Kisah Si Pedang Kilat – Tamat

“Suhu, teecu berhasil menangkap Bi Moli dan Ouwyang Toan, Sribaginda Kaisar berhasil diselamatkan. Setelah meninggalkan istana teecu segera pergi mengunjungi bekas Kaisar Cang Bu untuk menyadarkan beliau agar tidak bersekutu dengan kerajaan Wei di utara, dan mengingatkan beliau bahwa gerakan beliau untuk memberontak itu tidak akan benar dan hanya akan mendatangkan perang yang menyengsarakan rakyat. Teecu di sana bentrok dengan Suma Hok yang mengkhianati bekas kaisar itu, dan teecu berhasil pula menundukkannya sehingga dia ditawan bekas kaisar itu. Akan tetapi teecu tidak berhasil membujuk Kaisar Cang Bu. Dia tidak mau mundur sehingga diserbu pasukan pemerintah. Teecu tidak mencampuri pertempuran itu dan teecu pulang ke sini sebelum teecu melanjutkan pengejaran terhadap Bu-tek Sam-kwi dan membasmi Thian-te Kui-pang, gerombolan yang telah mengacau di perbatasan dan membunuh banyak rakyat dan tokoh kang-ouw itu.” Bun Houw lalu menceritakan kepada gurunya tentang Thian-te Kui-pang, gerombolan seratus orang yang dikirim oleh Kerajaan Wei untuk mengacau daerah perbatasan.

Mendengar penuturan muridnya itu Tiauw Sun Ong menghela napas panjang. “Semua orang tiada henti-hentinya saling memperebutkan kekuasaan. Agaknya manusia telah lupa bahwa kekuasaan mutlak berada di Tangan Tuhan Yang Maha Kuasa, dan kehadiran manusia di bumi bukan untuk saling memperebutkan kekuasaan, melainkan untuk melakukan suatu manfaat bagi manusia pada umumnya, berguna pula bagi dunia. Manusia bertugas menjadi alat dari kekuasaan Tuhan. Akan tetapi nafsu mempermainkan manusia sehingga mereka lupa diri, mereka memegang kekuasaan bukan demi kesejahteraan rakyat melainkan demi kesenangan diri pribadi. Karena itu timbullah perang dan pertempuran tak kunjung hentinya yang hanya mendatangkan kesengsaraan bagi rakyat jelata. Kalian semua memang benar. Sebagai orang-orang muda yang pernah dengan susah payah mempelajari kepandaian, setelah menguasai ilmu harus dipergunakan demi menolong manusia yang sengsara, demi menegakkan kebenaran, dan keadilan, menentang kejahatan, bukan ikut-ikutan memperebutkan kekuasaan. Sayang aku sudah tua, kalau aku masih kuat, aku pun tidak dapat membiarkan saja gerombolan seperti Thian-te Kui-pang itu mengganggu kehidupan rakyat di pedusunan sepanjang perbatasan.”

“Harap suhu tenangkan hati. Teecu adalah, murid suhu dan teecu sanggup mewakili suhu untuk menghancurkan perkumpulan iblis itu.” kata Bun Houw.

“Houw-koko benar, ayah. Di sini ada Houw ko dan aku, untuk apa ayah harus turun tangan sendiri? Biar aku yang akan membantu Houw-ko menghancurkan perkumpulan, iblis itu!” kata pula Hui Hong dengan penuh semangat.

“Lo-cian-pwe, tugas ini memang untuk yang muda-muda. Sayapun siap membantu membasmi perkumpulan iblis itu, tentu saja kalau kakak Bun Houw dan adik Hui Hong suka menerima saya untuk membantu mereka.”

“Heii, enci Ling Ay, kenapa engkau berkata demikian? Tentu saja kami senang sekali kalau engkau suka membantu, bahkan kalau engkau tidak menawarkan bantuan sekalipun, tentu aku akan memintamu!” kata Hui Hong sambil memegang tangan gadis itu.

Akan tetapi sambil menggandeng tangan-Hui Hong, Ling Ay masih menoleh kepada Bun Houw untuk melihat bagaimana tanggapan pemuda itu. Ia tahu diri dan tidak ingin mengganggu kalau memang pemuda itu tidak menghendaki bantuannya. Akan tetapi Bun Houw juga mengangguk dan berkata dengan sungguh-sungguh. “Kawanan gerombolan iblis itu lihai, dan semakin banyak tenaga yang dipersatukan untuk membasmi mereka, semakin baik lagi. Tentu saja kami merasa senang mendapat bantuanmu, adik Ling Ay.”

Setelah memberi nasihat agar mereka berhati-hati menghadapi gerombolan iblis itu, Tiauw Sun Ong memperkenankan mereka turun gunung untuk menunaikan tugas sebagai pendekar-pendekar muda yang perkasa.
***

Tiga orang muda itu melakukan perjalanan cepat karena mereka mempergunakan ilmu berlari cepat menuruni pegunungan Hwa san. Tadinya, Hui Hong berada di tengah. Bun Houw berada di samping kanannya sedangkan Ling Ay berada di samping kirinya. Akan tetapi di dalam perjalanan, secara halus dan tidak kentara, Hui Hong sengaja pindah dan berada di sebelah kanan Bun Houw sehingga dengan sendirinya Bun Houw kini berada di tengah-tengah, Hui Hong di kanannya dan Ling Ay di kirinya! Karena hal ini dilakukan Hui Hong dengan sikap seolah tidak sengaja, maka biarpun merasa canggung Ling Ay terpaksa menahan guncangan hatinya dan berjalan terus di sebelah kiri Bun Houw seolah tidak pernah terjadi sesuatu antara ia dan pemuda itu.

Setiap mereka terpaksa harus bermalam di sebuah kota, mereka menyewa dua buah kamar di rumah penginapan, sebuah kamar untuk Bun Houw dan sebuah kamar lagi untuk dua orang wanita itu. Dan hubungan antara kedua orang wanita itu menjadi semakin akrab saja. Mereka merasa cocok sekali. Hui Hong merasa iba kepada Ling Ay yang hidupnya penuh dengan kepahitan, sebaliknya Ling Ay diam diam merasa bersukur bahwa bekas tunangannya itu telah mendapatkan seorang isteri yang benar-benar gagah perkasa dan baik budi, di samping kecantikannya.

Beberapa hari kemudian, mereka tiba di sebuah dusun di dekat perbatasan. Karena dusun ini menjadi tempat pemberhentian orang-orang yang melakukan perjalanan menyeberangi daerah tak bertuan, untuk berdagang, maka dusun itu berkembang menjadi tempat yang ramai. Rumah rumah penginapan didirikan orang karena banyak pedagang dan rombongan piauw-kiok (perusahaan pengawal barang) berhenti di situ. Banyak pula rumah makan yang cukup lengkap berada di tempat itu.

Bun Houw, Hui Hong dan Ling Ay pada pagi hari itu memasuki sebuah rumah makan untuk sarapan. Malam tadi mereka bermalam di dusun itu dan mereka mendengar keterangan bahwa dusun Tai-bun yang dijadikan sarang gerombolan Thian-te Kui-pang berada sekitar lima puluh li dari dusun itu, di sebelah barat. Mereka bermaksud melanjutkan perjalanan ke sana dan sebelum itu hendak sarapan dulu dan membeli bekal makanan karena perjalanan di daerah tak bertuan itu kakang-kadang tidak akan bertemu penjual makanan lagi. Memang banyak dusun yang sudah ditinggalkan penduduknya yang lari mengungsi semenjak Thian-te Kui-pang berkuasa di dusun Tai-bun dan sekitarnya.

Selagi tiga orang itu makan minum, tiba-tiba terdengar suara tuk-tuk-tuk menghampiri mereka. Ketiganya menengok dan nampaklah seorang pengemis yang usianya sekitar lima puluh tahun, berjalan menghampiri meja mereka yang berada di sulut luar. Suara berketuk itu adalah suara tongkat yang dibawanya, dan dia berjalan bertopang kepada tongkat itu yang mengeluarkan bunyi yang berat. Pengemis tua itu tidak mendatangkan kesan sesuatu, akan tetapi ketika Bun Houw memandang kearah tongkatnya, dia mengerutkan alisnya. Tongkat itu terbuat dari logam berat, mungkin besi dan tidak jelas karena dicat hitam.

“Kalau tidak salah, orang ini tentu anggauta Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam),” bisik Bun Houw kepada dua orang wanita itu. Mereka melirik dan melihat pengemis itu sudah tiba di dekat meja mereka. Tentu saja dua orang wanita itu mengerutkan alis merasa tidak senang sedang makan di dekati seseorang pengemis yang bajunya nampak kotor. Akan tetapi Bun Houw yang tidak ingin mencari keributan, segera mengambil sepotong uang dan memberikan kepada pengemis itu sambil berkata dengan suara lembut.

“Paman, ambilah uang ini dan sampaikan salam hormatku kepada Hek-tung Kai-pangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam) Kam Cu.”

Pengemis itu menerima kepingan uang dan menjura dengang sikap hormat sekali. “Ah, kiranya saya dapat menemukan taihiap dengan mudah. Tentu taihiap yang oleh pangcu kami disebut Perdekar Pedang Kilat. Pangcu kami mengundang taihiap bertiga untuk bertemu dengannya.”

Bun Houw tercengang. Setahunya, Hek-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Hitam) Kam Cu berada di sebelah selatan Nan-king. Bagaimana dapat mengundangnya?”

‘”Di mana Kam-pangcu?” tanyanya cepat.

“Hal ini harus dirahasiakan,” bisik pengemis itu. “Nanti kalau sam-wi (anda bertiga) sudah selesai makan, saya menanti di luar dan akan menjadi penunjuk jalan. Sam-wi ikuti saja aku keluar dusun.” Setelah berkata demikian, tanpa banyak bicara lagi sehingga tidak menarik peihatian orang, pengemis itu menghampiri meja lain untuk minta sedekah. Kemudian, diapun keluar dari rumah makan itu.

Sambil melanjutkan makan, dengan lirih Bun Houw menceritakan tentang Hek-tung Kai-pang, perkumpulan pengemis yang tidak sudi diajak bekerja-sama dengan Thian-te Kui-pang.

“Tentu ada hal penting sekali maka dia berada di sini, dan agaknya dia mengetahui bahwa kita berada di dusun ini.” Bun Houw berkata dan setelah mereka selesai makan, mereka membayar harga makanan lalu melangkah keluar dari rumah makan itu dengan sikap santai sehingga tidak akan menarik perhatian orang.

Benar saja, mereka melihat pengemis yang tadi berada dalam jarak serarus meter dari tempat itu dan kini pengemis itu berjalan santai pula menuju ke timur dan keluar diri dusun itu. Dari jauh Bun Houw dan dua orang wanita itu mengikutinya. Setelah tiba di tempat yang sunyi, pengemis itu lalu berjalan dengan cepat, Bun Houw dan dua orang temannya membayanginya dengan cepat pula dan dia menghilang di dalam sebuah hutan.

Setelah Bun Houw, Hui Hong dan Ling Ay berlari memasuki hutan itu, agak ke tengah, mereka telah ditunggu oleh belasan orang yang berpakaian pengemis dan kesemuanya memegang tongkat hitam, yang berada di depan sendiri adalah seorang pengemis berusia lima puluhan tahun yang bertubuh kurus. Bun Houw segera mengenal orang ini sebagai Hek-tung Lo-kai Kam Cu, ketua dari Hek-tung Kai-pang dan di sebelahnya lagi nampak seorang pria berusia lima puluh tahun yang bertubuh tinggi besar, bermuka brewok dan dia tidak mengenakan pakaian pengemis. Sebatang golok besar tergantung di pinggangnya.

Bun Houw juga mengenal si golok besar ini yang bukan lain adalah ketua diri Thian-beng-pang yang bernama Ciu Tek. Dua orang inilah yang pernah dibantu Bun Houw ketika mereka hendak dipaksa oleh Pek-thian-kui orang pertama dari Bu-tek Sam-kui yang dibantu oleh Suma Hok dan Suma Koan.

“Ha ha-ha, sungguh beruntung sekali kami bertemu dengan Si Pedang Kilat Kwa Thai hiap di sini!” kata si brewok Ciu Tek, ketua Thian-beng pang itu.

Bun Houw membalas penghormatan mereka dan memperkenalkan nama Hui Hong dan Ling Ay. Dua orang ketua itu memberi hormat kepada dua orang wanita itu dan Hek-tung Lo-kai berkata, “Kami sungguh kagum sekali, karena melihat cara ji wi li hiap (kedua pendekar wanita) berlari cepat tadi saja kami sudah dapat menduga bahwa ji-wi li-hiap memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.”

“Ji-wi pang cu (kedua ketua) mengundang kami ke sini, sebenarnya ada kepentingan apakah?”

“Mari kita duduk di sana, ada urusan penting sekali, taihiap,” kata dua orang ketua itu. Mereka lalu duduk di atas batu-batu yang berada di tengah hutan.

“Kwa taihiap, kami lelah lama sekali menanti tai-hiap di dusun ini, dan begitu tai-hiap bertiga dengan ji-wi li hiap ini memasuki dusun, kami sudah mengetahuinya, akan tetapi kami membiarkan sam-wi beristirahat semalam baru pagi ini kami hubungi. Kami yakin bahwa tai-hiap tentu akan membasmi gerombolan Thian-te Kui pang, maka kami sudah siap di tempat ini menanti tai-hiap dan kami telah mengerahkan anak buah kami berdua, sebanyak tiga ratus orang. Tentu tai hiap bertiga datang ke sini hendak menyerang sarang Thian-te Kui pang, bukan?”

“Benar sekali, pangcu. Dan kami juga gembira sekali mendapat bantuan ji-wi pangcu dan anak buah ji wi. Kalau begitu, mari kita segera berangkat ke sarang gerombolan iblis itu.”

“Harap tai-hiap berhati-hati dan tidak memandang rendah pihak lawan. Anak buah mereka memang hanya kurang lebih seratus orang, akan tetapi rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Dan lebih dari itu, kami berhasil mengetahui bahwa Bu-tek Sam kui kini menjadi lebih kuat dari pada dahulu.” kata Thian beng-pangcu Ciu Tek.

Bun Houw tersenyum dan menggeleng kepala. “Pangcu salah kira. Dahulu mereka dibantu oleh para datuk sesat seperti Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, Bu-eng-kiam Ouwyang Sek dan puteranya, Ouwyang Toan. Akan tetapi kini mereka semua itu telah tewas. Mereka hanya tinggal bertiga, bagaimana pangcu mengatakan bahwa Bu-tek Sam-kui kini menjadi lebih kuat?”

“Ah, engkau tidak mengerti. Lui-kong Kiam hiap (Pendekar Pedang Kilat),” kata Hek-tung Lo kai. “Biarpun para datuk itu sudah tidak ada, akan tetapi kini Bu-tek Sam kui dibantu sendiri oleh guru mereka, yaitu Thian-te Seng-jin yang menjadi Koksu (Guru Negara) Kerajaan Wei. Kabarnya, Thian-te Seng-jin memiliki ilmu silat yang amat tinggi, juga ilmu sihirnya amat berbahaya.”

“Hemm, betapapun lihainya pihak lawan, kita harus tetap menentang kejahatan, pang-cu.” kata Bun Houw tenang.

“Akupun tidak takut!” kata Hui Hong penuh semangat.

“Kalau mereka menggunakan kekuatan sihir, biar aku yang menghadapi mereka!” kata Ling Ay yang selain ilmu silat, juga pernah mempelajari ilmu sihir dari mendiang gurunya, yaitu Bi Moli Kwan Hwe Li.

Melihat semangat tiga orang muda itu. kedua orang pangcu menjadi kagum bukan main. “Kami juga sama sekali tidak menjadi gentar taihiap, hanya amat baik kalau kita berhati-hati dan mempergunakan siasat dalam penyerbuan kita.”

“Memang begitulah sebaiknya, dan kami serahkan saja kepada ji-wi pangcu untuk mengatur siasat penyerbuan itu.” kata Bun Houw karena dia sendiri belum pernah mengatur pasukan sehingga tidak tahu bigaimana harus mengatur anak buah untuk menyerbu sarang gerombolan iblis itu.

Kedua orang pangcu itu lalu mengutarakan siasat yang memang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Tiga ratus orang anak buah mereka akan dibagi empat, masing-masing tujuh puluh lima orang dan setiap pasukan dipimpin oleh mereka berdua dan tiga orang pendekar muda itu. “Kami berdua akan memimpin sebuah pasukan dari tujuh puluh lima orang dan akan menyerbu dari pintu depan,” kata Hek-tung Lo-kai. “Kedua lihiap memimpin masing-masing sebuah pasukan menyerbu dari kanan dan kiri, sedangkan tai-hiap memimpin sebuah pasukan menyerang dari belakang. Dengan cara demikian, mereka tidak akan mendapat kesempatan untuk kabur atau membokong kita. Juga diserang dari empat penjuru, tentu mereka akan menjadi kacau dan di dalam sarang mereka, empat pasukan kita dapat saling bantu. Bagaimana pendapat tathiap dan ji-wi lihiap dengan yaiasat kami itu?”

Bun Houw, Hui Hong dan Ling Ay merasa kagum. “Bagus sekali, pangcu!” kata Bun Houw. Setelah terjadi pertempuran nanti, biar aku yang menghadapi Thian-te Seng-jin, sedangkan Hong-moi, adik Ling Ay dan ji-wi pangcu mengeroyok Bu-tek Sam-kui, dibantu pula oleh anak buah yang memiliki kepandaian tinggi.”

Mereka juga merencanakan bahwa gerakan itu akan dilakukan malam hari itu karena kalau dilakukan shang hari, tentu gerak gerik tiga ratus orang akan menarik perhatian dan sebelum mereka tiba di sarang gerombolan, pihak Thian-te Kai-pang akan lebih dulu mengetahui dan dapat membuat persiapan yang akan menjebak mereka.

***

Berita yang didapat oleh kedua orang ketua itu memang benar. Kaisar Thai Wu dari kerajaan Wei merasa penasaran dan marah sekali mendengar laporan akan gagalnya usaha Bu-tek Sam kui untuk membunuh Kaisar Siauw Bian Ong dari kerajaan Chi, bahkan gerakan bekas Kaisar Cang Bu yang menjadi sekutu mereka juga dapat dihancurkan oleh pasukan kerajaan Chi. Mendengar betapa kerja-sama yang sudah amat baik, kemajuan yang mendatangkan harapan itu akhirnya, hancur karena ulah seorang pendekar muda yang dijuluki Si Pedang Kilat, Kaisar Thai Wu segera memanggil penasihatnya, juga gurunya, Thian-te Seng-jin untuk dimintai pendapatnya, juga setengah ditegur mengapa tugas yang dipikul saudara-saudara seperguruannya yaitu Bu-tek Sam-kui, menjadi gagal.

Thian-te Seng-jin sendiri juga merasa penasaran. “Biarlah hamba sendiri yang akan datang membantu Bu-tek Sam-kui, Yang Mulia. Hamba akan menangkap dan menyeret bocah bernama Kwa Bun Houw itu ke depan kaki paduka!”

Demikianlah, tosu yang berusia empat puluh lima tahun itu segera menyusul tiga orang muridnya itu ke Tai-bun, tinggal di sarang gerombolan itu untuk menyusun rencana baru setelah rencana yang pertama itu mengalami kegagalan.

Malam itu gelap. Tidak ada sebuahpun bintang nampak di langit yang tertutup mendung. Suasana di dusun Tai-bun yang kini menjadi sarang gerombolan itupun nampak sunyi. Hanya di sana-sini di antara rumah-rumah penduduk yang kini menjadi rumah-rumah anggauta gerombolan, terdengar isak tangis wanita. Mereka adalah para wanita yang diculik oleh gerombolan Thian-te Kui-pang dan menjadi korban kebuasan mereka, dipaksa untuk melayani mereka. Tentu saja gerombolan ini tidak membutuhkan harta kekayaan karena para penduduk dusun mana ada yang kaya? Pula, mereka sudah mendapatkan upah cukup dari kerajaan Wei. Yang mereka butuhkan dalam tugas mereka mengacau di daerah wilayah kerajaan Chi adalah wanita-wanita, dan kadang mereka juga merampok, akan tetapi bukan harta yang mereka rampok, melainkan bahan makanan seperti ternak, gandum dan lain-lain. Tentu saja banyak wanita yang mereka culik dan mereka paksa tinggal di sarang mereka.

Sore tadi Thian-te Seng-jin sudah merencanakan siasat baru dengan para muridnya. Mereka mengambil keputusan untuk menguasai dunia kang-ouw dengan merebut kedudukan beng-cu, dan Thian-te Seng-jin sendiri akan muncul sebagai calon beng-cu, mengalahkan para tokoh kang-ouw. Tentu saja dia akan menggunakan penyamaran dan menggunakan nama lain. Kalau mereka sudah dapat menguasai dunia kang-ouw, akan mudah menimbulkan kekacauan di wilayah kerajaan Chi, sehingga kerajaan itu akan menjadi lemah sehingga akan membuka kesempatan bagi kerajaan Wei untuk meluaskan wilayah kekuasaan mereka ke selatan.

Tanpa ada yang mengetahui, dari kegelapan malam muncullah pasukan yang bergerak perlahan-lahan, datang dari empat jurusan dan kini mereka, menjelang tengah malam, telah mengepung sarang gerombolan iblis itu dari empat penjuru. Mereka semua masih bersembunyi di luar dusun Tai bun, menanti datangnya isarat seperti yang telah mereka rencanakan, isarat itu tak lama kemudian nampak oleh mereka semua, yaitu hujan anak panah berapi yang mula-mula dilepaskan oleh pasukan dari depan yang dipimpin oleh Hek-tung Lo-kai dan Thian-beng Pang-cu. Begitu melihat anak panah api menghujani sarang itu dan mulai nampak kebakaran pada atap beberapa buah rumah, pasukan dari empat penjuru itu lalu menyerbu, baik melalui pintu gerbang dusun maupun merobohkan pagar dusun, sambil berteriak-teriak.

Anak buah Thian-te Kui-pang memang merupakan perajurit pilihan di kerajaan Wei, akan tetapi sekali ini, mereka menjadi panik juga karena sebagian besar di antara mereka sudah tidur nyenyak dan tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dan terjadi kebakaran di mana-mana, kemudian sarang mereka diserbu banyak orang. Mereka sendiri ada yang masih belum bersepatu, bahkan banyak yang dalam keadaan setengah telanjang! Mereka mengira bahwa pasukan pemerintah yang menyerbu, maka mereka menjadi semakin panik.

Bu-tek Sam kui sendiri berlompatan keluar dan mereka berteriak-teriak kepada anak buah mereka agar tidak panik dan melakukan perlawanan. Juga Thian-te Seng-jin keluar dari pondoknya, sebatang pedang tergantung di punggungnya.

Sebagai orang-orang berpengalaman. Bu-tek Sam kui dan guru mereka itu sekali melihat saja maklum bahwa yang menyerbu sarang mereka bukanlah pasukan pemerintah, melainkan orang-orang bergolok dan orang-orang berpakaian pengemis dan bertongkat hitam.

“Lawan, jangan panik!” Mereka berteriak-teriak sambil mengamuk dan menyambut para penyerbu. “Mereka hanya jembel-jembel busuk! Hajar mereka!!”

Akan tetapi, dibawah sinar api dari rumah-rumah yang terbakar, Bu-tek Sam-kui terkejut ketika melihat dua orang wanita muda yang cantik dan gagah menerjang mereka, dibantu pula oleh dua orang setengah tua gagah yang mereka kenal sebagai Hek-tung Lo-kai Kam Cu ketua Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pangcu Ciu Tek. Hui Hong yang sudah diberi tahu oleh Bun Houw segera menerjang Pek-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek Sam-kui yang bersenjata pedang. Dengan pedang di tangan kanan dan sebatang ranting di tangan kiri, Hui Hong menyerang Pek-thian-kui. Orang pertama dari Bu-tek Sam-kui ini terkejut bukan main karena dari gerakan pedang meluncur bagaikan kilat itu dia maklum bahwa dia sama sekali tidak boleh memandang rendah lawannya. Dia menggerakkan pedangnya menangkis, akan tetapi sebelum dia sempat membalas, ranting di tangan kiri Hui Hong sudah menotok ke arah dadanya dan yang membuat Pek-thian-kui terkejut adalah bahwa serangan ranting di tangan kiri ini bahkan lebih lihai dibandingkan serangan pedang di tangan kanan. Terpaksa dia membuang diri ke belakang dan membuat salto sampai empat kali, baru dapat terbebas dari susulan serangan Hui Hong yang bertubi-tubi. Kini mereka berhadapan dengan penasaran, dan diam-diam mereka mengerahkan seluruh tenaga karena maklum menghadapi lawan tangguh.

Huang-ho-kui, orang ke dua dari Bu-tek Sam kui, juga menghadapi lawan berat ketika Ciu Tek, ketua Thian-beng-pang dibantu oleh tujuh orang murid kepala mengeroyoknya. Dia mengamuk dengan senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang dayung dari besi yang dimainkan seperti sebuah toya. Andaikata Ciu Tek hanya maju seorang diri, tentu ketua ini akan payah menandingi Huang-ho-kui yang tingkat kepandaiannya sedikit lebih tinggi. Akan tetapi karena ada tujuh orang muridnya membantu kini Huang-ho-kui yang terdesak hebat dan dia harus memutar dayungnya secepatnya untuk melindungi tubuhnya dari hujan serangan para pengeroyoknya.

Adapun Toat beng-kui, orang ke tiga dari Bu-tek Sam-kui yang bersenjata golok, segera diterjang oleh Ling Ay yang dibantu oleh Hek-tung lo-kai seperti yang telah mereka atur sebelumnya. Orang ke tiga dari Bu-tek Sam-kui inipun segera terdesak hebat karena tingkat kepandaian kedua orang itu masing-masing hanya terpaut sedikit di bawah tingkatnya. Karena mereka maju bersama, maka dialah yang terdesak.

Bu-tek Sam-kui yang kewalahan ini mengharapkan bantuan guru mereka, namun ketika mereka menengok, mereka terkejut melihat guru merekapun sedang didesak hebat oleh seorang pemuda yang bukan lain adalah Si Pedang Kilat Kwa Bun Houw! Thian-te Seng-jin yang seperti juga tiga orang muridnya terkejut melihat penyerbuan tiba-tiba di tengah malam itu, tadinya tidak merasa khawatir karena mengira bahwa yang menyerbu hanya orang-orang biasa saja yang pasti akan mampu dihadapi tiga orang muridnya dan anak buahnya. Akan tetapi, melihat betapa tiga orang muridnya itu menghadapi lawan berat, diapun terkejut dan melolos pedang dari punggungnya. Dia bermaksud hendak menggunakan ilmu sihir untuk membantu para muridnya, akan tetapi pada saat itu, Bun Houw sudah melompat di depannya.

“Hemm, agaknya engkau yang bernama Thian-te Seng-jin, guru Bu-tek Sam-kui yang mendirikan Thian-te Kui-pang dan mengacau di daerah ini? Sebagai guru mereka, engkau harus bertanggung jawab atas kejahatan mereka, Thian-te Seng-jin!”

Melihat seorang pemuda berani bersikap seperti itu di depannya, Thian-te Seng-jin menjadi marah. Matanya mencorong dan diam-diam dia mengerahkan kekuatan sihirnya dan menudingkan pedangnya ke arah muka pemuda itu dan membentak, suaranya lantang berpengaruh. “Orang muda, siapakah engkau berani bicara seperti itu di depan pinto?”

“Aku bernama Kwa Bun Houw, dan aku tahu bahwa engkau adalah Thian-te Seng-jin. Koksu Kerajaan Wei yang bertugas mengacau di daerah kerajaan Chi!”

Diam-diam Thian-te Seng-jin terkejut. Tugas tiga orang muridnya adalah tugas rahasia yang tidak boleh diketahui orang, karena Kaisar Thai Wu yang juga muridnya tidak menghendaki perang terbuka dengan kerajaan Chi. Tugas mereka hanya mengacau dan melemahkan kerajaan Chi yang semakin kuat dan kini ternyata rahasia itu telah diketahui oleh pemuda yang bernama Kwa Bun Houw ini.

“Kwa Bun Houw, lihat baik-baik, aku adalah Naga Merah dari Utara yang akan menghukum kamu atas kelancanganmu. Berlututlah kamu! !” Suara itu melengking nyaring menggetarkan siapa saja yang berada di dekatnya.

Terutama sekali Bun Houw yang langsung menerima serangan yang ditujukan kepadanya. Dia terbelalak karena benar-benar lawannya telah berubah menjadi seekor naga bersisik merah! Mata naga itu mencorong dan moncongnya terbuka lebar mengeluarkan api. Sungguh merupakan penglihatan yang menyeramkan sekali. Seandainya Bun Houw tidak memiliki keberanian yang amat kuat, tentu dia sudah menjatuhkan diri berlutut. Akan tetapi dia seorang pemberani dan tabah, apalagi ada tekad di hatinya bahwa dia akan melawan kejahatan tanpa mengenal rasa takut dan siap mengorbankan dirinya demi membela kebenaran dan keadilan. Oleh karena itu, biarpun dia terkejut sekali, dia tetap tabah dan tidak mau berlutut.

Akan tetapi apa yang dilihatnya memang menggiriskan hati. Naga itu siap untuk menerkamnya, dan biarpun Bun Houw sudah siap dengan pedang Lui kong kiam (Pedang Kilat) di tangan, namun wajahnya tetap saja berubah agak pucat karena memang penglihatan itu cukup untuk membuat jerih hati orang yang paling tabah sekalipun. Bun Houw menerjang dengan pedang kilatnya membacok ke arah kepala naga merah itu.

“Singg … wuuuttt … plakkk!” Tubuh Bun Houw terpelanting. Ketika pedangnya bertemu kepala naga merah, pedang itu tembus seperti membacok bayang-bayang saja dan ekor naga itu menghantamnya dari samping, sedemikian kerasnya sehingga dia terpelanting!

Pada saat yang gawat itu, Ling Ay muncul di depan naga merah itu. Wanita ini tadi merasakan getaran hebat dari pengaruh sihir yang dikerahkan Thian-te Seng-jin, maka ia lalu berteriak kepada Hek-tung Lo-kai untuk menghadapi Toat-beng-kui sendiri bersama anak buahnya karena ia akan membantu Bun Houw. Hek-tung Lo-kai berteriak memanggil para murid kepala dan lima orang murid Hek-tung Lo-kai membantu ketua mereka mengeroyok Toat-beng-kui sedangkan Ling Ay sudah meloncat ke depan Naga Merah buatan itu. Ia meraih tanah dan setelah berkemak-kemik membaca mantera dan mengerahkan segenap tenaga sihir seperti yang pernah ia pelajari dari mendiang Bi Moli Kwan Hwe Li, iapun menyambitkan tanah itu ke arah naga sambil berteriak dengan suara melengking, suara yang berpengaruh karena mengandung tenaga sakti.

“Asal dari tanah kembali kepada tanah!!”

Tanah yang disambitkan itu meluncur mengenai naga merah. Terdengar suara letupan keras dan naga jadi-jadian itupun lenyap berubah menjadi asap! Bun Houw merasa girang sekali dan kini dia melihat lagi tosu siluman itu, maka diapun menggerakkan pedangnya untuk menyerang dengan dahsyat.

“Trang-trang-trang …!!” Bunga api berpijar-pijar ketika pedang di tangan Thian-te Seng-jin bertemu dengan pedang Lui-kong-kiam di tangan Bun Houw-Pedang tosu itu juga merupakan sebatang pedang pusaka yang terbuat dari logam pilihan, maka tidak menjadi rusak ketika beradu dengan Lui kong-kiam. Akan tetapi, tosu itu merasa betapa telapak tangan kanannya yang memegang pedang menjadi panas dan nyeri. Hal ini menunjukkan bahwa lawannya itu, biarpun masih muda, memiliki teaaga sakti yang amat kuat. Juga tosu ini merasa penasaran sekali betapa ilmu sihirnya tadi dapat dipunahkan oleh seorang wanita muda yang kini hanya menjadi penonton dan siap untuk menandingi ilmu sihirnya. Mulailah dia merasa jerih, apalagi ketika melihat betapa tiga orang muridnya menghadapi lawan-lawan berat, dan anak buah Thian-te Kui-pang juga mulai kocar kacir menghadapi pengeroyokan jumlah musuh yang jauh lebih banyak.

Tiba-tiba Thian-te Seng-jin mengeluarkan gerengan aneh dan Ling Ay sudah siap untuk menghadapi ilmu sihirnya. Akan tetapi ternyata kakek tinggi kurus bermuka pucat itu tidak menggunakan sihir, melainkan mengeluarkan ilmu silat yang amat aneh. Tubuhnya tiba-tiba saja ditekuk seperti seekor binatang menggiling dan dia menjatuhkan diri di atas tanah, bagaikan seekor menggiling atau sebuah bola dia lalu menggelundung ke arah Bun Houw. Pemuda ini terkejut dan cepat menggerakkan pedangnya untuk menangkis ketika bola menggelundung itu tiba dekat dan dari gulungan itu mencuat sinar pedang yang menyerang kakinya.

“Trangg … !” Kembali bunga api berpijar akan tetapi kini Bun Houw yang terhuyung ke belakang. Kiranya pedang yang diserangkan sambil bergulingan itu kini menjadi amat kuat, seolah memperoleh tenaga aneh dari dalam bumi, dan tangan kiri tosu itupun ikut pula menyerang dengan dorongan yang kuat sekali.

Kembali tubuh tosu yang seperti menggiling melingkar itu sudah bergulingan dengan cepat menyerang Bun Houw lagi. Bun Houw menyambutnya dengan tangkisan yang akan dilanjutkan tusukan balasan, namun dia tidak sempat membalas karena begitu pedangnya bertemu pedang lawan ada kekuatan dahsyat yang membuat dia terhuyung, bahkan semakin keras sampai lima langkah ke belakang. Banyak sudah dia melihat ilmu silat yang dimainkan dengan bergulingan, terutama sekali bagi orang yang bersenjatakan golok dan perisai, dan permainan silat dengan bergulingan itu memang berbahaya bagi lawan. Akan tetapi, belum pernah melihat cara bergulingan seperti ini, tosu itu benar-benar mirip seekor trenggiling. Tubuhnya melingkar menjadi bulat dan tenaganya menjadi berlipat ganda ketika menyerang dari atas tanah seperti itu.

Berulang kali Bun Houw diserang dan dia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membalas, dan setiap kali serangan lawan itu menjadi semakin kuat saja. Pemuda ini maklum bahwa kalau dilanjutkan seperti itu mungkin akhirnya dia akan terluka, baik oleh pedang lawan maupun oleh dorongan tangan kiri atau tendangan kaki yang tiba-tiba mencuat. Setelah memperhatikan gerakan lawan yang menyerangnya berulang kali, begitu tubuh lawan menggelundung ke arahnya, sebelum Thian-te Seng-jin menyerang, dia menghindar dengan loncatan. Tubuh yang seperti bola itu cepat mengejarnya dan kini Bun Houw sudah siap siaga. Dia bahkan menyimpan pedangnya dan mengerahkan tenaga dari ilmunya yang dahsyat, yaitu Im-yang Bu-tek Cin-keng. Ketika bola manusia itu menggelundung dekat, dia menyambut dengan dorongan kedua tangannya, pada saat lawan menyerang.

Satu di antara keanehan ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah daya tolak yang membuat seorang penyerang akan diserang oleh tenaganya sendiri yang membalik!”

“Desas … !!” Bertemu dengan tenaga dahsyat Im-yang Bu-tek Cin-keng, tosu itu mengeluarkan teriakan kaget dan tubuhnya seperti sebuah bola yang ditendang, terlempar dan menggelundung jauh. Beberapa orang yang sedang bertempur, ketika terlanda bola ini, terlempar dan tak mampu bangkit kembali.

Bun Houw berloncatan mengejar, diikuti oleh Ling Ay.

“Houw-ko, hati-hati!” teriak Ling Ay dan pada saat itu terdengar ledakan kecil dan nampak asap hitam mengepul tebal. Tosu itu menghilang di balik asap dan mendengar peringatan Ling Ay, Bun Houw tidak mengejar melainkan meloncat jauh ke belakang. Hal ini menguntungkan karena asap hitam yang keluar dari bahan peledak itu adalah asap beracun. Tidak kurang dari lima orang, baik dari pihak penyerbu maupun anak buah Thian-te Kui-pang sendiri, roboh dan tewas ketika terlanda asan hitam itu. Dan tentu saja Thian-te Seng-jin sendiri sudah lenyap dari tempat itu. Bun Houw menengok dan melihat betapa Bu-tek Sam kui masih terdesak hebat, namun belum juga dapat dirobohkan. Hanya Pek-thian-kui yang benar-benar payah melawan Hui Hong. Pundak kirinya sudah terluka pedang di tangan Hui Hong dan kini dia yang tidak mampu melarikan diri kerena tempat itu sudah dikepung anak buah Hek-tung Kaipang dan Thian-beng-pang, mengamuk mati-matian sehingga membuat Hui Hong harus berlaku hati-hati. Melawan seorang yang sudah nekat untuk mengadu nyawa memang berbahaya sekali, sama dengan melawan seorang gila. Tongkat di tangan kiri Hui Hong membuat orang pertama dari Bu-tek Sam-kui itu benar-benar repot. Biarpun dia berusaha untuk mengamuk dan membalas dengan pedangnya, namun selalu pedangnya bertemu dengan periasi sinar pedang yang dibuat oleh putaran pedang Hui Hong, sedangkan luncuran tengkat di tangan kiri Hui Hong mengirim totokan-totokan yang benar-benar amat dahsyat karena sekali saja totokan itu mengenai tubuhnya, tentu dia akan roboh!

Melihat ini, Bun Houw lalu berkata kepada Ling Ay, “Adik Ling Ay, kau bantulah Hong-moi, dan aku akan menghadapi dua orang iblis yang lain.”

Ling Ay mengangguk dan ia lalu menerjang maju dengan pedang di tangan, membantu Hui Hong. “Adik Hong, mari kita basmi iblis busuk ini!” bentaknya sambil menggerakkan pedang menusuk ke arah lambung Pek-thian-kui.

Menghadapi Hui Hong seorang saja, Pek-thian-kui sudah kewalahan, apalagi kini ditambah dengan seorang wanita selihai Ling Ay. Nyaris tusukan itu mengenai lambungnya dan diapun melempar tubuh ke belakang dan begitu dia meloncat bangun, tangan kirinya bergerak dan sinar hitam menyambar ke arah Hui Hong dan Ling Ay. Namun, dengan mudah kedua orang wanita itu menangkis dan paku-paku hitam beracun yang menyambar ke arah mereka tadi dipukul runtuh semua dan kini kedua orang wanita perkasa itu sudah menghujani lawan dengan serangan pula, Hek-tung Lo-kai Kam Cu dan anak buahnya mengepung dan mengeroyok Toat-beng-kui, demikian pula Thian-beng Pang-cu Ciu Tek dibantu anak buahnya mengeroyok Huang-ho-kui. Namun, kedua orang lawan itu memang lihai bukan main dan mereka dapat mengamuk sehingga beberapa orang anak buah kedua orang ketua itu roboh terkena senjata mereka.

Melihat betapa dayung di tangan Huang-ho-kui memang dahsyat sekali sehingga orang-orang Thian-beng-pang nampaknya menjadi jerih, Bun Houw yang sudah kehilangan lawan, lalu meloncat dan tangan kirinya menyambar dengan pengerahan tenaga dari ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng.

“Wuuuuttt … dessas … !” Huang-ho-kui mengeluarkan teriakan kaget dan tubuhnya seperti dilanda badai, terlempar sampai sejauh beberapa meter dan sebelum dia sempat bangun lagi karena masih merasa nanar, orang-orang Thian-beng-pang, dipimpin oleh Ciu Tek, telah menghujaninya dengan senjata mereka sehingga tewaslah orang ke dua dari Cu-tek Sam-kui ini dengan tubuh yang tidak utuh lagi.

Bun Houw kini meloncat dan melihat Hek-tung Lo-kai dan anak buahnya masih belum mampu merobohkan Toat-beng-kui, diapun menyerang Toat-beng-kui dengan dorongan tangan yang mengandung kekuatan dahsyat itu. Seperti juga rekannya, tubuh Toat-beng-kui terlempar dan diapun tewas di bawah hujan senjata Hek-tung Lo-kai dan para anak buahnya.

Bun Houw kini melihat ke arah dua orang wanita yang mengeroyok Pek-thian kui. Tepat pada saai dia memandang, Pek-thian-kui mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya terjungkal dengan dada ditembusi dua batang pedang!

Anak buah Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang bersorak gembira melihat Bu-tek Sam-kui tewas dan mereka menjadi lebih bersemangat. Sebaliknya, anak buah Thian-te Kui-pang yang sudah kehilangan pimpinan dan banyak pula di antara mereka yang sudah tewas, menjadi panik dan mereka berusaha untuk melarikan diri. Namun, kedua orang ketua itu bersama anak buah mereka mengejar dan menganuk dan akhirnya hanya belasan orang saja di antara para anak buah Thian-te Kui-pang yang berhasil lolos. Juga Thian-te Seng-jin sendiri sudah lebih dulu melarikan diri dan kembali ke utara untuk melapor kepada kaisarnya tentang kegagalan gerakan Thian-te Kui pang.

Bun Houw sendiri bersama Hui long dan Ling Ay segera berpamit dari dua orang ketua itu setelah Bun Houw terpaksa menyanggupi untuk kelak dicalonkan menjadi beng-cu (pemimpin) kalau tiba saatnya diadakan pemilihan beng-cu atau pemimpin dunia persilatan. Bagi dia, siapa saja yang menjadi beng-cu baik atau bukan tokoh dunia sesat yang akan menyeret dunia persilatan ke arah kejahatan.

***

Mereka bertiga sudah jauh meninggalkan dusun Tai-bun yang berada diperbatasan daerah tak bertuan itu. Setelah melewati sebuah bukit terakhir, mereka tiba di persimpangan jalan. Sejak tadi Ling Ay tidak banyak bicara dan hanya menjawab dengan ya atau tidak kalau Hui Hong mengajaknya bicara. Wajahnya yang cantik manis itu nampak muram, sinar matanya suram seperti lampu kehabisan minyak atau seperti bintang terselaput kabut.

Setelah tiba di persimpangan jalan, Ling Ay menahan langkahnya dan berkata, “Sudah, sampai di sini saja … ” suaranya lirih. Bun Houw dan Hui Hong juga berhenti dan mereka memandang kepada janda muda itu.

“Enci Ling Ay, kenapa berhenti?” tanya Hui Hong.

Ling Ay memaksa senyum, namun wajahnya agak pucat dan layu sehingga senyumnya nampak menyedihkan, “Adik Hong, dan Houw ko, aku tidak ingin mengganggu kalian lebih lama lagi. Kita harus berpisah, aku akan pergi … entah ke mana, mungkin merantau ke mana saja kaki ini membawa diriku dan … aku hanya memujikan semoga kalian diberkahi Tuhan … selamat berpisah … ” tanpa menanti jawaban, Ling Ay cepat membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan mereka.

“Enci Ling Ay, berhenti dulu?” Hui Hong berseru karena ia melihat betapa Ling Ay cepat membalik untuk tidak memperlihatkan mukanya. Ketika Ling Ay tetap berjalan tanpa menoleh, Hui Hong melompat dan tiba di belakang Ling Ay terus ia memegang kedua pundak wanita itu dan memutarnya menghadapinya. Tepat seperti diduganya, Ling Ay menangis tanpa suara. Air matanya bercucuran.

“Enci, kau kenapa? Engkau … menangis?” Hui Hong bertanya heran.

“Adik Hong …!” Ling Ay menjadi semakin bersedih dan mereka berangkulan.

“Adik Hong, lepaskan aku, kuharap engkau dapat membahagiakan Houw-koko. Kalian berhak menikmati kebahagiaan hidup, kalian orang-orang baik, dan aku … ahh, biarkan aku pergi … “

Hui Hong mengerti. Ia merasa iba sekali kepada janda yang kini menjadi sahabat baiknya itu. Sudah berulang kali Ling Ay membantu dan menolongnya, memperlihatkan kebaikan hati dan kesungguhannya dalam persahabatan. Memang jauh sebelum hari ini ia telah mengambil suatu keputusan dalam hatinya dan apa yang hendak diputuskannya sekarang ini bukan sekedar dorongan keharuan belaka.

“Tidak, enci Ay, engkau tidak boleh pergi. Aku ingin bicara berdua denganmu. Mari …!” Hui Hong masih merangkul pundak janda itu dan diajaknya menjauh.

“Heiii … ! Kalian hendak pergi ke mana?” teriak Bun Houw melihat betapa kedua orang wanita pergi menjauh.

Hui Hong menengok dan berteriak kembali. “Houw-ko, engkau tunggu saja di situ sebentar jangan mendekati kami!”

Bun Houw membelalakkan matanya, menggerakkan kedua pundaknya lalu mencari tempat duduk di bawah sebatang pohon, tidak mengerti akan ulah kedua orang wanita itu. Setelah berada agak jauh sehingga suara mereka tidak akan dapat didengar oleh Bun Houw, Hui Hong menoleh. Ia melihat Bun Houw duduk di atas batu besar seperti arca dan iapun tersenyum.

“Adik Hong, apa yang ingin kaubicarakan dengan aku?”” Ling Ay telah dapat menguasai keharuan hatinya dan bertanya sambil memandang heran. Mereka sendiri saling berhadapan, dua orang wanita muda yang cantik jelita dan sebaya. Hui Hong berusia dua puluh satu tahun dan Ling Ay berusia dua puluh tiga tahun.

“Enci Ling Ay, sebelum aku bertanya, lebih dulu aku mengharapkan kejujuranmu. Dapatkah dan maukah engkau menjawab semua pertanyaanku dengan jujur, sejujur-jujurnya?”

Ling Ay mengerutkan alisnya, tidak mengerti ke mana maksud tujuan ucapan itu, akan tetapi selama ini ia memang bersikap jujur maka ia mengangguk, bahkan dapat tersenyum kini, senyum seorang yang merasa lebih dewasa menghadapi seorang gadis yang masih kekanak-kanakan. “Tanyalah dan aku akan menjawab sejujurnya.”

Sambil menatap tajam wajah Ling Ay, Hui Hong bertanya, “Enci Ling Ay, apakah engkau masih mencinta Houw-koko?”

Mata itu terbelalak, mulut itu ternganga dan wajah itu menjadi agak pucat, lalu kemerahan. “Adik Hong, apa artinya pertanyaanmu ini? Mengapa engkau bertanya begini?” Mata yang terbelalak itu memandang penuh selidik untuk menjenguk isi hati dari penanyanya.

“Enci Ling Ay, engkau berjanji akan menjawab sejujurnya!”

“Adik Hong, aku sudah tidak berhak lagi bicara tentang itu. Hubungan antara kami sudah lama putus, dan aku … aku tidak berhak menjawab.” Ling Ay menundukkan mukanya, dan sekilas matanya mengerling ke arah Bun Houw duduk.

“Enci Ling Ay, itu bukan jawaban. Yang kutanyakan, apakah engkau masih mencinta Houw-koko?”

Didesak begitu, Ling Ay berkata, “Adik Hong, cinta adalah cinta, sekali ada akan tetap ada, tidak berkurang tidak berlebih, bagaimana bisa ditanyakan masih ada atau sudah tidak ada lagi? Akan tetapi, aku sudah tidak berhak mengenang tentang itu.’“

“Kenapa tidak berhak?”

“Kenapa? Engkau tentu sudah mengetahui. Aku telah mengkhianati cinta kasih Houw-koko. Ketika kami masih bertunangan, pihak keluargaku yang memutuskan pertunangan itu dan aku menikah dengan pria lain. Aku … aku malu untuk bicara tentang cintaku itu.”

“Tidak, engkau tidak mengkhianatinya” enci. Aku sudah mendengar semuanya. Engkau dipaksa ayah ibumu untuk menikah dengan pemuda bangsawan. Engkau tidak berdaya karena ketika itu engkau bukanlah enci Ling Ay yang sekarang, engkau hanya seorang gadis lemah. Engkau sama sekali tidak mengkhianati cintanya, enci.”

“Adik Hong, apa perlunya engkau mengorek-ngorek hal yang telah lampau? Semua itu hanya menyakitkan hatiku. Apakah engkau merasa cemburu kepadaku karena urusan yang lampau itu?”

“Sama sekali tidak. enci. Bahkan aku merasa iba kepadamu, aku merasa suka kepadamu dan aku ingin menolongmu, aku ingin melihat engkau berbahagia pula. Karena itu aku ingin melihat engkau menyambung kembali pertalian jodoh yang dirusak orang tua mu dengan paksa. Aku ingin engkau menjadi isteri Houw-koko.”

“Gila …!!” Saking kagetnya Ling Ay meloncat ke belakang. “Hong-moi, apa maksudmu ini? Jangan engkau memperolok dan menggodaku!” Wajah itu berubah kemerahan karena marah, mengira bahwa Hui Hong sengaja hendak mempermainkannya.

“Siapa menggodamu, enci? Aku bicara sungguh-sungguh!” jawab Hui Hong serius pula.

“Tapi … Houw-koko sendiri pernah mengaku kepadaku bahwa dia telah bertunangan denganmu, bahwa dia saling mencinta dengan mu!”

“Memang benar, enci Ay, dan kami memang akan menikah, menjadi suami isteri … “

“Nah, kalau begitu kenapa engkau mengusulkan hal yang gila itu kepadaku?”

“Bukan usul gila, enci. Aku ingin agar engkaupun menikmati kebahagiaan keluarga bersama kami, menjadi keluarga kita. Perjodohanku dengan Houw-koko tidak akan menghalangi engkau menjadi isteri pula dari Houw-koko … “

“Gila. Kaumaksudkan … aku … engkau … kita berdua menjadi isterinya … ?”

“Kenapa tidak, enci? Aku telah mengenalmu dan tahu bahwa engkau seorang wanita yang berbudi baik, gagah perkasa dan aku tahu pula bahwa engkau masih mencinta Houw-koko. Aku akan suka sekali menjadi saudaramu dan kita bersama menjadi isteri Houw-koko yang sama-sama kita cinta.”

Wajah itu berubah merah sekali dan kedua mata itu menjadi basah kembali. Ling Ay meraba betapa jantungnya seperti diremas-remas. “Tapi … bagaimana ini, adik Hong? Aku … aku pernah memusuhimu, bahkan hampir membunuh ayah kandungmu dan sekarang … kau … ” Ia menutupi muka dengan kedua tangannya.

Hui Hong merangkulnya. “Semua itu kaulakukan karena hendak menaati guru, bukan salahmu, enci. Akan tetapi, yang lalu biarkan lalu, tidak perlu dibicarakan lagi. Yang penting sekarang ini, aku ingin engkau menjadi saudaraku, bersama-sama membahagiakan Houw-koko. Nah, bagaimana jawabanmu?”

“Adik Hui Hong, bagaimana aku harus menjawab? Aku tidak memiliki apa-apalagi, tidak berhak apa-apalagi untuk memilih atau memutuskan. Semua terserah kepada … Houw-ko dan kepadamu … “

“Jadi, kalau aku setuju dan Houw-koko setuju, engkau mau menjadi isteri Houw-koko, hidup sekeluarga dengan aku?”

Dengan salah tingkah dan merasa malu dan sungkan, terpaksa Ling Ay mengangguk. Habis, apalagi yang dapat ia lakukan? Menolak tawaran itu? Berarti ia gila! Ia memang tak pernah kehilangan cintanya terhadap Bun Houw, dan kini ia melihat betapa Hui Hong adalah seorang gadis yang baik sekali.

“Nah, kau tunggu sebentar di sini, enci. Aku mau bicara dengan Houw-ko.”

“Tapi … tapi … jangan membikin malu padaku, adik Hong. Jangan sekali-kali memaksa dia … “

Hui Hong hanya tersenyum dan iapun ber lari-lari menghampiri kekasihnya yang masih duduk melamun karena tidak dapat menduga apa yang dibicarakan oleh kedua orang wanita itu.

“Houw-koko, aku ingin bertanya kepadamu, akan tetapi aku minta engkau menjawab sejujurnya!” Hui Hong berkata. Pemuda itu bangkit dari duduknya dan menatap wajah kekasihnya dengan heran. Belum pernah dia melihat Hui Hong seserius sekarang ini.

“Tentu saja, Hong-moi. Pernahkah aku tidak jujur kepadamu?”

“Nah, sekarang jawablah sejujurnya. Apakah engkau masih mencinta enci Ling Ay?”

Bun Houw terbelalak, lalu mengerutkan alisnya. “Aih, Hong-moi, setelah engkau kini bersahabat baik dengannya, kenapa engkau mengorek peristiwa dahulu yang hanya akan menimbulkan perasaan tidak enak? Apakah engkau merasa cemburu !”

“Jangan berlika-liku, Houw ko. Aku hanya bertanya apakah engkau masih cinta kepada enci Ling Ay itu saja dan jawablah sejujurnya.”

“Bagaimana aku dapat menjawabnya? Engkau sudah kuberitahu bahwa dahulu memang Ling Ay adalah tunanganku, akan tetapi sejak ia dipisahkan dariku dan menikah dengan orang lain, lalu aku bertemu denganmu dan kita saling mencinta. Aku tidak lagi berhak untuk memikirkan dirinya, Hong-moi! Engkau tidak adil kalau mengajukan pertanyaan seperti itu kepadaku.”

“Sudahlah, jangan bertele-tele. Sekarang jawab, apakah engkau cinta padaku?”

“Ehh? Tentu saja!”

“Dan engkau akan memenuhi semua keinginanku? Engkau mau memenuhi syaratku untuk menjadi isterimu?”

“Wah? Engkau mengajukan syarat lagi?” Bun Houw tersenyum. “Syarat apakah itu, calon isteriku yang manis?”

“Syaratku bukan harta bukan kedudukan, syaratku hanya satu. Aku mau menjadi isterimu hanya kalau … engkau juga memperisteri enci Ling Ay.”

Mata itu terbelalak, memandang penuh selidik, tidak percaya.

“Apa kata-katamu tadi? Aku belum mengerti!” kata Bun Houw, bingung dan menduga-duga apakah ucapan tadi hanya untuk menguji kesetiaannya!

“Kukatakan bahwa aku mengajukan syarat agar engkau juga mengambil enci Ling Ay sebagai isterimu, hidup bersamaku dalam satu keluarga.”

“Heii! Kenapa begini? Apa alasanmu mengambil keputusan yang aneh ini?”

“Aku sayang kepada enci Ling Ay, aku kasihan kepadanya dan aku tahu ia masih mencintamu. Perpisahan kalian bukan kehendaknya. Kalau kita membiarkan ia pergi, ia akan hidup merana dan aku akan selalu terkenang kepadanya dengan hati duka. Karena itu, aku ingin ia hidup berbahagia bersama kita.”

Sampai lama Bun Houw termenung. Harus diakuinya bahwa di samping keheranan dan kekejutan, jantungnya berdebar tegang dan girang. Dia memang tak pernah dapat melupakan Ling Ay, dan dia merasa kasihan kepada bekas tunangannya itu. Akan tetapi tak pernah terbayangkan olehnya akan dapat hidup bersama dengan wanita itu, Apalagi, menjadi isterinya atas kehendak Hui Hong! Bagaikan mimpi saja!

“Bagaimana, Houw-ko? Jawablah. Maukah engkau memenuhi syaratku itu?”

Bun Houw menghela napas panjang dan melirik ke arah di mana Ling Ay berdiri dengan kepala ditundukkan. Baru sekarang dia teringat betapa dalam perjalanan mereka bertiga, Hui Hong berpindah tempat ke sebelah kanannya sehingga dia berada di tengah diapit kedua orang wanita itu. Agaknya memang sudah lama Hui Hong mempunyai gagasan aneh itu.

“Apa yang harus kujawab, Hong-moi?” katanya, sikapnya seperti seorang kanak-kanak yang ditawari kembang gula, sebetulnya hatinya senang dan ingin sekali menerimanya, akan tetapi karena malu-malu maka sukar melaksanakan. “Hal ini tentu terserah kepadamu sajalah.”

Hui Hong tertawa. “Hi-hik, seperti diatur saja. Enci Ling Ay menjawab terserah kepadaku, dan engkau juga menjawab begitu. Kalau terserah kepadaku, maka jadilah! Engkau akan memiliki dua isteri sekaligus, koko, aku dan enci Ling Ay! Tunggu di sini!” Gadis itu lalu berlari cepat menghampiri Ling Ay dan Bun Houw hanya melihat betapa kekasihnya itu menarik-narik tangan Ling Ay dibawa mendekat.

Dia berdiri dan ketika menatap wajah itu, kebetulan Ling Ay juga memandang kepadanya dan keduanya menunduk dengan muka kemerahan dan jantung berdebar keras.

“Hong-moi, bagaimana aku dapat menghadapi suhu dalam urusan ini?”

“Benar, Hong-moi. Akupun malu berhadapan dengan ayahmu.” kata Ling Ay lirih.

“Aih, ayahku adalah seorang yang bijaksana. Akulah yang akan menghadapinya dan aku yakin dia akan menyetujuinya. Aku yang akan bicara kepadanya dan memberi penjelasan.”

“Kalau begitu, terserah kepadamu, Hong-moi.”

“Akupun hanya menyerahkan kepadamu, adik Hong.”

Hui Hong memandang mereka bergantian lalu tertawa, membuat keduanya tersipu malu. “Hik-hik, jawaban kalian selalu sama, seolah kalian telah bersekutu!”

“Ihh, engkau nakal, adik Hong. Siapa yang bersekutu?” Ling Ay mencubit.

Hui Hong lalu menggandeng tangan kanan Bun Houw dan memaksa kekasihnya itu untuk menggandeng Ling Ay di sebelah kirinya, kemudian mereka meninggalkan tempat itu, berjalan bergandeng tangan dengan wajah penuh seri bahagia, menyosong masa depan yang cerah.

Sampai di sini, selesailah sudah KISAH SI PEDANG KILAT ini, dengan harapan semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: