Hina Kelana: Bab 42. Gak Put-kun Ditawan Musuh dan Lenghou Tiong yang Menolong

Namun meski mereka bertiga mencari pula segenap pelosok pondok kecil itu dengan lebih teliti toh hasilnya tetap nihil. Akhirnya Put-kun berkata, “Kejadian ini jangan sekali-kali disiarkan keluar, kecuali aku yang akan memberitahukan kepada ibumu, kepada siapa pun jangan bercerita. Marilah mengubur Tay-yu dan lekas tinggalkan tempat ini.”

Waktu mengangkat Liok Tay-yu, tanpa terasa Lenghou Tiong berduka pula. Pikirnya, “Di antara sesama saudara seperguruan, selamanya Laksute paling baik padaku. Siapa duga sekali salah tutuk aku membinasakan dia. Hal ini sungguh di luar dugaan, mungkin karena di dalam tubuhku terdapat hawa murni yang ditinggalkan Tho-kok-lak-sian yang aneh itu, maka tenagaku menutuk telah jauh berbeda? Seumpama betul demikian, lalu kitab Ci-he-pit-kip itu mengapa bisa menghilang tanpa bekas? Seluk-beluk kejadian ini benar-benar sukar untuk dimengerti. Sekarang Suhu sudah mencurigai diriku, tiada gunanya aku memberi penjelasan, paling perlu aku harus menyelidiki perkara ini sehingga jelas, sesudah itu biarlah aku membunuh diri untuk mengiringi kematian Laksute.”

Ia mengusap air mata, diambil sebuah cangkul untuk menggali liang kubur Liok Tay-yu. Jika dalam keadaan biasa, sebuah liang kubur saja tidak perlu banyak membuang tenaganya, tapi sekarang dia sudah mandi keringat dengan napas tersengal-sengal, bahkan atas bantuan Leng-sian barulah jenazah Liok Tay-yu dapat dikubur secara sederhana.

Kemudian mereka lantas berangkat ke Pek-ma-tik untuk bergabung dengan Gak-hujin dan lain-lain.

Sudah tentu Gak-hujin sangat girang melihat Lenghou Tiong sudah sehat, bahkan ikut datang pula. Tapi ketika dari sang suami diketahui tentang kematian Liok Tay-yu serta hilangnya Ci-he-pit-kip, hal ini membuatnya sedih dan meneteskan air mata.

Soal hilangnya Pit-kip baginya tidak terlalu gawat karena isi kitab itu sudah dipelajari dengan masak oleh sang suami. Hanya tentang kematian Liok Tay-yu, murid yang disukai oleh segenap saudara seperguruan itulah yang membuatnya berduka.

Murid-murid yang lama tidak tahu urusannya, yang jelas diketahui adalah guru dan ibu guru mereka, begitu pula Toasuko dan Siausumoay tertampak lesu. Maka mereka pun ikut prihatin dan tidak berani bicara atau tertawa keras.

Gak Put-kun menyuruh Lo Tek-nau menyewa dua kereta untuk Gak-hujin dan Leng-sian, yang lain untuk Lenghou Tiong yang masih lemah. Rombongan lantas meneruskan perjalanan ke Ko-san di sebelah timur.

Satu hari sampailah mereka di Wi-lim-tin, hari sudah hampir gelap, mereka lantas mencari hotel untuk bermalam. Tapi kota kecil ini hanya ada sebuah hotel yang telah penuh tamu. Karena membawa keluarga wanita sehingga dalam hal penginapan menjadi kurang leluasa. Terpaksa Gak Put-kun memerintahkan melanjutkan perjalanan ke kota di depan.

Di luar dugaan, beberapa li kemudian mendadak kereta yang ditumpangi nyonya Gak patah asnya dan tidak dapat meneruskan perjalanan.

“Sunio,” kata Lenghou Tiong sesudah Gak-hujin dan Leng-sian turun dari kereta mogok itu, “lukaku sudah sembuh, silakan Sunio dan Sumoay menumpang keretaku ini, biar aku berjalan bersama orang banyak.”

Dan baru saja Lenghou Tiong keluar dari keretanya, tiba-tiba Si Cay-cu menuding ke arah timur laut sana dan berseru, “Suhu, di tepi hutan sana ada sebuah kelenteng, apakah kita mau minta memondok barang semalam saja di sana?”

“Hanya anggota keluarga wanita yang kurang leluasa,” ujar Gak-hujin.

Tetapi Gak Put-kun lantas menjawab, “Cay-cu, boleh coba kau pergi tanya, jika Hwesio penghuni kelenteng itu menolak, maka jangan kau memaksanya.”

Cay-cu mengiakan dan segera berlari pergi. Tidak lama kemudian ia sudah lari kembali, dari jauh ia berteriak, “Suhu, kelenteng itu dalam keadaan rusak dan tiada penghuninya.”

Keruan semua orang sangat girang dan merasa kebetulan. Segera To-kin, Bok Pek-lo, Su Ki dan beberapa murid termuda mendahului lari ke sana untuk membersihkan tempat bermalam itu.

Ketika rombongan Gak Put-kun sampai di luar kelenteng, sementara itu langit tiba-tiba mendung, dalam sekejap saja cuaca menjadi gelap.

“Untung ada kelenteng rusak ini, kalau tidak kita pasti akan kehujanan di tengah jalan,” kata Gak-hujin.

Waktu mereka masuk ke ruangan kelenteng, kiranya arca yang dipuja di situ adalah Toapekong Yok-ong (raja obat) yang aslinya bernama Sin-long-si.

Beramai-ramai Gak Put-kun dan lain-lain lantas memberi hormat kepada Toapekong. Dan belum lagi mereka berbenah seperlunya tiba-tiba sinar kilat menyambar-nyambar dan guntur berbunyi, menyusul hujan lantas menetes dengan lebatnya.

Karena kelenteng itu sudah rusak, hampir di mana-mana air bocor menggenangi ruangan kelenteng itu. Terpaksa mereka tidak memasang tikar dan membuka selimut, masing-masing hanya mencari tempat duduk yang tidak kebocoran. Sedangkan Ko Kin-beng, Nio Hoat dan tiga orang murid wanita sibuk menanak nasi.

“Hujan musim rendeng ini cepat amat datangnya, bisa jadi panen kali ini takkan berhasil dengan baik,” demikian kaca Gak-hujin.

Dalam pada itu Lenghou Tiong yang duduk meringkuk di pojok sana sedang termenung-menung memandangi air hujan yang menyiram dari atas talang yang rusak. Pikirnya, “Jika Laksute juga berada di sini, tentu suasana akan riang gembira.”

Biasanya di antara Lenghou Tiong, Gak Leng-sian, Liok Tay-yu, Ko Kin-beng dan lain-lain paling suka bergurau bila berkumpul bersama. Tapi sejak Liok Tay-yu meninggal, karena merasa berdosa dan yakin dirinya sendiri takkan hidup terlalu lama lagi di dunia ini, maka jarang sekali Lenghou Tiong mengajak bicara dengan Leng-sian. Terkadang bila ia melihat Leng-sian bergaul dengan Peng-ci, selalu ia menyingkir sejauh mungkin.

Sering ia berpikir, “Biarpun tahu akan dimaki oleh Suhu, tapi Siausumoay telah sengaja mencuri Ci-he-pit-kip untukku, ini menandakan betapa cinta kasihnya kepadaku. Jika aku mencintai Sumoay, sudah seharusnya aku menginginkan dia hidup senang dan bahagia. Aku sudah bertekad akan membunuh diri untuk membalas budi Laksute bila kelak kitab pusaka itu diketemukan, maka tidak boleh aku mendekati Siausumoay pula. Dia dan Lim-sute adalah pasangan yang setimpal, semoga Siausumoay dapat melupakan diriku sebersih-bersihnya. Bila aku mati nanti janganlah dia menitikkan setetes air mata pun.”

Walaupun begitu pikirnya, tapi setiap kali bila melihat Leng-sian jalan bersama Peng-ci sambil bicara dengan asyiknya, maka pedih juga rasa hatinya. Kini dilihatnya pula Leng-sian sedang sibuk membantu menanak nasi dan pekerjaan lain, pada waktu nona itu mondar-mandir, setiap kali beradu pandang dengan Peng-ci, kedua muda-mudi itu sama menampilkan senyuman berarti.

Tukar pandang mesra mereka itu disangka tiada orang lain yang tahu, akan tetapi setiap kali mereka bersenyum sebenarnya tidak terlepas dari pandangan Lenghou Tiong.

Sudah tentu pandangan kedua orang itu membuat perasaan Lenghou Tiong tambah pedih. Ia bermaksud berpaling ke arah lain dan tak mau memandangnya, namun setiap Leng-sian lalu di depannya, tanpa merasa ia melirik juga terhadap si nona.

Sehabis dahar malam, masing-masing lantas hendak tidur. Hujan masih terus turun, sebentar deras, sebentar gerimis, tak berhenti-henti.

Karena perasaan kusut, Lenghou Tiong tak bisa tidur. Kira-kira sejam-dua jam, terdengarlah suara mendengkur para Sutenya di sana-sini, semuanya sudah tidur nyenyak.

Sekonyong-konyong dari jurusan barat daya berkumandang suara derapan kuda yang ramai, jumlahnya ada belasan dan sedang mendatang melalui jalan raya.

Lenghou Tiong terkesiap. Pikirnya, “Di tengah malam buta dan hujan mengapa ada orang mengebut kudanya secepat itu? Jangan-jangan rombongan kita ini yang dituju?”

Segera ia bangun duduk. Pada saat itulah terdengar Gak Put-kun telah membentak dengan suara tertahan, “Ssst, semua jangan bersuara!”

Tidak lama belasan penunggang kuda itu telah lewat di luar kelenteng. Sementara itu anak murid Hoa-san-pay sudah mendusin dan masing-masing telah menyiapkan senjata untuk menghadapi musuh. Mereka merasa lega mendengar suara kuda lari itu sudah jauh melalui kelenteng.

Baru mereka hendak tidur kembali, tiba-tiba terdengar suara derapan kuda yang ramai itu berputar balik. Belasan penunggang kuda telah sampai di luar kelenteng, lalu berhenti.

Segera terdengar suara seorang yang keras dan nyaring berseru, “Apakah Gak-siansing dari Hoa-san-pay berada di dalam kelenteng? Ada suatu urusan kami ingin minta keterangan.”

Sebagai murid Hoa-san-pay yang tertua, biasanya Lenghou Tiong yang mewakilkan perguruannya melayani orang luar. Segera ia menuju ke pintu, ia tarik palang pintu dan menjawab, “Tengah malam begini entah kawan dari manakah yang datang kemari?”

Ketika pintu terbuka, ia lihat di luar kelenteng telah berbaris 15 penunggang kuda, beberapa orang di antaranya membawa Khong-beng-ting (lampu Khong Beng, yaitu sejenis lampu seperti lampu kapal zaman sekarang), serentak mereka menyorotkan sinar lampu mereka ke muka Lenghou Tiong.

Di tengah malam gelap mendadak disoroti cahaya lampu yang terang, sudah tentu Lenghou Tiong merasa silau. Perbuatan demikian sesungguhnya sangat kasar, tidak tahu adat.

Dari kejadian ini saja sudah dapat diketahuinya maksud pendatang-pendatang itu terang bersifat permusuhan.

Waktu Lenghou Tiong memerhatikan, ternyata orang-orang itu semuanya memakai kedok kain hitam, hanya sepasang mata saja yang kelihatan, kedok itu mungkin dipakai sebagai penahan air hujan, tapi maksud tujuannya yang jelas agar orang lain tidak dapat mengenali muka asli mereka.

Tergerak hati Lenghou Tiong, pikirnya, “Orang-orang ini kalau bukan sudah dikenal, tentunya khawatir wajah mereka terlihat dan diingat-ingat oleh kami.”

Begitulah, maka seorang di antaranya lagi berkata pula, “Diharap Gak Put-kun, Gak-siansing suka keluar menjumpai kami.”

“Siapa tuan?” tanya Lenghou Tiong. “Tolong beri tahukan she dan namamu yang mulia agar dapat kulaporkan kepada Suhuku.”

“Tentang siapa kami rasanya kau tidak perlu tanya lagi,” sahut orang itu. “Boleh kau katakan kepada gurumu bahwa kami mendengar Hoa-san-pay telah mendapatkan Pi-sia-kiam-boh asal milik Hok-wi-piaukiok di Hokkian itu. Maka kami ingin meminjam dan melihatnya.”

Lenghou Tiong menjadi gusar, jawabnya, “Hoa-san-pay kami mempunyai ilmu silat kebanggaannya sendiri, buat apa kami menginginkan Pi-sia-kiam-boh orang lain? Jangankan kami memang tidak mendapatkan kitab itu, seumpama didapat oleh kami, bila tuan memintanya secara begini, apakah sikapmu ini dapat dikatakan menghargai Hoa-san-pay kami?”

Orang itu terbahak-bahak, dan belasan kawannya juga ikut mengakak. Suara tertawa mereka berkumandang jauh di tengah malam sunyi itu, dari suara mereka yang keras nyaring itu teranglah Lwekang setiap orang tidaklah lemah.

Diam-diam Lenghou Tiong terkejut dan sadar lagi berhadapan dengan musuh tangguh, ke-15 orang itu jelas adalah jago-jago pilihan semua, cuma tidak diketahui dari mana asal usulnya.

Di tengah suara gelak tertawa orang banyak itu lantas terdengar seorang di antaranya berseru lantang, “Selama ini kami kenal Gak-siansing yang bergelar Kun-cu-kiam itu memiliki ilmu pedang yang sakti dan jarang ada bandingannya, terhadap Pi-sia-kiam-boh segala sudah tentu tidak sudi mengincarnya. Tapi kami adalah Bu-beng-siau-cut (prajurit tak bernama, artinya kaum keroco), maka kami benar-benar sangat ingin melihat kitab ilmu pedang itu, diharap Gak-siansing suka memperlihatkannya.”

Suara orang ini dapat terdengar jelas di tengah gelak tawa orang banyak dan bahkan tetap lantang, ini menandakan Lwekang pembicara ini lebih kuat setingkat lagi daripada kawan-kawannya.

“Sebenarnya siapakah tuan? Kau ….” baru Lenghou Tiong bertanya sekian saja, suara sendiri sedikit pun tak terdengar dan tenggelam di tengah suara tertawa orang-orang itu.

Terkesiap hati Lenghou Tiong dan tidak melanjutkan ucapannya. Diam-diam ia merasa cemas terhadap Lwekang sendiri yang terlatih selama belasan tahun kini ternyata tiada gunanya lagi.

Sebenarnya sejak meninggalkan Hoa-san, sepanjang jalan beberapa kali ia pernah coba meyakinkan inti Lwekang perguruannya sendiri, tapi setiap kali mengerahkan tenaga, selalu hawa murni dalam badan bergolak dengan hebatnya dan sukar dikuasai, rasanya sesak tak tertahan, kalau tidak berhenti berlatih bisa jadi lantas pingsan.

Karena itu ia pernah minta nasihat kepada gurunya, tapi Gak Put-kun hanya memandangnya dengan sorot mata dingin tanpa menjawab.

Tatkala itu Lenghou Tiong menganggap hidupnya toh takkan lama lagi, buat apa meyakinkan Lwekang pula. Maka ia pun tidak meneruskan latihannya lebih lanjut. Akhir-akhir ini badannya telah sehat kembali, gerak-geriknya sudah biasa, tak tersangka suara bicaranya sekarang ternyata tiada membawa suara sedikit pun dan hilang di tengah suara tertawa musuh.

Tapi segera terdengar suara Gak Put-kun yang nyaring berkumandang keluar dari dalam kelenteng, “Kalian adalah tokoh persilatan ternama, mengapa merendah hati dan mengaku sebagai Bu-beng-siau-cut? Selamanya orang she Gak tidak pernah omong kosong, tantang Pi-sia-kiam-boh keluarga Lim itu tidak berada padaku.”

Ia menggunakan Ci-he-sin-kang yang sakti untuk mengantarkan suaranya, maka di tengah suara tertawa belasan orang di luar kelenteng itu suara Gak Put-kun masih terdengar dengan sangat jelas, baik bagi orang-orang di luar maupun bagi orang Hoa-san-pay sendiri yang berada di dalam kelenteng.

Apalagi cara bicaranya kedengaran acuh tak acuh dan tidak menggunakan tenaga, nyata jauh benar bedanya dengan pembicara tadi yang mesti bicara dengan suara keras. Dari sini pun dapat dinilai bahwa Lwekang Gak Put-kun jauh di atas orang itu pula.

Lalu terdengar lagi suara seorang lain dengan nada serak, “Kau mengapa tidak memegang Kiam-boh itu, lalu ke mana perginya kitab itu?”

“Berdasarkan apa saudara berhak mengajukan pertanyaan demikian?” sahut Put-kun.

“Urusan di dunia ini setiap orang berhak ikut mengurusnya,” teriak orang itu.

Tapi Put-kun hanya mendengus saja dan tidak menjawab.

“Orang she Gak, terus terang saja, kau mau menyerahkan kitab itu atau tidak?” teriak pula orang itu dengan suara kasar. “Janganlah diberi arak suguhan tidak mau, tapi minta dicekoki. Jika kau tidak mau menyerahkan terpaksa kami main kasar dan menggeledah ke dalam.”

Melihat gelagat jelek, segera Gak-hujin membisiki anak muridnya, “Para murid wanita berkumpul menjadi satu, masing-masing punggung menempel panggung. Murid laki-laki siapkan pedang!”

Serentak terdengar suara “sret-sret” yang ramai, semua orang sudah melolos pedang masing-masing.

Waktu itu Lenghou Tiong masih berdiri di ambang pintu, tangan memegang gagang pedang dan belum lagi dicabut, tapi dua orang lawan sudah melompat turun dari kuda terus menerjang ke arahnya.

Sedikit mengegos ke samping segera Lenghou Tiong bermaksud melolos pedangnya, tapi terdengarlah seorang di antaranya telah membentak, “Minggir!”

Berbareng sebelah kakinya lantas mendepak sehingga Lenghou Tiong jatuh terguling sejauh beberapa meter.

Alangkah cemasnya Lenghou Tiong, sudah terang barusan ia menggunakan Kim-na-jiu-hoat dengan jurus “Hwe-hong-sau-liu” (angin puyuh menyambar pohon) untuk memegang lawan, jurus serangan ini bukan saja dapat menghindarkan depakan musuh, bahkan akan dapat membanting lawan ke samping.

Tapi aneh, biarpun tepat mengenai sasarannya toh serangannya tidak mempan, sebaliknya diri sendiri malah terdepak jatuh, padahal tenaga depakan orang juga tidak terlalu keras, mengapa kuda-kuda sendiri begitu kendur seakan-akan tak bertenaga sehingga mudah terjatuh.

Ia meronta bangun hendak duduk, sekonyong-konyong darah bergolak dalam rongga dadanya, tujuh atau delapan arus hawa murni berputar-putar dalam badan, saling tumbuk dan saling terjang kian kemari, akibatnya dia tersiksa setengah mati, sampai satu jari tangan saja sukar bergerak.

Keruan Lenghou Tiong terperanjat ia membuka mulut bermaksud menggembor, tapi tak bisa mengeluarkan suara. Keadaannya mirip benar orang yang bermimpi buruk, otaknya cukup jernih hanya sama sekali tak bisa bergerak.

Dalam pada itu telinganya dapat mendengar suara nyaring beradunya senjata yang ramai. Suhu, Sunio dan para Sutenya sudah menerjang keluar kelenteng dan mulai bertempur dengan beberapa orang berkedok hitam itu. Sebaliknya beberapa orang berkedok itu sudah menerjang ke dalam kelenteng, terdengar suara bentakan berkumandang dari dalam kelenteng diseling suara jeritan kaum wanita beberapa kali.

Waktu itu hujan kembali turun dengan lebatnya, beberapa buah lampu telah terlempar dengan mengeluarkan cahayanya yang remang-remang, sinar pedang tampak berkilauan dan bayangan orang berkelebat di sana-sini.

Tidak lama kemudian terdengar pula suara jeritan ngeri seorang wanita di dalam kelenteng.

Lenghou Tiong tambah gelisah. Telah diketahui semua musuh itu adalah kaum lelaki, dengan sendirinya jeritan ngeri itu disebabkan salah seorang Sumoaynya mengalami cedera.

Tertampak Suhunya memutar pedang dengan kencang, seorang diri melawan empat orang musuh. Sedangkan ibu gurunya juga menandingi dua orang. Ia tahu ilmu pedang guru dan ibu gurunya ingat lihai, biarpun dikeroyok musuh juga takkan kalah.

Lo Tek-nau juga satu melawan dua dan sedang melabrak musuh dengan sengit. Kedua lawannya memakai golok, dari suara benturan senjata dapat diketahui tenaga kedua orang itu sangat kuat, lama-kelamaan tentu Tek-nau akan payah.

Jadi di pihak berdiri hanya tiga orang melawan musuh sebanyak delapan orang, sudah tentu keadaan rada berbahaya. Apalagi keadaan di dalam kelenteng tentu lebih runyam lagi. Musuh yang masuk ke dalam kelenteng hanya tujuh orang saja, para Sute dan Sumoaynya walaupun berjumlah banyak, namun tidak ada yang tergolong jago kelas tinggi.

Sementara itu suara jeritan masih terus terdengar, mungkin beberapa Sumoaynya telah roboh pula. Jika kawanan musuh membunuh habis para Sute dan Sumoaynya, lalu keluar lagi untuk mengerubut Suhu, Sunio dan Lo Tek-nau, tatkala mana guru dan ibu gurunya paling-paling hanya dapat menyelamatkan diri saja, sebaliknya pasti tidak mampu membunuh musuh dan menuntut balas.

Makin cemas dan makin gelisah perasaan Lenghou Tiong, semakin lemas pula badannya. Tiada hentinya ia berdoa, “Semoga Tuhan memberkati sedikit tenaga padaku, cukup dalam waktu singkat saja asal dapat masuk ke dalam kelenteng, tentu Lenghou Tiong dapat atau akan melindungi keselamatan Siausumoay, sekalipun aku sendiri akan dicencang oleh musuh dan mengalami siksaan badan yang paling kejam juga aku rela.”

Sekuatnya ia meronta dan mengerahkan tenaga dalam lagi, sekonyong-konyong enam arus hawa murni menerjang naik ke atas dada, menyusul ada dua arus hawa murni yang lain menyalur dari atas ke bawah sehingga keenam arus tadi dapat ditekan turun lagi. Habis itu sekujur badan terasa enteng hampa, seakan-akan seluruh isi perutnya sudah hilang entah ke mana, kulit daging juga lenyap tanpa bekas.

Diam-diam ia mengeluh, “O, kiranya demikian halnya, sungguh celaka!”

Kiranya ia menjadi paham duduknya perkara, bahwa ketika Tho-kok-lak-sian berlomba menyembuhkan lukanya, enam arus hawa murni yang disalurkan keenam tokoh aneh itu telah menyusup masuk melalui urat nadi yang berbeda, luka dalam tidak tersembuhkan, sebaliknya keenam arus hawa murni itu tertahan di dalam badan dan sukar dikeluarkan.

Jika dia meyakinkan Lwekang sakti menurut isi Ci-he-pit-kip tentu ia dapat memunahkan keenam arus hawa murni aneh itu, celakanya dia bertemu dengan Put-kay Hwesio yang memiliki Lwekang sangat tinggi, tapi wataknya kasar dan tak bisa berpikir, secara paksa ia kerahkan dua arus hawa murninya untuk menekan hawa murni Tho-kok-lak-sian itu, seketika itu kesehatan Lenghou Tiong seperti pulih kembali, tapi sebenarnya di dalam badan telah bertambah pula dengan dua arus hawa murni yang lain dan masing-masing saling terjang setiap kali ia bermaksud mengerahkan tenaga. Hal ini mengakibatkan Lwekang sendiri yang pernah dipupuk oleh Lenghou Tiong menjadi tak tertinggal sedikit pun, jadi praktis sekarang Lenghou Tiong mirip seorang lumpuh.

Setelah paham persoalannya, Lenghou Tiong menjadi pedih, tanpa terasa air matanya berlinang, pikirnya, “Nasib malang yang menimpa diriku ini sama dengan memusnahkan sama sekali ilmu silatku. Hari ini perguruanku menghadapi kesulitan, tapi sedikit pun aku tak bertenaga, sebagai murid tertua Hoa-san-pay aku hanya menggeletak di sini dan menyaksikan Suhu dan Sunio dihina orang dan para Sute serta Sumoay dibantai musuh tanpa berbuat apa-apa, sungguh sia-sia aku menjadi manusia. Ya, biarlah aku masuk ke sana dan mati di suatu tempat bersama Siausumoay saja.”

Ia tahu bila sedikit mengerahkan tenaga tentu kedelapan arus hawa murni di dalam tubuhnya akan bergolak lagi dan akan membuatnya tak bisa bergerak. Maka ia coba menahan napas, sedikit pun tidak berani mengerahkan tenaga dalam, dengan demikian dapatlah ia mengangkat kakinya dan dapatlah bergerak, perlahan ia berdiri dan perlahan melolos pedang, selangkah demi selangkah ia menggeremet ke dalam kelenteng.

Begitu masuk ke dalam pintu segera hidungnya kesampuk bau anyir darah. Di atas altar arca masih diterangi oleh dua buah lampu, mungkin musuh yang menaruhnya di situ. Nio Hoat, Si Cay-cu, Ko Kin-beng dan para Sute yang lain sedang melawan musuh dengan berlumuran darah. Beberapa Sute dan Sumoay yang lain tampak menggeletak di lantai dan entah sudah mati atau masih hidup.

Leng-sian dan Peng-ci tampak sedang melawan seorang musuh berkedok. Rambut Leng-sian yang panjang terurai kusut. Peng-ci memegang pedang dengan tangan kiri, nyata tangan kanan terluka.

Musuh mereka itu bersenjatakan tombak pendek, tampaknya sangat lihai. Berulang tiga kali Peng-ci menyerang, tapi selalu luput mengenal sasarannya. Sebaliknya mendadak tombak pendek musuh terangkat, “cret”, tiba-tiba bahu kanan Peng-ci terluka pula.

Lekas-lekas Leng-sian menyerang dua kali sehingga musuh terpaksa melangkah mundur. “Siau-lim-cu, lekas membalut lukamu dahulu,” teriak Leng-sian.

“Tidak apa-apa,” sahut Peng-ci dengan pedang menusuk pula, namun langkahnya sudah sempoyongan.

Orang berkedok itu tertawa panjang, tombak mendadak menyabet dari samping, “bluk”, dengan tepat pinggang Leng-sian terpukul. Saking sakitnya sampai Leng-sian menungging dan pedang terlepas dari pegangan.

Keruan Lenghou Tiong sangat kaget, dalam keadaan demikian yang dia pikirkan hanya menolong si nona, bahaya apa yang akan dihadapinya sudah tak dihiraukan lagi.

Segera ia menerjang maju, sekuatnya pedang menusuk. Tapi baru setengah jalan pedang menyelonong ke depan, sekonyong-konyong hawa murni dalam tubuhnya bergolak, tangan kanan seketika lemas dan terjulai ke bawah.

Ketika diserang, orang berkedok itu sudah siap-siap hendak mengegos, lalu akan balas menyerang dengan tombak secara jitu dan ganas, bukan mustahil sekaligus dada pemuda itu akan ditembus oleh tombaknya, siapa tahu baru setengah jalan Lenghou Tiong menusukkan pedangnya, tiba-tiba tangan terjulur kembali ke bawah.

Sudah tentu orang berkedok itu rada heran. Seketika ia pun tidak sempat berpikir apa sebabnya, kontan kakinya menyapu sehingga Lenghou Tiong ditendang keluar kelenteng lagi. Dalam keadaan lemas dan tak berdaya, “byurr”, tubuh terbanting di tengah air pecomberan di luar kelenteng itu.

Di bawah hujan yang masih lebat, seluruh muka Lenghou Tiong penuh dengan lumpur, seketika ini masih tidak dapat bergerak. Segera dilihatnya Jisute Lo Tek-nau telah roboh ditutuk orang, dua lawan yang mengeroyoknya tadi kini ikut mengerubut Gak Put-kun dan istrinya. Tidak lama kemudian dari dalam kelenteng berlari keluar tujuh orang, sedangkan Gak-hujin menandingi tiga orang musuh.

Sejenak kemudian terdengarlah teriakan dan bentakan Gak-hujin bersama seorang musuh, ternyata kaki kedua orang telah sama-sama terluka. Musuh itu lantas mengundurkan diri. Meski musuhnya berkurang seorang, tapi kakinya terbacok golok, lukanya tidaklah ringan. Maka setelah bergebrak lagi beberapa jurus, kembali pundaknya kena diketok oleh punggung golok musuh, seketika ia jatuh terkapar.

Cepat dua orang musuh berkedok itu menutuk beberapa Hiat-to penting di punggung nyonya Gak agar dia tidak dapat bangun lagi untuk melawan.

Dalam pada itu para murid Hoa-san-pay di dalam kelenteng berturut-turut juga telah banyak yang terluka, satu per satu mereka dirobohkan.

Rupanya kawanan penyerang berkedok itu mempunyai maksud tujuan tertentu, mereka hanya merobohkan dan menawan anak murid Hoa-san-pay saja, ada yang dilukai kaki atau tangannya dan yang lain ditutuk Hiat-to yang membuatnya tak bisa berkutik, tapi jiwa mereka tidak diganggu.

Begitulah kelima belas orang lalu mengurung di sekeliling Gak Put-kun, delapan jago di antaranya berdiri di delapan penjuru untuk menempur Gak Put-kun, sisa tujuh orang yang lain sama memegang lampu Khong-beng-ting untuk memberi penerangan.

Betapa pun tinggi kepandaian ketua Hoa-san-pay itu, namun kedelapan lawannya semuanya adalah jago-jago pilihan, tujuh sorot sinar lampu terlebih-lebih membuat matanya merasa silau.

Namun Gak Put-kun bukanlah tokoh utama salah satu pemimpin Ngo-gak-kiam-pay bila mudah menyerah begitu saja. Biarpun menghadapi bahaya dia tidak menjadi gugup. Ia sadar bahwa Hoa-san-pay hari ini jelas sudah kalah habis-habisan, boleh jadi segenap rombongannya akan terbunuh semua di dalam kelenteng bobrok. Tapi dia tetap putar pedang dan bertahan dengan rapat, makin lama makin tangkas, tenaganya bertahan lama, ilmu pedangnya tambah lihai. Bila sinar lampu menyorot ke arahnya ia lantas memandang ke bawah, dengan demikian kedelapan lawannya itu menjadi tak bisa mengapa-apakan dia dalam waktu singkat.

“Gak Put-kun, kau mau menyerah atau tidak?” tiba-tiba seorang di antaranya berseru.

“Biarpun mati orang she Gak pantang menyerah, kalau mampu membunuh aku silakan bunuh saja,” sahut Put-kun tegas dan lantang.

“Kau tidak mau menyerah, biar kutebas dulu tangan kanan istrimu,” kata orang itu sambil angkat goloknya yang tebal dengan ujung berbentuk kepala setan. Di bawah pantulan cahaya lampu goloknya mengeluarkan sinar mengilap kehijau-hijauan, mata golok sudah mengancam di atas pundak Gak-hujin.

Gak Put-kun menjadi ragu apakah mesti terima menyaksikan lengan sang istri ditebas kutung oleh musuh. Tapi kalau menyerah begitu saja toh nanti juga akan dihina oleh mereka. Kehormatan Hoa-san-pay yang sudah bersejarah ratusan tahun mana boleh runtuh di tanganku sekarang?

Karena pikiran demikian, mendadak ia menarik napas panjang-panjang, warna ungu mukanya mendadak menebal, serentak pedangnya lantas menebas ke arah laki-laki yang mengancam istrinya tadi.

Untuk mencari selamat dengan sendirinya orang itu menangkis dengan goloknya, Tak terduga serangan Gak Put-kun ini disertai dengan Ci-he-sin-kang, tenaga saktinya mahadahsyat, golok laki-laki itu ikut tertolak balik sehingga pedang dan golok sekaligus membacok lengan kanannya, tapi dia belum lagi mengutungi lengan Gak-hujin, sekarang lengan sendiri sudah terkutung lebih dulu, maka darah pun muncrat berhamburan. Orang itu menjerit dan roboh terguling.

Sekali serang berhasil, menyusul pedang Gak Put-kun menyambar pula, kembali kaki seorang musuh tertusuk. Orang itu mencaci maki sambil cepat mengundurkan diri.

Musuh telah berkurang dua orang, tapi sisa enam orang lagi adalah jago pilihan semua, baik Lwekang maupun Gwakang. Bila satu lawan satu pasti Gak Put-kun akan menang, tapi kini mereka maju berbareng, betapa pun Put-kun repot juga menghadapi mereka. “Plok”, mendadak punggungnya tertimpuk sekali oleh “Lian-cu-tay” musuh, yaitu senjata gandin berantai.

Kontan Gak Put-kun juga balas menyerang tiga kali sehingga musuh terpaksa sama melompat mundur. Namun darah segar sudah lantas tersembur dari mulutnya.

Musuh-musuh berkedok itu sama bersorak gembira, “Aha, si tua sudah terluka, saking letihnya juga dia akan mampus sendiri nanti.”

Karena yakin kemenangan pasti akan berada di pihak mereka, maka keenam orang itu menjadi adem ayem saja dan memperlambat serangan. Dengan demikian Gak Put-kun menjadi mati kutu malah, ia tidak punya kesempatan buat membinasakan lawannya lagi.

Dari ke-15 orang berkedok yang menyerang di tengah malam hujan lebat itu sudah ada tiga orang dilukai oleh Gak Put-kun dan istrinya, satu di antaranya lengan terkutung dan terluka agak parah, sedangkan dua orang yang lain hanya terluka ringan saja, mereka masih dapat mengangkat lampu membantu penerangan bagi kawan-kawannya sambil tiada hentinya mencaci maki.

Dari logat bicara mereka itu Gak Put-kun menduga mereka adalah orang dari daerah perbatasan antara Sucwan dan Soasay, tapi kota Wi-lim-tin yang baru saja dilalui siang tadi sudah termasuk wilayah Holam barat, logat bicaranya sama sekali berbeda dengan orang-orang berkedok itu.

Ilmu silat orang-orang itu pun bercampur, terang bukan terdiri dari suatu golongan yang sama. Tapi pada waktu bertempur mereka selalu bantu-membantu dengan baik, agaknya bukan rombongan yang baru saja bergabung. Lalu bagaimanakah asal usul kawanan penyatron ini, sungguh sukar diperkirakan.

Yang paling mengherankan adalah ke-15 orang itu tiada satu pun yang lemah, semuanya lihai. Berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya sendiri yang luas tidak seharusnya sama sekali tak mengenali seorang pun di antara ke-15 orang musuh lihai ini. Tapi nyatanya memang demikian, sama sekali Gak Put-kun tidak tahu siapakah mereka.

Hanya satu hal ia merasa pasti, yaitu sebelumnya musuh tidak pernah bertempur dengan dirinya sehingga pasti juga tiada permusuhan dan dendam apa pun. Tapi apakah mungkin demi mengincar sejilid “Pi-sia-kiam-boh” saja perlu memusuhi Hoa-san-pay secara besar-besaran seperti ini?

Biarpun hatinya berpikir, tapi tangan Gak Put-kun tidak menjadi kendur. Sekali Ci-he-sin-kang dikerahkan, ujung pedang lantas memancarkan sinar kemilauan. Belasan jurus kemudian kembali pundak seorang musuh tertusuk oleh pedangnya sehingga senjata yang berwujud ruyung baja terlepas jatuh.

Seorang kawannya yang berdiri di luar kalangan segera melompat maju untuk menggantikan lowongannya. Orang baru ini bersenjatakan “Kun-gi-to”, golok bergigi gergaji. Bobot senjata ini sangat berat, ujung golok melengkung pula, yang dia incar selalu hendak menggantol pedang Gak Put-kun.

Tapi Lwekang Gak Put-kun sangat kuat, makin bertempur makin bersemangat. Mendadak tangan kirinya menghantam ke belakang sehingga mengenai dada seorang lawan. “Krek”, tulang rusuk orang itu patah dua buah, tongkat baja yang dipegang sampai tergetar jatuh.

Namun orang itu benar-benar sangat berani dan nekat, dengan kalap mendadak ia menubruk maju ke bawah seperti bola, ia pentang kedua tangan untuk mendekap kaki Gak Put-kun.

Keruan ketua Hoa-san-pay itu terkejut. Tanpa pikir pedangnya menikam ke punggung musuh. Tapi dari samping dua golok telah menangkisnya.

Gerakan Gak Put-kun amat cepat, pedang gagal menikam, secepat kilat kaki kanan lantas menendang dagu orang yang nekat itu.

Tak terduga orang itu ternyata juga ahli Kim-na-jiu, sekali tangannya menyambar, kaki kanan Gak Put-kun berbalik kena dipegangnya, hampir berbareng orang itu lantas menggelinding ke samping. Dalam keadaan demikian betapa pun sulit berdiri tegak lagi. Seketika ia terseret jatuh. Hanya sekejap saja berbagai macam senjata musuh sama mengancam tempat mematikan di atas tubuhnya.

Gak Put-kun menghela napas panjang, ia lepaskan pedang dan pejamkan mata menunggu ajal. Tapi segera terasa beberapa Hiat-to di bagian pinggang, dada dan tempat lain yang penting telah ditutuk musuh dengan Kim-kong-ci-lik (tenaga jari raksasa). Menyusul dua orang berkedok itu telah memayangnya bangun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: