Hina Kelana: Bab 47. Lenghou Tiong Belajar Main Kecapi

Tidak lama kemudian mendadak suara kecapi itu meninggi, makin keras makin tinggi, suaranya teramat tajam melengking, setelah lebih tinggi pula beberapa iramanya, sekonyong-konyong “cring”, senar kecapi itu putus lagi seutas.

Terdengar Lik-tiok-ong bersuara heran, katanya, “Aneh, not kecapi ini sungguh sangat aneh dan sukar dimengerti.”

Seketika Ong Goan-pa saling pandang dengan anak cucunya, diam-diam mereka merasa senang.

Dalam pada itu terdengar Lik-tiok-ong sedang berkata, “Biar kucoba lagi not seruling ini.”

Menyusul suara seruling lantas berkumandang pula dari tengah-tengah semak bambu.

Semula suara seruling itu sangat merdu menawan hati. Tapi waktu nadanya berubah menjadi rendah, bahkan makin lama makin rendah sampai hampir-hampir tak terdengar, lalu irama seruling itu menjadi parau dan tidak enak didengar lagi.

Lik-tiok-ong menghela napas, katanya, “Ih-laute, kau sendiri dapat meniup seruling, tapi nada yang begini rendah mana dapat ditiup keluar? Not kecapi dan seruling ini rasanya tidak palsu, tapi orang yang menggubah lagu ini rupanya sengaja mengada-ada dan bergurau dengan orang lain. Boleh kau pulang dulu, biar aku coba-coba lagi mempelajarinya lebih mendalam.”

“Mana Kiam-bohnya?” tanya Ong Tiong-kiang.

“Kiam-boh?” Ih-suya melengak. “O, Lik-tiok-ong bilang, sementara ditinggalkan di sini dan akan dipelajarinya lebih mendalam.”

“He, lekas mengambilnya kembali,” seru Tiong-kiang. “Itu adalah Kiam-boh yang tak ternilai, entah berapa banyak orang persilatan selalu mengincar dan ingin memilikinya, mana boleh sembarangan ditinggalkan pada seorang yang tidak berkepentingan?”

Ih-suya mengiakan lagi dan baru saja ia hendak putar balik ke tengah semak-semak bambu sana, tiba-tiba terdengar seruan Lik-tiok-ong, “Eh, Kokoh (bibi), mengapa engkau keluar?”

Keruan semua merasa heran. “Berapa kira-kira umur Lik-tiok-ong itu?” tanya Ong Goan-pa kepada Ih-suya dengan suara bertanya.

“Lebih dari 70 tahun, mungkin sudah hampir 80 tahun,” sahut Ih-suya.

Diam-diam semua orang berpikir, “Seorang kakek berusia hampir 80 tahun dan masih punya seorang bibi, maka nenek ini mungkin sudah ada seratus tahun umurnya?”

Dalam pada itu terdengar suara seorang perempuan sedang menjawab, ditilik dari suaranya toh belum terlalu tua.

“Bibi, silakan lihat, buku musik ini rada-rada aneh,” demikian terdengar Lik-tiok-ong lagi berkata.

Kembali terdengar perempuan tua itu bersuara “ehm”, lalu suara kecapi mulai berbunyi, agaknya iramanya sedang disetel dulu, lalu berhenti sejenak, mungkin senar yang putus tadi sedang disambung, habis itu disetel lagi dan akhirnya baru mulai dipetik.

Semula irama kecapi itu sama dengan permainan Lik-tiok-ong tadi, tapi kemudian mulai berbeda, nada kecapi itu makin lama makin tinggi, namun irama yang dibawanya itu berjalan lancar dan gampang saja dapat mengikuti nada yang tinggi itu.

Sungguh girang Lenghou Tiong tak terkatakan, sayup-sayup suara kecapi itu seperti keadaan pada malam itu ketika Lau Cing-hong memetik kecapi dan membawakan lagu Hina Kelana ini.

Walaupun Lenghou Tiong tidak paham seni musik, tapi merasa lagu yang dibawakan nenek itu sama dengan lagu yang dibawakan Lau Cing-hong dahulu, cuma iramanya agak berbeda. Irama kecapi yang dipetik si nenek ini ulem meresap, kedengarannya sangat menyegarkan, sedikit pun tidak menimbulkan semangat yang bergolak-golak seperti irama yang dibawakan Lau Cing-hong.

Tidak lama kemudian suara kecapi mulai lompat seakan-akan semakin menjauh, mirip si pemetik kecapi itu telah pergi belasan meter jauhnya, lalu makin menjauh seakan-akan sudah beberapa li dan akhirnya makin perlahan dan makin lirih sehingga tak terdengar pula. Lagu itu belum selesai dipetik, hanya saja suaranya terlalu rendah dan jauh sehingga sukar didengar.

Ong Goan-pa, Gak Put-kun dan lain-lain juga tidak paham seni musik, namun tanpa terasa mereka pun tenggelam dalam lamunan suara kecapi itu seakan-akan ikut terbawa ke tempat yang amat jauh oleh suara musik itu. Ketika suara kecapi itu berhenti, seketika terdengar suara seruling yang halus mulai berbunyi di samping suara kecapi.

Suara seruling itu mengalun merdu dan perlahan makin mendekat. Tiba-tiba pada seruling itu berubah melengking tinggi, lalu merendah pula, sekonyong-konyong berubah perlahan, lalu berbunyi keras lagi.

Tiba-tiba suara seruling seakan-akan sekaligus memancarkan macam-macam suara yang berbeda, tapi lambat laun macam-macam suara itu berkurang satu per satu dan akhirnya lenyap semua, suara seruling itu telah berhenti.

Lama juga suara seruling itu berhenti barulah semua orang seperti baru sadar dari bermimpi, sungguh sukar dipercaya bahwa sebuah kecapi tujuh senar dan sebatang bambu kecil itu mampu mengeluarkan macam-macam nada suara yang begitu aneh.

Gak-hujin menghela napas panjang penuh kekaguman, katanya, “Sungguh hebat. Lagu apakah itu tadi, Tiong-ji?”

“Lagu itu disebut ‘Lagu Hina Kelana’,” sahut Lenghou Tiong. “Kepandaian nenek itu sungguh sangat hebat, baik kecapi maupun seruling telah dimainkannya dengan bagus sekali.”

“Meski lagu itu sangat bagus dan aneh, tapi memang diperlukan seorang ahli musik seperti si nenek baru dapat memperdengarkan keindahan lagu itu,” kata Gak-hujin “Musik sebagus ini agaknya kau pun baru pertama kali ini mendengarnya “

“Tidak, apa yang Tecu dengar dahulu jauh lebih bagus daripada barusan ini,” kata Lenghou Tiong.

“Mana mungkin!” ujar Gak-hujin. “Masakah di dunia ini masih ada orang yang lebih mahir daripada nenek ini dalam hal memetik kecapi dan meniup seruling?”

“Lebih pandai sih memang tidak,” sahut Lenghou Tiong. “Cuma yang pernah Tecu dengar dahulu adalah paduan suara dari dua orang pemain, yang satu memetik kecapi dan yang lain meniup seruling, yang dibawakan juga lagu Hina Kelana ini ….”

Belum habis ucapannya, rupanya si nenek yang tak kelihatan di balik semak bambu itu pun mendengar apa yang dikatakan Lenghou Tiong, terdengar suara kecapi dibunyikan perlahan beberapa kali dan sayup-sayup terdengar suaranya berkata, “Paduan suara kecapi dan seruling, di dunia ini ke mana lagi untuk mencari seorang demikian ini?”

Kemudian terdengar Lik-tiok-ong berseru, “Ih-suya, buku ini memang betul berisi not kecapi dan seruling, ini baru saja dimainkan oleh bibiku, sekarang boleh kau ambil kembali buku ini.”

Ih-suya mengiakan, lalu masuk ke tengah semak bambu, waktu keluar lagi dia sudah membawa buku musik itu.

Terdengar Lik-tiok-ong berkata pula, “Betapa bagus lagu yang tertulis itu sungguh tiada bandingannya di dunia ini. Buku ini adalah benda pusaka dan jangan sekali-kali jatuh ke tangan orang biasa. Kau tidak dapat memainkannya dan jangan sekali-kali memaksakan diri mencobanya, kalau tidak menurut tentu akan merugikan kau sendiri.”

Kembali Ih-suya mengiakan, lalu buku not musik itu diserahkannya kembali kepada Ong Goan-pa.

Dengan telinga sendiri Goan-pa sudah mendengar permainan kecapi dan seruling, ia percaya isi buku itu memang betul adalah not musik, segera ia pun mengembalikan buku itu kepada Lenghou Tiong dan berkata, “Maaf!”

Lenghou Tiong mendengus dan sebenarnya hendak melontarkan beberapa patah kata ejekan, tapi Gak-hujin keburu mengedipinya sehingga dia urung membuka mulut.

Karena merasa kehilangan muka, Ong Goan-pa dan anak cucunya mendahului meninggalkan tempat itu disusul oleh Gak Put-kun. Sebaliknya Lenghou Tiong masih berdiri termangu-mangu di situ sambil memegangi buku not musik itu.

“Tiong-ji, apa kau tidak ikut pulang?” tegur Gak-hujin.

“Sebentar lagi segera Tecu akan pulang,” sahut Lenghou Tiong.

“Hendaknya lekas pulang untuk mengaso,” pesan Gak-hujin. “Lenganmu baru saja keseleo, tidak boleh menggunakan tenaga keras.”

Lenghou Tiong mengiakan.

Sesudah orang lain sudah pergi semua, suasana di gang kecil itu menjadi sunyi senyap. Hanya suara berkereseknya daun bambu bertiup angin mengiringi Lenghou Tiong yang masih berdiri melamun di situ sambil memegangi buku musik.

Teringat olehnya dahulu di tengah malam Lau Cing-hong bertemu dengan Kik Yang, di sanalah kedua tokoh itu telah menciptakan lagu yang ajaib ini. Sekarang walaupun si nenek di tengah semak-semak bambu itu juga mahir memetik kecapi dan meniup seruling dengan sama menakjubkan, namun sayang dia hanya memainkan kedua jenis alat musik itu secara terpisah dan Lik-tiok-ong itu ternyata tidak mampu memainkannya bersama dia. Agaknya paduan suara kecapi dan seruling dalam membawakan lagu Hina Kelana ini selanjutnya akan tamat riwayatnya dan tidak dapat didengar lagi untuk kedua kalinya.

Kemudian Lenghou Tiong berpikir pula, “Lau-susiok dan Kik-tianglo sebenarnya adalah musuh, yang satu adalah tokoh golongan Cing-pay dan yang lain adalah gembong Mo-kau, tapi akhirnya mereka merasa sepaham dan mengikat persahabatan sehidup semati, bahkan menciptakan ‘Lagu Hina Kelana’ yang bagus ini bersama. Ketika mereka berdua meninggal dunia bersama, jelas mereka tidak merasa menyesal sedikit pun, jauh lebih senang daripada hidupku sebatang kara di dunia. Laksute yang paling menghormat dan cinta padaku itu malah terbinasa oleh tutukanku sendiri.”

Teringat akan kematian Liok Tay-yu yang mengenaskan itu, tanpa terasa Lenghou Tiong berduka, air matanya menetes jatuh di atas buku musik itu, akhirnya suara tangisnya yang tersenggak-sengguk terdengar pula.

Tiba-tiba suara Lik-tiok-ong terdengar berkumandang dari balik semak-semak bambu sana, “Sebab apakah sobat itu tidak pergi dan malah menangis di sini?”

“Wanpwe berduka akan nasib sendiri yang malang dan terkenang pula kepada kematian kedua Locianpwe yang menggubah lagu ini sehingga tanpa sadar telah mengganggu ketenangan Losiansing, harap dimaafkan,” habis berkata segera Lenghou Tiong hendak melangkah pergi.

“Sobat kecil, ada beberapa patah ingin kuminta keteranganmu, apakah sudi masuk kemari untuk omong-omong?” kata Lik-tiok-ong.

Tadi Lenghou Tiong mendengar sendiri cara bicara kakek tukang bambu itu sangat ketus dan angkuh terhadap Ong Goan-pa, sungguh tidak tersangka bahwa dia justru berlaku begitu ramah terhadap dirinya seorang pemuda yang tak terkenal. Maka jawabnya kemudian, “Cianpwe ingin tanya apa, tentu Wanpwe akan memberi penjelasan.”

Lalu ia pun melangkah ke depan menyusuri hutan bambu itu.

Jalanan kecil itu membelok beberapa kali di tengah hutan bambu, kemudian tertampaklah di depan sana ada lima buah gubuk kecil. Di sebelah kiri dua dan di sebelah kanan tiga. Semuanya terbuat dari bambu. Terlihat seorang kakek melangkah ke luar dari gubuk di sebelah kanan dan memapaknya dengan tertawa.

“Silakan masuk untuk minum teh, sobat kecil!” demikian sapa orang tua itu.

Lenghou Tiong melihat badan Lik-tiok-ong itu rada bungkuk, kepala botak, rambutnya jarang-jarang. Tangan lebar dan kaki besar, semangatnya sangat kuat. Segera ia memberi hormat dan berkata, “Wanpwe Lenghou Tiong memberikan salam hormat!”

Kakek itu bergelak tertawa, sahutnya, “Aku cuma kebetulan lebih tua beberapa tahun, kita tidak perlu banyak adat. Marilah silakan masuk, silakan!”

Sesudah Lenghou Tiong ikut masuk ke dalam pondok kecil itu, terlihat meja kursi, balai-balai dan lemari, semuanya terbuat dari bambu. Di sana-sini terdapat pula hiasan ukiran bambu dengan tulisan yang indah, di atas meja tertaruh sebuah kecapi dan sebatang seruling, keadaan ruangan itu menjadi lebih mirip kamar tulis kaum sastrawan daripada rumah seorang tukang bambu.

“Silakan minum, sobat cilik,” kata Lik-tiok-ong sesudah menuangkan secangkir teh dari sebuah kendi porselen hijau.

Dengan penuh hormat Lenghou Tiong menerima cangkir teh itu.

“Sobat kecil, buku not musik ini entah kau dapatkan dari mana? Apakah sudi memberi keterangan?” tanya Lik-tiok-ong lebih lanjut.

Lenghou Tiong melengak atas pertanyaan itu. Buku musik itu banyak mengandung rahasia, sebab itulah sang guru dan ibu gurunya saja belum pernah diberi tahu.

Dahulu maksud tujuan Lau Cing-hong dan Kik Yang menyerahkan buku itu padanya harapannya adalah semoga buku itu dapat diturunkan kepada angkatan baru dan supaya tidak lenyap begitu saja lagu ciptaan mereka. Sekarang Lik-tiok-ong dan bibinya ternyata juga ahli seni musik dan dapat memainkan lagu itu sedemikian bagusnya, biarpun usia mereka sudah tua, tapi selain mereka rasanya di dunia ini tiada orang lain lagi yang sesuai untuk diserahi lagu indah itu. Seumpama di dunia ini ada yang lebih pandai, tapi jiwa sendiri takkan bertahan lebih lama lagi dan tentu tidak sempat buat menemukan ahli musik yang lain.

Setelah berpikir sejenak, kemudian katanya, “Kedua Cianpwe yang menggubah lagu ini, yang seorang mahir memetik kecapi dan yang lain ahli meniup seruling, kedua orang telah mengikat persahabatan dan bersama-sama menciptakan lagu ini, cuma sayang mereka mengalami malapetaka dan telah meninggal dunia bersama. Menurut pesan kedua Cianpwe itu, lagu yang diserahkan kepadaku ini diharapkan akan mendapatkan ahli waris yang tepat agar supaya tidak sampai lenyap begitu saja di dunia ramai ini.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula, “Tadi dapat kudengar bibi Locianpwe memainkan kecapi dan seruling secara amat indah, Tecu sangat bersyukur lagunya telah menemukan tuannya, maka mohon Locianpwe sudi menerima buku musik ini dan sampaikan kepada Popo (nenek) supaya Tecu tidak sia-siakan maksud tujuan kedua Cianpwe menggubah lagu ini, dengan demikian pun terkabul juga cita-citaku ini.”

Habis berkata ia terus mempersembahkan buku lagu itu dengan penuh khidmat.

Lik-tiok-ong tidak berani menerimanya begitu saja, katanya, “Aku harus tanya dulu kepada Kokoh, entah beliau sudi menerima atau tidak?”

Maka terdengarlah suara si nenek dari gubuk sebelah sana, “Maksud luhur Lenghou-siansing yang ingin memberikan lagu bagus itu, untuk menolaknya akan kurang hormat, jika menerimanya merasa malu. Entah kedua Cianpwe penggubah lagu itu bernama siapa, dapatkah Lenghou-siansing memberitahukan?”

“Jika Cianpwe ingin mengetahui sudah tentu akan kuterangkan,” sahut Lenghou Tiong. “Kedua penggubah lagu itu adalah Lau Cing-hong Susiok dan Kik Yang, Kik-tianglo.”

“Ah … kiranya mereka berdua,” demikian terdengar si nenek bersuara, agaknya sangat heran dan terkejut.

“Apakah Cianpwe kenal pada mereka?” tanya Lenghou Tiong.

Nenek itu tidak menjawab. Sejenak kemudian barulah ia berkata, “Lau Cing-hong adalah tokoh Heng-san-pay, sebaliknya Kik Yang adalah gembong Mo-kau, kedua pihak adalah musuh bebuyutan, mengapa mereka bisa menggubah lagu bersama? Sungguh hal ini sukar untuk dimengerti.”

Walaupun Lenghou Tiong belum pernah tahu muka nenek itu, tapi sesudah mendengar permainan kecapi dan serulingnya tadi, ia merasa si nenek tentu adalah seorang tokoh angkatan tua yang baik budi dan welas asih, pasti takkan menipu dirinya apalagi orang mengetahui pula asal usul Lau Cing-hong dan Kik Yang, terang juga kaum persilatan yang sama.

Maka tanpa ragu lagi ia terus bercerita tentang Lau Cing-hong ingin “cuci tangan”, tapi dirintangi Co-bengcu dari Ko-san-pay, dan pertemuan Lau Cing-hong dengan Kik Yang di pegunungan sunyi di sana kedua orang bersama memainkan kecapi serta seruling, akhirnya gugur bersama dibunuh oleh Hui Pin, jago terkemuka Ko-san-pay. Sebelum mengembuskan napas penghabisan kedua orang itu minta pertolongannya agar mencari orang yang paham seni musik dan menyerahkan lagu itu padanya. Begitulah ia menuturkan semua pengalamannya itu dengan sejujurnya.

Selama itu si nenek terus mendengarkan dengan cermat tanpa bersuara.

Selesai Lenghou Tiong bicara barulah nenek itu bertanya, “Sudah terang ini adalah buku musik mengapa si golok emas Ong Goan-pa itu mengatakannya sebagai kitab pusaka ilmu silat segala?”

Maka Lenghou Tiong bercerita pula tentang tertawannya Lim Cin-lam dan istrinya oleh orang Jing-sia-pay dan kemudian ditolong oleh Bok Ko-hong, sebelum ajalnya orang tua itu memberi pesan agar disampaikan kepada Lim Peng-ci, tapi hal ini telah menimbulkan rasa curiga keluarga Ong dan sebagainya.

“O, kiranya demikian,” kata si nenek. “Seluk-beluk urusan ini jika mau kau katakan terus terang kepada guru dan ibu-gurumu, bukankah segala prasangka itu seakan lenyap dengan sendirinya? Sebaliknya aku adalah orang yang belum pernah kau kenal, kenapa kau malah bicara sejujurnya kepadaku?”

“Tecu sedikit pun tidak tahu apa sebabnya?” sahut Lenghou Tiong. “Mungkin sesudah mendengar permainan kecapi Cianpwe yang indah tadi lantas timbul rasa kagum dan hormatku atas keluhuran Cianpwe sehingga tidak merasa sangsi apa pun.”

“Jika begitu, tadi kau malah sangsi kepada guru dan ibu-gurumu?” tanya si nenek.

“Sekali-kali Tecu tidak berani punya pikiran demikian,” sahut Lenghou Tiong cepat. “Cuma … cuma Suhu diam-diam sudah mencurigaiku. Tetapi, ai, ini pun tak dapat menyalahkan beliau.”

“Dari suaramu dapat diketahui tenagamu sangat lemah, orang muda tidak seharusnya begitu, entah apa sebabnya? Apakah kau baru sakit payah atau pernah terluka parah?”

“Ya, pernah menderita luka dalam yang amat berat,” sahut Lenghou Tiong.

“Tiok-hiantit, coba kau bawa anak muda itu ke pinggir jendelaku, biar kuperiksa nadinya,” kata nenek itu.

Terdengar Lik-tiok-ong mengiakan, lalu Lenghou Tiong diajaknya ke pinggir jendela gubuk kecil di sebelah kiri sana dan menyuruh dia menjulurkan tangan kiri ke dalam gubuk melalui bawah kerai bambu. Di balik tirai bambu itu teraling-aling pula selapis tirai sutera yang halus. Samar-samar Lenghou Tiong hanya melihat ada bayangan orang, tapi bagaimana mukanya sama sekali tidak kelihatan. Segera dirasakan ada tiga buah jari yang dingin memegang nadi pergelangan tangannya, ujung ketiga jari itu terasa halus dan licin, tidak mirip anggota badan perempuan.

Setelah memegangi sebentar nadi Lenghou Tiong, terdengar nenek itu bersuara kejut dan berkata, “Aneh, sungguh sangat aneh!”

Selang sejenak, lalu katanya pula, “Coba ganti tangan kanan!”

Selesai memeriksa nadi kedua tangan Lenghou Tiong, sampai agak lama nenek itu tertegun diam.

Lenghou Tiong tersenyum, katanya, “Harap Cianpwe tidak perlu khawatir bagi keselamatanku. Tecu sadar tidak lama lagi hidup di dunia ini, sudah lama Tecu tidak pikiran soal ini lagi.”

“Mengapa kau tahu jiwamu tak bisa hidup lebih sama lagi?” tanya si nenek.

“Tecu telah salah membunuh Sute sendiri dan menghilangkan Ci-he-pit-kip milik perguruan, diharap selekasnya kitab pusaka itu dapat diketemukan habis itu Tecu akan segera membunuh diri untuk menyusul Sute di alam baka.”

“Ci-he-pit-kip katamu?” si nenek menegas. “Ini pun sesuatu benda yang luar biasa. Dan cara bagaimana kau bisa salah membunuh Sutemu sendiri?”

Segera Lenghou Tiong bercerita pula tentang maksud Tho-kok-lak-sian hendak menyembuhkan lukanya, tapi enam arus hawa murni mereka malah tertinggal di dalam badannya dan perang tanding di antara arus hawa murni itu sendiri. Lalu Sumoaynya mencuri kitab pusaka dengan maksud hendak membantu menyembuhkan lukanya, namun dirinya telah menolak menerima kitab pusaka itu lalu Liok-sute sengaja membacakan isi kitab itu kemudian dirinya menutuk roboh sang Sute, mungkin tutukannya terlalu keras sehingga mengakibatkan kematiannya. Semua itu diceritakan pula dengan jelas.

Habis mendengar mendadak nenek itu berkata, “Sutemu itu bukan terbunuh olehmu.”

Lenghou Tiong terkesiap. “Bukan aku yang membunuhnya?” ia menegas.

“Ya, waktu itu tenagamu sendiri sangat lemah, hanya tutukan kedua Hiat-to saja pasti takkan mampu membinasakan dia,” kata si nenek. “Sutemu itu dibunuh oleh orang lain dan bukan olehmu.”

“Lalu … lalu siapakah yang membunuh Liok-sute?” demikian Lenghou Tiong seperti bergumam sendiri.

“Walaupun orang yang mencuri Ci-he-pit-kip itu belum tentu adalah si pembunuh Sutemu, tapi di antara keduanya sedikit banyak mungkin ada hubungannya,” kata si nenek lebih lanjut.

Lenghou Tiong menghela napas lega, rasa batinnya yang tertekan selama ini seketika menjadi enteng.

Sebenarnya dia adalah seorang yang sangat pintar dan cerdik, semula ia pun sudah berpikir bahwa tutukannya yang tak bertenaga itu mana bisa mengakibatkan kematian Liok Tay-yu? Cuma saat itu dalam hati kecilnya terasa sangat menyesal, ia merasa Liok Tay-yu biarpun bukan mati tertutuk olehnya, paling tidak Sute itu mati lantaran dia. Ia merasa seorang laki-laki sejati mana boleh mencari alasan untuk mengelakkan tanggung jawab dan membersihkan kesalahan sendiri?

Apalagi akhir-akhir ini sikap Gak Leng-sian semakin dingin padanya, saking pedih dan kecewanya ia menjadi putus asa dan bosan hidup, yang terpikir selalu olehnya hanyalah “mati” melulu, lain tidak.

Tapi kini demi si nenek mengingatkan dia, seketika terbangkit rasa penasarannya, “Balas dendam! Ya, balas dendam! Harus membalas dendam Liok-sute!”

Dalam pada itu terdengar si nenek berkata pula, “Kau mengaku di dalam tubuhmu ada enam arus hawa murni sedang saling gontok sendiri, tapi dari denyut nadimu tadi aku merasa ada delapan arus hawa murni. Mengapa bisa demikian?”

Maka tertawalah Lenghou Tiong, segera menerangkan pula tentang Put-kay Hwesio yang juga memaksa hendak menyembuhkan dia itu.

“Sifatmu sebenarnya sangat periang,” kata si nenek pula. “Walaupun denyut nadimu agak kacau tapi tiada tanda-tanda sesuatu kelemahan. Bagaimana kalau aku memetik kecapi dan membawakan satu lagu pula agar kau suka memberi penilaian?”

“Perhatian Cianpwe kepada diriku tentu akan kuterima dengan penuh rasa terima kasih,” sahut Lenghou Tiong.

Sejenak kemudian, suara kecapi pun mula menggema pula.

Kini lagunya sangat halus dan merdu, seperti nyanyian seorang ibu yang lagi meninabobokan anaknya, tidak lama mendengar, sayup-sayup Lenghou Tiong merasa mengantuk. Katanya di dalam hati, “Jangan tidur, jangan tidur! Kau sedang mendengarkan permainan kecapi nenek itu, jika tertidur akan terasa tidak sopan.”

Namun begitu matanya terasa semakin sepat dan makin merapat sehingga akhirnya sukar terbuka lagi, tubuhnya lantas lemas terkulai, lalu tertidur.

Di tengah impiannya dia masih terus mendengar suara kecapi yang merdu itu, seperti ada sebuah tangan yang halus sedang mengelus-elus kepalanya terasa seperti belaian kasih ibunda pada waktu masih kanak-kanak.

Agak lama juga, ketika suara kecapi berhenti, seketika Lenghou Tiong juga terjaga dan cepat ia merangkak bangun. Keruan ia merasa malu dan berkata, “Tecu benar-benar tidak tahu aturan, tidak memerhatikan permainan kecapi Cianpwe, sebaliknya malah tertidur, sungguh perasaan Tecu tidak enak.”

“Tak perlu kau menyesali diri sendiri,” kata si nenek. “Lagu yang kubawakan barusan ini memang mempunyai pengaruh tidak sedikit dengan harapan dapat mengatur kembali hawa murni dalam tubuhmu itu dengan baik. Sekarang coba mengerahkan sedikit tenaga, apakah rasa muak dan sesak itu sudah berkurang atau tidak?”

Lenghou Tiong sangat girang dan mengucapkan terima kasih. Cepat ia duduk bersimpuh dan coba mengerahkan tenaga dalam. Ia merasa kedelapan arus hawa murni itu masih terus saling terjang di dalam badan, tapi rasa sesak karena bergolaknya darah di rongga dada telah banyak berkurang.

Akan tetapi hanya bertahan sebentar saja kembali kepalanya terasa pusing dari badan lemas dan terkapar di atas tanah.

Melihat itu lekas Lik-tiok-ong mendatangi dan memayangnya masuk ke dalam rumah, sesudah ditidurkan sekian lama baru rasa pusing kepalanya hilang.

“Lwekang Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Taysu itu teramat tinggi, hawa murni yang mereka tinggalkan itu sukar diatur oleh suara kecapi yang lemah ini sehingga membikin kau lebih menderita, sungguh aku merasa tidak enak hati,” kata nenek itu.

“Janganlah Cianpwe berkata demikian,” ujar Lenghou Tiong cepat. “Dapat mendengar lagu yang merdu tadi sudah tidak sedikit manfaat yang diperoleh Tecu.”

Tiba-tiba ia melihat Lik-tiok-ong menyodorkan secarik kertas yang baru saja ditulis olehnya, waktu Lenghou Tiong membaca isinya, kiranya tertulis, “Mintalah agar diajarkan lagu itu sekalian.”

Tergerak juga hati Lenghou Tiong, segera ia pun memohon, “Bilamana tidak menjadi keberatan Cianpwe sungguh Tecu ingin mempelajari lagu penyembuhan tadi agar lambat laun Tecu dapat mengatur hawa murni yang bergolak di dalam tubuh ini.”

Nenek itu tidak lantas menjawab, selang sejenak baru membuka suara, “Sudah berapa jauh kepandaianmu memetik kecapi? Coba mainkan satu lagu.”

Wajah Lenghou Tiong menjadi merah, katanya, “Selamanya Tecu belum pernah belajar maka sama sekali tidak paham. Memang Tecu terlalu sembrono ingin belajar permainan kecapi yang amat tinggi dari Cianpwe ini, harap suka dimaafkan kebodohan Tecu.”

Sebenarnya sifat Lenghou Tiong biasanya sangat angkuh kecuali terhadap guru, ibu-guru dan Siausumoaynya, jarang sekali dia bersikap rendah hati kepada orang lain.

Tapi sejak dia mendengar permainan kecapi dan seruling si nenek, pula mendengar tutur katanya yang ramah tamah dan berbudi luhur, tanpa terasa ia menjadi sangat menghormatinya. Segera ia pun berkata kepada Lik-tiok-ong, “Biarlah sekarang Tecu mohon diri saja.”

Lalu ia membungkuk tubuh dan hendak melangkah pergi.

“Nanti dulu,” terdengar si nenek menahannya. “Aku tidak dapat membalas apa-apa atas pemberian lagu indah ini, sebaliknya lukamu sukar disembuhkan hal ini pun membuat aku tidak tenteram. Tiok-hiantit, mulai besok boleh mengajarkan pengantar dasar memetik kecapi kepada Lenghou-siansing, jika dia cukup sabar dan dapat tinggal agak lama di Lokyang sini, maka tiada alangannya juga akan kuajarkan laguku ‘Jing-sim-boh-sian-ciu’ ini padanya.”

Begitulah mulai esok paginya Lenghou Tiong lantas datang ke rumah bambu itu untuk belajar main kecapi. Lik-tiok-ong telah mengeluarkan kecapi tua dan mulai memberi petunjuk tentang dasar-dasar seni suara.

Sebenarnya Lenghou Tiong boleh dikata buta huruf dalam hal musik, tapi dia adalah seorang cerdik, sekali diberi tahu lantas paham berikutnya, sekali dengar tak pernah lupa lagi. Tentu saja Lik-tiok-ong sangat senang, sengaja ia mengajarkan cara memetik kecapi, lalu Lenghou Tiong disuruh coba membawakan satu “Pik-siau-kim” yang paling cekak dan sederhana.

Hanya belajar main beberapa kali saja Lenghou Tiong sudah biasa menguasainya, bahkan irama permainannya sedemikian merdu seperti pemusik saja.

Selesai mengikuti lagu permulaan yang dimainkan Lenghou Tiong itu, tanpa merasa si nenek di gubuk sebelah menghela napas gegetun. Katanya, “Lenghou-siansing, sedemikian pintar kau belajar kecapi, rasanya dalam waktu singkat saja kau sudah dapat belajar laguku ‘Jing-sim-boh-sian-ciu’ (lagu penyebar bajik dan pemurni batin) ini.”

“Banyak terima kasih atas pujian Cianpwe,” sahut Lenghou Tiong dengan rendah hati. “Tapi entah kapan Tecu baru sanggup memainkan lagu Hina Kelana seperti cara Cianpwe memainkannya kemarin.”

“Kau … kau juga ingin memainkan ‘Lagu Hina Kelana’ itu?” tanya si nenek.

Muka Lenghou Tiong menjadi merah, sahutnya, “Karena Tecu sangat kagum terhadap permainan kecapi dan seruling Cianpwe kemarin, maka timbul juga impian muluk-muluk ingin belajar lagu itu. Padahal Lik-tiok Cianpwe saja tidak sanggup memainkan lagu itu, apalagi Tecu yang masih hijau pelonco ini.”

Nenek itu tidak bersuara pula. Sampai agak lama baru terdengar ia berkata dengan suara perlahan, “Jika kau dapat memainkan lagu itu, hal ini tentu saja sangat baik ….”

Tapi suaranya makin lama makin lirih sehingga tak terdengar lagi apa yang diucapkan selanjutnya.

Begitulah berturut-turut belasan hari Lenghou Tiong selalu datang ke perumahan bambu itu untuk belajar kecapi, petangnya baru pulang, makan siang juga dilakukan di tempat Lik-tiok-ong. Biarpun makanannya sangat sederhana, tapi rasanya jauh lebih lezat daripada ayam daging yang dimakannya di rumah Ong Goan-pa.

Ada beberapa hari Lik-tiok-ong sibuk membikin alat-alat bambu, maka si nenek sendiri yang memberi pelajaran. Lama-kelamaan Lenghou Tiong merasa kepandaiannya sudah banyak maju, sering kali Lik-tiok-ong tidak mampu memberi penjelasan bila diajukan pertanyaan sehingga perlu si nenek memberi petunjuk. Tapi bagaimana wajah si nenek sebegitu jauh belum dilihatnya.

Hari itu si nenek mengajarkan sebuah lagu “terkenang” padanya. Sesudah mendengarkan beberapa kali, lalu Lenghou Tiong mulai memetikkan lagu itu. Tanpa terasa ia pun terkenang kepada kejadian masa lampau waktu dia bermain bersama Gak Leng-sian, tatkala mana si nona benar-benar mencurahkan kasih mesranya kepada dirinya, tapi entah mengapa sesudah munculnya Lim Peng-ci, sikap Siausumoaynya lantas semakin dingin kepadanya. Karena pikirannya melayang-layang, maka irama kecapi yang dipetiknya itu menjadi agak kacau. Tapi segera ia sadar dan lekas berhenti.

Dengan ramah si nenek bertanya, “Sebenarnya lagu ‘terkenang’ ini caramu membawakannya sangat baik, tapi mendadak nadanya berubah, tentu hatimu sendiri tiba-tiba terkenang kepada pengalamanmu dahulu.”

Dasar Lenghou Tiong memang seorang yang suka terus terang, tanpa ragu lagi ia lantas menuturkan isi hatinya yang sudah tercekam lamanya itu, ia ceritakan tentang cintanya pada Gak Leng-sian, sebaliknya gadis itu penujui pemuda lain.

Ia sendiri tidak tahu mengapa dia bercerita segala rahasia pribadinya kepada si nenek yang dianggapnya seakan-akan nenek dan ibu sendiri. Baru setelah selesai bercerita ia merasa malu.

Si nenek lantas menghiburnya, “Tentang jodoh memang tidak dapat dipaksakan. Kata peribahasa, setiap orang mempunyai jodoh sendiri-sendiri dan jangan iri kepada orang lain. Meskipun hari ini Lenghou-siansing patah hati, lain hari bukan mustahil akan mendapatkan jodoh yang lebih setimpal.”

“Tapi selama hidup Tecu ini sudah pasti takkan menikah,” kata Lenghou Tiong.

Nenek itu tidak bicara pula, tapi lantas memetik kecapi dan memainkan lagu “Jing-sim-boh-sian-ciu”. Hanya sebentar saja mendengarkan Lenghou Tiong lantas merasa mengantuk.

Si nenek lantas menghentikan suara kecapi dan berkata, “Mulai hari ini juga aku akan mengajarkan lagu ini padamu. Kira-kira dalam waktu sepuluh hari sudah cukup. Selanjutnya setiap hari lagu ini dimainkan satu kali, meski tak bisa memulihkan seluruh tenagamu masa lalu, sedikitnya akan berguna juga bagimu.”

Lenghou Tiong mengiakan dan si nenek lantas memberi petunjuk tentang seluk-beluk lagu itu serta cara memetiknya. Dengan penuh perhatian Lenghou Tiong mengingatnya dengan baik.

Hari ketiga ketika Lenghou Tiong hendak berangkat belajar main kecapi pula, tiba-tiba Lo Tek-nau datang memberi tahu padanya, “Toasuko, Suhu bilang besok juga kita akan berangkat.”

Keruan Lenghou Tiong melengak. “Besok juga kita akan pergi dari sini?” ia menegas.

“Ya,” sahut Tek-nau. “Sunio menyuruhmu berbenah seperlunya agar besok pagi bisa lantas berangkat.”

Lenghou Tiong menyatakan baik. Lalu bergegas-gegas ia datang ke pondok bambu dan memberitahukan si nenek, “Popo, besok juga Tecu akan mohon diri.”

Agaknya si nenek juga melengak. Sampai agak lama baru dia berkata dengan perlahan, “Mengapa begini terburu-buru, sedangkan … lagu ini belum selesai kau pelajari.”

“Tecu pun berpikir demikian,” ujar Lenghou Tiong. “Cuma perintah guru tak bisa dibantah. Sebagai tamu juga tak bisa tinggal di rumah orang selamanya.”

“Ya, benar juga,” kata si nenek. Lalu ia mulai memberi petunjuk pula cara memetik kecapi seperti hari-hari sebelumnya.

Lenghou Tiong adalah seorang yang berperasaan halus. Walaupun belum pernah melihat muka si nenek, tapi dari percakapan melalui suara kecapi dapatlah diketahui orang tua itu sangat memerhatikan dia seperti anggota keluarga sendiri. Hanya saja si nenek juga sungkan bicara, cuma beberapa kalimat saja lantas diseling dengan soal lain, terang ia pun tidak ingin Lenghou Tiong mengetahui perasaannya.

Orang yang paling memerhatikan Lenghou Tiong di dunia ini adalah Gak Put-kun dan istrinya, Gak Leng-sian serta Liok Tay-yu. Kini Tay-yu sudah mati, Leng-sian telah penujui Peng-ci, guru dan ibu gurunya menaruh curiga pula padanya, maka kini ia merasa orang yang paling akrab hubungannya dengan dia hanyalah Lik-tiok-ong serta si nenek yang belum kenal muka itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: