Hina Kelana: Bab 49. Tabib Sakti Takut Bini

“Tabibnya kau atau aku?” tiba-tiba Peng It-ci bertanya.

“Sudah tentu engkau, buat apa tanya lagi?”

“Jika aku, dari mana kau mengetahui terlambat atau tidak? Sesudah membedah dadanya mestinya aku sudah siap mengobati dia, tapi kalian berlima setan alas ini keburu datang lantas ribut tak keruan, padahal aku menyuruh kalian pergi pesiar seharian penuh, mengapa kalian sedemikian cepat kembali. Lalu cara bagaimana aku sempat mengobati dia?”

“Lekas mulai saja, kau sendiri yang rewel, mengapa bilang kami yang ribut?” sahut Tho-kan-sian.

Peng It-ci mendelik pula padanya. Sekonyong-konyong ia membentak, “Ambilkan jarum dan benang!”

Tho-kok-ngo-koay dan Gak Put-kun suami-istri sampai terkejut oleh suara bentakannya yang menggeletar itu. Maka tertampaklah seorang wanita tinggi kurus melangkah masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah nampan, tanpa bersuara nampan itu ditaruhnya di atas meja.

Usia wanita itu antara 40-an tahun, wajahnya pucat bagai mayat, matanya sayu, seperti orang sakit-sakitan.

“Kalian minta aku menyelamatkan kawanmu ini, apakah kalian sudah tahu peraturanku?” tiba-tiba Peng It-ci tanya Ngo-koay.

“Sudah tentu tahu,” sahut Ngo-koay. “Tak peduli membunuh siapa, silakan mengatakan saja, kami berenam saudara pasti akan menurut.”

“Baiklah jika begitu,” ujar Peng It-ci. “Tapi sekarang aku belum tahu siapa orang yang harus dibunuh. Nanti kalau aku sudah ingat baru akan kukatakan. Sekarang kalian harus berdiri di pinggir sana, dilarang mengeluarkan suara, asal bersuara sedikit saja segera aku akan berhenti kerja, dan mati atau hidup kawanmu ini aku tidak peduli lagi.”

Selama hidup Tho-kok-lak-sian tak pernah diperintah orang sesukanya, sekarang mereka diharuskan berdiri diam, dilarang mengeluarkan suara, padahal ribut mulut adalah kegemaran mereka. Keruan larangan itu lebih menderita daripada mereka dipukul.

Tapi demi untuk menyelamatkan saudara mereka, tiada jalan lain terpaksa mereka berdiri dengan mulut tertutup dan mata mendelik penuh mendongkol.

Sementara itu Peng It-ci telah ambil sebuah jarum besar dari nampan di atas meja, dipasang seutas benang putih bening lalu mulai menjahit dada Tho-sit-sian yang terbedah itu.

Jangan dikira kesepuluh jarinya itu pendek dan kasar sehingga mirip sepuluh batang wortel, gerak-geriknya ternyata sangat lincah melebihi anak gadis yang pandai menyulam.

Hanya sekejap saja sudah selesai menjahit rapat jalur luka sepanjang belasan senti itu.

Agaknya sudah lama Tho-sit-sian tak sadarkan diri, sama sekali ia tidak bersuara. Maka dengan leluasa Peng It-ci membubuhkan macam-macam obat di atas lukanya. Lalu ia mencekoki Tho-sit-sian dengan beberapa macam air obat pula, akhirnya noda darah di badannya dibersihkan dengan sepotong kain basah.

Si wanita tinggi kurus setengah umur itu sejak tadi membantunya dari samping mengembalikan jarum, memberikan obat gerak-geriknya juga sangat cepat dan lancar.

Kemudian Peng It-ci memandang Tho-kok-ngo-koay, tertampak bibir kelima orang itu bergerak-gerak, terang mereka ingin lekas-lekas diperbolehkan bicara.

“Kawanmu ini belum lagi hidup kembali, tunggu sesudah dia sadar baru kalian boleh bicara,” kata Peng It-ci.

Keruan Tho-kok-ngo-koay sangat mendongkol dan serbarunyam.

Peng It-ci tidak menggubrisnya lagi, ia duduk sendiri di samping. Ngo-koay hanya saling pandang saja dengan menyengir.

Wanita tinggi kurus itu lantas menyingkirkan nampan yang berisi jarum dan peralatan lain.

Gak Put-kun bersama istrinya yang mengintip di luar jendela pun menahan napas. Dalam keadaan sunyi senyap itu, asal sedikit bergerak saja pasti akan diketahui oleh orang-orang yang berada di dalam rumah.

Dalam keadaan sunyi senyap tiba-tiba dari kamar sebelah ada orang bertanya dengan suara serak, “Sute, hidup tidak orang yang kau obati?”

“Sudah tentu hidup, masakah pasienku bisa mati?” sahut Peng It-ci.

Lalu terdengar suara pintu didorong, seorang kakek gemuk melangkah masuk. Orang ini lebih tinggi sedikit daripada Peng It-ci, rambutnya beruban semua, mukanya sudah keriput.

Sesudah mendekati Tho-sit-sian yang terbaring itu, mendadak kakek itu tabok “Pek-hwe-hiat” di atas ubun-ubun Tho-sit-sian.

Serentak enam orang menjerit bersama, yang lima orang adalah Tho-kok-ngo-sian, yang satu lagi adalah Tho-sit-sian yang tadinya tak bisa berkutik itu, tapi sekarang ia dapat bersuara terus bangkit duduk sambil memaki, “Keparat, mengapa kau pukul kepalaku?”

Si kakek beruban balas memaki, “Keparat, jika Locu tidak menyalurkan hawa murni ke Pek-hwe-hiatmu, apa kau bisa sembuh begini cepat?”

“Persetan, Locu akan sembuh dengan cepat atau lambat, peduli apa denganmu?” sahut Tho-sit-sian.

“Keparat, Locu ada urusan penting yang harus berunding dengan Suteku, jika kau terus menggeletak tak bisa sembuh bukankah Locu harus menunggu lama?” semprot si kakek pula.

“Baik, biar Locu pergi sekarang juga, memangnya Locu ingin tinggal di sini?” sahut Tho-sit-sian. Habis berkata, serentak ia berdiri terus melangkah pergi.

Melihat saudaranya sekali bilang pergi segera juga pergi, sembuhnya sedemikian cepat, keruan Tho-kok-ngo-sian terkesiap dan bergirang pula. Mereka ikut di belakang Tho-sit-sian dan pergi tanpa pamit.

Terkejut Gak Put-kun dan istrinya, bahwa ilmu pertabiban Peng It-ci benar-benar sangat menakjubkan, Lwekang Suhengnya itu juga luar biasa, hanya sekali tabok saja telah menyalurkan tangan murni melalui Pek-hwe-hiat di ubun-ubun kepala Tho-sit-sian dan membuatnya sadar seketika.

Dalam pada itu Tho-kok-lak-sian sudah pergi jauh, sedangkan si kakek beruban telah duduk berhadapan dengan Peng It-ci di dalam kamar, maka Gak Put-kun dan istrinya tidak berani sembarangan bergerak lagi, mereka tahu betapa lihainya kedua orang di dalam rumah itu, jika sekarang mereka bergerak pergi tentu akan ketahuan, terpaksa mereka harus menunggu kesempatan lain lagi.

Terdengar si kakek beruban sedang tanya Peng It-ci, “Kau hendak menyuruh Tho-kok-lak-sian membunuh siapa?”

“Sekarang aku belum ingat siapa yang harus dibunuh,” sahut Peng-It-ci. “Eh, Suko, menurut pendapatmu sebaiknya suruh mereka membunuh siapa?”

“Dari mana aku bisa tahu apa kehendak yang terkandung di dalam hatimu?” sahut si kakek. Setelah merandek sejenak, lalu ia meneruskan, “Kukira akan kau peralat mereka untuk membantumu pergi ke Jian-jiu-kiong untuk mengambil pusaka, bukan?”

“Hm, mengambil pusaka ke Jian-jiu-kiong?” jengek Peng It-ci. “Sekali kau Pek-hoat-tongcu sudah menyatakan akan pergi ke sana, di dunia ini siapa lagi yang berani berebut denganmu?”

Mendengar sampai sini, Gak Put-kun mengangguk-angguk terhadap sang istri, katanya di dalam hati, “Kiranya kakek ini adalah Pek-hoat-tongcu (si bocah berambut ubanan) Yim Bu-kiang. Konon orang ini berhati kejam, membunuh mata pun tidak berkedip, namun sudah 20-an tahun lamanya jarang terdengar namanya, tak tersangka bahwa dia adalah Suheng si tabib sakti pembunuh Peng It-ci.”

Sebaliknya Gak-hujin tidak tahu asal usul Pek-hoat-tongcu segala, cuma dari anggukan sang suami serta matanya yang penuh rasa waswas itu segera ia pun paham asal usul si kakek beruban itu pasti tidak sembarangan.

Dalam pada itu si kakek beruban, Pek-hoat-tongcu Yim Bu-kiang, tampak sedang berjingkrak tertawa kekanak-kanakan dan berkata, “Sute, dahulu waktu Jian-jiu-kiong dibuka, tatkala itu aku baru saja mulai meyakinkan Liong-siang-ciang (pukulan naga dan gajah), aku menyadari belum mampu memasuki istana itu. Kini sesudah dengan susah payah menunggu 30 tahun dengan sendirinya aku akan mencoba-cobanya. Padahal jika kau pergi bersama aku juga boleh, kita berdua bergabung tentu jauh lebih kuat daripada aku pergi sendiri.”

“Sudah, sudah, lebih baik aku tidak pergi ke Jian-jiu-kiong dan kita masih tetap berhubungan dengan baik,” sahut Peng It-ci. “Tapi sekali timbul maksudku akan pergi ke sana, mungkin sebelum meninggalkan Cu-sian-tin ini jiwaku sudah melayang di bawah Liong-siang-ciangmu. Di dunia ini terang tiada tabib sakti pembunuh yang mampu menyembuhkan aku?”

“Hah, orang yang terkena pukulan Liong-siang-ciangku, sekalipun kau si tabib sakti sendiri yang mengobati juga belum tentu mampu menolongnya,” ujar Yim Bu-kiang dengan tertawa.

“Benar,” sahut Peng It-ci, “membunuh orang lebih gampang daripada menolong orang, ini memang kenyataan yang tak terbantahkan.”

“Ya, tapi itu pun harus dilihat siapa yang akan dibunuh dan siapa yang hendak ditolong,” kata Yim Bu-kiang. “Umpama orang ingin membunuh aku Pek-hoat-tongcu, terang tidak gampang.”

“Tepat, sangat tepat,” seru Peng It-ci. “Selama ini entah berapa banyak orang Kangouw yang ingin mencacah dirimu, tapi Yim-suhengku ini toh bisa hidup langgeng sampai rambut pun sudah ubanan semua. Tampaknya engkau masih dapat hidup aman sentosa untuk 60-70 tahun lagi.”

“Hahahaha!” Yim Bu-kiang bergelak tertawa. “Usiaku sekarang sudah 74, jika hidup 60-70 tahun lagi bukankah akan berubah menjadi siluman?”

“Suko,” tiba-tiba Peng It-ci berkata, “sekarang juga aku akan pergi mengobati seorang, apakah engkau ada minat untuk ikut pergi berjalan-jalan.”

“Memangnya aku sudah merasa sebal meringkuk di gubukmu ini, ikut pergi berjalan-jalan akan lebih baik,” sahut Yim Bu-kiang dengan tertawa.

Begitulah kedua orang itu sambil bicara terus berjalan menuju ke sebuah rumah yang lain.

Gak Put-kun cepat memberi tanda kepada sang istri, dengan hati-hati mereka lantas meninggalkan rumah itu, sesudah beberapa puluh meter jauhnya barulah mereka berani berjalan dengan cepat.

“Lwekang kakek beruban itu agaknya jauh lebih tinggi daripada tabib sakti pembunuh itu,” ujar Gak-hujin di tengah jalan. “Suko, sebenarnya dari golongan manakah kedua orang itu?”

“Konon menurut cerita orang bahwa guru Peng It-ci itu adalah seorang Tosu tua yang menyepi di pegunungan Hok-gua-san, soal asal usul dan dari golongan mana tidak ada orang Bu-lim yang tahu,” sahut Put-kun.

“Tapi dari tingkah laku mereka berdua tampaknya lebih jahat daripada baiknya,” ujar Gak-hujin.

“Karena Tho-kok-lak-sian juga berada di sini, sebaiknya kita lekas meninggalkan tempat ini,” ajak Gak Put-kun.

Gak-hujin tidak menanggapi lagi ucapan sang suami, ia merasa nasib mereka benar-benar sedang apes, suami adalah tokoh utama Ngo-gak-kiam-pay yang terhormat, tapi selama beberapa bulan terakhir ini terpaksa harus menyingkir kian kemari seakan-akan di dunia ini tiada tempat meneduh lagi bagi mereka.

Tidak lama kemudian mereka berada kembali di kelenteng, tertampak Leng-sian, Peng-ci, Lo Tek-nau dan murid-murid lain sedang menunggu dengan tidak sabar dan cemas.

“Marilah kita kembali ke perahu,” ajak Gak Put-kun.

Para muridnya sudah mendapat tahu bahwa Tho-kok-ngo-sian berada di sekitar situ, maka tanpa bertanya mereka buru-buru ikut berangkat.

Lo Tek-nau cukup paham perasaan sang guru, setiba di perahu segera ia bicara kepada juragan perahu agar segera berangkat. Sudah tentu si tukang perahu sangat heran tanyanya, “Mengapa kita tidak bermalam dulu di sini? Arus sungai sangat deras berlayar di malam hari sangat berbahaya, akan lebih baik kita berangkat besok pagi-pagi saja.”

Segera Tek-nau mengeluarkan lima tahil perak dan diberikan kepada tukang perahu itu, katanya, “Berangkat saja sekarang ini untukmu!”

Karena mendapat persen cukup banyak, pula melihat rombongan Lo Tek-nau sama membawa senjata, mau tak mau si tukang perahu menurut juga walaupun dengan ogah-ogahan.

Tapi baru saja tukang perahu itu hendak angkat sauh, pada saat itulah terdengar suara teriakan Tho-kok-ngo-sian, “Lenghou Tiong! Di mana kau berada, Lenghou Tiong?!”

Seketika air muka Gak Put-kun dan murid-muridnya berubah hebat. Dalam pada itu terlihat ada tujuh orang telah memburu sampai di tepi dermaga. Selain Tho-kok-ngo-sian, yang dua orang lagi ternyata adalah Peng It-ci dan Yim Bu-kiang.

Tho-kok-ngo-sian sudah kenal Gak Put-kun suami istri, begitu melihat dari jauh mereka lantas berjingkrak kegirangan. Sesudah dekat, serentak mereka berlima meloncat ke atas perahu.

Tanpa ayal Gak-hujin lantas melolos pedang dan menusuk ke dada Tho-kin-sian. Sebelum serangan sang istri dilancarkan, berbareng Gak Put-kun juga sudah mencabut pedang. “Trang”, tahu-tahu ia tahan batang pedang sang istri ke bawah, menyusul tangan lain meraup ke depan, ia rampas pedang istrinya itu sambil membisikinya, “Jangan sembrono!”

Nyata Gak Put-kun telah memperhitungkan datangnya Tho-kok-ngo-sian sekaligus itu, andaikan satu-dua orang di antaranya dapat dirobohkan toh pihak sendiri tetap bukan tandingan sisa musuh yang lain.

Dalam pada itu terasa haluan perahu rada tenggelam ke bawah, Tho-kok-ngo-sian sudah berdiri di situ. Tho-kin-sian lantas berseru, “Lenghou Tiong, kau sembunyi di mana? Mengapa tidak lekas keluar?”

Lenghou Tiong menjadi gusar, katanya, “Memangnya aku takut kepada kalian? Buat apa aku sembunyi?”

Pada saat itulah sekonyong-konyong perahu mereka oleng ke kiri, keruan para murid wanita Hoa-san-pay sama menjerit kaget. Syukur perahu itu lantas miring pula ke sebelah lain lalu bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Tahu-tahu di haluan perahu sudah bertambah dua orang, yang seorang adalah si tabib sakti Peng It-ci dan yang lain adalah Suhengnya, Pek-hoat-tongcu Yim Bu-kiang.

Kedua orang ini punya potongan tubuh yang serupa, sudah pendek lagi gemuk, bobot setiap orang sedikitnya 200 kati. Padahal perahu itu cukup besar, daya angkutnya paling sedikit beberapa puluh ribu kati, kalau cuma ditambah dengan muatan empat lima ratus kati saja seharusnya tidak sampai bergoyang. Sebabnya perahu tadi oleh tentulah karena kedua orang itu serentak menggunakan tenaga “Jian-kin-tui” (tekanan ribuan kati) yang lihai.

Diam-diam Gak Put-kun terkejut, pikirnya, “Mengapa mereka berdua menyusul kemari? Jangan-jangan mereka telah mengetahui perbuatan kami yang mengintip tadi? Tho-kok-ngo-koay saja sudah sukar dilayani, sekarang bertambah lagi dua tokoh lihai ini, agaknya jiwa kami hari ini akan melayang di sini.”

Tiba-tiba terdengar Peng It-ci berseru, “Yang manakah Lenghou-hengte?”

Nadanya kedengaran sangat sungkan dan hormat.

Perlahan Lenghou Tiong berjalan ke haluan perahu, katanya, “Aku inilah Lenghou Tiong, entah siapakah nama kalian yang mulia dan ada keperluan apa?”

Lebih dulu Peng It-ci mengamati-amatinya sejenak, lalu katanya, “Ada orang minta aku mengobati dirimu.”

Habis berkata, sekali tangannya bergerak tahu-tahu pergelangan tangan Lenghou Tiong sudah kena dipegang, jari telunjuknya terus menekan di atas nadinya.

“Heh,” mendadak ia bersuara heran sambil berkerut kening. Selang sejenak dahinya terkerut semakin terkejut dan kembali bersuara, “Eh!”

Sambil memeriksa nadi, Peng It-ci menengadah pula sembari garuk-garuk kepala dengan tangan yang lain, ia bergumam heran, “Aneh, sungguh aneh!”

Selang sekian lama baru ia ganti memegang nadi tangan Lenghou Tiong yang lain. Mendadak ia bersin lalu berkata, “Sangat aneh! Selama hidupku belum pernah menemukan penyakit seaneh ini.”

“Apanya yang perlu diherankan?” demikian mendadak Tho-kin-sian menukas. “Dia terluka dalam, sudah lama aku menyembuhkan dia dengan hawa murni dari Lwekangku.”

“Bukan kau yang menyembuhkan dia, tapi akulah yang menyalurkan tenaga padamu, kalau tidak, bocah ini masakah dapat hidup sampai sekarang?” sela Tho-hoa-sian.

Tho-ki-sian, Tho-yap-sian dan Tho-hoa-sian juga tidak mau kalah, beramai-ramai mereka pun menyatakan dirinya yang menyembuhkan Lenghou Tiong.

“Kentut! Kentut!” sekonyong-konyong Peng It-ci membentak.

“Kentut apa?” sahut Tho-kin-sian dengan gusar. “Kau yang kentut atau kami berlima yang kentut?”

“Kalian berenam yang kentut!” sahut Peng It-ci. “Jelas di dalam tubuh Lenghou-hengte ini ada dua arus hawa murni yang sangat kuat, rasanya adalah tenaga yang disalurkan oleh Put-kay Hwesio, selain itu ada enam arus tenaga pula yang lebih lemah, besar kemungkinan inilah berasal dari kalian berenam manusia tolol ini.”

Gak Put-kun saling pandang sekejap dengan istrinya, katanya di dalam hati, “Peng It-ci ini benar-benar luar biasa. Bukan saja sekali pegang nadi dia dapat mengetahui adanya delapan arus tenaga murni yang berbeda di dalam tubuh Tiong-ji itu, anehnya dia dapat mengetahui asal usulnya bahwa dua arus tenaga murni di antaranya adalah berasal dari Put-kay Hwesio.”

Dalam pada itu terdengar Tho-kan-sian lagi berseru dengan gusar, “Mengapa kau bilang tenaga kami berenam lebih lemah daripada si kepala gundul Put-kay? Sudah terang tenaga kami lebih kuat, dia punya lebih lemah!”

“Huh, tidak tahu malu,” ujar It-ci. “Dengan tenaganya seorang dapat menahan tenaga kalian berenam, apakah ini namanya kalian lebih kuat?”

Sampai mati pun Tho-hoa-sian juga tidak mau mengaku kalah, segera ia pun menjulur sebuah jarinya pura-pura hendak memeriksa nadi Lenghou Tiong, katanya, “Menurut pemeriksaanku tempo hari, terang tenaga kami berenam yang mendesak hawa murni si gundul Put-kay sehingga tak bisa bergerak ….”

Mendadak ia menjerit, jarinya kesakitan seperti digigit orang, cepat ia tarik kembali tangannya sambil berteriak, “Aduh! Keparat!”

Peng It-ci bergelak tertawa senang.

Semua orang tahu tentu tabib sakti itu menggunakan Lwekangnya yang lihai dan melalui tubuh Lenghou Tiong telah “menyetrum” jari Tho-hoa-sian.

Sesudah tertawa, tiba-tiba Peng It-ci menarik muka dan berkata, “Kalian harus menunggu di ruangan perahu sana, siapa pun dilarang bersuara.”

“Persetan kau!” semprot Tho-yap-sian. “Kenapa kami harus tunduk pada perintahmu.”

“Aku tidak menyuruh kalian tunduk kepada perintahku,” sahut Peng It-ci. “Tapi kalian sudah pernah bersumpah akan membunuh seorang bagiku bukan?”

“Ya, aku menyanggupi akan membutuhkan seorang bagimu, tapi toh tidak berjanji akan menurut perintahmu,” sahut Tho-ki-sian.

“Menurut perintahku atau tidak memang adalah hak kalian dan terserah kepada kalian untuk menentukannya,” kata si tabib sakti. “Tapi bagaimana pendapat kalian seumpamanya kusuruh kalian harus membunuh Tho-sit-sian, orang keenam dari Tho-kok-lak-sian kalian?”

“He, mana bisa jadi! Baru saja kau menyembuhkan dia, mana boleh kau suruh kami membunuhnya?” teriak Tho-kok-ngo-sian berbareng

“Coba jawab, kalian telah bersumpah apa di hadapanku?” tanya Peng It-ci.

“Kami bersumpah apabila engkau dapat menolong jiwa saudara kami Tho-sit-sian, maka permintaanmu agar kami membunuh satu orang bagimu, tak peduli siapa pun yang harus dibunuh pasti akan kami laksanakan dan takkan menolak,” sahut Tho-kin-sian.

“Betul. Dan sekarang aku sudah menyelamatkan saudara kalian atau tidak?”

“Sudah!”

“Dia orang atau bukan?”

“Sudah tentu orang, memangnya kau kira dia setan?”

“Bagus, dan sekarang aku minta kalian pergi membunuh satu orang. Orang itu bukan lain adalah Tho-sit-sian!”

Keruan Tho-kok-ngo-sian saling pandang dengan melenggong karena permintaan yang sukar dibayangkan itu.

“Tampaknya kalian enggan membunuh Tho-sit-sian bukan? Baiklah, bila perlu boleh juga dirunding lagi. Pendek kata kalian mau menurut pada perkataanku atau tidak? Aku suruh kalian duduk baik-baik di ruangan perahu sana, siapa pun tidak boleh sembarangan bicara dan bergerak,” kata Peng It-ci pula.

Terpaksa Tho-kin-sian berlima mengiakan. Hanya sekejap saja mereka berlima sudah duduk anteng dengan tangan bersimpuh di atas lutut dan tidak berani cerewet lagi.

“Peng-locianpwe,” demikian Lenghou Tiong lantas berkata, “konon engkau menolong seseorang selalu dengan satu syarat, yaitu bila orang itu sudah disembuhkan, maka orang itu diharuskan membunuh satu orang bagimu.”

“Betul, memang itulah peraturan yang kutetapkan,” sahut Peng It-ci.

“Jika demikian Wanpwe tidak sudi membunuh orang bagimu, maka engkau pun tidak perlu menyembuhkan penyakitku,” kata Lenghou Tiong.

“Hahahaha!” hanya ini saja reaksi Peng It-ci demi mendengar ucapan Lenghou Tiong itu.

“Hmk!” Yim Bu-kiang juga cuma mendengus.

Kembali Peng It-ci mengamat-amati Lenghou Tiong dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun kepala seakan-akan sedang memeriksa sesuatu barang antik yang aneh dan menarik. Selang sejenak barulah ia membuka suara pula, “Pertama, penyakitmu terlalu berat, aku tidak mampu menyembuhkannya. Kedua, andaikan dapat kusembuhkan juga sudah ada orang lain yang menyanggupi akan membunuh orang bagiku, kau sendiri tidak perlu turun tangan.”

Walaupun Lenghou Tiong sudah putus asa dan merasa bosan hidup karena patah hati berhubung cinta Gak Leng-sian telah beralih kepada pemuda lain, tapi kini demi mendengar tabib sakti yang termasyhur ini pun menyatakan tidak mampu menyembuhkan penyakitnya, mau tak mau timbul juga rasa dukanya.

“Sute,” tiba-tiba Yim Bu-kiang membuka suara, “siapakah gerangan yang minta kau mengobati pemuda ini? Orang macam apakah yang dapat mengundang ‘Sat-jin-beng-ih’ keluar dari tempat tinggalnya untuk mengobati orang sakit?”

Peng It-ci menggeleng, sahutnya, “Aku tidak mampu mengobati penyakitnya, aku merasa malu, buat apa membicarakan dia?”

“Biasanya orang yang sudah sekarat, sudah 99 persen juga dapat kau sembuhkan kembali, sekarang pemuda ini tampaknya sehat-sehat saja, kenapa kau malah tidak mampu mengobati dia?” ujar Yim Bu-kiang.

“Di dalam tubuhnya ada delapan arus hawa murni yang aneh, tak dapat dipunahkan dan sukar diatasi, itulah kesukarannya,” kata Peng It-ci.

“Masakah begitu lihai?” ucap Yim Bu-kiang. Kedua tangannya segera pegang nadi tangan Lenghou Tiong, tapi hanya sejenak saja ia lantas lepas tangan sambil mendengus, “Hmk!”

“Lenghou-hengte,” kata Peng It-ci kemudian, “aku telah diminta orang untuk mengobati penyakitmu, ini menyangkut hawa murni dan Lwekang yang sukar diobati begitu saja seperti penyakit biasa. Selama melakukan pertabiban belum pernah kutemukan penyakit seaneh ini, aku benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa, sungguh aku sangat malu.”

Sembari bicara ia pun mengeluarkan sebuah botol porselen, ia menuang keluar sepuluh biji pil berwarna merah tua, katanya pula, “Sepuluh butir ‘Tin-sim-li-gi-wan’ ini terbuat dari bahan obat-obatan yang sangat berharga. Setiap sepuluh hari boleh kau minum satu biji dan dapat memperpanjang jiwamu selama seratus hari.”

Lenghou Tiong menerima pemberian itu sambil mengucapkan terima kasih.

Peng It-ci lantas putar tubuh, tapi sebelum melompat ke daratan, tiba-tiba ia berpaling dan berkata pula, “Di dalam botol ini masih ada dua butir, biarlah kuberikan sekalian padamu.”

Namun Lenghou Tiong tidak mau menerima, jawabnya, “Sedemikian bagus obat ini, tentu Cianpwe masih perlu menggunakannya untuk menolong orang lain, maka lebih baik kau simpan kembali saja. Sekalipun Wanpwe dapat hidup lebih lama sepuluh hari atau dua puluh hari juga tiada faedahnya baik untuk diriku sendiri maupun untuk orang lain.”

Untuk sejenak Peng It-ci mengamat-amati Lenghou Tiong pula, katanya kemudian, “Tidak memikirkan mati atau hidup, ini benar-benar jiwa seorang laki-laki sejati.”

Lalu ia mengangguk kepada Yim Bu-kiang, kedua orang lantas melompat ke daratan, hanya sekejap saja bayangan mereka sudah lenyap.

Mereka datang dan pergi sesukanya, sama sekali tidak pandang sebelah mata terhadap seorang tokoh seperti Gak Put-kun, keruan Put-kun sangat mendongkol. Cuma di dalam perahu sekarang masih duduk lima orang aneh, cara bagaimana mengenyahkan mereka masih merupakan persoalan.

Tertampak Tho-kok-ngo-sian sedang duduk anteng bagai kaum padri bersemadi tanpa bergerak sedikit pun, jika tukang perahu disuruh menjalankan kendaraan air itu tentunya kelima malaikat maut itu pun terpaksa dibawa serta. Jika perahu tidak diberangkatkan, lalu sampai kapan kelima orang itu mau pergi, jangan-jangan mereka akan menyerang mendadak untuk membalas dendam dilukainya Tho-sit-sian oleh Gak-hujin.

Begitulah diam-diam Gak Put-kun serbasusah, begitu pula Lo Tek-nau, Gak Leng-sian dan murid-murid Hoa-san-pay yang lain, semuanya merasa khawatir dengan beradanya Tho-kok-ngo-sian di atas perahu mereka.

Sementara itu Lenghou Tiong telah masuk ke dalam ruangan perahu, katanya kepada Tho-kok-ngo-sian, “He, buat apa kalian tinggal di sini?”

“Kami harus duduk anteng di sini, tidak boleh sembarangan bicara dan bergerak,” sahut Tho-kin-sian.

“Kami sudah akan berangkat, silakan kalian naik ke daratan saja,” kata Lenghou Tiong.

“Menurut pesan tabib Peng It-ci, kami disuruh duduk baik-baik di dalam perahu ini, kalau kami sembarangan omong dan bergerak tentu kami akan disuruh membunuh saudara kami sendiri. Sebab itulah kami harus duduk saja di sini dan tak berani bergerak dan sembarangan bicara,” demikian sahut Tho-kan-sian.

Tak tertahan rasa gelinya, Lenghou Tiong tertawa, katanya, “Sudah sejak tadi Peng-tayhu (tabib Peng) telah mendarat, kalian sudah boleh sembarangan omong dan bergerak.”

“Tidak boleh, jika tingkah laku kami sampai dilihatnya tentu urusan bisa runyam,” ujar Tho-hoa-sian sambil menggeleng.

Pada saat itulah tiba-tiba di daratan sana ada suara seorang yang agak serak sedang berseru, “He, di mana beradanya kelima makhluk yang tidak mirip manusia dan tidak mirip setan itu?”

“Siapa yang dia maksudkan, apa kita?” demikian kata Tho-kin-sian.

“Kukira bukan, memangnya kita tidak mirip manusia dan tidak mirip setan?” ujar Tho-kan-sian.

Dalam pada itu orang tadi sedang berseru lagi, “Di sini pun kubawa suatu makhluk yang tidak mirip manusia dan tidak mirip setan, dia baru saja disembuhkan oleh Peng-tayhu. Kalian mau ambil kembali dia atau tidak? Kalau tidak, biar kubuang dia ke dalam sungai untuk umpan ikan.”

Mendengar itu, serentak Tho-kok-ngo-sian melompat keluar perahu dan berdiri di tepi dermaga. Terlihat wanita setengah umur yang tinggi kurus pembantu Peng It-ci yang menjahit dada Tho-sit-sian ketika dibedah itu sedang berdiri di sana, tangan kiri wanita itu menjulur lurus ke samping menjinjing sebuah usungan, di atas usungan itu Tho-sit-sian tampak rebah telentang.

Sungguh tidak nyana wanita yang tampaknya kurus kering itu ternyata bertenaga sedemikian besar, ia jinjing tubuh Tho-sit-sian yang beratnya ratusan kati ditambah dengan usungan kayu itu, tampaknya sedikit pun tidak makan tenaga.

Begitulah cepat-cepat Tho-kin-sian menanggapi ucapan wanita tadi, “Sudah tentu kami mau, mengapa tidak?”

“Kenapa kau memaki orang? Mengapa kau bilang kami tidak mirip manusia dan tidak mirip setan?” semprot Tho-kan-sian.

“Padahal rupanya juga tidak lebih cakap daripada kita,” demikian mendadak Tho-sit-sian yang menggeletak di atas usungan itu menimbrung.

Kiranya sesudah luka Tho-sit-sian dijahit rapat kembali oleh Peng It-ci dan diberi obat mujarab, kemudian ubun-ubunnya ditabok sekali oleh Yim Bu-kiang, saluran hawa murni itu seketika membuatnya dapat bergerak kembali.

Cuma dia sudah terlalu banyak kehilangan darah, tidak jauh ia berjalan lantas jatuh pingsan lagi, si wanita setengah umur itu lantas membawanya kembali ke sana. Dalam keadaan payah toh sifat Tho-sit-sian yang tidak mau kalah bicara itu tetap dipertahankan, segera ia balas mengolok-olok wanita itu.

Maka wanita itu berkata pula dengan dingin, “Apakah kalian tahu, selama hidup Peng-tayhu itu, apa yang paling ditakutinya?”

“Tidak tahu,” sahut Tho-kok-lak-sian berbareng. “Dia takut apa?”

“Dia paling takut bini!” ucap si wanita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: