Hina kelana: Bab 44. Sekali Serang Lenghou Tiong Membutakan 15 Orang Musuh

Hong Put-peng bertenaga lebih besar dari lawannya, setiap kali bila sukar mengelakkan serangan Lenghou Tiong selalu ia gunakan pedangnya membabat dan menebas secara keras lawan keras, sebab ia tahu lawannya takkan mengadu senjata dengan dia. Dengan demikian ia selalu dapat terhindari dari posisi yang kepepet.

Di antara penonton itu sudah tentu tidak kurang jago-jago ternama, ketika melihat cara pertarungan Hong Put-peng lama-kelamaan menjurus kepada cara licik dan cara bajingan, diam-diam mereka tidak puas. Seorang Tosu dari Thay-san-pay lantas menyindir, “Ilmu pedang murid Khi-cong lebih tinggi, sebaliknya paman guru dari Kiam-cong bertenaga dalam lebih kuat, bagaimana bisa jadi demikian? Khi-cong dan Kiam-cong dari Hoa-san-pay ini bukankah telah berputar balik sama sekali!”

Muka Hong Put-peng menjadi merah, ia putar pedangnya semakin kencang dan melancarkan serangan lebih gencar. Pertama, dia memang tokoh nomor satu dari sekte pedang Hoa-san-pay, ilmu pedangnya sesungguhnya memang sangat lihai. Kedua, keadaan Lenghou Tiong sangat lemah, untuk berdiri saja sangat dipaksakan, maka dia banyak kehilangan kesempatan baik. Ketiga, baru untuk pertama kalinya Lenghou Tiong menggunakan Tokko-kiu-kiam untuk melawan musuh tangguh, sudah tentu perasaannya rada jeri, permainannya belum terlalu lancar pula. Karena semuanya inilah maka sudah bertempur sekian lamanya masih belum dapat ditentukan siapa yang kalah atau menang.

Setelah berlangsung 30 jurus lagi, Lenghou Tiong merasa setiap kali bila dirinya semakin sembarangan melancarkan serangan, maka lawannya juga semakin sukar menangkisnya dan memperlihatkan tingkah yang gugup dan kelabakan. Tapi kalau tanpa sengaja dirinya mengeluarkan jurus serangan dari ilmu pedang perguruannya sendiri, maka Hong Put-peng selalu dapat mematahkan serangannya dengan baik, bahkan satu kali dirinya hampir-hampir termakan pedang lawan itu. Pada saat berbahaya itulah tiba-tiba satu kalimat ucapan Hong Jing-yang dahulu mengiang dalam benaknya, “Pedangmu tiada gerak serangan, tentu musuh takkan dapat mematahkannya. Tanpa gerakan untuk mengalahkan gerakan adalah puncak kesempurnaan ilmu pedang.”

Dalam pada itu sudah ratusan jurus mereka bergebrak, pengertian Lenghou Tiong terhadap intisari Tokko-kiu-kiam sudah semakin mendalam, tak peduli Hong Put-peng menyerang dengan jurus betapa pun kejinya, sekali pandang saja ia sudah dapat melihat di mana letak kelemahan serangan musuh dan sekenanya ia balas menyerang, kontan Hong Put-peng terpaksa harus menarik kembali pedangnya untuk menjaga diri.

Setelah beberapa jurus pula, lambat laun batinnya bertambah berani, ia merasa kepandaian pihak lawan tidak lebih juga cuma sekian saja, untuk mengalahkan dia sebenarnya tidak sulit. Tiba-tiba terkilas pula belasan jurus tipu serangan. Tanpa terasa ia terus menusuk miring ke depan, gerakan ini tidak termasuk sesuatu tipu serangan, tampaknya enteng tak bertenaga, ujung pedang seperti mengarah ke timur dan seperti ke barat tak menentu.

Hong Put-peng sampai tertegun, ia merasa heran, tipu serangan jenis apakah ini? Karena tidak kenal dan tidak tahu cara bagaimana mematahkannya, terpaksa Hong Put-peng putar kencang pedangnya untuk melindungi tubuh bagian atas.

Tapi karena gerakan pedang Lenghou Tiong itu tiada menentu, setiap gerakannya dapat berubah setiap saat menurut keadaan, sekarang lawan menjaga diri bagian atas, seketika ujung pedangnya menusuk ke bawah pinggang.

Keruan Hong Put-peng terkejut dan lekas melompat mundur.

Lenghou Tiong tak sanggup ikut melompat buat mendesak lebih jauh, setelah bertempur sekian lama mau tidak mau juga banyak makan tenaga, karena itu napasnya mulai memburu, tangan memegang dada sambil tersengal-sengal.

Melihat pemuda itu tidak mendesak maju sudah tentu Hong Put-peng tidak tinggal diam, berturut-turut ia menyerang beberapa kali pula ke dada, perut dan pinggang lawan.

Tapi mendadak pedang Lenghou Tiong bergerak pula secara seenaknya, yang ditusuk adalah mata kiri Hong Put-peng. Sungguh kaget Hong Put-peng tak terkatakan, ia menjerit dan kembali melompat mundur untuk menyelamatkan diri.

Terdengar seorang Nikoh setengah umur dari Hing-san-pay berkata, “Aneh, sungguh aneh. Ilmu pedang tuan ini benar-benar sangat mengagumkan.”

Sudah tentu yang dia maksudkan bukan ilmu pedang Hong Put-peng melainkan Lenghou Tiong. Bagi pendengaran Hong Put-peng ucapan itu dirasakan cukup menyinggung. Sebagai pemimpin sekte pedang yang ingin menjabat ketua Hoa-san-pay, jika dalam hal ilmu pedang ternyata dikalahkan oleh seorang murid dari sekte Khi, maka ambisinya akan merebut ketua sejak kini akan buyar dan tiada muka buat tancap kaki lagi di dunia Kangouw.

Berpikir demikian, diam-diam ia mengeluh apa mau dikata lagi. Mendadak ia mendongak dan bersuit nyaring, ia melangkah miring ke depan, pedang terus menebas dari samping dengan cepat luar biasa. Sekaligus ia menyerang beberapa kali sehingga pedang mengeluarkan suara deru angin yang keras.

Kiranya ilmu pedang ini disebut “Hong-hong-gway-kiam” (pedang kilat angin puyuh), hasil karya kebanggaan Hong Put-peng selama dia menyepi 15 tahun di atas gunung. Jurus-jurus serangan yang satu lebih cepat daripada yang lain dan makin keras pula deru angin yang diterbitkan oleh sambaran pedangnya.

Ilmu pedang ini sebenarnya merupakan ilmu simpanannya yang akan digunakan sebagai bekal dalam perebutan Bengcu dari Ngo-gak-kiam-pay mendatang, sebenarnya ia enggan memperlihatkan ilmu pedang simpanannya itu di hadapan tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay yang lain.

Tapi sekarang karena sudah kepepet, kalau tidak dapat mengalahkan Lenghou Tiong tentu namanya akan bangkrut habis-habisan, maka terpaksa ia keluarkan juga ilmu pedangnya.

Daya tekanan Hong-hong-gway-kiam itu memang mahadahsyat, tenaga yang terpancar dari ujung pedangnya makin lama makin luas sehingga bagi penonton yang berdekatan merasakan muka dan tangan kesakitan tersambar oleh angin pedang, mau tak mau mereka sama mundur lebih jauh, maka kalangan pertempuran kedua orang juga tambah luas.

Kini biarpun jago-jago terkemuka dari Ko-san, Heng-san, Thay-san dan Hing-san-pay juga tidak berani menilai rendah lagi atas diri Hong Put-peng. Mereka merasa ilmu pedang itu memang sangat lihai sehingga cukup memenuhi syarat untuk menjadi ketua Hoa-san-pay.

Terlihat sumbu api obor yang dipegangi beberapa orang penunggang kuda itu makin lama makin tertarik panjang oleh sambaran angin yang diterbitkan oleh pedang Hong Put-peng, bahkan deru angin itu lambat laun bertambah keras pula.

Jika Lenghou Tiong menempur Hong Put-peng dengan tenaga tentu tak mampu melawan ilmu pedang yang diyakinkan selama belasan tahun dan amat dahsyatnya itu, di dalam Hoa-san-pay hanya Gak Put-kun saja dapat menandingi Hong-hong-gway-kiam dengan menggunakan Ci-he-sin-kang yang sakti.

Untung sekarang Lenghou Tiong sama sekali tidak bertenaga, setiap kali bila serangan Hong Put-peng tiba selalu ia dapat mematahkannya dengan cara sembarangan saja. Betapa pun lihainya serangan Hong Put-peng juga tak dapat memancing keluar tenaga dalam Lenghou Tiong.

Bagi penglihatan para penonton keadaan Lenghou Tiong menjadi mirip sebuah sampan kecil yang terombang-ambing di tengah gelombang ombak raksasa, tapi sampan itu selalu naik turun mengikuti damparan gelombang ombak dan tak tertenggelamkan. Semakin cepat serangan Hong Put-peng semakin membikin Lenghou Tiong paham akan intisari petunjuk Hong Jing-yang dahulu tentang ilmu pedang.

Pada waktu mulai belajar Tokko-kiu-kiam, lawannya itu adalah Dian Pek-kong. Ilmu golok Dian Pek-kong sudah tergolong tingkat atas di dunia persilatan, tapi kalau dibandingkan Hong Put-peng sekarang selisihnya sangat jauh pula.

Sebentar-sebentar dalam benak Lenghou Tiong terkilas pengetahuan yang baru menghadapi serangan lawan. Pikirnya, “Ahli pedang seperti ini sungguh jarang terdapat di dunia ini. Jika aku melukainya mungkin selanjutnya akan sukar memperoleh lawan ahli pedang sebaik untuk menambah pengetahuanku.”

Semakin jelas memahami macam-macam inti tipu serangan ilmu pedang, semakin kuat pula kepercayaannya kepada diri sendiri. Maka ia tidak buru-buru ingin menang lagi, tapi terus mencurahkan perhatiannya untuk meneliti macam-macam perubahan ilmu pedang lawan yang lihai itu.

Hong-hong-gway-kiam itu meliputi 108 gerakan dan hanya sebentar saja sudah habis dimainkan. Hong Put-peng menjadi gelisah karena tetap tak bisa mengapa-apakan lawan. Ia membentak-bentak murka dan menyerang terlebih sengit pula dengan maksud memancing tangkisan pedang Lenghou Tiong.

Namun Lenghou Tiong hanya sedikit acungkan pedangnya, berturut-turut “crit-crit-crit-crit” empat kali suara perlahan, kontan kedua lengan dan kedua paha Hong Put-peng tertusuk semua. “Trang”, pedang terlepas dari cekalan dan jatuh ke lantai.

Lantaran tidak sengaja hendak melukai orang, pula tangannya tak bertenaga, maka empat kali tusukan Lenghou Tiong itu dilakukan dengan sangat enteng.

Meski Hong Put-peng tidak terluka parah, tapi dengan kedudukannya mana bisa dia melanjutkan pula pertandingan itu. Seketika wajahnya menjadi pucat, serunya, “Sudah, sudahlah!”

Lalu ia memberi salam kepada Co Hui-eng, katanya, “Co-toakongcu, harap sampaikan salamku kepada ayahmu, katakan aku merasa sangat berterima kasih atas bantuannya. Cuma … cuma kepandaianku masih tak sanggup menandingi orang, aku … aku … tidak ….”

Ia tidak sanggup meneruskan ucapannya karena tenggorokannya serasa tersumbat. Segera ia melangkah pergi dengan cepat. Kira-kira belasan tindak mendadak ia berhenti dan berteriak, “He, anak muda, ilmu pedangmu sungguh sangat lihai, aku mengaku kalah. Tapi ilmu pedang demikian rasanya bukan ajaran Gak Put-kun. Numpang tanya siapakah namamu yang mulia, ilmu pedang itu ajaran dari tokoh kosen siapa?”

“Aku Lenghou Tiong adanya, murid tertua dari guruku yang berbudi Gak-siansing,” sahut Lenghou Tiong. “Ilmu pedang yang sepele ini hanya secara kebetulan dapat menang sejurus-dua, buat apa mesti dipikirkan?”

Terdengar Hong Put-peng menghela napas panjang, suaranya penuh rasa masygul dan patah semangat, perlahan ia melangkah pergi dan akhirnya menghilang dalam kegelapan.

Co Hui-eng saling pandang sekejap dengan Theng Eng-gok, mereka sama pikir, “Bicara tentang ilmu pedang besar kemungkinan kita sendiri masih bukan tandingan Hong Put-peng dan sudah tentu lebih-lebih bukan tandingan Lenghou Tiong. Kalau beramai-ramai mengerubutnya tentu dengan gampang dapat membunuh pemuda itu. Tapi berbagai tokoh terkemuka sekarang sama hadir, betapa pun tidak dapat melakukan perbuatan yang begitu rendah dan pengecut.”

Karena pikiran yang sama kedua orang saling manggut, lalu Co Hui-eng membuka suara, “Lenghou-heng, ilmu pedangmu sungguh hebat dan benar-benar banyak menambah pengalamanku. Sampai berjumpa pula!”

Sekali kakinya mengempit, seketika kudanya membedal cepat ke depan dan segera diikuti orang-orang lain. Hanya sebentar saja mereka pun sudah menghilang di malam kelam, yang terdengar sayup-sayup hanya derap kaki kuda yang makin menjauh.

Sekarang yang berada di luar kelenteng itu selain orang-orang Hoa-san-pay hanya tertinggal para berandal yang berkedok kain hitam tadi. Si orang tua tadi mengekek tawa, lalu berkata, “Lenghou-siauhiap, betapa hebat ilmu pedangmu, sungguh kami merasa kagum tak terhingga. Kepandaian Gak Put-kun masih selisih sangat jauh denganmu, pantasnya kau yang cocok untuk menjabat ketua Hoa-san-pay. Melihat ilmu pedangmu yang hebat itu seharusnya kami mesti tahu diri dan mundur teratur. Cuma kami sudah telanjur mengganggu Hoa-san-pay kalian, bencana di kemudian hari tentu akan timbul, terpaksa hari ini kami harus babat rumput sampai akar-akarnya. Tampaknya kau sudah terluka, tiada jalan lain kami harus mengerubutmu dengan jumlah banyak.”

Habis berkata, sekali bersuit segera kawan-kawannya ikut mengurung maju.

Walau Co Hui-eng dan rombongannya pergi, obor yang mereka buang sekenanya masih belum padam, maka bagian bawah setiap orang tersorot dengan terang, sedangkan bagian pinggang ke atas hanya remang-remang. Senjata ke-15 berandal berkedok itu gemilapan terhunus dan mendesak maju selangkah demi selangkah.

Sesudah menempur Hong Put-peng tadi, walaupun tidak memakai tenaga dalamnya, tidak urung Lenghou Tiong juga mandi keringat. Sebabnya dia dapat mengalahkan tokoh nomor satu dari sekte pedang itu adalah berkat Tokko-kiu-kiam yang aneh itu. Sekarang ke-15 kawanan berandal itu menggunakan 15 macam senjata yang cara permainannya tentu berbeda-beda pula, bila sekaligus mereka menyerang, cara bagaimana dia mampu mematahkannya satu per satu?

Dalam keadaan tak bisa mengerahkan tenaga dalam, ia menjadi putus asa. Ia menghela napas dan coba memandang ke arah Gak Leng-sian. Ia tahu ini adalah pandangan terakhir pada ajalnya hampir tiba, ia berharap akan mendapat sedikit tanda-tanda mesra dari si nona sebagai pelipur lara. Benar juga, dilihatnya sepasang mata Leng-sian yang jeli itu sedang memandangnya dengan penuh rasa cemas dan khawatir.

Sungguh girang Lenghou Tiong tak terkatakan. Tapi di bawah cahaya obor sekilas dilihatnya pula sebelah tangan Leng-sian terjulur ke samping dan ternyata saling genggam dengan tangan seorang lelaki. Dilihatnya lelaki itu bukan lain adalah Lim Peng-ci.

Orang-orang Hoa-san-pay sebenarnya telah dibekuk oleh kawanan berandal berkedok itu dan tak bisa berkutik, tapi kini para berandal berkedok itu sedang siap-siap hendak mengerubut Lenghou Tiong sehingga Peng-ci dan Leng-sian dengan sendirinya mendapat kesempatan untuk saling bersandar menjadi satu dan tangan menggenggam tangan.

Seketika perasaan Lenghou Tiong seperti disayat-sayat, patahlah semangat tempurnya, segera ia bermaksud membuang senjata dan membiarkan dirinya dibantai musuh sesukanya.

Di tengah kegelapan malam itu tertampak ke-15 orang berkedok perlahan sedang mendesak maju. Rupanya orang-orang itu masih jeri terhadap kelihaian Lenghou Tiong yang telah mengalahkan Hong Put-peng tadi, maka siapa pun tidak berani menyerang lebih dulu.

Perlahan Lenghou Tiong putar tubuhnya, dilihatnya 30 biji mata ke-15 orang itu berkedip-kedip di balik lubang kain kedoknya, tersorot oleh cahaya obor yang remang-remang itu ke-I5 pasang mata mereka itu mirip mata binatang buas.

Sekonyong-konyong dalam benak Lenghou Tiong terkilas sesuatu ingatan, “Di dalam Tokko-kiu-kiam itu ada satu jurus yang khusus digunakan untuk mematahkan macam-macam serangan senjata rahasia musuh. Biarpun betapa banyak dan macam apa pun senjata musuh yang dihamburkan, asal jurus serangan itu dikeluarkan, serentak senjata rahasia musuh akan dapat disapu jatuh semua.”

Saat gawat itu segera timbul, terdengar si orang tua berkedok tadi lagi membentak, “Maju semua, cincang dia!”

Sadar posisi yang berbahaya pada saat itu, tanpa pikir lagi pedang Lenghou Tiong mendadak bergerak, ujung pedang bergetar terus menutul kepada ke-15 pasang mata musuh. Dalam waktu yang sangat singkat terdengar suara jeritan di sana-sini, menyusul terdengar pula suara gemerantang nyaring jatuhnya macam-macam senjata. Dalam sekejap saja 30 biji mata ke-15 orang berkedok itu sekaligus ditusuk buta oleh serangan kilat Lenghou Tiong yang mahalihai.

Jurus serangan yang digunakan Lenghou Tiong mestinya khusus digunakan untuk menyapu bersih hamburan senjata rahasia musuh, tapi kini digunakan untuk menusuk mata musuh, hasilnya ternyata sangat menakjubkan.

Sesudah menyerang segera Lenghou Tiong menerobos lewat di antara orang banyak dengan langkah sempoyongan, ia mendekati Lo Tek-nau dan memegang pundaknya dengan muka pucat dan badan gemetar. Menyusul pedangnya lantas terlepas dari cekalan.

Ke-15 orang berkedok itu tampak kelabakan menutupi mata masing-masing, dari celah-celah jari mereka tampak merembes keluar darah segar. Ada yang berjongkok merintih, ada yang menjerit-jerit dan berlari seperti lalat tak berkepala, ada yang terguling-guling di tengah air lumpur.

Sesudah mata mereka tertusuk buta, pandangan mereka seketika menjadi gelap gulita dan terasa sakit sekali. Saking kaget dan takutnya yang teringat oleh mereka adalah menutupi mata yang buta itu sambil berteriak dan menjerit. Padahal kalau mereka bisa berlaku tenang dan tetap mengerubut maju, tentu Lenghou Tiong akan tercencang menjadi daging cacah oleh senjata ke-15 orang itu.

Tapi maklum juga, siapa pun dan betapa pun tinggi ilmu silatnya jika mendadak mata tertusuk buta, mana bisa lagi berlaku tenang dan mana sanggup meneruskan serangan kepada musuh.

Begitulah ke-15 orang itu menjadi kelabakan dan tak keruan entah apa yang harus mereka lakukan lagi.

Pada detik yang berbahaya tadi Lenghou Tiong lantas menyerang dan berhasil dengan baik, tapi demi melihat keadaan ngeri ke-15 orang itu, tanpa terasa ia menjadi tidak tega dan menaruh belas kasihan kepada mereka.

Mendadak Gak Put-kun membentak, “Tiong-ji, putuskan otot kaki mereka, nanti kita periksa dan tanya mereka.”

“Ya … ya ….” sahut Lenghou Tiong sambil berjongkok hendak menjemput pedangnya. Tak terduga serangannya tadi telah mengerahkan tenaga dalamnya sehingga mengakibatkan badan gemetar dan tidak sanggup menjemput pedang.

Dalam pada itu si orang tua berkedok tadi lagi berseru, “Kawan-kawan, lekas jemput senjata masing-masing, sebelah tangan pegang ikat pinggang teman, semuanya pergi mengikuti aku!”

Ke-14 orang kawannya memang sedang kelabakan dan bingung, demi mendengar seruan si orang tua, serentak mereka berjongkok dan meraba-raba tanah, tak peduli senjata siapa yang mereka sentuh segera dijemputnya. Ada yang mendapatkan senjata dengan mudah, tapi ada pula tidak memperoleh sesuatu. Buru-buru mereka memegangi ikat pinggang temannya sehingga menjadi satu barisan dan ikut pergi bersama si orang tua dengan langkah tak menentu.

Para murid Hoa-san-pay kecuali Lenghou Tiong, yang lain semuanya tertutuk Hiat-to yang membikin tak bisa bergerak sedikit pun. Sedangkan Lenghou Tiong sendiri dalam keadaan tak bertenaga dan menggeletak lumpuh di atas tanah, maka mereka hanya menyaksikan kaburnya ke-15 orang berandal dan tak bisa mencegah.

“Lenghou Tiong, Lenghou-tayhiap, mengapa engkau belum mau membuka Hiat-to kami, apa perlu menunggu kami memohon pertolonganmu?” tiba-tiba Gak Put-kun berkata.

Keruan Lenghou Tiong terkejut. Katanya dengan suara gemetar, “Su … Suhu, mengapa engkau ber … berkelakar dengan Tecu? Segera akan … akan kubuka Hiat-to Suhu.”

Segera ia merangkak bangun dan mendekati Gak Put-kun dengan terhuyung-huyung. Tanyanya kemudian, “Su … Suhu, harus kubuka Hiat .. Hiat-to yang mana?”

Di dalam hati sungguh gusar Gak Put-kun tak terkatakan, ia mengira Lenghou Tiong sengaja melepaskan ke-15 berandal berkedok tadi, sekarang sengaja mengulur waktu dan tak mau cepat membuka Hiat-to yang tertutuk. Dengan gusar ia lantas menjawab, “Tak perlu lagi!”

Diam-diam ia mengerahkan Ci-he-sin-kang dengan lebih kuat untuk menggempur bagian Hiat-to yang tertutuk itu.

Sejak ditutuk dan tak bisa berkutik, terus-menerus Gak Put-kun mengarahkan Lwekang untuk menggempur Hiat-to yang tertutuk itu. Cuma orang yang menutuknya tadi adalah tokoh pilihan dan memiliki tenaga yang sangat kuat. Beberapa Hiat-to yang tertutuk itu adalah tempat penting pula, karena itu seketika Ci-he-sin-kang tidak dapat memunahkan Hiat-to yang tertutuk.

Lenghou Tiong sendiri tak bertenaga sehingga mungkin lebih lemas daripada anak kecil, ia ingin membuka Hiat-to sang guru yang tertutuk itu, tapi sedikit pun tak bisa mengeluarkan tenaga. Beberapa kali ia coba mengerahkan tenaga, tapi setiap kali matanya berkunang-kunang, telinga mendengung-dengung, hampir saja jatuh pingsan. Terpaksa ia duduk di sebelah Gak Put-kun dan menunggu sang guru membuka Hiat-to sendiri.

Sementara itu hujan sudah berganti gerimis dan masih turun tak berhenti-henti, keruan seluruh badan semua orang basah kuyup tak terkecuali.

Menjelang fajar barulah hujan berhenti. Muka semua orang pun remang-remang mulai terlihat jelas. Leng-sian dan beberapa anak muda yang Lwekangnya lebih rendah menggigil kedinginan tertiup angin pagi yang semilir.

Sebaliknya ubun-ubun kepala Gak Put-kun tampak mengepulkan asap putih, air mukanya yang bersemu ungu semakin tandas. Sekonyong-konyong ia bersuit panjang, seluruh Hiat-to yang tertutuk telah terbuka semua. Ia melompat bangun, kedua tangan bekerja dengan cepat, ada yang ditepuknya, ada yang diremasnya, hanya sekejap saja setiap orang yang tak bisa berkutik itu telah dibebaskan semua dari siksaan.

Gak-hujin dan para muridnya lantas berbangkit, Ko Kin-beng, Si Cay-cu dan lain-lain sama meneteskan air mata. Beberapa murid wanita bahkan menangis sedih. Beberapa orang di antaranya berkata, “Beruntung ilmu pedang Toasuko mahasakti dan dapat mengalahkan kawanan berandal itu, kalau tidak entah bagaimana jadinya kita ini?”

Saat itu Lenghou Tiong masih telentang di atas tanah berlumpur, lekas Ko Kin-beng membangunkan dia.

Air muka Gak Put-kun tidak memperlihatkan sesuatu, dengan dingin ia tanya, “Kau tahu asal usul ke-15 orang berkedok itu?”

“Tecu … Tecu sendiri tidak tahu,” sahut Lenghou Tiong.

“Apa kau tidak kenal mereka?” Put-kun menegas.

“Suhu, sebelum ini Tecu tidak pernah kenal salah seorang di antara mereka,” sahut Lenghou Tiong dengan takut atas penegasan sang guru.

“Jika demikian, mengapa perintahku agar kau menahan mereka untuk diperiksa, tapi kau anggap tidak mendengar dan tak menggubris?” tanya Put-kun pula.

“Tecu … Tecu sama sekali tak bertenaga lagi, seluruh tubuh terasa lemas, kini … kini ….” sambil berkata badannya juga tergoyang-goyang, untuk berdiri saja tidak kuat rasanya.

“Hm, pandai benar kau main sandiwara!” jengek Put-kun.

Lenghou Tiong berkeringat dingin seketika, cepat ia tekuk lutut di hadapan sang guru, katanya, “Sejak kecil Tecu sudah yatim piatu, atas budi kebaikan Suhu dan Sunio sehingga Tecu dirawat sampai besar, selama itu Tecu juga tidak berani membangkang perintah Suhu atau sengaja mendebat Suhu dan Sunio.”

“Kau tidak berani mendustai Suhu dan Sunio? Hm, lantas ilmu pedangmu itu diperoleh dari mana? Apakah ajaran malaikat di dalam mimpi atau mendadak jatuh dari langit?”

Berulang Lenghou Tiong menjura, katanya, “Tecu pantas dihukum mati. Soalnya Cianpwe yang mengajarkan ilmu pedang ini mengharuskan Tecu berjanji takkan memberitahukan kepada siapa pun juga tentang asal usul ilmu pedang ini, karena itu terpaksa kepada Suhu dan Sunio juga tak dapat Tecu beri tahukan.”

“Ya, sudah tentu, sudah setinggi ini ilmu silatmu, masakah kau masih pandang sebelah mata kepada Suhu dan Suniomu?” jengek Put-kun. “Memangnya sedikit kepandaian Hoa-san-pay yang tak berarti ini mana tahan sekali gempur oleh ilmu pedangmu yang sakti? Kakek berkedok itu memang tepat ucapnya, jabatan ketua Hoa-san-pay kita ini seharusnya kau yang mendudukinya.”

Lenghou Tiong tak berani menjawab, ia hanya menjura terus. Pikiran bergolak hebat, “Jika aku tidak menuturkan pengalaman tentang diperolehnya ajaran ilmu pedang dari Hong-thaysusiokco, tentu Suhu dan Sunio takkan memberi maaf. Namun seorang laki-laki sejati harus bisa pegang janji, sedangkan seorang maling cabul sebagai Dian Pek-kong saja tidak mau membocorkan rahasia jejak Thaysusiokco biarpun menghadapi siksaan Put-kay Hwesio, apalagi aku Lenghou Tiong telah menerima budi kebaikannya, sekali-kali aku tidak boleh ingkar janji, rasa setia dan baktiku kepada Suhu dan Sunio adalah tulus dan jujur, untuk ini dapat kupertanggungjawabkan kepada siapa pun juga. Kalau untuk sementara ini aku menanggung penasaran apakah artinya bagiku?”

Maka katanya kemudian, “Suhu dan Sunio, sekali-kali bukan Tecu sengaja membangkang kepada perintah guru, sesungguhnya ada kesukaran Tecu yang tak dapat dijelaskan. Kelak Tecu akan mohon maaf kepada Suhu dan Sunio, tatkala mana Tecu akan memberi laporan kepada Suhu dan Sunio dan bercerita terus terang selengkapnya.”

“Baiklah, boleh bangun,” kata Put-kun.

Lenghou Tiong menjura tiga kali lagi, segera ia bermaksud berbangkit, tapi baru saja kakinya menegak sebelah, kembali ia lemas dan jatuh berlutut pula. Kebetulan Peng-ci berdiri di sebelahnya, cepat ia bantu menariknya bangun.

“Hm, ilmu pedangmu hebat, caramu main sandiwara terlebih bagus pula,” ejek Gak Put-kun.

Lenghou Tiong tidak berani menjawab, pikirnya, “Betapa pun besarnya budi Suhu yang dicurahkan padaku, hari ini beliau sudah salah paham, kelak segala persoalan pasti akan kubikin terang. Urusan ini memang agak janggal, pantas juga kalau beliau merasa curiga.”

Begitulah biarpun menahan penasaran, tapi ia pun tidak dendam sedikit pun.

Sementara itu para murid Hoa-san sedang sibuk pada tugasnya masing-masing, ada yang menanak nasi, ada yang menggali liang untuk mengubur jenazah Nio Hoat.

Sesudah sarapan pagi, semua orang sama mengeluarkan baju kering untuk ganti pakaian mereka yang basah dan kotor. Habis itu mereka sama memandang Gak Put-kun untuk menunggu perintah. Pikir mereka, “Apakah kita masih mau meneruskan perjalanan ke Ko-san?”

“Sumoay, ke mana kita harus pergi menurut pendapatmu?” tanya Put-kun kemudian kepada sang istri.

“Ke Ko-san kukira tidak perlu lagi,” sahut Gak-hujin. “Tapi kita sudah telanjur keluar dari rumah rasanya juga tidak perlu buru-buru pulang kembali ke Hoa-san.”

“Ya, toh tiada pekerjaan apa-apa, boleh juga kita pesiar ke sana-sini supaya dapat menambah pengalaman para murid,” kata Put-kun.

Yang paling senang adalah Leng-sian, cepat ia bersorak, “Baik sekali! Ayah ….”

Tapi lantas teringat olehnya tentang kematian Nio Hoat, adalah tidak pantas ia memperlihatkan rasa girang begitu cepat, maka hanya ucapan itu saja lantas berhenti.

“Huh, bicara tentang pesiar kau lantas kegirangan ya?” omel Put-kun dengan tersenyum. “Baiklah, kali ini ayah akan mengikuti sifat kesukaanmu. Coba katakan sebaiknya kita pergi ke mana, anak Sian?”

Sambil berkata pandangnya ditujukan kepada Peng-ci.

“Ayah, jika mau pesiar sepuas-puasnya dan makin jauh makin baik, janganlah kepalang tanggung, janganlah belum seberapa jauh dan baru beberapa hari sudah sibuk mau pulang lagi,” kata Leng-sian. “Bagaimana umpamanya kalau kita pergi … pergi … ke rumah Siau-lim-cu. Dia bilang buah lengkeng Hokkian besar-besar dan manis-manis, katanya jeruk di sana juga sangat tersohor dan macam-macam barang lain.”

Gak-hujin melelet lidah, katanya, “Dari sini ke Hokkian jauhnya beribu-ribu li, dari mana kita mempunyai biaya sebanyak itu untuk rombongan sebanyak ini. Jangan-jangan Hoa-san-pay kita harus menjadi Kay-pang dan meniru cara mereka berkelana sambil mengemis.”

Tiba-tiba Peng-ci berkata, “Suhu dan Sunio, besok juga kita sudah bisa memasuki wilayah Holam. Nenek luar Tecu bertempat tinggal di kota Lokyang.”

“Ya, benar, kakek-luarmu Kim-to-bu-tek, (golok emas tiada tandingan) Ong Goan-pa memang betul orang Lokyang,” kata Gak-hujin.

“Ayah-bunda Tecu telah wafat semuanya, sungguh Tecu ingin berkunjung kepada Gwakong dan Gwapoh (kakek dan nenek luar) untuk memberi lapor segala sesuatu,” kata Peng-ci pula. “Apabila Suhu, Sunio dan para Suko dan Suci sudi ikut mampir ke tempat kediaman Gwakong dan tinggal di sana barang beberapa hari, tentu Gwakong dan Gwapoh akan merasa mendapat kehormatan besar. Habis itu barulah kita melanjutkan perjalanan ke Hokkian, tentang ongkos perjalanan ….”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung, “Di sepanjang jalan toh ada cabang Piaukiok kami, segala sesuatu tentu akan mendapat pelayanan dari mereka, maka mengenai hal ini kukira tidak perlu khawatir.”

Sejak Gak-hujin melukai Tho-sit-sian, senantiasa ia dirundung rasa khawatir kalau-kalau Tho-kok-lak-sian akan datang menuntut balas. Keberangkatannya dari Hoa-san kali ini alasannya saja hendak menuntut kebenaran dan keadilan ke Ko-san, tapi sebenarnya adalah melarikan diri untuk menghindari bencana.

Tadi sesudah sang suami mengarahkan pandangnya kepada Peng-ci, lalu pemuda itu mengundang semua orang berkunjung ke Hokkian. Kalau dipikir, untuk mengungsi memang lebih jauh lebih baik. Apalagi dirinya dan sang suami juga tak pernah berkunjung ke daerah selatan, sekarang tiada jeleknya jalan-jalan ke sekitar Hokkian.

Karena pikiran itu ia lantas berkata kepada sang suami, “Suko, Siau-lim-cu telah menyatakan akan tanggung makan dan tanggung tempat tinggal, kita mau pergi dengan biaya gratis atau tidak?”

Put-kun tersenyum, jawabnya, “Hokkian adalah tempat asal Siau-lim-si sekte selatan, selama ini banyak menghasilkan tokoh-tokoh persilatan. Jika kita dapat mengikat beberapa kawan karib barulah tidak sia-sia perjalanan kita ini.”

Mendengar gurunya sudah mau pesiar ke Hokkian, keruan para murid sangat gembira. Para murid, baik laki-laki maupun wanita kecuali Lo Tek-nau, rata-rata umur mereka belum ada yang lebih dari 30 tahun. Dengan sendirinya mereka sangat tertarik dan bersemangat mengenai pesiar ke daerah selatan yang indah permai itu. Lebih-lebih Peng-ci dan Leng-sian, mereka berdua yang paling girang.

Sebaliknya hanya Lenghou Tiong seorang saja yang muram durja. Pikirnya, “Suhu dan Sunio tidak mau pergi ke mana-mana dan justru lebih dulu pergi ke Lokyang untuk bertemu dengan kakek luar Lim-sute, habis itu baru akan berangkat ke Hokkian yang jauh itu, tak usah dijelaskan lagi terang dia sudah menjodohkan Siausumoay kepada Lim-sute, boleh jadi setiba di Hokkian mereka akan lantas dinikahkan di rumah Lim-sute. Aku sendiri adalah anak piatu, tanpa sanak tiada kadang, mana aku dapat dibandingkan dengan putra juragan Hok-wi-piaukiok yang kantor cabangnya tersebar di mana-mana tempat. Melulu kakek luarnya Kim-to-bu-tek Ong Goan-pa saja biasanya juga sangat mendapat penghargaan dari Suhu. Sekarang Lim-sute ingin pergi ke Lokyang untuk berkunjung kepada kakek dan neneknya, buat apa aku ikut pergi ke sana?”

Diam-diam ia pun mendongkol demi melihat para Sute dan Sumoaynya bergembira ria seakan-akan semuanya sudah melupakan kematian Nio Hoat yang mengerikan itu. Pikirnya pula, “Malam nanti kalau menginap di suatu tempat biarlah tengah malam seorang diri aku tinggal pergi saja. Masakah aku harus ikut semua orang ke sana dan ikut makan nasi Lim-sute dan tinggal di rumahnya dulu menahan perasaan sambil mengucapkan selamat kepada pernikahan Lim-sute dan Siausumoay?”

Ketika semua orang berangkat melanjutkan perjalanan, dengan semangat lesu dan badan lemas Lenghou Tiong ikut dari belakang, tapi makin lama makin lambat jalannya sehingga tertinggal agak jauh oleh rombongan.

Dekat tengah hari keadaannya tambah payah, ia tidak tahan lagi dan duduk mengaso di atas batu di tepi jalan dengan napas tersengal-sengal.

Tiba-tiba tertampak Lo Tek-nau berlari balik dan berseru padanya, “Toasuko bagaimana keadaanmu? Apakah lelah? Biar kutunggu engkau. Sunio telah menyewa sebuah kereta besar di kota depan sana dan sebentar lagi akan datang memapak dirimu.”

Diam-diam Lenghou Tiong merasa terima kasih, biarpun sang guru timbul curiga padanya, tapi ibu gurunya ternyata masih tetap sangat baik.

Selang tidak lama, benar juga sebuah kereta keledai sedang mendatang dengan cepat. Segera Lenghou Tiong naik ke atas kereta dengan didampingi Lo Tek-nau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: