Kisah Si Pedang Kilat – 8

Suasana di pusat perkumpulan Thian-ben-;-pang itu nampak hening dan tegang biarpun di situ berkumpul ratusan orang anak buah kedua perkumpulan. Baik Hek-tung Lo-kai Kam Cu maupun Thian-beng-pangcu Ciu Tek tidak mau minta bantuan pasukan keamanan, pemerintah karena urusan ini merupakan urusan mempertahankan kehormatan sehingga mereka akan merendahkan diri kalau sampai minta bantuan pasukan pemerintah. Setelah matahari naik tinggi, semua anak buah kedua perkumpulan telah berbaris di depan pusat perkumpulan Thian-ber g-pang yang berdiri di tereng sebuah bukit. Dari tereng itu. kini nampak serombongan orang tidak begitu besar jumlahnya, hanya sekitar tiga puluh orang, berjalan mendaki bukit. Yang berjalan di depan adalah Suma Koan lalu nampak Suma Hok puteranya, dan seorang yang bertubuh gendut bulat. Yang ke tiga itu adalah Pak-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek Sam-kui yang ikut memperkuat rombongan Suma Koan karena mereka sudah mendengar bahwa perkumpulan Thian-beng-pang dan Hek-tung Kai-pang agaknya hendak membangkang terhadap perintah mereka.
Hek-tung Lo-kai Kam Cu dengan tongkat hitamya di tangan, berdiri di depan anak buahnya, didampingan Thian-beng-pangcu Ciu Tek yang juga berdiri di depan anak buahnya, dengan golok besar siap di pinggang.
Suma Koan tersenyum mengejek setelah dia berhadapan dengan kedua orang ketua itu. “Selamat pagi, Hek-tung Kai-pangcu dan Thian-beng-pangcu. Kami melihat bahwa kalian berdua telah siap menyambut kami. Langsung saja kami ingin mengetahui jawaban kalian terhadap keinginan kami yang telah kami sampaikan tiga hari yang lalu.”
“Kami tetap menolak kerja sama dengan pihakmu!” kata Tian-beng-pangcu dengan suara tegas.
“Kami juga menolak kerja sama itu. Kami ingin bebas menentukan langkah sendiri!” kata pula Hek-tung Lo-kai.
“Ha-ha-ha, sudah kami sangka demikian. Kam Cu dan Ciu Tek, kalian sudah berani menolak uluran tangan kami untuk menjadi sahabat, berarti kalian menganggap kami musuh. Kalau begitu, permusuhan ini kita selesaikan secara laki-laki sejati. Kami menantang kalian untuk bertanding satu lawan satu. Beranikah kalian menyambut tantangan kami, ataukah kalian begitu pengecut untuk mengerahkan anak buah kalian melawan kami?”
Terdengar suara bergelak dan Pek-thian-kui yang gendut bulat sudah maju mendampingi Suma Koan. “Ha-ha-ha, aku sudah mendengar nama besar Hek-tung Lo-kai dan ingin sekali mengenal tongkat hitamnya!”
Beberapa orang murid Thian-beng-pang dan Hek-tung-kaipang maju untuk membela ketua mereka, akan tetapi kedua orang ketua itu memberi isyarat agar mereka mundur.
“Musuh datang dan menantang secara laki-laki. Biar dengan taruhan nyawapun, kami adalah laki-laki sejati untuk menyambut tantangan itu dalam pertandingan satu lawan satu,” kata mereka.
“Ha-ha-ha, bagus! Majulah kalian berdua dan bersiaplah untuk mati!” Kata Suma Koan sambil mencabut sebatang suling dari ikat pinggangnya.
“Tahan …!!!” Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ, di sebelah kanan kedua orang ketua itu, telah berdiri seorang pemuda, yang usianya sekitar dua puluh lima tahun. Melihat pemuda itu, Suma Koan dan Suma Hok terkejut, bahkan wajah Suma Hok berubah agak pucat.
“Kau…! Kwa Bun Houw, apakah engkau tidak tahu malu mencampuri urusan kami? Kami hanya berurusan dengan Thian-beng-pang dan Kek-tung Kai-pang, dan engkau tidak ada sangkut pautnya dengan mereka atau kami! Heii, Kam-pangcu dan Ciu-pangcu, apakah kalian sudah begitu pengecut untuk mengundang jagoan dari luar perkumpulan kalian untuk melindungi kalian?”
Disudutkan seperti itu, tentu saja kedua orang ketua itu merasa kehormatan mereka tersinggung. “Kui-siauw Giam-ong, jangan sembarangan menuduh!” bentak Thian-bengcu Ciu Tek, “Kami sama sekali tidak mengenal pemuda ini dan tidak mengundangnya untuk membantu kami!”
Sementara itu, Hek-tung Lo-kai sudah menghadapi Bun Houw dan dia memberi hormat. “Orang muda yang gagah, harap engkau tidak mencampuri urusan kami. Kami ditantang oleh mereka, kami harus menghadapi secara jantan!”
Bun Houw melangkah maju. “Ji-wi pang-cu, harap dengarkan sebentar, dan semua saudara anggauta Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang, harap ikut dengarkan apa yang kukatakan. Ketahuilah bahwa kedua pang-cu ini telah terjebak oleh kecurangan dan kelicikan Kui-siauw Giam-ong dan sekutunya! Karena persekutuan itu tidak berhasil membujuk kedua orang pang-cu untuk bekerja sama, maka kini mereka datang dan menantang, dengan perhitungan bahwa mereka pasti menang. Kalau kedua pang-cu melawan dengan alasan menjaga kehormatan karena ditantang, maka berarti mereka terkena jebakan. Mereka tentu akan tewas seperti banyak dialami oleh para pimpinan perkumpulan yang bernasib sama. Karena itu, tidak semestinya kalau tantangan itu dilayani, bahkan sebaiknya kalau seluruh anggauta kedua perkumpulan bergerak mengusir pengacau brengsek ini dari tempat ini, dan aku akan membantu kalian menghadapi Kui-siauw Giam-ong dan sekutunya!”
Mendengar seruan ini, para anak buah Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang yang memang sejak tadi sudah marah kepada para penyerbu, bersorak penuh semangat.
Pek-thian-kui, orang pertama di Bu-tek Sam-kui yang belum mengenal Bun Houw, memandang rendah pemuda itu. “Bocah pengacau ini biar kusingkirkan lebih dulu!” bentaknya dan tubuhnya yang bulat itu seperti sebuah bola besar menggelinding ke arah Bun Houw dan ternyata dia telah mengirim pukulan jarak jauh dengan kedua tangan didorongkan ke arah pemuda itu dan angin dahsyat menyambar ke arah Bun Houw.
Pemuda ini sudah siap siaga. Dia tahu bahwa kakek gendut itu lihai sekali, maka diapun sudah mengerahkan tenaga Im-yang Bu-tek Cin-keng, mendorong pula dengan kedua tangan terbuka untuk menyambut serangan yang sepenuhnya mengandalkan hawa sin-kang (tenaga sakti) itu.
“Wuuuuttt … desas …!!” Dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu dan akibatnya, tubuh yang gendut bundar itu terlempar ke belakang dan bergulingan! Akan tetapi, orang pertama dari Bu-tek Sam-kui ini memang kebal dan kuat. Dia tidak terluka, hanya terkejut dan sudah meloncat berdiri. Mukanya menjadi merah sekali saking marahnya. Dia, orang pertama dari Tiga Setan Tanpa Tanding, sekali mengadu tenaga, dalam segebrakan saja sudah terguling-guling oleh seorang pemuda tak ternama!
“Singg …!!” Diapun sudah mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar hitam. “Bocah keparat, pedangku akan minum darahmu!”
Akan tetapi Bun Houw tersenyum. “Bukankah engkau ini Pek-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek Sam-kui. Aku mendengar bahwa kok-su (guru negara) dari kerajaan Wei yang berjuluk Thian-te Seng-jin amat lihai dan bahwa di antara para muridnya terdapat Bu-tek Sam-kui. Sebaiknya kalau engkau kembali saja ke utara, tidak membuat kekacauan di daerah selatan sini!”
“Bocah sombong, majulah. Mari kita bertanding sampai seribu jurus!” Si gendut yang merasa malu karena kekalahannya tadi, menantang untuk mengangkat kembali namanya yang tentu akan jatuh karena di depan banyak orang dia dikalahkan dalam segebrakan! “Baik, aku menyambut tantanganmu. Pek-thian-kui!” Dan begitu tangan kanan Bun Houw bergerak, nampak kilat menyambar dan semua orang menjadi silau oleh sinar pedang Lui-kong-kiam!
Pek-thian-kui terbelalak, akan tetapi dia sudah menerjang dengan pedangnya yang bersinar hitam. Bun Houw mengerahkan tenaga lagi dan menggerakkan Lui-kong-kiam, menangkis dan sengaja mengadu tenaga lewat pedang.
“Trakkk …!” terdengar suara nyaring dan si gendut kembali meloncat ke belakang dengan muka pucat memandang pedang hitamnya yang sudah buntung, patah ketika bertemu dengan pedang di tangan Bun Houw. Kini dia tidak ragu lagi.
“Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) …!!” serunya gentar. Dahulu, pedang itu pernah menjadi rebutan para tokoh persilatan, akan tetapi akhirnya terjatuh ke tangan Tiauw Sun Ong pendekar buta yang amat lihai.
Bun Houw tersenyum dan menyimpan kembali pedangnya. “Apakah engkau masih ingin melanjutkan perkelahian, Pek-thian-kui? Atau engkau yang akan maju, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan? Dan bagaimana dengan engkau, Suma Hok?” Bun Houw sengaja menantang untuk membikin panas hati ayah dan anak itu.
Sementara itu, kedua orang pangcu hanya menonton dengan hati penuh kagum dan diam-diam bersukur bahwa ada bintang penolong datang. Kalau tidak, mungkin mereka berdua akan tewas di tangan masuh.
Suma Hok memandang dengan muka merah, akan tetapi tidak berani menyambut tantangan itu, sedangkan Suma Koan yang melihat betapa mudahnya orang pertama Bu-tek Sam-kui dikalahkan Bun Houw, juga menjadi ragu. Dia sendiri gentar terhadap Tiauw Sun Ong, akan tetapi tadinya masih memandang remeh murid Tiauw Sun Ong ini. Setelah tadi dia melihat betapa Bun Houw dengan mudah mengalahkan Pek-thian-kui, dia maklum bahwa dia tidak akan mampu menandingi Si Pedang Kilat.
“Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang telah mengundang murid hekas pangeran Tiauw Sun Ong, mulai sekarang, kalian adalah musuh-musuh kami. Lain kali kami akan datang membikin perhitungan!” satelah berkala demikian, Suma Koan memberi isarat dan bersama Suma Hok dan Pek-thian-kui yang merasa tidak akan mampu menang, dia meninggalkan tempat itu, diikuti semua anak buah mereka yang juga sudah merasa gentar melihat demikian banyaknya anak buah kedua perkumpulan itu yang agaknya sudah dipanaskan hatinya oleh ucapan Bun Houw tadi.
Sebetulnya, tiga puluh orang anak buah penyerbu itu adalah orang-orang Thian-te Kui-pang, dan mereka terdiri dari orang-orang yang lihai dan mereka tidak akan gentar melawan anak buah Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang. Akan tetapi menyaksikan kelihaian Si Pedang Kilat, mereka menjadi gentar juga. Pemimpin mereka saja, yang juga merupakan guru mereka, dalam segebrakan dikalahkan pemuda itu, apa lagi mereka!
“Kejar mereka! Banuh!” Terdengar teriakan-teriakan anak buah kedua perkumpulan, akan tetapi Bun Houw mengangkat tangan. “Jangan! Biarkan mereka pergi!”
Juga ketua dari dua perkumpulan itu mencegah anak buah mereka untuk melakukan pengejaran. Kara Cu dan Ciu Tek maklum bahwa tanpa bantuan Kwa Bun Houw, mereka berdua bersama anak buah mereka tidak akan mampu mengalahkan rombongan penyerbu itu. Keduanya lalu menghadapi Bun Houw dan mengangkat kedua tangan memberi hormat.
‘Terima kasih atas bantuan tai-hiap.” kata Hek-tung Lo-kai.
“Kalau tidak tai-hiap yang muncul, pasti kami berdua telah tewas dan entah bagaimana jadinya dengan perkumpulan kami.” kata pula Thian-beng-pang Ciu Tek.
“Sudahlah, ji-wi pang-cu (ketua berdua) telah kena dijebak oleh Suma Koan. Dia memang licik sekali. Kalau ji-wi tidak menghadapi tantangan mereka, akan tetapi mengerahkan semua anak buah ji-wi, kiranya tidak, akan mudah bagi mereka untuk menggertak. Juga, kalau ji-wi menghubungi pasukan keamanan, tentu akan mendapatkan bantuan karena pasukan keamanan pemerintah kini amat memperhatikan keamanan daerahnya.”
“Tai-hiap, mari kita bicara di dalam. Kami merasa kagum kepada tai-hiap yang masih begini muda telah memiliki kepandaian tinggi. Pantas sekali julukan Si Pedang Kilat bagi tai-hiap.” kata pula tuan rumah, ketua Thian-beng-pang.
“Benar, silakan tai-hiap. Kami juga ingin sekali mendengar tentang keadaan sekarang ini dan apa pula yang mendorong tindakan mereka tadi,” kata Hek-tung Lo-kai.
Bun Houw merasa tidak enak untuk menolak dan diapun mengikuti mereka berdua memasuki pusat perkumpulan Thian-beng-pang itu. Diam-diam dia tersenyum dalam hatinya. Kedua orang ketua ini tadi mendengar seruan Pek-thian-kui nama pedangnya yaitu Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) dan menganggap bahwa itu adalah nama julukannya. Akan tetapi dia diam saja dan tidak menyangkal. Apa salahnya kalau dia dikenal sebagai Si Pedang Kilat?
Setelah mereka memasuki rumah Thian-beng-pangcu Ciu Tek, mereka lalu bercakap-cakap sambil menikmati hidangan yang dikeluarkan tuan rumah untuk menyambut pemuda itu.
“Dapatkah Kwa-taihiap menerangkan mengapa seorang datuk seperti Suma Koan, tiba-tiba saja menaklukkan banyak perkumpulan, bahkan memaksa mereka takluk kalau tidak mau dibujuk? Apa yang tersembunyi di balik tindakannya itu?” tanya Ciu Tek.
“Tadinya aku menganggap bahwa dia hanya ingin mengangkat diri menjadi beng-cu di dunia persilatan, akan tetapi setelah tadi aku melihat dia muncul bersama Pek-thian-kui, aku merasa curiga sekali. Ketahuilah, ji-wi pangcu. sekarang Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, membantu bekas kaisar Cang Bu yang bersiap-siap untuk merampas kembali tahta kerajaan.”
“Ahhh …!!” kedua orang pang-cu itu berseru kaget. Bun Houw menghela napas panjang. “Sebetulnya, orang-orang seperti kita ini yang hanya berkewajiban mempertahankan kebenaran dan keadilan, membela rakyat kecil yang tertindas, tidak perlu mencampurkan diri ke dalam perebutan kekuasaan itu. Adalah hak bekas kaisar Cang Bu untuk mencoba merampas kembali tahta kerajaan. Akan tetapi kalau dia melakukan hal itu, berarti terjadi lagi perang dan kembali rakyat yang akan menderita sebagai akibat perang. Apalagi mengingat betapa dahulu, ketika kaisar Cang Bu masih berkuasa, dia terlalu lemah sehingga hampir semua pejabat menyelewengkan kekuasaan masing-masing dengan tindakan korupsi dan kesewenang-wenangan, dan sekarang kita melihat sendiri betapa baiknya kaisar yang baru memegang pemerintahan, tegas, adil dan juga memperhatikan nasib rakyat jelata. Aku sendiri tidak ingin terlibat dalam perebutan kekuasaan itu, akan tetapi sekarang aku melihat gejala yang amat tidak haik. Munculnya Suma Koan bersama Pek-Thian-kui sungguh mencurigakan. Pek-thian-kui adalah orang pertama dari Bu-tek Sam-kui, yang merupakan tokoh-tokoh dan jagoan dari istana kerajaan Wei di utara, sedangkan Suma Koan jelas membantu bekas kaisar Cang Bu. Besar kemungkinannya, bekas kaisar Cang Bu agaknya kini bersekutu dengan kerajaan Wei di utara, dan mereka bermaksud menguasai dunia kang-ouw untuk persiapan perang mereka terhadap kerajaan Chi yang baru.”
“Ah, kalau begitu berbahaya sekali, taihiap!” kata Ciu Tek ketua Thian-beng-pai. “Lalu, apa yang harus kami lakukan untuk mencegah terjadinya hal itu?”
“Tidak ada jalan lain, kita harus menentang mereka menguasai dunia persilatan. Sebaiknya kalau ji-wi mengusahakan agar dapat berhubungan dengan para ketua perkumpulan persilatan lain yang tidak mau mereka peralat dan kita bersama mendirikan kubu yang kuat. Kalau perlu, kita mengadakan pemilihan beng-cu tandingan.”
“Bagus sekali itu !” kata Hek-tung Kai-pang. “Aku akan menghubungi seluruh kai-pang di negeri ini agar mendukung Si Pedang Kilat untuk menjadi bengcu!”
“Benar, kamipun mendukung Kwa-taihiap menjadi bengcu!” kata pula Ciu Tek.
Bun Houw mengangkat tangan ke atas. “Harap ji-wi tidak salah duga. Aku sama sekali tidak ingin menjadi beng-cu. Aku hanya ingin menentang dan menjaga agar kedudukan beng-cu tidak dipegang orang yang dapat diperalat persekutuan antara bekas kaisar Cang Bu dan kerajaan Wei. Kalau kerajaan Wei dari utara hendak menyerang selatan, bagaimanapun juga kita harus menentangnya!”
“Kami akan mengerjakan usul taihiap. Akan tetapi, bagaimana caranya kalau kami hendak menghubungi taihiap? Kalau muncul suatu persoalan dan kami ingin minta petunjuk tai-hiap, bagaimana kami dapat menghubungimu?”
“Aku yang akan datang ke sini, pang-cu. Aku akan berada di sekitar Nan-king dan kalau, ada keperluan mendadak, mungkin aku bertemu dengan anak buah Hek-tung Kai-pang dan melalui mereka pang-cu dapat menghubungiku.”
Selagi mereka bercakap-cakap, seorang anggauta Thian-beng-pang mengetuk pintu ruangan itu. Ketika dia disuruh masuk, dia memberi hormat, “Maafkan gangguan saya, pang-cu. Akan tetapi di luar datang seorang tamu yang katanya mempunyai keperluan penting untuk Hek-tung Kai-pangcu.”
“Hemm, siapakah dia dan dari mana?” tanya ketua perkumpulan pengemis itu.
“Mengatakan datang dari kota raja, diutus oleh Thai-kam (Sida-sida) Koan.” jawab anggauta Thian-beng-pang itu.
Mendengar ini, ketua Hek-tung Kai-pang nampak bergairah. “Ah. kalau begitu, minta dia masuk sekarang juga!” Setelah orang itu pergi, dia memberitahu kepada Ciu Tek dan Bun Houw, “Thai-kam Koan adalah sahabatku yang bekerja di istana kaisar. Dari dialah aku dapat mengetahui semua keadaan dalam istana, dan kini dia mengutus seseorang datang kepadaku, tentu ada berita penting dari istana.”
Mendengar itu, sahabatnya, ketua Thian-beng-pang, mengangguk-angguk, Bun Houw juga kagum. Kiranya Kam Cu, biarpun hanya pemimpin para pengemis, mempunyai hubungan yang luas sampai dapat mengetahui keadaan dalam istana kaisar Siauw Bian Ong. Tak lama kemudian, masuklah seorang laki-laki tua yang pakaiannya seperti seorang buruh kecil, sederhana dan bahkan butut. Dia memberi hormat kepada tiga orang itu.
“Harap memaafkan kalau saya mengganggu sam-wi. Saya perlu bertemu dengan Hek-tung Lo-kai … “
“A-sin, ada kepentingan apakah sampai engkau menyusulku ke sini?” tanya Hek-tung Lo-kai yang sudah mengenal orang itu.
“Maaf, pang-cu. Tadi aku pergi ke markas Hek-tung-kaipang, di sana kosong dan aku, mendengar bahwa pangcu berada di sini, maka aku langsung menyusul ke sini karena Koan-thaikam memesan agar suratnya dapat secepat mungkin kuserahkan kepada pang-cu.” Dia mengeluarkan segulung surat dari dalam saku bajunya dan menyerahkannya kepada ketua Hek-tung Kai-pang itu. Ketua itu menerimanya dan membuka gulungan, lalu membacanya. Alisnya berkerut dan matanya terbelalak lalu tanpa banyak cakap dia menyerahkan surat itu kepada Ciu Tek.
Ketua Thian-beng-pang inipun membacanya dan wajahnya berubah pucat.
“Tai-hiap, silakan baca surat ini. Penting sekali!” katanya dan Kam Cu mengangguk menyetujui.
Bun Houw yang tadinya tidak memperhatikan karena mengira bahwa surat itu merupakan urusan pribadi, menyambut dan membaca surat itu. Dalam surat itu, secara ringkas dikabarkan bahwa Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan telah mengundang Bu-eng-kiam Ouwyang Sek ke istana dan bahkan diterima oleh Kaisar Siauw Bian Ong. Akan tetapi bukan itu yang terpenting, melainkan bahwa mereka bertiga itu membentuk persekutuan dengan orang-orang dari kerajaan Wei. mengadakan persekongkolan untuk membunuh Kaisar Siauw Bian Ong sekeluarga berikut para pembantu yang setia kepada kaisar baru ini! Dan bahwa Koan-thaikam mengharapkan bantuan sahabatnya, Hek-tung Lo-kai untuk membantu dan menyelamatkan kaisar dari ancaman bahaya itu.
“Hemm, kiranya keluarga Ouwyang telah dapat pula menyelundup ke istana?” kata Bun Houw, mengerutkan alisnya karena kalau ayah dan anak itu di sana, berarti memang ancaman bahaya bagi keselamatan kaisar.
“Bukan mereka saja, akan tetapi juga Kwan Hwe Li bekerja di sana sebagai pengawal permaisuri,” kata Hek-tung Lo-kai. “Memang di istana terdapat banyak jagoan istana yang tangguh, akan tetapi kalau mereka itu terlalu dekat dengan kaisar, tentu akan sulit untuk menjamin keselamatan kaisar. Jalan satu-satunya adalah mengharapkan bantuanmu Kwa-taihiap!”
“Hemm, aku siap menghadapi kejahatan mereka. Akan tetapi bagaimana aku dapat melindungi kaisar?” tanya pemuda ini ragu.
“Kalau tai-hiap muncul seperti biasa dan persekutuan itu mengetahui, tentu mereka akan menjadi waspada dan keadaan menjadi semakin berbahaya. Sebaiknya thai-hiap menyamar dan biar oleh Koan-thaikam dihadapkan sribaginda agar thai-hiap dapat diterima menjadi pengawal pribadi. Tentang penyamaran, harap jangan khawatir karena kami mempunyai ahli-ahli penyamaran yang akan dapat menyulap tai-hiap menjadi orang lain.” kata-Hek-tung Lo-kai.
Demikianlah, pada hari itu juga Hek-tung Lo-kai memberi kabar kepada Koan-thaikam melalui A-sin agar thaikam itu dapat membuat persiapan menyambut Bun Houw di istana. Setelah semua siap, Bun Houw dipertemukan dengan Koan thaikam dan diajak masuk istana. Kini tak seorangpun akan dapat mengenal Bun Houw karena wajahnya telah berubah sama sekali. Muka yang biasanya halus tampan itu berubah menjadi muka yang ternoda bopeng (bekas cacar), juga bentuk hidung dan matanya berubah. Orang yang terdekat sekalipun dengan Bun Houw, akan sukar dapat mengenalnya.
Sebelumnya. Koan-thaikam telah memberi tahu kepada Kaisar bahwa dia mempunyai seorang keponakan yang memiliki ilmu silat tinggi dan dapat diandalkan untuk menjadi pengawal pribadi kaisar, atau menambah lagi pasukan pengawal pribadi. Kaisar amat percaya kepada Koan-thaikam yang memang amat setia kepadanya itu, maka pada hari itu, kaisar berjanji akan menerima keponakan Koan-thaikam yang bernama Koan Jin itu.
Ketika pada pagi hari itu Koan-thaikam menghadapkan seorang pemuda yang wajahnya bopeng dan tidak mengesankan, kaisar menerimanya dengan alis berkerut dan nampak kecewa. Keponakan Thai-kam kepercayaannya itu sungguh tidak mengesankan, selain mukanya tidak menarik juga penampilannya tidak dapat membayangkan seorang yang kuat. Bahkan pasukan pengawal yang berjaga di ruangan itu, yang dipimpin Ouwyang Toan sebagai perwira pasukan pengawal, melirik dengan senyum mengejek. Mereka sudah mendengar dari para thai-kam bahwa Koan-thaikam akan memasukkan keponakannya sebagai calon anggauta pengawal pribadi kaisar! Pada hal selama Ouwyang Toan berada di situ, dialah yang sudah memasukkan enam orang pengawal baru yang telah diuji kepandaiannya dan kini menjadi anak buah pasukan pengawal istana. Biarpun hatinya merasa panas karena ada thaikam berani mengajukan keponakannya sendiri sebagai calon pengawal, akan tetapi Ouwyang Toan tidak berani memperlihatkan ketidaksenangan hatinya. Dia tahu bahwa Koan-thaikam adalah seorang thaikam kepercayaan kaisar, sedangkan dia sendiri adalah seorang perwira pengawal yang masih baru. Akan tetapi dia sudah bersepakat dengan anak buahnya untuk menggagalkan keponakan thaikam itu menjadi pengawal, dan dalam ujian ilmu silat, mereka dapat membuat keponakan thaikam itu dan Koan-thaikam sendiri mendapat malu. Apalagi ketika melihat calon pengawal itu masuk dengan sikap takut-takut dari dusun, mereka saling pandang dan tersenyum mengejek.
Setelah mengamati sejenak pemuda yang nampak tidak mengesankan itu, Sribaginda Kaisar Siauw Bian Ong, yang juga merupakan seorang ahli silat yang cukup tangguh, karena ketika dia masih bernama Souw Hui! Kong, dia adalah seorang petualang yang telah mempelajari banyak ilmu sehingga akhirnya dia berhasil menumbangkan kerajaan Liu-sung yang telah menjadi lemah dan mendirikan kerajaan Chi, berkata kepada thaikam kepercayaannya dengan nada menegur, “Koan thaikam, tidak kelirukah permohonanmu untuk memasukkan keponakanmu ini sebagai seorang pengawal istana? Engkau tentu tahu bahwa seorang pengawal istana harus memiliki ilmu kepandaian tinggi, apalagi sebagai pengawal pribadi kami yang melindungi keselamatan kami, haruslah seorang yang benar-benar tangguh dan sakti.”
“Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak keliru, karena keponakan hamba ini, Koan Ji, sejak kecil telah berguru kepada ratusan orang guru silat yang pandai dan kini dia telah memiliki ilmu kepandaian silat yang ampuh.”
Kembali para anggauta pasukan pengawal tersenyum simpul dan kebetulan Kaisar memandang kepada mereka sehingga tanpa disengaja kaisar melihat mereka bersenyum simpul mengejek. Hal ini membuat kaisar merasa tidak senang kepada mereka.
“Koen-thaikam, apakah keponakanmu ini siap untuk diuji kepandaiannya?”
“Tentu saja, Yang Mulia. Dia sudah siap untuk menghadapi ujian.”
Kembali kaisar memandang kepada Bun Houw. Wajah yang tidak meyakinkan dan tidak menarik. Akan tetapi, hal ini malah menguntungkan. Sebaiknya memang pasukan pengawal istana terdiri dari laki-laki yang wajahnya buruk dan tidak menarik bagi wanita untuk mencegah terjadinya hal-hal yang akan menodai nama dan kehormatan istana kalau sampai ada wanita istana jatuh cinta kepada seorang anggauta pasukan pengawal. Untuk mencegah perjinaan seperti itulah maka semua petugas istana yang pria diharuskan menjadi sida-sida, karena seorang thai-kam sudah bukan pria normal lagi, tidak dapat lagi berjina dengan wanita.
“Koan Ji, beranikah engkau kami suruh melawan seorang di antara para perajurit pengawal itu?” Dia menuding ke arah para pengawal yang berdiri tegak dalam barisan di, bagian luar ruangan itu.
Koan Ji yang berlutut itu memberi hormat. “Siapa saja yang mengancam keamanan paduka dan seisi istana, pasti akan hamba lawan mati-matian, Yang Mulia!” kata Kwa-Bun Houw dengan sikap seperti seorang dusun.
Kaisar Siauw Bian Ong tertawa. “Ha-ha. maksud kami bukan melawan sebagai musuh. Mereka adalah anggauta pasukan pengawal dan mereka semua sudah lulus ujian ketangkasan. Engkau akan kami uji dengan bertanding ilmu silat melawan seorang di antara mereka. Yang mana kaupilih?”
Bun Houw menoleh ke arah selusin perajurit pengawal yang dikepalai Ouwyang Toan, lalu dia memberi hormat lagi, “Yang mana pun akan hamba hadapi, Yang Mulia.”
“Bagus! Ouwyang-ciangkun pilihkan seorang di antara anak buahmu untuk menguji apakah keponakan Koan-thaikam ini pantas menjadi pengawal pribadi kami.”
“Maaf, Yang Mulia. Untuk menjadi anggauta pasukan pengawal istana, memang cukup dapat menandingi seorang di antara anak buah hamba. Akan tetapi untuk menjadi pengawal pribadi paduka, dia haruslah seorang yang benar-benar tangguh dan sedikitnya memiliki tingkat kepandaian dua kali lipat dari tingkat seorang perajurit pengawal istana. Karena itu, sebaiknya kalau calon ini dapat menghadapi dan menandingi pengeroyokan dua atau tiga orang perajurit pengawal.” kata Ouwyang Toan.
Kaisar itu mengangguk-angguk dan kembali berkata kepada Bun Houw yang maklum bahwa Ouwyang Toan jelas tidak menghendaki ada pengawal pribadi kaisar yang baru. “Bagaimana, Koan Ji. Beranikah engkau melawan dua atau tiga orang perajuril pengawal istana? Kalau engkau merasa tidak sanggup, katakan saja. Kami tidak ingin bersikap sewenang-wenang, hanya ingin menguji kemampuanmu.”
“Kalau paduka memerintahkan, biar menghadapi berapa saja lawan, hamba siap untuk menandinginya, Yang Mulia.” kata Bun Houw dengan sikap bersahaja.
Kaisar Siauw Bian Ong kembali tertawa gembira.
“Ha-ha ha, baru semangatmu saja sudah menyenangkan hati kami, Koan Ji. Nah, Ouwyang-ciangkun, engkau sudah mendengar sendiri. Calon pengawal pribadi ini berani menghadapi pengeroyokan tiga orang anak buahmu.”
“Baik, Yang Mulia. Hamba akan memilih tiga orang di antara mereka.”
Ouwyang Toan memilih tiga orang anak buahnya yang paling jagoan. Tiga orang ini bukan sembarangan orang. Mereka adalah jagoan-jagoan dari Thian-te Kui pang dan tingkat kepandaian masing-masing hanya sedikit di bawah tingkat Ouwyang Toan! Biar Ouwyang Toan sendiri, agaknya tidak akan mungkin menang menghadapi pengeroyokan tiga orang anak buahnya ini dan kini dia mengajukan mereka untuk mengeroyok seorang calon, perajurit pengawal!
Tiga orang pengawal itu setelah memberi hormat kepada Kaisar, lalu siap dan mengepung Bun Houw yang juga sudah memberi hormat dan bangkit berdiri, membiarkan dirinya dikepung oleh tiga orang lawan yang membentuk segi tiga. Seorang di depannya, seorang di kanan dan seorang di kiri. Diam-diam dia mengamati mereka dan gerak-gerik mereka. Seorang yang menghadapinya adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar seperti raksasa yang mukanya penuh brewok tebal dan nampak menyeramkan. Yang berada di kirinya seorang laki-laki tinggi kurus muka hitam arang, sedangkan yang berada di sebelah kanannya seorang laki-laki bertubuh sedang dan didahinya terdapat codet bekas bacokan senjata tajam. Sikap mereka ketika memegang kuda-kuda saja memperlihatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat dan usia mereka rata-rata tiga puluh tahun.
Bun Houw memutar tubuhnya membelakangi mereka, memberi hormat lagi kepada kaisar dan diapun berkata, “Hamba telah siap, Yang Mulia. Mereka itu boleh mulai menyerang sekarang.”
“Heii, Koan Ji, kenapa engkau membelakangi tiga orang lawanmu?” tiba-tiba Koan-thaikam berseru karena merasa cemas melihat betapa pemuda itu membelakangi tiga orang pengeroyoknya.
“Ha-ha, kenapa engkau melakukan itu, Koan Ji? Bagaimana engkau dapat melawan tiga orang itu kalau engkau berdiri membelakangi mereka?” Kaisar juga bertanya heran dan geli.
“Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak berani sedemikian kurang sopan untuk berdiri membelakangi paduka.”
“Ha-ha-ha-ha-ha!” Sribaginda Kaisar tertawa bergelak. Pemuda ini memang lucu dan aneh. Pikirnya “Kalau begitu, kalian saling berhadapan di sebelah kiri dan kanan, jadi tidak adanya membelakangiku.” katanya.
Kini tiga orang itu sudah siap, ketiganya menghadapi Bun Houw yang berdiri seenaknya, namun waspada dan siap siaga. “Aku sudah siap, kalian boleh mulai!” katanya tenang.
Tiga orang anggauta Thian-te Kui pang itu sebetulnya menanti agar Bun How menyerang lebih dulu. Mereka merasa diri mereka tangguh, dan bagaimanapun mereka agak malu karena harus mengeroyok seorang calon pengawal yang kelihatannya lemah. Akan tetapi karena pemuda itu tidak mau menyerangnya dan mempersilakan mereka yang maju lebih dulu, merekapun mulai menyerang. Serangan mereka merupakan pukulan yang kuat dan berat, juga cepat. Bun Houw menggerakkan tubuh, dia menangkisi semua pukulan itu. Begitu kedua lengan bertemu, seorang penyerang mengeluh karena merasa seolah-olah lengannya bertemu dengan besi panas yang amat keras! Demikian pula orang ke dua dan ke tiga. Si raksasa brewok yang merasa paling kuat dan besar tenaganya, mengirim pukulan dengan pengerahan tenaga dari atas ke arah kepala Bun Houw. Pemuda ini mengangkat lengan kiri menangkis.
“Dukk …! suhhh …!” Si raksasa brewok berteriak kesakitan, dan terhuyung ke belakang.
Bun Houw hanya mengandalkan tanaga sinkangnya, karena dia tidak ingin memperlihatkan kepandaiannya sehingga akan mencurigakan hati Ouwyang Toan. Dia tidak mau memperkenalkan diri dan dengan tenaga sin-kang dia menangkis, juga mengelak sehingga dia sama sekali tidak mengeluarkan ilmu silat yang akan dikenal Ouwyang Toan.
Karena merasa malu, tiga orang itu menahan rasa nyeri dan mereka menyerang semakin kuat dan gencar. Bahkan si raksasa brewok mengandalkan kakinya yang besar, kokoh dan panjang, mengayun kaki kirinya menendang. Tendangan itu kuat bukan main dan sekiranya mengenai tubuh Bun Houw, agaknya tubuh yang tidak berapa besar itu akan terlempar sampai beberapa meter jauhnya. Akan tetapi, Bun Houw tidak mengelak, bahkan menggerakkan pula kaki kanannya menyambut atau menangkis tendangan itu.
“Dukkk!” Kini si brewok raksasa itu menggigit bibir. Kiut-miut rasa kakinya, seperti patah-patah tulangnya, rasa nyeri sampai menyengat seluruh tubuh sampai ke ubun-ubun dan karena dia menahan rasa nyeri sambil menggigit bibir, kakinya yang tidak tahan dan diapun mengangkat kaki kiri ke belakang, memeganginya dap berloncat-loncatan dengan kaki kanan!
Sribaginda Kaisar tertawa bergelak-gelak karena memang pemandangan itu lucu bukan main. Akan tetapi Ouwyang Toan dan anak buahnya terbelalak, hampir tidak percaya betapa pemuda yang agaknya tidak pandai silat itu karena tidak pernah mengeluarkan jurus silat, ternyata memiliki kaki tangan yang agaknya kebal dan kuat sekali.
Dua orang yang lain menjadi marah dan menyerang sekuat tenaga, hanya untuk meringis karena ketika lengan mereka ditangkis, mereka merasa lengan mereka semakin nyeri seperti patah-patah. Lengan mereka, kanan dan kiri, sudah matang biru dan bengkak-bengkak! Pada hal, lengan dan kaki mereka itu terlatih baik, sekali hantam saja lengan mereka dapat memecahkan bambu. Akan tetapi sekarang, lengan mereka seperti diadu dengan baja!
Biarpun mereka bertiga menahan nyeri, akhirnya lengan mereka yang tidak tahan. Kedua lengan mereka itu akhirnya tergantung lemah, terkulai dan tak dapat diangkat, juga kaki mereka hampir tak kuat untuk berdiri dan dengan sendirinya perlawanan merekapun terhenti!
“Ha-ha-ha, bagaimana ini? Mengapa kalian bertiga tidak menyerang lagi?” tanya Kaisar Siauw Bian Ong gembira, pada hal dia sebagai seorang ahli silat tahu bahwa tiga orang itu sudah kalah, walaupun Koan Ji belum pernah memukul mereka!
“Kenapa kalian bertiga? Hayo jawab pertanyaan Yang Mulia!” bentak Ouwyang Toan marah dan merasa malu, juga terheran-heran melihat ulah tiga orang anak buahnya itu.
Dua orang berlutut, dan si raksasa brewok akhirnya juga berlutut menghadap kaisar dan mewakili dua orang temannya. “Mohon paduka mengampuni hamba bertiga. Yang Mulia. Hamba bertiga tidak mampu melanjutkan pertandingan, agaknya lawan hamba itu memasang baja pada kaki tangannya … “
“Yang mulia, hamba mohon ijin untuk memeriksa kaki dan tangan calon perajurit pengawal ini.” kata Ouwyang Toan dan kaisar mengangguk.
“Periksalah, apakah benar di dalam lengan baju dan kaki celananya terdapat potongan baja.” kata kaisar sambil tersenyum geli.
Sebetulnya Ouwyang Toan bukanlah seorang yang demikian bodohnya. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, iapun maklum bahwa orang yang sin-kangnya sudah amat kuat, dapat saja membuat kaki tangannya keras seperti baja. Akan tetapi, dia tidak percaya Koan Ji memiliki sin-kang sedemikian kuatnya, maka mendengar keluhan tiga orang anak buahnya tadi, diapun merasa curiga. Setelah mendapat ijin kaisar, Ouwyang Toan lalu menghampiri Bun Houw dan menyingkap lalu menggulung ke atas kedua lengan baju dan pipa celananya. Akan tetapi tentu saja dia tidak menemukan apa-apa kecuali kaki dan tangan biasa yang bertulang, berotot dan berkulit!
Tentu saja Ouwyang Toan tidak dapat berkata apa-apalagi, lalu mundur sambil menundukkan mukanya.
Seorang tokoh pengawal pribadi kaisar yang sejak tadi hanya menjadi penonton bersama para pengawal pribadi lainnya, kini berkata dengan hormat, ‘”mpun, Yang Mulia. Menurut pendapat hamba, saudara Koan Ji ini cukup pantas untuk menjadi pengawal pribadi paduka, menambah kekuatan pasukan pengawal pribadi paduka.”
Kaisar Siauw Bian Ong menoleh ke arah lima orang pengawal pribadinya dan mereka semua mengangguk menyetujui. Kaisar tersenyum girang. Dia menemukan seorang pengawal lain yang lihai dan tentu saja dapat dipercaya karena pemuda itu adalah keponakan Koan-thaikam, seorang yang sudah dipercayanya penuh sebagai seorang hamba yang setia.
Demikianlah, mulai saat itu, Bun Houw diterima sebagai seorang pengawal pribadi kaisar sehingga kini pengawal pribadi kaisar berjumlah sebelas orang yang melakukan penjagaan terhadap keselamatan Kaisar Siauw Bian Ong pribadi, Bun Houw juga berjumpa dengan Kwan Hwe Li yang menjadi pengawal permaisuri, akan tetapi datuk wanita itu tidak mengenalnya.
Koan-thaikam yang cerdik tidak memberitahu kepada kaisar tentang siapa sebenarnya Koan Ji, akan tetapi, dia diam-diam mengumpulkan sepuluh orang pengawal pribadi kaisar yang lain. Dia percaya sepenuhnya kepada sepuluh orang itu sebagai orang-orang yang setia kepada kaisar dan merupakan pengawal lama, sejak Kaisar Siauw Bian Ong menduduki singasana kerajaan Chi yang baru. Tentu saja sepuluh orang itu tidak dapat dia kumpulkan sekaligus, hal itu tidak mungkin karena setiap saat harus ada sedikitnya dua orang pengawal yang mengawal kaisar. Bahkan kalau kaisar sedang berada di dalam kamar tidurnya, dua atau tiga orang pengawal berjaga di luar kamar itu, walaupun sudah ada pasukan istana yang melakukan penjagaan di seluruh istana. Koan-thaikam dengan cerdik dapat mengajak sepuluh orang pengawal pribadi kaisar itu untuk mengadakan pertemuan, setiap kali hanya dengan lima orang. Dalam dua kali pertemuan saja dia sudah dapat mengadakan perundingan dengan mereka.
Sepuluh orang pengawal pribadi itu terkejut bukan main mendengar laporan Koan-thaikam yang telah mendengar rahasia Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan yang mengadakan persekutuan dengan kaki tangan kerajaan Wei untuk melakukan pembunuhan terhadap Kaisar Siauw Bian Ong.
“Koan-taijin, kalau begitu, kenapa kita tidak langsung saja menangkap para pengkhianat itu!” kata para pengawal atau jagoan istana itu dengan penasaran.
“‘Atau kita langsung laporkan kepada Sri-baginda biar mereka itu ditangkap?” kata yang lain.
Akan tetapi Koan Thai-kam menggeleng kepalanya. “Hal itu tidak mungkin kita lakukan, walaupun persekongkolan mereka sudah jelas karena aku telah mendengarnya sendiri. Akan tetapi apa buktinya? Tanpa bukti, apa yang dapat kita lakukan terhadap mereka? Ingat, selain mereka itu merupakan dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga mereka telah berhasil memperoleh kedudukan yang tinggi pula, dan mendapat kepercayaan Sribaginda, Kwan Hwe Li telah menjadi pengawal permaisuri, sedangkan Ouwyang Toan telah menjadi perwira pasukan pengawal istana. Tanpa bukti, kalau kita melaporkan kepada Sribaginda, kemudian mereka berbalik menuduh kita melakukan fitnah, kita tidak akan menang. Demikian pula, melakukan kekerasan tanpa bukti, tentu akan membuat Sribaginda marah kepada kita.”
“Habis, bagaimana baiknya? Kalau kita melihat Sribaginda terancam keselamatannya, apakah kita harus tinggal diam saja?” mereka mencela.
“Tidak begitu,” kata Koan-thaikam, “tentu saja kita harus bertindak dan karena itulah cu-wi (anda sekalian) saya undang untuk berunding. Kita sekarang, para pengawal pribadi Sribaginda, telah tahu akan rencana jahat mereka dan dapat melakukan penjagaan yang lebih ketat tanpa menimbulkan kecurigaan mereka. Selain itu, kita mengadakan hubungan rahasia dengan para panglima pasukan pengawal dan pasukan keamanan, agar mereka mempersiapkan pasukan untuk bergerak sewaktu-waktu diperlukan. Kita mau tidak mau harus membiarkan para pengkhianat itu bergerak, agar kita dapat menindak mereka dengan bukti.”
“Akan tetapi, hal itu berarti membiarkan Sribaginda terancam bahaya! Bagaimana kalau mereka turun tangan secara tiba-tiba sehingga kita terlambat dan Sribaginda dan keluarganya tertimpa bencana?” kembali para pengawal pribadi itu membantah dan mencela dengan hati khawatir sekali, “Kami lebih condong melapor kepada Sribaginda!”
“Jangan! Cu-wi tentu telah mengenal watak Sribaginda. Beliau amat bijaksana menghargai kegagahan, juga beliau selalu bersikap adil. Kalau kita melapor, akan tetapi beliau tidak menemukan bukti, bagaimana mungkin beliau akan menangkap dan menghukum para pengkhianat itu? Kitalah yang akan mendapat kemarahan, atau bukan mustahil kita yang akan ditangkap dan dihukum karena dianggap malakukan fitnah dan membuat kekacauan. Tentang keselamatan Sribaginda dan keluarganya, kenapa khawatir? Bukankah ada cu-wi yang selalu menjaga dan mengawal Sribaginda? Dan hendaknya cu-wi tahu bahwa pemuda yang baru saja diterima sebagai pengawal pribadi itu … “
“Koan Ji, keponakan Koan-aijin itu?”
“Ya, dialah yang akan menjamin keselamatan Sribaginda!”
“Ah, maaf, taijin. Memang Koan Ji memiliki tubuh yang kebal dan kuat, akan tetapi apa artinya itu? Ingat, Ouwyang-ciangkun amat lihai dan Kwan Hwe Li jauh lebih lihai lagi. Kami semua sudah membuktikannya sendiri ketika mereka diuji. Bahkan kami akan kewalahan melawan mereka berdua. Biarpun ditambah Koan Ji itu … maaf. bukan kami hendak memandang rendah keponakan tai-jin,”
“Ketahuilah, Koan Ji itu bukan keponakanku! Saya memang sengaja mencari bantuan dari luar dan dia adalah orang yang dipilih oleh Hek-tung Lo-kai untuk tugas penting melindungi Sribaginda. Hanya dialah yang akan mampu menandingi Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan. Karena saya tidak ingin membuat persekutuan itu curiga, maka saya mengakuinya sebagai keponakan dan juga agar Sri baginda percaya kepadanya.”
Sepuluh orang pengawal pribadi itu merasa kagum. Kalau benar pemuda itu pilihan Hek-tung Lo-kai yang mereka kenal sebagai seorang tokoh kang-ouw yang gagah perkasa dan juga mendukung pemerintah baru, tentu pemuda itu bukan orang sembarangan.
“Akan tetapi, siapa dia sesungguhnya, taijin? Kami merasa tidak pernah mengenal seorang tokoh dunia persilatan yang wajahnya seperti dia itu.”
“Tentu saja, karena itu adalah wajah penyamaran, bukan wajah aselinya. Dia seorang pemuda yang tampan dan gagah, dan dia berjuluk Si Pedang Kilat! Bahkan oleh Hek-tung Kai-pangcu dan Thian-beng-pangcu dia dicalonkan menjadi beng-cu dunia persilatan.”
“Bukan main! Siapa namanya, taijin?”
“Namanya Kwa Bun Houw, memang belum begitu terkenal di dunia persilatan, akan tetapi dia merupakan seorang bintang baru yang hebat. Kalian tahu, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan … “
“Datuk sesat majikan Bukit Bayangan Iblis itu?”
“Benar, Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, dibantu oleh Pek-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi kaki tangan kerajaan Wei, hendak memaksa Hek-tung Kai-pang dan Thian-beng-pang untuk bekerja sama. Ketika mereka hendak membunuh kedua pang-cu itu, muncullah Si Pedang Kilat ini dan dia yang mengalahkan para tokoh sesat itu.”
Tentu saja para pangawal pribadi kaisar itu terbelalak dan sukar dapat percaya berita ini. Bagaimana mungkin pemuda itu mampu mengalahkan Kui-siauw Giam-ong Suma Koam yang mereka tahu amat sakti itu?
Para jagoan istana ini masih belum yakin benar kalau belum mengerti kepandaian Bun Houw. Mereka mempunyai sebuah tempat tersendiri untuk berlatih silat dan tidak ada orang lain yang boleh menonton mereka berlatih. Sebagai pengawal-pengawal pribadi kaisar, tentu saja mereka memiliki pengaruh dan wibawa. Kesempatan inilah mereka pergunakan untuk menguji sendiri kepandaian Bun Houw. Kwa Bun Houw sudah mendengar dari Koan-thaikam bahwa keadaan dirinya sudah bukan rahasia lagi bagi sepuluh orang pengawal pribadi kaisar, maka diapun tidak berpura-pura terhadap mereka. Dalam kesempatan berlatih, dia membiarkan dirinya dikeroyok oleh lima orang pengawal yang paling tangguh dan tanpa banyak kesukaran dia dapat mengalahkan mereka semua, baik dalam pertandingan tangan kosong maupum mempergunakan pedang kilatnya.
Setelah sepuluh orang pengawal pribadi itu membuktikan sendiri kemampuan Bu Houw, barulah mereka merasa tenang dan kini Bun Houw merupakan pengawal pribadi kaisar yang paling depan, selalu paling dekat dengan kaisar, terutama kalau di ruangan terbuka di mana terdapat para anggauta pasukan pengawal istana yang dipimpin oleh Ouwyang Toan. Sementara itu, Koan-thaikam juga sudah menghubungi para pimpinan pasukan pengawal, bahkan panglimanya dan merekapun mempersiapkan pasukan untuk turun tangan sewaktu-waktu para pengkhianat itu mengadakan gerakan.
Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan memang telah terbujuk dan mau mengadakan persekutuan dengan kerajan Wei. Hal ini terjadi ketika Ouwyang Toan bertemu dengan ayahnya, Ouwyang Sek di luar kota raja, ketika Ouwyang Sek sengaja datang untuk bertemu dengan puteranya. Datuk sesat ini mendengar bahwa puteranya kini menjadi seorang perwira pasukan pengawal di istana kerajaan Chi yang baru. Hal ini membuat Ouwyang Sek marah sekali. Puteranya, putera majikan Lembah Bukit Siluman, yang terkenal sebagai datuk besar dunia persilatan, kini merendahkan diri menjadi seorang perwira pasukan pengawal saja! Kalau menjadi pembesar yang tinggi kedudukannya, tentu akan lain pendapatnya.
Dalam keadaan marah dan murung ini, Ouwyang Sek menerima kunjungan Bu-tek Sam-kui yang telah dikenalnya. Dia mendapat uluran tangan utusan kerajaan Wei ini yang mengajak dia untuk bersekongkol membantu bekas kaisar Cang Bu untuk merebut kembali kerajaan dari tangan kaisar Chi, dan adanya Ouwyang Toan di istana kaisar Siauw Bian Ong sungguh merupakan keuntungan besar dan kesempatan yang baik sekali. Ouwyang Sek mendengar bahwa bekas Kaisar Cang Bu telah menghimpun pasukan, bahkan kini dibantu oleh Suma Koan dan Suma Hok yang telah menjadi adik iparnya, menikah dengan adik bekas kaisar itu, dan bahwa bekas Kaisar Cang Bu kini telah bekerja sama dengan kerajaan Wei di utara. Dengan janji bahwa kalau gerakan itu berhasil. Ouwyang Sek dan puteranya akan mendapatkan kedudukan tinggi sebagai menteri dan panglima. Ouwyang Sek menjadi bersemangat. Lenyaplah kemarahannya terhadap puteranya dan diapun mencari puteranya, mengirim orang untuk memanggil puteranya itu menemuinya di luar kota raja.
Ouwyang Sek yang menceritakan semua penawaran Bu-tek Sam-kui sebagai utusan ke puteranya, dan dia menuntut agar Ouwyang Toan dapat membujuk Bi-moli untuk bekerja sama.
Bi-moli Kwan Hwe Li adalah seorang wanita yang haus cinta. Setelah ia mengalami kekecewaan karena cintanya terhadap Tiauw Sun Ong putus, kemudian setelah mereka menjadi tua, Tiauw Sun Ong tetap tidak mau hidup bersamanya, maka kini bertemu dengan Ouwyang Toan yang muda dan pandai mengambil hati, tentu saja membuat ia takluk. Ketika Ouwyang Toan membujuknya untuk menerima uluran tangan kerajaan Wei, iapun tanpa berpikir panjang lagi menerimanya. Ia rela hidup dan mati bersama kekasihnya yang masih muda itu.
Demikianlah, kedua orang yang mendapatkan kepercayaan Kaisar Siauw Bian Ong ini mulai siap-siap melaksanakan perintah dari persekutuan itu. Ouwyang Toan yang telah mendapat kepercayaan itu berhasil menyelundupkan beberapa orang anggauta Thian-te Kui-pang reka menanti saatnya yang matang, bukan hanya mempersiapkan para anggauta Thian-te Kui-pang yang diselundupkan sebagai anggauta pasukan pengawal, akan tetapi juga menyebar para anggauta perkumpulan Iblis itu di kota raja agar pada saat yang ditentukan, para anggauta itu, dipimpin oleh Bu-tek Sam-kui sendiri, dapat menyerbu ke istana. Kalau penyerbuan dan pembunuhan terhtdap kaisar dan keluarganya dilaksanakan, maka pasukan bekas Kaisar Cang Bu dan pasukan bantuan dari kerajaan Wei yang sudah mempersiapkan diri akan menyerbu masuk ke daerah kerajaan Chi, dimulai dari sarang pasukan yang dihimpun bekas Kaisar Cang Bu.
Persiapan pertempuran! Persiapan perang! Persiapan bunuh membunuh. Kapankah keadaan seperti ini akan berakhir? Dunia dilanda perang, permusuhan, kebencian sejak sejarah tercatat sampai kini. Tak pernah ada henti-hentinya. Perang saling bunuh, demi kemenangan, demi kedudukan, demi keuntungan, demi nama baik, demi pemuasan dendam.. Perang senjata, perang ekonomi, perang sosiaL perang ideologi, bahkan ada perang agama dan yang disebut perang suci! Ada yang menganggap perang satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian! Betapa palsunya omong kosong semua itu. Perang adalah pencetusan dari kebencian, dendam, permusuhan, perebutan kekuasaan atau harta. Perang antara bangsa hanya peluasan dari pada perang antara dua manusia yang juga menjadi akibat dari pada perang yang terjadi di dalam batin kita sendiri! Konflik batin berkembang menjadi konflik dengan manusia lain. Kemelut yang berkecamuk di dalam mencuat keluar.
Manusia yang sudah tidak memiliki lagi kasih sayang, menjadi mahluk yang lebih buas dari pada binatang yang paling buas. Kebuasan binatang hanya mengandalkan kekuatan tubuhnya, dan kebuasan itu dituntut oleh kebutuhan untuk hidup. Akan tetapi manusia memiliki hati akal pikiran yang membuat dia menjadi lebih buas dan lebih berbahaya. Dalam perang, manusia menjadi haus darah yang ada hanyalah membunuh atau dibunuh, cara menyelamatkan diri dengan jalan membunuh dan membunuh lagi. Kalau sudah begini, segala kepalsuan manusiapun nampak . Bahkan Tuhan dibawa-bawa ke dalam perang saling bantai itu. Kedua pihak yang berperang memohon kepada Tuhan untuk diberi bantuan agar menang. Tuhan dimintai bantuan untuk membunuh manusia lain sebanyak-banyaknya!
Dan yang menyedihkan sekali, setiap peperangan selalu menjadikan rakyat sebagai korban. Mereka yang tidak tahu apa-apa, yang tidak ikut berperang, bahkan yang paling parah menderita karena perang. Melarikan diri mengungsi ke sana ini, menjadi korban perampokan, pembunuhan, perkosaan dan penghinaan. Mereka yang sama sekali tidak berdosa kehilangan harta milik, kehilangan rumah tinggal, kehilangan kehormatan, bahkan kehilangan nyawa.
Melihat betapa ketatnya panjagaan terhadap istana dan seluruh penghuninya, Bi Moli dan Ouwyang Toan tidak berani melakukan gerakan dan mereka seringkali mengadakan perundingan rahasia di luar istana dengan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek dan Bu-tek Sam-kui.
“Lalu kapan rencana kita dapat dilaksanakan? Kami sudah mempersiapkan anak-buah di kota raja dan hal ini tidak dapat dilakukan terlalu lama. Kalau sampai ketahuan, tentu sebelum kita bergerak, pasukan keamanan sudah akan melakukan penggerebekan dan, semua usaha akan gagal. Bahkan dari Kaisar Cang Bu kami sudah mendapat berita bahwa selain beliau sudah mampersiapkan pasukannya, juga Kui-siauw Giam-ong sudah berhasil mengerahkan para tokoh kang-ouw berikut anak buah mereka yang berhasil diajak bergabung, untuk membantu kalau terjadi keributan di kota raja.” kata Pak-thian-kui yang sudah kehilangan kesabaran.
“Pak-thian-kui, semua pekerjaan harus dilaksanakan sebaik mungkin. Kalau tanya serampangan saja lalu gagal, apa artinya?” Bu-eng-kiam Ouwyang Sek menegur orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi itu yang tadi nadanya menegur puterinya yang dianggap bekerja lambat dan belum juga siap.
Melihat Bu-eng-kiam marah, Bi Moli cepat berkata, “Sebaiknya kita tidak meributkan persoalan ini. Ouwyang Kongcu benar. Memang penjagaan di istana amatlah ketatnya sehingga menyulitkan kami untuk bergerak. Kalau kami nekat, tentu akan gagal. Akan tetapi, Pak-thian-kui juga benar. Persiapan sudah dilakukan, kalau tidak cepat cepat gerakan dilakukan dan ketahuan, tentu semua akan gagal. Sebaiknya kita mencari jalan terbaik bagaimana agar kita dapat cepat bergerak dan tidak sampai gagal.”
Sejenak dalam ruangan itu menjadi hening.
Semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing, mencari jalan terbaik agar semua rencana mereka dapat dilaksanakan. Bu-tek Sam-kui bertanggung jawab terhadap kaisar mereka yang tentu saja menghendaki agar semua rencana berhasil baik, sedangkan bekas Kaisar Cang Bu juga tentu saja sudah menanti saat terbaik yang sudah lama dinanti-nanti itu.
“Ada satu jalan yang kurasa paling baik untuk dilaksanakan,” kata Kwan Hwe Li dan semua orang memandang kepadanya penuh harap.
“Jalan apa itu, Mo-li? Cepat ceritakan!” kata Bu-eng-kiam Ouwyang Sek.
“Sudah kuperhitungkan baik-baik, kalau kami yang bertugas di istana harus menyerang Kaisar sekeluarganya, hal itu amatlah sulitnya. Penjagaan amat ketat, bahkan kurasa, pengawal pribadi yang baru dan kelihatan tidak meyakinkan itu, bukan merupakan lawan yang boleh dipandang ringan. Karena itu sulit rasanya kalau sekaligus kita harus menyerang seluruh keluarga.”
“Akan tetapi, Mo-li. Menurut Kaisar kami, kalau hanya membunuh kaisar kerajaan Chi saja tidak ada gunanya, karena tentu akan segera diganti oleh seorang pangeran. itulah sebabnya mengapa kami ditugaskan untuk membasmi seluruh keluarga. Dengan demikian, tentu pemerintahannya akan menjadi kacau seolah ular tanpa kepala, dan dalam keadaan kacau tanpa adanya raja itulah pasukan akan mulai menyerbu masuk.”
Kwan Hwe Li mengangguk-angguk. “Aku mengerti, dan kiranya hanya ada satu jalan, yaitu menawan kaisar. Sebetulnya, menawan permaisuri jauh lebih mudah, akan tetapi kurang berguna. Sebaliknya, kalau kita dapat menawan kaisar, kita tentu dapat melumpuhkan semua kekuatan di istana. Dengan kaisar sebagai sandera, kita dapat memaksa semua menteri, panglima dan pangeran untuk menyerah. Sandera itu dapat kita pergunakan untuk menangkapi seluruh keluarga kaisar!”
“Hebat! Engkau memang lihai dan pintar sekali, Bi Moli. Akan kami laporkan jasamu ini kepada kaisar kami dan juga kepada Kaisar Ceng Bu agar kelak mereka tidak melupakan jasamu, Nah, kita laksanakan saja seperti yang direncanakan Moli tadi.”
Mereka lalu mangadakan perundingan, Bi Moli dan Ouwyang Toan akan melaksanakan penawanan terhadap kaisar itu, dengan bantuan enam orang anggauta Thian-te Kui-pang yang menjadi pengawal. Kalau mereka berdua telah berhasil menawan kaisar, maka mereka akan menggunakan kaisar sebagai sandera untuk memasukkan semua anggauta Thian-te Kui-pang yang sudah berada di kota raja untuk menguasai istana. Kesempatan itu pula akan dipergunakan oleh Bu-tek Sam-kui dan Bu-eng-kiam untuk memasuki istana, memim pin pasukan Thian-te Kui-pang untuk menangkapi semua keluarga kaisar dan sekutunya. Bahkan mereka telah menentukan harinya, yaitu tiga hari lagi ketika Kaisar Siauw Bian Ong pergi ke kuil istana dan melakukan sembahyang bersama permaisuri. Saat itu memang tepat karena kaisar dan permaisuri berada di satu tempat sehingga tentu saja Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan dapat pula berada di sana dan bersama-sama mereka dapat melaksanakan penawanan itu. Kalau mungkin, mereka bahkan dapat menawan kaisar dan permaisurinya, sedangkan an buah Ouwyang Toan yang enam orang dapat membantu melumpuhkan para pengawal lain yang hendak menghalangi gerakan mereka. Mereka sudah memperhitungkan bahwa paling banyak akan ada tiga atau empat orang pengawal pribadi kaisar dan Kwan Hwe Li yakin akan mampu mengatasi mereka, sedangkan Ouwyang Toan akan menawan kaisar dilindungi anak buahnya yang penting, asal kaisar sudah jatuh ke tangan mereka, tentu semua perlawanan akan dapat dihentikan dengan menjadikan kaisar itu seorang sandera yang amat penting dan berharga.
Kuil istana pagi itu nampak meriah dan sibuk sekali. Para hwesionya mengenakan jubah bersih dan wajah merekapun nampak segar berseri. Semua orang menyambut pagi itu dengan hati gembira karena hari itu Kaisar Siauw Bian Ong dan permaisuri akan melakukan sembahyang leluhur di kuil istana. Jarang sekali kaisar sendiri melakukan sembahyang di kuil dan setiap kali hal ini terjadi, para hwesio di kuil itu merasa mendapat kehormatan besar. Kaisar Siauw Bian Ong memang pandai sekali mengambil hati rakyat dari semua golongan. Dia bijaksana pula terhadap para hwesio di kuil ini sehingga para pendeta itu juga kagum dan memujinya, tak pernah melalaikan menyebut nama sribaginda dalam sembahyangan mereka mendoakan yang baik-baik bagi kaisar yang bijaksana itu.
Sejak pagi tadi, sebelum kaisar dan permaisuri pergi ke kuil itu, Ouwyang Toan telah sibuk bersama dua belas orang anak buahnya, melakukan pembersihan, di kuil itu.
Hanya para hwesio saja yang diperkenankan berada di kuil. Para hwesio dipesan agar dalam sehari itu, tidak seorangpun boleh berkunjung ke kuil, demi keamanan kaisar dan permaisuri. Para hwesio menaati perintah perwira pasukan pengawal ini dan mereka sibuk mempersiapkan semua keperluan sembahyang itu. Semua perlengkapan telah dipersiapkan, meja diberi tilam baru yang indah, bahkan seluruh ruangan sembahyang telah dibersihkan dan dicat baru sejak beberapa hari yang lalu. Lantainyapun mengkilap karena dipel sampai beberapa kali oleh para hwesio. Pendeknya, ruangan sembahyang itu menjadi tempat yang bersih dan menyenangkan. Pot-pot bunga dengan yang mekar semerbak menghiasi semua sudut ruangan. Sejak pagi, dupa harum dibakar sehingga ruangan itu berbau harum dan terasa nyaman. Ouwyang Toan sengaja mengatur agar penjagaan di sebelah dalam ruangan sembahyang dilakukan oleh enam orang anak buahnya sedangkan perajurit pasukan pengawal yang lain berjaga di ruangan depan dan belakang. Setelah semua persiapan selesai, da lalu melapor kepada Kaisar Siauw Bian Ong yang sudah bersiap dengan permaisurinya.
Matahari sudah naik tinggi dan hawa udara tidak begitu dingin lagi katika Kaisar Siauw Bian Ong dan permaisurinya berjalan melalui lorong di taman istana, menuju ke istana, yang berada di ujung taman, di atas sebuah bukit buatan yang kecil. Kaisar dan permaisuri tidak mau duduk di joli, hanya terjalan kaki karena pagi itu cerah dan sinar matahari hangat. Juga pemandangan di taman itu amat indahnya. Musim bunga membuat taman itu nampak indah bukan main, juga jarak ke kuil tua itu tidaklah terlalu jauh.
(Bersambung jilid 17)

JILID 17

Karena kaisar dan permaisuri hanya pergi ke kuil istana, ke dalam lingkungan istana, maka penjagaan tidaklah luar biasa ketatnya. Rombongan itu hanya terdiri dari kaisar, permaisuri, dua orang selir terdekat dan tujuh orang gadis dayang saja. Tentu saja Bi Moli Kwan Hwe Li sebagai pengawal pribadi permaisuri, tidak ketinggalan dan wanita cantik ini berjalan di belakang rombongan. Di belakang kaisar dan permaisuri berjalan tiga orang pengawal pribadi, yaitu Koan Ji atau Kwa Bun Houw dan dua orang pengawal lain. Koan Thai-kam sebagai kepala thai-kam, ikut pula dalam rombongan itu karena dia yang akan mengatur sembahyangan itu bersama para hwesio kuil. Di depan, kanan kiri dan belakang nampak pasukan pengawal terdiri dari duabelas orang, dipimpin oleh Ouwyang Toan.
Baik Bi Moli Kwan Hwe Li maupun Ouwyang Toan sama sekali tidak pernah menduga sedikit pun juga bahwa semua rencana mereka dan yang mereka atur bersama Bu-tek Sam-kui, telah diketahui oleh Kwa Bun Houw! Bersama Koan-thaikam, Bun Houw sudah mengatur siasat untuk menghadapi usaha pemberontakan yang membahayakan keselamatan keluarga kaisar itu. Memang Bun Houw belum mengetahui dengan tepat, tindakan apa yang akan dilakukan oleh Bi Moli dan Ouwyang Toan, akan tetapi dia dan Koan Thai-kam telah menduga bahwa hari itu, saat Kaisar dan permaisuri bersembahyang, merupakan saat yang amat gawat, dan mereka menduga bahwa tentu para pemberontak akan bergerak pada saat itu. Koan Thai-kam sudah mengadakan kontak dengan panglima pasukan pengawal dan keamanan, dan mata-mata telah disebar. Mata-mata ini yang melaporkan bahwa ada kurang lebih seratus orang asing bukan penduduk kota raja yang nampak bersembunyi di sekitar pintu gerbang istana, ada yang menyamar sebagai pedagang keliling, menjadi pengemis dan ada yang seperti pelancong biasa. Keterangan tentang gerakan orang-orang asing ini didapatkan oleh komandan pasukan dari para anggauta Hek-tung Kai-pang yang seperti biasa berkeliaran di kota raja. Karena mereka adalah anggauta kai-pang, maka kehadiran mereka tidak mencurigakan orang, juga para anggauta Thian-te Kui-pang tak mencurigai mereka. Pada hal, para anggauta pengemis ini adalah orang-orang yang mengamati gerak-gerik mereka!
Juga Bun Houw telah dapat menduga bahwa di antara dua belas orang perajurit pengawal, termasuk yang pernah disuruh mengujinya, adalah kaki tangan komplotan itu, maka diapun sudah bersikap waspada. Agar jangan sampai mencurigakan Ouwyang Toan dan Bi Moli, maka penjagaan terhadap kaisar dan permaisuri hanya dilakukan oleh dia dan dua orang pengawal pribadi kaisar. Akan tetapi, telah diatur dengan rapi agar banyak pengawal yang setia terhadap kaisar, mengatur barisan pendam di sekitar tempat sembahyang itu.
Setelah tiba di kuil, para hwesio menyambut kaisar dan permaisuri dengan sikap hormat. Semua berlangsung seperti biasa, tidak ada perubahan sedikitpun dan ini memang dikehendaki Koan-thaikam agar tidak mencurigakan komplotan pemberontak. Dia bersama lima orang hwesio melayani kaisar dan permaisuri, menemani mereka memasuki ruangan sembahyang, ditemani pula oleh dua orang selir dan tujuh orang gadis dayang yang setelah masuk ke ruangan sembahyang lalu duduk bersimpuh di pinggiran. Kwa Bun Houw dan dua orang rekannya ikut pula masuk, akan tetapi merekapun berdiri di pinggiran. Demikian pula Ouwyang Toan dan enam orang pengawal ikut masuk dan berjaga di pintu ruangan.
Bi Moli ikut pula masuk dan ia yang paling dekat dengan kaisar dan permaisuri dan dua orang selir yang kini sudah berlutut di depan meja sembahyang, dilayani oleh lima orang hwesio yang menyerahkan hio-swa (dupa biting) untuk sembahyang, dan menyerahkan alat penyulut lilin yang akan dinyalakan Kaisar.
Saat yang dinanti-nanti itu tiba. Saat ini memang yang sudah ditentukan oleh Bi Moli dan Ouwyang Toan untuk bertindak. Pada saat kaisar hendak menyalakan lilin dan permaisuri beserta dua orang selir berlutut dan menerima hio-swa dari para hwesio. Saat itu memang amat baik karena tiga orang pengawal pribadi kaisar tidak berani mendekat, dan juga para pengawal yang bukan kaki tangan mereka berada di luar. Sudah mereka rencanakan bahwa Ouwyang Toan akan menangkap kaisar dan Bi Moli menangkap permaisuri, sedangkan enam orang kaki tangan mereka menjaga agar tidak ada yang berani menghalangi perbuatan kedua orang itu menawan kaisar dan permaisuri. Kalau kaisar dan permaisuri sudah ditawan, maka segalanya akan menjadi mudah!
Dan memang perhitungan itu tepat sekali. Ketika tiba-tiba sekali Ouwyang Toan dan Bi Moli meloncat ke depan sambil mencabut pedang, Bun Houw sempat dibuat tertegun.
Tak disangkanya sama sekali bahwa kedua orang itu akan bergerak pada saat yang khidmat itu, di mana kaisar dan permaisuri baru mulai melakukan sembahyang. Juga kedua orang rekannya terbelalak.
Ouwyang Toan dengan pedang di tangan meloncat ke dekat kaisar, dan Bi Moli juga meloncat ke dekat permaisuri sambil menendang seorang selir yang menghalang di samping sehingga selir itu terguling sambil menjerit.
“Semua diam! Kaisar dan Permasuri kami tawan!” kata Ouwyang Toan dengan suara nyaring. Enam orang pengawal yang menjadi kaki tangannya juga tiba-tiba mencabut pedang dan hendak melindungi dua orang itu. Akan tetapi, terjadilah hal yang sama sekali di luar perhitungan Ouwyang Toan dan Bi Moli. Lima orang hwesio yang tadinya melayani kaisar, permaisuri dan dua orang selir, yang nampaknya adalah hwesio-hwesio yang lemah dan lembut, tiba-tiba saja mereka itu menerjang ke arah Bi Moli dan Ouwyang Toan!
Mereka yang lebih dekat dengan kaisar dan permaisuri sehingga mereka dapat menyerang sambil membelakangi kaisar dan permaisuri. Terkejutlah Ouwyang Toan ketika hwesio yang tadi menyerahkan alat penyulut lilin kepada kaisar tiba-tiba menyambutnya dengan serangan tusukan alat penyulut lilin itu. Dan Bi Moli juga terkejut ketika dua orang hwesio sudah menyerangnya dari depan. Karena para hwesio itu menyerang Ouwyang Toan dan Bi Moli dari depan dan sekaligus menghalangi mereka menawan kaisar dan permaisuri, terpaksa kedua orang pengkhianat itu lalu menggerakkan pedang mereka menyerang para hwesio itu! Dan mereka semakin terkejut. Kiranya mereka bukanlah hwesio-hwesio lemah, karena mereka mampu melakukan perlawanan dengan gerakan yang cukup gesit dan tangkas.
Biarpun akhirnya lima orang hwesio itu roboh mandi darah oleh pedang Ouwyang Toan dan Bi Moli Kwan Hwe Li, namun telah memberi waktu yang cukup bagi Kwa Bun Houw untuk turun tangan. Dia dan dua orang rekannya berloncatan.
“Amankan Sribaginda!” teriak Bun Houw kepada dua orang rekannya. Dua orang pengawal pribadi kaisar itu lalu menggandeng kaisar dan permaisuri, menarik mereka keluar dari ruangan sembahyang itu, sedangkan dua orang selir itu menangis dan lari ke sudut ruangan bersama para dayang. Kini tinggal Bun Houw seorang yang berdiri di pintu samping dari mana kaisar tadi menyelamatkan diri dan dia sudah berdiri tegak dengan pedang di tangan.
“Si Pedang Kilat … !” Ouwyang Toan berseru kaget bukan main melihat pedang yang berkilauan di tangan Bun Houw itu. Juga Bi Moli yang telah merobohkan tiga orang hwesio itu terkejut mendengar teriakan yang mengandung rasa gentar yang amat sangat dari kekasihnya itu.
“Siapa …?!?” tanyanya.
“Kwa Bun Houw … murid Tiauw Sun Ong …!” kata Ouwyang Toan dan diapun sudah memberi isarat kepada enam orang anggauta Thian-te Kui-pang untuk menerjang dan mengeroyok Bun Houw. Enam orang itu-pun maklum bahwa usaha mereka gagal, maka dengan nekat mereka lalu menggerakkan senjata dan menerjang pemuda yang memegang sebatang pedang yang berkilauan itu.
“Moli, kita lari!” teriak Ouwyang Toan kepada kekasihnya dan mereka berloncatan keluar pintu ruangan sembahyang. Akan tetapi, betapa kaget hati mereka melihat bahwa tempat itu telah terkepung ratusan orang pasukan keamanan istana yang entah bagaimana tahu-tahu telah berada di situ. Tahulah mereka bahwa kesemuanya telah gagal sama sekali. Kekecewaan membuat mereka menjadi marah, ditambah lagi dengan rasa takut. Mereka menumpahkan semua kesalahannya kepada Bun Houw dan seperti ada persetujuan tanpa kata, keduanya membalik dan meloncat masuk lagi untuk membuat perhitungan dengan Kwa Bun Houw! Ouwyang Toan memang membenci pemuda itu, dan Bi Moli mengingat bahwa pemuda itu adalah murid Tiauw Sun Ong, maka iapun amat membencinya!
Sementara itu, melihat dia diserang oleh enam orang kaki tangan Ouwyang Toan, Bun Houw tidak mau membuang banyak waktu melayani mereka. Dia tahu bahwa kaisar dan permaisuri sudah selamat, dan dua orang pengkhianat itu tidak akan mungkin dapat lolos dari tempat itu, maka diapun menggerakkan pedang di tangannya. Enam orang itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi karena mereka merupakan para anggauta di-lihan dari Thian-tc Kui-pang. Akan tetapi, berhadapan dengan. Si Pedang Kilat, enam orang itu seperti berhadapan kakek guru mereka! Nampak gulungan sinar pedang berkelebatan menyilaukan mata dan satu demi satu, enam orang itu roboh dan tewas seketika. Nampaknya saja mereka tidak terluka, saking tajamnya pedang pusaka itu sehingga ketika menembus dada atau leher lawan, hampir tidak meninggalkan bekas dan hanya diketahui orang itu terluka setelah darah mengalir keluar dan orang itu tewas seketika!
Ketika Ouwyang Toan dan Bi Moli meloncat kembali memasuki ruangan sembahyang, mereka terbelalak. Di samping mayat lima orang hwesio yang sebenarnya merupakan pengawal-pengawal yang menyamar, nampak mayat enam orang anggauta Thian-te Kui-pang itu rebah malang melintang dalam keadaan tewas. Begitu cepatnya enam orang itu tewas dan hal ini saja sudah membuktikan betapa lihainya pemuda yang masih berdiri dengan pedang berkilauan di tangan itu.
“Kwa Bun Houw! Engkau selalu menjadi penghalang bagiku dan selalu memusuhiku!” bentak Ouwyang Toan marah.
“Engkau keliru, Ouwyang Toan. Engkau tentu tahu bahwa aku menentang siapa saja yang melakukan kejahatan, tak terkecuali engkau. Adalah engkau dan Bi Moli yang sungguh tidak tahu diri, tak mengenal budi. Sribaginda telah memberikan kedudukan yang baik bagi kalian, akan tetapi kalian bahkan mengkhianati dan bersekutu dengan pemberontak dan dengan kerajaan Wei.”
‘Bocah she Kwa, hari ini engkau harus menebus dosa gurumu kepadaku!” Bi Moli membentak dan ia sudah menggerakkan pedangnya. Ouwyang Toan juga membantu kekasihnya itu dan dia sudah menerjang ke depan dengan pedangnya pula. Akan tetapi, Bun Houw memutar Lui-kong-kiam dan nampak gulungan sinar yang menyilaukan mata dan dua orang itu terpaksa meloncat keluar dari ruangan itu karena tempat itu terlalu sempit dengan adanya sebelas sosok mayat yang bergelimpangan. Bun Houw juga menerjang keluar karena diapun menghendaki agar dapat melawan kedua orang musuhnya itu di tempat yang lebih luas.
Melihat dua orang pengkhianat itu berloncatan keluar, disusul oleh pengawal pribadi yang baru, para pengawal siap untuk mengepung dan mengeroyok.
“Tahan, jangan keroyok, biarkan Si Pedang Kilat sendiri menghadapi dua orang itu.” kata Kaisar Siauw Bian Ong.
Kaisar ini tadi telah mendapat laporan yang singkat dan jelas dari Koan Thai-kam tentang diri Kwa Bun Houw yang dijuluki Si Pedang Kilat, mendengar pula bahwa dia dan Hek-tung Kai-pang mengatur agar pendekar itu melindungi kaisar, kemudian tentang persekutuan pemberontak dan betapa dia sudah mengadakan kontak dengan para panglima untuk menanggulangi pengkhianatan itu. Juga dia beritahukan mengapa dia tidak melapor lebih dahulu kepada kaisar, yaitu karena kedua orang pengkhianat itu telah mendapatkan kedudukan, maka dia khawatir kalau-kalau kaisar tidak percaya begitu saja tanpa adanya bukti. Kaisar dapat memaklumi dan mendengar bahwa Kwan Bun Houw yang berjuluk Si Pedang Kilat adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi, maka melihat kedua orang pengkhianat itu kini bertanding melawan Si Pedang Kilat, kaisar ini yang juga suka ilmu silat ingin sekali menontonnya.
“Kalau dia terdesak, barulah kalian boleh membantunya,” pesannya kepada para pengawal pribadi dan para pengawal yang mengerti apa yang dikehendaki junjungan mereka, mengangguk dan mereka siap dengan senjata di tangan untuk membantu kalau-kalau Si Pedang Kilat terdesak.
Kaisar lalu memberi isarat kepada panglima pasukan keamanan untuk mendesak, lalu berkata, “Panglima, cepat kerahkan pasukan dan tangkapi semua anggauta gerombolan Thian-te Kui-pang yang berkeliaran di kota raja.”
Panglima itu memberi hormat lalu mengundurkan diri untuk melaksanakan perintah itu, berkat latihan yang diterimanya dari Tiauw Sun Ong, gurunya yang buta, Kwa Bun Houw telah dapat melatih pendengarannya menjadi amat tajam, pengganti kedua mata bagi gurunya dan bagi dia, membantu pekerjaan mata, pendengarannya menjadi amat peka dan dengan kepekaan inilah dia dapat pula mendengar perintah kaisar kepada para pengawalnya tadi, walaupun dia menghadapi dua lawan yang tangguh. Bun Houw maklum bahwa tentu kaisar telah mendengar dari Koan Thai-kam siapa dia, maka kini kaisar ingin menyaksikan pertandingan yang seru, maka dia-pun segera mengerahkan tenaganya dan memutar Lui-kong-kiam dengan dahsyat sekali.
Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan sudah maklum bahwa mereka telah terkepung ratusan orang pasukan pengawal. Dengan gagalnya mereka menawan kaisar dan permaisuri, mereka tidak dapat mengandalkan apapun untuk melindungi diri, maka mereka menjadi gelisah, kecewa dan akhirnya membuat mereka menjadi nekat. Semua kemarahan mereka tumpahkan kepada Kwa Bun Houw yang mereke anggap sebagai penghalang dan penghancur semua rencana mereka yang sudah tersusun rapi.
Bi Moli Kwan Hwe Li mengeluarkan suara melengking nyaring dan ia menggerakkan pedangnya secara dahsyat karena selain didorong oleh tenaga sin-kang, juga ada kekuatan sihir dalam gerakannya itu. Karena maklum akan kelihaian murid bekas pacarnya ini, Bi Moli mengerahkan seluruh tenaga sin-kang dan sihirnya untuk membunuh lawan. Biarpun ia tahu bahwa ia tidak akan lolos dari hukuman, namun setidaknya ia harus dapat melampiaskan kemarahannya dengan membunuh Kwa Bun Houw. Demikian pula dengan Ouwyang Toan. Pemuda inipun sudah putus asa, maklum bahwa dia tidak akan mungkin bebas dari hukuman mati, maka dia ingin lebih dulu membunuh Bun Houw sebelum mengamuk sampai titik darah terakhir.
Si Pedang Kilat Kwa Bun Houw juga maklum bahwa dia menghadapi dua orang lawan yang tangguh, tidak berani memandang ringan. Dia tahu bahwa Bi Moli Kwan Hwe Li adalah seorang datuk sesat yang tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi, setingkat dengan kepandaian para datuk seperti Suma Koan, Ouwyang Sek, Kwan Im Sianli, bahkan tidak begitu jauh selisihnya dengan tingkat gurunya, Tiauw Sun Ong. Kalau saja dia tidak secara kebetulan minum sari Akar Bunga Gurun Pasir sehingga tubuhnya menjadi kokoh kuat dan tenaga sin-kangnya meningkat secara luar biasa, dan kemudian tidak menemukan ilmu Im-yan Bu-tek Cin-keng secara kebetulan pula, kiranya akan sukar baginya untuk dapat menandingi Bi Moli. Apalagi di situ terdapat pula Ouwyang Toan yang mengeroyoknya dan putera datuk Bu-eng-kiam Ouwyang Sek majikan. Lembah Bukit Siluman inipun termasuk seorang yang tangguh.
Kwa Bun Houw mengandalkan pedang pemberian suhunya. Didorong oleh kekuatan sin-kangnya yang ampuh, diapun menyambut kedua orang lawannya dan sinar pedangnya bergulung-gulung menyilaukan mata, membuat kagum Kaisar Siauw Bian Ong dan pari pengawal dan penonton lainnya.
“Roboh kau … !” Bi Moli Kwan Hwe Li menjerit dengan suara melengking dan di antara para perajuiit keamanan yang mendengar lengking suara yang mengandung tenaga sihir yang berpengaruh dan berwibawa itu. ada yang merasa kedua lutut mereka lemas dan kalau tidak saling berpegangan, tentu mereka itu akan roboh terguling!
Demikian hebatnya pengaruh yang terkandung dalam lengking itu. Apalagi terhadap Bun Houw yang dijadikan sasaran, dan bentakan itu diikuti pula oleh tusukan pedang yang meluncur bagaikan anak panah lepas dari busurnya. Sungguh merupakan serangan dahsyat yang amat berbahaya, diperhebat oleh kecepatan gerakan, kekuatan sin-kang, dan kekuatan sihir!
Namun, kekuatan sihir itu tidak ada artinya bagi Bun Houw. Lewat begitu saja seperti angin kencang meniup batu karang. Pemuda ini maklum bahwa di antara kedua orang lawannya, yang paling tangguh adalah Bi Moli, maka kepada Iblis Wanita Cantik inilah dia harus mencurahkan perhatian dan perlawanannya. Pada saat itu, Ouwyang Toan juga sudah membacokkan pedangnya dari samping ke arah kepalanya. Dengan gerakan ringan dia memutar tubuh sehingga terlepas dari bacokan pedang, dan pedangnya sendiri dengan cepat menyambar ke arah pergelangan tangan Bi Moli yang menusuknya, gerakan itu memutar dari samping. Bi Moli terkejut, sama sekali tidak mengira bahwa tusukannya akan disambut oleh bacokan dari samping yang mengancam pergelangan tangannya. Kalau ia melanjutkan serangan, maka sebelum ujung pedangnya mengenai dada lawan, lebih dulu pergelangan tangannya akan terbabat pedang yang mengeluarkan sinar kilat itu. Terpaksa ia menarik kembali tusukannya. Ouwyang Toan yang serangannya mengenai tempat kosong, menjadi penasaran sekali karena serangan itu dapat dihindarkan sedemikian mudahnya. Dia menyerang lagi, diikuti oleh Bi Moli dan kedua orang ini agaknya hendak berlumba untuk dapat lebih dulu merobohkan Bun Houw.
Bun Houw memperlihatkan keringanan tubuhnya dan tubuh itu seperti dibungkus gulungan sinar kilat pedangnya dan menyusup di antara sambaran kedua pedang lawan, dan dari gulungan sinar pedangnya kadang mencuat sinar bagaikan kilat menyambar ke arah lawan. Terjadilah serang menyerang yang amat seru dan menyilaukan mata. Kaisar Siauw Bian Ong tersenyum, mengangguk-angguk dan mengelus jen gotnya. Diam-diam dia amat mengagumi Kwa Bun Houw, walapun ada pula perasaan menyesal mengapa dua orang seperti Ouwyang Toan dan Bi Moli, yang memiliki kepandaian demikian hebat pula, telah mengkhianatinya. Sungguh patut disayangkan ilmu kepandaian seperti itu dikuasai orang-orang yang menjadi hamba nafsu angkara murka.
Pertandingan itu memang amat hebat. Jarang mereka semua yang hadir di situ menyaksikan pertandingan sehebat itu, bukan sekedar pengujian ilmu seperti yang sering terjadi di istana, melainkan suatu pertandingan yang merupakan perkelahian sungguh-sungguh! Setiap kali sinar pedang menyambar berarti tangan maut yang haus darah mencari korban.
Diam-diam Kwa Bun Houw mengeluh. Sudah lewat dari tiga puluh jurus, belum juga dia mampu merobohkan dua orang lawannya walaupun mereka sendiri juga tidak pernah dapat mendesaknya. Dia maklum bahwa kalau mengadu ilmu pedang, akan sukarlah baginya untuk dapat merobohkan mereka. Dengan mengeroyok, mereka benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh dan sukar dirobohkan. Ilmu pedangnya hanyalah ilmu pedang Lui-kong-kiamsut (Ilmu Pedang Kilat) yang dia pelajari dari gurunya, dan hanya karena dia memiliki kelebihan sin-kang dari pengaruh Akar Bunga Gurun Pasir sajalah maka dia mampu mengimbangi kedua orang pengeroyoknya. Akan tetapi dia merasa yakin bahwa kalau mereka mengadu ilmu tangan kosong, dengan Im-yang Bu-tek Cin-keng, dia pasti akan lebih unggul. Dia sejak tadi tidak berani mengadu pedangnya secara langsung sambil mengerahkan sin-kang. Dengan cara itu, tentu pedang kedua orang pengeroyoknya akan patah-patah, seperti yang sudah sering dia lakukan dengan Lui-kong-kiam itu. Akan tetapi, sekali ini dia merasa khawatir kalau-kalau pedang pusaka pemberian gurunya itu akan menjadi rusak karena dia menduga bahwa kedua orang lawan ini tentu juga memegang pedang pusaka yang ampuh.
Kemudian dia teringat akan persiapan persekutuan pemberontak untuk menyerbu kota raja seperti yang didengarnya dari Koan Thai-kam. Hal ini membuat dia terpaksa harus cepat mengakhiri pertandingan itu agar perhatian dapat dialihkan untuk menghadapi persiapan para pemberontak di luar kota raja. Maka, secara tiba-tiba saja Bun Houw mengubah gerakannya. Kini dia mengerahkan seluruh tenaganya dan menggunakan pedangnya untuk langsung menyambut pedang lawan, sengaja mengadukan pedangnya dengan pedang lawan.
Terdengar bunyi nyaring berdentang dua kali dan kedua orang lawannya itu mengeluarkan teriakan kaget. Bi Moh meloncat ke belakang, demikian pula Ouwyang Toan dan mereka memandang ke arah tangan kanan masing-masing yang kini hanya memegang sebatang pedang buntung! Ternyata pedang mereka telah patah oleh Lui-kong-kiam yang ampuh. Hal ini sesungguhnya bukan terjadi hanya karena keampuhan pedang di tangan Bun Houw karena sesungguhnya, pedang kedua orang lawan itupun terbuat dari bahan yang kuat dan ampuh. Akan tetapi, pedang Bun Houw itu disaluri tenaga sin-kang yang jauh lebih kuat, maka getarannya tak tertahan oleh kedua pedang lawan sehingga menjadi patah. Bun Houw menyimpan pedangnya setelah dengan lega melihat bahwa pedang pusakanya tidak rusak dan kini dia menghadapi kedua orang lawan dengan tangan kosong. Mereka berdua juga melemparkan sisa pedang ke atas tanah dan mereka siap melanjutkan perkelahian itu dengan tangan kosong. Kembali Kaisar Siauw Bian Ong memandang kagum dan memberi isarat kepada para pengawalnya agar jangan mencampuri. Dia sedang menikmati pertandingan yang jarang dilihatnya itu.
Bi Moli dan Ouwyang Toan lega melihat Bun Houw menyimpan pedangnya yang ampuh itu, Hal itu mereka anggap sebagai suatu kesombongan dari Bun Houw, maka keduanya mempergunakan kesempatan setelah Bun Houw menyarungkan kembali pedangnya untuk cepat menerjang dengan pukulan-pukulan mereka.
Akan tetapi sekali ini Bun Houw sudah siap dengan ilmunya yang amat hebat yaitu Im-yang Bun-tek Cin-keng. Bahkan gurunya sendiri tidak mampu menandingi ilmu ini! Begitu melihat kedua orang lawan sudah menyerang, Bun Houw segera menggerakkan kaki tangannya secara aneh dan akibatnya hebat. Kedua orang lawan itu seperti terdorong badai yang amat kuat, membuat mereka terjengkang dan terguling-guling. Keduanya tentu saja terkejut bukan main, akan tetapi karena tidak melihat lain jalan, keduanya sudah mengeluarkan hentakan nyaring dan menerjang lagi. Untuk kedua kalinya, mereka seperti menyerang gelombang dahsyat yang membuat mereka kembali terjengkang dan terbanting. Mereka bangkit lagi, menyerang lagi roboh lagi dan hal ini berulang sampai liga kali dan Ouwyang Toan tidak mampu bangkit kembali karena kehabisan tenaga dan sudah terluka dalam. Bi Moli masih terus menyerang mati-matian akan tetepi dengan menggunakan It-sin-ci (Satu Jari Sakti) Bun Houw berhasil merobohkannya dalam keadaan tertotok dan tidak mampu bergerak lagi. Sorak-sorai menyambut kemenangan Kwa Bun Houw, Kaisar Siauw Bian Ong kagum bukan main karena ternyata pemuda itu tidak membunuh kedua orang lawannya, hanya membuat mereka tak berdaya! Kini maklumlah kaisar itu bahwa kalau dia menghendaki agaknya pemuda itu sudah sejak tadi dapat membunuh kedua orang lawannya. Karena tidak ingin membunuh itulah yang membuat pertandingan berlangsung lebih lama. Kaisar itupun memerintahkan petugas untuk menangkap kedua orang itu dan menjebloskan mereka kepenjara untuk menanti diadili kelak.
Kwa Bun Houw kini menghadap kaisar dan berlutut. Kaisar Siauw Bian Ong tersenyum, “Orang muda yang gagah, kami sungguh bersukur bahwa negara kita mempunyai seorang pendekar seperti engkau yang gagah perkasa dan bijaksana. Kami ingin melihat wajahmu yang aseli.”
Bun Houw terpaksa melepaskan penyamarannya, mencabut alis palsu dan juga kedok tipis seperti kulit yang menutupi mukanya, monggosok-gosok cat dan nampaklah wajah aselinya. Oleh perintah kaisar, dia mengangkat mukanya dan kaisar beserta permaisurinya melihat wajah seorang pemuda yang cukup tampan dan gagah.
“Kwa Bun Houw, kami berterima kasih kepadamu dan kami ingin memberi hadiah yang sesuai dengan kehendak hatimu. Katakanlah, apa yang kau kehendaki? Kedudukan? Atau harta benda?”
“Ampun, Yang Mulia. Hamba sama sekali tidak mengharapkan hadiah dan imbalan, karena apa yang hamba lakukan ini hanya merupakan suatu kewajiban hamba menentang segala bentuk kejahatan. Hamba hanya dimintai bantuan oleh Hek-tung Lo-kai dan Koan Thai-kam.” dan maklumlah dia bahwa pemuda itu memang seorang pendekar sejati yang tidak mempunyai keinginan demi kesenangan atau kepentingan diri sendiri. Apa yang diajukan oleh seorang pendekar sejati semata-mata membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan, tanpa pamrih sedikitpun.
“Hemm, biarlah kita bicarakan lagi hal ini setelah segalanya selesai. Kita masih harus membasmi para pemberontak yang berkeliaran di kota raja, kaki tangan kerajaan Wei, dan juga memadamkan pemberontakan yang dikobarkan oleh bekas kaisar Cang Bu.”
Pada saat itu, komandan pasukan keamanan yang bertugas membasmi para anggauta Thian-te Kui-pang yang berkeliaran di luar pintu gerbang istana, datang menghadap dan melapor kepada Kaisar bahwa usahanya gagal karena semua anggauta Thian-te Kui-pang telah melarikan diri dan pasukannya hanya berhasil menangkap tiga orang saja!
“Bawa mereka ke sini! Kami ingin mendengar keterangan mereka tentang ikut campurnya kerajaan Wei dalam pemberontakan ini!” perintah kaisar penasaran.
“Ampun, Yang Mulia. Begitu tertawan, tiga orang anggauta Thian-te Kui-pang itu membunuh diri dengan menelan sebutir racun.”
Kaisar mengepal tinju, “Kirim pasukan dan tundukkan pemberontak bekas kaisar yang tak tahu diri itu. Kami sengaja mengalah dan tidak mengejarnya, akan tetapi dia malah menghimpun pasukan dan hendak memberontak!”
“Yang Mulia, biar hamba yang melakukan pengejaran terhadap Bu-tek Sam-kui yang memimpin Thian-te Kui-pang.” kata Bun Houw.
Setelah kaisar menyatakan persetujuannya, Bun Houw meninggalkan istana dan diapun melakukan pengejaran ke sarang Thia-te Kui-pang, di daerah tak bertuan, yaitu di dusun Tai-bun. Dia sudah mendengar tentang dusun ini yang dikuasai oleh Thian-te Kui-pang, sesuai dengan petunjuk yang diperolehnya dari Koan Thai-kam.

***

Setelah tiba di luar kota raja, Bun Houw bukan langsung pergi ke sarang Thian-te Kui-pang, melainkan menuju ke Kui-cu, ke lembah sungai untuk mengunjungi bekas kaisar Cang Bu! Bagaimanapun juga, kaisar itu adalah bekas kaisar yang kalah perang dan Bun Houw sama sekali tidak dapat menyalahkan kaisar ini kalau hendak berusaha merebut kembali tahta kerajaan yang telah direbut oleh Kaisar Siauw Bian Ong yang mendirikan kerajaan Chi. Dia tidak hendak mecampuri urusan perebutan kekuasaan itu. Akan tetapi, dia merasa tidak enak mendengar bahwa bekas Kaisar Cang Bu bersekutu dengan kerajaan Wei di utara. Ini berbahaya sekali karena mungkin saja kelak kerajaan Wei akan menguasai kerajaan di selatan. itulah sebabnya mengapa dia kini melakukan perjalanan cepat ke pusat gerakan yang dilakukan bekas kaisar itu, mendahului pasukan yang dikirim Kaisar Siauw Bian Ong untuk membasmi pemberontakan ini. Kalau teringat kepada Liu Kiok Lan, puteri adik bekas kaisar itu, dia merasa kasihan karena kalau tempat itu diserbu, tentu gadis bangsawan itu akan menjadi korban pula. Dia ingin menyadarkan bekas Kaisar Cang Bu agar tidak bersekutu dengan kerajaan Wei, dan agar cepat melarikan diri sebelum terlambat.
Pada saat itu, bekas kaisar Cang Bu sudah mendengar laporan dari seorang mata-matanya yang ditugaskan mengamati keadaan di kota raja bahwa usaha membunuh atau menawan kaisar telah gagal! Bahkan mata-mata itu mengabarkan betapa orang-orang Thian-te Kui-pang yang tadinya siap di kota raja, telah pula melarikan diri setelah mendengar kegagalan itu. Juga Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, yang tadinya memimpin orang orang kang-ouw dan anak buah mereka sendiri, bersiap-siap untuk membantu gerakan di kota raja kalau penawanan terhadap kaisar berhasil, terpaksa mengundurkan diri dan ayah beserta puteranya itu kini telah kembali ke Kui-cu. Melihat Suma Koan dan Suma Hok kembali dengan wajah lesu, bekas kaisar Cang Bu mengepal tinju dan membanting-banting kaki. “Celaka, kenapa sampai gagal? Dan kenapa pula paman Suma pulang dengan tangan hampa? Semestinya paman membantu usaha di dalam istana itu sampai berhasil! Ah, aku telah mempercayakan urusan penting kepada orang-orang yang tak dapat diandalkan.”
Kaisar Cang Bu benar-benar merasa menyesal sekali karena kegagalan ini memusnakan harapannya untuk dapat menguasi kembali kerajaan yang telah dirampas oleh Siauw Bian Ong.
Kui-siauw Giam-ong mengerutkan alisnya. Dia memang tadinya tidak begitu ingin mencampuri urusan pemberontakan. Hanya karena puteranya telah menjadi adik ipar bekas kaisar itu maka dia mendapat semangat untuk ikut meraih kedudukan yang tinggi. Kini semua telah gagal dan dia kehilangan semangat. Dia menghela napas panjang.
“Sudahlah, Liu-kongcu. Saya tidak mempunyai semangat lagi dan akan pulang ke tempat tinggalku. Selamat tinggal!” Sebelum bekas kaisar itu sempat menjawab, kakek kurus itu telah berkelebat dan pergi dari tempat itu. Puteranya, Suma Hok, maklum bahwa ayahnya tidak pulang karena mereka tadi telah bersepakat untuk bergabung dengan Bu-tek Sam-kui dan mencari kedudukan di kerajaan Wei, di utara sana! Suma Hok sendiri lalu memasuki perkemahan di mana isterinya, Liu Kiok Lan, telah menantinya.
Seolah tidak melihat isterinya yang cantik, Suma Hok langsung saja mengumpulkan pakaian dan barang berharga, berkemas seperti orang yang hendak melakukan perjalanan jauh. Melihat ini, Liu Kiok Lan mengerutkan alisnya dan menghampiri suaminya yang sedang berkemas.
Aku mendengar bahwa usaha di kota raja itu gagal. Benarkah itu, suamiku?”
Tanpa menoleh Suma Hok menjawab, “Benar. Sialan! Hancurlah semua cita-citaku.”
Hening sejenak. Suma Hok tetap saja mengumpulkan semua barang berharga, emas permata, sisa kekayaan yang dibawa dari istana oleh Liu Kiok Lan ketika lari mengungsi, memasukkan semua itu ke dalam buntalan pakaian.
“Engkau hendak mengajak aku pergi ke manakah?” tanya isterinya.
“Siapa yang hendak mengajak engkau pergi? Aku akan pergi sendiri!” jawab Suma Hok.
Liu Kiok Lan terkejut dan kerut di keningnya semakin dalam. “Apa maksudmu? Engkau mengemasi semua barang, termasuk perhiasan dan barang berharga milikku, dan engkau akan meninggalkan aku?”
Kini Suma Hok membalik dan isterinya terkejut melihat wajah yang tampan itu kini berubah seperti iblis, begitu bengis dan kasar. “Sialan! Setelah semua yang kulakukan, hanya barang-barang ini yang kudapatkan! Sungguh rugi besar selama berbulan-bulan ini aku memaksa diri tinggal di sini dan menghambakan diri kepada bekas kaisar yang ternyata kini gagal segala-galanya. Huh!”
Wajah Liu Kiok Lan menjadi pucat.
‘”Kau … kau …! Bukankah engkau telah menjadi suamiku dan aku ini isterimu? Dan kau mengatakan semua cita-citamu sia-sia? Dan aku ini kau anggap apa? Kalau memang hendak pergi, tinggalkan semua barangku!”
“Ha-ha-ha, barang-barang ini untuk imbalan semua jasaku! Kalau bukan karena aku, engkau akan menjadi seorang gadis yang ternoda aib, gadis yang bukan perawan lagi. Tadinya, aku mengharapkan untuk menjadi seorang yang berkedudukan, akan tetapi melihat keadaannya sekarang, kakakmu sudah tidak ada harapan. Untuk apa aku harus merendahkan diri lebih lama lagi di sisimu?”
“Suma Hok!” Liu Kiok Lan membentak marah dan menudingkan telunjuknya ke arah muka suaminya. “Setelah semua apa yang kaulakukan terhadap diriku, dan semua itu kuterima dengan perasaan hancur namun terpaksa kudiamkan saja demi menjaga nama baik keluarga kami, dan engkau sekarang hendak meninggalkanku begitu saja? Setelah engkau membunuh Paman Pouw Cin yang setia, kemudian melakukan fitnah pula kepadanya, kemudian engkau membohongi kakakku dan aku, engkau kini tidak mau bertanggung jawab? “
Suma Hok terbelalak. “Apa …? Apa yang kaumaksudkan …?”
Sebelum Kiok Lan menjawab, terdengar langkah kaki dan muncul seorang pengawal sehingga suami isteri yang sedang bertengkar itu menahan kemarahan mereka dan menghentikan pertengkaran.
“Ada keperluan apa engkau datang ke sini tanpa dipanggil?” bentak Suma Hok marah.
“Maaf, tai-hiap. Saya hanya ingin mengabarkan bahwa pemuda yang dulu pernah menjadi buronan, yang bernama Kwa Bun Houw itu sekarang datang dan bercakap-cakap dengan Sribaginda.”
Diam-diam Suma Hok terkejut bukan main, sebaliknya Kiok Lan yang mendengar disebutnya nama pendekar itu, nampak girang.
“Pergilah kami tidak ingin diganggu!”’ kata Suma Hok dan pengawal itu lalu pergi. Setelah dia pergi, Suma Hok menutupkan kembali daun pintu kamarnya dan menghadapi isterinya.
“Sekarang katakan, apa maksudmu dengan mengatakan semua tadi? Engkau bilang aku melakukan fitnah kepada Paman Pouw Cin? Apa maksudmu?”
“Kaukira aku dapat percaya begitu saja ketika dahulu itu engkau mengatakan bahwa engkau membunuh Paman Pouw Cin karena dia memperkosaku? Aku tidak pernah percaya seujung rambutpun! Paman Pouw Cin adalah orang yang paling setia kepada kakakku dan aku, sudah kukenal sejak aku kecil. Aku tahu dan mengenal betul orang macam apa dia. Bagaimana mungkin dia mendadak saja berubah menjadi demikian keji? Akan tetapi karena engkau bersedia mencuci aib pada diriku dengan menikahiku, akupun hanya menyimpan semua keraguan itu di dalam hatiku. Kemudian, setelah aku mengenal benar watakmu. aku semakin yakin bahwa dahulu engkaulah yang memperkosaku. Engkau membuat aku tidak sadar, kemudian engkau memperkosaku. Ketika Paman Pouw Cin memergoki perbuatanmu, dia kau bunuh, lalu engkau memutar balik kenyataan dan mengatakan bahwa engkau melihat Paman Pouw Cin memperkosaku dan engkau membunuhnya. Kemudian, engkau memperlihatkan kebaikanmu dengan bersedia mencuci aib dan menikahiku. Semua itu kaulakukan dengan pamrih mendapatkan kedudukan! Dan sekarang, setelah usaha kakakku gagal, engkau hendak meninggalkan aku begitu saja? Suma Hok, aku tidak akan tinggal diam, akan ku-laporkan perbuatanmu itu kepada kakakku!”
Wajah Suma Hok berubah pucat ketika dia mendengar kata-kata itu. Kalau bekas kaisar Cang Bu mendengar laporan adiknya ini, tentu dia akan ditangkap dan dihukum berat. Maka, dia lalu pura-pura terkejut setengah mati dan dengan muka dibuat sedih dia mendekati isterinya.
“Isteriku, bagaimana engkau dapat mengeluarkan kata-kata sekeji itu? Tidak kusangkal bahwa aku memang ingin mendapatkan kedudukan, akan tetapi siapakah orangnya yang tidak mempunyai cita-cita tinggi? Akan tetapi, aku sama sekali tidak memperkosamu aku bahkan menikahimu karena aku kasihan padamu, aku cinta padamu. Paman Pouw Cin yang melakukannya, aku berani bersumpah Isteriku, kalau engkau tidak ingin aku pergi akupun tidak akan pergi, akan tetapi jangan menuduhku yang bukan-bukan! Aku yang sudah mengorbankan segalanya untukmu, kini masih menerima tuduhan keji … ” dan pemuda itu menangis sambil menjatuhkan diri berlutut di depan isterinya.
Kiok Lan terkejut juga melihat suaminya menangis dan berlutut di depan kakinya. Bagaimanapun juga, pria ini telah menjadi suaminya dan iapun sudah pernah berusaha memaksa hatinya untuk mencintainya. Sikap suaminya yang menangis sedih dan berlutut di depan kakinya itu membuat ia sejenak meragukan dugaannya sendiri dan iapun membungkuk untuk membangunkan Suma Hok. Akan tetapi pada saat ia membungkuk untuk membangunkan suaminya, Suma Hok menggerakkan tangan memukul dada istrinya. Pukulan itu datangnya sama sekali tidak terduga-duga oleh Kiok Lan.
“Dukkk!!” Dadanya kena hantaman tangan Suma Hok dan seketika ia muntah darah. Akan tetapi matanya melotot dan wanita itu masih mampu melakukan serangan totokan dengan ilmu totok It-sin-ci, yaitu totokan satu jari. Namun, Suma Hok dapat menangkisnya sehingga jari tangan Kiok Lan hanya mengenai lengan baju dan lengan baju itu berlubang, akan tetapi tubuh wanita muda itu terkulai dan roboh, tewas seketika dengan mulut mengalirkan darah.
Suma Hok berteriak-teriak setelah mendorong jendela kamar itu terbuka dan diapun menangis. Beberapa orang pengawal datang dan melihat adik majikan mereka tewas ditangisi Suma Hok, mereka segera melapor kepada bekas kaisar Cang Bu.
Pada saat itu, Liu Tek atau bekas kaisar Cang Bu sedang menerima kunjungan Kwa Bun Houw. Mula-mula, bekas kaisar itu terkejut bukan main melihat munculnya Kwa Bun Houw di depannya. Akan tetapi karena sikap Bun Houw baik, tidak seperti musuh, diapun mempersilakan tamu itu duduk dan diam-diam dia memberi isarat agar para pengawalnya melakukan penjagaan.
“Kwa Bun Houw, apakah maksud kedatanganmu sekarang ini? Sebagai kawan atau sebagai lawan?” tanya bekas kaisar itu sambil menatap tajam.
“Kongcu, saya datang bukan sebagai kawan maupun lawan karena sesungguhnya saya tidak mempunyai urusan pribadi apapun dengan kongcu. Akan tetapi mengingat akan kebaikan kongcu dan terutama sekali Nona Liu Kiok Lan, saya datang untuk memberi nasihat kepada kongcu. Pertama, sebaiknya kalau kongcu menghentikan hubungan kongcu dengan kerajaan Wei di utara. Dan ke dua sebaiknya kongcu cepat meningalkan tempat ini karena pasukan kerajaan Chi akan melakukan penyerbuan setelah usaha pembunuhan terhadap Kaisar Siauw Bian Ong dapat digagalkan.”
Pada saat itulah pengawal datang berlari-larian dan melaporkan dengan napas memburu bahwa adik bekas kaisar itu telah tewas di kamarnya. Mendengar ini, Liu Tek terbelalak dan segera lari ke dalam, diikuti oleh Bun Houw yang juga terkejut bukan main mendengar laporan itu. Dia belum tahu bahwa adik bekas kaisar itu telah menikah dengan Suma Hok.
Ketika mereka tiba di kamar itu, mereka melihat Kiok Lan telah diangkat ke pembaringan dan Suma Hok duduk di tepi pembaringan sambil menangisi kematian isterinya.
“Suma Hok, apa yang telah terjadi?” Liu Tek berteriak ketika memasuki kamar. Bun Houw juga berdiri tertegun memandang ke arah mayat Kiok Lan yang masih nampak mengalirkan darah dari mulutnya.
Suma Hok menoleh dan begitu melihat Kwa Bun Houw, diapun meloncat dan menyerang Bun Houw dengan marah sambil membentak, “Engkau pembunuh! Engkau telah membunuh isteriku!”
Bun Houw cepat mengelak ketika tangan Suma Hok menyambar ke arah mukanya. Suma Hok yang serangannya luput itu membalik dan sudah menyerang lagi dengan pengerahan tenaga sekuatnya. Namun, Bun Houw menangkis dan Suma Hok terhuyung.
“Suma Hok, hentikan ini! Engkau menuduhku yang bukan-bukan!” kata Bun Houw.
Suma Hok sudah menyambar sulingnya yang tadinya terletak di atas meja. “Jahanam Kwa Bun Houw, engkau telah membunuh isteriku, aku harus membalas kematian isteriku!”
Mendengar ini, Liu Tek menengahi. “Nanti dulu, apa artinya ini, Suma Hok? Saudara Kwa Bun Houw ini baru saja datang dan menghadap padaku, bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa dia telah membunuh Kiok Lan?”
“Ah, paduka tidak tahu. Jahanam ini memang licik sekali. Sebelum menghadap paduka dia telah menyelinap ke kamar ini dan membunuh dinda Kiok Lan. Saya melihat sendiri ketika saya memasuki kamar, jahanam ini melarikan diri melalui jendela!” Dia menunjuk ke arah daun jendela yang terbuka.
Bekas kaisar ini kini menghadapi Bun Houw dan memandang penuh perhatian dan keraguan. Bun Houw segera berkata, “Kongcu, harap diteliti dulu peristiwa ini. Mungkinkah saya akan masih berada di sini, mengingatkan kongcu akan datangnya bahaya, kalau benar saya membunuh nona Kiok Lan? Kalau boleh, saya ingin memeriksa jenazah nona Kiok Lan untuk meneliti apa yang menyebabkan kematiannya.”
Bekas kaisar itu mengangguk dan bersama Bun Houw dia mendekati jenazah adiknya. Bun Houw memeriksa dan membuka baju di bagian dada. Nampak tanda pukulan membiru di dada itu, pukulan yang amat kuat dan mengandung hawa panas! Akan tetapi bekas pangeran itu lebih tertarik melihat tangan kanan adiknya seperti menekan atau mencengkeram ke arah perut. Ketika dia menarik tangan itu, Bun Houw melihat betapa jari telunjuk tangan kanan itu bengkak dan ketika dirabanya, maka tulang telunjuk itu patah pada buku jarinya. Bekas kaisar Cang Bu melihat ujung lipatan kertas menyembul dari balik baju di pinggang adiknya. Diambilnya benda itu yang ternyata sehelai kertas berlipat yang agaknya disembunyikan di ikat pinggang. Dia membuka dan merabanya. Wajahnya berubah pucat sekali, dan tanpa bicara dia menyerahkan kertas itu kepada komandan pengawalnya. Panglima itu membaca pula dan cepat dia berlari keluar entah apa yang dilakukannya, hanya dia dan bekas kaisar itu yang mengetahuinya.
Sementara itu, Bun Houw yang memeriksa telunjuk, kini memandang kepada Suma Hok yang masih berdiri tegak. Dan diapun menemukan apa yang dicarinya. Lengan baju Suma. Hok berlubang dan tahulah dia bahwa agaknya tangkisan Suma Hok membuat jari telunjuk wanita itu patah buku jarinya dan lubang pada lengan baju itu akibat ilmu totokan It-sin-ci dari mendiang Liu Kiok Lan Suma Hok, “Engkaulah yang telah membunuh Nona Liu Kiok Lan dengan pukulan Lui-kong-ciang (Tangan Halilintar), dan agaknya Nona Liu menyerangmu dengan totokan It-sin-ci yang mengenai lenganmu ketika kau tangkis. Buktinya, lengan bajumu itu berlubang. Dan engkau masih berani menuduh, aku yang membunuhnya!” kata Bun Houw.
“Ha-ha-ha, Kwa Bun Houw, engkau murid Tiauw Sun Ong, tentu tidak jauh berbeda dari gurunya! Tidak perlu menyangkal atau memutarbalikkan kenyataan. Kenapa aku membunuh isteriku sendiri yang tercinta? Engkaulah yang membunuhnya dan ketika aku memasuki kamar ini, aku masih melihat bayanganmu meloncat keluar melalui jendela!”
Pada saat itu, komandan pengawal tadi muncul lagi bersama tujuh orang perwira, termasuk pengawal yang tadi mengabarkan kepada Suma Hok tentang kedatangan Kwa Bun Houw.
“Yang Mulia.” kata panglima itu kepada Liu Tek. “Pengawal ini menjadi saksi bahwa ketika dia melapor tentang kedatangan tamu, dia melihat Nona itu dan suaminya berada di kamar ini dan agaknya sedang bertengkar.”
“Suma Hok, engkau hendak berkata apalagi?” bekas kaisar itu menegur marah. “Bukan itu saja, bukan hanya engkau membunuh adikku, juga dahulu engkaulah yang berbuat keji terhadap adikku, lalu mengatakan bahwa Jenderal Pouw Cin yang melakukannya!”
Wajah Suma Hok menjadi pucat. “Sribaginda, semua itu bohong!” katanya membantah.
“Hemm, bohongkah surat yang ditulis sendiri oleh adikku ini? Agaknya adikku telah mendapatkan firasat tidak enak dan membuat pengakuan ini di atas kertas. Sayang sebelum melapor kepadaku, engkau sudah membunuhnya. Engkau manusia iblis!”
“Sudahlah, kalau engkau tidak percaya lagi kepadaku, aku mau pergi!” Suma Hok mencabut sulingnya dan hendak menerjang keluar.
“Nanti dulu, engkau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu yang jahat dan kejam!” kata Kwa Bun Houw dan diapun menghadang di pintu.
“Kwa Bun Houw, pengecut busuk. Engkau, hendak mengandalkan pengeroyokan?” teriak Suma Hok yang tidak melihat jalan keluar lagi dan bersikap gagah untuk menyembunyikan rasa takutnya.
“Siapa hendak mengeroyokmu? Hayo kita bertanding satu lawan satu di luar. Harap Kongcu tidak memerintahkan orang mengeroyoknya, biar saya sendiri melawanuya.”
Mendengar ucapan Kwa Bun Houw itu, Li Tek mengangguk, hanya memerintahkan para perwiranya untuk mengatur pasukan mengepung agar Suma Hok tidak sampai lolos. Melihat bahwa tidak mungkin lagi baginya untuk mololoskan diri, maka Suma Hok menjadi nekat. Semuanya sudah gagal dan tidak ada jalan lain kecuali menunjukkan kegagahannya. Maka, melihat Kwa Bun Houw sudah melangkah keluar, diapun dengan mengangkat dada, membawa sulingnya, mengikuti keluar. Mereka saling berhadapan di ruangan terbuka sebelah luar kamar. Maklum bahwa lawannya adalah putera seorang datuk besar dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan, Bun-Houw sudah mencabut pula senjatanya, yaitu Lui-kong-kiani (Pedang Kilat)! dan semua orang terkesiap karena pedang itu seperti mengeluarkan sinar kilat ketika dicabut.
“Kwa Bun Houw, sejak dahulu engkau menentangku dan menjadi penghalang bagiku! Sekali ini, engkau atau aku yang mati!” bentak Suma Hok.
“Yang kutentang kejahatanmu, bukan dirimu!” bentak pula Bun Houw akan tetapi dia sudah harus cepat menghindar karena selagi dia bicara, Suma Hok telah menyerang dengan suling mautnya. Suling digerakkan dan ada sinar hitam menyambar dari ujung suling Bun Houw miringkan tubuhnya dan menggerakkan pedang. Beberapa batang jarum beracun halus dapat dipukul runtuh oleh pedangnya dan diapun memutar pedang membalas serangan lawan.
Tok-siauw-kwi (Iblis Suling Beracun) Suma Hok adalah seorang pemuda gemblengan yang sukar dicari tandingannya. Dia telah mewarisi sebagian besar ilmu dari ayahnya dan bahkan dia amat keji mempergunakan racun sehingga dijuluki Suling Beracun. Sulingnya yang disepuh perak itu bukan saja mampu mengeluarkan jarum beracun, juga permukaan suling itu mengandung racun yang amat jahat. Ketika dia mengamuk dan menerjang Bun
Houw, bentuk suling itu lenyap dan yang nampak hanyalah gulungan sinar putih dibarengi suara mendengung-dengung.
Akan tetapi, yang dilawannya adalah Kwa Bun Houw, Si Pedang Kilat yang dalam segala hal jauh lebih tinggi tingkatnya. Bahkan ayahnya sendiri, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan, tidak akan mampu menandingi Si Pedang Kilat, apalagi dia! Ketika Bun Houw memainkan pedangnya, nampak sinar kilat bergulung-gulung dan menggulung sinar perak dari suling di tangan Suma Hok. Pemuda ini terkejut bukan main karena ke manapun sulingnya bergerak, selalu bertemu sinar pedang yang bagaikan benteng yang kokoh. Sebaliknya, dari gulungan sinar pedang itu kadang mencuat sinar yang menyambar bagaikan kilat, membuat Suma Hok berulang kali harus melempar tubuh ke belakang dengan muka pucat karena nyaris dia disambar sinar pedang kilat.
Mulailah rasa takut dan panik mencengkeram hati Suma Hok. Dia maklum bahwa dia tidak akan menang bertanding melawan Kwa Bun Houw, maka dari pada melanjutkan perkelahian yang tidak memberi harapan itu. lebih baik dia mencoba menerobos kepungan dan melarikan diri …
Tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya sudah meloncat ke sebelah kiri. Dia disambut todongan golok dan tombak pasukan, akan tetapi Suma Hok menggerakkan sulingnya dan sinar hitam dari jarum-jarum halusnya merobohkan lima orang! Dan diapun mengamuk dengan sulingnya dan berhasil merobohkan lagi lima orang! Dalam sekejap mata saja dia sudah merobohkan sepuluh orang lawan yang tidak mungkin dapat ditolong lagi karena keracunan. Melihat ini, sekali melompat Bun Houw sudah berada di depannya dan menggerakkan pedangnya.
“Trangg …!!” Nampak bunga api berpijar ketika suling di tangan Suma Hok menangkis dan patah menjadi dua potong! Iblis Suling Beracun ini terkejut dan marah, lalu dengan nekat dia menubruk ke depan dengan sulingnya yang buntung, akan tetapi kaki Bun Houw menyambutnya dengan tendangan.
“Desss …!!” Dada Suma Hok tertendang dan diapun terjengkang pingsan.
“Tangkap dia hidup-hidup!” bentak bekas kaisar Cang Bu yang sudah marah sekali terhadap bekas adik iparnya itu. Banyak tangan membelenggu Suma Hok yang sudah pingsan itu sehingga kaki tangannya terikat kuat-kuat, membuat dia setelah siuman tak mampu bergerak lagi.
Bun Houw segera menghadapi bekas kaisar itu dan berkata, “Kongcu, seperti pernah saya katakan dahulu, saya tidak ingin mencampuri urusan perebutan kekuasaan. Kedatangan saya ini hanya untuk memberi tahu agar kongcu suka cepat menyelamatkan diri. Saya ikut bersedih dengan peristiwa terbunuhnya Nona Liu Kiok Lan. Sekarang, perkenankan saya untuk berparait.”
Bekas kaisar itu merasa kecewa sekali bahwa seorang yang lihai seperti Si Pedang Kilat itu tidak mau bekerja sama dengan dia. Biarpun dia berterima kasih dengan peringatan dan pemberitahuan bahwa pasukan kerajaan Chi akan menyerbu, namun dia tidak ingin mundur lagi. Dia sudah bersusah payah mengumpulkan tenaga untuk melakukan perang merebut kembali tahta kerajaan, maka dia tidak mau melarikan diri lagi.
“Terima kasih, Kwa-taihiap. Mudah-mudahan kita akan dapat saling bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik. Aku merasa menyesal sekali telah terkena bujukan dan tipuan penjahat macam Suma Hok sehingga pernah memusuhimu.”
Bun Houw meninggalkan tempat itu dan benar seperti yang dia peringatkan kepada bekas kaisar itu, dua hari kemudian, tempat itu diserbu pasukan yang amat besar jumlahnya. Terjadi perang karena bekas Kaisar Cang Bu melakukan perlawanan mati-matian. Namun semua usahanya itu sia-sia. Kerajaan Wei di utara juga tidak mengirim bantuan melihat sekutunya diserang itu, hanya memperkuat penjagaan di perbatasan. Pasukan dari bekas kaisar Cang Bu itu dapat dihancurkan setelah pertempuran selama sehari semalam. Kaisar Cang Bu sendiri tidak mau ditawan dan membunuh diri, setelah dia dengan pedangnya sendiri membunuh Suma Hok yang menjadi tawanan.
Perang merupakan puncak merajalelanya nafsu, karena perang memperebutkan kemenangan tanpa menghiraukan pengorbanan banyak nyawa manusia. Mengapa di seluruh dunia ini, kehidupan manusia tidak terbebas dari pada perang, baik perang antara bangsa, antara kelompok, antar keluarga, maupun antar perorangan? Perang terjadi setiap hari, dimulai dari perang atau konflik dalam batin pribadi, mencetus keluar menjadi konflik antar perorangan, membengkak menjadi perang antar kelompok, sampai antar bangsa. Sumbernya terletak kepada si aku yang mengejar kesenangan dengan cara apapun juga. Si aku adalah pikiran yang bergelimang nafsu, dan nafsu selalu memang mengejar kesenangan dan kepuasan.
Memperebutkan kemenangan karena yang menang itu berkuasa, dan yang berkuasa tentu saja selalu benar, selalu berada di atas, karenanya menginjak yang di bawah dan tidak mungkin terinjak karena yang di bawah tidak mungkin dapat menginjak yang berada di atas. Menang, berkuasa, duduk di atas, selalu benar, selalu baik, selalu dapat menentukan apa saja, karenanya, tentu saja senang! Jadi, semua pencarian itu menuju ke arah satu, yaitu kesenangan! Kedudukan diperebutkan karena kedudukan merupakan sarang kesenangan. Segala macam kebutuhan terpenuhi, segala macam keinginan tercapai, dan di dalam kekuasaan itu terdapat segalanya. Kekayaan, identitas, dan kemuliaan.
Betapa kita mudah melupakan kenyataan: yang dapat kita lihat dati sejarah, bahwa makin besar kesenangan yang kita raih dan dapatkan, makin besar pula kesusahan menanti di ambang pintu. Seseorang yang disambut dengan tepuk tangan dan sorak-sorai pendukungan, pada lain keadaan mungkin akan disambut dengan cemooh dan binaan, sebagai korban dari kedudukannya. Seorang yang kaya raya dan menikmati kekayaannya di satu saat, di lain saat mangkin saja akan dicekam ketakutan hebat akan kehilangan kekayaannya, atau disiksa kedukaan besar karena kehilangan kekayaannya. Seorang yang berada di puncak kemashuran dan dipuja-puja, sekali waktu dapat saja jatuh ke bawah dan pujaan itu berubah menjadi ejekan dan kutukan. Bagaikan sebuah biduk kecil dipermainkan gelombang samudera. kitapun dipermainkan oleh hasil dan gagal, kepuasan dan kekecewaan, kesenangan, dan kesusahan, kebosanan, iri hati, iba diri, dan segala macam permainan pikiran yang dicengkeram nafsu daya rendah.

***

Sekelompok orang yang berada di dalam ruangan besar itu nampak muram, bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang marah-marah. Mereka duduk mengelilingi meja besar dan yang duduk di kepala meja adalah tiga orang yang kelihatan berwibawa. Mereka merupakan pimpinan dari pasukan Kerajaan Wei yang kini menduduki dusun Thai-bun dan yang membentuk sebuah perkumpulan bernama Thian-te Kui-pang. Tiga orang pimpinan itu merupakan saudara-saudara seperguruan, yaitu yang pertama berjuluk Pek-thian-kui (Iblis Putih dari Utara) berusia lima puluh tahun dengan tubuh gendut bundar dan mukanya halus. Orang ke dua berjuluk Huang-ho Kui (Iblis Sungai Ku ning) berusia empat puluh sembilan tahun, bertubuh tinggi kurus dengan jenggot dan kumis jarang. Yang ke tiga berjuluk Toar beng-kui (Iblis Pencabut Nyawa) bertubuh sedang, berusia empat puluh tahun dan wajahnya tampan, matanya liar. Mereka inilah yang dikenal sebagai Bu-tek Sam kui (Tiga Iblis Tanpa Tanding) yang menjadi jagoan-jagoan istana kaisar kerajaan Wei dan nama mereka amat terkenal di utara. Kini mereka menerima tugas dari kaisar mereka untuk membawa seratus orang anak buah, menyusup ke selatan untuk membikin kacau kerajaan baru Chi yang nampak semakin berkembang. Di dusun Thai-bun, pasukan itu membunuhi penduduk, menjadikan dusun itu sebagai markas mereka dan mereka tidak lagi memakai seragam pasukan kerajaan Wei, melainkan berpakaian hitam-hitam sebagai anggauta. Thian-te Kui-pang.
Di sisi lain dari meja panjang itu, menghadap tiga orang Bu-tek Sam-kui, duduk tokoh-tokoh persilatan yang dikenal sebaga datuk-datuk persilatan yang lihai. Kui-siauw Giam-ong (Raja Maut Suling Iblis) Suma Koan, datuk besar majikan bukit Bayangan Iblis berada di situ. Juga nampak Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) Ouwyang Sek, datuk besar majikan Lembah Bukit Siluman yang berusia lima puluh tiga tahun, beberapa tahun lebih muda dibandingkan Suma Koan.
Di samping Ouwyang Sek duduk pula Kwan Im Sian-li (Dewi Kwan Im) Bwe Si Ni yang biarpun sudah berusia hampir lima puluh tahun akan tetapi masih nampak cantik manis seperti baru berusia tiga puluh tahun saja. Seperti kita ketahui, wanita yang dahulunya merupakan seorang dayang istana ini, yang pernah jatuh cinta dan tergila-gila kepada bekas Pangeran Tiauw Sun Ong, dalam usahanya membalas dendam karena ditolak cintanya oleh bekas pangeran itu, kalah oleh Tiauw Sun Ong dan ia dibantu oleh Ouwyang Sek. Semenjak waktu itu, ia bersahabat dengan Ouwyang Sek dan memang keduanya memiliki watak yang sama, apalagi Ouwyang Sek telah menjadi seorang duda, maka keduanya menjadi akrab. Oleh karena itu, ketika Ouwyang Sek dibujuk oleh Bu-tek Sam kui untuk bekerja sama, dia mengajak pula Kwan Im Sian-li sehingga keduanya sekarang berada di markas Thian-te Kui-pang itu.
Selain tiga pimpinan Thian-te Kui-pang dan tiga orang datuk ini, masih ada lagi lima orang pembantu Bu-tek Sam-kui yang merupakan perwira atau pimpinan pasukan Thian-te Kui-pang. Mereka agaknya nampak murung dan marah, membicarakan sesuatu yang penting dengan penuh semangat.
“Brakk!” Tangan kiri Kui-siauw Giam-ong menggebrak meja di depannya sehingga tergetar. “Puteraku Suma Hok mati terbunuh! Akan tetapi aku tidak mau melakukan balas dendam karena pembunuhnya, bekas Kaisar Cang Bu, juga sudah mampus. Sungguh membuat hati merasa penasaran sekali!” Kakek yang kecil kurus namun amat lihai ini menyambar cawan araknya dan sekali tuang, arak dalam cawan sudah memasuki perutnya. Agaknya dia masih belum puas dan menyambar guci arak lalu menuangkan isinya, menggelogoknya, seolah arak itu akan dapat mengusir ke marahannya.
“Giam-ong, kenapa penasaran kepada bekas kaisar itu? Yang menjadi biang keladi kematian puteramu bukanlah dia, melainkan orang yang juga menjadi biang keladi puteraku Ouwyang Toan tertangkap dan dihikum mati. Orang itulah yang telah membunuh anakmu dan anakku!”
“Siapakah dia !” Suma Koan bertanya dan memandang kepada rekannya dengan mata merah.
“Siapalagi kalau bukan si jahanam Kwa Bun Houw? Menurut para penyelidik yang berhasil lolos ketika markas bekas Kaisar Cang Bu diserbu pasukan pemerintah, sebelum pasukan pemerintah menyerbu, Kwa Bun Houw datang berkunjung untuk memperingatkan bekas kaisar itu agar tidak bergabung dengan kerajaan Wei dan agar melarikan diri karena akan diserbu pasukan pemerintah. dan dalam pertemuan itulah Kwa Bun Houw menyerang dan merobohkan puteramu. Dia ditangkap dengan tuduhan membunuh isterinya serdiri, adik bekas Kaisar Cang Bu. Kemudian, setelah terjadi penyerbuan dan Kaisar Cang Bu kalah, dia membunuh anakmu yang telah tertawan sebelum membunuh diri. Nah. bukankah kematian anakmu itu gara-gara Kwa Bun Houw? Karena Kaisar Cang Bu sudah mati, engkau harus membalas kematian anakmu kepada Kwa Bun Houw, seperti juga aku akan menuntut balas atas kematian anakku.”
“Bukankah Ouwyang Toan, anakmu itu mati karena dihukum mati oleh pemerintah kerajaan Chi?” tanya Suma Koan.
Bu-eng kiam Ouwyang Sek menghela napas panjang sebelum menjawab dengan suara sedih. “Memang benar, akan tetapi kegagalan Ouwyang Toan dan Bi Moli Kwan Hwe Li juga gara-gara campur tangannya Kwa Bun Houw yang menyamar dan menjadi pengawal pribadi kaisar. Karena dialah maka penyerangan itu gagal dan anakku bersama Bi Moli tertawan dan dijatuhi hukuman mati.” Dia mengepal tinju dan berteriak. “Kwa Bun Houw, aku pasti akan menghancurkan kepalamu untuk membalas kematian anakku!”
Dua orang datuk yang biasanya tidak pernah saling mengacuhkan itu, kini bersatu hati untuk menentang dan membalaskan kematian putera mereka kepada Kwa Bun Houw.
Melihat kedua orang datuk itu marah-marah, Pek-thian-kui, orang pertama dari Bu-tek Sam-kwi, berkata, “ji wi (kalian berdua) suka bersabar. Kami mengetahui akan dendam kemarahan hati ji-wi, akan tetapi kita harus mengingat bahwa selain Kwa Bun Houw itu memiliki ilmu silat yang amat tangguh, juga agaknya dia memiliki pula kawan-kawan dari golongan kang-ouw yang menentang kita, seperti terbukti ketika dia membantu Thian-beng-pai dan Hek-tung Kai-pang yang tidak mau tunduk kepada kita. Oleh karena itu, harap ji-wi suka bersabar dan bergabung dengan kami. Kalau kita bersatu, dengan kekuatan anak buah kita, kiranya tidak akan sukar untuk membalas dendam kita terhadap Kwa Bun Houw.”
“Akupun harus menghajar pemuda sombong itu!” Kwan Im Sian li Bwe Si Ni berkata. “Beberapa kali diapun berani menentangku!”
“Kalau begitu, bagus sekali! Pek-thian-kui, kami rasa, kami bertiga saja sudah cukup untuk menemukan Kwa Bun Houw dan memenggal lehernya! Tidak perlu kalian Bu-tek Sam-kui ikut-ikut!” kata Ouwyang Sek.
“Apa yang dikatakan Bu-eng-kiam itu benar, Bu-tek Sam-kui.” kata pula Kui-siauw Giam-ong Suma Koan. “Setelah usaha kita bersama gagal, bahkan kami berdua telah mengorbankan putera kami, maka tidak ada gunanya lagi kerja sama ini. Kaisar Cang Bu telah tewas, pasukannya telah hancur, untuk apalagi kita bekerja sama? Kalian adalah petugas dari kerajaan Wei, akan tetapi kami bertiga tidak mempunyai urusan dengan perebutan kekuasaan antara kerajaan di utara dan kerajaan di selatan. Kami bertiga hendak mencari dan menghukum Kwa Bun Houw karena urusan pribadi, tidak ada lagi sangkut-pautnya dengan kerajaan Wei.”
“Akupun setuju,” kata Kwan Im Sian-li. “Yang jelas, kerja sama itu ternyata tidak menguntungkan, bahkan merugikan kami. Giam-ong dan Bu-eng-kiam, mari kita bertiga mencari Kwa Bun Houw dan kalau Tiauw Sun Ong membela muridnya, kita bunuh sekalian manusia sombong itu!”
Tiga orang datuk itu lalu bangkit dan meninggalkan tempat itu tanpa ada yang berani mencegah. Bu-tek Sam-kui hanya dapat saling pandang saja. Mereka mendapat tugas memimpin anak buah mereka untuk mengacau dan melemahkan kerajaan Chi, dan untuk melaksanakan tugas itu mereka berhasil menarik banyak tokoh kang-ouw golongan sesat untuk membantu mereka dengan janji yang muluk. Bahkan mereka berhasil mengikat kerja sama dengan bekas Kaisar Cang Bu dan bersama-sama mengatur siasat untuk membunuh Kaisar kerajaan Chi dan menguasai dunia kang-ouw. Akan tetapi, ternyata usaha membunuh Kaisar Siauw Bian Ong itu gagal, juga mereka tidak berhasil menguasai dunia kang-ouw sepenuhnya. Tadinya, mereka mengharapkan para datuk seperti Ouwyang Sek dan Suma Koan untuk mereka jadikan jago dan beng-cu dalam pemilihan beng-cu dunia kang-ouw. Hal inipun gagal karena sekarang, dua orang datuk itu bersama Kwan Im Sian-li meninggalkan mereka dalam usaha mereka untuk mencari musuh pribadi mereka.
‘Tidak ada jalan lain, kita harus mulai dari pertama, yaitu mengadakan pengacauan di sepanjang tapal batas selatan sambil mengirim laporan tentang kegagalan itu kepada Sribaginda dan menanti perintah selanjutnya,” kata Pek-thian-kui. Dua orang sutenya setuju dan segera mereka membuat laporan untuk dikirim kepada kaisar mereka di utara.
Mulailah para anggauta Thian-te Kui-pang itu mengganas lagi di perbatasan, mengganggu dusun-dusun, merampok dan membunuh dan mereka dikenal sebagai gerombolan iblis Hitam karena pakaian mereka serba hitam dan kebuasan mereka seperti iblis. Gegerlah perbatasan dan banyak penduduk mengungsi ke pedalaman. Kalau ada pendekar atau petugas keamanan berani menentang, mereka semua dibunuh.
Sementara itu, Ouwyang Sek, Bwe Si Ni dan Suma Koan melakukan perjalanan bersama menuju Hoa-san. Bwe Si Ni yang menjadi penunjuk jalan karena wanita itu pernah mendatangi tempat bekas pangeran itu mengasingkan diri, yaitu di sebuah di antara puncak-puncak pegunungan Hoa-san. Mereka bertiga sudah bertekad untuk mencari Bun Houw di sana dan kalau pemuda yang menjadi musuh besar mereka itu tidak berada di sana, mereka akan menawan Tiauw Sun Ong untuk memancing datangnya pemuda itu yang mereka yakin pasti akan membela gurunya.
“Si Buta itu lihai bukan main,” Ouwyang Sek memperingatkan rekannya, Suma Koan. “Babkan aku dan Sian-li pernah mengeroyoknya dan biarpun kami dapat melukainya, dia masih mampu memaksa kami pergi membawa luka.”
“Akan tetapi aku yakin bahwa dengan adanya Giam-ong membantu, kita akan dapat menundukkan jahanam buta itu,” kata Kwa Im Sian-li gemas karena kini ia amat membenci pria yang pernah dicintanya setengah mati itu.
Cintakah itu kalau dapat berubah menjadi benci? Cinta yang mengandung cemburu, ingin memiliki, kemudian berubah menjadi kebencian sesungguhnya hayalah gairah nafsu belaka Cinta seperti itu tentu saja menimbulkan berbagai masalah, mendatangkan konflik-konflik-Sudah menjadi sifat nafsu untuk selalu mengejar kesenangan. Aku cinta padamu, karena kamu mendatangkan kesenangan padaku, demikianlah isi cinta gairah nafsu itu, baik itu cinta antara pria dan wanita, kitara orang tua dan anaknya, antara sahabat, bah kan cinta seseorang terhadap apa saja. Selama terkandung pamrih demi kesenangan diri pribadi, walaupun pamrih ini seringkali bersembunyi di balik siogan dan gagasan agung maka cinta seperti itu pasti menimbulkan konflik, dan dapat berubah meojadi benci, karena cinta gairah dan kebencian bersumber satu, yaitu nafsu. Aku cinta kamu selama kamu menyenangkan. Begitu kamu tidak menyenangkan, maka aku benci kamu! Karena itu, cinta seperti ini selalu memilih, yang paling menyenangkan, itulah yang dicinta.
Demikian pula “cinta” yang pernah mengusik hati Kwan Im Sian-li Bwe Si Ni. Ia pernah jatuh cinta kepada seorang pangeran yang tampan dan menyenangkan, yaitu Pangeran Tiauw Sun Ong. Biarpun cintanya tidak mendapat balasan, namun ia tetap mencinta karena ia kagum dan suka kepada pangeran itu, bahkan setelah dia tidak lagi menjadi pangeran dan menjadi seorang buta, ia tetap mengharapkan menjadi pasangan hidupnya. Namun, penolakan-penolakan Tiauw Sun Ong, bahkan yang mengakibatkan perkelahian, mengubah cintanya menjadi benci. Kalau ia masih mengharapkan diterima sebagai pasangan hidup, adalah karena biarpun sudah tua dan buta, Tiauw Sun Ong masih amat menarik hatinya sebagai seorang yang amat lihai ilmu silatnya. Penolakan itu menyakitkan hatinya dan sekaligus mengubah cintanya menjadi benci dan kini ia hanya mempunyai satu keinginan terhadap Tiauw Sun Ong, yaitu membunuhnya!
Pada waktu itu, Tiauw Sun Ong tidak tinggal sendirian lagi di pondoknya. Kini dia ditemani puterinya, Tiauw Hui Hong, anak kandung yang baru ditemukannya setelah anak itu berusia dua puluh satu tahun! Bahkan baru saja dia mengetahui bahwa dia mempunyai seorang keturunan dari selir kaisar yaitu kakaknya, yang menjadi kekasihnya. Ternyata kekasihnya itu telah mengandung keturunannya ketika mereka tertangkap dan dipisahkan. Tentu saja ayah dan anak ini merasa berbahagia sekali dan Tiauw Sun Ong yang menemukan anaknya sebagai seorang gadis yang memiliki ilmu silat tinggi sebagai anak tiri Bu-eng-kiam Ouwyang Sek. segera menggembleng puterinya itu dan mengajarkan ilmu-ilmu simpanannya. Karena gadis itu memang telah memiliki dasar yang kuat sebagai anak angkat dan murid datuk majikan Lembah Bukit Siluman itu, maka tidaklah terlalu sukar baginya untuk melatih ilmu-ilmu yang kini diajarkan ayah kandungnya kepadanya. Selama beberapa bulan tinggal bersama ayahnya di Hoa-san. Hui Hong telah memperoleh kemajuan pesat sekali dan ia kini menjadi jauh lebih lihai dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, Karena puterinya itu memiliki ilmu Siang-kiam (Sepasang Pedang) yang cukup lihai, maka Tiauw Sun Ong lalu mengajarkan ilmu totok dengan tongkat yang dimainkan oleh tangan kiri Hui Hong, sedangkan tangan kanannya tetap memainkan pedangnya. Kalau tadinya Hui Hong bersenjatakan sepasang pedang, kini ia mengganti pedang kirinya dengan sebatang tongkat yang dapat diambilnya di mana saja, sebatang rantingpun jadi. Dan ternyata ranting itu jauh lebih berbahaya. bagi lawan dibandingkan kalau tangan kirinya memegang pedang! Juga pedang di tangan kanannya mendapatkan banyak kemajuan setelah Tiauw Sun Ong menambahkan jurus-jurus baru. Juga bekas pangeran ini mengajarkan cara menghimpun hawa sakti kepada puterinya sehingga dalam hal tenaga sakti, Hui Hong juga menjadi semakin kuat.
Gadis itu merasa berbahagia sekali. Bukan hanya karena kini ia hidup dekat ayahnya, dapat mencucikan pakaian ayahnya, dapat memasakkan makanan untuk ayahnya dan menerima pelajaran ilmu dari ayahnya. Akan tetapi juga karena ayahnya menjodohkan ia dengan Bun Houw! Kini ia tinggal menanti datangnya pemuda yang memang sebelum ayahnya menjodohkannya, telah menjadi pujaan hatinya itu. Kebahagiaan membuat Hui Hong nampak semakin cantik jelita karena wajahnya selalu cerah. Kalau dahulu, sebagai puteri datuk Ouwyang Sek, ia bersikap dingin, keras dan galak, kini di bibirnya yang mungil itu selalu nampak senyum manis, matanya yang tajam bersinar-sinar itu mengandung kelembutan, dan wajahnya selalu berseri.
Pada sore hari itu, Hui Hong berlatih silat pedang dan tongkatnya di belakang pondok ayahnya. Kini ia duduk mengaso dan menghapus keringat yang membasahi leher dan dahinya, dengan sehelai kain. Ia harus mengeringkan dulu keringatnya sebelum mandi! Dalam udara dingin puncak dapat berkeringat seperti itu, menunjukkan bahwa dalam latihan tadi Hui Hong mengerahkan banyak tenaga. Namun ia merasa puas dan tersenyum-senyum. Jurus paling sulit yang diajarkan ayahnya, setelah diulang-ulang selama beberapa hari, akhirnya hari ini dapat ia lakukan dengan baik. Ayahnya tentu akan girang sekali. Melihat Hui Hong duduk di atas batu, rambutnya awut-awutan, mukanya basah oleh keringatnya, dan kemerahan karena mengerahkan tenaga, kedua pipinya segar kemerahan dan bibirnya lebih merah lagi, membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa kagum. Ia memang cantik jelita, seperti ibunya, selir kaisar yang memadu kasih dengan ayahnya.
Hui Hong sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu, tiga orang bersembunyi di balik batu-batu gunung yang besar dan mengintai ke arah pondok ayahnya. Tentu saja tiga orang itu tidak dapat melihat Tiauw Sun Ong yang berada di dalam pondok, sebaliknya melihat jelas Hui Hong yang duduk di atas batu.
“Bu-eng-kiam, bukankah gadis itu anakmu Hui Hong?” Suma Koan berbisik.
“Ia bukan anakku lagi,” jawab Ouwyang Sek gemas.
“Ahhh, kiranya begitu? Jadi gadis itu telah bertemu dan berkumpul dengan ayah kandungnya?” kata pula Suma Koan.
“Ssttt, kebetulan sekali ia berada di sini,” kata Kwan Im Sian-li, “Ia merupakan umpan yang lebih baik untuk memancing datangnya Kwa Bun Houw.”
“Benar sekali, bocah itu saling mencinta dengan Bun Houw. Kalau kita tawan, pasti Bun Houw akan muncul dan mencoba untuk membebaskannya.” kata Ouwyang Sek, “Hemm, kalau begitu, kalian berdua siap menghadapi Tiauw Sun Ong, biar aku sendiri yang menangkap gadis itu.” kata Raja Maut Suling Setan itu, akan tetapi Kwan Im Sian-li menyentuh lengannya ketika datuk itu hendak keluar dari tempat sembunyinya.
“Giam-ong, kalau engkau sembrono, engkau akan menggagalkan semuanya. Jangan pandang ringan bekas murid Bu-eng-kiam itu. Kalau kita menghadapi Tiauw Sun Ong bertiga, tentu kita akan mampu menang, akan tetapi kalau Tiauw Sun Ong dibantu gadis itu, akan lebih sulit bagi kita. Sebaikya kita bertiga bersama-sama menangkap gadis itu sehingga kalau Tiauw Sun Ong keluar, kita dapat menundukkannya tanpa membuang tenaga, hanya dengan menyandera puterinya saja. Dan dengan mereka berdua sebagai umpan pancingan, aku yakin Kwa Bun Houw akan segera datang dan terjatuh ke tangan kita.”
Dua orang datuk itu mengangguk-angguk mendengar ucapan Kwan Im Sian-li. Mereka lalu berbisik-bisik mengatur siasat dan tak lama kemudian ketiganya berindap-indap menghampiri Hui Hong yang masih duduk menyeka keringat dan menikmati kenyamanan hawa udara sejuk yang mengipasi tubuhnya yang masih panas oleh pengerahan tenaga-dalam latihan tadi. Tiga orang itu adalah datuk-datuk persilatan yang telah memiliki kepandaian tinggi sekali sehingga mereka mampu bergerak tanpa menimbulkan suara. Akan tetapi, selama beberapa bulan menerima gemblengan ayahnya yang buta, Hui Hong telah diajar pula mempertajam pendengarannya, seperti ayahnya yang seolah menggantikan tugas matanya yang tidak dapat melihat itu dengan telinganya. Maka, setelah tiga orang itu agak dekat, pendengarannya dapat menangkap pernapasan mereka dan cepat ia meloncat turun dari atas batu. Namun terlambat. Tiga orang itu sudah terlampau dekat dan kini mereka telah mengepung Hui Hong dari tiga jurusan.
Andaikata ia tidak dikepung sekalipun, Hui Hong tidak akan melarikan diri. Gadis ini memiliki keberanian luar biasa, apalagi setelah ia mendapat gemblengan dari ayahnya dan sepasang senjata itu masih di tangannya. Ia tidak akan gentar menghadapi lawan yang bagaimanapun juga. Akan tetapi, ketika ia melihat siapa yang mengepungnya, ia mengerutkan alisnya dan maklum bahwa ia berhadapan dengan lawan-lawan yang amat tangguh. Tentu saja ia mengenal Ouwyang Sek, orang yang selama ini dianggap sebagai ayahnya sendiri, juga gurunya yang mengajarkan ilmu silat kepadanya sejak ia kecil. Dan ia mengenal pula Suma Koan, datuk majikan Bukit Bayangan Iblis yang amat tangguh itu, orang yang pernah melamarnya untuk dijadikan mantunya. Dan iapun mengenal pula Kwan Im Sian-li, datuk wanita yang pernah membohonginya dan berusaha mengadu ia dengan ayah kandungnya sendiri. Tiga orang datuk kaum sesat maju sekaligus menghadapinya! Sungguh merupakan lawan yang amat tangguh dan berbahaya. Namun, ia siap dengan pedang dan tongkatnya, menghadapi mereka dengan sikap gagah sekali.
“Kalian …! Mau apa kalian bertiga datang ke sini?” ia bertanya dan sedikitpun ia tidak memperlihatkan sikap takut.
“Tangkap …!!” Ouwyang Sek berseru dan iapun sudah menyerang dengan kedua tangannya terjulur ke depan dan dari kedua tangan itu menyambar angin pukulan dahsyat ketika dia berusaha untuk merobohkan bekas murid atau anak tirinya itu dengan totokan dan cengkeraman. Akan tetapi Hui Hong sama sekali tidak mengelak, bahkan tongkat di tangan kirinya menyambut cengkeraman tangan Ouwyang Sek dengan totokan ke arah telapak tangan itu, dan pedangnya menyambar ke arah pergelangan tangan yang menotoknya!
(Bersambung jilid 18)

JILID 18

“AHHH …!!” Ouwyang Sek berseru kaget, tidak menyangka bekas murid ini akan menyambutnya seperti itu, dengan jurus yang sama sekali tidak disangka dan tidak dikenalnya, bahkan menggantikan pedang kiri dengan tongkat yang lihai bukan main. Terpaksa dia meloncat ke belakang dan pada saat itu Kwan Im Sian-li dan Suma Koan sudah bergerak maju membantu rekan mereka. Suma Koan menggunakan suling mautnya untuk melakukan serangan totokan, sedangkan Bwe Si Ni menerkam dari samping dengan kedua tangannya yang membentuk cakar harimau. Serangan kedua orang ini hebat sekali sehingga Hui Hong terdesak hebat, biarpun ia sudah memutar pedang dan tongkatnya. Tenaga sin-kang dari kedua orang inipun amat kuat.
Selagi ia berlompatan mengelak dari desakan kedua orang lawan itu, tiba-tiha belakang lutut kirinya terkena tendangan kaki Ouwyang Sek dan Hui Hong jatuh berlutut dengan sebelah kaki dan pada saat itu, pedang di tangan Kwan Im Sian-li Bwe Si Ni telah menempel di lehernya.
“Jangan berserak, bergerak berarti mati!” bentak Bwe Si Ni dengan suara mengejek.
Suma Koan merampas tongkat dan pedang dari tangan Hui Hong yang terpaksa melepaskannya karena ia sudah tidak berdaya ditempeli pedang lehernya. Ia bukan seorang nekat yang bodoh untuk melawan dalam keadaan seperti itu yang akan sama saja dengan membunuh diri atau mati konyol. Akan tetapi ia masih sempat berseru nyaring, “Ayaaaahhh …!!”
Terdengar jendela pondok itu jebol dan tubuh Tiauw Sun Ong melesat di luar bagaikan seekor burung garuda menyambar ke arah tempat itu! Tiga orang itu sudah siap dan pedang yang menempel di leher Hui Hong semakin kuat. Tanpa mengeluarkan suara tubuh Tiauw Sun Ong sudah berdiri di depan tiga orang itu, tongkatnya melintang di depan, mukanya agak miring karena dia menggunakan tenaga yang dikerahkan kepada kedua telinganya untuk mendengarkan gerakan tiga orang itu. Biarpun kedua matanya tidak dapat melihat lagi, namun perasaan dan pendengaran, juga penciumannya, seolah dapat menggantikan kekurangan itu dan dia dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di depannya!
“Hui Hong, tak dapatkah engkau melepaskan dirimu?” tanya Tiauw Sun Ong dan suaranya mengandung wibawa yang kuat sehingga tiga orang itu mau tidak mau merasa jerih juga.
“Ayah, mereka mengeroyok dan menangkapku secara curang.” kata Hui Hong, namun ia tidak berani bergerak karena sekali ia bergerak, pedang itu dapat memenggal lehernya.
“Hemm, siapa kalian bertiga dan apa maksud kalian menangkap puteriku?”
“Tiga orang datuk itu menutupi perasaan jerih mereka dengan suara tawa mereka. Mereka sengaja menertawakan Tiauw Sun Ong karena sudah merasa menang dengan tertawannya puteri bekas pangeran itu.
Mendengar suara tawa mereka, Tiauw Sun Ong mengerutkan alisnya, “Bwe Si Ni! dan tentu seorang di antara kalian adalah Bu-eng-kiam Ouwyang Sek. Dan siapa yang seorang lagi?”
“Tiauw Sun Ong, aku adalah orang yang suka bermain musik,” jawab Suma Koan dan tiba-tiba terdengar suara suling ditiup ketika datuk ini meniup suling mautnya.
“Hemm, kiranya Kui-siauw Giam-ong? Kalian tiga orang datuk sesat telah bertindak seperti penjahat-penjahat kecil yang curang. Bebaskan puteriku, dan kalau kalian menghendaki, mari hadapi aku, tua sama tua, bukan tiga orang tua mengeroyok dan menawan seorang muda!”
“Hemm, Tiauw Sun Ong manusia berhati kejam!” teriak Kwan Im Sian-ii marah. “Engkau tidak dapat melihat akan tetapi ketahuilah bahwa pedangku sudah menempel di leher puterimu. Sekali saja engkau membuat gerakan, pedangku akan lebih dulu memenggal batang leher puterimu yang putih mulus ini!”
Kedua tangan Tiauw Sun Ong gemetar karena dia menahan kemarahannya, “Bwe Si Ni, apa kehendak kalian bertiga? Katakan!” Dia tahu bahwa tiga orang manusia curang itu sengaja menyandera Hui Hong untuk memaksa dia.
“Tiauw Sun Ong, buang tongkatmu dan menyerahlah menjadi tawanan kami atau puterimu akan kupenggal batang lehernya di depan hidungmu!” kata pula Kwan Im Sian-li dengan suara mengejek, hatinya girang dapat membuat orang yang kini amat dibencinya itu gelisah.
“Ayah, jangan dengarkan omongannya! Jangan perdulikan aku, hajar saja mereka. Aku tidak takut mati!” teriak Hui Hong.
“Bwe Si Ni, aku selamannya tidak pernah mengganggumu, dan tidak pernah ada urusan dengan Bu-eng-kiam maupun Kui-siauw Giam-ong. Akan tetapi kalau kalian sampai berani mengganggu puteriku, demi Tuhan, aku tidak akan berhenti sampai dapat membunuh kalian bertiga!” Suara bekas pangeran itu mengandung wibawa yang menggetarkan perasaan tiga orang itu.
Suma Koan dan Ouwyang Sek sudah siap dengan senjata mereka, menghadang di depan Tiauw Sun Ong agar bekas pangeran itu tidak mempergunakan kekerasan untuk menolong puterinya.
“Tiauw Sun Ong, menyerahlah, atau kubunuh puterimu!” teriak Bwe Si Ni dan dari suara wanita ini, tahulah Tiauw Sun Ong bahwa ia bersungguh-sungguh dan keselamatan nyawa puterinya tergantung kepada sikapnya.
“Ayah, serang saja mereka!” kembali Hui Hong berseru.
“Hui Hong, tenang dan sabarlah,” kata Tiauw Sun Ong yang kemudian bertanya kepada Bwe Si Ni, “Si Ni, lihat aku sudah menyerah, lalu apa kehendak kalian bertiga?” Dia melepaskan tongkatnya yang jatuh ke depan kedua kakinya.
Pada saat itu, terdengar suara wanita yang nyaring dan amat berpengaruh, “Kwan Im Sian-li, lepaskan pedangmu! Cepat!”
Suara itu mengandung getaran yang amat kuat sehingga mengejutkan semua orang, terutama sekali Kwan Im Sian-li dan tanpa disadarinya, iapun melepaskan pedangnya yang tadi dipergunakan untuk mengancam Hu Hong.
“Hui Hong, cepat!” teriak Tiauw Sun Ong kepada puterinya, akan tetapi sebetulnya Hui Hong tidak memerlukan peringatan ini lagi. Begitu merasa betapa pedang itu meninggalkan lehernya, iapun menggunakan kedua tangannya mendorong ke arah dada Kwan Im Sian-li yang terpaksa melangkah mundur menghindarkan diri dan kesempatan itu dipergunakan oleh Hui Hong untuk bergerak cepat ke kiri dan menyambar tongkat dan pedangnya yang tadi dirampas oleh Suma Koan dan dilemparkan ke atas tanah.
“Haiiiittt …!!” Tiauw Sun Ong juga sudah menggerakkan kedua tangannya menerjang ke arah Ouwyang Sek dan Suma Koan. Demikian hebat serangannya sehingga kedua orang datuk ini mundur, dan kesempatan itu dia pergunakan untuk memungut kembali tongkatnya.
Hui Hong menoleh ke arah suara wanita tadi dan muncullah seorang wanita muda yang cantik. Hui Hong memandang penuh perhatian. “Kau …? Bukankah engkau … Cia Ling Ay … “ Nama ini tak pernah ia lupakan karena Cia Ling Ay, seperti yang didengarnya dari Bun Houw, adalah bekas tunangan pemuda yang dicintanya itu.
Ling Ay tersenyum dan mengangguk. “Adik Hui Hong, mari kita hajar iblis betina yang jahat ini!” katanya.
Tanpa diminta untuk ke dua kalinya, Hui Hong sudah memutar pedang dan tongkatnya menyerang Kwan Im Sian-li. Cia Ling Ay juga menggerakkan pedangnya membantu. Dalam hal ilmu silat, sebagai murid mendiang Bi Moli Kwan Hwe Li, tentu saja Ling Ay bukan tandingan Kwan Im Sian-li yang mempunyai tingkat sebanding gurunya, akan tetapi wanita muda ini memiliki kelebihan, yaitu ilmu sihir! Biarpun dalam ilmu ini ia tidak sekuat mendiang gurunya, namun sudah cukup untuk dapat mempengaruhi seorang datuk wanita seperti Kwan Im Sian-li sehingga ia dapat menyelamatkan Hui Hong. Sejak tadi ia memang menyaksikan peristiwa di belakang pondok itu. Ia datang ke Hoa-san dengan niat mencari Kwa Bun Houw. Ia merasa menyesal sekali telah memperlihatkan perasaan duka dan putus asa meninggalkan Bun Houw seperti seorang yang merasa cemburu. Ia hendak menemui dan minta kepada bekas tunangannya itu dan ia mengira bahwa Bun Houw dapat ia temukan di tempat kediaman guru pemuda itu. Ia pernah bersama gurunya datang ke tempat ini. maka ia dapat mengunjungi pondok dari arah belakang dan kebetulan melihat betapa Hui Hong ditangkap oleh tiga orang datuk. Tadinya, ia tidak ingin mencampuri, akan tetapi melihat betapa bekas pangeran itu dan Hui Hong diancam secara curang oleh tiga orang itu. ia merasa penasaran dan segera berusaha untuk membantu. Ia tidak begitu bodoh mengandalkan ilmu silatnya terhadap tiga orang datuk yang ia tahu amat lihai, maka satu-satunya jalan baginya untuk menolong Hui Hong adalah dengan ilmu sihirnya, menyerang dengan tiba-tiba mengejutkan Kwan Im Sian-li sehingga datuk wanita itu terkejut dan melepaskan pedangnya dan Hui Hong dapat terbebas dari ancaman maut.
Sementara itu, Tiauw Sun Ong sudah menggerakkan tongkatnya menghadapi pengeroyokan Suma Koan dan Ouwyang Sek. Diam-diam dia merasa gembira bahwa puterinya terbebas dari ancaman maut, dan dia belum tahu siapa wanita yang menyelamatkan puterinya dengan sihir tadi. Akan tetapi dia merasa lega bahwa puterinya dan penolong itu yang kini menghadapi Kwan Im Sian-li, karena kalau dia yang harus melawannya, bagaimanapun juga dia masih merasa kasihan dan tidak tega untuk membunuh bekas dayang itu.
Betapapun lihainya Tiauw Sun Ong, kini dia menghadapi pengeroyokan dua orang datuk yang berilmu tinggi. Terpaksa dia harus mengerahkan seluruh tenaganya dan masih untunglah bahwa berkat kebutaannya, dia memiliki kepekaan melebihi orang biasa, dan pendengarannya menjadi amat tajam sehingga dia dapat mengetahui setiap gerakan lawan walaupun gerakan itu dilakukan dari arah belakangnya. Bagaimanapun juga, karena kedua orang lawannya merupakan datuk-datuk yang berilmu tinggi, Tiauw Sun Ong lebih banyak menangkis dan mengelak dari pada menyerang. Dia terdesak sungguhpun kedua orang lawannya tidak mudah untuk dapat merobohkannya.
Di lain pihak, Kwan Im Sian-li repot sekali menghadapi pengeroyokan dua orang wanita muda itu. Apalagi kini Hui Hong telah memperoleh kemajuan pesat di bawah bimbingan ayahnya. Kalau ia harus melawan sendiri bekas dayang itu, agaknya Hui Hong masih akan merasa kewalahan. Akan tetapi di situ ada Ling Ay yang juga lelah mewarisi sebagian besar ilmu mendiang Bi Moli Kwan Hwe Li. Dengan kerja sama yang baik, dua orang wanita muda ini perlahan-lahan mulai mendesak Kwan Im Sian-li, membuat datuk wanita itu repot membela diri dan jarang ia dapat membalas serangan mereka.
Diam-diam Hui Hong merasa kagum kepada Ling Ay. Bekas tunangan Kwa Bun Houw ini, pada kurang lebih empat tahun yang lalu, masih dikenalnya sebagai seorang wanita yang lemah. Akan tetapi sekarang mendadak muncul sebagai seorang wanita yang lihai dalam ilmu silatnya, bahkan juga memiliki kekuatan sihir yang tadi dipergunakannya dan berhasil menyelamatkan ia dan ayahnya!
Bukan main! Dan iapun melihat betapa bekas tunangan Bun Houw itu kini bersungguh-sungguh mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menyerang Kwan Im Sian-li. Melihat ini, timbul semangatnya dan iapun menggerakkan pedang dan tongkatnya lebih cepat lagi.
Tentu saja Kwan Im Sian-li menjadi semakin repot setelah dua orang wanita muda itu memperhebat serangan mereka. Apalagi ketika ia mengerling ke arah kedua orang rekan mereka, dari dua orang datuk itu iapun tidak dapat mengharapkan bantuan karena mereka berdua itu masih bertanding seru mengeroyok Tiauw Sun Ong dan nampaknya belum ada tanda-tanda akan menang dalam waktu pendek, Hui Hong juga mengerling ke arah ayahnya dan ia maklum bahwa kalau dilanjutkan pertandingan itu, lambat laun ayahnya tentu akan terancam bahaya karena dua orang datuk itu memang lihai bukan main. Ia harus dapat merobohkan Kwan Im Sian-li lebih dahulu sebelum dapat membantu ayahnya, karena kalau ia tinggalkan Ling Ay seorang diri menghadapi bekas dayang itu, sama saja dengan membunuh wanita yang kemunculannya telah menyelamatkan ia dan ayahnya itu.
Maka ia mengerahkan semua tenaga dan kepandaiannya untuk mencoba merobohkan wanita itu secepatnya, namun harapannya itu agaknya tidak akan mudah dapat menjadi kenyataan. Kwan Im Sian-li adalah seorang datuk wanita yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi, bahkan tidak banyak selisihnya dibandingkan tingkat kepandaian Ouwyang Sek ataupun Suma Koan. Dan melihat betapa ayahnya mulai terdesak, timbul kegelisahan di hati Hui Hong, khawatir kalau ayahnya akan celaka di tangan dua orang datuk itu. Dan kegelisahannya ini justeru membuat gerakannya menjadi kacau dan hal ini membuat Kwan Im Sian-li nampak semakin kuat dan sukar dikalahkan.
Tiauw Sun Ong memang mulai terdesak oleh kedua orang pengeroyoknya. Keadaan di dua gelanggang pertempuran itu membuat keadaan kedua pihak seimbang. Tiauw Sun Ong terdesak oleh dua orang pengeroyoknya, sebaliknya, puterinya dan Ling Ay juga mendesak Kwan Im Sian-li. Mereka semua maklum bahwa pihak yang kalah lebih dulu berarti akan kalah semua karena pihak yang menang tentu akan dapat membantu perkelahian yang lain.
“Enci Ling Ay, cepat kaubantu ayahku!” tiba-tiba Hui Hong memutar pedangnya dengan sepenuh tenaganya menyerang Kwan Im Sian Li karena ia sudah mengambil keputusan untuk membiarkan ia seorang diri yang terdesak oleh lawan, akan tetapi ayahnya harus dibantu dan itulah sebabnya ia minta kepada Ling Ay untuk membantu ayahnya. Ling Ay menjadi agak bingung mendengar permintaan itu karena ia pun tahu bahwa menghadapi Kwan Im Sian-li sendiri saja merupakan bahaya besar bagi gadis itu. Akan tetapi Ling Ay adalah seorang yang cukup cerdik, iapun tahu bahwa Hui Hong sengaja membiarkan dirinya terancam asal ayahnya terbebas dari desakan dua orang pengeroyoknya. Dan iapun percaya bahwa bagaimanapun juga Kwan Im Sian-li tidak akan mudah saja mengalahkan atau merobohkan Hui Hong. walaupun gadis itupun tidak akan mungkin menang kalau melawan datuk wanita itu seorang diri saja. Maka, iapun meloncat dan memutar pedangnya, terjun ke dalam gelanggang pertandingan membantu Tiauw Sun Ong.
Bekas pangeran itu terkejut sekali ketika dengan pendengarannya ia dapat mengetahui bahwa wanita yang tadi membantu puterinya, kini datang membantunya. Hal ini berarti bahwa puterinya itu seorang diri saja menghadapi Kwan Im Sian-li! Dan diapun segera tahu bahwa puterinya sengaja mengorbankan diri demi keselamatannya, sengaja menyuruh wanita penolong tadi membantunya agar dia terbebas dari desakan dan ancaman dua orang datuk yang mengeroyoknya.
“Nona bantulah Hui Hong saja!” teriaknya berulang kali.
“Enci Ling Ay. kau bantu ayah!” teriak pula Hui Hong.
Tentu saja terikan ayah dan anak ini membuat Ling Ay menjadi bingung. Juga membuat Tiauw Sun Ong dan Hui Hong kehilangan pencurahan perhatiannya sehingga membuyar atau terpecah dan tiba-tiba Hui Hong mengaduh karena ujung pedang Kwan Im Sian-li yang tadinya menyambar ke arah lehernya, agak lambat ia mengelak dan pundak kirinya disambar ujung pedang sehingga berdarah
Melihat ini, Ling Ay meloncat dan menangkis pedang Kwan Im Sian-Ii yang sudah menyambar lagi ke arah tubuh Hui Hong yang terhuyung sehingga gadis itu terbebas dari maut dan mereka berdua sudah mengeroyok lagi Kwan Im Sian-li. Teriakan Hui Hong yang tertahan ketika pundaknya terluka, dapat tertangkap telinga Tiauw Sun Ong dan bekas pangeran itu menjadi sedemikian kaget dan gelisahnya sehingga ujung suling di tangan Suma Koan berhasil menghantam paha kaki kirinya.
“Dukk_ …!” Dan tubuh bekas pangeran itu terhuyung ke belakang. Untung dia masih sempat mengerahkan sin-kang sehingga tulang pahanya tidak patah, akan tetapi dalam keadaan terhuyung itu. tentu saja dia membuka kesempatan bagi kedua orang pengeroyoknya untuk mendesak maju. Melihat ini, Ling Ay mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan pedangnya menyambar cepat untuk melindungi bekas pengeran itu. Teriakannya yang mengandung wibawa karena dikerahkan dengan kekuatan sihir, membuat kedua orang datuk itu agak tertahan gerakan mereka, akan tetapi ketika suling di tangan Suma Koan bertemu pedang di tangan Ling Ay, tetap saja Ling Ay terhuyung dan pedang itu hampir terlepas dari tangannya. Bagaimanapun juga, bantuan Ling Ay ini telah membebaskan Tiauw Sun Ong dari ancaman maut. Ketika kedua orang datuk itu mendesak lagi, Tiauw Sun Ong sudah dapat memutar tongkatnya membela diri, juga Ling Ay membantunya dengan putaran pedangnya. Namun, bantuan Ling Ay ini tidak membuat keadaan Tiauw Sun Ong lebih baik. Apalagi, pahanya telah terluka terasa nyeri.
Keadaan ayah dan anak itu sungguh gawat. Bantuan Ling Ay memang telah dua kali menyelamatkan Tiauw Sun Ong dan Hui Hong akan tetapi tidak meloloskan mereka dari desakan tiga orang datuk itu. Keadaan Hui Hong yang paling repot. Pundaknya telah terluka dan biarpun luka itu tidak terlalu parah, namun gerakannya membuat luka itu terus mengucurkan darah! Beberapa kali hampir saja ia menjadi korban tusukan pedang Kwan Im Sian-li dan ketika ia berhasil menangkis sebuah tusukan, tiba-iiba kaki Kwan Im Sian-li berhasil menendang kakinya di bawah lutut dan Hui Hong terpelanting! Kwan Im Sian-li mengeluarkan suara tawa dan pedangnya berkelebat.
“Tranggg …!”
“Aihhh …!!” Kwan Im Sian-li terkejut bukan main dan terbelalak memandang kepada pedang yang dipegangnya karena pedang itu telah patah ujungnya. Ia tadi hanya melihat kilat menyambar dan tahu-tahu pedangnya telah tertangkis dan menjadi buntung! Ketika ia memandang, kiranya di depannya telah berdiri orang yang dicari-cari tiga erang datuk itu, yaitu Kwa Bun Houw yang sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan di tangannya, dan dengan tangan kirinya dia menarik tangan Hui Hong dan membantu gadis itu bangkit berdiri.
“Houw-koko, kau bantu ayah …!” kata Hui Hong, gembira bukan main melihat munculnya Bun Houw.
Bun Houw menoleh dan melihat betapa gurunya, Tiauw Sun Ong, didesak hebat oleh Ouwyang Sek dan Suma Koan dan gurunya itu dibantu oleh Cia Ling Ay dengan mati-matian, hal yang membuat ia terheran-heran bukan main. Akan tetapi dia mengerti bahwa Ling Ay membantu Hui Hong dan ayahnya, maka diapun cepat berseru, “Adik Ling Ay, kau bantu Hong-moi.”
Ling Ay juga gembira melihat munculnya Bun Houw. “Baik!” katanya dan dengan penuh semangat, janda muda ini lalu meloncat dan menyerang Kwan Im Sian-li dengan pedangnya. Hui Hong menggerakkan pedang dan tongkatnya mengeroyok. Hui Hong sedemikian gembiranya melihat kedatangan Bun Houw sehingga ia melupakan luka di pundaknya dan gerakannya kini bagaikan seekor harimau betina mengamuk. Tentu saja Kwan Im Sian-li yang sudah buntung pedangnya, menjadi semakin panik dan menurun semangatnya.
Sementara itu, sekali melompat saja Bun Houw sudah terjun ke gelanggang perkelahian. Dua orang datuk itu pun terkejut setengah mati melihat munculnya pemuda itu. Tadinya mereka memang ingin bertemu Bun Houw untuk membalas dendam, akan tetapi bukan sekarang, di mana terdapat Tiauw Sun Ong, Tiauw Hui Hong, dan Cia Ling Ay yang dapat membantunya. Menghadapi bekas pangeran dan dua orang wanita muda itu saja, sampai sekian lamanya mereka belum mampu menundukkan mereka, apalagi kini muncul Kwa Bun Houw! Akan tetapi, dua orang datuk yang merasa dirinya besar dan tinggi kedudukannya itu, menutupi kegelisahan mereka.
“Bagus, engkau muncul sendiri, Kwa Bun Houw! Bersiaplah untuk mampus di tanganku sebagai pembalasan kematian puteraku!” kata Ouwyang Sek marah.
“Puteramu sendiri yang bersalah hendak membunuh kaisar dan dia tertangkap, dihukum mati. Kenapa salahkan aku?” Bun Houw menjawab.
“Engkau yang menyebabkan dia tertawan!” bentak Ouwyang Sek dan diapun sudah menggerakkan pedangnya menyerang Kwa Bun Houw.
Datuk ini berjuluk Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan), tentu saja dia memiliki ilmu pedang yang ampuh. Namun, sekali ini dia berhadapan dengan Kwa Bun Houw yang bukan saja telah menguasai hampir seluruh kepandaian Tiauw Sun Ong, namun bahkan kini dia lebih lihai dari gurunya karena dia telah menguasai pula ilmu rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tubuhnya amat kuat, mengandung tenaga sakti yang hebat berkat khasiat Akar Bunga Gurun Pasir yang secara kebetulan diminumnya. Maka, begitu Bun Houw menggerakkan pedangnya untuk melawan, terjadi pertandingan seru dan hebat, namun yang membuat Ouwyang Sek segera terdesak hebat!
Tiauw Sun Ong juga kini dapat mendesak Suma Koan. Biarpun pahanya terasa nyeri, akan tetapi bekas pangeran itu dapat mendesak lawan yang hanya tinggal seorang itu, dan perlahan-lahan, sinar dari suling di tangan Suma Koan semakin mengendur dan menyempit.
Yang paling payah keadaannya adalah Kwan Iin Sian-li. Kembali Ling Ay membantu Hui Hong dan kedua orang wanita muda itu dengan penuh semangat menghimpit dan menekan datuk wanita yang pedangnya sudah buntung, tidak memberi kesempatan kepadanya untuk balas menyerang, apalagi melarikan diri. Kwan Im Sian-li hanya dapat berusaha sekuat tenaga untuk mengelak atau menangkis dengan pedang buntungnya. Namun, usaha ini hanya dapat membuat ia bertahan selama belasan jurus saja karena ketika mendapat kesempatan baik, ranting di tangan kiri Hui Hong berhasil menotok dadanya, membuat datuk wanita itu terhuyung lemas dan kesempatan itu dipergunakan oleh Cia Ling Ay untuk menusukkan pedangnya ke lambung Kwan Im Sian-li. Bekas dayang istana itu menjerit, akan tetapi jeritnya tertahan karena saat itu, pedang di tangan kanan Hui Hong menyambar dan menusuk tembus lehernya. Wanita itu terkulai dan tewas seketika, mandi darah.
Pada saat yang hampir bersamaan, tangan kiri Bun Houw dengan pengerahan tenaga dahsyat Im-yang Bu-tek Cin-keng, telah menyambar dan menampar ke arah dada lawan. Pada saat itu pedang Ouwyang Sek bertemu dengan Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) dan biarpun pedang datuk itu tidak patah karena terbuat dari baja pilihan, namun dia tidak dapat menariknya kembali. Pedang itu melekat dengan pedang di tangan Bun Houw dan selagi dia mengerahkan tenaga untuk melepaskan pedangnya, tiba-tiba saja Bun Houw menampar dengan tangan kirinya. Ouwyang Sek tidak dapat mengelak dan mengerahkan sin-kang untuk membuat dadanya dilindungi kekebalan. Dia tidak tahu betapa hebatnya tenaga dari Im-yang Bu-tek Cin-keng itu.
“Plakkk!” Mata Ouwyang Sek terbelalak dan ketika tubuhnya terjengkang roboh, nyawanya sudah melayang. Tamparan itu telah menghancurkan semua isi dadanya.
Melihat gurunya belum juga merobohkan Suma Koan, Bun Houw maklum bahwa agaknya gurunya tidak ingin membunuh lawan. Gurunya sudah mendesak hebat dan kalau gurunya menghendaki, tentu tongkat di tangan gurunya itu sudah dapat membunuh lawan. Diapun melompat ke depan dan berseru, “Suhu, biar teecu menghadapinya!”
Mendengar ucapan muridnya ini. Tiauw Sun Ong melompat ke belakang dan Suma Koan menjadi lega bukan main. Tadi dia sudah repot dan tinggal menanti robohnya saja dan sekarang, lawan yang amat tangguh itu meninggalkannya dan digantikan muridnya. Bagaimanapun juga, sang murid tidak mungkin selihai sang guru. Diapun cepat menyerang Bun Houw dengan sulingnya, mengerahkan semua tenaganya. Bun Houw menyambut dan mengerahkan tenaga pula.
“Tranggg …!!” Bunga api berpijar dan hampir saja Suma Koan melepaskan sulingnya karena telapak tangan yang memegang suling merasa panas tergetar hebat. Dia terkejut dan nekat, namun matanya silau oleh gulungan sinar pedang yang seperti kilat menyambar-nyambar itu. Dia berusaha untuk membela diri, namun baru dia tahu bahwa pemuda ini bahkan jauh lebih berbahaya dibandingkan bekas pangeran itu. Sebelum dia dapat membalas hujan serangan itu, tiba-tiba kilat menyambar berkelebat di depan matanya dan di lain saat iapun sudah roboh terjengkang dengan dada ditembusi pedang. Raja Maut Suling Iblis itu pun roboh dan tewas seketika.
“Ya Tuhan … terima kasih bahwa aku tidak dapat melihat semua kengerian ini …!” terdengar Tiauw Sun Ong berkata, alisnya berkerut dan wajahnya nampak muram.!
“Harap suhu memaafkan teecu, terpaksa teecu membunuh mereka karena mereka memang amat jahat dan mereka tadi berusaha mati-matian untuk mencelakai suhu.” kata Bun Houw.
Hui Hong cepat menghampiri ayahnya dan memegang lengan ayahnya. “Ayah. Houw-ko tidak bersalah. Memang benar, yang jahat adalah tiga orang sesat itu. Mereka mencari kematian sendiri. Kalau tadi tidak ada enci Cia Ling Ay yang datang menolong, tentu ayah dan aku sudah tewas di tangan mereka.”
“Hemm, nona yang pandai menggunakan sihir … engkau seperti Kwan Hwe Li, bagaimana tiba-liba dapat menolong kami? Siapakah engkau?” Bekas pangeran itu bertanya dan diapun memalingkan mukanya ke arah Ling Ay.
“Lo-cian-pwe mungkin lupa kepada saya. Saya pernah datang ke sini bersama subo Bi Moli.”
“Ahhh … !” Tiauw Sun Ong berseru kaget. “Jadi engkau murid Kwan Hwe Li itu. Akan tetapi … kenapa engkau sekarang malah membantu kami?”
“Ayah, enci Ling Ay bukanlah orang jahat walaupun ia menjadi murid Bi Moli.” kata Hui Hong. “Bahkan ia dahulu adalah … sahabat baik dan sekampung dengan Houw ko.”
Mendengar ucapan Hui Hong itu, wajah. Ling Ay berubah kemerahan dan ia tersipu. Tentu Bun Houw sudah bercerita kepada gadis itu tentang hubungan mereka dahulu. Seorang gadis yang hebat, pikirnya. Pantas menjadi kekasih dan tunangan Bun Houw.
“Aih, sudahlah, adik Hui Hong, aku bukan seorang yang patut dipuji puji. Sekarang aku mohon diri. Lo-cianpwe, saya mohon pamit … akan melanjutkan perjalanan … “
“Ling Ay, nanti dulu!” kata Bun Houw dengan perasaan tidak enak sekali. Dia tahu betapa dia telah melukai dan mengecewakan hati wanita ini, dan sekarang wanita ini muncul sebagai penyelamat gurunya dan kekasihnya. “Engkau tiba-tiba saja muncul di sini dan menyelamatkan suhu dan Hong-moi, bagaimana engkau akan pergi begitu saja? Kami ingin mendengar bagaimana engkau dapat muncul di sini dan … “
“Benar, enci. Engkau tidak boleh pergi begitu saja! Aku ingin sekali berkenalan lebih akrab denganmu.” kata Hui Hong sambil memegang tangan wanita itu.
“Nona, kami mengundangmu untuk singgah di pondok kami dan bicara, kecuali kalau nona tidak sudi menerima undangan kami … “ kata pula Tiauw Sun Ong.
Tentu saja Ling Ay merasa tidak enak sekali untuk menolak. “Kalau itu yang kalian inginkan, baiklah saya akan singgah sebentar … “
“Bun Houw, lebih dahulu kita harus kubur tiga jenazah ini baik-baik dan dengan penuh penghormatan.” kata Tiauw Sun Ong.
“Ayah, mereka adalah orang-orang jahat, datuk-datuk sesat!” Hui Hong memprotes.
“Hui Hong, yang kita tentang adalah kejahatan mereka, bukanlah orangnya. Mereka itu sama saja dengan kita, manusia-manusia yang senasib sependeritaan dengan kita yang patut dikasihani. Setelah mereka tewas, tidak ada lagi kejahatan pada diri mereka.”
Mereka berempat lalu menggali lubang di permukaan puncak yang agak jauh dari pondok itu karena mereka harus memilih tempat yang tidak mengandung banyak batu sehingga mudah menggali lubang. Kemudian, dengan sederhana namun cukup khidmat, mereka mengubur jenazah tiga orang datuk itu di dalam tiga buah lubang. Tidak urung Hui Hong yang pada dasarnya berhati lembut itu menangis di depan makam Ouwyang Sek karena ia teringat akan segala kebaikan yang telah dilimpahkan datuk itu kepadanya sejak ia kecil sampai dewasa. Harus diakuinya bahwa sebelum ia menjadi dewasa dan hendak dijodohkan dengan Suma Hok datuk ini bersikap amat baik kepadanya, seperti kepada anak sendiri.
Setelah pemakaman itu selesai, mereka semua memasuki pondok dan bercakap-cakap. Terpaksa Ling Ay menceritakan bagaimana secara kebetulan sekali ia dapat berada di situ dan membantu Tiauw Sun Ong dan Hui Hong menghadapi tiga orang datuk yang lihai itu. Akan tetapi ceritanya itupun merupakan karangannya saja, karena bagaimana mungkin ia mengaku kepada mereka, terutama Hui Hong, bahwa ia datang untuk mencari Bun Houw dan menyampaikan permintaan maafkan atas sikapnya kepada Bun Houw tempo hari ketika pemuda itu menolak harapannya untuk menyambung tali pertunangan mereka yang putus?
Dengan terus terang ia menceritakan bahwa tadinya ia mengikuti subonya ke kota raja, bahkan mendapatkan pekerjaan di kota raja. Akan tetapi melihat subonya bekerja sama dengan Ouwyang Toan, iapun merasa tidak setuju dan mendengar niat mereka untuk memaksanya menjadi isteri Ouwyang Toan, ia lalu melarikan diri. Mereka mengejarnya sehingga tersusul dan hampir saja ia celaka di tangan mereka.
“Untung sekali muncul kakak Kwa Bun Houw yang kebetulan sekali melihat aku dikeroyok mereka, dan telah menolongku lepas dari tangan mereka. Setelah aku berpisah dari guruku, aku lalu merantau seorang diri tanpa tujuan tertentu dan kebetulan sekali aku lewat di bawah pegunungan Hoa-san. Aku teringat ketika diajak oleh subo naik ke puncak ini, maka iseng-iseng saja aku mendaki puncak dan melihat tiga orang itu juga naik puncak di depanku. Aku lalu membayangi mereka dan melihat apa yang terjadi tadi, maka aku lalu berusaha membantu kalian.”
“Dan engkau telah berhasil, enci Ling Ay. Kalau tidak ada engkau, entah bagaimana jadinya dengan ayah dan aku. Houw-ko, engkau datang terlambat!”
“Aih, adik Hui Hong, jangan berkata begitu. Kalau tidak ada kakak Bun Houw tadi datang, apa kaukira kita juga akan mampu bertahan? Mereka amat lihai.” kata Ling Ay, tidak sengaja seperti membela Bun Houw.
Ketika tiba giliran Bun Houw menceritakan pergalamaanya, Bun Houw bercerita tentang penyerangan yang dilakukan Bi Moli dan Ouwyang Toan di istana terhadap kaisar dan betapa dengan perantaraan Hek-tung Lo-kui dia ditugaskan untuk menjaga keselamatan kaisar dengan menyamar sebagai seorang pengawal baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: