Hina Kelana: Bab 53. Ya-niau-cu Keh Bu-si si Kokokbeluk

Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu yang diikat di atas kursi, pula hiat-to mereka tertutuk sehingga tak bisa bergerak, mereka hanya dapat mendengar suara jeritan dan permohonan Siau Ih di dalam kamar, keruan mereka saling pandang dengan bingung. Memangnya mereka sudah sangsi, sekarang mendengar pula percakapan Tho-kok-ji-sian itu, Coh Jian-jiu berulang-ulang geleng-geleng kepala dan Lo Thau-cu merasa malu dan gusar. “Lo-heng, perbuatan itu harus dicegah, sungguh tidak nyana Lenghou Tiong itu ternyata pemuda bajul, jangan-jangan akan menimbulkan gara-gara,” demikian kata Coh Jian-jiu. “Ai, kalau aku punya Siau Ih yang menjadi korban tidaklah menjadi soal, tapi … tapi bagaimana harus bertanggung jawab kepada orang,” kata Lo Thau-cu. “Coba dengar, agaknya Siau Ih juga telah mencintainya, dia mengatakan, ‘Perbuatanmu ini kan merugikan kesehatanmu sendiri.’ Dan apa yang dikatakan Lenghou Tiong? Kau dengar tidak?” “Dia bilang, ‘Kesehatanku tidak menjadi soal asal untuk kebaikanmu!’. Setan alas, kedua bocah itu benar-benar ….” “Hahahaha!” Coh Jian-jiu bergelak tertawa. “Selamat, selamat!” “Selamat apa? Selamat nenekmu!” damprat Lo Thau-cu. “Kenapa kau marah? Aku memberi selamat kepadamu karena mendapat seorang menantu yang baik!” ujar Coh Jian-jiu. “Ngaco-belo!” bentak Lo Thau-cu. “Kau jangan sembarangan omong lagi, kalau peristiwa ini sampai tersiar, apakah kau kira jiwa kita dapat diselamatkan?” Ucapan si buntak penuh mengandung nada khawatir dan sangat takut. Cepat Coh Jian-jiu mengiakan juga dengan suara rada gemetar. Gak Put-kun yang bersembunyi rada jauh, biarpun ia telah mengerahkan Ci-he-sin-kang juga yang dapat didengarnya hanya samar-samar saja, maka diam-diam ia pun menyangka Lenghou Tiong benar-benar melakukan perbuatan yang tidak senonoh terhadap si nona. Semula ia bermaksud menerjang ke dalam kamar untuk mencegah perbuatan muridnya itu, tapi ketika terpikir lagi bahwa orang-orang itu termasuk juga Lenghou Tiong semuanya penuh rahasia dan mencurigakan, entah tipu muslihat apa yang teratur di balik kejadian-kejadian selama ini, maka ia merasa lebih baik jangan bertindak secara gegabah. Sedapat mungkin ia menahan perasaannya dan terus mendengarkan pula. Tiba-tiba terdengar nona Siau Ih menjerit pula, “Ja … jangan … o, darah … o, kumohon ….” Pada saat itu pula di luar sana ada orang berseru, “Lo Thau-cu, Tho-kok-si-kui telah kupancing dan kutinggalkan!” “Bluk”, tahu-tahu laki-laki yang membawa bendera putih yang menggoda dan dikejar Tho-kok-si-sian itu telah berdiri di tengah ruangan. Ketika melihat Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu terikat di atas kursi, orang itu terkejut dan berseru, “He, ken … kenapakah kalian?” Berbareng ia mengeluarkan sebilah belati yang mengilap, hanya beberapa kali gerakan saja ia sudah memotong putus tali-tali yang mengikat kaki dan tangan kedua kakek itu. Dalam pada itu terdengar pula jeritan melengking Siau Ih di dalam kamar, “O, kumohon kau jang … jangan begitu ….” Mendengar suara jeritan Siau Ih yang agaknya dalam keadaan gawat, laki-laki itu kaget. “Nona Siau Ih!” teriaknya sambil berlari ke arah kamar. Tapi gerak tangan Lo Thau-cu teramat cepat, ia telah pegang lengan laki-laki itu dan membentak, “Jangan masuk ke sana!” Laki-laki itu tampak tercengang dan menghentikan langkahnya. Lalu terdengar Tho-ki-sian mengoceh pula di luar, “Kupikir si buntak tentu girang setengah mati karena bisa memperoleh menantu setampan Lenghou Tiong itu.” “Lenghou Tiong sudah hampir mati, apa yang perlu digirangkan kalau mendapatkan menantu dalam keadaan sudah setengah mati?” ujar Tho-sit-sian. “Putri si buntak itu pun dalam keadaan sekarat, sepasang suami istri itu menjadi sama-sama setengah mati dan setengah hidup,” sahut Tho-ki-sian. “Blung”, mendadak terdengar suara bergedebuk di dalam kamar, suara jatuhnya sesuatu benda berat. Menyusul Siau Ih menjerit pula, meski lemah suaranya, tapi penuh rasa cemas dan khawatir, “Ayah lekas kemari, ayah!” Segera Lo Thau-cu memburu ke dalam kamar, dilihatnya Lenghou Tiong sudah menggeletak di lantai, sebuah mangkuk tengkurap di atas dadanya, badannya penuh berlumuran darah, Siau Ih sendiri duduk bersandar di atas ranjang, mulutnya juga berlepotan darah. Coh Jian-jiu dan laki-laki tadi pun menyusul ke dalam kamar, mereka sebentar-sebentar memandang Lenghou Tiong dan lain saat memandang Siau Ih dengan rasa heran dan bingung. “Ayah,” kata Siau Di dengan suara lemah, “orang ini telah memotong nadi sendiri dan mengambil darah, aku di … dipaksa minum dua mangkuk darahnya dan dia masih … masih akan ….” Kejut Lo Thau-cu tidak kepalang, cepat ia memayang bangun Lenghou Tiong, dilihatnya nadi pergelangan tangan kanan pemuda itu masih mengucurkan darah. Segera ia berlari keluar kamar untuk mengambil obat luka. Walaupun di dalam rumah sendiri, rupanya saking gugupnya sehingga batok kepalanya benjut terbentur kosen pintu. Melihat Lo Thau-cu dan lain-lain berlari ke dalam kamar, Tho-ki-sian mengira mereka hendak menghajar Lenghou Tiong. Segera ia berteriak, “Hei, Lo Thau-cu! Lenghou Tiong adalah sobat baik Tho-kok-lak-sian, jangan sekali-kali kau memukul dia. Jika terjadi apa-apa atas dirinya tentu kami Tho-kok-lak-sian akan merobek badanmu seperti membeset daging ayam.” “Salah, salah besar!” kata Tho-sit-sian. “Apakah yang salah?” tanya Tho-ki-sian heran. “Jika dia berbadan kurus, maka dagingnya akan mudah kau robek, tapi jelas dia berbadan gemuk, cara bagaimana badan yang padat gemuk itu dapat dirobek?” ujar Tho-sit-sian. Lo Thau-cu tidak ambil pusing terhadap ocehan mereka yang tak keruan juntrungannya itu. Tapi cepat ia membubuhkan obat di atas luka Lenghou Tiong, lalu mengurut-urut pula beberapa tempat hiat-to di dada dan di perutnya, tidak lama kemudian mulailah Lenghou Tiong siuman. “Lenghou-kongcu,” kata Lo Thau-cu dengan perasaan lega, “sungguh kami merasa tidak … tidak …. Ai, benar-benar susah untuk kukatakan.” Segera Coh Jian-jiu ikut bicara, “Lenghou-kongcu, tadi Lo Thau-cu telah mengikat kau, hal ini terjadi karena salah paham, mengapa engkau anggap sungguh-sungguh sehingga membikin dia merasa berdosa.” Lenghou Tiong tersenyum, sahutnya, “Penyakitku sesungguhnya tak bisa disembuhkan dengan obat mukjizat apa pun, maksud baik Coh-locianpwe yang telah mengambil obat Lo-cianpwe untukku, sesungguhnya sangat sayang obat mujarab itu terbuang sia-sia.” Bicara sampai di sini, karena terlalu banyak kehilangan darah, ia merasa pusing dan kembali jatuh pingsan pula. Cepat Lo Thau-cu memondongnya keluar dan direbahkan di atas tempat tidur di kamarnya sendiri, dengan sedih ia menggumam, “Wah, bagaimana ini?” “Lenghou-kongcu terlalu banyak kehilangan darah, mungkin jiwanya terancam bahaya, marilah dengan sepenuh tenaga kita bertiga lekas kita curahkan tenaga dalam masing-masing ke dalam tubuhnya,” demikian ajak Coh Jian-jiu. “Ya, harus begitu,” sahut Lo Thau-cu. Segera ia mengangkat bangun Lenghou Tiong dengan perlahan, telapak tangan kanan ditempelkan ke punggung pemuda itu. Tapi baru saja ia mengerahkan tenaga, seketika badannya tergetar. “Krak”, kursi yang dia duduki itu sampai tergetar hancur. Rupanya tenaga yang dia kerahkan itu telah menimbulkan daya lawan dari hawa murni Put-kay Hwesio dan Tho-kok-lak-sian yang mengeram di dalam tubuh Lenghou Tiong itu, keruan Lo Thau-cu tidak sanggup melawan gabungan tenaga murni ketujuh tokoh. Terdengar Tho-ki-sian terbahak-bahak di luar, serunya, “Penyakitnya Lenghou Tiong justru timbul karena kami berenam saudara hendak menyembuhkan dia dengan tenaga murni kami. Sekarang si buntak itu hendak menirukan cara kita tentu saja penyakit Lenghou Tiong akan tambah parah!” “Coba dengarkan, suara ‘krak’ tadi pasti hancurnya sesuatu benda karena benturan si buntak yang terpental oleh getaran tenaga dalam yang mengeram di tubuh Lenghou Tiong itu,” kata Tho-sit-sian. “Aha, si buntak kembali kecundang lagi oleh Tho-kok-lak-sian kita. Haha, sungguh menggelikan.” Percakapan Tho-kok-ji-sian itu sangat keras sehingga dapat didengar dengan jelas oleh kedua kakek dari Hongho dan si lelaki tadi. “Ah, jika Lenghou-kongcu masih tidak siuman, tiada jalan lain terpaksa aku harus membunuh diri,” kata Lo Thau-cu dengan menghela napas. “Nanti dulu,” ujar lelaki itu. Mendadak ia berteriak, “Itu orang yang menongkrong di atas pohon di luar pagar tembok itu apakah ketua Hoa-san-pay, Gak-siansing adanya?” Keruan Gak Put-kun terperanjat, hampir-hampir saja ia jatuh terjungkal dari tempat sembunyinya. Jadi jejaknya sebenarnya sejak tadi sudah diketahui orang. Terdengar lelaki itu berseru pula, “Gak-siansing adalah tamu yang datang dari tempat jauh, mengapa tidak masuk kemari untuk beramah tamah?” Gak Put-kun menjadi serbasusah, kalau masuk ke rumah itu terang tidak menguntungkan, tapi dirinya juga tidak dapat menongkrong terus di atas pohon. “Muridmu Lenghou-kongcu dalam keadaan pingsan, silakan Gak-siansing masuk kemari untuk ikut menjaganya,” seru pula si lelaki. Terpaksa Gak Put-kun melompat turun, sekali loncat ia tancapkan kakinya di serambi sana. Sementara itu Lo Thau-cu sudah memapak keluar. Katanya sambil memberi hormat, “Silakan masuk, Gak-siansing.” “Cayhe mengkhawatirkan keselamatan muridku sehingga kedatanganku ini sangat sembrono,” kata Gak Put-kun. “Ah, semuanya adalah salahku,” ujar Lo Thau-cu. “Jika … jika ….” “Kau tidak perlu khawatir,” tiba-tiba Tho-ki-sian berseru, “tidak nanti Lenghou Tiong bisa mati!” Lo Thau-cu menjadi girang. “Dari mana kau bisa tahu dia takkan mati?” tanyanya. “Dia jauh lebih muda daripada kau dan juga lebih muda daripadaku, bukan?” “Benar. Lantas kenapa?” Lo Thau-cu menegas. “Umumnya orang tua mati lebih dulu atau orang muda mati lebih dulu?” sahut Tho-ki-sian. “Sudah tentu yang tua mati lebih dulu. Jika demikian, sebelum kau mati dan aku pun belum mati, mengapa Lenghou Tiong bisa mati?” Tadinya Lo Thau-cu mengira Tho-ki-sian mempunyai sesuatu resep yang dapat menolong Lenghou Tiong, tak tahunya hanya ocehan yang tak keruan. Maka dengan menyengir ia tidak gubris orang pula. Waktu masuk ke dalam kamar Gak Put-kun melihat Lenghou Tiong menggeletak di atas ranjang dan tak sadarkan diri. Ia membatin, “Jika aku tidak perlihatkan keampuhan Ci-he-sin-kang tentu Hoa-san-pay akan dipandang rendah oleh orang-orang ini.” Maka diam-diam ia mengerahkan tenaga sakti, mukanya menghadap bagian dalam tempat tidur agar warna ungu yang timbul di wajahnya tidak dilihat orang. Perlahan-lahan ia julurkan telapak tangan ke Tay-cui-hiat di punggung Lenghou Tiong. Ia sudah mengetahui keadaan hawa murni yang bergolak di dalam tubuh sang murid, maka ia tidak mengerahkan tenaga sekuatnya, tapi menyalurkan tenaga dengan sedikit demi sedikit, bila terasa timbul daya lawan dari tubuh Lenghou Tiong segera ia menarik sedikit tangannya, sejenak kemudian tangannya lantas ditempelkan pula. Benar juga, tidak lama kemudian Lenghou Tiong tampak mulai siuman. Segera ia berseru, “Suhu, engkau juga … juga datang kemari!” Melihat Gak Put-kun dapat menyadarkan Lenghou Tiong dengan sangat gampang, tentu saja Lo Thau-cu sangat kagum. Diam-diam Gak Put-kun merasa ada lebih baik cepat meninggalkan tempat yang misteri ini, apalagi ia pun mengkhawatirkan keadaan sang istri dan para murid yang tertinggal di atas perahu itu. Segera ia memberi hormat dan berkata, “Banyak terima kasih atas segala pelayanan kalian terhadap kami guru dan murid. Sekarang juga biarlah kami mohon diri saja.” “Ya, ya, kesehatan Lenghou-kongcu terganggu dan kami tak dapat memberi perawatan yang baik, sungguh kami sangat tidak sopan, harap kalian suka memberi maaf,” kata Lo Thau-cu. “Jangan sungkan,” sahut Gak Put-kun. Mendadak dilihatnya sepasang mata lelaki tadi bercahaya mengilap. Tergerak pikirannya. Segera ia bertanya, “Tolong tanya siapakah nama sobat ini yang terhormat.” “Kiranya Gak-siansing tidak kenal kawan kita Ya-niau-cu Keh Bu-si, si Kucing Malam,” sela Coh Jian-jiu dengan tertawa. Terkesiap juga Gak Put-kun. Katanya di dalam hati, “Kiranya orang inilah Ya-niau-cu Keh Bu-si. Nama orang ini sudah menggetarkan kalangan Kangouw pada 30 tahun yang lalu. Konon dia mempunyai keajaiban pembawaan, yaitu matanya dapat memandang sesuatu di malam hari sejelas keadaan di siang hari. Tindak tanduknya tidak menentu, kadang-kadang baik, sering kali juga jahat, dia terkenal sebagai seorang tokoh yang mahalihai, mengapa bisa berada bersama dengan Lo Thau-cu ini?” Cepat ia pun memberi hormat dan menyapa, “Sudah lama kudengar nama besar Keh-suhu, sungguh beruntung hari ini bisa berjumpa di sini.” Keh Bu-si tersenyum, sahutnya, “Hari ini kita berjumpa di sini, besok kita masih harus bertemu pula di Ngo-pah-kang.” Kembali Gak Put-kun terkesiap. Walaupun orang baru dikenalnya dan tidak pantas mencari tahu sesuatu kepadanya, tapi diculiknya anak perempuannya yang merupakan darah dagingnya itu mendorongnya dia membuka suara, “Cayhe tidak tahu di manakah pernah berbuat salah terhadap kawan-kawan Bu-lim di sini. Boleh jadi lantaran perjalananku ini tidak berkunjung kepada para sobat di wilayah sini dan dianggap kurang adat, maka putriku dan seorang muridku she Lim telah dibawa oleh salah seorang sobat, untuk ini apakah Keh-siansing dapat memberi sesuatu petunjuk?” “O, tentang ini aku tidak jelas,” sahut Keh Bu-si dengan tersenyum. Sebenarnya Gak Put-kun sudah merasa merendahkan derajatnya sebagai seorang ketua suatu aliran ternama, sekarang jawaban Keh Bu-si itu ternyata acuh tak acuh, meski ia merasa mendongkol dan cemas pula, tapi rasanya tak bisa tanya lebih lanjut. Segera ia mohon diri pula, “Sudah lama mengganggu, biarlah sekarang kami minta diri.” Ketika hendak memondong Lenghou Tiong, tiba-tiba Lo Thau-cu menyusup ke tengah, ia mendahului Lenghou Tiong dan berkata, “Akulah yang mengundang Lenghou-kongcu ke sini, sudah seharusnya aku pula yang mengantarnya pulang.” Sembari berkata ia pun mengambil sehelai selimut dan ditutupkan di atas badan Lenghou Tiong, habis itu barulah ia bertindak keluar dengan langkah lebar. “Hei, hei! Lalu bagaimana dengan kedua ekor ikan besar kami ini? Apakah ditinggalkan begini saja?” teriak Tho-ki-sian. Lo Thau-cu merandek. “Tentang kalian … kukira ….” ia tahu menangkap harimau adalah lebih gampang daripada melepaskan harimau, jika kedua saudara itu dibebaskan, tentu Tho-kok-lak-sian akan mencari balas lagi ke tempatnya ini dan tentu akan banyak menimbulkan kesukaran. Lenghou Tiong tahu pikirannya, katanya, “Lo-cianpwe, silakan kau membebaskan mereka berdua. Dan kalian Tho-kok-lak-sian selanjutnya janganlah mencari perkara lagi kepada Lo dan Coh berdua Cianpwe, biarlah kedua pihak dari lawan berubah menjadi kawan.” “Tidak mencari perkara kepada mereka sih boleh saja,” sahut Tho-sit-sian, “Tapi bicara tentang dari lawan berubah menjadi kawan, inilah yang tidak bisa jadi, sekali lagi tidak bisa jadi!” Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu sama mendengus, pikir mereka, “Hm, hanya mengingat kehormatan Lenghou-kongcu maka kami tidak sudi merecoki kalian, memangnya kalian sangka kami takut kepada Tho-kok-lak-sian segala?” Dalam pada itu Lenghou Tiong telah bertanya, “Apa sebabnya?” “Habis Tho-kok-lak-sian memangnya tiada punya rasa dendam dan permusuhan apa-apa dengan Hongho Lo-coh mereka, hakikatnya kedua pihak bukan musuh dan bukan lawan, dan kalau bukan lawan dari mana bisa dikatakan mengubah lawan menjadi kawan?” Mendengar jawaban seenaknya itu bergelak tertawalah semua orang. Segera Coh Jian-jiu membuka ikatan jala dan melepaskan Tho-ki-sian berdua. Jala itu terbuat dari campuran rambut manusia, sutra pilihan serta benang emas murni, uletnya luar biasa, senjata yang betapa tajam pun sukar merusaknya, jika orang terjaring, semakin meronta semakin teringkus kencang. Sesudah bebas, tanpa bicara lagi Tho-ki-sian terus membuka celana dan mengencingi jala ikan itu. “He, apa-apaan kau?” tanya Coh Jian-jiu terkesiap. “Kalau tidak mengencingi jala busuk ini tak terlampias rasa dongkolku,” sahut Tho-ki-sian. Begitulah beramai-ramai mereka lantas menuju ke tepi sungai. Dari jauh Gak Put-kun melihat Lo Tek-nau dan Ko Kin-beng berdua dengan senjata terhunus masih menjaga di haluan kapal. Legalah hatinya karena tahu tidak terjadi apa-apa di atas kapalnya. Sesudah mengantar Lenghou Tiong sampai di dalam kapal, dengan penuh hormat Lo Thau-cu lalu mohon diri, “Budi luhur Lenghou-kongcu sudah aku merasa terima kasih tak terhingga. Sementara ini aku mohon diri, tidak lama lagi tentu dapat berjumpa pula.” Karena guncangan dalam perjalanan, Lenghou Tiong masih dalam keadaan samar-samar dan hampir-hampir pingsan pula, maka ia hanya mengiakan dengan suara lemah. Yang terheran-heran adalah Gak-hujin, sungguh ia tidak mengerti mengapa “si bola daging” yang semula sangat garang itu ternyata sedemikian hormat dan segan terhadap Lenghou Tiong. Rupanya khawatir kalau Tho-kin-sian dan lain-lain selekasnya akan pulang, maka Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu tidak berani tinggal lebih lama di situ, cepat-cepat ia memberi salam kepada Gak Put-kun dan lain-lain, lalu hendak melangkah pergi. “Tunggu dulu, Coh-heng!” tiba-tiba Tho-ki-sian berseru. “Mau apa?” tanya Coh Jian-jiu. “Mau ini!” sahut Tho-ki-sian. Berbareng dengan badan miring ia terus menyeruduk maju. Cara menyeruduknya ini teramat aneh dan cepat, jarak kedua orang rada dekat pula dan dilakukan dengan tak tersangka-sangka, karena tak bisa menghindar lagi, terpaksa Coh Jian-jiu mengerahkan tenaga untuk menerima serudukan itu. Dalam sekejap saja kekuatan sudah memenuhi pusarnya, perutnya sudah sekeras baja. Maka terdengarlah suara “brak, brek” yang ramai, suara hancurnya benda-benda pecah belah. Sedangkan Tho-ki-sian lantas melompat mundur beberapa kaki jauhnya sembari bergelak tertawa. “Aduh, celaka!” teriak Coh Jian-jiu sambil memasukkan tangan ke dalam bajunya, berbagai potong pecahan sebangsa porselen, kemala dan sebagainya telah dirogoh keluar. Kiranya puluhan buah cawan arak yang terdiri dari macam-macam jenis itu telah hancur lebur semua. Keruan rasa sedihnya tak terlukiskan ditambah rasa murka yang tidak kepalang. Serentak ia menghamburkan pecahan-pecahan beling itu ke arah Tho-ki-sian. Akan tetapi Tho-ki-sian sudah siap sedia dan dapat mengelakkan serangan itu. Teriaknya, “Lenghou Tiong suruh kita dari lawan berubah menjadi kawan, apa yang dia katakan harus kita turut. Maka kita harus menjadi musuh atau lawan dulu baru kemudian dapat berubah menjadi kawan.” Berbagai jenis cawan arak mestika yang telah dikumpulkannya dengan susah payah selama hidupnya ini sekaligus telah dihancurkan oleh Tho-ki-sian, keruan gusar Coh Jian-jiu sukar dilukiskan. Sebenarnya dia akan menyerang lebih lanjut, tapi demi mendengar ucapan Tho-ki-sian itu segera ia menghentikan tindakannya. Terpaksa ia menjawab dengan menyeringai, “Ya, benar dari lawan berubah menjadi kawan!” Habis itu bersama Lo Thau-cu dan Keh Bu-si mereka pun bertindak pergi. Dalam keadaan sadar tak sadar Lenghou Tiong masih mengkhawatirkan keselamatannya Gak Leng-sian, ia masih sempat berkata, “Tho-ki-sian, harap kau minta mereka jangan … jangan mengganggu Sumoayku.” “Baik,” sahut Tho-ki-sian. Lalu ia berseru keras-keras, “Hai, hai! Sobat-sobat Lo Thau-cu, Ya-niau-cu dan Coh Jian-jiu, dengarkan pesan Lenghou Tiong ini, dia suruh kalian jangan mengganggu sumoaynya.” Sebenarnya Lo Thau-cu bertiga sudah rada jauh jaraknya, tapi demi mendengar seruan Tho-ki-sian itu seketika mereka berhenti dan tampaknya berunding sejenak, habis itu baru bertindak pergi pula. Baru saja Gak Put-kun mulai menceritakan pengalamannya kepada sang istri, tiba-tiba terdengar suara orang ribut di daratan sana. Kiranya Tho-kin-sian berempat sudah pulang. Mereka berempat terus membual, katanya orang yang membawa bendera putih itu telah kena ditangkap dan sudah mereka robek menjadi empat potong. Tho-sit-sian lantas terbahak-bahak, katanya, “Lihai, sungguh kalian sangat lihai!” Tho-ki-sian juga bicara, “Kalian telah merobek orang itu menjadi empat potong, apakah kalian mengetahui dia bernama siapa?” “Dia sudah mati, peduli dia bernama siapa? Memangnya kau sendiri tahu?” sahut Tho-kan-sian. “Sudah tentu aku tahu,” sahut Tho-ki-sian. “Dia she Keh, bernama Bu-si, dia punya julukan pula, yaitu Ya-niau-cu.” “Wah, jadi dia bernama Keh Bu-si (tak berdaya), rupanya dia sudah tahu sebelumnya bahwa kelak pasti akan ditangkap oleh Tho-kok-lak-sian dan pasti tak berdaya sama sekali, karena itulah dia memakai nama demikian itu,” seru Tho-yap-sian. “Ilmu Ya-niau-cu Keh Bu-si itu benar-benar lain daripada yang lain dan tiada bandingannya di dunia ini,” kata Tho-sit-sian. “Memang betul, kepandaiannya yang lihai itu kalau bukan ketemukan Tho-kok-lak-sian, cukup dengan ginkangnya saja sudah merupakan tokoh kelas satu di dunia persilatan,” timbrung Tho-kin-sian. “Kalau cukup ginkang saja masih belum apa-apa, yang hebat adalah caranya dia hidup kembali sesudah badannya dirobek menjadi empat potong, dia dapat menggabungkan kembali potongan-potongan badannya dan berjalan seperti biasa. Bahkan barusan saja dia masih datang kemari untuk bicara dengan aku,” demikian kata Tho-sit-sian. Baru sekarang Tho-kin-sian berempat tahu bahwa obrolan mereka telah terbongkar. Tapi mereka pun tidak ambil pusing, bahkan pura-pura memperlihatkan air muka terkejut, Tho-hoa-sian malah bertanya, “Hah, jadi Keh Bu-si itu mempunyai ilmu selihai itu, ini benar-benar luar biasa, makanya menilai orang jangan dilihat dari mukanya saja.” Di sebelah sana Gak Put-kun dan istrinya diam-diam sedang bersedih. Putri kesayangan mereka diculik orang, sampai-sampai siapa pihak lawan pun tidak tahu. Sungguh tidak nyana bahwa nama Hoa-san-pay yang termasyhur selama beberapa ratus tahun sekarang telah terjungkal habis-habisan di lembah Hongho ini. Tapi khawatir kalau para muridnya ikut sedih dan takut, maka lahirnya mereka tidak memperlihatkan sesuatu tanda apa-apa. Selang agak lama, ketika fajar hampir menyingsing, tiba-tiba terdengar suara ramai orang berjalan di daratan. Sejenak kemudian tertampak dua buah joli telah diusung sampai di tepi sungai. Tukang joli yang pertama lantas berseru, “Lenghou-kongcu memberi pesan agar jangan mengganggu nona Gak, tapi majikan kami telah telanjur berbuat, maka diharap Lenghou-kongcu sudi memberi maaf.” Dan setelah memberi hormat ke arah perahu, segera empat tukang joli itu meninggalkan kedua buah joli itu dan melangkah pergi dengan cepat. “Ayah, ibu!” demikian terdengar suara Leng-sian di dalam joli. Kejut dan girang pula Gak Put-kun dan istrinya. Cepat ia melompat ke gili-gili dan membuka kerai joli, benar juga putri kesayangannya duduk dengan baik-baik di dalam joli, hanya hiat-to bagian kakinya tertutuk, maka tak bisa berjalan. Orang yang duduk di dalam joli lain adalah Lim Peng-ci. Segera Gak Put-kun menepuk beberapa hiat-to tertentu di kaki putrinya. Tapi Leng-sian malah menjerit, tampaknya menahan rasa sakit dan hiat-to yang tertutuk itu tetap tak terbuka. “Ayah, dia mengatakan Tiam-hiat-hoat yang dia gunakan adalah ilmu tunggalnya, katanya ayah tidak mampu membukanya,” kata Leng-sian kemudian dengan suara tertahan. “Siapakah orang yang kau maksudkan?” tanya Put-kun. “Yaitu orang yang tinggi besar tadi. Dia … dia ….” hanya sampai di sini saja dia lantas mewek-mewek ingin menangis. Perlahan-lahan Gak-hujin membelai rambut putrinya. Lalu memondongnya ke dalam perahu. Dengan suara perlahan ia bertanya, “Apakah kau diperlakukan dengan kasar?” Karena pertanyaan ibundanya itu benar-benar Leng-sian lantas menangis. Gak-hujin menjadi khawatir, pikirnya, “Tindak tanduk orang-orang itu tidak beres, sedangkan anak Sian telah diculik mereka selama beberapa jam, jangan-jangan telah mengalami perlakuan yang tidak senonoh?” Maka cepat ia bertanya pula, “Apa yang telah terjadi. Tak apa-apa, katakanlah kepada ibu.” Tapi Leng-sian hanya menangis saja. Keruan hal ini membuat Gak-hujin tambah cemas. Karena banyak orang, Gak-hujin tidak berani tanya lebih jauh. Segera ia merebahkan putrinya di atas dipan dan menutupinya dengan selimut. Mendadak Leng-sian berkata sambil menangis, “Ibu, orang besar itu telah mencaci maki aku.” Ucapan Leng-sian ini membuat perasaan Gak-hujin merasa lega. Katanya dengan tersenyum, “Hanya dimaki orang saja masakan mesti begini sedih?” “Tapi … tapi dia mengancam dan menggertak hendak memukul aku pula,” gerutu Leng-sian. “Sudahlah, lain kali kalau ketemu dia biar kita balas memaki dan menggertak dia,” ujar Gak-hujin dengan tertawa. “Padahal aku pun tidak mengucapkan apa-apa yang menjelekkan Toasuko, Siau-lim-cu juga tidak. Tapi si gede itu tetap mencak-mencak, katanya selama hidupnya paling tidak senang bila mendengar orang menjelek-jelekkan Lenghou Tiong. Katanya bila dia marah bisa jadi orang yang tak disukainya akan disembelih dan dimakan olehnya,” demikian tutur Leng-sian sambil terguguk-guguk. “Orang itu memang jahat,” ujar Gak-hujin. “Tiong-ji siapakah orang tinggi besar itu?” Pikiran Lenghou Tiong masih belum sadar benar-benar, ketika mendengar panggilan ibu gurunya ia lantas menjawab, “Yang tinggi besar itu? O, aku … aku ….” Saat itu Lim Peng-ci juga sudah dipondong masuk ke ruangan kapal oleh Ko Kin-beng, segera ia menyela, “Sunio, orang tinggi besar dan hwesio itu memang benar-benar makan daging manusia, hal ini bukan omong kosong atau gertakan saja.” Gak-hujin terkesiap, “Mereka berdua benar-benar makan daging manusia? Da … dari mana kau mendapat tahu?” “Hwesio itu telah menanyai aku tentang Pi-sia-kiam-boh, sambil bertanya tiba-tiba ia mengeluarkan sepotong makanan terus digerogoti dengan lahapnya,” tutur Peng-ci. “Bahkan jelas terlihat yang dia gerogoti itu adalah sepotong telapak tangan. Malahan aku pun disuruh mencicipi.” “Hah, mengapa tidak … tidak kau ceritakan sejak tadi-tadi?” teriak Gak Leng-sian. “Aku khawatir kau terkejut, maka tidak berani menceritakan padamu,” sahut Peng-ci. “Ah, ingatlah aku,” tiba-tiba Gak Put-kun menyela. “Mereka ialah ‘Boh-pak-siang-him’. Yang tinggi besar itu berkulit sangat putih dan si hwesio berkulit hitam, betul tidak?” “Betul,” sahut Leng-sian. “Kau kenal mereka, ayah?” Put-kun menggeleng, “Tidak, aku tidak kenal mereka. Hanya kudengar cerita orang bahwa di padang pasir utara ada dua begal besar yang satu bernama Pek-him (Beruang Putih) dan yang lain bernama Oh-him (Beruang Hitam). Sering kali mereka membegal harta benda dan melepaskan pemiliknya. Tapi bila pemilik barang mendapat pengawalan, maka Siang-him (Sepasang Beruang) itu sering menangkap pengawalnya dan makan dagingnya. Katanya orang yang melatih silat otot dagingnya jauh lebih keras dan lebih gurih kalau dimakan.” Kembali Leng-sian menjerit mendengar cerita sang ayah. “Suko, mengapa kau bercerita hal-hal yang memuakkan itu?” ujar Gak-hujin. Gak Put-kun tersenyum. Sejenak kemudian baru ia menyambung, “Selamanya tak pernah mendengar Boh-pak-siang-him melintasi Tiongsia (tembok besar), mengapa sekarang telah berada di lembah Hongho? Tiong-ji, dari mana kau bisa kenal Boh-pak-siang-him itu?” “Boh-pak-siang-hiong?” Lenghou Tiong menegas. Dia mengira yang diucapkan sang guru adalah “Siang-hiong” (kedua kesatria), tak tahunya adalah Siang-him (sepasang beruang). Maka setelah termenung sejenak, akhirnya ia menjawab, “Entah, aku tidak kenal.” Tiba-tiba Leng-sian berseru, “Siau-lim-cu, hwesio itu suruh kau mencicipi daging manusia itu, kau mencicipi atau tidak?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: