Kisah Si Pedang Kilat – 5

“Aku akan memaksamu!”

Sepasang mata gadis itu mencorong penuh kemarahan. “Ayah keras hati dan hendak memaksaku? Apa ayah kira akupun tidak dapat berkeras hati? Dengan kekerasan ayah dapat memaksaku, akan tetapi, akupun dapat membalas. Aku akan membunuh diri ketika pernikahan dirayakan dan jahanam itu hanya akan mengawini mayatkn dan ayah akan mendapat malu besar di depan para tamu!”

“Anak setan! Kalau begitu lebih baik sekarang saja engkan mati!” Datuk itu sudah mengangkat tangan dan hendak menyerang Hui Hong yang sama sekali tidak kelihatan takut. Melihat ini, Pouw Cu Lan menubruk suaminya.

“Jangan …!” teriaknya.

Akan tetapi sekali dorong, tubuh wanita itu terlempar ke atas pembaringan. Dorongan yang terarah ini menunjukkan betapa sayangnya Ouwyang Sek kepada isterinya, walau dalam keadaan marah sekalipnn. Dia melangkah maju hendak melanjutkan serangannya membunuh Hui Hong.

“Ouwyang Sek, engkau tidak berhak membunuh anakku! Ia bukan anakmu, engkau tidak berhak membunuhnya!” Wanita itu berteriak, nadanya lantang dan mendengar ini, Ouwyang Sek seperti tersentak, tangan yang sudah diangkat itu turun dan perlahan-lahan dia memutar tubuhnya, menghadapi isterinya yang masih terduduk di atas pembaringan.

“Cu Lan, … kau … kau membuka rahasia itu …!” kata Ouwyang Sek, semua kekerasan lenyap dari suaranya.

“Tidak perduli! Engkau tidak berhak membunuh anakku. Bukankah selama duapuluh tahun ini aku memegang janji, menyerahkan segalanya kepadamu, bahkan mencoba untuk belajar mencintamu? Akan tetapi, hari ini engkau hendak memaksanya menikah dengan orang yang tidak disukainya, hendak membunuhnya. Ia bukan anakmu!”

Diserang dengan ucapan seperti itu oleh Isterinya, Ouwyang Sek tertegun, mukanya berkerut seperti menahan rasa nyeri di dalam dadanya, kemudian dia menarik napas panjang dan mengangguk-angguk. “Baik … baik, Cu Lan. aku tidak akan membunuhnya … ”

Dan dia menoleh ke arah Hui Hong. “Aku akan minta mereka memenuhi syarat pertama dan ke dua, akan tetapi aku tidak perduli akan syaratmu yang ke tiga. Kalau dua syarat itu telah dipenuhi engkau harus menikah dengan Suma Hok, mau atau tidak mau! Kalau engkau akan membunuh diripun silakan, akan tetapi engkan harus menikah dengan putera Kui-siauw Giam-ong kalau dia dapat memenuhi dua syaratmu!”

Setelah berkata demikian, datuk besar ini keluar dari dalam kamar puterinya dan membanting daun pintu. Ketika tiba di luar, dia melihat puteranya, Ouwyang Toan berada di situ dan tahulah dia bahwa puteranya tadi juga ikut mendengarkan semua percakapan dalam kamar.

“Mau apa kau di sini?” tegur Ouwyang Sek yang masih marah.

Wajah pemuda tinggi besar dan gagah itu nampak tegang dan sinar matanya berseri. “Ayah … kalau begitu … adik Hui Hong bukanlah adik tiriku, bukan anak kandung ayah? Kalau begitu … antara ia dan aku tidak ada hubungan darah sama sekali … “

“Hemm, kalau sudah begitu kenapa?” ayahnya membentak dengan suara lirih agar jangan terdengar isterinya yang berada di kamar puterinya, sambil terus melangkah meninggalkan tempat itu diikuti puteranya, “Kalau begitu aku dapat mengawininya, ayah! Aku … sejak dulu aku … cinta kepada Hui Hong.”

Kembali Ouwyang Sek tertegun, akan tetapi karena hatinya sedang risau dan mendongkol, dia cemberut.” Masa bodoh ia mau menikah dengan siapa, asal dapat mamenuhi syarat-syaratnya.”

“Apakah syarat-syaratnya, ayah? Aku masih kurang begitu jelas. Ia menyebut-nyebut Kwa Bun Houw … “

“Itu tidak masuk hitungan! Syaratnya hanya dua, pertama harus dapat menemukan kembali mustika Akar bunga Gurun Pasir, ke dua harus mampu mengalahkannya.”

“Akan kucoba, ayah.”

Ayahnya menoleh dan memandang kepadanya, lalu mendengus marah. “Agaknya engkau pun sudah gila!”

Mereka memasuki ruangan tamu dan dua orang tamu mereka segera bangkit menyambut. Suma Koan tersenyum lebar. “Aha, sobat Ouwyang Sek, aku percaya engkau tentu telah berhasil membujuk puterimu, dan menerima pinangan kami.”

Ouwyang Sek duduk, juga Ouwyang Toan mengambil tempat duduk semula. Setelah memandang kepada kedua orang tamu itu, dia lalu berkata. “Aih. puteriku memang manja sekali. Ia tidak lagi menolak, akan tetapi mengajukan syarat-syarat!”

“Aihh! Syarat-syarat apakah yang diajukan adinda Ouwyang Hui Hong itu, paman!” terdengar Suma Hok bertanya, suaranya penuh gairah karena dia merasa yakin akan mampu memenuhi syarat yang diajukan gadis yang membuatnya tak nyenyak tidur tak enak makan itu.

“Syarat ini bukan hanya untuk keluarga Suma, melainkan syarat umum terhadap siapa saja yang ingin memperisteri Hui Hong. Pertama, pemuda itu harua mampu mencari sampai dapat mustika Akar Bunga Gurun Pasir kami yang hilang dan menyerahkan kepada Hui Hong, dan ke dua, pemuda itu harus mampu menandingi dan mengalahkan Hui Hong?”

Suma Hok mengerutkan alisnya. Syarat syarat itu, terutama yang pertama, terasa berat olehnya dan dia memandang kepada ayahnya. Akan tetapi Suma Koan tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, syarat-syarat itu cukup sukar, akan tetapi untuk mendapatkan seorang gadis sehebat Ouwyang Hui Hong. syarat itu masih terlalu lunak. Sobat Ouwyang, kami menyanggupi syarat-syarat itu. Pertama akan kami coba penuhi syarat pertama menemukan kembali mustikamu itu, baru kemudian kami memenuhi syarat ke dua. Nah, kami minta diri, akan segera melaksanakan syarat pertama.”

Ouwyang Sek bangkit dan mengantar kedua orang tamunya sampai ke pintu depan, ditemani oleh Ouwyang Toan. Diam-diam Ouwyang Toan merasa lega dan girang. Tadi ayahnya mengajukan di depan dua orang tamunya bahwa syarat-syarat itu ditujukan kepada siapa saja yang hendak memperisteri Hui Hong! Berarti dia pula berhak mempertsteri gadis itu kalau dapat memenuhi dua syarat itu. Dia harus lebih dulu mendapatkan kembali Akar Bunga Gurun Pasir, jangan sampai keduluan Suma Hok!

Akan tetapi Suma Hok merasa tidak puas sama sekali. Biarpun ayahnya telah menyanggupi dan menerima dua syarat itu, akan tetapi dia merasa seperti dipersukar, apalagi dia tidak mendapat kesempatan untuk berpamit kepada Hui Hong sehingga dapat bertemu lagi dengan gadis itu. Maka, sebelum ayahnya meninggalkan pintu gerbang keluarga Ouwyang, dia berhenti dan memberi hormat kepada Ouwyang Sek.

“Maafkan saya, paman Ouwyang, Karena syarat itu cukup berat dan entah sampai kapan saya akan dapat membawa ke sini mustika itu untuk dihaturkan kepada paman dan adinda Ouwyang Hui Hong, maka perkenankanlah saya untuk berpamit kepada puteri paman yang amat saya cinta itu.”

Mendengar ini, Suma Koan cepat berkata untuk membela puteranya, “Ha-ha-ha, dasar orang muda. Sobat Ouwyang, kurasa permintaan anakku itu pantas saja. Pula, sebagai tamu, aku sendiri merasa kurang enak kalau tidak pamit dari semua keluargamu yang tadi menyambut kami. Akupun ingin berpamit kepada isterimu dan puterimu.”

Ouwyang Sek baru teringat akan sopan santun. Keluarganya telah menyambut tamu, bagaimana sekarang tidak muncul ketika tamu-tamunya pulang. “Ha-ha-ha, memang sulit mengatur wanita. Toan-Ji (anak Toan), kau cepat minta ibumu dan adikmu keluar mengantar tamu!”

Biarpun hatinya merasa tidak senang, Ouwyang Toan pergi juga ke kamar adiknya. Dia mengetuk pintu kamar dan yang keluar adalah ibu tirinya. Akan tetapi dia dapat mendengar suara adiknya menangis! Adiknya menangis! Sungguh hal yang teramat aneh. Gadis yang keras hati dan gagah berani itu menangis! Dan dia teringat akan rahasia yang dibuka ayahnya tadi. Agaknya itulah yang membuat Hui Hong menangis.

Ketika mendengar Ouwyang Toan menyampaikan permintaan suaminya, Pouw Cu Lan mengerutkan alisnya. “Katakan pada ayahmu bahwa saat ini adikmu tidak mungkin dapat keluar mengantar tamu pulang,”

“Tapi ayah akan marah …”

“Katakan saja kepada ayahmu bahwa kalau besok para tamu mendatang lagi, aku tentu sudah dapat membujuk Hui Hong untuk keluar dan mengantar mereka pulang.” Ia lalu masuk lagi dan menutupkan daun pintu kamar anaknya.

Terpaku Ouwyang Toan menyampaikan jawaban ibunya itu kepada ayahnya yang menjadi bingung, tak tahu bagaimana harus bersikap atau bicara kepada tamunya.

Akan tetapi mendengar laporan Ouwyang Toan itu. Suma Hok yang cerdik segera berkata dengan gembira. “Kalau begitu, biarlah kita menanti semalam di sini, ayah! Kesempatan ini dapat kupergunakan untuk melihat-lihat keindahan bukit ini.”

“Ha-ha-ha, boleh saja kalau sobat Ouwyang Sek tidak berkeberatan menerima kita bermalam di sini semalam, agar besok aku dapat berpamit dari semua keluarganya.” kata Suma Koan.

Tentu saja Ouwyang Sek tidak dapat berbuat lain kecuali menerima mereka, dan mereka semua masuk kembali. Hanya Ouwyang Toan yang diam-diam mendongkol kepada Suma Hok yang mulai saat itu dianggap sebagai saingannya untuk memperisteri Hui Hong yang sudah disayangnya sejak kecil. Rasa sayang sebagai kakak terhadap adik yang makin lama berkembang menjadi asmara, Apalagi setelah diketahui bahwa Hui Hong bukan adiknya, melainkan orang lain!”

***

Ouwyang Toan tidak salah dengar. Ketika dia menyampaikan pesan ayahnya kepada ibu tirinya, dia memang mendengar adiknya sedang menangis. Dan memang hal ini amat aneh. Hui Hong sejak kecil hidup dalam keluarga Ouwyang Sek, digembleng sehingga menjadi seorang gadis yang berani, keras hati dan seolah-olah pantang menangis, seperti seorang laki-laki gagah perkasa saja. Akan tetapi ketika itu, ia menangis terisak-isak, tak tertahankan sampai sesenggukan.

Kemarahan ayahnya yang hendak memaksanya menerima pinangan Suma Hok tidak membuat ia menangis walaupun ia marah, kecewa dan penasaran sekali. Akan tetapi, ketika mendengar ucapan ayah dan ibunya, ketika ibunya mengatakan bahwa ia bukan anak kandung ayahnya, hal itulah yang menikam ulu hatinya. Setelah ayahnya pergi, ia menubruk ibunya, bahkan mengguncang kedua pundak Ibunya.

“Ibu, apa artinya semua itu? Aku bukan-anak kandung ayah? Ibu, apa artinya ini? Ayah bilang ibu telah membuka rahasia. Ibu, rahasia apakah yang terkandung di balik kehidupan ibu dan ayah? Kalau aku bukan anak kandung ayah, lalu siapakah ayahku? Ibu, ceritakan semua kepadaku!”

Dan berceritalah Pouw Cu Lan. Wanita cantik berusia empatpuluh dua tahun kita berceritera dengan suara gemetar menahan perasaan yang menusuk-nusuk. “Tahukah engksu siapa ibumu ini, anakku?”

“Bukankah ayah sering membanggakan bahwa ibu adalah bekas selir kaisar? Apakah kalau begitu ayahku adalah … kaisar?”

Wanita itu menggeleng kepalanya. Sungguh berat rasanya membuka rahasianya, rahasia yang penuh keaiban terhadap anak kandungnya sendiri.

“Memang benar, aku adalah seorang yang pernah menjadi selir mendiang Kaisar Cang Bu di Nan-king. kaisar Kerajaan Liu-sung yang telah jatuh dan digantikan Kerajaan Chi yang sekarang ini, anakku. Dengan mendiang kaisar, aku tidak mempunyai anak. Akan tetapi, duapuluh dua tahun yang lalu, sebagai selir kaisar aku bertemu dengan seorang pangeran. Kami. … saling jatuh hati, saling mencinta dan kami … mengadakan hubungan gelap.”

Hui Hong yang mendengar cerita itu mengerutkan alisnya, akan tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Ia hanya tahu bahwa ibunya terpaksa menjadi selir kaisar tidak mencinta kaisar dan bertemu dengan pangeran yang di cintanya.

“Akan tetapi, hubungan kami ketahuan kaisar. Pangeran itu merasa malu dan … membutakan kedua matanya sendiri, lalu minggat dari Istana, dan aku … aku menerima hukuman dari kaisar. Aku dihukum buang, … ” Kini Pouw Cu Lin tidak dapat menahan tangisnya lagi karena ia teringat akan kekasihnya, pangeran itu.

“Lalu bagaimana, ibu?” Karena penasaran dan ingin tahu, Hui Hong mendesak ibunya yang sedang menangis.

“Ketika aku sedang dikawal menuju ke tempat pembuangan, Ouwyang Sek menghadang, membunuh para pengawal dan membebaskan aku dari kerangkeng, lalu dia … dia mengambil aku sebagai isterinya.

Hui Hong mengerutkan alisnya. Cerita ibunya sungguh membuat ia tidak merasa senang. Ibunya seorang yang demikian cantik, dan pria yang selama ini dianggap sebagai ayahnya demikian buruk dan kasar.

“Dan ibu mau?” komentarnya yang mengandung teguran karena penasaran.

Wanita itu terisak, kepalanya tunduk dan ia mengangguk. “Aku … aku terpaksa mau karena … karena hendak menyelamatkan … engkau, Hui Hong.”

Sekali ini Hui Hong terlonjak kaget. “Ibu, apa artinya ini! Apa maksud ibu?”

“Hui Hong, apakah engkau kira ibumu ini demikian rendah sehingga rela begitu saja dipisahkan dari pangeran itu, satu-satunya orang yang kukasihi dengan badan dan batinku. Demi engkaulah maka aku terpaksa menerima paksaan derita lahir batin. Kalau tidak ada engkau, tentu sebelum dihukum buang, aku sudah membunuh diri mencuci aib dan duka karena dipisahkan dari pangeranku.”

“Demi aku, Ibu, jelaskanlah!” Hui Hong semakin penasaran.

“Ketika aku dan pangeran itu dipisahkan dengan paksa. aku dalam keadaan mengandung, anakku. Mengandung … engkau! Baru tiga bulan kandunganku itu. Aku tidak ingin kehilangan engkau, karena engkaulah satu-satunya peninggalan kekasihku itu kepadaku. Aku rela dihukum buang, bahkan ketika aku diselamatkan Ouwyang Sek, aku rela diperisteri dengan syarat bahwa aku baru mau menjadi isterinya setelah engkau terlahir dan setelah dia berjanji bahwa dia akan menganggapmu sebagai anak sendiri, akan memperlakukanmu dengan kasih sayang seperti anak sendiri.”

“Aihhhh, ibu … !” Mulai saat itulah Hui Hong menangis, merangkul ibunya.

Ia dapat membayangkan betapa hebat penderitaan ibunya, derita lahir batin demi untuk menyelamatkan dirinya, puterinya! Semua itu dilakukan ibunya karena amat besar cinta ibunya, terhadap ayah kandungnya, pangeran itu, sehingga rela berkorban perasaan, menderita lahir batin asal dapat menyelamatkan keturunan pangeran itu.

Sampai lama dua orang wanita itu saling rangkul dan bertangis-tangisan. “Menangislah anakku … menangislah karena engkau adalah manusia biasa, dari ayah yang luhur budi bukan anak seorang datuk sesat yang keras kepala dan keras hati … menangislah, anakku sayang … ” Belaian Ibunya itu membuat Hui Hong makin mengguguk dalam tangisnya.

Setelah tangis itu mereda, Hui Hong hanya terisak-isak, dan pada saat itu Ouwyang Toan muncul di pintu memanggil ibunya. Ia mendengar percakapan mereka dan matanya terbelalak, kemudian dia tersenyum-senyum dan batinnya bersorak. Hui Hong bukan adik kandungnya, bukan adik tirinya, bukan apa-apa, orang lain. Ini berarti bahwa dia boleh mengawini gadis itu!”

Setelah pemuda itu pergi, Hui Hong telah dapat menguasai dirinya, tidak terisak lagi. Ada perasaan aneh dalam hatinya. Ia bukan putri Ouwyang Sek! Sungguh aneh sekali perasaan ini membuat ia merasa lega dan bahkan bangga! Seringkali diam-diam ia merasa tidak suka akan sifat dan watak ayahnya itu. Terlalu keras, terlalu kejam, dan kadang terlalu licik. Kini bahkan ia merasa lega bahwa yang berbuat jahat dan keji terhadap Kwa Bun Houw bukanlah ayah kandungnya, bukan pula sanak saudara, melainkan orang lain. Tidak ada sedikitpun darah datuk itu mengalir di tubuhnya. Ayah kandungnya seorang pangeran! Perasaan bangga timbul dan ia merasa betapa harga dirinya melambung tinggi!

“Ibu, siapakah nama pangeran itu, ayah kandungku itu?” akhirnya ia bertanya.

Tiba-tiba terdengar suara lembut menyelinap masuk kamar itu. Datang dari arah jendela kamar. “Namanya Pangeran Tiauw Sun Ong!”

“Ehh? Siapa itu …?” Pouw Cu Lan terkejut dan terbelalak memandang ke arah jendela.

Akan tetapi, reaksi Hui Hong sudah lebih cepat lagi. Sekali berkelebat, gadis itu telah meloncat keluar dari dalam kamar sambil mendorong daun jendela kamar terbuka. Ia masih sempat melihat berkelebatnya bayangan seorang wanita berlari cepat sekali meninggalkan taman bunga di luar kamarnya. Tanpa mengeluarkan suara, iapun mengerahkan ilmunya berlari cepat dan melakukan pengejaran.

Bayangan itu mampu bertari secepat terbang. Hui Hong merasa penasaran sekali melihat bayangan itu melesat amat cepatnya menuruni bukit melalui bagian belakang yang sunyi dan juga amat sukar dilalui. Ia tidak mau kalah, mengerahkan ilmunya berlari cepat, meloncat bagaikan seekor kijang melakukan pengejaran. Namun, sampai tiba di kaki bukit yang sudah amat jauh dari rumah Ouwyang Sek, belum juga ia mampu menyusulnya. Akan tetapi, setelah mereka tiba di tepi hutan yang amat sunyi, wanita itu berhenti dan membalikkan tubuhnya, menanti pengejarnya sambil tersenyum. Dan begitu berhadapan, Hui Hong, tertegun. Wanita itu cantik manis dengan kulit muka yang putih dan tubuh yang ramping, padat. Nampaknya baru berusia tiga puluhan tahun, dan ia sama sekali tidak mengenalnya, bahkan belum pernah merasa berjumpa dengan wanita itu. Suara wanita inikah yang tadi menjawab pertanyaannya tentang nama ayah kandungnya?

“Bibi, engkaulah yang tadi menjawab pertanyaanku dari luar kamar?” tanya Hui Hong, sambil memandang dengan penuh perhatian.

Wanita itu tersenyum dan nampak deretan giginya yang putih, Ia hanya mengangguk tanpa menjawab, akan tetapi pandang matanya juga mengamati wajah dan bentuk tubuh Hal Hnng yang merupakan seorang gadis yang cantik jelita, nampak gagah dan anggun, seorang gadis yang sudah matang, bagaikan setangkai bunga sedang mekarnya.

Melihat wajah yang cantik itu tersenyum ramah, Hui Hong merasa tidak enak kalau bersikap kasar, maka iapun merangkap kedua tangan di depan dada, lalu bertanya, “Kalau boleh aku mengetahui, siapakah bibi dan mengapa pula bersikap seaneh ini?”

“Engkau tentu Tiauw Hui Hong, bukan?” Wanita itu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan pula.

Hui Hong mengerutkan alisnya. “Tiauw …?” ia menegaskan.

“Tentu saja,” wanita itu tersenyum. “Ayah kandungmu adalah Pangeran Tiauw Sun Ong, engkau tentu she Tiauw, bukan she Ouwyang.”

“Siapakah engkau, bibi? Kenapa engkau mengetahui tentang ayah kandungku?”

“Hemm, hanya akulah yang tahu di mana adanya ayah kandungmu sekarang. Ibumu sendiri mana tahu? Sejak pangeran meninggalkan istana, ibumu tak pernah bertemu lagi dengan ayahmu, apalagi ia lalu menjadi isteri datuk iblis itu.”

“Bibi, siapa nama bibi?”

“Belum waktunya engkau mengenal namaku. Kalau sekarang engkau suka ikut dengan aku, tentu aku akan dapat mengusahakan pertemuan antara engkau dan ayahmu. Nah, marilah engkau ikut pergi denganku.”

Hui Hong mengerutkan alisnya. “Bibi, bagaimana mungkin aku pergi bagitu saja? Ibuku tentu tahu di mana adanya ayah kandungku dan aku dapat mencarinya sendiri.”

Wanita itu memandang kepadanya dengan senyum mengejek. “Hemm, keras hati dan sombong seperti ayahnya. Kalau tidak percaya kepadaku, boleh kau tanya sekarang juga kepada Ibumu. Akan tetapi ingat, tanpa aku engkau takkan dapat tahu di mana adanya ayahmu itu. Nah, aku tunggu di sini, akan tetapi tidak sampai malam. Tanyalah kepada ibumu.”

Hui Hong mengangguk dan cepat ia mempergunakan Ilmu berlari cepat mendaki bukit, diikuti pandang mata wanita itu yang tersenyum-senyum.

“Pangeran, kalau aku menahan puterimu, engkau pasti akan datang kepadaku.” kata wanita itu seorang diri.

Kwan Im Sianli Bwe Si Ni merasa senang karena ia memperoleh akal yang baik. Tidak ada gunanya membunuh puteri kandung pangeran itu, karena hal itu tentu membuat pangeran itu makin benci kepadanya. Padahal ia menghendaki pangeran yang dicintanya itu akan membalas cintanya dan menghabiskan sisa hidup di sampingnya.

Pouw Cu Lan masih berada di kamar puterinya dengan bingung, menduga-duga siapa suara wanita tadi yang mengenal nama Pangeran Tiauw Sun Ong! Iapun merasa khawaitir karena sudah agak lama puterinya melakukan pengejaran belum juga kembali. Namun, ia percaya akan kelihaian puterinya, dan menanti di situ sampai puterinya kembali.

Ketika Hui Hong meloncat masuk melalui jendela. Pouw Cu Lau memandang dengan gembira. “Bagaimana, Hui Hong. Siapakah orang yang bicara tadi?”

“Nanti dulu, ibu. Aku ingin kepastian, benarkah nama ayah kandungku Tiauw Sun Ong?”

“Benar, anakku. Akan tetapi siapakah ia tadi … ?”

“Dan ibu tahu, di mana sekarang ayah kandungku itu? Di mana Pangeran Tiauw Sun Ong sekarang?”

Ibunya menggeleng kepala dengan sedih. “Bagaimana aku tahu, anakku? Sejak peristiwa itu terjadi, aku ditangkap lalu dihukum buang, dan sejak itu aku tidak pernah lagi bertemu dangan dia, bahkan tidak pernah mendengar di mana ia berada. Aku yakin bahwa ayahmu … ah maksudku, Ouwyang Sek, dia tentu tahu di mana adanya Pangeran Tiauw Sun Ong, akan tetapi dia tidak pernah mau bicara tentang pangeran itu.”

“Benar juga ucapan perempuan cantik tadi.” pikir Hui Hong. “Ibunya sendiri tidak tahu di mana adanya ayah kandungnya!”

“Ibu, aku akan pergi mencari ayah kandungku.”

“Tapi, di mana engkau akan mencarinya! Dan belum kauceritakan, siapa wanita yang tadi menyebut nama ayahmu?”

“Aku tidak mengenalnya, ibn. Ia seorang wanita cantik yang usianya sekitar tigapuluh tahun lebih. Ia tahu di mana ayahku berada dan aku akan diajaknya pergi mencari ayah.”

“Tapi … tapi, apakah ia? Aku khawatir sekali, anakku. Jangan engkau pergi kalau belum mengenal benar wanita itu.”

Akan tetapi Hui Hong tidak perduli. Cepat ia mengambil beberapa potong pakaian dan berkemas, dibuntalnya pakaian itu dan setelah membawa bekal, tidak lupa membawa siang-kiam (sepasang pedang) yang menjadi senjatanya, iapun pergi meninggalkan ibunya walaupun wanita itu menangis dan mencegahnya

Di kaki bukit itu, ia melihat wanita cantik tadi masih menantinya dan tanpa banyak cakap lagi Hui Hong lalu pergi bersamanya, meninggalkan Bukit Siluman.

***

Pria itu usianya sudah kurang lebih enam puluh tahun, namun tubuhnya masih gagah dan ramping kokoh, tidak seperti orang seusia dia yang biasanya kalau tidak kurus kering, tentu gendut dan gembrot dengan kulit bergantungan penuh lemak, muka penuh keriput dan garis-garis ketuaan tanda derita hidup. Wajahnya masih nampak tampan dan anggun walaupun kedua matanya buta, terpejam dan tidak berbiji lagi. Dia melangkah perlahan dengan tongkat butut di tangan pada saat ada belasan orang berdatangan dari depan. Pada hal tadi, ketika tidak ada orang lain, pria ini berjalan dengan cepat seperti orang berlari saja, akan tetapi begitu muncul rombongan terdiri dari belasan orang itu, tiba-tiba saja langkahnya menjadi perlahan dan biasa. Hal ini saja membuktikan bahwa biarpun kedua matanya buta, orang ini dapat mengetahui akan munculnya belasan orang itu.

Bersambung jilid 10

Jilid 10

BELASAN orang itu rata-rata nampak gagah dan kuat. berusia dari tigapuluh sampai limapuluh tahun, dipimpin seorang laki-laki tinggi besar berusia limapuluh tahun yang sikapnya gagah sekali. Begitu melihat pria buta itu, belasan orang ini saling berbisik dan mereka sengaja lari menghadang pria itu. Pria buta itu maklum bahwa belasan orang itu menghadang di depannya. Dia menahan langkahnya, berdiri bersandar tongkat bututnya dan menundukkan muka. Nampak acuh, namun sesungguhnya, sepasang telinganya menangkap semua gerakan belasan orang itu, sampai gerakan yang sekecil-kecilnya.

Setelah berhadapan. pemimpin rombongan itu, yang tinggi besar dan gagah, segera maju dan berlutut dengan sebelah kakinya, memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada. Empat belas orang pengikutnya. Ikut pula berlutut ketika si tinggi besar berlutut dan semua orang memberi hormat. Akan tetapi, pria buta itu bersikap seolah tidak tahu akan, apa yang terjadi di depannya.

“Pangeran, hamba bekas Jenderal Yap Lok, maafkan hamba dan empat belas orang pengikut hamba yang tardiri dari bekas para perwira menengah Kerajaan Liu-sung kalau hamba sekalian menghadang dan mengganggu ketenteraman paduka.”

Pria buta itu memang bekas Pangeran Tiauw Sun Ong. Dia tersenyum, senyum lembut dan suaranya juga lembut ketika dia berkata, “Seperti juga kalian ini bebas jenderal dan bekas perwira, akupun hanya bekas pangeran saja. Saudara Yap, kita sekarang menjadi orang-orang biasa, harap jangan memakai segala macam peradatan dan kesungkanan. Marilah kita bicara seperti kanalan dan sahabat saja. Bangkitlah kalian dan kalau aku boleh bertanya, kalian hendak ke mana?”

“Maaf, pangeran. Kami tidak dapat menghapus sebutan pangeran karena bagi kami, paduka satu-satunya pangeran yang masih ada, dan padukalah harapan kami satu-satunya. Kami sengaja mendaki Bukit Hwa-san untuk mencari dan menghadap paduka.”

Pria buta itu mengerutkan alisnya. Sudah puluhan tahun dia meninggalkan Kerajaan Liu-sung, sampai beberapa tahun yang lalu kerajaan itu hancur dan runtuh, kini digantikan oleh Kerajaan Chi. Dia sudah tidak menganggap dirinya sebagai pangeran, Apalagi berhubungan dengan bekas pembesar militer kerajaan keluarganya yang sudah jatuh itu.

“Saudara Yap, ada urusan apakah engkau dan teman-temanmu mencari aku? Sudah puluhan tahun aku mengasingkan diri dan tidak ingin lagi berurusan dengan keributan dunia.” Biarpun mulutnya berkata demikian, namun diam-diam Tiauw Sun Ong merasa hatinya pedih. Baru saja dia terpaksa meninggalkan puncak Hwa-san setelah mendengar bahwa dia mempunyai keturunan, mempunyai seorang anak kandung yang terlahir dari Pouw Cu Lan, hasil hubungan gelapnya dengan selir kaisar duapuluhan tahun yang lalu. Dan kini, keselamatan Pouw Cu Lan dan puterinya itu diancam oleh Kwan Im Sianli Bwe Si Ni yang hendak membalas dendam kepadanya karena dia tidak mau diajak hidup bersama! Dia terpaksa terjun ke dunia ramai untuk melindungi anak kandungnya, akan tetapi di depan bekas Jenderal Yap Lok, dia mengatakan bahwa dia tidak ingin lagi berurusan dengan keributan dunia!”

“Pangeran, bagaimana mungkin kita mendiamkan saja para pemberontak dari keluarga siauw yang hina itu merampas tahta kerajaan, menghancurkan Kerajaan Liu-Sung kita yang jaya dan mendirikan kerajaan baru? Selama kita masih hidup, kita harus berusaha untuk merebut kembali kekuasaan itu dan menegakkan kembali Kerajaan Liu-sung? Selama ini, kami tidak berdaya karena tidak ada lagi seorangpun pangeran dari Kerajaan Liu-sung. Kami telah berusaha mencari paduka, namun sia-sia belaka. Baru sekarang kami dapat menemukan jejak paduka, dan kami sengaja menghadap untuk mohon agar paduka suka memimpin kami, menyusun barisan untuk merebut kenbali kekuasaan dari raja pemberontak Chi itu.”

Tiauw Sun Ong tertawa, tertawa karena geli mendengar usul yang penuh semangat itu. “Ha-ha-ha, sungguh lucu mendengar kata-katamu itu, seperti bermain sandiwara di panggung saja, maaf saudara Yap Lok, cita-citamu itu seperti membangun benteng di awang-awang saja. Aku hanya seorang buta, apalagi sudah tidak menginginkan segala kemuliaan duniawi, bagaimana kini kalian menganjurkan aku untuk menjadi pemimpin pemberontak terhadap Kerajaan Chi? Tidak, selain aku tidak mampu, juga aku tidak mau terlibat dalam perang dan keributan.”

“Harap paduka tidak berpura-pura lagi. Kami telah melakukan penyelidikan dengan seksama dan kami tahu bahwa paduka sekarang, biarpun tidak dapat melihat lagi, namun telah menjadi seorang sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Pangeran, demi kejayaan Kerajaan Liu-sung, demi nama dan kehormatan keluarga paduka sendiri, marilah kita bangkit dan rampas kembali kerajaan … “

“Cukup! Aku tidak mau dengar lagi dan harap kalian memilih orang lain saja. Jangan ganggu aku lagi.” kata bekas pangeran itu, nada dan suaranya tegas.

Wajah bekas jendral itu berubah merah dan dengan matanya dia memberi isarat kepada kawan-kawannya. Limabelas orang itu kelihatan marah dan garang, bahkan sudah meraba gagang senjata masing-masing.

“Hemmm, sungguh tidak kami sangka bahwa Pangeran Tiauw Sun Ong hanya seorang penakut dan pengecut.”

“Yap Lok, tahan mulutmu!” bentak pria buta itu.

“Pangeran, kalau paduka tidak takut dan bukan pengecut, maka paduka lebih rendah lagi, karena paduka akan menjadi seorang pengkhianat yang menaruh dendam terhadap kerajaan keluarga sendiri karena peristiwa dengan selir yang sangat memalukan itu. Paduka dendam dan karena itu tidak perduli kerajaan sendiri dirampas orang lain.”

“Yap Lok. aku tidak mau bekerja sama denganmu. Tidak perlu engkau menghinaku dan memanaskan hatiku. Pergilah kalian dan jangan ganggu aku lagi.”

“Kalau paduka tidak mau, terpaksa kami paksa. Lebih baik kami melihat paduka tewas di tangan kami dari pada melihat paduka berkeliaran sebagai seorang pengkhianat,” kata Yap Lok sambil mencabut pedangnya.

Perbuatannya ini diikuti empatbelas orang pengikutnya dan nampaklah senjata berkilauan di tangan mereka dan otomatis merekapun membuat gerakan mengepung pangeran itu. Lima belas orang itu adalah bekas para perwira kerajaan, masing-masing memiliki Ilmu silat yang tangguh dan merupakan Jagoan-Jagoan Istana Kerajaan Liu-sung yang sudah jatuh.

Biarpun dia masih berdiri dengan kepala menunduk, namun bekas pangeran yang buta matanya itu dapat mengikuti gerak-gerik lima belas orang itu dengan pendengarannya yang amat peka dan tajam. Dia tahu bahwa limabelas orang itu telah mengepungnya dengan senjata tajam di tangan, siap membunuh atau menawannya. Dia tersenyum getir. Tak di sangkanya bahwa setelah menyembunyikan diri dan hidup tenteram di tempat-tempat sunyi, hari ini dia terpaksa turun gunung dan begitu turun, dia sudah bertemu dengan belasan orang yang hendak menawan atau membunuhnya! Seolah g. makin terasa olehnya betapa dunia ini menjadi panas dan kotor oleh nafsu yang lelah menguasai diri manusia. Di mana terdapat manusianya, di mana terdapat kekerasan, nafsu bergelora dan manusia menjadi hamba setan yang merajalela dalam hati dan akal pikiran. Nafsu iblis mengendalikan manusia. menyeret manusia dalam segala macam perbuatan yang keras, kejam, kotor dan menyimpang dari sifat manusia pada saat dia dilahirkan. Panas bumi semakin panas, dunia semakin kacau. Di tempat-tempat yang tidak ada manusianya, segala sesuatu nampak penuh damai dan tenteram, margasatwa, bahkan pohon-pohon, hidup bebas dan begitu wajar. Namun, begitu dia tiba di tempat di mana ada manusianya, kebebasan sirna, persaingan, perebutan kekuasaan, pengejaran kesenangan, pemaksaan kehendak terhadap orang lain, penindasan, permusuhan, tiada hentinya menjadi permainan manusia.

“Kalian mau apa? Sadarlah, Yap Lok, engkau dan kawan-kawanmu telah menyimpang dari kebenaran. Jangan biarkan nafsu setan menyeret kalian ke jalan sesat!” Bekas pangeran itu masih mencoba untuk menyadarkan mereka.

“Engkau yang menyimpang dari kebenaran, engkau yang tersesat, Tiauw Sun Ong!” bentak Yap Lok. “Menyerahlah atau terpaksa kami akan membunuhmu!”

“Hemm, seekor semutpun akan menggigit kalau diinjak. Aku manusia. tentu akan membela diri kalau hendak dibunuh!” kata pangeran itu dengan sikap tenang.

Yap Lok memberi Isarat dengan pandang matanya dan seorang di antara pengikutnya, yang berdiri di belakang pangeran itu, mengeluarkan bentakan nyaring dan menusukkan pedangnya ke arah punggung Tiauw Sun Ong.

“Haiiiilitttt …!”

Pedang meluncur bagaikan kilat menyambar dan agaknya tidak mungkin bekas pangeran itu akan mampu menyelamatkan diri dari serangan tiba-tiba yang dilakukan dari belakangnya dan amat cepat dan kuat itu. Namun, baru saja orang itu bergerak, Tiauw Sun Ong sudah dapat mengetahui dan menangkap gerakannya dengan pendengaran. Dia hanya menggerakkan tubuhnya sedikit saja, memutar tubuh atas ke belakang didahului sinar hitam menyambar dan tahu-tahu tongkat bututnya yang hitam sudah bergerak ke belakang dan memakai pergelangan tangan yang menusukkan pedang. Gerakan memutar tubuh itu membuat pedang yang menusuk lewat di samping tubuhnya dan pukulan tongkatnya dengan tepat mengenai pergelangan tangan lawan yang memegang pedang.

“Dukkk! Aughhh …!” Orang itu melepaskan pedangnya dan meloncat ke belakang sambil menggosok pergelangan tangan kanan yang menjadi matang biru dan terasa nyeri bukan main. Masih untung bahwa Tiauw Sun Ong tidak menggunakan seluruh tenaganya. Kalau demikian halnya, tentu tulang lengan itu telah menjadi patah!”

Melihat ini, empat belas orang yang lain dipimpin Yap Lok segera menggerakkan senjata menyerang. Hujan senjata menyambar dari segala jurusan ke arah tubuh Tiauw Sun Ong. Bekas pangeran ini dengan amat lincahnya berloncatan ke sana-sini. didahului gulungan sinar hitam tongkatnya dan diapun tenggelam dalam pengeroyokan yang amat ketat. Biarpun lima belas orang itu merupakan bekas jagoan-jagoan Istana, namun kalau dibandingkan, tak seorangpun di antara mereka yang mampu menandingi tingkat kepandaian Tiauw Sun Ong. Akan tetapi karena mereka berjumlah banyak, rata-rata lihai dan memiliki pengalaman bertempur, di lain pihak Tiauw Sun Ong tidak tega untuk membunuh atau melukai berat, hanya membela diri, maka sebentar saja bekas pangeran itu terdesak hebat! Tiauw Sun Ong menganggap mereka itu tidak jahat, walaupun dia tahu benar akan watak manusia yang selalu berbuat dengan bimbingan nafsu. Mereka ini banya akan memperalat dia, karena kalau dia mau memimpin “perjuangan” mereka itu, karena dia seorang bekas pangeran, tentu banyak bekas pasukan Liu-sung yang suka bergabung. Di balik semua ini, tentu mereka ini mempunyai suatu cita-cita yang pada hakekatnya mementingkan diri sendiri. Disebut dengan kata yang muluk bagaimanapun juga, pada dasarnya, mereka itu nekat karena mengejar sesuatu hasil yang mereka bayangkan akan dapat membuat mereka hidup mulia dan senang. Dan dia tahu bahwa ini memang kelemahan manusia. Nafsu yang menguasai diri membuat manusia selalu mengejar sesuatu yang dianggap akan menyenangkan dirinya, dan dalam pengejaran ini, manusia lupa diri, lupa akan kebenaran. Cara apapun yang dipergunakan, dianggap benar demi mencapai cita-cita yang dikejarnya. Tujuan menghalalkan segala cara selalu akan terjadi, lambat maupun cepat, disadari maupun tidak. Tiauw Sun Ong tidak menyalahkan mereka. Mereka ini hanya manusia-manusia lemah, seperti yang lain. Karena itu, dia tidak tega untuk membunuh atau melukai mereka, dan hal ini membuat dia sendiri menjadi repot dan terdesak hebat, bahkan terancam bahaya maut!

Pada saat itu, tiba-tiba bagaikan ada badai mengamuk, sesosok bayangan tubuh orang terjun ke dalam pertempuran. Dia menggerakkan kedua tangannya dan hanya dengan mendorong saja, para pengeroyok itu terpelanting, terjengkang dan terlempar bagaikan sekumpulan daun kering tertiup angin.

“Suhu … !” Bayangan itu berteriak girang.

“Ehh … ? Kaukah itu, Bun Houw?”

“Suhu, biar tcecu (murid) yang mengusir anjing-anjing serigala yang jahat ini!” teriak pula Kwa Bun Houw yang baru datang.

“Jangan lukai mereka, jangan bunuh. Mereka bukan perampok, bukan penjahat. Mereka bekas para perwira Liu-sung.” kata Tiauw Sun Ong.

Bun Houw terkejut dan juga merasa heran. Gurunya bekas pangeran kerajaan Liu-sung, berarti para perwira Liu-sung adalah bawahannya. Kenapa menyerang bekas pangeran atasan mereka sendiri? Dan melihat gerakan mereka, penyerangan itu bukan main-main, melainkan dimaksudkan untuk membunuh. Lebih aneh lagi gurunya melarang dia untuk melukai mereka, apalagi membunuh. Akan tetapi, Bun Houw amat menghormati dan mentaati gurunya, maka diapun berseru, “Baik, suhu. Harap suhu mundur dan biar teecu sendiri menghadapi mereka.”

Bun Houw mengamuk. Ketika bekas panglima Yap lok mendengar percakapan itu, dia tahu bahwa pemuda itu adalah murid bekas pangeran itu. Dan memang pernah mendengar bahwa pangeran yang menjadi buta dan meninggalkan istana sebelum kerajaan Liu-sung jatuh itu kabarnya telah menjadi seorang yang lihai. Tadinya dia dan kawan-kawannya memandang rendah karena betapapun lihainya, bekas pangeran itu telah menjadi seorang buta. Siapa kira, pangeran itu benar-benar lihai, buktinya tadi pengeroyokan mereka tidak mampu merobohkan sang pangeran. Kini muncul muridnya, tentu tidak selihai gurunya. Maka dengan marah karena putus harapan ditolak permintaannya oleh bekas pangeran itu, Yap Lok berseru menyuruh anak buahnya untuk menyerang dan diapun memelopori mereka dengan menusukkan pedangnya. diikuti oleh empat belas orang anak buahnya.

Akan tetapi Bun Houw menghadapi mereka dengan amat mudahnya. Pemuda ini hanya berdiri tegak dan nampak dia menggerak-gerakkan kedua lengannya seperti orang menangkis dan mendorong. Akan tetapi akibatnya sungguh luar biasa. Lima belas orang itu tidak mampu mendekat dan mereka terpental atau terpelanting seperti dilanda badai yang dahsyat dan setiap kali mereka menyerang, dalam jarak dua meter mereka seperti bertemu dengan dinding yang tidak nampak, yang membuat mereka terpental kembali.

Akhirnya, setelah jatuh bangun tanpa tersentuh langsung oleh kedua tangan Bun Houw. Yap Lok maklum bahwa kepandaian pemuda ini bahkan jauh lebih dahsyat dan mengerikan dibandingkan ilmu Pangeran Tiauw Sun Ong! Maka, diapun memberi isyarat kepada anak buahnya dan mereka melarikan diri dari tempat itu.

Bun Houw membalik, menghadapi gurunya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya. “Suhu, apakah selama ini suhu baik-baik saja?”

Akan tetapi kakek buta itu berdiri tegak, alisnya berkerut dan dia tidak segera menjawab, mukanya terangkat ke atas seperti tidak perduli kepada pemuda yang berlutut di depan kakinya.

“Suhu … “ Bun Houw merasa akan sikap yang dingin itu.

“Bun Houw, katakan, ilmu iblis apa yang kau pergunakan tadi?”

Kini mengertilah Bun Houw. Gurunya yang buta ini lebih waspada dibandingkan orang yang melek. Sehingga gurunya tadi dapat mengikuti semua gerakannya ketika dia melawan empat belas orang itu.

“Suhu, tcecu mentaati perintah Suhu, tidak melukai mereka, bahkan tidak menyentuh mereka, hanya mendorong dari jauh saja.”

“Itulah yang kumaksudkan. Tenaga doronganmu itu. Ilmu apa yang kaupergunakan dan dari mana engkau mempelajari ilmu itu? Hayo katakan! Apakah selama ini engkau berguru kepada orang lain tanpa minta ijin dariku?”

“Suhu, bagaimana teecu berani berguru kepada orang lain? Pula, di dunia ini mana ada guru lain yang lebih baik dari pada suhu suhu? Tidak, teecu tidak berguru kepada orang, akan tetapi teecu telah mengalami banyak hal yang aneh yang suhu tidak akan pernah mimpikan. Di antaranya, teecu telah menelan habis mustika Akar Bunga Gurun Pasir.”

Kini sepasang mata yang buta itu terbelalak. kedua tangan itu kini meraba-raba kepala pemuda yang berlutut di depannya. “Apa …? Kau … kau makan seluruh Akar Bunga Gurun Pasir dan kau masih hidup …? Muridku, apa yang telah terjadi? Ceritakan semua kepadaku!”

Gembira sekali rasa hati Bun Houw melihat sikap gurunya yang sudah berubah ramah itu. Dia memegang tangan gurunya, bangkit dan menuntun gurunya untuk dnduk di atas batu besar di bawah pohon yang teduh. Setelah keduanya duduk, Bun Houw berkata, “Panjang sekali ceritanya, suhu. Selama ini teecu telah mengalami banyak hal yang hebat dan aneh.” Pemuda itu lalu menceritakan semua pengalamannya, betapa dia menerima pukulan yang dahsyat dari Bu-eng-kiam Ouwyang Sek yang bahkan telah merampas pedangnya, Lui-kong-kiam dan membiarkan dia pergi dengan menderita luka parah. Betapa kemudian dia bertemu dengan Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan karena tidak tahu di mana adanya Akar Bunga Gurun Pasir, datuk majikan Bukit Kui-eng-san itu memukul punggungnya, membuat dia semakin payah karena menerima dua kali pukulan beracun dari dua orang datuk sakti.

“Dalam keadaan hampir mati, teecu yang hampir telanjang karena semua pakaian dan bekal emas pemberian suhu dirampas Suma Koan, teecu menerima pertolongan suami isteri pemburu ketika teecu jatuh pingsan di depan pondok mereka. Dan entah bagaimana teecu sendiri tidak tahu, isteri pemburu itu di luar pengetahuannya, telah memberi teecu obat minum. Teecu sendiri tadinya tidak tahu obat apa yang diminumkan kepada teecu itu. Teecu merasa seperti terbakar dari dalam, akan tetapi selanjutnya ternyata teecu telah mendapatkan tenaga sinkang yang dahsyat luar biasa. Dan tanpa disengaja, tanpa diketahui pula oleh suami isteri itu, teecu telah menelan habis seluruh Akar Bunga Gurun Pasir!’

“Hemm, menarik sekali! Bagaimana pemburu itu dapat menemukan Akar Bunga Gurun Pasir?”

“Teecu tidak tahu bagaimana mustika yang dibuat perebutan oleh semua orang sakti di dunia itu terjatuh ke tangan seorang pemburu yang lemah saja. Dan tanpa disengaja, mustika itu telah memasuki perut teecu!”

“Teruskan ceritamu yang amat menarik itu, Bun Houw.”

“Setelah teecu minum mustika aneh itu, terjadi keanehan dalam tubuh teecu. Agaknya hawa beracun dari kedua orang datuk itu bercampur dengan mustika Akar Bunga Gurun Pasir, mendatangkan semacam hawa yang dahsyat dan sukar dikendalikan.” Bun Houw lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan perampok-perampok yang kemudian memberi tahu kepadanya tentang adanya guha siluman yang telah menjatuhkan banyak korban.

“Banyak terdapat kerangka manusia dan senjata-senjata di depan guha itu, dan pada saat teecu datang ke sana, teecu sempat melihat seorang korban terakhir. Dia seperti orang gila, menyerang teecu ketika teecu melihat dia bersilat aneh dan terhuyung. Teecu menangkis dan diapun roboh tewas. Kemudian teecu mendengar suara orang-orang di luar guha ketika teecu sudah berada di dalam bahwa yang batu saja tewas itu adalah Toat-beng Kiam-ong.”

“Hemm, Toat-beng Kiam-ong? Dia seorang tokoh sesat yang memiliki tingkat kepandaian cukup tinggi. Kalau dia sampai tewas, tentu ada yang amat hebat di dalam guha itu dan engkau memasukinya, Bun Houw? Manusia macam apakah yang berada di dalam guha dan telah membunuh banyak tokoh persilatan tu?”

“Tidak ada seorangpun manusia di sana, suhu. Yang ada hanyalah pelajaran Ilmu silat dan ilmu itulah yang telah membunuh banyak orang itu!”

“Ehh? Apa maksudmu? Ceritakan yang jelas!” Kakek buta itu semakin tertarik mendengar cerita muridnya.

Bun Houw lain menceritakan dengan jelas tentang isi guha, tentang pelajaran ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tentang peringatan akan bahayanya mempelajari ilmu yang mujijat itu. Kemudian Bun Houw menceritakan bahwa karena tertarik, dan karena ingin menguasai kekuatan dahsyat yang menggelora dan meliar di dalam tubuhnya, dia lalu mempelajari Im-yang Bu-tek Cin-keng sampai berhasil baik dan dia mampu menguasai dan mengendalikan hawa sakti yang meliar di dalam tubuhnya.

“Ahh, kiranya begitu? Engkau telah mewarisi Im-yang Bu-tek Cin-keng? Akan tetapi, aku sendiri hanya pernah mendengar Ilmu itu yang dikabarkan telah musnah dari dunia ini. siapa tahu engkau malah yang telah mewarisi, Bun Houw. Pantas saja engkau tadi menggunakan tenaga yang demikian dahsyat, kiranya engkau telah menguasai Im-yang Bu-tek Cin-keng yang tadinya kukira hanya dongeng belaka. Muridku yang baik. bersiaplah engkau!”

“Tapi, tuhu … ” Akan tetapi pada saat itu, Pangeran Tiauw Sun Ong telah menyerangnya dengan ganas sekali, menggunakan tongkatnya dengan jurus maut dan bahkan menggunakan seluruh tenaganya sehingga nampak kilat berkelebat dan bunyi berciutan ketika tongkat itu sudah melakukan totokan yang bertubi-tubi terhadap jalan darah di bagian depan tubuh Bun Houw.

Bun Houw maklum bahwa gurunya tidak main-main dan ingin mengujinya, maka dia pun tahu bahwa kalau dia mempergunakan Ilmu yang dia dapat dari gurunya, dia tidak akan mampu bertahan. Gurunya menyerang dengan sepenuh tenaga dan kecepatan. Juga menggunakan jurus-jurus yang paling lihai. Maka, diapun tidak ragu lagi, segera mengerahkan tenaga sakti dan bergerak menurut ilmu barunya, yaitu Im-yang Bu-tek Cin-keng. Bagaikan air samudera digerakkan badai, datanglah tenaga yang bergelombang dahsyat menyambut serangan Tiauw Sun Ong.

Terjadi benturan-benturan tanaga jarak jauh yang membuat semua serangan kakek buta itu membalik. Tiauw Sun Ong terkejut akan tetapi juga girang sekali. Kini dia membuktikan sendiri bahwa Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah ilmu yang amat hebat dan yang membuat dia girang dan bangga adalah bahwa muridnya yang menjadi pewaris Ilmu itu! Dia menyerang lagi semakin hebat. Akan tetapi, makin keras dia menyerang, semakin keras pula dia terpental dan akhirnya. ketika sarangan terakhir yang amat dahsyatnya dia lakukan, ditangkis oleh Bun Houw. tubuh kakek itu terlempar dan terbanting keras.

“Suhu … !” Bun Houw berteriak dan sekali meloncat dia sudah berada di dekat suhunya dan membantu kakek itu bangkit berdiri.

“Suhu. maafkan teecu … “

Tiauw Sun Ong tertawa girang dan menyusut keringat dari dahi dan lehernya. “Ha-ha-ha, bukan main! Sungguh aku merasa girang dan bangga sekali, Bun Hoaw. Engkau kini lebih hebat dariku, jauh lebih kuat dan aku bukanlah tandinganmu lagi! Ha-ha-ha!”

Wajah pemuda itu berubah kemerahan. “Aih, suhu! Tadi suhu hanya menguji tenaga teecu saja dan mungkin karena teecu telah menelan Akar Bunga Gurun Pasir, dan karena suhu sudah tua, maka teecu unggul dalam hal tenaga. Kalau suhu menggunakan tongkat pedang dan menyerang teecu tanpa mengandalkan tenaga, mungkin teecu tidak akan mampu melawan.”

“Hemm, memang baik sekali sikapmu merendahkan diri itu, tanda bahwa biar engkau telah mewarisi ilmu yang dahsyat, engkau tidak menjadi sombong. Akan tetapi, sesungguhnya, Bun Houw. Ilmu pedang kilat kita tidak akan mampu menandingi Im-yang Bu-tek Cin-keng. Apalagi kalau engkau sudah melatihnya sampai matang. Aku yakin semua datuk di empat penjuru tidak akan mudah mengalahkanmu kalau engkan menggunakan ilmu itu dan mengerahkan tenagamu yang timbul dari Akar Bunga Gurun Pasir. Hemm, bagaimanapun juga, engkau harus berterima kasih kepada dua datuk itu, Ouwyang Sek dan Suma Koan.”

“Suhu, mereka berdua sudah memukul dan menyiksa teecu dengan pukulan beracun yang tentu akan mematikan teecu kalau saja tidak secara kebetulan teecu diberi minum Akar Bunga Gurun Pasir!” Bun Houw merasa penasaran.

“Justeru pukulan itulah yang membantu mustika itu bekerja dalam tubuhmu. Kalau hanya meminum air masakan mustika itu saja, kuyakin tidak akan sehebat itu khasiatnya. Ingat, mustika itu adalah milik Ouwyang Sek. Kalan mustika itu mendatangkan kekuatan sehebat itu. tentu sudah sejak dahulu dia minum sendiri! Mustika itu tadinya hanya dikenal sebagai obat penyembuh saja. Baru setelah bertemu dengan dua macam hawa beracun dalam tubuhmu, terjadi akibat yang luar biasa, yaitu menimbulkan tenaga mujijat yang kini menjadi milikmu. Nah, bukankah mereka telah berjasa besar, walaupun mereka melakukan tanpa sengaja, bahkan beriktikad buruk, yaitu untuk membunuhmu secara perlahan-lahan?”

Bun Houw mengangguk-angguk. “Sekarang barulah teecu mengerti akan kata-kata dan nasehat suhu dahulu bahwa cara yang dipergunakan Tuhan untuk memberkahi manusia kadang berselubung rahasia besar. Kini teecu mengerti apa artinya berkah terselubung. Dalam suatu peristiwa yang nampaknya buruk merugikan, mungkin tersembunyi berkah yang amat besar seperti yang teecu alami sendiri.”

Kakek buta itu mengangguk sagguk. “Benar sekali, muridku. Aku sendiri, kalau tidak terjadi peristiwa dengan selir kaisar sehingga akan membutakan mataku, yang membuat aku hampir tewas, tentu tidak akau dapat menguasai ilmu seperti sekarang ini dan tidak akan berjumpa denganmu. Oleh karena itu, seorang bijaksana pantang mengeluh apabila mengalami hal-hal yang tampaknya merugikan dan mengecewakan, karena dalam setiap peristiwa itu selalu terdapat hikmatnya yang terselubung,”

“Suhu benar, akan tetapi teecu hanya seorang manusia biasa, bagaimana mungkin teecu. dapat terbebas dari permainan rasa puas kecewa dan suka duka? Seperti kehilangan Lui-kong-kiam, hal itu tetap saja membuat teecu merasa kecewa dan menyesal sekali. Sekarang teecu harus mengunjungi Bu-eng-kiam Ouwyang Sek. untuk minta kembali pedang itu.”

“Bun Houw, engkau tadi belum bercerita jelas tentang terampasnya Lui-kong-kiam dari tanganmu oleh Ouwyang Sek. Nah, sekarang aku ingin mendengar ceritamu yang sejelasnya tentang itu.”

Bun Houw mengulang ceritanya tentang pertemuannya dengan Ouwyang Hui Hong, kemudian pertemuannya dengan Ouwyang Sek dan betapa nyaris dia dibunuh Ouwyang Sek kalau tidak ada Hui Hong yang menyelamatkannya dan mencegah ayahnya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri!

Kakek buta itu mendengarkan dengan asyik dan wajahnya berubah-ubah, sebentar pucat sebentar merah sehingga Bun Houw khawatir kalau-kalau suhunya terluka ketika bertanding dengan dia tadi.

“Kau kenapakah, suhu? Apakah suhu sakit?” tanyanya, menghentikan ceritanya yang sudah berakhir.

“Tidak, tidak, aku tidak apa-apa. Bun Houw, ceritakan kepadaku, bagaimana keadaan gadis bernama Ouwyang Hui Hong itu? Bagaimana bentuk wajahnya, bentuk tubuhnya dan terutama bagaimana watak dan perangainya ketika engkau bersamanya?”

Tentu saja Bun Hoiw merasa heran sekali kenapa gurunya bertanya tentang gadis yang tidak dikenalnya itu. “Ia … ia seorang gadis yang gagah perkasa, suhu, dan menurut pendapat teecu, wataknya baik sekali, berbudi dan sederhana walaupun ia dapat bersikap keras dan galak.”

“Wajahnya … wajahnya bagaimana?”

Bun Houw menahan keheranannya, “Wajahnya! Ia cantik dan agung, suhu, dan bentuk tubuhnya, ramping indah … ” Bun Houw teringat ketika sekilas dia melihat tubuh Hui Hong yang telanjang di dalam guha.

“Usianya berapa?”

“Sekitar dua puluh satu tahun … “

“Ceritakan bagaimana bentuk matanya, hidungnya, mulutnya dan bentuk wajahnya, satu demi satu, yang jelas. … ” Kakek itu nampak tegang dan bergairah sekali sehingga Bun Houw merasa semakin heran. Akan tetapi, merasa kasihan karena teringat bahwa gurunya tidak mampu melihat, dia lalu menggambarkan keadaan Hui Hong sejelasnya dan dia semakin bingung mendengar mulut gurunya berbisik-biiik.

“Mirip ia … ah, mirip ia … “

Kamudian tiba-tiba Tiauw Sun Ong menangkap kedua tangan muridnya dan kedua mata yang hanya putih itu seperti hendak menatap wajah Bun Houw ketika mulutnya bertanya dengan suara gemetar, “Bun Houw, bilang terus terang kepadaku. Apakah engkau mencinta Hui Hong?”

Bun Houw terkejut mendengar pertanyaan ini. Akan tetapi, dia amat sayang dan taat kepada gurunya, dan tidak pernah berkata yang tidak benar. Dia menganggap gurunya sebagai pengganti orang tuanya, maka mendengar pertanyaan itu, dia menjenguk isi hatinya sendiri. Dia memang tak pernah dapat melupakan Hui Hong, hanya dia sendiri tidak yakin apakah dia mencinta Hui Hong, Dia pernah mencinta seorang wanita, yaitu Ling Ay. mungkin cintanya terhadap Ling Ay hanyalah cinta remaja, hanya karena ada ikatan perjodohan di antara mereka. Setelah perjodohan itu putus, dia tidak lagi memikirkan Ling Ay, Ketika dia bertemu lagi dengan Ling Ay yang telah menjadi isteri Cun Hok Seng dan melihat penderitaan wanita itu, yang ada dalam hatinya hanyalah iba. Dan sekarang, perasaannya terhadap Hui Hong membuat dia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan suhunya.

“Bagaimana, Bun Houw? Katakan terus terang, apakah eugkau mencinta Hui Hong?””

“Suhu, Justeru teecu masih bingung untuk menjawab yang sebenarnya kepada suhu. Teecu juga bingung mengapa suhu menanyakan hal itu. Akan tetapi, suhu, terus terang saja, teecu merasa kagum, suka dan iba kepadanya. Ia telah mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan teecu. Bagaimana mungkin teecu dapat melupakannya? Akan tetapi, teecu tidak berani memastikan bahwa teecu mencintanya karena terus terang saja, teecu sendiri tidak mengerti, bagaimana dan apa cinta itu?”

Kakek itu tertawa. “Ha-ha-ha, cinta antar pria dan wanita penuh pengaruh nafsu berahi, cinta seperti itu mementingkan kesenangan hati sendiri, karenanya hanya mendatangkan lebih banyak tangis dari pada tawanya. Akan tetapi, cinta seperti itu mungkin diperlukan oleh manusia. Begini saja, apakah engkau ingin selain berdekatan dengan Hui Hong, ingin melihat ia berada di sampingmu selalu ingin hidup bersamanya, membagi susah dan senang berdua? Nah, jawablah sejujurnya.”

Wajah Bun Houw berubah kemerahan. “Aih, suhu, siapa yang tidak mau? Ia pandai dan cantik jelita, berbudi dan … ah, apa gunanya semua itu? Seorang gadis seperti Hu Hong, mana mungkin mau menjadi … eh, maksud teecu, mana mungkin mau dekat dengan orang seperti teecu? Dari pada mengharapkan lamunan kosong, lebih baik teecu melihat kenyataan. Ayahnya dan kakaknya amat membenci teecu, bahkan menganggap teecu sebagai musuh,”

Akan tetapi, Tiauw Sun Ong tertawa, “Ha-ha-ha, Bun Houw, engkau seorang laki-laki yang bodoh. Kautahu, Hui Hong itu amat mencintamu!”

“Eh-eh? Bagaimana mungkin suhu dapat mengetahuinya? Bakankah suhu belum pernah jumpa dengannya? Bagaimana suhu dapat mengatakan demikian?”

“Bodoh! Seorang gadis yang sudah membela seorang laki-laki dengan taruhan nyawa, itu berarti bahwa ia mencintamu. Bun Houw, mencintamu dengan tulus, bahkan lebih dari pada nyawanya sendiri.”

“Akan tetapi, hal itu ia lakukau hanya untuk membatas budi, suhu. Teecu pernah menghindarkan ia dari pada malapetaka diperkosa oleh Suma Hok!”

“Tidak ada bilas budi dengan mengorbankan nyawa sendiri. Aku yakin. Bun Houw, gadis itu mencintamu. Dan akupun yakin bahwa engkau juga mencintanya! Tidak perlu kau membantah lagi, aku dapat menjenguk isi hatimu dari suara dan kata-katamu. Nah, sekarang, bagaimana kalau kita pergi menemui keluarga Ouwyang dan aku melamarkan Hui Hong untuk menjadi jodohmu?”

Berbagai macam perasaan mencengkeram hati Bun Houw. Dia merasa girang, akan tetapi juga terharu dan diapun menjatuhan diri di depan kaki gurunya, “Suhu … “

Tiauw Sun Ong meraba kepala muridnya. “Eh! Kau kenapa? Tidak girangkah hatimu kalau kulamarkan Hui Hong untuk menjadi Jodohmu!”

“Suhu. tentu saja teecu gembira sekali dan terima kasih atas budi kecintaan suhu terhadap teecu. Akan tetapi, suhu. keluarga Ouwyang amat membenci teecu, Teecu khawatir kalau lamaran suhu hanya akan mendatangkan kemarahan kepada mereka dan akan menyusahkan suhu saja. Mengingat akan sikap Bu-eng-kiam Ouwyang Sek kepada teecu, teecu hampir yakin bahwa dia tentu akan menolak lamaran itu.”

Bun Houw merasa betapa jari-jari tangan gurunya yang kini berada di pundaknya itu mengeras dan menegang. “Dia berani menolaknya, akan kubunuh dia! Perhitungan antara aku dan dia masih belum lunas dan dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya!”

“Suhu, kenapa subu marah kepadanya? Apakah karena dia telah menganiaya teecu dan merampas Lui-kong-kiam! Harap subu jangan membunuhnya, teecu kasihan kepada Hui Hong dan … “

“Justeru karena Hui Hong aku hendak membunuhnya! Karena Hui Hong dan Ibunya!”

“Suhu …!”

“Bun Houw, dengar baik-baik. Kalau engkau mencinta Hui Hong, dan Hui Hong mencintamu, tidak ada seorang manusia atau iblis pun di dunia ini yang akan menghalangi kalian berjodoh. Cintamu terhadap Hui Hong kuterima dan engkau kutarima menjadi calon suami Hui Hong. Ingin aku melihat siapa yang akan berani mencampuri!”

“Akan tetapi, yang berhak menentukan tentu saja ayahnya, suhu.”

“Tepat sekali! Ayahnya yang harus menentukan tentang pernikahan anaknya, dan ayah Hui Hong adalah aku!”

Bun Houw hampir terjengkang saking kagetnya. Dia memandang kepada gurunya dengan mata terbelalak dan bingung, khawatir lagi kalau-kalau suhunya terluka oleh pertandingan tadi dan mengalami gangguan pada pikirannya karena terguncang hebat.

“Sudahlah, suhu, harap jangan pikirkan lagi urusan itu. Mari, suhu, silakan suhu beristirahat. Sebetulnya, kenapa suhu meninggalkan pondok dan mengapa suhu berada di sini? Suhu hendak pergi ke manakah?”

Tiauw Sun Ong tertawa, maklum apa yang dikhawatirkan muridnya. “Ha-ha-ha, engkau mengira aku gila? Bun Houw, justeru aku pergi nutuk mengunjungi Ouwyang Sek, dan kebetulan bertemu denganmu di sini. Tidak ada berita yang lebih menggembirakan dari pada kenyataan bahwa engkau saling mencinta dengan Hui Hong, saling mencinta dengan anakku.”

“Anak suhu? Siapakah anak suhu …?”

“Hui Hong itu adalah puterikn, Bun Houw.”

“Akan tetapi bagaimana mungkin …?”

“Bun Houw, ingatkah engkau akan ceritaku dahulu tentang sebab butanya kedua mataku?”

Bun Houw mengangguk, lupa bahwa gurunya tidak dapat melihatnya. Ketika ingat akan hal itu, dia cepat berkata, “Teecu ingat, suhu. Bukankah karena suhu membutakan diri sendiri karena urusan … eh, selir kaisar itu?”

“Benar. Nah, selir itu bernama Pouw Co Lan dan setelah aku pergi meninggalkan Istana, kemudian aku mendengar bahwa selir itu dihukum buang oleh kaisar, akan tetapi di dalam perjalanan ia dibebaskan oleh seorang tokoh kang-ouw yang kemudian terkenal dengan julukannya Bu-eng-kiam … “

“Ouwyang Sek … ?”

“Benar. Pouw Cu Lan dibebaskan Ouwyang Sek dari tangan para perajurit pengawal, dan dia membunuh semua perajurit dan membawa pergi wanita itu yang kemudian dia jadikan isterinya.”

“Ibunya Hui Hong …?” Bun Houw bertanya terkejut dan heran.

“Benar lekali. Pouw Cu Lan menjadi isteri Ouwyang Sek dan kemudian ia melahirkan Hui Hong, anakku!”

“Bagaimana ini, suhu? ia menjadi isteri Bu-eng-kiam Ouwyang Sek lalu melahirkan seorang anak, akan tetapi suhu mengatakan bahwa anak itu, Ouwyang Hui Hong, adalah puteri suhu?”

“Karena kemudian kuketahui bahwa setelah enam bulan menikah dengan Ouwyang Sek, Pouw Cu Lan melahirkan seorang anak perempuan. Hal ini berarti bahwa ketika menjadi Isteri datuk itu, ia telah mengandung kurang lebih tiga bulan. Jelas bahwa Hui Hong adalah keturunanku, anakku, bukan keturunan Ouwyang Sek. Maka, akulah yang berhak menentukan jodohnya, jodoh anakku. Nah, mari kita berkunjung ke Lembah Bukit Siluman!”

Bun Houw masih bingung. Kiranya Hui Hong adalah puteri gurunya, walaupun sejak anak itu berada dalam perut ibunya, sudah ditinggalkan ayah kandung. Bagaimana mungkin Hui Hong akan dapat mengakui Tiauw Sun ong sebagai ayahnya kalan sejak lahir ia berada di rumah Ouwyang Sek yang tentu dianggap ayahnya sendiri? Akan tetapi, kini dia berbesar hati. Kiranya gadis yang dikasihinya itu malah puteri gurunya sendiri! Kalau begitu, bukan hal penting mengenai pendapat Ouwyang Sek tentang hubungan batin antara dia dan gadis itu. Dengan hati dan langkah ringan, Bun Houw lalu berangkat bersama gurunya, menuju ke Lembah Bukit Siluman, tempat tinggal datuk yang ditakuti orang itu.

***

Dengan sikap jengkel Ouwyang Sek melangkah ke arah kamar puterinya dan sekali ini dia bertekad untuk memaksa Hui Hong keluar menemui kedua orang tamunya. Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan puteranya, Tok-siauw-kui suma Hok yang hendak pamit. Akan tetapi ketika dengan kasar dia mendorong daun pintu kamar itu terbuka, dia hanya mendapatkan isterinya yang sedang menangis di atas pembaringan Hui Hong.

“Hem, kenapa engkau menangis di sini dan di mana Hui Hong?” tanya datuk itu dengan suara yang ketus karena dia masih marah kepada isterinya yang membuka rahasia tentang ayah kandung Hui Hong. Dia telah banyak mengalah terhadap wanita ini, yang memang amat dicintanya. Dia memenuhi permintaan Pouw Cu Lan dan tidak mengganggunya sama tekali sebelum Hui Hong terlahir, kemudian, dia menyayang Hui Hong seperti anak kandungnya sendiri walaupun dia tahu bahwa anak itu bukan keturunannya. Dan kini tahu-tahu wanita itu sendiri yang membuka rahasia berkata di depan Hui Hong bahwa gadis itu bukan anaknya!

Mendengar suara suaminya, Pouw Cu Lan bangkit duduk dan menghadapi suaminya. Kedua matanya merah membengkak karena tangis. Kedua pipinya yang menjadi pucat basah air mata dan kedua mata itu mengeluarkan sinar marah. Melihat pria tinggi besar bermuka hitam itu berdiri di situ dan teringat akan kepergian Hui Hong, timbul sakit hati dan kemarahan yang hebat di dalam hati wanita itu. Teringat ia betapa selama bertahun-tahun, demi keselamatan Hui Hong, ia rela dijadikan benda permainan oleh pria yang sebetulnya amat dibencinya ini. Kini baru ia menyadari sepenuhnya betapa ia amat muak dan benci kepada wajah yang kasar hitam dan bengis itu. Maka, Pouw Cu Lan lalu bangkit berdiri dan dengan tangan gametar ia menudingkan telunjuknya ke arah muka itu dan suaranya terdengar lantang, “Ouwyang Sek, engkan manusia jahat! Engkaulah yang membuat anakku pergi, tak dapat kucegah lagi! Engkau hendak memaksanya menikah dengan seorang pemuda yang tidak disukainya!”

Ouwyang Sek mengerutkan alisnya yang tebal. “Apa Hui Hong pergi? ia berani minggat? Anak bedebah itu!”

“Engkau yang bedebah! Engkau tidak berhak menentukan jodohnya akan tetapi engkau memaksanya menjadi calon Isteri orang yang tidak disukainya!”

“Cu Lan, engkau tidak tahu diri! Bulankah selama ini aku selalu baik dan mencintamu? Bukankah selama ini aku amat menyayang Hui Hong seperti anakku sendiri? Akan tetapi engkau malah yang membuka rahasia itu, tentu membuat Hui Hong menjadi bingung. Dan aku memilihkan jodoh yang amat baik, kenapa kau ribut-ribut? Suma Hok adalah seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan kaya raya. Kurang Apalagi? Ayahnya juga seorang sahabatku, seorang yang memiliki tingkat yang sama denganku!”

“Huh, pemuda jahat itu kaupuji-puji? Padahal, dia nyaris memperkosa Hui Hong! Sepatutnya engkau marah dan membunuh pemuda itu, bukannya malah hendak manariknya sebagai mantu.”

“Perbuatannya itu wajar saja, karena cintanya kepada Hui Hong … “

“Busuk! Jahat! Tentu saja engkau tidak menyalahkan dia yang hendak memperkosa anakku, karena engkau sendiri juga jahat seperti dia, karena engkau juga telah memperkosaku!”

“Cu Lan … !” Wajah yang hitam itu menjadi semakin hitam karena marah. “Engkau perempuan tak mengenal budi! Kalau tidak ada aku, kini tentu engkau telah mati bersama anak dalam kandunganmu, atau menjadi seorang nenek terlantar, mungkin menjadi jembel, minta-minta bersama anakmu, mungkin anak perempuanmu menjadi pelacur karena tidak ada yang menjamin kehidupannya. Engkau kini menjadi wanita terhormat dan hidup mewah, anakmu menjadi seorang gadis yang berilmu dan dihormati temua orang. Semua itu berkat jasaku, mengerti? Dan engkau berani bersikap seperti ini kepadaku?”

Cu Lan merasa terpukul karena apa yang diucapkan pria itu memang tidak bohong. Karena mengingat akan budi itulah ia rela menyerahkan hati dan tubuhnya kepada Ouwyang Sek, sekedar membalas budi, demi kebahagiaan putrinya. Kalau kini ia marah adalah karena melihat anaknya dipaksa untuk berjodoh dengan orang yang tidak disukai anaknya sehingga anaknya sekarang nekat pergi untuk mencari ayah kandungnya.

“Bagaimanapun juga, engkau yang memaksa ia menerima laki-laki yang bahkan dibencinya dan sekarang ia melarikan diri, ia pergi tanpa dapat kucegah.” Cu Lan menangis dengan sedihnya, Ouwyang Sek mengepal tinju, dia marah sekali. “Anak itu sungguh tak tahu diri! Sejak kecil kusayang dan kurawat, kudidik akan tatapi sekarang bukan saja berani membantahku bahkan pergi tanpa pamit. Tentang perjodohannya, bukan aku memaksanya! Bukankah ia telah mengajukan syarat yang cukup berat, yaitu pertama agar yang menjadi calon suaminya menemukan kembali mustika Akar Bunga Guruu Pasir, dan kedua agar calon suaminya dapat mengalahkannya dalam pertandingan? Nah, dengan adanya syarat itu, apakah itu berarti aku memaksanya?”

Cu Lan juga tarpaksa membenarkan ucapan suaminya ini. Ia tahu bahwa suaminya memang sungguh menyayang Hui Hong seperti anak sendiri, dan syarat yang diajukan Hui Hong itupun diterima, kecuali syarat ke tiga, yaitu agar calon jodohnya dapat mempertemukannya dengan Bun Houw untuk minta maaf tidak dipenuhi oleh Ouwyang Sek. Dilain hal itu, berarti suaminya memang sudah memberi kelonggaran kepada Hui Hong, “Syarat itu harus ditambah, sekarang syarat dari aku sendiri! Kalau syaratku itu tidak dipenuhi, sampai mati aku akan menentang perjodohan anakku!”

“Hemm, syarat apalagi? Dua syarat Hui Hong itu sudah cukup berat!” Ouwyang Sek mengomel.

“Syaratku adalah bahwa siapa yang dapat mengembalikan Hui Hong kepadaku, ialah yang patut menjadi mantuku!”

Ouwyang Sek dapat menerima syarat isterinya, karena diapun maklum betapa akan duka hati isterinya kalau Hui Hong tidak kembali lagi kepadanya. Akan tetapi tentu saja dia merasa sungkan kepada rekannya, datuk dari Bukit Bayangan Iblis (Kui-eng-san). “Baik, kau katakan sendiri kepada ayah dan anak itu agar tidak disangka aku yang sengaja mempersulit mereka.”

“Huh, di mana kegagahanmu yang selama ini kau sombongkan? Demi membela anak, kenapa engkau tidak berani menentang mereka? Baik, aku akan menemui mereka dan mengatakannya sendiri!” kata Pouw Cu Lan dan diam-diam Ouwyang Sek memandang heran dan kagum, isterinya ini, bekas selir kaisar dan bekas kekasih Pangeran Tiauw Sun Ong, selama ini bersikap sebagai seorang wanita lemah yang suka melakukan segala perintahnya dengan patuh. Akan tetapi saat ini telah berubah menjadi seorang wanita pemberani, bahkan berani untuk menentang keluarga Suma. Dan diapun menyadari bahwa semua kelemahan dan kepatuhan Cu Lan ternyata hanya demi puterinya. Kini begitu puterinya terganggu, iapun dapat berubah sebagai seekor harimau betina yang melindungi anaknya!”

Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan puteranya, Tok-siauw-kwi suma Hok telah siap untuk pergi dan mereka berdua menanti di ruangan depan untuk berpamit dari keluarga Ouwyang, terutama sekali Suma Hok ingin bertemu lagi dengan Hui Hong dan pamit kepada gadis yang dianggapnya sebagai tunangan atau calon isterinya itu. Tentu saja mereka merasa heran, dan terutama Suma Hok merasa kecewa ketika mereka melihat Ouwyang Sek muncul kembali hanya bersama isterinya. Tidak nampak Hui Hong bersama mereka, juga tidak nampak Ouwyang Toan! Tidak munculnya Ouwyang Toan tidak diambil pusing oleh Suma Hok, akan tetapi tidak adanya Hui Hong membuat dia merasa kecewa sekali dan saking tidak dapat menahan kekecewaan hatinya, diapun menyambut Ouwang Sek dengan pertanyaan tanpa sungkan lagi, “Paman Ouwyang, mana Hui Hong? Aku ingin berpamit kepada tunanganku yang tercinta itu!”

Sebelum Ouwyang Sek yang merasa malu dapat menjawab, isterinya telah mendahului dan dengan suara lantang Pouw Cu Lan berkata, “Orang muda. dengarlah baik-baik. Anakku Hui Hong telah pergi tanpa pamit, entah ke mana kamipun tidak tahu, aku sebagai ibunya, kini menambahkan syarat sebagai sayembara untuk menjadi calon suami anakku. Anakku Hui Hong sudah mengajukan tyarat bahwa calon suami harus dapat menemukan kembali mustika Akar Bunga Gurun Pasir, dan harus pula dapat mengalahkan ia dalam pertandingan. Sekarang kutambah dengan sebuah syarat lagi, yaitu siapa yang dapat menemukan Hui Hong dan dapat mengajaknya pulang ke sini, dialah calon suami anakku, calon mantuku!”

Tiba-tiba terdengar suara orang dari luar, “Bagus sekali! Syarat yang tiga itu cukup adil dan kami sanggup memenuhi ketiganya!”

Tentu saja semua orang terkejut, terutama Ouwyang Sek dan Suma Koan karena kedua orang datuk ini tidak dapat mengetahui atau mendengar kedatangan orang yang mengeluarkan suara itu. Tahu-tahu orang itu telah berada di situ dan ketika mereka menengok, ternyata di pekarangan itu telah berdiri seorang pemuda dan seorang kakek buta! Mereka itu bukan lain adalah Bun Houw dan gurunya, bekas Pangeran Tiauw Sun Ong.

Sejenak semua orang memandang ke arah guru dan murid itu dan suasana menjadi sunyi sekali, sunyi yang menegangkan. Akan tetapi tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh isak tangis dari Pouw Cu Lan sudah menjatuhkan diri berlutut menghadap kepada Tiauw Sun Ong dan terdengar di antara isaknya ia berkata lemah.

“Pangeran …!” Dapat dibayangkan betapa hancur hati wanita itu. Dahulu, ketika ia menjadi selir terkasih kaisar, ia telah saling jatuh cinta dengan Pangeran Tiauw Sun Ong. Adik suaminya. Mereka berdua telah lupa diri, berdua sehingga akhirnya tertangkap basah dan biarpun kaisar tidak menghukum adiknya, namun Pangeran Tiauw Sun Ong yang merasa berdosa dan malu, membutakan matanya sendiri di depannyal Pangeran itu telah menjadi seorang buta karena iapun ketika itu tidak mengharapkan hidup lagi, dihukum buang dan akhirnya dirampas oleh Ouwyang Sek. Andaikata Ia tidak mengandung, tentu ia akan membunuh diri! Kini, setelah kesemuanya itu hanya tinggal kenangan belaka, tiba-tiba ia berhadapan dengan Pangeran Tiauw Sun Ong, satu-satunya pria yang dicintanya, akan tetapi juga yang menderita sengsara karenanya!”

“Pangeran …!” Kembali ia memanggil dengan suara merintih, diiringi tangis mengguguk.

“Ha-ha-ha-ha!” Kui-siauw Giam-ong tertawa bergelak. “Saudara Ouwyang Sek. sungguh pertunjukan ini lucu sekali, seperti di atas panggung wayang dan engkau membiarkan saja badut ini datang disambut sembah dan tangis isterimu? Kalau perlu, aku dapat membantumu mengirimnya ke neraka!”

Ouwyang Sek yang mukanya hitam itu kini memandang kepada Tiauw Sun Ong dengan mata melotot marah. “Tiauw Sun Ong, mau apa engkau datang ke sini?” Sungguh sama sekali tidak ramah ucapannya itu, namun Tiauw Sun Ong menyambutnya dengan senyum. Kakek buta ini juga sama sekali tidak memperdulikan bekas kekasihnya yang kini telah menjadi isteri datuk Bukit Siluman itu. Seperti orang yang dapat melihat saja, dia mengangkat muka ke arah dua orang datuk itu dan suaranya terdengar lembut namun berwibawa.

“Suma Koan, kebetulan sekati aku bertemu denganmu di sini. Dan Ouwyang Sek, aku juga girang bahwa engkau berada di rumah sehingga aku dapat bertemu dengan kalian dua orang datuk besar. Aku ingin menyampaikan terima kasih kepada kalian yang telah memukul muridku dengan pukulan beracun, karena perbuatan kalian itu mendatangkan untung yang teramat besar dan tak ternilai harganya bagi muridku.”

Mendengar ucapan itu wajah kadua orang datuk itu berubah kemerahan karena tentu saja mereka mengira bahwa ucapan bekas pangeran itu merupakan ejekan atau sindiran, sama sekali mereka tidak tahu bahwa ucapan itu memang sungguh sungguh!

“Tiauw Sun Ong, tidak perlu banyak cakap. Cepat katakan mau apa kau ke sini sebelum kuusir engkau yang tidak kuundang!” bentak Ouwyang Sek yang menjadi semakin marah karena mara ia diejek.

Bekas pangeran itu tetap tersenyum. “Ouwyang Sek, kami telah mendengar sayembara untuk pencalonan suami bagi anakmu Hui Hong. Nah, aku datang bersama muridku untuk mengajukan pinangan agar Hui Hong dapat menjadi jodoh muridku Bun Houw … “

“Tidak boleh!” bentak Ouwyang Sek memotong.

“Ouwyang Sek, engkau tidak berhak bercakap begitu. Dengarkan dulu apa yang dikatakan pangeran!” bentak Cu Lan dan kembali Ouwyang Sek merasa heran. Wanita ini sekarang sungguh amat berani! “Hui Hong adalah anakku dan aku berhak pula memutuskan!” sambung pula Pouw Cu Lan.

“Kami sudah mendengar tentang tiga macam syarat itu. Pertama, menemukan Akar Bunga Gurun Pasir, ke dua menandingi Hui Hong dalam ilmu silat, dan ke tiga, membawa kembali Hui Hong yang sekarang pergi entah ke mana. Dan juga pedang Lui-kong-kiam milik muridku telah berada di tanganmu, Ouwyang Sek, biarlah kami menganggap itu sebagal Ikatan jodoh!”

“Tidak, aku tidak menerima pinangan itu! Hui Hong telah kujodohkan dengan putera saudara Suma Koan! Andaikata belum juga, aku tidak akan menjodohkan anakku dengan murid seorang buta!”

“Ouwyang Sek, engkau tidak berhak bicara seperti itu!” Pouw Cu Lan berteriak, lalu ia bangkit, lari ke depan kaki Tiauw Sun Ong, menjatuhkan diri berlutut lagi dan berkata, “Pangeran, Hui Hong adalah puteri pangeran, anak kita, dan saya setuju kalau ia dijodohkan dengan muridmu … ,”

“Diam kau, perempuan binal!” bentak Ouwyang Sek marah, kemudian dia berkata kepada bekas pangeran itu dengan pandang mata penuh kebencian karena cemburu. “Tiauw Sun Ong, pargilah engkau dari sini atau terpaksa aku akan melakukan kekerasan!”

Akan tetapi bekas pangeran itu kini tidak memperdulikannya lagi. Dia menunduk dan memalingkan muka ke arah bekas kekasihnya.” Cu Lan, aku menysal sekali telah menyebabkan engkau menderita dalam hidupmu. Aku pun cukup menderita dan agaknya memang Tuhan telah menghukum kita berdua karena perbuatan kita yang tidak benar. Cu Lan, aku telah tahu tentang anak kita Hui Hong, sekarang katakan, ke mana ia pergi?”

“Pangeran, saya menceritakan kepadanya tentang kita, dan ia … ia pergi bersama seorang wanita yang katanya mengetahui di mana engkau berada. Saya tidak dapat mencegahnya … “

“Siapa wanita itu?” tanya Tiauw Sun Ong, sedangkan Ouwyang Sek juga mendengarkan dengan penuh perhatian karena baru sekarang dia mendengar bahwa anaknya pergi bersama seorang wanita.

“Saya tidak melihatnya. hanya mendengar suaranya, dan menurut Hui Hong, ia seorang wanita cantik yang usianya sekitar tiga puluhan. Pangeran, tolong carikan ia, carilah anakku, cari anak kita karena aku merasa khawatir sekali … “

“Ha-ha-ha, saudara Ouwyang, sebetulnya bagaimanakah ini? Hui Hong yang hendak diperisteri putraku itu anak siapa! Anakmu, anak si buta ini, ataukah anak haram?” Suma Toan yang tidak sabar kini berseru dengan suara mengejek.

“Tiauw Sun Ong, dengar baik-baik!” Ouwyang Sek kini membentak marah. “Engkau dan perempuan binal ini sama sekali tidak berhak atas diri Hui Hong! Lihat perempuan ini. Ia selir kaisar yang telah memberi segala galanya, kedudukan dan kemewahan, akan tetapi apa yang ia lakukan? Ia melakukan penyelewengan, berkhianat dan berjina denganmu, adik suaminya sendiri. Setelah tertangkap basah, kalian berpisah dan apa yang ia lakukaa? Ia mau menjadi isteriku dan Ìa melayaniku dengan sepenuh hati sampai sekarang. Perempuan macam ini apakah berhak untuk menjadi seorang ibu yang berhak penuh atas diri Hui Hong? Dan lihat dirimu sendiri! Engkau telah mengkhianati kakak sendiri, berjina dengan isteri kakakmu. Setelah ketahuan, engkau tidak bertanggung jawab, malah melarikan diri, tidak perduli kekasih gelapmu telah mengandung. Orang macam engkan ini apakah pantas menjadi ayah Hui Hong? Sebaliknya, sejak kecil, sejak lahir, Hui Hong kupelihara, kudidik sampai menjadi seorang gadis seporti sekarang keadaannya. Tidakkah sudah sepatutnya kalau aku yang berhak menentukan jodohnya? Hayo jawab!”

Terdengar rintihan dan tangis keluar dari mulut Pouw Cu Lan. Wanita ini merasa betapa ucapan suaminya itu seperti pedang beracun menancap di ulu hatinya. Ia tidak mampu membantahnya walaupun semua itu ia lakukan demi Hui Hong! Juga bekas pangeran itu berdiri menunduk dan berulang kali menghela napas panjang. Biarpun kasar dan keji, ucapan dari datuk sesat itu memang benar. diapun mempunyai alasan, yaitu bahwa dia tidak tahu bahwa kekasihnya itu telah mengandung ketika dia meninggalkannya. Andaikata dia tahu, mnngkin tidak akan begini jadinya. Akan tetapi alasan itupun amat lemah dan dia tidak mau mengeluarkannya.

“Ouwyang Sek, aku datang bukan untuk merampas hakmu sebagai ayah atas diri Hui Hong. Bahkan aku mengakui engkan sebagai ayahnya. Buktinya, aku datang sebagai wakil muridku ini untuk melakukan pinangan atas diri Hui Hong sebagai puterimu. Dan kami akan memenuhi tiga syarat tadi, juga pedang Lui-kong-kiam itu boleh kausimpan sebagai tanda ikatan jodoh atau tanda bahwa kami telah meminang puterimu.”

“Pedang Lui-kong-kiam ini kuambil dari tangan muridmu dengan kekerasan. Kalau memang dia mempunyai kemampuan, boleh merampasnya kembali dari tanganku!” kata Ouwyang Sek sambil menepuk pedang dengan sarungnya yang seperti tongkat dan yang tergantung di punggungnya itu.

Sementara itu Suma Koan juga melangkah maju menghampiri Tiauw Sun Ong dan tertawa dengan nada mengejek. “Heii, orang buta. Sungguh lancang sekali engkau, berani meminang Ouwyang Hui Hong. Anak perempuan itu telah menjadi calon mantuku, tahu? Siapa yang meminang calon mantuku, berarti menghinaku. Engkau boleh mengajukan pinanganmu kalau mampu menghadapi suling mautku!”

Ditantang olah kedua orang datuk itu, Tiauw Sun Ong menoleh ke arah muridnya. “Bun Houw, tidak ada jalan lain lagi. Kau rampaslah kembali Lui-kong-kiam dari Ouwyang Sek, dan biar aku yang akan melayani Iblis Suling Maut ini.”

Bun Houw yang merasa kasihan sekali kepada ibu kandung Hui Hong, mengangguk, lalu diapun melangkah maju mengbampiri Ouwyang Sek. Bagaimaupun juga, dia tetap memandang kakek tinggi besar muka hitam ini sebagai ayah Hui Hong. maka diapun bersikap sopan. “Lo-cian-pwe, aku menerima tantanganmu untuk mencoba mengambil kembali Lui-kong-kiam yang kaudapat.”

“Heh, bocah yang bosan hidup. Kebetulan sekali karena akupun ingin menyelesaikan niatku yang tidak kulaksanakan dahulu, yaitu membunuhmu. Nah, majulah untuk menerima kematian!” Kakek itu menggerakkan tangannya dan dia sudah menyerang dengan dahsyat, kedua tangannya menyambar dari kanan kiri sehingga mendatangkan suara menyambar-nyambar ke arah tubuh Bun Houw. Pemuda ini sudah maklum akan kelihaian lawan, maka dia pun sudah bersikap waspada, cepat dia meloncat ke belakang untuk mengelak dan mencari tempat yang lebih luat agar jangan mengganggu gurunya. Juga agar tidak terlalu dekat dengan ibu Hui Hong yang masih berlutut sambil menangis sedih.

Sementara itu, Suma Koan sudah menggunakan sulingnya untuk menyerang Tiauw Sun Ong Datuk dari Bukit Bayangan Iblis ini berjuluk Kui-siauw Giam-ong (Iblis Suling Maut), tentu saja senjata sulingnya itu dahsyat bukan main. Suling itu selain dapat dipergunakan sebagai senjata yang kokoh kuat karena terbuat dari baja yang pilihan, juga ujungnya mengandung racun, dan suling itupun dapat dipergunakan untuk meniupkan jarum-jarum beracun ke arah lawan. Senjata inilah yang mengangkat Suma Koan dan membuat dia dijuluki Suling Maut.

Namun sekali ini, majikan Kui-eng-san itu berhadapan dengan Tiauw Sun Ong. Tadinya dia memang memandang rendah kepada kakek buta itu karena diapun baru pernah mendengar saja nama bekas pangeran ini. namun belum membuktikan sendiri kelihaiannya. Bagaimanapun juga, dia hanya seorang buta,’ demikian pikir Suma Koan dan serangan-serangannya yang dahsyat itu, dia mengira akan mampu merobohkan lawan buta itu dalam beberapa gebrakan saja. Akan tetapi, begitu Tiauw Sun Ong menggerakkan tangannya, sebatang pedang berkilauan telah berada di tangannya dan dia melemparkan tongkat yang menjadi sarung pedang itu kepada muridnya sambil berseru, “Bun Houw, kau pergunakan ini!”

Tiauw Sun Ong menggerakkan pedangnya dan nampak sinar bergulung-gulung, menangkis suling dan begitu kedua senjata itu bertemu, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan terkejut bukan main karena dia merasa betapa retapak tangannya yang memegang suling tergetar hebat, tanda bahwa lawan buta itu memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, tidak berada di sebelah bawahnya! Maka, diapun berseru keras dan sulingnya melakukan serangkaian serangan yang lebih dahsyat lagi. disambut dengan tenang oleh Tiauw Sun Ong yang juga maklum bahwa dia melawan seorang datuk yang lihai.

Bun Houw menyambut sarung pedang berbentuk tongkat butut yang dilemparkan suhunya, akan tetapi melihat betapa Ouwyang Sek menyerangnya dengan tangan kosong, diapun hanya menyelipkan tongkat itu di ikat pinggangnya dan menghadapi serangan datuk Bukit Siluman itu dengan tangan kosong pula. Sampai belasan jurus dia hanya mengelak dengan berloncatan dan dengan menggeser kedua kakinya secara ringan dan lincah sekali sehingga semua serangan kakek itu hanya mengenai tempat kosong.

Bu-eng-kiam Ouwyang Sek menjadi penasaran bukan main, rasa penasaran yang mendatangkan kemarahan. Belasan jurus dia menyerang dan pemuda itu hanya mengelak, akan tetapi tidak pernah pukulannya mengenai sasaran. Diam-diam dia terkejut di samping kemarahannya. Pemuda ini dahulu telah dia pukul dengan pukulan yang mengandung hawa beracun mematikan. Akan tetapi, kini bukan saja pemuda itu sama sekali tidak kelihatan menderita oleh pukulannya, bahkan kini pemuda itu sedemikian mudahnya menghindarkan diri dari belasan kali serangannya yang dahsyat.

“Bocah sombong, mampuslah!” Tiba-tiba dia membentak dan dia mengirim serangan dengan kedua tangannya yang menghadang dari kanan kiri dengan cepat dan kuat. tidak memungkinkan pemuda itu untuk mengelak lagi. Andaikata lawannya meloncat ke belakangpun tentu akan dilanda hawa pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sin-kang dan hawa beracun itu.

Melihat serangan maut ini. Bun Houw tidak mau mengelak lagi. Diapun diam-diam mengerahkan tenaga yang didapatnya dari latihan Im-yang Bu-tek Cin-keng, hanya dia mengatur dan membatasi tenaganya, hanya untuk melindungi dirinya saja, tanpa niat untuk menyerang atau mencelakai lawan.

“Wuuuuttt, desss …!” Kedua telapak tangan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek bertemu dengan dinding yang tidak nampak dan demikian kuatnya benturan pada dinding tak nampak itu sehingga tubuh datuk itu terdorong ke belakang.

Dia tidak mampu menguasai kuda-kudanya lagi sehingga terpaksa kakinya terhuyung melangkah ke belakang sampai lima langkah! Dan yang membuat dia terbelalak adalah melihat pemuda itu masih berdiri tegak dengan sikap tenang!

Ilmu apa ini, pikirnya kaget dan karena maklum bahwa dengan tangan kosong dia tidak akan mampu menandingi pemuda yang memiliki tenaga mujijat yang tidak dikenalnya itu, Ouwyang Sek lalu menggerakkan tangan kanan ke punggungnya dan di lain saat, nampak kilat berkelebat menyambar ketika dia telah mencabut Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) yang dahulu dirampasnya dari tangan Bun Houw!”

Melihat pedangnya sendiri kini dipergunakan lawan untuk menyerangnya, Bun Houw segera mencabut tongkat sarung pedang gurunya yang dia selipkan di pinggang. Dia tentu saja mengenal keampuhan Lui-kong-kiam, dan biarpun dia belum pernah melihat ilmu pedang datuk itu, namun mengingat bahwa datuk itu berjuluk Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan), dia dapat menduga bahwa Ouwyang Sek tentu seorang ahli pedang yang amat lihai.

“Singgg … wuuuut, singgg …!” Lui-kong-kiam di tangan Ouwyang Sek diputar-putar di atas kepalanya membentuk gulungan sinar yang menyilaukan mata. “Bocah sombong, biar pedangmu sendiri menghirup darahmu!”

Pedang yang kalau digerakkan menimbulkan sinar berkilat itu menyambar ke arah leher Bun Houw. Memang pantas Ouwyang Sek dijuluki Bu-eng-kiam karena dia memang seorang ahli pedang yang mampu menggerakkan pedang dengan kecepatan luar biasa sehingga seolah-olah pedang itu tidak mempunyai bayangan, tahu-tahu telah tiba disasaran yang dituju. Namun Bun Houw adalah murid tersayang dari Tiauw Sun Ong yang memiliki ilmu pedang yang ampuh, yaitu ilmu pedang yang mengandalkan ketajaman pendengaran dan perasaan naluri seorang buta. Gerakan pedang yang betapapun dapat ditangkap oleh pendengaran dan perasaan itu, maka begitu pedang itu menyambar ke arah lehernya, Bun Houw, sudah dapat menangkisnya dengan tongkat sarung pedang gurunya.

“Trangg … !” Pedang terpental lalu menukik ke bawah, menusuk ke arah perut Bun Houw.

“Trangg …!” Kembali pedang yang terpental itu membuat gerakan membalik dan kini sudah menyambar lagi menusuk dada.

“Trangg …!” Dan kini Bun Houw melanjutkan tangkisannya dengan serangan balasan yang meubuat Ouwyang Sek harus cepat memutar pedangnya untuk membuat perisai gulungan sinar melindungi dirinya karena dia dapat merasakan sambaran angin dahsyat ketika tongkat itu menyambar-nyambar ke arah dirinya.

Terjadi perkelahian yang amat hebat antara Ouwyang Sek dan Bun Houw, dan makin lama, Ouwyang Sek menjadi semakin terkejut dan terheran-heran. Belum lama, ketika dia untuk pertama kalinya bertemu dengan pemuda ini, Bun Houw belumlah sepandai ini walaupun tingkat pemuda ini sudah sedikit lebih tinggi dari pada tingkat Ouwyang Toan dan Hui Hong. Akan tetapi sekarang, bagaimana mungkin pemuda ini sudah menjadi sedemikian lihainya sehingga dia sendiri selalu kalah kalau beradu tenaga, dan ilmu pedangnyapun tidak mampu mendesak pemuda yang hanya bersenjatakan tongkat pendek ini?

Sementara itu. perkelahian antara Tiauw Siauw Ong dan Suma Koan juga terjadi dengan hebatnya. Namun, setelah beberapa kali meniupkan jarum beracun tanpa hasil karena selalu dapat dipukul runtuh oleh gulungan sinar pedang di tangan lawan yang buta itu. mulailah Suma Koan terdesak oleh gulungan sinar pedang yang dimainkan Tiauw Sun Ong. Melihat betapa ayahnya tidak mampu menang bahkan terdesak oleh orang buta yang tadinya mereka pandang rendah itu. Suma Hok juga mencabut sulingnya dan dia tanpa banyak cakap lagi sudah terjun ke dalam perkelahian membantu ayahnya mengeroyok Tiauw Sun Ong! Sang ayah juga diam saja dan agaknya mereka tidak merasa malu harus mengeroyok seorang lawan yang buta! Mengelahui bahwa dia dikeroyok oleh dua orang lawan tangguh. Tiauw Sun Ong memutar pedangnya semakin cepat dan membentuk benteng pertahanan dari gulungan sinar pedang yang berkilauan untuk melindungi dirinya.

Bun Houw hanya mengimbangi permainan Ouwyang Sek karena bagaimanapun juga, dia tidak ingin membuat datuk yang menjadi ayah tiri Hui Hong ini merasa terhina kalau dia kalahkan. Akan tetapi, kini dia melihat keadaan gurunya yang dikeroyok secara curang oleh ayah dan anak Suma, dia harus membantu gurunya,’ pikir Bun Houw dan untuk dapat melakukan itu. dia harus menyudahi perkelahiannya melawan Ouwyang Sek. Tiba-tiba Bun Bouw mengeluarkan bentakan nyaring, bentakan yang membuat Ouwyang Sek merasa betapa jantungnya terguncang dan saat itu, pedang Lui-kong-kiam di tangannya bertemu dengan tongkat di tangan Bun Houw dan melekat! Dia berusaha menarik kembali pedang itu, namun tidak dapat dan karena marah dia lalu menghantamkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka ke arah muka Bun Houw. Hantaman ini dilakukan sekuat tenaga dengan kandungan hawa beracun dan kalau sampai terkena pukulan ini. betapapun lihainya, tentu pemuda itu akan roboh dan tewas.

Melihat pukulan tangan kiri ini, Bun Houw maklum betapa besar bahayanya, maka diapun mengerahkan tenaga dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan menggerakkan tangan kiri menyambut hantaman ke arah mukanya itu.

“Plakkk!” Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya, Ouwyang Sek mengeluarkan seruan kaget dan tubuhnya gemetar, terhuyung ke belakang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Bun Houw untuk secepat kilat melepaskan lekatan tongkatnya dari pedang, dan ujung tongkatnya sudah menotok pergelangan tangan kanan Ouwyang Sek sehingga pedang itu terlepas dan dilain detik, Lui-kong-kiam telah kembali kepada pemiliknya!”

Ouwyang Sek yang terhuyung ke belakang, terbelalak melihat pedang itu sudah terampas oleh Bun Houw. Dia merata malu, penasaran dan kemarahannya memuncak. Dengan mengeluarkan gerengan seperti seekor binatang buas dia menyambar sarung pedang yang masih tergantung di punggungnya, lalu dia meloncat ke depan, dengan buas menerkam dan menggerakkan sarung pedang berbentuk tongkat itu ke arah Bun Houw, menyerang dengan membabi-buta.

Bun Houw menyambut serangan sarung pedang itu. Melihat betapa Ouwyang Sek memegang ujung sarung pedang sehingga bagian yang berlubang menghadap ke arahnya, diapun mengelebatkan Lui-kong-kiam yang sudah dirampasnya, menarik ke depan dan tepat sekali Lui-kong-kiam masuk ke dalam sarung pedang itu! Dan pada saat itu, sarung pedang milik gurunya yang masih dipegang tangan kirinya, membuat gerakan menyerang ke arah leher Ouwyang Sek. Datuk ini terkejut, berusaha menarik sarung pedang itu, namun sia-sia dan kalau dia tidak cepat mengelak, serangan sarung pedang lawan tentu akan mengenai lehernya. Diapun dengan nekat menggunakan tangan kiri menangkap sarung pedang itu.

“Desss!” pada saat itu, Bun Houw sudah menendang, tepat mengenai perutnya dan biar pun dalam menendang ini Bun Houw membatasi tenaganya, tetap saja Ouwyang Sek terlempar ke belakang dan terpaksa melepaskan kedua sarung pedang tadi. Dia terbanting jatuh dan sakit di hatinya lebih hebat dari pada rasa nyeri di pinggulnya yang terbanting.

Sementara itu, Bun Houw sudah meloncat ke arah gurunya dan sekali pedang Lui-kong-kiam menyambar suling di tangan Suma Hok patah menjadi dua! Pemuda tampan pesolek itu tentu saja terkejut bukan main, akan tetapi juga jerih. Dia meloncat ke belakang dan ayahnya yang bukan orang bodoh, maklum bahwa kalau dilanjutkan dia akan kalah, cepat meloncat ke belakang pula, dekat puteranya. Ayah dan anak ini selamat dari keadaan yang lebih memalukan, yaitu jatuh di tangan si buta dan muridnya, Suma Koan memberi hormat ke arah Ouwyang Sek dan berkata. “Saudara Ouwyang, kami berpamit. Kalau kami sudah memenuhi tiga syarat puterimu, kami akan kembali membicarakan urusan perjodohan.”

Setelah berkata demikian, ayah dan anak itu pergi tanpa menengok lagi kepada Tiauw Sun Ong dan Bun Houw yang juga tidak memperdulikan mereka.

Dengan tenang Tiauw Sun Ong mengangkat mukanya ke arah Ouwyang Sek dan diapun berkata dengan mara tegai. “Nah, muridku telah memenuhi tantanganmu dan berhasil mendapatkan kembali Lui-kong-kiam dari tanganmu. Kami berdua menyanggupi sayembara itu dan kalau kami yang dapat memenuhinya, maka Bun Houw yang berhak untuk menjadi suami Hui Hong. Harap angkau sebagai seorang datuk tidak akan menjilat ludah sendiri, Ouwyang Sek.”

Ouwyang Sek yang sudah bangkit berdiri dengan kedua kaki gemetar saking marah dan tak berdaya, kini melotot dan wajahnya yang hitam itu menyeramkan sekali, “Tidak! Lebih baik melihat Hui Hong mati dari pada harus menjadi isteri muridmu! Lebih baik aku kawinkan Hui Hong dengan seorang jembel busuk tanpa nama dari pada harus menikah dengan muridmu! Engkau tidak patut dan tidak berhak menjadi ayahnya, dan Cu Lan juga hanya seorang perempuan hina, tidak berhak menentukan nasibnya. Hanya aku seorang yang berhak, dan aku akan mempertahankan Hui Hong dengan nyawaku!”

“Ouwyang Sek, engkau tidak berhak berbicara demikian!” tiba-tiba terdengar suara Cu Lan memekik. Wanita ini sudah berdiri dengan marah sekali. Wajahnya yang biasanya segar kemerahan, kini menjadi pucat, rambutnya awut-awutan, matanya merah membengkak, pipinya masih basah air mata dan mulutnya membayangkan kedukaan dan kemarahan yang teramat besar. “Aku rela menjadi isterimu, rela menjadi barang permainanmu hanya untuk Hui Hong! Engkau tentu masih ingat bahwa aku mengancam akan membunuh diri kalau engkau menjamah tubuhku sebelum Hui Hong terlahir. Kemudian, akupun menyerahkan diri hanya dengan syarat bahwa engkau akan memperlakukan Hui Hong sebagai anak sendiri dan bersikap baik kepadanya. Semua derita itu kupertahankan demi Hui Hong. Sekarang, engkau hendak memaksakan kehendakmu atas diri Hui Hong, hendak kau jodohkan dengan orang yang tidak disukainya. Akupun tidak sudi lagi menjadi isterimu, dan sekarang karena Hui Hong telah mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya, maka aku menyerahkan Hui Hong kepada ayah kandungnya. Aku rela meninggalkannya karena ada ayah kandungnya yang akan melindungi dan membelanya. Pangeran, aku pasrah anak kita kepadamu dan aku setuju kalau akan kaujodohkan dengan muridmu. Selamat tinggal …!”

“Cu Lan … !” Tiauw Sun Ong berseru.

“Cu Lan … !“ Ouwyang Sek juga berteriak sambil meloncat ke arah isterinya. Namun terlambat, karena Cu Lan sudah menusukkan pisau yang tajam runcing itu ke dadanya, di bawah iga kiri dan iapun roboh dalam rangkulan Ouwong Sek.

“Cu Lan …! Cu Lan isteriku …! Aihh, Cu Lan …!” Ouwyang Sek mengguncang-guncang tubuh isterinya dalam pelukannya, namun Cu Lan tidak dapat menjawab lagi karena ia sudah tewas seketika. Mengingat ini. Pangeran Tiauw Sun Ong menghela napas panjang. Dia tahu bahwa bagaimanapun juga, Ouwyang Sek mencinta isterinya, dan kini tentu Ouwyang Sek akan menderita tekanan batin dan kedukaan besar yang akan menyiksa hidupnya. diapun merasa iba kepada datuk itu yang akan kehilangan pula anak tiri yang dianggap anaknya sendiri dan disayangnya, telah kehilangan pula isterinya, walaupun kesayangan dan kecintaan datuk ini penuh dengan nafsu mementingkan diri sendiri.

“Ouwyang Sek, engkau memetik buah dari hasil tanamanmu sendiri,” katanya lirih.

Ouwyang Sek menghentikan keluhannya dan mengangkat muka memandang kepada bekas pangeran itu dengan sinar mata penuh kebencian. “Tiauw Sun Ong aku akan membalas semua ini! Aku bersumpah akan membalas semua ini kepada kalian berdua!”

Akan tetapi Tiauw Sun Ong tidak memperdulikannya. “Bun Houw, mari kita pergi.” Guru dan murid itupun pergi meninggalkan Lembah Bukit Siluman. Biarpun di situ terdapat banyak anak buah Ouwyang Sek, namun tidak ada seorangpun berani bergerak untuk menentang mereka karena selain mereka tidak berani, Juga tidak ada perintah dari majikan mereka. Ouwyang Sek dengan sedih memondong jenazah isterinya, dibawa masuk ke dalam runah dan keluarga itu berkabung. Akan tetapi, Hui Hong tidak berada di situ, bahkan Ouwyang Toan juga tidak ada karena pemuda ini setelah mengetahui bahwa Hui Hong pergi tanpa pamit, segera pergi pula untuk mencarinya.

***

Semua orang yang berada di dalam rumah makan itu, terutama yang pria, memandang kepada dua orang wanita yang baru memasuki rumah makan dengan pandang mata kagum. Lucu melihat gaya setiap orang pria yang berada di situ. Ada yang memandang langsung dan menyeringai, ada yang mengerling lalu membereskan letak pakaian dan rambut, ada yang melirik dengan sikap acuh namun sesungguhnya perhatiannya tercurah kepada dua orang wanita itu. Bahkan tiga orang pelayan rumah makan seperti berebut dulu menyambut mereka, dengan sikap hormat dan manis, dan mempersilakan, mereka ke meja yang masih kosong, yang kebetulan berada di sudut sebelah dalam sehingga banyak tamu yang dapat melihat mereka. Peristiwa seperti ini. datangnya tamu wanita-wanita cantik, amat menguntungkan rumah makan dan hal ini diketahui benar oleh para pelayan, maka dua orang wanita itu dipersilakan duduk di tempat yang mudah dilihat oleh para tamu di meja lain. Dengan adanya “tontonan” gratis ini. para tamu akan lebih betah tinggal di situ dan pesanan makanan dan minuman akan bertambah banyak.

Jilid 11

DUA orang wanita yang mamasuki rumah makan An-lok (Selamat Bahagia) di kota Ki-ciu itu memang amat menarik hati, terutama kaum pria, karena keduanya amat cantik jelita. Orang pertama adalah seorang wanita yang telah matang karena ia nampaknya berusia tiga puluh tahun lebih. Pada hal sesungguhnya wanita ini sudah berusia empat puluh delapan tahun! Dalam usia mendekati setengah abad itu, ia masih kelihatan muda dan cantik menarik. Wajahnya yang berkulit putih halus kemerahan itu manis sekali, nampak masih segar dan tidak kelihatan tanda ketuaan sama sekali. Juga bentuk tubuhnya masih padat dan ramping. Rambutnya digelung indah seperti sanggol rambut seorang puteri bangsawan saja, dan pakaiannya juga indah dan mahal. Hal ini tidaklah mengherankan karena wanita ini adalah Bwe Si Ni yang berjuluk Kwan-im sian-li (Dewi Kwan Im)! Ia adalah bekas dayang istana kerajaan Liu-sung yang telah jatuhi, dan setelah kini keluar dari istana, ia meniru gaya dan dandanan seorang pateri istana, bukan seorang dayang lagi!”

Wanita yang ke dua lebih menarik lagi walaupun pakaian dan dandanannya tidak semewah wanita pertama. Ia seorang gadis yang juga berkulit putih mulus, namun pakaian dan dandanannya sederhana sehingga ia nampak cantik manis dan agung, juga gagah karena di punggungnya terdapat gendongan sebuah bantalan kain kuning dan di bawah buntalan itu terdapat pula sepasang pedang yang sarung dan gagangnya terukir indah. Gadis berusia dua puluh satu tahun ini adalah Hui Hong.

Seperti kita ketahui, Hui Hong mendengar pengakuan ibu kandungnya bahwa ia bukanlah puteri Ouwyang Sek, melainkan puteri bekas Pangeran Tiauw Sun Ong, ketika ia bertanya kepada ibunya di mana ayah kandungnya itu berada, ibunya tidak mampu menjawab, dan Kwan-im Sian-li Bwe Si Ni yang menjawabnya, bahwa ia tahu di mana adanya Tiauw Sun Ong. Maka Hui Hong lalu mau diajak pergi untuk ditunjukkan di mana ayahnya tinggal. Dan mereka melakukan perjalanan jauh sampai pada pagi hari itu mereka tiba di kota Ki-ciu dan memasuki rumah makan An-lok, menjadi pusat perhatian para tamu yang pada pagi hari itu banyak yang sarapan di rumah makan itu.

Kedua orang wanita itu sama sekali tidak perduli akan sikap dan gaya para pria yang berada di rumah makan itu. Hui Hong sendiri sudah sering melakukan perjalanan dan ia tahu benar bahwa semua pria di manapun juga sama saja, selalu bergaya dan beraksi kalau melihat wanita cantik dan ia tahu bahwa sahabat barunya ini yang mengaku bernama Bwe Si Ni dan mengetahui di mana adanya ayah kandungnya, adalah seorang wanita yang amat cantik. Juga selain cantik, wanita ini tentu lihai, hal itu pernah ia buktikan ketika ia mengejar wanita ini yang dapat berlari cepat bukan main. Biarpun belum pernah ia menguji ilmu silatnya dan mereka berdua dalam perjalanan tidak banyak cakap dan tidak pernah bicara tentang ilmu silat, namun Hui Hong dapat menduga bahwa wanita ini tentu lihai. Setelah mengambil tempat duduk dan pelayan dengan sikap hormat bertanya makanan dan minuman apa yang mereka pesan, Bwe Si Ni bertanya kepadanya. “Engkau ingin makan apa? Dan minum apa?”

Hui Hong tersenyum. Wanita cantik ini jarang sekali bicara. Kalau tidak perlu tidak pernah bicara dan nampaknya acuh saja terhadap dirinya. Akan tetapi pagi ini kelihatan lebih ramah dari pada biasanya, “Apa saja sesukamu, enci. Aku tidak ingin sesuatu yang istimewa, juga tidak menolak macam makanan.” jawabnya, ramah pula. Biarpun di lubuk hatinya, Hui Hong belum percaya sepenuhnya kepada wanita ini, dan tidak begitu suka karena wanita ini dianggapnya pesolek dan dingin, namun karena ia membutuhkan bantuannya untuk dapat bertemu dengan ayah kandungnya maka iapun berusaha untuk bersikap baik dan ramah.

Bwe Si Ni tersenyum. “Aku ingin makan bebek panggang dan goreng burung dara. Minumnya ringan saja sari buah, tidak enak minum yang keras sepagi ini.”

“Terserah, pilihanmu terdengar enak. Enci.” Bwe Si Ni lalu memesan masakan itu kepada kepala pelayan yang sudah datang melayani sendiri. Ketika kepala pelayan sudah mencatat pesanannya, dan matanya jelas menatap tajam dan penuh kagum kepada dua orang tamunya itu. Bwe Si Ni mengerutkan alisnya dan suaranya mendesis ketus.

“Apa yang kaulihat! Matamu kurang ajar, hayo cepat sediakan pesanan kami!”

Kepala pelayan itu terkejut, membungkuk-bungkuk dan segera pergi. Sudah beberapa kali dalam perjalanan mereka, Hui Hong melihat sikap galak dan ketus dari temannya itu terhadap pria. ia sendiri juga membenci pria yang kurang ajar dan tidak sopan, akan tetapi tidak sehebat Bwe Si Ni. Baru melihat saja sudah dapat membuat ia marah-marah. Sikapnya seolah wanita cantik ini amat membenci kaum pria. Diam-diam ia merasa heran. Seorang wanita sehebat ini, mustahil kalau belum berumah tangga dan ia menduga-duga siapa gerangan suami wanita ini dan di mana tempat tinggalnya, dari mana asalnya. Akan tetapi ia belum sempat mendapatkan saat yang tepat untuk menanyakan hal itu tanpa menyinggungnya.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang dan keduanya lalu makan minum tanpa memperdulikan puluhan pasang mata yang seolah mengikuti setiap gerak gerik mereka. Hui Hong yang diam-diam memperhatikan temannya, melihat betapa cara makan Bwe Si Ni juga anggun, seperti dibuat-buat dan diatur. Pernah ia mendengar dari ayahnya, atau ayah tirinya, bahwa kehidupan para bangsawan tinggi lain dari cara hidup orang biasa. Bahkan dalam hal bicara atau makan saja mereka mempunyai cara sendiri, seperti diatur. Apakah wanita di depannya ini juga seorang wanita bangsawan?

Ketika kedua orang wanita ini hampir selesai makan, tiba-tiba mereka melihat para pelayan nampak ketakutan, dan kepala pelayan bersama pimpinan rumah makan itu yang tadinya hanya duduk di dekat kasir, dengan membungkuk-bungkuk dan senyum dibuat-buat menyongsong ke luar, seperti menyambut datangnya tamu agung. Bahkan para tamu yang tadinya nampak gembira mengamati dua orang wanita cantik itu, kini nampak khawatir, bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang tergesa-gesa membayar harga makanan dan meninggalkan meja mereka.

“Sediakan meja besar untuk kami! Yang di tengah itu, dan keluarkan hidangan yang kami sukai, seperti biasa! Usir yang duduk di meja besar tengah itu dan bersihkan mejanya sampai mengkilap!” terdengar suara dengan logat selatan, dan suara itu mengandung keangkuhan yang memuakkan hati Bwe Si Ni dan Hui Hong.

Akan tetapi karena yang diusir dari meja bukan mereka, keduanya diam saja dan tidak ambil perduli. Sekeluarga yang tadinya makan minum di meja itu, tanpa berani membantah lalu pindah ke meja lain dan makanan mereka diusungi para palayan. Ada yang membersihkan meja itu.

“Hayo cepat hidangkan masakan buat kami. Kami sudah lapar dan keluarkan dulu arak yang paling baik!” kembali terdengar suara orang, sekali ini bukan suara yang tadi, kemudian terdengar bangku diseret dan terdengar pula orang yang membesihkan hidung dan tenggorokan dengan suara yang menjijikkan sekali.

“Jahanam!” Bwe Si Ni mendesis dan melepaskan sepasang sumpitnya di atas meja. Juga Hui Hong merasa muak dan tidak melanjutkan makan. Untung mereka sudah kenyang. Kini dengan sinar mata marah, ketuanya menoleh untuk melihat orang-orang macam apa yang demikian sombong dan tidak mengenal sopan santun.

Kiranya meraka adalah tiga orang yang sikapnya kasar, berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, potongan pakaian mereka ringkas seperti yang biasa dipakai orang-orang dari dunia persilatan, dan di punggung mereka terselip golok telanjang yang berkilauan. Dari dandanan, senjata, dan sikap mereka jelas dan mudah diketahui bahwa mereka tentu orang-orang kang-ouw golongan sesat yang suka mempergunakan kekuatan bermain kasar dan keras memaksakan kehendak kepada orang lain. Hal inipun tidak akan diperduli oleh Hui Hong maupun Bwe Si Ni kalau saja tiga orang itu tidak mencari penyakit sendiri. Ketika dua orang wanita itu menoleh ke arah mereka, kebetulan sekali yang termuda, berusia tiga puluh tahun dan mukanya kekuning-kuningan seperti penderita penyakit dan tubuhnya tinggi kurus, memandang kepada mereka dan baru melihat bahwa dua orang wanita yang menoleh itu amatlah cantiknya.

“Heiiii! Wah, sekali ini kita memang beruntung sekali, kawan-kawan!” Serunya gembira. “Siapa kira di sini ada dua orang bidadari yang amat cantik jelita sudah menunggu dan siap menemani kita makan minum dan bersenang-senang!”

Mendengar ucapan adik segerombolan mereka itu, dua orang yang lain juga memandang. Mereka tidak semata keranjang adik mereka, akan tetapi sekali ini mereka menelan ludah karena jarang mereka melihat dua orang wanita secantik yang ditunjukkan adik mereka itu.

“Heh-heh-heh. matamu awas sekali, sute (adik seperguruan)!” kata yang bertubuh pendek gendut berperut besar sambil terkekeh. “Mereka memang cantik manis dan sekali ini aku tidak ingin pura-pura alim.”

Orang ke tiga yang paling tua, berusia empat puluhan tahun, juga terpesona. Akan tetapi dia lebih berhati-hati dibandingkan dua orang sutenya karena dia melihat sepasang pedang yang tergantung di pinggang Hui Hong. Bwe Si Ni sendiri menyembunyikan pedangnya di balik jubahnya yang lebar dan panjang.

“Sute, mereka agaknya segolongan. Sebaiknya kalau kita mengundang mereka baik-baik untuk berkenalan.” katanya dan tiga orang itu seperti dikomando, telah bangkit berdiri dan menghampiri meja di mana dua orang wanita itu sudah tidak makan lagi dan sedang membersihkan bibir dengan saputangan.

Mereka memutari meja itu dan berdiri berjejer, menghadapi dua orang wanita itu dengan muka cengar-cengir. Si kumis lebat, yaitu orang tertua yang bertubuh sedang dan nampak kokoh kuat. mengangkat kedua tangan dan memberi hormat kepada Si Ni dan Hui Hong, diikuti dua orang sutenya yang masih menyeringai senang karena setelah kini mereka berhadapan dengan dua orang wanita itu, semakin jelas nampak betapa cantik menariknya dua orang wanita di depan mereka itu.

“Nona berdua tentulah wanita wanita kang-ouw yang segolongan dengan kami, oleh karena itu, kami ingin berkenalan dengan ji-wi (anda berdua). Kami adalah tiga orang di antara Ki-ciu Ngo-houw (Lima Harimau Ki-ciu) ,yang mengusai daerah ini. Kami mengundang ji-wi untuk berkenalan sambil makan minum di meja kami. Silakan!” Dengan sikap dibuat-buat si kumis lebat itu mempersilakan dua orang wanita itu untuk pindah ke meja mereka dengan keyakinan bahwa dua orang wanita itu akan pasti suka menerima undangannya karena kama berur Ki-elu Nf,o-houw ditakuti senni orang didsersb itu … “

Bwe Si Ni mengerutkan alisnya dan matanya mencorong ketika ia menyapu tiga orang itu dengan pandang matanya. “Tidak perduli kalian ini Lima Harimau atau Lima Anjing dari Ki-ciu, aku tidak perduli dan aku tidak sudi berkenalan dengan kalian!”

Hui Hong tersenyum. “Hi-hik. kami sudah makan kenyang. Andaikata belum makanpun, kami tidak sudi makan bersama kalian yang jorok dan menjijikkan!”

Kedua orang wanita itu bangkit, lalu menghampiri meja kasir dan membayar harga makanan dan minuman tanpa memperdulikan tiga orang itu lagi, kemudian keluar dari rumah makan. Semua tamu yang kebetulan melihat semua ini, terbelalak dan terheran-heran bagaimana ada dua orang, wanita lagi, berani bersikap saperti itu terhadap tiga orang ini. Tiga orang jagoan itupun sudah marah sekali dan mereka mengepal tinju.

“Mohon sam-wi tidak o en bikin ribut di sini … ” pemilik rumah makan menjura dan meratap kepada mereka.

“Sediakan saja pesanan kami! Setelah kami menghajar dan menyeret dua orang perempuan itu, baru kami akan makan!” kata si kumis tebal dengan marah dan bersama dua orang suteenya, dia lalu melangkah lebar keluar dari rumah makan melakukan pengejaran. Tiga orang ini memang merupakan tiga orang di antara Ki-ciu Ngo-houw yang terkenal memiliki kekuasaan dan pengaruh besar di daerah Ki-ciu. Merekapun berhubungan baik dengan para pejabat setempat sehingga ada kerja sama diantara mereka. Mereka tidak dimusuhi para pejabat, akan tetapi merekapun berjanji tidak akan membuat kacau dan kerusuhan di kota Ki-ciu. Inilah sebabnya mengapa mereka tadi masih menahan sabar walaupun marah sekali dengan sikap dua orang gadis di rumah makan An-lok. Ketika mereka membayangi dua orang gadis itupun mereka masih tidak mau membikin ribut di dalam kota. Setelah Hui Hong dan Si Ni tiba di luar kota Ki-ciu untuk melanjutkan perjalanan, barulah tiga orang itu dengan cepat mengejar, kemudian mendahului mereka dan menghadang di jalan yang sunyi itu.

Tentu saja dua orang wanita perkasa itu sejak tadi tahu bahwa tiga orang yang menjemukan itu membayangi mereka sejak dari rumah makan dan kini menghadang mereka di jalan sunyi luar kota.

“Enci biar aku yang menghadapi mereka,” kata Hui Hong mendahului karena ia dapat menduga bahwa kalau wanita cantik itu yang turun tangan mungkin saja ia akan membunuh ketiganya. Biarpun sejak kecil ia dididik oleh Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, seorang datuk besar yang tadinya ia anggap sebagai ayahnya, bukan saja dididik dengan ilmu-ilmu yang hebat, akan tetapi juga melihat kekerasan dipergunakan datuk itu, namun ia selalu diberi nasehat oleh ibunya agar ia tidak berwatak kejam dan tidak sembarangan membunuh orang. Karena itu, dalam hati Hui Hong terbentuk watak yang tidak kejam seperti ayahnya walaupun ia keras dan galak, dan tidak mau membunuh orang sembarangan saja. sekarangpun ia menganggap bahwa tiga orang laki-laki yang kurang sopan itu hanya patut dihajar, tidak seharusnya dibunuh seperti orang-orang jahat.

Bwe Si Ni mengangguk, lalu ia duduk di atas batu di tepi jalan, ingin menonton dan melihat sampai di mana kehebatan puteri kandung Tiauw Sun Ong atau juga murid dari Bu-eng-kiam ini.

Melihat betapa yang menghadapi mereka adalah gadis yang lebih muda, sedangkan wanita yang ke dua enak-enak duduk menonton, tiga orang itu menjadi semakin marah dan merasa dipandang ringan. Si kumis tebal sudah melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung Hui Hong sambil berkata, “Gadis liar, tadi kami bertiga tidak ingin membikin ribut di rumah makan dan di kota, maka kami menahan sabar. Sekarang, kami akan menghajar kalian dan menyeret kalian kembali ke rumah makan An-lok untuk menemani kami! Kami harus menebus penghinaan yang kalian lakukan tadi yang telah membikin malu kepada kami di depan orang banyak.”

Hui Hong tersenyum dan tiga orang itu menelan ludah. Gadis yang mereka hadapi ini manis luar biasa! “Enci itu tadi mengatakan kalian tiga ekor anjing, dan memang benar karena kalian pandai menggonggong. Biasanya, anjing-anjing yang banyak menggonggong tidak menggigil. Pergilah, sekali ini biar kuampuni. Pergi sebelum kalian menerima penghinaan lebih parah lagi!”

Tentu saja tiga orang itu menjadi marah bukan main. “Tangkap gadis liar ini! Bekuk dulu, baru kita bekuk yang seorang lagi!” teriak si kumis tebal.

Tiga orang itu menerjang ke depan dan mereka memang memiliki gerakan yang tangkas, cepat dan kuat. Namun, yang mereka hadapi adalah gadis puteri atau murid datuk besar majikan Lembah Bukit Siluman! Tingkat kepandaian Hui Hong jauh lebih tinggi dibandingkan mereka, maka melihat mereka bertiga sudah menerjang untuk menangkapnya, dengan ringan dan mudah saja Hui Hong menyelinap di antara tangan-tangan mereka dan lolos dari terkaman. Tiga orang itu terkejut melihat gadis itu menjadi bayangan berkelebat dan lenyap. Mereka membalik dan ternyata gadis itu telah berdiri di belakang mereka dan menggunakan tangan menggapai dan menantang.

Dari gerakan gadis itu, mereka dapat menduga balwa gadis itu bukan orang lemah, maka kalau tadi mereka hanya berebut untuk dapat menangkap Hui Hong, kini mereka menerjang dengan pukulan pukulan!”

Kembali Hui Hong menggunakan kelincahannya untuk mengelak ke sana-sini. kemudian ketika lengan si tinggi kurus muka kuning menyentuh pundaknya dari belakang, ia menangkap pergelangan tangan itu, mengerahkan tenaga dan membungkuk, menarik tangan itu dan tubuh si tinggi kurus berputar dengan kaki ke atas melewati tubuh Hui Hong dan terbanting keras di atas tanah.

“Ngekkk … !” Si muka kuning mengaduh-aduh. lalu merangkak dan mencoba bangkit sambil memegangi punggungnya yang rasanya seperti patah-patah tulangnya dan pinggulnya yang tipis tak berdaging itu nyeri bukan main. Dia melangkah menjauh dengan terpincang, pincang, untuk sementara tidak maupu menyerang lagi.

Dua orang kawannya tentu saja marah sekali melihat si muka kuning toboh. Mereka, menyerang semakin nekat dan kini mereka bukan hanya ingin menghajar, bahkan kalau perlu membunuh karena serangan-serangan mereka kini merupakan serangan maut yang dapat mematikan lawan. Melihat ini, Hui Hong juga tidak mau membuang banyak waktu lagi. Ketika si perut gendut menerjang dari samping. ia mundur dua langkah dan ketika tubuh gemuk itu terdorong ke depan, secepat kilat kaki kiri Hui Hong mencuat dan ujung sepatunya memasuki perut yang bergajih itu dengan kerasnya.

“Ngekk …!” Tubuh gendut itu terjengkang dan terbanting keras sampai bergulingan.

Si gendut berteriak-teriak kesakitan dan seperti juga sutenya tadi, dia merangkak dan dengan susah payah mencoba bangkit sambil menekan perutnya yang tiba-tiba menjadi mulas.

Orang pertama yang selain marah juga terkejut melihat akibat perkelahian ini. mencabut goloknya yang terselip di punggung, lalu menyerang Hui Hong dengan bacokan-bacokan goloknya. Terdengar suara berdesing-desing ketika golok yang lebar dan tajam itu membelah udara kosong karena tidak pernah dapat menyentuh sasarannya.

Hui Hong menjadi marah. Mungkin saja tiga orang ini bukan orang-orang yang suka berbuat jahat, akan tetapi sudah jelas bahwa mereka, terutama si kumis tebal ini mempunyai hati yang kejam. Buktinya mereka mengeroyok seorang lawan wanita, bahkan melakukan serangan untuk mematikan, pada hal sebab perkelahian hanya sepele saja. Dan si kumis tebal ini malah tidak segan segan menggunakan golok menyerang lawan yang tidak bersenjata.

Ketika untuk ke sekian kalinya golok itu menyambar, Hui Hong membiarkan golok itu lewat dengan sedikit mengelak, dan pada saat gotok menyambar lewat, tangan kirinya bergerak menotok pergelangan tangan yang memegang golok sehingga senjata tajam itu terlepas dan ia sudah merampasnya! Pada detik yang lain, Hui Hong sudah menggerakkan lagi tangan kirinya, sekarang ke arah muka si kumis tebal. Jari-jari tangannya mencengkeram, menarik dengan sentakan kuat dan si kumis tebal mengeluarkan pekik kesakitan, terpelanting roboh dan dia melangkah bangun sambil menutupi muka dengan tangan. Kulit di bawah hidungnya yang sebelah kanan berdarah karena kumisnya telah dicabut oleh tangan Hui Hong. Kini kumis yang tebal itu tinggal sebelah saja, dan kulit di bagian kumis yang dijebol itu terluka berdarah.

Hui Hong menggunakan kedua tangannya menekuk golok rampasan itu sambil mengerahkan tenaga. Terdengar suara nyaring dan golok itupun patah menjadi dua potong. Ia melemparkannya ke atas tanah sambil tersenyum mengejek.

“Hemm, kalian tiga ekor anjing masih juga tidak cepat merangkak pergi?”

Tentu saja tiga orang itu terkejut dan ketakutan, ekan tetapi juga penasaran dan marah. Peristiwa yang amat memalukan dan menghina ini belum pernah mereka alami selama hidup. “Kau … kau … kalau memang gagah, tunggu saja … kami mengundang twa-suheng dan jisuheng … ” kata si kumis dengan suara aneh karena mulutnya sakit digerakkan tanpa menimbulkan rasa perih di bibir atasnya. Kamudian mereka bertiga melarikan diri ke arah kota.

Hui Hong hanya tersenyum ketika Bwe Si Ni menegurnya, “Hui Hong, kenapa engkau bermain-main dengan jahanam-jahanam seperti mereka?”

“Enci, orang-orang sombong itu memang patut dihajar. Biar dua orang kakak mereka yang lain datang, akan kuhajar sekalian di sini.”

Bwe Si Ni bangkit berdiri. “Huh, aku tidak mempunyai waktu untuk main-main dengan mereka. Mari kita melanjutkan perjalanan.”

“Tapi, kita bisa dianggap takut!”

“Masa bodoh, biar mereka mencari kita kalau memang sudah bosan hidup. Mari kita pergi.”

Karena ia memang sedang mengikuti wanita itu untuk diajak menemui ayah kandungnya, Hui Hong tidak dapat membantah lagi dan ia pun mengikuti Bwe Si Ni pergi dari situ melanjutkan perjalanan.

Belum jauh mereka pergi, mereka mendengar derap kaki kuda dari belakang. Setelah beberapa ekor kuda itu datang dekat, Hui Hong dan Si Ni minggir dan menanti untuk membiarkan mereka lewat. Akan tetapi, segera mereka melihat bahwa yang datang adalah lima ekor kuda dengan lima orang penunggangnya. Tiga di antara mereka bukan lain adalah tiga arang yang tadi dihajar oleh Hui Hong. Yang dua orang lagi adalah dua orang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, yang seorang tinggi besar bermuka hitam dan yang ke dua, tegap dan berwajah tampan yang lelalu tersenyum memikat. Wajah seorang penaluk wanita! Tanpa bertanyapun, dua orang wanita itu dapat menduga bahwa dua orang itu tentulah sang twa-suheng dan ji-suheng dan sekarang lengkaplah sudah Ki ciu Ngo-houw, lima harimau yang mengaku berkuasa di daerah Ki-ciu itu.

Hui Hong segera melangkah maju dan bertolak pinggang, menghadapi lima orang yang kini sudah berlompatan turun dari punggung kuda. Setelah membiarkan kuda mereka makan rumput di tepi jalan, lima orang itu menghadapi Hui Hong yang tersenyum mengejek. “Mau apa kalian datang mengejar kami? Apakah masih belum puas dan ingin dihajar lebih keras lagi?”

Si kumis tebal itu kini kehilangan semua kumisnya. Agaknya dia sudah memotong kumis sebelehnya sehingga wajahnya yang tidak berkumis itu kini nampak lucu. Akan tetapi yang menjawab pertanyaan Hui Hong bukan dia melainkan laki-laki tampan yang juga tersenyum dan melirik-lirik ke arah dua orang wanita itu.

“Nona, engkaukah tadi yang telah menghajar tiga orang suteku? Bagus, ternyata engkau selain gagah perkasa, juga cantik jelita. Engkau akan menjadi pasanganku yang cocok sekali!”

“Ji-sute (adik kedua), gadis-gadis ini sudah menghina tiga orang adik kita. Hajar saja. kalau perlu bunuh untuk mengangkat kembali nama Ki-ciu Ngo houw!” kata yang tinggi besar bermuka hitam dengan sikap bengis sekali.

“Suheng, sayang kalau dibunuh begitu saja. Mereka terlalu cantik, biar kuajak bersenang-senang barang sepekan sebelum dibunuh!” kata pula si muka tampan.

Tiba-tiba Sin Ni memegang tangan Hui Hong dan menariknya ke belakang sambil berkata, suaranya lirih mendesis seperti desis seekor ular cobra yang marah. “Mundurlah, Hui Hong. Sekarang giliranku!”

Hui Hong mundur karena ia sendiripun ingin menyaksikan sepak terjang sahabat baru yang aneh itu. Suara mendesis itu cukup membuat ia bergidik dan kini Hui Hong yang duduk di atas sebuah akar pohon yang menonjol keluar dari tanah. Kini, Bwe Si Ni yang berdiri menghadapi lima orang itu. Ia sudah tersenyum-senyum seperti Hui Hong. Wajahnya yang cantik jelita itu nampak anggun dan dingin angkuh, seperti sikap seorang putri menghadapi para abdi yang siap menaati semua perintahnya. Agaknya wanita ini ingin menyesuaikan sikapnya dengan julukannya. Julukannya adalah Dewi Kwan Im, seorang dewi yang dipuja orang karena terkenal sebagai Dewi Welas Asih.

“Wah, yang ini biar untukku saja, Ji-suheng!” kata orang ke empat yang gendut dan yang tadi perutnya menjadi mulas oleh tendangan kaki Hui Hong. “Sejak semula bertemu di rumah makan, aku sudah jatuh cinta padanya!”

“Singgg … crattt …!” Si perut gendut menjerit dan terjungkal, berkelojotan karena tepat di antara kedua alis matanya tertntuk sebatang jarum hijau yang telah dilepaskan Kwan-Im sianli Bwe Si Ni tanpa ada yang tahu saking cepatnya gerakan tangannya.

Tentu saja empat orang itu menjadi terkejut satengah mati. Terutama orang ketiga dan kelima yang selalu bertiga dengan si gendut, merasa terkejut dan juga sedih bukan main. Dan kini di situ terdapat kakak pertama dan ke dua mereka, membuat hati mereka bertambah berani. Dengan teriakan-teriakan marah, keduanya sudah mencabut golok masing-masing dan menerjang ke arah Bwe Si Ni.

Wanita ini tidak bergerak sedikitpun untuk mengelak atau menangkis, melainkan nampak tangan kanannya saja yang bergerak ke arah perutnya, disusul mencuatnya sinar yang menyilaukan mata ke arah dua orang penyerangnya dan merekapun menjerit dan terjengkang roboh dengan golok masih di tangan. Kiranya sebelum golok mereka mengenai sasaran, telah ada sepasang pedang yang digerakkan secepat kilat menyambar dan menusuk dada kedua orang itu tanpa mereka mampu mengelak atau menangkis lagi. Mereka roboh dan berkelojotan di dekat tubuh si gendut yang kini sudah tidak bergerak lagi.

Si tinggi besar dan sutenya yang tampan itu terbelalak dan muka mereka berubah pucat. Di samping kemarahan yang hebat, merekapun terkejut dan gentar karena sebagai ahli-ahli silat pandai merekapun dapat mengenal orang yang memiliki kesaktian, yang kiranya tidak mungkin dapat mereka lawan. Cara wanita cantik itu membunuh tiga orang sute mereka sudah membaktikan betapa lihainya wanita itu, membuat mereka mengingat dan menduga-duga siapa gerangan wanita itu. Merrka mulai mengamati Si Ni dan akhirnya mereka dapat mengenal hiasan rambut berupa teratai di sanggul rambut yang tinggi itu, mengenal pula jubah panjang lebar teperti jubah pendeta.

“Nona … nona … Kwan Im Sianli … ?” tanya si muka hitam dan mendengar sebutan ini, sutenya menjadi pucat dan kakinya gemetar.

Bwe Si Ni baru sekarang tersenyum, akan tetapi senyum yang dingin dan amat merendahkan, terdengat dengus lirih dari hidungnya, “Huh, kalau sudah tahu, kenapa tidak cepat kalian membunuh diri?”

Dua orang itu dengan tubuh gemetar cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada dan membungkuk-bungkuk memberi hormat kepada Bwe Si Ni. Mendengar bahwa wanita cantik ini adalah Kwan-im sianli, datuk besar golongan sesat yeng amal ditakuti, mereka seperti mati kutu.

“Ampunkan kami, Sianli (Dewi), tiga orang sute kami memang layak mati karena berani kurang ajar terhadap Sian-li. Ampunkan kami berdua yang tidak mengenal sian-li dan bersikap kurang hormat.” kata si tinggi besar.

“Sian-li, kami kakak beradik seperguruan selalu menghormati dan memuja nama besar Sian-li. Karena belum pernah berjumpa, hari ini kami telah berlaku kurang hormat. Mohon Sian-li sudi memberi ampun kepada kami berdua.” kata pula yang tampan dan kini dia sudah kehilangan gayanya sebagai pemikat hati wanita, bersikap sedemikian rendah diri dan penuh rasa takut.

“Tidak perlu benyak cakap. Cepat kalian bunuh diri, atau menanti aku yang membunuh kalian?” suara Si Ni terdengar dingin dan datar, membuat Hui Hong sendiri yang sudah biasa melihat kekejeman orang-orang dunia sesat, merasa ngeri. Wanita cantik jelita yang julukannya Dewi Kwan Im ini sungguh merupakan Iblis betina yang amat kejam.

Dua orang itu saling pandang dengan muka pucat, kemudian secara tiba-tiba mereka sudah mencabut golok dan menyerang dengan gerakan dahsyat, dengan serangan yang mematikan. Si tinggi besar menyerangkan goloknya ke arah leher Si Ni sedangkan adik seperguruannya membabatkan golok ke arah pinggang.

Akan tetapi. keduanya terkejut karena tiba-tiba saja wanita di depan mereka itu lenyap dan hanya nampak bayangannya berkelebat ke atas kepala mereka. Keduanya cepat membalikkan tubuh karena maklum, bahwa wanita itu tadi meloncati kepala mereka dan berada di belakang. Akan tetapi mereka kalah cepat. Baru saja memutar tubuh, dua kali sinar berkilauan menyambar dan keduanya roboh tanpa dapat mengeluarkan suara lagi karena leher mereka hampir putus terbabat sebatang pedang yang tadi dicabut, digerakkan, lalu disimpan kembali secara cepat seperti kilat menyambar olah Kwan-im Sian-li Bwe Si Ni! Tewaslah Ki-ciu Ngo-Houw yang biasanya merajalela di daerah itu, mati konyol di tangan seorang datuk wanita tanpa dapat melawan sedikitpun.

Tak lama kemudian, nampak dua orang wanita itu sudah menunggang dua ekor kuda, melanjutkan perjalanan. Mereka merampas dua di antara lima ekor kuda tadi, memilih yang terbaik dan kini mereka dapat melakukan perjalanan cepat tanpa terlalu melelahkan diri. Ketika matahari sudah naik tinggi, udara panas dan kuda mereka sudah mulai berpeluh dan terengah kelelahan, mereka berdua menghentikan kuda mereka di luar sebuah hutan besar dan membiarkan dua ekor kuda itu mengaso dan makan rumput. Dua ekor kuda itu nampak senang sekali ketika dituntun ke sebuah anak sungai yang airnya jernih, minum dan makan rumput hijau segar yang tumbuh di tepi sungai. Dun orang wanita itupun beristirahat, duduk di atas akar menonjol di bawah pohon besar yang teduh.

“Enci, kenapa engkau tadi membunuh kelima Ki-ciu Ngo-houw? Kesalahan mereka tidak terlalu besar, hanya bersikap agak kurang ajar terhadap kita. Kenapa engkau begitu membenci mereka?”

“Huh, mereka memang layak dibunuh. Semua laki-laki, terutama yang tidak menghargai wanita, harus dibunuh!” jawab Si Ni dan dari suaranya dapat diketahui bahwa ia memang bersungguh-sungguh dan nampak kebenciannya terhadap pria.

“Enci, engkau agaknya amat membenci pria!”

“Memang benar. pria adalah mahluk yang paling jahat, paling kejam, suka menyiksa hati wanita!”

“Ehh? Akan tetapi, maafkan aku, enci. Apakah engkau tidak ingat kepada ayahmu, suamimu … mereka juga pria, belum lagi para pamanmu dan mungkin saudaramu laki-laki … “

“Aku tidak mempunyai semua itu! Aku selamanya tidak pernah bersuami, dan semua ini kulakukan karena kekejaman pria!”

Tentu saja Hui Hong terkejut sekali dan hatinya amat tertarik. Agaknya wanita cantik ini pernah mengalami hal-hal yang amat mengecewakan atau mendukakan hatinya, akibat ulah seorang pria, maka sampai sekarang ia tidak mau menikah dan apalagi berdekatan dengan pria, bahkan ia membenci pria.

“Akan tetapi engkau masih muda, enci, masih banyak harapan untuk kelak bertemu dengan seorang pria yang cocok untuk menjadi suamimu … “

“Diam, jangan ulangi lagi itu atau terpaksa aku akan menyerangmu!”

Hui Hong menghela napas panjang. “Enci, aku pernah mendengar namamu disebut oleh ayah … maksudku, oleh Bueng-kiam Ouwyang Sek bahwa yang berjuluk Kwan-im Sian-li adalah seorang datuk persilatan yang amat lihai, dan menurut ceritanya, Kwan-Im Sian li adalah seorang wanita tua. Akan tetapi, sekarang aku bertemu engkau yang berjuluk Kwan-im Sian li, dan memiliki kepandaian yang tinggi, akan tetapi engkau masih muda … “

“Hemm, siapa bilang aku masih muda? Ayah tirimu itu yang matanya sudah lamur barangkali. Usiaku sudah mendekati setengah abad, bagaimana bisa dibilang muda?”

Hui Hong terbelalak, “Setengah abad? Ah, aku tidak percaya, enci! Engkau nampak berusia tiga puluhan tahun lebih sedikit!”

Bagaimanapun keras hatinya, Bwe Si Ni hanya seorang perempuan yang selalu amat memperhatikan riasan dan dandanannya, maka tentu saja ia merasa senang mendengar pujian bahwa ia awet muda, apalagi pujian itu keluar dari mulut seorang wanita sehingga bukan merupakan rayuan pria yang memuakkan hatinya.

“Usiaku sudah empat puluh delapan, Hui Hong.”

“Ahhhh, sungguh tak disangka!” Hui Hong berseru, terkejut dan juga kagum sekali.

“Karena itu, mulai sekarang jangan sebut enci (kakak) kepadaku, melainkan bibi.” Bwe Si Ni tersenyum. Baru sekarang Hui Hong melihat senyum yang bukan senyum dingin mengandung ejekan dari wanita itu. Manis sekali. Ia merasa yakin bahwa ketika mudanya, wanita ini amatlah cantiknya.

“Baiklah, Bibi Bwe Si Ni. Maafkan keberanianku bertanya karena aku merasa amat tertarik dan ingin tahu sekali, bibi. Bibi adalah seorang wanita yang selain pandai, juga teramat cantik. Kalau wanita biasa yang bodoh dan tidak cantik saja mendapatkan jodoh, kenapa bibi tidak pernah menikah? Maafkan pertanyaanku.”

“Hemm, kalau orang lain yang mengajukan pertanyaan itu, tentu sudah kubunuh seketika. Akan tetapi engkau justeru merupakan satu-satunya orang yang harus mengetahui riwayatku. Nah, aku menjadi pembenci pria dan tidak sudi lagi didekati pria manapun juga karena ulah seorang laki-laki, ketika aku masih muda, dua puluh tahun lebih yang lalu.” Wanita itu merenung dan beberapa kali menarik napas panjang seolah undangan semua kenangan lama itu mendatangkan pula kedukaan yang mendalam di hatinya.

“Hemm, tentu engkau mesih muda dan cantik jelita, bibi.”

“Sudah sepatutnya aku cantik, karena ketika itu aku adalah seorang dayang di istana kaisar.”

Hei Hong memandang kagum. Kukira bukan dayang melainkan puteri, pikirnya. Kalau dayang, kenapa sekarang dandanan pakaian dan rambutnya seperti seorang puteri saja? Akan tetapi tentu saja ia diam dan tidak berkata apa-apa, hanya menanti wanita itu melanjutkan ceritanya yang tentu akan menarik sekali.

“Ketika itu, aku bertemu seorang pria dan kami saling mencinta. Akan tetapi, laki-laki itu seorang yang mata keranjang. Bukan aku saja yang menjadi kekasihnya, melainkan banyak! Dan akhirnya dia meninggalkan aku begitu saja!”

Hui Hong mengerutkan alisnya. “Bibi, laki-laki seperti itu tentu sudah bibi cari dan bibi bunuh!”

Si Ni menggeleng kepalanya dan wajahnya nampak muram, sedih, “Ada dua hal yang membuat hal itu tidak mungkin kulakukan, Hui Hong. Pertama, aku … aku masih mencintanya dan aku mengharapkan dapat menghabiskan sisa hidupku di samping orang yang selamanya kucinta. Dan ke dua, kalaupun aku hendak membalas dendam, aku tidak akan menang. Dia lihai sekali dan aku bukan tandingannya.”

“Ahhh …!” Hui Hong terkejut, dan kagum pula. Ia merasa kasihan kepada wanita ini.

“Hui Hong, ketika aku mendengar engkau menanyakan ayah kandungmu, aku yang mengetahui di mana dia, segera menawarkan diri untuk menjadi penunjuk jalan agar engkau dapat bertemu dengan ayahmu. Akan tetapi, aku mempunyai syarat, yaitu kalau aku sudah berhaail mempertemukan engkau dengan ayahmu, aku ingin minta bantuanmu.”

“Bantuan apakah itu, bibi? Kalau memang aku mampu, dan kuanggap tidak bertentangan dengan isi hatiku, pasti aku akan membantumu.”

“Begini, Hui Hong. Setelah engkau bertemu dengan ayahmu, aku minta agar engkau membujuk pria yang kucinta itu agar dia mau menerima diriku, agar dia memperkenankan aku hidup di sampingnya, melayaninya, merawatnya. Kemudian, kalau dia berkeras menolak dan tidak kasihan kepadaku, aku minta engkau membantuku untuk mengalahkan dan membunuhnya!”

Hui Hong berpikir sebentar. Permintaan itu cukup pantas dan kalau pria yang tidak setia itu benar-benar menolak dan mengandalkan kepandaiannya untuk merusak kehidupan Bwe Si Ni, memang sudah selayaknya kalau dibasmi. “Baik, bibi, aku berjanji untuk membantumu melakukan dua hal itu.”

Wajah wanita itu berseri. “Engkau … engkau tidak akan melanggar janjimu, Hui Hong?”

Sepasang alis Hui Hong berkerut. “Bibi Bwe Si Ni, biarpun sejak kecil aku dididik oleh Ouwyang Sek, namun Ibuku selalu menanamkan watak bertanggung jawab, adil dan dapat dipercaya. Kalau aku sudah berjanji, pasti akan kupenuhi, dan kalau perlu mempertaruhkan nyawaku. Aku Juga mempunyai kebanggaan dan harga diri, bibi. Apalagi karena permintaan bibi itu pantas, kalau laki-laki yang sudah membuat bibi merana selama puluhan tahun itu tidak menaruh iba dan mau menerima bibi, dia memang pantas untuk dihukum!”

Bwe Si Ni menjadi girang dan ia merangkul dan menciumi kedua pipi Hui Hong, membuat gadis ini termangu dan terheran. Sungguh sikap ini berbeda sekali dengan sikap Bwe Si Ni selama ini, biasanya dingin dan kaku, seperti mayat hidup. Dan kini tiba-tiba menjadi hangat, penuh gairah hidup.

“Terima kasih, Hui Hong, terima kasih … ” bisiknya. Memang wanita ini merasa gembira bukan main. Ia sudah berhasil membuat puteri kekasihnya berjanji untuk membujuk ayah gadis itu sendiri untuk menerimanya, dan kalau perlu membantunya mengeroyok!

“Tidak perlu berterima kasih, bibi. Akulah yang harus berterima kasih sebelumnya bahwa bibi mau mempertemukan aku dengan ayahku. Dan akupun belum tentu berhasil membujuk pria pujaan hati bibi itu. Kita lihat saja nanti.”

“Ya, kita lihat saja nanti, Hui Hong.”

Mereka lalu melanjutkan perjalanan, menuju ke Hwa-san, sebuah pegunungan yang memiliki banyak bukit dan puncak yang tinggi. Sikap kedua orang wanita itu memang tidaklah aneh. Setiap orang manusia di dunia ini, seperti juga mereka berdua, selalu bertindak atau berbuat menurut pikiran masing-masing. Dan hati akal pikiran membentuk gambaran si aku yang selalu mementingkan diri pribadi, mementingkan kesenangan diri sendiri. Memang beginilah ulah nafsu dan dalam hati akal pikiran kita semua sudah bergelimang nafsu yang memang disertakan kepada kita sebagai peserta yang membantu jiwa dalam kehidupan dalam badan ini. Akan tetapi, karena sejak kecil kita membiarkan nafsu makin lama semakin berkuasa dan merajalela, sehingga akhirnya mencengkeram dan menguasai hati akal pikiran sepenuhnya, maka kehidupan ini sepenuhnya dikemudikan nafsu. Nafsu membentuk aku yang ingin menang, ingin senang sendiri. Karena itu, muncullah segala macam kemunafikan, yaitu yang pada luarnya nampak baik, namun sebenarnya palsu karena di sebelah dalamnya ternyata nafsu yang berpamrih berkuasa dan segala yang tampaknya besar itu hanya merupakan suatu cara untuk mendapatkan imbalan yang menyenangkan.

Keinginan si aku untuk enak sendiri inilah yang menimbulkan segala macam konflik. Kalau sudah terjadi benturan antara si aku dan si-aku yang lain, maka bermusuhanlah kedua orang itu. Benturan kepentingan, atau lebih tepat lagi benturan keinginan untuk senang selain mendatangkan pertentangan, kebencian dan permusuhan. Bahkan cintapun menjadi sarang konflik karena pengaruh nafsu atau si aku yang ingin menang sendiri.

Perjanjian antara Si Ni dan Hui Hong juga terdorong oleh kepentingan masing masing. Mereka seolah saling memanfaatkan pihak lain demi keuntungan atau kesenangan diri sendiri, Si Ni hendak mempertemukan Hui Hong dengan ayahnya karena di balik itu ia berpamrih agar Hui Hong menolongnya membujuk ayah gadis itu agar menerimanya, atau kalau ditolak, membantunya mengeroyoknya. Di lain fihak, Hui Hong mau berjanji karena ia ingin agar Si Ni menolongnya, menemukan dan mempertemukan ia dengan ayah kandungnya. Betapa dalam kehidupan ini, kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan, kitapun selalu hanya saling mempergunakan dan saling memanfaatkan orang lain demi keuntungan atau kesenangan kita! Terhadap keluarga, terhadap teman, masyarakat, negara dan bangsa. Pernahkah terdapat suatu saat suci di mana kita tidak lagi merenungkan apa yang dapat mereka lakukan demi keuntungan kita, dan mulai merenungkan apa yang dapat kita lakukan demi kebaikan mereka? Pernahkah? Demi kebaikan mereka, sepenuhnya, bukan hanya selubung yang menyembunyikan pamrih kita yang tersembunyi agar kita disenangkan oleh perbuatan atau hasil perbuatan itu?

***

Hujan turun dengan lebatnya, dan air yang segar sejuk itu disambut dengan penuh syukur dan terima kasih oleh pohon-pohon dengan daun-daunnya di pegunungan itu. Tanah yang bercampur batu kapar juga menyambut dengan bahagia. Seluruh permukaan bumi yang disiram air hujan setelah selama beberapa hari kekeringan, berpesta pora dengan bahagianya sehingga membubunglah segala hawa kotor ke angkasa, dan bumi kembali segar dan bersih. Tanah menguap, bau tanah tersebar di mana-mana. Daun-daun menari-nari tertimpa tetesan hujan, nampak berkilauan hijau segar.

Semua mahluk hidup yang berada di permukaan bumi, bahkan berada di bawah permukaan, menyambut air dengan gembira dan sibuk. Namun, dua orang wanita itu bergegas memasuki sebuah guha besar untuk berlindung dari siraman air hujan.

Mereka adalah Bi Moli Kwan Hwe Li dan muridnya, Cia Ling Ay. Setelah memasuki guha, Ling Ay cepat membersihkan tanah guha, membeberkan kain pembungkus pakaian di lantai dan mempersilakan gurunya duduk. Mereka duduk di atas lantai guha bertilamkan kain kuning itu.

Bi Moli Kwan Hwe Li duduk bersila dan tiba-tiba ia menutupi mukanya dengan kedua tangan dan pundaknya bergerak-gerak. Ia menangis! Muridnya, Ling Ay, memandang saja dengan terbelalak. Selama tiga tahun ia menjadi murid wanita cantik itu, baru sekali ini ia melihat gurunya bersedih, apalagi menangis, walaupun tidak mengeluarkan suara, Ia tidak menegur atau bertanya. Ling Ay amat menyayang gurunya, dan selain gurunya telah menyelamatkan ia dari perkosaan penjahat. Juga gurunya telah mengambilnya sebagai murid, mendidiknya dan ia merasa berhutang budi kepada wanita itu. Ia menyayang, menghormat dan amat patuh, walaupun kadang ia harus mengerutkan alisnya kalau gurunya bertindak keras sekali terhadap orang yang dianggap musuhnya. Sudah sering kali ia melihat gurunya menghukum penjahat, atau menghajar laki-laki iseng yang menggoda mereka. Gurunya dapat membunuh orang tanpa berkedip. Walaupun wajah gurunya yang cantik itu selalu tersenyum, namun kalau ia sudah marah, tidak lama kemudian, Kwan Hwe Li menurunkan kedua tangannya, dan jelas nampak betapa kedua pipinya basah. Ia benar-benar telah menangis tadi!”

Ia menoleh kepada Ling Ay yang kebetulan menatapnya, akan tetapi muridnya itu cepat-cepat menunduk, seolah tidak tahu bahwa gurunya habis menangis.

Ling Ay, tahukah engkau mengapa aku tadi menangis?”

Ling Ay mengangkat muka, memandang gurunya dan menggeleng kepala.

Gurunya tersenyum, manis sekali. Kadang Ling Ay merasa heran. Ia sendiri juga seorang wanita cantik, akan tetapi ia masih muda walaupun sudah menjadijJanda tanpa anak, usianya baru dua puluh empat tahun. Akan tetapi subonya pernah mengaku bahwa subonya sudah berusia lima puluh tahun. Setengah abad. Akan tetapi, subonya masih nampak demikian cantiknya seperti seorang gadis berusia dua puluh lima tahun saja. Mereka seperti enci adik dan tak seorangpun menyangkal bahwa mereka itu seperti enci adik.

Dari senyum, merekahlah tawa kecil. “Hi-hi-hik, aku menangis karena bahagia. Heh-heh, Tiauw Sun Ong, saat ini engkau pasti merana, berduka, menyesal, bingung dan gelisah. Nah, sekali-sekali engkau perlu merasakan hukumanmu, hi-hik.”

“Subo. mengapa subo mentertawakan bekas pangeran yang sudah menderita karena buta itu. Hati teecu (murid) sudah merasa kasihan sekali melihat dia, seorang pria setengah tua yang buta, hidup terasing seorang diri di pegunungan sunyi, masih dimusuhi pula oleh Kwan Im Sian li yang ingin membunuhnya. Aih, subo, kenapa subo. tidak kasihan malah kini mentertawakan dia?”

“Ling Ay engkau sudah mendengar semua ceritaku tentang Pangeran Tiauw Sun Ong, tentang hubungannya dengan aku, tentang Kwan-im sianli dayang tak tahu malu itu, dan tentang Pouw Cu Lan selir kaisar yang menyeleweng itu. Akan tetapi, engkau tidak tahu apa yang sebenarnya terkandung dalam hatiku.”

“Maaf, subo, teecu dapat menduga apa yang terkandung dalam hati sanubari subo. Ingatlah, subo, teecu pernah menceritakan tentang riwayat teecu yang tidak jauh bedanya dengan riwayat subo. Teecu juga pernah merasakan bagaimana hancurnya hati yang menderita karena kasih tak sampai,”

“Hemmm, apakah sampai sekarang engkau juga masih mencinta pemuda yang bernama … eh, siapa lagi namanya?”

“Kwa Bun Houw … teecu tak pernah mencinta pria lain kecuali dia, subo. Teecu pernah mencoba untuk belajar mencinta pria yang dipaksakan menjadi suami teecu, akan tetapi sama sekali tidak pernah berhasil. Hanya Bun Houw seorang yang pernah teecu cinta, tetap dan akan teecu cinta selamanya.”

Senyum di mulut Kwan Hwe Li melebar. “Heh.heh, bagaimana mungkin cinta dapat dipelajari atau dilatih? Cinta adalah suatu keadaan hati. Yang ada hanya engkau mencinta seseorang itu ataukah tidak. Akan tetapi, Ling Ay, setelah engkau mencinta mati-matian kepada pemuda yang bernama Bun Houw itu, apakah engkau tidak mempunyai niat untuk mendapatkannya, agar engkau dapat selamanya hidup di sampingnya?”

“Subo, tidak ada keinginan lain yang lebih besar dalam hati teecu kecuali hidup di sampingnya untuk selamanya. Akan tetapi teecu membatasi diri, subo. Teecu tahu bahwa teecu tidak pantas untuk menjadi jodohnya. Orang tua teecu pernah menolaknya dan menyakiti hatinya, teecu sendiri pernah menjadi isteri orang. Teecu hanya seorang janda yang pemah menyakiti hatinya, dan dia seorang pendekar yang budiman. Bagaimana mungkin teecu akan dapat berjodoh dengan dia?” Suara Ling Ay mengandung rintihan batinnya. Ayah ibunya tewas dibunuh penjahat, ia sendiri sudah menjadi janda, dan Bun Houw entah berada di mana. Tidak ada sedikitpun harapan baginya untuk dapat bertemu dengan Bun Houw, apalagi hidup bersama reperti yang dikatakan subonya.

Kwan Hwe Li menghela napas panjang. “Engkau benar, Ling Ay. Keadaan kita memang tidak jauh berbeda. Akupun hanya mencinta seorang pria saja, yaitu Pangeran Tiauw Sun Ong. Sampai sekarang aku masih mencintanya dan satu-satunya keinginanku adalah sama dengan yang diinginkan Kwan-im sian-li, yaitu ingin menghabiskan sisa hidupku di sampingnya. Akan terapi, kita mendengar sendiri penolakannya terhadap Kwan-im Sian-li. Aku tidak ingin mendengar dia manolak ajakanku, maka akupun tidak menyampaikan maksud hatiku. Andaikata dia menolak, mungkin akupun seperti Kwan-im Sianli akan mengajaknya mati bersama!”

Ling Ay menggeleng-geleng kepala. “Teecu tidak dapat menyelami perasaan subo dan Kwan Im Sianli. Kenapa harus memaksa seseorang untuk hidup bersama, dan kalau dia menolak akan diajak mati bersama? Apakah dua orang tidk bisa hidup dalam keadaan saling terpisah walaupun hati saling mencinta? Teecu bahkan tidak berani mengharapkan orang yang teecu cinta untuk menjadi teman hidup, dan teecu hanya mendoakan semoga dia mendapatkan seorang jodoh yang baik dan dapat hidup berbahagia selamanya.”

Bi Moli Kwan Hwe Li tertawa geli. “Heh-keh, kalau begitu engkau seorang munafik, Ling Ay!”

“Ehhh? Maaf, subo. Mengapa subo mengatakan teecu munafik?”

“Tentu saja engkau munafik. Dalam hatimu, tadi engkau mengatakan bahwa tidak ada keinginan yang lebih besar dalam hatimu kecuali hidup bersama pria yang kau cinta. Akan tetapi di luarnya engkau mendoakan dia hidup berbahagia dengan wanita lain. Bukankah itu munafik?”

“Tidak sama sekali, subo. Memang teecu mencintanya dan ingin hidup bersama dengan dia. Akan terapi, kalau dia tidak menghendaki hal itu, teecu tidak akan memaksanya atau menyalahkannya, apalagi membencinya. Dia berada di samping teecu ataukah tidak, teecu tetap mencintanya dan ingin melihat dia hidup berbahagia.”

“Hi-hi-hik, aku dapat membayangkan. Engkau ingin melihat dia hidup berbahagia, akan tetapi kalau benar-benar engkau melihat dia hidup berbahagia di samping wanita lain, engkau akan merasa betapa hatimu perih seperti ditusuk-tusuk, engkau akan menangis sendiri dalam kamarmu menyesali nasib dan penuh iba diri. Tidakkah begitu? Nah, itu yang kumaksudkan dengan munafik, tidak samanya perasaan hati dengan perbuatan,”

“Maaf, subo. Teecu rasa tidaklah demikian. Teecu hanyalah seorang manusia biasa yang serba lemah dan tidak teecu sangkal, mungkin kalau teecu melihat doa teecu terkabul dan Bun Houw hidup berbabagia dengan wanita lain. melihat dia bersanding dengan wanita lain, teecu akan teisiksa dalam hati, akan menangis penuh iba diri. Akan tetapi hal itu wajar saja. bukan? Di samping itu. teecu akan selalu sadar bahwa tidak selamanya orang harus menurutkan kata hati, tidak memenuhi keinginan hati. Teecu mempunyai pertimbangan untuk menimbang, keinginan bagaimana yang boleh dilaksanakan dan keinginan yang bagaimana yang harus dikekang. Dan keinginan memaksa Bun Houw hidup berdua dengan teecu, keinginan untuk senang sendiri seperti itu, adalah satu di antara keinginan-keinginan yang harus teecu kekang.”

“Huh, itulah mengapa engkau selalu tertimpa kemalangan dalam hidupmu. Engkau terlalu lemah! Engkau terlalu memikirkan orang lain dan lihatlah apa yang selama ini kaualami. Engkau menurut saja dinikahkan dengan pria yang tidak kausukai, engkau terlalu lemah sehingga tidak berani menentang orang tuamu. Kemudian, engkau rela saja dipermainkan laki-laki yang tidak kaucinta. Kalau yang pertama kali engkau lebih mementingkan orang tuamu dari pada dirimu sendiri, kemudian engkau mementingkan pria yang dipaksa menjadi suamimu. Kemudian engkau bertemu dengan bekas tunanganmu itu, dan engkau tidak meraihnya sehingga dia lepas lagi. Huh, aku muak mempunyai murid yang begini lemah!”

Melihat gurunya marah, Ling Ay terkejut.

Selama ini, belum pernah gurunya marah kepadanya! Dan ia merasa menyesal sekali. Ia belum dapat membalas semua budi yang dilimpahkan gurunya itu kepadanya, dan sekarang ia malah membuat gurunya kecewa dan marah. Ia segera berlutut di depan gurunya yang duduk bersila di dalam guha itu.

“Maafkan teecu, subo. Akan tetapi, apa yang harus teecu lakukan? Teecu tetap mentaati semua perintah subo.”

Bi Moli mengangkat mukanya dan meletakkan tangan kirinya ke atas pundak, muridnya. Ia menyayang Ling Ay. Selama beberapa tahun ini, Ling Ay bukan saja menjadi muridnya, akan tetapi juga menjadi sahabat baiknya, menjadi pelayannya dan bersikap amat baik kepadanya sehingga ia merasa sayang sekali kepada murid yang juga amat berbakat ini.

“Yang harus kaulakukan, muridku yang baik, adalah seperti aku. Aku gurumu yang harus kautaati, bukan? Nih, kita harus dapat menikmati hidup ini, kita harus bertindak sesuai dengan perasaan kita. Seperti juga aku yang selalu mengharapkan dapat hidup berdampingan dengan pria yang kucinta, dan menghancurkannya kalau dia menolak dan menyakiti hatiku, engkaupun harus mencari Bun Houw. Engkau dahulu pernah menjadi tunangannya, saling mencinta, maka sudah sewajarnya kalau sekarang engkau menuntut disambungnya kembali ikatan itu dan menjadi isterinya. Bukankah itu harapan dan idaman hatimu?”

“Akan tetapi, subo. Teecu adalah seorang yang tadinya memutuskan hubungan itu, teecu yang meninggalkannya dan menikah dengan pria lain.”

“Itu adalah kehendak orang tuamu, bukan kehendakmu. Dan ketika itu engkau belum menjadi muridku. Kalau engkau bertemu lagi dengan dia, dia harus menerimamu kembali dan engkau akan menjadi isterinya, hidup berbahagia, dan akupun akan ikut gembira melihat engkau bahagia. Kalau dia menolak dan memilih wanita lain, aku akan membantumu menghancurkannya. Daripada orang yang kita cinta terjatuh ke tangan wanita lain lebih baik kita binasakan saja!”

“Tapi, subo … ” Ling Ay yang bergidik mendengar bahwa ia harus membunuh Bun Houw, mencari akal dan tidak berani membantah lagi atau menolak, “bagaimana teecu akan dapat mencari dan menemukannya. Teecu tidak tahu di mana dia berada. Dia sebatangkara dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.”

“Biar kita cari perlahan-lahan. Sekarang, kita lebih dulu pergi ke kota raja Nan-king. Sejak terjadinya keributan dan perang saudara yang menjatuhkan kerajaan Liu Sung tiga tahun yang lalu. aku tidak pernah melihat Nan-king. Sekarang, di sana yang berkuasa adalah Kerajaan Chi dan kaisarnya adalah Siauw Bian Ong yang dahulunya adalah Pangeran Siauw Hui Kong. Tiga tahun telah lewat sejak kerajaan baru itu menguasai daerah selatan Sungai Yang-ce. dan kabarnya sekarang keamanan telah pulih kembali, tidak ada lagi terjadi pertempuran. Aku ingin berkunjung ke sana, menjenguk kota kelahiranku dan kautahu, muridku, masih banyak keluarga bangsawan yang menjadi kerabatku.”

Ling Ay menurut saja, di dalam hati ia masih bingung oleh perintah gurunya mengenai sikapnya terhadap Bun Houw tadi. Ia memang mencinta Bun Houw, hal ini tidak disangkalnya. Ia memang mengharapkan agar dapat hidup menjadi isteri Bun Houw, hal ini pun harus diakuinya. Akan tetapi andaikata Bun Houw menolak, bagaimana mungkin ia akan tega untuk membunuhnya? Bun Houw telah berbuat banyak untuknya. Rasanya ia akan rela mati untuk membela pria yang dikasihinya itu. Bagaimana mungkin ia akan dapat membunuhnya, walaupun dia akan menolaknya sekalipun? Akan tetapi ia tidak berani membantah, dan girang mendengar subonya mengajaknya pergi ke Nan-king. Setidaknya, urusan baru di Nan-king akan membuat gurunya lupa akan Bun Houw dan diapun akan diam saja. tidak akan membicarakan lagi tentang bekas kekasih dan tunangannya itu.

***

Guru dan murid itu berhenti di persimpangan jalan. “Suhu,” kata Bun Houw, “biarlah teecu mengantar suhu kembali dulu ke Hwa-san, sebelum teecu mulai mencari adik Tiauw Hui Hong sampai dapat. Teecu berjanji akan mengajak puteri suhu itu menghadap suhu.”

Tiauw Sun Ong tersenyum. Bekas pangeran yang usianya sudah lima puluh sembilan tahun itu masih nampak tegap dan memang wajahnya tampan dan gagah, walaupun dia nampak lemah dengan kebutaannya, “Bun Houw, tidak perlu engkau mengantarku. Aku masih kuat untuk mendaki Hwa-san dan sebaiknya kalau engkau sekarang juga mulai pergi mencari Hui Hong dan kauceritakan semuanya tentang dirinya, tentang hubungannya dengan aku sebagai ayah kandungnya. Kasihan sekali Hui Hong, ia tidak tahu akan kematian ibu kandungnya yang amat menyedihkan. Aih, ulah nafsu selalu mendatangkan akibat yang menyedihkan.”

Bun Houw yang sudah mengenal baik watak suhunya yang sekali mengambil keputusan tidak akan mengingkari lagi, tidak membantah dan diapun menghela napas panjang. Dia merasa iba kepada suhunya. Biarpun suhunya tidak mengeluarkan ucapan yang menunjukkan kesedihannya, namun dia tahu benar betapa hancur hati gurunya ketika pertemuannya dengan satu-satunya wanita yang pernah dicintanya, yaitu Pouw Cu Lan, berakibat matinya wanita itu membunuh diri. Akan tetapi suhunya tidak pernah melihatkan kesedihannya dan diapun kagum bukan main. Gurunya adalah seorang laki-laki sejati!

“Baiklab, suhu. Kalau suhu menghendaki demikian, teecu akan mentaati keinginan suhu.”

“Selain mencari Hui Hong. Juga ada sebuah tugas untukmu. Ketahuilah bahwa kini kerajaan Sung atau Liu Sung telah jatuh dan yang berkuasa adalah kerajaan Chi yang dipimpin oleh Kaisar Siauw Bian Ong. Perubahan ini hanya merupakan perebutan kekuasaan saja, karena yang memegang pimpinan tetap masih keluarga sendiri. Bahkan ada baiknya, karena Kaisar Cang Bu yang masih remaja itu tidak pantas untuk menjadi kaisar dan dia tentu mudah dikuasai para pejabat yang menjilat dan menyelewengkannya. Bagaimanapun juga, kita harus mendukung kerajaan Chi di Nan-king karena kita di selatan selalu diancam oleh kekuasaan dari utara, yaitu kerajaan Wei yang dipimpin oleh bangsa Toba Tartar. Memang tidak perlu engkau memegang jabatan, akan tetapi kalau melihat negara diancam bangsat Tartar, sudah menjadi kewajiban setiap orang warga negara untuk membelanya. Nah, tugas yang kuberikan padamu adalah pergi ke Nan-king dan melihat suasana di sana. Kuberi waktu dua tahun kepadamu untuk mencari Hui Hong dan melihat keadaan pemerintah kerajaan Chi yang baru. Satelah dua tahun, bertemu Hui Hong atau tidak, engkau harus mencariku di Hwa-san dan memberi laporan tentang semua hasil usahamu.”

“Baik, suhu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: