Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 57

Waktu untuk kedua kalinya ia siuman kembali, sementara itu lapisan es yang membungkus kepalanya sudah mulai cair, sekarang tempat luka itu dirasakannya bagai dibakar panasnya.

Sekuatnya ia coba berbangkit, ketika ia berkaca pula pada air sungai kembali ia kaget lagi. Semula ia mengira ada sesuatu makhluk aneh atau siluman yang berdiri di tepi sungai tapi segera diketahuinya bahwa “siluman” itu tak-lain-tak-bukan adalah bayangan sendiri.

Untuk sekian lama ia terkesima. Akhirnya dengan tabahkan diri ia coba berkaca lagi.

Sekarang ia memeriksa mukanya sendiri dengan jelas, kelihatan kulit daging sudah dedel-dowel beberapa bagian, kepalanya sudah botak karena ikut mengelotoknya kulit berambut itu. Hidungnya juga sudah coplok sehingga sekarang dia lebih mirip tengkorak hidup. Pendek kata mukanya sekarang teramat jelek.

Ia sangat berduka, pedih hatinya, perlahan ia pejamkan mata. Ia tahu biarpun nanti lukanya sembuh, namun mukanya yang jelek itu mungkin tiada bandingannya lagi di dunia ini.

Untunglah sekarang A Ci sudah buta, anak dara itu dapat diajak ke suatu tempat yang tiada pernah didatangi orang, di situlah mereka berdua akan dapat hidup aman tenteram dan muka yang jelek tentu takkan menjadi soal.

Segera ia lemparkan topeng besi berikut kulit daging dan rambut yang masih melengket itu ke dalam sungai, sambil menahan rasa sakit ia lari kembali ke hutan sana.

Ketika hampir sampai di tempat tujuan, hati Goan-ci mulai berdebar-debar. Sesudah menyusur hutan itu, tertampaklah seorang wanita duduk di tepi sungai kecil itu. Dari jauh Goan-ci sudah lantas berseru, “A Ci! A Ci!”

Tapi wanita itu tidak menjawab, juga tidak menoleh, hanya diam saja.

Goan-ci menjadi khawatir jangan-jangan kepergiannya yang terlalu lama itu membikin anak dara itu kurang senang. Tapi sesudah dekat barulah ia tahu urusan agak tidak betul, sebab wanita itu tidak memakai baju ungu yang merupakan tanda pengenal A Ci yang khas.

Mendadak wanita itu terkikik-kikik, lalu berpaling dan berkata, “Sudah pulangkah kau? Sudah lama aku menunggumu di sini….”

Goan-ci kaget. Kiranya wanita ini adalah Bu-ok-put-cok Yap Ji-nio, si Durjana Mahajahat.

Sebaliknya Yap Ji-nio juga terperanjat demi melihat muka Goan-ci itu. Dia berjuluk Bu-ok-put-cok, segala kejahatan pernah diperbuatnya, maka kejadian yang bagaimana kejamnya juga pernah dilihatnya. Tapi demi melihat muka Goan-ci yang bonyok itu, mau tidak mau ia pun merasa ngeri.

Dalam pada itu Goan-ci telah melangkah maju dan bertanya, “Di manakah A Ci?”

“Kau cari dia?” tanya Ji-nio sesudah menenangkan diri.

Goan-ci tahu Yap Ji-nio adalah kenalan Ting Jun-jiu dan sama jahatnya, kalau bukan karena A Ci, sejak tadi tentu dia sudah lari terbirit-birit. Tapi sekarang ia malah mendesak maju dan berseru, “A Ci, di mana A Ci?”

Muka Goan-ci masih babak bonyok, sinar matanya mengunjuk rasa tak sabar. Ji-nio menjadi jeri, dengan tersenyum yang dibuat-buat ia tanya, “Apakah A Ci yang kau maksudkan itu si nona baju ungu yang beraut muka bundar telur itu?”

“Ya, benar, di mana dia?” teriak Goan-ci dengan tidak sabar.

“Dia sedang cuci kaki di tepi sungai, buat apa kau gembar-gembor!” sahut Ji-nio sambil tuding semak rumput di tepi sungai.

Goan-ci percaya saja segera ia lari ke sana. Tapi dengan cepat sekali Yap Ji-nio menggeser ke belakangnya terus menghantam.

Sama sekali Goan-ci tidak menduga akan serangan itu sehingga tepat kena digenjot, ia terhuyung-huyung ke depan dan jatuh tersungkur. Dan begitu jatuh di atas tanah, segera ia lihat A Ci juga meringkuk di tengah semak-semak rumput situ entah sudah mati atau masih hidup.

Di lain pihak Yap Ji-nio juga lantas memburu tiba, dengan kaki ia injak punggung Goan-ci dan membentak, “Siapa kau?”

“A Ci! A Ci! Kau telah mengapakan A Ci?” teriak Goan-ci dengan napas terengah karena mengkhawatirkan keselamatan A Ci, tanpa pikir lagi ia terus meronta sekuatnya.

Seketika Ji-nio merasa ditolak suatu arus tenaga yang mahakuat, tanpa kuasa tubuhnya roboh terjengkang.

Sekali melompat bangun, terus saja Goan-ci pegang pundak Yap Ji-nio dan dientak-entak, tanyanya, “Bagaimana keadaan A Ci, kenapa dia?”

Seketika Yap Ji-nio merasa suatu tenaga mahakuat dan mahadingin menerjang ke dalam badannya, saking dinginnya sehingga gigi gemertukan dan mata mendelik, sudah tentu ia tidak sanggup bersuara.

Melihat keadaan perempuan durjana itu, Goan-ci jadi kaget malah. Ia tahu ilmu silat lawan sangat tinggi, kini air mukanya begitu aneh, jangan-jangan sedang mengerahkan sejenis ilmu mahalihai untuk membikin celaka dirinya?

Goan-ci menjadi jeri, pegangannya jadi kendur. Dengan lemas Ji-nio jatuh terkulai ke tanah, tampaknya lebih banyak mengembuskan napas daripada menarik napas, bahkan berkutik pun tidak lagi.

Untuk sejenak Goan-ci terkesima, ia sangka nasibnya sendiri masih mujur, penyakit ayan iblis itu mendadak kumat. Kesempatan bagus ini tidak boleh disia-siakan, cepat ia lari ke arah A Ci. Ia lihat A Ci hanya tertutuk hiat-tonya, ia merasa lega. Kepandaian membuka hiat-to yang tertutuk itu masih dipunyai Goan-ci, maka perlahan ia tepuk beberapa kali tubuh A Ci.

Sesudah menarik napas segar, lalu A Ci merangkak bangun, katanya, “Aku sudah mendengar semuanya!”

Goan-ci tercengang, tanyanya, “Kau dengar apa?”

Dengan wajah berseri-seri A Ci menjawab, “Aku telah mendengar, hanya sekali gebrak saja kau merobohkan ‘Bu-ok-put-cok’ Yap Ji-nio sehingga tak bisa berkutik lagi. Sekarang napasnya sudah putus belum?”

“Bu-ok-put-cok Yap Ji-nio?” Goan-ci menegas.

“Ya, dia sudah mati, bukan?” sahut A Ci dengan tertawa.

Sebagai putra jago silat yang luas pergaulannya, dengan sendirinya waktu di Cip-hian-ceng dahulu sering juga Goan-ci mendengar orang bercerita tentang “Thian-he-su-ok” (empat durjana di dunia), siapa tahu wanita yang menggeletak di depannya sekarang ini adalah si durjana kedua dari Su-ok itu, coba kalau tahu sejak tadi, tidak nanti ia berani main pegang-pegang segala. Seketika ia berkeringat dingin dan tidak dapat bersuara.

“He, kenapakah kau?” tanya A Ci dengan heran.

“O, dia….” sebenarnya Goan-ci hendak menerangkan bahwa penyakit ayan Yap Ji-nio mendadak kumat. Tapi demi terpikir sekarang awak sendiri adalah “Ong Sing-thian, Ciangbunjin Kek-lok-pay”, mana boleh jeri kepada Su-ok apa segala? Maka terpaksa ia menyambung, “Dia sudah menggeletak! Orang macam dia mana sanggup tahan sekali hantamanku. Eh, A Ci, marilah kita pergi saja!”

Sambil mendongak di depan Goan-ci, tampak sekali A Ci sangat kagum kepada pemuda itu. Katanya, “Ilmu silat Bu-ok-put-cok Yap Ji-nio sangat tinggi, sampai Ting-lokoay sendiri juga sering mengatakan demikian pada murid-muridnya, tapi sekarang hanya dalam sekejap saja tenyata sudah kau bereskan dengan sangat mudah. Sesudah kukenal dirimu, untuk selanjutnya aku takkan khawatir dihina orang lagi.”

Saking terharu sampai suaranya menjadi parau dan air mata hampir menetes.

“Ya, sudah tentu takkan ada orang berani menganiayamu lagi, aku akan selalu berada bersamamu,” cepat Goan-ci menghiburnya. Lalu ditambahkan lagi dengan suara perlahan, “Ya, aku akan selalu berada bersamamu.”

Maka tertawalah A Ci dengan senang, pikirnya sejenak, lalu berkata, pula, “Engkau sangat baik padaku, sekarang ada suatu permohonanku lagi.”

“Urusan apa? Silakan bicara saja, tapi… tapi kita harus pergi dulu dari sini,” kata Goan-ci.

Rupanya ia khawatir sebentar Yap Ji-nio akan sembuh kembali dari penyakit ayan yang kumat itu dan tentu dirinya sukar melawannya. Sama sekali tak terpikir olehnya biarpun Yap Ji-nio belum mati juga tidak nanti wanita durjana itu berani sembarangan menyerangnya lagi.

“Tapi kukira engkau takkan meluluskan permintaanku,” ujar A Ci.

Goan-ci membawanya meninggalkan tempat itu sambil menjawabnya, “Aku pasti akan meluluskan permintaanmu.”

“Belum lagi aku menerangkan apa yang kuminta, masakah engkau sudah lantas meluluskan?” A Ci menegas dengan tersenyum.

Goan-ci pikir biarpun apa yang diminta anak dara itu, asal dirinya mampu, biarpun masuk ke lautan api atau terjun ke air mendidih juga akan dilakoni. Maka jawabnya lantas, “Apa yang kau minta, cobalah ceritakan?”

A Ci merandek, perlahan ia mendongak, air mukanya penuh harap, katanya, “Ong-kongcu, kuminta kau suka merebutkan kedudukan Ciangbunjin Sing-siok-pay agar aku dapat menjadi ketua Sing-siok-pay itu.”

“Ap… apa katamu?” Goan-ci menegas dengan mata terbelalak. Sama sekali tak terduga olehnya bahwa apa yang diminta anak dara itu adalah urusan demikian.

“Ya, aku pikir di bawah dukunganmu tentu akan dapat menjadi Ciangbunjin Sing-siok-pay,” sahut A Ci.

“He, A… A Ci, apakah engkau sengaja bergurau?” ujar Goan-ci dengan gemetar.

Bibir A Ci yang merah tipis itu mencibir manja, omelnya, “Baru saja kau bilang akan meluluskan permintaanku, mengapa hanya urusan sekecil ini saja enggan kau terima?”

“Kau… kau bilang ini urusan kecil?” kata Goan-ci dengan menyengir.

“Habis ilmu silatmu begini tinggi, kau pun menyatakan bahwa orang lain takut kepada Ting Jun-jiu hanya engkau yang tidak takut. Jika demikian untuk mengalahkan Ting Jun-jiu bagimu kan bukan soal sulit?”

Terpaksa Goan-ci menjawab, “Ya, sudah tentu bukan… bukan soal sulit.”

A Ci makin senang, serunya, “Itulah bagus! Habis kau kalahkan Ting Jun-jiu, dapat kau angkat aku menjadi Ciangbunjin Sing-siok-pay, malahan Ting Jun-jiu diharuskan mengaku sebagai muridku. Haha, bukankah sangat hebat!”

Seketika Goan-ci tidak sanggup bicara lagi. Bahwasanya Ting Jun-jiu adalah gurunya A Ci, minta bantuan orang luar untuk merebut kedudukan ketua dari tangan sang guru saja sudah merupakan kejadian luar biasa di dunia persilatan, apalagi sang guru diharuskan pula mengaku guru pada sang murid, hal ini benar-benar tidak pernah terjadi dan tidak pernah terdengar.

Tapi Sing-siok-pay adalah golongan jahat yang paling aneh di dunia ini, bagi A Ci hal itu dianggapnya sebagai sesuatu yang menarik dan menyenangkan.

Goan-ci termangu-mangu agak lama, katanya kemudian, “A Ci, nama Sing-siok-pay sudah dibenci orang, lebih baik engkau jangan menjadi ciangbunjinnya.”

“Ehm, emoh!” ucap A Ci dengan manja. “Tadi engkau sudah menyanggupi, sekarang tidak boleh mungkir. Nama Sing-siok-pay sangat disegani, apalagi pusaka Pek-giok-giok-ting juga cuma aku yang tahu tempatnya, maka ciangbunjin seharusnya dijabat olehku.”

“Tidak, aku tidak mungkin cuma untuk mengalahkan Ting Jun-jiu, hal ini….”

Sesungguhnya perasaan Goan-ci sangat bingung. Dia mengaku sebagai ciangbunjin dari apa yang disebut Kek-lok-pay dan mengaku berilmu silat mahatinggi hal ini tidak lebih cuma untuk menyenangkan hati A Ci saja, sama sekali tak terduga olehnya bahwa pikiran anak dara itu memang aneh-aneh dan macam-macam, tahu-tahu timbul keinginannya menjadi Ciangbunjin Sing-siok-pay.

Jangankan pada hakikatnya Goan-ci tidak berani bergebrak melawan Ting Jun-jiu bahkan bertemu saja takut, lalu dengan kemampuan apa ia dapat merebutkan kedudukan ciangbunjin itu bagi A Ci?

Sementara itu A Ci tampak menunduk, lalu berkata, “Ong-kongcu, aku merasa agak kurang sesuai untuk berada, bersamamu….”

Goan-ci terkejut, cepat serunya, “A Ci, kenapa kau bicara demikian?”

“Habis engkau adalah ciangbunjin suatu aliran besar, sebaliknya aku bukan apa-apa, mana aku sesuai menjadi kawanmu?” kata A Ci.

“Ai, aku juga bukan….” hampir saja Goan-ci menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya juga bukan ketua Kek-lok-pay apa segala, untung ucapannya tidak jadi diteruskan.

“Engkau bukan apa?” A Ci menegas.

“O, aku… aku bukan menolak permintaanmu itu,” demikian cepat Goan-ci ganti haluan. “Cuma… cuma Sing-siok Lokoay itu entah lari ke mana, cara bagaimana kita dapat menemukan dia?”

“Ini kan gampang,” ujar A Ci dengan tertawa. “Asal aku menyalakan panah isyarat perguruan, segera dapat kupancing dia ke sini.”

“He, jangan, jangan!” cepat Goan-ci mencegah.

Namun A Ci sudah lantas mengeluarkan sebatang panah kecil warna ungu, ia pecahkan ekor panah itu dengan kuku, obat bakar sebangsa belerang bila terkena angin segera menyala dengan sendirinya, “sreng”, panah itu terus meluncur ke udara bagai roket dengan membawa jalur asap ungu.

Melihat itu, saking khawatirnya Goan-ci sampai lemas dan hampir-hampir jatuh terkulai.

“Coba lihatlah, betapa tingginya panah itu?” ujar A Ci.

Terpaksa Goan-ci menengadah, ia lihat asap ungu itu sudah tinggi di udara. Mendadak terdengar suara “dorr”, panah roket itu meletus sehingga terjadi hujan kembang api yang berwarna-warni semua ungu. Bunga api sedemikian dalam jarak belasan li jauhnya juga akan kelihatan.

Keruan kaget Goan-ci bukan buatan, lekas ia tarik tangan A Ci dan berseru, “Lekas lari!”

Karena ditarik tanpa kuasa A Ci terus ikut lari ke depan, serunya, “He, ada apa? Kita tunggu di sini saja, asal melihat api ungu, segera Ting Jun-jiu akan memburu ke sini!”

Tapi Goan-ci tidak sempat bicara lagi, ia lari terus sambil menyeret anak dara itu. Sekaligus berlari sejauh beberapa li barulah berhenti.

“Apakah kau tidak berani bergebrak dengan Ting Jun-jiu?” tanya A Ci sambil mengipratkan tangan Goan-ci.

“Ah, Ting… Ting Jun-jiu itu terhitung apa?” sahut Goan-ci dengan terengah-engah.

“Habis, mengapa lari?”

“Aku bukan lari, tapi kukhawatir pada waktu kuhajar Ting Jun-jiu nanti, tanpa sengaja engkau akan ikut dicelakai olehnya, maka kubawa dirimu menyingkir ke sini.”

“Lalu, sekarang bagaimana?”

“Biarlah kukembali ke sana sendirian untuk menghajar Ting Jun-jiu.”

“Tidak, tadi kau sudah menyatakan takkan meninggalkan aku lagi.”

Sebenarnya Goan-ci cuma ingin pergi ke sana lalu balik lagi dan menyatakan Ting Jun-jiu sudah dibinasakan olehnya, dengan alasan demikian mungkin urusan akan dapat selesai untuk sementara. Tapi sekarang A Ci bertekad ingin ikut, meski anak dara itu sudah buta, untuk membohonginya jelas tidak gampang.

Sudah tentu A Ci tidak tahu Goan-ci sedang kelabakan seperti semut di tengah wajan panas. Maka katanya pula, “Setelah mengalahkan Ting Jun-jiu, nanti ada sesuatu permintaanku lagi.”

“Kau ingin apa lagi?” tanya Goan-ci, hampir-hampir ia menangis.

“Cihuku sebenarnya adalah Pangcu Kay-pang, tapi Pak-kau-pang yang dimilikinya itu telah dirampas oleh kawanan pengemis busuk yang tidak kenal mati-hidup itu sehingga dia kehilangan kedudukannya sebagai pangcu. Jika nanti aku dapat merebut kembali Pak-kau-pang dan kuserahkan kepada Cihu, tentu beliau akan sangat senang dan takkan menganggap aku sebagai anak perempuan nakal lagi.”

Kedua kaki Goan-ci terasa lemas dan duduk mendeprok, katanya, “Engkau ada keinginan apa lagi?”

A Ci tersenyum, sahutnya, “Nanti saja kalau kedua urusan ini sudah selesai.”

Keruan Goan-ci tidak habis mengeluh. Tapi tidak dapat berkata apa-apa.

Dalam pada itu A Ci berkata lagi, “Eh, kenapa kita masih belum mendengar suaranya Ting Jun-jiu, biarlah kulepaskan sebatang panah lagi!”

“A Ci, aku… aku….” sebenarnya Goan-ci hendak menjelaskan kepada A Ci bahwa dirinya sesungguhnya adalah si badut besi yang dungu itu dan Ong Sing-thian yang gagah perkasa hanya khayalan anak dara itu, kalau ketemu Ting Jun-jiu nanti paling-paling lantas berlutut, menyembah, dan minta ampun belaka, masakah berani berebut kedudukan sebagai Ciangbunjin Sing-siok-pay apa segala?

Maka A Ci bertanya, “Apa yang hendak kau katakan? Kedua mataku dibutakan Ting Jun-jiu, dendamku belum lagi terlampias, masakah engkau tidak ingin membalaskan sakit hatiku?”

Goan-ci tahu A Ci sangat cerdik, kalau terus menolak, bukan mustahil akan segera diketahui kepalsuannya, maka cepat ia jawab, “Sudah tentu, ayolah sekarang juga kita pergi mencari Ting-lokoay!”

“Baik, marilah lekas!” sahut A Ci.

Segera Goan-ci menarik A Ci dan diajak berlari lagi ke depan.

Kedua mata A Ci sudah buta, ia sangka arah yang dituju itu adalah tempat tadi, tak tahunya justru arah yang berlawanan. Sesudah beberapa li lagi, A Ci mengira sudah kembali ke tempat semula, padahal jaraknya dengan tempat tadi sudah tambah jauh lagi.

Lalu Goan-ci berhenti, katanya pura-pura, “Eh, mengapa tidak tampak batang hidung Ting-lokoay?”

“Kecuali dia tidak melihat isyarat panahku tadi kalau melihat tentu dia akan memburu sini,” ujar A Ci. “Aku masih ada panah isyarat seperti itu, biarlah kulepaskan lagi sebatang.”

“Jangan!” cepat Goan-ci mencegah.

Tapi tindakan A Ci sangat cepat, tahu-tahu panah roket yang kedua sudah diluncurkan ke udara dengan membawa api ungu.

Keruan Goan-ci berkeringat dingin, hendak mengajak A Ci melarikan diri lagi khawatir anak dara itu gusar, kalau tidak lari, sebentar tentu akan celaka di tangan Ting Jun-jiu.

Tengah Goan-ci merasa bingung, dari jauh sana sudah terdengar suara Ting-lokoay yang terputus-putus tapi cukup jelas, “A Ci, jika kau ingin kembali ke dalam perguruan, aku masih dapat mengampunimu.”

“Ya, Tecu memang ingin masuk kembali ke perguruan Sing-siok-pay!” teriak A Ci. “Suhu, lekas engkau kemari!”

“Ini dia, sudah datang!” demikian jawab Ting Jun-jiu, suaranya dari jauh mendekat dan tahu-tahu orangnya sudah muncul.

Seketika kedua kaki Goan-ci terasa lumpuh, ia duduk di atas sepotong batu dan pasrah nasib. A Ci bersandar di sampingnya, diam-diam ia pun kebat-kebit demi mendengar Sing-siok Lokoay benar-benar telah tiba.

Kedua mata A Ci sudah buta, tapi ia dapat membayangkan sikap Ting Jun-jiu yang sengaja dipancing datang untuk melawan “Ong-kongcu” itu sekarang tentu lagi terkesima dan heran demi melihat dirinya berada bersama dengan seorang “kongcu yang gagah perkasa”.

Saat itu Ting Jun-jiu memang sangat heran, berdiri tertegun dalam jarak beberapa meter jauhnya, dengan sinar mata yang berkilat-kilat ia pandang Goan-ci.

Karena topeng besinya sudah dibeset mentah-mentah dari kepalanya, sekarang luka bekas besetan itu juga sudah kering sehingga muka Goan-ci lebih mirip setan daripada manusia, tampaknya sangat menyeramkan, tapi pemuda itu sedang gemetar duduk di atas batu.

Biarpun Ting Jun-jiu sudah berpengalaman seketika juga tidak dapat meraba orang macam apakah Yu Goan-ci itu. Sesudah mengamat-amati sejenak, kemudian ia menegur, “Siapakah saudara ini?”

Diam-diam A Ci membatin, “Ting Jun-jiu ternyata benar belum pernah kenal Ong Sing-thian. Dari suaranya kedengaran merasa jeri, hal ini menandakan Ong Sing-thian pasti sangat gagah perkasa dan berwibawa.”

Berpikir demikian, ia merasa lega dan tinggal menantikan jawaban Goan-ci saja.

Tapi tunggu punya tunggu, tetap tiada suara sahutan Goan-ci.

Kiranya Goan-ci sendiri lagi lemas demi melihat Ting Jun-jiu benar-benar memburu datang, sampai tenaga untuk membuka suara saja sukar dikeluarkan.

Maka dengan, mengikik tawa A Ci lantas mendahului berkata, “Ting Jun-jiu, apakah kau belum pernah melihat kongcu ini?”

Mendengar A Ci, tiba-tiba langsung memanggil namanya, keruan gusar Ting Jun-jiu tidak kepalang, tapi demi mendengar rada suara anak dara itu agak angkuh seperti tidak takut lagi padanya, maka ia coba bersabar dan menjawab, “Ya, belum pernah kenal. Siapakah dia?”

“Tuan ini adalah Ong Sing-thian, Ciangbunjin Kek-lok-pay, masakah belum pernah kau dengar namanya?” ujar A Ci dengan tertawa.

Sing-siok Lokoay melengak. Banyak sekali aliran dan golongan orang Bu-lim, tapi selama ini belum pernah didengar ada nama “Kek-lok-pay” segala. Mendadak ia membentak, “Kek-lok-pay apa? Ngaco-belo belaka.”

“Huh, kau sendiri mirip kura-kura dalam sumur apa mau dikata lagi?” jengek A Ci. “Ong-kongcu, buat apa banyak bicara dengan dia, boleh kau turun tangan saja.”

Ting Jun-jiu menjadi heran, katanya, “Kau suruh dia turun tangan, turun ke mana?”

“Begini, kurasa sudah terlalu lama kau jabat ketua Sing-siok-pay, tentu kau pun sudah bosan, maka kupikir kini seharusnya diganti oleh orang lain,” kata A Ci.

Ting-lokoay mendongkol dan geli pula, ia coba tanya lagi, “Habis mesti diganti siapa?”

“Sudah tentu aku,” sahut A Ci sambil tuding hidungnya sendiri. “Dan kau boleh menyembah dan menyebut aku sebagai Suhu.”

Rasa gusar Ting Jun-jiu tak tertahankan lagi, sekali membentak mendadak ia menubruk maju, kelima jarinya bagaikan kaitan terus mencakar kepala A Ci, sedangkan tangan lain juga siap di depan dada untuk menjaga kalau Goan-ci mendadak juga menyerangnya.

Sebenarnya Goan-ci tidak berani bersuara, kini demi tampak Ting Jun-jiu menyerang dengan ganas dalam gugupnya mendadak ia berteriak, “Nanti dulu!”

Saking gugupnya sehingga suaranya menjadi gemetar dan lain daripada biasanya.

Ting Jun-jiu adalah tokoh jempolan, begitu Goan-ci membuka suara saja segera dapat didengarnya pihak lawan itu memiliki lwekang yang mahatinggi, terang seorang tokoh yang tidak boleh dipandang enteng, maka cepat ia menggeser dan cengkeramannya tadi berganti arah kepada Goan-ci.

Dalam sekejap itu Goan-ci pikir bila tidak melawan tentu akan mati, daripada mati konyol lebih baik berusaha sebisanya, maka dengan pejamkan mata, kedua tangannya terus menolak ke depan dengan cepat.

Kedua tangannya itu menolak lurus ke depan, sedikit pun tidak bergaya, tapi membawa sambaran angin dingin yang mahakuat. Keruan Sing-siok Lokoay terperanjat, cepat ia tarik kembali serangannya dan melangkah ke samping dua tindak sambil membentak, “Siapakah kau?”

Waktu Goan-ci membuka mata kembali, ia lihat Sing-siok Lokoay sudah menggeser pergi, ternyata dirinya nyaris mati konyol, ia pikir tak mungkin akan terjadi lagi seperti ini, hampir-hampir ia berlutut dan minta ampun.

Namun tiba-tiba terdengar A Ci berseru, “Ong-kongcu, sekali gebrak saja dia sudah terdesak mundur, mengapa engkau tidak menyerang lagi?”

“Dia… dia terdesak mundur?” Goan-ci mengulangi ucapan itu dengan bingung.

Sesudah mengadu tenaga dengan Goan-ci, segera Lokoay dapat mengukur tenaga dalam lawan ternyata sangat aneh, tapi rasanya seperti sudah dikenalnya juga. Mendadak teringat olehnya, maka dengan tertawa ia berkata, “Hehe, kiranya kau ini angkatan tua Thi-thau-siaucu itu?”

Dan belum lagi Goan-ci menjawab, tiba-tiba A Ci bertanya, “Ong-kongcu, Thi-thau-siaucu apa maksudnya?”

Goan-ci menjadi gelagapan, sahutnya dengan tergegap, “O, aku… aku mempunyai seorang murid, kepalanya sangat lihai, tentu Ting Jun-jiu sudah… sudah pernah telan pil pahit dari dia, makanya teringat padanya.”

A Ci menjadi girang, katanya, “Ting Jun-jiu, kiranya dengan muridnya saja kau sudah keok, apalagi sekarang berani melawan Ong-kongcu? Haha, kedudukanku sebagai Ciangbunjin Sing-siok-pay sudah terang tak bisa ditawar-tawar lagi.”

Keruan gusar Ting Jun-jiu bukan buatan sehingga rambut dan jenggotnya seakan-akan tegak melandak.

Melihat sikap Ting Jun-jiu yang menakutkan itu, hampir-hampir Goan-ci angkat langkah seribu alias melarikan diri, cuma ia tak tega meninggalkan A Ci, terpaksa ia kuatkan semangatnya untuk menantikan tindakan Ting-lokoay selanjutnya.

Sementara itu Ting Jun-jiu sudah mengerahkan unsur racun ke telapak tangannya dan setiap saat siap untuk dihantamkan. Tapi karena ia pun merasa jeri maka sebegitu jauh masih belum bertindak. Ia yakin Goan-ci pasti gurunya Thi-thau-siaucu alias si bocah berkepala besi, dahulu ia pernah mengadu tangan satu kali dengan Thi-thau-siaucu itu dan hampir-hampir celaka, sudah tentu sekarang ia lebih-lebih jeri terhadap Goan-ci yang disangka gurunya Thi-thau-siaucu.

Coba kalau A Ci tidak berada di situ, mungkin sejak tadi ia sudah mencari alasan untuk mengeluyur pergi, tapi sekarang A Ci telah membuka suara hendak rebut kedudukan ciangbunjin, bahkan suruh dia berbalik mengangkat guru pada anak dara itu, sedangkan Ting Jun-jiu sendiri memang juga pernah mendurhakai gurunya sendiri.

A Ci adalah murid didiknya, dengan sendirinya ia tahu anak dara itu berani bicara berani berbuat. Karena itulah, dalam keadaan demikian tidak mungkin ia melarikan diri.

Begitulah kedua pihak saling menunggu sekian lamanya, dalam takutnya kaki Goan-ci terasa lemas, beberapa kali hampir saja ia berlutut dan minta ampun. Untung dia masih dapat bertahan mengingat A Ci yang berada di sampingnya. Namun demikian, tidak urung ia menjadi gemetar juga.

Sebaliknya Sing-siok Lokoay menjadi kaget malah. Dia tidak kenal seluk-beluk pihak musuh, maka ragu-ragu untuk menyerang. Sekarang mendadak Goan-ci gemetar lagi, ia menjadi khawatir jangan-jangan pihak lawan sedang menghimpun kekuatan, maka cepat ia mundur selangkah.

Sekejap itu saja entah sudah berapa kali ia berpikir, teringat olehnya kejadian pada waktu pertama kalinya ia mengadu tangan dengan Goan-ci dahulu sudah terang Goan-ci lebih unggul, tapi bocah kepala besi itu berteriak-teriak minta ampun malah. Tatkala itu dirinya pernah curiga jangan-jangan bocah itu sengaja mempermainkannya.

Sekarang guru bocah kepala besi itu mendadak muncul pula di sini, bukan mustahil memang orang inilah yang dahulu sengaja menyuruh bocah kepala besi itu untuk menjajaki kepandaiannya dan pada saat genting A Ci digondol lari, boleh jadi tujuan mereka adalah ingin mendapatkan Pek-giok-giok-ting itu.

Demikianlah karena sejak mula pikiran Sing-siok Lokoay memang sudah jeri dan menjurus ke arah yang sesat sehingga makin dipikir makin jauh dan bertambah ragu.

Melihat Ting-lokoay hanya memandang dirinya dan tidak lantas turun tangan, diam-diam Goan-ci merasa lega. Tapi tetap bergemetar.

A Ci tidak dapat melihat, tapi dapat mendengar. Sesudah sekian lama tidak terdengar pertarungan kedua orang itu, sebaliknya terdengar suara gemetar orang, keruan ia terheran-heran dan segera tanya, “Ong-kongcu, siapakah yang gemetar?”

“Ti… tidak ada….” sahut Goan-ci cepat dengan terputus-putus.

Keruan A Ci tambah kaget, serunya, “Hai, Ong-kongcu, apakah engkau yang gemetar?”

“Mana… mana bisa, aku justru lagi… lagi menghimpun tenaga….” sahut Goan-ci.

“Habis, mengapa engkau tidak lantas turun tangan saja?” desak A Ci.

“Ya, segera aku turun tangan,” sahut Goan-ci sambil telan liur. Sekuatnya ia coba angkat tangan dengan perlahan.

Melihat lawan mulai angkat tangan dan siap menyerang, Ting Jun-jiu menjadi tegang. Segera tangan kirinya siap di depan dada dan tangan kanan membalik ke atas dengan gaya siap melawan musuh.

Dengan susah payah barulah Goan-ci sanggup angkat tangannya ke atas, namun tiada keberanian untuk dipukulkan sehingga telapak tangannya hanya siap menyerang tapi tetap gemetar.

Sungguh kejut Ting Jun-jiu tak terkatakan, ia sudah banyak berpengalaman, tapi belum pernah melihat ilmu pukulan aneh yang gemetar seperti ini. Sekilas pikir ia khawatir bila pukulan lawan telanjur dilontarkan, untuk bicara secara baik-baik tentu tidak mungkin lagi. Maka paling baik jangan sampai bergebrak, kunci daripada semua itu justru terletak pada A Ci.

Maka ia lantas mundur lagi selangkah sambil berseru, “A Ci!”

“Ada apa, Ting Jun-jiu? Apakah kau sudah mau menyembah guru padaku?” sahut A Ci.

“A Ci,” kata Ting Jun-jiu dengan menahan gusar, “tentu kau tahu aku tiada tandingannya di dunia ini, kau berani main gila seperti ini tentu akan kau terima ganjarannya. Tapi kalau kau mau insaf akan dosamu, biarlah aku takkan mengusut kesalahanmu ini.”

Namun A Ci cukup cerdik, ia sudah dapat mendengar suara Ting Jun-jiu yang keder itu, iblis itu sekarang hanya mirip “macan kertas” saja, galak di luar, tapi di dalam hati sebenarnya ketakutan setengah mati.

Maka A Ci tertawa senang, sahutnya, “Haha, jika memang benar kau tiada tandingannya di dunia ini, maka lekas kau binasakan Ong-kongcu dan tangkap aku agar dapat menunjukkan tempat penyimpanan Pek-giok-giok-ting di Lamkhia itu, mengapa kau masih ragu dan sangsi?”

Sungguh dongkol Ting Jun-jiu tidak kepalang tapi tak berdaya, ia hanya melotot sekali kepada Goan-ci.

Sebaliknya Goan-ci juga dapat mendengar suara Ting Jun-jiu yang jeri itu, ia pikir apa barangkali karena mukaku terlalu menyeramkan sehingga Ting-lokoay ketakutan?

Maka dengan tabahkan hati ia berkata dengan harapan dapat menggertak iblis itu, “Ya, A Ci ingin menjadi ketua Sing-siok-pay, kau mau menyerahkan jabatanmu kepadanya atau tidak?”

Sudah tentu Ting Jun-jiu tidak mau menyerah mentah-mentah hanya karena digertak begitu saja, ia pikir paling tidak juga mesti menjajal dulu kepandaian sejati pihak lawan. Bila memang tidak sanggup melawan, rasanya masih belum terlambat untuk melarikan diri.

Maka ia hanya tertawa dingin saja tanpa menjawab, sedangkan tangan perlahan mulai menolak ke depan.

Melihat tangan iblis tua itu sudah mulai bergerak, seketika hati Goan-ci kebat-kebit dan keluar keringat dingin, kedua kaki terasa lemas dan tanpa kuasa terus duduk mendeprok di tanah.

Melihat lawan mendadak duduk, muka gerak tangan Ting Jun-jiu bertambah cepat.

Melihat demikian Goan-ci menjadi ketakutan, ia menjerit sekali sambil berjumpalitan ke sana. Maka terdengarlah suara “blang” sekali, pukulan Ting Jun-jiu mengenai tanah sehingga berwujud sebuah liang kecil.

Mestinya Goan-ci hendak merangkak bangun untuk melarikan diri, tapi demi tampak betapa hebat pukulan Ting Jun-jiu itu kakinya semakin terasa lemas sehingga berdiri pun tidak sanggup.

Dalam pada itu A Ci juga mendengar gelagat tidak enak, cepat ia tanya, “Ong-kongcu, bagaimana kesudahannya?”

“A Ci,” sahut Goan-ci dengan suara yang dibuat-buat, “jabatan ketua Sing-siok-pay kukira….”

Belum lagi Goan-ci selesai bicara mendadak Ting Jun-jiu mendesak maju dan pukulan kedua dilontarkan lagi. Terpaksa Goan-ci menghindar dengan berjumpalitan dan berguling-guling di tanah.

Namun tenaga pukulan Ting Jun-jiu itu belum dikerahkan seluruhnya, mendadak ia membentak, “Kenapa kau tidak balas menyerang?”

“Ya, mengapa engkau tidak balas hantam dia, Ong-kongcu?” cepat A Ci juga berseru.

Tapi Goan-ci sudah lemas sehingga bersuara pun tidak sanggup. Ia lihat pukulan Ting Jun-jiu itu mulai mendekat pula, saking ketakutan nyalinya serasa pecah, tanpa pikir lagi ia meringkuk, ia sembunyikan mukanya ke bawah ketiak.

Sekilas itulah sekonyong-konyong pikirannya tergerak, tiba-tiba teringat olehnya sesuatu gambar dengan gaya yang aneh yang pernah dibacanya dalam kitab berbahasa Sanskerta itu. Dengan sendirinya sebelah tangannya yang lain terus diputar ke belakang, lalu dijulurkan ke depan pula melalui selangkangan.

Pengalaman Ting Jun-jiu terlalu banyak dan pengetahuannya sangat luas, meski dia tidak kenal Ih-kin-keng segala tapi demi melihat gaya aneh yang dipasang Goan-ci itu, segera ia tahu bahwa lawan sedang mengerahkan lwekang yang mahahebat, maka pukulannya lantas dihentikan setengah jalan.

Sesudah meringkuk dengan gaya yang aneh itu, segera Goan-ci merasa hawa murni dalam tubuhnya bergolak dengan cepat dan hebat seakan-akan membanjir ke telapak tangan yang menjulur ke depan melalui selangkangan itu bahkan terus merembes keluar dan menyambar ke depan.

Keruan mendadak Ting Jun-jiu merasa diterjang oleh suatu arus tenaga yang mahakuat, terpaksa ia pun mengerahkan tenaga yang ditahan tadi.

Tapi celaka, sedikit dia keluarkan tenaga, tenaga lawan yang membanjir itu pun segera bertambah kuat. Ketika tangannya tertolak ke depan seluruhnya, maka tenaga lawan yang membanjir itu pun terasa luar biasa kerasnya dan sukar ditolak kembali.

Ting Jun-jiu menjadi gugup dan gusar, ia mendakkan tubuh sedikit dan pasang kuda-kuda lebih kuat, mendadak ia membentak sekali, ia himpun segenap tenaganya pada tangan kanan terus ditolak ke depan sekuatnya.

Dengan pukulan sepenuh tenaga ini ia pikir paling tidak akan dapat mengadu tangan dengan pihak lawan, pada kesempatan mana segera ia dapat salurkan unsur racun.

Tak tersangka justru pada saat pertaruhannya yang terakhir itu, tiba-tiba ia merasa tangannya ditolak kembali oleh suatu arus tenaga yang tak terbendungkan. Tanpa ampun lagi Ting Jun-jiu menjerit, tubuh terpental ke udara dan berjumpalitan sehingga beberapa kali baru kemudian jatuh ke bawah sejauh beberapa meter.

Sesudah berdiri dan tenangkan semangat, ia coba memandang ke arah Goan-ci, sungguh ia tidak percaya dapat bertemu dengan seorang lawan yang sedemikian lihai.

A Ci menjadi girang ketika mendengar jeritan aneh Ting-lokoay, lalu ada suara orang terpental jatuh pula, segera ia berseru, “Ong-kongcu, Ting Jun-jiu sudah mampus belum?”

Keruan Ting-lokoay sangat gusar, teriaknya, “Hendak mampuskan aku? Huh, tidak segampang ini!”

“Ong-kongcu, lekas kau bereskan dia, jangan sampai dia lolos!” seru A Ci pula.

Tenaga dalam yang dikeluarkan Goan-ci dengan gaya aneh yang dipelajarinya menurut gambar dalam kitab Ih-kin-keng itu memang tak terbendungkan. Namun kalau Ting Jun-jiu tidak menyerang dengan sepenuh tenaga tentu tidak sampai terpental, tapi lantaran dia bermaksud menjajal Goan-ci dan kalau dapat akan mengadu tangan dengan lawan.

Siapa duga tenaganya itu jauh kalah kuat daripada tenaga aneh yang dilontarkan Goan-ci itu sehingga sebelum dia sempat menggunakan Hoa-kang-tay-hoat, dia sendiri sudah mencelat ke udara.

Untung dia masih dapat menutup hiat-to pada tubuhnya dan jatuh ke bawah dengan baik, kalau tidak tentu Sing-siok Lokoay sudah tamat riwayatnya.

Di lain pihak Goan-ci juga sangat bersyukur Sing-siok Lokoay mendadak terpental pergi, didengarnya pula A Ci sedang mendesak agar dia turun tangan lebih jauh, maka cepat ia jawab, “Ah, musuh yang sudah ngacir buat apa dikejar? Biarkan dia pergi saja. Dan tentang ketua Sing-siok-pay ini sudah tentu… sudah tentu, menjadi bagianmu untuk menjabatnya.”

Segera A Ci berseru, “Nah, Ting Jun-jiu, kau dengar tidak? Mulai hari ini aku adalah Ciangbunjin Sing-siok-pay.”

“Huh, kau manusia apa, berani mengaku sebagai Ciangbunjin Sing-siok-pay?” sahut Lokoay dengan gusar.

“Hahaha!” A Ci terbahak-bahak. “Kau sudah dikalahkan Ong-kongcu, masakah kau masih berani mengangkangi kedudukan ciangbunjin? Haha, apa kau tidak khawatir ditertawai orang di seluruh jagat?”

“Kau sengaja menggunakan tenaga orang luar, kau dapat dianggap sebagai murid murtad golongan kita, masakah kau berani mengaku-aku pula sebagai ciangbunjin apa segala?” sahut Ting Jun-jiu.

Tapi dengan tertawa A Ci berkata, “Bagaimana hubunganku dengan Ong-kongcu tentu dapat kau saksikan sendiri, dia bukanlah orang luar sebagaimana kau sangka. Segera juga kami akan kembali ke Sing-siok-pay, barang siapa di antara murid Sing-siok-pay berani mengakuimu sebagai ketua segera akan kuhukum mati, sebaliknya yang menyembah padaku sebagai ciangbunjin baru tentu akan kuberi hadiah dan naik pangkat. Huh, percuma saja kau mengaku sebagai bekas ciangbunjin, coba jawab, pusaka Sing-siok-pay kita, yaitu Pek-giok-giok-ting sekarang berada di tangan siapa?”

Dasar mulut A Ci memang tajam, biasanya Ting Jun-jiu paling suka mendengar sanjung pujinya, tapi sekarang ia kalah didebat sehingga tidak dapat menjawab.

Melihat lawannya bungkam, A Ci makin dapat angin, segera ia berseru pula, “Nah, Ting Jun-jiu, lekas menyembah kepada ciangbunjin baru. Kalau tidak menurut, hari ini juga tentu akan kuadili dosamu ini.”

Ting Jun-jiu terperanjat, cepat ia melompat mundur dulu dua tindak, lalu mendamprat dengan suara bengis, “A Ci, jika kau jatuh di tanganku lagi tentu akan kubeset kulitmu dan membetot ototmu.”

Belum habis ucapannya, mendadak A Ci mengikik tawa, sahutnya, “Hihi, boleh kau keluarkan ancaman lebih banyak, apabila kau yang jatuh di tanganku pasti akan kuperlakukan menurut resepmu itu.”

Terpaksa Ting Jun-jiu tutup mulut. Habis dia tidak unggul melawan “Ong Sing-thian”, dengan sendirinya kemungkinan dia akan ditawan A Ci akan lebih besar, maka bukan mustahil ancaman yang dia keluarkan itu akan “senjata makan tuan”.

Tentu saja A Ci tambah senang, ia terbahak-bahak puas, katanya pula, “Nah, Ting Jun-jiu, betapa pun aku masih menaruh belas kasihan padamu, bolehlah lekas enyah. Tapi ingat, selanjutnya kau dilarang menyebut nama Sing-siok-pay dan menginjak Sing-siok-hay dalam jarak seratus li di sekitarnya.”

Saking dongkolnya sampai muka Ting-lokoay pucat pasi, tapi ia masih tidak mau kalah suara, segera ia pun berkata, “Sing-siok Losian adalah ketua Sing-siok-pay, siapa berani tidak mengakui aku?”

“Huh, kau sudah kalah, masih berani mengaku sebagai ketua? Ini, sekarang akulah yang menjadi ‘ketua’,” seru A Ci.

“Kentut, akulah Ciangbunjin resmi Sing-siok-pay, sedangkan kau cuma ciangbunjin palsu, siapa yang mau mengakuimu?” ujar Ting-lokoay.

“Sudahlah, pendek kata bila kau sampai kepergok olehku di sekitar Sing-siok-hay, maka awas jiwa anjingmu, pasti tidak ampun,” ancam A Ci. “Nah, lekas enyah, masih menggonggong terus di sini buat apa?”

Adu sulut kalah, adu tenaga juga keok, keruan Ting Jun-jiu hanya mendelik belaka. Di bawah ejek sindir A Ci itu, akhirnya ia putar tubuh dan mengeluyur pergi dengan cepat.

Sungguh senang A Ci tak terlukiskan, hanya dengan mendamprat Ting Jun-jiu habis-habisan dan secara paksa dapat merebut kedudukan Ciangbunjin Sing-siok-pay hal ini boleh dikatakan merupakan hasil “karya” terbesar selama hidupnya.

Setelah puas tertawa kemudian ia berseru, “Ong-kongcu! Ong-kongcu?”

Sementara itu Goan-ci sudah berbangkit. Ketika mendengar A Ci berkata kepada Ting Jun-jiu tentang “bagaimana hubunganku dengan Ong-kongcu” dan “dia bukanlah orang luar” lagi, tanpa kuasa hatinya berdebar-debar dan semangat seolah-olah melayang-layang di angkasa luar, maka ia hanya memandangi A Ci dengan termangu-mangu sehingga tidak mendengar panggilannya itu.

Yang terpikir olehnya saat itu adalah derita sengsara yang pernah dirasakan selama hidupnya adalah berkat A Ci, tapi bahagia yang dirasakannya juga adalah atas hadiah anak dara itu. Sungguh kejadian aneh di dunia ini sukar dibayangkan oleh siapa pun juga.

Begitulah sesudah A Ci mengulangi panggilannya beberapa kali lagi barulah Goan-ci tersadar dari lamunannya, cepat ia menjawab, “Ya, A Ci, ada urusan apa?”

“Mengapa engkau diam saja?” omel A Ci sambil menjengkitkan bibir. “Kau tidak gubris lagi padaku?”

“Ah, masakah aku tidak gubris lagi padamu, kecuali aku sudah mati,” sahut Goan-ci.

“Wah, ilmu silatmu sungguh mahatinggi dan Ting Jun-jiu benar-benar sudah kau kalahkan,” ujar A Ci dengan tertawa. “Urusan yang masih harus kita kerjakan masih sangat banyak, buat apa kita tinggal lagi di sini?”

Sebenarnya tadi sebab apa Ting Jun-jiu bisa terpental ke udara dan jatuh terus ngacir, hal ini sampai sekarang belum lagi dimengerti Goan-ci. Sekarang mendengar A Ci bilang masih banyak urusan yang harus dikerjakan, ia menjadi gugup dan khawatir, cepat ia tanya, “Kem… kembali ada urusan apa lagi?”

“Sekarang kita pergi mencari orang Kay-pang untuk merebut Pak-kau-pang, masakah kau sudah melupakan perkataanku tadi?” sahut A Ci. “Sesudah mendapatkan Pak-kau-pang, lalu aku akan menemui Cihu. Kukira Cihu yang kini telah menjabat Lam-ih-tay-ong pasti tidak sudi menjadi pangcu kaum jembel itu, bisa jadi dia dengan suka hati, atau kalau perlu akan kugunakan sedikit akal, tentu dia akan menyerahkan Pak-kau-pang kepadaku, dengan demikian aku akan dapat merangkap menjadi Pangcu Kay-pang!”

Berkata sampai di sini, ia tertawa dengan sangat gembira.

Goan-ci sendiri tertegun sejenak, katanya kemudian, “Baiklah, mari kita berangkat!”

Namun dalam hati ia ambil keputusan akan membawa anak dara itu ke tempat yang sepi, tempat yang jauh dari masyarakat, toh A Ci sudah buta dan tentu takkan tahu.

Sebaliknya A Ci mengira Goan-ci sudah menerima permintaannya itu. Dan belum lagi urusan ini selesai, diam-diam ia mulai peras otak pula untuk memikirkan urusan aneh yang akan dilakukan selanjutnya.

Sebagai gadis yang cerdik, diam-diam A Ci merasakan Goan-ci suka menurut kepada segala keinginannya, apa yang diminta tentu takkan ditolak.

Dalam girangnya ia merasa pergaulannya dengan Goan-ci ini jauh lebih menyenangkan daripada waktu berada bersama Siau Hong. Apalagi Siau Hong adalah cihunya, sedangkan Goan-ci dalam anggapannya adalah seorang kongcu muda yang gagah perkasa, dalam lubuk hatinya telah bersemi asmara yang penuh manisnya madu sehingga derita karena matanya buta itu terlupakan sama sekali.

Begitulah Goan-ci membawa A Ci menuju ke depan, tidak lama kemudian mereka sampai di suatu kota. Ketika mereka lalu di jalan besar, terdengarlah suara percakapan orang di tepi jalan dengan rasa menyesal, “Lihatlah orang itu! Ya, mukanya benar-benar luar biasa! Ai, sungguh hebat, selama hidup tidak pernah kulihat orang semacam ini!”

Mendengar bisikan orang-orang itu A Ci menjadi lebih senang. Ia sangka setiap orang sama mengagumi betapa gagah perkasanya pemuda yang mendampinginya itu.

Sebaliknya Goan-ci cukup paham apa artinya kata-kata orang di tepi jalan itu, maka ia hanya berjalan terus dengan cepat sambil menunduk.

Tiba-tiba A Ci ingat sesuatu dan berkata, “Kita masih harus mencari para tertua Kay-pang di berbagai tempat, maka kita tidak boleh tanpa binatang tunggangan. Kota ini agaknya cukup besar, boleh kita beli dua ekor kuda bagus di sini.”

Goan-ci hanya mengiakan saja dan membawanya ke suatu tempat penjual kuda. Melihat muka Goan-ci yang luar biasa itu, penjual kuda ketakutan sehingga minta uang pun tidak berani meski Goan-ci membawa pergi dua ekor kudanya yang paling bagus.

Sesudah dalam perjalanan lagi, dengan tertawa A Ci berkata, “Ong-kongcu, di mana engkau berada, sampai bicara pun orang merasa sungkan, hal ini menandakan engkau pasti sangat berwibawa dan dihormati atau ditakuti.”

“Aku pun tidak sengaja hendak menakuti mereka,” sahut Goan-ci. “A Ci, berada bersamaku, apakah engkau merasa takut?”

“Entah, kalau aku dapat melihat, bisa jadi aku pun akan takut,” kata A Ci.

“Ah, tidak, tentu tidak!” cepat Goan-ci berkata pula.

Dan sesudah mereka keluar dari kota itu segera Goan-ci melarikan kuda mereka ke arah barat. Ia sengaja memilih tempat atau jalan yang sepi, tempat yang dituju makin lama makin sunyi.

Sepanjang jalan mereka banyak bicara dan banyak gembira sehingga tidak merasa kesepian. Selama beberapa hari itu boleh dikatakan adalah saat-saat paling bahagia bagi hidup Goan-ci selama ini.

Beberapa hari kemudian entah sudah sampai di mana, sepanjang mata memandang hanya lereng gunung belaka, sama sekali tidak kelihatan ada penduduk di sekitar situ.

A Ci mulai ribut, ia tanya, “Kita berada di tempat mana ini? Mengapa tiada terdengar suara orang?”

“Di depan sana adalah sebuah kota, cuma hari sudah dekat magrib, jika kita dapat mencapai kota itu tentu juga sudah malam dan tiada sesuatu yang menarik di kota yang sudah sunyi itu,” sahut Goan-ci.

“Mengapa berturut-turut kita selalu lewat di beberapa kota pada waktu malam?” tiba-tiba A Ci berkerut kening. “Sebenarnya ada apa kau dustai aku?”

Air muka Goan-ci berubah, cepat ia jawab, “Aku dustaimu? Buat apa aku berdusta? Ini kan cuma kebetulan saja.”

“Sudah beberapa hari kita tidak mendengar suara seorang pun, jangankan pula hendak mencari orang Kay-pang. Coba, cara bagaimana aku harus pulang ke Lamkhia dan menemui Cihu?”

“Engkau masih akan pulang ke Lamkhia?” tanya Goan-ci.

“Sudah tentu,” sahut A Ci dengan bersitegang. “Aku adalah putri Toan-hok Kuncu kerajaan Liau, Cihuku adalah Lam-ih-tay-ong. Nanti kalau kau bertemu dengan Cihu apa kau mau menjadi Tay-ong juga?”

Teringat siksa derita yang dialaminya di istana Lam-ih-tay-ong dahulu itu, Goan-ci merasa ngeri dan tanpa terasa suaranya menjadi agak gemetaran, “Tidak, aku tidak ingin menjadi Tay-ong segala. A Ci, bukankah kau bilang hendak selalu berdampingan denganku? Untuk itu biarlah kita mencari suatu tempat yang jarang didatangi manusia, kita dapat hidup bahagia bagai dewa kahyangan.”

“Tidak enak, tidak enak,” sahut A Ci sambil goyang-goyang tangan. “Kalau kita cuma hidup berduaan saja siapa lagi yang tahu bahwa aku telah berkenalan dengan seorang kawan yang memiliki kepandaian mahatinggi? Dan cara bagaimana aku dapat terkenal pula di dunia ini?”

Goan-ci tersenyum getir, katanya, “A Ci….”

“Sudahlah jangan bicara lagi,” sela A Ci. “Permainan yang begitu banyak dan menyenangkan di istana Lam-ih-tay-ong saja membosankan aku, masakah aku bisa kerasan tinggal di pegunungan yang sepi? Kau bilang di depan sana ada sebuah kota, nah, lekas cari tahu kita berada di tempat mana dan nanti akan kuberi tahukan selanjutnya kita harus menuju ke mana.”

Diam-diam Goan-ci menghela napas. Sebenarnya ia ingin membawa A Ci meninggalkan Tionggoan dan menuju ke suatu tempat yang jarang didatangi manusia, di situlah mereka berdua dapat hidup berdampingan selamanya tanpa peduli pertengkaran dan saling bunuh di dunia persilatan lagi.

Tapi harapannya ternyata sukar terkabul, sebab A Ci terang masih suka kepada keramaian dan kedudukan, rasanya kelak masih banyak kesulitan yang harus dihadapinya.

Terpaksa Goan-ci hanya mengiakan secara samar-samar saja, lalu melarikan kuda menuju depan.

Makin lama A Ci makin tak sabar lagi, serunya, “Mengapa belum sampai? Kita seperti berjalan di lereng gunung, bukan?”

“Sesudah melintasi pegunungan ini, di depan sana adalah kota,” sahut Goan-ci.

“Ai, kau ini, untuk apa sih kau bawa aku ke tempat sunyi seperti ini?” omel A Ci.

Tengah bicara, tiba-tiba terdengar kumandang suara seruling. Suara seruling itu terputus-putus, tiba-tiba tajam melengking, kadang-kadang merendah, kedengarannya sangat aneh.

Sebenarnya Goan-ci ingin menghindarkan arah datangnya suara seruling itu, tapi saat itu mereka kebetulan berada di tengah-tengah sesuatu sela gunung, jalan di situ hanya satu-satunya, kalau putar balik tentu akan membuat A Ci curiga, maka terpaksa Goan-ci membawanya maju terus.

Sebaliknya A Ci menjadi sangat senang demi mendengar suara seruling itu, katanya, “Wah, sesudah dekat kota keadaan memang sangat berbeda. Siapakah gerangan peniup seruling itu? Apakah ada kawanan ular yang merayap ke sini?”

A Ci sudah biasa main binatang berbisa, ia dengar di antara suara seruling itu tercampur suara mendesis-desis, maka segera ia tahu ada kawanan ular yang merayap ke arah mereka.

Waktu Goan-ci memandang ke depan, benar juga dilihatnya ada dua ekor ular raksasa dengan warna belang-bonteng sedang merayap datang dengan amat cepat, anehnya di atas punggung ular-ular itu berdiri satu orang.

Besar kedua ular ekor itu kira-kira sebulatan paha, panjangnya belasan meter, kedua ular itu merayap berjajar seperti berbaris. Penunggang ular itu berdiri dengan kaki menginjak di atas badan tiap-tiap ular, jadi seperti main ski saja meluncur dengan cepat, walaupun badan ular pada umumnya sangat licin, tapi orang itu dapat berdiri dengan mantap, bahkan sambil meniup seruling lagi.

Keruan Goan-ci terheran-heran, katanya, “Wah, A Ci, ada pemandangan aneh ini!”

“Pemandangan aneh apa? Lekas ceritakan padaku,” pinta A Ci.

“Ada seorang, yaitu seorang padri asing yang kurus kering, kedua kakinya menginjak di atas dua ekor ular dan sedang meluncur kemari,” tutur Goan-ci.

Segala permainan dan segala dolanan yang aneh-aneh tentu pernah dicoba oleh A Ci. Tapi permainan menunggang ular seperti apa yang diceritakan Goan-ci ini belum pernah dicobanya. Maka cepat ia berkata, “Wah, sangat menarik! Lekas kau rampas kedua ekor ular itu, marilah kita juga menunggang ular saja, bukankah jauh lebih menyenangkan daripada menunggang kuda?”

Goan-ci tidak menduga anak dara itu dapat mengeluarkan pikiran yang aneh-aneh, ia jadi ragu dan menyesal telanjur diceritakan padanya.

Selagi ia tidak tahu cara bagaimana harus berbuat, sementara itu kedua ekor ular raksasa itu sudah meluncur tiba, ketika padri asing penunggang ular itu meniup serulingnya dengan suara melengking sekali, kedua ular itu lantas berhenti. Lalu padri itu memandang Goan-ci dan A Ci dengan matanya yang besar melotot itu.

Goan-ci melihat padri jitu berkulit hitam hangus, kepalanya kurus bagai tengkorak, tapi matanya bersinar sehingga membuat siapa yang memandangnya merasa risi.

Tiba-tiba padri itu menunjuk kuda tunggangan Goan-ci berdua, lalu mulutnya mengeluarkan kata-kata yang aneh dan panjang lebar. Tapi Goan-ci lantas dapat memahami bahasa yang digunakan padri itu bukan lain adalah bahasa yang pernah dipelajarinya dari Polo Singh dahulu itu.

Tapi karena dulu dia dipaksa belajar, selalu setiap hari kenyang dihajar, pada hakikatnya ia tidak paham bahasa apa-apaan itu. Maka sekarang ia pun tidak dapat menangkap maksud apa yang diucapkan padri asing itu.

“Ong-kongcu, apa yang dibicarakan orang ini?” tanya A Ci.

“Aku pun tidak paham,” sahut Goan-ci. “Tampaknya dia menghendaki kedua ekor kuda kita.”

“Hah, mungkin dia sudah bosan menunggang ular, maka ingin bertukar dengan kuda kita. Ayolah boleh tukar saja dengan dia, tanya dulu dia berani tambah berapa, namanya tukar-tambah!” kata A Ci.

Goan-ci mengamat-amati pula sikap padri asing itu, lalu sahutnya, “Tapi rasanya bukan begitu maksudnya. Agaknya dia cuma ingin ambil kedua ekor kuda kita untuk tangsel perut kedua ekor ularnya yang tampaknya sudah kelaparan itu.”

“Masa? Mengapa begini kurang ajar hwesio asing ini?” seru A Ci dengan gusar.

Dalam pada itu padri itu masih mengoceh terus, suaranya makin lama makin tajam. Lwekang Goan-ci jauh lebih kuat dan tidak merasakan apa-apa, tapi A Ci lantas merasa perasaannya kacau dan tubuh tergoyang-goyang hampir jatuh dari kudanya.

Cepat Goan-ci mengangkatnya dan dipindahkan di atas kudanya, jadi dua orang menunggang seekor kuda.

Dan baru saja A Ci meninggalkan kudanya, mendadak ular di bawah injakan kaki kanan padri asing itu lantas menubruk maju, secepat kilat leher kuda itu dililit sehingga kuda itu terguling-guling di tanah sambil meringkik ngeri.

“Ada apa? Ada apa?” A Ci tanya berulang-ulang.

Dalam pada itu kepala ular itu mendadak menyusup ke dalam mulut kuda, lalu ringkikan kuda itu makin lama makin lemah dan akhirnya berhenti.

Goan-ci sampai terkesima menyaksikan itu, sesudah A Ci mengulangi pertanyaan baru ia dapat menjawab, “O, seekor ular milik padri itu menggigit mati kudamu.”

A Ci tercengang, tapi segera katanya, “Jangan khawatir, kita suruh dia ganti dengan ularnya saja!”

Sementara itu ular tadi telah menarik kembali kepalanya dari mulut kuda sambil menjulur-julurkan lidahnya yang merah, lalu mengesot di tanah dengan kemalas-malasan bagaikan seorang yang habis makan terlalu kenyang dan ingin mengaso dulu.

Sedang ular yang lain juga mulai mendesis-desis, tampaknya sudah tidak sabar lagi. Padri asing itu pun menuding kuda yang ditunggang Goan-ci bersama A Ci itu sambil membentak-bentak.

Goan-ci pikir padri ini sangat aneh, rasanya sukar dilawan. Paling selamat kuda ini diserahkan saja padanya dan habis perkara.

Maka ia lantas berkata, “Harap Taysu jangan gusar, biarlah kami turun dulu dari kuda ini!”

Lalu ia lompat turun dan memayang A Ci pula ke bawah, kemudian mereka melangkah mundur beberapa tindak.

Dalam sekejap itu ular raksasa itu sudah menyambar maju, sekali gigit kepala kuda itu dicaploknya. Maka terdengarlah suara “siat-siut” yang keras, hanya sekejap saja otak kuda itu telah disedot habis lalu ular itu pun mengesot di tanah dengan kemalas-malasan.

Adapun padri asing itu tenang-tenang saja berjalan mondar-mandir sambil menggendong tangan. Sedangkan Goan-ci merasa bingung, ia berdiri diam di situ tanpa berdaya.

Segera A Ci tanya lagi, “Bagaimana dengan kedua ekor ular itu? Kenapa engkau tidak minta ganti padanya?”

“Bahasa kita dengan padri itu tidak sama, daripada susah-susah, biarkanlah,” ujar Goan-ci.

“Bahasa tidak sama, apa salahnya?” kata A Ci. “Kau gebah dia biar ngacir dan ular-ular itu kan menjadi milik kita?”

Tapi meski Goan-ci sudah peras otak juga tidak ingat cara bagaimana harus mengucapkan kata “ular” sebagaimana dahulu Polo Singh pernah mengajarkannya.

Tapi ia yakin padri ini besar kemungkinan adalah sebangsanya Polo Singh, boleh jadi mereka adalah kenalan pula, kalau ia sebut nama Polo Singh bukan mustahil akan dapat berunding secara baik-baik dengan padri itu. Maka segera ia berkata, “Polo Singh!”

Benar juga padri itu tampak melengak dan memandang ke arahnya.

Maka tertawalah A Ci dengan terkikik geli, serunya, “Hihi, kiranya kau pun mahir bicara dalam bahasanya yang aneh itu.”

“Tidak, aku tidak dapat, Polo Singh adalah nama orang,” sahut Goan-ci.

Tiba-tiba padri itu mendekati Goan-ci dan menegas, “Polo Singh?”

Goan-ci manggut-manggut, “Ya. Polo Singh, Polo Singh!”

Tapi mendadak padri itu menjambret dada Goan-ci dengan lima jarinya yang kurus kering itu sambil diguncang-guncangkan dan mulutnya mengoceh panjang lebar, entah apa yang dimaksudkan.

Keruan Goan-ci terkejut, cepat serunya, “He, apa-apaan ini?”

Dengan mendelik padri itu mengamat-amati Goan-ci sejenak, tampaknya ia agak aseran, tiba-tiba serunya tajam, “Polo Singh?”

Sekarang Goan-ci tahu bahwa maksud baiknya telah mendatangkan celaka malah baginya, terpaksa ia berkata lagi, “Ya, sekali Polo Singh tetap Polo Singh, biarpun kau pegang aku lebih keras juga tiada gunanya.”

Sudah tentu padri itu tidak paham apa yang dikatakan Goan-ci, ia tambah gusar dan mengomel pula panjang lebar sambil mengguncang-guncangkan Goan-ci terlebih keras.

A Ci tidak sabar mendengarkan percekcokan mereka itu, katanya, “Buat apa banyak rewel dengan dia, bereskan dia saja, Ong-kongcu!”

Segera Goan-ci sedikit menarik dirinya dengan maksud meronta. Tak terduga cengkeraman padri itu ternyata sangat kuat, “bret”, tahu-tahu bajunya robek dan sakunya jatuh semua ke tanah. Di antaranya terdapat belati pemberian Hong Po-ok sehingga menerbitkan suara nyaring waktu jatuh dan mengeluarkan sinar kemilau.

Padri itu terus jemput belati itu sambil diobat-abitkan dua-tiga kali ke arah Goan-ci dan mengucapkan dua kalimat entah apa maksudnya.

“Jika Taysu suka pada belati ini, biarlah kuberikan kepadamu,” cepat kata Goan-ci.

“He, mana boleh!” seru A Ci. “Apakah kedua ekor ularnya itu lebih bagus daripada kuda kita, masakah kita harus tambah dengan sebilah belati?”

Goan-ci serbarunyam menghadapi kedua orang di depannya sekarang ini, yang satu tidak dikenal bahasanya, yang lain buta dan bicara asal buka mulut saja. Terpaksa, ia menjawab, “Kau diam saja, A Ci, biar aku yang melayani dia.”

Sesudah memeriksa belati itu, kemudian padri itu mendadak angkat tangannya. Cepat Goan-ci menarik mundur A Ci, ia sangka padri itu hendak menyerang.

“Apakah padri itu hendak menyerang kita?” tanya A Ci.

“Belum, entah dia mau apa,” sahut Goan-ci. Dan sesudah geraki belati itu beberapa kali, kemudian padri itu membuang belati itu ke tanah.

“Eh, kiranya Taysu tidak sudi, ya sudah, kuambil kembali saja,” kata Goan-ci sambil melangkah maju untuk menjemput belati itu.

Kebetulan belati itu jatuh dekat kitab Ih-kin-keng yang tadi ikut jatuh ke tanah, maka Goan-ci lantas sekalian menjemputnya kembali.

Tapi mendadak terdengar padri itu berteriak aneh, sebelum Goan-ci tahu apa yang terjadi mendadak tangannya kena dipegang padri itu dengan kencang sehingga belati dan Ih-kin-keng yang sudah diambilnya itu jatuh pula ke tanah. Tanpa menghiraukan belati itu, padri itu terus jemput Ih-kin-keng.

Goan-ci terkejut, cepat serunya, “He, Taysu, tidak boleh ambil kitab itu!”

Berbareng ia meronta sekuatnya sehingga terlepas dari cekalan padri itu sekalian ia terus mendorong pundak orang.

Yang dipikir padri itu adalah menjemput Ih-kin-keng, maka ia tidak sempat menghindarkan dorongan Goan-ci itu. Kebetulan dorongan itu mengenai “Koh-cing-hiat” di pundaknya, mendadak saja padri itu berteriak aneh sekali terus mencelat bagai terbang.

Keruan Goan-ci tercengang, ia sangka ginkang padri ini benar-benar sangat hebat. Ketika ia perhatikan lebih jauh, ia lihat padri itu terpental belasan meter jauhnya baru turun ke tanah, malahan di atas tanah padri itu masih berjumpalitan lagi beberapa kali.

Goan-ci menjulurkan lidah melihat “ketangkasan” padri itu. Cepat ia jemput kembali belatinya dan siap melawan orang.

Tak terduga sesudah dapat berdiri kembali padri itu cuma melotot saja kepada Goan-ci, lalu ia merogoh keluar serulingnya dan ditiup beberapa kali.

Mendengar suara seruling, kedua ekor ular yang tadinya mengesot di tanah mendadak mengangkat kepala dan menggoyang ekor terus menerjang maju dengan cepat.

Keruan Goan-ci terkejut, cepat serunya, “A Ci, lekas lari!”

“Ada apa?” A Ci juga kaget.

Goan-ci tidak sempat menerangkan lagi, sedangkan kedua ekor ular itu sudah merayap tiba. Meski dia biasa main ular, tapi terhadap ular sebesar itu ia menjadi bingung juga, terpaksa ia hanya pegang tangan A Ci sambil menahan napas.

Anehnya ketika ular-ular itu kira-kira dua-tiga meter di depan Goan-ci, lalu berhenti, bahkan badannya terus melingkar menjadi satu, malahan kepala juga mengkeret.

Melihat kedua ular itu tidak bergerak lagi, legalah hati Goan-ci, ia dengar suara seruling yang ditiup padri asing itu makin lama makin melengking tajam, malahan sambil meniup seruling padri itu pun menari-nari, keringat tampak memenuhi jidatnya, suatu tanda sedang mengerahkan tenaga untuk mendesak ularnya agar menyerang, tapi celaka baginya, kedua ular itu tetap meringkuk saja dan tak mau bergerak.

Suara seruling itu makin lama makin keras dan tinggi, sampai akhirnya, “prak”, mendadak seruling pecah menjadi dua belah. Wajah padri itu tampak berubah pucat, cepat ia kabur dan menghilang di balik lembah sana.

“Bagaimana?” tanya A Ci cepat.

“Padri itu sudah lari, tapi kedua ekor ular raksasa masih meringkuk di sini tanpa bergerak,” sahut Goan-ci.

“Wah, tentu mereka takut padamu, agaknya mereka sudah kenal maksud manusia, coba kau dekati mereka untuk melihat bagaimana reaksinya?”

“Men… mendekati mereka?” Goan-ci menegas dengan khawatir.

“Ya, apa kau takut?” tanya A Ci.

Mendadak Goan-ci membusungkan dada, sahutnya, “Sudah tentu tidak… tidak takut.”

Tapi melihat kedua ekor ular yang luar biasa besarnya itu, mau-tidak-mau ia merasa ngeri juga. Dengan perlahan akhirnya ia mendekati ular-ular itu, ia pentang tangan dan beraksi hendak menyerang sambil mulut mendesis-desis.

Namun kedua ular itu meringkuk semakin erat, tampaknya sangat ketakutan.

“Bagaimana, apa mereka mau tunduk pada perintahmu?” tanya A Ci pula.

“Tampaknya kedua ekor ular ini kurang cerdik, rasanya tidak berguna untuk ditaklukkan,” ujar Goan-ci.

“Habis, kuda kita sudah mati, tanpa kedua ekor ular cara bagaimana kita melanjutkan perjalanan?” omel A Ci.

Terpaksa Goan-ci menjawab, “Baiklah, akan kucoba lagi!”

Lalu perlahan ia mengulur tangan ke depan hendak meraba kepala ular. Melihat kepala ular menunduk di tanah sambil menjulur lidah, kembali Goan-ci ragu dan takut.

Dan selagi ia hendak menarik kembali tangannya, sekonyong-konyong kedua ular itu meloncat ke atas terus memagut lengannya. Kontan saja Goan-ci menjerit.

Keruan A Ci ikut kaget. “Ada apa?” tanyanya cepat.

“Aku… aku digigit ular!” seru Goan-ci sambil meringis. Ia sangka jiwanya pasti akan melayang sehingga suara pun terasa lemas.

Namun kedua ulat itu lantas melepaskan gigitannya, dengan cepat terus merayap pergi dan melilit erat pada suatu batang pohon besar. Makin lama makin keras lilitannya, hanya sekejap saja terdengarlah suara “pletak, pletok,” berat kedua ular raksasa itu pecah dan darah memenuhi tanah di sekitar pohon.

Dengan mata terbelalak Goan-ci memandang bangkai ular-ular itu, hampir-hampir ia mengira di dalam mimpi.

Dalam pada itu A Ci berseru pula, “Ong-kongcu, bagaimana keadaanmu?”

Goan-ci coba angkat tangannya yang digigit ular itu dan digerak-gerakkan, tapi tidak terasa sakit, hanya tempat yang digigit itu terdapat dua baris bekas gigitan. Maka jawabnya, “Aku tidak apa-apa.”

“Dan bagaimana kedua ekor ular itu?” tanya pula A Ci.

“Sudah mati,” sahut Goan-ci.

“Ai, mengapa kau bunuh mereka?” kata A Ci dengan gegetun.

“Aku tidak membunuhnya, tapi mereka mati sendiri,” sahut Goan-ci.

Biarpun A Ci sangat pintar juga tidak dapat mengetahui sebenarnya apa yang menyebabkan kematian ular-ular itu, maka ia hanya menghela napas dan menyatakan rasa sayangnya.

Kiranya unsur racun yang terhimpun dalam tubuh Goan-ci itu jauh lebih lihai daripada ular-ular berbisa itu, maka begitu ular-ular itu menggigit Goan-ci, darah berbisa di badan Goan-ci itu berbalik membinasakan mereka malah.

Ketika Goan-ci memandang ke depan, tiba-tiba dilihatnya ada lagi dua ekor ular yang lain sedang merayap tiba, ia tersenyum getir dan berkata, “Tidak perlu menyesal, A Ci, ada dua ekor ular yang lain sedang mendatang pula, malahan lebih besar daripada tadi.”

“Hah, apa juga dapat dipakai sebagai kendaraan?” seru A Ci dengan girang.

“Ya,” sahut Goan-ci. “Malahan kedua ekor ular ini jauh lebih aneh. Ekor mereka terlibat menjadi satu dan di atasnya duduk seorang padri asing.”

“Wah, apa betul?” seru A Ci sambil bertepuk tangan.

“Buat apa aku dustaimu,” sahut Goan-ci.

Cepat sekali kedua ekor ular itu sudah merayap tiba. Waktu Goan-ci memerhatikan padri yang duduk di atas ekor ular, ia lihat usianya sudah sangat tua, mukanya penuh keriput, tapi sinar matanya tajam.

Goan-ci tahu tidak mungkin lagi untuk melarikan diri, terpaksa ia berdiri di situ dengan harapan akan selamat lagi seperti tadi.

Tiba-tiba A Ci berseru, “He, padri itu, apakah kau mewakili kawanmu tadi hendak memberi ganti kerugian binatang tunggangan kepada kami?”

Padri itu memandang bangkai ular dengan air muka terkejut, lalu membuka suara dan ternyata sangat fasih berbahasa Tionghoa, katanya, “Apa kalian datang dari Siau-lim-si?”

A Ci merasa senang mendengar padri itu mahir bahasa Tionghoa, sahutnya cepat, “Ai, mengapa jawabmu menyimpang seribu derajat? Aku tanya apakah kau datang untuk mengganti kuda kami yang mati digigit ular kalian itu?”

Tapi jawaban padri itu tetap menyimpang, “Yang manakah di antara kalian yang dimintai tolong oleh Polo Singh Sute?”

Goan-ci terperanjat, tanpa terasa ia tanya, “Apakah engkau ini suhengnya Polo Singh?”

“Benar namaku Cilo Singh,” sahut padri itu. “Apakah engkau yang dimintai tolong oleh Suteku itu? Jika begitu barang yang dia minta agar kau sampaikan kepada kami itu boleh kau serahkan padaku saja.”

D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: