Pendekar Negeri Tayli 76

Karena serangan kedua luput lagi, dalam kagetnya timbul juga rasa takut Tok Put-boan. Tapi ia masih belum kapok, sedikit tubuhnya berputar, secepat kilat pedangnya menusuk pula, sekali ini mendadak ujung pedang memancarkan cahaya hijau dan yang di arah adalah dada Hi-tiok.

Serentak terdengar para petualang menjerit kaget dan kagum, terhadap cahaya pedang yang tajam itu. Begitu pula Hi-tiok terkesiap demi nampak cahaya pedang yang aneh itu, dilihatnya pula wajah Tok Put-hoan menyeringai bengis, ia kuatir dirinya tidak mampu menangkis, maka cepat kakinya menggeser pergi dengan langkah “Leng-po-Wi-poh”.

Sekarang Tok Put-hoan ini dilancarkan dengan sepenuh tenaga dan sukar dihentikan, maka terdengar “craak” sekali ujung pedang menancap dipilar batu di belakang Hi-tiok tadi sedalam bebeberapa senti.

Pilar batu itu adalah batu pualam yang keras, tapi toh dapat ditembus oleh ujung pedang yang lemas, maka dapat dibayangkan betapa hebat tenaga dalam yang dikerahkan oleh Put-hoan itu. Tanpa terasa para petualang sama bersorak memuji.

Dua kali menyerang tidak kena, segera Tok Put-hoan mencabut kembali pedangnya dan memburu ke arah Hi-tiok sambil membentak, “Saudara cilik, kamu akan lari ke mana?”

Hi-tiok menjadi takut, cepat kakinya menggelar lagi dalam langkah ajaib itu.

Pada saat itulah mendadak di sebelah kiri ada orangg menyindir, “Hwesio cilik, lebih baik rebahan!”

Pembicara itu adalah seorang wanita, di mana sinar berkelebat, dua batang pisau terbang menyambar lewat di depan Hi-tiok.

Biar Leng-po wi-poh yang dilatih Hi-tiok itu tidak semahir Toan Ki, tapi langkah ajaib itu benar-benar sangat hebat, dimana tubuhnya berputar; betapapun cepat menyambar pisau terbang musuh juga dapat dihindarkan Hi-tiok dengan gampang.

Maka tertampaklah seorang wanita cantik setengah umur berbaju jambon sedang angkat kedua tangannya dan tahutahu kedua batang pisau terbang tadi kembali terpegang olehnya, kedua tangannya seperti mempunyai daya sedot yang sangat sehingga sehingga kedua pisau itu dapat ditarik kembali.

Seketika Tok Put-hoan memuji, “Kepandaian menimpuk hui-to (pisau terbang) Hu-yong Siancu memang maha sakti, sungguh telah menambah pengalaman kita!”

Hi-tiok jadi ingat bahwa Kiam-sin Tok Put-hoan dan Huyong Siancu ini adalah sekomplotan dengan Put-peng Tojin.

Sekarang Tojin itu telah binasa tertimpuk biji cemara di puncak salju maka tidak heran bila kedua orang ini hendak membalas dendam bagi kawannya itu.

Karena merasa menyesal, segera Hi-tiok berhenti di tempatnya dan memberi hormat kepada Kiarn-sin serta Huyong Siancu, katanya dengan merendah, “Caihe memang telah berbuat salah, sungguh aku sangat menyesal Jika kalian hendak memukul atau memaki diriku, biar bagaimanapun akan kuterima dengan baik.”

Nama asli Hu-yong Siancu adalah Cui Lik-hoa, la saling pandang sekejap dengan Tok Put-hoan dan sama-samaa menganggap Hi-tiok merasa takut kepada mereka. Taapa ayal lagi mereka terus melompat maju dan masing-masing memegang sebelah tangan Hi-tiok.

Hi-tiok benar-benar sangat menyesal bila teringat pada kematian Put-peng Tojin yang mengerikan itu, maka tiada hentinya mulutnya meminta ampun, “Ya, ya, Caihe memang salah, silakan kalian memberi hukuman setimpal, dengan rela akan kuterima, biarpun, aku harus mengganti juwa juga tidak berani melawan.”

“Jika kamu ingin diampuni juga tidak sukar asal kamu mengaku terus terang apa pesan tinggalan Tong-lo waktu akan mati,” kata Put-hoan “Nah, lekas katakan padaku dan segera kuampuni jiwamu.”

‘Siaumoai boleh ikut mendengarkan tidak, Tok-siansing?” dengan tersenyum Hu-yong Siancu bertanya.

“AsaI kita dapat, menemukan cara memunahkan Sing-sihu, maka para kawan yang hadir di sini akan mendapatkan berkahnya semua, bukan aku sendiri saja yang akan mendapat kebaikannya?” ujar Put-hoan. Ia tidak menjawab boleh atau tidak Cui Lik-hoa ikut rnendengarkan, tapi di balik arti kata-katanya itu terang ia sendiri ingin mengangkangi hasilnya.

Maka dengan tersenyum Cui Lik-hoa alias Hu-yong Siancu berkata, “Namun aku tidak sebajik dirimu, aku justru tidak suka kepada bocah macam begini.”

Habis berkata, sekaki tangan Hi-tiok yang di pegangnya itu diangkat, berbareng tangan lain yang memegang kedua bilah hui-to tadi terus menikam dada Hi-tiok.

Kiranya tujuan Tok Put-hoan adalah ingin mendapatkan rahasia pemunah Sing-si-hu, dengan ini ia dapat mempengaruhi para petualang di bawah perintahnya.

Sebaliknya Cui Lik-hoa mempunyai tujuan berbeda.

Soalnya dia mempunyai saudara yang bernama Cui Serig telah dibunuh oleh tiga orang Tongcu dari ke 36 gua itu, maka ia bertekad hendak menuntut balas, ia inginkan rahasia Sing sihu itu akan hilang untuk selamanya sehingga tiada seorang pun yang dapat memunahkan racun dalam tubuh para Tongcu itu, dengan demikian ketiga Tongcu musuhnya itu tentu akan mati konyol. Sebab itulah mendadak ia menyerang Hi-tiok, orang satu-satunya yang mungkin mengetahui rahasia Sing-sihu tinggalan Thian-san Tong-lo.

Saat itu pedang Tok Put-hoan sudah dikembalikan ke dalam sarungnya, untuk menangkis terang tidak keburu lagi.

Dalam kagetnya dengan Sendirinya dan tanpa pikir Hi-tiok terus mengadakan perlawanan. Sekali kedua tangannya diangkat dan dikipaskan, kontan Tok Put-hoan dan Cui Lik-hoa tergetar mundur beberapa tindak sehingga tikamannya meleset.

Cui Lik-hoa lantas membentak dan kedua pisau terbang ditimpukkan ke arah Hi-tiok. Sekali ini Tok Put-hoan sudah sempat melolos pedang dan menangkis ke atas. Namun Cui Lik-hoa sudah menduga akan kemungkinan itu, maka menyusul belasan pisau terbang lain menyambar pula secara berantai. Bahkan tiga batang di antaranya, sengaja ditujukan ke arah Toh Put-hoan agar dia terhambat, dengan demikian pisau lain dapat menghambur ke muka, leher, dada, perut dan bagian mematikan di tubuh Hi-tiok.

Di sinilah Hi-tioK memperlihatkan ketangkasannya, ia menancap ke sana dan menyambar ke sini, ia keluarkan ‘Thian-san-ciat-kwe-jiu’ yang sakti, sambil menangkap seraya membuang sehingga terdengar suara gemerincing nyaring, dalam sekejap saja tiga belas batang senjata telah terlempar di samping kakinya, 12 batang adalah pisau terbang Hu-yoig Siancu dan sebatang lagi adalah pedang Tok Put-hoan.

Rupanya sekali Hi-tiok sudah “main”, ia tidak perhatikan lagi siapa lawannya, sehingga pedang Tok Put-hoan juga turut dirampas.

Sesudah merampas. 13 batang senjata, ketika melihat wajah Tok Put-hoan pucat pasi, begitu pula Cui Lik-hoa tampak sangat jeri, diam-diam Hi-tiok mengeluh, “Wah, celaka, kembali aku membuat orang marah lagi.”

Maka cepat ia berkata, “Harap kalian jangan marah atas perbuatanku barusan inil”

Kemudian ia cakup ke13 batang senjata itu dan dihaturkan ke depan Tok Put-hoan dan Cui Lik-hoa.

Dasar jiwa Cui Lik-hoa memang sempit, ia sangka Hi-tiok sengaja hendak mengejeknya, tanpa bicara lagi kedua telapak tangannya terus memukul ke dada Hi-tok, “Plak’, dengan tepat sasarannya kena dihantam, tapi mendadak suatu kekuatan maha dahsyat menyeang balik, Cui Lik-hoa berteriak kaget, kontan tubuhnya mencelat ke belakang, “Bang” dengan tepat menumbuk dinding batu dan menyemburkan darah, Nyata ia terpental sendiri oleh karena tenaga tolakan Pakbeng-

cin-gi dalam tubuh Hi-tiok yang hebat itu.

Tok Put-hoan tidak banyak lebih lihai daripada Cui Lik-hoa, sekarang melihat Cui Lik-hoa menghantam dan terpental sendiri serta terluka parah, ia sadar sama sekali bukan tandingan Hi-tiok. Tapi ia cukup pintar melihat gelagat, segera ia memberi hitrmat kepada Hi-tiok dan berkata, ‘Kagum, sungguh kagum. Selamat tinggal, sampai bertemu pula!”

“Nanti dulu, harap Cianpwe ambil kembali pedangmu ini,”

seru Hi-tiok. “Tanpa sengaja Caihe membikin marah Cianpwe,

harap dimaafkan. Bila Cianpwe hendak mengejar atau mendamprat diriku sekali-kali aku … aku tidak berani melawan,”

Kata-kata Hi-tiok itu sebenarnya diucapkan dengan tulus, tapi bagi pendengaran Tok Put-hoan menjadi sindiran tajam.

Dengan pucat pasi ia terus melangkah keluar pendopo dengan langkah lebar.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara bentakan orang perempuan, “Jangan bergerak Tempat apakah Leng-ciu-kiong ini sehingga kalian boleh pergi-datang seenaknya?”

Tok Put-hoan terkejut dan serentak meraba pedangnya, tapi sekali meraba tempat kosong, baru ia ingat pedangnya telah dirampas Hi-tiok waktu mendongak, ia tidak melihat pembicara tadi, hanya terlihat di depan pintu telah ditutup oleh sebuah batu raksasa sehingga rapat sekali. Batu raksasa itu entah sejak kapan diangkut ke situ, ternyata tiada seorangpun yang tahu.

Melihat itu, segera para petualang sadar telah masuk perangkap dalam Leng-ciu-kiong itu. Ketika mereka menyerbu ke atas gunung sepanjang jalan mereka telah membunuh para wanita baju kuning banyak pula yang di tawan, ketika masuk ke dalam ruang pendopo itu pun mereka mengadakan pembersihan lebih dulu. Tapi habis itu mereka lantas terpengaruh deh urusan Sing-si-hu sehingga lupa bahwa disekitar situ masih sangat berbahaya bagi mereka Sekarang dengan nampak pintu gerbang telah disumbat rapat oleh sepotong batu raksasa, baru sadarlah mereka bahwa sekali ini mereka pasti akan celaka.

Tiba-tiba di bagian atas terdengar suara wanita tadi berkata pula, “Empat dayang pribadi Tong-lo menyampaikain sembah bakti kepada Hi-tiok Siansing!”

Waktu Hi-tiok menengadah, dilihatnya dekat dengan atas ruang pendopo yang dibangun dengan balok batu itu menonjol empat batu karang sehingga mirip sembilan buah balkon, empat balkon di antaranya masing-masing terdapat seorang nona cilik berusia antara 18 tahun dan sedang memberi hormat padanya.

Balkon itu kira-kira 6-7 meter tingginya, tapi sesudah memberi hormat, serentak keempat dara cilik itu melompat ke bawah, ketika tubuh masih terapung di udara, tahu-tahu tangan masing-masing sudah menghunus pedang, lalu melayang turun dengan gaya seindah bidadari turun dari kahyangan.

Melihat gaya lompatan keempat nona itu segera semua orang tahu ginknng mereka sangat tinggi, keruan semua orang sangat kagum dan jeri pula.

Warna pakaian keempat nona itu tidak sama, yang satu berwarna merah jambun, yang kedua berwarna putih, yang ketiga berwarna hijau pupus dan keempat berwarna kuning muda.

Sesudah berdiri di tanah, kembali mereka menyembah lagi kepada Hi-tiok dan berkata, “Hamba sekalian telah terlambat menyambut kedatangan Cujin, harap Cujin memberi ampun!”

Cepat Hi-tiok membalas hormat dan berkata, “Keempat saudari jangan banyak adat, lekas bangun!”

Sesudah keempat nona itu berdiri, kembali semua orang terkesiap. Ternyata tinggi pendek mereka serupa, bahkan muka mereka pun tiada ubahnya seperti ‘pinang dibelah empat’. Sama-sama beraut muka bulat telur, bermata hitam jeli, semuanya cantik cantik.

“Siapakah nama kalian?” tanya Hi-tiok. Segera nona si baju jambon menjawab, “Hamba berempat adalah saudara kembar empat, Tong-lo memberi nama kepada hamba sebagai Bwekiam, dan ketiga adikku ini masing-masing bernama Lamkiam, dan Kiok-kiam, tadi kami bertemu dengan saudarisaudari dari An-thian-poh dan lain-lain serta mengetahui semua perbuatan para budak keparat yang kurangajar ini.

Sekarang tindakan apa yang harus kami lakukan, silakan Cujin memberi, keputusan”

Mendengar nona itu mengaku saudara kembar empat, baru sekarang semua orang paham duduknya perkara, pantas muka dan badan mereka serupa. Mestinya semua orang sangat suka karena melihat muka mereka cantik-cantik dan suara mereka enak. didengar. Tapi demi mendengar kata-kata terakhir tentang “budak keparat yang kurangajar” itu, para petualang menjadi gusar karena merasa telah dimaki.

Segera ada dua orang memburu maju, seorang bersenjata golok dan yang lain memakai sepasang Boan-koan-pit (potlot) berbareng mereka membentak, “Dara cilik, rnulai kalian berani sembarangan .… “

Sampai disini, sekonyong-konycmg sinar tajam berkelebat Lang-kiam dan Tiok-kiam berbareng melancarkan serangan, menyusul terdengar suara “trang-tring” dua kali, tahu-tahu tangan kedua lelaki tadi terkutung sebatas pergelangan tangan, kutungan tangan itu jatuh ke lantai dengan masih memegang senjata masing-masing.

Saking cepatnya serangan itu sehingga mesti tangan mereka sudah putus, tapi mereka masih terus bicara,” …. mengoceh seperti kentut! …. Aduh!” dan sesudah menjerit, cepat mereka melompat mundur sehingga darahpun berceceran.

Hi-tiok kenal jurus serangan Lara-kiam berdua itu adalah sejurus ilmu pedang ciptaan Tong-lo yang pernah dipakai menguji Li Jiu-sui, sudah tentu kedua lelaki itu tidak dapat menghindarkan serangan maha lihai itu.’

Hanya sekali serang kedua nona cilik sudah menabas kutung tangan dua orang, keruan yang lain-lain menjadi jeri.

Apalagi mereka terkurung dalam ruang yang dibangun dengan balok-balok batu, disekitarnya entah terdapat perangkap apa pula, seketika para petualang hanya saling pandang belaka dan tiada seorang pun berani bersuara.

Di tengah kesunyian itu, tiba tiba di antara orang banyak ada lagi seorang mulai kumat racun Sing-si-hu nya sehingga mengeluarkan suara yang menyeramkan.

Selagi semua orang saling pandang dengan takut tiba-tiba seorang lelaki tinggi besar berlari maju, kedua matanya tampak merah beringas, kedua tangannya juga mencakar-cakar dada dan muka sendiri sehingga baju robek dan badan hancur.

“Wah, Ha Tai-pa, Tocu dari Thi-go-to!” demikian ada orang berseru

Lelaki yang bernama Ha Tai-pa itu masih terus menggerang-gerang dan mengamuk seperti harimau terluka.

“Blang”, sebuah meja dihantam remuk oleh kepalanya yang sebesar mangkuk. Habis itu ia terus menerjang ke arah Kiokkiam.

Melihat muka yang beringas dan potongan tubuh yang menakutkan itu, Kiok-kiam menjadi lupa kepada ilmu pedangnya sendiri yang lihai, saking takutnya ia terus menubruk ke dalam pelukan Hi-tiok. Segera Ha Tai-pa berganti sasaran dengan pentang tangan yang lebar ia hendak rnencakar Bwe-kiam.

Saudara kembar empat itu mempunyai satuperasaan, karena Kiok-kiam ketakutan, muka Bwe kiam ikut ketularan, melihat Ha Tai-pa, menubruk ke arahnya, sambil menjerit takut ia pun lari dan sembunyi di belakaog Hi-tiok.

Karena tubruk sini-sana tidak kena sasarannya, segara Ha Tai-pa membalik kedua tangannya dan mencakar matanya sendiri. Para petualang ikut kuatir dan takut, mereka tahu pikiran Ha Tai-pa sudah gelap saking tak tahan siksaan racun Sing-si-hu yang bekerja dalam tubuh.

Syukur Hi-tiok lantas berseru, “Hei, jangan begitu!”

Berbareng lengan bajunya terus mengibas sehingga, kena siku kedua tangan. Ha Tai-pa, kedua tangan itu lantas terjulur lemas ke bawah.

“Rupanya Sing-si-hu yang tertanam di tubuh saudara ini sedang kumat, biarlah kupunahkan bagimu,” kata Hi-tiok.

Segera ia keluarkan satu jurus Liok-yang-ciang dan menepuk sekali punggung Ha Tai-pa.

Seketika Ha Tai-pa tergetar, seluruh tubuhnya serasa kehilangan tenaga dan duduk terkulai ke lantai.

Pada saat itulah secepat kilat dua batang pedang menusuk juga ke hulu hati Ha Tai-pa, rupanya kesempatan itu telah digunakan oleh Lam kiam dan Tiok-kiam untuk menyerang.

“Ha, jangan!”cepat Hi-tiok berseru dan sekali tangannya menjulur, dengan mudah kedua pedang dirampasnya. Lalu terdengar ia bergumam sendiri, “Wah, gawat! Entah Sing-sihunya terletak di bagian mana?”

Kiranya meski Hi-tiok sudah mahir caranya memunahkan Sing-si hu, tapi karena pengalamannya masih cetek sehingga dia tidak tahu bahwa Ha Tai-pa jatuh karena tidak tahan oleh tenaga dalamnya yang dahsyat.

Tak terduga Ha Tai-pa lantas berkata, ‘Terletak di . . . di Koan . . . Koan-ki-hiat.”

Segera Hi-tiok menggunakan tenaga Liok-yang-jiu untuk memunahkan pula racun dingin Sing-si-hu yang bekerja di bagian hiat-to yang disebut itu.

Seketika Ha Tai-pa terbangkit ia berjingkrak keigirangan seperti orang gila, mendadak ia berlutut dan menyembah sehingga kepalanya membentur lantai dan berkata, “Inkong (tuan penolong) yang mulia, jiwa Ha Tai-pa telah ditolongmu, untuk selanjutnya segala perintah Inkong, baik masuk lautan api maupun terjun ke air mendidih, tidak nanti berani kutolak”

Biasanya Hi-tiok sangat sopan terhadap siapapun juga, demi melihat Ha Tai-pa menjalankan penghormatan setinggi itu padanya, cepat ia pun berlutut dan Balas menjura sambil berkata, “Caihe tidak berani terima penghormatan setinggi ini terimalah kembali hormatku ini.”

“Harap Inkong lekas bangun, engkau telah menolong jiwaku, mana kuberani terima penghormatan ini!” teriak Ha Tai-pa. Dan sebagai tanda terima kasihnya, kembali ia menyembah pula.

Melihat orang menjura segera Hi-tiok balas menjura juga.

Selagi kedua orang itu saling menjura tidak habishabisnya.

Mendadak terdengar teriakan orang banyak,

“Punahkan juga Sing-si-hu dalam badanku. Tolong punahkan juga Sing-si-hu dalam badanku”

________________________

Apa yang hendak dilakukan Hi-tiok ? Maukah dia menolong, para petualang yang lain?

Cara bagaimana Hi-tiok akan mengangkat saudara dengan Toan Ki dan kemane Buyung Hok dan Giok-yan akan pergi?

Saksikanlah peristiwa yang tak terduga-duga di Siau-lim-si!

— Bacalah jilid ke 69 —

2 Responses to “Pendekar Negeri Tayli 76”

  1. bpk firmansyah s.h Says:

    sedikit riwayat saya sekian lama tlah berbisnis dan akhir akhir ini hampir bangkrut dan mungkin sudah bangkruk seandainya saya tidak menemukan dukun sakti yang benar benar membantu saya meningkatkan bisnis kembali dan alhamdulillah berkat bantuan beliaulah aku dapat sukses kembali dan tidak jadi bangkruk makasi mbah mujaraf sedikit info apabila anda ingin mendapatkan solusi hidup BELIAU punya ke ahlian Melihat apa yang akan terjadi di kemudian hari
    termasuk angka togel yang akan keluar setiap harinya
    inilah penemuan terhebat bagi anda para pecinta togel
    dan temukan angka angka yang akan tembus silahkan anda bisa hubungi lansung mbah mujaraf di 085330630905

  2. nurul hidayah Says:

    http://prediksikeluarannomertogelmasterhk.blogspot.com/2015/01/bocoran-dukun-togel-yang-akan-tembus.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: