Hina Kelana: Bab 38. Kui-hoa-po-tian = Inti Rahasia Pi-sia-kiam-hoat

“Kali ini ucapan Toako benar,” sahut Tho-kan-sian. “Lebih baik kita membawanya menghadap si nona cilik dahulu, kemudian baru kita berangkat ke Hoa-san.” Bicara demikian, kontan mereka ganti haluan dan menuju ke jurusan selatan. Lenghou Tiong menjadi kelabakan, cepat ia berkata, “Yang ingin dilihat si nona cilik itu orang hidup atau orang mati?” “Sudah tentu ingin melihat bocah yang hidup dan tidak mau yang mati,” sahut Tho-kin-sian. “Kalau demikian, bila kalian tidak mengantar aku ke Hoa-san, segera aku akan memutuskan urat nadiku sendiri supaya mati seketika,” kata Lenghou Tiong. “Bagus, Kungfu mahatinggi memutus urat nadi sendiri itu cara bagaimana melatihnya, coba pertunjukkan kepada kami!” seru Tho-sit-sian dengan girang. “Sekali melatih ilmu demikian, seketika kau sendiri akan mati, apa faedahnya melatihnya?” ujar Tho-kan-sian. “Ada faedahnya juga,” seru Lenghou Tiong dengan napas terengah-engah. “Umpama pada waktu terpaksa, daripada menderita lebih baik memutus urat nadi sendiri agar mati saja.” Mendadak Tho-kok-lak-sian merasa khawatir, seru mereka, “Nona cilik ingin bertemu denganmu, sekali-sekali kami tidak bermaksud jahat dan sengaja memaksamu.” “Ya, kalian mungkin bermaksud baik, tapi sebelum kulapor kepada Suhu dan minta persetujuan beliau, biarpun mati juga aku tidak mau menurut,” kata Lenghou Tiong. “Baiklah, terlambat sedikit hari tidak menjadi soal, biarlah kami mengantarmu pulang ke Hoa-san dahulu,” kata Tho-kin-sian. Beberapa hari kemudian mereka bertujuh sudah berada di Hoa-san lagi. Kira-kira dua li dari ruang pendopo Co-kong-tong mereka sudah dilihat oleh anak murid Hoa-san-pay dan segera berlari memberi lapor kepada Gak Put-kun. Gak Put-kun dan istri terkejut mendengar bahwa keenam orang aneh yang menculik Lenghou Tiong itu sekarang datang lagi. Cepat ia membawa anak muridnya menyambut keluar. Cepat sekali datangnya Tho-kok-lak-sian itu, baru saja Gak Put-kun dan rombongannya keluar ruangan pendopo sudah lantas tampak keenam orang aneh itu sedang mendatang, dua orang di antaranya menggotong usungan dan Lenghou Tiong terbaring di atas usungan itu. Gak-hujin memburu maju untuk memeriksa, dilihatnya muka muridnya kurus pucat, terang dalam keadaan sakit payah. Keruan Gak-hujin terkejut, cepat ia pegang nadi Lenghou Tiong, terasa denyutnya lemah dan kacau, jiwanya dalam keadaan bahaya. “Tiong-ji, Tiong-ji!” serunya. Lenghou Tiong membuka mata sedikit dan menyapa dengan lemah, “Su … Su ….” tapi ia tidak sanggup meneruskan panggilannya. Air mata Gak-hujin lantas bercucuran, katanya, “Tiong-ji, biarlah ibu guru membalaskan sakit hatimu!” Mendadak ia lolos pedang terus hendak menusuk Tho-hoa-sian yang ikut menggotong usungan itu. “Nanti dulu!” syukur Gak Put-kun sempat mencegahnya. Lalu ia memberi salam kepada Tho-kok-lak-sian dan berkata, “Maafkan jika aku tiada mengadakan penyambutan atas kunjungan kalian ke Hoa-san ini. Entah siapakah nama kalian yang mulia dan asal dari aliran manakah?” Mendengar itu mendongkol dan kecewa pula Tho-kok-lak-sian. Sebenarnya mereka percaya penuh apa yang dikatakan Lenghou Tiong bahwa Gak Put-kun sangat kagum dan hormat kepada mereka berenam saudara, siapa duga baru bertemu saja sudah lantas tanya nama, terang ketua Hoa-san-pay ini sebelumnya sama sekali tidak kenal siapa Tho-kok-lak-sian. Segera Tho-kin-sian berkata, “Katanya kalian suami-istri sangat mengagumi kami berenam saudara, jadi hal ini sama sekali tidak benar?” “Kau pernah bilang Tho-kok-lak-sian adalah jago yang paling lihai di dunia ini, masakah kau tidak tahu bahwa kami inilah Tho-kok-lak-sian yang dimaksud itu?” Tho-kan-sian ikut bicara. “Ya, katanya kau sangat ingin bertemu dan bersahabat dengan kami untuk minum arak bersama-sama, sekarang kami telah datang kemari, nyatanya kau tidak gembira dan tiada maksud mengundang kami minum arak pula, jadi apa yang kau katakan dahulu itu cuma dusta belaka?” tanya Tho-kin-sian. Sudah tentu Gak Put-kun merasa bingung. Pikirnya, “Keenam orang ini mengaku Tho-kok-lak-sian, tapi tampang mereka dan tingkah lakunya mirip siluman, di mana ada tanda-tanda sebagai ‘Sian’ (dewa)? Apalagi kalau melihat cara mereka merobek tubuh Seng Put-yu yang kejam itu, terang mereka adalah jago dari golongan Sia-pay. Sebenarnya mereka adalah tamu dan pantas juga mengundang mereka makan-minum, tapi mereka telah membunuh orang di atas Hoa-san tanpa menghormati pihak tuan rumah, untuk ini saja sudah kehilangan kehormatan sebagai tamu. Sejak dulu golongan Cing-pay tak pernah hidup berdampingan dengan Sia-pay, apalagi mereka telah menyiksa anak Tiong sedemikian rupa, tidak mungkin mereka mempunyai maksud baik.” Karena pikiran demikianlah, dengan sikap dingin ia lantas menjawab, “Kalian mengaku sebagai Tho-kok-lak-sian, padahal aku hanya manusia biasa saja dan tidak berani bersahabat dengan para dewa.” Ucapan Gak Put-kun ini terang adalah sindiran, tapi bagi pendengaran Tho-kok-lak-sian ternyata dirasakan sebagai suatu pujian, mereka sangat senang dan berkata, “Ah, tidak menjadi soal. Kami Lak-sian sudah bersahabat dengan muridmu, untuk bersahabat lagi denganmu juga boleh.” “Meski ilmu silatmu sangat rendah juga kami takkan memandang hina padamu, untuk ini kau tak perlu khawatir,” demikian Tho-sit-sian menambahkan. “Ya, seumpama dalam hal ilmu silat ada yang kurang jelas bagimu, boleh silakan kau tanya saja kepada kami, sekali Tho-kok-lak-sian menganggapmu sebagai sahabat, tentu kami akan memberi petunjuk seperlunya,” kata Tho-hoa-sian. Dasar sifat Tho-kok-lak-sian memang kekanak-kanakan dan tidak tahu seluk-beluk kehidupan manusia, apa yang mereka ucapkan itu sesungguhnya timbul dari maksud baik, tapi bagi pendengaran seorang guru besar ilmu silat sebagai Put-kun sudah tentu dirasakan sebagai suatu penghinaan besar. Untung Gak Put-kun adalah seorang yang sabar dan ramah tamah, walaupun batinnya sangat gusar, tapi mukanya masih tersenyum saja, katanya, “Terima kasihlah atas maksud baik kalian.” “Terima kasih tidaklah perlu,” kata Tho-kan-sian. “Bila Tho-kok-lak-sian sudah anggap kau sebagai sahabat, sudah tentu segala apa yang kami ketahui akan kami beri tahukan selengkapnya.” “Ya, sekarang juga akan kuperlihatkan beberapa gerakan agar segenap warga Hoa-san-pay kalian bisa tambah pengalaman,” Tho-sit-sian menambahkan pula. Mendengar kata-kata mereka yang sombong dan sembrono itu, sejak tadi Gak-hujin sudah amat gusar. Sekarang ia benar-benar tidak tahan lagi, pedang bergerak, tahu-tahu dada Tho-sit-sian sudah terancam, tapi Gak-hujin belum lagi menyerang, katanya, “Baik, akan kubelajar kenal dengan kepandaian senjatamu.” “Selamanya Tho-kok-lak-sian tidak menggunakan senjata, katanya kau kagum terhadap ilmu silat kami, mengapa tidak tahu akan hal ini?” kata Tho-sit-sian. Ucapan ini bagi pendengaran Gak-hujin kembali dirasakan sebagai penghinaan pula, tanpa pikir lagi pedangnya lantas menusuk ke depan sambil berkata, “Ya, aku memang tidak tahu.” Gak-hujin adalah tokoh tertinggi dari Hoa-san-pay, sekte yang mengutamakan “Khi” (hawa), serangannya itu dengan sendirinya sangat lihai dan cepat. Apalagi Tho-sit-sian sama sekali tiada sedikit pun merasa bermusuhan dengan nyonya Gak itu, sama sekali ia tidak menduga akan diserang secara mendadak, tahu-tahu ujung pedang sudah sampai di depan dadanya, dalam kagetnya lekas ia hendak berkelit. Namun sudah kasip, serangan Gak-hujin itu sungguh teramat cepat, “bles”, dadanya tertubles pedang. Berbareng Tho-sit-sian masih sempat hantam dengan sebelah tangannya dan mengenai pundak Gak-hujin. Kontan Gak-hujin terhuyung-huyung mundur dua tindak sehingga pedangnya terlepas dari cekalan dan masih menancap di dada Tho-sit-sian dengan bergoyang-goyang. Keruan Tho-kin-sian dan saudara-saudaranya yang lain menjerit kaget. Lebih-lebih Tho-ki-sian yang bernyali kecil itu, tanpa pikir lagi segera ia angkat tubuh Tho-sit-sian terus dibawa lari terbirit-birit, hanya sekejap saja sudah menghilang. Sisa empat “dewa” lagi mendadak menerjang maju, dengan cepat tak terperikan mereka sambar kedua kaki dan kedua tangan Gak-hujin terus diangkat ke atas. Gak Put-kun tahu gerakan selanjutnya dari keempat orang itu tentu membetot sekuatnya dan tubuh sang istri pasti akan terobek menjadi empat potong. Cepat ia bertindak, namun betapa pun tenangnya, menghadapi keadaan demikian mau tak mau tangannya agak gemetar juga ketika pedangnya sekaligus menusuk Tho-kin-sian dan Tho-yap-sian. Saat itu Lenghou Tiong masih terbaring di atas usungan yang terletak di atas tanah, ketika melihat sang ibu guru terancam bahaya maut, entah dari mana datangnya tenaga, sekonyong-konyong ia melompat bangun sambil berteriak, “Jangan mencelakai ibu guruku. Kalau tidak, segera kuputuskan urat nadiku sendiri.” Selesai ucapannya itu, tak tertahan lagi darah segar lantas menyembur keluar dari mulutnya, menyusul orangnya lantas jatuh pingsan. Dalam pada itu Tho-kin-sian telah dapat menghindarkan serangan Gak Put-kun, segera ia berkata, “Wah, bocah itu akan memutus urat nadinya sendiri, ini bisa runyam, biarlah kita ampuni saja perempuan ini.” Tanpa bicara lagi keempat “dewa” itu lantas melepaskan kembali Gak-hujin. Rupanya mereka mengkhawatirkan keadaan Tho-sit-sian yang terluka parah itu. Empat saudara seperti satu perasaan, tanpa berunding segera mereka putar tubuh dan berlari pergi menyusul Tho-ki-sian dan Tho-sit-sian. “Sumoay, janganlah gusar, kita pasti akan menuntut balas kejadian ini,” kata Gak Put-kun kemudian. “Keenam orang ini benar-benar lawan yang tangguh, syukur kau sudah membinasakan satu di antara mereka.” Sesudah agak tenang kembali, teringatlah Gak-hujin akan nasib Seng Put-yu dirobek mentah-mentah tubuhnya oleh Tho-kok-lak-sian itu, seketika hatinya berdebar-debar membayangkan kejadian tadi sehingga wajah pun pucat. Gak Put-kun tahu tidak kecil kejut sang istri tadi, katanya kepada Leng-sian, “Anak Sian, bawalah ibumu ke kamar untuk mengaso dulu.” Waktu ia periksa keadaan Lenghou Tiong, dilihatnya mulut dan dada pemuda itu penuh darah, napasnya lemah, keadaannya sangat payah, tampaknya lebih banyak mati daripada hidupnya. Cepat Gak Put-kun menahan Leng-tay-hiat di punggung muridnya itu, jiwa Lenghou Tiong itu hendak diselamatkannya dengan saluran tenaga dalam yang kuat. Tapi baru saja ia mulai mengerahkan tenaga, mendadak terasa di dalam tubuh pemuda itu timbul perlawanan dari beberapa arus tenaga dalam yang sangat aneh, hampir-hampir saja tangan Gak Put-kun tergetar lepas. Gak Put-kun sudah berhasil meyakinkan Ci-he-sin-kang, di dunia persilatan kalau melulu soal Lwekang boleh dikatakan jarang ada tandingannya. Tapi beberapa arus tenaga aneh di dalam tubuh Lenghou Tiong itu ternyata dapat menggetarkan tangannya, hal ini benar-benar sangat aneh dan mengejutkan. Segera ia pun dapat merasakan bahwa beberapa arus tenaga dalam yang aneh itu bahkan saling gontok di dalam tubuh Lenghou Tiong dan bertumbuk kian kemari tak berhenti-henti. Waktu ia merasakan pula Tan-tong-hiat di dada Lenghou Tiong, kembali tangannya tergetar lebih keras, hal ini membuatnya lebih terkejut. Terasa olehnya beberapa arus hawa murni yang bergerak di dalam tubuh muridnya itu terang adalah Lwekang yang paling tinggi dari golongan persilatan tertentu, setiap arus hawa murni itu meski lebih lemah daripada Ci-he-sin-kang sendiri, tapi kalau dua arus tenaga itu bergabung menjadi satu, ini saja sudah cukup untuk mengalahkannya. Setelah diperiksa lebih teliti lagi, terasa hawa murni di dalam tubuh Lenghou Tiong itu ada enam arus. Khawatir kalau tenaga dalam sendiri terbuang terlalu banyak, Gak Put-kun tidak berani meraba tubuh Lenghou Tiong lagi. Pikirnya, “Enam arus tenaga ini tentu milik keenam orang aneh yang disalurkan ke dalam tubuh anak Tiong. Maksud tujuan keenam orang itu sungguh keji, mereka telah menyalurkan tenaga murni masing-masing ke dalam enam urat nadi sehingga anak Tiong kenyang menderita, hidup tak bisa mati pun sukar.” Maklumlah bahwa Tho-kok-lak-sian sebenarnya bermaksud menyembuhkan luka Lenghou Tiong, akibatnya malah tubuh Lenghou Tiong berubah menjadi medan gontok-gontokan bagi keenam tenaga murni mereka. Kekuatan mereka berenam memangnya sembabat, enam arus tenaga itu sukar menentukan kalah dan menang sehingga selalu dalam keadaan gontok-gontokan tak berhenti-henti. Hal aneh ini selamanya tak pernah terjadi di dunia persilatan, sudah barang tentu sulit diselami menurut akal sehat Gak Put-kun. Segera Put-kun suruh Ko Kin-beng dan Liok Tay-yu menggotong Lenghou Tiong ke kamar, ia sendiri lantas pergi menjenguk sang istri. Gak-hujin hanya terkejut saja dan tidak terluka apa-apa, saat itu ia sedang duduk di tempat tidur sembari memegangi tangan Leng-sian, hatinya masih belum tenteram. Ketika melihat sang suami datang segera ia bertanya, “Bagaimana keadaan Tiong-ji? Apakah lukanya berbahaya?” Gak Put-kun diam saja, selang sebentar barulah berkata, “Aneh, sungguh aneh!” “Kenapa aneh?” tanya Gak-hujin. Maka berceritalah Gak Put-kun tentang enam arus hawa murni yang aneh di dalam tubuh Lenghou Tiong. “Wah, jika demikian, hawa murni itu satu per satu harus dipunahkan, hanya tidak tahu apakah waktunya masih keburu atau tidak?” ujar Gak-hujin dengan rasa khawatir. Put-kun termenung sambil menengadah. Agak lama kemudian baru berkata, “Sumoay, menurut pendapatmu, sedemikian rupa keenam siluman itu menyiksa Tiong-ji, sesungguhnya apa maksud tujuan mereka?” “Mungkin mereka ingin paksa anak Tiong bertekuk lutut mengaku kalah atau hendak memaksa dia mengaku sesuatu rahasia perguruan kita,” kata Gak-hujin. “Sudah tentu anak Tiong pantang menyerah, maka keenam siluman itu lantas menyiksanya dengan cara kejam.” “Seharusnya memang begitu,” ujar Gak Put-kun sambil menggeleng. “Namun perguruan kita kan tiada rahasia apa-apa, keenam siluman itu selamanya tidak kenal dan tiada permusuhan apa-apa dengan kita. Apa sebabnya mereka menculik anak Tiong dan kemudian dibawanya kembali lagi?” “Apakah mungkin karena ….” tapi Gak-hujin tidak melanjutkan lagi karena merasa pendapatnya itu tidak masuk di akal. Suami-istri itu hanya saling pandang saja sembari berkerut kening. Tiba-tiba Leng-sian menceletuk, “Meski perguruan kita tiada sesuatu rahasia apa pun, tapi ilmu silat Hoa-san-pay amat terkenal di seluruh jagat. Dengan menangkap Toasuko mungkin mereka bermaksud memaksa dia mengaku tentang intisari Khikang dan Kiam-hoat dari perguruan kita.” “Aku pun berpikir tentang hal ini,” kata Put-kun. “Tapi taraf Lwekang anak Tiong masih terbatas, dengan Lwekang keenam siluman yang mahatinggi itu, mereka akan segera mengetahui kekuatan anak Tiong itu. Mengenai Lwekang, jelas cara mereka itu tidak sama dengan Hoa-san-pay kita, tidak nanti mereka incar soal ini. Seumpama mereka hendak memaksa anak Tiong mengaku sesuatu toh dapat dibawa ke lain tempat, mengapa mesti dibawa kembali ke sini?” Mendengar nada kata-kata sang suami semakin pasti, sebagai suami-istri sekian lama, Gak-hujin lantas tahu tentu suaminya sudah memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi. Segera ia pun bertanya, “Lalu sebenarnya apa tujuan mereka?” “Menggunakan luka parah anak Tiong untuk menguras tenaga dalamku,” kata Gak Put-kun dengan serius. Gak-hujin sampai melonjak bangun. “Benar,” serunya. “Demi untuk menolong jiwa anak Tiong tentu kau akan menggunakan tenagamu untuk menghapus hawa murni mereka yang tertanam di dalam badan anak Tiong itu, bila usahamu tengah kepalang tanggung, tentu keenam siluman itu mendadak akan muncul dan dengan mudah kita dibinasakan.” Ia merandek sejenak, lalu melanjutkan, “Untung sekarang hanya tinggal sisa lima siluman saja. Suko, tapi mereka terang sudah menangkap diriku, mengapa demi mendengar bentakan anak Tiong mereka lantas melepaskan aku pula?” Teringat kepada saat-saat berbahaya tadi, tanpa terasa ia menggigil ngeri juga. “Aku justru merasa curiga atas kejadian tadi,” kata Gak Put-kun. “Mereka takut kalau-kalau Tiong-ji benar-benar memutus urat nadi sendiri, maka engkau dilepaskan kembali. Coba pikirkan, kalau tiada muslihat keji di balik perbuatan mereka itu, buat apa mereka menyayangkan Tiong-ji?” “Sungguh keji dan kejam,” gerutu Gak-hujin. Memang kalau melihat caranya siluman itu membetot tubuh Seng Put-yu sehingga sobek menjadi empat potong, tiada seorang pun yang tidak merasa jeri dan ngeri. Sekarang Tho-kok-lak-sian sudah menculik dan membawa kembali lagi Lenghou Tiong yang keadaannya sangat payah itu, siapa pun juga tentu yakin keenam orang itu pasti tidak bermaksud baik. Jadi dugaan Gak Put-kun dan istrinya itu bukanlah tanpa alasan. Maka Gak-hujin berkata pula, “Jika demikian, jelas engkau tak dapat menyembuhkan Tiong-ji dengan Lwekangmu. Meski tenagaku tak dapat disamakan dengan kau, semoga dapat menyelamatkan jiwanya untuk sementara.” Habis berkata segera ia melangkah ke pintu kamar. “Sumoay!” tiba-tiba Put-kun memanggilnya. Waktu sang istri menoleh, Put-kun telah menggeleng kepala dan berkata, “Tidak perlu kau lakukan, tiada gunanya. Hawa murni keenam siluman itu sangat lihai.” Ia kenal watak istrinya yang suka unggul, maka ia tidak mau bicara lebih banyak lagi. Gak-hujin ragu-ragu sejenak, akhirnya ia duduk kembali, katanya, “Hanya kau punya Ci-he-sin-kang saja yang dapat menyembuhkannya bukan? Lalu bagaimana baiknya?” “Sekarang terpaksa kita berbuat sebisanya selangkah demi selangkah, lebih dulu kita pertahankan hidup anak Tiong, untuk ini tidak perlu banyak membuang tenaga dalam,” ujar Put-kun. Segera mereka masuk ke kamar Lenghou Tiong. Napas pemuda itu tampak sangat lemah, Gak-hujin menjadi cemas, air mata hampir-hampir bercucuran pula. Segera ia bermaksud memeriksa nadi Lenghou Tiong. Tapi Put-kun mencegah dengan memegang tangan sang istri, ia geleng-geleng kepala, lalu tangan istrinya dilepaskan. Tiba-tiba ia gunakan kedua telapak tangannya untuk menahan kedua telapak tangan Lenghou Tiong, ia salurkan tenaga murni Ci-he-sin-kang dengan perlahan-lahan. Tapi begitu tenaganya kebentrok dengan hawa murni yang bergolak di dalam tubuh Lenghou Tiong, seketika badan Gak Put-kun tergetar, hampir saja hawa ungu pada wajahnya bertambah tandas. Lekas-lekas ia mundur selangkah dan segera mengerahkan tenaga dalam pula sehingga hawa ungu pada mukanya itu hanya timbul sekejap saja lantas menghilang lagi. Ia kedipi sang istri, lalu mereka hendak keluar kamar. Ketika Leng-sian hendak ikut keluar, Put-kun memberi tanda dan berkata, “Kau boleh tinggal di sini dan merawat Toasukomu.” Pada saat itu mendadak Lenghou Tiong membuka suara, “Di … di manakah Lim-sute?” “Untuk apakah kau cari Siau-lim-cu?” tanya Leng-sian heran. Dengan mata terpejam Lenghou Tiong berkata, “Ketika ayahnya … ayahnya akan mangkat, dia pesan sesuatu padaku agar … agar disampaikan kepada Lim-sute. Aku su … sudah tak tertolong lagi, lekas … lekas panggil Lim-sute ke sini.” Dengan air mata berlinang-linang Leng-sian lantas lari keluar kamar. Put-kun membisiki sang istri, “Ucapan ini mungkin sangat penting, dia harus sempat memberitahukannya kepada Peng-ci.” Segera ia mendekati tempat tidur, sebelah tangannya menahan di Leng-tay-hiat dan menyalurkan Ci-he-cin-khi (hawa murni dari ilmu sakti Ci-he-sin-kang) pula dengan perlahan. Anak murid Hoa-san-pay memang semuanya berkumpul di luar kamar, begitu mendengar panggilan Leng-sian, segera Lim Peng-ci ikut masuk ke kamar. Ia mendekati pembaringan Lenghou Tiong dan menyapa, “Toasuko, hendaklah menjaga badanmu baik-baik.” “Apakah Lim … Lim-sute ini?” tanya Lenghou Tiong dengan mata terpejam. “Ya, akulah,” sahut Peng-ci. “Waktu ayahmu wafat, aku … aku menunggu di sampingnya,” tutur Lenghou Tiong dengan lemah dan terputus-putus. “Beliau minta … minta aku menyampaikan padamu, katanya … katanya ….” Sampai di sini suaranya bertambah lemah pula. Semua orang sama menahan napas sehingga suasana di dalam kamar bertambah hening. Cepat Gak Put-kun mengerahkan Lwekang sakti pula, napas Lenghou Tiong dapat dikuatkan, maka dapatlah ia menyambung ucapannya, katanya, “… di Ku … Kui … Kui-hoa ….” Mendengar kata-kata “Kui-hoa” (bunga matahari) itu, seketika hati Gak Put-kun tergetar. Dan sedikit terpencarnya pikiran itu saja lantas terasa enam arus hawa murni dalam tubuh Lenghou Tiong membanjir ke Leng-tay-hiat dengan amat dahsyat dan hampir-hampir tangannya tergetar lepas. Cepat Gak Put-kun mengerahkan tenaga pula, dengan hawa murni yang kuat ia salurkan pula melalui Leng-tay-hiat di tubuh Lenghou Tiong. Lalu Lenghou Tiong berkata pula, “… di Kui-hoa-kang … setiap benda di tempat tinggal lama itu harus dijaga sebaik-baiknya. Cuma … cuma jangan sekali-kali membongkar dan melihatnya, kalau tidak … kalau tidak, tentu akan mendatangkan bencana ….” Peng-ci terheran-heran, katanya, “Kui-hoa-kang (Gang bunga matahari) kata ayah. Tapi di kota Hokciu kami tiada jalan yang bernama Kui-hoa-kang. Tempat tinggal kami yang lama juga tidak terletak di gang yang bernama demikian.” “Hanya … hanya begitulah pesan ayahmu yang … yang minta kusampaikan pada … padamu ….” Habis isi suara Lenghou Tiong kembali lemah lagi. Gak Put-kun dapat merasakan enam arus hawa aneh di dalam tubuh muridnya itu makin lama makin bergolak dengan hebat, sekalipun dirinya mengorbankan seluruh tenaga murni Ci-he-sin-kang juga pasti sukar memunahkannya. Maka ia lantas menarik kembali tangannya. Segera Gak-hujin mengeluarkan saputangannya untuk mengusap keringat yang memenuhi dahi sang suami. Kemudian Put-kun tanya Lim Peng-ci pula, “Jadi di kota Hokciu tiada jalan yang bernama Kui-hoa-kang? Tapi mungkin ada tempat atau jalan lain yang bernama senada dengan itu?” Peng-ci mengingat-ingat sebentar, akhirnya menjawab, “Tidak, tidak ada.” “Jika begitu di manakah letak tempat tinggal keluargamu yang lama?” tanya Gak-hujin. “Buyutku dahulu tinggal di Hiang-jit-hong (jalan matahari),” sahut Peng-ci. “Kemudian pindah ….” “Hiang-jit-hong, Hiang-jit-hong!” sela Gak Put-kun. “Hiang-jit-kui adalah nama lain dari bunga matahari. Jika demikian agaknya Hiang-jit-hong itu pun bernama Kui-hoa-kang.” “Ya, boleh jadi begitu,” sahut Peng-ci. “Mungkin usia Tecu masih terlalu kecil sehingga tidak tahu nama lain daripada Hiang-jit-hong itu. Sebab sejak perusahaan pengawalan kami berkembang dengan besar, lalu kakek membangun gedung perusahaan yang dijadikan untuk tempat tinggal pula.” “Ya, tentu begitulah,” kata Gak Put-kun. “Menurut pesan ayahmu, barang apakah yang dikatakan benda yang berada di tempat tinggal lama itu?” tanya Gak-hujin. “Hal ini boleh dibicarakan nanti saja,” tiba-tiba Put-kun menyela. Lalu katanya kepada Peng-ci dan Leng-sian, “Kalian berdua boleh temani Toasuko, bila penyakitnya ada perubahan hendaklah lekas lapor padaku.” Kedua muda-mudi itu mengiakan. Lalu Put-kun mengedipi sang istri, kedua orang lantas kembali ke kamar sendiri. Sesudah tutup pintu kamar, dengan suara berbisik Put-kun berkata, “Sumoay, menurut pikiranmu, benda apakah yang dimaksudkan itu?” “Benda di tempat tinggal mereka yang lama itu sudah tentu tidak berhitung banyaknya, dari mana bisa mengetahui benda apa yang dimaksudkan?” sahut Gak-hujin. “Pesannya mengatakan jangan membongkar dan melihatnya bukan?” Put-kun. Seketika Gak-hujin sadar, serunya, “Ah, benar, tentu maksudnya ‘Pi-sia-kiam-boh’ keluarga mereka itu?” “Tapi kalau yang dimaksudkan adalah ‘Pi-sia-kiam-boh’, mengapa pada waktu ajalnya Lim Cin-lam memberi pesan wanti-wanti agar jangan sekali-kali membuka dan melihatnya, kalau tidak pasti akan mendatangkan bencana?” “Teka-teki ini tidak sukar ditebak,” ucap Gak-hujin. “Bukankah ‘Pi-sia-kiam-hoat’ keluarga Lim mereka teramat jamak dan tiada artinya, sekalipun berhasil melatihnya juga tidak cukup untuk menghalau musuh tangguh, sebaliknya malah akan mendatangkan bencana bagi diri sendiri. Sebab itulah Lim Cin-lam menyuruh putranya menjaga baik-baik benda pusaka leluhur dan melarangnya untuk belajar karena pengalaman selama hidup sendiri itu sudah menjadi bukti yang nyata.” Put-kun merenungkan pendapat sang istri dan tidak memberi tanggapan apa-apa. Gak-hujin tahu dalam segala hal sang suami jauh lebih paham daripada dirinya, melihat suaminya tidak membenarkan juga tidak menyanggah uraiannya ia menduga besar kemungkinan pendapatnya tadi kurang tepat. Maka ia lantas tanya pula, “Habis sebenarnya bagaimana persoalannya? Ai, engkau ini memang suka main simpan rahasia, lekas menerangkan.” “Aku sendiri pun tidak paham bagaimana persoalan yang sebenarnya,” sahut Gak Put-kun. “Buyut Peng-ci bernama Lim Wan-tho, dahulu malang melintang dan jarang ada tandingan di dunia Kangouw, ilmu pedang yang diandalkan olehnya 72 jurus Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim mereka, kisah ini turun-temurun selalu menjadi buah bibir para tokoh Jing-sia-pay, guru Ih Jong-hay yang bernama Tiang-jing-cu juga dikalahkan olehnya, maka dapat dibayangkan Pi-sia-kiam-hoat yang tulen pasti tidak sejelek seperti apa yang dipahami Lim Peng-ci sekarang.” “Kan aneh, kalau bukan Pi-sia-kiam-hoat yang dimaksudkan, lalu mengenai apa?” ujar Gak-hujin. Gak Put-kun mengeluarkan sebuah kotak besi dari bawah bantal, tutup kotak itu dibuka dan dikeluarkannya sejilid buku bertulis linen. Keruan Gak-hujin tambah heran, katanya, “Apa barangkali keluarga Lim mereka juga memiliki ‘Ci-he-pit-kip’ (kitab rahasia ilmu sakti pelangi ungu)?” Put-kun tersenyum, jawabnya, “Kitab Ci-he-pit-kip ini adalah pusaka yang dirahasiakan dari perguruan kita, mana mungkin dipunyai oleh orang lain?” Ia lantas membalik halaman terakhir dari kitab itu, ditunjukkannya 16 huruf paling akhir dari halaman itu dan berkata, “Coba baca!” Gak-hujin memandang ke arah yang ditunjuk itu, terlihat ke-16 huruf yang dimaksudkan itu, arti huruf-huruf itu adalah, “Ci-he-pit-kip, pengantar permulaan pemupukan dasar. Kui-hoa-po-tian, tingkatan tertinggi paling sempurna!” Sebagai sesama saudara seperguruan, meski Gak-hujin tidak pernah diberi lihat kitab pusaka itu oleh guru mereka, tapi sesudah kawin dengan Gak Put-kun, sebagai suami istri dengan sendirinya tiada sesuatu pula yang perlu dirahasiakan, maka sudah beberapa kali Gak-hujin membaca isi kitab itu. Cuma pantangan pada waktu melatih Ci-he-sin-kang itu terlalu banyak, kemajuannya juga sangat lambat, hal ini tidak cocok dengan sifat Gak-hujin yang tidak sabaran, maka ia cuma berlatih beberapa bulan saja, lalu tidak diteruskan. Ke-16 huruf itu juga sudah lama dibacanya, tatkala mana ia pun berpikir, “Melulu Ci-he-pit-kip yang merupakan pengantar ilmu pemupukan dasar saja sukar dilatih, apalagi hendak meyakinkan isi ‘Kui-hoa-po-tian’ (kitab mestika bunga matahari) yang merupakan tingkatan tertinggi dan paling sempurna?” Lantaran tidak tertarik, maka apa yang pernah dibacanya itu pun lantas dilupakan olehnya. Sekarang sang suami justru memperlihatkan tulisan itu, tiba-tiba pikirannya tergerak, maka katanya cepat, “Kui-hoa-po-tian? Apakah mungkin Kui-hoa-kang di kota Hokciu ada sangkut pautnya dengan Kui-hoa-po-tian? Apakah di dunia ini benar-benar ada kitab mestika Kui-hoa-po-tian?” Dengan sikap sungguh-sungguh Gak Put-kun berkata, “Ci-he-pit-kip ini adalah tulisan tangan leluhur perguruan kita, setiap huruf dan setiap kalimatnya telah kupelajari dengan teliti, di dalamnya memang mencakup ilmu ajaib yang tiada terbatas. Ke-16 huruf di halaman terakhir ini pun, serupa dengan huruf-huruf isi kitab yang lain, kuyakin pasti bukan omong kosong dan palsu.” Gak-hujin menghela napas, katanya, “Seumpama di dunia ini benar ada kitab Kui-hoa-po-tian, tentu isinya sangat mukjizat dan sukar dipelajari dengan sempurna.” “Untuk ini ….” mendadak Gak Put-kun tidak melanjutkan lagi ucapannya. “Suko,” kata Gak-hujin, “bila kawanan siluman itu sudah mengatur muslihat keji demikian pasti mereka mati-matian akan datang lagi, bila sampai terjadi sesuatu, bukankah ….” “Ya, dengan kekuatan kita berdua paling-paling hanya dapat melawan mereka berdua dengan sama kuatnya, bila melawan keroyokan mereka bertiga sudah pasti akan kalah, apalagi kalau mereka berlima maju sekaligus, terang kita tidak mampu melawan.” Sebenarnya Gak-hujin juga merasa suami-istri mereka bukan tandingan kelima siluman itu, tapi ia tahu akhir-akhir ini sejak sang suami berhasil menyempurnakan Ci-he-sin-kang, kekuatan sang suami sudah maju luar biasa, betapa pun ia masih berharap kalau-kalau dapat mengatasi musuh. Sekarang demi mendengar pengakuan sang suami yang terus terang itu, seketika ia menjadi gelisah, katanya, “Lalu bagaimana … bagaimana baiknya? Masakah kita hanya berpeluk tangan menanti ajal saja?” “Sumoay,” kita Put-kun, “hendaknya jangan khawatir. Seorang laki-laki sejati harus berani melihat kenyataan, bisa maju dan berani mundur. Kalah atau menang tidak ditentukan dalam pertarungan sesaat-dua saat saja.” “Jadi kau maksudkan kita lebih baik melarikan diri?” tanya Gak-hujin. “Bukan lari,” sahut Put-kun, “melainkan menghindarnya untuk sementara. Musuh berjumlah banyak, sebaliknya kita suami-istri hanya berdua, cara bagaimana kita mampu melawan kerubutan mereka berlima? Padahal engkau sudah membunuh salah seorang siluman itu, sesungguhnya kita sudah di pihak yang menanti, andaikan sekarang kita menghindar untuk sementara juga tidak merosotkan derajat siapa pun juga, rasanya orang luar juga takkan mengetahui kejadian ini.” “Meski telah kubunuh seorang di antara mereka, tapi jiwa anak Tiong juga terancam bahaya, maka paling-paling cuma dianggap seri saja,” kata Gak-hujin. “O, anak Tiong ….” Sejak kecil Lenghou Tiong berada di bawah asuhannya hingga dewasa, maka nyonya Gak anggap anak muda itu seperti anak kandung sendiri. Teringat jiwanya terancam bahaya, tanpa terasa timbul lagi kesedihannya, katanya dengan suara parau, “Suko, aku akan menurut padamu, bolehlah kita membawa serta anak Tiong, perlahan kita dapat menyembuhkan dia.” Gak Put-kun diam saja tanpa menjawab. “Apakah kita tak dapat membawa serta anak Tiong?” Gak-hujin menegas. “Luka anak Tiong teramat parah, jika dia dibawa serta dalam perjalanan cepat, tentu tidak sampai satu jam jiwanya akan amblas,” kata Put-kun. “Lantas ba … bagaimana baiknya? Apakah benar tiada cara yang baik untuk menyelamatkan jiwanya?” tanya Gak-hujin setengah meratap. Gak Put-kun menghela napas, katanya, “Ai, dengan tulus tempo hari aku hendak mengajarkan Ci-he-sin-kang padanya, siapa duga secara kebetulan entah sebab apa dia memainkan ilmu pedang yang aneh, ia tersesat menuju ke jalan yang dianut kaum Kiam-cong (sekte yang mengutamakan ilmu pedang melulu) sehingga aku membatalkan maksudku mengajarkan ilmu sakti itu padanya. Coba kalau sejak tempo hari dia mulai belajar Ci-he-sin-kang, walaupun baru dua-tiga halaman saja yang dapat dipahami, tentu juga sekarang dia dapat mengadakan penyembuhan bagi dirinya sendiri dan takkan teralang oleh dua arus hawa murni yang aneh itu.” Mendadak Gak-hujin berbangkit, katanya “Suko, urusan masih belum terlambat. Sekarang juga engkau dapat mengajarkan Ci-he-sin-kang padanya. Sekalipun dia dalam keadaan payah dan sukar memahami seluruh ilmu sakti itu toh akan lebih baik daripada sama sekali tidak melatihnya.” “Sumoay,” kata Put-kun dengan suara halus sambil menarik tangan sang istri, “kecintaanku terhadap anak Tiong tiada ubahnya seperti dirimu. Namun, coba kau pikirkan lagi, jika sekarang aku menyerahkan Ci-he-pit-kip kepadanya, padahal tidak lama lagi kelima musuh akan datang kembali ke sini, dengan sendirinya anak Tiong tidak sanggup menjaga diri dan kitab pusaka Hoa-san-pay kita yang tiada taranya ini bukankah akan jatuh ke tangan musuh dengan mudah? Bilamana kawanan siluman itu sampai berhasil meyakinkan Lwekang golongan kita, bukankah akan mirip harimau tumbuh sayap dan akan mendatangkan bencana besar bagi dunia persilatan? Jika demikian ini terjadi, tentu aku Gak Put-kun akan berdosa besar bagi sesama kawan persilatan kita.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: