Hina Kelana: Bab 40. Tho-kok-lak-sian Takut kepada Kentut

Lenghou Tiong terbahak-bahak, tapi baru dua-tiga kali mengakak napasnya sudah sesak dan tidak sanggup tertawa lagi. Maka Dian Pek-kong meneruskan ceritanya, “Saat itu tubuhku terapung di atas, biarpun punya kepandaian setinggi langit juga tidak mampu melepaskan diri dari cengkeraman mereka, jangankan hendak menangkap mereka segala. Huh, mereka benar-benar mengoceh tak keruan, sialan ….” “Cara omong dan mau menang sendiri serta ngawur tak habis-habis begitu memang sifat khas Tho-kok-lak-sian,” demikian pikir Lenghou Tiong. Lalu ia tanya pula, “Dan bagaimana seterusnya?” “Lalu aku bilang bahwa aku tidak ingin tanya apa-apa kepada mereka, tapi merekalah yang tanya padaku, ‘Lekas lepaskan aku!’ pintaku. Namun satu di antara mereka lantas berkata, ‘Sekali kami sudah menangkapmu, jika tidak merobekmu menjadi empat potong kan membikin rusak nama besar kami?’ “Seorang lagi berseru, ‘Sesudah dia dirobek menjadi empat potong, dia masih dapat bicara tidak?’ – ‘Sudah tentu tidak dapat bicara lagi. Orang yang pernah kita robek menjadi empat potong sedikitnya berjumlah tiga ratus kalau tidak ada lima ratus. Kapan terjadi yang sudah kita robek masih dapat bicara pula?’ bantah kawannya.” Begitulah dengan terputus-putus Dian Pek-kong menceritakan pengalamannya. Meski sudah terluka parah, tapi ia masih ingat sejelasnya percakapan yang tak keruan yang pernah didengarnya itu, boleh jadi lantaran kesannya terlalu mendalam ketika dia kena dibekuk oleh Tho-kok-lak-sian. “Keenam orang itu benar-benar jarang ditemukan bandingannya di dunia ini,” kata Lenghou Tiong gegetun. “Aku … aku menderita begini pun akibat perbuatan mereka.” “Kiranya Lenghou-heng juga terluka oleh mereka?” Dian Pek-kong terkejut. “Mereka terus mengoceh dan bertengkar sendiri tak habis-habis, sedangkan badanku terapung di udara, terus terang aku pun merasa takut. Aku merasa mual juga terhadap pertengkaran mereka yang tidak masuk di akal itu. Segera aku berteriak, ‘Ayolah, kalau mau tanya lekas tanya, kalau aku terus diangkat begini saja, awas, segera aku akan melepaskan gas racun.’ “Seorang di antaranya tanya padaku, ‘Gas racun apa?’ – Aku menjawab, ‘Kentutku, baunya jangan ditanya lagi, barang siapa mengendus bau kentutku, tanggung tiga hari tiga malam tidak mampu makan, bahkan nasi yang telah kau makan tiga hari yang lalu juga akan tumpah semua. Nah, sudah kuperingatkan lebih dulu, jika kalian tidak menurut masa bodohlah jika nanti kalian kena gas racunku.’.” Lenghou Tiong tertawa, “Haha, ucapanmu ini cukup beralasan juga.” “Ya, memang,” seru Dian Pek-kong. “Demi mendengar kata-kataku itu, mendadak keempat orang itu menjerit takut, berbareng mereka membanting tubuhku ke tanah, mereka terus melompat minggir jauh-jauh. Waktu aku merangkak bangun, kulihat ada enam kakek yang sangat aneh, masing-masing sama pencet hidung sendiri, mungkin takut bau kentutku yang kukatakan seperti gas racun itu. Lenghou-heng, apakah maksudmu keenam kakek itu yang disebut Tho-kok-lak-sian?” “Benar,” Sahut Lenghou Tiong. “Ai, sayang aku tidak secerdik Dian-heng, waktu itu tak terpikir olehku untuk menggunakan ‘akal kentut’ untuk menakutkan mereka. Agaknya tipu akal Dian-heng ini tidak kalah dibandingkan tipu daya Khong Beng di zaman Sam Kok.” “Hehe, maknya,” Dian Pek-kong mengumpat sambil mengekek. Lalu katanya pula, “Kutahu keempat orang itu sukar dilawan, celakanya lagi senjataku ketinggalan di puncak gunungmu itu. Segera aku tancap gas hendak mengeluyur pergi. Tak terduga keenam orang yang masih pencet hidung sendiri itu segera mengadang di depanku dengan berjajar serapat dinding. “Tapi hehe, tiada seorang pun berani berdiri di belakangku, rupanya mereka benar-benar takut pada kentutku yang berbau busuk. Melihat di depan telah dibuntu oleh mereka, segera aku putar tubuh dan berbalik arah, tapi gerak-gerik keenam orang itu benar-benar seperti setan, entah cara bagaimana tahu-tahu mereka sudah mengadang di depanku lagi. “Sampai beberapa kali aku ganti arah dan tetap tak bisa meloloskan diri. Mendadak aku mendapat akal, aku berjalan mundur setindak demi setindak. Tapi mereka memburu dengan jalan ke depan, sudah tentu aku tak bisa lebih cepat daripada mereka, akhirnya aku terdesak sampai di dinding gunung dan tak bisa bergerak lagi. “Keenam orang aneh itu sama bergelak tertawa senang, seorang di antara lantas tanya padaku, ‘Dia berada di mana?’ – Aku balas tanya, ‘Siapa yang hendak kalian cari?’ – Keenam orang itu serentak berkata, ‘Kau telah kami kepung, kau yang harus menjawab pertanyaan kami!’ Seorang lagi berkata, ‘Jika kau dapat mengepung kami sehingga tak bisa lolos, barulah kau berhak tanya kepada kami. Sekarang kau harus menjawab dan bukan bertanya.’ “Orang yang tadi menukas, ‘Dia hanya sendirian, dari mana dia mampu mengepung kita berenam?’ Yang lain menjawab, ‘Bisa saja. Jika kepandaiannya amat tinggi, umpamanya dia mengurung kita di dalam sebuah gua, dia sendiri berjaga di mulut gua sehingga kita tersumbat tak bisa keluar. Bukankah itu pun berarti kita terkepung.’ – ‘Itu bukan terkepung, tapi tersumbat tak bisa keluar,’ sahut yang tadi. “Rupanya orang pertama itu tiada alasan buat berdebat lagi, tapi ia justru tidak mau kalah. Sesudah tertegun sejenak, mendadak ia tertawa sambil melonjak-lonjak, serunya, ‘Aha, betul, jika dia kentut terus-menerus sehingga kita tidak berani mendekatnya, dia kepung kita dengan kentut, dengan demikian bukankah kita akan terkepung benar?’ Keempat orang yang lain serentak bertepuk tangan dan berseru, ‘Betul, orang ini dapat mengepung kita dengan kentut!’ “Mendengar ucapan mereka itu, tiba-tiba pikiranku tergerak, mendadak aku angkat kaki dan berlari sambil berteriak, ‘Awas kalian jangan mengejar kalau takut kepada kentutku!’ Aku menduga mereka tentu takut pada kentutku dan tentu tak berani mengudak diriku. “Siapa tahu gerakan keenam makhluk aneh itu berpuluh kali terlebih cepat daripadaku, baru beberapa langkah aku berlari tahu-tahu aku sudah kena dibekuk lagi oleh mereka. “Tanpa ampun lagi aku didudukkan di atas sepotong batu dan ditekan sekuat-kuatnya sehingga tulang punggungku hampir-hampir patah. Sedemikian kuat mereka menekan tubuhku agar duduk kencang-kencang di atas batu sehingga sekalipun aku benar-benar ingin kentut juga tidak bisa mengeluarkan hawa busuk itu.” Saking gelinya Lenghou Tiong terbahak-bahak. Tapi baru dua-tiga kali tertawa mendadak darah di rongga dadanya bergolak lagi dan tidak mampu tertawa pula. Maka Dian Pek-kong menyambung pula ceritanya, “Sesudah aku didudukkan di atas batu dengan ditahan sekuatnya, seorang di antaranya lantas bertanya, ‘Dari mana datangnya kentut?’ – ‘Dari perut melalui usus besar terus keluar dari lubang pantat.’ – ‘Ya, tutuk saja Hiat-to bagian Siang-yang, Hap-kok-kik-ti dan Ging-hiang-hiat.’ “Habis berkata tangan pun lantas bergerak, sekaligus ia tutuk empat Hiat-to yang disebutkan itu. Betapa cepat dan jitunya cara menutuk sungguh jarang ada bandingannya. “Setelah menutuk Hiat-toku, keenam orang aneh itu sama menghela napas lega, seperti terbebas dari beban berat. Kata mereka, ‘Kutu tukang kentut ini sekarang tak mampu kentut lagi.’ Kemudian orang yang menutuk aku itu bertanya padaku, ‘He, sebenarnya di manakah orang itu? Jika kau tetap tak mau mengatakan, selamanya aku takkan membuka Hiat-tomu, biar kau ingin kentut tak terlepaskan, biar perutmu kembung dan akhirnya mampus.’ “Diam-diam aku berpikir sedemikian tinggi ilmu silat keenam makhluk aneh ini, kedatangan mereka ke Hoa-san ini tentu bukan mencari seorang keroco yang tak berarti. Padahal waktu itu guru dan ibu-gurumu tidak berada di rumah, seumpama sudah pulang tentu mereka diketemukan keenam orang aneh itu dan tidak perlu mencari lagi. Tapi sekarang mereka masih tetap mencari ‘orang itu’. Sesudah kupikir pulang-pergi, akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa orang yang sedang dicari keenam siluman itu tentu Thaysusiokcomu Hong-locianpwe.” Hati Lenghou Tiong tergetar, “Dan kau beri tahukan mereka tidak?” tanyanya. Dian Pek-kong merasa kurang senang, sahutnya, “Huh, memangnya kau anggap Dian Pek-kong ini manusia apa? Orang she Dian ini memang suka kepada bunga dan gemar pada wanita, namaku sudah busuk di kalangan Kangouw, tapi paling-paling juga terbatas dalam hal kegemaranku kepada kaum wanita saja, apakah pernah kau dengar aku buat kejahatan lain lagi? Sekali aku sudah berjanji padamu, tidak nanti aku membocorkan jejak Hong-locianpwe itu. Memangnya aku orang she Dian ini adalah manusia yang tak bisa dipercaya?” “Ya, ya, aku yang salah omong, harap Dian-heng jangan marah,” cepat Lenghou Tiong minta maaf. “Jika kau berani menghina aku lagi, biarlah kita putus hubungan, selanjutnya jangan saling anggap sebagai sahabat,” kata Dian Pek-kong pula. Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Kau ini maling cabul yang tak terampunkan bagi orang Bu-lim, siapa yang pernah anggap kau sebagai sahabat? Hanya saja beberapa kali kau tidak jadi membunuhku, meski kesempatan membunuh itu terbuka bagimu, maka aku anggap masih utang budi padamu.” Dalam kegelapan Dian Pek-kong tak bisa melihat air muka Lenghou Tiong, maka ia sangka pemuda itu diam-diam sudah menerima kata-katanya tadi. Segera ia melanjutkan, “Keenam makhluk aneh itu masih terus tanya padaku, aku sangat mendongkol dan merasa sebal, dengan suara keras aku berteriak, ‘Sudah tentu aku tahu di mana beradanya orang itu, tapi aku justru tidak mau mengatakan. Sedemikian banyak puncak di pegunungan Hoa-san ini, jika aku tidak mau omong, biarpun selama hidup juga kalian takkan menemukan dia.’ “Keenam orang itu menjadi gusar, mereka menggunakan kekerasan dan menyiksa diriku. Sejak itu aku lantas tak menggubris segala ocehan dua pertanyaan mereka. Lenghou-heng, ilmu silat keenam siluman itu benar-benar luar biasa, hendaknya lekas kau beri tahukan kepada Hong-locianpwe agar beliau dapat siap siaga sebelumnya.” “Dian-heng, terus terang kukatakan, orang yang hendak dicari Tho-kok-lak-sian itu adalah diriku dan bukan Hong-thaysusiokcoku,” tutur Lenghou Tiong. Dian Pek-kong tergetar kaget, “Kau? Kau yang dicari mereka? Untuk apa mereka mencari dirimu?” ia menegas. “Mereka pun sama dengan tujuanmu, atas permintaan Gi-lim Sumoay supaya mencari aku,” kata Lenghou Tiong. Dian Pek-kong melongo dan tak bisa bicara lagi. Lenghou Tiong tahu ilmu silat Tho-kok-lak-sian memang sukar dibayangkan oleh siapa pun juga. Tenaga dalam dan hawa murni mereka lebih-lebih luar biasa anehnya. Tapi Dian Pek-kong seenaknya saja mengatakan “mereka menyiksa diriku”, padahal kata-kata “menyiksa” itu entah meliputi penderitaan betapa hebatnya, hal ini dapat dibuktikan dengan penderitaan dirinya sekarang, apalagi Dian Pek-kong yang sengaja dipaksa bicara oleh keenam siluman itu, tentu penyiksaan yang mereka gunakan entah berapa puluh kali lebih keji dan lebih ganas. Teringat akan derita Dian Pek-kong dan rintihan sekarang, perasaan Lenghou Tiong merasa tidak tega. Katanya kemudian, “Dian-heng lebih suka mati daripada membocorkan jejak Hong-thaysusiokco, engkau benar-benar seorang yang paling bisa pegang janji di dunia ini, sungguh aku sangat kagum dan hormat.” “Orang she Dian ini adalah manusia yang tak terampunkan bagi tokoh-tokoh persilatan, tapi mendengar pujianmu sekarang, biar mati pun aku merasa puas,” kata Pek-kong. Tiba-tiba Lenghou Tiong terkesiap. Pikirnya, “Guru dan ibu-guruku sedang mencari dia di mana-mana dan ingin mencabut nyawanya, tapi aku malah memberi pujian padanya. Bila kata-kataku tadi didengar oleh Suhu dan Sunio, entah kena beliau itu akan betapa marahnya padaku?” Dalam pada itu terdengar Dian Pek-kong berkata pula, “Bila waktu itu akan mengetahui orang yang dicari keenam siluman itu adalah dirimu, tentu akan memberitahukan kepada mereka, dengan demikian aku tinggal ikut di belakang, mereka yang berhasil mengundangmu ke sana, maka aku pun tak perlu mati di Hoa-san sini akibat bekerjanya racun yang dalam tubuhku ini. Eh, aneh juga, jika kau telah jatuh di tangan keenam siluman itu, mengapa mereka tidak terus menggondolmu pergi menemui Siausuthay itu?” Lenghou Tiong menghela napas, katanya, “Hal itu terlalu panjang suntuk diceritakan. Dian-heng, barusan kau bilang racun akan bekerja dan engkau akan mati di Hoa-san sini?” “Seperti sudah pernah kukatakan padamu bahwa aku kena diracun orang, aku diharuskan dalam sebulan membawamu untuk menemui Siausuthay itu habis itu barulah aku akan diberi obat penawar racun. Sekarang aku tak dapat mengundangmu, untuk berkelahi juga aku sudah keok, sebaliknya aku malah babak belur dianiaya oleh keenam siluman itu, kalau dihitung sampai hari ini, kumatnya racun itu hanya kurang tujuh hari lagi.” “Jika begitu, sekarang Gi-lim Sumoay berada di mana? Kalau kita segera berangkat entah masih keburu atau tidak?” Dian Pek-kong menjadi girang, tanyanya, “Apakah kau mau pergi bersama aku?” “Telah beberapa kali engkau mengampuni jiwaku, meski tingkah lakumu tidak baik, namun aku pun tidak dapat tutup mata dan membiarkan engkau mati keracunan. Sebelum ini engkau memaksa aku dengan kekerasan, sudah tentu aku tidak mau menurut. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda dan aku pun telah berubah pikiran.” “Saat ini Siausuthay berada di Sucwan Utara, ai … kalau kita berdua dalam keadaan sehat walafiat mungkin masih keburu mencapai sana dengan menunggang kuda cepat, tapi sekarang kita kedua sama-sama terluka parah, jangankan tujuh hari, boleh jadi 70 hari pun sukar mencapai sana.” “Tapi daripada menunggu kematian di sini, biarlah kita coba-coba berangkat juga,” kata Lenghou Tiong. “Ya, siapa tahu kalau-kalau Tuhan memberkahi kita dan mungkin kita mendapatkan kereta bagus dan kuda cepat di bawah gunung, lalu dalam waktu tujuh hari kita dapat mencapai tempat tujuan.” “Hah, selama hidupku hanya berbuat kejahatan melulu, dosaku sudah kelewat takaran, masakah Tuhan mau memberkahi aku?” kata Dian Pek-kong dengan tertawa. “Tuhan Maha Pengasih, siapa yang mau insaf akan dosanya pasti akan diberi ampun,” kata Lenghou Tiong. “Toh akhirnya kita mesti mati, tiada alangannya kita coba-coba.” “Benar,” seru Dian Pek-kong sambil bertepuk tangan. “Kau memang sangat cocok dengan watakku, Lenghou-heng. Apa bedanya mati di atas gunung sini dan mati di tengah jalan? Kukira paling penting turun gunung dan mencari makanan enak lebih dulu. Apakah engkau sanggup berdiri. Lenghou-heng? Biar kupegang dirimu!” Ia menyatakan akan memegang Lenghou Tiong, padahal ia sendiri tidak mampu bangkit, Lenghou Tiong hendak mengulurkan tangan untuk memayang Dian Pek-kong, tapi tangan sama sekali tidak bertenaga. Dalam kegelapan napas kedua orang dapat terdengar oleh masing-masing, jarak mereka sangat dekat, celaka mereka sama-sama tak bisa berkutik, semakin hendak mengeluarkan tenaga semakin lemas. Sesudah berkutatan sekian lama dan tetap tak berguna, mendadak kedua orang sama-sama bergelak tertawa. Seru Dian Pek-kong, “Selama hidup Dian Pek-kong malang melintang di Kangouw tanpa seorang sahabat karib, sekarang dapat mati bersama Lenghou-heng di sini, sungguh menyenangkan juga.” “Kelak bila guruku melihat kita berdua, tentu beliau menyangka kita habis bertarung sengit dan akhirnya gugur bersama,” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa. “Ya, siapa pun tidak menyangka bahwa sebelum ajal malah kita telah saling mengeratkan persaudaraan.” “Lenghou-heng, marilah kita berjabat tangan baru mati bersama,” ajak Pek-kong sambil mengulurkan sebelah tangannya. Lenghou Tiong menjadi ragu-ragu. Teringat olehnya Dian Pek-kong itu adalah maling cabul yang terkenal busuk, sebaliknya dirinya sendiri adalah murid perguruan ternama dan terhormat, mana boleh bersahabat karib dengan dia. Maka sebelah tangannya yang sudah telanjur setengah jalan itu tidak diulurkan lagi. Dian Pek-kong tidak tahu perasaan Lenghou Tiong, ia sangka luka Lenghou Tiong terlalu parah sehingga lengan pun sukar bergerak, maka ia lantas berseru, “Lenghou-heng, hendaknya jangan khawatir. Sekali Dian Pek-kong telah mengikat persahabatan denganmu, maka biarpun kita tidak dilahirkan pada tahun atau bulan dan hari yang sama, bolehkah sekarang kita mati pada hari yang sama bulan dan tahun yang sama. Bila kau mati lebih dulu karena lukamu lebih parah, aku orang she Dian pasti takkan hidup sendirian lagi.” Lenghou Tiong terkesiap mendengar ucapan orang yang jujur ikhlas itu, pikirnya, “Orang ini benar-benar sahabat sejati, ucapannya barusan ini pasti tidak pura-pura.” Maka tanpa ragu lagi tangannya tadi lantas diulurkan, lantas memegang tangan orang, katanya dengan tertawa, “Dian-heng, kita berada bersama, kematian kita rasanya tidak terlalu kesepian.” Baru habis kata-katanya itu, tiba-tiba terdengar ada orang mendengus di belakang mereka, menyusul ada orang berkata, “Huh, murid utama Hoa-san-pay ternyata sedemikian jauh tersesatnya, sampai-sampai mau bersahabat dengan maling cabul yang dikutuk oleh setiap orang Kangouw.” “Siapa itu?” bentak Dian Pek-kong. Sedangkan Lenghou Tiong diam-diam mengeluh, “Wah, celaka. Ajalku sudah dekat, mati bagiku tidak menjadi soal, tapi juga membikin buruk nama baik Suhu, inilah yang rada runyam.” Dalam kegelapan, remang-remang hanya kelihatan sesosok bayangan orang berdiri di hadapan mereka. Orang itu menghunus pedang yang mengeluarkan cahaya gemilapan. “Lenghou Tiong,” orang itu berkata pula dengan tertawa dingin, “saat ini kau masih boleh menyatakan penyesalanmu, asalkan maling cabul she Dian ini kau bunuh saja, tentu tiada orang yang akan mencela hubunganmu dengan dia.” Habis berkata, “cret”, mendadak ia tancapkan pedangnya di atas tanah. Dari batang pedang yang berbentuk lebar itu segera Lenghou Tiong mengenalnya sebagai senjata kaum Ko-san-pay. Segera ia berkata, “Siapakah tuan dari Ko-san-pay ini?” “Hm, boleh juga pandanganmu, sekali lihat saja lantas kenal asal usulku,” kata orang itu. “Aku Ku An, murid Hui-suya, tokoh keempat Ko-san-pay.” “O, kiranya Ku-suheng adanya, selama ini kita jarang bertemu,” sahut Lenghou. “Entah ada keperluan apakah kunjunganmu ke Hoa-san kami ini?” “Aku ditugaskan oleh Ciangbun-supek (paman ketua) untuk meronda di sini, kami ingin tahu apakah murid Hoa-san-pay benar-benar tidak genah sebagaimana tersiar di luaran. Tak tersangka, hehe, begitu sampai di sini lantas terdengar percakapanmu yang sedemikian akrabnya dengan maling cabul ini.” “Bangsat, memangnya orang Ko-san-pay kalian ada yang baik? Mengapa kalian tidak periksa dan bercermin atas diri sendiri, sebaliknya suka urus perkara orang lain,” damprat Dian Pek-kong. “Bluk”, tanpa bicara lagi kontan Ku An menendang kepala Dian Pek-kong sambil membentak, “Anjing buduk, sudah hampir mampus masih berani membacot pula?” Akan tetapi Dian Pek-kong tidak merasa kapok, dia masih terus memaki “bangsat, anjing” dan macam-macam kata kotor lagi. Kalau Ku An mau cabut nyawa Dian Pek-kong sebenarnya terlalu mudah baginya, cuma dia memang sengaja hendak menghina Lenghou Tiong lebih dulu. Maka katanya pula sambil menjengek, “Lenghou Tiong, kau telah mengikat persahabatan dengan dia, jadi kau sudah pasti tidak mau dibunuh dia?” Lenghou Tiong menjadi gusar. Sahutnya lantang, “Aku mau membunuh dia atau tidak peduli apa denganmu? Bila berani boleh sekali tusuk binasakan Lenghou Tiong lebih dulu, kalau pengecut boleh lekas enyah dari sini dengan mencawat ekormu.” “Jadi kau pasti tidak mau membunuh dia dan tetapi mengakui maling cabul ini sebagai sahabat sejati?” Ku An menegas pula. “Peduli ada dengan siapa aku bersahabat?” sahut Lenghou Tiong. “Hm, pendek kata, dengan siapa pun aku bersahabat juga lebih baik daripada bersahabat denganmu.” “Hahaha! Bagus, bagus! Tepat sekali!” sorak Dian Pek-kong dengan tertawa “Huh, kau sengaja membikin aku murka supaya kubunuh kalian secepatnya, hm, jangan harap, di dunia tiada urusan semudah ini,” kata Ku An. “Aku justru ingin membelejeti kalian sampai telanjang bulat, akan kuikat kalian menjadi satu, lalu kututuk Hiat-to kalian supaya bisu, kemudian akan kupertontonkan kalian kepada umum dan mengatakan perbuatan kalian yang tidak senonoh dan secara kebetulan kepergok olehku. Haha, Gak Put-kun dari Hoa-san-pay kalian suka pura-pura suci, pura-pura berbudi, tapi sesudah pertunjukanmu nanti ingin kulihat apakah dia masih berani mengaku berjuluk ‘Kun-cu-kiam’ atau tidak?” Mendengar maksud orang yang keji itu, saking gusarnya seketika Lenghou Tiong jatuh pingsan. Sedangkan Dian Pek-kong lantas memaki pula, “Bangsat kep ….” belum sempat memaki lebih lanjut, tahu-tahu Hiat-to bagian pinggang sudah kena ditendang oleh Ku An, kontan mulutnya terganggu dan tak bisa bersuara lagi saking sakitnya. Ku An terkekeh-kekeh ejek, segera ia pegang Lenghou Tiong dan hendak membelejeti pakaiannya. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar di belakangnya ada suara orang perempuan yang lembut sedang menegurnya, “He, apa yang sedang dilakukan Toako ini?” Terkejut juga Ku An, cepat ia menoleh. Dilihatnya bayangan seorang wanita tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya. Segera ia menjawab, “Dan kau sendiri mau bikin apa di sini?” Mendengar suara wanita itu, girang luar biasa Dian Pek-kong, segera ia berseru, “Siau … Siausuhu, kiranya engkau sudah datang sendiri. Sungguh sangat kebetulan, bang … bangsat itu hendak mencelakai kau punya Lenghou-toako.” Kiranya pendatang ini tak lain tak bukan adalah Gi-lim. Keruan Gi lim menjadi khawatir demi mendengar orang yang menggeletak di atas tanah itu adalah “dia punya Lenghou-toako”, cepat ia melompat maju sambil berseru, “He, Lenghou toako, apakah betul engkau ini?” Melihat perhatian Gi-lim sedang dicurahkan seluruhnya terhadap Lenghou Tiong yang menggeletak tak berkutik itu, tanpa pikir lagi jari Ku An lantas menutuk iga Gi-lim. Tak terduga, baru saja jari hampir menyentuh baju Nikoh jelita itu, sekonyong-konyong kuduk sendiri kena dicengkeram orang, menyusul tubuhnya lantas terangkat ke atas sehingga terapung hampir satu meter di atas tanah. Keruan Ku An terperanjat sekali, sikut kanan segera ia ayun ke belakang untuk menyodok, tapi mengenai tempat kosong. Menyusul kaki kiri lantas mendepak ke belakang, tapi lagi-lagi mengenai tempat kosong. Keruan ia tambah kaget, kedua tangannya cepat diangkat ke belakang untuk menangkap tangan lawan. Namun pada saat itu juga lehernya sudah kena dicekik oleh sebuah tangan yang lebar dan kasar, seketika napasnya menjadi sesak, sedikit pun tak bisa mengerahkan tenaga lagi. Dalam pada itu Lenghou Tiong telah mulai siuman, ia dengar suara seorang wanita sedang memanggilnya dengan rasa cemas, “Lenghou-toako, Lenghou-toako!” Samar-samar ia dapat mengenali seperti suaranya Gi-lim. Waktu ia membuka mata, di bawah sinar bintang yang remang-remang dilihatnya sebuah wajah yang putih ayu berhadapan dengan muka sendiri dalam jarak cuma belasan senti jauhnya. Siapa lagi kalau bukan Gi-lim adanya. Tiba-tiba didengarnya pula suara seorang yang sangat keras sedang bertanya, “Anak Lim, apakah si penyakitan kurus kering ini adalah Lenghou Tiong?” Ketika Lenghou Tiong berpaling ke arah suara itu, ia sendiri menjadi kaget. Dilihatnya seorang Hwesio yang sangat tinggi dan sangat gemuk sedang berdiri di situ laksana sebuah menara baja. Tinggi Hwesio itu sedikitnya tujuh kaki, memakai Kasa (jubah padri) merah, mesti di tengah malam gelap masih jelas kelihatan warna Kasanya yang merah darah itu. Tertampak tangan kirinya terjulur lurus ke depan, kuduk Ku An terpegang olehnya dan terangkat sehingga kakinya kontal-kantil lemas, entah sudah mati atau masih hidup. “Ayah, memang dia inilah … Lenghou-toako, tapi bukan si penyakitan,” sahut Gi-lim, sambil bicara pandangannya tak pernah meninggalkan muka Lenghou Tiong, tampaknya ia hendak mengulur tangan untuk meraba pipi pemuda itu, tapi seperti tidak berani pula. Lenghou Tiong sangat heran, pikirnya, “Kau ini seorang Nikoh cilik, mengapa memanggil Hwesio gede itu sebagai ayah? Hwesio punya anak saja sudah mengejutkan orang, apalagi putri Hwesio itu adalah seorang Nikoh pula, hal ini lebih-lebih luar biasa.” Dalam pada itu Hwesio besar gemuk itu sedang mengakak tawa, katanya, “Hahaha! Lenghou Tiong yang kau rindukan siang malam ini tadinya kukira adanya seorang laki-laki gagah baik, siapa tahu cuma seorang kurus kering yang tak becus dan menggeletak tak bisa berkutik begini. Orang penyakitan begini aku tidak mau mengambil sebagai menantu, kita jangan gubris dia, marilah pergi saja.” Gi-lim menjadi malu dan gugup pula, katanya, “Siapa yang rindu siang dan malam? Engkau memang suka ngaco-belo tak keruan. Mau pergi boleh pergi sendiri saja. Aku … aku tak mau ….” Sebaliknya Lenghou Tiong menjadi gusar karena dirinya dimaki sebagai penyakitan, dianggap tak becus segala. Segera ia menjawab, “Kau mau pergi boleh pergi, memangnya siapa yang menahanmu di sini?” Di luar dugaan Dian Pek-kong menjadi kelabakan malah, teriaknya, “He, jangan, jangan pergi!” “Memangnya kau suruh dia jangan pergi?” tanya Lenghou Tiong. “Habis, obat penawar racun yang kuperlukan berada padanya, jika dia pergi begitu saja kan jiwaku bisa melayang?” ujar Dian Pek-kong. “Aku kan sudah menyatakan akan mati bersamamu, bila racunmu kumat dan mati, seketika aku juga membunuh diri,” kata Lenghou Tiong. Mendadak Hwesio gede tadi bergelak tertawa, suaranya keras menggema lembah pegunungan. Serunya kemudian, “Bagus, bagus! Kiranya bocah ini adalah seorang yang punya jiwa kesatria. Anak Lim, dia sangat mencocoki seleraku. Cuma masih ada suatu hal yang harus kita tanya jelas padanya, dia minum arak atau tidak?” “Sudah tentu, mengapa aku tidak minum arak. Bila sudah menyaksikan sifat rakusku dalam hal minum arak, siang minum malam minum, dalam mimpi juga minum arak. Bila menyaksikan sifat rakusku dalam hal minum arak, tanggung akan membikin mati kaku Hwesio besar macam dirimu yang pantang minum arak, pantang makan daging, pantang membunuh, pantang mencuri, pantang mendusta dan entah pantang apa lagi.” “Hahahaha!” Hwesio gede itu mengakak lagi. Katanya, “Anak Lim, coba katakan padanya apa gelaran agama ayahmu ini.” Maka dengan tersenyum Gi-lim berkata, “Lenghou-toako, gelar ayahku adalah ‘Put-kay’ (tidak pantang), beliau adalah murid Buddha, namun segala peraturan suci dan pantangan agama tidak mengikat beliau, sebab itulah beliau mengambil nama ‘Put-kay’ itu. Hendaknya engkau jangan menertawainya, beliau memang tidak pantang segala, tidak pantang arak tidak pantang daging, membunuh maupun mencuri juga dilakukan olehnya, bahkan … bahkan mempunyai seorang putri seperti … seperti aku ini.” Sampai di sini ia pun mengikik geli sendiri. Lenghou Tiong juga lantas terbahak-bahak, serunya lantas, “Hahaha! Hwesio demikian barulah menyenangkan benar!” Sembari bicara ia terus meronta hendak berdiri, tapi kemauan ada, tenaga kurang, betapa pun sukar berbangkit. Cepat Gi-lim membantunya dengan memayangnya bangun. Mesti dia adalah Nikoh jelita yang masih malu-malu, tapi setidak-tidaknya dia belajar silat, jangankan cuma memayang bangun saja, sekalipun mengangkat tubuhnya juga bukan hal sulit baginya. Maka dengan tertawa Lenghou Tiong berkata pula, “Laupek (paman), jika segala apa kau perbuat, mengapa engkau tidak menjadi orang preman saja, buat apa mesti pakai Kasa segala?” “Hal ini ada alasannya,” sahut Put-kay Hwesio. “Justru karena aku tidak pantang berbuat apa pun, makanya aku menjadi Hwesio. Sama halnya seperti dirimu, aku telah menyukai seorang Nikoh cantik ….” “Engkau sembarangan mengoceh lagi, ayah!” sela Gi-lim tiba-tiba dengan wajah merah. Untung dalam gelap sehingga orang lain tidak melihatnya. Dalam pada itu Put-kay berkata pula, “Seorang laki-laki sejati berani berbuat harus berani terus terang, biarpun dimaki atau ditertawai orang peduli apa. Aku Put-kay Hwesio adalah laki-laki sejati, apa yang mesti kutakuti?” “Tepat!” Lenghou Tiong dan Dian Pek-kong mengiakan berbareng. Dasar Put-kay Hwesio itu memang suka dipuji, keruan ia makin menjadi, dengan gembira ia menyambung pula, “Hehe, Nikoh cantik yang kucintai itu tak-lain tak-bukan adalah ibunya.” Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Kiranya Gi-lim Sumoay punya ayah seorang Hwesio dan ibunya adalah seorang Nikoh pula.” “Dahulu aku adalah seorang jagal hewan,” demikian Put-kay menyambung pula, “aku mencintai ibunya. Akan tetapi ibunya tidak mau menggubris diriku, tiada jalan lain terpaksa aku menjadi Hwesio. Menurut jalan pikiranku waktu itu, Hwesio dan Nikoh adalah sekaum, jika Nikoh tidak suka kepada si jagal tentu akan suka pada Hwesio.” “Ayah, mulutmu selalu mencerocos tak keruan, sudah tua masih seperti anak kecil saja cara bicaramu,” omel Gi-lim. “Memangnya aku salah omong?” sahut Put-kay. “Cuma waktu itu tak terpikir olehku bahwa sesudah menjadi Hwesio, maka tak boleh lagi bergaul dengan kaum wanita, bahkan bergaul dengan Nikoh juga dilarang. Jadi maksudku ingin mendapatkan ibunya menjadi tambah sukar. Aku menyesal dan tidak mau menjadi Hwesio lagi. Tak terduga guruku justru mengatakan pembawaanku harus menjadi Hwesio, aku dilarang kembali menjadi preman dan akhirnya entah cara bagaimana ibunya juga jatuh hati karena kesungguhanku dan … dan lahirlah seorang Nikoh cilik. Kau sekarang sudah jauh lebih bebas daripada zamanku dahulu, anak Tiong. Kau menyukai seorang Nikoh cilik seperti anakku ini dan tidak perlu menjadi Hwesio seperti aku.” Lenghou Tiong menjadi serbarunyam mendengar uraian Put-kay itu. Pikirnya, “Dahulu aku menolong Gi-lim Sumoay karena waktu itu dia jatuh di bawah cengkeraman Dian Pek-kong. Dia adalah Nikoh suci dari Hing-san-pay, mana boleh berhubungan cinta dengan orang biasa? Dia menyuruh Dian Pek-kong dan Tho-kok-lak-sian agar mencari diriku untuk bertemu dengan dia, boleh jadi dia benar-benar terguncang imannya karena untuk pertama kalinya dia bergaul dengan kaum lelaki. Dalam persoalan ini aku harus menghindar selekasnya supaya tidak mencemarkan nama baik Hoa-san dan Hing-san-pay, jangan sampai aku didamprat oleh guru dan ibu guru, bahkan akan dipandang hina oleh Leng-sian Siausumoay.” Dalam pada itu Gi-lim sendiri juga sangat kikuk, katanya, “Ayah, Lenghou-toako sudah punya pilihannya sendiri, mana dia sudi kepada orang lain. Selanjutnya engkau … engkau jangan menyinggung hal ini lagi, supaya tidak ditertawai orang.” “Hah, bocah ini sudah pilihan orang lain katamu? Kurang ajar!” teriak Put-kay. Tangan kanan terus mencengkeram dada, Lenghou Tiong tidak mampu menghindarkan cengkeraman orang. Seketika dia kena dipegang terus diangkat ke atas. Jadi tangan kiri Put-kay Hwesio memegang kuduk Ku An dan tangan kanan menjambret dada Lenghou Tiong, kedua tangan terjulur lurus laksana memikul dua orang. “Ayah, lekas lepaskan Lenghou-toako!” seru Gi-lim khawatir. “Lepaskan, kalau tidak aku akan marah, lho!” Aneh juga, demi mendengar putranya akan “marah”, seketika Put-kay sangat takut dan lekas menaruh Lenghou Tiong ke bawah, namun mulutnya masih mengomel, “Nikoh jelita mana lagi yang dia penujui? Sungguh kurang ajar!” Karena Put-kay sendiri menyukai seorang Nikoh cantik, maka menurut jalan pikirannya di dunia ini tiada wanita yang lebih cantik lagi daripada kaum Nikoh. “Gadis pilihan Lenghou-toako adalah Sumoaynya sendiri, Gak Leng-sian, Gak-siocia,” kata Gi-lim. Mendadak Put-kay mengerang keras-keras sehingga anak telinga setiap orang mendenging-denging. Lalu katanya, “Nona she Gak katamu, keparat, apanya yang menarik sehingga ia kepincut? Lain kali bila kulihat dia tentu akan kucekik mampus dia.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: