Hina Kelana: Bab 59. Ing-ing Memerintahkan Bunuh Lenghou Tiong

Terdengar Keh Bu-si berkata pula, “Saudara Sin Kok-liong, jelek-jelek kita pernah bertemu satu kali, Ya-niau-cu sangat mengagumi jiwa kesatriamu yang luhur, tapi hari ini terpaksa aku harus mencacah jenazahmu, harap engkau sudi memaafkan. Ai sungguh sayang, sayang!”

“Ya, betul juga,” kata Lo Thau-cu. “Kalau begitu bacok saja lebih banyak, semakin luluh semakin baik.”

Sembari omong dan menghela napas gegetun ia pun terus membacok dengan goloknya. Tiga orang mencacah empat jenazah itu hingga menjadi berpuluh potong kecil-kecil, habis itu barulah dimasukkan ke dalam liang dan diuruk dengan tanah.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Orang-orang ini benar-benar bertangan gapah dan berhati kejam. Ya-niau-cu itu katanya mengagumi Sin Kok-liong sebagai kesatria berjiwa luhur, tidak seharusnya dia merusak jenazahnya sedemikian rupa.”

Waktu ia menoleh, di tengah remang-remang kegelapan malam dilihatnya Ing-ing sedang tersenyum-senyum. Wajah yang tersenyum itu benar-benar teramat menggiurkan, padahal jelas terdengar orang membacoki mayat sehingga senyuman yang manis itu tidak sesuai dengan suasananya.

Tiba-tiba terdengar Coh Jian-jiu bersuara, “He, apakah ini? Ada sebutir obat.”

Terdengar pula Keh Bu-si sedang mengendus-endus beberapa kali, lalu berkata, “Ini adalah obat mujarab Siau-lim-pay yang mempunyai khasiat menghidupkan orang mati, tentulah obat ini tercecer dari saku anak murid Siau-lim-pay ini.”

“Dari mana kau mengetahui ini adalah obat Siau-lim-pay?” tanya Coh Jian-jiu.

“Kira-kira dua puluh tahun yang lalu aku pernah melihat obat semacam ini di tempat seorang hwesio tua Siau-lim-si,” sahut Keh Bu-si.

“Jika benar obat mujarab, inilah sangat kebetulan. Lo-heng, boleh kau ambil untuk diminumkan kepada Nona Siau Ih agar dia lekas sembuh,” ujar Coh Jian-jiu.

“Banyak-banyak terima kasih,” sahut Lo Thau-cu. “Tentang penyakit putriku sih aku tidak terlalu pikirkan, yang penting sekarang juga kita lekas pergi mencari Lenghou-kongcu dan mempersembahkan obat ini kepadanya.”

Sungguh tak terkatakan rasa terima kasih dan terharu demi mendengar ucapan Lo Thau-cu itu. Pikirnya, “Obat itu terang adalah kepunyaan Ing-ing yang jatuh itu. Bagaimana caranya aku harus memintanya kembali dari Lo Thau-cu untuk diminumkan kepada Ing-ing?”

Ia lihat Ing-ing sedang tersenyum pula dan mencibir padanya dengan sikap jenaka dan kekanak-kanakan, sungguh sukar untuk dipercaya bahwa nona cilik yang cantik dan lincah demikian adalah iblis perempuan yang sekaligus telah membunuh empat jago pilihan Siau-lim-pay.

Menyusul terdengarlah suara urukan batu dan tanah, ketiga orang telah mengubur jenazah-jenazah itu. Lalu Lo Thau-cu berkata pula, “Sekarang kita menghadapi suatu persoalan sulit. Coba kau ikut memikirkan bagiku, Ya-niau-cu.”

“Soal apa?” tanya Keh Bu-si.

“Saat ini Lenghou-kongcu tentu berada bersama … bersama Seng-koh (putri suci),” kata Lo Thau-cu. “Jika aku mengantarkan obat ini kepadanya tentu akan pergoki Seng-koh pula. Dan kalau Seng-koh marah sehingga aku dibunuh, hal ini tidak menjadi soal. Cuma dengan demikian berarti aku telah mengetahui keadaannya, hal inilah yang bisa bikin runyam.”

Lenghou Tiong memandang sekilas kepada Ing-ing, katanya dalam hati, “Kiranya mereka memanggil kau sebagai Seng-koh dan begitu pula takutnya padamu. Memangnya mengapa sedikit-sedikit kau suka membunuh orang?”

Dalam pada itu terdengar Keh Bu-si telah berkata, “Ketiga orang buta yang kita jumpai di tengah jalan tadi ada juga gunanya bagi kita. Lo-heng, besok kita tentu akan dapat menyusul ketiga orang buta itu dan suruh mereka mengantarkan obat ini kepada Lenghou-kongcu. Mata mereka buta, seumpama menghadapi Seng-koh yang berada bersama Lenghou-kongcu juga takkan mengakibatkan kematian bagi mereka.”

“Tapi aku justru sangsi jangan-jangan butanya ketiga orang itu justru disebabkan mereka memergoki Seng-koh sedang berada bersama Lenghou-kongcu,” timbrung Coh Jian-jiu.

Mendadak Lo Thau-cu menepuk paha dan berseru, “Benar! Jika tidak, mengapa mereka buta semua tanpa sebab? Malahan keempat murid Siau-lim-pay ini mungkin juga tanpa sengaja telah memergoki beradanya Seng-koh bersama Lenghou-kongcu sehingga mendatangkan malapetaka bagi mereka.”

Untuk sejenak ketiga orang itu terdiam. Sebaliknya rasa heran dan ragu-ragu semakin berkecamuk di dalam benak Lenghou Tiong.

Terdengar Coh Jian-jiu membuka suara lagi sambil menghela napas, “Kuharap semoga penyakit Lenghou-kongcu lekas sembuh dan Seng-koh akan bisa lekas-lekas terjalin sebagai pasangan yang bahagia dengan dia. Selama mereka berdua tidak lekas-lekas menikah selama itu pula suasana di dunia Kangouw takkan bisa tenteram.”

Lenghou Tiong terkesiap. Ia coba melirik si Ing-ing. Remang-remang wajah si nona tampak bersemu merah, tapi sorot matanya memancarkan sinar kemarahan.

Khawatir kalau-kalau mendadak Ing-ing mencelakai Lo Thau-cu bertiga, Lenghou Tiong sengaja menjulurkan tangan kanan untuk memegangi tangan kiri si nona. Terasa badan Ing-ing rada gemetar, entah disebabkan marah atau karena malu.

“Lo-heng dan Coh-heng,” terdengar Keh Bu-si berkata, “waktu Seng-koh mendengar kita akan berkumpul di atas Ngo-pah-kang, beliau menjadi begitu marah. Padahal cinta kasih antara muda-mudi adalah soal yang jamak. Pemuda ganteng dan cakap seperti Lenghou-kongcu itu hanya setimpal mendapatkan jodoh nona cantik seperti Seng-koh, mengapa tokoh hebat sebagai Seng-koh juga bisa kikuk-kikuk seperti perempuan desa saja. Sudah terang beliau menyukai Lenghou-kongcu, tapi beliau justru melarang orang lain mengungkat hal ini, lebih-lebih tidak suka dipergoki orang. Bukankah ini rada … rada-rada janggal?”

Sampai di sini barulah Lenghou Tiong tahu duduknya perkara. Cuma tidak tahu apa yang dikatakan Keh Bu-si itu benar atau tidak. Sekonyong-konyong ia merasa tangan Ing-ing yang digenggamnya itu bergerak seakan-akan hendak melepaskannya dari pegangan. Lekas-lekas ia menggenggam lebih kuat, ia khawatir dalam gusarnya Ing-ing bisa jadi akan membunuh Keh Bu-si.

Terdengar Coh Jian-jiu berkata, “Sekalipun Seng-koh adalah satu di antara ketiga murid utama Hek-bok-keh, ilmu silatnya kuat dan agamanya tinggi, tapi apa pun juga dia adalah seorang nona muda belia. Setiap nona muda di dunia ini ketika untuk pertama kalinya menyukai seorang laki-laki, biarpun betapa hatinya jatuh cinta tetap juga tak berani diutarakannya. Kali ini kita bermaksud menyanjung Seng-koh, tapi malah kena batunya. Memang salah kita sendiri, kita adalah lelaki kasar semua dan tidak paham perasaan anak perempuan sehingga bukannya membikin senang hati Seng-koh, sebaliknya membuatnya marah malah. Kalau kejadian ini sampai tersiar tentu akan ditertawai oleh kawanan anjing dari kalangan yang menamakan dirinya beng-bun-cing-pay segala.”

Lo Thau-cu lantas berseru lantang, “Kita sama utang budi kepada Seng-koh, selama ini kita berharap dapat membalas kebaikannya dan bermaksud menyembuhkan penyakit kekasih jantung hatinya. Seorang laki-laki sejati harus dapat membedakan secara tegas antara dendam dan budi, ada budi harus dibalas, ada dendam harus dituntut, kenapa kau merasa berbuat salah? Hm, kawanan anjing mana yang berani menertawai kita biar aku membetot ususnya dan membeset kulitnya.”

Baru sekarang Lenghou Tiong merasa terang seluk-beluk pengalamannya selama ini, jadi sepanjang jalan dirinya sedemikian disanjung puji oleh orang-orang gagah itu adalah berkat seorang “putri suci” dari Hek-bok-keh yang bernama Ing-ing ini. Sebabnya para jago yang sudah berkumpul di atas Ngo-pah-kang dan mendadak bubar pula mungkin karena Seng-koh tidak ingin orang luar mengetahui isi hatinya dan menyiarkannya di dunia Kangouw.

Tapi lantas terpikir pula olehnya, “Seng-koh adalah seorang nona muda jelita, namun dia sudah dapat mengerahkan sekian banyak jago-jago dan tokoh-tokoh ternama untuk menyanjung dirinya, dengan sendirinya si nona sendiri bukanlah tokoh sembarangan. Sedangkan perkenalanku sendiri dengan si nona hanya terjadi di suatu gang sunyi di kota Lokyang melalui suara kecapi dari balik kerai sehingga boleh dikatakan belum ada peresmian kasih segala, apa barangkali ada orang luar yang telah salah paham dan menyiarkan kejadian itu sehingga membikin Seng-koh sangat marah?”

Dalam pada itu terdengar Coh Jian-jiu sedang berkata, “Ucapan Lo Thau-cu memang tidak salah. Kita banyak berutang budi kepada Seng-koh, asalkan kita dapat menjalinkan perjodohan ini sehingga selama hidup ini Seng-koh dapat hidup bahagia, maka biarpun badan kita hancur lebur juga takkan menyesal. Tentang sedikit dampratan yang kita alami di atas Ngo-pah-kang tidaklah menjadi soal. Hanya saja … hanya saja Lenghou-kongcu adalah murid utama Hoa-san-pay yang selamanya tidak dapat hidup berdampingan dengan pihak Hek-bok-keh, untuk merangkapkan perjodohan ini rasanya tidak sedikit kesulitan-kesulitan yang masih harus dihadapi.”

“Aku ada suatu akal,” kata Keh Bu-si. “Kita kan dapat menangkap ketua Hoa-san-pay, yaitu si Gak Put-kun, lalu mengancam akan membunuhnya agar dia mau menjadi wali perjodohan ini.”

“Akal Ya-niau-cu ini sungguh sangat bagus,” seru Coh Jian-jiu dan Lo Thau-cu berbareng. “Urusan jangan terlambat, sekarang juga kita lantas berangkat untuk menangkap Gak Put-kun.”

“Nanti dulu,” ujar Keh Bu-si. “Perlu dipikirkan bahwa Gak Put-kun adalah ketua dari suatu aliran terkemuka, lwekang dan kiam-hoatnya mempunyai peyakinan yang mendalam dan sempurna. Kalau kita main kasar padanya, pertama kita belum pasti akan dapat menang, kedua, seumpama dapat menawan dia, kalau dia nanti tetap berkepala batu dan tak mau menurut, lalu bagaimana?”

“Jika begitu terpaksa kita harus menculik pula istri dan putrinya dengan segala ancaman-ancaman lain,” ujar Lo Thau-cu.

“Betul,” sokong Coh Jian-jiu. “Cuma urusan ini harus dikerjakan serahasia mungkin, sekali-kali tak boleh diketahui orang luar sehingga membikin malu pihak Hoa-san-pay. Sebab Lenghou-kongcu adalah murid pertama Hoa-san-pay, jika kita membikin susah gurunya tentu dia akan merasa tidak senang.”

Begitulah ketiga orang itu terus berunding pula cara bagaimana akan menangkap Gak-hujin serta Gak Leng-sian.

Sekonyong-konyong Ing-ing berseru dengan suara lantang, “Hei, ketiga orang yang berani mati itu, lekas enyah yang jauh dan jangan membikin marah nonamu melulu.”

Lenghou Tiong sampai kaget karena mendadak Ing-ing membuka suara. Sekuatnya ia pegang tangan si nona. Sudah tentu Keh Bu-si bertiga lebih-lebih kaget.

Dengan suara gemetar Lo Thau-cu telah menjawab, “Ya, ya, hamba … hamba ….” rupanya saking khawatirnya sehingga ia tidak sanggup meneruskan ucapannya.

Keh Bu-si juga lantas berkata, “Ya, kami memang telah sembarangan mengoceh, harap Seng-koh jangan anggap sungguh-sungguh. Biarlah besok juga kami lantas menyingkir ke Se-ek (benua barat) dan takkan kembali ke Tionggoan lagi.”

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir, “Wah, dengan demikian berarti ketiga orang ini telah diasingkan pula ke tempat terpencil jauh.”

Tapi Ing-ing lantas berkata pula, “Siapa yang suruh kalian menyingkir pergi ke Se-ek. Aku ada suatu urusan, hendaklah kalian melaksanakannya untukku.”

Seakan-akan mendapat pengampunan besar, dengan girang luar biasa Keh Bu-si bertiga serentak berkata, “Silakan Seng-koh memberi perintah saja, sudah pasti kami akan berbuat sepenuh tenaga.”

“Aku ingin membunuh satu orang, tapi seketika sukar menemukan orangnya,” kata Ing-ing. “Maka bolehlah kalian menyiarkan keinginanku ini, siapa saja dan setiap kawan Kangouw yang dapat membunuh orang ini pasti akan kuberi balas jasa yang baik.”

“Balas jasa sih tidak berani kami harapkan,” ujar Coh Jian-jiu. “Tentang jiwa orang itu, biarpun kami bertiga mengubernya sampai di ujung langit pun akan kami bekuk dia. Cuma saja tidak tahu siapakah keparat yang berani membikin marah kepada Seng-koh itu?”

“Melulu kalian bertiga saja rasanya kurang mampu membunuhnya, maka kalian harus lekas menyebarkan perintahku ini,” kata Ing-ing pula.

“Baik, baik,” sahut Coh Jian-jiu. “Mohon tanya bangsat keparat siapakah yang Seng-koh ingin membunuhnya itu?”

“Hm,” Ing-ing mendengus. “Orang itu she Lenghou dan bernama Tiong, dia adalah murid utama dari Hoa-san-pay.”

Ucapan ini membikin terkejut empat orang, yaitu Lo Thau-cu bertiga ditambah Lenghou Tiong sendiri. Seketika tiada seorang pun yang berani membuka suara. Sampai agak lama barulah Lo Thau-cu berkata, “Hal ini … hal ini ….”

“Hal apa?” omel Ing-ing. “Apakah kalian takut kepada Ngo-gak-kiam-pay?”

“Sekalipun naik ke langit dan turun ke akhirat juga kami berani,” sahut Lo Thau-cu. “Kami akan segera pergi menangkap Lenghou Tiong untuk diserahkan kepada Seng-koh agar dihukum yang setimpal. Marilah Ya-niau-cu dan Coh Jian-jiu, kita berangkat sekarang juga.”

Tapi diam-diam ia membatin, “Tentu dalam bicaranya Lenghou Tiong telah menyinggung perasaan Seng-koh. Memang jamak pergaulan di antara anak muda, semakin rapat dan baik semakin gampang cekcok pula. Ya, apa boleh buat, terpaksa kami harus pergi mencari dan mengundang Lenghou-kongcu ke sini, biarkan Seng-koh sendiri yang melayani dia.”

Di luar dugaan Ing-ing lantas berseru dengan marah, “Siapa yang suruh kalian pergi menangkap dia? Selama Lenghou Tiong itu hidup di dunia ini hanya akan merusak nama baikku yang suci bersih ini, lekas dia dibunuh lekas pula rasa dongkolku akan terlampias.”

Coh Jian-jiu hendak berkata pula, “Seng-koh ….”

Tapi Ing-ing telah menyela, “Sudahlah, tentu kalian mempunyai hubungan baik dengan Lenghou Tiong dan tidak mau melaksanakan perintahku tadi. Tidak apalah, biar aku menugaskan kepada orang lain saja.”

Mendengar ucapan Ing-ing itu sangat serius, Keh Bu-si bertiga tidak berani ragu-ragu lagi, terpaksa mereka memberi hormat dan berkata, “Baiklah, dengan taat kami akan melaksanakan perintah Seng-koh.”

Diam-diam Lo Thau-cu membatin pula, “Lenghou-kongcu adalah seorang yang luhur budinya, hari ini aku terpaksa melaksanakan perintah Seng-koh dan mau tak mau harus ikut membunuh Lenghou-kongcu, tapi sesudah kubunuh dia, nanti aku pun akan membunuh diri untuk mengiringinya.”

Begitulah ketiga orang itu lantas bertindak pergi.

Waktu Lenghou Tiong memandang ke arah Ing-ing, tertampak nona itu sedang menunduk dan termenung-menung. Pikirnya, “Kiranya demi untuk menjaga nama baiknya sendiri dia harus mencabut nyawaku. Tapi apa sih sulitnya jika hal ini dikehendaki?”

Maka berkatalah Lenghou Tiong, “Kau ingin membunuh aku boleh silakan lakukan sendiri saja, buat apa mesti mengerahkan orang begitu banyak?” perlahan-lahan ia lantas melolos pedangnya sendiri dan menyodorkan gagang pedang kepada Ing-ing.

Ing-ing lantas memegangi pedang itu, kepalanya sendiri miring sambil menatapi Lenghou Tiong.

Dengan tertawa Lenghou Tiong lantas membusungkan dada.

“Kematianmu sudah di depan mata, apa yang kau tertawakan?” omel Ing-ing.

“Justru karena kematianku sudah di depan mata, makanya aku ingin tertawa,” sahut Lenghou Tiong.

Ing-ing angkat pedangnya dengan gerakan seakan-akan hendak menusuk. Tapi mendadak ia putar tubuh, tangannya mengayun sekuatnya, pedang itu dibuang jauh-jauh. “Trang”, pedang itu jatuh di atas tanah. “Semuanya gara-garamu, gara-garamu!” demikian si nona berseru sambil banting-banting kaki. “Karena gara-garamu maka orang-orang Kangouw sama menertawakan diriku seolah-olah selamanya aku tidak … tidak laku, seperti tidak ada orang yang mau padaku lagi, dianggapnya dengan segala daya upaya aku sengaja memikat kau. Padahal apamu yang … yang hebat sehingga selanjutnya aku tidak punya muka untuk bertemu dengan orang lagi.”

Tiba-tiba Lenghou Tiong bergelak tertawa malah.

Ing-ing menjadi gusar. Dampratnya, “Kau malah menertawai aku, kau mengejek aku?”

Mendadak ia terus menangis tergerung-gerung.

Karena tangis si nona, seketika timbul juga rasa penyesalan Lenghou Tiong, mendadak ia menjadi sadar juga, “Ah, dia mempunyai kedudukan dan nama yang tinggi serta terhormat, sedemikian banyak orang-orang gagah sama sangat segan kepadanya, dengan sendirinya dia sudah biasa dipuji, dia adalah anak perempuan, tentu juga punya rasa harga diri yang tinggi. Ketika mendadak semua orang mengatakan dia suka padaku, tentu saja hal ini membuatnya merasa direndahkan. Sebabnya dia menyuruh Lo Thau-cu bertiga menyiarkan perintahnya untuk membunuh aku besar kemungkinan tidak sungguh-sungguh hendak membunuh aku, tapi tujuannya hanya sebagai sangkalan saja tentang sukanya padaku. Dengan perintahnya itu tentu siapa pun takkan curiga bahwa aku justru berada bersama dia.”

Segera Lenghou Tiong berbangkit, katanya dengan suara halus, “Ya, memang akulah yang bersalah sehingga membikin nama baik nona tercemar. Biarlah sekarang juga aku mohon diri saja.”

Ing-ing mengusap air matanya, katanya, “Kau hendak ke mana?”

“Tiada tempat tujuan, ke mana pun jadi,” sahut Lenghou. Tiong.

“Kau telah berjanji akan mengantar aku, mengapa sekarang hendak tinggal pergi sendirian?”

“Ah, sesungguhnya aku tidak tahu tebalnya bumi dan tingginya langit sehingga sembarang omong, ucapanku itu tentu akan ditertawai nona saja,” ujar Lenghou Tiong dengan tersenyum. “Padahal ilmu silat nona sedemikian tinggi, masakah perlu pengawalanku segala. Biarpun ada seratus orang Lenghou Tiong juga tidak mampu membandingi nona seorang.”

Habis berkata ia terus putar tubuh hendak melangkah pergi.

“Kau tidak boleh pergi,” seru Ing-ing gugup.

“Kenapa?” tanya Lenghou Tiong.

“Coh Jian-jiu bertiga sudah menyiarkan perintahku tadi, dalam waktu beberapa hari saja setiap orang Kangouw pasti akan tahu semua. Dalam keadaan begitu setiap orang tentu ingin membunuh kau. Jangankan kau dalam keadaan terluka, sekalipun sehat juga kau sukar untuk menghindarkan diri dari kematian.”

Lenghou Tiong tersenyum hambar, katanya, “Jika aku dapat mati di bawah perintah nona, rasanya masih baik juga.”

Habis berkata ia terus menjemput pedangnya dan dimasukkan ke dalam sarungnya. Ia menduga dirinya masih lemah dan tidak sanggup mendaki tanah tanjakan itu, maka langkahnya lantas diarahkan ke sepanjang tepi sungai kecil itu.

Melihat Lenghou Tiong benar-benar mau pergi dan semakin jauh, Ing-ing lantas mengejarnya dan berseru, “He, he! Kau jangan pergi.”

“Jika aku tetap tinggal di sini kan cuma membikin susah pada nona, maka lebih baik aku pergi saja,” ujar Lenghou Tiong.

“Tidak, kau … kau ….” hanya sekian ucapannya dan segera Ing-ing menggigit bibir dengan perasaan risau dan cemas. Ketika dilihatnya Lenghou Tiong masih melangkah terus, cepat ia memburu maju pula sambil berkata, “Lenghou Tiong, apakah kau sengaja memaksa aku mengucapkannya secara terus terang baru kau merasa puas ya?”

“Ai, ada apakah? Sungguh aku tidak paham?” sahut Lenghou Tiong heran.

Kembali Ing-ing menggigit bibir, kemudian berkata, “Aku telah suruh Coh Jian-jiu bertiga menyiarkan perintahku, hal itu supaya … supaya kau bisa senantiasa berada di sampingku dan tidak boleh meninggalkan aku barang selangkah pun.”

Habis mengucapkan demikian tubuhnya menjadi gemetar, berdiri pun sempoyongan.

Lenghou Tiong terheran-heran, tanyanya, “Kau … kau ingin didampingi aku senantiasa?”

“Benar,” sahut Ing-ing. “Setelah Coh Jian-jiu bertiga menyiarkan perintahku, mau tak mau kau harus mendampingi aku barulah dapat menyelamatkan jiwamu. Tak tersangka kau ternyata tidak tahu apa artinya kematian, sedikit pun kau tidak takut. Bukankah jadinya akulah … akulah yang membikin celaka kau?”

Hati Lenghou Tiong menjadi terharu, pikirnya, “Kiranya kau benar-benar sedemikian baik kepadaku, tapi di depan orang-orang itu mati pun kau tidak mau mengaku.”

Segera ia putar tubuh dan mendekati Ing-ing, ia pegang kedua tangan si nona dan terasa amat dingin kedua telapak tangannya itu. Dengan suara lirih dibikinnya, “Buat apa engkau berbuat demikian?”

“Aku takut,” sahut Ing-ing.

“Takut apa?”

“Aku takut kau yang tolol ini tidak mau turut kepada omonganku dan benar-benar akan pergi mengembara Kangouw lagi dan mungkin tidak sampai besok kau sudah akan mati di tangan manusia-manusia busuk yang tidak laku sepeser itu.”

“Mereka itu adalah laki-laki gagah perkasa semua, mereka pun sangat baik padamu, mengapa kau begini memandang hina kepada mereka?”

“Di belakangku mereka menertawai diriku, mereka ingin membunuh kau pula, bukankah mereka itu adalah manusia-manusia busuk yang pantas mampus?”

Hampir-hampir Lenghou Tiong tertawa, katanya, “Kau sendirilah yang menyuruh mereka mencari dan membunuh aku, mengapa kau malah salahkan mereka? Lagi pula mereka pun tidak menertawai kau. Bukankah kau mendengar pembicaraan Lo Thau-cu bertiga tadi tentang dirimu, betapa segan dan hormat mereka kepadamu, masakan mereka ada maksud menertawai kau?”

“Di mulut mereka tidak menertawai aku, tapi di dalam hati mereka tertawa,” kata Ing-ing.

Diam-diam Lenghou Tiong merasa si nona ingin menang sendiri, ia pun tidak mau berdebat lagi dengan dia, terpaksa berkata, “Baiklah, kau melarang aku pergi, biar aku mendampingi kau di sini saja. Ai, jika benar-benar dibacok orang sehingga terpotong-potong rasanya tentu tidaklah enak.”

Ing-ing menjadi girang karena Lenghou Tiong berjanji takkan pergi. Katanya, “Rasanya tidak enak apa, hakikatnya memang konyol.”

Waktu bicara muka si nona rada dimiringkan ke sebelah sini sehingga di bawah cahaya bintang-bintang yang remang-remang dapat terlihat mukanya yang putih halus. Seketika tergerak perasaan Lenghou Tiong, pikirnya, “Sesungguhnya nona ini jauh lebih cantik daripada Siausumoay, akan tetapi … akan tetapi, entah mengapa hatiku masih selalu terkenang kepada Siausumoay saja.”

Sudah tentu Ing-ing tidak tahu di dalam hati Lenghou Tiong sedang memikirkan Gak Leng-sian, ia bertanya pula, “Di mana kecapi pemberianku tempo hari? Sudah kau hilangkan ya?”

“Ya,” sahut Lenghou Tiong. “Aku kehabisan sangu di tengah jalan dan terpaksa kecapi itu kugadaikan.”

Sembari berkata ia pun menanggalkan buntelan yang menyandang di bahunya, lalu dibuka dan dikeluarkannya khim (kecapi) pemberian si nona dahulu itu.

Melihat buntelan kecapi itu sangat rapi, suatu tanda betapa cermat dan sayang terhadap benda pemberiannya itu, diam-diam Ing-ing sangat senang. Omelnya kemudian, “Setiap hari kau mesti berdusta, baru hatimu merasa, puas bukan?”

Lalu ia ambil kecapi itu dan mulai dipetiknya perlahan-lahan, dibawakannya lagu “Jing-sim-boh-sian-ciu” itu sambil bertanya, “Lagu ini sudah kau pelajari dengan baik belum?”

“Wah, masih jauh daripada baik,” sahut Lenghou Tiong sambil mendengarkan suara kecapi yang merdu dan menyegarkan itu. Ia merasa suara kecapi sekarang rada berbeda daripada apa yang dibawakannya di Lokyang dahulu, bunyi kecapi sekarang lebih lincah, seperti kicauan burung, seperti gemerciknya mata air. Baru sekarang ia tahu bahwa lagunya meski sama, tapi iramanya berbeda, kiranya lagu Jing-sim-boh-sian-ciu itu masih mempunyai perubahan sebanyak ini.

Tiba-tiba terdengar “creng” satu kali, senar kecapi yang paling pendek itu telah putus. Ing-ing tampak mengerut dahi, tapi masih terus memetik kecapinya. Selang tidak lama, “cring”, kembali senarnya putus satu utas.

Dari irama kecapinya itu sekarang Lenghou Tiong merasa mengandung kegelisahan sehingga sangat berlawanan dengan lagu Jing-sim-boh-sian-ciu yang semula. Lewat tidak lama pula, selagi heran, mendadak senar kecapi putus satu utas pula.

Ing-ing tampak tercengang dan mendorong kecapinya ke depan. Lalu omelnya, “Kau duduk di situ hanya mengganggu saja, tentu saja tak dapat membunyikan kecapi ini dengan baik.”

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Sejak tadi aku duduk tenang-tenang mendengarkan di sini, bilakah aku pernah mengganggu kau?” tapi segera ia paham, “Ya, dia sendirilah yang pikirannya tidak tenang sehingga akulah yang disalahkan.”

Tapi ia pun tidak membantah omelan si nona, ia lantas merebahkan diri di atas tanah berumput itu dan pejamkan mata untuk istirahat. Rupanya saking lelahnya sehingga akhirnya tanpa terasa ia terpulas.

Besok paginya waktu dia mendusin, dilihatnya Ing-ing sedang mencuci muka di tepi sungai. Habis cuci muka si nona mulai menyisir rambut dengan sebuah sisir, lengannya putih bersih, rambutnya panjang terurai, Lenghou Tiong sampai kesima.

Waktu Ing-ing menoleh, dilihatnya Lenghou Tiong sedang memandanginya dengan termangu-mangu, muka Ing-ing menjadi merah, omelnya dengan tertawa, “Setan tidur, baru sekarang mendusin.”

Lenghou Tiong rada rikuh juga, katanya mengada-ada, “Coba kupergi menangkap kodok, entah aku sudah kuat belum.”

Memang benar juga, waktu Lenghou Tiong bermaksud berbangkit, terasa tangan dan kakinya masih lemas linu, sedikit pakai tenaga saja darah lantas bergolak di rongga dadanya. Sungguh tidak kepalang rasa dongkolnya, kalau mau mati biar mati saja daripada mati tidak hidup tidak seperti sekarang ini, jangankan orang lain merasa jemu terhadap keadaannya itu, sedangkan dirinya sendiri juga merasa keki.

Melihat air muka Lenghou Tiong bersungut, Ing-ing lantas menghiburnya, “Luka dalam yang kau derita belum pasti sukar disembuhkan, di sini adalah tempat yang sunyi, toh tiada pekerjaan apa-apa, boleh kau merawat badanmu perlahan-lahan kenapa mesti gelisah?”

Begitulah mereka terus tinggal di lembah pegunungan itu selama belasan hari. Luka Ing-ing sudah lama sembuh, setiap hari dia yang menangkap swike sebagai bahan makanan. Sebaliknya badan Lenghou Tiong makin hari makin susut tampaknya, melihat tangannya yang kurus itu hakikatnya tinggal kulit membungkus tulang belaka. Meski Ing-ing sering membunyikan kecapi untuk menenangkan pikiran Lenghou Tiong dan membuatnya bisa tidur nyenyak, tapi bagi kesehatannya itu ternyata tiada berguna sama sekali.

Lenghou Tiong tahu ajalnya sudah mendekat, untunglah dia adalah seorang pemuda yang berpikiran lapang, ia pun tidak merisaukan nasibnya itu. Setiap hari dia masih tetap bersenda gurau dengan Ing-ing. Karena tiada punya sesuatu sirikan, maka senda guraunya menjadi semakin bebas.

Di lembah pegunungan yang terpencil sunyi itu, sejak perginya Keh Bu-si bertiga pada malam itu, untuk seterusnya tidak pernah lagi didatangi orang lain sehingga suasananya benar-benar aman tenteram.

Watak Ing-ing sebenarnya sangat tinggi hati dan suka main perintah, tapi demi ingat bahwa setiap saat ada kemungkinan riwayat Lenghou Tiong bisa tamat, maka dia tambah ramah dan mesra melayani pemuda itu dengan segala cara. Terkadang ia pun suka muring-muring, tapi segera ia menjadi menyesal dan minta maaf kepada Lenghou Tiong.

Hari ini ketika dilihatnya Lenghou Tiong setiap hari hanya makan swike melulu dan tentu juga merasa bosan, maka Ing-ing telah pergi memburu seekor ayam hutan untuk dipanggang, ia mencari pula beberapa biji buah tho. Kedua orang dapat bersantap dengan kenyang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: