Kisah Si Pedang Kilat – 3

Ling Ay maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang wanita sakti, maka ia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki wanita itu. “Bibi, harap maafkan saya. Bukan maksud saya untuk membalas dendam dengan penyiksaan. Akan tetapi, mengingat bahwa keluarga saya mempunyai dosa besar terhadap pemerintah dan sudah sepatutnya kalau saya pun dihukum. Hanya saya ingin tahu dari orang ini, mengapa dia membunuh ayah dan ibu dan menculik saya. Seperti itukah pelaksanaan hukuman pemerintah? Saya ingin mendengar dari dia segala rahasia yang terdapat di balik perbuatannya yang terkutuk ini.”

Wanita cantik itu nampak tertarik sekali dan sejenak ia mengamati wajah Ling Ay. “Anak yang baik, siapakah keluargamu? Siapa pula engkau dan dosa apa yang dilakukan keluargamu? Ceritakanlah segalanya sebelum kupaksa jahanam ini mengaku.”

Ling Ay sudah putus asa. Ayah ibunya telah tewas, keluarga suaminya juga telah terbasmi. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat ia harapkan. Kwa Bun Houw? Ah, ia malas kalau harus mengganggu pemuda bekas tunangannya itu. Sudah terlampau banyak pemuda itu menderita karena dirinya! Maka, kemunculan wanita sakti ini menghidupkan kembali harapan yang hampir padam di hatinya dan pertanyaan itu membuat ia begitu terharu sehingga ia menangis di depan kaki wanita itu, terisak-isak.

Sejenak wanita itu membiarkan saja Ling Ay menangis. Iapun tahu bahwa biarpun lemah dan tidak memiliki kepandaian silat, namun wanita muda yang berlutut di depan kakinya ini bukanlah seorang wanita cengeng yang menuruti perasaan saja. Akan tetapi tak lama kemudian ia berkata dengan suara tegas. “Hentikan tangismu. Aku paling tidak suka kecengengan! Ceritakan keadaanmu dan aku akan membantumu. Kalau kau menangis terus aku akan meninggalkanmu!”

Mendengar itu, seketika Ling Ay berhenti menangis. Hai ini saja menunjukkan bahwa wanita ini memiliki kekerasan hati yang mampu mengatasi perasaannya. Setelah mengusap dan mengeringkan sisa air mata dari kedua pipinya. Ling Ay lalu menceriterakan semua riwayatnya secara singkat. Ia menceriterakan betapa ia dipaksa oleh orang tuanya untuk menjadi isteri Cun Hok Seng, putera kepala daerah Nan-ping walaupun ia sama sekali tidak mencinta pemuda itu. Betapa ia berusaha untuk menjadi seorang isteri yang baik, akan tetapi suaminya ternyata amat pencemburu dan suka kepadanya hanya karena nafsu yang haus kecantikan belaka.

“Kemudian terjadilah malapetaka itu,” sambungnya. “Tanpa saya ketahui, ternyata ayah mertua saya. Cun Tai-jin, mempengunakan orang-orang jahat untuk memberontak! Hal ini ketahuan oleh panglima pasukan keamanan di Nan-ping dan rumahnya diserbu pasukan. Saya diajak pulang ayah karena ayah telah tahu hal itu. Keluarga Cun ditangkapi, akan tetapi saya terbebas karena jaminan … seorang pendekar yang membantu Souw Ciangkun membasmi persekutuan pemberontak. Dan malam ini … dia ini datang membunuh ayah dan Ibu, dan menculik saya. Karena itulah, bibi yang mulia, saya mohon agar orang ini jangan dibunuh sebelum dia mengaku siapa yang menyuruhnya dan mengapa pula ayah ibu saya dibunuh.”

Wanita itu menoleh ke arah Hek-coa yang masih berlutut tak berani bengerak. “Nah, Ular Hitam, engkau sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh nyonya muda … eh, siapa namamu tadi, Cia Ling Ay? Hayo ceritakan mengapa engkau membunuh ayah ibunya lalu menculiknya! Awas, sekali berbohong akan kupenggal sebuah telingamu!”

Hek-coa sudah mati kutu benar-benar. Dia tahu bahwa dia tidak akan dapat meloloskan diri dari tangan wanita sakti ini. Satu-satunya jalan baginya hanyalah minta ampun, atau kalau toh dia harus menjalani hukuman, dia tidak mau menanggungnya sendiri, Sifat umum yang amat buruk dari kita seperti sikap Hek-coa itu, yalah segala hal yang menyenangkan ingin diborong sendiri dan sebaliknya, segala hal yang menyusahkan ingin ditanggung beramai-ramai.

“Ampunkan saya, li-hiap (pendekar wanita),” katanya merendah. “Sesungguhnya, saya hanyalah seorang bawahan saja, seorang pelaksana. Saya diperintah seseorang untuk membunuh keluarga Cia. Ketika melihat nyonya muda ini, hati saya merasa tidak tega dan karena saya belum mempunyai isteri, maka maksud saya untuk memperisterinya karena saya merasa kasihan. Saya pribadi tidak mengenal keluarga Cia, bagaimana bisa bermusuhan ? Saya diperintah … “

“Siapa yang menyuruhmu?” Kini Ling Ay yang bertanya karena ia merasa penasasan sekali.

Bahkan terhadap Ling Ay yang tadi hampir diperkosanya, Hek-coa bersikap takut dan hormat. Hal ini adalah karena dia mengharapkan pengampunan dari Ling Ay yang tidak begitu galak dibandingkan wanita sakti itu. Tadipun nyonya muda ini yang minta kepada si wanita sakti agar tidak membunuhnya.

“Yang memerintahkan saya untuk melakukan pembunuhan adalah Poa Tai-jin … saya hanya melaksanakan perintah …”

“Poa Tai-Jin?” Ling Ay mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. “Poa Tai-jin yang menjadi pembantu Cun Tai-jin. pengumpulan pajak itu ?”

“Benar, toanio. Dia Poa Kit Seng, dia yang memerintahkan saya dan saya … saya hanya melaksanakan. … “

“Kutu busuk!” Wanita sakti itu membentak, muak melihat sikap pengecut penjahat itu, “Engkau pembunuh bayaran, ya ?”

Hek-coa hanya mengangguk-angguk dan menyembah-nyembah. “Ampunkan saya … “

Kini Ling Ay bangkit berdiri, memandang kepada wanita sakti dan berkata, “Bibi, kumohon bibi sudi menemani saya untuk pergi kepada Souw Ciangkun bersama penjahat ini. Saya harus melaporkan tentang hal ini, karena agaknya masih banyak sisa sekutu pemberontak.”

Wanita itu memandang heran. “Pergi kepada panglima pasukan di Nan-ping? Dan engkau adalah anggauta keluarga Cun, tentu engkau akan ditangkap pula.”

“Sudah semestinya begitu, bibi. Saya tidak takut dan memang sudah sepatutnya saya bertanggung jawab sebagai anggauta keluarga Cun. Akan teiapi yang terpenting, semua sisa pemberonlak harus dibersihkan.”

“Hemm, engkau memang aneh dan tabah sekali, Ling Ay.” kata wanita itu yang kemudian membentak Hak-coa, “Hayo katakan kenapa pejabat she Poa itu membayarmu untuk membunuh keluarga Cia! Awas, ceritakan sesungguhnya kalau tidak ingin kusiksa!”

“Poa Kit Seng takut kalau sampai rahasianya dibocorkan oleh keluarga Cia, li-hiap. Dia … seperti dugaan toa-nio ini tadi, dia memang sekutu dari Cun Taijin, Dia takut kalau ketahuan oleh pemerintah dan ikut ditangkap. Yang mengetahui rahasia itu agaknya hanya keluarga Cia, maka dia memerintahkan hamba membasmi keluarga itu.”

“Hemm, ternyata apa yang kau duga memang tepat, Ling Ay. Sekarang, apa yang kau inginkan?”

“Saya ingin menyerahkan diri sebagai anggauta keluarga Cun, bibi, dan saya ingin agar Souw Ciangkun menangkap orang she Poa itu bersama semua sisa pemberontak.”

“Tapi engkau dapat dihukum penjara, bahkan dihukum mati!”

“Saya sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, bibi. Ayah ibuku sudah tidak ada, juga keluarga suamiku tidak ada. Saya sebatang kara dan hidup ini hanya penuh kedukaan. Saya bersedia untuk dihukum mati sekalipun.”

“Hemm, hendak kulihat nanti. Mari kita pergi.” kata wanita itu dan membentak Hek-coa, “Engkau sudah mendengar tadi ? Hayo antarkan kami kembali ke Nan-ping menghadap Souw Ciangkun!”

Tentu saja diam-diam Hek-coa merata takut sekali. Menghadap panglima yang membasmi pemberontakan itu seperti juga seekor tikus menghadap kucing! Akan tetapi terhadap wanita sakti ini dia tidak mampu berbuat apa-apa, maka diapun bangkit dan mereka bertiga keluar dari dalam kuil tua.

Ketika mereka tiba di hutan dalam perjalanan menuruni bukit itu, di bagian yang belukar dan masih agak gelap karena matahari pagi masih terlalu lemah unluk dapat menerobos daun-daun pohon yang rimbun, tiba-tiba Hek-coa meloncat ke kiri, hendak melarikan diri. Dia melihat kesempatan baik ketika berada di dalam hutan ini, satu-satunya kesempatan untuk dapat menyelamatkan diri dari tangan wanita sakti itu.

Tentu saja Ling Ay terkejut ketika tiba-tiba penjahat itu meloncat ke kiri dan lenyap di balik semak belukar. Akan tetapi wanita cantik itu tidak nampak terkejut, bahkan tersenyum manis dan iapun berseru dengan suara nyaring, lembut namun penuh wibawa.

“Hek-coa, berhenti kau!”

Wanita itu lalu menggandeng tangan Ling Ay dan diajak melangkah ke balik semak belukar dan … Hek-coa nampak berdiri seperti patung dan matanya terbelalak, mukanya yang hitam itu menjadi semakin gelap. Bagaimana dia tidak akan ketakutan kalau tadi, setelah dia berhasil meloncat ke balik semak belukar dan sudah siap untuk melarikan diri ke dalam hutan lebat, menuju kebebasan, tiba-tiba terdengar bentakan lembut itu dan anehnya, begitu mendengar dia disuruh berhenti, seketika kakinya tidak mau lagi diajak berlari!”

Kini wanita itu sudah tiba di depannya, bersama Ling Ay yang juga memandang terheran-heran. Orang ini sudah berhasil meloncat ke balik semak belukar, kenapa kini berdiri seperti patung?

“Engkau hendak melarikan diri dariku ? Hemm, biar engkau bersayap sekalipun, jangan harap dapat melarikan diri. Engkau memang seorang yang jahat dan licik, pantas dihajar!” Cepat sekali tangan wanita itu bengerak, terdengar suara “pletak” dua kali dan kedua tulang pundak Hek-coa telah patah-patah! Tentu saja dia tidak mampu lagi menggerakkan kedua lengannya yang kini tengantung lemas karena kalau digerakkan, kedua pundaknya terasa nyeri bukan main.

“Hayo jalan!” bentak wanita itu dan dengan kedua lengan tengantung di kanan kiri, dengan muka menunduk, Hek-coa melanjutkan langkahnya, menahan rasa nyeri yang membuat seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Wanita itu berjalan di belakangnya, masih menggandeng tangan Ling Ay.

“Bibi, kalau boleh saya bertanya. Siapakah bibi?”

“Namaku Kwan Hwe Li dan orang di dunia persilatan menyebut aku Bi Moli (Iblis Wanita Cantik). Akan tetapi engkau boleh memanggil aku Bibi Hwe Li saja.”

“Aih, sungguh keterlaluan orang-orang itu!” Ling Ay berseru penasaran. “Engkau lebih pantas disebut Sianli (Dewi) dari pada Moli (Iblis Betina), bibi!”

Sementara itu, mendengar disebutnya julukan Bi Moli, seluruh tubuh Hek-coa menggigil. Dia pernah mendengar akan nama besar Bi Moli, seorang wanita kang-ouw, bahkan seorang datuk sesat yang selain amat lihai ilmu silat dan ilmu sihirnya, juga amat ganas dan kejam terhadap lawannya!”

Bi Moli Kwan Hwe Li tersenyum mendengar ucapan Ling Ay. “Tidak, Ling Ay, aku memang seorang Iblis wanita terhadap musuh-musuhku yang jahat. Kautahu, kalau tidak karena engkau, orang ini sudah menggeletak di kuil yang tadi, menjadi bangkai yang kini diperebutkan oleh binatang hutan. Sudah kubunuh dia!”

Tentu saja Hek-coa menjadi semakin ketakutan. Perjalanan dilanjutkan dengan cepat menuju ke kota Nan-ping. Mereka tiba di kota itu setelah tengah hari dan mereka langsung menuju ke markas pasukan yang dipimpin Souw Ciangkun. Benteng itu berada di ujung selatan kota Nan-ping.

***

Ketika menerima laporan dari penjaga pintu gerbang bahwa ada dua orang wanita cantik membawa tawanan seorang pembunuh minta menghadap, Souw Ciangkun merasa heran akan tetapi cepat menyuruh pengawalnya mempersilakan dua orang wanita dengan tawanannya itu untuk datang menghadapnya dalam ruangan kantor. Tadinya dia mengira bahwa seorang di antara dua wanita cantik itu tentulah pendekar wanita Ouwyang Hui Hong yang sudah dikenalnya. Maka, dia merasa heran sekati ketika melihat bahwa tamunya itu bukan lain adalah Cia Ling Ay atau yang pernah dikenalnya sebagai Nyonya Cun Hok Seng, mantu dari Cun Tai jin Dia sudah berjanji kepada Kwa Bun Houw bahwa wanita ini tidak akan dituntut sebagai anggauta keluarga Cun. maka tentu saja dia merasa heran bagaimana wanita ini sekarang muncul menghadapnya. Dan diapun tidak mengenal wanita cantik setengah tua yang datang bersama Ling Ay. Akan tetapi, sebagai komandan pasukan di Nan-ping, dia segera mengenal Hek-coa yang kedua lengannya tengantung lumpuh itu.

Setelah memberi hormat dan mempersilakan dua orang tamunya duduk sedangkan Bi Moli membentak dengan suara halus agar Hek-coa berlutut di lantai, Souw Ciangkun lalu bertanya akan maksud kunjungan itu.

“Souw Ciangkun tentu masih mengenal saya. Saya adalah mantu Cun Tai-Jin dan selain saya datang untuk menyerahkan diri sebagai mantu seorang pemberontak, juga saya hendak melaporkan akan peristiwa yang menimpa keluarga ayah saya.”

“Kami sudah menerima laporan pagi ini tentang peristiwa menyedihkan di rumah orang tuamu itu, Cun Hujin (Nyonya Cun). Ayah dan ibumu terbunuh dan engkau lenyap. Akan tetapi kami tidak tatu siapa yang melakukan pembunuhan itu dan ke mana engkau pergi.” kata Souw Ciangkun, nada suaranya mengandung iba. Nyonya muda ini memang bernasib malang, pikirnya. Baru saja keluarga suaminya ditangkapi karena memberontak, disusul pembunuhan terhadap ayah dan ibu kandungnya.

Ling Ay menarik napas panjang. “Dia inilah pembunuh ayah Ibuku, Ciangkun, dan dia pula yang menculik saya. Untung saya ditolong oleh Bibi Kwan ini yang juga menanggapnya.”

“Hek-coa, si keparat! Sekali ini engkau tidak akan lolos dari hukuman!” Souw Ciangkun membentak marah.

“Saya menyerahkan kepada Ciangkun untuk menghukumnya, akan tetapi dia ini tidak begitu penting, Ciangkun. Ternyata yang meryuruh dia membasmi keluarga Cia adalah Poa Ku Seng, pejabat pemungut pajak itu dan dalihnya karena dia takut rahasianya terbongkar. Dia adalah sekutu dari ayah mertuaku. Karena itulah saya menghadap Ciangkun, agar semua sisa pemberontak dapat dibersihkan, juga untuk menyerahkan diri untuk ditangkap.”

Souw Ciangkun memandang kagum, lalu bangkit berdiri dan begitu dia bertepuk tangan, beberapa orang pengawalnya datang menghadap. Souw Ciangkun bangkit berdiri dan berkata kepada mereka, “Cepat panggil Tan Ciangkun datang menghadap. Sekarang juga!”

Tan Ciangkun adalah wakilnya dan tinggal di dalam benteng itu juga, maka sebentar saja Tan Ciangkun, seorang perwira yang usianya sekitar empat puluh tahun. Tan Ciangkun masuk dan memandang dengan penuh pertanyaan kepada dua orang wanita dan seorang laki-laki yang berlutut itu.

“Tan Ciangkun, suruh seret Hek-coa ini dan jebloskan ke dalam tahanan, dijaga ketat jangan sampai lolos atau bunuh diri. Dia akan menjadi saksi penting. Dan kerahkan pasukan, tangkap seluruh keluarga pejabat Poa Kit Seng, jangan ada yang sampai melarikan diri. Sekarang juga! Dia adalah sekntu dari pemberontak Cun!”

Tan Ciangkun memberi hormat, lalu memerintahkan dua orang pengawal untuk menyeret Hek-coa pergi dan dia sendiri lalu keluar untuk melaksanakan perintah penangkapan terhadap keluarga pembesar Poa Kit Seng.

Setelah ruangan itu sunyi kembali dan hanya mereka bertiga yang berada di situ, Ling Ay lalu berkata kepada Bi Moli, “Bibi, untuk yang terakhir kalinya, saya menghaturkan banyak terima kasih kepada bibi, bukan saja karena bibi telah menyelamatkan saya, terutama sekali karena bibi telah dapat menangkap pembunuh orang tuaku dan membongkar sekutu pemberontakan.” Setelah berkata demikian, Ling Ay memberi hormat kepada wanita cantik itu lalu menghadap Souw Ciangkun sambil berkata, “Ciangkun, saya sudah siap untuk ditangkap dan dituntut. Silakan.” Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di atas lantai sambil menundukkan mukanya.

Bi Moli sejak tadi hanya melihat dan mendengarkan saja akan tetapi diam-diam ia merasa kagum dan suka kepada wanita muda yang tabah itu walaupun mengalami nasib yang buruk sekali. Ia ingin tahu apa yang akan dikatakan panglima itu, akan tetapi diam-diam ia mengambil keputusan dalam hatinya untuk mencegah kalau Ling Ay akan dihukum.

Souw Ciangkun melangkah maju mendekat dan membungkuk, lalu dengan sikap kebapakan dia memegang lengan Ling Ay dan ditariknya wanita itu agar bangkit berdiri, dengan sikap lembut.

“Tidak, engkau tidak akan dituntut. Kami telah mendengar semua tentang dirimu dari Kwa Tai-hiap (pendekar besar Kwa) dan kami sudah bersepakat dengan dia untuk tidak menuntutmu atau keluarga orang tuamu. Kami harus memegang janji terhadap pendekar yang berjasa banyak dalam pembongkaran rahasia pemberontakan Cun Tai-jin itu.”

Mendengar ini, Ling Ay tertegun. “Ah, kembali Houw-toako yang telah menolongku … aih, dia melimpahkan budi kebaikan kepadaku, sedangkan aku … aku hanya menyakiti hatinya … ” katanya lirih dan tak terasa lagi kedua matanya menjadi basah. “Sudanlah, Ling Ay. Hal yang lalu sudah lewat, tiada gunanya dipikirkan lagi,” tiba-tiba Bi Moli berkata sambil memegang tangan Ling Ay. “Setelah selesai urusan kita dengan Souw Ciangkun, mari kita pergi dan sini.” Wanita itu menggandeng tangan Ling Ay dan menariknya.

“Pergi? Bibi, pergi ke manakah ? Aku tidak mempunyai tempat tinggal lagi, aku tidak mau pulang ke rumah orang tuaku. Aku hanya ingin melihat jenazah mereka, mengurus pemakaman mereka, kemudian … aku tidak tahu harus pergi ke mana. Tinggal di rumah itu hanya akan mengingatkan aku akan segala hal yang mengerikan.” Ia menahan tangisnya karena maklum betapa Bi Moli tidak suka melihat kecengengan.

“Baik, mari kuantar engkau mengurus jenazah orang tuamu. Setelah itu, engkau ikut denganku.”

“Ke mana?”

“Kaulihat saja nanti.”

Dua orang wanita itu pergi dan Souw Ciangkun hanya mengantar dengan pandang mata yang penuh iba. Akan tetapi perwira gagah yang banyak pengalaman ini maklum bahwa di tangan seorang wanita sakti yang cantik itu, tentu keselamatan Cia Ling Ay terjamin.

Ketika Ling Ay dan Bi Moli tiba di rumahnya, jenazah ayah Ibunya telah diurus oleh para tetangga dan telah dimasukkan peti. Ia hanya dapat menangisi ayah ibunya di depan kedua peti mati dan semua tetangga memandang dengan hati terharu. Akan tetapi begitu Bi Moli mendekatinya dan menyentuh pundaknya. Ling Ay menghentikan tangisnya.

“Bibi Kwan. maafkan kelemahanku.” bisiknya kepada wanita cantik yang tersenyum akan tetapi yang memandang dengan mata tajam penuh teguran itu.

Dengan sederhana, jenazah Cia Kun Ti dan isterinya dimakamkan. Kemudian, Ling Ay menyerahkan rumah orang tuanya kepada seorang tetangga yang baik, membawa pakaian dan perhiasannya, dan pergilah ia mengikuti Bi Moli Kwan Hwe Li. Dan mulai saat itu, Cia Ling Ay, wanita muda yang tadinya lemah, tumbuh menjadi seorang wanita yang digembleng ilmu silat tinggi dan juga ilmu sihir!”

Ada satu hal yang menggelisahkan hati Ling Ay selama ia mengurus pemakaman kedua orang tuanya. Kenapa Kwa Bun Houw tidak pernah muncul ? Kalau pemuda itu tahu bahwa ayah ibunya dibunuh orang, ia merasa yakin pemuda itu pasti datang melayat. Ia teringat bahwa pemuda itu akan mencari Ouwyang Hui Hong yang katanya sedang melakukan pengejaran terhadap Pek I Mo-ko. Bahkan ia dan ayah ibunya malam itu sedang menanti kembalinya, karena Bun Houw sudah berjanji akan mengantar mereka pergi pindah ke dusun. Apakah yang terjadi dengan pemuda itu? Walaupun ia kini sudah ikut Bi Moli Kwan Hwe Li. namun setiap teringat kepada Bun Houw, masih saja ia merasa terharu dan khawatir.

***

Kekhawatiran Ling Ay memang beralasan. Kenapa perginya Kwa Bun Houw sehingga dia tidak sempat tahu akan kematian Cia Kun Ti dan isterinya, dan tidak datang melayat? Dia bukan seorang pemuda yang suka melanggar janji, Apalagi janjinya terhadap bekas tunangannya!

Seperti kita ketahui, pada waktu diadakan penyerbuan oleh pasukan terhadap keluarga Cun Tai-jin yang diakhiri dengan tewasnya para jagoan pemberontak itu dan ditangkapnya semua anggauta keluarga pemberontak, Pek I Mo-ko berhasil melarikan diri dan dikejar oleh Ouwyang Hui Hong. Bun Houw yang mendengar dari Souw Ciangkun bahwa gadis perkasa itu mengejar Pek I Mo-ko. segera mencari dan melakukan pengejaran. Namun, selama semalam suntuk dia mencari-cari dengan sia-sia. Dia tidak berhasil menemukan jejak Hui Hong ataupun Pek I Mo-ko. Ketika dia pergi ke rumah Cia Kun Ti. dia mengatakan bahwa dia akan mengantar keluarga Cia pindah ke dusun setelah dia berhasil menemnkan Hui Hong. Maka, pergilah dia meninggalkan rumah keluarga Cia untuk mencari Hui Hong.

Sampai seminggu lamanya Bun Houw mencari-cari tanpa hasil. Tentu saja dia menjadi gelisah bukan main. Di satu fihak, dia harus mencari Hui Hong sampai dapat karena gadis itu melakukan pengejaran terhadap seorang datuk sesatl yang lihai dan penuh tipu muslihat. Mungkin dalam hal ilmu silat, Hui Hong tidak kalah dan mampu menandingi kepandaian datuk sesat itu. Akan tetapi, gadis itu masih muda dan kurang pengalaman, maka mengejar seorang seperti Pek I Mo-ko yang amat curang, sungguh berbahaya sekali. di lain pihak, dia teringat akan janjinya kepada keluarga Cia di Nan-ping yang akan dia amankan pindah ke dusun. Akan tetapi, urusan mengantar keluarga Cia ke dusun tidaklah penting benar dibandingkan urusan mercari Hui Hong karena hal ini ada hubungannya dengan keselamatan Hui Hong. Maka, biarpun dengan berat hati karena dia harus melanggar janjinya kepada keluarga Cia, terpaksa Buo Houw yang sudah melakukan perjalanan jauh itu tidak dapat kembali ke Nan-ping.

Akhirnya dia menemukan jejak mereka pada hari ke delapan. Ketika dia tiba di sebuah dusun di sebelah utara kota Nan-ping, dia mendengar dari seorang penjual air teh atau semacam kedai minuman dan makanan kecil yang berdagang di tepi jalan perempatan dusun bahwa dua orang yang dicarinya itu kebetulan sekali singgah dan minum teh di situ.

“Empat hari yang lalu kakek berpakaian putih seperti yang sicu (tuan) gambarkan itu lewat di sini, bahkan singgah sebentar untuk minum teh dan makan bakpauw. Dia nampak tergesa-gesa, kemudian dia melanjutkan perjalanan ke utara. Dan dua hari kemudian, kemarin dulu, pagi-pagi seorang nona lewat dan singgah pula di sini. Orangnya cantik muda dan galak, pakaiannya sederhana dan di punggungnya memang nampak sepasang pedang. Ia galak sekali. Ketika seorang tuan muda yang menjadi tamu di sini menegurnya dengan ramah karena tertarik oleh kecantikannya, kongcu itu ditampar sampai giginya copot dua buah dan pipinya bengkak. Huh, Ia seperti harimau betina!”

Bukan main girang rasa hati Bun Houw. Tak salah lagi, mereka itu tentu Pek I Mo-ko dan Hui Hong. Kiranya Hui Hong masih tertinggal jauh oleh Pek I Mo-ko.

“Engkau tahu ke mana perginya nona itu.?” tanyanya sambil mengeluarkan uang untuk memberi hadiah kepada pelayan yang suka mengobrol itu. Melihat uang ini, si pelayan menjadi girang, menerimanya dan menceritakan apa saja yang diketahuinya.

“Kami semua tidak tahu, sicu, Akan tetapi aya berani bertaruh bahwa ia tentu mencari kakek baju putih itu dan melakukan pengejaran ke utara.”

“Eh ? Bagaimana engkau bisa tahu bahwa nona itu mengejar si kakek baju putih?”

“Tentu saja saya tahu!” kata si pelayan dengan sikap bangga. “Kebetulan sekali saya yang melayani nona itu dan ia banyak bertanya tentang seorang kakek berpakaian putih. Setelah mendeagar bahwa dua hari yang lalu kakek itu lewat di sini dan menuju ke utara, iapun segera membayar minuman dan tergesa-gesa menuju ke utara!”

Girang rasa hati Bun Houw, akan tetapi juga khawatir. Girang karena dia yakin bahwa memang Pek I Mo-ko dan Hui Hong lewat di dusun itu. Gelisah karena tak jauh lagi di utara merupakan daerah Kerajaan Wei yang menguasai seluruh daerah utara, sebuah kerajaan yang besar dan kuat, dipimpin oleh suku Bangsa Toba atau Tartar! dan agaknya Pek I Mo-ko melarikan diri ke daerah itu, dikejar oleh Hui Hong. Sungguh berbahaya. Diapun cepat membayar harga minuman dan melanjutkan perjalanannya ke utara.

Pada waktu itu, Cina terbagi menjadi dua kerajaan. Di bagian utara, daerah Sungai Huang-ho ke utara, dikuasai oleh Kerajaan Wei atau Dinasti Wei (386-532) dan pada waktu itu (sekitar 473) yang menjadi kaisar Kerajaan Wei adalah Kaisar Wei Ta Ong. Kota rajanya di Lok-yang. Dinasti Wei ini di pimpin oleh suku bangsa Toba atau yang lebih dikenal dengan Bangsa Tartar. Namun, sejak pemerintahan pertama, keluarga kerajaan itu yang ingin disebut maju dan tidak ketinggalan jaman, selalu menyesuaikan diri dengan bahasa, kebudayaan dan pakaian Bangsa Han, yaitu bangsa pribumi terbesar di Cina, Berkali-kali Kerajaan Wei ini mengadakan penyerangan ke selatan, namun kerajaan lain di bagian selaian selalu memberi perlawanan gigih sehingga gagallah usaha Kerajaan Wei untuk menguasai kerajaan di selatan.

Adapun di bagian selatan, yaitu daerah Yang-ce-kiang ke selatan, pada waktu itu dikuasai oleh kerajaan atau Dinasti Sung atau lengkapnya Kerajaan Liu Sung (420. 477) dan pada waktu cerita ini terjadi, baru saja Kaisar Cang Bu (473-477) atau kaisar terakhir Kerajaan Liu Sung menduduki tahta kerajaan.

Karena selalu terjadi permusuhan di antara kedua kerajaan ini, maka di daerah tapal batas antara keduanya, yaitu di antara Sungai Huang-ho dan Sungai Yang-tse, selalu terjadi bentrokan senjata antara pasukan kedua kerajaan. Daerah yang cukap luas di antara mereka ini menjadi daerah tak bertuan, daerah liar yang tentu saja dimanfaatkan oleh para penjahat dan golongan sesat untuk di jadikan tempat persembunyian.

Kerajaan Wei yang barpusat di Lok-yang sebagai kota raja itu, kini diperintah oleh Kaisar Wei Ta Ong yang terkenal keras dalam melaksanakan pemerintahannya. Kerajaan Wei sudah berusia hampir satu abad dan kini orang luar sukar membedakan bahwa keluarga kerajaan itu adalah orang-orang Tartar. Selama seabad ini, keluarga mereka telah menyesuaikan diri dengan kebudayaan Han, bahkan banyak di antara mereka yang menikah dengan orang Han sehingga anak keturunan mereka sukar dibedakan dari orang Han aseli. Kalaupun ada sedikit perbedaannya, hal itu mungkin hanya karena sikap orang-orang Tartar yang menjadi penguasa itu bersikap sebagai golongan yang lebih tinggi dari pada orang Han aseli, dan biarpun pakaian dan bahasa mereka sudah sama dengan Bangsa Han, namun kesukaan mereka mengenakan bulu burung antuk menghias rambut atau penutup kepala, merupakan ciri khas orang Tartar yang masih melekat kepada mereka.

Pada waktu Bangsa Tartar suku Toba ini menyerbu dari daerah Mongolia ke selatan, mereka masih merupakan suku yang liar dan buas, seperti biasa menjadi watak orang-orang Nomad yang hidupnya menentang banyak kesukaran, membuat mereka keras dan cerdik. juga pemberani. Namun sekarang, setelah menjajah dengan mendirikan Dinasti Wei selama seabad, keluarga kaisar telah berubah. Mereka kini terpelajar, bangsawan, walaupun sifat keras tak mengenal ampun, cerdik dan pemberani masih ada pada mereka.

Kaisar Wei Ta Ong mempunyai banyak jagoan, bukan saja para panglimanya yang memimpin pasukan-pasukan yang kuat, akan tetapi juga di kota raja Lok-yang, terutama di istananya, terdapat banyak jagoan yang setia kepadanya. Kaisar Wei Ta Ong memang seorang kaisar yang suka akan olah kesaktian, suka belajar ilmu silat dan gulat, dan dalam usia limapuluh tahun dia masih gagah perkasa dan kuat. Juga dia penggemar wanita cantik. Di haremnya, yaitu kumpulan wanita yang menjadi selirnya, terkumpul tidak kurang dari limapuluh orang wanita berbagai suku bangsa dengan bermacam corak kecantikan. Selain suka akan ilmu silat dan wanita. Juga Kaisar Wei Ta Ong mempunyai satu kesukaan lain, yaitu ilmu-ilmu yang aneh dari para pendeta To. Terutama sekali dia ingin mempelajari ilmu yang akan membuat dia mampu memperpanjang usia sampai seribu tahun!

Kesukaan yang terakhir inilah yang memungkinkan Pek I Mo-ko diterima menghadap kaisar besar itu! Memang luar biasa sekali. Seorang yang tidak dikenal di daerah utara itu, seorang rakyat biasa, bahkan yang datang dari selatan, dapat diterima sendiri oleh Kaisar Wei Ta Ong! Dan para menteri rendahan saja tidak diperbolehkan hadir! Yang ikut hadir dalam pertemuan itu hanyalah para menteri tertinggi dan para kepala jagoan istana.

Tentu berita yang teramat penting dibawa oleh Pek I Mo-ko maka Kaisar Wei Ta Ong berkenan menerimanya seperti itu. Dan sesungguhnya demikianlah. Pek I Mo-ko mohon menghadap Kaisar Kerajaan Wei itu untuk menawarkan sebuah benda yang amat langka, sebuah benda yang akan diperebutkan oleh seluruh tokoh kang-ouw kalau mereka mengetahuinya, Pek I Mo-ko menawarkan Akar Bunga Gurun Pasir! Tanaman bunga ini teramat langka. Belum tentu ada sepuluh batang di seluruh padang pasir Gobi yang amat luas itu! Dan inipun tidak setiap waktu ada karena bunga ini hanya akan tumbuh puluhan tahun sekali. Entah proses alam bagaimana yang membuat tanaman yang mempunyai bunga amat indah dan harum itu dapat tumbuh di gurun pasir yang kering gersang! Kalaupun berbunga, maka umur bunga dan tanaman itu sendiri setelah berbunga hanya beberapa hari saja. Segera menjadi layu dan kering. Akar pohon itulah yang agak tahan lama, dan kalau orang dapat mengambil akar ini selagi belum rusak membusuk, maka akar itu dapat dikeringkan dan menjadi semacam obat yang kabarnya memiliki khasiat yang luar biasa! Menurut kabar yang seperti dongeng namun dipercaya oleh mereka yang memang tahyul, akar ini bisa dipengunakan sebagai obat untuk menyembuhkan segala macam penyakit, menawarkan segala macam racun, bahkan lebih hebat lagi, dapat membuat orang menjadi panjang usia sampai seribu tahun!

Mendengar bahwa Pek I Mo-ko mohon menghadap untuk menawarkan Akar Bunga Gurun Pasir, tentu saja Kaisar Wei Ta Ong menjadi gembira bukan main. Sudah lama dia menginginkan obat panjang usia. Sudah banyak para tosu diundang untuk memberinya rahasia panjang usia, namun semuanya tidak meyakinkan hatinya. Apa artinya kedudukan mulia, berenang di lautan kemewahan dan kekayaan. tenggelam dalam kesenangan dan kehormatan mempunyai banyak selir yang cantik, kalau akhirnya semua itu terhenti karena dia harus mati dalam waktu yang singkat. Mencapai usia seratus tahun saja sedikit sekali kemungkinannya. Maka, kalau ada obat yang membuat dia bertahan hidup sampai seribu tahun, alangkah senangnya! Demikianlah jalan pikiran kaisar itu.

Karena merasa amat tertarik, tidak seperti biasanya, kini Kaisar Wei Ta Ong sendiri yang menghadapi tamu biasa itu dan kaisar sendiri yang menanyainya, “Siapa namamu ?” Suara kaisar itu ramah.

Pek I Mo-ko yang berlutut itu menyembah. “Nama hamba Ciong Kui Le. Hamba berasal dari daerah Nan-ping di Kerajaan Liu Sung.”

“Ciong Kui Le, benarkah laporan dari petugas bahwa engkau mohon menghadap kepada kami untuk menawarkan Akar Bunga Gurun Pasir?”

“Benar sekali. Yang Mulia. Hamba menawarkan benda mustika itu kepada paduka yang mulia.”

Wajah kaisar itu berseri dan diapun menggerakkan tangan kanannya. “Ciong Kui Le, bangkitlah dan duduklah di kursi itu agar kita dapat bicara lebih baik. Jangan takut, bangkit dan duduklah,”

Seorang Jagoan menyodorkan sebuah kursi kepada tamu itu dan Pek I Mo-ko segera duduk di atas kursi, berhadapan dengan kaisar dalam jarak yang cukup aman bagi keselamatan kaisar. Para kepala jagoan setiap saat mengamati dengan waspada sehingga betapapun lihainya Pek I Mo-ko, andaikata dia berniat buruk terhadap kaisar, tentu dia akan gagal.

“Ciong Kui Le. engkau sendiri mengaku bahwa engkau tinggal di daerah Kerajaan Liu Sung, mengapa setelah mendapatkan mustika itu, engkau membawanya ke sini dan menawarkannya kepada kami!” Pertanyaan ini jelas menggambar kecurigaan sang kaisar, juga sekaligus memberi peringatan kepada Pek I Mo-ko bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang cerdik.

“Tentu saja ada sebabnya yang kuat. Yang Mulia, Tadinya, hamba memang hendak mempersembahkan mustika itu kepada Kaisar Cang Bu di Kerajaan Liu Sung. Akan tetapi, hamba yang hanya menghendaki imbalan yang pantas, bahkan dicurigai, hamba akan ditangkap dan mustika itu akan dirampas. Tentu saja hamba melawan, meloloskan diri dan lari ke utara, menghadap paduka dan menawarkan mustika itu kepada paduka yang hamba dengar amat adil dan bijaksana, tidak seperti kaisar di Kerajaan Liu Sung.”

Manusia manakah di dunia ini yang tidak suka dipuji? Biarpun dia seorang kaisar. Kaisar Wei Ta Ong juga hanya seorang manusia yang tidak lepas dari kesenangan ini, maka mendengar ucapan Pek I Mo-ko, dia mengangguk-angguk senang.

“Hmmm, keputusan yang kauambil itu tidak keliru, Ciong Kui Le, Kami berjanji, kalau mustika itu benar langka dan bermanfaat bagi kami, tentu engkau akan menerima Imbalan yang cukup pantas. Harta benda atau kedudukan, boleh kaupilih. Nah, kami ingin melihat dulu bagaimana rupanya. Perlihatkan Akar Bunga Ourun Pasir itu kepada kami sebagai bukti.”

“Ampun, Yang Mulia. Mustika itu tidak ada pada hamba, tidak hamba bawa.”

Kaisar Wei Ta Ong mengerutkan alisnya. “Ciong Kui Le, apakah engkau hendak mempermainkan kami?” Nada suaranya penuh ancaman dan sikapnya berubah galak. “Di mana mustika itu?”

“Ampun, Yang Mulia. Seperti telah hamba ceritakan tadi, hamba dikejar-kejar oleh para jagoan istana Kaisar Kerajaan Sung. Hamba melarikan diri ke utara lewat perbatasan yang menjadi daerah tak bertuan. Karena khawatir kalau sampai Akar Bunga Gurun Pasir itu terrampas, hamba menyembunyikannya di suatu tempat yang aman.”

“Di mana?” tanya kaisar penasaran.

“Di lereng Bukit Fu-niu-san, akan tetapi tempat itu tersembunyi dan tanpa petunjuk hamba, tak seorangpun akan mampu menemukannya,”

“Ciong Kui Le, karena engkau tidak mampu memperlihatkan mustika itu kepada kami, tentu saja kami mencurigaimu dan belum percaya benar akan ceritamu itu. Bagaimana mungkin engkau dapat meloloskan diri dari pengejaran para jagoan istana Kerajaan Liu Sung ? Pengawal, coba dan uji dia!”

Pek I Mo-ko terkejut sekali karena tiba tiba nampak bayangan berkelebat dan dua orang pria tinggi besar seperti raksasa telah menghadapinya. Diapun tahu bahwa kaisar hendak mengujinya, maka diapun memberi hormat ke pada kaisar.

“Harap paduka mengampuni hamba, akan tetapi sungguh hamba tidak berbohong,”

“Ciong Kui Le, tidak perlu banyak cakap lagi!” kata seorang di antara dua pria tinggi besar itu. “Yang Mulia telah memerintahkan kami untuk mengujimu. Bersiaplah untuk menandingi kami!”

Pek I Mo-ko memberi hormat lagi kepada kaisar, lalu bangkit dan menghadapi dua orang itu sambll memandang dengan penuh perhatian. Mereka itu dua orang pria raksasa berkulit hitam. Dia harus mengangkat muka untuk memandang wajah mereka karena tingginya hanya rampai di pundak mereka. Sungguh dua orang pria tinggi besar yang nampak kokoh kuat, dan wajah mereka serupa benar, pakaian merekapun sama sehingga mudah diketahui bahwa mereka itu kakak beradik atau saudara kembar. Diam-diam Pek I Mo-ko merasa khawatir dan menyesal mengapa dia menghadap Kaisar Kerajaan Wei ini. Agaknya kaisar ini hendak memaksanya dengan kekerasan untuk menyerahkan mustika itu! Dia harus mempertahankan diri, dan kalau kaisar berniat buruk, dia akan mencoba untuk membunuhnya!

Sebelum diperkenan menghadap kaisar, tadi di luar para penjaga keamanan telah minta agar dia meninggalkan pedangnya. Kini senjata yang ada padanya hanya sebuah kipas. Para penjaga tidak meminta kipas ini yang masih terselip di pinggangnya. Akan tetapi, dia melihat dua orang raksasa kembar itupun, bertangan kosong, maka dia tidak akan menggunakan kipasnya kalau tidak terpaksa sekali untuk melindungi diri. Dengan sikap tenang diapun memasang kuda-kuda kedua kakinya terpentang lebar, lutut ditekuk dan kedua tangan menyembah di depan dada.

“Silakan Ji-wi (kalian) menyerang!” katanya menantang.

Dua orang pengawal pribadi Kaisar Wei Ta Ong itu adalah dua orang kembar berbangsa Tartar yang amat terkenal sebagai jago-jago silat merangkap jago gulat. Mereka memiliki tenaga yang besar dan sukarlah dicari tandingan mereka di antara para jagoan lain. Mereka termasuk jagoan Istana kelas dua yang sudah dipercaya kaisar. Jagoan tingkat satu adalah panglima dan komandan paaukan keamanan dan pasukan pengawal. Melihat orang yang harus mereka uji itu sudah siap, mereka lalu mulai menyerang dari kanan kiri dengan terkaman biruang, kedua lengan dikembangkan dan kedua tangan menyambar dari kanan kiri dengan cepat dan kuat sekali.

Empat buah tangan itu bersiutan menyambar dari kanan kiri. Akan tetapi keempat tangan itu hanya menyambar udara kosong karena orang yang dicengkeram itu berkelebat menjadi bayangan putih dan dapat mengelak dengan cepat sekali. Si kembar menjadi terkejut, apa lagi ketika bayangan putih itu meloncat melewati kepala mereka. Mereka juga tidak bodoh dan cepat membalikkan tubuh dan benar saja, Pek I Mo-ko telah berada di belakang mereka dan sedang membalas dengan putaran ke arah dada mereka.

Liauw Gu dan Liauw Bu, si kembar itu, tidak mengelak melainkan cepat menangkap tangan Pek I Mo-ko yang memukul ke arah dada mereka.

“Buk! Bukk!” Dada mereka terkena pukulan, akan tetapi mereka mengandalkan kekebalan mereka dan kini kedua tangan Pek I Mo-ko telah dapat mereka tangkap di bagian pergelangannya.

Pek I Mo-ko terkejut dan merasa menyesal mengapa tadi dia membatasi tenaga ketika memukul, tanpa menduga bahwa dua orang lawan memiliki tubuh yang amat kuat dan kebal. Akan tetapi, biarpun kadua tangannya sudah tertangkap, dia tidak menjadi gugup. Cepat bagaikan sekor burung, menggunakan kekuatan dari kedua tangan yang dipegang lawan, kedua kakinya melayang ke atas mengirim tendangan dengan ujung sepatunya ke arah siku tangan kedua lawan yang mencengkeram pergelangan tangannya.

Dua orang raksasa ini mengeluarkan seruan kaget dan terpaksa melepaskan cengkeraman pada pergelangan tangan Pek I Mo-ko karena tiba-tiba lengan mereka yang tertendang bagian siku itu menjadi lumpuh selama beberapa detik. Marahlah dua orang kembar itu dan kini mereka maju menyerang dengan terkaman, pukulan atau tendangan. Serangan mereka merupakan perpaduan dari ilmu silat dan ilmu gulat.

Pek I Mo-ko melayani mereka dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya. Dia tahu bahwa dalam hal ilmu silat, dia tidak perlu takut. Walaupun dua orang lawan itu memiliki tenaga gajah, namun dia menang cepat. Yang dikhawatirkan hanyalah Ilmu gulat mereka. Dia tahu bahwa belum tentu dia akan dapat seberuntung tadi, mampu melepaskan diri kalau sudah dicengkeram tangan-tangan yang kuat itu. Kini, setelah tahu bahwa dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dia menang jauh, dia mengandalkan Ilmu itu untuk mempermainkan mereka. Bagaikan seekor burung walet yang gesit, dia sukar ditangkap. Tubuhnya menjadi bayangan putih yang berkelebat ke sana sini, selalu terlepas dari jangkauan tangan dua orang lawannya dan sebaliknya, serangan balasannya yang cepat itu beberapa kali sempat membuat dua orang raksasa itu terpelanting atau terjengkang. Biarpun mereka kebal dan kuat sehingga pukulan dan tendangan Pek I Mo-ko tidak membuat mereka luka, namun mereka tidak dapat mencegah tubuh mereka terpelanting.

Terdengar kaisar beberapa kali memuji dan mendengar ini, legalah hati Pek I Mo-ko. Agaknya kaisar itu memang benar hendak mengujinya, maka diapun tidak ingin membunuh dua orang lawannya. Apalagi membunuh kaisar itu karena kalau hal itu dia lakukan, sudah pasti dia akan mati konyol.

Setelah pertandingan yang seru itu berlangsung selama tigapuluh jurus, tiba-tiba Pek I Mo-ko mengeluarkan suara bentakan nyaring dan dua orang raksasa itu kembali berturut-turut roboh, akan tetapi sekali ini tidak dapat segera bangkit karena mereka roboh oleh totokan ujung kipas yang dicabut oleh Pek I Mo-ko!

Liauw Gu dan Liauw Bu rebah untuk beberapa lamanya. Ketika mereka akhirnya dapat bangkit, mereka meraba gagang golok.

“Cukup, mundurlah kalian!” bentak Kaisar Wei Ta Ong.

Dua orang kembar itu memberi hormat dan mundur. Kaisar tersenyum memandang kepada Pek I Mo-ko, sebaliknya orang yang dipandang itu merasa penasaran sekali walaupun tidak berani memperlihatkan kedongkolan hatinya dengan sikap atau kata-kata. Dia memberi hormat.

“Yang Mulia, hamba datang menghadap paduka untuk menawarkan mustika, akan tetapi paduka malah menyuruh jagoan Istana untuk mengeroyok hamba. Apakah paduka masih belum percaya kepada hamba!”

Kaisar Wei Ta Ong tertawa. “Ha-ha, jangan salah sangka, Ciong Kui Le. Kami percaya akan keteranganmu. Kalau kami percaya akan keteranganmu. Kalau kami berhasil mendapatkan Akar Bunga Gurun Pasir, tentu engkau akan kami beri pangkat. Akan tetapi, sebelum melihat samapi dimana kemampuanmu, bagaimana kami dapat memberi pangkat yang sesuai untukmu? Sekarang, kami telah melihat kepandaianmu dan kami puas. Kami akan mengutus serombongan pembantu kami untuk menemanimu menuju ke selatan dan mengambil mustika itu. Berangkatlah sekarang juga, lebih cepat lebih baik. Jangan ragu, kalau berhasil, engkau akan kami beri kedudukan tinggi dan harta benda!”

Pek I Mo-ko girang bukan main dan setelah memberi hormat dengan berlutut, diapun berangkat meninggalkan kota raja Lok-yang bersama serombongan jagoan istana sebanyak dua-belas orang. Dua orang raksasa kembar itu tidak diikutsertakan, karena keadaan mereka itu akan menarik perhatian orang, pada hal daerah Pegunungan Fu-niu-san merupakan daerah tak bertuan di mana berkeliaran banyak orang kang-ouw dan juga orang-orang Kerajaan Sung.

***

Ternyata bukan hanya Kaisar Wei Ta Ong dari Kerajaan Wei di utara yang kini menginginkan mustika berupa Akar Bunga Gurun Pasir itu setelah menerima penawaran dari Pek I Mo-ko. Juga Kaisar Cang Bu dari Kerajaan Liu Sung mendengar akan adanya Akar Bunga Gurun Pasir dan ingin sekali mendapatkannya.

Berita itu terdengar oleh Kaisar Cang Bu karena rahasia itu bocor ketika terjadi penyerbuan pasukan dirumah keluarga Cun Taijin yang memberontak di Nanping. Ketika Ouwyang Hui Hong membentak kepada Pek I Mo-ko dan menuntut dikembalikannya Akar Bunga Gurun Pasir, ada perajurit yang mendengar. Dia menceritakan hal itu kepada kawan-kawannya sehingga sebentar saja berita tentang Akar Bunga Gurun Pasir yang dilarikan Pek I Mo-ko itu tersiar luas dan sampai kepada Kaisar Cang Bu.

Kaisar Cang Bu mendengar pula tentang mustika itu. Kaisar yang masih muda ini mendengar bahwa mustika itu dapat membuat seseorang menjadi kuat, bahkan dapat berusia panjang sampai seribu tahun! Segera dia mengumpulkan penasihat dan para jagoan Istana, dan hasil dari pertemuan ini, serombongan jagoan Istana dari Nan-king berangkat melakukan pengejaran terhadap Pek I Mo-ko yang kabarnya lari ke utara.

Kerajaan Liu Sung ini biarpun memiliki wilayah yang amat luas, namun selalu diganggu oleh pemberontakan-pemberontakan sehingga menjadi semakin lemah. Apalagi ketika itu yang menjadi kaisar adalah Kaisar Cang Bu yang masih amat muda dan yang selalu mengumbar nafsu mengejar kesenangan dan tidak bijaksana. Maka di mana-mana timbul pemberontakan. Hanya karena adanya para menteri dan panglima tua saja maka kerajaan ini masih mampu mempertahankan diri walaupun menjadi lemah. DI barat, selatan dan timur terjadi pemberontakan dan gangguan para bajak laut, terutama di bagian timur. Sedangkan di bagian utara terdapat musuh mereka yang sejak dahulu menjadi musuh besar, yaitu Kerajaan Wei. Daerah antara Kerajaan Liu Sung dan Wei sejak bertahun-tahun menjadi daerah pertikaian dan daerah tak bertuan. Dalam keadaan seperti itu. Kaisar Cang Bu yang masih muda itu belum juga menyadari, tidak begitu memperhatikan pemerintahan, bahkan lebih mementingkan pengejaran kesenangan. Inilah sebabnya ketika mendengar tentang mustika Akar Bunga Gurun Pasir, dia bertekad untuk mendapatkannya dan mengirim rombongan orang pandai untuk mencarinya sampai dapat.

Tentu saja rombongan Jagoan istana ini lebih mudah mendapatkan keterangan tentang Pek I Mo-ko dibandingkan Kwa Bun Houw yang juga sedang mencari jejak Pek I Mo-ko yang dikejar oleh Ouwyang Hui Hong. Rombongan itu memiliki surat kuasa dan setiap pejabat daerah yang mereka lewati, siap membantu dan mereka lebih mudah mengumpulkan keterangan tentang Pek I Mo-ko dari pada hasil penyelidikan Kwa Bun Houw yang kadang-kadang malah dibohongi orang atau dicurigai orang. Maklum bahwa daerah perbatasan antara Kerajaan Wei di utara dan Kerajaan Liu Sung di selatan merupakan daerah liar dan di situ terdapat tokoh-tokoh sesat yang masing-masing ingin menjadi orang yang paling berkuasa sehingga daerah itu amat tidak aman. Banyak terjadi kejahatan macam apapun karena tidak ada alat negara yang menjamin keamanan bagi rakyat jelata. Yang ada ialah hukum rimba. Dan para tokoh sesat di wilayah tak bertuan itupun jarang ada yang jujur atau setia kepada satu di antara dua kerajaan itu. Mereka pada umumnya curang dan licik, hanya membantu demi keuntungan diri sendiri belaka, maka tidak segan untuk berkhianat ke kanan atau ke kiri, demi keuntungan pribadi. Tentu saja rakyat hidup tercekam ketakutan, tertindas dan menjadi penakut atan nekat, dan tidak ada orang yang berani memberi keterangan sejujurnya kepada Bun Houw yang bertanya-tanya tentang Pek I Mo-ko.

Seunggunnya, berita tentang mustika Akar Bunga Gurun Pasir yang membocor di kedua kerajaan itu, bukan hanya menjadi perhatian dua orang kaisar yang haus akan khasiat benda langka itu. Bahkan begitu para datuk besar dunia persilatan mendengarnya, maka mereka, pun menjadi gempar dan mereka itu tentu saja ingin sekali ikut memperebutkan dan memiliki benda wasiat atau jimat itu. Dahulunya, benda itu dianggap dongeng saja, apalagi ketika ada berita bahwa yang beruntung memiliki benda itu adalah datuk besar Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, tidak ada orang yang berani mati untuk mencoba merampas di tempat tinggal datuk besar itu, yaitu di Lembah Bukit Siluman. Kini, begitu tersiar kabar bahwa benda ajaib itu dicuri dan dilarikan Pek I Mo-ko, murid dan juga pelayan dari Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, majikan Lembah Bukit Siluman, tentu saja para datuk dan tokoh sesat mempunyai keberanian dan keinginan untuk mencari Pek I Mo-ko dan merampas mustika itu.

Sungai Huai merupakan sebuah di antara sungai-sungai yang mengalir di daerah tak bertuan itu dan di sepanjang sungai ini paling terkenal sebagai tempat yang rawan di mana seringkali timbul pertentangan, pertempuran antara para pengikut Kerajaan Wei dan Kerajaan Liu Sung, antara gerombolan penjahat yang saling berebutan kekuasaan, pada hal daerah di sepanjang lembah Sungai Huai ini sesungguhnya merupakan daerah pertanian yang amat subur. Setelah meninggalkan sumbernya di Pegunungan Tapie-san, air sungai itu lalu melewati tanah datar ke timur dan membuat tanah yang dilewatinya itu menjadi tanah yang subur dan tak pernah kekurangan air. Rakyat di sepanjang lembah Sungai Huai semestinya dapat hidup makmur kalau saja daerah itu tidak menjadi daerah rawan di mana yang berlaku hanyalah hukum rimba, siapa kuat dia menang dan siapa kuat menindas yang lemah.

Kalau dilihat kenyataan, hukum rimba ini memang berlaku di dunia ini, di manapun juga, bahkan di kota besar atau di kota raja sekalipun. Di mana-mana manusia menjadi permainan nafsu, dan di mana nafsu memperhamba manusia, maka sudah pasti hukum rimba berjalan. Yang berkedudukan tinggi menginjak yang rendah, yang kaya memeras yang miskin, yang pandai mempermainkan yang bodoh dan sebagainya lagi. Namun, hukum rimba umum di kota itu selalu terselubung oleh hukum-hukum yang justeru biasanya menjadi senjata bagi yang kuat untuk menindas yang lemah! Hukum rimba yang berlaku di kota bermuka munafik. Sebaliknya, hukum rimba di daerah sungai Huai itu mentah dan keras, liat dan ganas, tanpa pura-pura lagi. Orang yang berani menjelajahi daerah itu, harus memiliki kekuatan yang dapat diandalkan. Apakah dia ahli silat pandai, atau setidaknya berkawan banyak, atau yang memang miskin sama sekali sehingga tidak ada sesuatu pada dirinya yang menimbulkan keinginan di hati orang lain untuk merebutnya.

Jilid 06

PADA suatu pagi yang cerah, pemandangan alam amatlah indahnya di sepanjang lembah sungai Huai. Musim semi baru sebulan usianya sehingga di sepanjang lembah sungai nampak warna-warni yang amat indah menyedapkan penglihatan. Daun-daunan yang hijau muda, kuning diseling bunga-bunga warna-warni, berlatar belakang tanah yang dihiasi permadani rumput hijau.

Air sungai nampak mengalir tenang dan tidaklah sekotor di musim penghujan, dan di musim seperti itu, air sungai itu kaya dengan ikan barbagai macam.

Hanya ada beberapa orang buruh tani miskin yang bekerja di sawah ladang milik mereka yang mempunyai kekuasaan. Para buruh tani yang bekerja di sawah tanpa baju, hanya bercelana hitam sampai ke bawah lutut yang telah berlumpur-lumpur itu nampaknya tidak lebih makmur dari pada kerbau-kerbau yang dipekerjakan untuk meluku sawah. Kerbau-kerbau itu setidaknya lebih gemuk dari pada mereka. Dan para buruh tani itu bukan merupakan pekerja bebas, melainkan lebih pantas disebut budak belian. Mereka telah tertekan di bawah semacam “kontrak”. Mereka telah tenggelam atau terbelenggu oleh semacam hutang kepada majikan mereka, hutang uang yang mereka perlukan, entah untuk keperluan berobat, atau keperluan sandang dan makan untuk keluarga mereka di musim rontok dan musim salju. Kini, dengan hutang yang terus anak beranak sampai ke leher, mereka terbenam dan terbelenggu sehingga mungkin hutang itu tidak akan terbayar oleh tenaga yang mereka berikan untuk bekerja selama mereka hidup! Dan anak-anak mereka, yang laki-laki akan mewarisi keadaan ayah ini, yang perempuan, itupun kalau wajahnya menarik, akan menjadi penghibur atau pelacur, paling untuk menjadi selir, kalau buruk rupanya, akan menjadi wanita yang diperas tenaganya di rumah tangga majikan mereka. Hanya orang-orang seperti inilah yang tidak merasa ngeri tinggal di daerah rawan ini, karena apa yang perlu ditakutkan? Mereka tidak mempunyai apa-apa, bahkan mereka sekeluarga dapat dikatakan adalah “kepunyaan” majikan mereka.

Tiba-tiba, kesunyian yang nampaknya saja amat hening penuh kedamaian itu, terisi oleh suara suling yang merdu dan melengking-lengking. Keadaan yang memang amat sunyi itu, yang kadang hanya diseling dengus kerbau dan suara pekerja sawah bicara singkat, dilatarbelakangi suara lembut air yang mengalir tenang, kini dapat menampung sepenuhnya suara tiupan suling yang merdu itu, sehingga terdengar amatlah indahnya seperti suara suling yang turun dari angkasa. Padahal, kalau yang pada saat itu mendengarkan suara suling itu seorang ahli musik atau setidaknya yang mengenal sifat suara suling, tentu akan terkejut dan bergidik ngeri. Suara suling itu memang merdu, tanda bahwa peniupnya memang ahli. Namun, di balik kelembutan suara suling yang melengking itu terkandung nada-nada yang selain ganjil juga keras dan penuh kekejaman, seperti suara suling yang ditiup oleh mulut yang dipenuhi perasaan hati yang penuh kebencian!”

Sebuah perahu kecil yang ujungnya runcing meluncur terbawa arus sungai, perlahan-lahan dan dengan tenang sekali, tak jauh dari tepi sebelah selatan. Di atas perahu itu nampak seorang pemuda yang kepalanya tertutup sebuah caping iebar sehingga wajahnya terlindung dari sinar matahari pagi yang menyongsong perahu yang meluncur ke timur. Pemuda inilah yang meniup suling itu, sebatang suling yang agak panjang terbuat dari pada logam, bukan suling bambu. Warna suling itu hitam legam sehingga jari-jari tangannya yang bermain di atas lubang-lubang suling itu nampak putih seperti jari tangan wanita saja.

Pemuda itu memang tampan sekali. Usianya sekitar duapuluh dua tahun. Pakaiannya pesolek dan indah, terbuat dari sutera biru putih yang mahal. Tubuhnya sedang dan ramping, dan bentuk pakaiannya seperti seorang pemuda bangsawan atau hartawan yang terpelajar. Capingnya terbuat dari bambu, namun anyamannya halus sekali dan pinggirnya diberi hiasan rumbai-rumbai hitam. Sepasang matanya tajam kadang mencorong, hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum mengejek, dengan lekukan yang membayangkan watak mata keranjang.

Sungguh amat mengherankan melihat seorang pemuda yang jelas bukan orang dusun miskin itu berani mendatangi tempat seperti itu, berperahu seorang diri saja dan meniup suling sedemikian santainya, seolah dia memasuki daerah yang paling aman dan tenteram di dunia ini. Dia sama sekali tidak tahu bahwa sejak satu jam yang lalu. dari kedua tepi pantai sungai itu, banyak pasang mata yang buas mengikuti gerak-geriknya dan banyak orang menyusuri pantai untuk membayangi perahunya yang meluncur perlahan mengikuti arus sungai yang tenang itu. Para buruh tani yang bekerja di sawah ladang melihat berkelebatnya bayangan puluhan orang yang menyusup di balik semak-semak belukar dan pohon pohon di sepanjang tepi sungai dan merekapun mendengar suara suling. melihat pula meluncurnya sebuah perahu yang ditumpangi pemuda bercaping lebar. Mereka tahu apa yang akan terjadi. Tentu para bajak dan perampok tidak akan membiarkan perahu lewat begitu saja tanpa diganggu. Andaikata panumpangnya tidak mempunyai sesuatu yang berharga, setidaknya perahu itu pun sudah merupakan benda yang berguna bagi mereka, yang “pantas” untuk dirampas! Seperti juga kalau ada orang berani menunggang kuda melintasi daerah itu, si kuda itu saja sudah menjadi alasan kuat bagi perampok untuk turun tangan mengganggu penunggangnya, kalau perlu membunuhnya untuk merampas kudanya! Akan tetapi karena maklum bahwa mereka tidak berdaya, maka para buruh tani itu hanya saling pandang, menggerakkan pundak dan melanjutkan pekerjaan mereka, walaupun diam-diam mereka juga sering menengok ke arah perahu di sungai itu.

Pemuda bercaping itu agaknya sama sekali tidak tahu akan adanya bahaya yang mengancamnya. Dia enak-enak meniup suling dan baru setelah dari empat penjuru muncul empat buah perahu besar yang masing-masing terisi enam orang, empat buah perahu hitam yang meluncur ke arahnya dan nampak rantai berujung kaitan menyambar dari perahu-perahu itu dan mengait perahunya yang berada di tengah-tengah sehingga perahunya terhenti, dia menghentikan tiupan sulingnya dan menyingkap sutera tipis di depan muka, sutera yang tengantung dari capingnya, untuk melihat apa yang terjadi.

Dia melihat empat buah perahu itu. DI masing-masing perahu, lima orang duduk dengan golok di tangan, seorang berdiri bertolak pinggang dengan sikap memimpin. di semua ada empat orang pemimpin bajak air dengan duapuluh orang anak buahnya. Dan perahunya sendiri sudah terkait dan tidak dapat bergerak lagi.

“Hemm, apakah artinya semua ini? Siapakah kalian dan apa maksud kalian mengepungku dan mengait perahuku?” terdengar pemuda itu bertanya, suaranya halus dan sopan, juga ramah walaupun sepasang matanya kini mencorong mengintai dari balik caping lebarnya.

Seorang di antara empat pemimpin itu, yang berdiri di perahu yang berhadapan dengan perahu pemuda itu dan yang tubuhnya tinggi besar bermuka hitam, tertawa bergelak mendengar pertanyaan itu.

“Ha-ha-h a-ha-ha, orang muda. Melihat engkau seorang pemuda tampan yang bersikap halus, biarlah kami tidak akan membunuhmu. Cepat engkau tanggalkan seluruh pakaianmu, seluruhnya! Kemudian, tanpa membawa apapun, engkau tinggalkan perahumu dan meloncat ke daiam air! Ha-ha!”

Tiga orang kepala bajak yang lain tertawa, disusul anak buah mereka yang sudah dapat membayangkan pemandangan yang amat lucu kalau mereka nanti meiihat pemuda bercaping itu dengan ketakutan dan bertelanjang bulat melempar diri ke dalam air sungai dan menjadi mangsa buaya-buaya yang banyak terdapat di air sungai itu.

“Ah, begitukah kiranya?” pemuda itu bertata perlahan, lalu dengan tenang dia melepaskan ikatan tali capingnya dari bawah dagu seolah dia sudah mulai untuk menanggalkan semua pakaiannya dimulai dari capingnya dulu. Setelah caping dibuka dan diletakkan di atas lantai perahunya, semua bajak air melihat wajahnya yang memang tampan sekali.

“Aduh sayang dia laki-laki! Kalau perempuan, tentu akan menyenangkan sekali, ha-haha!” seorang di antara empat kepala bajak itu tertawa, disambut oleh teman-temannya pula.

Kini pemuda itu bangkit berdiri, memandang ke sekeliling, kemudian bertanya dengan suara yang tetap halus, tenang dan ramah, “Sebelum aku mati, aku ingin tahu siapa pembunuhku. Siapakah kalian ini?”

Si raksasa hitam yang menjadi pemimpin utama itu kembali tertawa.

“Engkau ini pemuda yang sungguh tolol, berani memasuki daerah ini tanpa mengenal kami. Dengarlah! Kami adalah Empat Buaya Sungai Huai bersama anak buah kami. Nah, cepat taati perintah kami tadi! Buka semua pakaianmu, tinggalkan di perahu dan engkau loncat ke air dalam keadaan telanjang bulat!”

Akan tetapi pemuda itu tidak menanggalkan bajunya, hanya mengangguk-angguk dan mendekatkan suling di mulutnya. “Aih, kiranya ini Empat Ekor Bangkai Buaya bersama bangkai buaya buaya kecil di sungai ini!” Dan kini dia menempelkan ujung suling di mulutnya, mempengunakan suling itu sebagai sebuah senjata tutup (alat meniupkan jarum) dan empat kali dia meniup ke arah empat orang kepala bajak di depan, belakang dan kanan kiri. Terdengar pekik empat orang itu dan merekapun terjungkal roboh ke dalam perahu masing-masing! Tentu saja duapuluh orang anak buah bajak menjadi terkejut dan marah, akan tetapi pada saat itu terdengar bunyi melengking yang aneh dari suling yang ditiup oleh pemuda itu. Mula-mula lengking tuara itu seperti benda tajam menusuk telinga para anak buah bajak. Mereka terbelalak, akan tetapi makin lama belalak mereka makin tidak normal dan mereka mencoba untuk menutupi kadua telinga dengan jari tangan. Namun, terlambat. Darah mengalir keluar dari telinga mereka. Mereka roboh ke perahu mereka, merintih-rintih, merasa telinga mereka teperti dimasuki benda tajam dan akhirnya mereka berkelojotan sekarat!

Setelah melihat semua pengepungnya yang berjumlah duapuluh empat orang itu roboh semua di perahu masing-masing, baru pemuda itu menghentikan tiupan sulingnya yang melengkingkan suara aneh. Senyum melebar, dan kini wajahnya yang tampan itu mengandung sesuatu yang mengerikan, seperti topeng Iblis yang tampan.

Seorang di antara empat pemimpin bajak yang tadi roboh lebih dahulu disambar jarum yang ditiupkan melalui suling, agaknya belum tewas dan dia mencoba untuk bangkit duduk. Tangan kirinya diangkat ke arah pemuda itu, menuding dan terdengar suaranya parau, mulut itu hanya bergerak kaku karena mukanya sudah menjadi biru menghitam keracunan.

“Kau … Tok … siauw … kwi …?” Dan diapun roboh terkulai.

Pemuda itu memperlebar senyumnya yang mampu meluluhkan hati setiap orang wanita, lalu mendengus melalui hidungnya dengan sikap sombong.

“Baru engkau tahu, ya! Menentang Tok-siauw-kwi (Iblis Suling Beracun) Suma Hok sama dengan rindu akan kematian Ha-ha-hal!” Kini, dengan tangan kanan, dia melepaskan-setiap besi pengait dan sekali dia mengerahkan tenaga, rantai itu melambung dan perahu terisi enam orang di depannya ikut melambung lalu jatuh terbalik. Enam orang yang sudah mati atau sedang sekarat itupun berjatuhan ke air dan perahunya jatuh pula terbalik. Tiga perahu yang lain dia balikkan seperti itu sehingga kini empat buah perahu itu semua terbalik dan dua puluh empat orang, ada yang sudah menjadi mayat ada yang masih sekarat, semua jatuh ke dalam air.

“Huh. mengotori air sungai saja!” pemuda itu mengomel dan diapun menggunakan dayungnya, mendayung perahu kecilnya meluncur ke depan lalu ke kanan, ke arah darat di tepi sungai yang datar.

Dengan wajah membayangkan rasa jijik pemuda itu lalu mendayung perahunya menjauhi mayat-mayat itu dan akhirnya dia mendarat di sebelah selatan sungai. Sekali tarik rantai di ujung perahunya, dia membuat perahu itu terlempar ke darat dan jatuh ke dalam semak-semak. Kalau ada yang melihat ini, tentu akan kagum bukan main karena perbuatan itu saja sudah membuktikan bahwa pemuda yang nampaknya tampan dan lemah lembut ini ternyata memiliki tenaga yang dahsyat.

Kalau sebelum menyerang tadi, para pimpinan bajak sungai itu tahu siapa yang mereka hadapi, seperti diserukan oleh seorang di antara empat pimpinan mereka sebelum tewas, tentu hari itu akan ada duapuluh empat orang bajak yang mati konyol. Pemuda ini memang bukan orang biasa saja. Namanya, yaitu nama julukannya, akan membuat gentar seluruh dunia kang-ouw, yaitu nama julukan Tokb-siauw-kwi (Iblis Suling Beracun). Namanya adalah Suma Hok dan dia merupakan putera tunggal dari Suma Koan yang berjuluk Kai-siauw Giam-ong (Raja Maut Suling Iblis), seorang datuk besar rimba persilatan berusia limapuluh lima tahun yang menjadi majikan dari bukit yang disebut Kui-eng-san (Bukit Bayangan Iblis). Dalam hal kebesaran namanya, Kui-siauw Giam-ong Suma Koan ini tidak kalah tersohornya dibandingkan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek majikan Lembah Bukit Siluman.

Suma Hok yang berjuluk Tok-siauw-kwi ini, biarpun baru berusia duapuluh dua tahun, namun namanya sudah amat terkenal, terutama sekali di selatan, di wilayah Kerajaan Liu-sung karena pernah dia menggegerkan kota raja Nan-king dengan perbuatannya yang berani mencuri masuk ke istana hanya karena dia tergila-gila kepada seorang dayang istana! Biarpun akhirnya dia terpaksa melarikan diri menghadapi pengeroyokan puluhan orang jagoan istana kaisar, namun namanya menjadi terkenal sekali dan ditakuti. Kemudian, Kaisar Cang Bu sendiri, atas nasihat para jagoannya, bahkan mengirim utusan mengundang pemuda ini agar suka bekerja sebagai jago istana dan dijanjikan bahwa dayang itu akan diserahkan kepadanya untuk menjadi isterinya. Namun, penawaran kaisar itu ditolaknya! Pertama, karena dia tidak ingin terikat menjadi pejabat, dan ke dua, diapun tidak Ingin memperisteri dayang itu, hanya ingin melampiaskan nafsunya saja, seperti seekor kumbang yang akan terbang pergi meninggalkan kembang yang sudah dihisap madunya. Penolakan ini membuat dia semakin terkenal, karena jarang ada orang berani menolak perintah kaisar, Apalagi perintah ini merupakan undangan untuk menerima anugerah!

Suma Hok sudah mendarat karena dari sungai tadi, setelah membunuh duapuluh empat orang bajak sungai, dia melihat beberapa orang buruh tani bekerja di sawah. Maksudnya hanya untuk bertanya-tanya kepada mereka tentang Pek I Mo-ko karena sesungguhnya, yang membuat dia melakukan perjalanan ke daerah itu sekali ini adalah karena diapun mendengar tentang Akar Bunga Gurun Pasir yang kabarnya telah berada di tangan Pek I Mo-ko dan diapun, seperti para tokoh kang-ouw lainnya, ingin mencoba untuk merampas dan memilikinya.

Begitu mendarat, dia mengebut-ngebutkan bajunya, mengeluarkan sebatang sisir dari saku jubahnya dan menyisir rambut yang agak kacau terkena angin, menyisipkan sulingnya di ikat pinggang, mengenakan lagi capingnya untuk melindungi rambut dari angin dan debu, yang melindungi muka dari terik matahari, lalu diapun melangkah menuju ke sawah ladang; di mana terdapat beberapa orang sedang bekerja meluku sawah.

Akan tetapi, tiba-tiba dia berhenti dan mulutnya membayangkan senyum yang khas, senyum seperti tadi ketika dia menghadapi pengepungan para bajak. Biarpun matanya belum melihat apa-apa yang mencurigakan, namun pendengarannya yang terlatih dan amat tajam itu tudah menangkap gerakan banyak orang.

“Tikus-tikus busuk, keluarlah dari balik semak kalau memang ada keperluan dengan aku?” katanya sambil memandang ke kanan kiri di mana terdapat semak belukar. Dan nampaklah bayangan orang berkelebat dan berloncatan keluar. Kiranya mereka adalah limabelas orang yang rata-rata mamiliki wajah bengis dan tubuh yang kokoh, tanda bahwa mereka adalah orang-orang yang suka mengandaikan kekuatan untuk memaksakan kehendak mereka untuk menang sendiri. Biar pun dikepung limabelas orang yang tanpa bicarapun sudah mudah ditebak bahwa mereka tidak mempunyai niat baik, namun Suma Hok hanya tersenyum saja dengan sikap tenang sekali.

“Hemm, kalian ini tikus-tikus busuk, apakah ingin berubah menjadi bangkai-bangkai tikus?”

Seorang di antara mereka, yang tubuhnya jangkung kurus bermuka kuning melangkah maju selangkah. Di kedua tangannya terdapat sepasang pedang dan sambil menyilangkan kedua pedang yang tajam mengkilat di depan dadanya, dia berkata, “Bocah sombong! Di air boleh jadi engkau jaya, akan tetapi di daratan ini, kami akan mencincang badanmu menjadi bakso, kecuali kalau engkan mau berlutut dan minta ampun, menyerahkan seluruh pakaianmu dan juga perahu yang kautarik ke darat itu. Hayo berlutut dan minta ampun kepada aku Si Harimau Muka Kuning!”

Suma Hok tersenyum, “Baiklah, aku akan berlutut kepadamu untuk menghormati arwahmu!” Dan dia benar benar melangkah maju kedepan si jangkung muka kuning, lalu berlutut di depannya. Akan tetapi pada saat dia berlutut, sulingnya meluncur ke depan mematuki pusar si muka kuning yang terbelalak, pedang-pedang di kedua tangannya terlepas dan ketika suling itu dicabut, diapun terjengkang dan tewas seketika!”

Tentu saja empatbelas orang anak buah Si Harimau Muka Kuning menjadi terkejut bukan main. Mereka adalah orang-orang yang biasa merampok, memperkosa, menyiksa dan membunuh. Biarpun pemimpin mereka telah roboh dan tewas, mereka bahkan merasa penasaran dan marah sekali. Bagaikan sekawanan serigala liar yang haus darah, mereka lalu mengepung dan mengeroyok Suma Hok dengan berbagai senjata yang menjadi andalan mereka. Bagaimanapun juga, musuh itu hanya seorang saja dan tadi mungkin pemimpin mereka tewas karena diserang secara mendadak.

Mereka sama sekali tidak menduga bahwa yang mereka hadapi adalah seorang yang memiliki tingkat kepandaian yang jauh melebihi tingkat mereka atau pemimpin mereka. Begitu Suma Hok menggerakkan sulingnya, nampak sinar hitam bengulung-gulung bagaikan seekor naga bermain di angkasa dan terdengarlah bunyi nyaring ketika berkali-kali sinar itu membuat senjata lawan terlempar atau patah-patah, disusul jerit-jerit kesakitan dan dalam beberapa gebrakan saja, delapan orang telah roboh berkelojotan dan muka mereka berubah menghitam! Mereka telah tercium ujung suling sedikit saja kulit tergores ujung suling dan terbuka, maka racun yang amat jahat akan memasuki tubuh mereka. Mula-mula muka mereka yang menghitam, disusul seluruh tubuh dan matilah orang yang terluka itu.

Melihat dahsyatnya ilmu kepandaian pemuda tampan itu dan keadaan mayat kawan-kawan mereka, enam orang lainnya menjadi pucat dan mereka terbelalak, kemudian tanpa diperintah lagi, mereka melempar senjata, menjatuhkan diri berlutut. Melihat akibat mengerikan dari serangan suling itu merekapun teringat dan dapat menduga bahwa mereka tentu berhadapan dengan Tok-siauw-kwi (Iblis Suling Beracun) Suma Hok!

“Suma Kongcu (Tuan Muda Suma), karena tidak tahu. kami telah berbuat kesalahan, mohon sudi mengampuni kami … ” mereka meratap. Memang bagi mereka yang telah mengenalnya, pemuda ini selalu disebut Kongcu (Tuan Muda), sebutan yang sesuai dengan penampilannya sebagai seorang bangsawan muda yang “hartawan dan terpelajar!”

“Heran, minta ampun sudah terlambat. Siapa berani menentangku harus mati!” kata pemuda itu dan dia mendekatkan ujung suling ke mulutnya.

Enam orang itu membentur-benturkan dahi pada tanah dan minta-minta ampun dengan tubuh gemetar. Akan tetapi pemuda itu tidak perduli. Beberapa kali dia meniup dan jarum-jarum lembut yang beracun menyambar ke arah mereka. Enam orang itu terjengkang, berkelojotan sebentar dan tewas dengan tubuh menghitam karena leher setiap orang ditembusi jarum beracun.

Selagi mereka masih berkelojotan, Sumn Hok sudah meninggalkan tempat itu, melangkah menuju ke sawah ladang. Para buruh tani tadi melihat apa yang terjadi. Mereka merasa ngeri dan tegang, akan tetapi tidak ada yang berani bergerak atau membuka suara. Mereka tahu bahwa setiap kali ada dua pihak berkelahi, tentu ada yang mati. Akan tetapi baru sekarang dia melihat seorang pemuda, dengan seorang diri saja, dalam waktu sesingkat itu, telah membantai demikian banyak orang. Diam-diam mereka mengeluh, karena akhirnya merekalah wang akan mendapatkan pekerjaan tambahan, yaitu mengubur mayat-mayat itu. Walaupun tidak ada yang memaksa mereka untuk menguburkan mayat-mayat itu, tarpaksa mereka harus menguburnya sendiri karena kalau tidak, mayat-mayat itu akan membusuk dan tentu mereka yang akan merasa tersiksa kalau bekerja di sawah setiap hari. Selain itu, juga dalam hati para buruh tani miskin ini masih terdapat perasaan tidak tega membiarkan mayat-mayat itu terlantar tanpa dikubur.

Keadaan para tokoh kang-ouw dan para petani miskin itu membuktikan betapa manusia dibentuk oleh lingkungannya. Para petani itu sendiri kalau meninggal dunia, atau kalau ada sanak keluarganya yang meninggal dunia, atau mati hanya dapat dikubur secara gotong-royong karena tidak mungkin mereka dapat melakukannya sendiri karena mereka tidak mempunyai daya. Karena mereka atau keluarga mereka sendiri kalau mati dikubur oleh pertolongan orang lain, maka tentu saja mereka tidak mungkin dapat membiarkan ada mayat terlantar tanpa ada yang menguburnya. Di dalam setiap masyarakat yang bergotong-royong, seorang anggauta masyarakat itu suka atau tidak suka terbawa untuk bersikap gotong-royong pula. Sebaliknya dalam suatu masyarakat yang bersikap acuh dan mementingkan diri sendiri masing-masing, para anggautanya tentu bersikap demikian pula. Oleh karena inilah maka para bijaksana jaman dahulu selalu menganjurkan kepada para anak cucu dan murid agar memilih, sahabat dalam pergaulan mereka. Bersahabat dengan orang pandai, sedikit banyak tentu akan menambah pengertiannya. Bersahabat dengan orang saleh, sedikit banyak tentu akan memperbaiki kelakuannya. Bersahabat dengan orang kaya juga sedikit banyak tentu akan menambah rejekinya. Akan tetapi bersahabat dengan orang jahat, mudah sekali kita terbawa dan terjerumus ke dalam jurang kesesatan. Bagaimana mungkin kita akan minum teh saja kalau semua sahabat kita minum arak bermabuk-mabukan. Sebaliknya, kalau semua sahabat minum teh, kita merasa sungkan untuk mabuk-mabukan seorang diri saja!”

Ketika melihat pemuda bercaping lebar itu menghampiri mereka dan berdiri di tepi sawah memandang kepada mereka, para buruh tani merasa takut dan tegang, dan mereka itu hanya berani membungkuk dengan sikap hormat tanpa berani mengeluarkan suara.

Suma Hok memandang ke arah tujuh orang buruh tani yang mengerjakan sawah yang hanya dibantu oleh tujuh ekor kerbau yang menarik luku. Dia mengangkat tangan ke atas melambai dan berseru, “Paman sekalian datanglah ke sini, aku ingin menanyakan sesuatu kepada kalian!”

Tujuh orang itu saling pandang, akan tetapi tntu saja tidak berani membantah. Mereka tidak khawatir, karena mereka tidak merasa mempunyai kesalahan, juga tidak mempunyai apapun untuk diganggu. Kerbau-kerbau itupun milik majikan sawah, bukan milik mereka.

Setelah tujuh orang petani itu datang mendekat, Suma Hok lalu berkata kepada mereka, “Para paman harap jangan takut. Aku hanya membutuhkan keterangan dari kalian dan kalau keterangan kalian itu kuanggap bermanfaat bagiku, aku akan memberi hadiah kepada kalian.”

Seorang di antara para petani yang lebih berani bicara, mewakili kawan-kawannya bertanya, “Keterangan apakah yang dapat kami berikan kepada kongcu? Kami hanyalah buruh-buruh tani yang miskin dan bodoh,”

“Aku hanya ingin bertanya apakah kalian dalam waktu dekat ini melihat seorang kakek berusia enampuluhan tahun yang pakaiannya serba putih yang mempunyai tahi lalat di dagu. Biasanya dia membawa sebatang pedang dan tak pernah ketinggalan selalu membawa sebuah kipas. Adakah kalian melihatnya lewat di sini atau berada di sekitar daerah ini?”

“Kakek berpakaian putih bertahi lalat di dagu, membawa pedang dan kipas?” kata petani itu dan kini tujuh orang itu saling, pandang.

“Benar, apakah kalian melihatnya?” tanya Suma Hok penuh harapan.

“Apakah yang kongcu tanyakan itu disebut Pek I Mo-ko?”

“Benar dia!” Suma Hok hampir bersorak-saking gembiranya. “Jadi kalian melihat dia dan tahu di mana mereka berada.”

Kembali tujuh orang itu saling pandang dan mereka semua menggeleng kepala! Tentu saja hati Suma Hok yang tadinya penuh kegembiraan itu, seketika berubah menjadi kecewa sekali dan dia mengerutkan alis, senyumnya mulai aneh karena dia marah, merasa, dipermainkan, “Kalian lihat!” Dia menuding ke arah mayat-mayat berserakan itu, “Aku akan membunuh semua orang yang membikin marah hatiku, akan tetapi akupun dapat bermurah hati memberi hadiah banyak kepada orang yang menyenangkan hatiku. Kalian jangan main-main. Tadi mengatakan tahu nama kakek yang kucari, sekarang bilang tidak ada yang melihatnya! Lalu bagaimana kalian bisa tahu bahwa yang kucari adalah Pek I Mo-ko?”

“Harap maafkan kami petani-petani bodoh, kongcu. Adanya kami mengetahui bahwa yang kongcu cari adalah Pek I Mo-ko karena baru kemarin ini kami juga mendapat pertanyaan yang sama benar dengan pertanyaan kongcu dan nona yang bertanya itulah yang menyembutkan nama Pek I Mo-ko dan yang menyebutkan ciri-cirinya tadi. Maka, begitu kongcu menanyakan kakek berpakaian putih, kami segera teringat akan keterangan nona itu dan menduga bahwa yang kongcu cari tentulah Pek I Mo-ko.”

Suma Hok tersenyum lagi dan lenyap kemarahannya walaupun dia masih merasa kecewa, “Dan bagaimana kalian menjawab pertanyaan nona itu?”

“Sama seperti kami menjawab kongcu. Kami tidak pernah melihat kakek berpakaian putih yang bernama Pek I Mo-ko itu. Kami hanya beri tahu bahwa kami tidak melihat kakek itu, akan tetapi kemarin pagi kami melihat serombongan orang berkuda lewat di sini, dari selatan dan mereka menuju ke arah Bukit Merpati Hitam di sana. Mendengar itu, nona itu nampak gembira sekali dan berkata bahwa itu tentulah rombongan jagoan Istana Liu-sung yang juga mencari Pek I Mo-ko, maka iapun segera menyusul ke arah bukit itu,”

Suma Hok mengerutkan alisnya berpikir. Ah, agaknya Kaisar Cang Bu dari Kerajaan Liu-sung di selatan juga mengirim jagoan-jagoannya untuk merampas mustika itu, pikirnya. Ini gawat. Dia akan menghadapi banyak lawan tangguh sehingga makin menyulitkan usahanya merampas Akar Bunga Gurun Pasir.

“Siapakah nama nona itu?” Tiba-tiba dia tertarik karena dia menduga bahwa tentu nona itu seorang gadis kang-ouw pula yang mencoba peruntungannya memperebutkan mustika itu. Dia tersenyum mengejek ketika mengajukan pertanyaan itu. Kalau ada pasukan jagoan istana, bagaimana mungkin seorang gadis akan mencoba untuk memperebutkan benda itu? Bisa mati konyol!

“Kami tidak berani bertanya, kongcu. Ia masih muda, kurang lebih delapanbelas tahun usianya, cantik seperti puteri bangsawan, sikapnya keras dan tegas, dan di punggungnya ia membawa sepasang pedang yang sarungnya indah, Dan iapun pandai menunggang kuda dengan tangkas sekali.”

“Hemm baru saja aku diganggu bajak air dan perampok. Apakah seorang gadis cantik yang melakukan perjalanan seorang diri seperti itu, di daerah ini tidak diganggu orang?”

Petani yang mewakili teman-temannya itu menghela napas panjang. “Baru malam tadi kami menguburkan mayat tiga orang yang lelah berani mengganggunya tak jauh dari sini. Mereka adalah tiga orang saudara Tiga Naga Begal yang terkenal lihai sekali di daerah ini. Mereka menghadang nona itu, dan terjadi peikelahian. Akan tetapi hanya sebentar saja. Kami tidak melihat nona itu mencabut pedang, akan tetapi tahu-tahu tiga orang pengeroyok itu telah roboh dan tewas dengan leher hampir putus semua!”

Suma Hok diam-diam merasa kaget dan kagum. Jelas bahwa nona itu memiliki ilmu pedang yang amat hebat dan pantas saja ia berani mencoba untuk berlumba memperebutkan mustika!

Dia lalu memandang ke arah bukit yang ditunjuk oleh petani tadi. Bukit Merpati Hitam! Kesanalah rombongan jagoan istana Liu-sung pergi, dan ke sana pula nona itu pergi. Agaknya Pek I Mo-ko berada di sana!”

Dia mengeluarkan tujuh potong perak yang masing-masing ada dua tail beratnya dari buntalan pakaiannya dan melemparkannya ke depan para petani itu. “Nah, jawaban kalian cukup berharga. itulah upah kalian, seorang sepotong!” Setelah berkata demikian, diapun berkelebat dan lenyap dari depan tujuh orang buruh tani yang kini menjadi bengong akan tetapi wajah mereka berseri memandang potongan perak yang telah mereka pungut. Belum pernah selama hidup mereka memegang potongan perak seberat itu! Malam ini mereka akan menggali lubang besar dan mengubur mayat-mayat itu tanpa mengomel.

***

Kaum sesat di daerah tak bertuan di sepanjang Sungai Huai menjadi geger. Mereka merasa sial sekali karena dalam waktu beberapa hari di daerah itu bermunculan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan banyak gerombolan bajak air sungai maupun perampok mengalami nasib sial bertemu dengan mereka dan mati konyol. Berita ini tersiar luas dan para gerombolan penjahat itu maklum bahwa daerah rawan itu kedatangan orang-orang yang memiliki tingkat jauh lebih tinggi dari mereka, maka gerombolan yang biasanya ganas dan kejam itu menjadi gentar dan tidak ada yang berani keluar. Mereka juga mendengar bahwa banyak datuk kang-ouw dan pendekar perkasa, bahkan kabarnya jagoan Istana Kerajaan Liu sung maupun Kerajaan Wei, sedang memperebutkan benda mustika yang berada di daerah itu. Tentu saja banyak penjahat mengilar mendengar ini, akan tetapi karena maklum bahwa yang berebutan adalah orang-orang dari tingkatan tinggi, mareka tidak berani ikut-ikutan, bahkan menjauhi Bukit Merpati Hitam yang agaknya menjadi tujuan para datuk dan para pendekar itu.

Bukit itu disebut Bukit Merpati Hitam karena di puncak bukit yang tidak begitu tinggi itu dijadikan sarang ribuan atau bahkan puluhan ribu ekor burung merpati yang sebagian besar berbulu hitam. Di waktu pagi dan senja, dapat dilihat burung-burung itu pergi dan pulang, dan kadang nampak burung-burung itu terbang beriringan amat tinggi sehingga dari bawah kelihatan seperti seekor naga hitam terbang di angkasa. Bukit itu sendiri tidak terlalu besar, sedang aja dan dari kaki sampai ke lereng bukit, penuh dengan hutan liar. Tanah pegunungan ini tidak subur, mengandung kapur. Bahkan puncaknya nampak putih dan tidak ada tumbuh-tumbuhan, gersang dan kering, berlubang-lubang dan banyak guhanya. Itulah sebabnya maka burung-burung merpati itu bersarang di sana, Apalagi tempat itu memang jarang didatangi manusia. Untuk apa bersusah payah mendaki bukit sampai ke puncak kalau melalui hutan liar penuh semak berduri dan di puncaknya hanya merupakan bata kapur belaka yang sama sekali tidak menarik?

Akan tetapi, pada hari ini. bukit itu merupakan tempat yang amat penting. Mula-mula, serombongan orang berkuda mendaki bukit itu, dan di antara mereka terdapat pula Pek I Mo-ko. Duabelas orang Jagoan istana Wei mengawalnya, bukan saja untuk mengawal dan menjaga keselamatan Pek I Mo-ko yang menjadi utusan Kaisar Wei Ta Ong. akan tetapi juga untuk mencegah agar Pek I Mo-ko yang baru diterima sebagai pembantu itu tidak akan mengkhianati Kaisar Kerajaan Wei. Hanya Pek I Mo-ko seorang yang berpakaian seperti orang Han walaupun dia sendiri juga bukan orang suku Bangsa Han saeli. Duabelas orang jagoan Istana itu semua berpakaian seperti biasa pakaian para jagoan atau perwira Bangsa Tartar yang menguasai daratan Cina bagian utara pada waktu itu. Mereka semua mengenakan topi yang dihias bulu ekor rajawali, dan di kanan kiri ada ekor tupai yang panjang bergantung sampai ke pundak. Kalau bulu ekor rajawali itu berwarna kehitaman dan mencuat ke atas, ekor tupai itu berwarna putih seperti kapas. Wajah mereka rata-rata angker dan keras, dan raksasa kembar Liauw Cu dan Liauw Bu juga berada di antara mereka. Mereka masing-masing menunggang kuda yang besar dan bagus. Karena mereka tigabelas orang itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka tentu saja mereka merasa kuat dan tidak membutuhkan pengawalan pasukan yang hanya akan menarik perhatian orang saja. Mereka ingin melakukan perjalanan diam-diam dan berahasia seperti yang dikehendaki Pek I Mo-ko yang bagaimana pun juga masih merasa khawatir kalau-kalau para tokoh kang-ouw mengetahui akan mustika yang dia sembunyikan di puncak Bukit Merpati Hitam itu. Terutama sekali dia takut kepada bekas guru dan majikannya, yaitu Bu-eng-kiam Ouwyang Sek. Apalagi setelah beberapa waktu yang lalu puteri majikannya itu pernah menemuinya dan menuntut dikembalikannya mustika yang dia curi dari gurunya itu.

Pek I Mo-ko bukan seorang bodoh. Betapapun rapatnya rahasia itu disimpan, dan betapa hati-hati mereka melakukan perjalanan agar jangan diketahui orang, dia dapat menduga bahwa tentu ada saja yang tahu dan karenanya diapun sudah berunding dengan teman-temannya dan mengatur siasat bagaimana kalau sampai mereka menghadapi orang-orang pandai yang mencoba untuk mengganggu usaha mereka mengambil mustika itu, atau yang hendak merampas Akar Bunga Gurun Pasir.

Ketika hampir tiba di puncak bukit itu, Pek I Mo-ko dan duabelas orang rekannya turun dari atas kuda dan menambatkan kuda mereka di pohon terakhir yang dapat tumbuh di lereng bukit. Bukan saja perjalanan mendaki puncak memang sulit kalau dilakukan dengan berkuda, akan tetapi melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ini merupakan rencana dan siasat yang diatur oleh Pek I Mo-ko kalau-kalau nanti mereka menghadapi gangguan musuh.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke puncak dengan jalan kaki. Pek I Mo-ko menjadi penunjuk jalan, berada di depan diiringkan duabelas orang jagoan Istana yang selalu waspada dan siap tempur. Pek I Mo-ko sendiri masih menggantungkan pedangnya, namun kipasnya berada di tangan kiri dan kadang-kadang dia pengunakan untuk mengipasi lehernya karena pendakian itu membuat tubuh terasa panas.

Setelah tiba di puncak, matahari telah naik cukup tinggi dan hari itu cerah sekali. Di sepanjang perjalanan mendaki puncak tadi, tiga-belas orang jagoan istana dari Lok-yang ini selalu memandang ke sekeliling dan mereka merasa lega karena tidak pernah melihat bayangan orang yang mengikuti mereka, juga tidak terdengar suara yang mencurigakan.

Akan tetapi ketika mereka tiba di bagian puncak yang datar, di mana terdapat puncak terakhir berupa dinding batu kapur yang berlubang-lubang dan menjadi sarang burung-burung merpati hitam, tiba-tiba saja muncul limabelas orang dari balik batu-batu kapur besar yang berserakan di situ, ada pula yang keluar dari guha-guha. Kiranya di situ telah menanti limabelas orang jagoan istana Kerajaan Liu-sung! Inilah para jagoan yang diutus Kaisar Cang Bu untuk mengejar Pek I Moko ke utara dan merampas mustika Akar Bunga Gurun Pasir itu! Mereka telah menyebar mata-mata dan akhirnya mereka mengetahui bahwa Pek I Mo-ko dan duabelas orang jagoan istana Kerajaan Tartar atau Dinasti Wei di utara sedang melakukan perjalanan ke Bukit Merpati Hitam. Mereka mendahului naik ke puncak bukit ini dari arah lain dengan mengambil jalan yang lebih dekat dan menanti kemunculan Pek I Mo-ko dan kawan-kawannya sejak pagi tadi!

Tentu saja Pek I Mo-ko dan kawan-kawannya terkejut. Dari pakaian dan sikap mereka, tahulah dia dan kawan-kawannya bahwa mereka berhadapan dengan para jagoan dari kota raja Liu-sung, bahkan mereka semua tahu siapa pria berusia limapuluh tahunan yang memimpin rombongan itu. Dia itu bukan lain adalah Jenderal Pouw Cin yang amat terkenal sebagai panglima pasukan pengawal Istana dan dikabarkan memiliki ilmu silat dan ilmu perang yang hebat! Pek I Mo-ko dan kawan-kawannya memang sudah menduga akan adanya orang-orang yang mungkin akan mencoba untuk merampas mustika yang akan mereka ambil dari tempat simpanan Pek I Mo-ko, akan tetapi mereka sama sekali tidak mengira bahwa calon lawan mereka adalah para Jagoan Istana Kerajaan Liu-sung! Akan tetapi karena mereka memang sudah merencanakan siasat dan telah bersiap-siap, merekapun tidak merasa gentar.

Jenderal Pouw Cin yang sudah mengenal Pek I Mo-ko, tersenyum dingin ketika melihat Pek I Mo-ko bersama para jagoan islana Kerajaan Wei yang menjadi musuh kerajaan kaisarnya. “A-ha, kiranya kaki tangan pemberontak di Nan-ping yang menjadi pelarian dan buruan pemerintah, kini telah bekerja sama pula dengan orang-orang biadab Tartar dari utara! Hemm, bagus! Dosamu berlipat ganda. Ciong Kui Le, menyerahlah engkau pengkhianat!”

Pek I Mo-ko memperlihatkan sikap menentang. “Orang she Pauw, yang memberontak terhadap Kerajaan Liu-sung adalah kepala daerah Nan-ping. Aku hanya bekerja kepadanya, aku tidak mempunyai urusan dengan pemberontakan. Jenderal Pouw Cin, aku tidak mempunyai urusan denganmu, dan aku tidak akan suka menyeretkan diri untuk ditawan olehmu!”

Kata-kata itu mengandung isyarat bagi teman-temannya untuk bergerak dan dengan serentak, duabelas orang jagoan istana itu sudah menggerakkan senjata masing-masing, menyerang limabelas orang jagoan Liu-sung. Tentu saja limabelas orang jagoan itu dengan marah menyambut serangan itu dan terjadilah pertempuran yang seru dan mati-matian di puncak bukit tandus itu.

Menurut yang telah direncanakan Pek I Moko dan kawan-kawannya, kalau muncul lawan-lawan yang hendak mengganggu pengambilan mustika, para jagoan Istana Kerajaan Wei itu bertugas untuk menyerang mereka sehingga Pek I Mo-ko mendapat kesempatan untuk mengambil mustika itu tanpa ada yang mengetahuinya. Biarpun kini, di luar dugaan mereka, yang muncul adalah limabelas orang jagoan dari pemerintah yang menjadi musuh mereka, rencana itu tetap dilaksanakan. Duabelas orang jagoan Tartar itu dengan serentak menyerang pihak lawan yang limabelas orang jumlahnya, sedangkan Pek I Mo-ko sendiri diam-diam menyelinap pergi dan lenyap ke dalam sebuah di antara guha-guha yang banyak terdapat di dinding kapur itu. Dia memasuki guha yang berbentuk terowongan yang dalam. Setelah memasuki terowongan sejauh ratusan meter, dia berhenti dan mengerahkan tenaga sinkang, mendorong batu besar yang berada di sebelah kiri dinding terowongan. Batu besar yang bagi orang lain tentu hanya merupakan balu dinding seperti yang lain itu bengeser dan nampaklah lubang terowongan lain. Pek I Moko memasuki terowongan ini dan di tempat yang tersembunyi inilah dia menyembunyikan mustika yang diperebutkan itu. Dia mengambil sebuah peti hitam sebesar duapuluh sentimeter persegi, membuka tutupnya dan dia tersenyum melihat benda mustika itu masih berada di situ. Hanya merupakan sepotong akar yang mirip sebuah tangan manusia, baik bentuk maupun ukurannya, hanya “jari-jari” tangan itu agak panjang dan ujungnya bergantungan banyak akar rambut. Dia mengambil akar itu dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya, menutup kembali peti kosong dan membiarkannya di tempat yang tadi. Kemudian dia berlari keluar melalui terowongan yang menembus ke samping puncak bukit itu, yang berlawanan dengan bagian di mana terjadi pertempuran. Inilah siasat yang telah diatur oleh Pek I Mo-ko. Selagi teman-temannya menahan para lawan, dia dengan aman dapat mengambil benda yang amat diharapkan oleh Kaisar Wei Ta Ong itu! Dan kudanyapun sudah siap menantinya di bawah puncak. Setelah nanti dia tiba di tempat panambatan kuda-kuda itu, baru dia akan melepas tanda panah api ke udara untuk memberitahukan teman-temannya agar mereka dapat pergi meninggalkan puncak.

Dengan hati girang, membayangkan betapa dia tentu akan mendapatkan kedudukan tinggi dan hadiah besar dari Kaisar Wei Ta Ong dan selanjutnya hidup sebagai seorang pejabat tinggi yang dihormati dan berenang di dalam kemuliaan dan kemewahan, Pek I Mo-ko menyelinap di antara batu-batu kapur, menuruni puncak menuju ke hutan pertama di lereng bawah puncak di mana mereka tadi menambatkan kuda.

Hutan pertama itu sudah dekat, tinggal ratusan meter lagi. Begitu dia sudah meloncat ke atas punggung kudanya, lalu melepaskan panah api, berarti dia telah berhasil dan akan dapat lebih dahulu melarikan diri ke utara, membawa Akar Banga Gurun Pasir!”

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depannya telah berdiri serang gadis yang tersenyum mengejek kepadanya. Pek I Mo-ko terbelalak memandang karena gadis itu bukan lain adalah Ouwyang Hui Hong, puteri bekas guru dan majikannya! Satu-satunya orang di dunia ini kecuali gurunya yang sama sebali tidak ingin dia jumpai di saat seperti itu! Akan tetapi, dia tidak takut karena dia maklum bahwa betapa lihaipun puteri bekas gurunya itu, dia percaya bahwa dia masih mampu mengatasinya karena dia lebih berpengalaman dan memiliki lebih banyak tipu muslihat dalam Ilmu silat mereka yang berasal dari satu sumber.

“Hemm, Iblis busuk, murid murtad dan khianat, kaukira akan mampu lepas dari tanganku? Serahkan kembali mustika milik ayahku lalu serahkan tangan kananmu untuk kubuntungi sebagai hukumanmu, atau terpaksa aku akan membunuhmu!” Hui Hong berkata, suaranya galak. Hukuman potong tangan ini memang merupakan jenis hukuman yang biasa, dilakukan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek terhadap orang-orang yang suka mencuri, merupakan hukuman yang berlaku di daerah Lembah Bukit Siluman.

Di bagian manapun di dunia ini, setiap kelompok manusia, baik yang dinamakan sudah beradab, setengah beradab, atau masih biadab, membentuk masyarakat, kemudian masyarakat yang membentuk pemerintah atau kepala suku dengan para pembantunya Pemerintah atau kepala suku bagi yang belum mempunyai pemerintahan, lalu mengadakan hukum-hukum. Hukum diadakan dengan maksud menegakkan keadilan, membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah untuk kemudian dihukum sesuai dengan peraturan. Memang, niat itu baik sekali, terutama untuk menghapus hukum rimba, yaitu yang kuasa dan yang kuat selalu menang dan selalu benar. Hukum pada hakekatnya diadakan orang untuk melindungi mereka yang lemah, mereka yang tidak mampu melindungi diri sendiri, hukum diadakan untuk melindungi mereka yang akan dijadikan korban kesewenang-wenangan dari mereka yang berkuasa dan kuat. Akan tetapi sungguh menyedihkan kalau dilihat betapa di bagian manapun di dunia ini, hukum bahkan menjadi alat bagi yang kuasa dan yang kuat untuk membenarkan diri sendiri secara sah. Kalau sebelum adanya hukum, mereka itu selain menang dan benar karena kekuasaan dan kekuatan, setelah adanya hukum, mereka menang dan benar menurut hukum. Bahkan yang dapat dihukum hanyalah yang berada di bawah, dan yang mengeterapkan hukum tentulah pihak atasan. Kalau yang bawah hendak mengeterapkan hukum kepada pihak atasan, itu namanya bukan menegakkan hukum, melainkan pemberontakan! Begitulah kenyataannya yang terjadi di seluruh dunia, secara tertelubung maupun terang-terangan. Ada hukum ataupun tidak, yang kuasa dan yang kuat tetap saja menang dan benar, tiada bedanya dengan hukum yang berlaku di rimba. Hanya binatang-binatang seperti harimau, singa, gajah, banteng, beruang, mereka yang kuat-kuat, atau yang besar-besar, atau yang bergerombolan seperti srigala, mereka sajalah yang selalu menang dan benar. Kelenci? Kijang? Tikus? Mereka yang kecil-kecil? Aah. hanya menjadi “makanan” yang besar-besar.

Wajah Pek I Mo-ko sejenak berubah pucat. Kalau dia mengingat atau membayangkan bekas guru dan majikannya. Bu eng-kiam Ouwyang Sek, dia sungguh merasa ketakutan sekali. Untung bukan datuk itu yang berhadapan dengan dia, karena kalau datuk itu yang kini berada di dengannya. Biapapun takkan mampu melindungi tangannya dibuntungi! atau bahkan lehernya! Akan tetapi, yang dihadapinya hanya Owyang Hui Hong, seorang gadis berusia delapan belas tahun. Betapapun lihainya, dia akan dapat menandinginya. Hanya yang membuat dia marah adalah karena kemunculan gadis ini tentu saja dapat mengacaukan rencananya. Dia tidak dapat cepat meninggalkan tempat itu dan memberitahu kawan-kawannya. Kalau sempai para jagoan Liu-sung itu dapat mengejarnya, tentu dia berada dalam bahaya! Maka, dia harus lebih dulu membunuh gadis ini, lebih cepat lebih baik.

“Mampuslah!!” Dia membentak dan tiba-tiba saja nampak sinar pedang meluncur ke arah leher Hui Hong, disusul totokan ujung, gagang kipas ke arah dada.

“Huh, iblis busuk!” Hui Hong memaki dan dengan lincah sekali iapun sudah meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari dua serangan maut itu sambil mencabut sepasang pedangnya. Tanpa membuang waktu, Iapun segera menggerakkan kedua pedang itu dan balas menyerang. Terjadilah pertandingan yang hebat antara dua orang yang memiliki ilmu silat dari satu guru itu. Keduanya sudah mengenal ilmu silat dan gerakan masing-masing maka agak tukarlah bagi mereka untuk dapat berhasil dengan serangan mereka. Permainan pedang dan kipas di kedua tangan Pek I Mo-ko pada dasarnya juga merupakan Ilmu pedang pasangan, hanya pedang kiri diganti dengan kipas untuk membingungkan lawan. Bukan itu saja, juga kipas itu mengandung alat rahasia untuk melepas jarum beracun dari gagangnya yang berlubang, juga selain dapat dipergunakan sebagai pedang, dapat dipakai menotok jalan darah lawan.

Hui Hong sudah mengenal kipas ini, maka biarpun beberapa kali Pek I Mo-ko mencoba untuk menyerang lawannya dengan jarum beracun, selalu serangan itu gagal dan jarum-ja-rumnya dipukul runtuh oleh pedang Hui Hong. Bagaimanapun juga, harus diakui bahwa Pek I Mo-ko menang pengalaman dan lebih matang gerakannya. Hanya kelebihan ini tidak berarti karena gadis itu menutup kekurangannya dengan kelebihannya dalam hal gin-kang (Ilmu meringankan tubuh). Gadis itu dapat bergerak-gerak lebih cepat. Dan dalam hal tenaga sintang, Hui Hong dapat menandingi bekas pembantu ayahnya itu, maka dapat diduga bahwa perkelahian mati-matian itu akan berlangsung lama dan sukar diduga siapa yang akhirnya akan menang.

“Cring-cring, tranggg …!!” Pek I Mo-ko terhuyung dan meloncat ke belakang. Mukanya berubah dan matanya terbelalak. Dia tidak mengenal jurus yang baru saja dimainkan gadis itu untuk menyerangnya sehingga hampir saja lehernya tercium ujung pedang kiri gadis itu!

Hui Hong tersenyum mengejek. “Kaukira telah mengenal semua ilmu pedangku?” katanya dengan nada memandang rendah. “Kaukira ayah begitu bodoh untuk tidak membekali aku dengan ilmu baru sebelum menyuruh aku mencarimu! Iblis busuk tolol, sekarang engkau mati!” Hui Hong kembali memainkan sepasang pedangnya, akan tetapi kini dengan gerak-gerakan aneh yang tidak dikenal Pek I Mo-ko sehingga dia terkejut dan hanya mampu memutar pedang dan kipasnya untuk melindungi dirinya karena dia tidak mampu menduga ke arah mana gulungan dua sinar pedang lawan itu akan menyambar. Dalam beberapa jurus saja dia terdesak mundur terus.

Pada saat Pek I Mo-ko terdesak, tiba-tiba terdengar bunyi suling ditiup orang. Suaranya melengking, naik turun tinggi rendah dan merdu sekali. Biarpun mungkin bagi orang lain suara ini biasa saja, suara sebatang suling yang dimainkan orang, namun bagi Pek I Mo-ko maupun Hui Hong terkejut sekali dan otomatis keduanya menahan senjata dan meloncat ke belakang. Mereka berdua menyangka bahwa yang datang adalah Kui-siauw Giam-ong Suma Koan, datuk besar majikan Bukit Bayangan Iblis! Kalau datuk itu yang datang, celakalah, demikian pikir Pek I Mo-ko maupun Hui Hong. Suma Koan adalah seorang datuk sakti yang kepandaiannya setingkat dengan ayah Hui Hong. maka tentu saja kedua orang itu merasa jerih. Akan tetapi, ketika keduanya menoleh, ternyata yang muncul dan yang kini sudah menurunkan sulingnya dan tidak meniupnya lagi adalah seorang pemuda yang tampan sekali.

“Tok-siauw-kwi Suma Hok!” seru Pek I Mo-ko yang mengenal pemuda itu sebagai putera tunggal Suma Koan.

Suma Hok tersenyum dan deretan giginya berkilat. “Aha, kiranya Pek I Mo-ko masih mengenal aku? Bagaimana kabarnya, Moko?” kata pemuda itu dengan sikap seorang yang kedudukannya lebih tinggi.

“Baik-baik, Suma Kongcu,” kata Pek I Mo-ko yang mengharapkan bantuan pemuda putera datuk besar itu. “Dan bagaimana dengan kongcu sendiri? Apa yang kongcu kehendaki maka datang ke tempat ini?”

Mendengar pertanyaan itu, Suma Hok tertawa dan mengerling ke arah Hui Hong. Gadis itupun memandang kepadanya dan diam-diam ia harus mengakui bahwa pemuda putera datuk Kui-siauw Giam-ong itu memang tampan dan gagah sekali, walaupun senyum dan pandang matanya membuat ia merasa tidak sedap di hati.

“Ha ha-ha, pertanyaan yang aneh dan lucu, Moko. Biarlah kujawab begini saja. Aku kebetulan lewat dan melihat engkau bertanding … eh, maksudku terdesak oleh gadis cantik ini. Bukankah adik yang manis ini puteri dari Paman Bu-eng-kiam Ouwyang Sek yang terkenal itu, yang pernah menjadi guru dan majikanmu, Moko?”

Pek I Mo-ko dan Hui Hong diam-diam harus memuji kecerdikan Suma Hok, akan tetapi Hui Hong hanya tersenyum mengejek tanpa mengatakan sesuatu.

“Bagaimana kongcu bisa menebak dengan tepat? Pernahkah kongcu bertemu dengan nona Ouwyang Hui Hong ini?” Di dalam benak Pek I Mo-ko sedang bekerja keras untuk mencari jalan keluar yang baik dari ancaman ini. Dia harus dapat menarik putera datuk besar ini di pihaknya. Kalau terjadi kebalikannya dan dia dikeroyok dua, jelas itu berarti bencana baginya.

Kembali Suma Hok tersenyum dan menggerak-gerakkan sulingnya dengan sikap gagah untuk berlagak. “Ha-ha, apa sukarnya! Biarpun aku belum pernah bertemu dengan nona Ouwyang, aku sudah mendengar tentang namanya, dan melihat gaya permainan siang-kiam tadi, mudah diduga siapa ia. Juga, kalau ia mencarimu lalu menyerangmu, siapalagi kalau ia bukan puteri Paman Ouwyang Sek yang tentunya hendak minta kembali Akar Bunga Gurun Pasir yang telah kaularikan dari Lembah Bukit Siluman. Bukankah benar begitu, adik Ouwyang Hui Hong yang baik?”

Hui Hong cemberut. “Hemm, biarpun tebakkanmu benar, apa anehnya tebakan itu. Semua orang juga bisa menebaknya. Dan akupun bukan adikmu, dan tidak suka kau sebut adik yang baik! Tak perlu kau merayuku, karena kata-katamu tentu sama beracunnya dengan sulingmu, Suma Hok!”

Suma Hok tidak menjadi marah, bahkan tertawa bergelak mendengar ucapan galak ini, “Ha-ha-ha-ha, engkau memang manis sekali. Hong-moi (adib Hong) yang baik! Ha-ha-ha!”

Melihat sikap pemuda itu demikian manis dan akrab, tentu saja Pek I Mo-ko menjadi khawatir bukan main. “Suma Kongcu, bantulah aku menghadapi gadis ini. Kalau kita berdua melawannya, tentu kita dapat menangkapnya. Ia begitu cantik, apakah kongcu tidak ingi memilikinya! Nah, kaubantu aku, dan ia menjadi milikmu. Juga, aku akan memintakan hadiah yang besar untuk kongcu kepada Kaisar Wei Ta Ong!”

Suma Hok memandang kepadanya dengan alis berkerut. “Pek I Mo-ko, apa kaukira aku ini seorang yang tolol dan suka mengabdi kepada orang Tartar macam engkau? Aku memang telah jatuh cinta kepada adik Ouwyang Hui Hong ini, akan tetapi aku akan melamarnya dengan resmi. Nah, berikan Akar Bunga Gurun Pasir itu kepadaku, baru kuampuni nyawamu. Mustika itu akan kukembalikan kepada Paman Ouwyang ketika aku dan ayah datang melamar adik manis ini. Untuk membalas budi, tentu Paman Ouwyang akan suka menerima aku sebagai mantu!”

Celaka, pikir Pek I Mo-ko dengan muka pucat. Akan tetapi karena dia bukan berhadapan dengan datuk besar Kui-siauw Giam-ong, melainkan hanya puteranya yang masih muda, diapun tidak gentar.

“Bocah sombong, kaukira aku takut padamu? Diajak kerja sama tidak mau, baik, mari kita lihat siapa di antara kita lebih lihai!” Diapun segera menyerang dengan pedang dan kipasnya.

Suma Hok yang maklum akan kelihatan Pek I Mo-ko, segera mengerahkan tenaga sin-kang pada sulingnya dan menangkis, lalu balas menyerang. Setelah terjadi serang menyerang beberapa gebrakan, masing-masing mendapat kenyataan bahwa kepandaian mereka berimbang.

“Nona Ouwyang. daripada mustika terjatuh di tangan bocah ini, lebih baik kukembalikan kepada ayahmu. Nah, kaubantulah aku!” kata Pek I Mo-ko bukan karena dia takut kalah, melainkan dia maklum bahwa untuk mengalahkan pemuda ini bukan soal mudah dan yang dia takuti adalah kalau para jagoan istana dari Liu-sung datang ke tempat itu.

Tiba-tiba Hui Hong menggerakkan sepasang pedangnya dan ia menyerang Suma Hok! Tentu saja Pek I Mo-ko menjadi girang, sebaliknya Suma Hok terkejut bukan main.

“Trang-tranggg …!” Dua kali sulingnya menangkis dan dia mendapat kenyataan bahwa puteri Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) Ouwyang Sek itu memiliki sin-kang yang tak kalah kuat olehnya! Dia semakin kagum akan tetapi juga merasa penasasan sekali.

“Hong-moi …!”

“Aku bukan apa-apamu, tak usah menyebut Hong-moi (dinda Hong), Hong-moi segala!” bentak Hui Hong sambil menyerang lagi dengan pedangnya.

Suma Hok meloncat ke belakang. “Nona Ouwyang, apakah engkau percaya kepada omongan orang yang telah berkhianat kepada ayahmu ini! Dia menipumu! Dia tidak akan mengembalikan mustika itu. Mari kita bunuh si Jahanam itu!”

Akan tetapi mana pemuda itu tahu akan isi hati Ouwyang Hui Hong? Gadis ini khawatir kalau benar-benar benda pusaka itu terjatuh ke tangan Suma Hok, kemudian Suma Hok dan ayahnya, datuk Suma Koan datang melamarnya kepada ayahnya sambil mengembalikan Akar Bunga Gurun Pasir tentu ayahnya akan merasa sungkan untuk menolaknya! Daripada hal yang membuatnya khawatir itu benar terjadi, lebih baik benda langka itu tetap berada di tangan Pek I Mo-ko dan kelak ia akan dapat mencarinya dan merampasnya lagi. itulah sebabnya mengapa ia menyerang Suma Hok, sehingga seolah-olah ia setuju dengan ajakan bekas pembantu dan murid ayahnya itu.

Melihat gadis itu benar-benar menyerang Suma Hok dengan dahsyat, tentu saja Pek I Moko menjadi girang. Tak disangkanya bahwa “siasatnya” berhasil. Dia sendiri tidak tahu bahwa penyerangan gadis itu terhadap Suma Hok sama sekali bukan karena keberhasilan siasatnya, Diapun cepat menggerakkan pedang dan kipasnya membantu Ouwyang Hui Hong mengeroyok Suma Hok.

Tingkat kepandaian tiga orang ini dapat dikata seimbang, maka kini menghadapi dua orang, tentu saja Suma Hok menjadi terdesak hebat. Untung pada saat itu, Pek I Mo-ko segera teringat bahwa andaikata dia dan Hui Hong berhasil merobohkan Suma Hok, tetap saja dia harus kembali menghadapi Hui Hong yang tentu menuntut dikembalikannya akar itu! Teringat akan hal ini, juga karena khawatir para jagoan istana Liu-sung akan datang ke situ. Pek I Mo-ko pura-pura terhuyung ketika suling di tangan pemuda itu menangkis pedangnya. Akan tetapi dia bukan terhuyung begitu saja, bahkan sempat terjengkang lalu bergulingan sampai jauh, kemudian meloncat dan melarikan diri!”

Baik Hui Hong maupun Suma Hok melihat akal bulus Pek I Mo-ko ini.

“Keparat. Jangan lari!” bentak Hui Hong akan tetapi ia tidak sempat melakukan pengejaran karena Suma Hok memperhebat serangan sulingnya kepada gadis itu sambil tertawa-tawa. Suma Hok dihadapkan kepada dua pilihan, yaitu merampas Akar Bunga Gurun Pasir atau menawan Hui Hong. Dan agaknya dia memilih yang kedua!

“Ha-ha, sekarang aku tahu mengapa engkau menyerangku. Engkau tidak ingin akar itu terjatuh ke tanganku, ya? Baik, ada cara lain yang akan memaksa engkau menerima pinanganku kelak. Kalau engkau sudah menjadi milikku, mustahil engkau akan berani menolak lamaran ayahku untuk menjadi isteriku, ha ha-ha!”

Wajah Hui Hong berubah merah sekali saking marahnya. “Jahanam busuk, lebih baik aku mati dari pada menerima lamaran Iblis macam engkau! Dan jangan harap engkan akan dapat mengalahkan aku.” Gadis itu memperhebat gerakan sepasang pedangnya. Suma Hok terkejut dan cepat dia memutar sulingnya. Namun, gerakan gadis itu sungguh luar biasa cepatnya sehingga nyaris lengan kirinya terbacok. Terpaksa dia melempar tubuh ke belakang dan jatuh terjengkang! Kiranya pemuda yang amat cerdik ini tadi melihat contoh yang dilakukan Pek I Mo-ko dan meniru kelicikan orang itu. Begitu terjengkang, dia bergulingan dan Hui Hong yang kini sudah “naik darah” oleh ucapan penuda tadi, melilat kesempatan baik ini segera mengejar, menubruk untuk memberi tusukan tusukan maut dengan kedua pedangnya. Pada saat dia bengulingan. Suma Hok menggunakan tangan kiri dimasukkan ke saku dalam bajunya dan pada saat Hui Hong menubruk ke depan, tangan kirinya bergerak cepat ke arah muka gadis itu. Yang nampak hanya sinar merah dari sehelai saputangan merah yang dikebutkan oleh Suma Hok.

Hui Hong sama sekali tidak menyangka akan kecurangan ini. Apalagi melihat bahwa yang menyambar ke arah mukanya hanya ujung sehelai saputangan. Maka ia hanya miringkan kepalanya dan melanjutkan serangan pedangnya yang menusuk ke arah dada. Suma Hok menggulingkan tubuhnya dan tusukan itu luput. Suma Hok meloncat dan menjauh. Ketika Hui Hong hendak mengejar, tiba-tiba gadis itu terhuyung, memegangi kepalanya yang tiba-tiba menjadi pening, matanya gelap dan tahulah ia bahwa saputangan tadi mengandung bubuk pembius yang amat kuat.

“Jahanam kau …!” Ia memaki, hendak menyerang sambil mengerahkan tenaga, akan tetapi ia terpelanting dan tentu akan terbanting jatuh kalau saja Suma Hok tidak cepat menerimanya dalam rangkulan sambil tersenyum penuh kemenangan.

***

Ketika ia membuka kedua matanya, Hui Hong mendapatkan dirinya terlentang di dalam sebuah guha, bertilamkan rumput dan daun kering. Ia teringat, kaget dan mencoba untuk bangun. Akan tetapi tidak dapat menggerakkan kaki tangannya. Ia tahu bahwa ia dalam keadaan tertotok!

“Ha, engkau sudah sadar, sayang?”

Hui Hong menoleh ke kanan dan melihat Suma Hok duduk di dalam guha itu, tersenyum kepadanya. “Jahanam, lepaskan totokan ini!” kata Hui Hong dan dengan mata terbelalak ia melihat ke arah pakaiannya. Ia merasa lega karena pakaiannya masih lengkap dan ia tahu bahwa pemuda itu belum melakukan hal yang baginya amat mengerikan, lebih hebat dari pada maut. Pemuda itu belum memperkosanya.

“Ha.ha, tenanglah, Hong-moi. Kalau aku mau, alangkah mudahnya tadi memperkosamu selagi engkau pingsan. Akan tetapi aku tidak mau. aku ingin engkau menyerahkan diri kepadaku dalam keadaan sadar dan suka rela.”

“Cih! Tidak sudi! Bebaskan aku dan mari kita berkelahi sampai seorang di antara kita mati. Engkau jahanam yang curang, pengecut, engkau menggunakan racun pembius!”

“Ha-ha-ha, memang sudah lupakah engkau bahwa aku ini Tok-siauw-kwi (Iblis suling Beracun). Racun adalah permainanku sejak kecil, manis. Dan aku ingin menundukkanmu dalam keadaan utuh, tidak terluka, maka terpaksa aku menggunakan bubuk racun pembius. Ha-ha, sebentar lagi akan kubebaskan engkau agar dapat menyerah kepadaku dengan penuh kesadaran, ha-ha-ha!”

“Apa yang akan kaulakukan, keparat!” Wajah Hui Hong menjadi pucat dan matanya terbelalak. Pemuda itu menghampirinya, lalu mengikat kedua pergelangan tangan dan kakinya dengan tali kulit yang amat kuat, dan mengikatkan ujung tali-tali itu pada empat batang besi yang dia tanam kuat-kuat di lantai guha. Keadaan gadis itu sama sekali tidak berdaya. Kedua lengannya terpentang, juga kedua kakinya. Setelah merasa yakin bahwa kedua kaki dan tangan gadis itu tidak akan dapat lepas dari ikatan, Suma Hok membebaskan totokannya, “Jahanam kau! Kalau engkau berani menodaiku, ayahku tentu akan menghancurkan kepalamu!” dalam ketakutan yang amat sangat namun ditahan-tahannya, Hui Hong berteriak.

Namun, Suma Hok tersenyum. “Hong-moi, ayahmu adalah seorang datuk, seperti juga ayahku. Dia tidak akan marah, Apalagi kalau ayah datang sendiri meminang dan mengantarkan akar itu.”

“Goblok kau! Akar itu dilarikan Pek I Moko! Cepat kejar dia!” teriak Hui Hong penuh harapan untuk mengalihkan perhatian Suma Hok.

“Ha.ha, kalau engkau lepas, sukar untuk menangkapmu kembali, Hong-moi. Kalau hanya Pek I Mo-ko yang lari, apa sih sukarnya mencari dia dan merampas akar itu? Andaikan aku tidak berhasil, aku akan minta bantuan ayah dan pasti kami berhasil. Nah, sekarang engkau harus menyerah kepadaku, Hong-moi, Terpaksa kulakukan ini agar kelak engkau tidak mungkin lagi dapat menolak pinanganku.

Hui Hong meronta-ronta, akan tetapi karena kedua kaki dan tangannya terpentang dan terikat kuat sekali, yang dapat ia lakukan hanyalah mengangkat-angkat tubuh di bagian perut dan dada saja!”

“Brettt! beetttt!” Dengan beberapa kali renggutan saja Suma Hok sudah berhasil merenggut lepas pakaian Hui Hong. Gadis itu demikian marah dan malunya sehingga hampir ia jatuh pingsan. Ia tidak melihat harapan untuk dapat lolos dari ancaman yang lebih mengerikan dari pada maut ini. Ia akan diperkosa! Ia akan diperhina! Lebih baik mati dan jalan satu-satunya untuk dapat membunuh diri hanya menggigit lidahnya sendiri saja sampai putus!

Pada saat ia hendak melakukan bunuh diri yang mengerikan itu, tiba-tiba ia melihat bayangan berkelebat dari luar guha. Suma Hok yang dengan sikap mengejek dan tenang sudah mulai membuka kancing bajunya, juga melihat berkelebatnya bayangan itu dan diapun maloncat berdiri dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang pemuda yang memandang kepadanya dengan mata mencorong bagaikan sepasang mata seekor naga!”

Hui Hong juga melihat pemuda yang baru masuk ke dalam guha itu, dan hampir ia berteriak saking girangnya akan tetapi juga malunya. Ia hampir telanjang bulat! Pemuda itu Kwa Bun Houw!”

Seperti telah kita ketahui, Bun Houw tak pernah menghentikan pencariannya terhadap Hui Hong yang melakukan pengejaran terhadap Pek I Mo-ko. Dan diapun melihat rombongan Pek I Mo-ko dan duabelas orang jagoan Kerajaan Wei atau Tartar itu mendaki Bukit Merpati Hitam. Dia hanya mengintai. Yang ia cari adalah Hui Hong. Dari tempat pengintaiannya ia mengharapkan Hui Hong akan-muncul dan tentu saja dia siap membantu kalau sampai Hui Hong kemudian dikeroyok oleh Pek I Moko dan kawan-kawannya. Tapi yang muncul bukanlah Ouwyang Hui Hong, melainkan limabelas orang jagoan istana Kerajaan Liu-sun! Ketika terjadi pertempuran untuk memperebutkan akar itu, diapun diam saja dan tidak perduli. Dia tidak ingin mencampari urusan itu. Baginya, apa yang disebut Akar Bunga Gurun Pasir itu tidak ada artinya sama sekali. Dia hanya mencari Ouwyang Hui Hong, mengharapkan agar gadis itu dapat ditemukannya dalam keadaan selamat. Kemudian, dia, melihat Pek I Mo-ko menyelinap pergi meninggalkan pertempuran dan lenyap ke dalam sebuah guha.

Cepat Bun Houw melakukan pengejaran dan memasuki guha yang ternyata merupakan sebuah terowongan itu. Akan tetapi, terowongan itu mempunyai banyak cabang dia menyusup ke sana sini dengan bingung, kehilangan jejak Pek I Moko. Dia harus dapat membayangi Pek I Mo-ko, karena dia tahu bahwa yang dikejar oleh Hui Hong adalah orang ini, Dia akan menangkap Pek I Mo-ko dan akan memaksanya mengaku di mana adanya nona itu. Jangan-jangan Hui Hong telah berhasil mengejar Pek I Mo-ko dan celaka di tangan penjahat ini.

Setelah melalui lorong yang berliku-liku itu, akhirnya Bun Houw menemukan pintu sempit yang tadinya tertutup batu besar. Dia. memasukinya dan melakukan pencarian terus sampai tiba di luar, di samping puncak yang berlawanan dengan tempat terjadinya pertempuran. Akan tetepi di situ sunyi saja. Terlalu lama waktu dia pengunakan untuk berputar-putar di lorong tadi sehingga dia terlambat, tidak melihat perkelahian antara Pek I Mo-ko dan Hui Hong, juga tidak melihat munculnya Suma Hok yang berhasil menawan Hui Hong. Tiba-tiba dia mendengar caci maki dari dalam guha di ujung dinding batu kapur itu. Suara wanita! Suara Hui Hong! Cepat dia lari ke dalam guha itu dan hampir meledak rasa dadanya melihat betapa seorang pemuda tengah berusaha memperkosa Hui Hong yang sudah dibelenggu kaki tangannya dan dalam keadaan setengah telanjang!

Kini, dua orang muda itu saling berhadapan, berdiri dalam jarak lima meter, keduanya memiliki pandang mata yang tajam mencorong, keduanya saling pandang dengan penuh kemarahan, karena Suma Hok juga marah sekali bahwa keasyikan yang hampir dinikmatinya itu diganggu orang.

“Engkau calon bangkai yang sudah bosan hidup!” bentak Suma Hok dan tiba-tiba saja dia melompat ke depan, kedua tangannya membentuk cakar dan agaknya dia bendak meremukkan kepala dan mengoyak dada pengganggu itu. Serangannya dimaksudkan untuk membunuh, maka dia sudah menggerakkan seluruh tenaga sin-kangnya.

Melihat pemuda tampan pesolek itu menerjangnya dengan terkaman yang merupakan serangan maut itu, Bun Houw segera mengerahkan tenaga pula dan mendorong dengan kedua telapak tangannya, menyambut dua tangan lawan.

“Dessssss …!” Tubuh Suma Hok yang sedang meloncat itu terdorong ke belakang dan tentu dia akan terbanting keras kalau saja dia tidak cepat berjungkir balik dengan lincah dan ringan sekali. Keduanya terkejut. Suma Hok terkejut setengah mati karena sama sekali tidak mengira bahwa lawannya memiliki tenaga sin-kang sekuat itu. Bun Houw juga terkejut melihat betapa dorongannya yang amat kuat itu tidak dapat merobohkan lawan yang dapat berjungkir balik seperti gerakan seekor burung walet saja. Masing-masing mengetahui bahwa lawan merupakan orang yang lihai.

“Sobat,” kata Suma Hok. “Kulihat engkau seorang yang memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi. Tentu engkau telah mengenal namaku dan sebaiknya kalau engkau tidak mencampuri urusanku.”

Bun Houw tersenyum dan di dalam hatinya merasa sayang sekali, karena dalam pandangannya, pemuda itu demikian tampan dan halus, juga cara bicaranya kali ini menunjukkan bahwa dia terpelajar, juga memiliki ilmu silat yang hebat. Akan tetapi kenapa hendak melakukan perbuatan yang demikian rendah dan hina terhadap Hui Hong?

“Sayang aku tidak mengenal siapa engkau, sobat, hanya tahu bahwa hampir saja engkau melakukan perbuatan yang amat jahat dan hina!”

“Hmm, tidak perlu mencampuri urusanku. Kalau engkau belum mengenalku, ketahuilah bahwa aku bernama Suma Hok berjuluk Tok-siauw-kwi dan aku putera tunggal dari Kui-Siauw Giam-ong Suma Koan. Nah, sebaiknya engkau cepat pergi dari pada mencari penyakit.”

Dari gurunya, yaitu Tiauw Sun Ong bekas pangeran yang buta dan sakti itu, Bun Houw telah diberitahu tentang nama-nama para tokoh dan datuk besar dunia kang-ouw, maka mendengar nama ini, diam-diam dia terkejut. Pantas saja demikian lihai, tidak tahunya putera seorang di antara para datuk persilatan yang amat tersohor.

“Aku pernah mendengar nama Suma Hok sebagai seorang laki-laki jantan yang gagah, bukan seorang laki-laki tak mengenal susila dan seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga atau tukang memperkosa)!”

Marahlah Suma Hok. Wajahnya yang tampan berubah kemerahan dan dia menudingkan telunjuk kirinya ke muka Bun Houw. “Keparat, siapa engkau jangan mati tanpa meninggalkan nama!”

Nah, keluar sekarang belangnya, pikir Bun Houw. Lenyap sudah sikap halus dan kata-kata yang sopan, yang muncul kini ucapan orang yang biasa suka memandang rendah orang lain, seperti seorang penjahat tulen. “Aku Kwa Bun Houw dan … ”

Suma Hok yang curang mempengunakan saat Bun Houw sedang bicara itu untuk meniupkan jarum dari sulingnya. Namun, Bun Houw justeru memiliki kelebihan dalam menghadapi serangan mendadak seperti itu. Walaupun cuaca di dalam guha itu tidak begitu terang, namun pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara luncuran jarum-jarun mengikuti suara tiupun pada suling itu. Jangankan hanya remang-remang, biar gelap gulita atau dia memejamkan mata sekalipun, pendengarannya akan mampu menangkap serangannya itu. Dia dilatih oleh seorang guru yang buta, dan dia-pun dibiasakan untuk berlatih dengan mata terpejam sehingga tumbuh kepekaan dan ketajaman luar biara pada bagian indra yang lain. Dengan mudah, Bun Houw meloncat ke kiri dan jarum-jarum itu lewat, tak sebatang pun mengenai tubuhnya, bahkan kini tongkat butut di tangannya menyambar cepat menotok ke arah tiga jalan darah di dada dan kedua pundak Suma Hok. Gerakan ini amat cepatnya sehingga nyaris pundak kiri Suma Hok tertotok walaupun pemuda ini sudah berusaha untuk menangkis. Terpaksa dia melempar tubuhnya ke belakang, lalu membalas dengan serangan sulingnya yang ujungnya beracun, Bun Houw dapat mengelak dan memutar tongkatnya. Terjadilah pertandingan yang dahsyat antara suling dan tongkat butut. Akan tetapi lewat belasan jurus saja Suma Hok terdesak hebat. Gerakan tongkat lawan itu terlampau cepat baginya, Apalagi dalam keadaan remang-remang begitu Suma Hok merasa tidak leluasa memainkan sulingnya. Dia semakin kaget dan penasaran, akan tetapi diapun tahu bahwa kalau dilanjutkan, dia yang akan rugi. Setelah berhasil menghalau sambaran tongkat ke arah kepalanya dengan tangkisan suling yang kembali membuat seluruh lengannya sampai ke pundak tergetar hebat, Suma Hok meloncat keluar dari dalam guha.

“Keluarlah dan kita bertanding di luar,” teriaknya.

Akan tetapi Kwa Bun Houw tidak memperdulikannya lagi. Cepat dia meloncat ke dalam guha di mana Hui Hong masih rebah terlentang dengan kaki tangan terbelenggu dan setengah telanjang! Dengan memalingkan mukanya, Bun Houw menggerakkan tangannya ke arah belenggu-belenggu dari tali kulit yang mengikat kaki tangan gadis itu. Putuslah semua tali itu dan Bun Houw menanggalkan jubahnya, menjatuhkannya di lantai, kemudian sekali meloncat diapun sudah keluar dari dalam gua, tanpa menengok sedikitpun ke arah gadis itu!

Hui Hong dapat melihat semua ini dan kedua matanya menjadi basah. Di dalam hatinya ia berterima kasih sekali kepada pemuda itu. Bun Houw bukan saja telah menyelamatkannya dari ancaman bahaya maut dan penghinaan, akan tetapi yang membuat ia merasa terharu sekali adalah sikap Bun Houw ketika membebaskannya dari belenggu tadi. Pemuda itu membuang muka, sedikitpun tidak pernah melirik, apalagi melihat kepadanya. Kalau hal itu dilakukan Bun Houw, betapa akan malunya dan agaknya selamanya ia tidak akan kuasa untuk dapat menentang pandang mata Bun Houw lagi. Kini ia cepat mengenakan kembali pakaiannya! Untung bahwa renggutan tangan Suma Hok tadi hanya membuat kancing-kancing bajunya tanggal saja, dan sedikit yang robek sehingga pakaian itu masih dapat menutupi tubuhnya, dan setelah ia menutupinya dengan jubah yang ditinggalkan Bun Houw, maka keadaannya menjadi sopan lagi.

Ia menyambar sepasang pedangnya yang tadi dibawa pula ke dalam guha itu oleh Suma Hok, dan dengan hati dipenuhi amarah ia meloncat keluar dari dalam guha. Akan tetapi, yang didapatkannya dua orang yang berkelahi di luar guha, yang tadi sudah didengarnya, bukanlah Bun Houw melawan Suma Hok, melainkan Bun Houw melawan seorang pemuda tinggi besar dan gagah yang menggunakan pedang dengan gerakan yang cepat bukan main. Hui Hong terkejut sekali karena hal ini sama sekali tidak pernah diduganya. Apalagi ketika ia mengenal pemuda tinggi besar itu yang bukan lain adalah kakaknya sendiri, yaitu Ouwyang, Toan!”

(Bersambung jilid 07)

Jilid 07

OUWYANG TOAN adalah putera Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, anak tunggal yang lahir dari isterinya yang pertama, yang telah lama meninggal dunia. Karena itu, bagi Hui Hong. Ouwyang Toan adalah seorang kakak tiri, seayah berlainan ibu. Akan tetapi, pemuda berusia duapuluh lima tahun itu tahu benar bahwa sesungguhnya, gadis bernama Ouwyang Hui Hong itu sama sekali bukan adik tirinya karena Hui Hong adalah anak ibu tirinya bersama pria lain. Hanya ayahnya dan Ouwyang Toan yang tahu selain ibu tirinya tentu saja, bahwa ketika ibu tirinya menjadi isteri ayahnya. Ibu tirinya telah mengandung.

Ouwyang Toan disuruh ayahnya menyusul Hui Hong yang diberi tugas mencari Pek I Mo-ko dan merampas kembali Akar Bunga Gurun Pasir setelah terdengar berita bahwa benda mustika itu kini dijadikan rebutan. Ouwyang Toan juga mendengar bahwa Pek I Mo-ko dan rombongannya pergi ke Bukit Merpati Hitam, maka diapun bengegas menuju ke puncak bukit itu. diapun melihat pertempuran hebat antara belasan orang jagoan istana Kerajaan Wei melawan para Jagoan Istana Kerajaan Liu-sung. Akan tetapi dia tidak melihat Pek I Mo-ko, juga tidak melihat adiknya. Maka, dia meninggalkan tempat pertempuran itu dan mencari-cari di sekitar puncak. Tiba-tiba dia melihat seorang pemuda tampan sedang lari. Dihadangnya pemuda itu ketika mereka berhadapan, keduanya terkejut karena mereka saling mengenal.

“Hemm, kiranya Suma Hok! Agaknya engkau juga ingin ikut memperebutkan akar bunga milik ayah itu!” Ouwyang Toan bertanya dengan suara menegur dan mengejek.

“Ouwyang Toan, jangan sembarangan menuduh! Untuk apa akar itu bagiku? Aku sudah cukup kuat, tidak membutuhkan obat kuat! Kebetulan aku bertemu denganmu di sini. Baru saja aku melihat adikmu!”

“Hui Hong? Di mana ia?”

Suma Hok tersenyum mengejek. “Huh. sekarang membutuhkan bantuanku, bukan? Bah. cepat-cepatlah! Atau engkau akan terlambat. Adikmu terjatuh ke tangan seorang jai-hwa-cat yang akan memperkosanya di sebuah guha itu di sana, guha paling kiri yang di atasnya terdapat batu berhentuk tengkorak besar!” Setelah berkata demikian, Suma Hok lalu melanjutkan larinya meninggalkan tempat itu.

Tentu saja Ouwyang Toan terkejut bukan-main. Namun dia masih regu ragu. Dia mengenal siapa Suma Hok, seorang yang cabul dan licik, walaupun kepandaiannya tinggi. Akan tetapi, betapapun juga, keterangan itu membuat hatinya terbakar. Bagaimana kalau benar adiknya akan diperkosa orang? Diapun cepat lari menuju ke guha yang ditunjukkan Suma Hok itu dan pada saat dia tiba di depan guha itu, Bun Houw meloncat keluar dari dalam guha. Melihat pemuda yang tidak dikenalnya ini, yang tidak mengenakan jubah luar dalam udara dingin itu, hal yang tidak wajar karena setiap orang tentu mengenakan jubah luar, diapun yakin bahwa tentu ini si jai-hwa-cat (penjahat cabul) yang dimaksudkan Suma Hok.

“Di mana Hui Hong?” Diapun bertanya dengan hati yang panas.

Bun Houw tidak tahu siapa orang ini. Tentu saja timbul kecurigaannya ketika orang itu menyebut nama Hui Hong begitu saja. Yang Jelas, pemuda tinggi besar ini bukanlah pemuda yang tadi hendak memperkosa Hui Hong, karena yang tadi menggunakan senjata suling dan tubuhnya tidak setinggi yang ini. Mungkin pemuda pemerkosa tadi lari dan kini muncul temannya yang lebih lihai.

“Ia di dalam.” jawabnya singkat pula.

Mendengar jawaban ini, Ouwyang Toan tidak ragu lagi. Tentu ini jai-hwa-cat itu! Akan tetapi dia harus melihat dulu keadaan adiknya di dalam guna, maka tanpa banyak cakap legi, diapun melengketi hendak memasuki guha. Akan tetapi melihat ini, Bun Houw juga melangkah menghadangnya.

“Tidak boleh masuki,” katanya singkat.

Marahlah Ouwyang Toan. Tidak perlu diragukan lagi, tentu ini jahanam itu, pikirnya. Tangan kanannya bergerak dan nampak sinar berkelebat dibarengi bunyi berdesing ketika dia sudah mencabut pedangnya dari pinggang dan langsung saja ujung pedang itu meluncur ke arah dada Bun Houw! Bun Houw kagum bukan main cepatnya gerakan orang ini dan diapun semakin yakin bahwa tentu pemuda ini merupakan teman si pemerkosa tadi. Diapun tidak berani main-main. Dia mengerahkan tenaganya pada tongkatnya dan menangkis.

“Trangggg …!” Keduanya undur selangkah dan saling pandang. Ouwyang Toan terkejut dan tahulah dia mengapa Suma Hok tadi tidak mau mencampuri. Kiranya jai-hwa-cat ini lihai dan tongkatnya itu pasti menyembunyikan logam keras, sedangkan tenaga orang ini juga kuat sekali. Maka dia memutar pedangnya dan cepat menyerang bertubi-tubi. Ouwyang Toan adalah putera tunggal Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, datuk besar ahli pedang, dan pemuda tinggi besar itu sudah mewarisi ilmu pedang ayahnya, maka permainan pedangnya hebat dan cepat bukan main, menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.

Namun Bun Houw menghadapinya dengan tenang. Dia sendiri adalah seorang ahli pedang, bahkan permainan pedangnya merupakan Ilmu pedang kilat yang amat cepat. Pedang yang tersembunyi di dalam tongkatnya pun adalah pedang yang disebut Lui-kong-kiam (Pedang Kilat), maka ketika dia balas menyerang, Ouwyang Toan terdesak mundur dan pemuda tinggi besar itu terkejut bukan main. Ayahnya dikenal sebagai Pedang Tanpa Bayangan, membuktikan betapa ilmu pedang ayahnya memiliki gerakan yang amat cepat seolah-olah tidak nampak bayangannya. Namun lawannya ini memiliki gerakan tongkat yang tidak kalah cepatnya sehingga tadi, selama belasan jurus saja ujung tongkat hampir berhasil menotok dadanya! Dia memutar pedangnya dan pertandingan itu berlangsung semakin seru.

Tiba-tiba terdengar seruan suara wanita, “Toan-ko …! Hong-ko! Tahan senjata, jangan berkelahi!”

Mendengar suara Hui Hong, Ouwyang Toan dan Bun Houw menghentikan gerakan senjata mereka dan keduanya melompat ke belakang, terbelalak memandang heran mengapa Hui Hong menyuruh mereka berhenti.

Melihat dua orang pemuda itu masih marah dan setiap saat dapat saling serang lagi, tahulah Hui Hong bahwa tentu telah timbul kesalahpahaman antara mereka, maka iapun menghampiri kakaknya dan cepat memperkenalkan.

“Houw-ko, ini adalah kakakku, Ouwyang Toan. Dan Toan-ko, dia adalah Kwa Bun Houw seorang sahabat yang tadi baru saja menyelamatkan aku dari bencana dan maut!”

Kedua orang muda itu terkejut bukan main mendengar ucapan Hui Hong itu, apalagi Ouwyang Toan! Dia adalah seorang pemuda yang memiliki watak angkuh, keras dan merasa diri tidak pernah salah. Dan baru saja dia hampir membunuh seorang yang bukan saja tidak mengganggu adiknya, bahkan menjadi penyelamat adiknya. Dia memandang adiknya, matanya yang tajam melihat betapa pakaian adiknya tidak beres, dan adiknya mengenakan jubah pria, sedangkan pemuda yang baru saja diserangnya itupun tidak mengenakan jubah. Alisnya berkerut dan pandang matanya kembali dibayangi keraguan dan kecurigaan.

“Adik Hong, apa artinya semua ini? Kalan ia menolongmu, kenapa ia lari keluar guha dan kenapa pula engkau memakai jubahnya?” Dia yakin bahwa jubah yang dipakai adiknya itu tentu milik pria ini.

Hui Hong tentu saja mengenal watak kakaknya. Kakaknya ini teramat sayang kepadanya, bahkan memanjakannya, dan kakaknya ini keras hati dan juga cerdik dan angkuh. Hui Hong tersenyum, menoleh kepada Bun Houw dan berkata sambil tersenyum. “Houw-koko, kaulihat. Kakakku ini cerdik sekali, bukan? Dia tahu saja bahwa jubah ini milikmu!” Ketika Hui Hong memandang kakaknya dan melihat Ouwyang Toan mengerutkan alis dan memandangnya dengan keras, senyumnya melebar.

“Tenanglah, toako, dan jangan berpikir yang bukan-bukan. Di tempat ini aku sudah beruntung dapat berhadapan dengan Pek I Mo-ko untuk merampas akar yang kuyakin tentu telah berada padanya. Kami bertanding mati-matian dan tadinya aku yakin sudah mulai dapat mendesaknya. Tiba-tiba muncul si keparat jahanam curang busuk itu! Dia membantu Pek I Mo-ko!”

“Siapa dia?” Ouwyang Toan berseru, suaranya mengandung penuh ancaman.

Hmm, aku akan menjaga jangan sampai bermusuhan dengan kakak beradik ini, pikir Bun Houw. Mengerikan! Mereka itu kelihatan begitu galak dan sadis!

“Siapalagi? Tentu saja Si Suling Beracun Suma Hok itu.”

“Keparat dia!”

“Ketika kami berkelahi, Pek I Moko melarikan diri. Si jahanam Suma Hok tetap menyerangku dan akupun tidak akan kalah kalau saja dia tidak bertindak curang, mengebutkan kain yang mengandung debu pembius sehingga aku ditawannya. Ia membawaku ke guha ini dan nyaris aku bunuh diri menggigit putus lidahku sendiri dari pada diperkosa, ketika tiba-tiba muncul Houw-koko ini yang segera menyerangnya. Mereka bertanding dan Suma Hok yang licik dan curang pengecut itu melarikan diri. Houw-koko melepaskan ikatan kaki tanganku dan meninggalkan jubahnya untukku, lalu mengejar keluar. Ketika aku mengejarnya, ternyata dia malah berkelahi denganmu dan … untung aku … “

“Jahanam suma Hok!” Ouwyang Toan memotong keterangan adiknya dan diapun sudah meloncat pergi dan lari cepat meninggalkan tempat itu. Bun Houw memandang dengan bengong.

“Agaknya kakakmu akan mengejar dan mencari Suma Hok,” katanya.

Hui Hong tertawa kecil. “Kakakku Ouw-yang Toan memang keras hati dan galak sekali. Mana mungkin dia dapat menangkap Suma Hok yang begitu licik? Tentu jahanam itu sudah lari jauh. Lebih baik mari kita kejar Pek I Mo-ko. Engkau mau membantuku, bukan? Aku harus merampas kembali akar itu dari tangannya.”

“Tapi kakakmu …? Apakah tidak lebih baik kita menunggu dia dulu? Atau membantunya menghadapi Suma Hok?”

“Tidak, koko.”

Entah mengapa, hati Bun Houw berdebar girang mendengar sebutan koko (kakak atau kakanda) yang memasuki telinganya dengan merdu dan mesra itu.

“Kalau dia kembali, pasti dia melarang kita melakukan perjalanan bersama. Dia lebih galak dan keras dari pada ayah sendiri. Dan aku juga tidak mau terlambat. Kalau sampai akar itu didahului Suma Hok yang mendapatkannya celakalah aku!”

“Ehh? Kenapa begitu?” Bun Houw bertanya heran.

Hui Hong membanting kakinya tak sabar. “Aih, kalau kita banyak mengobrol saja, berarti membuang waktu dan kalau tidak kakakku keburu datang lagi, juga tentu aku kedahuluan Suma Hok! Marilah, Houw-koko, apakah engkau tidak suka lagi membantu aku?” Hui Hong cemberut, yang dalam pandangan Bun Houw menjadi semakin manis saja. “Kalau tidak mau, katakan saja terus terang dan aku akan pergi sendiri mengejar Pek I Mo-ko. Kalau engkau mau menunggu kakakku di sini, silakan!” Dan Hui Hong meloncat pergi, benar cepat sekali meninggalkan tempat itu.

“Nona Ouwyang Hui Hong …!” Bun Houw memanggil sambil cepat mengejar. Akan tetapi gadis itu bahkan mempercepat larinya sehingga Bun Houw juga harus mengerahkan tenaga untuk berlari lebih cepat.

“Nona Ouwyang, tunggu aku …!” Teriaknya dan teriakan ini dia ulangi sampai lima kali, akan tetapi Hui Hong berlari terus, dan panggilan yang terakhir dijawabnya tanpa menoleh.

“Tuan Kwa Bun Houw, tak usah engkau mengejarku!”

Jawaban ini membuat Bun Houw mengangkat kedua alisnya ke atas karena matanya dilebarkan saking herannya. Mengapa gadis itu tiba-tiba saja menyebut dia tuan? Padahal tadi telah menyebutnya koko dengan demikian mesranya! Dan diapun teringat. Dasar tolol kau! Dia mengeluarkan kepandaiannya dan bagaikan terbang dia mengejar, sekali ini dia berseru dengan mengerahkan khi-kang sehingga suaranya terdengar nyaring melengking.

“Hoog-moi …! Adinda Hui Hong… kau tunggulah aku …!”

Dan benar saja. Gadis itu tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuh, wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum manis sekali. Bun Houw tiba di depannya. Mereka berdiri berhadapan, saling pandang dan keduanya berkeringat, keduanya agak terengah-engah karena tadi mereka telah mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari cepat dan tahu-tahu kini mereka telah tiba di bawah bukit!”

“Hong-moi, kenapa kaupanggil aku tuan!”

‘Hemm, cobalah bercermin! Kau sendiri memanggil aku nona!”

Bun Houw tertawa. Hui Hong juga tertawa.

“Houw-koko, aku belum mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu di guha tadi. Nah sekarang terimalah ucapan terima kasihku.”

Gadis aneh! Berterima kasih sesudah kejar-kejaran dan marah-marahan.

“Sudahlah, Hong-moi. Di antara kita, mana ada yang disebut tolong-tolongan segala? Kita sudah menjadi sahabat baik, sudah seharusnya kita saling bantu, bukan!”

“Benarkah? Engkau selamanya mau membantuku? Selamanya sampai aku … sampai rambut kepalaku ini menjadi putih semua?”

Wah, makin aneh saja gadis ini. Saling bantu antara sahabat memang sudah sewajarnya. Akan tetapi mana menuntut saling bantu sampai mereka menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek? Akan tetapi tiba-tiba wajah pemuda itu berseri dan kulit mukanya menjadi kemerahan. Dia mengangguk serius.

“Tentu! Akan kubantu engkau sampai selama hidupku.”

Agaknya jawaban ini memuaskan hati Hui Hong. “Mari kita lanjutkan perjalanan mencari Pek I Mo-ko dan nanti kuceritakan mengapa aku tidak ingin akar itu didapatkan lebih dulu oleh Suma Hok.” Setelah berkata demikian, tanpa sungkan tanpa ragu, seperti mereka masih kanak-kanak saja, Hui Hong menggunakan tangan kanan memegang tangan kiri Bun Houw dan menggandengnya sambil melangkah melanjutkan perjalanan.

Tangan kiri Bun Houw merasakan kulit tangan gadis itu yang halus dan hangat, dan jantungnya berdebar tidak karuan. Saking tegangnya dan karena tidak ingin disangka yang bukan-bukan, maka dia tidak berani menggerakkan jari tangan kirinya yang digandeng itu. bahkan bukan hanya jari tangan, seluruh lengan, kirinya dia biarkan tengantung dan terkulai mati!”

Tiba-tiba Hui Hong menahan langkahnya, melepaskan tangannya yang memegang tangan Bun Houw, mengangkat muka memandangnya dengan alis berkerut.

“Ihhhh …!”

“Ehh? Kenapa?” Bun Houw kaget melihat sikap gadis itu seolah tangannya dipagut ular.

“Tanganmu itu … seperti tangan mayat saja! Engkau kenapa sih, Houw-ko? Apakah engkau sakit? Tanganmu dingin dan gemetar dan seperti tidak hidup lagi!”

Tentu saja Bun Houw menjadi gugup karena pertanyaan itu seperti serangan yang langsung mengenai jantungnya. “Tidak … eh, aku … hanya … hanya … ” Dia menggagap.

“Hanya apa? Engkau begini gugup!”

Bun Houw memang berwatak jujur, walaupun tidak dapat dikata bodoh. Dia merasa sukar kalau harus berbohong, maka dalam keadaan terhimpit itu, dia mengaku terus terang. “Ketika tanganmu menggandeng tanganku, aku … ah, entahlah Hong-moi. Aku merasa takut akan kausangka yang bukan-bukan kalau aku menggerakkan tanganku.”

“Apa itu yang bukan-bukan?”

“Misalnya engkau menganggap aku tidak sopan dan kurang ajar … “

“Ihhh, engkau ini aneh sekali. Belum pernah aku bertemu laki-laki seaneh engkau.”

“Dan engkau lebih aneh lagi, Hong-moi, biarpun aku belum pernah bergaul dengan banyak wanita seperti kita sekarang ini.”

“Hemmm, bohongnya! Dan engkau bahkan sudah pernah bertunangan!”

Bun Houw mengerutkan alirnya. “Hong-moi, harap jangan sebut-sebut lagi hal itu Sudah kuceritakan bahwa Cia Ling Ay menjadi sahabatku sejak kami masih kanak-kanak. Ia seperti adik saja bagiku. Kemudian bubungan perjodohan yang diikat oleh orang tua kami itu dibikin putus setelah orang tuaku meninggal dunia, dan ia dinikahkan dengan orang lain. Tidak ada apa-apalagi antara kami, tidak ada apa-apalagi … ” Bun Houw merasa sedih sekali.

Bukan sedih karena putusnya hubungan jodoh itu, melainkan sedih teringat dan membayangkan nasib Ling Ay yang demikian buruk, dijodohkan dengan seorang suami seperti putera pembesar pemberontak itu. Bahkan tidak hanya sampai sekian nasib buruk yang menimpa diri bekas tunangannya yang juga merupakan sahabatnya terbaik di waktu mereka masih remaja itu. Ketika ia gagal memperoleh jejak Hui Hong, dia merasa tidak enak karena dia telah meninggalkan keluarga Cia Kun Ti dengan janji bahwa dia akan mengantar dan mengawal mereka untuk pindah ke tempat aman di dusun. Maka, sebelum melanjutkan pencariannya terhadap Hiu Hong, dia kembali dulu ke Nan-ping untuk memberitaku kepada keluarga Cia agar mereka itu berangkat lebih dulu dan dia akan melanjutkan pencariannya. Akan tetapi, ketika tiba di rumah keluarga Cia, dia terkejut setengah mari mendengar bahwa Cia Kun Ti dan isterinya tewas terbunuh, sedangkan Ling Ay sendiri lenyap diculik penjahat!

Dengan marah dan khawatir akan keselamatan Ling Ay, Bun Houw lalu berusaha mencari jejak penculik Ling Ay. Dia lalu menyelidiki dan menemukan jejaknya, terus melakukan pengejaran. Akhirnya dia tiba di kuil kosong di mana Ling Ay hampir diperkosa penculiknya. Akan tetapi, ketika Bun Houw tiba di situ, dia tidak menemukan Ling Ay dan penculiknya hanya menemukan sebuah tusuk sanggul perak di lantai. Dipungutnya tusuk sanggul itu. Dia tidak tahu apakah itu tusuk sanggul milik Ling Ay, akan tetapi dia menyimpannya dalam saku bajunya.

Bun Houw melakukan penyelidikan terus dan akhirnya dia mendapat keterangan dari penduduk dusun bahwa ada wanita muda yang menurut keterangan itu tentu Ling Ay adanya, melakukan perjalanan bersama seorang wanita lain yang cantik sekali. Mendengar bahwa Ling Ay nampak akrab dengan wanita itu, hatinya merasa lega. Ayah ibu Ling Ay telah tewas, akan tetapi Ling Ay masih dalam keadaan selamat. Dia lebih mengkhawatirkan Hui Hong yang mengejar Pek I Mo-ko, penjahat yang lihai itu. Maka diapun melanjutkan usahanya mencari jejak Hui Hong. Ketika dia mendapat jejak itu menuju ke utara, diapun cepat melakukan perjalanan ke utara. Kebetulan sekali dia melihat rombongan Pek I Mo-ko dan membayanginya. Demikianiah, ketika percakapannya dengan Hui Hong menyangkut nama Ling Ay, dia teringat lagi kepada bekas tunangannya itu merasa bersedih mengingat akan nasibnya yang amat buruk.

“Tapi engkau kelihatan seperti orang berduka. Houw-ko. Ada apakah?”

Bun Houw teringat babwa gadis ini pernah menggodanya dan mengatakan bahwa dia masih mencinta Ling Ay. Oleh karena itu, diapun tidak berani berterus terang.

“Aku tidak berduka, Hong-moi, hanya kecewa karena bukan saja engkau tidak berhasil merampas kembali mustika itu dari tangan Pek I Mo-ko, bahkan engkau nyaris celaka di tangan Suma Hok yang jahat itu.”

Ucapan itu seperti menggugah Hui Hong dari tidurnya. Ia menyambar tangan Bun Houw dan menariknya, diajak lari cepat. “Celaka aku sampai lupa. Mari kita kejar Pek I Mo-ko sebelum jahanam itu lari jauh!”

Bun Houw mengikuti saja, bahkan dia menunjukkan ke arah mana larinya Suma Hok yang tadi dikejar pula oleh Ouwyang Toan. Hui Hong mengejar ke sana, karena ia tahu bahwa Suma Hok bekerja nama dengan Pek I Mo-ko, maka mencari Suma Hok tentu akan dapat bertemu pula dengan Pek I Mo-ko.

Dugaan Hui Hong memang benar. Ketika tadi Pek I Mo-ko melihat betapa Suma Hok telah bertanding melawan Hui Hong, dia lalu mempengunakan akal dan berhasil melarikan diri, membiarkan Suma Hok yang melewan gadis itu. Dia sendiri cepat lari ke arah di mana dia dan rombongannya meninggalkan kuda, dengan maksud untuk melepas panah api memberi isarat kepada kawan-kawannya dan melarikan diri dari tempat berbahaya itu.

Akan tetapi baru saja dia tiba di situ, dari balik semak belukar dan pohon-pohon, berlompatan keluar banyak orang dan Pek I Moko terbelalak memandang kepada mereka. Kiranya mereka adalah tujuh orang tokoh dunia persilatan yang rata-rata memiliki Ilmu kepandaian silat yang sudah tinggi tingkatnya! Biarpun dia tidak takut melawan mereka karena bagaimanapun juga, tingkat kepandaianaya masih lebih tinggi dari mereka, namun munculnya orang-orang ini jelas hendak memperebutkan Akar Bunga Gurun Pasir yang kini berada di saku jubahnya sebelah dalam. Ini berarti bahwa perjalanannya menyerahkan mustika itu kepada Kaisar Wei Ta Oag tidak akan lancar dan selalu akan terancam bahaya. Apalagi kalau muncul empat orang yang amat ditakutinya, yaitu Empat Datuk Besar! Di antara mereka adalah bekas majikan dan gurunya sendiri, pemilik aseli dari mustika yang dicurinya, yaitu Bu-eng-kiam Ouwyang Sek Si Pedang Tanpa Bayangan! Puteri datuk itu, Ouwyang Hui Hong telah muncul mengejar-ngejarnya. Juga putera dari datuk besar ke dua yang ditakuti telah muncul, yaitu Suma Hok. Untung bahwa ayah pemuda itu, datuk besar Kui-siauw Giam-ong Suma Koan (Raja Maut Suling Setan) tidak ikut muncul! Masih ada dua orang datuk besar lagi yang amat ditakutinya, keduanya wanita namun kelihaian mereka tidak kalah dibandingkan dua orang datuk besar yang pria itu. Kalau dia bertemu dengan seorang saja dari mereka, berarti celaka baginya dan akan sukarlah baginya mempertahankan mustika yang sudah berada di saku jubahnya, dan berarti lenyap pula harapannya untuk mendapatkan kedudukan tinggi dan kemuliaan di Kerajaan Wei di utara.

Dengan lagak angkuh dia menghadapi tujuh orang itu, mengangkat dada lalu bertanya dengan suara menantang, “Kalian menghadang perjalananku mempunyai maksud apakah? Aku Pek I Mo-ko tidak mempunyai banyak waktu untuk berurusan dengan kalian. Oleh karena itu, mengingat akan hubungan kita sebagai tokoh-tokoh kang-ouw, harap kalian mundur dan biarlah lain kali kalau ada waktu, aku Pek I Mo-ko Ciong Kui Le akan berkunjung kepada kalian sambil membawa oleh-oleh!”

“Ha-ha-ha, Moko. Tidak perlu lagi berpnra-pura bodoh dan bersih!” kata seorang pria hitam penuh beewok berusia limapuluhan tahun. Dia adalah Yang-ce Hek-kwi (Iblis Hitam Sungai Yang-ce), seorang kepala bajak sungai yang amat ditakuti karena selain berkepandaian tinggi, dia juga mempunyai banyak-anak buah dan wataknya kejam sekali.

“Kami-semua sudah tahu bahwa engkau telah mencuri mustika Akar Bunga Gurun Pasir. Nah, mengingat bahwa kita adalah orang-orang kang-ouw yang setia kawan, maka kaukeluarkan mustika itu, kita bagi rata agar masing-masing dari kita dapat memperoleh manfaat dari mustika itu. Kami pasti tidak akan melupakan kebaikanmu ini!”

Enam orang yang lain mengangguk-angguk menyatakan setuju dengan usul atau tuntutan Iblis Hitam itu. Akan tetapi Pek I Mo-ko mengerutkan alisnya.

“Kalian semua adalah orang-orang tolol yang rakus. Aku tidak mempunyai akar itu!” Tujuh orang itu saling pandang, akan tetapi seorang dari mereka yang tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat tertawa. Suara ketawanya seperti ringkik kuda dan mengandung getaran khi-kang kuat. “Hi-hi-hihhh e Kalau benar engkau tidak membawa mustika itu, biarkan kami menggeledah pakaianmu Moko. Baru kami percaya!”

“Pek-bio-go (Buaya Muka Putih), berani engkau menghinaku? Kalau engkau sekarang sudah begitu lihai, hendak kuilhat apakah engkau berani menggeledah tubuhku. Lakukanlah kalau engkau bosan hidup!” bentak Pek I Mo-ko marah.

“Hi-hi-hiehhh, Ingat, kami bertujuh, Moko. Bukan aku sendiri yang membutuhkan mustika itu. Kami hanya minta bagian yang adil darimu. Kalau engkau berkeras, terpaksa kami bertujuh akan menggeledahmu. Kami sudah bersepakat untuk merampas mustika itu. dan kami bagi menjadi tujuh!”

Kini marahlah Pek I Mo-ko. Kedua tangannya bergerak dan tangan kanannya sudah memegang pedang, tangan kirinya memegang kipas mautnya. “Bagus, kalian semua sudah bosan hidup!” bentaknya dan diapun indah menerjang ke depan dengan marah. Tujuh orang itu maklum akan kelihaiannya, maka mereka pun berloncatan ke belakang sambil mencabut senjata masing-masing dan mengeroyok Pek I Moko.

Tujuh orang kang-ouw ini memang sudah bersepakat untuk bekerja sama. Mereka maklum bahwa yang memperebutkan mustika itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi, tokoh-tokoh besar itu biasanya bertindak sendiri-sendiri, bahkan saling bertentangan. Maka, kalau mereka bertujuh dapat bersatu dengan janji kelak hasilnya akan dibagi rata, yaitu akar itu akan mereka bagi rata, tentu mereka tidak takut menghadapi lawan yang lebih lihai.

Pertempuran antara Pek I Mo-ko yang dikeroyok tujuh orang itu berlangsung seru dan mati-matian. Melihat betapa Pek I Mo-ko tidak mau digeledah, tujuh orang kang-ouw itu makin bersemangat. Mereka yakin bahwa benda mustika yang diperebutkan tentu ada pada diri kakek rambut putih dan pakaian pulih itu, maka mereka mengepung dan mendesak dengan ganas, Pek I Mo-ko yang marah juga mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, namun, karena dikeroyok oleh tujuh orang yang tingkat kepandaian masing-masing hanya sedikit di bawah tingkatnya, dan karena tnjuh orang itu menyerang penuh semangat, setelah lewat empatpuluh jurus, Pek I Mo-ko terdesak sekali.

Bahkan tiga kali bajunya robek terkena senjata pengeroyok. Robekan yang ke tiga tepat mengenai saku jubah di sebelah kanan di mana tersimpan benda mustika itu. Dia terkejut dan merasa tidak perlu menyembunyikan lagi. Karena khawatir Akar Bunga Gurun Pasir itu akan terjatuh dari saku bajunya, dia mengeluarkannya dan menggigit kantung sutera kuning terisi mustika itu sambil terus mengamuk dengan pedang dan sulingnya. Sementara itu, tujuh orang kang-ouw yang mengeroyok, begitu melihat Pek I Mo-ko mengeluarkan sebuah kantong sutera dan menggigitnya, semangat mereka bertambah besar. Kini mereka yakin bahwa kantung itu terisi akar yang mereka perebutkan!”

Pada saat itu, sepasang mata mengintai dari balik semak belukar yang tebal dan penuh duri. Sudah sejak tadi orang ini mengintai. Dia seorang laki-laki berusia tigapuluk tahun lebih, bertubuh kekar dan terbakar sinar matahari. Akan tetapi dia bukan seorang di antara para tokoh kang-ouw yang memperebutkan mustika. Sama sekali bukan! Dia hanya seorang pemburu binatang hutan dan biarpun dia bertenaga besar, namun tidak ada artinya, bila dibandingkan dengan para tokoh kang-ouw. Maka, ketika dia dalam tempat pengintaiannya menyaksikan perkelahian antara para tokoh kang-ouw, dia memandang ketakutan.

Orang ini bernama So Kian, pemburu yang tinggal di dusun tak jauh dari puncak Bukit Merpati Hitam bersama isterinya. Dia dan isterinya hidup sederhana dari penghasilannya sebagai pemburu dan juga bertani di kebun belakang rumah mereka.

Ketika pada pagi hari itu So Kian sedang mengintai kijang atau binatang apa saja yang dapat dijadikan uang untuk biaya hidupnya, dia melihat rombongan tujuh orang kang-ouw itu. Dia menjadi curiga, juga takut, lalu bersembunyi di dalam semak belukar itu. Dan dia kini menjadi saksi pertempuran hebat yang membuat tubuhnya gemetar. Dia tahu bahwa kalau dia memperlihatkan diri, nyawanya tentu takkan dapat tertolong lagi! Maka, diapun bersembunyi dan tidak berani berkutik. Dia juga tidak tahu mengapa orang-orang yang berilmu tinggi itu bertempur mati-matian.

Kini Pek I Mo-ko terdesak dan berada dalam bahaya! Dia bahkan tidak sempat melepas panah api untuk memberitahn kepada para jagoan Kerajaan Wei yang menjadi rombongannya dan yang ia tinggalkan ketika pasukan jagoan liu bertanding melawan para jagoan dari Kaisar Cang Bu Kerajaan Liu-sung di selatan.

Pada saat yang amat berbahaya baginya itu. nampak lagi beberapa orang bermunculan. Mereka adalah orang-orang dari partai-partai persilatan yang juga bertualang untuk memperebutkan benda mustika itu. Jumlah para pendatang ini tidak kurang dari limabelas orang, terdiri dari beberapa rombongan yang agaknya tertarik oleh perkelahian itu. Akan tetapi, di samping rasa kagetnya, Pek I Mo-ko juga girang ketika melihat Suma Hok berada di antara orang-orang yang datang itu dan pemuda tampan putera datuk besar majikan Bukit Kui-eng-san (Bukit Bayangan Iblis) itu sendirian saja, Pek I Mo-ko hanya melihat satu jalan untuk menyelamatkan diri dan menyelamatkan benda mustika Akar Bunga Gurun Pasir. Kalan akar itu tidak ada lagi padanya, tentu tidak akan ada orang yang menyerangnya lagi. Dan akar itu akan aman kalau berada di tangan Suma Hok. pemuda yang dikenalnya, dan yang juga dapat diharapkan bisa bekerja sama dengannya itu. Tidak ada pilihan lain.

“Suma Kongcu, simpanlah benda ini untuk-ku!” teriaknya dan diapun melemparkan kantung sutera ke atas, ke arah Suma Hok. Pemuda yang berjuluk Tok-siauw-kui (Iblis Suling Beracun) itu cerdik sekali. Dia segera mengerti apa benda yang dilontarkan itu, maka sekali dia mengenjot tubuh, dia melayang ke atas untuk menangkap benda yang terlempar di udara itu.

“Suma Hok, engkau layak mampus!” terdengar bentakan dan sesosok tubuh lain melayang ke atas. bukan untuk menangkap kantung sutera, melainkan untuk menangkap Suma Hok. Bayangan ini bukan lain adalah Ouwyang Toan. Seperti diketahui, putera Bu-eng-kiam Ouwyang Cek ini marah sekali ketika mendengar bahwa Suma Hok nyaris memperkosa adik tirinya. Kini begilu melihat pemuda tampan itu, Ouwyang Toan yang bertubuh tinggi besar dan berwatak keras sudah meloncat dan menyerang tubuh Suma Hok yang masih melayang di udara! Melihat serangan Ouwyang Toan ini, tentu saja Suma Hok terkejut dan terpaksa dia tidak dapat menyambar kantung sutera yang dilemparkan Pek I Mo-ko tadi, melainkan menggunakan kedua tangannya untuk menangkis serangan Ouwyang Toan.

“Desssss …!” Hebat sekali pertemuan tenaga melalui dua pasang tangan putera-putera datuk besar itu sehingga keduanya terpental dan melayang ke bawah. Sedangkan kantung sutera itu melayang lenyap, tak dapat dilihat siapapun. Pek I Mo-ko tidak dapat melihatnya karena dia sedang dihimpit serangan tujuh orang lawannya. Suma Hok maupun Ouwyang Toan juga tidak melihatnya.

Begitu mereka turun ke atas tanah, Ouwyang Toan sudah menerjang lagi. Suma Hok maklum bahwa tentu Ouwyang Toan telah tahu akan perbuatannya tadi yang nyaris memperkosa Ouwyang Hui Hong, adik Ouwyang Toan. Maka diapun tidak banyak cakap, menangkis dan membalas seningga terjadilah perkelahian seru antara dua orang muda perkasa itu.

Pada saat itu, sebelum belasan orang tokoh dunia persilatan yang tadi muncul tahu siapa yang memegang Akar Bunga Gurun Pasir dan siapa yang harus mereka serang, terdengar suara gaduh dan bermunculan rombongan jagoan Kerajaan Liu-sung dan rombongan jagoan Kerajaan Wei yang tadi saling serang. Para jagoan Liu-sung akhirnya tahu bahwa Pek I Mo-ko tidak berada di antara para jagoan Wei, maka merekapan dapat menduga bahwa Pek I Mo-ko tentu telah melarikan diri membawa mustika yang diperebutkan itu. Maka, dengan sendirinya mereka meninggalkan lawan dan melakukan pengejaran. Para Jagoan Wei juga Ikut mengejar. Di antara kedua rombongan sudah ada beberapa orang yang terluka dalam pertempuran tadi.

Setelah dua rombongan itu tiba, keadaan menjadi semakin kacau. Melihat betapa dia tidak akan mampu mengalahkan Ouwyang Toan dengan mudah, suma Hok mendapat akal dan diapun berteriak.

“Cuwi (saudara sekalian) harap hentikan perkelahian!” teriaknya sambil melompat ke belakang.

Ouwyang Toan yang keras hati itu mendelik. “Suma Hok, aku harus membunuh atas perbuatanmu terhadap adikku!”

“Ouwyang Toan, urusan pribadi yang tidak ada artinya perlukah diperpanjang di sini? Semua orang ribut mencari Akar Bunga Gurun Pasir, dan engkau ribut urusan tetek-bengek!”

Mendengar ini, Ouwyang Toan seperti diingatkan akan tugasnya. Dia di suruh ayahnya menyelidiki hasil tugas adiknya, Ouwyang Hui Hong yang ditugaskan mencari Pek I Mo-ko, merampas kembali Akar Bunga Gurun Pasir dan menghukum bekas pelayan dan murid yang murtad itu! Mendengar ucapan yang mengingatkan dia akan tugasnya itu, dia lalu menghadapi Pek I Mo-ko yang juga sudah tidak dikeroyok oleh tujuh orang kang-ouw karena mereka tadi melihat betapa Pek I Mo-ko yang tadinya menggigit kantung sutera, telah melemparkan kantung sutera itu.

“Pek I Mo-ko, cepat berlutut! Engkau harus mengembalikan Akar Bunga Gurun Pasir milik ayah dan menerima hukuman buntung lengan!”

Pek I Mo-ko memandang Ouwyang Toan dengan senynm mengejek. “Ouwyang Toan, orang menuduh seseorang mencuri haruslah disertai buktinya. Kalau ada buktinya bahwa Akar Bunga Gnrun Pasir berada di tanganku, barulah tuduhan itu berisi. Kalan tidak, bukan kah itu hanya fitnah saja? Aku tidak membawa mustika itu, Kalau tidak percaya, siapa saja boleh menggeledahku!”

“Kami melihat dia melemparkan benda mustika itu ketika kami desak tadi!” Tiba-tiba Yang-ce Hek kwi berseru.

“Dia melemparkannya kepada pemuda bersuling itu!” kala orang ke dua sambil menuding ke arah Suma Hok. Dia tidak mengenal Suma Hok, yang dikiranya hanya seorang di antara mereka yang memperebutkan benda mustika itu atau juga kawan Pek I Mo-ko. Mendengar ini semua orang mamandang kepada Suma Hok dengan sinar mata penuh selidik dan juga mengancam. Banyak di antara mereka yang mengenal Tok-siauw-kui Suma Hok dan tahu akan kelihaiannya, akan tetapi karena di situ berkumpul banyak tokoh kang-ouw yang memperebutkan, maka mereka yang mengenalnya juga tidak merasa takut. Siapa yang memegang mustika itu tentu akan dikeroyok banyak orang!”

Suma Hok juga maklum akan bahaya yang mengancam dirinya. Akan tetapi dia tersenyum, dan menggeleng kepalanya. “Aku memang meloncat untuk menangkap benda yang melayang tadi, akan tetapi Ouwyang Toan muncul dan menyerangku. Aku terpaksa melayaninya dan benda tadi entah melayang ke mana?”

“Kalau begitu benda itu tentu masih berada di sekitar sini! Mari kita cari!” kata Yang-ce Hek-kwi dan tujuh orang kang-ouw yang sudah bersekutu itu lalu mulai mencari. Melihat ini, tentu saja semua orang juga tidak mau ketinggalan dan ikut pula mencari, bahkan termasuk Pek I Mo-ko, Suma Hok, dan Ouwyang Toan! Semua semak belukar dibabat bersih dan semua orang bekerja keras sambil saling memperhatikan. Agar kalau ada yang menemukan dapat saling mengetahui. Dalam keadaan seperti itu, andaikata ada yang berhasil menemukan, tentu dia akan celaka, akan diserang oleh semua orang! Hal ini mereka sama mengetahui, maka tentu saja mereka mencari dengan hati tegang dan gelisah. Bahkan tujuh orang kang-ouw yang sudah bergabung itupun menjadi gelisah karena bagaimana mungkin mereka bertujuh dapat menghadapi lawan yang demikian banyak dan lihai?

Akan tetapi, sampai habis semak belukar di sekeliling tempat itu dibabat, kantung sutera itu tidak juga dapat ditemukan! Semua orang merasa heran, juga Pek I Mo-ko memandang dengan wajah pucat. Suma Hok juga terheran-heran, demikian pula tujuh orang yang tadi mengeroyok Pek I Mo-ko. Hanya mereka sembilan orang itulah yang tahu benar akan melayangnya kantung sutera tadi.

“Kita ditipu!” teriak seorang jagoan Liu-sung. “Mustika itu tentu masih disimpan Pek I Mo-ko!”

Mendengar ucapan ini, semua orang memandang kepada Pek I Mo-ko dengan pandang mata mengancam. Bahkan para jagoan Wei sendiri juga mengerutkan alisnya memandang kepada Pek I Mo-ko. Si kembar raksasa Liauw Gu dan Liauw Bu saling pandang. Mereka telah menerima tugas rahasia dari Kaisar Wei Ta Ong, bahwa kalau Pek I Mo-ko menipu mereka dan hendak melarikan mustika itu, boleh dikeroyok dan dibunuh saja!”

“Kalau mustika itu dilemparkan lalu tidak diterima orang, mengapa tidak berada di sekitar tempat ini?” tanya Liauw Bu.

“Sungguh telah kulemparkan kepada Suma Hok …!” kata Pek I Mo-ko bingung dan gelisah!

“Dia bohong! Pek I Mo-ko bohong! Tentu mustika itu disembunyikan!” orang-orang mulai berteriak-teriak.

“Hukum dia! Bunuh dia kalau tidak mau menyerahkan mustika itu!” terdengar teriakan orang-orang lain.

Tiba-tiba terdengar suara yang dalam dan berat, mengandung getaran amat kuat. “Siapa-pun tidak berhak menghukum dan membnnuh Ciong Kui Le kecuali aku!”

Semua orang menengok ke arah orang yang bicara itu. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di situ telah muncul seorang pria yang gagah perkasa penuh wibawa. Usianya sekitar limapuluh tahun, tubuhnya tinggi besar dan kokoh kuat seperti sebongkah batu karang, mukanya hitam seperti arang, akan tetapi muka itu tidak buruk, bahkan ganteng dan gagah. Pakaiannya dari sutera halus dan nampak bersih, dan di punggungnya tengantung sebatang pedang yang sarungnya dibuat dari emas murni berukir naga yang amat indah, dan gagang pedang itu dihias ronce merah kuning.

Mereka yang mengenal pria ini nampak gemetar dan gentar karena pria ini bukan lain adalah Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, majikan Lembab Bukit Siluman, seorang di antara Empat Datuk Besar yang aneh dan ditakuti orang! Setelah melempar pandang matanya yang mencorong, menyapu semua orang yang berada di situ dengan sinar mata merendahkan, dia berkata lagi.

“Akar Bunga Gurun Pasir adalah benda mustika yang tidak boleh dimiliki orang lain! Pek I Mo-ko harus menyerahkannya kepadaku dan yang lain boleh pergi dari sini!”

Mendengar ucapan ini, tujuh orang kang-ouw yang tadi mengeroyok Pek I Mo-ko dan yang belum pernah bertemu dengan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, menjadi marah sekali. Mereka bertujuh mengandalkan diri sebagai sekelompok orang yang tangguh karena mereka bekerja sama. Dengan maju bertujuh, mereka tidak takut menghadapi siapapun juga. Dengan dipimpin Yang-ce Hek-kwi, mereka kini maju dan mengepung Ouwyang Sek, Si Iblis Hitam itu berdiri di depan Ouwyang Sek dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka datuk besar itu, “Dari mana datangnya manusia sombong ini? Akar Bunga Gurun Pasir dimiliki siapa saja yang menang dalam perebutan! Kami bertujuh yang akan membunuh Pek I Mo-ko kalau dia tidak mau menyerahkan mustika itu, dan kalau engkau ini manusia sombong hendak menghalangi, kau akan kami bunuh pula!”

Bu-eng-kiam Ouwyang Sek tersenyum, akan tetapi matanya mengeluarkan sinar berkilat.

“’Kalian bertujuh sudah bosan hidup agaknya,” katanya perlahan.

“Engkaulah yang bosan hidup dan sekarang juga akan kuantar engkau ke alam baka!” Yang-ce Hek-kwi yang sudah marah sekali dan pemberani karena mengandalkan gerombolannya, sudah menggerakkan goloknya membacok ke arah muka Bu-eng kiam Ouwyang Sek. Melihat ini, semua orang kang-ouw yang sudah mengenal datuk besar itu memandang dengan hati tegang dan mereka semua maklum bahwa tujuh orang tokoh kang-ouw tingkat pertengahan itu sungguh mencari penyakit!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: