Hina Kelana: Bab 45. Macan Kesasar Dikeroyok Anjing

Malamnya waktu menginap di hotel Lo Tek-nau juga tinggal sekamar dengan Lenghou Tiong. Dan begitu seterusnya beberapa hari berturut-turut Lo Tek-nau selalu mendampinginya dan tak terpisahkan.

Lenghou Tiong mengira Lo Tek-nau bermaksud baik merawatnya karena keadaan dirinya yang lemah itu. Siapa tahu pada malam ketiga ketika Lenghou Tiong sedang istirahat di tempat tidur, tiba-tiba didengarnya Sute yang kecil bernama Su Ki sedang bicara di luar kamar dengan suara berbisik, “Jisuko, Suhu menanyakan padamu apakah hari ini Toasuko memperlihatkan sesuatu gerak-gerik yang mencurigakan?”

Lalu terdengar Lo Tek-nau berdesis, “Ssst, jangan keras-keras! Mari keluar saja!”

Hanya kedua kalimat itu pun sudah membuat perasaan Lenghou Tiong tergetar. Baru sekarang ia tahu gurunya sesungguhnya telah curiga padanya, bahkan Lo Tek-nau sengaja disuruh mengawasinya secara diam-diam.

Dalam pada itu terdengar Su Ki sedang melangkah pergi dengan berjinjit-jinjit, sedangkan Lo Tek-nau lantas mendekati tempat tidur untuk memeriksa Lenghou Tiong apakah sudah pulas atau tidak.

Sebenarnya Lenghou Tiong sangat gusar dan segera hendak melonjak bangun untuk mendamprat Lo Tek-nau, tapi lantas terpikir olehnya Jisute itu hanya menerima perintah sang guru saja, kenapa mesti marah kepada orang yang tidak berdosa? Maka sedapat mungkin ia menahan perasaannya dan pura-pura tidur nyenyak.

Sejenak kemudian Lo Tek-nau lantas melangkah keluar juga. Lenghou Tiong tahu tentu dia hendak pergi melapor kepada sang guru tentang gerak-geriknya, diam-diam ia sangat mendongkol. “Hm, aku toh tidak berbuat sesuatu apa yang berdosa, sekalipun kalian mengawasi aku siang dan malam juga aku tidak takut asal perbuatanku cukup dapat dipertanggungjawabkan,” demikian pikirnya.

Karena perasaannya bergolak sehingga mengguncangkan tenaga dalam, seketika ia merasa dada sesak dan sangat menderita, ia mendekam di atas bantal dengan napas tersengal-sengal. Sampai agak lama baru tenang kembali. Ia coba berbangkit dan mengenakan baju dan sepatu. Katanya di dalam hati, “Jika Suhu tidak pandang aku sebagai murid lagi dan mengawasi aku seperti maling buat apa lagi aku tinggal di Hoa-san, lebih baik kutinggal pergi saja. Kelak syukurlah kalau Suhu sudi memahami diriku, kalau tidak ya terserahlah.”

Memangnya sejak salah membunuh Liok Tay-yu, dalam hati kecilnya selalu dirundung rasa berdosa, lebih-lebih mengenai Gak Leng-sian yang telah mengalihkan cintanya kepada orang lain, hal ini semakin melukai perasaannya, sudah lama ia merasa bosan hidup lagi. Sekarang diketahui pula sang guru menaruh curiga dan menyuruh orang mengawasi gerak-geriknya, keruan ia tambah sedih dan putus asa.

Pada saat itulah mendadak di luar jendela ada orang bicara dengan suara tertahan, “Ssst, jangan bergerak!”

Lalu ada lagi seorang lain menjawab, “Ya, Toasuko seperti sudah bangun.”

Suara bicara kedua orang itu sangat perlahan, tapi di tengah malam yang bunyi itu cukup jelas didengar oleh Lenghou Tiong, terang itulah dua orang Sutenya yang kecil. Agaknya mereka sengaja sembunyi di luar sana untuk mengawasi dirinya kalau-kalau melarikan diri.

Sungguh Lenghou Tiong mendongkol tak terkatakan, ia mengepal sehingga ruas tulangnya bekertakan. Katanya di dalam hati, “Jika saat ini juga aku tinggal pergi tentu akan berbalik memperlihatkan aku berdosa dan sengaja kabur. Baik, baik, aku justru takkan pergi, terserah cara bagaimana kalian akan berbuat terhadap diriku.”

Mendadak ia berteriak-teriak, “Pelayan! Pelayan! Ambilkan arak!”

Sampai agak lama baru terdengar jawaban pelayan hotel datang membawakan arak yang diminta. Terus saja Lenghou Tiong minum arak sepuas-puasnya sampai mabuk dan tak sadarkan diri.

Esok paginya waktu akan berangkat Lenghou Tiong masih belum sadar sehingga perlu bantuan Lo Tek-nau memayangnya ke atas kereta.

Beberapa hari kemudian rombongan mereka sampai di Lokyang dan bermalam di suatu hotel yang besar. Seorang diri Lim Peng-ci lantas berkunjung ke rumah neneknya.

Gak Put-kun dan lain-lain sudah salin pakaian bersih semua. Sebaliknya Lenghou Tiong masih tetap memakai baju panjang yang berlepotan lumpur waktu bertempur di luar kelenteng tempo hari.

Dengan membawa seperangkat pakaian bersih Leng-sian mendekati Lenghou Tiong, katanya, “Toasuko, maukah ganti pakaian ini?”

“Pakaian Suhu mengapa mesti diberikan padaku?” sahut Lenghou Tiong.

“Sebentar kita diundang berkunjung ke rumah Siau-lim-cu, maka lekas kau ganti pakaian yang lebih bersih ini,” ujar Leng-sian.

“Ke rumah kan apa harus pakai baju yang bagus,” jawab Lenghou Tiong sambil mengamat-amati sang Sumoay.

Ternyata Leng-sian sudah berdandan rapi, memakai baju sutera bungkus kapas tipis dan berkain satin warna hijau pupus. Mukanya berbedak dan bergincu tipis sehingga makin menambah kecantikannya. Rambutnya yang hitam pun tersisir dengan mengilap, pada samping gelungnya dihias dengan tusuk kundai bermutiara.

Seingat Lenghou Tiong, pada masa lampau, hanya kalau tahun baru Leng-sian berdandan sedemikian rupa. Tapi sekarang hendak bertamu ke rumah Lim Peng-ci saja si nona juga berdandan serapi itu, sudah tentu pedih hati Lenghou Tiong.

Segera ia bermaksud mengucapkan kata-kata ejekan, tapi lantas terpikir olehnya seorang laki-laki sejati kenapa mesti berjiwa begitu sempit? Maka urung ia membuka mulut.

Sebaliknya Leng-sian menjadi rikuh sendiri karena dipandang dengan sorot mata yang tajam, segera katanya, “Jika engkau tidak mau ganti pakaian, ya sudahlah.”

“Ya, terima kasih! Aku tidak biasa memakai baju baru, lebih baik tidak ganti pakaian saja,” kata Lenghou Tiong.

Leng-sian tidak bicara lebih jauh, ia membawa kembali pakaian itu ke kamar ayahnya.

Tidak lama kemudian terdengarlah suara seorang yang nyaring keras sedang berseru di luar pintu, “Jauh-jauh Gak-tayciangbun berkunjung kemari, tapi Cayhe tidak melakukan penyambutan sebagaimana mestinya, sungguh terlalu tidak sopan.”

Gak Put-kun saling pandang dengan sang istri dan tersenyum senang, mereka tahu Kim-to-bu-tek Ong Goan-pa sendiri telah datang menyambut. Cepat mereka memapak ke luar.

Tertampak usia Ong Goan-pa sudah 70-an tahun, tapi mukanya merah bercahaya, jenggotnya putih panjang, semangatnya masih menyala-nyala Sebelah tangannya memainkan dua buah bola emas sebesar telur angsa sehingga menerbitkan suara nyaring bergeseknya dua benda logam itu.

Adalah umum orang persilatan memainkan bola besi, tapi biasanya bola logam demikian adalah buatan besi biasa atau baja murni. Sebaliknya sekarang yang dipegang Ong Goan-pa adalah dua biji bola emas sehingga bobotnya berlipat-lipat lebih berat daripada besi, bahkan memperlihatkan kemewahannya yang lain daripada yang lain.

Begitu melihat Gak Put-kun segera jago tua itu bergelak tertawa dan berseru, “Selamat bertemu! Nama Gak-tayciangbun menggema di dunia persilatan dengan gilang-gemilang, hari ini Gak-tayciangbun sudi berkunjung ke Lokyang, sungguh merupakan suatu kehormatan besar dan peristiwa yang menggembirakan bagi kawan-kawan Bu-lim di daerah Tiongciu ini.”

Sembari berkata ia terus melangkah maju dan menjabat tangan Gak Put-kun serta diguncang-guncangkan dengan penuh gembira, sikapnya sangat tulus dan simpatik.

Gak Put-kun menjawab dengan tertawa, “Cayhe suami-istri bersama para murid sengaja berkelana keluar dan berkunjung pada para sahabat untuk mencari pengalaman, justru tokoh pertama yang kami kunjungi adalah Tiongciu-tayhiap Kim-to-bu-tek Ong-loyacu di sini. Kedatangan kami belasan tamu yang tak diundang ini benar-benar terlalu mendadak dan sembrono.”

Dengan suara keras Ong Goan-pa berkata, “Sebutan ‘Kim-to-bu-tek’ siapa pun dilarang mengucapkannya lagi di hadapan Gak-tayciangbun. Barang siapa menyebutnya lagi tidak berarti menyanjung diriku, tapi suatu penghinaan padaku. Gak-siansing, engkau sudi menerima cucu luarku, budi kebaikan ini sungguh sukar dibalas, sejak kini Hoa-san-pay dan Kim-to-bun adalah satu keluarga, harap tinggal di rumahku satu atau setengah tahun, siapa pun jangan meninggalkan kota Lokyang ini. Gak-siansing, biarlah kubawakan barang-barangmu dan marilah berangkat.”

“Ah, jangan, mana aku berani membikin repot Ong-loyacu,” sahut Gak Put-kun cepat.

Segera Ong Goan-pa berpaling dan berkata kepada kedua putranya yang berdiri di belakangnya, “Pek-hun, Tiong-kiang, lekas kalian menjura kepada Gak-susiok dan Gak-subo!”

Ong Pek-hun dan Ong Tiong-kiang berbareng mengiakan, terus memberi sembah dan hormat.

Lekas-lekas Gak Put-kun dan istrinya berlutut membalas hormat mereka. Katanya, “Kita adalah satu tingkatan, sebutan ‘Susiok’ mana berani kuterima? Selanjutnya biarlah kita anggap sama tingkatan menurut hitungan Peng-ci.”

Sesungguhnya nama Ong Pek-hun dan Ong Tiong-kiang (kedua putra Ong Goan-pa) sudah cukup gilang-gemilang di dunia persilatan wilayah Oupak. Meski mereka mengagumi Gak Put-kun, tapi disuruh menjura betapa pun mereka merasa enggan, cuma perintah sang ayah tak bisa dibantah terpaksa mereka berlutut memberi hormat. Kini melihat Gak Put-kun juga menjura membalas hormat mereka, dengan sendirinya mereka berdiri kembali.

Waktu Gak Put-kun mengamat-amati Pek-hun dan Tiong-kiang, ternyata perawakan kedua bersaudara itu sangat tinggi, hanya Ong Tiong-kiang agak lebih gemuk. Pelipis kedua orang itu sama-sama melembung, otot tulang tangan menonjol, terang baik Lwekang maupun Gwakang mereka pasti sangat tinggi.

Segera Gak Put-kun juga mengucapkan kata-kata pujian dan menyuruh anak muridnya memberi hormat kepada Ong Goan-pa dan jago-jago Kim-to-bun yang lain.

Seketika itu di ruangan hotel menjadi ramai orang saling memberi hormat disertai kata-kata sanjung puji dari masing-masing pihak.

Kemudian Peng-ci memperkenalkan anak murid Hoa-san-pay satu per satu kepada kakeknya.

Waktu memperkenalkan Gak Leng-sian, dengan berseri-seri Ong Goan-pa berkata kepada Gak Put-kun, “Gak-laute, putrimu ini benar-benar gadis rupawan, apakah sudah berbesanan?”

“Ah, anak perempuan masih kecil, pula keluarga Bu-lim seperti kita ini hanya dikenal suka main golok dan putar pedang melulu, bicara tentang kepandaian putri seperti menyulam atau menjahit dan memasak segala sama sekali tidak becus, tentu saja tidak ada yang mau kepada budak liar seperti dia,” demikian sahut Gak Put-kun dengan tertawa.

“Ah, ucapan Gak-laute terlalu merendah diri,” ujar Ong Goan-pa. “Putri tokoh termasyhur sudah tentu tidak sembarangan diberikan kepada pemuda dari keluarga biasa saja. Cuma anak perempuan memang juga tiada jeleknya belajar sedikit pekerjaan tangan kaum wanita.”

Bicara sampai di sini suaranya menjadi perlahan dan rawan.

Put-kun tahu pasti jago tua itu terkenang kepada putrinya (ibu Peng-ci) yang meninggal itu, segera ia mengiakan dengan wajah prihatin.

Ong Goan-pa ternyata seorang yang periang, segera ia dapat mengatasi perasaannya dan berseru dengan tertawa pula, “Gak-laute, Lwekang dari Ngo-gak-kiam-pay sangat hebat, tentu kekuatanmu minum arak sangat hebat. Marilah kita pergi minum sepuluh mangkuk bersama.”

Habis berkata ia terus gandeng tangan Gak Put-kun dan diajak berangkat.

Gak-hujin, Ong Pek-hun, Ong Tiong-kiang dan anak murid Hoa-san-pay lantas ikut dari belakang. Di luar hotel ternyata siap sedia kereta dan kuda. Kaum wanitanya disilakan menumpang kereta dan yang lelaki naik kuda. Hanya dalam waktu tiada satu jam sejak perginya Peng-ci ke rumah kakeknya ternyata segala sesuatu telah dapat disiapkan dengan cepat, dari sini saja sudah dapat dibayangkan betapa kaya raya dan pengaruh keluarga Ong di kota Lokyang.

Sampai di rumah keluarga Ong, tertampak pintu gedung yang megah itu bercat merah, dua buah gelangan tembaga pada tiap-tiap daun pintu itu tergosok bersih sehingga mengilap, delapan laki-laki tegap telah menanti di luar pintu dengan sikap sangat hormat.

Begitu masuk ke dalam pintu tertampaklah di atas belandar terpampang sebuah papan besar cat hitam bertuliskan empat huruf “Kian-gi-yong-wi” (berani membela keadilan) yang dihadiahkan oleh gubernur Holam. Ternyata Ong Goan-pa tidak cuma tokoh persilatan saja tapi juga mempunyai hubungan baik dengan pembesar negeri setempat.

Malamnya Ong Goan-pa mengadakan perjamuan besar-besaran untuk menghormati Gak Put-kun dan rombongannya serta mengundang orang-orang terkemuka di kota Lokyang.

Sebagai murid Hoa-san-pay yang tertua, di antara tamu-tamu lelaki, kecuali Gak Put-kun, adalah Lenghou Tiong terhitung paling tinggi derajatnya. Tapi demi melihat bajunya yang kotor, semangatnya lesu, diam-diam semua orang sama terheran-heran. Cuma di dunia persilatan memang banyak juga tokoh kosen yang aneh, seperti jago-jago Kay-pang hampir semuanya berpakaian compang-camping. Jika pemuda ini benar murid utama Hoa-san-pay tentu juga mempunyai kepandaian yang luar biasa. Karena pikiran ini, maka tiada orang berani memandang hina pada Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong duduk di meja kedua dan diiringi Ong Pek-hun merasa dongkol karena sikap Lenghou Tiong yang dingin, bila diajak bicara tampaknya juga sungkan menjawab seakan-akan tidak memandang sebelah mata padanya. Segera ia sengaja bicara tentang ilmu silat, ia coba memancing-mancing dan mengemukakan beberapa pertanyaan untuk minta petunjuk kepada Lenghou Tiong.

Tapi pemuda itu hanya menjawab ya atau tidak secara singkat saja, sama sekali tidak mau memberi komentar apa-apa.

Sesungguhnya bukanlah Lenghou Tiong kurang simpatik pada Ong Pek-hun, yang benar adalah karena ia merasa rendah diri, dilihatnya keluarga Ong begini mewah hidupnya, sebaliknya diri sendiri adalah anak yatim yang miskin, kalau dibandingkan boleh dikata langit dan bumi bedanya.

Setiba di rumah kakeknya Peng-ci lantas ganti pakaian yang bagus-bagus dan mewah, dasarnya tampang Peng-ci memang cakap, setelah berdandan menjadi lebih elok lagi.

Begitulah dengan sendirinya Lenghou Tiong merasa rendah diri, pikirnya, “Jangankan Siausumoay memang sudah sangat rapat bergaul dengan Lim-sute, seumpama dia tetap cinta padaku seperti sediakala, lalu apa dia akan bahagia ikut pada anak miskin seperti diriku?”

Karena pikirannya hanya dicurahkan mengenai diri Gak Leng-sian sehingga segala apa yang dibicarakan Ong Pek-hun padanya dengan sendirinya tak diperhatikan olehnya. Padahal di wilayah Tiongciu setiap orang Bu-lim sangat segan kepada Ong Pek-hun siapa pun ingin mengambil hati jago keluarga Ong yang ternama itu, tapi malam ini dia selalu menghadapi muka kecut dari Lenghou Tiong, kalau menuruti wataknya yang biasa, sungguh sejak tadi ia sudah mengumbar rasa dongkolnya itu.

Tapi mengingat mendiang kakaknya (ibu Peng-ci), pula sang ayah tampak sangat menghargai kaum Hoa-san-pay, maka sedapat mungkin ia menahan perasaannya dan berulang-ulang masih menyuguh arak kepada Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong juga tidak menolak, setiap cawan arak yang disuguhkan selalu ditenggak habis sehingga tanpa merasa 40-an cawan sudah dihabiskan olehnya.

Sebenarnya Lenghou Tiong sangat kuat minum arak, sekalipun ratusan cawan juga takkan membuatnya mabuk. Tapi sekarang Lwekangnya sudah punah sehingga kekuatan minumnya banyak berkurang, ditambah hatinya lagi murung maka lebih mudah menjadikan mabuknya, baru saja 50-an cawan ia minum sudah mulai sinting.

Diam-diam Ong Pek-hun berkata di dalam hati, “Kau bocah ini terlalu tidak tahu adat. Keponakanku adalah Sutemu, seharusnya kau menyebut aku paman, tapi sama sekali kau memanggil, tidak menjadi soal, bahkan sikapmu acuh tak acuh terhadapku. Biarlah kucekoki sehingga mabuk, supaya membikin malu nama Hoa-san-pay kalian di depan perjamuan ini.”

Sementara itu mata Lenghou Tiong sudah kelihatan merah, mabuknya sudah ada tujuh-delapan bagian. Dengan tertawa Ong Pek-hun berkata, “Lenghou-laute adalah murid utama Hoa-san-pay, nyatanya memang seorang kesatria muda sejati, bukan saja ilmu silatnya tinggi, kekuatan minumnya juga sangat hebat. Ayo pelayan, bawakan mangkuk besar, tuangkan arak untuk Lenghou-toaya.”

Pelayan keluarga Ong mengiakan dengan suara keras, lalu datang menuangkan arak.

Selama hidup Lenghou Tiong belum pernah menolak arak yang dituangkan baginya, maka setiap mangkuk arak yang dituangkan untuknya selalu ditenggaknya habis sehingga sekaligus lima-enam mangkuk besar telah diminumnya lagi, ketika pengaruh alkohol mulai bekerja, tanpa terasa mangkuk dan cawan di depannya tersampuk oleh lengan bajunya dan jatuh berantakan.

“Ah, Lenghou-siauhiap telah mabuk, minumlah secangkir teh panas sebagai penawar,” kata seorang yang duduk semeja di sebelahnya.

“Mana bisa, orang adalah murid tertua Hoa-san-pay, masakah begitu gampang lantas mabuk?” kata Pek-hun. “Mari Lenghou-laute, kita habiskan ini!”

Dan kembali mereka bersama-sama menuang penuh semangkuk besar.

“Mas … masakah mabuk? Mari … minum!” kata Lenghou Tiong sambil angkat mangkuk arak terus ditenggak lagi, tapi ada sebagian besar isi mangkuk berceceran membasahi bajunya.

Sekonyong-konyong badannya bergeliat, mulur terbuka dan tumpah-tumpah, seluruh makanan dan minuman yang sudah masuk perut dimuntahkan semua sehingga mengotori meja.

Tamu-tamu yang semeja dengan dia sama kaget dan berbangkit menyingkir. Sebaliknya Ong Pek-hun hanya tertawa dingin, diam-diam ia senang karena maksud tujuannya berhasil.

Karena muntahnya Lenghou Tiong itu, serentak pandangan beratus orang tamu sama diarahkan kepadanya. Gak Put-kun dan istrinya juga berkerut kening, pikir mereka, “Bocah ini memang tidak cocok bergaul dengan tingkatan atas, membikin malu saja di depan tamu sebanyak ini.”

Dalam pada itu Lo Tek-nau dan Peng-ci sudah memburu maju untuk memayang Lenghou Tiong. “Toasuko, marilah kubawa mengaso saja ke kamar,” kata Peng-ci.

“Aku … aku tidak mabuk, aku mau minum lagi, amb … ambilkan arak?” sahut Lenghou Tiong dengan tak lancar.

“Baik, baik, akan kuambilkan arak,” ujar Peng-ci.

Dengan matanya yang merah cepat Lenghou Tiong melirik Peng-ci, katanya, “Kau … kau … Siau-lim-cu, kenapa tidak pergi mengawani Siausumoay, buat apa memegangi aku?”

Cepat Lo Tek-nau membujuk dengan suara perlahan. “Toasuko, marilah kembali ke kamar saja, di sini orang terlalu banyak, jangan sembarangan bicara lagi.”

“Aku sembarangan bicara apa?” sahut Lenghou Tiong dengan gusar. “Hm, Suhu menugaskanmu mengawasi aku dan … bukti apa yang kau temukan?”

Khawatir sang Suheng yang sudah mabuk itu semakin tak keruan mengocehnya, cepat Tek-nau dan Peng-ci memayangnya masuk ke kamar dengan setengah paksa.

Ketika mendengar ucapan Lenghou Tiong yang mengatakan “Suhu menugaskanmu mengawasi aku dan bukti apa yang telah kau temukan”, sungguh gusar Gak Put-kun tak terkatakan sehingga mukanya sampai pucat.

“Gak-laute,” kata Ong Goan-pa dengan tertawa, “ocehan anak muda pada waktu mabuk buat apa digubris? Mari, mari minum!”

“Anak desa yang tidak berpengalaman, hanya membikin malu saja,” terpaksa Put-kun menanggapi dengan menyeringai.

Mabuknya Lenghou Tiong itu baru sadar kembali pada esoknya lewat tengah hari, apa yang telah dia ucapkan waktu mabuk sama sekali tak teringat olehnya. Sebaliknya sesudah mendengar ucapan Lenghou Tiong, diam-diam Gak Put-kun memberi pesan kepada Lo Tek-nau agar selanjutnya jangan mengikuti Lenghou Tiong lagi, cukup mengawasi secara diam-diam saja.

Sesudah sadar kembali, Lenghou Tiong merasa kepalanya sakit seakan-akan pecah. Terlihat dirinya menempati sebuah kamar sendirian dengan perabotan yang resik dan indah.

Ia melangkah keluar kamar, tiada seorang Sutenya kelihatan. Ia coba tanya pelayan, kiranya sama berkumpul di ruang latihan di belakang bersama anak murid keluarga Ong dan sedang saling belajar ilmu silat.

“Buat apa aku berkumpul bersama mereka? Lebih baik aku pesiar keluar saja,” demikian pikir Lenghou Tiong. Segera ia berangkat seorang diri.

Lokyang adalah kota raja beberapa dinasti masa lampau, kotanya cukup megah, tapi keramaiannya kurang.

Lenghou Tiong tidak pandai membaca, pengetahuannya tentang sejarah dan kebudayaan kuno sangat terbatas. Karena itu ia tidak tertarik biarpun di dalam kota banyak terdapat tempat-tempat bersejarah yang terkenal.

Ia terus berjalan tanpa tujuan. Ketika sampai di suatu kedai arak, dilihatnya di situ ada tujuh-delapan orang gelandangan penganggur sedang main dadu. Ia lantas ikut mendesak maju, ia membawa beberapa tahil perak, segera dikeluarkannya dan ikut main dadu bersama mereka. Sampai hari sudah petang ia lantas minum arak di kedai itu sehingga mabuk, habis itu barulah pulang dengan langkah sempoyongan.

Beberapa hari berturut-turut ia terus minum arak dan main dadu bersama kawanan gelandangan itu. Hari-hari pertama masih mujur baginya, dia menang beberapa tahil perak. Tapi hari keempat ia kalah habis-habisan sehingga isi saku kosong melompong. Dengan sendirinya para gelandangan melarangnya bertaruh lebih jauh.

Dengan marah Lenghou Tiong masih terus pesan arak, semangkuk demi semangkuk ditenggaknya sehingga menghabiskan belasan mangkuk.

“He, anak muda, kau kalah judi, uangmu sudah ludes, cara bagaimana kau membayar uang arak ini nanti?” demikian tanya pelayan kedai arak.

“Utang dahulu, teken bon, besok akan kubayar,” sahut Lenghou Tiong.

“Tidak bisa,” kata si pelayan sambil menggeleng. “Modal kedai kami kecil, baik kenalan maupun keluarga, semuanya tidak boleh utang.”

Lenghou Tiong tambah gusar, bentaknya, “Kurang ajar! Apa kau kira tuanmu tidak punya uang?”

“Aku tak peduli apakah kau tuan atau nyonya, pendek kata ada uang ada arak, dan utang harus bayar,” sahut si pelayan ketus.

Pakaian Lenghou Tiong memang sudah dekil dan jelas bukan potongan hartawan, saat itu hanya pada pinggangnya masih menggelantung sebatang pedang, selain itu tidak punya barang berharga lagi. Terpaksa ia menanggalkan pedangnya dan ditaruh di atas meja, katanya, “Ini, gadaikan saja ke pegadaian sana!”

Salah seorang gelandangan di situ rupanya ingin mencari keuntungan lagi, cepat ia menukas, “Baik, biar aku menggadaikannya untukmu.”

Terus saja ia bawa pedang itu dan berlari pergi.

Benar juga ada uang dan arak, segera pelayan membawakan dua poci arak lagi untuk Lenghou Tiong.

Belum lagi Lenghou Tiong menghabiskan araknya, si gelandangan tadi sudah pulang dengan membawa beberapa potong perak pecah, katanya, “Kugadaikan tiga tahil empat uang.”

Berbareng ia menyerahkan uang perak dan surat gadai kepada Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong juga tidak menghitung, cuma dari bobotnya ia merasa uang perak itu paling banyak hanya tiga tahil saja, terang sisanya telah dicatut gelandangan itu. Tapi ia pun tidak banyak bicara dan kembali main dadu lagi.

Sampai hari sudah petang, untuk bayar dan kalah judi, tiga tahil perak hasil gadai pedangnya itu kembali lenyap semua.

“Beri pinjam tiga tahil, kalah menang akan kukembalikan lipat,” kata Lenghou Tiong kepada seorang gelandangan di sebelah yang bernama si Tembong.

“Dan kalau kalah bagaimana?” tanya si Tembong dengan tertawa.

“Kalau kalah akan kukembalikan besok,” sahut Lenghou Tiong.

“Huh, melihat macammu masakah di rumahmu ada uang,” jengek si Tembong. “Apa barangkali kau akan menjual binimu atau menjual adik perempuanmu?”

Lenghou Tiong menjadi murka, “plok”, kontan ia gampar muka si Tembong, beberapa tahil perak di depan orang segera dirampasnya pula.

“Aduuh! He, kau merampok?” jerit si Tembong sambil mendekap mulutnya yang mengeluarkan darah.

Para gelandangan itu memangnya satu komplotan, tanpa bicara lagi mereka terus mengerubut maju, kepalan mereka menghujani tubuh Lenghou Tiong tanpa kenal ampun.

Jika dalam keadaan biasa, jangankan cuma beberapa orang gelandangan yang tidak mahir ilmu silat, sekalipun jago silat yang lihai juga belum tentu mampu menyerangnya. Tapi kini Lenghou Tiong sudah tidak membawa pedang, pula kehilangan tenaga, percumalah dia mahir ilmu silat karena sama sekali tak dapat dikeluarkan.

Begitulah Lenghou Tiong dibekuk oleh kawan gelandangan itu dan dihujani pukulan dan tendangan tanpa mampu melawan sedikit pun. Benar-benar “harimau kesasar dikerubut anjing”, hanya sekejap saja ia sudah babak belur, mata matang biru dan hidung keluar kecapnya.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara derapan kaki kuda, ada beberapa penunggang kuda kebetulan lalu di situ.

Seorang penunggang di antaranya sedang membentak, “Ayo, minggir, minggir!”

Berbareng pecutnya disabetkan, kawanan gelandangan itu dihalau lari semua.

Lenghou Tiong sendiri tergeletak tak sanggup bangun lagi. Mendadak suara seorang wanita berteriak, “He, bukankah ini Toasuko?”

Ternyata suara Leng-sian.

Lalu seorang lain berkata, “Coba, biar kuperiksanya!”

Ini suara Peng-ci yang telah melompat turun dari kudanya dan mendekati Lenghou Tiong, setelah tubuh Lenghou Tiong dibalik, Peng-ci berseru kaget. “Toasuko, ke … kenapakah engkau?”

Lenghou Tiong menggeleng kepala, sahutnya dengan tersenyum ewa, “Mabuk dan kalah judi!”

Segera Peng-ci memondong Lenghou Tiong ke atas kuda.

Penunggang kuda itu selain Peng-ci dan Leng-sian masih ada empat orang lagi. Mereka adalah dua putri Ong Pek-hun dan dua putra Ong Tiong-kiang, mereka terhitung saudara misan Peng-ci.

Pagi-pagi mereka berenam sudah keluar pesiar ke tempat terkenal di seluruh kota Lokyang dan sekarang baru pulang, tak terduga di gang yang kecil ini dapat menemukan Lenghou Tiong lagi dihajar orang hingga babak belur.

Sudah tentu putra-putri Ong Tiong-kiang dan Ong Pek-hun itu terheran-heran. Pikir mereka, “Hoa-san-pay mereka terhitung anggota Ngo-gak-kiam-pay terkemuka, biasanya kakek juga sangat mengagumi mereka. Selama beberapa hari ini anak murid Hoa-san-pay mereka suka berlatih dan tukar pikiran dengan kami, kenyataannya mereka memang luar biasa. Padahal Lenghou Tiong ini adalah murid pertama Hoa-san-pay, mengapa dia tidak dapat melawan beberapa bicokok yang tak berarti itu? Apakah dia sengaja pura-pura. Namun melihat keadaannya yang babak belur terang bukan pura-pura. Sungguh aneh?”

Sepulangnya di rumah Ong Goan-pa, terpaksa Lenghou Tiong harus istirahat beberapa hari baru pulih kesehatannya. Lantaran mendengar bahwa Lenghou Tiong berjudi dan berkelahi dengan kaum bicokok, diam-diam Gak Put-kun dan istrinya sangat marah, maka mereka tidak datang menjenguknya.

Sampai hari kelima, Ong Kah-ki, putra Ong Tiong-kiang yang terkecil, dengan penuh semangat masuk ke kamar Lenghou Tiong dan memberi tahu, “Lenghou-toako, hari ini aku telah melampiaskan rasa dendammu. Beberapa bicokok yang menyerangmu tempo hari telah kucari dan telah kuhajar mereka sepuas-puasnya.”

Terhadap peristiwa itu sebenarnya Lenghou Tiong tidak ambil pusing lagi, maka dengan hambar saja ia menjawab, “Ah, sebenarnya juga tidak perlu begitu. Peristiwa tempo hari itu adalah salahku karena aku sedang mabuk.”

“Mana boleh jadi,” ujar Ong Kah-ki. “Lenghou-toako adalah tamu keluarga Ong kami, orang tidak menghormatimu juga harus menghormati tamu keluarga Ong, mana boleh sembarangan dipukul orang di kota Lokyang ini tanpa dibalas? Jika kami tidak hajar kembali kaum bicokok itu, ke mana lagi muka keluarga Ong kami harus ditaruh?”

Sedikit-sedikit dia menonjolkan, “keluarga Ong”, seakan-akan golok emas keluarga Ong adalah keluarga penguasa di dunia persilatan yang harus dihormati. Dasar di dalam hati Lenghou Tiong sudah kurang puas terhadap “Golok emas keluarga Ong”, lebih-lebih selama beberapa hari ini perasaannya lagi murung, maka tanpa terasa tercetuslah ucapan dari mulutnya, “Terhadap beberapa bicokok begitu masakah diperlukan anggota keluarga Ong ikut turun tangan?”

Begitu kata-kata ini diucapkan barulah Lenghou Tiong merasa menyesal, namun sudah kasip.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: