Hina Kelana: Bab 4. Keluar Pintu Lebih Dari Sepuluh Langkah: Mati

Semula Cin-lam menduga ada orang mendadak binasa lagi, tetapi semalam orang-orang yang dikirim keluar untuk menyelidiki dan meronda itu seluruhnya ada 23 orang, masakah mungkin seluruhnya amblas?

Maka cepat ia tanya, “Apakah ada orang mati lagi? Besar kemungkinan mereka masih melakukan tugas penyelidikan dan belum sempat pulang lapor.”

Namun Piauthau itu menggeleng kepala dan menjawab, “Sudah … sudah diketemukan 17 sosok jenazah ….”

“Haaaah! 17 sosok jenazah?” Cin-lam dan Peng-ci menegas berbareng.

“Ya, 17 sosok,” sahut Piauthau itu dengan roman penuh rasa cemas dan khawatir. “Di antaranya terdapat Thio-piauthau, Go-piauthau dan lain-lain, jenazah-jenazah itu sekarang berada di ruangan tengah.”

Tanpa bicara lagi, Cin-lam lantas menuju ke ruang tengah dengan langkah lebar. Tertampaklah meja kursi di ruang besar itu sudah disingkirkan, sebagai gantinya 17 sosok jenazah telah membujur di situ secara berjajar-jajar.

Biarpun selama hidup Lim Cin-lam sudah banyak mengalami damparan gelombang badai, tetapi sekonyong-konyong menyaksikan adegan yang demikian ini, mau tak mau kedua tangannya rada gemetar juga, kedua kaki pun terasa lemas dan hampir-hampir tak sanggup berdiri tegak. “Seb … sebab ….” demikian ia ingin tanya, tapi tenggorokan serasa kering dan sukar mengeluarkan suara.

Tiba-tiba terdengar pula di luar ada orang berkata, “Ai, Ko-piauthau biasanya sangat jujur dan baik hati, siapa nyana jiwanya juga kena direnggut setan jahat.”

Maka tertampaklah beberapa orang penduduk tetangga telah menggotong masuk sesosok jenazah dengan daun pintu, seorang setengah umur di antaranya lantas berkata, “Waktu membuka pintu tadi mendadak hamba melihat sesosok tubuh menggeletak di tengah jalan, kemudian dapat dikenali sebagai Ko-piauthau dari perusahaan kalian. Mungkin dia terkena penyakit menular atau kemasukan setan, maka sengaja kami antar pulang ke sini.”

“Terima kasih, terima kasih!” sahut Cin-lam sambil memberi hormat. Lalu katanya kepada seorang pegawainya, “Para tetangga yang baik hati ini masing-masing boleh dipersen tiga tahil perak, lekas, pergi mengambil pada kasir.”

Namun sebelum menerima hadiah, demi tampak di tengah ruangan situ sudah penuh mayat, lekas-lekas saja para tetangga itu sudah mohon diri lebih dahulu.

Tidak lama kemudian, kembali ada orang mengantar pulang tiga-empat sosok jenazah para Piausu yang lain. Cin-lam coba menghitung jumlah korban itu, semalam dia telah mengirim keluar 23 orang, sekarang sudah ada 22 sosok jenazah, hanya ketinggalan mayat Ci-piausu saja yang belum diketemukan. Namun hal ini terang hanya soal waktu saja.

Ia kembali ke kamarnya, diminumnya secangkir teh panas, tapi perasaannya kusut dan sukar ditenangkan.

Tiba-tiba Peng-ci datang memberi tahu, “Ayah, ada seorang Ang-suya dan seorang Pi-lothau dari kantor kabupaten ingin bertemu padamu.”

Sebenarnya Cin-lam tidak ingin terima tamu, tapi mengingat tempatnya telah jatuh korban jiwa sebanyak ini, kalau dari kantor pemerintah ada petugas yang datang, mau tak mau mereka harus ditemui juga.

Begitulah, terpaksa ia keluar untuk melayani tamu-tamu itu, tapi sama sekali ia tidak menyinggung tentang ada orang datang menuntut balas sehingga terjadi urusan, ia hanya mengatakan besar kemungkinan berjangkit penyakit pes atau penyakit menular yang lain sehingga banyak di antara pegawainya telah ikut menjadi korban.

Tapi orang she Pi yang bertugas sebagai opas itu lantas berkata, “Congpiauthau, maafkan jika aku dianggap usil mulut, namun kukira sebaiknya engkau lekas pergi mengundang seorang ahli nujum dan coba tanya dia sebab apakah tempat kediamanmu ini tidak selamat, apakah karena arahnya tidak betul atau waktunya tidak cocok atau sebab lainnya.”

Sedangkan Ang-suya, juru tulis kabupaten, lantas menanggapi, “Ya, apa yang dikatakan Pi-loji memang tidak salah. Selamanya Congpiauthau mengusahakan pengawalan tentu tidak terhindar dari menimbulkan korban jiwa. Nasib orang sering kali susah diduga, boleh jadi tahun ini Congpiauthau lagi apes sehingga setan iblis pun datang menggoda. Sebaiknya panggil saja serombongan Hwesio atau Tosu untuk mengadakan kenduri dan melenyapkan sial, kerja demikian tentu tidaklah sukar untuk dilaksanakan.”

Cin-lam merasa sebal melayani mereka, sambil mengiakan secara tak acuh ia lantas suruh orang pergi mengambil 100 tahil perak untuk dibagikan kepada kedua petugas pemerintah itu.

Akan tetapi opas Pi itu menolak, katanya dengan tertawa, “Congpiauthau adalah kawan sendiri, kedatangan kami hanya main-main saja, toh bukan menyelidiki perkara, mana boleh kami minta uang? Pula perkara jiwa sebanyak ini, andaikan kami diharuskan menanggung perkara ini rasanya juga tidak mau terima uang yang sedikit ini. Betul tidak? Hahahaha!”

Sungguh dalam hati Cin-lam gusar tak terkatakan, pikirnya, “Kurang ajar! Hanya seorang opas keroco saja berani menggunakan kesempatan ini untuk memeras padaku? Hm, aku Lim Cin-lam kalau mau membunuh seorang opas kecil sebagai kau adalah seperti memites mati seekor semut saja.”

“Ah, ucapan adik Pi terlalu sembrono, hendaklah Lim-congpiauthau jangan marah,” demikian Ang-suya lantas mengipasi dengan tertawa. “Perkara ini dibilang besar memang tidak besar, dikatakan kecil sesungguhnya juga tidak kecil, tentu pihak atasan akan tetap mengusut. Cuma Congpiauthau boleh jangan khawatir, dalam urusan dinas paling tidak hamba masih dapat memberi bantuan, asalkan sehelai laporan singkat menyatakan di sini telah terjadi penyakit menular, maka segala apa akan menjadi beres dan habis perkara.”

“Ya, betul juga, supaya sama-sama tidak repot,” ujar Cin-lam. Segera ia suruh orang mengambil pula 100 tahil perak. Dengan demikian barulah kedua orang she Pi dan Ang itu merasa puas, setelah mengucapkan terima kasih mereka lantas mohon diri.

Waktu Cin-lam mengantar keluar, dilihatnya kedua tiang benderanya sudah diangkat seluruhnya dari tempat altar, hatinya menjadi tambah kesal. Sampai saat ini musuh sudah membinasakan lebih dari 20 orang Piaukiok, tapi masih tetap tidak unjuk muka, juga belum menantang secara terang-terangan dan memperkenalkan diri.

Ia menoleh dan memandang papan merek Hok-wi-piaukiok yang terpasang di atas pintu itu. Pikirnya, “Hok-wi-piaukiok sudah beberapa puluh tahun malang melintang di dunia Kangouw, siapa duga hari ini akan hancur di tanganku?”

Mendadak terdengar suara derapan kuda dari jalan raya sana, beberapa ekor kuda dengan perlahan-lahan sedang mendatangi. Waktu Cin-lam membalik tubuh, dilihatnya seluruhnya ada empat ekor kuda, semuanya tanpa penunggang, tapi di punggung kuda-kuda itu ada orang tengkurap secara melintang. Diam-diam Cin-lam sudah dapat menerka beberapa bagian, cepat ia memapak maju. Benar juga, empat tubuh yang melintang di atas kuda itu adalah mayat semua dan dikenali adalah Tio, Ciu, Pang dan Ciang-piauthau yang kemarin ditugaskan pergi mengejar Su-piauthau itu, terang mereka terbunuh di tengah jalan, lalu mayat mereka ditaruh melintang di atas kuda, karena kuda-kuda itu kenal jalanan dan sekarang telah pulang sendiri.

Waktu Cin-lam periksa jenazah-jenazah itu, semuanya juga tiada tanda terluka apa-apa, senjata dan uang yang dibawa para Piauthau itu pun tiada yang kurang.

Dan baru saja Cin-lam menyuruh usung keempat jenazah itu ke dalam rumah, tiba-tiba datang lagi seorang pengemis berbaju compang-camping dan menggendong satu orang. Dari pakaiannya Cin-lam mengenali orang yang digendong itu adalah Ci-piausu. Diam-diam ia membatin, “Sekarang seluruh jenazah sudah lengkap kembali semua.”

Segera ia memberi tanda kepada seorang tukang kawal yang berdiri di sebelahnya agar menyelesaikan urusan-urusan di situ, lalu ia putar tubuh masuk ke dalam.

Sekonyong-konyong terdengar Ci-piauthau berseru dengan suara lemah, “Cong … Congpiauthau, dia … dia suruh aku ….”

Cin-lam terkejut dan girang pula, cepat ia berpaling dan mendekati sambil berkata, “Ci-hiante, kiranya engkau tidak mati.”

Waktu Ci-piauthau diangkat bangun, tertampak kedua matanya tertutup rapat dan mulut masih mendesiskan kata-kata, “Dia suruh aku me … menyampaikan padamu bahwa … bahwa Siaupiauthau ….”

“Ya, ya, Siaupiauthau kenapa?” Cin-lam menegas.

“Bahwa Siaupiauthau akan … akan … akan ….” berulang-ulang Ci-piauthau hendak menyambung ucapannya, akan tetapi napasnya sudah kempas-kempis dan tidak kuat lagi, setelah badan berkejang dan berkelojotan sejenak, lalu putus napasnya.

Cin-lam menghela napas panjang, air mata pun bercucuran dan menetes di atas tubuh Ci-piauthau yang sudah tak bernyawa itu.

Sambil memondong jenazah itu ke dalam, Cin-lam berkata, “Ci-hiante, aku bersumpah takkan menjadi manusia jika tidak membalaskan sakit hatimu. Cuma sayang … sayang kau mangkat terlalu cepat dan tidak sempat mengatakan nama pihak musuh.”

Sebenarnya Ci-piauthau itu tiada sesuatu yang menonjol di dalam Piaukiok, juga tiada sesuatu hubungan istimewa dengan Cin-lam, soalnya hati Cin-lam saking terharu sehingga meneteskan air mata, padahal rasa gusar lebih banyak daripada rasa dukanya.

Ia lihat Ong-hujin sedang berdiri di depan ruangan sambil memegang golok emas, tangan kanan menuding ke arah pelataran dan sedang memaki, “Kawanan bangsat yang rendah, hanya pandai main sembunyi-sembunyi dan mencelakai orang secara menggelap. Jika memang orang gagah dan kesatria sejati seharusnya datang ke Hok-wi-piaukiok secara terang-terangan, marilah kita bertempur secara blak-blakan, tapi pintarnya cuma main sergap dan kasak-kusuk seperti kawanan tikus, kaum pengecut demikian apakah bisa dianggap sebagai orang persilatan?”

“Niocu (istriku), apakah kau melihat sesuatu yang mencurigakan?” tanya Cin-lam dengan suara tertahan sambil meletakkan jenazah Ci-piauthau ke atas tanah.

“Justru karena tidak melihat apa-apa,” kata Ong-hujin dengan suara keras. “Kawanan bangsat anjing itu tentu takut pada 17 jurus Pi-sia-kiam-hoat dan 108 gerakan Hoan-thian-ciang kita serta ….” ia putar golok emasnya dan menebas sekali ke udara, lalu menyambung, “takut juga kepada golok emas nyonya besar ini!”

Pada saat itulah mendadak terdengar di ujung atap rumah sana ada suara orang mendengus, berbareng sebentuk senjata gelap terus menyambar tiba dengan membawa suara mendenging. “Trang”, golok emas Ong-hujin tepat kena tertimpuk. Seketika nyonya itu merasa tangan kesemutan, golok terlepas dari cekalan, bahkan terus terpental ke pelataran.

Tanpa bicara lagi Cin-lam terus mengayun tangannya, kontan dua titik perak menyambar ke pojok atap sana, menyusul sinar hijau berkelebat, pedang dilolos pula, sekali lompat ia sudah berada di wuwungan rumah, dengan gerakan “Sau-thong-kun-mo” (menyapu bersih kaum iblis), di mana sinar pedang memancar, dengan cepat ia menusuk ke tempat datangnya senjata gelap musuh tadi.

Sudah beberapa hari Cin-lam menahan dongkolnya dan selama itu belum pernah melihat bayangan musuh, sekarang ada kesempatan berhadapan dengan musuh yang dinanti-nantikan, maka jurus serangannya itu dilontarkan dengan sepenuh tenaga, sedikit pun tidak memberi ampun.

Siapa duga tusukannya itu ternyata mengenai tempat kosong, pojok wuwungan situ ternyata kosong melompong, tiada bayangan seorang pun. Sekali loncat segera Cin-lam melayang ke wuwungan rumah sebelah timur yang lebih tinggi, tapi bayangan musuh tetap tidak kelihatan. Dalam pada itu Ong-hujin dan Peng-ci juga sudah memburu tiba untuk memberi bantuan.

Karena senjatanya dipukul jatuh oleh senjata rahasia musuh, keruan Ong-hujin berjingkrak-jingkrak gusar, teriaknya murka, “Hayo, kawanan bangsat anjing, kalau berani keluarlah untuk bertempur mati-matian, hanya main sembunyi terhitung anak anjing macam apa itu?”

Karena tidak mendapat jawaban, kemudian ia tanya sang suami apakah musuh sudah lari dan bagaimana rupanya.

Namun Cin-lam hanya menggeleng kepala saja, sahutnya dengan suara perlahan, “Jangan bersuara keras supaya tidak mengejutkan orang lain!”

Setelah mereka bertiga mengelilingi dan mencari seputar wuwungan rumah dan tetap tidak menemukan jejak musuh, akhirnya mereka melompat kembali ke pelataran rumah sendiri.

“Sungguh gila, sampai-sampai dua batang panahku juga kena ditangkap musuh, tapi bayangannya saja tiada kelihatan, benar-benar luar biasa,” kata Cin-lam dengan suara rendah.

“Bisa demikian?” baru sekarang Ong-hujin terkejut.

“Dengan senjata gelap apakah golokmu tertimpuk?” tanya Cin-lam.

“Entah, bangsat benar!” maki Ong-hujin.

Segera kedua orang memeriksa sekitar pelataran dan tidak tampak sesuatu senjata rahasia musuh yang jatuh tadi. Hanya di bawah pohon sana banyak tersebar pasir-pasir batu bata yang lembut. Nyatalah bahwa musuh telah menggunakan sepotong kecil bata untuk menyambit golok Ong-hujin. Hanya sepotong kecil batu bata saja membawa tenaga sekuat itu, sungguh mengagumkan dan menyeramkan pula.

Kalau semula Ong-hujin masih mencaci maki, sesudah menyaksikan remukan batu bata di bawah pohon itu, rasa gusarnya tadi tanpa terasa berubah menjadi jeri. Ia termangu-mangu sejenak, tanpa bicara lagi kemudian ia masuk ke kamar.

Sesudah sang suami dan putranya juga sudah ikut masuk, cepat-cepat ia lantas menutup pintu kamar, katanya dengan suara bisik-bisik, “Kepandaian musuh terlalu lihai, kita bukan tandingannya, lantas … lantas bagaimana ….”

“Urusan sudah kadung begini, terpaksa kita harus minta bantuan kepada sahabat,” kata Cin-lam. “Saling membantu di waktu menghadapi kesukaran adalah soal jamak di dalam dunia persilatan.”

“Ya, sahabat baik kita memang tidak sedikit, tapi orang yang berkepandaian lebih tinggi daripada kita hanya terbatas beberapa orang saja,” ujar Ong-hujin. “Jika orang yang berkepandaian lebih rendah dari kita, andaikan diundang membantu juga tiada gunanya.”

“Betul juga pendapatmu,” kata Cin-lam. “Tapi orang banyak tentu akan punya pikiran banyak pula, tiada jeleknya jika kita berunding dengan para kawan.”

“Habis siapa saja yang akan kau undang?” tanya sang istri.

“Kita mengundang yang berdekatan dahulu, seperti para jago yang terdapat di kantor cabang Hangciu, Lamjiang dan Kwiciu, habis itu baru para kawan dunia persilatan di daerah Hokkian, Ciatkang, Kwitang dan Kangsay dapat kita undang pula, misalnya Tan-lokunsu di Unciu, Kio It-liong di Coanciu dan Ho Tiong, Ho-jiko dari Ciangciu, semuanya dapat kita kirim undangan.”

“Cara minta bala bantuan begini, kalau sampai tersiar di luaran benar-benar akan sangat merosotkan pamor Hok-wi-piaukiok,” ujar Ong-hujin dengan mengerut kening.

“Niocu, tahun ini kau berusia 39 tahun bukan?” tiba-tiba Cin-lam bertanya.

“Cis, dalam keadaan demikian kau masih tanya umurku segala?” semprot sang istri. “Aku shio Hou (macan), masakah kau lupa umurku berapa?”

“Ya, aku akan mengirimkan kartu undangan dengan alasan akan merayakan ulang tahunmu yang ke 40 ….”

“Hus, tanpa sebab apa-apa kenapa usiaku ditambah satu tahun? Memangnya kau kira aku belum cukup lekas tua?”

“Bilakah kau sudah tua?” ujar Cin-lam. “Rambutmu seujung pun belum ubanan. Ulang tahunmu hanya sebagai alasan saja supaya tidak dicurigai orang. Sesudah para teman berkumpul, diam-diam kita lantas memberitahukan maksud tujuan kita, dengan demikian nama baik Piaukiok kita tidak sampai tercemar.”

“Baiklah, terserah padamu. Dan hadiah apa yang akan kau berikan pada ulang tahunku?”

“Hadiah paling berharga, yaitu tahun depan kita akan mempunyai seorang putra yang gemuk!” bisik Cin-lam di telinga sang istri.

“Cis, sudah tua masih omong tak genah,” omel Ong-hujin dengan muka merah.

Cin-lam tertawa sambil tinggal pergi ke kantor untuk menyuruh juru tulis menyiapkan kartu undangan. Padahal perasaannya juga sangat tertekan, dia sengaja bergurau pada istrinya untuk sekadar mengurangi rasa gelisah sang istri.

Diam-diam ia pun menimbang dalam hati, “Air di tempat jauh susah memadamkan kebakaran di tempat dekat. Malam ini juga di dalam Piaukiok tentu akan terjadi apa-apa lagi, bila mesti menunggu datangnya kawan-kawan yang diundang entah setiba mereka nanti Hok-wi-piaukiok ini masih berdiri di dunia atau tidak?”

Setiba di depan kamar kantor, tiba-tiba tertampak dua orang pesuruh menyambutnya dengan air muka pucat ketakutan, kata mereka, “Wah, ce … celaka, Cong … Congpiauthau!”

“Ada apakah?” tanya Cin-lam dengan hati berdebar.

“Tadi tuan kasir menyuruh Lim Hok pergi membeli peti mati, tapi ba … baru saja sampai di pengkolan gang sana, Lim Hok lantas roboh dan mati,” kata salah seorang pesuruh.

“Bisa terjadi demikian? Dan di manakah dia?” Cin-lam menegas.

“Masih … masih di pengkolan gang sana,” kata pesuruh itu.

“Coba pergi mengusung pulang jenazahnya,” perintah Cin-lam. Diam-diam ia merasa sangat penasaran dan penuh dendam, ternyata di siang hari bolong musuh pun berani mengganas di tempat ramai.

Kedua pesuruh itu mengiakan, akan tetapi tidak menggeser selangkah pun.

“Kenapa sih?” desak Cin-lam.

Terpaksa seorang pesuruh berkata dengan suara gemetar, “Si … silakan Congpiauthau pergi … pergi melihatnya sendiri.”

Cin-lam tahu tentu telah terjadi sesuatu yang ganjil lagi. Sambil menjengek sekali ia lantas melangkah ke pintu gerbang. Tenyata di ambang pintu sudah berdiri tiga orang Piausu dan lima orang tukang kawal, dengan muka pucat ketakutan mereka sedang memandang ke luar pintu sana.

“Ada apakah?” tanya Cin-lam cepat. Tapi sebelum ada jawaban ia sudah tahu apa yang terjadi.

Kiranya di atas balok batu di depan pintu sana telah ditulis orang dengan darah sebanyak enam huruf besar yang berbunyi: “Keluar pintu lebih sepuluh langkah mati!”

Selain itu, kira-kira sepuluh langkah dari pintu tergaris pula satu jalur merah darah selebar dua-tiga senti dan panjang melintang.

“Sejak kapan orang menulis di situ? Apakah tiada seorang pun yang melihatnya?” tanya Cin-lam.

“Karena tadi Lim Hok diketahui mati di ujung gang sana, maka beramai-ramai kami telah mengerumun ke sana sehingga di depan pintu sini tiada seorang pun. Entah siapakah yang bergurau dan sengaja menulis demikian ini?”

Dengan penasaran Cin-lam lantas berteriak keras-keras, “Ini dia orang she Lim sudah bosan hidup, maka dia ingin tahu ‘keluar pintu lebih sepuluh langkah mati’ cara bagaimana jadinya!”

Habis itu dengan langkah lebar ia terus bertindak ke depan sana.

“He, Congpiauthau!” seru beberapa orang Piausu itu berbareng.

Namun Cin-lam tidak peduli lagi, langsung ia melangkahi garis merah darah itu. Dilihatnya huruf darah itu masih basah, segera ia gunakan kakinya untuk menghapus keenam huruf itu sehingga tak bisa dibaca lagi, kemudian barulah ia kembali. Katanya kepada para Piausu, “Ini hanya permainan gertak sambal saja, kita sudah biasa berkecimpung di Kangouw, kenapa mesti takut? Silakan kalian pergi membeli peti mati, sekalian mampir di Thian-ling-si untuk memanggil Hwesio-hwesio di sana supaya datang kemari mengadakan sembahyangan selama beberapa hari.”

Ketiga Piausu itu menyaksikan sang pemimpin melalui garis darah itu dan tetap selamat tak kurang apa pun, segera mereka pun tidak takut lagi, sambil mengiakan mereka lantas betulkan pakaian dan siapkan senjata, lalu keluar bersama. Cin-lam menyaksikan mereka sudah melampaui garis darah itu dan sudah membelok ke jalan sana, habis itu barulah ia masuk ke dalam.

Sampai di kantor, ia berkata kepada juru tulis Wi-siansing agar menulis beberapa kartu undangan kepada para sobat handai agar datang ikut merayakan ulang tahun sang istri. Dan baru saja juru tulis itu menanyakan hari ulang tahunnya serta alamat para tamu yang akan diundang, sekonyong-konyong terdengar suara orang berlari mendatangi, cepat Cin-lam menoleh, tahu-tahu seorang telah roboh tidak jauh dari tempatnya.

Dengan terkejut Cin-lam memburu maju untuk memeriksanya, kiranya orang itu adalah Tik-piauthau, salah seorang Piausu yang disuruh pergi membeli peti mati tadi. Badan Tik-piauthau terasa masih berkelojotan, cepat Cin-lam membangunkannya dan bertanya, “Tik-hiante, ada apakah?”

“Me … mereka sudah mati semua, ha … hanya aku saja yang dapat berlari pulang,” sahut Tik-piauthau dengan suara lemah.

“Bagaimana macamnya musuh?” tanya Cin-lam lagi.

“En … entah, tidak … tidak ….” hanya sekian jawaban Tik-piauthau, lalu badannya berkejangan sejenak terus putus napasnya.

Kejadian itu hanya sebentar saja sudah diketahui oleh semua orang di dalam Piaukiok. Ong-hujin dan Peng-ci juga lantas keluar. Terdengar setiap orang secara bisik-bisik sedang saling membicarakan tentang tulisan “keluar pintu lebih sepuluh langkah mati” di luar pintu itu.

“Biar kupergi membawa pulang jenazah kedua Piausu itu,” kata Cin-lam kemudian.

“Jangan … jangan pergi sendiri, Congpiauthau,” seru Wi-siansing si juru tulis, “asal ada hadiah tentu ada pemberani. Nah, sia … siapakah yang siap pergi membawa pulang jenazah-jenazah itu akan mendapat hadiah 30 tahil perak.”

Akan tetapi meski dia sudah mengulangi dua kali lagi seruannya itu, ternyata tiada seorang pun yang berani tampil ke muka. Sebaliknya mendadak terdengar Ong-hujin berteriak, “He, ke mana perginya anak Peng? Anak Peng! An … anak Peng!”

Melihat Peng-ci lenyap, semua orang ikut khawatir dan beramai-ramai lantas memanggil ke sana dan kemari. Syukurlah lantas terdengar suara Peng-ci bergema di luar pintu sana, “Aku berada di sini.”

Girang semua orang tak terkatakan, cepat mereka memburu keluar. Terlihatlah perawakan Peng-ci yang tinggi itu sedang membelok datang dari jalan sana dengan kedua bahunya masing-masing memanggul satu jenazah, yaitu kedua orang Piausu yang dilaporkan mati di jalan raya sana.

Cepat Cin-lam dan sang istri berlari memapak maju ke sebelah garis merah dengan senjata terhunus untuk melindungi pulangnya Peng-ci.

Serentak semua orang bersorak memuji, “Siaupiauthau benar-benar seorang kesatria muda yang gagah berani!”

Diam-diam Cin-lam dan Ong-hujin juga merasa sangat senang. “Anak muda memang sembrono, betapa pun kedua paman Piauthau ini toh sudah meninggal, kenapa kau mesti menghadapi bahaya sebesar ini?” omel Ong-hujin.

Peng-ci hanya tersenyum saja. Tapi di dalam hati ia merasa tidak enak, pikirnya, “Gara-gara perbuatanku yang telah menewaskan seorang, akibatnya jiwa sedemikian banyak telah berkorban bagiku, kalau sekarang aku sendiri berbalik takut mati, apakah aku ada muka untuk menjadi manusia lagi?”

Pada saat itulah sekonyong-konyong di ruangan belakang juga ada orang berteriak, “He, tanpa sebab apa-apa kakek Hoa mendadak juga mati?”

Seorang petugas bernama Lim Thong dengan muka pucat dan ketakutan tampak berlari keluar dan melapor, “Congpiauthau, kakek Hoa tadi melalui pintu belakang hendak pergi belanja ke pasar, tahu-tahu dia mati di tempat kira-kira belasan langkah dari pintu. Di … di pintu belakang sana juga terdapat … terdapat enam huruf darah seperti di pintu depan tadi.”

Kakek Hoa yang dikatakan itu adalah koki atau ahli masak Hok-wi-piaukiok, kepandaiannya masak dalam beberapa jenis daharan benar-benar sangat memesonakan dan merupakan salah satu modal Lim Cin-lam untuk memelet hati kaum pembesar dan bangsawan. Sekarang mendengar koki pandai itu pun terbunuh keruan hatinya tergetar pula. Pikirnya, “Dia hanya seorang koki biasa saja, toh bukan jago kawal atau petugas Piaukiok yang aktif, mengapa musuh sedemikian keji? Padahal menurut tata krama dunia Kangouw, di waktu hendak merampas barang kawalan, para jago kawal dapat dibunuh, tapi tukang kereta, kuli angkut dan sebagainya biasanya tidak boleh dibunuh. Memangnya apakah sekarang segenap penghuni Hok-wi-piaukiok ini akan dihabiskan?”

Ketika melihat semua orang dalam keadaan panik, cepat ia berseru, “Semua orang harus tenang, jangan gelisah. Hm, kawanan bangsat itu hanya pandai main sergap secara sembunyi-sembunyi. Padahal kalian juga menyaksikan sendiri, bukankah kawanan bangsat itu pun tidak berani mengapa-apakan diriku suami istri dan anak Peng ketika kami melangkah keluar lebih dari sepuluh tindak?”

Semua orang mengiakan. Namun demikian toh tiada seorang pun yang berani melangkah keluar pintu lagi. Cin-lam dan istrinya juga saling pandang dengan sedih, mereka benar-benar mati kutu dan tak berdaya.

Malamnya Cin-lam mengatur dinas jaga para Piausu itu. Siapa duga ketika dia keluar mengontrol, 20-an orang Piausu itu ternyata duduk berkerumun di ruang tengah, nyata tiada seorang pun yang berani berjaga di luar, bahkan pergi ke kamar kecil sendirian juga perlu minta ditemani.

Waktu tampak keluarnya Cin-lam, para Piausu itu sama berdiri dengan kikuk, tapi tetap tiada seorang pun yang berani melangkah ke luar. Diam-diam Cin-lam juga maklum bahwa sesungguhnya pihak musuh memang terlalu lihai, di pihak sendiri sudah jatuh korban sebanyak ini dan dirinya ternyata tak berdaya sama sekali, pantas juga jika semua orang menjadi jeri. Sebab itulah ia malah menghiburkan para Piausu itu, bahkan suruh menyediakan arak dan daharan serta mengiringi mereka makan minum di situ.

Tapi lantaran hati merasa kesal dan tertekan, maka siapa pun jarang bicara, mereka hanya minum arak saja tanpa mengobrol, tidak lama kemudian beberapa orang lantas terpulas mabuk.

Besok paginya dua orang dusun datang mengantarkan sayur-sayuran. Karena penghuni Piaukiok cukup banyak, maka setiap hari diperlukan dua pikul sayur-sayuran dan biasanya sudah diborong oleh tukang sayur tertentu.

Begitulah kedua tukang sayur itu terima uang lalu mohon diri. Diam-diam semua orang lantas berkumpul di pintu belakang untuk mengikuti apa yang akan terjadi. Ternyata kedua tukang sayur itu dengan memikul keranjang kosong sudah pergi beberapa puluh langkah jauhnya dan tiada timbul sesuatu yang aneh. Mereka pikir tulisan tentang “keluar pintu lebih sepuluh langkah mati” itu tentu hanya berlaku bagi orang-orang Piaukiok dan tiada sangkut pautnya dengan orang luar.

Tampaklah kedua tukang sayur itu sudah menghilang di antara orang banyak yang berlalu-lalang di jalan raya. Sekonyong-konyong terdengarlah suara teriakan ramai di tengah jalan sana dan orang-orang pun lantas menyingkir. Waktu orang-orang Piaukiok memandang dari jauh, ternyata kedua tukang sayur itu sudah menggeletak di tengah jalan raya, dua pikulannya yang kosong itu terlempar di samping.

Dengan demikian maka di seluruh pelosok kota Hokciu lantas tersiar kabar bahwa Hok-wi-piaukiok adalah rumah maut sehingga tiada seorang pun yang berani berkunjung lagi ke perusahaan pengawalan itu.

Siang harinya lewat tengah hari tiba-tiba terdengar suara derapan kuda yang ramai, ada beberapa penunggang kuda telah berlari keluar dari dalam Piaukiok. Waktu Cin-lam suruh periksa, kiranya lima orang Piausu yang merasa cemas menghadapi keadaan demikian itu diam-diam mereka telah pergi tanpa pamit.

“Ya, orang she Lim tidak mampu melindungi saudara-saudara di kala datangnya bencana, jika kalian merasa lebih aman untuk pergi, maka bolehlah silakan saja,” ujar Cin-lam dengan menghela napas.

Namun para Piausu yang lain lantas ramai membicarakan kawan-kawan mereka yang kabur secara pengecut dan tidak setia kawan itu.

Tak terduga pada petangnya lima ekor kuda pulang lagi dengan memuat lima sosok tubuh yang sudah tak bernyawa. Kelima Piausu itu maksudnya hendak meninggalkan tempat maut tapi malah mengantarkan nyawa lebih dahulu.

Melihat kelima mayat itu, sungguh rasa dendam Peng-ci tak tertahankan lagi, dengan pedang terhunus ia terus terjang keluar dan berdiri beberapa langkah di luar garis merah darah itu, teriaknya dengan suara lantang, “Seorang laki-laki berani berbuat berani bertanggung jawab. Orang Sucwan she Ih itu memang aku Lim Peng-ci yang membunuhnya dan tiada sangkut pautnya dengan orang lain. Jika ingin menuntut balas boleh silakan maju padaku saja, biarpun mati aku takkan menyesal. Tapi cara kalian membunuh orang-orang yang tak berdosa begini terhitung kesatria macam apa? Ini dia Lim Peng-ci berada di sini, kalian boleh datang membunuh aku saja! Jika kalian tidak berani unjuk muka berarti kalian adalah kawanan anjing pengecut!”

Begitulah, makin berteriak makin keras, malahan Peng-ci terus membuka baju dan tepuk-tepuk dada. Ia menantang dan sumbar-sumbar sambil mencaci maki. Orang-orang yang lalu hanya memandang heran ke arahnya dan tiada seorang pun yang berani mendekati Piaukiok maut itu.

Ketika mendengar suara putranya, Cin-lam suami istri juga lantas berlari keluar. Memangnya mereka berdua selama dua hari ini pun hanya menahan rasa dendam belaka, sekarang mendengar putranya memaki dan menantang musuh, segera mereka pun ikut membentak dan memaki.

Para Piauthau saling pandang dengan rasa kagum kepada keberanian ketiga orang itu. Terutama sang majikan muda yang biasanya lemah lembut seperti perempuan, sekarang ternyata juga gagah berani dan menantang musuh, benar-benar luar biasa.

Namun demikian, meski mereka bertiga sudah mencak-mencak dan menantang sekian lamanya, suasana di sekeliling situ tetap sunyi senyap saja tanpa sesuatu reaksi apa-apa.

“Huh, keluar pintu lebih sepuluh langkah mati apa segala? Ini, aku justru melangkah dua puluh langkah ke sini, ingin kulihat apa yang kau mampu perbuat atas diriku!” demikian teriak Peng-ci sambil berjalan mondar-mandir jauh di luar garis darah itu dengan pedang terhunus dan lagak angkuh.

“Bagus!” angguk Ong-hujin. “Memangnya kawanan anjing itu hanya berani pada yang lemah dan takut kepada yang keras, coba apakah mereka berani pada anakku?”

Habis itu Peng-ci lantas diajaknya masuk kembali ke rumah. Saking penasaran sampai badan Peng-ci gemetar, setiba di dalam kamar ia tidak tahan lagi, ia menjatuhkan diri di atas dipan terus menangis keras-keras.

Cin-lam cukup paham perasaan putranya itu. Sebabnya Peng-ci sesumbar dan menantang musuh di depan pintu adalah karena timbul dari rasa gusar dan dendamnya. Hanya saja usianya masih muda, pikirannya masih kekanak-kanakan. Segera ia mengelus kepala Peng-ci dan berkata, “Kau sungguh berani, nak, kau tidak malu sebagai putra keluarga Lim kita. Namun musuh tetap tak mau unjuk muka, apa daya kita? Boleh mengaso saja sebentar.”

Malamnya sesudah makan, Peng-ci mendengar ayah dan ibunya sedang bisik-bisik membicarakan beberapa orang Piausu yang mempunyai pikiran aneh, yaitu ingin menggangsir, membuat jalan di bawah tanah yang dapat menembus jauh di luar garis darah itu untuk melarikan diri, kalau tidak mereka merasa tidak aman, lambat atau cepat pasti juga akan binasa.

Terdengar ibunya hanya mendengus saja dan anggap pikiran para Piausu itu terlalu muluk-muluk, jika mereka melarikan diri tentu nasib mereka takkan berbeda dengan Piausu yang telah kabur dan kemudian pulang kembali sudah menjadi mayat.

Kemudian ternyata para Piausu itu hanya omong di mulut saja, tapi sebenarnya tiada seorang pun berani mempraktikkan teori mereka itu untuk melarikan diri.

Karena terlalu lelah, siang-siang mereka bertiga lantas tidur. Sedangkan para Piausu benar-benar sudah putus asa, mereka hanya pasrah nasib saja dan tiada seorang pun pergi meronda segala.

Sampai tengah malam, tiba-tiba Peng-ci merasa pundaknya ditepuk-tepuk orang dengan perlahan, cepat ia melompat bangun dan segera hendak melolos pedang yang terselip di bawah bantal. Tapi lantas terdengar suara mendesis ibunya, “Ssst, anak Peng, akulah, jangan bersuara!”

Hati Peng-ci yang tergetar tadi menjadi tenang kembali. Ia menyapa perlahan. Namun ibunya lantas berbisik padanya, “Ayahmu telah keluar sejak tadi dan belum pulang, marilah kita pergi mencarinya.”

“Ke mana ayah?” tanya Peng-ci dengan khawatir.

“Entah,” sahut sang ibu.

Dengan membawa senjata perlahan mereka lantas keluar kamar. Lebih dahulu mereka melongok ke ruang depan, suasana di sana terang benderang, belasan orang Piausu sedang main dadu dan berjudi kartu. Dari putus asa rupanya para Piausu itu menjadi masa bodoh dan pasrah nasib.

Segera Ong-hujin mengajak pergi Peng-ci mencari lagi ke tempat lain, tapi bayangan Cin-lam tetap tidak kelihatan. Mau tak mau ibu dan anak itu mulai khawatir dan gelisah. Namun demikian mereka tidak berani mengejutkan para Piausu, sebab kalau mengetahui Congpiauthau mereka menghilang, tentu keadaan akan panik dan tambah runyam.

“Paling akhir di manakah kau bertemu dengan ayahmu?” tanya Ong-hujin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: