sebenarnya Boe Kie sudah merasa cukup, tapi begitu mendengar cacian “anak haram” yang mencaci juga kedua orang tuanya, darahnya lantas saja meluap. Bagaikan kilat, ia mengibas ranting bwee dan tiga “hiat” di dada See Hoa Coe sudah tertotok. Tapi dengan berlagak pilon ia segera berkata kepada empat lawannya, “para cianpwee boleh lantas mulai!”

“Minggir kau!” bentak Pan Siok Ham.

“Apa belum cukup?”

“Baik,” jawab See Hoa Coe, tapi badannya tak bergerak.

Pan Siok Ham jadi makin gusar, “aku suruh kau minggir, apa kau tak dengar!” teriaknya.

“Baik… baik… soe nio… baik” jawabnya terputus-putus. Tapi ia tetap berdiri tegak.

Tak kepalang marahnya si jago betina. Dia sungguh tak mengerti, mengapa murid itu sungguh kurang ajar. Ia belum tahu, bahwa beberapa jalan darah See Hoa Coe sudah ditotok Boe Kie. Dengan mata mendelik, ia mendorong keras murid yang dianggapnya bandel itu.

Badan si imam terdorong beberapa kaki, tapi badan dan kaki tangannya tetap tidak berubah.

Sekarang barulah Pan Siok Ham berdua suami tahu sebab musababnya. Mereka heran bercampur kagum. Mereka tak mengerti, bagaimana Boe Kie bisa menotok jalan darah tanpa diketahui mereka. Buru-buru Ho Thay Ciong menotok beberapa hiat di pinggang muridnya untuk membuka jalan darah yang tertutup. Diluar dugaan, See Hoa Coe masih tetap tidak bisa bergerak.

Sambil menunjuk tubuh PH yang bersandar pada YS, Boe Kie berkata, “Beberapa tahun yang lalu, nona kecil itu sudah pernah ditutup jalan darahnya dan mereka dipaksa untuk minum arak beracun, sedang aku sendiri tidak berdaya untuk membuka hiat to yang tertotok. Sekarang muridmu pun mendapat pengalaman yang sama. Kau tak usah heran, ilmu Tiam Hiat kita berdua memang berlainan.

Melihat berubahnya paras muka para hadirin, Pan Siok Ham merasa jengah dan untuk menutup rasa malunya, tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia segera menikam alis Boe Kie. Hampir berbareng, pedang Ho Thay Ciong menyambar punggung pemuda itu, dan kedua kakek Hwa San Pay-pun lantas mulai menyerang.

Dengan sekali melompat Boe Kie menyelamatkan diri dari empat senjata. Ho Thay Ciong segera mengirim tikaman ke kedua pinggang Boe Kie untuk memaksa pemuda itu menangkis dengan ranting bwee. Sambil mementil golok si kate dengan telunjuk kiri, Boe Kie menotol badan pedang Ho Thay Ciong memutar senjatanya dan memapas cabang yang kecil itu. Ia berpendapat, bahwa biarpun lawan memiliki kepandaian tinggi, ranting itu takkan bisa melawan tajam dan kerasnya pedang. Diluar dugaan, Boe Kie pun memutar rantingnya dan memukul badan pedang. Tiba-tiba Ho Thay Ciong merasa dorongan dari semacam tenaga lembek sehingga pedangnya terpental dan menghantam golok si jangkung.

“Aha, Ho Thay Ciong!” seru kakek itu. “Mengapa kau membantu lawan?”

Paras muka Ho Ciang Boen berubah merah, tapi ia tentu saja tidak mau mengaku bahwa pedangnya telah dipukul terpental oleh pemuda itu.

“Omong kosong!” bentaknya seraya menikam Boe Kie.

Pertempuran lantas berubah dengan hebatnya.

Bagaikan hujan gerimis, Ho Thay Ciong mengirim tikaman-tikaman berantai, sedang isterinya yang bergerak di belakang Boe Kie berusaha menutup jalan mundur pemuda itu. Dari kedua samping kedua kakek Hwa San Pay mencecer dengan pukulan-pukulan terhebat dari Liang Gie To Hoat.

Kedua macam ilmu silat itu yang satu “ceng” yang lain “hoan” berasal dari pat kwa dan pulang ke pat kwa. Dengan lain perkataan, karena sumbernya sama maka meskipun jurus-jurusnya berlainan pada hakekatnya kedua ilmu silat itu bersatu padu. Makin lama keempat tokoh makin saling mengerti dan kerja sama juga jadi makin erat.

Sebelum bergebrak, Boe Kie pun tahu, bahwa keempat lawannya tak boleh dibuat gegabah. Ia hanya tidak menduga, bahwa kerja sama antara Hoan Liang Gie To Hoat dan Ceng Liang Gie Kim Hoat bisa sedemikian hebat dan berkat bantuan antara “yang” dan “Im” kerjasama itu dikatakan tiada cacatnya. Tak ada bagian yang lemah, baik dalam serangan maupun dalam pembelaannya. Kalau menggunakan senjata biasa, ia masih bisa mendapat bantuan dari senjata itu. Apa mau secara temberang, ia memilih ranting bwee dan sekarang ia menghadapi bahaya besar.

Sesudah bertempur lagi beberapa lama, si kakek kate mendadak menyerang kaki Boe Kie dengan menggulingkan badan di tanah. Boe Kie berkelit ke samping, ia dipaki Pan Siok Ham, “kena!” bentak jago betina itu dan paha Boe Kie sudah tertikam!

Baru saja ia mementil senjata lawan, pedang Ho Thay Ciong sudah menyambar dan golok kedua kakek itu membabat kakinya. Dilain detik, Pan Siok Ham sudah lantas saja menikam pula dengan serentak. Keadaan Boe Kie terdesak.

Dalam bahaya, mendadak ia mendapat serupa ingatan. Laksana kilat ia melompat dan bersembunyi di belakang See Hoa Coe. Pan Siok Ham menikam dengan tujuan membinasakan dan bukan hanya untuk menjajal kepandaian. Ujung pedang yang menyambar dengan disertai lweekang, hampir amblas di badan muridnya. Untung juga ia keburu menarik pulang senjatanya, tapi See Hoa Coe sudah berteriak dan mengeluarkan keringat dingin.

Boe Kie jengkel dan bingung. Sesudah bertempur beberapa lama, ia masih juga belum bisa menangkap intisari daripada kedua ilmu silat itu. Sebelum dapat menyelam isinya, ia tak akan bisa memecahkannya. Maka itu, jalan satu-satunya ialah berkelit kian kemari dengan menggunakan See Hoa Coe sebagai tameng. Sambil menggunakan siasat main petak ini, pemuda itu mengeluh, “Boe Kie! Boe Kie! Kau terlalu memandang enteng kepada orang gagah di kolong langit. Sekarang kau menghadapi bencana. Jika bisa keluar dengan selamat, kau harus ingat baik-baik pelajaran yang pahit ini. Benar juga kata orang, di luar langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia.”

Pan Siok Ham merasa dadanya seperti mau meledak. Kalau tidak dihadang See Hoa Coe, beberapa kali ia bisa menikam pemuda itu. Kalau menuruti napsu, ia ingin membuat putus badan si imam, tapi dengan adanya kecintaan antara guru dan murid, ia tentu saja tidak tega turunkan tangan jahat.

“Ho Hoe jin!” teriak si jangkung. “Kalau kau tidak mau turun tangan terhadap orangmu, biarlah aku yang turun tangan.”

“Sesudahmu!” bentaknya dengan gusar.

Si jangkung lantas saja mengangkat goloknya dan menyabet pinggang See Hoa Coe.

Boe Kie terkejut. Jika kakek itu benar-benar membunuhi imam, maka bukan saja ia sendiri terancam kebinasaan, tapi dalam persoalan ini juga akan timbul sengketa baru. Maka itu, dengan menggunakan sinkang, ia mengebut dengan tangan bajunya dan golok si jangkung terpental.

Hampir berbareng si kate membacok. Boe Kie berkelit ke kanan, tapi ia tidak mengubah arah goloknya yang terus menyambar ke pundak See Hoa Coe. Ia membuat gerakannya sedemikian rupa, sehingga seolah-olah tidak keburu mengubah arah atau menarik pulang senjatanya. Tapi di mulut ia berteriak, “See Hoa Coe Tooheng, hati-hati!”

Dengan berbuat begitu, si kate coba menyebar bibit penyakit kepada Boe Kie. Ia mengerti, bahwa jika ia membinasakan See Hoa Coe, Ia akan bermusuhan dengan Koen Loen Pay. Tapi dengan pura-pura tidak keburu menarik pulang senjata, ia bisa memindahkan kedosaan ke atas pundak Boe Kie.

Boe Kie memutar badan dan mendorong dada si kate dengan telapak tangannya. Napas kakek itu menyesak. Buru-buru ia menyambut dengan tangan kiri, tapi goloknya menyambar terus. Untung sungguh, sebelum golok mampir di pundak See Hoa Coe, kedua tangan itu kebentrok dan si kate terhuyung ke belakang, sehingga goloknya pun membacok angin.

Sesudah jiwanya ditolong dua kali, si imam merasa sangat berterima kasih kepada Boe Kie dan berbalik membenci kedua kakek itu. “Kalau bisa hidup terus, aku pasti akan berhitungan dengan bangsat kate dan jangkung itu.” Katanya di dalam hati.

Dilain pihak, melihat pemuda itu melindungi muridnya. Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham merasa girang. Mereka bergirang sebab dalam usahanya melindungi See Hoa Coe, Boe Kie jadi lebih sukar untuk membela diri. Mereka sedikitpun tidak merasa berterima kasih terhadap lawan yang sudah menolong muridnya dan mereka menyerang makin hebat.

Melihat begitu, tokoh-tokoh Siauw Lim, Boe Tong, dan Go Bie menggeleng-gelengkan kepala dan di dalam hati kecil, mereka merasa malu. Kalau pemuda itu binasa, sedikit banyak mereka turut berdosa.

Kedua kakek Hwa San Pay terus menyerang dengan hebatnya, sebentar membabat Boe Kie, sebentar membacok See Hoa Coe. Makin lama Boe Kie makin terdesak. “Tak apa jika aku sendiri yang binasa,” pikirnya. “Tapi sangat tidak pantas kalau aku menyeret juga imam ini.” Memikir begitu, sambil menghantam si jangkung ia mengibas ranting bwee dan dengan kibasan itu, ia membuka jalan darah See Hoa Coe.

Sesaat itu, si kate membabat kaki See Hoa Coe dan Boe Kie menendang pergelangan tangannya. Dengan cepat kakek itu menarik pulang tangannya. Mendadak si imam yang sudah merdeka mengirim tinju yang tepat mampir di batang hidung si kate, yang lantas saja mengucurkan darah. Kepandaian jago Hwa San Pay itu banyak lebih tinggi daripada si imam. Tapi sebab diserang sedari tidak diduga-duga, ia tidak keburu berkelit lagi.

Kejadian yang lucu itu disambut dengan gelak tertawa.

“See Hoa Coe, mundur kau!” bentak Pan Siok Ham sambil menahan tertawa.

“Baiklah,” jawabnya, “Bangsat jangkung itu masih hutang satu tinju,” tiba-tiba si kate menyapu kaki See Hoa Coe, membacok dan menyikut. “Duk!” sikut kirinya mampir di dada si imam. Tiga gerakan berantai itu adalah salah satu jurus terlihai dari Hwa San Pay. Tubuh See Hoa Coe bergoyang-goyang dan tanpa tercegah lagi, ia muntah darah.

Bagaikan kilat, Ho Thay Ciong menempelkan telapak tangan kirinya di pinggang si murid dan dengan sekali mendorong, tubuh yang tinggi besar itu sudah terpental beberapa tombak jauhnya. Sungguh indah pukulan itu! Katanya, seraya mendongak si kate dan “sret!” pedangnya menikam Boe Kie merupakan bukti bahwa Ciang Boen Jin Koen Loen Pay memang bukan sembarang orang.

Sesudah penghalang menyingkir, keempat jago itu menyerang makin hebat. Dua golok dan pedang berkelabat-kelebat bagaikan titiran dan Boe Kie seolah-olah dikurung dengan sinar senjata. Dengan tenaga dalam yang sangat kuat, ia tidak merasa lelah. Tapi serangan-serangan itu dengan perubahan-perubahannya yang aneh-aneh dengan sesungguhnya terlampau hebat. Ia mengerti bahwa dalam dua ratus atau tiga jurus lagi, ia akan binasa.

KIOE YANG SIN KANG yang dimiliki Boe Kie didapat dari Kioe Yang Cin Kang gubahan Tat Mo Couw Soe dari India, sedang KIAN KOEN TAY LO IE berasal dari Iran. Kedua ilmu ini boleh dikatakan puncaknya kepandaian manusia. Dilain pihak, kedua ilmu silat Liang Gie itu digubah dari macam-macam ilmu Tiongkok asli yang dicampur dengan kedudukan-kedudukan Pat Kwa dari Boe Ong. Jika seseorang sudah melatih diri sampai pada tingkat tertinggi dari ilmu tersebu maka ia akan banyak lebih lihai daripada orang yang mempunyai KIAN KOEN TAY LO IE Sin Kan. Tapi sebab Kitab Yan Keng (kitab tentang Pat Kwa) sangat sukar dipelajari, maka keempat jago itu baru mengenal kulitnya saja. Kalau bukan begitu, siang-siang Boe Kie sudah binasa.

Sambil bertempur, pemuda itu terus mengasah otak. Kalau mau dengan menggunakan ilmu pengenteng badan dengan mudah ia bisa meloloskan diri dari kepungan. Keempat tokoh itu tak akan mampu mengejarnya. Akan tetapi jika ia lari, tujuannya yaitu mendamaikan permusuhan antara enam partai dan Beng Kauw akan gagal sama sekali. Sesudah memikirkan bolak-balik, ia mengambil keputusan untuk bertahan terus dan baru menyerang sesudah keempat lawannya lelah. Tapi diluar dugaan, keempat orang tua itu memiliki tenaga dalam yang sangat kuat dan aneh sampai kapan baru menjadi letih.

Biarpun sudah berada di atas angin, di dalam hati keempat jago itu merasa sangat tidak enak. Mereka merasa malu pada diri sendiri. Dengan mengingat kedudukan dan nama mereka, jangankan empat lawan satu, sedang satu lawan satupun sudah sangat hilang muka. Lebih daripada itu, sesudah bertempur tiga empat ratus jurus, mereka belum juga bisa merobohkan Boe Kie. Untung juga, pemuda itu sudah lebih dahulu menjatuhkan pendeta suci Kong Seng. Sehingga kalau malu, malu beramai-ramai.

Makin lama Boe Kie makin terdesak, tapi tak gampang-gampang ia bisa dilukai. Pada detik-detik yang berbahaya ia selalu dapat menyelamatkan diri dengan berkelit atau menangkis dengan ranting bwee yang disertai sin kang.

Dilain pihak, keempat tokoh itu mempunyai pengalaman luas dan kenyang menghadapi lawan berat. Makin lama bertempur, mereka makin tidak berani berlaku sembrono. Seraya mengempos semangat, mereka mendesak setingkat demi setingkat.

Para tetua keempat partai mengikuti jalan pertandingan dengan penuh perhatian dan saban-saban memberi penjelasan serta petunjuk kepada murid-murid mereka yang berdiri di sekitar lapangan.

“Lihatlah kamu semua,” kata Biat Coat Suthay kepada murid-muridnya. “Ilmu silat pemuda itu sangat luar biasa. Tapi keempat pemimpin dari Koen Loen Pay dan Hwa San Pay sudah menjepitnya, sehingga ia tidak bisa bergerak lagi. Ilmu silat dari Tiong Goan tak akan bisa ditandingi oleh segala ilmu siluman dari See Hek. Liang Gie berubah menjadi Soe siang dan Soe siang berubah menjadi Pat Kwa. Dalam ilmu silat itu terdapat 8 kali delapan 64 kie pian (perubahan yang luar biasa) dan kali empat puluh empat teng pian (perubahan yang sudah tetap) enam puluh empat dikali dengan enam puluh empat sehingga sama sekali ada empat ribu sembilan puluh enam perubahan. Diantara macam-macam ilmu silat di kolong langit, ilmu silat Liang Gie lah yang mempunyai banyak perubahan.”

Sedari Boe Kie turun ke gelanggang. Cioe Coe Jiak sangat berkhawatir akan keselamatannya. Karena sangat disayang oleh sang guru, nona itu sudah diberi pelajaran kitab Ya keng. Sekarang dengan mengggunakan kesempatan baik, ia segera berkata dengan suara nyaring. “Soe hoe, menurut pendapat teecoe, biarpun jurus-juruanya sangat beraneka warna, intisari dari Cong Han Siang Gie ialah Thay Kek menjadi Im Yang Liang Gie. Yang terdiri dair Thay Yang dan Siauw Im. Inilah yang dinamakan Siauw Yang dan Thay Im. Inilah yang dinamakan Soe Sian. Kalau tidak salah meskipun pukulan-pukulan keempat cianpwee itu hebat luar biasa, tetapi yang paling lihai adalah po hoatnya (tindakannya).” Karena ia menggunakan bicara dengan menggunakan tenaga dalam tanpa merasa semua orang menengok kepadanya.

Meskipun sedang bertempur mati-matian, kuping dan mata Boe Kie tetap berwaspada terhadap keadaan di luar gelanggang dan setiap perkataan nona Cioe didengar tegas olehnya. “mengapa ia bicara begitu keras?” tanyanya di dalam hati. “Apakah ia sengaja ingin memberi petunjuk kepadaku?”

“Penglihatanmu sedikitpun tak salah,” kata Biat-Coat. “Aku merasa girang, bahwa kau bisa menangkap intisari dari ilmu silat para cianpwee.”

“Ya,” kata pula si nona pada diri sendiri. “Kian di selatan, koen di utara, loodi di timur, kan di barat, cin di timur laut, twie di tenggara, soen di barat daya, gin di barat laut. Dari cin sampai Kian dinamakan soen (menurut) dari soen sampai koen dinamakan gek (melawan).” Sesudah berdiam sejenak, ia berkata lagi dengan suara lebih keras. “Soehoe, tak salah, tepat seperti yang diajar olehmu, Ceng Liang Gie Kiam Hoat dari Koen Loen Pay adalah Soen yang meliputi kedudukan dari Cin sampai pada Kian. Hoan Liang Gie To Hoat dari Hwa San Pay ialah Gek yang meliputi kedudukan dari Soen sampai papa Koen. Soehoe, bukankah begitu?”

Mendengar perkataan muridnya, Biat-coat jadi girang sekali. Ia mengangguk beberapa kali dan berkata. “Anak, kau tidak menyia-nyiakan capai lelahku.” Nenek itu adalah manusia yang paling jarang memuji orang. Perkataannya itu adalah pujian tertinggi yang dapat diberikan olehnya.

Dalam girangnya, Biat-coat sedikitpun tidak memperhatikan suara Cie Jiak yang sebenarnya terlampau nyaring. Tapi banyak orang sudah melihat keluarbiasaan itu.

Melihat banyak mata ditujukan kepadanya, Cie Jiak lantas saja pura-pura tergirang-girang dan berkata sambil menepuk-nepuk tangan. “Soehoe, benar, Soe-siang ciang dari Go bie pay kita, dalam bundarnya terdapat persegi, Im dan Yang saling bantu membantu. Yang bundar yang berada di luar, adalah “Yang”. Yang persegi, yang di tengah-tengah, ialah “Im”. Yang bundar, yang bergerak dinamakan “Thian” (langit). Yang persegi, yang diam (tenang), dinamakan “Tee” (bumi). Dengan demikian, dalam ilmu silat kita itu terdapat Langit, Bumi, Im, Yang, persegi, bundar, bergerak dan diam. Menurut pendapatku, Soesiang ciang lebih unggul setingkat daripada Ceng hoan Liang gie.”

Biat coat yang memang selalu merasa bangga akan kelihayannya Soe siang ciang jadi makin girang, “Tak salah apa yang dikatakan olehmu” katanya selalu bersenyum. “Akan tetapi, kelihayan ilmu silat itu tergantung atas kepandaian dan tenaga dalam diri orang yang menggunakannya.

Diwaktu kecil, Boe Kie sering mendengar ceramah-ceramah mengenai pelajaran kedudukan Pat-kwa, karena Ya-keng adalah kitab yang terutama dipelajari oleh murid2 Boe tong dan lweekang Boe tong pay juga berdasarkan kitab itu.

Mendengar perkataan nona Cioe mengenai Soe siang ciang, Soen dan Gok, ia terkejut. Ia segera memperhatikan po hoat (tindakan) dan jurus2 keempat lawannya dan benar saja, semua itu berdasarkan perubahan2 dari Soe siang Pat kwa. Sekarang ia mengerti, mengapa Kian koen Tay lo ie tidak bisa bergerak.

Pada hakekatnya, kalau sama-sama sudah mencapai puncak kesempurnaan, ilmu silat See hek tidak akan bisa menandingi ilmu dari Tiong goan. Bahwa Boe Kie masih terus bisa mempertahankan diri adalah karena ia sudah memiliki ilmu See hek sampai pada tingkat yang tertinggi, sedang keempat lawannya baru mengenal kulit-kulit dari ilmu silat Tionggoan itu. (See hek Daerah barat).

Dalam sekejap ia sudah dapat memikir beberapa cara untuk merobohkan lawannya itu. Tapi ia masih bersangsi. “Kalau kini aku menjatuhkan mereka, Biat coat akan mendusin dan menggusari nona Cioe,” pikirnya. “Nenek itu sangat kejam. Ia dapat melakukan perbuatan apapun jua.”

Maka ia tak lantas mengubah cara bersilatnya. Tapi sekarang, berbeda daripada tadi, ia bisa melayani dengan tenang sambil memperhatikan jurus-jurus lawan. Makin lama ia makin tahu seluk-beluk Ceng-hoan Liang gie.

Sementara itu, melihat keadaan Boe Kie tak berubah, Cie Jiak jadi makin bingung.

“Dalam repotnya melayani musuh, ia tentu tak bisa lantas menangkap ilmu silat yang sangat tinggi itu,” pikirnya. Melihat Boe Kie makin terdesak, ia jadi nekat.

Sambil menghunus pedang, ia melompat masuk ke dalam gelanggang. “Soe wie Cianpwee!” serunya. Jika kalian tidak bisa merobohkan bocah itu, biarlah aku yang mencoba-coba.”

Ho Thay Ciong jadi gusar. “Jangan rewel! Minggir kau!” bentaknya.

Alis Pan Siok Ham berdiri. “Pernah apa kau dengan bocah itu?” tanyanya dengan suara keras. “Kau mau melindungi dia? Koen loen pay tak boleh dibuat permainan.”

Karena topengnya dilucuti, paras muka Cie Jiak lantas saja berubah merah.

“Cie Jiak balik!” bentak Biat-coat.
“Koen-loen-pay tidak boleh dibuat permainan. Apa kau tidak mendengar?”

Boe Kie merasa sangat berterima kasih. Dia merasa, bahwa mereka terus berlagak terdesak, si nona pasti akan mencari lain daya upaya untuk membantu dirinya. Kalau hal itu dilihat oleh Biat-coat, Cie Jiak bisa celaka. Maka itu, ia lantas tertawa terbahak-bahak. “Aku adalah pecundang dari Go-bie-pay”, katanya. “Aku pernah ditawan Biat-coat Soethay, memang benar Go-bie-pay lebih unggul daripada Koen-loen pay”. Seraya berkata begitu, ia maju dan tidak ke kiri. Kini tangan kanannya yang memegang ranting bwee membabat ke bawah.

Kesiuran angin yang dahsyat itu, lantas saja menghantam punggung si kate. Pukulan dan tindakan Boe Kie dilakukan dengan tenaga dan waktu yang tepat, sehingga tanpa merasa, golok si kate menyambar ke arah Pan Siok Ham. Pemuda itu ternyata memukul dengan Kian koen Tay-lo-ie Sin-kang dan bertindak menurut kedudukan Pat kwa. Dalam kagetnya, si jago pedang betina menangkis dengan pedangnya. “Trang!”, tangkisannya berhasil, tapi golok si jangkung sudah menyusul.

Untuk menolong istrinya, Ho Thay Ciong melompat dan menangkis golok si jangkung.

Boe Kie menepuk dengan telapak tangannya dan golok si kate membacok kempungan Ho Thay Ciong. Pan Siok Ham gusar. Dengan beruntun ia mengirim tiga serangan berantai, sehingga si kate repot. “Hei! Jangan kena diakali si bangsat kecil itu!” teriaknya.

Kini Ho Thay Ciong mendusin. Seraya menikam Boe Kie. Dengan Tay-lo-ie Sin kang, pemuda itu menyambut pedang Ho Thay Ciong yang lantas saja berubah arah dan menyambar pundak si jangkung.

Si jangkung berteriak-teriak bahna gusarnya. Dengan sekuat tenaga ia membacok kepala Ho Thay Ciong.
Si kate buru-buru berteriak, “Soetee, jangan kalap! Itu semua perbuatan si bocak. Celaka!” Pada detik itu, pedang Pan Siok Ham berkelebat di pundaknya.

Dalam sekejap kedua kakek Hwa san pay sudah terluka enteng, digores pedang kawan sendiri. Gerakan-gerakan kedua golok dan kedua pedang jadi kalang kabut. Bacokan, babatan, papasan, tikaman yang ditujukan ke tubuh Boe Kie selalu berubah arah dan menghantam kawannya sendiri.

Kini semua orang bisa lihat, bahwa itu semua perbuatan Boe Kie. Tapi ia tak tahu, ilmu apa yang digunakan pemuda itu. Yang tahu hanyalah Yo Siauw seorang. Tapi iapun hampir tidak percaya, bahwa seorang manusia bisa memiliki Kian koen Tay-lo-ie Sin-kang sampai pada taraf yang begitu tinggi.

Untuk melawan, Pan Siok Ham memberi isyarat dengan teriakan. “Mutar ke Boe-bong wie!…” Tapi itu semua tak menolong sebab Kian-koen Tay-lo ie Sin-kang sudah menguasai mereka dari delapan penjuru. Mati-matian ia coba memberontak. Tapi semua sia-sia saja setiap gerakan atau bacokan pasti menikam kawannya sendiri.

“Soeko, apa tak baik kau mengurangi sedikit tenagamu?” teriak si jangkung sambil menangkis golok kakak seperguruannya.

“Aku bacok bangsat kecil itu, bukan kau?” kata si kate.

“Soeko, hati-hati!” teriak si jangkung. “Bacokan ini mungkin akan berbalik…” Benar saja goloknya menyambar sang kakak.

Tiba-tiba dengan paras muka menyeramkan, Pan Siok Ham melemparkan pedangnya. “Ini benar,” pikir si kate yang lantas saja turut membuang senjatanya dan kemudian menendang Boe Kie. Mendadak pedang Ho Thay Cong menyambar mukanya dan sebab telah tak bersenjata, buru2 ia menundukkan kepala. “Lepaskan senjata!” teriak Pan Siok Ham. Mendengar perintah sang isteri, Ho Ciang-boen segera melontarkan pedangnya jauh2. Sambil membuang goloknya, si jangkung menjambret leher Boe Kie. Ia merasa telapak tangannya menyentuh benda keras dan ia segera mencengkeram. Sedetik kemudian ia terkesiap, sebab yang dicengkeramnya bukan lain daripada gagang goloknya sendiri yang dipulangkan oleh Boe Kie dengan menggunakan Kian-koen Tay-lo-ie Sin Kang.

“Aku tak mau menggunakan senjata!” teriak si jangkung seraya melemparkan lagi goloknya. Boe Kie miringkan badan dan menangkap pula senjata itu yang sekali lagi dipulangkan ke tangan lawan. Kejadian itu terulang beberapa kali. Dalam kaget dan kagumnya si jangkung tertawa terbahak-bahak. “Bangsat bau, kau benar-benar mempunyai ilmu siluman!” teriaknya.

Sementara itu, si kate dan suami isteri Ho sudah menyerang dengan tangan kosong. Ilmu silat tangan kosong dari Hwa san dan Koen loen tidak kalah hebatnya dari ilmu silat dengan memakai senjata. Tapi pemuda itu licin bagaikan ikan di air. Pada detik-detik berbahaya, ia selalu bisa menyelamatkan diri, akan kemudian balas menyerang. Sampai di situ, keempat jago mengerti bahwa mereka tak akan bisa mendapat kemenangan.

“Bangsat bau! Awas senjata rahasia!” teriak si jangkung. Ia mendehem dan menyembur Boe Kie dengan riaknya. Boe Kie berkelit dan dengan menggunakan kesempatan itu, si jangkung melontarkan goloknya. Tiba-tiba ia berteriak, “Celaka! Maaf!” Apa yang sudah terjadi? Dengan tangan kiri Boe Kie mengibas riak itu yang berbalik dan mampir di dahi Pan Siok Ham.

Si ratu Koen loen jadi kalap. Sekarang ia nekad. Ia mengambil keputusan untuk mati bersama-sama Boe Kie. Sambil mementang sepuluh jarinya dan berdiri di belakang Boe Kie untuk mencegat jalan mundur pemuda itu. Melihat kesempatan baik, Ho Thay Ciong juga menubruk. Ia merasa pasti kali ini bocah bau itu tak akan bisa meloloskan diri.

Seraya bersiul nyaring, badan Boe Kie mendadak melesat ke atas dan begitu berada di tengah udara, ia mengerahkan Kian koen Tay lo Ie Sin kang dan mengibas kedua tangannya dengan gesit dan cekatan. Sesudah itu ia lantas memutar badan dan dengan gerakan yang sangat indah tubuhnya melayang ke muka bumi dan hinggap pada jarak kurang lebih setombak dari tempat semula.

Hasil perbuatan Boe Kie sangat menakjubkan!

Ho Thay Ciong memeluk pinggang isterinya, Pan Siok Ham mencengkeram pundak sang suami, sedang si kate dan si jangkung juga saling peluk erat-erat. Sesudah berkutat sejenak, keempat jago itu sama-sama roboh.

Dilain detik suami isteri Ho mendusin dan dengan paras muka kemerah-merahan mereka melompat bangun.

“Mampus kau!” teriak si jangkung. Celaka! … sial!…

“Lepas!” seru si kate.

Dengan malu bercampur gusar, kedua kakek itu pun berbangkit.

“Bangsat bau!” teriak si jangkung. “Ini bukan pieboe. Kau menggunakan ilmu siluman. Kau bukan enghiong.”

Si kate mengerti, bahwa pertempuran tak guna dilangsungkan lagi. Makin lama mereka akan menderita makin hebat. Sambil mengangkat kedua tangannya ia berkata, “Sin kang tuan tinggi luar biasa, aku si tua belum pernah melihat kepandaian yang semacam itu. Hwa san pay menyerah kalah.”

“Maaf”, jawab Boe Kie sambil membalas hormat. “Boanpwe menang sebab kebetulan. Kalau tadi para Cianpwee tak menaruh belas kasihan, siang-siang Boanpwee sudah binasa di bawah golok dan pedang Ceng-hoan Liang gie.” Dengan berkata begitu Boe Kie bicara sejujurnya. Kalau tak dibantu Cie Jiak, ia memang bakal celaka.

Si jangkung girang. “Bagus! Kau tahu, bahwa kau menang sebab kebetulan,” katanya.

“Apakah aku boleh tahu she dan nama Jie wie Cianpwee yang mulia?” tanya Boe Kie. “Kalau belakang hari kita bertemu pula, boanpwee bisa memanggil dengan panggilan yang benar.”

Si jangkung tertawa lebar dan menjawab. “Soeko ku ialah Wie…”

“Tutup mulut!” bentak si kate. Ia menengok kepada Boe Kie dan berkata pula. “Sebagai jenderal yang keok kami merasa sangat malu. Tuan tak perlu tahu nama kami yang hina dina.” Sesudah berkata begitu, ia masuk ke dalam barisan Hwa san pay. Si jangkung tertawa nyaring. “Dalam peperangan, menang atau kalah adalah kejadian lumrah,” katanya. “Bagiku tak menjadi soal.” Ia menjemput dua batang golok yang menggeletak di tanah dan kemudian balik ke barisannya sendiri.

Sementara itu Boe Kie sudah menghampiri Sian Ie Thong dan menotok jalan darahnya. “Sesudah pertempuran selesai, aku sekarang mau mengobati kau,” katanya. “Aku menotok jalan darahmu untuk mencegah naiknya racun ke jantung.” Di detik itu, mendadak ia merasai kesiuran angin dingin di belakangnya dan rasa perih di punggungnya. Ia terkesiap, kakinya menotol bumi dan badannya melesat ke atas.

“Cres… cress…” disusul dengan teriakan menyayat hati.

Di tengah udara ia memutar badan dan ia mendapat kenyataan dua batang pedang suami isteri Ho Thay Ciong sudah amblas di dada Sian Ie Thong!

Sebagai orang yang mempunyai kedudukan dan kepandaian tinggi dan sebagai orang yang selalu bangga akan kepandaiannya, Ho Thay Ciong dan Pak Siok Ham merasa penasaran, bahwa mereka telah roboh dalam tangannya seorang pemuda yang tak dikenal dalam rimba persilatan. maka itu, tanpa memperdulikan pantas atau tidak pantas selagi Boe Kie membungkuk untuk menotok jalan darah Sian Ie Thong, ia membokong dengan pukulan yang dinamakn “Boe seng Boe sek” (tak ada suaranya, tak ada warnanya).

Boe seng Boe sek adalah salah satu pukulan terhebat dari Koen loen pay. Pukulan itu harus didalami oleh dua orang yang tenaga dalamnya kira-kira bersama. Dua tenaga yang keluar dari pukulan itu saling bertentangan, sehingga sebagai akibatnya, suara yang bisa terdengar dalam menyambarnya senjata menjadi hilang. Itulah sebabnya mengapa jurus ini dinamakan “Boe seng Boe sek.”

Diluar dugaan, sesudah memiliki Kioe yang Sin kang, panca indera Boe Kie lebih tajam dan gerakannya cepat luar biasa. Tapi meskipun begitu, bajunya robek dan kulitnya kena juga digores pedang. Karena suami isteri Ho tidak keburu menarik pulang senjata mereka, maka yang menjadi korban adalah Sian Ie Thong.

Semua orang menjadi gempar.

Sebab sudah ketelanjur, bagaikan kalap kedua pemimpin Koen loen pay itu segera menerjang Boe Kie. Sesudah mendapat malu besar mereka mengambil keputusan untuk mengadu jiwa. Pedang mereka menyambar-nyambar dan setiap serangan adalah serangan untuk binasa bersama-sama musuh.

Tiba2 Boe Kie mendapat serupa ingatan. Ia berjongkok dan menjemput sedikit tanah yang sesudah dicampur dengan keringat pada telapak tangannya, lalu dibuat menjadi dua butir pel. Di lain saat Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham menyerang dari kiri kanan. Boe Kie melompat ke samping mayat Sian Ie Thong dan berlagak mengambil sesuatu dari saku mayat. Kemudian ia memutar badan dan menghantam kedua lawan itu dengan telapak tangan, dengan menggunakan tujuh bagian tenaga. Dengan berbareng suami-isteri Ho merasai tekanan hebat pada dada mereka dan napas mereka menyesak. Cepat-cepat mereka membuka mulut untuk menyedot hawa segar. Tiba-tiba Boe Kie mengayun kedua tangannya dan kedua pel tanah itu masuk ke dalam tenggorokan Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham. Mereka batu-batuk, tapi kedua “yo-wan” sudah masuk ke dalam perut.

Paras muka kedua suami isteri itu lantas saja berubah pucat. Mereka melihat Boe Kie mengambil sesuatu dari saku Sian Ie Thong. Apalagi kalau bukan racun?

Mengingat penderitaan Sian Ie Thong, bulu roma mereka bangun semua. Pan Siok Ham sudah lantas merasa pusing dan badannya bergoyang-goyang.

“Di dalam sakunya Sian Ie Thong selalu membawa-bawa ulat sutera emas yang dibungkus dengan lilin,” kata Boe Kie dengan suara tawar. “Kalian masing-masing sudah menelan sebutir lilin, kalau Jie wie cianpwee bisa memuntahkannya sebelum lilin melumer di dalam perut, mungkin sekali jiwa kalian masih bisa ditolong.

Sambil mengerahkan lweekang, Ho Thay Ciong dan isterinya segera berusaha untuk memuntahkan “yo-wan” itu. Dengan tenaga dalamnya yang sangat kuat, beberapa saat kemudian mereka berhasil mengeluarkan tanah itu yang sudah tercampur dengan cair kantong nasi.

Si kakek jangkung dari Hwa san pay lantas saja mendekati dan setelah melihat apa yang keluar dari perut, ia tertawa dan berkata, “Aduh! Itulah tai ulat sutera emas. Ulat itu mengeram dalam perutmu dan berak.”

Kaget dan gusarnya ratu Koen loen pay sukar dilukiskan. Dengan sekuat tenaga ia menghantam si jangkung yang iseng mulut. Kakek nakal itu melompat balik ke barisannya dan seraya menuding Pan Siok Ham, ia berteriak, “Perempuan galak! Kau sudah membunuh Ciang bun jin dari partai kami dan Hwa san pay pasti tak akan menyudahi perbuatanmu itu.”

Suami isteri Ho terperanjat. Meskipun berdosa besar, Sian Ie Thong adalah seorang Ciang bun jin. Mereka mengerti bahwa kesalahan tangan itu akan berekor panjang dan hebat, tapi dalam menghadapi kebinasaan segera, mereka tak sempat menghiraukan lagi bahaya di belakang hari. Mereka tahu bahwa di dalam dunia hanyalah Boe Kie yang bisa menolong mereka. Tapi mengingat perbuatan mereka dahulu hari, apakah pemuda itu sudi mengangsurkan tangan?
Boe Kie tertawa tawar dan berkata dengan suara tawar pula. “Jie wie tak usah takut, walaupun Kim-can sudah berada dalam perut enam jam kemudian barulah racunnya mengamuk. Sesudah membereskan urusan besar ini, boanpwee pasti akan menolong. Boanpwee hanya berharap Ho Hoejin jangan memaksa aku minum arak beracun.”

Biarpun disindir, kedua suami isteri itu menjadi bingung. Tapi mereka merasa malu hati untuk mengucapkan terima kasih dan sambil menundukkan kepala, mereka lalu kembali ke barisan sendiri.

“Cobalah Jie wie minta empat butir Giok tong Hek seng tan dari Khong tong pay, kata Boe Kie. “Obat itu bisa menahan naiknya racun ke jantung.”

Ho Thay Ciong mengangguk dan segera memerintahkan salah seorang muridnya minta pel itu dari pemimpin Khong tong pay.

Dalam hati Boe Kie tertawa geli. Giok tong Hek sek tan memang obat pemunah racun, tapi obat itu mengakibatkan sakit perut selama dua jam. Sesudah menelannya, perut suami isteri Ho sakit bukan main. Mereka makin ketakutan dan menduga racun sudah mulai mengamuk. Mereka tak pernah mimpi bahwa mereka dikelabui oleh pemuda itu.

Sementara itu Biat coat Soethay berkata kepada Song Wan Kiauw. “Song Thay hiap, antara enam partai hanya ketinggalan dua partaimu dan partai kami. Partai kami kebanyakan terdiri dari kaum wanita. Maka itu Song Tayhiap lah yang harus bertindak.”

“Siauw too sudah dikalahkan oleh In Kouwcoe,” jawab Wan Kiauw. “Kiam-hoat Soethay tinggi luar biasa dan Soethay pasti bisa menakluki bocah itu.”

Biat-coat tersenyum tawar dan seraya menghunus Ie thian kiam, ia bertindak masuk ke dalam gelanggang.

Se-konyong2 Jie hiap Jie Lian Cioe keluar dari barisan Boe tong pay. Sedari tadi dengan rasa kagum dan heran ia memperhatikan ilmu silat Boe Kie. “Walaupun lihay belum tentu Biat-coat Soethay bisa melawan empat jago dari Hwa san dan Koen-loen,” pikirnya. “Kalau ia kalah Boe tong pay jua kalah, maka usaha enam partai akan gagal sama sekali. Biarlah aku yang menjadi lebih dulu.” Memikir begitu ia segera menyusul Biat-coat dan berkata. “Soethay, biarlah kami berlima saudara yang lebih dulu mengadu ilmu dengan pemuda itu. Paling belakang barulah Soethay maju dan aku merasa pasti Soethay akan memperoleh kemenangan.”

Maksud Jie Lian Cioe cukup terang. Boe tong pay dikenal sebagai partai yang mengutamakan latihan lweekang. Kalau ilmu pendekar Boe tong dengan bergiliran melayani pemuda itu, maka andai kata mereka tak mendapat kemenangan, pemuda itu pasti akan lelah sekali. Sesudah dia lelah, Biat coat maju untuk merobohkannya.

Si nenek mengerti maksud Jie Lian Cioe. Ia mendongkol dan berkata dalam hati. “Siapa sudi menerima budi Boe tong pay? Dengan cara begitu biarpun menang, kemenangan itu bukanlah kemenangan gemilang!” Ia sombong memandang rendah kepada semua manusia. Meskipun sudah menyaksikan kelihayan Boe Kie, di dalam hati ia merasa bahwa jago dari lain-lain partai adalah manusia-manusia tolol. Ia tak percaya bahwa ia tak bisa merobohkan pemuda itu.

Maka itu seraya mengibaskan tangan jubah ia berkata, “Jie Jie hiap balik saja! Sesudah dihunus, Ie thian kiam tak bisa dimasukkan lagi ke dalam sarungnya sebelum bertempur.”

“Baiklah,” kata Jie Lian Cioe yang segera kembali ke barisannya.

Sambil melintangkan pedang mustika di dadanya, Biat coat menghampiri Boe Kie. Ie thian kiam dibenci dan ditakuti Beng kauw. Anggota Beng kauw yang binasa karena pedang itu sukar dihitung jumlahnya. Sekarang, melihat si nenek maju dengan pedang terhunus, mereka semua berkuatir tercampur gusar dan beramai-ramai mereka mencaci Biat coat.

Si nenek tertawa dingin, “Jangan rewel kalian!” bentaknya. “Kalian tunggulah! Sesudah membereskan bocah itu, aku akan segera membereskan kalian semua.”

In Thian Ceng tahu Ie thian kiam sukar dilawan. “Can Siauw hiap, senjata apa yang ingin digunakan olehmu?” tanyanya.

“Aku tak punya senjata,” jawabnya. “Bagaimana pikiran Loo ya coe?” Di dalam hati ia memang merasa jeri terhadap pedang mustika itu.

Perlahan-lahan sang kakek menghunus pedang yang tergantung di pinggangnya. “Terimalah Pek hong kiam ini,” katanya. “Meskipun tidak bisa menandingi Ie thian kiam dari bangsat perempuan itu, pedang ini senjata yang jarang terdapat dalam dunia Kangouw.” Seraya berkata begitu, ia menyentil badan pedang yang lantas saja membengkok karena lemas seperti ikat pinggang. Satu suara “uunng !” yang nyaring bersih lantas saja terdengar dan badan pedang pulih kembali seperti sedia kala. (Pek hong kiam – Pedang bianglala putih).

Dengan sikap menghormat Boe Kie menyambuti pedang itu. “Terima kasih,” katanya sambil membungkuk.

“Pedang itu sudah mengikuti aku selama puluhan tahun dan sudah membunuh banyak sekali manusia rendah,” kata In Thian Ceng. “Kalau hari ini dia bisa membunuh bangsat perempuan itu, biarpun mati loohoe merasa puas.”

“Boanpwee akan perbuat apa yang boanpwee bisa,” kata Boe Kie.

Sambil menundukkan ujung pedang ke muka bumi dan memegan gagang pedang Pek hong kiam dengan kedua tangan, pemuda itu berkata kepada Biat coat. “Kiam hoat boanpwee sudah pasti bukan tandingan Soethay dan sebenar-benarnya boanpwee tidak berani melawan Cianpwee. Cianpwee pernah menaruh belas kasihan kepada para anggota Swie kim kie, mengapa sekarang Cianpwee tidak bisa menaruh belas kasihan kepada boanpwee?”

Alis si nenek lantas saja turun. “Kawanan setan Swie kim kie ditolong olehmu,” katanya dengan suara menyeramkan. “Biat coat Soethay belum pernah mengampuni orang. Sesudah menang baru kau boleh membuka bacot.”

Para anggota Lima Bendera Beng kauw, yang sangat membenci nenek itu, lantas saja berteriak-teriak.
“Bangsat tua! Kalau kau benar-benar jagoan coba kau bertanding dengan tangan kosong melawan Can Siauwhiap.”

“Kiam hoatmu cetek sekali. Yang diandalkan olehmu hanyalah pedang Ie thian kiam.”
“Apa kau rasa kau bisa menang?”

Dan sebagainya.

Biat coat tidak memperdulikan cacian dan ejekan itu. “Hayo mulai!” katanya dengan nyaring.

Boe Kie sebenarnya belum pernah belajar ilmu pedang. Mendengar undangan si nenek ia bersangsi. Tiba-tiba ia ingat Liang gie Kiam-hoat dari Ho Thay Ciong yang lihay dan indah. Ia segera mengangkat pedang dan membabat. “Siauw Pek Toan in dari Hwa san pay!” seru Biat coat dengan heran (Siauw pek Toan in – memapas tembok memotong awan).

Bagaikan kilat si nenek menikam dari samping. Dalam gebrakan pertama itu, tanpa menangkis serangan, ia balas menyerang. Dengan lweekang yang hebat, ujung Ie thian kiam menyambar pusar pemuda itu.

Boe Kie berkelit ke samping, tapi sebelum ia berdiri tegak pedang Biat coat sudah meluncur di tenggorokannya. Boe Kie terkesiap. Dengan bingung ia menggulingkan diri di tanah. Tapi sebelum ia melompat bangun, angin dingin sudah menyambar-nyambar di lehernya. “Celaka!” ia mengeluh, ujung kakinya menotol tanah dan badannya melesat ke atas. Ia berhasil menyelamatkan jiwa dari satu kedudukan yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia. Baru saja hadirin mau bersorak, si nenek sudah melompat dan pedangnya diangkat untuk memapaki tubuh pemuda itu.

Detik itu tubuh Boe Kie sedang melayang turun ke bawah. Karena berada di tengah udara, ia tidak bisa berkelit lagi. Ie thian kiam menyambar! Hati Boe Kie mencelos. Satu diantara dua: kalau bukan kedua kakinya, badannya akan terbabat kutung!

Pada saat yang sangat berbahaya, Kian koen Tay lo ie memberi reaksi yang wajar. Tanpa memikir lagi, ia menyentuh ujung Ie thian kiam dengan ujung Pek hong kiam. “Trang!” Pek hong kiam melengkung dan membal. Dan dengan menggunakan tenaga membal itu, badan Boe Kie sekali lagi melesat ke atas!

Biat coat benar-benar tidak mengenal kasihan. Ia melompat dan membabat tiga kali beruntun. Badan Boe Kie sudah melayang ke bawah. Ia tidak bisa berbuat lain daripada menangkis “Trang.” Pek-hong kiam kutung dua! Dengan hati mencelos ia menepuk ubun-ubun (embun-embunan) segera membabat pergelangan tangannya. Sebab babatan itu cepat luar biasa, ia tidak keburu menarik pulang tangannya. Dalam keadaan demikian, ia hanya bisa menolong diri dengan satu jalan. Dengan kecepatan yang hampir tiada taranya, ia menyentil badan Ie thian kiam dan berbareng dengan meminjam tenaga sentilan itu, tubuhnya terbang ke tempat yang lebih selamat.

Lengan Biat coat kesemutan, telapak tangannya seperti juga terbeset dan Ie thian kiam hampir terlepas dari tangannya! Ia terkesiap. Ia menengok dan Boe Kie dengan tangan mencekal peang buntung, berarti dalam jarak dua tombak lebih.

Itulah gebrakan-gebrakan yang sungguh jarang terlihat dalam Rimba Persilatan!

Dalam sekejap mata itu, Biat coat menyerang delapan kali setiap jurus, jurus membinasakan. Delapan kali Boe Kie memunahkan serangan itu, delapan kali ia melolos dari lubang jarum. Baik serangan, maupun pembelaan diri, sama-sama mencapai puncak kehebatan, puncak keindahan. Semua orang menahan napas. Mereka hampir tak percaya, bahwa apa yang dilihat mereka adalah suatu kenyataan.

Sesudah lewat sekian lama barulah terdengar sorak sorai gegap gempita.

Bagaikan patung Boe Kie berdiri tersu sambil memegang pedang buntung. Ia merasa sudah jatuh di bawah angin. Ia tak tahu, bahwa Ie thian kiam disentil, lengan si nenek kesemutan dan kalau ia menyerang terus, ia sudah mendapat kemenangan. Memang Boe Kie kurang pengalaman.

Walaupun beradat tinggi, Biat coat sekarang mengakui kelihayan pemuda itu. “Tukar senjatamu dan mari kita bertempur lagi,” katanya.

Dengan rasa menyesal Boe Kie mengawasi pedang buntung itu. Di dalam hati ia berkata, “Gwakong menghadiahkan pedang mustika ini kepadaku dan aku sudah merusakkannya. Sungguh tak enak… senjata apalagi yang bisa melawan Ie thian kiam?”

Selagi bersangsi, tiba-tiba Cioe-Tian berteriak. “Aku punya sebuah golok mustika. Kau ambillah!”

“Ie thian kiam terlalu hebat, sahut Boe Kie. “Boanpwee kuatir senjata Cianpwee akan menjadi rusak.”

“Biar dirusak”, kata Cioe-Tian. “Kalau kau kalah, kami semua mati. Perlu apa golok mustika itu?”

Boe Kie anggap perkataanitu memang tak salah, maka tanpa berkata apa-apa lagi ia menghampiri Cioe Tian untuk mengambil goloknya.

“Thio Kongcoe, kau harus menyerang, tak boleh hanya membela diri,” bisik Yo Siauw ketika Boe Kie lewat di depannya.

Mendengar panggilan “Thio Kongcoe” Boe Kie kaget, tapi ia segera mengetahui mengapa Yo Siauw menggunakan istilah itu. Yo Poet Hwie sudah mengenali dirinya dan memberitahukan kepada ayahandanya. Terima kasih atas petunjuk Cianpwee,” jawabnya.

Waktu lewat di samping Wie It Siauw, Ceng ek Hok ong juga berbisik, “Gunakanlah ilmu peringan badan terus menerus.”

Boe Kie girang. “Terima kasih” jawabnya.

Kong beng Soe cia Yo Siauw adalah ahli-ahli silat kelas utama dan mereka belum tentu kalah dari Biat coat Soethay. Hanya sayang, sebelum bertempur mereka dibokong Goan tin sehingga badan mereka menajdi lumpuh. Tapi kecerdasan otak dan ketajaman mata mereka tidak pernah sama sekali berubah dan bisik-bisikan itu memang siasat tepat untuk menghadapi Biat coat.

Berat golok mustika itu yang sudah dipegang Boe Kie kira-kira empat puluh kati. Warnanya hitam, bentuknya aneh dan tidak usah dikatakan lagi, senjata itu barang pusaka yang sudah berusia tua sekali. Di dalam hati ia masih merasa menyesal, bahwa pedang kakeknya sudah rusak dalam tangannya. Tapi pedang itu sudah dihadiahkan kepadanya. Golok ini masih menjadi milik Cioe Tian yang meminjamkannya. “Golok mustika ini tidak boleh dirusak,” pikirnya.

Ia maju mendekati lawan dan sesudah menarik napas dalam-dalam, ia berkata. “Soethay, boanpwee mulai!” Bagaikan asap, badannya melayang ke belakang Biat coat dan mengirim bacokan pertama. Sebelum si nenek itu memutar badan, ia sudah melompat ke samping dan mengirim bacokan kedua. Badannya lantas berkelebat-kelebat, goloknya menyambar-nyambar tak henti-hentinya.

Yang sekarang digunakan Boe Kie adalah ilmu ringan badan tercepat yang pernah dikenal dalam Rimba Persilatan. Ilmu ringan badan itu adalah hasil dari pengerahan Kioen yan Sin kang dan Kian koen Tay lo ie Sin kang. Ilmu ringan badan Ceng ek masih kalah jauh. Sesudah lari beberapa puluh putaran, Kioe yang Sin kang mengamuk makin hebat dalam tubuhnya dan ia sekarang seolah-olah terbang di atas bumi.

Melihat begitu, murid2 Go bie pay jadi bingung. Mereka tahu guru mereka bakal kalah.

Sekonyong-konyong Teng Bin Koen berteriak. “Hari ini tujuan kita adalah membasmi Mo kauw. Kita datang bukan untuk pie bu. Saudara-saudara, mari kita gempur bocah itu!” Ia menghunus senjata dan melompat ke dalam gelanggang. Seluruh murid Go bie lantas saja mengikuti dan segera mengambil kedudukan di delapan penjuru. Cioe Cie Jiak berdiri di sudut barat daya. “Cioe soe moay, kau turut serta atau tidak terserah kepadamu,” ejek perempuan she Teng itu.

Cie Jiak gusar bercampur malu. “Perlu apa kau berkata begitu?” tanyanya.

Mendadak Boe Kie melompat ke hadapan Teng Bin Koen yang segera menikam. Dengan sekali menggerakkan tangan kirinya pemuda itu sudah merampas pedang lawan yang lalu ditimpukkan kepada Biat coat. Si nenek membabat dan memutuskan pedang itu, tapi tangannya kesemutan sebab Boe Kie menimpuk dengan lweekang yang hebat.

Pemuda itu bekerja cepat. Badannya berkelebat-kelebat, tangannya menyambar-nyambar merampas pedang-pedang para murid Go bie yang dengan beruntun-runtun ditimpukkan kepada Biat coat. Murid-murid Go bie rata-rata berkepandaian tinggi, tapi berhadapan dengan Boe Kie, mereka tidak berdaya.

Puluhan pedang terbang menyambar Biat coat bagaikan hujan gerimis. Dengan paras muka pucat pasi si nenek memutar Ie thian kiam dan memutuskan pedang2 itu. Tak lama kemudian sebab pegal lengan kanannya tak bisa digunakan lagi dan ia lalu memutar senjata dengan tangan kiri. Semua barisan mundur ke belakang karena potongan2 pedang menyambar kian kemari.

Tak lama kemudian, semua murid Go bie kecuali Cioe Cie Jiak seorang sudah bertangan kosong.

Boe Kie ingin membalas budi si nona, tapi dengan demikian perbedaan itu jadi sangat menyolok. Cie Jiak tahu hal ini bakal berekor. Ia melompat untuk menyerang, tapi pemuda itu selalu menyingkirkan diri.

“Cioe soemoay, benar saja ia memperlakukan kau secara istimewa sekali” ejek Teng Bin Koen.

Paras muka nona Cioe lantas saja berubah merah. Dengan jengah ia berdiri terpaku.

“Cioe soemoay, Soehoe sedang diserang musuh, mengapa kau berdiri seperti patung?” kata pula perempuan she Teng itu. “Mungkin sekali di dalam hati kau mengharap bocah itu mendapat kemenangan.”

Biarpun sedang kebingungan, setiap perbuatan Teng Bin Koen didengar tegas oleh si nenek. Tiba-tiba dalam otaknya berkelebat satu ingatan, “Cie Jiak!” bentaknya. “Apa benar kau mau menghina guru?” Seraya membentak, ia menikam dada si nona!

Hati nona Cioe mencelos. Tentu saja ia tidak berani menangkis. “Soehoe!…” teriaknya. Ia tidak dapat meneruskan perkataannya sebab hampir menyentuh dada!

Boe Kie tak tahu, dalam tikaman itu Biat Coat hanya mau menjajah. Pada detik terakhir, si nenek menarik pulang senjatanya. Karena tak bisa menebak jalan pikiran orang yang juga sebab sudah menyaksikan kekejaman Biat coat terhadap Kie Siauw Hoe, tanpa memikir panjang lagi ia melompat, memeluk pinggang Cie Jiak dan melompat ke tempat yang lebih selamat.

Kedudukan Biat coat segera berubah dari pihak yang diserang, ia sekarang bisa menyerang. Ia segera menikam punggung Boe Kie. Sebab lagi menolong orang, gerakan Boe Kie agak terlambat dan terpaksa ia menangkis dengan goloknya. “Tang!” golok mustika itu putus. Biat coat mengudak dan menikam pula. Boe Kie menimpuk dengan golok buntung, kali ini dengan menggunakan seantero lweekang. Hampir berbareng dada si nenek menyesak karena tekanan angin timpukan. Ia tidak berani menyambut dengan pedangnya dan secepat kilat ia membanting diri di tanah. Tapi biarpun begitu, ratusan lembar rambutnya terpapas putus!

Melihat kesempatan baik, tanpa melepaskan Cie Jiak, Boe Kie melompat dan menghantam dengan telapak tangannya. Karena darahnya meluap, ia menghantam dengan sepenuh tenaga. Sambil berlutut Biat coat coba membabat pergelangan tangan Boe Kie. Pemuda itu segera mengubah gerakan tangannya, dari menepuk jadi mencengkeram dan… tahu tahu tangannya sudah mencekal Ie thian kiam!

Cengkeraman itu yang dilakukan dengan Sin kang Kian koen Tay lo ie tingkat ketujuh, tak dapat dilawan oleh Biat coat.

Walaupun sudah menang, Boe Kie tidak berani berlaku sembrono. Seraya menudingkan ujung Ie thian kiam ke tenggorokan si nenek, perlahan2 ia mundur dua tindak.

“Lepaskan aku!” teriak Cie Jiak sambil memberontak.

“Ah…! Ya…!” katanya. Dengan paras muka merah, ia melepaskan nona Cioe. Ia mengendus bebauan wangi yang sangat halus dan waktu melepaskan, beberapa lembar rambut si nona menyentuh pipinya. Tanpa terasa ia melirik. Muka Cie Jiak bersemu dadu. Meskipun parasnya mengunjukkan perasaan takut, sinar matanya memperlihatkan rasa bahagia.

Perlahan-lahan Biat coat berbangkit. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia mengawasi Boe Kie. Mukanya sangat menyeramkan.

Seraya mengangsurkan gagang pedang, Boe Kie berkata, “Cioe Kauw-nio, tolong serahkan pedang ini kepada gurumu.”

Cie Jiak berdiri bengong. Macam2 pikiran berkelabat dalam otaknya. Sesudah terjadi apa yang sudah terjadi, ia merasa pasti dirinya akan dipandang sebagai pengkhianat partai, seorang yang menghina guru sendiri. Apakah ia benar-benar harus berkhianat kepada gurunya sendiri? Boe Kie memperlakukannya secara baik sekali. Tapi, biar bagaimanapun juga, ia seorang anggota Mo kauw, anggota dari agama “siluman”.

Sekonyong-konyong kupingnya mendengar bentakan gurunya, “Cie Jiak, bunuh dia!”

Tahun itu, sesudah mengajak Cie Jiak pulang ke Boe tong san, Thio Sam Hong lalu menyerahkan muridnya, yaitu Cie Jiak kepada Biat coat Soethay sebab di dalam kuil Siauw Lim Sie tak pernah bernaung murid wanita. Nona Cioe berbakat baik. Dengan mengingat dirinya seorang yatim piatu, ia belajar giat-giat dan kemajuannya pesat sekali. Biat coat sangat menyayangnya dan selama delapan tahun, belum pernah ia berpisahan dengan gurunya itu. Di mata Cie Jiak, Biat coat bagaikan seorang ratu. Perkataannya merupakan undang-undang yang tak pernah dibantah.

Kini mendengar bentakan sang guru yang angker dan berpengaruh, tanpa merasa dalam bingungnya ia mengangkat Ie thian kiam dan menikan dada Boe Kie.

Karena tak menduga bakal diserang, pemuda itu tidak berwaspada. Tiba-tiba pedang menyambar. Ia terkesiap tapi sudah tidak keburu menangkis atau berkelit lagi. Untung juga waktu menikam tangan Cie Jiak bergemetaran, sehingga ujung pedang mencong ke samping dan amblas di dada sebelah kanan.

Dengan berteriak, si nona menarik pulang Ie thian kiam. Pedang berlepotan darah dan darah mengucur dari dada Boe Kie. Hal itu mengejutkan semua orang. Keadaan berobah kalut, di empat penjuru terdengar teriakan.

Boe Kie mendekap dada dengan tangannya. Tubuhnya bergoyang-goyang sedaun paras mukanya mengunjuk perasaan gegetun, menyesal dan heran seakan ia mau bertanya. “Apa sungguh-sungguh kau mau mengambil jiwaku?”

Cie Jiak sendiri mengawasi hasil perbuatannya dengan mata membelalak dan mulut ternganga. Dengan suara parau ia berkata, “Aku… “ Di dalam hati ia ingin menubruk Boe Kie, tapi ia tidak berani. Sesaat kemudian, sambil menutup muka dengan kedua tangannya, ia memutar badan dan lari balik ke barisannya.

Peristiwa itu tak pernah diduga oleh siapapun jua.

Dengan paras muka pucat pasi, Siauw Ciauw memapah Boe Kie. “Thio Kongcoe… kau…” katanya terputus-putus. Luka pemuda itu amat berat, tapi untung, sebab moncong ujung pedang tidak melanggar jantung.

Dengan mengawasi Siauw Ciauw, Boe Kie berkata, “Mengapa kau menikam aku.” Ia tidak bisa meneruskan perkataannya, napasnya tersengal sengal dan seraya membungkuk ia batuk-batuk. Matanya berkunang-kunang, kepalanya pusing, sehingga ia tak dapat membedakan Siauw Ciauw dari Cie Jiak. Darah mengucur terus dan pakaian si nona turut basah.

Sesaat kemudian, sesudah teriakan mereda, lapangan yang penuh manusia itu berubah sunyi senyap. Tak seorangpun baik anggota 6 partai, maupun anggota Beng kauw atau Peh bie kauw mengeluarkan sepatah katapun. Apa yang tadi dilakukan oleh pemuda itu kelihayannya dalam menjatuhkan sejumlah tokoh ternama dan cara caranya yang mengunjuk perasaan kemanusiaan sudah membangkitkan rasa kagum dan hormat dalam hatinya semua orang. Maka itu, baik kawan maupun lawan berduka atas kejadian itu. Di dalam hati, mereka mengharapkan keselamatannya.

Dengan dipeluk Siauw Ciauw, perlahan-lahan Boe Kie duduk di tanah. “Siapa yang punya obat luka yang paling manjur?” seru si nona.

Kong seng segera mendekati dan mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari sakunya. “Giok leng san kami sangat mutajab,” katanya seraya membuka baju Boe Kie. Luka itu beberapa dim dalamnya. Ia segera memborehi bubuk obat di lubang luka, tapi sebab darah mengucur, obat itu tidak bisa menempel dan turun ke bawah tersiram darah. Kong seng jadi bingung. “Hai! Bagaimana baiknya?… bagaimana baiknya?” katanya.

Yang paling bingung adalah suami isteri Ho Thay Ciong. Mereka menganggap bahwa mereka telah menelan ulat sutera emas. Kalau pemuda itu mati, jiwanya pun takkan tertolong. Dengan hati berdebar-debar Ho Ciong boen berjongkok di samping Boe Kie dan bertanya, “Bagaimana mengobati orang kena Kiam cam Kouw tok bagaimana? Hayo, lekas terangkan!”

“Pergi!” bentak Siauw Ciauw sambil menangis. “Kalau Thio Kongcoe mati, kita mampus bersama-sama!”

Di waktu biasa, mana mau Ho Thay Ciong dibentak-bentak oleh seorang wanita macam Siauw Ciauw. Tapi keadaan kini bukan keadaan biasa. Tanpa memperdulikan si nona, ia bertanya lagi. “Bagaimana mengobati Kiam cam Kouw tok? Hayo! Bagaimana?”

Kong seng meluap darahnya, “Thie-khim Sian seng!” bentaknya, “Jika kau tak minggir, loolap takkan berlaku sungkan2 lagi terhadapmu.”

Tiba-tiba Boe Kie membuka matanya dan mengawasi semua orang yang berdiri di sekitarnya. Kemudian, ia mengangkat tangan kirinya dan menotok tujuh delapan “hiat” di seputar luka. “Sesaat kemudian, mengalirnya darah jadi terlebih perlahan, Kong-seng girang. Buru-buru pendeta suci itu memborehi Giok leng san di dada yang terluka. Siauw Ciauw segera merobek tangan bajunya yang lalu digunakan untuk membalut luka. Muka Boe Kie pucat seperti kertas. Ia terlalu banyak mengeluarkan darah.

Per-lahan2 otak Boe Kie menjadi terang lagi. Ia segera mengerahkan tenaga dalam dan lantas saja merasa bahwa hawa tak bisa jalan di dada sebelah kanan. Dalam keadaan setengah mati, tekadnya tetap tak berubah. “Sebegitu lama masih bernapas, aku takkan mengizinkan enam partai membasmi semua anggota Beng-kauw,” katanya di dalam hati. Sambil meramkan kedua matanya, mengerahkan Cin-khie yang lalu dialirkan beberapa kali di seputar dada bagian kiri.

Sesudah itu, perlahan-lahan ia berbangkit dan berdiri. Dengan matanya, ia menyapu seluruh lapangan dan berkata dengan suara perlahan. “Kalau dalam Go bie dan Boe tong pay masih ada orang yang tidak setuju dengan permintaanku, ia boleh segera keluar untuk bertanding.”

Perkataan itu disambut dengan rasa heran juga kagum yang sukar dilukiskan. Semua orang lihat, bahwa pemuda itu terluka berat. Tapi, baru saja darahnya berhenti mengalir, ia sudah bisa berdiri dan menantang pula. Apa ia manusia? Manusia biasa tak akan bisa berbuat begitu.

“Go bie pay sudah kalah,” kata Biat coat dengan suara dingin. “Jika kau tidak mati, di belakang hari kita bisa perhitungkan lagi. Kini hanya ketinggalan Boe tong pay. Kalah menang harus diputuskan oleh Boe tong pay.”

Maksud Biat coat Soethay dimengerti oleh tokoh-tokoh semua partai.

Dalam usaha untuk mengepung Kong beng teng, jago2 Siauw lim, Khong tong, Koen loen, Hwa san dan Go bie sudah dirobohkan Boe Kie. Hanya Boe tong pay yang belum bergebrak dengan pemuda itu.

Tapi sekarang Boe Kie terluka berat. Jangankan pendekar Boe tong, sedang seorang biasapun sudah cukup untuk menjatuhkannya. Mungkin sekali, tanpa bertempur, Boe Kie akan mati sendiri. Setiap pendekar Boe tong bisa segera membinasakannya dan sesudah ia binasa, keenam partai bisa mewujudkan keputusan untuk membunuh semua anggota Beng kauw.

Tapi Boe tong pay sangat mengutamakan “Hiap sie”. Menyerang seorang yang terluka berat memang bukan perbuatan bagus, sehingga mungkin sekali kelima pendekar Boe tong merasa keberatan untuk turun tangan. Tapi kalau Boe tong pay berpeluk tangan, apakah keenam partai harus pulang dengan tangan hampa, dengan kegagalan? Membasmi Beng kauw adalah usaha besar yang sudah menggetarkan seluruh Rimba Persilatan. Kalau mereka gagal, apakah mereka masih ada muka untuk tampil lagi dalam kalangan Kang ouw? Serba susah maju salah, mundur salah. (Hiap gie – kesatriaan)

Maksud perkataan Biat coat ialah dipertahankan atau tidaknya kehormatan keenam partai terserah atas keputusan Boe tong pay.

Jalan mana yang akan ditempuh partai itu?

Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe, Thio Siong Kie, In Lie Heng dan Boh Seng Kok saling mengawasi. Mereka tak bisa segera mengambil keputusan. Tiba-tiba Song Ceng Soe, putera Song Wan Kiauw, berkata, “Thia-thia, Soe wie Siok-siok, biarlah anak saja yang membereskan dia.”

“Tak bisa,” kata Jie Lian Cioe. “Kau turun tangan tiada bedanya dengan kami yang turun tangan.”

“Menurut pendapat Siauw tee, kepentingan umum adalah lebih penting daripada kepentingan pribadi dari pada soal nama kita,” kata Thio Siong Kee.

“Nama adalah sesuatu yang berada di luar badan manusia,” Boh Seng Kok menjawab. “Biar bagaimanapun jua siauw tee merasa berat untuk mencelakai seorang manusia yang sudah terluka berat.”

Keempat pendekar mengawasi Song Wan Kiauw. Sebagai kakak seperguruan yang paling tua, ialah yang harus mengambil keputusan terakhir.

Song Tay hiap melirik In Lie Heng. Adiknya itu tak mengeluarkan sepatah kata, tapi mukanya mengunjukkan sinar kegusaran. Ia mengerti, bahwa si adik ingat nasib tunangannya, Kie Siauw Hoe yang telah dinodai Yo Siauw dan akhirnya binasa karena gara-gara perbuatan Kong ben Soe cia itu. Ia tahu bahwa si adik menaruh dendam yang sangat mendalam. Jika sakit hati itu tidak terbalas, jika Beng kauw tidak dimusnahkan rasa penasaran In Lie Heng takkan hilang. Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara perlahan. “Mo kauw kedosaannya. Memerangi yang jahat adalah kewajiban orang-orang sebangsa kita. Dalam dunia ini tiada yang sempurna. Orang tak bisa mendapat semuanya. Kita harus memilih yang paling penting, Ceng Soe, dan berarti hati-hatilah.”

“Baiklah!” kata si anak seraya membungkuk dan lalu menghampiri Boe Kie. “Can Siauwhiap,” katanya dengan suara nyaring, “jika kau bukan anggota Beng kauw, kau boleh segera turun gunung dan mengobati lukamu. Usaha enam partai untuk menumpas kejahatan tiada sangkut pautnya denganmu.”

Dengan satu tangan memegang dada, Boe Kie menjawab, “Dalam usaha menolong sesama manusia, sebegitu lama ia masih bernyawa, seorang lelaki harus berjuang terus. Terima kasih atas maksud Song-heng yang sangat baik. Tapi aku sudah mengambil keputusan untuk hidup atau mati bersama-sama Beng kauw!”

Para anggota Beng kauw dan Peh bie kauw merasa sangat terharu. Banyak di antaranya berteriak-teriak, mencegah Boe Kie berkelahi terus. Dengan tindakan limbung In Thian Ceng maju mendekati. “Orang she Song, “ katanya, “biarlah loohoe yang meladeni kau.” Tapi baru ia mengerahkan lweekang, kedua lututnya lemas dan ia kembali roboh di tanah.

Ceng Soe mengawasi Boe Kie. “Canheng, kalau begitu demi kepentingan umum, aku terpaksa berbuat kedosaan terhadapmu,” katanya.

Siauw Ciauw melompat dan menghadang di depan Boe Kie. “Lebih dahulu kau harus membunuh aku!” teriaknya.

“Siauw Ciauw, kau tak usah kuatir,” kata Boe Kie dengan suara perlahan. “Kepandaian pemuda itu biasa saja. Untuk melayani dia tenagaku masih lebih daripada cukup.”

“Thio Kongcoe, tapi kau… kau terluka berat!” kata si nona.

Boe Kie tersenyum. “Tak usah takut,” katanya.

Mendengar perkataan itu, Ceng Soe naik darah. “Bagus!” bentaknya, “Kepandaianku memang biasa saja. Aku minta pelajaran darimu yang mempunyai tenaga lebih daripada cukup.”

“Siauw Ciauw, mengapa kau begitu baik terhadapku?” tanya Boe Kie dengan suara terharu.

Si nona tahu, bahwa ia tak dapat berbuat apa-apa lagi untuk mencegah pertempuran.

“Aku tak bisa hidup sendirian,” katanya dengan suara duka dan putus harapan.

Dengan sorot mata menyinta, Boe Kie mengawasi nona itu. Dalam menghadapi kebinasaan, ia dapat terhibur karena ia tahu, bahwa di dalam dunia sedikitnya ada seorang yang menyintanya setulus hati.

“Minggir kau!” bentak Ceng Soe dengan mata melotot.

“Mengapa kau begitu kasar terhadap seorang wanita?” tanya Boe Kie.
Tapi Ceng Soe tidak meladeni teguran itu. Ia bahkan mendorong pundak Siauw Ciauw, sehingga si nona terhuyung beberapa tindak. “Di antara lelaki dan perempuan siluman, mana ada manusia baik?” katanya dengan kaku. “Bangun kau! Sambutlah seranganku!”

Boe Kie menghela napas. “Ayahmu adalah seorang kesatria”, katanya, “Mengapa kau begitu kasar! Untuk melayani kau, tak perlu aku bangun berdiri.” Di mulut ia berkata begitu, tapi sebenar-benarnya ia tak kuat berdiri lagi.

Keadaan Boe Kie yang sudah payah dapat dilihat orang banyak, antaranya oleh Song Ceng Soe sendiri. “Ceng Soe, kau totok saja jalan darahnya supaya ia tidak bisa bergerak,” teriak Jie Lian Coe. “Tak usah membinasakan dia”.

“Baiklah,” jawabnya seraya menotok pundak Boe Kie dengan jari tangan kanannya.

Boe Kie tidak bergerak, tapi pada detik jari tangan lawan hampir menyentuh Kian tin hiat ia mengibas dengan tangannya dan Ceng Soe menotok angin. Sebab kejadian itu di luar dugaan, Ceng Soe sempoyongan, hampir-hampir menubruk Boe Kie.

Sesudah kagetnya hilang, ia menendang dada Boe Kie dengan menggunakan tujuh bagian tenaga. Jie Lian Coe telah memesan supaya ia tidak berlaku kejam, tapi mengapa ia mengirim tendangan yang berat itu? Apa lantaran Boe Kie mengatakan kepandaiannya biasa saja?

Bukan, sebab musababnya terletak di lain bagian. Ceng Soe membenci Boe Kie dan ia membenci karena soal cinta.

Begitu melihat wajah Cioe Cie Jiak, begitu ia jatuh cinta. Tak henti-hentinya ia melirik atau mengawasi si nona. Sebagai puteranya seorang pendekar Boe tong, ia merasa tak pantas mengincar si nona terus menerus, tapi ia tak bisa melawan hatinya. Setiap gerakan, setiap senyuman, setiap kerutan alis Cie Jiak tidak terlepas dari matanya. Apa celaka, Cie Jiak mengunjuk rasa cintanya kepada Boe Kie. Sorot mata nona itu selalu diperhatikan Ceng Soe. Atas perintah Biat coat, Cie Jiak menikam Boe Kie. Tapi sesudah menikam, si nona memperlihatkan rasa duka dan menyesal yang tiada terbatas.

Song Ceng Soe mengerti, bahwa sesudah terjadi penikaman itu, tak perduli Boe Kie mati atau hidup, si nona tentu takkan melupakan perbuatannya itu. Iapun tahu, apabila ia membunuh pemuda itu, Cie Jiak pasti merasa sangat sakit hati, akan membencinya. Tapi oleh sebab dibakar rasa jelus dan rasa iri hati, ia sungkan melepaskan kesempatan untuk membinasakan seorang yang tak berdosa yang menjadi saingannya. Ceng Soe sebenarnya pemuda boen boe song coan (pandai ilmu surat dan ilmu silat), salah seorang terpandai di antara murid-murid turunan yang ketiga dari Boe tong pay dan pada hakekatnya ia seorang baik. Akan tetapi, begitu terbentur dengan soal cinta, ia tak bisa membedakan lagi apa yang benar, apa yang salah.

Melihat tendangan itu, semua orang terkejut. Untuk menyelamatkan jiwa Boe Kie mesti melompat atau menangkis. Pada saat ujung kaki mampir di dadanya, ia angkat tangan kiri dan mengibas. Di luar dugaan, kibasan itu sudah menolak tenaga dari tendangan kaki Ceng Soe lewat dalam jarak tiga dim dari badannya. Karena ia menendang dengan bernafsu, Ceng Soe tidak menarik pulang kakinya dan lalu melompat sambil menendang ke belakang, menendang punggung Boe Kie dengan tumit kaki kiri. Tendangan itu hebat dan tidak mengira, tapi untuk kedua kalinya Boe Kie berhasil menyelamatkan jiwanya dengan hanya mengibaskan lima jari tangannya.

Melihat begitu, semua orang terheran-heran.

“Ceng Soe, dia sudah tak punya tenaga dalam lagi,” seru sang ayah. “Itulah ilmu Sie nio po cian kin” (Sie nio po cian kian – Empat tahil menghantam seribu kati)

Song Wan Kiauw memang lihay dan berpengalaman. Ia bisa lihat bahwa Boe Kie sudah habis tenaganya dan ilmu yang digunakannya, biarpun dinamakan Kian koen Tay lo ie pada hakekatnya tidak berbeda dengan Sin nio po koan kin, atau ilmu “Meminjam tenaga untuk memukul tenaga” dari Rimba Persilatan Tiong-goan.

Mendengar petunjuk ayahnya, Ceng Soe tersadar dan ia segera mengubah cara bersilatnya. Kedua tangannya bergerak seperti orang menari-nari dan pukul-pukulannya kelihatan aneh, seperti disertai dengan lweekang, seperti juga tidak disertai lweekang. Itulah Bian ciang (ilmu pukul kipas), salah satu ilmu silat terlihay dari Boe tong pay.

Ilmu “Meminjam tenaga untuk memukul tenaga” merupakan dasar dari ilmu silat Boe tong pay. Untuk menggunakan Sie nio po cian kin, pihak lawan harus menggunakan tenaga yang besar, tenaga ribuan kati, supaya tenaga itu bisa dipinjam. Tapi sekarang Song Ceng Soe menggunakan Bian ciang, maka tenaganya keluar di antara ada dan tidak ada. Dengan demikian, Boe Kie tak akan bisa meminjam tenaga itu.

Tapi tiada yang tahu, bahwa dalam Kian koen Tay lo ie, Boe Kie sudah mencapai tingkat tertinggi, yaitu sudah berlatih sampai pada tingkat ketujuh. Jangankan pukulan Bian ciang yang masih berbentuk, sedang benda yang tak ada bentuknya pun, seperti hawa racun atau suara aneh, masih dapat dipunahkan olehnya. Begitu diserang, ia meramkan kedua matanya dan tersenyum, sedang lima jari tangan kirinya bergerak-gerak seperti sedang memetik khim. Dalam sekejap, Bian ciang yang terdiri dari tigapuluh enam jurus sudah punah semuanya.

Song Ceng Soe tercengang. Dalam bingungnya ia menyapu seluruh lapangan dengan matanya dan secara kebetulan matanya kebentrok dengan mata Cioe Cie Jiak. Tiba-tiba saja darahnya meluap. Ia bergusar dan berduka karena paras muka si nona mengunjuk rasa kuatir. Ia tahu, bahwa Cie Jiak bukan memikiri keselamatannya.

Dalam marahnya, ia lantas saja menarik napas dalam dalam, tangan kirinya menghantam pipi kanan Boe Kie, telunjuk tangan kanannya menotok Pot hoe hiat di bagian pundak. Jurus itu dinamakan Hoa kay Peng tee (Kembang mekar). Namanya bagus, hebatnya bukan main. Dua pukulan tadi disusul dengan dua pukulan lagi, tangan kanan menggaplok pipi kiri, telunjuk tangan kiri menotok Hong hoe hiat. Dengan demikian, jurus Hoa kay Peng tee berisi empat pukulan yang turun bagaikan hujan angin, dengan kecepatan kilat.

Semua orang terkesiap, banyak diantaranya mengeluarkan seruan tertahan.

Tiba-tiba terdengar suara “Plaak! Plaak!” yang sangat nyaring. Tangan kiri Song Ceng Soe menggaplok pipi kirinya, tangan kanan menggaplok pipi kanan dan berbareng satu telunjuk menotok Pok hoe hiat, lain telunjuk menotok Hong hoe hiatnya sendiri. Ternyata, dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie yang paling tinggi, Boe Kie sudah berhasil memindah keempat pukulan itu ke tubuh si pemukul.

Jika Song Ceng Soe tidak menyerang begitu cepat, sesudha menotok Pot Hoe Hiatnya sendiri, ia tak akan bisa mengirim dua pukulan yang berikutnya. Tapi karena empat pukulan itu dikirim secara berantai dengan kecepatan luar biasa, maka biarpun Pok Hoe Hiat nya sudah tertotok, ia masih bisa mengirim dua serangan lagi, sebab lengannya belum kesemutan. Sesudah keempat pukulan itu dikirim, barulah kaki tangannya lemas dan ia roboh terjengkang. Beberapa kali ia coba bangun, tapi tidak berhasil.

Song Wan Kiauw menghampiri dengan berlari lari. Dengan mengurut beberapa kali ia membuka jalan darah puteranya yg tertotok. Kedua pipi Ceng Soe bengkak dan bertepa lima tarak jari. Lukanya enteng, tapi karena adatnya yg tinggi, maka bagi Ceng Soe, kekalahan itu merupakan penderitaan yg lebih hebat dari pada kebinasaan. Song Wan Kiauw mengenal adat puteranya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata ia menuntun anaknya dan kembali kebarisan Boe tong.

Tepuk tangan dan sorak sorai menggetarkan seluruh lapangan. Semua orang merasa kagum, kagum sekali.

Tiba2 Boe Kie muntah darah, sambil memegang dada ia batuk2.

Semua orang mengawasi kejadian itu dengan hati berdebar2. Mereka berkuatir akan keselamatan jiwanya pemuda gagah itu. Sebagian memperhatikan Boe Kie, sebagian pula mengawasi orang2 Boe Tong. Apa yg akan diperbuat mereka? Mengaku kalah kan? Mengajukan lain jago kah?

Sesaat kemudian Wong Wan Kiauw berkata dengan suara nyaring. “Hari ini Boe tong pay sudah menunaikan kewajiban. Mungkin sekali bintnag Mo Kauw masih terang. Secara tidak diduga duga muncul pemuda luar biasa ini. Kalau kita mendesak terus, apa bedanya antara partai lurus bersih dan Mo Kauw?”

“Aku setuju dengan pendapat Taoko,” menyambung Jie Lian Cioe. Sekarang kita pulang dan minta petunjuk Soehoe. Sesudah pemuda itu sembuh, kita boleh bertempur lagi. Ia berbicara dengan suara nyaring dan bersemangat. Dengan kata2 itu ia menekankan bahwa hari ini Boe tong pay mengalah, ia tak percaya bahwa partainya tidak bisa melawan pemuda itu.

Thio Seng Kee dan Boe Seng Kong mengangguk, sebagai tanda mereka menyetujui pendapat Lian Cioe.

Sekonyong konyong In Lie Heng menghunus pedang dan dengan mata menyala ia menghampiri diri Boe Kie. “Orang she Can!” bentaknya. “Dengan kau, aku tak punya permusuhan apapun jua. Jika sekarang aku mencelakai kau, In Lie Heng bukan seorang baik2. Tapi sakit hati ku terhadap Yo Siauw dalam bagaikan lautan. Aku mesti bunuh padanya. Kau minggirlah!”

Boe Kie menggelengkan kepalanya. “Sebegitu lama aku masih bernyawa, aku akan cegah pembunuhan terhadap anggota Beng Kauw yg manapun jua,” katanya dengan suara tetap.

“Kalau begitu, aku terpaksa membunuh kau” kata In Lie Heng dengan mata beringas.

Boe Kie muntah darah lagi. Matanya berkunang dan ia berada dalam keadaan separuh ingat, separuh lupa, “In Liok siok!” katanya denga suara parau. “Kau turun tanganlah.”

In Lie Heng terkesiap. Suara itu, suara memanggil “In Liok siok,” agaknya mungkin tidak asing lagi didengar dikupingnya. Mendadak ia ingat. “Boe Kie!” katanya didalam hati. “Diwaktu kecil, Boe Kie sering memanggil “In Liok siok” dengan nada suara seperti itu. Apa pemuda ini Boe Kie…” Ia mengawasi muka yang pucat pasi itu. Makin diawasi, muka itu makin mneyerupai muka Boe Kie. Sudah delapan tahun mereka berpisah. Dari seorang bocah cilik, Boe Kie sudah berubah menjadi seorang dewasa. Tubuhnya sudah berubah, mukanya pun sudah banyak berubah. Tapi dalam semua perubahan itu, masih banyak terbayang muka Boe Kie si bocah cilik yg menderita hebat karena pukulan Hiang Beng Sin Ciang.

Sesaat kemudian, In Lie Heng membuka mulutn, suaranya gemetar. “Apa …. Apa kau Boe Kie?”

Boe Kie merasa tenaganya habis semua. Matanya labur, kepalanya pusing dan ia merasa bahwa ia sudah berada dekat dengan liang kubur. Ia sekarang tak pelu menyembunyikan lagi dirinya. Bibirnya bergerak dan ia berbisik, “In Liok siok…. Titijie sering ingat kau….”

Mata In Liok hiap berkunang kunang. Perkataan seolah olah halilintar ditengah hari bolong. Kaget, heran, kagum, gegetun…. Semua tercampur menjadi satu. Ia seorang yg berperasaan sangat halus. Air matanya lantas saja mengucur deras. Ia melontarkan pedangnya menubruk, memeluk dan mendukung Boe Kie. Kata dia dengan suara serak “Boe… Kie!… Putra tunggal dari Ngo ko…”

Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe, Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok memburu dan berdiri diseputar In Lie Hong. Kekagetan dan kegirangan mereka sukar dilukiskan.

Orang2 Beng Kauw tak kurang girangnya, mimpipun mereka tak pernah mimpi, bahwa pemuda yang coba menolong mereka dengan mempertaruhkan jiwa sendiri, bukan lain daripada putranya Boe Tong Ngo Hiap Thio Cioe San.

Melihat keponakannya pingsan buru2 In Lie Heng mengeluarkan Thian ong Hoe Sim tan dan memasukannya kedalam mulut Boe Kie. Sesudah menyerahkan pemuda itu kepada Jie Lian Cioe, ia segera memungut pedangnya dan menghampiri Yo Siauw.

Seraya menuding musuh besar itu, ia berteriak, “Binatang Yo Siauw! Aku… aku…” Ia tidak dapat meneruskan perkataannya dan lalu mengangkat pedang.

Kong Beng Soe cia itu yg badannya masih belum bergerak, lantas saja meramkan kedua matanya dan menunggu kebinasaan seraya bersenyum.

Tiba2, pada detik sangat berbahaya, seorang wanita muda melompat dan menghadap di depan Yo Siauw. “Tahan! Jangan lukai ayahku!” bentaknya.

In Lie Heng mengawasi. Tiba2 ia mengeluarkan seruan tertahan dan sekujur badannya dingin. Gadis itu yg bertubuh jangkung kecil dan bermata besar tiada bedanya dari Kie Siauw Hoe. Sedari bertunangan, wajah nona Kie yang manis selalu terbayang didepan matanya. Belakangan ia mendapat tahu, bahwa tunangan itu di bawa lari dan dinodai kehormatannya oleh Kong Beng Soe cia Yo siauw, sehingga akhirnya ia membuang jiwa. Tak usah dikatakan lagi, kejadian itu sangat menyakiti hatinya.

Tak dinyana Kie Siauw Hoe muncul pula. Badannya bergoyang2 dan ia berkata dengan suara gemetar. “Siauw Hoe Moay coo… kau…”

Gadis itu bukan lain daripada Yo Poet Hwie, berkata, “Aku bernama Yo Poet Hwie. Kie Siauw Hoe adalah ibuku. Ibu sudah lama meninggal dunia.”

In Lie Heng tertegun dan tersadar, “Ah!…. aku betul gila!” katanya. “Kau minggirlah. Hari ini aku akan membalaskan sakit hati ibumu.”

“Bagus!” seru si nona. “In Siok siong, bunuhlah pendeta perempuan bangsat itu!” Seraya berkata begitu, ia menuding Biat Coat Soethay.

“Apa? Mengapa?” menegas In Lie Heng.

“Ibu dipukul mati oleh pendeta bangsat itu,” jawabnya.

“Dusta! Kau jangan bicara sembarangan,” bentak Lie Heng.

“Aku tidak berdusta,” kata si nona dengan suara dingin. “Ibu dibinasakan di Ouw tiap kok. Pendeta bangsat itu menyuruh ibu membunuh ayah. Ibu menolak dan dia lantas turun tangan. Kulihat dengan mata ku sendiri. Kejadian itu jg disaksikan oleh Boe Kie kok. Jika Siok2 tidak percaya, tanyalah pendeta bangsat itu sendiri.”

Waktu nona Kie binasa, Peot Hwie masih sangat kecil. Belakangan, sesudah dewasa, barulah ia tahu apa yg sudah terjadi.

In Lie Hong menengok dan mengawasi Biat Coat dengan sorot mata menanya. “Soe.. thay…” katanya dengan suara tak lampias. “Dia kata…. Kie Kouw Nii…”

Paras muka si nenek merah padam. “Benar,” katanya. “Perlu apa murid yang tidak mengenal malu itu dibiarkan hidup lebih lama dalam dunia? Dia dan Yo Siauw saling mencintai. Dia lebih suka berkhianat dari pada menurut perintah guru. In Liok Hiap, guna menolong mukamu, aku tak tega untuk membuka rahasia itu. Hm! Tak guna kau memikiri perempuan yg mukanya begitu tebal!”

Paras muka Lie Heng pucat bagaikan kertas. “Tidak! Aku tak percaya!” teriaknya.

“Tanyakan anak itu, siapa namanya,” kata Biat Coat.

Dengan air mata berlinang, Lie Heng menatap wajah si nona.

“Aku bernama Yo Poet Hwie,” kata nona itu “Ibu pernah mengatakan, bahwa ia tidak merasa mneyesal akan terjadinya kejadian itu!”

Mendadak In Liok Hiap mengeluarkan teriakan menyayat hati. Ia melemparkan pedangnya ditanah, menekap mukanya dengan kedua tangan dan lari turun gunung bagaikan terbang.

“Liok tee! Liok tee!” memanggil Song Wan Kiauw dan Jie Lian Dioe.

Lie Heng lari terus. Tiba2 ia terguling, bangun, lari lagi dan dalam sekejap tak kelihatan bayang2nya lagi.

Semua orang menghela napas dan turut merasa duka akan nasib In Liok hiap yang malang itu. Bahkan seorang pendekar Boe Tong jatuh diwaktu lari merupakan penderitaannya yang maha hebat.

Sementara itu, Son gWan Kiauw, Jie Lian Cioe, Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok duduk diseputar Boe Kie dengan masing2 mengeluarkan sebelah tangan yang telapaknya ditempelkan didada, perut, punggung dan pinggang Boe Kie dan kemudian mengerahkan Lweekang yg dimasukkan kedalam tubuh pemuda itu untuk mengobati lukanya. Selang beberapa sat, mereka merasai munculnya tenaga mengisap dalam tubuh Boe Kie yg terus menerus menyedot Lweekang mereka. Mereka kaget, kalau pengisapan itu tidak berhenti, dalam waktu sejam dua jam, tenaga dalam mereka bakal disedot habis2an. Namun karena jiwa Boe Kie masih dalam keadaan bahaya, mati hidupnya belum ketahuan, mereka tentu saja tidak bisa segera menarik pulang bantuan itu.

Bagaimana baiknya>

Selagi keempat partai itu bersangsi tiba2 Boe Kie membuka matanya dan mengeluarkan seruan perlahan. “Ah!” Dilain saat Song Wan Kiauw merasai masuknya semacam hawa hangat dari telapak tangan mereka. Pemuda itu ternyata sudah menggerahkan Kioe yang Sin kang dan mengirim tenaga dalamnya kepada keempat paman itu.

“Tak boleh! Kau harus istirahat,” kata Song Wan Kiauw. Dengan serentak mereka menarik tangan mereka dan berbangkit. Hampir berbareng mereka merasai mengalirnya hawa hangat yg sangat nyaman disekujur badan mereka. Boe Kie bukan saja sudah memulangkan tenaga bantuan, tapi sudah membalas budi dengan menghadiahkan Kiauw yang Cie Khie kepada paman2nya itu. Song Wan Kiauw berempat saling mengawasi dengan rasa kagum. Bahwa keponakan itu yang sudah terluka sedemikian berat masih mempunya Lweekang yang begitu kuat, sungguh2 diluar dugaan.

Meskipun Boe Kie masih menderita luka diluar yang sangat hebat, kesehatan didalam badan sudah pulih kembali dan hawa sudah bisa mengalir dengan leluasa. Perlahan lahan ia bangun seraya berkata, “Song Toapeh, Jie Jiepeh, Thio Siepeh, Boh Cit siok, tit jie memohon maaf untuk segala kekurang ajarannya. Apakah Thay soe hoe berada dalam keadaan sehat?”

“Soe hoe baik2 saja,” jawab Wan Kiauw. “Boe Kie… kau.. kau sudah besar!…” Perkataan terputus putus karena terharu, ia ingin bicara banyak tapi mulutnya terkancing.

Dilain pihak sesudah mengetahui bahwa pemuda yang sudah menolong jiwanya adalah cucunya sendiri Peh Bie Enghong In thiau Ceng girang bukan masih belum bisa berbangkit, ia tertawa terbahak bahak.

Biat Coat Soethay mengawasi itu semua dengan paras muka menyeramkan. Tiba2 ia mengibaskan tangannya dan lalu bertindak untuk turun gunung, yg diikuti oleh murid2nya. Sambil menundukkan kepala, Cioe Cie Jiak turut berjalan, tapi baru bertindak beberapa langkah ia tak tahan untuk menengok kearah Boe Kie. Pemuda itupun sedang mengawasinya sehingga kedua pasang mata lantas saja kebentrok.

Pada muka si nona yang pucat lantas saja timbul sinar dadu. Sinar matanya adalah sedemikan rupa, sehingga ia seperti juga mau minta maaf atas perbuatannya dan mengharap supaya Boe Kie menjaga diri baik2. Pemuda itu rupanya tahu akan perasaan si nona. Sambil tersenyum, ia manggut2kan kepalanya. Perasaan Cie Jiak lantas saja berubah terang. Ia balas tersenyum dan lalu meyusul rombongannya dengan tindakan lebar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: