Hina Kelana: Bab 43. Si Baju Kuning Co Hui-leng Putra Sulung Co-bengcu

“Ilmu silat Kun-cu-kiam Gak-siansing memang tidak bernama omong kosong,” demikian suara seorang tua lagi bicara. “Dengan kekuatan kami belasan orang mengerubutmu malahan beberapa orang kami sampai terluka, dengan demikian akhirnya baru dapat menangkapmu, sungguh kami harus mengaku tidak becus. Hehe, kami benar-benar sangat kagum padamu. Bila aku harus satu melawan satu padamu terang takkan mampu menang. Tapi kalau dipikir kembali mesti jumlah kami ada 15 orang, namun rombongan kalian bahkan berjumlah 20 orang lebih, kalau dibandingkan toh Hoa-san-pay kalian tetap lebih banyak. Jadi malam ini dengan jumlah sedikit kami telah menangkap pihak Hoa-san-pay yang berjumlah lebih banyak. Pertarungan ini telah kami menangkan dengan tidak mudah, betul tidak kawan-kawan?”

“Ya, memang kemenangan kita diperoleh tidak mudah,” seru beberapa orang berkedok di belakangnya.

Maka orang itu melanjutkan lagi, “Gak-siansing, selamanya kami tiada permusuhan apa pun denganmu, kami hanya ingin pinjam lihat itu Pi-sia-kiam-boh saja. Sesungguhnya Kiam-boh itu juga bukan milik Hoa-san-pay kalian, dengan segala tipu daya kau pancing anak muda keluarga Lim dari Hok-wi-piaukiok itu masuk perguruanmu, maksud tujuanmu sebenarnya kurang gemilang, para kawan Bu-lim merasa penasaran juga atas perbuatan itu. Sekarang ingin kuberi nasihat secara baik-baik, lebih baik kau keluarkan Kiam-boh itu.”Gak Put-kun sangat gusar, jawabnya, “Aku sudah jatuh di tanganmu, hendak bunuh boleh lekas bunuh, apa gunanya mengoceh tak keruan. Bagaimana pribadi orang she Gak ini cukup dikenal setiap orang Kangouw, adalah mudah kau membunuhku, tapi hendak merusak nama baikku, hm, jangan mimpi!”

“Hahahaha! Apa susahnya merusak namamu?” mendadak salah seorang berkedok itu bergelak tertawa. “Istrimu, putrimu dan anak muridmu yang perempuan semuanya cantik-cantik, ayu-ayu. Kami masing-masing dapat membaginya dan mengambilnya sebagai istri muda. Dengan demikian kutanggung nama Gak-siansing pasti akan semakin tersohor di Bu-lim.”

Kata-kata ini membuat orang-orang berkedok yang lain sama ikut tertawa keras, bahkan suara tertawa mengandung nada kotor dan rendah.

Saking marahnya sampai seluruh badan Gak Put-kun gemetar. Langkah kotor yang dikatakan orang itu sungguh tak pernah terpikir olehnya. Ia melihat beberapa orang berkedok itu benar-benar mulai menggiring anak muridnya keluar dari kelenteng. Para muridnya sama tertutuk, ada yang berjalan sampai di luar kelenteng lantas jatuh terkapar, terang bagian kaki terluka.

“Gak-siansing,” terdengar orang tua berkedok tadi bicara pula, “tentang asal usul kami boleh jadi kau sudah dapat menduga-duga. Kami bukan kaum kesatria atau pahlawan segala di dunia persilatan, tiada sesuatu yang tidak dapat kami lakukan. Lebih-lebih kawan ini, banyak yang gemar paras cantik, main perempuan adalah acara mereka sehari-hari. Bila mereka sampai mengganggu istri dan putrimu, bagaimana pun kurang baik.”

“Sudah, sudahlah, jika kau tatap tidak percaya, silakan menggeledah badan kami saja, coba lihat apakah terdapat Pi-sia-kiam-boh yang kalian cari atau tidak?” sahut Gak Put-kun.

“Kukira lebih baik kau mengeluarkan sendiri saja kitab itu,” kata seorang berkedok yang lain dengan tertawa, “bila kami harus menggeledah satu per satu, kalau binimu dan putrimu juga kami geledah, tentu akan kurang sedap dipandang.”

Sekonyong-konyong Peng-ci berkata, “Biar kukatakan terus terang kepada kalian, keluarga Lim kami di Hokkian pada hakikatnya tidak punya Pi-sia-kiam-boh apa segala. Percaya atau tidak terserahlah kepada kalian.”

Habis berkata ia terus jemput sebatang tongkat besi yang terjatuh di tanah tadi terus menghantam batok kepala sendiri. Cuma Hiat-to di bagian kedua lengannya juga tertutuk sehingga tangannya tak bertenaga. Meski tongkat itu mengenai juga kepalanya, namun hanya membuat kulitnya lecet dan berdarah dan tidak sampai menghancurkan kepalanya.

Maksud tujuan tindakan Peng-ci itu dapat dimengerti oleh semua orang. Pemuda itu sengaja hendak mengorbankan jiwa sendiri untuk menyatakan dengan tegas bahwa Pi-sia-kiam-boh segala benar-benar tidak berada di tangan orang Hoa-san-pay.

“Hehe, bocah ini ternyata cukup setia kawan, gurumu ini percuma saja berjuluk Kun-cu (laki-laki sejati), nyatanya dia tidak punya jiwa seorang laki-laki sejati,” jengek orang tadi. “Bocah she Lim, lebih baik kau pindah menjadi murid kami saja, tanggung kau akan memperoleh kepandaian tinggi yang cukup untuk malang melintang di dunia Kangouw.”

“Kentut makmu!” Peng-ci memaki. “Orang she Lim ini sekali sudah menjadi murid Hoa-san-pay masakan sudi mengangkat manusia rendah macammu sebagai guru?”

“Jawaban bagus!” teriak Nio Hoat. “Hoa-san-pay kita ….”

“Hoa-san-pay kalian ada apa?” mendadak salah seorang berkedok itu menyela sambil mengayun goloknya, kontan kepala Nio Hoat dipenggalnya bulat-bulat, darah segar lantas menyembur keluar.

Beberapa orang murid Hoa-san-pay sampai menjerit kaget. Sedangkan di dalam benak Gak Put-kun timbul macam-macam pikiran, tapi selalu tidak ingat bagaimana asal usul kawanan penyatron ini. Jika ditilik dari ucapan orang tua tadi besar kemungkinan mereka adalah tokoh-tokoh kalangan Hek-to (kaum penjahat) atau pemimpin berbagai perkumpulan atau gerombolan yang biasa berbuat jahat. Holam, Soasay dan Sucwan pada umumnya cukup diketahuinya dan sekali-kali tiada terdapat jago-jago lihai sebanyak ini. Orang tadi sekali tebas memenggal kepala Nio Hoat, betapa kejamnya sungguh jarang terlihat.

Bahkan sesudah membunuh Nio Hoat, orang itu tertawa seperti orang gila, ia mendekati Gak-hujin, golok yang berlumuran darah itu diayunkan kian kemari dan pura-pura menebas beberapa kali di atas kepala nyonya Gak.

“Jangan … jangan mencelakai ibuku!” jerit Leng-sian, hampir-hampir saja ia jatuh kelengar saking khawatirnya.

Sebaliknya Gak-hujin memang seorang kesatria wanita, sedikit pun ia tidak gentar. Ia pikir kalau musuh membunuhnya dengan sekali tebas akan kebetulan malah, dengan demikian tidak perlu khawatir dan dianiaya dan dihina pula. Maka dengan bersitegang ia memaki, “Bangsat, kalau berani bunuhlah aku!”

Pada saat itulah tiba-tiba dari jurusan timur laut sana ada suara derapan kuda lari yang ramai, puluhan penunggang kuda sedang mendatang dengan cepat.

“Siapa itu? Coba pergi lihat!” seru si orang tua berkedok.

Dua orang kawannya mengiakan dan segera mencemplak ke atas kuda dan memapak ke sana.

Terdengar suara derapan kuda yang riuh itu tidak pernah berhenti dan langsung dilarikan ke kelenteng, menyusul terdengar suara “trang-tring” beberapa kali, suara beradunya senjata dan jeritan orang pula. Terang para pendatang itu telah bergebrak dengan kedua orang berkedok yang memapak ke sana itu dan ada orang terluka terguling dari atas kuda.

Sungguh girang Put-kun dan lain-lain tak terkatakan, mereka tahu telah kedatangan bala bantuan. Di bawah cahaya lampu samar-samar terlihat dari kejauhan ada 30 sampai 40 penunggang kuda sedang mendatang dengan cepat, hanya sekejap saja sudah berhenti di luar kelenteng dengan mengelilingnya.

“Kiranya sahabat dari Hoa-san-pay. He, itu kan Gak-heng?” demikian seorang penunggang kuda itu berseru.

Waktu Gak Put-kun memandang pembicara itu, seketika ia merasa kikuk dan serbasalah.

Kiranya orang itu adalah Theng Eng-gok, tokoh kelima dari Ko-san-pay yang beberapa hari lalu pernah datang ke Hoa-san dengan membawa Leng-ki (panji perintah) dari ketua Ngo-gak-kiam-pay. Bahkan orang yang berada di sebelahnya jelas adalah Hong Put-peng, itu murid Hoa-san-pay dari golongan Kiam-cong (sekte pedang), selain itu jago-jago Thai-san-pay, Heng-san-pay dan Hing-san-pay, yang ikut datang ke Hoa-san tempo hari juga terdapat di antara mereka, malahan sekarang telah bertambah tidak sedikit orang baru yang sukar dikenali di bawah cahaya lampu yang remang-remang.

“Gak-heng,” demikian terdengar Theng Eng-gok bicara pula, “tempo hari kau tidak mau terima perintah Co-bengcu, hal ini membuat Co-bengcu merasa tidak senang. Maka kini beliau sengaja mengutus putranya yang tertua hendak mengunjungi engkau pula di Hoa-san dengan membawa Leng-ki. Siapa duga di tengah malam buta begini ternyata berjumpa di sini, sungguh tak terduga sama sekali.”

Waktu Gak Put-kun memandang sebelah Theng Eng-gok pula, terlihat di atas seekor kuda hitam yang tinggi besar dan gagah ada seorang penunggang laki-laki tinggi besar berusia antara 30-an tahun, berbaju panjang warna kuning dan sedang mengangguk perlahan padanya, sikapnya sangat angkuh.

Gak Put-kun tahu ketua Ko-san-pay, Co Leng-tan, mempunyai dua orang putra. Putra sulung bernama Co Hui-eng dan sudah memperoleh ajaran segenap kepandaian sang ayah, betapa tinggi ilmu silatnya sudah boleh dijajarkan beserta para paman gurunya. Dan mungkin orang tinggi besar di hadapan inilah Co-toakongcu itu. Padahal dirinya sama tingkat dengan ayahnya, seharusnya dia mesti menyapa dengan sebutan “paman” dan memberi hormat, biarpun sekarang Gak Put-kun sendiri dalam kesukaran juga merasa kurang senang atas sikap pemuda itu.

Dan sebelum Gak Put-kun membuka suara, tiba-tiba si orang tua berkedok tadi telah bicara, “Kiranya Co-toakongcu dari Ko-san-pay telah datang, sungguh beruntung sekali dapat berjumpa di sini. Dan kesatria berjenggot ini tentunya Theng-loenghiong, tokoh kelima dari Ko-san-pay bukan?”

“Ah, saudara terlalu memuji saja,” sahut Theng Eng-gok. “Dan siapakah nama saudara yang mulia, mengapa tidak sudi memperlihatkan wajah kalian yang asli?”

“Saudara-saudara kami ini semuanya adalah Bu-beng-siau-cut dari kalangan Hek-to, bila nanti julukan jelek kami ini diperkenalkan mungkin akan membikin kotor telinga Co-toakongcu dan Theng-loenghiong, terhadap Gak-hujin dan Gak-siocia sudah terang kami tidak berani berbuat kasar lagi, hanya ada suatu urusan kami ingin minta keadilan kepada kalian menurut hukum persilatan.”

“Urusan apa? Tiada alangannya kau sebutkan agar kami pun ikut mengetahui,” sahut Theng Eng-gok.

Maka orang tua itu lantas berkata, “Gak-siansing ini mempunyai gelaran sebagai Kun-cu-kiam, konon tutur katanya setiap hari selalu mengutamakan budi pekerti dan kebajikan, kabarnya paling taat kepada peraturan Bu-lim. Akan tetapi akhir-akhir ini telah terjadi suatu peristiwa, Hok-wi-piaukiok di Hokciu telah bangkrut dihancurkan orang. Congpiauthau Lim Cin-lam dan istrinya juga dibunuh orang. Tentang ini tentu tuan-tuan juga sudah mendengar.”

“Ya, kabarnya yang berbuat adalah Jing-sia-pay dari Sucwan,” sahut Theng Eng-gok.

Orang tua itu menggeleng kepala beberapa kali, katanya, “Walaupun demikian berita yang tersiar di kalangan Kangouw, tapi hal yang sesungguhnya belum tentu begitu. Marilah kita bicara secara blak-blakan saja. Setiap orang Bu-lim tentu tahu bahwa keluarga Lim dari Hok-wi-piaukiok itu memiliki satu jilid kitab pusaka Pi-sia-kiam-boh yang berisikan pelajaran ilmu pedang yang sangat hebat. Siapa yang berhasil meyakinkannya dengan sempurna akan menjagoi dunia persilatan tanpa tandingan. Sebabnya Lim Cin-lam dan istrinya terbunuh juga karena ada orang mengincar Pi-sia-kiam-boh itu.”

“Lalu bagaimana?” tanya Theng Eng-gok.

“Tentang siapa yang membunuh Lim Cin-lam dan istrinya tidak diketahui, kami hanya mendengar bahwa Kun-cu-kiam Gak-siansing ini telah menggunakan tipu muslihat, putra Lim Cin-lam ditipu sehingga dengan sukarela mau masuk menjadi murid Hoa-san-pay. Tentang Pi-sia-kiam-boh itu dengan sendirinya juga ikut dibawa ke dalam Hoa-san-pay. Setelah kami saling tukar pikiran, kami menarik kesimpulan bahwa Gak Put-kun benar-benar sangat licin, dia tidak dapat merebut secara terang-terangan dan lantas menggunakan tipu daya. Coba pikir, berapakah usia bocah she Lim itu? Berapa luas pengalamannya? Sesudah dia menjadi murid Hoa-san-pay bukankah dengan mudah dia akan dipermainkan oleh rase tua she Gak itu dan akan mempersembahkan Pi-sia-kiam-boh tanpa diminta.”

“Pendapatmu mungkin kurang tepat,” ujar Theng Eng-gok. “Ilmu pedang Hoa-san-pay sendiri cukup bagus, Ci-he-sin-kang yang dibanggakan Gak-siansing juga tiada bandingannya di dunia persilatan dan merupakan jenis Lwekang paling tinggi, guna apa lagi dia mau mengincar ilmu pedang dari golongan lain?”

“Hahahaha!” orang tua itu bergelak tertawa, “Agaknya Theng-loenghiong telah menggunakan jiwa kesatria untuk menilai hati manusia rendah. Ilmu pedang bagus apa yang dipunyai Gak Put-kun? Sejak kedua sekte Khi dan Kiam dari Hoa-san-pay mereka berpecah belah, selama ini sekte Khi telah mengangkangi Hoa-san, yang diutamakan mereka hanya berlatih Khi saja, tentang ilmu pedang mereka adalah terlampau rendah dan tiada nilainya. Orang Kangouw umumnya cuma segan kepada nama kosong Hoa-san-pay dan menyangka dia benar-benar mempunyai kepandaian sejati, padahal, hehe, hehe ….”

Sesudah tertawa dingin mengejek beberapa kali, lalu orang tua itu melanjutkan, “Menurut pantasnya, sebagai ketua Hoa-san-pay, ilmu pedang Gak Put-kun mestinya tidak rendah, namun para hadirin telah menyaksikan sekarang, saat ini dia tertawan oleh kami sebangsa keroco. Pertama, kami tidak memakai racun; kedua, tidak menggunakan Am-gi (senjata gelap rahasia); ketiga, kami pun tidak menang lantaran berjumlah lebih banyak, kami menang berdasarkan kepandaian sejati, kami telah labrak dan membereskan segenap orang Hoa-san-pay ini dari guru sampai muridnya tanpa kecuali. Maka dapatlah dibayangkan sampai di mana ilmu silat sekte Khi dari Hoa-san-pay, untuk ini kiranya tak perlu penjelasan pula. Sudah tentu Gak Put-kun tahu akan dirinya sendiri, pastilah dia buru-buru ingin mendapatkan ilmu pedang sekte agar namanya yang kosong tidak terbongkar. Tapi pada saat dia menghadapi kami, maka boroknya sukar lagi ditutup-tutupi.”

“Ya, uraianmu cukup beralasan juga,” ujar Eng-gok.

“Sebenarnya kepandaian kami kaum keroco dari Hek-to ini tiada harganya bagi kalian kaum kesatria ternama. Pi-sia-kiam-boh itu pun kami tidak berani menaruh minat apa-apa,” demikian si orang tua melanjutkan. “Cuma selama belasan tahun ini kami telah banyak mendapat kebaikan dari Lim-congpiauthau dari Hok-wi-piaukiok, setiap kali kereta barangnya lalu di wilayah kekuasaan kami, tiada seorang pun di antara kami mau mengganggunya. Kami ini demi mendengar Lim-congpiauthau mengalami nasib malang, keluarga hancur dan orangnya binasa. Hal ini membikin kami merasa penasaran, maka beramai-ramai kami lantas datang buat bikin perhitungan dengan Gak Put-kun.”

Sampai di sisi ia berhenti sejenak, ia pandang para penunggang kuda itu, lalu berkata pula, “Yang datang malam ini tampaknya adalah kaum kesatria ternama, bahkan terdapat tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay yang ada ikatan perjanjian dengan Hoa-san-pay, maka cara bagaimana harus memutuskan perkara ini boleh silakan kalian menentukan saja, aku dan kawan-kawan pasti akan menurut belaka.”

“Saudara ternyata sangat baik hati, biarlah kami terima maksud baikmu,” sahut Eng-gok. “Co-hiantit, bagaimana pendapatmu tentang persoalan ini?”

“Menurut pesan ayah, katanya, kedudukan ketua Hoa-san-pay harus dipegang oleh Hong-siansing, sekarang Gak Put-kun ternyata melakukan perbuatan yang rendah dan memalukan pula, maka biarlah Hong-siansing sendiri yang menyelesaikan urusan dalam perguruannya.”

“Benar, keputusan Co-bengcu memang sangat bijaksana,” demikian sokong beberapa penunggang kuda yang lain.

“Urusan Hoa-san-pay memang seharusnya diselesaikan oleh ketua Hoa-san-pay sendiri, dengan demikian kita dapat pula menghindarkan tuduhan yang tak diharapkan di kemudian hari oleh kawan-kawan Kangouw.”

Segera Hong Put-peng melompat turun dari kudanya, ia memberi hormat sekeliling kepada para hadirin, lalu bicara, “Sungguh aku sangat berterima kasih atas penghargaan kalian padaku. Hoa-san-pay kami telah cukup lama dikangkangi oleh Gak Put-kun, nama baik Hoa-san-pay telah runtuh habis-habisan di dunia Kangouw lantaran perbuatannya yang menyeleweng. Bahkan sekarang telah membunuh ayah orang dan merebut kitab pusakanya, memaksa orang menjadi muridnya dan macam-macam perbuatan yang tidak pantas. Cayhe sebenarnya tidak punya kepandaian apa-apa dan mestinya tidak sesuai menjabat ketua Hoa-san-pay. Cuma mengingat berapa sukarnya para leluhur mendirikan Hoa-san-pay yang sudah bersejarah ratusan tahun ini dihancurkan oleh murid khianat macam Gak Put-kun ini, maka terpaksa sebisa mungkin aku menerima tugas ini, untuk mana masih diharapkan bantuan-bantuan dari para sahabat.”

Dalam pada itu beberapa penunggang kuda itu sudah menyalakan obor. Hujan masih belum reda, cuma sekarang hanya gerimis saja. Di bawah cahaya obor itu wajah Hong Put-peng tampak berseri-seri, senangnya tak terkatakan. Terdengar dia melanjutkan pula pidatonya, “Dosa Gak Put-kun sudah teramat besar dan tak bisa diampuni, untuk mana harus dihukum mati sesuai dengan undang-undang perguruan. Pau-sute, silakan kau melaksanakan hukum perguruan kita, bunuhlah murid murtad Gak Put-kun dan istrinya.”

Terdengar seorang laki-laki berusia 50-an telah mengiakan sambil melolos pedangnya, lalu mendekati Gak Put-kun, katanya dengan menyeringai, “Orang she Gak, kau telah merusak perguruan kita, hari ini kau harus menerima ganjaran yang setimpal.”

Gak Put-kun menyedot napas dalam, katanya, “Bagus, bagus! Karena ingin merebut kedudukan ketua, ternyata Kiam-cong (sekte pedang) kalian tidak segan-segan menggunakan tipu keji demikian. Pau Put-ki, hari ini kau membunuh aku, tapi di alam baka apakah kau ada muka untuk menjumpai para leluhur Hoa-san-pay kita?”

“Hahahaha! Orang yang banyak kejahatan tentu akan mampus sendiri, kau sendiri telah banyak berbuat dosa, jika aku tidak membunuh kau, tentu juga kau akan mati dibunuh orang, jika demikian kan kurang baik malah?” demikian Pau Put-ki sambil tertawa.

“Pau-sute,” bentak Hong Put-peng, “tiada gunanya banyak omong, laksanakan hukuman!”

Pau Put-ki mengiakan. Segera ia angkat pedangnya. Di bawah cahaya obor terpantullah sinar pedang yang gemilap.

“Nanti dulu!” tiba-tiba Gak-hujin berteriak, “Tentang Pi-sia-kiam-boh itu sebenarnya berada di mana? Tangkap maling harus dengan bukti, kalau cuma memfitnah orang, ini bukan sifat seorang kesatria.”

“Tangkap maling harus dengan bukti, bagus sekali istilah ini,” jengek Pau Put-ki sambil mendekati Gak-hujin dengan cengar-cengir. “Kukira Pi-sia-kiam-boh itu benar kemungkinan disembunyikan di dalam bajumu, biarlah aku menggeledah kau agar tidak menuduh kami memfitnah.” Habis berkata sebelah lengannya hendak meraba ke dada Gak-hujin.

Sesudah kakinya terluka, Gak-hujin telah ditutuk pula dua tempat Hiat-to yang membuatnya tak bisa bergerak. Dilihatnya tangan Pau Put-ki sedang diulurkan ke arahnya, bila badannya sendiri sampai tersentuh, maka ini benar-benar suatu penghinaan yang sukar dibersihkan, tiba-tiba ia mendapat akal dan segera berseru, “Co-toakongcu!”

Sama sekali Co Hui-eng tidak menduga nyonya Gak akan berteriak memanggilnya. Maka ia lantas menjawab, “Ada apa?”

Cepat Gak-hujin berkata, “Ayahmu adalah ketua perserikatan Ngo-gak-kiam-pay, merupakan teladan bagi setiap orang Bu-lim, tapi kau ternyata membiarkan manusia tidak tahu malu begini menghina kaum wanita di depan umum. Apakah memang demikian kau dididik oleh ayahmu?”

“Hal ini ….” Co Hui-eng menjadi ragu-ragu.

Segera Gak-hujin berseru pula, “Bangsat tadi sembarangan mengoceh, katanya mereka tidak menang dengan jumlah orang banyak. Coba sekarang kedua murid khianat Hoa-san-pay ini, asal salah satu mampu menangkan suamiku dengan satu lawan satu, maka dengan sukarela kami akan menyerahkan kedudukan ketua Hoa-san-pay dengan kedua tangan, dengan demikian mati pun kami takkan menyesal, kalau tidak rasanya tindakan kalian ini sukar untuk diterima oleh beratus-ratus ribu kesatria Bu-lim yang mengutamakan keadilan dan kebenaran.”

Habis berkata mendadak ia meludah ke muka Pau Put-ki, “crot”, tepat sekumur riak kental hinggap di pipi Pau Put-ki. Karena berdirinya terlalu dekat, pula diludah secara tiba-tiba sehingga Pau Put-ki tidak sempat menghindar. Keruan ia sangat gusar. Ia mengusap ludah itu sambil mencaci maki, nenek moyang tujuh belas keturunan Gak-hujin diumpatnya habis-habisan.

Dengan gusar Gak-hujin memaki pula, “Kaum pengkhianat dari Kiam-cong kalian semuanya tidak becus, sebenarnya tidak perlu suamiku turun tangan sendiri, cukup aku seorang wanita saja juga tidak sukar untuk membinasakan kau bila aku tidak tertutuk oleh musuh yang pengecut tadi.”

“Baik,” tiba-tiba Co Hui-eng berseru, kedua kakinya mengempit, ia melarikan kudanya dan mengitar ke belakang Gak-hujin, sekali cambuk kudanya mengayun, “tar-tar-tar” tiga kali, ujung cambuk sama menyabat tiga tempat Hiat-to di punggung nyonya Gak.

Gak-hujin hanya merasa badan bergetar, kedua tempat Hiat-to yang tertutuk itu lantas terbuka. Keruan saja ia terperanjat. Dalam pada itu kuda hitam Co Hui-eng telah mengitar balik ke tempatnya semula, mata terdengarlah suara sorak puji orang banyak.

Cambuk kuda sebenarnya adalah benda lemah, tapi dengan ujung cambuknya Co Hui-eng sanggup membuka Hiat-to orang yang tertutuk, maka betapa hebat tenaga dalamnya sungguh jarang ada bandingannya, apalagi sekaligus menyabat tiga tempat Hiat-to berbareng, betapa jitu caranya mengincar tempat Hiat-to juga benar-benar jarang terdengar.

Setelah anggota badannya dapat bergerak, Gak-hujin tahu maksud Co Hui-eng ialah membiarkan dirinya bertanding dengan Pau Put-ki. Jadi pertandingan ini tidak melulu menyangkut jiwa sendiri serta suami dan putrinya, tetapi juga akan menentukan mati-hidup Hoa-san-pay selanjutnya. Jika dirinya dapat mengalahkan Pau Put-ki, meski belum tentu akan mengubah keadaan bahaya menjadi selamat, paling tidak hal ini akan berarti suatu titik balik. Sebaliknya kalau dirinya kalah, maka tamatlah segalanya.

Tanpa bicara segera ia jemput pedang sendiri yang terpukul jatuh tadi, ia lintangkan pedang di depan dada dan pasang kuda-kuda. Tapi mendadak kaki kiri terasa lemas, hampir-hampir saja ia jatuh berlutut. Rupanya luka kakinya tidaklah ringan, sedikit menggunakan tenaga saja sukar ditahan.

“Hahaha!” Pau Put-ki bergelak tertawa. “Kau menganggap dirimu bukan kaum wanita yang lemah, sekarang kau pura-pura kaki terluka pula, lalu buat apa bertanding lagi? Seumpama aku menang juga tidak gemilang ….”

“Lihat pedang!” bentak Gak-hujin mendadak sambil menusuk tiga kali, dengan membawa tenaga dalam yang hebat pedangnya mengeluarkan suara mencicit, tiga kali serangan itu satu lebih cepat daripada yang lain, semuanya mengincar tempat fatal di tubuh musuh.

“Bagus!” teriak Pau Put-ki sambil menyurut mundur dua langkah.

Sebenarnya Gak-hujin dapat menggunakan kesempatan itu untuk menyerang lebih jauh, tapi dia tidak berani menggeser kakinya yang terluka itu, terpaksa ia tetap berdiri di tempatnya.

Sudah tentu Pau Put-ki tidak tinggal diam, segera ia balas menyerang. Tiga kali beruntun-runtun ia menyerang dengan cara keji. Tapi semuanya kena ditangkis Gak-hujin, menyusul nyonya Gak itu melancarkan tusukan ke perut musuh dan begitu seterusnya silih berganti mereka saling menyerang.

Gak Put-kun yang tak bisa berkutik itu dapat menyaksikan sang istri melawan musuh dengan menanggung luka pada kakinya, sebaliknya gerak serangan pedang Pau Put-ki sangat lincah dan banyak ragam perubahannya, terang musuh lebih pandai daripada istrinya. Setelah lebih 20 jurus, bagian kaki Gak-hujin mulai payah.

Sebenarnya Khi-cong atau sekte Khi (hawa kekuatan dalam) dari Hoa-san-pay biasanya mengutamakan tenaga dalam untuk menguasai musuh. Tapi sejak terluka Gak-hujin merasa hawa murni dalam tubuhnya kurang lancar sehingga permainan pedangnya sekarang lambat laun kena diatasi oleh Pau Put-ki.

Keruan Gak Put-kun menjadi gelisah. Lebih celaka lagi ia melihat sang istri memainkan pedangnya semakin cepat. Diam-diam ia berpikir, “Kiam-cong mereka mengutamakan permainan pedang, tapi kau malah melabrak dia dengan gerakan pedang, ini berarti menggunakan kelemahan sendiri untuk melawan keunggulan musuh, tentu saja akan kalah.”

Sebenarnya Gak-hujin cukup mengetahui akan hal kelemahan pihak sendiri dan keunggulan pihak lawan. Soalnya dia punya kaki terluka, sesudah itu lantas tertutuk pula sehingga selama itu tidak sempat membalut lukanya. Malahan sampai saat ini darah juga masih mengucur keluar, dalam keadaan demikian mana dapat mengerahkan tenaga dalam untuk mengatasi gerak pedang musuh? Saat ini dia hanya bertahan dari sedikit semangatnya yang masih ada, meski gerak pedangnya tampak kencang, tapi tenaganya sudah mulai berkurang dan makin lemah.

Beberapa jurus kemudian Pau Put-ki sudah dapat melihat kelemahan lawan, ia sangat girang. Tidak perlu lagi dia menyerang untuk mencari menang secara cepat, sebaliknya ia bertahan dengan rapat.

Di sebelah sana Lenghou Tiong juga sedang mengikuti pertarungan kedua orang itu. Dilihatnya gerak pedang Pau Put-ki sejak tadi tampaknya sangat lihai, tapi sesungguhnya tidak punya tenaga, hal ini berlawanan dengan ajaran gurunya yang mengutamakan tenaga dalam daripada gerakan. Tiba-tiba hatinya tergerak, pikirnya, “Pantas perguruan sendiri terbagi menjadi Khi-cong dan Kiam-cong, kiranya haluan ilmu silat yang dianut oleh kedua sekte memang berlawanan sama sekali.”

Perlahan ia coba merangkak bangun, ia pun berhasil meraba sebatang pedang yang kebetulan berada di sampingnya. Pikirnya pula, “Perguruan sendiri hari ini benar-benar telah kalah habis-habisan, tapi nama baik Sunio dan Sumoay yang suci bersih sekali-kali tak boleh dinodai oleh kawanan bangsat itu. Tampaknya Sunio sudah tak bisa mengalahkan lawannya, sebentar biar kubunuh Sunio lebih dulu dan Sumoay, kemudian aku akan membunuh diri untuk mempertahankan nama baik Hoa-san-pay.”

Sementara itu permainan pedang Gak-hujin tampak mulai kacau. Sekonyong-konyong pedangnya berputar secepat kilat terus menusuk ke depan. Serangan ini adalah “jurus tunggal tiada bandingan” yang menjadi kebanggaannya itu.

Pau Put-ki terkejut juga oleh serangan lihai itu, lekas-lekas ia melompat mundur, hanya terpaut sedetik saja, untung dia dapat menghindarkan tusukan maut itu.

Jika kaki Gak-hujin dalam keadaan sehat tentu dia dapat melancarkan serangan susulan yang lebih hebat dan musuh pasti sukar menyelamatkan diri. Tapi sekarang wajahnya sudah pucat, bahkan ia harus menggunakan pedang sebagai tongkat, napasnya tampak terengah-engah.

“Bagaimana Gak-hujin? Tenagamu sudah habis bukan? Apakah sekarang boleh kugeledah badanmu?” demikian Pau Put-ki mengejek dengan tertawa. Sebelah tangannya dipentang, selangkah demi selangkah ia mendesak maju.

Gak-hujin ingin angkat pedang untuk menyerang lagi, tapi lengannya seperti diganduli oleh benda yang berat, betapa pun sukar diangkat lagi.

“Nanti dulu!” mendadak Lenghou Tiong berseru. Ia melangkah ke depan Gak-hujin dan memanggil, “Sunio!”

Habis itu ia bermaksud mengangkat pedangnya menusuk mati sang ibu guru untuk menjaga kebersihan namanya.

Gak-hujin rupanya tahu maksud Lenghou Tiong, sorot matanya memantulkan sinar rasa senang, ia mengangguk dan berkata, “Ehm, bagus, anak baik!”

Tapi tiba-tiba Pau Put-ki membentak, “Enyah kau!”

Berbareng pedang terus menusuk ke tenggorokan Lenghou Tiong.

Melihat serangan itu, Lenghou Tiong tahu tangan sendiri tiada bertenaga sedikit pun, jika menangkis dengan pedang tentu senjata sendiri akan tergetar mencelat. Tanpa pikir lagi segera ia pun angkat pedang dan menusuk tenggorokan lawan.

Serangan ini adalah cara untuk gugur bersama dengan musuh, gerak pedangnya tidak terlalu cepat, tapi tempat yang diarah sungguh sangat bagus dan tepat, tipu serangan lihai ini adalah jurus “Boh-kiam-sik”, gerakan mengalahkan ilmu pedang lawan, yaitu salah satu jurus serangan hebat dari Tokko-kiu-kiam yang pernah dipelajarinya di dalam gua di puncak Hoa-san tempo hari. Keruan serangan balasan ini membuat Pau Put-ki terperanjat, sama sekali ia tidak menduga bahwa pemuda yang badannya kotor penuh lumpur ini mendadak bisa melancarkan serangan lihai demikian. Dalam keadaan kepepet tanpa pikir cepat ia menjatuhkan diri terus menggelinding ke samping hingga beberapa meter jauhnya, habis itu baru melompat bangun.

Melihat Pau Put-ki menghindarkan serangan lawannya dengan cara yang konyol itu, sampai-sampai muka, tangan dan seluruh badan penuh berlumuran air lumpur, saking gelinya ada beberapa orang bergelak tertawa. Tapi bila dipikirkan secara mendalam, untuk menghindarkan serangan Lenghou Tiong itu memang tiada jalan lain kecuali menjatuhkan diri seperti Pau Put-ki.

Bagaimanapun Pau Put-ki menjadi malu karena menjadi buah tertawaan orang, dengan murka segera ia menerjang ke arah Lenghou Tiong berikut pedangnya.

Lenghou Tiong sendiri cukup paham bahwa kini dirinya sekali-kali tidak boleh menggunakan tenaga dalam supaya berbagai arus bawa murni di dalam tubuh itu tidak bergolak, untuk menghadapi musuh cukup mengeluarkan “Tokko-kiu-kiam” ajaran Thaysusiokco dahulu itu.

Memangnya dia sudah cukup masak mempelajari cara memecahkan ilmu pedang lawan menurut ajaran orang tua itu, maka dapatlah dia mematahkan berbagai macam serangan musuh yang betapa pun anehnya.

Ketika dilihatnya Pau Put-ki menyeruduk tiba seperti orang gila, segera Lenghou Tiong tahu di mana letak kelemahan serangan musuh itu. Langsung ia memapak dengan ujung pedangnya yang diacungkan miring ke depan, yang dinantikan adalah perut lawan.

Dengan cara serudukan Pau Put-ki itu, kalau lawannya bukan Lenghou Tiong tentu akan berusaha berkelit ke samping atau pasti juga akan menangkis dengan senjata. Sebab itulah Pau Put-ki membiarkan perutnya terbuka tanpa mengadakan penjagaan.

Tak terduga Lenghou Tiong sama sekali tidak menghindar dan juga tidak menangkis, ujung pedang memapak datangnya perut lawan untuk ditumbukkan sendiri ke ujung pedang yang dipasang miring ke depan itu. Keruan Pau Put-ki terkejut, lekas-lekas ia meloncat ke atas sambil pedang menebas ke bawah dengan maksud menghantam jatuh pedang Lenghou Tiong.

Namun lebih dulu Lenghou Tiong sudah memperhitungkan akan gerakan Pau Put-ki itu, tiba-tiba tangannya sedikit menggeser dan pedang terangkat lebih tinggi, ujung pedang membalik ke atas, maka tebasan pentang Pau Put-ki tadi hanya mengenai tempat kosong.

Sungguh sama sekali tak terpikirkan oleh Pau Put-ki bahwa mendadak Lenghou Tiong bisa ganti serangan demikian. Sudah pedang menebas tempat kosong, tubuhnya yang terapung di atas udara dan sedang menurun ke bawah itu tepat jatuh di atas ujung pedang lawan. Keruan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, ia berkaok-kaok tak berdaya sambil jatuh ke bawah.

Segera Hong Put-peng melompat maju, sebelah tangan terus mencengkeram punggung Pau Put-ki dengan maksud menahan jatuhnya sang Sute.

Namun tindakannya tetap terlambat sedikit, terdengarlah suara “crat” disertai muncratnya darah, bahu Put-ki tertembus oleh ujung pedang.

Karena tidak berhasil menyelamatkan Sutenya, tanpa pikir Hong Put-peng melolos pedang terus menebas ke leher Lenghou Tiong.

Menurut akal sehat seharusnya Lenghou Tiong melompat mundur untuk mengelakkan serangan maut itu. Tapi karena dia tidak berani mengerahkan tenaga, untuk melompat sudah tentu tidak sanggup. Dalam keadaan terpaksa tiada jalan lain baginya kecuali mengeluarkan pula jurus serangan Tokko-kiu-kiam yang lihai itu, pedangnya berputar ke samping dan segera belas menusuk ulu hati Hong Put-peng.

Serangan ini kembali memperlihatkan cara nekatnya yang hendak gugur bersama musuh. Tapi karena arah tujuan pedangnya sangat aneh, pedangnya ternyata dapat mengenai sasarannya lebih dulu baru kemudian senjata musuh akan mengenai dia. Selisih waktu hanya sekejap, namun bila pemain pedang itu adalah tokoh lihai tentu akan dapat menggunakan kesempatan sesingkat itu dengan baik, yaitu melalui musuh dan menghindarkan dari serangan lawan.

Dalam hal ilmu pedang sesungguhnya Hong Put-peng terhitung salah satu jago paling lihai di antara jago pedang pada zaman ini yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Ia yakin serangannya tadi pasti sukar ditangkis oleh musuh. Siapa duga sekenanya Lenghou Tiong bisa balas menyerang ke arah yang tak terduga-duga. Cepat ia menyurut mundur. Ia tarik napas panjang-panjang, sekaligus ia melancarkan tujuh kali serangan pula secara berantai dan membadai.

Melihat serangan lawan yang sangat lihai dan sukar dilayani, namun kini Lenghou Tiong sudah nekat dan tidak pikirkan mati-hidup lagi, yang teringat olehnya adalah macam-macam ilmu pedang ajaran Hong Jing-yang di puncak gunung tempo hari, terkadang terkilas pula lukisan ilmu pedang yang terukir di dinding gua itu, lalu sekenanya lantas dikeluarkan sesukanya, dengan demikian ia dapat bergebrak sampai 60-70 jurus dengan Hong Put-peng, pedang kedua orang selama itu tak pernah kebentur, serang-menyerang mereka semuanya menggunakan ilmu pedang yang bagus.

Para penonton sampai bingung menyaksikannya. Diam-diam mereka pun sama memuji. Dalam pada itu mereka mendengar napas suara Lenghou Tiong yang mulai memburu, terang tenaganya tidak tahan lagi. Namun dalam hal tipu serangan yang hebat masih terus-menerus dilontarkan dengan gerak perubahan yang sukar diraba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: