Hina Kelana: Bab 55. Pertemuan di Atas Ngo-pah-kang

Waktu semua orang berpaling kembali, ternyata Yu Siok mudah menghilang entah ke mana. Baru sekarang mereka sadar telah tertipu. Siu Siong-lian, Giok-leng Tojin, dan lain-lain lantas mencaci maki. Mereka tahu ginkang si belut itu sangat hebat, pula orangnya memang cerdik, sekali sudah lolos terang sukar menangkapnya pula.

Tiba-tiba Lenghou Tiong berseru keras, “Aha, kiranya Pi-sia-kiam-boh itu sebenarnya dipegang oleh Yu Siok, Yu-heng sendiri. Sungguh tidak nyana bahwa dia yang menemukannya.”

“Apa betul?” tanya orang banyak. “Kitab pusaka itu benar-benar di tangan Yu Siok?”

“Sudah tentu berada di tangannya,” sahut Lenghou Tiong. “Kalau tidak mengapa dia tidak mau mengaku sejujurnya, sebaliknya lari terbirit-birit.”

Dia sengaja bicara dengan suara keras, keruan napasnya megap-megap dan badan lemas.

Mendadak terdengar suara Yu Siok berteriak di luar pintu, “Lenghou-kongcu, mengapa kau sengaja memfitnah diriku?”

Menyusul orangnya telah melangkah masuk kembali ke dalam restoran itu.

Dengan sebat luar biasa Thio-hujin, Giok-leng Tojin dan lain-lain lantas melompat maju dan mengepungnya di tengah-tengah pula. “Haha, kau telah masuk perangkapnya Lenghou-kongcu!” seru Giok-leng dengan tertawa.

Yu Siok tampak bersungut dan sedih, katanya, “Benar, benar, aku pun tahu perangkap Lenghou-kongcu ini. Tapi kalau ucapannya tadi tersiar di Kangouw, maka selanjutnya hidupku pasti tiada satu detik pun bisa berlalu dengan tenang, setiap orang Kangouw tentu mengira aku benar-benar telah mendapatkan Pi-sia-kiam-boh dan semua orang pasti akan mencari perkara padaku. Ai, Lenghou-kongcu, kau sungguh lihai, hanya satu ucapanmu saja sudah dapat menangkap kembali diriku yang licin susah dipegang ini.”

Lenghou Tiong hanya tersenyum. Pikirnya, “Apaku yang lihai? Aku justru pernah juga difitnah orang dengan cara demikian.”

Tanpa merasa pandangnya mengarah Gak Leng-sian. Ternyata nona itu juga sedang memandang padanya, sinar mata kedua orang kebentrok, wajah keduanya sama-sama merah dan cepat-cepat berpaling kembali.

“Yu-loheng,” kata Thio-hujin, “tadi kau telah menyembunyikan Pi-sia-kiam-boh agar tidak kena digeledah kami, betul tidak?”

“Wah, celaka, celaka! Ucapan Thio-hujin ini benar-benar bisa membikin kapiran diriku ini,” sahut Yu Siok. “Coba kalian pikir, jika Pi-sia-kiam-boh itu berada padaku, tentu senjata yang kupakai adalah pedang, bahkan ilmu pedangku pasti mahatinggi, paling sedikit juga selihai Ih-koancu dari Jing-sia-pay ini, tapi mengapa sekarang aku tidak membawa pedang dan juga tidak mengeluarkan ilmu pedang, malahan ilmu silatku tergolong nomor buncit?”

Semua orang pikir beralasan juga ucapannya itu, bahkan kata-katanya itu seakan-akan mengalihkan persoalannya kepada Ih Jong-hay pula. Maka tanpa merasa pandangan semua orang kembali berpindah kepada si tojin kerdil yang sudah terluka parah itu.

Mendadak Tho-kin-sian menimbrung pula, “Biarpun Pi-sia-kiam-boh berada padamu juga belum tentu kau mampu mempelajarinya. Seumpama mempelajarinya juga belum tentu mahir. Kau bilang tidak membawa pedang, bisa jadi pedangmu jatuh hilang atau telah dirampas orang.”

“Ya, seperti kipas yang kau bawa itu pun mirip dengan pedang pendek, tadi sekali bergerak kipasmu itu juga mirip dengan satu diurus ilmu pedang dari Pi-sia-kiam-hoat,” demikian Tho-kan-sian menambahkan.

“Tepat,” seru Tho-ki-sian. “Coba lihat, sekarang kipasnya itu menuding miring ke depan, terang itu adalah jurus ‘Ki-tah-kan-sia’ (menuding dan menghantam penjahat), yaitu jurus ke-59 dari Pi-sia-kiam-hoat. Ke mana ujung kipasnya menuding, ke situlah sasarannya akan dibinasakan.”

Tatkala itu yang kebetulan berhadapan dengan ujung kipas Yu Siok itu adalah Siu Siong-lian. Dasar thauto ini orang yang berangasan, tanpa pikir lagi segera ia menggeram terus menerjang maju dengan sepasang goloknya.

“He, he. Jangan kau anggap sungguh-sungguh, dia hanya bergurau saja,” seru Yu Siok sambil menghindar.

Maka terdengarlah suara nyaring empat kali, sepasang golok Siu Siong-lian telah membacok empat kali, tapi semuanya kena ditangkis oleh Yu Siok. Dari suara beradunya senjata itu memang benar kipas lempitnya itu terbuat dari baja murni. Jangan menyangka badan Yu Siok itu kelihatannya gemuk putih seperti lazimnya kaum hartawan, tapi gerak-geriknya ternyata sangat gesit. Bahkan ketika kipasnya menutuk perlahan segera golok Siu Siong-lian itu tergetar ke samping. Dari gebrakan ini saja sudah jelas bahwa ilmu silatnya sesungguhnya masih lebih tinggi daripada si thauto yang menyerangnya itu. Hanya saja ia terkepung oleh tujuh lawan maka tidak berani sembarangan melakukan serangan balasan.

Dalam pada itu Tho-hoa-sian telah berseru, “Nah, nah, jurus itu adalah diurus ke-32 dari Pi-sia-kiam-hoat yang bernama ‘Oh-kui-pang-bui’ (kura-kura kentut) dan jurus tangkisannya ini adalah jurus ke-25 yang bernama ‘Ka-hi-hoan-sin’ (bulus membalik tubuh)!”

Semua orang sudah tahu Tho-kok-lak-sian itu suka membual, maka tiada seorang pun yang menggubris lagi kepada ocehannya.

Segera Lenghou Tiong berkata, “Yu-siansing, jika Pi-sia-kiam-boh itu benar-benar tidak berada padamu, lalu berada di tangan siapa?”

“Ya, sesungguhnya berada di tangan siapa?” demikian Giok-leng Tojin dan Thio-hujin ikut bertanya.

“Hahaha, sebabnya aku tidak mau bilang adalah karena aku ingin menjual cerita rahasia ini dengan harga lebih bagus, tapi kalian terlalu kikir, pelit,” demikian jawab Yu Siok dengan tertawa. “Tapi baiklah, akan kukatakan. Cuma biarpun kalian kuberi tahu juga tiada gunanya, sebab Pi-sia-kiam-boh itu berada di tangan tokoh dunia persilatan yang terpuja, itu Locianpwe yang ilmu silatnya paling tinggi dan paling disegani.”

“Siapa? Siapa dia?” tanya orang banyak.

“Jika kusebut orang ini tentu akan membikin kalian melonjak kaget, boleh jadi kalian nanti akan menyesal tak terhingga,” ujar Yu Siok.

“Kenapa mesti menyesal?” ujar Thio-hujin. “Hanya tanya Pi-sia-kiam-boh itu berada di tangan siapa, apakah hal ini berarti suatu dosa besar dan harus masuk neraka?”

“Masuk neraka sih rasanya tidak sampai,” sahut Yu Siok sambil menghela napas. “Cuma sesudah kalian mengetahui kitab pusaka berada di tangan tokoh itu, kukira kalian tentu tak bisa berbuat apa-apa, tapi rasa kalian tetap akan penasaran, pertentangan batin demikian bukankah akan membikin kalian menyesal? Tentang tokoh itu, justru beliau ada hubungan rapat dengan ketua Hoa-san-pay Gak-siansing yang juga hadir di sini ini.”

Seketika pandangan semua orang lantas beralih kepada Gak Put-kun. Tapi ketua Hoa-san-pay itu tersenyum saja, katanya di dalam hati, “Biarkan kau mengoceh sesukamu.”

Dalam pada itu Yu Siok tengah mengoceh pula, “Ya, celakanya Pi-sia-kiam-boh itu justru jatuh di tangan seorang tokoh demikian, ini sungguh … sungguh ….”

Semua orang sampai menahan napas karena ingin mendengar nama tokoh yang akan disebutkan itu. Pada saat itulah tiba-tiba dari jauh ada suara derapan kaki kuda diseling suara nyaring menggelindingnya roda kereta. Agaknya kereta itu sedang mendatangi dengan cepat, hal ini seketika memutuskan ucapan Yu Siok tadi.

Giok-leng Tojin menjadi aseran. “Lekas katakan, siapa yang memperoleh kiam-boh itu?” desaknya.

“Sudah tentu akan kukatakan, kenapa buru-buru?” sahut Yu Siok.

Sementara itu suara kereta kuda tadi sudah sampai di depan restoran itu dan lantas berhenti. Terdengar suara seorang tua serak sedang bertanya, “Apakah Lenghou-kongcu berada di sini? Pang kami sengaja mengirimkan kereta untuk menyambut kedatanganmu!”

Karena ingin lekas-lekas mengetahui di mana beradanya Pi-sia-kiam-boh untuk membersihkan rasa curiga sang guru serta ibu-guru dan lain-lain atas dirinya, maka ia tidak lantas menjawab seruan orang di luar itu, tapi tetap tanya kepada Yu Siok, “Di luar ada orang datang, lekas-lekas kau menerangkan!”

“Hendaklah Kongcu maklum, dengan datangnya orang luar menjadi tidak leluasa untuk kuterangkan urusan ini,” sahut Yu Siok.

Mendadak terdengar ringkikan kuda yang ramai, kembali datang pula beberapa penunggang kuda dan segera berhenti di luar restoran. Lalu suara seorang yang nyaring keras berseru, “Ui-lopangcu, apakah engkau juga datang kemari untuk menyambut Lenghou-kongcu?”

Lalu suara seorang tua sedang menjawab, “Betul, kiranya Suma-tocu sendiri juga datang kemari!”

Orang yang bersuara nyaring keras itu menjengek sekali, menyusul terdengar suara tindakan yang kedengaran sangat berat. Seorang yang berperawakan tinggi besar telah melangkah masuk ke dalam restoran.

Perawakan si thauto Siu Siong-lian sesungguhnya sudah sangat tinggi besar, tapi kalau dibandingkan pendatang baru ini ternyata masih kalah jauh.

“Suma-tocu, kiranya engkau juga datang?” segera Giok-leng Tojin menyapa.

Orang tinggi besar yang dipanggil sebagai Suma-tocu itu hanya mendengus sekali saja, ia lantas berseru, “Yang manakah Lenghou-kongcu adanya? Silakan berkunjung ke Ngo-pah-kang untuk bertemu dengan para kesatria.”

Terpaksa Lenghou Tiong memberi salam dan berkata, “Cayhe Lenghou Tiong berada di sini, aku tidak berani membikin capek Suma-tocu.”

“Siaujin (hamba) bernama Suma Toa,” sahut Suma-tocu itu. “Soalnya hamba dilahirkan dengan badan tinggi besar, maka orang tua telah memberi nama Toa (besar) kepadaku. Selanjutnya harap Lenghou-kongcu memanggil aku Suma Toa saja, atau boleh juga saja si A Toa dan tidak perlu pakai Tocu apa segala.”

“Ah, mana boleh,” ujar Lenghou Tiong. Lalu memperkenalkan Gak Put-kun dan istrinya. “Kedua orang ini adalah guru dan ibu-guruku.”

“Sudah lama aku mengagumi,” sahut Suma Toa sambil memberi hormat. Lalu ia berpaling pula dan berkata, “Penyambutan hamba ini agak terlambat, mohon Kongcu sudi memberi maaf.”

Sebenarnya nama Gak Put-kun cukup menggetarkan Bu-lim, siapa pun yang mendengar namanya biasanya tentu bersikap hormat dan segan padanya, apalagi kalau bertemu muka, kebanyakan akan tergetar perasaannya. Akan tetapi Suma Toa beserta Thio-hujin, Siu Siong-lian dan lain-lain itu semuanya hanya menaruh hormat terhadap Lenghou Tiong saja, terhadap Gak Put-kun jelas mereka merasa acuh tak acuh, jika ada rasa hormat mereka juga timbul lantaran mereka menghormati Lenghou Tiong.

Gak Put-kun sudah menjabat ketua Hoa-san-pay selama lebih 20 tahun, selamanya ia sangat dihormati orang-orang Kangouw. Tapi orang-orang di hadapannya sekarang ini ternyata tidak memandang sebelah mata padanya, ini jauh lebih menyinggung perasaan daripada orang mencaci maki terang-terangan padanya. Untung “Kun-cu-kiam” Gak Put-kun memang seorang sangat sabar dan bisa mengekang perasaan lahirnya, sama sekali ia tidak memperlihatkan rasa gusar dan mendongkol.

Sementara itu pangcu yang she Ui tadi pun sudah melangkah masuk. Orang ini usianya sudah ada 80-an tahun, jenggotnya yang putih panjang menjulai sampai di depan dada. Tapi semangatnya tampak masih menyala. Dia membungkuk tubuh sedikit kepada Lenghou Tiong, lalu berkata, “Lenghou-kongcu, hamba Ui Pek-liu, banyak anggota pang kami mencari makan di sekitar wilayah sini, tapi tidak sempat menyambut kedatangan Kongcu, sungguh dosa kami pantas dihukum mati.”

“Ah, Pangcu terlalu sungkan,” sahut Lenghou Tiong sambil membalas hormat.

“Harap Kongcu panggil namaku Ui Pek-liu saja dan tidak perlu pakai Pangcu segala,” kata kakek she Ui itu.

“Ah, mana boleh,” kata Lenghou Tiong.

“Lenghou-kongcu,” Ui Pek-liu bicara pula, “para kesatria sudah berkumpul di Ngo-pah-kang dan sangat ingin menemui Kongcu, maka silakan sekarang juga Kongcu berkunjung ke sana.”

Habis ini ia lantas berpaling dan memberi salam kepada Gak Put-kun suami-istri, Thio-hujin, Yu Siok dan lain-lain, katanya, “Silakan para hadirin juga ikut Lenghou-kongcu ke Ngo-pah-kang sana.”

Habis berkata ia terus mendahului jalan di depan sebagai penunjuk jalan diikuti orang banyak. Ternyata di luar restoran sudah tersedia beberapa buah kereta kuda. Suma Toa dan Ui Pek-liu mengiringi Lenghou Tiong naik di suatu kereta, beramai-ramai Gak Put-kun suami-istri serta Thio-hujin dan lain-lain juga menumpang kereta yang sudah siap itu dan berangkat.

Tidak terlalu lama, iring-iringan kereta kuda itu berhenti di kaki suatu bukit, mereka turun dari kereta dan berjalan mendaki ke atas bukit itu. Sampai di atas bukit, ternyata di situ adalah suatu tanah datar yang cukup luas, di tengahnya terbangun sebuah rumah gedek bambu, keadaan sunyi senyap tiada seorang pun.

Pada saat itulah tiba-tiba dari dalam rumah gedek itu terdengar suara “creng” satu kali, menyusul bergemalah suara kecapi yang nyaring.

Suma Toa, Ui Pek-liu, Thio-hujin dan lain-lain sama bersuara heran dengan air muka mengunjuk rasa kejut dan tercengang.

Pada saat lain tiba-tiba di luar bukit ada suara seruan orang, “Kaum setan iblis macam apa yang berada di atas bukit itu?”

Suara orang ini begitu keras berkumandang sehingga anak telinga para jago di atas bukit itu sampai mendengung-dengung.

Suma Toa, Ui Pek-liu, Thio-hujin dan lain-lain segera mengundurkan diri dan menghilang di balik bukit sana. Melihat begitu gugupnya jago-jago itu, Gak Put-kun menduga orang yang berada di bawah bukit itu pasti lawan yang tangguh. Agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, maka segera ia pun membawa anak muridnya mengundurkan diri ke belakang bukit.

Maka yang tertinggal hanya Lenghou Tiong seorang yang masih asyik mendengarkan suara kecapi yang berkumandang dari dalam rumah gedek itu. Pikirnya, “Bukankah ini adalah suara kecapi yang dipetik oleh si nenek di kota Lokyang itu?”

Sementara itu di bawah bukit ada suara seorang yang sangat keras sedang berkata, “Kaum setan iblis itu ternyata berani main gila ke Holam sini dan anggap sepi kepada kita.”

Habis berkata demikian segera ia perkeras suaranya dan membentak, “Kawanan bangsat keparat dari manakah yang berani main gila di atas Ngo-pah-kang? Hayo, semuanya laporkan nama kalian!”

Begitu kuat lwekangnya sehingga suaranya berkumandang dan menggetar lembah sekeliling bukit.

Mendengar itu diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Pantas Suma Toa dan lain-lain merasa ketakutan dan melarikan diri seketika, agaknya ada tokoh terkemuka dari kaum Cing-pay (aliran baik) yang telah datang mencari perkara.”

Diam-diam ia merasa Suma Toa dan lain-lain terlalu penakut, masakan belum ketemu lawan sudah lantas kabur. Tapi bila pendatang ini sedemikian ditakuti, tentulah kaum cianpwe yang memiliki ilmu silat luar biasa. Jika sebentar dirinya ditanyai rasanya akan serbasusah juga untuk menjawabnya. Maka ia pikir ada lebih baik dirinya juga menghindari saja.

Segera ia menggeser ke belakang rumah gedek. Ia percaya si nenek loyo yang berada di dalam rumah gedek itu pasti takkan dibikin susah oleh pendatang-pendatang itu. Dalam pada itu suara di dalam rumah gedek itu pun sudah berhenti.

Terdengarlah suara tindakan orang, muncullah tiga orang. Dua orang di antaranya berjalan dengan tindakan berat, sedangkan seorang lagi sangat enteng. Kalau tidak diperhatikan dengan cermat jalan orang ketiga ini seakan-akan tidak menimbulkan suara.

Setelah sampai di atas bukit, ketiga orang itu sama bersuara heran. Agaknya mereka merasa aneh terhadap suasana yang sunyi senyap di atas bukit itu.

Orang yang bersuara nyaring keras tadi telah berkata, “Kawanan keparat tadi itu sudah pergi ke mana?”

Lalu suara seorang yang lemah lembut menanggapi, “Tentu karena mereka mendengar kedua tokoh Siau-lim-pay hendak datang ke sini untuk menumpas kawanan setan iblis itu, maka siang-siang mereka sudah melarikan diri dengan mencawat ekor.”

“Aha, kukira tidak demikian,” ujar seorang lagi sambil tertawa. “Besar kemungkinan kaburnya mereka, adalah karena jeri kepada wibawa Tam-heng dari Kun-lun-pay.”

Begitulah ketiga orang itu lantas bergelak tertawa senang. Dari suara tertawa mereka yang nyaring memekak telinga itu Lenghou Tiong tahu tenaga dalam ketiga orang itu benar-benar jarang ada bandingannya di dunia persilatan. Katanya di dalam hati, “Kiranya dua orang di antara mereka adalah tokoh Siau-lim-pay dan yang satu jago dari Kun-lun-pay. Selama beberapa ratus tahun Siau-lim-pay selalu menjagoi dunia persilatan. Melulu Siau-lim-pay saja namanya sudah jauh lebih tinggi daripada Ngo-gak-kiam-pay kami, kekuatan yang sesungguhnya tentunya juga lebih hebat. Suhu sering mengatakan juga bahwa Kun-lun-pay memiliki ilmu pedang yang tersendiri dan mengutamakan kelincahan serta ketangkasan. Sekarang tokoh-tokoh Siau-lim dan Kun-lun ini bergabung sudah tentu sangat lihai. Boleh jadi mereka bertiga ini adalah pembuka jalan dan di belakang mereka masih akan tiba pula bala bantuan yang lebih kuat. Akan tetapi, lalu mengapa Suhu dan Sunio ikut-ikut menyingkir pergi?”

Tapi sesudah dipikir pula ia lantas paham maksud gurunya itu, Hoa-san-pay tergolong Cing-pay juga, sebagai ketua suatu aliran baik adalah tidak pantas dan akan merasa malu kalau sampai tokoh-tokoh Siau-lim dan Kun-lun melihat gurunya itu bergaul bersama Suma Toa, Ui Pek-liu dan lain-lain yang namanya kurang terhormat.

Maka terdengar tokoh she Tam dari Kun-lun-pay itu sedang berkata pula, “Tadi kita baru saja mendengar ada suara kecapi di atas bukit ini. Sekarang pemetik kecapi itu sembunyi ke mana lagi? Sin-heng dan Ih-heng, kukira di dalam kejadian ini ada sesuatu yang tidak beres.”

Orang she Sin yang bersuara nyaring tadi menjawab, “Ya, benar, Tam-heng memang sangat cermat. Marilah kita coba menggeledah sekitar sini dan menyeretnya keluar.”

“Coba kuperiksa di dalam rumah gedek itu,” kata orang she Ih.

Tapi baru saja ia berjalan beberapa langkah ke arah rumah gedek segera terdengar suara seorang wanita yang nyaring merdu sedang berkata, “Aku hanya tinggal sendirian di sini, di tengah malam tidaklah pantas laki-laki dan perempuan mengadakan pertemuan.”

Perasaan Lenghou Tiong tergetar seketika mendengar suara itu. Pikirnya, “Ternyata, benar si nenek dari kota Lokyang itu.”

“Eh, kiranya seorang wanita,” demikian orang she Sin tadi berkata.

Si orang she Ih lantas bertanya, “Apakah tadi kau yang memetik kecapi?”

“Benar,” sahut si nenek.

“Coba kau memetiknya beberapa kali lagi?” kata orang she Ih.

“Selamanya tidak saling kenal, mana boleh sembarangan memetik kecapi bagimu,” sahut nenek itu.

“Hm, apa dikira kami kepingin? Banyak alasan saja,” jengek orang she Sin. “Di dalam rumah gedek itu pasti ada apa-apa yang ganjil, coba kita masuk memeriksanya.”

“Katanya wanita seorang diri, tapi mengapa di tengah malam buta berada di atas Ngo-pah-kang ini? Besar kemungkinan dia adalah begundal kawanan setan iblis itu. Mari kita menggeledah ke dalam,” orang she Ih berkata. Habis itu dengan langkah lebar ia terus berjalan ke pintu rumah gedek.

Mendengar kata-kata mereka itu Lenghou Tiong menjadi naik pitam, tanpa pikir lagi ia lantas menyelinap keluar dari tempat sembunyinya dan merintangi di depan pintu. Bentaknya, “Berhenti!”

Sama sekali ketiga orang itu tidak menduga bahwa mendadak bisa muncul seorang dari tempat gelap. Mereka rada terkejut, namun mereka adalah tokoh-tokoh yang berpengalaman dan terkemuka, sudah tentu mereka anggap sepele sesudah melihat orang yang dihadapi adalah seorang pemuda saja.

“Anak muda, siapa kau? Kerja apa kau main sembunyi-sembunyi di sini?” segera orang she Sin balas membentak.

“Cayhe Lenghou Tiong dari Hoa-san-pay menyampaikan salam hormat kepada para Cianpwe dari Siau-lim dan Kun-lun-pay,” sahut Lenghou Tiong dengan memberi hormat.

“Apa kau orang Hoa-san-pay?” orang she Sin itu mendengus. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Waktu Lenghou Tiong berdiri setegaknya, ia merasa perawakan orang she Sin itu juga tidak terlalu besar, hanya dadanya membusung, pantas suaranya begitu keras.

Laki-laki setengah umur yang lain juga memakai jubah kuning yang serupa dengan orang she Sin, terang inilah orang she Ih yang seperguruan dengan dia. Orang she Tam dari Kun-lun-pay itu punggungnya menyandang pedang, jubahnya longgar dan lengan bajunya lebar, sikapnya gagah ramah.

“Jadi kau adalah murid Hoa-san-pay yang tergolong Cing-pay, mengapa kau berada di Ngo-pah-kang sini?” demikian orang she Ih tadi menegas pula.

Memangnya Lenghou Tiong sudah naik pitam ketika mendengar caci maki mereka tadi, maka jawabnya ketus, “Cianpwe bertiga bukankah juga dari golongan Cing-pay dan bukankah sekarang juga berada di Ngo-pah-kang sini?”

Orang she Tam dari Kun-lun-pay tertawa, katanya, “Jawaban yang bagus. Tapi apakah kau tahu siapakah wanita yang memetik kecapi di dalam rumah gedek itu?”

“Beliau adalah seorang nenek yang berusia lanjut dan berbudi luhur, seorang tua yang tiada punya persengketaan dengan siapa pun di dunia ini,” sahut Lenghou Tiong.

“Ngaco-belo,” semprot si orang she Ih. “Jelas suara wanita itu nyaring dan lembut, terang usianya masih sangat muda. Mengapa kau bilang nenek tua apa segala?”

“Suara nenek ini memang merdu dan enak didengar, kenapa mesti diherankan?” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa. “Padahal keponakannya saja juga lebih tua dua-tiga puluh tahun daripada kalian jangankan lagi si nenek sendiri.”

“Minggir, biar kami masuk untuk melihatnya sendiri,” bentak orang she Ih.

Tapi Lenghou Tiong menjulurkan kedua tangannya untuk mengadang malah, katanya, “Popo (nenek) tadi sudah mengatakan bahwa di malam hari tidaklah leluasa kaum lelaki dan wanita mengadakan pertemuan. Apalagi beliau juga tidak pernah kenal kalian, tanpa alasan apa gunanya kalian melihatnya.”

Mendadak orang she Ih mengebaskan lengan bajunya, suatu tenaga mahakuat segera menyambar tiba. Saat itu Lenghou Tiong dalam keadaan lemah, sedikit pun tidak bertenaga lagi, keruan ia tidak sanggup bertahan, kontan ia terdorong jatuh terguling.

Rupanya orang she Ih itu sama sekali tidak menyangka akan kelemahan Lenghou Tiong, ia menjadi tertegun dan berkata, “Kau benar-benar murid Hoa-san-pay? Huh, kukira kau omong kosong saja!”

Habis berkata segera ia hendak melangkah lagi ke pintu gubuk.

Cepat Lenghou Tiong merangkak bangun, ternyata pipinya sudah babak dan lecet sedikit. Segera ia berseru, “Popo tidak ingin bertemu dengan kalian, mengapa kalian tidak tahu aturan? Aku sendiri sudah pernah bicara cukup lama dengan Popo di kota Lokyang tempo hari, tapi sampai saat ini pun aku belum melihat mukanya.”

“Bocah ini bicara tak keruan,” semprot orang she Ih. “Lekas minggir! Apa kau ingin dibanting lagi?”

Namun Lenghou Tiong lantas menjawab, “Siau-lim-pay adalah suatu aliran besar dan paling dihormati di dunia persilatan, kedua Cianpwe juga tokoh terkemuka. Cianpwe yang itu tentu pula jago ternama dari Kun-lun-pay, tapi sekarang di tengah malam buta kalian bertiga hendak merecoki seorang nenek yang tak bersenjata apa pun, perbuatan kalian apakah takkan dibuat buah tertawaan orang-orang Kangouw?”

“Dasar cerewet, enyah sana!” bentak orang she Ih. Mendadak tangan kirinya menampar, “plok”, dengan telak pipi kiri Lenghou Tiong kena digampar dengan keras.

Walaupun tenaga dalam Lenghou Tiong sudah lenyap, tapi dari gerak-gerik orang ia pun tahu dirinya akan diserang. Cepat ia pun berusaha berkelit, celakanya badannya terasa lemas, kaki tidak menurut perintah lagi, pukulan orang she Ih sukar dihindarkan. Keruan tubuhnya sampai berputar dua kali, matanya berkunang-kunang dan kepala pusing tujuh keliling, akhirnya ia jatuh terduduk pula.

“Ih-sute, bocah ini tidak becus ilmu silat, tak perlu buang tempo dengan dia,” kata orang she Sin. “Rupanya kawanan setan iblis tadi sudah kabur semua, marilah kita pergi saja!”

Tetapi orang she Ih menjawab, “Kawanan setan iblis Sia-pay dari wilayah beberapa provinsi mendadak berkumpul di Ngo-pah-kang sini, dalam sekejapan saja mereka menghilang pula secara cepat. Berkumpulnya aneh, bubarnya juga mencurigakan. Urusan ini harus kita selidiki sejelasnya. Di dalam gubuk ini boleh jadi kita akan menemukan sesuatu.”

Sembari berkata tangannya lantas bermaksud mendorong pintu rumah gedek.

Saat itu Lenghou Tiong sudah berbangkit kembali, tangannya sudah menghunus pedang, serunya, “Ih-cianpwe, nenek di dalam gubuk itu pernah menanam budi padaku, maka kau harus menghadapi aku lebih dulu sebelum mengganggu beliau, asal aku masih bernapas jangan harap kau bisa bertindak sesukamu terhadap beliau.”

Orang she Ih bergelak tertawa. Katanya, “Berdasarkan apa kau berani merintangi aku? Apakah mengandalkan pedang yang kau pegang itu?”

“Kepandaian Wanpwe terlalu rendah, mana bisa menandingi tokoh pilihan Siau-lim-pay?” sahut Lenghou Tiong. “Cuma segala urusan harus berdasarkan keadilan dan kebenaran. Untuk bisa memasuki rumah gedek ini kau harus melangkah mayatku lebih dulu.”

“Ih-sute, bocah ini ternyata gagah perwira, boleh dikata seorang laki-laki, biarkan dia, mari kita pergi saja,” kata pula si orang she Sin.

Tapi orang she Ih itu tertawa dan berkata pula terhadap Lenghou Tiong, “Kabarnya ilmu pedang Hoa-san-pay mempunyai ciri-ciri keistimewaan tersendiri. Malahan terbagi menjadi Kiam-cong dan Khi-cong segala. Kau sendiri dari Kiam-cong atau Khi-cong? Atau Cong kentut apa lagi? Hahahaha!”

Karena ucapannya itu, orang sute Sin dan tokoh Kun-lun-pay yang she Tam menjadi ikut tertawa geli.

“Huh, mentang-mentang lebih kuat, lalu main menang-menangan, apakah beginilah yang disebut kaum Cing-pay?” jawab Lenghou Tiong dengan suara lantang. “Apakah kau benar-benar murid Siau-lim-pay? Kukira, omong kosong belaka!”

Keruan orang she Ih itu sangat gusar. Tangan kanan diangkat, segera ia hendak menghantam ke dada Lenghou Tiong. Tampaknya bila serangannya dilancarkan, seketika juga Lenghou Tiong pasti akan binasa.

“Nanti dulu!” seru si orang she Sin. “Lenghou Tiong, menurut jalan pikiranmu, apakah orang dari Cing-pay lantas tidak boleh bergebrak dengan orang?”

“Setiap orang dari Cing-pay, setiap kali turun tangan harus dapat memberikan alasannya,” jawab Lenghou Tiong tegas.

“Baik,” kata orang she Ih sambil perlahan-lahan menjulurkan telapak tangannya. “Aku akan menghitung satu sampai tiga. Bila aku menghitung sampai tiga kali kau masih tetap tidak mau menyingkir, maka tiga batang tulang rusukmu akan kupatahkan.”

“Hanya tiga batang tulang rusuk saja apa artinya?” sahut Lenghou Tiong sambil tersenyum.

Segera orang she Ih mulai menghitung, “Satu … dua ….”

“Sobat kecil,” sela si orang she Sin. “Ih-suteku ini selalu melaksanakan apa yang pernah diucapkannya. Lebih baik kau lekas menyingkir saja.”

Lenghou Tiong tersenyum. Katanya, “Mulutku ini pun selalu menepati apa yang pernah diucapkan. Selama Lenghou Tiong masih hidup takkan membiarkan kalian berlaku kurang ajar terhadap Popo.”

Habis berkata ia tahu pukulan orang she Ih sewaktu-waktu dapat dilontarkan. Maka diam ia menarik napas dalam-dalam, ia himpun tenaga seadanya ke lengan kanan, tapi dada lantas terasa sakit, mata berkunang-kunang.

“Tiga!” bentak orang she Ih, berbareng ia terus melangkah maju. Dilihatnya Lenghou Tiong tersenyum-senyum dingin saja membelakangi pintu, sedikit pun tidak bermaksud menyingkir. Maka tanpa pikir lagi pukulannya, terus dilontarkan.

Seketika Lenghou Tiong merasa napasnya menjadi sesak, tenaga pukulan lawan telah menyambar tiba. Sekuatnya ia angkat pedangnya terus menusuk, yang diincar adalah titik tengah telapak tangan musuh.

Gerak pedangnya ini baik tempat yang diincar maupun waktunya boleh dikata sangat tepat, sedikit pun tidak meleset. Ternyata pukulan orang she Ih yang telanjur dilontarkan itu tidak sempat ditarik kembali lagi. Maka terdengarlah suara “cret”, menyusul suara jeritan keras, “Auuh!”

Nyata ujung pedang Lenghou Tiong telah menusuk tembus telapak tangan orang she Ih itu. Lekas-lekas orang itu menarik kembali tangannya sehingga terlepas dari sundukan ujung pedang. Lukanya ini benar-benar amat parah. Cepat ia melompat mundur, “sret” segera ia melolos keluar pedangnya dan berteriak, “Anak keparat, kiranya kau hanya berlagak bodoh, tak tahunya ilmu silatmu sangat hebat. Biar … biar kuadu jiwa saja dengan kau.”

Hendaklah dimaklumi bahwa orang she Ih ini adalah tokoh pilihan angkatan kedua Siau-lim-pay pada masa itu. Baik ilmu pukulan (dengan kepalan maupun telapak tangan) maupun ilmu pedang sudah memperoleh pelajaran murni perguruannya. Gerak pedang Lenghou Tiong tadi toh tidak kelihatan ada sesuatu yang luar biasa, yang hebat hanya arah yang jitu serta waktunya yang tepat sehingga telapak tangannya itu seakan-akan dijulurkan sendiri untuk ditusuk dan untuk menghindar pun tidak sempat. Nyata dalam hal ilmu pedang pemuda yang mengaku murid Hoa-san-pay ini sudah mencapai tingkatan yang sukar diukur.

Sesungguhnya Sin, Ih dan Tam bertiga adalah ahli pedang semua, sudah tentu mereka dapat menilai kejadian itu.

Karena tangan kanan terluka, orang she Ih memindahkan pedang ke tangan kiri. Meski hatinya amat gusar, tapi sekarang ia tidak berani pandang enteng lagi terhadap Lenghou Tiong. “Sret-sret-sret”, kembali ia melancarkan tiga kali serangan, tapi semuanya hanya serangan pancingan belaka, sampai di tengah jalan segera serangannya ditarik kembali.

Dahulu di kelenteng Yok-ong-bio pernah sekaligus Lenghou Tiong membutakan mata 15 orang jago tangguh, walaupun waktu itu tenaga dalamnya juga sudah punah, tapi kalau dibandingkan masih lebih mendingan daripada sekarang, secara beruntun telah mengalami tiga kali cedera pula sehingga untuk mengangkat pedang saja hampir-hampir tidak mampu. Tampaknya tiga kali serangan orang she Ih itu adalah ilmu pedang kelas wahid Siau-lim-pay, maka cepat ia berseru, “Sesungguhnya Cayhe tidak bermaksud memusuhi ketiga Cianpwe, asalkan kalian sudi meninggalkan tempat ini, maka Cayhe bersedia meminta maaf dengan setulus hati.”

“Hm,” orang she Ih itu mendengus. “Sekarang hendak minta ampun rasanya sudah terlambat!”

“Sret”, dengan cepat pedangnya menusuk ke arah leher Lenghou Tiong.

Beruntun-runtun Lenghou Tiong telah kena digampar, ia sadar gerak-geriknya sendiri teramat lamban. Serangan lawan ini terang sukar dihindarkan. Tanpa pikir lagi ia pun membarengi menusuk dengan pedangnya. Menyerang belakangan tapi sampai lebih dulu, “ces”, dengan tepat hiat-to penting di pergelangan tangan orang she Ih telah tertusuk.

Tanpa kuasa lagi orang she Ih membuka jarinya sehingga pedangnya jatuh ke tanah.

Tatkala itu sang surya sudah mulai mengintip di ufuk timur. Dengan jelas orang she Ih dapat melihat darah segar menetes keluar dari pergelangan tangan sendiri, rumput hijau menjadi merah tersiram oleh darahnya. Untuk sejenak ia termangu-mangu, sungguh ia tidak percaya bahwa di dunia ini bisa terjadi demikian. Selang agak lama barulah ia menghela napas panjang, tanpa bicara lagi ia terus putar tubuh dan melangkah pergi.

“Ih-sute!” seru si orang she Sin, segera ia pun menyusul pergi dengan cepat.

Orang she Tam mengamat-amati Lenghou Tiong dengan lirikan ragu-ragu. Tanyanya kemudian, “Apakah saudara benar-benar murid Hoa-san-pay?”

Tubuh Lenghou Tiong terasa sangat lemas dan terhuyung-huyung hendak roboh, sekuatnya ia menjawab, “Ya, benar.”

Keadaan Lenghou Tiong yang parah itu dapat dilihat dengan jelas oleh orang she Tam. Ia. pikir biarpun ilmu pedang pemuda ini sangat hebat, asal menunggu lagi sebentar, tanpa diserang juga pemuda itu akan ambruk sendiri. Jadi di depan matanya sekarang adalah suatu kesempatan bagus yang dapat dipergunakan.

Pikir orang she Tam, “Tadi kedua tokoh Siau-lim-pay telah dikalahkan oleh pemuda dari Hoa-san-pay ini. Jika sekarang aku dapat merobohkan dia, kutangkap dia dan membawanya ke Siau-lim-si untuk diserahkan kepada Hongtiang, jalan demikian bukan saja berarti Siau-lim-si utang budi padaku, bahkan pamor Kun-lun-pay juga dapat dijunjung lebih tinggi di daerah Tionggoan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: