Hina Kelana: Bab 52. Hong-ho-lo-coh, Dua Tokoh Aneh Sungai Kuning

Meskipun tubuh Tho-sit-sian tak bisa berkutik, tapi mulutnya tetap tidak mau menganggur, terus-menerus ia berdebat dengan Tho-ki-sian, katanya, “Toako dan lain-lain tidak ada di sini, biarpun kau dapat menyusul si buntak juga tak bisa mengapa-apakan dia. Jika tak mampu mengapa-apakan dia, kau bilang akan mengudak dia sampai ke mana pun kan hanya gertak sambal belaka?”

“Walaupun cuma gertak sambal juga ada faedahnya untuk menggertak musuh daripada tidak berbuat apa-apa,” ujar Tho-ki-sian.

Ginkang Tho-ki-sian benar-benar hebat, tenaga dalamnya juga sangat kuat, biarpun membawa beban satu orang sambil mulut mencerocos, tapi kecepatan larinya tak pernah kendur.

Diam-diam Gak Put-kun terperanjat. Ia tidak tahu dari golongan manakah kepandaian keenam manusia kosen itu? Untung mereka suka angin-anginan, tingkah lakunya rada dogol, kalau tidak tentu akan merupakan musuh yang sukar dilayani.

Begitulah tiga orang itu kejar-mengejar dengan cepat menuju ke arah timur laut. Jalanan makin lama makin terjal, nyata mereka sedang mendaki jalan pegunungan.

Mendadak Gak Put-kun teringat, “Jangan-jangan si buntak itu menyembunyikan bala bantuan lihai di lembah pegunungan ini untuk memancing kedatanganku? Jika demikian sungguh teramat bahaya jika aku masuk perangkapnya.”

Selagi ia merandek untuk memikir, tertampak si buntak yang membawa lari Lenghou Tiong itu telah menuju ke suatu rumah genting di lereng gunung sana, sesudah dekat ia terus melompat masuk ke halaman rumah itu dengan melintasi pagar tembok.

Kelihatan Tho-ki-sian yang memondong Tho-sit-sian itu juga lantas melompati pagar tembok. Tapi mendadak terdengar suara jeritannya, nyata dia telah masuk perangkap yang terpasang di balik pagar tembok.

Gak Put-kun juga sudah mengejar sampai di tepi pagar tembok itu, tapi ia lantas berhenti dan pasang kuping. Terdengar Tho-sit-sian sedang berkata, “Sudah lama kukatakan padamu agar hati-hati, coba sekarang kau kena diringkus orang di dalam jaring sehingga mirip seekor ikan, sungguh sialan.”

“Pertama, bukan seekor, tapi dua ekor ikan. Kedua, kapan kau pernah menyuruh aku berhati-hati?” demikian sahut Tho-ki-sian.

“Eh, dahulu waktu kecil, ketika kita pergi mencuri buah mangga orang yang pohonnya berada di halaman rumah, bukankah pernah kusuruh kau berhati-hati? Masakah kau sudah lupa?”

“Itu kan dahulu, kejadian 40 tahun yang lalu ada sangkut paut apa dengan kejadian sekarang ini?” sahut Tho-ki-sian.

“Sudah tentu ada sangkut pautnya,” Tho-sit-sian. “Karena dahulu kau kurang hati-hati sehingga terperosot jatuh dan ditangkap orang dan dihajar. Untung Toako, Jiko dan lain-lain keburu datang menolong dan membunuh habis keluarga orang itu. Sekarang kau kurang hati-hati lagi dan kembali tertangkap pula.”

“Kenapa mesti khawatir, paling-paling Toako dan lain-lain memburu tiba dan membunuh habis pula segenap keluarga orang ini,” kata Tho-ki-sian.

“Hm,” terdengar si buntak mendengus. “Kematian kalian sudah di depan mata, masih berani mengigau akan membunuh orang segala. Lebih baik tutup mulut kalian supaya telingaku tidak panas.”

Lalu terdengar Tho-ki-sian dan Tho-sit-sian bersuara bertahan. Agaknya si buntak telah menyumbat sesuatu di mulut kedua orang itu sehingga tidak mampu membuka suara.

Gak Put-kun pasang kuping pula sejenak, tapi tidak mendengar sesuatu suara. Ia coba mengitar ke belakang sana, tertampak di luar pekarangan tumbuh satu pohon besar. Ia memanjat pohon itu dan memandang ke dalam. Kiranya di dalam situ adalah sebuah rumah genting yang kecil, kira-kira dua-tiga meter jaraknya dengan pagar tembok dan rumah itu tentu ada perangkapnya.

Maka ia sengaja sembunyi di atas pohon yang tertutup oleh daun lebat, ia kerahkan Ci-he-sin-kang untuk mendengarkan. Terdengarlah suara si buntak sedang bertanya, “Sesungguhnya Coh Jian-jiu si tua bangka itu ada hubungan apa dengan dirimu?”

“Baru pertama kali ini aku melihat orang seperti Coh Jian-jiu itu, maka tak dapat dikatakan ada hubungan apa,” demikian suara Lenghou Tiong sedang menjawab.

“Urusan sudah begini dan kau masih berdusta,” seru si buntak dengan gusar, “Apa kau tidak tahu bahwa sekali sudah jatuh dalam cengkeramanku, maka kau pasti akan mati dengan mengerikan.”

“Aku tahu engkau tentu sangat marah karena obatmu yang katanya mujarab itu telah kumakan tanpa sengaja,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Tapi rasanya obatmu itu toh tiada tampak khasiatnya, sudah sekian lamanya kuminum obatmu itu namun sedikit pun aku tidak merasakan apa-apa.”

“Memangnya kau kira begitu cepat akan tampak khasiatnya?” kata si buntak dengan gusar. “Datangnya penyakit biasanya mendadak, sembuhnya penyakit justru sedikit demi sedikit. Khasiatnya obat itu baru dapat tampak sesudah tiga hari nanti.”

“Baiklah, jika kau mau membunuh aku boleh silakan, toh aku tak bertenaga dan tak mampu melawan,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Hm, kau ingin mati dengan enak, jangan harap. Aku harus menanyai lebih dulu,” damprat si buntak. “Keparat, Coh Jian-jiu adalah kawanku selama beberapa puluh tahun, sekarang ternyata mengkhianati kawan sendiri, tentu dalam hal ini ada sebab-sebabnya. Hoa-san-pay kalian tidak laku sepeser pun bagi penilaian ‘Hongho Lo-coh’ kami, sudah tentu bukan lantaran kau adalah murid Hoa-san-pay sehingga dia perlu mencuri aku punya Siok-beng-wan untuk diminumkan padamu. Ai, sungguh aneh bin ajaib, ajaib binti heran!”

“O, kiranya julukanmu adalah ‘Hongho Lo-coh’ maafkan kalau aku berlaku kurang hormat,” kata Lenghou Tiong.

“Ngaco-belo,” semprot si buntak dengan marah. “Seorang diri mana aku dapat menjadi Hongho Lo-coh?”

“He, mengapa tidak dapat?” tanya Lenghou Tiong heran.

“Hongho Lo-coh terdiri dari dua orang, yang satu she Lo, yang lain she Coh, masakah begini saja tidak paham, sungguh goblok,” omel si buntak. “Coh Cong, Coh Jian-jiu she Coh, aku Lo Ya, Lo Thau-cu she Lo, kami berdua bersemayam di sepanjang lembah Hongho, maka kami disebut sebagai Hongho Lo-coh.”

“Aneh, mengapa yang seorang bernama Lo Ya (tuan besar) dan yang lain bernama Coh (kakek moyang)?” tanya Lenghou Tiong.

“Kau sendiri masih hijau seperti katak dalam tempurung dan tidak tahu bahwa di dunia ini ada orang she Lo dan she Coh,” kata si buntak. “Aku sendiri she Lo (tua) bernama Ya (tua) alias Thau-cu (kakek), atau Lo Thau-cu (kakek tua) ….”

Saking gelinya Lenghou Tiong mengakak tawa, katanya, “Jika demikian, Coh Jian-jiu itu she Coh bernama Cong (nenek moyang)?”

“Memang begitulah,” sahut si buntak alias Lo Thau-cu. Setelah merandek sejenak lalu ia berkata pula, “Eh, kau tidak kenal nama Coh Jian-jiu, jika begitu boleh jadi kau memang tiada hubungan keluarga apa-apa dengan dia. Tapi, ai, salah. Apa kau bukan anaknya Coh Jian-jiu?”

Lenghou Tiong tambah geli, sahutnya, “Cara bagaimana aku bisa menjadi anaknya? Dia she Coh, aku she Lenghou, mana dapat keduanya dihubung-hubungkan?”

“Sungguh aneh,” demikian Lo Thau-cu bergumam sendiri. “Dengan susah payah, dengan segala tipu daya akhirnya baru dapat kuracik delapan biji Siok-beng-wan yang mestinya hendak kugunakan mengobati penyakit putri mestikaku. Kau bukan anaknya Coh Jian-jiu, mengapa dia sengaja mencuri obat untukmu?”

Mendengar itu barulah Lenghou Tiong paham duduknya perkara. Katanya, “Kiranya obat Lo-siansing ini akan digunakan untuk menyembuhkan penyakit putrimu, tetapi keliru kumakan sekarang, sungguh aku merasa tidak enak hati. Entah penyakit apakah yang diderita putrimu? Mengapa engkau tidak minta pertolongan kepada Sat-jin-beng-ih Peng-tayhu untuk mengobatinya?”

“Cis, siapa yang tidak tahu bila sakit harus minta pertolongan kepada Peng It-ci?” semprot Lo Thau-cu. “Dia menetapkan suatu peraturan setiap orang yang disembuhkan harus membunuh pula seorang sebagai pengganti nyawa. Aku khawatir dia menolak mengobati putriku, lebih dulu telah kubunuh habis delapan jiwa keluarga bininya, dengan demikian barulah dia merasa sungkan dan terpaksa memeriksa penyakit putriku. Menurut kesimpulannya penyakit putriku yang aneh itu sudah ada ketika meninggalkan kandungan ibunya, maka dia membuka resep obat Siok-beng-wan sebanyak delapan biji pil itu. Kalau tidak, aku sendiri bukan tabib, dari mana aku paham cara meracik obat segala?”

Cerita si buntak mengherankan Lenghou Tiong, tanyanya pula, “Cianpwe telah minta pertolongan kepada Peng-tayhu untuk mengobati putrimu, tapi mengapa malah membunuh habis seluruh keluarga mertuanya?”

“Kau ini benar-benar sangat goblok, kalau tidak dijelaskan tidak paham,” omel Lo Thau-cu. “Musuh Peng It-ci sebenarnya tidak banyak, apa lagi beberapa tahun terakhir ini sudah habis dibunuh oleh pasien yang disembuhkan olehnya. Tapi selama hidup Peng It-ci paling benci kepada ibu mertuanya, soalnya dia takut bini, dia tidak berani membunuh ibu mertuanya itu, maka akulah yang mewakilkan dia turun tangan. Sesudah aku membunuh segenap keluarga ibu mertuanya, Peng It-ci sangat senang dan baru mengobati putriku dengan sesungguh hati.”

“O, kiranya demikian,” kata Lenghou Tiong. “Padahal obatmu yang katanya sangat mustajab itu tidak cocok bagi penyakitku. Entah bagaimana keadaan penyakit putrimu? Apakah masih keburu bila mengulangi mencari obat baru?”

Lo Thau-cu menjadi gusar, katanya, “Putriku paling lama hanya tahan hidup setengah atau setahun saja dan pasti akan mati, masakah sempat untuk mencari obat yang sangat sukar ditemukan itu? Sekarang tiada jalan lain, terpaksa aku mengobati dia dengan caraku sendiri.”

Segera ia tarik sebuah kursi, ia paksa Lenghou Tiong duduk di situ, ia ambil pula seutas tambang dan mengikat kaki tangan Lenghou Tiong sekencangnya di kursi. Lalu ia robek baju bagian dada Lenghou Tiong sehingga kelihatan kulit dadanya yang putih.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Lenghou Tiong.

“Jangan terburu-buru, sebentar lagi kau akan tahu sendiri,” sahut Lo Thau-cu dengan menyeringai. Habis itu ia terus angkat Lenghou Tiong berikut kursinya dan dibawa ke belakang. Sesudah menyusuri serambi samping, akhirnya ia menyingkap tirai dan masuk ke sebuah kamar.

Begitu berada dalam kamar itu, Lenghou Tiong lantas merasa sumpek luar biasa. Tertampak celah-celah jendela kamar itu dilem rapat dengar kertas sehingga kamar itu benar-benar tak tembus angin sedikit pun.

Di dalam kamar ada dua anglo, arangnya tampak membara. Kelambu tempat tidur tampak menjulai. Seluruh kamar hanya bau obat belaka.

Sesudah menaruh kursi bersama Lenghou Tiong yang terikat kencang di atasnya, si buntak lantas membuka kelambu, katanya dengan suara lembut, “Anak Ih, bagaimana keadaanmu hari ini?”

Di atas bantal berwarna kuning telur itu tampak berbaring sebuah wajah yang pucat dengan rambut yang panjang terurai di atas selimut sutra warna kuning gading. Usia nona itu kira-kira baru 17-18 tahun, kedua matanya terpejam rapat, bulu matanya sangat panjang. Terdengar dia menyapa, “Ayah!” dengan mata tetap tertutup.

“Anak Ih,” kata Lo Thau-cu, “Siok-beng-wan yang kubuatkan untukmu sudah selesai. Hari ini juga boleh dimakan dan penyakitmu tentu akan segera sembuh, tidak lama kemudian kau pun dapat bangun dan bermain lagi.”

Nona itu hanya bersuara perlahan sekali, agaknya tidak begitu tertarik akan ucapan sang ayah.

Lenghou Tiong merasa tidak tenteram demi melihat penyakit si nona yang payah itu. Ia dapat mengerti cinta kasih si buntak terhadap putrinya itu, apa yang diucapkannya tadi agaknya sekadar untuk menghibur putrinya saja.

Tapi Lo Thau-cu lantas memondong putrinya untuk didudukkan, katanya, “Kau duduk saja agar lebih leluasa minum obatmu ini. Obat ini tidak mudah diperoleh, jangan kau meremehkannya.”

Perlahan nona itu bangun duduk, Lo Thau-cu mengambilkan dua buah bantal untuk mengganjal punggung putrinya itu. Waktu nona itu membuka mata, ia menjadi heran demi melihat Lenghou Tiong.

“Ayah, sia … siapakah dia?” tanyanya kemudian sambil memandang Lenghou Tiong dengan sepasang mata bola yang hitam guram.

“Dia? O, dia bukan orang, dia adalah obat,” sahut Lo Thau-cu sambil tersenyum.

“Dia adalah obat?” si nona menegas dengan bingung.

“Ya, dia adalah obat,” kata pula Lo Thau-cu. “Pil Siok-beng-wan itu terlalu keras untuk dimakan begitu saja olehmu, maka lebih dulu dimakan dia, lalu kuambil darahnya untuk diminumkan kepadamu, dengan demikian barulah cocok.”

“Oo,” hanya sekian saja nona itu bersuara, lalu memejamkan mata pula.

Sudah tentu Lenghou Tiong terkejut dan gusar pula mendengar kata-kata Lo Thau-cu, segera ia bermaksud memakinya, tapi lantas terpikir olehnya, “Aku telah makan obat mujarab yang mestinya akan digunakan untuk menolong jiwa nona ini, walaupun tidak sengaja, tapi akulah yang telah membikin susah dia. Apalagi aku sendiri sudah tidak ingin hidup lebih lama lagi, jika sekarang darahku digunakan untuk menolong jiwanya sebagai penebus dosaku, cara ini pun boleh juga.”

Karena itu ia hanya tersenyum pedih saja dan tidak membuka suara.

Lo Thou-cu berdiri di samping Lenghou Tiong, ia sudah siap, begitu Lenghou Tiong berteriak segera akan menutuk Hiat-to bisunya. Siapa duga sikap Lenghou Tiong tetap tenang-tenang saja dan tak ambil peduli, hal ini berbalik di luar dugaannya.

Segera Lo Thau-cu bertanya, “Aku akan menusuk ulu hatimu dan mengambil darahmu untuk mengobati putriku, kau takut atau tidak?”

“Kenapa mesti takut?” sahut Lenghou Tiong dengan hambar saja.

Lo Thau-cu coba mengamat-amati Lenghou Tiong, benar juga dilihatnya sikapnya tenang saja tanpa gentar, ia rada heran. Tanyanya pula, “Sekali kutusuk ulu hatimu, seketika jiwamu melayang. Sudah kukatakan di muka, nanti jangan menyalahkan aku.”

Lenghou Tiong tersenyum pula, sahutnya, “Setiap orang akhirnya toh mesti mati, mati lebih cepat beberapa tahun atau mati lebih lambat beberapa tahun apa sih bedanya? Jika darahku dapat menolong jiwa nona itulah sangat bagus daripada aku mati percuma tanpa berfaedah bagi siapa pun.”

“Sungguh hebat!” puji Lo Thau-cu sambil mengacungkan jari jempolnya. “Kesatria yang tidak gentar mati seperti dirimu jarang sekali kutemukan selama hidupku ini. Sayang putriku terpaksa harus minum darahmu supaya bisa sembuh, kalau tidak sungguh aku ingin mengampunimu saja.”

Segera ia menuju ke dapur dan membawa datang sebuah baskom air panas yang masih mendidih. Tangan kanannya lantas memegang sebilah belati, tangan kiri mengambil sepotong handuk kecil, ia basahi dengan air panas itu, belati lantas ditempelkan di depan ulu hati Lenghou Tiong.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seruan Coh Jian-jiu di luar, “Lo Thau-cu! Lo Thau-cu! Lekas membuka pintu lekas! Aku membawa suatu barang baik untuk nona Siau Ih.”

Lo Thau-cu tampak mengerut kening, sekali belatinya menggores, ia potong handuk kecil tadi menjadi dua, satu potong dijejalkan ke mulut Lenghou Tiong agar tidak dapat bersuara, lalu serunya, “Barang baik apa yang kau maksudkan?”

Sembari bicara ia lantas menaruh belatinya, kemudian lari keluar untuk membuka pintu dan menyilakan Coh Jian-jiu masuk ke dalam rumah.

Terdengar Coh Jian-jiu berkata pula, “Lo Thau-cu, cara bagaimana kau akan berterima kasih padaku dalam urusan ini? Karena urusannya terlalu mendesak, seketika aku tak bisa bertemu denganmu, terpaksa aku ambil Siok-beng-wanmu tanpa permisi dan menipu dia untuk meminumnya semua. Jika kau sendiri mengetahui persoalannya tentu kau pun akan mengantar sendiri obatmu kepadanya, tapi belum tentu dia mau meminumnya begitu saja.”

Dengan gusar Lo Thau-cu mengomel, “Ngaco ….”

Tapi Coh Jian-jiu lantas menempelkan mulutnya ke tepi telinga Lo Thau-cu dan berbisik-bisik padanya beberapa patah kata. Habis itu sekonyong-konyong Lo Thau-cu melonjak kaget, teriaknya, “Apa betul demikian? Kau … kau tidak mendustai aku?”

“Buat apa aku dusta?” sahut Coh Jian-jiu. “Sebelumnya aku sudah mencari tahu, setelah yakin dan pasti baru kukerjakan. Lo Thau-cu, kita adalah sahabat berpuluh tahun, kita sama-sama tahu perasaan masing-masing. Urusan yang telah kukerjakan ini cocok dengan perasaanmu atau tidak?”

“Betul, betul! Kurang ajar, kurang ajar!” sahut Lo Thau-cu.

“He, kenapa sudah betul kok kurang ajar lagi?” tanya Coh Jian-jiu terheran-heran.

“Kau yang betul dan aku yang kurang ajar!” sahut Lo Thau-cu.

Tanpa bicara Lo Thau-cu lantas menyeret Coh Jian-jiu masuk ke kamar putrinya, segera ia menjura dan menyembah kepada Lenghou Tiong, katanya, “Lenghou-kongcu, Lenghou-tayjin, Lenghou-siauya, hamba telah berbuat salah besar dan membikin susah padamu. Untung Thian Maha Pengasih, Coh Jian-jiu keburu tiba, kalau tidak, bila aku telanjur menubles hulu hatimu, biarpun aku dihukum gantung juga belum cukup untuk menebus dosaku ini.”

Mulut Lenghou Tiong masih tersumbat, maka dia tidak dapat membuka suara. Syukur Coh Jian-jiu cukup teliti, segera ia mengorek keluar kain penyumbat mulut itu dan bertanya, “Lenghou-kongcu, mengapa engkau berada di sini?”

“He, Locianpwe silakan lekas bangun, penghormatan setinggi ini aku tak berani menerimanya,” seru Lenghou Tiong.

Lo Thau-cu berkata pula, “Aku tidak tahu kalau Lenghou-kongcu mempunyai hubungan serapat ini dengan tuan penolongku yang paling berbudi sehingga telah banyak membikin susah padamu, ai, benar-benar kurang ajar aku ini dan pantas dihukum mampus. Seumpama aku mempunyai seratus orang putri dan harus mati semuanya juga aku tak berani minta pengaliran darah Lenghou-kongcu sedikit pun untuk menolong jiwa mereka.”

Coh Jian-jiu masih belum paham duduknya perkara, dengan mata terbelalak ia tanya, “Lo Thau-cu, apa maksudmu kau meringkus Lenghou-kongcu di atas kursi ini?”

“Ai, pendek kata akulah yang salah, harap saja kau jangan tanya lebih jauh,” sahut Lo Thau-cu dengan menyesal.

“Dan belati ini serta air panas di dalam baskom ini akan digunakan untuk apa?” tanya pula Jian-jiu.

Mendadak terdengar suara “plak-plok” berulang-ulang, Lo Thau-cu telah menggampar pipinya sendiri beberapa kali sehingga mukanya yang memang sudah gemuk bulat itu tambah bengkak melembung.

“Ya, aku pun tidak paham duduknya perkara dan masih bingung, diharap kedua Cianpwe sudi memberi penjelasan,” kata Lenghou Tiong.

Lekas-lekas Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu melepaskan tali pengikatnya dan berkata, “Marilah kita sambil minum arak sembari bicara.”

“Apakah penyakit putrimu takkan berubah gawat?” tanya Lenghou Tiong sambil memandang sekejap kepada si nona yang terbaring di tempat tidurnya itu.

“Tidak, takkan berubah,” sahut Lo Thau-cu. “Seumpama akan berubah gawat juga … ai, apa mau dikata lagi ….”

Begitulah Lo Thau-cu menyilakan Lenghou Tiong dan Coh Jian-jiu ke ruangan tamu, ia menuang tiga mangkuk arak dan menyiapkan pula sedikit makanan sebangsa kacang goreng dan lain-lain sebagai teman arak. Dengan penuh hormat ia angkat mangkuknya untuk ajak minum Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong coba menghirup seceguk, ia merasa arak itu kurang keras dan hambar, bedanya seperti langit dan bumi dengan ke-16 guci arak di perahunya itu. Tapi kalau dibandingkan kedelapan cawan arak yang disuguhkan Coh Jian-jiu itu rasanya jauh lebih sedap.

“Lenghou-kongcu, aku sudah tua bangka dan telah membikin susah padamu, ai, sungguh … sungguh ….” begitulah Lo Thau-cu masih merasa menyesal, wajahnya tampak gugup dan entah apa yang harus diucapkannya baru dapat menggambarkan rasa menyesalnya itu.

“Lenghou-kongcu yang berjiwa besar tentu takkan menyalahkan dirimu,” ujar Coh Jian-jiu. “Pula kau punya Siok-beng-wan itu jika benar-benar ada khasiatnya dan berfaedah bagi kesehatan Lenghou-kongcu, tentu kau berbalik akan berjasa malah.”

“Tentang … tentang jasa segala aku tidak berani terima,” sahut Lo Thau-cu. “Coh-hiante, adalah jasamu yang paling besar.”

“Aku telah mengambil obatmu, mungkin akan mengganggu kesehatan nona Siau Ih,” kata Coh Jian-jiu dengan tertawa. “Ini ada sedikit jinsom, boleh minumkan padanya sekadar menguatkan badannya.”

Habis berkata ia lantas mengambil sebuah bakul bambu yang dibawanya, dari dalam bakul dikeluarkannya beberapa batang jinsom yang beratnya ada sepuluhan kati.

“Wah, dari mana kau memperoleh jinsom sebanyak ini?” tanya Lo Thau-cu.

“Sudah tentu kupinjam dari toko obat,” sahut Coh Jian-jiu dengan tertawa.

Lo Thau-cu ikut terbahak-bahak, katanya, “Ada ubi ada talas, pinjaman ini entah kapan baru bisa dibalas.”

Walaupun si buntak tertawa-tawa, tapi di antara mata alisnya tertampak rasa sedih.

Lenghou Tiong lantas berkata, “Lo-siansing dan Coh-siansing, kalian masing-masing telah menipu aku, kemudian menculik dan meringkus aku di sini, semuanya ini sesungguhnya terlalu memandang enteng padaku.”

“Ya, ya, memang kami berdua tua bangka ini pantas dihukum mati, entah cara bagaimana Lenghou kongcu akan menjatuhkan hukuman, sedikit pun kami tak berani mengelak,” sahut Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu berbareng.

“Baik, ada sesuatu yang aku merasa tidak mengerti, kuharap kalian suka menjawab terus terang,” kata Lenghou Tiong. “Aku ingin tanya, kalian segan kepada siapakah sehingga kalian demikian menghormat padaku?”

Kedua kakek itu saling pandang sekejap, lalu Coh Jian-jiu menjawab, “Lenghou-kongcu tentu sudah tahu di dalam batin, tentang nama tokoh itu, harap maaf, kami tak berani menyebutnya.”

“Tapi aku benar-benar tidak tahu,” kata Lenghou Tiong. Diam-diam ia pun menimbang-nimbang siapakah tokoh yang dimaksudkan itu? Apakah Hong-thaysiokco? Atau Put-kay Taysu? Atau Dian Pek-kong? Atau Lik-tiok-ong? Tapi kalau dipikirkan lebih mendalam rasanya toh bukan.

“Lenghou-kongcu,” kata Coh Jian-jiu kemudian. “Pertanyaanmu ini sekali-kali kami tidak berani memberi jawaban, biarpun kau bunuh kami juga takkan kami katakan. Toh di dalam batin Kongcuya sendiri sudah tahu, buat apa mesti minta kami menyebut namanya?”

Melihat ucapan mereka sangat pasti, agaknya susah disuruh mengaku biarpun dipaksa, terpaksa Lenghou Tiong berkata, “Baiklah, kalian tidak mau mengatakan, tentu rasa mendongkolku juga sukar dilenyapkan. Lo-siansing, kau telah mengikat aku di atas kursi sehingga aku ketakutan setengah mati, sekarang aku pun ingin balas mengikat kalian di kursi, boleh jadi aku masih belum puas dan akan mengorek keluar hati kalian dengan belati.”

Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu saling pandang sekejap, kata mereka kemudian, “Jika Lenghou-kongcu ingin meringkus kami, sudah tentu kami tidak berani melawan.”

Segera Lo Thau-cu mengambilkan dua buah kursi dan beberapa utas tambang. Di dalam batin mereka tidak percaya Lenghou Tiong berniat meringkus mereka secara sungguh-sungguh, besar kemungkinan cuma bergurau saja.

Tak terduga Lenghou Tiong benar-benar lantas mengambil tali terus mengikat tangan mereka dengan menelikungnya ke belakang sandaran kursi. Lalu ia pegang belati milik Lo Thau-cu tadi, katanya, “Tenaga dalamku sudah punah, aku tak bisa menutuk kalian dengan jari tangan, terpaksa aku menggunakan gagang belati ini untuk menutuk Hiat-to kalian.”

Habis itu ia lantas membalik belati yang dipegangnya itu, dengan gagang belati ia ketuk beberapa Hiat-to tertentu di atas tubuh kedua kakek itu sehingga tak bisa bergerak.

Keruan Coh Jian-jiu dan Lo Thau-cu saling pandang dengan heran, tanpa merasa timbul juga rasa khawatir mereka karena tidak tahu apa maksud tujuan Lenghou Tiong yang sebenarnya.

“Hendaknya kalian tunggu sebentar di sini,” demikian Lenghou Tiong berkata, lalu putar tubuh dan melangkah keluar ruangan tamu.

Dengan membawa belati Lenghou Tiong menuju ke kamar putri Lo Thau-cu, setiba di luar kamar, ia berdehem dulu, lalu berkata, “Nona … nona Siau Ih, bagaimana keadaanmu.”

Semula Lenghou Tiong bermaksud memanggilnya “nona Lo”, tapi ini berarti “nona tua” dan tidak pantas bagi gadis yang masih muda belia, maka dia lantas memanggil namanya seperti apa yang didengarnya dari panggilan Coh Jian-jiu tadi.

Maka terdengar nona Siau Ih hanya bersuara “Ehmmm” dan tidak menjawab.

Perlahan Lenghou Tiong menyingkap tirai pintu kamar dan melangkah masuk. Terlihat nona itu masih tetap duduk bersandar di atas bantal, kedua mata sedikit terbuka dan seperti orang baru bangun tidur.

Lenghou Tiong melangkah lebih dekat, tertampak kulit muka si nona putih halus laksana kaca sehingga otot-otot hijau di dalam daging kelihatan jelas. Keadaan nona itu agaknya sangat payah, tampaknya lebih banyak mengembuskan napas daripada menyedot hawa segar.

“Nona ini mestinya dapat diselamatkan, tapi obatnya telah telanjur kumakan sehingga membikin susah padanya. Aku sendiri toh sudah pasti akan mati, bisa hidup lebih lama beberapa hari atau tidak toh tiada bedanya bagiku,” demikian pikir Lenghou Tiong sambil menghela napas panjang.

Segera ia ambil sebuah mangkuk porselen, ia taruh di atas meja, lalu belati digunakan untuk memotong nadi pergelangan tangan kiri, seketika darah bercucuran dan mengalir ke dalam mangkuk. Ia lihat air mendidih yang disiapkan Lo Thau-cu tadi masih mengepulkan asap panas, segera ia taruh belatinya, tangannya dicelup ke dalam air panas itu, lalu diusapkan pada luka pergelangan tangan kiri agar darah di tempat luka itu tidak lekas membeku. Maka hanya sebentar saja mangkuk porselen itu sudah hampir diisi dengan darah segar.

Dalam keadaan sadar tak sadar nona Siau Ih mencium bau anyirnya darah, ia membuka mata, melihat darah mengucur dari pergelangan tangan Lenghou Tiong, sakit kagetnya ia sampai menjerit.

Mendengar suara jeritan Siau Ih itu, Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu yang terikat di ruang tamu sana saling pandang dengan bingung karena tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Lenghou Tiong atas diri gadis itu. Di dalam hati kedua orang ada dugaan tertentu, tapi keduanya sama-sama tidak berani mengemukakan perasaannya lebih dahulu.

Dalam pada itu Lenghou Tiong sudah penuh mengisi mangkuk tadi dengan darahnya, segera ia membawa darah itu ke hadapan Siau Ih dan berkata, “Lekas kau minum, di dalam darah ini mengandung obat mujarab yang dapat menyembuhkan penyakitmu.”

“Ti … tidak, aku … aku takut, aku tidak mau minum,” sahut Siau Ih.

Sesudah mengalirkan darah semangkuk, rasa badan Lenghou Tiong menjadi enteng dan kaki tangannya lemas. Jika si nona tak mau minum darah itu kan sia-sia saja pengorbanannya?

Maka ia coba menggertaknya, dengan belati terhunus ia membentaknya, “Kau mau minum tidak? Jika tidak, segera kutikam mati kau?”

Menyusul ujung belatinya ia ancam di tenggorokan si nona.

Siau Ih menjadi takut, terpaksa membuka mulut dan menghirup darah di dalam mangkuk itu. Beberapa kali ia merasa mual dan hendak muntah, tapi demi melihat ujung belati yang mengilap itu, dalam takutnya hilanglah rasa mualnya.

Setelah habis darah semangkuk itu, Lenghou Tiong melihat luka pada pergelangan tangan sendiri itu sudah membeku, darah tidak menetes keluar lagi. Ia pikir kadar obat Siok-beng-wan yang tercampur dalam darah yang diminumkan kepada Siau Ih itu tentu terlalu sedikit dan tak berguna, rasanya harus mencekoki si nona beberapa mangkuk lagi, sampai diri sendiri lemas dan tak bisa berkutik barulah jadi.

Segera Lenghou Tiong memotong pula nadi pergelangan kanan dan mencurahkan darahnya untuk mencekoki Siau Ih.

“Janganlah kau paksa aku, aku benar-benar tidak … tidak sanggup lagi,” kata Siau Ih sambil mengerut kening.

“Sanggup atau tidak sanggup harus kau minum lekas!” kata Lenghou Tiong.

“Ken … kenapa engkau berbuat begini? Cara … cara demikian kan merugikan badanmu sendiri?” ujar Siau Ih.

“Merugikan badanku tidak menjadi soal, aku hanya ingin kau sembuh,” sahut Lenghou Tiong sambil tersenyum getir.

Di sebelah sana Tho-ki-sian dan Tho-sit-sian yang kena dijaring oleh Lo Thau-cu tadi sudah kehabisan akal karena semakin mereka meronta semakin kencang pula jaring itu menyurut, sampai akhirnya kedua orang tak bisa berkutik lagi. Namun mata telinga mereka tetap tidak mau menganggur dan masih saling berdebat.

Waktu Lenghou Tiong mengikat Lo Thau-cu dan Coh Jian-jiu di kursi, semula Tho-ki-sian mengira pemuda itu pasti akan membunuh kedua kakek itu, sedang Tho-sit-sian percaya dia pasti akan membebaskan mereka berdua yang terjebak itu. Tak terduga percuma saja mereka berdebat setengah harian, sama sekali Lenghou Tiong tidak urus mereka sebaliknya masuk ke kamar Siau Ih.

Karena kamar Siau Ih itu ditutup dengan rapat, sampai celah-celah jendela pun dilem dengan kertas sehingga percakapan Lenghou Tiong dan Siau Ih sayup-sayup hanya dapat terdengar sebagian.

Tho-ki-sian, Tho-sit-sian, Lo Thau-cu, Coh Jian-jiu serta Gak Put-kun yang sedang mengintip di luar itu semuanya memiliki Lwekang sangat tinggi, tapi apa yang dilakukan Lenghou Tiong di dalam kamar Siau Ih, mereka hanya dapat menduga-duga menurut jalan pikirannya masing-masing.

Ketika mendadak terdengar jeritan Siau Ih, wajah kelima orang itu sama berubah semua.

Tho-ki-sian berkata, “Seorang pemuda seperti Lenghou Tiong itu, untuk apa dia masuk ke kamar anak gadis orang?”

“Coba dengar,” sahut Tho-sit-sian. “Nona itu agak sangat takut, dia sedang meratap, ‘Aku … takut!’ Wah, Lenghou Tiong lagi mengancam akan membunuhnya, katanya, ‘Jika kau tidak mau ….’ Tidak mau apa maksudnya?”

“Apa lagi? Sudah tentu dia sedang memaksa nona itu menjadi istrinya,” ujar Tho-ki-sian.

“Hahaha! Sungguh menggelikan!” Tho-sit-sian terbahak-bahak. “Putri si buntak yang berpotongan buah semangka itu dengan sendirinya juga pendek gemuk bulat seperti bola, mengapa Lenghou Tiong paksa memperistrikan dia?”

“Ah, masakan apa pun, setiap orang mempunyai selera dan kesukaan sendiri-sendiri. Boleh jadi Lenghou Tiong itu paling suka pada wanita gemuk buntak, maka begitu melihatnya semangatnya lantas terbang ke awang-awang,” demikian kata Tho-ki-sian.

“He, coba dengarkan!” bisik Tho-sit-sian. “Nona gemuk itu sedang minta ampun, katanya, ‘Janganlah kau paksa aku, aku benar-benar tidak sanggup lagi.’”

“Ya, agaknya Lenghou Tiong itu benar-benar pemuda mahaperkasa, katanya, ‘Sanggup atau tidak sanggup juga harus lekas, lekas!’”

“Lekas? Apa maksudnya Lenghou Tiong suruh dia lekas?” tanya Tho-sit-sian.

“Kau tidak pernah beristri, masih jejaka, sudah tentu kau tidak paham,” kata Tho-ki-sian.

“Memangnya kau sendiri pernah beristri? Huh, tidak tahu malu!” jawab Tho-sit-sian. Habis itu ia lantas berteriak-teriak, “He, hei! Lo Thau-cu. Lenghou Tiong sedang memaksa putrimu untuk menjadi istrinya, mengapa kau diam-diam saja tanpa memberi pertolongan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: