Hina Kelana: Bab 39. Gak Put-kun Buron Bersama Keluarga

Gak-hujin tidak dapat menyangkal pendapat sang suami itu, saking cemasnya tanpa terasa air matanya meleleh.

Segera Gak Put-kun berkata pula, “Tingkah laku kawanan siluman itu sukar diraba dan tak menentu, daripada nanti terlambat, marilah sekarang juga kita lantas berangkat.”

Habis berkata ia terus masukkan Ci-he-pit-kip ke dalam baju dan melangkah keluar.

Ternyata Gak Leng-sian sudah menunggu di luar pintu, segera ia menyapa, “Ayah, keadaan Toasuko tampaknya … tampaknya sukar ditolong lagi.”

“Bagaimana keadaannya?” Put-kun menegas.

“Dia … dia mengigau tak keruan, pikirannya makin tidak jernih,” kata si nona.

“Apa yang dia igaukan?” tanya Put-kun.

Muka si nona menjadi merah, sahutnya kemudian, “Entah, aku pun tidak paham apa arti igauannya itu.”

Kiranya Lenghou Tiong yang tersiksa oleh bergolaknya enam arus hawa panas yang disalurkan Tho-kok-lak-sian itu, pikirannya terkadang jernih dan lain saat samar-samar dan tidak sadarkan diri. Suatu ketika demi dilihatnya Leng-sian berdiri di depannya, tanpa terasa ia berkata, “O, Siausumoay, alangkah aku me … merindukan dikau! Apakah engkau telah mencintai Lim-sute, maka … maka tidak mau menggubris padaku lagi?”

Sama sekali Leng-sian tidak mengira sang Toasuko dapat mengutarakan perasaannya itu di hadapan Lim Peng-ci yang saat itu juga berada di situ, keruan wajahnya berubah merah jengah dan merasa kikuk.

Bahkan terdengar Lenghou Tiong berkata pula, “Siausumoay, sejak kecil kita dibesarkan bersama, berlatih ilmu silat bersama, sungguh aku tidak … tidak tahu di mana aku bersalah padamu. Jika kau marah padaku, silakan memaki atau memukul aku, sekalipun kau tusuk badanku dengan pedangmu juga aku takkan mengeluh. Hanya saja janganlah begitu dingin padaku, bahkan tidak menggubris padaku!”

Apa yang diucapkannya itu memang sudah lama terkandung dalam sanubarinya, selama beberapa bulan itu entah sudah berapa kali dipikirkan olehnya. Bila sadar tentu dia takkan berani mengutarakan perasaannya sekalipun berada sendirian bersama Leng-sian. Tapi sekarang pikirannya dirasakan melayang-layang entah berada di mana, segala pantangan antara muda-mudi sudah tak teringat lagi olehnya, maka tanpa aling-aling segala apa yang terkandung di lubuk hatinya telah dikeluarkan seluruhnya.

Keruan Peng-ci juga merasa kikuk, dengan suara perlahan ia berkata kepada Leng-sian, “Biar aku keluar sebentar.”

“Jangan, boleh kau yang menjaga Toasuko saja,” seru Leng-sian sambil mendahului lari keluar kamar. Ketika sampai di luar kamar ayah-bundanya, kebetulan ia dapat mendengar pembicaraan ayah-ibunya tentang penyembuhan luka Lenghou Tiong dengan bantuan Ci-he-sin-kang tadi.

Begitulah Gak Put-kun lantas berkata kepada Leng-sian, “Boleh sampaikan perintahku agar semua orang berkumpul di ruang Co-kong-tong.”

Leng-sian mengiakan. “Dan bagaimana dengan Toasuko, siapa yang harus menjaganya?” tanyanya.

“Boleh suruh Tay-yu saja yang menjaganya,” sahut Put-kun.

Segera Leng-sian pergi menyampaikan perintah ayahnya itu. Maka hanya sebentar saja semua murid Hoa-san-pay sudah berkumpul di ruang pendopo, mereka berdiri berjajar menurut urutannya masing-masing. Gak Put-kun sendiri duduk di kursi tengah, istrinya duduk di sebelah samping.

Dalam hubungan suami-istri mereka memang sederajat, tapi sekarang berada di ruang upacara resmi Gak Put-kun adalah pejabat ketua, dengan sendirinya sang istri terhitung bawahan dan harus duduk di samping.

Sekilas pandang Gak Put-kun melihat seluruh muridnya hadir semua kecuali Liok Tay-yu dan Lenghou Tiong. Segera ia berkata, “Di antaranya tokoh-tokoh angkatan tua golongan kita ada sementara orang yang tersesat ke jalan yang tidak benar, yang mereka utamakan adalah latihan ilmu pedang melulu dan meremehkan berlatih Khikang. Mereka tidak mau tahu bahwa setiap ilmu silat paling tinggi di dunia ini pasti mempunyai alas dasar Khikang yang kuat, jika Khikang kurang sempurna, betapa pun bagusnya ilmu pedang yang dilatihnya juga sukar mencapai puncak yang paling sempurna.

“Sungguh sayang para Locianpwe itu tetap tidak mau sadar dan meneruskan cara mereka serta mendirikan sekte pedang sendiri, pertentangan antara sekte pedang dan sekte hawa kita sudah berlangsung selama puluhan tahun, sudah tentu hal ini sangat mengganggu perkembangan Hoa-san-pay kita.”

Habis berkata ia lantas menghela napas panjang.

Diam-diam Gak-hujin mendongkol. Sebentar lagi kelima siluman itu mungkin akan tiba, tapi sang suami masih mengobrol tentang kejadian masa lampau dengan seenaknya. Ia melirik sang suami, tapi tidak berani menimbrung.

Dalam pada itu Gak Pun-kun lagi menyambung, “Meski pertengkaran antara kedua golongan sangat keras, tapi yang benar tetap benar. Tiga puluh tahun yang lalu sekte pedang telah mengalami kekalahan habis-habisan sehingga terpaksa mengundurkan diri dari Hoa-san-pay kita, sejak itu aku diangkat sebagai pejabat ketua sampai kini tanpa mengalami sesuatu alangan apa pun.

“Tak terduga beberapa hari yang lalu tiba-tiba datang murid buangan golongan kita dari sekte pedang yang bernama Hong Put-peng, Seng Put-yu dan lain-lain, entah dengan cara bagaimana mereka berhasil menipu Co-bengcu dari perserikatan Ngo-gak-kiam-pay kita, dengan membawa panji kebesaran Co-bengcu mereka sengaja datang hendak merebut kedudukan ketua Hoa-san-pay dari tanganku.

“Setelah menjabat sekian lama dan banyak mengalami persoalan rumit sesungguhnya aku pun sudah lama ingin mengundurkan diri dan menyerahkan tempat ketua ini kepada orang yang lebih bijaksana, sekarang ada orang mau menggantikan aku sebenarnya itulah sangat kuharapkan.”

Tiba-tiba Ko Kin-beng membuka suara, “Suhu, murid buangan dari sekte pedang seperti Hong Put-peng itu sudah lama tersesat ke jalan yang jahat, mereka tiada bedanya seperti anggota Mo-kau. Andaikan mereka minta masuk kembali ke perguruan kita saja harus ditolak, mana boleh membiarkan mereka secara sembrono mengoper jabatan ketua kita ini. Jika hal ini sampai terjadi, bukankah Hoa-san-pay kita akan hancur dalam sekejap saja?”

“Ya, sekali-kali kita tidak boleh tinggal diam, tipu muslihat kawanan jahanam itu harus digagalkan,” dukung Lo Tek-nau, Si Cay-cu dan lain-lain.

Melihat anak muridnya sama penasaran dan tegas menolak maksud jahat musuh, dengan tersenyum Put-kun menyambung pula, “Tentang jabatan ketua ini sebenarnya adalah soal kecil bagiku. Tapi kalau golongan pedang itu dibiarkan memimpin perguruan kita, tentu ilmu silat Hoa-san-pay yang terkenal selama ratusan tahun ini akan hancur dalam waktu singkat, lalu cara bagaimana kita harus bertanggung jawab kepada para leluhur perguruan bila kita sudah mati? Sedangkan nama baik Hoa-san-pay selanjutnya tentu juga takkan dihormati lagi oleh sesama kawan Kangouw.”

“Ya, ucapan Suhu memang benar,” kata Tek-nau dan lain-lain.

“Kalau melulu Hong Put-peng dan beberapa kawannya dari sekte pedang saja sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, cuma mereka sudah mendapatkan panji kebesaran Ngo-gak-kiam-pay, mereka bersekongkol pula dengan jago-jago Ko-san-pay. Heng-san-pay, Thay-san-pay dan Hing-san-pay, hal inilah yang tidak boleh kita remehkan, sebab itulah ….”

Sampai di sini sorot mata Gak Put-kun menyorot sekeliling anak muridnya, lalu menyambung, “Besok juga kita lantas berangkat ke Ko-san untuk menemui Co-bengcu, kita akan menuntut kebenaran dan minta keadilan padanya.”

Mendengar demikian, Lo Tek-nau dan lain-lain sama terkesiap. Mereka tahu Ko-san-pay adalah kepala dari Ngo-gak-kiam-pay, serikat aliran ilmu pedang dari lima pegunungan. Ketua Ko-san-pay bernama Co Leng-tan bahkan adalah tokoh nomor satu di dunia persilatan pada zaman ini, selain ilmu silatnya sangat hebat, orangnya juga kaya akan tipu akal, setiap orang Kangouw bila mendengar nama “Co-bengcu” tentu merasa jeri dan segan.

Sekarang sang guru menyatakan hendak datang sendiri ke Ko-san untuk minta keadilan, hal ini benar-benar di luar dugaan siapa pun juga. Sebab mereka pun maklum bilamana “keadilan” yang diminta itu kurang adil tentu akibatnya adalah bergebrak dengan kekerasan.

Maka anak murid Hoa-san-pay itu sama berpikir, “Meskipun ilmu silat Suhu sangat tinggi, tapi juga belum tentu dapat mengalahkan Co-bengcu, apalagi ketua Ko-san-pay itu masih mempunyai belasan orang Sute yang lihai, orang Bu-lim menjuluki mereka sebagai ‘Ko-san-cap-thay-po’ (tiga belas gembong dari Ko-san). Meski satu di antaranya sudah tewas, yaitu Ko-yang-jiu Hui Pin, sisanya juga masih berjumlah 12 orang dan semuanya adalah jago kelas wahid yang disegani, betapa pun anak murid Hoa-san-pay pasti bukan tandingan mereka. Kalau sekarang pihak sendiri mencari perkara ke Ko-san, bukankah terlalu sembrono seperti ular mencari gebuk?”

Meski anak murid Hoa-san-pay itu sama berpikir demikian, tapi tiada seorang pun berani membuka suara.

Sebaliknya Gak-hujin biarpun berperangai berangasan, namun otaknya sebenarnya tidak bodoh, demi mendengar ucapan sang suami itu diam-diam ia lantas bersorak memuji. Pikirnya, “Akal Suko sungguh sangat bagus. Kalau kita diketahui kabur dari Hoa-san yang merupakan pangkalan asli perguruan sendiri lantaran takut kepada kawanan siluman dari lembah Tho itu, kelak tentu akan ditertawai oleh sesama orang Kangouw dan pamor Hoa-san-pay pasti akan luntur habis-habisan. Tapi sekarang kalau secara resmi kita datang ke Ko-san hendak menuntut keadilan, hal ini bila diketahui orang luar bahkan kita akan dipuji. Pula Co-bengcu bukanlah manusia yang tidak kenal keadilan, kedatangan kita ke sana tidak perlu bertarung secara mati-matian, paling tidak toh masih ada waktu untuk bicara dan bertindak menurut gelagat.”

Maka tanpa pikir lagi ia lantas menyokong maksud sang suami tadi, katanya, “Ya, Hong Put-peng dan begundalnya telah mengacau ke sini dengan membawa panji kebesaran Co-bengcu, bukan mustahil panji itu adalah hasil curian. Seumpama panji itu adalah tulen dan pemberian Co-bengcu, bila soalnya mengenai urusan dalam Hoa-san-pay kita sendiri, meski Ko-san-pay mereka berjumlah lebih banyak, ilmu silat Co-bengcu tiada bandingannya pula, namun Hoa-san-pay kita juga bukan kaum keroco, biar mati pun pantang menyerah. Murid Hoa-san-pay yang bernyali kecil dan pengecut boleh tetap tinggal di sini, tak usah ikut.”

Mendengar kata-kata ibu-gurunya ini, sudah tentu tiada seorang pun anak murid Hoa-san-pay mau mengaku sebagai pengecut, serentak mereka menjawab, “Bila guru dan ibu-guru ada perintah, sekalipun masuk lautan api juga Tecu takkan mundur.”

“Bagus jika begitu,” seru Gak-hujin. “Nah, supaya urusan tidak terlambat sekarang juga kalian lekas berbenah, dalam waktu setengah jam kita lantas berangkat.”

Lalu ia pergi menjenguk Lenghou Tiong pula. Murid itu kelihatan kempas-kempis, jiwanya hanya tunggu ajal saja dalam sesaat-dua saat, hati nyonya Gak menjadi pedih. Tapi pada saat menghadapi bencana yang akan menimpa Hoa-san-pay mereka, setiap waktu Tho-kok-ngo-kay (lima siluman lembah Tho) bisa datang, keselamatan Lenghou Tiong seorang tidak boleh mengakibatkan musnahnya orang banyak, terpaksa ia suruh Liok Tay-yu memindahkan Lenghou Tiong ke kamar samping di bagian belakang dan memberi pesan agar menjaganya dengan baik.

Katanya kemudian, “Tay-yu, demi masa depan Hoa-san-pay kita, terpaksa kami berangkat ke Ko-san untuk minta keadilan kepada Co-bengcu, perjalanan ini sangat berbahaya, semoga di bawah pimpinan gurumu nanti dapatlah kita memperoleh kemenangan dan pulang dengan selamat. Keadaan Tiong-ji sangat payah, hendaknya kau dapat menjaganya dengan baik. Bila kedatangan musuh, boleh kalian berusaha menyembunyikan diri, terimalah penghinaan untuk sementara dan tidak perlu membuang nyawa percuma.”

Dengan mengembeng air mata Liok Tay-yu mengiakan pesan itu. Dengan hormat ia mengantar keberangkatan rombongan sang guru, ibu guru dan para Suheng dan Sutenya, kemudian ia kembali ke pondok tempat berbaring Lenghou Tiong yang tak berkutik itu.

Puncak Hoa-san seluas itu sekarang hanya tertinggal dirinya sebatang kara bersama sang Toasuko dalam keadaan tak sadar. Tampaknya cuaca sudah mulai suram mendekat petang, mau tak mau timbul juga rasa jerinya.

Ia coba pergi ke dapur untuk memasak bubur, sesudah itu ia membawa semangkuk bubur ke kamar, ia memayang bangun Lenghou Tiong dan menyuapinya dua ceguk.

Cegukan ketiga ternyata disembur keluar oleh Lenghou Tiong, bubur yang berwarna putih itu tampak bersemu merah, kiranya darah ikut tersembur keluar.

Liok Tay-yu sangat khawatir, ia rebahkan kembali sang Toasuko dan menaruh mangkuk bubur itu di atas meja. Ia termangu-mangu memandang keluar jendela yang gelap gulita. Tiba-tiba terdengar suara burung hantu yang mengerikan berkumandang dari kejauhan.

Diam-diam Tay-yu membatin, “Menurut cerita orang, katanya bunyi burung hantu pada waktu malam adalah sedang menghitung bulu alis orang sakit, bila jumlah bulu alis terhitung jelas olehnya tentu orang sakit itu akan mati.”

Maka cepat ia gunakan jarinya yang dibasahi dengan air ludah untuk memoles alis Lenghou Tiong agar burung hantu sukar menghitung bulu alisnya.

Namun bunyi burung hantu itu masih terus terdengar, di tengah malam yang sunyi itu Liok Tay-yu tambah ngeri, tanpa terasa ia pun memoles alis sendiri dengan air ludah.

Pada saat itulah dari jauh tiba-tiba terdengar suara tindakan orang yang enteng. Cepat Tay-yu meniup padam api pelita dan melolos pedang serta berjaga di samping Lenghou Tiong.

Suara tindakan orang itu makin sama makin mendekat, ternyata arah yang dituju adalah pondok kecil ini. Keruan hati Liok Tay-yu berdebar-debar tegang. Katanya di dalam hati, “Celaka! Musuh ternyata mengetahui Toasuko sedang dirawat di sini. Wah, cara bagaimana aku harus melindungi keselamatan Toasuko?”

Pada saat lain tiba-tiba terdengar suara seorang wanita sedang memanggil dengan suara tertahan, “Lak-kau-ji, apakah kau berada di dalam rumah?”

Di luar dugaan, kiranya adalah suara Gak Leng-sian.

Keruan Tay-yu sangat girang, cepat ia menjawab, “Apakah Siausumoay di situ? Ya, aku … aku berada di sini.”

Lekas Tay-yu mengetik api untuk menyalakan pelita, saking keburunya sampai minyak pelita itu tersampuk dan tertumpah.

Sementara itu Leng-sian telah mendorong pintu dan melangkah masuk, tanyanya cepat, “Bagaimana dengan Toasuko?”

“Banyak tumpah darah pula,” sahut Tay-yu.

Leng-sian mendekati tempat tidur dan coba meraba dahi Lenghou Tiong, ternyata panasnya luar biasa, tangan seperti terbakar rasanya. “Lak-kau-ji, kenapa tidak mengusap darah di pinggir mulut Toasuko ini?” katanya kemudian.

Tay-yu mengiakan dan lekas-lekas mengeluarkan saputangan.

Tapi Leng-sian lantas mengambil saputangannya, perlahan ia membersihkan darah yang berlepotan di tepi mulut Lenghou Tiong.

“Teri … terima kasih Siausumoay,” mendadak Lenghou Tiong membuka suara.

Sama sekali Leng-sian tidak mengira Toasuko yang kelihatan tak sadar itu mendadak bisa bicara padanya, dengan kejut dan girang cepat ia menjawab, “Toasuko, bagaimana … bagaimana keadaanmu?”

“Rasanya isi perutku seperti disayat-sayat oleh … oleh enam bilah pisau yang tajam,” tutur Lenghou Tiong dengan lemah.

Tiba-tiba Leng-sian mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari bajunya, katanya dengan suara tertahan, “Toasuko, ini adalah ‘Ci-he-pit-kip’ kata ayah ….”

“Ci-he-pit-kip?” Lenghou Tiong menegas.

“Ya,” sahut Leng-sian, “kata ayah, di dalam badanmu telah tertanam hawa murni yang aneh dari kawanan siluman itu, untuk memunahkannya harus menggunakan inti Lwekang dari perguruan kita sendiri. Lak-kau-ji, coba membacakan isi kitab pusaka ini kepada Toasuko, bacalah sehuruf demi sehuruf supaya jelas. Tapi awas, kau sendiri tidak boleh ikut meyakinkannya, kalau tidak, bila diketahui ayah, hm, tentu kau sendiri tahu akan akibatnya.”

Liok Tay-yu sangat girang, sahutnya, “Ah, orang macam apakah aku ini? Masakah aku berani meyakinkan Lwekang tertinggi dari perguruan kita? Sudahlah Siausumoay jangan khawatir. Demi menolong jiwa Toasuko, tanpa segan Suhu sudi menurunkan kitab pusaka ini kepadanya, sekali ini Toasuko pasti dapat diselamatkan.”

“Hal ini jangan sekali-kali kau beri tahukan orang lain,” pesan Leng-sian. “Kitab ini bukan pemberian ayah, tapi aku mencurinya dari bawah bantal ayah.”

“Hah, jadi kau … mencuri?” seru Tay-yu terkejut. “Yah, jika diketahui Suhu lantas … lantas bagaimana?”

“Bagaimana apa? Masakah aku akan dibunuh olehnya?” ujar Leng-sian. “Paling-paling aku akan didamprat dan boleh juga dihajar babak belur. Tapi kalau dapat menyelamatkan Toasuko, bila ayah-ibu menjadi senang, bisa jadi semuanya takkan diusut dan tak menjadi soal lagi bagi mereka.”

“Ya, ya, memang paling penting selamatkan Toasuko lebih dulu, urusan belakang,” sahut Liok Tay-yu.

Mendadak Lenghou Tiong membuka suara, “Siausumoay, bawa … bawa kepada Suhu.”

“Sebab apa?” tanya Leng-sian heran. “Dengan susah payah aku membawa kitab pusaka ini dengan menempuh jalan pegunungan puluhan li jauhnya di tengah malam buta dan memburu kembali ke sini, tapi engkau berbalik tidak mau terima? Ini toh bukan mencuri belajar, tapi menyelamatkan jiwamu.”

“Ya, Toasuko, kau pun tidak perlu meyakinkan selengkapnya, latih saja secukupnya asal dapat memunahkan hawa jahat dalam tubuhmu, kemudian kitab pusaka ini dapat dikembalikan lagi kepada Suhu, tatkala mana boleh jadi Suhu akan mewariskan sekalian kitab pusaka ini kepadamu. Memangnya engkau adalah murid pewaris perguruan kita, kepada siapa Ci-he-pit-kip ini akan diwariskan kalau bukan kepadamu? Hal ini hanya soal waktu saja, apa alangannya jika engkau melatihnya sekarang?”

“Tidak, biar … biar mati pun aku tidak mau melanggar perintah Suhu. Sudah pernah Suhu mengatakan bahwa … bahwa aku tidak dapat belajar Ci-he-sin-kang ini. Maka dari itu, Siausumoay ….”

Hanya sampai di sini mendadak napas Lenghou Tiong menjadi sesak lagi dan jatuh pingsan pula.

Leng-sian coba memeriksa sang Toasuko, terasa panas, katanya kepada Liok Tay-yu, “Sedemikian dia mati tanpa menolongnya? Aku harus cepat kembali pula ke sana sebelum fajar tiba agar tidak dicari oleh ayah-ibu. Hendaknya kau bujuk Toasuko, betapa pun kuharap dia suka menuruti permintaanku dan berlatihlah isi Ci-he-pit-kip ini. Jangan sia-siakan ….”

Sampai di sini mukanya menjadi merah, lalu melanjutkan, “Jangan sia-siakan jerih payahku lari-lari semalaman ini.”

“Baik, tentu akan kubujuk dia,” sahut Tay-yu, “Siausumoay, sekarang rombongan Suhu bermalam di mana?”

“Di hotel kecil di Pek-ma-tik (nama kota),” sahut Leng-sian.

“Itu sudah menjauh 50-an li,” kata Tay-yu. “Di tengah malam buta kau lari pulang-pergi sejauh ratusan li, hal ini pasti takkan dilupakan oleh Toasuko selamanya.”

Mata si nona menjadi merah terharu, katanya, “Yang kuharap adalah selekasnya Toasuko bisa cepat kembali. Tentang dia tetap ingat atau tidak pada kejadian ini tidak dipikirkan.”

Habis berkata ia menaruh “Ci-he-pit-kip” di ujung ranjang Lenghou Tiong, dipandangnya pemuda itu sejenak lalu ia berlari keluar.

Kira-kira hampir satu jam kemudian barulah Lenghou Tiong mendusin. Waktu ia buka mata segera ia berseru, “Siau … Siausumoay!

“Siausumoay sudah pergi,” sahut Liok Tay-yu.

“Sudah pergi?” teriak Lenghou Tiong. Mendadak ia bangkit duduk, baju dada Liok Tay-yu terus dijambret olehnya.

Keruan Tay-yu terperanjat, katanya, “Ya, Siausumoay sudah turun gunung, katanya … katanya kalau sebelum fajar menyingsing tidak berada di rumah penginapan sana, tentu akan membikin khawatir Suhu dan Sunio. Toasuko, hendaknya berbaring dan mengaso saja.”

Namun jawaban Liok Tay-yu itu seperti tidak didengar oleh Lenghou Tiong, ia bergumam sendiri, “Dia … dia sudah pergi? Dia … dia bersama Lim-sute?”

“Siausumoay berada bersama guru dan ibu guru,” Tay-yu menambahkan.

Akan tetapi kedua mata Lenghou Tiong terbelalak dan menatap kaku ke depan, kulit mukanya tampak berkerut-kerut. Tay-yu menjadi takut, ia tidak berani meronta meski dadanya masih dicengkeram oleh Lenghou Tiong, terpaksa ia berkata dengan suara perlahan, “Toasuko, sesungguhnya Siausumoay sangat memerhatikan keselamatanmu, tengah malam buta dia lari pulang ke sini dari Pek-ma-tik, seorang nona cilik sebagai dia telah lari pulang pergi ratusan li, betapa perasaannya terhadapmu dapatlah dibayangkan. Sebelum pergi dia juga memberi pesan wanti-wanti agar bagaimanapun juga engkau harus mempelajari kitab Ci-he-pit-kip ini dan jangan … jangan menyia-nyiakan maksud baiknya padamu.”

“Dia berkata demikian?” Lenghou Tiong menegas.

“Ya, masakan aku berani dusta?” sahut Tay-yu.

Tenaga Lenghou Tiong sudah sangat lemah, ia tidak tahan lagi dan roboh berbaring pula. Walaupun batok kepala belakang kebentur balai-balai, tapi tak dirasakan sakit lagi.

Segera Liok Tay-yu berkata pula, “Toasuko, biar kubacakan isi kitab ini.”

Lalu ia ambil Ci-he-pit-kip itu dan membuka halaman pertama, ia mulai membacanya kalimat demi kalimat ….

“Kau sedang membaca apa?” tiba-tiba Lenghou Tiong bertanya.

“Ini adalah bab pertama dari Ci-he-pit-kip,” sahut Tay-yu. “Seterusnya tertulis ….”

Begitulah ia lantas melanjutkan pula membaca isi kitab pusaka itu.

Di luar dugaan Lenghou Tiong menjadi gusar, serunya, “Ini adalah rahasia perguruan kita yang tak boleh diajarkan kepada siapa pun, kau berani sembarangan membacanya dan melanggar hukum perguruan kita yang paling keras? Ayo, lekas simpan kembali kitab itu!”

“Toasuko,” kata Liok Tay-yu, “seorang laki-laki sejati harus dapat menyesuaikan diri menurut keadaan. Sekarang yang paling penting adalah menyelamatkan engkau, segala urusan boleh dikesampingkan dahulu. Biar kubacakan lagi ….”

Lenghou Tiong hanya mendengarkan beberapa kalimat saja lantas tahu kitab asli “Ci-he-pit-kip”. Seberapa kalimat di antaranya dahulu pernah didengarnya dari pembicaraan guru dan ibu gurunya, cuma dia tidak paham apa artinya. Sekarang sesudah kepandaian dirinya tambah tinggi dan mendengar pula kalimat pendahuluan dalam kitab pusaka itu barulah diketahui bahwa kalimat-kalimat itu sebenarnya adalah kunci latihan Lwekang tertinggi dari perguruan sendiri.

“Tutup mulut!” mendadak ia membentak.

Tay-yu melengak, ia pandang Lenghou Tiong dengan heran, katanya, “Toasuko, ada … ada apakah?”

“Sungguh aku merasa tidak enak sekali mendengarmu membaca isi kitab pusaka milik Suhu itu,” kata Lenghou Tiong dengan gusar. “Apakah kau sengaja hendak menyeret aku agar menjadi seorang yang tidak setia dan tidak berbudi ya?”

“Tidak, tidak, mengapa bisa dianggap tidak setia dan tidak berbudi?” sahut Tay-yu bingung.

“Kitab pusaka ini tempo hari pernah dibawa oleh Suhu ke puncak perenung dosa dan bermaksud diajarkan padaku,” kata Lenghou Tiong. “Tapi kemudian beliau mengetahui bahwa jalan latihan silatku telah sesat, bakatku juga tidak cocok, maka beliau telah mengubah maksudnya semula ….”

Sampai di sini napasnya sudah tersengal-sengal dan rasanya sangat payah.

“Tapi sekarang soalnya demi untuk menyelamatkan jiwamu dan bukan sengaja mencuri belajar, apakah … alangannya?” ujar Liok Tay-yu.

“Sebagai murid orang, apakah jiwa sendiri lebih penting atau mesti mengutamakan keputusan Suhu?” tanya Lenghou Tiong.

“Tapi Suhu dan Sunio ingin engkau diselamatkan, ini adalah urusan yang paling penting, apalagi … apalagi Siausumoay semalam suntuk telah berlari kian kemari dengan susah payah, cintanya padamu ini, Toasuko, apakah dapat kau sia-siakannya?”

Lenghou Tiong menjadi terharu, air mata hampir-hampir menitik, lekas ia putar mukanya ke sebelah dalam, katanya, “Justru karena dia yang membawa un … untukku, aku Lenghou Tiong seorang laki-laki sejati, masakah harus menerima belas kasihan orang?”

Sesudah kata-kata itu terucapkan, tanpa terasa badannya bergetar. Pikirnya, “Ah, kiranya dalam lubuk hatiku diam-diam dendam dan benci pada hubungan baik antara Siausumoay dan Lim-sute, sebaliknya ia bersikap dingin padaku. Wah, Lenghou Tiong, mengapa jiwamu begini sempit?”

Namun bila teringat bahwa besok juga Gak Leng-sian sudah akan berkumpul pula dengan Lim Peng-ci dan sepanjang jalan menuju ke Ko-san mereka tentu akan bergaul dengan lebih akrab, tanpa terasa pedih juga hatinya.

“Toasuko, mengapa engkau berpikir tak keruan?” kata Liok Tay-yu, “Sejak kecil engkau dibesarkan bersama Siausumoay, kalian … kalian berdua laksana saudara sekandung saja ….”

“Aku justru tidak ingin seperti saudara sekandung dengan dia,” demikian kata Lenghou Tiong di dalam hati. Sudah tentu perasaan demikian tidak diucapkannya.

Dalam pada itu terdengar Liok Tay-yu sedang menyambung pula, “Biar kubacakan lagi isi Ci-he-pit-kip ini, harap Toasuko mendengarkan dengan baik, bila sukar diingat, boleh aku mengulangi lagi ….”

“Tidak, jangan membacanya,” bentak Lenghou Tiong dengan bengis.

“Toasuko,” kata Liok Tay-yu, “demi untuk menyembuhkan penyakitmu selekasnya, hari ini terpaksa aku membangkang perintahmu. Ya, biar berdosa melanggar peraturan perguruan juga kupikul semua. Engkau berkeras tidak mau mendengarkan isi kitab ini, akulah yang paksa dan sengaja membaca bagimu. Jadi engkau sendiri sama sekali tidak menjamah kitab pusaka ini, apa yang tertulis di dalam kitab juga tidak pernah kau baca sendiri, dengan demikian apakah dosamu? Kalau salah, akulah Liok Tay-yu yang bersalah karena aku yang paksa engkau berlatih. Nah, dengarkan ….”

Hendak menolak mendengarkan namun tiap huruf dan tiap kalimat yang dibaca Liok Tay-yu itu toh terus menyusup ke dalam telinganya. Saat itu keenam arus hawa aneh masih terus bergolak di dalam tubuh Lenghou Tiong, ia benar-benar tak bisa mengatasi lagi.

Tidak lama lagi kalau Liok Tay-yu sudah habis membacakan isi Ci-he-pit-kip itu, walaupun dirinya berkeras tidak mau melatihnya toh akan ikut menanggung dosa lantaran sudah mengetahui rahasia kitab pusaka gurunya. Bahkan kalau dirinya sebentar lagi mati, orang luar yang tidak tahu duduknya perkara tidak mustahil akan menuduh dirinya mati lantaran tidak berhasil meyakinkan Ci-he-sin-kang, hal ini tentu akan dibuat tertawaan orang malah.

“Liok-sute sesungguhnya bermaksud baik ingin menolong aku, namun aku sukar tertolong lagi, aku tidak boleh membikin susah padanya karena mesti menanggung dosa bencana kitab itu,” demikian pikir Lenghou Tiong akhirnya. Mendadak ia merintih dengan suara keras.

Tay-yu terkejut. “He, Toasuko, kenapakah?” tanyanya khawatir.

“Coba … ganjal bantalku supaya … supaya lebih tinggi sedikit,” pinta Lenghou Tiong.

Sambil mengiakan Tay-yu menggunakan kedua tangannya untuk mengganjal bawah bantal sang Toasuko. Di luar dugaan mendadak Lenghou Tiong mengerahkan tenaga dan menutuk tepat Tang-tiong-hiat di dadanya.

Dalam keadaan kedua tangan sedang digunakan untuk mengganjal bantal sehingga dada sama sekali terbuka, pula sama sekali tidak terduga duga bahwa Toasuko yang paling disayang dan dihormati itu bisa mendadak menyerang padanya, sebab itulah biarpun Lenghou Tiong dalam keadaan sakit payah dan tenaga lemah toh sekali tutuk saja kontan Liok Tay-yu roboh terkulai dan tak berkutik lagi.

“Laksute, maaf, terpaksa mesti membikin susah padamu. Boleh berbaring beberapa jam di sini, nanti Hiat-to yang tertutuk tentu … tentu akan terbuka sendiri,” kata Lenghou Tiong dengan tersenyum getir.

Perlahan ia meronta bangun, ia pandang sejenak Ci-he-pit-kip, akhirnya menghela napas dan berjalan perlahan ke samping pintu, ia pegang palang pintu yang terletak di pojok dan digunakannya sebagai tongkat darurat, lalu dengan langkah rada sempoyongan ia menuju keluar.

Keruan Liok Tay-yu sangat gelisah, teriaknya, “Toa … hen … ke ….” maksudnya hendak tanya, “Toasuko hendak ke mana?”

Tapi karena Hiat-to penting tertutuk sehingga suaranya tidak lancar. Namun karena tenaga tutukan Lenghou Tiong itu terlalu lemah, maka dia hanya dibikin lemas seketika saja dan tidak sampai lumpuh seluruhnya.

Tiba-tiba Lenghou Tiong menoleh, “Laksute, terpaksa aku akan pergi jauh, makin jauh meninggalkan ‘Ci-he-pit-kip’ makin baik, agar orang lain tidak dapat melihat mayatku menggeletak di samping kitab pusaka itu, agar aku tidak disangka mati sebelum selesai mencuri belajar ilmu sakti itu ….”

Sampai di sini darah yang bergolak di rongga dadanya tak tertahan lagi dan mendadak tersembur keluar.

Ia tidak berani membuka suara lagi. Ia khawatir kalau sedikit ayal saja, jangan-jangan tenaganya habis dan sukar meninggalkan pondok kecil itu. Segera ia gunakan tongkat darurat itu, selangkah demi selangkah dengan napas terengah-engah ia bertindak ke depan.

Pertama karena usianya masih muda, tenaga kuat, pula dengan penuh tekad, maka perlahan ia masih biasa melangkah pergi walaupun dengan susah payah.

Kira-kira belasan meter jauhnya, ia benar-benar merasa lemah, terpaksa ia bersandar dengan bantuan tongkat untuk bernapas. Sejenak kemudian ia coba melanjutkan langkahnya pula dan begitu seterusnya, sebentar-sebentar terpaksa harus berhenti mengaso.

Sampai hampir satu li jauhnya, terasalah matanya mulai berkunang-kunang dan kepala pusing, bumi dan langit seakan-akan berputar, badan tak kuat lagi dan akan terbanting roboh. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar di tengah semak-semak di depan sana ada suara orang merintih.

Lenghou Tiong terkesiap. Di tengah malam kelam tak bisa melihat siapa yang bersuara itu, tapi ia yakin orang yang berada di puncak Hoa-san kebanyakan adalah kawan dan bukan lawan. Segera ia bertanya, “Siapa itu?”

Terdengar orang itu berteriak menjawab, “Apakah di situ Lenghou Tiong? Aku Dian Pek-kong.”

Menyusul terdengar suara rintihan lagi, agaknya kesakitan luar biasa.

Lenghou Tiong terkejut, “He, kiranya Dian … Dian-heng. Ken … kenapakah engkau?”

“Aku … aku hampir mati!” sahut Dian Pek-kong. “Lenghou-heng, kumohon engkau suka membantu aku, aduh … aduh, lekas … lekas gunakan pedangmu dan bunuh saja diriku.”

Di tengah kata-katanya itu diseling pula suara mengaduh kesakitan, namun suaranya tetap lantang dan keras.

“Apa … apakah engkau terluka?” tanya Lenghou Tiong. Mendadak kaki sendiri terasa lemas, ia terbanting jatuh di tepi jalan.

Kini Dian Pek-kong yang terkejut. “He, apakah kau pun terluka? Aduh, aduh, sia … siapakah yang melukaimu!”

“Terlalu panjang untuk diceritakan,” sahut Lenghou Tiong lemah. “Dian … Dian-heng, kau sendiri di … dilukai siapa?”

“Ai, aku sendiri tidak tahu,” sahut Dian Pek-kong.

“Aneh, mengapa tidak tahu?”

“Waktu itu aku sedang berjalan, sekonyong-konyong kedua tangan dan kedua kakiku dipegang orang terus diangkat ke atas. Aku sendiri tidak jelas siapakah yang memiliki kesaktian sedemikian hebat, aduh … aduh … sakit ….”

“O, kiranya perbuatan Tho-kok-lak-sian pula,” ucap Lenghou Tiong dengan tertawa. “Lukaku ini pun gara-gara … gara-gara perbuatan mereka. Eh, Dian-heng, bukankah kau pun sehaluan dengan mereka?”

“Sehaluan apa maksudmu?”

“Kau minta aku pergi menemui Gi-lim Siausumoay, dan mereka … mereka juga datang mengundang aku untuk menemui dia … dia ….” sampai di sini napas Lenghou Tiong kembali terengah-engah lagi.

Dian Pek-kong merangkak keluar dari semak-semak sana, ia menggeleng kepala dan memaki, “Keparat, sudah tentu aku tidak sehaluan dengan mereka. Katanya mereka datang ke Hoa-san untuk mencari orang, mereka tanya padaku di mana beradanya orang itu. Kutanya mereka siapa yang mereka cari, tapi mereka anggap aku ini tawanan mereka, maka yang berhak tanya adalah mereka dan sebaliknya aku dilarang tanya mereka, jika aku mampu menangkap mereka barulah aku berhak tanya pada mereka. Kata mereka … aduh … kata mereka, jika mampu boleh coba menangkap mereka, jika … jika berhasil tentu aku dapat mengajukan pertanyaan kepada mereka.”
Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: