Hina Kelana: Bab 50. Minum Arak Juga Ada Seninya

“Hahahaha!” Tho-kok-lak-sian bergelak tertawa. “Orang yang tidak takut langit dan tidak gentar pada bumi seperti dia ternyata takut bini. Haha, sungguh menggelikan!”

“Apa yang menggelikan? Aku inilah bininya!” jengek si wanita.

Seketika Tho-kok-lak-sian bungkam, tidak berani bersuara lagi.

Maka si wanita berkata pula, “Segala perintahku tentu akan dia turut. Jika aku ingin membunuh siapa tentu dia akan menyuruh kalian membunuhnya.”

“Ya, ya, entah Peng-hujin ingin membunuh siapa?” sahut Tho-kok-lak-sian.

Wanita itu tidak menjawab, tapi sorot matanya yang tajam terus menatap ke arah Gak Put-kun, lalu Gak-hujin, Gak Leng-sian dan lain-lain. Semua orang sama mengirik karena sinar matanya yang tajam itu.

Mereka tahu, asalkan wanita bermuka buruk ini menuding salah seorang di antara mereka, seketika juga Tho-kok-ngo-sian pasti akan melompat maju dan menyobeknya, sekalipun tokoh terkemuka seperti Gak Put-kun juga sukar terhindar dari malapetaka.

Sorot mata wanita itu perlahan dialihkan kembali ke arah Tho-kok-lak-sian. Hati keenam orang aneh itu berdebar-debar.

“Hmk!” wanita itu mendengus.

“Ya, ya,” cepat Tho-kok-lak-sian menjawab bersama.

“Sekarang aku belum tahu akan membunuh siapa,” kata wanita itu. “Tapi Peng-tayhu sudah mengatakan bahwa di dalam perahu ini ada seorang tuan Lenghou … Lenghou Tiong yang sangat dihormati olehnya, karena itu kalian harus melayani dia sebaik-baiknya sampai Lenghou-siansing itu meninggal dunia. Apa yang dikatakan Lenghou-siansing harus kalian kerjakan, segala perintahnya harus kalian turut dan tidak boleh membantah.”

“Melayani dia sampai dia meninggal dunia?” Tho-kok-lak-sian menegas dengan ragu.

“Ya, melayani dia sampai dia meninggal dunia,” sahut Peng-hujin. “Cuma jiwanya hanya tinggal 100 hari saja, dalam 100 hari ini kalian harus menurut segala perintahnya.”

Mendengar tugas mereka hanya terbatas 100 hari saja, seketika Tho-kok-lak-sian menjadi girang seru mereka, “Hanya melayani dia 100 hari saja masih boleh juga dan tidak sukar.”

Tiba-tiba Lenghou Tiong menyela, “Maksud baik Peng-locianpwe sungguh aku merasa sangat berterima kasih. Namun Wanpwe tidak berani membikin capek dan dilayani Tho-kok-lak-sian, biarlah silakan mereka mendarat saja, sekarang juga Wanpwe ingin mohon diri.”

Wajah Peng-hujin tidak menampilkan sesuatu perasaan senang atau marah, katanya dengan dingin, “Peng-tayhu mengatakan bahwa penyakit Lenghou-hengte itu adalah karena gara-gara keenam orang tolol ini, bukan saja jiwa Lenghou-hengte akan melayang, bahkan membikin malu Peng-tayhu karena tidak sanggup menyembuhkannya sehingga tidak dapat pula bertanggung jawab kepada orang yang minta Peng-tayhu mengobatimu. Untuk ini keenam orang goblok ini harus diberi hukuman yang setimpal. Sebenarnya Peng-tayhu hendak menyuruh mereka membunuh salah seorang saudara mereka sendiri sesuai dengan sumpah mereka, tapi sekarang mereka diberi kelonggaran, mereka hanya dihukum sebagai jongos agar melayani Lenghou-hiante.”

Setelah merandek sejenak, kemudian ia menyambung pula, “Dan kalau keenam orang tolol ini berani membantah sesuatu perintahmu, bila diketahui Peng-tayhu, segera juga nyawa salah seorang di antara mereka berenam akan dicabut.”

“Karena penyakit Lenghou-hiante ini adalah gara-gara perbuatan kami, memang pantas jika kami merawat dia sebagaimana mestinya, ini namanya laki-laki yang dapat membalas budi,” kata Tho-hoa-sian.

“Ya, seorang laki-laki biasanya rela berkorban bagi kesukaran kawan, apalagi cuma merawat penyakit saja,” timbrung Tho-ki-sian.

Begitulah, biarpun mau tak mau Tho-kok-lak-sian harus menurut kepada perintah Peng It-ci itu, tapi dasar sifat mereka yang mau menang sendiri, di mulut mereka tetap tidak mau kalah omong.

Dan di tengah cerewet mereka itulah Peng-hujin hanya mendelik saja dan segera tinggal pergi.

Tho-ki-sian dan Tho-kan-sian lantas mengangkat usungan yang berisi Tho-sit-sian itu dan dibawa melompat ke atas perahu dan diikuti saudara-saudaranya yang lain-lain.

Tho-kin-sian lantas berteriak, “Angkat sauh, jalankan perahunya!”

Melihat gelagatnya sudah terang sukar menolak ikut sertanya Tho-kok-lak-sian, segera Lenghou Tiong berkata, “Eh, keenam Tho-heng, boleh juga kalau kalian mau ikut bersama kami. Tapi terhadap guru dan ibu guruku kalian harus bersikap sopan dan hormat, inilah perintahku yang pertama. Jika kalian tidak mau menurut, maka sekarang juga aku menolak pelayanan kalian.”

“Tho-kok-lak-sian memangnya adalah laki-laki sopan santun yang termasyhur, jangankan guru dan ibu gurumu, sekalipun murid atau cucumu juga kami akan menghormatinya,” demikian sahut Tho-yap-sian.

Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli mendengar dia mengaku sebagai laki-laki yang sopan santun. Segera ia berkata kepada Gak Put-kun, “Suhu keenam Tho-heng ini ingin menumpang perahu kita, entah bagaimana pendapat Suhu?”

Gak Put-kun pikir keenam orang itu sekarang toh tidak sampai mencari perkara kepada Hoa-san-pay, apalagi melihat gelagatnya terang tak bisa mengusir mereka. Untungnya meskipun kepandaian keenam orang itu sangat tinggi, tapi sifatnya dogol dan angin-anginan, jika dilayani dengan akal rasanya masih dapat diatasi. Maka sahutnya kemudian sambil mengangguk, “Baiklah, jika mereka mau menumpang kapal juga boleh. Cuma watakku suka ketenangan, aku tidak suka mendengar mereka ribut mulut dan suka berdebat.”

“Ucapan Gak-siansing ini terang salah,” kata Tho-kan-sian. “Manusia dilahirkan dengan sebuah mulut, mulut ini selain berguna untuk makan nasi juga perlu untuk bicara. Kecuali itu manusia pun punya sepasang telinga yang gunanya untuk mendengarkan pembicaraan orang lain. Jika sifatmu suka ketenangan, kan sia-sia maksud baik Thian yang menciptakan sebuah mulut dan sepasang telinga bagimu.”

Gak Put-kun tahu bila terlibat dalam perdebatan dengan mereka, maka sukarlah untuk berakhir. Maka ia hanya ganda tersenyum saja dan lantas berseru, “Tukang perahu berangkatlah!”

Di tengah suara perdebatan Tho-kok-lak-sian itu si tukang perahu sudah angkat sauh dan menolak perahunya. Tanpa terasa Gak Put-kun dan istrinya memandang sekejap kepada Lenghou Tiong lalu memandang pula kepada Tho-kok-lak-sian, kemudian saling pandang sendiri.

Yang terpikir oleh suami istri itu adalah satu persoalan yang sama, yaitu, “Peng It-ci mengatakan dimintai orang agar mengobati Tiong-ji, dari ucapannya jelas orang yang minta pertolongannya pasti mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan terhormat di Bu-lim sehingga meski dia tidak pandang sebelah mata kepada seorang ketua Hoa-san-pay, sebaliknya berlaku sungkan terhadap seorang murid Hoa-san-pay malah. Sesungguhnya siapakah orang yang minta Peng It-ci mengobati Tiong-ji itu?”

Jika hari biasa tentu sejak tadi mereka suami istri sudah memanggil menghadap Lenghou Tiong untuk dimintai keterangannya. Tapi sekarang tanpa terasa guru dan murid itu sudah timbul macam-macam prasangka, maka suami-istri itu merasa belum tiba waktunya untuk menanyai Lenghou Tiong.

Karena mendapat angin buritan, pula menuju ke hilir, maka perahu itu berlayar dengan sangat lajunya. Waktu berlabuh pada malamnya sudah tidak jauh lagi dari kota Lauhong.

Sementara itu si tukang perahu telah menyiapkan daharan bagi mereka. Selagi mereka hendak bersantap, tiba-tiba ada suara orang berseru lantang di daratan, “Numpang tanya, apakah para kesatria Hoa-san-pay menumpang di perahu ini?”

Sebelum Gak Put-kun menjawab, di sebelah sana Tho-ki-sian sudah mendahului berteriak, “Ya, para kesatria gagah Hoa-san-pay dan Tho-kok-lak-sian berada perahu ini. Ada urusan apa?”

“Syukurlah jika demikian,” seru orang itu dengan girang. “Kami sudah menunggu sehari semalam di sini. Ayo, lekas, lekas dibawa kemari!”

Maka tertampak belasan orang laki-laki kekar terbagi dalam dua barisan berjalan keluar dari sebuah kotak bercat merah.

Seorang laki-laki berbaju biru dan bertangan kosong mendekati perahu, katanya dengan hormat, “Majikan kami mendapat tahu bahwa kesehatan Lenghou-siauhiap terganggu, beliau ikut sangat prihatin, mestinya beliau akan datang menjenguk, cuma sayang tidak keburu pulang, maka hamba sekalian disuruh mengantarkan sedikit oleh-oleh, mohon Lenghou-siauhiap sudi menerimanya.”

Rombongan orang-orang itu lantas berjalan ke atas perahu, belasan kotak merah itu ditaruh di geladak perahu.

Lenghou Tiong menjadi heran, ia tanya, “Entah siapakah majikan kalian? Mengapa memberikan hadiah sebanyak ini, sungguh aku merasa malu dan tidak berani menerimanya.”

“Bila Lenghou-siauhiap sudah membuka kotak-kotak ini tentu akan tahu sendiri,” sahut laki-laki baju biru tadi. “Semoga kesehatan Lenghou-siauhiap selekasnya pulih kembali, untuk itu diharap Lenghou-siauhiap suka menjaga diri baik-baik.”

Habis berkata mereka memberi hormat pula lalu mohon diri dan tinggal pergi.

Keruan Lenghou Tiong terheran-heran, katanya, “Sungguh aneh bib ajaib, entah siapakah gerangan orang yang mengantarkan oleh-oleh padaku ini.”

Dasar watak Tho-kok-ngo-sian itu memang tidak sabar, beramai-ramai mereka berkata. “Coba buka saja kotak-kotak itu, bukanlah orang tadi mengatakan asalkan kotak-kotak ini dibuka dan segera akan tahu sendiri siapa pengantarnya.”

Tanpa disuruh lagi, beramai ramai Tho-kok-ngo-sian lantas membuka tutup kotak-kotak merah itu, maka tertampaklah isi kotak-kotak itu ada penganan alias jajanan yang bagus sekali buatannya, ada panggang ayam, ham dan makanan lain yang cocok untuk minum arak. Bahkan ada pula Jinsom, Yan-oh (sarang burung), Ho-siu-oh dan lain-lain macam bahan obat yang tak ternilai harganya.

Dua kotak paling akhir ternyata penuh berisi emas perak, agaknya disediakan sebagai bekal sangu perjalanan Lenghou Tiong. Melulu isi kedua kotak emas perak ini saja rasanya sudah cukup biaya orang-orang Hoa-san-pay buat beberapa tahun lamanya.

Tho-kok-ngo-sian tidak tahu apa artinya sungkan-sungkan segala, tanpa disuruh lagi segera mereka comot makanan di dalam kotak itu terus dijejalkan ke mulut sambil berteriak teriak, “Enak, lezat sekali!”

Akan tetapi di dalam belasan kotak makanan itu ternyata tiada sesuatu surat atau kartu nama segala, jadi siapa sebenarnya pengirim oleh-oleh itu tetap tidak diketahui.

“Suhu,” kata Lenghou Tiong kepada Gak Put-kun, “urusan ini benar-benar membikin bingung padaku. Pengirim oleh-oleh ini tampaknya tidak punya maksud jahat, tapi juga tidak seperti sengaja bergurau.”

Sambil berkata ia pun mengambilkan makanan untuk disuguhkan kepada guru dan ibu-gurunya serta para Sute dan Sumoay.

“Apakah kau punya kawan Kangouw yang tinggal di daerah sini?” tanya Put-kun.

Lenghou Tiong berpikir sejenak, sahutnya kemudian sambil menggeleng, “Tidak ada.”

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derapan kuda lari yang ramai, ada delapan penunggang kuda sedang membalap tiba. Seorang di antaranya berseru, “Apakah Lenghou-siauhiap dari Hoa-san-pay berada di sini?”

“Ya, di sini, di sini!” beramai ramai Tho-kok-lak-sian menjawab. “Barang enak apa lagi yang kalian antar kemari?”

“Pangcu kami mendapat tahu akan kedatangan Lenghou-siauhiap, beliau mendengar bahwa Lenghou-siauhiap gemar minum barang beberapa cawan, maka hamba disuruh mencari 16 macam arak enak terpilih dan khusus diantar kemari, mohon Lenghou-siauhiap sudi memberi penilaian atas ke-16 guci arak ini,” demikian seru orang tadi.

Sesudah dekat, benar juga pada kedelapan ekor kuda itu masing-masing tergantung dua guci arak. Di atas setiap guci itu ada plakat yang bertuliskan nama arak yang bersangkutan.

Melihat arak sebanyak itu keruan girang Lenghou Tiong melebihi diberi hadiah paling berharga sekalipun, cepat ia memapak ke haluan perahu katanya sambil memberi salam, “Maafkan atas kebodohanku, entah dari Pang (perkumpulan) apakah saudara-saudara ini? Siapa pula nama saudara yang terhormat.”

Orang itu tertawa dan menjawab, “Pangcu kami telah memberi pesta wanti-wanti agar jangan menyebutkan nama Pang kami karena hanya akan membikin malu saja.”

Ketika ia memberi tanda komando, serentak para penunggang kuda itu mengangkat guci-guci arak itu ke atas geladak perahu.

Dari dalam ruangan perahu Gak Put-kun coba mengamat-amati, dilihatnya kedelapan laki-laki itu semuanya sangat cekatan, setiap tangan mengangkat sebuah guci arak dan dapat melompat ke atas perahu dengan gesit dan enteng, hanya saja dari golongan mana kepandaian mereka itu tidak dapat diketahui, terang mereka bukan dari suatu perguruan yang sama, hanya sama-sama anggota sesuatu Pang apa.

Sesudah mengusung ke-16 guci arak itu ke atas perahu, kedelapan orang itu memberi hormat kepada Lenghou Tiong, lalu mencemplak ke atas kuda terus pergi pula dengan cepat.

“Suhu, kejadian ini benar-benar sangat aneh,” kata Lenghou Tiong kepada Gak Put-kun dengan tertawa. “Entah siapakah yang sengaja berkelakar dengan Tecu dan mengirim arak sebanyak ini?”

“Jangan-jangan Dian Pek-kong,” ujar Gak Put-kun sesudah termenung sejenak. “Atau mungkin juga Put-kay Hwesio?”

“Ya, kelakuan kedua orang itu memang aneh dan sukar diduga, memang bisa jadi adalah perbuatan mereka,” sahut Lenghou Tiong. “Hei, Tho-kok-lak-sian, ada arak sebanyak ini, kalian mau minum atau tidak?”

“Hahaha, tentu saja minum, masakah tidak mau?” sahut Tho-kok-lak-sian berbareng.

Tanpa disuruh lagi segera Tho-ki-sian dan Tho-hoa-sian mengangkat dua guci arak di antaranya, sesudah tutup guci dibuang, isinya lantas dituang dalam mangkuk. Seketika bau harum menyampuk hidung, tanpa sungkan-sungkan lagi Lak-sian lantas menenggak sendiri arak enak itu.

Lenghou Tiong juga menuang semangkuk dan diaturkan kepada Gak Put-kun, katanya, “Suhu, silakan mencicipi, boleh juga baunya ini.”

Put-kun mengerut kening. Sebelum menerima arak itu, terdengar Tek-nau berkata, “Suhu, tiada jeleknya kalau kita berhati-hati. Arak ini entah pemberian siapa, entah di dalam arak terdapat sesuatu yang mencurigakan atau tidak?”

“Ya, Tiong-ji, akan lebih baik berhati-hati sedikit,” kata Put-kun mengangguk.

Begitu mengendus bau arak tadi Lenghou Tiong sudah hampir mengiler, mana dia tahan lebih lama lagi, dengan tertawa ia berkata, “Umur Tecu memang sudah tidak lama lagi, jika di dalam arak ini ada racun juga tiada alangannya bagiku.”

Habis itu segera ia angkat mangkuk, hanya beberapa kali tenggak saja isi mangkuk itu sudah habis, ia menjilat-jilat bibir, lalu memuji, “Ehm, arak bagus, arak bagus!”

Waktu Lenghou Tiong memandang ke arah datangnya suara itu, tertampaklah di bawah pohon Liu sana ada seorang Susing (pelajar) berbaju kotor dan penuh tambalan, tangan kanan memegang sebuah kipas rusak, kepala mendongak lagi mengendus bau arak yang teruar dari perahu, terdengar pujiannya pula, “Ya, benar-benar arak yang sedap!”

“Eh, saudara itu,” sapa Lenghou Tiong dengan tertawa, “engkau kan belum mencicipi araknya, dari mana mengetahui baik atau jeleknya arak ini?”

“Arak ini adalah Hun-ciu yang sudah tersimpan 60 tahun lamanya, begitu mengendus baunya segera kutahu rasa araknya,” sahut Susing miskin ini.

Lenghou Tiong sangat senang, katanya, “Jika saudara tidak menampik, boleh silakan kemari untuk minum beberapa cawan.”

Susing itu menggeleng kepala dan berkata, “Ah, selamanya kita belum kenal, hanya secara kebetulan bertemu di sini, dengan mengendus bau araknya saja sudah mengganggu, mana aku berani merasai arak saudara yang enak itu. Jangan, jangan!”

“Di segenap penjuru lautan ini adalah saudara semua,” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa. “Dari ucapan saudara tadi jelas saudara adalah ahli arak angkatan tua, justru kuingin minta petunjuk lebih banyak, boleh silakan naik ke atas perahu dan jangan sungkan-sungkan lagi.”

Perlahan Susing itu menyusuri papan loncatan ke atas perahu, sesudah berhadapan ia memberi hormat, katanya, “Cayhe she Coh, Coh berarti kakek moyang, nama Jian-jiu yang berarti seribu musim, sebagai kiasan panjang umur. Mohon tanya juga nama saudara yang mulia?”

“Cayhe she Lenghou dan bernama Tiong,” sahut Lenghou Tiong.

“Ehm, she yang bagus, namanya juga baik,” ujar Coh Jian-jiu.

Lenghou Tiong tersenyum, katanya di dalam hati, “Aku mengundangmu minum arah, sudah tentu segala apa kau puji dengan baik.”

Segera ia menuangkan semangkuk arak dan diaturkan kepada Coh Jian-jiu sambil berkata, “Silakan minum!”

Usia Coh Jian-jiu itu kira-kira 50-an, kulit mukanya kuning kecokelat-cokelatan, matanya sayu, jenggotnya jarang-jarang, bajunya kotor, bagian tertentu agaknya sering dipakai untuk mengusap sehingga tampak mengilap. Kedua tangannya yang terjulur keluar dari lengan berbaju itu tertampak kesepuluh kuku jarinya hitam kotor.

Coh Jian-jiu lantas menerima suguhan arak Lenghou Tiong itu, katanya, “Lenghou-heng, meski engkau punya arak bagus, tapi tidak punya wadah yang baik, sungguh harus disayangkan.”

“Di tengah perjalanan hanya ada mangkuk kasar dan cawan lama, harap Coh-siansing suka memaklumi,” ujar Lenghou Tiong.

Tapi Coh Jian-jiu telah menggeleng, katanya, “Jangan, sekali-kali tak boleh begitu. Sedemikian gegabah caramu menilai peralatan arak, nyata sekali dalam hal ini minum arak kau kurang memahami. Minum arak harus mengutamakan juga wadah araknya, arak apa yang diminum harus memakai cawan arak tertentu. Kalau minum Hun-ciu harus memakai cawan kemala. Ini terbukti pada syair di zaman kuno yang menyatakan: Mangkuk kemala dapat menambah indah warnanya arak.”

Karena memang tidak paham seluk-beluk uraian orang, Lenghou Tiong hanya mengiakan saja.

Lalu Coh Jian-jiu menyambung pula, “Arak putih dari Kwan-gwa mempunyai rasa yang sangat enak, cuma sayang kurang berbau harum, maka paling baik kalau dipakai cawan dari tanduk badak kemudian diminum, dengan demikian rasanya dan baunya akan terasa tiada bandingannya. Hendaklah maklum bahwa cawan kemala bisa menambah cemerlang warnanya arak, cawan dari tanduk badak dapat menambah bau harumnya arak, agaknya orang zaman kuno menang tidak membohongi kita.”

Selama hidup Lenghou Tiong memangnya paling gemar minum arak, cuma sahabatnya kebanyakan adalah orang-orang Kangouw, yang bisa membedakan baik jeleknya arak saja sudah jarang diketemukan, dari mana ada yang paham tentang “seni minum arak” dengan cawan kemala, cawan tanduk badak segala? Sekarang sesudah mendengar cerita Coh Jian-jiu itu, Lenghou Tiong merasa dirinya seperti orang bodoh yang mendadak menjadi pintar.

Begitulah Coh Jian-jiu mencerocos terus tentang cawan-cawan lain lagi yang tepat untuk wadah berbagai macam arak bagus yang dibawa oleh ke-8 orang laki-laki tadi. Katanya untuk arak anggur harus dipakai Ya-kong-pwe (cawan gemerlap di waktu malam), kalau Ko-liang-ciu harus pakai cawan tembaga hijau, bila minum Bi-ciu (arak beras) harus memakai gantang yang besar agar terasakan meresapnya seni minum arak.

Sejak tadi Gak Put-kun juga memerhatikan obrolan Coh Jian-jiu itu, ia merasa ucapan orang terlalu dilebih-lebihkan, tapi rasanya ada benarnya juga dan masuk di akal. Dilihatnya pula di sebelah lain Tho-ki-sian dan kawan-kawannya sedang sibuk membuka satu guci arak, isi guci itu tercecer memenuhi meja, sama sekali mereka tidak menghiraukan betapa bernilainya arak bagus itu. Walaupun Gak Put-kun tidak gemar minum, tapi dari baunya yang harum semerbak memabukkan ia pun tahu bahwa arak itu memang benar arak bagus, sungguh sangat sayang dihambur-hamburkan secara sembrono oleh Tho-kok-lak-sian.

Dalam pada itu Coh Jian-jiu masih terus membual tentang jenis-jenis arak lain, katanya Siau-hin-ciu harus memakai cawan porselen kuno, minum Le-hoa-ciu harus memakai cawan hijau zamrud, bila minum Giok-loh-ciu lebih tepat memakai gelas karena arak Giok-loh-ciu ada buih-buih kecil seperti mutiara, di tengah gelas yang bening tembus itu dapat kelihatan letak kebagusan Giok-loh-ciu yang lain daripada yang lain.

Begitulah dalam sekejap saja ia telah menguraikan delapan macam arak dengan cawan yang harus dipakai. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berolok-olok, “Huh, membual, jual jamu!”

Ternyata pengolok-olok itu adalah Gak Leng-sian. Cepat Gak Put-kun berkata, “Anak Sian, jangan sembrono, apa yang diuraikan Coh-siansing tadi memang masuk di akal.”

“Masuk di akal apa?” ujar Leng-sian. “Minum arak sekadar membangkitkan semangat memang boleh juga, tapi kalau siang dan malam selalu menenggak arak melulu, ditambah lagi macam-macam cara yang dinamakan seni apa segala, apakah itu kelakuan seorang kesatria atau pahlawan sejati?”

“Salah, salah ucapan Siocia ini,” kata Coh Jian-jiu. “Dahulu Han-ko-co Lau Pang sehabis mabuk baru memulai dengan pergerakannya, akhirnya dia mendirikan kerajaan Han dan diakui sebagai pahlawan.”

“Jika Coh-siansing sudah tahu arak bagus, katanya pahlawan sejati harus pula minum arak bagus, tapi mengapa engkau sejak tadi tak mau minum?” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa

“Sejak tadi juga aku sudah bilang, kalau minum tanpa memakai wadah yang baik kan hanya menyia-nyiakan arak bagus saja?” kata Coh Jian-jiu.

“Ah, kau membual tentang cawan zamrud, Ya-kong-pwe dan cawan kemala apa segala, di dunia ini mana ada cawan arak demikian?” tiba-tiba Tho-kan-sian mengejek. “Ya, seumpama ada paling-paling juga cuma satu-dua macam saja, siapa orangnya yang mampu memiliki cawan sekomplet itu?”

“Ahli minum arak yang tahu apa artinya seni tentu mempunyai peralatan secara komplet,” sahut Coh Jian-jiu. “Jika minum cara kerbau menyeruput seperti kalian, dengan sendirinya dapat pakai mangkuk besar dan cawan kasar seadanya.”

“Kau sendiri apakah terhitung ahli minum yang tahu seni?” tanya Tho-yap-sian.

“Tidak banyak dan tidak sedikit, kalau tiga bagian sebagai ahli yang tahu seni kukira masih ada,” sahut Coh Jian-jiu.

“Hahaha, jika begitu, cawan untuk minum kedelapan macam arak bagus ini kau membawanya berapa biji?” tanya Tho-kok-lak-sian dengan gelak tertawa.

“Bilang banyak tidak banyak, katakan sedikit juga tidak sedikit, tapi setiap macamnya satu sih aku membawanya,” sahut Coh Jian-jiu.

“Hahahaha! Tukang ‘ngecap’, jual jamu!” Tho-kok-lak-sian tertawa pula.

“Eh, mari kita bertaruh saja,” demikian Tho-kok-lak-sian mendadak. “Jika kau benar-benar membawa kedelapan macam cawan itu, biarlah aku nanti akan makan satu demi satu cawan itu ke dalam perutku. Sebaliknya kalau kau tidak punya cawan yang kau katakan, lalu bagaimana?”

“Jika begitu aku akan makan cawan dan mangkuk arak yang kasar ini satu per satu ke dalam perutku,” sahut Coh Jian-jiu.

“Bagus, bagus!” seru Tho-kok-lak-sian. “Coba kita lihat cara bagaimana dia ….”

Belum habis teriakan mereka, tiba-tiba Coh Jian-jiu sudah memasukkan tangannya ke dalam baju yang gondrong itu, waktu tangan ditarik kembali, tahu-tahu sebuah cawan arak sudah dirogoh keluar. Cawan itu halus gilap, nyata adalah sebuah cawan kemala putih susu yang sangat indah. Keruan Tho-kok-lak-sian terkejut sehingga tidak menyambung lagi olok-olok mereka.

Dalam pada itu Coh Jian-jiu masih terus mengeluarkan cawannya sebuah demi sebuah. Benar juga, ada cawan zamrud, ada cawan tanduk badak, ada cawan gelas dan lain-lain, semuanya berjumlah delapan cawan, komplet seperti apa yang dia uraikan tadi.

Meskipun kedelapan cawan mestika itu sudah komplet, tapi Coh Jian-jiu masih terus mengeluarkan cawan-cawan yang lain, ada cawan emas yang gemilapan, ada cawan perak yang berukir indah, ada cawan batu yang berwarna-warni, ada lagi cawan gading, cawan kulit, cawan bumbung bambu, cawan kayu, cawan gigi harimau dan lain-lain lagi, besar dan kecil tidak sama.

Keruan semua orang sama terkesima, siapa pun tidak menduga bahwa di dalam baju Susing rudin itu ternyata tersimpan cawan arak sebanyak itu, mereka heran apakah Susing miskin itu memiliki kantong wasiat?

“Bagaimana?” tanya Coh Jian-jiu kepada Tho-ki-sian.

Sahut Tho-ki-sian dengan air muka sedih, “Aku kalah. Biarlah kumakan kedelapan cawan arak itu.”

Habis berkata ia terus comot cawan kemala putih tadi, “krak”, ia keremus cawan itu, lalu dikunyah sehingga berbunyi kertak-kertuk, ia ganyang mentah-mentah cawan kemala itu dan dilalap habis ke dalam perut.

Semua orang sama terkesiap melihat cara Tho-ki-sian yang nekat itu, masakah cawan kemala itu benar-benar dimakan begitu saja dan diganyang sungguh-sungguh.

Segera Tho-ki-sian menjulur tangan hendak mengambil cawan zamrud pula. Tapi Coh Jian-jiu keburu ayun tangan kirinya ke bawah untuk memotong nadi orang. Cepat Tho-ki-sian menggeser tangannya, berbareng tangannya membalik hendak memegang pergelangan tangan Coh Jian-jiu.

Namun Coh Jian-jiu lantas menyelentik dengan jari tengah, yang diarah adalah Lo-kiong-hiat di tengah telapak tangan. Tho-ki-sian terkejut dan lekas-lekas menarik kembali tangannya, serunya, “He, kenapa kau tidak jadi memberi makan cawanmu padaku?”

“Sudahlah, aku kagum padamu, kedelapan awan ini anggap saja sudah kau lalap ke dalam perutmu,” ujar Coh Jian-jiu. “Kau berani makan cawan secara nekat, tapi aku yang rugi.”

Semua orang bergelak tertawa geli.

Semula Gak Leng-sian rada takut kepada Tho-kok-lak-sian, tapi sesudah sekian lama berdampingan, ia merasa mereka toh bukan manusia jahat, malahan tingkah laku mereka sesungguhnya sangat jenaka. Dengan tabahkan hati ia lantas tanya Tho-ki-sian, “He, enak tidak rasanya cawan kemala itu?”

“Rada pahit, tidak enak,” sahut Tho-ki-sian dengan mulut masih berkecap-kecap.

Dalam pada itu Coh Jian-jiu tampak mengerut kening, katanya, “Wah, cawan kemala telah kau makan, tapi urusanku ini bisa runyam. Ai, sekarang arak Hun-ciu ini harus ditadahi dengan cawan apa yang tepat? Ah, terpaksa memakai cawan batu saja untuk sementara.”

Lalu ia ambil sebuah cawan batu, ia mengeluarkan sepotong saputangan untuk mengusap cawan batu itu. Cawan batu itu mestinya cukup bersih sebaliknya saputangannya tampak sudah hitam lagi dekil, masih mendingan kalau tidak dilap, sekali dilap bukannya cawan batu itu menjadi bersih sebaliknya makin dilap makin kotor.

Sesudah mengusap sekian lama barulah ia taruh cawan batu itu di atas meja, kedelapan cawan pilihan itu berjajar satu baris sedangkan cawan-cawan lain yang tidak terpakai dimasukkan kembali ke dalam baju. Lalu ia menuang delapan jenis arak ke dalam delapan cawan yang bersangkutan sesuai dengan uraiannya tadi.

Selama menuang arak, ia menghela napas lega, lalu berkata kepada Lenghou Tiong, “Lenghou-heng, kedelapan cawan arak ini silakan minum satu per satu kemudian aku akan mengiringimu minum delapan cawan juga, habis itu barulah kita bertukar pikiran untuk menilai di mana perbedaan cita rasa arak-arak ini dengan arak-arak yang pernah kau minum dahulu.”

“Baik,” sahut Lenghou Tiong. Ia angkat cawan batu yang berisi Hun-ciu (arak semerbak), sekali tenggak ia habiskan isinya. Ia merasa arak itu sangat pedas, begitu masuk mulut rasa pedas itu terus menyusup ke dalam perut. Keruan ia terperanjat, pikirnya, “Aneh, mengapa rasa arak ini sedemikian aneh?”

Tiba-tiba Coh Jian-jiu berkata, “Cawan-cawan arakku ini benar-benar adalah benda mestika bagi kaum peminum arak. Cuma kalau kaum pengecut, bila merasa arak yang diminumnya ada rasa yang aneh, setelah minum cawan pertama lantas tidak berani minum kedua lagi. Dari dahulu kala sampai sekarang, orang yang sanggup minum delapan cawan sekaligus sesungguhnya belum ada.”

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir, “Sekalipun dalam arak ada racun, memangnya jiwaku sudah tidak lama lagi akan menemui ajal, biarpun mati diracun juga aku tidak mau kalah pamor.”

Maka tanpa pikir lagi ia angkat cawan dan beruntun minum dua cawan arak itu. Ia merasa arak yang satu cawan sangat pahit, sedangkan cawan yang lain rasanya pesing, daripada dibilang rasa arak enak, akan lebih tepat dikatakan rasa air kencing.

Waktu Lenghou Tiong hendak mengambil cawan arak keempat, tiba-tiba Tho-ki-sian berseru, “Aduh, celaka! Perutku rasanya sangat panas seperti dibakar!”

“Kau telah ganyang mentah-mentah sebuah cawan kemalaku, tentu saja perutmu kesakitan?” kata Coh Jian-jiu dengan tertawa. “Lekas kau banyak minum obat cuci perut agar dapat dikuras keluar, kalau tidak dapat keluar terpaksa kau harus minta pertolongan kepada Sat-jin-beng-ih Peng-tayhu untuk membedah perutmu dan mengeluarkan cawan kemala itu.”

Seketika Lenghou Tiong tergerak pikirannya, “Ah, kedelapan cawan araknya ini tentu ada sesuatu yang luar biasa. Tho-ki-sian telah makan cawan kemala itu, seumpama kemala adalah benda keras dan tak bisa dicernakan juga tidak sampai timbul rasa panas seperti dibakar? Tapi, ah, seorang laki-laki sejati pandang kematian seperti pulang ke asalnya, kenapa mesti takut? Biarlah semakin jahat racunnya semakin baik bagiku.”

Dan sekali tenggak kembali ia menghabiskan isi secawan arak pula.

“Toasuko,” tiba-tiba Leng-sian berseru, “arak itu jangan diminum lagi, jangan-jangan dalam arak itu beracun. Engkau pernah membutakan orang-orang itu, hendaknya waspada kalau orang mencari balas padamu.”

Lenghou Tiong tersenyum pedih, katanya, “Coh-siansing ini adalah seorang laki-laki yang suka blak-blakan, rasanya tidak sampai meracuni diriku. Pula, jika dia mau membunuh aku bisa segera dilakukannya, mengapa mesti banyak membuang waktu dan pikiran?”

Tanpa pikir lagi segera ia minum pula dua cawan.

Arak dari cawan keenam ini rasanya rada asam dan asin, bahkan rada berbau bacin. Waktu mengalir masuk ke perut, mau tak mau keningnya terkerut.

Melihat Lenghou Tiong menenggak arak sendirian, Tho-kin-sian menjadi kepingin dan ingin mencicipi arak-arak itu. Katanya, “Sisa kedua cawan itu berikan saja padaku.”

Berbareng tangannya lantas hendak mengambil cawan arak ketujuh.

Tapi mendadak Coh Jian-jiu mengayun kipasnya dan mengetuk punggung tangan Tho-kin-sian, katanya sambil tertawa, “Nanti dulu, bergiliran, jangan berebutan, setiap orang harus minum delapan cawan secara berurut-urutan, dengan demikian baru dapat merasakan intisari arak-arak ini yang sesungguhnya.”

Melihat ketukan kipas Coh Jian-jiu itu sangat keras, bila kena tentu tulang tangannya akan remuk, cepat Tho-kin-sian putar tangan dan berbalik hendak merampas kipas orang. Bentaknya, “Aku justru hendak minum dulu secawan ini, kau bisa berbuat apa?”

Kipas Coh Jian-jiu itu sebenarnya terlempit menjadi satu potong, ketika jari tangan Tho-kin-sian hampir mencengkeram tiba, mendadak kipas menjepret lebar, pinggang kipas lantas menjentik ke jari telunjuk Tho-kin-sian.

Kejadian di luar dugaan ini membikin Tho-kin-sian kerepotan dan lekas menarik kembali tangannya, namun tidak urung jari telunjuknya sudah keserempet dan terasa kesemutan, sambil berkaok-kaok cepat ia melompat mundur.

“Lenghou-heng, lekas minum habis isi kedua cawan itu ….” belum lenyap suara Coh Jian-jiu, dari sebelah sana Tho-hoa-sian sudah menjulur tangan hendak mengambil cawan-cawan arak itu. Waktu Coh Jian-jiu mengayun tangan untuk menangkis, dari sebelah lain kembali Tho-ki-sian hendak rebut lagi cawan itu.

Meski kepandaian Coh Jian-jiu tidak lemah, tapi di bawah kerubutan Tho-kok-ngo-sian yang merupakan tokoh-tokoh kelas satu, terang sukar baginya untuk menahan serobotan kelima orang yang hendak rebut kedua cawan arak itu. Tangan yang satu ditangkis pergi, tangan yang lain sudah menyambar pula dari belakang.

Dalam keadaan yang serbasusah untuk merintangi Tho-kok-ngo-sian itu, tiba-tiba Coh Jian-jiu mendapat akal teriaknya, “Hah, kiranya Tho-kok-lak-sian sama sekali tidak punya rasa persaudaraan, tahunya hanya berebut ini dan itu, sungguh menggelikan, sungguh menertawakan!”

Usia di antara Tho-kok-lak-sian satu sama lain hanya terpaut satu tahun, selamanya mereka belum pernah berpisah barang satu hari pun, meski setiap hari mereka suka bertengkar dan ribut mulut, tapi sebenarnya rasa persaudaraan mereka sangat akrab. Maka demi mendengar Coh Jian-jiu menuduh mereka tidak punya rasa persaudaraan, mereka menjadi gusar dan berhenti semua sambil membentak, “Kentut! Kentutmu busuk!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: