Hina Kelana: Bab 57. Si Nenek Ternyata adalah Gadis yang Cantik

Dengan membentak gusar Sin Kok-liong, Ui Kok-pek dan Kat-gwe bertiga berbareng menubruk ke tengah semak-semak bersama senjata mereka. Akan tetapi Hong-sing keburu mengebaskan lengan bajunya sehingga ketiga orang itu kena dicegah oleh suatu kekuatan angin yang lunak. Habis itu Hong-sing lantas berseru lantang ke tengah semak-semak, “Toyu (kawan agama) dari Hek-bok-keh manakah yang berada di sini?” Tapi keadaan semak-semak sana ternyata sunyi senyap tiada bergerak sedikit pun. Segera Hong-sing berseru pula, “Siau-lim-pay kami selamanya tiada permusuhan apa-apa dengan para Toyu dari Hek-bok-keh, mengapa Toheng menggunakan cara sedemikian kejam atas diri Ih-sutit kami?” Namun di tengah semak-semak itu tetap tiada suara apa-apa juga tiada seorang pun yang menjawab. Diam-diam Lenghou Tiong berpikir, “Berulang-ulang Hong-sing Taysu menyebut nama ‘Hek-bok-keh’, golongan orang macam apakah itu? Nama ini belum pernah kudengar selama ini.” Terdengar Hong-sing Taysu sedang berkata pula, “Dahulu Lolap pernah bertemu sekali dengan Tonghong-kaucu. Karena Toyu sudah turun tangan membunuh orang, maka pihak mana yang benar dan pihak mana yang salah sekarang juga harus ditentukan. Kenapa Toyu tidak tampil ke sini untuk bertemu saja?” Hati Lenghou Tiong tergetar mendengar “Tonghong-kaucu” disebut. Bukankah yang dimaksudkan adalah Tonghong Hing, itu Kaucu dari Mo-kau yang termasyhur? Orang itu dianggap sebagai tokoh nomor satu pada zaman ini, jangan-jangan si nenek ini adalah orang dari Mo-kau?” Akan tetapi si nenek yang sembunyi di tengah semak-semak itu tetap diam-diam saja tanpa menggubris ucapan Hong-sing Taysu. “Jika Toyu tetap tidak sudi tampil ke muka, maafkan saja jika Lolap terpaksa berlaku kasar!” seru Hong-sing pula. Habis berkata, kedua tangannya sedikit menjulur ke belakang, kedua lengan bajunya seketika melembung, menyusul terus disodok ke depan. Maka terdengarlah suara berderak yang keras, puluhan batang pohon sama patah dan roboh. Pada saat itulah sekonyong-konyong sesosok bayangan orang meloncat keluar dari tengah semak-semak. Lekas-lekas Lenghou Tiong putar tubuh ke arah lain. Didengarnya Sin Kok-liong dan Kat-gwe telah membentak berbareng disertai suara nyaring benturan senjata yang ramai dan cepat, jelas si nenek sudah mulai bertempur dengan Hong-sing dan kawan-kawannya. Waktu itu sudah lewat tengah hari, cahaya matahari menyorot miring dari samping. Untuk pegang teguh janjinya sendiri, biarpun di dalam hati sesungguhnya sangat gelisah, tapi Lenghou Tiong tidak berani menoleh untuk menyaksikan keadaan pertempuran keempat orang itu. Mendadak terlihat bayangan-bayangan orang berseliweran di atas tanah, teranglah Hong-sing berempat telah mengepung rapat si nenek. Hong-sing Taysu tidak memakai senjata, sedangkan senjata Kat-gwe adalah Hong-pian-san, tongkat padri. Ui Kok-pek menggunakan golok dan Sin Kok-liong memakai pedang. Sebaliknya senjata si nenek adalah sepasang senjata pendek, bentuknya mirip belati dan menyerupai cundrik pula, pendek sekali senjata-senjata itu dan tipis seakan-akan bening tembus, hanya dari berkelebatnya bayangan sukar untuk diketahui macam senjata apa sesungguhnya. Si nenek dan Hong-sing sama-sama tidak bersuara, sedangkan Sin Kok-liong bertiga yang terus membentak-bentak, perbawa mereka sangat menakutkan orang. “Segala urusan dapat dibicarakan secara baik-baik, kalian empat orang laki-laki mengerubut seorang nenek reyot, kesatria macam apakah kalian ini?” demikian teriak Lenghou Tiong. “Nenek reyot? Hehe, rupanya bocah ini mimpi di siang bolong,” jengek Ui Kok-pek. Belum habis suaranya, mendadak Hong-sing berseru, “Awas, Ui ….” Namun sudah terlambat terdengar Ui Kok-pek menjerit, “Aaaah!” agaknya sudah terluka parah. Sungguh tidak kepalang kejut Lenghou Tiong, “Betapa lihai ilmu silat si nenek. Dari kebutan lengan baju Hong-sing Taysu tadi, jelas tenaga dalamnya jarang ada bandingannya di dunia persilatan pada zaman ini. Tapi dengan satu lawan empat toh si nenek masih berada di atas angin dan dapat menjatuhkan salah seorang pengeroyoknya.” Bahkan menyusul lantas terdengar jeritan Kat-gwe pula, “blang”, tongkat yang bobotnya puluhan kati itu terlepas dari cekalan dan melayang lewat di atas kepala Lenghou Tiong terus jatuh ke tempat belasan meter jauhnya sebelah sana, “trang”, tongkat itu menghantam sepotong batu besar sehingga memercikkan lelatu api, batu pecah berhamburan, gagang tongkat itu pun bengkok. Bayangan orang yang berseliweran itu kini sudah berkurang dua sosok, Ui Kok-pek dan Kat-gwe Hwesio sudah menggeletak di atas tanah, tinggal Hong-sing dan Sin Kok-liong saja yang masih bertempur dengan sengit. “Siancay, Siancay! Begini keji kau, beruntun-runtun tiga orang Sutitku telah kau bunuh, terpaksa Lolap harus melayani kau sepenuh tenaga,” terdengar Hong-sing berkata. Menyusul terdengarlah “trang-trang-trang” beberapa kali, agaknya Hong-sing Taysu juga sudah menggunakan senjata. Lenghou Tiong merasa sambaran angin yang kuat di belakangnya makin lama makin keras sehingga selangkah demi selangkah ia terdesak ke depan. Sesudah menggunakan senjata, nyata padri sakti dari Siau-lim-pay memang bukan main hebatnya, seketika keadaan kalangan pertempuran berubah. Lenghou Tiong mulai mendengar suara napas si nenek yang memburu, agaknya tenaganya mulai payah. “Buang senjatamu dan aku pun takkan membikin susah padamu,” demikian seru Hong-sing. “Kau boleh ikut aku ke Siau-lim-si untuk memberi lapor kepada Suheng ketua dan terserah kepada kebijaksanaannya.” Namun si nenek tidak menjawab, ia menyerang beberapa kali dengan gencar kepada Sin Kok-liong sehingga murid Siau-lim-pay ini rada kelabakan dan terpaksa melompat mundur agar Hong-sing yang menyambut serangan musuh. Sesudah tenang kembali, Sin Kok-liong mencaci maki, “Perempuan keparat, hari ini kalau kau tidak dicincang hingga hancur lebur takkan terlampias rasa dendamku!” Segera ia putar pedang dan menerjang maju pula. Tidak lama berselang, suara benturan senjata mulai mereda, tapi deru angin pukulan semakin keras. Berkatalah Hong-sing Taysu, “Tenaga dalammu bukan tandinganku, lebih baik kau membuang senjatamu dan ikut aku ke Siau-lim-si saja, kalau tidak, sebentar lagi kau pasti akan terluka dalam dengan parah.” Terdengar si nenek hanya mendengus sekali saja, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan ngeri, Lenghou Tiong merasa lehernya terciprat beberapa titik air, waktu ia meraba dengan tangan, terlihat telapak tangannya berwarna merah. Kiranya titik-titik air yang menciprat ke lehernya itu adalah air darah. “Siancay, Siancay! Kau sudah terluka sekarang, kau lebih-lebih tidak mampu melawan aku lagi!” kata Hong-sing pula. “Perempuan keparat ini adalah iblis dari agama sesat, lekas Susiok membinasakan dia untuk membalaskan sakit hati kematian tiga orang sute, terhadap kaum iblis mana boleh pakai welas asih segala?” seru Sin Kok-liong. Dalam pada itu suara napas si nenek terdengar semakin terengah-engah, langkahnya juga mulai sempoyongan seakan-akan setiap saat bisa roboh. Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Nenek suruh aku mengawalnya, tujuannya aku diminta melindungi dia. Kini beliau menghadapi bahaya, mana boleh aku tinggal diam saja? Meski Hong-sing Taysu adalah seorang padri agung yang saleh, orang she Sin itu pun laki-laki yang jujur, namun aku tidak dapat membiarkan nenek dibunuh oleh mereka.” Karena pikiran itu, “sret”, segera ia melolos pedang dan berseru, “Hong-sing Taysu dan Sin-cianpwe, mohon kalian suka bermurah hati dan pulang ke Siau-lim-si saja. Kalau tidak, terpaksa Wanpwe akan berlaku kurang adat kepada kalian.” Sin Kok-liong menjadi gusar, bentaknya, “Kawanan iblis, bunuh saja sekalian!” kontan pedangnya terus menusuk ke punggung Lenghou Tiong yang berdiri mungkur itu. Lenghou Tiong tetap pegang janjinya dan tidak berani berpaling agar tidak sampai memandang muka si nenek, maka ia hanya berusaha menghindar ke samping. Mendadak terdengar si nenek berseru, “Awas!” Namun Sin Kok-liong adalah jago pilihan di antara angkatan kedua di dalam Siau-lim-si, mana bisa membiarkan Lenghou Tiong menghindar dengan begitu saja. Maka ketika Lenghou Tiong menghindar ke samping, tahu-tahu pedang Sin Kok-liong juga sudah menyusul tiba. “Siancay!” seru Hong-sing. Disangkanya tusukan murid keponakannya itu pasti akan menembus punggung Lenghou Tiong hingga ke dada. Tak terduga, tiba-tiba terdengar Sin Kok-liong sendiri yang menjerit, tubuhnya terus mencelat ke atas dan melayang lewat di samping kiri Lenghou Tiong serta terbanting di atas tanah, sesudah berkelejatan beberapa kali, lalu binasa. Entah cara bagaimana dia juga telah kena dibunuh secara kejam oleh si nenek. Pada saat yang hampir bersamaan itu juga lantas terdengar suara “bluk” yang keras, tubuh si nenek ternyata sudah kena pukulan Hong-sing Taysu dan roboh terjungkal. Kejut sekali Lenghou Tiong, cepat ia miringkan tubuh dan pedangnya segera menusuk ke arah Hong-sing. Karena serangan Lenghou Tiong yang tepat pada waktunya serta jitu arahnya, Hong-sing terpaksa harus melompat mundur. Menyusul Lenghou Tiong menusuk pula. Cepat Hong-sing menangkis dengan senjatanya. Kini Lenghou Tiong sudah berhadapan muka dengan Hong-sing Taysu, dapat dilihatnya bahwa senjata yang dipakai padri sakti Siau-lim-si itu kiranya adalah sepotong pentungan kayu yang panjangnya cuma setengahan meter saja. Keruan Lenghou Tiong terkesiap. Pikirnya, “Sungguh tidak nyana bahwa senjatanya adalah sepotong kayu sependek ini. Tenaga dalam hwesio Siau-lim-si ini terlalu kuat, jika aku tidak dapat mengalahkan dia dengan ilmu pedangku, tentu si nenek sukar diselamatkan.” Tanpa ayal lagi pedangnya lantas menusuk ke atas dan menusuk ke bawah, menyusul menusuk lagi dua kali ke atas, ilmu pedang yang dilontarkan adalah ciptaan mendiang Tokko Kiu-pay yang diajarkan Hong Jing-yang itu. Setelah Lenghou Tiong memainkan ilmu pedangnya ini, seketika air muka Hong-sing Taysu berubah hebat. Serunya, “Kau … kau … kau ….” Namun sedikit pun Lenghou Tiong tidak merandek. Ia sadar tenaga dalamnya sendiri sudah punah, asal pihak lawan diberi kelonggaran sedikit tentu akan segera melancarkan serangan balasan dan tenaga dalam yang kuat, jika demikian jadinya, maka dirinya pasti akan binasa seketika dan si nenek juga pasti akan celaka. Lantaran pikiran demikian, maka beratus-ratus macam gerakan pedang “Tokko-kiu-kiam” yang ajaib itu secara berantai terus dimainkan sekaligus tanpa berhenti. Dahulu Tokko Kiu-pay pernah malang melintang di dunia Kangouw tiada ketemukan tandingan, senantiasa ia mengharapkan ada orang yang mampu mengalahkan dia dan selama itu harapannya itu belum pernah terkabul, maka betapa tinggi ilmu pedangnya itu dapatlah dibayangkan. Coba kalau tidak secara kebetulan Lenghou Tiong sudah kehilangan tenaga dalam, pula banyak di antara inti-inti keajaiban ilmu pedang itu memang belum dipahami dengan masak, kalau tidak, biarpun kepandaian Hong-sing Taysu berlipat ganda, lebih tinggi juga tidak mampu bertahan sampai lebih dari sepuluh jurus. Begitulah Hong-sing terus terdesak mundur, sebaliknya Lenghou Tiong merasa darah terus bergolak di rongga dadanya, lengan terasa lemas linu, jurus pedang yang dilancarkan makin lama semakin lemah. “Lepas pedang!” mendadak Hong-sing membentak, telapak tangan kiri terus menyodok ke dada Lenghou Tiong, sedang pentungan pendek di tangan kanan berbareng menghantam lengan pemuda itu. Memangnya lengan Lenghou Tiong sudah lemas, waktu pedangnya menusuk ke depan pula, belum mencapai sasarannya, baru di tengah jalan lengannya sudah mendelung ke bawah. Bagi orang lain, serangannya ini pasti memberi lubang bagi musuh dan berarti menyerahkan nyawa kepada lawan. Tapi ilmu pedang yang dimainkannya memangnya tiada gerakan tertentu, tiada perbedaan antara benar dan keliru, yang dia lancarkan adalah serangan menurut keinginan setiap saat. Maka biarpun pedangnya sudah mendelung ke bawah toh tusukannya masih tetap diteruskan, namun demikian jalannya serangan ini menjadi rada merandek. Sudah tentu Hong-sing tidak sia-siakan kesempatan bagus itu, telapak tangan kiri bergerak dan sekejap saja sudah menjamah di atas dada Lenghou Tiong. Namun dasarnya memang welas asih, tenaga serangannya itu tidak terus dikerahkan, sebaliknya ia bertanya lebih dulu, “Kau murid siapa ….” pada saat itu juga ujung pedang Lenghou Tiong juga sudah menusuk masuk ke dalam dadanya. Terhadap padri sakti dari Siau-lim-si ini Lenghou Tiong benar-benar sangat kagum, ketika merasa ujung pedangnya menyentuh kulit daging pihak lawan, lekas-lekas ia berusaha menariknya kembali sekuatnya. Saking nafsunya menarik senjatanya itu, tubuhnya sendiri menjadi terjengkang ke belakang dan jatuh terduduk, darah segar lantas mengalir keluar dari mulutnya. Sambil mendekap luka di dadanya, Hong-sing berkata dengan tersenyum, “Ilmu pedang yang bagus! Kalau pedang Siauhiap tidak mengenal kasihan, tentu jiwa Lolap sudah melayang.” Ia hanya memuji lawan, sebaliknya terhadap pukulannya sendiri yang tidak diteruskan tadi sama sekali tak disinggung. Habis berkata ia lantas terbatuk-batuk. Kiranya pedang Lenghou Tiong yang ditarik kembali sekuatnya tadi tidak urung sudah menusuk masuk ke dada Hong-sing hingga beberapa senti dalamnya, jadi lukanya sesungguhnya tidaklah ringan. Dengan penuh menyesal Lenghou Tiong berkata, “Ma … maafkan Wanpwe telah berlaku kasar terhadap … terhadap Cianpwe.” “Sungguh tidak nyana bahwa ilmu pedang sakti Hong Jing-yang Locianpwe dari Hoa-san ternyata ada ahli warisnya sekarang,” kata Hong-sing dengan tersenyum. “Lolap dahulu pernah menerima budi dari Hong-locianpwe, urusan hari ini Lolap menjadi tidak berani mengambil keputusan sendiri.” Perlahan-lahan ia mengeluarkan suatu bungkusan kertas, di dalamnya berisi dua butir obat pil sebesar biji buah lengkeng. Lalu katanya pula, “Ini adalah obat luka mujarab dari Siau-lim-si. Boleh kau minum satu butir ini.” Dan setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya ditambahkannya, “Dan yang satu butir lagi boleh diminumkan kepada wanita itu.” “Lukaku sudah terang sukar disembuhkan, buat apa minum obat lagi?” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa. “Obat yang satu biji itu silakan Taysu meminumnya sendiri saja.” Hong-sing menggeleng-geleng, katanya, “Tidak usah!” Lalu ia meletakkan kedua biji obat itu di depan Lenghou Tiong. Dipandangnya mayat-mayat Kat-gwe, Sin Kok-liong dan lain-lain dengan wajah sedih. Segera ia mengangkat tangannya di depan dada dan mulai membaca doa. Lambat laun air mukanya berubah tenang kembali, sampai akhirnya wajahnya seakan-akan terselubung oleh selapis sinar suci. Selesai berdoa, kemudian Hong-sing berkata pula kepada Lenghou Tiong, “Siauhiap, ahli waris dari ilmu pedang Hong-locianpwe sekali-kali bukanlah aliran dari kaum iblis. Kau berjiwa kesatria dan berbudi luhur, layaknya kau tidak seharusnya mati begini saja. Cuma luka yang kau derita memang aneh luar biasa dan sukar disembuhkan dengan obat biasa, kau harus belajar lwekang yang paling tinggi baru dapat menyelamatkan jiwamu. Menurut pendapatku, sebaiknya kau ikut aku ke Siau-lim-si, Lolap akan lapor kepada Ciangbun Hongtiang dan mohon beliau mengajar inti lwekang paling tinggi dari Siau-lim-si kepadamu, dengan demikian luka dalam yang kau derita itu akan dapat disembuhkan.” Sesudah terbatuk-batuk beberapa kali, kemudian Hong-sing melanjutkan, “Untuk bisa belajar intisari lwekang Siau-lim-si ini perlu juga diutamakan ‘jodoh’. Seperti Lolap sendiri adalah tidak punya jodoh untuk belajar lwekang itu. Ciangbun Hongtiang biasanya sangat bijaksana, boleh jadi beliau ada jodoh dengan Siauhiap dan suka mengajarkan inti lwekang itu kepadamu.” “Banyak terima kasih atas maksud baik Taysu,” sahut Lenghou Tiong, “biarlah nanti sesudah Wanpwe mengantar nenek ke suatu tempat yang aman, bilamana Wanpwe beruntung belum mati, tentu Wanpwe akan datang ke Siau-lim-si untuk menyampaikan sembah kepada Ciangbun Hongtiang dan Taysu.” “Kau … kau memanggilnya ‘nenek’?” Hong-sing menegas. “Siauhiap, kau adalah anak dari golongan Beng-bun-cing-pay, jangan kau bergaul dengan kaum Sia-pay. Lolap memberi nasihat dengan tujuan baik, harap Siauhiap suka camkan dengan baik-baik.” “Seorang laki-laki sejati sekali sudah berjanji mana boleh kehilangan kepercayaan orang?” ujar Lenghou Tiong. Hong-sing menghela napas, katanya pula, “Baiklah! Lolap akan menunggu kedatangan Siauhiap di Siau-lim-si.” Lalu ia pandang keempat jenazah Kat-gwe dan lain-lain serta mengucapkan beberapa kalimat sabda Buddha, habis itu baru melangkah pergi. Sesudah Hong-sing melangkah pergi beberapa tindak, si nenek lantas berkata, “Lenghou Tiong, boleh kau ikut pergi bersama hwesio tua itu. Dia bilang lukamu akan dapat disembuhkan, inti lwekang dari Siau-lim-si tiada bandingannya di dunia ini kenapa kau tidak ikut pergi saja?” “Aku sudah berjanji akan mengawal nenek, sudah seharusnya akan mengawal sampai tempat tujuan,” sahut Lenghou Tiong. “Kau sendiri menderita penyakit, masih bicara tentang mengawal segala?” ujar si nenek. “Tapi engkau sendiri juga terluka, biarlah kita tinggal bersama saja,” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. “Aku adalah kaum Sia-pay dan kau adalah murid Beng-bun-cing-pay, lebih baik kau jangan bergaul dengan aku agar tidak merusak nama baik golongan Cing-paymu,” kata si nenek. “Memangnya aku tidak punya nama baik apa-apa, peduli apa dengan orang lain?” jawab Lenghou Tiong. “Kau sangat baik kepadaku, nenek, Lenghou Tiong sekali-kali bukan manusia yang tidak kenal kebaikan. Saat ini engkau dalam keadaan terluka parah, jika aku tinggal pergi begini saja apakah aku masih dapat dianggap sebagai manusia?” “Dan kalau saat ini aku tidak terluka parah tentu kau akan tinggal pergi bukan?” tanya si nenek. Lenghou Tiong melengak. Katanya dengan tertawa, “Jika nenek tidak pikirkan kebodohanku dan ingin ditemani oleh diriku, maka boleh saja aku selalu berada di sampingmu untuk mengobrol. Cuma watakku memang kasar dan suka berbuat menurut keinginanku, jangan-jangan hanya beberapa hari saja nenek sudah merasa bosan dan tidak suka bicara lagi dengan aku.” Si nenek hanya mendengus saja sekali. Segera Lenghou Tiong mengangsurkan tangannya ke belakang, ia menyodorkan obat pemberian Hong-sing Taysu tadi, katanya, “Padri agung Siau-lim-si itu memang sangat hebat, nenek sudah membunuh empat orang muridnya, tapi dia malah memberikan obat mujarab ini kepadamu dan dia sendiri sebaliknya tidak minum obat.” “Huh, orang-orang ini selalu mengagulkan diri sebagai Beng-bun-cing-pay segala dan pura-pura menjadi orang baik hati, aku justru tidak pandang sebelah mata kepada mereka,” jengek si nenek. “Nenek, silakan kau minum saja obat ini,” pinta Lenghou Tiong. “Sesudah kuminum satu biji obat ini, badanku memang terasa jauh lebih segar.” Si nenek hanya menjengek sekali saja dan masih tidak mau terima obat itu. “Nenek ….” Belum lanjut ucapan Lenghou Tiong, mendadak si nenek menyela, “Sekarang hanya terdapat kita berdua, mengapa masih terus memanggil “nenek-nenek” tidak habis-habis, maukah kau mengurangi panggilanmu itu?” “Baiklah, tentu saja dapat kukurangi,” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. “Silakan kau minum obat ini.” “Jika kau bilang obat mujarab Siau-lim-pay ini sangat bagus dan anggap obat yang kuberikan kepadamu itu kurang baik, kenapa kau tidak makan sekalian obat pemberian hwesio tua itu?” ujar si nenek. “Ai, bilakah aku anggap obatmu kurang baik? Janganlah kau mencemoohkan diriku!” sahut Lenghou Tiong. “Lagi pula obat Siau-lim-si yang baik ini justru hendak diminumkan padamu agar tenagamu lekas pulih supaya dapat melanjutkan perjalanan.” “O, jadi kau merasa sebal menemani aku di sini, ya?” tanya si nenek. “Jika, demikian bolehlah lekas kau pergi saja, aku toh tidak paksa kau tinggal di sini.” Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Mengapa si nenek mendadak muring-muring padaku? Ah, barangkali karena lukanya tidak ringan, badanku sakit, dengan sendirinya sifatnya menjadi ketus dan suka naik pitam.” Maka dengan tertawa ia menjawab, “Saat ini setindak pun aku tidak sanggup berjalan, sekalipun mau pergi juga tidak dapat. Apalagi … apalagi …. Hahaha ….” “Ada apa lagi? Kenapa hahaha segala? Apa yang kau tertawakan?” damprat si nenek dengan gusar-gusar kaget. “Hahaha ialah tertawa, apalagi … seumpama aku dapat berjalan juga aku tidak ingin pergi, kecuali kalau kau pergi bersama aku,” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. Sebenarnya tutur katanya terhadap si nenek sangat sopan dan hormat, tapi lantaran si nenek muring-muring sesukanya, maka Lenghou Tiong menjadi ikut ugal-ugalan juga bicaranya. Tak terduga si nenek malah tidak marah, mendadak menjublek diam saja entah apa yang sedang direnungkan. Maka berkatalah Lenghou Tiong, “Nenek ….” “Nenek lagi?” potong si nenek. “Apa barangkali selama hidupmu ini tidak pernah memanggil ‘nenek’ kepada orang, makanya tidak bosan-bosannya kau memanggil saja?” “Ya, sudah, selanjutnya aku takkan memanggil nenek pula padamu,” ujar Lenghou Tiong tertawa. “Tapi lantas memanggil apa kepadamu?” Si nenek diam saja. Selang sejenak baru berkata, “Di sini hanya terdapat kita berdua saja, kenapa mesti pakai panggilan segala? Asal kau membuka mulut tentunya aku yang kau ajak bicara, masakan ada orang ketiga lagi yang berada di sini?” “Tetapi terkadang aku suka menggumam bicara sendiri dan janganlah kau salah paham lho,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Huh, bicara saja angin-anginan, pantas saja Siausumoaymu tidak suka padamu lagi,” jengek si nenek. Ucapan ini benar-benar mengenai lubuk hati Lenghou Tiong yang terluka itu. Perasaannya menjadi pilu. Pikirnya, “Siausumoay tidak suka padaku, tapi lebih suka kepada Lim-sute, jangan-jangan memang betul disebabkan bicara dan tingkah lakuku yang suka angin-anginan. Ya, Lim-sute memang lebih sopan dan tahu aturan, dia benar-benar memper seorang laki-laki baik dan lemah lembut serupa dengan Suhu, jangankan Siausumoay, jika aku menjadi wanita juga aku akan suka padanya dan tidak sudi kepada pemuda bambungan semacam Lenghou Tiong ini. Wahai Lenghou Tiong, selamanya kau suka mabuk-mabukan dan gila-gilaan, tidak patuh kepada ajaran perguruan, benar-benar pemuda yang sukar ditolong lagi. Aku pernah bergaul dengan maling cabul Dian Pek-kong, pernah tidur pula di rumah pelacuran di kota Lokyang, semuanya ini tentu membikin Siausumoay merasa tidak senang.” Melihat Lenghou Tiong termenung, si nenek lantas berkata, pula, “Bagaimana? Ucapanku tadi melukai perasaanmu ya? Kau menjadi marah bukan?” “Tidak, aku tidak marah. Ucapanmu memang tepat, bicaraku memang suka angin-anginan, tingkah lakuku juga gila-gilaan, pantas saja Siausumoay tidak senang padaku, Suhu dan Sunio juga tidak suka padaku.” “Kau tidak perlu sedih. Biarpun Suhu, Sunio dan Siausumoaymu tidak suka kepadamu, masakah di dunia ini … di dunia ini tiada orang lain lagi yang suka padamu?” Sungguh hati Lenghou Tiong sangat terharu dan berterima kasih, saking terharunya sampai tenggorokannya seakan-akan tersumbat, katanya dengan terputus-putus, “Nenek sungguh-sungguh sangat baik kepadaku, sekalipun di dunia ini tiada orang lain lagi yang suka kepadaku juga … juga tidak menjadi soal.” “Kau hanya punya sebuah mulut yang manis, bicaramu saja yang membikin senang orang, pantas saja tokoh semacam Na Hong-hong dari Ngo-tok-kau itu sampai tergila-gila kepadamu,” kata si nenek. “Sudahlah, sekarang kau tak dapat berjalan dan aku pun tidak dapat berkutik, hari ini terpaksa kita harus bermalam di bawah tebing sana, entah hari ini kita akan mati atau tidak?” “Hari ini entah mati atau tidak dan entah besok akan mati atau tidak, atau mungkin lusa baru akan mati,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Sudahlah, jangan bicara yang tak keruan,” kata si nenek. “Boleh kau merangkak ke sana dengan perlahan-lahan, biar aku menyusul dari belakang.” “Jika kau tidak minum obat pemberian hwesio tua itu, mungkin satu langkah saja aku tidak sanggup merangkak,” kata Lenghou Tiong. “Kembali kau bicara tak keruan lagi. Aku tidak minum obatnya, mengapa kau yang tidak sanggup merangkak.” “Aku tidak bicara tak keruan. Sebab kalau kau tidak mau minum obat, tentu lukamu sukar disembuhkan, tentu pula kau tidak punya semangat untuk memetik kecapi. Dan karena rasa cemasku, dari mana aku mempunyai tenaga untuk merangkak ke sana? Mungkin tenaga untuk merebah di sini saja tidak kuat lagi.” Si nenek mengikik tawa, “Merebah di sini saja tidak punya tenaga?” “Ya. Bukankah di sini adalah tanah yang miring, jika aku tidak bertenaga, seketika juga aku akan menggelinding ke bawah dan terjerumus ke dalam sungai pegunungan di bawah itu. Coba bayangkan, andaikan aku tidak mati terbanting bukankah akan mati kelelap juga?” Si nenek menghela napas, katanya, “Kau terluka parah, jiwamu setiap saat bisa melayang, tapi kau masih sempat berkelakar segala. Sungguh jarang diketemukan orang malas semacam kau ini.” Perlahan-lahan Lenghou Tiong melemparkan pil pemberian Hong-sing itu ke belakang, katanya, “Silakan lekas minum obat ini.” “Hm, setiap orang yang menganggap dirinya dari golongan Beng-bun-cing-pay tentu bukanlah manusia baik-baik,” omel si nenek. “Jika aku makan obat Siau-lim-si ini kan cuma membikin kotor mulutku saja.” Sekonyong-konyong Lenghou Tiong menjerit, tubuhnya sekuatnya mendoyong ke samping dan terus menggelinding ke bawah mengikut tanah tebing yang miring itu. Keruan si nenek terkejut, serunya khawatir, “He, hati-hati!” Akan tetapi Lenghou Tiong masih terus menggelinding ke bawah. Tanah miring itu tidak terlalu terjal, tapi rada panjang jaraknya. Sesudah menggelinding sekian lamanya barulah Lenghou Tiong mencapai tepi sungai kecil di bawahnya. Waktu tangan dan kakinya menahan sekuatnya segera terhenti daya gelindingnya. “He, he, ba … bagaimana kau?” tanya si nenek. Muka dan tangan Lenghou Tiong terlecet kena batu kerikil yang tajam di sepanjang tanjakan itu. Dengan menahan rasa sakit ia diam saja tak memberi jawaban. “Baiklah, aku akan minum obat busuk si hwesio tua ini, lekas kau … kau naik kemari,” seru si nenek. “Ucapan yang sudah dikeluarkan harus dipatuhi,” kata Lenghou Tiong. Tapi karena jarak kedua orang sekarang sudah rada jauh, sedangkan keadaan Lenghou Tiong sudah lemas, suaranya tak bisa mencapai jauh. Sayup-sayup si nenek hanya mendengar suara ucapannya, tapi tidak tahu apa yang dikatakan, maka ia tanya pula, “Kau bilang apa?” “Aku … aku ….” napas Lenghou Tiong terengah-engah dan tidak sanggup melanjutkan. “Lekas naik kemari, aku berjanji padamu akan minum obatnya,” kata si nenek. Lenghou Tiong berbangkit dengan terhuyung-huyung, ia bermaksud merangkak ke atas, tapi menggelinding ke bawah adalah sangat mudah, sekarang hendak merangkak ke atas boleh dikata sesukar hendak memanjat ke langit. Hanya dua langkah saja ia merangkak kakinya sudah terasa lemas dan terbanting jatuh, bahkan terus menggelinding masuk ke tepi sungai kecil itu. Dari atas si nenek dapat melihat jatuhnya Lenghou Tiong itu dengan jelas, ia menjadi khawatir, tanpa pikir ia terus ikut menjatuhkan diri dan membiarkannya menggelinding juga ke bawah sehingga sampai di samping Lenghou Tiong. Cepat sebelah tangannya memegangi pergelangan kaki kiri Lenghou Tiong agar tidak terperosot lebih jauh ke dalam sungai kecil itu. Sesudah bernapas terengah-engah beberapa kali, tangan si nenek yang lain dijulurkan untuk mencengkeram punggung Lenghou Tiong dan sekuatnya diangkatnya ke atas. Keadaan Lenghou Tiong sudah basah kuyup dan telah minum beberapa ceguk air, matanya sudah berkunang-kunang. Setelah tenangkan diri, tiba-tiba dilihatnya di dalam air sungai yang jernih itu terbayang dua sosok bayangan orang, nyata seorang nona jelita sedang mencengkeram punggungnya. Lenghou Tiong melengak. Mendadak terdengar suara si nona yang telah muntah darah. Darah segar yang masih hangat-hangat itu menyiram di atas kuduknya, berbareng itu si nona terus mendekam di atas punggungnya dalam keadaan lemas lunglai seperti lumpuh. Sudah tentu Lenghou Tiong dapat merasakan dada si nona yang halus dan lunak yang menempel di atas tubuhnya itu, terasa pula rambut si nona yang panjang itu mengusap-usap mukanya, keruan pikirannya menjadi kabur dan melayang-layang jauh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: