KISAH SI PEDANG KILAT

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Jilid 01

MALAM yang gelap dan dingin Hawa yang amat dingin menyusup tulang membuat semua orang lebih suka tinggal di dalam rumah, menghangatkan diri dengan api di perapian. Jalan raya di depan rumah-rumah besar itu amat sepi, tak nampak seorang pun di sana. Angin bertiup lembut, membawa hawa yang amat dingin sehingga lampu-lampu gantung yang bergoyang perlahan. itu seperti ikut kedinginan, cahayanya lembut dan redup. Belum juga tengah malam, namun kota itu seperti kota mati, tidak ada kesibukan di luar rumah.

Akan tetapi, di atas sebuah rumah yang besar dan tinggi karena berloteng, ada kesibukan yang aneh. Lima bayangan hitam berkelebatan di atas wuwungan rumah itu dan dari gerakan mereka yang cepat bagaikan lima ekor burung rajawali, mudah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki gin-kang (Ilmu meringankan tubuh) yang cukup tinggi. Angin yang berdesah di antara daun-daun pohon membantu mereka, menghilangkan sedikit suara yang ditimbulkan kaki mereka ketika mereka bengerak di atas wuwungan dan genteng.

Biarpun mereka memiliki ilmu silat yang tinggi, namun mereka bersikap hati-hati sekali. Hal ini tidaklah mengherankan kalau diketahui bahwa pemilik rumah itu adalah seorang ahli silat kenamaan yang di kota Nan-ping dikenal sebagai Kwa-enghiong (Pendekar Kwa). Dia bernama Kwa Tin, seorang akil silat murid Siauw-lim-pai yang dihormati semua orang karena wataknya yang gagah perkasa, selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan. Kwa Tin memiliki perusahaan toko kain yang cukup besar dan maju sehingga keadaan keluarganya tergolong mampu. Rumahnya besar, di bagian depan dibuka sebagai toko kain, di belakang sebagai rumah tinggal di mana dia tinggal bersama isterinya dan anak tunggalnya, seorang anak laki-laki bernama Kwa Bun Houw yang pada waktu itu sudah berusia limabelas tahun.

Nama Kwa-enghiong dihormati di kota Nan-ping karena sudah beberapa kali pendekar ini berhasil membasmi para penjahat yang mengganggu keamanan penduduk Nan-ping. Beberapa kali para penjahat yang menganggap Kwa Tin sebagai pengganggu dan penghalang pekerjaan mereka, mencoba untuk membalas dendam.

Akan tetapi Setelah mereka selalu dikalahkan Kwa Tin yang lihai, kota Nan-ping menjadi aman dan tidak ada penjahat berani beraksi di kota itu atau di dusun-dusun sekitarnya. Apalagi setelah puteranya mulai menjadi pemuda remaja, keluarga Kwa semakin ditakuti penjahat. Sejak kecil, Kwa Bun Houw digembleng oleh ayahnya sendiri. Ternyata dia memiliki bakat yang amat baik, bahkan lebih baik dari pada ayahnya sehingga setelah dia berusia limabelas tahun, ilmu silat ayahnya telah dipelajarinya semua dan tingkat kepandaiannya hanya sedikit saja di bawah tingkat ayahnya karena dia kalah pengalaman dan kalah matang. Akan tetapi, dalam hal tenaga dan kecepatan gerakan, Bun Houw tidak kalah oleh ayahnya!

Lima sosok bayangan orang itu berkelompok di sudut wuwungan yang gelap, agaknya mereka mengadakan perundingan. Kemudian mereka berpencar. Tak lama kemudian, nampak api berkobar di bagian belakang bangunan itu. Gudang barang telah terbakar! A Piauw, tukang kebun yang tidur di dekat gudang yang terbakar, terkejut dan berteriak-teriak.

“Kebakaran ! Kebakaran … !”

Ketika dia masih berteriak-teriak, nampak api berkobar di sebelah kanan bangunan, lalu sebelah kiri dan terdengar jeritan dua orang pelayan wanita.

Kwa Tin keluar dari kamarnya bersama isterinya. Dia melihat api berkobar di belakang, kanan dan kiri rumahnya. Selagi dia hendak lari untuk memadamkan api, tiba-tiba nampak lima bayangan hitam berloncatan turun dari atas dan Kwa Tin telah dikepung oleh lima orang berpakaian hitam yang menutupi muka mereka dengan kedok hitam pula, masing-masing memegang sebatang pedang. Tanpa banyak cakap lagi, mereka berlima sudah menyerang Kwa Tin!

Pendekar ini tidak memegang senjata, karena baru keluar dari kamarnya. Melihat munculnya lima orang itu, tahulah dia bahwa rumahnya diserbu penjahat. Dia mendorong tubuh isterinya sehingga isterinya terhuyung dan masuk lagi ke dalam kamar. Wanita itu menutup daun pintu dan menguncinya dari dalam.

Lega melihat isterinya sudah bersembunyi, Kwa Tin lalu menghadapi pengeroyokan lima orang itu. Dia menggunakan kelincahan gerakan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini, berloncatan di antara sambaran sinar pedang. Sementara itu, api terus mengamuk dan di luar rumah sudah terdengar para tetangga yang mencoba untuk menyiramkan air dari luar rumah, berusaha memadamkan api yang mengamuk di bagian belakang dan kanan kiri rumah.

Kwa Tin segera mendapat kenyataan bahwa lima orang berkedok yang mengeroyoknya itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi! Permainan pedang mereka amat cepat, kuat dan berbahaya sekali. Dia merasa menyesal bahwa dia tidak memegang senjata. Kalau saja dia membawa pedangnya! Akan tetapi penyesalan tiada gunanya dan dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan menguras semua kepandaian dan kemampuannya untuk membela diri.

Lima batang pedang itu menyerangnya dengan ganas, menjadi lima gulung sinar yang berkelebatan sehingga amat repot bagi Kwa Tin untuk mengelak dari sambaran lima batang pedang yang bertubi-tubi datangnya itu. Biarpun dia memiliki gerakan lincah, berloncatan ke sana sini dan kadang-kadang menyampok dengan tangannya ke arah tangan yang memegang pedang, namun lewat belasan jurus, pundak kirinya tercium ujung sebatang pedang. Bajunya robek dan pundaknya tengores luka. Dia menyambar sebuah bangku panjang dan mengamuk dengan bangku itu. Namun, sebentar saja dia terpaksa melemparkan bangku yang beberapa kali bertemu pedang dan terpotong-potong. D’sambarnja sebuah meja dan dan g n benda itu dia membela diri, menggunakan meja sebagai perisai dan kakinya kadang-kadang menyambar dengan tendangannya yang kuat. Seorang pengeroyok termakan kakinya, tepat mengenai pahanya dan orang itu terpelanting. Melihat kesempatan ini, Kwa Tin menubruk, menghantamkan mejanya ke arah orang yang sudah roboh itu.

Orang itu menangkis dengan pedangnya.

“Brakkk!”

Meja menghantam lengan itu sehingga pedang itu terpental. Kwa Tin melompat dan menyambar pedang itu sambil melemparkan mejanya ke arah pemilik pedang. Pada saat itu, disamping ada pedang meluncur seperti anak panah.

“Cappp …!” Pedang memasuki rongga dada Kwa Tin, dari bawah ketiak.

Kwa Tin mengeluarkan suara gerengan dan dia masih berhasil menangkap pedang yang terlepas tadi, lalu membalik dan membabat.

“Crokkk!”

Orang yang menusuknya tadi menjerit, tangan kanannya sebatas pergelangan buntung oleh babatan pedang Kwa Tin! Akan tetapi Kwa Tin sendiri roboh dengan pedang masih menancap di dadanya. Sambil roboh, Kwa Tin masih mampu melemparkan pedang ke depan dan seorang pengeroyok lagi berteriak kesakitan ketika paha kakinya tertusuk pedang yang dilontarkan itu. Para pengeroyok yang melihat Kwa Tin sudah roboh dengan luka parah dan suara tetangga semakin ramai, mereka membawa teman yang terluka dan berlompatan ke atas genteng, menghilang dari atap ke atap. Mereka juga merasa jerih melihat betapa Kwa Tin demikian gagahnya, masih mampu melukai dua orang teman mereka, bahwa yang seorang mengalami cedera buntung lengan tangan sebatas pergelangan! Akan tetapi seorang di antara mereka menendang daun pintu sehingga jebol, lalu keluar lagi sambil memondong tubuh seorang wanita yang kelihatan lemas karena tertotok. itulah isteri Kwa Tin yang mereka culik.

Kwa Tin masih belum tewas, bahkan juga tidak pingsan. Dia melihat betapa Isterinya diculik oleh seorang di antara para penjahat bertopeng itu, akan tetapi ketika dia hendak bangkit untuk menolong isterinya, dia roboh lagi dan mengeluh, dadanya terasa nyeri dan pendekar inipun maklum bahwa ajalnya sudah dekat!

Pada saat itu, di antara para tetangga yang sedang sibuk berusaha memadamkan api, tanpa mengetahui apa yang terjadi di dalam, nampak seorang pemuda menerobos di antara banyak orang dan diapun menendang pintu depan yang sudah terbakar separuh itu sampai jebol lalu dia melompat masuk menerjang api sambil berteriak.

“Ayaaaahhh … ! Ibuuu … !”

Semua orang memandang tegang, tidak berani mengikuti pemuda yang menerjang api itu. Pemuda itu adalah Kwa Bun Houw yang tadi tidak berada di rumah karena dia sedang berada di rumah keluarga Cia, yaitu keluarga calon isterinya! Calon ayah mertuanya yang menjadi sahabat baik ayahnya, mengajak dia bercakap-cakap sampai jauh malam. Ketika akhirnya dia mendapat kesempatan berpamit dari calon mertuanya dan tiba di dekat rumah, dia terkejut melihat rumah orang tuanya terbakar dan banyak tetangga sedang berusaha memadamkan api. Dia segera mencari ayah ibunya, akan tetapi para tetangga mengatakan bahwa ayah ibunya tidak nampak keluar dari rumah yang terbakar itu! Mendengar ini, dengan nekat Bun Houw lalu menerjang daun pintu dan melompat ke dalam.

“Ayaihhhh … !” Dia menubruk orang tua itu yang menggeletak bermandikan darah sendiri dengan sebatang pedang masih menancap di dadanya.

“Ayah, apa yang terjadi? Siapa melakukan semua ini?” Bun Houw memangku kepala ayahnya yang sudah terkulai lemas. Pendekar itu mendengar teriakan anaknya dan dia mengerahkan seluruh tenaga terakhir untuk membuka mata dan mulutnya. “Bun Houw … mereka … lima orang … berkedok … yang seorang … buntung tangan kanannya … ” Dia terkulai dan napasnya berhenti.

“Ayah …!” Bun Houw mengguncang tubuh ayahnya dan sungguh aneh, pendekar itu membuka matanya lagi. Seolah-olah teriakan anaknya tadi menarik kembali nyawanya yang sudah melayang, “Ibumu … diculik mereka … ” Sukar benar dia mengeluarkan kata-kata ini dan kembali dia terkulai, sekali ini benar-benar menghembuskan napas terakhir.

“Ayah …! Ibuuuu … !” Bun Houw teringat Ibunya dan dengan cepat bangkit berdiri, meloncat ke dalam kamar. Ketika tidak melihat ibunya, teringat akan kata-kata terakhir ayahnya. Bun Houw meloncat ke atas genteng dan diapun mencari dan memandang ke kanan kiri. Namun, tidak nampak sesuatu kecuali para tetangga yang masih sibuk mencoba memadamkan api yang makin membesar. Bun Houw lalu meloncat keluar dan seolah-olah ada yang mendorongnya, dia lalu berlari keluar kota menuju ke selatan. Dia teringat bahwa di Selatan kota terdapat sebuah hutan, dan entah mengapa, seperti ada bisikan di hatinya bahwa para penjahat itu membawa ibunya ke sana!

Tanpa memperdulikan lagi rumah orang tuanya yang terbakar dan ayahnya yang sudah tewas, Bun Houw mencari-cari di dalam hutan. Sampai pagi dia masih mencari-cari dan akhirnya usahanya berhasil. Di sebuah sudut hutan, di atas rumput tebal, di bawah pohon besar, dia menemukan Ibunya. Sudah mati dan dalam keadaan telanjang bulat!

“Ibuuuu … !” Dia menjerit dan menubruk mayat yang masih hangat itu. Agaknya belum lama ibunya tewas Bun Houw hampir pingsan, akan tetapi dia menguatkan hatinya, lalu meloncat dan berlari-lari mencari di sekitar tempat itu kalau-kalau akan dapat menemukan para penjahat itu.

Akan tetapi dia tidak menemukan jejak mereka dan akhirnya dengan hati penuh duka, dia menghampiri mayat ibunya, mengenakan kembali pakaian ibunya yang cerai berai di tempat itu, lalu memondong tubuh yang sudah tak bernyawa itu, menuju pulang! Wajahnya pucat dan muram, matanya seperti lampu kehabisan minyak, akan tetapi kadang-kadang mata itu mengeluarkan sinar penuh kebencian dan kemarahan yang membuat orang bengidik ngeri melihatnya.

Rumah keluarga Kwa itu habis terbakar. Rumah tinggal dan tokonya. Seluruh harta kekayaan keluarga itu musnah dan kini Bun Houw tidak memiliki apa-Apalagi kecuali pakaian yang menempel di tubuhnya! Dia kehilangan ayahnya, ibunya, harta bendanya, rumah tinggalnya.

Para tetangga membantunya sehingga jenazah ayah-ibunya dapat dimakamkan sepantasnya. Setelah semua orang pulang. Bun Houw tinggal di tanah kuburan itu seorang diri, bersila di depan dua buah makam yang masih baru itu. Bau dupa masih mengharumkan sekitar kuburan, dan bagi Bun Houw yang bersila di situ, bau tanah juga menyengat hidungnya, mengingatkan dia bahwa ayah dan ibunya kini berada di dalam tanah itu!

Dia tidak menangis lagi. Sudah habis air matanya sebelum kedua Jenazah itu dikebumikan. Kini dia bersila, termenung. Bayangan mengerikan itu selalu menghantui mata hatinya. Bayangan ayahnya dikeroyok lima orang berkedok, lalu ayahnya roboh dengan dada tertusuk pedang. Lalu bayangan yang lebih menyakitkan hati lagi. Ibunya diperkosa dan dihina lima orang itu sampai mati! Dia mengepal tinju! Mengapa ayahnya dan ibunya dibunuh orang?

Bun Houw membiarkan pikirannya bekerja sendiri. Dibongkarnya semua isi pikirannya yang bertumpuk-tumpuk. Teringatlah dia akan keadaan ayahnya. Ayahnya seorang pendekar yang selalu menentang kejahatan. Entah sudah berapa banyak penjahat dibasminya, dibunuhnya atau ditangkapnya, atau dihajarnya. Dia merasa yakin bahwa apa yang menimpa keluarganya itu adalah akibat dari pada dendam para penjahat. Ayahnya telah mengalahkan banyak penjahat, dengan kekerasan, dan hal ini tentu saja mendatangkan dendam. Akhirnya, para penjahat yang menaruh dendam itu berhasil membalas, Ayahnya dibunuh. Ibunya diperkosa dan dibunuh. Apakah dia harus mendendam pula? mendendam kepada siapa ?

Teringat dia akan nasihat-nasihat ayahnya ketika ayahnya menggemblengnya dengan ilmu silat. Satu di antaranya tentang dendam. “Anakku, seorang pendekar tidak akan bertindak karena benci! Biarpun ayahmu ini menentang kejahatan, menentang para penjahat, namun tidak ada rasa benci di dalam hatiku. Yang ada hanyalah rasa tanggung jawab dan tugas seorang pendekar, melindungi yang lemah tertindas dan menentang yang kuat namun jahat. Jangan biarkan dirimu menjadi hamba dari nafsu kebencian. Jangan biarkan hatimu menjadi taman, di mana pohon dendam tumbuh dan membesar karena dendam adalah kebencian juga. Kalau kebencian menjadi dasar, maka setiap perbuatan adalah kejahatan, apapun alasannya!”

Teringat akan nasihat ini, Bun Houw menghela napas panjang. Ayahnya dibunuh orang dan ibunya juga dibunuh setelah diperkosa, apakah dia tidak boleh mendendam? Dendam kebencian merupakan racun bagi batin sendiri, demikian ayahnya pernah berkata. Tidak, dia tidak boleh mendendam, akan tetapi dia akan melanjutkan perjuangan ayahnya sebagai seorang pendekar. Dia akan menentang kejahatan dalam bentuk apapun juga, tanpa dendam kebencian. Dia akan membasmi mereka yang membunuh orang tuanya, kalau dia berhasil menemukan mereka, bukan karena dendam kebencian melainkan karena mereka itu penjahat yang harus ditentang.

Tadi keluarga Cia juga datang melayat. Bahkan calon ayah mertuanya membujuknya untuk pulang ke rumah keluarga Cia, akan tetapi dia tidak mau. Akhirnya merekapun pergi. Sejak kecil, oleh ayahnya dia ditunangkan dengan Cia Ling Ay, puteri tunggal Cia Kun Ti, sahabat baik ayahnya. Karena ikatan persahabatan antara ayahnya dan Cia Kun Ti amat erat maka dia dijodohkan dengan gadis itu, sejak mereka berdua masih kanak-kanak. Mereka bahkan diberi kesempatan untuk bergaul dan berteman, dan setelah mereka mulai dewasa, mereka juga saling tertarik dan saling mencintai. Walaupun Bun Houw dan Ling Ay tidak pernah saling menyatakan perasaan cinta kasih mereka melalui kata-kata, dan bergaul seperti dua orang sahabat biasa, namun masing-masing dapat merasakan akan cinta mereka.

Ling Ay juga ikut bersembahyang di depan peti mati calon ayah dan ibu mertuanya, bahkan Ia menangis sesenggukan ketika melihat keadaan tunangannya yang demikian berduka. Di depan makam tadi, Ling Ay juga menangis dan ikut membujuknya agar mau pulang ke rumahnya dan meninggalkan kuburan, akan tetapi Bun Houw menolak dengan halus.

“Ay-moi, engkau pulanglah dulu. Biar aku sejenak menemani ayah dan Ibu di sini.” jawabnya.

“Akan tetapi, Houw-koko, ayah ibumu sudah tiada. Tidak ada gunanya kalau engkau menyiksa diri dalam kedukaan di tempat ini.” Gadis itu membujuk dan mencoba untuk menarik lengan pemuda yang menjadi tunangannya, juga sahabat baiknya dan orang yang diam-diam dikasihinya.

“Moi-moi, kau pulanglah dulu, aku masih belum dapat meninggalkan tempat ini. Pengilah dan jangan ganggu aku … ”

Setelah menarik napas dan menghapus air matanya, gadis itu pun pergi meninggalkannya untuk pulang bersama ayah ibunya.

Kembali Bau Houw melamun. Kini baru dia mengerti benar apa yang dimaksudkan dalam kitab-kitab suci bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak abadi. Hidup penuh duka yang timbul dari ikatan. Begitu banyaknya ikatan selama ini membelenggu dirinya, bahkan ikatan itu telah mengakar di dalam batinnya. Ikatan kepada ayah Ibunya, kepada harta kekayaan milik keluarganya. Sekarang, dalam sekejap mata saja, semua itu direnggut musnah darinya. Habislah segala-galanya, semua miliknya. Hati siapa takkan berdarah, batin siapa takkan menderita duka? Kini dia mengerti apa artinya itu, setelah merasakannya sendiri. Hidupnya terasa kosong dan sunyi. Dia tidak mempunyai siapa-siApalagi.

Tidak mempunyai siapa-siApalagi? Ah, tidak begitu! Bukankah di sana masih ada Cia Ling Ay? Orang yang dicintanya.” Bagaikan orang yang tadinya tenggelam ke dalam kegelapan tiba-tiba melihat setitik sinar terang, Bun Houw bangkit berdiri. Bayangan Ling Ay memberi harapan. Dia memberi hormat kepada kedua makam itu, lalu perlahan-lahan melangkah pergi, menuju ke rumah keluarga Cia. Ke mana lagi dia dapat pergi? Rumahnya sendiri telah menjadi debu. Sedikitpun dia tidak memiliki apa-Apalagi, bahkan pakaianpun hanya yang melekat pada tubuhnya.

Malapetaka dapat menimpa siapapun juga di dalam kehidupan di dunia ini. Tidak pandang bulu! Seorang manusia yang paling berkuasa sekalipun, tidak kebal terhadap malapetaka dan maut, kalau memang Tuhan sudah menghendaki. Tiada kekuatan apapun di dunia dan akhirat yang mampu mengubah kehendak Tuhan. Kehendak Tuhanpun terjadilah. Manusia hanya dapat menerima, tawakal, dengan penuh keikhlasan menyerahkan diri lahir batin sepenuhnya kepada kekuasaan Tuhan. Hanya inilah satu-satunya jalan. Hanya Tuhan yang dapat menentukan jalan hidup ini, seperti Tuhan pula yang menentukan dan mengatur segala sesuatu yang hidup dan mati, yang nampak dan tidak nampak. Tuhan mendahului yang paling dulu, mengakhiri yang paling akhir, di sebelah dalam yang paling dalam dan di sebelah luar yang paling luar! Tak terjangkau oleh akal pikiran. Kalau segala gerakan badan dan batin diatur oleh kekuasaan Tuhan, barulah sempurna dan benar dan hal ini mungkin saja dapat dicapai dengan penyerahan diri penuh keikhlasan dan kerendahan hati. Sebaliknya, segala gerakan badan dan batin yang diatur oleh akal pikiran selalu ditunggangi nafsu-nafsu dan akibatnya seperti yang kita lihat di sekeliling kita. Konflik dan pertentangan, perebutan, masing-masing menonjolkan kepentingan aku sendiri dan tak dapat dihindarkan lagi, bentrokan-bentrokan dan kekerasanpun terjadilah, di mana-mana!

Akal pikiran dan segala macam nafsu memang sungguh amat kita perlukan dalam kehidupan ini. Akal pikiran dan nafsu adalah alat-alat yang sangat benguna bagi kita untuk mempertahankan hidup di dunia ini. Karena mereka itu hanya alat, maka haruslah dapat kita manfaatkan, kita peralat demi kepentingan dan kebutuhan diri dalam kehidupan di dunia. Akan tetapi apa kenyataannya? Kita malah yang diperalat oleh mereka! Kita diperalat, diperhamba oleh akal pikiran dan nafsu, maka rusaklah ketenteraman hidup, lenyaplah kebahagiaan hidup. Akal pikiran dan nafsu hanya ingin ini, ingin itu. ingin lebih, ingin enak dan segala macam keinginan. Dan untuk mengejar terlaksananya keinginan itu, kita diperalat untuk mendapatkannya sehingga timbullah segala macam perbuatan kekerasan dan kemaksiatan. Kalaupun rasa kemanusiaan kita, hati nurani kita sewaktu-waktu menyadari akan hal ini, hati nurani kita itu sedemikian lemahnya sehingga tidak mampu menanggulangi kekuatan daya rendah dari nafsu-nafsu dan akal pikir, dan kita tetap dicengkeram dan dikuasai, dipengaruhi. Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu menalukkan kegarangan daya-daya rendah itu, menjinakkannya dan mengembalikan fungsinya sebagai alat, sebagai harta, bukan lagi sebagai majikan.

‘Tidak, aku tidak setuju! Pertunangan itu harus dibatalkan! Harus ! Ikatan perjodohan yang tidak seimbang ini harus putus!” Nyonya Cia Kun Ti berkata dengan penuh ketegasan kepada suaminya yang menundukkan mukanya dan duduk di kursi. Cia Kun Ti memang kalah wibawa dan selalu merasa rendah diri terhadap isterinya. Hal ini timbul sejak dia menikah dengan isterinya ini, yang dulu merupakan puteri dari majikannya! Dia hanya seorang karyawan dari toko besar ayah isterinya kemudian dia menjadi mantu. Kini dia dan isterinya membuka sebuah toko kain, juga semua itu milik Isterinya. Oleh karena itu, dalam segala hal isterinyalah yang mengemudikan dan menentukan dan hampir segala keputusan yang diambil isterinya, dia terpaksa meng’amin’kan dan tidak berani membantah.

“Tapi, ketika mendiang ayahnya mengajukan usul pengikatan jodoh, kita sudah menyetujuinya. Bukankah engkau sendiri juga setuju kalau anak kita Ling Ay dijodohkan dengan Bun Houw?” Nada suaranya bukan membantah melainkan mengingatkan isterinya akan janji mereka terhadap mendiang keluarga Kwa.

“Benar, tidak kupungkiri hal itu! Akan tetapi kita berjanji kepada Kwa Tin dan isterinya. Dan sekarang mereka telah meninggal dunia. Dengan demikian, janji antara kita dengan merekapun sudah lenyap dan putus!”

“Akan tetapi, isieriku, Bun Houw sendiri masih hidup dan dia sudah kita terima sebagai calon mantu … “

“Tidak, sekarang tidak lagi. Janji kita hanya kepada orang tuanya dan kini telah batal! Bagaimana mungkin aku mau menyerahkan anakku yang hanya satu-satunya itu kepada seorang pemuda yang yatim-piatu, dan tidak mempunyai apa-Apalagi? Kita menyerahkan anak kita dan semua harta benda kita kepadanya? Tidak! Aku tidak mau membikin anak sendiri sengsara!”

“Ah, begitukah maksudmu?” Cia Kun Ti yang merasa tidak enak sekali terhadap arwah sahabatnya, mengangguk. “Kiranya karena Bun Houw sudah kehilangan segalanya, harta miliknya musnah dimakan api, maka engkau lalu hendak menolaknya sebagai calon mantu?”

“Tentu saja! Mengapa tidak? Dulu, kita menerima Ikatan jodoh itu karena melihat ayahnya, bukan melihat dia, dan kuanggap memang keadaan mereka seimbang dengan keadaan kita. Sekarang? Anak itu yatim piatu dan miskin tidak memiliki apa-apa. Bagaimana mungkin akan menjadi suami Ling Ay? Tidak, harus putus!”

Cia Kun Ti menghela napas panjang. Harus diakuinya bahwa bagaimanapun juga ada kebenaran dalam ucapan isterinya. Dan diapun kasihan kepada Bun Houw. Anak itu baik sekali. Biarlah, biar Ikatan ini diputuskan. Agaknya malah lebih baik bagi Bun Houw dan juga bagi anaknya. Kalau dilanjutkan, tentu pernikahan itu sama keadaannya dengan dirinya sekarang ini! Yang memiliki harta isterinya dan yang berkuasa isterinya! Dia tidak menginginkan puterinya menjadi kuasa atas diri suaminya, dan dia kasihan membayangkan Bun Houw menjadi seperti dia!

Sementara dia termenung, Isterinya sudah berteriak memanggil puterinya, “Ling Ay … ke sinilah!”

Gadis itu muncul dan duduk menghadapi ayah ibunya, pandang matanya penuh pertanyaan dan khawatir melihat sikap ayah dan ibunya yang begitu serius.

“Ada apakah, Ibu ?” tanya gadis itu.

Cia Kun Ti tidak dapat mengatakan apapun. Dia tahu bahwa puteri tunggalnya itu sudah menganggap Bun Houw sebagai calon suaminya. Sudah sejak kecil mereka ditunangkan dan puterinya sudah menerimanya sebagai suatu kepastian. Mungkin puterinya sudah terlanjur mencinta pemuda itu. Dia tidak tega untuk menyampaikan pemutusan Ikatan jodoh itu.

“Ling Ay. duduklah dekat Ibu. Aku hendak membicarakan urusan penting sekali, menyangkut kehidupanmu, masa depanmu.”

Gadis itu semakin khawatir dan dengan gelisah ia mendekati ibunya.

“Apa yang ibu maksudkan?”

“Engkau tahu apa yang telah terjadi dengan Bun Houw. Dia kematian ayah ibunya, kini dia menjadi seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara, bahkan seluruh harta milik orang tuanyapan musna dimakan api.”

“Aku tahu, ibu, dan kasihan sekali Houw-koko.” kata gadis remaja itu dan ia menunduk, kedua matanya basah. Ia masih terlalu muda, baru berusia empatbelas tahun untuk mengetahui benar apakah ia mencinta tunangannya itu. Namun, sudah jelas bahwa ia menyayangnya karena memang mereka telah bersahabat sejak kecil, dan Bun Houw adalah seorang sahabat yang selalu bersikap sopan, ramah dan baik kepadanya. Ia merasa pemuda itu seperti saudaranya sendiri, seperti seorang kakak.

“Memang, kita kasihan sekali kepadanya. Akan tetapi, tidak boleh rasa kasihan itu mengharuskan engkau mengorbankan diri.”

Gadis remaja itu mengangkat mukanya yang manis, memandang ibunya dengan heran. “Apa maksudmu, ibu?”

“Ling Ay, ayah ibumu sudah mengambil keputusan bahwa pertunanganmu dengan Bun Houw harus putus! Engkau tidak mungkin dapat berjodoh dengan seorang yatim piatu karena hal itu kelak hanya akan menyengsarakan kalian berdua.”

Gadis remaja itu terkejut sekali. Matanya terbelalak memandang ibunya. Baginya, menjadi isteri Bun Houw atau bukan tidak menjadi soal yang terlalu besar baginya. Ia masih belum dewasa dan masih terlalu muda untuk memikirkan soal pernikahan. Akan tetapi ia merasa kasihan sekali kepada Bun Houw.

“Akan tetapi, ibu! Houw-koko baru saja tertimpa kemalangan. Dia sedang berada dalam keadaan duka, kehilangan ayah ibu dan seluruh harta bendanya. Bagaimana sekarang kita bahkan tidak menghiburnya, melainkan menambah beban dukanya dengan memutuskan pertunangan itu?” Gadis itu memandang kepada ibunya dan air matanya mengalir turun karena ia merasa iba sekali kepada Bun Houw.

“Tidak, anakku. Biarlah engkau tidak perlu mencampuri urusan ini, kami yang akan bicara dengan dia. Aku percaya dia cukup bijaksana untuk menerima pemutusan pertunangan itu.”

Ling Ay tidak membantah dan meninggalkan ayah ibunya, masuk ke dalam kamarnya dan menangis. Bukan menangis sedih karena pertunangan itu diputuskan, melainkan menangis karena kasihan kepada Bun Houw.

Sore itu. menjelang senja, dengan pakaian lusuh, rambut awut-awutan dan wajah kusut muram, Bun Houw datang berkunjung ke rumah calon mertuanya. Dia tidak tahu ke mana lagi harus pergi. Tidak mungkin dia tinggal terus di tanah kuburan. dia tidak memiliki rumah, dan tidak memilili keluarga lain di kota Nan-ping kecuali keluarga calon isterinya. Biarpun hatinya terasa berat dan malu, terpaksa dia kini berkunjung ke rumah calon mertuanya yang besar.

Sambutan calon ayah dan ibu mertuanya sungguh di luar dugaannya. Ketika mereka datang berlayat dan ikut mengantar pemakaman, sikap mereka amat baik, menghibur dan juga ikut berduka. Akan tetapi setelah kini dia berhadapan dengan kedua orang calon mertua itu yang mecyambut kedatangannya di ruangan depan, wajah mereka nampak dingin dan sama sekali tidak ramah, Apalagi ikut berduka.

“Duduklah di dalam, Bun Houw. Kebetulan engkau datang karena kami ingin membicarakan urusan penting denganmu.” kata Cia Kun Ti dengan suara kering.

Bun Houw masih belum menyangka buruk, mengira bahwa calon mertuanya tentu akan membicarakan urusan perjodohannya demi kebaikannya. Dia pun ikut masuk dan mereka bertiga duduk saling berhadapan, terhalang meja, di ruangan dalam. Akan tetapi calon ayah mertuanya kini tidak bicara, hanya lebih banyak menundukkan mukanya yang tidak seramah biasanya. Kini calon ibu mertuanya yang bicara.

“Bun Houw, kami sekeluarga merasa kasihan kepadamu atas malapetaka yang menimpa keluargamu. Akan tetapi, kami terpaksa bicara denganmu mengenai ikatan jodoh antara engkau dan anak kami, lebih cepat kita bicarakan lebih baik agar tidak menjadi ganjalan di hati.”

Pemuda itu mengangkat mukanya yang muram dan diliputi kedukaan yang mendalam. “Apakah yang ibu maksudkan ?”

Wanita itu menelan ludah dulu sebelum bicara, menenteramkan hatinya yang berdebar. “Begini, Bun Houw. Kami percaya bahwa engkau sebagai seorang laki-laki, cukup bijaksana untuk dapat memaklumi bahwa ikatan jodoh antara engkau dengan puteri kami itu tidak mungkin dilanjutkan dan terpaksa harus kami putuskan atau batalkan.”

Tentu saja Bun Houw terkejut bukan main mendengar ini. Matanya memandang kosong dan bengong seolah-olah dia khawatir salah dengar, wajahnya menjadi semakin pucat dan dia memandang kepada kedua orang tua itu bengantian dengan sinar mata bodoh dan tidak mengerti. Berbeda dengan keadaan hati Ling Ay yang masih kekanak-kanakan, Bun Houw yang baru berusia limabelas tahun itu merasa telah jatuh cinta kepada tunangannya. Dia sudah mencinta Ling Ay dan kini pertalian jodoh itu dibikin putus secara sepihak dan secara tiba-tiba!

“Di … dibatalkan … ? Akan tetapi … saya tidak mengerti … mengapa? Apa kesalahan saya … ?”

Melihat pemuda itu kelihatan amat terpukul, Cia Kun Ti merasa kasihan sekali. ‘Engkau tidak mempunyai kesalahan apa-apa, Bun Houw … ” katanya, akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan, isterinya sudah menoleh kepadanya dengan pandang mata tajam penuh teguran.

“Engkau memang tidak bersalah, Bun Houw,” kata Nyonya Cia Kun Ti, “Yang bersalah adalah keadaanmu. Engkau telah menjadi seorang anak yatim piatu. Karena Ling Ay masih mempunyai ayah dan ibu, maka tidak mungkin ia menjadi isteri seorang yang yatim piatu. Nah, itulah sebabnya mengapa kami terpaksa, dengan berat hati, memutuskan tali perjodohan itu, Bun Houw.”

Pemuda itu mengerutkan alisnya, tidak dapat menerima begitu saja alasan yang dikemukakan calon ibu mertuanya. “Akan tetapi, ibu. Kalau saya telah menjadi seorang yatim piatu, lalu mengapa? Kematian seseorang adalah tak dari Tuhan, dan seseorang, cepat atau lambat, sudah pasti akan menjadi yatim piatu, ditinggal mati ayah dan ibunya. Apa bedanya kalau saya sekarang menjadi yatim piatu atau kelak kalau sudah anak lebih tua? Sungguh alasan ini bagi saya tidak masuk di akal!”

Nyonya Cia Kun Ti merasa tersudut oleh bantahan Bun Houw itu dan ia mengerutkan alisnya. Sinar matanya membayangkan kemarahan dan ia lalu berkata, suaranya lantang. “Kwa Bun Houw, aku telah mengemukakan alasan yang paling halus agar tidak menyinggungmu, akan tetapi engkau malah membantah. Nah, dengarlah baik-baik. Bukan hanya karena engkau yatim piatu saja persoalannya. Engkau sudah yatim piatu, tidak ada lagi ayahmu yang akan mengurus pernikahanmu, dan memberimu warisan. Bahkan seluruh harta milik orang tuamu juga sudah habis terbakar. Engkau tidak mempunyai apa-Apalagi, tidak mempunyai orang tua yang boleh kausandari. Lalu apa akan jadinya kalau engkau menjadi suami anak kami? Engkau tidak memiliki apa-apa, rumah pun tidak, lalu apakah kelak anak kami akan kauberi makan tanah dan batu ? Nah itulah yang memaksa kami membatalkan perjodohan ini! Engkau memaksaku untuk berterus terang!”

Sepasang mata Bun Houw terbelalak, wajahnya kini menjadi merah sekali. Setiap kata yang keluar dari mulut wanita yang pernah dianggapnya sebagai calon ibu mertua, yang biasanya amat ramah kepadanya itu, bagaikan ujung pedang yang menikam ulu hatinya. dia ditolak menjadi calon mantu karena dia sudah yatim piatu dan miskin! Miskin itulah sebab utamanya dan diapun mengerti. Betapapun pahitnya kenyataan itu, harus ditelannya karena memang benar demikian. Dia sendiri sudah tidak memiliki apa-apa, tidak ada makanan untuk dimakan, pakaian untuk dipakai, bahkan tidak ada tempat untuk berteduh. Bagaimana dia dapat memenuhi kebutuhan seorang Isteri ?

Perlahan-lahan dia bangkit berdiri. Kedua kakinya menggigil, akan tetapi dia menguatkan hatinya yang tenguncang. Kedua matanya terasa panas, matanya kabur oleh air mata yang dipertahankannya agar jangan jatuh, bibirnya gemetar ketika dia hendak bicara. Dia akhirnya dapat menekan semua perasaan terhina itu, dan dia berkata tersendat-seadat.

“Saya mengerti … saya telah menjadi yatim piatu dan miskin … saya tidak pantas menjadi calon suami Ay-moi … saya … saya mohon pamit … dia membalikkan tubuhnya dan melangkah perlahan meninggalkan ruangan dalam itu menuju ke luar, tidak tahu betapa suami Isteri itu memanjang kepadanya dengan sinar mata penuh iba. Bagaimanapun juga. Nyonya Cia Kun Ti memang terpaksa melakukan keputusan itu, demi puterinya.

“Houw-koko … !” Tiba-tiba Ling Ay lari keluar dari dalam dan mengejar Bun Houw yang baru tiba di ambang pintu antara kamar ruangan dalam dan beranda depan.

Mendengar seruan ini, Bun Houw menahan langkahnya dan membalikkan tubuhnya, terpaksa menggunakan punggung tangan menghapus beberapa tilik air mata yang tadi sempat turun dari pelupuk mata dan jatuh ke atas pipinya.

“Houw-koko, engkau hendak pergi ke mana … ?” Ling Ay bertanya sambil lari menghampiri dan memegang kedua tangan pemuda itu.

Melihat wajah pemuda itu, dan pipi yang masih basah bekas usapan air mata, gadis remaja itu pun merintih, “Ah, Houw-koko …!” dan iapun menangis.

Bun Houw merasa jartungnya seperti disayat-sayat. Dia mengusap rambut kepala yang menunduk dan menangis itu. “Sudahlah, Ay moi … jangan berduka, Kupujikan agar kelak engkau memperoleh jodoh yang sesuai denganmu, semoga engkau berbahagia, Ay moi … ” dan Bun Houw membalikkan tubuhnya, cepat berlari keluar.

“Houw-koko …!” Ling Ay hendak mengejar.

“Ling Ay …!” Terdengar Ibunya membentak dan gadis itu menahan langkahnya, membalik lalu berlari menubruk kaki ibunya.

“Ibuu …!” Iapun menangis sesenggukan.

Ibunya merangkulnya dan mengusap-usap rambut kepala anaknya.

Bun Houw berjalan seorang diri. Tubuhnya terasa lemas sekali karena semenjak ayah ibunya tewas dan sampai sekarang, sudah tiga hari tiga malam, dia tidak pernah makan tidak pernah tidur! Ditambah pula pukulan batin bertubi-tubi, ayah ibunya dibunuh orang, rumahnya habis terbakar, musibah pemutusan pertunangannya dengan Ling Ay, merasa dihina dan dipandang rendah, kehilangan segalanya. Langkahnya gontai, bahkan sesekali kakinya tersandung akar atau batu sehingga terhuyung, semangatnya menipis, mendekati keputusasaan.

Semenjak meninggalkan rumah kediaman keluarga Cia, dia berjalan terus meninggalkan kota Nan-ping, tak pernah berhenti dan semalam suntuk dia berjalan. Tanpa tujuan? Kemana? Dia tidak mempunyai siapapun di dunia ini yang dapat dikunjunginya. Tidak ada tujuan tidak ada rencana. dia melangkah asal pergi saja dari keluarga Cia, dari kota Nan-ping, membiarkan kakinya bergerak dan membawa ke mana saja kaki itu melangkah. Seperti sesosok mayat berjalan!

Matahari telah naik tinggi dan dia masih terseok-seok berjalan mendaki bukit itu, jalan yang sunyi. Tak nampak seorangpun manusia. Makin menanjak jalan itu, makin tertatih-tatih dia melangkah karena tubuhnya sudah lelah sekali. Di depan nampak sebuah hutan yang lebat. Kakinya menuju ke hutan itu, tanpa dituntun lagi suatu kehendak atau pikiran.

Begitu dia tiba di tepi hutan, tiba tiba nampak lima bayangan manusia berlari-lari dengan cepatnya dari bawah bukit. Lima orang ini dapat berlari cepat biarpun jalannya menanjak dan ini saja menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang orang sembarangan. Ketika tiba di tereng bukit itu, mereka berhenti dan memandang ke kanan kiri. Tiba-tiba seorang di antara mereka menuding ke atas, ke arah tubuh Bun Houw yang sudah tiba di dekat hutan.

“Itukah orangnya!”

“Mungkin saja! Tidak ada orang lain di sini.”

“Kalau begitu mari kita cepat kejar.”

“Benar, membasmi rumput harus bersama akar-akarnya!”

Mereka berlima, kelimanya mengenakan kedok hitam, kini berlari lagi ke arah puncak bukit.

Bun Houw tidak mengetahui semua itu. dia kini seperti orang yang ditinggalkan semangatnya. Dia lelah lahir batin. Semalam tadi dia terhimpit perasaan duka yang amat berat. Pikirannya mengenang segala peristiwa yang menimpa dirinya. Makin dikenang, semakin pahit dan semakin menghimpit perasaannya. Timbullah perasaan iba diri yang amat besar dan hal ini menimbulkan duka. Demikian tertekan batinnya sehingga dia lelah, lelah sekali. Dia tidak memperdulikan apa-Apalagi.

“Berhenti …!” terdengar teriakan dari arah belakang. Bun Houw melangkah terus, tidak mendengar karena tidak memperhatikan.

“Heii, orang yang berjalan di depan! Berhenti …!” teriakan itu diulang, lebih nyaring.

Bun Houw melangkah terus, sudah mendengar akan tetapi tidak perduli, tidak mengira dia yang disuruh berhenti.

Tiba-tiba Bun Houw melihat ada beberapa bayangan orang berkelebat di kanan kirinya, datang dari belakang dan melewatinya. Ketika dia mengangkat muka, ternyata ada lima orang laki-laki yang kesemuanya memakai kedok hitam telah berdiri menghadang di depannya. Sikap mereka itu garang sekali. seorang di antara mereka, yang berperut gendut dan dagunya terhias bekas luka yang besar, kedok bitam itu hanya menutupi mata dan hidung, berkata dengan suara lantang.

“Hei, berhenti dulu, orang muda! Apakah engkau putera Kwa Tin di Nan-ping?”

Tadinya Bun Houw memandang kepada mereka dengan sikap acuh, akan tetapi tiba-tiba dia teringat akan pesan terakhir ayahnya. “Bun Houw, mereka lima orang berkedok, yang seorang buntung tangan kanannya … ” demikian pesan ayahnya. Suara ayahnya itu selalu terngiang di telinganya. Dan lima orang di depannya itu berkedok, dan seorang di antaranya memang buntung lengan kanannya!”

“Ah, kalian … kalian lima orang yang membasmi keluarga Kwa?” tanyanya, wajahnya berubah pucat kemudian merah dan suaranya gemetar.

“Tidak kami sangkal!” kata si perut gendut. “Dan engkau, siapakah engkau ? Apa hubunganmu dengan keluarga Kwa?”

Bun Houw telah memandang dengan kemarahan memuncak sehingga dia lupa akan tubuhnya yang lemah dan lemas, lupa akan kenyataan bahwa lima orang ini amat lihai sehingga ayahnya sendiripun tewas di tangan mereka.

“Aku Kwa Bun Houw, putera mereka!” teriaknya.

“Ha-ha-ha, bagus sekali! Memang engkau kami cari karena engkau harus menyusul ayah ibumu!”

Bun Houw terkenang akan ayahnya, dan Ibunya yang tewas secara menyedihkan, maka matanya mencorong seperti berapi-api. “Keparat jahanam, kalian ini Iblis-iblis jahat sekali. Kenapa kalian demikian kejam membunuh ayah dan bahkan menghina dan membunuh ibuku? Apa dosa mereka? Jawab dulu pertanyaanku agar aku tidak penasaran!”

SI gendut itu tertawa. “Tidak berdosa! Ayahmu tidak berdosa ? Hemm, berapa banyak sudah saudara kami dibunuhnya, dan kami sendiri sampai kehilangan mata pencaharian karena ayahmu! Kami datang membalas dendam atas kematian saudara saudara kami, dan ayahmu selalu merupakan ancaman bagi pekerjaan kami! Ibumu kami bunuh karena ia adalah isteri ayahmu, seperti juga engkau harus kami bunuh karena engkau adalah anak ayahmu!”

“Tapi … ayah menentang kalian karena kejahatan kalian! Ayah selalu menentang orang … orang jahat dan itu sudah menjadi tugas seorang pendekar!”

“Huh ! Kami tidak perduli. Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa.”

“Sudahlah, toako. Kenapa melayani obrolan bocah ini? Bunuh saja dia, habis perkara!” bentak penjahat yang tangan kanannya buntung ketika mereka mengeroyok Kwa Tin.

Berkata demikian, dia sudah melangkah maju dan menyerang dengan tendangan kaki kanannya. Bun Houw cepat mengelak akan tetapi empat orang penjahat lainnya sudah pula menerjang dan mengeroyoknya. Agaknya, lima orang penjahat itu memandang rendah pemuda remaja berusia limabelas tahun itu, maka mereka hanya mempengunakan kaki tangan untuk menyerang, tidak mencabut senjata mereka.

Bun Houw mengamuk! Dia tahu bahwa perkelahian ini adalah prkelahian mati hidup. Dia harus dapat merobohkan lima orang itu kalau dia ingin agar dapat hidup terus, karena kalau dia kalah berarti dia akan mati. Dan dia bertekat untuk melawan sampai mati! Kenekatan inilah yang membuat dia menjadi lebih kuat dari pada biasanya. dia tidak lagi memperdulikan bahaya yang mengancam dirinya. Yang ada dalam hatinya hanyalah keinginan mengalahkan para pmgeroyoknya, maka dia pun menyerang seperti seekor harimau kelaparan.

Akan tetapi, Bun Houw menghadapi pengeroyokan lima orang lawan yang pandai pula, biarpun sejak kecil dia digembleng ayahnya dan telah mewarisi ilmu kepandaian ayahnya, namun dia kurang pengalaman berkelahi, berbeda dengan lima orang lawannya yang merupakan tokoh tokoh kang-ouw yang sudah biasa berkelahi melawan musuh yang tangguh. Oleh karena itu, sukar bagi Bun Houw untuk dapat mengalahkan lima orang itu walaupun dia sudah mengamuk dengan nekat. Dia dihajar jatuh bangun, dihujani pukulan dan tendangan sampai babak belur. Akan tetapi, Bun Houw tidak pernah mengeluh, Apalagi menyerah. Begitu terkena pukulan atau tendangan yang membuat dia jatuh tersungkur, dia bangkit lagi dan melawan dengan penuh semangat, seolah-olah tubuhnya yang sudah babak belur dan matang biru itu sama sekali tidak dirasakan nyeri!

Namun, tubuh tidaklah sekuat hati yang sudah nekat. Kekuatan tubuh ada batasnya, Apalagi tubuh Bun Houw yang sedang lemah karena kelaparan, kurang tidur dan dilanda duka nestapa itu. Ketika tangan si gendut yang memimpin lima orang itu menghantam dadanya, amat kerasnya sehingga mengeluarkan suara berdebuk, tubuh Bun Houw terjengkang dan dia muntahkan darah segar dari mulutnya. Dia mencoba untuk merangkak bangun, tidak lagi secepat tadi. akan tetapi pada saat itu, sebuah kaki dengan kerasnya menendang, mengenai punggungnya. Kembali dia terpelanting. dia berusaha bangkit kembali namun gagal dan roboh tenguling.

Pada saat itu terdengar bunyi tak-tok-tak-tok dan seorang laki laki berusia limapuluhan tahun datang menghampiri tempat itu. Dia memegang sebatang tongkat yang panjangnya kurang lebih tiga kaki. Tongkat inilah yang mengeluarkan bunyi tak-tok-tak tok itu karena dia pengunakan untuk memukul-mukul batang pohon di kanan kiri dan batu-batu di depan kakinya. Dari tongkat ini mudah diduga bahwa dia adalah seorang buta. Namun, dia dapat berjalan dengan cepat, dibantu tongkatnya yang meraba-raba dan memukul-mukul.

“Hei!, berhenti! Jangan pukuli orang seperti itu!” teriak si buta ini dan kini dia berdiri di depan Bun Houw yang masih menggeletak dan tidak mampu melawan lagi, sikapnya melindungi pemuda itu dan dia menghadapi lima orang sambil mengangkat muka ke atas. Matanya terbuka akan tetapi hanya nampak biji mata yang putih!

Lima orang berkedok itu saling pandang, Tadinya mereka sudah merasa lega melihat pemuda yang bandel dan kuat itu roboh, dan ingin memukulinya sampai mati. Munculnya orang ini mengejutkan mereka, akan tetapi setelah melihat bahwa dia hanya seorang laki-laki buta, merekapun tidak merasa khawatir.

“Heii, orang buta! Minggirlah dan jangan mencampuri urusan kami!” bentak si gendut marah.

“Hemm, selamanya aku tidak mau mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi bagaimana mungkin aku tinggal diam saja melihat orang dipukul dan dikeroyok untuk dibunuh? Tidak, kalian tidak boleh memukuli orang ini tanpa sebab!”

“Orang buta tak tahu diri! Apakah engkau sudah bosan hidup? Pemuda ini adalah musuh kami. apakah engkau sudah gila hendak melindungi musuh kami?” bentak pula si gendut.

“Lopek mereka ini penjahat-penjahat yang telah membunuh ayahku dan ibuku, dan sekarang mereka hendak membunuh pula aku.” kata Bun Houw membela diri walaupun dia tidak dapat mengharapkan pertlongan seorang buta. dia hanya ingin mengulur waktu agar kekuatannya pulih kembali sehingga dia dapat membela diri dan melawan sampai titik darah terakhir!”

Mendengar ucapan Bun Houw, orang buta itu menggerakkan tongkatnya dengan tidak sabar. “Wah, wah! Kalau begitu lebih tidak boleh lagi kalian membunuh pemuda ini. Pergilah kalian dan jangan ganggu pemuda ini!” kata si buta.

“Toako, untuk apa mendengarkan ocehan orang buta ini? Kalau dia tidak mau minggir, pukul saja atau bunuh sekalian!” teriak seorang di antara mereka dan tanpa menanti jawaban pemimpinnya, dia sudah melangkah maju lalu menendangkan kakinya ke arah perut orang buta itu.

“Tukkkl Aduhhh …!” Si penendang itu berloncatan dengan kaki kirinya sedangkan kedua tangan memegangi kaki kanan yang diangkat dan ditekuk lututnya ke belakang. Tulang keringnya seperti patah rasanya karena bertemu dengan tongkat tadi. Ketika dia merabanya, tulang kering betisnya itu menjendol besar, dan masih untung tidak patah.

Melihat ini, empat orang lainnya maju dan menyerang si buta dengan pukulan dan tendangan seperti yang mereka lakukan kepada Bun Houw tadi. Bukan tendangan dan pukulan ngawur melainkan gerakan silat yang teratur dan setiap serangan amat cepat dan kuat datangnya. Akan tetapi segera terdengar suara tak-tuk-tak-tuk dan empat orang itu semua terhuyung ke belakang sambil mengaduh aduh, ada yang memegangi kaki ada pula yang memegangi lengan yang tadi tertangkis oleh tongkat. Sungguh aneh sekali orang itu jelas buta. akan tetapi mengapa setiap pukulan dan tendangan para pengeroyoknya itu dapat ditangkisnya dengan amat tepatnya, menggunakan tongkat yang digerakkan secara aneh dan cepat bukan main itu? Bun Houw yang melihat peristiwa ini, melongo penuh keheranan. Kalau saja laki-laki itu tidak buta, tentu hal itu tidak mengherankan dan jelas bahwa orang itu merupakan seorang yang berilmu. Akan tetapi kalau kenyataannya dia buta, sungguh luar biasa sekali! Mungkinkah seorang buta memiliki ilmu kepandaian yang membuat dia sedemikian lihainya seolah olah pandai melihat saja?

Kini lima orang berkedok hitam itu sudah mencabut senjata mereka, yaitu masing masing memegang sebatang pedang. Bun Houw terkejut bukan main. Baru bertangan kosong saja, lima orang itu sudah begitu ganas dan kuat, apalagi bersenjata pedang. Diapun khawatir sekali akan nasib orang buta itu. Akan matilah orang itu disayat-sayat pedang dan dia tidak rela membiarkan orang tak berdosa ini harus tewas karena membelanya. Maka, sambil mengerahkan seluruh sisa tenaganya, Bun Houw melompat dan memegang lengan orang buta itu.

“Lopek, engkau cepat pergilah dari sini, jangan mencampuri urusanku agar engkau tidak tertimpa celaka!” Berkata demikian, Bun Houw mendorong orang itu ke samping dengan sekuat tenaga. Namun. bukan orang buta itu yang terlempar, sebaliknya dia sendirilah yang roboh terpelanting seperti dilanda angin keras, disusul suara orang buta itu.

“Orang muda, engkau minggirlah dan biarkan aku menghadapi mereka yang jahat ini.”

Kini Bun Houw merasa semakin yakin bahwa orang buta ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka biarpun jantungnya masih berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran, dia tidak bengerak lagi dan tetap mendekam di atas tanah di mana dia terpelanting dan melihat dengan mata terbelalak dan tidak berdaya.

Lima orang itu mengepung si buta dengan pedang di tangan. Seorang di antara mereka, yang buntung lengan kanannya itupun memegang pedang dengan tangan kiri, dan sikap mereka buas sekali karena mereka sudah marah bukan main. Orang buta itu berdiri di tengah, berdiri agak membungkuk, dengan muka tunduk dan tongkat ditangannya menyentuh tanah. Kepalanya agak miring dan nampaknya dia tidak berdaya sama sekali.

Lima orang sudah merasa pasti bahwa mereka akan dapat menyayat-nyayat tubuh si buta itu dalam waktu singkat, dan mereka sudah merasa penasaran dan sakit hati karena tadi dihajar sehingga menderita sakit sakit. Tiba-tiba si gendut yang menjadi pemimpin, melakukan gerakan pertama sambil mengeluarkan bentakan nyaring.

“Mampuslah kau, orang buta!” Dan mereka berlima sudah menggerakkan pedang dalam saat yang hampir berbareng. Lima sinar pedang menyambar dari lima jurusan dengan cepat sekali dan Bun Houw sudah hampir memejamkan matanya karena tidak tahan dia melihat betapa tubuh itu akan hancur dan darah akan bertebaran. Akan tetapi, dia terbelalak. Terdengar suara melengking tinggi dan tiba-tiba saja nampaklah sinar kilat yang menyilaukan mata. Sinar kilat itu keluar dari tongkat si orang buta, dan kilat itu menyambar dahsyat, membuat lingkaran sinar yang melindungi tubuh si buta dan membabat lima gulungan sinar pedang yang menyerang tadi. Hanya terdengar suara berkerontangan nyaring disusul teriakan-teriakan kaget dan lima batang pedang itu telah patah patah dan lima orang penyerang itu sudah terhuyung ke belakang dengan muka pucat, memandang gagang pedang yang teranggat di tangan mereka, lalu terbelalak memandang si orang buta yang kini masih berdiri tegak dengan sebatang pedang yang berkilauan di tangan kanan! Kiranya tongkat tadi sudah dicabut dan di dalamnya terdapat pedang itu! Dari balik topeng hitam, lima orang itu saling pandang kemudian seperti menerima komando tanpa suara, mereka segera berloncatan melarikan diri dari tempat itu!

Kini baru Bun Houw yakin benar bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti, walaupun kedua matanya buta. Maka, tanpa ragu lagi dia pun menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki orang buta itu. Dia sudah mengambil keputusan bulat untuk menghambakan diri sebagai murid kepada orang itu dengan penuh hormat dan harapan, diapun memberi hormat dan membentur-benturkan dahinya di atas tanah depan kaki si orang buta.

“Siancai (damai) … apa yang kaulakukan ini, orang muda ? Bangkitlah dan jangan berlutut seperti itu!” Dengan sekali menggerakkan tangan, nampak sinar terang berkilat lalu lenyap dan tahu-tahu pedang itu telah menyusup kembali ke dalam tongkat dan kini dia menggunakan tongkatnya mencokel tubuh Bun Houw. Pemuda ini merasa tubuhnya terangkat yang memaksanya untuk bangkit berdiri, akan tetapi begitu tenaga yang dahsyat itu meninggalkannya, diapun cepat menjatuhkan diri berlutut lagi.

“Lo-cian-pwe, harap sudi mengampuni dan mengasihani saya. Lo-cian-pwelah menyelamatkan nyawa saya, untuk itu saya menrhaturkan terima kasih, Akan tetapi juga kesaktian lo-cian-pwe membuat saya mengambil keputusan untuk mohon menjadi murid lo-cian-pwe. Saya sudah yatim piatu dan sedang putus harapan dan seakan-akan Tuhan yang mengirim lo-cian pwe kepada saya, untuk membimbing saya … “

“Hemmm, aku hanya seorang buta. Apakah yang dapat kuajarkan kepada seorang yang tidak buta? Apakah engkau hendak belajar berjalan dibantu tongkat dan meraba-raba ke kanan kiri ?” Dia menarik napas panjang.

Bun Houw yang sudah berlutut lagi itu berkata sungguh-sungguh, “Lo-cian-pwe memiliki kesaktian dan dengan mudah telah mengalahkan lima orang penjahat itu. Lo-cian-pwe pandai memainkan pedang yang disembunyikan di dalam tongkat. Teecu (murid) mohon diberi pelajaran ilmu pedang itu.”

Si buta kembali menarik napas panjang. “Aih, ilmu pedang ? Apakah engkau ingin merajalela dengan pedang, membunuhi orang dan terutama sekali mencari lima orang itu untuk membalas dendam ? Siai-cai … aku tidak mau mengajar orang menjadi pembunuh kejam dan menjadi hamba dari nafsu dendam kebenciannya sendiri, orang muda.”

“Tidak sama sekali, lo-cian-pwe. Mengenai kematian ayah-ibu, sudah teecu pikirkan dengan panjang lebar dan mendalam. Teecu tidak akan menaruh dendam karena sejak dahulu ayah melarang teecu dilanda dendam. Teecu maklum bahwa ayah dimusuhi banyak orang karena ayah selalu menentang perbuatan jahat, sudah menakinkkan banyak sekali penjahat yang mengganggu orang lain di sekitar Nan-ping, bahkan dalam perkelahian menentang para penjahat, entah sudah berapa banyak penjahat dibunuhnya. Tidak, teecu maklum bahwa memang ayah tewas sebagai seorang pendekar melaksanakan tugas. Teecu ingin mengikuti jejaknya, ingin menjadi pendekar pembasmi kejahatan dan untuk itu, teecu membutuhkan kepandaian tinggi yang kiranya bisa teecu dapatkan karena kemurahan lo-cian-pwe.”

Kini si orang buta itu tersenyum lebar, tangan kirinya dijulurkan dan jari-jari tangan kirinya menyentuh kepala pemuda itu. Jari-jari tangan itu kini meraba-raba muka Bun Houw, menyentuh seluruh permukaan wajahnya dan dia merasa betapa kulit jari-jari tangan itu amat halusnya dan mengandung getaran halus. Kiranya si buta itu hendak “mengenalnya” dan mengetahui bentuk wajahnya dengan cara meraba-raba. Kemudian, sekali tangan kiri itu memegang pundaknya dan menarik, Bun Houw tidak mampu bertahan dan diapun tertarik berdiri. Kini tangan itu terus menggerayangi tubuhnya, pundak, dada, pinggang, paha dan terus ke kaki.

“Bagus, engkau seorang pemuda yang tegap dan kuat. Berapa usiamu?”

“Saya berusia limabelas tahun, lo-cian-pwe.”

“Hemm, masih remaja. Dan siapa namamu? Ceritakan tantang keluargamu, dan tentang peristiwa terbunuhnya ayah bundamu.”

“Nama saya Kwa Bun Houw dan orang tua saya bernama Kwa Tin, dikenal sebagai Kwa-enghiong di kota Nan-ping, berdagang dan memiliki sebuah toko kain. Ayah adalah seorang murid Siauw-lim-pai. Beberapa hari yang lalu, pada malam hari ketika saya tidak berada di rumah, agaknya rumah kami kedatangan lima orang penjahat itu yang menuntut balas. Mereka membakar rumah, mengeroyok dan membunuh ayah, kemudian menculik ibu dan akhirnya membunuh pula ibu setelah mereka menghinanya di sebuah hutan.” dengan singkat namun jelas Bun Houw menceritakan betapa dia sudah tidak memiliki apa-Apalagi, bahkan dia menceritakan tentang sikap calon mertuanya yang begitu saja tanpa alasan memutuskan ikatan pertunangannya dengan Cia Ling Ay. Betapa kemudian dia pergi meninggalkan Nan-ping tanpa tujuan dan dengan hati merana sampai tiba di tempat itu dan dihadang lima orang penjahat itu.

Si buta mendengarkan penuh perhatian beberapa kali mengangguk-angguk.

“Bagaimana engkau bisa mengetahui hahwa lima orang tadi adalah mereka yang telah membunuh orang tuamu dan membakar rumahmu?” tanyanya. “Bukankah ketika peristiwa itu terjadi engkau tidak berada di rumah?”

“Benar, lo-cian-pwe. Akan tetapi dari jauh teecu melihat kebakaran itu. Teecu cepat pulang dan masih sempat teecu menerima pesan terakhir dari ayah sebelum dia meninggal. Dia hanya sempat berkata bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah lima orang berkedok hitam dan seorang di antara mereka buntung tangan kanannya, agaknya buntung ketika berkelahi mengeroyok ayah. Kelima orang tadi tepat seperti yang dikatakan ayah, bahkan mereka tadi sudah mengaku bahwa merekalah pembunuhnya, dan mereka hendak membunuh saya untuk membasmi rumput berikut akar-akarnya.”

Si buta itu kembali mengangguk. “Jadi kalau begitu, engkau sudah tidak memiliki keluarga ataupun tempat tinggal lagi ?”

“Begitulah, lo-cian-pwe. Oleh karena itu, mohon kemurahan hati lo-cian-pwe … “

“Hemm, sebetulnya aku tak pernah ingin mempunyai murid agar tidak harus mewariskan ilmu yang hanya dapat dipakai untuk membunuh orang. Akan tetapi agaknya memang sudah ditentukan oleh Tuhan bahwa aku, Tiauw Sun Ong, terpaksa harus meninggalkan Ilmu kepada seorang murid, yaitu engkau, Bun Houw.”

Bun Houw segera menjatuhkan diri lagi berlutut dan mencium ujung sepatu orang buta itu. “Terima kasih, suhu! Teecu bersumpah bahwa teecu akan mempergunakan ilmu-ilmu dari suhu hanya untuk menentang kejahatan, seperti yang pernah dilakukan mendiang ayah teecu!”

“Hemmm ? Menjadi pendekar? Ingat bahwa ayahmu yang menjadi pendekar itupun akhirnya tewas di tangan orang-orang jahat!”

“Lebih baik tewas sebagai pendekar dari pada mati sebagai seorang jahat, demikian ayah selalu memesan kepada teecu. Matinya seorang pendekar di tangan penjahat berarti mati dalam menunaikan tugas yang amat gagah dan mulia bagi seorang manusia.”

Si buta yang bernama Tiauw Sun Ong itu tersenyum dan mengangguk-angguk. “Ayahmu memang hebat dan aku kagum padanya. Adapun aku … aku hanya seorang bangsawan yang terbuang … “

“Suhu! Ketika mendengar nama suhu, teecu mengira bahwa suhu memiliki nama seperti seorang bangsawan tinggi, seorang pangeran … jadi benarkah itu ?”

Si buta itu kembali menarik napas panjang dan diapun berkata lembut, “Bawalah aku kepada batu-batu yang enak diduduki. Bun Houw, agar kita dapat bicara dengan santai.”

Bun Houw cepat memegang tongkat gurunya dan menuntun gurunya menuju ke kiri di mana terdapat batu-batu yang halus dan rata. Di situ mereka duduk berhadapan.

“Sudah sepatutnya engkau mengenal siapa orang buta yang menjadi gurumu ini, Bun Houw. Dahulu sekali, kurang lebih tigapuluh tahun yang lalu, aku adalah seorang pangeran yang hidup mewah dan mulia di istana kaisar. Kaisar adalah kakak tiriku, dia putera permaisuri sedangkan aku hanyalah putera selir. Akan tetapi kaisar amat sayang kepadaku, maka aku diberi kedudukan tinggi dan selalu dekat dengannya, membantu tugasnya di dalam Istana. Lalu godaan yang mendatangkan malapetaka itupun muncul dalam bentuk tubuh seorang selir kakakku, yaitu kaisar. Selir terkasih yang amat cantik jelita. Kami saling jatuh cinta dan terjadilah hubungan gelap yang mesra di antara kami. Aku seperti mabok, lupa bahwa wanita itu adalah selir terkasih dari kakakku. Kami berdua meneguk anggur larangan itu sepuasnya sampai mabok dan akhirnya akibat buruk itupun terjadilah. Kami tertangkap basah. Aku merasa menyesal dan malu. Kubutakan sendiri kedua mataku di depan kakakku, kemudian aku lolos dari istana. Entah apa yang terjadi dengan selir kakakku itu.”

Bun Houw memandang wajah orang buta itu dengan hati penuh perasaan iba. Sungguh menyedihkan sekali riwayat gurunya ini.

“Akan tetapi, suhu. Mengapa suhu melakukan penghukuman atas diri sendiri yang demikian hebatnya?”

Tiauw Sun Ong atau yang di dunia kang-ouw terkenal dengan sebutan Si Buta Dari Utara itu menarik napas panjang. “Begitulah orang muda seperti aku dahulu. Mudah tertarik, mudah jatuh cinta, mudah membenci, mudah gembira, mudah marah. Pendeknya mudah diombang-ambingkan perasaan dikemudikan napsu. Namun, penyesalan di belakang tiada gunanya. Aku hidup terlunta-lunta, bahkan ingin mati saja. Namun akhirnya aku bertemu dengan seorang tosu yang memberi banyak nasihat. Aku sadar, timbul pula gairah hidupku dan aku bahkan mempelajari ilmu silat sampai mendalam. Demikianlah riwayat gurumu ini, Bun Houw.”

Kemudian, guru dan murid itu pergi meninggalkan tempat itu, dan mulai hari itu. Bun Houw menerima gemblengan ilmu-Ilmu silat yang amat hebat dari Si Buta, terutama sekali ilmu lotok jalan darah. Ilmu tongkat dan Ilmu pedang yang amat dahsyat.

“Bun Houw, Ilmu pedangku ini memang merupakan ilmu pedang yang khas untuk orang buta. Oleh karena itu, untuk dapat menguasainya dengan sempurna, pada saat mempelajari dan melatih dirimu dalam ilmu silat pedang itu, engkau harus berlaku seperti orang buta, yaitu engkau sama sekali tidak mempengunakan daya penglihatanmu dan harus memejamkan kedua matamu!”

Biar pun di dalam hatinya Bun Houw merasa heran mengapa dia yang pandai melihat harus tidak mempengunakan penglihatannya, namun sebagai seorang murid yang patuh, dia selalu mentaati pesan gurunya itu. Setiap kali berlatih silat yang diajarkan gurunya, dia menutup kedua matanya, dan hanya mengandalkan ketajaman pendengaran dan indera lainnya. Bahkan di waktu tidak berlatih silatpun gurunya menganjurkan agar dia seringkali menutupkan kedua matanya dan mencoba untuk melakukan pekerjaan tanpa bantuan penglihatannya.

“Terutama untuk melatih ketajaman pendengaranmu,” demikian gurunya memberi nasihat.

Dan akibatnya memang hebat. Hasilnya memang di luar dugaan. Setelah lewat beberapa tahun saja, panca indera yang lain dari pemuda itu menjadi tajam bukan main. Terutama sekali pendengarannya. Kalau dia berlatih bersama gurunya, dengan pendengarannya saja dia mampu mengikuti semua gerakan tubuh gurunya. Pendengarannya menjadi amat tajam, dan kepekaan tumbuh dengan amat suburnya di ujung Jari-jari tangan dan kakinya karena seringkah dipakainya untuk meraba-raba, penciumannya juga menjadi amat tajam. Bahkan perasaannya bertambah peka seolah-olah Indra ke tujuh bangkit dengan cepat karena kekurangan satu indera, yaitu mata.

Enam tahun lewat dengan cepatnya. Kini Bun Houw telah menjadi seorang pemuda berusia duapuluh satu tahun, dan biarpun usianya itu masih amat muda, namun berkat gemblengan kepahitan hidup dia telah menjadi seorang dewasa yang telah matang. Selama enam tahun, hampir tak henti-hentinya dia menggembleng diri dengan latihan-latihan berat sehingga suhunya merasa amat gembira dan kagum. Dan dalam waktu enam tahun, Bun Houw telah dapat menguasai ilmu-ilmu suhunya dengan baik, bahkan hampir sempurna dan hampir dia dapat menandingi tingkat gurunya. Dan dia mampu hidup dalam dua macam dunia. Dunia terang, yaitu dengan membuka mata seperti orang biasa, dan dunia gelap, dunianya orang buta. Dia sanggup berhari hari lamanya terus menutupkan kedua matanya seperti orang yang benar-benar buta, tanpa merasa canggung ataupun sengsara karena inderanya yang lain sudah demikian tajam mampu menggantikan pekerjaan mata. Mungkin karena latihan tidak mempengunakan kedua matanya inilah maka Bun Houw kini memiliki mata yang seperti sayu dan dibuka sedikit saja, seperti mata orang yang menanggung duka nestapa, akan tetapi dari balik kelopak mata yang hanya dibuka sedikit itu nampak mata yang mencorong bagaikan kilat menyambar. Apalagi kalau sewaktu-waktu dia membuka kedua matanya agak lebar, nampaklah sepasang mata yang amat tajam!

Selain berlatih silat, setiap harinya Bun Houw bekerja di sawah ladang milik suhunya yang berada di belakang rumah. Mereka tinggal di tereng sebuah bukit. Bukit itu tanahnya subur sekali dan semua penghuni dusun-dusun di kaki bukit bersawah ladang di tereng bukit itu. Guru Bun Houw membeli sebidang tanah di tereng dan dengan bantuan muridnya mendirikan sebuah pondok untuk mereka berdua. Para penghuni dusun yang kesemuanya petani, mengenal mereka sebagai guru dan murid yang baik budi dan ramah, namun diliputi penuh rahasia.

Hasil sawah ladang yang dikerjakan Bun Houw dan gurunya sudah lebih dari cukup untuk keperluan hidup mereka berdua, untuk makan dan membeli pakaian. Bun Houw semakin kagum dan mencinta gurunya. Biarpun gurunya itu dahulunya seorang pangeran, hidup di istana indah dan dimuliakan orang, namun kini gurunya tak pernah mau ketinggalan menggarap sawah ladang, mencangkul, menanam bahkan memelihara dan ikut pula menuai hasilnya. Gurunya seperti seorang petani tulen! Karena setiap hari bekerja di ladang, maka Bun Houw memiliki kebiasaan seperti para petani lainnya di daerah itu, iyalah memakai sebuah caping lebar dan ringan terbuat dari pada bambu yang amat tipis. Caping lebar seperti itu, dengan tali melibat bawah dagunya, dapat melindunginya dari panas dan hujan, semacam payung kecil. Dan dia selalu mengecat capingnya dengan warna hitam.

Pada pagi hari itu, ketika matahari mulai terbit, Bun Houw sudah memakai capingnya dan memanggul sebuah cangkul, bertelanjang kaki dan dada. Nampak dadanya yang bidang, dengan kulit yang kecoklatan karena sering terbakar sinar matahari. Dia baru saja mandi di air sumber tak jauh dari pondok setelah pagi tadi, pagi sekali, dia sudah bangun, berlatih silat, memikul air dari sumber ke pondok memenuhi bak air, baru kemudian dia mandi.

Kini dia sudah siap pergi ke ladang.

“Bun Houw … !”

Gurunya sudah duduk di belakang pondok, di atas sebuah bangku lebar buatan Bun Houw yang menjadi tempat kesayangan gurunya untuk duduk menghirup udara segar.

Bun Houw terheran. Biasanya, pagi-pagi sekali suhunya sudah bangun akan tetapi duduk bersamadhi di dalam kamarnya, baru keluar setelah sinar matahari menerangi bumi. Akan tetapi kini gurunya sudah duduk di situ.

“Suhu!” Bun Houw menghampiri dan berlutut di depan gurunya. “Sepagi ini suhu sudah keluar?”

“Mulai pagi hari ini, aku yang akan bekerja di sawah ladang, Bun Houw.”

“Akan tetapi, setiap hari suhu juga bekerja di sawah ladang!”

“Hanya membantumu. Akan tetapi mulai hari ini, aku sendiri yang akan mengolah tanah karena engkau harus pergi dari sini.”

“Akhh … ?” Bun Houw terkejut bukan main mendengar ucapan gurunya itu. “Apa … maksud suhu? Apakah suhu hendak mengutus teecu (murid) pergi turun bukit ke dusun?”

Orang buta itu menggeleng kepala. “Memang turun bukit, akan tetapi bukan ke dusun di kaki bukit itu, melainkan jauh dan tidak kembali lagi ke sini.”

“Suhu …!” Baru dia tahu bahwa suhunya bermaksud mengusirnya! “Teecu ingin tinggal bersama suhu di sini!”

“Ha-ha-ha, orang muda! Apakah engkau ingin selamanya di sini dan menjadi karatan di bukit ini? Kalau begitu, apa artinya engkau bersusah payah mempelajari Ilmu selama enam tahun ini? Sebatang cangkul diasah setiap hari sampai menjadi tajam sekali, apa artinya kalau tidak dipengunakan? Lupakah engkau akan cita-citamu untuk melanjutkan perjuangan ayahmu sebagal seorang pendekar yang melindungi kaum lemah tertindas, menentang penjahat yang jahat ?”

Bun Houw teringat dan wajahnya berubah merah. Memang, dia telah menjadi seorang yang berkepandaian cukup, akan tetapi bagaikan seekor jago, dia adalah seperti seekor jago yang selalu dikurung dan diberi makan enak-enak sehingga dia menjadi keenakan dan gemuk. Dan kini, suhunya mengingatkan dia akan cita-citanya yang seperti telah dilupakannya karena dia ingin hidup tenang dan tenteram, enak-enakan terus di tempat sunyi itu.

“Maaf, suhu. Teecu tidak bermaksud melupakan cita-cita itu, hanya saja … bagaimana teecu tega meninggalkan suhu hidup seorang diri saja di tempat ini ? Siapa yang akan melayani suhu, siapa yang akan mengerjakan sawah ladang suhu?”

“Bun Houw, kaukira aku ingin menjadi seorang tua yang dimanjakan? Bukankah setiap hari aku juga bekerja? Apa sih sukarnya mencukupi kebutuhan badanku ini ? Jangan khawatir, aku akan tetap dapat hidup di sini, biarpun tidak ada engkau. Aku mengambilmu sebagai murid bukan untuk mendapatkan seorang pembantu dan pelayan!”

“Maafkan kelancangan teecu, suhu!” Bun Houw berkata, terkejut karena suhunya seperti orang yang tersinggung.

Tiauw Sun Ong menghela napas dan mengelus jenggotnya. “Sudahlah, kini pelajaranmu sudah tamat dan sudah tiba saatnya engkau harus merantau dan mempengunakan segala Ilmu yang kaupelajari di sini. Bawalah semua pakaianmu dan aku tidak dapat memberi bekal apa-apa kecuali ini.” Dia menyerahkan sebuah kantung kain kuning kepada Bun Houw.

Ketika pemuda itu menerimanya, dia terkejut melihat isi kantung itu karena ternyata berisi uang emas, sedikitnya ada sepuluh tail banyaknya!”

“Ah, untuk apa emas ini, suhu? Begini banyak … “

“Aku masih mempunyai yang lain. Bun Houw. itu milikku yang kubawa dari Istana dahulu. kausimpanlah, dapat kaupengunakan untuk biaya hidup. Ketahuilah, dalam perantauan engkau amat membutuhkan uang, tidak seperti di sini engkau dapat hidup dari hasil tanah. Dan engkau terimalah pusakaku ini, pergunakan sepatutnya karena selama berada di tanganku, Lui-kong-kiam (Pedang Kilai) ini tak pernah kupengunakan untuk melakukan kejahatan, bahkan tidak pernah membunuh orang!” Dia menyerahkan tongkatnya yang kelihatan butut itu, akan tetapi yang di sebelah dalamnya tersembunyi sebatang pedang pusaka yang ampuh.

“Terima kasih, suhu!” Sekali ini Bun Houw girang bukan main. Tentu saja pedang itu tidak asing baginya. Ketika dia digembleng ilmu pedang oleh gurunya, pedang Lui-kong-kiam itulah yang dia pengunakan untuk berlatih. Setelah menerima uang dan pedang dari suhunya, dan diberi wejangan agar dia berhati hati dalam perantauannya, dan juga diberi tahu tentang tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw yang diketahui suaranya, maka Bun Houw berangkat meninggalkan tereng bukit itu, memanggul buntalan pakaian dan menyelipkan tongkat butut berisi pedang itu di pinggangnya. Caping lebar hitam itu tidak ketinggalan, akan tetapi karena hari masih pagi dan matahari belum panas, caping itu tengantung di punggung menutupi buntalannya.

***

Cia Kun Ti juga seorang pedagang yang cukup berhasil di kota Nan-ping. Akan tetapi dia bekerja terlalu keras. Hal ini mungkin karena dia merasa rendah diri terhadap isterinya. Cia Kun Ti dahulunya adalah seorang karyawan dari ayah isterinya dan dia diambil mantu oleh majikannya itu. Setelah dia membuka toko sendiri, tentu saja modalnya adalah milik isterinya dan dia hanya mengerjakannya saja. Maka diapun bekerja keras sehingga makin lama tokonya menjadi semakin maju. Akan tetapi, tetap saja dia merasa rendah diri dan selalu tunduk di bawah kemauan isterinya yang menguasai segalanya. Urusan apapun yang timbul dalam rumah tangga dan keluarga mereka, selalu keputusan terakhir berada di tangan isterinya! Mereka hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu Cia Ling Ay, yang seperti kita ketahui, ketika terjadi malapetaka menimpa keluarga Kwa, usianya empa belas tahun, Isteri Cia Kun Ti pulalah yang memaksa suaminya agar pertunangan antara Ling Ay dan Bun Houw diputus, dibatalkan! Hal ini amat menyedihkan hati Ling Ay yang merasa kasihan kepada Bun Houw, juga diam-diam Cia Kun Ti menderita tekanan batin karena dia merasa berdosa kepada mendiang Kwa Tin, sahabat baiknya. Mereka telah saling mengikat perjodohan antara anak mereka itu, dengan sumpah, akan tetapi ketika keluarga Kwa dilanda malapetaka dan Kwa Bun Houw menjadi yatim piatu dan kehilangan segalanya, dia tidak dapat mengulurkan tangan menolong calon mantu itu, bahkan memutuskan ikatan perjodohan!”

Ketika datang pinangan dari Cun-taijin, kepala daerah yang meminang Ling Ay untuk dijodohkan seorang puteranya, isteri Cia Kun Ti pula yang mendesak agar suaminya menerima pinangan itu tanpa banyak pikir lagi, “Perlu apa kita bersangsi lagi? Kita seolah-olah kejatuhan bulan purnama! Sungguh, Tuhan telah memberkahi kita, memberkahi anak kita. Cun Tai-jin (Pembesar Cun) adalah orang nomor satu di Nan-ping! Dia bagaikan seorang raja saja di kota ini, orang yang paling berkuasa. Bukan hanya itu. Juga keluarga Cun selain berpangkat tinggi, mereka kaya raya pula. Kalau kita menjadi besan mereka, berarti nama keluarga kita akan terangkat tinggi, kita dihormati orang, dan anak kitapun hidup dalam kemuliaan dan kemewahan!” demikian antara lain isteri Cia Kun Ti mendesak suaminya.

“Akan tetapi, yang akan menikah adalah Ling Ay. Sudah sepatutnya kalan kila mendengar dulu pendapatnya, ia adalah anak tunggal kita, senangkah hatimu kalau kelak melihat Ia hidup menderita ?”

“Menderita? Menderita bagaimana maksudmu? Engkau tentu sudah mengenal siapa itu Cun Kongcu (Tuan Muda Cun). Dia masih muda, dia pun ganteng dan tampan, pandai, bangsawan, kaya raya. Mau Apalagi ? Semua orang tua ingin mempunyai mantu dia, semua gadis ingin mempunyai suami seperti dia! Dan engkau masih banyak rewel ? Kita harus bersembahyang ke semua kuil, mengucap syukur dan terima kasih kepada Thian bahwa anak kita yang dipilih oleh Cun Kongcu!”

(Bersambung jilid ke 02)

Jilid 02

-OUCAPAN isteri Cia Kun Ti itu memang tidak keliru. Cun Kongcu, atau nama lengkapnya Cun Hok Seng, adalah seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun yang tampan. Ayahnya, kepala daerah Cun yang menjadi orang paling berkuasa di kota Nan-ping dan yang mencalonkan putera dan anak tunggal itu menjadi pembesar kelak, telah memberinya pendidikan sastra sehingga Cun Hok Seng menjadi seorang terpelajar yang dikagumi banyak gadis dan orang tua mereka.

Pertemuan antara Cun Hok Seng dan Cia Ling Ay terjadi secara kebetulan saja. Ketika itu, Cia Ling Ay ikut dengan ayah dan ibunya pergi ke kuil untuk bersembahyang. Hal ini terjadi atas permintaan Ling Ay yang diam-diam bermaksud untuk sembahyang memintakan berkah dan perlindungan untuk Kwa Bun Houw yang telah pergi selama empat tahun lebih dan tidak ada beritanya. Biarpun ia tahu bahwa tidak mungkin tali perjodohan antara mereka disambung lagi, namun ia merasa kasihan kepada bekas tunangan itu dan akan merasa ikut gembira kalau pemuda itu berada dalam keadaan selamat.

Ling Ay telah berubah menjadi seorang gadis dewasa yang amat cantik manis, berusia delapanbelas tahun, bagaikan setangkai bunga sedang mekar semerbak mengharum. Ketika ia dan ibunya memasuki kuil, banyak pasang mata memandangnya penuh kagum, terutama sekali mata pria muda yang kebetulan berada di tempat itu. Sudah menjadi kebiasaan buruk para pemuda, kalau mereka sedang bergerombol dan melihat seorang wanita cantik, tentu timbul keinginan mereka untuk menggoda. Demikian pula dengan enam orang pemuda yang kebetulan berada di halaman kuil itu. Begitu melihat Ling Ay dan ibunya, mereka sejak tadi sudah memandangi gadis itu penuh kagum, saling bisik dan tersenyum-senyum. Kemudian, merekapun menghampiri Ling Ay dan ibunya, sengaja mereka menghadang.

“Nona, bolehkah kami menemani nona bersembahyang!”

“Apakan nona hendak bersembahyang mencari joioh?”

“Tak usah mencari jauh-jauh, nona. Pilihlah seorang di antara kami!”

Mereka itu menggoda sambil menyeringai. Wajah Ling Ay berubah merah, kemudian pucat karena merasa jerih dan khawatir kalau kalau para pemuda itu akan mengganggunya, Nyonya Cia Kun Ti memandang dengan mata melotot dan wajah berubah merah padam. Ia marah sekali.

“Kalian ini orang-orang muda sungguh tidak sopan dan kurang ajar! Belum saling mengenal kalian sudah berani mengajak anakku bicara.” bentaknya marah.

“Aduh, bibi! Galak amat kepada calon mantumu.”

“Bibi, sekarangpun berkenalan kan belum terlambat,”

“Anak bibi sungguh manis sekali!”

Pada saat itu, muncullah Cun Hok Seng. Dengan alis berkerut pemuda yang juga hendak bersembahyang ini melihat dan mendengar sikap lima orang pemuda berandalan itu dan dia cepat menghampiri, lalu menegur dengan suara garang.

“Sungguh tidak tahu malu sekali! Kalian ini orang-orang tidak tahu susila, hendak mencemarkan kesucian kuil ini?”

Melihat seorang pemuda tampan berpakaian sastrawan berani mencampuri lima orang berandalan itu hendak marah. Akan tetapi mereka meiihat dua orang pengawal berpakaian perajurit yang bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, berwajah keren berada di belakang pemuda itu dan mereka melotot marah. Melihat ini, mereka menjadi jerih, Apalagi ketika seorang di antara mereka mengenal Cun Hok Seng. Dia cepat memberi hormat dan berkata dengan suara merendah.

“Kiranya Cun Kongcu! Maafkan kami, kami hanya ingin berkenalan dan bersendau gurau.”

“Bukan begitu caranya orang yang ingin berkenalan. Hayo kalian pergi dari sini, atau ingin kusuruh tangkap dan seret ke pengadilan?”

Lima orang itu kini ketakutan karena yang lain kini mengenal pula pemuda itu sebagai putera kepala daerah! Mereka cepat memberi hormat lalu pergi meninggalkan kuil tanpa berkata apapun.

Itulah awal perjumpaan Cun Hok Seng dan Ling Ay. Ibu Ling Ay cepat menghaturkan terima kasih dan bersama puterinya memasuki kuil untuk bersembahyang. Sedangkan Cun Hok Seng terpesona dan sampai lama dia berdiri bengong saja. Akhirnya, dua orang pengawalnya yang menyadarkannya dan dari pengawal itulah Hok Seng tahu bahwa gadis yang membetot sukmanya tadi adalah puteri dari Cia Ku Ti, seorang pedagang di Nan-ping. Dan kemudian, kepala daerah mengutus seorang perantara untuk mengajukan pinangan setelah beberapa kali puteranya minta agar dijodohkan dengan puleri Cía Kun Ti itu.

Ketika pinangan itu diajukan, Cia Kun Ti tidak segera menerimanya melainkan minta waktu untuk berpikir-pikir dan hal inilah yang membuat isterinya marah-marah setelah perantara itu pulang. Watak Cía Kun Ti berbeda dengan isterinya. Dia lama sekali tidak memikirkan kepentingan diri sendiri menghadapi perjodohan puterinya, melainkan dia mementingkan kebahagiaan puterinya. Bagaimana dia dapat menerima pinangan begitu saja tanpa lebih dulu mengetahui bagaimana pendapat puterinya, orang yang akan melaksanakan atau menjalaninya? Namun, keraguannya ini membuat isterinya marah-marah sehingga ia mengomel dan memaksa agar suaminya menerima pinangan itu.

“Baiklah … aku segera akan memberi kabar kepada Cun Tai jin dan menerima pinangannya itu dengan hormat. Akan tetapi, bagaimanapun juga kita harus memberitahu kepada anak kita.” Tanpa menanti ucapan isterinya lebih lanjut, Cia Kun Ti lalu memanggil puterinya.

Cia Ling Ay yang sedang sibuk di dapur bersama seorang pembantu rumah tangga, segera keluar dan menuju ke ruangan duduk di mana ayahnya dan ibunya sudah duduk menantinya. Melihat wajah kedua orang tuanya; itu nampak bersungguh-sungguh, ia lalu duduk di dekat Ibunya.

“Ada urusan apakah ayah memanggilku,” tanyanya.

“Ling Ay, kami memanggilmu untuk minta pertimbanganmu tentang … “

“Bukan minta pertimbangan, melainkan untuk menyampaikan berita yang amat membanggakan hati kepadamu, Ling Ay.” isteri Cia Kun Ti memotong ucapan suaminya. “Kita telah kedatangan seorang utusan dari keluarga Cun Taijin, anakku. Engkau tahu, yang kumaksudkan dengan Cun Taijin adalah kepala daerah di kota ini. Orang nomor satu di sini, paling berkuasa, paling kaya, paling terhormat … “

“Ada urusan apakah dengan kita, ibu ?”‘ Ling Ay memotong Ibunya agar rangkaian kata ‘yang paling’ itu tidak berkepanjangan.

“Urusannya ? Engkau tentu tidak pernah dapat menduganya, atau mungkin engkau sudah bermimpi kejatuhan bulan ? Aih, anakku yang manis, sungguh hati ibumu penuh dengan kebanggaan dan suka cita. Tahukah engkau mengapa Cun Taijin mengirim utusan ke sini ? Untuk meminangmu!” Ibu itu sambil tersenyum bangga memandang wajah puterinya.

Akan tetapi Ling Ay mengerutkan alisnya dan ia nampak kaget sekali. “Meminang aku …?”

“Ya, engkaulah yang dipilih, anakku! Dan engkau tentu masih ingat. Pemuda yang ganteng itu, yang sopan santun dan menolongmu, di kuil itu. Dialah yang akan menjadi suamimu. Dia itu Cun Kongcu, putera tunggal Cun Taijin. Wah, engkau akan menjadi wanita yang paling mulia di kota ini!”

Akan tetapi, wajah gadis itu sama sekali tidak memperlihatkan perasaan seperti ibunya. Bahkan ia mengerutkan alisnya karena pada saat itu terbayanglah wajah Kwa Bun Houw, terbayang ketika pemuda itu meninggalkan rumahnya dengan muka pucat dan kepala menunduk. Empat tahun yang lalu. ia masih seorang gadis remaja berusia empat-belas tahun. Sampai sekarang pun ia tidakk pernah dapat melupakan Bun Houw. pemuda yang pernah menjadi tuuangannya itu. Ia tidak pernah tahu apakah ia mencinta Bun Houw, karena ketika mereka ditunangkan, ia masih kecil dan ia masih belum mengerti benar apa artinya cinta. Akan tetapi buktinya, sampai sekarang ia tidak pernah dapat melupakan Bun Houw, walaupun setiap kali teringat, yang terasa olehnya hanyalah perasaan iba yang mendalam.

Ia selalu membayangkan betapa sakit perasaan hati pemuda itu ketika meninggalkan rumahnya, dan ia tidak tahu apa yang terjadi dengan pemuda itu yang telah kehilangan segala-galanya. Orang tuanya, harta miliknya bahkan tunangannya!

“Ling Ay, bagaimana pendapatmu dengan pinangan itu?” pertanyaan ayahnya ini menyadarkan Ling Ay dari lamunan. Lenyaplah bayangan wajah Bun Houw dan kini samar-samar ia teringat kepada pemuda yang pernah menegur para pemuda berandalan di kuil itu. Seorang pemuda yang memang tampan dan sopan, pikirnya, akan tetapi sama sekali ia tidak pernah merasa tertarik. Bahkan kini berita bahwa pemuda itu adalah putera tunggal Cun Taijin, dan telah meminangnya, tidak membuat hatinya merasa tertarik sama sekali.

“Ling Ay, kami telah menerima pinangan itu dengan hati gembira dan bangga sekali. Kami yakin engkaupun temu akan menjadi gembira. Bayangkan saja. Engkau akan hidup di dalam gedung seperti istana, dilayani banyak pelayan, dijaga pasukan pengawal, dihormati orang seluruh kota, hidup bermewah-mewahan dan mulia, naik turun kereta, mengenakan perhiasan lengkap dari emas permata …”

“Sudahlah, ibu. Kalau memang ayah dan ibu sudah menerima pinangan itu, untuk apa ditanyakan lagi kepadaku?”

“Aih, anakku, jadi engkau setuju?” Ibunya merangkulnya dengan gembira.

Akan tetapi, Cia Kun Ti memandang puterinya dengan penuh perhatian. “Anakku, mengapa engkau tidak gembira mendengar bahwa engkau akan menjadi mantu kepala daerah? Apakah engkau tidak setuju? Nyalakanlah pendapatmu agar hati ayah ibumu menjadi lega.”

“Aih, Ingin pernyataan Apalagi? Anak kita tidak menolak, itu berarti ia sudah setuju. Ia tidak begitu bodoh untuk menolaknya! Menolak pinangan kepala daerah? Wah, hanya orang-orang gila yang akan menolak keberuntungan seperti itu!” kata isterinya.

Ling Ay melepaskan dirinya dari rangkulan ibnnya, lalu ia mundur selangkah, memandang wajah ayah dan ibunya dan betapa heran rasa hati orang tua gadis itu melihat bahwa kedua mata gadis itu basah. Ayahnya makin ragu, mengira bahwa anaknya tidak setuju maka menangis, sebaliknya ibunya mengira gadisnya menangis saking bahagianya!”

“Ayah dan ibu, apa yang harus kukatakan lagi? Apa artinya pendapat pribadiku dalam saat ini? Kalau ayah dan ibu sudah menerima pinangan itu, sudah menyetujui, dapatkah aku menolaknya? Maka, terserah saja kepada ayah! dan ibu … “

“Tapi kau … kau menangis? Ling Ay, mengapa engkau berduka?” tanya ayahnya.

“Engkau ini sungguh bodoh! Anak kita menangis saking gembiranya, bukan karena bersedih!”

Ling Ay memejamkan kedua matanya karena air matanya kini turun semakin deras.

“Ayah dan ibu … ” Ia mengusap air mata dengan saputangan. “Aku … aku … teringat! kepada koko Kwa Bun Houw dan merasa kasihan sekali kepadanya … ” Dan iapun lari meninggalkan ruangan itu, memasuki kamar sendiri.

Suami isteri itu saling pandang. “Ah, kiranya ia masih teringat kepada anak yatim piatu miskin itu?” kata isteri Cia Kun Ti, lalu ia menyerang suaminya. “Ini semua salahmu! Engkau bertanya yang macam-macam saja!” Wanita itu lalu lari ke kamar anaknya dan mengetuk-ngetuk pintu kamar itu yang dikunci dari dalam. Akan tetapi ia mendengar suara Ling Ay.

“Ibu, biarkan aku sendiri. Aku sudah menerima kehendak ibu, jangan ganggu aku lagi. aku ingin beristirahat … ” Ibunya terpaksa pergi dan mematuki kamarnya sendiri sambil bersungut-sungut.

Cia Kun Ti yang ditinggal seorang diri di ruangan duduk, lalu menghela napas panjang. Dia ikut merasa sedih kalau-kalau anaknya itu berduka dan hanya menerima perjodohan itu karena terpaksa saja. Akan tetapi, diam-diam dia merasa girang bahwa puterinya itu ternyata seorang yang berbudi baik, tidak pernah melupakan bekas tunangan yang diperlakukan dengan tidak adil dan semena-mena itu. Akan tetapi, dia tidak dapat berbuat sesuatu dan pertunangan dengan Kwa Bun Houw itu sudah putus, pemuda itu sudah bertahun-tahun tidak pernah ada beritanya, Apalagi sekarang dia harus menerima pinangan putera kepala daerah. Teringat ini, diapun cepat berkemas untuk mengenakan pakaian yang pantas karena dia harus berkunjung ke rumah keluarga kepala daerah untuk menyampaikan persetujuannya atas pinangan itu.

***

Tanah kuburan yang biasanya sunyi itu kini penuh orang. Sejak pagi banyak orang datang berkunjung karena hari itu adalah hari Ceng-beng, yaitu hari yang merupakan hari besar bagi para keluarga untuk mengunjungi tanah kuburan nenek moyang mereka. Para keluarga ini melakukan sembahyang di depan makam orang tua atau kakek nenek mereka, membersihkan makam-makam keluarga itu.

Makam-makam yang sunyi itu nampak biasa saja. Sukar dibayangkan bagaimana perataan para penghuni makam itu andaikata masih memiliki perasaan seperti ketika masih hidup. Mereka yang telah mati itu hanyi setahun sekali menerima kunjungan sanak saudara, anak cucu. Setahun sekali, dalam waktu sejam dua jam saja, para keluarga itu datang berkunjung dan bersembahyang. Setelah itu, anak cucu itu segera pergi lagi, dan makam kembali menjadi sunyi. Penghuni makam dibiarkan sunyi sendiri, menanti sampai kunjungan berikutnya yang akan mereka terima setahun kemudian! Selama “menunggu” itu, tak seorangpun di antara para anak cucu yang ingat akan makam itu, dan makam dibiarkan terlantar, hanya menjadi tempat mainan para penggembala kambing.

Akan tetapi pada hari Ceng-beng itu, para anak cucu datang dengan pakaian yang baru, membawa hidangan untuk sembahyang dan ramailah keadaan di tanah kuburan yang biasanya amat sunyi itu. Serombongan keluarga yang memasuki tanah kuburan itu tentu merupakan keluarga yang penting dan terpandang. Buktinya, hampir semua pengunjung tanah kuburan yang berpapasan dengan keluarga ini, segera memberi hormat, dan yang berada agak jauh, segera saling bisik membicarakan keluarga itu. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami Isteri yang masih muda. Juga sepasang suami isteri setengah tua dan diiringkan oleh enam orang pelayan dan lima orang pengawal yang berpakaian seragam. Keluarga pembesar!

Memang demikianlah. Suami-isteri muda itu adalah Cun Hok Seng dan isterinya, yaitu Cia Ling Ay! Sudah setahun mereka menikah dan kini Cun Hok Seng berusia duapuluh enam tahun, sedangkan Cia Ling Ay berusia duapuluh tahun. Mereka menikah setelah setahun bertunangan. Adapun suami Isteri setengah tua itu adalah Cia Kun Ti dan isierinya. Jelaslah bahwa yang menerima penghormatan semua orang itu adalah Cun Hok Seng, putera kepala daerah itu. Akan tetapi, yang merasa amat bangga sekali adalah nyonya Cia Kun Ti, Ibu Ling Ay. Padahal ia hanya membonceng saja, membonceng kehormatan dan kemuliaan mantunya, akan tetapi karena semua orang itu menghormat ke arah rombongan mantunya, maka iapun merasa terhormat dan seolah-olah ialah yang dihormati mereka!”

Semua orang mengejar kehormatan ini! Semua orang bertingkah dan berharap agar mereka mendapat penghormatan dari orang lain.

Semakin dihormat, semakin banggalah rasa hati ini, semakin merasa betapa dirinya ini ‘besar’. Pengejaran kehormatan ini sesungguhnya bukan lain hanyalah ketinggian hati, keinginan nafsu yang hendak mengangkat diri sendiri setinggi mungkin, yang menilai diri sendiri yang paling besar dan paling tinggi, paling hebat. Karena itu setiap, kali rasa diri besar ini terlanggar, akan marahlah si-aku. Sama juga dengan pengejaran harta benda yang dianggap akan merdatangkan kebahagiaan, demikian pula pengejaran terhadap kehormatan di dasari anggapan bahwa kehormatan akan mendatangkan kebahagiaan melalui kebanggaan. Padahal, kebahagiaan tidak mungkin dicapai melalui kesenangan berharta besar atau melalui kebanggaan berkedudukan tinggi. Segala macam bentuk kesenangan bukanlah makanan jiwa. melainkan sekedar permainan nafsu belaka dan biasanya, nafsu selalu mengejar yang lebih sehingga kesenangan yang dinikmati itu dalam waktu singkat saja sudah terasa hambar karena keinginan mengejar yang lebih. Dan akibatnya maka muncullah kekecewaan dan penyesalan kalau yang dikejar itu tidak tercapai, atau kebosanan kalaupun tercapai karena kenyataan tidaklah sesenang yang dibayangkan selagi dalam pengejaran. Kesenangan jelas bukan kebahagiaan. Dan semua orang mengejar kebahagitan. Apakah sesungguhnya kebahagiaan? Demikian timbul pertanyaan abadi sejak dahulu. Semua orang mengejar kebahagiaan! Dan makin dikejar semakin tak nampak! Maka penting sekali mempelajari apa sesungguhnya kebahagiaan yang dikejar oleh setiap orang manusia ini. Apakah hanya sebuah kata? Kata kosong belaka ?

Kebahagiaan jelas bukan kedukaan karena justeru di dalam penderitaan dukalah manusia merindukan kebahagiaan kebahagian bukan pula kesenangan karena semua orang yang merasakan kesenangan akhirnya mengakui bahwa kesenangan hanyalah sekelumit dan sementara saja sifatnya. Kalau kedukaan bukan kebahagiaan, dan kesenangan juga bukan kebahagiaan, lalu apa? Apakah kebahagiaan yang didambakan seluruh manusia di dunia ini? Tidak mungkinkah dirasakan orang selagi dia masih hidup? Apakah kebahagiaan hanya bagian orang yang sudah mati dan hanya terdapat di akhirat? Semua pertanyaan ini timbul dan tak seorangpun yang mampu menggambarkan bagaimana sesungguhnya kebahagiaan itu. Bagaimana rasanya dan bagaimana keadaan seseorang yang benar-benar berbahagia! Agaknya pertanyaan yang sudah diajukan manusia sejak ribuan tahun yang lalu ini takkan pernah dapat dijawab. Bagaimana mungkin menjawabnya kalau bahagia merupakan suatu keadaan yang tak tengambarkan? Suatu keadaan tabir batin yang hanya dapat dirasakan oleh yang bersingkutan ? Sekali dibicarakan atau diceritakan, maka cerita atau penggambaran itu tidak mungkin sama dengan yang digambarkan!

Bahagia bukan duka bukan suka. Kalau ada duka, tidak ada bahagia, kalau ada suka tidak ada bahagia. Jelas bahwa bahagia berada di atas suka duka. Merupakan anugerah Tuhan, dan hanya Tuban yang akan dapat menjadikan seseorang berbahagia. Tak mungkin dicapai melalui usaha akal pikiran karena kebagiaan berada di atas akal pikiran yang menjadi sumber suka dan duka. Dan karena itu merupakan ciptaan Tuhan, pekerjaan Tuhan, maka manusia tak mungkin dapat mencampuri. Seperti halnya kelahiran dan kematian. Kita hanya dapat PASRAH, menyerah kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Bijaksana, yang akan mengatur segalanya ! Hanya pasrah, penuh keiklasan dan ketawakalan. Betapapun juga, manusia hanyalah ciptaan, dan kekuasaan berada di tangan Sang Pencipta!

Sebelum Cun Hok Seng dan isterinya, ayah dan ibu mertuanya, tiba di tanah kuburan itu, lebih dulu serombongan orang yang menjadi pembantu mereka telah datang dan mempersiapkan segala keperluan sembahyang untuk putra kepala daerah Nan-ping dan keluarganya itu. Dan tentu saja persiapan sembahyang itu yang termewah di antara peralatan sembahyang semua pengunjung tanah atau taman kuburan itu.

Mereka berkunjung ke taman kuburan itu untuk menyembahyangi kakek dan nenek, juga nenek moyang mereka. Nenek moyang kedua pihak, keluarga Cun dan keluarga Cia. Tentu saja yang didahulukan adalah kuburan keluarga Cun, dan peralatan sembahyangan telah diatur lengkap oleh para pembantu di tanah kuburan keluarga Cun. Makam makam keluarga ini paling besar dan megah, bukan hanya liong-pai (batu nisan) yang besar dengan ukiran ukiran indah, bahkan dibangun seperti kuil dengan atap bergenting tebal dan dihias ukiran-ukiran naga.

Sebagian besar orang berani mengorbankan harta benda mereka untuk pembuatan bong-pai dan bangunan makam yang seindahnya. Indah dan mewah. Tentu saja dengan dalih bahwa mereka menghormati dan mencinta nenek moyang dan orang tua yang sudah meninggal dunia. Bahkan keroyalan mereka membuang uang untuk membuat makam yang megah ini jauh melebihi kerelaan mereka memberikan harta benda kepada orang tua mereka ketika orang tua itu masih hidup!

Sungguh sayang sekali, di balik perbuatan menghamburkan harta benda untuk membuat makam yang amat indah dan mewah ini tersembunyi pamrih rendah. Pertama, pamrih agar mereka dipuji orang lain dan dianggap sebagai anak-anak yang u-houw (berbakti) kepada orang tua dan nenek moyang, di samping pamrih menyombongkan dan memamerkan harta kekayaan mereka. Ke dua, pamrih agar mereka itu, dengan cara “berkorban” seperti itu, akan memperoleh doa restu dari arwah orang tua dan nenek moyang sehingga rejeki yang mereka terima akan berlimpahan, jauh melampaui segala biaya yang mereka keluarkan untuk pembuatan makam yang megah itu. Dan pamrih kedua ini mereka percaya benar. Bahkan mereka itu dalam ketahyulan mereka, mengirim bongkahan bongkahan emas, kereta, rumah gedung, yang mereka lakukan dengan cara membuat semua itu dari kertas dan bambu, kemudian membakar semua benda palsu ini dengan kepercayaan bahwa semua benda itu di akhirat akan benar benar menjadi benda-benda aseli dan dapat dipengunakan untuk kesejahteraan arwah nenek moyang. Hal ini tentu saja akan membuat arwah nenek moyang merasa senang dan melimpahkan berkah kepada anak cucu atau buyut yang u-houw (berbakti) itu. Sungguh merupakan suatu ketahyulan yang bodoh sekali, karena yang jelas sekali, perbuatan itu hanya mendatangkan keuntungan besar kepada orang orang yang pekerjaannya membuat benda benda palsu dan kertas itu dan yang mengatur persembahyangan karena mereka akan menerima upah yang amat besar.

Padahal, houw atau kebaktian memang merupakan suatu kebajikan, suatu kewajiban dan keharusan bagi setiap orang manusia beradab. Bakti kepada orang tua merupakan kasih sayang yang besar, terdorong oleh budi yang telah kita terima dari orang tua, semenjak kita dilahirkan, dibesarkan oleh orang tua. Kasih sayang ini tentu saja hanya dapat dibuktikan dengan sikap dan perbuatan kita terhadap orang tua selagi mereka masih hidup dan sesudah mereka meninggal dunia, kebaktian itu masih dapat dilanjutkan dengan menjaga semua perbuatan kita agar jangan sampai kita mengotori atau menodai nama baik orang tua kita dengan perbuatan yang jahat. Inilah houw atau kebaktian dalam arti yang sedalam-dalamnya. Houw atau kebaktian sesungguhnya hanyalah pelaksanaan dari perasaan cinta atau kasih sayang terhadap orang tua!”

Setelah persembahyangan terhadap makam-makam nenek moyang keluarga Cun selesai dilakukan, barulah rombongan Cun Hok Seng, isterinya dan kedua mertuanya itu melakukan sembahyang di depan kuburan nenek moyang keluarga Cia.

Cia Ling Ay atau Nyonya Cun Hok Seng yang sudah selesai bersembahyang di depan makam nenek moyang keluarga orang tuanya, tiba-tiba teringat akan kuburan Kwa Tin dan nyonya Kwa Tin, yaitu ayah dan Ibu Kwa Bun Houw. Ia merasa kasihan sekali kepada Bun Houw dan walaupun ia telah menjadi isteri orang lain, sering kali ia termenung membayangkan wajah bekas tunangan itu. Kini, setelah selesai melakukan sembahyang kepada nenek moyang keluarganya, ia teringat kepada makam ayah dan ibu Kwa Bun Houw. Ia melihat suaminya sedang bercakap. cakap dengan beberapa orang pria yang agaknya juga orang-orang berpangkat yang datang ke tanah kuburan dengan maksud yang sama, dan ayah ibunya juga sedang sibuk dengan peralatan sembahyangan, iapun merasa iseng dan melangkahlah nyonya muda ini menuju ke makam ayah dan ibu bekas tunangannya itu yang letaknya tidak berapa jauh dari kuburan nenek moyang keluarga orang tuanya, ia membawa segenggam hio swa (dupa biting) yang sudah disulutnya dan dengan hati terharu ia melihat sepasang kuburan sederhana yang batu nisannya berlumut dan kotor, depan batu nisan ditumbuhi rumput tebal. Makam yang sama sekali tidak terawat.

Ling Ay segera menghampiri kedua makam yang berdampingan itu, lalu ia bersembahyang di depan keduanya, ia sama sekali tidak tahu batwa sejak tadi sepasang mata memandangnya, sepasang mata yang mula-mula terbelalak lebar dan memandangnya dengan heran, akan tetepi kini sepasang mata itu berlinang air mata. Setelah bersembahyang sejenak, di dalam hatinya ia mohon ampun kepada bekas calon ayah dan ibu mertuanya itu karena kegagalan perjodohannya dengan putera mereka, Ling Ay menancapkan hio-swa di depan kedua makam. Akan tetapi, ia masih berdiri termenung di depan dua buah makam itu ketika pemilik mata yang sejak tadi mengikuti gerak-geriknya itu menghampirinya dari belakang.

“Maaf … ” suara itu agak gemetar, ‘kenapa engkau bersembahyang di depan makam ayah ibuku … ?”

Ling Ay mendengar ucapan itu, terkejut dan cepat membalikkan tubuhnya. Kedua matanya terbelalak memandan g kepada pria muda yang berdiri di depannya. Keduanya saling berpandangan, Ling Ay terkejut akan tetapi juga ada perasaan gembira menyelinap di dalam hatinya, bercampur keharuan melihat betapa kedua mata pemuda itu basah.

“Houw-koko …!” Ling Ay berbisik, merasa seperti dalam mimpi setelah kini ia berdri berhadapan dengan orang yang selama ini seringkali muncul dalam mimpinya.

“Ay-moi , eh, maaf Nyonya … Cia Ling Ay,” Bun Houw pemuda itu tengagap. “Maaf, aku belum mengetahui nama suamimu … “

Ling Ay mengerutkan alisnya. Harus diakuinya bahwa biarpun ia selalu merasa rendah diri dalam keluarga suaminya, juga suaminya jelas bersikap agak tinggi hati dan memandang rendah kepadanya, namun suaminya kelihatan sayang kepadanya, iapun selama setahun ini sudah berusaha untuk bersikap manis kepada suaminya, melayaninya dengan usaha untuk menyenangkan hati suaminya. Namun, harus diakuinya bahwa di lubuk hatinya, ia tidak mempunyai perasaan cinta kepada suaminya! Dan sekarang, berhadapan kembali dengan Bun Houw, setelah perpisahan selama enam tahun, setelah ia menjadi seorang wanita dewasa dan Bun Houw juga menjadi seorang pria dewasa, baru ia merasa bahwa sesungguhnya ia mencinta bekas tunangannya ini! Dan kenyataan ini mendatangkan perasaan nyeri dalam hatinya, seolah-olah jantungnya tertusuk-tusuk dari dalam.

“Houw-ko … kau … kau sudah tahu … ?” pertanyaan ini masih dilakukan dalam bisik-bisik sehingga ia khawatir pemuda itu tidak dapat mendengarnya. Ia tidak tahu bahwa kini pendengaran pemuda itu luar biasa ketajamannya. Bahkan suara-suara halus yang tidak mungkin dapat ditangkap oleh pendengaran orang biasa, dia mampu mendengarnya, maka tentu saja bisikan Ling Ay itu sudah cukup jelas baginya.

Bun Houw mengangguk dan dia meletakkan butalan kain yang dibawanya ke atas tanah berumput, di depan makam ayah ibunya. “Sejak tadi aku sudah melihat engkau, ayah ibumu, dan … suamimu. Ah, benar, aku belum menghaturkan selamat kepadamu.” Pemuda itu lalu bangkit lagi dan mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat sambil berkata, “Kiong hi (selamat), engkau telah mendapatkan seorang suami yang tampan, berwibawa dan kaya raya. Agaknya dia seorang pembesar tinggi, bukan?”

Ada perasaan bangga menyelinap di hati Ling Ay, perasaan bangga yang diikuti perasaan nyeri dan juga iba kepada pemuda di depannya itu. Ia mengangguk dan berkata lirih, “Dia putera kepala daerah Cun di Nan-ping.”

“Ah! Kiranya engkau menjadi mantu kepala daerah? Sungguh, aku harus menghaturkan selamat untuk kedua kalinya. Bun Houw mengeraskan hatinya yang tadi menjadi lemah dan terharu ketika bertemu dengan Ling Ay, dan dia berusaha untuk bersikap bijaksana. “Toanio, sungguh aku merasa ikut berbahagia melihat keadaanmu dan … terus terang saja, walaupun pertemuan ini menggembirakan hati, namun sebaiknya kalau toanio kembali ke sana, tidak baik dilihat orang kita bicara berdua saja di sini … “

“Tapi … tapi kita adalah sahabat lama …!” Ling Ay membantah dan pada saat itu terdengar seruan suara seorang wanita.

“Ling Ay … ! Mau apa engkau berada di sini … “ Muncullah seorang wanita yang menurut penglihatan Bun Houw berpakaian terlalu menyolok, terlalu mewah sehingga hampir dia tidak mengenal lagi ibu Ling Ay atau Nyonya Cia Kun Ti! Akan tetapi ketika nyonya setengah tua itu menoleh kepadanya, dia segera mengenalnya dan cepat Bun Houw bersoja (dirangkap kedua tangan depan dada) sambil membungkuk.

“Bibi Cia, selamat berjumpa …!” katanya sopan.

Wanita itu memandang kepadanya dengan penuh perhatian. Memang terjadi perubahan besar pada diri Bun Houw. Dia bukan lagi seorang pemuda remaja seperti enam tahun yang lalu. Kini dia telah menjadi seorang pemuda dewasa berusia duapuluh satu tahun yang bertubuh tegap, pakaiannya sederhana sekali. Akhirnya, wanita itu mengenalnya, hal yang mudah saja karena ia tadi melihat pemuda itu berada di depan makam keluarga Kwi, dan puterinya bicara dengan pemuda itu. SiApalagi kalau bukan Kwa Bun Houw.

“Huh, engkaukah … ?” katanya dengan sikap angkuh karena memang hati nyonya ini merasa tidak enak dan marah melihat puterinya bicara dengan bekas tunangannya itu. Ia lalu memegang lengan Ling Ay dan menariknya pergi diri situ.

“Ling Ay, hayo kita kembali. Suamimu mencarimu!” Ia sengaja menekankan kata “suamimu” seolah olah hendak memperdengarkannya kepada Bun Houw. Ling Ay tidak membantah dan membiarkan dirinya ditarik ibunya pergi dari situ. Akan tetapi ia masih menoleh satu kali dan memandang kepada Bun Houw yang cepat berkata sambil tersenyum.

“Terima kasih bahwa engkan sudi bersembahyang di depan makam ini!”

Cia Kun Ti yang muncul di belakang isterinya, kini berdiri berhadapan dengan Bun Houw. Melihat ayah Ling Ay. Bun Houw segera memberi hormat.

“Paman Cia. selamat berjumpa.”

“Aih, Bun Houw, kiranya engkau ? Engkau telah menjadi seorang pemuda dewasa. Kemana saja engkau selama bertahun-tahun ini ?” seru Cia Kun Ti dengan kegembiraan yang wajar dan tidak dibuat-buat.

Melihat ini, senang rasa hati Bun Houw. Sikap ayah kandung Ling Ay ini sungguh berbeda jauh dengan sikap ibunya.

“Ah, hanya merantau saja kesana sini meluaskan pengetahuan, paman. Kebetulan hari Ceng Beng ini saya kembali ke Nan-ping, untuk bersembahyang di sini.”

Sejenak Cia Kun Ti melihat pemuda itu mengatur peralatan sembahyang di depan kedua makam itu. Pemuda itu hanya membawa beberapa macam buah dan kembang sebagai korban.

“Dan selanjutnya, apakah engkau akan kembali tinggal di Nan-ping? Kalau engkau hendak mulai lagi berdagang seperti mendiang ayahmu, aku suka menbantumu. Bun Houw. Aku dapat menanggung sehingga engkau akan memperoleh dagangan dengan pembayaran cicilan, aku suka membantumu karena aku adalah sahabat baik mendiang ayahmu.”

Bun Houw tersenyum dan memandang dengan hati terharu. dia memberi hormat lagi. “Terima kasih banyak atas kebaikanmu, paman Cia. Di Nan-ping saya sudah tidak mempunyai apa-Apalagi, bagaimana dapat berdagang ? Pula, saya tidak suka berdagang, saya lebih suka merantau.”

Cia Kun Ti menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, kegagalannya berbesan dengan sahabat baiknya, mendiang Kwa Tin, sampai sekarang kadang-kadang membuat dia merasa menyesal bukan main dia mengenal benar sababat baiknya itu. dan tahu bahwa Kwa Tin seorang yang gagah perkasa dan berhati mulia, dan diapun suka sekali kepada Bun Houw ini. Hanya karena pengaruh isterinya, terpaksa dia membiarkan anaknya tidak menjadi isteri Bun Houw, dan menjadi isteri putera kepala daerah. dia mencoba-coba untuk menghibur hatinya, dan mengatakan kepada diri sendiri betapa bahagia hidupnya karena kini dia menjadi ayah mertua seorang mantu bangsawan yang membuat dia seorang terhormat. Namun, usahanya ini selalu gagal. Dia melihat kenyataan betapa kehormatan yang diperolehnya sebagai besan kepala daerah adalah kehormatan semu, atau kehormatan yang diperlihatkan orang-orang secara palsu dan pura-pura belaka. Bahkan dia merasa yakin babwa banyak penduduk Nan-ping yang diam-diam mentertawakan dia dan isterinya, Apalagi kalau isterinya berlagak seperti nyonya bangsawan! Dan yang lebih menyakitkan hatinya lagi adalah sikap keluarga besannya. Bukan hanya kedua orang besannya, juga mantunya sendiri seringkali bahkan memandang rendah kepada mereka. Sebagai contohnya, kalau mantunya membutuhkan sesuatu untuk dibicarakan, mantunya itu bukan datang ke rumah mertuanya, melainkan mengutus seorang petugas untuk memanggil mertuanya. Cia Kun Ti merasa seolah olah menjadi semacam bawahan saja dari mantunya.

“Heii, mau apa engkau di situ terus? Kita mau pulang sekarang! Terdengar teguran dan ternyata Nyonya Cia Kun Ti yang menegur suaminya itu dari tempat agak jauh. Baru teriakannya itu saja sudah sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang nyonya bangsawan yang halus budi pekertinya Cia Kun Ti menarik napas panjang, kembali merasa betapa dia kini sebagai seorang pelayan saja. Dia dan isterinya. Pelayan dari mantunya, putera bangsawan! Dia dan Isterinya, bahkan puteri mereka, seolah hanya menjadi pelengkap hidup Cun Hok Seng putera kepala daerah.

“’Bun Houw, aku pergi dulu. Kuharap engkau suka singgah di rumahku. Jangan sungkan, Ling Ay kini telah tinggal di rumah suaminya. Aku kadang merasa kesepian. Engkau singgahlah, Bun Houw. Biarpun engkau tidak menjadi mantuku, engkau tetap putera seorang sahabatku terbaik.”

Bun Houw merasa terharu dan cepat memberi hormat. “Entahlah, paman, akan tetapi sikap dan ucapan paman ini akan selalu teringat olehku dan kuanggap paman seorang sahabat ayahku yang amat baik. Terima kasih, paman.” Cia Kun Ti lalu pergi meninggalkan Bun Houw, bergabung dengan isteri dan anaknya dan kembali dia merasa sebagai pelengkap ketika mengikuti rombongan itu melangkah keluar dari tanah kuburan. Dia merasa muak kalau menoleh dan memandang kepada isierinya yang melangkah perlahan seperti seorang permaisuri saja, mengangguk ke kanan kiri kepada orang orang yang memberi hormat kepada rombongan mereka. Dia tahu bahwa bukan isterinya yang menerima penghormatan itu, melainkan putera kepala daerah yang menjadi mantunya. Akan tetapi yang repot menyambut penghormatan itu malah isterinya, mengangguk ke kanan kiri sambil mengatur senyum “bangsawan”!

Satelah Cia Kun Ti pergi, Bun Houw lalu melanjutkan niatnya untuk bersembahyang kepada mendiang ayah dan ibu kandungnya. Selain bersembahyang sebagai tanda penghormatan terhadap ayah ibunya melalui kenangan, juga diam-diam dia memintakan ampun kepada ayah Ibunya atas perbatalan ikatan perjodohannya dengan Ling Ay. Dia minta agar ayah dan ibunya suka mengampuni Ling Ay, dan orang tuanya, terutama ayahnya, dan dalam sembahyang itu dia menjalakan bahwa dia telah rela melihat Ling Ay digandeng pria lain sebagai isttri pria itu.

Setelah tanah kuburan itu menjadi sunyi karena para pengunjungnya sudah pulang semua. Bun Houw tinggal seorang diri. Dia masih duduk di atas tanah berumput tebal di depan makam ayah ibunya, termenung. Pertemuannya dengan Ling Ay menggugah kenangan lama. Pada hal ketika dia berkunjung ke Nan-ping, satu satunya niat di hatinya hanyalah bersembahyang di kuburan ayah ibunya. Sedikit pun dia tidak berniat untuk bertemu dengan Ling Ay dan keluarganya. Dia menganggap bahwa bubungannya dengan keluarga Cia sudah putus dan sudah tidak ada sangkut paut apapun juga antara dia dan wanita itu.

Bun Houw menarik napas panjang, lalu bangkit dan mulai membersihkan tumput dan semak-semak yang mengotori makam kedua orang tuanya. Dia tidak perlu mengenangkan Ling Ay lagi. Ia sudah menjadi iateri orang, Isteri putera kepala daerah pula! Dia tersenyum. Ling Ay menjadi mantu kepala daerah! Sungguh tidak pernah disangkanya. Sukurlah, katanya dalam hati. Sukur bahwa kini Ling Ay menjadi isteri seorang bangsawan yang kaya, dan suaminya itupun seorang laki-laki muda yang tampan. Tentu Ling Ay hidup berbahagia. Diapun sudah rela, dia ikut berbahagia kalau melihat bekas tunangannya itu hidup berbahagia. Akan tetapi, benarkah ini?

Benarlah dia rela? Bun Houw tiba-tiba menghentikan pekerjaannya dan kembali duduk termenung. Kenapa bayangan wajah Ling Ay yang semakin cantik jelita itu selalu nampak olehnya? Kenapa bukan perasaan senang yang terasa di hatinya, walaupun hatinya memaksa agar dia mengaku senang, melainkan rasa perih kalau dia membayangkan Ling Ay digandeng pria lain ? Kenapa ada perasaan iri dan cemburu?

”Kau gilai” Dia memaki diri sendiri dan seperti orang marah dia mengamuk terhadap rumput dan semak-semak, dicabutinya dengan kasar seolah-olah rumput dan semak itu yang membuat dia sengsara.

Karena dia mempengunakan kekuatan tubuhnya, maka dia dapat bekerja dengan cepat dan dalam waktu sebentar saja, semua rumput dan semak yang mengotori makam itu telah dibersihkannya, sehingga dua gundukan tanah itu kini kelihatan seperti baru saja. Hanya batu nisan sederhana yang masih nampak kotor, dengan ukiran kasar dari nama kedua ayah Ibunya. Bun Houw lalu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan batu-batu nisan itu menjadi bersih mengkilap.

Pada saat itu, tiba-tiba dia menghentikan pekerjaannya, lalu mengambil buntalan pakaiannya dan mengikatnya di punggung, dan mengambil pula tongkatnya, menyelipkan tongkat butut itu di ikat pinggangnya. Dia melihat dan mendergar datangnya tiga orang menghampiri tempat itu, akan tetapi mengira bahwa mereka tentu juga pengunjung taman kuburan itu untuk bersembahyang.

Akan tetapi, langkah tiga orang itu berhenti di dekatnya dan terdengar seorang di antara
mereka bertanya, “Hemm, inikah orangnya ?”

Dijawab suara lain, “Benar, inilah anjing tak tahu diri itu!”

Suara orang ke tiga menyusul. “Bocah gelandangan ini berani menghina nyonya muda kita? Dia patut dihajar sampai mampus!”

Karena kini merasa yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali dia dan tiga orang pendatang itu, maka Bun Houw baru tahu bahwa dialah orangnya yang mereka bicarakan dan mereka maki sebagai anjing dan bocah gelandangan. diapun membalikkan tubuhnya memandang kepada mereka dengan alis berkerut.

Mereka itu tiga orang laki-laki yang melihat pakaiannya saja jelas bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa mempergunakan kekerasan, atau yang biasa dipakai oleh para tukang pukul. Pakaian ringkas dan di pinggang mereka terselip golok. Mereka itu berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun, sikap mereka bengis dan ketiganya menyeringai dengan senyum mengejek dan memandang rendah kepada Bun Houw. Tubuh mereka yang kokoh itu menunjukkan bahwa mereka memiliki tenaga badan yang kuat dan terlatih dan senyum mereka mengandung kesadisan, membayangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang dapat merasakan kesenangan dari penyiksaan terhadap orang lain.

Bun Houw mendahului mereka bertanya, suaranya halus dan sikapnya tenang, “Sam-wi (kalian bertiga) bicara tentang seseorang, siapakah yang sam-wi bicarakan itu?”

Orang yang dahinya codet bekas luka memanjang dan yang agaknya memimpin mereka, menjawab, “Anjing geladak, siApalagi kalau bukan kamu yang kami bicarakan!”

Bun Houw mesih menahan kesabarannya. Tidak perlu bersitegang urat leher dengan orang-orang macam ini, pikirnya. “Aku tak pernah mengenal kalian bertiga, kenapa kalian datang-datang memaki dan menghina aku ? Apakah kekalahanku terhadap kalian?”

Orang ke dua yang mukanya hitam tertawa bergelak dan memandang kepada kedua temannya, “Ha ha ha, lihat, anjing ini masih berani menggonggong! Sungguh tak tahu diri!”

Kini orang ke tiga yang kumisnya berjuntai ke bawah dan jarang seperti kumis tikus, melangkah maju dan bertolak pinggang dengan tangan kiri, sedangkan telunjuk kanannya ditudingkan ke arah hidung Bun Houw.

“Keparat, engkau sungguh tak tahu diri. Perbuatanmu sudah cukup bagi kami untuk menyiksamu dan bahkan membunuhmu. Akan tetapi agar jangan engkau mampus penasaran, buka telingamu baik baik. Engkau telah lancang sekali dan berani menghina nyonya muda kami. Engkau berani mengajaknya bicara di depan umum! Perbuatan tak pantas Liu Sungguh merupakan dosa besar!”

Bun Houw mengerutkan alisnya. Hatinya merasa penasaran sekali. Dia tahu bahwa yang dimaksudkan tentulah Ling Ay! Tentu Ling Ay nyonya muda itu, akan tetapi walaupun dia tadi sudah mengkhawatirkan bahwa percakapan antara mereka berdua saja di tempat umum akan dapat merugikan kehormatan Ling Ay, dia tidak mengira bahwa akan begini berat akibatnya terhadap dirinya. Karena merasa penasaran, dia pura-pura tidak mengerti.

“Nanti dulu, sobat. Harap jangan menuduh membuta tuli! Nyonya muda siapakah yang kau maksudkan? Dan penghinaan bagaimana yang kulakukan kepadanya? Aku sungguh tidak mengerti.”

Kini si condet melangkah maju. “Engkau masih bertanya lagi? Jahanam busuk memang! Nyonya muda kami adalah isteri putera kepala daerah kami, dan engkau ini, engkau jembel gelandangan busuk, tadi di tempat ini berani menegur dan mengajak beliau bercakap cakap, itu merupakan penghinaan besar bagi keluarga kepala daerah kami! Karena itu, engkau akan kami hajar!”

“Ah, itukah yang kalian maksudkan? Dan siapa yang mengutus kalian untuk menghajar aku? Apakah kepala daerah? Atau puteranya? Atau nyonya muda itu sendiri?”

“Kami adalah pengawal mereka yang tadi mengawal dan mengawasi tempat ini untuk menjaga keamanan mereka. Kami melihat sendiri dan tidak usah majikan kami memerintah, kami berkewajiban untuk turun tangan sendiri. Nih, bersiaplah engkau untuk mampus, atau kau akan kami ampuni asalkan kau mampu menebus nyawamu.”

Bun Houw memandang dengan sikap masih tenang, akan tetapi senyumnya dibarengi kerut di antara alisaya makin mendalam, Dia cukup maklum apa yang mereka maksudkan, Juga dia tahu bahwa tiga orang ini sungguh merupakan tiga orang yang biasa mempengunakan kekerasan untuk melakukan penekanan dan pemerasan. Entah sudah berapa banyak orang yang tidak berdosa menjadi korban kekerasan dan pemerasan mereka.

“Hemm, menebus nyawa bagaimana maksud kalian?” Dia bertanya, suaranya kini tidak sehalus tadi, diam-diam memperhitungkan apa yang akan dilakukannya terhadap tiga orang jahat ini, Mereka ini sudah sepatutnya dihajar, pikirnya, agar mereka jera dan tidak berani lagi mengganggu orang lain.

Si codet menyeringai lebar dan mendekati Bun Houw. “Engkau bukan kanak-kanak lagi, masih bertanya? Kau keluarkan semua milikmu. ingin kami melihatnya apakah sudah cukup untuk menebus nyawamu. Makin besar tebusannya, makin ringanlah hukumanmu. Kalau kamu sanggup cukup, kau kami bebaskan dan boleh cepat-cepat melarikan diri keluar kota. Kalau hanya kami anggap setengah harga, kau akan kami siksa sampai setengah mati, akan tetapi tidak sampai mati. Lihat saja berapa engkau mampu bayar.”

Bun Houw mengeluarkan kantung kecil dari buntatannya dan membuka kantung itu, memperlihatkan emas yang dia dapat dari gurunya, “Apakah sebegini sudah cukup!”

Melihat emas berkilatan dalam buntalan kantung kecil itu, mata tiga orang itu terbelalak lebar seperti seekor srigala melihat darah. Seperti di komando saja, tiga buah tangan menyambar untuk merampas kantung di tangan Bun Houw itu. Akan tetapi mereka bertiga terkejut karena tiba-tiba saja kantung itu lenyap dan ternyata pemuda itu telah mengelak dan menyimpan kembali kantung kecil itu dalam buntalan pakaiannya …

“Hei, serahkan kantung itu kepada kami!” bentak si codet.

Bun Houw tersenyum. “Bagaimana? Sudah cukupkah itu untuk menebus nyawaku ?”

“Cukup, cukup … kauberikan seluruh buntalan di punggungmu itu, dan kau boleh pergi dari sini, cepat keluar kota dan tidak akan kami sakiti lagi.”

“Kalau tidak kuberikan?” tantang Bun Houw sambil memegang tongkatnya

Tiga orang itu melongo, akan tetapi akhirnya mereka saling pandang dan tertawa bergelak. “Tidak kau berikan? Akan kuhajar engkau sampai mampus, dan semua milikmu itu tetap menjadi milik kami.”

“Kalau begitu, kalian yang mengaku petugas kepala daerah ini, tiada lain hanyalah pemeras pemeras dan perampok-perampok busuk!”

Tentu saja tiga orang jagoan itu menjadi terkejut karena tidak pernah mereka sangka bahwa pemuda sederhana itu berani marah-marah dan memaki mereka!

“Jahanam busuk, engkau memang pantas dihajar sampai mampus!” bentak si kumis tikus dan dia sudah menyerang dengan tonjokan kepalan kanan ke arah muka Bun Houw. Akan tetapi, dengan sedikit menarik kepala ke belakang, tonjokan itu hanya lewat saja, mengenai angin kosong. Akan tetapi dua orang yang lain juga sudah menyerang, si codet mencengkeram ke arah leher, sedangkan si muka hitam menampar ke arah kepala Bun Houw dengan kuat sekali. Bahkan si kumis tikus yang tonjokannya luput juga sudah menyambung dengan tonjokan kepalan kiri ke arah perut.

“Hemm!” Bun Houw hanya mendengus dan begitu kedua tangannya bergerak dikembangkan, tiga orang itu terpelanting dan terjengkang, bahkan terbanting keras!

Mereka bertiga menjadi terkejut, akan tetapi juga marah sekali. Tak mereka sangka bahwa pemuda itu berani melawan, bahkan tadi mereka merasakan dorongan kedua tangan yang dikembangkan itu mengandung tenaga yang amat kuat sehingga mereka terjengkang. Mereka berloncatan bangun berdiri lagi dan tanpa dikomando lagi, mereka sudah mencabut golok dari pinggang masing-masing.

“Anjing busuk kucincang kau …!” bentak si codet yang kemarahannya meluap-luap karena ketika terbanting ke belakang tadi, kepalanya bertemu dengan batu sehingga mengucurkan darah.

“Siuuuut …!” Goloknya menyambar ganas dari depan, mengarah kepala Bun Houw yang agaknya akan dibelah menjadi dua. Namun, tubuh Bun Houw mendorong ke kiri dan sambaran golok itu luput. Bun Houw menarik kaki kanannya sambil memutar tubuh dan pada saat itu, kembali ada golok menyambar dari sebelah depan dan belakang. Dia mengelak lagi dan menyelinap di antara sinar kedua batang golok yang menyambar itu. Tiga orang lawannya menjadi semakin panas hati mereka dan semakin marah. Sambil menyumpah-nyumpah, mereka menggerakkan golok mereka, menyerang seperti berlomba saja untuk lebih dulu membacok roboh pemuda bandel itu. Akan tetapi, sampai tiga empat kali serangan, Bun Houw selalu mengelak. Dia hendak memberi kesempatan kepada tiga orang itu untuk membuka mata dan melihat bahwa sebenarnya mereka itu bukanlah lawannya yang seimbang. Namun, orang orang yang biasa mengandalkan kekerasan untuk menindas orang lain itu mana mau menyadari kelemahan sendiri. Makin banyak gagal, makin penasaran rasa hati mereka dan serangan mereka menjadi semakin gencar.

“Kalian memang manusia tak tahu diri!” tiba-tiba di antara sambaran tiga batang golok itu, Bun Houw mengeluarkan suara bentakan dan begitu dia menggerakkan tongkat bututnya menangkis, disambung dengan tamparan-tamparan tangan kanan karena tongkat itu dipegangnya dengan tangan kiri, maka tiga batang golok itu terpental dan disusul oleh tubuh mereka bertiga yang juga terpelanting roboh.

Akan tetapi dasar orang orang tak tahu diri yang bagaikan katak dalam tempurung mereka selalu merasa diri sendiri yang paling kuat dan hebat, tiga orang itu belum menyadari dan mengakui kekalahan mereka. Biarpun sekali ini mereka terbanting keras sehingga kepala terasa pening, namun mereka bangkit lagi, mengambil golok masing-masing dan menyerang semakin nekat bagaikan tiga ekor srigala yang pantang menyerah.

Bun Houw mengerutkan alisnya. Melihat datangnya tiga golok yang menyambar ganas, dengan tujuan membunuh, dia lalu menggerakkan tongkatnya dengan tangan kiri, mengerahkan tenaganya dan tongkat itu bukan menyambut golok, melainkan menyambar pergelangan lengan yang memegang golok.

Terdengar teriakan susul menyusul, dan tiga golok beterbangan, disusul tiga orang yang kini memhungkuk-bungkuk, tangan kiri memegangi lengan kanan karena lengan itu tadi bertemu tongkat dengan kerasnya, terdengar suara berkeretek dan tulang tiga buah lengan kanan itu telah patah!”

Melihat mereka kini tidak mampu melawan lagi, Bun Houw tidak tagi memperdulikan mereka. dia lalu menyelipkan tongkat di ikat pinggang, lalu bersoa ke arah kedua makam orang tuanya dan meninggalkan taman kuburan itu tanpa menengok satu kalipun kepada tiga orang itu. Mereka itu masih mengaduh-aduh sambil memegangi lengan kanan dengan tangan kiri, hampir menangis saking nyerinya dan baru sekarang mereka melihat kenyataan bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian tinggi! Namun, tetap saja mereka tidak menyadari bahwa pemuda itu masih mengampuni mereka dan tidak membunuh bahkan tidak melukai secara berat, hanya menangkis dan membuat lengan kanan mereka patah tulang saja. Setelah pemuda itu tidak nampak lagi, baru mereka meninggalkan tempat itu, mengambil golok mereka dan kini mereka kehilangan segala kegirangan mereka, menekuk lengan kanan dan menahan lengan itu dengan tangan kiri, kemudian merekapun kembali ke kota untuk melapor kepada atasan mereka, gelisah karena mereka tentu akan mendapat kemarahan dari atasan mereka.

***

“Sungguh engkau seorang perempuan yang tidak tahu malu!” Mungkin sudah lima kali Cun Hok Seng meneriakkan kata-kata itu kepada Cia Ling Ay, isterinya yang hanya duduk di atas kursi dengan muka menunduk, muka yang kemerahan namun pandang mata yang ditundukkan itu penuh dengan perasaan marah dan penasaran. Suaminya telah menuduhnya secara keji! Begitu tiba di rumah, sepulang mereka dari taman kuburan, suaminya memanggilnya, juga memanggil ibunya dan mereka berdua kini berada di dalam kamar itu, menjadi bulan bulanan kemarahan putera kepala daerah itu.

“Sudah kukatakan bahwa aku tidak melakukan sesuatu yang hina!” Akhirnya ia membantah sambil membalikkan tubuh, menghadapi suaminya dan memandang dengan sinar mata penasaran. Suaminya tadinya mondar mandir di dalam kamar itu, memarahi isterinya dan ibu mertuanya bengantian.

Cun Hok Seng menahan langkahnya dan berdiri di depan isterinya. mukanya merah sekali, matanya bersinar penuh kemarahan. “Apa kau bilang? Engkau mengadakan pertemuan dan bercakap cakap berdua saja dengan seorang laki-laki asing, dan kau masih berani bilang tidak melakukan sesuatu yang hina? Perbuatan itu sudah cukup hina, merendahkan martabatku, menodai kehormatanku. Apakah engkau maksudkan bahwa baru disebut hina kalau engkau sudah tidur bersama dia di satu ranjang ?”

“Kau tidak berhak menuduh sekeji itu!” Kini Ling Ay bangkit berdiri dan memandang suaminya dengan kemarahan meluap. “Sudah kuceritakan bahwa dia itu bukan orang asing, namanya Kwa Bun Houw dan dahulu orang tuanya adalah sahabat baik orang tuaku.”

“Bagus! Kalau begitu memang engkau sudah kenal baik dengan dia, maka berjanji mengadakan pertemuan di taman kuburan, ya ?”

“Itu tidak benar! Ketika selesai bersembahyang di makam keluarga Cun dan keluarga Cia, dan melihat engkau bercakap-cakap dengan para temanmu, aku keisengan dan ingin bersembahyang di depan kuburan mendiang paman Kwa Tin dan isterinya. Dan selagi bersembahyang itulah dia muncul! Kami tidak pernah saling jumpa sejak enam tahun yang lalu, maka kemunculannya itu suatu hal yang kebetulan saja dan karena berjumpa setelah berpisah bertahun-tahun, anehkah kalau kami bercakap-cakap sedikit dan hanya sebentar?”

“Bohong! Aku tidak percaya! Kalian tentu mempunyai hubungan kotor! Ibu, bayo kau akui saja, bukankah antara Ling Ay dan pemuda itu ada hubungan yang amat akrab?”

Sejak tadi, nyonya Cia Kun Ti hanya mendengarkan saja dengan hati kecut dan muka pucat. Ia merasa menyesal sekali mengapa puterinya masih mau bercakap-cakap dengan Bun Houw sehingga hal itu dilihat para pengawal mantunya dan dilaporkan. Kini mantunya marah-marah, ia pikir bahwa urusan dahulu dengan Bun Houw tidak perlu disembunyikan, karena kalau kelak mantunya mengetahui dari orang lain, hal itu bahkan akan membuat putera kepala daerah itu semakin marah, mengira bahwa ia memang sengaja menyembunyikan kenyataan itu.

“Sesungguhnya begini, mantuku yang baik. Benar seperti yang diceritakan Ling Ay, pemuda itu bukan orang asing. Bahkan dahulu, ketika masih sama-sama kecil, oleh ayah kedua pihak diadakan perjanjian ikatan perjodohan antara Ling Ay dan Bun Houw …”

“Ahhh, begitukah?” Cun Hok Seng berseru sambil tersenyum mengejek.

Ling Ay mengerutkan alisnya, diam-diam ia mencela ibunya yang menceritakan hal-hal lampau yang sebenarnya tidak perlu disebut-sebut.

“Akan tetapi, sejak kematian keluarga Kwa suami isteri, sejak Bun Houw menjadi yatim piatu, ikatan perjodohan itu dibikin putus. Hal itu sudah terjadi enam tahun yang lalu.”

“Hemm, bagus sekali! Tentu pertemuan di taman kubuian itu untuk melepas rindu antara dua orang yang dulu saling bertunangan! Memalukan!”

“Sama sekali tidak! Semua itu fitnah, hanya dugaan, tidak benar!” Ling Ay membantah marah.

“Ibu, bawa ia ke kamar dan tidak boleh keluar sebelum kuperintahkan! Orang itu, siapa namanya tadi? Kwa Bun Houw? Ya. dia harus dibunuh.”

“Ihhh …!” Mendengar ini, Ling Ay mengeluarkan jeritan kaget.

“Benar, memang dia harus dibunuh, anak kurang ajar dan tidak tahu sopan itu!” Nyonya Cia Kun Ti berkata karena memang ia menyesal sekali bahwa Bun Houw berani menemui Ling Ay di taman kuburan sehingga kini akibatnya, ia dan puterinya mendapat kemarahan besar dari mantunya.

Mendengar jerit Ling Ay dan melihat betapa wajah isterinya itu menjadi pucat mendengar dia akan membunuh Bun Houw, hati Cun Hok Seng menjadi semakin panas.

“Kalian saling mencintai. Keparat. Panggil Ibu, bawa ia pergi ke kamarnya!”

Nyonya Cia Kun Ti cepat menggandeng tangan puterinya dan menariknya pergi meninggalkan kamar Cun Hok Seng yang sedang marah-marah itu. Setelah tiba di dalam kamar. ia menutupkan daun pintu dan memarahi anaknya yang segera melempar tubuh ke atas pembaringan sambil menangis.

“Kau memang anak yang bodoh! Tadipun aku sudah marah dan merasa khawatir melihat engkau bicara dengan jahanam itu di taman kuburan!” Nyonya itu mengomel panjang pendek.

Ling Ay tidak memperdulikan, hanya menangis sambil menutupi mukanya dengan bantal. Ia masih merasa ngeri mendengar ancaman suaminya hendak membunuh Bun Houw. Teringat akan itu, ia membuka bantalnya dan berkata kepada ibunya yang masih mengomel itu.

“Ibu, kenapa dia hendak membunuh Houw-ko? Dia sama sekali tidak bersalah! Dia sama sekali tidak berdosa!”

“Huh, engkau malah memikirkan keselamatan jahanam itu? Pikirkan keselamatan kita sendiri! Dia memang harus dibunuh, biar kita cepat menjadi bersih dan tidak lagi mendapat marah.”

“Tapi, dia sama sekali tidak bersalah, ibu. Dia datang untuk menyembahyangi makam ayah ibunya. Dia tidak tahu bahwa aku berada di sana. Kami saling jumpa hanya karena kebetulan saja, tidak kami sengaja. Dan karena sudah berjumpa di depan makam orang tuanya, kami hanya saling sapa dan saling tegur. Bukankah itu wajar dan jamak? Dia sopan, bahkan memberi selamat kepadaku atas pernikahan ku dengan pria lain. Dan sekarang, dia akan dibunuh …! Aih, ibu, apa yang harus kulakukan … ? Pembunuhan itu harus dicegah! Houw-ko tidak bersalah apa-apa …!”

Akan tetapi, lbjnya marah-marah. “Kau anak tolol! Biar seribu orang Bun Houw dibunuh, asal kita selamat, tidak mengapa. Kenapa engkau ribut-ribut? Sudahlah, kalau suamimu mendengar omonganmu ini, dia akan menjadi semakin marah!”

Ling Ay hanya dapit menangis semakin sedih dengan hati gelisah memikirkan Bun Houw yang akan dibunuh tanpa kesalahan apapun.

***

“Kalian ini gentong gentong nasi yang tiada guna! Menghajar seorang pemuda gelandangan saja tidak mampu! Huh, malah patah tulang lengan. Sungguh memalukan sekali dan kami ikut merasa malu!” bentak kakek berusia enam-puluhan tahun itu.

Dia seorang kakek yang biarpun usianya sudah enampuluh tahun, namun wajahnya masih nampak segar dan tubuhnya juga masih nampak kokoh kekar walaupun tidak terlalu tinggi besar melainkan sedang sedang saja. Sepasang matanya mencorong tajam dan rambutnya yang sudah bercampur banyak uban itu disisir rapi dan diikat dengan pita sutera biru. Akan tetapi pakaiannya serba putih, dari sutera mahal dan di pinggangnya tengantung sebatang pedang. Dia ini bukan orang sembarangan dan di dunia kang-ouw namanya sudah amat terkenal sebagal Pek-i Mo-ko (Iblis Baju Putih). Akan tetapi, di kota Nan-ping dia lebih dikenal sebagai Ciong Tai-hiap (Pendekar Besar Ciong)! Sungguh seorang yang memiliki pribadi aneh. Di dunia kang-ouw dikenal sebagai Iblis, akan tetapi masyarakat menyebutnya pendekar! Sebutan pendekar ini setelah dia menjadi pembantu utama dari kepala daerah Nan-ping, dan biarpun tidak resmi menjadi komandan pasukan pengawal, namun sesungguhnya Ciong Kui Le inilah yang menjadi kepala pengawal dan kepala semua tukang pukul dan jagoan yang menghambakan diri kepada kepala daerah! Karena dia dikenal sebagai kepala penjaga keamanan seburuh keluarga kepala daerah Cun, tidak aneh kalau dia disebut Tai-hiap (Pendekar Besar), Apalagi karena memang semua orang tahu betapa lihai Ilmu silat dan ilmu pedang orang she Ciong ini.

Dia duduk dalam sebuah ruangan dari bangunan yang berada di sebelah gedung tempat tinggal kepala daerah Cun. Bangunan ini cukup besar dan memiliki banyak kamar. Di tempat inilah berkumpul semua jagoan yang bekerja untuk kepala daerah. Merekalah yang bertugas mengamankan kota Nan-ping dari rongrongan orang jahat. Karena mereka adalah tokoh-tokoh dunia kang-ouw, bahkan Pek-I Mo-ko amat ditakuti dan menjadi datuk sesat, maka setelah dia dan anak buahnya yang menjamin keamanan kota Nan-ping, maka tidak ada penjahat berani berkutik. Kota Nan-ping menjadi aman dari kejahatan karena dilindungi oleh penjahat-penjahat besar! Akan tetapi, kalau pemerasan dari penjahat tidak pernah terjadi, maka pemerasan satu-satunya datang dari kepala daerah melalui peraturan-peraturan yang mencekik leher rakyat dan penduduk Nan-ping pada umumnya! Sudah bukan rahasia lagi betapa para hartawan mengalirkan sebagaian besar kekayaan dan penghasilannya ke dalam rumah gedung kepala daerah Cun! Semua ini mereka lakukan demi keamanan diri dan usaha dagang mereka. Kalau tidak, maka banyak sudah terjadi pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukan secara sembunyi, tentu saja oleh para jagoan yang dipimpin oleh Ciong Tai-hiap! Dan kalau ada penjahat dari luar daerah yang belum tahu berani mengacau, tampillah sang pendekar berpakaian putih ini untuk menghajarnya, bahkan ada pula yang dibunuhnya dan digantungnya di depan umum sehingga pada umumnya, penduduk mengagumi kakek baju putih yang di tempat umum tidak pernah melakukan kekerasan itu! Kekerasan yang dilakukan di depan umum hanya terhadap para penjahat dan sikapnya terhadap rakyat melindungi! Hanya mereka yang pernah menentang kehendak kepala daerah saja yang tahu betapa sadisnya “pendekar” ini menyiksa orang untuk mematahkan semangat perlawanan mereka terhadap kepala daerah Cun.

Ciong Tai-hiap ini pula yang menyuruh tiga orang anak buahnya untuk menghajar Bun Houw, setelah dia mendapat perintah dari Cun Hok Seng yang mendengar laporan dari seorang pengawalnya bahwa isterinya tadi bercakap-cakap dengan seorang pemuda asing.

“Hajar pemuda itu sampai cacat dan usir dia pergi dari Nan-ping,” demikian perintah Cun Hok Seng pada Ciong Tai-hiap yang melanjutkan perintah itu kepada tiga orang pembantunya yang terkenal dengan ketajaman golok dan kekerasan tangan mereka. Akan tetapi apa yang terjadi? Tiga orang jagoan yang disuruhnya menghajar Bun Houw itu pulang dengan lengan kanan mereka patah tulang! Maka, tidak mengherankan kalau dia marah-marah. Biarpun yang dikalahkan orang lain itu bukan dia, hanya anak buahnya, itu pun bukan anak buah yang pilihan, namun hal itu sama saja dengan menampar pipinya, merendahkan dan menghinanya.

Yang hadir dalam ruangan itu ada belasan orang. Seorang di antara mereka, melihat pemimpinnya marah dan mendengar bahwa tiga otang rekannya itu patah tulang lengan kanan mereka oleh lawan, segera berkata, “Ciong toako (kakak tua Ciong), agaknya orang itu berisi, maka biarlah aku yang akan mewakili mu untuk menghajarnya.”

Semua orang memandang kepada pembicara itu dan mereka semua merasa yakin bahwa kalau yang turun tangan orang ini, maka segalanya tentu akan beres. Dia seorang pria berusia empatpuluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus sekali sehingga kedua pipinya sampai peyot dan cekung seperti orang berpenyakitan. Akan tetapi, semua orang tahu belaka siapa adanya tokoh yang dijuluki Bu-tek Kiam-mo (Setan Pedang Tanpa Tanding) ini! Bahkan kakek pakaian putih itu sendiri mengangguk-angguk, akan tetapi dia berkata.

“Bukan engkau, Kiam-mo. Engkau sudah memiliki tugas sendiri yang lebih penting sebentar malam, bukan Engkau barus membantu Ngo-kwi (Lima Iblis) yang menerima tugas dari Loya (Tuan Tua, yaitu Kepala Daerah), dan tugas itu harus kalian berenam selesaikan dengan baik karena amat penting sekali. Menghajar seorang bocah kurang ajar bukan hal yang terlalu penting. Yang lain saja!”

“Ha-ha-ha. benar sekali!” Tiba-tiba seorang di antara mereka, laki-laki yang tubuhnya bulat seperti bola, usianya empatpuluhan, tertawa bengelak. Orang ini memang aneh. Pakaiannya kedodoran dan bajunya tidak mempunyai kancing lagi bagian depan sehingga perutnya yang buncit nampak bagian atas, dadanya juga telanjang, nampak kulit dada putih, dan sepasang bukit dada yang besar seperti kepunyaan wanita. Saking gendutnya, dia nampak, seperti bola memiliki kaki dan tangan. Anehnya, kepalanya kecil, seperti kepala kanak-kanak, matanya sipit dan mulutnya lebar separuh kepala yang selalu tertawa dan selalu dijejali makanan dan minuman.

“Untuk menyembelih, seekor kelenci. perlu apa menggunakan golok besar? Kalau hanya menghadapi seorang bocah ingusan, serahkan saja kepadaku, toa-ko. Katakan siapa namanya, di mana aku dapat menangkapnya, lalu aku harus apakan dia. Dihajar setengah mati, diseret ke sini, atau dibunuh sekaligus. Katakan dan perintahkan saja. Cukup aku, tidak perlu merepotkan Bu-tek toako Bu-tek Kiam-mo! Ha-ha-ha!”

Sehabis bicara dan tertawa lebar, si gendut ini menyambar guci arak di atas meja, lalu menuangkan isi guci ke dalam mulutnya yang lebar sehingga terdengar suara menggelogok masuknya arak ke dalam perutnya yang seperti gentong besar itu.

Sekali ini, Pek-I Mo-ko mengangguk-angguk dan tersenyum lega. “Memang tepat sekali kalau engkau yang maju, Gu-siauwte (adik Gu). karena kalau yang maju kurang dapat diandalkan, kukhawatir akan gagal lagi. Dan kalian bertiga, cepat obati luka di lengan, kalian, kemudian temani Gu-siauwte ini dan ajak dia mencari bocah itu sampai dapat! Gu-siauwte, sebaiknya kalau bertemu dengan dia, habisi saja dan usahakan agar mayatnya tidak dilihat orang.”

“Ha-ha-ha, itu perkara mudah, toako. Tanggung sebelum hari gelap, bocah itu sudah tidak ada lagi, baik nyawanya maupun badannya, ha-ha-ha!” Dia lalu bangkit dan memberi isarat kepada tiga orang jagoan yang tadi dikalahkan Bun Houw, lagaknya seperti memberi isarat kepada tiga ekor anjingnya saja. Memang dalam hal tingkatan, si gendut ini jauh lebih tinggi dari pada tiga jagoan yang patah tulang lengannya itu. Dia bernama Gu Mouw, berjuluk Siauw-bin Pek-ti (Babi Putih Muka Senyum) sesuai dengan kulitnya yang putih mulus dan mukanya yang selalu tersenyum, dan dalam urutan kedudukannya di dalam kelompok jagoan yang dipelihara Kepala Oaerah Cun di kota Nan-ping, dia menduduki tingkat ke tiga! Orang partama tentu saja Pek-i Mo-ko Ciong Kui Le, orang ke dua adalah si kurus kering Bu-tek Kiam-mo Bouw Swe dan orang ke tiga adulan si gendut ini. Masih ada orang ke empat yang merupakan sekelompok dari lima orang bersaudara yang dikenal dengan sebutan Ngo-kwi (Lima Iblis) yang tadi disebnt-sebut oleb Pek-I Mo-ko. Tiga orang jagoan yang patah tulang lengan kanannya itu dengan girang lalu meninggalkan ruangan mengikuti Siauw-bin Pek-ti Gu Mouw. Mereka merasa lega tidak menerima hukuman, dan merekapun merasa yakin bahwa kalau sampai orang ke tiga ini maju, tentu pemuda itu akan dapat dikalahkan. Mereka masih memiliki lengan kiri yang sehat, dan kalau pemuda sudah roboh, mereka akan dapat dengan sepuas hati membalas dendam sakit hati mereka, mereka akan mematah-matahkan seluruh tulang di tubuh pemuda itu! Bagi orang yang sudah terbiasa menjadi hamba nafsu dendam, perasaan dendam memang manis dan mendatangkan semangat! Karena nafsu dendam ini, mereka segera mengobati lengan yang patah tulangnya, membalut kuat dan menggantungnya, kemudian mereka bertiga tidak ketinggalan membawa golok mereka, mengikuti si gendut Gu Mouw yang masih terus tertawa-tawa gembira dan nampaknya dia tenang saja, seolah-olah tugasnya itu merupakan pekerjaan sepele yang akan dapat dirampungkan dengan amat mudahnya.

Nan-ping bukan sebuah kota yang terlalu luas, Apalagi bagi para jagoan yang sudah mengenal seluruh seluk beluk kota itu, dan di mana-mana mereka disambut orang dengan ketakutan dan patuh sehingga untuk mencari Bun Houw bukan pekerjaan sukar bagi mereka. Sebelum lewat lengah hari, mereka sudah mendapat keterangan bahwa pemuda yang mereka cari itu baru saja keluar dari kota Nan-ping. melalui pintu gerbang barat. Mereka segera melakukan pengejaran dengan menunggang kuda dan benar saja, kurang lebih dua li di luar kota Nan-ping, mereka dapat menyusul pemuda yang sedang berlenggang seenaknya itu.

Pemuda itu memang Bun Houw. Dia meninggalkan kota Nan-ping, tanah tumpah darahnya, kampung halamannya, kota di mana dia dilahirkan dan dibesarkan selama lima belas tahun, kota di mana terdapat segala macam kenangan dari yang paling manis sampai yang paling pahit. Terpaksa dia meninggalkan kota itu. Untuk apa berlama-lama kalau hanya akan mendatangkan perasaan pahit dan juga ancaman-ancaman kedamaian hidupnya? Di sana ada Ling Ay yang sudah menjadi mantu kepala daerah! Dan suaminya agaknya memusuhinya, mungkin karena cemburu melihat dia bercakap-cakap sebentar dengan Ling Ay di depan makam ayah ibunya. Dia harus pergi, secepatnya. Bukan karena dia takut menghadapi ancaman itu. Sama sekali bukan, melainkan dia harus cepat pergi demi ketenteraman rumah tangga Ling Ay!

Ketika mendengar derap kaki beberapa akor kuda dari arah belakang, dia masih belum menyangka buruk, hanya mengira bahwa tentu ada rombongan orang berkuda meninggalkan kota Nan-ping pula. Akan tetapi tiba-tiba setelah empat ekor kuda datang dekat di belakangnya dia mendengar bentakan orang.

“Orang muda yang sombong, berhenti dulu!”

Bun Houw menahan langkahnya, memutar tubuhnya dan dia melihat tiga orang penjahat yang dia patahkan tulang lengannya tadi, berada di atas punggung kuda masing-masing dengan sikap angkuh dan marah, dengan lengan kanan dibalut dan digantung di depan dada. Orang ke empat adalah seorang yang tubuhnya gendut bukan main, dan agaknya amat berat sehingga kuda yang ditungganginya berpeluh dan terengah-engah, tidak seperti tiga ekor kuda lainnya. Akan tetapi si gendut itu tidak kelihatan jahat, bahkan mukanya yang kecil kekanak-kanakan itu dipenuhi senyum mulutnya yang lebar.

“Hemm, kiranya kalian bertiga yang datang mengejarku. Ada Apalagi?” Bun Houw bertanya dengan sikap tenang.

“Ha-ha-ha-ha!” Laki-laki gendut itu tertawa bergelak, ketika dia tertawa itu, perutnya yang bagian atasnya nampak karena bajunya tidak ada kancingnya, bergelombang dan kuda yang ditungganginya gemetar keempat kakinya. Melihat ini, diam-diam Bun Houw mengerti bahwa si gendut ini bukan orang sembarangan dan memiliki tenaga yang dahsyat.

“Bagus, bagus! Jadi engkau inikah pemuda yang telah mematahkan tulang tiga orang jagoan kalahan ini? Heh-heh-heh!”

Diapun merosot turun dari atas punggung kuda. melalui belakang kuda! Bun Houw merasa geli dan dia tersenyum, akan tetapi tiga orang tukang pukul itu cemberut karena diejek sebagai jagoan kalahan! Namun, tentu saja mereka tidak berani berkutik atau mengeluarkan bantahan terhadap si gendut yang merupakan seorang atasan bagi mereka.

Karena Bun Houw belum tahu siapa si gendut itu yang sikapnya terhadap dirinya tidak memusuhi, maka diapun bersikap ramah, mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan lalu menjawab, “Sesungguhnya aku tidak pernah mempunyai pikiran hendak mematahkan tulang lengan mereka. Aka tetapi mereka itu keliru mempergunakan tangan, tidak untuk bekerja dengan baik melainkan hendak membunuhku, sehingga mereka kesalahan tangan dan akibatnya tulang mereka patah. Sungguh, mereka sendiri yang mencari penyakit dan mereka yang bersalah sedangkan aku tidak pernah mengganggu mereka, mengenal merekapun tidak.”

Bun Houw mengira bahwa si gendut yang kelihatan ramah itu tentu akan dapat menerima, alasannya dan mempertimbangkan keadaannya dengan bijaksana. Oleh karena itu, alangkah terkejutnya mendengar si gendut itu. sambil mulutnya masih tersenyum lebar, berkata dengan lantang.

“Orang muda, aku datang untuk membunuhmu! Terserah kepadamu apakah engkau akan mengambil nyawamu sendiri atau harus kupaksa nyawamu meninggalkan tubuhmu, ha-ha-ha !”

Berkerut sepasang alis Bun Houw dan kini matanya berkilat ketika dia memandang wajah si gendut yang seperti anak kecil itu. Kiranya si gendut ini hanya nampaknya saja baik hati namun sesungguhnya memiliki kekejaman yang tidak kalah dibandingkan tiga orang jagoan yang patah tulang lenpan mereka itu.

“Ah, kiranya begitu? Sobat yang gendut, coba katakan, mengapa engkau datang hendak mengambil nyawaku?” tanyanya, sikapnya masih tenang sekali dan hal ini saja sudah membuat Siauw bin Pek-ti Gu Mouw penasaran. Orang mau diambil nyawanya kok masih enak-enak saja. sungguh tak tahu diri benar pemuda ini!

“Bocah sombong,” katanya dan karena mulutnya masih menyeringai tersenyum, tahulah Bun Houw bahwa senyum itu bukan senyum ramah atau buatan, memang mulutnya terlalu lebar sehingga selalu nampak tersenyum dan terbuka.

“Engkau berhadapan dengan tuan besarmu Gu Mouw yang hendak mengambil nyawamu! Apakah engkau tidak cepat berlutut minta ampun?”

“Sobat gendut she Gu, engkau bukan malaikat maut pencabut nyawa, dan akupun bukan orang yang mudah saja menyerahkan nyawa! berhati-hatilah, jangan sampai kesalahan tangan seperti tiga orang temanmu itu dan engkau sendiri yang akan menderita.” Dalam ucapan itu, walaupun halus. Bun Houw telah memperingatkan dan mengejek calon lawannya.

“Ha-ha-ha, bagus! Aku lebih senang kalau engkau melawan, menggembirakan sekali! Nah, coba kau ia sambut ini, orang muda!” Tiba-tiba saja si gendut sudah menerjang ke depan dan kedua tangannya dengan cepat sekali telah mengirim pukulan dari kanan kiri, yang kanan menghantam ke arah pelipis kiri Bun Houw yang kiri menyambar dahsyat untuk menghantam lambung.

Namun, Bun Houw, yang sudah bersiap siaga itu dengan mudah melangkah mundur dua langkah dan dua pukulan itupun. hanya mengenai angin saja. Namun, si gendut yang bundar itu memang hebat. Biarpun tubuhnya bulat dan berat, dia mampu bengerak cepat dan begitu kedua pukulannya tidak mengenai sasaran, tubuhnya sudah menggelundung dengan cepat. Nampaknya saja menggelinding saking besarnya perut itu namun sesungguhnya, dia melangkah cepat ke depan dan kembali dia sudah memukul dengan kedua tangannya didorong ke depan, telapak tangannya terbuka.

(Bersambung jilid ke 03)

Jilid 03

-OANGIN pukulan yang kuat menyambar. Bun Houw yang ingin mengetahui sampai di mana kekuatan orang gendut itu, sengaja menggerakkan kedua tangannya menyambut kedua tangan lawan yang dikembangkan.

“Dessss!” Dua pasang telapak tangan itu bertemu dan saling melekat! Dan dalam adu tenaga ini, si gendut terkejut bukan main karena dia merasa betapa seluruh tubuhnya tengetar bebat, tanda bahwa tenaga sakti dari lawannya yang masih muda itu sudah amat kuatnya! Akan tetapi, dengan gerakan yang sama sekali tidak tersangka-sangka, si gendut itu menggerakkan kepalanya yang kecil ke depan dan menghantamkan kepalanya ke arah muka Bun Houw!

Pemuda itu terkejut bukan main, karena tidak menyangka sama sekali, dia hanya mampu miringkan kepalanya saja.

“Pukkkk!” Pipinya dihantam dengan kerasnya oleh kepala yang kecil namun keraseperti baja!

Bun Houw melepaskan kedua tangannya yang menempel pada tangan lawan, dan dia agak terhuyung ke belakang, kepalanya terasa pening. Dia menggoyang-goyang kepala dan terasa betapa pipinya panas dan nyeri. Dia mengusap pipinya, memandang ke depan dan si gendut masih tertawa. Kiranya si gendut ini memiliki ilmu menyerang dengan kepalanya yang kecil! Karena terkejut, Bun Houw kurang cepat dan tahu-tahu Gu Mouw sudah menyerang lagi, kini kaki kanannya menendang dengan kekuatan dahsyat, disusul kaki kiri. Bun Houw terpaksa kembali melompat ke belakang untuk menghindarkan diri. Akan tetapi ternyata tendangan si gendut itu merupakan Ilmu tendangan semacam Soan-kong-twi (Tendangan Angin Puyuh) yaitu tendangan berantai yang sambung-menyambung. Kadang-kadang tubuh yang bundar itu seperti menggelinding dan dari bola menggelinding itu mencuat kedua kaki yang bergantian melakukan tendangan bertubi-tubi.

Karena repot juga menghadapi tendangan-tendangan berantai yang amat cepat, kuat dan berbahaya itu, terpaksa Bun Houw mencabut tongkat butut dari pinggangnya dan menangkis tendangan itu dengan tongkatnya. Dia tidak mungkin harus mengelak terus.

“Tak! Tak! Tak!” Berulang kali kedua kaki si gendut itu bertemu tongkat dan dia marasa betapa bagian kaki yang tertangkis tongkat itu nyeri, maka terpaksa dia menghentikan tendangan-tendangannya. Kini barulah senyum lebar di mukanya itu mulai menyempit. Baru dia tahu bahwa pemuda ini memang sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Sejak tadi, belum pernah dia mampu mengenai tubuh pemuda itu dengan pukulan atau tendangan, dan hasil benturan kepalanya tadipun tidak ada artinya. Bahan kini kedua kakinya terasa nyeri, Apalagi kalau yang tertangkis itu tulang kering kakinya. Marahlah Siauw-bin Pek-ti Gu Mouw. Akan-tetapi, dasar mulutnya sudah terlanjur lebar, biarpun dalam keadaan marah, tetap saja dia kelihatan seperti tersenyum!

“Rrrtttt …!” Nampak sinar terang ketika tangannya melolos sebatang rantai yang panjangnya ada satu setengah meter, terbuat dari pada besi dan berwarna putih seperti perak. itulah senjata yang ampuh dari Siauw-bin Pek-ti Gu Mouw, yaitu sehelai rantai yang berat. Tanpa banyak cakap lagi, si gendut sudah memutar rantai itu dan melakukan penyerangan. Rantai besi itu menyambar-nyambar dahsyat, mengeluarkan suara bersuitan.

Bun Houw kembali mempengunakan kelincahan tubuhnya, mengelak dengan loncatan-loncatan. Namun, gulungan sinar putih itu terus mengejarnya. Pada suatu saat, nampak seolah-olah Bun Houw seperti seorang kanak-kanak sedang bermain loncat tali! Dia berloncatan menghindar dan rantai itu menyambar-nyambar lewat bawah kakinya dan atas kepalanya !

“Trang-trang … !” Kini Bun Houw mulai menangkis dengan tongkatnya.

Kembali si gendut terkejut. Tangkisan tongkat itu mengeluarkan bunyi seolah-olah rantai di tangannya bertemu dengan benda logam yang keras! Jelas bahwa tongkat yang nampaknya butut itu menyembunyikan senjata logam kerasnya. Juga pertemuan dengan tongkat itu membuat rantai di tangannya terpental dan telapak tangannya terasa panas sekali. Diapun menjadi semakin penasaran dan dia memutar rantainya lebih gencar lagi. Akan tetapi, kini Bun Hou tidak hanya mengelak dan menangkis, melainkan mulai membalas dengan tamparan tangan dan tendangan kaki, dan juga totokan-totokan yang dilakukan dengan tongkatnya. Dari suhunya, Bun Houw menerima banyak macam ilmu silat, akan tetapi yang paling hebat merupakan keistimewaan gurunya, yaitu ilmu menotok jalan darah, lalu ilmu tongkat dan yang terakhir ilmu pedang. Melihat tingkat kepandaian lawan, Bun Houw masih belum mau menghunus pedang dari dalam tongkat bututnya. Gurunya tidak menghendaki dia sembarangan menghunus pedang, karena ilmu Pedang Kilat amat berbahaya. Sekali pedang itu tercabut sukar dicegah robohnya lawan dalam keadaan terluka parah atau tewas! Karena itulah, Bun Houw masih tidak mau mencabut pedangnya. Dia tidak mengenal si gendut ini, tidak mempunyai permusuhan pribadi. Si gendut hanyalah seorang utusan, seorang anak buah, maka tidak semestinya kalau dia melukainya dengan berat, Apalagi membunuhnya!”

Ilmu tongkat yang dimainkan Bun Houw memang merupakan ilmu tongkat yang amat hebat. Gerakannya cepat dan sukar diduga. Kalaupun tongkat itu hanya merupakan sebatang tongkat butut, namun sambarannya mendatangkan angin pukulan yang dahsyat, dan si gendut Gu Mouw maklum bahwa tongkat di tangan lawan itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Buktinya ketika tongkat itu menangkis rantainya, dia merasa betapa rantainya terpental dan telapak tangan yang memegang ujung rantai menjadi panas, itu saja sudah membuktikan bahwa selain pemuda itu memiliki tenaga kuat, juga tongkat itu bukan benda lunak dan lemah !

Melihat betapa sejak tadi si gendut tidak mampu merobohkan Bun Houw, sebaliknya kini malah terdesak hebat dan terus main mundur, tiga orang jagoan bawahannya menjadi penasaran, khawatir dan tidak sabar lagi. Diawali aba-aba si codet yang menjadi pemimpin, mereka lalu menerjang maju untuk mengeroyok Bun Houw, mempengunakan golok mereka yang dipegang di tangan kiri. Tentu saja mereka bertiga tidak akan gila berani maju lagi kalau di situ tidak ada Siauw-bin Pek-ti Gu Mouw. Mereka mengharap bahwa dengan adanya Gu Mouw, mereka bertiga akan mampu membuat Bun Houw roboh!”

Melihat majunya tiga orang yang sudah patah tulang lengan kanan mereka itu, Bun Houw sama sekali tidak menjadi gentar, bahkan dia menjadi marah. Tiga orang Liu Sungguh tidak tahu diri! Maka, dia lalu menambah tenaganya dan pada saat rantai besi di tangan Gu Mouw menyambar ke arah kepalanya, dia menangkis dengan tongkat dan sengaja memutar tongkat itu dengan menggetarkan ujungnya sehingga ujung rantai melibat tongkatnya Dengan tenaga sentakan atau kejutan, dia menarik. Tubuh gendut itu tertarik mendekat dan Bun Houw menyambung tarikannya itu dengan tendangan kilat ke arah tangan kanan di ujung rantai.

“Dukk!” Tendangan dengan ujung kaki itu tepat mengenai tangan yang memegang gagang rantai, keras dan tepat. Gu Mouw mengeluh dan tak dapat dipertahankannya lagi, rantai itu dan terlepas dari tangannya!

Bun Houw mengayun tongkatnya dan rantai itupun terputar-putar, membentuk lingkaran sinar putih menyambut tiga orang jagoan yang mengepungnya dengan serangan golok.

Demikian kuat dan cepatnya rantai terputar. Begitu tiga batang golok menyambut dan menangkis, tiga batang golok itu terlepas dan terlempar jauh dan rantai masih terus berputar menghantam ke arah tiga orang itu. Mereka berteriak kesakitan dan roboh terjungkal dengan kepala berdarah! Mereka bertiga tidak tewas, juga luka mereka tidak membahayakan nyawa, namun kulit muka mereka pecah terkena hantaman rantai dan mengeluarkan banyak darah.

Melihat kehebatan pemuda itu, Gu Mouw maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkannya, maka diapun menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Akan tetapi, Bun Houw berseru, “Sobat she Gu, terimalah kembali senjatamu ini! Dan tongkatnya diputar, rantai itu ikut terputar kencang, lalu ketika tongkat dipantulkan kuat, rantai yang masih berputar itu terbang ke arah Gu Mouw yang melarikan diri!

Mendengar teriakan lawannya, Gu Mouw menahan langkahnya, lalu. membalik dan menggunakan kedua tangan untuk menerima rantainya yang berputar-putar itu. Rantai itu dapat ditangkapnya, akan tetapi saking kerasnya rantai berputar, kedua ujungnya menghantam perut dan pundaknya. Dia mengaduh-aduh seperti seekor babi disembelih, bergantian dia mendekap perut dan pundak yang luka berdarah. Kemudian, terhuyung-huyung dia melarikan diri dengan rantai masih melibat tubuhnya, diikuti tiga orang temannya.

Dengan susah payah mereka meloncat ke atas punggung kuda mereka yang tadi dibiarkan lepas tak jauh dari situ, Bun Houw tidak mengejar dan baru setelah empat orang itu melarikan diri, dia merasa tertarik sekali untuk melakukan penyelidikan. Mengapa mereka itu demikian bernafsu untuk membunuhnya? Pertama mengirimkan tiga orang jagoan itu, kemudian mengirim si gendut yang memang jauh lebih lihai dibandingkan mereka. Melihat betapa mereka itu bersungguh-sungguh dalam usaha mereka untuk membunuhnya, bukan tidak mungkin kalau mereka akan mengirim lagi orang-orang yang lebih lihai atau lebih banyak untuk mengejarnya. Dia harus mengetahui mengapa mereka demikian membencinya. Benarkah hanya karena dia bercakap-cakap dengan Ling Ay di taman kuburan? Rasanya tidak mungkin. Dan benarkah suami Ling Ay yang berada di belakang semua usaha untuk membunuhnya itu ?

Karena terlarik, maka diapun menggerakkan tubuhnya, berlari cepat membayangi empat ekor kuda yang sudah berlari jauh ke arah kota Nan-ping itu.

***

Cia Kun Ti meninggalkan gedung besar tempat tinggal puterinya dengan wajah muram. Baru saja dia berkunjung untuk menyusul isterinya yang belum juga pulang. Sehabis bersembahyang di taman kuburan, dia segera pulang, ke rumahnya sendiri, akan tetapi isterinya ikut dengan puteri mereka. Sampai hari menjadi sore, isterinya belum juga pulang, maka dia lalu menyusul ke rumah mantunya. Dan di rumah itu, dia mendengar dari isterinya betapa mantu mereka, Cun Hok Seng, marah-marah kepada Ling Ay dan ibunya. Mantunya itu marah karena menuduh Ling Ay mengadakan pertemuan dengan bekas tunangannya atau bekas kekasihnya! Dan mantunya mengharuskan Ling Ay tinggal saja di dalam kamar, tidak boleh keluar sebelum ada perintah darinya. Dan isterinya harus menunggui puteri mereka itu!”

Tentu saja hati Cia Kun Ti merasa tidak enak sekali dan diam-diam dia menyesali ke tamakan isterinya yang memaksanya dahulu untuk menerima pinangan Cun Hok Seng. Apa yang dikhawatirkanpun kini terjadi. Mantunya itu bukan orang baik-baik. Bahkan keluarga mantunya, yang kepala daerah, juga bukan orang baik-baik. Hal ini sudah diduganya semula, melihat adanya banyak peristiwa aneh terjadi di kota Nan-ping. Namun, semua telah terlambat, puterinya, anak tunggalnya, telah menjadi isteri Cun Hok Seng dan dia tahu betapa isterinya merasa berbahagia karena memperoleh percikan kehormatan dan kemuliaan yang sesungguhnya semu saja. Bagi dia sendiri, diam-diam dia merasa malu, bukan hanya melihat ketamakan isterinya akan kehormatan dan kemuliaan, melainkan malu karena sebagai seorang suami dia tidak berdaya mempergunakan kekuasaannya mengatur isteri dan anak sendiri! Dan kini, terjadilah hal itu! Sungguh menjengkelkan. Dia tahu benar bahwa puterinya sama sekali tidak melakukan kesalahan! Pertemuannya dengan Bun Houw hanya kebetulan saja, dan di antara mereka tidak terdapat hal-hal yang kotor atau melanggar tata susila. Akan tetapi, akibat pertemuan itu telah makin menonjolkan watak dari mantunya !

Ketika Cia Kun Ti dengan wajah muram memasuki pekarangan rumahnya, tiba-tiba ada suara orang memanggilnya, “Paman Cia …!”

Cia Kun Ti terkejut, cepat membalikkan tubuhnya dan kiranya Bun Houw sudah berada di situ, di dalam pekarangan rumahnya. “Aih, engkau ini, Bun Houw? Mari, silakan masuk!”

Bun Houw menghaturkan terima kasih dan merekapun memasuki rumah itu, Rumah yang sudah amat dikenal oleh Bun Houw. Dahulu, beberapa tahun yang lalu, dia masih sering kali datang berkunjung ke rumah ini, rumah tunangannya, calon isterinya, rumah calon ayah dan ibu mertuanya! Rumah itu masih sama, hanya catnya yang baru dan ketika dia masuk, ternyata perabot rumah juga diganti dengan perabot baru yang lebih mahal. Tentu keluarga itu hendak menyesuaikan diri, pikirnya, sebagai mertua putera kepala daerah, tentu rumahnya harus lebih mewah.

Cia Kun Ti mengajak Bun Houw duduk di ruangan dalam dan setelah pelayan menghidangkan minuman dan makanan sekadarnya, Cia Kun Ti lalu menutupkan daun pintu ruangan itu dan sikapnya berubah sungguh-sunguh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: