Hina Kelana Bab 41. Matinya Liok Tay-yu Secara Aneh

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Put-kay Hwesio ini benar-benar seorang laki-laki kasar dan dogol, banyak persamaannya dengan Tho-kok-lak-sian yang ketolol-tololan itu. Dia berani berkata tentu juga berani berbuat, jika dia benar-benar membikin celaka Siausumoay, wah, lantas bagaimana baiknya?”

Sementara itu Gi-lim tampak sangat gelisah, serunya, “Ayah, Lenghou-toako dalam keadaan terluka parah, lekas menyembuhkan dia. Urusan lain boleh kita bicarakan nanti.”

Put-kay Hwesio ternyata sangat penurut terhadap setiap ucapan putrinya, segera ia berkata, “Baik, apa susahnya untuk menyembuhkan penyakitnya?”

Habis berkata sekenanya ia lantas melemparkan tubuh Ku An. Sedangkan Lenghou Tiong perlahan direbahkannya di atas tanah, lalu ia tanya dengan suara keras, “Kau menderita luka apa?”

“Dadaku terkena pukulan orang, tapi rasanya tidak apa-apa ….”

Dasar watak Put-kay memang kasar dan tidak sabaran, tanpa menunggu jawaban selesai segera ia memotong, “Dadamu kena pukulan, tentu Jin-meh (nadi bagian dada) tergetar luka ….”

“Aku … aku dipukul Tho-kok ….”

“Bagian Jin-meh mana ada Hiat-to yang bernama Tho-kok segala,” demikian Put-kay memotong pula. “Lwekang Hoa-san-pay kalian memang kurang bagus, maka dalam hal Hiat-to menjadi kurang pandai pula. Biarlah kubantu dengan penyaluran tenaga murniku, tanggung dalam waktu beberapa hari saja kau akan sembuh kembali dan lincah seperti sediakala.”

Habis berkata, tanpa permisi lagi ia terus menutuk Hiat-to bisu di tubuh Lenghou Tiong, menyusul kedua telapak tangannya yang lebar itu menahan dada dan punggung pemuda itu. Seketika dua arus hawa hangat menyusup masuk melalui Hiat-to bagian itu.

Mendadak dua arus hawa murni itu kebentur dengan enam arus hawa murni Tho-kok-lak-sian yang tertinggal di dalam tubuh Lenghou Tiong itu, kedua tangan Put-kay hampir-hampir tergetar lepas. Keruan ia berseru kaget.

“Kenapa, ayah?” tanya Gi-lim.

“Di dalam tubuhnya ada beberapa arus tenaga yang aneh … dua … tiga … empat, ada empat arus …. Eh, tidak, ada lagi satu, seluruhnya jadi ada lima, kelima arus tenaga murni ini …. Aha, ada lagi satu. Buset, seluruhnya ada sebanyak enam arus. Wah, jangan-jangan masih ada lagi. Hahaha, sungguh ramai sekali! Sungguh menarik! Kedua arus tenagaku ini biar kucoba diadu dengan keenam arus tenagamu ini, coba siapa punya lebih lihai? Ayolah datang lagi! Hm, sudah habis bukan? Hanya enam arus saja? Maknya di … memangnya aku Put-kay takut padamu?”

Dasarnya dia memang orang kasar, asalnya adalah jagal hewan, sesudah menjadi Hwesio selamanya juga tidak pernah baca kitab, sampai tua mulutnya masih suka mengucapkan kata-kata kasar dan kotor.

Begitulah kedua tangannya masih terus menahan kedua Hiat-to di tubuh Lenghou Tiong dengan erat, lambat laun dari ubun-ubunnya tampak mengepul kabut tipis. Semula Put-kay masih bisa gembar-gembor, tapi kemudian tenaganya makin banyak dikerahkan sehingga akhirnya tidak sanggup membuka suara lagi.

Sementara itu hari sudah mulai terang, kabut tipis di atas ubun-ubun Put-kay makin lama makin tebal sehingga kepalanya yang gundul itu hampir-hampir terselubung. Sampai agak lama, mendadak Put-kay angkat kedua tangannya sambil terbahak-bahak. Tapi mendadak pula suara tertawanya terhenti. “Bluk”, ia jatuh terguling di atas tanah.

Gi-lim terkejut, “Ayah, yah!” serunya sambil mendekat untuk memayangnya bangun. Tapi badan Put-kay yang sebesar kerbau itu teramat berat, baru saja terangkat bangun tahu-tahu ia jatuh terduduk pula sehingga Gi-lim ikut terseret jatuh.

Sekujur badan Put-kay tampak basah air keringat, napas ngos-ngosan. Serunya dengan terputus-putus, “Maknya, di … aku … aku … maknya ….”

Mendengar ayahnya masih sanggup bersuara dan mencaci maki barulah Gi-lim merasa lega. Katanya, “Ayah, bagaimana? Apakah sangat lelah?”

“Keparat, di dalam tubuh bocah ini ada enam arus tenaga murni yang sangat lihai, tapi tenaga murni yang kukerahkan tadi telah … telah dapat menahannya ke bawah, hehe, jangan khawatir, bocah ini takkan mampus, pasti takkan mampus, pasti takkan mampus!”

Gi-lim sangat terhibur, waktu ia berpaling, benar juga tampak Lenghou Tiong telah dapat berdiri dengan perlahan.

“Lwekang si Hwesio besar memang sangat lihai,” demikian Dian Pek-kong memuji dengan tertawa, “Hanya sebentar saja luka parah Lenghou-heng sudah dapat disembuhkan.”

Put-kay sangat senang dipuji, segera ia berkata, “Kau bocah ini sebenarnya sudah kelewat takaran melakukan kejahatan, seharusnya sekali remas kumampuskan dirimu. Tapi mengingat kau telah berjasa menemukan si bocah Lenghou Tiong ini, biarlah kuampuni jiwamu, lekaslah enyah dari sini!”

Dian Pek-kong menjadi gusar, dampratnya, “Apa artinya lekas enyah dari sini? Maknya, Hwesio gede keparat, ucapanmu sebenarnya ucapan manusia atau bukan? Kau kan sudah berjanji akan memberi obat penawar racun jika sebulan aku dapat menemukan Lenghou Tiong, kenapa sekarang kau hendak mungkir janji? Jiwaku sih tidak menjadi soal, tapi kau telah berjanji dan sekarang tidak mau memberi obat penawarnya, kau benar-benar Hwesio buruk, Hwesio rendah dan kotor melebihi binatang.”

Sungguh aneh, biarpun Dian Pek-kong mencaci maki padanya, sama sekali Put-kay tidak marah, sebaliknya ia menjawab dengan tertawa, “Coba lihat, sedemikian bocah keparat ini takut mati, takut aku Put-kay Taysu tidak pegang janji dan tidak memberi obat penawar. Huh, bocah keparat, ini obat penawarnya, ambil!”

Sambil berkata tangannya lantas merogoh ke dalam saku hendak mengeluarkan obat yang dimaksudnya, tapi rupanya tadi terlalu banyak mengeluarkan tenaga, tangannya masih gemetar, sebuah botol porselen kecil sudah dikeluarkan olehnya, tapi beberapa kali terjatuh lagi ke pangkuannya.

Lekas Gi-lim menjemput botol obat itu dan membuka sumbat botol.

“Berikan tiga biji padanya,” kata Put-kay. “Sekarang makan satu biji, tiga hari kemudian makan satu biji lagi dan lewat enam hari nanti makan biji ketiga. Jika dalam sembilan hari ini kau dibunuh orang bukanlah tanggunganku.”

Dian Pek-kong menerima obat penawar itu dari Gi-lim, sahutnya kemudian, “Hwesio gede, kau telah paksa aku minum racun, sekarang kau memberikan obat penawar padaku, jika aku tidak memaki kau juga terhitung baik, maka aku tidak mau mengucapkan terima kasih padamu. Lenghou-heng, tentu ada apa-apa yang hendak kau bicarakan dengan Siausuhu ini, aku akan pergi saja, sampai berjumpa pula.”

Habis berkata ia membalik tubuh terus hendak melangkah pergi.

“Nanti dulu, Dian-heng,” seru Lenghou Tiong.

“Ada apa?” tanya Dian Pek-kong.

“Dian-heng,” kata Lenghou Tiong, “beberapa kali engkau telah sudi mengalah padaku, engkau benar-benar pantas menjadi seorang sahabat. Cuma ada sesuatu ingin kunasihatkan, bila engkau tidak mau memperbaiki, persahabatan kita ini tentu tidak kekal.”

“Sudahlah, tak perlu kau katakan juga kutahu,” sahut Dian Pek-kong dengan tertawa. “Kau ingin aku jangan lagi memerkosa wanita baik-baik dan membunuh. Baiklah, aku akan menurut padamu. Di dunia ini masih banyak wanita cabul, untuk mencukupi seleraku juga tidak perlu harus memerkosa wanita keluarga baik-baik dan membunuh orang pula. Hahaha, Lenghou-heng, bukankah kau masih ingat kenikmatan di Kun-giok-ih di kota Heng-san tempo hari?”

Mendengar disebutnya rumah pelacuran itu, seketika wajah Lenghou Tiong dan Gi-lim menjadi merah.

Dian Pek-kong terbahak-bahak dan hendak melangkah pergi pula. Tapi mendadak kaki terasa lemas, ia jatuh terguling. Sekuatnya ia merangkak bangun, cepat mengambil sebiji obat penawar pemberian Put-kay tadi terus ditelan. Ia tahu sebelum racun dipunahkan sukarlah turun dari puncak Hoa-san.

Sesudah Lenghou Tiong mendapat saluran tenaga murni dari Put-kay sehingga keenam arus hawa murni yang ditinggalkan Tho-kok-lak-sian itu dapat ditekan, kini Lenghou Tiong merasa dada sudah tidak sesak lagi, kaki juga sudah bertenaga, ia sangat girang. Segera ia melangkah maju dan memberi hormat kepada Put-kay, katanya, “Banyak terima kasih atas pertolongan Taysu tadi.”

“Terima kasih tidak perlu, selanjutnya kita toh sudah orang sekeluarga, kau adalah menantuku dan aku adalah mertuamu, masih pakai terima kasih apa segala?” demikian jawab Put-kay sambil tertawa.

Keruan Gi-lim merasa malu, cepat ia menyela, “Ayah, engkau … engkau sembarangan mengoceh lagi.”

“Eh, mengapa bilang aku sembarangan mengoceh?” sahut Put-kay dengan heran. “Siang dan malam kau senantiasa merindukan dia, memangnya kau tidak ingin kawin dengan dia? Seumpama tidak kawin apakah juga tidak mau melahirkan seorang Nikoh yang cantik dengan dia?”

“Cis, tua-tua tak genah, siapa … siapa ….” demikian semprot Gi-lim dengan muka merah.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, ada orang lagi datang. Kiranya adalah ketua Hoa-san-pay, Gak Put-kun dan putrinya, Gak Leng-sian.

Melihat mereka, Lenghou Tiong menjadi girang, cepat ia memapak maju dan berseru, “Suhu, Siausumoay, kalian lagi. Dan di manakah Sunio?”

Gak Put-kun tidak menjawab, ia pandang Lenghou Tiong dengan sikap dingin. Lalu ia memberi salam kepada Put-kay Hwesio dan menyapa, “Siapakah gelar Taysu yang terhormat ini? Entah bersemayam di kuil dan gunung mana? Adakah sesuatu keperluan kunjungan Taysu ke Hoa-san ini?”

“Aku … aku bernama Put-kay Hwesio, aku … aku datang ke sini hendak mencari menantu,” sahut Put-kay ambil menuding Lenghou Tiong. Karena tidak jelas seluk-beluknya, pula mendengar orang menjawab tentang “mencari menantu” segala, maka Gak Put-kun mengira Hwesio gendut itu sengaja hendak menggoda dirinya, keruan ia sangat gusar. Cuma dia memang seorang peramah dan sabar, betapa pun batinnya bergolak, lahirnya tetapi tenang-tenang saja. Ia hanya berkata, “Ah, Taysu ini suka berkelakar.”

Dalam pada itu Gi-lim juga telah maju memberi hormat padanya, Gak Put-kun lantas tanya, “Tak usah banyak adat, Gi-lim Sutit, kedatanganmu ke Hoa-san sini apakah atas perintah gurumu?”

Dengan muka rada marah Gi-lim menjawab, “Tidak. Aku … aku ….”

Hanya sekian saja ucapannya dan tidak dapat melanjutkan pula.

Gak Put-kun tidak tanya lebih jauh, ia berpaling dan menegur Dian Pek-kong, “Hm, Dian Pek-kong, besar amat nyalimu ya?”

“Belum tentu begitu halnya,” sahut Dian Pek-kong. “Aku merasa cocok dengan muridmu, aku lantas membawa satu pikul guci arak ke sini untuk minum bersama dia sepuas-puasnya, untuk ini juga tidak diperlukan nyali yang terlalu besar.”

Wajah Gak Put-kun tampak semakin kereng, tanyanya pula, “Mana araknya?”

“Sudah lama kami habiskan di atau puncak perenung dosa sama,” sahut Pek-kong.

“Apakah benar ucapannya?” Put-kun menoleh kepada Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong menjawab, “Duduk perkara ini cukup panjang. Suhu, biarlah nanti murid menuturkan secara jelas.”

“Sudah berapa hari Dian Pek-kong berada di Hoa-san sini?” tanya Put-kun pula.

“Kira-kira sudah 20 hari,” sahut Lenghou Tiong.

“Selama itu dia tetap berada di atas gunung sini?”

“Benar.”

“Mengapa tidak kau laporkan padaku?”

“Waktu itu Suhu dan Sunio tiada di rumah.”

“Aku dan ibu-gurumu ke mana?”

“Ke sekitar Tiang-an untuk mencari saudara Dian.”

“Kau tahu kejahatan orang ini sudah lewat takaran, mengapa takut mati dan malah bergaul dengan dia?”

Mendadak Dian Pek-kong menimbrung, “Akulah yang tidak mau membunuh dia, lalu dia bisa berbuat apa? Memangnya kalau tidak dapat menandingi aku lantas mesti membunuh diri di hadapanku?”

“Di hadapanku masakah kau ada hak bicara?” damprat Put-kun. Ia menoleh kepada Lenghou Tiong dan berkata, “Bunuh dia!”

“Ayah,” tiba-tiba Leng-sian menyela, “Toasuko terluka parah, mana dia sanggup bertempur dengan dia?”

“Memangnya orang lain tidak terluka? Apa yang kau khawatirkan? Aku berada di sini, masakah jahanam itu dapat dibiarkan mencelakai muridku?” demikian jengek Put-kun.

Ia cukup kenal watak Lenghou Tiong yang cerdik dan banyak tipu akalnya, selamanya benci pada kejahatan, belum lama berselang malah pernah dilukai oleh Dian Pek-kong, maka mustahil dia mau bersahabat dengan maling cabul ini. Diduganya mungkin sang murid tidak mampu melawannya dengan kekerasan, maka hendak mengalahkannya dengan tipu daya. Keadaan Dian Pek-kong yang payah itu boleh jadi adalah akibat perbuatan muridnya itu. Sebab itulah ia tidak marah sungguh-sungguh ketika mendengar Lenghou Tiong bergaul dengan maling cabul itu, dia hanya menyuruh Lenghou Tiong membunuhnya saja.

Waktu Gak Put-kun berangkat kemarin, keadaan Lenghou Tiong terang dalam keadaan kempas-kempis, tapi sekarang ternyata dapat bergerak, sudah tentu Put-kun merasa heran, cuma seketika ia tidak sempat tanya, terutama Dian Pek-kong itu memang sudah lama dicarinya, maka ia memerintahkan Lenghou Tiong membunuhnya. Andaikan Dian Pek-kong berani melawan juga takkan tahan oleh tenaga jentikan jari sendiri.

Tak terduga Lenghou Tiong hanya menjawab, “Suhu, Dian-heng ini telah berjanji pada Tecu bahwa selanjutnya dia akan memperbaiki kelakuannya dan takkan memerkosa wanita baik-baik lagi, Tecu yakin dia pasti akan pegang janji, maka lebih baik ….”

“Dari mana kau tahu dia pasti akan memegang janji? Terhadap durjana yang mahajahat ini juga bicara tentang kepercayaan segala! Sudah berapa banyak jiwa yang telah menjadi korban goloknya? Kalau manusia binatang demikian tak dibunuh, apa gunanya lagi kita belajar silat? Sian-ji, coba berikan pedangmu kepada Toasuko!”

Leng-sian mengiakan, ia lolos pedang sendiri dan diangsurkan kepada Lenghou Tiong.

Tentu saja Lenghou Tiong serbasusah. Selamanya ia tidak berani membangkang perintah gurunya. Tapi tadi Dian Pek-kong sudah menyanggupi akan memperbaiki kelakuannya, jika sekarang membunuhnya terasa tidaklah berbudi.

Selagi otaknya berpikir ia pun menerima pedang yang diangsurkan Leng-sian itu. Dengan langkah sempoyongan ia mendekati Dian Pek-kong. Kira-kira belasan tindak, ia pura-pura karena lukanya yang parah mendadak kaki lemas dan jatuh terguling sehingga pedang menusuk pada betis sendiri.

Kejadian yang tak tersangka-sangka ini membikin orang banyak sama menjerit kaget. Gi-lim dan Leng-sian berbareng lari ke arah Lenghou Tiong. Tapi baru satu-dua langkah Gi-lim berlari segera berhenti. Ia pikir diri sendiri adalah Nikoh, mana boleh memperlihatkan rasa perhatiannya kepada seorang pemuda di hadapan umum?

Dalam pada itu Leng-sian telah berseru, “Toasuko, kenapakah engkau?”

Lenghou Tiong tidak menjawab, kedua matanya terpejam rapat. Cepat Leng-sian mencabut pedang yang menancap di betis Suhengnya itu sehingga darah mancur keluar dari tempat luka.

Segera ia mengeluarkan obat dan dibubuhkan di bagian luka itu. Waktu ia berpaling, tiba-tiba dilihatnya wajah Gi-lim yang cantik itu pucat pasi dan penuh rasa khawatir. Tergetarlah hati Leng-sian, “Nikoh cilik ini ternyata menaruh perhatian sedemikian besar terhadap Toasuko.”

Ketika berdiri kembali, sambil menjinjing pedang Leng-sian berkata, “Ayah, biar aku saja yang membunuh jahanam itu.”

“Kau mau membunuh keparat itu, jangan-jangan mencemarkan namamu sendiri,” kata Gak Put-kun. “Berikan pedang padaku.”

Maklumlah, Dian Pek-kong terkenal sebagai maling cabul, sedangkan Gak Leng-sian masih seorang gadis suci bersih, bila kelak di dunia Kangouw tersiar bahwa Dian Pek-kong terbunuh oleh putri keluarga Gak, hal ini tentu akan ditambah macam-macam cerita, dibumbu-bumbui oleh mulut usil yang tidak senonoh, ini terang akan merugikan nama baik Leng-sian sendiri.

Maka Leng-sian lantas mengangsurkan pedangnya kepada sang ayah. Tapi Put-kun tidak memegangnya, melainkan mengebaskan lengan bajunya untuk membebatnya.

“Jangan!” seru Put-kay mendadak. Cepat ia tanggalkan sepasang sepatunya dan disiapkan di tangan.

Benar juga, tertampak Gak Put-kun telah mengebaskan pula lengan bajunya sehingga pedang yang tadinya terbebat itu meluncur cepat ke arah Dian Pek-kong. Memangnya Put-kay sudah menduga, segera ia pun menyambitkan sepasang sepatunya.

Pedang lebih berat daripada sepatu, pula pedang meluncur lebih dulu. Tapi sungguh aneh, sepasang sepatu Put-kay ternyata dapat melampaui pedang bahkan terus memutar balik dan dari kanan-kiri sepasang sepatu itu berhasil mengait kedua sisi gagang pedang yang melintang itu. Pedang itu diputar balik mentah-mentah, malahan terus menyambar pula ke depan dan beberapa meter jauhnya kemudian baru jatuh dan menancap di atas tanah. Sepasang sepatu itu masih mencantol di atas pedang dan bergoyang-goyang.

“Wah, runyam benar!” seru Put-kay tiba-tiba. “Anak Lim, tadi ayah banyak membuang tenaga ketika menyembuhkan si anak menantu sehingga pedang itu hanya mencapai setengah jalan saja. Padahal pedang itu seharusnya menyambar sampai di depan guru menantumu baru jatuh ke bawah, dengan demikian baru dapat membuatnya kaget. Tapi sekarang ternyata gagal. Ai, sekali ini benar-benar runyam, sungguh memalukan.”

Melihat sikap Gak Put-kun yang tidak senang itu, cepat Gi-lim membisiki Put-kay agar jangan bicara lebih lanjut. Ia sendiri lantas menjemput kembali sepatu sang ayah. Ketika ia cabut pedang yang menancap di atas tanah itu, hatinya menjadi ragu, sebab diketahuinya Lenghou Tiong tidak ingin membunuh Dian Pek-kong, bila pedang itu dikembalikan kepada Gak Leng-sian dan nona itu yang turun tangan membinasakan Dian Pek-kong, hal ini tentu akan membikin susah kepada Lenghou Tiong.

Dalam pada itu Gak Put-kun melengak juga ketika melihat Put-kay dapat menggagalkan serangannya kepada Dian Pek-kong hanya dengan menyambitkan sepasang sepatu saja. Bahkan Hwesio gendut itu berkaok-kaok, katanya tadi telah banyak membuang tenaga lantaran habis menyembuhkan luka Lenghou Tiong. Walaupun demikian, betapa tinggi kepandaian si Hwesio memang jelas jauh lebih kuat daripada dirinya, sungguhpun kebasan lengan bajunya tadi belum sempat menggunakan Ci-he-sin-kang, tapi seorang tokoh terkemuka sekali menyerang tidak kena mana boleh mencoba lagi untuk kedua kalinya?

Maka sambil memberi hormat, dengan muka membesi Put-kun berkata, “Kagum, sungguh kagum sekali. Jika Taysu sudah bertekad akan membela jahanam cabul itu, hari ini tidak leluasa kuturun tangan lagi. Lalu Taysu ingin apa pula?”

Mendengar Gak Put-kun sudah menyatakan hari ini takkan turun tangan membunuh Dian Pek-kong, segera Gi-lim mendekati Leng-sian dan mengangsurkan pedang dengan hormat, katanya, “Cici, pedangmu ini ….”

Mendadak Leng-sian mendengus dan pegang senjata itu, tanpa memandang sekejap pun ia terus masukkan pedang ke dalam sarungnya.

“Hahahaha!” tiba-tiba Put-kay bergelak tertawa, “Lebih baik sekarang juga kita lantas berangkat saja anak menantuku. Sumoaymu sangat cantik, jika kau berada bersama dia, sungguh aku merasa khawatir.”

“Taysu agaknya memang suka berkelakar,” sahut Lenghou Tiong. “Tapi kata-kata yang mencemarkan nama baik Hing-san dan Hoa-san-pay hendaknya jangan dikeluarkan lagi.”

“Apa maksudmu?” tanya Put-kay dengan heran. “Dengan susah payah aku menemukanmu dan menyelamatkan jiwamu pula, tapi sekarang kau tidak mau mengawini putriku?”

Dengan muka merah padam Lenghou Tiong menjawab, “Budi pertolongan Taysu sudah tentu seumur hidup takkan kulupakan. Tapi Hing-san-pay mempunyai peraturan yang keras, bila Taysu mengucapkan kata-kata iseng demikian tentu akan membikin rikuh kepada Ting-sian dan Ting-yat Suthay.”

“Eh, anak Lim, apa-apaan calon menantuku ini? Sungguh aku … aku tidak paham?” demikian seru Put-kay.

Mendadak Gi-lim menangis sambil mendekap muka, serunya, “Kau jangan omong lagi, ayah, jangan omong lagi! Dia adalah dia, dan aku adalah aku, ada sangkut paut apa antara aku dan … dan dia?”

Segera ia lari cepat ke bawah gunung.

Put-kay garuk-garuk kepalanya yang gundul, untuk sejenak ia termangu-mangu, katanya kemudian, “Aneh, sungguh aneh! Bila tidak bertemu, dengan susah payah berusaha mencarinya. Tapi sesudah bertemu ditinggal pergi lagi? Ah benar-benar sangat mirip ibunya, perasaan Nikoh cilik memang sukar diraba.”

Habis ini segera ia pun lari pergi menyusul Gi-lim.

Dian Pek-kong juga lantas berbangkit perlahan. Sesudah minum obat penawar racun pemberian Put-kay tadi, sekarang daya kerja racun dalam badannya sudah berkurang. Katanya kepada Lenghou Tiong, “Sampai berjumpa pula, Lenghou-heng!”

Lalu ia putar tubuh dan turun ke bawah gunung dengan langkah lemah dan sempoyongan.

Sesudah Dian Pek-kong pergi jauh barulah Gak Put-kun membuka suara, “Anak Tiong, sungguh berbudi kau terhadap jahanam itu. Kau lebih suka melukai diri sendiri daripada membunuhnya.”

Lenghou Tiong rada malu. Ia tahu pandangan sang guru sangat tajam, tingkah lakunya yang pura-pura jatuh tadi tidak nanti dapat mengelabui mata gurunya. Terpaksa ia menjawab dengan menunduk, “Suhu, meski perbuatan orang she Dian itu tidak baik, tapi dia sudah berjanji akan mengubah perbuatannya, pula beberapa kali Tecu pernah dikalahkan olehnya dan selalu dia memberi ampun tanpa membunuh.”

“Hm, dengan bangsat berhati binatang begitu juga bicara tentang budi setia segala, selama hidup ini tentu kau akan merasakan akibatnya,” jengek Put-kun.

Biasanya ia sangat mengasihi muridnya yang tertua ini, maka terhadap perbuatannya yang pura-pura melukai diri sendiri waktu menghindari pembunuhan kepada Dian Pek-kong tadi tidak mengusutnya lebih lanjut. Pula ia merasa puas dengan jawaban Lenghou Tiong kepada Put-kay yang tegas itu. Maka persoalan Dian Pek-kong untuk sementara dikesampingkan. Tiba-tiba ia bertanya pula, “Dan di mana kitab itu?”

Waktu melihat sang guru pulang lagi bersama Sumoaynya, segera Lenghou Tiong tahu pasti peristiwa hilangnya kitab pusaka yang dicuri Leng-sian itu telah ketahui. Sekarang sang guru pulang lagi untuk mengurus, hal ini sangat kebetulan baginya malah.

Segera ia menjawab, “Kitab itu berada pada Laksute. Demi untuk menolong jiwaku, mohon Suhu jangan menyalahkan maksud baik Siausumoay itu. Namun tanpa seizin Suhu betapa pun Tecu tidak berani menyentuh kitab pusaka itu, lebih-lebih tentang isinya, membaca sekejap saja Tecu tidak berani.”

Seketika air muka Gak Put-kun tampak berubah tenang, katanya dengan tersenyum, “Memang seharusnya begitu. Bukannya aku tidak mau mengajarkan ilmu sakti itu padamu, soalnya perguruan kita masih menghadapi urusan gawat, keadaan sangat mendesak, maka aku tiada tempo buat memberi petunjuk padamu. Bila membiarkan kau melatihnya sendiri bukan mustahil akan tersesat dan tak keruan malah.”

Setelah merandek sejenak, lalu ia tanya pula, “Put-kay Hwesio tadi tampaknya angin-anginan, tapi Lwekangnya memang boleh juga. Apakah dia yang telah memunahkan enam arus hawa murni yang aneh dalam tubuhmu itu? Bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Rasa mual dan sesak dada sekarang sudah bilang, macam-macam siksaan rasa panas seperti dibakar sekarang juga sudah lenyap, hanya sekujur badan terasa lemas, sedikit pun tidak bertenaga,” sahut Lenghou Tiong.

“Habis sembuh dari luka parah sudah tentu lemah,” ujar Gak Put-kun. “Pertolongan jiwa Put-kay Hwesio padamu itu kita harus membalasnya kelak.”

Lenghou Tiong mengiakan.

Waktu Put-kun naik kembali ke Hoa-san, diam-diam ia khawatir akan kepergok oleh Tho-kok-lak-sian, kini ia merasa lega karena musuh-musuh itu tidak kelihatan bayangannya. Tapi ia pun tidak ingin tinggal lebih lama di situ, segera ia berkata, “Marilah kita mencari Tay-yu, lalu berangkat bersama ke Ko-san. Tiong-ji, apakah kau sanggup menempuh perjalanan jauh?”

Lenghou Tiong sangat girang, berulang-ulang ia menyatakan dapat dan sanggup.

Begitulah mereka bertiga lantas menuju ke pondok kecil di samping ruang pendopo, Leng-sian mendahului mendorong pintu dan masuk ke dalam. Tapi mendadak terdengar nona itu menjerit kaget, suaranya penuh rasa ngeri dan takut.

Berbareng Gak Put-kun dan Lenghou Tiong menyusul ke dalam. Maka tertampaklah Liok Tay-yu menggeletak tak berkutik di atas lantai.

“Jangan kaget, Sumoay,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Akulah yang menutuk roboh dia.”

“O, kiranya begitu, membikin kaget saja,” sahut Leng-sian. “Mengapa kau tutuk Lak-kau-ji?”

“Sebenarnya ia bermaksud baik, karena aku tidak mau membaca kitab pusaka itu dia lantas membacanya agar aku mendengarkan dengan baik. Karena aku tidak dapat menghalangi dia, terpaksa aku menutuknya supaya tak bisa berkutik. Tapi mengapa dia ….”

Belum habis Lenghou Tiong menutur, sekonyong-konyong Gak Put-kun bersuara “he” dan cepat memeriksa pernapasan Liok Tay-yu, lalu memegang nadinya pula. Lalu katanya terkejut, “He, mengapa dia … dia sudah mati? Tiong-ji, Hiat-to apa yang kau tutuk?”

Keruan kaget Lenghou Tiong tidak kepalang demi mendengar Liok Tay-yu sudah mati, ia terhuyung-huyung dan hampir saja jatuh kelengar.

“Aku … aku ….” katanya dengan suara gemetar, tapi ia tidak sanggup meneruskan lagi.

Ia coba meraba Liok Tay-yu, terasa sudah dingin dan kaku, nyata sudah lama matinya. Tak tertahan lagi ia menjerit menangis, “Lak … Laksute, engkau benar-benar telah meninggal?”

“Dan di manakah kitabnya?” tanya Put-kun.

Waktu Lenghou Tiong memandang dengan air mata berlinang-linang, memang benar kitab “Ci-he-pit-kip” itu sudah tak kelihatan lagi. Ia pun bertanya, “Ya, di manakah kitabnya?”

Cepat ia memeriksa baju Liok Tay-yu, tapi tiada menemukan apa yang dicarinya. Katanya kemudian, “Waktu Tecu menutuk roboh Laksute jelas masih terlihat kitab pusaka itu tertaruh di atas meja, mengapa … mengapa sekarang bisa hilang?”

Segera Leng-sian mencari lagi ke segenap pelosok pondok itu, tapi Ci-he-pit-kip itu benar-benar sudah menghilang. Keruan Gak Put-kun merasa cemas, ia coba periksa jenazah Liok Tay-yu, tapi tiada sesuatu tanda-tanda luka yang menyebabkan kematiannya. Di sekitar pondok, bahkan atas genting juga diperiksa, namun tiada sesuatu bekas yang menandakan pernah didatangi orang luar. Jika tiada orang luar pernah datang ke situ terang bukan Tho-kok-lak-sian atau Put-kay Hwesio yang mengambil kitab itu.

“Tiong-ji, sebenarnya Hiat-to mana yang telah kau tutuk?” tanya Put-kun dengan suara bengis.

Seketika Lenghou Tiong berlutut di hadapan sang guru, jawabnya, “Dalam keadaan terluka waktu itu Tecu khawatir kurang kuat menutuknya, maka yang kututuk adalah Tan-tiong-hiat, tak terduga malah membikin … membikin celaka Laksute.”

Habis berkata segera ia lolos pedang yang masih bergantung di pinggang Liok Tay-yu yang sudah tak bernyawa itu terus hendak menggorok leher sendiri.

Namun sekali Put-kun menjentik dengan jarinya, kontan pedang itu mencelat dan terbang keluar menembus daun jendela.

“Sekalipun ingin mati juga mesti menemukan Ci-he-pit-kip lebih dulu,” kata Put-kun dengan kereng. “Di mana telah kau sembunyikan kitab pusaka itu?”

Dingin sekali perasaan Lenghou Tiong, ternyata sang guru telah mencurigai dia menyembunyikan Ci-he-pit-kip.

“Suhu, kitab pusaka itu pasti telah dicuri orang. Betapa pun Tecu berjanji akan mencari dan menemukannya kembali tanpa kurang satu halaman pun.”

Kusut sekali pikiran Gak Put-kun, katanya, “Jika isi kitab itu sampai disalin atau dihafalkan orang di luar kepala, sekalipun akhirnya kitab itu diketemukan kembali juga tiada nilainya lagi disebut sebagai kitab pusaka perguruan kita.”

Setelah merandek, kemudian ia menyambung dengan suara ramah, “Anak Tiong, jika kau yang mengambil kitab itu hendaknya kau kembalikan saja. Suhu berjanji takkan mengomelimu.”

Lenghou Tiong melengak, ia memandang mayat Liok Tay-yu terkesima. Sekonyong-konyong menengadah dan tertawa panjang, lalu serunya, “Suhu, bila ada sepuluh orang yang membaca biar kubunuh sepuluh, kalau ada seratus orang juga seratus orang akan kubunuh. Dan bila Suhu masih tetap menyangsikan Tecu yang mencurinya, silakan Suhu bunuh Tecu saja sekarang dengan sekali hantam.”

Put-kun menggeleng, katanya, “Coba berdirilah. Bila kau mengaku tidak tentu juga tidak. Selamanya kau berhubungan sangat baik dengan Tay-yu, sudah tentu kau tidak sengaja membunuhnya. Cuma … kitab pusaka itu lantas dicuri siapa?”

Ia memandang jauh keluar jendela dan termangu-mangu.

“Ayah,” tiba-tiba Leng-sian menyela, “Anak yang bersalah. Akulah yang banyak bertingkah dan mencuri kitab pusaka ayah, siapa tahu Toasuko berkeras tak mau membacanya dan sekarang malah membikin jiwa Laksuko juga melayang. Biarlah anak … anak pergi mencari kitab itu.”

“Coba kita mencari sekali lagi di sekitar sini,” ujar Pun-kun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: