Hina Kelana: Bab 5. Ilmu Pukulan “Cui-sim-ciang” dari Jing-sia-pay

Baru saja Peng-ci hendak menjawab, sekonyong-konyong di kamar senjata sebelah sana ada suara keletik yang perlahan. Dari celah-celah jendela juga tampak ada sinar lampu. Cepat ia melompat ke sana, ia colok kertas jendela dan mengintip ke dalam, segera ia berseru girang, “Ayah, kiranya engkau berada di sini?” Waktu itu Cin-lam mestinya lagi asyik entah apa yang dikerjakan dan menghadap ke sebelah sana, demi mendengar seruan Peng-ci segera ia berpaling. Hati Peng-ci tergetar demi lihat air muka sang ayah yang menampilkan rasa kejut dan ngeri, wajahnya yang berseri-seri karena telah menemukan sang ayah seketika lenyap, mulutnya sampai ternganga tak sanggup bicara. Ong-hujin lantas membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalam. Dilihatnya darah memenuhi lantai, tiga buah bangku panjang berjajar dan di atasnya telentang sesosok tubuh manusia yang telanjang bulat, bagian perutnya telah dibedah. Waktu diperhatikan kiranya jenazah itu adalah Ho-piauthau yang siangnya telah kabur bersama kawan-kawannya, lalu pulang kembali dalam keadaan tak bernyawa di atas kudanya itu. Dalam pada itu Peng-ci juga sudah ikut masuk ke dalam serta menutup pula pintu kamar. Dari rongga dada jenazah yang telah dibedah itu Cin-lam mencomot keluar sebuah hati manusia dan berkata, “Hati ini sudah tergetar pecah menjadi beberapa bagian, ternyata … ternyata memang ….” “Memang “Cui-sim-ciang” (pukulan penghancur hati) dari Jing-sia-pay!” sambung Ong-hujin. Cin-lam mengangguk dan terdiam. Baru sekarang Peng-ci tahu bahwa sebabnya sang ayah menyembunyikan diri kiranya adalah untuk membedah jenazah untuk mencari tahu sebab musabab kematiannya. “Segala obrolan tentang setan dan arwah gentayangan segala memangnya aku tidak percaya, sekarang menyaksikan hati yang remuk ini barulah aku yakin apa yang sudah terjadi dan tidak perlu disangsikan lagi,” kata Cin-lam kemudian. Lalu ia membungkus jenazah itu dengan kain minyak yang sudah tersedia dan ditaruhnya di pojok kamar. Setelah membersihkan noda darah tangannya, bersama istri dan anaknya kemudian mereka pulang ke kamar. “Sekarang sudah jelas pihak lawan memang benar adalah jago Jing-sia-pay,” kata Cin-lam. “Lantas bagaimana pendapatmu, Niocu?” Dengan gusar Peng-ci lantas berseru, “Urusan ini adalah gara-garaku, biarlah besok juga anak akan menantang untuk bertempur mati-matian padanya, jika tidak mampu menandingi, biarlah anak dibunuh olehnya saja.” Namun Cin-lam menggeleng kepala, katanya, “Sekali pukul saja orang ini dapat menghancurkan hati manusia tanpa meninggalkan sesuatu bekas luka di luar badan, nyata ilmu silat orang ini adalah tokoh kesatu atau kedua dalam Jing-sia-pay. Jika dia mau membunuh kau tentu sudah siang-siang dilakukan olehnya. Kukira musuh justru bermaksud keji dan sengaja mempermainkan kita.” “Apa tujuannya yang sesungguhnya?” tanya Peng-ci. “Bangsat itu hendak menggoda kita seperti kucing mempermainkan tikus agar si tikus ketakutan setengah mati dan akhirnya binasa sendiri, dengan demikian barulah ia merasa puas,” kata Cin-lam. “Jadi dalam pandangannya Hok-wi-piaukiok kita ini dianggapnya barang sepele saja?” seru Peng-ci dengan gusar. “Ya, memang kita dianggap sepele olehnya,” sahut Cin-lam dengan menghela napas. “Boleh jadi dia gentar kepada 108 jurus Hoan-thian-ciang ayah, kalau tidak mengapa tidak berani menampakkan diri dan cuma main sergap saja?” “Anak Peng, kepandaian ayah memang lebih dari cukup untuk menghadapi kawanan penjahat dari kalangan Hek-to, tapi kalau dibandingkan dengan Cui-sim-ciang orang ini terang ayah ketinggalan jauh. Ya, selamanya aku pun tidak mau menyerah kepada siapa pun juga, tapi demi melihat hati Ho-piauthau tadi, aku … aku …. Ai!” Melihat semangat sang ayah sedemikian lesu, Peng-ci tidak berani banyak bicara lagi. Maka Ong-hujin lantas berkata, “Jika musuh benar-benar begini lihai, seorang laki-laki harus berani maju maupun mundur, biarlah sementara ini kita menghindari saja.” “Ya, aku pun berpikir demikian,” ujar Cin-lam. “Malam ini juga kita lantas berangkat ke Lokyang, toh kita sudah tahu asal usul musuh, untuk membalas dendam belumlah terlambat biarpun sepuluh tahun lagi,” kata Ong-hujin. “Benar,” sahut Cin-lam. “Ayah mertua sangat luas pergaulannya, tentu beliau akan dapat memberi saran-saran baik kepada kita. Marilah kita lantas berbenah yang perlu saja dan segera berangkat.” “Lalu orang-orang yang kita tinggalkan di sini tanpa pimpinan lantas bagaimana mereka nanti?” tanya Peng-ci. “Musuh toh tiada permusuhan apa-apa dengan mereka, asal kita sudah kabur, tentu orang-orang yang tinggal di sini akan menjadi selamat malah,” kata Cin-lam. Peng-ci pikir ucapan sang ayah cukup beralasan, sebabnya jatuh korban sebanyak ini sebenarnya juga lantaran perbuatan dirinya saja, jika dirinya sudah kabur, tentu musuh takkan memusuhi para Piausu dan tukang kawal yang tak berdosa itu. Begitulah segera ia kembali ke kamar sendiri untuk berbenah seperlunya. Selamanya dia belum pernah meninggalkan rumah ke tempat jauh, ia pikir keberangkatan ke Lokyang sekali ini bukan mustahil akan memberi kesempatan kepada musuh untuk membakar ludes Hok-wi-piaukiok ini, maka ia merasa sayang untuk meninggalkan miliknya. Sedapat mungkin ia hendak membawa serta barang-barang yang bisa dibawa sehingga akhirnya ia mengumpulkan dua buntalan besar, walaupun demikian masih dirasakan banyak barang-barang kesayangannya yang belum ikut terbawa, maka sekalian ia lantas ambil pula sebuah kuda kemala yang berada di atas meja dan sehelai kulit macan tutul hasil buruannya dahulu. Dengan memanggul dua buntalan besar itulah ia menuju ke kamar ayah-bundanya. Melihat begitu, Ong-hujin merasa geli. Katanya, “Kita ini hendak mengungsi dan bukannya pindah rumah. Buat apa membawa barang-barang begitu banyak?” Diam-diam Cin-lam menghela napas dan goyang kepala. Ia maklum putranya sejak kecil sudah hidup senang dan serbakecukupan, sekarang mendadak mengalami kesukaran, pantas juga jika anak muda itu menjadi bingung. Tanpa terasa timbullah rasa kasih sayangnya, katanya, “Di rumah Gwakong (kakek luar) tidak kekurangan barang apa pun, tidak perlu kau membawa barang sebanyak ini. Asal membawa sedikit bekal saja dan sedikit benda-benda berharga yang ringkas, sepanjang jalan juga banyak terdapat kantor-kantor cabang kita, masakah kita khawatir akan kekurangan ongkos? Buntalanmu harus makin kecil makin baik agar bila perlu bertempur beban kita juga akan lebih enteng.” Walaupun merasa ogah-ogahan, terpaksa Peng-ci meletakkan juga buntalannya itu. “Kita menunggang kuda dan secara terang-terangan keluar dari pintu depan atau kabur melalui pintu belakang secara diam-diam?” tanya Ong-hujin. Cin-lam tidak menjawab. Ia duduk bersandar di kursi malas sambil mengisap pipa cangklongnya, sampai sekian lamanya barulah ia membuka mata dan berkata, “Anak Peng, coba pergi memberitahukan segenap penghuni Piaukiok kita ini agar semuanya juga berbenah seperlunya, besok pagi-pagi kita akan pergi semua dari sini. Suruh kasir memberi pesangon pula kepada semua orang, katakan kepada mereka bila kelak penyakit menular ini sudah lenyap barulah kita akan pulang kembali.” Peng-ci mengiakan. Diam-diam ia merasa heran mengapa mendadak sang ayah ganti haluan lagi. Ong-hujin lantas bertanya, “Kau maksudkan kita akan bubar semua dari sini? Habis siapa yang akan menjaga Piaukiok ini?” “Tidak perlu dijaga,” kata Cin-lam. “Rumah ini telah dianggap sebagai gedung maut, siapa lagi yang berani mengantarkan nyawa ke sini? Pula seperginya kita bertiga, masakah orang-orang yang tertinggal di sini tidak ingin pergi juga?” Begitulah Peng-ci lantas keluar untuk menyampaikan maklumat ayahnya itu. Keruan semua orang menjadi panik seketika. Setelah Peng-ci keluar barulah Cin-lam berkata, “Niocu, kami ayah dan anak akan menyamar sebagai tukang kawal, maka kau pun menyaru sebagai kaum pelayan saja. Besok pagi-pagi beberapa puluh orang kita lantas bubar dan kabur serentak, betapa pun musuh akan bingung juga yang manakah yang harus diubernya!” “Bagus sekali akal ini,” puji Ong-hujin. Segera ia pergi mengambil dua setel pakaian tukang kawal, setelah Peng-ci sudah kembali, segera ayah dan anak itu disuruh ganti baju. Ia sendiri pun salin pakaian hijau dengan ikat kepala dari kain kembang sehingga mirip kaum pelayan pekerja kasar. Peng-ci yang merasa runyam, baju yang dipakainya baunya tidak kepalang, tapi apa boleh buat, terpaksa ia bertahan sekuat mungkin. Esok paginya baru saja fajar menyingsing, segera Cin-lam suruh membuka pintu lebar, katanya kepada para pegawainya, “Tahun ini perusahaan kita lagi apes, terpaksa kita harus menghindari untuk sementara. Jika saudara-saudara masih ingin bekerja, bolehlah datang ke Hangciu, Lamjiang atau kota lain yang terdapat kantor cabang kita, di sana kalian tentu akan diterima dengan baik. Nah, sekarang boleh kita berangkat saja.” Begitulah hampir seratus orang serentak lantas mencemplak ke atas kuda, lalu berbondong-bondong menerjang keluar. Sesudah menggembok pintu, sekali bentak Cin-lam dan orang banyak terus terjang keluar garis darah maut itu. Orang banyak maju serentak rasanya menjadi tidak takut lagi, semuanya pikir asalkan bisa lebih cepat meninggalkan gedung maut itu tentu akan lebih aman. Maka terdengarlah suara derapan kuda yang berdetak-detak riuh ramai sama menuju ke pintu gerbang kota utara. Orang-orang itu sama sekali tidak punya pendirian, ketika melihat temannya menuju ke utara, segera yang lain juga melarikan kuda mereka ke utara. Cin-lam sendiri lantas memberi tanda kepada istri dan putranya supaya berhenti pada persimpangan jalan dalam kota sana. Katanya dengan suara tertahan, “Biarlah mereka menuju ke utara, kita berbalik putar haluan ke selatan saja.” “Bukankah kita akan ke Lokyang? Mengapa menuju ke selatan?” tanya sang istri. Namun Cin-lam menjawab, “Musuh tentu menduga kita akan pergi ke Lokyang dan pasti akan mencegat kita di pintu utara, tapi sekarang kita justru menuju ke selatan, kita putar satu lingkaran sejauh mungkin baru kemudian balik ke utara, biarkan bangsat itu menubruk tempat kosong.” “Ayah,” mendadak Peng-ci memanggil. “Ada apa?” sahut Cin-lam. Tapi pemuda itu malah terdiam. Selang sejenak, kembali ia memanggil, “Ayah!” “Apa yang hendak kau katakan boleh katakan saja,” ujar Ong-hujin. “Ayah, kupikir kita lebih baik tetap melalui pintu utara saja,” kata Peng-ci. “Bangsat anjing itu telah sekian banyak membinasakan kawan-kawan kita, kalau kita tidak melabrak dia, rasa dendam ini benar-benar tak terlampiaskan.” “Sakit hati ini sudah tentu akan kita balas,” kata Ong-hujin. “Tapi melulu sedikit kepandaianmu ini apakah kau mampu melawan Cui-sim-ciang orang yang lihai itu?” “Paling-paling juga seperti Ho-piauthau, biarkan pukulannya menghancurkan jantungku saja,” ujar Peng-ci dengan penasaran dan penuh dendam. Dengan muka merah padam Cin-lam mendengus, “Hm, keluarga Lim kita tiga-empat turunan jika semuanya meniru kau suka gagah-gagahan, maka tak perlu direcoki orang juga Hok-wi-piaukiok akan bangkrut dengan sendirinya.” Melihat sang ayah menjadi gusar, Peng-ci tidak berani bicara lagi. Terpaksa ikut ayah-ibunya memutar ke arah selatan. Sekeluarnya kota, mereka lantas membelok ke sebelah barat laut untuk kemudian menyeberangi Bankang (sungai Ban) terus ke Lamtay, melintasi bukit Katnia dan akhirnya sampai di kota Engthay. Perjalanan sehari penuh itu boleh dikata tanpa berhenti. Waktu mereka mendapatkan hotel dan mengaso, sungguh mereka sudah terlalu lelah. Untungnya sepanjang jalan ternyata tidak mengalami rintangan apa-apa. Sesudah makan malam barulah Cin-lam merasa lega, katanya perlahan, “Akhirnya dapatlah melepaskan diri dari godaan bangsat itu.” “Nak, orang tak bisa sabar bukanlah orang gagah, kalau sakit hati tidak dibalas, lebih-lebih bukan kaum kesatria,” kata Ong-hujin kepada putranya. “Benar,” sahut Peng-ci. “Kukira lawan masih juga gentar kepada ayah, kalau tidak buat apa sejak mula sampai akhir dia tidak berani terang-terangan menantang kita.” “Ah, anak kecil tidak tahu tebalnya bumi dan tingginya langit,” ujar Cin-lam sambil menggeleng. “Sudahlah, tidur saja!” Besok pagi-pagi mereka sudah bangun. Cin-lam lantas berseru memanggil, “Pelayan! Pelayan!” Namun hotel itu ternyata sunyi senyap tanpa jawaban apa-apa. Ia coba keluar kamar dan berseru memanggil pula. Tapi mendadak tampak di pelataran dalam sana menggeletak satu orang yang dikenali sebagai pelayan yang melayani mereka kemarin. Cin-lam terkejut, cepat ia memburu maju untuk memeriksanya. Ternyata pelayan itu sudah mati, badannya sudah dingin, suatu tanda sudah mati untuk sekian lamanya. Melihat keadaannya, mirip benar dengan kematian orang-orang Piaukiok yang terkena Cui-sim-ciang. Dengan hati berdebur-debur keras Cin-lam menuju ke ruangan depan, seorang pun tidak kelihatan. Waktu membuka kamar tidur sana, tertampak kuasa hotel suami istri bersama anaknya yang berumur empat-lima tahun itu semuanya sudah mati di atas tempat tidur. Mendadak terdengar Ong-hujin sedang berteriak, “Wah, tamu-tamu ini sudah mati semua!” Waktu Cin-lam berpaling, tertampak muka sang istri dan putranya pucat sebagai mayat. Beberapa kamar tamu tampak terpentang pintunya, penghuninya sudah mati semua, ada yang menggeletak di atas ranjang, ada yang tersungkur di lantai. Hotel sebesar itu kecuali rombongannya bertiga, selebihnya tak peduli kuasa hotel atau tamu, seluruhnya sudah binasa. Sementara itu di luar hotel terdengar suara orang lalu-lalang semakin berisik, pasar pagi sudah mulai ramai. “Marilah kita lekas pergi dari sini,” cepat Cin-lam mengajak dan segera mendahului berlari ke belakang. Tapi setiba di kandang kuda ternyata seluruh binatang-binatang tunggangan itu juga sudah mati, begitu pula tiga ekor kuda miliknya. Perlahan-lahan Cin-lam membuka pintu belakang dan membiarkan istri dan putranya keluar dahulu, lalu ia pun menyelinap keluar sambil merapatkan kembali daun pintu. Dengan langkah lebar mereka bertiga lantas berjalan ke jurusan barat laut. Kira-kira lebih dari 20 li, mereka membelok ke suatu jalan kecil yang berliku-liku. Setelah belasan li lagi barulah mereka mengaso dan sarapan di suatu warung nasi kecil di tepi jalan. Bila teringat kepada keadaan hotel yang penuh mayat tadi, Peng-ci menjadi tidak ada nafsu makan lagi. Semangkuk nasi hanya disumpit dua kali saja lantas ditaruhnya kembali ke atas meja. Katanya, “Aku tiada nafsu makan, ibu.” Ong-hujin memandang sekejap kepada pemuda itu dan tidak menanggapinya. Sejenak kemudian ia menggumam sendiri, “Kita bertiga seperti orang mati semua! Masakah orang membunuh semalam suntuk di sekitar kita, malah sama sekali kita bertiga tidak mendengar apa-apa.” Cin-lam menghela napas. Ia habiskan setengah mangkuk nasi barulah berkata, “Cui-sim-ciang dari Jing-sia-pay itu memang adalah ilmu pukulan tanpa suara, konon waktu memukul sedikit pun tidak mengeluarkan suara apa-apa, yang terkena pukulannya juga tidak sempat bersuara sedikit pun dan segera binasa. Sungguh suatu ilmu pukulan yang sangat keji dan ganas.” “Untuk bisa mencapai tingkatan kepandaian setinggi itu harus berlatih berapa lamanya?” tanya Peng-ci. “Kukira sedikitnya juga perlu 30-40 tahun lamanya,” sahut Cin-lam. “Tentu si kakek Sat itulah orangnya,” seru Peng-ci sambil berbangkit. “Aku … aku telah menolong cucu perempuannya dengan maksud baik, siapa tahu ….” sampai di sini air matanya lantas berlinang-linang hampir menetes dengan rasa penasaran. “Ya, aku pun sudah menduga pada orang tua itu,” kata Cin-lam. “Hm, kalau orang-orang Piaukiok kita terbunuh boleh dikatakan sebagai menuntut balas, tapi para tamu hotel yang tak berdosa juga telah dibunuh olehnya, lalu apa alasannya?” “Padahal Jing-sia-pay juga terhitung golongan terhormat di dunia persilatan, tapi malah melakukan perbuatan tidak pantas demikian ini, bukan saja mereka adalah musuh Hok-wi-piaukiok kita, bahkan … bahkan boleh dikatakan adalah musuh bersama setiap orang persilatan,” ujar Ong-hujin. “Biarkan saja, perbuatan mereka yang sewenang-wenang dan keterlaluan ini akhirnya pasti akan menerima ganjarannya yang setimpal!” kata Cin-lam. “Nak, habiskan mangkuk nasimu itu.” “Aku tidak nafsu menghabiskannya,” sahut Peng-ci sambil menggeleng. “Pelayan, bayar!” segera Cin-lam berseru. Tapi meski sudah diulangi lagi tetap tiada jawaban. Ong-hujin juga ikut memanggil, namun pemilik warung nasi tetap tidak kelihatan. Dengan cepat ia membuka buntalan dan mengeluarkan goloknya, segera ia berlari ke ruangan belakang. Ternyata laki-laki penjual nasi itu sudah menggeletak di sana, di samping pintu juga merebah seorang wanita, yaitu istri penjual nasi. Beberapa saat sebelumnya suami istri masih sibuk melayani tamunya, tapi dalam waktu singkat saja mereka sudah terbinasa. Ketika memeriksa pernapasan laki-laki itu ternyata napasnya sudah putus, hanya terasa bibirnya masih agak hangat ketika jari Ong-hujin menyentuh mulutnya. Sementara itu Cin-lam dan Peng-ci juga sudah lolos pedang dan mengitari warung nasi itu. Warung yang dibangun terpencil membelakangi bukit itu ternyata sunyi senyap tiada sesuatu tanda yang mencurigakan. “He, lihat itu!” mendadak Ong-hujin berteriak sambil menunjuk ke depan. Ternyata di atas tanah di depan warung nasi itu tahu-tahu sudah ada satu garis merah darah, di sampingnya tertulis enam huruf “keluar pintu lebih sepuluh tindak mati”. Hanya huruf “mati” terakhir itu tampak baru selesai setengah, boleh jadi Cin-lam berdua sekonyong-konyong keluar dan karena khawatir kepergok, maka orang yang menulis itu lekas-lekas menyingkir pergi sebelum selesai menulis. Walaupun demikian dalam waktu sekejap saja orang itu mampu menggaris dan menulis tanpa diketahui, maka dapatlah dibayangkan betapa cepatnya gerakan orang itu. Dengan menghunus pedang Cin-lam lantas berseru, “Sobat dari Jing-sia-pay, orang she Lim menanti kematian di sini, silakan keluar untuk bertemu!” Ia berteriak-teriak beberapa kali, tapi yang terdengar hanya suara kumandang yang membalik dari lembah bukit sana, selain itu tiada suara jawaban lain. Peng-ci lantas berlari keluar garis darah itu sambil berteriak, “Ini aku, Lim Peng-ci untuk kedua kalinya melintasi garis darah kalian, hayo, boleh kalian keluar untuk membunuh aku! Dasar bangsat pengecut, beraninya cuma main sembunyi-sembunyi seperti kawanan bajingan tengik yang tidak laku sepeser pun.” Sekonyong-konyong dari hutan bambu di sebelah warung berkumandang suara tertawa orang yang nyaring, pandangan Peng-ci terasa kabur, tahu-tahu di depannya sudah berdiri satu orang. Tanpa pikir lagi, Peng-ci terus angkat pedang dan menusuk ke dada orang itu. Namun sedikit mengegos, orang itu sudah menghindarkan serangan itu. Waktu Peng-ci menebas pula dari samping, orang itu mendengus dan memutar ke sebelah kiri. Cepat tangan kiri Peng-ci menyampuk, berbareng pedang ditarik kembali terus menusuk pula. Sementara itu Cin-lam dan istrinya juga sudah memburu maju. Tapi melihat Peng-ci dapat menghadapi musuh dengan serangan yang teratur tanpa kelihatan gugup sedikit pun, maka mereka tidak lantas maju membantu. Memangnya Peng-ci sudah menahan dendam sekian lamanya, sekarang ia lantas mainkan Pi-sia-kiam-hoat sedemikian gencarnya, ia menyerang dengan nekat. Orang itu ternyata bertangan kosong dan cuma berkelit saja tanpa balas menyerang. Setelah Peng-ci menyerang lebih 20 jurus, tiba-tiba ia tertawa dingin, “Huh, kiranya Pi-sia-kiam-hoat hanya begini saja!” “Cring”, mendadak ia menyelentik sekali, seketika Peng-ci merasa tangannya kesemutan, pedang lantas terlepas dari cekalan. Menyusul kaki orang itu lantas melayang, kontan Peng-ci didepak hingga terjungkal beberapa kali. Cepat Cin-lam dan istrinya lantas melompat maju untuk mengaling-alingi Peng-ci, waktu mereka memerhatikan, kiranya orang itu berbaju hijau, wajahnya putih, sikapnya gagah, usianya kira-kira baru 23-24 tahun. Dengan melirik hina dia menghadapi Cin-lam berdua. “Siapakah nama saudara yang terhormat? Apakah dari Jing-sia-pay?” tanya Cin-lam. “Hanya sedikit permainan Hok-wi-piaukiok kalian ini masih belum ada harganya untuk tanya namaku,” ejek orang itu. “Cuma sekarang aku bermaksud menuntut balas dan kau harus diberi tahu. Memang, aku ini orang dari Jing-sia-pay.” Dengan menahan ujung pedangnya ke tanah, Cin-lam berkata pula, “Selamanya Cayhe sangat menghormati Ih-koancu dari Siong-hong-koan, setiap tahun selalu mengirim orang menyampaikan salam kepada beliau, sedikit pun Cayhe tidak pernah kurang adat. Malahan tahun ini Ih-koancu juga telah mengirim empat orang muridnya untuk berkunjung ke Hokciu. Tapi entah di mana kami telah berbuat salah pada saudara?” Pemuda baju hijau itu mendongak ke atas dan tertawa dingin beberapa kali, selang sejenak barulah ia membuka suara pula, “Ya, benar. Suhuku memang hendak mengirim empat orang muridnya ke Hokciu, satu di antaranya adalah aku ini.” “Bagus sekali jika begitu,” seru Cin-lam. “Dan siapakah nama saudara yang mulia?” Pemuda itu menunjukkan sikap seperti enggan untuk menjawab, setelah mendengus lagi sekali barulah berkata, “Aku she Uh, namaku Uh Jin-ho.” “Oo,” Cin-lam manggut-manggut. “Eng Hiong Ho Kiat, kiranya saudara adalah salah satu di antara empat murid utama Siong-hong-koan. Pantas Cui-sim-ciang sudah sedemikian hebatnya, sampai-sampai membunuh orang tanpa keluar darah. Sungguh kagum, kagum sekali.” “Membunuh orang tanpa keluar darah” ini memang gambaran dari ilmu pukulan Cui-sim-ciang dari Jing-sia-pay yang tiada bandingannya. Diam-diam Uh Jin-ho merasa senang karena namanya sendiri ternyata dikenal orang. Sebaliknya ia pun anggap Lim Cin-lam juga bukan sembarangan orang karena sekaligus dapat mengetahui di mana letak intisari kebagusan ilmu pukulan perguruannya itu. Lalu Cin-lam berkata pula, “Kedatangan Uh-enghiong dari sejauh ini aku tidak mengadakan penyambutan sepantasnya, harap dimaafkan kekurangan adat ini.” “Kau tidak menyambut, tapi putramu yang bagus dan tinggi ilmu silatnya ini sudah melakukan penyambutan, ya, sampai-sampai putra kesayangan guruku juga dibunuh olehnya, penyambutan ini rasanya tidak terlalu kurang adat,” jengek Jin-ho. Mendengar itu seketika Cin-lam berkeringat dingin. Memangnya dia sudah menduga orang yang dibunuh Peng-ci besar kemungkinan adalah orang Jing-sia-pay, siapa nyana adalah putra kesayangan Ih-koancu malah. Sekarang urusan sudah telanjur, jalan lain tidak ada lagi kecuali mengadu jiwa. Maka dengan cepat ia tenangkan diri, mendadak ia terbahak-bahak dan berkata, “Sungguh menggelikan! Uh-siauhiap ini ternyata suka berkelakar. Hahaha!” “Aku berkelakar apa?” ejek Uh Jin-ho dengan melotot. “Siapa orang Kangouw yang tidak kagum pada ilmu silat Ih-koancu yang sakti dan tata tertib rumah tangganya yang keras?” sahut Cin-lam. “Padahal orang yang dibunuh anakku yang tak becus itu adalah seorang bajingan tengik yang suka menggoda kaum wanita di warung arak, jika anakku yang tak becus itu dapat membunuhnya, maka ilmu silat bergajul itu pun dapat dibayangkan betapa rendahnya. Orang demikian siapa yang mau percaya adalah putra kesayangan Ih-koancu, bukankah Uh-siauhiap sengaja berkelakar?” Dengan muka masam seketika Uh Jin-ho tak bisa menjawab. Kiranya orang yang dibunuh Peng-ci di warung arak itu memang betul adalah putra bungsu Ih Jong-hay, ketua Jing-sia-pay, namanya Ih Jin-gan. Ibunya adalah gundik kesayangan Ih Jong-hay yang nomor empat. Sejak kecil Ih Jin-gan itu sangat dimanjakan ibunya sehingga pelajaran ilmu silatnya hanya setengah-setengah saja. Sebaliknya di luar tahu ayahnya dia selalu berjudi dan main perempuan dan perbuatan-perbuatan kotor yang lain. Sekali ini dia dengar ayahnya hendak mengutus orang ke Hokkian, karena sudah merasa bosan hidup di pegunungan, dia lantas merecoki sang ibu agar minta kepada ayahnya supaya dia juga dikirim ke Hokkian untuk menambah pengalaman. Padahal maksud yang sesungguhnya adalah untuk foya-foya di dunia yang fana. Ih Jong-hay juga tahu putra bungsunya itu adalah paling nakal dan tidak becus di antara beberapa anaknya itu, kalau ada pertandingan silat atau di medan pertempuran tingkat tinggi betapa pun tidak akan mengutus putra yang memalukan melulu itu. Tapi sekarang ke Hokkian adalah sekadar kunjungan balasan kepada Hok-wi-piaukiok saja, tentunya tidak akan terjadi apa-apa di tengah jalan. Sebab itulah dia meluluskan permintaan Jin-gan. Sepanjang jalan memang tiada terjadi rintangan apa-apa meski Ih Jin-gan telah berfoya-foya sepuas-puasnya, makan minum berjudi dan main perempuan, semuanya tiada yang ketinggalan. Setiba di luar kota Hokciu, siapa duga akhirnya dia mati ditubles belati oleh Lim Peng-ci. Terhadap pribadi Suheng itu, biasanya Uh Jin-ho juga memandang hina padanya. Cuma mengingat ibunya adalah gundik kesayangan gurunya, maka dia tidak berani menyalahi Jin-gan. Sekarang ia menjadi sukar menjawab atas ucapan-ucapan Lim Cin-lam yang tajam menusuk itu. Tapi mendadak dari hutan bambu sana ada orang berseru, “Kata peribahasa ‘empat kepalan sukar melawan delapan tangan’. Ketika di warung arak itu Lim-siaupiauthau telah mengeroyok Ih-sute kami bersama belasan orang Piauthau ….” begitulah sambil bicara orang itu lantas muncul. Tertampak perawakan orang ini kecil, kepalanya juga kecil, tangan membawa kipas, dia menyambung terus, “Andaikan pertempuran itu dilakukan secara terang-terangan sih mendingan, biarpun jumlah orang Hok-wi-piaukiok lebih banyak juga tiada gunanya. Akan tetapi Lim-siaupiauthau justru menaruh racun di dalam arak yang diminum Ih-sute kami, sekaligus menghujani Ih-sute kami dengan belasan senjata rahasia berbisa pula. Hehe, anak kura-kura ini benar-benar sangat keji. Maksud baik kita hendak mengadakan kunjungan balasan di luar dugaan malah disambut dengan sergapan secara licik.” Peng-ci yang ditendang terguling oleh Uh Jin-ho tadi dengan menahan gusar telah berdiri di samping, ia sedang menunggu sesudah ayahnya bicara secara sopan dengan lawan, habis itu segera dia akan menerjang maju untuk bertempur lagi. Siapa duga lantas muncul seorang yang berkepala kecil dan bermuka ciut, dengan ocehan yang memutarbalikkan kejadian yang sebenarnya, bahkan memfitnah dirinya menaruh racun di dalam arak apa segala. Keruan ia menjadi murka dan membentak, “Kentut anjingmu! Selamanya aku tidak kenal manusia rendah she Ih itu, hakikatnya aku tidak tahu dia dari Jing-sia-pay, buat apa aku mesti mencelakai dia?” “Kentut! Ya, kentut! Ehm, alangkah baunya!” demikian seru orang berkepala kecil itu sambil mengebas kipasnya dengan cepat. “Jika kau bilang tidak kenal dan tidak bermusuhan dengan Ih-sute kami, sebab apa kau menyembunyikan pula berpuluh kawanmu di luar warung arak untuk mengeroyoknya? Ih-sute kami menyaksikan kau menggoda wanita baik-baik, dia telah menasihatkan kau, tapi kau tidak mau menurut sehingga kau dihajar olehnya, akhirnya jiwamu juga diampuni. Tapi kau tidak merasa berterima kasih berbalik lantas mengerubut Ih-sute kami bersama para Piauthau anjing itu!” Sungguh gusar Peng-ci tak terlukiskan, hampir-hampir dadanya meledak saking penasaran. Teriaknya kalap, “Ha, kiranya orang-orang Jing-sia-pay adalah kawanan bajingan tengik yang suka memutarbalikkan duduknya perkara!” “Anak kura-kura, kau berani memaki orang?” semprot orang itu dengan cengar-cengir. “Ya, aku memaki kau, habis kau mau apa?” teriak Peng-ci dengan gusar. “Baiklah, boleh kau memaki terus, tidak menjadi halangan, tidak menjadi soal!” ujar orang itu mengangguk. Peng-ci melengak malah, jawaban orang itu benar-benar di luar dugaannya. Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara angin menyambar, sesosok tubuh telah menubruk ke arahnya. Segera Peng-ci bermaksud mengayun sebelah tangannya untuk menghantam, tapi sudah terlambat sedetik. “Plok”, pipinya telah kena ditempeleng orang dengan keras, matanya sampai berkunang-kunang dan hampir-hampir jatuh kelengar. Gerakan orang itu benar-benar luar biasa cepatnya, begitu berhasil serangannya segera ia mundur ke tempatnya semula sambil meraba-raba pipinya sendiri dan berkata dengan gusar, “Anak kura-kura, mengapa kau memukul orang? Wah, alangkah sakitnya, sakit sekali! Hahaha!” Melihat putranya dihina, “sret”, kontan Ong-hujin mengayun goloknya membacok orang itu dengan jurus “Ya-hwe-siau-thian” (api liar membakar langit), serangan yang kuat lagi jitu. Orang itu sedikit mengegos, tahu-tahu golok Ong-hujin mengenai tempat kosong. Namun demikian sebelah bahu orang itu juga hampir-hampir tertebas kutung, selisihnya cuma dua-tiga senti saja, kalau telat sedetik saja, tentu celakalah dia. Mau tak mau orang itu pun terkejut dan mengomel. Ia tidak berani memandang enteng pada musuh lagi. Segera ia mengeluarkan senjatanya, yaitu ruyung lemas yang melilit di pinggangnya sebagai sabuk. Waktu serangan kedua Ong-hujin tiba pula, sambil berkelit kontan ia pun balas menyabat dengan ruyungnya. Melihat gelagatnya Cin-lam tahu urusan sukar dibereskan secara damai, segera ia pun acungkan pedang dan berkata, “Jing-sia-pay hendak menjatuhkan Hok-wi-piaukiok memangnya adalah pekerjaan yang teramat mudah. Tapi segala soal di Bu-lim juga tidak terlepas dari keadilan dan kebenaran. Nah, silakan maju, Uh-siauhiap!” Sekali pegang gagang senjatanya, “sret”, Uh Jin-ho lantas lolos senjata juga dan berkata, “Silakan, Lim-congpiauthau!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: