Pendekar Negeri Tayli 74

Serentak terdengar sorakan orang banyak yang menyatakan setuju. Bahkan ada yang bilang “Bagus, beramairamai kita boleh berlomba, coba hukum siksa dari gua atau pulau mana yang paling baik dan membawa hasil.”

Dari suara orang banyak itu dapat di taksir orang-orang yang berada di dalam pendopo sana tentu ada beberapa ratus orang banyaknya, ditambah lagi kumandang suara yang membalik, keruan suasana menjadi gaduh memekak telinga.

Hi-tiok bermaksud mencari sesuatu lubang atau celahcelah pintu untuk mengintip, tapi ruang itu adalah bangunan dari batu-batu besar sehingga tiada celah-celah sedikit pun, tiba-tiba ia mendapat akal tangannya menggosok-gosok di tanah beberapa kali, lalu mukaa sendiri diusap sehingga menjadi kotor, Kemudian ia melangkah masuk ke dalam ruang besar itu.

Ternyata di ataa meja dan kursi di tengah ruangan itu sudah penuh diduduki orang, bahkan sebagian besar tidak kebagian tempat duduk sehingga terpaksa duduk di lantai, ada yang berjalan mondar-mandir sambil bersenda-gurau secara bebas seperti tiada pimpinan.

Di lantai tengah ruangan itu pun duduk 20-an wanita berbaju kuning, rupanya hiat-to mereka tertutuk sehingga tak bisa berkutik. Sebagian besar di antaranya badan berlepotan darah, terang luka mereka tidak ringan dan dapat dipastikan mereka adalah anggota Kin-Thian-poh.

Dalam keadaan gaduh Hi-tiok masuk ke dalam situ, ada juga beberapa orang melihatnya, tapi demi melihat Hi-tiok bukan wanita, mereka yakin dia pasti bukan orang Leng Ciukiong, boleh jadi adalah anak murid salah seorang Tongcu atau Tocu yang hadir di situ, maka mereka tidak memperhatikan Hi-tiok lebih jauh.

Karena tiada tempat luang lagi, Hi-tiok duduk di ambang pintu sambil memandang keadaan dalam ruangan itu. Ia lihat

Oh-lotoa duduk di suatu kursi di sebelah kiri sana, air mukanya pucat kurus, tapi sikapnya yang garang dan tangkas itu masih tertampak dari sinar matanya yang bengis.

Sedangkan di samping para wanita berbaju kuning itu berdiri seorang lelaki kekar dengan membawa cambuk! dan sedang membentak dan memaki agar para wanita itu mengaku di mana Thian-san Tong-lo menyimpan benda pusakannya.

Namun para wanita itu tetap tidak mau rnengaku biarpun diancam.

Maka terdengar Oh-lotoa membuka suara, “Kalian budakbudak yang tidak tahu adat ini barangkali ingin mampus juga ini, biar kukatakan pada kalian bahwa tong-lo sudah lama dibunuh oleh Sumoainya yang bernama Li Jiu-sui, Kejadian itu kusaksikan sendiri, masakah aku sengaja mendustai kalian?

Maka lebih baik kalian lekas menyerah saja, kami pasti takkan membikin susah kalian!”

“Kamu tidak perlu ngaco belo,” demikian teriak seorang wanita baju kuning setengah umur, “Betapa hebat kesaktian Kaucu kami, beliau sudah mencapai tingkatan tak terkalahkan,

masakah ada orang yang mampu mencelakai beliau. Kalian ingin rebut rahasia pemunah ‘Sing-sihu’ untuk ini hendaklah kalian jangan mimpi. Janganlah Kaucu kami pasti dalam keadaan selamat dan sebentar lagi pasti akan pulang untuk memberi hajaran setimpal pada kalian, andaikan beliau benar telah wafat, maka Sing-si-hu yang mengeram dalam tubuh kalian juga pasti akan bekerja dalam waktu setahun dan Kalian akhirnya akan mati konyol dengan merintih-rintih tersiksa.”

Mendadak Oh-lotoa berkata pula dengan mendengus, “Hm, kalian tidak percaya?. Baik akan kuperlihatkan sesuatu pada kalian!”

Habis berkata ia terus keluarkan sebuah buntelan kecil dari gendongannya dan dibuka ternyata isinya adalah sebuah kaki manusia.

Hi-tiok dan para wanita Leng-ciu-kiong mengenali celana dan kaos pada kaki itu, terang kaki itu adalah anggota badan Tong-lo, tanpa terasa para wanita itu sama menjerit kaget.

Maka Oh-lotoa berkata pula, “Nah, Li Jiu-sui telah memotong badan Tong-lo menjadi beberapa bagian dan dilemparkan ke jurang kebetulan aku dapat menemukan sebagian jika tidak percaya, boleh juga kalian memeriksanya lebih teliti kaki ini.”

Para anggota Kin-thian-poh sudah tentu mengenali betul kaki Thian-san Tong-lo itu, mereka menduga apa yang dikatakan Oh-lotoa tentu tidak bohong, maka menangislah mereka dengan sedih.

Sebaliknya para Tongcu dan Tocu menjadi senang, mereka bersorak gembira dan berteriak-teriak, “Hore, nenek bangsat sudah mampus! Bagus sungguh bagus!”

“Ya, sejak kini kita dapat hidup aman sentosa!”

Dan ada di antaranya yang menegur Oh-lotoa, “He, Ohlotoa, ada berita sebagus ini, mengapa kau simpan saja selama ini dan tidak memberitahukan pada kami?”

Tapi ada juga yang berkata, “jika nenek keparat itu sudah mampus, lalu bagaimana Sing- si-hu yang mengeram dalam tubuh kita, ai, apakah di dunia ini ada orang lagi yang mampu memunahkannya

Pada saat itulah mendadak di antara orang banyak itu terdengar suara “Huuh..Hauuuh!” seperti suara serigala menyalak dan mirip suara anjing gila, suaranya sangat menyeramkan.

Mendengar suara itu, seketika semua orang ketakutan dan diam sehingga dalam ruangan itu tiada suara lain kecuali suara yang mirip serigala. Maka tertampaklah seorang laki laki gemuk bergelindingan di lantai sambil kedua tangan mencakar-cakar muka sendiri dan merobek baju sehingga kelihatan simbar dadanya yang hitam ketel. Malahan orang itu terus mencacar-cakar dada sendiri sekuat-kuatnya seperti isi dadanya hendak dikorek keluar.

Hanya sekejap saja kedua tangan laki-laki gemuk itu sudah berlumuran darah, begitu pula muka dan dada juga penuh darah, bahkan cara mencakarnya makin lama makin ganas – dan suaranya yang menyeramkan juga makin mengerikan sehingga para penonton sama menyurut mundur ke pinggir dengan takut.

“Wah, Sing-si-hu telah mulai menagih nyawa!’ demikian terdengar beberapa orang saling berbisik.

Hi-tiok sendiri juga pernah terkena Sing-si-hu, tapi segera ia diajari oleh Tong-lo cara memunahkannya sehingga tidak pernah mengalami siksaan apa-apa. Sekarang ia menyaksikan keadaan si gemuk yang mengerikan itu, barulah ia tahu bukannya tidak berdasar jika para Tongcu dan Tocu itu tadinya sangat takut kepada Tong-lo.

Rupanya semua orang kuatir kalau racun Sing-si-hu menjalar ke badan mereka, maka tiada seorang pun berani maju menolong. Hanya dalam sekejap saja si gemuk sudah merobek hancur pakaiannya sendiri dan sekujur badannya juga penuh luka cakaran yang berjalur-jalur.

Sekonyong-konyong di antara orang banyak melompat keluar seorang sambil berteriak, “Koko, koko! Tenanglah sedikit, biar kututuk, hiat-tomu dul, Kemudian dapat kita. mencari jalan lain untuk menyembuhkan dirimu!”

Tapi laki-laki itu sudah seperti orang gila, sama sekali tidak gubris ucapan orang lain.

Pembicaraan tadi mukanya agak memper si gemuk hanya usianya lebih muda dan badannya sedikit kurus, nampaknya mereka adalah saudara sekandung. Maka dengan pelahan orang itu mendekati si gemuk dengan rasa jeri sekonyongkonyong ia menutuk “Koh-cing-hiat” di bahu si gemuk. Tapi si gemuk sempat mengegos sehingga tutukan itu luput, bahkan si gemuk terus membalik tubuh dan tahu-tahu si kurus kena dirangkulnya sekali si gemuk pentang mulut terus saja muka si kurus digigitnya.

Keruan orang itu beteriak-teriak, “He, Koko koko! Jangan, akulah! Jangan gigit! Lepaskan!”

Namun si gemuk seperti sudah kehilangan pikiran sehatnya, ia masih terus menggigit sekenanya mirip seekor anjing gila. Saudaranya berusaha melepaskan, diri dengan sekuat-kuatnya, tapi sukar melepaskan diri sehingga dalam sekejap saja mukanya dedel-dowel kena digigit dan darah bercucuran, saking kesakitan sampai dia menjerit ngeri.

Di sebelah sana Toan Ki lantas tanya kapada Giok-yan,

“Nona Ong, cara bagaimana kita harus menolong mereka?”

Tapi Ong Giok-yan berkerut kening dan berkata, “Orang itu sudah gila, tenaganya sungat kuat, pula tidak main silat menurut teori sehingga aku pun tidak berdaya.”

Toan Ki menoleh kepada Buyung Hok, katanya, “Buyung heng, kepandaianmu menggunakan caranya untuk digunakan atas dirinya yang termashur itu apakah sekarang dapat dimanfaatkan ?”

Namun Buyung Hok tampak kurang senang atas pertanyaan Toan Ki itu dan belum lagi ia membuka suara, tiba-tiba Pau Put-tong mendahului berseru, “Apa kau suruh Kongcu kami meniru caranya seperti anjing gila itu dan menggigitnya?”

“O, ya, akulah yang salah omong, harap Pau-heng jangan marah,” sahut Toan Ki dan minta maaf. Terpaksa ia sendiri mendekati si gemuk dan berkata padanya, “Saudara yang terhormat, yang kau rangkul ini adalah adikmu hendaknya lekas kau lepaskan dia?”

Tapi rangkulan si gerauk tambah kencang dan mulut saudaranya pun mulai mengeluarkan suara “hauh-hauh” yang mengerikan.

Segera laki-laki she In tadi mencengkeram seorang Wanita baju kuning dan berkata, “Semua orang yang berada di sini sebagian besar terkena Sing-si-hu nenek bangsat itu, sekarang semua orang telah berkumpul di sini dan bila penyakit mereka kumat, serentak kaupun akan digigit mereka hingga hancur luluh. Nah, apa kamu tidak takut?”

Wanita itu memandang sekejap pada si gemuk yang masih mengamuk itu dengan air muka ketakutan. maka laki-laki she In itu berkata, pula, “Toh sekarang Tong lolo sudah mati, asal kau katakan di mana dia menyimpan benda pusakanya agar semua orang dapat disembuhkan, maka kami pasti takkan bikin susah kalian bahkan merasa terima kasih malah.”

“Bukan aku tidak mau mengaku, sesungguhnya tiada seorang pun di antara kami yang tahu”, sahut wanita itu.

“Biasanya setiap tindakan Kaucu tidak mungkin diperlihatkan kepada kami kaum budak ini.”

Melihat wanita itu sangat ketakutan agaknya tidak berani berdusta. Dengan sendirinya semua orang jadi tak berdaya.

Begitu pula dengan Buyung Hok dan kawannya.

Sebabnya mereka ikut Oh-lotoa dan begundalnya menyerbu Biau-biau-hong ialah dengan harapan sebagai balas jasa kelak Oh-lotoa dan kawan-kawannya itu dapat diperalat bagi pergerakannya dalam menegakkan kerajaan Yan, Tapi sekaran melihat Sing-si-hu yang lihai itu telah tertanam, dalam badan para Tongcu dan Toou serta sukar untuk disembuhkan, jika Sing-si-hu bekerja, tentu Oh-lotoa dan kawan-kawannya akan binasa semua dan cita-cita Buyung Hok pun akan sia-sia belaka.

Karena itu ia juga cuma geleng-geleng kepala dan saling pardang dengan Ting Pek-jwa , Kongya Kian dan lain-lain dengan tak berdaya.

Dalam keadaan putus asa, laki-laki she ln tadi merasakan Sing-si-hu yang mengeram di tubuhnya juga lamat-lamat mulai bekerja, hiat-to yang bersangkutan terasa linu pegal.

Keruan ia menjadi kuatir dan gusar pula segera ia membentak, “Apa kamu tetap tidak mau mengaku? Biar kumampuskan kau dulu!”

Habis berkata, “tar!”, mendadak ia angkat cambuknya terus menyabet kepala wanita itu.

Sabetan itu sedemikian kerasnya, bila kena bukan mustahil kepala wanita itu bisa pecah. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mendesir perahan sekali semacam am-gi atau senjata rahasia menyambar dari pintu menuju ke dinding ruangan sekali behda itu membentur dinding dan terpental kembali, tahu-tahu pinggang wanita yang hendak di cambuk tadi tepat kena tertimpuk sehingga badannya ikut terpental ke arah pintu sejauh satu-dua meter. Menyusul terdengarlah suara “plok” yang keras, cambuk si lelaki she In tadi mengenai, lantai batu sehingga batu krikil muncrat, bertebaran.

Kejadian itu hanya berlangsung dalam sekejap saja sehingga tiada seorang pun yang tahu am-gi tadi disambitkan oleh siapa. Hanya di lantai lantas kelihatan ada sebuah bola kecil warna coklat sedang berputar-putar, ternyata satu biji cemara.

Keruan semua orang terkejut, hanya dengari satu biji cemara sekecil itu dapat bikin seorang terpental dengan tenaga benturan membalik dari dinding, maka dapat dibayangkan betapa hebat lwekang dan caranya menimpuk am-gi itu, siapakah gerangannya?

Seketika Oh-lotoa teringat pada seorang, tanpa terasa ia berteriak, “He, Tong-lo! Itulah Thian-san Tong-lo”

Tempo hari di tempat sembunyinya Oh-lotoa telah menyaksikan sebelah kaki Tong-lo ditabas kutung olah Li Jiusui, kemudian dilihatnya pula Tong-lo digendong lari oleh Hitiok dan terjeblos ke bawah jurang, dengan sendirinya Ohlotoa yakin kedua orang itu pasti sudah mati terbanting hancur. Maka ia berani membungkus kaki kutung Tong-lo itu dengan kain minyak dan disimpan baik-baik sebagai “jimat”. .

Namun sekarang demi melihat cara menimpuk biji cemara untuk menolong wanita baju kuning yang maha lihai itu, seketika ia menjadi ragu dan menyangsikan kematian Thiansan Tong-lo, orang pertama-tama yang teringat olehnya justru adalah nenek itu.

Hal ini disebabkan Oh-lotoa sendiri pernah merasakan betapa lihainya biji cemara seperti sekarang ini ketika dia tertimpuk perutnya oleh Hi-tiok yang mendapat ajaran dari Tong-lo. Maka ia benar-benar sudah kapok bila melihat biji cemara serupa itu.

Dalam pada itu demi mendengar Oh-lotoa berteriak “Tonglo,”

serentak semua oraug memutar tubuh ke arah pintu dan berbareng menyiapkan senjata sehingga terdengar suara gemerantang yang riuh rarnai banyak yang menyurut mundur karena jeri.

Hanya Buyung Hok saja yang malah mendekati pintu, iaingin tahu macam apakah Thian-san Tong-lo yang ditakuti, itu? Padahal dia sebenarnya sudah pernah melihatnya, yaitu pada waktu Tong-lo digendong Hi-tiok dan dibuat lempar kian kemari sebagai bola oleh dia senidiri bersama Ting Jun jiu,

Cumoti dan Toan Ki. Cuma sama sekali tak terduga olehnya bahwa si nenek yang tersohor itu ternyata berbentuk seorang nona cilik.

Di sebelah sana Toan Ki juga lantas mengadang di depan Ong Giok-yan karena kuatir nota itu diserang orang lain.

Sebaliknya Giok-yan terus berseru, “Piauko, harap hati-hati!”

Tapi meski sudah sekian lamanya semua orang menatap ke luar pintu, tetap tiada sesuatu suara atau gerak-gerik apaapa.

Yang pertarna-tama tidak sabar lagi adalah Pau put tong, ia terus berteriak, ”Tong-lolo, jika engkau marah kepada tamu-tamu yang tak diundang ini, bolehlah kau masuk kemari untuk bertempur!”

Namun keadaan tetap sunyi senyap.

“Baiklah mari, biar aku dulu yang belajar kenal dengan kepandaian Tong-lo.” seru Hong Po-ok, ”Biarpun tahu bukan tandinganmu, tetapi aku ingin bertempur denganmu. Memang inilah watak orang she Hong yang tak bisa berubah sampai mati,”

Habis berkata terus saja ia putar goloknya diri menerjang keluar pintu.

Meski kepandaian Hong Po-ok belum mencapai tingkatan nomor wahid, tapi dia gemar berkelahi dan sangat tangkas.

Sebagai saudara angkatnya, Ting Pek-jwan, Kongya Kian dan Pau Put-tonj cukup tahu dia bukan tandingan Tong-lo, maka beramai-ramai mereka pun menyusul keluar.

Para Tongcu dan Tocu itu ada yang kagum pada kegagahberanian keempat orang itu, ada yang mentertawai mereka tidak tahu diri dan belum kenal betapa lihainya Thiansan

Tong-lo, kalau sebentar tubuh dihajar nenek itu barulah tahu rasa.

Dalam pada itu terdengar Hong po-ok dan Pau Put tong sedang berteriak-teriak menantang Tong-lo di luar sana, namun tetap tidak terdengar jawaban.

Kiranya biji cemara yang menolong wanita baju kuning tadi adalah timpukkan Hi-tiok. Diam-diam ia merasa geli melihat Pau Put-tong dan semua orang sama was-was dan penuh curiga. Namun Hi-tiok adalah seorang baik hati, ia tidak ingin orang lain kelabakan terus, segera ia berkata “Harap para hadirin jangan kaget dan sangsi, Tong-lo memang betul-betul sudah meninggal dunia.”

Dan ketika dilihatnya si gemuk tadi masih terus menggigiti saudaranya, diam-diam Hi-tiok merasa kasihan, ia tidak paham mengapa di antara, hadirin itu tiada seorang pun dapat menolongnya. Mestinya ia sendiri tidak suka pamer, tapi untuk menyelamatlan jiwa kedua orang itu terpaksa ia harus bertindak. Maka segera ia mendekati kedua orang itu, ia tepuk sekali punggung si gemuk.

Tepukan yang digunakan Hi-tiok itu adalah “Liok yang-jiu”

ajaran Tong-lo yang merupakan obat mujarab untuk memunahkan Sing-si-hu, seketika suatu arus hawa hangat menembus hiat-to si gemuk sehingga racun Sing-si-hu yang bekerja di badannya itu dihancurkan.

Mendadak si gemuk melepaskan rangkulannya kepada sikurus dia jatuh terduduk dengan napas terengah-engah dan semangat lesu. Ketika melihat saudaranya babah belur mukanya, segera ia tanya, “He, kenapa kau terluka sedemikian rupa? Siapakah yang menyerangmu, lekas katakan, biar kubalaskan sakit hatimu!”

Melihat pikiran sehat kakaknya sudah pulih, si kurus menjadi girang, tanpa menghiraukan lukanya sendiri, terus saja ia menarik bangun kakaknya dan berkala, “Koko, engkau sudah sembuh sekarang, sudah sembuh!”

Kemudian. Hi-tiok menepuk sekali juga di pundak si wanita baju kuning dan berkala, “Kalian adalah anggota Kin-thian-poh bukan? Saudara-saudara kalian dari Yang-thian-poh, Cu thianpoh dan Lain-lain sudah berada di seberang Ciap-hian-kio, cuma jembatan rantai sudah putus. Semenntara ini mereka tak dapat menyeberang kesini. Jika di sini tersedia rantai atau tambang, ayolah lekas kita pergi memapak mereka.”

Habis berkata, ia tepuk wanita yang lain, sekali tepuk seketika hiat-to para wanita itu lancar kembali tanpa alangan sedikitpun. Keruan para wanita itu sangat berterima kasih, beramai-ramai merek berbangkit dan berkata, “Terima kasih atas pertolongan tuan, tolong tanya siapakah nama tuan yang mulia?”

Ada beberapa orang wanita sudah yang tak aabaran lagi segera lari keluar sambil berteriak “Lekas, lekas kita papak datangnya, saudara kita untuk kemudian melabrak kembali kawanan bangsat ini!”

Sedangkan Hi-tiok lantas membalas hormat dan menjawab, “Ah, kalian tidak perlu sungkan-sungkan, sebenarnya yang menolong kalian bukalah aku melainkan orang lain yang pinjam tanganku saja.”

Ia maksudkan bahwa kepandaiannya itu ia peroleh dari Tong-lo bertiga, jadi sebenarnya Tong-lo sendiri yang menolong wanita-wanita itu.

Melihat cara Hi-tiok menolong para wanita baju kuning itu hanya setiap orang ditepuk sekali saja dan hiat-to masingmasing lantas terbuka, cara demikian bukan saja tidak pernah disaksikan Oh-lotoa dan begundalnya Itu. Bahkan mendengarpun tidak pernah, Sekarang melihat muka Hi-tiok juga tiada sesuatu yang istimewa, usianya masih muda pula, mereka menduga Hi-tiok pasti tidak mempunyai Iwekang yang luar biasa, apalagi dia mengaku orang lain yang menolong kawan wanita itu dengan meminjam tangannya, maka Ohlotoa dan kawan-kawannya semakin percaya kalau Tong-lo berada di Leng-ciu-kiong situ.

Oh-lotoa pernah kumpul bersama Hi-tiok walau hanya beberapa hari di atas puncak.gunung salju sekarang meski rambut Hi-tiok sudah tumbuh panjang, dandanannya juga sudah, berubah tapi sekali buka suara segara dapat, dikenali Oh-lotoa.

Cepat Oh-lotoa melompat maju dan pegang urat nadi tangan kanan Hi-tiok sambil membentak “Hwesio cilik, apa . . . apa Tong-lo sudah berada disini ?”

“Oh-siansing, apa luka di perutmu sudah sembuh!” sahut Hi-tiok . “Se… sekarang aku bukan murid Budha lagi, sungguh memalukan kalau diceritakan.”

Habis berkata sebenarnya mukanya sudah merasa jengah, cuma sekarang mukanya kotor penuh debu, maka orang lain tidak tahu.

Sekali pegang urat nadi tangan Hi-tiok terus Oh-lotoa mengerahkan tenaga dalam dengan penuh agar Hi-tiok merasa kesakitan dan minta ampun. Siapa duga, biarpun ia pencet sekeras-kerasnya tetap Hi-tiok seperti tidak merasa apa-apa, dan tenaga dalam yang dikerahkan Oh-lotoa tiba-tiba lenyap tanpa bebas seperti air mengalir kelaut.

Keruan Oh-lotoa menjadi takut dan tidak berani mengerahkan tanaga lagi, tapi tetap tidak mau melepaskan pegangannya.

Melihat Oh-lotoa dapat membekuk Hi-tiok dan tampaknya bocah itu tidak dapat berkutik lagi, andaikan bocah itu punya kepandaian tinggi tentu takkan sedemikian gampang dipegang oleh Oh-lotoa, maka semua orang lantas ikut-ikut membentak dan katanya, “Hai,, anak setan, siap kamu? Dari mana kau?

Siapa namamu? Siapa gururmu? Siapa yang suruh kau kemari? Di mana Tong-lolo? Dia sudah mampus atau masih hidup!”

Begitulah pertanyaan bengis serentak diajukan kepada Hitiok, tapi dengan sikap merendah Hi-tiok menjawab, “Cayhe ber. . , bergelar. Hi-tiok cu. Tong-lolo memang betul sudah meninggal dunia, jenazah beliau juga sudah dibawa pulang sekarang berada di seberang Ciap-hian-kio. Tentang perguruanku, ai, sungguh memalukan kalau kukatakan, maka lebih baik jangan dibicaraka. Adapun kedatanganku ini adalah untuk mengubur layon Tong-lolo, jika kalian tidak percaya, sebentar lagi tentu kalian dapat menyaksikan jenazah beliau.

Kalian kan bekas bawahan beliau, kuharap kalian jangan dendam kepada kejadian yang telah lampau, hendaknya kalian memberi penghormatan terakhir kepada beliau dan segala permusuhan sekaligus dihapus saja, dengan demikiann bukankah segala sesuatu menjadi selesai?”

Ia menjawab dengan tidak teratur sebentar merasa malu dan lain saat bilang menyesal, ucapannya yang terakhir itupun seperti orang memohon dengan sangat.

Keruan para petualang itu merasa Hi-tiok sengaja ngacobelo, boleh jadi pikirannya agak miring. Maka rasa jeri mereka kepada Hi-tiok mulai lenyap, sebaliknya timbul kembali kecongkakan mereka, segera banyak di antaranya memakimaki, “Anak keparat, kamu ini kutu apa, kau berani suruh kami menjura kepada layon nenek bangsat itu? Setan alas, kami tanya padamu cara bagaimana mampusnya nenek bangsat itu? Apakah dia binasa di tangan Sumoainya? Dan kaki ini benar kakinya atau bukan?”

“Ai, kenapa kalian memakinya dengan kotor, beliau kan sudah meninggal dunia, segala dendam kesumat juga tidak perlu dipikirkan lagi,” sahut Hi-tiok dengan ramah. “Apa yang dikatakan Oh-siansing memang tak salah, beliau benar-benar meningga! di tangan sang Sumoai dan kaki ini memang juga bagian tubuh beliau. Ai, orang hidup laksana mimpi belaka, meski ilmu silat beliau maha tinggi, akhirnya juga meninggal dengan begitu saja. Omitohud, Budha maha kasih somoga arwah Tong-lo dapat diterima di surga”

Melihat Hi-tiok mengoceh panjang lebar, namun para petualang itu masih ragu atas kernatian Tong-lo, segera ada yang tanya lagi, “Waktu mati Tong-lo nya apa kamu berada di tempatnya?”

“Ya,” sahut Hi-tiok, “beberapa bulan paling akhir ini aku selalu melayani beliau.”

Para petualang itu saling pandang sekejap, dalam hati masing-trjasing seketika timbul suatu pikiran yang sama, “Rahasia memunahkan Sing si-hu bisa jadi berada pada bocah ini,”

Mendadak sesosok bayangan melayang ke depan tahu tahu urat nadi tangan kiri Hi-tiok terpegang, menyusul Ohtotoa yang memegangi pergelangan tangan kanan Hi-tiok merasa kuduknya dingin di tempel sesuatu senjata tajam, lalu seorang berkata dengan suara melengking, Oh-lotoa, lepaskan dia!” Ketika sekilat melihat orang yang memegang tangan kiri Hi-tiok itu, segera Oh-looa menduga kawannya pasti akan maju berbareng, dan baru saja ia hendak siap menjaga diri, namun sudah, terlambat sedetik, kuduknya sudah terancam dulu oleh senjata lawan, terpaksa ia tidak berani sembarangan bergerak.<–>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: