Hina Kelana: Bab 54. Ih Jong-hay, Ketua Jing-sia-pay Terkepung Musuh

“Sudah tentu tidak,” sahut Peng-ci.

“Tak apalah jika tidak, kalau sudah, hm, masakah selanjutnya aku mau gubris lagi padamu?” kata Leng-sian.

Mendadak terdengar Tho-kan-sian menimbrung dari luar, “Daharan yang paling lezat di dunia ini tidak lain adalah daging manusia. Siau-lim-cu diam-diam tentu sudah mencicipinya, hanya saja ia tidak mau mengaku.”

“Ya, kalau tidak mencicipi mengapa tidak bilang sejak tadi-tadi, kok baru sekarang menyangkal mati-matian,” demikian Tho-yap-sian menambahkan.

Sejak mengalami berbagai kejadian-kejadian, setiap tindak tanduk Lim Peng-ci selalu sangat hati-hati. Ia menjadi tercengang demi mendengar ucapan Tho-kan-sian dan Tho-yap-sian itu dan sukar menjawab.

“Nah, betul tidak,” Tho-hoa-sian ikut menimpali. “Dia tidak bersuara pula. Kalau diam berarti mengaku. Nona Gak, manusia yang tidak jujur begini, sudah makan daging manusia tapi tidak mengaku, orang demikian mana boleh diajak hidup bersama.”

“Ya, bila kau kawin dengan dia, kelak dia tentu main gila pula dengan perempuan lain dan bila kau tanya dia pasti dia akan menyangkal,” timbrung Tho-kin-sian.

“Malahan ada yang lebih celaka lagi,” tambah Tho-yap-sian. “Bila kau tidur bersama dia, di tengah malam mendadak ia ketagihan makan daging manusia. Jangan-jangan kau sendirilah yang akan dimakan olehnya.”

Kiranya sesudah Tho-kok-lak-sian diberi tugas oleh Peng It-ci agar menjaga Lenghou Tiong, biarpun aneh tingkah laku mereka berenam, tapi sebenarnya mereka bukan orang bodoh. Seluk-beluk antara Lenghou Tiong yang mencintai Gak Leng-sian tapi tak terbalas itu diam-diam sudah dapat dilihat oleh mereka. Kini sedikit kelemahan Lim Peng-ci itu segera digunakan oleh mereka untuk memecah belah hubungan pemuda itu dengan Gak Leng-sian.

“Kalian ngaco-belo belaka, aku tidak mau dengar!” teriak Leng-sian sambil menutupi telinganya.

Di tengah ocehan Tho-kok-lak-sian itu perahu sudah mengangkat sauh dan mulai berlayar ke hilir. Fajar baru menyingsing, kabut pagi belum buyar seluruhnya, di permukaan sungai kabut pulih masih bergumpal-gumpal menyesakkan pandangan mata.

Tidak lama perahu berlayar mendadak berjangkit gelombang ombak, perahu besar itu berguncang dengan hebat sekali. Para penumpangnya tidak biasa hidup di atas air, maka tidak sedikit yang mulai pening kepala dan tumpah-tumpah.

Melihat juru mudi perahu sendiri juga ikut tumpah-tumpah dan perahu itu masih miring ke sana dan doyong ke sini, tampaknya sangat berbahaya, segera Gak Put-kun melompat ke buritan untuk memegang kemudi dan mengarahkan perahu ke tepian selatan.

Betapa pun lwekangnya memang sangat tinggi, sesudah mengatur napas beberapa kali rasa muaknya sudah mulai lenyap. Ketika perahu itu perlahan-lahan menepi, segera ia melompat ke haluan perahu, ia mengangkat jangkar dan dilemparkan ke tepian.

Beramai-ramai semua orang sama melompat ke daratan dan berebut berjongkok di tepi sungai untuk minum air sebanyak-banyaknya, lalu menumpahkannya keluar. Setelah tumpah-minum beberapa kali, akhirnya rasa muak mereka barulah mereda.

Lembah sungai itu ternyata suatu tempat terpencil dan sunyi, rumput alang-alang tumbuh dengan suburnya. Hanya di kejauhan sana kelihatan ada deretan rumah, tampaknya adalah sebuah kota kecil.

“Agaknya di dalam perahu masih terdapat sisa-sisa racun, terpaksa kita tak bisa menumpang perahu lagi, marilah kita menuju ke kota itu,” kata Put-kun.

Segera Tho-kan-sian menggendong Lenghou Tiong dan Tho-ki-sian menggendong Tho-sit-sian terus mendahului jalan di depan.

Para murid Hoa-san-pay juga sama menggendong Li Peng-ci dan Gak Leng-sian menuju ke arah kota tadi.

Sampai di dalam kota, tanpa disuruh lagi Tho-kan-sian dan Tho-ki-sian lantas memasuki sebuah rumah makan, mereka menaruh Lenghou Tiong dan Tho-sit-sian di atas kursi, habis itu lantas berteriak-teriak, “Hai, pelayan! Sediakan arak, buatkan daharan yang paling lezat!”

Sekilas Lenghou Tiong melihat di dalam rumah makan itu berduduk satu orang, ia tercengang sebab orang itu adalah tojin yang berperawakan pendek kecil dan dikenalnya dengan baik sebagai ketua Jing-sia-pay, Ih Jong-hay adanya.

Jika dalam keadaan biasa, kepergoknya dia dengan Ih Jong-hay pasti akan menimbulkan suatu pertarungan sengit. Tapi sekarang keadaan agaknya tidak mengizinkan sebab ketua Jing-sia-pay itu sendiri tampaknya sudah berada di tengah kepungan musuh.

Ih Jong-hay duduk menyanding sebuah meja kecil, di atas meja tersedia arak dan beberapa piring masakan, selain itu sebatang pedang yang mengilap sudah tertaruh di atas meja pula. Di sekeliling meja itu adalah tujuh buah bangku panjang, setiap bangku diduduki satu orang.

Orang-orang itu terdiri dari macam-macam jenis, ada lelaki ada perempuan, rata-rata berwajah bengis dan jahat. Di atas bangku masing-masing juga tertaruh senjata, tujuh macam senjata pun dalam bentuk yang aneh-aneh, tiada satu pun yang terdiri dari golok atau pedang biasa.

Ketujuh orang itu sama sekali tidak bersuara, semuanya menatap tajam kepada Ih Jong-hay. Sebaliknya ketua Jing-sia-pay itu tenang-tenang saja, tangan kirinya tampak memegang cawan arak terus menenggak, ternyata sedikit pun tidak keder.

“Tojin kerdil ini sebenarnya ketakutan setengah mati di dalam hati, dia hanya berlagak tidak gentar,” ujar Tho-kin-sian.

“Sudah tentu dia takut, satu orang dikeroyok tujuh orang, pasti dia akan kalah,” kata Tho-ki-sian.

“Ya, jika dia tidak takut, kenapa tangan kiri yang dipakai memegang cawan arak dan tidak menggunakan tangan kanan? Tentunya tangan kanannya siap sedia menyambar pedangnya bila perlu,” timbrung Tho-kan-sian.

Mendadak Ih Jong-hay mendengus, cawan arak dipindahkan dari tangan kiri ke tangan kanan.

“Ha, dia sudah mendengar ucapan Jiko,” kata Tho-hoa-sian. “Tapi matanya sama sekali tak berani memandang ke arah Jiko, itu berarti dia memang takut. Bukannya takut kepada Jiko, tapi takut sedikit lengahnya itu akan diserang serentak oleh ketujuh orang musuh.”

Meski Lenghou Tiong bermusuhan dengan Ih Jong-hay, tapi demi menyaksikan ketua Jing-sia-pay itu sedang dikepung musuh-musuh tangguh, maka ia pun tidak sudi menggunakan kesempatan bagus itu untuk menuntut balas kepada Ih Jong-hay. Bahkan ia lantas berkata, “Keenam Tho-heng, Totiang ini adalah ketua Jing-sia-pay.”

“Kenapa sih kalau ketua Jing-sia-pay? Apakah dia sahabatmu?” sahut Tho-kin-sian.

“Ah mana aku berani mengikat persahabatan dengan tokoh-tokoh terkemuka seperti dia,” kata Lenghou Tiong.

“Jika dia bukan sahabatmu, maka kita dapat menyaksikan tontonan yang menarik,” ujar Tho-kan-sian.

“Benar,” seru Tho-yap-sian sambil bertepuk tangan. “Pelayan, mana daharannya dan araknya? Aku akan minum arak sambil menyaksikan orang-orang itu mencacah tosu kerdil itu menjadi delapan potong.”

“Aku berani bertaruh dengan kau bahwa dia akan terpotong menjadi sembilan dan bukan delapan,” seru Tho-sit-sian, walaupun masih dalam keadaan terluka dia tidak lupa ikut bicara.

“Sebab apa?” tanya Tho-yap-sian.

“Habis mereka kan tujuh orang, tapi thauto (hwesio berambut) itu membawa dua batang golok, tentu dia akan membacok dua kali.”

“Sudahlah, kalian jangan bicara lagi. Kita takkan membantu pihak mana pun, tapi juga jangan memencarkan perhatian Ih-koancu dari Jing-sia-pay yang sedang menghadapi lawan-lawannya,” demikian sela Lenghou Tiong.

Maka Tho-kok-lak-sian tidak bicara lagi, dengan cengar-cengir mereka memandangi Ih Jong-hay. Sebaliknya satu per satu Lenghou Tiong mengamat-amati ketujuh orang pengepung itu.

Dilihatnya thauto itu rambutnya menjulai sampai di pundak, kepalanya memakai ikat tembaga yang bercahaya mengilap, di sampingnya tertaruh sepasang golok melengkung berbentuk sabit. Di sebelahnya adalah seorang wanita berusia 50-an, rambut sudah beruban, air mukanya suram, senjata yang terletak di sampingnya adalah sebatang tongkat besi pendek.

Sebelahnya lagi berturut-turut adalah seorang hwesio dan seorang tosu. Si hwesio memakai kasa (jubah padri) warna merah marun, di sampingnya tertaruh sebuah kecer dan sebuah mangkuk, tampaknya semua terbuat dari baja. Tepian kecer itu tampak sangat tajam, terang itulah sejenis senjata yang lihai. Sedangkan perawakan si tojin tampak tinggi besar, senjata yang terletak di atas bangkunya adalah sebuah gandin segi delapan, tampaknya sangat berat.

Di sebelah si tojin berduduk seorang pengemis setengah umur, bajunya kotor dan compang-camping, di atas pundaknya melingkar dua ekor ular hijau yang melilit di seputar lehernya. Dari bentuk kepala ular-ular yang bersegitiga itu terang adalah sejenis ular-ular berbisa. Dia tidak membawa senjata tajam, agaknya kedua ekor ular itu adalah gegamannya.

Dua orang lagi terdiri dari laki-laki dan perempuan. Yang lelaki mata kirinya buta, sedangkan yang perempuan buta mata kanan. Ini masih belum, yang lebih aneh adalah si lelaki kaki kirinya buntung dan yang perempuan buntung juga kaki sebelah kanan. Kedua orang sama-sama memakai tongkat penyangga, warna tongkat yang kuning gilap itu bentuknya serupa, sama-sama besar dan kasar, jika terbuat dari emas tulen tentu bobotnya tidaklah ringan. Dilihat dari usia mereka agaknya baru 40-an tahun, badan mereka begitu lemah, tapi justru membawa tongkat yang begitu berat sehingga semakin menambah keseraman mereka.

Dalam pada itu kelihatan si thauto mulai meraba gagang sepasang goloknya, si pengemis juga sudah memegang seekor ularnya dengan kepala ular menjulur ke arah Ih Jong-hay. Begitu pula yang lain-lain telah sama, memegangi senjata masing-masing, tampaknya, segera mereka akan menyerang secara serentak.

“Hahaha!” mendadak Ih Jong-hay bergelak tertawa. “Main kerubut memangnya adalah kebiasaan golongan keroco dan kaum penjahat. Kenapa aku Ih Jong-hay harus merasa gentar?”

Tiba-tiba si lelaki pecak tadi berkata, “Orang she Ih, kami tidak bermaksud membunuh kau.”

“Benar,” sambung si wanita pecak. “Asal kau menyerahkan Pi-sia-kiam-boh itu secara baik-baik, maka dengan baik-baik pula kami akan membiarkan kau pergi.”

Gak Put-kun, Lenghou Tiong, Lim Peng-ci dan lain-lain menjadi tercengang demi mendengar “Pi-sia-kiam-boh” tiba-tiba disebut. Sama sekali mereka tidak menduga bahwa sebabnya ketujuh orang itu mengepung Ih Jong-hay tujuannya ialah ingin merebut Pi-sia-kiam-boh dari ketua Jing-sia-pay itu.

Begitulah Lenghou Tiong menjadi saling pandang dengan Gak Put-kun dan Lim Peng-ci. Mereka sama-sama membatin, “Apakah Pi-sia-kiam-boh itu benar-benar telah jatuh di tangan Ih Jong-hay?”

Dalam pada itu terdengar si wanita beruban sedang bicara, “Buat apa banyak omong dengan orang kerdil ini? Bunuh saja dia, lalu kita menggeledah badannya.”

“Boleh jadi dia telah menyembunyikan kitab pusaka itu di suatu tempat rahasia, kalau kita bunuh dia kan urusan bisa runyam malah?” ujar si wanita pecak.

Si wanita beruban tampak mencibir. Sahutnya, “Tidak ketemukan kitab itu pun tak apa, masakah urusan mesti runyam segala?”

Ucapannya itu kedengarannya kurang jelas seperti angin bocor keluar dari mulutnya. Kiranya giginya telah banyak yang rontok dan hampir ompong seluruhnya.

“Orang she Ih,” seru si wanita pecak, “aku kira lebih baik kau menyerahkan kitab itu secara baik-baik. Kitab itu toh bukan milikmu, kau sudah mengangkangi kitab itu sekian lamanya, isinya tentu juga sudah kau hafalkan di luar kepala. Buat apa kau mengangkanginya mati-matian pula?”

Ih Jong-hay tetap bungkam saja. Ia tahu ketujuh lawan itu semuanya sangat lihai, diam-diam ia telah menghimpun tenaga dan mencurahkan segenap perhatian untuk menghadapi segala kemungkinan, maka apa yang dibicarakan ketiga orang tadi sama sekali tak tertangkap olehnya.

Mendadak si hwesio membentak satu kali, lalu komat-kamit entah apa yang dia katakan. Tertampak dia berbangkit, tangan kiri memegang mangkuk dan tangan kanan mengangkat kecer, tampaknya setiap saat siap untuk menerjang Ih Jong-hay.

Pada saat itulah sekonyong-konyong di luar sana ada suara gelak tertawa orang, menyusul masuklah seorang yang bermuka berseri-seri. Orang ini memakai jubah sutra, kepalanya setengah botak, kelihatannya sangat ramah tamah. Tangan kanan orang ini membawa sebuah pipa tembakau warna hijau zamrud. Tangan kiri membawa kipas lempit, pakaiannya perlente, dandanannya ini jelas adalah seorang saudagar kaya raya.

Begitu melangkah masuk ke dalam restoran dan melihat orang sebanyak itu, ia menjadi tercengang dan lenyap seketika air mukanya yang berseri-seri tadi. Tapi sejenak kemudian ia lantas bergelak tertawa pula sambil memberi salam dan berseru, “Aha, selamat bertemu, selamat bertemu! Sungguh tidak nyana bahwa para kesatria yang terkenal pada zaman ini ternyata berkumpul semua di sini. Sungguh aku sangat beruntung sekali dapat ikut hadir.”

Lalu orang itu mengangkat tangannya memberi salam kepada Ih Jong-hay, sapanya, “Wah, angin apakah yang membawa Ih-koancu dari Jing-sia-pay sampai ke Holam sini? Sudah lama kudengar ‘Kiu-siau-sin-kang’ Jing-sia-pay merupakan salah satu ilmu tunggal di dunia persilatan, bukan mustahil hari ini aku akan dapat menyaksikannya untuk menambah pengalaman.”

Ih Jong-hay sendiri sedang menghimpun tenaga, maka dia tidak melihat kedatangan orang itu, lebih tidak ambil pusing terhadap apa yang diucapkannya.

Kemudian orang itu menyapa kedua laki dan wanita tadi dengan tertawa, “Eh, sudah lama tidak berjumpa dengan ‘Tong-pek-siang-ki’ (Dua Manusia Aneh Pohon Tong dan Pek), apakah selama ini banyak mendapat rezeki?”

Si lelaki pecak menjawab dengan tersenyum, “Rezeki kami mana bisa lebih besar daripada rezeki Yu-taylopan (juragan besar Yu).”

Rupanya orang yang berdandan seperti saudagar ini she Yu.

Orang itu bergelak tertawa beberapa kali dan berkata pula, “Sesungguhnya diriku cuma nama kosong belaka, tangan kiri masuk tangan kanan keluar. Cukup dari julukanku saja sudah diketahui bahwa hanya tampaknya saja diriku ini hebat, tapi dalamnya sebenarnya keropos.”

“Siapa sih julukanmu?” tiba-tiba Tho-ki-sian bertanya.

Orang itu memandang ke arah Tho-ki-sian, ia bersuara heran karena melihat wajah Tho-kok-lak-sian yang aneh itu, tapi tidak kenal asal usul mereka. Mendadak ia berseru pula, “Wah, sungguh hebat, sungguh luar biasa, sampai-sampai ketua Hoa-san-pay Gak-siansing dan nyonya juga berada di sini. Akhir-akhir ini Gak-siansing sekali tusuk membutakan 15 orang lawan tangguh, kejadian ini benar-benar mengguncangkan Kangouw, setiap orang merasa kagum. Benar-benar ilmu pedang yang hebat!”

Gak Put-kun hanya mendengus sekali saja, ia merasa tidak pernah kenal orang ini, maka ia pun tidak memberi penjelasan.

Orang itu tertawa pula dan berkata, “Julukanku sebenarnya tidak enak didengar, yaitu ‘Kut-put-liu-jiu’ (Licin Susah Dipegang). Para kawan mengatakan diriku suka bersahabat. Demi sahabat sedikit pun aku tidak sayang mengeluarkan uang. Meski aku pandai mencari uang, tapi uang itu selamanya susah dipegang dan selalu memberosot dengan licin meninggalkan tangan.”

Mendengar itu mendadak Gak Put-kun teringat kepada seorang. Katanya, “Ah, kiranya adalah ‘Kut-put-liu-jiu’ Yu Siok, Yu-heng. Sudah lama kudengar namamu, kagum, sungguh kagum!”

“Wah, sampai-sampai ketua Hoa-san-pay juga kenal namaku yang tak berarti ini, sungguh aku merasa sangat bangga,” sahut orang itu.

“Sobat she Yu ini agaknya masih mempunyai suatu nama julukan yang lain,” tiba-tiba Gak-hujin ikut bicara.

“Apa ya? Wah, aku sendiri malah tidak tahu,” kata orang yang bernama Yu Siok itu.

“Julukannya yang lain adalah ‘belut berminyak’,” terdengar suara seorang menyela, kiranya si wanita beruban dan ompong itu.

“Wah, luar biasa!” teriak Tho-hoa-sian. “Belut saja sudah licin sekali, berminyak pula, lalu siapa yang mampu memegangnya.”

“Ah, itu kan cuma poyokan yang diberikan oleh kawan-kawan Kangouw kepada sedikit ginkangku yang lumayan ini, katanya segesit belut, padahal sedikit kepandaian yang tak berarti ini sebenarnya tidak ada harganya untuk dibicarakan. Eh, Thio-hujin, apakah engkau baik-baik saja selama ini, terimalah salamku ini,” habis berkata Yu Siok terus memberi hormat.

Wanita beruban yang dipanggil Thio-hujin itu melototinya sekali dan menjawab, “Ah, mulut usil, lekas enyah sana!”

Tapi perangai Yu Siok ini ternyata sangat sabar, sedikit pun ia tidak marah. Ia lantas berkata pula terhadap si pengemis, “Siang-liong-sin-kay (Pengemis Sakti Berpasangan Naga) Giam-heng, kedua ekor naga hijau piaraanmu itu tampaknya makin lama makin gemuk dan lincah.”

Pengemis itu bernama Giam Sam-seng, sebenarnya berjuluk “Siang-coa-ok-kay” (Pengemis Jahat Berpasangan Ular), tapi Yu Siok sekenanya telah menyebut dia sebagai Siang-liong-sin-kay, bahkan kedua ekor ularnya disebut sebagai sepasang naga, istilah “ok” yang berarti jahat di ganti pula dengan kata-kata “sin” yang berarti sakti, keruan Giam Sam-seng merasa syur juga dan mengunjuk senyuman meski wataknya sebenarnya sangat bengis.

Thauto berambut panjang itu bernama Siu Siong-lian dan si hwesio bergelar Say-po, tojin itu bergelar Giok-leng, asal usul ketiga orang ini pun diketahui semua oleh Yu Siok, maka kepada masing-masing ia pun memberi pujian beberapa patah kata. Begitulah dengan cengar-cengir ke sana dan ke sini, dalam sekejap saja Yu Siok telah membikin suasana yang tegang tadi menjadi damai.

Diam-diam Gak Put-kun membatin, “Sudah lama kudengar di daerah Soatang ada seorang tokoh ajaib yang berjuluk ‘belut berminyak’, kiranya beginilah macamnya.”

Dalam pada itu tiba-tiba terdengar Tho-yap-sian berseru, “He, belut berminyak, kenapa kau tidak memuji kepandaian kami berenam saudara yang hebat ini.”

“O, sudah … sudah tentu akan kupuji ….” sahut Yu Siok dengan tertawa. Tak tersangka belum habis ucapannya, kedua kaki dan kedua tangannya tahu-tahu sudah kena dipegang oleh Tho-kin-sian, Tho-kan-sian, Tho-ki-sian dan Tho-yap-sian berempat dan terus diangkat ke atas, tapi seketika mereka tidak lantas membetot tubuh Yu Siok.

Keruan Yu Siok terkejut, cepat ia memuji, “Hebat, sungguh kepandaian yang hebat! Ilmu silat setinggi ini sungguh selama ini jarang terdapat.”

Pada umumnya manusia memang suka disanjung puji, sedangkan Tho-kok-lak-sian justru paling senang kalau diumpak orang. Kini demi mendengar pujian Yu Siok itu dengan sendirinya mereka tidak ingin lekas-lekas membetot dan merobek badan pecundangnya itu. Berbareng Tho-kin-sian dan Tho-ki-sian bertanya, “Apa dasarnya kau mengatakan ilmu silat kami jarang terdapat di dunia ini?”

“Seperti sudah kukatakan, julukanku adalah Kut-put-liu-jiu, licin susah dipegang, selama ini siapa pun tidak mampu memegang diriku,” sahut Yu Siok. “Tapi sekali bergerak saja kalian berempat sudah dapat menangkap aku, sedikit pun tidak merasa licin dan sama sekali tak terlepas. Nyata kepandaian kalian memang jarang ada selama ini. Selanjutnya ke mana kupergi tentu aku akan menyiarkan nama kebesaran kalian berenam agar segenap kawan Bu-lim mengenal bahwa di dunia ini ada tokoh-tokoh sedemikian lihainya.”

Sungguh girang sekali Tho-kin-sian dan kawan-kawannya, segera mereka melepaskan Yu Siok.

“Hm, benar-benar licin seperti belut, memang tidak beromong kosong. Sekali ini kau bisa lolos pula dari pegangan orang,” jengek Thio-hujin.

“Ah, memang kepandaian keenam Cianpwe ini terlampau hebat sehingga membikin setiap orang merasa segan dan hormat,” kata Yu Siok pula. “Cuma sayang pengalamanku terlalu cetek dan belum kenal siapakah gelaran keenam Cianpwe yang mulia?”

“Kami berenam saudara bernama ‘Tho-kok-lak-sian’. Aku sendiri bernama Tho-kin-sian, yang ini Tho-kan-sian, yang itu Tho-ki-sian ….” begitulah Tho-kin-sian memperkenalkan kawan-kawannya itu satu per satu.

“Bagus, benar-benar bagus!” sorak Yu Siok. “Nama ‘Sian’ itu sungguh cocok dan sesuai dengan ilmu silat kalian berenam. Memang kepandaian kalian sudah mendekati kesaktian dewa, maka kalian sudah seharusnya bernama ‘Tho-kok-lak-sian’.”

Keruan Tho-ki-sian berenam bertambah senang, seru mereka, “Pikiranmu memang tajam, pandanganmu memang tepat, kau benar-benar seorang yang mahabaik.”

Di sebelah sana Thio-hujin sedang melotot kepada Ih Jong-hay sambil berkata, “Orang she Ih, Pi-sia-kiam-boh itu akan kau serahkan atau tidak?”

Namun Ih Jong-hay sedikit pun tidak menggubrisnya, ia asyik menghimpun tenaga.

“Ai, ai! Apa yang sedang kalian ributkan?” sela Yu Siok tiba-tiba. “Pi-sia-kiam-boh kata kalian? Setahuku kitab pusaka itu tidaklah berada di tangannya Ih-koancu.”

“Setahumu kitab itu berada di tangan siapa?” tukas Thio-hujin.

“Orang itu sangat ternama, kalau kusebutkan mungkin kau akan ketakutan,” sahut Yu Siok.

“Lekas katakan,” bentak Siu Siong-lian, si thauto. “Tapi kalau tidak tahu ada lebih baik lekas enyah dari sini!”

“Wah, watak Suhu ini ternyata sedemikian gampang terbakar,” sahut Yu Siok dengan tertawa. “Dalam hal ilmu silat memang aku tidak seberapa, tapi tentang berita kalian boleh tanya padaku. Setiap kabar hangat dan berita rahasia di dunia Kangouw rasanya tidak mudah lolos dari intaian mata dari telingaku.”

Tong-pek-siang-ki, Thio-hujin dan lain-lain cukup kenal Yu Siok, mereka tahu apa yang dikatakannya itu memang bukan bualan belaka. Yu Siok itu paling suka ikut campur urusan tetek bengek, dia tidak punya pekerjaan, segala apa ingin tahu, maka segala kejadian di dunia persilatan memang hampir semuanya diketahui olehnya.

Berbareng Thio-hujin dan lain-lain membentak, “Tidak perlu kau jual mahal. Sebenarnya Pi-sia-kiam-boh itu berada di tangan siapa, lekas katakan!”

“Kalian kan kenal julukanku ‘licin susah dipegang’, harta benda yang datang padaku selalu memberosot keluar lagi,” sahut Yu Siok dengan tertawa. “Sungguh sial, beberapa hari terakhir ini aku benar-benar lagi miskin, pasaran sepi, dagangan macet. Kalian adalah hartawan-hartawan semua, seujung rambut kalian saja sudah lebih bernilai daripada segala milikku. Untung aku telah memperoleh berita yang berharga ini. Ya, sudah tentu, berita baik ini sudah sepantasnya kupersembahkan kepada pihak yang berkepentingan. Jadi yang kujual ini tidaklah mahal, tapi dengan harga pantas.”

“Baik, kau tidak mau bilang bolehlah kau tunggu dulu. Nanti sesudah kami bunuh keparat she Ih itu lalu membekuk si belut she Yu ini, coba nanti kau mengaku atau tidak,” demikian kata Thio-hujin. Mendadak ia memberi komando, “Maju!”

Serentak terdengarlah suara “crang-cring” yang ramai, berbagai macam senjata telah saling bentur. Thio-hujin bertujuh telah meninggalkan tempat duduk masing-masing dan saling gebrak beberapa jurus dengan Ih Jong-hay. Habis menyerang serentak mereka lantas melompat mundur pula. Tapi posisi mereka masih tetap dalam keadaan mengepung.

Maka tertampaklah kaki Say-po Hwesio dan si thauto Si Siong-lian mencucurkan darah. Sebaliknya Ih Jong-hay telah memindahkan pedang dari tangan kanan ke tangan kiri, jubah di bagian pundak kanan hancur, entah kena dipukul oleh siapa.

“Coba lagi!” teriak pula Thio-hujin dan kembali mereka bertujuh mengerubut maju pula. Setelah suara “trang-tring” berbunyi riuh pula, lalu mereka melompat mundur lagi dalam keadaan masih mengepung.

Kini kelihatan muka Thio-hujin sendiri terluka, dari tengah alis miring ke kiri bawah hingga sampai di dagu telah tergores suatu luka panjang. Sebaliknya lengan kiri Ih Jong-hay telah kena terbacok oleh golok, agaknya kena serangan golok melengkung si thauto.

Karena tangan kiri tak bisa memainkan pedang pula, terpaksa senjata dipindahkan kembali ke tangan kanan. Cuma pundak kanannya juga sudah terluka, kalau ketujuh lawan menyerang pula untuk ketiga kalinya pasti dia akan binasa di bawah hujan senjata mereka.

“Ih-koancu,” seru Giok-leng Tojin sambil mengacungkan senjatanya, “kita adalah seagama, lebih baik kau menyerah saja.”

Ih Jong-hay mendengus sekali, tangan kanan hendak mengangkat pedangnya. Tapi baru terangkat sedikit saja lengannya sudah terasa lemas.

Thio-hujin itu tampaknya adalah seorang wanita tua yang sudah loyo, tapi ternyata sangat garang dan tangkas. Ia pun tidak mengusap darah yang mengalir dari luka di mukanya itu, tongkat diangkat dan mengincar ke arah Ih Jong-hay, lalu berteriak pula, “Maju ….”

Belum selesai teriakannya, tiba-tiba ada orang membentak, “Nanti dulu!”

Menyusul seorang telah melangkah ke tengah kalangan dan berdiri di samping Ih Jong-hay, lalu katanya, “Kalian bertujuh mengeroyok satu orang, cara ini terlalu tidak adil. Apalagi Yu-lopan itu sudah mengatakan bahwa Pi-sia-kiam-boh sesungguhnya tidak berada di tangan Ih-koancu, mengapa kalian masih menyerangnya terus?”

Orang yang menengahi ternyata bukan lain adalah Lenghou Tiong.

Namun Siu Siong-lian bertujuh tiada seorang pun yang kenal pemuda yang berwajah pucat ini. Dengan suara berat Thio-hujin mendamprat, “Siapakah kau? Apakah kau ingin mampus bersama dia?”

“Mampus bersama dia sih bukan keinginanku,” sahut Lenghou Tiong. “Soalnya aku merasa urusan ini terlalu tidak adil, maka aku ingin bicara sebagai orang tengah. Lebih baik kalian jangan bertempur saja.”

“Marilah kita bunuh sekalian bocah ini,” seru Siu Siong-lian.

“Siapa kau? Besar amat nyalimu sehingga kau berani menjadi tameng orang?” bentak Giok-leng Tojin.

“Aku bernama Lenghou Tiong, aku tidak bermaksud menjadi ….” belum habis Lenghou Tiong bicara, terdengarlah Tong-pek-siang-ki, Siang-coa-ok-kay dan lain-lain sama berseru kaget, “Hei, jadi … jadi kau inilah Lenghou-kongcu?”

“Cayhe adalah pemuda desa, aku tidak berani dipanggil sebagai ‘Kongcu’ segala,” sahut Lenghou Tiong. “Apa barangkali kalian pun kenal seorang sahabatku?”

Sepanjang jalan Lenghou Tiong telah mendapat perlakuan sangat hormat dari berbagai tokoh dan orang kosen, semuanya mengatakan perbuatan mereka itu disebabkan seorang sahabat Lenghou Tiong yang paling mereka hormati. Untuk ini Lenghou Tiong sampai pusing kepala juga tidak tahu siapakah sahabatnya yang dimaksudkan itu, ia tidak tahu bilakah dia mengikat seorang sahabat yang berwibawa sedemikian besar? Kini demi melihat sikap Siu Siong-lian bertujuh, segera ia menduga pasti sahabat aneh yang belum diketahuinya itulah yang menyebabkan segannya Siu Siong-lian bertujuh.

Benar juga, tertampak Giok-leng Tojin lantas menurunkan senjatanya dan membungkuk tubuh memberi hormat, katanya, “Ketika mendapat kabar segera kami bertujuh memburu kemari siang dan malam dengan harapan akan bertemu dengan Lenghou-kongcu. Barusan kami bersikap tidak sopan, mohon dimaafkan.”

Thio-hujin juga lantas menyimpan kembali tongkatnya yang pendek itu, katanya, “Kami tidak tahu Ih-koancu adalah sahabat Lenghou-kongcu sehingga tadi telah bersikap kasar padanya, untung kedua pihak hanya terluka ringan saja.”

Ih Jong-hay mendengus, “trang”, mendadak pedangnya jatuh ke lantai. Kiranya pundaknya tadi telah kena diketok sekali oleh gandin Giok-leng Tojin sehingga tulang pundaknya retak, lukanya tidaklah ringan, setelah bertahan sekuatnya kini benar-benar tidak sanggup memegangi pedang lagi.

Ia menjadi heran pula ketika mengetahui orang yang membantunya itu adalah Lenghou Tiong. Tapi dasar wataknya memang kepala batu, segera ia berkata, “Bocah she Lenghou ini bukanlah sahabatku.”

“Lenghou-kongcu bukan sahabatmu, inilah sangat kebetulan, memangnya kami bermaksud sembelih kau,” ujar Siang-coa-ok-kay. Walaupun demikian ucapannya, tapi dia tahu Lenghou Tiong tidak ingin mereka membunuh Ih Jong-hay, maka hanya mulut saja bicara, tapi tidak turun tangan sungguh-sungguh.

Si belut berminyak Yu Siok lantas mendekati Lenghou Tiong, ia terbahak-bahak dan berkata, “Aku datang dari sebelah timur, sepanjang jalan banyak sekali kawan Kangouw menyebut nama Lenghou-kongcu yang mulia, sungguh hatiku sangat kagum. Menurut berita yang kuperoleh bahwa ada beberapa puluh orang pangcu, kaucu, tongcu, dan tocu, semuanya bermaksud menemui Lenghou-kongcu di atas Ngo-pah-kang. Maka buru-buru aku pun datang kemari ingin melihat keramaian. Sungguh tidak nyana rezekiku sangat besar dan dapat berjumpa lebih dulu dengan Lenghou-kongcu di sini. Tidak apa-apa, jangan khawatir, sekali ini obat-obat mujarab yang dibawa ke Ngo-pah-kang kalau tidak ada 100 macam sedikitnya juga ada 99 macam. Sedikit penyakit Kongcu yang tak berarti itu pasti gampang disembuhkan. Hahaha, bagus, bagus!”

Lenghou Tiong menjadi terkejut malah. “Kau bilang beberapa puluh orang pangcu, kaucu, tongcu, tocu dan seratus macam obat mujarab apa segala, sungguh Cayhe tidak paham?” demikian ia menegas.

Kembali Yu Siok mengakak beberapa kali, katanya, “Lenghou-kongcu jangan khawatir, seluk-beluk urusan ini betapa pun besar nyaliku juga tidak berani sembarangan omong. Hendaklah Kongcu jangan khawatir, hahaha, seumpama aku sembarangan omong dan Lenghou-kongcu tidak marah padaku, tapi bila diketahui orang lain, biarpun aku mempunyai 10 buah kepala juga akan dibetot semua oleh orang itu.”

“Kau bilang tidak berani sembarangan omong, tapi mengapa terus mengoceh tentang urusan ini?” omel Thio-hujin. “Soal Ngo-pah-kang sebentar lagi Lenghou-kongcu akan dapat menyaksikan sendiri, buat apa kau mesti cerewet lebih dulu? Coba jawab, Pi-sia-kiam-boh itu sebenarnya berada di tangan siapa?”

“Berikan 100 tahil perak padaku dan segera aku memberitahukan padamu,” kata Yu Siok dengan tertawa sambil menjulurkan sebelah tangannya.

“Buset, barangkali hidupmu di jelmaan yang dulu tidak pernah melihat duit, maka sekarang kau mata duitan, segala apa pakai uang, uang, uang melulu!” damprat Thio-hujin.

Mendadak si lelaki pecak mengeluarkan serenceng perak dan dilemparkan kepada Yu Siok, katanya, “Itu, 100 tahil perak tanggung lebih. Nah, lekas bicara, lekas!”

Yu Siok sambuti rencengan perak itu dan menimbang-nimbangnya dengan tangan, lalu menjawab, “Banyak terima kasih. Marilah kita keluar sana, biar kukatakan padamu.”

“Buat apa keluar? Bicara saja di sini agar didengar semua orang,” kata si lelaki pecak.

“Ya, benar, kenapa mesti dirahasiakan?” seru orang banyak.

Tapi Yu Siok telah menggeleng-geleng. Katanya, “Tidak, tidak bisa. Aku minta 100 tahil perak, maksudku setiap orang membayar 100 tahil dan bukan menjual berita sepenting ini dengan cuma 100 tahil perak saja. Memangnya kalian kira aku menjual obral?”

Mendadak lelaki pecak itu memberi tanda, serentak Siu Siong-lian, Thio-hujin, Siang-coa-ok-kay, Say-po Hwesio dan lain-lain-lain mengepung maju, seketika Yu Siok terjepit di tengah seperti Ih Jong-hay yang terkepung tadi.

“Dia berjuluk licin susah dipegang, terhadap dia kita jangan memakai tangan, tapi gunakan senjata, biar dia mampus,” kata Thio-hujin.

“Benar,” seru Giok-leng Tojin sambil putar gandinnya, “biar dia rasakan gandinku ini, ingin kulihat apakah kepalanya benar-benar licin atau tidak?”

Gandin andalan Giok-leng Tojin itu bergigi tajam dan mengilap. Kalau kepala Yu Siok yang setengah botak itu benar-benar berkenalan dengan gandin itu tentu bisa konyol.

Tak terduga mendadak Yu Siok berkata kepada Lenghou Tiong, “Lenghou-kongcu, tadi kau menolong Ih-koancu dari kerubutan mereka, mengapa kau pilih kasih dan anggap sepi diriku yang terancam bahaya ini?”

“Haha, jika kau tidak menerangkan di mana beradanya Pi-sia-kiam-boh, bahkan aku pun akan ikut membantu Thio-hujin dan kawan-kawannya,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Bagus, bagus! Harap Lenghou-kongcu turun tangan sekalian!” seru Thio-hujin bertujuh.

“Ai!” Yu Siok menghela napas. “Baiklah, biar kukatakan saja, silakan kalian kembali ke tempat masing-masing, buat apa mengelilingi diriku?”

“Terhadap belut yang licin terpaksa kami harus lebih waspada,” ujar Thio-hujin..

“Wah, ini namanya cari penyakit, ular mencari gebuk,” gumam Yu Siok. “Sebenarnya aku bisa melihat ramai-ramai ke Ngo-pah-kang, tapi malah mengantarkan kematian ke sini.”

“Sudahlah, tak perlu cerewet lagi. Kau mau bicara atau tidak?” ancam Thio-hujin.

“Baik, baik, akan kukatakan, mengapa tidak?” sahut Yu Siok. “Eh Tonghong-kaucu, kiranya engkau orang tua juga berkunjung kemari?”

Kedua kalimatnya yang terakhir itu diucapkan dengan cukup keras, berbareng itu matanya memandang keluar restoran itu dengan air muka penuh heran dan segan. Keruan semua orang ikut terperanjat dan beramai-ramai menoleh ke arah yang dipandang Yu Siok itu. Tapi yang tertampak di jalan raya sana adalah seorang tukang sayur dan sekali-kali bukan Tonghong Put-pay, itu ketua Mo-kau yang namanya menggetarkan dunia.
Comments (1)
1 Comment »

Hmm, maap ya, tapi sepertinya ada yang hilang dari bab ini…Bagian tentang kemunculan Na Hong hong si ketua Ngo-tok Kauw yang ingin mengobati Lenghou Tiong… Apa memang dari aslinya begini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: