Kisah Si Pedang Kilat – 2

“Bun Houw, engkau masih berada di Nan-ping? Ah, aku girang sekali tidak terjadi sesuatu atas dirimu … “

Bun Houw memang sengaja datang ke rumah bekas calon mertua ini. Tadi dia membayangi empat penunggang kuda dan mereka itu masuk ke dalam sebuah rumah besar yang bersambung dengan rumah kepala daerah. Dia ingin mencari keterangan, dan satu-satunya orang yang akan dapat memberi penjelasan kepadanya hanyalah Cia Kun Ti, bekas calon mertuanya ini. Dia tahu bahwa Cia Kun Ti adalah sahabat yang sangat baik dan akrab-dengan mendiang ayahnya, dan tadi, di taman kuburan, Cia Kun Ti juga memperlihatkan sikap, yang amat baik kepadanya. Sebetulnya dia meragu untuk datang berkunjung, mengingat akan sikap Nyonya Cia yang agaknya tidak suka kepadanya. Maka, giranglah hatinya bahwa dia dapat berbicara empat mata dengan Cia Kun Ti. Kini, begitu tiba tuan rumah mengkhawatirkan keadaan dirinya!

“Ada apakah, paman ? Mengapa paman menduga bahwa akan terjadi sesuatu atas diriku,” dia memancing.

Cia Kun Ti menarik napas panjang. Tadi dia mendengar dari isterinya yang menyumpah Bun Houw. Isterinya berkata bahwa kini Bun Houw dicari oleh orang-orangnya Cun Hok Seng dan akan dibunuh. Isterinya memujikan agar pemuda itu cepat dapat tertangkap dan dibunuh!

“Aku mendengar bahwa engkau dicari oleh para jagoan dari Cun-taijin, aku … aku khawatir sekali.”

Bun Houw mengangguk-angguk, girang bahwa dia mencari keterangan ke sini. “Memang benar, paman. Empat orang mencari aku, dan bahkan mengejar aku yang sudah meninggalkan kota ini. Mereka hendak membunuhku, dengan-tuduhan bahwa aku menghina keluarga Cun karena aku berani bercakap-cakap dengan Ay… ah, dengan mantu kepala daerah, yaitu-puteri paman. Aku dapat mengalahkan mereka. Aku merasa penasaran dan aku berkunjung ini untuk mendapatkan penjelasan paman, apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa pertemuan dan percakapan bersih antara aku dan puterimu. di taman kuburan itu saja membuat suaminya marah-marah dan hendak membunuhku. Siapakah mereka itu yang demikian kejam, paman ?”

Cia Kun Ti menarik napas panjang. “Ah, ya sudah untungku … sungguh kasihan nasib anakku. Ini semua kesalahan isteriku, bibimu yang tamak dan gila hormat itu! Sejak dulu aku sudah mendengar hal-hal yang tidak baik tentang keluarga kepala daerah. Akan tetapi bibimu memaksaku sehingga kami menerima pinangannya. Dan sekarang … “

“Paman, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Semua telah menimbulkan kecurigaanku, juga kecurigaan mendiang ayahmu. Sejak Cun-taijin menjadi kepala daerah di Nan-ping, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, nampak gejala gejala tidak benar. Cun taijin mempengunakan orang-orang kang-ouw yang menurut penilaian ayahmu adalah penjahat-penjahat besar.”

“Benarkah itu, paman ? Apakah paman maksudkan bahwa kepala daerah itu mempengunakan penjahat-penjahat untuk melakukan, kejahatan?”

Yang ditanya menggeleng kepala. “Sama sekali tidak. Bahkan semenjak dia menjadi kepala daerah di sini, kota Nan-ping menjadi tenteram, tidak pernah terjadi kejahatan di kota ini. Tidak ada penjahat yang berani melakukan kejahatan, karena para tokoh sesat yang mereka takuti berada di sini menjadi kaki tangan kepala daerah!”

Bun Houw merata heran bukan main. Bagaimana mungkin seorang kepala daerah, seorang pejabat pemerintah mempengunakan tokoh-tokoh sesat untuk menjadi kaki tangannya ?

“Lalu, untuk apa dia memelihara para tokoh sesat itu, paman ?”

Cia Kun Ti mengangkat pundak. “Hal itu tidak ada yang tahu. Akan tetapi sejak dia menjadi kepala daerah, terjadi banyak hal aneh, seperti kematian ayahmu … “

“Maksud paman …?”

“Aku tidak menduga yang bukan-bukan. Ayahmu memang seorang pendekar penentang kejahatan, karena itu lima orang berkedok yang kauceritakan telah membunuh ayahmu itu tentu saja para penjahat yang membalas dendam. Akan tetapi, banyak terjadi pembunuhan yang penuh rahasia. Banyak tokoh dan pejabat tewas tanpa diketahui siapa yang membunuhnya. Dan selain itu, sebagai seorang pedagang aku tahu bahwa kami para pedagang diperas oleh kepala daerah, dengan pungutan pajak-pajak tambahan yang tidak wajar. Dan tidak ada orang berani membantahnya. Bayangkan saja, sekarang Ling Ay menjadi anggauta keluarga Cun yang penuh rahasia itu! Dan ternyata sikap Cun Hok Seng juga aneh dan keterlaluan. Masa karena isterinya yang menjadi sahabat baikmu, kebetulan bertemu denganmu di taman kuburan lalu bicara di depan umum, bicara sopan, membuat dia marah seperti gila dan hendak membunuhmu? Aih, sungguh penuh rahasia … dan aku, nasib yang buruk ini, makin tua aku semakin menderita, dan aku kasihan kepada puteriku … “

Bun Houw mengangguk-angguk. “Memang kedengarannya aneh, paman. Empat orang itu hendak membunuhku, dan ketika mereka melarikan diri, mereka menuju ke rumah kepala daerah. Ada sebuah bangunan besar yang bersambung dengan gedung kepala daerah, dan mereka memasuki pekarangan rumah besar itu. Justeru kepadamu aku ingin mendengar keterangan tentang rumah besar itu, paman.”

“Di sanalah mereka berkumpul. Penduduk tahu belaka bahwa mereka adalah kaki tangan kepala daerah, akan tetapi karena mereka tidak pernah mengganggu rakyat di depan umum, maka tidak ada yang perduli. Dahulu, di situ menjadi markas pasukan pengawal. Akan tetapi, kepala daerah agaknya lebih suka dikawal oleh kaki tangannya, dari pada oleh pasukan. Dan menurut kabar angin, kaki tangan kepala daerah itu merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian amat tinggi.”

“Akan tetapi, paman. Apakah keadaan yang aneh itu tidak diselidiki oleh para pembesar dan pejabat lainnya? Bukankah kota Nan-ping ini mempunyai pula pejabat lain?”

Semua pejabat sipil adalah bawahan kepala daerah, dan satu-satunya pejabat militer adalah komandan pasukan keamanan yang markasnya berada di ujung kota sebelah selatan. Dengan Kim-ciangkun yang tua, Cun Taijin mempunyai hubungan yang amat baik. Entah dengan komandan yang sekarang ini, yang baru beberapa bulan menggantikan Kim-ciangkun. Komandan yang sekarang ini kabarnya dari kota raja, disebut Souw-ciangkun, entah bagaimana hubungannya dengan Cun Taijin, aku tidak tahu. Akan tetapi, ketika Kim-ciangkun masih menjadi komandan, beberapa orang perwira bawahannya juga kabarnya ada yang mati mendadak, ada pula yang lenyap tanpa meninggalkan jejak, dan kabarnya mereka yang mati atau lenyap itu adalah para perwira yang memperlihatkan sikap tidak senang kepada Cun Taijin.”

Bun Houw mengangguk-angguk. “Ah, semakin menarik saja, paman. Kalau aku tidak hendak dibunuhnya, tentu aku sudah pergi dari Nan-ping dan tidak tahu akan hal itu. Sekarang, hatiku tertarik sekali dan aku mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan.”

Cia Kun Ti mengerutkan alisnya, “Berhati-hatilah engkau, Bun Houw. Engkau sudah menjadi buruan mereka, bagaimana engkau malah hendak melakukan penyelidikan dan seolah-olah memasuki gua harimau? Mereka itu banyak dan kuat sekali, dan Cun Taijin amat berkuasa di sini, menjadi orang nomor satu di sini!”

“Harap paman Jangan khawatir. Aku hanya melanjutkan perjuangan ayah. Aku yakin bahwa kalau ayah masih hidup, tentu ayah akan melakukan penyelidikan terhadap keluarga Cun yang penuh rahasia itu!”

“Ayahmu dahulu pernah mengatakan kecurigaan hatinya, akan tetapi setahuku belum pernah melakukan penyelidikan. Akan tetapi Bun Houw, apakah tidak lebih baik engkau mulai berdagang lagi saja? Aku suka membantumu dan … “

“Terima kasih, paman. Aku tidak berani menyusahkan paman. Bahkan sekarangpun aku harus pergi. Tidak baik kalau ada orang melihat aku berkunjung ke sini, tentu hanya akan mendatangkan kesusahan bagimu saja. Nah, selamat tinggal, paman. Sampaikan terima kasihku kepada … adik Ling Ay bahwa ia mau bersembahyang di depan batu nisan ayah ibuku, dan aku selalu memujikan agar ia hidup berbahagia.”

Setelah berkata demikian Bun Houw keluar dari rumah itu, berindap-indap dan menyelinap keluar tanpa diketahui orang lain. Dia kini tahu betapa besar bahayanya bagi Cia Kun Ti kalau sampai ada kaki-tangan kepala daerah melihat dia baru saja berkunjung ke rumah itu.

***

Bun Houw meninggalkan rumah Cia Kun Ti dan dia maklum bahwa dia tidak boleh memperlihatkan diri di tempat umum karena dia pada saat itu adalah seorang buruan. Kalau kaki tangan kepala daerah melihatnya, tentu akan terjadi keributan dan dia akan diserang. Bukan dia takut, melainkan karena dia harus menyelidiki apa yang berada di balik segala rahasia keluarga kepala daerah Cun. Dia harus menyelidikinya, dan kalau perlu menentangnya, demi kehidupan rakyat penghuni kota Nan-ping, demi keluarga Cia Kun Ti, demi … Ling Ay. Bukankah menurut keterangan Cia Kun Ti tadi, ayahnya dahulupun pernah menyatakan kecurigaannya terhadap kepala daerah Cun? Namun, ayahnya tidak sempat melakukan penyelidikan, maka biarlah kini dia yang melanjutkan kecurigaan ayahnya itu.

Sejak hari mulai gelap, dia sudah melakukan pengintaian terhadap rumah besar di dekat gedung kepala daerah. Gedung itu nampak sunyi, tidak ada yang keluar masuk. Akan tetapi, dia sudah mendengar dari Cia Kun Ti bahwa gedung atau rumah berar itu merupakan markas dari para kaki tangan Cun Taijin. Maka, setelah hari menjadi gelap benar, dia-pun mempengunakan kepandaiannya untuk menyelinap ke dekat rumah itu. kemudian meloncat ke atas genteng dan mendekam di wuwungan rumah.

Dengan hati-hatl Bun Houw merangkak di atas wuwungan rumah dan akhirnya dia menemukan apa yang dicarinya dan mendekam di atas sebuah ruangan besar di mana berkumpul banyak orang yang duduk mengelilingi sebuah meja besar. Mereka terdiri dari delapan orang. Di ujung meja duduk seorang laki-laki berusia sekitar enampuluh tahun, namun wajah dan tubuhnya masih seperti orang muda, rambutnya sudah ubanan dan orang ini mengenakan pakaian serba putih yang bersih, terbuat dari sutera balus. Hanya tali atau pita rambutnya saja yang berwarna biru. Sikapnya berwibawa dan mudah diduga bahwa dia tentu merupakan pimpinan dari kelompok itu. Bun Houw melihat pula pria gendut yang tadi dikalahkannya, duduk di antara tujuh orang lain. Tiba-tiba dia mengerutkan alisnya dan merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan. Tidak kelirukah penglihatannya?

Yang menarik perhatiannya dan membuat jantungnya berdebar adalah seorang yang duduk pula di situ. Dia tidak pernah melihat orang itu dan setelah dia pandang dengan teliti, dia merasa yakin bahwa orang itu adalah seorang di antara lima orang penjahat bertopeng yang dulu membunuh ayahnya! Yang membuat dia merasa yakin adalah tangan kanan orang itu. Lengan itu buntung sebatas pergelangan tangan! Tangan kanan itu sudah hilang, diganti dengan sebuah cakar baja yang mengerikan! Memang dia tidak mengenal wajah orang itu, akan tetapi tangan itu! Dan bentuk tubuhnya. Betapapun juga dia merasa ragu pula.

Kalau benar orang itu adalah seorang di antara lima penjahat yang membunuh ayahnya, mengapa dia berada di sini? Apakah yang empat orang juga berada di situ?

“Sungguh menyebalkan sekali.” terdengar orang yang bertubuh tinggi kurus berkata sambil memandang kepada Siauw-bin Pek-ti Gu Mouw. “Menghadapi seorang bocah ingusan saja sampai gagal, pada hal sudah dibantu tiga orang monyet tolol itu !”

Yang menegur itu adalah Bu-tek Kiam-mo, orang ke dua dari kelompok kaki tangan Cun Tai-jin. Mendengar ini, si gendut Gu Mouw mengerutkan alisnya dan memandang kepada rekannya itu dengan alis berkerut.

“Hemm, andaikata engkau sendiri yang maju, belum tentu engkau akan mampu mengalahkannya !”

Bu-tek Kiam-mo bangkit berdiri dari kursinya dan membentak, “Aku tidak seperti engkau! Kalau pedangku tidak mampu membunuhnya, aku tidak akan kembali ke sini dan tentu sudah menjadi mayat. Tidak sudi aku membawa pulang kekalahan!”

Melihat suasana menjadi panas, Pek I Mo-ko segera bangkit berdiri dan bertepuk tangan, memberi isarat kepada dua orang yang bersitegang itu untuk menjadi tenang. “Sudahlah, tidak perlu diributkan lagi. Kalau pemuda itu berani muncul lagi. kita usahakan agar dia itu dilenyapkan! Sebaliknya kalau dia sudah pergi sudahlah. Urusan dengan dia hanya kecil saja dan perintah atasan banya untuk menghajar dia, bukan membunuhnya. Kita menghadapi urusan yang lebih besar, tidak perlu meributkan urusan kecil!”

Mendengar ucapan itu. Bu-tek Kiam-mo dan Gu Mouw tidak banyak cakap lagi. Pek I Mo-ko lalu berkata lagi, “Malam ini, sesuai dengan perintah atasan kita, kita harus dapat membunuh perwira tinggi itu. Ngo-kwi, kalian yang bertugas membantu Bu-tek Kiam-mo, dan kalian telah melakukan penyelidikan dan memilih saat yang baik. Bagaimana hasilnya penyelidikan terakhir?”

Mendengar disebutnya Ngo-kwi ini, jantung Bun Houw berdebar semakin kencang. Lima Iblis? Kebetulan pembunuh ayahnya juga lima orang banyaknya, dan seorang di antaran menurut keyakinannya, adalah orang yang lengannya buntung dan tangan kanannya diganti cakar besi itu! Seorang di antara mereka yang bertubuh pendek besar segera menjawab dengan suara lantang.

“Sudah siap semua! Menurut penyelidikan kami, memang malam ini saat paling baik. Perwira tinggi itu tidak berada di markas, dan sedang berlibur dengan keluarganya di gedung musim panas mereka, dekat telaga di luar kota. Kesempatan yang teramat baik bagi kita.”

Buo Houw mengamati pembicara ini degan mata yang tak pernah berkedip, lalu dia mengingat-ingat. Memang, di antara lima orang bertopeng pembunuh ayahnya yang pernah mengeroyoknya itu, terdapat yang bertubuh pendek! Dan ada pula yang kulitnya hitam dan bertubuh tinggi besar seperti raksasa. Disapunya orang-orang di bawah itu dengan pandang matanya dan dia mengangguk-angguk ketika melihat seorang di antara mereka yang duduk di sebelah si lengan buntung. Orang itu tinggi besar dan kulitnya menghitam. Tak salah lagi, pikirnya. Si pakaian putih itu adalah pemimpin kelompok kaki tangan Cun Taijin ini. kemudian ada si gendut yang sudah dikalahkannya, dan orang yang tadi disebut Bu-tek Kiam-mo, si kurus tinggi itu, dan sisanya, yang lima orang tentulah Ngo-kwi, termasuk si lengan buntung dan sitinggil besar, juga si pendek. Kini keraguannya lenyap. Jelas bahwa lima orang Ngo-kwi inilah pembunuh ayahnya!

Akan tetapi kalau begitu … mereka membunuh ayahnya bukan sebagai balas dendam para penjahat ? Apakah ada hubungannya pula dengan Cun Tai-jin? Apakah pembunuhan atas diri ayahnya itu dilakukan Ngo kwi sebagai pelaksanaan perintah dari Cun Taijin? Kalau benar demikian, kenapa? Lalu tunangannya, Ling Ay, diambil mantu. Apa artinya semua itu! Semangatnya untuk menyelidiki mereka itu menjadi semakin bernyala.

“Bukanlah di sana juga keluarga panglima itu dikawal pasukan?” tanya Pek I Mo-ko,

“Memang selalu ada pengawalan, akan tetapi karena panglima dan keluarganya sedang berlibur, maka yang bertugas jaga hanyalah pasukan pengawal terdiri dari duabelas orang saja. Tempat itu aman dan tidak jauh dari kota, tentu panglima tidak berprasangka buruk.” jawab si pendek yang agaknya merupakan wakil pembicara dari Ngo-kwi.

“Bagus sekali kalan begitu! Kiam-mo, apakah engkau sudah mengatur siasat untuk gerakan malam ini ? Apakah engkau membutuhkan bantuan ?”

Dengan hati masih panas karena bantahan Gu Mouw yang merupakan orang yang setingkat lebih rendah kedudukannya. Bu-tek Kiam-mo menjawab dengan suara kaku, “Aku tidak membutuhkan bantuan lagi! Sudah kami atur siasat sebaiknya dan pukulan kami malam itu sudah pasti tidak akan gagal. Ngo-kwi bersama belasan orang anak buah dengan menggunakan topeng akan menyerbu sehingga para perajurit pengawal yang hanya belasan orang jumlahnya itu tentu akan menghadapi para penyerbu. Kesempatan itu kupergunakan untuk menyusup ke dalam dan membunuh panglima. Setelah berhasil, kami akan segera meninggalkan tempat itu dan takkan ada seorang-pun anak buah yang dikenal oleh para perajurit pengawal. Untuk mengelabui pendapat umum. kami akan merampas perhiasan dan merampok barang-barang berharga yang berada di sana agar semua gerakan itu dianggap sebagai perampokan biasa.”

Pek-i Mo-ko mengangguk-angguk. “Bagus, aku percaya kalian berenam akan berhasil baik. Aku hanya memperingatkan kalian agar tidak melupakan dua hal yang amat penting. Pertama, kuperingatkan kepada Ngo-kwi agar kali ini tidak melakukan kebiasaan mereka yang bercahaya. Yaitu, jangan sekali-kali mengganggu para wanita di sana! Atasan kita memperingatkan hal ini. Kalian sekali ini dilarang untuk mengganggu wanita!”

“Wah, apa salahnya dengan itu …?” Seorang di antara Ngo-kwi, yang bertubuh tinggi besar, mencela kecewa.

Mendengar ini, Bun Houw menggigit bibir mengepal tinju karena terbayanglah dia akan keadaan ibu kandungnya yang didapatkannya telah tewas dalam keadaan menyedihkan, menjadi korban perkosaan!”

“Tidak perlu banyak membantah!” bentak Pek-I Mo-ko kepada si tinggi besar. “Atasan kita mengharuskau demikian. Mengerti? Awas-kalau ada yang melanggar. Kuulangi, pertama, tidak boleh mengganggu wanita di sana. Ke dua, semua barang yang dirampok harus cepat disingkirkan dan jangan sampai kelihatan di kota ini. Mengerti semua?”

Bu-tek Kiam-mo dan Ngo-kwi mengangguk walaupun nampak Ngo-kwi bersungut-sungut. Agaknya, kelima orang Ngo-kwi ini semua adalah penjahat-penjahat cabul yang suka mengganggu wanita! Mereka tidak mungkin dapat memuaskan nafsu mereka di Nan-ping, karen si atasan mereka melarang keras mereka semua melakukan perbuatan tercela di Nan-ping dan sekitarnya. Dan sekarang, dalam tugas membunuh seorang panglima, mereka memperoleh kesempatan untuk memuaskan nafsu mereka, akan tetapi ada perintah bahwa mereka dilarang keras mengganggu wanita dalam rombongan panglima!

Tak lama kemudian. Bu-tek Kiam-mo dan Ngo-kwi keluar dari ruangan itu, dan bersama belasan orang anak buah yang berada di luar ruangan, mereka itu, semua berjumlah duapuluh satu orang, lalu meninggalkau rumah besar dengan berpencar. Mereka semua sudah siap dengan pakaian serba hitam. Bahkan Bu-tek Kiam-mo dan Ngo-kwi, setelah keluar dari situ, juga mengenakan jubah hitam dan pakaian serba gelap. Mereka semua tidak tahu bahwa tak jauh di belakang mereka, ada sesosok bayangan yang gerakannya amat cepat selalu membayangi mereka. Bayangan itu tentu saja Bun Houw. Dia tahu bahwa pemimpin, kelompok yang kini hendak membunuh seorang panglima itu dipimpin oleh Bu-tek Kiam-mo oleh karena itu, orang tinggi yang kurus sekali inilah yang selalu dia bayangi. Bukankah orang ini yang bertugas membunuh sang panglima? Dia tidak tahu mengapa panglima akan dibunuh akan tetapi bagaimanapun juga, dia harus mencegah terjadinya kejahatan ini lebih dulu, baru kemudian membongkar rahasia yang menyelimuti keluarga kepala daerah Cun.

Malam itu gelap dan sunyi. Gerombolan jahat itu berkumpul di luar kota dan mereka menuju ke utara. Bun Houw tadi sudah mendengar percakapan mereka dan dia tahu rumah apa yang mereka maksudkan tadi sebagai gedung musim panas dekat telaga. Memang banyak pejabat yang kaya mempunyai rumah peristirahatan di dekat telaga, dan di antaranya tentu terdapat rumah peristirahatan keluarga panglima. Diapun tidak tahu siapa panglima, komandan pasukan keamanan yang baru di Nan-ping, yang oleh Cia Kun Ti disebut Souw-ciangkun itu. Lebih tidak mengerti lagi mengapa komandan baru yang katanya baru beberapa lama menjadi panglima di Nan-ping, kini-hendak dibunuh oleh komplotan jahat ini.

Menurut keinginan hatinya, Bun Houw bermaksud mendahului gerombolan jahat itu dan memberitahu kepada Souw ciangkun di rumah peristirahatannya dekat telaga, agar panglima itu dapat menyelamatkan diri. Akan tetapi, gerombolan itu melakukan perjalanan cepat dan tidak sempat lagi baginya untuk mendahului. Apalagi, dia belum tahu benar di mana letak rumah itu, dan pula, belum tentu sang panglima mau percaya kepadanya, jangan-jangan malah dia yang dicurigai! Terpaksa, dia terus membayangi dan karena dia tahu bahwa Bu-tek Kiam-mo yang hendak melaksanakan pembunuhan, maka orang inilah yang selalu dibayanginya. Biarlah Ngo kwi dan anak buahnya berhadapan dengan pasukan pengawal. Yang penting dia harus menyelamatkan panglima dan keluarganya, mencegah terjadinya pembunuhan itu.

Tak lama kemudian tibalah gerombolan itu di tepi telaga dan mereka segera menuju ke sebuah rumah mungil yang terpencil jauh dari rumah-rumah peristirahatan lain. Akan tetapi, pada waktu itu, musim panas belum tiba dan sebagian besar rumah-rumah itupun kosong, hanya dihuni oleh satu dua orang penjaga gedung saja sehingga suasana di tempat itu gelap dan sunyi. Setelah melihat dengan jelas rumah mana yang dimaksudkan oleh gerombolan itu. Bun Houw mendahului mereka dan dia melihat bahwa rumah peristirahatan itu memang dijaga oleh pasukan pengawal yang jumlahnya belasan orang. Mereka itu berjaga di gardu penjagaan depan rumah, sebagian ada yang berjalan-jalan, dan ada pula yang bermain kartu di gardu yang diterangi lampu gantung yang cukup terang. Rumah itu sendiri sudah nampak sunyi walaupun masih ada lampu dinyalakan di dalam. Dia lalu menyelinap melalui belakang dan tak lama kemndian dia sudah berada di atas genteng rumah, mendekam di wuwungan sambil mengamati ke arah depan rumah.

Mereka memang melakukan siasat yang telah didengar oleh Bun Houw di sarang gerombolan itu. Belasan orang dipimpin oleh Ngo-kwi, muncul dari tempat gelap dan menyerbu gardu penjagaan. Para penjaga itu. tentu saja tetkejut bukan main melihat ada belasan orang menyerbu. Segera mereka berteriak, “Perampok!” dan terjadilah pertempuran antara mereka dengan para penyerbu.

Selagi Bun Houw memandang dan siap siaga melindungi penghuni rumah, tiba-tiba ada bentakan di belakangnya. “Pembunuh terkutuk!”

Untung Bun Houw cepat menggulingkan diri dari wuwungan, lalu meloncat dan membuat pok-sai (salto) beberapa kali ketika tubuhnya melayang turun ke atas tanah. Kalau tidak tentu dia sudah menjadi korban serangan sepasang pedang yang amat cepat gerakannya. Kini, penyerangnya itu sudah melayang turun pula dan langsung, tanpa banyak cakap lagi, sudah menyerangnya dengan gerakan sepasang pedangnya.

“Trang-trang … !” Bun Houw menangkis. dengan tongkatnya, diam-diam merasa heran melihat bahwa penyerangnya itu sama sekali bukanlah Bu-tek Kiam-mo. Di dalam kegelapan, malam yang hanya diterangi lampu yang menyorot dari dalam sehingga cuaca menjadi remang-remang, dia tidak dapat melihat jelas. Namun penyerangnya ini biarpun tidak gemuk dan ramping, namun tidaklah setinggi Bu-tek Kiam-mo.

“Engkaulah penjahat terkutuk!” teriak Buo Houw dan diapun balas menyerang dengan tongkatnya. Gerakan tongkatnya cepat dan dahsyat sehingga orang itu mengeluarkan suara kaget lalu meloncat ke belakang. Akan tetapi, segera dia maju lagi dan sepasang pedangnya kini menyambar-nyambar ganas bagaikan dua ekor naga bermain-main di angkasa, menyambar-nyambar ke arah Bun Houw, mengeluarkan suara berdesingan mengerikan. Dan sepasang pedang itu mengeluarkan angin yang dahsyat. Tahulah Bun Houw bahwa lawannya ini lihai sekali ilmu pedangnya, akan tetapi jelas bukanlah Bu-tek Kiam-mo! Timbul perasaan khawatirnya. Kalau seorang saja sudah begini lihai, kemudian muncul Bu-tek Kiam-mo, bagaimana dia akan dapat melindungi penglima Souw dan keluarganya ?

Dia lalu teringat. Orang ini tadi langsung menyerangnya dan memakinya pembunuh! Dia Pembunuh? Dia tidak pernah membunuh siapa pun juga. Mengapa dia dimaki pembunuh !

“Tranngg … !” Tongkatnya membuat gerakan panjang, sekaligus menangkis sepasang pedang itu dan dia meloncat ke belakang. Pada saat itu, dia melihat berkelebatnya bayangan hitam meloncat ke atas genteng rumah itu. Bayangan yang tinggi kurus. Tentu Bu-tek Kiam-mo, pikirnya dengan hati gelisah.

“Nanti dulu …!” Dia berseru kepada penyerangnya.

“Tak perlu banyak cakap! Engkau datang hendak membunuh Siauw-ciangkun, bukan?” Sepasang pedang itu sudah bengerak lagi. akan tetapi Bun Houw cepat meloncat ke belakang. Kiranya penyerangnya itu seorang wanita! Tadi ketika membentaknya, dia tidak begitu jelas. Kini setelah orang itu bicara, segera dapat diketahuinya bahwa ia seorang wanita. Seorang wanita yang lihai bukan main.

“Nanti dulu! Aku bukan pembunuh, aku datang justeru untuk melindunginya, melindungi Souw ciangkun dan keluarganya. Dan pembunuhnya sudah menyelundup, lihat itu dia di atas genteng! Kau cegah dia, aku akan membantu para pengawal menghadapi serbuan penjahat. Cepat … !”

Wanita itu agaknya baru sadar. “Baik. kalau engkau berbohong, nanti masih ada kesempatan bagiku untuk memenggal lehermu,” berkata demikian bagaikan seekor burung saja ia sudah melayang ke atas genteng mengejar bayangan hitam tinggi kurus itu.

Bun Houw tersenyum. Ia tidak dapat melihat jelas wajah wanita itu, tidak tahu ia muda atau tua, cantik atau buruk. Akan tetapi yang jelas, wanita itu cukup lihai dan cukup galak. Akan tetapi dalam keadaan segawat itu, dia tidak sempat menduga-duga siapa gerangan wanita yang lihai dan galak itu. Belasan orang perajurit pengawal itu sudah nampak terdesak, bahkan ada beberapa orang di antara mereka telah terluka. Bun Houw meloncat dan terjun ke dalam pertempuran itu sambil membentak nyaring, “Ngo-kwi. pembunuh jahat yang pantas dibasmi!”

Lima orang yang memimpin para anak buahnya mendesak para penjaga itu terkejut ketika melihat bayangan orang berkelebat disusul robohnya dua orang anak buah mereka. Cepat mereka berlima itu menyambut pemuda yang baru saja menerjang masuk sambil memutar tongkatnya itu. Mereka terkejut ketika mengenal pemuda itu. Masih teringat oleh mereka wajah Bun Houw, dan biarpun mereka diam saja untuk tidak membuka rahasia mereka bahwa merekalah pembunuh Kwa Tin dan Ibunya, orang tua pemuda ini, mereka segera mengeroyok dengan maksud membunuh pemuda yang akan dapat membahayakan mereka di masa mendatang itu. Mereka berlima adalah orang-orang yang sudah biasa melakukan kekerasan. Membunuh orang merupakan pekerjaan biasa bagi mereka dan memang mereka berlima itu lihai, Apalagi kalau maju berlima karena mereka dapat bekerja sama dengan baik. Tidak kosong saja julukan mereka sebagai Ngo-kwi (Lima Setan) dan menjadi tokoh-tokoh ke empat dalam urutan tingkat kepandaian para pembantu rahasia kepala daerah Nan-ping, yaitu Cun Tai-jin. Begitu lima orang itu mengepung dan mengeroyoknya dengan pedang mereka. Bun Houw menggerakkan tongkat bututnya melindungi diri. Akan tetapi lima orang lawan itu tidak menyerang secara membabi buta saja. Mereka membentuk sebuah Kiam-tin (pasukan pedang) dan gerakan mereka teratur rapi, seolah-olah lima orang itu digerakkan oleh satu hati saja.

Hal ini tidak aneh karena memang mereka berlima itu ahli dalam gerakan yang dinamakan Ngo-heng-kiam-tin (Pasukan Pedang Lima Unsur), Gerakan mereka susul menyusul dan bantu membantu, seperti lima orang yang sedang memainkan tarian ular naga, semua sudah diperhitungkan dan pedang mereka susul-menyusul ketika menyerang Bun Houw, juga mereka itu saling melindungi kalau pihak lawan menyerang seorang dari mereka. Juga mereka berputar-putar, mengelilingi Bun Houw, lalu tiba-tiba menyerang bertubi-tubi, kalau serangkan mereka itu gagal, tiba-tiba mereka menghentikan serangan dan berlari-lari mengelilingi lawan lagi.

Bun Houw memang telah menerima gemblengan yang hebat dari gurunya, dan dia telah menguasai ilmu-ilmu yang tinggi. Namun, baru saja dia meninggalkan gurunya, bagaikan seekor burung baru saja meninggalkan sarang. Dia belum berpengalaman, oleh karena itu, dia juga bersikap hati hati sekali. Kalau dia menghendaki, pedang pusaka di tangannya, yaitu Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) tentu akan dapat merobohkan lima orang pengeroyoknya itu dalam waktu yang tidak terlalu lama. Akan tetapi dia bukan hanya menerima gemblengan ilmu-silat dari Si Buta Sakti Tiauw Sun Ong. melainkan terutama sekali menerima gamblengan batin yang membuat pemuda ini sudah mampu menguasai nafsunya. Dia tidak ingin membunuh Ngo-kwi begitu saja, melainkan hanya ingin menghajar mereka, agar mereka itu tidak jahat lagi. Maka, diapun tetap menggunakan tongkat butut yang menyembunyikan pedang pusaka ampuh. Gurunya pernah berpesan agar dia tidak sembarangan mencabut Pedang Kilat dari dalam tongkat butut, cukup mempengunakan tongkat itu saja untuk membela dan melindungi dirinya.

Karena Bun Houw menghadapi Ngo-kwi dengan hati-hati, menangkis dengan tougkat butut dan kadang-kadang membalas dengan pukulan-pukulan tongkat, maka lima orang pengeroyok itu tidak dapat segera dia kalahkan, bahkan mereka itu berusaha mendesak dengan serangan-serangan maut yang kejam dan curang. Akan tetapi belasan orang anak buah penjahat itu kini terdesak. Setelah lima orang pemimpin mereka terlibat dalam pertandingan melawan pemuda bertongkat yang baru muncul, mereka kehilangan pimpinan dan para perajurit pengawal yang gagah itu segera membuat mereka kewalahan.

Sementara itu, di sebelah dalam gedung terjadi pula perkelahian yang amat seru. Wanita yang tadi saling serang dengan Bun Houw, kemudian dapat disadarkan oleh pemuda itu dan loncat mengejar Bu-tek Kiam-mo, dengan sepasang pedang di tangan berhasil memasuki ruangan dalam di mana ia melihat Souw ciangkun dengan mati-matian membela diri dengan sebatang pedang terhadap serangan Bu-tek Kiam-mo (Setan Pedang Tanpa Tanding) Bouw Swe, Sesuai dengan julukannya, Bouw Swe yang bertubuh tinggi kurus itu lihai bukan main dalam ilmu silat pedangnya. Jelas nampak betapa Souw Ciangkun terdesak hebat dan hanya mampu menangkis saja tanpa dapat membalas kembali. Souw-ciangkun juga bukan orang lemah, namun dia lebih pandai mengatur pasukan dari pada Ilmu silat, Apalagi yang dilawan sekarang adalah seorang tokoh sesat yang lihai sekali seperti Bu-tek Kiam-mo. Jelas bahwa kalau tidak segera mendapat bantuan, dalam waktu belasan jurus lagi saja keselamatan nyawa Souw-ciangkun terancam oleh pedang Bu-tek Kiam-mo Bouw Swe yang lihai itu.

Akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba terdengar bentakan yang halus dan nyaring, “Pembunuh keji, siaplah untuk menerima hukuman!” Dan gadis itu sudah melayang turun dan sepasang pedangnya diputar menjadi dua gulungan sinar yang melayang dan menyambar ke arah kepala Bu-tek Kiam-mo Bouw Swe!

“Ehhhhh,” Setan Pedang itu terkejut bukan main dan terpaksa dia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan. Ketika dia meloncat bangun, Souw-ciangkun sudah mundur dan mepet di sudut ruangan sambil melintangkan pedang di depan dada, siap membela diri, dan seorang gadis yang bertubuh ramping sudah berdiri di situ dengan sepasang pedang di tangan. Biarpun ruangan itu hanya diterangi oleh sebuah lampu gantung, namun cukup terang menyinari sebuah wajah yang cantik jelita namun gagah dengan sinar mata mencorong dan sikap yang agung. Gadis itu usianya sekitar delapanbelas tahun, tubuhnya ramping akan tetapi penuh mendekati montok dengan lekuk lengkung yang indah sempurna membayang di balik pakaiannya yang ketat, pakaian yang biasa dipakai seorang wanita yang biasa melakukan perjalanan jauh, seorang wanita kang-ouw (sungai telaga atau rimba persilatan). Pakaiannya, bersih dan rapi, namun sederhana. Rambutnya digelung dan diikat ke belakang, sederhana pula, seperti juga wajahnya yang hanya dilapisi bedak tipis tanpa pemerah bibir atau pipi. Memang tidak perlu menggunakan pemerah lagi karena bibirnya itu sudah merah segar membasah, pipinya juga kemerahan sebagai, bukti bahwa gadis ini memang sehat sekali. Warna bajunya kehitaman, membuat kulit pada leher dan mukanya nampak semakin putih mulus.

“Ciangkun, harap mundur dan biarkan aku yang menghajar kepada pembunuh laknat ini!” kata gadis itu dengan sikap tenang sekali.

“Awas, nona, …!” Souw Ciangkun berseru ketika melihat betapa si tinggi kurus itu tiba-tiba saja sudah menggerakkan pedangnya, secara curang menyerang gadis itu tanpa memberi peringatan lagi seperti lajimnya sikap seorang gagah dalam dunia persilatan.

“Singgg … wuuuttt!” Gadis itu dengan tenangnya melangkah mundur selangkah dan menarik tubuh atas ke belakang. Serangan pedang itu luput dan lewat dengan cepat, akan tetapi tidak percuma Bouw Swe berjuluk Setan Pedang. Pedangnya yang meluncur luput dari sambaran itu tiba tiba saja membalik dan kini menyambar ke arah leher lawan!”

Namun, gadis itu tetap tenang saja. Tanpa menggerakkau kaki, dan berdiri dengan tegak saja, kedua tangannya menggerakkan sepasang pedangnya dan ke manapun pedang di tangan Bouw Swe menyambar, selalu pedang itu bertemu dengan pedang gadis itu yang menangkisnya.

“Trangg, tringg, traangg, trangg …!” berkali-kali pedang Bu-tek Kiam-mo bertemu dengan pedang gadis itu, dan nampak api berpijar menyilaukan mata dan setiap kali pedangnya bertemu pedang lawan, Bu-tek Kiam-mo merasa betapa tangannya tergetar hebat, tanda bahwa gadis itu memiliki sin-kang yang kuat pula.

Terjadilah perkelahian yang hebat di dalam gedung itu, hanya ditonton oleh Souw ciang-kun yang tidak berani membantu gadis itu. dia tahu bahwa ilmu silatnya terlampau rendah untuk membantu gadis itu, dan bantuannya bahkan hanya akan menjadi penghalang karena dia dapat melihat betapa hebatnya ilmu pedang gadis itu.

Memang, baru sekali itu Ba-tek Kiam-mo bertemu tanding sebebat itu. Sekali ini, julukan yang biasanya dia banggakan dan sombongkan itu terancam bahaya. Dia berani menggunakan julukau Bu-tek Kiam-mo (Setan Pedang Tanpa Tanding), akan tetapi sekarang dia bertemu dengan seorang gadis muda remaja yang memiliki ilmu pedang pasangan yang amat hebat. Gerakan kedua pedang itu cepat dan aneh, memiliki perubahan gerakan yang tidak tersangka-sangka sehingga beberapa kali dia terkecoh dan hampir saja dia menjadi korban sambaran pedang. Selain memiliki ilmu pedang pasangan yang amat tangguh, juga pedang-pedang di tangan gadis itu bukan siang-kiam (pedang pasangan) biasa saja karena mampu menahan pedangnya sendiri tanpa rusak, bahkan gadis itu memiliki pula sin-kang (tenaga sakti) yang mampu mengimbanginya! Sekali ini, benar-benar dia bertemu tanding yang kuat, pada hal lawannya itu hanyalah seorang gadis remaja. Betapa akan malunya kalau sampai hal ini dikelahui oleh dunia kang-ouw. Apalagi kalau sampai dia kalah. Baru tak mampu merobohkan gadis itu saja sudah akan membuat namanya menjadi buah tertawaan para tokoh kang-ouw dan tentu dia akan diejek dan akan merasa malu untuk menyandang julukan Tanpa Tanding lagi. Maka, diapun mengeluarkan bentakan keras dan mengeluarkan jurus Ilmu pedangnya yang paling ampuh.

“Hyaaaaatit … sinnggg …!” Pedang itu membuat lingkaran sehingga sinarnya bergulung-gulung, kemudian gulungan sinar pedang itu mencuat dan meluncur ke arah perut lawan! .

Gadis itu agaknya maklum akan hebat dan dahsyatnya serangan ini, maka Iapun menggeser kaki ke belakang, pedang kirinya menangkis dan pedang kanannya membabat ke arah leher lawan. Namun, sekali ini agaknya Bouw Swe sudah memperhitungkan. Begitu pedangnya tertangkis, pedang ini membalik tiba-tiba, dari bawah menyambar ke atas menjadi tusukan ke arah tenggorokan lawan sedangkan tubuhnya merendah untuk menghindarkan sambaran pedang ke arah lehernya.

“Ihhk? Gadis itu terkejut juga hebat memang jurus serangan lawan itu. Kedua pedangnya tidak nampak lagi menangkis pada saat pedang lawan dari bawah meluncur ke atas menusuk tenggorokannya. Terpaksa Ia melempar tubuh ke belakang, akan tetapi pada saat itu, Bouw Swe sudah mengirim tendangan kaki kirinya ke arah selangkangan lawan!

Ahhh!” Gadis itu kembali berseru kaget, cepat ia menarik diri ke belakang, namun tetap saja ujung sepatu Bouw Swe menyentuh pahanya dan iapun terguling. Bouw Swe girang sekali dan menubruk, akan tetapi pedangnya bertemu dengan sepasang pedang yang disilangkan, dan perutnya dihantam sepatu kaki gadis! itu.

“Dukkk!” Tubuh Bu-tek Kiam-mo Bouw Swe terjengkang. Kiranya serangan tendangannya tadi dibayar kontan oleh lawan bahkan berikut bunganya karena kalau gadis itu hanya kena serempet pahanya saja, dia terkena tendangan yang dengan keras dan tepatnya mengenai perutnya, membuat perutnya tergoncang dan seketika terasa mulas. Maklum bahwa lawannya memang tangguh sekali. Bu-tek Kiam-mo mulai meragukan keselamalannya kalau dia lanjutkan perkelahian itu. Pada saat itu, dia mendengar teriakan-teriakan di luar rumah dan mendengar itu, wajahnya berubah gelisah. itulah suara teriakan dari Ngo-kwi dan anak buahnya, bukan teriakan kemenangan. melainkan teriakan kesakitan dan ketakutan. Mengertilah dia bahwa pelaksanaan tugas mereka telah berentakan dan gagal, bahkan dia sendiri terancam bahaya. Gadis yang menjadi lawannya sudah demikian lihainya. Kalau sampai gadis itu dibantu orang lain, dia pasti celaka. Maka, pedangnya bengerak ke belakang, menyambar ke arah lampu gantung yang menerangi ruangan itu dan terdengar suara nyaring. lampu pecah dan ruangan itu menjadi gelap gulita!

Gadis itu sama sekali tidak menyangka hal ini. Ia terkejut sekali dan sekali meloncat ia telah berada di dekat Souw Ciangkun, berbisik. “Ciangkun, harap diam saja jangan bergerak!” dan iapun berjaga di situ, siap untuk melindungi perwira tinggi itu kalau sampai ada musuh yang melakukan penyerangan di dalam gelap. Terpaksa Ia tidak melakukan pengejaran ketika bekas lawannya meloncat keluar, karena ia tidak berani meninggalkan perwira yang jelas diincar nyawanya oleh para penjahat itu. Memang ini yang diharapkan Bouw Swe. Dia meloncat keluar dan benar saja. Di luar dia melihat betapa dua orang di antara Ngo-kwi sudah roboh mengaduh-aduh, sedangkan belasan orang anak buah terdesak hebat, bahkan ada hampir separuh dari mereka telah menderita luka-luka. Dia lalu terjun membantu para anak buah yang didesak sambil berseru keras memberi aba-aba kepada mereka dan kepada Ngo-kwi untuk melarikan diri.

Bun Houw memang telah berhasil merobohkan dua orang di antara Ngo-kwi, merobohkan tanpa membunuh mereka, bahkan tidak melukai berat, hanya membuat orang pertama patah tulang pundaknya dengan hantaman tongkat butut, dan orang ke dua patah tulang lengan dengan tangkisan lengan kirinya yang mengandung tenaga siu-kang kuat. Tiga orang lainnya sudah ketakutan dan melindungi diri mati-matian terhadap pemuda yang kini di luar dugaan mereka, telah menjadi seorang yang demikian lihainya.

Begitu mendengar aba-aba dari Bu-tek Kiam-mo Bouw Swe, mereka segera berloncatan melarikan diri. Dua orang yang tadinya hanya mengaduh-aduh, dapat berloncatab dan melarikan diri pula. Yang nyeri hanyalah pundak dan lengan, kaki mereka tidak terluka. Pula, dalam keadaan panik, orang dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, jauh lebih besar dari pada kekuatan serta kemampuan biasa mereka, juga dapat melupakan semua rasa nyeri yang mengganggu. Jangankan baru patah tulang pundak atau lengan, andaikata yang patah itu tulang kaki mereka sekalipun, dalam keadaan panik ketakutan seperti itu, kiranya mereka masih akan mampu melarikan diri.

Bun Houw tidak melakukan pengejaran, karena dia sudah tahu siapa mereka. Dia bersikap tenang saja, menyimpan kembali tongkat bututnya yang diselipkan di pinggang, dan hendak meninggalkan tempat itu. Akan tetapi terdengar suara dari dalam.

“Tai-hiap, tunggu dulu …!”

Bun Houw menahan langkahnya lalu berbalik dan dia sudah berhadapan dengan seorang pria berusia lima puluh tahun yang gagah dan dari sikap dan pakaiannya dia dapat menduga bahwa tentu orang ini yang disebut Souw-ciangkun dan tadi hendak dibunuh oleh kawanan penjahat. Di samping perwira ini berdiri seorang gadis yang membuatnya kagum bukan main karena dia masih mengenal pakaian baju hitam dan celana kuning yang dipakai gadis itu. Ternyata wanita yang lihai dan galak tadi adalah seorang gadis remaja, pikirnya penuh kagum. Seorang gadis yang usianya tentu belum ada duapuluh tahun! Gadis itupun memandang kepadanya dengan penuh perhatian, kemudian ia menoleh kepada perwira itu dan berkata.

“Souw-ciangkun, apakah ciangkun sudah mengenal dia ini?” suara gadis itu halus, akan tetapi tegas.

Perwira itu mengamati wajah Bun Houw dan menggeleng kepala.

“Kalau ciangkun belum pernah mengenalnya, sebaiknya orang ini ditahan dan ditanyai dengan jelas. Aku tadi melihat dia bersembunyi di atas wuwungan rumah ini. Siapa tahu dia seorang di antara para penjahat yang hendak membunuh ciangkun!”

Mendengar ini, Bun Houw mengerutkan alisnya dan hendak membantah, akau tetapi dia menekan perasaannya. Nona ini lihai dan galak, dia tidak perlu menanggapi, karena kalau demikian, berarti mereka berdua sama galaknya. Diapun tersenyum saja dan menyerahkan kepada perwira itu untuk melakukan penilaian. Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara para petugas jaga atau para pengawal, membantah ucapan gadis itu.

“Ciangkun, kami melapor!” kata kepala jaga dengan suara tegas dan sikap seorang perajurit sejati, “Kami tadi telah diserbu oleh belasan orang penjahat yang dipimpin oleh lima orang yang lihai. Kemudian muncullah pendekar ini dan tanpa bantuan dia, mungkin kami semua telah roboh menjadi korban kejahatan gerombolan itu. Pendekar ini telah menyelamatkan kita, ciangkun, dia sama sekali bukan penjahat, bahkan dia yang mengusir para penjahat tadi!”

Mereka semua mengangguk-angguk dan mereka memandang kepada gadis ini dengan sinar mata penasaran dan marah mendengar betapa penolong mereka bahkan dituduh menjadi penjahat!”

Perwira itu mengangguk-angguk dan tersenyum. “Akupun sudah menduga demikian. Ketahuilah, aku sendiri mungkin telah tewas kalau saja tidak ada li-hiap (pendekar wanita) ini yang menyelamatkan aku. Kalian semua lakukanlah penjagaan dengan ketat dan rawat teman yang terluka. Tai-hiap (pendekar besar) dan li-hiap (pendekar wanita), mari silakan masuk ke ruangan dalam. Kami ingin bercakap-cakap dengan ji-wi (anda berdua).”

Sejenak Bun Houw saling pandang dengan gadis itu. Bun Houw tersenyum, senyum yang mengandung godaan karena baru saja gadis itu menuduhnya sebagai penjahat, dan gadis itu agaknya dapat mengenal senyum yang mengandung godaan itu. Ia cemberut dan membuang muka. Demikian manisnya gerakan ini, manis dan manja sehingga senyum di bibir Bun Houw melebar. Bukan main gadis ini, pikirnya. Bukan saja cantik dan gagah perkasa, akan tetapi setiap gerakannya mengandung daya tarik yang demikian kuat. Bahkan menarik muka cemberutpun tampak makin manis!

Mereka berdua tanpa bicara mengikuti perwira itu masuk ke ruangan sebelah dalam, disambut oleh Nyonya Souw yang masih nampak pucat ketakutan. Ketika terjadi keributan, ketika suaminya keluar dari kamar membawa pedang, ia hanya bersembunyi saja di dalam kamar sambil mengintai dari celah-celah jendela kamar.

“Nona pendekar inilah yang tadi telah menyelamatkan aku ketika diserang penjahat dan tai-hiap ini yang mengusir para penjahat yang menyerbu ke sini. Li-hiap dan tai-hiap ini adalah isteriku.” Nyonya rumah memberi hormat, dibalas oleh Bun Houw dan gadis pendekar itu. Kemudian nyonya Souw masuk ke dalam lagi untuk mempersiapkan minuman, dan meninggalkan suaminya bercakap-cakap dengan dua orang penolongnya.

Setelah Isterinya masuk, Souw Ciangkun lalu bangkit berdiri dan memberi hormat kepada dua orang muda itu. “Pertama-tama, aku mengucapkan terima kasih kepada ji-wi (kalian berdua) yang telah menyelamatkan kami dari sergapan gerombolan penjahat.”

Bun Houw segera bangkit berdiri pula dan membalas penghormatan itu sambil berkata. “Tidak perlu berterima kasih, ciangkun. Sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk menentang orang jahat.”

Gadis itupun tidak mau kalah. Ia membalas penghormatan perwira itu dan berkata, “Sebagai seorang pendekar, aku selalu akan membela yang benar dan membinasakan yang jahat. Tidak perlu berterima kasih, Souw Ciangkun!”

Bun Houw memandang kepadanya dan kebetulan gadis itupun melirik sehingga kembali pandang mata mereka bertemu dalam suasana seperti dua orang bersaing!

“Silakan ji-wi duduk,” kata pembesar militer itu. “Setelah mengucapkan terima kasih, aku ingin sekali mengetahui bagaimana ji-wi dapat mencegah terjadinya kejahatan ini dan bagaimana dapat mengetahui bahwa mereka malam ini menyergap kami yang sedang berlibur di sini. Mari kita mulai dari keteranganmu. tai-hiap “

Bun Houw melirik ke arah gadis itu yang memandangnya penuh perhatian dan penuh selidik sehingga dia merasa seolah-olah dia sedang diperiksa sebagai seorang pesakitan di depan seorang hakim! Sinar mata gadis itu seolah-olah mengandung suatu ketidak percayaan atau kecurigaan terhadap dirinya!”

Dia menarik napas panjang dan menekan perasaannya yang sebenarnya sedang gelisah. Dia sejak tadi teringat akan Cia Ling Ay dan hatinya gelisah bukan main, penuh kekhawatiran terhadap wanita yang pernah menjadi tunangannya itu. Jelas bahwa keluarga Cia akan tersangkut dalam urusan ini, karena menurut penuturan paman Cia Kun Ti, keadaan Cun Tai-jin amat mencurigakan. Kalau sumpai kemudian ternyata bahwa keluarga Cun mempergunakan orang-orang dari dunia hitam untuk melakukan kejahatan, tentu diri Ling Ay sebagai mantu pembesar itu akan terlibat, dan tentu ayah bundanya pula! Tentu saja hatinya gelisah sekali memikirkan Ling Ay dan ayahnya.

“Nama saya Kwa Bun Houw. Kalau ciang-kun sudah sejak enam tahun yang lalu tinggal di Nan-ping, tentu mengenal keluarga mendiang ayahku. Dahulu ayah dikenal di kota ini sebagai Kwa-enghiong. Akan tetapi enam tahun yang lalu, ayah dan ibu tewas di tangan gerombolan penjahat. Saya sendiri nyaris tewas kalau tidak tertolong seorang pendekar sakti. Saya lalu mempelajari dan memperdalam ilmu silat dan baru beberapa hari ini, pada hari raya Ceng beng, saya berkunjung ke makam orang tua saya. Karena itu saya kebetulan berada di Nan-ping. Kebetulan saja saya bentrok dengan kaki tangan penjahat dan saya melakukan penyelidikan di sarang mereka. Dari penyelidikan itulah saya mendengar akan rencana mereka untuk membunuh keluarga ciangkun di sini. maka saya membayangi mereka dan bisa sampai ke sini.”

“Kwa-tai-hiap (pendekar besar Kwa), di manakah sarang mereka itu?” Souw ciangkun bertanya.

Kembali Bun Houw merasa betapa jantungnya berdebar tegang, penuh kekhawatiran terhadap diri Ling Ay. Dia mengambil keputusan untuk menyelamatkan Ling Ay dari bencana, apapun yang terjadi. Dia tahu bahwa Ling Ay menjadi mantu kepala daerah Cun karena terpaksa, dipaksa ibunya sedangkan ayahnya terlalu lemah menghadapi ibunya. Ling Ay menjadi korban kawin paksa. Bukan kesalahan Ling Ay kalau ia menjadi mantu kepala daerah Cun yang ternyata merupakan seorang yang amat jahat, yang mempergunakan tokoh-tokoh sesat melakukan pembunuhan-pembunuhan. Tentu ada niat jahat di balik semua itu. Dan sekarang, kalau sampai keluarga Cun disergap oleh Souw Ciangkun dan pasukannya, tentu Ling Ay akan terbawa-bawa, tersangkut, dan akan ditawan pula, atau mungkin juga akan tewas dalam penyerbuan itu! Tidak, dia harus mencegah terjadinya hal ini!”

“Ciangkun, maafkan kalau saya tidak dapat mengatakan sekarang. Akan tetapi, kalau Ciangkun percaya kepada saya, maka biarlah saya yang akan menjadi petunjuk jalan, apa bila ciangkun hendak mengambil tindakan.” Jawabnya.

“Hemmm, aneh sekali! Kenapa tidak langsung saja melaporkan kepada Souw Ciangkun di mana letak sarang penjahat itu? Mengapa engkau seperti hendak menyembunyikan tempat itu? Apakah engkau ingin melindungi para penjahat itu !”

“Itu adalah urusan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain.” kata Bun Houw, panas juga perutnya didesak dan dituduh seperti itu.

Souw Ciangkun merasa heran mengapa dua orang pendekar yang agaknya baru sekarang saling bertemu itu, dan yang keduanya telah berjasa menolongnya dari ancaman penjahat, kini agaknya saling bersikap tidak manis, terutama sekali pendekar wanita itu.

“Tentang mengambil tindakan itu akan kami pertimbangkan setelah kami mendengar keterangan ji-wi. Sekarang harap li-hiap suka menerangkan apa yang li-hiap ketahui dan bagaimana li-hiap dapat pula datang ke sini untuk menyelamatkan kami.”

“Aku datang ke Nan-ping untuk urusan pribadi,” kata gadis itu sambil mengerling ke arah Bun Houw, seolah hendak memperlihatkan bahwa iapun tidak mau kalah dan iapun mempunyai “urusan pribadi”! “Namaku Ouwyang Hui Hong dan aku memang bendak mencari seorang yang bernama Ciong Kui Le, berjuluk Pek I Mo-ko untuk urusau pribadi itu. Jejaknya menuju ke Nan-ping dan akhirnya aku mendengar bahwa dia memang berada di kota ini. Malam tadi aku melakukan penyelidikan dan aku melihat rombongan orang-orang yang mencurigakan tadi. Aku membayangi mereka dan dari percakapan mereka di perjalanan, tahulah, aku bahwa mereka bermaksud untuk membunuh Souw Ciangkun. Maka, setelah tiba di sini aku segera turun tangan.”

“Dan tahukah engkau di mana sarang para penjahat itu, li-hiap!” tanya perwira itu.

Gadis itu melirik ke arah Bun Houw. “Aku tahu, ciangkun. Kalau ciangkun hendak menggerakkan pasukan menyerbu, biarlah aku yang menjadi penunjuk jalan. Biarpun belum yakin benar, aku menduga bahwa tentu ada hubungan antara gerombolan penjahat tadi dengan Pek I Mo-ko yang kucari-cari.”

“Teutu saja ada hubungan!” kata Bun Houw, suaranya juga tidak ramah karena sikap gadis itu seolah-olah memusuhi atau menyainginya. “Pek I Mo-ko adalah pemimpin mereka! Yang hendak membunuh Souw Ciangkun tadi adalah Bu-tek Kiam-mo, dan lima orang yang memimpin para gerombolan di luar tadi berjuluk Ngo kwi.”

Gadis itu segera berubah sikapnya. Kalau tadi ketus dan dingin, kini ia memandang kepada Bun Houw dengan wajah berseri dan suaranya sama sekali kehilangan dingin dan ketusnya ketika ia bertanya, “Benarkah itu? Yakin benarkah engkau bahwa pemimpin mereka adalah Pek I Mo-ko?”

Diam-diam Bun Houw merasa heran bukan main dan kembali lagi kekagumannya. Gadis ini dapat berubah seperti angin, sebentar murung sebentar gembira, sebentar dingin sebentar panas. Diapun yang memiliki watak dasar lembut dan ramah, tidak dapat mempertahankan sikapnya yang tadi pura-pura acuh dan dingin.

“Tentu saja aku yakin. Ketika mereka mengadakan rapat, aku melakukan pengintaian dan aku melihat sendiri Pek I Mo-ko … “

“Coba kau gambarkan bagaimana orangnya, kalau memang benar engkau telah melihatnya. Bagaimana wajahnya, bagaimaua penampilannya, dan berapa usianya. Aku ingin pasti, bahwa memang benar dia Pek I Mo-ko!” Gadis itu kini bicara penuh gairah, penuh keinginan tahu dan sama sekali tidak mengandung nada tidak percaya lagi, maka Bun Houw terseuyum. Dia merasa seperti menghadapi seorang kanak-kanak nakal dan manja.

“Usianya sukar ditaksir, mungkin sudah enampuluh tahun mungkin juga baru empat puluh tahun. Wajahnya dan tubuhnya masih nampak muda, wajahnya belum berkeriput dan tubuhnya masih tegap, akan tetapi rambutnya sudah penuh uban. Pakaiannya serba putih dengan sabuk biru dan pita rambutnya dari sutera biru pula. Wajahnya bulat, dengan sepasang mata yang mencorong, suaranya lembut namun nadanya ketus. Oya, kalau aku tidak salah lihat, ada setitik tahi lalat di dagunya … “

“Ah, benar itu dia Pek I Mo-ko, si keparat!” gadis itu berseru penuh semangat dan kegembiraan. “Akhirnya dapat juga engkau olehku, jauh-jauh kukejar dari Lembah Bukit Siluman!” Lalu ia menoleh kepada perwira tinggi itu dan berkata, “Souw Ciangkun, maafkan aku. Hendaknya jangan ciangkun tergesa menyerbu ke sana, karena tentu Pek I Mo-ko itu akan sempat melarikan diri! Biar aku lebih dahulu menyelidiki ke sana besok, dan kalau pasukan ciangkun menyergap, aku akan dapat menjaga agar Pek I Mo-ko tidak sempat melarikan diri!”

Mendengar usul ini, Bun Houw melihat kesempatan baik untuk menyelamatkan Ling Ay, “Usul nona Ouwyang ini tepat, ciangkun,” dia cepat menambahkan, “kalau ciangkun tengesa-gesa, berarti akan mengejutkan ular dalam rumput dan mereka itu mendapat kesempatan uatuk melarikan diri. Dan serbuan itu tentu menggegerkan karena menyangkut orang yang berkedudukan tinggi.”

Souw Ciangkun mengerutkan alisnya dan nampak terkejut. “Ah, jadi benarkan dia tersangkut! Memang sudah ada kecurigaan dalam hatiku. Mati-matian dia mencoba untuk mempengaruhiku, membujuk dan mencoba untuk menguasai dengan sogokan, Aih, benarkah! Sudah ada buktinya, tai-hiap? Perkara ini sama sekali tidak boleh main-main!”

‘Saya sudah yakin, dan sudah saya saksikan sendiri !” kata pula Bun Houw.

“Akan tetapi, kalau aku tidak segera turun tangan, mereka tentu mendapat kesempatan untuk menghilangkan semua jejak, bahkan mungkin melarikan diri, atau bengerak lebih dahulu. Tentu kegagalan membunuhku tadi membuat mereka berhati-hati dan khawatir.”

“Jangan khawatir, ciangkun. Mereka tadi semua mengenakan topeng dan mereka tentu merasa yakin bahwa wajah mereka tidak dikenal. Apalagi kalau malam ini tidak ada gerakan dari ciangkun, tentu mereka merasa lega dan menduga bahwa ciangkun tidak tahu siapa gerombalan yang mencoba untuk membunuh ciangkun. Biarlah nona Ouwyang dan saya akan lebih dahulu melakukan penyelidikan, setelah itu baru kami memberi tanda dan ciangkun menggerakkan pasukan untuk menyergap dan menangkap semua penjahat.”

Tentu saja Souw Ciangkun menyetujui karena bagaimanapun juga, dua orang ini sudah berjasa besar dan dia memang mengharapkan pula bantuan mereka untuk membasmi para penjahat yang lihai itu.

“Nona, engkau tentu tidak berkeberatan untuk melakukan penyelidikan bersamaku, bukan?” Bun Houw bertanya ramah.

Gadis itu menggeleng kepala. “Tentu saja tidak, bahkan sebaiknya kalau kita bekerja sama. Tak kusangka bahwa Pek I Mo-ko memimpin gerombolan penjahat yang mempunyai banyak anak buah yang pandai.”

“Kalau begitu, mari kita berangkat.” Keduanya lalu berpamit meninggalkan gedung Souw Ciangkun. Ketika tiba di luar, mereka melihat sedikitnya lima puluh orang perajurit yang baru tiba. Mereka adalah pasukan bantuan dari benteng yang datang atas laporan kepala pengawal. Legalah hati mereka karena dengan adanya penjagaan yang kuat, malam ini mereka tidak perlu mengkawatirkan keselamatan perwira tinggi itu.

Mereka berdua membeli sarapan di warung bubur ayam tanpa bicara. Kemudian mereka meninggalkan warung bubur ayam dan pagi itu jalan sudah mulai ramai dengan orang-orang yang mulai bekerja. Bun Houw dan Hui Hong bercakap-cakap di sudut kota yang sunyi.

“Mengapa kita berhenti di sini?” Hui Hong menegur. “Aku ingin kita segera mendatangi sarang mereka, karena aku ingin segera berhadapan dengan si jahanam Pek I Mo-ko!”

Melihat ketidaksabaran gadis itu, Bun Houw tersenyum. “Pek I Mo-ko bukan sendiri saja, nona. Selain teman-temannya banyak, juga dia berada dalam perlindungan kepala daerah Nan-ping ini. Kalau kita langsung mendatangi mereka, kita akan berhadapan dengan banyak kaki tangannya, juga dengan kepala daerah yang mempunyai banyak pengawal.”

“Kepala daerah? Ihh, kenapa kepala daerah melindungi seorang jahat seperti Pek I Mo-ko dan bahkan mereka itu hampir saja membunuh Souw Ciangkun?” Gadis itu memandang heran.

“Itulah anehnya! Gerombolan penjahat itu adalah kaki tangan Cun Tai-jin, kepala daerah Nan-ping.”

“Jadi kalau begitu … yang menyuruh bunuh Souw Ciangkun adalah kepala daerah sendiri? Aneh dan tak masuk akal!”

Bun Houw mengangguk-angguk. Memang kelihatan aneh dan tak masuk akal, karena itu kita perlu menyelidiki. Bukan hanya Souw Ciangkun hendak dibunuh, akan tetapi bahkan banyak sudah pejabat yang telah dibunuh secara rahasia. Ini hanya berarti bahwa ada rahasia tersembunyi di balik kedudukan kepala daerah. Dan menaruh perkiraanku, tentu dia membunuhi pejabat yang menolak ajakannya untuk bersekutu!”

“Bersekutu? Untuk apa?”

“Kalau seorang kepala daerah mengadakan persekutuan, untuk apalagi kalau tidak dengan maksud untuk memberontak terhadap pemerintah?”

“Ihhh!” Gadis itu berseru kaget, “Aku tidak mau mencampuri urusan pemberontakan, aku hanya ingin bertemu Pek I Mo-ko untuk urusan pribadi!”

“Kebetulan sekali akupun mempunyai urusan pribadi dengan keluarga kepala daerah Nan-ping.”

“Engkau sungguh mencurigakan! Engkau sendiri mengatakan bahwa kepala daerah Nan-ping mempengunakan orang-orang jahat sebagai kaki tangannya, bahkan dia yang menyuruh para gerombolan penjahat itu untuk membunuhi banyak pejabat, bahkan mencoba membunuh Souw Ciangkun. Dan engkau mempunyai urusan pribadi dengan keluarganya?”

“Urusan pribadiku ini bukan untuk bekerja sama dengan keluarga kepala daerah Cun, melainkan … aku akan melakukan sesuatu yang tentu akan membuat mereka marah sekali. Bukan bekerja sama dengan mereka, melainkan menentang … ” Tentu saja sukar bagi Bun Houw untuk menjelaskan karena rencananya itu mengenai diri Ling Ay. Hal itu agaknya membikin Hui Hong menjadi tidak sabar lagi.

“Hemm, kalau engkau mengajak aku bekerja sama menentang mereka, mengapa engkau masih menyembunyikan dan merahasiakan urusan pribadimu itu ? Bagaimana kita akan dapat bekerja sama kalau kita tidak saling mengenal dan mengetahui urusan masing-masing ? Sudahlah, kalau engkau tidak mau memberi penjelasan, lebih baik kita bekerja sendiri-sendiri saja!” Gadis itu hendak melangkah pergi.

“Eh, nanti dulu, nona!” Bun Houw cepat meloncat ke depan gadis yang kelihatan marah itu, dan dia mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan. “Maafkan aku, nona. Bukan maksudku untuk menyembunyikan urusan atau tidak percaya kepadamu. Memang engkau benar, sebaiknya kalau kita saling menceritakan keadaan dan urusan pribadi agar kita dapat bekerja sama dengan baik.”

“Hemm, baru menyadari, ya ? Akan tetapi aku tidak akan menceritakan keadaan diriku kepadamu,” katanya dengan sikap masih marah.

Bun Houw tersenyum, “Tidak kauceritakan juga tidak mengapa, karena aku sudah dapat menduga siapa adanya engkau, nona.”

Gadis itu menatap wajah Bun Houw dengan pandang mata tajam penuh selidik. “Aku tidak percaya, engkau membual saja!”

“Nona, bukankah engkau ini puteri dari Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, lo-cian-pwe (orang tua gagah perkasa) yang amat terkenal itu ?”

(Bersambung jilid 04)

Jilid 04

SEPASANG mata yang indah jelita itu terbelalak. “Eh? Bagaimana engkau bisa tahu?”

Bun Houw tersenyum. Gurunya, Si Buta Sakti Tiauw Sun Ong, pernah bercerita tentang para datuk atau tokoh besar dunia persilatan kepadanya dan di antara para datuk besar yang terkenal adalah Bu-eng-kiam Ouwyang sek, majikan Lembab Bukit Siluman.

“Mudah saja. Engkau she (nama keturunan) Ouwyang, dan tadi menyebut Lembah Bukit Siluman. Siapalagi ayahmu kalau bukan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, majikan Lembah Bukit Siluman? Ilmu silatmu demikian tinggi, maka mudahlah menduganya.”

Hui Hong mengangguk. “Pantas! Anak ke cilpun bisa menduga kalau begitu. Memang aku puteri Bu-eng-kiam Ouwyang Sek. Nah, sekarang ceritakan apa urusan pribadimu dengan keluarga kepala daerah Cun itu, baru nanti kuceritakan mengapa aku mencari Pek I Mo-ko. Engkau sudah mengetahui keluargaku, engkaupun sepantasnya menceritakan tentang keluargamu.”

Bun Houw mengajaknya duduk di antas batu di tepi jalan yang sunyi di sudut kota itu. Dia menarik napas panjang, bersikap hati-hati karena apa yang hendak diceritakan tentang Ling Ay sungguh tidak enak bagi dirinya.

“Seperti telah kuperkenalkan diri kepada Souw Ciangkun, namaku Kwa Bun Houw dan ayahku tadinya tinggal di kota ini. Ayahku seorang pedagang cita, dan di samping berdagang, ayahku juga terkenal sebagal seorang yang suka menentang kejahatan dan di sini dikenal sebagai Kwa-eng-hiong.”

“Hemm, katakan saja ayahmu seorang pendekar.” Hui Hong memotong.

“Kalaupun belum pantas dinamakan pendekar, setidaknya ayah selalu menentang kejahatan dan membela mereka yang lemah tertindas. Karena itu dia dimusuhi banyak penjahat dan akhirnya ayah dan ibu tewas di tangan orang-orang jahat pula.” Bun Houw lalu menceritakan peristiwa yang terjadi enam tahun yang lalu itu. Betapa ketika dia sedang tidak berada di rumah, ayahnya dibunuh gerombolan penjahat, dan ibunya juga dibunuh setelah diculik dan diperkosa di dalam hutan.

“Keparat jahanam!” Hui Hong bangkit dan mengepal tinju, mukanya merah dan matanya mencorong. “Siapakah para penjahat itu ? Mengapa engkau tidak membalas dendam dan membasmi mereka? Sungguh keji dan jahat sekali perbuatan mereka terhadap ibumu!”

Bun Houw menatap wajah itu sejenak dengan penuh kagum. Sedang marahpun tetap manis! Dia menghela napas panjang dan menggeleng kepalanya.

“Tidak, nona … “

“Namaku Hui Hong dan setelah kita akan bekerja sama, tidak perlu lagi nona-nonaan. Panggil saja namaku!” gadis itu memotong lagi dengan cepat.

“Baiklah, Hui Hong. Hemm, namamu indah sekali!”

“Tidak perlu memuji dan merayu! Katakan mengapa engkau mengatakan tidak! Apa kaumaksudkan engkau tidak mendendam?” tanyanya heran.

“Memang aku tidak menaruh dendam. Menurut pesan mendiang ayahku, juga menurut nasihat guruku, dendam merupakan racun bagi diri sendiri. Tidak, aku tidak mendendam kepada mereka. Ayahku memang seorang yang hidup dalam kekerasan, dia selalu menentang nara penjahat, maka tidak mengherankan kalau para penjahat membencinya. Aku tidak boleh mendendam.”

“Apa?” Mata itu terbelalak lagi membuat Bun Houw cepat menundukkan pandang matanya agar jangan beradu pandang. Terlalu indah mata itu kalau terbelalak. Dia khawatir kalau kekagumannya akan membayang di matanya.

“Kau maksudkan bahwa engkau akan membiarkan mereka mendapatkan korban wanita-wanita lain? Membiarkan mereka melakukan pembunuhan sewenang-wenang? Pendekar macam apa engkau ini? Ayahmu tentu malu, juga gurumu tentu kecewa!”

Bun Houw tersenyum. Makin suka dan kagum dia kepada gadis ini. Biarpun galak, namun gadis ini jujur dan terbuka, tidak berpura-pura.

“Tentu saja aku selalu menentang kejahatan, non … eh, adik Hong. Aku akan membela yang benar dan menetang yang jahat. Akan tetapi kalau aku menentang para pembunuh ayah, hal itu kulakukan karena hendak menentang kejahatan mereka, bukan untuk membalas dendam atas kematian ayah dan ibuku.”

“Sudahlah, sesukamu! Engkau belum bercerita tentang urusan pribadimu dengan keluarga Cun, kepala daerah Nan-ping itu.”

Bagian inilah yang terasa sukar oleh Bun Houw untuk menceritakannya. Akan tetapi gadis ini demikian jujur terbuka, sungguh tidak adil dan tidak enak kalau dia tidak bersikap jujur pula.

“Urusan pribadiku ini menyangkut diri seorang yang berada di dalam keluarga Cun itu, Hong-moi (adik Hong).” Enak saja sebutan Hong-moi meluncur keluar dari mulutnya. Seolah-olah gadis itu telah menjadi seorang sahabat lamanya, dan gadis itupun menerima sebutan itu dengan sikap biasa saja. Memang sudah sewajarnya kalau pemuda itu menyebutnya adik, karena pemuda itu tentu beberapa tahun lebih tua darinya.

“Ada urusan apa engkau dengan seorang di antara keluarga Cun?”

“Sebelum Souw-ciangkun menyerbu dan menangkapi keluarga keluarga Cun, aku harus lebih dahulu membebaskan seorang anggauta keluarga agar jangan sampai ikut tertangkap, karena ia sama sekali tidak berdosa bahkan ia terpaksa saja menjadi anggauta keluarga Cun.”

“Hemm, siapakah orang itu? Dan mengapa terpaksa menjadi anggauta keluarga Cun?” tanyanya pula Hui Hong, tertarik.

“Ia adalah mantu perempuan kepala daerah Cun.”

Kembali mata yang indah itu bengerak melebar dan pandang mata itu menatap wajah Bun Houw penih selidik. “Houw-ko (kakak Houw), enak pula sebutan ini meluncur dari mulutnya, seperti dengan sendirinya, “Siapakah mantu perempuan kepala daerah itu?”

“Namanya Cia Ling Ay …”

“Maksudku, apamukah wanita itu ? Masih keluargamukah?”

Bun Houw menggeleng kepala dan menelan ludah. Dia tiba di bagian paling sulit untuk diceritakan, “Ia … ia adalah bekas tunanganku.”

“Ahhbh … ?” Kini sepasang mata itu menyipit namun dari balik bulu mata yang lentik itu mengintai sepasang mata yang amat tajam pandangannya, bersinar dan penuh selidik. Sepasang alis itu berkerut. “Hemmm …, hemm … bekas tunangan yang kini telah menjadi isteri putera kepala daerah Nan-ping! Dan engkau menghendaki agar wanita bekas tunanganmu itu tidak sampai ikut terlibat kalau keluarga Cun ditangkap? Hemmmm, bagus …! Agaknya engkau masih … eh, masih teringat terus kepada bekas tunanganmu itu, eh, Houw-ko? Tentu ia amat cantik maka sampai menjadi isteri orang lainpun engkan masih saja memperhatikannya!”

“Bukan begitu, Hong-moi!. Harap jangan salah sangka. Aku bukan orang yang sebodoh dan sejahat itu, masih memikirkan bekas tunangan yang telah menjadi isteri orang lain! Sama sekali tidak. Kalau aku menghendaki agar ia tidak ikut ditangkap adalah karena ia sama sekali tidak berdosa, bahkan ia berada di dalam keluarga itu secara terpaksa. Ia dipaksa menjadi isteri putra Cun-taijin kepala daerah Nan-ping itu.” Dengan singkat Bun Houw lalu bercerita betapa dia dan Ling Ay telah ditunangkan sejak mereka masih kecil. Ketika dia berusia limabelas tahun, ayah Ibunya tewas oleh gerombolan penjahat dan tiba-tiba saja orang tua Ling Ay, terutama Ibunya, menyatakan bahwa ikatan jodoh antara mereka putus!”

“Karena aku tidak mempunyai keluarga lagi, akupun pergi dari Nan-ping, dan ketika enam tahun kemudian aku kembali ke sini. Ling Ay telah menikah dengan putera Cun Tai-jin kepala daerah Nan-ping.”

Mendengar semua keterangan itu, Hui Hong tersenyum mengejek, walaupun di sudut hatinya diam-diam ia merasa kasihan kepada pemuda ini dan merasa terharu akan nasibnya. “Dan bagaimana engkau tahu bahwa ia merasa terpaksa berada di sana? Siapa tahu ia telah menjadi seorang Isteri yang setia dan mencinta suaminya?”

“Aku … ketika hari Ceng beng aku bersembahyang di depan makam ayah Ibuku, aku telah bertemu dengannya. Ia menyembahyangi kuburan ayah ibuku dan kemudian aku bertemu dengan ayahnya. Dari ayahnyalah aku mendengar segalanya. Juga tentang Cun Tai-jin yang memelihara banyak tokoh sesat dan para penjahat.”

“Hemm, terserah kepadamu kalau engkau menganggap amat penting untuk membebaskan dulu Ling Ay itu dari gedung Cun Tai-jin. Akan tetapi bagaimana caranya? Apakah engkan hendak memasuki gedung itu dan menculik isteri orang?”

Ucapan yang bernada mengejek ini menusuk perasaan Bun Houw, akan tetapi dia tidak membantah, maklum bahwa memang urusannya dengan Ling Ay itu dapat menimbulkan prasangka butuk bagi orang yang tidak mengetahui duduk perkara yang sebenarnya.

“Tidak, aku hanya akan memberitahu ayahnya agar dia yang mengusahakan kepergian wanita itu dari dalam gedung sebelum Souw-ciangkun menyerbu. Nah, sekarang giliranmu untuk menceritakan urusan pribadimu, tentu saja kalau engkau tidak berkeberatan, Hong-moi.”

“Urnsan pribadiku bukan menyangkut pribadiku sendiri, melainkan aku diutus oleh ayahku untuk mencari Pek I Mo-ko, merampas kembali sebuah benda mustika yang dicurinya dari ayahku. Kalau dia tidak mau menyerahkan kembali benda itu aku harus membunuhnya, karena benda itu sama sekali tidak boleh terjatuh ke dalam tangan orang lain!”

“Hemmm, cuma sekian itukah ceritamu tentang dirimu?”

“Ya, habis apalagi? Memang hanya itu urusanku dengan Pek I Mo-ko.”

“Akan tetapi, ceritaku tadi amat panjang. Kalau boleh aku mengetahui, bagaimana benda mustika itu dapat dicuri Pek I Mo-ko?”

“Pek I Mo-ko pernah menjadi pembantu ayahku. Dia pandai memasak, pandai pula mengurus kebun. Belasan tahun dia ikut ayah, semenjak aku masih kecil, dan untuk membalas jasanya, ayahpun menurunkan ilmu kepadanya. Akan tetapi siapa sangka, manusia memang lebih jahat dari pada binatang, tidak mengenal budi. Pada suatu hari dia pergi dan melarikan benda mustika itu.”

“Hong-moi, maukah engkau mengatakan kepadaku, apa sebenarnya benda mustika itu? Nampaknya amat penting bagi ayahmu.”

“Benda mustika itu adalah akar bunga gurun pasir.”

“Ahhhh …!” Bun Houw terkejut sekali.

Pernah gurunya bercerita tentang benda mustika ajaib itu. Sebuah benda langka yang menurut dongeng merupakan tanaman ciptaan seorang manusia dewa di daerah Gurun Gobi di utara. Akar bunga gurun pasir itu kabarnya mempunyai khasiat yang luar biasa, sebagal obat kuat, sebagai penolak racun, sebagai obat yang seolah-olah dapat menarik kembali nyawa orang yang sudah mulai melayang! Tentu saja dongeng ini berlebihan, namun benda itu sudah jelas merupakan mustika yang langka dan banyak khasiatnya, karena telah diperebutkan oleh seluruh datuk dan tokoh besar di dunia kang-ouw. Demikian cerita gurunya yang tidak ikut memperebutkan. Bahkan menurut gurunya, benda itu dicari pula oleh kaisar yang mengutus pasukan dan para jagoan istana untuk mendapatkannya!”

“Engkau sudah tahu akan mustika itu?” Hui Hong mulai kagum kepada pemuda ini yang biarpun di dunia kang-ouw tidak mempunyai nama dan sama sekali tidak terkenal, namun agaknya mengenal orang orang kang-ouw dan tahu akan peristiwa penting di dunia kang-ouw.

“Bukankah akar bunga gurun pasir yang pernah diperebutkan oleh semua tokoh kang-onw, bahkan juga dicari oleh kaisar? Yang kabarnya mempunyai khasiat yang luar biasa?”

Gadis itu mengangguk-angguk. “Memang banar apa yang kaudengar itu, dan karena satu di antara khasiatnya adalah bahwa akar bunga itu dapat menjadi obat panjang umur, maka Kaisar Cang Bu dari Dinasti Liu-sung di Nan-king maupun Kaisar Wei Ta Ong dari Dinasti Wei di Lok-yang seperti berlumba untuk mendapatkannya. Akan tetapi, benda mustika itu tadinya berada di tangan ayah sejak dahulu dan menjadi hak milik kami. Karena itu, bagaimanapun juga, aku harus merampasnya kembali.”

“Hong-moi, urusan ini ternyata banyak kaitannya. Urusanmu dan urusanku memang berbeda, juga berbeda pula dengan tugas Souw Ciang-kun, akan tetapi ketiganya kait mengait. Engkau mencari Pek I Mo-ko yang menjadi kaki tangan kepala daerah Cun Tai-jin. Souw Ciang-kun harus membasmi usaha pemberontakan Cun Tai-jin, sedangkan aku harus menyelamatkan Cia Ling Ay yang tidak berdosa itu sebelum keluarga Cun dibasmi. Oleh karena itu, aku mengharapkan persetujuanmu agar aku lebih dulu berusaha supaya Ling Ay dapat keluar dulu dari dalam rumah keluanga Cun, baru kita turun tangan melakukan penyelidikan mencari Pek I Mo-ko. Bagaimana pendapatmu, setujukah engkau, Hong-moi ?”

Gadis itu mengangguk lagi. “Terserah kepadamu karena engkau yang lebih tahu akan urusannya. Bagiku yang penting hanyalah bertemu dengan Pek I Mo-ko dan minta kembali akar bunga itu.”

“Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan, Hong-moi. Kita pergi mengunjungi rumah paman Cia Kun Ti.”

“Nanti dulu, toako. Ada satu hal yang ingin kuketahui walaupun hal itu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, hanya aku ingin tahu sekali. Apakah … engkau masih mencinta bekas tunanganmu yang telah menjadi Isteri putera kepala daerah itu ?”

Bun Houw terkejut mendengar pertanyaan itu. Betapa terbuka dan beraninya gadis ini pertanyaan yang begitu pribadi sifatnya. Akan tetapi dia segera teringat dengan siapa dia berhadapan. Puteri Bu-eng-kiam, seorang “datuk” persilatan aneh dari Lembah Bukit Siluman yang ditakuti orang. Tentu saja puteri seorang datuk seperti itu juga bukan seorang gadis biasa, tentu mempunyai watak yang aneh pula.

Bun Houw menarik napai panjang lalu menggeleng kepalanya. “Hong-moi, engkau kira aku ini laki-laki macam apa? Antara aku dan Cia Ling Ay sudah tidak ada bubungan apapun, baik lahir maupun batin. Dahulu, kami memang ditunangkan oleh orang tua kami, akan tetapi sejak pertunangan itu diputuskan oleh pihak keluarga Cia, aku sudah menganggap ia bukan apa-apalagi, tidak ada hubungan apapun. Kalau sekarang ia telah menjadi isteri orang, apalagi. Andaikata ia hidup berbahagia, aku hanya akan ikut merasa bersukur. Bahkan sekarangpun, kalau aku tidak mengingat akan kebaikan paman Cia Kun Ti, bekas sababat mendiang ayahku, kiranya akupun tidak akan berani mencampuri urusan Cia Ling Ay walaupun keluarga suaminya terancam bahaya. Namun, ia telah begitu baik sikapnya. mau menyembahyangi kuburan orang tuaku, apakah sekarang melihat ia terancam bahaya hebat, aku harus tinggal diam saja? Tidak, Hong-moi, bukan karena cinta kalau aku sekarang berniat untuk menyelamatkannya.”

Hui Hong tersenyum dan senyumnya kini bukan senyum mengandung ejekan lagi, “Aku percaya padamu, toako. Oya, ada sebuah pertanyaan lagi.”

“Apa itu? Tanyakanlah, aku tidak pernah menyimpan rahasia,” jawab Bun Houw untuk menyindir gadis itu yang sebaliknya diliputi banyak rahasia.

“Aku kagum melihat ilmu tongkatmu. Tongkatmu itu nampak butut, akan tetapi bagaimana dapat menyambut senjata tajam lawan demikian kuatnya ? Tentu di dalamnya dilapisi baja yang kuat, ya ?”

Bun Houw tersenyum, kagum akan ketajaman mata dan kecerdikan gadis itu. “Engkau benar, Hong-moi. Memang tongkat ini hanya merupakan selubung saja, kalau diselubungi dapat kumainkan sebagai tongkat, dan kalau perlu, dapat dirobah menjadi pedang. Seperti ini!”

Dia menggerakkan tongkatnya, mencabut dan nampaklah sinar terang seperti kilat menyambar dan otomatis gadis itu meloncat ke belakang dengan kaget dan siap menjaga diri. Akan tetapi, Bun Houw hanya memegang pedang itu di depan dada dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang tongkat butut yang berfungsi pula sebagai sarung-pedang itu.

“Lui-kong-kiam … !” seru Hui Hong sambil membelalakkan mata dengan kagum. “Benarkah itu yang disebut Pedang Kilat ?”

Dengan gerakan yang amat cepat, pedang itu berkelebat dan telah menyusup kembali ke dalam tongkat butut.

Kini Bun Houw yang memandang kagum. “Agaknya engkau adalah seorang yang telah berpengalaman dan berpengetahuan luas. Hong-moi. Sekali pandang saja engkau mengenal Lui-kong-kiam (Pedang Kilat).”

“Siapapun akan dapat mengenalnya kalan melihat sinarnya tadi, toako. Aku belum pernah melihatnya, akan tetapi pernah mendengar dari ayah tentang Lui-kong-kiam. Kabarnya, puluhan tahun yang lalu Pedang Kilat itu lenyap dari gedung pusaka di istana, dan bahkan dicari dan dijadikan rebutan oleh orang-orang di dunia kang-onw. Sungguh mengherankan bagaimana kini tahu-tahu telah berada di tanganmu, toako,”

“Aku menerimanya dari guruku, Hong-moi,” kata Bun Houw singkat untuk menghilangkan dugaan orang bahwa dia ikut pula memperebutkan pedang pusaka itu.

“Ah ? Kalau begitu gurumu tentu seorang tokoh besar yang hebat, Houw-ko ! Kalau sampai dia dapat mencurinya dari gudang pusaka Istana, dan mempertahankannya terhadap incaran orang-orang dunia kang-ouw, tentu dia hebat. Siapakah gurumu yang sakti itu toako ?”

Bun Houw menghela napas panjang. “Maafkan aku, Hong-moi. Aku harus mentaati perintah guruku, yaitu bahwa beliau tidak mau kalau kusebut namanya. Aku tidak berani melanggarnya.”

Gadis itu mengangguk-angguk. “Hebat! Dia guru yang hebat, dan engkau murid yang hebat dan berbakti. Tidak apa, kalau sekali ayahku melihat gerakan silatmu, dia pasti akan tahu siapa gurumu. Sudahlah, Houw-ko, mari kita melanjutkan perjalanan.”

Ketika Cia Kun Ti yang masih tetap memiliki toko cita itu melihat kunjungan Bun Houw bersama seorang gadis yang cantik dan bersikap gagah, dia menyambut dengan ramah dan segera mempersilakan mereka masuk ke dalam. Dia menyerahkan penjagaan tokonya kepada pembantu dan dia juga ikut masuk, mengajak dua orang itu bicara di ruangan belakang.

“Ada berita penting apakah. Bun Houw? Begitu engkau datang, aku merasa bahwa telah terjadi sesuatu yang hebat. Dan siapakah nona yang gagah ini?”

“Ini adalah Nona Ouwyang Hui Hong, seorang pendekar wanita yang bersama dengan saya hendak menghadapi para penjahat yang mengacau keamauan di Nan-ping ini, paman. Hong-moi, inilah Paman Cia Kun Ti seperti yang pernah kuceritakan kepadamu.”

Dengan sikap tenang dan gagah Hui Hong bangkit dan memberi hormat, dibalas oleh tuan rumah yang mempersilakan ia duduk kembali.

“Bun Houw, apakah yang telah terjadi ? Hatiku dalam beberapa hari ini sungguh merasa tidak enak sekali semenjak kemunculanmu.”

“Banyak hal terjadi, paman, di antaranya adalah usaha para penjahat itu untuk membunuh Souw Ciangkun.”

“Ahhh …!”

“Akan tetapi berkat kelihaian nona Ouwyang ini, dan kebetulan saya dapat membntu pula, usaha pembunuhan itu dapat digagalkan?”

“Dan penjahatnya adalah kaki tangan … kepala daerah?”

Bun Houw mengangguk. “Paman Cia Kun Ti, tidak perlu dirahasiakan lagi bahwa Kepala Daerah Cun memelihara banyak sekali penjahat-penjahat yang berbahaya. Banyak pembunuhan yang terjadi itu dilakukan olek anak buahnya. Hal ini sudah diketahui pula oleh Souw Ciangkun dan dia akan melakukan tindakan, karena ada gejala bahwa Kepala Daerah Cun mempunyai niat buruk, yaitu pemberontakan atau setidaknya akan merebut kekuasaan di daerah ini, membunuh semua orang yang menentangnya. Oleh karena itu paman, saya datang ini untuk minta kepadamu agat paman cepat-cepat, hari ini juga mengajak adik Cia Ling Ay untuk pulang ke sini atau menyingkir dari rumah keluar Cun yang akan diserbu. Kasihan puterimu, paman, jangan sampai ia menjadi korban pula dari kejahatan keluarga Cun.”

Wajah Cia Kun Ti berubah agak pucat. Dia amat mengkhawatirkan keselamatan puterinya. Bahkan juga isterinya berada di rumah keluarga Cun.

“Baik, sekarang juga aku akan pergi ke sana dan akan kuusahakan dengan segala cara untuk mengajak anak isteriku keluar dari rumah itu.” katanya. “Sebaiknya kalau kalian menunggu dulu di rumahku ini agar kalian melihat kalau aku sudah berhasil membawa anak Isteriku keluar, baru kalian bengerak.”

Karena memang lebih baik kalau mereka tidak memperlihatkan dulu di tempat umum agar tidak dikenal para penjahat, Bun Houw setuju dan dia bersama Hui Hong menunggu di ruangan belakang itu sambil bercakap-cakap.

***

“Nyonya besar, di luar ada tuan besar Cia ingin bertemu dengan nyonya besar.” kata pelayan itu. Setiap kali mendengar dirinya disebut “nyonya besar Cia”, Isteri Cia Kua Ti merasa kepalanya membengkak dan dadanya menggembung. Sebagai besan keluarga Cun, di rumah gedung yang serba mewah ini ia diperlakukan dengan sikap amat menghormat, bahkan menjilat oleh para pelayan! Betapa bangga dan senangnya hatinya melihat segala penghormatan yang diberikan kepadanya itu.

Sejak kecil kita dididik oleh peradaban dan kebudayaan kita untuk mengejar nilai-nilai dan kehormatan. Tidaklah mengherankan setelah dewasa, kita tetap saja mendewa dewakan nilai-nilai diri dan kahormatan diri sehingga kita menjadi manusia yang gila hormat. Betapa senangnya hati ini kalau ada orang bersikap hormat kepada kita! Betapa sakitnya hati ini kalau orang lalu memandang rendah kepada kita. Si aku dalam diri ini telah membentuk gambaran diri sendiri sedemikian hebatnya, sedemikian tingginya sehingga senanglah kalau disanjung dan dihormati orang lain. Saking gila hormat, kita sampai menjadi buta dan tidak tahu bahwa semua nilai itu hanya pulasan belaka, semua kehormatan itu hanya palsu dan semu belaka. Bukan lagi kita sebagai manusianya yang dihormati orang, melainkan apa yang menempel kepada kita, apakah itu harta, kedudukan, kepandaian dan sebagainya. Oleh karena itu, sekali segala yang menempel pada kita itu berubah, maka sikap terhadap diri kitapun berubah dan barulah kita sadar akan kepalsuan segala nilai dan kehormatan yang nampak pada sikap manusia. Hartawan yang tadinya dihormati akan direndahkan kalau dia jatuh miskin. Pejabat berkedudukan tinggi yang tadinya disanjung dan dipuji akan dicela dan dimaki kalau dia jatuh dari kedudukannya dan selanjutnya. Maka, seorang bijaksana tidak akan sakit hati kalau dicela dan tidak akan besar kepala dan mabuk kalan disanjung, sebaliknya, diapun tidak suka mencela maupun menyanjung orang karena kedudukan orang itu. Kalau seorang bijaksana menghormati seseorang, yang dihormati adalah manusianya, bulan pakaiannya, bukan kekayaannya, bukan kedudukannya atau kepintarannya. Dan normal antar manusia macam ini adalah sikap yang timbul karena adanya cinta kasih di antara manusia.

Nyonya Cia Kun Ti sedang berada di dalam kamar bersama puterinya, Cia Ling Ay, yang sudah menjadi Nyonya Cun Hok Seng. Putra kepala daerah itu masih marah dan dia yang merasa sangat cemburu itu melarang iterinya keluar dari kamar, mengurungnya dan mengijinkan Ibu mertuanya saja yang menemui Ling Ay.

Mendengar laporan pelayan itu, Nyonya Cia Kun Ti mengerutkan alisnya dan dengan lagak seorang nyonya besar iapun bangkit dari tempat duduknya, lalu berkata kepada pelayan itu dengan nada memerintah.

“Persilakan Tuan Besar Cia untuk duduk menanti di ruang tengah sebentar, aku akan segera menemuinya.”

“Baik, Nyonya Besar,” kata pelayan itu yang segera keluar lagi.

“Ling Ay, sudahlah, engkau jangan menangis. Ayahmu datang, entah mau apa dia. Aku akan keluar sebentar menemuinya, dan engkau jangan keluar agar tidak mendapat kemarahan lagi dari suamimu. Percayalah, kalau engkau menurut dan bersikap manis, kemarahannya tentu akan mereda. Nah, aku keluar dulu.” berkata nyonya itu kepada puterinya yang duduk menangis di atas pembaringan. Ling Ay tidak menjawab ketika ibunya keluar dan menutupkan daun pintu dari luar.

“Hmm, ada urusan apa engkau ke sini? Mantu kita sedang marah kepada Ling Ay, sebaiknya engkau tidak usah datang dulu sebelum reda marahnya,” begitu memasuki ruangan itu, Nyonya Cia menegur suaminya.

Akan tetapi, Cia Kun Ti segera mendekati isterinya. Dia tahu benar watak isterinya yang haus akan kemewahan dan kemuliaan, tahu betapa isterinya amat menikmati kebanggaan menjadi besan kepala daerah. Maka, diapan tidak berani membuka rahasia itu kepada isterinya yang tentu akan mati-matian membela keluarga Cun.

“Aku datang justeru untuk urusan itu! Anak kita memang bersalah, karena itu aku ingin agar ia ikut pulang dengan kila dulu dan aku akan menasehatinya agar ia pandai-pandai membawa diri sebagai mantu kepala daerah.”

“Ihh! Mana bisa? Meninggalkan tempat ini dan kembali ke rumah kita? Jangan-jangan malah keluarga Cun salah sangka, mengira bahwa kita hendak menarik kembali anak kita? Apakah engkau sudah menjadi gila?”

Cia Kun Ti menjadi bingung sekali. Untuk berterus terang, dia tidak berani. Isterinya tak mungkin akan percaya, dan isterinya bahkan tentu akan membocorkan rahasia itu kepada keluarga Cun sehingga akan kacaulah segala-galanya. Dan anaknya tidak akan tertolong, juga isterinya kalau sampai keluarga itu diserbu. Mereka berdua tentu akau dijadikan tawanan sebagai anggauta keluarga Cun, atau bahkan mungkin juga akan tewas dalam penyerbuan itu kalau terjadi pertempuran.

“Percayalah kepadaku. Aku belum gila untuk mencelakakan anak kita sendiri, anak tunggal kita. Mari, kauajak Ling Ay pulang dulu barang sehari dua hari … “

“Tidak! Tidak mungkin, pergilah engkau pulang sendiri sana dan jangan datang lagi membujuk hal yang tidak tidak. Kami tidak akan meninggalkan tempat ini selangkahpun, dan aku akan pulang kalau hubungan Ling Ay dengan suaminya sudah membaik kembali …!”

Tiba tiba mereka menghentikan percakapan karena dari luar terdengar langkah kaki dan daun pinlu itu dibuka dari luar. Terkejutlah suami isteri itu ketika melihat munculnya Cun Hok Seng, mantu mereka! Wajah yang tampan itu nampak muram. Hati Cun Hok Seng masih kesal kepada isterinya, dipenuhi cemburu dan kini dia melihat ayah dan Ibu mertuanya kasak-kusuk di situ!”

“Hmm, rupanya ada hal yang amat penting dibicarakau ayah dan Ibu di sini!” katanya dengan suara ketus.

“Ah … tidak … tidak ada apa-apa … heh-heh, ayahmu banya datang menjenguk … ” Nyonya Cia berkata gugup sambil tersenyum-aenyum menjilat.

Akan tetapi Cia Kun Ti melihat kesempatan baik itu. “Terus terang saja, putera mantuku yang baik. Aku datang karena prihatin mendengar tentang isterimu, anak kami. Aku tahu bahwa ia bersalah besar, akan tetapi kesalahan itu dilakukan karena ia bodoh. Oleh karena itu, perkenankanlah aku membawa ia pulang barang sehari dua hari, agar di rumah kami aku dapat memberinya nasihat sampai ia bertaubat dan mengerti betul bagaimana menjadi seorang isleri yang baik, setia, dan mengabdi kepada suaminya tercinta. Tentu saja kalau diperbolehkan, karena engkaulah yang berhak sepenuhnya, putera mantuku yang baik.”

Sepasang alis itu berkerut, kepala itu menunduk, kemudian Cun Hok Seng mengangguk-angguk. “Baiklah, kalau memang ayah hendak menasihatinya. Mudah-mudahan ia dapat merobah dan tidak mengulang lagi kesalahannya. Aku beri waktu dua hari kepada Ling Ay untuk pulang ke rumah ayah dan menerima nasihat-nasihat ayah.” Setelah berkata demikian dia membalikkan tubuhnya, tidak jadi mendatangi kamar isterinya, melainkan kembali ke ruangan dalam.

Setelah putera mantunya pergi. Nyonya Cia mengomeli suaminya. “Engkau sudah gila! Memberi nasihat saja, apa tidak bisa di sini. Kenapa harus dibawa pulang ? Celaka, bagaimana kalau tidak diterima kembali ? Kita yang akan celaka dan malu !”

“Hushhh, tenanglah. Engkau mendengar sendiri bahwa Hok Seng sudah memberi ijin untuk isterinya pulang selama dua hari. Dia sendiri sudah setuju dan memberi ijin, kenapa engkau malah masih rewel dan banyak ribut?”

“Engkau memang laki-laki tolol. Sekali keluar dari rumah, kalau pintunya ditutup dari dalam, bagaimana bisa masuk kembali? Tidak, aku tidak mau pulang. Kalau engkau hendak mengajak Ling Ay pulang dua hari, silakan. Akan tatapi aku tinggal di sini agar dapat membukai pintu kalau Ling Ay kembali ke sini!”

Tentu saja Cia Kun Ti terkejut sekali mendengar ini, “Jangan, kau harus ikut pulang!” katanya.

“Masa bodoh! Aku tidak mau pergi dari sini. Sudah kukatakan, aku di sini merupakan jaminan kembalinya Ling Ay di keluarga ini. Tahu ? Bodoh amat engkau ini!”

Tentu saja Cia Kun Ti, biarpun seringkali dirong-rong oleh wanita yang galak itu. tetap mencinta isterinya dan dia khawatir sekali kalau isterinya tinggal di situ. Akan tetapi bagaimana dia dapat memaksa wanita ini? Semakin dipaksa, semakin keras kepala.

“Kaupanggil dulu Ling Ay ke sini, dan bujuk ia agar suka pulang bersamaku sekarang juga.” Akhirnya dia berkata.

Dengan sikap marah sang isteri lalu meninggalkan suaminya, memasuki kamar puterinya. Ketika ia mengatakan bahwa ayahnya datang dan mengajaknya pulang dua hari, Ling Ay tidak nampak kaget atau khawatir, bahkan nampak lega hatinya.

“Baik, aku akan ikut ayah pulang.” katanya dan cepat ia berkemas, membawa pakaian secukupnya saja.

“Aku akan tinggal di sini menunggu engkau kembali setelah dua hari bersama ayahmu di rumah sana.” kata pula ibunya.

Ling Ay tidak perduli dan ia lalu keluar bersama ibunya, menemui ayahnya yang telah menanti di kamar tamu.

Melihat Ling Ay keluar diantar pelayan yang membawakan buntalan pakaian, dan melihat Isterinya sebaliknya masih biasa saja tidak nampak siap pergi, tentu saja Cia Kun Ti menjadi bingung.

“Engkaupun harus ikut, mengantarkan anak kita pulang. Dan engkaupun dapat membantuku menasihatinya!” katanya kepada isterinya.

“Sudahlah, jangan banyak cerewet lagi!” kata Nyonya Cia dan ia segera memanggil seorang pelayan dengan sikap angkuh. “Cepat beritahukan pelayan di belakang agar mempersiapkan kereta untuk Nyonya Muda yang akan bepergian keluar bersama Tuan Besar Cia!”

“Baik, Nyonya Besar.” kata pelayan itu.

“Tapi Ibu, aku harus berpamit dulu kepada ayah dan ibu mertua.” kata Ling Ay yang bagaimanapun juga tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang anak mantu. Diantar ibunya, ia masuk ke ruangan dalam. Akan tetapi, kepala daerah Cun masih sibuk di kantornya sehingga Ling Ay hanya dapat berpamit kepada ibu mertuanya yang tidak berkeberatan mantunya yang sedang dimarahi pureranya itu pulang untuk dinasehati ayahnya selama dua hari.

Setelah berpamit dari ibu mertuanya dan tidak berhasil menemukan suaminya yang sudah keluar rumah. Ibunya berkata. “Biarlah aku yang tinggal dan yang akan memamitkan dari ayah mertuamu dan suamimu.”

Dibujuk bagaimanapun. Nyonya Cia Kun Ti tidak mau Ikut pulang, bahkan meninggalkan suaminya yang membujuk-bujuknya itu, lari ke dalam lagi. Terpaksa, dengan hati amat berat, Cia Kun Ti lalu mengantar puterinya pulang dalam sebuah kereta.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan juga rikuh perasaan hati Ling Ay ketika ia memasuki rumah orang tuanya, di ruangan dalam ia disambut oleh Bun Houw dan seorang wanita yang cantik dan juga nampak gagah dan angkuh. Ia menundukkan mukanya, menahan langkah kakinya. Mukanya berubah merah sekali dan ia lalu memutar tubuh menghadapi ayahnya dan memandang dengan sinar mata penuh pertanyaan.

“Jangan heran, anakku. Memang Bun Houw sudah berada di sini ketika aku berkunjung ke rumah suamimu. Duduklah dan aku akan menerangkan. Ini adalah li-hiap (nona pendekar) Ouwyang Hui Hong, sahabat Kwa Bun Houw yang ikut datang mengunjungiku dan membawa kabar yang amat hebat.” kata Cia Kun Ti.

Mendengar ucapan ayahnya itu, barulah Ling Ay berani memutar tubuh lagi menghadapi Bun Houw dan Hui Hong, dan berani mengangkat muka memandang. Bun Houw segera mengangkat kedua tangan ke depan dada yang dibalas oleh Ling Ay.

“Adik Ling Ay. … aku … mohon maaf karena telah menyebabkan engkau mendapat banyak kesukaran sejak pertemuan kita di kuburan itu.” kata Bun Houw cepat-cepat dengan suara penuh penyesalan.

Ling Ay tersenyum, senyum yang pahit menurut penglihatan Hui Hong. “Engkau tidak bersalah apa-apa, toako. Akulah yang … ng, memang sudah ditakdirkan demikian. Tidak apa-apa … “

Hui Hong memandang dan ia merasa menyesal bahwa ia pernah mengejek Bun Houw yang dianggapnya masih saling mencinta dengan bekas tunangannya yang kini sudah menjadi Isteri orang lain. Kiranya, Ling Ay seorang wanita yang selain cantik, juga berhati bersih! Ia lalu memberi hormat.

“Enci Ling Ay, aku sudah mendengar tentang engkau dari Houw-toako, dan aku girang dapat bertemu denganmu.”

Melihat gadis itu memberi hormat, Ling Ay menghampiri dan merangkulnya. Matanya yang jernih itu menjadi agak basah dan ia berkata lirih. “Lihiap … “

“Ihh, enci. Jangan sebut lihiap, namaku Hui Hong.”

“Hong-moi, engkau sungguh seorang gadis yang cantik jelita, gagah perkasa dan berhati mulia. Aku girang toako Bun Houw mempunyai seorang sahabat seperti engkau. Semoga kalian berbahagia … “

Hui Hong membelalakkan matanya dan tiba-tiba ia tertawa, tertawa geli dan bebas sehingga mengejutkan Cia Kun Ti dan juga Ling Ay.

Akan tetapi Bun Houw hanya tersenyum, tidak merasa heran melihat gadis itu tertawa sebebas itu sehingga nampak deretan giginya yang rapi dan putih. Justeru kebebasan gadis itu yang menambah daya tarik baginya.

“Eh, adik Hong, kenapa eugkau tertawa ?”

Ling Ay bertanya, tidak marah, melainkan heran, “Engkau salah duga, enci. Memang Houw ko dan aku telah menjadi sahabat, akan tetapi kamipun baru saja saling bertemu dan berkenalan. Baru beberapa hari. Jadi … eh. tidak ada apa apanya antara dia dan aku!” kembali ia tertawa dan Ling Ay juga ikut tertawa, tawa sopan. Ia semakin suka. Gadis ini terbuka, dan jujur, tidak pura-pura.

“Aih, kiranya begitu?” katanya. “Biarlah, sekarang belum, akan tetapi aku ikut mendoakan … “

Bun Houw mengerutkan alisnya. Dua orang wanita muda yang sama-sama cantiknya itu seolah olah bicara dengan kata-kata sandi yang tidak dimengerti artinya sama sekali. Cia Kun Ti yang melihat kegembiraan antara dua orang wanita muda itu, merasa tidak enak karena dia masih gelisah membayangkau apa yang akan terjadi dengan keluarga Cun, sedangkan isterinya masih berada di sana, segera berkata.

“Ling Ay, duduklah dan mari kita bicarakan hal yang amat penting ini.”

Ling Ay duduk di atas bangku di sebelah Hui Hong, sedangkan Bun Houw duduk berhadapan di seberang meja berdampingan dengan ayahnya, “Ayah, bukankah ayah mengajak aku pulang untuk memberi nasihat ?” tanyanya, memandang heran.

Akan tetapi ayahnya menggeleng kepalanya. “Sama sekali bukan! Aku memang sengaja membujuk agar engkau meninggalkan rumah keluarga Cun setelah aku menerima kunjungan Bun Houw dan Ouwyang Lihiap ini. Akan tetapi … ah. ibumu berkeras kepala, tidak mau ikut!”

“Ah. jadi bibi masih berada di sana ?” tanya Bun Houw. Dia sudah melupakan semua sikap wanita Ibu kandung bekas tunangannya itu, lupa bahwa wanita itulah sesungguhnya yang memaksa putus hubungan pertalian jodohnya dengan Ling Ay.

“Ia tidak mau pergi! Sungguh keras kepala …!” kata Cia Kun Ti.

“Ayah, sesungguhnya apakah yang telah terjadi ? Mengapa ayah menghendaki agar aku dan Ibu meninggalkan keluarga suamiku!”

“Ling Ay, orang yang menjadi ayah mertuamu itu, kepala daerah yang dikenal sebagai Cun Taijin yang terhormat itu, ternyata dia adalah seorang pemberontak!”

“Ahhh … ?” Ling Ay terbelalak. “Bagaimana mungkin … ? Bukankah dia seorang pejabat yang paling berkuasa di Nan-ping?”

“Justeru itulah! Dia menghimpun kekuatan, memelihara tokoh-tokoh penjahat besar, dan dia membunuhi saingan-saingannya atau orang-orang yang menentangnya, seperti dahulu … sahabatku, ayah kandung Bun Houw juga terbunuh oleh anak buahnya … “

“Aihhh …! Be … benarkah itu … ?” Ling Ay kini menoleh dan menatap wajah bekas tunangannya itu, wajahnya sendiri berubah pucat.

Bun Houw menarik napas panjang, merasa kasihan sekali kepada bekas tunangannya lalu mengangguk. “Sesungguhnya begitulah,”

“Ahhh …!” Ling Ay menutupi mukanya dan ia menangis. “Jadi … mereka … membunuh ayah ibumu … kemudian … kemudian mengambil pula aku … ah, Houw-toako, betapa … betapa buruk nasibmu … “

Bun Houw menarik napas panjang. “Sudahlah, adik Ling Ay. Tidak ada gunanya menyesali hal yang telah lalu. Yang penting sekarang bagaimana agar ibumu dapat diselamatkan pula.”

“Apa … apa yang akan terjadi … ?”

Wajah yang bernasib malang itu mengangkat mukanya yang kini pucat dan basah air mata.

Hui Hong merasa kasihan sekali kepada Ling Ay. Ia tahu bahwa dahulu teutu wanita ini amat mencinta Bun Houw. akan tetapi dipaksa berpisah dari calon suaminya itu dan dipaksa menikah dengan putera kepala daerah yang ternyata tidak pula mendatangkan kebahagiaan baginya, babkan kini menghadapi malapetaka.

“Enci. perbuatan jahat kepala daerah itu telah diketahui oleh Souw Ciangkun, komandan pasukan keamanan di kota ini karena dia pun malam tadi hampir dihunuh oleh anak buah Cun Taijin. Dan pemberontak itu akan diserbu. Sebelum penyerbuan dilakukan. Houw-toako lebih dahulu ingin menyelamatkau engkau dari sana.”

“Ahhh … mengapa begitu? Houw-ko, aku sudah menjadi isteri Cun Hok Seng. Apapun yang terjadi, aku adalah keluarga mereka dan kalau mereka dibasmi, kalau mereka dihukum, sudah sepatutnya kalau akupun ikut bertanggung jawab. Ayah, biarkan aku kembali ke sana dan bawa saja ibu keluar dari sana …” wanita itu menangis lagi dan kembali Hui Hong memandang kagum. Seorang wanita yang hebat, pikirnya. Seorang isteri yang setia. Ia lalu merangkulnya, “Enci, kurasa pendapat itu keliru. Kalau engkau tadinya mengetahui semua kejahatan itu dan menyetujuinya atau membantunya, maka engkau harus mempertanggungjawabkan kesalahanmu itu. Akan tetapi, engkau hanya seorang korban! Korban kejahatan mereka. Bagaimana mungkin engkau harus mempertanggungjawabkan kejahatan mereka?”

“Akan tetapi, adik Hong. Aku Isteri Cun Hok Seng! Aku keluarga mereka.”

“Keluarga yang dipaksa! Bukankah engkau dahulu dipaksa untuk menikah dengan putera kepala daerah itu? Bukankah sejak kecil sebetulnya yang menjadi calon suamimu adalah Houw-toako ini? Tidak, enci, engkau tidak sepatutnya bertanggung jawab. Bahkan eugkau sepatutnya sakit hati kepada mereka. Biarlah, aku yang akan membalaskan sakit hatimu, enci.”

“Tapi … rapi … biarpun aku berada di sini, tetap saja tersangkut dan pasti akan ditangkap, bahkan ayah dan Ibu juga. Bukankah ayah dan ibu besan mereka dan aku bahkan anak mantu?” kembali Ling Ay membantah dan ayahnya juga terkejut karena melihat kebenaran yang terkandung dalam ucapan puterinya itu.

“Jangan khawatir.” kata Bun Houw cepat. “Aku yang akan minta kepada Souw Ciangkun agar keluarga Cia tidak diganggu, dan aku akan menjelaskan semuanya.”

“Benar,” kata Hui Hong. “Souw Ciangkun, pasti akan suka mendengarkan keterangan kami!”

“Kalau begitu, biar aku mencoba lagi membujuk isteriku agar keluar dari sana sebelum terlambat,” kata pula Cia Kun Ti.

Bun Houw bangkit berdiri, juga Hui Hong. “Memang sebaiknya begitu, paman, karena kami berdua akan melapor kepada Souw Ciangkun sekarang juga.”

“Ayah, kalau ibu tidak mau, katakan saja bahwa aku tiba-tiba jatuh sakit, atau apa saja, asal dapat memaksa ia pulang,” kata Ling Ay dengan khawatir.

Mereka lalu pergi. Bun Houw pergi bersama Hui Hong, dan Cia Kun Ti berlari-lari menuju ke rumah kepala daerah. Ling Ay yang ditinggal seorang diri membanting diri di atas pembaringan di dalam kamar ibunya dan menangis, menutupi mulutnya dengan bantal agar tidak sampai terdengar tangisnya keluar kamar.

***

Tidak mudah bagi Cia Kun Ti untuk dapat membujuk isterinya meninggalkan gedung kepala daerah itu.

“Tidak! Aku tidak mau menemuinya. Suruh dia datang kalau bersama Nyonya Muda.” katanya kepada pelayan yang melapor kepadanya akan kedatangan suaminya itu.

Akan tetapi, maklum babwa ini menyangkut urusan mati hidupnya atau setidaknya keselamatan isterinya, Cia Kun Ti tidak mau pergi kalau isterinya tidak mau ikut.

“Katakan kepadanya bahwa aku mau bicara urusan penting sekali, urusan yang menyangkut diri Nyonya Muda. Sebentar saja!”

Hari telah hampir sore, maka hati Cia Kuu Ti gelisah bukan main. Akhirnya, isterinya keluar dengan mulut cemberut runcing dan muka keruh seperti air lumpur.

“Ihhh, engkau ini sungguh menjengkelkan! Mau apa sih mengganggu aku terus? Bukan menasihati anaknya malah datang mengganggu aku!”

“Ssttt, dengar baik-baik, jangan sampai terdengar orang lain. Ketahuilah, anak kita mengalami kecelakaan … “

“Ahhh? Cilaka ? Ling Ay … kenapa, ia … ? Kenapa …?”

“Iya … setelah tiba di rumah, kunasihati ia malah mencoba untuk membunuh diri …”

“Bunuh diri?” Nyonya itu menjerit lalu mencengkeram lengan suaminya. “Ia mati ? Kau membunuhnya …! Engkau yang membunuhnya !”

“Tenanglah, tenang. Ia tidak mati, hanya luka. Untung masih dapat kucegah. Karena itu. mari cepat pulang … cepat. Jangan sampai ia mencoba membunuh diri lagi … “

“Ling Ay … anakku … ahhhh, … !”

Kini tanpa banyak cingcong lagi Nyonya Cia Kun Ti berlari keluar, lupa benganti pakaian, lupa berpamit. Cia Kun Ti mengikuti dari belakang, diam-diam merasa girang sekali, meeeka berdua tidak memperdulikan pandang mata terheran-heran dari para pelayan yang melihat suami isteri itu berlari-lari keluar dari dalam gedung itu. Mereka tidak berani bertanya karena dua orang itu adalah besan majikan mereka, hanya saling pandang kemudian peristiwa itu menjadi bahan pergunjingan mereka. Bagaimanapun juga, telah terbocor bahwa tuan muda mereka marah kepada isterinya, karena nyonya muda dikabarkan mengadakan pertemuan dengan pemuda bekas kekasihnya. Tentu saja mereka mempengunjingkan sambil tertawa-tawa di balik lengan baju mereka. Sudah lajim bahwa kita suka sekali, membicarakan keburukan orang lain, suka sekali mempergunjingkan aib orang lain, bahkan suka mentertawakan penderitaan orang lain. Nafsu setan menguasai batin kita sehingga seolah kita selalu merasa iri kalau melihat orang lain serba lebih dari kita, dan merasa senang kalau melihat orang lain lebih sengsara dari pada kita. Nafsu daya rendah yang mencengkeram batin kita membuat kita diperbudak nafsu sehingga kita lupa segalanya. Jiwa murni yang datang dari Tuhan seperti tertutup oleh selubung nafsu daya rendah yang menguasai kita. Susah kalau sudah begitu, nafsu setanlah yang mengendalikan semua tingkah laku kita, bahkan mencengkeram hati dan akal pikiran kita, seluruh pancaindra kitapun dikuasainya sehingga apapun yang kita pikirkan, ucapan, lakukan, semua hanya mempunyai satu pamrih, yaitu menyenangkan si aku. dan si aku itu yalah nafsu setan itulah! Nafsu setan yang sudah mencengkeram segalanya, seluruh diri kita lahir batin. Kalau “aku” yang sesungguhnya adalah jiwa, setetes air dari samudera yang menjadi pusat, secercah sinar dari matahari yang menjadi pusat, sebagian kecil dari kekuasaan Tuhan, maka setelah bergelimang nafsu setanlah, yang mengaku-aku. Tidak ada kekuasaan yang akan mampu mengusir setan itu dari kita, karena sesungguhnya, hidup manusia ini tidak akan dapat bertahan tanpa adanya nafsu yang menjadi pelengkap bahkan menjadi pelayan dan alat penting bagi kita hidup di dunia ini. Karena daya-daya rendah itu merupakan berkah dan kasih sayang Tuhan kepada kita, melengkapi kita dengan alat-alat itu yang akan dapat membuat kita hidup berbahagia, maka kalau daya-daya rendah itu menjadi nafsu yang tidak terkendalikan lagi bahkan mengendalikan kita, maka hanya kekuasaan Tuhan pula yang akan mampu menolong kita. Hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu membebaskan kita dari daya pengaruh setan sehingga bukan kita manusia yang diperhamba, melainkan daya-daya rendah itu yang menjadi hamba, menjadi alat.

Ayah dan ibu itu berlari-larian menuju ke rumah mereka. Ketika mereka memasuki rumah. Nyonya Cia Kun Ti yang melihat puterinya duduk di tempat tidur dan kelihatan, habis menangis, segera menubruknya.

“Ling Ay anakku, apa yang telah kaulakukan, anakku?”

Ling Ay merasa lega melihat Ibunya, akan tetapi juga hatinya seperti ditusuk mengingat akan nasibnya. Biarpun ia menjadi isteri Cun Hok Seng secara terpaksa, namun ia telah menjadi isterinya, dan biarpun suami itu hanya menyanjung dan memanjakannya selama beberapa bulan saja ketika berbulan madu, namun ia tetap Isterinya dan kalau keluarga suaminya tertimpa malapetaka, berarti ia pun akan terkena aib. Maka iapun merangkul ibunya dan menangis, merasa kasihan pula kepada ibunya yang ia tahu amat menikmati keadaannya sebagai besan kepala daerah.

“Ibu, ah, ibu …”

“Anakku, kata ayahmu, engkau hampir membunuh diri? Ling Ay, apakah engkau tega meninggalkan Ibumu? Kenapa engkau begitu putus asa? Suamimu hanya sedang marah, sebentar juga akan baik kembali dan … “

“Ibu, kalau ibu tidak mau menemani aku selama beberapa hari ini di sini, aku benar-benar akan membunuh diri!” kata Ling Ay dengan suara yang tegas. Mendengar ini, ibunya terbelalak, akan tetapi tidak berani banyak bicara lagi.

“Aku akan di sini … aku akan menemanimu … “ katanya berulang-ulang.

***

Sementara itu, bersama dengan datangnya malam, dua sosok bayangan berkelebat cepat meloncati pagar tembok belakang bangunan yang menjadi perumahan kepala daerah. Mereka itu adalah Bun Houw dan Hui Hong yang sudah melapor kepada Souw Ciangkun. Mereka telah bekerja sama dan mengatur rencana bahwa dua orang pendekar itu akan lebih dahulu menyusup ke dalam, selain untuk membuat para penjahat di situ tidak menduga akan adanya penyerbuan pasukan, juga untuk menyelesaikan urusan pribadi Hui Hong yang hendak mencari Pek I Mo-ko yang telah mencuri akar bunga gurun pasir dari ayahnya.

Dengan Bun Houw sebagai penunjuk jalan, mereka tiba di luar ruang pertemuan dan mengintai ke dalam. Kiranya Pek I Mo-ko sedang marah-marah, memaki-maki para pembantunya yang dianggap tolol karena semua tidak dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik. Siauw-bin Pek ti bersama tiga orang rekannya gagal membunuh Kwa Bun Houw, bahkan dihajar habis-habisan oleh pemuda itu. Bu-tek Kiam-mo yang sudah dibantu Ngo-kwi juga gagal membunuh Souw Ciangkun, bahkan dua orang di antara Ngo-kwi terluka oleh Bun Houw.

“Kalian semua tidak becus! Kalian sungguh memalukan sekali menjadi pembantu-pembantuku yang kupercaya! Bu-tek Kiam-mo, engkau adalah pembantuku yang utama, bagaimana sekali ini engkau gagal melaksanakan tugasmu? Padahal, Ngo-kwi sudah kusuruh membantumu!”

“Kalau tidak ada Kwa Bun Houw itu dan seorang gadis yang lihai sekali, tentu tugas itu berhasil. Aku sendiri sudah dapat berhadapan muka dengan Souw Ciangkun dan menyerangnya, akan tetapi tiba-tiba muncul gadis itu.”

“Hemm, dikalahkan oleh seorang perempuan muda? Sungguh tak tahu malu. Percuma saja julukanmu Bu-tek Kiam-mo (Setan Pedang Tanpa Tanding) kalau engkau kalah oleh seorang perempuan, apalagi masih gadis. Siapakah gadis itu ?”

“Aku … aku tidak tahu, Ciong Tai-hiap … “

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

“Ciong Kui Le, akulah gadis itu!” Yang berkumpul di dalam ruangan itu kurang lebih duapuluh orang, yaitu Pek I Mo-ko Ciong Kui Le yang menjadi pemimpin. Bu-tek Kiam-mo Bouw Swe, Siauw-bin Pek-ti Gu Mouw, Ngo-kwi, dan beberapa orang lagi yang kesemuanya merupakan jagoan-jagoan itu dan berkepandaian tinggi maka mereka ditarik oleh Pek I Mo-ko sebagai pembantu pembantunya. Mendengar bentakan itu. mereka semua terkejut dan memandang ke arah datangnya suara. Nampak dua bayangan orang berkelebat dan di ruangan itu telah berdiri Kwa Bun Houw dan seorang gadis yang cantik dan gagah, yang masih muda. paling banyak delapanbelas tahun usianya. Melihat gadis ini. Butek Kiam-ong terkejut karena gadis itulah yang telah menghalanginya membunuh Siauw Cingkun. Dia tidak khawatir akan dikenal orang karena ketika melaksanakan tugas itu, dia dan Ngokwi mengenakan topeng. Akan tetapi ketika dia menoleh kepada Pek I Mo-ko untuk memberi isyarat dia melihat betapa pemimpinnya itupun terbalalak dan mukanya membayangkan rasa kaget dan juga takut. Akan tetapi hanya sebentar saja, karena Pek I Mo-ko segera dapat menguasai dirinya lagi, mengandalkan banyaknya anak buah, lalu dia bahkan tertawa.

“Ha-ha-ha ha, kukira siapa gadis yang menentang kami itu, kiranya engkau, Ouwyang Hui Hong!”

Wajah gadis itu menjadi merah dan sinar matanya mencorong. Orang ini telah dikenalnya sejak ia kecil, dan dahulu ketika masih menjadi pembantu ayahnya, sikap Ciong Kui Le cukup baik dan sayang kepadanya, juga menghormatnya dengan menyebutnya Hong Siociay (Nona Hong). Akan tetapi sekarang, sikapnya demikian congkak dan menyebut namanya dengan nada mengejek!

“Ciong Kui Le manusia tak mengenal budi dan tak tahu malu! Selama belasan tahun, engkau hidup di bawah pemeliharaan ayahku, bahkan menerima ilmu silat dari ayah, dan engkau membalasnya dengan melarikan diri mencuri benda mustika simpanan ayah! Hayo cepat berlutut menerima hukuman dan kembalikan mustika itu!” Berkata demikian, gadis-itu menggerakkan kedua tangan dan tahu-tahu kedua tangan itu telah menghunus sepasang pedang yang gemerlapan.

Kembali Pek I Mo-ko tertawa. “Ha ha-haha, Hui Hong anak kemarin sore, berani engkau bicara besar di depanku? Lupakah engkau bahwa dulu seringkali aku yang membimbingmu dan memberi petunjuk kalau engkau berlatih silat? Ha ha-ha, orang lain boleh jadi takut kepadamu, akan tetapi aku tidak! Engkau tidak akan menang melawanku, Hui Hong. Mustika itu ada padaku dan takkan kukembalikan. dan sakarang engkau bahkan menyerahkan diri. Ouwyang Hui Hong, engkau tidak akan dapat keluar lari dari tempat ini!” Pek I Mo-ko lalu memberi aba-aba dan duapuluh orang lebih itu segera membuat gerakan mengepung. Bun Houw dan Hui Hong kini terkepung di ruangan yang cukup luas itu, dan di luar masih berdatangan lagi puluhan orang anak buah kepala daerah Cun yaitu pasukan penjaga keamanan!

“Pek I Mo-ko!” teriak Bun Houw dengan kata lantang. “Engkau dan kawan-kawanmu ini menjadi kaki tangan Cun Tai-jin, melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang menentangnya. Kalian adalah kaki tangan pemberontak! Dan aku mengenal siapa Ngo-kwi yang membantumu ini! Mereka ini sejak enam tujuh tahun yang lalu telah menjadi kaki tangan Cun Tai-jin untuk membunuhi orang-orang yang menentangnya, termasuk ayahku! Pendekar Kwa telah mereka keroyok dan bunuh, juga … ibuku!”

Bun Houw menekan perasaannya karena dia tidak mau dicengkeram oleh nafsu kebencian karena dendam. dia hanya bertindak melaksanakan tugasnya sebagai pendekar untuk menentang kejahatan, membasmi mereka yang jahat, bukan bertindak karena dendam dan benci seperti yang diajarkan mendiang ayahnya, juga yang dipesankan gurunya. Kalau sampai dalam pertempuran dia merobohkan dan membunuh penjahat, biarlah penjahat itu tewas sebagai akibat kejahatan mereka, bukan sebagai akibat balas dendamnya !

“Tangkap atau bunuh mereka !” Pek I Mo-ko memberi aba-aba dan semua anak buahnya maklum bahwa aba-aba itu berarti bahwa kalau mungkin mereka ditaruskan menangkap hidup-hidup dua orang muda itu, terutama sekali tentunya gadis cantik itu, akan tetapi kalau tidak mungkin, mereka diperbolehkan membunuh mereka berdua dan tidak membiarkan mereka lolos!

“Singgg …!” Nampak sinar berkilat dan tangan kanan Bun Houw lelah memegang sebatang pedang yang sinarnya menyilaukan mata ketika cahaya lampu menimpa pedang itu, itulah Lui-kong-kiam, pedang pusaka yang disebut Pedang Kilat, yang selama ini disembunyikan saja di dalam sarungnya yang berupa sebatang tongkat butut yang kini berada di tangan kiri pemuda itu. Karena maklum bahwa pihak lawan jauh lebih banyak dan di antara mereka terdapat banyak orang yang lihai, maka sekali ini Bun Houw terpaksa mencabut Lui-kong-kiam. Dia tahu bahwa yang paling lihai di antara mereka tentulah Pek I Mo-ko, laki-laki yang berpakaian serba putih itu. Akan tetapi, Bu-tek Kiam-mo. Siauw-bin Pek-ti dan Ngo-kwi sudah mengepung dan mengeroyoknya, menyerang dari semua penjuru sehingga dia tidak sempat lagi menghadapi Pek I Mo-ko. Agaknya hal ini memang sudah diatur oleh pemimpin gerombolan itu, karena Pek I Mo-ko sendiri menghadapi Hui Hong gadis yang telah dikenalnya dengan baik dan diketahui tingkat kepandaiannya maka dia memandang ringan, “Biarkan aku menangkap gadis ini. Yang lain keroyok dan bunuh pemuda berbahaya itu!” teriaknya dan diapun mencabut sebatang pedang dengan tangan kanan, dan sebatang kipas bergagang baja dengan tangan kirinya.

“Pengkhianat rendah!” Hui Hong membentak dan iapun menyerang dengan sepasang pedangnya. Pek I Mo-ko Ciong Kui Le yang mengenal ilmu pedang pasangan gadis itu, sengaja menangkis, mengelak dan membalas dengan totokan gagang kipasnya. Hui Hong meloncat ke samping untuk menghindarkan diri dan sepasang pedangnya membuat gerakan menggunting dengan serangan yang amat dahsyat.

“Hemmm …!” Pek I Mo-ko berseru, terpaksa melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik sambil mengelebatkan pedang dan kipasnya untuk membalas. Tahulah dia bahwa setelah dia pergi, gadis ini telah memperdalam ilmunya sehingga kini merupakan seorang lawan yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Dari pertemuan pedang tadi saja dia maklum bahwa Hui Hong telah memiliki tenaga sin-kang yang cukup kuat dan hampir mengimbangi tenaganya sendiri. Agaknya dia hanya harus mengandalkan pengalamannya untuk dapat mengalahkan puteri bekas majikan dan juga gurunya itu.

Sementara itu, Bun Houw dikeroyok oleh banyak orang, akan tetapi bagaikan seekor jengkerik dikeroyok banyak semut, dalam gebrakan pertama saja, dua orang di antara Ngo-kwi dan dua orang pengeroyok lain telah roboh karena tubuh mereka disambar Lui-kong-kiam bersama dengan buntungnya senjata mereka ketika terbabat pedang pusaka itu! Dan makin hebat dan makin banyak para pengeroyok menyerangnya, makin hebat pula amukan Bun Houw dengan Pedang Kilat di tangan kanannya. Bahkan tongkat butut yang kini kosong di tangan kirinya itupun sempat merobohkan dua orang pengeroyok dengan totokannya. Mereka yang roboh ditarik keluar oleh pengeroyok lain dan tempatnya digantikan orang lain sehingga tempat yang luas itu penuh dengan mereka yang mengeroyok Bun Houw. Pemuda ini tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri melainkan khawatir melihat betapa Hui Hong menghadapi seorang lawan yang dia tahu amat berbahaya. Apalagi ketika dilihatnya beberapa kali gadis itu terdesak dan sempat terhuyung. Akan tetapi, yang mengeroyoknya terlalu banyak sehingga dia tidak mungkin dapat membantu atau melindungi gadis itu. Pula. dia mengenal watak gadis yang keras dan gagah itu, yang mungkin malah akan tersinggung kalau dia maju membantunya padahal ia belum kalah. Dia hanya mengharapkan Hui Hong akan mampu bertahan sampai datangnya bala bantuan yang dia tahu tidak lama lagi tiba karena tentu kini pasukan yang dipimpin sendiri oleh Souw Ciangkun telah melakukan pengepungan terhadap kompleks bangunan gedung tempat tinggal kepala daerah Cun.

Perhitungan Bun Houw memang tepat dan, harapannya terkabul ketika tiba-tiba terdengar bunyi terompet dan tambur sebagai tanda penyerbuan pasukan tentara penjaga keamanan. Bukan saja seluruh penghuni perumahan kepala daerah Cun yang menjadi geger dan panik, bahkan seluruh kota Nan-ping menjadi gempar ketika terdengar berita bahwa gedung tempat tinggal kepala daerah Cun dikepung dan diserbu oleh pasukan tentara penjaga keamanan dari benteng.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya kepala daerah Cun dan keluarganya. Juga Pek I Mo-ko yang sedang bertanding mati-matian mendesak Hui Hong kaget sekali, ketika mendengar bunyi tambur dan terompet, dan tahulah dia bahwa dia telah gagal, bahwa majikannya, kepala daerah Cun telah gagal dan telah diketahui rahasianya oleh komandan pasukan keamanan. Habislah semua harapan dan tidak ada artinya lagi membela kepala daerah yang ambisius dan telah gagal itu. Juga para penbantunya yang tadinya masih bersemangat mengeroyok Bun Houw walaupun sudah banyak di antara mereka roboh oleh Si Pedang Kilat. Ngo kwi, kelima orang yang dahulu membunuh Kwa Tin dan isterinya, juga menjadi korban Si Pedang Kilat, tewas bersama Bu-tek Kiam-mo dan Siauw-bin Pek ti, walaupun yang dua orang ini melanjutkan perlawanan dengan gigih dan bagi Bun Houw tidak amat mudah merobohkan mereka. Karena dua orang ini dan Ngo kwi, maka tadi Bun Houw tidak berdaya membantu atau melindungi Hui Hong. Bahkan ketika Ngo-kwi sudah tewas, kedua orang itu dibantu kawan-kawan mereka masih mengepungnya ketat.

Baru setelah pasukan keamanan datang menyerbu sampai ke ruangan di mana terjadi pertempuran itu, Bun Houw barhasil merobohkan Bu-tek Kiam-mo dengan pedangnya, dan merobohkan Siauw bin Pek-ti dengan tongkatnya. Dia tidak memperdulikan lagi para pengeroyok lain yang sudah dikepung para perajurit, lalu meloncat ke arah sudut kanan di mana tadi dia melihat Hui Hong bertempur-mati-matian melawan Pek I Mo-ko. Akan tetapi, keduanya tidak nampak lagi di situ! Baik Hui Hong maupun Pek I Mo-ko tidak berada di sana lagi, telah pergi entah ke mana.

Bun Houw lari keluar dan bertemu dengan Souw Ciangkun di dekat pintu ruangan itu. Panglima yang mengenakan pakaian dinas itu tersenyum kepadanya.

“Terima kasih, tai-hiap, semua berhasil baik !”

“Ciangkun, apakah ciangkun melihat nona Ouwyang ?”

Komandan pasukan itu mengacungkan jempolnya memuji. “Hebat sekali Ouwyang Li-hiap, ia tadi mengejar-ngejar lawannya yang lari ketakutan,”

“Lawannya Pek I Mo-ko yang berpakaian serba putih?”

“Benar.”

“Ke arah mana larinya ?”

Komandan itu hanya menuding keluar dan sebelum dia sempat menjawab, Bun Houw sudah meloncat ke luar perumahan itu melakukan pengejaran. Namun, karena keadaan di situ penuh dengan tentara, maka dia kehilangan jejak dan tak seorangpun dapat memberi keterangan ke arah mana Hui Hong mengejar musuhnya. Hatinya khawatir sekali, akan tetapi dia tidak mampu berbuat apa-apa. Dan diapun tidak ingin kembali menemui Souw Ciangkun karena dia menganggap bahwa tugasnya telah selesai. Dia berputar-putar di dalam kota Nan-ping, bertanya-tanya kalau ada yang melihat Hui Hong, namun tak berhasil dan akhirnya diapun menuju ke rumah Cia Kun Ti.

Karena mencari-cari jejak Hui Hong semalam suntuk tanpa hasil, hari telah mulai terang ketika dia tiba di rumah Cia Kun Ti. Keadaan kota telah aman, tidak panik lagi dan di mana-mana orang membicarakan peristiwa yang menggemparkan itu, bahwa keluarga Cun semua ditangkap, banyak kaki tangan yang melakukan perlawanan tewas dan kini rumah kepala daerah itu ditutup dan dijaga oleh pasukan prajurit yang tidak membolehkan siapa-pun memasuki pekarangannya.

Cia Kun Ti dan Ling Ay menyambut kedatangan Bun Houw dengan perasaan haru. Dengan muka masih pucat karena semalam dia mendengar geger yang terjadi di rumah keluarga bekas besannya, Cia Kun Ti merangkul Bun Houw, bekas calon mantunya itu.

“Ah, Bun Houw. kalau tidak ada engkau bagaimana jadinya dengan kami … ! Hanya Tuhan yang tahu betapa basar penyesalan hati kami atas perlakuan dan sikap kami dahulu terhadap dirimu dan betapa besar rasa sukur dan terima kasih kami kepadamu … “

Ling Ay tidak mampu bicara, hanya menangis terisak-isak. Gadis inipun pucat sekali, rambutnya kusut, pakaiannya juga kusut dan jelas bahwa semalam ia tidak tidur dan berada dalam keadaan gelisah dan berduka.

“Sudahlah, paman. Kita harus bersyukur kepada Thian bahwa kita masih dilindungi, dan masih utung pula bagi rakyat bahwa usaha pemberontakan itu dapat dibasmi sehingga tidak jatuh korban lebih banyak lagi.”

“Aihhh … kalau Ingat bahwa engkau telah menjadi korban, Bun Houw. Ayahmu, ibumu, semua tewas oleh kaki tangan penjahat ]yang berkhianat itu … “

“Bukan hanya keluarga saya yang menjadi korban. Juga keluarga lain, dan adik Ling

Ay … semua menjadi korban. Eh, di mana bibi? Kenapa ia tidak kelihatan?” Tiba-tiba Bun Houw bertanya dengan khawatir.

Sebelum ayah dan anak itu sempat menjawab, wanita yang ditanyakan Bun Houw itu berlari memasuki ruangan itu sambil menangis. Melihat Bun Houw, ia menangis semakin sedih dan menjatuhkan dirinya di atas lantai menangis seperti anak kecil.

“Aduh celaka … aduh celaka … habislah semuanya … hu-hu-huuuu … hancurlah semua, bagaimana kita dapat hidup miskin dan papa … ?” Kemudian, tiba-tiba ia mengangkat muka, memandang kepada Bun Houw dan iapun bangkit berdiri, matanya masih bengkak dan merah-merah, kini memandang kepada pemuda itu dengan marah lalu menghampiri dan menudingkan tangannya kepada pemuda itu. “Engkaulah gara-garanya! Engkau penyebab malapetaka ini! Sejak engkau muncul di kuburan itu, malapetakapun menimpa kami! Tentu engkau yang melaporkan sehingga seluruh keluarga Cun ditangkap. “Engkau … engkau tak tahu malu! Engkau sudah kami tolak, masih ada muka untuk muncul … “

“Ibuuuu. …!” Ling Ay menjerit dan menangis. “Ibu, bagaimana ibu dapat mengeluarkan ucapan sekeji itu! Houw-koko telah menyelamatkan kita, ibu! Dan ibu bukan berterima kasih malah mengumpat dan menghinanya …!”

“Berterima kasih ? Dia menolong kita ? Bohong! Kita hidup berbahagia, mulia dan terhormat, sebelam dia muncul. Lihat apa yang terjadi setelah dia muncul. Semua ini hanya tipu muslihatnya saja …”

“Plakkkl!”

“Onhhh!” Tubuh nyonya itu terpelanting roboh oleh tamparan suaminya.

“Uhu hu huuuu …!” Ling Ay tersedu-sedu dan iapun lari menuju dinding dengan kepala dijulurkan ke depan. Ayahnya sendiri tidak menduga, akan tetapi Bun Houw tetap waspada dan tahu apa yang akan dilakukan wanita itu. Cepat tubuhnya berkelebat mendahului dan ketika kepala Ling Ay membentur, bukan dinding keras yang dihantam kepalanya, melainkan dua buah tangan yang menerimanya dengan lunak.

“Adik Ling Ay, jangan sebodoh itu … “

Bun Houw menegur sambil menangkap pundak Ling Ay agar tidak sampai terpelanting jatuh. Ling Ay terkejut dan heran mengapa kepalanya tidak pecah. Ia mengangkat mukanya dan melihat bahwa Bun Houw sudah berdiri di depannya, menghalangi kepalanya yang akan dibenturkan pada dinding.

“Houw-koko … ” ia menjerit dan roboh pingsan dalam rangkulan Bun Houw. Sementara itu. Nyonya Cia Kun Ti meraung dan menangisi puterinya yang telah direbahkan oleh Bun Houw di atas pembaringan.

“Diam kau! Dan tutup mulutmu yang mengeluarkan kata-kata beracun itu. Engkau hendak membunuh anak kita dengan ucapanmu? Diam dan sekali lagi membuka mulut, akan kupukul kau! Mulai detik ini, engkau harus mentaati semua kata-kataku, sudah terlalu lama aku membiarkan engkau gila!” kata Cia Kun Ti dan isterinya tidak berani menangis lagi, takut melihat perubahan sikap suaminya yang tiba-tiba itu.

Bun Houw menchela napas panjang dan pada saat itu, Ling Ay siuman dari pingsannya dan ia merintih lirih. Bun Houw cepat maju menghampiri. Ia tahu bagaimana perasaan wanita itu dan kalau tidak dapat dihiburnya, tentu Ling Ay akan selalu berusaha untuk membunuh diri. Bagaimanapun juga, dia pernah mengaguni dan mengharapkan Ling Ay sebagai calon isterinya, dan pernah mencintainya. Ketika Ling Ay melihat Bun Houw, dari kedua matanya mengalir keluar air mata berderai menuruni samping atas kedua pipi dan menyusup ke rambut yang menutupi telinga. Akan tetapi ia tidak mengeluarkan suara tangis lagi. Agaknya tangisnya sudah dihabiskannya semalam.

“Koko, kenapa engkau menghalangi aku? Untuk apa aku hidup lehih lama lagi?”

“Adik Ling Ay, tenanglah dan ingatlah bahwa segala yang terjadi atas diri kita sudah dikehendaki oleh Thian. Kekuasaan Tuhan tak dapat diubah oleh siapapun juga. Keluarga Cun ditangkap pemerintah karena kesalahan mereka sendiri, disesali juga tidak ada gunanya, dan kurasa kalau di pengadilan terbukti bahwa suamimu tidak bersalah, yang bersalah hanya ayah mertuamu, maka suamimu tentu akan mendapatkan keringanan … “

“Houw ko, bukan itu yang kusesalkan. Mereka memang sesat, dan kalau kini mereka memetik buah dari hasil pohon tanaman mereka sendiri hal itu tidak perlu disesalkan. Akan tetapi, yang kusesalkan … bagaimana selanjutnya aku akan dapat menahan aib ini? Keluarga suamiku ditangkap, dan aku sendiri bebas … aib, apa akan kata orang dan … dan … engkau telah menjadi sengsara karena aku … “

“Hu-hhhh, adik Ling Ay. jangan berkata demikian. Keluarga Cia, termasuk engkau, tidak akan diganggu oleh Souw Ciangkun yang sudah berjanji kepadaku. dan tentang aib … kalau engkau sendiri tidak melakukan, mengapa ada aib? Tentang pergunjingan orang lain … “

“Ling Ay. kita akan pergi dari sini, meninggalkan Nan-ping, kembali ke dusunku. Di sana takkan ada yang mempergunjingkan kita.” kata Cia Kun Ti.

“Kalau demikian lebih baik lagi sehingga engkau tidak usah mendengar omongan orang, adik Ling Ay. Tentang diriku, semua sudah dikehendaki Tuhan, aku dapat menerimanya dan tidak menyalahkan siapapun juga. Dan jangan khawatir, aku yang akan mengantar engkau dan orang tuamu pindah ke dusun agar tidak terjadi gangguan di jalan. Sekarang aku harus mencari dulu jejak nona Ouwyang. Semalam Ia mengejar Pek I Mo-ko dan aku kehilangan jejaknya, aku khawatir sekali karena Pek I Mo-ko amat lihai. Semalam aku tidak sempat membantunya karena aku sendiri dikeroyok banyak orang.”

“Ah, kklau begitu sebalknya kalau kaucari Ouwyang Li-hiap lebih duln, Bun Houw,” kata Cia Kun Ti yang juga mengkhawatirkan keselamatan pendekar wanita itu.

“Aku akan pergi sekarang juga, paman. Akan tetapi, adik Ling Ay, aku baru mau pergi kalau engkau lebih dulu berjanji kepadaku!” Bun Houw mendekati pembaringan bekas tunangannya.

Ling Ay bangkit duduk di tepi pembaringan. “Berjanji apa, koko?”

“Berjanjilah kepadaku bahwa engkau tidak akan mengulang kebodohan tadi, tidak akan mencoba untuk membunuh diri. Berjanjilah!”

Masih ada dua tetes air mata turun ketika muka itu menunduk, lalu diangkatnya lagi muka yang pucat dan masih basah air mata itu. “Bun Houw-koko, kenapa engkau … begitu memperdulikan diriku …?”

Nyonya Cia Kun Ti yang sejak tadi diam saja karena takut kepada suaminya, tiba-tiba berkata, “Tentu saja dia memperdulikan dan memperhatikan dirimu, anakku, karena dia adalah bekas tun … “

“Hemm, mulai lagi?” bentak Cia Kun Ti dan isterinya terdiam.

Bun Houw tersenyum memandang wajah yang nampak cantik dan mendatangkan iba hati itu. “Moi-moi, tentu saja aku memperdulikanmu, karena bukankah sejak kecil kita sudah saling mengenal dan aku sayang kepadamu. Engkau seperti adikku sendiri. Nah, maukah engkau berjanji?”

Ling Ay memegang tangan Bun Houw, hatinya merasa terharu dan berterima kasih sekali. Kalau saja dahulu Ibunya tidak mata duitan, dan gila hormat, kalau saja ia menjadi isteri pemuda ini, alangkah akan bahagia sekarang hidupnya!”

“Terima kasih, koko. Aku berjanji.” katanya dan Bun Houw tersenyum lega. Dengan lembut dia melepaskan tangan wanita itu, lalu berkata, “Aku harus cepat mencari Ouwyang Hui Hong. Setelah melihat ia selamat, baru aku kembali ke sini dan mengantar kalian pindah ke dusun.”

Setelah berkata demikian, cepat dia keluar meninggalkan rumah itu. Dia mencari-cari lagi ke seluruh kota, kemudian mendengar bahwa ada orang melihat gadis itu berlari keluar malam hari tadi melalui pintu gerbang utara diapun cepat melakukan pengejaran menuju ke utara.

***

Di rumah Cia Kun Ti, suasananya sudah tenang. Isteri Cia Kun Ti tidak berani banyak bicara lagi. dan Ling Ay juga sudah tidak menangis. Mereka bertiga kini berkemas, mempersiapkan barang-barang yang akan mereka bawa pindah ke dusun. Cia Kun Ti memanggil A Liok, pembantunya dan memasrahkan rumah dan tokonya kepada pembantu itu untuk dicarikan pembeli, dan agar A Liok suka menjaga dulu rumah itu setelah keluarganya pergi, Cia Kun Ti akan kembali ke kota ini setelah mengantar keluarganya keluar dari kota, untuk mengurus penjualan rumah dan toko.

A Liok terkejut mendengar ini. “Kenapa hendak pindah, Cia Toako ? Dan kenapa rumah dan toko hendak dijual ? Ke manakah toako hendak pindah?”

“Menyesal aku tidak dapat memberi penjelasan, A Liok. Engkau sudah membantu selama beberapa tahun dengan senang tentu aku tidak akan melupakan jasamu dan akan meninggalkan sedikit modal agar engkau dapat berdagang sendiri. Carikan saja pembeli dan kalau ada yang bertanya macam-macam, katakan saja kami ingin tinggal bertani di dusun.”

“Baik, toako, dan terima kasih. Kapan toako akan pindah?”

“Sekarang pulanglah dulu. Entah besok entah lusa kami pindah, engkau akan kupanggil lagi kalau kami akan berangkat.”

Demikianlah, sambil menanti kembalinya Bun Houw, Cia Kun Ti dan isterinya, juga Ling Ay, berkemas-kemas. Cia Kun Ti sudah pula memesan sebuah kereta yang siap berangkat sewaktu-waktu. Setelah melakukan persiapan, berkemas sehari penuh itu, malamnya mereka lelah dan tidur. Ling Ay tidur bersama ibunya dalam kamar yang dulu menjadi kamarnya ketika ia masih gadis, dan ayahnya tidur sendiri. Karena malam tadi mereka lama sekali tidak tidur, hati mereka penuh ketegangan, dan hari tadi mereka bekerja, berkemas sehari penuh sehingga tubuh mereka lelah, maka tidak terlalu malam mereka telah pulas.

Tak seorangpun di antara mereka tahu di mana Bun Houw dan sampai di mana hasil usahanya mengikuti jejak Ouwyang Hui Hong. Tadi mereka memang menunggu-nunggu, akan tetapi setelah hari menjadi malam dan mereka mengantuk, mereka menduga bahwa tentu Bun Houw tidak datang malam ini, mungkin besok. Maka merekapun tidur, sedikitpun tidak menduga bahwa menjelang tengah malam, nampak bayangan berkelebat naik ke atas genteng rumah itu.

Orang itu jelas bukan Bau Houw karena dia berpakaian serba hitam dan mukanya ditutupi kedok hitam yang hanya memperlihatkan dua buah mata yang bersinar tajam. Juga di punggung orang itu terselip sebatang golok yang gagangnya beronce merah. Seperti seekor kucing saja, orang itu yang bertubuh tinggi kurus, berloncatan di atas wuwungan rumah dan tak lama kemudian dia sudah berhasil memasuki rumah itu dengan membuka genteng bagian belakang.

(Bersambung jilid 05)

Jilid 05

-O-

PINTU kamar Cia Kun Ti dibuka dengan dorongan kedua tangan. Pintu itu jebol. Karena hal ini menimbulkan suara gaduh, Cia Kun Ti yang sedang tidur nyenyak itu terkejut dan terbangun. Akan tetapi dia hanya sempat bangkit duduk dan terbelalak memandang kepada sesosok tubuh berpakaian hitam yang meloncat masuk melalui pintu yang sudah terbuka. Penyinaran lampu dari luar kamar membuat orang itu hanya nampak bayangan hitam saja, akan tetapi golok di tangannya berkilau, Cia Kun Ti tidak sempat melawan, bahkan tidak sempat berteriak karena sama sekali tidak mengira apa yang akan terjadi, bahkan baru saja terbangun dengan kaget. Tahu-tahu golok itu telah menyambar ke arah lehernya. Leher itu hampir putus, tubuh Cia Kun Ti terjengkang dan tempat tidur itu banjir darah.

Bayangan hitam itu meloncat keluar, kini mendorong daun pintu kamar di mana Ling Ay tidur bersama ibunya. Tidak saperti kamar ayahnya, di kamar Ling Ay masih ada penerangan, yaitu lampu meja kecil yang membuat suasana di kamar itu remang-remang, namun cukup terang. Ibu dan anak itu sudah terbangun oleh suara gaduh ketika daun pintu kamar Cia Kun Ti tadi jebol. Mereka terkejut dan bangkit duduk, saling rangkul dengan kaget. Akan tetapi, dengan mata terbelalak dan hampir tak bernapas mereka mendengarkan dan tidak terdengar suara apa-apalagi. Selagi mereka berbisik-bisik karena Ling Ay mencegah ibunya yang hendak turun dan melihat ke kamar sebelah, tiba-tiba pintu kamar itu jebol. Nyonya Cia Kun Ti masih teringat akan kedudukannya sebagai besan kepala daerah, karena baru saja bangun tidur, dan iapun masih hendak mengandalkan kekuasaannya. Ia melompat dengan berani, turun dari tempat tidur dan menudingkan telunjuknya ke arah orang berkedok itu, “Siapa engkau! Berani sekali memasuki kamar kami, ya? Hayo cepat keluar atau akan kupanggilkan pengawal!”

Akan tetapi, terdengar suara terkekeh di balik kedok. Orang berkedok itu menerjang maju, goloknya menyambar dan Nyonya Cia Kun Ti roboh dengan mandi darah, lehernya nyaris putus oleh sabetan golok tadi. Ling Ay menjerit. Orang berkedok itu sekali renggut merobek kelambu yang tertutup dan dia menyeringai ketika melihat Ling Ay dalam pakaian tipis, pakaian tidur, “Heh-heh, engkau cantik sekali! Biar menjadi tambahan upah jerih payahku malam ini, ‘Ha-ha-ha.” Akan tetapi ketika penjahat berkedok hitam itu menyambar tubuh Ling Ay, wanita muda ini sudah lemas dan tak sadarkan dirinya.

Penjahat itu mendengus gembira karena keadaan wanita yang pingsan itu memudahkan niatnya menculik wanita itu. Tidak banyak membuat perlawanan, tidak akan meronta. Maka, dipanggulnya tubuh yang lemas, lembut dan hangat itu di pundak kirinya dan diapun melompat pergi meninggalkan rumah Cia Kun Ti dan isterinya yang sudah menjadi mayat itu.

Siapakah penjahat berkedok itu ? Setelah dia melarikan Ling Ay yang masih pingsan karena ngeri melihat ibunya dibunuh penjahat itu dan keluar dari kota Nan-ping, penjahat itu menanggalkan kedok hitamnya. Ternyata dia seorang lakl-iaki berusia sekitar empatpuluh tahun. Tubuhnya tinggi besar dan mukanya kehitaman, penuh dengan bopeng bekas penyakit kulit yang membuat kulit mukanya menjadi tebal. Sepasang matanya sipit dan membayangkan hati yang kejam. Hidungnya pesek dan bibirnya tebal menghitam. Wajah yang buruk menyeramkan. Dia seorang pembunuh bayaran yang terkenal dengan Julukan Hek-coa (Ular Hitam) dan sekali inipun dia membunuh Cia Kun Ti dan isterinya bukan karena dendam pribadi, melainkan karena uang. Dia diupah untuk membasmi keluarga Cia oleh seorang pejabat di kota Nan-ping. Pejabat ini adalah sekutu Cun Taijin dan ketika Souw Ciangkun panglima di Nan-ping membasmi dan menangkap komplotan Cun Taijin, tentu saja pejabat ini menjadi ketakutan. Dia khawatir kalau-kalau rahasia persekutuannya dengan Cun Tai-jin terbongkar. Dia dapat menduga bahwa tentu rahasia Cun Taijin pecah oleh keluarga Cia yang menjadi besan Cun Tai-Jin, maka dia tentu saja takut kalau Cia Kun Ti membongkar pula rahasianya sebagai bekas sekutu Cun Taijin. Maka, di panggilnya Hek-coa dan dengan upah yang besar dia menyuruh penjahat itu untuk membasmi keluarga Cia, yaitu Cia Kun Ti, Isterinya dan anaknya, juga seluruh keluarga yang berada di rumah keluarga itu.

Kalau saja Hek-coa membunuh semua orang di rumah itu tanpa kecuali, dan dia berhasil melarikan diri, tentu akan sukar diketahui bahwa pembunuhan itu didalangi olah pejabat yang bernama Poa Kit Seng, pejabat pemungut pajak yang menjadi pembantu Cun Tai-jin itu. Akan tetapi, ketika melihat Ling Ay yang cantik molek, Hek-coa merasa sayang dan diculiknya wanita itu dan dianggap sebagai tambahan upah jerih payahnya.

Karena tidak ingin terhalang gangguan, seperti seekor anjing yang baru saja mencuri ayam dan tidak ingin ketahuan siapapun juga, maka setelah keluar dari kota Nan-ping, Hek-coa membawa Ling Ay yang dipanggulnya mendaki sebuah bukit di mana terdapat hutan. Dia tahu bahwa bukit itu tidak dihuni orang, dan di puncak bukit itu terdapat sebuah kuil tua yang sudah tidak terpakai lagi dan kosong. Seringkali kalau sedang lari dari pengejaran orang sehabis dia melakukan kejahatan, dia bersembunyi di kuil kosong itu. Kuil yang ditakuti penduduk di sekitar Nan-ping karena dikabarkan kuil itu berhantu. Menurut dongeng, dahulu ada seorang nikouw (pendeta wanita) di kuil itu yang berbuat mesum dan akhirnya karena malu ia mati menggantung diri. Karena aib ini, maka semua nikouw meninggalkan kuil itu yang dianggap telah menjadi tempat yang kotor dan sejak itu, puluhan tahun yang lalu, kuil itu tidak lagi dihuni orang. Didatangi orangpun jarang sekali karena orang-orang takut mendekat setelah dikabarkan bahwa kuil itu berhantu.

Biarpun di angkasa hanya ada bintang-bintang, namun karena Hek-coa sudah hafal akan jalan pendakian setapak itu, maka cepat dia dapat mendaki melalui hutan dan akhirnya, menjelang pagi, dia tiba di luar kuil yang nampak kotor tak terawat itu. Memang dilihat dari luar, kuil itu tua, kotor dan menyeramkan. Gentengnya sudah banyak yang pecah. temboknya penuh lumut dan daun pohon menjalar. Banyak kelelawar beterbangan keluar masuk melalui lubang-lubang atap cukup mengerikan. Akan tetapi Hek-coa tersenyum menyeringai, penuh kegembiraan. Dia tahu bahwa biarpun dari luar nampak kotor menyeramkan, namun di sebelah dalamnya bersih dan hangat. Dia telah menemukan sebuah ruangan yang tidak bocor di bagian belakang kuil itu dan dia telah membersihkan ruangan itu, dijadikan tempat tidur. DI sana terdapat sebuah pembaringan kayu yang bersih dan hangat, dan kini akan menjadi makin indah dengan adanya wanita cantik jelita dalam pondongannya ini.

Tiba-tiba Ling Ay mengeluh lirih dan tubuhnya bergerak. Hek-coa merasa betapa tubuh yang lembut hangat itu, yang sejak tadi sudah menimbulkan gairah yang terbakar, kini menjadi hidup dan bergerak, bahkan meronta. Dia lalu memondong tubuh itu seperti seorang anak kecil dan menyeringai sabar sambil mendekatkan mukanya pada muka Ling Ay.

“Engkau sudah bangun, manis. Heh-heh-heh!”

Biarpun cuaca masih remang-remang, namun Ling Ay dapat melihat muka yang amat dekat dan yang agaknya siap untuk melahapnya itu! Ia menahan jeritnya.

“lhhh …! Siapa engkau …? Lepaskan aku!” Teriaknya marah.

“Heh-he-heh, manis sayang, jangan kaget dan jangan takut. Aku … aku ini … eh, suamimu, ha-ha-ha” Dan kini Hek-coa menariknya, mendekap dan berusaha mencium.

Bukan main kagetnya hati Ling Ay dan kini iapun teringat akan semua peristiwa yang terjadi di dalam kamar Ibunya. Ibunya dibunuh orang yang berpakaian hitam dan berkedok hitam. Dan kini ia berada dalam pelukan seorang laki-laki berpakaian hitam yang wajahnya menyeramkan sekali! Ketika orang itu menciumnya, Ling Ay sekuat tenaga meronta dan memalingkan mukanya sehingga hidung dan mulut Hek-coa mendarat di lehernya yang putih mulus. Mulut itu mengecup leher seperti gigitan seekor anjing serigala pada leher seekor kijang. Ling Ay menggelinjang dan seluruh bulu di tubuhnya meremang. Hampir saja ia pingsan kembali.

“Tidak.: …! Jangan. …! Kau lepaskan aku, keparat! Engkau Jahanam yang telah membunuh ibuku! Tolooonggg … !”

Hek-coa tertawa bergelak, dan mempererat bekapannya. “Berteriaklah, manis. Menjeritlah, merontalah. Makin kuat engkau menjerit dan meronta akan makin menyenangkan hatiku. Akan tetapi tak seorangpun akan mendengar jeritanmu, jeritan pengantinku di malam pertama, ha-ha-ha!” Sambil tertawa dan tidak memperdulikan Ling Ay yang meronta-ronta dan menjerit-jerit, Hek-coa melangkah ke dalam kuil.

Dengan kakinya, Hek-coa mendorong pintu kamar yang dibuatnya itu dan membawa Ling-Ay ke pembaringan kayu yang baginya seperti sedang menanti dan menggapai-gapai. Dengan kasar dia melemparkan tubuh Ling Ay ke atas pembaringan.

Tentu saja Ling Ay merasa ngeri dan ia segera merangkak ke sudut paling jauh dari pembaringan itu, wajahnya pucat, matanya terbelalak dan ia seperti seekor kelinci yang tersudut menghadapi moncong harimau yang siap untuk mencabik-cabik dagingnya.

“Bunuh saja aku ! Bunuh … engkau sudah membunuh ayah ibuku, kaubunuh saja aku …!” Ia menangis. Kini ia dapat menduga bahwa tentu ayahnya juga sudah tewas seperti ibunya.

“Ha-ha-ha-ha, membunuhmu? Aduh, sayang secantik manis engkau kalau dibunuh. Tidak, sayang. Engkau akan menjadi isteriku, mau atau tidak mau, dan engkau akan hidup puluhan tahun lagi untuk menemaniku dalam dunia yang biasanya sepi ini.”

“Tidak! Aku tidak sudi! Engkau Jahanam, busuk, kaubunuh saja aku! Aku lebih suka mati dari pada menjadi isterimu!” Tiba-tiba Ling Ay menggerakkan tubuh atasnya, hendak, membenturkan kepalanya pada dinding di belakang pembaringan. Akan tetapi agaknya Hek-coa dapat menduga akan hal ini dan sekali dia meloncat, dia sudah menubruk dan mendekap tubuh Ling Ay yang terbanting ke atas pembaringan, menggagalkan niatnya untuk membenturkan kepalanya ke dinding. Ling Ay meronta-ronta dan memalingkan mukanya yang diciumi oleh Hek-coa sambil tertawa-tawa itu.

Tiba-tiba terjadi suatu keanehan yang membuat Ling Ay kaget, heran dan bingung sendiri. Laki-laki yang buruk rupa dan kasar itu tiba-tiba berteriak ketakutan dan melepaskannya, meloncat turun dari atas pembaringan dan dengan mata terbelalak memandang kepadanya dengan pandang mata jijik, bahkan sempat penjahat itu menggerak-gerakkan pundak seperti orang yang jijik dan ketakutan! Tentu saja Ling Ay tidak tahu mengapa begitu. Kalau saja ia tahu! Dalam pandangan Hek-coa, tiba-tiba taja tubuh yang tadinya mulus dan lembut hangat itu, ketika digelutinya, tiba-tiba terasa dingin dan licin, berbau amis dan ketika dia memandang, tubuh Ling Ay telah berubah menjadi seekor ular yang besarnya melebihi besar paha Hek-coa!”

“Hiiiihhh …! … ilnman … !” Hek-coa tergagap dan meraba gagang golok di punggungnya. Akan tetapi pada saat dia menoleh, dia melihat Ling Ay sudah rebah terlentang di atas lantai, tersenyum manis dengan sikap tubuh dan pandang mata menantang dan merangsang! Seketika Hek-coa telah melupakan ular yang melingkar di atas pembaringan itu dan sambil menyeringai dan mendengus seperti seekor kuda, dia menubruk Ling Ay yang rebah di atas tanah menantinya.

Ling Ay terbelalak, hampir tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Kalau tadi ia meronta-ronta dan menjerit-jerit, kini ia diam saja menahan napas, seolah takut kalau ia bernapas terlalu keras, samua penglihatan itu akan membuyar dan apa yang tadi terjadi atas dirinya akan terulang atau dilanjutkan. Betapa ia tidak akan terbelalak heran kalau melihat penjahat yang mengerikan itu tadi tiba-tiba melepaskannya, meloncat turun dari pembaringan dan memandang kepadanya dengan ketakutan, meraba gagang golok kemudian sekarang menubruk setumpukan jerami kotor yang diikat tali bambu, mendekap seikat jerami itu dan menciuminya, meraba-raba dan menggigitinya dengan gemas sambil mengeluarkan suara menggereng-gereng separti seekor binatang buas mengganyang mangsanya!”

Makin lama Hek-coa menjadi semakin buas dan tiba-tiba terdengar suara ketawa lirih namun karena suasana sudah amat mengerikan dan di situ sunyi sekali, yang terdengar hanya napas ngos-ngosan dari Hek-coa, maka suara ketawa itu terdengar jelas dan amat mengejutkan. Meremang bulu tengkuk Ling Ay karena tadi ia mendengar penjahat itu menyebut-nyebut siluman. Kini suara ketawa itu tentu saja ia hubungkan dengan siluman, apalagi ketika tiba-tiba saja, entah dari mana datangnya, di dalam cuaca yang mulai nampak terang itu, tepat di ambang pintu, telah berdiri seorang wanita cantik! Siapalagi kalau bukan siluman, pikir Ling Ay dan ia masih berlutut di atas pembaringan, mendekap dadanya karena sebagian bajunya robek direnggut penjahat itu tadi.

“Hi-hi-hi-hik, orang ini tiada bedanya seperti seekor babi saja,” Wanita itu tertawa dan bicara dengan suara lembut, Ling Ay memandang penuh perhatian. Wanita itu umurnya sekitar empatpuluh tujuh tahun, masih cantik seperti gadis berusia duapuluh lima tahun saja. Rambutnya yang amat hitam dan subur itu melingkar di atas kepalanya dengan gelung model puteri bangsawan tinggi. Pakaiannya dari sutera berwarna merah dan kuning. Di punggungnya nampak tersembul gagang pedang yang Indah dengan ronce-ronce biru. Wajahnya yang berbentuk bulat telur itu manis sekali, dengan sepasang mata tajam berwibawa, hidungnya kecil mancung dan bibirnya yang manis itu selalu mengandung senyum mengejek.

Agaknya Hek-coa juga mendengar suara tawa dan ucapan itu dan tiba-tiba saja dia terbelalak memandang seikat jerami kering kotor yang digeluti dan diciuminya.

“Ahhha … ? Apa … mengapa … eh!” siluman … ” Dia tergagap dan bangkit berdiri.!”

Pakaiannya tidak karuan, rambut dan kumis, jenggotnya penuh jerami. Nampak lucu sekali. Hek-coa masih terbelalak bingung, tapi dia segera dapat melihat wanita setengah tua yang, catik itu berdiri di ambang pintu, diapun menoleh ke arah pembaringan dan kembali terkejut melihat Ling Ay masih berlutut di sana.

Dia menoleh lagi ka arah jerami dan menjadi semakin bingung, “Ehhh! Apa … dan bagaimana … ular … ular besar itu … “

Wanita cantik itu tersenyum lebar dan nampak deretan giginya yang putih dan rapi, masih lengkap. “Engkau ini manusia tapi berwatak binatang! Hayo cepat pergi dari sini, kalau tidak, akan habis kesabaranku dan engkau pasti kubunuh!”

Agaknya kini Hek-coa baru menyadari bahwa dia telah dipermainkan oleh wanita cantik itu. Entah dengan Ilmu apa.

“Engkau siluman! Kaukira aku Si Ular Hitam takut kepadamu? Ha-ha-ha, ditambah seorang lagi seperti engkau, sungguh menggembirakan sekali!”

Dasar seorang yang sudah dikuasai nafsu setan. Hek-coa sudah terbiasa memandang rendah orang lain dan terlalu percaya kepada kemampuan sendiri. Apalagi yang dihadapinya hanya seorang perempuan, cantik lagi walapun tidak semuda wanita yang berlutut di atas pembaringan.

Wanita itu memperlebar senyumnya. “Heh-leh, sikap dan ucapanmu itu menjadi keputusan hukuman mati bagimu!”

“Uwahh! Engkau ini perempuan cantik tapi sombong. Lihat saja nanti kalau aku sudah berhasil menundukkanmu, tentu akan lain bicaramu!” Tiba-tiba saja Hek-coa menubruk, dengan terkaman separti seekor harimau kelaparan sehingga bukan hanya kedua lengan yang dikembangkan itu yang menyerang, bahkan juga kedua kakinya seperti hendak mencengkeram! Ling Ay yang tahu akan kekejaman dan kelihaian penjahat itu, tentu saja merasa khawatir sekali. Akan tetapi, kekhawatiran itu segera berubah menjadi kelegaan hati yang amat menggembirakan ketika tiba-tiba saja, entah mengapa dan bagaimana, tubuh penjahat yang menubruk itu telah terpelanting dan terbanting ke atas tanah dengan kerasnya

“Ngekkk!” Penjahat itu mengeluarkan suara dari perut karena ketika dia terbanting, seluruh tulangnya seperti remuk rasanya. Sejenak dia hanya dapat bangkit duduk, tangan kiri memegangi kepala yang terasa puyeng, tangan kanan menggosok-gosok pantat yang tadi menghantam lantai dengan kerasnya. Akan tetapi dasar orang tak tahu diri. dia masih belum jera. Dia kini menjadi marah bukan main. Setelah kepeningannya hilang, diapun bangkit berdiri dan sekali tangan kanannya bergerak, golok itu sudah dicabutnya. Sinar matahari pagi yang mulai menerobos masuk menimpa golok yang nampak berkilauan mengerikan. Kembali Ling Ay merasa ngeri. itulah golok yang telah membunuh Ibunya, di depan matanya, dan mungkin juga ayahnya! Dan sekarang wanita itu terancam!”

“Jangan bunuh enci itu! Bunuh saja aku, jangan bunuh ia yang sama tidak berdosa. Akulah anggauta keluarga Cun dan Cia, bunuh saja aku!” teriak Ling Ay, Wanita itu menoleh ke arah Ling Ay dan senyumnya manis sekali. “Jangan sebut aku enci. Aku lebih pantas menjadi bibimu dan jangan khawatir. Dia ini bernama Ular Hitam maka bagaimana mungkin dia dapat memegang golok atau pedang? Yang dipegangnya hanyalah seekor ular berbisa!”

Tentu saja Ling Ay merasa heran dan tidak mengerti. Ia memandang kepada Hek-coa dan melihat bahwa yang dipegang penjahat itu adalah sebatang golok besar yang tajam mengkilap, bagaimana dikatakan bahwa penjahat itu memegang seekor ular.

“Ha-ha-ha, sayang sekali orang cantik manis ini otaknya miring!” Hek-coa mengejek untuk membesarkan hatinya sendiri yang sebetulnya mulai merasa gentar. Tadi, ketika dia menyerang dengan tubrukan mautnya, agaknya wanita itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak, apalagi memukul. Hanya nampak ia mengangkat kedua tangannya dan dia merasa ada angin yang kuat sekali mendorongnya sehingga dia terpelanting dan terbanting dengan keras. Dia mulai curiga bahwa yang dihadapinya adalah seorang wanita sakti. Akan tetapi dia masih mengandalkan goloknya, maka dia berani mengejek untuk membesarkan hati dan kepercayaan kepada diri sendiri.

Wanita itu menudingkan telunjuknya. “Hek-coa, lihat baik-baik. Bukankah yang kaupegang itu seekor ular kobra? Lihat, ular itu akan melilit lehermu sendiri!”

Bagi Ling Ay, penjahat itu tetap saja memegang sebatang golok tajam, bahkan golok itu sudah diangkat dan diamangkannya dengan penuh ancaman. Akan tetapi ia melihat betapa Hek-coa tiba-tiba memandang golok yang berada di tangan kanannya dan mata yang sipit itu terbelalak, muka hitam itu berubah pucat dan mulutnya ternganga mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh tidak karuan seperti orang yang merasa ngeri dan ketakutan!”

Betapa tidak ? Hek-coa yang mendengar ucapan wanita itu. tentu saja memandang kepada golok di tangannya dan inilah awal kesalahannya. Begitu memandang goloknya, berarti dia sudah jatuh di bawah pengaruh wanita itu, mentaati perintahnya dan dia melihat goloknya bukan berbentuk golok lagi melainkan seekor ular kobra yang dia pegang ekornya. Kini ular itu mengangkat leher dan kepalanya, lehernya, mengembang dan lidahnya keluar masuk dari mulut yang mendesis-desis!”

“Ahhh … uhhhh … ular … ularr. …! Tidak … ihhh!” Dia mencoba untuk membuang golok yang telah berubah menjadi ular kobra itu, akan tetapi celakanya, ekor ular yang dipegangnya itu seolah olah melekat di telapak tangannya. Ular itu kini mulai mendekati lehernya! Bahkan mulai melilit lehernya. Terasa dingin-dingin licin di kulit lehernya.

Hek-coa menjerit-jerit dan memandang ke kanan kiri ketakutan. Ling Ay menjadi bengong! Tadinya dia masih mengira bahwa si muka hitam itu hanya berpura-pura untuk mempermainkan wanita cantik ini. Akan tetapi kini ia melihat si muka hitam itu selain ketakutan, juga golok yang dipegangnya itu hendak digorokkan ke lehernya sendiri! Golok itu sudah menempel di leher dan mulai nampak darah ketika golok yang tajam itu mengiris kulit leher, Tahulah ia bahwa si muka hitam itu tentu akan mati menggorok leher sendiri, agaknya melihat golok itu telah berubah menjadi ular yang hendak melilit lehernya. Tiba-tiba Ling Ay turun dari atas pembaringan.

“Enci … bibi…! Harap jangan bunuh dia dulu!”

Wanita itu menoleh dan tersenyum dan sekali ia menggerakkan tangannya ke arah Hek-coa, penjahat itu sadar dan mukanya pucat melihat betapa dia menempelkan goloknya di lehernya sendiri. Tangan kirinya meraba bagian leher yang perih dan temyata leher itu terluka dia menjadi semakin ketakutan. Wanita cantik itu tentulah siluman! Dia berteriak dan sambil melempar goloknya, diapun meloncat hendak melarikan diri. Akan tetapi kembali wanita itu menggerakkan tangan ke arahnya dan angin menyambar dahsyat dan tubuh Hek-coa terpelanting lagi, terbanting keras. Maklumlah Hek-coa bahwa tak mungkin dia lari dari wanita siluman ini, maka dengan tubuh menggigil kelakutan, dia lalu menjatuhkan diri berlutut ke arah wanita itu.

“Mohon … ampun … hamba … hamba berdosa, ampunkan hamba … !”

“Diam saja di situ dan jangan bergerak!” kata wanita itu dan Hek-coa tidak berani lagi bengerak atau membuka mulut, hanya berlutut dengan tubuh gemetar, “Nona, engkau tadi mengatakan bahwa ayah dan ibumu dibunuh oleh Ular Hitam ini, dan sekarang engkau minta kepadaku agar jangan membunuhnya dulu? Apakah engkau hendak membalas dendam dan hendak menyiksanya dulu sebelum membunuhnya ? Hi-hik, kalau begitu, aku dapat mengajarimu cara menyiksa yang paling hebat, yang akan membuat dia menderita siksaan yang membuat dia mati tidak hiduppun tidak!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: