Kisah Si Pedang Kilat – 7

Kakak beradik itu hanya dapat mengangguk setuju, karena mereka masih terkejut dan tegang, apalagi Kiok Lan yang kenyerian itu kini pucat sekali dan dapat menduga bahwa tentu telah terjadi hal mengerikan pada dirinya!”

Suma Hok lalu membuka pintu pondok dan memanggil para penjaga, menerangkan bahwa Pouw Cin tewas oleh mata-mata Kwa Bun Houw, dan agar jenazah itu dirawat baik-baik. Dia sendiri lalu mengajak Siauw Tek dan Kiok Lan kembali ke dalam rumah. Di dalam ruangan sebelah dalam yang tertutup, di mana tidak ada orang lain dapat mendengarkan percakapan mereka, mereka bertiga duduk dan kakak beradik itu mendesak agar Suma Hok menceritakan apa yang telah terjadi.

Suma Hok memandang kepada Siauw Tek, lalu berkata dengan suara tenang. “Kongcu, sebelumnya saya harap Kongcu suka memaafkan saya dan juga Nona Liu Kiok Lan. Malam tadi. Nona Liu sedang berlatih semacam ilmu menghimpun tenaga sakti dari saya. Karena ilmu itu harus dilatih di waktu malam dan, tidak boleh-dilihat orang lain, terpaksa kami melakukan di dalam pondok di taman itu. Selagi kami berlatih, tiba-tiba Paman Pouw Cin menerobos masuk melalui jendela. Dia menotok roboh Nona Liu dan saya demikian terkejut sehingga tidak dapat menjaga diri dan sayapun roboh tertotok dan tidak mampu bergerak sama sekali.” Dia memandang kepada Kiok Lan yang matanya terbelalak. “Ketika itu, saya sedang menyalurkan tenaga sin-kang untuk membantu Nona Liu, maka tenaga saya tersalur dan tidak mampu menahan ketika Pouw Cin menyerang dan merobohkan saya dengan totokan.”

(Bersambung jilid 14)

Jilid 14

MELIHAT Suma Hok berhenti bercerita dan kelihatan sedih dan bingung Kiok Lan yang sudah menduga hal terburuk menimpa dirinya, segera mendesaknya, “Lalu bagaimana, toako? Teruskan …!!”

Kembali Suma Hok nampak kebingungan, sebentar memandang kepada gadis itu, lalu kepada Siauw Tek, dan agaknya amat sukar baginya untuk bicara.

“Toako, ceritakan, apa yang selanjutnya terjadi?” Siauw Tek mendesak pula.

“Saya roboh tertotok, berusaha untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, akan tetapi tidak berhasil karena saya tertotok ketika tenaga saya tersalur. Kemudian … kemudian … si jahanam itu … saya hanya dapat melihat saja, tidak berdaya sehingga akhirnya saya tidak kuasa melihatnya lagi, saya memejamkan mata … “

“Apa yang dia lakukan? Cepat, jawab!”

Suma Hok lalu membuka pintu pondok dan memanggil para penjaga, menerangkan bahwa Pouw Cin tewas oleh mata-mata Kwa Bun Houw, dan agar jenazah itu dirawat baik-baik.

Kiok Lan membentak, mukanya sebentar merah, sebentar pucat, “Dia menggunakan kesempatan selagi saya tidak berdaya, dan selagi engkau juga ditotoknya pingsan … dia … binatang itu telah melakukan hal keji terhadap dirimu nona … “

Kiok Lan menjerit dan menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis. ” … jahanam busuk, keparat terkutuk …?” ia memaki-miki dan merintih-rintih, hatinya hancur lebur.

Kakaknya cepat bangkit dan merangkulnya, mencoba untuk menghiburnya. Namun sia-sia, Kiok Lan terus menangis tersedu-sedu. Dua orang laki-laki itu membiarkannya melepas kedukaannya melalui tangisnya dan setelah agak mereda. Siauw Tek bertanya kepada Suma Hok yang sejak tadi hanya menundukkan mukanya.

“Suma-toako, lalu apa yang terjadi? Bagaimana jahanam terkutuk itu dapat mampus?” Mendengar pertanyaan kakaknya ini, biarpun masih terisak-isak, Kiok Lan ikut mendengarkan.

“Saya berusaha keras untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, Kongcu. Akan tetapi memang totokan itu kuat sekali sehingga saya tidak mampu menolong Nona Liu. Kemudian, jahanam busuk itu mengakhiri perbuatannya yang terkutuk dan agaknya hendak membunuh saya agar rahasianya tidak sampai bocor. Akan tetapi, tepat pada saat dia hendak membunuh saya dengan totokan maut, saya dapat terbebas dari pengaruh totokan. Cepat saya lalu mencabut suling dan menyerangnya. Kami berkelahi dan akhirnya saya dapat merobohkan dan menewaskan manusia berwatak iblis itu.”

Kiok Lan mengeluarkan suara mengeluh, dan gadis ini lalu bangkit dan sambil menutupi muka dengan kedua tangan, iapun berlari keluar dari ruangan itu.

“Siauw-moi …!!” kakaknya berseru memanggil dan mengejar.

Akan tetapi gadis itu memasuki kamarnya sendiri dan menutupkan, daun pintu, memalangnya dari dalam sehingga tidak ada orang lain dapat memasukinya.

“Kongcu, saya kira lebih baik kalau sementara ini kita biarkan saja Nona Liu melepaskan kedukaan dan kekagetannya seorang diri saja dalam kamarnya.” kata Suma Hok yang ikut pula mengejar dan kini menyentuh lengan bekas kaisar itu.

Siauw Tek menarik napas panjang, lalu mengeluh. “Ahh, nasib … kenapa begini buruk nasib kami sekeluarga? Aih, aku dapat membayangkan betapa hancurnya hati adikku. Kini ia ternoda, lalu bagaimana nanti masa depannya? Aihhhh …!” Kembali bekas kaisar itu mengeluh panjang dan wajahnya nampak bersedih sekali.

“Semua itu telah terjadi, Kongcu, tidak cukup hanya untuk disedihkan saja.” Suma Hok menghibur. Mereka berjalan kembali memasuki ruangan yang tadi. Siauw Tek menutupkan daun pintu dan kini mereka berdua bercakap-cakap tanpa diketahui orang lain.

“Aih, Suma-toako, bagaimana aku tidak akan bersedih? Tanpa kusangka, malapetaka hebat menimpa diri kami. Adikku menderita aib, diperkosa orang, dan pembantuku yang paling baik, ternyata seorang jahanam dan kini telah tewas! Adikku kehilangan kebahagiaan dan aku kehilangan pembantu yang setia.”

“Kongcu, memang sudah sepantasnya kalau Kongcu bersedih, akan tetapi terlalu bersedih tidak ada gunanya, bahkan kalau berlarut-larut amat tidak baik, merugikan diri sendiri. Kongcu kehilangan pembantu utama, akan tetapi saya siap untuk membantu Kongcu dengan kesetiaan yang tidak kalah besar, dan saya rela mengorbankan jiwa raga untuk membantu Kongcu sampai tercapai cita-cita Kongcu menumbangkan kerajaan Chi dan membangun kembali kerajaan Liu-sung!”

Wajah Siauw Tek yang tadinya muram itu kini agak berseri dan dia menatap tajam wajah Suma Hok. “Terima kasih, Suma-toako. Agak terhibur hatiku dengan kesediaanmu ini. Apalagi kalau kelak ayahmu suka pula untuk bekerja sama. Akan tetapi, ahhh … hatiku tak mungkin dapat melupakan nasib yang menimpa adikku! Bagaimana aku tidak akan bersedih?”

Kongcu, kita sebagai laki-laki harus mampu bersikap tenang menghadapi segala peristiwa dan mencari jalan keluarnya, memang sudah menjadi kenyataan, walaupun hanya kita bertiga yang mengetahuinya, bahwa Nona Liu tertimpa aib yang akan menghancurkan masa depannya, akan tetapi hal itupun kiranya masih dapat ditemukan jalan keluarnya.”

Bekas kaisar itu memandang Suma Hok dengan sinar mata mengandung penuh pertanyaan. “Bagaimana mungkin hal seperti itu dapat dicari jalan keluarnya, toako?”

“Kongcu, kalau Nona Liu menikah, tentu aib itu akan lenyap.”

“Menikah? Toako, bagaimana kau dapat berkata demikian? Justeru di situlah letak persoalannya. Adikku, juga aku, tentu akan menderita malu besar kalau ia menikah kemudian suaminya tahu … “

“Toako, tidak akan ada keributan, tidak akan ada rasa malu kalau calon suami Nona Liu sudah mengetahui akan aib itu dan suka menerima kenyataan yang ada,”

“Hemm, siapa yang akan mau? pria mana. yang akan suka berkorban seperti itu, menikahi seorang gaiis yang sudah … “

“Saya mau, Kongcu.”

“Engkau …?! !” Bekas kaisar itu memandang heran, akan tetapi ada sinar harapan terkandung dalam pandang matanya. “Engkau, toako? Tapi … engkau sendiri tahu. bahkan menjadi saksi tunggal … “

“Toako, saya merasa kasihan sekali kepada Kongcu, juga kepada Nona Liu. Oleh karena itu, saya bersedia untuk menutupi aib itu, dengan segala kerendahan hati, dengan suka rela. tentu saja kalau Nona Liu sudi menerima saya dan kalau paduka menyetujui. … “

“Aku? Tentu saja aku setuju sepenuhnya, bahkan aku akan berterima kasih sekali kepadamu, toako! Dan tentang adikku, bagaimana mungkin ia akan menolak? Pengorbananmu ini akan menolongnya, melepaskannya dari aib dan mendatangkan sinar terang yang baru bagi masa depannya. Aku akan segera menyampaikan kepadanya, toako, agar terhibur hatinya dan tidak menjadi putus asa.”

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekala Siauw Tek sudah menemui adiknya di dalam kamar adiknya. Karena sudah agak reda, tangisnya, Liu Kok Lian membukakan pintu kamarnya dan begitu kakaknya memasuki kamar. ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Siauw Tek, merangkul kedua kaki bekas kaisar itu dan menangis.

Siauw Tek mengangkat bangun adiknya, menuntunnya untuk duduk di pembaringan dan dia duduk di tepi pembaringan. “Tenangkan hatimu, Kiok Lan, dan sudahlah, jangan bersedih lagi. Aku telah menemukan jalan terbaik bagiku, yang akan menchindarkan engkau dari aib ini.”

Gadis itu, dengan mata membengkak merah dan kedua pipi masih basah, memandang kakaknya. Ia masih belum dapat mengeluarkan kata-kata akan tetapi pandang matanya sudah mengajukan pertanyaan apa yang dimaksudkan kakaknya dengan ucapan itu.

“Adikku yang manis, hentikan tangismu dan dengarkan baik-baik. Kita telah mendapatkan bintang penolong, yaitu seorang pemuda yang dengan suka rela akan menutupi aib pada dirimu. Dia bersedia untuk menikah denganmu, menjadi suamimu yang sah.”

“Koko! Bagaimana mungkin aku … “

“Ssttt … jangan kfrawatir. Dia sudah tahu akan keadaan dirimu, bahkan dia yang telah menyaksikan semua itu. Dia adalah Suma Hok … “

“Ahh …!” Wajah gadis itu berubaha kemerahan, tentu saja ia merasa malu bukan main mengenangkan bagaimana pemuda itu telah menjadi saksi yang tak berdaya ketika, ia dalam keadaan pingsan, diperkosa oleh Pouw Cin!”

“Ingat, adikku. Dia kini menjadi pambantu utamaku, pengganti Paman Pouw Cin yang ternyata menjadi jahat seperti kemasukan iblis, dan Suma-toako memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dan selain dari itu, bukankah dia pula yang telah membalaskan sakit hatimu, telah membunuh jahanam yang berbuat keji terhadap dirimu?”

“Akan tetapi … koko, kenapa dia … dia mau mengorbankan diri untuk menolongku?” Ia meragu karena masih bimbang, tidak tahu harus mengambil keputusan bagaimana semua peristiwa ini terjadi demikian tiba-tiba dan mengejutkan. Tadinya, ia sebagai seorang gadis yang lincah gembira, yang masih remaja karena usianya baru tujuh belas tahun, tiba-tiba saja telah dipaksa untuk menjadi seorang gadis dewasa yang dihadapkan pada pernikahan!

“Dia merasa iba kepadaku, dan kepadamu, siauw-moi, dan dia menawarkan diri selain untuk menggantikan Pouw Cin menjadi, pembantuku yang setia, dia juga bersedia untuk menutupi aibmu dan menjadi suamimu. Bukankah itu hebat sekali, siauw-moi? Dengan pengorbanan orang gagah itu, semua menjadi beres, melapetaka ini bahkan menjadi berkah. Aku mendapatkan seorang pembantu yang amat baik. dan engkau mendapatkan seorang suami yang baik pula.”

“Tapi … aku … aku sebetulnya belum mempunyai keinginan untuk berumah tangga, koko, usiaku juga baru tujuh belas tahun … “

“Aku mengerti, adikku. Akan tetapi dalam keadaanmu seperti ini, kurasa … ah, kita terpaksa …! Bagaimana, Kiok Lan, engkau setuju, bukan? Aku harus memberi keputusan kepada Suma-toako sekarang juga agar dia tidak ragu-ragu dalam membantuku.”

“Kiranya tidak ada jalan lain bagiku kecuali menyetujui jalan keluar yang satu-satunya ini, koko. Akan tetapi, biarlah aku bicara dulu dengan dia, baru aku akan memberi keputusan.”

“Baiklah, adikku. Aku menunggu dengan sabar, dan engkau harus ingat juga keadaanku, karena aku amat membutuhkan bantuan Suma-toako dan kalau engkau menolak, mungkin dia akan merasa tersinggung. Dia menawarkan diri untuk menolong, kalau ditolak, seolah kita memandang rendah kepadanya.”

“Aku mengerti. Biar aku yang bicara sendiri dengannya, koko.”

Demikianlah, baru dua hari kemudian, setelah mata gadis itu tidak lagi membengkak dan merah, setelah lenyap bekas-bekas tangis dukanya, ia memberi kesempatan kepada Suma Hok untuk bertemu dengannya di ruangan tamu. Ia tidak mau mengadakan pertemuan dengan Suma Hok di taman. Semenjak terjadinya peristiwa itu, taman dan pondoknya seolah menjadi tempat yang mengerikan bagi Kiok Lan.

Mereka duduk berhadapan di dalam ruangan tamu itu. Hati Suma Hok merasa lega dan juga kagum melihat betapa gadis itu kini sudah pulih, tidak lagi terbenam dalam duka. Namun ada suatu perubahan terjadi, yaitu dalam sikapnya. Biasanya, Liu Kiok Lan adalah seorang gadis yang lincah jenaka dan gembira, bahkan masih agak kekanak-kanakan. Akan tetapi kini sikapnya menjadi lain, begitu tenang pendiam dan gerak geriknya halus, seolah gadis remaja itu kini telah menjadi seorang wanita dewasa yang dapat menguasai dan mengendalikan diri.

“Nona Liu … ” kata Suma Hok setelah mereka berdua duduk berhadapan agak lama dan keduanya berdiam diri saja. Liu Kiok Lan mengangkat muka memandang. Dua pasang mata bertemu pandang, bertaut dan akhirnya Kiok Lan lebih dahulu menundukkan mukanya, kedua pipinya agak kemerahan karena kembali ia teringat akan peristiwa, yang amat memalukan baginya itu dan betapa pemuda di depannya ini yang menjadi saksi tunggal. Ia masih menundukkan mukanya ketika dengan suara lirih.

“Suma-toako, aku telah mendengar dari kakakku tentang niatmu untuk menolong aku. … ” Ia berhenti, sukar agaknya untuk melanjutkan.

“Nona, maafkan kalau engkau menganggap aku lancang. Sesungguhnya, aku memang tidak cukup berharga dan pantas untuk menjadi teman hidupmu … “ Suma Hok dengan cerdik mengambil sikap rendah hati.

“Toako, aku mendengar dari kakakku bahwa engkau bersedia melakukan itu karena engkau merasa iba kepadaku dan karena engkau ingin membebaskan aku dari aib. Benarkah itu?”

“Benar sekali, nona!” kata Suma Hok cepat. “Aku merasa amat iba kepadamu, aku ingin membebaskan engkau dari kedukaan dan keputus-asaan, juga ingin melenyapkan aib yang kauderita.”

Hening sebentar dan setelah menghela napas beberapa kali, Liu Kiok Lan mengangkat muka menatap wajah pemuda itu dan kini.!!

Sinar matanya tajam penuh selidik. “Hanya itu saja alasannya? Engkau hendak menikahiku hanya karena ingin menolongku, hanya karena engkau merasa iba kepadaku?” Sepasang mata itu memandang tanpa berkedip. “Tidak ada alasan lain?”

Suma Hok terkejut. Mata itu seolah dapat menjenguk hatinya. Tentu saja alasan utamanya bukan menutup aib, bukan pula iba, melainkan sama sekali berlainan. Dia ingin memperisteri gadis itu selain untuk mendapatkan seorang isteri yang cantik jelita bekas puteri istana, juga hal itu akan mengangkat derajatnya dan akan memperbesar kemungkinan dia kelak menduduki jabatan tinggi! Sama sekali dia tidak merasa iba, dan seujung rambutpun dia tidak perduli akan aib yang menimpa diri Kiok Lan atau gadis yang manapun juga di dunia ini. Dia seorang yang cerdik dan licik bukan main. Biarpun pertanyaan itu diam-diam mengejutkan hatinya, hanya sebentar saja dia tertegun. Segera dia tersenyum malu-malu dan berkata dengan suara lirih menggetar.

“Nona. sebetulnya aku tidak berani mengatakan hal yang sejak dulu menjadi bisikan hatiku ini, akan tetapi … karena sekarang engkau bertanya, terpaksa aku memberanikan diri untuk mengaku terus terang. Nona Liu Kiok Lan, sebelumnya maafkan aku, akan tetapi … sejak pertama kali kita berjumpa, sejak aku membantumu menghadapi Ngo-liong Sin-kai itu, aku … telah jatuh cinta kepadamu! Nah, lega hati ini telah mengeluarkan bisikan hatiku itu, nona. Sejak pertama kali bertemu, aku telah jatuh cinta padamu. Akan tetapi … siapakah aku ini? Nona adalah seorang bekas puteri istana, bahkan adik bekas, kaisar, seorang puteri bangsawan, dan aku … aku hanya seorang pendekar petualang, maka sampai matipun aku tidak akan berani menyatakan cintaku kepadamu. Kemudian, sungguh jahanam Pouw Cin itu! Kemudian terjadilah malapetaka itu menimpa dirimu, nona. Karena tidak melihat jalan keluar lain untuk menolongmu, maka aku memberanikan diri untuk menyatakan kesediaanku menikahimu tentu saja kalau nona sudi menerimaku.”

Terjadi perubahan sedikit demi sedikit pada wajah yang masih agak pucat itu. Kedua pipi itu kemerahan, mata itu bersinar dan wajahnya berseri, mulutnya dihias senyum yang ditahan-tahan. Pengakuan cinta Suma Hok sungguh merupakan obat amat mujarab yang dapat mengurangi rasa nyeri, pedih dan perih di hati gadis itu. Kalau pemuda itu hendak menikahinya hanya karena iba, hanya untuk menolongnya, maka dalam hubungan itu tentu tidak ada ikatan batin, akan hambar dan seperti permainan sandiwara belaka. Akan tetapi kalau ada cinta, itu lain lagi! Dan agaknya tidak akan sukar baginya untuk mencinta pemuda itu, yang memang sudah dikaguminya sejak semula, walaupun saat itu ia belum merasakan adanya kasih sayang itu. Melihat gadis itu hanya menundukkan mukanya yang kini kemerahan, mata itu tadi bersinar-sinar, dan bibir itu kini agak merekah dengan senyum malu-malu, Suma Hok juga tersenyum senang dan bangga, penuh kemenangan. Dia menanti sampai beberapa saat lamanya, dan melihat gadis itu agaknya sukar untuk bicara, diapun benar ya lembut tanpa mendesak.

“Bagaimana jawabanmu, nona? Percayalah andaikata nona merasa terlalu tinggi untuk menjadi jodohku, katakan saja terus terang dan aku tidak akan menyalahkan mu, hanya aku bersumpah selamanya tidak akan menikah dengan wanita lain. Sebaliknya, kalau nona setuju, aku akan membahagiakanmu, nona, dan aku akan membantu kakakmu sampai tercapai cita-cita kita bersama, yaitu membangun kembali kerajaan Liu-sung.’

Betapa muluknya janji yang diucapkan pemuda itu. Kiok Lan sampai terbuai dan memejamkan mata sejenak, kemudian ketika ia membuka matanya dan mengangkat muka memandang, Suma Hok melihat betapa pandang mata kepadanya itu kini sudah berubah. Demikian indah, demikian mesra!

“Toako, aku menerima usulmu atau katakanlah pinanganmu dan aku berterima kasih kepadamu. Akan tetapi, aku minta agar urusan perjodohan ini ditunda sampai setahun lagi. Setahun kemudian, barulah aku bersedia untuk melangsungkan pernikahan denganmu, toako.”

Diam-diam Suma Hok terkejut dan kecewa. “Maaf, nona, akan tetapi mengapa kita harus menanti sampai satu tahun lagi? Apa yang menjadi halangannya?”

“Harap jangan salah paham, toako. Terus terang saja, sejak pertama akupun sudah kagum kepadamu, walaupun belum ada cinta kasih seperti yang terdapat dalam perasaan hatimu kepadaku. Maka, kalau aku sekarang menerima, hal itu kulakukan penuh kesadaran dan keikhlasan. Akan tetapi, aku pernah mengambil keputusan bahwa sebelum usiaku delapan belas tahun, aku tidak akan menikah. Kita masih mempunyai waktu setahun untuk saling bergaul sebagai tunangan, dan dalam waktu itu, aku juga ingin dapat jatuh cinta kepadamu, kepada orang yang akan menjadi suamiku selama hidupku.”

Bukan main girangnya hati Suma Hok. Tidak apa menanti setahun, karena bukan gairah berahi yang mendorongnya memperisteri Kiok Lan. Biarpun belum menikah, kalau dia sudah menjadi tunangan gadis ini, berarti dia sudah menjadi calon adik ipar bekas kaisar, berarti dia sudah menjadi keluarga dekat. Apalagi kalau dia menjadi pembantu utama! Kedudukan tinggi sudah menanti di ambang pintu baginya!

“Baiklah, nona … atau bolehkah aku menyebutmu moi-moi (adinda?) Lan-moi?” Dia tersenyum.

Kiok Lan juga tersenyum, kini senyum wajar yang timbul karena kelegaan dan kegembiraan hati. “Tentu saja boleh, dan aku akan menyebutmu koko, Suma-koko. Dan kita akan lanjutkan latihan-latihan ilmu silat, ya, koko?”

“Tentu saja. Lan-moi. Aku akan mengajarkan seluruh apa saja yang kumiliki kepadamu. Bukankah engkau ini calon isteriku tersayang?”

Demikianlah, mulai hari itu, Suma Hok menjadi pembantu utama dari Siauw Tek, menggantikan kedudukan Pouw Cin. Semua perwira diperkenalkan kepadanya, bahkan seluruh pasukan yang jumlahnya tidak kurang dari lima ribu orang besarnya itu kini mengetahui bahwa panglima Pouw Cin telah tewas oleh mata-mata musuh, dan kini yang menjadi panglima adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal dengan julukan Tok-siauw-kui, pu-tera dari Kui-siauw Giam-ong Suma Koan yang terkenal sebagai datuk dari Kui-eng-san (Bukit Bayangan Setan). Para perwia juga sudah diberitahu bahwa panglima atau komandan mereka adalah calon suami nona Liut Kiok Lan. Tentu saja kenyataan ini membuat mereka lebih tunduk dan hormat kepada Suma Hok. Pemuda yang amat cerdik inipun dapat bertahan, mengekang gairahnya. Dia tahu bahwa Kiok Lan adalah seorang gadis yang berbeda dari gadis biasa. Ia seorang bekas puteri yang mempunyai harga diri amat tinggi. Dia tidak berani main-main dan tidak pernah dia mencoba untuk membujuk calon isterinya itu menyerahkan diri kepadanya. Dia akan bersabar sampai waktu setahun lewat, sampai mereka dinikahkan secara resmi.

Dan Suma Hok juga tidak tinggal diam sebagai pengganti Pouw Cin. Dia bahkan mengajarkan ilmu silat tambahan kepada para perwira dan memerintahkan agar semua perajurit dilatih ilmu itu sehingga setiap orang perajurit merupakan tenaga yang tangguh. Selain itu, Suma Hok juga memberi kabar kepada ayahnya yang menjadi gembira sekali mendengar puteranya menjadi calon adik ipar bekas kaisar Cang Bu yang kini sedang berusaha untuk mendirikan kembali kerajaan Liu-sung yang sudah jatuh lima tahun yang lalu. Dengan senang hati diapun menyatakan siap untuk membentu, membuat Siauw Tek semakin gembira dan bersemangat.

***

Kota raja Nan-king menjadi semakin ramai dan besar setelah kini menjadi kota raja dari kerajaan baru, yaitu dinasti Chi (479-501) yang didirikan oleh Siauw Hui Kong yang kini menjadi kaisar pertama kerajaan Chi dengan nama Kaisar Siauw Hian Ong. Berbeda dengan sikap kerajaan Liu-sung yang lebih condong memihak Agama To dari pada Agama Buddha sehingga kerajaan Liu-sung tidak mendapatkan dukungan dari Agama Buddha yang memiliki banyak pengikut, Kaisar Siauw Bian Ong membuka pintu lebar-lebar bagi kedua agama itu. Apalagi pada masa itu, kerajaan Wei di utara, yaitu kerajaan Bangsa Toba atau Tartar yang dipimpin oleh Kaisar Wei Ta Ong, mengambil sikap memusuhi para hwesio (pendeta Buddha) yang dianggap sebagai orang-oran gasing. Banyak sekali hwesio yang dibunuh di kerajaan Wei yang dipengaruhi oleh para pengikut agama To, dan banyak yang melarikan diri ke selatan, menyeberangi Sungai Yang-ce dan mengungsi ke daerah kerajaan baru Chi. Di selatan ini. Agama Buddha berkembang dengan pesat, dan kebijaksanaan Kaisar Siauw Bian Ong membuat permusuhan yang terjadi antara para pengikut Agama To dan pengikut Agama Buddha tidak terbawa ke selatan. DI kerajaan ini, kedua pengikut agama itu dihargai dan dihormati, penyebaran agama mereka diterima secara bebas oleh rakyat.

Karena inilah, maka kota raja Nan-king nampak semakin meriah dan ramai. Keamanan jauh lebih baik dari pada di utara, dan suasana aman ini tentu saja menumbuhkan perdagangan. Pedagang keluar masuk kota raja Nan-king. dan tentu saja akibatnya banyak dibangun rumah-rumah penginapan dan rumah-rumah makan yang besar dan yang setiap hari penuh dengan tamu. Pasukan keamanan kota raja Nan-king juga. terkenal dengan jagoan-jagoan istana yang lihai, dan yang selalu melakukan perondaan untuk menjaga ketertiban dan keamanan di kota raja itu. Tidak ada penjahat berani banyak lagak di kota raja ini, dan suasana yang terjamin keamanannya itulah yang membuat para pedagang menjadi semakin bersemangat melakukan perdagangan dan suasana di kota ini nampak meriah dan gembira. Apalagi golongan penjahat kecil, bahkan para tokoh kang-ouw, baik golongan hitam atau putih, baik para penjahat maupun pendekar, tidak ada yang berani malakukan kejahatan secara berterang di kota raja Nanking. Kaisar Siauw Bian Ong adalah seorang kaisar yang bijaksana dan pandai, tidak seperti bekas Kaisar Cang Bu dari kerajaan Liu-sung yang hanya mementingkan kesenangan diri pribadi belaka, kurang memperhatikan nasib rakyat jelata sehingga pemerintahannya dicengkeram oleh para pembesar yang korup. Para pembesar seperti itu, bukan hanya tidak memperhatikan nasib rakyat, bahkan lebih celaka lagi, sebaliknya dari pada mengayomi rakyat, mereka bahkan menekan rakyat dengan berbagai cara untuk memenuhi gudang harta mereka sendiri.

Kalau bapaknya penjahat, bagaimana mengharapkan anaknya menjadi baik? Kalau para penjahat tinggi korup, bagaimana mungkin mengharapkan para penjahat rendahan akan bersikap jujur? Dan pembesar tinggi yang menjadi pengawas sendiri bertindak korup, bagaimana mungkin dia berani meindak hawahannya yang juga melakukan Korup seperti dia sendiri, dalam ukuran lebih kecil? Kalau yang di atasan jujur, sudah, pasti yang di bawahan tidak berani curang karena yang di atasnya tentu akan menghantamnya. Kaisar Siuw Bian Ong yang mengaku sebagai keturunan keluarga Siauw yang besar yang terkenal sejak nenek moyang mereka yang bernama Siauw Ho menjadi perdana menteri kerajaan Han (tahun 206 S.M. – 8 A.D.), maklum bahwa sebuah kerajaan baru akan kokoh kuat kalau mendapatkan dukungan rakyat jelata. Biarpun memiliki kekuatan pasukan yang besar dan kuat. kalau tidak mendapat dukungan rakyat dan lebih lagi kalau sampai dibenci rakyat, maka kekuatan pasukan itu tidak akan banyak manfaatnya. Dan satu-satunya cara untuk memperoleh dukungan rakyat hanyalah kalau pemerintah dapat mendatangkan kemakmuran bagi rakyat jelata. Kalau rakyat merasa puas. dengan langkah yang diambil oleh pemerintah, kalau rakyat dapat memetik buah dari pohon tanaman pemerintah, kalau rakyat dapat ditingkatkan taraf hidupnya, maka rakyat tentu akan mencintai pemerintah dan akan membela mati-matian kalau pemerintah yang mendatangkan kebahagiaan itu sampai terancam oleh kekuasaan lain. Dan satu-satunya cara untuk mendatangkan kemakmuran kepada rakyat jelata hanyalah dengan pembangunan dalam segala bidang. memperluas lapangan pekerjaan, menjaga ketertiban dan keamanan sehingga rakyat dapat bekerja dengan gembira karena merasa aman dan tenteram, mengatur sedemikian rupa dengan segala kebijaksanaan agar setiap orang dari rakyat jelata terpenuhi semua kebutuhan pokok hidup mereka. Dan kalau para cerdik pandai, mereka yang memegang kemudi pemerintahan, terdiri dari orang-orang bijaksana yang tidak memetingkan diri sendiri, tidak melakukan korupsi, tidak menekan rakyat, maka cita-cita untuk memakmurkan kehidupan rakyat bukan sekedar menjadi slogan dan mimpi kosong belaka.

Kaisar Siauw Bian Ong berusaha ke arah itu. Maka, tidaklah mengherankan apabila kini, setelah lima tahun dia mendirikan dinasti Chi, kota raja Nan-king menjadi sebuah kota kerajaan yang besar, ramai dan perdagangan maju dalam segala bidang.

Juga kaisar baru ini bersikap lunak terharap bekas para pejabat tinggi, para bangsawan, bahkan keluarga dari kerajaan Liu-sung yang telah dia jatuhkan. Dia tidak seperti penakluk-penakluk yang lain, yang sering kali melakukan pembersihan, membunuhi seluruh keluarga raja yang ditaklukkan, bahkan membunuhi para pejabat tinggi kerajaan yang kalah karena takut kalau-kalau mereka akan mengadakan pembalasan dan pemberontakan.

Hal ini mungkin karena memang masih ada hubungan keluarga antara keluarga Siauw dan keluarga Liu, yaitu keturunan raja-raja yang memerintah kerajaan Liu-sung. Akan tetapi terutama sekali karena Kaisar Siauw Bian Ong ingin agar para cerdik pandai bekas pembesar kerajaan Liu-sung, kini membantu pemerintahannya, dan melihat bahwa pemerintah yang baru jauh lebih baik dari pada pemerintah kerajaan yang telah jatuh itu.

Satu di antara keluarga bangsawan yang tidak dibasmi, dihukum atau dibunuh oleh pemerintah yang baru adalah keluarga bangsawan Kwan yang telah turun temurun menjadi bangsawan yang memegang jabatan penting dalam kerajaan Liu-sung. Yang terakhir, ketika kerajaan Liu-sung jatuh, Kwan Jin Kun memegang kedudukan tinggi, yaitu sebagai Menteri Kehudayaan. Kwan-taijin (Pembesar Kwan) adalah seorang sasterawan dan seniman yang bijaksana dan lemah lembut. Karena dia seorang yang mencintai pekerjaannya, mencintai kebudayaan, maka dia sejak dahulu tidak pernah menjadi seorang pembesar yang korup dan sewenang-wenang seperti banyak pejabat lainnya. Dia tidak pernah menyalah-gunakan kekuasaannya, apalagi karena jabatannya mengurus kebudayaan, maka jabatannya sendiri tidak memberi banyak kesempatan kepadanya untuk melakukan tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Biasanya, kesempatan yang membuat orang melakukan penyelewengan.

Ketika kerajaan Liu-sung jatuh. Kwan-taijin tidak mengajak keluarganya melarikan diri seperti banyak pembesar lainnya. Akan tetapi, diapun tidak lalu menyerah kepada penguasa baru. Dia bukan seorang pengkhianat, bukan pula penakut. Kalau dia tidak mengikuti kaisarnya yang melarikan diri mengungsi, hal itu bukan karena dia tidak setia kepada kerajaan Liu-sung, melainkan sudah hal suatu ketidakcocokan antara dia dan kaisar Cang Bj, pernah dia memrotes kaisar dan para pejabat tinggi yang hanya tenggelam dalam kesenangan tanpa memperdulikan keadaan rakyat, bahkan lengah terhadap gejala pemberontakan yang timbul di mana-mana, akan tetapi protes ini bahkan membuat kaisar marah-marah kepadanya. Oleh karena itu, ketika kerajaan Liu-sung jatuh, diapun tinggal saja di rumah bersama keluarganya. Dia sama sekali tidak merasa takut, karena dia tidak pernah merasa bersalah. Kalau penguasa baru akan membunuhnya, diapun sudah siap.

Kwan Jin ken mempunyai dua orang anak. Yang pertama adalah seorang puteri bernama Kwan Hwe Li, akan tetapi keluarga itu telah kehilangan puteri ini sejak kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu! Sampai sekarang, keluarga itu belum pernah bertemu kembali dengan puteri itu yang meninggalkan rumah. Kwan-taijin dan isterinya merasa prihatin bukan main, apalagi ketika mereka mendengar bahwa puteri mereka itu kini telah menjadi seorang datuk di dunia kang-ouw!

Anak ke dua mereka seorang putera yang kini telah berusia empat puluh delapan tahun dan telah menjadi seorang hakim di kota Bi-ciu, dan setelah pergantian pemerintahan, di kerajaan Chi diapun masih tetap menjadi hakim, karena dia terkenal sebagai seorang hakim yang bijaksana dan adil sehingga pemerintah yang baru tetap mengangkat Kwan Hwe TJn ini menjadi hakim di Bi-ciu.

Kwan Jin Kun kini telah berusia tujuh puluh lima tahun, dan isterinya telah meninggal dunia lima tahun yang lalu ketika terjadi perang saudara. Ketika kerajaan Liu-sung jatuh, wanita inipun jatuh sakit karena kaget dan khawatir sehingga ia tidak sempat menyaksikan betapa semua kekhawatirannya bahwa keluarganya akan tertimpa malapetaka sebetulnya tidak terjadi. Suaminya tidak diganggu oleh penguasa baru. bahkan Kaisar Siauw Biang Ong tadinya menunjukkan untuk tetap memegang jabatan lamanya. Akan tetapi, Kwan Jin Kun dengan hormat dan halus menolak, dengan alasan bahwa dia sudah terlalu tua untuk bekerja, apalagi semenjak ematian isterinya, dia sudah tidak mempunyai semangat lagi, dan hanya ingin menghabiskan sisa usianya untuk bersamadhi dan melepaskan diri dari semua ikatan keduniawian.

Rumah gedung besar tempat tinggal Kwan Jin Kun kini nampak sepi. Yang tinggal di situ hanyalah kakek Kwan, ditemani dua orang selir yang kini sudah berusia enam puluhan tahun akan tetapi misih setia kepadanya, dan empat orang pembantu rumah tangga. Hanya kadang saja, beberapa bulan atau setidaknya setahun sekali, kalau Kwan Hwe Un dari Bi-ciu bersama isteri dan anak-anaknya datang berkunjung, rumah gedung itu menjadi ramai-Selebihnya, rumah itu selalu sunyi, hanya kadang terdengar bunyi yang-kim (kecapi) yang dimainkan oleh seorang di antara selirnya.

Pada suatu pagi yang cerah, dua orang wanita memasuki pekarangan rumah gedung tua yang sunyi itu. Mereka adalah dua orang wanita yang cantik, yang seorang berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun, wajahnya cantik jelita dengan mulut yang manis dan sikapnya penurut dan lembut. Adapun wanita yang ke dua nampaknya berusia beberapa tahun lebih tua akan tetapi belum ada tiga puluh tahun, wajahnya juga cantik, pesolek dengan pakaian indah, mulutnya selalu tersenyum mengejek dan sikapnya anggun dan angkuh. Mereka ini adalah Cia Ling Ay, janda muda yang cantik itu bersama gurunya. Bi Moli Kwan Hwe Li yang usianya sudah lima puluh tahun akan tetapi masih nampak muda dan cantik.

Seorang wanita pelayan keluar dari pintu depan menyambut mereka. Suasana dalam rumah itu sudah jauh berbeda dengan ketika Kwan Hwe Li masih tinggal di situ sebagai seorang gadis. Tidak lagi seperti rumah bangsawan dengan pengawal dan pelayan yang berpakaian keren. Kini melihat suasana rumah itu, melihat pakaian pelayan wanita yang keluar menyambut, tiada bedanya dengan ramah orang biasa. Pelayan wanita itu membungkuk-bungkuk menanyakan keperluan kedua orang wanita cantik itu datang berkunjung.

“Ji-wi sio-cia (Nona berdua) hendak mencari siapakah?” tanyanya dengan sikap hormat.

Kwan Hwe Li tidak mengenal pelayan itu, tentu seorang pelayan baru. Dan memang, ketika ia meninggalkan rumah ini, hal itu telah lewat kurang lebih tiga puluh tahun, dan ketika kerajaan Liu-sung jatuh, semua pelayan dari keluarga Kwan ikut pula lari mengungsi bersama banyak penduduk Nan-king yang lain, meninggalkan keluarga majikan mereka.

“Aku ingin bertemu dengan Kwan-loya (tuan tua Kwan),” kata Hwe Li, menahan getaran hatinya. Biarpun selama ini ia telah menguasai ilmu yang hebat, bahkan telah menjadi datuk kang-ouw yang terkenal sekali, keras hati dan berwibawa, tidak urung hatinya tergetar ketika ia berada di rumah keluarga orang tuanya di mana ia dibesarkan, dan akan bertemu dengan ayah kandungnya. Ia sudah mendengar bahwa ibu kandungnya meninggal dunia ketika terjadi perang saudara dan bahwa kini yang tinggal di rumah itu tinggal ayahnya seorang diri. Ia tahu pula dari keterangan anak buahnya bahwa kakak tunggalnya kini masih menjadi hakim di Bi-ciu.

“Maaf, nona. Saya tidak berani menggangu lo-ya, karena pada saat sepagi ini, lo-ya masih duduk bersamadhi dalam kamarnya dan tak seorangpun dari kami diperbolehkan mengganggunya.”

Hwe Li teringat bahwa menurut keterangan para anak buahnya yang pernah ia utus melakukan penyelidikan, selain ayahnya, di situ masih tinggal dua orang selir ayahnya, atau ibu tirinya, akan tetapi seingatnya, ayahnya dahulu mempunyai empat orang selir dan ia tidak tahu, selir yang mana yang sekarang masih menemani ayahnya tinggal di situ.

“Kalau begitu, panggilkan saja nyonya besar, katakan bahwa aku ingin bicara.” katanya tak sabar.

“Baik, nona. Silakan ji-wi (kalian) menunggu di ruangan tamu.” pelayan itu mempersilakan dua orang tamunya duduk di ruangan tamu yang berada di samping kiri. Bi Mo Li Kwan Hwe Li dan Cia Ling Ay memasuki ruangan tamu itu dan duduk di atas kursi-kursi jang bentuknya kran. Diam-diam Kwan Hwe Li terharu melihat keadaan kamar itu. Semua perabotnya adalah perabot lama yang kini sudah mulai nampak tua dan butut. Ruangan itu, yang dahulu nampak mewah, kini kehilangan kemewahannya dan bahkan membayangkan keadaan yang bangkrut. perabot yang semestinya minta ganti yang baru dipertahankan, ruangan itu memberi kesan yang tua dan buruk.

Suara langkah kaki dengan sepatu diseret membuat kedua orang wanita itu menengok, memandang ke arah pintu sebelah dalam yang terbuka. Seorang wanita berusia enam puluhan tahun muncul di ambang pintu dan biarpun wanita itu sudah kelihatan tua sekali, namun Hwe Li segera mengepalnya. Inilah ibu tirinya yang ke tiga, yang dahulu ketika ia pergi, merupakan seorang wanita berusia tiga puluhan tahun yang selain cantik menarik, juga lincah dan genit! Namun, di antara para ibu tirinya, wanita inilah yang sikapnya paling ramah dan akrab dan merupakan ibu tiri yang dahulu seperti sahabatnya sendiri.

“Ibu ke tiga …!” kata Hwe Li sambil mengamati wajah itu dan seruannya merupakan bisikan penuh keraguan.

Akan tetapi, wanita tua itu terbelalak. Kwan Hwe Li sudah pergi selama tiga puluh tahun, akan tetapi seolah-olah wajah cantik itu sama sekali tidak berubah, masih tetap seperti dahulu, tiga puluh tahun yang lalu!

“Kau … kau … Hwe Li …!? Ah, tidak mungkin …! Hwe Li hanya lebih muda sepuluh tahun dariku, tentu sekarang telah menjadi seorang nenek. Ah, aku tahu! Engkau tentulah puterinya! Ya, engkau tentu anak dari Hwe Li! Bagaimana ibumu sekarang, nak? Kenapa ia tidak ikut datang?” Wanita itu dengan ramahnya menghampiri dan merangkul pundak Hwe Li. Wanita ini tersenyum dan diam-diam ia merasa terharu. Wanita ini, biarpun sekarang sudah tua dan keluarganya jatuh miskin, masih tetap ramah dan periang seperti dahulu. Pantas saja ayahnya masih mempertahankannya untuk menemanimu di situ.

“Ibu, akulah Hwe Li!” katanya sambil merangkul selir ayahnya yang ke tiga itu.

“Ehh …??” Wanita itu memegang kedua pundak Hwe Li, mendorongnya ke belakang dan mengamati wajah yang cantik itu. ‘”Kau … kau memang tiada bedanya dengan Hwe Li. Akan tetapi tidak mungkin! Engkau tentu sudah berusia lima puluhan tahun, dan engkau kelihatan seperti seorang gadis. Bagaimana mungkin engkau Hwe Li?”

“Sungguh, ibu. Aku adalah Kwan Hwe Li dan aku datang untuk menengok ayah. Bagaimana dengan ayah? Aku ingin sekali bertemu dengannya.”

“Hwe Li …! Engkau benar-benar Hwe Li? Kami sudah mendengar bahwa engkau menjadi seorang wanita sakti, akan tetapi … bagaimana mungkin engkau menjadi wanita yang selalu muda, tak pernah menjadi tua?”

Hwe Li tersenyum, merangkul pinggang ibu tiri yang dahulu menjadi amat akrab seperti sahabat baik dengannya. “Ibu, mari kita temui ayah. Kamarnya masih yang dahulu, bukan? Oh, aku sampai lupa, Ibu, ini adalah Cia Ling Ay, ia muridku. Ling Ay, ini ibuku yang ke tiga, engkau boleh memanggilnya Bibi ke Tiga.”

Ling Ay cepat membungkuk dan memberi hormat. Wanita tua itu memandang, terheran-heran. “Kalau engkau benar-benar Hwe Li sungguh luar biasa sekali! Engkau masih secantik dan semuda dahulu, dan engkau bahkan seperti kakak beradik saja dengan muridmu ini.”

“Sudahlah, ibu, mari kita temui ayah.” kata Hwe Li dan ia menggandeng ibu tirinya keluar dari ruangan tamu dan masuk ke ruangan dalam. Ia masih ingat di mana letak kamar ayahnya, kamar besar yang tak jauh dari ruangan tengah. Setelah mereka berada di depan pintu kamar, ibu tirinya berbisik, “Hwe Li, biasanya, pada saat seperti ini, ayahmu masih bersamadhi di dalam kamarnya. Aku tidak berani mengganggunya.”

“Ibu, biarlah aku yang memangil ayah.” kala Hwe Li dan ia mengetuk daun pintu, lalu mengerahkan khi kang sehingga biar suaranya hanya lirih, namun suara itu menembus ke dalam kamar dan akan terdengar dengan jelas sekali oleh orang yang berada di dalam kamar. “Ayah, aku Kwan Hwe Li datang untuk menengok ayah!”

Hanya sekali Hwe Li bicara dan terdengar suara kaget dari dalam. Suara Hwe Li yang didorong kekuatan khi-kang itu terdengar jelas sekali oleh kakek Kwan yang bersamadhi di dalam kamar. Tentu saja dia tersentak kaget mendengar kalimat itu.

“Ahhh … “ Dan diapun turun dari atas pembaringan, menghampiri daun pintu kamar dan membukanya.

Sekeras-kerasnya hati Hwe Li, ia merasa seolah jantungnya diremas karena terharu melihat ayahnya kini telah menjadi seorang kakek tua renta! Biarpun dahulu, tigapuluh tahun yang lalu, ayahnya juga hanya seorang laki-laki yang lemah dan tidak pernah mempelajari ilmu silat, namun ayahnya yang lemah lembut itu memiliki gairah hidup yang timbul karena jiwa seninya. Kini, hanya sepasang mata itu yang masih nampak hidup bersemangat, akan tetapi tubuhnya sudah lemah dan gemetaran!

“Ayah …!!” Hwe Li menubruk dan merangkul ayahnya. Ketika kedua lengannya merangkul, ia merasakan betapa kedua lengannya memeluk kerangka, seolah tubuh itu hanyalah tulang tulang terbungkus kulit saja.

Namun, kedua tangan kurus itu masih membelainya.

“Hwe Li … kau Hwe Li …! Engkau masih seperti dulu …! Engkau masih Hwe Li yang dahulu!” Tiba-tiba tangannya memegang pundak Hwe Li dan seperti yang dilakukan isterinya yang ke tiga tadi, dia mendorong tubuh Hwe Li dan mengamati wajah dan seluruh tubuh wanita itu dengan penuh keheranan. “Akan tetapi, engkau masih begini muda! Pada hal, usiamu tentu sudah ada lima puluh tahun sekarang!”

Sepasang mata yang masih indah itu basah air mata. Menangis merupakan kebiasaan kaum wanita. Biasanya, perasaan wanita amatlah halus dan peka, dan hal ini membuat mereka emosionil dan air mata mereka selalu siap untuk dicucurkan dalam tangis. Akan tetapi. Bi Moli Kwan Hwe Li bukan wanita biasa lagi. Hatinya sudah mengeras dalam gemblengan pengalaman hidup yang serba keras dan pahit. Hatinya tidak lagi mudah tergerak dalam keharuan, apalagi tangis. Namun kini, hampir ia tidak dapat menahan untuk tidak terisak menangis dan hanya air matanya saja yang membasahi pelupuk matanya dan ada sebutir dua air mata yang sempat meloncat keluar.

“Ayah, aku Hwe Li, ayah. Berkat ilmu yang kupelajari, aku dapat tetap awet muda seperti sekarang.”

“Hwe Li, ahh … Hwe Li …!” Ayah itu merangkul, kemudian mereka keluar dari kamar itu, menuju ke ruangan tengah di mana mereka duduk dengan penuh kegembiraan. Kakek Kwan meneriaki para pembantunya dan memperkenalkan puterinya, lalu menyuruh mereka mempersiapkan pesta seadanya untuk merayakan pulangnya puteri itu.

“Ayah, ini adalah Cia Ling Ay, muridku. Ling Ay, inilah ayahku, sekarang telah tua sekali.” Ling Ay cepat memberi hormat kepada orang tua itu.

Sejak tadi Kwan Jin Kun tiada hentinya mengamati wajah puterinya. kemudian dia berkata, “Hwe Li, ketika kami mendengar berita bahwa engkau telah menjadi seorang tokoh dunia persilatan, dan kabar itu amat menggelisahkan hatiku karena engkau dikabarkan menjadi seorang datuk kang-ouw yang berwatak iblis. Aku membayangkan bahwa engkau tentu kini menjadi seorang wanita setengah tua yang menakutkan. Akan tetapi … ha-ha, kabar itu bohong semua! Mungkin disebar oleh mereka yang membenci keluarga kita. Engkau ternyata masih tetap Hwe Li yang dahulu, dan engkau tidak seperti iblis, bahkan seperti seorang dewi!”

Kwan Jin Kun lalu menceritakan apa yang dialaminya sejak puterinya pergi meninggalkan rumah itu. “Kaisar Siauw Bian Ong dari kerajaan Chi yang baru ini cukup bijaksana, balikan aku harus mengakui dia lebih bijaksana dibardingkan kaisar yang lalu. Beliau juga menawarkan kedudukan lama kepadaku, akan tetapi aku sudah merasa terlalu tua untuk bekerja, Hwe Li. Aku lebih suka menghabiskan sisa hidupku dengan mempelajari kitab-kitab agama dan bersamadhi. Aku tidak bersemangat lagi untuk mencampuri urusan dunia yang penuh dengan pertentangan. Lalu sekarang ceritakan semua pengalamanmu setelah engkau pergi meninggalkan rumah ini, anakku.”

Hening sejenak. Diam-diam Ling Ay juga ingin sekali mendengarkan karena selama ini, gurunya belum pernah menceritakan dengan jelas tentang latar belakang kehidupannya. Pada saat itu, selir ke dua dari kakek itu memasuki ruangan itu. Tadi ia pergi berbelanja berbagai keperluan keluarga itu dan seperti juga selir ke tiga, ia terheran-heran karena ia segera mengenali Hwe Li. Segera iapun ikut pula duduk di ruangan itu dan mereka semua kini menanti Hwe Li menceritakan pengalamannya yang tentu akan menarik sekali.

“Ayah tentu masih ingat mengapa aku pergi meninggalkan rumah ini tanpa pamit?” Setelah menghela napas panjang Hwe Li bertanya dan memandang kepada ayahnya dan kedua orang ibu tirinya.

Ayahnya mengangguk dan diapun menarik napas panjang. “Siapa yang akan dapat melupakan peristiwa itu? Gara-gara pangeran mata keranjang itu! Gara-gara tunanganmu. Pangeran Tiauw Sun Ong, melakukan perbuatan yang memalukan itu, engkau menjadi marah dan malu, dan engkau pergi meninggalkan keluargamu tanpa pamit!”

“Benar sekali, ayah. Gara-gara Tiauw Sun Ong maka aku menjadi seroang petualang, Hatiku sakit bukan main. Tadinya aku berniat untuk mencari Tiauw Sun Ong yang sudah lolos dari sebagai seorang buta. Tekadku untuk membunuhnya karena ia telah menghancurkan kebahagiaan hatiku, telah mengkhianatiku, dan kami saling mencinta sejak remaja. Siapa kira, dia melakukan perbuatan tak senonoh dengan selir kaisar. Dalam perantauanku, aku bertemu orang-orang pandai di dunia, kang-ouw, aku mempelajari ilmu silat dengan tekun karena ada satu tujuan, yaitu membunuh Tiauw Sun Ong!”

Ayahnya menggeleng kepala dan menghela napas panjang. “Eehhh, kenapa engkau menuruti nafsu amarah? Mengapa engkau meracuni hatimu sendiri dengan dendam sakit hati, anakku? Sekali kita membiarkan nafsu merajalela di hati, nama kita akan diperhamba dan nafsu akan menjadi pembimbing kita yang akan menyelewengkan jalan hidup kita.”

Kwan Hwe Li tersenyum simpul mendengar ucapan ayahnya, Ia sudah kenyang dengan segala macam petuah dan nasihat ayahnya, bahkan sejak kecil sampai dewasa kepala dan hatinya sudah dijejali segara macam pelajaran tentang kebatinan dan agama. Akan tetapi semua itu lenyap tanpa bekas sejak hatinya hancur oleh perbuatan Tiauw Sun Ong. ia tidak perduli lagi. Lebih-lebih setelah ia berguru kepada banyak datuk persilatan, tokoh-tokoh besar kaum sesat di dunia kang-ouw. ia makin jauh meninggalkan segala yang berbau pelajaran kebatinan itu. Kini ia mendengas lagi petuah ayahnya, dan betapa hambarnya semua itu. ia maklum bahwa ia telah terlalu jauh tersesat, telah terlalu banyak perbuatan dilakukan tanpa memperhitungkan baik buruknya. Kalau perbuatannya dianggap kotor, maka kotoran itu telah sedemikian tebalnya sehingga kalau hanya setitik air pencuci berupa petuah dan pengetahuan kebatinan, tidak akan dapat membersihkannya! Bukannya ia tidak tahu bahwa ia telah menjadi seorang datuk sesat, Ia tahu benar, tahu bahwa semua perbuatannya selama ini oleh umum dianggap jahat, berdosa dan sebagainya. Akan tetapi ia tidak mampu meninggalkannya, tidak dapat dan tidak mau.

“Hwe Li, apakah engkau lalu berhasil membalas dendam sakit hatimu kepada Pangeran Tiauw Sun Ong?” tanya ibu tirinya yang ke dua.

Wajah Hwe Li berubah muram dan iar menggeleng kepala. “Berkali-kali aku mencobanya, akan tetapi jahanam itu ternyata setelah menjadi buta, memiliki ilmu kepandaian yang hebat bukan main sehingga semua percobaanku gagal. Aku tidak pernah dapat menang dalam pertandingan melawannya. Dia memang lihai bukan main. Akan tetapi satu hal yang membuat hatiku bertambah sakit adalah kenyataan bahwa kalau aku menyerangnya dengan niat membunuh, sebaliknya dia yang selalu mengalahkan aku, tidak pernah mencoba untuk membunuhku, bahkan melukaikupun belum pernah!”

“Siancai …!” Kakek Kwan berseru dengan suara pujian. “Itu menandakan bahwa dia masih sayang kepadamu, atau setidaknya, dia telah menyesali perbuatannya sehingga tidak mau melukaimu, anakku. Engkau seharusnya berterima kasih karena ternyata pangeran yang telah kehilangan kedudukan dan telah menjadi buta matanya itu ternyata tidak buta hatinya.”

“Aku tidak perduli, ayah! Dan aku yakin bahwa dia melakukan itu sama sekali bukan karena dia mencintaku, karena aku telah membujuknya untuk hidup bersama akan tetapi dia selalu menolak. Tidak, dia sengaja memamerkan kepandaiannya untuk mengejek aku, membuat hatiku makin perih lagi. Akan tetapi sekarang aku merasa puas, ayah. Aku telah menemukan jalan untuk membuat dia menderita seperti aku, tanpa aku harus menyerangnya satu juruspun!” Wanita cantik itu tertawa dan biarpun suara tawanya merdu, namun ayahnya dan dua orang ibu tirinya bergidik karena dalam suara tawa itu terkandung sesuatu yang mengerikan.

“Siancai … semoga Tuhan akan menyadarkanmu, anakku. Dan setelah engkau pulang, kami harap engkau dan muridmu akan terus tinggal di sini. Engkau mau menemaniku ayahmu yang tidak akan lama lagi berada di dunia ini, bukan?” Dalam suara itu terkandung permohonan. Kakek ini bukan mengeluarkan ucapan itu karena rasa iba diri, melainkan mempunyai maksud lain. Dia menghendaki agar puterinya itu selalu dekat dengannya sehingga lambat laun dia akan mampu membersihkan hati puterinya dan menyadarkannya bahwa cara hidupnya yang lalu adalah suatu penyelewengan dari pada kebenaran.

“Untuk sementara saja aku tinggal di sini, ayah. Aku pulang, pertama kali untuk menengok ayah dan terutama sekali aku ingin mencoba mengisi hidupku dengan keadaan yang baru. Aku ingin berdekatan lagi dengan istana. Mungkinkah itu, ayah? Mungkinkah aku dapat berdekatan dengan keluarga kaisar yang baru dan dapatkah ayah membantuku, seperti dahulu ketika aku masih gadis muda?”

“Aih, mana mungkin itu, anakku? Dahulu, ayahmu ini masih mempunyai kedudukan, apalagi ayahmu ini yang mengajarkan sastra kepada para pangeran dan putri istana. Sekarang aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan istana.”

“Ayah tentu mempunyai kenalan pejabat di istana yang dapat membantu kami. Aku dan Ling Ay ingin bekerja di dalam istana Kaisar Siauw Bian Ong.”

“Akan tetapi, apa yang dapat kaukerjakan di istana?”

Bi Moli Kwan Hwe Li menertawakan ayahnya. “Ayah, dengan kepandaianku sekarang, aku dapat menjadi pelatih ilmu silat dari para pengawal wanita, arau dapat menjadi pengawal permaisuri dan para puteri, sedangkan Ling Ay dapat menjadi dayang atau pelindung para puteri. Kalau perlu, kami bersedia diuji kepandaian kami untuk meyakinkan hati kaisar dan keluarganya.”

Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya kakek Kwan Jin Kun menyanggupi dan karena dia memang mempunyai banyak kenalan di istana, yaitu para pembesar yang membutuhkan nasihatnya sebagai seorang sasterawan yang berpengalaman dengan urusan istana, maka diapun berhasil. Kwan Hwe Li yang biarpun usianya sudah lima puluh tahun masih nampak cantik itu diterima sebagai pelatih silat dan tugasnya melatih para pengawal istana, sedangkan Ling Ay diterima sebagai seorang pengawal permaisuri dan para puteri. Guru dan murid ini dengan mudah lulus dalam ujiaa yang dilakukan komandan pasukan pengawal istana.

***

Biarpun usianya sudah lima puluh sembilan tahun, akan tetapi Tiauw Sun Ong masih tegap dan tubuhnya kokoh kuat. Andaikata kedua matanya tidak buta, tentu dia akan mampu melakukan perjalanan cepat sekali. Bekas pangeran ini memiliki tingkat kepandaian yang tinggi. Akan tetapi, sepandai-pandainya dia, karena kedua matanya tidak mampu melihat, terpaksa dia melakukan perjalanan sambil meraba-raba dengan tongkatnya dan perjalanan seperti ini tentu tidak dapat cepat …

Belum lama dia berpisah dari muridnya, Kwa Bun Houw yang dia tugaskan untuk mencari puterinya, Tiauw Hui Hong, dan melihat keadaan kerajaan Chi di Nan-king, baru kurang lebih dua li saja dia melakukan perjalanan, tiba-tiba dari depan datang dua orang wanita yang larinya cepat sekali dan mereka lewat dengan cepat seperti tidak memperdulikan orang buta yang berjalan dengan tongkat meraba-raba jalan itu.

Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, diam-diam Tiauw Sun Ong terkejut karena dari gerakan lari dua orang itu, dia dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Akan tetapi karena mereka hanya berpapasan di jalan, diapun tidak memperdulikan lagi, tidak tahu bahwa dua orang wanita itu tiba-tiba berhenti berlari dan kini berdiri dan memandang kepadanya dari belakang.

Mereka adalah Kwan Im Sianli dan Hui Hong. “Bibi, kenapa berhenti?” tanya Hui Kong.

“Kau lihat dia? Itulah laki-laki yang kumaksudkan.”

Hui Hong tertegun, mamandang pria itu dari belakang. Tadi ketika berpapasan, ia tidak memperhatikan dan baru sekarang ia melihat betapa pria itu berjalan selangkah demi selangkah mempergunakan tongkatnya untuh meraba jalan.

“Seorang buta?”

“Sekarang dia buta, dahulu tidak dan biarpun buta, dia lihai bukan main. Aku akan menyerangnya dan aku tahu bahwa aku bukan tandingannya. Kau bantu aku membunuh keparat jahanam itu seperti yang telah kaujanjikan dan setelah itu, aku akan membawamu kepada ayahmu. Tempatnya tidak jauh lagi dari sini.”

Biarpun masih ragu karena harus mengeroyok seorang laki-laki tua yang buta, namun karena dijanjikan akan dipertemukan dengan ayahnya, Hui Hong mengangguk. Akan tetapi ia akan melihat dulu apakah benar-benar Kwan Im Sianli tidak mampu mengalahkan laki-laki buta itu. Kalau ternyata wanita cantik itu mampu mengalahkan si buta sendiri, ia tidak akan mau membantunya.

Kwan Im Sianli segera meloncat dan mengejar laki-laki buta sambil mencabut pedangnya. “Laki-laki yang buta mata dan hatinya, saat ini engkau akan mati di tanganku!” bentak Kwan Im Sianli dan ia segera menyerang dengan pedangnya, menusuk dada pria itu dengan kuat dan cepat.

“Tranggg … !” Tiauw Sun Ong menggerakkan tongkatnya dan tusukan pedang itu tertangkis. “Kwan Im Sianli …? Bwe Si Ni, aku mau bicara denganmu!”

“Tidak perlu bicara lagi, mampuslah!”” bentak Kwan Im Sianli dan kini ia menyerang dengan sepenuh tenaga, mengeluarkan jurus-jurus maut. Terpaksa Tiauw Sun Ong melayaninya, karena dia maklum bahwa wanita bekas kekasihnya ketika masih menjadi dayang istana ini memiliki ilmu silat yang amat hebat. Dan dia tidak mungkin hanya menangkis saja karena hal itu amat berbahaya. Menghadapi seorang lawan sehebat Kwan Im Sianli yang menjadi seorang datuk persilatan harus balas menyerang, kalau tidak, mungkin sekali dia akan roboh dan tewas. Tongkatnya bergerak cepat dan kini Kwan Im Sianli mulai terdesak. Dia ingin mengalahkan wanita itu tanpa membunuhnya atau melukai berat, karena kalau dia melukai berat, hal itu akan membuat ia menjadi semakin sakit hati kepadanya. Maka, Tiauw Sun Ong juga mengerahkan seluruh tenaganya dan terus menghimpit lawan, sinar tongkatnya bergulung-gulung dan tongkat itu bagaikan seekor naga yang bermain-main di angkasa, membuat sinar pedang Kwan Im Sianli semakin menyempit. Melihat betapa wanita cantik itu benar-benar terdesak oleh si buta, barulah Hui Hong percaya betapa lihainya orang buta itu. Melihat jalannya pertandingan, ia tahu bahwa kalau dilanjutkan, wanita itu akan kalah. Ia pun mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dari punggungnya dan meloncat, terjun ke dalam medan perkelahian. Sepasang pedang menyambar-nyambar ganas.

“Trang-tranggg …!!” Tiauw Sun Ong menangkis sepasang pedang itu dan dia terkejut sekali karena maklum bahwa yang datang membantu Kwan Im Sianli ini memiliki ilmu pedang yang ganas dan tenaga yang cukup kuat.

“Kwan Hwe Li, kaukah ini?” seru Tiauw Sun Ong sambil memutar tongkatnya karena kini dua orang wanita itu menyerangnya dengan hebat. Akan tetapi karena tenaga kedua orang itu disatukan dalam suatu serangan yang berbareng, tangkisannya membuat dia terpaksa harus meloncat ke belakang.

“Tidak perlu bertanya, bersiaplah untuk mampus!” bentak pula Kwan Im Sianli. Ia memang sudah mengambil keputusan untuk membunuh pria yang pernah membuatnya tergila-gila ini. Lebih baik bekas pangeran ini mati di tangannya dari pada ia selalu merindukannya tanpa ada harapan sedikitpun. pria yang dicintanya ini tidak mau menjadi teman hidupnya, maka lebih baik melihat dia mati! Kwan Im Sianli memperhebat serangannya dan Hui Hong juga mengerahkan tenaga karena ia tadi merasakan betapa kuatnya tangkisan tongkat itu yang membuat sepasang pedangnya terpental.

Maklum bahwa bicara tidak ada gunanya terhadap Kwan Im Sianli yang berhati keras, terpaksa Tiauw Sun Ong memutar tongkat membela diri. Dia maklum bahwa orang yang membantu Bwe Si Ni itu bukan Kwan Hwe Li. Pertama karena Kwan Hwe Li masih mencintanya dan ke dua karena Kwan Hwe Li pasti tidak mau bekerja sama dengan saingannya itu. Dahulupun ketika Bwe Si Ni datang menyerangnya, Kwan Hwe Li muncul dan bahkan mengusir Bwe Si Ni.

Hui Hong bersungguh-sungguh membantu Kwan Im Sianli Bwe Si Ni sehingga Thiauw Sun Ong mulai terdesak hebat. Dalam kemarahan dan sakit hatinya, Kwan Im Sianli sudah melukai Tiauw Sun Ong pada pundak kirinya. Bajunya robek dan pundak itu berdarah. Maklum bahwa akhirnya dia akan roboh dan tewas di tangan bekas kekasihnya itu, Thiauw Sun Ong melompat kebelakang, bukan untuk melarikan diri melainkan mencari kesempatan untuk bicara.

“Bwe Si Ni, engkau boleh mendedam kepadaku dan boleh membunuhku, akan tetapi sebelum aku mati, aku minta agar engkau tidak mengganggu Hui Hong anakku. Ia tidak bersalah apa-apa, jangan engkau mengganggunya dan bebaskan Hui Hong!

Kwan Im Sianli terkejut mendengar ucapan itu, maka tanpa menjawab, ia sudah meloncat ke depan dan memutar pedangnya menyerang dahsyat! Thiauw Sun Ong menangkis, akan tetapi tangan kiri wanita itu menyambar dan mengenai dadanya.

“Plakk!” Tubuh bekas pangeran itu terjengkang, akan tetapi dia bergulingan menjauh, dikejar oleh Kwan Im Sianli. Ketika wanita ini menggerakkan pedangnya untuk mengirim tusukan maut, dan Thiauw Sun Ong yang belum bangkit itu terancam bahaya maut, tiba-tiba nampak sinar pedang berkelebat menangkis dari samping.

“Tranggg … ! “

“Kwan Im Sianli, kau menipuku! Kau mengajakku membunuh ayahku sendiri!” bentak Hui Hong dan kini ia menyerang Kwan Im Sianli dengan marah.

Kwam Im Sianli menangkis dan melompat ke belakang, tertawa nyaring.

“Heh-heh-heh, aku memang amat membencinya. Aku ingin anaknya sendiri yang membunuhnya, hi-hik!”

“Iblis betina jahat!” bentak Hui Hong dan kembali ia menyerang dengan dahsyat, disambut oleh Kwan Im Sianli dan begitu pedang mereka bertemu Hui Hong terhuyung ke belakang. “Bwe Si Ni, kalau kau mengganggu anakku, demi Tuhan, kubunuh engkau!” Tiauw Sun Ong kini menerjang dengan tongkatnya!“ dan karena sekali ini bekas pangeran itu benar-benar marah dan mengerahkan tenaganya, Kwan Im Sianli terpental ke belakang! Namun, wanita ini sudah nekat dan ia menyerang lagi sehingga terjadi perkelahian yang seru, Hui Hong tidak tinggal diam. Bermacam perasaan mengaduk hatinya. Perasaan girang karena ia bertemu ayahnya, juga rasa haru melihat ayahnya buta, dan bangga karena ternyata ayahnya seorang yang berilmu tinggi. Menghadapi Tiauw Sun Ong sendiri saja, Kwan Im Sianli sudah repot dan terdesak, apalagi setelah Hui Hong mengeroyoknya.

Kwan Im Sianli sudah mencari kesempatan untuk melarikan diri ketika tiba-tiba terdengar suara orang tertawa. “Ha-ha-ha-ha, Tiauw Sun Ong si buta tidak mengenal malu melakukan pengeroyokan! Dan engkau Hui Hong, anak durhaka yang tidak mengenal budi orang, engkau patut dibunuh. Sejak kecil aku merawatmu, mendidikmu, dan sekarang engkau melarikan diri tanpa pamit. Hayo cepat berlutut!”

Akan tetapi sebelum Hui Hong menjawab. Tiauw Sun Ong yang menegur orang itu, ”Ouwyang Sek. engkau manusia busuk. Hui Hong adalah anakku, anak kandung, engkau tidak berhak atas dirinya!”

“Keparat buta, aku memang mencarimu untuk membalas atas kematian isteriku! Kwan Im Sianli, mari kita bunuh ayah dan anak keparat ini! Ouwyang Sek menerjang Tauw Sun Ong dengan pedangnya. Nampak pedang berubah menjadi sinar bergulung-gulung. Memang datuk ini, lihai ilmu pedangnya sehingga dia memperoleh julukan Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan). Kwan Im Sianli juga menggerakkan pedangnya menyerang Tiauw Sun Ong sehingga bekas pangeran itu dikeroyok dua. Sejenak Hui Hong terbelalak dengan muka pucat, Ibunya telah mati! Tadi Ouwyang Sek mengatakan bahwa dia hendak membunuh, Tiauw Sun Ong untuk membalas atas kematian isterinya. Mungkin Tiauw Sun Ong yang membunuh ibunya?

“Tahan … !!” Ia berseru nyaring dan menggunakan sepasang pedangnya untuk melerai perkelahian itu dengan menerjang ditengah antara mereka.

“Ayah … “ Ia menghadapi Ouwyang Sek dan bertanya, “apa maksudmu dengan mengatakan kematian ibu?”

Ouwyang Sek memandang kepada Tiauw Sun Ong dengan mata melotot marah, lalu pedangnya ditudingkan ke arah si buta itu.

“Dia datang dan dia yang menyebabkan ibumu mati!”

Hui Hong memutar tubuh menghadapi Tiauw Sun Ong dan suaranya gemetar ketika ia bertanya, “Benarkah itu? Engkau … engkau menyebabkan ibuku mati?”

Biarpun tidak dapat melihat, Tiauw Sun Ong naklum bahwa gadis itu menunjukkan pertanyaannya kepadanya. Dia menghela napas panjang, “Hui Hong, ibumu memang tewas, ia membunuh diri setelah bertemu denganku, karena kini ia tidak lagi perlu menyiksa batin menjadi isteri iblis ini. Dahulu ibumu terpaksa menjadi isterinya karena hendak menyelamatkan engkau.”

“Tiauw Sun Ong, jahanam busuk engkau! Apapun alasanmu, engkau akan mampus di tanganku, dan kalau anak haram darimu ini, anak yang durhaka dan tidak mengenal budi, hendak membelamu. iapun akan kubunuh!”

Ouwyang Sek menerjang lagi, menyerang Tiauw Sun Ong dengan kemarahan meluap, dan Kwan Im Sianli juga menggerakkan pedang membantunya mengeroyok.

Terdengar suara Tiauw Sun Ong yang menggeledek setelah dia memutar tongkat menangkis dan membuat pedang kedua orang datuk itu terpental.

“Dengar, Ouwyang Sek dan Kwan Im Sianli! Kalau kalian mengganggu anakku, demi Tuhan, aku tidak akan pantang membunuh kalian!”

Dua orang datuk itu kembali mengeroyoknya dan biarpun pundak kirinya sudah terluka, Tiauw Sun Ong mengamuk dan menandingi mereka berdua dengan gigih. Sejenak Hui Hong bimbang, akan tetapi entah mengapa, ia merasa kagum dan percaya kepada orang buta yang ia tahu adalah ayah kandungnya itu, maka tanpa banyak cakap lagi iapun memutar siang kiam di kedua tangannya dan membantu ayahnya!

Kekurangan tingkat kepandaian Hui Hong dibandingkan kedua orang lawannya ditutup oleh kelebihan tingkat Tiauw Sun Ong yang selalu melindungi dan membantu puterinya sehingga perkelahian itu terjadi amat serunya. Namun, tanpa diketahui orang lain karena dia tidak pernah mengendurkan semangatnya dan tidak pernah mengeluarkan keluhan, diam-diam Tiauw Sun Ong merasa khawatir karena luka di pundaknya mengeluarkan banyak darah dan hal ini akan mempengaruhi kekuatannya. Oleh karena itu, dia mengeluarkan suara melengking panjang ketika membentak dan tiba-tiba saja gerakannya amat dahsyat menerjang ke arah Ouwyang Sek. Datuk ini terkejut, mencoba untuk mengelak, namun tetap saja ujung tongkat Tiauw Sun Ong berhasil menotok dada kanannya dan datuk itupun terpelanting roboh dan mengerang kesakitan. Dia mencoba untuk bangkit, akan tetapi terkulai kembali.

Kwan Im Sianli sedang mendesak Hui Hong, akan tetapi sambaran tongkat di tangan Tiauw Sun Ong membuat ia terhuyung ke belakang. Kini, ayah dan anak itu berdiri berdampingan dan menghadap ke arah Kwan Im Sianli yang tentu saja menjadi terkejut dan jerih melihat betapa kawannya, Ouwyang Sek, sudah menggeletak dan tidak mampu bangkit berdiri lagi.

“Bwe Si Ni, pergilah dan jangan ganggu aku lagi. Di antara kita sudah tidak ada urusan apa-apalagi. Pergilah!”

Kwan Im Sianli Bwe Si Ni mengerutkan alisnya, matanya yang mulai basah air mata itu memandang penuh kebencian. “Tiauw Sun Ong, engkau boleh menganggap tidak ada urusan apa-apalagi, akan tetapi dendam ini akan kubawa sampai mati.” Setelah berkata demikian, ia membantu Ouwyang Sek bangun berdiri, lalu menggandeng dan memapah datuk yang sudah dikenalnya dengan baik itu pergi dari situ, diikuti pandang mata ayah dan anak itu. Setelah mereka pergi jauh. barulah Tiauw Sun Ong menghela napas, kemudian dia duduk bersila dan mengatur pernapasan dan nampak terengah lemah.

“Kau … terluka … ” Hui Hong berkata lirih, masih belum mantap dan merasa kikuk untuk menyebut ayah. Akan tetapi, tanpa ragu lagi ia menghampiri orang tua buta itu, merobek baju di dadanya dan memeriksa pundak yang terluka. Hanya luka daging, akan tetapi cukup parah dan mengeluarkan banyak darah. Hui Hong menekan beberapa bagian di seputar luka untuk menghentikan keluarnya darah, lalu mengeluarkan obat bubuk dan mengobati luka di pundak ayahnya itu. Kemudian ia mengeluarkan sehelai kain ikat pinggang dari buntalan pakaian dan membalut pundak ayahnya. Setelah itu, ia duduk bersila di dekat ayahnya. Semua itu dilakukannya tanpa sepatah katapun. Bahkan kini, duduk berdua di atas tanah, merekapun tidak mengeluarkan kata-kata.

“Hui Hong … ,” akhirnya Tiauw Sun Ong berkata, suaranya gemetar tanda bahwa hatinya terharu. “Engkau … mau memaafkan aku?”

Hui Hong menatap wajah itu, dan ia merasa terharu. Pantas saja kalau ibunya mencinta orang ini. Wajahnya masih nampak gagah dan tampan, masih berwibawa walaupun kedua matanya buta. “Mengapa harus memaafkan?” Ia bertanya heran karena memang tidak mengerti.

“Apakah ibumu, Pouw Cu Lan, tidak pernah menceritakan kepadamu tentang aku, tentang kami berdua?”

Hui Hong menggeleng kepala, akan tetapi ketika ingat bahwa orang yang diajak bicara itu buta, iapun berkata, “Ibu hanya bercerita kepadaku ketika ayah … eh, Ouwyang Sek itu hendak membunuhku, bahwa aku bukan anak Ouwyang Sek, dan ibu hanya mengatakan bahwa ayah kandungku bernama Tiauw Sun Ong. Ibu tidak tahu di mana ayahku itu, maka ketika Kwan Im Sianli mengajakku untuk menunjukkan di mana Tiauw Sun Ong, aku ikut dengannya, dengan janji bahwa aku akan membantunya membunuh laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya. Aku sama sekali tidak tahu bahwa yang hendak dibunuh itu adalah … Tiauw Sun Ong yang oleh ibu dikatakan ayah kandungku itu. Apakah engkau ini yang bernama Tiauw Sun Ong? Apakah engkau ini suami ibuku, dan engkau ini sebenarnya ayah kandungku?”

Sebetulnya Hui Hong sudah mendengar cerita ibunya mengenai hubungan ibunya dengan Tiauw Sun Ong, akan tetapi ia ingin mendengar penuturan pria buta ini untuk meyakinkan hatinya bahwa orang ini benar ayah kandungnya.

“Aku Tiauw Sun Ong. dahulu pangeran kerajaan Liu-sung, dan ibumu Pouw Cu Lan, selir kakakku yang menjadi kaisar. Kami berdua saling jatuh cinta. Namun, hubungan antara kami diketahui, dan Kaisar memarahi kami. Aku merasa berdosa dan malu, maka di depan kakakku, aku membutakan kedua mataku, diampuni dan aku lolos dari istana, menuntut ilmu. Aku mendengar bahwa ibumu dihukum buang oleh Kaisar, sama sekali aku tidak tahu bahwa ia ditolong oleh Ouwyang Sek dan diperisteri. Ia mau menjadi isteri Ouwyang Sek karena ketika itu ia telah mengandung engkau, Hui Hong. Ia ingin menyelamatkanmu. Ah, betapa aku telah membuat Cu Lan menderita. Aku berdosa kepadanya, dan ketika aku datang kesana untuk meminangmu, setelah aku mendengar semua itu dari Bi Moli Kwan Hwe Li, aku bertemu dengan ibumu dan ia mengatakan bahwa engkau pergi bersama Kwan Im Sianli untuk mencari aku. Ibumu begitu bertemu dengan aku, merasa malu dan menyesal, dan ia membunuh diri.”

Hening sejenak, dan Tiauw Sun Ong mendengar suara isak tangis anaknya. Dia tidak dapat menahan kesedihan hatinya dan iapun meraba-raba ke arah puterinya dan di lain saat mereka telah saling rangkul dan bertangisan.

“Ayah … ” Hui Hong terisak-isak. Ia merasa bersedih sekali. Ia adalah anak dari hubungan gelap antara pangeran Tiauw Sun Ong dan selir kaisar, dan hubungan itu mengakibatkan ayah kandungnya membutakan mata sendiri, dan kini mengakibalkan ibunya membunuh diri! “Ayah, kasihan sekali ibu … “ ia meratap.

Tiauw Sun Ong mengelus rambut kepala puterinya. “Sudah takdir demikikian, anakku. Aku membutakan mata, ibumu membunuh diri, dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kami. Marilah, anakku, kita kembali ke Hoa-san dan kita bicara di sana.” Ayah dan anak itu lalu meninggalkan tempat itu, mendaki Hoa-san. Hui Hong menuntun ayahnya dan setelah tiba di pondok ayahnya, iapun merawat luka ayahnya. Ia sudah mendengar semua tentang Kwa Bun Houw dari ayah kandungnya, dan ketika ayah kandungnya menyatakan bahwa dia setuju menjodohkan puterinya itu dengan Bun Houw, tentu saja Hui Hong yang mencinta Bun Houw dengan sepenuh hati menyatakan kesediaannya. Mereka kini hanya menanti kembalinya Bun Houw di puncak Hoa-san.

***

Bagaimana kereta kuda yang dikendalikan seorang kusir bijaksana dan pandai, bagaikan tanaman yang digulawentah seorang petani yang bijaksana dan pandai, sebuah negara akan menjadi aman tenteram dan subur makmur seperti jalannya kereta dan tumbuhnya tanaman apabila negara itu dipimpin oleh penguasa yang bijaksana dan pandai pula.

Demikian pula dengan keadaan kerajaan Chi (479-501). Kaisar Siauw Bian Ong adalah seorang kaisar yang bijaksana dan pandai, dan lebih dari itu pula, dia mencintai negara dan bangsanya, mementingkan kebutuhan rakyat di atas kebutuhan pribadi. Dia, sejak kerajaan Chi berdiri dan dia diangkat menjadi kaisar, selalu berusaha untuk memakmurkan kehidupan rakyat jelata, menggalakkan pembangunan dalam segala bidang, mengulurkan tangan kepada yang miskin dan papa, menuntun dan membimbing, memberi modal kepada yang miskin, memberi penyuluhan kepada yang bodoh, bertangan besi dan mendidik kepada yang jahat. Bagi kaisar ini, yang menjadi kebutuhan mutlak bagi rakyat jelata pada umumnya adalah kehidupan yang aman tenteram tanpa gangguan orang jahat, pengayoman dari alat negara, lapangan pekerjaan yang luas sehingga memudahkan setiap orang mencari nafkah, dan murah serta mudahnya mencukupi kebutuhan sandang pangan dan papan. Kaisar Siauw Bian Ong berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi semua ini dan dia terkenal sebagai seorang pemimpin negara yang pandai merangkul orang-orang berilmu untuk diajak bekerja sama, pandai menghargai jasa orang, akan tetapi juga keras dan adil tak mengenal ampun kepada para koruptor yang menjegal kebijaksanaannya, menggerogoti harta negara dan rakyat, dan yang suka memeras dan menindas rakyat menyalahgunakan kekuasaannya.

Jilid 15

TIDAK mengherankan kalau dalam waktu empat tahun saja sejak berdirinya, Kerajaan Chi telah mengubah keadaan kehidupan rakyat menjadi jauh lebih baik dibandingkan dengan keadaannya ketika kerajaan Liu-sung masih berdiri. Rakyat, seperti juga kanak-kanak memandang orang tua mereka, membutuhkan contoh dari para pemimpin para pejabat pemerintah. Orang tua yang cerewet, hanya memberi teguran dan nasihat tanpa memberi contoh, tidak akan ditaati anak-anaknya. Yang dicontoh anak-anak adalah sikap dan perbuatan si orang tua. Demikian pula dengan rakyat yang tentu akan muak kalau hanya dijejali slogan-slogan dan nasihat; akan tetapi melihat betapa para pejabat yang pidato berapi-api memberi nasihat itu sendiri melanggar semua anjuran yang dipidatokan.

Kaisar Siauw Bian Ong memberi contoh, dengan mengubah cara hidup keluarga kerajaan Liu-sung yang telah dijatuhkan, dari kehidupan bermewah-mewahan menjadi kehidupan yang jauh lebih sederhana. Pengeluaran untuk kepentingan pribadi diperkecil, pajak rakyat diperingan, dan pembangunan dilakukan di segala bidang. Tentu saja rakyat menyambut keadaan yang tumbuh dari peraturan-peraturan baru yang amat menguntungkan ini dengan gembira dan tanpa dibujuk lagi, dengan sendirinya rakyat mendukung pemerintahan baru yang bijaksana itu. Dan pemerintahan di negara manapun di dunia ini akan menjadi kokoh kuat apa bila didukung oleh rakyatnya. Rakyat yang mencinta pemerintahnya pasti akan taat dan setia. Namun kecintaan terhadap pemerintah ini bukan datang begitu saja.

Melihat kebijaksanaan kaisar kerajaan Chi, yang mengampuni dan tidak mengejar-ngejar sisa keluarga kerajaan Liu-sung, bahkan membuka pintu lebar kalau mereka dan para bekas bangsawan Liu-sung mau bekerja membantu kerajaan baru untuk memakmurkan kehidupan rakyat, dan pandai menghargai orang-orang berilmu, maka mereka yang memiliki kepandaian merasa tertarik dan banyaklah kaum ahli yang berbondong-bondong menanggapi undangan Kaisar Siauw Bian Ong untuk membantu pemerintah.

Perkembangan yang amat baik dari kerataan Chi yang masih muda ini tentu saja tidak lepas dari pengamatan kerajaan Wei (386-532), yaitu kerajaan di sebelah utara yang didirikan oleh bangsa Toba atau Tartar yang menguasai wilayah utara dari lembah Sungai Kuning ke utara. Adapun kerajaan Chi mempunyai wilayah dari utara Sungai Yang-ce ke selatan. Daerah yang amat luas antara Sungai Yang-ce dan Sungai Kuning, yang luasnya tidak kurang dari tiga ratus kali delapan ratus mil, merupakan daerah tak bertuan, atau daerah yang selalu menjadi perebutan antara kerajaan Wei di antara dan kerajaan di Selatan, sejak kerajaan Liu-sung sampai sekarang kerajaan Chi. Daerah tak bertuan ini dengan sendirinya menjadi daerah penampungan para penjahat dan golongan sesat dunia kang-ouw. Pemerintah daerah di wilayah ini terdiri dari orang orang kuat dan hukumnya adalah hukum rimba, siapa kuat dia menang dan berkuasa.

Kerajaan Wei yang waktu itu (sekitar tahun 483) dipimpin oleh Kaisar Thai Wu sebagai pengganti Kaisar Wei Ta Ong, tentu saja merasa cemas melihat perkembangan kerajaan baru Chi yang ternyata kelihatan makmur dan didukung rakyat sehingga akan meupakan saingan yang lebih kuat dan berbahaya dibandingkan kerajaan Liu-sung yang telah jatuh. Maka, Kaisar Thai Wu mengumpulkan para pembantunya mengadakan rapat dan akhirnya diambil keputusan untuk mengirim orang-orang pandai untuk melakukan penyelidikan dan kalau perlu menggagalkan usaha pemerintah kerajaan baru itu dengan menimbulkan pengacauan atau menyulut api pemberontakan di mana-mana.

Rapat penting itu diadakan oleh Kaisar Thai Wu di dalam ruangan rahasia dalam istananya. Kaisar Thai Wu sendiri, seorang pria berusia empat puluh lima tahun yang bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah, dengan mata yang lebar tajam dan suaranya yang tegas keras, memimpin rapat itu. Di sebelah kanannya duduk seorang kakek yang usianyan sekitar enam puluh lima tahun bertubuh tinggi kurus dan mukanya pucat, kelihatan lemah dan loyo, akan tetapi sesungguhnya, dialah yang merupakan Kok-su (Guru Negara), penasihat dan juga guru dari kaisar sendiri. Kakek ini disebut Thian-te Seng-jin, seorang tosu (pendeta agama To) yang terkenal sebagai seorang yang sakti, pandai ilmu silat dan ilmu sihir. Selain beberapa orang panglima besar yang hadir, terdapat pula tiga orang yang berpakaian preman. Mereka adalah murid-murid Thian-te Seng-jin, sehingga mereka itupun menjadi saudara-saudara seperguruan kaisar sendiri yang telah mendapatkan kepercayaan penuh membantu kaisar dalam pemerintahannya. Tiga orang tokoh yang demikian sombongnya sehingga berani menggunakan julukan Bu-tek Sam-kwi (Tiga Setan Tanpa Tanding)! Orang pertama berjuluk Pek-thian-kwi (Setan Dunia Utara) bertubuh gendut dan bundar, berusia lima puluh tahun. Yang ke dua berjuluk Huang-ho-kwi (Setan Sungai Kuning) bertubuh tinggi kurus dan matanya sipit, adapun orang ke tiga yang wajahnya tampan gagah dan pesolek berjuluk Toat-beng-kwi (Setan Pencabut Nyawa)!

Mereka sebagai suheng dan su-te dari kaisar, mendapat kepercayaan penuh dan dalam rapat ini, Kaisar memberi tugas kepada mereka bertiga untuk melawat ke selatan dan membawa anak buah pilihan mereka untuk mengguncang kerajaan Chi tanpa melalui perang, melainkan melalui pengrusakan dan pengacauan.

Bu-tek Sam-kwi segera memilih anak buah mereka yang terdiri dari orang-orang yang tangguh, mengumpulkan seratus orang dan membentuk kesatuan baru yang mereka namakan Thian-te-kwi pang (Perkumpulan Setan Bumi Langit), nama yang dipakai untuk menghormati guru mereka, yaitu Thian-te Seng-jin. Bagaikan segerombolan iblis yang menyeramkan, seratus orang ini bersama tiga orang pemimpin mereka, melakukan perjalanan, menyusup ke selatan secara berpencar.

Gerakan yang dilakukan kerajaan Wei itu amat dirahasiakan, bahkan penyusupan itupun dilakukan secara berpencar, maka tak seorang pun di kerajaan Chi mengetahui atau menduganya. Keadaan di kota raja Nan-king tenang-tenang dan tenteram saja, tidak ada yang menduga bahwa saat itu, sekawanan manusia iblis menyusup dan membawa tugas yang akan menghancurkan atau setidaknya mengacaukan ketenangan hidup mereka.

Pagi itu memang udara cerah. Musim semi telah lewat dua bulan dan tumbuh-tumbuhan sedang segar segarnya, sehingga waktu yang amat indah itu dipergunakan banyak orang untuk menghibur diri sambil menikmati keindahan bumi yang dipenuhi tumbuh-tumbuhan yang segar. Di dalam sebuah hutan, di luar kota raja Nan-king, nampak dua orang wanita sedang berburu binatang dengan anak panah mereka. Keduanya menunggang kuda yang besar gagah, dan keduanya nampak cantik sekali. Dari pakaian mereka, dapat diduga bahwa mereka berdua adalah wanita-wanita bangsawan, akan tetapi bukan puteri-puteri yang lembut dan lemah karena pakaian mereka ringkas, seperti yang biasa dipakai oleh para pengawal wanita dari istana kaisar. Dan memang sebenarnyalah. Wanita berusia lima puluhan tahun yang masih cantik manis seperti berusia tiga puluh tahun saja itu adalah Bi Moli Kwan Hwe Li yang kini menjadi guru yang mengajarkan silat kepada para perwira pasukan kerajaan, sedangkan yang muda, berusia dua puluh tiga tahun dan cantik manis, adalah Cia Ling Ay, murid Bi Moli, yang kini bekerja di istana sebagai pengawal pribadi permaisuri dan juga mengajarkan silat kepada para puteri istana dan para pengawal wanita.

Hari itu mereka mendapat perkenan dari istana untuk berlibur dan memburu binatang. Guru dan murid ini, yang telah memperoleh kedudukan lumayan, merasa gembira bukan main. Bi Moli Kwan Hwe Li telah merobohkan seekor kijang dengan panahnya, sedangkan muridnya, Cia Ling Ay, telah merobohkan dua ekor kelinci. Mereka manggantungkan tiga hasil buruan mereka itu di sebatang pohon besar di tepi hutan, akan mereka ambil nanti kalau mereka sudah selesai berburu.

Akan tetapi, sudah setengah jam mereka menyusup-nyusup ke dalam hutan dengan kuda mereka, mereka tidak lagi milihat binatang buruan. Ling Ay yang merasa perutnya lapar karena mereka tadi berangkat pagi sekali dan ia belum makan apa-apa, teringat akan dua ekor kelinci hasil buruannya dan seekor kijang hasil buruan gurunya.

“Subo, sebaiknya kita sudahi saja perburuan ini. Perut teecu (murid) lapar sekali dan sebaiknya daging kelinci dan kijang itu dipanggang selagi masih segar.”

Bi Moli tersenyum. “Aihh, begitu kau bicara tentang panggang daging, perutku mendadak saja bernyanyi dan menagih!” katanya dan kedua orang wanita itu lalu membalikkan kuda mereka keluar dari dalam hutan, menuju ke pohon besar di mana tadi mereka menyimpan hasil buruan mereka agar tidak dimakan binatang hutan yang lain.

Ketika mereka tiba di tempat itu, mereka melihat ada tiga orang laki-laki sedang berdiri dan mengangkat muka, memandang ke arah dua ekor kelinci dan seekor kijang yang tergantung di antara ranting pohon, menuding-nuding dan membicarakannya. Mendengar kaki kuda tiga orang itu memandang dan mereka terbelalak heran melihat bahwa penunggang dua ekor kuda itu adalah dua orang wanita cantik. Di lain pihak, Bi Moli dan Ling Ay juga mengamati tiga orang itu dengan pandang mata penuh selidik. Mereka bertiga itu berpakaian ringkas seperti pemburu dan kehadiran mereka di hutan menunjukkan bahwa tentu mereka itu juga pemburu-pemburu yang hendak memburu binatang. Di punggung merekapun terdapat gendewa dan anak panah.

Setelah meloncat turun dari atas punggung kuda dan membiarkan kuda mereka makan rumput, dua orang yarita itu menghampiri tiga orang, dan Bi Moli langsung bertanya. “Sobat-sobat, apa yang kalian tonton?”

Tiga orang itu bersikap sopan dan mereka memberi hormat kepada Bi Moli dan Ling Ay-”Maaf, toanio. Kami adalah tiga orang pemburu yang hendak mencoba peruntungan berburu di hutan ini. Kami biasanya berburu di sebelah selatan, akan tetapi di daerah selatan sudah terdpat terlalu banyak pemburu sehingga hasil buruan hutan amatlah kurangnya. Kami ingin mencoba peruntungan di hutan ini dan kami merasa heran melihat dua ekor kelinci dan seekor kijang di atas itu. Siapakah yang menyimpan buruan itu di sana,” tanya di antara mereka yang mukanya brewokan, suaranya lantang namun sikapnya tegas dan sopan. Mereka memandang ke arah gendewa dan anak panah Bi Moli.

“Itu milik kami, hasil buruan kami.” kata Bi Moli. “Kami akan mengambilnya sekarang dan akan memanggang dagingnya karena kami sudah merasa lapar sekali. Ling Ay, ambillah kelinci dan kijang itu!”

“Baik, subo.” kata Ling Ay dan sekali mengenjotkan kakinya, tubuh gadis itu sudah melayang naik ke atas dan hinggap di cabang pohon, lalu mengambil bangkai kijang dan dua ekor kelinci itu, dan meloncat turun dengan gerakan yang ringan dan gesit.

Tiga orang itu saling pandang dan seorang di antara mereka yang mukanya licin halus seperti wajah perempuan, memuji, “Kepandaian nona sungguh hebat sekali. Kami kagum dan taluk.”

Orang ke tiga, yang pendek gemuk, tersenyum. “Pantas saja ji-wi sepagi ini telah merobohkan tiga ekor binatang buruan yang gemuk dan lezat dagingnya, sedangkan kami bertiga belum mendapatkan apa-apa sejak pagi, kiranya ji-wi adalah dua orang pemburu yang gagah perkasa dan berilmu tinggi!”

“Baru sekarang kami bertiga bertemu dengan dua orang wanita pemburu yang luar biasa!” kata pula si brewok. Melihat betapa tiga orang itu memuji-muji tiada hentinya, Ling Ay mengerutkan alisnya. Ia tidak senang mendengar rayuan pria, hal yang dianggapnya palsu, maka ia ingin menghentikan rayuan mereka dan berkata dengan suara yang agak ketus.

“Kami bukanlah wanita pemburu! Kami hanya iseng-iseng dan kami tidak ingin berkenalan dengan para pemburu.”

Akan tetapi, ucapan yang agak ketus ini tidak membuat mereka mundur, bahkan si muka halus berseru heran, “Aih, bukan pemburu? Kalau begitu, lebih mengagumkan lagi! Ji-wi tentulah wanita-wanita kang-ouw yang bernama besar dan berilmu tinggi!”

Ling Ay semakin tak senang. Diberi tanda untuk menghentikan percakapan, malah menjadi-jadi! Untuk membuat mereka jerih dan mundur, ia lalu berkata, “Kami adalah perwira-perwira pengawal istana! Harap kalian tidak mengganggu kami lebih lama lagi, kami sibuk hendak memanggang daging!”

Bi Moli tersenyum saja melihat ulah muridnya yang tidak suka diganggu itu, dan iapun memilih batu yang bersih lalu duduk di atasnya. Tiga orang pria itu saling pandang, dan nampak mereka terkejut mendengar bahwa mereka berhadapan dengan dua orang perwira wanita dari pasukan pengawal istana!

Kemudian, si brewok yang usianya sekitar empat puluh tahun dan agaknya menjadi pimpinan dari tiga orang itu, segera mengangkat kedua tangan ke depan dada, diikuti dua orang kawannya. “Ah, mohon ji-wi sudi memberi maaf kepada kami yang lancang berani mengganggu ji-wi. Akan tetapi, karena jiwi bukanlah pemburu, tentu kurang pengalaman, dan kurang perlengkapan untuk memanggang daging binatang buruan. Kami membawa bekal bumbu yang lengkap dan kami sudah terbiasa membuat daging binatang hutan menjadi hidangan lezat. Kalau ji-wi suka kami akan membantu ji-wi, menguliti hasil buruan itu, memberi bumbu dan memanggang dagingnya, dan ji-wi tinggal menikmatinya saja.”

Bi Moli sekarang memandang kepada si brewok dan bibir yang selalu dihias senyum itu kini melebar, matanya mencorong. “Kalian bertiga adalah pemburu-pemburu yang sama sekali tidak kami kenal. Mengapa kalian bersikap baik dan manis kepada kami?”

Si brewok itu juga tersenyum. “Toanio tentu mencurigai kami dan ingin mengetahui pamrih dari kami? Memang ada pamrihnya. Pertama, kami juga sudah lapar, sejak malam tadi tidak makan apapun, dan kedua, tidak mungkin ji-wi dapat menghabiskan semua daging ini, maka selain mengharapkan dapat ikut makan, kamipun mengharapkan mendapat sisa daging untuk kami jadikan dendeng dan kami bawa pulang.”

Kini Bi Moli dan Ling Ay saling pandang, lalu tertawa. Bagaimanapun juga, menguliti dan memanggang daging di tempat itu tanpa perlengkapan memang bukan merupakan pekerjaan mudah. Daging itu tidak akan enak kalau hanya dipanggang dan diberi garam saja, satu-satunya bumbu yang mereka bawa sebagai bekal dari rumah tadi.

“Baiklah, kami memang tidak suka ditolong orang tanpa imbalan. Nah, kalian panggangkan daging-daging itu dan semua sisanya boleh kalian ambil.” kata Ling Ay. Iapun mencari tempat yang bersih untuk duduk, tak jauh dari gurunya. Mereka hanya duduk dan melihat kesibukan tiga orang itu. Mereka itu menguliti kijang dan dua ekor kelinci, membuang isi perutnya, membuat api, mengeluarkan bumbu yang lengkap, dan ada yang mencari air dengan panci yang memang sudah mereka bawa sebagai perlengkapan. Mereka dapat bekerja cepat dan nampak jelas bahwa ke tiga orang itu memang sudah terbiasa menyiapkan makanan dalam hutan.

Sambil memanggang daging yang mengeluarkan aroma sedap karena diberi bumbu yang lengkap, tiga orang itu tiada hentinya menceritakan keadaan mereka sebagai pemburu-pemburu yang miskin dan tinggal jauh di dusun yang terletak di pegunungan sebelah barat Nan-king. Mereka juga memuji-muji pemerintahan dari kerajaan Chi, dan seperti sambil lalu mereka juga menanyakan kedudukan dua orang wanita itu di dalam istana kaisar. Karena sikap mereka yang biasa ramah dan tidak mencurigakan, Ling Ay menceritakan dengan sejujurnya bahwa baru beberapa bulan saja gurunya bekerja menjadi pelatih silat di istana, dan ia sendiri menjadi seorang perwira pengawal permaisuri.

Setelah panggang daging itu matang, tiga orang pemburu menghidangkan bagian-bagian yang paling lunak dan lezat kepada Ling Ay dan gurunya, dan merekapun mengeluarkan seguci besar anggur yang baunya harum sekali. Tentu saja guru dan murid itu menjadi gembira, dan mereka tidak menolak ketika disuguhi anggur di dalam cawan-cawan bersih yang memang sudah dipersiapkan tiga orang pemburu itu. Bi Moli sendiri tidak menaruh curiga karena tiga orang itu pun minum anggur dari guci yang sama. Kalau anggur itu diberi racun, tentu tiga orang itu akan roboh lebih dahulu karena mereka yang lebih dulu minum.

Tiga orang itu tidak membual. Panggang daging itu sungguh lezat sekali. Lunak dan ada rasa bumbu asing yang aneh, namun yang membuat daging itu sedap. Guru dan murid itu makan sampai kenyang dan mereka masing-masing menghabiskan tiga cawan anggur.

“Hemm, kalian memang pandai sekali memasak,” kata Bi Moli dengan senang dan ia menyusut bibirnya dengan saputangan. “Semua sisa dagingnya boleh kalian ambil, kami tidak memerlukan lagi. Ling Ay, mari kita kembali, matahari sudah naik tinggi.”

“Baik, subo,” kata Ling Ay sambil bangkit berdiri dan menghampiri dua ekor kuda mereka yang masih makan rumput. Akan tetapi, tiba-tiba pandang matanya berkunang dan sekelilingnya seperti berputar. Ling Ay mengeluh dan menggunakan tangan untuk memegang kepalanya, namun ia terhuyung. Ia masih sampat melihat betapa subonya meloncat berdiri dan gurunya itu membuat gerakan untuk menyerang tiga orang pemburu tadi, akan tetapi gurunya mengeluh dan terguling roboh. Ling Ay tak dapat menahan kemarahannya karena ia dapat menduga bahwa ia dan gurunya telah keracunan.

“Kalian …!” Ia melompat untuk menyerang, namun iapun terguling karena pening dan roboh di dekat gurunya. Ia masih sempat melihat munculnya belasan orang yang berpakaian serba hitam di tempat itu, lalu semua menjadi gelap dan ia tidak ingat apa-apalagi.

Bi Moli Kwan Hwe Li adalah seorang datuk yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan pengalaman luas. Kalau tadi ia sampai terkecoh dan minum anggur yang sudah dicampuri obat bius adalah karena ia menaruh kepercayaan melihat tiga orang pemburu itu juga minum anggur dari guci yang sama. Tentu saja ia tidak menduga bahwa tiga orang itu mempersiapkan segalanya, dan sebelum minum anggur, sudah lebih dahulu minum obat penawar racun atau pembius itu sehingga mereka tidak terpengaruh.

Begitu ia bangkit dan merasa pening, ia pun maklum bahwa ia dan muridnya keracunan, maka ia hendak menyerang tiga orang itu. Akan tetapi, ia segera teringat bahwa gerakan yang mengerahkan sin-kang akan membuat racun di dalam perutnya bekerja lebih cepat, maka iapun sengaja membuat dirinya terpelanting roboh. Diam-diam ia mengerahkan tenaga sakti dalam perutnya, dan menggunakan telunjuknya untuk dimasukkan ke dalam mulut, menyentuh kerongkongannya. Seketika ia muntah-muntah, dan dengan penambahan dorongan tenaga sin-kang, maka tenaga muntahan itu menjadi senakin kuat dan semua yang berada di dalam pencernaannya tertuang keluar melalui mulutnya! Juga anggur yang mengandung obat pembius itu.

Yang tinggal di dalam perutnya hanya sedikit dan yang sedikit itu tidak lagi mempengaruhi tubuhnya yang sudah terlatih dan kuat.

Ia melihat betapa muncul belasan oraag yang berpakaian hitam-hitam maka iapun menanti sampai mereka bergerak mendekatinya. Tiba-tiba ia meloncat dan mengeluarkan suara melengking panjang, membuat belasan orang berpakaian hitam-hitam dan tiga orang pemburu tadi terkejut setengah mati karena di dalam lengkingan itu terkandung getaran yang membuat mereka semua tergetar seperti lumpuh!

Agaknya, belasan orang itu bukan orang-orang sembarangan. Terdengar seruan seorang di antara mereka, “Sumbat telinga dan tangkap ia! Ia menggunakan tenaga sihir!”

Belasan orang itu menggunakan alat kecil penyumbat telinga, agaknya mereka memang sudah mempersiapkan segala kemungkinan, dan kini mengepung Bi Moli Kwan Hwe Li dan dari gerakan dan sikap mereka, datuk wanita ini maklum bahwa mereka bukanlah orang-orang lemah. Melihat ia dikepung belasan orang laki-laki yang berpakaian serba hitam, Bi Moli Kwan Hwe Li segera menggerakkan pedangnya. Ia tidak merasa perlu untuk bicara lagi karena mereka semua telah menyumbat telinga mereka sehingga mereka tidak akan mendengar apa yang ia katakan. Dengan marah ia memutar pedangnya dan para pengepungnya terkejut sekali melihat gulungan sinar pedang yang menyelimuti tubuh wanita cantik itu. Mereka memperlebar kepungan dan mengeroyok dari sekelilingnya sehingga Bi Moli terpaksa harus melindungi tubuhnya dari gulungan sinar pedang, tanpa mendapat banyak kesempatan untuk menyerang. Ternyata bahwa belasan orang itu rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tangguh.

Ketika seorang di antara mereka memberi isarat dengan mengeluarkan sebuah benda seperti gulungan kain, yang lain juga segera mengeluarkan benda yang sama. Tiba-tiba, seorang yang berdiri di belakangnya menggerakkan benda itu ke atas dan benda itu ternyata sehelai jaring hitam yang menyambar dan menubruk ke arah Bi Moli. Wanita ini cepat mengelak ke samping dan biarpun ia dapat menghindarkan diri dari terkaman jaring itu, ia disambut sambaran jaring lain. Ia mengelak dan menggerakkan pedang untuk menangkis, akan tetapi akhirnya, sehelai jaring menerkamnya dari belakang atas. Bi Moli mengerahkan tenaga menggerakkan pedangnya. Ternyata jaring itu terbuat dari bahan yang kuat dan ulet, yang tidak menjadi putus oleh sabetan pedangnya. Ketika Bi Moli bagaikan seekor ikan terjaring, menggerakkan tenaga meronta-ronta dan tangan kirinya yang menangkap jaring itu berhasil merenggut putus beberapa helai tali jaring, jaring kedua sudah menerkam di atas jaring pertama!

Bi Moli terkejut, maklum bahwa kalau banyak jaring menimpanya, ia tidak akan mampu lolos lagi. Akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara mengaung-ngaung dan dua orang pengeroyok terpelanting dan jaring-jaring itu ditarik kembali, hanya tinggal dua helai yang masih menyelimuti dirinya. Akan tetapi karena dua orang pemegang tali jaring itu diserang oleh seorang pemuda yang memegang sebatang pedang sehingga mereka terdesak mundur dan dengan mudah Bi Moli lalu meronta melepaskan diri dari dua helai jaring itu.

Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh delapan tahun, bertubuh tinggi besar dan gagah. Dari pakaiannya yang ringkas saja dapat diduga bahwa dia seorang pemuda kang-ouw yang perkasa. Pedang di tangannya diputar membentuk sinar bergulung-gulung yang mengeluarkan bunyi mengaung-ngaung. Melihat ini, Bi Moli menjadi gembira dan cepat iapun memutar pedangnya menerjang para pengeroyok.

Agaknya para pengepung maklum bahwa pemuda itu seorang yang lihai. Apalagi dua orang di antara mereka telah roboh oleh pedang di tangan pemuda itu. Mereka mengangkat dua orang kawan mereka yang terluka. dan melarikan diri menghilang ke dalam hutan.

Bi Moli tidak mengejar, dan pemuda itupun tidak melakukan pengejaran. Mereka berdiri saling berhadapan dan berpandangan dengan penuh selidik. Bi Moli tersenyum, memandang kagum karena pemuda itu memang gagah perkasa dan tampan.

“Aih, kalau aku tidak salah duga, bukankah engkau ini putera atau murid dari Bu-eng-kiam Ouwyang sek, majikan Lembah Bukit Siluman?”

Pemuda itu memberi hormat. Dia memang benar Ouwyang Toan, putera tunggal Bu-eng-kim (Pedang Tanpa Bayangan) Ouwyang Sek. Dia meninggalkan Lembah Bukit Siluman dalam perjalanannya mencari Tiauw Hui Hong, murid atau anak tiri ayahnya yang pergi meninggalkan lembah untuk mencari ayah kandungnya. Ouwyang Toan ini jatuh cinta kepada adik seperguruan atau adik tirinya sendiri dan dia bertekad untuk memperisteri Hui Hong. Dalam perjalanannya nenuju ke kota raja Nan-king dalam usaha mencari Hui Hong, dia melihat betapa Bi Moli dikeroyok oleh belasan orang, maka diapun segera memberi bantuan. Dia tidak mengenal wanita itu, akan tetapi melihat seorang wanita dikeroyok belasan orang pria dan keadaannya terancam, tentu dia tidak dapat membiarkannya begitu saja. Apalagi wanita itu demikian cantiknya, dan ada seorang nona cantik lain rebah pingsan di atas rumput.

“Toanio (nyonya) sungguh lihai dan bermata tajam, memang benar dugaan toanio, aku bernama Ouwyang Toan dan ayahku adalah Bu-eng-kiam Ouwyang Sek. Ayahku pernah bercerita tentang seorang datuk wanita yang lihai dan selalu nampak cantik dan muda, juga ia seorang ahli sihir. Tadi toanio menggunakan kekuatan sihir, apakah toanio yang bernama Bi Moli Kwan Hwe Li?”

Bi Moli tertawa girang. “Aih, engkau sungguh mengagumkan, tidak mengecewakan menjadi putera Bu-eng-kiam! Engkau gagah perkasa, tampan dan cerdik.”

“Bibi Kwan terlalu memuji,” kata Ouwyang Toan merendah, kini tanpa ragu lagi menyebut bibi karena ayahnya mengatakan bahwa ayahnya mengenal baik wanita yang dianggap setingkat dan segolongan dengan ayahnya itu. “Akan tetapi, siapakah nona yang masih tak sadar itu, bibi?”

“Aih, aku sampai lupa! Ia adalah muridku dan tadi kami tertipu oleh tiga orang pemburu yang mencampurkan racun pembius dalam anggur yang mereka suguhkan.” Bi Moli menghampiri muridnya yang masih rebah terlentang dalam keadaan pingsan, diikuti oleh Ouwyang Toan yang diam-diam memandang kagum kepada wanita muda yang cantik itu.

“Bibi, aku mempunyai obat penawar segala macam racun. Kalau boleh, biarkan aku yang menyadarkannya,” kata Ouwyang Toan. Bi Moli memandang wajah pemuda itu dan mengangguk sambil tersenyum! Sebagai seorang wanita berpengalaman, ia tahu bahwa pemuda putera datuk dari Lembah Bukit Siluman ini tertarik kepada muridnya. Mengapa tidak, pikirnya! Kalau muridnya dapat menjadi mantu Ouwyang Sek, berarti ia mempunyai sekutu yang amat kuat.

Setelah mendapatkan persetujuan Bi Moli Ouwyang Toan dengan girang lalu berlutut di dekat tubuh yang terlentang itu. Jantungnya berdebar keras karena dengan berlutut di dekat tubuh itu, dia dapat melihat dengan jelas bentuk tubuh yang ramping padat itu, wajah yang cantik manis. Dia bukan seorang yang ber watak mata keranjang, akan tetapi Ling Ay memang memiliki kecantikan yang mampu menarik hati pria yang pendiam sekalipun!

Ouwyang Toan mengambil dua butir pel merah dari sebuah bungkusan, lalu menghancurkan dua butir pel itu ke dalam secawan arak. Setelah itu, dia menotok jalan darah di kedua pundak dan tengkuk Ling Ay. Gadis itu belum siuman, akan tetapi sudah mengeluh dan dapat bergerak tanpa membuka mata karena masih dipengaruhi racun pembius. Karena ia sudah mampu bergerak, Ouwyang Toan merangkulnya dengan lengan kiri, membantunya bangkit duduk, lalu memaksanya minum obat penawar racun dari cawan. Biarpun tidak mudah, namun setelah Ouwyang Toan meniup ke hidung Ling Ay, wanita ini gelagapan dan terpaksa dapat menelan semua isi cawan. Ouwyang Toan merebahkannya kembali dan dengan jari-jari tangan penuh gairah, dia memijit-mijit pundak dan tengkuk Ling Ay, merasa betapa lembut kulit itu, betapa hangat dan berisi.

Tak lama kemudian, Ling Ay mengeluh dan membuka mata. Begitu melihat ada seorang laki-laki berlutut di dekatnya dan laki-laki itu meraba-raba dan memijit-mijit tengkuk dan pundaknya, ia mengeluarkan seruan nyaring dan sambil meloncat berdiri, ia mengirim pukulan ke arah muka laki-laki itu, “Wuuuuttt … plakkk!” Ouwyang Toan menangkis tamparan yang amat kuat itu dan diapun melompat berdiri.

Ling Ay sudah siap untuk melanjutkan serangannya, akan tetapi gurunya segera melangkah maju dan menangkap lengannya.

“Tenanglah, Ling Ay dan jangan salah mengerti. Pemuda ini tidak berniat buruk, bahkan dia yang telah mengobatimu dan menyadarkanmu dari pengaruh racun pembius.” kata Bi Moli kepada muridnya. Mendengar ini, Ling Ay terkejut dan mundur dua langkah, memandang kepada pemuda itu dan kedua pipinya berubah kemerahan.

“Ahhh … maafkan aku … ” katanya gagap dan malu telah menyerang orang tanpa bertanya dulu sehingga hampir ia memukul penolongnya!

“Tidak mengapa, nona. “kata Ouwang Toan.

“Ling Ay, dia adalah Ouwyang Toan, putera dari Bu-eng kiam Ouwyang Sek. Kalau dia tidak datang, tentu akupun tadi akan terancam bahaya dari tangan orang-orang berpakaian hitam itu. Ouwyang Toan, kenalkan, muridku ini bernama Cia Ling Ay.”

Ling Ay yang menyadari kesalahannya tadi, segera memberi hormat dan berkata dengan suara lembut dan ramah, “Terima kasih atas bantuan Ouwyang Tai-hiap.”

Ouwyang Toan tersenyum. “Ahhh, harap nona jangan menyebutku taihiap (pendekar besar)!”

Bi Moli tertawa. “Engkau sendiri menyebut Ling Ay nona. Ketahuilah, ia bukan nona, melainkan nyonya muda, ia sudah janda tanpa anak … “

“Subo … ” kata Ling Ay dan mukanya berubah kemerahan. Ia menganggap memalukan untuk memperkenalkan dirinya sebagai seorang janda muda tanpa anak.

“Aihh, Ling Ay. Ouwyang Toan ini adalah putera Bu-eng-kiam Ouwyang Sek yang kuanggap sebagai segolongan dan sahabat sendiri, maka diapun dapat kita anggap orang serdiri. Engkau tidak perlu sungkan dan sebut saja dia toako, dan engkau menyebut siauw-moi kepada Ling Ay, Ouwyang Toan.”

Kedua orang muda itu kembali saling pandang dan dengan sikap malu-malu karena mata pemuda itu menjelajahi seluruh tubuhnya, Ling Ay berkata, “Ouwyang toako!”

“Cia-moi, di antara kita memang tidak perlu sungkan seperti apa yang dikatakan bibi Kwan.”

“Kulihat Bibi Kwan dan Adik Ling Ay berpakaian seperti perwira kerajaan. Benarkah dugaanku ini?”

“Tidak salah, Ouwyang Toan. Aku bekerja di istana sebagai guru silat yang melatih para perwira dan para puteri, sedangkan Ling Ay bekerja sebagai perwira pasukan pengawal permaisuri.”

“Ah, kiranya bibi dan adik telah menjadi orang-orang penting di istana! Sungguh mengagumkan sekali!”

“Tidak perlu memuji, Ouwyang Toan. Kami hanya perwira-perwira kecil. Akan tetapi engkau sendiri, hendak ke manakah dan bagaimana dengan keadaan ayahmu di Lembah Bukit Siluman?”

“Terima kasih, bibi. Ayah baik-baik saja. Dan aku sendiri sedang mencari … adikku yang pergi dari rumah.”

“Siapakah adikmu itu? Dan, kalau tidak salah, Bu-eng kiam mempunyai seorang anak perempuan. itukah yang kaumaksudkan? Siapalagi namanya, aku sudah lupa.”

“Benar, bibi. Namanya Hui Hong … eh, ada apakah, adik Ling Ay? Kenalkah engkau dengan adikku, atau apakah engkau melihat ia di kota raja !”

Ling Ay menggeleng kepala. “Aku … rasanya aku pernah melihatnya dan mendengar namanya, yaitu kurang lebih empat tahun yang lalu … “

“Sebelum engkau menjadi muridku?” tanya gurunya.

Ling Ay sudah dapat menenangkan hatinya. ia ingat bahwa gadis bernama Hui Hong itu adalah gadis yang membuat hatinya merasa tidak enak dan cemburu karena gadis itu datang bersama Bun Houw dan mereka nampak demikian akrab, ia merasa tidak perlu bicara tentang itu dan iapun berkata tenang, “Akan tetapi, sejak empat tahun yang lalu, aku tidak pernah lagi melihatnya.”

“Mari ikut bersama kami, Ouwyang Toan. Kami akan membantu mencari keterangan. Kalau memang benar adikmu berada di kota raja, kami tentu akan dapat menemukannya. Kami harus cepat kembali ke kota raja untuk melaporkan tentang adanya gerombolan berpakaian hitam yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi itu. Mereka harus cepat dibasmi dan kami akan minta kepada panglima pasukan keamanan untuk menggerebek mereka di hutan ini.”

Ouwyang Toan merasa girang, bukan saja karena akan mendapat bantuan menemukan Hui Hong, melainkan juga karena dia akan berdekatan dengan Ling Ay yang cantik manis, dan juga Bi Moli yang biarpun usianya sudah setengah abad, masih nampak jelita itu. Mereka lalu berangkat ke Nan-king. Bi Moli berboncengan satu kuda dengan muridnya dan kuda yang seekor lagi diberikan kepada Ouwyang Toan …!”

Karena yang membawanya Bi Moli dan Ling Ay, tentu saja Ouwyang Toan tidak dilarang memasuki istana dan dia mendapatkan sebuah kamar dalam sebuah gedung di samping agak terpisah dari gedung induk, yaitu gedung yeng memang disediakan bagi para tamu istana. Bi Mo-li sendiri segera menghubungi panglima pasukan keamanan yang mengirim pasukan untuk menggerebek gerombolan berpakaian hitam yang tadi mengeroyok Bi Moli. Akan tetapi, pasukan itu tidak menemukan apa-apa. Pasukan itu tidak menemukan seorang pun anggauta gerombolan walaupun di tengah hutan didapatkan pondok-pondok darurat dan ada tanda-tanda bahwa baru saja banyak orang meninggalkan tempat itu.

Memenuhi janjinya, Bi Moli juga menyebar penyelidik untuk mencari seorang gadis bernama Ouwyang Hui Hong, namun sampai beberapa hari lamanya, pencarian mereka itu tidak berhasil menemukan gadis yang dicari. Sementara itu, Ouwyang Toan tinggal sebagai tamu terhormat di lingkungan istana, dan walaupun tempat itu dijaga para pengawal dan dia tidak dapat berkeliaran di dalam istana, namun di sekeliling gedung tamu itu terdapat taman yang luas dan indah sehingga membuat pemuda ini merasa betah tinggal di situ. Apalagi di waktu malam, seringkili Bi Moli dan Ling Ay datang berkunjung dan hubungan mereka telah akrab.

Karena sikap Ouwyang Toan memang baik terhadap dirinya, dan ia tahu bahwa pemuda itu seorang yang berkepandaian tinggi, maka ketika gurunya menyindirkan bahwa pemuda itu akan menjadi jodohnya yang baik, Ling Ay tersipu dan menundukkan mukanya yang berubah kemerahan.

“Ling Ay, pemuda itu seorang yang baik dan akan sukarlah mencari seorang calon suami yang melebihi dia. Dia lihai, tampan, gagah, putera seorang tokoh besar … “

“Subo! Subo tahu bahwa aku seorang janda, dan aku … aku hanya mencinta seorang … “

“Bodoh! Jangan engkau meniru sikap hidupku yang membuat aku merana sampai setua ini! Apa artinya mencinta seorang pria mati-matian, padahal pria itu sendiri tidak mencintamu? Engkau akan menderita! Aku sudah bersikap bodoh ketika muda. Sebetulnya tidak seharusnya aku bersikap seperti itu, mengharapkan seorang pria menjadi jodohku sampai aku harus mengorbankan diri, bersetia sampai puluhan tahun, pada hal pria itu tidak mau menjadi jodohku! Seharusnya kita menempuh dua jalan, pertama, kita harus menggunakan segala daya upaya untuk mendapatkan pria yang kita cinta itu, baik secara halus maupun kasar. Kalau itu gagal, kita mencari pria lain dan melupakan yang pertama! Nah, untuk apa engkau mengharapkan kekasih pertamamu itu. padahal dia tidak mencintamu lagi, bahkan engkau pernah menikah dengan orang lain? Sekarang ada Ouwyang Toan, dan kurasa dia tidak kalah dibandingkan dengan pria manapun.”

“Subo, dia serdiri belum tentu mau denganku. Aku hanya seorang janda, dan dia putera seorang datuk dan … “

“Aku yakin dia pasti mau memperisteri dirimu.”

“Bagaimana mungkin subo tahu?”

Bi Moli tersenyum. “Aku dapat melihat bahwa dia tertarik padamu, Ling Ay, baik dari pandang matanya dan sikapnya kalau bicara denganmu.”

“Aih, subo hanya menduga-duga saja.”

Demikianlah, sejak percakapan itu, Ling Ay semakin memperhatikan Ouwyang Toan bahkan kalau kini berhadapan dengan pemuda itu, ia merasa betapa jantungnya berdebar tegang dan ia merasa sungkan dan tersipu. Pada suatu sore, beberapa hari setelah Ouwyang Toan tinggal di lingkungan istana sebagai tamu, Ling Ay mencari gurunya. Ketika mendengar dari pelayan gurunya bahwa Bi Moli sejak tadi pergi, Ling Ay menduga bahwa tentu subonya pergi mengunjungi Ouwyang Toan, seperti yang dilakukannya setiap hari setiap kali ada kesempatan. Iapun pergi menyusul. Pada waktu itu, gedung tempat penginapan tamu itu kebetulan kosong dan hanya ada sedikit saja tamu yang menginap di situ. Kamar Ouwyang Toan berada di bagian belakang dan Ling Ay langsung saja menuju ke kamar pemuda itu. Para penjaga di depan gedung itu tentu saja mengenal Ling Ay, dan mereka memberi hormat ketika perwira pengawal wanita itu masuk.

Tentu saja Ling Ay tidak berani mengetuk kamar pemuda itu. Hal itu tidak sopan. Bahkan belum pernah ia datang berkunjung sendirian saja, selalu bersama subonya. Kinipun ia bukan bermaksud datang berkunjung, melainkan menyusul dan mencari subonya. Maka, iapun menghampiri kamar itu dengan langkah ringan dan tidak menimbulkan suara sedikitpun. Tiba tiba, ketika ia berada di luar jendela, ia menghentikan langkahnya. Ada suara percakapan berbisik-bisik keluar dari jendela itu dan ia mengenal suara subonya! Subonya berada di dalam kamar seorang diri saja bersama pemuda itu, dan mereka bicara berbisik-bisik, diselingi tawa lirih gurunya, tawa aneh karena terdengar genit! Iapun menahan napas dan mengerahkan seluruh kekuatan pendengarannya, menangkap percakapan bisik-bisik itu.

“Bibi, kita telah berjanji, kuharap kelak engkau tidak akan melanggar janjimu kepadaku,” terdengar suara Ouwyang Toan berbisik.

“Ihh, anak bandel! Kaukira Bi Moli tukang bohong? Akan tetapi kau juga harus selalu ingat. Biarpun Ling Ay telah menjadi milikmu, engkau harus tidak pernah menyia-nyiakan diriku. Kalau kelak engkau melupakan aku, maka aku pasti akan membunuh engkau dan Ling Ay!”

Tentu saja Ling Ay yang mendengarkan dari luar, seketika menjadi pucat wajahnya dan matanya terbelalak. Ingin ia meloncat dan pergi, akan tetapi kedua kakinya seperti lumpuh dan ia ingin mendengarkan lagi, ingin tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan, “Aku melupakanmu? Ah, engkau begini cantik, begini pandai menyenangkan hatiku, sampai matipun aku tidak akan melupakanmu, bibi yang manis. Akan tetapi kalau engkau melanggar janji, tidak mengusahakan agar ia menjadi milikku, aku akan meninggalkanmu dan mengadu kepada ayah dan kami akan memusuhimu.”

“Jangan khawatir, laki-laki ganteng. Aku tidak begitu pelit untuk membagi dirimu dengan muridku sendiri.”

“Akan tetapi, ia kelihatan begitu pendiam dan angkuh. Rasanya aku tidak akan sanggup untuk berhasil merayu dan memikatnya, bibi. Aku tidak pandai merayu.”

“Apa sih sukarnya? Aku dapat mempergunakan kekuatan sihirku untuk menundukkannya.”

“Dan aku mempunyai obat pembius dan racun perangsang untuk membantu kalau-kalau kekuatan sihirmu kurang berhasil.” Lalu terdengar kedua orang itu cekikikan menahan tawa. Ling Ay bergidik. Ingin ia menjerit dan memaki, wajahnya sebentar merah sebentar pucat dan ia lalu memaksa diri untuk berlari meninggalkan tempat itu, menuju ke kamarnya, mengambil pakaian dan sore hari itu juga meninggalkan istana. Ketika ia berlari, karena ia marah sekali. ia kurang hati-hati dan kakinya menimbulkan suara yang tentu saja mengejutkan dua orang yang, sedang berbuat mesum di dalam kamar itu.

Ling Ay mendengar suaranya dipanggil, akan tetapi ia tidak perduli dan setelah berhasil membawa buntalan pakaian, iapun keluar dari dalam istana, terus menuju ke pintu gerbang kota raja untuk melarikan diri. Ia tidak akan sanggup melawan gurunya dan Ouwyang Toan, dan kalau ia tidak melarikan diri. tentu ia akan menjadi korban niat yang hina dan kotor dari kedua orang itu. Lebih baik ia mati dari pada menyerah kepada mereka!

Setelah keluar dari pintu gerbang bagian barat kota raja, Ling Ay terus melarikan diri secepatnya menuju ke barat, ke arah sungai Yang-ce-kiang karena ia bermaksud melarikan diri dengan menyewa perahu agar tidak mudah dapat dikejar dan ditangkap gurunya yang pasti akan melakukan pengejaran.

Matahari telah condong ke barat ketika akhirnya ia tiba di tepi sungai Yang-ce. Tempat itu sunyi sekali, tidak nampak ada tukang perahu, bahkan tidak ada perahu di sungai yang dekat, semua yang nampak adalah perahu-perahu nelayan yang jauh dari tepi itu. Akan tetapi tiba-tiba meluncur sebuah perahu yang ditumpangi seorang laki-laki yang muka dan kepalanya tertutup sebuah caping lebar. Perahu itu berhenti di sebuah belokan yang teduh dan laki-laki itu melempar kailnya.

Pada saat itu terdengar suara gurunya memanggilnya! Gurunya belum nampak, akan tetapi suaranya sudah sampai di situ, tanda bahwa gurunya berteriak dengan kekuatan khi kang. Wajah Ling Ay menjadi pucat. Kalau sampai ia terlihat gurunya, tidak akan ada harapan lagi!

“Paman tukang perahu …!” teriaknya ke arah tukang perahu yang bercaping lebar dan sedang memancing ikan itu. “Tolonglah aku, tukang perahu! Tolong seberangkan aku ke sana … cepat, tolonglah aku …!!”

Akan tetapi, tukang perahu yang sedang memancing ikan itu agaknya tidak mendengarnya, atau memang tidak perduli atau mungkin juga dia bukan tukang perahu yang suka menyeberangkan orang melainkan seorang yang mempunyai kesenangan mengail.

“Tukang perahu …!” Ling Ay berteriak lagi, akan tetapi terlambat. Tukang perahu itu tidak bergerak, dan tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan subonya Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan telah berdiri di depannya! Pemuda itu tersenyum mengejek, dan Bi Moli memandang dengan mata mencorong marah.

“Ling Ay, apa yang kaulakukan ini? Engkau minggat, pergi meninggalkan istana tanpa pamit? Apa yang kau kehendaki?” tanya Bi Moli dengan nada suara marah … .

Ling Ay terkenang apa yang didengarnya dalam kamar tadi, maka ia bergidik. “Subo biarkan aku pergi, aku tidak akan mengganggu kalian, akan tetapi harap kalian juga jangan menggangguku.” kata Ling Ay, suaranya gemetar.

“Ling Ay, gilakah engkau? Kenapa engkau hendak meninggalkan aku? Hayo kembali bersamaku!”

“Tidak, subo, aku tidak mau kembali. Harap subo jangan memaksaku untuk menjadi permainan Ouwyang Toan!”

“Kau … ?”

“Subo, aku sudah mendengar semua. Kalian hendak memaksaku, Ouwyang Toan hendak menggunakan racun pembius dan perangsang, subo sendiri hendak mempengaruhi aku dengan sihir. Tidak, lebih baik aku mati dari pada menuruti kemauan kalian yang kotor dan hina!” Kini Ling Ay marah, teringat betapa subonya, orang yang selama ini dihormati dan disayangnya, ternyata telah berubah menjadi iblis betina yang akan menjerumuskan murid sendiri, ia merasa heran mengapa subonya yang berdarah bangsawan dan biasanya angkuh itu, bahkan yang selama ini setia mempertahankan cintanya kepada Tiauw Sun Ong, telah berubah seperti itu!

“Ling Ay, engkau berani mengintai dan mendengar percakapan kami? Sungguh engkau murid durhaka!” bentak Bi Moli, marah sekali karena merasa malu membayangkan betapa muridnya telah mengetahui semua rahasianya dengan Ouwyang Toan.

Melihat kemarahan Bi Moli, Ouwyanng Toan berkata, “Bibi, kiranya tidak perlu ribut-ribut di sini. Kita tangkap saja dan membawanya kembali ke istana. Biar kutangkap ia untukmu, bibi.” Setelah berkata demikian, Ouwyang Toan sudah menerjang ke depan, kedua lengannya dikembangkan, bagaikan seekor biruang yang hendak menangkap kelinci.

Dengan marah Ling Ay mengelak dengan loncatan ke samping dan menggerakkan kakinya menendang ke arah pusar pemuda itu. Tendangan itu cukup berbahaya, maka terpaksa Ouwyang Toan menghindarkan diri dari tendangan itu dengan elakan ke belakang. Bi Moli marah melihat muridnya melawan, maka iapun menerjang dari samping dan tangannya menyambar. Ling Ay berusaha mengelak, akan tetapi pundaknya terkena sentuhan jari tangan gurunya dan iapun terpelanting! Akan tetapi, kiranya gurunya hanya hendak menakut-nakutinya saja dan tidak melukainya maka iapun bangkit lagi, mukanya pucat saking marahnya.

“Singg …!!” Ling Ay mencabut pedangnya dan menghadapi kedua orang itu. “Subo, sudah kukatakan bahwa aku lebih baik mati dari pada harus kembali ke sana. Dan terpaksa aku akan melawan mati-matian mempertahankan kehormatanku!” Ia mengangkat pedangnya, melintang di depan dada!

“Tahan pedangnya, biar aku merobohkan dan menangkapnya!” kata Bi Moli kepada Ouwyang Toan.

“Bibi, jangan bunuh Ling Ay … ” kata Ouwyang Toan. “Aku terlalu sayang padanya!”

“Aku tidak akan membunuhnya, melukai pun tidak asal engkau dapat menahan pedangnya dan memberi kesempatan kepadaku untuk merobohkannya.”

Ouwyang Toan mencabut pedangnya dan, diapun menyerang dengan putaran pedangnya cepat sekali. Terpaksa Ling Ay menggerakkan pedang pula untuk membela diri. Ia berusaha untuk lebih banyak mengelak sambil memutar pedang karena maklum bahwa sedikit saja ada lowongan karena ia harus menghadapi pedang Ouwyang Toan, maka gurunya akan dengan mudah merobohkannya dengan totokan.

“Trangg …!” Kembali ia menangkis ketika pedang Ouwyang Toan membacok dari atas, akan tetapi alangkah kagetnya ketika pedangnya melekat pada pedang pemuda itu, tidak dapat dilepaskan kembali. Tentu saja ia dalam keadaan terbuka dan gurunya tentu akan mudah merobohkannya.

Bi Moli mergeluarkan suara tawa mengejek dan sudah bergerak ke depan, akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan dan sebuah caping menyambar sambil berputar seperti gasing, menyambar ke arah Bi Moli. Tentu saja iblis betina yang cantik ini terkejut bukan main dan ia sudah mengurungkan totokannya kepada muridnya, melainkan membalik dan menghantam ke arah caping yang menyambarnya dari samping itu.

“Prakkk !” Caping itu hancur berkeping-keping, akan tetapi Bi Moli merasa betapa tangannya perih, tanda bahwa caping itu dilontarkan dengan tenaga sin-kang yang kuat. Kini di depannya telah berdiri seorang pemuda. Usia pemuda itu sekitar dua puluh lima tahun, tubuhnya sedang saja, wajahnya tampan namun sederhana, tidak pesolek, bahkan pakaiannya juga bersahaja. Demikian pula sikapnya, nampak ramah namun wajar bahkan agak acuh. Ling Ay terkejut dan juga wajahnya berubah kemerahan. Kiranya ini adalah tukang perahu yang tidak menanggapi seruannya tadi, dan setelah tidak bercaping lagi, ia melihat wajah yang amat dikenalnya, wajah yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah meninggalkan lubuk hatinya. Kwa Bun Houw!

Memang pemuda itu adalah Kwa Bun Houw, pemuda yatim piatu yang menjadi murid Tiauw Sun Ong. Pemuda yang berbakat baik ini sudah mewarisi ilmu-ilmu dari Tiauw Sun Ong. akan tetapi kini tingkat ilmu kepandaiannya bahkan melebihi gurunya karena secara kebetulan dia telah makan Akar Bunga Gurun Pasir, obat mujijat yang pernah diperebutkan semua tokoh dunia persilatan. Obat mujijat itu yang membuat tubuhnya menjadi kuat sekali. Baru pengaruh daya obat luar biasa itu saja sudah mendatangkan kemajuan hebat dalam diri Bun Houw, apalagi secara kebetulan pula dia berhasil mempelajari dan menguasai ilmu langka yang disebut Im-yang Bu-tek Cin-keng. maka dia memperoleh kemajuan pesat sekali dalam ilmu silat. Kini Bun Houw sedang dalam perjalanan yang membawa dua macam tugas yang diberikan gurunya kepadanya. Pertama, dia mencari Tiauw Hui Hong, puteri gurunya yang tadinya menjadi anak yang diakui sebagai anak sendiri oleh Bu-eng-kiam Ouwyang Sek. Dia tidak tahu ke mana Hui Hong pergi, maka dapat dibayangkan betapa sukarnya mencari seorang gadis tanpa diketahui ke mana perginya. Adapun tugas kedua dari gurunya adalah agar dia mengamati dan meneliti bagaimana perkembangan keadaan setelah kerajaan Lui-sung jatuh dan kaisarnya diganti kaisar Siauw Bian Ong dari kerajaan Chi.

Dia sedang menuju ke Nan-king dengan perahu dan pada sore hari itu, secara kebetulan saja dia melihat Ling Ay terancam oleh Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan.

Tentu saja dia segera mengenal Ling Ay ketika wanita itu tadi memanggilnya sebagai tukang perahu. Dia mengenal suara Ling Ay, dan ketika dia mengerling dan mengintai dari bawah capingnya, dia mengenal benar wajah wanita yang pernah menjadi kekasih dan tunangannya itu. Akan tetapi dia pura-pura tidak perduli. Pertama, dia tidak ingin Ling Ay tahu bahwa dialah tukang perahu itu, dan ke dua, dia merasa heran dan ingin melihat apa yang terjadi sehingga Ling Ay berada di tepi sungai itu dengan sikap yang ketakutan. Ketika dia melihat Ouwyang Toan, dia terkejut, apalagi melihat sikap Ouwyang Toan dan wanita cantik itu terhadap Ling Ay dan mendengar percakapan mereka. Dari percakapan itu dia tahu bahwa wanita cantik itu guru Ling Ay yang kini mendadak saja menjadi seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian silat. Bagaimana mungkin seorang guru hendak memaksa muridnya menjadi permainan Ouwyang Toan seperti dikatakan Ling Ay tadi? Bun Houw sudah siap siaga, akan tetapi dia masih ingin melihat perkembangannya dan mempertimbangkan apakah dia perlu melindungi dan membantu Ling Ay.

Baru setelah dia melihat Ling Ay terancam dan nyaris dirobohkan, dia melempar capingnya untuk menggagalkan serangan Bi Moli dan dia sendiri meloncat ke darat dan kini dia sudah berhadapan dengan Bi Moli.

“Kakak Bun Houw … !” Ling Ay tak dapat menahan mulutnya menyebut nama bekas tunangannya itu.

“Adik Ling Ay, tenanglah, biar aku menghadapi mereka.” kata Bun Houw.

“Kwa Bun Houw, engkau berani mencampuri urusan kami!” bentak Ouwyang Toan marah sekali. Andaikan dia seorang diri harus menghadapi Bun Houw, tentu dia merasa gentar karena dia tahu bahwa dia tidak akan mampu menandingi pemuda itu. Akan tetapi di situ terdapat Bi Moli Kwan Hwe Li yang lihai, maka tentu saja dia menjadi berani.

“Hemm, Ouwyang Toan, agaknya di mana-mana engkau hendak menyebar benih busuk dengan perbuatanmu!” Berkata demikian, Bun Houw melangkah maju dan otomatis Ling Ay cepat mundur dan berdiri di belakang bekas tunangan itu.

“Bibi, ini adalah Kwa Bun Houw, murid bekas pangeran Tiauw Sun Ong!”

“Ahhh …!” Bi Moli tertegun. Tak disangkanya dia bertemu dengan seorang pemuda yang pernah disebut-sebut muridnya sebagai bekas kekasih dan tunangan muridnya, juga yang menjadi murid Tiauw Sun Ong, bekas kekasihnya.

“Bibi, dia musuh besarku sejak dahulu, bahkan dia mengajak gurunya untuk memusuhi ayahku. Bantulah aku untuk membunuhnya, bibi. Baru kita dapat menangkap Ling Ay.” kata pula Ouwyang Toan.

Mendengar bahwa pemuda itu murid bekas kekasihnya, hati Bi Moli merasa kurang enak. “Orang muda, sebaiknya engkau tidak mencampuri urusan kami. Ini merupakan urusan, guru dan murid. Ling Ay adalah muridku dan engkau sebagai orang luar tidak berhak mencampurinya. Ling Ay, hayo engkau ikut enganku!”

“Tidak, subo. Sampai mati aku tidak akan suka ikut subo kembali ke istana!” kata Ling Ay berkeras, “Subo telah bersekongkol dengan Ouwyang Toan untuk mempermainkan aku. Aku tidak sudi!”

“Locianpwe, saya tidak suka mencampuri urusan pribadi orang lain. Akan tetapi, sudah menjadi tugas saya untuk mencampuri urusan yang menyangkut kejahatan yang menindas siapa saja, sudah menjadi tugas saya untuk membela yang benar dan menentang yang salah. Adik Cia Ling Ay ini sudah jelas menyatakan bahwa ia tidak mau ikut lo-cianpwe karena hendak dipaksa menjadi permainan Ouwyang Toan. Kalau lo-cianpwe dan Ouwyang Toan hendak memaksanya, sudah tentu saya akan membelanya!” kata Bun Houw dengan tegas.

Bi Moli tersenyum mengejek, “Engkau hanya murid Tiauw Sun Ong, berani bersikap begini kepadaku? Berani engkau menentangku? Menentang aku sama saja dengan menentang gurumu sendiri!”

“Maaf, lo-cianpwe. Menurut pelajaran yang saya terima dari suhu, yang ditentang bukanlah orangnya, melainkan perbuatannya yang keliru. Bahkan guru sendiri atau orang tua sendiripun kalau melakukan perbuatan yang jahat, pernuatan itu harus ditentang, pelakunya harus disadarkan dari kesesatannya.”

“Bocah sombong! Engkau hendak mengatakan bahwa perbuatanku sesat?” bentak Bi Moli marah.

“Kalau lo-cian-pwe hendak memaksa Ling Ay untuk dipermainkan Ouwyang Toan di luar kehendaknya, sudah jelas perbuatan itu sesat dan harus ditentang.”

“Jahanam! Engkau tidak tahu siapa aku! Lihat baik-baik Kwa Bun Houw, aku adalah seorang yang harus kau muliakan dan kau sembah. Berlututlah engkau!” Suaranya terdengar menggetar penuh wibawa dan mata itu mencorong seperti menembus di dahi Bun Houw antara kedua alisnya.

Seketika Bun Houw merasa tubuhnya menggetar hebat dan ada tenaga yang amat kuat dalam suara itu yang memaksanya untuk menjatuhkan diri berlutut. Akan tetapi, Bun Houw cepat mengerahkan tenaga sin-kangnya yang kini menjadi amat kuat setelah dia makan obat Akar Bunga Gurun Pasir, dan mengerahkan tenaga itu dari pusar ke atas sesuai dengan ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng yang dikuasainya. Hawa yang hangat menjalar di seluruh tubuhnya sampai ke ubun-ubun dan dorongan tenaga aneh yang memaksanya untuk berlutut tadi, lenyap bagaikan kabut ditimpa sinar matahari.

“Maaf kalau saya mengecewakan lo-cian-pwe, saya tidak akan pernah tunduk terhadap kejahatan. Sebaliknya lo-cianpwe dan Ouwyang Toan segera meninggalkan adik Ling Ay dan jangan mengganggunya lagi.”

Bi Moli Kwan Hwee Li menjadi semakin marah karena merasa penasaran dan malu bahwa kekuatan sihirnya sama sekali tidak mempengaruhi pemuda iru. Ia mengeluarkan teriakan melengking dan tubuhnya sudah ke depan dan ia mengirim pukulan dengan dorongan kedua tangannya ke arah dada Bun Houw. Angin yang dahsyat menyambar ke arah Bun Houw yang maklum akan datangnya serangan dahsyat itu maka diapun dengan jurus Im-yang Bu-tek Cin-keng menekuk kedua lututnya, kedua tangan di rangkap depan dada seperti menyembah, lalu kedua tangan itu didorongkan ke depan dengan telapak tangan di muka untuk menyambut serangan lawan.

“Wuunuttt … dessss …!” Dua pasang telapak tangan itu belum saling sentuh, akan tetapi di antara mereka seperti ada angin kuat yang saling bertumbukan dan membuat keduanya terpental kebelakang. Akan tetapi kalau Bun Houw terpental hanya mundur dua langkah, sebaliknya Bi Moli Kwan Hwe Li terhuyung dan hampir roboh telentang kalau saja Ouwyang Toan tidak cepat menahannya dari belakang. Bi Moli merasa terkejut dan malu, membuatnya marah dan ia menepaskan tangan Ouwyang Toan yang menyangga punggung dan pinggulnya.

“Kwa Bun Houw, kalau aku menandingimu, sama dengan aku menghina gurumu. Baik akan kulaporkan kelakuanmu yang kurang ajar kepadaku ini kepada Tiauw Sun Ong!” Setelah berkata demikian, Bi Moli memberi isarat kepada Ouwyang Toan untuk meninggalkan tempat itu.

Ouwyang Toan tentu saja merasa terkejut dan heran. Dia memang tahu bahwa Bun Houw amat lihai. Bahkan ayahnya pernah kalah oleh pemuda itu. Akan tetapi tadi di tidak melihat Bi Moli sudah dikalahkan, hanya terhuyung ke belakang, kenapa wanita sakti yang menjadi datuk persilatan ini nampak jerih untuk melanjutkan perlawanannya terhadap Kwa Bun Houw? Baru dia tahu setelah mereka tiba diluar pintu gerbang kota raja dan melihat Bi Moli muntahkan sedikit darah, bahwa datuk itu ternyata telah menderita luka dalam akibat adu tenaga sin-kang jarak jauh tadi! Tentu saja dia terkejut, akan tetapi tidak berani bertanya-tanya.

Biarpun dalam hati ia marah dan membenci Ling Ay, akan tetapi pada lahirnya Bi Moli Kwan Hwe Li terpaksa menghadap Permaisuri dan mohon maaf bahwa muridnya Cia Ling Ay pergi meninggalkan istana tanpa pamit karena mendengar bahwa seorang pamannya meninggal dunia dan pengawal itu malam-malam harus pergi meninggalkan kota raja dan tidak sempat mohon diri dari Permaisuri. Karena yang mintakan maaf dan melaporkan adalah Bi Moli Kwan Hwe Li, guru silat istana dan juga guru diri Ling Ay, maka Permaisuri menerima permintaan maaf itu dan tidak terjadi keributan apapun di dalam istana. Bi Moli terpaksa menghadap permaisuri demi dirinya sendiri karena kalau Kaisar dan keluarganya memarahi Ling Ay, ia sebagai gurunya tentu akan terlibat juga.

Atas permintaan Ouwyang Toan, Bi Moli akhirnya berhasil memperkenalkan Ouwyang Toan sebagai murid keponakannya dan setelah melalui ujian ilmu silat, Ouwyang Toan diterima sebagai seorang perwira pengawal pasukan penjaga keamanan istana. Dengan kedudukan ini. mereka berdua dapat bekerjasama dan dapat selalu berhubungan, dan Ouwyang Toan mempergunakan kesempatan itu untuk menyebar anak buahnya untuk mencari Hui Hong!

***

Mereka berdua, Bun Houw dan Ling Ay duduk di perahu kecil yang dibiarkan hanyut terbawa arus sungai oleh Bun Houw yang menggunakan dayung untuk mengemudikan perahu yang meluncur perlahan-lahan sambil bercakap-cakap dengan Ling Ay.

“Houw-ko, kalau tidak ada engkau yang menolong, tentu sekarang aku sudah mati membunuh diri karena tidak mungkin aku mampu menandingi mereka dan aku tidak sudi dipaksa menjadi isteri Ouwyang Toan.” Ling Ay berkata dengan terharu sambil menatap wajah bekas tunangannya.

Bun Houw menghela napas panjang, “Orang yang benar dan baik akan selalu dilindungi Tuhan, Ay-moi. Betapa cepatnya waktu meluncur lewat. Rasanya baru kemarin dulu kita saling jumpa dalam peristiwa di Nan-king itu dan sekarang, tahu-tahu engkau telah menjadi seorang ahli silat tangguh, murid Bi Moli!”

“Aih, nasib telah mempermainkan diriku sedemikian rupa, Hou-ko, bahkan sampai saat ini akupun masih selalu dirundung nasib yang malang.”

“Adik Ling Ay, aku sudah mendengarkan malapetaka yang menimpa ayah ibumu. Ketika aku meninggalkan rumah kalian untuk mencari Hui Hong, aku tidak dapat menemukan jejaknya dan ketika aku kembali ke Nan-king, aku mendengar betapa ayah ibumu telah terbunuh oleh utusan pemberontak. Aku mendengar pula bahwa engkau diculik penjahat yang berjuluk Hek-coa, akan tetapi engkau ditolong oleh Bi Moli, semua keterangan itu kudapatkan dari Souw Ciangkun, panglima di Nan-king yang kemudian menangkapi para pemberontak.”

Ling Ay menghela napas panjang, “Ya, siapa tahu akan nasib kita? Akupun sama sekali tidak pernah menduga bahwa guruku yang selamanya begitu baik kepadaku, menolongku dari penjahat yang menculikku, kernudian melihat aku telah kehilangan segalanya lalu mengajakku merantau dan mengambil aku sebagai murid, mengajarku ilmu dengan sungguh-sungguh, mendadak berubah sama sekali setelah ia bertemu dengah Ouwyang Toan.” Ling Ay lalu menceritakan semua pengalamannya, tentang percakapan antara Bi Moli dan Ouwyang Toan yang melakukan hubungan gelap dan yang merencanakan untuk memaksanya menjadi isteri Ouwyang Toan sehingan ia melarikan diri dan dikejar sampai ke tepi-sungai.

“Hemm, akupun heran mengapa Ouwyang Toan ingin memperisterimu setelah dia menjadi kekasih Bi Moli. Padahal, Ouwyang Toan juga agaknya ingin memaksa Hui Hong yang tadinya menjadi adik tirinya, juga adik seperguruan, untuk menjadi isterinya. Mereka memang jahat sekali. Ouwyang Sek, ayahnya, dahulu menolong ibu Hui Hong dalam perjalanan pembuangan, akan tetapi hanya untuk dipaksa untuk menjadi isterinya. Untuk menyelamatkan anak dalam kandungannya, wanita itu terpaksa mau menjadi isteri Ouwyang Sek. Ahh, para datuk itu agaknya terlalu mabok akan kekuatan sendiri sehingga mereka menjadi sewenang-wenang, mengandalkan kepandaian untuk memaksakan kehendak mereka. Sekarang, setelah engkau meninggalkan pekerjaanmu di istana, bahkan tidak berani kembali lagi ke kota raja, lalu engkau akan pergi ke mana, Ay-moi?”

Ditanya demikian, tiba-tiba saja Ling Ay menangis. Ia sendiri merasa heran dengan tangisnya. Sejak ia menjadi murid Bi Moli, ia tidak pernah menangis. Gurunya menganggap pantang untuk menangis, karena tangis hanya kebiasaan orang-orang lemah. Akan tetapi kini, di depan Bun Houw, ia merasa lemah sekali, lemah dan perasa sehingga begitu ditanya ke mana ia akan pergi, ia tidak dapat menahan dirinya lagi dan tersedu-sedu.

Bun Houw tertegun. Dia sudah mengarahkan perahunya ke seberang. Tidak akan mudah dikejar dan dicari orang, kalau-kalau Bi Moli mengerahkan pasukan mengejarnya, ia lalu minggirkan perahunya dan menghentikan perahu itu di pinggir dengan mengikatkan tali perahu ke sebatang pohon. Tempat itu sunyi. Mereka duduk di dalam perahu dan dia membiarkan Ling Ay menumpahkan semua perasaan dukanya keluar melalui air matanya.

Setelah melihat wanita itu mereda tangisnya, dengan hati-hati Bun Houw bertanya, “Ling Ay, kenapa engkau menangis? Apakah engkau tidak ingin kembali ke Nan-ping, ke kampung halamanmu?”

Wanita itu sudah berhenti menangis dan mendengar pertanyaan itu, ia mengangkat muka dan memandang wajah pemuda itu dengan kedua mata basah. “Houw-ko, apakah engkau juga akan pulang ke Nan-ping?” dalam ucapannya terkandung harapan yang memancar pula dari pandang matanya.

Bun Houw menggeleng kepala. “Aku masih harus melaksanakan tugas yang diberikan suhu kepadaku. Akan tetapi kalau engkau ingin pulang ke Nan-ping, biar aku akan mengantarmu sampai ke sana sebelum aku melanjutkan tugasku.”

Kini sepasang mata itu seperti bergantung kepada mata Bun Houw, penuh harapan. “Kalau begitu, biar aku menemanimu melaksanakan tugasmu, Houw-ko. Aku akan membantumu sekuat tenagaku! Ijinkan aku ikut denganmu, Houw-ko!”

Bun Houw tersenyum dan menggeleng kepala. “Maaf, Ay-moi. Tugasku ini merupakan urusan pribadi, tidak dapat dibantu oleh siapapun. Aku tidak dapat membawamu bersamaku, adik Ling Ay.”

Hening sejenak. Bun Houw sebetulnya merasa iba sekali kepada bekas tunanganya ini, akan tetapi dia tahu bahwa memang tidak mungkin dia mengajak Ling Ay, maka dia memutar tubuh membelakanginya agar tidak melihat wajah cantik yang nampak amat berduka itu.

“Bunga itu kekeringan dan hampir layu,” terdengar Ling Ay berkata lirih, “ia merindukan datangnya embun yang akan membawa sedikit kesejukan, yang akan dapat menghidupkannya … Houw-ko, aku … aku selalu mengharapkan uluran tangan dan hatimu, apakah … apakah engkau tidak kasihan kepadaku dan tidak teringat akan … cinta kasih antara kita dahulu …?” Ia sudah memberanikan diri sekuat hatinya, mengenyahkan semua perasaan rikuh, sungkan dan malu. Ia telah menjadi seorang wanita yang tidak tahu malu lagi, seperti membujuk agar pemuda itu mau menerimanya kembali sebagai kekasihnya!

“Adik Ling Ay, engkau masih muda, cantik, pandai, dan bahkan kini memiliki ilmu silat yang tinggi. Engkau memang berhak untuk membentuk rumah tangga kembali, menemukan seorang suami yang baik, akan tetapi … bukan aku, Ay-moi. Sebaiknya aku berterus terang kepadamu. Aku telah dijodohkan oleh suhuku dengan puteri suhu sendiri yaitu adik Tiauw Hui Hong dan kami berdua sudah saling mencinta.”

Bun Houw mengeluarkan ucapan lirih itu tanpa memutar tubuhnya, dan ia mendengar keluhan lirih dari wanita itu.

“Adik Ling Ay, maafkanlah aku, agaknya memang kita tidak berjodoh … ” Akan tetapi dia mendengar gadis itu meloncat pergi. Dia menoleh dan benar saja Ling Ay sudah lari meninggalkannya dengan cepat sekali dan masih tertinggal suara isakan yang dibawa pergi. Dia merasa iba sekali, akan tetapi hanya memandang dan menahan dirinya agar tidak memanggilnya. Memang beginilah yang terbaik, pikirnya. Harus dia akui bahwa perasaan kasihnya terhadap Ling Ay tidak pernah lenyap, akan tetapi tidak mungkin dia menuruti perasaan itu karena dia sudah terikat lahir batin dengan Hui Hong. Ikatan batin yang timbul karena dia saling mencinta dengan gadis itu, dan ikatan lahirnya adalah karena dia sudah menerima keputusan gurunya agar dia berjodoh dengan gadis itu.

***

Kui-siauw Giam-ong Suma Koan, datuk golongan sesat yang menjadi majikan dari Bukit Bayangan Setan, dengan girang sekali menerima berita dari puteranya bahwa puteranya kini telah berhasil menghambakan diri kepada bekas kaisar Cang Bu, bahkan di jodohkan dengan adik perempuan kaisar atau bekas kaisar itu yang kini sedang menyusun kekuatan untuk mendirikan kembali kerajaan Liu-sung yang telah dijatuhkan oleh kerajaan baru Chi. Dia segera datang berkunjung ke perkampungan di lembah Yang-ce, tak jauh dari kota Kui-cu yang menjadi markas bekas kaisar itu menyusun kekuatan. Suma Koan diterima dengan penuh penghormatan dan mulai saat itu, Suma Koan dan puteranya, Suma Hok, bukan saja menjadi pembantu-pembantu utama bekas kaisar itu, melainkan juga menjadi anggauta keluarga, karena Suma Hok segera menikah dengan Liu Kiok Lan, bekas puteri yang menganggap dirinya telah diperkosa oleh mendiang Pouw Cin! Tentu saja ia sama sekali tidak tahu bahwa yang memperkosanya adalah laki-laki yang kini menjadi suaminya itu.

Suma Koan menyarankan kepada bekas kaisar Cang Bu yang kini menggunakan nama samaran Siauw Tek, agar suka bersekongkol dengan kerajaan Wei di utara yang sejak lama memusuhi kerajaan di selatan.

“Ah, bagaimana paman Suma Koan mengusulkan hal seperti itu? Sejak puluhan tahun sejak kerajaan Liu-sung berdiri, kerajaan Wei selalu menjadi musuh utama kami! Kerajaan Wei yang merupakan musuh besar, musuh bebuyutan sejak dahulu, bagaimana mungkin kini kita ajak bekerja sama? Ini merupakan suatu pengkhianatan cita-cita para pendahuluku!” Siauw Tek memrotes. Kalau mendiang Jenderal Pauw Cin masih hidup, tentu panglima tua itupun akan memrotes keras.

Suma Koan tersenyum. Kakek yang kecil kurus ini lalu berkata dengan tenang, “Harap kongcu pertimbangkan pendapatku ini,” Dia menyebut kongcu sesuai dengan kehendak bekas kaisar itu yang sedang menyamar, dan memang sudah menjadi watak datuk sesat ini untuk tidak memperdulikan segala macam adat sopan santun maka diapun enak saja bersikap kasar kepada bekas kaisar itu. “Kita haruslah dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Di waktu kita kuat, kita dapat mengandalkan kekuatan kita untuk menundukkan musuh. Akan tetapi kalau keadaan tidak mengijinkan, kalau kita kalah kuat, kita harus dapat mempergunakan daya lain, kita harus memakai kecerdikan untuk memperoleh kemenangan. Kongcu hendak melawan sebuah kerajaan yang memiliki balatentara besar dan kuat, kalau kita menggunakan pasukan, aku khawatir kita akan gagal. Karena itu, kita harus cerdik dan kalau kita dapat bersekutu dengan kerajaan Wei di utara, besar kemungkinan usaha kongcu akan berhasil.”

Bekas kaisar itu mengerutkan alisnya dan dia dapat melihat kebenaran ucapan itu. “Akan tetapi, kerajaan Wei selama aku menjadi kaisar, adalah musuhku, bagaima mungkin mereka itu kini mau bersekutu dengan kita?”

“Setiap kerajaan akan selalu mendasari gerakan mereka dengan perhitungan rugi untung. Kalau sekarang bersekutu dengan kongcu untuk menentang kerajaan baru Chi dianggap menguntungkan kerajaan Wei, kenapa mereka tidak akan mau? Kalau kita bersekutu dengan Wei, maka kedua pihak akan mendapat untung. Kongcu harus cerdik.”

“Hemm … memang usulmu baik sekali. Akan tetapi, kalau kelak pasukan kerajaan Wei bersama pasukanku berhasil menumbangkan kerajaan Chi, lalu mereka tidak mau kembali ke utara dan hendak menguasai pula kerajaanku, bagaimana?”

“Harus diadakan dulu perjanjian yang menguntungkan mereka, kongcu. Selama ini, daerah yang luas antara Sungai Huang-ho dan Sungai Yang-ce merupakan daerah tak bertuan yang selalu menjadi perebutan dan medan pertempuran. Kalau kongcu menjanjikan bahwa kalau persekutuan ini berhasil menumbangkan kerajaan Chi, dan kerajaan Liu-sung dapat dibangun kembali, aku akan menyerahkan daerah itu kepada Wei, tentu mereka akan menerimanya dengan girang sekali.”

“Tapi, bagaimana kalau mereka menolak dan mencurigai kita? Bagaimana kita akan dapat mengadakan kontak dengan mereka? Belum apa-apa mereka tentu akan mencurigai kita.”

“Harap kongcu jangan khawatir.” kata Si Suling Setan. “Aku mengenal tokoh-tokoh kerajaan Wei dan kalau kongcu memberi surat dengan tanda cap kekuasaan kongcu, aku yang akan menghubungi mereka.”

Bekas kaisar itu girang sekali dan ternyata Suma Koan tidak membual. Setelah membawa surat bekas kaisar itu, dia segera melakukan perjalanan ke utara, memasuki daerah tak bertuan yang berbahaya itu.

Di daerah antara Huang-ho dan Yang-ce, dua batang sungai terbesar dan terpanjang di Cina, terdapat kehidupan yang aneh. Daerah tak bertuan ini merupakan daerah yang selalu menjadi perebutan antara kerajaan utara dan selatan, bahkan menjadi daerah pertempuran dan daerah di mana para mata-mata ke dua pihak, para penjahat buruan, saling bersaing. Memang terdapat dusun-dusun di daerah ini, akan tetapi di dusun-dusun inipun berlaku hukum rimba. Tidak ada pejabat pemerintah manapun yang duduk sebagai pemimpin di dusun-dusun itu. Yang ada hanyalah para jagoan yang hidup sebagai raja kecil! Karena kekuasaan yang didapat ini merupakan kekuasaan dari kekuatan badan, maka sering kali terjadi perebutan kekuasaan, bentrokan dan perkelahian. Kepala dusun silih berganti, yang kalah tunduk atau mati, yang menang menjadi pemimpin baru. Namun, karena para jagoan yang menjadi pemimpin ini juga membutuhkan adanya penduduk, mereka tidak membunuhi para penduduk dusun. Apa artinya berkuasa di sebuah dusun yang tidak ada penduduknya? Karena itu, mereka yang berkuasa bahkan melindungi penduduk agar dia dapat memperoleh dukungan.

Dusun Tai-bun adalah sebuah di antara dusun-dusun yang berada di dalam wilayah tak bertuan itu. Tai-bun berada di sebelah selatan, lebih dekat di perbatasan wilayah kerajaan Chi, dan dusun ini cukup ramai karena Tai-bun merupakan satu di antara dusun-dusun yang penduduknya suka berkunjung ke wilayah Chi untuk berdagang. Akan tetapi pada suatu pagi, serombongan orang yang jumlahnya dua puluh orang lebih memasuki dusun itu. Yang menyolok pada dua puluh orang lebih ini adalah pakaian mereka yang kesemuanya serba hitam! Dan yang lebih menggemparkan lagi adalah perbuatan mereka, karena begitu memasuki dusun itu, mereka segera membunuh siapa saja yang mereka jumpai! Cara mereka membunuh menunjukkan bahwa mereka terdiri dari orang-orang lihai. Sekali mereka menggerakkan tangan, tentu seorang penduduk yang bertemu dengan mereka, roboh dan tewas seketika!

Gegerlah dusun yang penduduknya hanya sekitar dua ratus orang itu. Para jagoan yang memimpin dusun itu segera mengerahkan tenaga dan puluhan orang lalu mengeroyok para penyerbu pakaian hitam itu. Akan tetapi, mereka yang melakukan penyerbuan itu amat lihai dan sebentar saja, orang-orang yang mempertahankan dusun mereka bergelimpangan, banyak yang tewas, ada yang luka-luka dan tidak sampai dua jam kemudian, dusun itu telah kosong, ditinggal lari mengungsi mereka yang belum menjadi korban! Dan sejak hari itu, dusun Tai-bun telah dikuasai kelompok orang yang berpakaian serba hitam dan setelah mereka semua datang, jumlah mereka ada kurang lebih seratus orang.

Gerombolan berpakaian hitam yang menguasai dusun Tai-bun ini bukan lain adalah orang-orang Thian-te Kui-pang, perkumpulan baru yang didirikan oleh Bu-tek Sam-kwi dan yang bertugas menimbulkan kekacauan di kerajaan Chi yang baru. Mereka membutuhkan perkampungan yang dapat menjadi pusat gerakan mereka ke selatan dan setelah memilih-milih, dusun Tai-bun mereka rebut untuk di jadikan markas besar mereka. Dusun ini amat baik untuk di jadikan perkampungan mereka karena merupakan dusun terdekat dengan daerah musuh yang tidak berada dalam kekuasaan kerajaan Chi, melainkan wilayah daerah tak bertuan.

Serbuan yang menewaskan hampir seratus orang penduduk Tai-bun, dan mengalahkan para jagoan yang memimpin di situ, segera tersiar ke seluruh daerah tak bertuan itu dan semua orang tahu bahwa di situ kini berkuasa gerombolan yang menamakan diri mereka perkumpulan Thian-te Kui-pang. Ada beberapa orang pemimpin gerombolan lain yang mencoba untuk merebut perkampungan itu namun satu demi satu mereka dikalahkan oleh Thian-te Kui-pang sehingga akhirnya tak seorangpun berani mengganggu gerombolan berpakaian hitam itu.

Beberapa pekan kemudian, pada suatu siang, para anggauta Thian-te Kui-pang yang melakukan penjagaan di pintu gerbang dusun Tai-bun, menghadang dan menghentikan seorang laki-laki yang hendak memasuki dusun itu. Semenjak dusun itu dikuasai Thian-te Kui-pang, tak seorangpun bukan anggauta diperbolehkan memasukinya dan siang malam pintu gerbang dusun dijaga ketat. Dusun itu berubah seperti sebuah benteng saja!

(Bersambung jilid 16)

Jilid 16

“BERHENTI! Harap melapor dulu siapa engkau dan ada keperluan apa hendak memasuki dusun kami.” kata kepala jaga dan sepuluh orang penjaga sudah mengepung pemuda itu dengan sikap yang galak.

Pemuda itu berusia sekitar dua puluh lima tahun. tubuhnya sedang dan wajahnya tampan, sikapnya lembut, pakaiannya indah dan mewah seperti seorang pemuda hartawan. Dia bersikap tenang dan tersenyum melihat sikap galak sepuluh orang itu.

“Kalian laporkan kepada Bu-tek Sam-kui bahwa Tok-siauw-kwi (Setan Suling Beracun) Suma Hok mewakili ayahnya, Kui-siauw Giam-ong (Raja Maut Suling Setan) Suma Koan, ingin bertemu dengan mereka bertiga.”

Mendengar ucapan pemuda itu, sepuluh orang anggauta Thian-te Kui-pang terkejut dan sikap mereka segera berubah sama sekali.

“Harap kongcu suka menanti sebentar.” kata kepala jaga dan para anak buahnya mempersilakan pemuda itu duduk di dalam gardu penjagaan, sementara menanti kepala jaga yang berlari masuk untuk membuat laporan.

Tak lama kemudian, muncullah tiga orang pimpinan Thian-te Kui-pang, yaitu tiga orang kakak beradik seperguruan yang disebut Bu-tek Sam-kui (Tiga Setan Tanpa Tanding) dengan sikap ramah. Tiga orang ini adalah Pek-thian-kui yang bertubuh gendut bulat, Huang-ho-kui yang tinggi kurus, dan Toat-beng-kui yang paling muda, berusia empat puluhan tahun dan wajahnya tampan.

“Kiranya Suma Kongcu yang datang, maafkan karena tidak tahu, kami terlambat menyambut.”

Melihat sikap pimpinan mereka, para penjaga itupun berdiri tegak dengan sikap hormat. Suma Hok tersenyum dan membalas penghormatan mereka.

“Ayahku mewakilkan kepadaku sebagai utusan Kaisar kami untuk membicarakan urusan kita.”

“Silakan, kongcu, mari kita bicara di dalam.” Bu-tek Sam-kui mempersilakan pemuda itu memasuki dusun dan mereka segera mengadakan pembicaraan yang serius di dalam sebuah ruangan tertutup. Sebelum Suma Hok, berkunjung ke dusun yang menjadi sarang Thian-te Kui-pang, sudah lebih dulu ayahnya, Suma Koan, menghubungi Bu-tek Sam-kui dan dengan perantaraan Bu-tek Sam-kui, Suma Koan menyampaikan uluran tangan bekas Kaisar Cang Bu untuk bekerja sama dengan kerajaan Wei di utara. Kaisar Cang Bu yang sudah terguling tahtanya itu minta bintuan kerajaan Wei untuk menyerang ke selatan dan merebut kembali tahta kerajaannya dari Kaiasar Siauw Bian Ong yang mendirikan kerajaan Chi, dengan janji kalau berhasil akan menyerahkan daerah tak bertuan antara Huang-ho dan Yang-ce-kiang kepada kerajaan Wei. Kaisar Thai Wu dari kerajian Wei menerima baik uluran tangan itu dan akan memberi keputusan setelah itu diperbincangkan dahulu dengan para pembantunya. Dan hari itu, Suma Hok ditugaskan ayahnya untuk mewakilinya minta berita keputusan Kaisir Thai Wu, sekalian membicarakan rencana kerja bersama itu. “Paman bertiga tentu sudah maklum apa maksud kunjunganku ini,” kata Suma Hok setelah menerima hidangan selamat datang dari Bu-tek Sam-kui. “Atas nama Sribaginda Kasar Cang Bu, ayah mengharapkan keputusan dari kerajaan Wei, dan juga ingin mendengar rencana siasat yang akan kita atur bersama.”

“Kami gembira sekali. Suma Kongcu,” kata Pek-thian-kui. “Semula, kami membentuk Thian-te Kui-pang untuk melaksanakan tugas mengacau kerajaan baru Chi di selatan. Ketika kaisar kami menerima surat uluran tangan Kaisar Cang Bu, beliau merasa gembira dan menyatakan setuju. Ini kami membawa surat dari kaisar kami untuk Kaisar Cang Bu mengenai persetujuan kerja sama itu.”

Dengan girang Suma Hok menerima surat itu dan menyimpan di balik jubahnya. “Terima kasih, paman. Nah, sekarang kita bicarakan tenting usaha kerja sama itu. Kami telah mempersiapkan sekitar lima ribu orang pasukan yang siap tempur. Kaisar Cang Bu mengharapkan agar secepatnya kerajaan Wei mengirim pasukan untuk minta bantuan pasukan kami menggempur Nan-ping.”

Toat beng-kui, orang termuda dari Bu-tek Sam-kui, tersenyum dan dia yang menjawab, “Wah, tidak semudah itu, kongcu! Apa artinya pasukan yang hanya lima ribu orang banyaknya? Kalau menyerang kerajaan Chi begitu saja dengan kekuatan pasukan, maka akan terjadi perang besar yang menimbulkan banyak kerugian di pihak kerajaan kami karena kami yang menjadi penyerang dari tempat jauh, pada hal kekuatan antara kedua kerajaan berimbang. Belum tentu kita akan menang.”

Suma Hok mengerutkan alisnya. “Hemm, kalau begitu, apa artinya persekutuan ini? Apa yang direncanakan oleh Kaisar Wei Tay Wu untuk membantu kami?”

“Kongcu, kaisar kami telah menyerahkan kerja sama dengan Kaisar Cang Bu kepada kami. Kami yang akan mengatur semua rencana, dan kami hanya akan mengacaukan kerajaan baru Chi dari dalam. Kalau perlu, kami dapat membunuh kaisar dan seluruh keluarganya sehingga tidak ada pangeran yang tertinggal. Dengan keadaan yang kacau, kerajaan Chi akan menjadi lemah dan mudah diserbu dan dikalahkan. Selain mencoba membunuh Kaisar Siauw Bian Ong dan keluarga serta sekutunya, kitapun harus dapat menguasai dunia kang-ouw sehingga kalau saatnya yang baik tiba, kita dapat mengerahkan tenaga mereka untuk membantu kita. Bagaimana pendapat Suma Kongcu?”

Suma Hok mengangguk-angguk. Ayahnya sendiri sudah berpendapat bahwa kekuatan yang dihimpun bekas Kaisar Cang Bu masih terlalu lemah untuk dapat merebut kembali tahta kerajaan, oleh karena itu ayahnya menganjurkan Kaisar Cang Bu untuk bekerja sama dengan kerajian Wei di utara.

“Rencana itu baik sekali,” katanya. “Dan tentang penguasaan dunia kang-ouw di daerah selatan, harap jangan khawatir. Ayahku telah melakukan usaha itu dan sudah menghubungi banyak tokoh kang-ouw. Bahkan kini Datuk wanita Kwan Im Sianli telah menjadi sahabat baik ayahku.”

“Bagaimana dengan datuk yang menjadi majikan Lembah Bukit Siluman?” tanya Huang-ho-kui, orang ke dua Bu-tek Sam-kui.

Suma Hok mengerutkan alisnya. Dia telah mendengar berita tentang datuk yang tadinya akan menjadi ayah mertuanya, ketika dia mengharapkan Hui Hong, puteri angkat datuk itu, menjadi isterinya. Bahkan sampai sekarangpun dia masih merindukan gadis itu. Akan tetapi, berita yang diterimanya sungguh amat tidak menyenangkan, yaitu bahwa kini Ouwyang Toan, putera datuk itu, telah menjadi pengawal anggauta pasukan keamanan di istana Kaisar Siauw Bian Ong, bersama Bi Moli yang telah menjadi pengawal permaisuri kaisar itu. Dengan sendirinya Ouwyang Sek tentu akan berpihak kepada puteranya, berarti berpihak kepada kerajaan Chi yang baru itu.

“Ah, sukar mengharapkan kerja sama dengan dia,” katanya. “Puteranya, Ouwyang Toan, kini telah menjadi pengawal kerajaan Chi, bersama Bi Moli Kwan Hwe Li. Dari kedua orang datuk itu, Bi Moli (Iblis Betina Cantik) Kwan Hwe Li dan juga dari Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) Ouwyang Sek kita tidak dapat mengharapkan kerja sama, bahkan mereka akan menjadi penghalang karena mereka berpihak kepada Kaisar Siauw Bian Ong.”

Bu-tek Sam-kui tertawa dan Suma Hok memandang heran, juga penasaran. “Kenapa paman bertiga malah tertawa?”

“Kenapa kongcu tidak dapat melihat kesempatan yang teramat baik ini? Kita harus dapat memanfaatkan segala macam keadaan demi keuntungan kita! Kami juga sudah mendengar tentang Bi Moli dan Ouwyang Toan bekerja di istana Kaisar Siauw Bian Ong. Dan itu justeru bagus sekali! Kami mengenal dua orang datuk itu. Bi Moli dan Bu-eng-kiam, mereka bukanlah orang yang suka dianggap pahlawan atau pendekar. Mereka akan bertindak demi keuntungan, mereka bukan orang bodoh. Kalau kita menawarkan keuntungan yang lebih besar, kedudukan yang lebih baik, mustahil mereka akan memilih menjadi pengawal kerajaan Chi saja. Ha-haha ha!” Pek-thian-kui tertawa bergelak, perutnya yang gendut itu bergerak-gerak seperti hidup.

Kembali Suma Hok mengangguk-angguk setuju. “Baiklah, aku akan melaporkan hasil pertemuan kita ini kepada ayah dan Sribaginda Kaisar Cang Bu. Sebaiknya kita membagi tugas. Paman bertiga yang menghubungi Paman Ouwyang Sek dan Bi Moli Kwan Hwe Li, sedangkan kami akan menghubungi Kwan Im Sianli dan tokoh-tokoh lain di daerah barat. Kami akan mengerahkan kepada para tokoh kang-ouw di daerah kerajaan selatan agar mengadakan pemilihan seorang beng-cu (pemimpin rakyat) dunia kang-ouw. Kalau beng-cu itu dapat kita kuasai, dan berpihak kepada kita, tentu mudah mengerahkan para tokoh kang-ouw membantu kita kelak.”

“Bagus Sekali!” Pek-thian-kui berkata girang, “Selain tugas itu, juga kami akan menyuruh orang-orang kami untuk menundukkan perkumpulan-perkumpulan kang-ouw di wilayah Chi bagian utara ini, sedangkan untuk menguasai begian selatan, kami serahkan kepadamu, kongcu. Sebaiknya kalau mareka itu semua dapat dibujuk, kalau ada yang menentang, sebaiknya ditundukkan dengan kekerasan. Paling lama dalam waktu setengah tahun, kita harus sudah berhasil membasmi kaisar Siauw Bian Ong sekeluarganya dan termasuk semua sekutunya, lalu mengepung Nan-king dan membasmi pasukan yang mempertahankan kerajaan Chi.”

Setelah berunding matang dan bermalam semalam di dusun Tai-bun, pada keesokan harinya Suma Hok meninggalkan tempat itu untuk kembali ke daerah Kui-cu, di lembah sungai di mana bekas kaisar Cang Bu bersama adiknya tinggal.

ebuah persekutuan telah diatur, persekutuan yang merupakan ancaman bahaya bagi kerajaan Chi, karena persekutuan itu amat kuat. Di satu pihak bekas kaisar Cang Bu yang dibantu adik iparnya, Suma Hok dan datuk sesat Suma Koan, telah menghimpun pasukan yang berjumlah lima ribu orang. Di lain pihak ada kerajaan Wei di utara yang mau bekerja sama dan telah menyerahkan kerja sama itu kepada Bu-tek Sam-kui yang membentuk pasukan Thian-te Kui-pang yang terdiri diri orang-orang berkepandaian tinggi. Kalau rencana mereka berhasil dan mereka dapat membujuk Bi Moli dan Ouwyang Toan bekerja sama, maka keselamatan Kaisar Siauw Bian Ong sekeluarganya memang terancam bahaya maut, karena dua orang tokoh kang-ouw ini sekarang telih menduduki jabatan pengawal dalam istana! “

Dua orang laki-laki itu bercakap-cakap dalam ruangan rumah ketua Thian-beng-pang. Tuan rumah, ketua Thian beng-pang bernama Ciu Tek itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan pakaiannya sederhana dan ringkas seperti pakaian seorang pesilat, Wajahnya terhias brewok yang membuat dia nampak gagah. Adapun tamunya, seorang pria berusia sebaya dengan tuan rumah, bertubuh kurus dan pakaiannya penuh tambalan. Akan tetapi dia bukanlah seorang pengemis tua biasa, karena dia adalah ketua Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam) yang terkenal di wilayah Nan-king sebelah selatan sungai Yang-ce. Namanya Kam Cu dan sebutannya adalah Hek-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Hitam). Kumis dan jenggotnya sudah beruban dan biarpun tubuhnya kurus dan tubuh itu nampak lemah, namun dari sinar matanya yang mencorong orang dapat menduga bahwa dia bukanlah orang biasa.

“Menyebalkan sekali mereka itu! Suma Koan dan anaknya memaksa kita untuk menaluk kepada mereka! Huh, siapa tidak tahu bahwa sejak dahulu Kui-siauw Giam-ong terkenal sebagai seorang datuk sesat? Sekarang, setelah kerajaan Liu-sung jatuh dan Kaisar Cang melarikan diri, dia berpura-pura muncul sebagai seorang ksatria yang hendak mendukung Kaisar Cang Bu.”

“Kami juga menolak mentah-mentah bujukan mereka, bahkan kami juga mereka ancam. Akan tetapi kami tidak takut,” kata ketua Thian-beng-pang. “Kita semua melihat betapa bijaksananya Kaisar Siauw Bian Ong. Bahkan beliau tidak menumpas orang-orang bekas pejabat Liu-sung dan menerima siapa saja yang akan membantu pemerintah kerajaan Chi untuk menenteramkan dan memakmurkan kehidupan rakyat. Bagaimana mungkin pemerintahan yang demikian bijaksana hendak kita tentang? Dan mengembalikan Kaisar Cang Bu yang masih muda dan hanya mengejar kesenangan itu ke atas tahta? Tidak, kami tidak mau dan sudah pasti Suma Koan mempunyai rencana busuk bagi keuntungan dirinya sendiri dengan memperalat bekas kaisar muda itu.”

“Inilah akibatnya kalau kaisar Siauw Bian Ong bersikap terlalu baik hati. Di samping segi baiknya mendapat bantuan orang-orang pandai, juga ada segi buruknya, yaitu kelemahan karena kebaikan beliau itu membuka pintu bagi orang-orang sesat untuk ikut menyelinap masuk. Apakah pang-cu tidak mendengar berita bahwa orang-orang yang tadinya terkenal di kang-ouw sebagai golongan sesat. kini ikut pula bekerja di dalam istana?”

Ciu Tek pang-cu dari Thian-beng-pang terkejut dan memandang kepada pencemis tua. “Lokai, siapa yang engkau maksudkan?”

“Bi Moli Kwan Hwe Li dan Ouwyang Toan putera Bu-eng-kiam Ouwyang Sek.”

“Ahh!” Ciu Tek membelalakkan matanya. “Kalau Bi Moli Kwan Hwe Li, bagaimanapun juga ia dahulu adalah seorang puteri bangsawan, bahkan kini ayahnya masih tinggal di kota raja. dan adiknya, Kwan Hwe Un menjadi hakim di Bi-ciu, tidak mengherankan kalau ia datang ke kota raja dan bekerja di istana kaisar. Akan terapi Ouwyang Toan putera Bu-eng-kiam, majikan Lembah Bukit Siluman? Hemmm, ini berbahaya sekali!”

“Harap pang-cu tenangkan diri. Kurasa biar seorang seperti Bu-eng-kiam sekalipun tidak akan begitu gila untuk membuat kekacauan di istana. Kaisar memiliki banyak pengawal dan jagoan istana yang cukup tangguh. Sekarang, bagaimana kita harus menghadapi ancaman dari Kui-siauw Giam-ong? Tiga hari lagi dia akan datang untuk minta keputusan kita. Kalau kita menolak, tentu dia akan menyerang.”

“Takut apa, Lo-kai? Kalau dia memaksa kita melawan untuk mempertahankan nama dan kehormatan.” kata ketua Thian-beng-pang itu.

“Akan tetapi kalau dia menantangmu perkelahian satu lawan satu? Kui-siauw Giam-ong lihai sekali, dan siapa tahu dia juga membawa orang-orang yang lihai. Kabarnya sudah banyak tokoh kang-ouw yang takluk padanya dan mau bekerja sama.”

“Tidak usah khawatir, kita menjadi satu dan melawan! Sebaiknya pada hari yang ditentukan, engkau dan anak buahmu berkumpul di sini dan kita bersatu padu menghadapinya, Lo-kai.”

“Baik, pangcu. Kita bersatu menghadapi datuk sesat itu!” kata Hek-tung Lo-kai.

Pada hari yang ditentukan, pagi-pagi sekali Hek-tung Lo kai Kam Cu bersama sekitar dua ratus orang anggauta Hek-tung Kai-pang telah berkumpul di rumah perkumpulan Thian-beng p.In! yang juga sudah mengumpulkan anak buahnya sebanyak dua ratus orang lebih. Thian beng-pangcu Ciu Tek menyambut sahabatnya itu dan dia juga sudah siap dengan anak buahnya untuk menghadapi serangan Suma Koan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: