Hina Kelana: Bab 46. Siau-go-kang-ouw-kik = Lagu Hina Kelana

Dengan wajah kurang senang segera Ong Kah-ki menjawab, “Lenghou-toako, apa maksud ucapanmu ini? Kalau tempo hari aku tidak bantu membubarkan kaum bicokok itu apakah jiwamu dapat diselamatkan sampai sekarang?”

“Ya, untuk itu aku harus mengucapkan terima kasih,” sahut Lenghou Tiong dengan tersenyum hambar.

Dari nada ucapan orang, Ong Kah-ki tahu yang dimaksudkan Lenghou Tiong adalah kebalikannya dari makna kata-katanya, tentu saja Kah-ki tambah mendongkol. Segera ia berseru, “Lenghou-toako adalah murid pewaris Hoa-san-pay, sekarang ternyata tidak mampu menghadapi beberapa bicokok keroco di kota Lokyang, hehe, kalau diketahui orang luar bukankah akan dianggap bernama kosong belaka?”

Dalam keadaan iseng dan sungkan Lenghou Tiong juga tidak urus ucapan yang menyinggung itu, jawabnya tak acuh, “Ya, memangnya nama kosong saja aku tidak punya, dianggap atau tidak juga sama saja.”

Pada saat itu juga di luar jendela ada orang menyela, “Adik, kau sedang bicara apa dengan Lenghou-toako?”

Ketika kerai pintu tersingkap, masuklah seseorang lagi. Kiranya Ong Kah-cun, putra Ong Tiong-kiang, yakni saudara tua Ong Kah-ki.

Melihat kedatangan saudaranya, dengan marah-marah Kah-ki berseru, “Koko, dengan maksud baik aku mewakilkan dia menghajar kaum bicokok itu, setiap bicokok itu telah kucambuki dengan babak belur, siapa tahu Lenghou … Lenghou-tayhiap ini malah mengatakan aku suka cari perkara.”

“Ah, tentu adik belum tahu,” kata Ong Kah-cun. “Tadi aku mendengar dari Gak-sumoay, katanya Lenghou-toako ini sesungguhnya sangat lihai. Ketika di kelenteng Yo-ong-bio tempo hari, hanya dengan sebatang pedang saja sekaligus ia telah membutakan mata 15 musuh kelas berat dalam satu jurus, ilmu pedangnya benar-benar mahasakti dan jarang ada bandingannya di dunia ini. Haha, sungguh hebat, haha!”

Ia tertawa dengan nada mengejek, nyata dia sama sekali tidak percaya terhadap cerita Gak Leng-sian itu.

Ong Kah-ki juga ikut mengakak tawa, katanya, “Ya, boleh jadi ke-15 lawan kelas berat itu kalau dibandingkan kaum bicokok kota Lokyang kita masih selisih sekian jauhnya. Hahahaha!”

Ternyata Lenghou Tiong sama sekali tidak gusar, malahan dia ganda tertawa sambil bersimpuh dengkul dan digoyang-goyangkan, sedikit pun ia tidak pandang sebelah mata kepada kedua saudara Ong itu.

Kedatangan Ong Kah-cun ini sebenarnya atas perintah ayah dan pamannya yang menyuruhnya coba-coba menanyai Lenghou Tiong. Pek-hun dan Tiong-kiang suruh dia tanya dengan cara baik dan sekali-kali jangan membikin marah kepada tamu. Tapi sekarang demi melihat sikap Lenghou Tiong yang angkuh itu, diam-diam Kah-cun naik pitam. Dengan suara keras ia lantas menegur, “Lenghou-heng, ada suatu urusan ingin kuminta keterangan padamu.”

“Ah, jangan sungkan-sungkan,” sahut Lenghou Tiong.

“Begini,” kata Kah-cun, “menurut cerita Peng-ci Piauhia (kakak misan), katanya pada saat paman dan bibi kami wafat, hanya Lenghou-heng seorang saja yang menunggui kedua beliau itu.”

“Memang benar,” sahut Lenghou Tiong.

“Dan pesan tinggalan paman dan bibiku itu juga Lenghou-heng yang menyampaikan kepada Peng-ci bukan?”

“Tidak salah!”

“Jika begitu, di manakah Pi-sia-kiam-boh pamanku itu?” tanya Kah-cun lebih lanjut.

“Apa katamu?” teriak Lenghou Tiong sambil melonjak bangun seketika.

Khawatir kalau orang mendadak menyerang, Kah-cun melangkah mundur dua tindak, lalu berkata, “Pi-sia-kiam-boh yang diminta supaya engkau menyampaikannya kepada Peng-ci Piauhia mengapa sampai sekarang belum engkau serahkan padanya?”

Sungguh gusar Lenghou Tiong tak terkatakan karena kata-kata fitnah itu, badannya sampai gemetar. “Siapa … siapa yang bilang ada Pi-sia-kiam-boh yang dikatakan harus kuserahkan kepada … kepada Lim-sute?” tanyanya kemudian dengan suara terputus-putus.

“Jika tidak benar urusan ini, mengapa engkau menjadi khawatir, bicara saja gemetar?” ujar Kah-cun dengan tertawa.

Sedapatnya Lenghou Tiong menahan perasaannya, tanyanya, “Kedua saudara Ong, saat ini aku adalah tamu keluarga kalian, apa yang kau lakukan ini adalah suruhan kakekmu, ayahmu atau pendirian kalian berdua sendiri?”

“Aku cuma tanya sambil lalu saja, kenapa mesti panik?” ujar Kah-cun. “Ini tiada sangkut pautnya dengan kakek dan ayahku. Cuma Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim di Hokciu sangat termasyhur dan disegani kawan maupun lawan. Secara mendadak paman meninggal dunia dan kitab pusaka yang selalu dibawanya itu hilang pula, sebagai keluarga terdekat dengan sendirinya kami ingin tanya dan mengusutnya.”

“Apa Siau-lim-cu yang menyuruhmu tanya padaku? Dia kenapa tidak datang sendiri saja?” tanya Lenghou Tiong pula.

“Hehe, Peng-ci Piauhia adalah Sutemu, masakan dia berani tanya secara blak-blakan padamu?” sahut Kah-cun sambil mengekek tawa.

Padahal Peng-ci tidak pernah bicara tentang Pi-sia-kiam-boh kepada kedua saudara Ong itu. Lantaran jawaban Kah-cun itu, tentu saja membikin Lenghou Tiong tambah sirik lagi kepada Peng-ci. Dengan tertawa dingin ia berkata pula, “Dengan dijagoi oleh golok emas keluarga Ong yang termasyhur di Lokyang ini, kini kalian serentak boleh memaksa pengakuanku. Silakan memanggil dia kemari.”

“Kau adalah tetamu keluarga Ong kami, kata-kata ‘memaksa pengakuanmu’ sekali-kali tidak berani kami terima,” sahut Kah-cun. “Kami bersaudara hanya terdorong oleh rasa ingin tahu saja, maka kami tanyakan secara iseng. Syukurlah kalau Lenghou-heng mau memberi jawaban, kalau tidak mau, ya apa boleh buat.”

“Ya, aku tak mau menjawab dan kalian apa boleh buat, sekarang silakan pergi saja,” kata Lenghou Tiong ketus.

Kah-cun dan Kah-ki saling pandang sendiri. Sama sekali mereka tidak menduga Lenghou Tiong akan menjawab secara ketus dan tegas sehingga pintu bicara telah ditutup.

Begitulah mereka menjadi kikuk sendiri. Sesudah batuk dua kali, Kah-cun coba mengalihkan pokok pembicaraan. Katanya, “Lenghou-heng, katanya sekali serang engkau telah membutakan, mata 15 orang musuh tangguh. Jurus serangan pedang yang begitu sakti besar kemungkinan baru saja kau dapat belajar dari Pi-sia-kiam-boh bukan?”

Sungguh kejut Lenghou Tiong tak terkatakan, seketika keringat dingin membasahi sekujur badannya, kedua tangan sampai gemetar semua. Pahamlah sekarang baginya bahwa sang guru, ibu guru dan para Sute dan Sumoaynya tidak berterima kasih padanya yang telah menyelamatkan jiwa mereka, sebaliknya mereka malah menaruh curiga padanya. Kiranya mereka menganggap dirinya telah menggelapkan Pi-sia-kiam-boh tinggalan Lim Cin-lam.

Pikir Lenghou Tiong, “Selamanya mereka tidak kenal Tokko-kiu-kiam, aku tidak mau menerangkan pula rahasia Hong-thaysiokco, sudah tentu mereka heran mengapa ilmu pedangku maju sepesat ini, sampai-sampai tokoh paling lihai dari sekte pedang seperti Hong Put-peng juga bukan tandinganku, kepandaianku ini kalau bukan diperoleh dari Pi-sia-kiam-boh itu lalu didapat dari mana? Ya, maklum juga, tentang ajaran Hong-thaysiokco kepadaku itu memang terlalu mendadak dan tak tersangka-sangka, sedangkan waktu Lim Cin-lam meninggal dunia juga melulu aku sendiri yang menunggui dia, dengan sendirinya setiap orang akan berpikir bahwa Pi-sia-kiam-boh yang diincar oleh setiap jago silat itu pasti jatuh di tanganku. Bila orang lain berprasangka demikian dapat dimengerti, namun Suhu dan Sunio cukup kenal watakku bagai anak kandung, mengapa mereka pun tidak memercayai aku lagi? Hehe, mereka benar-benar terlalu memandang rendah padaku!”

Karena begitu pikirannya, dengan sendirinya wajahnya memperlihatkan rasa penasaran.

Ong Kah-ki sangat senang, segera ia berkata pula, “Nah, ucapanku tadi kena benar bukan? Di manakah Pi-sia-kiam-boh itu? Bukan maksud kami juga mengincarnya, soalnya benda itu harus kembali kepada pemilik yang sebenarnya, silakan kau serahkan Kiam-boh itu kepada Lim-piauko dan selesailah urusan ini.”

“Tidak, selamanya aku tidak pernah melihat Pi-sia-kiam-boh segala,” sahut Lenghou Tiong sambil menggeleng. “Lim congpiauthau dan istrinya berturut-turut pernah ditawan oleh orang Jing-sia-pay dan si bungkuk Bok Ko-hong. Jika padanya tersimpan Kiam-boh apa segala tentu juga lebih dulu sudah diambil orang lain.”

“Benar juga,” seru Kah-cun. “Betapa bernilainya Pi-sia-kiam-boh itu, masakah pamanku mau menyimpannya di saku dan dibawa ke mana pun beliau pergi? Sudah tentu kitab pusaka itu disimpan beliau pada suatu tempat yang dirahasiakan. Sebelum mereka wafat, karena merasa sayang bila Kiam-boh itu lenyap begitu saja, maka kau yang diberitahukan tempat penyimpanannya agar menyampaikannya pula kepada Peng-ci Piauko, siapa tahu … siapa tahu, hehe ….”

“Siapa tahu secara diam-diam kau telah pergi mengambil kitab pusaka itu dan mengangkanginya sebagai milikmu sendiri,” sambung Kah-ki.

Makin gusar Lenghou Tiong mendengar tuduhan itu, sebenarnya ia tidak mau berdebat, cuma soal ini sangat penting, dirinya tidak sudi menerima fitnahan itu dan mendapat nama kotor, segera ia berkata, “Jika betul Lim-congpiauthau memiliki Kiam-boh sehebat itu, beliau sendiri seharusnya tiada tandingan pada masa hidupnya, tapi mengapa dia tidak mampu melawan beberapa anak murid Jing-sia-pay bahkan ditawan mereka?”

“Ini … ini ….” Ong Kah-ki gelagapan tak bisa menjawab.

Sebaliknya Ong Kah-cun adalah seorang pandai putar lidah, katanya, “Kejadian di dunia ini memang sering-sering sangat kebetulan. Lenghou-heng sendiri sudah berhasil mempelajari Pi-sia-kiam-hoat yang sakti, tapi terhadap bicokok keroco saja tidak mampu melawan sehingga kena dihajar oleh mereka sampai babak belur. Apa sebabnya bisa terjadi demikian? Haha, haha, sandiwaramu ini agak keterlaluan sedikit, Lenghou-heng masakah seorang murid pewaris Hoa-san-pay bisa dihajar oleh beberapa bicokok di kota Lokyang, setiap orang pasti tidak percaya kepada kepalsuanmu itu? Dan kalau tidak dapat dipercaya, tentu di balik kejadian itu ada apa-apanya. Nah, Lenghou-heng, kukira lebih baik kau mengaku terus terang saja.”

Kalau menuruti watak Lenghou Tiong, sebenarnya ia tidak ambil pusing terhadap Kim-to (golok emas) tiada tandingan dan keluarga Ong apa segala. Soalnya ia tidak sudi dirinya dicurigai guru, ibu guru dan Sumoaynya. Maka dengan tegas ia berkata pula, “Selama hidup Lenghou Tiong tidak pernah melihat Pi-sia-kiam-boh segala. Pesan Lim-congpiauthau sebelum wafat juga telah kusampaikan kepada Lim-sute tanpa mengurangi satu kalimat pun. Jika Lenghou Tiong ternyata bohong dan menipu, dosa ini pantas dihukum mati dan terkutuklah dia.”

Habis berkata ia berdiri tegak dengan sikap kereng.

Ong Kah-cun tersenyum, katanya, “Urusan penting yang menyangkut dunia persilatan begini jika cukup diselesaikan dengan bersumpah saja, hah, rasanya Lenghou-heng terlalu kekanak-kanakan dan orang lain semuanya tolol.”

“Habis bagaimana kalau menurut pendapatmu?” tanya Lenghou Tiong dengan menahan rasa gusarnya.

“Maaf, kami ingin coba menggeledah badanmu,” sahut Kah-ki. Setelah merandek sejenak, lalu menyambung pula dengan cengar-cengir, “Anggap saja seperti tempo hari waktu Lenghou-heng dibekuk oleh kawanan bicokok itu dan tak bisa berkutik, mereka tentu juga akan menggerayangi badanmu.”

“Hm, kalian ingin menggeledah badanku? Memangnya kau anggap Lenghou Tiong ini maling?” jengek Lenghou Tiong.

“Mana kami berani beranggapan demikian,” ujar Kah-cun. “Tapi kalau Lenghou-heng menyatakan tidak pernah ambil Pi-sia-kiam-boh itu, lalu kenapa mesti takut digeledah orang? Sesudah digeledah, jika memang betul tiada Kiam-boh itu, tentu kau pun akan bersih dari segala tuduhan, cara demikian bukankah sangat baik?”

“Baik,” sahut Lenghou Tiong mengangguk. “Coba panggil dulu Lim-sute dan Gak-sumoay, biar mereka berdua ikut menjadi saksi.”

Tapi Ong Kah-cun khawatir kalau dirinya pergi jangan-jangan adiknya seorang diri akan disergap Lenghou Tiong atau kalau mereka pergi berduaan kesempatan itu tentu akan digunakan oleh Lenghou Tiong untuk menyembunyikan Pi-sia-kiam-boh dan takkan ditemukan lagi bila digeledah.

Maka dengan ngotot Kah-cun berkata, “Kalau mau geledah harus segera geledah, bila Lenghou-heng tidak berdosa, kenapa mesti banyak alasan lagi?”

Namun Lenghou Tiong menggeleng, jawabnya, “Jika cuma kalian berdua saja rasanya tidak sesuai untuk menggeledah badanku.”

Semakin Lenghou Tiong tidak mau digeledah semakin yakin kedua saudara Ong itu bahwa pasti Lenghou Tiong mengangkangi Kiam-boh itu. Karena ingin mencari pahala dan mendapat pujian kakek dan ayahnya, pula mereka sudah lama mendengar Pi-sia-kiam-hoat itu sangat lihai, bila kitab itu nanti diketemukan tentu Peng-ci akan memberi pinjam kepada mereka.

Segera Kah-cun memberi isyarat kepada adiknya, lalu berkata, “Lenghou-heng, janganlah kau tidak mau diajak bicara secara halus tapi minta digunakan kekerasan, bila sampai terjadi apa-apa tentu akan kurang baik bagi hubungan kita.”

Sembari bicara kedua saudara itu terus mendesak maju. Dengan membusungkan dada Ong Kah-ki lantas menerjang ke depan.

Ketika Lenghou Tiong mengangkat tangan menolaknya, Kah-ki berteriak teriak, “Aduh, kau berani memukul orang?”

Berbareng kedua tangannya terus mengunci lengan lawan.

Sebenarnya pengalaman Lenghou Tiong sudah sangat luas, kepandaiannya juga jauh lebih tinggi daripada kedua pemuda she Ong itu. Ketika Kah-ki menerjang maju segera ia tahu anak muda itu tidak bermaksud baik, maka tangannya yang menolak ke depan itu sebenarnya sudah siap dengan berbagai gerakan susulan yang tersembunyi.

Celakanya dia sudah kehilangan tenaga dalam, walaupun tangan tetap bergerak menurut rencana, tapi sama sekali tak bertenaga, maka dengan gampang saja Ong Kah-ki dapat melaksanakan maksud kejinya, “krek”, tahu-tahu Lenghou Tiong merasa lengan kesakitan tangan telah dipegang oleh Kah-ki dan dipuntir, nyata ruas tulang lengannya telah terlepas, keseleo.

“Lekas geledah, Koko!” seru Kah-ki cepat.

Segera Kah-cun menjulurkan sebelah kakinya untuk menahan bawah perut Lenghou Tiong untuk berjaga jaga kalau Lenghou Tiong menendang. Menyusul tangan lantas menggerayangi baju Lenghou Tiong dan mengeluarkan seluruh isinya.

Mendadak sebuah buku kecil kena dirogoh keluar. Serentak kedua orang bersorak gembira, “Ini dia, Pi-sia-kiam-boh milik Lim-kohtio (paman Lim) sudah ditemukan!”

Buru-buru Kah-cun dan Kah-ki membuka buku kecil itu. Tertampak pada halaman pertama tertulis “Siau-go-kangouw-kik” (lagu Hina Kelana) dalam bentuk huruf kembang.

Kedua saudara Ong juga tidak tinggi sekolahnya, jika huruf-huruf itu ditulis dalam huruf biasa tentu akan dapat mereka baca, tapi sekarang huruf kembang yang aneh itu tak dikenal oleh mereka. Waktu mereka membalik halaman lain, semuanya juga tertulis dalam huruf-huruf yang aneh.

Mereka tidak tahu buku itu berisi not lagu bagi permainan kecapi dan seruling, yang mereka pikir adalah buku ini pasti Pi-sia-kiam-boh. Maka tanpa ragu lagi mereka terus berteriak-teriak, “Pi-sia-kiam-boh! Ini dia Pi-sia-kiam-boh!”

“Ayo lekas bawa dan perlihatkan kepada kakek!” seru Kah-cun. Dan buku not musik itu lantas buru-buru dibawa lari pergi.

Kah-ki masih belum puas, sebelum pergi ia tendang pula pinggang Lenghou Tiong sambil memaki, “Tidak punya malu, maling cilik!”

Bahkan ia meludahi pula muka Lenghou Tiong.

Mula-mula dada Lenghou Tiong serasa hampir meledak saking marahnya. Tapi sesudah dipikir lagi, ia percaya Ong Goan-pa pasti bukan manusia kasar dan hijau seperti kedua cucunya yang kurang ajar itu, sebentar bila buku itu diketahui adalah buku not musik tentu dia akan datang sendiri dan minta maaf padanya.

Cuma kedua tulang lengannya yang keseleo itu terasa sakit tidak kepalang. Pikirnya, “Tenagaku sudah punah, terhadap beberapa bicokok saja tak mampu melawan, keadaanku mirip seorang cacat, apa artinya pula hidup di dunia ini?”

Ia berbaring di tempat tidurnya, sampai agak lama barulah terdengar suara tindakan orang, kedua saudara Ong muda itu datang lagi.

“Ayo pergi menemui kakekku,” jengek Ong Kah-cun.

“Tidak mau!” bentak Lenghou Tiong dengar gusar. “Kakekmu tidak datang minta maaf padaku, untuk apa aku pergi menemui dia?”

Kah-cun dan Kah-ki terbahak-bahak geli. “Minta kakek mohon maaf padamu? Hahahaha, jangan kau mimpi di siang bolong! Ayo, berangkat!” seru Kah-ki.

Berbareng mereka terus menarik bangun Lenghou Tiong dan diseret keluar.

Sungguh gusar Lenghou Tiong tak terlukiskan, kontan ia mencaci maki, “Huh, golok emas keluarga Ong sok sombong mengaku sebagai kaum kesatria, tapi perbuatan sewenang-wenang begini pada hakikatnya teramat kotor dan tidak tahu malu.”

“Plok”, Kah-cun terus menggambar muka Lenghou Tiong sehingga mengeluarkan darah.

Namun Lenghou Tiong sangat keras kepala, ia masih terus mencaci maki sampai akhirnya kedua saudara Ong itu menyeretnya ke ruangan besar di bagian belakang.

Tertampak Ong Goan-pa dan Gak Put-kun serta istrinya sudah duduk di situ. Ong Pek-hun dan Ong Tiong-kiang duduk di sebelah Ong Goan-pa.

Lenghou Tiong masih terus memaki, “Golok emas keluarga Ong ternyata juga kotor dan rendah seperti ini di dunia persilatan.”

“Tutup mulut, Tiong-ji,” bentak Gak Put-kun sambil menarik muka.

Karena bentakan sang guru barulah Lenghou Tiong berhenti memaki. Walaupun demikian ia tetap bersikap angkuh dan melotot ke arah Ong Goan-pa.

Tangan Ong Goan-pa tampak memegangi buku not musik yang dirampas dari Lenghou Tiong itu. Katanya kemudian, “Lenghou-hiante, Pi-sia-kiam-boh ini dari mana memperolehnya?”

Lenghou Tiong tidak menjawab, sebaliknya ia menengadah dan mengakak tawa, sampai lama ia masih bergelak tertawa.

“Tiong-ji, orang tua mengajukan pertanyaan padamu harus kau jawab dengan sejujurnya, mengapa kau bersikap kurang sopan begini? Macam apa ini?” omel Gak Put-kun.

“Suhu,” jawab Lenghou Tiong, “dalam keadaan terluka parah, badan Tecu sedikit pun tidak bertenaga, tapi cara bagaimana kedua bocah ingusan itu memperlakukan diriku, hehe, apakah ini caranya keluarga Ong memerhatikan tetamunya?

“Jika tamu terhormat dan sahabat baik betapa pun keluarga Ong kami tidak berani berlaku kurang adat,” ujar Ong Tiong-kiang, “Tapi kau mengingkari pesan orang, ini kan perbuatan sebangsa maling dan rampok, sebagai keluarga terhormat mana kami dapat menganggapmu sebagai sahabat lagi?”

“Kalian kakek dan cucu tiga turunan berkeras mengatakan buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh, tapi apakah kalian sendiri pernah melihat Kiam-boh itu? Dari mana kalian dapat mengetahui buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh?” tanya Lenghou Tiong dengan angkuh.

Saking gusarnya Lenghou Tiong berbalik tertawa, katanya, “Jika kau katakan buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh, maka kebalikan anggap betul buku itu memang Kiam-boh. Semoga keluarga Ong kalian dapat meyakinkannya menurut petunjuk kitab itu sehingga berhasil memiliki Kiam-hoat yang tiada tandingan di dunia ini, selanjutnya keluarga Ong di Lokyang akan disegani karena ilmu pedang dan goloknya yang tiada taranya di dunia persilatan ini. Haha, hahaha!”

“Lenghou-hiante,” Ong Goan-pa, “jika ada kesalahan cucuku kepadamu, hendaknya kau pun jangan menyesal. Setiap manusia tentu mempunyai kesalahan, tapi kalau sadar akan kesalahannya dan mau memperbaiki, inilah yang baik. Sesudah kau menyerahkan Kiam-boh ini, mengingat Suhumu masakah kami masih sampai hati untuk mengusut lebih jauh padamu? Persoalan ini selanjutnya siapa pun jangan mengungkatnya lagi. Sekarang biarlah kusambung dulu lenganmu.”

Habis bicara ia terus berbangkit dan mendekati Lenghou Tiong hendak memegang tangannya.

Namun Lenghou Tiong lantas mundur dua-tiga tindak, teriaknya, “Tidak perlu! Lenghou Tiong tidak sudi menerima kebaikanmu!”

“Aku memberi kebaikan apa?” kata Goan-pa melengak.

“Aku Lenghou Tiong bukanlah patung yang tidak punya perasaan,” teriak Lenghou Tiong. “Lenganku ini tidak dapat diperlakukan sesuka hati kalian, mau dipatahkan lantas dipatahkan, ingin disambung lantas disambung, huh!”

Ia terus melangkah ke hadapan Gak-hujin dan berkata, “Sunio, lenganku ini ….”

Sebelum habis ucapannya Gak-hujin sudah tahu maksudnya. Nyonya Gak itu menghela napas gegetun, ia lantas membetulkan kedua tulang lengan Lenghou Tiong yang terlepas ruasnya itu.

Lengan Lenghou Tiong itu hanya keseleo saja, tulangnya tidak patah, setiap orang persilatan yang pernah belajar Kim-na-jiu-hoat tentu paham cara menyambung tulang, maka dengan mudah saja Gak-hujin dapat membetulkan lengan yang keseleo itu.

Kemudian Lenghou Tiong berkata pula, “Sunio, sudah terang buku itu adalah buku not musik kecapi tujuh senar dan seruling, tapi rupanya keluarga Ong mereka buta huruf semua dan ngotot mengatakan buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh segala. Sungguh suatu lelucon mahabesar di dunia ini.”

“Ong-loyacu,” kata Gak-hujin kemudian, “apakah buku itu boleh coba kulihat?”

“Silakan Gak-hujin melihatnya,” sahut Ong Goan-pa sambil mengangsurkan buku not musik itu.

Sesudah membalik-balik beberapa halaman, Gak-hujin sendiri juga tidak paham isinya, katanya kemudian, “Tentang not musik kecapi dan seruling aku tidak paham, tapi kalau kitab ilmu silat sih sering kubaca. Buku kecil ini agaknya tidak mirip Kiam-boh segala. Ong-loyacu, apakah di kediaman kalian ini ada orang yang mahir memetik kecapi dan meniup seruling, boleh coba mengundangnya keluar dan mencobanya, tentu segala persoalan akan mudah dipecahkan.”

Goan-pa merasa sangsi sebab khawatir buku itu jangan-jangan memang betul adalah buku not musik dan jika demikian berarti dia akan malu besar.

Sebaliknya Ong Kah-ki adalah pemuda yang bodoh, tanpa disuruh ia sudah berteriak, “Yaya (kakek), Ih-suya, juru tulis kita itu biasanya mahir meniup seruling, apa perlu kita memanggilnya ke sini untuk mencobanya. Sudah terang buku itu adalah Pi-sia-kiam-boh, masakah dikatakan buku musik?”

“Jenis kitab pusaka ilmu silat di kalangan Bu-lim banyak macam ragamnya, sering kali orang ingin merahasiakan kepandaian tunggalnya dan sengaja menuliskan pelajaran ilmu silat sebagai not musik dan cara lain, hal demikian sebenarnya juga tidak perlu diherankan,” ujar Ong Goan-pa.

“Jika di sini ada seorang Ih-suya yang mahir meniup seruling, maka buku itu Kiam-boh atau Siau-boh (buku seruling) tentu akan segera diketahui sesudah dilihat olehnya,” ujar Gak-hujin.

Tiada jalan lain, terpaksa Ong Goan-pa menurut dan menyuruh Kah-ki pergi memanggil Ih-suya.

Juru tulis she Ih itu ternyata seorang laki-laki kurus berusia 50-an, berkumis ala kumis tikus, pakaiannya cukup rajin.

“Ih-suya,” kata Ong Goan-pa, “silakan periksa apakah ini buku not musik?”

Ih-suya itu membalik-balik beberapa halaman bagian not kecapi lalu katanya sambil menggeleng kepala, “Untuk ini hamba tidak terlalu paham!”

Ketika ia membalik-balik lagi bagian not seruling, tiba-tiba wajahnya berseri-seri, mulutnya mulai bernyanyi-nyanyi kecil, dua jarinya ketuk-ketuk di atas meja menurut irama.

Sesudah bernyanyi nyanyi kecil sejenak, tiba-tiba ia menggeleng kepala pula dan berkata, “Ah, tidak, tidak betul!”

Lalu mulutnya mulai mengiang-ngiang lagi, mendadak nadanya meninggi, sekonyong-konyong berubah menjadi rendah sekali sampai suaranya serak dan tak bisa diteruskan. Ia berkerut kening dan berkata, “Tidak, tidak mungkin begini, ini sungguh sukar … sukar dimengerti ….”

“Apakah isi buku ini ada bagian-bagian yang menyangsikan? Adakah perbedaan mencolok dengan buku musik biasa?” tanya Goan-pa.

Ih-suya membalik kembali halaman permulaan bagian not seruling dan berkata, “Silakan Loya melihat ini, di sini dimulai dengan nada sedang, lalu mendadak berubah tinggi, kemudian berubah lagi nada paling rendah, ini benar-benar sangat bertentangan nada tinggi dan rendah demikian.”

“Kau sendiri tidak becus, apakah orang lain juga tiada seorang pun mampu?” jengek Lenghou Tiong.

“Ya, betul juga ucapanmu,” sahut Ih-suya sambil manggut-manggut. “Cuma di dunia ini kalau betul ada orang yang mampu membawakan lagu demikian, maka aku sungguh kagum tak terhingga, kagum tak terkatakan. Ya, kecuali … kecuali ….”

“Apa kau maksudkan ini bukan not seruling biasa, lagu di dalamnya pada hakikatnya tidak dapat dibunyikan dengan seruling?” demikian Ong Goan-pa menyela.

“Ya, memang lain daripada biasa,” sahut Ih-suya, “yang pasti aku tidak mampu memainkan lagu ini kecuali ….”

“Kecuali siapa? Apakah di sini ada seorang ahli yang mampu membawakan lagu ini?” Gak-hujin menegas.

“Sesungguhnya aku pun tidak berani tanggung, cuma … cuma … Lik-tiok-ong (si kakek bambu hijau) di kota timur itu, beliau mahir memetik kecapi dan pandai meniup seruling pula, mungkin beliau dapat membawakan lagu ini. Kepandaiannya meniup seruling jauh lebih mahir daripadaku, bedanya benar-benar sangat jauh.”

“Kalau bukan not seruling biasa, di dalamnya tentu ada sesuatu yang ganjil,” kata Ong Goan-pa.

Ong Pek-hun yang sejak tadi hanya mendengarkan saja kini mendadak membuka suara, “Ayah, pelajaran Liok-hap-to dari Pat-kwa-bun di Thociu sana bukankah juga tertulis di dalam sejilid buku not musik?”

Semula Ong Goan-pa melengak, tapi segera ia paham bahwa putranya itu sengaja membual, sebab Pat-kwa-bun di Thociu itu ada hubungan famili dengan keluarga Ong, namun selama ini tidak pernah terdengar tentang ajaran ilmu goloknya tertulis di dalam buku musik segala. Ia percaya Gak Put-kun juga tak mengetahui akan hal ini, maka dengan mengangguk ia menjawab, “Ya, benar juga. Beberapa tahun yang lalu Bok-cinken dari Pat-kwa-bun juga pernah menyinggung tentang hal ini. Sebenarnya ilmu silat ditulis dalam not musik adalah sangat jamak, sedikit pun tidak perlu diherankan.”

“Huh, jika tidak perlu diherankan, maka numpang tanya, macam apakah Kim-hoat yang tertulis dalam not musik ini, silakan Ong-loyacu memberi keterangan,” jengek Lenghou Tiong.

“Tentang ini … ai menantuku itu sudah meninggal dunia, rahasia dalam not musik di dunia selain Lenghou-laute sendiri agaknya tidak orang kedua lagi yang tahu,” demikian jawab Ong Goan-pa.

Nyata bukan saja ilmu golok Ong Goan-pa sangat lihai, bahkan bicaranya juga sangat tajam. Di balik ucapannya itu kembali ia menuduh Lenghou Tiong yang telah menggelapkan Pi-sia-kiam-boh dan telah mempelajari isi kitab itu.

Sebenarnya kalau Lenghou Tiong mau membela diri secara mudah dan tepat, dengan terus terang ia dapat menerangkan asal usul buku “Hina Kelana” itu. Tapi bila ia beri tahukan, akibatnya akan sangat luas, sebab terpaksa ia juga harus menceritakan terbunuhnya jago Ko-san-pay, yaitu Hui Pin, oleh Bok-taysiansing dari Heng-san-pay. Dan kalau gurunya mengetahui lagu itu ada sangkut pautnya dengan gembong Mo-kau yang bernama Kik Yang, tentu juga buku itu akan dimusnahkan. Jika hal ini terjadi, maka berarti dia telah mengingkari tugas yang diterimanya dari orang yang menyerahkan buku itu.

Segera ia berkata pula, “Tadi Ih-suya bilang di kota timur ada seorang Lik-tiok-ong yang mahir seni musik, kenapa kita tidak memperlihatkan buku musik ini padanya dan minta pertimbangan.”

Goan-pa menggeleng, katanya, “Lik-tiok-ong itu sangat aneh, suka angin-anginan dan seperti orang sinting, terhadap orang lain sikapnya selalu acuh tak acuh. Orang demikian mana dapat dipercaya omongannya?”

“Tapi urusan ini betapa pun juga harus kita bikin terang,” ujar Gak-hujin. “Tiong-ji adalah murid pertama kami, Peng-ci juga murid kami, kami tidak boleh pilih kasih dan membela salah satu pihak. Sebenarnya siapa yang salah, tiada jeleknya kita coba-coba minta pertimbangan Lik-tiok-ong itu.”

Gak-hujin tidak enak untuk mengatakan buku itu adalah sebab pertimbangan antara Lenghou Tiong dan keluarga Ong, tapi dialihkannya pihak yang berselisih kepada Lim Peng-ci.

Segera Gak Put-kun menyokong usul sang istri, “Benar! Ih-suya, bagaimana kalau engkau mengirim orang membawa tandu pergi memapak Lik-tiok-ong ke sini?”

“Sifat orang tua itu sangat aneh,” sahut Ih-suya. “Jika orang lain ingin minta pertolongannya, bila dia tidak mau, biarpun menyembah padanya juga dia takkan gubris. Sebaliknya kalau dia sudah mau ikut campur, maka hendak ditolaknya juga tidak dapat.”

“Sifat demikian sama dengan kaum kita,” kata Gak-hujin. “Agaknya Lik-tiok-ong ini adalah Cianpwe kalangan Bu-lim. Suko, kita benar-benar terlalu picik dan kerdil.”

“Lik-tiok-ong bukan orang Bu-lim melainkan cuma seorang tukang bambu yang kerjanya hanya pandai membuat keranjang bambu dan tikar bambu,” tutur Goan-pa sambil tertawa. “Cuma dia pun mahir memetik kecapi dan pandai meniup seruling, pula dapat melukis, mengukir bambu, sebab itulah penduduk setempat rada menghormat padanya.”

“Tokoh demikian mana boleh kita lewatkan begini saja,” ujar Gak-hujin, “Ong-loyacu sudilah engkau mengiringi kami pergi menyambangi si tukang bambu yang istimewa itu.”

Karena Gak-hujin sudah mengajak, terpaksa Ong Goan-pa menurut, dengan anak cucunya dan Gak Put-kun suami istri serta anak murid Hoa-san-pay mereka lantas berangkat ke kota timur dengan Ih-suya sebagai petunjuk jalan.

Sesudah melalui beberapa jalan besar dan kecil, akhirnya sampai di suatu gang yang agak sempit. Ujung gang itu penuh semak-semak bambu yang rimbun dan luas, pemandangan cukup indah.

Baru saja mereka memasuki gang itu sudah terdengar suara kecapi yang merdu. Di tengah sunyi itu sungguh amat berbeda keramaian di jalan lain di kota Lokyang.

“Lik-tiok-ong ini benar-benar dapat menikmati kehidupannya yang tenteram,” bisik Gak-hujin kepada sang suami.

Pada saat itu juga mendadak terdengar suara kecapi lantas berhenti juga. Terdengar suara seorang tua bertanya, “Tamu agung yang sudi berkunjung ke gubuk yang kotor ini, entah ada sejilid not kecapi dan seruling yang aneh ingin minta pendapatmu.”

“Ada not seruling ingin minta pendapatku? Hehe, ini benar-benar terlalu menghargai si tukang bambu tua,” sahut Lik-tiok-ong.

Belum Ih-suya bersuara lagi, buru-buru Ong Kah-ki sudah menimbrung, “Ong-loyacu dari keluarga golok emas datang berkunjung.”

Ia sengaja menonjolkan merek sang kakek yang termasyhur dan disegani di kota Lokyang dan mengira seorang tukang bambu tua tentu akan cepat ke luar menyambut.

Tak tersangka Lik-tiok-ong itu malah mendengus, katanya, “Hm, golok emas atau golok perak segala, apa gunanya kalau tidak lebih berharga daripada golok pembelah bambuku dari besi rongsokan ini. Tukang bambu tua tidak pergi menyambangi Ong-loyacu, maka Ong-loyacu yang perlu berkunjung pada si tukang bambu tua.”

Kah-ki menjadi gusar, teriaknya, “Yaya, tukang bambu tua ini adalah orang tidak tahu adat, buat apa bertemu dengan dia? Lebih baik kita pulang saja!”

Tapi Gak-hujin lantas berkata, “Toh kita sudah datang di sini, tiada alangannya kita minta pendapat Lik-tiok-ong tentang not musik ini.”

Ong Goan-pa hanya mendengus saja tanpa menjawab. Sedangkan Ih-suya lantas menerima buku not dan melangkah masuk ke tengah semak bambu yang rimbun itu.

Terdengar suara Lik-tiok-ong berkata, “Baiklah, boleh kau taruh di situ!”

“Tolong tanya Tiok-ong, apakah ini benar-benar not musik atau rumus rahasia dari sesuatu ilmu silat yang sengaja ditulis dalam bentuk not musik?” tanya Ih-suya.

“Rumus rahasia ilmu silat apa? Sudah tentu ini adalah not kecapi,” jawab Lik-tiok-ong. Lalu suara kecapi mulai menggema, mengalun merdu. Sejenak Lenghou Tiong mendengarkan, segera teringat olehnya lagu yang dibunyikan kecapi ini memang benar adalah lagu yang dipetik oleh Lau Cing-hong tempo hari. Sekarang lagunya masih ada, tapi orangnya sudah meninggal, tanpa terasa hatinya merasa pilu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: