Hina Kelana: Bab 56. Si Nenek Aneh dan Ketua Siau-lim-si

Sesudah ambil keputusan licik itu, segera ia melangkah maju, katanya sambil tersenyum, “Anak muda, ilmu pedangmu sungguh hebat. Marilah kita coba-coba ilmu pukulan saja.”

Melihat sikap orang she Tam itu segera Lenghou Tiong dapat meraba apa maksud tujuannya. Diam-diam ia menggerutu akan kelicikan jahanam Kun-lun-pay ini, perbuatannya ini bahkan lebih jahat daripada orang she Ih dari Siau-lim-pay tadi. Tanpa pikir lagi segera ia angkat pedang terus menusuk ke bahu lawan.

Tak tersangka, baru saja pedangnya terangkat atau lengannya sudah terasa lemas, sedikit pun tidak bertenaga. “Trang”, pedang lantas jatuh ke tanah.

Keruan orang she Tam itu sangat girang, “Brak”, kontan ia melancarkan pukulan, dengan tepat dada Lenghou Tiong kena disodok oleh telapak tangannya. “Huekk”, tanpa ampun lagi darah segar lantas menyembur keluar dari mulut Lenghou Tiong.

Jarak kedua orang itu sangat dekat, darah segar yang ditumpahkan Lenghou Tiong itu tepat menyembur ke arah muka orang she Tam. Lekas-lekas orang she Tam itu mengegos kepala untuk menghindar, tapi tidak urung ada sebagian kecil menciprat di atas mukanya, bahkan ada beberapa titik jatuh ke dalam mulutnya.

Ia pun tidak ambil pusing walaupun mulutnya merasakan anyirnya darah. Ia khawatir Lenghou Tiong menjemput pedang kembali melancarkan serangan balasan, maka cepat telapak tangannya diangkat, kembali ia hendak menghantam pula. Tapi mendadak kepalanya terasa pening dan mata berkunang-kunang, seketika ia pun roboh terguling.

Tentu saja Lenghou Tiong terheran-heran. Ia tidak habis mengerti mengapa musuh yang sudah menang itu kok mendadak roboh sendiri malah.

Ia tidak tahu bahwa ia pernah minum arak beracun “Ngo-hoa-lo-tek-ciu” antaran dari Ngo-tok-kau (agama pancabisa/racun), di dalam darahnya telah mengandung racun yang keras, untung dia telah minum Siok-beng-pat-wan (delapan biji pil penyambung nyawa) milik Lo Thau-cu, kadar racun di dalam darahnya telah diperlunak oleh obat mujarab itu sehingga jiwanya tidak berbahaya. Tapi darahnya yang berbisa itu sekarang menciprat ke dalam mulut orang she Tam, keruan ia tidak tahan. Masih untung baginya darah yang menciprat ke dalam mulutnya itu hanya beberapa titik kecil saja sehingga jiwanya tidak sampai melayang seketika.

Dalam pada itu sang surya telah mulai memancarkan sinarnya, wajah orang she Tam itu tampak jelas bersemu hitam kebiru-biruan, kulit mukanya tiada hentinya berkejang, berkerut-kerut, keadaannya sangat aneh dan menyeramkan.

“Kau bermaksud membinasakan diriku, tapi kau sendiri ketularan,” kata Lenghou Tiong.

Waktu ia memandang sekelilingnya, ternyata di atas Ngo-pah-kang itu tiada bayangan seorang pun. Yang ada hanya suara kicauan burung, di atas tanah banyak tersebar macam-macam senjata dan cawan arak serta macam-macam perabot lain, keadaannya rada ganjil.

Sesudah mengusap mulutnya yang berdarah, lalu Lenghou Tiong berkata, “Popo, apakah baik-baik saja selama berpisah?”

“Saat ini Kongcu jangan banyak buang tenaga lagi, silakan duduk mengaso saja,” kata si nenek di dalam rumah gedek.

Lenghou Tiong memang merasa seluruh badannya sudah lemas lunglai, segera ia menurut dan berduduk.

Lalu terdengar suara kecapi berkumandang pula dari dalam rumah gedek itu, suaranya ulem, bening dan merdu, badannya terasa segar seakan-akan disaluri oleh suatu hawa hangat, hawa hangat ini terus mengalir pula ke sekeliling anggota badannya.

Selang agak lama, suara kecapi itu makin lama makin rendah, sampai akhirnya hampir-hampir tak terdengar dan entah mulai berhenti sejak kapan. Ketika mendadak Lenghou Tiong merasa semangatnya terbangkit, segera ia berdiri, ia memberi hormat dalam-dalam dan berkata, “Banyak terima kasih atas tabuhan sakti Popo sehingga banyak memberi manfaat bagi Wanpwe.”

“Tanpa kenal bahaya kau telah menghalaukan musuh bagiku sehingga aku tidak sampai dihina kawanan bangsat itu, akulah yang harus berterima kasih padamu,” kata si nenek.

“Mana boleh berkata demikian, apa yang kulakukan adalah kewajiban yang layak,” ujar Lenghou Tiong.

Nenek itu tidak bicara lagi untuk sejenak, kecapinya mengeluarkan suara “cring-creng, cring-creng” yang perlahan, agaknya tangan si nenek tetap memetik kecapinya, tapi pikirannya sedang melayang-layang seakan-akan ada sesuatu persoalan yang susah diambil keputusan. Selang agak lama barulah ia bertanya, “Sekarang kau akan … akan ke mana?”

Pertanyaannya ini membikin darah Lenghou Tiong seketika bergolak memenuhi dadanya, ia merasa dunia seluas ini seakan-akan tiada tempat berpijak baginya. Tanpa merasa ia terbatuk-batuk, sampai lama baru ia dapat menghentikan batuknya itu, lalu menjawab, “Aku … aku tidak tahu harus ke mana?”

“Apa kau tidak pergi mencari guru dan ibu-gurumu? Tidak pergi mencari Sute dan … dan Sumoaymu?” tanya si nenek.

“Mereka … mereka entah sudah pergi ke mana, lukaku rada parah, aku tidak sanggup mencari mereka. Seumpama dapat menemukan mereka juga … juga, aiii!”

Lenghou Tiong menghela napas panjang dan membatin, “Ya, seumpama sudah ketemukan mereka, lalu mau apa? Mereka toh tidak suka padaku lagi.”

“Jika lukamu tidak ringan, mengapa kau tidak mencari suatu tempat yang baik, yang cocok untuk menghibur hatimu yang lara daripada kau berduka dan menyesal percuma.”

“Hahaha! Ucapan Popo memang benar juga. Soal mati-hidupku sebenarnya tidak kupikirkan. Tapi biarlah sekarang juga Wanpwe mohon diri untuk pergi pesiar dan mencari suatu tempat yang indah,” sembari berkata ia terus memberi hormat ke arah rumah gedek, lalu putar tubuh dan melangkah pergi.

Baru dia berjalan beberapa tindak, mendadak terdengar seruan si nenek, “Apakah kau … sekarang juga lantas pergi?”

Lenghou Tiong menghentikan langkahnya dan mengiakan.

Kata pula si nenek, “Tapi lukamu tidak ringan, kau mengadakan perjalanan seorang diri, di tengah jalan tak ada orang yang menjaga kau, hal ini tentu akan menyusahkan kau.”

Hati Lenghou Tiong menjadi terharu demi mendengar ucapan si nenek yang simpatik itu. Jawabnya, “Banyak terima kasih atas perhatian Popo. Penyakitku ini terang tak bisa disembuhkan lagi. Mati lebih cepat atau lambat dan mati di mana saja bagiku tiada banyak bedanya.”

“O, kiranya demikian,” kata si nenek. “Cuma … cuma, kalau kau sudah pergi, lalu orang jahat dari Siau-lim-pay itu putar balik ke sini, lantas bagaimana? Tam Tik-jin, orang Kun-lun-pay ini hanya jatuh pingsan saja, sesudah siuman boleh jadi ia pun akan mencari perkara padaku.”

“Kau hendak ke mana Popo? Biar aku mengantarkan kau,” kata Lenghou Tiong.

“Baik sekali maksudmu ini. Cuma untuk ini rasanya ada suatu kesukaran dan mungkin akan membikin susah padamu.”

“Membikin susah padaku? Sedangkan jiwaku ini saja adalah Popo yang menyelamatkan, kenapa pakai membikin susah padaku atau tidak?”

Nenek itu menghela, napas, katanya, “Aku ada seorang musuh yang sangat lihai, dia telah mencari aku ke kota Lokyang sana, terpaksa aku menyingkir ke sini, tapi rasanya tidak lama lagi ia pun akan menyusul kemari, dalam keadaan payah sehingga tidak mampu bergebrak dengan dia. Aku hanya ingin mencari suatu tempat yang baik untuk menghindarinya sementara waktu. Kelak aku sudah mengumpulkan bala bantuan baru aku akan membikin perhitungan dengan dia. Namun untuk minta kau mengantar dan mengawal aku, pertama, kau sendiri terluka, kedua, kau adalah seorang pemuda yang lincah dan gagah, bila mengiringi seorang nenek apakah kau takkan merasa kesal?”

“Hahaha, kukira Popo ada apa-apa yang sukar dilakukan, tak tahunya hanya soal sepele ini,” seru Lenghou Tiong dengan tertawa. “Popo hendak ke mana biarlah aku mengantarmu, ke ujung langit sekalipun asalkan aku masih belum mati pasti akan kukawal juga ke sana.”

“Jika demikian harus membikin capek padamu,” kata si nenek, agaknya merasa sangat senang. “Apakah betul ke ujung langit sekalipun juga, kau akan mengantar aku ke sana?”

“Benar, tak peduli ke ujung langit atau ke pojok samudra pasti Lenghou Tiong akan mengantar Popo ke sana.”

“Tapi ada lagi suatu kesukaran yang lain.”

“Kesukaran apa lagi?”

“Wajahku ini sangat jelek, siapa pun yang melihat mukaku pasti akan kaget setengah mati, sebab itulah aku tidak ingin memperlihatkan muka asliku kepada orang. Untuk ini kau harus menerima suatu syaratku bahwa di mana pun dan dalam keadaan apa pun juga kau tak boleh memandang sekejap saja padaku. Tidak boleh memandang mukaku, dilarang melihat perawakan dan kaki atau tanganku, juga dilarang memandang bajuku atau sepatuku.”

“Hati Wanpwe sepenuhnya menghormati Popo, aku merasa terima kasih atas perhatian Popo terhadap diriku. Adapun mengenai keadaan wajah Popo apa sih sangkut pautnya?”

“Jika kau tidak dapat menerima syaratku ini, maka bolehlah kau pergi saja sesukamu.”

“Baik, baik, kuterima baik, tak peduli di mana dan dalam keadaan apa pun juga aku pasti takkan memandang berhadapan kepada Popo.”

“Bayangan ke belakangku pun tidak boleh dipandang,” si nenek menambahkan.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Masakah sampai bayangan belakangmu juga amat buruk untuk dipandang? Bayangan belakang yang paling jelek di dunia ini tidak lebih dari manusia bungkuk, orang kerdil. Tapi ini pun tidak menjadi soal bagiku. Namun sepanjang jalan sampai-sampai bayangan belakang pun aku dilarang memandangnya, lalu cara bagaimana aku harus mengawal kau, kan runyam?”

Melihat Lenghou Tiong merasa ragu-ragu dan tidak menjawab, segera si nenek menegas, “Apakah kau tidak sanggup?”

“Sanggup, pasti sanggup. Bila aku sampai memandang sekejap saja kepada Popo, biarlah nanti aku mengorek biji mataku sendiri.”

“Asal kau ingat baik-baik saja janjimu ini. Nah, sekarang kau jalan di depan, biar aku mengintil dari belakang.”

“Baik,” sahut Lenghou Tiong terus mulai berjalan ke bawah bukit. Terdengar suara tindakan halus di belakangnya, nyata nenek itu telah menyusulnya.

Belasan meter jauhnya, tiba-tiba si nenek mengangsurkan sebatang ranting kayu, katanya, “Kau gunakan ini sebagai tongkat, jalan perlahan-lahan saja.”

Lenghou Tiong mengiakan pula. Dengan tongkat darurat itu ia menuruni bukit itu dan ternyata tidak begitu payah langkahnya.

Sesudah sekian jauhnya, tiba-tiba ia ingat sesuatu, tanyanya, “Popo, orang she Tam dari Kun-lun-pay itu kok kau kenal namanya?”

“Ya,” sahut si nenek. “Tam Tik-jin itu adalah jago nomor tiga di antara anak murid angkatan kedua Kun-lun-pay, dalam hal ilmu pedang ia sudah memperoleh enam atau bagian dari kepandaian gurunya. Dibandingkan toasuheng dan jisuhengnya juga masih selisih jauh. Sedangkan ilmu pedang orang Siau-lim-pay yang tinggi besar yang bernama Sin Kok-liong itu pun jauh lebih tinggi daripada dia.”

“O, kiranya si gede itu bernama Sin Kok-liong. Masih kenal aturan juga dia daripada orang she Ih itu.”

“Sutenya itu bernama Ih Kok-cu, orang ini memang lebih kurang ajar. Tadi sekali tusuk kau menembus telapak tangannya, lalu pedangmu melukai pergelangannya pula. Kedua kali serangan itu sungguh sangat bagus.”

“Ah, itu hanya karena terpaksa saja,” ujar Lenghou Tiong. “Kini aku menjadi mengikat permusuhan dengan Siau-lim-pay, bahaya di kemudian hari tentu takkan habis-habis.”

“Apanya yang hebat hanya Siau-lim-pay saja?” jengek si nenek. “Kita pun belum tentu kalah dengan mereka. Tadi aku sama sekali tidak menduga bahwa Tam Tik-jin itu bisa menghantam kau, lebih-lebih tidak nyana kau akan muntah darah.”

“Eh, jadi Popo telah mengikuti semua kejadian tadi? Aku pun tidak tahu mengapa Tam Tik-jin itu mendadak bisa jatuh tak sadarkan diri?”

“Masakah kau sendiri pun tidak tahu?” si nenek menegas. “Di dalam darahmu banyak terserap racun jahat dari Ngo-tok-kau, yaitu gara-gara perbuatan wanita siluman Na Hong-hong, itu Kaucu dari Ngo-tok-kau. Rupanya darahmu menciprat ke dalam mulutnya Tam Tik-jin, keruan ia tidak tahan.”

Baru sekarang Lenghou Tiong paham duduknya perkara, “O, kiranya demikian. Tapi aku sendiri mengapa malah tapi aku sendiri mengapa malah tahan, sungguh aneh. Selamanya aku tiada punya permusuhan apa-apa dengan Na-kaucu dari Ngo-tok-kau itu, entah sebab apa dia sengaja meracuni aku?”

“Siapa bilang dia sengaja meracuni kau?” sahut si nenek. “Dia justru bermaksud baik terhadapmu. Hm, dia berkhayal akan menyembuhkan penyakitmu yang aneh. Dia sengaja menyalurkan racun ke dalam darahmu agar jiwamu tidak berbahaya. Cara demikian adalah cara kesukaan Ngo-tok-kau mereka.”

“Ya, makanya. Memang aku pun tiada punya permusuhan apa-apa dengan Na-kaucu, masakan tanpa sebab dia hendak membikin celaka padaku.”

“Sudah tentu dia tidak bermaksud membikin celaka padamu. Bahkan ia justru ingin memberikan kebaikan padamu sebisanya.”

Lenghou Tiong tersenyum. Lalu tanya pula, “Entah Tam Tik-jin itu bisa mati atau tidak?”

“Ini harus tergantung kepada kekuatan lwekangnya. Entah darah berbisa yang menciprat ke dalam mulutnya itu sedikit atau banyak?”

Bila membayangkan muka Tam Tik-jin yang kejang dan berkerut-kerut sesudah terkena racun tadi, tanpa merasa Lenghou Tiong bergidik sendiri.

Kira-kira beberapa li jauhnya, sampailah mereka di tempat yang datar.

Tiba-tiba si nenek berkata, “Coba pentang telapak tanganmu!”

Lenghou Tiong mengiakan dengan heran karena tidak tahu permainan apa yang hendak dilakukan nenek itu. Tapi segera ia pun membuka tangannya, “pluk”, mendadak terdengar suara perlahan, ada sesuatu benda kecil tertimpuk ke tengah telapak tangannya dari arah belakang. Waktu diperiksa, kiranya adalah sebutir obat pil sebesar biji lengkeng.

“Telanlah obat itu dan duduk mengaso di bawah pohon besar sana,” kata si nenek.

Sesudah mengiakan pula, segera Lenghou Tiong masukkan pil itu ke dalam mulut dan ditelannya tanpa pikir.

“Aku ingin memperoleh perlindungan ilmu pedangmu yang sakti untuk menjaga keselamatanku, makanya aku mau memberikan obatku ini untuk mempertahankan jiwamu supaya kau tidak mati mendadak dan aku kehilangan pengawal yang kuandalkan,” demikian kata si nenek. “Jadi bukan maksudku hendak … hendak berbaik hati kepadamu, lebih-lebih aku tidak bermaksud menolong jiwamu. Untuk ini hendaklah kau ingat betul-betul.”

Kembali Lenghou Tiong mengiakan saja, sampai di bawah pohon, segera ia duduk mengaso bersandar di batang pohon. Di dalam perut tiba-tiba terasa ada suatu hawa hangat perlahan-lahan menyongsong ke atas, seakan-akan timbul tenaga baru yang tak terbatas menyusup ke berbagai isi perut serta urat-urat nadinya.

Diam-diam ia, merenung, “Obat pil tadi jelas banyak memberi manfaat kepada kesehatan badanku, tapi si nenek justru tidak mau mengaku telah memberi kebaikan padaku, katanya pula aku hanya hendak diperalat sebagai pengawalnya saja. Sungguh aneh, padahal di dunia ini umumnya orang justru tidak mau mengaku bahwa dia telah memperalat orang lain, masakah kini dia justru sengaja menyatakan hendak memperalat diriku, padahal tidak?”

Lalu terpikir pula olehnya, “Tadi waktu dia melemparkan pil itu ke dalam tanganku, pil itu jatuh di telapak tangannya tanpa mencelat jatuh, caranya melemparkan tadi terang menggunakan semacam tenaga lunak yang sangat tinggi dalam ilmu lwekang. Jadi jelas ilmu silatnya jauh lebih tinggi daripadaku, mengapa dia menghendaki pengawalanku? Tapi, ai, biarlah, apa yang dia inginkan biar aku menurutkan saja.”

Hanya duduk sebentar saja Lenghou Tiong lantas berbangkit, katanya, “Marilah kita melanjutkan perjalanan. Apakah Popo masih lelah?”

“Ya, aku sangat letih, biarlah kita mengaso sebentar lagi,” sahut si nenek.

“Baik,” Lenghou Tiong pikir usia si nenek tentu sudah amat lanjut, sekalipun ilmu silatnya sangat tinggi dalam hal tenaga tentu tak bisa sama dengan orang muda. Maka kembali ia duduk pula di tempatnya.

Selang sejenak pula barulah si nenek berkata, “Marilah berangkat!”

Lenghou Tiong mengiakan dan segera mendahului berjalan di depan dan si nenek tetap mengintil dari belakang. Sesudah makan obat tadi, seketika Lenghou Tiong merasa langkahnya menjadi jauh lebih enteng dan cepat daripada sebelumnya. Ia menurut petunjuk si nenek, yang dipilih selalu adalah jalan kecil yang sepi.

Kira-kira belasan li jauhnya, mereka telah memasuki jalan pegunungan yang berliku-liku dan berbatu. Setelah membelok suatu lereng, tiba-tiba terdengar suara seorang sedang berkata, “Lekas kita makan dan secepatnya meninggalkan tempat berbahaya ini.”

Lalu terdengar suara beberapa puluh orang sama mengiakan.

Lenghou Tiong menghentikan langkahnya, dilihatnya di tanah rumput di tepi tebing sana ada beberapa puluh orang laki-laki sedang duduk makan minum. Pada saat itulah orang-orang itu pun juga sudah melihat Lenghou Tiong, seorang di antaranya lantas mendesis, “Itulah Lenghou-kongcu!”

Samar-samar Lenghou Tiong juga masih dapat mengenal orang-orang itu yang beramai-ramai ikut datang ke atas Ngo-pah-kang tadi malam. Baru saja ia bermaksud menyapa, sekonyong-konyong beberapa puluh orang itu tiada satu pun yang bersuara pula, semuanya diam sebagai bisu, pandang mereka sama terbelalak ke belakang Lenghou Tiong.

Air muka orang-orang itu sangat aneh, ada yang sangat ketakutan, ada yang kaget dan gugup sekali seakan-akan mendadak ketemukan sesuatu yang sukar dilukiskan, sesuatu yang sukar dihadapi.

Melihat keadaan demikian seketika Lenghou Tiong bermaksud menoleh untuk melihat apa yang berada di belakangnya sehingga membuat beberapa puluh orang itu sesaat itu termangu seperti patung? Tapi segera ia lantas sadar bahwa sebabnya orang-orang itu bersikap demikian tentu karena mendadak melihat si nenek yang ikut di belakangnya itu. Padahal dirinya sendiri telah berjanji takkan memandang sekejap pun kepadanya. Maka cepat ia tarik kembali lehernya sendiri yang sudah setengah tergeser itu.

Sungguh tidak habis herannya, mengapa orang-orang itu lantas sedemikian kaget dan takut demi melihat si nenek? Apakah benar-benar muka si nenek sangat aneh, lain daripada manusia, yang lain?

Tiba-tiba seorang laki-laki di antaranya berbangkit, belati diangkat terus ditikamkan ke arah sepasang matanya sendiri, seketika darah segar bercucuran.

Keruan kaget Lenghou Tiong tak terperikan. “Kenapa kau berbuat demikian?” teriaknya.

“Mata hamba ini sudah buta sejak tiga hari yang lalu dan tidak dapat melihat apa-apa lagi!” teriak orang itu.

Menyusul dua orang lagi lantas mencabut goloknya masing-masing untuk membutakan matanya sendiri, semuanya berseru, “Mata hamba sudah lama buta, segala apa tidak bisa lihat lagi!”

Sungguh kejut dan heran Lenghou Tiong tak terkatakan. Dilihatnya laki-laki yang lain beramai-ramai juga melolos senjata masing-masing dan bermaksud membutakan matanya sendiri-sendiri. Cepat ia berseru, “Hei, hei! Nanti dulu! Ada urusan apa dapat dibicarakan dengan baik-baik, tapi jangan membutakan matanya sendiri. Sebenarnya apa … apakah sebabnya?”

Seorang di antaranya menjawab dengan sedih, “Sebenarnya hamba berani bersumpah bahwa sekali-kali hamba takkan banyak mulut, cuma hamba khawatir tak dipercayai.”

“Popo,” seru Lenghou Tiong, “harap engkau menolong mereka dan suruh mereka jangan membutakan matanya sendiri.”

“Baik, aku dapat memercayai kalian,” tiba-tiba si nenek bersuara. “Di lautan timur ada sebuah Boan-liong-to (pulau naga melingkar), apakah di antara kalian ada yang tahu?”

“Ya, pernah kudengar cerita orang bahwa kira-kira 500 li di tenggara Coanciu di provinsi Hokkian ada sebuah pulau Boan-liong-to yang tak pernah dijejaki manusia, keadaan pulau itu sunyi senyap dan terpencil,” demikian sahut seorang tua.

“Nah, memang pulau itulah yang kumaksudkan,” kata si nenek. “Sekarang juga kalian segera berangkat pesiarlah ke pulau itu, selama hidup ini tak perlu lagi pulang ke Tionggoan sini.”

Serentak puluhan orang itu mengiakan dengan rasa kegirangan. Seru mereka, “Baik, segera kami akan berangkat.”

“Sepanjang jalan kami pasti takkan bicara apa pun juga dengan orang lain!”

“Kalian akan bicara atau tidak peduli apa dengan aku?” kata si nenek.

“Ya, benar! Memang hamba yang ngaco-belo tak keruan!” seru orang itu sembari angkat tangan dan menempeleng mukanya sendiri.

“Enyahlah!” kata si nenek.

Tanpa bersuara lagi puluhan laki-laki itu lantas berlari-lari pergi seperti kesetanan. Tiga orang di antaranya yang matanya buta telah diusung oleh teman-temannya, dalam sekejap saja mereka sudah menghilang di kejauhan.

Diam-diam Lenghou Tiong terkesiap. Pikirnya, “Hanya sepatah kata si nenek saja orang-orang itu sudah digebah mengasingkan diri ke pulau terpencil di lautan timur dan dilarang pulang untuk selama hidup. Tapi orang-orang itu tidak bersusah, sebaliknya kegirangan setengah mati seperti mendapat pengampunan saja. Seluk-beluk urusan ini benar-benar membikin aku tidak habis mengerti.”

Tanpa bersuara Lenghou Tiong meneruskan perjalanan ke depan, pikirannya bergolak dengan hebat, ia merasa nenek yang mengikut di belakangnya itu benar-benar manusia aneh yang selamanya belum pernah didengar dan dilihatnya. Pikirnya, “Semoga sepanjang jalan nanti jangan bertemu pula dengan kawan-kawan yang pernah berkumpul di Ngo-pah-kang itu. Padahal dengan penuh simpatik mereka datang dengan maksud hendak menyembuhkan penyakitku, tapi kalau mereka kepergok dengan nenek, tentu mereka akan membutakan matanya sendiri atau dihukum buang ke pulau terpencil, jika demikian bukankah mereka sangat penasaran?”

Setelah beberapa li lagi, jalanan makin berliku dan makin terjal. Tiba-tiba terdengar di belakang mereka ada orang berteriak, “Hah, yang berjalan di depan itulah Lenghou Tiong.”

Suara orang itu sangat nyaring dan keras, sekali dengar lantas dikenal adalah suaranya Sin Kok-liong dari Siau-lim-pay itu.

“Aku tidak ingin bertemu dengan dia, boleh kau melayani sekadarnya,” kata si nenek.

Lenghou Tiong mengiakan. Lalu terdengar suara gemeresik disertai berguncangnya semak-semak rumput di tepi jalan. Agaknya si nenek telah menyusup ke dalam semak-semak.

Maka terdengar suaranya Sin Kok-liong sedang berkata pula, “Susiok, Lenghou Tiong itu terluka, tentu dia tak bisa berjalan cepat.”

Jaraknya waktu itu sebenarnya masih cukup jauh, tapi suara Sin Kok-liong betul-betul teramat keras, hanya bicara biasanya saja suaranya sudah dapat didengar dengan jelas oleh Lenghou Tiong.

“Kiranya dia tidak sendirian, tapi membawa pula seorang susioknya,” demikian Lenghou Tiong membatin. Ia pikir akhirnya toh akan tersusul, buat apa capek-capek berjalan lebih jauh. Segera ia berduduk di tepi jalan untuk menunggu.

Tidak lama kemudian terdengarlah suara tindakan orang. Beberapa orang telah muncul. Sin Kok-liong dan Ih Kok-cu termasuk di antaranya. Selain mereka ada pula dua orang hwesio dan seorang laki-laki setengah umur. Laki-laki itu dan Ih Kok-cu berjalan paling belakang, kedua hwesio itu yang seorang usianya sudah sangat lanjut, mukanya, penuh berkeriput. Hwesio yang lain baru berumur 40-an, tangannya membawa Hong-pian-jan (tongkat kaum hwesio).

Segera Lenghou Tiong berbangkit dan memberi hormat, sapanya, “Wanpwe Lenghou Tiong dari Hoa-san-pay menyampaikan salam hormat kepada para Cianpwe dari Siau-lim-pay. Numpang tanya siapakah gelaran Cianpwe yang mulia?”

“Anak ….” baru Ih Kok-cu hendak mendamprat, tiba-tiba si hwesio tua sudah membuka suara, “Gelar Lolap adalah Hong-sing.”

Karena si padri tua membuka suara, terpaksa Ih Kok-cu tutup mulut seketika. Tapi wajahnya masih mengunjuk rasa murka, agaknya dia masih keki karena kecundangnya tadi.

“Terimalah hormatku, Taysu,” Lenghou Tiong menjalankan penghormatan pula.

Hong-sing manggut-manggut, katanya dengan ramah tamah, “Siauhiap tidak perlu banyak adat. Apakah gurumu Gak-siansing baik-baik saja?”

Semula waktu dirinya dikejar sebenarnya hati Lenghou Tiong rada khawatir dan kebat-kebit. Tapi kini sesudah melihat sikap Hong-sing yang ramah, terang seorang padri yang saleh dan beragama tinggi. Ia tahu padri Siau-lim-si yang pakai gelaran “Hong” adalah angkatan tertua pada zaman ini, Hong-sing ini pastilah saudara seperguruan dengan Hong-ting, ketua Siau-lim-si yang sekarang. Maka ia menduga padri tua ini pasti tidak kasar seperti Ih Kok-cu. Seketika legalah hati Lenghou Tiong. Dengan penuh hormat ia lantas menjawab, “Berkat doa restu Taysu, guru baik-baik saja.”

“Keempat orang ini adalah Sutitku,” Hong-sing memperkenalkan. “Padri ini bergelar Kat-gwe, yang ini adalah Ui Kok-pek Sutit dan yang itu adalah Sin Kok-liong dan Ih Kok-cu Sutit. Kedua Sutitku yang tersebut belakangan ini sudah kau kenal bukan?”

“Ya, keempat Cianpwe terimalah hormatku,” sahut Lenghou Tiong. “Wanpwe dalam keadaan terluka sehingga tak bisa menjalankan peradatan yang sempurna, diharap para Cianpwe sudi memberi maaf.”

“Hm, kau terluka?” jengek Ih Kok-cu.

“Apa kau benar-benar terluka?” Hong-sing menegas. “Kok-cu, apakah kau yang melukai dia?”

“Ah, hanya sedikit salah paham saja tidak menjadi soal,” ujar Lenghou Tiong. “Dengan angin kebasan lengan baju Ih-cianpwe telah membanting jatuh Wanpwe ditambah lagi pukulan satu kali. Untungnya tidak sampai mati maka Taysu tak perlu mengomeli Ih-cianpwe.”

Dasar Lenghou Tiong memang pintar putar lidah, datang-datang ia lantas menyatakan dirinya terluka parah dan menimpakan segala tanggung jawab kepada Ih Kok-cu, ia menduga Hong-sing pasti tidak dapat membiarkan keempat sutitnya membikin susah lagi padanya. Maka segera ia menambahkan pula, “Apa yang terjadi telah disaksikan juga oleh Sin-cianpwe. Namun dengan kesudian Taysu berkunjung kemari, betapa pun Wanpwe sudah merasa mendapat kehormatan besar dan pasti takkan memberi lapor kepada guruku. Taysu boleh tak usah khawatir, biarpun lukaku cukup parah juga pasti takkan menimbulkan persengketaan antara Ngo-gak-kiam-pay dengan Siau-lim-pay.”

Dengan kata-katanya ini menjadi seperti lukanya yang parah dan sukar sembuh itu adalah karena kesalahan Ih Kok-cu.

Keruan Ih Kok-cu sangat gemas, “Kau … kau ngaco-belo belaka. Memangnya kau sudah terluka parah sebelumnya.”

“Eh, hal ini jangan sekali-kali Ih-cianpwe menyinggungnya,” ujar Lenghou Tiong pura-pura gegetun. “Jika ucapanmu ini sampai tersiar bukankah akan sangat merugikan nama baik Siau-lim-si?”

Diam-diam Sin Kok-liong, Ui Kok-pek dan Kat-gwe bertiga mengangguk. Mereka tahu padri Siau-lim-si dari angkatan “Hong” adalah tingkatan yang tertinggi, walaupun berbeda dari golongan-golongan yang tergabung dalam Ngo-gak-kiam-pay, tapi kalau diurutkan menurut tingkatan masing-masing, maka angkatan “Hong” dari Siau-lim-si masih lebih tua satu angkatan daripada para ketua Ngo-gak-kiam-pay. Sebab itulah Sin Kok-liong, Ih Kok-cu dan lain-lain juga jauh lebih tinggi kedudukannya daripada angkatannya Lenghou Tiong.

Pertarungan antara Ih Kok-cu dan Lenghou Tiong sudah merendahkan diri Ih Kok-cu, karena dia lebih tua dan lebih tinggi angkatannya, apalagi waktu itu dari pihak Siau-lim-pay mereka hadir dua orang, sebaliknya Lenghou Tiong cuma seorang diri, lebih-lebih sebelum bergebrak Lenghou Tiong sudah terluka.

Kalau menurut peraturan tata tertib Siau-lim-pay yang keras, jika Ih Kok-cu benar-benar memukul mati seorang anak muda dari Hoa-san-pay, sekalipun tidak sampai mengganti nyawa, paling sedikit juga akan dijatuhi hukuman memunahkan ilmu silatnya dan dipecat dari perguruan. Karena itulah wajah Ih Kok-cu seketika menjadi pucat.

“Coba kau kemari, Siauhiap, biar kuperiksa keadaan lukamu,” kata Hong-sing pula.

Lenghou Tiong mendekatinya. Segera Hong-sing menggunakan tangan kanan untuk memegang pergelangan tangan Lenghou Tiong, jarinya menekan di tempat “Tay-yan-hiat” dan “Keng-ki-hiat”. Tapi mendadak terasa dari tubuh Lenghou Tiong timbul semacam tenaga dalam yang aneh, sekali getar jarinya lantas terpental buka.

Berdetak juga perasaan Hong-sing. Dia adalah tokoh terkemuka yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari dari angkatan tua Siau-lim-pay pada zaman ini, tapi jarinya sekarang ternyata bisa terpental balik oleh tenaga dalam seorang pemuda, hal ini benar-benar tak pernah terpikirkan olehnya. Ia tidak tahu bahwa di dalam tubuh Lenghou Tiong sudah tercakup tenaga murni tujuh jago lihai, yaitu dari Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Hwesio. Betapa pun tinggi ilmu silat Hong-sing, dalam keadaan tak tersangka-sangka juga tidak dapat tahan getaran tenaga gabungan dari ketujuh jago kelas tinggi itu.

Begitulah Hong-sing telah bersuara heran. Dengan terbelalak ia menatap tajam kepada Lenghou Tiong, katanya kemudian, dengan perlahan, “Siauhiap, kau bukan orang Hoa-san-pay.”

“Wanpwe benar-benar murid Hoa-san-pay dan adalah murid pertama guruku,” sahut Lenghou Tiong.

“Tapi kenapa kau masuk ke perguruan Sia-pay pula dan belajar ilmu dari golongan sesat dan liar itu?” kata Hong-sing.

Tiba-tiba Ih Kok-cu menimbrung, “Susiok, apa yang digunakan bocah ini memang benar adalah ilmu silat dari Sia-pay, buktinya memang demikian, betapa pun dia tidak bisa menyangkal lagi. Malahan tadi kita juga melihat di belakangnya ada mengikut seorang perempuan, mengapa sekarang menghilang dan main sembunyi-sembunyi, terang bukan manusia baik-baik.”

Mendengar kata-katanya menghina si nenek, Lenghou Tiong menjadi gusar, bentaknya, “Kau adalah murid golongan Cing-pay, kenapa ucapanmu tidak kenal sopan santun? Tentang Popo itu, memang beliau tidak sudi melihat kau agar beliau tidak gusar.”

“Boleh kau suruh dia keluar, apakah dia Cing atau Sia dengan sekali pandang saja, Susiok kami dapat mengetahuinya,” kata Ih Kok-cu.

“Timbulnya pertengkaran kau dan aku justru disebabkan kekurangajaranmu terhadap Popoku, sekarang kau berani ngaco-belo tak keruan lagi?” semprot Lenghou Tiong.

Sejak tadi Kat-gwe Hwesio hanya diam saja, sekarang ia telah menyela, “Lenghou-siauhiap, dari atas bukit tadi kulihat perempuan yang ikut di belakangmu itu langkahnya sangat enteng dan gesit, tidak mirip seorang nenek seperti ucapanmu.”

“Popoku adalah orang persilatan, sudah tentu langkahnya enteng dan gesit, kenapa mesti heran?” sahut Lenghou Tiong.

“Kat-gwe,” kata Hong-sing sambil menggeleng, “kita adalah cut-keh-lang (orang yang sudah meninggalkan keluarga), mana boleh berkeras hendak melihat famili perempuan orang lain. Baiklah Lenghou-siauhiap, memang banyak hal-hal yang mencurigakan di dalam urusan ini, Lolap seketika juga tidak paham. Tampak badanmu yang kau katakan itu juga bukan disebabkan serangan Ih-sutitku. Pertemuan kita ini boleh dikata ada jodoh juga, semoga kesehatanmu lekas pulih, sampai berjumpa pula.”

Diam-diam Lenghou Tiong kagum terhadap padri agung Siau-lim-si yang memang berbeda jauh dengan para sutitnya itu. Segera ia memberi hormat dan mengucapkan kata-kata merendah hati. Tapi belum habis ucapannya, sekonyong-konyong Ih Kok-cu telah melolos pedang dan membentak, “Itu dia di sini!”

Berbareng itu dia lantas menubruk ke tengah semak-semak tempat sembunyi si nenek tadi.

Lekas-lekas Hong-sing berseru, “Jangan, Ih-sutit!”

Tapi apa yang terjadi benar-benar di luar dugaan. “Bluk” tahu-tahu Ih Kok-cu mencelat kembali dari tengah semak-semak rumput itu terus terbanting kaku telentang di atas tanah. Tertampak kaki dan tangannya berkelojotan beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi.

Keruan Hong-sing dan lain-lain sangat terkejut. Terlihat muka Ih Kok-cu sudah hancur, besar kemungkinan kena diketok oleh benda-benda berat sebangsa palu dan sebagainya. Tangan Ih Kok-cu bahkan masih kencang memegangi pedangnya, namun jiwanya sudah melayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: