Hina Kelana: Bab 51. Pil Penyambung Nyawa Menolong Lenghou Tiong

“Kalian yang berbau busuk,” sahut Coh Jian-jiu. “Tho-sit-sian jelas terbaring tak bisa berkutik karena terluka sehingga tidak dapat ikut berebut minum arak enak ini, tapi kalian tidak ambil pusing dan berebut sendiri, bukankah kalian sama sekali tidak memikirkan persaudaraan sendiri?” Tho-kin-sian melengak, tapi segera ia berdebat, “Siapa bilang kami berebut arak sendiri? Kami justru hendak merampas arak ini untuk diminumkan kepada Tho-sit-sian.” “Ya, Lakte kami terluka, segala arak enak dan daharan lezat sudah tentu kami suruh dia mencicipi lebih dulu,” timbrung Tho-ki-sian. “Tapi apakah kalian tahu bahwa kedelapan cawan arak bagus ini harus diminum satu per satu, dengan demikian baru dapat dirasakan betapa enaknya, baru bisa tahu bahwa di dunia ini tiada arak rasa seenak ini,” kata Coh Jian-jiu. “Tapi kalau cuma minum satu cawan saja bukannya rasa enak yang dirasakan, sebaliknya rasanya akan pahit dan kecut. Sekarang kalian ingin rebut kedua cawan arak ini, mendingan bila kalian minum sendiri, karena cuma kalian sendiri yang tertipu, namun katanya kalian merebutnya untuk diminumkan kepada Tho-sit-sian, padahal dia dalam keadaan tak bisa berkutik dan kalian mencekoki arak yang rasanya pahit dan kecut ini, apakah cara kalian ini bisa dikatakan cinta pada saudara?” Kembali Tho-kok-ngo-sian melengak. Tho-hoa-sian lantas berkata, “Siapa yang bilang kami hendak rebut arak ini? Kami hanya pura-pura hendak rebut arak untuk menguji sampai di mana tinggi kepandaianmu, tahu?” “Benar, benar,” Tho-kan-sian menyambung. “Memangnya kau kira kami ini anak kecil dan tidak tahu kedelapan cawan arak itu harus diminum sekaligus baru bisa tahu rasanya yang sejati.” “Ayolah Lenghou-hengte, lekas minum habis arak-arak itu agar benar-benar merasakan enaknya.” Di tengah cerewet Tho-kok-ngo-sian itulah Lenghou Tiong telah selesai menghabiskan isi kedua cawan tadi. Arak kedua cawan ini tidak berbau lagi, tapi rasanya yang satu cawan sangat tajam, tenggorokan seperti diiris-iris pisau. Yang satu cawan lagi berbau obat, sama sekali tidak mirip arak, tapi baunya melebihi obat-obatan waktu dimasak. Melihat air muka Lenghou Tiong rada aneh, Tho-kok-lak-sian merasa heran dan ingin tahu, mereka lantas tanya, “Bagaimana rasanya sesudah kedelapan cawan arak itu kau minum habis?” “Sudah tentu enak sekali,” sela Coh Jian-jiu. Di luar dugaan, entah cara bagaimana, sekonyong-konyong Tho-kan-sian berempat menubruk maju sekaligus, masing-masing memegangi sebelah tangan dan kaki Coh Jian-jiu. Biarpun ilmu silat Coh Jian-jiu amat tinggi, tapi caranya Tho-kok-lak-sian memegang kaki dan tangan orang adalah sangat aneh dan terlalu cepat sehingga sukar baginya untuk menghindar. Maka tahu-tahu tangan dan kaki Coh Jian-jiu sudah terpegang dan badan lantas terangkat ke atas. Para anggota Hoa-san-pay sudah pernah menyaksikan adegan mengerikan cara Tho-kok-si-sian menyobek tubuh manusia sehingga tanpa terasa mereka menjerit khawatir demi melihat Coh Jian-jiu kena dipegang tangan dan kakinya. Pikiran Coh Jian-jiu juga bekerja secepat kilat, ia tahu menyusul keempat orang itu pasti akan membetot sekuat-kuatnya dan itu berarti tubuh akan robek menjadi empat potong. Cepat ia berteriak-teriak, “Di dalam arak itu ada racunnya, obat penawarnya tersimpan dalam bajuku!” Tho-kok-si-sian sendiri tadi sudah cukup banyak menenggak arak, demi mendengar bahwa di dalam arak itu beracun mereka jadi melengak. Dan yang diharapkan Coh Jian-jiu adalah sedetik keragu-raguan keempat orang itu. Mendadak ia berteriak pula, “Lepas, keparat!” Tahu-tahu Tho-kok-si-sian merasa tangan mereka tergetar dan memegang tempat kosong, menyusul terdengarlah suara “blang” yang keras, wuwungan perahu itu telah jebol disundul menjadi sebuah lubang besar, Coh Jian-jiu telah melarikan diri menembus wuwungan perahu itu. Tho-kin-sian dan Tho-ki-sian tidak berhasil menangkap apa-apa, sebaliknya tangan Tho-hoa-sian dan Tho-yap-sian masing-masing masih memegangi sebuah kaus kaki yang berbau bacin dan sebuah sepatu yang kotor dan butut. Gerakan Tho-kok-ngo-sian juga amat cepat serentak, mereka pun memburu ke dermaga, tapi bayangan Coh Jian-jiu sudah lenyap. Selagi mereka hendak menguber ke depan, tiba-tiba di ujung jalan sana ada suara teriakan orang, “Hai, Coh Jian-jiu, kau kutu busuk ini lekas kembalikan obatku, jika kurang satu biji saja tentu akan kubetot ototmu dan kubeset kulitmu.” Sambil berteriak-teriak orang itu pun berlari mendatang dengan cepat. Mendengar orang itu pun mencaci maki pada Coh Jian-jiu, jadi sepaham dengan mereka, maka Tho-kok-ngo-sian menjadi ingin tahu tokoh macam apakah orang ini, segera mereka berhenti di situ dan memandang ke depan. Terlihatlah sebuah bola daging sedang “menggelinding” tiba, makin menggelinding makin dekat. Kemudian barulah diketahui bahwa “bola daging” itu kiranya adalah seorang laki-laki yang sangat pendek dan sangat gemuk. Kepala orang buntak ini begitu rupa sehingga tampaknya gepeng, pipih, tapi sangat lebar. Melihat kepalanya itu orang akan menduga mungkin pada waktu dia dilahirkan kepalanya telah dipalu sehingga buah kepalanya menjadi gepeng lebar sampai muka dan hidung serta mulut pun berubah bentuk. Melihat muka sedemikian anehnya, semua orang sama merasa geli. Pikir mereka, “Peng It-ci dan Yim Bu-kiang itu sudah terhitung orang buntak tapi kalau dibandingkan orang ini boleh dikata si kerdil ketemu raksasa.” Dan memang bedanya terlalu mencolok. Kalau Peng It-ci dan Yim Bu-kiang hanya pendek dengan pundak lebar, sebaliknya orang ini jauh lebih pendek, bahkan punggung dan dada seakan-akan tergencet sehingga menonjol keluar. Ditambah lagi kaki dan tangan juga sangat pendek, tangan seakan-akan cuma ada lengan bawah tanpa lengan atas, kakinya juga seperti cuma ada betis tanpa paha. Setiba di samping perahu, dengan menolak pinggang orang itu lantas tanya, “Bangsat keparat Coh Jian-jiu itu sembunyi di mana?” “Bangsat keparat itu sudah lari,” tukas Tho-kin-sian dengan tertawa. “Dia berkaki panjang dan berlangkah lebar, caramu menggelinding demikian tentu saja tidak dapat menyusul dia!” Orang itu mendengus, matanya yang bulat kecil itu mendelik. Sekonyong-konyong ia berteriak pula, “Obatku! Obatku!” Begitu kakinya bekerja, “bola daging” itu lantas membalik dan masuk ke dalam ruangan perahu. Tiba-tiba hidungnya berkerut-kerut dan mengendus-endus, ia sambar sebuah cawan di atas meja, lalu dicium baunya. Sekonyong-konyong air mukanya berubah hebat. Memangnya dia bertampang sangat jelek, perubahan itu semakin menambah aneh dan lucu raut mukanya itu. Tapi dari air muka orang dapatlah Lenghou Tiong melihat perasaan orang itu pasti sangat berduka. Orang buntak itu berturut-turut memeriksa dan mencium ketujuh cawan. “O, obatku!” keluhnya. Habis itu tak tertahankan lagi rasa sedihnya, ia duduk terkulai dan menangkis tergerung-gerung. Melihat si buntak menangis sedih, Tho-kok-ngo-sian semakin heran dan tertarik, beramai-ramai mereka mengelilingi si buntak dan bertanya, “He, mengapa menangis? Eh, apakah kau diakali keparat Coh Jian-jiu itu? Jangan menangis, nanti kalau kami menemukan bangsat itu pasti akan kami robek dia menjadi empat potong!” Seru orang itu sambil menangis, “Obatku telah dimakan dia bersama arak, sekalipun dia dibunuh juga tiada gunanya lagi.” Tergerak hati Lenghou Tiong, cepat ia tanya, “Obat apa maksudmu?” “Dengan susah payah selama 12 tahun aku mencari dan mengumpulkan bahan obat berharga seperti jinsom, Hokleng, Siuho, Lengci, Siahio dan lain-lain, akhirnya dapatlah kubikin delapan biji ‘Siok-beng-wan’ (pil penyambung nyawa), tapi sekarang obatku yang tiada terkira nilainya itu dicuri keparat Coh Jian-jiu dan telah diminum bersama arak.” Lenghou Tiong tambah terkejut, tanyanya pula, “Kedelapan biji pil itu apakah mempunyai rasa yang sama?” “Sudah tentu tidak sama,” sahut si buntak. “Ada yang berbau bacin, ada yang rasanya sangat pahit, ada yang rasanya panas seperti dibakar, ada yang tajam seperti pisau mengiris. Asal sudah minum kedelapan biji Siok-beng-wan tersebut, biarpun luka dalam atau luka luar yang bagaimana parahnya juga pasti akan tertolong.” “Wah, celaka!” seru Lenghou Tiong sambil tepuk paha. “Coh Jian-jiu itu telah mencuri obatmu Siok-beng-wan itu, tapi dia tidak makan sendiri, sebaliknya di ….” “Diapakan?” tanya orang itu. “Di … dicampur dalam arak dan menipu aku untuk meminumnya,” sahut Lenghou Tiong. “Sesungguhnya aku tidak tahu bahwa di dalam arak teraduk obat sebaik itu, malahan aku menyangka dia hendak meracuni aku.” “Racun? Racun kentutmu!” damprat orang itu dengan gusar. “Jadi kau yang telah minum aku punya Siok-beng-wan itu?” Lenghou Tiong menjawab, “Coh Jian-jiu itu mengisi delapan cawan arak dan membujuk aku minum habis seluruhnya. Memang benar ada yang rasanya panas, ada yang rasanya pahit, ada yang berbau bacin dan macam-macam lagi. Tapi obat apa segala aku sendiri tidak melihatnya.” Orang itu menatap Lenghou Tiong dengan mata mendelik, sekonyong-konyong ia berteriak, tubuhnya mencelat ke atas terus menubruk ke arah Lenghou Tiong. Sejak tadi Tho-kok-ngo-sian sudah berjaga-jaga, maka begitu tubuh si buntak membal ke atas, berbareng Tho-kok-si-sian lantas turun tangan secepat kilat, mereka pegang kedua tangan dan kedua kaki si buntak. “Jangan mencelakai jiwanya!” seru Lenghou Tiong. Namun aneh juga, biarpun kaki tangan si buntak kena dipegang oleh Tho-kok-si-sian, tapi anggota badannya itu malah mengkeret lebih pendek lagi sehingga badannya lebih menyerupai bola yang bulat. Tho-kok-si-sian terheran-heran, mereka membentak bersama terus menarik. Terlihat kaki dan tangan si buntak dapat dibetot keluar, makin ditarik makin panjang, lengan dan pahanya sampai ikut mulur keluar dari tubuhnya. Sungguh mirip benar dengan seekor kura-kura yang keempat kakinya kena dibetot keluar dari kulitnya. “Jangan mencelakai jiwanya!” kembali Lenghou Tiong berseru. Karena itu Tho-kok-si-sian sedikit mengendurkan daya tariknya sehingga anggota badan si buntak mengkeret lagi, tubuhnya menjadi bulat pula. Tho-sit-sian yang terbaring di atas usungnya ikut tertarik, ia berseru, “Wah, sungguh aneh dan hebat! Ilmu apakah itu?” Waktu Tho-kok-si-sian membetot lagi, kembali tangan dan kaki si buntak kena ditarik keluar. Melihat adegan yang lucu itu Gak Leng-sian dan murid perempuan Hoa-san-pay yang lain sama tertawa geli. “Hei, biar kami tarik panjang kaki dan tanganmu agar kau bertambah lebih cakap,” seru Tho-kin-sian. “Ai, jangan!” teriak orang itu. Tho-kok-si-sian melengak, tanya mereka, “Sebab apa?” Di luar dugaan mereka, sedikit lena saja mendadak si buntak meronta sekerasnya dan memberosot keluar dari pegangan Tho-kok-si-sian. “Blang”, tahu-tahu dasar perahu kena diterobos olehnya sehingga berlubang, secepat belut si buntak telah melarikan diri melalui sungai. Di tengah jerit kaget orang banyak terlihatlah air sungai terus memancur naik melalui lubang di dasar perahu itu. Lekas-lekas Gak Put-kun memberi perintah, “Masing-masing orang membawa barangnya sendiri-sendiri dan lekas melompat ke daratan.” Lubang yang jebol di dasar perahu itu hampir satu meter persegi, merembesnya air sungai sangat cepat, hanya sekejap saja air di ruangan perahu itu sudah setinggi dengkul. Untung mereka sempat melompat ke daratan dengan selamat. Juragan perahunya tampak muram durja dan bingung, Lenghou Tiong menghiburnya, “Kau tidak perlu khawatir, berapa harganya perahumu akan kuganti lipat dua.” Diam-diam Lenghou Tiong juga sangat heran, selamanya tidak kenal Coh Jian-jiu itu, tapi mengapa dia sengaja mencuri obat itu untuk diminumkan padanya dengan segala tipu dayanya? Ia coba mengerahkan tenaga, terasa di dalam perut panas seperti dibakar, tapi delapan arus hawa murni itu masih terus tumbuk sini dan terjang sana, masih tetap tak bisa bergabung. Sementara itu Lo Tek-nau telah dapat menyewa sebuah perahu lain, semua barang bawaan mereka telah dipindah ke perahu itu. Sebenarnya Gak Put-kun ingin lekas meninggalkan tempat yang tidak aman itu, terutama tokoh-tokoh aneh yang susul-menyusul muncul itu. Cuma hari sudah mulai gelap, sungai di daerah itu juga berliku-liku dan tidak leluasa untuk berlayar malam hari, terpaksa ia istirahat saja di dalam perahu. Tho-kok-lak-sian juga merasa kesal, berturut-turut dua kali mereka gagal menangkap Coh Jian-jiu dan manusia bola daging itu, hal ini benar-benar belum pernah terjadi selama hidup mereka, walaupun mereka coba membual dan menutupi rasa malu kegagalan mereka, tapi sampai akhirnya mereka pun merasa kurang masuk di akal alasan yang mereka kemukakan. Maka sesudah minum arak sekian banyak akhirnya mereka pun tertidur. Gak Put-kun berbaring di tempat tidurnya, tapi tak bisa pulas, pikirannya bergolak. Di tengah malam sunyi itu terdengar suara air sungai yang mendampar tepian gili-gili. Pikirnya, “Coh Jian-jiu dan manusia yang mirip bola daging itu benar-benar sangat aneh, ilmu silat mereka terang juga tidak lemah, entah mengapa mereka ikut-ikutan mencari Tiong-ji ke sini?” Segera teringat pertentangan antara sekte Khi dan Kiam dalam Hoa-san-pay sendiri, lain saat terpikir pula cara Lenghou Tiong membutakan mata ke-15 tokoh lihai dengan ilmu pedang yang sakti dan aneh tempo hari itu. Sampai lama sekali pikirannya terus bergolak. Tiba-tiba terdengar olehnya suara orang berjalan dari jauh dan semakin mendekat. Indra pendengaran Gak Put-kun sangat peka, begitu didengarkan lebih cermat, tahulah dia bahwa ada dua orang yang memiliki Ginkang tinggi sedang mendatang. Segera ia bangkit duduk, ia coba mengintip keluar melalui celah-celah jendela, di bawah sinar bulan terlihatlah dua sosok bayangan orang sedang mendatang dengan kecepatan luar biasa. Sekonyong-konyong seorang di antaranya mengangkat tangannya memberi tanda, kedua orang lantas berhenti kira-kira beberapa meter jauhnya dari perahu. Gak Put-kun tahu jika kedua orang itu berbicara tentu juga dilakukan dengan bisik-bisik. Segera ia menarik napas dalam-dalam, ia mengerahkan “Ci-he-sin-kang”. Begitu ilmu sakti Ci-he-sin-kang dikerahkan, bukan saja setiap detik dapat digunakan untuk membela diri bilamana mendadak diserang, bahkan pancaindranya seketika juga bertambah lebih tajam. Maka terdengarlah seorang di antaranya sedang berkata dengan suara perlahan, “Pasti perahu ini. Di tiang layar sudah terpancang sebuah bendera kecil, rasanya takkan salah.” “Baiklah, Suko, marilah kita lekas pulang memberi lapor kepada Supek,” kata kawannya. “Aneh, entah mengapa ‘Tok-seng-bun’ kita sampai mengikat permusuhan dengan Hoa-san-pay sehingga Supek perlu mengerahkan segenap tenaga hendak mencegat mereka secara besar-besaran?” demikian kata orang pertama tadi. Mendengar nama “Tok-seng-bun”, Gak Put-kun terkejut. Dan karena sedikit lengah saja kekuatan Ci-he-sin-kang lantas menyurut sehingga suara percakapan kedua orang yang sangat lirih itu tidak terdengar. Waktu ia mengerahkan ilmu sakti pula, yang terdengar adalah suara tindakan orang, nyata kedua orang tadi sudah pergi. Sudah lama Gak Put-kun mendengar nama Tok-seng-bun sebagai suatu aliran tersendiri di daerah perairan Oulam. Ilmu silat anak murid Tok-seng-bun tidak dapat dikatakan tinggi, tapi mahir memakai racun sehingga orang sukar menjaga diri. Sering orang terbunuh oleh mereka tanpa mengetahui siapa pembunuhnya. Ciangbunjin (ketua) Tok-seng-bun diketahui she Cu bernama Put-hoan dan punya julukan yang sangat aneh, yaitu “Tok-put-su-jin” (tak bisa meracun orang sampai mati). Konon julukan itu diberikan orang lantaran kepandaian Cu Put-hoan dalam hal menggunakan racun sudah terlalu hebat dan tiada bandingannya. Kalau meracuni orang hingga mati adalah soal mudah, setiap orang juga mampu melakukannya, maka tidak mengherankan, tapi cara Cu Put-hoan justru berbeda daripada orang lain. Sesudah dia memberikan racun, yang kena racun takkan binasa seketika, hanya pada tubuh terasa seperti disayat-sayat oleh senjata tajam atau seperti digigit-gigit oleh semut atau serangga lain, pendek kata rasanya sangat menderita, bagi si penderita akan merasa lebih baik mati daripada hidup tersiksa, tapi untuk mati justru sukar. Jadi mau tak mau harus pasrah nasib kepada Cu Put-hoan dan tiada pilihan lain. Sebab itulah Gak Put-kun merasa ngeri demi mendengar nama Tok-seng-bun disebut. Pikirnya, “Mengapa Tok-seng-bun bisa memusuhi Hoa-san-pay kami? Apalagi katanya Supek mereka sengaja mengerahkan segenap tenaganya untuk mencegat perahu ini, sebenarnya apakah sebabnya?” Sesudah dipikir ia menarik kesimpulan hanya ada dua kemungkinan. Pertama, boleh jadi mereka adalah bala bantuan yang didatangkan oleh Hong Put-peng dan kawan-kawannya untuk mencari perkara pada dirinya. Kedua, mungkin di antara ke-15 orang yang dibutakan oleh Lenghou Tiong itu terdapat anak murid Tok-seng-bun. Sedang Gak Put-kun menimbang-nimbang tak menentu, tiba-tiba didengarnya pula di daratan sana ada suara seorang perempuan sedang berkata dengan suara tertahan, “Sesungguhnya di rumahmu apakah terdapat Pi-sia-kiam-boh?” Segera Put-kun mengenali suara itu adalah suara putrinya sendiri. Maka tanpa mendengarkan suara orang kedua juga dia dapat menduga tentu orang itu adalah Lim Peng-ci. Entah sejak kapan kedua muda-mudi itu telah berada di tepi dermaga. Diam-diam Put-kun dapat memahami perasaan kedua muda-mudi itu, ia tahu hubungan putrinya dengan Peng-ci makin hari makin erat, pada siang hari mereka tidak berani bergaul terlalu mencolok karena khawatir ditertawai orang lain, sebab itulah mereka sengaja mengadakan pertemuan di tengah malam sunyi. Orang persilatan seperti mereka mestinya tidak terlalu terikat oleh adat kuno, pergaulan muda-mudi yang sedang pacaran dengan sendirinya lebih bebas daripada orang biasa. Cuma Gak Put-kun sendiri berjuluk “Kun-cu-kiam”, selamanya terkenal sopan dan tertib, jika putrinya sekarang ternyata berbuat sesuatu yang melampaui garis kesusilaan dengan Peng-ci, bukankah akan ditertawai oleh kawan Bu-lim? Coba kalau malam ini Put-kun tidak mengerahkan ilmu sakti Ci-he-sin-kang untuk mengikuti gerak-gerik kedatangan musuh, tentu ia tidak tahu rahasia putrinya yang sedang “ada main” dengan Lim Peng-ci. Dalam pada itu terdengar Peng-ci sedang berkata, “Keluargaku memang punya Pi-sia-kiam-hoat, aku pun sudah sering perlihatkan padamu permainan ilmu pedang itu, tapi tentang Kiam-boh apa segala sesungguhnya tidak ada.” “Jika begitu mengapa Gwakong dan kedua pamanmu mencurigai Toasuko, katanya Toasuko telah mengangkangi Kiam-bohmu?” tanya Leng-sian. “Mereka yang curiga, aku sendiri kan tidak mencurigai Toasuko,” kata Peng-ci. “O, baik juga kau ini, biar orang lain yang curiga, sebaliknya kau sendiri tidak menaruh curiga sedikit pun.” Peng-ci menghela napas, katanya, “Jika keluargaku benar-benar memiliki Kiam-boh yang hebat itu, tentu Hok-wi-piaukiok kami tidak sampai hancur dan keluargaku berantakan atas perbuatan Jing-sia-pay itu.” “Ucapanmu pun masuk di akal,” ujar Leng-sian. “Jika demikian, mengapa kau tidak membela Toasuko atas kecurigaan Gwakongmu dan paman-pamanmu itu kepada Toasuko.” “Sebenarnya ucapan apa yang ditinggalkan ayah dan ibu, karena aku tidak mendengar dengan telinga sendiri, hendak membelanya juga sukar,” kata Peng-ci. “Jadi di dalam hatimu betapa pun kau merasa curiga juga bukan?” kata Leng-sian. “Ah, jangan sekali-kali berkata demikian, kalau diketahui Toasuko bukankah akan memburukkan hubungan baik sesama saudara seperguruannya?” ujar Peng-ci. “Hm, bisa saja kau pura-pura?” jengek Leng-sian. “Kalau curiga ya curiga, kalau tidak ya tidak. Bila aku menjadi dirimu tentu sudah lama aku menanyai Toasuko secara blakblakan.” Setelah merandek sejenak lalu katanya pula, “Watakmu ternyata sangat mirip dengan ayah. Kedua orang sama-sama menaruh curiga terhadap Toasuko dan menduga dia telah menggelapkan Kiam-bohmu itu ….” “Suhu juga menaruh curiga?” Peng-ci memotong. Leng-sian tertawa, katanya, “Jika kau sendiri tidak curiga mengapa kau pakai istilah ‘juga’? Aku bilang watakmu serupa dengan ayah, ada apa-apa hanya disimpan dalam batin, tapi di mulut sama sekali tidak menyinggungnya.” Pada saat itulah, sekonyong-konyong dari dalam sebuah perahu di samping perahu yang ditumpangi rombongan Hoa-san-pay itu berkumandang suara bentakan orang, “Binatang kecil yang tidak tahu malu, berani sembarangan menuduh di belakang orang. Lenghou Tiong adalah seorang kesatria sejati, masakah kalian berani memfitnahnya?” Suaranya berkumandang dari dalam perahu yang jaraknya beberapa puluh meter jauhnya, bukan saja membikin terkejut para penumpang perahu yang lain sehingga terjaga bangun, sampai-sampai burung yang bersarang di pepohonan sekitar situ juga sama kaget dan bergemeresik riuh ramai. Habis itu, dari atas perahu itu mendadak melesat sesosok bayangan raksasa terus menubruk ke tempat Peng-ci dan Leng-sian dengan amat cepat. Di bawah cahaya bulan tampaknya seperti seekor burung raksasa yang mendadak menyambar ke bawah. Keruan Peng-ci dan Leng-sian terkejut. Waktu keluar mereka tidak membawa senjata, terpaksa mereka pasang kuda-kuda dan siap melawan. Ketika mendengar suara bentakan orang, Gak Put-kun sudah lantas tahu Lwekang orang sangat tinggi dan pasti tidak di bawahnya. Sekarang melihat loncatan dan tubrukannya itu, jelas Gwakangnya juga amat lihai, keruan ia menjadi gugup melihat putrinya terancam bahaya, cepat ia berteriak, “Tahan dulu!” Segera ia pun meloncat ke tepi dermaga dengan menjebol jendela. Tapi baru saja tubuhnya terapung di udara, dilihatnya tangan raksasa tadi sudah berhasil mencengkeram Peng-ci dan Leng-sian terus dibawa lari ke depan sana. Sungguh kejut Gak Put-kun tak terkatakan, begitu kaki menginjak tanah segera ia kerahkan segenap tenaga untuk mengejar. Pedang yang sudah siap lantas menusuk punggung orang itu dengan jurus “Pek-hong-koan-jit” (pelangi putih menembus sinar matahari). Karena perawakan orang itu sangat tinggi besar, dengan sendirinya langkahnya juga lebar, cukup ia melangkah satu tindak ke depan dan tusukan Gak Put-kun lantas mengenai tempat kosong. Waktu Put-kun meloncat maju dan menusuk pula, tapi lagi-lagi raksasa itu melangkah lebar ke depan sehingga serangannya kembali luput. Walaupun sangat terkejut dan cemas, tapi Put-kun dapat melihat setelah raksasa itu memegang Peng-ci dan Leng-sian, karena beban yang cukup berat itu, biarpun memiliki tenaga sakti juga tidak dapat berlari cepat dengan menggunakan Ginkang. Yang diandalkan hanya kakinya yang panjang dan langkah yang lebar, kalau diburu terus akhirnya pasti dapat menyusulnya. Maka sekuatnya Put-kun menarik napas dalam-dalam, ia mengejar terlebih cepat. Benar juga, segera jaraknya dengan raksasa itu jadi lebih dekat. Diam-diam ia berpikir, “Jika tidak kau lepaskan Peng-ci dan Sian-ji, tusukanku ini pasti akan menembus tubuhmu!” Mendadak ia bersuit nyaring dan berteriak, “Awas!” Serangannya selalu dilakukan dengan terang-terangan, selama hidup dia tak sudi menyerang secara pengecut, sebab itulah orang memberikan julukan “Kun-cu-kiam” padanya. Maka sebelum dia menusuk dengan jurus “Jing-hong-san-song” (angin meniup semilir), lebih dulu ia memperingatkan lawannya agar awas dan siap. Tak tersangka raksasa itu seakan-akan tidak mendengar dan tak menggubris padanya. Tampaknya ujung pedang hanya tinggal belasan senti saja dari sasarannya, pada saat itu juga tiba-tiba angin berkesiur, dua jari orang menyambar ke arah matanya. Keruan Put-kun terkejut. Tempat itu adalah ujung jalan yang penuh rumah penduduk di kanan-kiri, cahaya rembulan teraling oleh rumah-rumah itu. Namun reaksi Gak Put-kun cepat luar biasa, begitu mengetahui ada musuh lain bersembunyi di situ dan menyergapnya, cepat ia mendak tubuh, sebelum melihat jelas siapa lawannya kontan ia balas menusuk dengan pedang. Musuh itu menggeser samping terus mendesak maju lagi, jari kembali menyambar tiba hendak menutuk “Tiong-wan-hoat” di perut Gak Put-kun. Tanpa ayal lagi Put-kun menendang, terpaksa orang itu berputar ke sebelah lain dan kembali menyerang punggungnya. Tanpa balik tubuh segera pedang Gak Put-kun menebas ke belakang dengan cepat lagi jitu. Tapi orang itu kembali dapat menghindarkan diri, menyusul ia menubruk maju lagi hendak mengincar tenggorokan Gak Put-kun. Diam-diam Put-kun merasa gusar. Pikirnya, “Kurang ajar benar orang ini, berani dia lawan pedangku dengan tangan kosong, bahkan terus-menerus melancarkan serangan. Jika malam ini aku kecundang lagi, lalu apakah masih ada muka bagiku untuk berkecimpung di dunia persilatan?” Segera ia kumpulkan semangat, setiap jurus dan setiap gerakan dilakukannya dengan sangat prihatin, belasan jurus kemudian, sayup-sayup timbul suara mendengung. Nyata ia telah salurkan Lwekang ke dalam setiap jurus serangan pedangnya. Mendadak orang itu menyerang tiga kali sehingga Put-kun terdesak mundur, cepat orang itu melompat mundur sambil berseru, “Sampai bertemu pula kelak!” Segera ia putar tubuh terus hendak tinggal pergi. “Tunggu, ingin kuminta penjelasan dahulu,” bentak Gak Put-kun dan pedang terus menebas musuh. Tapi orang itu menundukkan kepala untuk menghindar. Tidak tersangka serangan Gak Put-kun ini hanya pancingan belaka, pedang hanya menebas sampai setengah jalan lantas diputar balik dan berubah menusuk dada orang dengan cepat. Akan tetapi orang itu menggeser ke samping menyusul ia terus mendesak maju, kedua tangan mengincar perut Gak Put-kun. Dalam keadaan demikian terpaksa Gak Put-kun harus membela diri lebih dulu, pedang berputar terus menusuk mata musuh pula. Namun orang itu pun sangat gesit, jari menyelentik pedang dan baru saja tangan lain hendak meneruskan serangannya tadi, mendadak Gak Put-kun sedikit miringkan pedangnya, dari menusuk berubah menjadi menebas. “Cret”, kopiah orang itu kena ditebas jatuh sehingga kelihatan kepalanya yang gundul. Kiranya orang itu adalah Hwesio. Begitu Hwesio itu menggenjot kedua kakinya, dengan cepat luar biasa tubuhnya lantas melayang ke belakang. Karena pedang kena diselentik tadi, Put-kun merasa tangannya linu kesemutan. Ketika ia hendak mengejar, mendadak jari tangan terasa kaku, hampir saja pedang terlepas dari cekalan, cepat ia pegang dengan tangan yang lain. Di bawah sinar bulan tertampaklah kelima jari tangan kanan itu sama bengkak, keruan kejutnya tak terkatakan. Dan sedikit merandek itulah Gak-hujin pun sudah menyusul tiba dengan senjata terhunus. “Bagaimana anak Sian?” tanya kepada sang suami. “Ke sana! Mari kejar!” sahut Put-kun sambil menuding ke depan dengan ujung pedang. Suami istri lantas mengudak ke jurusan lari si raksasa tadi. Tidak lama kemudian sampailah mereka di suatu persimpangan jalan, mereka menjadi bingung entah musuh lari ke arah mana. Tentu saja yang paling gelisah adalah Gak-hujin. “Orang yang menculik anak Sian itu adalah kawan Tiong-ji, rasanya mereka takkan membikin susah padanya,” demikian Put-kun berusaha menghibur sang istri. “Marilah kita pulang menanyai Tiong-ji dan tentu akan tahu perkaranya.” “Benar, menurut orang itu tadi, katanya anak Sian dan Peng-ci sembarangan memfitnah Tiong-ji, entah apa alasannya?” “Tentu saja ada sangkut pautnya dengan Pi-sia-kiam-boh itu,” kata Put-kun. Waktu mereka pulang kembali ke perahu, terlihat Lenghou Tiong dan para murid sedang menunggu di tepi dermaga dengan rasa khawatir dan cemas. Sesudah masuk ke dalam ruangan perahu, baru saja Gak Put-kun hendak panggil menghadap Lenghou Tiong, tiba-tiba terlihat di atas meja ada secarik kertas putih yang ditindih dengan tatakan lilin, kertas itu ada tulisan yang berbunyi, “Di Ngo-pah-kang putrimu akan dikembalikan, Ci-he-sin-kang ternyata sekian saja kesaktiannya.” Tulisan itu tampaknya digores hanya dengan arang sumbu lilin saja. Put-kun meremas kertas itu dan dimasukkan ke dalam saku. Kemudian ia tanya tukang perahu di mana letak Ngo-pah-kang itu, terletak di perbatasan antara Holam dan Soatang, kalau perahu berangkat besok pagi-pagi, pada petang harinya bisa sampai di sana. Diam-diam Put-kun berpikir, “Lawan menantang aku untuk bertemu di Ngo-pah-kang, pertemuan ini mau tak mau harus dilakukan, tapi rasanya sudah pasti akan mengalami kekalahan dan tipis harapan untuk menang.” Selagi ragu-ragu, tiba-tiba terdengar pula suara teriakan orang di daratan sana, “Keparat, di mana beradanya Tho-kok-lak-kui (enam setan dari Tho-kok) itu? Inilah aku malaikat Ciong Siu (nama dewa penangkap setan) datang hendak menangkap setan-setan itu!” Mendengar itu, tentu saja Tho-kok-lak-sian sangat gusar. Kecuali Tho-sit-sian yang tak bisa berkutik, kelima orang berbareng lantas melompat ke gili-gili. Cepat Put-kun dan lain-lain juga keluar ke tepi perahu untuk melihat. Ternyata orang yang berteriak tadi memakai kopiah tinggi lancip, tangan membawa sehelai bendera putih yang berkibar-kibar, pada bendera itu jelas tertulis, “Khusus menangkap Tho-kok-lak-kui bernyali sekecil tikus, aku berani bertaruh untuk menangkap Tho-kok-lak-kui.” Tho-kin-sian berlima berjingkrak murka, secepat terbang mereka lantas mengejar. Ginkang orang berkopiah lancip itu pun sangat hebat, hanya sekejap saja sudah di kejauhan sana. “Sumoay,” kata Put-kun, “agaknya inilah tipu ‘memancing harimau meninggalkan gunung’, kita harus waspada, marilah masuk saja ke dalam.” Tapi baru saja Lo Tek-nau dan lain-lain hendak naik ke atas perahu, sekonyong-konyong dari samping sana satu gulungan bayangan manusia telah menggelinding tiba. Sekali pegang dada Lenghou Tiong, orang itu lantas berteriak, “Ikut pergi padaku!” Kiranya bukan lain daripada si buntak yang mirip bola daging itu. Sekali kena dicengkeram, sama sekali Lenghou Tiong tak mampu meronta, terpaksa ia membiarkan dirinya diseret pergi. Tapi baru saja bola daging itu hendak lari, mendadak dari pojok rumah sana menerjang luar pula seorang terus menendang si buntak. Kiranya penyerang ini adalah Tho-ki-sian. Ilmu silat Tho-ki-sian sangat tinggi, tetapi nyalinya sangat kecil. Ketika melihat tulisan pada bendera putih yang dibawa orang berkopiah lancip tadi, ia menjadi jeri dan tidak berani ikut mengejar bersama saudara-saudaranya, ia sembunyi di pojok rumah sana. Baru kemudian waktu melihat si buntak membawa lari Lenghou Tiong, terpaksa ia muncul untuk menolongnya. Melihat Tho-ki-sian menubruk tiba, cepat manusia bola daging itu melepaskan Lenghou Tiong, sekali lompat ia lantas mendekati Tho-sit-sian yang terbaring itu, sebelah kaki terangkat dengan gerakan hendak menginjak dada Tho-sit-sian. Keruan Tho-ki-sian terkejut, teriaknya, “Jangan mencelakai saudaraku!” “Locu ingin mampuskan dia, peduli apa denganmu?” seru si buntak. Tapi secepat terbang Tho-ki-sian telah memburu maju, tanpa ayal lagi ia terus rangkul Tho-sit-sian dan diangkat bersama usungannya. Sesungguhnya si buntak tidak sengaja hendak menyerang Tho-sit-sian, tujuannya hanya untuk memancing Tho-ki-sian saja. Maka dengan cepat ia melompat balik, sekali cengkeram kembali ia bekuk Lenghou Tiong terus dipanggul dan segera dibawa lari pergi. Diam-diam Tho-ki-sian berpikir, “Wah, celaka. Peng-tayhu menyuruh kami menjaga Lenghou Tiong ini, sekarang dia diculik orang, kelak cara bagaimana kami harus mempertanggungjawabkan?” Tapi ia tidak tega meninggalkan Tho-sit-sian yang belum sembuh itu, terpaksa ia pun angkat Tho-sit-sian lalu mengejar ke arah si buntak. Gak Put-kun memberi isyarat kepada sang istri, katanya, “Kau jaga para murid, biar aku menyusul ke sana untuk melihatnya.” Gak-hujin mengangguk. Mereka sama-sama tahu bahwa di sekeliling mereka sekarang penuh musuh tangguh, kalau mereka suami-istri pergi semua mungkin seluruh anak muridnya akan disergap musuh. Dalam hal Ginkang boleh dikata si buntak dan Tho-ki-sian adalah sama tingginya, tapi kedua orang sama-sama membawa beban seorang sehingga kecepatan lari mereka tidak secepat dalam keadaan bertangan kosong. Maka dengan Ginkang Gak Put-kun yang cukup tinggi, lambat laun ia pun sudah dapat menyusulnya. Didengarnya sepanjang jalan Tho-ki-sian terus berkaok-kaok menyuruh si buntak melepaskan Lenghou Tiong, kalau tidak tentu dia akan mengudak terus biar sampai ujung langit sekalipun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: