Hina Kelana: Bab 48. “Tabib Sakti Pembunuh” Namanya Peng It-ci

Pada hari terakhir ini berulang kali mestinya Lenghou Tiong hendak menyatakan kepada Lik-tiok-ong agar diperbolehkan tinggal di hutan bambu situ untuk belajar main kecapi dan seruling. Tapi bila terkenang kepada bayangan Gak Leng-sian, betapa pun ia merasa berat untuk berpisah.

“Sekalipun Siausumoay tidak menggubris padaku, asal setiap hari aku dapat melihatnya dan mendengar suaranya juga sudah puas aku. Apalagi dia toh bukannya tidak menggubris padaku?” demikian pikirnya.

Menjelang magrib waktu mau berpisah, sungguh Lenghou Tiong merasa sangat berat. Ia mendekati jendela gubuk kediaman si nenek dan menyembahnya beberapa kali.

Samar-samar dilihatnya di balik kerai bambu sebelah dalam si nenek juga berlutut membalas hormatnya. Terdengar si nenek berkata, “Meski aku mengajarkan cara bermain kecapi padamu, tapi ini adalah untuk membalas kebaikanmu yang telah menghadiahkan lagu padaku. Kenapa engkau menjalankan penghormatan setinggi ini padaku?”

“Perpisahan sekarang ini entah sampai kapan baru dapat berkunjung lagi kemari untuk mendengarkan permainan kecapi Popo, asalkan Lenghou Tiong tidak mati, kelak tentu akan datang lagi ke sini untuk menyambangi Popo dan Tiok-ong,” demikian kata Lenghou Tiong.

Tapi tiba-tiba terpikir olehnya tentang usia kedua orang tua yang sudah amat lanjut itu, bilamana kelak datang lagi ke Lokyang entah masih dapat bersuara atau tidak dengan mereka. Teringat bahwa hidup manusia ini seakan-akan mimpi belaka tanpa terasa suaranya menjadi parau.

“Lenghou-siansing,” kata si nenek, “sebelum berpisah aku ingin memberi pesan sepatah kata padamu.”

“Baik, atas petuah Popo sampai mati pun takkan kulupakan,” sahut Lenghou Tiong.

Tapi sampai lama nenek itu tidak bicara lagi. Selang sekian lama, akhirnya dia baru berkata dengan perlahan, “Banyak bahaya dan kepalsuan orang Kangouw, hendaknya kau menjaga diri dengan baik.”

Lenghou Tiong mengiakan, hati menjadi pilu. Ia memberi hormat pula kepada Lik-tiok-ong untuk mohon diri. Dalam pada itu terdengar dari dalam gubuk suara kecapi menggema merdu, yang dibawakan adalah lagu kuno “terkenang” itu.

Esok paginya Gak Put-kun dan anak muridnya sama mohon diri kepada Org Goan-pa untuk berangkat dengan menumpang perahu. Goan-pa dan anak-cucunya mengantar sampai di tepi sungai Loksui, memberi bekal sangu dan macam-macam makanan untuk persediaan di tengah perjalanan.

Sejak tempo hari lengan Lenghou Tiong dipuntir keseleo oleh Ong Kah-cun dan Ong Kah-ki, maka Lenghou Tiong tidak pernah bicara pula dengan anggota keluarga Ong itu. Pada saat berpisah sekarang ia pun tidak mengucapkan apa-apa, sebaliknya cuma mendelik saja kepada mereka seakan-akan di depan matanya pada hakikatnya tiada jago golok emas dari keluarga Ong itu.

Gak Put-kun cukup kenal perangai muridnya itu. Jika anak muda itu dipaksa memberi hormat dan mohon diri kepada Ong Goan-pa, untuk sementara terpaksa Lenghou Tiong menurut, tetapi kelak besar kemungkinan akan mencari perkara kepada keluarga Ong itu untuk membalas dendam. Sebab itulah ia sendiri memberi hormat dan mengucapkan terima kasih kepada Ong Goan-pa, sebaliknya sikap Lenghou Tiong yang kurang sopan itu ia pura-pura tidak tahu.

Lenghou Tiong melihat banyak oleh-oleh pemberian keluarga Ong itu, terutama oleh-oleh yang diberikan kepada Gak Leng-sian. Nona itu tampak sangat senang dan sibuk menerima macam-macam oleh-oleh itu.

Tengah sibuk, tiba-tiba seorang tua berbaju rombeng naik ke pinggir perahu mereka dan berseru, “Lenghou-siaukun (tuan muda)!”

Waktu Lenghou Tiong berpaling, kiranya adalah Lik-tiok-ong, keruan ia melengak.

“Bibi menyuruh aku menyerahkan bungkusan ini kepadamu, Lenghou-siaukun,” kata Lik-tiok-ong sembari mempersembahkan sebuah bungkusan panjang.

Bungkusan itu dibebat dengan kain kembang biru. Dengan penuh hormat Lenghou Tiong menerimanya dan berkata, “Atas hadiah Cianpwe yang berharga ini Tecu menerimanya dengan terima kasih.”

Sambil berkata berulang-ulang ia pun membungkuk tubuh memberi hormat.

Terhadap tukang bambu tua bersikap sedemikian menghormat, sebaliknya terhadap Kim-to-bu-tek Ong-loyacu yang namanya termasyhur di dunia Kangouw sedikit pun tidak menggubris, keruan sikap Lenghou Tiong ini membikin Kah-cun dan Kah-ki merasa gusar. Coba kalau tidak di depan orang banyak tentu mereka sudah menyeret turun Lenghou Tiong menghajarnya sepuas-puasnya.

Dalam pada itu sesudah menyerahkan bungkusan panjang tadi, Lik-tiok-ong lantas melangkah ke atas papan loncatan dan hendak turun kembali ke daratan.

Melihat ada kesempatan, sesudah saling memberi isyarat, segera Kah-cun dan Kah-ki sengaja memapak dari bawah papan loncatan perahu, mereka terus mendesak maju, yang satu menggunakan bahu kanan dan yang lain memakai bahu kiri, asal ditumbuk sedikit saja mereka percaya kakek itu umpama tidak sampai mati tenggelam sedikitnya juga akan membikin Lenghou Tiong kehilangan muka.

Melihat apa yang akan terjadi itu, cepat Lenghou Tiong berseru, “He, awas!”

Tapi ia sudah tidak bertenaga sehingga sama sekali tak dapat berbuat apa-apa. Sementara itu tampaknya kedua saudara Ong muda itu sudah menerjang tiba pada sasarannya.

“Jangan!” segera Ong Goan-pa juga berteriak. Sebagai seorang yang punya harta benda di kota Lokyang, kalau kedua cucunya sampai menumbuk mati seorang kakek, tentu akibatnya takkan menguntungkan bila sampai pihak yang berwajib ikut turun tangan. Perkara jiwa bukanlah soal kecil.

Tapi karena dia sedang duduk dalam kamar perahu besar itu dan lagi bicara dengan Gak Put-kun sehingga tidak sempat mencegah lagi.

Maka terdengarlah suara “bluk”, bahu kedua anak muda itu sudah membentur tubuh Lik-tiok-ong. Menyusul dua sosok tubuh orang sama mencelat dan “plung-plung”, tahu-tahu kedua anak muda itu sama kecemplung ke dalam sungai, sebaliknya Lik-tiok-ong tampak masih tenang-tenang saja dan terus berjalan ke daratan. Tubuhnya mirip bola saja, setiap diseruduk oleh kedua saudara Ong muda itu segera mengeluarkan daya membalik sehingga kedua anak muda itu terpental sendiri.

Keruan suasana menjadi kacau, semua orang sibuk memberi pertolongan kepada Kah-cun dan Kah-ki, beberapa orang lantas terjun ke dalam sungai untuk menyeret mereka ke atas. Tatkala itu baru permulaan musim semi, air sungai sedingin es, apalagi kedua anak muda itu tidak bisa berenang, mereka sudah telanjur minum air sungai sampai beberapa ceguk, gigi mereka berkertukan menggigil dingin, keadaannya sangat runyam.

Sesudah diperiksa, sungguh kejut Ong Goan-pa tidak kepalang. Ternyata lengan kedua cucunya itu semuanya keseleo, tulang lengan terlepas dari ruasnya, sama halnya seperti tempo hari kedua anak muda itu memuntir tangan Lenghou Tiong sehingga keseleo.

Melihat kedua putranya kecundang, segera Ong Tiong-kiang melompat ke daratan dan mencegat di depan Lik-tiok-ong.

Kakek itu tampak masih terus berjalan ke depan dengan kepala merunduk, memangnya badannya juga bungkuk.

“Orang kosen dari manakah ingin coba-coba pamer kepandaian di Lokyang sini?” bentak Ong Tiong-kiang.

Tapi Lik-tiok-ong seperti tidak mendengar saja dan tetap jalan ke depan, perlahan ia sudah berhadapan dengan Tiong-kiang. Keruan perhatian semua orang di atas perahu sama dipusatkan kepada mereka berdua.

Kedua tangan Ong Tiong-kiang tampak sedikit dipentang, ketika Lik-tiok-ong maju selangkah lagi, mendadak Tiong-kiang membentak, “Pergi!”

Kedua tangannya terus mencengkeram pundak si kakek.

Tapi baru saja jarinya hampir menyentuh tubuh sasarannya, sekonyong-konyong badannya yang tinggi besar itu mencelat ke udara sampai beberapa meter jauhnya. Di tengah jerit kaget orang banyak Ong Tiong-kiang berjumpalitan satu kali, selagi terapung di udara lalu dapat menancapkan kali kembali di atas tanah.

Jika terjadinya tabrakan itu dilakukan kedua orang yang sama-sama berlari cepat dari arah berlawanan, lalu salah seorang terpental, ini sih tidak mengherankan, yang aneh sekarang adalah Ong Tiong-kiang berdiri tegak di tempatnya, sedangkan Lik-tiok-ong hanya berjalan sangat perlahan, tapi mendadak Ong Tiong-kiang tergetar mencelat, sekali pun tokoh-tokoh terkemuka sebagai Gak Put-kun dan Ong Goan-pa juga tidak tahu dengan cara bagaimana si kakek reyot itu membikin orang terpental.

Hanya saja waktu Ong Tiong-kiang tancapkan kakinya kembali di atas tanah tampaknya juga sewajarnya saja sehingga orang yang tidak mahir ilmu silat malah mengira dia sengaja meloncat sendiri untuk pamerkan Ginkangnya yang lihai, maka ada sebagian centeng keluarga Ong salah wesel dan memberi sorak puji kepada majikan muda mereka.

Memangnya Ong Goan-pa sudah heran ketika tanpa bergerak Lik-tiok-ong dapat menggetar lengan kedua cucunya sehingga keseleo, kini ia tambah kaget demi melihat putranya juga tergetar mencelat secara aneh. Padahal ia tahu putranya itu sudah memperoleh segenap ajaran ilmu silatnya, tapi belum satu gebrak saja sudah dientak mencelat oleh lawan, ini benar-benar belum pernah terjadi selama hidup. Dilihatnya sesudah kecundang Ong Tiong-kiang masih hendak melabrak maju lagi cepat ia berseru, “Tiong-kiang, kemari!”

Tiong-kiang putar tubuh dan melompat ke haluan perahu dengan enteng. “Tua bangka itu besar kemungkinan bisa ilmu sihir!” ia mencemooh.

“Bagaimana keadaanmu, tidak terluka?” tanya Goan-pa dengan perlahan.

Tiong-kiang menggeleng. Diam-diam Goan-pa menimbang, biarpun dengan kemampuannya sendiri juga belum tentu dapat melawan kakek bungkuk itu, apalagi kalau sampai perlu minta bantu Gak Put-kun, sekalipun menang juga kurang cemerlang.

Maka ia sengaja tidak mempersoalkan itu lebih lanjut, paling tidak kakek itu pun sudah memberi muka padanya tanpa merobohkan putranya. Dilihatnya Lik-tiok-ong sudah pergi semakin jauh, sungguh tak enak perasaannya. Pikirnya, “Kakek itu terang adalah kawan Lenghou Tiong, lantaran para cucu mematahkan lengannya, maka kakek itu pun datang mematahkan lengan mereka sebagai pembalasan. Selama hidupku malang melintang di kota Lokyang ini, masakan sampai hari tua terbalik akan terjungkal habis-habisan?”

Dalam pada itu Ong Pek-hun sudah membetulkan lengan kedua keponakannya yang keseleo itu, dua buah tandu lantas membawa kedua anak muda yang basah kuyup itu pulang lebih dulu.

“Gak-tayciangbun, orang macam apakah kakek tadi? Agaknya mataku yang tua ini sudah lamur dan tidak kenal orang kosen demikian,” tanya Ong Goan-pa kepada Put-kun.

“Siapakah dia, Tiong-ji?” Put-kun bertanya kepada Lenghou Tiong.

“Dia itulah Lik-tiok-ong,” sahut Lenghou Tiong.

Goan-pa dan Put-kun bersama mengeluarkan suara “Ooo”. Kiranya tempo hari meski mereka juga datang ke hutan bambu sana, tapi mereka tidak sampai kenal muka Lik-tiok-ong, sedangkan Ih-suya yang kenal Lik-tiok-ong tidak ikut mengantar ke dermaga ini, sebab itulah tiada seorang pun yang kenal si kakek bambu hijau.

“Barang apa yang dia berikan padamu?” tanya Put-kun pula sambil menuding bungkusan panjang tadi.

“Tecu sendiri belum tahu,” sahut Lenghou Tiong sambil membuka bungkusan itu.

Maka tertampaklah isinya adalah sebuah kecapi antik, pada ujung kecapi itu terukir dua huruf kembang “Yan-gi”. Selain itu ada pula satu buku kecil, pada sampulnya tertulis “Jing-sim-boh-sian-ciu”. Kiranya adalah lagu yang diajarkan si nenek kepada Lenghou Tiong itu. Keruan Lenghou Tiong bersuara kejut dan terharu.

“Ada apa?” tanya Put-kun sambil memandang tajam.

“Kiranya Cianpwe itu selain memberikan sebuah kecapi padaku, bahkan menyertakan not kecapi pula,” kata Lenghou Tiong.

Ia coba membalik-balik buku kecil itu, ternyata berisi lengkap ajaran cara memetik kecapi dengan petunjuk-petunjuk yang sangat jelas. Dari tulisannya dan kertasnya yang masih baru itu terang baru saja selesai ditulis oleh si nenek. Teringat kepada kebaikan Locianpwe itu Lenghou Tiong sangat terharu sehingga matanya berkaca, air mata hampir-hampir menetes.

Melihat buku itu berisi not kecapi, walaupun Ong Goan-pa dan Gak Put-kun merasa curiga tapi juga tak bisa bicara apa-apa.

“Lik-tiok-ong itu ternyata seorang kosen di dunia persilatan yang tidak mau menonjolkan diri, apakah kau tahu dia dari aliran atau golongan mana, Tiong-ji?” tanya Gak Put-kun.

Ia sudah menduga andaikan Lenghou Tiong tahu asal usul Lik-tiok-ong juga takkan mengaku secara terus terang. Soalnya Kungfu si kakek bambu hijau itu terlalu hebat, kalau tidak ditanyakan betapa pun rasanya tidak tenteram.

Benar juga, segera Lenghou Tiong menjawab, “Tecu hanya belajar kecapi kepada Locianpwe itu, sesungguhnya tidak tahu bahwa dia juga mahir ilmu silat.”

Begitulah Gak Put-kun lantas memberi hormat tanda perpisahan dengan Ong Goan-pa, perahu layarnya yang besar itu lantas mengangkat jangkar dan berlayar ke hilir.

Di dalam kapal ramailah anak murid Hoa-san-pay itu membicarakan Lik-tiok-ong, ada yang memuji kepandaian si kakek yang mahatinggi, ada yang anggap Lik-tiok-ong itu belum tentu punya kepandaian sejati, mungkin kedua saudara Ong muda kecemplung ke dalam sungai karena mereka sendiri kurang hati-hati. Sedangkan Ong Tiong-kiang dikatakan tidak sudi bertengkar dengan kakek yang sudah loyo itu, maka sengaja meloncat menyingkir.

Lenghou Tiong duduk sendirian di buritan dan tidak menghiraukan percakapan para Sute dan Sumoaynya itu. Ia asyik membaca not kecapi. Karena khawatir mengganggu gurunya, maka ia tidak berani membunyikan kecapinya.

Gak-hujin merasa tidak tenteram ketika teringat kepada potongan tubuh Lik-tiok-ong serta gerak-geriknya yang aneh. Ia coba naik ke haluan perahu itu melihat pemandangan.

Tiba-tiba terdengar sang suami bicara di sebelah, “Sumoay, bagaimana pendapatmu tentang Lik-tiok-ong itu? Begitu aneh caranya membikin terpental tiga jago keluarga Ong itu, tampaknya kepandaiannya itu bukan ilmu silat aliran yang baik.”

“Tapi dia tiada maksud jahat terhadap Tiong-ji, pula tampaknya tidak sengaja hendak mencari perkara kepada keluarga Ong,” ujar Gak-hujin.

“Ya, semoga urusan ini selesai sampai di sini saja, kalau tidak, jangan-jangan kehormatan Ong-loyacu selama ini akan berakhir dengan buruk,” kata Put-kun. Sejenak kemudian ia menyambung pula, “Kita juga harus waspada walaupun kita mengambil jalan air ini.”

“Apa kau maksudkan ada kemungkinan orang akan mencari perkara pada kita?” tanya sang istri.

“Sampai saat ini kita masih tetap belum jelas orang macam apakah ke-15 musuh berkedok tempo hari itu. Mengingat kejadian itu, perjalanan kita ini rasanya masih banyak rintangan yang akan kita hadapi.”

Begitulah mereka lantas pesan para muridnya agar selalu waspada.

Di luar dugaan, setelah perahu mereka keluar dari muara Kiat-koan dan memasuki sungai Tiangkang dan meluncur ke hilir pula ke arah timur, ternyata sama sekali tidak terjadi sesuatu.

Semakin jauh meninggalkan Lokyang, semakin berkurang pula rasa waswas mereka. Hari itu mereka sudah dekat dengan kota Kayhong. Gak Put-kun dan istrinya membicarakan tokoh-tokoh Bu-lim di kota itu. Menurut pendapat Gak Put-kun di kota Kayhong boleh dikata tiada jago silat yang berarti.

Tapi Gak-hujin berkata, “Ada seorang tokoh ternama di sini, mengapa Suko melupakan dia?”

“Tokoh ternama? Sia … siapa yang kau maksudkan?” tanya Put-kun.

“Mengobati seorang bunuh seorang, bunuh seorang mengobati seorang, bunuh orang mengobati orang sama banyaknya, dagang rugi tak mau. Siapa dia itu?” ucap Gak-hujin dengan tertawa.

“Aha, ‘Sat-jin-beng-ih’ (tabib sakti pembunuh orang) Peng It-ci memang benar sangat ternama,” ujar Gak Put-kun tertawa. “Tapi biarpun kita berkunjung padanya juga belum tentu dia mau menemui kita.”

“Sungguh aneh, sudah disebut tabib sakti, mengapa pembunuh pula? Apa sebabnya, ibu?” tanya Leng-sian heran.

“Peng-losiansing itu adalah seorang ajaib di dunia persilatan,” tutur Gak-hujin. “Ilmu pengobatannya memang mahasakti, betapa pun berat penyakit seorang asalkan dia mau mengobati ditanggung pasti akan sembuh kembali. Cuma dia mempunyai suatu sifat yang aneh. Ia bilang manusia hidup di dunia ini sudah ditentukan oleh takdir, bila dia terlalu banyak menyembuhkan orang sehingga mengurangi orang mati, tentu akibatnya dunia akan terlalu banyak orang hidup dan sedikit orang mati, kelak jika dia sendiri mati tentu Giam-lo-ong (raja akhirat) akan minta pertanggungjawabannya ….”

Sampai di sini anak muridnya sama tertawa geli. Tapi Gak-hujin telah melanjutkan, “Sebab itulah dia mengadakan suatu ketentuan, setiap kali menyembuhkan seorang, maka dia juga harus membunuh satu orang sebagai imbalannya. Sebaliknya kalau dia membunuh satu orang tentu pula akan menghidupkan seorang sakit sebagai gantinya. Dengan demikian supaya Giam-lo-ong tidak dibikin rugi.”

Kembali para muridnya sama tertawa. Leng-sian bertanya pula, “Tabib sakti Peng It-ci itu benar-benar sangat kocak. Tapi mengapa dia pakai nama It-ci (satu jari), memangnya apakah dia hanya punya sebuah jari tangan?”

“Tidak, Peng-tayhu (tabib Peng) punya sepuluh jari seperti orang biasa,” tutur Gak Put-kun, “dia mengaku bernama It-ci, maksudnya baik membunuh orang atau mengobati orang cukup memakai sebuah jari saja.”

“O, kiranya demikian. Jika begitu tentu ilmu Tiam-hiat sangat lihai?” kata Leng-sian.

“Jarang sekali ada orang bergerak dengan Peng-tayhu itu,” sahut Gak Put-kun. “Yang terang setiap orang Bu-lim mengetahui ilmu pertabibannya sangat lihai, boleh jadi setiap waktu memerlukan pertolongannya, maka setiap orang rada segan padanya. Tapi kalau tidak sangat terpaksa juga tak berani minta pengobatan padanya.”

“Sebab apa?” tanya Leng-sian.

“Habis kalau menurut ketentuannya menyembuhkan seorang harus membunuh pula seorang sebagai imbalannya, bilamana orang itu kebetulan adalah sanak kadang atau sobat handainya, bukankah hal ini akan membuatnya serbasulit?”

“Ya, Peng-tayhu itu benar-benar sangat aneh perangainya,” kata para murid.

“Jika demikian, penyakit Toasuko tak dapat minta pertolongannya,” ujar Leng-sian.

Sejak tadi Lenghou Tiong hanya mendengarkan cerita sang guru dan ibu gurunya tentang tabib sakti pembunuh yang aneh itu. Demi mendengarkan ucapan Siausumoay, ia hanya tersenyum hambar dan berkata, “Ya, jangan-jangan dia sudah menyembuhkan aku, lalu menyuruh aku membunuh Siausumoayku sendiri.”

Para murid Hoa-san-pay kembali tertawa riuh. Leng-sian juga tertawa dan berkata, “Peng-tayhu itu tidak kenal aku, buat apa dia menyuruhmu membunuh aku?” Lalu ia berpaling kepada Gak Put-kun dan bertanya, “Ayah, sebenarnya Peng-tayhu itu tergolong orang baik atau jahat?”

“Menilik sifatnya yang aneh dan kelakuannya yang tak menentu, dia boleh dikata berada di antara yang baik dan yang jahat,” ujar Put-kun.

“Ah, mungkin orang Kangouw sengaja membesar-besarkan persoalannya,” kata Leng-sian. “Setiba di Kayhong nanti aku ingin berkunjung pada Peng-tayhu itu.”

“Hus,” bentak Put-kun dan istrinya berbareng. “Jangan kau cari gara-gara. Orang aneh begitu masakah dapat kau kunjungi sesukamu? Kedatangan kita ini adalah untuk pesiar dan bukan ingin mencari perkara.”

Melihat ayah-bundanya marah, Leng-sian tidak berani bicara lagi walaupun penuh keheranan terhadap si tabib sakti pembunuh itu.

Besok paginya lewat tengah hari perahu mereka sudah sampai di dermaga Kayhong, cuma untuk masuk ke kota masih ada beberapa li jauhnya.

“Di sebelah barat daya Kayhong ada suatu tempat, di mana leluhur Gak kita pernah sangat terkenal, tempat itu harus kita kunjungi,” demikian kata Put-kun dengan tertawa.

“Ya, betul, tempat itu pasti Cu-sian-tin adanya,” seru Leng-sian sambil tertawa senang. “Di situlah kakek moyang kita Gak Peng-ki (Gak Hui) mengalahkan tentara Kim secara besar-besaran.”

Dan begitu perahu mereka merapat ke dermaga, segera Leng-sian mendahului melompat ke daratan dan berseru, “Ayo, lekas berangkat ke Cu-sian-tin, lalu makan malam di kota Kayhong.”

Beramai-ramai semua orang lantas ikut mendarat. Sebaliknya Lenghou Tiong masih tetap duduk di buritan perahu.

“Ayo, Toasuko, apa engkau tidak ikut?” seru Leng-sian.

Sesudah kehilangan tenaga dalam Lenghou Tiong selalu merasa lelah dan malas bergerak, maka kepergian semua orang itu kebetulan baginya untuk belajar memetik kecapi. Apalagi dilihatnya Lim Peng-ci berdiri di sisi Leng-sian dengan sangat mesra, semakin dinginlah hatinya, maka jawabnya, “Tidak, aku tidak sanggup berjalan terlalu lama.”

“Baiklah, boleh mengaso saja di sini, dari kota nanti akan kubawakan beberapa kati arak enak,” kata Leng-sian pula.

Begitulah dengan perasaan pedih Lenghou Tiong menyaksikan keberangkatan si nona yang didampingi Peng-ci itu, Jing-sim-boh-sian-ciu yang dilatihnya itu sudah berhasil menyembuhkan luka dalamnya, tapi apa artinya lagi hidup di dunia ini? Seketika itu ia merasa segala macam pahit getir orang hidup seakan-akan membanjir tiba, dadanya terasa sesak, napas tersengal-sengal, segera perutnya kesakitan pula ….

Sementara itu Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci yang jalan bersama itu asyik bicara dengan kasih mesra sehingga tanpa terasa mereka sudah jauh meninggalkan rombongan.

Gak-hujin mengedipi sang suami dan memandang kedua muda-mudi yang berjalan jauh di depan itu. Gak Put-kun tahu maksud sang istri, ia tertawa sambil mempercepat langkahnya. Hanya sekejap saja suami istri itu sudah menyusul sampai di belakang Leng-sian dan Peng-ci. Dengan tindakan mereka yang cepat, mereka tanya arahnya kepada orang di tepi jalan, lalu empat orang mendahului menuju ke Cu-sian-tin.

Ketika hampir sampai di kota kecil itu, terlihat di tepi jalan ada sebuah kelenteng, papan di atas pintu kelenteng itu tertulis “Nyo-ciangkun-bio” (kelenteng panglima Nyo).

“Ayah, kutahu kelenteng ini adalah tempat pemujaan panglima Nyo Cay-hin yang kejeblos di dalam sungai Siau-sian-ho yang beku itu sehingga mati dihujani panah pasukan musuh,” kata Leng-sian.

“Betul,” sahut Put-kun. “Nyo-ciangkun gugur di medan bakti, sungguh membikin orang kagum padanya. Marilah kita masuk ke dalam untuk melihatnya.”

Karena muridnya yang lain masih ketinggalan jauh di belakang, tanpa menunggu lagi mereka berempat lantas masuk ke dalam kelenteng. Patung Nyo Cay-hin yang dipuja itu tampak sangat gagah dan tampan, Leng-sian memandang sekejap ke arah Peng-ci, diam-diam timbul maksudnya membandingkan Toapekong yang tampan itu dengan Lim Peng-ci.

Belum lagi mereka sempat bicara, pada saat itu juga di luar kelenteng tiba-tiba ada suara orang berkata, “Aku tahu Toapekong yang dipuja di dalam kelenteng panglima Nyo ini pasti Nyo Cay-hin adanya.”

Mendengar suara orang itu, seketika air muka Gak Put-kun dan istrinya berubah pucat berbareng mereka sama meraba pedang yang tergantung di pinggang masing-masing.

Dalam pada itu terdengar seorang lain lagi bicara, “Di zaman dahulu panglima she Nyo teramat banyak, dari mana kau yakin Toapekong yang dipuja ini adalah Nyo Cay-hin dan bukan Nyo Leng-kong dan panglima Nyo yang lain?”

“Tidak, aku tahu pasti adalah Nyo Cay-hin,” demikian orang yang pertama tetap ngotot.

Kiranya dari suara orang-orang itu dapatlah Gak Put-kun dan istrinya mengenali mereka bukan lain daripada Tho-kok-lak-sian.

Cepat ia memberi isyarat, segera bersama sang istri serta Peng-ci dan Leng-sian mereka sembunyi di belakang patung. Ia dan istrinya sembunyi di sisi kiri, Leng-sian dan Peng-ci di sebelah kanan.

Diam-diam Put-kun merasa cemas bilamana sebentar lagi rombongan Lo Tek-nau dan lain-lain datang, tentu mereka akan kepergok dan ini berarti malapetaka bagi mereka.

Dalam pada itu karena pertengkaran mengenai Toapekong yang dipuja di kelenteng itu, akhirnya salah seorang dari manusia aneh itu berkata, “Coba kita melihatnya ke dalam kelenteng.”

Menyusul seorang di antaranya lantas berteriak, “Aha, coba lihat! Bukankah di atas situ jelas tertulis patung yang dipuja ini adalah patung Nyo Cay-hin?”

Ternyata yang bicara itu adalah Tho-ki-sian. Kemudian ia berseru pula, “Wahai Nyo Cay-hin, asalkan kau memberkahi Lakte kami agar jangan mati, boleh juga aku menjura beberapa kali padamu. Biarlah sekarang juga aku memberi persekot lebih dulu.”

Habis berkata ia terus berlutut dan menyembah.

Mendengar itu, Put-kun saling pandang sekejap dengan sang istri, air muka mereka sama memperlihatkan rasa lega dan girang. Pikir mereka, “Dari ucapannya tadi agaknya orang yang tertusuk pedangnya itu belum mati.”

Sementara itu Tho-hoa-sian lagi ikut berkata, “Tapi bagaimana kalau Lakte jadi mati?”

“Kalau Lakte sampai mati, tentu patung ini akan kuhancurkan, lalu akan kukencingi pula,” sahut Tho-ki-sian.

“Tapi kalau Lakte benar-benar mati, apa gunanya kau mengencingi dan bahkan memberaki sekalipun juga percuma,” ujar Tho-hoa-sian.

“Benar juga,” sahut Tho-ki-sian. “Mari kita kembali ke sana untuk tanya dia apa Lakte dapat disembuhkan, bila sudah sembuh baru kita datang ke sini untuk sembahyang, kalau tidak dapat sembuh akan kita beraki.”

“Wah, kalau Lakte tidak dapat disembuhkan, lalu kita tidak kencing dan tidak berak, apa perut kita takkan kembung?” kata Tho-kin-sian.

“Ya, betul, jika kita tidak berak dan tidak kencing, tentu kita akan mati kembung,” seru Tho-kan-sian. Maka menangislah dia dengan sedih.

Mendadak Tho-ki-sian bergelak tertawa, “Jika Lakte tidak mati, bukankah sia-sia saja kau menangis? Ayo pergi ke sana, kita harus tanya yang jelas kalau perlu baru menangis.”

Begitulah kelima orang itu sambil ribut mulut terus keluar lagi dari kelenteng dengan langkah cepat.

“Entah bagaimana keadaan orang aneh yang kau tusuk itu? Sumoay, hendaknya kau tunggu di sini bersama Peng-ci dan Sian-ji, biar kuperiksa ke sana,” kata Put-kun.

“Daripada sendirian menghadapi bahaya, biar kupergi bersamamu,” kata Gak-hujin, habis itu segera ia mendahului keluar kelenteng.

Gak Put-kun juga tidak banyak bicara pula, segera mereka berdua mengikuti jejak kelima orang aneh tadi. Dari jauh tertampak Tho-kok-ngo-koay itu membelok ke suatu tanah tanjakan melalui suatu jalan kecil. Sepanjang jalan kelima orang itu masih terus ribut mulut sehingga memudahkan penguntitan Gak Put-kun berdua.

Sesudah menyusuri jalan pegunungan itu, tertampaklah di balik beberapa puluh pohon Liu yang rindang di depan sana ada sebuah sungai kecil, di tepi sungai sana ada beberapa buah rumah genting. Terdengar suara ribut kelima orang aneh itu menggema masuk ke rumah genting itu.

“Mari kita mengitar ke belakang rumah,” ajak Put-kun kepada istrinya.

Dengan Ginkang yang tinggi suami istri lantas mengitar jauh ke belakang rumah-rumah genting itu. Sesudah dekat, terlihat di belakang rumah itu pun terdapat sebaris pohon Liu yang rindang, kedua orang lantas sembunyi di balik semak pohon.

Terdengar suara Tho-kok-ngo-koay lagi berkaok-kaok di dalam rumah, “He, kau telah membunuh Lakte kami.”

“Wah ken … kenapa kau membedah dadanya?”

“Keparat, kami harus cabut nyawamu sebagai ganti nyawa Lakte! Kami harus bedah juga dadamu!”

“Ai, Lakte, sedemikian ngeri kematianmu, biar kami selamanya takkan … takkan berak agar mati kembung bersamamu!”

Begitulah Ngo-koay itu berteriak dan berjingkrak tak keruan.

Gak Put-kun terkejut, pikirnya, “Kenapa ada orang membedah dada Lakte mereka?”

Perlahan mereka lantas merunduk maju, sampai di bawah jendela, mereka coba mengintip ke dalam rumah melalui celah-celah.

Tatkala itu hari sudah mulai gelap, di dalam rumah tampak terang benderang dengan beberapa buah pelita. Di tengah rumah tertaruh sebuah dipan dan di atasnya terbaring seorang lelaki dalam keadaan telanjang bulat. Dadanya telah terbedah, darah mengucur. Kedua mata orang itu tampak tertutup rapat, agaknya sudah mati sekian saat.

Dari wajahnya segera Gak-hujin mengenalnya sebagai Tho-sit-sian yang terkena tusukan pedangnya di puncak Hoa-san tempo hari. Tho-kok-ngo-koay tampak berkerumun di sekitar saudara mereka dan mencaci maki kepada seorang laki-laki pendek gemuk.

Laki-laki buntak itu tingginya tidak lebih dari empat kaki, tapi lebar pundaknya juga hampir empat kaki, kepalanya sangat besar, pakai kumis tikus, mukanya sangat lucu. Kedua tangannya berlumuran darah, tangan kanan memegang pisau yang juga berlepotan darah.

Dengan mata melotot ia pandang Ngo-koay yang sedang berkaok-kaok itu, selang sejenak dengan suaranya yang berat barulah ia tanya, “Sudah habis belum kentut kalian?”

“Sudah, kau sendiri mau kentut apa?” sahut Tho-kok-ngo-koay berbareng.

“Dada saudara kalian yang lebih mirip mayat hidup ini terkena pedang, dari tempat jauh kalian membawanya kemari dan minta aku menolong jiwanya,” demikian kata si buntak. “Tapi perjalanan kalian terlalu lambat, lukanya telah membusuk, urat nadinya juga kacau, untuk menolong jiwanya tidaklah sukar, tapi sesudah sembuh ilmu silatnya akan punah, setengah badan bagian bawah akan lumpuh. Orang cacat begitu apa gunanya biarpun disembuhkan?”

“Biarpun cacat juga lebih baik daripada mati,” kata Tho-kin-sian.

“Tidak bisa,” teriak si buntak dengan gusar. “Kalau mau mengobati orang harus kusembuhkan betul-betul, kalau menyembuhkan orang menjadi cacat ke mana mukaku ini harus ditaruh? Sudahlah, aku tidak jadi mengobati dia, tidak jadi! Lekas kalian gotong pergi mayat hidup ini!”

“Jika kau tidak mampu menyembuhkan Lakte kami, kenapa kau membedah dadanya?” tanya Tho-kan-sian. “Sebenarnya kau … kau ….”

“Hm, coba katakan, apa julukanku?” tanya si buntak dengan mendengus.

“Julukan setanmu adalah Sat-jin-beng-ih!” sahut Tho-kan-sian.

Seketika Gak Put-kun dan istrinya terkesiap dan saling pandang. Kiranya si buntak yang berwajah lucu itu tak-lain tak-bukan adalah si tabib sakti pembunuh Peng It-ci yang maha termasyhur itu

Dalam pada itu terdengar Peng It-ci sedang berkata pula, “Jika sudah tahu aku berjuluk ‘Sat-jin-beng-ih’, kalau cuma membunuh satu orang masakah kau parau?”

“Apa sulitnya membunuh satu orang?” kata Tho-hoa-sian. “Jika kau cuma pandai membunuh orang dan tak becus mengobati orang, kan percuma saja julukanmu memakai kata ‘Beng-ih’ segala?”

“Siapa bilang aku tidak becus mengobati orang?” teriak Peng It-ci dengan gusar, “Aku telah membedah dada mayat hidup ini, sesudah kusambung urat nadinya, setelah sembuh nanti dia akan sehat seperti sediakala, ilmu silatnya juga takkan punah. Dengan demikian barulah kelihatan kepandaian Sat-jin-beng-ih!”

“Aha, kiranya kau dapat menyelamatkan Lakte kami, jika begitu kami telah salah mengomelimu,” seru Ngo-koay bersama. “Ayolah lekas bekerja, dada Lakte telah kau bedah, darahnya mengucur terus, kalau tidak lekas diobati tentu akan terlambat.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: