Hina Kelana: Bab 58. Si Nona adalah Putri Suci, Tokoh Ketiga dari Hek-bok-keh

Waktu ia pandang pula bayangan di muka air, terlihat sebagian wajah si nona dengan mata tertutup, bulu matanya sangat panjang. Walaupun tidak jelas bayangan di muka air itu, namun dapatlah dipastikan wajah si nona pasti sangat cantik molek, umurnya paling banyak baru 17-18 tahun saja. Keruan Lenghou Tiong terheran-heran, “Siapakah nona ini? Mengapa mendadak datang seorang nona secantik ini untuk menolong diriku?”

Dari bayangan yang dilihatnya di muka air serta sentuhan punggung dengan badan si nona dapat diketahui bahwa si nona dalam keadaan pingsan. Lenghou Tiong bermaksud memutar tubuh untuk memayang si nona, tapi sekujur badan sendiri terasa lemas lunglai sampai satu jari pun susah bergerak. Tapi rasanya seperti di alam mimpi pula, apalagi wajah yang cantik molek yang terbayang di muka air itu benar-benar dirinya terasa seperti berada di surgaloka.

Selang agak lama, terdengar si nona yang mendekap di atas punggung bersuara perlahan dan lambat-lambat membuka matanya. Kemudian terdengar ucapannya, “Kau sengaja menakut-nakuti aku atau benar-benar tidak ingin hidup lagi?”

Mendengar suaranya itu, kejut Lenghou Tiong tak terkatakan. Suara si nona ternyata tiada bedanya dengan suara “si nenek”. Saking kejutnya sampai tubuhnya rada menggigil, serunya terputus-putus, “Kau … kau ….”

“Kau apa? Aku justru tidak mau makan obat busuk pemberian hwesio tua itu, boleh kau cari mati lagi, coba!” kata si nona.

“Hah, nenek, kiranya kau adalah … adalah seorang nona cilik yang sangat cantik,” ujar Lenghou Tiong.

“Da … dari mana kau tahu?” seru nona itu terperanjat. “Bocah yang tidak bisa pegang janji, jadi diam-diam kau telah … telah mengintip mukaku?”

Tapi waktu ia menunduk dan melihat bayangannya sendiri tercermin sangat jelas di permukaan air sungai, ternyata dirinya sedang menggelendot di punggung Lenghou Tiong, seketika ia menjadi malu, sekuatnya ia meronta bangun, namun kakinya terasa lemas dan kembali jatuh terkulai pula. Lekas-lekas Lenghou Tiong menjulurkan kedua tangannya untuk memegangnya dan tepat si nona jatuh ke dalam pangkuannya.

Tatkala itu kedua orang sama-sama tiada punya tenaga lagi, sesudah berkutatan sekian lamanya, mereka hendak jatuh pingsan pula, terpaksa mereka berbaring di tepi kali itu dan tidak bergerak lagi.

Di dalam hati Lenghou Tiong merasa sangat heran. Tanyanya kemudian, “Mengapa kau pura-pura menjadi seorang nenek untuk menipu aku? Kau pura-pura sebagai orang tua, sehingga membikin aku … membikin aku sampai ….”

“Membikin kau sampai bagaimana?” si nona menegas.

Kini pandangan Lenghou Tiong jaraknya hanya belasan senti jauhnya dari muka si nona. Dilihatnya kulit pipinya putih bersih bersemu kemerah-merahan, sejenak kemudian baru, ia melanjutkan, “Membikin aku berulang-ulang memanggil nenek padamu. Huh, tidak malu, padahal kau menjadi adik perempuanku saja masih lebih kecil, tapi kau justru ingin menjadi nenek orang. Kalau ingin menjadi nenek kan mesti tunggu delapan puluh tahun lagi.”

Si nona mengikik geli, jawabnya, “Bilakah aku mengatakan diriku adalah seorang nenek? Adalah kau sendiri yang memanggil demikian padaku. Kau yang terus-menerus memanggil nenek, bukankah tadi aku pun marah dan suruh kau jangan memanggil lagi. Kau yang sengaja panggil demikian padaku bukan?”

Diam-diam Lenghou Tiong merasa ucapan si nona memang juga benar. Tapi dirinya telah tertipu sampai sekian lamanya dan dianggap sebagai orang tolol, betapa pun rasanya masih penasaran. Maka katanya, pula, “Kau melarang aku memandang wajahmu, bukankah kau sengaja hendak mengakali aku? Jika aku berhadapan muka dengan kau masakah aku akan memanggil nenek padamu? Ketika di kota Lokyang kau pun sudah menipu diriku, kau telah sekongkol dengan si tua Lik-tiok-ong itu dan suruh dia memanggil kau sebagai bibi. Jika kakek seumur dia saja masih pernah keponakanmu, lantas apa panggilan kepadamu kalau bukan panggil nenek?”

“Kakek-guru Lik-tiok-ong itu adalah kakak ayahku, lalu kalau diurutkan Lik-tiok-ong mesti panggil apa kepadaku?” tanya si nona dengan tertawa.

Lenghou Tiong melengak, jawabnya kemudian dengan ragu-ragu, “Jika begitu kau memang pernah bibinya Lik-tiok-ong?”

“Bocah Lik-tiok-ong itu toh bukan sesuatu tokoh yang luar biasa, kenapa aku mesti memalsukan diri sebagai bibinya?” ujar si nona dengan tertawa.

“Ya, aku benar-benar bodoh, padahal aku sudah harus tahu sejak dulu-dulu,” sahut Lenghou Tiong sembari menghela napas.

“Apa yang harus kau ketahui sejak dulu-dulu?” si nona menegas dengan tertawa.

“Habis suaramu sedemikian enak didengar, di dunia ini masakah ada nenek-nenek reyot yang bersuara sedemikian nyaring dan merdu?”

“Aku punya suara sudah kasap lagi serak mirip suara burung gagak, pantas saja kau menyangka aku sebagai nenek-nenek reyot,” si nona tertawa.

“Suaramu seperti suara burung gagak, katamu? Ai, jika begitu rupanya zamannya sudah berubah, burung gagak pada zaman ini kiranya suaranya jauh lebih merdu daripada suara burung kenari.”

Mendengar dirinya dipuji, muka si nona menjadi merah, tapi hatinya amat senang. Katanya dengan tertawa, “Baiklah, Engkong Lenghou Tiong, Kakek Lenghou Tiong, sudah sekian lamanya kau memanggil nenek padaku, biar sekarang aku pun membayar panggilan kakek padamu. Dengan demikian kau tidak merasa dirugikan dan bolehlah tidak marah lagi?”

“Kau adalah nenek dan aku adalah kakek, kita adalah si kakek dan si nenek, bukankah ….” dasar sifat Lenghou Tiong memang suka ugal-ugalan, mulutnya bicara tanpa aling-aling, mestinya ia hendak berkata “bukankah kita adalah satu pasangan”, tapi mendadak dilihatnya alis si nona menegak dan air mukanya berubah merah, maka cepat-cepat ia telan kembali kata-katanya itu.

“Kau hendak sembarangan mengoceh apa?” omel si nona marah.

“O, aku maksudkan bila kita adalah kakek dan nenek, bukankah … bukankah kita telah menjadi tokoh kosen angkatan tua di kalangan Bu-lim?” demikian Lenghou Tiong ganti haluan.

Sudah tentu si nona tahu Lenghou Tiong sengaja mengubah ucapannya tadi, maka ia pun tidak mengungkatnya lebih lanjut agar tidak telanjur keluar kata-kata yang membikin kikuk. Sambil menggelendot di pangkuan Lenghou Tiong dan dapat mengendus bau kelaki-lakian yang keras dari tubuhnya, seketika pikirannya menjadi kacau. Ia bermaksud meronta bangun, tapi betapa pun sukar mengumpulkan tenaga. Akhirnya dengan wajah merah ia berkata, “Eh, coba kau dorong aku!”

“Dorong kau? Buat apa?” tanya Lenghou Tiong.

“Kita … kita begini, apa … apa macam ini?” kata si nona malu-malu.

“Kakek dan nenek memangnya harus begini,” ujar Lenghou Tiong tertawa.

“Hm, kau sembarangan mengoceh, coba nanti kalau aku tidak membunuh kau,” semprot si nona.

Terkesiap juga hati Lenghou Tiong. Teringat olehnya peristiwa dia memerintahkan berpuluh orang laki-laki agar mencukil biji matanya sendiri hingga buta, lalu disuruh enyah ke pulau terpencil di lautan timur. Maka ia tidak berani bergurau lagi dengan si nona. Pikirnya, “Usianya masih begini muda, tapi sekali bergebrak saja sudah membunuh empat orang murid Siau-lim-pay, ilmu silatnya terang sangat tinggi, tindak tanduknya begini ganas pula, sungguh orang sukar memercayai bahwa semua itu diperbuat oleh seorang nona secantik ini.”

Melihat Lenghou Tiong diam saja, segera si nona bicara pula, “Kau marah lagi ya? Seorang laki-laki sejati mengapa begini sempit jalan pikiranmu?”

“Aku tidak marah, tapi aku merasa takut kalau-kalau akan dibunuh olehmu,” sahut Lenghou Tiong.

“Asal selanjutnya kau bicara menurut aturan, siapa yang akan membunuh kau?”

“Ya, dasar sifatku memang suka ugal-ugalan begini, ini namanya apa mau dikata? Tampaknya sudah suratan nasib bahwa aku pasti akan kau bunuh.”

“Tadinya kau panggil nenek padaku dan sangat patuh serta hormat padaku, maka selanjutnya kau pun bersikap hormat dan patuh seperti itu saja,” ujar si nona dengan tertawa.

“Tidak bisa!” sahut Lenghou Tiong. “Aku sudah tahu engkau adalah seorang nona cilik, maka aku tak bisa menganggap kau sebagai nenek lagi.”

“Kau … kau ….” baru sekian ucapannya, mendadak wajah si nona menjadi merah. Entah tiba-tiba teringat sesuatu apa sehingga dia tidak melanjutkan pula kata-katanya.

Waktu menunduk dan melihat wajah ayu yang kemalu-maluan dan menggiurkan itu, seketika perasaan Lenghou Tiong terguncang. “Ngok”, tanpa merasa ia mencium sekali di pipi yang bersemu merah itu.

Keruan si nona terperanjat. Sekonyong-konyong timbul suatu arus tenaga, tangannya membalik, “plok”, ia gampar muka Lenghou Tiong dengan cukup keras, menyusul ia terus melompat bangun.

Akan tetapi loncatannya itu terbatas sekali tenaganya, selagi tubuhnya terapung di atas tenaganya sudah habis dan segera terbanting jatuh pula ke dalam pangkuan Lenghou Tiong dengan lemas dan tidak sanggup bergerak lagi.

Ia takut kalau-kalau Lenghou Tiong berbuat bangor lagi, maka hatinya sangat cemas, katanya terputus-putus, “Jika … jika kau berani berbuat kurang ajar lagi, segera … segera aku akan menyembelih kau.”

“Kau akan menyembelih aku atau tidak bukan soal bagiku, toh jiwaku sudah tidak lama lagi akan tamat. Aku justru akan berbuat kurang ajar pula.”

Keruan si nona tambah khawatir, katanya, “Aku … aku ….” namun apa yang dapat diperbuatnya?

Lenghou Tiong mengerahkan tenaga sebisanya dan perlahan-lahan mengangkat bahu si nona, tapi segera ia miringkan tubuhnya sendiri terus menggelinding ke pinggir. Katanya dengan tertawa, “Kau … kau akan apa?”

Habis ucapannya ini berulang-ulang ia terbatuk-batuk, bahkan darah segar pun terbatuk keluar.

Hendaklah maklum bahwa sifat Lenghou Tiong sebenarnya cuma suka ugal-ugalan dan sembrono, tapi sesungguhnya bukanlah bajul buntung, bukan pemuda yang suka merusak kaum wanita. Tadi hanya berguncang seketika perasaannya sehingga pipi si nona dikecupnya satu kali, namun segera ia merasa menyesal juga, sesudah digampar satu kali ia lebih-lebih menyesalkan perbuatannya sendiri itu. Walaupun mulutnya masih tetap keras, tapi ia tidak berani lagi berpeluk-pelukan dengan si nona.

Menyingkirnya Lenghou Tiong dengan sukarela itu sebaliknya di luar dugaan si nona. Bahkan diam-diam si nona merasa menyesal ketika melihat Lenghou Tiong menumpahkan darah. Cuma dia merasa malu untuk mengucapkan beberapa patah kata permintaan maaf, maka dengan suara halus ia hanya berkata, “Apakah … apakah dadamu sakit sekali?”

“Dada sih tidak sakit, tapi tempat lainlah yang terasa sakit,” sahut Lenghou Tiong.

“Tempat mana yang sakit?” tanya si nona. Betapa rasa perhatiannya tampak sekali dari air mukanya.

“Tempat ini!” jawab Lenghou Tiong sambil meraba-raba pipinya yang kena digampar tadi.

Si nona tersenyum. “Kau ingin aku minta maaf padamu bukan? Bolehkah sekarang juga aku … aku minta maaf padamu.”

“Aku sendirilah yang salah, harap nenek jangan marah!”

Mendengar dirinya dipanggil lagi sebagai nenek, tanpa merasa si nona mengikik geli.

“Bagaimana dengan obat busuk pemberian si hwesio tua? Kau masih belum meminumnya bukan?” tanya Lenghou Tiong.

“Tidak sempat dijemput lagi,” sahut si nona sambil menuding ke atas tebing sana. “Masih ketinggalan.”

Dan sesudah berhenti sejenak, lalu sambungnya pula, “Aku akan menurut padamu. Sebentar akan kunaik ke atas untuk menjemputnya kembali dan akan kuminum tanpa peduli apakah obat busuk atau bukan?”

Begitulah kedua orang duduk bersama di tanah tanjakan yang miring itu. Jika dalam keadaan biasa, cukup sekali loncat saja mereka sudah dapat melayang ke atas. Tapi sekarang tebing itu dirasakan seperti puncak terjal yang beribu-ribu meter tingginya dan sukar dicapai.

Kedua orang sama-sama memandang sekejap ke atas tebing, lalu menunduk kembali untuk kemudian saling pandang dan sama-sama menghela napas.

“Aku akan duduk tenang sebentar, jangan kau mengganggu aku,” kata si nona.

Lenghou Tiong mengiakan. Dilihatnya si nona lantas duduk bersandar di tanah yang miring itu sambil pejamkan kedua mata, tiga jarinya, yaitu jempol, jari-jari telunjuk dan tengah menahan di atas tanah dengan gaya yang aneh.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Umumnya orang bersemadi dengan duduk bersila, tapi cara duduknya ini benar-benar lain daripada yang lain.”

Mestinya Lenghou Tiong juga ingin mengaso sebentar untuk mengumpulkan tenaga. Tapi perasaannya ternyata bergolak terus, betapa pun sukar dibikin tenang.

Tiba-tiba terdengar suara “kok-kok-kok”, seekor swike (kodok hijau) mendadak melompat keluar dari dalam sungai. Keruan Lenghou Tiong sangat girang. Sesudah menderita sekian lamanya, memangnya ia sudah kelaparan, makanan yang disodorkan kepadanya ini benar-benar sangat kebetulan baginya. Tanpa pikir lagi tangannya terus mencengkeram kodok kesasar itu.

Tak terduga tangannya masih sangat lemas, cengkeramannya itu ternyata menubruk tempat kosong. “Kok”, kodok itu sempat melompat pergi sambil berkokok seakan-akan sangat senang dan seperti sedang menyindir ketidakbecusan Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong menghela napas. Yang lebih membikinnya mendongkol adalah di tepi sungai kecil itu ternyata amat banyak kodok-kodok hijau yang gemuk-gemuk lagi, seekor melompat pergi segera melompat datang pula dua ekor yang lain, tapi Lenghou Tiong tetap tidak mampu menangkapnya meski tangannya sudah tubruk sini dan sambar ke sana.

Pada saat itulah tiba-tiba dari belakang menjulur tiba sebuah tangan yang putih dan halus, sekali dekap dengan perlahan tahu-tahu seekor kodok hijau itu sudah tertangkap. Waktu Lenghou Tiong menoleh, kiranya adalah si nona. Hanya duduk tenang sebentar saja kini ia sudah bisa bergerak, walaupun masih kurang tenaga, tapi untuk menangkap beberapa ekor kodok adalah terlalu gampang baginya.

“Bagus!” seru Lenghou Tiong girang. “Kita akan dapat menikmati daging swike.”

Nona itu tersenyum, sekali tangannya menjulur kembali seekor kodok kena ditangkapnya pula. Hanya sekejap saja sudah lebih 20 ekor kodok hijau tertangkap.

“Sudah cukup!” seru Lenghou Tiong. “Kau pergi mencari kayu dan membuat api, aku yang menyembelih kodok-kodok ini.”

Si nona menurut dan pergi mencari kayu bakar. Lenghou Tiong sendiri lantas melolos pedang dan mulai memotong kepala dan membuang cakar kodok, lalu membelek dan membeset kulitnya.

Dengan tertawa si nona berkata, “Orang kuno menyembelih ayam pakai golok jagal kerbau, tapi sekarang Lenghou-tayhiap menyembelih kodok hijau dengan ilmu pedang Tokko-kiu-kiam.”

Lenghou Tiong terbahak-bahak, sahutnya, “Hahaha, jika Tokko-tayhiap mengetahui di alam baka bahwa ahli warisnya ternyata begini tak becus, ilmu pedangnya yang hebat telah disalahgunakan untuk menyembelih kodok, wah, saking marahnya mungkin beliau bisa ….” mestinya ia hendak mengatakan “bisa mati kaku”, tapi segera ia urungkan ucapannya itu.

Dengan tertawa si nona lantas berkata pula, “Lenghou-tayhiap ….”

Sambil memegangi kodok yang telah disembelihnya dan digoyang-goyangkan, Lenghou Tiong berkata, “Sebutan ‘tayhiap’ sama sekali aku tidak berani terima. Di dunia ini mana ada pendekar besar tukang sembelih kodok?”

“Di zaman dahulu ada kesatria penjagal anjing, di zaman ini sudah tentu ada pendekar tukang sembelih kodok,” ujar si nona dengan tertawa. “Eh, kau punya Tokko-kiam-hoat itu benar-benar amat hebat, sampai-sampai hwesio tua dari Siau-lim-pay itu pun tak mampu melawan kau. Dia bilang orang yang mengajarkan ilmu pedang padamu itu adalah tuan penolongnya, sebenarnya bagaimana duduknya perkara?”

“Orang yang mengajarkan ilmu pedang padaku ini adalah kaum angkatan tua dari Hoa-san-pay kami sendiri,” jawab Lenghou Tiong.

“Begitu sakti ilmu pedang locianpwe itu, mengapa di dunia Kangouw tidak pernah terdengar namanya?”

“Ini … ini … aku sudah berjanji kepada beliau untuk tidak membocorkan jejaknya, maka … maka ….”

“Huh, memangnya aku kepingin tahu?” dengus si nona. “Biarpun kau mau memberi tahu kepadaku juga aku tidak sudi mendengarkan. Apakah kau tahu siapakah aku ini dan bagaimana asal usulku?”

“Aku tidak tahu,” jawab Lenghou Tiong sambil menggeleng. “Sampai-sampai nama nona juga aku belum mengetahui.”

“Kau sengaja merahasiakan urusanmu, maka aku pun tidak mau menerangkan padamu,” kata si nona.

“Meski aku tidak tahu, tapi aku pun dapat menerka sampai delapan atau sembilan bagian,” kata Lenghou Tiong.

Air muka si nona rada berubah, katanya, “Kau dapat menerka? Cara bagaimana kau bisa menerka?”

“Sekarang masih belum tahu, sebentar kalau sudah malam tentu aku bisa tahu jelas,” kata Lenghou Tiong.

Si nona tambah heran dan terkejut, tanyanya, “Mengapa setelah malam tiba nanti kau bisa tahu dengan jelas?”

“Aku akan menengadah ke langit untuk memeriksa bintang-bintang, bila diketahui bintang mana yang kurang di langit, maka tahulah perbintangan apa yang telah menjelma sebagai nona. Nona secantik bidadari seperti kau, di dunia fana ini mana ada wanita demikian?”

Wajah si nona menjadi merah. “Cis!” semprotnya. Tapi batinnya amat senang. Katanya, “Kembali kau mengoceh tak keruan lagi.”

Dalam pada itu ia sudah menyatakan api, segera ia menyunduk swike-swike yang telah dibersihkan itu di batangan kayu, lalu dipanggang di atas unggun api. Ketika minyak kodok menetes di atas api, terdengarlah suara mencicit yang ramai, bau sedap lantas teruar juga.

Sambil memandangi asap yang mengepul dari unggun api, perlahan-lahan si nona berkata pula, “Aku bernama Ing-ing. Biar kukatakan, entah kelak kau akan terus ingat atau tidak?”

“Ing-ing! Ehm, bagus amat nama ini,” ujar Lenghou Tiong. “Bila sejak dulu-dulu aku mengetahui kau bernama Ing-ing tentu aku takkan memanggil nenek padamu.”

“Sebab apa?”

“Sebab Ing-ing terang adalah nama seorang nona cilik, dengan sendirinya bukanlah nenek-nenek reyot.”

“Kelak jika aku benar-benar sudah nenek-nenek reyot, aku toh takkan ganti nama dan akan tetap bernama Ing-ing,” kata si nona alias Ing-ing dengan tertawa.

“Kau takkan pernah menjadi nenek-nenek. Kau begini cantik, sampai berumur 80 tahun juga masih tetap seorang nona cilik yang amat cantik.”

“Wah, kan bisa menjadi siluman nanti?” sahut Ing-ing dengan tertawa. Selang sejenak, lalu sambungnya dengan sungguh-sungguh, “Aku sudah beri tahukan namaku, selanjutnya kau tidak boleh sembarangan memanggil lagi.”

“Mengapa?”

“Tidak boleh ya tidak boleh.”

Lenghou Tiong menjulurkan lidah. “Wah, ini tidak boleh, itu dilarang, kelak orang yang menjadi sua ….” sampai di sini ia tidak berani melanjutkan lagi ketika dilihatnya muka si nona merengut marah.

“Hmm!” demikian Ing-ing mendengus.

“Kenapa kau marah? Aku maksudkan: kelak orang yang menjadi muridmu tentu akan tahu rasa,” mestinya ia akan bilang “suamimu”, tapi demi melihat gelagat jelek segera ia ganti haluan.

Sudah tentu Ing-ing tahu maksudnya. Katanya, “Kau ini memang angin-anginan, tidak jujur pula. Di dalam tiga kalimat ucapanmu lebih dari dua kalimat selalu kau putar balik. Tapi aku pun tidak akan memaksa kepada orang lain. Orang lain boleh mendengarkan kata-kataku, kalau tidak suka boleh jangan mendengarkan dan terserah kepadanya.”

“Tapi aku suka mendengarkan ucapanmu kok,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. Ucapannya ini mengandung nada menggoda. Alis Ing-ing tampak berkerut seperti hendak marah, tapi mukanya lantas merah jengah dan terus berpaling.

Untuk sejenak siapa pun tidak bersuara lagi. Tiba-tiba tercium bau hangus. “Aiiii!” Ing-ing menjerit. Kiranya sundukan satai kodoknya telah terpanggang hangus.

“Gara-garamu!” omel Ing-ing.

“Kau mesti bilang gara-garaku membikin kau marah sehingga dapat menghasilkan satai kodok hangus sebaik ini,” sahut Lenghou Tiong tertawa.

Segera ia mendahului mencomot sepotong paha swike yang hangus dan dimasukkan ke dalam mulut. “Ehmmm, alangkah lezatnya! Satai hangus beginilah barulah sedap. Di tengah rasa sangit mengandung pahit dan di tengah rasa pahit timbullah manis. Rasa selezat ini boleh dikata nomor satu di dunia ini.”

Ing-ing merasa geli oleh ucapan Lenghou Tiong, sambil mengikik tawa ia pun ikut makan satai kodok itu.

Lenghou Tiong selalu pilih bagian yang hangus untuk dimakan sendiri dan memberikan paha kodok yang tidak hangus untuk Ing-ing. Sesudah kenyang makan, cahaya sang surya menghangati badan mereka, saking lelahnya tanpa merasa mereka sama berbaring dan tertidur.

Lantaran semalam suntuk tidak tidur, pula sama-sama terluka, maka tidur mereka itu sangat nyenyak. Di tengah impiannya Lenghou Tiong merasa dirinya sedang berlatih pedang bersama Gak Leng-sian di tengah gemerojoknya air terjun. Tiba-tiba di tengah mereka bertambah satu orang dan ternyata Lim Peng-ci adanya. Menyusul dirinya lantas berkelahi dengan Peng-ci di tengah air terjun itu. Tapi kedua tangannya sendiri sama sekali tak bertenaga, dengan mati-matian ada maksud mengeluarkan Tokko-kiu-kiam ajaran Hong Jing-yang itu, tapi satu jurus pun sukar dikeluarkan, sebaliknya serangan-serangan Lim Peng-ci semakin menggencar dan berulang-ulang mengenai ulu hati, perut, kepala dan bahunya, sedangkan Gak Leng-sian tampak bergelak tertawa. Saking khawatir dan gusarnya ia berteriak-teriak, “Siausumoay, Siausumoay!”

Setelah berteriak beberapa kali, akhirnya ia terjaga bangun sendiri. Didengarnya suatu suara yang lembut berkata di sampingnya, “Kau telah mimpi siausumoaymu, apa yang dia lakukan terhadapmu?”

“Ada orang hendak membunuh aku, tapi Siausumoay tidak ambil pusing kepadaku,” sahut Lenghou Tiong dengan perasaan belum tenteram.

Ing-ing menghela napas, katanya, “Dahimu penuh air keringat.”

Segera Lenghou Tiong mengusapnya dengan lengan baju, tiba-tiba angin berkesiur sehingga terasa menggigil. Waktu menengadah, dilihatnya langit penuh dengan bintang-bintang, nyata hari sudah jauh malam, kiranya tidurnya benar-benar sangat nyenyak dan marem.

Setelah jernih kembali pikirannya, segera lapanglah perasaan Lenghou Tiong. Ia tertawa dan baru hendak bicara, mendadak Ing-ing mendekap mulutnya dan mendesis, “Ssst, ada orang datang.”

Segera Lenghou Tiong tutup mulut, tapi tidak mendengar sesuatu. Selang sebentar lagi barulah didengarnya ada suara tindakan orang dari kejauhan. Selang sejenak pula, terdengar seorang sedang berkata, “Di sini ada lagi dua sosok mayat.”

Sekali ini Lenghou Tiong dapat mengenali suara orang itu, terang Coh Jian-jiu adanya.

“Ini ada bekas-bekas darah,” terdengar seorang lagi berkata. Lalu yang seorang lain berseru, “Ah, ini kan hwesio dari Siau-lim-pay?!”

Lenghou Tiong lantas ingat pembicara yang duluan itu adalah Ya-niau-cu Keh Bu-si dan yang terakhir adalah Lo Thau-cu, mungkin dia melihat mayatnya Kat-gwe.

Perlahan-lahan Ing-ing menarik kembali tangannya yang mendekapi mulut Lenghou Tiong tadi.

Dalam pada itu terdengar Keh Bu-si telah berkata pula, “Ketiga orang yang mati ini adalah murid Siau-lim-pay dari kalangan preman, mengapa bisa terbinasa di sini? Eh, orang ini bernama Sin Kok-liong, aku kenal dia. Sungguh mengerikan matinya ini, padahal dia adalah jago gwakang dari Siau-lim-pay.”

“Ya, siapakah yang punya kemampuan sehebat ini sehingga dapat membunuh empat jago Siau-lim-pay sekaligus?” kata Coh Jian-jiu.

“Jangan-jangan … jangan-jangan adalah perbuatan tokoh dari Hek-bok-keh?” ujar Lo Thau-cu dengan ragu-ragu. “Bahkan bisa jadi adalah … adalah Tonghong-kaucu sendiri?”

“Ya, kalau melihat keadaan luka parah korban ini memang rada-rada mirip,” kata Keh Bu-si. “Marilah kita lekas mengubur keempat rangka jenazah ini agar jejaknya tidak diketahui oleh orang dari Siau-lim-pay.”

“Jika memang benar tokoh Hek-bok-keh yang melakukannya, tentu mereka pun tidak takut diketahui oleh pihak Siau-lim-pay,” ujar Coh Jian-jiu. “Malahan bukan mustahil mayat-mayat ini memang sengaja ditinggalkan begini saja di sini secara demonstratif agar diketahui oleh orang-orang Siau-lim-pay.”

“Kukira kalau mau unjuk wibawa begini rasanya takkan meninggalkan mayat-mayat ini di tempat pegunungan yang sunyi begini,” ujar Keh Bu-si. “Coba pikir, jika kita tidak lewat di sini secara kebetulan, tentu mayat-mayat ini akan dimakan oleh burung-burung dan binatang-binatang buas dan tentu takkan ketahuan orang lagi. Jika aku, lebih tepat kalau mayat-mayat ini digantung di tengah jalan besar dan diberi tanda pula sebagai anak murid Siau-lim-pay, dengan demikian pamor Siau-lim-pay pasti akan runtuh habis-habisan.”

“Uraian Ya-niau-cu ini memang tidak salah,” kata Coh Jian-jiu. “Besar kemungkinan setelah tokoh Hek-bok-keh membunuh keempat orang ini lalu buru-buru pergi mengejar musuh lagi dan tidak sempat mengubur mayat-mayat ini.”

Habis itu lantas terdengar suara tanah digali, ketiga orang itu mulai menggali liang untuk mengubur mayat Sin Kok-liong berempat.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Ketiga orang ini tentu mempunyai hubungan yang sangat rapat dengan Tonghong-kaucu dari Hek-bok-keh, kalau tidak rasanya mereka takkan susah payah mencapekkan diri seperti ini.”

Sejenak kemudian, tiba-tiba terdengar suara “crat-cret” berulang-ulang, lalu terdengar Lo Thau-cu bertanya, “Ya-niau-cu, orangnya sudah mati, buat apa lagi kau membacoki badan mereka?”

“Coba saja kau menerkanya,” sahut Keh Bu-si dengan tertawa.

Sebelum Lo Thau-cu menjawab, tiba-tiba Coh Jian-jiu menyela dengan tertawa, “Pikiran Ya-niau-cu memang sangat rapi, untuk menjaga pencarian orang Siau-lim-pay yang mungkin akan menggali keluar mayat-mayat ini dan dari keadaan luka-luka di atas mayat ini tentu akan dapat diselidiki siapakah pembunuhnya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: